Bolehkah Wanita Haid Ikut Pengajian di Masjid?

Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Wanita Haid Ikut Pengajian di Masjid?

Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1343115058&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Wanita yang sedang haid apakah boleh mengikuti pengajian di masjid? Mohon penjelasannya, jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Muhammadin, wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Para fuqaha dari empat madzhab mengharamkan wanita haid berdiam diri di masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa: 43) Sisi pendalilannya, dalam ayat ini orang yang sedang junub dilarang mendekati shalat dan mendekati masjid, kecuali sekedar lewat saja. Dan wanita haid diqiyaskan kepada orang yang junub. Sehingga wanita haid pun dilarang mendekati masjid kecuali sekedar lewat saja. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha: أنَّها كانت تُرجِّلُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهي حائِضٌ، وهو معتكِفٌ في المسجِدِ، وهي في حُجرَتِها، يُناوِلُها رأسَه “Aisyah pernah menyisir rambut Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika Aisyah sedang haid dan Nabi sedang i’tikaf di masjid. Aisyah berdiri dari kamarnya dan tangannya menjangkau kepala Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 2046, Muslim no. 297) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid boleh berdiam diri di masjid tentu Aisyah sudah masuk ke masjid untuk menyisiri rambut Nabi, tidak perlu bersusah-susah menjangkau kepala Nabi dari luar masjid.  Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Namun para ulama yang lain seperti madzhab Zhahiriyah, demikian juga Al Muzanni dari Syafi’iyyah, demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, membolehkan wanita haid berdiam diri di masjid. Mereka mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih dan sharih (tegas) yang melarang wanita haid berdiam diri di masjid. Ayat di atas dan hadits Aisyah tidaklah sharih pendalilannya. Dan hukum asalnya adalah bara’ah al-ashliyyah, tidak ada beban untuk menjauhi masjid kecuali terdapat dalil yang shahih dan sharih. Mereka juga berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya yang sedang haid: فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي “Silakan engkau lakukan apa saja yang seharusnya dilakukan ketika berhaji, kecuali thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (HR. al-Bukhari no.305, Muslim no.1211) Sisi pendalilannya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hanya mengecualikan thawaf saja. Sehingga amalan haji yang lainnya seperti sa’i, berdoa, berdzikir, dll di Baitullah tidaklah terlarang. Ini menunjukkan bahwa wanita haid boleh berdiam di masjid. Dalam hadits lain disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim no. 298) Sisi pendalilannya, andaikan wanita haid tidak boleh masuk masjid atau hanya boleh sekedar lewat saja, tentu Nabi akan mengatakan, “tidak mengapa jika sekedar lewat” atau “tidak mengapa jika hanya sebentar”. Namun realitanya Nabi berkata, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak mengapa masuk masjid dan berdiam di dalamnya selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau mengatakan: نعم يجوز لهن ذلك لأن الحيض لا يمنع امرأة من حضور مجالس العلم ولو كانت في المساجد لأن دخول المرأة المسجد في الوقت الذي لا يوجد دليل يمنع منه فهناك على العكس من ذلك ما يدل على الجواز ، ومن هذه الأدلة حديثان للسّيدة عائشة رضي الله تعالى عنها “Benar, boleh bagi wanita haid untuk menghadiri pengajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk hadir di majelis ilmu walaupun di masjid. Karena masuknya wanita haid ke masjid tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan yang ada adalah dalil yang menunjukkan bolehnya. Di antara dalilnya ada dua hadits dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha.” (Silsilah al-Huda wan Nur, no. 562) Kemudian beliau membawakan dua hadits di atas. Demikian juga hadits lain yang mendukung pendapat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: أَنَّ وَلِيدَةً كَانَتْ سَوْدَاءَ لِحَيٍّ مِنَ العَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا … فَجَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ أَوْ حِفْشٌ “Ada seorang budak wanita seorang ibu yang berkulit hitam milik salah satu kabilah pedalaman Arab, kemudian ia dibebaskan … kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masuk Islam”. Aisyah berkata: “Ia memiliki tenda atau gubug di lingkungan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 439) Sisi pendalilannya, tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita tersebut untuk menjauhi masjid ketika ia haid. Dan juga tidak ternukil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti para shahabiyah yang lain agar tidak mendekati masjid ketika sedang haid. Syaikh Khalid al-Mushlih juga menguatkan pendapat ini. Beliau menjelaskan dua syarat bolehnya wanita haid berdiam di masjid: “Wanita haid boleh masuk ke masjid jika ada kebutuhan, inilah pendapat yang lebih tepat. Karena terdapat dalam as-Shahih bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata pada ‘Aisyah, “Ambilkan untukku khumrah (semacam sajadah kecil) di masjid”. Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya saya sedang haid”. Lalu Rasul shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. Hal ini menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk berdiam di masjid jika: (1) ada kebutuhan dan (2) darah haidnya tidak mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GckNrogTbwY) Adapun hadits, لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ “Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Daud no. 232) Hadits ini adalah hadits yang dha’if karena terdapat perawi bernama Jasrah bintu Dajjajah al -Amiriyyah. Ia perawi yang mudhtharib dalam periwayatannya, sehingga jumhur ulama hadits mendhaifkan hadits ini. Hadits ini didhaifkan oleh an-Nawawi, Ibnu Rajab, al-Baghawi, Syu’aib al-Arnauth, dan al-Albani. Wallahu a’lam, pendapat yang tampaknya lebih kuat adalah bolehnya wanita haid berdiam di masjid termasuk mengikuti pengajian di masjid. Namun dalam rangka ihtiyath (hati-hati), sebaiknya tidak berdiam di masjid kecuali ada kebutuhan saja. Ketika tidak ada kebutuhan, berusaha untuk menjauhi masjid. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kriteria Pemimpin Dalam Islam, Adakah Hukum Karma Dalam Islam, Cara Menghilangkan Kebiasaan Onani, Hukum Jima Dari Belakang, Macam Macam Kafarat, Niat Sholat Sunnah Jumat Visited 448 times, 1 visit(s) today Post Views: 506 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid

Mengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Apakah tauhid itu? 2. Cakupan tauhid 2.1. Pertama: Tauhid rububiyyah 3. Apakah syirik itu? 4. Kedudukan dan keutamaan tauhid 5. Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil? 6. Macam-macam syirik besar 6.1. Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah) 6.2. Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah) 6.3. Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat Allah 7. Macam-macam syirik kecil Apakah tauhid itu?Pengertian tauhid adalah sebagai berikut,إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kekhususan-Nya, yaitu perbuatan (rububiyyah) Allah, hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), serta nama dan sifat Allah (al-asma` was-shifat).”Maksudnya adalah meyakini hal itu dan melaksanakan tuntutannya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, “mengesakan Allah” cakupannya adalah dengan hati dan anggota tubuh zahir (dengan keyakinan, ucapan, maupun perbuatan).Baca Juga: Fatwa: Apakah Pelaku Syirik Kecil Kekal di Neraka?Cakupan tauhidPertama: Tauhid rububiyyahإفراد الله بأفعاله“Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan kekhususan-Nya, seperti menciptakan makhluk, mengatur makhluk, memberi rezeki, memberi manfaat, menimpakan musibah/ keburukan, menghidupkan, mematikan, dan lainnya yang merupakan kekhususan Allah.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ“Segala pujian (kesempurnaan) hanya bagi Allah, Tuhan (Rabb) seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)Kedua: Tauhid uluhiyyahإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak diibadahi, tidak boleh mempersembahkan peribadahan kepada selain-Nya dalam bentuk ibadah lahiriah maupun yang batin, ucapan maupun perbuatan.Dalil:Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah sesembahan selain Allah.” (QS. An-Nahl: 36)Ketiga: Tauhid al-asma` was-shifatإفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى“Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, (yaitu dengan menetapkan seluruh nama dan sifat Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tuntutannya, serta meniadakan kesamaan Allah dengan makhluk dalam nama dan sifat-Nya.”Maksudnya adalah meyakini dan melaksanakan tuntutannya bahwa hanya Allahlah yang berhak bernama dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia (paling sempurna) dan meyakini selain Allah itu tidaklah berhak bernama dan bersifat dengannya.Dalil:Di antaranya adalah Allah berfirman,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى“Dan hanya milik Allahlah Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-A’raf: 180)Baca Juga: Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhApakah syirik itu?Syirik ada dua macam:Pertama, syirik besar, yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` dan shifat).Definisi di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala,اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ“Karena kami mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan Tuhan seluruh makhluk.”  (QS. Asy-Syu’ara’: 98)Syirik besar ini mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dinamakan “besar”, karena adanya syirik yang di bawahnya, yang tingkat keburukannya tidak sampai sepertinya, yaitu syirik kecil.Contoh: berdoa kepada mayit dan ibadah isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin, ibadah pengaliran darah binatang (menyembelih) untuk makhluk halus.Kedua, syirik kecil, yaitu segala yang dilarang dalam syari’at sedangkan dalam nash disebut dengan nama syirik, dan menjadi sarana menghantarkan kepada kesyirikan besar.Syirik kecil ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena tidak sampai ada unsur menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya (dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan al-asma` was-shifat).Contoh: memakai jimat dari benda-benda sepele seperti, gelang akar tertentu, tulang, cincin akik yang dibacakan mantra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من علق تميمة فقد أشرك“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat kalung manik-manik), maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad, sahih)Kedudukan dan keutamaan tauhidTauhid memiliki kedudukan yang tinggi dalam bangunan Islam dan keutamaan yang besar bagi pelakunya, di antaranya:Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.Tauhid adalah tujuan pengutusan para rasul ‘alaihish shalatu wassalam.Tauhid adalah perintah pertama.Tauhid adalah hak Allah terbesar.Tauhid adalah kewajiban dan perintah terbesar.Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan.Lawan dari tauhid adalah dosa terbesar, yaitu syirik.Tauhid adalah materi dakwah pertama kali.Tauhid adalah dasar dan inti ajaran Islam.Tauhid adalah keimanan yang terbaik dan tertinggi.Ahli tauhid mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.Ahli tauhid pasti masuk surga.Ahli tauhid pasti terbebas dari kekekalan di neraka.Timbangan tauhid mengalahkan timbangan langit dan bumi.Ahli tauhid berpeluang diampuni seluruh dosanya.Ahli tauhid yang sempurna masuk surga tanpa hisab tanpa azab.Ahli tauhid bahagia di dunia dan akhirat.Ahli tauhid diterima amal salehnya.Ahli tauhid mendapatkan syafa’at di akhirat.Ahli tauhid merdeka dari penghambaan kepada selain Allah.Ahli tauhid adalah sosok hamba Allah yang mengesakan-Nya subhanahu dalam kekhususan-Nya dan menghindari menyekutukan-Nya (syirik) dalam kekhususan-Nya, baik dalam keyakinan ucapan maupun perbuatan.Apakah perbedaan syirik besar dan syirik kecil?Perbedaan syirik besar dan syirik kecil dapat terlihat dari beberapa tinjauan, yaitu:Diampuni atau tidaknyaPelaku syirik akbar tidak diampuni oleh Allah, kecuali jika bertobat. Adapun syirik kecil, ulama berselisih pendapat jika pelakunya meninggal tidak bertobat. Jumhur ulama berpendapat bahwa pelakunya tergantung kehendak Allah. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pelakunya tidak diampuni, dan seandainya harus diazab, tidak kekal di neraka.Menggugurkan amal atau tidaknyaSyirik akbar mengugurkan seluruh amal saleh pelakunya, sedangkan syirik kecil hanya menggugurkan amal yang menyertainya.Mengeluarkan dari Islam atau tidaknyaSyirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil tidak.Kekal di neraka atau tidaknyaJika pelaku syirik akbar meninggal dunia, maka kekal selamanya di neraka, sedangkan syirik kecil tidak.Status dosanyaSyirik besar termasuk pembatal keislaman (kekafiran), sedangkan syirik kecil (secara jenis dan secara umum) termasuk dosa besar yang terbesar sesudah syirik akbar. Wallahu a’lam.Baca Juga: Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid RububiyyahMacam-macam syirik besarDitinjau dari sisi kekhususan Allah yang dilanggar, maka syirik besar terbagi menjadi tiga:Pertama: Syirik besar dalam rububiyyah (perbuatan Allah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang mampu menciptakan, atau menghidupkan, atau mematikan, atau memiliki sesuatu dengan kepemilikan mutlak, hakiki dan sempurna, atau mengatur alam semesta.Dalam masalah ucapanContoh:Mengingkari adanya Sang Pencipta dengan ucapan, baik dalam teori evolusi makhluk yang meyakini tidak ada pencipta, atau ucapan menyatunya Tuhan dengan makhluk, bahwa makhluk itulah Tuhan.Dalam masalah perbuatanContoh:Memakai jimat gelang dengan keyakinan bahwa gelang tersebut yang menyelamatkan dan menentukan nasib pemakainya dengan sendirinya, di luar kekuasaan Allah.Kedua: Syirik besar dalam uluhiyyah (ibadah)Dalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang berhak ditaati dengan ketaatan yang mutlak sebagaimana ketaatan kepada Allah. Sehingga mengikuti dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau sebaliknya sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 21. Contoh lainnya, mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 165.Dalam masalah ucapanContoh:Berdoa kepada selain Allah, ibadah istighatsah kepada selain Allah, ibadah isti’adzah kepada jin atau “penunggu” pantai selatan.Dalam masalah perbuatanContoh:Salat atau sujud menyembah selain Allah, atau ritual menyembelih hewan untuk mengagungkan mayit/ jin, atau mempersembahkan ibadah nazar untuk selain Allah.Ketiga: Syirik besar dalam nama dan sifat AllahDalam masalah keyakinanContoh:Meyakini ada selain Allah yang tahu perkara gaib hakiki, atau meyakini ada selain Allah yang menyayangi makhluk sebagaimana kasih sayang Allah, yaitu mampu mengampuni dosa makhluk dan memasukkannya ke dalam surga.Dalam masalah ucapanContoh:Memberi nama selain Allah dengan nama khusus Allah disertai makna husna yang terkandung di dalamnya, seperti memberi nama patung dengan nama Allah yang husna: Al-Ahad, Ar-Rahman, dan Ash-Shamad.Dalam masalah perbuatanContoh:Mengagungkan diri dan menyombongkannya sebagaimana mengagungkan Allah serta mengajak orang lain untuk tunduk kepadanya secara mutlak, menggantungkan rasa harap, tawakal, dan takut kepadanya secara totalitas.Macam-macam syirik kecilDitinjau dari dengan apa syirik kecil dilakukan, maka syirik kecil terbagi menjadi tiga:Syirik kecil dalam keyakinanContoh:Pemakai jimat gelang yang meyakini bahwa Pencipta sebab adalah hanya Allah semata, namun jimat gelang itu diyakini hanya sebagai sebab yang hakikatnya bukan sebab (sebab palsu). Namun karena disangka sebagai sebab, hati pemakainya ada ketergantungan terhadap jimat tersebut. Berdasarkan dalil, hal ini divonis syirik, meski tingkatan syiriknya tidak sampai syirik besar.Syirik kecil dalam ucapanContoh:Bersumpah dengan nama selain Allah dikatakan syirik kecil. Hal ini karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan tidak sampai derajat syirik besar, hanya sebagai sarana penghantar kepada syirik besar.Syirik kecil dalam perbuatanContoh:Riya` yang sedikit dalam beribadah. Dikatakan syirik kecil karena ada dalam dalil penyebutan nama syirik untuknya dan menjadi sarana menghantarkan kepada syirik besar.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ Baca Juga:Nasihat Bagi yang Terjerumus dalam KesyirikanSyirik adalah Kezaliman Terbesar***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholat Pakai Masker, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438h, Ponpes Al Minhaj Bogor, Fungsi Ibadah Dalam IslamTags: amalan syirikAqidahaqidah islambahaya syirikbelajar tauhiddosa besardosa syirikManhajmanhaj salafmengenal tauhidSyirikTauhid

Tafsir al-Fatihah (7): Apa Makna Siratal Mustaqim? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (7): Apa Makna Siratal Mustaqim? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah: 6)kemudian Allah menjelaskan maksud “jalan” ini dengan berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat … ” (QS. Al-Fatihah: 7)yakni yang aku inginkan dan aku maksud“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; …” (QS. Al-Fatihah: 7) Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka.Allah Tabāraka wa Ta’ālā telah menafsirkannya dalam surah an-Nisa:“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul,mereka itulah orang-orang yang akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,dari kalangan para nabi, para Ṣiddīqīn,para syuhada, dan orang-orang saleh …” (QS. An-Nisa: 69) Merekalah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka,dan merekalah orang-orang yang mana seorang Muslim memintaagar bisa berada di atas metode dan jalan mereka,“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 7) Artinya, “Aku tidak menginginkan jalan orang-orang yang dimurkaidan tidak mau jalan orang-orang yang sesat.”Tafsir yang terkenal adalah yang tersebut dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya,bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi,dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka adalah orang-orangyang Allah Tabāraka wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk menjauhi jalan mereka,yaitu jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang Yahudi dimurkai,karena mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi meninggalkannya. Orang-orang Nasrani menjadi sesatkarena mereka tidak mengetahui kebenaran,akan tetapi juga tidak berupaya mencarinya. Penyebutan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) didahulukan daripada orang-orang sesat (Nasrani),karena sangat parahnya kekufuran mereka. Kekafiran orang Yahudi lebih parah daripada kekafiran orang Nasrani,sebagaimana firman Allah Tabāraka wa Ta’ālā,“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik,dan sungguh kamu akan dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’” (QS. Al-Maidah: 82)Penyebutan Yahudi didahulukan juga karena mereka kaum yang lebih duludaripada Nasrani. Yahudi adalah kaum yang hidup di zaman Nabi Musa,sedangkan Nasrani adalah kaum yang hidup di zaman Nabi IsaSemoga selawat Allah dan salam-Nya terlimpah atas mereka berdua. Yahudi dan Nasrani semuanya berasal dari Bani Israil.Yahudi dan Nasrani sama-sama berasal dari Bani Israil.Musa adalah salah satu nabi Bani Israil,sebagaimana Isa juga salah satu nabi Bani Israil. Penyebutan Yahudi juga didahulukan,karena mereka adalah penduduk terdekat.Bangsa Arab, yang mana al-Quran ini diturunkan kepada mereka, mengenal Yahudi,tapi sedikit yang mengenal orang-orang Nasrani. Adapun mereka yang sering bersafar ke luar Madinah,ke Syam atau ke Yaman, mereka tahu Yahudi dan Nasrani,tetapi orang-orang yang tinggal bersama mereka adalah Yahudi,terutama di kota Madinah. Yahudi tinggal bersama merekadi Madinah, ada Bani an-Naḏīr, Bani Qainuqāʿ, dan Bani Quraiẓah. Penyebutan Yahudi didahulukan karena hal-hal tersebut—dan ilmu adalah milik Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Kemudian, disyariatkan bagi seseorang—terutama ketika salat—jika dia membaca surah ini hingga selesaiuntuk mengatakan: “Amin.”“Amin” artinya, “Kabulkan, ya Allah.”karena di dalamnya terkandung doa yang agung. Demikian. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ فَشَرَحَ هَذَا الصِّرَاطَ فَقَالَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَيْ أُرِيدُهُ أَقْصِدُ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ وَالصِّرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَسَّرَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي سُورَةِ النِّسَاءِ وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَطْلُبُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَرِيقَتِهِمْ وَصِرَاطِهِمْ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ أَي لَا أُرِيدُ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا أُرِيدُ طَرِيقَ الضَّالِّينَ وَالْمَشْهُورُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَأَنَّ الضَّالِّيْنَ هُمُ النَّصَارَى فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ أَمَرَنَا اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنْ نَتَجَنَّبَ طَرِيقَهُمْ طَرِيقَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَطَرِيقَ الضَّالِّينَ وَإِنَّمَا صَارَ الْيَهُودُ مَغْضُوبًا عَلَيْهِمْ لِأَنَّهُمْ عَرَفُوا الْحَقَّ وَتَرَكُوهُ وَالنَّصَارَى صَارُوا الضَّالِّيْنَ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ وَلَكِنْ لَمْ يَطْلُبُوهُ أَيْضًا وَقَدَّمَ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ عَلَى الضَّالِّينَ لِشَنَاعَةِ كُفْرِهِمْ كُفْرُ الْيَهُودِ أَشَدُّ مِنْ كُفْرِ النَّصَارَى كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْدَمُ مِنَ النَّصَارَى الْيَهُودُ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا فِي زَمَنِ مُوسَى وَالنَّصَارَى كَانُوا فِي زَمَنِ عِيسَى صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ… عَلَيْهِمَا وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كُلُّهُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمُوسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَعِيسَى مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذَلِكَ وَقَدَّمَ الْيَهُودَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ أَقْرَبُ سَكَنًا فَالْعَرَبُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِمْ هَذَا الْقُرْانُ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ لَكِنْ نَادِرٌ أَنْ يَعْرِفُوا النَّصَارَى الَّذِينَ يُسَافِرُونَ إِلَى خَارِجِ المَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ وَإِلَى الْيَمَنِ يَعْرِفُونَ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَكِنْ الَّذِينَ يَعِيشُونَ مَعَهُمُ الْيَهُودُ خَاصَّةً فِي الْمَدِينَةِ الْيَهُودُ يَعِيْشُونَ مَعَهُمْ فِي الْمَدِينَةِ بَنُو النَّضِيرِ وَبَنُو قَيْنُقَاعَ وَبَنُو قُرَيظَةَ فَقَدَّمَ الْيَهُودَ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ثُمَّ يُشْرَعُ لِلْإِنْسَانِ خَاصَّةً فِي الصَّلَاةِ إِذَا قَرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ وَخَتَمَهَا أَنْ يَقُولَ آمِينُ أَيْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ دُعَاءً عَظِيمًا نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Agar Husnul Khatimah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cara Agar Husnul Khatimah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Husnul Khatimah adalah nikmat yang agung,sebagaimana disabdakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,“Semua amalan tergantung dengan akhirnya.” (HR. Bukhari) Jika seseorang wafat dalam keadaan Husnul Khatimah,ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ālā meridainya,dan bahwa ketika Allah Ta’ālā menutup hidupnya dengan kebaikan,Allah akan membangkitkannya di Hari Kiamat di atas keadaan yang agung ini,yaitu keadaan taat kepada-Nya Jalla wa ʿAlā. Baik, jika seseorang bertanya, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan Husnul Khatimah?”“Bagaimana saya bisa mati dalam keadaan yang baik,padahal kematian datang secara tiba-tiba?” “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bagian bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34) Kami katakan bahwa jika Anda ingin mati dalam keadaan yang baik,teruslah Anda berada di atas ketaatan kepada Allah,karena salah satu bentuk rahmat Allah Ta’ālā atas hamba-Nya,sungguh Allah Ta’ālā tidak akan membuat hamba-Nya yang beriman kecewa, jika dia beriman dan terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah,dengan puasa, berzikir kepada Allah, dan salat,niscaya Allah Ta’ālā akan memuliakannya dengan mematikannya dalam keadaan tersebut. Itu sebabnya, ada ungkapan, dan ini bukanlah hadis,melainkan kata bijak yang terkenal,bahwa seorang hamba akan mati di atas kebiasaan hidupnya,seorang manusia akan mati di atas kebiasaan hidupnya. Jika Anda hidup dalam ketaatan kepada Allah, berzikir kepada-Nya,hati Anda terpaut dengan-Nya,ada cinta yang amat besar kepada-Nya dalam hati Anda,kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, mengagungkan-Nya, dan senantiasa ingat kepada-Nya,niscaya Allah Ta’ālā akan memberikan Husnul Khatimah kepada Anda. Anda akan wafat di atas kebiasaan hidup Anda.Inilah bentuk keadilan Allah Ta’ālā.Di sini Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seseorang akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika mati.” (HR. Muslim) Inilah salah satu ketetapan Allah Ta’ālā,dan ini akan terwujud dengan keikhlasan Anda kepada Allah,dan kejujuran Anda terhadap-Nya. Jujurlah Anda kepada Allah, bahwa Anda benar-benar hanya mengharap wajah-Nya. ==== حُسْنُ الْخَاتِمَةِ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ لِأَنَّهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ فَإِذَا مَاتَ الْعَبْدُ عَلَى خَاتِمَةٍ حَسَنَةٍ كَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى رِضَا اللهِ تَعَالَى عَنْهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَاتَمَ لَهُ بِالْحُسْنَى حَتَّى يَبْعَثَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَذِهِ الْحَالَةِ الْعَظِيمَةِ مِنْ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا طَيِّبٌ يَسْأَلُ سَائِلٌ يَقُولُ طَيِّبٌ كَيْفَ أُوَفَّقُ لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ؟ كَيْفَ أَمُوْتُ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ؟ وَالْمَوْتُ يَأْتِي الْإِنْسَانَ فَجْأَةً وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ نَقُولُ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَمُوتَ عَلَى حَالَةٍ طَيِّبَةٍ دَاوِمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى بِعَبْدِهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى… لَا يَخْذُلُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ الْمُؤْمِنُ مُسْتَمِرًّا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عَلَى صِيَامِهِ عَلَى ذِكْرٍ لِلهِ عَلَى صَلَاتِهِ فَاللهُ تَعَالَى يُكْرِمُهُ بِأَنْ يُمِيتَهُ عَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَلِهَذَا قِيلَ وَهَذَا لَيْسَ بِحَدِيثٍ لَكِن هَذَا مِنَ الْحِكَمِ الْمَشْهُورَةِ يَمُوتُ الْعَبْدُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ يَمُوتُ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ إِذَا عِشْتَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَعَلَى ذِكْرِ اللهِ قَلْبُكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ فِي قَلْبِكَ مَحَبَّةٌ عَظِيمَةٌ لِلهِ وَشَوْقٌ لِلِقَاءِ اللهِ وَتَعْظِيمٌ لِلهِ دَائِمًا تَذْكُرُ اللهَ سَيُوَفِّقُكَ اللهُ تَعَالَى لِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ سَتَمُوتُ عَلَى مَا عِشْتَ عَلَيْهِ هَذَا مِنْ عَدْلِ اللهِ تَعَالَى وَهُنَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ هَذِهِ مِنْ سُنَّةِ اللهِ تَعَالَى وَهَذَا يَكُونُ بِإِخْلَاَصِكَ لِلهِ وَصِدْقِكَ مَعَ اللهِ تَكُونُ صَادِقًا مَعَ اللهِ تَعَالَى فِي أَنَّكَ تُرِيدُ وَجْهَهُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim Celaka

Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid

Karamah Said bin Zaid yang Doanya Mustajab Hingga Seorang Wanita Zalim Celaka

Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid
Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid


Karamah kali ini dari Said bin Zaid, ia punya doa yang mustajab hingga seorang wanita menjadi buta dan meninggal dunia karena berbuat zalim pada Said.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa) بَابُ كَرَامَاتِ الأَوْلِيَاءِ وَفَضْلِهِمْ Bab 253. Karamah para Wali dan Keutamaan Mereka Daftar Isi tutup 1. Hadits #1506 2. Karamah Said bin Zaid 3. Faedah hadits 3.1. Referensi: Hadits #1506 Karamah Said bin Zaid   وعن عروة بن الزبير : أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – ، خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئاً مِنْ أرْضِهَا ، فَقَالَ سعيدٌ : أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئاً مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – !؟ قَالَ : مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ؟ قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : (( مَنْ أخَذَ شِبْراً مِنَ الأرْضِ ظُلْماً ، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ )) فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ : لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا ، فَقَالَ سعيد : اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً ، فَأعْمِ بَصَرَها ، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها ، قَالَ : فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ . متفق عَلَيْهِ . وفي روايةٍ لِمُسْلِمٍ عن محمد بن زيد بن عبد الله بن عُمَرَ بِمَعْنَاهُ ، وأنه رآها عَمْيَاءَ تَلْتَمِسُ الجُدُرَ تقولُ : أصابَتْنِي دَعْوَةُ سَعيدٍ ، وأنَّها مَرَّتْ عَلَى بِئرٍ في الدَّارِ الَّتي خَاصَمَتْهُ فِيهَا ، فَوَقَعَتْ فِيهَا ، وكانتْ قَبْرَها . Dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya Said bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu pernah dituntut oleh Arwa binti Aus radhiyallahu ‘anha kepada Marwan bin Al-Hakam dengan tuduhan bahwa Sa’id merampas sebagian tanahnya. Said berkata, “Aku telah mengambil sebagian tanahnya setelah aku mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Marwan berkata, “Apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Said menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh.’” Marwan pun berkata, “Aku tidak akan meminta bukti lagi kepada Anda setelah itu.” Said lantas berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya.” ‘Urwah berkata, “Wanita itu ternyata mati setelah matanya buta. Yaitu, suatu ketika ia berjalan di tanahnya. Kemudian ia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan seketika itu pula mati.” (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam riwayat Muslim, dari Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar, dengan kasus yang sama, yaitu bahwa Muhammad melihat Arwa dalam kondisi buta, berjalan meraba-raba tembok seraya berkata, “Doa Sa’id atasku telah dikabulkan.” Ia berjalan di dekat sumur di rumah yang dipersengketakannya, lalu ia jatuh ke dalamnya. Sumur itu pun menjadi kuburnya.   Baca juga: Kisah Said bin Zaid yang Doanya Mudah Terkabul   Faedah hadits Hadits ini “Barang siapa merampas sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tanah itu ke lehernya sampai pada lapisan bumi ketujuh” sudah diterangkan di hadits no. 206 dari kitab Riyadh Ash-Shalihin: Merampas tanah itu termasuk al-kabair (dosa besar). Siapa saja yang memiliki tanah, maka ia memiliki segala yang di bawahnya. Bumi itu tujuh lapis secara bersusun tak terpisah satu lapisan dari yang lain. Hadits ini memperingatkan akan tindakan zalim pada manusia dan mengambil haknya. Keutamaan Sa’id bin Zaid dan karamah yang dimilikinya dilihat dari beberapa hal yaitu:   Kegigihannya dalam berpegang dan mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengamalannya. Hal tersebut terlihat jelas melalui hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah mencegah dirinya dari kezaliman. Ini menunjukkan sikap pemahamannya terhadap hukum yang telah diturunkan oleh Allah. Marwan bin Al-Hakam menerima riwayatnya, menunjukkan kedudukan Said yang tinggi dan terhormat. Terkabulnya doa Said terhadap perempuan yang zalim itu. Setelah peremuan itu buta matanya, Said datang kepada Marwan kemudian mengajaknya berkendaraan bersama orang-orang, hingga mereka pun melihat perempuan tersebut. Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu mengalami kebutaan dan ia jatuh ke dalam sumur kemudian mati.   7. Hadits ini menunjukkan bolehnya berhujjah dengan hadits Ahad (melalui jalur satu orang). Oleh karena itu, Marwan bin Al-Hakam tidak meminta bukti lain kepada Said ketika ia diberitahu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8. Peringatan agar jangan menyakiti ulama Rabbani, juru dakwah, orang-orang saleh, dan para wali Allah yang bertakwa. Baca juga: Merampas Harta Orang Lain   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:545-547.   – Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa terkabul karamah karamah wali kisah sahabat riyadhus sholihin riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah Said bin zaid

Ajaran yang Lebih Sempurna daripada Stoikisme

Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme

Ajaran yang Lebih Sempurna daripada Stoikisme

Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme
Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme


Baru baru ini, istilah stoikisme populer di tengah-tengah masyarakat. Diperbincangkan dalam podcast-podcast yang sedang trending dan mulai dipraktikkan oleh sebagian besar anak muda. Sebuah konsep pemikiran yang ada sejak tahun 108 SM. Konsep ini mengajarkan bagaimana agar manusia mampu menjaga ketenangan dalam berfikir secara rasional. Tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi di luar kendali, serta berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.Konsep stoikisme mengajarkan tentang keyakinan terhadap apa yang dimiliki oleh diri sendiri kemudian berfokus padanya dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Kemudian menyingkirkan pengaruh negatif yang datang dari luar kendali diri. Orang-orang stoikis tidak terlalu mempedulikan bagaimana penilaian manusia kepada diri mereka sehingga mereka hanya fokus melakukan apa yang mereka anggap baik bagi diri mereka.Orang-orang yang meyakini dan dianggap berhasil menerapkan konsep berpikir ini dalam kehidupan mereka mengakui bahwa cara pandang mereka dalam menjalani hidup menjadi berbeda karena mereka dapat menjadi lebih tenang dan lebih menikmati kehidupan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.Saudaraku, banyak manusia yang mengaku beriman tapi lebih meyakini konsep-konsep dari ajaran di luar Islam daripada ajaran-ajaran yang bersumber dari agamanya sendiri, meskipun pesan yang dibawa adalah sama, bahkan tidak sebaik dari ajaran Islam. Tidak sedikit umat Islam lebih condong mengikuti nasihat yang dianggap memiliki basis ilmiah daripada nasihat Islam sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Meskipun ia menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadis itu sendiri adalah sains dan ilmiah. WaliyadzubillahPadahal, dalam Islam sendiri mengajarkan prinsip-prinsip hidup yang lebih sempurna dari apa yang diajarkan oleh filsafat apapun yang ada di dunia ini. Dalam Islam, kita diajarkan tentang sebuah konsep mulia yang bernama “niat” yang merupakan pokok fundamental dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Islam mengajarkan agar niat itu dipersembahkan hanya untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala.Melakukan segala amalan berupa aktivitas mulai dari gerakan batin, fikiran, maupun segala hal yang dilakukan oleh fisik (anggota tubuh), dimulai dengan niat ikhlas untuk meraih keridaan Allah. Maka, apapun komentar, tanggapan, bahkan cemoohan dari manusia, tidak sedikit pun dapat mempengaruhi hal-hal yang kita lakukan yang diawali dengan niat ikhlas tersebut.Dan rasakanlah betapa ketenangan hidup yang kita inginkan. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata,رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa tercapai.” Daftar Isi sembunyikan 1. Senang terhadap pujian manusia 2. Cercaan manusia dan keniscayaan 3. Kekeliruan niat, penyebab jauh dari Allah 4. Ikhlaskan amal dan niatmu! 5. Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlas Senang terhadap pujian manusiaSebagai manusia, perasaan senang atas pujian seseorang atas diri kita adalah hal yang manusiawi, asalkan tidak melangkahi batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun sunah.Namun, sebagian manusia, setelah melakukan suatu tugas, kewajiban, ataupun pemberian kepada seseorang, ucapan ‘terima kasih’ adalah kalimat yang ditunggu-tunggu. Bahkan, oleh penganut konsep stoikisme sekali pun. Karena mereka tidak meletakkan niat suci dari prinsip itu kepada Zat Yang Mahamengetahui, yaitu Allah Ta’ala.Saudaraku, kadangkala kita mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain terhadap diri kita. Pujian dan sanjungan, bahkan cacian dan makian manusia sering menjadi tolak ukur kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Akhirnya, kita bekerja, beraktivitas, berbicara, berperilaku, bahkan beramal dan beribadah ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa pujian dan sanjungan itu. WaliyadzubillahSesungguhnya kita menyadari bahwa amal ibadah sangat tergantung pada niat kita ketika hendak melaksanakannya. Karena pahala yang diberikan kepada seorang hamba yang melakukan suatu amal berdasarkan niat yang telah ia ikrarkan.Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)Namun, alih-alih menghadirkan niat lillah dalam melaksanakan segala hal baik urusan duniawi seperti bekerja ataupun menuntut ilmu, maupun urusan ukhrawi dalam bentuk mengerjakan berbagai amal ibadah, terkadang kita justru menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan akhir atas segala urusan tersebut.Akibatnya, kita sering dirundung masalah hingga bencana sebagai bentuk teguran dari Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya yang sedang ‘jauh’ dari-Nya. Padahal, jika saja segala urusan tersebut disandarkan atas niat untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, tentulah kebahagiaan yang akan diperoleh.Baca Juga:Imam Asy Syafi’i dan Ilmu Filsafat Cercaan manusia dan keniscayaanAdapun niat untuk mendapatkan pengakuan dari manusia dalam bentuk pujian, ataupun karena takut dari cercaan, maka apapun yang kita dapatkan setelahnya adalah suatu hal yang semu yang dapat berujung pada kekecewaan. Karena tidak ada orang yang dapat selamat dari cercaan manusia. Sesempurna apapun akhlaknya, semulia apapun perilakunya, dan sebaik apapun tingkah lakunya. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak luput dari cercaan dan celaan dari manusia (orang-orang kafir Quraisy).Nasihat dalam menyikapi keniscayaan cercaan manusia ini dapat kita ambil dari perkataan Ibnu Hazm rahimahullah yang berkata,مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka, maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawaatin Nufuus, hal. 17)Terlalu larut dengan penilaian manusia juga akan memperburuk keadaan pikiran dan batin kita. Sebab, bagaimanapun yang kita lakukan, tetap saja ada manusia yang menilai dari sudut pandang negatif. Semakin kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan, maka semakin dekat pula kita dengan kekecewaan. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,“إنّك لا تقدر أن ترضي النّاس كلَّهم، فأصلح ما بينك وبين الله ثمّ لا تبالي بالناس”“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.” (Tawaalii At-Taniis, hal. 168)Kita hanya perlu memperbaharui niat kita dalam setiap langkah dan aktivitas yang kita lakukan. Niat yang perlu tetap konsisten untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala, apapun resiko yang kita hadapi. Bahkan, hingga ke titik resiko yang membahayakan diri kita pun, insya Allah kita akan tetap berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, asalkan kita senantiasa menjaga batasan-batasan syariat Allah. Karena dengan menjaga batasan syariat tersebut, kita juga sedang menjaga Allah. Perhatikan hadis berikut ini.عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai pun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 1: 307)Baca Juga: Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu SinaKekeliruan niat, penyebab jauh dari AllahSeringnya berinteraksi dengan manusia dan menghabiskan waktu dalam kesibukan terhadap urusan duniawi perlahan tapi pasti akan menjauhkan kita dari Allah. Apalagi, kesibukan kita dalam urusan duniawi tersebut telah merenggut waktu-waktu terbaik kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.Kadangkala, kita selalu mencari alasan dan pembenaran dari dorongan hasrat duniawi yang terlalu sibuk untuk mendapatkan kesenangan yang semu. Atau yang lebih halus, dengan alasan demi mencari kehidupan yang layak, kemudian kesempatan beribadah (seperti solat duha, tahajud, membaca Al-Qur’an) kita tepis seenaknya, dengan berbagai alasan dan hati pun bergumam “Aku tidak sempat melakukannya, ya Allah.”Padahal, amal ibadah kepada Allah khususnya amalan-amalan sunah (an-nawafil) adalah kunci agar kita semakin dekat dengan-Nya. Dekatnya kita kepada Allah bahkan akan membuka pintu-pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas, kenapa kita menghindarinya?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)Baca Juga: Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Ikhlaskan amal dan niatmu!Ketika berada dalam suatu keadaan dimana hanya ada dua pilihan antara kesuksesan di mata manusia tapi harus melangkahi batasan syariat, atau bertekad memperoleh rida Allah meskipun mendapatkan celaan manusia. Pilihan manakah yang akan kita ambil?Fenomena terjebak dalam dua pilihan ini seringkali terjadi pada diri kita. Baik dalam memutuskan suatu perkara (cobaan bagi seorang pemimpin), maupun dalam melaksanakan suatu perintah (cobaan bagi yang dipimpin). Contoh konkrit, ketika seorang bos lebih memilih untuk tetap bekerjasama dengan pihak mitra untuk suatu project demi mendapatkan keuntungan besar. Padahal ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh untuk mendapatkan keuntungan itu mau tidak mau harus melanggar ketentuan syariat (seperti ribawi, gharar, dan sebagainya).Atau seorang anak buah yang mau tak mau harus menjalankan perintah bos-nya untuk tetap melanjutkan kerja sama tersebut padahal ia tahu bahwa yang akan dikerjakan adalah apa yang dilarang oleh syariat. Maka, dengan alasan kekhawatiran akan celaan manusia, atau kekhawatiran akan kehilangan rezeki, ia pun tetap melakukan pekerjaan itu.Hilanglah niat “mengerjakan segala hal untuk mendapatkan rida Allah”. Padahal Allah Sang Maha Penyayang akan senantiasa memberikan kita kecukupan selama kita tetap menjaga batasan-batasan agama ini. Perhatikanlah hadis berikut.عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِDari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Muawiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasihat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari rida manusia, namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata kepada salah seorang murid beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la,لَوْ اجْتَهَدْتَ كُلَّ الْجُهْدِ عَلَى أَنْ تُرْضِيَ النَّاسَ كُلَّهُمْ فَلَا سَبِيْلَ، فَأَخْلِصْ عَمَلَكَ وَنِيَّتَكَ لِله عَزَّ وَجَلَّ.“Seandainya engkau bersungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk membuat rida manusia seluruhnya, tidak akan mungkin bisa. Oleh karena itu maka ikhlaskanlah amal dan niatmu hanya untuk Allah Azza wa Jalla.” (Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 31)Kabar gembira bagi orang yang memiliki niat ikhlasTelah jelas bagi kita bagaimana keadaan orang-orang yang mengedepankan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dan pujian manusia. Mereka tidak akan mendapatkan apapun pada akhirnya, kecuali kekecewaan. Sebaliknya, niat yang selalu dipersembahkan untuk mendapatkan rida dari Allah Ta’ala akab berbuah manis, baik di dunia maupun akhirat.Maka, apakah alasan bagi kita untuk tidak mengikhlaskan niat hanya bagi Allah Ta’ala?Oleh karena itu, selain mengetahui balasan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan niatnya lillah dalam setiap aktivitas, tutur kata, dan tingkah lakunya. Penting pula bagi kita, untuk mengetahui akibat yang lebih jauh bagi orang-orang yang mempersembahkan niatnya kepada selain Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Tidak ada sedikit pun arti suatu amalan tanpa menghadirkan niat lillah dalam setiap amalan tersebut. Apalah artinya suatu amalan yang dikerjakan dengan segala daya dan upaya, namun tanpa niat lillah, kemudian tidak mendapatkan apa pun dari pahala atas amalan tersebut.Oleh karenanya, amalan yang kita kerjakan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan rida Allah (bukan rida manusia) adalah orang yang paling baik agamanya, serta buah dari keikhlasannya tersebut akan berujung pada balasan dengan sebaik-baik balasan dari Allah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An-Nisa’: 125)Allah Ta’ala juga berfirman,فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)Demikianlah sekelumit dari gambaran betapa ajaran agama mulia ini begitu sempurna dan sangat komprehensif. Ajaran yang meliputi segala lini kehidupan manusia. Baik dalam perkara duniawi, apalagi perkara ukhrawi. Oleh karenanya, selamilah lebih dalam ajaran agama mulia ini. Rasakan dan sadarilah bahwa lautan ilmu yang bersumber dari Allah Ta’ala sangatlah luas sehingga engkau akan berhenti berdecak kagum dengan segala pernak pernik sains dan teknologi yang dianggap menakjubkan itu. Karena akhirnya engkau menyadari bahwa semua itu berasal dari sumber yang sama, yaitu ilmu Allah Ta’ala yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Baca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Solusi Hidup BahagiaPenulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Ulama Salafi, Hadis Riwayat Abu Hurairah, Arti Haleluya Dan SyalomTags: Aqidahaqidah islamarti Stoikismefilsafatfilsafat Stoikismenasihatnasihat islampaham Stoikismepengertianpengertian StoikismeStoikisme

Obat Was-was Setan dalam Salat – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Obat Was-was Setan dalam Salat – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Waswas ini asalnya dari setan.Dia berkata, “Aku salat, lalu mengulang al-Fatihah beberapa kali,atau mengulang tasyahud beberapa kali.”Ini dari setan! Oleh sebab itu, seseorang harus beristiazah dari setan yang terkutukdan berusaha membaca al-Fatihah sekali saja,atau membaca tasyahud sekali saja.Tidak perlu mengulang dan membaca lagi. Setan membisiki Anda,“Kamu tidak benar membacanya!”“Kamu salah baca!”“Kamu belum baca semua!”“Kamu baru baca sebagian!”Ini dari setan. Jadi, perbanyaklah beristiazah dari setan yang terkutuk,dan berdoalah kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā,agar meneguhkan hati Anda dan menjauhkan waswas tersebut. ==== هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ: أُصَلِّي وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ كَذَا مَرَّاتٍ أَوِ التَّشَهُّدَ كَذَا وَهَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لَا بُدَّ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَيَلْتَزِمَ بِأَنَّهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ مَرَّةً وَاحِدَةً وَالتَّشَهُّدَ مَرَّةً وَاحِدَةً لَا يُعِيدُ لَا يُكَرِّرُ يَعْنِي الشَّيْطَانُ يَقُولُ لَكَ: مَا قَرَأْتَهَا صَحَّ قَرَأْتَهَا غَلَطٌ مَا قَرَأْتَهَا … مَا قَرَأْتَهَا كُلَّهَا قَرَأْتَهَا بَعْضَهَا هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَادْعُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَكَ وَيُبْعِدَ ذَلِكَ الْوَسَاوِسَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bulughul Maram – Shalat: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah

https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah

Bulughul Maram – Shalat: Dalil-Dalil yang Membicarakan Manakah yang Termasuk Ayat Sajadah

https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah
https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah


https://open.spotify.com/episode/4DuenuEefFQwf9qc1LbVY0 Berikut adalah hadits-hadits yang membicarakan ayat sajadah yang disyariatkan sujud sahwi dalam shalat. Yuk kita kaji.   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Ayat-Ayat Sajadah 2. Hadits 1/339 2.1. Faedah hadits 3. Hadits 2/340 3.1. Faedah hadits 4. Hadits 3/341 5. Hadits 4/342 5.1. Faedah hadits 6. Hadits 5/343 7. Hadits 6/344 7.1. Faedah hadits 8. Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an 8.1. Referensi   Ayat-Ayat Sajadah Hadits 1/339 ِعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي: {{إِذَاالسَّمَاءُ انْشَقَّتْ *}}، وَ{{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ}}، رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami sujud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsewaktu membaca IDZASSAMAA-UN SYAQQOT dan IQRO’ BISMI ROBBIKA. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 578, 108]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud tilawah ketika ada sebab. Sujud tilawah ada dalam surah mufashshal (yang ayatnya pendek-pendek), seperti dalam surah Al-Insyiqaq dan surah Al-‘Alaq.   Hadits 2/340 ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: {{ص}} لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْتُرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Surah Shad bukanlah surah yang disunnahkan untuk sujud. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud ketika membacanya.” (HR. Bukhari). [HR. Bukhari, no. 1069]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya sujud ketika membaca surah Shad, tetapi tidak terlalu ditekankan seperti sujud ketika membaca ayat lainnya. Para ulama berselisih pendapat apakah surah Shad disyariatkan sujud tilawah ataukah sujud syukur. Sebagian ulama menganggap bahwa yang disyariatkan adalah sujud syukur, berarti hanya dilakukan di luar shalat. Inilah pendapat Syafiiyah dari dua pendapat yang ada dan pendapat madzhab Hambali. Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa surah Shad disyariatkan sujud tilawah, sehingga dianjurkan di dalam maupun di luar shalat. Inilah pendapat dari ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafii. Pendapat yang terkuat menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, surah Shad disyariatkan sujud tilawah. Hal ini juga menjadi pendapat dari Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu Baz. Sedangkan, Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berpendapat bahwa surah Shad itu dianjurkan sujud syukur, bukan sujud tilawah, sehingga tidaklah disyariatkan di dalam shalat.   Hadits 3/341 ِـ وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sewaktu membaca surah An-Najm. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1071]   Hadits 4/342 ِوَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجْمَ فَلَمْيَسْجُدْ فِيهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah membaca surah An-Najm di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak sujud waktu itu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1072, 1073 dan Muslim, no. 577]   Faedah hadits Hadits ini menjadi dalil bahwa sujud tilawah disyariatkan ketika membaca surah An-Najm. Adapun hadits Zaid bin Tsabit tidak menunjukkan meninggalkan sujud secara keseluruhan ketika membaca surah An-Najm. Ketika itu Zaid bin Tsabit membaca surah An-Najm, lantas ia tidak sujud. Seandainya ia sujud tilawah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ikut sujud pula. Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hal ini tidak disyariatkan untuk orang yang junub dan mabuk karena keduanya tidaklah disyariatkan untuk membaca surah. Orang yang mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan ayat sajadah, hendaklah melakukan sujud tilawah walaupun yang membaca tidaklah sujud. Namun, jika yang membaca Al-Qur’an melakukan sujud tilawah, maka sangat dianjurkan yang mendengarkan melakukan sujud tilawah. Akan tetapi, jika yang membaca Al-Qur’an itu sedang tidak berada dalam shalat, sedangkan yang mendengarkan sedang shalat, maka tidak ada sujud tilawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sujud tilawah ketika sampai pada ayat sajadah dalam surah An-Najm, berarti beliau terkadang sujud tilawah, terkadang tidak. Inilah yang menjadi dalil bahwa sujud tilawah itu sunnah, bukan wajib.   Hadits 5/343 ِـ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: فُضِّلَتْ سُورَةُ الحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ فِي«المَرَاسِيْلِ». Dari Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ia berkata, “Surah Al-Hajj diutamakan karena ada dua sujudnya (dua ayat sajadah).” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil) [HR. Abu Daud dalam Al-Marasil, 76]   Hadits 6/344 ِوَرَوَاهُ أَحْمَدُ، والتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولاً مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: «فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا، فَلاَيَقْرَأْهَا» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi secara maushul (bersambung) dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir dengan tambahan, “Barangsiapa yang tidak sujud atasnya, maka janganlah membacanya.” (Sanad hadits ini dhaif). [HR. Ahmad, 28:593 dan Abu Daud, no. 1402. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini dhaif].   Faedah hadits Surah Al-Hajj memiliki keisitimewaan dari surah lainnya, dalam satu surah ada dua ayat sajadah, yaitu surah Al-Hajj ayat 18 dan 77. Surah Al-Hajj ayat 77 terdapat perselisihan para ulama apakah termasuk ayat sajadah yang disyariatkan sujud tilawah ataukah bukan. Imam Malik, Syafii, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir menganggap ayat tersebut termasuk ayat sajadah. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:249. Ulama Syafiiyah menganggap bahwa sujud tilawah itu ada pada 14 tempat, di antaranya dua ayat dalam surah Al-Hajj. Sedangkan, surah Shad tidak disyariatkan sujud tilawah, tetapi sujud syukur.   Baca juga: Panduan Sujud Tilawah dari Manhajus Salikin   Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah adalah: Al-A’raf ayat 206 Ar-Ra’du ayat 15 An-Nahl ayat 49-50 Al-Isra’ ayat 107-109 Maryam ayat 58 Al-Hajj ayat 18 Al-Furqan ayat 60 An-Naml ayat 25-26 As-Sajdah ayat 15 Fushshilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah) Empat ayat yang termasuk ayat sajadah, tetapi masih diperselisihkan, dan masih ada dalil sahih yang mendukungnya, yaitu: Shaad ayat 24 An-Najm ayat 62 (ayat terakhir) Al-Insyiqaq ayat 20-21 Al-‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir) Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menjelaskannya, yaitu surah Al-Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar. Lihat Shahih Fiqih As-Sunnah, 1:454-458. Baca juga: Ayat-Ayat Sajadah   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:239-250. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:553-563. Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, 1:454-458. —   Diselesaikan 27 Muharram 1444 H, 25 Agustus 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat sajadah bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat sujud tilawah

Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata Kotor

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Jangan Mudah Berkata Kotor

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, karena dengan ketakwaan, seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusan dan akan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ * وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang dibawa agama Islam terhadap kemanusiaan adalah akhlak yang mulia. Dan inilah salah satu tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad)Akhlak yang sempurna dan luhur inilah yang menjadi salah satu sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pujian dari Allah Ta’ala. Sebuah pujian yang belum pernah Allah Ta’ala berikan kepada makhluk selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)Dengan akhlak dan budi pekerti yang mulia inilah beliau bisa mengambil banyak hati manusia. Begitu banyak manusia yang akhirnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk Islam karena melihat akhlak beliau yang mulia ini. Betapa banyak kalimat dan kata-kata yang baik yang keluar dari mulut beliau sehingga dapat mengobati hati yang sedang sakit, meredakan fitnah, dan menyebabkan terjalinnya persahabatan dan persaudaraan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Hukum Menyampaikan Khotbah Jumat dengan Selain Bahasa ArabBegitu agung penggambaran Al-Qur’an terhadap perkataan yang baik, seakan-akan ia adalah tali penyambung antara bumi dan langit dan merupakan jalan untuk meraih keridaan Allah Sang Pemilik kenikmatan dan kemuliaan. Karena ucapan yang baik adalah buah dari ibadah kita dan hasil darinya. Allah Ta’ala berfirman,اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ * تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala.Sebaliknya, ucapan yang kotor dan buruk merupakan salah satu perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala. Tidaklah ia membuahkan sesuatu, melainkan permusuhan dan perpecahan, menjadi sebab rusaknya tali persaudaraan dan putusnya sebuah hubungan. Tak terhitung jumlahnya, putusnya hubungan orang tua dan anak dan hilangnya keharmonisan antara pasangan suami dan istri dikarenakan ucapan yang kotor dan buruk.Al-Qur’an telah menggambarkan perkataan yang kotor dan buruk ini bagaikan pohon yang buruk, pohon yang tidak memberikan manfaat serta kebaikan apapun bagi pemiliknya. Bahkan ia membuahkan keburukan dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)Setelah memberikan permisalan 2 pohon, Al-Qur’an memberi kita sinyal dan mengajarkan bahwa ucapan dan perkataan yang baik merupakan tanda jujurnya keimanan seseorang dan pertanda bahwa dirinya telah mencapai derajat rida Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)Baca Juga: Khotbah Jumat: Rasulullah Diutus sebagai Rahmat bagi Seluruh AlamMa’asyiral mukminin yang berbahagia,Ketahuilah sesungguhnya hasil dari ucapan yang baik adalah terjaganya rumah tangga. Jika seorang suami berkata dengan perkataan yang indah, maka bertambah pula kadar kecintaan dan kasih sayang antara suami dengan istrinya, semakin baik pula perlakuannya terhadap yang lain. Dan kapan pun seorang istri cerdas di dalam memilih kata, maka itu adalah pondasi untuk membangun rumah yang yang tenang lagi damai.Jika kita cermati dengan baik, akan kita dapati bahwa di antara sebab rusaknya hubungan suami istri adalah ucapan dan perkataan yang kotor lagi buruk. Kata-kata yang tidak disadari ternyata dapat menyebabkan rusaknya hubungan, kata-kata yang akhirnya dapat merusak keharmonisan dalam keluarga, kata-kata yang mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Hubungan yang biasanya dipenuhi dengan kasih sayang berubah dipenuhi dengan kekerasan dan sikap acuh tak acuh karena kata-kata kotor yang keluar dari mulut pelakunya. Padahal, Nabi hallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan petunjuk yang indah dalam perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara, maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Sungguh menjaga ucapan serta tidak berkata kotor dan buruk merupakan salah satu perkara penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua, ayah dan ibu. Karena anak-anak pastilah akan memperhatikan dan meniru ucapan orang tuanya. Saat engkau dapati ada anak yang memiliki tutur kata yang baik, ketahuilah bahwa itu adalah buah dan hasil dari apa yang ia dengar dari orangtuanya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan tutur kata dan tingkah lakunya.Salah seorang ulama masa silam, Muqatil bin Muhammad Al-‘Ataki berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim Al-Harbi. Maka, beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka), beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Shifatush Shafwah, 2: 409)Seorang penyair juga pernah berkata dalam bait syairnya,الأم مدرسة إذا أعددتَها، أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Perbaikan akhlak (dan termasuk di dalamnya menjaga lisan kita dari perkataan kotor dan tidak pantas) merupakan kunci kesuksesan di dalam mendidik, baik itu pendidikan orang tua terhadap anaknya, pendidikan seorang guru terhadap murid-muridnya, ataupun pendidikan dan dakwah seorang ulama terhadap pengikutnya. Ada sebuah ungkapan Arab terkenal berbunyi,فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ“Orang yang tidak punya sesuatu, tidak mungkin memberi sesuatu itu.”Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan kita dari berucap dan berbicara dengan sesuatu yang kotor lagi buruk. Semoga Allah Ta’ala hiasi lisan kita ini dengan ucapan yang baik lagi indah. Karena lisan kita merupakan salah satu anggota badan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Serta tidaklah kita berucap melainkan pasti ada malaikat yang akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Memuliakan Bulan Muharam Sesuai Petunjuk RasulullahKhotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Di Hari, Hukum Minum Air Kencing Unta, Ayat Alquran Untuk Pengobatan, Tata Cara Qiyamul LailTags: adabadab berbicaraAkhlakkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatmuamalahteks khutbah jumattema khutbah jumat

Membongkar Trik para Dukun

Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262

Membongkar Trik para Dukun

Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262
Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262


Pertanyaan: Ada sebagian orang yang membongkar trik para dukun dan menyingkap kebohongan mereka. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan, disebutkan kisah Ibnu Taimiyah yang membongkar trik dukun Ahmadiyah Rifa’iyyah atau dikenal dengan sekte Bathaihiyyah yang mengaku kebal api. Disebutkan di sana: “Salah seorang Syaikh Bathaihiyyah berteriak, “Kami memiliki kesaktian ini dan itu”. Mereka mengaku memiliki keajaiban-keajaiban seperti tahan api dan lainnya, yang itu khusus dimiliki oleh sekte mereka. Maka Syaikhul Islam berkata, “Aku berkata kepada mereka dengan meninggikan suara dan dengan nada marah: Aku menantang semua orang Ahmadiyah di penjuru bumi yang mengaku tahan api, maka aku pun akan melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Siapa yang terbakar maka dia kalah dan baginya laknat Allah!”. Kemudian aku katakan, ”Namun syaratnya, sebelum dibakar harus dimandikan dahulu badannya dengan cuka dan air hangat”. Salah seorang umara’ dan sebagian orang bertanya kepadaku mengapa harus ada syarat tersebut? Aku berkata, “Karena mereka punya trik agar tahan api, yaitu mereka menggunakan minyak dari katak, kulit jeruk lemon, dan bubuk batu talek, untuk memperdayai orang-orang”. Kemudian orang-orang Bathaihiyyah itu pun mengklaim mampu melakukannya. Mereka berkata, “Aku dan engkau kita akan diselimuti oleh kain di tengah tanah lapang, setelah dilumuri oleh belerang!”. Aku berkata, “Ayo!”. Mereka pun lantas akan membuka gamis mereka bersiap melakukannya. Aku berkata, “Jangan dulu! Anda harus dimandikan dulu dengan cuka dan air hangat”. Kemudian mereka pun mulai tampak ragu seperti biasanya. Kemudian mereka berkata, “Siapa yang cinta kepada pemimpin maka tolong carikan kayu bayar!”. Aku berkata, “Ini akan menunda pertunjukkan dan mencerai-beraikan penonton, tidak akan tercapai apa yang dimaksud! Api sudah dinyalakan, mari kita masukan tangan kita ke api setelah dimandikan cuka dan air hangat, siapa yang terbakar maka ia mendapat laknat Allah dan kalah”. Ketika aku katakan demikian maka mereka pun mundur teratur.” (Majmu’ al-Fatawa, 11/446-465, dikutip dari Kitabut Tauhid lil Fauzan, hal. 37) Di antara pelajaran dari kisah ini adalah bahwa membongkar trik dukun boleh saja dan ada manfaatnya. Tapi perlu diperhatikan: 1. Membongkar trik dukun bukanlah hal yang jadi fokus utama. Yang jadi fokus utama adalah menyampaikan ilmu yang benar dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah yang jadi fokus para Nabi dan Rasul, serta para ulama seperti Ibnu Taimiyah. Beliau tidak sibuk membongkar trik para dukun. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki’.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19) Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “dari hadits yang mulia ini, dan juga barang siapa yang memperhatikan dakwah para Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan juga barang siapa yang memperhatikan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapat memahami manhaj dakwah ilallah. Dan ia akan memahami bahwa yang pertama didakwahkan kepada manusia adalah aqidah, yaitu mengajak mereka menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta meninggalkan semua ibadah kepada selain Allah, sebagaimana makna Laa ilaaha illallah.” (Al-Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad, 17) 2. Dukun itu pendusta baik terbongkar atau tidak triknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta, فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ “… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288) 3. Datang ke dukun itu tetap kekufuran walaupun tidak terbongkar triknya dan walaupun ada pasiennya yang sembuh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barang siapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5939) 4. Dukun terkadang memang menggunakan sihir yang berupa mantra serta buhul yang dibantu oleh setan. Sehingga tidak diketahui sebabnya.  Karena memang secara bahasa, sihir artinya kejadian yang samar penyebabnya.  السحر لغة: ما خفي ولطف سببه “Sihir secara bahasa artinya semua yang samar dan tidak jelas penyebabnya.” (Al-Qaulul Mufid, 1/489) Ahlussunnah meyakini adanya sihir sebagaimana ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir. Sehingga tidak semua dukun menggunakan trik, sebagiannya menggunakan sihir. Dan sihir ini adalah kekufuran dan dosa besar. Allah ta’ala berfirman:  يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ “Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’.” (QS. al-Baqarah: 102) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab: berbuat syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina.” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89) Semoga jawaban ini bermanfaat. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Nurbuat Menurut Para Ulama, Tata Cara Sholat Istikharah, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Tata Cara Sholat Qodho Dan Qoshor, Wirid Untuk Ibu Hamil, Zikir Pagi Dan Petang Visited 45 times, 1 visit(s) today Post Views: 262

Hukum Puasa di Pertengahan Sya’ban – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Hukum Puasa di Pertengahan Sya’ban – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Setelah itu, beliau membahas masalah lain,tentang orang yang tidak berpuasa di bulan Syaban seluruhnya,dan juga tidak memiliki kebiasaan berpuasadi hari tertentu secara rutin di bulan Syaban hingga pertengahan bulan Syaban. Dia menyebutkan bahwa puasa tersebut hukumnya makruh,berdasarkan hadis ini, yaitu hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab Sunan:“Jika sudah pertengahan bulan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” Hadis ini telah dikritisi oleh beberapa ulama Hafiz senior,seperti Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah ar-Razi,Abu Dawud al-Sijistani, dan selain mereka,dan yang lebih tepat bahwa hadis ini lemah dan tidak sahih. Jika ada yang berkata bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur ʿAllāʾ bin Abdurrahman,dari ayahnya, dari Abu Hurairah,sedangkan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari jalur ini,sehingga hadis adalah hadis sahih menurut syarat Muslim. Bagaimana menjawabnya?Silakan, Muhammad!Bagus!Bahwa hadis ini berasal dari jalur riwayat yang diabaikan oleh Muslim,sedangkan jalur-jalur riwayat yang hadisnya diabaikan,maka tidak bisa dikatakan sesuai dengan syarat Muslim. Buktinya, bersamaan dengan dibutuhkanya hadis ini dalam bab ini,namun Muslim berpaling dari hadis ini,karena pengarang kitab Sahih, jika berpaling dari suatu hadis,padahal itu perlu disebutkan dalam bab tersebut,itu adalah isyarat bahwa hadis itu bermasalah! Apalagi jika berasal dari jalur riwayat yang diabaikan.Jadi, hadis ini adalah hadis lemah dan tidak sahih,sehingga kesimpulannya: TIDAK MAKRUH berpuasa setelah pertengahan bulan Syaban. Adapun yang TERLARANG adalah mendahului Ramadan dengan puasasehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang menjalankan kebiasaan puasanya, maka itu boleh baginya, adapun jika tidak demikianmaka hal itu terlarang, menurut dua pendapat yang ada:pendapat pertama makruh dan kedua haram. Dan yang benar—dan Allah lebih mengetahui—adalah haramnya mendahului puasa Ramadandengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa, sebagaimana telah dijelaskan dalam pelajaran kitab Maqāṣid as-Ṣaum karya Abu Muhammad bin Abdussalam,yang merupakan salah satu pelajaran dari program di hari pertama. ==== ثُمَّ أَوْرَدَ بَعْدَ ذَلِكَ مَسْأَلَةً أُخْرَى فِيمَنْ لَمْ يَصُمْ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَادَةٌ بِصِيَامِ أَيَّامٍ مُعْتَادَةٍ مِنْ شَعْبَانَ وَانْتَصَفَ شَعْبَانُ فَذَكَرَ أَنَّهُ يُكْرَهُ الصَّوْمُ فِيهِ لِأَجْلِ هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا وَهَذَا الْحَدِيثُ قَدِ اسْتَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ الْكِبَارِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ فِي آخَرِينَ وَهُوَ الْأَشْبَهُ أَنَّ هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَإِذَا قَالَ الْقَائِلُ إِنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رِوَايَةِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ هَذِهِ النُّسْخَةَ فَيَكُونُ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ فَمَا الْجَوَابُ؟ نَعَمْ يَا مُحَمَّدُ أَحْسَنْتَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ نُسْخَةٍ انْتَقَى مُسْلِمٌ مِنْهَا وَمَا كَانَ مِنَ النُّسَخِ الَّتِي يُنْتَقَى مِنْهَا حَدِيثٌ لَا يُقَالُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَالدَّلِيلُ هُوَ أَنْ هَذَا الْحَدِيثَ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي بَابِهِ فَإِنَّ مُسْلِمًا أَعْرَضَ عَنْهُ وَصَاحِبُ الصَّحِيحِ إِذَا أَعْرَضَ عَنْ حَدِيثٍ مَعَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَابِ فَإِنَّهُ يُشِيرُ إِلَى تَعْلِيلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا صَارَ فِي نُسْخَةٍ يَنْتَقِي مِنْهَا فَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يَصِحُّ وَلَا يُكْرَهُ الصِّيَامُ بَعْدَ انْتِصَافِ شَهْرِ شَعْبَانَ وَإِنَّمَا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ تَقَدُّمُ صَوْمِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ يَصُومُ عَادَةً فَلَهُ ذَلِكَ وَأَمَّا مَا عَدَا ذَلِكَ فَمَنْهِيٌّ عَنْهُ عَلَى قَوْلَيْنِ اثْنَيْنِ أَحَدُهُمَا الْكَرَاهَةُ وَالثَّانِي التَّحْرِيمُ وَصَحِيحٌ وَاللهُ أَعْلَمُ هُوَ الْقَوْلُ بِتَحْرِيمِ تَقَدُّمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لِمَنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ عَادَةٌ كَمَا تَقَدَّمَ تَقْرِيرُهُ فِي دَرْسِ مَقَاصِدِ الصَّوْمِ لِأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ هُوَ أَحَدُ دُرُوسِ بَرْنَامَجِ الْيَوْمِ الْوَاحِدِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Kiamat? – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kapan Kiamat? – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Kapan terjadinya?’” (QS. Al-A’raf: 187). Mereka selalu menanyakan hari kiamat.Mereka sering sekali bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat. Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan kiamat terjadi?”Beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Oleh sebab itu, Allah berfirman kepada beliau, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, …” dalam banyak ayat dalam al-Quran.Mereka datang kepada Nabi untuk menanyakannya, dan beliau menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Yakni yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa yang harus dipersiapkan seseorang untuk menghadapi kiamat?” Adapun pertanyaan, “Kapan kiamat terjadi?” (tidak seharusnya ditanyakan) Dulu beliau melihat mereka dan orang paling muda dari mereka, seraya menjawab, “Dia tidak akan datang waktunya hingga datang kiamat kalian.”Ada kiamat tersendiri bagimu, dan kiamatmu ini adalah hal yang pastiyang tidak diragukan kedatangannya, yaitu kematian. Setiap manusia akan didatangi kiamatnya, maka lihatlah kiamatmu sendiri, jangan lihat Kiamat Kubra (kiamat alam semesta). Karena waktu Kiamat Kubra telah disembunyikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar menyembunyikannya, bahkan Dia berfirman, “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, dan hampir-hampir …” Apa?“… hampir-hampir Aku sembunyikan waktunya.” Para mufassir berkata, yakni hampir saja Aku sembunyikan dari diri-Ku sendiri, menurut beberapa pendapat dari makna ayat ini. “Untuk apa kamu menyebutkan kapan waktunya.” (QS. An-Nazi’at: 43). Ia bukan urusan dan kepentinganmu untuk menyebutkan kiamat dan waktu terjadinya.Namun kepentinganmu adalah “Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” Yakni bukan urusan kita sekarang menanyakan waktu kiamat. Namun kepentingan kita apa, wahai Saudara-saudara?Yakni merasa takut kepada hari kiamat dan tanya jawab yang ada saat hari kiamat,serta menyiapkan jawaban yang benar untuk pertanyaan itu. ==== قَالَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا دَائِمًا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّاعَةِ وَكَثِيرًا مَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ لَمَّا سَأَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ فَلَمَّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا أَعْلَمُ مِنَ السَّائِلِ وَلِهَذَا يَقُولُ اللهِ لَهُ يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ فِي عِدَّةِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانُوا يَأْتُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ مَاذَا أَعْدَدْتَ؟ يَعْنِي كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السُّؤَالُ عَمَّ يُعِدُّ الْإِنْسَانُ لِلسَّاعَةِ أَمَّا مَتَى تَأْتِي السَّاعَةُ وَكَانَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى أَصْغَرِهِم يَقُولُ لَنْ يَأْتِيَ هَذَا أَجَلُهُ حَتَّى تَقُومَ قِيَامَتُكُمْ هَذَا فِيهِ قِيَامَةٌ خَاصَّةٌ بِكَ أَنْتَ وَقِيَامَتُكَ هِيَ الْيَقِينُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ وَهُوَ الْمَوْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ سَتَكُونُ قِيَامَتُهُ فَانْظُرْ أَنْتَ إِلَى قِيَامَتِكَ لَا تَنْظُرِ الْقِيَامَةَ الْكُبْرَى هَذَا أَمْرٌ أَخْفَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَشَدَّدَ فِي إِخْفَائِهِ حَتَّى قَالَ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ مَاذَا؟ أَكَادُ أُخْفِيْهَا قَالَ الْمُفَسِّرُونَ أَكَادُ أُخْفِيْهَا عَنْ نَفْسِي فِي بَعْضِ مَا قِيلَ حَوْل مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا هِيَ لَيْسَ شَأْنُكَ وَلَا مُهِمَّتُكَ أَنْ تَذْكُرَ السَّاعَةَ وَتَتَحَدَّثَ عَنْ قِيَامِهَا وَإِنَّمَا مُهِمَّتُكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا إِذًا لَيْسَتْ مُهِمَّتُنَا الْآنَ أَنْ نَسْأَلَ عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا الْمُهِمَّةُ مَا الْمُهِمَّةُ يَا إِخْوَانُ أَنْ يَخْشَى الْإِنْسَانُ السَّاعَةَ وَمَا يَكُونُ فِي السَّاعَةِ مِنَ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ وَيُعِدُّ لِهَذَا السُّؤَالِ جَوَابًا صَوَابًا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah

Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah

Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah

Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah
Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah


Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Selawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, dan pengikut setia beliau. Amma ba’du.Sesungguhnya di antara perkara paling agung yang seharusnya mendapatkan perhatian di zaman ini, wahai saudara-saudara sekalian, ialah hendaknya seorang insan beribadah kepada Allah Rabbnya Tabaraka Wa Ta’ala di atas bayyinah (bukti). Allah Ta’ala berfirman,أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّهِۦ “Apakah seorang yang berada di atas bayyinah/ bukti yang berasal dari Rabbnya …” (QS. Muhammad: 14)Dan hendaknya dia berada di atas nur (cahaya). Allah Ta’ala berfirman,أَوَمَن كَانَ مَیۡتࣰا فَأَحۡیَیۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورࣰا یَمۡشِی بِهِۦ فِی ٱلنَّاسِ“Apakah orang yang dahulunya mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dia (dengan iman) dan Kami jadikan untuknya cahaya sehingga dia bisa berjalan di tengah manusia…” (QS. Al-An’am: 122)Demikian pula, hendaknya dia beragama di atas bashirah (hujjah yang nyata). Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ“Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…’” (QS. Yusuf: 108)Maka, al-bayyinah, nur, dan bashirah ini termasuk perkara yang dapat membantu insan dalam menjalani kehidupan ini agar tetap di atas jalan yang lurus, dan tegar di atasnya sampai mati.Kebutuhan terhadap hal ini di masa sekarang ini, wahai saudara-saudara sekalian, yang mana banyak hal menjadi rancu/ tercampur aduk dan di masa ini juga terjadi keterasingan/ ghurbah dalam beragama, sebagaimana apa yang memang telah dikehendaki oleh Allah. Maka, hal ini termasuk perkara yang paling penting yang harus diperhatikan dan termasuk sebab paling utama untuk bisa tegar dalam beragama.Baca Juga: Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiMakna-makna ini berporos pada beberapa poin penting;Pertama: ilmuKedua: keyakinanKetiga: tsabat/ keteguhanSeorang akan bisa berada di atas bayyinah, di atas nur, dan bashirah apabila dia memadukan ketiga poin di atas.Pertama, hendaklah dia beragama dengan landasan ilmu. Yaitu dia beribadah kepada Allah dengan dasar ilmu. Tidaklah dia melakukan atau meninggalkan suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan atau ibadah (amalan), melainkan benar-benar berada di atas pondasi ilmu yang orisinil bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman para sahabat dan salafus shalih.Yang kedua, hendaklah dia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, dan ini termasuk perkara yang paling penting dimiliki di zaman ini. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوا۟“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)Pada zaman ini faktor-faktor yang memalingkan dari keyakinan itu sangat banyak. Hal-hal yang mendatangkan keraguan juga merebak. Maka, seyogyanya menjadi suatu hal yang paling harus dikejar di masa ini adalah dengan anda meyakini dengan kuat perkara-perkara yang wajib diyakini. Ini termasuk pondasi bagi anda yang harus anda pegang teguh dalam hidup.Yang ketiga, hendaklah anda tegar di atas kebenaran ini sampai mati, perkara ini/ urusan dunia ini dekat/ tidak jauh. Dan hidup ini (di dunia) hanya sebentar. Maksud perkara ini dekat, yaitu kita pasti akan meninggalkan dunia ini.Maka, kami berpesan dengan sangat agar kita tetap tegar. Janganlah jadi orang yang terpedaya sebagaimana orang-orang lain telah terpedaya sehingga dia pun berpaling dari jalan yang benar dan meninggalkan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.Faktor-faktor yang membelokkan dari keteguhan di zaman ini sangat banyak dan hal-hal yang membuat lalai/ terlena itu lebih banyak lagi. Maka, perkara yang hendaknya kita selalu saling berwasiat dengannya wahai saudaraku yang tercinta adalah agar kita harus perhatian dalam hal ini. Yaitu agar kita selalu memperhatikan hal ilmu, perhatian dalam hal keyakinan, dan perhatian dalam hal keteguhan dalam beragama.Adapun lawan dari ilmu adalah kebodohan. Lawan yang merusak keyakinan adalah berbagai macam syubhat. Faktor yang menggerogoti keteguhan adalah fitnah syahwat. Oleh sebab itu, hendaknya kita cerdik dan cermat menggunakan akal sehat untuk memahami keadaan diri anda sendiri maupun keadaan yang ada pada orang lain.Dengan melihat banyaknya orang yang berguguran dari jalan yang lurus, maka hal ini menjadi faktor yang mendorong untuk seseorang itu semakin merasa khawatir. Dia merasa takut kalau-kalau dirinya jatuh dalam kesesatan sebagaimana orang lain yang telah jatuh di dalamnya. Hal ini juga semakin membuat dirinya semakin bersandar kepada Allah agar Allah selalu membimbing hatinya dan meneguhkannya.Karena permasalahan ini sungguh besar dan bukan bersandar kepada daya dan kekuatan atau ilmu dan ijazah yang anda miliki, juga tidak bersandar kepada jabatan, dan kedudukan yang telah anda gapai. Tidak, demi Allah. Urusan ini tidak lain bertumpu semata-mata pada karunia dari Allah, Rabb alam semesta ini. Selain itu, maka hatinya juga semakin besar bergantung kepada Allah. Hendaknya dia bersikap jujur kepada Allah, maka bergembiralah dengan kebaikan yang telah Allah janjikan.Allah berfirman,فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya kemudahan/ kebaikan.” (QS. Al-Lail: 1-7)Baca Juga: Awas, Jangan Kau Dekati Fitnah!Apabila dia jujur kepada Allah niscaya Allah pun akan bersikap jujur kepadanya, artinya Allah akan membantu urusannya. Barangsiapa yang datang kepada Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.Maka, kita meminta pertolongan kepada Allah, saling membantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kebenaran. Barangsiapa yang memiliki suatu bentuk kebaikan, memiliki ilmu atau mendapati suatu kebenaran, berpegang dengan sunnah, maka hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam menjelaskannya kepada manusia.Hal ini perlu dilakukan dengan serius.Di sisi lain, ada sebagian orang yang saleh/baik, tetapi menjauhi kenyataan ini. Ketika melihat pertempuran yang begitu dahsyat antara kebenaran dan kebatilan, antara kekafiran dan keimanan, antara sunnah dan bid’ah yang begitu sengit, maka dia pun hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Maka, hal ini muncul dari kelemahan iman dan termasuk bentuk kedunguan yang seharusnya dijauhi oleh penimba ilmu dan orang yang telah Allah beri taufik kepadanya untuk berjalan di atas jalan ahlus sunnah wal jama’ah.Berdakwah ilallah, saling menasihati dalam kebenaran. Ini termasuk perkara penting untuk selalu kita perhatikan di zaman ini. Apabila hal ini menjadi perkara penting di masa silam, maka demi Allah, hal ini di masa ini semakin penting dan lebih ditekankan.Saya memohon kepada Allah untuk meneguhkan diri saya dan kalian di atas kebenaran ini dan semoga Allah mencurahkan taufik kepada kita untuk mengikuti kebenaran dan memberikan kemudahan bagi kita untuk beramal dengan apa-apa yang mendatangkan keridaan-Nya. Wallahu a’lam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikutnya dan segenap para sahabatnya.Disampaikan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi hafizhahullah, guru besar ilmu akidah di Universitas Islam Madinah, saat berceramah Kuwait, 18 Muharrram 1444. Video ini diupload 17 Agustus 2022 di tautan berikut.Baca Juga:Mengenal Hempher Dan Fitnahnya Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul WahabMakna Fitnah Dalam Al-Qur’an***Penerjemah: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Durhaka Kepada Ibu, Apa Itu Wali, Cara Berdzikir Yang Benar, Keutamaan Umroh RamadhanTags: Aqidahaqidah islamfitnah syahwatfitnah syubhatistiqomahkeutamaan istiqomahkiat istiqomahnasihatnasihat islamzaman fitnah

Tafsir al-Fatihah (6): Ihdinas Siratal Mustaqim – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tafsir al-Fatihah (6): Ihdinas Siratal Mustaqim – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)“Tunjukilah kami, …” dikatakan bahwa maknanya, “Teguhkan kami di atas jalan yang lurus.” Disebutkan juga bahwa “Tunjukilah kami, …” maknanya “Tambahkan pada kami hidayah.”Ini diucapkan oleh orang yang belum mendapat petunjukdan orang yang sudah mendapat petunjuk. Jika seseorang berkata,“Kenapa orang yang telah mendapat petunjuk berkata, ‘Tunjukilah kami …’”?Misalnya, Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,atau kita semua ketika salat,tidaklah kita datang dan salat di masjid yang agung inikecuali memohon hidayah. Kita berdoa dalam salat kita,“Tunjukilah kami jalan yang lurus, …” (QS. Al-Fatihah: 6)Jadi, kita tidak datangkecuali kita adalah orang yang mendapat petunjuk—dan segala puji dan karunia bagi Allah. Lalu mengapa kita berdoa, “Tunjukilah kami?”Dijawab, “Tambahkan hidayah pada kami.”Para ulama berkata: “Tunjukilah kami, maksudnya tambahkan hidayah pada kami,atau teguhkan kami di atas hidayah.” Dua makna ini benar.Sebagian ulama lain mengatakan,“Karena seseorang terus-menerus beramal,yang mana setiap amalan membutuhkan hidayah.”Kita sekarang membutuhkan hidayah. Tadi ketika salat,kita membutuhkan hidayah.Kemudian setelah kita meninggalkan tempat yang diberkahi ini,kita membutuhkan hidayah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika seseorang memperbanyakmembaca surah yang penuh berkah inidan senantiasa berkata, “Tunjukilah kami. Tunjukilah kami. Tunjukilah kami.”Maksudnya, untuk waktu yang yang akan datang dan seterusnya. Semua makna-makna ini benar.Adapun aṣ-Ṣirāṭ, maknanya adalah aṭ-Ṭarīq (Jalan).Orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭ—sebagaimana dikatakan—hingga terkumpul padanya enam hal.Jika jalan tersebut memiliki enam hal ini,maka orang Arab akan berkata, “Ini adalah Ṣirāṭ.” Jadi, tidak semua jalan disebut Ṣirāṭ oleh orang Arab.Di sini ada tiga versi qiraah:Aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad,as-Sirāṭ dengan huruf sin,dan aṣ-Ṣirāṭ dengan huruf shad yang masuk ke huruf zai. Seperti yang kami katakan, orang Arab tidak menyebut jalan sebagai Ṣirāṭhingga terkumpul padanya enam hal:(1) Jalan tersebut harus jelas,(2) harus sudah ditentukan,(3) harus mengantarkan pada tujuan,(4) harus luas,(5) merupakan jalan yang paling dekat,(6) dan harus lurus.Ya, jalannya harus lurus. Inilah enam sifat yang apabila semuanya terkumpul pada sebuah jalanmaka orang Arab akan menyebutnya Ṣirāṭ.Allah mengatakan, “Jalan yang lurus,”agar diperhatikan karakteristiknya yang paling utama. Ini masuk dalam kaidah “Menghubungkan Sesuatu Khusus dengan Sesuatu yang Umum”agar diperhatikan karakteristik utama jalan ini,yaitu bahwa jalan ini lurus. Semoga Allah meneguhkan kami dan kalian semua di atasnya.Ini adalah permintaan dari orang-orang yang berimankepada Tuhan mereka Tabāraka wa Ta’ālā,agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ini. ==== اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اِهْدِنَا قِيلَ ثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَقِيلَ اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً وَهَذَا يَقُولُهُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُهْتَدِيًا مَنْ كَانَ مُهْتَدِيًا إِذْ يَقُولُ قَائِلٌ كَيْفَ يَقُولُ الْمُهْتَدِي: اِهْدِنَا؟ كَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ نَحْنُ عِنْدَمَا نُصَلِّي نَحْنُ مَا جِئْنَا نُصَلِّي فِي هَذَا الْبَيْتِ الْعَظِيمِ إِلَّا طَلَبًا لِلْهِدَايَةِ وَنَقُولُ فِي صَلَاتِنَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ إِذَنْ نَحْنُ مَا جِئْنَا إِلَّا وَنَحْنُ مُهْتَدُونَ وَلِلهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ فَلِمَاذَا نَقُولُ: اِهْدِنَا ؟ قَالَ: زِدْنَا هِدَايَةً قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ: اِهْدِنَا أَيْ زِدْنَا هِدَايَةً أَوْ ثَبِّتْنَا عَلَى الْهِدَايَةِ وَالْمَعْنَيَانِ صَحِيحَانِ وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ لَمَّا كَانَ الْإِنْسَانُ دَائِمًا فِي عَمَلٍ وَكُلُّ عَمَلٍ يَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ فَنَحْنُ الْآنَ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَقَبْلَ قَلِيلٍ فِي الصَّلَاةِ كُنَّا مُحْتَاجِيْنَ إِلَى هِدَايَةٍ وَبَعْدَ أَنْ نَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ نَحْتَاجُ إِلَى هِدَايَةٍ وَلِذَا نَاسَبَ أَنْ… يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ قِرَاءَةِ هَذِهِ السُّورَةِ الْمُبَارَكَةِ وَأَنْ يَقُولَ دَائِمًا: اِهْدِنَا اِهْدِنَا اِهْدِنَا أَيْ لِمَا سَيَأْتِي وَهَكَذَا وَكُلُّ الْمَعَانِي هَذَا هَذِهِ صَحِيحَةٌ وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ وَالْعَرَبُ لَا تُسَمِّي الطَّرِيقَ صِرَاطًا كَمَا يُقَالُ حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ سِتَّةُ أُمُورٍ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَلَيْسَ كُلُّ طَرِيقٍ تُسَمِّيهِ الْعَرَبُ صِرَاطًا وَفِيهَا ثَلَاثُ قِرَاءَاتٍ الصِّرَاطُ بِالصَّادِ وَالسِّرَاطُ بِالسِّينِ وَالصِّرَاطُ وَهِيَ الصَّادُ مَشْمُومَ الزَّايِ وَكَمَا قُلْنَا لَا تُسَمِّي الْعَرَبُ الطَّرِيقَ صِرَاطًا حَتَّى تَجْتَمِعَ فِيه سِتَّةُ أُمُورٍ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ وَاضِحًا وَأَنْ يَكُونَ مُتَعَيِّنًا وَأَنْ يَكُونَ مُوْصِلًا لِلْمَقْصُودِ وَأَنْ يَكُونَ وَاسِعًا وَأَنْ يَكُونَ أَقْرَبَ طَرِيقٍ وَيَكُونُ مُسْتَقِيمًا نَعَمْ وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَقِيمًا هَذِهِ سِتَّةُ أُمُورٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي الطَّرِيقِ قَالَ الْعَرَبُ هَذَا الصِّرَاطُ وَإِنَّمَا قَالَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِهِ وَهُوَ مِنْ بَابِ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ لِيُنَبِّهَ عَلَى أَخَصِّ أَوْصَافِ هَذَا الصِّرَاطِ وَهُوَ أَنَّهُ مُسْتَقِيمٌ ثَبَّتَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ عَلَيْهِ وَهَذَا طَلَبٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يَهْدِيَهُمْ إِلَى هَذَا الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next