Larangan Musik dalam Islam: Penjelasan Surah Luqman Ayat 6

Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram

Larangan Musik dalam Islam: Penjelasan Surah Luqman Ayat 6

Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram
Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram


Setiap manusia diuji dengan hal-hal yang bisa melalaikan dari mengingat Allah. Ada yang sibuk mengejar harta, ada yang hanyut dalam permainan, bahkan ada yang tenggelam dalam lantunan musik dan nyanyian yang menjauhkan hati dari ayat-ayat Allah. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras tentang fenomena ini.Dalam Surah Luqman ayat 6, Allah menyebut sebagian manusia membeli lahwul hadits—perkataan sia-sia—untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Para sahabat dan ulama tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud di antaranya adalah nyanyian dan musik, bahkan sebagian menafsirkannya sebagai perbuatan membeli budak perempuan untuk dijadikan penyanyi.Tulisan ini akan membahas penafsiran para ulama tentang ayat tersebut, termasuk riwayat dari Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, serta hadits Nabi ﷺ tentang larangan menjual dan membeli budak penyanyi. Dari sini, kita dapat memahami betapa bahayanya musik dan nyanyian yang melalaikan, hingga ia dijadikan bahan peringatan khusus dalam Al-Qur’an.Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌwa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)Penjelasan dari Tafsir Imam Ibnu Katsir:Setelah Allah Ta‘ālā menyebutkan keadaan orang-orang bahagia, yaitu mereka yang mendapat petunjuk dengan Kitab Allah dan memperoleh manfaat dari mendengarnya—sebagaimana firman-Nya:﴿ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴾“Allah telah menurunkan perkataan yang paling indah, yaitu Kitab yang serupa lagi berulang-ulang. Kulit orang-orang yang takut kepada Rabb mereka menjadi merinding karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Az-Zumar: 23))Allah kemudian menyebutkan pula keadaan orang-orang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam Allah, dan justru menghadapkan diri pada nyanyian, musik, lantunan lagu, serta alat-alat hiburan.Ibnu Mas‘ūd menafsirkan firman Allah:﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna.”), beliau berkata: “Demi Allah, itu adalah nyanyian.”Ibnu Jarīr meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Yūnus bin ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Yazīd bin Yūnus, dari Abū Shakhr, dari Abū Mu‘āwiyah al-Bajali, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’ al-Bakri, bahwa ia mendengar ‘Abdullāh bin Mas‘ūd ketika ditanya tentang ayat ini: ﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ “Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah”), maka ia menjawab: “Itu adalah nyanyian. Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Riwayat lain: dari Sa‘īd bin Jubair, dari Abū ash-Shahbā’, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas‘ūd tentang firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ Ia menjawab: “Itu adalah nyanyian.”Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbās, Jābir, ‘Ikrimah, Sa‘īd bin Jubair, Mujāhid, Makḥūl, ‘Amr bin Syu‘aib, dan ‘Alī bin Buzaymah.Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan nyanyian dan seruling.”Qatādah berkata tentang ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ “Demi Allah, bisa jadi ia tidak mengeluarkan uang untuk itu, tetapi maksud dari ‘membeli’ di sini adalah kesenangannya terhadap hal itu. Cukuplah seseorang tersesat ketika ia lebih memilih perkataan batil dibandingkan perkataan yang benar, lebih suka yang merugikan daripada yang bermanfaat.”Ada pula yang menafsirkan bahwa maksud “membeli perkataan yang sia-sia” adalah membeli budak perempuan penyanyi.Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Ismā‘īl al-Aḥmasī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakī‘, dari Khallād aṣ-Ṣaffār, dari ‘Ubaydullāh bin Zahr, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim bin ‘Abdirraḥmān, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:“Tidak halal menjual dan membeli budak perempuan penyanyi. Mengambil uang hasilnya adalah haram. Dan tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan Ibnu Jarīr melalui jalur ‘Ubaydullāh bin Zahr dengan lafaz serupa. At-Tirmiżī kemudian berkata: “Hadits ini gharib.” Ia juga menilai ‘Alī bin Yazīd—salah seorang perawi hadits ini—lemah.Aku (Ibnu Katsīr) katakan: ‘Alī, gurunya, dan orang yang meriwayatkan darinya, semuanya lemah. Wallāhu a‘lam.Adapun adh-Ḍaḥḥāk menafsirkan firman Allah وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ ﴾dengan makna syirik. Demikian pula pendapat ‘Abdurraḥmān bin Zayd bin Aslam. Ibnu Jarīr memilih pendapat bahwa maknanya mencakup setiap perkataan yang menghalangi manusia dari ayat-ayat Allah dan dari mengikuti jalan-Nya.Firman Allah: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ maksudnya, mereka melakukan itu untuk menentang Islam dan kaum Muslimin.Dalam qirā’ah yang membacanya dengan membuka huruf “ya” pada kata liyudhilla, maka lam di situ bermakna akibat (lam al-‘āqibah), atau bisa juga bermakna sebagai alasan kehendak Allah (takdir). Artinya: mereka ditakdirkan untuk itu, sehingga akibatnya menjadi demikian.Firman Allah:وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا Mujāhid menafsirkan: “Ia menjadikan jalan Allah sebagai bahan ejekan.” Sedangkan Qatādah berkata: “Maksudnya adalah ia menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan.” Dan pendapat Mujāhid lebih kuat.Firman Allah: أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ artinya: Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka di Hari Kiamat mereka akan dihinakan dengan azab yang terus-menerus dan tidak pernah terputus.KesimpulanApabila menjual dan membeli budak perempuan penyanyi saja telah diharamkan dalam syariat, maka tentu seorang lelaki yang beriman akan lebih menjaga keluarganya dari nyanyian dan musik yang melalaikan. Terlebih lagi, sangatlah janggal apabila seorang suami meyakini bahwa musik itu haram, namun ia masih ridha mendengar istrinya bernyanyi atau memutar musik di sisinya. Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan semangat menjaga diri dan keluarga dari perkara yang dilarang Allah.Seorang suami yang baik semestinya berusaha melindungi rumah tangganya dari pintu-pintu keburukan, bukan justru membiarkannya terbuka. Keluarga yang dibangun di atas ketaatan akan jauh lebih diberkahi dan dirahmati oleh Allah Ta‘ālā.Semoga Allah Ta‘ālā senantiasa memberikan kepada kita hidayah untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, kekuatan untuk menjauhi segala hal yang melalaikan dari mengingat-Nya, serta keteguhan dalam menjaga keluarga kita di atas jalan yang lurus. Semoga rumah tangga kita dipenuhi dengan dzikir, tilawah, dan amal shalih, bukan dengan suara-suara yang menjauhkan hati dari Allah.Baca Juga:Alat Musik dalam Pandangan Ulama Syafi’iHukum Jual Beli Alat Musik_______ Kamis, 20 Rabiul Awal 1447 H, 11 September 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsalat musik hukum musik musik musik haram

Begini Cara Menjadi Wali – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Begini Cara Menjadi Wali – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ


Bagaimana saya dapat mencapai derajat wali Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya memiliki keinginan besar terhadap kebaikan, dan ingin mencapai derajat tersebut. Derajat ini dapat dicapai oleh siapa saja dari kalangan Muslim. Tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Seorang ulama bisa meraihnya, dan orang awam pun bisa meraihnya. Bisa diraih oleh petani. Bisa pula diraih oleh karyawan. Bisa diraih oleh siapa pun. “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat kewalian? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Siapa mereka itu? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 63). Seseorang dapat meraih derajat kewalian dengan iman dan takwa. Barang siapa beriman dan bertakwa, maka ia menjadi wali Allah. Barang siapa memiliki ketakwaan yang besar kepada Allah ’Azza wa Jalla, maka bisa jadi ia akan mencapai derajat ini, derajat kewalian. “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 62–64). Di akhirat, kabar gembira itu adalah surga. Sedangkan kabar gembira di dunia adalah nama baik, kedudukan mulia, penerimaan dan kecintaan manusia, serta mimpi baik yang ia lihat sendiri atau diperlihatkan kepada orang lain. Inilah penafsiran terbaik tentang kabar gembira yang diberikan di dunia. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah surga. Apabila seseorang telah mencapai derajat ini, derajat kewalian, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentangnya dalam Hadis Qudsi: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Artinya, orang yang menyakiti salah satu wali Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memeranginya. “…maka Aku menyatakan perang kepadanya.” Barang siapa diperangi Tuhannya, maka ia akan ditimpa berbagai musibah dari arah mana saja dan dengan cara apa saja. Ia telah menabuh genderang perang, tapi dengan siapa? Dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang menyakiti wali Allah Subhanah. “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” ===== كَيْفَ أَصِلُ لِدَرَجَةِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ؟ يَعْنِي هَذَا السُّؤَالُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّائِلَ عِنْدَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ مُسْلِمٍ لَيْسَتْ خَاصَّةً بِطَبَقَةٍ مُعَيَّنَةٍ مِنَ النَّاسِ يُمْكِنُ يَصِلُ إِلَيْهَا عَالِمٌ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْأُمِّيُّ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْفَلَّاحُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا الْعَامِلُ يُمْكِنُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا أَيُّ إِنْسَانٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ كَيْفَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ؟ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ مَنْ هُمْ؟ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ يَصِلُ الْإِنْسَانُ إِلَى مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ بِاْلاِيْمَانِ وَالتَّقْوَى مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا مَنْ كَانَ تَقِيًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظُمَتِ التَّقْوَى عِنْدَهُ فَإِنَّهُ قَدْ يَصِلُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ فِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ أَمَّا الْبُشْرَى الَّتِي فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالسُّمْعَةُ الْحَسَنَةُ وَالسِّيرَةُ الطَّيِّبَةُ وَالْقَبُولُ وَمَحَبَّةُ النَّاسِ وَكَذَلِكَ أَيْضًا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ هَذَا أَحْسَنُ مَا فُسِّرَتْ بِه الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ وَإِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ مَرْتَبَةِ الْوِلَايَةِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ أَيْ أَنَّ هَذَا الَّذِي آذَى وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحَارِبُهُ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَنْ حَارَبَهُ رَبُّهُ فَلْيَتَوَقَّعْ أَنْ تَأْتِيَهُ الْمَصَائِبُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ وَبِأَيَّةِ طَرِيقَةٍ فَتَحَ جَبْهَةَ حَرْبٍ وَلَكِنْ مَعَ مَنْ؟ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا فِيهِ تَحْذِيرٌ شَدِيدٌ لِمَنْ يُؤْذِي أَوْلِيَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 7): Penyimpangan-Penyimpangan Agama Kaum Arab Jahiliah

Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 7): Penyimpangan-Penyimpangan Agama Kaum Arab Jahiliah

Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.
Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.


Daftar Isi ToggleTradisi mengundi nasib dengan anak panahKepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalKeyakinan merasa sial karena sesuatuSisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahPada seri sebelumnya, kita telah membahas awal mula terjadinya penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliah. Namun, penyembahan berhala hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan yang mereka lakukan. Artikel ini akan membahas berbagai penyimpangan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliah.Tradisi mengundi nasib dengan anak panahOrang Arab juga melakukan pengundian dengan anak panah tanpa bulu. Ada tiga macam undian yang dilakukan: yang pertama bertuliskan “iya” dan “tidak”; yang kedua undian air dan pembayaran diyat; dan yang ketiga bertuliskan “dari golongan kalian”, “bukan dari golongan kalian”, dan “tanpa nasab dan ikatan”.Undian jenis pertama digunakan oleh orang-orang Arab dahulu ketika mereka hendak bepergian, menikah, maupun kegiatan semisalnya. Cara mereka melakukannya adalah dengan menuliskan kata “ya” dan “tidak” tersebut di anak panah, lalu diundi. Jika kata yang keluar adalah “iya”, barulah mereka melakukannya. Namun, jika yang keluar adalah “tidak”, maka mereka menunda melakukannya selama setahun. Setelah itu, mereka ulangi lagi undiannya.Jenis undian yang ketiga bersifat sosial, digunakan ketika masyarakat Arab jahiliah meragukan nasab seseorang. Aturannya, mereka mendatangi berhala Hubal bersama orang yang nasabnya meragukan, lalu menyembelih seratus ekor unta, dan diserahkan kepada juru undi. Jika setelah diundi tulisan yang keluar “dari golongan kalian”, maka ia diakui sebagai bagian dari golongan tersebut. Jika tulisan yang keluar adalah “bukan dari golongan kalian”, maka berarti ia bukan bagian golongan tapi sekutu. Jika yang keluar adalah “tanpa nasab dan ikatan”, maka ia bukan dari kedua golongan itu.Kepercayaan kepada kekuatan gaib dan para peramalOrang-orang Arab jahiliah juga meyakini berita-berita dukun (كَاهِن), peramal (عَرَّاف), dan ahli nujum (مُنَجِّم). Dukun adalah orang yang mengaku bisa memberitakan peristiwa-peristiwa di masa depan dan mengklaim mengetahui hal-hal gaib. Di antara mereka ada yang mengaku memiliki pengikut dari kalangan bangsa jin yang menyampaikan informasi kepada mereka.Peramal adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara-perkara dengan tanda-tanda awal dan sebab-sebab tertentu yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kejadiannya berdasarkan ucapan-ucapan orang yang bertanya, tindakannya, maupun keadaannya. Misalnya, orang yang mengaku tahu barang curian, lokasi pencurian, dan barang hilang.Ahli nujum adalah orang yang mengamati bintang-bintang di langit dan menghitung pergerakannya beserta waktu-waktunya, untuk mengetahui keadaan dunia dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang melalui pergerakannya tersebut. Mempercayai kabar-kabar ahli nujum pada hakikatnya adalah bentuk beriman kepada bintang-bintang. Oleh karena itu, mereka biasa berkata, “Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu.”Keyakinan merasa sial karena sesuatuOrang-orang Arab jahiliah juga memiliki kepercayaan thiyarah, yaitu merasa sial karena sesuatu. Asal usulnya adalah bahwa mereka mendatangi burung atau kijang, lalu membuat hewan tersebut kaget agar terbang atau lari. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kanan, maka mereka melanjutkan niat mereka dan menganggapnya sebagai pertanda baik. Jika hewan tersebut bergerak ke arah kiri, maka mereka mengurungkan niat tersebut dan menganggapnya sebagai pertanda sial. Mereka juga merasa sial jika ada burung atau binatang yang melintas di jalan mereka. Mereka juga merasa sial dengan hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu, rumah-rumah tertentu, dan wanita.Sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan inovasi menyimpang dalam ibadahDemikianlah kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam masyarakat Arab jahiliah. Meskipun demikian, masih ada ajaran-ajaran Nabi Ibrahim yang tersisa, yaitu mereka masih mengagungkan Ka’bah, melakukan tawaf di Baitullah, berhaji, berumrah, berwukuf di Arafah dan Muzdalifah, dan menyembelih hewan kurban.Namun, mereka mengotori ibadah-ibadah tersebut dengan berbagai inovasi (bid’ah) yang mereka buat-buat sendiri. Berikut beberapa bentuk bid’ah yang mereka lakukan.Pertama: Orang-orang Quraisy tidak melakukan wukuf di Arafah dan bertolak dari Arafah menuju Mina, tapi mereka bertolak dari Muzdalifah. Padahal, aturan yang berlaku adalah wukuf di Arafah. Mereka menetapkan aturan tersebut karena mereka merasa tidak pantas kalau penduduk tanah haram keluar dari area tanah haram (karena Arafah itu berada di luar tanah haram). Dan juga karena mereka merasa bahwa mereka berkedudukan tinggi sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan penjaga Baitullah, sehingga tidak perlu wukuf di Arafah. Terkait perbuatan mereka, Allah Ta’ālā berfirman,ثُمَّ اَفِيۡضُوۡا مِنۡ حَيۡثُ اَفَاضَ النَّاسُ“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat banyak orang bertolak (yakni dari Arafah).” (QS. Al-Baqarah: 199)Kedua: Mereka juga menetapkan aturan bagi mereka sendiri bahwa tidak boleh membungkus aqith (sejenis keju) dan memasak samin saat sedang berihram. Mereka juga tidak boleh memasuki kemah berbahan bulu dan hanya boleh berteduh di dalam tenda berbahan kulit ketika sedang ihram.Ketiga: Orang yang berasal dari luar tanah haram tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar tanah haram saat akan haji atau umrah. Selain itu, kabilah Quraisy juga menetapkan aturan bahwa orang yang berasal dari daerah luar tanah haram harus bertawaf mengenakan baju penduduk tanah haram. Jika orang-orang tersebut tidak mendapatinya, maka jemaah pria bertawaf dalam keadaan telanjang; sedangkan jemaah wanita bertawaf dengan hanya mengenakan pakaian longgar yang robek, lalu berkata,اليوم يبدو بعضه أو كله … وما بدا منه فلا أحله“Pada hari ini tampak sebagian atau seluruh tubuhku, dan apa yang tampak darinya tidak aku halalkan (untuk dipandang).” Lantunan syair ini menunjukkan bahwa sebenarnya para wanita tidak rela hanya mengenakan pakaian seadanya. Namun, mereka terpaksa melakukannya karena aturan yang dibuat-buat oleh orang-orang Quraisy.Allah Ta’ālā menurunkan firman-Nya sebagai bentuk pelurusan terhadap praktik tersebut,يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)Keempat: Jika orang dari luar daerah tanah haram tetapi hendak memakai pakaian yang ia bawa dari daerah asalnya saat tawaf karena menjaga kehormatannya, maka setelah tawaf ia harus membuang pakaian tersebut dan tidak ada yang boleh memanfaatkan pakaian itu.Kelima: Ketika orang-orang Arab jahiliah sedang berihram, mereka tidak memasuki rumahnya melalui pintunya, tetapi mereka membuat lubang di belakang rumah untuk masuk dan keluar dari rumahnya.Inilah agama dan kepercayaan mayoritas bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Setelah mengetahui beragam penyimpangan dalam kepercayaan kaum Arab jahiliah, kini saatnya menelusuri bagaimana pengaruh eksternal mulai masuk ke Jazirah Arab melalui agama-agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Siapa yang membawanya dan bagaimana pengaruhnya? Insyaallah akan dibahas dalam artikel berikutnya.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Bagaimana Cara Kita Menyambut Ramadhan?

كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 175 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Kita Menyambut Ramadhan?

كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 175 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid
كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 175 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid


كيف نستقبل رمضان Oleh: Affan bin asy-Syaikh Shiddiq as-Surkati عفان بن الشيخ صديق السرگتي الطريقة الأولى:  الدعاء بأن يُبلغك الله شهر رمضان وأنت في صحة وعافية، حتى تنشَط في عبادة الله تعالى من صيام وقيام وذكرٍ. Cara Pertama: Berdoa agar menyampaikan umur kita hingga Bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar kamu dapat semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa puasa, salat malam, atau zikir. الطريقة الثانية:  الحمد والشكر على بلوغه؛ قال النووي في (الأذكار): (اعلَم أنه يُستحب لمن تجدَّدت له نعمة ظاهرة، أو اندفعت عنه نقمة ظاهرة أن يسجُد شكرًا لله تعالى، أو يُثني بما هو أهله)، وإنَّ من أكبر نِعم الله على العبد توفيقَه للطاعة والعبادة، فمجرَّد دخول شهر رمضان على المسلم – وهو في صحة جيدة – نعمة عظيمة تستحق الشكر والثناء على الله المنعم المتفضل بها، فالحمد لله حمدًا كثيرًا كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه. Cara Kedua: Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umur panjangmu hingga dapat bertemu Bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Ketahuilah bahwa dianjurkan bagi orang yang senantiasa mendapatkan nikmat yang tampak atau terhindar darinya musibah yang tampak, untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memuji Dzat Yang Berhak dipuji.” Salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbesar yang dikaruniakan kepada hamba adalah berupa taufik untuk melakukan ketaatan dan ibadah, karena hanya dengan datangnya Bulan Ramadhan kepada seorang Muslim dalam keadaan sehat merupakan kenikmatan agung yang wajib disyukuri dan dilimpahkan puja dan puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengaruniakan hal itu.  Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, pujian yang melimpah yang selayaknya bagi kemuliaan Dzat-Nya dan keagungan kuasa-Nya. الطريقة الثالثة:  الفرح والابتهاج، وقد كان سلفنا الصالح من صحابة رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، والتابعين لهم بإحسان يَهتمون بشهر رمضان، ويفرَحون بقدومه، وأي فرحٍ أعظم من الإخبار بقُرب رمضان موسم الخيرات، وتنزَّل الرحمات. Cara Ketiga: Merasa bahagia dan sukacita. Dulu para Salafus Shalih dari generasi sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Tabi’in benar-benar memberi perhatian besar kepada Bulan Ramadhan dan bersuka cita atas kedatangannya.  Adakah kebahagiaan lain yang lebih besar daripada kabar tentang Ramadhan yang sebentar lagi datang, sebagai musim kebaikan dan turunnya rahmat. الطريقة الرابعة:  العزم والتخطيط المسبَق للاستفادة من رمضان، الكثيرون من الناس، وللأسف الشديد حتى الملتزمون بهذا الدين يُخططون تخطيطًا دقيقًا لأمور الدنيا، ولكن قليلون هم الذين يخطِّطون لأمور الآخرة، وهذا ناتجٌ عن عدم إدراك مهمة المؤمن في هذه الحياة، ونسيان أو تناسي أن للمسلم فرصًا كثيرة مع الله ومواعيد مهمة لتربية نفسه؛ حتى تثبُت على هذا الأمر، ومن أمثلة هذا التخطيط للآخرة، والتخطيط لاستغلال رمضان في الطاعات والعبادات، فيضع المسلم له برنامجًا عمليًّا لاغتنام أيام وليالي رمضان في طاعة الله تعالى، وهذه الرسالة التي بين يديك تساعدك على اغتنام رمضان في طاعة الله تعالى، إن شاء الله تعالى. Cara Keempat: Mengumpulkan semangat dan membuat perencanaan matang untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak orang —dan sangat disayangkan juga terjadi pada orang-orang yang konsisten menjalankan ajaran agama— yang membuat perencanaan detil dalam urusan-urusan duniawi.  Namun, sedikit sekali dari mereka yang membuat perencanaan dalam urusan-urusan akhirat. Hal ini merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang tugas orang beriman di dunia ini, dan sikap abai atau pura-pura abai bahwa seorang Muslim memiliki banyak kesempatan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waktu-waktu penting untuk mendidik dirinya, agar dapat konsisten di atas agama. Di antara contoh perencanaan untuk akhirat adalah membuat perencanaan memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan dan ibadah. Seorang Muslim hendaknya menyusun program-program amalan untuk memanfaatkan waktu siang dan malam Bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan risalah di hadapanmu ini akan membantumu untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah. الطريقة الخامسة:  عقد العزم الصادق على اغتنامه وعمارة أوقاته بالأعمال الصالحة، فمن صدق الله صدَقه وأعانه على الطاعة، ويسَّر له سُبل الخير؛ قال الله عز وجل: ﴿ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ﴾ [محمد: 21]. Cara Kelima: Membulatkan tekad yang tulus untuk memanfaatkan Bulan Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal salih. Barang siapa yang berniat tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan niatnya dan memberinya pertolongan untuk menjalankan ketaatan serta memudahkan baginya jalan-jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ “Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). الطريقة السادسة:  العلم والفقه بأحكام رمضان، فيجب على المؤمن أن يعبد الله على علمٍ، ولا يُعذَر بجهل الفرائض التي فرضها الله على العباد، ومن ذلك صوم رمضان؛ فينبغي للمسلم أن يتعلم مسائل الصوم وأحكامه قبل مجيئه؛ ليكون صومه صحيحًا مقبولًا عند الله: ﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]. Cara Keenam: Membekali diri dengan ilmu-ilmu tentang hukum yang berkaitan dengan Bulan Ramadhan. Orang yang beriman wajib beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan landasan ilmu. Ia tidak mendapatkan uzdur atas kebodohannya terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi para hamba-Nya, di antaranya adalah Puasa Ramadhan, sehingga seorang Muslim harus mempelajari perkara-perkara tentang puasa dan hukum-hukumnya sebelum Bulan Ramadhan datang, agar puasanya sah dan diterima oleh Allah TSubhanahu wa Ta’ala: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  “Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). الطريقة السابعة:  علينا أن نستقبله بالعزم على ترْك الآثام والسيئات، والتوبة الصادقة من جميع الذنوب، والإقلاع عنها وعدم العودة إليها، فهو شهرُ التوبة، فمن لم يتُب فيه فمتى يتوب؟ قال الله تعالى: ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 31]. Cara Ketujuh: Kita harus menyambut Bulan Ramadhan dengan tekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kesalahan, juga dengan taubat yang sebenar-benarnya dari segala kemaksiatan, berhenti dari melakukannya, dan tidak kembali mengerjakannya. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat, barang siapa yang tidak bertaubat di dalam bulan ini, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). الطريقة الثامنة:  التهيئة النفسية والروحية من خلال القراءة والاطلاع على الكتب والرسائل، وسماع الأشرطة الإسلامية التي تبيِّن فضائل الصوم وأحكامه؛ حتى تتهيَّأ النفس للطاعة فيه. Cara Kedelapan: Menyiapkan mental dan jiwa dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, atau mendengar ceramah-ceramah islami yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa bersiap untuk menjalankan ketaatan pada Bulan Ramadhan. الطريقة التاسعة:  نستقبل رمضان بفتح صفحة بيضاء مشرقة مع: 1) الله سبحانه وتعالى بالتوبة الصادقة. 2) الرسول (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) بطاعته فيما أمَر واجتناب ما نهى عنه وزجَر. 3) مع الوالدين والأقارب، والأرحام والزوجة والأولاد بالبر والصلة. 4) مع المجتمع الذي تعيش فيه حتى تكون عبدًا صالحًا ونافعًا. Cara Kesembilan: Kita menyambut Bulan Ramadhan dengan membuka lembaran baru dengan: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang tulus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menaati perintah beliau dan menjauhi larangan beliau. Kedua orang tua, kerabat, keluarga dekat, pasangan, dan anak-anak dengan berbakti dan menjaga silaturahmi. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup kita, agar kita menjadi hamba yang saleh dan bermanfaat. هكذا يستقبل المسلم رمضان استقبالَ الأرض العَطْشى للمطر، واستقبال المريض للطبيب المداوي، واستقبال الحبيب للغائب المنتظر. Demikianlah selayaknya seorang Muslim menyambut Bulan Ramadhan, seperti sambutan tanah tandus yang merindukan hujan, sambutan orang sakit terhadap dokter yang mengobatinya, dan sambutan seseorang terhadap kekasihnya yang telah lama pergi. Sumber: https://www.alukah.net/الدرس الأول: كيف نستقبل رمضان Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 175 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Membaca Zikir Ini 100X Setan Tidak Akan Mendatangmu Sepanjang Hari – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا

Membaca Zikir Ini 100X Setan Tidak Akan Mendatangmu Sepanjang Hari – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا
Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا


Para ulama mengatakan bahwa pelindung terbesar dari setan adalah zikir berikut: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR sebanyak 100 kali. Sepanjang hari itu, setan tidak akan mendatangimu. Barang siapa mengucapkannya, ia akan merasakan pengaruhnya dalam ibadah dan dalam kemampuannya bangun untuk Shalat Subuh. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH sangat agung. Bahkan, sangat-sangat agung! ===== أَعْظَمُ حِرْزٍ مِنَ الشَّيْطَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ هَذَا الذِّكْرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِئَةَ مَرَّةٍ هَذَا الْيَوْمُ كُلُّهُ لَنْ يَأْتِيَكَ الشَّيْطَانُ وَمَنْ قَالَهَا وَجَدَ أَثَرَهَا فِي عِبَادَتِهِ وَاسْتِيقَاظِهِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ كَلِمَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ هِيَ عَظِيمَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا جِدًّا جِدًّا

Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.

Mengenal Nama Allah “Ar-Raqiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Ar-Raqiib”Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaMengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaMerasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMengawasi niatnya sebelum dan saat beramalMeyakini bahwa Allah adalah Ar-Raqiib —Yang Maha Mengawasi— merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Seorang hamba yang memahami bahwa Rabb-nya senantiasa mengawasi dirinya, akan terdorong untuk menghadirkan hati, menjauhi kelalaian, dan senantiasa berzikir. Ini semua membuahkan kebahagiaan yang hakiki bagi seorang hamba dengan kedekatannya kepada Allah Ta’ala. [1]Dalam tulisan ini, kita akan menelaah dalil nama Ar-Raqiib, maknanya yang mendalam, serta konsekuensi dari iman kepada-Nya dalam kehidupan seorang mukmin. Semoga menjadi penguat tauhid dan penuntun menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.Dalil nama Allah “Ar-Raqiib”Nama Allah “Ar-Raqiib” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya:Firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ“Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mā’idah: 117)Dan juga firman-Nya Ta’ala,وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيباً“Dan Allah adalah Pengawas atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzāb: 52) [2]Kandungan makna nama Allah “Ar-Raqiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Ar-Raqiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Ar-Raqiib”Ar-Raqiib merupakan bentuk shifat musyabbahah (sifat yang menunjukkan keadaan yang tetap) dari kata (رَقَبَ يرقُب) raqoba – yarqubu [3] yang berarti (الْحَافِظُ) pengawas atau penjaga.Ibnu Faris mengatakan,الرَّاءُ وَالْقَافُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ مُطَّرِدٌ، يَدُلُّ عَلَى انْتِصَابٍ لِمُرَاعَاةِ شَيْءٍ. مِنْ ذَلِكَ الرَّقِيبُ، وَهُوَ الْحَافِظُ“Ra’, qāf, dan bā’ merupakan satu akar kata yang konsisten, yang menunjukkan makna ‘berdiri tegak untuk mengawasi sesuatu.’ Dari akar ini, muncul kata ar-raqiib, yang berarti penjaga atau pengawas.” [4]Makna “Ar-Raqiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَانَ ‌عَلَيْكُمْ ‌رَقِيبًا“Sesungguhnya Allah adalah Ar-Raqiib atas kalian.” (QS. An-Nisaa: 1), beliau mengatakan,ويعنى بقوله: {رَقِيبًا}: حفيظًا مُحْصِيًا عليكم أعمالَكم، مُتَفَقِّدًا رعايتكم حرمة أرحامكم وصِلتَكم إياها، أو قَطْعَكُمُوها وتضييعَكم حرمتَها“Makna dari Ar-Raqiib di sini adalah: yang menjaga, mencatat, dan menghitung semua amal perbuatan kalian; yang memerhatikan apakah kalian menyambung atau memutuskan tali silaturahmi serta menghormati, atau justru menyia-nyiakan hak-hak kerabat.” [5]Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy menjelaskan tentang makna nama ini dengan mengatakan,“الرقيب” ‌المطلع ‌على ‌ما ‌أكنته ‌الصدور، القائم على كل نفس بما كسبت، الذي حفظ المخلوقات وأجراها على أحسن نظام وأكمل تدبير“Ar-Raqiib adalah yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, yang mengurus setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya, yang menjaga seluruh makhluk dan mengaturnya dengan sebaik-baik tatanan dan pengaturan.” [6]Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr mengatakan, “Ar-Raqiib artinya yang mengetahui isi hati yang terdalam, yang mengatur setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, yang menjaga makhluk dan mengaturnya dengan sempurna. Ia mengawasi segala hal yang terlihat dengan penglihatan-Nya yang tidak pernah luput, mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan mengawasi seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala hal.” [7]Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”Konsekuensi dari nama Allah “Ar-Raqiib” bagi hambaPenetapan nama “Ar-Raqiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Mengimani bahwa Ar-Raqiib adalah salah satu dari Asmaul HusnaYakni bahwa Allah adalah Ar-Raqiib atas para hamba-Nya, Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka, ucapan, dan perbuatan mereka; bahkan apa yang terlintas dalam hati dan benak mereka. Tak satu pun makhluk-Nya keluar dari pengawasan tersebut.Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,واعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ“Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 235)Dan firman-Nya,رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7) [8]Merasa diawasi Allah dalam setiap amal dan keadaanMerenungi ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dan semisalnya, akan membangkitkan rasa murāqabah (merasa diawasi) dalam diri hamba terhadap seluruh amal dan keadaan dirinya. Sebab, murāqabah merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar ucapannya, dan mengetahui amalnya setiap saat, setiap detik, bahkan setiap kedipan mata.Muraqabah ini merupakan kedudukan yang sangat tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat. Syekh Abdurrazzaq Al-Badr mengatakan,والمراقبة منزلة عليّة من منازل السائرين إلى الله والدار الآخرة، وحقيقتها دوام علم العبد وتيقنه باطلاع الحق سبحانه وتعالى على ظاهره وباطنه“Muraqabah adalah salah satu kedudukan tinggi dalam perjalanan menuju Allah dan akhirat. Hakikatnya adalah kesinambungan pengetahuan dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tampak maupun tersembunyi darinya.”Kemudian beliau melanjutkan, “Maka menjaga kesinambungan ilmu dan keyakinan ini adalah bentuk dari murāqabah itu sendiri. Murāqabah terhadap perintah Allah berarti menjalankan perintah itu dengan cara terbaik. Murāqabah terhadap larangan-Nya berarti menjauhi larangan itu dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.” [9]Mengawasi niatnya sebelum dan saat beramalYakni, hendaklah ia menilai: apakah dorongan untuk beramal ini berasal dari hawa nafsunya, atau murni karena Allah Ta‘ala? Jika karena Allah, maka lanjutkan. Jika bukan, maka tinggalkan. Inilah keikhlasan.Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,رحم الله عبداً وقف عند همّه، فإنْ كان لله مَضَى، وإنْ كان لغيره تأخّر“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak di depan niatnya. Jika niat itu karena Allah, maka lanjutkanlah. Jika bukan karena-Nya, maka tahanlah.” [10]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu merasa diawasi, sehingga senantiasa jujur, istikamah, dan bertakwa dalam setiap keadaan. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khabiir”***Rumdin PPIA Sragen, 1 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Disarikan dari Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[2] An-Nahjul Asma, hal. 273.[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 127.[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 348. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir fi Gharib Asy-Syarh Al-Kabir, hal. 233.[5] Tafsīr ath-Ṭabarī, 6: 350. Lihat juga Tafsīr Ibnu Katsīr, 2: 206.[6] Tafsīr as-Sa‘dī, hal. 947.[7] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 183.[8] An-Nahjul Asma, hal. 275.[9] Fiqhul Asma’il Husna, hal. 185.[10] An-Nahjul Asma, hal. 276.

Tiga Kaidah dalam Menjalankan Urusan Agama dan Duniawi

القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid

Tiga Kaidah dalam Menjalankan Urusan Agama dan Duniawi

القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid
القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 485 QRIS donasi Yufid


القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Oleh:  Yazin al-Ghanim يزن الغانم المقدمة: بسم الله، والحمد لله؛ أما بعد: فهذه قواعد ينبغي استحضارها، والعمل بها في كل أمر من أمور الدين والدنيا، واللهَ أسأل أن يتقبَّلَها وأن ينفع بها. Pendahuluan  Bismillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amma ba’du: Berikut adalah kaidah-kaidah yang selayaknya senantiasa dihadirkan dan diterapkan dalam menjalani setiap urusan yang berkaitan dengan agama atau duniawi. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menerima artikel singkat ini sebagai amal shaleh dan menjadikannya bermanfaat. القاعدة الأولى: الدعاء: وذلك بأن تدعوَ الله في كل أمر من أمور الدين والدنيا، في تيسيره وتسهيله؛ فإن الدعاء عبادة وقُرْبَةٌ واستعانة بالله الذي بيده الأمر كله؛ قال تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [غافر: 60]، وقال النبي عليه الصلاة والسلام: ((الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ))؛ [رواه أبو داود، والترمذي، وغيرهما]. وعلى العبد أن يسأل ربه في كل صغيرة وكبيرة من خَيْرَي الدنيا والآخرة؛ ففي الحديث: ((لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ))؛ [رواه الترمذي وغيره]. يقول الإمام ابن رجب في [جامع العلوم والحكم (1/ 225)]: “وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه، حتى مِلْح عجينه وعلف شاته، وفي الإسرائيليات: أن موسى عليه الصلاة والسلام قال: يا رب، إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا، فأستحيي أن أسألك، قال: سَلْني حتى ملح عجينك، وعلف حمارك”. فإنَّ كلَّ ما يحتاج العبد إليه إذا سأله من الله، فقد أظهر حاجته فيه وافتقاره إلى الله، وذاك يحبه الله، وكان بعض السلف يستحيي من الله أن يسأله شيئًا من مصالح الدنيا، والاقتداءُ بالسنة أَوْلَى. Kaidah Pertama: Doa Yakni, hendaklah kamu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan agama dan duniawi agar dimudahkan dan dilancarkan, karena doa merupakan ibadah, pendekatan diri, dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di tangan-Nya segala urusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa merupakan ibadah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya). Seorang hamba harus meminta kepada Tuhannya dalam setiap kebaikan dunia dan akhirat yang kecil maupun besar. Dalam hadis disebutkan: لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ “Hendaklah setiap kalian meminta kepada Tuhannya semua kebutuhannya, bahkan meminta tali sandalnya jika putus.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya). Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam jilid 1 hlm. 225 mengatakan, “Dulu seorang Salaf memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam salatnya seluruh kebutuhannya, bahkan garam untuk adonan rotinya dan rumput untuk dombanya. Dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Nabi Musa Alaihissalam pernah berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku punya suatu kebutuhan duniawi, tapi aku malu untuk meminta kepada Engkau!’ Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu berfirman, ‘Mintalah kepadaku, bahkan garam untuk adonan rotimu dan rumput untuk keledaimu!’”  Apabila seorang hamba memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala hal yang ia butuhkan, maka ia telah menampakkan ketergantungan dan kebutuhannya kepada-Nya, dan ini sesuatu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun ada sebagian Salaf yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia memohon suatu perkara duniawi. Namun, mengikuti sunnah dalam hal ini lebih utama. القاعدة الثانية: التوكل: التوكل على الله تعالى في كل أمر من أمور الدين والدنيا، والاستعانة به سبحانه في تيسير ذلك وتسهيله؛ قال تعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾ [الطلاق: 3]؛ حسبه: أي: كافيه. ومن أجمع التعاريف للتوكل ما ذكره العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى: “هو صدق الاعتماد على الله عز وجل في جلب المنافع ودفع المضارِّ، مع فعل الأسباب التي أمر الله بها”؛ [مجموع الفتاوى والرسائل (1/ 106)]. فالعبد المؤمن يعتمد على الله، ويتعلق قلبه بالله في كل صغيرة وكبيرة؛ لأنه يرى الأشياء كلها من الله وبمشيئته وتحت أمره. Kaidah Kedua: Tawakal Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan dunia dan agama, dan memohon kepada-Nya untuk kemudahan dan kelancarannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3). Di antara definisi tawakal yang paling lengkap adalah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:  Tawakal merupakan ketulusan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mencari manfaat dan menghindari mudharat, disertai dengan menjalankan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. (Kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail jilid 1 hlm. 106). Seorang hamba yang beriman pasti akan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menautkan hatinya kepada-Nya dalam segala urusan yang kecil maupun besar, karena ia memandang bahwa segala hal berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kehendak-Nya, dan di bawah kuasa-Nya. القاعدة الثالثة: فعل الأسباب: لا بد من الأخذ بالأسباب الجالبة للخير والمانعة من الشر، وهذا لا ينافي التوكل، وقد كان سيد المتوكلين محمد صلى الله عليه وسلم يتخذ الأسباب الشرعية والقدرية؛ فكان يُعَوِّذُ نفسه بالأذكار، وعند النوم بالإخلاص والمعوذتين، وكان يلبس الدروع في الحرب، وحَفَرَ الخندق في غزوة الأحزاب، وغير ذلك مما كان منه صلى الله عليه وسلم، وهو القدوة. وفي أهمية بذل السبب – حتى ولو كان هذا السبب ضعيفًا – قد ذكر الله من أمر مريم عليها السلام، وهي المرأة الضعيفة النُّفَسَاء بهزِّ جذع النخلة الذي يثقل على الرجال؛ ليعلم الناس أهمية الأخذ بالأسباب؛ قال تعالى: ﴿ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ﴾ [مريم: 25]؛ قال العلامة الشنقيطي رحمه الله تعالى: “والله جل وعلا قادر على أن يُسْقِطَ لها الرطب من غير هزِّ الجذع، ولكنه أمرها بالتسبب في إسقاطه بهز الجذع، وقد قال بعضهم في ذلك: ألم تَرَ أن الله قال لمريم وهزي إليك الجذعَ يسَّاقط الرُّطبْ  ولو شاء أن تجنيه من غير هزة جَنَتْهُ ولكن كلُّ شيء له سببْ  [أضواء البيان (183/4)]. Kaidah Ketiga: Menjalankan Sebab-Sebab, Berikhtiar Harus tetap menjalankan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Ini tentu tidak bertentangan dengan sikap tawakal, karena dulu manusia yang paling bertawakal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tetap menjalankan hal-hal yang menjadi sebab secara syariat dan hukum alam. Dulu beliau melindungi diri dengan zikir-zikir, dan beliau berzikir sebelum tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Dulu beliau tetap memakai baju besi dalam peperangan, menggali parit besar dalam perang Ahzab, dan hal-hal lainnya yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerjakan sebagai bentuk ikhtiar, dan beliau adalah teladan dalam hal ini. Di antara bentuk urgensi mengamalkan sebab-sebab —meskipun itu hanya sebab kecil saja— Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-Nya kepada Maryam, yang ketika itu menjadi wanita yang lemah setelah melahirkan, untuk menggoyang-goyangkan batang pohon kurma yang kaum pria pun akan kesulitan melakukannya, tapi perintah ini diberikan untuk mengajarkan manusia betapa pentingnya mengamalkan sebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25). Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjatuhkan buah kurma untuk Maryam tanpa harus menggoyangkan pohon kurma, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam untuk menjalankan sebab penjatuhan buah kurma dengan menggoyang batangnya. Dalam hal ini, ada seorang penyair yang mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ قَالَ لِمَرْيَمَ وَهُزِّي إِلَيْكِ الْجِذْعَ يَسَّاقَطُ الرُّطَبْ Tidakkah kamu lihat bahwa Allah berfirman kepada Maryam ‘Dan goyangkanlah pohon kurma agar berjatuhan buah kurma’ وَلَوْ شَاءَ أَنْ تُجْنِيْهِ مِنْ غَيْرِ هَزَّةِ جَنَتْهُ وَلَكِنْ كُلُّ شَيءٍ لَهُ سَبَبْ Seandainya Allah menghendaki buah kurma itu jatuh tanpa harus menggoyangkan batangnya Niscaya kurma itu akan jatuh sendiri, tapi segala hal punya sebab (Kitab Adhwa’ al-Bayan jilid 4 hlm. 183). الخاتمة: إن الدعاء فيه استعانة بالله القوي الذي لا يُعْجِزُهُ شيء، والتوكل فيه تعلق القلب بالله الذي بيده كل شيء، والأخذ بالأسباب فيه الأخذ بكل ما أمر الله به من الأسباب الشرعية والقدرية. هذا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Penutup  Dalam doa terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuat, Yang tidak ada yang membuat-Nya lemah. Sedangkan dalam tawakal terdapat keterpautan hati dengan Allah Yang di tangan-Nya segala sesuatu. Lalu dalam ikhtiar terdapat penjalanan segala sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan secara syariat atau hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan terhadap alam semesta ini. Sekian, semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/القواعد الثلاثة في مزاولة أمور الدين والدنيا Sumber artikel PDF 🔍 Hukum Orang Haid Masuk Masjid, Ulama Su', Terompet Sangka Kala, Doa Doa Sholat Wajib, Hukum Tukar Kado Dalam Islam Visited 268 times, 1 visit(s) today Post Views: 485 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Muslim Itu Pantang Mengeluh dan Pantang Menyerah

Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Muslim Itu Pantang Mengeluh dan Pantang Menyerah

Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAllah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punKeutamaan sabarAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahAllah Ta’ala di dalam Al-Qur’an berfirman memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya. Ia berfirman,إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا * إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا * وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)Sungguh manusia diciptakan dengan membawa sifat keluh kesah saat tertimpa kemudaratan; dirinya akan kaget, tidak siap, dan hatinya seakan-akan copot karena rasa takut yang dahsyat, serta menyerah dari mendapat kebaikan setelah musibah yang menimpanya tersebut. Dan apabila dirinya mendapat kebaikan, maka ia menjadi amat kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain dan enggan menunaikan hak Allah yang ada padanya.Allah Ta’ala berfirman menyampaikan betapa buruknya watak mengeluh dan mudah putus asa,اِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Dari sini dapat kita pahami bahwa berkeluh kesah dan menyerah adalah watak buruk yang dimiliki oleh hampir semua dari kita. Sehingga terkadang tanpa kita sadari, kita pun melakukannya. Lalu, bagaimana hukum dari watak tersebut? Apakah hal itu dibenarkan oleh syariat kita ataukah terlarang?Allah Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menzalimi seorang punMarilah kita jauhi sikap menentang ketentuan-ketentuan dan takdir-Nya, menggerutu atas keputusan-Nya kepada kita. Seorang muslim harus berserah diri pada apa yang Allah takdirkan dan putuskan, serta bersabar atas ketentuan dan ujian-Nya Ta’ala. Dengan mengetahui bahwa setiap ketetapan dan ketentuan-Nya bagi seorang mukmin tidak lain adalah kebaikan baginya, seorang muslim akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, ia akan bersyukur atas limpahan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, dan ia akan bersabar saat tertimpa ujian dan kesusahan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Dengan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui seluruh kondisi hamba-Nya, Allah Maha Bijaksana dan Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya, maka diri kita akan jauh dari mengeluh dan berputus asa. Memiliki harapan besar akan pahala dan bersabar atas setiap kesusahan yang kita hadapi. Ingatlah wahai saudaraku, mungkin saja engkau memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat engkau capai dengan amal saleh dan kebaikanmu. Akan tetapi, engkau akan mencapainya karena kesabaran dalam menghadapi ujian yang telah Allah berikan kepadamu.Keutamaan sabarAllah Ta’ala berwasiat di dalam Al-Qur’an,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisar At-Tafaasiir, menyebutkan, “Pada ayat 157, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada mereka, orang-orang yang bersabar, dengan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan mendapatkan rahmat dari Rabbnya. Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Merekalah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”Dari satu ayat ini saja, mereka yang bersabar, maka Allah janjikan kepada mereka tiga keutamaan,1) Mendapatkan ampunan Allah;2) Mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya;3) Mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala.Sungguh tiga keutamaan ini sudah cukup bagi diri kita untuk senantiasa berusaha bersabar tatkala ujian dan cobaan datang menghampiri kita, tidak mengeluh apalagi menyerah atas takdir tersebut.Baca juga: Bersemangatlah dalam Hal yang BermanfaatAgar menjadi pribadi yang penyabar dan tidak mudah berkeluh kesahTatkala Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia dan watak buruk yang terbentuk pada dirinya, Allah Ta’ala mengecualikan beberapa orang yang aman dari watak buruk ini. Ia berfirman,إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ * وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ * وَٱلَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ * وَٱلَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (mereka menegakkan salat lima waktu pada waktunya); dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (yaitu) bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta); dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan; dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”  (QS. Al-Ma’arij: 22-28)Yang pertama, wahai saudaraku adalah menjaga salat lima waktu, secara berjemaah bagi laki-laki dan di rumah masing-masing bagi wanita. Sungguh salat akan menjaga seseorang dari perangai dan watak buruk. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”  (QS. Al-Ankabut: 45)Yang kedua, menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada mereka yang tidak mampu.Yang ketiga, beriman dengan hari kebangkitan dan hari pembalasan.Yang keempat, merasa takut akan azab Allah Ta’ala.Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka Insya Allah kita akan dituliskan sebagai hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur kepada Allah dan tidak mudah mengeluh serta berputus asa dari rahmat-Nya.Akhir kata, ingatlah selalu wahai saudaraku, tidaklah seorang hamba diberikan ujian oleh Allah Ta’ala kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dan tidaklah Allah memberikan ujian dan rasa susah kecuali setelahnya akan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)Ingatlah juga wahai saudaraku sekalian akan firman Allah Ta’ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)Saat ujian itu datang menghampiri diri kita, ingatlah selalu bahwa Allahlah yang menakdirkan dan menghendakinya. Tetaplah beribadah dan menjaga kewajiban salat kita. Jangan sampai ujian yang datang tersebut justru menjadi pintu pembuka akan keburukan lainnya. Dari rasa malas, mengeluh, dan putus asa dari rahmat Allah. Wal ‘iyadzu billah.Wallahu a’lam bissowab…Baca juga: 5 Motivasi Agar Semakin Semangat Berangkat ke Tanah Suci***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel Muslim.or.id

Inspirasi Sukses: Jangan Paksa dirimu Mengejar Sempurna! Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ

Inspirasi Sukses: Jangan Paksa dirimu Mengejar Sempurna! Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ
Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ


Di antara ciri pola pikir tentang dua hal yang telah saya sebutkan, adalah kamu tidak perlu memberatkan diri untuk mengejar kesempurnaan. Sebab yang dituntut darimu adalah kesuksesan, yang dituntut darimu adalah menjadi orang yang sukses, bukan menjadi sempurna. Allah Jalla wa ‘Ala saja memberi kelebihan yang berbeda-beda di antara para rasul. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam surat Al-Baqarah: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain Di antara mereka ada yang Allah berbicara langsung dengannya, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat…” (QS. Al-Baqarah: 253). Artinya, para rasul berbeda-beda keutamaannya. Demikian pula manusia, berbeda-beda kelebihannya. Jadi, tidak ada kaitan antara dua hal ini: kesuksesan dan kesempurnaan. Kamu harus menjadi sukses? Ya, ini pola pikir yang benar. Namun jika kamu harus menjadi sempurna? Ini salah! Menilai segala sesuatu harus sempurna, dan selama tidak sempurna berarti tidak layak, itu adalah kesalahan berpikir. Segala sesuatu harus dinilai dari sisi lebih baiknya, lebih positifnya, dan lebih bermanfaatnya. Meskipun tidak sampai sempurna. Kesempurnaan memang nikmat yang agung, tetapi dalam kehidupan ini kesempurnaan sangat jarang ditemukan. Hampir-hampir tidak ada. Kesempurnaan dalam keikhlasan sangat jarang. Kesempurnaan dalam ketaatan sangat jarang. Kesempurnaan dalam menunaikan tanggung jawab sangat jarang. Kesempurnaan dalam melaksanakan peran yang bermanfaat sangat jarang. Kesempurnaan dalam kesadaran terhadap nilai-nilai dan pelaksanaannya sangat jarang. Jadi, terdapat perbedaan nyata antara cara pandang terhadap kesuksesan dan terhadap kesempurnaan. Ini merupakan pola pikir yang sangat penting. Apabila seseorang menetapkannya, mengembangkannya, dan melatih dirinya dengannya, maka banyak persoalan akan mudah terselesaikan sejak awal, dan itu akan melindunginya dari gangguan kejiwaan yang dapat menghilangkan ketenangan berpikir dalam jiwa dan akalnya. Maka katakanlah: “Saya bisa meraih kesuksesan,” itu baik. “Namun, saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena inilah yang Allah tetapkan bagi saya.” “Namun, saya berusaha keras untuk menjadi sukses.” “Sukses di kehidupan pribadiku, sukses di keluargaku sukses di masyarakatku, sukses di pendidikanku Sukses di komunitasku, sukses di pekerjaanku Sukses di hubunganku dengan kedua orang tua, sukses di hubunganku dengan masyarakatku, negaraku, dan orang-orang di sekitarku.” Namun, untuk menjadi sempurna bukanlah syaratnya. Itu bukanlah syaratnya. Bukan juga tuntutan, karena figur yang bermanfaat itu tercapai dengan kesuksesan, bukan kesempurnaan. ===== مِنْ مَعَالِمِ مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ فِي الثُّنَائِيَّاتِ الَّتِي ذَكَرْتُ أَنَّكَ لَا تُرْهَقْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ الْكَمَال فَالْمَطْلُوبُ مِنْكَ هُوَ النَّجَاحُ الْمَطْلُوبُ مِنْكَ أَنْ تَكُونَ نَاجِحًا لَا أَنْ تَكُونَ كَامِلًا اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَضَّلَ بَيْنَ الرُّسُلِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا تِلْكَ الرُّسُلُ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ يَعْنِي الرُّسُلُ مُتَفَاضِلُونَ فَالنَّاسُ كَذَلِكَ مُتَفَاضِلُونَ فَلَا عَلَاقَةَ بَيْنَ هَاتَيْنِ الثُّنَائِيَّتَيْنِ النَّجَاحِ وَالْكَمَالِ تَكُونُ نَاجِحًا نَعَمْ هَذَا مَنْهَجُ التَّفْكِيرِ الصَّحِيحِ لَابُدَّ أَنْ تَكُونَ كَامِلًا غَلَطٌ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ عَلَى أَنْ تَكُونَ كَامِلَةً وَمَا دَامَ مَا كَانَتْ كَامِلَةً فَغَيْرُ مَرْضِيَّةٍ خَطَأٌ فِي مَنْهَجِ التَّفْكِيرِ تُقَيَّمُ الْأَشْيَاءُ أَنْ تَكُونَ إِلَى الصَّلَاحِ أَكْثَرُ إِلَى الْإِيجَابِيَّةِ أَكْثَرُ إِلَى النَّفْعِ أَكْثَرُ وَلَوْ لَمْ تَكُنْ كَامِلًا إِذْ صَارَ كَمَالٌ نِعْمَةً كَبِيرَةً لَكِنْ فِي الْحَيَاةِ الْكَمَالُ عَزِيزٌلَا يَكُونُ الْكَمَالُ فِي الْإِخْلَاصِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الطَّاعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ المَسْؤُولِيَّاتِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي أَدَاءِ الْأَدْوَارِ النَّافِعَةِ عَزِيزٌ الْكَمَالُ فِي الشُّعُورِ بِالْقِيَمِ وَامْتِثَالِهَا عَزِيزٌ إِذًا فَهُنَاكَ انْفِصَالٌ حَقِيقِيٌّ مَا بَيْنَ رُؤْيَةِ النَّجَاحِ وَرُؤْيَةِ الْكَمَالِ هَذَا مَنْهَجٌ فِي التَّفْكِيرِ مُهِمٌّ إِذَا وَضَعَهَا الْإِنْسَانُ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ وَدَرَّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهِ سَيُحَلَّ لَهُ إِشْكَالَاتٌ كَثِيرَةٌ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ وَسَيَقِيهِ مِنْ الْخَلَلِ النَّفْسِيِّ الَّذِي يُنْتِجُ عَنْهُ عَدَمَ الْأَمْنِ الْفِكْرِيّ فِي نَفْسِهِ وَفِي عَقْلِهِ إِذًا أَكُونُ نَاجِحًا طَيِّبٌ لَكِنْ مَا أَقْدِرُ أَنْ أَكُونَ كَامِلًا هَذَا الَّذِي أَعْطَانِي اللَّهُ لَكِنْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أَكُونَ نَاجِحًا نَاجِحًا فِي نَفْسِي نَاجِحًا فِي أُسْرَتِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي تَعْلِيمِي نَاجِحًا فِي مُجْتَمَعِي نَاجِحًا فِي وَظِيفَتِيْ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِوَالِدَيَّ نَاجِحًا فِي عَلَاقَتِي بِمُجْتَمَعِي بِدَولَتِي بِمَنْ حَوْلِي أَنْ أَكُونَ كَامِلًا لَيْسَ شَرْطًا لَيْسَ شَرْطًا وَلَيْسَ مَطْلُوبًا لِأَنَّهُ الْوُجُودُ النَّافِعُ يَكُونُ بِالنَّجَاحِ لَا بِالْكَمَالِ

Fikih Utang Piutang (Bag. 7): Kerusakan Pinjaman Online

Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/

Fikih Utang Piutang (Bag. 7): Kerusakan Pinjaman Online

Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/
Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/


Daftar Isi ToggleSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineSekelumit tentang pinjol (pinjaman online)Di antara pembahasan penting dalam masalah utang piutang, dan termasuk dalam kategori pembahasan kontemporer adalah utang piutang yang berbasis pinjaman online. Sebagaimana yang diketahui, saat ini sedang merebak dan menyebar pinjaman-pinjaman online yang ditawarkan. Baik penyelenggara yang legal ataupun ilegal.Dilansir dari wikipedia [1], daftar penyedia layanan pinjaman daring yang terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) per Oktober 2021, jumlahnya mencapai seratus enam penyedia jasa. Menurut data, jumlah tersebut adalah penyedia jasa yang legal dan terdaftar di OJK. Jika ditambah yang ilegal, tentu lebih banyak lagi.Sedangkan menurut data dari OJK pula, pengguna pinjaman online per Januari 2025 mencapai 146,5 juta pengguna [2]. Angka yang sangat fantastis bagi sebuah negara yang berpenduduk hampir 280 juta.Mudah dan praktis, menjadi alasan terbesar mengapa pinjaman online merebak dan banyak digunakan oleh masyarakat. Tidak butuh bertele-tele, cukup menyiapkan KTP, no HP, email, foto, dan sedikit dari data-data pribadi, dana pun langsung cair sesuai dengan yang diajukan.Hanya butuh sedikit effort (usaha) untuk memencet dengan jari-jemari, keluarlah dana sesuai yang diinginkan. Seringkali, tidak peduli berapa yang harus dikembalikan nantinya. Yang penting, keinginan untuk membeli sesuatu dapat tercapai atau setidaknya gali lubang tutup lubang dengan utang-utang yang lainnya. Alih-alih gali lubang tutup lubang, justru yang ada hanya menggali lubang saja tanpa menutupnya.Terlihat mudah dan praktis, karena berutang di zaman sekarang tidak perlu lagi datang ke rumah-rumah tetangga, keluarga, dan kerabat dekat. Tidak perlu lagi mempertaruhkan kehormatan dan harga diri di hadapan mereka untuk meminjam uang. Cukup butuh satu smartphone dalam genggaman. Begitu mudahnya akses untuk berutang sekarang ini.Namun di balik kemudahan itu, terdapat bahaya yang mengerikan. Mungkin hati merasa bahagia ketika melihat nominal besar masuk ke rekening pribadi, tanpa sadar bahaya akan terjadi. Ternyata riba menjeratnya di akhir waktu, utang semakin menumpuk, bunga semakin berlipat, iming-iming bunga yang katanya 0% hanyalah kepalsuan belaka dari sumpah serapah marketing yang digaungkan. Pada akhirnya, ia pun merasa ditipu dan ditindas, padahal persetujuan ada di tangannya, begitu juga keinginan ada di tangannya.Demikianlah kurang lebih gambaran tentang pinjaman online. Tentunya, pinjaman online yang ada saat ini bisa dikatakan belum atau tidak memenuhi syarat-syarat utang piutang secara syar’i; bahkan notabenenya jauh dari syariat Islam dan merugikan bagi peminjam. Di antara contohnya, terdapat denda keterlambatan yang telah diketahui ini adalah riba, bunga yang begitu besar, syarat yang merugikan seperti potongan uang di muka (sebelum diterima), bahkan sampai adanya ancaman dan penyalahgunaan data pribadi.Hal-hal tersebut sangat jauh dari praktek yang diajarkan oleh Islam. Telah berlalu syarat-syarat dalam utang piutang, utang piutang adalah akad yang sifatnya tabarru’ (akad sosial). Tidak bisa untuk mengambil keuntungan padanya. Sedangkan pinjaman online yang ada saat ini, mereka justru mengambil keuntungan dari utang tersebut. Apalagi yang bisa dikatakan terkait hal ini selain riba?Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan tentang larangan riba. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran: 130)Bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengancam para pelaku riba,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278-279)Tidakkah kita takut dengan ancaman yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jabir bin ‘Abdillah radiyallahu ‘anhu berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya, dan saksi-saksinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka semua sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)Dalam hal ini, semua akan terkena ancaman dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik yang disebut sebagai “nasabah”nya, adminnya, saksi-saksi ketika akad berlangsung, semua terkena cipratan dari laknat dan kutukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muncul sebuah pertanyaan, mengapa seperti juru tulisnya dan saksi-saksinya juga terkena laknat? Padahal mereka tidak menikmati riba tersebut secara langsung? Dikarenakan merekalah yang membantu untuk terjadinya praktek riba tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai termakan oleh iming-iming dan prinsip orang-orang kapitalis dan hedonis. Memuaskan keinginan dan kemauan tanpa memikirkan kebutuhan.Kerusakan yang timbul dari pinjaman onlineTentunya, sadar atau tidak terdapat banyak kerusakan yang muncul akibat dari praktek pinjaman online ini. Di antaranya,– Seseorang akan bergaya di atas kemampuannya. Ia akan membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, akan tetapi sesuai dengan kemauan dan keinginannya. Sehingga ketika hal itu menjadi tradisi yang mengakar bagi dirinya, ia akan terus-menerus memenuhi hasrat untuk membeli keinginannya, bagaimanapun caranya. Termasuk dengan menggunakan pinjaman online.– Hilangnya rasa syukur dan qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Allah telah berikan. Padahal justru kebahagiaan itu ada pada qana’aah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ“Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana’ah terhadap apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim)– Adanya denda keterlambatan alias riba, dikhawatirkan riba akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak bermasalah, dan hal ini sudah terjadi.– Memunculkan kezaliman-kezaliman di tengah masyarakat. Dengan disebarkan data-data peminjam, teror, diancam, dan lain sebagainya.– Sebab dari jeratan utang berantai, artinya peminjam mau tidak mau dipaksa gali lubang tutup lubang. Barangkali ia bisa menggunakan jasa pinjaman online lebih dari satu untuk melakukan hal tersebut.– Rusaknya hubungan sosial, karena teror kepada teman, kerabat, keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan oleh pihak penagih pinjaman.– Berisiko peminjam depresi dan stres jika bunga terus bertambah dan ditagih secara kasar dan terus-menerus. Tidak sedikit peminjam yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.– Memunculkan kriminalitas baru pada masyarakat. Disebabkan data-data bisa dimanipulasi, bisa saja seseorang memanipulasi data dengan mengisi KTP bukan miliknya, nomor HP yang hanya sekali pakai, kemudian dibuang ketika sudah waktu pembayaran utangnya.Dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pinjaman online, terlebih khususnya pinjaman online yang ilegal. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang dibenci-Nya, menjauhkan kita dari riba dan segala yang berkaitan dengannya.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8***Depok, 3 Rabi’ul awal 1447/ 27 Agustus 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pinjaman_daring[2] https://www.instagram.com/p/DJoRXRFznWy/

Orang Buta Pun Wajib Berjamaah di Masjid, Bagaimana dengan Kita yang Sehat?

Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

Orang Buta Pun Wajib Berjamaah di Masjid, Bagaimana dengan Kita yang Sehat?

Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ
Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ


Dulu para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memiliki semangat yang sangat besar untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada seorang lelaki dari mereka yang sedang sakit lalu ia dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia bisa berdiri di barisan shaf. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: Sungguh, saya pernah melihat kami (para Sahabat), tidak ada yang absen dari shalat berjamaah di masjid, kecuali orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya.” Pada masa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para Sahabat mengetahui orang-orang munafik melalui absennya mereka dari shalat berjamaah di masjid tanpa uzur. Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Dulu ada seorang lelaki yang didatangkan, dipapah oleh dua orang, hingga ia berdiri di barisan shaf.” Maksudnya, orang itu dalam keadaan sakit dan memiliki uzur untuk tidak ikut berjamaah di masjid. Namun ia tetap bersikeras melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sampai-sampai ia harus dipapah oleh dua orang di kanan dan kirinya, hingga ia dibariskan di shaf. Karena para Sahabat radhiyallāhu ‘anhum memahami agungnya kedudukan shalat berjamaah di masjid. Karena itu, ada seorang buta yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, meminta keringanan agar diperbolehkan shalat di rumahnya, karena ia tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya ke masjid. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar seruan ‘Hayya ‘alash-shalāh, hayya ‘alal-falāh’?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu!” Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku tidak menemukan uzur bagimu.” Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan kepada orang buta ini yang tidak memiliki penuntun ke masjid. Maka bagaimana menurutmu dengan orang yang sehat, bisa melihat, dan mampu?! Oleh sebab itu, saudara-saudara! Hendaklah kita bersemangat untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid. Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu pernah menulis surat kepada para gubernurnya: “Perkara terpenting bagi kalian di sisiku adalah shalat. Siapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Adapun siapa yang melalaikannya, maka terhadap perkara lain ia pasti lebih melalaikannya.” ===== كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عِنْدَهُمْ حِرْصٌ شَدِيدٌ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَكُونُ مَرِيضًا وَيُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ يُعَضَّدُ لَهُ بَيْنَ اثْنَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَعْنِي الصَّحَابَةَ وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا أَيْ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ كَانُوا يَعْرِفُونَ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّخَلُّفِ عَنْ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ عُذْرٍ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَقَدْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ يَعْنِي يَكُونُ مَرِيضًا وَمَعْذُورًا بِتَرْكِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنَّهُ يُصِرُّ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ لِدَرَجَةِ أَنَّهُ يُهَادَى يَعْنِي يُعَضَّدُ لَهُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ لِعِلْمِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِعَظِيمِ شَأْنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ أَعْمَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فِي أَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ لِكَوْنِهِ لَا يَجِدُ قَائِدًا مُلَائِمًا يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ فَإِنِّي لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً فَلَمْ يُرَخِّصِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهَذَا الْأَعْمَى الَّذِي لَيْسَ لَهُ قَائِدٌ يَقُودُهُ لِلْمَسْجِدِ فَمَا بَالُكَ بِالصَّحِيحِ الْمُبْصِرِ الْقَادِرِ فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَحْرِصَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى وُلَاتِهِ فَقَالَ إِنَّ أَهَمَّ أُمُورِكُمْ عِنْدِي الصَّلَاةُ فَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

Bacaan Zikir Pagi Hari

Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa

Bacaan Zikir Pagi Hari

Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa
Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa


Daftar Isi ToggleKeutamaan zikirBacaan zikir pagiPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKeenamKetujuhKedelapanKesembilanKesepuluhKesebelasKedua belasKetiga belasKeempat belasKelima belasKeenam belasKetujuh belasKedelapan belasWaktu zikir pagiKeutamaan zikirZikir merupakan suatu amalan yang Allah perintahkan agar kita senantiasa mengerjakannya. Di antara bacaan zikir yang sebaiknya kita rutinkan adalah bacaan zikir pagi. Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang Allah perintahkan untuk berzikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala, يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian kepada-Nya di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 40-41)Allah Ta’ala juga berfirman,فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ“Bertasbihlah kepada Allah di waktu petang dan di waktu pagi.” (QS. Ar-Rum: 18)Senantiasa berzikir juga merupakan suatu hal yang Rasulullah ajarkan kepada para sahabat, sebagaimana sabda beliau shallallahu ’alayhi wa sallam,لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ“Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim merutinkan zikir, khususnya zikir pagi pada setiap harinya.Bacaan zikir pagiZikir pagi merupakan kumpulan bacaan zikir dari hadis maupun Al-Qur’an yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ajarkan untuk dibaca pada setiap pagi. Bacaan zikir pagi adalah,PertamaMembaca Ayat kursi,اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ“Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) tidur. Milik-Nyalah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”KeduaMembaca doa,أَصْبَحْنا عَلَى فِطْرَةِ الإسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَAṢBAHNAA ‘ALAA FIṬRATIL–ISLAAM, WA ‘ALAA KALIMATIL-IKHLAAṢ, WA ‘ALAA DIINI NABIYYINAA MUHAMMADIN ṢALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ‘ALAA MILLATI ABIINAA IBRAAHIIMA ḤANIIFAN MUSLIMAN WA MAA KAANA MINAL-MUSYRIKIIN.“Kami berada di waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, seorang muslim, dan beliau tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad)KetigaMembaca 3x do’a,رَضيتُ بِاللهِ رَبَّاً وَبِالإسْلامِ ديناً وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيّاًRADIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BI-MUHAMMADIN SALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM NABIYYAN“Aku rida terhadap Allah sebagai Rabb, terhadap Islam sebagai agama, dan terhadap Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi.” (Diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunnan)KeempatMembaca doa,اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً طيباً، وعملاً متقبلاًALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI‘AN, WA RIZQAN ṬAYYIBAN, WA ‘AMALAN MUTAQABBALAN“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)KelimaMembaca doa,اللّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنا وَبِكَ أَمْسَينا، وَبِكَ نَحْيا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورALLAAHUMMA BIKA AṢBAḤNAA WA BIKA AMSAINAA, WA BIKA NAḤYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAYKA AN-NUSYUUR“Ya Allah, dengan-Mu kami berada di waktu pagi, dan dengan-Mu kami berada di waktu petang. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan (kami).” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)KeenamMembaca doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU, LAA SYARIIKA LAHU, LAHU AL-MULKU, WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAY’IN QADIIR“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, milik-Nyalah pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Thabrani)KetujuhMembaca doa,يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍYAA ḤAYYU YAA QAYYUUMU, BIRAḤMATIKA ASTAGHIITSU, AṢLIḤ LII SYA’NII KULLAHU, WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII ṬARFATA ‘AIN“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.”KedelapanMembaca doa,اللّهمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ، خَلَقْتَني وَأَنا عَبْدُك، وَأَنا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْت، أَعوذُبِكَ مِنْ شَرِّ ما صَنَعْت، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنوبَ إِلاّ أَنْتَALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANAA ‘ABDUKA, WA ANAA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA‘DIKA MASTATHA‘TU, A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA‘TU, ABUU’U LAKA BINI‘MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU’U BIDZANBII FAGHFIR LII FA-INNAHU LAA YAGHFIRUDZ-DZUNUUBA ILLAA ANTA“Wahai Allah, Engkau adalah tuhanku, tida ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang kepada janji-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)KesembilanMembaca doa,أَصْبَحْنا وَأَصْبَحَ المُلْكُ لله وَالحَمدُ لله، لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كلّ شَيءٍ قدير، رَبِّ أسْأَلُكَ خَيرَ ما في هذا اليوم وَخَيرَ ما بَعْدَه، وَأَعوذُ بِكَ مِنْ شرِّ ما في هذا اليوم وَشَرِّ ما بَعْدَه، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسوءِ الْكِبَر، رَبِّ أَعوذُ بِكَ مِنْ عَذابٍ في النّارِ وَعَذابٍ في القَبْرAṢHBAḤNAA WA AṢHBAḤAL-MULKU LILLAAHI WAL-ḤAMDU LILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAḤDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHU AL-MULKU WA LAHU AL-ḤAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR. RABBI AS’ALUKA KHAIRA MAA FII HAADZAL-YAUMI WA KHAIRA MAA BA‘DAH, WA A‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HAADZAL-YAUMI WA SYARRI MAA BA‘DAH. RABBI A‘UUDZU BIKA MINAL-KASALI WA SUU’IL-KIBARI, RABBI A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIN FIN-NAARI WA ‘ADZAABIN FIL-QABR“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pada hari ini dan kejelekan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari keburukan di masa tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan dari azab kubur.” (HR. Muslim)KesepuluhMembaca doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FID-DUNYAA WAL-AAKHIRAH, ALLAAHUMMA AS-ALUKA AL-‘AFWA WAL-‘AAFIYATA FII DIINII WA DUNYAA-YA WA AHLII WA MAALII. ALLAAHUMMAS-TUR ‘AURAATII, WA AAMIN RAU‘AATII, WAḤFAZHNĪ MIN BAINI YADAYYA, WA MIN KHALFII, WA ‘AN YAMIINII, WA ‘AN SYIMAALII, WA MIN FAUQII, WA A‘UUDZU BIKA AN UGHTAALA MIN TAḤTII“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan berilah rasa aman dari ketakutanku. Jagalah aku dari depan, dari belakang, dari sebelah kanan, dari sebelah kiri, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak diserang dari bawahku.” (HR. Abu Dawud)KesebelasMembaca 3x doa,بِسمِ اللهِ الذي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهوَ السّميعُ العَليمBISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA‘AS-MIHI SYAI’UN FIL-ARDHI WA LAA FIS-SAMAA’I WA HUWA AS-SAMII‘UL-‘ALIIM“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Diriwayatkan Ashabu As-Sunan kecuali An-Nasa’i)Kedua belasMembaca 3x doa,سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِSUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI RIDHAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI MIDAADA KALIMAATIHI“Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya, Maha Suci Allah (dengan) keridaan diri-Nya, Maha Suci Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya, Maha Suci Allah sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim)Ketiga belasMembaca 3x doa,اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BADANII, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII SAM‘II, ALLAAHUMMA ‘AAFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLAA ANTA. ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MINAL-KUFRI WAL-FAQRI, ALLAAHUMMA INNII A‘UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL-QABRI, LAA ILAAHA ILLAA ANTA“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku; ya Allah, selamatkanlah pendengaranku; ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Dawud)Keempat belasMembaca 3x surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.Kelima belasMembaca 4x doa,اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَALLAAHUMMA INNII ASHBAHTU USY-HIDUKA WA USY-HIDU HAMALATA ‘ARSYIKA WA MALAA-IKATAKA WA JAMII‘A KHALQIKA ANNAKA ANTA-LLAAHU WAHDAKA LAA SYARIIKA LAKA WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUKA WA RASUULUKA“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan-Mu, mempersaksikan para pemikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” (HR. Abu Dawud)Keenam belasMembaca 10x doa,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌLAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU, LAA SYARIIKA LAH, LAHUL-MULKU WA LAHUL-HAMDU, YUHYII WA YUMIITU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Ibnu Hibban)Ketujuh belasMembaca 100x zikir,سبحان الله وبحمدهSUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIH“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Muslim)Kedelapan belasMembaca 100x zikir,أسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”Itulah di antara zikir-zikir yang bisa kita baca di pagi hari. Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di waktu-waktu yang dianjurkan seperti pada pagi hari.Waktu zikir pagiSetelah kita ketahui bacaan-bacaan zikir pagi yang perlu dibaca, kita juga perlu tahu kapan bacaan zikir pagi ini sebaiknya dibaca. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang kapan waktu zikir pagi, beliau menjawab,قبل الظهر من طلوع الفجر إلى الظهر“Sebelum zuhur, (yaitu) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga waktu zuhur.”Baca juga: Zikir Petang***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:https://www.islamweb.nethttps://binbaz.org.sa

Sebab Penjajahan Y4HUD1 & Solusi untuk P4L3STIN4 – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ

Sebab Penjajahan Y4HUD1 & Solusi untuk P4L3STIN4 – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ
Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ


Wahai hamba-hamba Allah! Kita wajib mengetahui bahwa agresi bangsa Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan tanah Palestina, serta terhadap kaum Muslimin di Palestina, bukanlah sekadar sengketa tanah, tetapi kita harus menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam. Perkara ini seharusnya mengusik pikiran setiap Muslim. Palestina adalah negeri para Nabi. Di sana terdapat masjid ketiga di antara tiga masjid yang diagungkan. Di sanalah tempat isra Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Di sanalah kiblat pertama kaum Muslimin. Tidak ada yang memiliki hak atasnya kecuali Islam dan kaum Muslimin. “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, yang diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf: 128) Merupakan kewajiban kita, wahai hamba-hamba Allah, untuk mengerti bahwa dominasi kelompok hina dan terlaknat ini, serta penguasaan mereka terhadap kaum Muslimin, tidak lain hanyalah karena dosa, maksiat, dan berpalingnya banyak kaum Muslimin dari agama mereka. Padahal itulah sumber kejayaan, keberhasilan, dan kemuliaan mereka, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ālā berfirman (yang artinya): “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30) Maka, wahai hamba-hamba Allah, kita harus kembali dengan penuh ketulusan dan dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah Jalla wa ‘Alā, yang dengannya iman diperbaiki dan hubungan dengan Ar-Rahman terjalin, ketaatan dan kebaikan dijaga, serta kefasikan dan kemaksiatan dijauhi dengan penuh kewaspadaan, sehingga kaum Mukminin dapat meraih kemuliaan, kekuasaan, kemenangan, dan pertolongan. Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian jujur kepada Allah Tabāraka wa Ta’ālā dalam berdoa, karena seorang Mukmin, dalam setiap keadaannya dan seluruh kondisinya, baik saat sempit maupun lapang, saat suka maupun duka, tiada tempat kembali baginya selain hanya kepada Allah, tiada pula tempat perlindungan baginya selain hanya kepada Tuhan, Penguasa, dan Pemiliknya, dengan menghadap kepada-Nya dengan doa. ===== عِبَادَ اللهَ يَجِبُ عَلَينَا يَجِبُ عَلَينَا أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ عُدْوَانَ الْيَهُودِ عَلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَعَلَى أَرْضِ فِلِسْطِينَ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ فِي فِلِسْطِينَ لَيْسَ مُجَرَّدَ نِزَاعٍ عَلَى أَرْضٍ وَأَنْ نُدْرِكَ أَنَّ قَضِيَّةَ فِلِسْطِينَ قَضِيِّةٌ إِسْلَامِيَّةٌ يَجِبُ أَنْ يُؤَرِّقَ أَمْرُهَا بَالَ كُلِّ مُسْلِمٍ فَفِلِسْطِينُ بَلَدُ الأَنْبِيَاءِ وَفِيهَا ثَالِثُ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَهِيَ مَسْرَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا قِبْلَةُ الْمُسْلِمِينَ الْأُولَى وَلَيْسَ لِأَحِدٍ فِيهَا حَقٌّ إِلَّا الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ وَيَجِبُ عَلَينَا عِبَادَ اللهِ أَنْ نُدْرِكَ أَنَّ تَغَلُّبَ هَذِهِ الشِرْذِمَةِ الْمَرْذُولَةِ وَالْفِئَةِ الْمَخْذُولَةِ وَتَسَلُّطَهُم عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّمَا هُوَ بِسَبَبِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي وَإِعْرَاضِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ دِينِهِم الَّذِي هُوَ سَبَبُ عِزِّهِمْ وَفَلَاحِهِمْ وَرِفْعَتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ فَلَابُدَّ عِبَادَ اللهَ لَا بُدَّ مِنْ عَودَةٍ صَادِقِةٍ وَأَوبَةٍ حَمِيدَةٍ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا فِيهَا تَصْحِيحٌ لِلْإِيمَانِ وَسِيلَةٌ بِالرَّحْمَنِ وَحِفَاظٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ وَبُعْدٌ وَحَذَرٌ مِنَ الْفُسُوقِ وَالْعِصْيَانِ لِيَنَالَ الْمُؤْمِنُونَ بِذَلِكَ الْعِزَّةَ وَالتَّمْكِينَ وَالنَّصْرَ وَالتَّأْيِيدَ وَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالصِّدْقِ مَعَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَجَمِيعِ شُؤُونِهِ فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ وَسَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ لَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ وَلَا مَلْجَأَ لَهُ إِلَّا إِلَى رَبِِّهِ وَسَيِّدِهِ وَمَوْلَاهُ يَتَوَجَّهُ إِلَيهِ بِالدُّعَاءِ

Hadis: Sedekah yang Paling Utama adalah Nafkah untuk Keluarga

Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id

Hadis: Sedekah yang Paling Utama adalah Nafkah untuk Keluarga

Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTeks hadisFaidah dan kandungan hadisTeks hadisDari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)Faidah dan kandungan hadisDalam hadis di atas, terdapat dalil bahwa menafkahi keluarga merupakan infak (sedekah) yang paling utama. Infak (sedekah) yang dimaksud di sini bisa yang sifatnya sedekah wajib (yaitu nafkah yang wajib untuk istri dan anak) dan sedekah yang sunah (yang lebih dari kewajiban). Asy-Syaukani rahimahullah berkata,وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الأَوَّلُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الإِنْفَاقَ عَلَى أَهْلِ الرَّجُلِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ“Hadis pertama dari Abu Hurairah mengandung dalil bahwa menafkahi keluarga seorang laki-laki lebih utama daripada berinfak di jalan Allah, lebih utama daripada membebaskan budak, dan lebih utama daripada bersedekah kepada orang-orang miskin.” (Nailul Authar, 6: 380-381)Ini diperkuat dengan hadis lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفقُهُ الرَّجُلُ: دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدينَارٌ يُنْفقُهُ عَلَى دَابَّتِهِ في سَبيلِ الله، وَدِينارٌ يُنْفقُهُ عَلَى أصْحَابهِ في سَبيلِ اللهِ“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk tunggangannya di jalan Allah, dan dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)Ketika menyebutkan hadis ini, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengutip perkataan Abu Qilabah,قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : بَدَأَ بِالْعِيَالِ . ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ : وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ يُعِفُّهُمُ اللَّهُ أَوْ يَنْفَعُهُمْ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْAbu Qilabah berkata, “Beliau memulai dengan keluarga.” Kemudian Abu Qilabah berkata, “Dan siapakah orang yang paling besar pahalanya selain orang yang menafkahi anak-anak kecilnya, sehingga Allah menjaga mereka dari kekurangan atau memberi manfaat kepada mereka melalui nafkahnya dan menjadikannya cukup?” (Dikutip dari islamqa.info)Baca juga: Takaran Adil dalam Nafkah dan Pemberian Tambahan kepada AnakDalam kitab Tatriz Riyadhus Shalihin (1: 210) disebutkan,قَدَّمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ النَّفَقَةَ عَلَى الْعِيَالِ فِي الذِّكْرِ، اهْتِمَامًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ الأَنْوَاعِ“Dalam hadis ini, beliau mendahulukan penyebutan nafkah kepada keluarga, sebagai bentuk perhatian terhadap hal tersebut, karena ia merupakan jenis yang paling mulia.”Mengapa nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling afdal? Ath-Thibi rahimahullah berkata ketika menerangkan hal ini,قِيلَ: لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ“Dikatakan bahwa (infak kepada keluarga adalah yang paling utama) karena termasuk kewajiban, dan dikatakan juga karena di dalamnya terdapat sedekah dan sekaligus menyambung silaturahmi.” (Mirqat Al-Mafatih, 4: 1351)Keterangan senada juga terdapat di Mir’atul Mafaatih (6: 367),فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِنْفَاقَ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُهُ مِنَ الإِنْفَاقِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمِنَ الإِنْفَاقِ فِي الرِّقَابِ، وَمِنَ التَّصَدُّقِ عَلَى الْمَسَاكِينِ. وَإِنَّمَا كَانَ الإِنْفَاقُ عَلَى الأَهْلِ أَفْضَلَ، لِأَنَّهُ فَرْضٌ، وَالْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ، أَوْ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ.“Terdapat dalil bahwa nafkah seorang laki-laki kepada keluarganya lebih utama daripada infak di jalan Allah, lebih utama daripada infak untuk membebaskan budak, dan lebih utama daripada sedekah kepada orang miskin. Dan sebab nafkah kepada keluarga lebih utama adalah karena ia merupakan kewajiban (fardhu), sedangkan kewajiban lebih utama daripada amalan sunah. Atau karena ia mengandung unsur sedekah sekaligus silaturahmi.”Hadis ini juga dalil bahwa fardhu ‘ain itu lebih utama daripada fardhu kifayah. Al-Qadhi rahimahullah berkata,وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْأَهْلِ أَعَمُّ مِنْ كَوْنِ نَفَقَتِهِمْ وَاجِبَةً أَوْ مَنْدُوبَةً، فَهِيَ أَكْثَرُ الْكُلِّ ثَوَابًا، وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ فَرْضَ الْعَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الْكِفَايَةِ، لِأَنَّ النَّفَقَةَ عَلَى الْأَهْلِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَهُوَ الْجِهَادُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.“Nafkah kepada keluarga mencakup baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Maka ia lebih banyak pahalanya dibanding yang lain. Dari hadis ini dijadikan dalil bahwa fardhu ‘ain lebih utama daripada fardhu kifayah. Sebab nafkah kepada keluarga, yang merupakan fardhu ‘ain, lebih utama daripada nafkah di jalan Allah, yaitu jihad, yang merupakan fardhu kifayah.” (Faidhul Qadir, 3: 536)Semoga hadis ini menjadi perhatian untuk para suami (kepala rumah tangga), bahwa setiap harta yang mereka nafkahkan kepada istri dan anak-anaknya merupakan sedekah yang paling afdal. Kita berusaha menata hati untuk ikhlas, mengharap pahala dari Allah dari setiap harta yang kita nafkahkan untuk anak dan istri, bukan hanya sekedar memenuhi gengsi bahwa itu adalah kehormatan dan harga diri seorang laki-laki. Terkait keikhlasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,وَإِنَّك لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إلَّا أُجِرْت عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِك“Tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan niat mencari wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang engkau belanjakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari no. 1295 dan Muslim no. 1628)Juga hendaknya kita tidak menjadi suami yang pelit, gemar bersedekah dan berderma kepada orang lain, namun anggota keluarga sendiri justru tidak (atau kurang) diperhatikan kebutuhan nafkahnya.Ibnu Battal rahimahullah berkata,يُنْفِقُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَمَنْ تَلْزَمُهُ النَّفَقَةُ عَلَيْهِ غَيْرَ مُقَتِّرٍ عَمَّا يَجِبُ لَهُمْ وَلَا مُسْرِفٍ فِي ذَلِكَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَهَذِهِ النَّفَقَةُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَمِنْ جَمِيعِ النَّفَقَاتِ“Orang itu menafkahkan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan orang yang menjadi tanggungannya, tidak kikir (pelit) terhadap apa yang wajib bagi mereka dan tidak berlebihan dalam hal itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (hartanya) tidak berlebihan dan tidak kikir, dan berada di antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67) Nafkah ini lebih utama daripada sedekah dan dari semua jenis nafkah.” (Tarh al-Tathrib, 2: 74)Baca juga: Besaran Nafkah Suami kepada Istri***Unayzah, KSA; Jumat, 21 Safar 1447/ 15 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id
Prev     Next