Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ
Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ


Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

Doa Terbaik: Doa Memohon Afiyat

Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 426 times, 1 visit(s) today Post Views: 159

Doa Terbaik: Doa Memohon Afiyat

Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 426 times, 1 visit(s) today Post Views: 159
Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 426 times, 1 visit(s) today Post Views: 159


Oleh: Dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi Wahai muslim yang mulia! Tidak diragukan bahwa nikmat afiyat adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Dulu Nabi kita Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memohon kepada Tuhannya afiyat, dan mewasiatkan kepada para sahabat beliau yang mulia untuk memohon afiyat. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ “Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik – setelah keyakinan (keimanan) – daripada afiyat.” (HR. At-Tirmidzi no. 3558. Beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib). Bagaimana menurutmu, apakah seorang insan bisa merasa bahagia tanpa afiyat? Apakah ia dapat menikmati harta tanpa afiyat? Apakah ia akan merasa senang dengan kedudukan dan jabatan tanpa afiyat? Demi Allah! Tidak akan ada yang menandingi nikmat afiyat. Afiyat adalah pakaian termewah yang dipakai manusia, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyenyak yang ia rasakan. Inilah Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah afiyat!” Selang beberapa hari, aku datang kembali dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk aku minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau lalu bersabda kepadaku: “Wahai Abbas! Wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi no. 3514. Beliau berkata bahwa hadits ini shahih). Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata tentang makna afiyat: “Ia adalah pertolongan Allah bagi hamba-Nya. Orang yang berdoa memohon afiyat adalah yang memohon pertolongan Tuhannya atas segala hal yang ia niatkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan anjuran doa ini kepada pamannya, Abbas dan mencukupkan dengan doa afiyat merupakan bentuk penggugah semangat para pendoa untuk senantiasa mengucapkannya dan menjadikannya sebagai salah satu wasilah terbesar untuk mendekat kepada Tuhan mereka dan untuk memohon pertolongan kepada-Nya atas segala yang mereka inginkan. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: ‘Mintalah kepada Allah afiyat di dunia dan akhirat!’ seakan-akan doa ini dengan redaksi seperti ini menjadi bekal untuk menghindari segala mudharat dan mengundang segala kebaikan.” (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hlm. 348). Dan inilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Pernah ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Beliau menjawab: “Mintalah kepada Tuhanmu afiyat dan mu’afat di dunia dan akhirat.” Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari kedua, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling afdal?” Lalu beliau menjawab seperti itu juga. Kemudian lelaki itu datang lagi kepada beliau pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan beliau juga menjawab dengan jawaban yang sama, lalu beliau menambahkan: “Apabila engkau telah diberi afiyat di dunia dan diberi afiyat di akhirat juga, maka sungguh engkau telah beruntung.” (HR. At-Tirmidzi no. 3512. Beliau berkata: Hadis ini hasan gharib). Ibnu Al-Atsir mengatakan dalam An-Nihayah bahwa perbedaan antara afiyat dan mu’afat adalah afiyat itu engkau selamat dari penyakit-penyakit dan musibah-musibah, ia adalah kesehatan yang merupakan kebalikan dari penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yakni mencukupkanmu dari mereka dan mencukupkan mereka darimu, serta menghindarkan gangguan mereka darimu dan gangguanmu dari mereka. (Kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar karya Ibnu Atsir jilid 3 hlm. 265). Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh berharap mendapat ujian atau terburu-buru menanggung azab akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sudah lemah sekali hingga menjadi seperti anak burung. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Ia menjawab: ‘Ya. Dulu aku pernah mengucapkan: Ya Allah siksaan yang hendak Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah siksaan itu bagiku di dunia.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Engkau tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’ Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berdoa kepada Allah untuknya, sehingga Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim no. 2688). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung azab dan musibah, dan mengabarkan kepadanya bahwa seharusnya ia mengucapkan doa: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”  Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat perkara yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh empat golongan: Nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mati.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 39). Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang seorang muslim dan badannya sehat, maka sungguh telah terhimpun padanya puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat dan puncak nikmat akhirat adalah Islam.” (Kitab Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin karya As-Samarqandi hlm. 445). Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan dan afiyat dalam sujud kalian, saat hendak berbuka puasa, dan di waktu antara azan dan iqamah, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai sesuatu —setelah keimanan— yang lebih baik daripada afiyat. Perbanyaklah membaca doa: Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan, afiyat, dan mu’afat yang langgeng dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita semua penjagaan, keselamatan, afiyat dari segala penyakit, dan husnul khatimah. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/153974/الدعاء-بالعافية-من-أفضل-الأدعية/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 426 times, 1 visit(s) today Post Views: 159

Bulan-Bulan Haram dan Ladang Amal

Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246

Bulan-Bulan Haram dan Ladang Amal

Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246
Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246


Daftar Isi ToggleMakna bulan haramKeutamaan dan ancaman di bulan haramBulan istimewaRelevansi bulan haram di era digitalNabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)Berakhirnya bulan Syawal adalah gerbang menuju fase untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan berikutnya. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.Allah Ta’ala telah menetapkan dalam syariat-Nya adanya empat bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam bulan-bulan ini, kita dituntut untuk lebih menjaga diri dari maksiat dan lebih giat dalam ketaatan dan ketakwaan. Kita pun mestinya menyadari bahwa ini merupakan momentum berikutnya untuk meraih pahala yang berlipat ganda setelah berlalunya bulan suci Ramadan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)Makna bulan haram Istilah “haram” dalam konteks bulan tidak sekadar berarti larangan, tetapi menunjukkan kemuliaan dan kehormatan waktu tersebut. Sama seperti Tanah Haram di Makkah, bulan haram adalah waktu yang diagungkan dalam syariat Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan “bulan haram” menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan khusus, sehingga dosa di dalamnya lebih berat dan amal saleh lebih ditekankan. [1]Apabila kita telusuri sejarah Islam lebih dalam, kita akan mendapati fenomena unik bahwa pada masa jahiliyah, bangsa Arab pun telah mengenal kemuliaan bulan-bulan ini. Mereka menghentikan peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang suci. Para ulama menyebut bahwa praktik penghormatan ini sudah dikenal bahkan sebelum Islam, namun Islam datang untuk menetapkannya secara syar’i dan meluruskannya dari penyimpangan.Bangsa Arab pada masa jahiliyah juga melakukan penyimpangan melalui praktik nasi’, yaitu mengubah-ubah urutan bulan demi kepentingan perang. Allah Ta’ala mengecam praktik ini,إِنَّمَا ٱلنَّسِىٓءُ زِيَادَةٌ فِى ٱلْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوا۟ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّوا۟ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimaullah menjelaskan bahwa nasi’ adalah bentuk manipulasi waktu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah, dan ini termasuk penyimpangan besar dalam agama. [2] Oleh karenanya, penting untuk kita pahami bahwa bulan haram adalah momentum untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa larangan menzalimi diri pada ayat tersebut mencakup seluruh waktu, namun penekanannya lebih kuat pada bulan haram karena kemuliaannya. [3]Keutamaan dan ancaman di bulan haramAllah memperingatkan secara khusus agar tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku sepanjang waktu, namun memiliki penekanan khusus pada bulan haram karena kemuliaannya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan larangan berbuat zalim secara umum, namun pengkhususan pada bulan haram menunjukkan besarnya kehormatan waktu tersebut, sehingga dosa di dalamnya lebih berat.Meskipun secara jumlah dosa itu tetap satu, namun dari sisi kualitas dan beratnya, dosa tersebut menjadi lebih besar. Al-Qurthubi rahimahullah menegaskan bahwa kezaliman pada waktu yang mulia lebih besar dosanya dibanding waktu lainnya, sebagaimana kemuliaan tempat dan waktu berpengaruh pada bobot amal. [4] Ibarat perbedaan antara luka ringan dan luka berat—keduanya sama-sama luka, tetapi dampaknya berbeda.Sebaliknya, ketaatan di bulan haram juga memiliki nilai lebih tinggi. Meskipun tidak terdapat dalil eksplisit yang menyebut pelipatgandaan pahala secara angka khusus untuk bulan haram, namun para ulama menetapkan kaidah bahwa amal saleh di waktu dan tempat yang mulia itu menjadi lebih utama, sebagaimana kaidah:الأعمال الصالحة تتفاضل بحسب شرف الزمان والمكان“(Pahala) amal-amal saleh itu belipat-lipat sesuai dengan kemuliaan waktu dan tempat.”Hal ini diisyaratkan dalam banyak dalil umum tentang keutamaan waktu, di antaranya sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)Jadi, ada keutamaan khusus amal di bulan yang dimuliakan. Seorang muslim hendaknya menjadikan bulan-bulan haram sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meninggalkan kebiasaan buruk. Momentum ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menahan diri dari berbagai bentuk maksiat, baik yang tampak maupun tersembunyi.Bulan istimewa Di antara bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Syahrullah (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan yang agung sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.Amalan utama di bulan ini adalah puasa. Hadis di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunah terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam. Lihatlah, betapa besar peluang pahala yang tersedia bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan amal ibadahnya.Secara khusus, terdapat puasa Asyura (10 Muharam) yang memiliki keutamaan besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Selain itu, dianjurkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu Tasu’a (9 Muharam), dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, 2: 798)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan puasa Tasu’a adalah menyelisihi Ahlul Kitab yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. [5] Namun demikian, umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap hadis-hadis palsu yang beredar tentang keutamaan tertentu di bulan ini. Tidak semua yang populer memiliki dasar yang sahih. Para ulama hadis seperti Ibn al-Jawzi rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah telah mengingatkan tentang banyaknya riwayat lemah bahkan palsu terkait keutamaan bulan Muharam, seperti klaim puasa tertentu yang menghapus dosa puluhan tahun tanpa dasar yang valid. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal, memastikan bahwa ibadah yang dilakukan memiliki landasan dalil yang sahih, agar amal tersebut benar-benar diterima di sisi Allah Ta’ala.Relevansi bulan haram di era digitalDewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari—seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. Allah Ta’ala telah mengingatkan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan—yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital—tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)Saudaraku, mari kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman,مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.Wallahu a’lam.***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 148-149.[2] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964. Jilid 8, hal. 134–136.[3] Ibid.[4] Ibid.[5] Fathul Bari, 4: 245–246

Seandainya Hati Kita Masih Sehat…Niscaya Akan Hancur karena Sedih Saat Terhalang dari Allah

Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا

Seandainya Hati Kita Masih Sehat…Niscaya Akan Hancur karena Sedih Saat Terhalang dari Allah

Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا
Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا


Engkau saat ini masih diberi kesempatan. Maka manfaatkanlah waktumu! Tetapkan pada dirimu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Sediakan waktu untuk dirimu beramal saleh. Bangunlah di akhir malam, meskipun hanya setengah jam sebelum Subuh. Bermunajatlah kepada Rabbmu, berdoalah kepada-Nya. Karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia, lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan?” “Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah yang tidak mampu bangun setengah jam sebelum Subuh? Ini perkara yang sangat mudah. Kita memohon kepada Allah agar merahmati kita dengan rahmat-Nya. Mungkin kita belum mampu bangun pada sepertiga atau pertengahan malam. Namun, tidak mungkinkah kita bangun setengah jam saja? Untuk berzikir kepada Allah di waktu itu. Kita berwudu, salat semampu yang Allah mudahkan, lalu menutupnya dengan witir. Saya rasa ini perkara yang sangat mudah. Demikian pula, kita jadikan seluruh hidup kita dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Karena seorang mukmin, yang cerdas, adalah orang yang menjadikan seluruh hidupnya sebagai zikir kepada Allah. Sebab, dalam segala sesuatu yang ada di hadapan kita, terdapat tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Apabila kita menyadari bahwa apa yang ada di hadapan kita termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hal itu akan mengingatkan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita pun mengingat Allah. Dengan demikian, seseorang akan senantiasa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang ia saksikan. Bahkan melalui apa yang ia saksikan pada dirinya sendiri dan keadaannya yang silih berganti. Sekarang, saya bertanya kepada kalian, apakah hati kalian selalu berada dalam keadaan yang sama? Tidak! Terkadang lalai. Terkadang bertaubat kepada Allah. Terkadang ingat kepada Allah. Terkadang dalam keadaan penuh kehidupan. Terkadang hatimu benar-benar hidup, dan kenikmatannya masih engkau rasakan serta kenang dalam waktu yang panjang. Mungkin engkau teringat saat berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam shalat dan sujudmu, meskipun itu telah berlalu tiga puluh tahun atau lebih, sesuai umur seseorang. Sebab momen itu membekas dalam hatinya. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita manfaatkan. Kita harus memanfaatkannya dan tidak lalai, karena kelalaian adalah kematian. Kelalaian adalah kerasnya dan matinya hati. Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, seandainya hati ini masih bersih, niscaya ia akan tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan.” Hati tercabik-cabik karena sedih akibat terhalang dari kebaikan. “Namun, hati ini sedang mabuk oleh cinta kepada kehidupan dunia.” ===== أَنْتَ الْآنَ فِي مُهْلَةٍ اِغْتَنِمِ الْوَقْتَ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ حِزْبًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وَقْتًا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قُمْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ وَلَوْ نِصْفَ سَاعَةٍ قَبْلَ الْفَجْرِ نَاجِ رَبَّكَ ادْعُهُ فَإِنَّهُ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ مَنِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ أَنْ يَقُومَ قَبْلَ الْفَجْرِ بِنِصْفِ سَاعَةٍ أَمْرٌ بَسِيطٌ جِدًّا نَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَنَا بِرَحْمَتِهِ لَا نَقُومُ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ وَنِصْفِ اللَّيْلِ لَكِنْ أَفَلَا يُمْكِنُ أَنْ نَقُومَ نِصْفَ سَاعَةٍ فَقَطْ نَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا نَتَوَضَّأُ نُصَلِّي مَا شَاءَ اللَّهُ نُوتِرُ هَذَا أَمْرٌ أَظُنُّهُ بَسِيطًا جِدًّا كَذَلِكَ أَيْضًا نَجْعَلُ حَيَاتَنَا كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الْكَيِّسَ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ حَيَاتَهُ كُلَّهَا ذِكْرًا لِلَّهِ لِأَنَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ أَمَامَنَا آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ آيَةً مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا ذَكَرْنَا هَذَا الشَّيْءَ الَّذِي أَمَامَنَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ذَكَرْنَا بِذَلِكَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرْنَا اللَّهَ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ دَائِمًا يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ الْكَوْنِيَّةِ بَلْ بِمَا يُشَاهِدُ مِنْ نَفْسِهِ وَتَقَلُّبَاتِهِ الْقَلْبُ الْآنَ أَنَا أَسْأَلُكُمْ هَلْ قُلُوبُكُمْ عَلَى وَتِيرَةٍ وَاحِدَةٍ دَائِمًا لَا فِي غَفْلَةٍ أَحْيَانًا فِي إِنَابَةٍ أَحْيَانًا فِي تَذَكُّرٍ أَحْيَانًا فِي حَيَاةٍ بَيِّنَةٍ أَحْيَانًا أَحْيَانًا يَحْيَا قَلْبُكَ حَيَاةً تَتَمَتَّعُ بِهَا مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ تَتَذَكَّرُهَا رُبَّمَا تَتَذَكَّرُ حَالَةً وَقَفْتَ فِيهَا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُصَلِّيًا سَاجِدًا وَلَوْ قَبْلَ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ أَكْثَرَ حَسَبَ عُمُرِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّهَا أَثَّرَتْ فِي قَلْبِهِ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا يَنْبَغِي أَنْ نَسْتَغِلَّهَا وَأَنْ لَا نَغْفَلَ فَالْغَفْلَةُ مَوْتٌ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَمَوْتٌ لِلْقَلْبِ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوبَ سَلِيمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ حُزْنًا تَتَقَطَّعُ مِنْ حِرْمَانِهَا لَكِنَّهَا سَكْرَى لِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّنْيَا

Setan Si Pemberi Nasihat

Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 382 times, 1 visit(s) today Post Views: 161

Setan Si Pemberi Nasihat

Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 382 times, 1 visit(s) today Post Views: 161
Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 382 times, 1 visit(s) today Post Views: 161


Oleh: Dr. Basyuni Nahila Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu. Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan. Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan. Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah: بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat. فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu. وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam. يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat. Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11). Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar. Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya: 1. Kedustaan yang terencana Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf:  وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ “Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11). 2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ “Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22). Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka: أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12). 3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ “Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82). Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia. 4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ “Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka: قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ “Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77). 5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97).  Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ “Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22). Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/122756/الشيطان-الناصح/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 382 times, 1 visit(s) today Post Views: 161

Catatan Penting Saat Wukuf di Arafah

Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.

Catatan Penting Saat Wukuf di Arafah

Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.
Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.


Hari Arafah adalah hari yang penuh keutamaan dan merupakan hari terbaik untuk berdoa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibadah wukuf dan berdoa di hari yang agung ini, khususnya bagi para jemaah haji. Di antara hal penting yang harus diperhatikan adalah:Pertama: Disunahkan pada hari ini bagi seorang muslim untuk memperbanyak dan senantiasa mengulang-ulang bacaan tauhid, yaitu ucapan:لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌHal ini merupakan petunjuk seluruh para Nabi, sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Mengulang-ulang kalimat ini pada hari Arafah sangat sesuai sekali, karena hari Arafah adalah hari terbaik dan kalimat tauhid (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) adalah puncak zikir yang paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis,أَفْضَلُ الذِّكْرِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ“Sebaik-baik zikir adalah lafal Laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, hasan)Maka sangatlah tepat dan sesuai apabila seorang hamba memperbanyak zikir terbaik di hari yang terbaik ini.Kedua: Disunahkan pada hari ini untuk mengangkat kedua tangan di saat berdoa. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كنتُ رَديفَ النبيِّ ﷺ بعَرَفاتٍ، فرَفَعَ يدَيه يَدعو، فمالتْ به ناقتُه، فسَقَطَ خِطامُها، فتَناوَلَ الخِطامَ بإحدى يدَيه وهو رافعٌ يدَه الأُخرى“Aku sedang menunggang unta di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan untanya bergoyang, menyebabkan tali kekangnya terlepas. Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan sambil tetap mengangkat tangan lainnya.“ (HR. An-Nasa’i, shahih)Dalam hadis ini, tampak sangat jelas semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdoa sambil mengangkat tangan di hari Arafah ini. Sehingga meskipun tali kekang unta terlepas, beliau terus melanjutkan berdoa dan tetap mengangkat salah satu tangan beliau karena satu tangan yang lain meraih tali kekang yang jatuh.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud no. 1488, shahih)Ketiga: Para jemaah haji hendaknya bersemangat berdoa dengan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam sunah beliau. Hal ini akan memberikan faidah yang sangat banyak, di antaranya:1) Nabi diberikan mukjizat berupa jawaami’ul kalim, yaitu doa-doa beliau mengandung permintaan yang mencapai puncak kesempurnaan, dan permintaan yang tinggi nilainya, yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.2) Doa yang berasal dari Nabi selamat dari berbagai macam kekurangan dalam doa, kesalahan dalam makna, karena doa yang berasal dari beliau terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Hal ini akan semakin jelas jika kita mencermati kisah sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar anaknya berdoa kepada Allah dengan ucapan,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ ونعيمَها وإستبرَقَها، ونحوًا من هذا وأعوذُ بِكَ منَ النَّارِ وسلاسلِها وأغلالِها“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, kebahagiaannya, sutra halusnya, dan hal-hal serupa. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantainya, dan belenggunya.”Sa’ad bin Abi Waqasah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepada anaknya,“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah banyak sekali, dan berlindung kepada Allah dari banyak keburukan. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنه سيكون قومٌ يعتدون في الدُّ الدعاء“Sesungghuhnya akan ada di antara umat yang melampaui batas dalam doa.“ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala,اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Sesungguhya engkau cukup membaca doa,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها مِن قولٍ أو عملٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍ“Aku memohon surga kepada-Mu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”  (HR. Ahmad no. 1483, shahih)Seorang muslim yang menggunakan doa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meraih keberkahan dan kebaikan yang banyak, serta selamat dari kekeliruan yang bisa saja terjadi dalam doa yang dia panjatkan.Keempat: Ikhlas dalam berdoa dan juga dalam seluruh amalan yang dikerjakan. Setiap muslim hendaknya ikhlas dalam doanya dan seluruh amalnya, karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amal saleh. Jika tidak ikhlas, maka amal akan batal. Oleh karena itu, ketika memulai talbiyah haji di Dzul Hulaifah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللَّهُمَّ اجعله حَجَّا لاَ رِيَاءَ فِيهَ وَلاَ سُمْعَةَ“Ya Allah, jadikanlah haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah di dalamnya.“Sayangnya, banyak sekali jaemaah haji telah tertipu oleh fitnah di zaman ini dengan berfoto ketika mereka melakukan manasik haji. Banyak di antara mereka yang memiliki tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang menunaikan ibadah haji. Sebagian di antara mereka memperbagus dalam ibadah dan doa di tempat-tempat ibadah haji agar sempurna gambarnya saat dia dalam kondisi ibadah tersebut. Hendaknya orang yang melakukan semisal ini khawatir akan diharamkan pahala haji seluruhnya, karena Allah berfirman,وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.“ (QS. Al-Bayyinah: 5)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfriman,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku adalah (Zat) yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dengan syiriknya itu.” (HR. Muslim)Maka bagi para jemaah haji, hendaknya menjadi perhatian penting baginya untuk mengikhlaskan hajinya hanya karena Allah, dan dalam rangka meraih rida-Nya semata, serta bersungguh-sungguh untuk menjaga hajinya dari berbagai kerusakan dan segala sesuatu yang menghalangi diterimanya ibadah haji.Kelima: Berdoa dengan cakupan yang luas, termasuk untuk kedua orangtua, kerabat, dan kaum muslimin secara umum agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Hendaknya tidak membatasi doa hanya untuk dirinya sendiri saja. Apalagi pada kondisi munculnya berbagai fitnah yang besar yang menimpa berbagai negeri kaum Muslimin, baik berupa pertumpahan darah, perampasan dan penjarahan harta, serta merendahkan kehormatan orang lain.Maka bersemangatlah untuk mendoakan kaum Muslimin dari bagian doa kita, karena kaum Muslimin adalah satu penderitaan dan satu harapan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)Keenam: Jemaah haji hendaknya bersemangat menjaga waktunya di hari Arafah dari kesia-siaan. Hendaknya dia sibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah dan berdoa. Oleh karena itu, Nabi menggabungkan di hari Arafah antara salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim agar para jemaah haji punya banyak waktu luang untuk berdoa dan bermunajat.Namun sangat disayangkan, para jemaah haji justru menyia-nyiakan keutamaan doa dan menundukkan diri pada hari yang agung ini, dan justru sibuk dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau banyak ngobrol dengan yang lain, atau menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Kemudian tanpa disadari, matahari sudah tenggelam dan dia kehilangan waktu terbaik untuk berdoa di siang hari Arafah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tujuan disyariatkannya haji adalah untuk mengingat Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ؛ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ“Sesungguhnya disyariatkannya tawaf di Baitullah (Kakbah), sa’i antara Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud no. 1888)Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah dalam masalah ini mengingatkan tentang satu kaidah yang agung. Beliau berkata, “Sesungguhnya yang paling utama dari setiap pelaku amal adalah yang paling banyak mengingat Allah di dalamnya. Sehingga orang puasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah dalam puasanya, dan jemaah haji yang paling baik adalah yang paling banyak mengingat Allah, dan demikian berlaku untuk seluruh amal yang lainnya.“Maka tidaklah sama orang yang menggunakan waktu hajinya untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Quran, dan amalan ketaatan lainnya dengan orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk selain hal-hal tersebut.Ketujuh:  Menghindarkan suara gaduh ketika berdoa. Orang yang sedang haji hendaknya meninggalkan suara gaduh ketika berdoa dan berdoa secara berjemaah, karena yang demikian itu tidak ada petunjuknya dalam sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baik petunjuk dan yang paling sempurna adalah apa yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, yang disyariatkan bahwa setiap jemaah haji berdoa sendiri-sendiri dan juga berzikir sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu ‘Umar ketika menceritakan kondisi para sahabat tatkala bertalbiyah dan berzikir di hari Arafah, “Aku melewati Nabi dan para sahabatnya. Maka di antara kita ada yang bertakbir dan ada yang bertalbiyah.” (HR. Muslim) Sehingga tidak ada yang bertalbiyah atau bertakbir atau berdoa secara berjemaah atau menjadikan ada yang memimpin kemudian yang lain mengikutinya.Baca juga: Sebab Mendapatkan Ampunan di Hari Arafah***Penulis: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Referensi: Fadhailu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah.

Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan Sembelihan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan.Baca Juga:Ucapan Talbiyah, Maksud, dan Aturan Pengucapannya untuk Jamaah Haji dan Umrah7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah

Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan Sembelihan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan.Baca Juga:Ucapan Talbiyah, Maksud, dan Aturan Pengucapannya untuk Jamaah Haji dan Umrah7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan.Baca Juga:Ucapan Talbiyah, Maksud, dan Aturan Pengucapannya untuk Jamaah Haji dan Umrah7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji terbaik adalah “al-‘ajj dan ats-tsajj”, yaitu memperbanyak talbiyah dan menyembelih hadyu. Apa makna di balik dua amalan ini? Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah haji semakin bermakna dan sesuai sunnah.Dari Shahih al-Jami’ dan Shahih at-Tirmidzi:أَفْضَلُ الْحَجِّ الْعَجُّ وَالثَّجُّ“Sebaik-baik haji adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.”Dalam riwayat lain disebutkan:Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:«الْعَجُّ وَالثَّجُّ»“Haji yang disertai al-‘ajj dan ats-tsajj.”(HR. Tirmidzi, no. 827; Ibnu Majah, no. 2924; Shahih Al-Jaami’, no. 1101; sahih menurut Syaikh Al-Albani)Penjelasan makna hadits:Haji merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Ibadah ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. Di dalam pelaksanaannya terdapat pahala yang sangat besar. Haji dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan, bahkan seorang hamba kembali dalam keadaan bersih seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.Dalam hadits ini, Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Haji apakah yang paling utama?” Maksudnya, amalan apa yang paling utama dalam ibadah haji setelah terpenuhi seluruh rukun, syarat, dan kewajibannya.Beliau menjawab:Makna “العَجُّ” (al-‘ajj)Al-‘ajj adalah mengeraskan suara dalam bertalbiyah, yaitu mengucapkan:لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”Talbiyah ini menunjukkan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Allah. Di dalamnya terdapat pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan komitmen untuk terus taat kepada-Nya.Makna “الثَّجُّ” (ats-tsajj)Ats-tsajj adalah menyembelih hewan hadyu dan kurban serta mengalirkan darahnya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.Sebagian ulama menjelaskan bahwa ungkapan “al-‘ajj dan ats-tsajj” sebenarnya mencakup seluruh amalan haji. Sebab, ibadah haji dimulai dengan dzikir dan talbiyah, lalu diakhiri dengan penyembelihan hadyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut awal dan akhir ibadah untuk menunjukkan kemuliaan seluruh rangkaian amal haji di antara keduanya.Karena itu, seluruh amalan haji adalah amalan yang agung dan hendaknya disempurnakan dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan sunnah.Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengabadikan perjalanan hajinya, tetapi lupa memperbanyak talbiyah dan dzikir. Jangan sampai semangat mendokumentasikan momen lebih besar daripada semangat menghadirkan hati kepada Allah. Haji adalah ibadah penghambaan, bukan sekadar perjalanan spiritual yang dipamerkan di media sosial. Semoga Allah menjadikan haji kaum Muslimin sebagai haji yang mabrur dan penuh keberkahan.Baca Juga:Ucapan Talbiyah, Maksud, dan Aturan Pengucapannya untuk Jamaah Haji dan Umrah7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, Hari Tarwiyah – 8 Dzulhijjah 1447 H, 25 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir haji hadits haji hadyu haji mabrur ibadah haji keutamaan haji manasik haji qurban sunnah haji talbiyah

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).
Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).


Daftar Isi ToggleKesalahan pertamaKesalahan keduaKesalahan ketigaKesalahan keempatKesalahan kelimaKesalahan keenamKesalahan ketujuhKesalahan kedelapanKesalahan kesembilanPenutupIbadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat menunaikan haji sesuai sunah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang tentu berharap hajinya diterima sebagai haji yang mabrur dan dosa-dosanya diampuni. Hal ini sangat wajar, karena pahala haji mabrur tidak lain adalah surga.Tidak seorang pun mengetahui apakah musim haji tahun ini menjadi kesempatan terakhir baginya untuk hadir sebagai Dhuyuuf Ar-Rahmaan, yaitu tamu-tamu Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim sudah semestinya mempelajari dan memahami manasik haji yang akan dilaluinya. Jangan sampai ia terjatuh ke dalam berbagai kesalahan dan pelanggaran. Karena apabila kesempatan ini ternyata menjadi yang terakhir, kapan lagi ia dapat mengulang dan memperbaikinya?Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Bahkan, wukuf di Arafah merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadis,الْحَجُّ عَرَفَةُ“Haji itu adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi) [1] Oleh karena itu, seorang jemaah hendaknya memberikan perhatian besar terhadap ibadah ini, baik dari sisi ilmu, adab, maupun penjagaan diri dari berbagai kesalahan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan nasihat dan pengingat agar jemaah haji tidak melakukan pelanggaran, terutama pada momen agung yang menjadi inti dan puncak ibadah haji.Di antara beberapa kesalahan yang dilakukan jamaah haji ketika menuju ke Arafah dan wukuf di Arafah adalah sebagai berikut:Kesalahan pertamaSebagian jemaah haji tidak mengeraskan suara talbiyah saat berjalan dari Mina ke Arafah. Padahal, telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau terus ber-talbiyah hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Iduladha (Mutaffaqun ‘alaihi) [2].Kesalahan keduaSalah satu kesalahan besar yang fatal adalah sebagian jemaah haji singgah di luar Arafah, lalu tetap berada di tempat singgah tersebut hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka berangkat dari tempat tersebut menuju Muzdalifah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Haji itu adalah Arafah” [1], maka siapa saja yang tidak wukuf di Arafah, yaitu di tempat yang termasuk wilayah Arafah, dan pada waktu yang telah ditentukan untuk wukuf, maka hajinya tidak sah berdasarkan hadis yang telah disebutkan. Ini adalah perkara yang sangat serius.Batas-batas wilayah Arafah sebenarnya telah diberi tanda-tanda yang jelas dan tidak samar, kecuali bagi orang yang lalai dan meremehkannya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap jemaah haji untuk memastikan batas-batas tersebut agar ia benar-benar mengetahui bahwa dirinya telah wukuf di wilayah Arafah, bukan di luar wilayah tersebut.Alangkah baiknya apabila pihak-pihak yang mengurus pelaksanaan haji mengumumkan hal ini kepada seluruh jemaah melalui sarana yang dapat dijangkau oleh mereka semua, serta menggunakan berbagai bahasa. Hendaknya mereka juga menegaskan para pembimbing haji untuk memperingatkan jemaah dari kesalahan ini, agar memahami perkara hajinya dengan jelas dan dapat menunaikan haji dengan cara yang tidak membuat tanggung jawab mereka gugur di hadapan Allah.Kesalahan ketigaSebagian jemaah, ketika sibuk berdoa pada akhir hari Arafah, mereka menghadap ke arah bukit tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwukuf. Padahal, kiblat bisa berada di belakang mereka, di sebelah kanan, atau di sebelah kiri. Ini juga merupakan ketidaktahuan dan kesalahan. Sebab, yang disyariatkan ketika berdoa pada hari Arafah adalah seseorang menghadap ke arah kiblat, baik bukit itu berada di depannya, di belakangnya, di sebelah kanannya, maupun di sebelah kirinya.Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menghadap ke arah bukit tersebut karena tempat wukuf beliau berada di belakang bukit tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menghadap kiblat. Apabila bukit tersebut berada di antara beliau dan kiblat, maka secara otomatis beliau juga menghadap ke arah bukit tersebut.Kesalahan keempatSebagian jemaah menyangka bahwa seseorang harus pergi ke tempat wukuf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di puncak bukit, lalu berwukuf di sana. Karena anggapan ini, sebagian jemaah didapati memaksakan diri menempuh berbagai kesulitan dan menghadapi kepayahan hingga sampai ke tempat tersebut. Bahkan, sebagian dari mereka berjalan kaki tanpa mengetahui arah. Akibatnya, mereka bisa kehausan dan kelaparan jika tidak mendapatkan air dan makanan. Mereka juga bisa tersesat di perjalanan, lalu mengalami bahaya besar akibat prasangka keliru tersebut. Padahal telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ“Aku wukuf di sini, dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” (HR. Muslim) [3]Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan isyarat bahwa tidak perlu memberat-beratkan diri tepat di tempat wukuf Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hendaknya ia melakukan apa yang mudah baginya, karena seluruh wilayah Arafah merupakan tempat wukuf.Kesalahan kelimaSebagian orang meyakini bahwa pepohonan di Arafah sama seperti pepohonan di Mina dan Muzdalifah, yaitu seseorang tidak boleh memotong daunnya, rantingnya, atau bagian sejenisnya. Hal ini karena mereka mengira bahwa larangan memotong pohon berkaitan dengan ihram, sebagaimana larangan berburu. Ini adalah sangkaan yang keliru karena memotong pohon tidak ada kaitannya dengan ihram, tetapi berkaitan dengan tempat. Pepohonan yang berada di dalam batas tanah haram itu memiliki kehormatan. Pohon-pohon tersebut tidak boleh dipotong, tidak boleh diambil daunnya, dan tidak boleh dipatahkan rantingnya.Adapun pepohonan yang berada di luar batas tanah haram, maka tidak mengapa dipotong, meskipun seseorang sedang dalam keadaan ihram. Berdasarkan hal ini, memotong pepohonan di Arafah pada asalnya tidak mengapa.Adapun pohon-pohon yang ditanam oleh manusia, maka larangan memotongnya bukan termasuk larangan karena kehormatan tanah haram. Akan tetapi, bisa jadi memotongnya tetap haram karena sebab lain, yaitu karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang yang menanamnya, serta terhadap hak para jemaah haji, apabila pohon-pohon tersebut ditanam untuk menyejukkan udara dan menjadi tempat berteduh dari panas matahari.Dengan demikian, pohon-pohon yang ditanam di Arafah tidak boleh dipotong, bukan karena larangan tanah haram, melainkan karena memotongnya termasuk pelanggaran terhadap hak kaum muslimin secara umum.Kesalahan keenamSebagian jemaah haji meyakini bahwa bukit tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwukuf memiliki kesucian khusus. Oleh karena itu, mereka pergi ke sana, menaikinya, mencari berkah dari batu-batu dan tanahnya, menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya, dan hal-hal lain yang telah dikenal. Perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Tidak disyariatkan menaiki bukit tersebut, tidak pula salat di puncaknya, dan tidak disyariatkan menggantungkan potongan-potongan kain pada pepohonannya. Sebab semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ada sedikit nuansa penyembahan berhala.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang sahih dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata,عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ“Kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Saat itu, kami baru keluar dari kekufuran. Saat itu, kaum musyrikin mempunyai tempat pohon khusus yang biasa dikunjungi dan di mana senjatanya digantungkan. Tempat itu disebut Dzatu Anwath. Saat itu kami melewatinya, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mahasuci Allah, ini seperti yang diucapkan oleh kaumnya Musa, ‘Buatkan tuhan untuk kami sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan.’ Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, (jika demikian) niscaya kalian menempuh cara orang-orang yang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Bukit tersebut sebenarnya tidak memiliki kesucian khusus. Ia sama seperti bukit-bukit kecil dan dataran lain yang ada di Arafah. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwukuf di sana.  Maka, yang disyariatkan adalah seseorang berwukuf di tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hal itu mudah baginya. Namun, hal tersebut bukan kewajiban, dan seseorang tidak sepantasnya memaksakan diri untuk pergi ke sana, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.Kesalahan ketujuhSebagian jemaah haji menyangka bahwa seseorang harus melaksanakan salat Zuhur dan Asar bersama imam di masjid. Karena itu, ada beberapa orang yang pergi ke masjid yang lokasinya jauh agar bisa salat bersama imam. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan, gangguan, dan bahkan tersesat, sehingga ibadah haji terasa berat dan sempit bagi mereka. Sebagian mereka juga membuat sesak sebagian yang lain, bahkan saling menganggu satu sama lain. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwukuf di sini dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.” [3] Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,جُعلت لي الأرض مسجدا وطهورا“Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci.” (Mutaffaqun ‘alaihi) [5]Maka, apabila seseorang melaksanakan salat di tendanya dengan tenang, tanpa bahaya apapun baginya atau darinya, serta tanpa kesulitan yang membuat ibadah haji menjadi berat, maka hal itu lebih baik dan lebih utama.Kesalahan kedelapanSebagian jemaah keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam, lalu bertolak ke Muzdalifah. Ini adalah kesalahan besar. Di dalamnya terdapat bentuk penyerupaan terhadap kaum musyrikin yang dahulu bertolak dari Arafah sebelum matahari terbenam, serta menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak bertolak dari Arafah kecuali setelah matahari terbenam dan warna kekuningan di langit sedikit menghilang, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu [3].Berdasarkan hal ini, wajib bagi seseorang untuk tetap berada di Arafah, dalam batas-batas wilayahnya, hingga matahari terbenam. Sebab, waktu wukuf ini dibatasi hingga terbenamnya matahari. Sehingga, sebagaimana tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk berbuka sebelum matahari terbenam; demikian pula, tidak boleh bagi orang yang sedang wukuf di Arafah untuk meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.Kesalahan kesembilanMenyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak bermanfaat. Sebagian orang didapati sejak awal hari hingga penghujung hari sibuk dengan berbagai pembicaraan. Bisa jadi pembicaraan itu masih bersih dan selamat dari ghibah serta mencela kehormatan orang lain. Namun, bisa jadi pembicaraan itu tidak bersih, karena mereka membicarakan kehormatan orang lain dan memakan daging saudaranya sendiri, yakni melakukan ghibah.Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka mereka telah terjatuh dalam dua larangan: larangan pertama, memakan daging saudaranya dan melakukan ghibah terhadap mereka. Ini merupakan kesalahan dan pelanggaran, bahkan ketika seseorang sedang berihram. Sebab Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan semasa mengerjakan haji. Dan apa pun yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)Sedangkan, larangan yang kedua adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun jika pembicaraan itu bersih dan tidak mengandung perkara yang haram, maka di dalamnya tetap terdapat unsur menyia-nyiakan waktu. Namun, tidak mengapa seseorang mengisi waktunya dengan pembicaraan yang baik dan mubah sebelum waktu zawal, yaitu sebelum matahari tergelincir.Adapun setelah zawal, setelah melaksanakan salat Zuhur dan Asar, maka yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan dengan doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Demikian pula, apabila ia merasa lelah membaca Al-Qur’an dan berzikir, ia boleh menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada saudara-saudaranya, seperti membahas ilmu-ilmu syar’i atau hal-hal semisalnya yang dapat menggembirakan mereka, membuka pintu harapan, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.Namun, hendaknya ia benar-benar memanfaatkan kesempatan pada saat-saat terakhir di hari Arafah. Hendaknya ia menyibukkan diri dengan berdoa dan menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan merendahkan hati, tunduk, tobat kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa, memperbanyak doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam sunah yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab doa-doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa dan doa pada waktu tersebut sangat mustajab untuk dikabulkan.PenutupIbadah haji adalah ibadah yang sangat berkaitan dengan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah. Maka, alangkah tidak pantasnya apabila di satu sisi kita berharap meraih haji yang mabrur, namun di sisi lain kita justru melanggar sebagai tamu Allah dengan mengabaikan aturan-aturan-Nya. Allah telah menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, agar kaum muslimin tidak terjatuh dalam kesalahan, khususnya ketika wukuf di Arafah. Namun, betapa sering kita masih mudah melanggarnya.Ya Allah, sungguh kami telah banyak menzalimi diri kami sendiri. Seandainya bukan karena ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.Baca juga: Larangan Ketika Ihram***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info berdasarkan pertanyaan No. 34293, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 889) dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwaa’ Al-Ghalil (no. 1064).[2] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1685) dan Muslim (no. 1281).[3] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218).[4] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Al-Fitan (no. 2180) dan Ahmad (no. 2139), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.[5] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 438) dan Muslim (no. 521).

Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Pelaksanaan Sunnah

Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 276 times, 2 visit(s) today Post Views: 157

Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Pelaksanaan Sunnah

Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 276 times, 2 visit(s) today Post Views: 157
Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 276 times, 2 visit(s) today Post Views: 157


Oleh: Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari. Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain. Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.” Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih). Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim). Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan! Jalan keselamatan Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda: تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ “Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani). Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126). Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ “Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585). عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107] Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.”  Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya. Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99). Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087). Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 276 times, 2 visit(s) today Post Views: 157

Semoga Kita Semua Bisa Begini ketika Mendengar Suara Azan Berkumandang – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ

Semoga Kita Semua Bisa Begini ketika Mendengar Suara Azan Berkumandang – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ
Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ


Kita memiliki banyak kelalaian. Sekiranya seseorang, ketika azan berkumandang, ia meninggalkan seluruh kesibukannya, sebagaimana dahulu para salaf melakukannya. Diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwa ketika ia mengangkat palunya—ia seorang pandai besi—ketika mengangkat palunya, lalu muazin mengumandangkan azan, “Allahu Akbar,” ia tidak jadi memukulkan palu itu. Ia langsung melemparnya dari tangannya (lalu segera ke Masjid). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, ketika sedang membantu pekerjaan keluarganya, lalu, apabila azan berkumandang, beliau seakan-akan tidak lagi mengenal mereka. Sekiranya setiap kita, apabila azan berkumandang, segera berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu segera berangkat menuju masjid, melaksanakan salat dua rakaat, kemudian membuka mushaf, berapa ayat yang bisa ia baca? Itu jauh lebih baik baginya daripada sibuk dengan urusan dunia, lalu mendapatkan harta yang melimpah. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, orang-orang kaya yang sejati adalah Ahlul Qur’an. Orang-orang kaya yang benar-benar sukses, adalah mereka yang disibukkan dengan firman Allah. Mereka sibuk dengan Al-Qur’an. ===== عِنْدَنَا إِهْمَالٌ كَثِيرٌ لَوْ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ تَرَكَ كُلَّ شَيْءٍ كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَعْمَلُونَ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ حَدَّادٌ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَا يُنْزِلُهَا يَرْمِيهَا مِنْ يَدِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا أَذَّنَ كَأَنَّهُ لَا يَعْرِفُهُمْ لَوْ أَنَّ الْوَاحِدَ مِنَّا إِذَا أَذَّنَ تَوَضَّأَ وَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ وَغَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ فَتَحَ الْمُصْحَفَ كَمْ آيَةً سَيَقْرَأُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالدُّنْيَا وَيُحَصِّلَ الْأَمْوَالَ الْعَظِيمَةَ وَاللَّهِ يَا إِخْوَةُ الْأَغْنِيَاءُ حَقًّا هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ الْأَغْنِيَاءُ الْفَائِزُونَ هُمْ الَّذِينَ يَشْتَغِلُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ يَشْتَغِلُونَ بِالْقُرْآنِ

Biografi Al-Imam Ath-Thabarani (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahKuatnya daya hafalannyaAkhlaknyaPujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniKarya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهWafatnyaKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahImam Abu Al-Qasim Ath-Thabarani رحمه الله terbebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian ahli bid‘ah dan kelompok yang menyimpang. Beliau adalah seorang yang mengikuti jejak para imam dan salafus shalih sebelumnya.Para pelaku bid‘ah dan orang-orang yang menyelisihinya sebenarnya sangat ingin mendapatkan sanad yang tinggi (‘uluww al-isnad) serta banyaknya hadis yang beliau miliki. Mereka mendengar hadis darinya dan meriwayatkannya pula. Namun demikian, mereka tetap mencelanya dan menuduhnya sebagai “hasyawi” (istilah yang biasa digunakan untuk merendahkan Ahlul Hadits).Kuatnya daya hafalannyaImam Ath-Thabarani memiliki daya ingat yang sangat kuat. Di antara kisah yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diceritakan oleh Ibrahim bin Yahya bin Mandah. Ia berkata,“Abu Al-Qasim Ath-Thabarani pertama kali datang ke Ashbahan, lalu suatu hari aku berjalan bersamanya dan aku bertanya kepadanya tentang tahun kelahirannya, maka ia pun memberitahukannya kepadaku. Kemudian ia pergi dan kembali lagi pada kedatangannya yang kedua setelah empat belas tahun. Pada suatu hari, aku berjalan bersamanya menuju kota, lalu aku bertanya lagi kepadanya di daerah Maidan Fakhir tentang tahun kelahirannya.Ia berkata,يا أبا إسحاق أخذت في مثل هذا‘Wahai Abu Ishaq, engkau masih menanyakan hal seperti ini?!’Aku berkata,أيش عملت؟‘Apa maksudmu?’Ia menjawab,أليس قد سألتني عن مولدي في تلك السنة في قدمتي الأولى بباب دار محمد بن مقرن فأخبرتك به ؟‘Bukankah engkau pernah bertanya kepadaku tentang tahun kelahiranku pada kedatanganku yang pertama dahulu, di depan pintu rumah Muhammad bin Muqrin, lalu aku telah memberitahukannya kepadamu?!’”AkhlaknyaDi antara keistimewaan dan keutamaannya — semoga Allah merahmatinya — adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam menuntut ilmu, meskipun kedudukannya sangat tinggi, ilmunya luas, dan para gurunya memuliakannya. Mereka menghormatinya di berbagai majelis dan pertemuan.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,قد بلغني أنَّ: أبا القاسم سليمان بن أحمد بن أيوب الطبراني رحمه الله حضر يوماً مجلس القاضي أبي أحمد العسّال فاستَدْناه، فَسُرَّ بذلك، ويقولون: أنَّ أبا أحمد العسال قال: إذا سمعت أنا من الطبراني عشرين ألف حديث وسمع منه إبراهيم بن محمد بن حمزة ثلاثين ألف حديث وأبو الشيخ أربعين ألف حديث، كملنا“Sampai kepadaku kabar bahwa Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabarani رحمه الله pernah menghadiri suatu majelis Qadhi Abu Ahmad Al-‘Assal. Maka beliau dipersilakan duduk dekat dengannya, dan ia merasa senang dengan hal itu.Mereka mengatakan bahwa Abu Ahmad Al-‘Assal berkata, ‘Jika aku mendengar dua puluh ribu hadis dari Ath-Thabarani, dan Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah mendengar tiga puluh ribu hadis darinya, serta Abu Syaikh mendengar empat puluh ribu hadis darinya, maka sempurnalah (ilmu kami).’”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,هؤلاء كانوا شيوخ أصبهان مع الطبراني“Mereka ini adalah para syekh Ashbahan bersama Ath-Thabarani.”Ibnu Mandah rahimahullah berkata,بلغني أن الطبراني كان حسن المشاهدة، طيب المحاضرة، قرأ عليه يوما أبو طاهر بن لوقا حديث:كان يغسل حصى جماره فصحَّفه، وقال:خصي حماره، فقال:ما أراد بذلك يا أبا طاهر. قال:التواضع، وكان هذا كالمغفل“Sampai kepadaku kabar bahwa Ath-Thabarani adalah orang yang baik pergaulannya dan menyenangkan dalam berbincang. Suatu hari, Abu Thahir bin Luqa membaca hadis di hadapannya tentang ‘ia mencuci kerikil untuk jumrahnya’, namun ia keliru membacanya menjadi ‘ia mengebiri keledainya’. Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Apa maksudnya itu, wahai Abu Thahir?’ Ia menjawab, ‘Tawadhu’.’ Orang ini memang agak lugu.”Pujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniBanyak ulama memberikan pujian kepada Imam Ath-Thabarani رحمه الله, yang dijuluki “Muhaddits Dunia”.Di antara pujian yang disebutkan adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja‘far Muhammad bin Abdullah bin Al-Haitsam, yang dikenal dengan Ibnu Abi As-Sarri. Ia berkata,Aku mendengar Abu Al-‘Abbas Ibnu ‘Uqdah berkata, pada tahun 323 Hijriah, ketika aku sedang mendengar darinya hadis-hadis tentang keutamaan Ahlul Bait, ia bertanya kepadaku tentang Abu Al-Qasim Ath-Thabarani.Ia berkata, “Apakah engkau mengenalnya?”Aku menjawab, “Tidak.”Ia berkata, “Subhanallah! Ada orang sebesar itu di negeri kalian dan kalian tidak mendengar darinya?”Kemudian ia berkata,سمعت أنا وإياه من مشايخ جلة وسمع مني وسمعت منه ولا أعلمني رأيت أحداً أعرف بالحديث ولا أحفظ للأسانيد منه“Aku dan dia sama-sama mendengar dari para syekh yang agung. Ia juga mendengar dariku dan aku mendengar darinya. Dan aku tidak mengetahui bahwa aku pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui hadis dan lebih kuat hafalannya dalam sanad daripada dirinya.”Muhammad bin ‘Umar Al-Jarwani berkata,سمعت غير واحد من العلماء يقول: كان الطبراني في الرحلة ثلاثا وثلاثين سنة“Aku mendengar lebih dari satu orang ulama yang mengatakan bahwa Ath-Thabarani melakukan perjalanan (menuntut ilmu) selama tiga puluh tiga tahun.”Abdurrahman bin Abi ‘Abdillah bin Mandah berkata: Ayahku berkata,سمعت من الطبراني أربعة آلاف حديث بالشام“Aku mendengar (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak empat ribu hadis di wilayah Syam.”Abu Al-Husain Ahmad bin Faris Al-Lughawi berkata bahwa dia mendengar Ustaz Ibnu Al-‘Amid berkata,“Aku dahulu tidak menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan yang lebih manis daripada kepemimpinan dan jabatan kementerian yang sedang aku jalani, sampai aku menyaksikan diskusi ilmiah antara Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Bakar Al-Ju‘abi di hadapanku.Ath-Thabarani mengungguli Abu Bakar dalam banyaknya hafalan, sedangkan Abu Bakar mengunggulinya dalam kecerdasan dan ketajaman pikiran. Suara keduanya sampai meninggi, dan hampir tidak ada yang benar-benar mengalahkan yang lain.Lalu Al-Ju‘abi berkata, ‘Aku memiliki sebuah hadis yang tidak dimiliki seorang pun di dunia selain aku.’Ath-Thabarani berkata, ‘Sebutkanlah.’Ia berkata, ‘Telah meriwayatkan kepada kami Abu Khalifah Al-Jumahi, telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Ayyub…,’ lalu ia menyebutkan sebuah hadis.Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Dari akulah Abu Khalifah mendengarnya. Dengarkanlah dariku agar sanadmu menjadi lebih tinggi.’Maka Al-Ju‘abi pun merasa malu.Saat itu, aku berharap seandainya aku bukan seorang menteri, melainkan menjadi Ath-Thabarani. Dan aku merasa gembira sebagaimana kegembiraannya.”Ismail bin ‘Abbad berkata,قد وجدنا في معجم الطبراني ما فقدنا في سائر البلدان بأسانيد ليس فيها إسناد“Kami telah menemukan dalam Mu‘jam Ath-Thabarani apa yang tidak kami temukan di negeri-negeri lain, dengan sanad-sanad yang tidak terdapat pada (riwayat) lainnya.”Abu Bakar bin Abi ‘Ali berkata,الطبراني أشهر من أن يدل على فضله وعلمه، كان واسع العلم كثير التصانيف“Ath-Thabarani lebih masyhur daripada perlu dijelaskan keutamaan dan ilmunya. Ia adalah seorang yang luas ilmunya dan banyak karya tulisnya.”Abu Al-‘Abbas Asy-Syirazi berkata,كتبت عن الطبراني ثلاثمائة ألف حديث وهو ثقة“Aku menulis (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak tiga ratus ribu hadis, dan ia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Ibnu Abi Ya‘la berkata,كان – أي الطبراني – أحد الأئمة والحفاظ في علم الحديث“Ia yaitu Ath-Thabarani termasuk salah satu imam dan hafizh dalam ilmu hadis.”As-Sam‘ani berkata,كان ثقةً حافظاً“Ia adalah seorang yang tsiqah dan hafizh.”Adz-Dzahabi berkata,الحافظ مسند العصر أبو القاسم سليمان بن أحمد الطبراني بأصبهان ثقة“Al-Hafizh, musnid pada zamannya, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani di Ashbahan adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Karya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهImam Ath-Thabarani رحمه الله menulis dan meriwayatkan dari banyak guru, baik yang datang maupun yang pergi. Beliau unggul dalam bidang hadis, menghimpun dan menyusun banyak karya, serta berumur panjang hingga sempat meriwayatkan dari teman-teman seangkatannya.Beliau terus menulis sepanjang hidupnya.Di antara karya-karyanya yang paling terkenal:1) Al-Mu‘jam Ash-Shaghir (7 jilid). Ia meriwayatkan satu hadis dari setiap guru.2) Al-Mu‘jam Al-Kabir. Kitab ini merupakan mu‘jam (ensiklopedia) nama-nama para sahabat, biografi mereka, dan hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Namun di dalamnya tidak terdapat Musnad Abu Hurairah, dan juga tidak mencakup seluruh hadis para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Kitab tersebut terdiri dari dua ratus bagian (juz).3) Al-Mu‘jam Al-Awsath (24 jilid). Kitab ini disusun berdasarkan guru-gurunya yang banyak meriwayatkan hadis, serta memuat hadis-hadis gharib yang beliau miliki dari masing-masing guru tersebut. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان الطبراني – فيما بلغنا – يقول عن (الأوسط):هذا الكتاب روحي“Telah sampai kepada kami bahwa Ath-Thabarani pernah mengatakan tentang kitab (Al-Mu‘jam) Al-Awsath, ‘Kitab ini adalah ruhku.’”Karya lainnya meliputi:Musnad Al-‘Asyarah (30 jilid)Musnad Asy-Syamiyyin (10 jilid)Kitab An-Nawadir (10 jilid)Kitab Ma‘rifat Ash-ShahabahKitab Al-Fawa’id (10 jilid)Musnad Abu HurairahMusnad ‘AisyahMusnad Abu Dzar (2 jilid)Kitab At-TafsirDalail An-Nubuwwah (10 jilid)Kitab Ad-Du‘a (10 jilid)Kitab As-Sunnah (10 jilid)Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Mu‘tazilahKitab Ar-Radd ‘ala Al-JahmiyyahKitab Bayan Kufr Man Qala bi Khalq Al-Qur’anKitab Makarim Al-AkhlaqKitab Fadhail Al-‘Ilm wa Ittiba‘ Al-AtsarKitab Ash-Shalah ‘ala An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Maghazi dan Al-ManasikKitab Fadhail RamadhanKitab Fadhail Al-‘ArabKitab Fadhail ‘Ali رضي الله عنهKitab Dzikr Al-Khilafah li Abi Bakr wa ‘UmarKitab Jami‘ Shifat An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Nasab An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Asyribah (Minuman)Kitab Ath-ThaharahKitab Al-ImarahDan puluhan kitab musnad lainnya yang dinisbahkan kepada para tabi‘in dan perawi besar seperti: Al-A‘mash, Al-Auza‘i, Malik bin Dinar, Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, Syu‘bah bin Al-Hajjaj, dan banyak lainnya.Al-Hafizh Yahya bin Mandah berkata,وأكثرها مسانيد حفّاظ وأعيان لم نرها“Sebagian besar karya beliau adalah musnad para huffazh dan tokoh besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”WafatnyaBeliau رحمه الله wafat pada hari Sabtu, dua malam sebelum berakhirnya bulan Zulkaidah tahun 360 Hijriah di Ashbahan. Beliau dimakamkan pada hari Ahad, yaitu hari terakhir bulan Zulkaidah, di samping kubur Hammamah bin Abi Hammamah Ad-Dausi رضي الله عنه — seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di gerbang kota Jay yang dikenal dengan nama Tirah. Ath-Thabarani hidup selama seratus tahun sepuluh bulan, dan enam puluh tahun di antaranya beliau habiskan di Ashbahan.Demikianlah beliau wafat setelah memperkaya umat Islam dengan karya-karya dan susunan kitab yang sangat banyak. Beliau menjaga dan menghimpun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah yang tidak mampu dihimpun oleh banyak muhaddits dan huffazh lainnya.Semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di dalam surga-Nya yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website https://aqsaonline.org/BlogPosts/Details/09899441-434e-48b9-9b2f-208068b53160

Biografi Al-Imam Ath-Thabarani (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahKuatnya daya hafalannyaAkhlaknyaPujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniKarya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهWafatnyaKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahImam Abu Al-Qasim Ath-Thabarani رحمه الله terbebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian ahli bid‘ah dan kelompok yang menyimpang. Beliau adalah seorang yang mengikuti jejak para imam dan salafus shalih sebelumnya.Para pelaku bid‘ah dan orang-orang yang menyelisihinya sebenarnya sangat ingin mendapatkan sanad yang tinggi (‘uluww al-isnad) serta banyaknya hadis yang beliau miliki. Mereka mendengar hadis darinya dan meriwayatkannya pula. Namun demikian, mereka tetap mencelanya dan menuduhnya sebagai “hasyawi” (istilah yang biasa digunakan untuk merendahkan Ahlul Hadits).Kuatnya daya hafalannyaImam Ath-Thabarani memiliki daya ingat yang sangat kuat. Di antara kisah yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diceritakan oleh Ibrahim bin Yahya bin Mandah. Ia berkata,“Abu Al-Qasim Ath-Thabarani pertama kali datang ke Ashbahan, lalu suatu hari aku berjalan bersamanya dan aku bertanya kepadanya tentang tahun kelahirannya, maka ia pun memberitahukannya kepadaku. Kemudian ia pergi dan kembali lagi pada kedatangannya yang kedua setelah empat belas tahun. Pada suatu hari, aku berjalan bersamanya menuju kota, lalu aku bertanya lagi kepadanya di daerah Maidan Fakhir tentang tahun kelahirannya.Ia berkata,يا أبا إسحاق أخذت في مثل هذا‘Wahai Abu Ishaq, engkau masih menanyakan hal seperti ini?!’Aku berkata,أيش عملت؟‘Apa maksudmu?’Ia menjawab,أليس قد سألتني عن مولدي في تلك السنة في قدمتي الأولى بباب دار محمد بن مقرن فأخبرتك به ؟‘Bukankah engkau pernah bertanya kepadaku tentang tahun kelahiranku pada kedatanganku yang pertama dahulu, di depan pintu rumah Muhammad bin Muqrin, lalu aku telah memberitahukannya kepadamu?!’”AkhlaknyaDi antara keistimewaan dan keutamaannya — semoga Allah merahmatinya — adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam menuntut ilmu, meskipun kedudukannya sangat tinggi, ilmunya luas, dan para gurunya memuliakannya. Mereka menghormatinya di berbagai majelis dan pertemuan.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,قد بلغني أنَّ: أبا القاسم سليمان بن أحمد بن أيوب الطبراني رحمه الله حضر يوماً مجلس القاضي أبي أحمد العسّال فاستَدْناه، فَسُرَّ بذلك، ويقولون: أنَّ أبا أحمد العسال قال: إذا سمعت أنا من الطبراني عشرين ألف حديث وسمع منه إبراهيم بن محمد بن حمزة ثلاثين ألف حديث وأبو الشيخ أربعين ألف حديث، كملنا“Sampai kepadaku kabar bahwa Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabarani رحمه الله pernah menghadiri suatu majelis Qadhi Abu Ahmad Al-‘Assal. Maka beliau dipersilakan duduk dekat dengannya, dan ia merasa senang dengan hal itu.Mereka mengatakan bahwa Abu Ahmad Al-‘Assal berkata, ‘Jika aku mendengar dua puluh ribu hadis dari Ath-Thabarani, dan Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah mendengar tiga puluh ribu hadis darinya, serta Abu Syaikh mendengar empat puluh ribu hadis darinya, maka sempurnalah (ilmu kami).’”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,هؤلاء كانوا شيوخ أصبهان مع الطبراني“Mereka ini adalah para syekh Ashbahan bersama Ath-Thabarani.”Ibnu Mandah rahimahullah berkata,بلغني أن الطبراني كان حسن المشاهدة، طيب المحاضرة، قرأ عليه يوما أبو طاهر بن لوقا حديث:كان يغسل حصى جماره فصحَّفه، وقال:خصي حماره، فقال:ما أراد بذلك يا أبا طاهر. قال:التواضع، وكان هذا كالمغفل“Sampai kepadaku kabar bahwa Ath-Thabarani adalah orang yang baik pergaulannya dan menyenangkan dalam berbincang. Suatu hari, Abu Thahir bin Luqa membaca hadis di hadapannya tentang ‘ia mencuci kerikil untuk jumrahnya’, namun ia keliru membacanya menjadi ‘ia mengebiri keledainya’. Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Apa maksudnya itu, wahai Abu Thahir?’ Ia menjawab, ‘Tawadhu’.’ Orang ini memang agak lugu.”Pujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniBanyak ulama memberikan pujian kepada Imam Ath-Thabarani رحمه الله, yang dijuluki “Muhaddits Dunia”.Di antara pujian yang disebutkan adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja‘far Muhammad bin Abdullah bin Al-Haitsam, yang dikenal dengan Ibnu Abi As-Sarri. Ia berkata,Aku mendengar Abu Al-‘Abbas Ibnu ‘Uqdah berkata, pada tahun 323 Hijriah, ketika aku sedang mendengar darinya hadis-hadis tentang keutamaan Ahlul Bait, ia bertanya kepadaku tentang Abu Al-Qasim Ath-Thabarani.Ia berkata, “Apakah engkau mengenalnya?”Aku menjawab, “Tidak.”Ia berkata, “Subhanallah! Ada orang sebesar itu di negeri kalian dan kalian tidak mendengar darinya?”Kemudian ia berkata,سمعت أنا وإياه من مشايخ جلة وسمع مني وسمعت منه ولا أعلمني رأيت أحداً أعرف بالحديث ولا أحفظ للأسانيد منه“Aku dan dia sama-sama mendengar dari para syekh yang agung. Ia juga mendengar dariku dan aku mendengar darinya. Dan aku tidak mengetahui bahwa aku pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui hadis dan lebih kuat hafalannya dalam sanad daripada dirinya.”Muhammad bin ‘Umar Al-Jarwani berkata,سمعت غير واحد من العلماء يقول: كان الطبراني في الرحلة ثلاثا وثلاثين سنة“Aku mendengar lebih dari satu orang ulama yang mengatakan bahwa Ath-Thabarani melakukan perjalanan (menuntut ilmu) selama tiga puluh tiga tahun.”Abdurrahman bin Abi ‘Abdillah bin Mandah berkata: Ayahku berkata,سمعت من الطبراني أربعة آلاف حديث بالشام“Aku mendengar (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak empat ribu hadis di wilayah Syam.”Abu Al-Husain Ahmad bin Faris Al-Lughawi berkata bahwa dia mendengar Ustaz Ibnu Al-‘Amid berkata,“Aku dahulu tidak menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan yang lebih manis daripada kepemimpinan dan jabatan kementerian yang sedang aku jalani, sampai aku menyaksikan diskusi ilmiah antara Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Bakar Al-Ju‘abi di hadapanku.Ath-Thabarani mengungguli Abu Bakar dalam banyaknya hafalan, sedangkan Abu Bakar mengunggulinya dalam kecerdasan dan ketajaman pikiran. Suara keduanya sampai meninggi, dan hampir tidak ada yang benar-benar mengalahkan yang lain.Lalu Al-Ju‘abi berkata, ‘Aku memiliki sebuah hadis yang tidak dimiliki seorang pun di dunia selain aku.’Ath-Thabarani berkata, ‘Sebutkanlah.’Ia berkata, ‘Telah meriwayatkan kepada kami Abu Khalifah Al-Jumahi, telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Ayyub…,’ lalu ia menyebutkan sebuah hadis.Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Dari akulah Abu Khalifah mendengarnya. Dengarkanlah dariku agar sanadmu menjadi lebih tinggi.’Maka Al-Ju‘abi pun merasa malu.Saat itu, aku berharap seandainya aku bukan seorang menteri, melainkan menjadi Ath-Thabarani. Dan aku merasa gembira sebagaimana kegembiraannya.”Ismail bin ‘Abbad berkata,قد وجدنا في معجم الطبراني ما فقدنا في سائر البلدان بأسانيد ليس فيها إسناد“Kami telah menemukan dalam Mu‘jam Ath-Thabarani apa yang tidak kami temukan di negeri-negeri lain, dengan sanad-sanad yang tidak terdapat pada (riwayat) lainnya.”Abu Bakar bin Abi ‘Ali berkata,الطبراني أشهر من أن يدل على فضله وعلمه، كان واسع العلم كثير التصانيف“Ath-Thabarani lebih masyhur daripada perlu dijelaskan keutamaan dan ilmunya. Ia adalah seorang yang luas ilmunya dan banyak karya tulisnya.”Abu Al-‘Abbas Asy-Syirazi berkata,كتبت عن الطبراني ثلاثمائة ألف حديث وهو ثقة“Aku menulis (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak tiga ratus ribu hadis, dan ia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Ibnu Abi Ya‘la berkata,كان – أي الطبراني – أحد الأئمة والحفاظ في علم الحديث“Ia yaitu Ath-Thabarani termasuk salah satu imam dan hafizh dalam ilmu hadis.”As-Sam‘ani berkata,كان ثقةً حافظاً“Ia adalah seorang yang tsiqah dan hafizh.”Adz-Dzahabi berkata,الحافظ مسند العصر أبو القاسم سليمان بن أحمد الطبراني بأصبهان ثقة“Al-Hafizh, musnid pada zamannya, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani di Ashbahan adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Karya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهImam Ath-Thabarani رحمه الله menulis dan meriwayatkan dari banyak guru, baik yang datang maupun yang pergi. Beliau unggul dalam bidang hadis, menghimpun dan menyusun banyak karya, serta berumur panjang hingga sempat meriwayatkan dari teman-teman seangkatannya.Beliau terus menulis sepanjang hidupnya.Di antara karya-karyanya yang paling terkenal:1) Al-Mu‘jam Ash-Shaghir (7 jilid). Ia meriwayatkan satu hadis dari setiap guru.2) Al-Mu‘jam Al-Kabir. Kitab ini merupakan mu‘jam (ensiklopedia) nama-nama para sahabat, biografi mereka, dan hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Namun di dalamnya tidak terdapat Musnad Abu Hurairah, dan juga tidak mencakup seluruh hadis para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Kitab tersebut terdiri dari dua ratus bagian (juz).3) Al-Mu‘jam Al-Awsath (24 jilid). Kitab ini disusun berdasarkan guru-gurunya yang banyak meriwayatkan hadis, serta memuat hadis-hadis gharib yang beliau miliki dari masing-masing guru tersebut. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان الطبراني – فيما بلغنا – يقول عن (الأوسط):هذا الكتاب روحي“Telah sampai kepada kami bahwa Ath-Thabarani pernah mengatakan tentang kitab (Al-Mu‘jam) Al-Awsath, ‘Kitab ini adalah ruhku.’”Karya lainnya meliputi:Musnad Al-‘Asyarah (30 jilid)Musnad Asy-Syamiyyin (10 jilid)Kitab An-Nawadir (10 jilid)Kitab Ma‘rifat Ash-ShahabahKitab Al-Fawa’id (10 jilid)Musnad Abu HurairahMusnad ‘AisyahMusnad Abu Dzar (2 jilid)Kitab At-TafsirDalail An-Nubuwwah (10 jilid)Kitab Ad-Du‘a (10 jilid)Kitab As-Sunnah (10 jilid)Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Mu‘tazilahKitab Ar-Radd ‘ala Al-JahmiyyahKitab Bayan Kufr Man Qala bi Khalq Al-Qur’anKitab Makarim Al-AkhlaqKitab Fadhail Al-‘Ilm wa Ittiba‘ Al-AtsarKitab Ash-Shalah ‘ala An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Maghazi dan Al-ManasikKitab Fadhail RamadhanKitab Fadhail Al-‘ArabKitab Fadhail ‘Ali رضي الله عنهKitab Dzikr Al-Khilafah li Abi Bakr wa ‘UmarKitab Jami‘ Shifat An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Nasab An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Asyribah (Minuman)Kitab Ath-ThaharahKitab Al-ImarahDan puluhan kitab musnad lainnya yang dinisbahkan kepada para tabi‘in dan perawi besar seperti: Al-A‘mash, Al-Auza‘i, Malik bin Dinar, Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, Syu‘bah bin Al-Hajjaj, dan banyak lainnya.Al-Hafizh Yahya bin Mandah berkata,وأكثرها مسانيد حفّاظ وأعيان لم نرها“Sebagian besar karya beliau adalah musnad para huffazh dan tokoh besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”WafatnyaBeliau رحمه الله wafat pada hari Sabtu, dua malam sebelum berakhirnya bulan Zulkaidah tahun 360 Hijriah di Ashbahan. Beliau dimakamkan pada hari Ahad, yaitu hari terakhir bulan Zulkaidah, di samping kubur Hammamah bin Abi Hammamah Ad-Dausi رضي الله عنه — seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di gerbang kota Jay yang dikenal dengan nama Tirah. Ath-Thabarani hidup selama seratus tahun sepuluh bulan, dan enam puluh tahun di antaranya beliau habiskan di Ashbahan.Demikianlah beliau wafat setelah memperkaya umat Islam dengan karya-karya dan susunan kitab yang sangat banyak. Beliau menjaga dan menghimpun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah yang tidak mampu dihimpun oleh banyak muhaddits dan huffazh lainnya.Semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di dalam surga-Nya yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website https://aqsaonline.org/BlogPosts/Details/09899441-434e-48b9-9b2f-208068b53160
Daftar Isi ToggleKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahKuatnya daya hafalannyaAkhlaknyaPujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniKarya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهWafatnyaKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahImam Abu Al-Qasim Ath-Thabarani رحمه الله terbebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian ahli bid‘ah dan kelompok yang menyimpang. Beliau adalah seorang yang mengikuti jejak para imam dan salafus shalih sebelumnya.Para pelaku bid‘ah dan orang-orang yang menyelisihinya sebenarnya sangat ingin mendapatkan sanad yang tinggi (‘uluww al-isnad) serta banyaknya hadis yang beliau miliki. Mereka mendengar hadis darinya dan meriwayatkannya pula. Namun demikian, mereka tetap mencelanya dan menuduhnya sebagai “hasyawi” (istilah yang biasa digunakan untuk merendahkan Ahlul Hadits).Kuatnya daya hafalannyaImam Ath-Thabarani memiliki daya ingat yang sangat kuat. Di antara kisah yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diceritakan oleh Ibrahim bin Yahya bin Mandah. Ia berkata,“Abu Al-Qasim Ath-Thabarani pertama kali datang ke Ashbahan, lalu suatu hari aku berjalan bersamanya dan aku bertanya kepadanya tentang tahun kelahirannya, maka ia pun memberitahukannya kepadaku. Kemudian ia pergi dan kembali lagi pada kedatangannya yang kedua setelah empat belas tahun. Pada suatu hari, aku berjalan bersamanya menuju kota, lalu aku bertanya lagi kepadanya di daerah Maidan Fakhir tentang tahun kelahirannya.Ia berkata,يا أبا إسحاق أخذت في مثل هذا‘Wahai Abu Ishaq, engkau masih menanyakan hal seperti ini?!’Aku berkata,أيش عملت؟‘Apa maksudmu?’Ia menjawab,أليس قد سألتني عن مولدي في تلك السنة في قدمتي الأولى بباب دار محمد بن مقرن فأخبرتك به ؟‘Bukankah engkau pernah bertanya kepadaku tentang tahun kelahiranku pada kedatanganku yang pertama dahulu, di depan pintu rumah Muhammad bin Muqrin, lalu aku telah memberitahukannya kepadamu?!’”AkhlaknyaDi antara keistimewaan dan keutamaannya — semoga Allah merahmatinya — adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam menuntut ilmu, meskipun kedudukannya sangat tinggi, ilmunya luas, dan para gurunya memuliakannya. Mereka menghormatinya di berbagai majelis dan pertemuan.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,قد بلغني أنَّ: أبا القاسم سليمان بن أحمد بن أيوب الطبراني رحمه الله حضر يوماً مجلس القاضي أبي أحمد العسّال فاستَدْناه، فَسُرَّ بذلك، ويقولون: أنَّ أبا أحمد العسال قال: إذا سمعت أنا من الطبراني عشرين ألف حديث وسمع منه إبراهيم بن محمد بن حمزة ثلاثين ألف حديث وأبو الشيخ أربعين ألف حديث، كملنا“Sampai kepadaku kabar bahwa Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabarani رحمه الله pernah menghadiri suatu majelis Qadhi Abu Ahmad Al-‘Assal. Maka beliau dipersilakan duduk dekat dengannya, dan ia merasa senang dengan hal itu.Mereka mengatakan bahwa Abu Ahmad Al-‘Assal berkata, ‘Jika aku mendengar dua puluh ribu hadis dari Ath-Thabarani, dan Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah mendengar tiga puluh ribu hadis darinya, serta Abu Syaikh mendengar empat puluh ribu hadis darinya, maka sempurnalah (ilmu kami).’”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,هؤلاء كانوا شيوخ أصبهان مع الطبراني“Mereka ini adalah para syekh Ashbahan bersama Ath-Thabarani.”Ibnu Mandah rahimahullah berkata,بلغني أن الطبراني كان حسن المشاهدة، طيب المحاضرة، قرأ عليه يوما أبو طاهر بن لوقا حديث:كان يغسل حصى جماره فصحَّفه، وقال:خصي حماره، فقال:ما أراد بذلك يا أبا طاهر. قال:التواضع، وكان هذا كالمغفل“Sampai kepadaku kabar bahwa Ath-Thabarani adalah orang yang baik pergaulannya dan menyenangkan dalam berbincang. Suatu hari, Abu Thahir bin Luqa membaca hadis di hadapannya tentang ‘ia mencuci kerikil untuk jumrahnya’, namun ia keliru membacanya menjadi ‘ia mengebiri keledainya’. Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Apa maksudnya itu, wahai Abu Thahir?’ Ia menjawab, ‘Tawadhu’.’ Orang ini memang agak lugu.”Pujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniBanyak ulama memberikan pujian kepada Imam Ath-Thabarani رحمه الله, yang dijuluki “Muhaddits Dunia”.Di antara pujian yang disebutkan adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja‘far Muhammad bin Abdullah bin Al-Haitsam, yang dikenal dengan Ibnu Abi As-Sarri. Ia berkata,Aku mendengar Abu Al-‘Abbas Ibnu ‘Uqdah berkata, pada tahun 323 Hijriah, ketika aku sedang mendengar darinya hadis-hadis tentang keutamaan Ahlul Bait, ia bertanya kepadaku tentang Abu Al-Qasim Ath-Thabarani.Ia berkata, “Apakah engkau mengenalnya?”Aku menjawab, “Tidak.”Ia berkata, “Subhanallah! Ada orang sebesar itu di negeri kalian dan kalian tidak mendengar darinya?”Kemudian ia berkata,سمعت أنا وإياه من مشايخ جلة وسمع مني وسمعت منه ولا أعلمني رأيت أحداً أعرف بالحديث ولا أحفظ للأسانيد منه“Aku dan dia sama-sama mendengar dari para syekh yang agung. Ia juga mendengar dariku dan aku mendengar darinya. Dan aku tidak mengetahui bahwa aku pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui hadis dan lebih kuat hafalannya dalam sanad daripada dirinya.”Muhammad bin ‘Umar Al-Jarwani berkata,سمعت غير واحد من العلماء يقول: كان الطبراني في الرحلة ثلاثا وثلاثين سنة“Aku mendengar lebih dari satu orang ulama yang mengatakan bahwa Ath-Thabarani melakukan perjalanan (menuntut ilmu) selama tiga puluh tiga tahun.”Abdurrahman bin Abi ‘Abdillah bin Mandah berkata: Ayahku berkata,سمعت من الطبراني أربعة آلاف حديث بالشام“Aku mendengar (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak empat ribu hadis di wilayah Syam.”Abu Al-Husain Ahmad bin Faris Al-Lughawi berkata bahwa dia mendengar Ustaz Ibnu Al-‘Amid berkata,“Aku dahulu tidak menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan yang lebih manis daripada kepemimpinan dan jabatan kementerian yang sedang aku jalani, sampai aku menyaksikan diskusi ilmiah antara Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Bakar Al-Ju‘abi di hadapanku.Ath-Thabarani mengungguli Abu Bakar dalam banyaknya hafalan, sedangkan Abu Bakar mengunggulinya dalam kecerdasan dan ketajaman pikiran. Suara keduanya sampai meninggi, dan hampir tidak ada yang benar-benar mengalahkan yang lain.Lalu Al-Ju‘abi berkata, ‘Aku memiliki sebuah hadis yang tidak dimiliki seorang pun di dunia selain aku.’Ath-Thabarani berkata, ‘Sebutkanlah.’Ia berkata, ‘Telah meriwayatkan kepada kami Abu Khalifah Al-Jumahi, telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Ayyub…,’ lalu ia menyebutkan sebuah hadis.Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Dari akulah Abu Khalifah mendengarnya. Dengarkanlah dariku agar sanadmu menjadi lebih tinggi.’Maka Al-Ju‘abi pun merasa malu.Saat itu, aku berharap seandainya aku bukan seorang menteri, melainkan menjadi Ath-Thabarani. Dan aku merasa gembira sebagaimana kegembiraannya.”Ismail bin ‘Abbad berkata,قد وجدنا في معجم الطبراني ما فقدنا في سائر البلدان بأسانيد ليس فيها إسناد“Kami telah menemukan dalam Mu‘jam Ath-Thabarani apa yang tidak kami temukan di negeri-negeri lain, dengan sanad-sanad yang tidak terdapat pada (riwayat) lainnya.”Abu Bakar bin Abi ‘Ali berkata,الطبراني أشهر من أن يدل على فضله وعلمه، كان واسع العلم كثير التصانيف“Ath-Thabarani lebih masyhur daripada perlu dijelaskan keutamaan dan ilmunya. Ia adalah seorang yang luas ilmunya dan banyak karya tulisnya.”Abu Al-‘Abbas Asy-Syirazi berkata,كتبت عن الطبراني ثلاثمائة ألف حديث وهو ثقة“Aku menulis (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak tiga ratus ribu hadis, dan ia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Ibnu Abi Ya‘la berkata,كان – أي الطبراني – أحد الأئمة والحفاظ في علم الحديث“Ia yaitu Ath-Thabarani termasuk salah satu imam dan hafizh dalam ilmu hadis.”As-Sam‘ani berkata,كان ثقةً حافظاً“Ia adalah seorang yang tsiqah dan hafizh.”Adz-Dzahabi berkata,الحافظ مسند العصر أبو القاسم سليمان بن أحمد الطبراني بأصبهان ثقة“Al-Hafizh, musnid pada zamannya, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani di Ashbahan adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Karya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهImam Ath-Thabarani رحمه الله menulis dan meriwayatkan dari banyak guru, baik yang datang maupun yang pergi. Beliau unggul dalam bidang hadis, menghimpun dan menyusun banyak karya, serta berumur panjang hingga sempat meriwayatkan dari teman-teman seangkatannya.Beliau terus menulis sepanjang hidupnya.Di antara karya-karyanya yang paling terkenal:1) Al-Mu‘jam Ash-Shaghir (7 jilid). Ia meriwayatkan satu hadis dari setiap guru.2) Al-Mu‘jam Al-Kabir. Kitab ini merupakan mu‘jam (ensiklopedia) nama-nama para sahabat, biografi mereka, dan hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Namun di dalamnya tidak terdapat Musnad Abu Hurairah, dan juga tidak mencakup seluruh hadis para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Kitab tersebut terdiri dari dua ratus bagian (juz).3) Al-Mu‘jam Al-Awsath (24 jilid). Kitab ini disusun berdasarkan guru-gurunya yang banyak meriwayatkan hadis, serta memuat hadis-hadis gharib yang beliau miliki dari masing-masing guru tersebut. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان الطبراني – فيما بلغنا – يقول عن (الأوسط):هذا الكتاب روحي“Telah sampai kepada kami bahwa Ath-Thabarani pernah mengatakan tentang kitab (Al-Mu‘jam) Al-Awsath, ‘Kitab ini adalah ruhku.’”Karya lainnya meliputi:Musnad Al-‘Asyarah (30 jilid)Musnad Asy-Syamiyyin (10 jilid)Kitab An-Nawadir (10 jilid)Kitab Ma‘rifat Ash-ShahabahKitab Al-Fawa’id (10 jilid)Musnad Abu HurairahMusnad ‘AisyahMusnad Abu Dzar (2 jilid)Kitab At-TafsirDalail An-Nubuwwah (10 jilid)Kitab Ad-Du‘a (10 jilid)Kitab As-Sunnah (10 jilid)Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Mu‘tazilahKitab Ar-Radd ‘ala Al-JahmiyyahKitab Bayan Kufr Man Qala bi Khalq Al-Qur’anKitab Makarim Al-AkhlaqKitab Fadhail Al-‘Ilm wa Ittiba‘ Al-AtsarKitab Ash-Shalah ‘ala An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Maghazi dan Al-ManasikKitab Fadhail RamadhanKitab Fadhail Al-‘ArabKitab Fadhail ‘Ali رضي الله عنهKitab Dzikr Al-Khilafah li Abi Bakr wa ‘UmarKitab Jami‘ Shifat An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Nasab An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Asyribah (Minuman)Kitab Ath-ThaharahKitab Al-ImarahDan puluhan kitab musnad lainnya yang dinisbahkan kepada para tabi‘in dan perawi besar seperti: Al-A‘mash, Al-Auza‘i, Malik bin Dinar, Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, Syu‘bah bin Al-Hajjaj, dan banyak lainnya.Al-Hafizh Yahya bin Mandah berkata,وأكثرها مسانيد حفّاظ وأعيان لم نرها“Sebagian besar karya beliau adalah musnad para huffazh dan tokoh besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”WafatnyaBeliau رحمه الله wafat pada hari Sabtu, dua malam sebelum berakhirnya bulan Zulkaidah tahun 360 Hijriah di Ashbahan. Beliau dimakamkan pada hari Ahad, yaitu hari terakhir bulan Zulkaidah, di samping kubur Hammamah bin Abi Hammamah Ad-Dausi رضي الله عنه — seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di gerbang kota Jay yang dikenal dengan nama Tirah. Ath-Thabarani hidup selama seratus tahun sepuluh bulan, dan enam puluh tahun di antaranya beliau habiskan di Ashbahan.Demikianlah beliau wafat setelah memperkaya umat Islam dengan karya-karya dan susunan kitab yang sangat banyak. Beliau menjaga dan menghimpun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah yang tidak mampu dihimpun oleh banyak muhaddits dan huffazh lainnya.Semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di dalam surga-Nya yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website https://aqsaonline.org/BlogPosts/Details/09899441-434e-48b9-9b2f-208068b53160


Daftar Isi ToggleKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahKuatnya daya hafalannyaAkhlaknyaPujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniKarya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهWafatnyaKebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ahImam Abu Al-Qasim Ath-Thabarani رحمه الله terbebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian ahli bid‘ah dan kelompok yang menyimpang. Beliau adalah seorang yang mengikuti jejak para imam dan salafus shalih sebelumnya.Para pelaku bid‘ah dan orang-orang yang menyelisihinya sebenarnya sangat ingin mendapatkan sanad yang tinggi (‘uluww al-isnad) serta banyaknya hadis yang beliau miliki. Mereka mendengar hadis darinya dan meriwayatkannya pula. Namun demikian, mereka tetap mencelanya dan menuduhnya sebagai “hasyawi” (istilah yang biasa digunakan untuk merendahkan Ahlul Hadits).Kuatnya daya hafalannyaImam Ath-Thabarani memiliki daya ingat yang sangat kuat. Di antara kisah yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diceritakan oleh Ibrahim bin Yahya bin Mandah. Ia berkata,“Abu Al-Qasim Ath-Thabarani pertama kali datang ke Ashbahan, lalu suatu hari aku berjalan bersamanya dan aku bertanya kepadanya tentang tahun kelahirannya, maka ia pun memberitahukannya kepadaku. Kemudian ia pergi dan kembali lagi pada kedatangannya yang kedua setelah empat belas tahun. Pada suatu hari, aku berjalan bersamanya menuju kota, lalu aku bertanya lagi kepadanya di daerah Maidan Fakhir tentang tahun kelahirannya.Ia berkata,يا أبا إسحاق أخذت في مثل هذا‘Wahai Abu Ishaq, engkau masih menanyakan hal seperti ini?!’Aku berkata,أيش عملت؟‘Apa maksudmu?’Ia menjawab,أليس قد سألتني عن مولدي في تلك السنة في قدمتي الأولى بباب دار محمد بن مقرن فأخبرتك به ؟‘Bukankah engkau pernah bertanya kepadaku tentang tahun kelahiranku pada kedatanganku yang pertama dahulu, di depan pintu rumah Muhammad bin Muqrin, lalu aku telah memberitahukannya kepadamu?!’”AkhlaknyaDi antara keistimewaan dan keutamaannya — semoga Allah merahmatinya — adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam menuntut ilmu, meskipun kedudukannya sangat tinggi, ilmunya luas, dan para gurunya memuliakannya. Mereka menghormatinya di berbagai majelis dan pertemuan.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,قد بلغني أنَّ: أبا القاسم سليمان بن أحمد بن أيوب الطبراني رحمه الله حضر يوماً مجلس القاضي أبي أحمد العسّال فاستَدْناه، فَسُرَّ بذلك، ويقولون: أنَّ أبا أحمد العسال قال: إذا سمعت أنا من الطبراني عشرين ألف حديث وسمع منه إبراهيم بن محمد بن حمزة ثلاثين ألف حديث وأبو الشيخ أربعين ألف حديث، كملنا“Sampai kepadaku kabar bahwa Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabarani رحمه الله pernah menghadiri suatu majelis Qadhi Abu Ahmad Al-‘Assal. Maka beliau dipersilakan duduk dekat dengannya, dan ia merasa senang dengan hal itu.Mereka mengatakan bahwa Abu Ahmad Al-‘Assal berkata, ‘Jika aku mendengar dua puluh ribu hadis dari Ath-Thabarani, dan Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah mendengar tiga puluh ribu hadis darinya, serta Abu Syaikh mendengar empat puluh ribu hadis darinya, maka sempurnalah (ilmu kami).’”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,هؤلاء كانوا شيوخ أصبهان مع الطبراني“Mereka ini adalah para syekh Ashbahan bersama Ath-Thabarani.”Ibnu Mandah rahimahullah berkata,بلغني أن الطبراني كان حسن المشاهدة، طيب المحاضرة، قرأ عليه يوما أبو طاهر بن لوقا حديث:كان يغسل حصى جماره فصحَّفه، وقال:خصي حماره، فقال:ما أراد بذلك يا أبا طاهر. قال:التواضع، وكان هذا كالمغفل“Sampai kepadaku kabar bahwa Ath-Thabarani adalah orang yang baik pergaulannya dan menyenangkan dalam berbincang. Suatu hari, Abu Thahir bin Luqa membaca hadis di hadapannya tentang ‘ia mencuci kerikil untuk jumrahnya’, namun ia keliru membacanya menjadi ‘ia mengebiri keledainya’. Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Apa maksudnya itu, wahai Abu Thahir?’ Ia menjawab, ‘Tawadhu’.’ Orang ini memang agak lugu.”Pujian para ulama terhadap Ath-ThabaraniBanyak ulama memberikan pujian kepada Imam Ath-Thabarani رحمه الله, yang dijuluki “Muhaddits Dunia”.Di antara pujian yang disebutkan adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja‘far Muhammad bin Abdullah bin Al-Haitsam, yang dikenal dengan Ibnu Abi As-Sarri. Ia berkata,Aku mendengar Abu Al-‘Abbas Ibnu ‘Uqdah berkata, pada tahun 323 Hijriah, ketika aku sedang mendengar darinya hadis-hadis tentang keutamaan Ahlul Bait, ia bertanya kepadaku tentang Abu Al-Qasim Ath-Thabarani.Ia berkata, “Apakah engkau mengenalnya?”Aku menjawab, “Tidak.”Ia berkata, “Subhanallah! Ada orang sebesar itu di negeri kalian dan kalian tidak mendengar darinya?”Kemudian ia berkata,سمعت أنا وإياه من مشايخ جلة وسمع مني وسمعت منه ولا أعلمني رأيت أحداً أعرف بالحديث ولا أحفظ للأسانيد منه“Aku dan dia sama-sama mendengar dari para syekh yang agung. Ia juga mendengar dariku dan aku mendengar darinya. Dan aku tidak mengetahui bahwa aku pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui hadis dan lebih kuat hafalannya dalam sanad daripada dirinya.”Muhammad bin ‘Umar Al-Jarwani berkata,سمعت غير واحد من العلماء يقول: كان الطبراني في الرحلة ثلاثا وثلاثين سنة“Aku mendengar lebih dari satu orang ulama yang mengatakan bahwa Ath-Thabarani melakukan perjalanan (menuntut ilmu) selama tiga puluh tiga tahun.”Abdurrahman bin Abi ‘Abdillah bin Mandah berkata: Ayahku berkata,سمعت من الطبراني أربعة آلاف حديث بالشام“Aku mendengar (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak empat ribu hadis di wilayah Syam.”Abu Al-Husain Ahmad bin Faris Al-Lughawi berkata bahwa dia mendengar Ustaz Ibnu Al-‘Amid berkata,“Aku dahulu tidak menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan yang lebih manis daripada kepemimpinan dan jabatan kementerian yang sedang aku jalani, sampai aku menyaksikan diskusi ilmiah antara Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Bakar Al-Ju‘abi di hadapanku.Ath-Thabarani mengungguli Abu Bakar dalam banyaknya hafalan, sedangkan Abu Bakar mengunggulinya dalam kecerdasan dan ketajaman pikiran. Suara keduanya sampai meninggi, dan hampir tidak ada yang benar-benar mengalahkan yang lain.Lalu Al-Ju‘abi berkata, ‘Aku memiliki sebuah hadis yang tidak dimiliki seorang pun di dunia selain aku.’Ath-Thabarani berkata, ‘Sebutkanlah.’Ia berkata, ‘Telah meriwayatkan kepada kami Abu Khalifah Al-Jumahi, telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Ayyub…,’ lalu ia menyebutkan sebuah hadis.Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Dari akulah Abu Khalifah mendengarnya. Dengarkanlah dariku agar sanadmu menjadi lebih tinggi.’Maka Al-Ju‘abi pun merasa malu.Saat itu, aku berharap seandainya aku bukan seorang menteri, melainkan menjadi Ath-Thabarani. Dan aku merasa gembira sebagaimana kegembiraannya.”Ismail bin ‘Abbad berkata,قد وجدنا في معجم الطبراني ما فقدنا في سائر البلدان بأسانيد ليس فيها إسناد“Kami telah menemukan dalam Mu‘jam Ath-Thabarani apa yang tidak kami temukan di negeri-negeri lain, dengan sanad-sanad yang tidak terdapat pada (riwayat) lainnya.”Abu Bakar bin Abi ‘Ali berkata,الطبراني أشهر من أن يدل على فضله وعلمه، كان واسع العلم كثير التصانيف“Ath-Thabarani lebih masyhur daripada perlu dijelaskan keutamaan dan ilmunya. Ia adalah seorang yang luas ilmunya dan banyak karya tulisnya.”Abu Al-‘Abbas Asy-Syirazi berkata,كتبت عن الطبراني ثلاثمائة ألف حديث وهو ثقة“Aku menulis (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak tiga ratus ribu hadis, dan ia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Ibnu Abi Ya‘la berkata,كان – أي الطبراني – أحد الأئمة والحفاظ في علم الحديث“Ia yaitu Ath-Thabarani termasuk salah satu imam dan hafizh dalam ilmu hadis.”As-Sam‘ani berkata,كان ثقةً حافظاً“Ia adalah seorang yang tsiqah dan hafizh.”Adz-Dzahabi berkata,الحافظ مسند العصر أبو القاسم سليمان بن أحمد الطبراني بأصبهان ثقة“Al-Hafizh, musnid pada zamannya, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani di Ashbahan adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”Karya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه اللهImam Ath-Thabarani رحمه الله menulis dan meriwayatkan dari banyak guru, baik yang datang maupun yang pergi. Beliau unggul dalam bidang hadis, menghimpun dan menyusun banyak karya, serta berumur panjang hingga sempat meriwayatkan dari teman-teman seangkatannya.Beliau terus menulis sepanjang hidupnya.Di antara karya-karyanya yang paling terkenal:1) Al-Mu‘jam Ash-Shaghir (7 jilid). Ia meriwayatkan satu hadis dari setiap guru.2) Al-Mu‘jam Al-Kabir. Kitab ini merupakan mu‘jam (ensiklopedia) nama-nama para sahabat, biografi mereka, dan hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Namun di dalamnya tidak terdapat Musnad Abu Hurairah, dan juga tidak mencakup seluruh hadis para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Kitab tersebut terdiri dari dua ratus bagian (juz).3) Al-Mu‘jam Al-Awsath (24 jilid). Kitab ini disusun berdasarkan guru-gurunya yang banyak meriwayatkan hadis, serta memuat hadis-hadis gharib yang beliau miliki dari masing-masing guru tersebut. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان الطبراني – فيما بلغنا – يقول عن (الأوسط):هذا الكتاب روحي“Telah sampai kepada kami bahwa Ath-Thabarani pernah mengatakan tentang kitab (Al-Mu‘jam) Al-Awsath, ‘Kitab ini adalah ruhku.’”Karya lainnya meliputi:Musnad Al-‘Asyarah (30 jilid)Musnad Asy-Syamiyyin (10 jilid)Kitab An-Nawadir (10 jilid)Kitab Ma‘rifat Ash-ShahabahKitab Al-Fawa’id (10 jilid)Musnad Abu HurairahMusnad ‘AisyahMusnad Abu Dzar (2 jilid)Kitab At-TafsirDalail An-Nubuwwah (10 jilid)Kitab Ad-Du‘a (10 jilid)Kitab As-Sunnah (10 jilid)Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Mu‘tazilahKitab Ar-Radd ‘ala Al-JahmiyyahKitab Bayan Kufr Man Qala bi Khalq Al-Qur’anKitab Makarim Al-AkhlaqKitab Fadhail Al-‘Ilm wa Ittiba‘ Al-AtsarKitab Ash-Shalah ‘ala An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Maghazi dan Al-ManasikKitab Fadhail RamadhanKitab Fadhail Al-‘ArabKitab Fadhail ‘Ali رضي الله عنهKitab Dzikr Al-Khilafah li Abi Bakr wa ‘UmarKitab Jami‘ Shifat An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Nasab An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamKitab Al-Asyribah (Minuman)Kitab Ath-ThaharahKitab Al-ImarahDan puluhan kitab musnad lainnya yang dinisbahkan kepada para tabi‘in dan perawi besar seperti: Al-A‘mash, Al-Auza‘i, Malik bin Dinar, Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, Syu‘bah bin Al-Hajjaj, dan banyak lainnya.Al-Hafizh Yahya bin Mandah berkata,وأكثرها مسانيد حفّاظ وأعيان لم نرها“Sebagian besar karya beliau adalah musnad para huffazh dan tokoh besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”WafatnyaBeliau رحمه الله wafat pada hari Sabtu, dua malam sebelum berakhirnya bulan Zulkaidah tahun 360 Hijriah di Ashbahan. Beliau dimakamkan pada hari Ahad, yaitu hari terakhir bulan Zulkaidah, di samping kubur Hammamah bin Abi Hammamah Ad-Dausi رضي الله عنه — seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di gerbang kota Jay yang dikenal dengan nama Tirah. Ath-Thabarani hidup selama seratus tahun sepuluh bulan, dan enam puluh tahun di antaranya beliau habiskan di Ashbahan.Demikianlah beliau wafat setelah memperkaya umat Islam dengan karya-karya dan susunan kitab yang sangat banyak. Beliau menjaga dan menghimpun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah yang tidak mampu dihimpun oleh banyak muhaddits dan huffazh lainnya.Semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di dalam surga-Nya yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website https://aqsaonline.org/BlogPosts/Details/09899441-434e-48b9-9b2f-208068b53160

7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur

Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.ukBaca Juga:Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan SembelihanMoga Jadi Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal

7 Ibadah Hati yang Menjadikan Haji Mabrur

Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.ukBaca Juga:Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan SembelihanMoga Jadi Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal
Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.ukBaca Juga:Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan SembelihanMoga Jadi Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal


Banyak orang fokus pada gerakan lahiriah saat haji, tetapi lupa bahwa inti haji justru ada pada hati. Padahal, amal haji tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, ketakwaan, tawakal, dan pengagungan kepada Allah. Tulisan ini membahas tujuh ibadah hati terpenting dalam haji yang akan mengubah perjalanan haji biasa menjadi haji yang mabrur dan penuh bekas dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat Haji 2. Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji 2.1. 1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-Nya 2.1.1. Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan Dosa 2.1.2. Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak Bernilai 2.2. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’ala 2.3. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 2.4. 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla 2.5. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘Ala 2.6. 6. Mengingat Akhirat 2.7. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada Mereka  Ibadah Hati: Bekal Terbesar Saat HajiDi antara ibadah yang paling penting dan paling layak diperbanyak oleh seorang hamba ketika berhaji adalah ibadah-ibadah hati. Hendaknya waktu haji dipenuhi dengan amalan seperti mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meminta, dan memohon kepada-Nya, disertai taubat, kembali kepada Allah, sabar, ridha, tenang, dan amalan hati lainnya.Sesungguhnya inti ajaran Islam berputar pada amalan-amalan hati tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa memperhatikan syariat pada sumber-sumber dan cabang-cabangnya, ia akan mengetahui eratnya hubungan antara amalan anggota badan dengan amalan hati, dan bahwa amalan lahir tidak akan bermanfaat tanpa amalan hati.” (Badai’ Al-Fawaid, 3:330) Bentuk-Bentuk Ibadah Hati yang Paling Penting dalam Haji1. Mentauhidkan Allah dan Mengikhlaskan Ibadah Hanya untuk-NyaKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ibadah haji, beliau berdoa kepada Rabb-nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya. Beliau juga menunjukkan sikap zuhud terhadap dunia dan hidup sederhana selama berhaji, baik dalam sedikitnya bekal maupun kendaraan yang beliau gunakan. Semua itu beliau lakukan demi mengharap ridha Allah dan merealisasikan keikhlasan kepada-Nya.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,حَجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَحْلٍ رَثٍّ، وَقَطِيفَةٍ تُسَاوِي أَرْبَعَةَ دَرَاهِمَ أَوْ لَا تُسَاوِي، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَجَّةً لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلَا سُمْعَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji di atas pelana yang sudah usang dan dengan kain beludru yang harganya hanya sekitar empat dirham atau bahkan kurang dari itu. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang tidak ada riya dan tidak pula mencari popularitas di dalamnya.’” (HR. Ibnu Majah, no. 2890; Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Hal terbaik yang semestinya paling diperhatikan oleh seorang jamaah haji adalah memurnikan tauhid dan ibadah hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Dengan tauhid dan keikhlasan itulah amal dan usahanya diterima. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, amal akan tertolak dan usahanya menjadi sia-sia.Bahkan, rukun pertama dalam ibadah haji adalah ikhlas dalam berniat untuk Allah. Niat merupakan amalan hati, dan tidak ada satu ibadah pun yang sah tanpa niat tersebut.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan talbiyah sebagai syiar haji yang penuh dengan tauhid, penegasan keikhlasan kepada Allah, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, menjelaskan perhatian besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tauhid dan keikhlasan dalam ibadah haji,فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ»“Maka beliau bertalbiyah dengan tauhid: ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.’” (HR. Muslim. no. 1218)Keikhlasan adalah amalan hati yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya dalam definisi iman. Bahkan secara umum, amalan-amalan hati lebih besar dan lebih penting daripada amalan anggota badan.Sesungguhnya seorang jamaah haji yang memurnikan tauhid dan talbiyahnya hanya untuk Allah Rabb semesta alam, berarti ia telah menegakkan salah satu amalan hati yang paling agung dalam musim haji. Ia tidak menyekutukan Allah dengan siapa pun.Sungguh, kedudukan ikhlas dalam ibadah—bahkan dalam seluruh amalan, termasuk perkara mubah—adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dengan keikhlasan, Allah memberikan pahala besar atas amalan yang sedikit. Sebaliknya, karena riya dan hilangnya keikhlasan, Allah tidak memberikan nilai apa pun pada amalan yang banyak.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Satu jenis amalan yang sama bisa dilakukan seseorang dengan cara yang sempurna keikhlasan dan penghambaan dirinya kepada Allah di dalamnya, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa besar karenanya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu catatan amal).” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah, 6:219) Hadits Bithaqah: Tauhid yang Tulus Mengalahkan Tumpukan DosaHadits bithaqah diriwayatkan oleh Tirmidzi—dan beliau menilainya hasan—juga oleh An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يُقَالُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيُقَالُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ فِيهَا؟ فَيَقُولُ الرَّجُلُ: لَا. فَيُقَالُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ»“Akan dipanggil seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’Lalu dikatakan lagi, ‘Apakah engkau memiliki alasan atau satu kebaikan?’ Maka orang itu pun ketakutan dan berkata, ‘Tidak.’Lalu Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan:أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.’Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan catatan-catatan dosa itu?’Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’Maka catatan-catatan dosa itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan lainnya. Ternyata catatan-catatan dosa itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat.” (HR. Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Al-Hakim, no. 1937. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)Baca juga: Kartu Laa Ilaha Illallah Mengalahkan Catatan Dosa Sejauh Mata Memandang Amal Besar Tanpa Ikhlas Tidak BernilaiSebaliknya, kita mendapati bahwa melakukan ketaatan tanpa keikhlasan dan tanpa kejujuran kepada Allah tidak memiliki nilai dan pahala sedikit pun. Bahkan pelakunya terancam dengan ancaman yang sangat keras, walaupun amalan tersebut termasuk amalan besar seperti berinfak di jalan kebaikan, berjihad melawan orang kafir, atau menuntut serta mengajarkan ilmu syar’i.Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ…»“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid…”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga golongan:orang yang berjihad agar disebut pemberani,orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut alim,dan orang yang berinfak agar disebut dermawan.Masing-masing dikatakan kepada mereka:«كَذَبْتَ»“Engkau dusta.”Karena semua itu dilakukan agar dipuji manusia, bukan ikhlas karena Allah. Kemudian mereka diseret di atas wajah mereka dan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim. no. 1905)Baca juga: Belajar Agama Hanya untuk Mencari DuniaKarena itu, wahai jamaah haji, jangan pergi ke Tanah Suci sementara dalam hatimu masih ada pengagungan kepada batu atau manusia, apalagi sampai berdoa kepada orang mati, thawaf di kuburan, atau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu, penolong, atau pembantu.Murnikanlah tauhidmu. Ikutilah sunnah Nabimu. Dengan itu engkau akan selamat, mendapatkan penerimaan amal, dan meraih keberuntungan. 2. Berserah Diri dan Tunduk kepada Syariat Allah Tabaraka wa Ta’alaSeorang jamaah haji menjalankan berbagai amalan dan manasik ibadah dalam haji yang terkadang ia belum memahami hikmah di balik sebagian amalan tersebut. Namun hatinya tetap ridha, khusyuk, dan tenang terhadap apa yang ia lakukan karena semua itu dilakukan dalam rangka mengikuti sunnah. Ia tidak membiarkan keraguan dan bisikan setan merusak hatinya serta menghilangkan pahala amalnya.Betapa kita sangat membutuhkan latihan bagi akal dan jiwa agar tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Haji merupakan contoh terbaik untuk mewujudkan sikap tersebut. Perpindahan jamaah haji dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya, thawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah, dan amalan lainnya adalah contoh nyata dari sikap tunduk kepada syariat Allah Ta’ala dan menerima hukum-Nya dengan lapang dada serta hati yang tenteram.Nabi Ibrahim Al-Khalil dan putranya, Ismail ‘alaihimash shalatu wassalam, pernah berdoa,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara manasik kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)Mereka berdua berdoa untuk diri mereka dan keturunan mereka agar memiliki sifat Islam yang hakiki, yaitu tunduk dan patuhnya hati kepada Rabb-nya, yang kemudian tercermin pada ketundukan anggota badan.Sungguh indah perkataan Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu tentang Hajar Aswad,«إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ»“Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari, no. 1597)Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam ucapan Umar tersebut terdapat sikap berserah diri kepada syariat dalam urusan agama, serta bagusnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkara yang belum diketahui hikmahnya. Ini merupakan kaidah agung dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau lakukan, walaupun hikmahnya belum diketahui.” (Fath Al-Bari, 3:463)Qiwamus Sunnah Ismail Al-Ashbahani rahimahullah juga berkata, “Termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah bahwa setiap riwayat yang didengar seseorang namun belum dapat dijangkau oleh akalnya, maka wajib baginya untuk menerima, membenarkan, menyerahkan ilmunya kepada Allah, dan ridha terhadapnya. Ia tidak boleh menanggapi sesuatu pun dari perkara tersebut dengan akal dan hawa nafsunya.” (Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah, 2:435 dan Afdhal Ayyam Ad-Dunya oleh Jamaz bin ‘Abdurrahman, hlm. 18)Karena itu, siapa yang ingin meraih haji yang mabrur hendaknya menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Rabb-nya, memasrahkan seluruh urusannya kepada-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut. 3. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaIbadah-ibadah disyariatkan untuk menyucikan jiwa, memperbaiki hati, dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji terdapat banyak isyarat yang mendorong seorang hamba agar memperbanyak ketaatan ketika melaksanakan manasik, sekaligus mengingatkannya bahwa tujuan utama ibadah adalah meraih ketakwaan kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam bulan-bulan itu, janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Para jamaah haji diperintahkan membawa bekal untuk perjalanan mereka dan tidak bepergian tanpa bekal. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang bekal perjalanan menuju akhirat, yaitu takwa. Sebagaimana seorang musafir tidak akan sampai ke tujuannya tanpa bekal yang mengantarkannya, demikian pula seorang musafir menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan sampai kecuali dengan bekal takwa. Maka Allah menggabungkan antara dua bekal tersebut: bekal lahir dan bekal batin.” (Ighatsah Al-Lahfaan, hlm. 58)Baca juga: Menjaga Kesucian Haji: Rafats, Fusuq, dan JidalMewujudkan ketakwaan hati termasuk amalan hati yang sangat penting dalam ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,«التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا»“Takwa itu di sini, takwa itu di sini, takwa itu di sini,” sambil beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564)Tempat ketakwaan adalah hati. Takwa mencakup seluruh amal kebaikan, kebajikan, dan kesalehan, terlebih ketika kata “takwa” disebut secara mutlak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas masalah ini dalam awal kitab Al-Iman, ketika menjelaskan makna kata al-birr dan at-taqwa serta istilah-istilah lain dalam Al-Qur’an yang mencakup seluruh amal keimanan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Mewujudkan ketakwaan juga menjadi sebab diraihnya rahmat Allah. Rahmat tersebut berlaku di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)Apabila seorang jamaah haji benar-benar mewujudkan ketakwaan kepada Allah, maka ia akan memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13) 4. Bertawakal kepada Allah ‘Azza wa JallaSeorang jamaah haji keluar meninggalkan rumahnya dalam keadaan memikirkan apa yang ia tinggalkan di belakangnya: harta, pekerjaan, keluarga, dan anak-anaknya. Ia pergi meninggalkan mereka, berpamitan tanpa mengetahui apakah ia akan kembali dari safar dan perjalanannya itu, atau justru di sanalah ajal dan akhir hidupnya.Karena itulah tawakal kepada Allah menjadi obat bagi hati yang gelisah dan penenteram bagi jiwa yang bingung. Tawakal termasuk amalan hati yang dibutuhkan setiap waktu, dan semakin ditekankan pada musim haji.Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk amalan hati yang paling agung. Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati secara sempurna kepada Allah disertai keyakinan penuh kepada-Nya.Dari tawakal lahir banyak bentuk ibadah hati lainnya, seperti rasa takut, harap, cinta, rasa cemas, dan lainnya.Namun tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, pasrah kepada kemalasan, atau bersikap tidak mau berusaha. Hakikat tawakal justru adalah menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan untuk diambil, tanpa bersandar kepada sebab tersebut dan tanpa menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Yang menjadi sandaran dan tempat bergantung hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang menciptakan sebab dan akibatnya.Dialah yang menjadikan sebab memiliki pengaruh. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu mencabut pengaruh tersebut sehingga sebab itu tidak lagi menghasilkan apa pun.Karena itu, termasuk tanda lemahnya tawakal kepada Allah adalah terlalu bergantung kepada sebab-sebab duniawi, merasa tenang sepenuhnya kepadanya, serta takut berlebihan ketika sebab itu hilang, seolah-olah sebab tersebut dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.Akibat sikap seperti ini, seseorang yang terlalu bergantung kepada sebab bisa terjatuh dalam perkara haram atau meninggalkan kewajiban. Bahkan bisa jadi ia mengarahkan rasa takut dan harapnya—yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla—kepada makhluk yang lemah, yang sebenarnya tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain. 5. Mengagungkan Syiar-Syiar Allah Jalla wa ‘AlaDi antara tujuan dan hikmah terbesar ibadah haji adalah mendidik seorang hamba agar mengagungkan syiar-syiar Allah dan perkara-perkara yang dimuliakan-Nya, menghormatinya, mencintainya, serta merasa takut untuk meremehkan atau melanggarnya.Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum tentang haji,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Allah Ta’ala juga berfirman,ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)Haji merupakan salah satu momen terbesar tampaknya pengagungan kepada Allah. Bahkan pengagungan tersebut termasuk tujuan utama dari ibadah haji. Di antara bentuk pengagungan terhadap syiar Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menaati Allah sesuai syariat-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.Wukuf di Arafah termasuk syiar Allah. Hewan kurban termasuk syiar Allah. Mencukur rambut ketika tahallul termasuk syiar Allah. Melempar jumrah juga termasuk syiar Allah. Barang siapa mengagungkannya, maka itu merupakan bagian dari ketakwaan hati.Karena itu, mengagungkan seluruh manasik haji termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir.Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوا هَذِهِ الْحُرْمَةَ حَقَّ تَعْظِيمِهَا، فَإِذَا تَرَكُوهَا وَضَيَّعُوهَا هَلَكُوا»“Umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka meninggalkan dan menyia-nyiakannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ahmad, 4:347; Ibnu Majah, no. 3110; Sanad Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Fath Al-Bari, 3:449)Kita perlu memahami bahwa mengagungkan syiar Allah dilakukan dengan memuliakannya di dalam hati, mencintainya, dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah ketika menjalankannya.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Jika salah satunya hilang, maka ibadah itu menjadi rusak.” (Madarij As-Salikin, 1:459)Mengagungkan syiar dan larangan Allah merupakan tanda kuatnya iman dan besarnya kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, meremehkan perintah-perintah Allah menunjukkan lemahnya iman dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi mereka hidayah—masih meremehkan sebagian manasik, seperti melempar jumrah, mabit, dan amalan lainnya. Mereka mewakilkannya kepada orang lain tanpa kebutuhan yang mendesak. Bahkan ada yang pulang ke negerinya sebelum mabit dan sebelum melempar jumrah. Ini jelas menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk bentuk meremehkan syiar-syiar Allah.Haji bukan sekadar perjalanan santai, bukan pula wisata religi semata. Haji adalah ibadah yang agung dan momentum besar untuk memperkuat iman. Karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak bekal amal saleh selama menjalankannya.Barang siapa merasakan keagungan Allah pada hari-hari mulia ini, ia tidak akan menyia-nyiakan walau satu jam pun darinya.Maka hendaklah orang-orang yang berani melanggar kehormatan Allah bertakwa kepada-Nya. Sesungguhnya dosa menjadi lebih besar ketika dilakukan di tanah haram dan di sekitar rumah Allah. Hendaknya mereka membersihkan jiwa dari dosa-dosa besar dan membersihkan Baitullah dari kotoran maksiat dan amal-amal buruk. 6. Mengingat AkhiratKetika seorang jamaah haji meninggalkan kampung halamannya dan menempuh beratnya perjalanan, hendaknya ia mengingat keluarnya manusia dari dunia ini melalui kematian menuju hari kebangkitan dan berbagai kedahsyatannya.Saat seorang yang berihram mengenakan pakaian ihramnya, hendaknya ia mengingat kain kafannya dan menyadari bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu Rabb-nya dengan penampilan yang berbeda dari pakaian penduduk dunia.Baca juga: Dahsyatnya Hari Kiamat: Manusia Dikumpulkan Tanpa Busana dan Tanpa Alas KakiKetika ia berdiri di Arafah, melihat manusia yang berdesakan, suara yang saling meninggi, serta berbagai bahasa yang berbeda-beda, hendaknya ia mengingat padang mahsyar pada hari kiamat dan berkumpulnya seluruh umat manusia di tempat tersebut.Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,فَلِلَّهِ ذَاكَ الْمَوْقِفُ الْأَعْظَمُ الَّذِي كَمَوْقِفِ يَوْمِ الْعَرْضِ بَلْ ذَاكَ أَعْظَمُ“Maka sungguh agung peristiwa itu,Seperti peristiwa hari dihadapkan kepada Allah, bahkan lebih agung lagi.”Belum lagi beratnya perjalanan dan kelelahan berpindah dari satu masy’ar ke masy’ar lainnya. Di sana seorang hamba akan teringat sempit dan sulitnya keadaan di padang kiamat, sampai-sampai ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya sendiri.Ketika seorang jamaah haji meninggalkan negeri, keluarga, pekerjaan, harta, dan perdagangannya, hendaknya ia mengingat sebuah perjalanan yang tidak ada kepulangan setelahnya, yaitu perjalanan menuju akhirat.Apabila seorang hamba benar-benar mengingat hal tersebut, ia akan berhaji layaknya orang yang sedang berpamitan untuk terakhir kalinya. Ia akan lebih sering mengingat kematian dan kubur, lalu berdoa kepada Rabb-nya dengan sungguh-sungguh memohon ampunan, hingga ia kembali dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. 7. Mencintai Kebaikan untuk Kaum Muslimin dan Berbuat Baik kepada MerekaBerkumpulnya manusia dan padatnya jamaah haji sering kali menampakkan akhlak asli seseorang, terutama saat menghadapi kesulitan. Karena itu, di antara amalan hati yang sangat penting dalam musim haji adalah memiliki kasih sayang kepada sesama muslim, bersikap lembut kepada jamaah haji, serta mencintai kebaikan untuk mereka.Dalam penjelasan Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan kelembutan dan kasih sayang Nabi kepada manusia. Jabir berkata,«وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى: أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan tali kendali Al-Qashwa’ (unta beliau) agar tidak berjalan cepat sehingga tidak menyakiti manusia, sampai kepala untanya hampir menyentuh pelana. Sambil memberi isyarat dengan tangan kanannya beliau berkata, ‘Wahai manusia, tenanglah… tenanglah.’” (HR. Muslim, no. 1218)Maksudnya adalah bersikap lembut, tidak tergesa-gesa, memperhatikan orang-orang lemah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi haji yang mabrur. Di antara makna al-birr (kebaikan) dalam haji adalah berbuat baik kepada manusia.Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ»“Kebaikan adalah akhlak yang mulia.” (HR. Muslim, no. 2553)Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama menjelaskan bahwa al-birr bisa bermakna menyambung hubungan, kelembutan, kebaikan, pergaulan yang baik, serta ketaatan. Semua itu merupakan inti dari akhlak yang mulia. Dan hal ini sangat dibutuhkan dalam ibadah haji, yaitu memperlakukan manusia dengan baik melalui ucapan maupun perbuatan.”Safar disebut sebagai safar karena perjalanan itu akan menyingkap akhlak asli seseorang.Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan haji yang mabrur, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,«إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ»“Memberi makan dan menyebarkan salam.”Dalam riwayat lain disebutkan,«وَطِيبُ الْكَلَامِ»“Dan ucapan yang baik.” (HR. Ahmad, no. 3:325; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 3:479)Sa’id bin Jubair rahimahullah pernah ditanya, “Haji seperti apa yang paling utama?”Beliau menjawab, “Haji orang yang memberi makan dan menjaga lisannya.”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa itu termasuk bentuk haji yang mabrur.”Dalam riwayat mursal Khalid bin Ma’dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa gunanya seseorang mendatangi Baitullah jika ia tidak memiliki tiga sifat:wara’ yang menghalanginya dari perkara haram,kelembutan (hilm) yang mampu mengendalikan emosinya,dan pergaulan yang baik terhadap teman seperjalanannya.Jika tidak demikian, maka Allah tidak membutuhkan hajinya.”Di antara sifat kebaikan yang paling mencakup dan sangat dibutuhkan oleh jamaah haji adalah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jurai Al-Hujaimi—yaitu Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ صِلَةَ الْحَبْلِ، وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ الْمُسْلِمَ وَوَجْهُكَ بَسْطٌ إِلَيْهِ، وَلَوْ أَنْ تُؤْنِسَ الْوَحْشَانَ بِنَفْسِكَ، وَلَوْ أَنْ تَهَبَ الشِّسْعَ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَلَا يُحِبُّهَا اللَّهُ“Jangan sekali-kali engkau meremehkan sedikit pun perbuatan baik yang bisa engkau lakukan, walaupun hanya memberikan tali pengikat, atau menuangkan air dari timbamu ke wadah orang yang meminta air, atau bertemu saudaramu sesama muslim dengan wajah yang berseri kepadanya, atau menghibur orang yang kesepian dengan kehadiranmu, atau memberikan tali sandal. Dan jauhilah menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, karena itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan tersebut.” (HR. Ahmad, 3:482. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini sahih)Karena itu, jangan sampai seorang jamaah haji meremehkan satu pun bentuk kebaikan, walaupun hanya menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menyapa saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya dan paling sabar menghadapi gangguan manusia.Allah telah menyiapkan surga-surga ‘Adn bagi orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan manusia.Sesungguhnya haji adalah perjalanan iman yang sangat mendalam, dipenuhi ibadah-ibadah agung dan kenangan yang mulia. Sebaik-baik jamaah haji adalah yang paling bermanfaat bagi saudara-saudaranya sesama muslim, paling sabar menghadapi gangguan manusia, dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita kesempatan berhaji ke Baitullah Al-Haram, memudahkan pelaksanaannya bagi kita, serta menerima amal tersebut dari kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia Referensi: albayan.co.ukBaca Juga:Haji Terbaik: Memperbanyak Talbiyah dan SembelihanMoga Jadi Haji Mabrur—- Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 6 Dzulhijjah 1447 H, 23 Mei 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsakhlak muslim haji mabrur ibadah hati ikhlas manasik haji musim haji syiar Allah takwa tauhid tawakal

Ternyata Amal Saleh Ini Penarik Rezeki Keluarga – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim.” (HR. Ibnu Hibban). Maksudnya, wahai saudara-saudaraku, amal saleh yang paling banyak balasannya dirasakan seseorang di dunia sebelum akhirat,adalah silaturahim. Silaturahim adalah amal saleh yang paling banyak balasannya di dunia, sebelum balasan di akhirat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim…”. Bahkan, sungguh ada suatu keluarga, mereka gemar berbuat dosa, harta mereka terus bertambah, dan jumlah anggota keluarga mereka semakin banyak, apabila mereka tetap menjalin silaturahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling menjaga silaturahim, lalu mereka jatuh dalam kefakiran.” Diriwayatkan Ibnu Hibban dan dihasankan Al-Albani. Yakni, sebuah keluarga, apabila hubungan silaturahim di antara mereka terjalin, dan mereka tetap saling bersilaturahim meskipun masih memiliki kemaksiatan, atau masih memiliki banyak kelalaian, maka kebaikan mereka akan terus bertambah, dan jumlah mereka pun semakin banyak, karena mereka menjaga silaturahim. “Dan tidaklah ada keluarga yang saling menjaga silaturahim lalu jatuh miskin.” Silaturahim dapat mengusir kefakiran dan kesulitan hidup. Silaturahim adalah sebab terusirnya kefakiran dan kesempitan. Apabila silaturahim terjaga dalam sebuah keluarga, maka kemiskinan akan keluar dari pintunya. ====== وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ وَالْمَقْصُودُ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا الْإِنْسَانُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ هِيَ صِلَةُ الرَّحِمِ صِلَةُ الرَّحِمِ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِثَابَةً فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ يَقُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَيَكُونُوا فَجَرَةً فَتَنْمُو أَمْوَالُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ إِذَا تَوَاصَلُوا وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ يَعْنِي أَهْلَ الْبَيْتِ إِذَا وَقَعَتْ بَيْنَهُمُ الصِّلَةُ وَكَانُوا يَتَوَاصَلُونَ حَتَّى لَوْ كَانَتْ عِنْدَهُمْ مَعَاصٍ حَتَّى لَوْ كَانَ عِنْدَهُمْ تَقْصِيرٌ فَإِنَّهُ يَنْمُو خَيْرُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ لِصِلَتِهِم الرَّحِمَ وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ إِذَا وُجِدَتِ الصِّلَةُ فِي الْبَيْتِ خَرَجَ الْفَقْرُ مِنَ الْبَابِ

Ternyata Amal Saleh Ini Penarik Rezeki Keluarga – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim.” (HR. Ibnu Hibban). Maksudnya, wahai saudara-saudaraku, amal saleh yang paling banyak balasannya dirasakan seseorang di dunia sebelum akhirat,adalah silaturahim. Silaturahim adalah amal saleh yang paling banyak balasannya di dunia, sebelum balasan di akhirat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim…”. Bahkan, sungguh ada suatu keluarga, mereka gemar berbuat dosa, harta mereka terus bertambah, dan jumlah anggota keluarga mereka semakin banyak, apabila mereka tetap menjalin silaturahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling menjaga silaturahim, lalu mereka jatuh dalam kefakiran.” Diriwayatkan Ibnu Hibban dan dihasankan Al-Albani. Yakni, sebuah keluarga, apabila hubungan silaturahim di antara mereka terjalin, dan mereka tetap saling bersilaturahim meskipun masih memiliki kemaksiatan, atau masih memiliki banyak kelalaian, maka kebaikan mereka akan terus bertambah, dan jumlah mereka pun semakin banyak, karena mereka menjaga silaturahim. “Dan tidaklah ada keluarga yang saling menjaga silaturahim lalu jatuh miskin.” Silaturahim dapat mengusir kefakiran dan kesulitan hidup. Silaturahim adalah sebab terusirnya kefakiran dan kesempitan. Apabila silaturahim terjaga dalam sebuah keluarga, maka kemiskinan akan keluar dari pintunya. ====== وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ وَالْمَقْصُودُ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا الْإِنْسَانُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ هِيَ صِلَةُ الرَّحِمِ صِلَةُ الرَّحِمِ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِثَابَةً فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ يَقُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَيَكُونُوا فَجَرَةً فَتَنْمُو أَمْوَالُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ إِذَا تَوَاصَلُوا وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ يَعْنِي أَهْلَ الْبَيْتِ إِذَا وَقَعَتْ بَيْنَهُمُ الصِّلَةُ وَكَانُوا يَتَوَاصَلُونَ حَتَّى لَوْ كَانَتْ عِنْدَهُمْ مَعَاصٍ حَتَّى لَوْ كَانَ عِنْدَهُمْ تَقْصِيرٌ فَإِنَّهُ يَنْمُو خَيْرُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ لِصِلَتِهِم الرَّحِمَ وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ إِذَا وُجِدَتِ الصِّلَةُ فِي الْبَيْتِ خَرَجَ الْفَقْرُ مِنَ الْبَابِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim.” (HR. Ibnu Hibban). Maksudnya, wahai saudara-saudaraku, amal saleh yang paling banyak balasannya dirasakan seseorang di dunia sebelum akhirat,adalah silaturahim. Silaturahim adalah amal saleh yang paling banyak balasannya di dunia, sebelum balasan di akhirat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim…”. Bahkan, sungguh ada suatu keluarga, mereka gemar berbuat dosa, harta mereka terus bertambah, dan jumlah anggota keluarga mereka semakin banyak, apabila mereka tetap menjalin silaturahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling menjaga silaturahim, lalu mereka jatuh dalam kefakiran.” Diriwayatkan Ibnu Hibban dan dihasankan Al-Albani. Yakni, sebuah keluarga, apabila hubungan silaturahim di antara mereka terjalin, dan mereka tetap saling bersilaturahim meskipun masih memiliki kemaksiatan, atau masih memiliki banyak kelalaian, maka kebaikan mereka akan terus bertambah, dan jumlah mereka pun semakin banyak, karena mereka menjaga silaturahim. “Dan tidaklah ada keluarga yang saling menjaga silaturahim lalu jatuh miskin.” Silaturahim dapat mengusir kefakiran dan kesulitan hidup. Silaturahim adalah sebab terusirnya kefakiran dan kesempitan. Apabila silaturahim terjaga dalam sebuah keluarga, maka kemiskinan akan keluar dari pintunya. ====== وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ وَالْمَقْصُودُ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا الْإِنْسَانُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ هِيَ صِلَةُ الرَّحِمِ صِلَةُ الرَّحِمِ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِثَابَةً فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ يَقُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَيَكُونُوا فَجَرَةً فَتَنْمُو أَمْوَالُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ إِذَا تَوَاصَلُوا وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ يَعْنِي أَهْلَ الْبَيْتِ إِذَا وَقَعَتْ بَيْنَهُمُ الصِّلَةُ وَكَانُوا يَتَوَاصَلُونَ حَتَّى لَوْ كَانَتْ عِنْدَهُمْ مَعَاصٍ حَتَّى لَوْ كَانَ عِنْدَهُمْ تَقْصِيرٌ فَإِنَّهُ يَنْمُو خَيْرُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ لِصِلَتِهِم الرَّحِمَ وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ إِذَا وُجِدَتِ الصِّلَةُ فِي الْبَيْتِ خَرَجَ الْفَقْرُ مِنَ الْبَابِ


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim.” (HR. Ibnu Hibban). Maksudnya, wahai saudara-saudaraku, amal saleh yang paling banyak balasannya dirasakan seseorang di dunia sebelum akhirat,adalah silaturahim. Silaturahim adalah amal saleh yang paling banyak balasannya di dunia, sebelum balasan di akhirat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan ketaatan yang paling cepat balasannya adalah silaturahim…”. Bahkan, sungguh ada suatu keluarga, mereka gemar berbuat dosa, harta mereka terus bertambah, dan jumlah anggota keluarga mereka semakin banyak, apabila mereka tetap menjalin silaturahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling menjaga silaturahim, lalu mereka jatuh dalam kefakiran.” Diriwayatkan Ibnu Hibban dan dihasankan Al-Albani. Yakni, sebuah keluarga, apabila hubungan silaturahim di antara mereka terjalin, dan mereka tetap saling bersilaturahim meskipun masih memiliki kemaksiatan, atau masih memiliki banyak kelalaian, maka kebaikan mereka akan terus bertambah, dan jumlah mereka pun semakin banyak, karena mereka menjaga silaturahim. “Dan tidaklah ada keluarga yang saling menjaga silaturahim lalu jatuh miskin.” Silaturahim dapat mengusir kefakiran dan kesulitan hidup. Silaturahim adalah sebab terusirnya kefakiran dan kesempitan. Apabila silaturahim terjaga dalam sebuah keluarga, maka kemiskinan akan keluar dari pintunya. ====== وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ وَالْمَقْصُودُ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا الْإِنْسَانُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ هِيَ صِلَةُ الرَّحِمِ صِلَةُ الرَّحِمِ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِثَابَةً فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ يَقُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَيَكُونُوا فَجَرَةً فَتَنْمُو أَمْوَالُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ إِذَا تَوَاصَلُوا وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ يَعْنِي أَهْلَ الْبَيْتِ إِذَا وَقَعَتْ بَيْنَهُمُ الصِّلَةُ وَكَانُوا يَتَوَاصَلُونَ حَتَّى لَوْ كَانَتْ عِنْدَهُمْ مَعَاصٍ حَتَّى لَوْ كَانَ عِنْدَهُمْ تَقْصِيرٌ فَإِنَّهُ يَنْمُو خَيْرُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ لِصِلَتِهِم الرَّحِمَ وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُونَ فَيَحْتَاجُونَ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ إِذَا وُجِدَتِ الصِّلَةُ فِي الْبَيْتِ خَرَجَ الْفَقْرُ مِنَ الْبَابِ

Biografi Al-Imam Ath-Thabarani (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNamaNasabnyaKelahiran dan tahun lahirnyaAnak-anaknyaAwal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahGuru-gurunyaMurid-muridnyaPerawi terakhir darinyaBanyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAkidah dan manhajnyaNamaBeliau adalah Imam, Al-Hafizh, tsiqah (orang yang terpercaya), pengembara yang banyak bepergian, ahli perjalanan, muhaddits besar Islam, sisa generasi salaf, di antara tokoh yang berumur panjang, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lakhmi, Asy-Syami, Ath-Thabarani.NasabnyaAl-Lakhmi adalah nisbah kepada Lakhm, yaitu salah satu kabilah Arab yang berasal dari Yaman, kemudian berhijrah ke wilayah Syam dan menetap di sana. Adapun Ath-Thabarani adalah nisbah kepada Thabariyah (Tiberias), yaitu sebuah kota yang terletak di bagian timur laut Palestina. Kota tersebut berada di antara wilayah Safad, Akka, Nazaret, dan Baisan, di sisi barat Danau Thabariyah. Sejumlah ulama juga dinisbahkan kepada kota ini, dan orang yang berasal darinya disebut “Thabarani”, untuk membedakannya dari “Ath-Thabari” yang dinisbahkan kepada Thabaristan.Kelahiran dan tahun lahirnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله lahir di kota ‘Akka pada bulan Safar tahun 260 Hijriah. Ibunya berasal dari ‘Akka. Adapun asal keluarganya dari Thabariyah (Tiberias) di wilayah Syam.Anak-anaknyaAth-Thabarani memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang ber-kunyah Abu Dzarr (sama seperti kunyah kakeknya, Ahmad). Ia meriwayatkan hadis dari Abu ‘Ali Al-Warraq, Abu ‘Amr bin Hakim, dan Abdullah bin Ja‘far atas pilihan ayahnya رحمه الله. Putranya ini wafat pada bulan Rajab tahun 399 Hijriah, dan dimakamkan di samping kubur ayahnya رحمهما الله.Sejumlah ulama besar meriwayatkan darinya, seperti Abu ‘Ali Ar-Rustaqi, Abu Thahir bin ‘Urwah, Abu Ahmad Al-‘Aththar, ‘Ali bin Ahmad bin Mihran, Abu Sa‘d bin Qamjah, ‘Ali bin Al-Husain Al-Iskaf, ‘Ali bin Sa‘id Al-Baqqal, dan lainnya, termasuk para ulama generasi setelah mereka.Beliau juga memiliki seorang putri bernama Fatimah. Ibunya bernama Asma’ binti Ahmad bin Muhammad bin Shudrah Al-Khathib. Disebutkan bahwa Fatimah biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari, serta hanya sedikit tidur di malam hari.Awal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahAth-Thabarani mulai mendengar hadis pada tahun 273 Hijriah. Ayahnya membawanya dalam perjalanan ilmiah dan sangat memperhatikannya dalam belajar, karena ayahnya sendiri termasuk ahli hadis dari kalangan murid Duhyaim. Perjalanan ilmiahnya dimulai pada tahun 275 Hijriah. Ia terus melakukan perjalanan dan bertemu para ulama selama 16 tahun.Imam Ath-Thabarani رحمه الله mendengar hadis di berbagai negeri, di antaranya: di dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah), Yaman, kota-kota di wilayah Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Bashrah, Ashbahan, Khuzistan, dan selainnya. Kemudian beliau menetap di Ashbahan dan tinggal di sana sekitar enam puluh tahun, menyebarkan ilmu dan menyusun karya-karya ilmiah.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وإنما وصل إلى العراق بعد فراغه من مصر والشام والحجاز واليمن، وإلا فلو قصد العراق أولا لأدرك إسناداً عظيما“Beliau sampai ke Irak setelah selesai (menimba ilmu) dari Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Seandainya beliau menuju Irak terlebih dahulu, niscaya ia akan mendapatkan sanad yang sangat tinggi.”Beliau menulis hadis dari siapa saja yang ditemuinya, baik yang datang maupun yang pergi, hingga menjadi sangat unggul dalam bidang hadis. Ia mengumpulkan, menyusun, dan menulis banyak karya. Umurnya panjang, dan para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri. Ia meriwayatkan hadis dari lebih dari seribu guru.Guru-gurunyaDi antara ulama yang ia temui adalah para murid Yazid bin Harun, Ruh bin ‘Ubadah, Abu ‘Ashim, Hajjaj bin Muhammad, dan ‘Abdur Razzaq. Ia mendengar hadis dari sejumlah ulama di berbagai kota, seperti di Baitul Maqdis, Thabariyah, Qaisariyah, dan lainnya. Ia juga meriwayatkan dari tokoh-tokoh besar seperti:Abu Zur‘ah Ad-Dimasyqi;Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabari;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal;Abu Abdurrahman An-Nasa’i;dan banyak lagi ulama besar dari berbagai wilayah seperti Syam, Mesir, Baghdad, dan Makkah.Jumlah guru yang ia temui sangat banyak, mencerminkan keluasan rihlah (perjalanan ilmiah) dan kekuatan sanadnya dalam ilmu hadis.Murid-muridnyaBanyak sekali ulama yang meriwayatkan hadis dari Imam Ath-Thabarani رحمه الله. Para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri untuk mengambil hadis darinya. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah: Abu Khalifah Al-Jumahi, Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah (keduanya bahkan termasuk gurunya), Ibnu Mandah, Abu Bakar bin Mardawaih, Abu Nu‘aim Al-Ashbahani, Abu Sa‘id An-Naqqasy, dan sejumlah besar ulama lainnya dari berbagai wilayah.Perawi terakhir darinyaOrang terakhir yang meriwayatkan darinya hingga wafat adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Rizhah At-Tajir, yang wafat pada tahun 440 H. Setelahnya masih ada Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Abi Bakar Adz-Dzakwani yang meriwayatkan dari Ath-Thabarani melalui ijazah hingga wafat pada tahun 442 atau 443 H.Banyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAbu Bakar bin Abi ‘Ali meriwayatkan bahwa ayahnya pernah bertanya kepada Ath-Thabarani tentang banyaknya hadis yang ia kumpulkan. Ia menjawab,كنت أنام على البواري، ثلاثين سنة“Aku tidur di atas tikar anyaman selama tiga puluh tahun.”Jawaban ini menunjukkan kesungguhan, kezuhudan, dan ketekunannya dalam menuntut dan menghimpun hadis.Hadis-hadis Ath-Thabarani terus diminati dan dicari sepanjang masa. Pada masa muridnya, Ibnu Rizhah, banyak orang belajar dan meriwayatkan darinya. Ulama seperti As-Silafi menulis dari sekitar seratus orang dari kalangan murid-murid tersebut. Demikian pula Abu Musa Al-Madini dan Abu Al-‘Ala Al-Hamadzani.Orang-orang juga berbondong-bondong mengambil riwayat dari perawi terakhir di jalur sanadnya, termasuk Fatimah Al-Jauzdaniyah yang wafat pada tahun 524 H. Para muhaddits seperti Ibnu Khalil, Adh-Dhiya’, anak-anak Al-Hafizh Abdul Ghani, dan banyak lainnya melakukan perjalanan khusus untuk mendapatkan hadis Ath-Thabarani, lalu membawanya ke Syam, meriwayatkan, dan menyebarkannya. Kemudian sanad-sanad tersebut sampai kepada para ulama besar seperti Ibnu Ja‘wan, Al-Haritsi, Al-Mizzi, Ibnu Samah, Al-Barzali, dan yang lainnya.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وأعلى ما بقي من ذلك بالاتصال (معجمه الصغير)، فلا تفوتوه رحمكم الله“Riwayat tertinggi yang masih tersambung (sanadnya) darinya adalah Al-Mu‘jam Ash-Shaghir. Maka janganlah kalian melewatkannya, semoga Allah merahmati kalian.”Baca juga: Biografi Imam Al-QurthubiAkidah dan manhajnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله berada di atas akidah Ahlul Hadits, mengikuti jejak atsar dan manhaj para salafus shalih. Di antara karya beliau dalam bidang akidah adalah kitabnya yang berjudul Syarh Kitab As-Sunnah (atau disebut juga: Sya‘r Kitab As-Sunnah), yang merupakan salah satu kitab akidah yang disusun berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah dan para salaf. Meskipun kitab tersebut kini telah hilang, para ulama terdahulu sempat melihat dan mengenalnya. Kitab itu termasuk karya besar.Al-Hafizh Ibnu Mandah berkata dalam biografinya tentang Al-Hafizh Ath-Thabarani,شعر كتاب السنّة عشرة أجزاء“Kitab As-Sunnah (karya beliau) terdiri dari sepuluh juz (bagian).”Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wan-Naql,ومن تدبّر الكتب المصنّفة في آثار الصحابة والتابعين، بل المصنّفة في السنّة، مثل “كتاب السنّة والردّ على الجهميّة” للأثرم ولعبد الله بن أحمد… وشعر أبي القاسم الطبرانيّ وأبي الشيخ الأصبهاني…. وأضعاف هؤلاء رأى في ذلك من الآثار الثابتة المتواترة عن الصحابة والتابعين ما يعلم منه بالاضطرار أنّ الصحابة والتابعين كانوا يقولون بما يوافق مقتضى هذه ومدلولها، وأنّهم كانوا على قول أهل الإثبات المثبتين لعلوّ الله نفسه على خلقه، المثبتين لرؤيته، القائلين بأنّ القرآن كلامه ليس بمخلوق بائن عنه، وهذا يصير دليلًا من وجهين؛ أحدهما من جهة إجماع السلف؛ فإنّه يمتنع أن يجمعوا في الفروع على خطأ، فكيف في الأصول؟ الثاني من جهة أنّهم كانوا يقولون بما يوافق مدلول النصوص ومفهومها لا يفهمون منها ما يناقض ذلك“Barang siapa yang menelaah kitab-kitab yang disusun tentang atsar para sahabat dan tabi‘in, bahkan kitab-kitab yang disusun dalam masalah Sunah, seperti Kitab As-Sunnah wa Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah karya Al-Atsram dan Abdullah bin Ahmad… serta karya Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Syaikh Al-Ashbahani… dan yang semisal mereka dalam jumlah yang banyak, niscaya ia akan menemukan di dalamnya atsar-atsar yang sahih dan mutawatir dari para sahabat dan tabi‘in.Dari situ dapat dipastikan secara pasti (tanpa ragu) bahwa para sahabat dan tabi‘in berpendapat sesuai dengan kandungan dan makna dalil-dalil tersebut. Mereka berada di atas pendapat Ahlul Itsbat (orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah), yang menetapkan ketinggian Allah atas makhluk-Nya, menetapkan bahwa Allah dapat dilihat (di akhirat), serta menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya, bukan makhluk dan tidak terpisah dari-Nya.Hal ini menjadi dalil dari dua sisi:Pertama, dari sisi ijmak salaf; karena tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesalahan pada perkara cabang (furu‘), maka bagaimana mungkin dalam perkara pokok (ushul)?Kedua, karena mereka berpendapat sesuai dengan makna dan kandungan nash-nash tersebut, dan tidak memahaminya dengan makna yang bertentangan dengannya.”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar,صنّف الحافظ الكبير أبو القاسم سليمان بن أحمد بن أيّوب اللخميّ الشاميّ نزيل أصبهان في كتاب السنّة له باب ما جاء في استواء الله تعالى على عرشه، بائن من خلقه، فساق في الباب حديث أبي رزين العقيليّ، قلت: يا رسول الله أين كان ربّنا؟ وحديث عبد الله بن خليفة، عن عمر، في علوّ الربّ على عرشه، وحديث الأوعال، وأنّ العرش على ظهورهنّ، وأنّ الله فوقه“Al-Hafizh besar Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Asy-Syami, yang bermukim di Ashbahan, telah menyusun dalam kitabnya, As-Sunnah, satu bab tentang dalil-dalil mengenai istiwa’ Allah Ta‘ala di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.Dalam bab tersebut, beliau membawakan hadis Abu Razin Al-‘Uqaili, yang berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di mana Rabb kita?’”Beliau juga membawakan hadis Abdullah bin Khalifah dari Umar tentang ketinggian Rabb di atas Arsy-Nya, serta hadis tentang kambing-kambing gunung (hadis Al-Aw‘al), yang menyebutkan bahwa Arsy berada di atas punggung-punggung mereka dan bahwa Allah berada di atasnya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir,وقد قال الحافظ أبو القاسم الطبراني في كتاب السنة له، بعد إيراده كثيرًا من هذه الأقوال في تفسير “الصمد”: وكل هذه صحيحة، وهي صفات ربنا، عز وجل، وهو الذي يُصمَد إليه في الحوائج، وهو الذي قد انتهى سؤدده، وهو الصمد الذي لا جوف له، ولا يأكل ولا يشرب، وهو الباقي بعد خلقهAl-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabarani berkata dalam kitab As-Sunnah miliknya, setelah menyebutkan banyak pendapat dalam menafsirkan kata “Ash-Shamad”, “Semua pendapat ini sahih, dan itu merupakan sifat-sifat Rabb kita ‘Azza wa Jalla. Dialah tempat bergantung dalam segala kebutuhan. Dialah yang telah sempurna kemuliaan dan kepemimpinan-Nya. Dialah Ash-Shamad, yang tidak memiliki rongga (yakni tidak membutuhkan makan dan minum), tidak makan dan tidak minum, dan Dialah yang tetap ada setelah makhluk-Nya.”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Biografi Al-Imam Ath-Thabarani (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleNamaNasabnyaKelahiran dan tahun lahirnyaAnak-anaknyaAwal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahGuru-gurunyaMurid-muridnyaPerawi terakhir darinyaBanyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAkidah dan manhajnyaNamaBeliau adalah Imam, Al-Hafizh, tsiqah (orang yang terpercaya), pengembara yang banyak bepergian, ahli perjalanan, muhaddits besar Islam, sisa generasi salaf, di antara tokoh yang berumur panjang, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lakhmi, Asy-Syami, Ath-Thabarani.NasabnyaAl-Lakhmi adalah nisbah kepada Lakhm, yaitu salah satu kabilah Arab yang berasal dari Yaman, kemudian berhijrah ke wilayah Syam dan menetap di sana. Adapun Ath-Thabarani adalah nisbah kepada Thabariyah (Tiberias), yaitu sebuah kota yang terletak di bagian timur laut Palestina. Kota tersebut berada di antara wilayah Safad, Akka, Nazaret, dan Baisan, di sisi barat Danau Thabariyah. Sejumlah ulama juga dinisbahkan kepada kota ini, dan orang yang berasal darinya disebut “Thabarani”, untuk membedakannya dari “Ath-Thabari” yang dinisbahkan kepada Thabaristan.Kelahiran dan tahun lahirnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله lahir di kota ‘Akka pada bulan Safar tahun 260 Hijriah. Ibunya berasal dari ‘Akka. Adapun asal keluarganya dari Thabariyah (Tiberias) di wilayah Syam.Anak-anaknyaAth-Thabarani memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang ber-kunyah Abu Dzarr (sama seperti kunyah kakeknya, Ahmad). Ia meriwayatkan hadis dari Abu ‘Ali Al-Warraq, Abu ‘Amr bin Hakim, dan Abdullah bin Ja‘far atas pilihan ayahnya رحمه الله. Putranya ini wafat pada bulan Rajab tahun 399 Hijriah, dan dimakamkan di samping kubur ayahnya رحمهما الله.Sejumlah ulama besar meriwayatkan darinya, seperti Abu ‘Ali Ar-Rustaqi, Abu Thahir bin ‘Urwah, Abu Ahmad Al-‘Aththar, ‘Ali bin Ahmad bin Mihran, Abu Sa‘d bin Qamjah, ‘Ali bin Al-Husain Al-Iskaf, ‘Ali bin Sa‘id Al-Baqqal, dan lainnya, termasuk para ulama generasi setelah mereka.Beliau juga memiliki seorang putri bernama Fatimah. Ibunya bernama Asma’ binti Ahmad bin Muhammad bin Shudrah Al-Khathib. Disebutkan bahwa Fatimah biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari, serta hanya sedikit tidur di malam hari.Awal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahAth-Thabarani mulai mendengar hadis pada tahun 273 Hijriah. Ayahnya membawanya dalam perjalanan ilmiah dan sangat memperhatikannya dalam belajar, karena ayahnya sendiri termasuk ahli hadis dari kalangan murid Duhyaim. Perjalanan ilmiahnya dimulai pada tahun 275 Hijriah. Ia terus melakukan perjalanan dan bertemu para ulama selama 16 tahun.Imam Ath-Thabarani رحمه الله mendengar hadis di berbagai negeri, di antaranya: di dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah), Yaman, kota-kota di wilayah Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Bashrah, Ashbahan, Khuzistan, dan selainnya. Kemudian beliau menetap di Ashbahan dan tinggal di sana sekitar enam puluh tahun, menyebarkan ilmu dan menyusun karya-karya ilmiah.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وإنما وصل إلى العراق بعد فراغه من مصر والشام والحجاز واليمن، وإلا فلو قصد العراق أولا لأدرك إسناداً عظيما“Beliau sampai ke Irak setelah selesai (menimba ilmu) dari Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Seandainya beliau menuju Irak terlebih dahulu, niscaya ia akan mendapatkan sanad yang sangat tinggi.”Beliau menulis hadis dari siapa saja yang ditemuinya, baik yang datang maupun yang pergi, hingga menjadi sangat unggul dalam bidang hadis. Ia mengumpulkan, menyusun, dan menulis banyak karya. Umurnya panjang, dan para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri. Ia meriwayatkan hadis dari lebih dari seribu guru.Guru-gurunyaDi antara ulama yang ia temui adalah para murid Yazid bin Harun, Ruh bin ‘Ubadah, Abu ‘Ashim, Hajjaj bin Muhammad, dan ‘Abdur Razzaq. Ia mendengar hadis dari sejumlah ulama di berbagai kota, seperti di Baitul Maqdis, Thabariyah, Qaisariyah, dan lainnya. Ia juga meriwayatkan dari tokoh-tokoh besar seperti:Abu Zur‘ah Ad-Dimasyqi;Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabari;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal;Abu Abdurrahman An-Nasa’i;dan banyak lagi ulama besar dari berbagai wilayah seperti Syam, Mesir, Baghdad, dan Makkah.Jumlah guru yang ia temui sangat banyak, mencerminkan keluasan rihlah (perjalanan ilmiah) dan kekuatan sanadnya dalam ilmu hadis.Murid-muridnyaBanyak sekali ulama yang meriwayatkan hadis dari Imam Ath-Thabarani رحمه الله. Para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri untuk mengambil hadis darinya. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah: Abu Khalifah Al-Jumahi, Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah (keduanya bahkan termasuk gurunya), Ibnu Mandah, Abu Bakar bin Mardawaih, Abu Nu‘aim Al-Ashbahani, Abu Sa‘id An-Naqqasy, dan sejumlah besar ulama lainnya dari berbagai wilayah.Perawi terakhir darinyaOrang terakhir yang meriwayatkan darinya hingga wafat adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Rizhah At-Tajir, yang wafat pada tahun 440 H. Setelahnya masih ada Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Abi Bakar Adz-Dzakwani yang meriwayatkan dari Ath-Thabarani melalui ijazah hingga wafat pada tahun 442 atau 443 H.Banyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAbu Bakar bin Abi ‘Ali meriwayatkan bahwa ayahnya pernah bertanya kepada Ath-Thabarani tentang banyaknya hadis yang ia kumpulkan. Ia menjawab,كنت أنام على البواري، ثلاثين سنة“Aku tidur di atas tikar anyaman selama tiga puluh tahun.”Jawaban ini menunjukkan kesungguhan, kezuhudan, dan ketekunannya dalam menuntut dan menghimpun hadis.Hadis-hadis Ath-Thabarani terus diminati dan dicari sepanjang masa. Pada masa muridnya, Ibnu Rizhah, banyak orang belajar dan meriwayatkan darinya. Ulama seperti As-Silafi menulis dari sekitar seratus orang dari kalangan murid-murid tersebut. Demikian pula Abu Musa Al-Madini dan Abu Al-‘Ala Al-Hamadzani.Orang-orang juga berbondong-bondong mengambil riwayat dari perawi terakhir di jalur sanadnya, termasuk Fatimah Al-Jauzdaniyah yang wafat pada tahun 524 H. Para muhaddits seperti Ibnu Khalil, Adh-Dhiya’, anak-anak Al-Hafizh Abdul Ghani, dan banyak lainnya melakukan perjalanan khusus untuk mendapatkan hadis Ath-Thabarani, lalu membawanya ke Syam, meriwayatkan, dan menyebarkannya. Kemudian sanad-sanad tersebut sampai kepada para ulama besar seperti Ibnu Ja‘wan, Al-Haritsi, Al-Mizzi, Ibnu Samah, Al-Barzali, dan yang lainnya.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وأعلى ما بقي من ذلك بالاتصال (معجمه الصغير)، فلا تفوتوه رحمكم الله“Riwayat tertinggi yang masih tersambung (sanadnya) darinya adalah Al-Mu‘jam Ash-Shaghir. Maka janganlah kalian melewatkannya, semoga Allah merahmati kalian.”Baca juga: Biografi Imam Al-QurthubiAkidah dan manhajnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله berada di atas akidah Ahlul Hadits, mengikuti jejak atsar dan manhaj para salafus shalih. Di antara karya beliau dalam bidang akidah adalah kitabnya yang berjudul Syarh Kitab As-Sunnah (atau disebut juga: Sya‘r Kitab As-Sunnah), yang merupakan salah satu kitab akidah yang disusun berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah dan para salaf. Meskipun kitab tersebut kini telah hilang, para ulama terdahulu sempat melihat dan mengenalnya. Kitab itu termasuk karya besar.Al-Hafizh Ibnu Mandah berkata dalam biografinya tentang Al-Hafizh Ath-Thabarani,شعر كتاب السنّة عشرة أجزاء“Kitab As-Sunnah (karya beliau) terdiri dari sepuluh juz (bagian).”Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wan-Naql,ومن تدبّر الكتب المصنّفة في آثار الصحابة والتابعين، بل المصنّفة في السنّة، مثل “كتاب السنّة والردّ على الجهميّة” للأثرم ولعبد الله بن أحمد… وشعر أبي القاسم الطبرانيّ وأبي الشيخ الأصبهاني…. وأضعاف هؤلاء رأى في ذلك من الآثار الثابتة المتواترة عن الصحابة والتابعين ما يعلم منه بالاضطرار أنّ الصحابة والتابعين كانوا يقولون بما يوافق مقتضى هذه ومدلولها، وأنّهم كانوا على قول أهل الإثبات المثبتين لعلوّ الله نفسه على خلقه، المثبتين لرؤيته، القائلين بأنّ القرآن كلامه ليس بمخلوق بائن عنه، وهذا يصير دليلًا من وجهين؛ أحدهما من جهة إجماع السلف؛ فإنّه يمتنع أن يجمعوا في الفروع على خطأ، فكيف في الأصول؟ الثاني من جهة أنّهم كانوا يقولون بما يوافق مدلول النصوص ومفهومها لا يفهمون منها ما يناقض ذلك“Barang siapa yang menelaah kitab-kitab yang disusun tentang atsar para sahabat dan tabi‘in, bahkan kitab-kitab yang disusun dalam masalah Sunah, seperti Kitab As-Sunnah wa Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah karya Al-Atsram dan Abdullah bin Ahmad… serta karya Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Syaikh Al-Ashbahani… dan yang semisal mereka dalam jumlah yang banyak, niscaya ia akan menemukan di dalamnya atsar-atsar yang sahih dan mutawatir dari para sahabat dan tabi‘in.Dari situ dapat dipastikan secara pasti (tanpa ragu) bahwa para sahabat dan tabi‘in berpendapat sesuai dengan kandungan dan makna dalil-dalil tersebut. Mereka berada di atas pendapat Ahlul Itsbat (orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah), yang menetapkan ketinggian Allah atas makhluk-Nya, menetapkan bahwa Allah dapat dilihat (di akhirat), serta menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya, bukan makhluk dan tidak terpisah dari-Nya.Hal ini menjadi dalil dari dua sisi:Pertama, dari sisi ijmak salaf; karena tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesalahan pada perkara cabang (furu‘), maka bagaimana mungkin dalam perkara pokok (ushul)?Kedua, karena mereka berpendapat sesuai dengan makna dan kandungan nash-nash tersebut, dan tidak memahaminya dengan makna yang bertentangan dengannya.”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar,صنّف الحافظ الكبير أبو القاسم سليمان بن أحمد بن أيّوب اللخميّ الشاميّ نزيل أصبهان في كتاب السنّة له باب ما جاء في استواء الله تعالى على عرشه، بائن من خلقه، فساق في الباب حديث أبي رزين العقيليّ، قلت: يا رسول الله أين كان ربّنا؟ وحديث عبد الله بن خليفة، عن عمر، في علوّ الربّ على عرشه، وحديث الأوعال، وأنّ العرش على ظهورهنّ، وأنّ الله فوقه“Al-Hafizh besar Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Asy-Syami, yang bermukim di Ashbahan, telah menyusun dalam kitabnya, As-Sunnah, satu bab tentang dalil-dalil mengenai istiwa’ Allah Ta‘ala di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.Dalam bab tersebut, beliau membawakan hadis Abu Razin Al-‘Uqaili, yang berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di mana Rabb kita?’”Beliau juga membawakan hadis Abdullah bin Khalifah dari Umar tentang ketinggian Rabb di atas Arsy-Nya, serta hadis tentang kambing-kambing gunung (hadis Al-Aw‘al), yang menyebutkan bahwa Arsy berada di atas punggung-punggung mereka dan bahwa Allah berada di atasnya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir,وقد قال الحافظ أبو القاسم الطبراني في كتاب السنة له، بعد إيراده كثيرًا من هذه الأقوال في تفسير “الصمد”: وكل هذه صحيحة، وهي صفات ربنا، عز وجل، وهو الذي يُصمَد إليه في الحوائج، وهو الذي قد انتهى سؤدده، وهو الصمد الذي لا جوف له، ولا يأكل ولا يشرب، وهو الباقي بعد خلقهAl-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabarani berkata dalam kitab As-Sunnah miliknya, setelah menyebutkan banyak pendapat dalam menafsirkan kata “Ash-Shamad”, “Semua pendapat ini sahih, dan itu merupakan sifat-sifat Rabb kita ‘Azza wa Jalla. Dialah tempat bergantung dalam segala kebutuhan. Dialah yang telah sempurna kemuliaan dan kepemimpinan-Nya. Dialah Ash-Shamad, yang tidak memiliki rongga (yakni tidak membutuhkan makan dan minum), tidak makan dan tidak minum, dan Dialah yang tetap ada setelah makhluk-Nya.”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleNamaNasabnyaKelahiran dan tahun lahirnyaAnak-anaknyaAwal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahGuru-gurunyaMurid-muridnyaPerawi terakhir darinyaBanyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAkidah dan manhajnyaNamaBeliau adalah Imam, Al-Hafizh, tsiqah (orang yang terpercaya), pengembara yang banyak bepergian, ahli perjalanan, muhaddits besar Islam, sisa generasi salaf, di antara tokoh yang berumur panjang, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lakhmi, Asy-Syami, Ath-Thabarani.NasabnyaAl-Lakhmi adalah nisbah kepada Lakhm, yaitu salah satu kabilah Arab yang berasal dari Yaman, kemudian berhijrah ke wilayah Syam dan menetap di sana. Adapun Ath-Thabarani adalah nisbah kepada Thabariyah (Tiberias), yaitu sebuah kota yang terletak di bagian timur laut Palestina. Kota tersebut berada di antara wilayah Safad, Akka, Nazaret, dan Baisan, di sisi barat Danau Thabariyah. Sejumlah ulama juga dinisbahkan kepada kota ini, dan orang yang berasal darinya disebut “Thabarani”, untuk membedakannya dari “Ath-Thabari” yang dinisbahkan kepada Thabaristan.Kelahiran dan tahun lahirnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله lahir di kota ‘Akka pada bulan Safar tahun 260 Hijriah. Ibunya berasal dari ‘Akka. Adapun asal keluarganya dari Thabariyah (Tiberias) di wilayah Syam.Anak-anaknyaAth-Thabarani memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang ber-kunyah Abu Dzarr (sama seperti kunyah kakeknya, Ahmad). Ia meriwayatkan hadis dari Abu ‘Ali Al-Warraq, Abu ‘Amr bin Hakim, dan Abdullah bin Ja‘far atas pilihan ayahnya رحمه الله. Putranya ini wafat pada bulan Rajab tahun 399 Hijriah, dan dimakamkan di samping kubur ayahnya رحمهما الله.Sejumlah ulama besar meriwayatkan darinya, seperti Abu ‘Ali Ar-Rustaqi, Abu Thahir bin ‘Urwah, Abu Ahmad Al-‘Aththar, ‘Ali bin Ahmad bin Mihran, Abu Sa‘d bin Qamjah, ‘Ali bin Al-Husain Al-Iskaf, ‘Ali bin Sa‘id Al-Baqqal, dan lainnya, termasuk para ulama generasi setelah mereka.Beliau juga memiliki seorang putri bernama Fatimah. Ibunya bernama Asma’ binti Ahmad bin Muhammad bin Shudrah Al-Khathib. Disebutkan bahwa Fatimah biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari, serta hanya sedikit tidur di malam hari.Awal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahAth-Thabarani mulai mendengar hadis pada tahun 273 Hijriah. Ayahnya membawanya dalam perjalanan ilmiah dan sangat memperhatikannya dalam belajar, karena ayahnya sendiri termasuk ahli hadis dari kalangan murid Duhyaim. Perjalanan ilmiahnya dimulai pada tahun 275 Hijriah. Ia terus melakukan perjalanan dan bertemu para ulama selama 16 tahun.Imam Ath-Thabarani رحمه الله mendengar hadis di berbagai negeri, di antaranya: di dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah), Yaman, kota-kota di wilayah Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Bashrah, Ashbahan, Khuzistan, dan selainnya. Kemudian beliau menetap di Ashbahan dan tinggal di sana sekitar enam puluh tahun, menyebarkan ilmu dan menyusun karya-karya ilmiah.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وإنما وصل إلى العراق بعد فراغه من مصر والشام والحجاز واليمن، وإلا فلو قصد العراق أولا لأدرك إسناداً عظيما“Beliau sampai ke Irak setelah selesai (menimba ilmu) dari Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Seandainya beliau menuju Irak terlebih dahulu, niscaya ia akan mendapatkan sanad yang sangat tinggi.”Beliau menulis hadis dari siapa saja yang ditemuinya, baik yang datang maupun yang pergi, hingga menjadi sangat unggul dalam bidang hadis. Ia mengumpulkan, menyusun, dan menulis banyak karya. Umurnya panjang, dan para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri. Ia meriwayatkan hadis dari lebih dari seribu guru.Guru-gurunyaDi antara ulama yang ia temui adalah para murid Yazid bin Harun, Ruh bin ‘Ubadah, Abu ‘Ashim, Hajjaj bin Muhammad, dan ‘Abdur Razzaq. Ia mendengar hadis dari sejumlah ulama di berbagai kota, seperti di Baitul Maqdis, Thabariyah, Qaisariyah, dan lainnya. Ia juga meriwayatkan dari tokoh-tokoh besar seperti:Abu Zur‘ah Ad-Dimasyqi;Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabari;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal;Abu Abdurrahman An-Nasa’i;dan banyak lagi ulama besar dari berbagai wilayah seperti Syam, Mesir, Baghdad, dan Makkah.Jumlah guru yang ia temui sangat banyak, mencerminkan keluasan rihlah (perjalanan ilmiah) dan kekuatan sanadnya dalam ilmu hadis.Murid-muridnyaBanyak sekali ulama yang meriwayatkan hadis dari Imam Ath-Thabarani رحمه الله. Para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri untuk mengambil hadis darinya. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah: Abu Khalifah Al-Jumahi, Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah (keduanya bahkan termasuk gurunya), Ibnu Mandah, Abu Bakar bin Mardawaih, Abu Nu‘aim Al-Ashbahani, Abu Sa‘id An-Naqqasy, dan sejumlah besar ulama lainnya dari berbagai wilayah.Perawi terakhir darinyaOrang terakhir yang meriwayatkan darinya hingga wafat adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Rizhah At-Tajir, yang wafat pada tahun 440 H. Setelahnya masih ada Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Abi Bakar Adz-Dzakwani yang meriwayatkan dari Ath-Thabarani melalui ijazah hingga wafat pada tahun 442 atau 443 H.Banyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAbu Bakar bin Abi ‘Ali meriwayatkan bahwa ayahnya pernah bertanya kepada Ath-Thabarani tentang banyaknya hadis yang ia kumpulkan. Ia menjawab,كنت أنام على البواري، ثلاثين سنة“Aku tidur di atas tikar anyaman selama tiga puluh tahun.”Jawaban ini menunjukkan kesungguhan, kezuhudan, dan ketekunannya dalam menuntut dan menghimpun hadis.Hadis-hadis Ath-Thabarani terus diminati dan dicari sepanjang masa. Pada masa muridnya, Ibnu Rizhah, banyak orang belajar dan meriwayatkan darinya. Ulama seperti As-Silafi menulis dari sekitar seratus orang dari kalangan murid-murid tersebut. Demikian pula Abu Musa Al-Madini dan Abu Al-‘Ala Al-Hamadzani.Orang-orang juga berbondong-bondong mengambil riwayat dari perawi terakhir di jalur sanadnya, termasuk Fatimah Al-Jauzdaniyah yang wafat pada tahun 524 H. Para muhaddits seperti Ibnu Khalil, Adh-Dhiya’, anak-anak Al-Hafizh Abdul Ghani, dan banyak lainnya melakukan perjalanan khusus untuk mendapatkan hadis Ath-Thabarani, lalu membawanya ke Syam, meriwayatkan, dan menyebarkannya. Kemudian sanad-sanad tersebut sampai kepada para ulama besar seperti Ibnu Ja‘wan, Al-Haritsi, Al-Mizzi, Ibnu Samah, Al-Barzali, dan yang lainnya.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وأعلى ما بقي من ذلك بالاتصال (معجمه الصغير)، فلا تفوتوه رحمكم الله“Riwayat tertinggi yang masih tersambung (sanadnya) darinya adalah Al-Mu‘jam Ash-Shaghir. Maka janganlah kalian melewatkannya, semoga Allah merahmati kalian.”Baca juga: Biografi Imam Al-QurthubiAkidah dan manhajnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله berada di atas akidah Ahlul Hadits, mengikuti jejak atsar dan manhaj para salafus shalih. Di antara karya beliau dalam bidang akidah adalah kitabnya yang berjudul Syarh Kitab As-Sunnah (atau disebut juga: Sya‘r Kitab As-Sunnah), yang merupakan salah satu kitab akidah yang disusun berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah dan para salaf. Meskipun kitab tersebut kini telah hilang, para ulama terdahulu sempat melihat dan mengenalnya. Kitab itu termasuk karya besar.Al-Hafizh Ibnu Mandah berkata dalam biografinya tentang Al-Hafizh Ath-Thabarani,شعر كتاب السنّة عشرة أجزاء“Kitab As-Sunnah (karya beliau) terdiri dari sepuluh juz (bagian).”Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wan-Naql,ومن تدبّر الكتب المصنّفة في آثار الصحابة والتابعين، بل المصنّفة في السنّة، مثل “كتاب السنّة والردّ على الجهميّة” للأثرم ولعبد الله بن أحمد… وشعر أبي القاسم الطبرانيّ وأبي الشيخ الأصبهاني…. وأضعاف هؤلاء رأى في ذلك من الآثار الثابتة المتواترة عن الصحابة والتابعين ما يعلم منه بالاضطرار أنّ الصحابة والتابعين كانوا يقولون بما يوافق مقتضى هذه ومدلولها، وأنّهم كانوا على قول أهل الإثبات المثبتين لعلوّ الله نفسه على خلقه، المثبتين لرؤيته، القائلين بأنّ القرآن كلامه ليس بمخلوق بائن عنه، وهذا يصير دليلًا من وجهين؛ أحدهما من جهة إجماع السلف؛ فإنّه يمتنع أن يجمعوا في الفروع على خطأ، فكيف في الأصول؟ الثاني من جهة أنّهم كانوا يقولون بما يوافق مدلول النصوص ومفهومها لا يفهمون منها ما يناقض ذلك“Barang siapa yang menelaah kitab-kitab yang disusun tentang atsar para sahabat dan tabi‘in, bahkan kitab-kitab yang disusun dalam masalah Sunah, seperti Kitab As-Sunnah wa Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah karya Al-Atsram dan Abdullah bin Ahmad… serta karya Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Syaikh Al-Ashbahani… dan yang semisal mereka dalam jumlah yang banyak, niscaya ia akan menemukan di dalamnya atsar-atsar yang sahih dan mutawatir dari para sahabat dan tabi‘in.Dari situ dapat dipastikan secara pasti (tanpa ragu) bahwa para sahabat dan tabi‘in berpendapat sesuai dengan kandungan dan makna dalil-dalil tersebut. Mereka berada di atas pendapat Ahlul Itsbat (orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah), yang menetapkan ketinggian Allah atas makhluk-Nya, menetapkan bahwa Allah dapat dilihat (di akhirat), serta menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya, bukan makhluk dan tidak terpisah dari-Nya.Hal ini menjadi dalil dari dua sisi:Pertama, dari sisi ijmak salaf; karena tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesalahan pada perkara cabang (furu‘), maka bagaimana mungkin dalam perkara pokok (ushul)?Kedua, karena mereka berpendapat sesuai dengan makna dan kandungan nash-nash tersebut, dan tidak memahaminya dengan makna yang bertentangan dengannya.”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar,صنّف الحافظ الكبير أبو القاسم سليمان بن أحمد بن أيّوب اللخميّ الشاميّ نزيل أصبهان في كتاب السنّة له باب ما جاء في استواء الله تعالى على عرشه، بائن من خلقه، فساق في الباب حديث أبي رزين العقيليّ، قلت: يا رسول الله أين كان ربّنا؟ وحديث عبد الله بن خليفة، عن عمر، في علوّ الربّ على عرشه، وحديث الأوعال، وأنّ العرش على ظهورهنّ، وأنّ الله فوقه“Al-Hafizh besar Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Asy-Syami, yang bermukim di Ashbahan, telah menyusun dalam kitabnya, As-Sunnah, satu bab tentang dalil-dalil mengenai istiwa’ Allah Ta‘ala di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.Dalam bab tersebut, beliau membawakan hadis Abu Razin Al-‘Uqaili, yang berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di mana Rabb kita?’”Beliau juga membawakan hadis Abdullah bin Khalifah dari Umar tentang ketinggian Rabb di atas Arsy-Nya, serta hadis tentang kambing-kambing gunung (hadis Al-Aw‘al), yang menyebutkan bahwa Arsy berada di atas punggung-punggung mereka dan bahwa Allah berada di atasnya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir,وقد قال الحافظ أبو القاسم الطبراني في كتاب السنة له، بعد إيراده كثيرًا من هذه الأقوال في تفسير “الصمد”: وكل هذه صحيحة، وهي صفات ربنا، عز وجل، وهو الذي يُصمَد إليه في الحوائج، وهو الذي قد انتهى سؤدده، وهو الصمد الذي لا جوف له، ولا يأكل ولا يشرب، وهو الباقي بعد خلقهAl-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabarani berkata dalam kitab As-Sunnah miliknya, setelah menyebutkan banyak pendapat dalam menafsirkan kata “Ash-Shamad”, “Semua pendapat ini sahih, dan itu merupakan sifat-sifat Rabb kita ‘Azza wa Jalla. Dialah tempat bergantung dalam segala kebutuhan. Dialah yang telah sempurna kemuliaan dan kepemimpinan-Nya. Dialah Ash-Shamad, yang tidak memiliki rongga (yakni tidak membutuhkan makan dan minum), tidak makan dan tidak minum, dan Dialah yang tetap ada setelah makhluk-Nya.”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleNamaNasabnyaKelahiran dan tahun lahirnyaAnak-anaknyaAwal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahGuru-gurunyaMurid-muridnyaPerawi terakhir darinyaBanyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAkidah dan manhajnyaNamaBeliau adalah Imam, Al-Hafizh, tsiqah (orang yang terpercaya), pengembara yang banyak bepergian, ahli perjalanan, muhaddits besar Islam, sisa generasi salaf, di antara tokoh yang berumur panjang, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lakhmi, Asy-Syami, Ath-Thabarani.NasabnyaAl-Lakhmi adalah nisbah kepada Lakhm, yaitu salah satu kabilah Arab yang berasal dari Yaman, kemudian berhijrah ke wilayah Syam dan menetap di sana. Adapun Ath-Thabarani adalah nisbah kepada Thabariyah (Tiberias), yaitu sebuah kota yang terletak di bagian timur laut Palestina. Kota tersebut berada di antara wilayah Safad, Akka, Nazaret, dan Baisan, di sisi barat Danau Thabariyah. Sejumlah ulama juga dinisbahkan kepada kota ini, dan orang yang berasal darinya disebut “Thabarani”, untuk membedakannya dari “Ath-Thabari” yang dinisbahkan kepada Thabaristan.Kelahiran dan tahun lahirnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله lahir di kota ‘Akka pada bulan Safar tahun 260 Hijriah. Ibunya berasal dari ‘Akka. Adapun asal keluarganya dari Thabariyah (Tiberias) di wilayah Syam.Anak-anaknyaAth-Thabarani memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang ber-kunyah Abu Dzarr (sama seperti kunyah kakeknya, Ahmad). Ia meriwayatkan hadis dari Abu ‘Ali Al-Warraq, Abu ‘Amr bin Hakim, dan Abdullah bin Ja‘far atas pilihan ayahnya رحمه الله. Putranya ini wafat pada bulan Rajab tahun 399 Hijriah, dan dimakamkan di samping kubur ayahnya رحمهما الله.Sejumlah ulama besar meriwayatkan darinya, seperti Abu ‘Ali Ar-Rustaqi, Abu Thahir bin ‘Urwah, Abu Ahmad Al-‘Aththar, ‘Ali bin Ahmad bin Mihran, Abu Sa‘d bin Qamjah, ‘Ali bin Al-Husain Al-Iskaf, ‘Ali bin Sa‘id Al-Baqqal, dan lainnya, termasuk para ulama generasi setelah mereka.Beliau juga memiliki seorang putri bernama Fatimah. Ibunya bernama Asma’ binti Ahmad bin Muhammad bin Shudrah Al-Khathib. Disebutkan bahwa Fatimah biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari, serta hanya sedikit tidur di malam hari.Awal mendengar hadis dan perjalanan ilmiahAth-Thabarani mulai mendengar hadis pada tahun 273 Hijriah. Ayahnya membawanya dalam perjalanan ilmiah dan sangat memperhatikannya dalam belajar, karena ayahnya sendiri termasuk ahli hadis dari kalangan murid Duhyaim. Perjalanan ilmiahnya dimulai pada tahun 275 Hijriah. Ia terus melakukan perjalanan dan bertemu para ulama selama 16 tahun.Imam Ath-Thabarani رحمه الله mendengar hadis di berbagai negeri, di antaranya: di dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah), Yaman, kota-kota di wilayah Syam, Mesir, Baghdad, Kufah, Bashrah, Ashbahan, Khuzistan, dan selainnya. Kemudian beliau menetap di Ashbahan dan tinggal di sana sekitar enam puluh tahun, menyebarkan ilmu dan menyusun karya-karya ilmiah.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وإنما وصل إلى العراق بعد فراغه من مصر والشام والحجاز واليمن، وإلا فلو قصد العراق أولا لأدرك إسناداً عظيما“Beliau sampai ke Irak setelah selesai (menimba ilmu) dari Mesir, Syam, Hijaz, dan Yaman. Seandainya beliau menuju Irak terlebih dahulu, niscaya ia akan mendapatkan sanad yang sangat tinggi.”Beliau menulis hadis dari siapa saja yang ditemuinya, baik yang datang maupun yang pergi, hingga menjadi sangat unggul dalam bidang hadis. Ia mengumpulkan, menyusun, dan menulis banyak karya. Umurnya panjang, dan para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri. Ia meriwayatkan hadis dari lebih dari seribu guru.Guru-gurunyaDi antara ulama yang ia temui adalah para murid Yazid bin Harun, Ruh bin ‘Ubadah, Abu ‘Ashim, Hajjaj bin Muhammad, dan ‘Abdur Razzaq. Ia mendengar hadis dari sejumlah ulama di berbagai kota, seperti di Baitul Maqdis, Thabariyah, Qaisariyah, dan lainnya. Ia juga meriwayatkan dari tokoh-tokoh besar seperti:Abu Zur‘ah Ad-Dimasyqi;Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabari;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal;Abu Abdurrahman An-Nasa’i;dan banyak lagi ulama besar dari berbagai wilayah seperti Syam, Mesir, Baghdad, dan Makkah.Jumlah guru yang ia temui sangat banyak, mencerminkan keluasan rihlah (perjalanan ilmiah) dan kekuatan sanadnya dalam ilmu hadis.Murid-muridnyaBanyak sekali ulama yang meriwayatkan hadis dari Imam Ath-Thabarani رحمه الله. Para muhaddits berbondong-bondong datang kepadanya dari berbagai negeri untuk mengambil hadis darinya. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah: Abu Khalifah Al-Jumahi, Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah (keduanya bahkan termasuk gurunya), Ibnu Mandah, Abu Bakar bin Mardawaih, Abu Nu‘aim Al-Ashbahani, Abu Sa‘id An-Naqqasy, dan sejumlah besar ulama lainnya dari berbagai wilayah.Perawi terakhir darinyaOrang terakhir yang meriwayatkan darinya hingga wafat adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Rizhah At-Tajir, yang wafat pada tahun 440 H. Setelahnya masih ada Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Abi Bakar Adz-Dzakwani yang meriwayatkan dari Ath-Thabarani melalui ijazah hingga wafat pada tahun 442 atau 443 H.Banyaknya hadis dan besarnya minat terhadap riwayatnyaAbu Bakar bin Abi ‘Ali meriwayatkan bahwa ayahnya pernah bertanya kepada Ath-Thabarani tentang banyaknya hadis yang ia kumpulkan. Ia menjawab,كنت أنام على البواري، ثلاثين سنة“Aku tidur di atas tikar anyaman selama tiga puluh tahun.”Jawaban ini menunjukkan kesungguhan, kezuhudan, dan ketekunannya dalam menuntut dan menghimpun hadis.Hadis-hadis Ath-Thabarani terus diminati dan dicari sepanjang masa. Pada masa muridnya, Ibnu Rizhah, banyak orang belajar dan meriwayatkan darinya. Ulama seperti As-Silafi menulis dari sekitar seratus orang dari kalangan murid-murid tersebut. Demikian pula Abu Musa Al-Madini dan Abu Al-‘Ala Al-Hamadzani.Orang-orang juga berbondong-bondong mengambil riwayat dari perawi terakhir di jalur sanadnya, termasuk Fatimah Al-Jauzdaniyah yang wafat pada tahun 524 H. Para muhaddits seperti Ibnu Khalil, Adh-Dhiya’, anak-anak Al-Hafizh Abdul Ghani, dan banyak lainnya melakukan perjalanan khusus untuk mendapatkan hadis Ath-Thabarani, lalu membawanya ke Syam, meriwayatkan, dan menyebarkannya. Kemudian sanad-sanad tersebut sampai kepada para ulama besar seperti Ibnu Ja‘wan, Al-Haritsi, Al-Mizzi, Ibnu Samah, Al-Barzali, dan yang lainnya.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,وأعلى ما بقي من ذلك بالاتصال (معجمه الصغير)، فلا تفوتوه رحمكم الله“Riwayat tertinggi yang masih tersambung (sanadnya) darinya adalah Al-Mu‘jam Ash-Shaghir. Maka janganlah kalian melewatkannya, semoga Allah merahmati kalian.”Baca juga: Biografi Imam Al-QurthubiAkidah dan manhajnyaImam Ath-Thabarani رحمه الله berada di atas akidah Ahlul Hadits, mengikuti jejak atsar dan manhaj para salafus shalih. Di antara karya beliau dalam bidang akidah adalah kitabnya yang berjudul Syarh Kitab As-Sunnah (atau disebut juga: Sya‘r Kitab As-Sunnah), yang merupakan salah satu kitab akidah yang disusun berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah dan para salaf. Meskipun kitab tersebut kini telah hilang, para ulama terdahulu sempat melihat dan mengenalnya. Kitab itu termasuk karya besar.Al-Hafizh Ibnu Mandah berkata dalam biografinya tentang Al-Hafizh Ath-Thabarani,شعر كتاب السنّة عشرة أجزاء“Kitab As-Sunnah (karya beliau) terdiri dari sepuluh juz (bagian).”Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wan-Naql,ومن تدبّر الكتب المصنّفة في آثار الصحابة والتابعين، بل المصنّفة في السنّة، مثل “كتاب السنّة والردّ على الجهميّة” للأثرم ولعبد الله بن أحمد… وشعر أبي القاسم الطبرانيّ وأبي الشيخ الأصبهاني…. وأضعاف هؤلاء رأى في ذلك من الآثار الثابتة المتواترة عن الصحابة والتابعين ما يعلم منه بالاضطرار أنّ الصحابة والتابعين كانوا يقولون بما يوافق مقتضى هذه ومدلولها، وأنّهم كانوا على قول أهل الإثبات المثبتين لعلوّ الله نفسه على خلقه، المثبتين لرؤيته، القائلين بأنّ القرآن كلامه ليس بمخلوق بائن عنه، وهذا يصير دليلًا من وجهين؛ أحدهما من جهة إجماع السلف؛ فإنّه يمتنع أن يجمعوا في الفروع على خطأ، فكيف في الأصول؟ الثاني من جهة أنّهم كانوا يقولون بما يوافق مدلول النصوص ومفهومها لا يفهمون منها ما يناقض ذلك“Barang siapa yang menelaah kitab-kitab yang disusun tentang atsar para sahabat dan tabi‘in, bahkan kitab-kitab yang disusun dalam masalah Sunah, seperti Kitab As-Sunnah wa Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah karya Al-Atsram dan Abdullah bin Ahmad… serta karya Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Syaikh Al-Ashbahani… dan yang semisal mereka dalam jumlah yang banyak, niscaya ia akan menemukan di dalamnya atsar-atsar yang sahih dan mutawatir dari para sahabat dan tabi‘in.Dari situ dapat dipastikan secara pasti (tanpa ragu) bahwa para sahabat dan tabi‘in berpendapat sesuai dengan kandungan dan makna dalil-dalil tersebut. Mereka berada di atas pendapat Ahlul Itsbat (orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah), yang menetapkan ketinggian Allah atas makhluk-Nya, menetapkan bahwa Allah dapat dilihat (di akhirat), serta menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Nya, bukan makhluk dan tidak terpisah dari-Nya.Hal ini menjadi dalil dari dua sisi:Pertama, dari sisi ijmak salaf; karena tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesalahan pada perkara cabang (furu‘), maka bagaimana mungkin dalam perkara pokok (ushul)?Kedua, karena mereka berpendapat sesuai dengan makna dan kandungan nash-nash tersebut, dan tidak memahaminya dengan makna yang bertentangan dengannya.”Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar,صنّف الحافظ الكبير أبو القاسم سليمان بن أحمد بن أيّوب اللخميّ الشاميّ نزيل أصبهان في كتاب السنّة له باب ما جاء في استواء الله تعالى على عرشه، بائن من خلقه، فساق في الباب حديث أبي رزين العقيليّ، قلت: يا رسول الله أين كان ربّنا؟ وحديث عبد الله بن خليفة، عن عمر، في علوّ الربّ على عرشه، وحديث الأوعال، وأنّ العرش على ظهورهنّ، وأنّ الله فوقه“Al-Hafizh besar Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Asy-Syami, yang bermukim di Ashbahan, telah menyusun dalam kitabnya, As-Sunnah, satu bab tentang dalil-dalil mengenai istiwa’ Allah Ta‘ala di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.Dalam bab tersebut, beliau membawakan hadis Abu Razin Al-‘Uqaili, yang berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di mana Rabb kita?’”Beliau juga membawakan hadis Abdullah bin Khalifah dari Umar tentang ketinggian Rabb di atas Arsy-Nya, serta hadis tentang kambing-kambing gunung (hadis Al-Aw‘al), yang menyebutkan bahwa Arsy berada di atas punggung-punggung mereka dan bahwa Allah berada di atasnya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir,وقد قال الحافظ أبو القاسم الطبراني في كتاب السنة له، بعد إيراده كثيرًا من هذه الأقوال في تفسير “الصمد”: وكل هذه صحيحة، وهي صفات ربنا، عز وجل، وهو الذي يُصمَد إليه في الحوائج، وهو الذي قد انتهى سؤدده، وهو الصمد الذي لا جوف له، ولا يأكل ولا يشرب، وهو الباقي بعد خلقهAl-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabarani berkata dalam kitab As-Sunnah miliknya, setelah menyebutkan banyak pendapat dalam menafsirkan kata “Ash-Shamad”, “Semua pendapat ini sahih, dan itu merupakan sifat-sifat Rabb kita ‘Azza wa Jalla. Dialah tempat bergantung dalam segala kebutuhan. Dialah yang telah sempurna kemuliaan dan kepemimpinan-Nya. Dialah Ash-Shamad, yang tidak memiliki rongga (yakni tidak membutuhkan makan dan minum), tidak makan dan tidak minum, dan Dialah yang tetap ada setelah makhluk-Nya.”[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Prev     Next