Risalah untuk Setiap Orang yang Kehilangan Arah dan Terbelenggu Candu

Oleh: Adnan bin Salman Ad-Duraiwisy Wahai kawanku! Ketahuilah mungkin engkau menemukan risalah ini ketika sedang di persimpangan jalan, atau di atas jalan yang engkau rasa tidak sesuai dengan dirimu, atau langkah-langkahmu di sana terasa begitu berat, mungkin karena cahaya yang redup, pemandangan yang kabur, dan engkau mendengar kebisingan yang memecah fokus hati dan akalmu. Namun, izinkan saya untuk mengatakan kepadamu dengan penuh ketulusan: Kecanduanmu ini bukanlah akhir dari perjalanan, tapi justru bisa jadi menjadi awal pencarian sejati tentang dirimu. Hilang arah bukan kelemahan, tapi fase yang dilalui oleh setiap orang yang mencari kebenaran. Yang paling penting adalah engkau tidak menyerah dengan perasaan ini dan memulai perjalanan ‘kembali’ setapak demi setapak. Wahai kawanku! Saya tidak lebih baik darimu. Bisa jadi saya juga pernah melewati jalan yang engkau lewati sekarang, atau mirip dengan itu. Saya juga mengenal kegelapan malam, perasaan berdosa, dan jiwa yang terus melawan tapi tidak kunjung menang. Namun, saya menulis risalah ini hari ini untuk mengatakan kepadamu: “Engkau masih hidup, maka kesempatan juga masih ada!” Untuk setiap orang yang mengira tidak mampu berubah: Jangan percaya bahwa kebiasaan burukmu itu lebih kuat darimu! Jangan percaya bahwa setan akan selalu menang! Jangan percaya bahwa setelah ini Allah tidak akan menginginkanmu lagi! Karena seandainya Dia tidak menginginkanmu, niscaya Dia tidak akan membuat hatimu terasa sakit, matamu menangis, dan jiwamu merindukan kesucian. Untuk setiap orang yang terjerumus ke dalam kelalaian: Berapa kali engkau bertaubat lalu kembali melakukan dosa yang sama? Tiga kali? Sepuluh kali? Seratus kali? Itu semua tidak penting! Demi Allah, tidak penting! Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). Ini bukanlah seruan untuk meremehkan dosa, tapi seruan untuk kembali ke jalan yang benar sebanyak apa pun engkau terjatuh. Wahai kawanku! Untuk hati yang lelah dengan kecanduan: Apakah engkau ingat kapan terakhir kali merasakan kejernihan hati? Kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kedamaian jiwa? Apakah engkau merindukan itu? Apabila engkau jawab: “Ya!” maka ketahuilah bahwa kerinduan itu sendiri adalah awal untuk kembali. Wahai kawanku! Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membencimu, meskipun terkadang engkau membenci diri sendiri. Mungkin manusia terkadang berprasangka buruk terhadapmu, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui ketulusan niatmu, dan masa lalumu tidak menghalangi masa depanmu selagi engkau mau beranjak saat ini. Wahai kawanku! Ingatlah selalu bahwa engkau memiliki alat terkuat untuk berubah, yaitu keinginan dan tekadmu untuk berubah. Oleh sebab itu, tenanglah! Pikirkan cara agar menjadi lebih baik! Tanyakan pada dirimu sendiri: “Apa nilai yang telah hilang dari diriku saat ini? Apakah ketenangan? Ataukah keyakinan? Berusahalah untuk mengembalikan nilai ini, dan ingatlah bahwa rintangan terbesar ketika hilang arah adalah kesendirian. Oleh sebab itu, carilah dengan tulus seorang teman yang baik yang mau mengiringimu, atau komunitas yang mendorongku menuju kebaikan. Seorang muslim akan kuat dengan saudara-saudaranya, dan menjadi lemah dengan kesendiriannya. Wahai kawanku! Jangan jadikan fokusmu hanya pada “meninggalkan yang salah” tapi fokuslah pada “membangun yang benar”. Isilah hidupmu dengan hal yang layak bagimu, dengan sesuatu yang selaras dengan fitrahmu yang lurus. Dalamilah sesuatu yang engkau sukai atau butuhkan, seperti membaca dan melatih keterampilan. Proses mendalami sesuatu ini akan memberimu target harian dan mengembalikan penghargaan dirimu terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa ‘kembali’ bukanlah garis lurus, tapi jalan berliku, mungkin kamu akan terpeleset, gagal, dan bahkan kembali ke titik awal. Namun, jangan jadikan kemunduran itu membuatmu berhenti sepenuhnya. Ingatlah bahwa taubat adalah jalan kembali setelah terjatuh, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mencintai orang-orang yang bertaubat, yang selalu kembali kepada-Nya setiap kali tersesat. Wahai kawanku! Angkatlah kepalamu! Nyalakan tekadmu! Dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ketahuilah bahwa jalan ini jelas, yang engkau butuhkan hanyalah mengambil keputusan untuk kembali saat ini juga. Engkau bukannya lemah, hanya saja membutuhkan kompas yang diatur ulang arahnya, dan kompas itu ada di tanganmu! Wahai kawanku! Engkau membutuhkan ketulusan dalam melangkah, rencana jelas untuk memulainya, sosok yang engkau percaya untuk menemani jalanmu, kesabaran atas kemunduran yang terus terulang, dan doa yang tidak pernah putus: “Ya Tuhanku! Bantulah aku!” Oleh karena itu, bangkitlah saat ini juga! Bahkan seandainya baru tadi malam engkau terperosok, tetap mulailah sekarang juga meski hanya dengan satu langkah pertama. Wahai kawanku! Risalah ini tidak saya tulis untuk mengajarimu saja, tapi saya katakan kepadamu: “Aku bersamamu, memahamimu, dan percaya bahwa engkau mampu berubah!” percayalah kepadaku bahwa perubahan tidak sesulit yang engkau kira. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan taufik kepadamu dan meneguhkan setiap langkahmu! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/180642/رسالة-إلى-كل-تائه-أو-مدمن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 341 times, 1 visit(s) today Post Views: 124

Risalah untuk Setiap Orang yang Kehilangan Arah dan Terbelenggu Candu

Oleh: Adnan bin Salman Ad-Duraiwisy Wahai kawanku! Ketahuilah mungkin engkau menemukan risalah ini ketika sedang di persimpangan jalan, atau di atas jalan yang engkau rasa tidak sesuai dengan dirimu, atau langkah-langkahmu di sana terasa begitu berat, mungkin karena cahaya yang redup, pemandangan yang kabur, dan engkau mendengar kebisingan yang memecah fokus hati dan akalmu. Namun, izinkan saya untuk mengatakan kepadamu dengan penuh ketulusan: Kecanduanmu ini bukanlah akhir dari perjalanan, tapi justru bisa jadi menjadi awal pencarian sejati tentang dirimu. Hilang arah bukan kelemahan, tapi fase yang dilalui oleh setiap orang yang mencari kebenaran. Yang paling penting adalah engkau tidak menyerah dengan perasaan ini dan memulai perjalanan ‘kembali’ setapak demi setapak. Wahai kawanku! Saya tidak lebih baik darimu. Bisa jadi saya juga pernah melewati jalan yang engkau lewati sekarang, atau mirip dengan itu. Saya juga mengenal kegelapan malam, perasaan berdosa, dan jiwa yang terus melawan tapi tidak kunjung menang. Namun, saya menulis risalah ini hari ini untuk mengatakan kepadamu: “Engkau masih hidup, maka kesempatan juga masih ada!” Untuk setiap orang yang mengira tidak mampu berubah: Jangan percaya bahwa kebiasaan burukmu itu lebih kuat darimu! Jangan percaya bahwa setan akan selalu menang! Jangan percaya bahwa setelah ini Allah tidak akan menginginkanmu lagi! Karena seandainya Dia tidak menginginkanmu, niscaya Dia tidak akan membuat hatimu terasa sakit, matamu menangis, dan jiwamu merindukan kesucian. Untuk setiap orang yang terjerumus ke dalam kelalaian: Berapa kali engkau bertaubat lalu kembali melakukan dosa yang sama? Tiga kali? Sepuluh kali? Seratus kali? Itu semua tidak penting! Demi Allah, tidak penting! Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). Ini bukanlah seruan untuk meremehkan dosa, tapi seruan untuk kembali ke jalan yang benar sebanyak apa pun engkau terjatuh. Wahai kawanku! Untuk hati yang lelah dengan kecanduan: Apakah engkau ingat kapan terakhir kali merasakan kejernihan hati? Kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kedamaian jiwa? Apakah engkau merindukan itu? Apabila engkau jawab: “Ya!” maka ketahuilah bahwa kerinduan itu sendiri adalah awal untuk kembali. Wahai kawanku! Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membencimu, meskipun terkadang engkau membenci diri sendiri. Mungkin manusia terkadang berprasangka buruk terhadapmu, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui ketulusan niatmu, dan masa lalumu tidak menghalangi masa depanmu selagi engkau mau beranjak saat ini. Wahai kawanku! Ingatlah selalu bahwa engkau memiliki alat terkuat untuk berubah, yaitu keinginan dan tekadmu untuk berubah. Oleh sebab itu, tenanglah! Pikirkan cara agar menjadi lebih baik! Tanyakan pada dirimu sendiri: “Apa nilai yang telah hilang dari diriku saat ini? Apakah ketenangan? Ataukah keyakinan? Berusahalah untuk mengembalikan nilai ini, dan ingatlah bahwa rintangan terbesar ketika hilang arah adalah kesendirian. Oleh sebab itu, carilah dengan tulus seorang teman yang baik yang mau mengiringimu, atau komunitas yang mendorongku menuju kebaikan. Seorang muslim akan kuat dengan saudara-saudaranya, dan menjadi lemah dengan kesendiriannya. Wahai kawanku! Jangan jadikan fokusmu hanya pada “meninggalkan yang salah” tapi fokuslah pada “membangun yang benar”. Isilah hidupmu dengan hal yang layak bagimu, dengan sesuatu yang selaras dengan fitrahmu yang lurus. Dalamilah sesuatu yang engkau sukai atau butuhkan, seperti membaca dan melatih keterampilan. Proses mendalami sesuatu ini akan memberimu target harian dan mengembalikan penghargaan dirimu terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa ‘kembali’ bukanlah garis lurus, tapi jalan berliku, mungkin kamu akan terpeleset, gagal, dan bahkan kembali ke titik awal. Namun, jangan jadikan kemunduran itu membuatmu berhenti sepenuhnya. Ingatlah bahwa taubat adalah jalan kembali setelah terjatuh, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mencintai orang-orang yang bertaubat, yang selalu kembali kepada-Nya setiap kali tersesat. Wahai kawanku! Angkatlah kepalamu! Nyalakan tekadmu! Dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ketahuilah bahwa jalan ini jelas, yang engkau butuhkan hanyalah mengambil keputusan untuk kembali saat ini juga. Engkau bukannya lemah, hanya saja membutuhkan kompas yang diatur ulang arahnya, dan kompas itu ada di tanganmu! Wahai kawanku! Engkau membutuhkan ketulusan dalam melangkah, rencana jelas untuk memulainya, sosok yang engkau percaya untuk menemani jalanmu, kesabaran atas kemunduran yang terus terulang, dan doa yang tidak pernah putus: “Ya Tuhanku! Bantulah aku!” Oleh karena itu, bangkitlah saat ini juga! Bahkan seandainya baru tadi malam engkau terperosok, tetap mulailah sekarang juga meski hanya dengan satu langkah pertama. Wahai kawanku! Risalah ini tidak saya tulis untuk mengajarimu saja, tapi saya katakan kepadamu: “Aku bersamamu, memahamimu, dan percaya bahwa engkau mampu berubah!” percayalah kepadaku bahwa perubahan tidak sesulit yang engkau kira. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan taufik kepadamu dan meneguhkan setiap langkahmu! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/180642/رسالة-إلى-كل-تائه-أو-مدمن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 341 times, 1 visit(s) today Post Views: 124
Oleh: Adnan bin Salman Ad-Duraiwisy Wahai kawanku! Ketahuilah mungkin engkau menemukan risalah ini ketika sedang di persimpangan jalan, atau di atas jalan yang engkau rasa tidak sesuai dengan dirimu, atau langkah-langkahmu di sana terasa begitu berat, mungkin karena cahaya yang redup, pemandangan yang kabur, dan engkau mendengar kebisingan yang memecah fokus hati dan akalmu. Namun, izinkan saya untuk mengatakan kepadamu dengan penuh ketulusan: Kecanduanmu ini bukanlah akhir dari perjalanan, tapi justru bisa jadi menjadi awal pencarian sejati tentang dirimu. Hilang arah bukan kelemahan, tapi fase yang dilalui oleh setiap orang yang mencari kebenaran. Yang paling penting adalah engkau tidak menyerah dengan perasaan ini dan memulai perjalanan ‘kembali’ setapak demi setapak. Wahai kawanku! Saya tidak lebih baik darimu. Bisa jadi saya juga pernah melewati jalan yang engkau lewati sekarang, atau mirip dengan itu. Saya juga mengenal kegelapan malam, perasaan berdosa, dan jiwa yang terus melawan tapi tidak kunjung menang. Namun, saya menulis risalah ini hari ini untuk mengatakan kepadamu: “Engkau masih hidup, maka kesempatan juga masih ada!” Untuk setiap orang yang mengira tidak mampu berubah: Jangan percaya bahwa kebiasaan burukmu itu lebih kuat darimu! Jangan percaya bahwa setan akan selalu menang! Jangan percaya bahwa setelah ini Allah tidak akan menginginkanmu lagi! Karena seandainya Dia tidak menginginkanmu, niscaya Dia tidak akan membuat hatimu terasa sakit, matamu menangis, dan jiwamu merindukan kesucian. Untuk setiap orang yang terjerumus ke dalam kelalaian: Berapa kali engkau bertaubat lalu kembali melakukan dosa yang sama? Tiga kali? Sepuluh kali? Seratus kali? Itu semua tidak penting! Demi Allah, tidak penting! Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). Ini bukanlah seruan untuk meremehkan dosa, tapi seruan untuk kembali ke jalan yang benar sebanyak apa pun engkau terjatuh. Wahai kawanku! Untuk hati yang lelah dengan kecanduan: Apakah engkau ingat kapan terakhir kali merasakan kejernihan hati? Kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kedamaian jiwa? Apakah engkau merindukan itu? Apabila engkau jawab: “Ya!” maka ketahuilah bahwa kerinduan itu sendiri adalah awal untuk kembali. Wahai kawanku! Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membencimu, meskipun terkadang engkau membenci diri sendiri. Mungkin manusia terkadang berprasangka buruk terhadapmu, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui ketulusan niatmu, dan masa lalumu tidak menghalangi masa depanmu selagi engkau mau beranjak saat ini. Wahai kawanku! Ingatlah selalu bahwa engkau memiliki alat terkuat untuk berubah, yaitu keinginan dan tekadmu untuk berubah. Oleh sebab itu, tenanglah! Pikirkan cara agar menjadi lebih baik! Tanyakan pada dirimu sendiri: “Apa nilai yang telah hilang dari diriku saat ini? Apakah ketenangan? Ataukah keyakinan? Berusahalah untuk mengembalikan nilai ini, dan ingatlah bahwa rintangan terbesar ketika hilang arah adalah kesendirian. Oleh sebab itu, carilah dengan tulus seorang teman yang baik yang mau mengiringimu, atau komunitas yang mendorongku menuju kebaikan. Seorang muslim akan kuat dengan saudara-saudaranya, dan menjadi lemah dengan kesendiriannya. Wahai kawanku! Jangan jadikan fokusmu hanya pada “meninggalkan yang salah” tapi fokuslah pada “membangun yang benar”. Isilah hidupmu dengan hal yang layak bagimu, dengan sesuatu yang selaras dengan fitrahmu yang lurus. Dalamilah sesuatu yang engkau sukai atau butuhkan, seperti membaca dan melatih keterampilan. Proses mendalami sesuatu ini akan memberimu target harian dan mengembalikan penghargaan dirimu terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa ‘kembali’ bukanlah garis lurus, tapi jalan berliku, mungkin kamu akan terpeleset, gagal, dan bahkan kembali ke titik awal. Namun, jangan jadikan kemunduran itu membuatmu berhenti sepenuhnya. Ingatlah bahwa taubat adalah jalan kembali setelah terjatuh, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mencintai orang-orang yang bertaubat, yang selalu kembali kepada-Nya setiap kali tersesat. Wahai kawanku! Angkatlah kepalamu! Nyalakan tekadmu! Dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ketahuilah bahwa jalan ini jelas, yang engkau butuhkan hanyalah mengambil keputusan untuk kembali saat ini juga. Engkau bukannya lemah, hanya saja membutuhkan kompas yang diatur ulang arahnya, dan kompas itu ada di tanganmu! Wahai kawanku! Engkau membutuhkan ketulusan dalam melangkah, rencana jelas untuk memulainya, sosok yang engkau percaya untuk menemani jalanmu, kesabaran atas kemunduran yang terus terulang, dan doa yang tidak pernah putus: “Ya Tuhanku! Bantulah aku!” Oleh karena itu, bangkitlah saat ini juga! Bahkan seandainya baru tadi malam engkau terperosok, tetap mulailah sekarang juga meski hanya dengan satu langkah pertama. Wahai kawanku! Risalah ini tidak saya tulis untuk mengajarimu saja, tapi saya katakan kepadamu: “Aku bersamamu, memahamimu, dan percaya bahwa engkau mampu berubah!” percayalah kepadaku bahwa perubahan tidak sesulit yang engkau kira. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan taufik kepadamu dan meneguhkan setiap langkahmu! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/180642/رسالة-إلى-كل-تائه-أو-مدمن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 341 times, 1 visit(s) today Post Views: 124


Oleh: Adnan bin Salman Ad-Duraiwisy Wahai kawanku! Ketahuilah mungkin engkau menemukan risalah ini ketika sedang di persimpangan jalan, atau di atas jalan yang engkau rasa tidak sesuai dengan dirimu, atau langkah-langkahmu di sana terasa begitu berat, mungkin karena cahaya yang redup, pemandangan yang kabur, dan engkau mendengar kebisingan yang memecah fokus hati dan akalmu. Namun, izinkan saya untuk mengatakan kepadamu dengan penuh ketulusan: Kecanduanmu ini bukanlah akhir dari perjalanan, tapi justru bisa jadi menjadi awal pencarian sejati tentang dirimu. Hilang arah bukan kelemahan, tapi fase yang dilalui oleh setiap orang yang mencari kebenaran. Yang paling penting adalah engkau tidak menyerah dengan perasaan ini dan memulai perjalanan ‘kembali’ setapak demi setapak. Wahai kawanku! Saya tidak lebih baik darimu. Bisa jadi saya juga pernah melewati jalan yang engkau lewati sekarang, atau mirip dengan itu. Saya juga mengenal kegelapan malam, perasaan berdosa, dan jiwa yang terus melawan tapi tidak kunjung menang. Namun, saya menulis risalah ini hari ini untuk mengatakan kepadamu: “Engkau masih hidup, maka kesempatan juga masih ada!” Untuk setiap orang yang mengira tidak mampu berubah: Jangan percaya bahwa kebiasaan burukmu itu lebih kuat darimu! Jangan percaya bahwa setan akan selalu menang! Jangan percaya bahwa setelah ini Allah tidak akan menginginkanmu lagi! Karena seandainya Dia tidak menginginkanmu, niscaya Dia tidak akan membuat hatimu terasa sakit, matamu menangis, dan jiwamu merindukan kesucian. Untuk setiap orang yang terjerumus ke dalam kelalaian: Berapa kali engkau bertaubat lalu kembali melakukan dosa yang sama? Tiga kali? Sepuluh kali? Seratus kali? Itu semua tidak penting! Demi Allah, tidak penting! Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). Ini bukanlah seruan untuk meremehkan dosa, tapi seruan untuk kembali ke jalan yang benar sebanyak apa pun engkau terjatuh. Wahai kawanku! Untuk hati yang lelah dengan kecanduan: Apakah engkau ingat kapan terakhir kali merasakan kejernihan hati? Kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kedamaian jiwa? Apakah engkau merindukan itu? Apabila engkau jawab: “Ya!” maka ketahuilah bahwa kerinduan itu sendiri adalah awal untuk kembali. Wahai kawanku! Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membencimu, meskipun terkadang engkau membenci diri sendiri. Mungkin manusia terkadang berprasangka buruk terhadapmu, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui ketulusan niatmu, dan masa lalumu tidak menghalangi masa depanmu selagi engkau mau beranjak saat ini. Wahai kawanku! Ingatlah selalu bahwa engkau memiliki alat terkuat untuk berubah, yaitu keinginan dan tekadmu untuk berubah. Oleh sebab itu, tenanglah! Pikirkan cara agar menjadi lebih baik! Tanyakan pada dirimu sendiri: “Apa nilai yang telah hilang dari diriku saat ini? Apakah ketenangan? Ataukah keyakinan? Berusahalah untuk mengembalikan nilai ini, dan ingatlah bahwa rintangan terbesar ketika hilang arah adalah kesendirian. Oleh sebab itu, carilah dengan tulus seorang teman yang baik yang mau mengiringimu, atau komunitas yang mendorongku menuju kebaikan. Seorang muslim akan kuat dengan saudara-saudaranya, dan menjadi lemah dengan kesendiriannya. Wahai kawanku! Jangan jadikan fokusmu hanya pada “meninggalkan yang salah” tapi fokuslah pada “membangun yang benar”. Isilah hidupmu dengan hal yang layak bagimu, dengan sesuatu yang selaras dengan fitrahmu yang lurus. Dalamilah sesuatu yang engkau sukai atau butuhkan, seperti membaca dan melatih keterampilan. Proses mendalami sesuatu ini akan memberimu target harian dan mengembalikan penghargaan dirimu terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa ‘kembali’ bukanlah garis lurus, tapi jalan berliku, mungkin kamu akan terpeleset, gagal, dan bahkan kembali ke titik awal. Namun, jangan jadikan kemunduran itu membuatmu berhenti sepenuhnya. Ingatlah bahwa taubat adalah jalan kembali setelah terjatuh, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mencintai orang-orang yang bertaubat, yang selalu kembali kepada-Nya setiap kali tersesat. Wahai kawanku! Angkatlah kepalamu! Nyalakan tekadmu! Dan bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ketahuilah bahwa jalan ini jelas, yang engkau butuhkan hanyalah mengambil keputusan untuk kembali saat ini juga. Engkau bukannya lemah, hanya saja membutuhkan kompas yang diatur ulang arahnya, dan kompas itu ada di tanganmu! Wahai kawanku! Engkau membutuhkan ketulusan dalam melangkah, rencana jelas untuk memulainya, sosok yang engkau percaya untuk menemani jalanmu, kesabaran atas kemunduran yang terus terulang, dan doa yang tidak pernah putus: “Ya Tuhanku! Bantulah aku!” Oleh karena itu, bangkitlah saat ini juga! Bahkan seandainya baru tadi malam engkau terperosok, tetap mulailah sekarang juga meski hanya dengan satu langkah pertama. Wahai kawanku! Risalah ini tidak saya tulis untuk mengajarimu saja, tapi saya katakan kepadamu: “Aku bersamamu, memahamimu, dan percaya bahwa engkau mampu berubah!” percayalah kepadaku bahwa perubahan tidak sesulit yang engkau kira. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan taufik kepadamu dan meneguhkan setiap langkahmu! Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/180642/رسالة-إلى-كل-تائه-أو-مدمن/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 341 times, 1 visit(s) today Post Views: 124

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 32): Rahasia Fi‘il Setelah أَنْ Kadang Marfu’, Kadang Manshub

Daftar Isi ToggleKeadaan pertamaKeadaan keduaPendapat pertamaPendapat keduaKeadaan ketigaHuruf أَنْ dalam ilmu nahwu memiliki beberapa keadaan dan hukum yang berbeda. Terkadang fi‘il mudhari’ setelahnya dibaca marfu’, dan terkadang dibaca manshub. Pembahasan ini menjelaskan perbedaan tersebut beserta contoh-contohnya dalam Al-Qur’an dan penjelasan para ulama nahwu.Keadaan pertamaKeadaan pertama terjadi ketika huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin dan kepastian terjadinya sesuatu. Contohnya seperti kata عَلِمَ dan أَيْقَنَ serta kata-kata lain yang memiliki makna serupa.Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ disebut sebagai an al-mukhaffafah min ats-tsaqilah, yaitu bentuk ringan dari huruf أَنَّ. Maksud dari takhfif adalah meringankan bacaan, sehingga huruf أَنَّ berubah menjadi أَنْ. Walaupun mengalami peringanan, huruf tersebut tetap memiliki fungsi sebagaimana أَنَّ karena termasuk akhawatu inna atau saudara-saudara إِنَّ. Oleh sebab itu, huruf tersebut tetap beramal me-nashab-kan isim dan me-rafa’-kan khabar.Para ulama nahwu menjelaskan bahwa an al-mukhaffafah memiliki tiga hukum penting.Hukum pertama, isim dari أَنْ yang merupakan bentuk takhfif dari أَنَّ adalah dhamir sya’n mahzuf, yaitu dhamir yang dihapus dan tidak dimunculkan dalam kalimat. Dhamir sya’n merupakan dhamir yang terletak di awal kalimat dan berfungsi menjelaskan kandungan atau persoalan yang terdapat dalam kalimat tersebut. Disebut dhamir sya’n karena dhamir tersebut melambangkan suatu keadaan atau kandungan makna kalimat.Pada umumnya, dhamir kembali kepada kata sebelumnya. Akan tetapi, dhamir sya’n justru kembali kepada kalimat setelahnya. Oleh karena itu, dhamir ini berkedudukan sebagai mubtada atau sebagai isim-nya, seperti إِنَّ dan saudara-saudaranya maupun كَانَ dan saudara-saudaranya. Bentuk dhamir sya’n hanya berupa هُوَ dan هِيَ saja, sehingga tidak memiliki bentuk mutsanna ataupun jama’ .Hukum kedua, huruf أَنْ tersebut me-rafa’-kan fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.Hukum ketiga, antara huruf أَنْ dan fi‘il mudhari setelahnya terdapat pemisah. Para ulama menyebutkan bahwa pemisah tersebut ada empat macam, yaitu huruf قَدْ, huruf س atau سَوْفَ, huruf penafian seperti لَا, لَنْ, dan لَمْ, serta huruf لَوْ.Contohnya adalah kalimat:أَيْقَنْتُ أَنْ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ“Aku yakin bahwa orang zalim akan menyesal.”Pada contoh di atas, kata أَنْ merupakan an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Adapun isim dari أَنَّ tersebut adalah dhamir sya’n yang dihapus. Taqdir lengkapnya ialah:أَيْقَنْتُ أَنَّهُ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُKata أَنَّهُ tidak dituliskan dalam kalimat karena telah dihapus secara taqdir. Yang dimaksud dengan dhamir tersebut adalah keadaan atau persoalan bahwa orang zalim itu akan menyesal.Adapun jumlah:سَيَنْدَمُ الظَّالِمُberkedudukan sebagai khabar dari isim yang dihapus tersebut.Contoh lain terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ“Allah mengetahui bahwa di antara kalian ada yang sakit.” (QS. Al-Muzzammil: 20)Pada ayat tersebut, kata أَنْ termasuk an al-mukhaffafah. Isim-nya berupa dhamir sya’n yang dihapuskan. Bentuk lengkapnya adalah:عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰHuruf س pada kata سَيَكُونُ disebut huruf tanfis istiqbal, yaitu huruf yang menunjukkan makna “akan”.Adapun kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari‘ naqish dari kana. Fungsinya ialah me-rafa‘-kan isim dan me-nashab-kan khabar.Penjelasan i‘rab pada kalimat tersebut adalah bahwa kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari naqish dari kana yang berfungsi merafakkan isim dan me-nashab-kan khabar. Isim dari fi‘il tersebut berupa dhamir mustatir yang kembali kepada kata مَرْضَىٰ. Adapun kata مِنْكُمْ berkedudukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata مَرْضَىٰ merupakan isim mu’akhkhar yang diakhirkan penyebutannya dalam susunan kalimat.Jumlah:سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰmenjadi khabar bagi isim أَنْ yang dihapus adapun أَنْ سَيَكُونُ ditakwil menjadi maṣdar mu’awwal yang berkedudukan sebagai maf‘ul bih dari kata عَلِمَ.Keadaan keduaKeadaan kedua أَنْ al-mukhaffafah ialah ketika didahului kata yang mengandung makna prasangka atau dugaan kuat, seperti: ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ. Ketiga kata tersebut memiliki makna “menyangka” atau “mengira”.Dalam kondisi ini, para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai kedudukan أَنْ.Pendapat pertamaSebagian ulama berpendapat bahwa أَنْ tersebut adalah an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Oleh karena itu, fi‘il mudhari‘ setelahnya dibaca marfu’.Contohnya terdapat pada firman Allah Ta‘ala,وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (bagi mereka).” (QS. Al-Ma’idah: 71)Menurut imam qira’at Abu Amr al-Hamzah dan Al-Kisa’i, kata تَكُونَ dibaca marfu’ karena أَنْ dianggap sebagai bentuk takhfif dari أَنَّ.Taqdir lengkapnya ialah:أَنَّهُ لَا تَكُونُ فِتْنَةٌDengan demikian, kata حَسِبُوا tidak lagi bermakna “menyangka”, tetapi bermakna “meyakini” أَيْقَنُوا. Hal ini karena huruf أَنَّ menunjukkan makna ta’kid (penegasan), sedangkan penegasan lebih sesuai dengan makna yakin daripada prasangka.Pendapat keduaAdapun empat imam qira’at lainnya membaca تَكُونَ dengan bacaan manshub.Dalam pendapat ini, أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari‘. Oleh sebab itu, fi‘il setelahnya dibaca manshub. Berdasarkan pendapat ini, kata حَسِبُوا tetap pada makna asalnya, yaitu “berprasangka” atau “ragu-ragu”. Sebab أَنْ di sini tidak berfungsi sebagai huruf penegas ta’kid, melainkan hanya sebagai huruf mashdariyyah.Pernyataan Ibnu Hisyam,فَإِنْ سُبِقَتْ بِالظَّنِّ فَوَجْهَانِ“Apabila huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna prasangka, maka terdapat dua cara pembacaan terhadap fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.”Cara pertama, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca marfu’. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Karena berasal dari أَنَّ, maka huruf tersebut tidak berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari. Dengan demikian, fi‘il mudhari setelahnya tetap dibaca marfu’.Cara kedua, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca manshub. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang memang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari.Keadaan ketigaKeadaan ketiga huruf أَنْ tidak didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin ataupun prasangka. Akan tetapi, konteks kalimat menunjukkan makna ragu-ragu, harapan, atau keinginan kuat. Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ wajib menjadi an al-mashdariyyah yang me-nashab-kan fi‘il mudhari setelahnya.Contoh kalimatnya ialah:أَرْجُو أَنْ يَنْتَصِرَ الْحَقُّ“Saya berharap kebenaran itu menang.”Pada contoh tersebut, huruf أَنْ adalah an al-mashdariyyah. Oleh karena itu, fi‘il mudhari setelahnya, yaitu يَنْتَصِرَ, dibaca manshub.Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Dan Yang sangat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 82)Pada ayat tersebut, huruf أَنْ juga termasuk an al-mashdariyyah karena menunjukkan makna harapan dan keinginan. Oleh sebab itu, fi‘il mudhari يَغْفِرَ dibaca manshub.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 31***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 32): Rahasia Fi‘il Setelah أَنْ Kadang Marfu’, Kadang Manshub

Daftar Isi ToggleKeadaan pertamaKeadaan keduaPendapat pertamaPendapat keduaKeadaan ketigaHuruf أَنْ dalam ilmu nahwu memiliki beberapa keadaan dan hukum yang berbeda. Terkadang fi‘il mudhari’ setelahnya dibaca marfu’, dan terkadang dibaca manshub. Pembahasan ini menjelaskan perbedaan tersebut beserta contoh-contohnya dalam Al-Qur’an dan penjelasan para ulama nahwu.Keadaan pertamaKeadaan pertama terjadi ketika huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin dan kepastian terjadinya sesuatu. Contohnya seperti kata عَلِمَ dan أَيْقَنَ serta kata-kata lain yang memiliki makna serupa.Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ disebut sebagai an al-mukhaffafah min ats-tsaqilah, yaitu bentuk ringan dari huruf أَنَّ. Maksud dari takhfif adalah meringankan bacaan, sehingga huruf أَنَّ berubah menjadi أَنْ. Walaupun mengalami peringanan, huruf tersebut tetap memiliki fungsi sebagaimana أَنَّ karena termasuk akhawatu inna atau saudara-saudara إِنَّ. Oleh sebab itu, huruf tersebut tetap beramal me-nashab-kan isim dan me-rafa’-kan khabar.Para ulama nahwu menjelaskan bahwa an al-mukhaffafah memiliki tiga hukum penting.Hukum pertama, isim dari أَنْ yang merupakan bentuk takhfif dari أَنَّ adalah dhamir sya’n mahzuf, yaitu dhamir yang dihapus dan tidak dimunculkan dalam kalimat. Dhamir sya’n merupakan dhamir yang terletak di awal kalimat dan berfungsi menjelaskan kandungan atau persoalan yang terdapat dalam kalimat tersebut. Disebut dhamir sya’n karena dhamir tersebut melambangkan suatu keadaan atau kandungan makna kalimat.Pada umumnya, dhamir kembali kepada kata sebelumnya. Akan tetapi, dhamir sya’n justru kembali kepada kalimat setelahnya. Oleh karena itu, dhamir ini berkedudukan sebagai mubtada atau sebagai isim-nya, seperti إِنَّ dan saudara-saudaranya maupun كَانَ dan saudara-saudaranya. Bentuk dhamir sya’n hanya berupa هُوَ dan هِيَ saja, sehingga tidak memiliki bentuk mutsanna ataupun jama’ .Hukum kedua, huruf أَنْ tersebut me-rafa’-kan fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.Hukum ketiga, antara huruf أَنْ dan fi‘il mudhari setelahnya terdapat pemisah. Para ulama menyebutkan bahwa pemisah tersebut ada empat macam, yaitu huruf قَدْ, huruf س atau سَوْفَ, huruf penafian seperti لَا, لَنْ, dan لَمْ, serta huruf لَوْ.Contohnya adalah kalimat:أَيْقَنْتُ أَنْ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ“Aku yakin bahwa orang zalim akan menyesal.”Pada contoh di atas, kata أَنْ merupakan an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Adapun isim dari أَنَّ tersebut adalah dhamir sya’n yang dihapus. Taqdir lengkapnya ialah:أَيْقَنْتُ أَنَّهُ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُKata أَنَّهُ tidak dituliskan dalam kalimat karena telah dihapus secara taqdir. Yang dimaksud dengan dhamir tersebut adalah keadaan atau persoalan bahwa orang zalim itu akan menyesal.Adapun jumlah:سَيَنْدَمُ الظَّالِمُberkedudukan sebagai khabar dari isim yang dihapus tersebut.Contoh lain terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ“Allah mengetahui bahwa di antara kalian ada yang sakit.” (QS. Al-Muzzammil: 20)Pada ayat tersebut, kata أَنْ termasuk an al-mukhaffafah. Isim-nya berupa dhamir sya’n yang dihapuskan. Bentuk lengkapnya adalah:عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰHuruf س pada kata سَيَكُونُ disebut huruf tanfis istiqbal, yaitu huruf yang menunjukkan makna “akan”.Adapun kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari‘ naqish dari kana. Fungsinya ialah me-rafa‘-kan isim dan me-nashab-kan khabar.Penjelasan i‘rab pada kalimat tersebut adalah bahwa kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari naqish dari kana yang berfungsi merafakkan isim dan me-nashab-kan khabar. Isim dari fi‘il tersebut berupa dhamir mustatir yang kembali kepada kata مَرْضَىٰ. Adapun kata مِنْكُمْ berkedudukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata مَرْضَىٰ merupakan isim mu’akhkhar yang diakhirkan penyebutannya dalam susunan kalimat.Jumlah:سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰmenjadi khabar bagi isim أَنْ yang dihapus adapun أَنْ سَيَكُونُ ditakwil menjadi maṣdar mu’awwal yang berkedudukan sebagai maf‘ul bih dari kata عَلِمَ.Keadaan keduaKeadaan kedua أَنْ al-mukhaffafah ialah ketika didahului kata yang mengandung makna prasangka atau dugaan kuat, seperti: ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ. Ketiga kata tersebut memiliki makna “menyangka” atau “mengira”.Dalam kondisi ini, para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai kedudukan أَنْ.Pendapat pertamaSebagian ulama berpendapat bahwa أَنْ tersebut adalah an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Oleh karena itu, fi‘il mudhari‘ setelahnya dibaca marfu’.Contohnya terdapat pada firman Allah Ta‘ala,وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (bagi mereka).” (QS. Al-Ma’idah: 71)Menurut imam qira’at Abu Amr al-Hamzah dan Al-Kisa’i, kata تَكُونَ dibaca marfu’ karena أَنْ dianggap sebagai bentuk takhfif dari أَنَّ.Taqdir lengkapnya ialah:أَنَّهُ لَا تَكُونُ فِتْنَةٌDengan demikian, kata حَسِبُوا tidak lagi bermakna “menyangka”, tetapi bermakna “meyakini” أَيْقَنُوا. Hal ini karena huruf أَنَّ menunjukkan makna ta’kid (penegasan), sedangkan penegasan lebih sesuai dengan makna yakin daripada prasangka.Pendapat keduaAdapun empat imam qira’at lainnya membaca تَكُونَ dengan bacaan manshub.Dalam pendapat ini, أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari‘. Oleh sebab itu, fi‘il setelahnya dibaca manshub. Berdasarkan pendapat ini, kata حَسِبُوا tetap pada makna asalnya, yaitu “berprasangka” atau “ragu-ragu”. Sebab أَنْ di sini tidak berfungsi sebagai huruf penegas ta’kid, melainkan hanya sebagai huruf mashdariyyah.Pernyataan Ibnu Hisyam,فَإِنْ سُبِقَتْ بِالظَّنِّ فَوَجْهَانِ“Apabila huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna prasangka, maka terdapat dua cara pembacaan terhadap fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.”Cara pertama, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca marfu’. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Karena berasal dari أَنَّ, maka huruf tersebut tidak berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari. Dengan demikian, fi‘il mudhari setelahnya tetap dibaca marfu’.Cara kedua, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca manshub. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang memang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari.Keadaan ketigaKeadaan ketiga huruf أَنْ tidak didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin ataupun prasangka. Akan tetapi, konteks kalimat menunjukkan makna ragu-ragu, harapan, atau keinginan kuat. Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ wajib menjadi an al-mashdariyyah yang me-nashab-kan fi‘il mudhari setelahnya.Contoh kalimatnya ialah:أَرْجُو أَنْ يَنْتَصِرَ الْحَقُّ“Saya berharap kebenaran itu menang.”Pada contoh tersebut, huruf أَنْ adalah an al-mashdariyyah. Oleh karena itu, fi‘il mudhari setelahnya, yaitu يَنْتَصِرَ, dibaca manshub.Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Dan Yang sangat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 82)Pada ayat tersebut, huruf أَنْ juga termasuk an al-mashdariyyah karena menunjukkan makna harapan dan keinginan. Oleh sebab itu, fi‘il mudhari يَغْفِرَ dibaca manshub.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 31***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKeadaan pertamaKeadaan keduaPendapat pertamaPendapat keduaKeadaan ketigaHuruf أَنْ dalam ilmu nahwu memiliki beberapa keadaan dan hukum yang berbeda. Terkadang fi‘il mudhari’ setelahnya dibaca marfu’, dan terkadang dibaca manshub. Pembahasan ini menjelaskan perbedaan tersebut beserta contoh-contohnya dalam Al-Qur’an dan penjelasan para ulama nahwu.Keadaan pertamaKeadaan pertama terjadi ketika huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin dan kepastian terjadinya sesuatu. Contohnya seperti kata عَلِمَ dan أَيْقَنَ serta kata-kata lain yang memiliki makna serupa.Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ disebut sebagai an al-mukhaffafah min ats-tsaqilah, yaitu bentuk ringan dari huruf أَنَّ. Maksud dari takhfif adalah meringankan bacaan, sehingga huruf أَنَّ berubah menjadi أَنْ. Walaupun mengalami peringanan, huruf tersebut tetap memiliki fungsi sebagaimana أَنَّ karena termasuk akhawatu inna atau saudara-saudara إِنَّ. Oleh sebab itu, huruf tersebut tetap beramal me-nashab-kan isim dan me-rafa’-kan khabar.Para ulama nahwu menjelaskan bahwa an al-mukhaffafah memiliki tiga hukum penting.Hukum pertama, isim dari أَنْ yang merupakan bentuk takhfif dari أَنَّ adalah dhamir sya’n mahzuf, yaitu dhamir yang dihapus dan tidak dimunculkan dalam kalimat. Dhamir sya’n merupakan dhamir yang terletak di awal kalimat dan berfungsi menjelaskan kandungan atau persoalan yang terdapat dalam kalimat tersebut. Disebut dhamir sya’n karena dhamir tersebut melambangkan suatu keadaan atau kandungan makna kalimat.Pada umumnya, dhamir kembali kepada kata sebelumnya. Akan tetapi, dhamir sya’n justru kembali kepada kalimat setelahnya. Oleh karena itu, dhamir ini berkedudukan sebagai mubtada atau sebagai isim-nya, seperti إِنَّ dan saudara-saudaranya maupun كَانَ dan saudara-saudaranya. Bentuk dhamir sya’n hanya berupa هُوَ dan هِيَ saja, sehingga tidak memiliki bentuk mutsanna ataupun jama’ .Hukum kedua, huruf أَنْ tersebut me-rafa’-kan fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.Hukum ketiga, antara huruf أَنْ dan fi‘il mudhari setelahnya terdapat pemisah. Para ulama menyebutkan bahwa pemisah tersebut ada empat macam, yaitu huruf قَدْ, huruf س atau سَوْفَ, huruf penafian seperti لَا, لَنْ, dan لَمْ, serta huruf لَوْ.Contohnya adalah kalimat:أَيْقَنْتُ أَنْ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ“Aku yakin bahwa orang zalim akan menyesal.”Pada contoh di atas, kata أَنْ merupakan an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Adapun isim dari أَنَّ tersebut adalah dhamir sya’n yang dihapus. Taqdir lengkapnya ialah:أَيْقَنْتُ أَنَّهُ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُKata أَنَّهُ tidak dituliskan dalam kalimat karena telah dihapus secara taqdir. Yang dimaksud dengan dhamir tersebut adalah keadaan atau persoalan bahwa orang zalim itu akan menyesal.Adapun jumlah:سَيَنْدَمُ الظَّالِمُberkedudukan sebagai khabar dari isim yang dihapus tersebut.Contoh lain terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ“Allah mengetahui bahwa di antara kalian ada yang sakit.” (QS. Al-Muzzammil: 20)Pada ayat tersebut, kata أَنْ termasuk an al-mukhaffafah. Isim-nya berupa dhamir sya’n yang dihapuskan. Bentuk lengkapnya adalah:عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰHuruf س pada kata سَيَكُونُ disebut huruf tanfis istiqbal, yaitu huruf yang menunjukkan makna “akan”.Adapun kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari‘ naqish dari kana. Fungsinya ialah me-rafa‘-kan isim dan me-nashab-kan khabar.Penjelasan i‘rab pada kalimat tersebut adalah bahwa kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari naqish dari kana yang berfungsi merafakkan isim dan me-nashab-kan khabar. Isim dari fi‘il tersebut berupa dhamir mustatir yang kembali kepada kata مَرْضَىٰ. Adapun kata مِنْكُمْ berkedudukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata مَرْضَىٰ merupakan isim mu’akhkhar yang diakhirkan penyebutannya dalam susunan kalimat.Jumlah:سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰmenjadi khabar bagi isim أَنْ yang dihapus adapun أَنْ سَيَكُونُ ditakwil menjadi maṣdar mu’awwal yang berkedudukan sebagai maf‘ul bih dari kata عَلِمَ.Keadaan keduaKeadaan kedua أَنْ al-mukhaffafah ialah ketika didahului kata yang mengandung makna prasangka atau dugaan kuat, seperti: ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ. Ketiga kata tersebut memiliki makna “menyangka” atau “mengira”.Dalam kondisi ini, para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai kedudukan أَنْ.Pendapat pertamaSebagian ulama berpendapat bahwa أَنْ tersebut adalah an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Oleh karena itu, fi‘il mudhari‘ setelahnya dibaca marfu’.Contohnya terdapat pada firman Allah Ta‘ala,وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (bagi mereka).” (QS. Al-Ma’idah: 71)Menurut imam qira’at Abu Amr al-Hamzah dan Al-Kisa’i, kata تَكُونَ dibaca marfu’ karena أَنْ dianggap sebagai bentuk takhfif dari أَنَّ.Taqdir lengkapnya ialah:أَنَّهُ لَا تَكُونُ فِتْنَةٌDengan demikian, kata حَسِبُوا tidak lagi bermakna “menyangka”, tetapi bermakna “meyakini” أَيْقَنُوا. Hal ini karena huruf أَنَّ menunjukkan makna ta’kid (penegasan), sedangkan penegasan lebih sesuai dengan makna yakin daripada prasangka.Pendapat keduaAdapun empat imam qira’at lainnya membaca تَكُونَ dengan bacaan manshub.Dalam pendapat ini, أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari‘. Oleh sebab itu, fi‘il setelahnya dibaca manshub. Berdasarkan pendapat ini, kata حَسِبُوا tetap pada makna asalnya, yaitu “berprasangka” atau “ragu-ragu”. Sebab أَنْ di sini tidak berfungsi sebagai huruf penegas ta’kid, melainkan hanya sebagai huruf mashdariyyah.Pernyataan Ibnu Hisyam,فَإِنْ سُبِقَتْ بِالظَّنِّ فَوَجْهَانِ“Apabila huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna prasangka, maka terdapat dua cara pembacaan terhadap fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.”Cara pertama, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca marfu’. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Karena berasal dari أَنَّ, maka huruf tersebut tidak berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari. Dengan demikian, fi‘il mudhari setelahnya tetap dibaca marfu’.Cara kedua, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca manshub. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang memang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari.Keadaan ketigaKeadaan ketiga huruf أَنْ tidak didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin ataupun prasangka. Akan tetapi, konteks kalimat menunjukkan makna ragu-ragu, harapan, atau keinginan kuat. Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ wajib menjadi an al-mashdariyyah yang me-nashab-kan fi‘il mudhari setelahnya.Contoh kalimatnya ialah:أَرْجُو أَنْ يَنْتَصِرَ الْحَقُّ“Saya berharap kebenaran itu menang.”Pada contoh tersebut, huruf أَنْ adalah an al-mashdariyyah. Oleh karena itu, fi‘il mudhari setelahnya, yaitu يَنْتَصِرَ, dibaca manshub.Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Dan Yang sangat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 82)Pada ayat tersebut, huruf أَنْ juga termasuk an al-mashdariyyah karena menunjukkan makna harapan dan keinginan. Oleh sebab itu, fi‘il mudhari يَغْفِرَ dibaca manshub.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 31***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKeadaan pertamaKeadaan keduaPendapat pertamaPendapat keduaKeadaan ketigaHuruf أَنْ dalam ilmu nahwu memiliki beberapa keadaan dan hukum yang berbeda. Terkadang fi‘il mudhari’ setelahnya dibaca marfu’, dan terkadang dibaca manshub. Pembahasan ini menjelaskan perbedaan tersebut beserta contoh-contohnya dalam Al-Qur’an dan penjelasan para ulama nahwu.Keadaan pertamaKeadaan pertama terjadi ketika huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin dan kepastian terjadinya sesuatu. Contohnya seperti kata عَلِمَ dan أَيْقَنَ serta kata-kata lain yang memiliki makna serupa.Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ disebut sebagai an al-mukhaffafah min ats-tsaqilah, yaitu bentuk ringan dari huruf أَنَّ. Maksud dari takhfif adalah meringankan bacaan, sehingga huruf أَنَّ berubah menjadi أَنْ. Walaupun mengalami peringanan, huruf tersebut tetap memiliki fungsi sebagaimana أَنَّ karena termasuk akhawatu inna atau saudara-saudara إِنَّ. Oleh sebab itu, huruf tersebut tetap beramal me-nashab-kan isim dan me-rafa’-kan khabar.Para ulama nahwu menjelaskan bahwa an al-mukhaffafah memiliki tiga hukum penting.Hukum pertama, isim dari أَنْ yang merupakan bentuk takhfif dari أَنَّ adalah dhamir sya’n mahzuf, yaitu dhamir yang dihapus dan tidak dimunculkan dalam kalimat. Dhamir sya’n merupakan dhamir yang terletak di awal kalimat dan berfungsi menjelaskan kandungan atau persoalan yang terdapat dalam kalimat tersebut. Disebut dhamir sya’n karena dhamir tersebut melambangkan suatu keadaan atau kandungan makna kalimat.Pada umumnya, dhamir kembali kepada kata sebelumnya. Akan tetapi, dhamir sya’n justru kembali kepada kalimat setelahnya. Oleh karena itu, dhamir ini berkedudukan sebagai mubtada atau sebagai isim-nya, seperti إِنَّ dan saudara-saudaranya maupun كَانَ dan saudara-saudaranya. Bentuk dhamir sya’n hanya berupa هُوَ dan هِيَ saja, sehingga tidak memiliki bentuk mutsanna ataupun jama’ .Hukum kedua, huruf أَنْ tersebut me-rafa’-kan fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.Hukum ketiga, antara huruf أَنْ dan fi‘il mudhari setelahnya terdapat pemisah. Para ulama menyebutkan bahwa pemisah tersebut ada empat macam, yaitu huruf قَدْ, huruf س atau سَوْفَ, huruf penafian seperti لَا, لَنْ, dan لَمْ, serta huruf لَوْ.Contohnya adalah kalimat:أَيْقَنْتُ أَنْ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ“Aku yakin bahwa orang zalim akan menyesal.”Pada contoh di atas, kata أَنْ merupakan an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Adapun isim dari أَنَّ tersebut adalah dhamir sya’n yang dihapus. Taqdir lengkapnya ialah:أَيْقَنْتُ أَنَّهُ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُKata أَنَّهُ tidak dituliskan dalam kalimat karena telah dihapus secara taqdir. Yang dimaksud dengan dhamir tersebut adalah keadaan atau persoalan bahwa orang zalim itu akan menyesal.Adapun jumlah:سَيَنْدَمُ الظَّالِمُberkedudukan sebagai khabar dari isim yang dihapus tersebut.Contoh lain terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ“Allah mengetahui bahwa di antara kalian ada yang sakit.” (QS. Al-Muzzammil: 20)Pada ayat tersebut, kata أَنْ termasuk an al-mukhaffafah. Isim-nya berupa dhamir sya’n yang dihapuskan. Bentuk lengkapnya adalah:عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰHuruf س pada kata سَيَكُونُ disebut huruf tanfis istiqbal, yaitu huruf yang menunjukkan makna “akan”.Adapun kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari‘ naqish dari kana. Fungsinya ialah me-rafa‘-kan isim dan me-nashab-kan khabar.Penjelasan i‘rab pada kalimat tersebut adalah bahwa kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari naqish dari kana yang berfungsi merafakkan isim dan me-nashab-kan khabar. Isim dari fi‘il tersebut berupa dhamir mustatir yang kembali kepada kata مَرْضَىٰ. Adapun kata مِنْكُمْ berkedudukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata مَرْضَىٰ merupakan isim mu’akhkhar yang diakhirkan penyebutannya dalam susunan kalimat.Jumlah:سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰmenjadi khabar bagi isim أَنْ yang dihapus adapun أَنْ سَيَكُونُ ditakwil menjadi maṣdar mu’awwal yang berkedudukan sebagai maf‘ul bih dari kata عَلِمَ.Keadaan keduaKeadaan kedua أَنْ al-mukhaffafah ialah ketika didahului kata yang mengandung makna prasangka atau dugaan kuat, seperti: ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ. Ketiga kata tersebut memiliki makna “menyangka” atau “mengira”.Dalam kondisi ini, para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai kedudukan أَنْ.Pendapat pertamaSebagian ulama berpendapat bahwa أَنْ tersebut adalah an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Oleh karena itu, fi‘il mudhari‘ setelahnya dibaca marfu’.Contohnya terdapat pada firman Allah Ta‘ala,وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (bagi mereka).” (QS. Al-Ma’idah: 71)Menurut imam qira’at Abu Amr al-Hamzah dan Al-Kisa’i, kata تَكُونَ dibaca marfu’ karena أَنْ dianggap sebagai bentuk takhfif dari أَنَّ.Taqdir lengkapnya ialah:أَنَّهُ لَا تَكُونُ فِتْنَةٌDengan demikian, kata حَسِبُوا tidak lagi bermakna “menyangka”, tetapi bermakna “meyakini” أَيْقَنُوا. Hal ini karena huruf أَنَّ menunjukkan makna ta’kid (penegasan), sedangkan penegasan lebih sesuai dengan makna yakin daripada prasangka.Pendapat keduaAdapun empat imam qira’at lainnya membaca تَكُونَ dengan bacaan manshub.Dalam pendapat ini, أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari‘. Oleh sebab itu, fi‘il setelahnya dibaca manshub. Berdasarkan pendapat ini, kata حَسِبُوا tetap pada makna asalnya, yaitu “berprasangka” atau “ragu-ragu”. Sebab أَنْ di sini tidak berfungsi sebagai huruf penegas ta’kid, melainkan hanya sebagai huruf mashdariyyah.Pernyataan Ibnu Hisyam,فَإِنْ سُبِقَتْ بِالظَّنِّ فَوَجْهَانِ“Apabila huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna prasangka, maka terdapat dua cara pembacaan terhadap fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.”Cara pertama, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca marfu’. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Karena berasal dari أَنَّ, maka huruf tersebut tidak berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari. Dengan demikian, fi‘il mudhari setelahnya tetap dibaca marfu’.Cara kedua, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca manshub. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang memang berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari.Keadaan ketigaKeadaan ketiga huruf أَنْ tidak didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna yakin ataupun prasangka. Akan tetapi, konteks kalimat menunjukkan makna ragu-ragu, harapan, atau keinginan kuat. Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ wajib menjadi an al-mashdariyyah yang me-nashab-kan fi‘il mudhari setelahnya.Contoh kalimatnya ialah:أَرْجُو أَنْ يَنْتَصِرَ الْحَقُّ“Saya berharap kebenaran itu menang.”Pada contoh tersebut, huruf أَنْ adalah an al-mashdariyyah. Oleh karena itu, fi‘il mudhari setelahnya, yaitu يَنْتَصِرَ, dibaca manshub.Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Dan Yang sangat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 82)Pada ayat tersebut, huruf أَنْ juga termasuk an al-mashdariyyah karena menunjukkan makna harapan dan keinginan. Oleh sebab itu, fi‘il mudhari يَغْفِرَ dibaca manshub.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 31***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah (IMFD): Dasar Fikih Pemesanan Jasa Umrah dan Haji di Masa Mendatang

Ketika seseorang mendaftar umrah atau haji beberapa bulan bahkan beberapa tahun sebelum keberangkatan, sering kali fasilitas yang akan digunakan belum tersedia secara nyata. Kamar hotel belum ditentukan, nomor kursi pesawat belum ada, bahkan sebagian layanan masih berupa janji penyedia jasa untuk menghadirkannya pada waktu yang telah disepakati. Lalu, bagaimana fikih Islam memandang transaksi semacam ini? Dalam kajian muamalah, para ulama membahasnya dalam akad Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah (IMFD), yaitu akad sewa atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia jasa. Akad ini menjadi salah satu landasan penting dalam berbagai transaksi modern, termasuk pemesanan jasa umrah dan haji di masa mendatang.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah? 1.1. Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam Fikih 1.2. Adapun Dzimmah 1.3. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 2. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.1. Cabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran Ujrah 3.2. Masalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3.1. Pendapat yang Lebih Kuat 3.4. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.5. Manfaat bagi Pihak yang Menyewakan 3.6. Manfaat bagi Pihak Penyewa 3.7. Tanggung Jawab Pihak yang Menyewakan 3.8. Dampak terhadap Perekonomian 3.9. Pendapat yang Melarang 4. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah 5. Penutup  Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah?Sebelum mendefinisikan istilah ijarah maushufah fi adz-dzimmah (sewa berdasarkan spesifikasi dalam tanggungan), terlebih dahulu perlu dijelaskan makna kata-kata yang membentuk istilah tersebut, yaitu: ijarah (sewa), washf (spesifikasi), dan dzimmah (tanggungan). Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam FikihIjarah secara bahasa berasal dari kata al-ajr yang berarti balasan atau imbalan atas suatu pekerjaan. Ibnu Manzhur berkata:“Al-ajr adalah balasan atas suatu pekerjaan, bentuk jamaknya adalah ujūr. Sedangkan al-ijārah berasal dari kata ajara–ya’jiru, yaitu sesuatu yang diberikan sebagai upah atas suatu pekerjaan.”Adapun ijarah dalam istilah fikih adalah: “Akad atas suatu manfaat yang mubah, diketahui secara jelas, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui.”Definisi ijarah dalam berbagai mazhab fikih pada dasarnya hampir sama dengan definisi ini, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam redaksinya.Sedangkan washf (spesifikasi) berarti menjelaskan sesuatu, memberikan sifat-sifatnya, dan memperjelas hakikatnya. Ibnu Faris berkata:“Huruf wau, shad, dan fa’ merupakan satu akar kata yang menunjukkan makna menghiasi atau menjelaskan sesuatu.”Yang dimaksud dengan “menghiasi” di sini adalah memperjelas dan menerangkan sifat-sifat suatu benda atau manfaat sehingga menjadi jelas dan dapat dibedakan dari yang lain. Adapun DzimmahDzimmah secara bahasa berarti janji atau tanggungan, karena seseorang akan dicela apabila menyia-nyiakan tanggung jawab tersebut.Sebagian ulama mendefinisikan dzimmah sebagai suatu sifat yang menjadikan seseorang layak memiliki hak dan dibebani kewajiban. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai suatu entitas yang memiliki ikatan perjanjian dan tanggungan. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih terdahulu tidak memberikan definisi khusus yang berdiri sendiri untuk ijarah maushufah fi adz-dzimmah. Mereka biasanya cukup mendefinisikan ijarah secara umum, lalu menyebutkan jenis-jenisnya.Menurut mereka, ijarah terbagi menjadi dua:Ijarah atas objek tertentu yang telah ditentukan (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Ijarah atas objek yang hanya disebutkan spesifikasinya dalam tanggungan (ijarah maushufah fi adz-dzimmah).Ciri khusus ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah bahwa objek yang akan dimanfaatkan belum ditentukan secara konkret, melainkan hanya disebutkan sifat dan kriterianya, sementara penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Karena itu, akad ini dapat didefinisikan sebagai:Akad atas suatu manfaat yang mubah, yang menjadi tanggungan pihak penyewa jasa atau pemilik barang, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui secara jelas. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahHukum asal dalam akad ijarah adalah:Akad berlaku langsung sejak disepakati (munjizah).Objek yang disewakan telah ditentukan secara jelas.Karena itu, apabila waktu mulai akad tidak disebutkan, maka masa sewa dianggap dimulai sejak akad dilangsungkan. Jika akad dilakukan tanpa menyebut bahwa objeknya berada dalam tanggungan (dzimmah), maka akad tersebut termasuk ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Adapun ijarah maushufah fi adz-dzimmah merupakan bentuk pengembangan dan rekayasa terhadap akad ijarah. Dalam akad ini:Pelaksanaan manfaatnya tidak harus langsung saat akad dibuat, tetapi dapat ditangguhkan ke masa yang akan datang.Objek yang disewakan belum ada atau belum ditentukan secara spesifik, melainkan hanya dijelaskan sifat dan kriterianya, sedangkan penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Contohnya, seseorang ingin menyewa sebuah gedung dengan spesifikasi tertentu untuk menjalankan suatu proyek. Gedung tersebut belum ada saat akad dilakukan.Dalam kondisi ini, pihak penyewa gedung mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun gedung sesuai kebutuhan proyeknya. Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat membuat perjanjian dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial dan teknis untuk membangun serta menyediakan gedung tersebut sesuai spesifikasi yang telah disepakati. Setelah gedung selesai dibangun, penyewa dapat memanfaatkannya sesuai tujuan akad. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahCabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran UjrahMasalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih berbeda pendapat mengenai hukum ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi dua pendapat: Pendapat Pertama: BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Mazhab Syafi’i.Mazhab Hanbali.Pendapat Kedua: Tidak BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya tidak boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Hanafi.Pendapat pertama adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur), sedangkan mazhab Hanafi melarang akad ini karena objek manfaat yang menjadi sasaran akad belum ditentukan secara nyata saat akad dilangsungkan, sehingga menurut mereka mengandung unsur ketidakjelasan (gharar). Adapun jumhur ulama membolehkannya selama spesifikasi manfaat dijelaskan secara rinci sehingga dapat menghilangkan sengketa dan ketidakjelasan.Dalil Pendapat PertamaUlama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah berdalil bahwa sebagaimana seseorang boleh menjual barang yang hanya disebutkan spesifikasinya dan masih menjadi tanggungan penjual, maka demikian pula boleh menyewakan manfaat dari suatu objek yang spesifikasinya disebutkan dan masih menjadi tanggungan pihak yang menyewakan.Dengan kata lain, jika syariat membolehkan akad jual beli atas barang yang belum ditentukan secara fisik tetapi telah dijelaskan sifat-sifatnya secara rinci, maka akad sewa atas manfaat yang memiliki karakter serupa juga semestinya diperbolehkan.Dalil Pendapat KeduaUlama yang melarang ijarah maushufah fi adz-dzimmah berpendapat bahwa manfaat (manfa‘ah) bukanlah harta (māl). Sesuatu yang tidak termasuk harta tidak dapat menjadi tanggungan (dzimmah). Oleh karena itu, agar akad ijarah sah, objek yang disewakan harus berupa barang tertentu yang telah ditentukan secara jelas.Bantahan terhadap Pendapat KeduaPendapat ini dibantah dengan mengatakan bahwa manfaat pada hakikatnya termasuk harta.Hal ini karena manfaat:Dapat dimiliki dan dialihkan kepada orang lain ketika seseorang masih hidup.Dapat diwariskan atau dialihkan setelah kematian dalam kondisi tertentu.Dapat menjadi objek ganti rugi apabila dirusak atau dihilangkan.Dapat dijadikan kompensasi, baik berupa barang maupun utang.Karena manfaat memiliki karakteristik sebagaimana harta, maka tidak tepat jika dikatakan bahwa manfaat bukanlah harta yang dapat menjadi objek tanggungan.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan kedua pendapat, dalil masing-masing, serta pembahasan terhadap argumentasi yang memerlukan kajian lebih lanjut, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Hal ini karena dalil yang digunakan oleh pendapat pertama lebih kuat, sedangkan dalil pendapat kedua tampak lemah setelah mempertimbangkan bantahan yang ditujukan kepadanya. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum menangguhkan pembayaran ujrah (biaya sewa) dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi tiga pendapat:Pendapat PertamaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Pendapat yang paling kuat (al-ashah) dalam mazhab Syafi’i.Menurut pendapat ini, ujrah harus dibayarkan saat akad atau sesuai ketentuan yang menghindarkan akad dari unsur pertukaran utang dengan utang (bay‘ al-kāli’ bil-kāli’), sehingga tidak terjadi ketidakjelasan dan risiko sengketa di kemudian hari.Pendapat KeduaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan apabila akad dilakukan dengan lafaz salam. Namun, apabila akad dilakukan dengan lafaz selain salam, maka penangguhan pembayaran ujrah diperbolehkan.Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i dan pendapat resmi dalam mazhab Hanbali.Pendapat KetigaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah diperbolehkan secara mutlak.Ini merupakan salah satu riwayat atau pendapat dalam mazhab Hanbali.Dalil Pendapat PertamaUlama yang melarang penangguhan ujrah berpendapat bahwa ijarah maushufah fi adz-dzimmah hakikatnya adalah salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘).Karena itu, akad ini harus mengikuti ketentuan akad salam. Sebagaimana dalam akad salam atas barang disyaratkan pembayaran harga dilakukan tunai saat akad, demikian pula dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan pada saat akad.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dapat dibantah dengan menjelaskan adanya perbedaan antara jual beli barang dan jual beli manfaat.Dalam jual beli barang (a‘yan), memang disyaratkan penyerahan salah satu dari dua objek pertukaran pada saat akad agar tidak terjadi pertukaran utang dengan utang.Adapun dalam jual beli manfaat (ijarah), ketentuan ini tidak berlaku. Dalam ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah), boleh saja manfaat dan ujrah sama-sama ditangguhkan sesuai kesepakatan.Karena itu, ijarah maushufah fi adz-dzimmah seharusnya disamakan dengan akad ijarah lainnya. Dengan demikian, pembayaran ujrah boleh ditunda hingga manfaat diterima atau sesuai waktu yang disepakati oleh para pihak.Dalil Pendapat KeduaUlama yang membedakan antara penggunaan lafaz salam dan selainnya berpendapat bahwa apabila akad dilakukan dengan lafaz salam, maka akad tersebut mengikuti hukum salam.Konsekuensinya, ujrah wajib dibayar tunai dalam majelis akad sebagaimana harga dalam akad salam. Menurut mereka, lafaz yang digunakan dalam akad memiliki pengaruh terhadap hukum yang berlaku pada akad tersebut.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut tidak dapat diterima.Sebab, transaksi atas manfaat pada dasarnya adalah akad ijarah yang memiliki hukum-hukum tersendiri. Akad ini tidak berubah menjadi akad salam hanya karena menggunakan lafaz salam.Sebaliknya, apabila seseorang menjual barang yang spesifikasinya berada dalam tanggungan (maushuf fi adz-dzimmah) tetapi menggunakan lafaz ijarah, maka akad tersebut tetap dihukumi sebagai akad salam, bukan ijarah.Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi dasar penetapan hukum akad adalah hakikat dan substansi akad, bukan sekadar lafaz dan bentuk ungkapannya.Karena itu berlaku kaidah fikih:العِبْرَةُ فِي العُقُودِ لِلْمَعَانِي لَا لِلْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi pertimbangan dalam akad adalah makna dan hakikatnya, bukan sekadar lafaz dan bentuk redaksinya.”Dalil Pendapat KetigaUlama yang membolehkan penangguhan ujrah secara mutlak berpendapat bahwa ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah imbalan dalam akad sewa-menyewa. Oleh karena itu, pembayarannya boleh ditangguhkan, sebagaimana dibolehkan dalam akad ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah). Dengan kata lain, karena akad ini tetap merupakan akad ijarah, maka hukum asal ijarah tetap berlaku padanya, yaitu bolehnya menunda pembayaran ujrah sesuai kesepakatan para pihak.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dikritik dengan mengatakan bahwa qiyas (analogi) tersebut tidak tepat karena terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.Dalam ijarah atas objek tertentu, barang yang disewakan telah ada dan dapat dimanfaatkan selama masa akad berlangsung. Manfaat yang diberikan dianggap sebagai salah satu dari dua objek pertukaran dalam akad. Oleh sebab itu, dibolehkan menangguhkan objek pertukaran yang lain, yaitu ujrah.Adapun dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah, manfaat yang menjadi objek akad belum dapat dinikmati saat akad berlangsung, bahkan penyerahannya baru akan terjadi di masa mendatang. Karena itu, menurut mereka, tidak tepat menyamakan kedua jenis akad tersebut.Jawaban atas BantahanBantahan tersebut dapat dijawab bahwa tidak dapat diterima anggapan bahwa manfaat dalam ijarah atas objek tertentu selalu langsung diperoleh saat akad berlangsung.Faktanya, dalam ijarah atas objek tertentu juga dimungkinkan menangguhkan kedua objek pertukaran sekaligus, yaitu manfaat dan ujrah.Jika syariat membolehkan penangguhan kedua objek pertukaran dalam ijarah atas objek tertentu, maka tidak ada alasan untuk melarang hal yang sama dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Karena ujrah merupakan imbalan atas manfaat, maka pembayaran ujrah dapat ditangguhkan hingga manfaat tersebut benar-benar diterima dan dinikmati oleh penyewa.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan berbagai pendapat, dalil masing-masing, serta menelaah argumentasi dan bantahan yang ada, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yaitu:Bolehnya menangguhkan pembayaran ujrah dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah secara mutlak.Alasan penguat pendapat ini adalah bahwa transaksi atas manfaat memiliki karakteristik dan hukum tersendiri yang berbeda dengan transaksi atas barang.Akad atas manfaat disebut ijarah, dan salah satu ketentuan yang berlaku dalam akad ijarah adalah bolehnya menangguhkan kedua objek pertukaran sesuai kesepakatan para pihak.Karena itu, akad ijarah tidak dapat disamakan dengan jual beli barang (bai‘ al-a‘yan), sebab terdapat perbedaan mendasar antara manfaat dan barang yang menjadi objek transaksi. Oleh karena itu, hukum-hukum jual beli barang tidak serta-merta diterapkan pada akad ijarah. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahBerdasarkan pendapat yang lebih kuat, yaitu pendapat yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, maka rekayasa keuangan syariah telah mengembangkan bentuk akad ini untuk mewujudkan berbagai kemaslahatan bagi pihak yang menyewakan maupun pihak penyewa.Manfaat bagi Pihak yang MenyewakanPihak yang menyewakan (mu’jir) memperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:Dapat memastikan objek yang akan dimiliki atau dibangun telah memiliki penyewa sebelum objek tersebut benar-benar ada.Dapat memperoleh dana lebih awal, baik dibayar sekaligus maupun secara angsuran, sebelum objek diserahkan kepada penyewa.Kepemilikan objek tetap berada atas namanya sehingga ia tetap memiliki hak untuk mengelolanya.Setelah masa sewa berakhir, ia dapat menjual objek tersebut atau menyewakannya kembali kepada pihak lain melalui akad baru. Manfaat bagi Pihak PenyewaAdapun pihak penyewa (musta’jir) juga memperoleh manfaat yang besar, di antaranya:Ia mungkin tidak memiliki modal yang cukup untuk membangun sendiri aset atau bangunan dengan spesifikasi yang dibutuhkan.Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat bekerja sama dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan aset tersebut sesuai spesifikasi yang diinginkan.Tanggung jawab terhadap aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, sehingga penyewa tidak menanggung seluruh beban pengelolaan aset. Tanggung Jawab Pihak yang MenyewakanKarena kepemilikan aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, maka ia juga tetap memikul berbagai tanggung jawab, seperti:Menjaga kondisi aset yang disewakan.Menanggung pemeliharaan yang menjadi kewajibannya.Mengadakan kontrak perawatan dan perbaikan.Menangani kerusakan mendadak atau kebutuhan pemeliharaan darurat.Menyediakan berbagai layanan yang diperlukan agar manfaat objek sewa tetap dapat dinikmati oleh penyewa. Dampak terhadap PerekonomianSelain memberikan manfaat kepada kedua belah pihak, akad ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian secara umum. Akad ini membantu terlaksananya proyek-proyek produktif yang mungkin tidak dapat diwujudkan apabila pihak pengguna harus menyediakan seluruh modal di awal. Dengan demikian, akad ini dapat mendorong investasi, pembangunan aset produktif, dan perputaran ekonomi yang lebih luas. Pendapat yang MelarangAdapun menurut ulama yang mengharamkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, bentuk rekayasa keuangan ini tidak dapat dianggap sebagai rekayasa keuangan syariah yang sah. Bahkan justru menjadi alasan larangannya.Sebab, menurut mereka manfaat (manfa‘ah) tidak termasuk kategori harta (māl), sehingga tidak dapat menjadi objek tanggungan (dzimmah). Karena itu, akad sewa atas manfaat yang belum ditentukan secara nyata dianggap tidak sah menurut pandangan mereka.Namun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan akad ini karena manfaat termasuk harta yang dapat menjadi objek akad dan tanggungan, selama spesifikasi manfaat tersebut dijelaskan secara jelas dan tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-DzimmahKetika seseorang mendaftar haji plus atau umrah setahun sebelum keberangkatan, sebenarnya ia sedang membeli manfaat perjalanan yang spesifikasinya sudah dijelaskan. Hotelnya mungkin belum ditentukan nomor kamarnya, busnya belum ditentukan unitnya, bahkan kursi pesawatnya belum ditentukan. Namun penyelenggara wajib menyediakan semua fasilitas tersebut sesuai spesifikasi yang dijanjikan. Inilah yang dalam fikih disebut ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu akad atas manfaat yang menjadi tanggungan penyedia jasa. PenutupSyariat Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur akad dan muamalah yang mengantarkan seseorang menuju ibadah tersebut. Karena itu, dalam memilih layanan umrah dan haji, seorang muslim hendaknya memperhatikan kejelasan akad, transparansi layanan, dan amanah penyelenggara, bukan sekadar harga yang murah. Bagi penyedia jasa, setiap fasilitas yang dijanjikan kepada jamaah adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa bermuamalah sesuai syariat dan memudahkan kita meraih haji yang mabrur serta umrah yang maqbul. Referensi:Kitab Fikih Al-Handasah Al-Maaliyah Al-Islamiyyah. Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah. Shamela.ws —– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah ekonomi islam fikih ekonomi fikih muamalah ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah investasi syariah muamalah kontemporer pembiayaan syariah sewa dalam islam

Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah (IMFD): Dasar Fikih Pemesanan Jasa Umrah dan Haji di Masa Mendatang

Ketika seseorang mendaftar umrah atau haji beberapa bulan bahkan beberapa tahun sebelum keberangkatan, sering kali fasilitas yang akan digunakan belum tersedia secara nyata. Kamar hotel belum ditentukan, nomor kursi pesawat belum ada, bahkan sebagian layanan masih berupa janji penyedia jasa untuk menghadirkannya pada waktu yang telah disepakati. Lalu, bagaimana fikih Islam memandang transaksi semacam ini? Dalam kajian muamalah, para ulama membahasnya dalam akad Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah (IMFD), yaitu akad sewa atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia jasa. Akad ini menjadi salah satu landasan penting dalam berbagai transaksi modern, termasuk pemesanan jasa umrah dan haji di masa mendatang.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah? 1.1. Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam Fikih 1.2. Adapun Dzimmah 1.3. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 2. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.1. Cabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran Ujrah 3.2. Masalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3.1. Pendapat yang Lebih Kuat 3.4. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.5. Manfaat bagi Pihak yang Menyewakan 3.6. Manfaat bagi Pihak Penyewa 3.7. Tanggung Jawab Pihak yang Menyewakan 3.8. Dampak terhadap Perekonomian 3.9. Pendapat yang Melarang 4. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah 5. Penutup  Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah?Sebelum mendefinisikan istilah ijarah maushufah fi adz-dzimmah (sewa berdasarkan spesifikasi dalam tanggungan), terlebih dahulu perlu dijelaskan makna kata-kata yang membentuk istilah tersebut, yaitu: ijarah (sewa), washf (spesifikasi), dan dzimmah (tanggungan). Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam FikihIjarah secara bahasa berasal dari kata al-ajr yang berarti balasan atau imbalan atas suatu pekerjaan. Ibnu Manzhur berkata:“Al-ajr adalah balasan atas suatu pekerjaan, bentuk jamaknya adalah ujūr. Sedangkan al-ijārah berasal dari kata ajara–ya’jiru, yaitu sesuatu yang diberikan sebagai upah atas suatu pekerjaan.”Adapun ijarah dalam istilah fikih adalah: “Akad atas suatu manfaat yang mubah, diketahui secara jelas, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui.”Definisi ijarah dalam berbagai mazhab fikih pada dasarnya hampir sama dengan definisi ini, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam redaksinya.Sedangkan washf (spesifikasi) berarti menjelaskan sesuatu, memberikan sifat-sifatnya, dan memperjelas hakikatnya. Ibnu Faris berkata:“Huruf wau, shad, dan fa’ merupakan satu akar kata yang menunjukkan makna menghiasi atau menjelaskan sesuatu.”Yang dimaksud dengan “menghiasi” di sini adalah memperjelas dan menerangkan sifat-sifat suatu benda atau manfaat sehingga menjadi jelas dan dapat dibedakan dari yang lain. Adapun DzimmahDzimmah secara bahasa berarti janji atau tanggungan, karena seseorang akan dicela apabila menyia-nyiakan tanggung jawab tersebut.Sebagian ulama mendefinisikan dzimmah sebagai suatu sifat yang menjadikan seseorang layak memiliki hak dan dibebani kewajiban. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai suatu entitas yang memiliki ikatan perjanjian dan tanggungan. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih terdahulu tidak memberikan definisi khusus yang berdiri sendiri untuk ijarah maushufah fi adz-dzimmah. Mereka biasanya cukup mendefinisikan ijarah secara umum, lalu menyebutkan jenis-jenisnya.Menurut mereka, ijarah terbagi menjadi dua:Ijarah atas objek tertentu yang telah ditentukan (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Ijarah atas objek yang hanya disebutkan spesifikasinya dalam tanggungan (ijarah maushufah fi adz-dzimmah).Ciri khusus ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah bahwa objek yang akan dimanfaatkan belum ditentukan secara konkret, melainkan hanya disebutkan sifat dan kriterianya, sementara penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Karena itu, akad ini dapat didefinisikan sebagai:Akad atas suatu manfaat yang mubah, yang menjadi tanggungan pihak penyewa jasa atau pemilik barang, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui secara jelas. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahHukum asal dalam akad ijarah adalah:Akad berlaku langsung sejak disepakati (munjizah).Objek yang disewakan telah ditentukan secara jelas.Karena itu, apabila waktu mulai akad tidak disebutkan, maka masa sewa dianggap dimulai sejak akad dilangsungkan. Jika akad dilakukan tanpa menyebut bahwa objeknya berada dalam tanggungan (dzimmah), maka akad tersebut termasuk ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Adapun ijarah maushufah fi adz-dzimmah merupakan bentuk pengembangan dan rekayasa terhadap akad ijarah. Dalam akad ini:Pelaksanaan manfaatnya tidak harus langsung saat akad dibuat, tetapi dapat ditangguhkan ke masa yang akan datang.Objek yang disewakan belum ada atau belum ditentukan secara spesifik, melainkan hanya dijelaskan sifat dan kriterianya, sedangkan penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Contohnya, seseorang ingin menyewa sebuah gedung dengan spesifikasi tertentu untuk menjalankan suatu proyek. Gedung tersebut belum ada saat akad dilakukan.Dalam kondisi ini, pihak penyewa gedung mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun gedung sesuai kebutuhan proyeknya. Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat membuat perjanjian dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial dan teknis untuk membangun serta menyediakan gedung tersebut sesuai spesifikasi yang telah disepakati. Setelah gedung selesai dibangun, penyewa dapat memanfaatkannya sesuai tujuan akad. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahCabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran UjrahMasalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih berbeda pendapat mengenai hukum ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi dua pendapat: Pendapat Pertama: BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Mazhab Syafi’i.Mazhab Hanbali.Pendapat Kedua: Tidak BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya tidak boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Hanafi.Pendapat pertama adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur), sedangkan mazhab Hanafi melarang akad ini karena objek manfaat yang menjadi sasaran akad belum ditentukan secara nyata saat akad dilangsungkan, sehingga menurut mereka mengandung unsur ketidakjelasan (gharar). Adapun jumhur ulama membolehkannya selama spesifikasi manfaat dijelaskan secara rinci sehingga dapat menghilangkan sengketa dan ketidakjelasan.Dalil Pendapat PertamaUlama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah berdalil bahwa sebagaimana seseorang boleh menjual barang yang hanya disebutkan spesifikasinya dan masih menjadi tanggungan penjual, maka demikian pula boleh menyewakan manfaat dari suatu objek yang spesifikasinya disebutkan dan masih menjadi tanggungan pihak yang menyewakan.Dengan kata lain, jika syariat membolehkan akad jual beli atas barang yang belum ditentukan secara fisik tetapi telah dijelaskan sifat-sifatnya secara rinci, maka akad sewa atas manfaat yang memiliki karakter serupa juga semestinya diperbolehkan.Dalil Pendapat KeduaUlama yang melarang ijarah maushufah fi adz-dzimmah berpendapat bahwa manfaat (manfa‘ah) bukanlah harta (māl). Sesuatu yang tidak termasuk harta tidak dapat menjadi tanggungan (dzimmah). Oleh karena itu, agar akad ijarah sah, objek yang disewakan harus berupa barang tertentu yang telah ditentukan secara jelas.Bantahan terhadap Pendapat KeduaPendapat ini dibantah dengan mengatakan bahwa manfaat pada hakikatnya termasuk harta.Hal ini karena manfaat:Dapat dimiliki dan dialihkan kepada orang lain ketika seseorang masih hidup.Dapat diwariskan atau dialihkan setelah kematian dalam kondisi tertentu.Dapat menjadi objek ganti rugi apabila dirusak atau dihilangkan.Dapat dijadikan kompensasi, baik berupa barang maupun utang.Karena manfaat memiliki karakteristik sebagaimana harta, maka tidak tepat jika dikatakan bahwa manfaat bukanlah harta yang dapat menjadi objek tanggungan.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan kedua pendapat, dalil masing-masing, serta pembahasan terhadap argumentasi yang memerlukan kajian lebih lanjut, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Hal ini karena dalil yang digunakan oleh pendapat pertama lebih kuat, sedangkan dalil pendapat kedua tampak lemah setelah mempertimbangkan bantahan yang ditujukan kepadanya. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum menangguhkan pembayaran ujrah (biaya sewa) dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi tiga pendapat:Pendapat PertamaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Pendapat yang paling kuat (al-ashah) dalam mazhab Syafi’i.Menurut pendapat ini, ujrah harus dibayarkan saat akad atau sesuai ketentuan yang menghindarkan akad dari unsur pertukaran utang dengan utang (bay‘ al-kāli’ bil-kāli’), sehingga tidak terjadi ketidakjelasan dan risiko sengketa di kemudian hari.Pendapat KeduaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan apabila akad dilakukan dengan lafaz salam. Namun, apabila akad dilakukan dengan lafaz selain salam, maka penangguhan pembayaran ujrah diperbolehkan.Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i dan pendapat resmi dalam mazhab Hanbali.Pendapat KetigaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah diperbolehkan secara mutlak.Ini merupakan salah satu riwayat atau pendapat dalam mazhab Hanbali.Dalil Pendapat PertamaUlama yang melarang penangguhan ujrah berpendapat bahwa ijarah maushufah fi adz-dzimmah hakikatnya adalah salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘).Karena itu, akad ini harus mengikuti ketentuan akad salam. Sebagaimana dalam akad salam atas barang disyaratkan pembayaran harga dilakukan tunai saat akad, demikian pula dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan pada saat akad.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dapat dibantah dengan menjelaskan adanya perbedaan antara jual beli barang dan jual beli manfaat.Dalam jual beli barang (a‘yan), memang disyaratkan penyerahan salah satu dari dua objek pertukaran pada saat akad agar tidak terjadi pertukaran utang dengan utang.Adapun dalam jual beli manfaat (ijarah), ketentuan ini tidak berlaku. Dalam ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah), boleh saja manfaat dan ujrah sama-sama ditangguhkan sesuai kesepakatan.Karena itu, ijarah maushufah fi adz-dzimmah seharusnya disamakan dengan akad ijarah lainnya. Dengan demikian, pembayaran ujrah boleh ditunda hingga manfaat diterima atau sesuai waktu yang disepakati oleh para pihak.Dalil Pendapat KeduaUlama yang membedakan antara penggunaan lafaz salam dan selainnya berpendapat bahwa apabila akad dilakukan dengan lafaz salam, maka akad tersebut mengikuti hukum salam.Konsekuensinya, ujrah wajib dibayar tunai dalam majelis akad sebagaimana harga dalam akad salam. Menurut mereka, lafaz yang digunakan dalam akad memiliki pengaruh terhadap hukum yang berlaku pada akad tersebut.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut tidak dapat diterima.Sebab, transaksi atas manfaat pada dasarnya adalah akad ijarah yang memiliki hukum-hukum tersendiri. Akad ini tidak berubah menjadi akad salam hanya karena menggunakan lafaz salam.Sebaliknya, apabila seseorang menjual barang yang spesifikasinya berada dalam tanggungan (maushuf fi adz-dzimmah) tetapi menggunakan lafaz ijarah, maka akad tersebut tetap dihukumi sebagai akad salam, bukan ijarah.Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi dasar penetapan hukum akad adalah hakikat dan substansi akad, bukan sekadar lafaz dan bentuk ungkapannya.Karena itu berlaku kaidah fikih:العِبْرَةُ فِي العُقُودِ لِلْمَعَانِي لَا لِلْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi pertimbangan dalam akad adalah makna dan hakikatnya, bukan sekadar lafaz dan bentuk redaksinya.”Dalil Pendapat KetigaUlama yang membolehkan penangguhan ujrah secara mutlak berpendapat bahwa ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah imbalan dalam akad sewa-menyewa. Oleh karena itu, pembayarannya boleh ditangguhkan, sebagaimana dibolehkan dalam akad ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah). Dengan kata lain, karena akad ini tetap merupakan akad ijarah, maka hukum asal ijarah tetap berlaku padanya, yaitu bolehnya menunda pembayaran ujrah sesuai kesepakatan para pihak.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dikritik dengan mengatakan bahwa qiyas (analogi) tersebut tidak tepat karena terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.Dalam ijarah atas objek tertentu, barang yang disewakan telah ada dan dapat dimanfaatkan selama masa akad berlangsung. Manfaat yang diberikan dianggap sebagai salah satu dari dua objek pertukaran dalam akad. Oleh sebab itu, dibolehkan menangguhkan objek pertukaran yang lain, yaitu ujrah.Adapun dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah, manfaat yang menjadi objek akad belum dapat dinikmati saat akad berlangsung, bahkan penyerahannya baru akan terjadi di masa mendatang. Karena itu, menurut mereka, tidak tepat menyamakan kedua jenis akad tersebut.Jawaban atas BantahanBantahan tersebut dapat dijawab bahwa tidak dapat diterima anggapan bahwa manfaat dalam ijarah atas objek tertentu selalu langsung diperoleh saat akad berlangsung.Faktanya, dalam ijarah atas objek tertentu juga dimungkinkan menangguhkan kedua objek pertukaran sekaligus, yaitu manfaat dan ujrah.Jika syariat membolehkan penangguhan kedua objek pertukaran dalam ijarah atas objek tertentu, maka tidak ada alasan untuk melarang hal yang sama dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Karena ujrah merupakan imbalan atas manfaat, maka pembayaran ujrah dapat ditangguhkan hingga manfaat tersebut benar-benar diterima dan dinikmati oleh penyewa.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan berbagai pendapat, dalil masing-masing, serta menelaah argumentasi dan bantahan yang ada, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yaitu:Bolehnya menangguhkan pembayaran ujrah dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah secara mutlak.Alasan penguat pendapat ini adalah bahwa transaksi atas manfaat memiliki karakteristik dan hukum tersendiri yang berbeda dengan transaksi atas barang.Akad atas manfaat disebut ijarah, dan salah satu ketentuan yang berlaku dalam akad ijarah adalah bolehnya menangguhkan kedua objek pertukaran sesuai kesepakatan para pihak.Karena itu, akad ijarah tidak dapat disamakan dengan jual beli barang (bai‘ al-a‘yan), sebab terdapat perbedaan mendasar antara manfaat dan barang yang menjadi objek transaksi. Oleh karena itu, hukum-hukum jual beli barang tidak serta-merta diterapkan pada akad ijarah. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahBerdasarkan pendapat yang lebih kuat, yaitu pendapat yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, maka rekayasa keuangan syariah telah mengembangkan bentuk akad ini untuk mewujudkan berbagai kemaslahatan bagi pihak yang menyewakan maupun pihak penyewa.Manfaat bagi Pihak yang MenyewakanPihak yang menyewakan (mu’jir) memperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:Dapat memastikan objek yang akan dimiliki atau dibangun telah memiliki penyewa sebelum objek tersebut benar-benar ada.Dapat memperoleh dana lebih awal, baik dibayar sekaligus maupun secara angsuran, sebelum objek diserahkan kepada penyewa.Kepemilikan objek tetap berada atas namanya sehingga ia tetap memiliki hak untuk mengelolanya.Setelah masa sewa berakhir, ia dapat menjual objek tersebut atau menyewakannya kembali kepada pihak lain melalui akad baru. Manfaat bagi Pihak PenyewaAdapun pihak penyewa (musta’jir) juga memperoleh manfaat yang besar, di antaranya:Ia mungkin tidak memiliki modal yang cukup untuk membangun sendiri aset atau bangunan dengan spesifikasi yang dibutuhkan.Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat bekerja sama dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan aset tersebut sesuai spesifikasi yang diinginkan.Tanggung jawab terhadap aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, sehingga penyewa tidak menanggung seluruh beban pengelolaan aset. Tanggung Jawab Pihak yang MenyewakanKarena kepemilikan aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, maka ia juga tetap memikul berbagai tanggung jawab, seperti:Menjaga kondisi aset yang disewakan.Menanggung pemeliharaan yang menjadi kewajibannya.Mengadakan kontrak perawatan dan perbaikan.Menangani kerusakan mendadak atau kebutuhan pemeliharaan darurat.Menyediakan berbagai layanan yang diperlukan agar manfaat objek sewa tetap dapat dinikmati oleh penyewa. Dampak terhadap PerekonomianSelain memberikan manfaat kepada kedua belah pihak, akad ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian secara umum. Akad ini membantu terlaksananya proyek-proyek produktif yang mungkin tidak dapat diwujudkan apabila pihak pengguna harus menyediakan seluruh modal di awal. Dengan demikian, akad ini dapat mendorong investasi, pembangunan aset produktif, dan perputaran ekonomi yang lebih luas. Pendapat yang MelarangAdapun menurut ulama yang mengharamkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, bentuk rekayasa keuangan ini tidak dapat dianggap sebagai rekayasa keuangan syariah yang sah. Bahkan justru menjadi alasan larangannya.Sebab, menurut mereka manfaat (manfa‘ah) tidak termasuk kategori harta (māl), sehingga tidak dapat menjadi objek tanggungan (dzimmah). Karena itu, akad sewa atas manfaat yang belum ditentukan secara nyata dianggap tidak sah menurut pandangan mereka.Namun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan akad ini karena manfaat termasuk harta yang dapat menjadi objek akad dan tanggungan, selama spesifikasi manfaat tersebut dijelaskan secara jelas dan tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-DzimmahKetika seseorang mendaftar haji plus atau umrah setahun sebelum keberangkatan, sebenarnya ia sedang membeli manfaat perjalanan yang spesifikasinya sudah dijelaskan. Hotelnya mungkin belum ditentukan nomor kamarnya, busnya belum ditentukan unitnya, bahkan kursi pesawatnya belum ditentukan. Namun penyelenggara wajib menyediakan semua fasilitas tersebut sesuai spesifikasi yang dijanjikan. Inilah yang dalam fikih disebut ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu akad atas manfaat yang menjadi tanggungan penyedia jasa. PenutupSyariat Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur akad dan muamalah yang mengantarkan seseorang menuju ibadah tersebut. Karena itu, dalam memilih layanan umrah dan haji, seorang muslim hendaknya memperhatikan kejelasan akad, transparansi layanan, dan amanah penyelenggara, bukan sekadar harga yang murah. Bagi penyedia jasa, setiap fasilitas yang dijanjikan kepada jamaah adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa bermuamalah sesuai syariat dan memudahkan kita meraih haji yang mabrur serta umrah yang maqbul. Referensi:Kitab Fikih Al-Handasah Al-Maaliyah Al-Islamiyyah. Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah. Shamela.ws —– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah ekonomi islam fikih ekonomi fikih muamalah ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah investasi syariah muamalah kontemporer pembiayaan syariah sewa dalam islam
Ketika seseorang mendaftar umrah atau haji beberapa bulan bahkan beberapa tahun sebelum keberangkatan, sering kali fasilitas yang akan digunakan belum tersedia secara nyata. Kamar hotel belum ditentukan, nomor kursi pesawat belum ada, bahkan sebagian layanan masih berupa janji penyedia jasa untuk menghadirkannya pada waktu yang telah disepakati. Lalu, bagaimana fikih Islam memandang transaksi semacam ini? Dalam kajian muamalah, para ulama membahasnya dalam akad Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah (IMFD), yaitu akad sewa atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia jasa. Akad ini menjadi salah satu landasan penting dalam berbagai transaksi modern, termasuk pemesanan jasa umrah dan haji di masa mendatang.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah? 1.1. Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam Fikih 1.2. Adapun Dzimmah 1.3. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 2. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.1. Cabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran Ujrah 3.2. Masalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3.1. Pendapat yang Lebih Kuat 3.4. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.5. Manfaat bagi Pihak yang Menyewakan 3.6. Manfaat bagi Pihak Penyewa 3.7. Tanggung Jawab Pihak yang Menyewakan 3.8. Dampak terhadap Perekonomian 3.9. Pendapat yang Melarang 4. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah 5. Penutup  Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah?Sebelum mendefinisikan istilah ijarah maushufah fi adz-dzimmah (sewa berdasarkan spesifikasi dalam tanggungan), terlebih dahulu perlu dijelaskan makna kata-kata yang membentuk istilah tersebut, yaitu: ijarah (sewa), washf (spesifikasi), dan dzimmah (tanggungan). Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam FikihIjarah secara bahasa berasal dari kata al-ajr yang berarti balasan atau imbalan atas suatu pekerjaan. Ibnu Manzhur berkata:“Al-ajr adalah balasan atas suatu pekerjaan, bentuk jamaknya adalah ujūr. Sedangkan al-ijārah berasal dari kata ajara–ya’jiru, yaitu sesuatu yang diberikan sebagai upah atas suatu pekerjaan.”Adapun ijarah dalam istilah fikih adalah: “Akad atas suatu manfaat yang mubah, diketahui secara jelas, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui.”Definisi ijarah dalam berbagai mazhab fikih pada dasarnya hampir sama dengan definisi ini, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam redaksinya.Sedangkan washf (spesifikasi) berarti menjelaskan sesuatu, memberikan sifat-sifatnya, dan memperjelas hakikatnya. Ibnu Faris berkata:“Huruf wau, shad, dan fa’ merupakan satu akar kata yang menunjukkan makna menghiasi atau menjelaskan sesuatu.”Yang dimaksud dengan “menghiasi” di sini adalah memperjelas dan menerangkan sifat-sifat suatu benda atau manfaat sehingga menjadi jelas dan dapat dibedakan dari yang lain. Adapun DzimmahDzimmah secara bahasa berarti janji atau tanggungan, karena seseorang akan dicela apabila menyia-nyiakan tanggung jawab tersebut.Sebagian ulama mendefinisikan dzimmah sebagai suatu sifat yang menjadikan seseorang layak memiliki hak dan dibebani kewajiban. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai suatu entitas yang memiliki ikatan perjanjian dan tanggungan. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih terdahulu tidak memberikan definisi khusus yang berdiri sendiri untuk ijarah maushufah fi adz-dzimmah. Mereka biasanya cukup mendefinisikan ijarah secara umum, lalu menyebutkan jenis-jenisnya.Menurut mereka, ijarah terbagi menjadi dua:Ijarah atas objek tertentu yang telah ditentukan (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Ijarah atas objek yang hanya disebutkan spesifikasinya dalam tanggungan (ijarah maushufah fi adz-dzimmah).Ciri khusus ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah bahwa objek yang akan dimanfaatkan belum ditentukan secara konkret, melainkan hanya disebutkan sifat dan kriterianya, sementara penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Karena itu, akad ini dapat didefinisikan sebagai:Akad atas suatu manfaat yang mubah, yang menjadi tanggungan pihak penyewa jasa atau pemilik barang, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui secara jelas. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahHukum asal dalam akad ijarah adalah:Akad berlaku langsung sejak disepakati (munjizah).Objek yang disewakan telah ditentukan secara jelas.Karena itu, apabila waktu mulai akad tidak disebutkan, maka masa sewa dianggap dimulai sejak akad dilangsungkan. Jika akad dilakukan tanpa menyebut bahwa objeknya berada dalam tanggungan (dzimmah), maka akad tersebut termasuk ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Adapun ijarah maushufah fi adz-dzimmah merupakan bentuk pengembangan dan rekayasa terhadap akad ijarah. Dalam akad ini:Pelaksanaan manfaatnya tidak harus langsung saat akad dibuat, tetapi dapat ditangguhkan ke masa yang akan datang.Objek yang disewakan belum ada atau belum ditentukan secara spesifik, melainkan hanya dijelaskan sifat dan kriterianya, sedangkan penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Contohnya, seseorang ingin menyewa sebuah gedung dengan spesifikasi tertentu untuk menjalankan suatu proyek. Gedung tersebut belum ada saat akad dilakukan.Dalam kondisi ini, pihak penyewa gedung mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun gedung sesuai kebutuhan proyeknya. Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat membuat perjanjian dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial dan teknis untuk membangun serta menyediakan gedung tersebut sesuai spesifikasi yang telah disepakati. Setelah gedung selesai dibangun, penyewa dapat memanfaatkannya sesuai tujuan akad. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahCabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran UjrahMasalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih berbeda pendapat mengenai hukum ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi dua pendapat: Pendapat Pertama: BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Mazhab Syafi’i.Mazhab Hanbali.Pendapat Kedua: Tidak BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya tidak boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Hanafi.Pendapat pertama adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur), sedangkan mazhab Hanafi melarang akad ini karena objek manfaat yang menjadi sasaran akad belum ditentukan secara nyata saat akad dilangsungkan, sehingga menurut mereka mengandung unsur ketidakjelasan (gharar). Adapun jumhur ulama membolehkannya selama spesifikasi manfaat dijelaskan secara rinci sehingga dapat menghilangkan sengketa dan ketidakjelasan.Dalil Pendapat PertamaUlama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah berdalil bahwa sebagaimana seseorang boleh menjual barang yang hanya disebutkan spesifikasinya dan masih menjadi tanggungan penjual, maka demikian pula boleh menyewakan manfaat dari suatu objek yang spesifikasinya disebutkan dan masih menjadi tanggungan pihak yang menyewakan.Dengan kata lain, jika syariat membolehkan akad jual beli atas barang yang belum ditentukan secara fisik tetapi telah dijelaskan sifat-sifatnya secara rinci, maka akad sewa atas manfaat yang memiliki karakter serupa juga semestinya diperbolehkan.Dalil Pendapat KeduaUlama yang melarang ijarah maushufah fi adz-dzimmah berpendapat bahwa manfaat (manfa‘ah) bukanlah harta (māl). Sesuatu yang tidak termasuk harta tidak dapat menjadi tanggungan (dzimmah). Oleh karena itu, agar akad ijarah sah, objek yang disewakan harus berupa barang tertentu yang telah ditentukan secara jelas.Bantahan terhadap Pendapat KeduaPendapat ini dibantah dengan mengatakan bahwa manfaat pada hakikatnya termasuk harta.Hal ini karena manfaat:Dapat dimiliki dan dialihkan kepada orang lain ketika seseorang masih hidup.Dapat diwariskan atau dialihkan setelah kematian dalam kondisi tertentu.Dapat menjadi objek ganti rugi apabila dirusak atau dihilangkan.Dapat dijadikan kompensasi, baik berupa barang maupun utang.Karena manfaat memiliki karakteristik sebagaimana harta, maka tidak tepat jika dikatakan bahwa manfaat bukanlah harta yang dapat menjadi objek tanggungan.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan kedua pendapat, dalil masing-masing, serta pembahasan terhadap argumentasi yang memerlukan kajian lebih lanjut, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Hal ini karena dalil yang digunakan oleh pendapat pertama lebih kuat, sedangkan dalil pendapat kedua tampak lemah setelah mempertimbangkan bantahan yang ditujukan kepadanya. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum menangguhkan pembayaran ujrah (biaya sewa) dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi tiga pendapat:Pendapat PertamaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Pendapat yang paling kuat (al-ashah) dalam mazhab Syafi’i.Menurut pendapat ini, ujrah harus dibayarkan saat akad atau sesuai ketentuan yang menghindarkan akad dari unsur pertukaran utang dengan utang (bay‘ al-kāli’ bil-kāli’), sehingga tidak terjadi ketidakjelasan dan risiko sengketa di kemudian hari.Pendapat KeduaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan apabila akad dilakukan dengan lafaz salam. Namun, apabila akad dilakukan dengan lafaz selain salam, maka penangguhan pembayaran ujrah diperbolehkan.Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i dan pendapat resmi dalam mazhab Hanbali.Pendapat KetigaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah diperbolehkan secara mutlak.Ini merupakan salah satu riwayat atau pendapat dalam mazhab Hanbali.Dalil Pendapat PertamaUlama yang melarang penangguhan ujrah berpendapat bahwa ijarah maushufah fi adz-dzimmah hakikatnya adalah salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘).Karena itu, akad ini harus mengikuti ketentuan akad salam. Sebagaimana dalam akad salam atas barang disyaratkan pembayaran harga dilakukan tunai saat akad, demikian pula dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan pada saat akad.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dapat dibantah dengan menjelaskan adanya perbedaan antara jual beli barang dan jual beli manfaat.Dalam jual beli barang (a‘yan), memang disyaratkan penyerahan salah satu dari dua objek pertukaran pada saat akad agar tidak terjadi pertukaran utang dengan utang.Adapun dalam jual beli manfaat (ijarah), ketentuan ini tidak berlaku. Dalam ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah), boleh saja manfaat dan ujrah sama-sama ditangguhkan sesuai kesepakatan.Karena itu, ijarah maushufah fi adz-dzimmah seharusnya disamakan dengan akad ijarah lainnya. Dengan demikian, pembayaran ujrah boleh ditunda hingga manfaat diterima atau sesuai waktu yang disepakati oleh para pihak.Dalil Pendapat KeduaUlama yang membedakan antara penggunaan lafaz salam dan selainnya berpendapat bahwa apabila akad dilakukan dengan lafaz salam, maka akad tersebut mengikuti hukum salam.Konsekuensinya, ujrah wajib dibayar tunai dalam majelis akad sebagaimana harga dalam akad salam. Menurut mereka, lafaz yang digunakan dalam akad memiliki pengaruh terhadap hukum yang berlaku pada akad tersebut.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut tidak dapat diterima.Sebab, transaksi atas manfaat pada dasarnya adalah akad ijarah yang memiliki hukum-hukum tersendiri. Akad ini tidak berubah menjadi akad salam hanya karena menggunakan lafaz salam.Sebaliknya, apabila seseorang menjual barang yang spesifikasinya berada dalam tanggungan (maushuf fi adz-dzimmah) tetapi menggunakan lafaz ijarah, maka akad tersebut tetap dihukumi sebagai akad salam, bukan ijarah.Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi dasar penetapan hukum akad adalah hakikat dan substansi akad, bukan sekadar lafaz dan bentuk ungkapannya.Karena itu berlaku kaidah fikih:العِبْرَةُ فِي العُقُودِ لِلْمَعَانِي لَا لِلْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi pertimbangan dalam akad adalah makna dan hakikatnya, bukan sekadar lafaz dan bentuk redaksinya.”Dalil Pendapat KetigaUlama yang membolehkan penangguhan ujrah secara mutlak berpendapat bahwa ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah imbalan dalam akad sewa-menyewa. Oleh karena itu, pembayarannya boleh ditangguhkan, sebagaimana dibolehkan dalam akad ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah). Dengan kata lain, karena akad ini tetap merupakan akad ijarah, maka hukum asal ijarah tetap berlaku padanya, yaitu bolehnya menunda pembayaran ujrah sesuai kesepakatan para pihak.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dikritik dengan mengatakan bahwa qiyas (analogi) tersebut tidak tepat karena terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.Dalam ijarah atas objek tertentu, barang yang disewakan telah ada dan dapat dimanfaatkan selama masa akad berlangsung. Manfaat yang diberikan dianggap sebagai salah satu dari dua objek pertukaran dalam akad. Oleh sebab itu, dibolehkan menangguhkan objek pertukaran yang lain, yaitu ujrah.Adapun dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah, manfaat yang menjadi objek akad belum dapat dinikmati saat akad berlangsung, bahkan penyerahannya baru akan terjadi di masa mendatang. Karena itu, menurut mereka, tidak tepat menyamakan kedua jenis akad tersebut.Jawaban atas BantahanBantahan tersebut dapat dijawab bahwa tidak dapat diterima anggapan bahwa manfaat dalam ijarah atas objek tertentu selalu langsung diperoleh saat akad berlangsung.Faktanya, dalam ijarah atas objek tertentu juga dimungkinkan menangguhkan kedua objek pertukaran sekaligus, yaitu manfaat dan ujrah.Jika syariat membolehkan penangguhan kedua objek pertukaran dalam ijarah atas objek tertentu, maka tidak ada alasan untuk melarang hal yang sama dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Karena ujrah merupakan imbalan atas manfaat, maka pembayaran ujrah dapat ditangguhkan hingga manfaat tersebut benar-benar diterima dan dinikmati oleh penyewa.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan berbagai pendapat, dalil masing-masing, serta menelaah argumentasi dan bantahan yang ada, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yaitu:Bolehnya menangguhkan pembayaran ujrah dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah secara mutlak.Alasan penguat pendapat ini adalah bahwa transaksi atas manfaat memiliki karakteristik dan hukum tersendiri yang berbeda dengan transaksi atas barang.Akad atas manfaat disebut ijarah, dan salah satu ketentuan yang berlaku dalam akad ijarah adalah bolehnya menangguhkan kedua objek pertukaran sesuai kesepakatan para pihak.Karena itu, akad ijarah tidak dapat disamakan dengan jual beli barang (bai‘ al-a‘yan), sebab terdapat perbedaan mendasar antara manfaat dan barang yang menjadi objek transaksi. Oleh karena itu, hukum-hukum jual beli barang tidak serta-merta diterapkan pada akad ijarah. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahBerdasarkan pendapat yang lebih kuat, yaitu pendapat yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, maka rekayasa keuangan syariah telah mengembangkan bentuk akad ini untuk mewujudkan berbagai kemaslahatan bagi pihak yang menyewakan maupun pihak penyewa.Manfaat bagi Pihak yang MenyewakanPihak yang menyewakan (mu’jir) memperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:Dapat memastikan objek yang akan dimiliki atau dibangun telah memiliki penyewa sebelum objek tersebut benar-benar ada.Dapat memperoleh dana lebih awal, baik dibayar sekaligus maupun secara angsuran, sebelum objek diserahkan kepada penyewa.Kepemilikan objek tetap berada atas namanya sehingga ia tetap memiliki hak untuk mengelolanya.Setelah masa sewa berakhir, ia dapat menjual objek tersebut atau menyewakannya kembali kepada pihak lain melalui akad baru. Manfaat bagi Pihak PenyewaAdapun pihak penyewa (musta’jir) juga memperoleh manfaat yang besar, di antaranya:Ia mungkin tidak memiliki modal yang cukup untuk membangun sendiri aset atau bangunan dengan spesifikasi yang dibutuhkan.Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat bekerja sama dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan aset tersebut sesuai spesifikasi yang diinginkan.Tanggung jawab terhadap aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, sehingga penyewa tidak menanggung seluruh beban pengelolaan aset. Tanggung Jawab Pihak yang MenyewakanKarena kepemilikan aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, maka ia juga tetap memikul berbagai tanggung jawab, seperti:Menjaga kondisi aset yang disewakan.Menanggung pemeliharaan yang menjadi kewajibannya.Mengadakan kontrak perawatan dan perbaikan.Menangani kerusakan mendadak atau kebutuhan pemeliharaan darurat.Menyediakan berbagai layanan yang diperlukan agar manfaat objek sewa tetap dapat dinikmati oleh penyewa. Dampak terhadap PerekonomianSelain memberikan manfaat kepada kedua belah pihak, akad ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian secara umum. Akad ini membantu terlaksananya proyek-proyek produktif yang mungkin tidak dapat diwujudkan apabila pihak pengguna harus menyediakan seluruh modal di awal. Dengan demikian, akad ini dapat mendorong investasi, pembangunan aset produktif, dan perputaran ekonomi yang lebih luas. Pendapat yang MelarangAdapun menurut ulama yang mengharamkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, bentuk rekayasa keuangan ini tidak dapat dianggap sebagai rekayasa keuangan syariah yang sah. Bahkan justru menjadi alasan larangannya.Sebab, menurut mereka manfaat (manfa‘ah) tidak termasuk kategori harta (māl), sehingga tidak dapat menjadi objek tanggungan (dzimmah). Karena itu, akad sewa atas manfaat yang belum ditentukan secara nyata dianggap tidak sah menurut pandangan mereka.Namun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan akad ini karena manfaat termasuk harta yang dapat menjadi objek akad dan tanggungan, selama spesifikasi manfaat tersebut dijelaskan secara jelas dan tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-DzimmahKetika seseorang mendaftar haji plus atau umrah setahun sebelum keberangkatan, sebenarnya ia sedang membeli manfaat perjalanan yang spesifikasinya sudah dijelaskan. Hotelnya mungkin belum ditentukan nomor kamarnya, busnya belum ditentukan unitnya, bahkan kursi pesawatnya belum ditentukan. Namun penyelenggara wajib menyediakan semua fasilitas tersebut sesuai spesifikasi yang dijanjikan. Inilah yang dalam fikih disebut ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu akad atas manfaat yang menjadi tanggungan penyedia jasa. PenutupSyariat Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur akad dan muamalah yang mengantarkan seseorang menuju ibadah tersebut. Karena itu, dalam memilih layanan umrah dan haji, seorang muslim hendaknya memperhatikan kejelasan akad, transparansi layanan, dan amanah penyelenggara, bukan sekadar harga yang murah. Bagi penyedia jasa, setiap fasilitas yang dijanjikan kepada jamaah adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa bermuamalah sesuai syariat dan memudahkan kita meraih haji yang mabrur serta umrah yang maqbul. Referensi:Kitab Fikih Al-Handasah Al-Maaliyah Al-Islamiyyah. Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah. Shamela.ws —– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah ekonomi islam fikih ekonomi fikih muamalah ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah investasi syariah muamalah kontemporer pembiayaan syariah sewa dalam islam


Ketika seseorang mendaftar umrah atau haji beberapa bulan bahkan beberapa tahun sebelum keberangkatan, sering kali fasilitas yang akan digunakan belum tersedia secara nyata. Kamar hotel belum ditentukan, nomor kursi pesawat belum ada, bahkan sebagian layanan masih berupa janji penyedia jasa untuk menghadirkannya pada waktu yang telah disepakati. Lalu, bagaimana fikih Islam memandang transaksi semacam ini? Dalam kajian muamalah, para ulama membahasnya dalam akad Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah (IMFD), yaitu akad sewa atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia jasa. Akad ini menjadi salah satu landasan penting dalam berbagai transaksi modern, termasuk pemesanan jasa umrah dan haji di masa mendatang.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah? 1.1. Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam Fikih 1.2. Adapun Dzimmah 1.3. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 2. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.1. Cabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran Ujrah 3.2. Masalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.3.1. Pendapat yang Lebih Kuat 3.4. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah 3.5. Manfaat bagi Pihak yang Menyewakan 3.6. Manfaat bagi Pihak Penyewa 3.7. Tanggung Jawab Pihak yang Menyewakan 3.8. Dampak terhadap Perekonomian 3.9. Pendapat yang Melarang 4. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah 5. Penutup  Apa itu Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah?Sebelum mendefinisikan istilah ijarah maushufah fi adz-dzimmah (sewa berdasarkan spesifikasi dalam tanggungan), terlebih dahulu perlu dijelaskan makna kata-kata yang membentuk istilah tersebut, yaitu: ijarah (sewa), washf (spesifikasi), dan dzimmah (tanggungan). Makna Ijarah, Washf, dan Dzimmah dalam FikihIjarah secara bahasa berasal dari kata al-ajr yang berarti balasan atau imbalan atas suatu pekerjaan. Ibnu Manzhur berkata:“Al-ajr adalah balasan atas suatu pekerjaan, bentuk jamaknya adalah ujūr. Sedangkan al-ijārah berasal dari kata ajara–ya’jiru, yaitu sesuatu yang diberikan sebagai upah atas suatu pekerjaan.”Adapun ijarah dalam istilah fikih adalah: “Akad atas suatu manfaat yang mubah, diketahui secara jelas, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui.”Definisi ijarah dalam berbagai mazhab fikih pada dasarnya hampir sama dengan definisi ini, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam redaksinya.Sedangkan washf (spesifikasi) berarti menjelaskan sesuatu, memberikan sifat-sifatnya, dan memperjelas hakikatnya. Ibnu Faris berkata:“Huruf wau, shad, dan fa’ merupakan satu akar kata yang menunjukkan makna menghiasi atau menjelaskan sesuatu.”Yang dimaksud dengan “menghiasi” di sini adalah memperjelas dan menerangkan sifat-sifat suatu benda atau manfaat sehingga menjadi jelas dan dapat dibedakan dari yang lain. Adapun DzimmahDzimmah secara bahasa berarti janji atau tanggungan, karena seseorang akan dicela apabila menyia-nyiakan tanggung jawab tersebut.Sebagian ulama mendefinisikan dzimmah sebagai suatu sifat yang menjadikan seseorang layak memiliki hak dan dibebani kewajiban. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai suatu entitas yang memiliki ikatan perjanjian dan tanggungan. Definisi Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih terdahulu tidak memberikan definisi khusus yang berdiri sendiri untuk ijarah maushufah fi adz-dzimmah. Mereka biasanya cukup mendefinisikan ijarah secara umum, lalu menyebutkan jenis-jenisnya.Menurut mereka, ijarah terbagi menjadi dua:Ijarah atas objek tertentu yang telah ditentukan (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Ijarah atas objek yang hanya disebutkan spesifikasinya dalam tanggungan (ijarah maushufah fi adz-dzimmah).Ciri khusus ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah bahwa objek yang akan dimanfaatkan belum ditentukan secara konkret, melainkan hanya disebutkan sifat dan kriterianya, sementara penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Karena itu, akad ini dapat didefinisikan sebagai:Akad atas suatu manfaat yang mubah, yang menjadi tanggungan pihak penyewa jasa atau pemilik barang, dalam jangka waktu tertentu, dengan imbalan yang diketahui secara jelas. Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahHukum asal dalam akad ijarah adalah:Akad berlaku langsung sejak disepakati (munjizah).Objek yang disewakan telah ditentukan secara jelas.Karena itu, apabila waktu mulai akad tidak disebutkan, maka masa sewa dianggap dimulai sejak akad dilangsungkan. Jika akad dilakukan tanpa menyebut bahwa objeknya berada dalam tanggungan (dzimmah), maka akad tersebut termasuk ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah).Adapun ijarah maushufah fi adz-dzimmah merupakan bentuk pengembangan dan rekayasa terhadap akad ijarah. Dalam akad ini:Pelaksanaan manfaatnya tidak harus langsung saat akad dibuat, tetapi dapat ditangguhkan ke masa yang akan datang.Objek yang disewakan belum ada atau belum ditentukan secara spesifik, melainkan hanya dijelaskan sifat dan kriterianya, sedangkan penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak yang menyewakan.Contohnya, seseorang ingin menyewa sebuah gedung dengan spesifikasi tertentu untuk menjalankan suatu proyek. Gedung tersebut belum ada saat akad dilakukan.Dalam kondisi ini, pihak penyewa gedung mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun gedung sesuai kebutuhan proyeknya. Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat membuat perjanjian dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial dan teknis untuk membangun serta menyediakan gedung tersebut sesuai spesifikasi yang telah disepakati. Setelah gedung selesai dibangun, penyewa dapat memanfaatkannya sesuai tujuan akad. Kajian Rekayasa Keuangan Syariah pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahCabang Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-Dzimmah dan Penangguhan Pembayaran UjrahMasalah Pertama: Hukum Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama fikih berbeda pendapat mengenai hukum ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi dua pendapat: Pendapat Pertama: BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Mazhab Syafi’i.Mazhab Hanbali.Pendapat Kedua: Tidak BolehIjarah maushufah fi adz-dzimmah hukumnya tidak boleh.Ini merupakan pendapat:Mazhab Hanafi.Pendapat pertama adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur), sedangkan mazhab Hanafi melarang akad ini karena objek manfaat yang menjadi sasaran akad belum ditentukan secara nyata saat akad dilangsungkan, sehingga menurut mereka mengandung unsur ketidakjelasan (gharar). Adapun jumhur ulama membolehkannya selama spesifikasi manfaat dijelaskan secara rinci sehingga dapat menghilangkan sengketa dan ketidakjelasan.Dalil Pendapat PertamaUlama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah berdalil bahwa sebagaimana seseorang boleh menjual barang yang hanya disebutkan spesifikasinya dan masih menjadi tanggungan penjual, maka demikian pula boleh menyewakan manfaat dari suatu objek yang spesifikasinya disebutkan dan masih menjadi tanggungan pihak yang menyewakan.Dengan kata lain, jika syariat membolehkan akad jual beli atas barang yang belum ditentukan secara fisik tetapi telah dijelaskan sifat-sifatnya secara rinci, maka akad sewa atas manfaat yang memiliki karakter serupa juga semestinya diperbolehkan.Dalil Pendapat KeduaUlama yang melarang ijarah maushufah fi adz-dzimmah berpendapat bahwa manfaat (manfa‘ah) bukanlah harta (māl). Sesuatu yang tidak termasuk harta tidak dapat menjadi tanggungan (dzimmah). Oleh karena itu, agar akad ijarah sah, objek yang disewakan harus berupa barang tertentu yang telah ditentukan secara jelas.Bantahan terhadap Pendapat KeduaPendapat ini dibantah dengan mengatakan bahwa manfaat pada hakikatnya termasuk harta.Hal ini karena manfaat:Dapat dimiliki dan dialihkan kepada orang lain ketika seseorang masih hidup.Dapat diwariskan atau dialihkan setelah kematian dalam kondisi tertentu.Dapat menjadi objek ganti rugi apabila dirusak atau dihilangkan.Dapat dijadikan kompensasi, baik berupa barang maupun utang.Karena manfaat memiliki karakteristik sebagaimana harta, maka tidak tepat jika dikatakan bahwa manfaat bukanlah harta yang dapat menjadi objek tanggungan.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan kedua pendapat, dalil masing-masing, serta pembahasan terhadap argumentasi yang memerlukan kajian lebih lanjut, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Hal ini karena dalil yang digunakan oleh pendapat pertama lebih kuat, sedangkan dalil pendapat kedua tampak lemah setelah mempertimbangkan bantahan yang ditujukan kepadanya. Masalah Kedua: Hukum Menangguhkan Ujrah dalam Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum menangguhkan pembayaran ujrah (biaya sewa) dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah menjadi tiga pendapat:Pendapat PertamaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan.Ini merupakan pendapat:Mazhab Maliki.Pendapat yang paling kuat (al-ashah) dalam mazhab Syafi’i.Menurut pendapat ini, ujrah harus dibayarkan saat akad atau sesuai ketentuan yang menghindarkan akad dari unsur pertukaran utang dengan utang (bay‘ al-kāli’ bil-kāli’), sehingga tidak terjadi ketidakjelasan dan risiko sengketa di kemudian hari.Pendapat KeduaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah tidak diperbolehkan apabila akad dilakukan dengan lafaz salam. Namun, apabila akad dilakukan dengan lafaz selain salam, maka penangguhan pembayaran ujrah diperbolehkan.Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i dan pendapat resmi dalam mazhab Hanbali.Pendapat KetigaMenangguhkan pembayaran ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah diperbolehkan secara mutlak.Ini merupakan salah satu riwayat atau pendapat dalam mazhab Hanbali.Dalil Pendapat PertamaUlama yang melarang penangguhan ujrah berpendapat bahwa ijarah maushufah fi adz-dzimmah hakikatnya adalah salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘).Karena itu, akad ini harus mengikuti ketentuan akad salam. Sebagaimana dalam akad salam atas barang disyaratkan pembayaran harga dilakukan tunai saat akad, demikian pula dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan pada saat akad.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dapat dibantah dengan menjelaskan adanya perbedaan antara jual beli barang dan jual beli manfaat.Dalam jual beli barang (a‘yan), memang disyaratkan penyerahan salah satu dari dua objek pertukaran pada saat akad agar tidak terjadi pertukaran utang dengan utang.Adapun dalam jual beli manfaat (ijarah), ketentuan ini tidak berlaku. Dalam ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah), boleh saja manfaat dan ujrah sama-sama ditangguhkan sesuai kesepakatan.Karena itu, ijarah maushufah fi adz-dzimmah seharusnya disamakan dengan akad ijarah lainnya. Dengan demikian, pembayaran ujrah boleh ditunda hingga manfaat diterima atau sesuai waktu yang disepakati oleh para pihak.Dalil Pendapat KeduaUlama yang membedakan antara penggunaan lafaz salam dan selainnya berpendapat bahwa apabila akad dilakukan dengan lafaz salam, maka akad tersebut mengikuti hukum salam.Konsekuensinya, ujrah wajib dibayar tunai dalam majelis akad sebagaimana harga dalam akad salam. Menurut mereka, lafaz yang digunakan dalam akad memiliki pengaruh terhadap hukum yang berlaku pada akad tersebut.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut tidak dapat diterima.Sebab, transaksi atas manfaat pada dasarnya adalah akad ijarah yang memiliki hukum-hukum tersendiri. Akad ini tidak berubah menjadi akad salam hanya karena menggunakan lafaz salam.Sebaliknya, apabila seseorang menjual barang yang spesifikasinya berada dalam tanggungan (maushuf fi adz-dzimmah) tetapi menggunakan lafaz ijarah, maka akad tersebut tetap dihukumi sebagai akad salam, bukan ijarah.Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi dasar penetapan hukum akad adalah hakikat dan substansi akad, bukan sekadar lafaz dan bentuk ungkapannya.Karena itu berlaku kaidah fikih:العِبْرَةُ فِي العُقُودِ لِلْمَعَانِي لَا لِلْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي“Yang menjadi pertimbangan dalam akad adalah makna dan hakikatnya, bukan sekadar lafaz dan bentuk redaksinya.”Dalil Pendapat KetigaUlama yang membolehkan penangguhan ujrah secara mutlak berpendapat bahwa ujrah dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah adalah imbalan dalam akad sewa-menyewa. Oleh karena itu, pembayarannya boleh ditangguhkan, sebagaimana dibolehkan dalam akad ijarah atas objek tertentu (ijarah ‘ain mu‘ayyanah). Dengan kata lain, karena akad ini tetap merupakan akad ijarah, maka hukum asal ijarah tetap berlaku padanya, yaitu bolehnya menunda pembayaran ujrah sesuai kesepakatan para pihak.Bantahan terhadap Dalil IniPendapat tersebut dikritik dengan mengatakan bahwa qiyas (analogi) tersebut tidak tepat karena terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.Dalam ijarah atas objek tertentu, barang yang disewakan telah ada dan dapat dimanfaatkan selama masa akad berlangsung. Manfaat yang diberikan dianggap sebagai salah satu dari dua objek pertukaran dalam akad. Oleh sebab itu, dibolehkan menangguhkan objek pertukaran yang lain, yaitu ujrah.Adapun dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah, manfaat yang menjadi objek akad belum dapat dinikmati saat akad berlangsung, bahkan penyerahannya baru akan terjadi di masa mendatang. Karena itu, menurut mereka, tidak tepat menyamakan kedua jenis akad tersebut.Jawaban atas BantahanBantahan tersebut dapat dijawab bahwa tidak dapat diterima anggapan bahwa manfaat dalam ijarah atas objek tertentu selalu langsung diperoleh saat akad berlangsung.Faktanya, dalam ijarah atas objek tertentu juga dimungkinkan menangguhkan kedua objek pertukaran sekaligus, yaitu manfaat dan ujrah.Jika syariat membolehkan penangguhan kedua objek pertukaran dalam ijarah atas objek tertentu, maka tidak ada alasan untuk melarang hal yang sama dalam ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Karena ujrah merupakan imbalan atas manfaat, maka pembayaran ujrah dapat ditangguhkan hingga manfaat tersebut benar-benar diterima dan dinikmati oleh penyewa.Pendapat yang Lebih KuatSetelah memaparkan berbagai pendapat, dalil masing-masing, serta menelaah argumentasi dan bantahan yang ada, penulis berpendapat—wallāhu a‘lam—bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yaitu:Bolehnya menangguhkan pembayaran ujrah dalam akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah secara mutlak.Alasan penguat pendapat ini adalah bahwa transaksi atas manfaat memiliki karakteristik dan hukum tersendiri yang berbeda dengan transaksi atas barang.Akad atas manfaat disebut ijarah, dan salah satu ketentuan yang berlaku dalam akad ijarah adalah bolehnya menangguhkan kedua objek pertukaran sesuai kesepakatan para pihak.Karena itu, akad ijarah tidak dapat disamakan dengan jual beli barang (bai‘ al-a‘yan), sebab terdapat perbedaan mendasar antara manfaat dan barang yang menjadi objek transaksi. Oleh karena itu, hukum-hukum jual beli barang tidak serta-merta diterapkan pada akad ijarah. Cabang Kedua: Dampak Rekayasa Keuangan pada Ijarah Maushufah fi Adz-DzimmahBerdasarkan pendapat yang lebih kuat, yaitu pendapat yang membolehkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, maka rekayasa keuangan syariah telah mengembangkan bentuk akad ini untuk mewujudkan berbagai kemaslahatan bagi pihak yang menyewakan maupun pihak penyewa.Manfaat bagi Pihak yang MenyewakanPihak yang menyewakan (mu’jir) memperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:Dapat memastikan objek yang akan dimiliki atau dibangun telah memiliki penyewa sebelum objek tersebut benar-benar ada.Dapat memperoleh dana lebih awal, baik dibayar sekaligus maupun secara angsuran, sebelum objek diserahkan kepada penyewa.Kepemilikan objek tetap berada atas namanya sehingga ia tetap memiliki hak untuk mengelolanya.Setelah masa sewa berakhir, ia dapat menjual objek tersebut atau menyewakannya kembali kepada pihak lain melalui akad baru. Manfaat bagi Pihak PenyewaAdapun pihak penyewa (musta’jir) juga memperoleh manfaat yang besar, di antaranya:Ia mungkin tidak memiliki modal yang cukup untuk membangun sendiri aset atau bangunan dengan spesifikasi yang dibutuhkan.Melalui akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah, ia dapat bekerja sama dengan pihak yang memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan aset tersebut sesuai spesifikasi yang diinginkan.Tanggung jawab terhadap aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, sehingga penyewa tidak menanggung seluruh beban pengelolaan aset. Tanggung Jawab Pihak yang MenyewakanKarena kepemilikan aset tetap berada pada pihak yang menyewakan, maka ia juga tetap memikul berbagai tanggung jawab, seperti:Menjaga kondisi aset yang disewakan.Menanggung pemeliharaan yang menjadi kewajibannya.Mengadakan kontrak perawatan dan perbaikan.Menangani kerusakan mendadak atau kebutuhan pemeliharaan darurat.Menyediakan berbagai layanan yang diperlukan agar manfaat objek sewa tetap dapat dinikmati oleh penyewa. Dampak terhadap PerekonomianSelain memberikan manfaat kepada kedua belah pihak, akad ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian secara umum. Akad ini membantu terlaksananya proyek-proyek produktif yang mungkin tidak dapat diwujudkan apabila pihak pengguna harus menyediakan seluruh modal di awal. Dengan demikian, akad ini dapat mendorong investasi, pembangunan aset produktif, dan perputaran ekonomi yang lebih luas. Pendapat yang MelarangAdapun menurut ulama yang mengharamkan ijarah maushufah fi adz-dzimmah, bentuk rekayasa keuangan ini tidak dapat dianggap sebagai rekayasa keuangan syariah yang sah. Bahkan justru menjadi alasan larangannya.Sebab, menurut mereka manfaat (manfa‘ah) tidak termasuk kategori harta (māl), sehingga tidak dapat menjadi objek tanggungan (dzimmah). Karena itu, akad sewa atas manfaat yang belum ditentukan secara nyata dianggap tidak sah menurut pandangan mereka.Namun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan akad ini karena manfaat termasuk harta yang dapat menjadi objek akad dan tanggungan, selama spesifikasi manfaat tersebut dijelaskan secara jelas dan tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari. Contoh Akad Ijarah Maushufah fi adz-DzimmahKetika seseorang mendaftar haji plus atau umrah setahun sebelum keberangkatan, sebenarnya ia sedang membeli manfaat perjalanan yang spesifikasinya sudah dijelaskan. Hotelnya mungkin belum ditentukan nomor kamarnya, busnya belum ditentukan unitnya, bahkan kursi pesawatnya belum ditentukan. Namun penyelenggara wajib menyediakan semua fasilitas tersebut sesuai spesifikasi yang dijanjikan. Inilah yang dalam fikih disebut ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu akad atas manfaat yang menjadi tanggungan penyedia jasa. PenutupSyariat Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mengatur akad dan muamalah yang mengantarkan seseorang menuju ibadah tersebut. Karena itu, dalam memilih layanan umrah dan haji, seorang muslim hendaknya memperhatikan kejelasan akad, transparansi layanan, dan amanah penyelenggara, bukan sekadar harga yang murah. Bagi penyedia jasa, setiap fasilitas yang dijanjikan kepada jamaah adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa bermuamalah sesuai syariat dan memudahkan kita meraih haji yang mabrur serta umrah yang maqbul. Referensi:Kitab Fikih Al-Handasah Al-Maaliyah Al-Islamiyyah. Ijarah Maushufah fi adz-Dzimmah. Shamela.ws —– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah ekonomi islam fikih ekonomi fikih muamalah ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah investasi syariah muamalah kontemporer pembiayaan syariah sewa dalam islam

Sikap Berlebih-lebihan Bukan Bagian dari Agama

Oleh: Dr. Hussam Al-Isawi Sunaid Pendahuluan  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam banyak ayat untuk Ahli Kitab, sebagai peringatan bagi mereka dari sikap berlebih-lebihan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga.’ Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa: 171). قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ “Katakanlah: ‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian tanpa kebenaran, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya dan telah menyesatkan banyak orang serta mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus.’” (QS. Al-Ma’idah: 77). Berlebih-lebihan dalam beragama yakni melampaui batas, karena kaum Yahudi mengatakan bahwa Isa itu anak dari perzinaan, sedangkan kaum Nasrani mengatakan bahwa Isa itu anak Allah. Pada intinya, seorang muslim dalam urusan agamanya harus mengikuti perintah-perintah syariat, melaksanakan hukum-hukumnya tanpa sikap berlebihan atau mengabaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’” (QS. Al-Kahfi: 110). Dan yang dimaksud dengan amal saleh adalah amalan yang sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beberapa bentuk sikap berlebihan yang terlarang Dalam sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dijelaskan banyak bentuk sikap berlebihan yang terlarang dalam agama, di antaranya adalah: Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah melihat seorang lelaki yang dipapah oleh kedua anaknya. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Para sahabat menjawab: “Dia bernazar untuk berjalan kaki ke Baitullah.” Beliau menanggapi: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak butuh) dia menyiksa diri.” Kemudian beliau menyuruhnya untuk menunggangi hewan tunggangan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Diriwayatkan juga dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berjalan melalui seorang lelaki di Makkah yang sedang berdiri di bawah terik matahari. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Orang-orang menjawab: “Dia bernazar untuk berpuasa, tidak berteduh hingga malam, tidak berbicara, dan terus berdiri.” Beliau kemudian bersabda: “Hendaklah dia berbicara, berteduh, dan duduk, serta melanjutkan puasanya.” (HR. Ibnu Majah). Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad). Dalam Sunan Ibnu Majah juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa pernah ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berbicara dengan beliau sambil gemetaran. Beliau lalu bersabda kepadanya: هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ  “Tenangkanlah dirimu (tidak perlu gugup), karena aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari wanita yang makan daging kering.” (HR. Ibnu Majah). Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami pernah pergi bersafar, kemudian ada seseorang dari kami yang tertimpa batu hingga berdarah kepalanya. Lalu ia mimpi basah, sehingga ia bertanya kepada teman-temannya: ‘Menurut kalian apakah aku mendapat keringanan untuk bertayamum saja (sebagai ganti mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap kamu bisa mendapat keringanan, karena kamu mampu memakai air.’ Akhirnya laki-laki itu mandi hingga meninggal dunia. Ketika kami telah sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, kami menceritakan kejadian ini. Beliau lalu bersabda: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ: أَنْ يَتَيَمَّمَ، وَيَعْصِرَ ـ أَوْ يَعْصِبَ ـ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا، وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat bagi kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup baginya untuk bertayamum, lalu membalut lukanya dengan kain, kemudian mengusap di atas balutan itu, dan membasuh seluruh tubuhnya yang lain.’” (HR. Abu Dawud). Itulah beberapa contoh dan bentuk sikap berlebihan dalam beragama yang kita dilarang Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melakukannya, karena agama terbangun di atas pondasi rahmat dan kemudahan, dan tiang utamanya adalah kesesuaian terhadap syariat dan tidak melampaui batas. Beberapa bentuk lain sikap berlebihan dalam urusan-urusan lainnya Sikap berlebihan tidak hanya ada pada urusan agama saja, tapi ada pada urusan-urusan lain yang juga dilarang oleh Islam, di antaranya: 1. Berlebihan dalam makan dan minum Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثُ طَعَامٍ، وَثُلُثُ شَرَابٍ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidaklah manusia mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia makan beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika harus lebih banyak dari itu, maka hendaklah sepertiga (ruang di perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (HR. Ahmad). 2. Berlebihan dalam berinfak Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila mereka berinfak tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67). وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula engkau mengulurkannya secara berlebihan (terlalu boros), sehingga engkau menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra: 29). Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ “Tidak akan jatuh miskin orang yang hidup hemat.” (HR. Ahmad). 3. Berlebihan dalam meminta mahar dan biaya pernikahan Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad juga dari Ummul Mu’minin, Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَعُونَةً “Sesungguhnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah (ringan) dalam biayanya.” (HR. Ahmad). Penyakit zaman ini: Berlebihan dalam mendukung klub sepakbola Rutin berolahraga merupakan hal yang dianjurkan dalam agama Islam, karena ia merupakan sarana untuk merawat tubuh agar tetap kuat. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda —dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah—:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَرٌّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ اللهُ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu maka jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan’; karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ dapat membuka pintu (godaan) setan.” (HR. Muslim). Berkompetisi yang terhormat juga perkara yang dibolehkan dalam Syariat kita yang lurus ini, dan hal ini juga memiliki landasan Syariatnya, dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Dulu aku pernah bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam suatu safar. Aku pun mengajak beliau untuk berlomba lari, dan aku dapat mengalahkan beliau. Ketika aku sudah menjadi gemuk, aku kembali mengajak beliau berlomba lari, dan beliau mengalahkanku. Beliau lalu bersabda: ‘Ini untuk kekalahan yang dulu!’” (HR. Abu Dawud). Diriwayatkan juga dalam Syu’ab Al-Iman karya Al-Baihaqi bahwa Rukanah pernah mengajak Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bergulat, dan Nabi pun mengalahkannya. Rukanah berkata: Dan aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Perbedaan antara kita dan orang-orang musyrik adalah memakai sorban di atas peci.” (HR. Al-Baihaqi). Dari sini dapat kita ketahui bahwa olahraga dan perlombaan adalah perkara yang disyariatkan dalam Islam, tapi tetap dalam bingkai aturan-aturan dan syarat-syarat yang harus diperhatikan, di antaranya: Mengatur prioritas: Hal-hal mubah seperti ini tidak boleh diutamakan daripada hal-hal yang wajib. Apakah pantas bagi seorang muslim untuk menunda salat demi menyelesaikan pertandingan? Apakah layak bagi penuntut ilmu menunda belajar setelah menyaksikan pertandingan dan lain sebagainya? Harus ada penyusunan prioritas dan tidak membuang-buang waktu, permainan yang mubah hanya menjadi hiburan bagi jasmani dan rohani. Menjauhi fanatisme yang tercela: Fanatisme merupakan hal yang tercela dalam Islam, dan kisah kefanatikan antara kaum Muhajirin dan Anshar belum lama kita dengar. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah bahwa ada seorang lelaki Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki Anshar, sehingga berkumpullah masing-masing kaum mereka. Kaum yang satu berseru: “Hai kaum Muhajirin!” dan yang satu lagi juga berseru: “Hai kaum Anshar!” Kejadian ini pun terdengar ke telinga Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, sehingga beliau bersabda: “Tinggalkanlah (fanatisme) ini, karena ia amat busuk!” Kemudian beliau menambahkan: “Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini? Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini?” (HR. Ahmad). Agama Islam telah menyatukan kita, dan kita hidup di tanah yang sama. Memberi dukungan bukan hal yang haram, tapi yang haram adalah fanatisme tercela yang mengurai persatuan orang-orang, mencerai-berai ikatan mereka, dan menjadikan mereka terpecah belah, alih-alih bersatu dan saling mencintai. Demikianlah beberapa bentuk sikap berlebihan yang dilarang oleh agama kita yang lurus. Agama ini justru menyeru kita untuk menghindari hal tersebut dan menegakkan hal yang sebaliknya. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami menuju jalan-Mu yang lurus, hiasilah diri kami dengan akhlak yang terpuji, dan satukanlah hati kami, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11874/180220/الغلو-ليس-من-الدين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 312 times, 1 visit(s) today Post Views: 122

Sikap Berlebih-lebihan Bukan Bagian dari Agama

Oleh: Dr. Hussam Al-Isawi Sunaid Pendahuluan  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam banyak ayat untuk Ahli Kitab, sebagai peringatan bagi mereka dari sikap berlebih-lebihan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga.’ Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa: 171). قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ “Katakanlah: ‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian tanpa kebenaran, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya dan telah menyesatkan banyak orang serta mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus.’” (QS. Al-Ma’idah: 77). Berlebih-lebihan dalam beragama yakni melampaui batas, karena kaum Yahudi mengatakan bahwa Isa itu anak dari perzinaan, sedangkan kaum Nasrani mengatakan bahwa Isa itu anak Allah. Pada intinya, seorang muslim dalam urusan agamanya harus mengikuti perintah-perintah syariat, melaksanakan hukum-hukumnya tanpa sikap berlebihan atau mengabaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’” (QS. Al-Kahfi: 110). Dan yang dimaksud dengan amal saleh adalah amalan yang sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beberapa bentuk sikap berlebihan yang terlarang Dalam sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dijelaskan banyak bentuk sikap berlebihan yang terlarang dalam agama, di antaranya adalah: Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah melihat seorang lelaki yang dipapah oleh kedua anaknya. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Para sahabat menjawab: “Dia bernazar untuk berjalan kaki ke Baitullah.” Beliau menanggapi: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak butuh) dia menyiksa diri.” Kemudian beliau menyuruhnya untuk menunggangi hewan tunggangan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Diriwayatkan juga dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berjalan melalui seorang lelaki di Makkah yang sedang berdiri di bawah terik matahari. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Orang-orang menjawab: “Dia bernazar untuk berpuasa, tidak berteduh hingga malam, tidak berbicara, dan terus berdiri.” Beliau kemudian bersabda: “Hendaklah dia berbicara, berteduh, dan duduk, serta melanjutkan puasanya.” (HR. Ibnu Majah). Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad). Dalam Sunan Ibnu Majah juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa pernah ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berbicara dengan beliau sambil gemetaran. Beliau lalu bersabda kepadanya: هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ  “Tenangkanlah dirimu (tidak perlu gugup), karena aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari wanita yang makan daging kering.” (HR. Ibnu Majah). Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami pernah pergi bersafar, kemudian ada seseorang dari kami yang tertimpa batu hingga berdarah kepalanya. Lalu ia mimpi basah, sehingga ia bertanya kepada teman-temannya: ‘Menurut kalian apakah aku mendapat keringanan untuk bertayamum saja (sebagai ganti mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap kamu bisa mendapat keringanan, karena kamu mampu memakai air.’ Akhirnya laki-laki itu mandi hingga meninggal dunia. Ketika kami telah sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, kami menceritakan kejadian ini. Beliau lalu bersabda: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ: أَنْ يَتَيَمَّمَ، وَيَعْصِرَ ـ أَوْ يَعْصِبَ ـ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا، وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat bagi kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup baginya untuk bertayamum, lalu membalut lukanya dengan kain, kemudian mengusap di atas balutan itu, dan membasuh seluruh tubuhnya yang lain.’” (HR. Abu Dawud). Itulah beberapa contoh dan bentuk sikap berlebihan dalam beragama yang kita dilarang Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melakukannya, karena agama terbangun di atas pondasi rahmat dan kemudahan, dan tiang utamanya adalah kesesuaian terhadap syariat dan tidak melampaui batas. Beberapa bentuk lain sikap berlebihan dalam urusan-urusan lainnya Sikap berlebihan tidak hanya ada pada urusan agama saja, tapi ada pada urusan-urusan lain yang juga dilarang oleh Islam, di antaranya: 1. Berlebihan dalam makan dan minum Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثُ طَعَامٍ، وَثُلُثُ شَرَابٍ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidaklah manusia mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia makan beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika harus lebih banyak dari itu, maka hendaklah sepertiga (ruang di perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (HR. Ahmad). 2. Berlebihan dalam berinfak Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila mereka berinfak tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67). وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula engkau mengulurkannya secara berlebihan (terlalu boros), sehingga engkau menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra: 29). Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ “Tidak akan jatuh miskin orang yang hidup hemat.” (HR. Ahmad). 3. Berlebihan dalam meminta mahar dan biaya pernikahan Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad juga dari Ummul Mu’minin, Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَعُونَةً “Sesungguhnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah (ringan) dalam biayanya.” (HR. Ahmad). Penyakit zaman ini: Berlebihan dalam mendukung klub sepakbola Rutin berolahraga merupakan hal yang dianjurkan dalam agama Islam, karena ia merupakan sarana untuk merawat tubuh agar tetap kuat. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda —dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah—:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَرٌّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ اللهُ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu maka jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan’; karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ dapat membuka pintu (godaan) setan.” (HR. Muslim). Berkompetisi yang terhormat juga perkara yang dibolehkan dalam Syariat kita yang lurus ini, dan hal ini juga memiliki landasan Syariatnya, dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Dulu aku pernah bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam suatu safar. Aku pun mengajak beliau untuk berlomba lari, dan aku dapat mengalahkan beliau. Ketika aku sudah menjadi gemuk, aku kembali mengajak beliau berlomba lari, dan beliau mengalahkanku. Beliau lalu bersabda: ‘Ini untuk kekalahan yang dulu!’” (HR. Abu Dawud). Diriwayatkan juga dalam Syu’ab Al-Iman karya Al-Baihaqi bahwa Rukanah pernah mengajak Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bergulat, dan Nabi pun mengalahkannya. Rukanah berkata: Dan aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Perbedaan antara kita dan orang-orang musyrik adalah memakai sorban di atas peci.” (HR. Al-Baihaqi). Dari sini dapat kita ketahui bahwa olahraga dan perlombaan adalah perkara yang disyariatkan dalam Islam, tapi tetap dalam bingkai aturan-aturan dan syarat-syarat yang harus diperhatikan, di antaranya: Mengatur prioritas: Hal-hal mubah seperti ini tidak boleh diutamakan daripada hal-hal yang wajib. Apakah pantas bagi seorang muslim untuk menunda salat demi menyelesaikan pertandingan? Apakah layak bagi penuntut ilmu menunda belajar setelah menyaksikan pertandingan dan lain sebagainya? Harus ada penyusunan prioritas dan tidak membuang-buang waktu, permainan yang mubah hanya menjadi hiburan bagi jasmani dan rohani. Menjauhi fanatisme yang tercela: Fanatisme merupakan hal yang tercela dalam Islam, dan kisah kefanatikan antara kaum Muhajirin dan Anshar belum lama kita dengar. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah bahwa ada seorang lelaki Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki Anshar, sehingga berkumpullah masing-masing kaum mereka. Kaum yang satu berseru: “Hai kaum Muhajirin!” dan yang satu lagi juga berseru: “Hai kaum Anshar!” Kejadian ini pun terdengar ke telinga Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, sehingga beliau bersabda: “Tinggalkanlah (fanatisme) ini, karena ia amat busuk!” Kemudian beliau menambahkan: “Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini? Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini?” (HR. Ahmad). Agama Islam telah menyatukan kita, dan kita hidup di tanah yang sama. Memberi dukungan bukan hal yang haram, tapi yang haram adalah fanatisme tercela yang mengurai persatuan orang-orang, mencerai-berai ikatan mereka, dan menjadikan mereka terpecah belah, alih-alih bersatu dan saling mencintai. Demikianlah beberapa bentuk sikap berlebihan yang dilarang oleh agama kita yang lurus. Agama ini justru menyeru kita untuk menghindari hal tersebut dan menegakkan hal yang sebaliknya. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami menuju jalan-Mu yang lurus, hiasilah diri kami dengan akhlak yang terpuji, dan satukanlah hati kami, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11874/180220/الغلو-ليس-من-الدين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 312 times, 1 visit(s) today Post Views: 122
Oleh: Dr. Hussam Al-Isawi Sunaid Pendahuluan  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam banyak ayat untuk Ahli Kitab, sebagai peringatan bagi mereka dari sikap berlebih-lebihan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga.’ Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa: 171). قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ “Katakanlah: ‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian tanpa kebenaran, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya dan telah menyesatkan banyak orang serta mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus.’” (QS. Al-Ma’idah: 77). Berlebih-lebihan dalam beragama yakni melampaui batas, karena kaum Yahudi mengatakan bahwa Isa itu anak dari perzinaan, sedangkan kaum Nasrani mengatakan bahwa Isa itu anak Allah. Pada intinya, seorang muslim dalam urusan agamanya harus mengikuti perintah-perintah syariat, melaksanakan hukum-hukumnya tanpa sikap berlebihan atau mengabaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’” (QS. Al-Kahfi: 110). Dan yang dimaksud dengan amal saleh adalah amalan yang sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beberapa bentuk sikap berlebihan yang terlarang Dalam sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dijelaskan banyak bentuk sikap berlebihan yang terlarang dalam agama, di antaranya adalah: Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah melihat seorang lelaki yang dipapah oleh kedua anaknya. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Para sahabat menjawab: “Dia bernazar untuk berjalan kaki ke Baitullah.” Beliau menanggapi: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak butuh) dia menyiksa diri.” Kemudian beliau menyuruhnya untuk menunggangi hewan tunggangan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Diriwayatkan juga dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berjalan melalui seorang lelaki di Makkah yang sedang berdiri di bawah terik matahari. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Orang-orang menjawab: “Dia bernazar untuk berpuasa, tidak berteduh hingga malam, tidak berbicara, dan terus berdiri.” Beliau kemudian bersabda: “Hendaklah dia berbicara, berteduh, dan duduk, serta melanjutkan puasanya.” (HR. Ibnu Majah). Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad). Dalam Sunan Ibnu Majah juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa pernah ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berbicara dengan beliau sambil gemetaran. Beliau lalu bersabda kepadanya: هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ  “Tenangkanlah dirimu (tidak perlu gugup), karena aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari wanita yang makan daging kering.” (HR. Ibnu Majah). Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami pernah pergi bersafar, kemudian ada seseorang dari kami yang tertimpa batu hingga berdarah kepalanya. Lalu ia mimpi basah, sehingga ia bertanya kepada teman-temannya: ‘Menurut kalian apakah aku mendapat keringanan untuk bertayamum saja (sebagai ganti mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap kamu bisa mendapat keringanan, karena kamu mampu memakai air.’ Akhirnya laki-laki itu mandi hingga meninggal dunia. Ketika kami telah sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, kami menceritakan kejadian ini. Beliau lalu bersabda: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ: أَنْ يَتَيَمَّمَ، وَيَعْصِرَ ـ أَوْ يَعْصِبَ ـ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا، وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat bagi kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup baginya untuk bertayamum, lalu membalut lukanya dengan kain, kemudian mengusap di atas balutan itu, dan membasuh seluruh tubuhnya yang lain.’” (HR. Abu Dawud). Itulah beberapa contoh dan bentuk sikap berlebihan dalam beragama yang kita dilarang Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melakukannya, karena agama terbangun di atas pondasi rahmat dan kemudahan, dan tiang utamanya adalah kesesuaian terhadap syariat dan tidak melampaui batas. Beberapa bentuk lain sikap berlebihan dalam urusan-urusan lainnya Sikap berlebihan tidak hanya ada pada urusan agama saja, tapi ada pada urusan-urusan lain yang juga dilarang oleh Islam, di antaranya: 1. Berlebihan dalam makan dan minum Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثُ طَعَامٍ، وَثُلُثُ شَرَابٍ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidaklah manusia mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia makan beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika harus lebih banyak dari itu, maka hendaklah sepertiga (ruang di perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (HR. Ahmad). 2. Berlebihan dalam berinfak Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila mereka berinfak tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67). وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula engkau mengulurkannya secara berlebihan (terlalu boros), sehingga engkau menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra: 29). Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ “Tidak akan jatuh miskin orang yang hidup hemat.” (HR. Ahmad). 3. Berlebihan dalam meminta mahar dan biaya pernikahan Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad juga dari Ummul Mu’minin, Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَعُونَةً “Sesungguhnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah (ringan) dalam biayanya.” (HR. Ahmad). Penyakit zaman ini: Berlebihan dalam mendukung klub sepakbola Rutin berolahraga merupakan hal yang dianjurkan dalam agama Islam, karena ia merupakan sarana untuk merawat tubuh agar tetap kuat. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda —dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah—:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَرٌّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ اللهُ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu maka jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan’; karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ dapat membuka pintu (godaan) setan.” (HR. Muslim). Berkompetisi yang terhormat juga perkara yang dibolehkan dalam Syariat kita yang lurus ini, dan hal ini juga memiliki landasan Syariatnya, dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Dulu aku pernah bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam suatu safar. Aku pun mengajak beliau untuk berlomba lari, dan aku dapat mengalahkan beliau. Ketika aku sudah menjadi gemuk, aku kembali mengajak beliau berlomba lari, dan beliau mengalahkanku. Beliau lalu bersabda: ‘Ini untuk kekalahan yang dulu!’” (HR. Abu Dawud). Diriwayatkan juga dalam Syu’ab Al-Iman karya Al-Baihaqi bahwa Rukanah pernah mengajak Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bergulat, dan Nabi pun mengalahkannya. Rukanah berkata: Dan aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Perbedaan antara kita dan orang-orang musyrik adalah memakai sorban di atas peci.” (HR. Al-Baihaqi). Dari sini dapat kita ketahui bahwa olahraga dan perlombaan adalah perkara yang disyariatkan dalam Islam, tapi tetap dalam bingkai aturan-aturan dan syarat-syarat yang harus diperhatikan, di antaranya: Mengatur prioritas: Hal-hal mubah seperti ini tidak boleh diutamakan daripada hal-hal yang wajib. Apakah pantas bagi seorang muslim untuk menunda salat demi menyelesaikan pertandingan? Apakah layak bagi penuntut ilmu menunda belajar setelah menyaksikan pertandingan dan lain sebagainya? Harus ada penyusunan prioritas dan tidak membuang-buang waktu, permainan yang mubah hanya menjadi hiburan bagi jasmani dan rohani. Menjauhi fanatisme yang tercela: Fanatisme merupakan hal yang tercela dalam Islam, dan kisah kefanatikan antara kaum Muhajirin dan Anshar belum lama kita dengar. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah bahwa ada seorang lelaki Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki Anshar, sehingga berkumpullah masing-masing kaum mereka. Kaum yang satu berseru: “Hai kaum Muhajirin!” dan yang satu lagi juga berseru: “Hai kaum Anshar!” Kejadian ini pun terdengar ke telinga Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, sehingga beliau bersabda: “Tinggalkanlah (fanatisme) ini, karena ia amat busuk!” Kemudian beliau menambahkan: “Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini? Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini?” (HR. Ahmad). Agama Islam telah menyatukan kita, dan kita hidup di tanah yang sama. Memberi dukungan bukan hal yang haram, tapi yang haram adalah fanatisme tercela yang mengurai persatuan orang-orang, mencerai-berai ikatan mereka, dan menjadikan mereka terpecah belah, alih-alih bersatu dan saling mencintai. Demikianlah beberapa bentuk sikap berlebihan yang dilarang oleh agama kita yang lurus. Agama ini justru menyeru kita untuk menghindari hal tersebut dan menegakkan hal yang sebaliknya. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami menuju jalan-Mu yang lurus, hiasilah diri kami dengan akhlak yang terpuji, dan satukanlah hati kami, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11874/180220/الغلو-ليس-من-الدين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 312 times, 1 visit(s) today Post Views: 122


Oleh: Dr. Hussam Al-Isawi Sunaid Pendahuluan  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam banyak ayat untuk Ahli Kitab, sebagai peringatan bagi mereka dari sikap berlebih-lebihan dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga.’ Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa: 171). قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ “Katakanlah: ‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian tanpa kebenaran, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya dan telah menyesatkan banyak orang serta mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus.’” (QS. Al-Ma’idah: 77). Berlebih-lebihan dalam beragama yakni melampaui batas, karena kaum Yahudi mengatakan bahwa Isa itu anak dari perzinaan, sedangkan kaum Nasrani mengatakan bahwa Isa itu anak Allah. Pada intinya, seorang muslim dalam urusan agamanya harus mengikuti perintah-perintah syariat, melaksanakan hukum-hukumnya tanpa sikap berlebihan atau mengabaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا “Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’” (QS. Al-Kahfi: 110). Dan yang dimaksud dengan amal saleh adalah amalan yang sesuai dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beberapa bentuk sikap berlebihan yang terlarang Dalam sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dijelaskan banyak bentuk sikap berlebihan yang terlarang dalam agama, di antaranya adalah: Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah melihat seorang lelaki yang dipapah oleh kedua anaknya. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Para sahabat menjawab: “Dia bernazar untuk berjalan kaki ke Baitullah.” Beliau menanggapi: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak butuh) dia menyiksa diri.” Kemudian beliau menyuruhnya untuk menunggangi hewan tunggangan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Diriwayatkan juga dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berjalan melalui seorang lelaki di Makkah yang sedang berdiri di bawah terik matahari. Beliau lalu bertanya: “Kenapa ini?” Orang-orang menjawab: “Dia bernazar untuk berpuasa, tidak berteduh hingga malam, tidak berbicara, dan terus berdiri.” Beliau kemudian bersabda: “Hendaklah dia berbicara, berteduh, dan duduk, serta melanjutkan puasanya.” (HR. Ibnu Majah). Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad). Dalam Sunan Ibnu Majah juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa pernah ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam lalu berbicara dengan beliau sambil gemetaran. Beliau lalu bersabda kepadanya: هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ  “Tenangkanlah dirimu (tidak perlu gugup), karena aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari wanita yang makan daging kering.” (HR. Ibnu Majah). Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami pernah pergi bersafar, kemudian ada seseorang dari kami yang tertimpa batu hingga berdarah kepalanya. Lalu ia mimpi basah, sehingga ia bertanya kepada teman-temannya: ‘Menurut kalian apakah aku mendapat keringanan untuk bertayamum saja (sebagai ganti mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap kamu bisa mendapat keringanan, karena kamu mampu memakai air.’ Akhirnya laki-laki itu mandi hingga meninggal dunia. Ketika kami telah sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, kami menceritakan kejadian ini. Beliau lalu bersabda: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ: أَنْ يَتَيَمَّمَ، وَيَعْصِرَ ـ أَوْ يَعْصِبَ ـ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا، وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat bagi kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup baginya untuk bertayamum, lalu membalut lukanya dengan kain, kemudian mengusap di atas balutan itu, dan membasuh seluruh tubuhnya yang lain.’” (HR. Abu Dawud). Itulah beberapa contoh dan bentuk sikap berlebihan dalam beragama yang kita dilarang Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melakukannya, karena agama terbangun di atas pondasi rahmat dan kemudahan, dan tiang utamanya adalah kesesuaian terhadap syariat dan tidak melampaui batas. Beberapa bentuk lain sikap berlebihan dalam urusan-urusan lainnya Sikap berlebihan tidak hanya ada pada urusan agama saja, tapi ada pada urusan-urusan lain yang juga dilarang oleh Islam, di antaranya: 1. Berlebihan dalam makan dan minum Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثُ طَعَامٍ، وَثُلُثُ شَرَابٍ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidaklah manusia mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia makan beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika harus lebih banyak dari itu, maka hendaklah sepertiga (ruang di perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (HR. Ahmad). 2. Berlebihan dalam berinfak Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila mereka berinfak tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67). وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا “Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula engkau mengulurkannya secara berlebihan (terlalu boros), sehingga engkau menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra: 29). Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ “Tidak akan jatuh miskin orang yang hidup hemat.” (HR. Ahmad). 3. Berlebihan dalam meminta mahar dan biaya pernikahan Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad juga dari Ummul Mu’minin, Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مَعُونَةً “Sesungguhnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah (ringan) dalam biayanya.” (HR. Ahmad). Penyakit zaman ini: Berlebihan dalam mendukung klub sepakbola Rutin berolahraga merupakan hal yang dianjurkan dalam agama Islam, karena ia merupakan sarana untuk merawat tubuh agar tetap kuat. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda —dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah—:  الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَرٌّ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ اللهُ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu maka jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan’; karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ dapat membuka pintu (godaan) setan.” (HR. Muslim). Berkompetisi yang terhormat juga perkara yang dibolehkan dalam Syariat kita yang lurus ini, dan hal ini juga memiliki landasan Syariatnya, dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Dulu aku pernah bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam suatu safar. Aku pun mengajak beliau untuk berlomba lari, dan aku dapat mengalahkan beliau. Ketika aku sudah menjadi gemuk, aku kembali mengajak beliau berlomba lari, dan beliau mengalahkanku. Beliau lalu bersabda: ‘Ini untuk kekalahan yang dulu!’” (HR. Abu Dawud). Diriwayatkan juga dalam Syu’ab Al-Iman karya Al-Baihaqi bahwa Rukanah pernah mengajak Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bergulat, dan Nabi pun mengalahkannya. Rukanah berkata: Dan aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Perbedaan antara kita dan orang-orang musyrik adalah memakai sorban di atas peci.” (HR. Al-Baihaqi). Dari sini dapat kita ketahui bahwa olahraga dan perlombaan adalah perkara yang disyariatkan dalam Islam, tapi tetap dalam bingkai aturan-aturan dan syarat-syarat yang harus diperhatikan, di antaranya: Mengatur prioritas: Hal-hal mubah seperti ini tidak boleh diutamakan daripada hal-hal yang wajib. Apakah pantas bagi seorang muslim untuk menunda salat demi menyelesaikan pertandingan? Apakah layak bagi penuntut ilmu menunda belajar setelah menyaksikan pertandingan dan lain sebagainya? Harus ada penyusunan prioritas dan tidak membuang-buang waktu, permainan yang mubah hanya menjadi hiburan bagi jasmani dan rohani. Menjauhi fanatisme yang tercela: Fanatisme merupakan hal yang tercela dalam Islam, dan kisah kefanatikan antara kaum Muhajirin dan Anshar belum lama kita dengar. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah bahwa ada seorang lelaki Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki Anshar, sehingga berkumpullah masing-masing kaum mereka. Kaum yang satu berseru: “Hai kaum Muhajirin!” dan yang satu lagi juga berseru: “Hai kaum Anshar!” Kejadian ini pun terdengar ke telinga Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, sehingga beliau bersabda: “Tinggalkanlah (fanatisme) ini, karena ia amat busuk!” Kemudian beliau menambahkan: “Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini? Ada apa dengan seruan (fanatisme) jahiliyah ini?” (HR. Ahmad). Agama Islam telah menyatukan kita, dan kita hidup di tanah yang sama. Memberi dukungan bukan hal yang haram, tapi yang haram adalah fanatisme tercela yang mengurai persatuan orang-orang, mencerai-berai ikatan mereka, dan menjadikan mereka terpecah belah, alih-alih bersatu dan saling mencintai. Demikianlah beberapa bentuk sikap berlebihan yang dilarang oleh agama kita yang lurus. Agama ini justru menyeru kita untuk menghindari hal tersebut dan menegakkan hal yang sebaliknya. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami menuju jalan-Mu yang lurus, hiasilah diri kami dengan akhlak yang terpuji, dan satukanlah hati kami, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11874/180220/الغلو-ليس-من-الدين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 312 times, 1 visit(s) today Post Views: 122

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahJangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan iniPenutupKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahPara ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa urgensi niat harus dilandasi ikhlas karena Allah dalam setiap amal perbuatan.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,ما عالجت شيئًا أشدَّ عليَّ من نيتي، لأنها تتقلب عليَّ“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan selain niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,رُبَّ عملٍ صغير تعظمه النية، ورُبَّ عملٍ كبير تصغره النية“Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena niat (ikhlas), dan betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat (tidak ikhlas).”Ar-Rabi bin Khutsaim rahimahullah berkata,كل ما لا يبتغي وجه الله يضمحِلُّ“Segala sesuatu yang tidak diniatkan karena Allah itu akan sirna.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,لا يزال العبد بخير ما إذا قال، قال لله، وإذا عمل، عمل لله عز وجل“Seorang hamba akan terus berada dalam kebaikan selama ucapannya karena Allah dan amalnya juga karena Allah.”Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata,إني لأُحِبُّ أن تكون لي نية في كل شيء حتى في الطعام والشراب“Aku sungguh sangat bahagia jika aku memiliki niat (karena Allah) dalam setiap perkara, bahkan saat makan dan minum.”Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata,ليس على النفس شيءٌ أشقُّ من الإخلاص؛ لأنه ليس لها فيه نصيب“Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa selain ikhlas (karena Allah), sebab jiwa tidak mendapatkan bagian apa pun darinya.”Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi rahimahullah berkata,أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي، وكأنه ينبت فيه على لون آخر“Perkara paling mulia di dunia adalah keikhlasan. Aku terus berusaha menghilangkan riya dari hatiku, namun ia seolah tumbuh kembali dalam wujud lain.”Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir rahimahullah berkata,صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية“Baiknya hati tergantung pada baiknya amal, dan baiknya amal tergantung pada baiknya niat (ikhlas).”Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah menjelaskan firman Allah (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) dengan mengatakan,أخلصه وأصوبه، فإنه إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصًا لم يُقبل حتى يكون خالصًا، والخالص إذا كان لله، والصواب إذا كان على السُّنَّة“Amal paling utama dan terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Amal yang ikhlas tetapi tidak benar itu tidak diterima. Begitu pula amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai amalan itu menjadi ikhlas. Ikhlas itu jika dilakukan karena Allah, dan benar itu jika sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Dari Syaddad bin Aus rahimahullah, ketika menjelang wafat, beliau berkata,إن أخوف ما أخاف عليكم الرياءُ“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah riya.”Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah berkata,من صحح باطنه بالمراقبة والإخلاص زيَّن الله ظاهره باتباع السنة“Barangsiapa memperbaiki batinnya dengan muraqabah dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi lahiriahnya dengan mengikuti sunah.”Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,الله يحب من عباده الإخلاص في عبادته، في التوحيد، وسائر الأعمال كلها التي يُعبَد بها، وفي الإخلاص طرح الرياء كله؛ لأن الرياء شرك أو ضرب من الشرك“Allah mencintai keikhlasan dari hamba-hamba-Nya dalam ibadah kepada-Nya, dalam tauhid dan seluruh amal ibadah. Termasuk dalan keikhlasan adalah menjauhi riya, karena riya adalah syirik atau bagian dari syirik.”Beliau juga berkata,يدخل في الإخلاص التوكل على الله، وأنه لا يضر ولا ينفع، ولا يعطي ولا يمنع على الحقيقة غيره، لأنه لا مانع لِما أعطى، ولا معطيَ لِما منع، لا شريك له“Termasuk dalam keikhlasan adalah bertawakal kepada Allah, meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberi mudarat atau manfaat, memberi atau menahan sesuatu selain Dia. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang Allah beri, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Allah cegah. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Dinukil dari Jami’ al-Ulum wal Hikam)Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,ما نظرتُ ببصري، ولا نطقتُ بلساني، ولا بطشتُ بيدي، ولا نهضتُ على قدمي، حتى أنظر: أفي طاعةِ اللهِ أم في معصيتِه؟ فإن كانت في طاعتِه مضيتُ، وإن كانت في معصيتِه توقَّفتُ“Aku tidak memandang dengan mataku, tidak berbicara dengan lisanku, tidak bergerak dengan tanganku, dan tidak melangkah dengan kakiku sampai aku melihat: apakah itu dalam ketaatan kepada Allah atau dalam kemaksiatan kepadaNya? Jika dalam ketaatan, aku lanjutkan. Jika dalam kemaksiatan, aku berhenti.” (Lihat Siyar A’lam an-Nubala, 4: 585)Maka, ibadah kurban merupakan madrasah yang mendidik seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, serta melatih hati agar hanya mengharap rida-Nya semata. Kurban juga menjadi syiar yang agung yang telah Allah Ta’ala perintahkan bagi hamba-hamba-Nya, di mana seorang muslim rela mengorbankan harta yang ia sangat cintai demi menjalankan ketaatan kepada Rabbnya. Dari ibadah ini, seorang mukmin belajar tentang ketundukan, pengorbanan, dan kesempurnaan tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Jangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan ini Sebagian orang melaksanakan kurban karena ingin dipuji, sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, atau demi kebanggaan dan gengsi. Padahal, sikap semacam ini dapat merusak pahala ibadah kurban itu sendiri. Ada pula yang kurang memperhatikan niat, atau meremehkan ketentuan waktu penyembelihan. Dan sebagian lainnya bahkan tidak menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih hewan kurban.Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)PenutupMaka, seorang muslim seyogyanya memahami bahwa hakikat utama ibadah kurban bukan sekadar ketika menyembelih hewan saja, tetapi bagaimana ibadah tersebut bisa menjadi sarana untuk meraih ketakwaan, mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, mendekatkan diri kepada-Nya, membantu orang-orang yang fakir dan membutuhkan, serta menghidupkan syiar tauhid di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ibadah kurban tidak semestinya dicampuri dengan perbuatan riya, berbangga diri, ataupun sekadar mengikuti tradisi tanpa disertai pemahaman yang benar.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan hati kita dengan ketakwaan kepada-Nya, memberi pertolongan agar kita mampu ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta menerima seluruh amal saleh kita.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1*** Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahJangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan iniPenutupKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahPara ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa urgensi niat harus dilandasi ikhlas karena Allah dalam setiap amal perbuatan.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,ما عالجت شيئًا أشدَّ عليَّ من نيتي، لأنها تتقلب عليَّ“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan selain niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,رُبَّ عملٍ صغير تعظمه النية، ورُبَّ عملٍ كبير تصغره النية“Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena niat (ikhlas), dan betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat (tidak ikhlas).”Ar-Rabi bin Khutsaim rahimahullah berkata,كل ما لا يبتغي وجه الله يضمحِلُّ“Segala sesuatu yang tidak diniatkan karena Allah itu akan sirna.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,لا يزال العبد بخير ما إذا قال، قال لله، وإذا عمل، عمل لله عز وجل“Seorang hamba akan terus berada dalam kebaikan selama ucapannya karena Allah dan amalnya juga karena Allah.”Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata,إني لأُحِبُّ أن تكون لي نية في كل شيء حتى في الطعام والشراب“Aku sungguh sangat bahagia jika aku memiliki niat (karena Allah) dalam setiap perkara, bahkan saat makan dan minum.”Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata,ليس على النفس شيءٌ أشقُّ من الإخلاص؛ لأنه ليس لها فيه نصيب“Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa selain ikhlas (karena Allah), sebab jiwa tidak mendapatkan bagian apa pun darinya.”Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi rahimahullah berkata,أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي، وكأنه ينبت فيه على لون آخر“Perkara paling mulia di dunia adalah keikhlasan. Aku terus berusaha menghilangkan riya dari hatiku, namun ia seolah tumbuh kembali dalam wujud lain.”Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir rahimahullah berkata,صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية“Baiknya hati tergantung pada baiknya amal, dan baiknya amal tergantung pada baiknya niat (ikhlas).”Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah menjelaskan firman Allah (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) dengan mengatakan,أخلصه وأصوبه، فإنه إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصًا لم يُقبل حتى يكون خالصًا، والخالص إذا كان لله، والصواب إذا كان على السُّنَّة“Amal paling utama dan terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Amal yang ikhlas tetapi tidak benar itu tidak diterima. Begitu pula amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai amalan itu menjadi ikhlas. Ikhlas itu jika dilakukan karena Allah, dan benar itu jika sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Dari Syaddad bin Aus rahimahullah, ketika menjelang wafat, beliau berkata,إن أخوف ما أخاف عليكم الرياءُ“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah riya.”Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah berkata,من صحح باطنه بالمراقبة والإخلاص زيَّن الله ظاهره باتباع السنة“Barangsiapa memperbaiki batinnya dengan muraqabah dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi lahiriahnya dengan mengikuti sunah.”Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,الله يحب من عباده الإخلاص في عبادته، في التوحيد، وسائر الأعمال كلها التي يُعبَد بها، وفي الإخلاص طرح الرياء كله؛ لأن الرياء شرك أو ضرب من الشرك“Allah mencintai keikhlasan dari hamba-hamba-Nya dalam ibadah kepada-Nya, dalam tauhid dan seluruh amal ibadah. Termasuk dalan keikhlasan adalah menjauhi riya, karena riya adalah syirik atau bagian dari syirik.”Beliau juga berkata,يدخل في الإخلاص التوكل على الله، وأنه لا يضر ولا ينفع، ولا يعطي ولا يمنع على الحقيقة غيره، لأنه لا مانع لِما أعطى، ولا معطيَ لِما منع، لا شريك له“Termasuk dalam keikhlasan adalah bertawakal kepada Allah, meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberi mudarat atau manfaat, memberi atau menahan sesuatu selain Dia. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang Allah beri, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Allah cegah. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Dinukil dari Jami’ al-Ulum wal Hikam)Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,ما نظرتُ ببصري، ولا نطقتُ بلساني، ولا بطشتُ بيدي، ولا نهضتُ على قدمي، حتى أنظر: أفي طاعةِ اللهِ أم في معصيتِه؟ فإن كانت في طاعتِه مضيتُ، وإن كانت في معصيتِه توقَّفتُ“Aku tidak memandang dengan mataku, tidak berbicara dengan lisanku, tidak bergerak dengan tanganku, dan tidak melangkah dengan kakiku sampai aku melihat: apakah itu dalam ketaatan kepada Allah atau dalam kemaksiatan kepadaNya? Jika dalam ketaatan, aku lanjutkan. Jika dalam kemaksiatan, aku berhenti.” (Lihat Siyar A’lam an-Nubala, 4: 585)Maka, ibadah kurban merupakan madrasah yang mendidik seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, serta melatih hati agar hanya mengharap rida-Nya semata. Kurban juga menjadi syiar yang agung yang telah Allah Ta’ala perintahkan bagi hamba-hamba-Nya, di mana seorang muslim rela mengorbankan harta yang ia sangat cintai demi menjalankan ketaatan kepada Rabbnya. Dari ibadah ini, seorang mukmin belajar tentang ketundukan, pengorbanan, dan kesempurnaan tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Jangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan ini Sebagian orang melaksanakan kurban karena ingin dipuji, sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, atau demi kebanggaan dan gengsi. Padahal, sikap semacam ini dapat merusak pahala ibadah kurban itu sendiri. Ada pula yang kurang memperhatikan niat, atau meremehkan ketentuan waktu penyembelihan. Dan sebagian lainnya bahkan tidak menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih hewan kurban.Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)PenutupMaka, seorang muslim seyogyanya memahami bahwa hakikat utama ibadah kurban bukan sekadar ketika menyembelih hewan saja, tetapi bagaimana ibadah tersebut bisa menjadi sarana untuk meraih ketakwaan, mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, mendekatkan diri kepada-Nya, membantu orang-orang yang fakir dan membutuhkan, serta menghidupkan syiar tauhid di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ibadah kurban tidak semestinya dicampuri dengan perbuatan riya, berbangga diri, ataupun sekadar mengikuti tradisi tanpa disertai pemahaman yang benar.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan hati kita dengan ketakwaan kepada-Nya, memberi pertolongan agar kita mampu ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta menerima seluruh amal saleh kita.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1*** Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/
Daftar Isi ToggleKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahJangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan iniPenutupKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahPara ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa urgensi niat harus dilandasi ikhlas karena Allah dalam setiap amal perbuatan.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,ما عالجت شيئًا أشدَّ عليَّ من نيتي، لأنها تتقلب عليَّ“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan selain niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,رُبَّ عملٍ صغير تعظمه النية، ورُبَّ عملٍ كبير تصغره النية“Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena niat (ikhlas), dan betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat (tidak ikhlas).”Ar-Rabi bin Khutsaim rahimahullah berkata,كل ما لا يبتغي وجه الله يضمحِلُّ“Segala sesuatu yang tidak diniatkan karena Allah itu akan sirna.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,لا يزال العبد بخير ما إذا قال، قال لله، وإذا عمل، عمل لله عز وجل“Seorang hamba akan terus berada dalam kebaikan selama ucapannya karena Allah dan amalnya juga karena Allah.”Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata,إني لأُحِبُّ أن تكون لي نية في كل شيء حتى في الطعام والشراب“Aku sungguh sangat bahagia jika aku memiliki niat (karena Allah) dalam setiap perkara, bahkan saat makan dan minum.”Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata,ليس على النفس شيءٌ أشقُّ من الإخلاص؛ لأنه ليس لها فيه نصيب“Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa selain ikhlas (karena Allah), sebab jiwa tidak mendapatkan bagian apa pun darinya.”Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi rahimahullah berkata,أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي، وكأنه ينبت فيه على لون آخر“Perkara paling mulia di dunia adalah keikhlasan. Aku terus berusaha menghilangkan riya dari hatiku, namun ia seolah tumbuh kembali dalam wujud lain.”Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir rahimahullah berkata,صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية“Baiknya hati tergantung pada baiknya amal, dan baiknya amal tergantung pada baiknya niat (ikhlas).”Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah menjelaskan firman Allah (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) dengan mengatakan,أخلصه وأصوبه، فإنه إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصًا لم يُقبل حتى يكون خالصًا، والخالص إذا كان لله، والصواب إذا كان على السُّنَّة“Amal paling utama dan terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Amal yang ikhlas tetapi tidak benar itu tidak diterima. Begitu pula amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai amalan itu menjadi ikhlas. Ikhlas itu jika dilakukan karena Allah, dan benar itu jika sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Dari Syaddad bin Aus rahimahullah, ketika menjelang wafat, beliau berkata,إن أخوف ما أخاف عليكم الرياءُ“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah riya.”Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah berkata,من صحح باطنه بالمراقبة والإخلاص زيَّن الله ظاهره باتباع السنة“Barangsiapa memperbaiki batinnya dengan muraqabah dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi lahiriahnya dengan mengikuti sunah.”Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,الله يحب من عباده الإخلاص في عبادته، في التوحيد، وسائر الأعمال كلها التي يُعبَد بها، وفي الإخلاص طرح الرياء كله؛ لأن الرياء شرك أو ضرب من الشرك“Allah mencintai keikhlasan dari hamba-hamba-Nya dalam ibadah kepada-Nya, dalam tauhid dan seluruh amal ibadah. Termasuk dalan keikhlasan adalah menjauhi riya, karena riya adalah syirik atau bagian dari syirik.”Beliau juga berkata,يدخل في الإخلاص التوكل على الله، وأنه لا يضر ولا ينفع، ولا يعطي ولا يمنع على الحقيقة غيره، لأنه لا مانع لِما أعطى، ولا معطيَ لِما منع، لا شريك له“Termasuk dalam keikhlasan adalah bertawakal kepada Allah, meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberi mudarat atau manfaat, memberi atau menahan sesuatu selain Dia. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang Allah beri, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Allah cegah. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Dinukil dari Jami’ al-Ulum wal Hikam)Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,ما نظرتُ ببصري، ولا نطقتُ بلساني، ولا بطشتُ بيدي، ولا نهضتُ على قدمي، حتى أنظر: أفي طاعةِ اللهِ أم في معصيتِه؟ فإن كانت في طاعتِه مضيتُ، وإن كانت في معصيتِه توقَّفتُ“Aku tidak memandang dengan mataku, tidak berbicara dengan lisanku, tidak bergerak dengan tanganku, dan tidak melangkah dengan kakiku sampai aku melihat: apakah itu dalam ketaatan kepada Allah atau dalam kemaksiatan kepadaNya? Jika dalam ketaatan, aku lanjutkan. Jika dalam kemaksiatan, aku berhenti.” (Lihat Siyar A’lam an-Nubala, 4: 585)Maka, ibadah kurban merupakan madrasah yang mendidik seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, serta melatih hati agar hanya mengharap rida-Nya semata. Kurban juga menjadi syiar yang agung yang telah Allah Ta’ala perintahkan bagi hamba-hamba-Nya, di mana seorang muslim rela mengorbankan harta yang ia sangat cintai demi menjalankan ketaatan kepada Rabbnya. Dari ibadah ini, seorang mukmin belajar tentang ketundukan, pengorbanan, dan kesempurnaan tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Jangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan ini Sebagian orang melaksanakan kurban karena ingin dipuji, sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, atau demi kebanggaan dan gengsi. Padahal, sikap semacam ini dapat merusak pahala ibadah kurban itu sendiri. Ada pula yang kurang memperhatikan niat, atau meremehkan ketentuan waktu penyembelihan. Dan sebagian lainnya bahkan tidak menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih hewan kurban.Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)PenutupMaka, seorang muslim seyogyanya memahami bahwa hakikat utama ibadah kurban bukan sekadar ketika menyembelih hewan saja, tetapi bagaimana ibadah tersebut bisa menjadi sarana untuk meraih ketakwaan, mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, mendekatkan diri kepada-Nya, membantu orang-orang yang fakir dan membutuhkan, serta menghidupkan syiar tauhid di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ibadah kurban tidak semestinya dicampuri dengan perbuatan riya, berbangga diri, ataupun sekadar mengikuti tradisi tanpa disertai pemahaman yang benar.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan hati kita dengan ketakwaan kepada-Nya, memberi pertolongan agar kita mampu ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta menerima seluruh amal saleh kita.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1*** Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/


Daftar Isi ToggleKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahJangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan iniPenutupKurban mengajarkan tauhid dan keikhlasan karena AllahPara ulama salaf terdahulu mempelajari niat sebelum beramal sebagaimana seseorang mempelajari hakikat amal itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa urgensi niat harus dilandasi ikhlas karena Allah dalam setiap amal perbuatan.Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata,ما عالجت شيئًا أشدَّ عليَّ من نيتي، لأنها تتقلب عليَّ“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan selain niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,رُبَّ عملٍ صغير تعظمه النية، ورُبَّ عملٍ كبير تصغره النية“Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena niat (ikhlas), dan betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat (tidak ikhlas).”Ar-Rabi bin Khutsaim rahimahullah berkata,كل ما لا يبتغي وجه الله يضمحِلُّ“Segala sesuatu yang tidak diniatkan karena Allah itu akan sirna.”Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,لا يزال العبد بخير ما إذا قال، قال لله، وإذا عمل، عمل لله عز وجل“Seorang hamba akan terus berada dalam kebaikan selama ucapannya karena Allah dan amalnya juga karena Allah.”Zubaid Al-Yami rahimahullah berkata,إني لأُحِبُّ أن تكون لي نية في كل شيء حتى في الطعام والشراب“Aku sungguh sangat bahagia jika aku memiliki niat (karena Allah) dalam setiap perkara, bahkan saat makan dan minum.”Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata,ليس على النفس شيءٌ أشقُّ من الإخلاص؛ لأنه ليس لها فيه نصيب“Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa selain ikhlas (karena Allah), sebab jiwa tidak mendapatkan bagian apa pun darinya.”Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi rahimahullah berkata,أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي، وكأنه ينبت فيه على لون آخر“Perkara paling mulia di dunia adalah keikhlasan. Aku terus berusaha menghilangkan riya dari hatiku, namun ia seolah tumbuh kembali dalam wujud lain.”Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir rahimahullah berkata,صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية“Baiknya hati tergantung pada baiknya amal, dan baiknya amal tergantung pada baiknya niat (ikhlas).”Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah menjelaskan firman Allah (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) dengan mengatakan,أخلصه وأصوبه، فإنه إذا كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يُقبل، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصًا لم يُقبل حتى يكون خالصًا، والخالص إذا كان لله، والصواب إذا كان على السُّنَّة“Amal paling utama dan terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Amal yang ikhlas tetapi tidak benar itu tidak diterima. Begitu pula amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai amalan itu menjadi ikhlas. Ikhlas itu jika dilakukan karena Allah, dan benar itu jika sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Dari Syaddad bin Aus rahimahullah, ketika menjelang wafat, beliau berkata,إن أخوف ما أخاف عليكم الرياءُ“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah riya.”Yahya bin Muadz Ar-Razi rahimahullah berkata,من صحح باطنه بالمراقبة والإخلاص زيَّن الله ظاهره باتباع السنة“Barangsiapa memperbaiki batinnya dengan muraqabah dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi lahiriahnya dengan mengikuti sunah.”Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,الله يحب من عباده الإخلاص في عبادته، في التوحيد، وسائر الأعمال كلها التي يُعبَد بها، وفي الإخلاص طرح الرياء كله؛ لأن الرياء شرك أو ضرب من الشرك“Allah mencintai keikhlasan dari hamba-hamba-Nya dalam ibadah kepada-Nya, dalam tauhid dan seluruh amal ibadah. Termasuk dalan keikhlasan adalah menjauhi riya, karena riya adalah syirik atau bagian dari syirik.”Beliau juga berkata,يدخل في الإخلاص التوكل على الله، وأنه لا يضر ولا ينفع، ولا يعطي ولا يمنع على الحقيقة غيره، لأنه لا مانع لِما أعطى، ولا معطيَ لِما منع، لا شريك له“Termasuk dalam keikhlasan adalah bertawakal kepada Allah, meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberi mudarat atau manfaat, memberi atau menahan sesuatu selain Dia. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang Allah beri, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Allah cegah. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Dinukil dari Jami’ al-Ulum wal Hikam)Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,ما نظرتُ ببصري، ولا نطقتُ بلساني، ولا بطشتُ بيدي، ولا نهضتُ على قدمي، حتى أنظر: أفي طاعةِ اللهِ أم في معصيتِه؟ فإن كانت في طاعتِه مضيتُ، وإن كانت في معصيتِه توقَّفتُ“Aku tidak memandang dengan mataku, tidak berbicara dengan lisanku, tidak bergerak dengan tanganku, dan tidak melangkah dengan kakiku sampai aku melihat: apakah itu dalam ketaatan kepada Allah atau dalam kemaksiatan kepadaNya? Jika dalam ketaatan, aku lanjutkan. Jika dalam kemaksiatan, aku berhenti.” (Lihat Siyar A’lam an-Nubala, 4: 585)Maka, ibadah kurban merupakan madrasah yang mendidik seorang hamba untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, serta melatih hati agar hanya mengharap rida-Nya semata. Kurban juga menjadi syiar yang agung yang telah Allah Ta’ala perintahkan bagi hamba-hamba-Nya, di mana seorang muslim rela mengorbankan harta yang ia sangat cintai demi menjalankan ketaatan kepada Rabbnya. Dari ibadah ini, seorang mukmin belajar tentang ketundukan, pengorbanan, dan kesempurnaan tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Jangan sampai pahala ibadah kurban tidak diterima karena perbuatan ini Sebagian orang melaksanakan kurban karena ingin dipuji, sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, atau demi kebanggaan dan gengsi. Padahal, sikap semacam ini dapat merusak pahala ibadah kurban itu sendiri. Ada pula yang kurang memperhatikan niat, atau meremehkan ketentuan waktu penyembelihan. Dan sebagian lainnya bahkan tidak menyebut nama Allah (basmalah) saat menyembelih hewan kurban.Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)PenutupMaka, seorang muslim seyogyanya memahami bahwa hakikat utama ibadah kurban bukan sekadar ketika menyembelih hewan saja, tetapi bagaimana ibadah tersebut bisa menjadi sarana untuk meraih ketakwaan, mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, mendekatkan diri kepada-Nya, membantu orang-orang yang fakir dan membutuhkan, serta menghidupkan syiar tauhid di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ibadah kurban tidak semestinya dicampuri dengan perbuatan riya, berbangga diri, ataupun sekadar mengikuti tradisi tanpa disertai pemahaman yang benar.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan hati kita dengan ketakwaan kepada-Nya, memberi pertolongan agar kita mampu ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta menerima seluruh amal saleh kita.Wallahu a’lam bisshawab.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1*** Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaKurban itu sunah yang sangat dianjurkanKurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamHikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanMenjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataMengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaMenghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanDi antara syariat agung dalam Islam adalah ibadah yang dilaksanakan pada waktu tertentu sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya ialah ibadah kurban (udh-hiyah), yang memiliki keutamaan besar serta hikmah yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan, dan kehidupan sosial.Namun, banyak orang mulai melupakan hakikat utama dari ibadah kurban. Kurban sering dipandang sekadar tradisi atau ajang sosial yang dinilai dari besar dan jenis hewannya, sehingga keikhlasan dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi terlupakan.Kurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan ibadah kurban harus dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)Ayat ini menjelaskan bahwa hakikat ibadah kurban bukan sekadar prosesi penyembelihan hewan kurban saja, melainkan bagaimana seseorang bisa menghadirkan ketakwaan, keikhlasan, dan kebersihan hati dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah kurban bukan hanya pada proses penyembelihan atau pembagian daging, tetapi pada keikhlasan, ketakwaan, dan harapan seorang hamba terhadap pahala serta keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kurban itu sunah yang sangat dianjurkanDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,ضحَّى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بكبشَينِ أملحَينِ، أقرنَينِ، ذبحَهما بيدِه، وسمَّى وكبَّر، ووضعَ قدمَه على صفاحِهما“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang putih bercampur hitam lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kakinya pada sisi leher keduanya.” (HR. Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)Dari Al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أوَّلَ ما نبدأُ بهِ يومَنا هذا: أن نُصلِّي، ثمَّ نرجعَ فننحرَ، فمَن فعلَ ذلك فقد أصابَ سُنَّتَنا“Sesungguhnya yang pertama kali kami mulai pada hari ini (hari Id) adalah kami salat Id, kemudian kami kembali untuk menyembelih kurban. Barangsiapa melakukan itu, maka sungguh ia telah mendapatkan sunah kami.” (HR. Bukhari no. 5545)Dari hadis ini bisa dipahami bahwa udh-hiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu secara finansial. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, Suwaild bin Ghaflah, Abu Masud Al-Badri, Said bin Al-Musayyib, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Atha bin Abi Rabah, Alqamah bin Qais, dan Al-Aswad bin Yazid. (Lihat Al-Mughni, 9: 435)Kurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamIbadah kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat agung tentang ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syariat kurban ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ، وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.” (QS. Shaffat: 103—105)Betapa luar biasanya bentuk kepatuhan dan ketundukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam yang ditunjukkan dalam kisah tersebut. Ujian tersebut menggambarkan hakikat ketaatan yang sejati. Bagaimana tidak, menyembelih seorang anak tentu bukanlah perkara yang mudah. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah Allah Ta’ala dengan penuh kepatuhan dan ketundukan, dan Nabi Ismail ‘alaihis salam pun menerimanya dengan kepasrahan dan kerelaan. Keduanya mencapai derajat tertinggi dalam penghambaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanBerikut adalah hikmah dan tujuan agung Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan ibadah kurban ini:Menjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An’am: 162—163)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata ‘nusuk’ dalam ayat ini mencakup ibadah penyembelihan kurban.Mengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)Menghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkurban karena Allah adalah termasuk ibadah yang paling utama. Ia merupakan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan lebih utama daripada sekadar bersedekah dengan uang senilai hewan kurban.Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,أستحبُّ أن يُقسمَ الأُضْحِيَةَ ثلاثةَ أقسامٍ: ثُلثٌ له، وثُلثٌ لأهلِه، وثُلثٌ للفقراء“Aku menyukai agar hewan kurban dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga untuk kaum fakir.” (Lihat Al-Umm, 2: 223)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/

Apa yang Allah Inginkan dari Ibadah Kurban Kita? (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaKurban itu sunah yang sangat dianjurkanKurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamHikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanMenjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataMengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaMenghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanDi antara syariat agung dalam Islam adalah ibadah yang dilaksanakan pada waktu tertentu sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya ialah ibadah kurban (udh-hiyah), yang memiliki keutamaan besar serta hikmah yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan, dan kehidupan sosial.Namun, banyak orang mulai melupakan hakikat utama dari ibadah kurban. Kurban sering dipandang sekadar tradisi atau ajang sosial yang dinilai dari besar dan jenis hewannya, sehingga keikhlasan dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi terlupakan.Kurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan ibadah kurban harus dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)Ayat ini menjelaskan bahwa hakikat ibadah kurban bukan sekadar prosesi penyembelihan hewan kurban saja, melainkan bagaimana seseorang bisa menghadirkan ketakwaan, keikhlasan, dan kebersihan hati dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah kurban bukan hanya pada proses penyembelihan atau pembagian daging, tetapi pada keikhlasan, ketakwaan, dan harapan seorang hamba terhadap pahala serta keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kurban itu sunah yang sangat dianjurkanDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,ضحَّى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بكبشَينِ أملحَينِ، أقرنَينِ، ذبحَهما بيدِه، وسمَّى وكبَّر، ووضعَ قدمَه على صفاحِهما“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang putih bercampur hitam lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kakinya pada sisi leher keduanya.” (HR. Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)Dari Al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أوَّلَ ما نبدأُ بهِ يومَنا هذا: أن نُصلِّي، ثمَّ نرجعَ فننحرَ، فمَن فعلَ ذلك فقد أصابَ سُنَّتَنا“Sesungguhnya yang pertama kali kami mulai pada hari ini (hari Id) adalah kami salat Id, kemudian kami kembali untuk menyembelih kurban. Barangsiapa melakukan itu, maka sungguh ia telah mendapatkan sunah kami.” (HR. Bukhari no. 5545)Dari hadis ini bisa dipahami bahwa udh-hiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu secara finansial. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, Suwaild bin Ghaflah, Abu Masud Al-Badri, Said bin Al-Musayyib, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Atha bin Abi Rabah, Alqamah bin Qais, dan Al-Aswad bin Yazid. (Lihat Al-Mughni, 9: 435)Kurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamIbadah kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat agung tentang ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syariat kurban ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ، وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.” (QS. Shaffat: 103—105)Betapa luar biasanya bentuk kepatuhan dan ketundukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam yang ditunjukkan dalam kisah tersebut. Ujian tersebut menggambarkan hakikat ketaatan yang sejati. Bagaimana tidak, menyembelih seorang anak tentu bukanlah perkara yang mudah. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah Allah Ta’ala dengan penuh kepatuhan dan ketundukan, dan Nabi Ismail ‘alaihis salam pun menerimanya dengan kepasrahan dan kerelaan. Keduanya mencapai derajat tertinggi dalam penghambaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanBerikut adalah hikmah dan tujuan agung Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan ibadah kurban ini:Menjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An’am: 162—163)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata ‘nusuk’ dalam ayat ini mencakup ibadah penyembelihan kurban.Mengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)Menghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkurban karena Allah adalah termasuk ibadah yang paling utama. Ia merupakan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan lebih utama daripada sekadar bersedekah dengan uang senilai hewan kurban.Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,أستحبُّ أن يُقسمَ الأُضْحِيَةَ ثلاثةَ أقسامٍ: ثُلثٌ له، وثُلثٌ لأهلِه، وثُلثٌ للفقراء“Aku menyukai agar hewan kurban dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga untuk kaum fakir.” (Lihat Al-Umm, 2: 223)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/
Daftar Isi ToggleKurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaKurban itu sunah yang sangat dianjurkanKurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamHikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanMenjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataMengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaMenghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanDi antara syariat agung dalam Islam adalah ibadah yang dilaksanakan pada waktu tertentu sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya ialah ibadah kurban (udh-hiyah), yang memiliki keutamaan besar serta hikmah yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan, dan kehidupan sosial.Namun, banyak orang mulai melupakan hakikat utama dari ibadah kurban. Kurban sering dipandang sekadar tradisi atau ajang sosial yang dinilai dari besar dan jenis hewannya, sehingga keikhlasan dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi terlupakan.Kurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan ibadah kurban harus dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)Ayat ini menjelaskan bahwa hakikat ibadah kurban bukan sekadar prosesi penyembelihan hewan kurban saja, melainkan bagaimana seseorang bisa menghadirkan ketakwaan, keikhlasan, dan kebersihan hati dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah kurban bukan hanya pada proses penyembelihan atau pembagian daging, tetapi pada keikhlasan, ketakwaan, dan harapan seorang hamba terhadap pahala serta keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kurban itu sunah yang sangat dianjurkanDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,ضحَّى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بكبشَينِ أملحَينِ، أقرنَينِ، ذبحَهما بيدِه، وسمَّى وكبَّر، ووضعَ قدمَه على صفاحِهما“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang putih bercampur hitam lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kakinya pada sisi leher keduanya.” (HR. Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)Dari Al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أوَّلَ ما نبدأُ بهِ يومَنا هذا: أن نُصلِّي، ثمَّ نرجعَ فننحرَ، فمَن فعلَ ذلك فقد أصابَ سُنَّتَنا“Sesungguhnya yang pertama kali kami mulai pada hari ini (hari Id) adalah kami salat Id, kemudian kami kembali untuk menyembelih kurban. Barangsiapa melakukan itu, maka sungguh ia telah mendapatkan sunah kami.” (HR. Bukhari no. 5545)Dari hadis ini bisa dipahami bahwa udh-hiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu secara finansial. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, Suwaild bin Ghaflah, Abu Masud Al-Badri, Said bin Al-Musayyib, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Atha bin Abi Rabah, Alqamah bin Qais, dan Al-Aswad bin Yazid. (Lihat Al-Mughni, 9: 435)Kurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamIbadah kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat agung tentang ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syariat kurban ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ، وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.” (QS. Shaffat: 103—105)Betapa luar biasanya bentuk kepatuhan dan ketundukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam yang ditunjukkan dalam kisah tersebut. Ujian tersebut menggambarkan hakikat ketaatan yang sejati. Bagaimana tidak, menyembelih seorang anak tentu bukanlah perkara yang mudah. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah Allah Ta’ala dengan penuh kepatuhan dan ketundukan, dan Nabi Ismail ‘alaihis salam pun menerimanya dengan kepasrahan dan kerelaan. Keduanya mencapai derajat tertinggi dalam penghambaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanBerikut adalah hikmah dan tujuan agung Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan ibadah kurban ini:Menjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An’am: 162—163)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata ‘nusuk’ dalam ayat ini mencakup ibadah penyembelihan kurban.Mengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)Menghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkurban karena Allah adalah termasuk ibadah yang paling utama. Ia merupakan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan lebih utama daripada sekadar bersedekah dengan uang senilai hewan kurban.Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,أستحبُّ أن يُقسمَ الأُضْحِيَةَ ثلاثةَ أقسامٍ: ثُلثٌ له، وثُلثٌ لأهلِه، وثُلثٌ للفقراء“Aku menyukai agar hewan kurban dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga untuk kaum fakir.” (Lihat Al-Umm, 2: 223)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/


Daftar Isi ToggleKurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaKurban itu sunah yang sangat dianjurkanKurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamHikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanMenjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataMengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaMenghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanDi antara syariat agung dalam Islam adalah ibadah yang dilaksanakan pada waktu tertentu sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya ialah ibadah kurban (udh-hiyah), yang memiliki keutamaan besar serta hikmah yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan, dan kehidupan sosial.Namun, banyak orang mulai melupakan hakikat utama dari ibadah kurban. Kurban sering dipandang sekadar tradisi atau ajang sosial yang dinilai dari besar dan jenis hewannya, sehingga keikhlasan dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi terlupakan.Kurban adalah wujud ketakwaan hamba kepada RabbnyaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan ibadah kurban harus dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya untuk Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)Ayat ini menjelaskan bahwa hakikat ibadah kurban bukan sekadar prosesi penyembelihan hewan kurban saja, melainkan bagaimana seseorang bisa menghadirkan ketakwaan, keikhlasan, dan kebersihan hati dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah kurban bukan hanya pada proses penyembelihan atau pembagian daging, tetapi pada keikhlasan, ketakwaan, dan harapan seorang hamba terhadap pahala serta keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kurban itu sunah yang sangat dianjurkanDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,ضحَّى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بكبشَينِ أملحَينِ، أقرنَينِ، ذبحَهما بيدِه، وسمَّى وكبَّر، ووضعَ قدمَه على صفاحِهما“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang putih bercampur hitam lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir, serta meletakkan kakinya pada sisi leher keduanya.” (HR. Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)Dari Al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أوَّلَ ما نبدأُ بهِ يومَنا هذا: أن نُصلِّي، ثمَّ نرجعَ فننحرَ، فمَن فعلَ ذلك فقد أصابَ سُنَّتَنا“Sesungguhnya yang pertama kali kami mulai pada hari ini (hari Id) adalah kami salat Id, kemudian kami kembali untuk menyembelih kurban. Barangsiapa melakukan itu, maka sungguh ia telah mendapatkan sunah kami.” (HR. Bukhari no. 5545)Dari hadis ini bisa dipahami bahwa udh-hiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu secara finansial. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, Suwaild bin Ghaflah, Abu Masud Al-Badri, Said bin Al-Musayyib, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Atha bin Abi Rabah, Alqamah bin Qais, dan Al-Aswad bin Yazid. (Lihat Al-Mughni, 9: 435)Kurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salamIbadah kurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat agung tentang ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syariat kurban ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ، وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.” (QS. Shaffat: 103—105)Betapa luar biasanya bentuk kepatuhan dan ketundukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam yang ditunjukkan dalam kisah tersebut. Ujian tersebut menggambarkan hakikat ketaatan yang sejati. Bagaimana tidak, menyembelih seorang anak tentu bukanlah perkara yang mudah. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menerima perintah Allah Ta’ala dengan penuh kepatuhan dan ketundukan, dan Nabi Ismail ‘alaihis salam pun menerimanya dengan kepasrahan dan kerelaan. Keduanya mencapai derajat tertinggi dalam penghambaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Hikmah dan tujuan agung di balik ibadah kurbanBerikut adalah hikmah dan tujuan agung Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan ibadah kurban ini:Menjadikan ibadah kurban ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla semataAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An’am: 162—163)Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata ‘nusuk’ dalam ayat ini mencakup ibadah penyembelihan kurban.Mengingat betap banyaknya karunia dan nikmat Allah ‘Azza wa JallaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)Menghidupkan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamBerkurban karena Allah adalah termasuk ibadah yang paling utama. Ia merupakan sunah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan lebih utama daripada sekadar bersedekah dengan uang senilai hewan kurban.Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang fakir dan membutuhkanAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,أستحبُّ أن يُقسمَ الأُضْحِيَةَ ثلاثةَ أقسامٍ: ثُلثٌ له، وثُلثٌ لأهلِه، وثُلثٌ للفقراء“Aku menyukai agar hewan kurban dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga untuk kaum fakir.” (Lihat Al-Umm, 2: 223)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Sumber: www.alukah.net/sharia/0/176498/المقصد-الحقيقي-من-الأضحية/

Kelembutan Allah yang Meliputimu di Kala Sakit

Oleh: Dr. Shalah Abdusy Syakur Ketika engkau terkena satu penyakit, atau bahkan dua atau tiga, apakah engkau mengetahui berapa penyakit yang telah Allah jauhkan darimu, Dia menjagamu sehingga engkau tidak terkena penyakit itu tanpa kamu sadari?  Apakah pernah engkau saksikan bagaimana sebagian orang dapat selamat dari kecelakaan maut, mereka sudah berada di jurang kematian yang hampir pasti, tapi dalam sekejap mata, Allah Yang Maha Lembut menyelamatkan mereka dengan sebab yang tidak masuk akal atau tidak terkira sebelumnya?  Apakah engkau pernah mendengar kasus malpraktik, terlebih lagi kasus-kasus malpraktik yang mematikan, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari hal itu, menetapkan bagimu tim dokter yang punya kompetensi dan kemampuan yang baik, dan engkau tentu merasakan sakit yang sangat berat akibat penyakit atau terkena sesuatu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu kelembutan dengan menyediakan bagimu penawar atau pereda sakit, sehingga rasa sakitmu berangsur hilang, kengiluanmu mulai pergi, dan engkau kembali ke kehidupanmu yang baru. Bagaimana pereda nyeri itu bisa bereaksi terhadap rasa sakitmu, hingga akhirnya rasa itu hilang dan lenyap?  Bahkan di keadaan sakitmu yang paling berat, engkau masih berada dalam kelembutan Sang Maha Lembut, menjaga dan melindungimu, menghadirkan bagimu obat dan dokter, mengaruniakan kepadamu kesabaran, dan memberimu kesembuhan. Dialah Yang Maha Lembut.  Kemarilah, saya akan menemanimu dalam perjalanan menelusuri makna salah satu nama suci dari nama-nama Allah ini, agar kita dapat mengenali-Nya, mengetahui karunia, kemurahan, dan kebaikan-Nya. Nama Al-Lathif secara bahasa maknanya adalah Yang Maha Baik terhadap para hamba-Nya, yang selalu melimpahkan kebajikan kepada makhluk-Nya dengan memberi banyak manfaat bagi mereka dengan penuh kelembutan dan kehalusan. Perhatikanlah kalimat “dengan penuh kelembutan dan kehalusan”.  Al-Lathif adalah Yang Maha Mengetahui detail-detail segala hal dan rahasia-rahasianya. Makna asal kata “kelembutan” yakni, tersembunyinya cara dan halusnya pendekatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan kepada para hamba-Nya dalam ketersembunyian dan kerahasiaan sehingga mereka tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan bagi mereka sebab-sebab penghidupan dan keberhasilan dari arah yang tidak mereka duga. Dialah Yang Maha Lembut, Tersembunyi, dan Teliti dalam karunia dan kebaikan-Nya. وَهُوَ اللَّطِيفُ بِعَبْدِهِ وَلِعَبْدِهِ وَاللُّطْفُ فِي أَوْصَافِهِ نَوْعَانِ Dia Maha Lembut kepada hamba-Nya dan untuk hamba-Nya. Dan kelembutan dalam sifat-Nya ada dua macam. إِدْرَاكُ أَسْرَارِ الْأُمُورِ بِخِبْرَةٍ وَاللُّطْفُ عِنْدَ مَوَاقِعِ الْإِحْسَانِ Mengetahui rahasia segala urusan dengan penuh ketelitian. Dan kelembutan pada sumber-sumber karunia-Nya. فَيُرِيكَ عِزَّتَهُ وَيُبْدِي لُطْفَهُ وَالْعَبْدُ فِي الْغَفَلَاتِ عَنْ ذَا الشَّأْنِ Dia memperlihatkan keagungan-Nya dan menampakkan kelembutan-Nya. Sementara hamba dalam lengah terhadap hal yang agung ini. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Siapa yang selamat dari kecelakaan atau musibah, atau kembali pulang dengan selamat setelah lama pergi, atau sembuh dari penyakit kronis, maka hendaklah ia mengetahui bahwa itu adalah bagian dari kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.  Lihatlah Nabi Yusuf Alaihissalam, apa yang beliau katakan ketika kembali berkumpul dan bersatu dengan keluarganya setelah terpisah puluhan tahun? “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100).  Beliau melewati banyak musibah besar sejak kecil, saudara-saudaranya bersekutu untuk membuat makar terhadapnya, membuatnya tidak bisa bersama kedua orang tuanya, ujian-ujian yang silih berganti, seandainya beliau selamat dari salah satunya, beliau tetap kesulitan untuk selamat dari ujian berikutnya, masuk ke dalam gelapnya dasar sumur, menjadi budak, mendapat tuduhan zalim yang menyeretnya ke penjara, sebatang kara jauh dari keluarga dan kenalan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Lembut kepada beliau, semua skenarionya bukan skenario manusia, tapi skenario ilahi. Sumur menjadi pelindung baginya dari pembunuhan, perbudakan menjadi pelindung baginya dari tersesat di gurun pasir, penjara menjadi pelindung baginya dari kemaksiatan, selamat dari godaan istri pembesar Mesir dan teman-temannya dan di penjara berkenalan dengan lelaki yang akhirnya menyampaikannya ke raja Mesir, ini merupakan kelembutan-kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau. Di antara kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain kepada beliau adalah Dia menjadikan pengetahuan beliau tentang takwil mimpi sebagai jalan keselamatannya, menjadi penanggung jawab perbendaharaan negara, bersatunya kembali keluarganya, pertaubatan saudara-saudaranya, serta ketenangan hati ayahnya dan kesembuhan matanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan ucapan beliau: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100). Kelembutan-kelembutan yang tersembunyi Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya ketika ia sedang sakit adalah dengan mengaruniakan kepadanya rasa berserah diri kepada ketetapan-Nya dan ridha dengan takdir-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah dengan mengilhamkan rasa sabar dan harapan terhadap pahala atas musibah yang menimpanya, memberinya taufik untuk bertaubat sebenar-benarnya, dan kembali berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh dan teguh pada syariat-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah melapangkan dadanya dengan keyakinan akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang sabar, memudahkan baginya mendapatkan teman yang baik dan tulus, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan tidak menganggap suatu sebab-sebab duniawi kecuali sekedar untuk dipakai dan dikonsumsi semata. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata tentang faktor-faktor yang dapat membantu orang yang tertimpa musibah dan cobaan untuk bersabar: “Di antara faktornya adalah senantiasa menunggu datangnya ruh jalan keluar, yakni kedamaian, ketenteraman, dan kenikmatan dari jalan keluar. Karena dengan menunggu dan menantinya akan meringankan beban kesulitan, terlebih lagi jika diiringi dengan kuatnya harapan atau keyakinan pasti jalan keluar itu akan datang. Jika sudah demikian, di sela-sela musibah itu ia akan merasakan ruh, kedamaian, dan ketenteraman jalan keluar, yang di antaranya merupakan bentuk halusnya kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan di antaranya menjadi jalan keluar yang disegerakan. Dengan hal itu dan lainnya dapat diketahui makna nama Allah al-Lathif.”  سَتُمْطِرُنَا الْبَشَائِرُ ذَاتَ يَوْمٍ وَيَعْظُمُ رَبُّنَا لِلصَّبْرِ أَجْرًا Suatu hari nanti kabar-kabar gembira akan menghujani kita. Dan Tuhan kita akan melipatgandakan pahala atas kesabaran. نُؤَمِّلُ بِاللَّطِيفِ ظُنُونَ خَيْرٍ وَنُوقِنُ أَنَّ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا Kita berharap kepada Yang Maha Lembut dengan sangkaan yang baik. Dan meyakini bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. فَمَا خَابَتْ قُلُوبٌ فِي عَظِيمٍ وَمَا رَجَعَ الدُّعَا وَالْكَفُّ صِفْرًا Hati yang berharap kepada Yang Maha Agung tidak akan kecewa. Dan doa tidak akan kembali dengan tangan yang hampa. Sembuh tanpa sebab yang jelas Penulis kita “Li-annaka Allah” menceritakan sebuah kisah bahwa ada salah satu orang kaya yang mengidap gagal ginjal. Anak-anaknya membawanya ke Mesir untuk transplantasi ginjal. Anak-anaknya sepakat dengan keluarga seorang anak perempuan yang masih kecil untuk membayar ginjalnya seharga seratus ribu riyal. Pada pagi hari, semua orang sudah berada di rumah sakit. Sebelum operasi dilakukan, orang tersebut ingin berjumpa dengan anak perempuan yang sepakat untuk menjual ginjal untuknya itu. Anak perempuan itu masuk menemuinya dengan canggung dan malu-malu. Lelaki itu bertanya: “Apa yang membuatmu menjual ginjalmu kepada seorang lelaki tua sepertiku?” Ia menjawab: “Karena himpitan kebutuhan, keluargaku miskin, saudara-saudaraku sedang menempuh kuliah. Saya harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka.”  Jawaban ini seakan-akan menamparnya dan menyadarkannya dari keterlenaannya. Seakan-akan ia lupa dengan darah kotor yang telah menumpuk dalam tubuhnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya: Apakah masuk akal ada manusia yang rela kehilangan sebagian anggota tubuhnya dan sebagian dari hidupnya demi bisa makan dan hidup? Ia kemudian segera memanggil anak-anaknya. Ketika mereka datang, ia memerintahkan mereka untuk memulangkannya ke Saudi. Ia membatalkan rencana transplantasi ginjalnya dan mengatakan kepada mereka bahwa uang seratus ribu riyal telah ia anggap sebagai sedekah untuk anak perempuan itu, jangan mengambil kembali darinya satu riyal pun. Setelah penolakan dari sebagian anak-anaknya dan kemarahan dari sebagian lainnya, mereka pun akhirnya mau menuruti kemauan ayahnya.  Setelah kembali ke Saudi, ia pergi ke rumah sakit seperti rutinitas biasanya untuk cuci darah. Pada pemeriksaan rutin, para dokter menemukan dengan penuh keheranan bahwa ginjalnya kembali dapat bekerja. Sebuah kuasa dari Sang Maha Raja untuk memberi kesembuhan tanpa membutuhkan pisau bedah. Dialah Yang Maha Kuasa yang melihat dari atas kerajaan-Nya, lalu menyembuhkan orang sakit, membahagiakan orang yang kesusahan, mengembalikan orang yang lama pergi, dan memulihkan orang yang terluka. Di sini saya bertanya-tanya: Siapa selain Al-Lathif Yang Maha Lembut yang dapat mengatur alur yang menakjubkan dalam cerita ini, yang menyembuhkan orang tua itu berkat sedekahnya, dan di waktu yang sama menjadikan kaya anak perempuan yang miskin itu dengan sedekahnya orang kaya yang menghampirinya dari jauh dengan raga dan hartanya, tanpa harus menjual ginjalnya?! Betapa lembutnya Engkau, ya Allah! وَتَضِيقُ دُنْيَانَا فَنَحْسَبُ أَنَّنَا سَنَمُوتُ يَأْسًا أَوْ نَمُوتُ نَحِيبًا Ketika dunia kita terasa sempit dan kita telah merasa. Kita akan binasa karena putus asa atau mati oleh tangisan. وَإِذَا بِلُطْفِ اللَّهِ يَهْطِلُ فَجْأَةً يُرَبِّي مِنَ الْيَبَسِ الْفُتَاتِ قُلُوبًا Tiba-tiba kelembutan Allah turun bagaikan hujan. Menumbuhkan kembali hati yang kering kerontang dan berhamburan. قُلْ لِلَّذِي مَلَأَ التَّشَاؤُمُ قَلْبَهُ وَمَضَى يُضَيِّقُ حَوْلَنَا الْآفَاقَا Katakanlah kepada orang yang mengisi hatinya dengan pesimisme. Dan terus menyempitkan ruang hidup di sekitar kita. سِرُّ السَّعَادَةِ حُسْنُ ظَنِّكَ بِالَّذِي خَلَقَ الْحَيَاةَ وَقَسَّمَ الْأَرْزَاقَا Rahasia kebahagiaan adalah berbaik sangka kepada-Nya. Yang telah menciptakan kehidupan dan membagi rezeki. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/180257/ألطاف-الله-تحوطك-في-مرضك/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 299 times, 1 visit(s) today Post Views: 117

Kelembutan Allah yang Meliputimu di Kala Sakit

Oleh: Dr. Shalah Abdusy Syakur Ketika engkau terkena satu penyakit, atau bahkan dua atau tiga, apakah engkau mengetahui berapa penyakit yang telah Allah jauhkan darimu, Dia menjagamu sehingga engkau tidak terkena penyakit itu tanpa kamu sadari?  Apakah pernah engkau saksikan bagaimana sebagian orang dapat selamat dari kecelakaan maut, mereka sudah berada di jurang kematian yang hampir pasti, tapi dalam sekejap mata, Allah Yang Maha Lembut menyelamatkan mereka dengan sebab yang tidak masuk akal atau tidak terkira sebelumnya?  Apakah engkau pernah mendengar kasus malpraktik, terlebih lagi kasus-kasus malpraktik yang mematikan, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari hal itu, menetapkan bagimu tim dokter yang punya kompetensi dan kemampuan yang baik, dan engkau tentu merasakan sakit yang sangat berat akibat penyakit atau terkena sesuatu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu kelembutan dengan menyediakan bagimu penawar atau pereda sakit, sehingga rasa sakitmu berangsur hilang, kengiluanmu mulai pergi, dan engkau kembali ke kehidupanmu yang baru. Bagaimana pereda nyeri itu bisa bereaksi terhadap rasa sakitmu, hingga akhirnya rasa itu hilang dan lenyap?  Bahkan di keadaan sakitmu yang paling berat, engkau masih berada dalam kelembutan Sang Maha Lembut, menjaga dan melindungimu, menghadirkan bagimu obat dan dokter, mengaruniakan kepadamu kesabaran, dan memberimu kesembuhan. Dialah Yang Maha Lembut.  Kemarilah, saya akan menemanimu dalam perjalanan menelusuri makna salah satu nama suci dari nama-nama Allah ini, agar kita dapat mengenali-Nya, mengetahui karunia, kemurahan, dan kebaikan-Nya. Nama Al-Lathif secara bahasa maknanya adalah Yang Maha Baik terhadap para hamba-Nya, yang selalu melimpahkan kebajikan kepada makhluk-Nya dengan memberi banyak manfaat bagi mereka dengan penuh kelembutan dan kehalusan. Perhatikanlah kalimat “dengan penuh kelembutan dan kehalusan”.  Al-Lathif adalah Yang Maha Mengetahui detail-detail segala hal dan rahasia-rahasianya. Makna asal kata “kelembutan” yakni, tersembunyinya cara dan halusnya pendekatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan kepada para hamba-Nya dalam ketersembunyian dan kerahasiaan sehingga mereka tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan bagi mereka sebab-sebab penghidupan dan keberhasilan dari arah yang tidak mereka duga. Dialah Yang Maha Lembut, Tersembunyi, dan Teliti dalam karunia dan kebaikan-Nya. وَهُوَ اللَّطِيفُ بِعَبْدِهِ وَلِعَبْدِهِ وَاللُّطْفُ فِي أَوْصَافِهِ نَوْعَانِ Dia Maha Lembut kepada hamba-Nya dan untuk hamba-Nya. Dan kelembutan dalam sifat-Nya ada dua macam. إِدْرَاكُ أَسْرَارِ الْأُمُورِ بِخِبْرَةٍ وَاللُّطْفُ عِنْدَ مَوَاقِعِ الْإِحْسَانِ Mengetahui rahasia segala urusan dengan penuh ketelitian. Dan kelembutan pada sumber-sumber karunia-Nya. فَيُرِيكَ عِزَّتَهُ وَيُبْدِي لُطْفَهُ وَالْعَبْدُ فِي الْغَفَلَاتِ عَنْ ذَا الشَّأْنِ Dia memperlihatkan keagungan-Nya dan menampakkan kelembutan-Nya. Sementara hamba dalam lengah terhadap hal yang agung ini. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Siapa yang selamat dari kecelakaan atau musibah, atau kembali pulang dengan selamat setelah lama pergi, atau sembuh dari penyakit kronis, maka hendaklah ia mengetahui bahwa itu adalah bagian dari kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.  Lihatlah Nabi Yusuf Alaihissalam, apa yang beliau katakan ketika kembali berkumpul dan bersatu dengan keluarganya setelah terpisah puluhan tahun? “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100).  Beliau melewati banyak musibah besar sejak kecil, saudara-saudaranya bersekutu untuk membuat makar terhadapnya, membuatnya tidak bisa bersama kedua orang tuanya, ujian-ujian yang silih berganti, seandainya beliau selamat dari salah satunya, beliau tetap kesulitan untuk selamat dari ujian berikutnya, masuk ke dalam gelapnya dasar sumur, menjadi budak, mendapat tuduhan zalim yang menyeretnya ke penjara, sebatang kara jauh dari keluarga dan kenalan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Lembut kepada beliau, semua skenarionya bukan skenario manusia, tapi skenario ilahi. Sumur menjadi pelindung baginya dari pembunuhan, perbudakan menjadi pelindung baginya dari tersesat di gurun pasir, penjara menjadi pelindung baginya dari kemaksiatan, selamat dari godaan istri pembesar Mesir dan teman-temannya dan di penjara berkenalan dengan lelaki yang akhirnya menyampaikannya ke raja Mesir, ini merupakan kelembutan-kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau. Di antara kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain kepada beliau adalah Dia menjadikan pengetahuan beliau tentang takwil mimpi sebagai jalan keselamatannya, menjadi penanggung jawab perbendaharaan negara, bersatunya kembali keluarganya, pertaubatan saudara-saudaranya, serta ketenangan hati ayahnya dan kesembuhan matanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan ucapan beliau: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100). Kelembutan-kelembutan yang tersembunyi Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya ketika ia sedang sakit adalah dengan mengaruniakan kepadanya rasa berserah diri kepada ketetapan-Nya dan ridha dengan takdir-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah dengan mengilhamkan rasa sabar dan harapan terhadap pahala atas musibah yang menimpanya, memberinya taufik untuk bertaubat sebenar-benarnya, dan kembali berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh dan teguh pada syariat-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah melapangkan dadanya dengan keyakinan akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang sabar, memudahkan baginya mendapatkan teman yang baik dan tulus, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan tidak menganggap suatu sebab-sebab duniawi kecuali sekedar untuk dipakai dan dikonsumsi semata. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata tentang faktor-faktor yang dapat membantu orang yang tertimpa musibah dan cobaan untuk bersabar: “Di antara faktornya adalah senantiasa menunggu datangnya ruh jalan keluar, yakni kedamaian, ketenteraman, dan kenikmatan dari jalan keluar. Karena dengan menunggu dan menantinya akan meringankan beban kesulitan, terlebih lagi jika diiringi dengan kuatnya harapan atau keyakinan pasti jalan keluar itu akan datang. Jika sudah demikian, di sela-sela musibah itu ia akan merasakan ruh, kedamaian, dan ketenteraman jalan keluar, yang di antaranya merupakan bentuk halusnya kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan di antaranya menjadi jalan keluar yang disegerakan. Dengan hal itu dan lainnya dapat diketahui makna nama Allah al-Lathif.”  سَتُمْطِرُنَا الْبَشَائِرُ ذَاتَ يَوْمٍ وَيَعْظُمُ رَبُّنَا لِلصَّبْرِ أَجْرًا Suatu hari nanti kabar-kabar gembira akan menghujani kita. Dan Tuhan kita akan melipatgandakan pahala atas kesabaran. نُؤَمِّلُ بِاللَّطِيفِ ظُنُونَ خَيْرٍ وَنُوقِنُ أَنَّ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا Kita berharap kepada Yang Maha Lembut dengan sangkaan yang baik. Dan meyakini bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. فَمَا خَابَتْ قُلُوبٌ فِي عَظِيمٍ وَمَا رَجَعَ الدُّعَا وَالْكَفُّ صِفْرًا Hati yang berharap kepada Yang Maha Agung tidak akan kecewa. Dan doa tidak akan kembali dengan tangan yang hampa. Sembuh tanpa sebab yang jelas Penulis kita “Li-annaka Allah” menceritakan sebuah kisah bahwa ada salah satu orang kaya yang mengidap gagal ginjal. Anak-anaknya membawanya ke Mesir untuk transplantasi ginjal. Anak-anaknya sepakat dengan keluarga seorang anak perempuan yang masih kecil untuk membayar ginjalnya seharga seratus ribu riyal. Pada pagi hari, semua orang sudah berada di rumah sakit. Sebelum operasi dilakukan, orang tersebut ingin berjumpa dengan anak perempuan yang sepakat untuk menjual ginjal untuknya itu. Anak perempuan itu masuk menemuinya dengan canggung dan malu-malu. Lelaki itu bertanya: “Apa yang membuatmu menjual ginjalmu kepada seorang lelaki tua sepertiku?” Ia menjawab: “Karena himpitan kebutuhan, keluargaku miskin, saudara-saudaraku sedang menempuh kuliah. Saya harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka.”  Jawaban ini seakan-akan menamparnya dan menyadarkannya dari keterlenaannya. Seakan-akan ia lupa dengan darah kotor yang telah menumpuk dalam tubuhnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya: Apakah masuk akal ada manusia yang rela kehilangan sebagian anggota tubuhnya dan sebagian dari hidupnya demi bisa makan dan hidup? Ia kemudian segera memanggil anak-anaknya. Ketika mereka datang, ia memerintahkan mereka untuk memulangkannya ke Saudi. Ia membatalkan rencana transplantasi ginjalnya dan mengatakan kepada mereka bahwa uang seratus ribu riyal telah ia anggap sebagai sedekah untuk anak perempuan itu, jangan mengambil kembali darinya satu riyal pun. Setelah penolakan dari sebagian anak-anaknya dan kemarahan dari sebagian lainnya, mereka pun akhirnya mau menuruti kemauan ayahnya.  Setelah kembali ke Saudi, ia pergi ke rumah sakit seperti rutinitas biasanya untuk cuci darah. Pada pemeriksaan rutin, para dokter menemukan dengan penuh keheranan bahwa ginjalnya kembali dapat bekerja. Sebuah kuasa dari Sang Maha Raja untuk memberi kesembuhan tanpa membutuhkan pisau bedah. Dialah Yang Maha Kuasa yang melihat dari atas kerajaan-Nya, lalu menyembuhkan orang sakit, membahagiakan orang yang kesusahan, mengembalikan orang yang lama pergi, dan memulihkan orang yang terluka. Di sini saya bertanya-tanya: Siapa selain Al-Lathif Yang Maha Lembut yang dapat mengatur alur yang menakjubkan dalam cerita ini, yang menyembuhkan orang tua itu berkat sedekahnya, dan di waktu yang sama menjadikan kaya anak perempuan yang miskin itu dengan sedekahnya orang kaya yang menghampirinya dari jauh dengan raga dan hartanya, tanpa harus menjual ginjalnya?! Betapa lembutnya Engkau, ya Allah! وَتَضِيقُ دُنْيَانَا فَنَحْسَبُ أَنَّنَا سَنَمُوتُ يَأْسًا أَوْ نَمُوتُ نَحِيبًا Ketika dunia kita terasa sempit dan kita telah merasa. Kita akan binasa karena putus asa atau mati oleh tangisan. وَإِذَا بِلُطْفِ اللَّهِ يَهْطِلُ فَجْأَةً يُرَبِّي مِنَ الْيَبَسِ الْفُتَاتِ قُلُوبًا Tiba-tiba kelembutan Allah turun bagaikan hujan. Menumbuhkan kembali hati yang kering kerontang dan berhamburan. قُلْ لِلَّذِي مَلَأَ التَّشَاؤُمُ قَلْبَهُ وَمَضَى يُضَيِّقُ حَوْلَنَا الْآفَاقَا Katakanlah kepada orang yang mengisi hatinya dengan pesimisme. Dan terus menyempitkan ruang hidup di sekitar kita. سِرُّ السَّعَادَةِ حُسْنُ ظَنِّكَ بِالَّذِي خَلَقَ الْحَيَاةَ وَقَسَّمَ الْأَرْزَاقَا Rahasia kebahagiaan adalah berbaik sangka kepada-Nya. Yang telah menciptakan kehidupan dan membagi rezeki. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/180257/ألطاف-الله-تحوطك-في-مرضك/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 299 times, 1 visit(s) today Post Views: 117
Oleh: Dr. Shalah Abdusy Syakur Ketika engkau terkena satu penyakit, atau bahkan dua atau tiga, apakah engkau mengetahui berapa penyakit yang telah Allah jauhkan darimu, Dia menjagamu sehingga engkau tidak terkena penyakit itu tanpa kamu sadari?  Apakah pernah engkau saksikan bagaimana sebagian orang dapat selamat dari kecelakaan maut, mereka sudah berada di jurang kematian yang hampir pasti, tapi dalam sekejap mata, Allah Yang Maha Lembut menyelamatkan mereka dengan sebab yang tidak masuk akal atau tidak terkira sebelumnya?  Apakah engkau pernah mendengar kasus malpraktik, terlebih lagi kasus-kasus malpraktik yang mematikan, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari hal itu, menetapkan bagimu tim dokter yang punya kompetensi dan kemampuan yang baik, dan engkau tentu merasakan sakit yang sangat berat akibat penyakit atau terkena sesuatu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu kelembutan dengan menyediakan bagimu penawar atau pereda sakit, sehingga rasa sakitmu berangsur hilang, kengiluanmu mulai pergi, dan engkau kembali ke kehidupanmu yang baru. Bagaimana pereda nyeri itu bisa bereaksi terhadap rasa sakitmu, hingga akhirnya rasa itu hilang dan lenyap?  Bahkan di keadaan sakitmu yang paling berat, engkau masih berada dalam kelembutan Sang Maha Lembut, menjaga dan melindungimu, menghadirkan bagimu obat dan dokter, mengaruniakan kepadamu kesabaran, dan memberimu kesembuhan. Dialah Yang Maha Lembut.  Kemarilah, saya akan menemanimu dalam perjalanan menelusuri makna salah satu nama suci dari nama-nama Allah ini, agar kita dapat mengenali-Nya, mengetahui karunia, kemurahan, dan kebaikan-Nya. Nama Al-Lathif secara bahasa maknanya adalah Yang Maha Baik terhadap para hamba-Nya, yang selalu melimpahkan kebajikan kepada makhluk-Nya dengan memberi banyak manfaat bagi mereka dengan penuh kelembutan dan kehalusan. Perhatikanlah kalimat “dengan penuh kelembutan dan kehalusan”.  Al-Lathif adalah Yang Maha Mengetahui detail-detail segala hal dan rahasia-rahasianya. Makna asal kata “kelembutan” yakni, tersembunyinya cara dan halusnya pendekatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan kepada para hamba-Nya dalam ketersembunyian dan kerahasiaan sehingga mereka tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan bagi mereka sebab-sebab penghidupan dan keberhasilan dari arah yang tidak mereka duga. Dialah Yang Maha Lembut, Tersembunyi, dan Teliti dalam karunia dan kebaikan-Nya. وَهُوَ اللَّطِيفُ بِعَبْدِهِ وَلِعَبْدِهِ وَاللُّطْفُ فِي أَوْصَافِهِ نَوْعَانِ Dia Maha Lembut kepada hamba-Nya dan untuk hamba-Nya. Dan kelembutan dalam sifat-Nya ada dua macam. إِدْرَاكُ أَسْرَارِ الْأُمُورِ بِخِبْرَةٍ وَاللُّطْفُ عِنْدَ مَوَاقِعِ الْإِحْسَانِ Mengetahui rahasia segala urusan dengan penuh ketelitian. Dan kelembutan pada sumber-sumber karunia-Nya. فَيُرِيكَ عِزَّتَهُ وَيُبْدِي لُطْفَهُ وَالْعَبْدُ فِي الْغَفَلَاتِ عَنْ ذَا الشَّأْنِ Dia memperlihatkan keagungan-Nya dan menampakkan kelembutan-Nya. Sementara hamba dalam lengah terhadap hal yang agung ini. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Siapa yang selamat dari kecelakaan atau musibah, atau kembali pulang dengan selamat setelah lama pergi, atau sembuh dari penyakit kronis, maka hendaklah ia mengetahui bahwa itu adalah bagian dari kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.  Lihatlah Nabi Yusuf Alaihissalam, apa yang beliau katakan ketika kembali berkumpul dan bersatu dengan keluarganya setelah terpisah puluhan tahun? “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100).  Beliau melewati banyak musibah besar sejak kecil, saudara-saudaranya bersekutu untuk membuat makar terhadapnya, membuatnya tidak bisa bersama kedua orang tuanya, ujian-ujian yang silih berganti, seandainya beliau selamat dari salah satunya, beliau tetap kesulitan untuk selamat dari ujian berikutnya, masuk ke dalam gelapnya dasar sumur, menjadi budak, mendapat tuduhan zalim yang menyeretnya ke penjara, sebatang kara jauh dari keluarga dan kenalan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Lembut kepada beliau, semua skenarionya bukan skenario manusia, tapi skenario ilahi. Sumur menjadi pelindung baginya dari pembunuhan, perbudakan menjadi pelindung baginya dari tersesat di gurun pasir, penjara menjadi pelindung baginya dari kemaksiatan, selamat dari godaan istri pembesar Mesir dan teman-temannya dan di penjara berkenalan dengan lelaki yang akhirnya menyampaikannya ke raja Mesir, ini merupakan kelembutan-kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau. Di antara kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain kepada beliau adalah Dia menjadikan pengetahuan beliau tentang takwil mimpi sebagai jalan keselamatannya, menjadi penanggung jawab perbendaharaan negara, bersatunya kembali keluarganya, pertaubatan saudara-saudaranya, serta ketenangan hati ayahnya dan kesembuhan matanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan ucapan beliau: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100). Kelembutan-kelembutan yang tersembunyi Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya ketika ia sedang sakit adalah dengan mengaruniakan kepadanya rasa berserah diri kepada ketetapan-Nya dan ridha dengan takdir-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah dengan mengilhamkan rasa sabar dan harapan terhadap pahala atas musibah yang menimpanya, memberinya taufik untuk bertaubat sebenar-benarnya, dan kembali berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh dan teguh pada syariat-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah melapangkan dadanya dengan keyakinan akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang sabar, memudahkan baginya mendapatkan teman yang baik dan tulus, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan tidak menganggap suatu sebab-sebab duniawi kecuali sekedar untuk dipakai dan dikonsumsi semata. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata tentang faktor-faktor yang dapat membantu orang yang tertimpa musibah dan cobaan untuk bersabar: “Di antara faktornya adalah senantiasa menunggu datangnya ruh jalan keluar, yakni kedamaian, ketenteraman, dan kenikmatan dari jalan keluar. Karena dengan menunggu dan menantinya akan meringankan beban kesulitan, terlebih lagi jika diiringi dengan kuatnya harapan atau keyakinan pasti jalan keluar itu akan datang. Jika sudah demikian, di sela-sela musibah itu ia akan merasakan ruh, kedamaian, dan ketenteraman jalan keluar, yang di antaranya merupakan bentuk halusnya kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan di antaranya menjadi jalan keluar yang disegerakan. Dengan hal itu dan lainnya dapat diketahui makna nama Allah al-Lathif.”  سَتُمْطِرُنَا الْبَشَائِرُ ذَاتَ يَوْمٍ وَيَعْظُمُ رَبُّنَا لِلصَّبْرِ أَجْرًا Suatu hari nanti kabar-kabar gembira akan menghujani kita. Dan Tuhan kita akan melipatgandakan pahala atas kesabaran. نُؤَمِّلُ بِاللَّطِيفِ ظُنُونَ خَيْرٍ وَنُوقِنُ أَنَّ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا Kita berharap kepada Yang Maha Lembut dengan sangkaan yang baik. Dan meyakini bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. فَمَا خَابَتْ قُلُوبٌ فِي عَظِيمٍ وَمَا رَجَعَ الدُّعَا وَالْكَفُّ صِفْرًا Hati yang berharap kepada Yang Maha Agung tidak akan kecewa. Dan doa tidak akan kembali dengan tangan yang hampa. Sembuh tanpa sebab yang jelas Penulis kita “Li-annaka Allah” menceritakan sebuah kisah bahwa ada salah satu orang kaya yang mengidap gagal ginjal. Anak-anaknya membawanya ke Mesir untuk transplantasi ginjal. Anak-anaknya sepakat dengan keluarga seorang anak perempuan yang masih kecil untuk membayar ginjalnya seharga seratus ribu riyal. Pada pagi hari, semua orang sudah berada di rumah sakit. Sebelum operasi dilakukan, orang tersebut ingin berjumpa dengan anak perempuan yang sepakat untuk menjual ginjal untuknya itu. Anak perempuan itu masuk menemuinya dengan canggung dan malu-malu. Lelaki itu bertanya: “Apa yang membuatmu menjual ginjalmu kepada seorang lelaki tua sepertiku?” Ia menjawab: “Karena himpitan kebutuhan, keluargaku miskin, saudara-saudaraku sedang menempuh kuliah. Saya harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka.”  Jawaban ini seakan-akan menamparnya dan menyadarkannya dari keterlenaannya. Seakan-akan ia lupa dengan darah kotor yang telah menumpuk dalam tubuhnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya: Apakah masuk akal ada manusia yang rela kehilangan sebagian anggota tubuhnya dan sebagian dari hidupnya demi bisa makan dan hidup? Ia kemudian segera memanggil anak-anaknya. Ketika mereka datang, ia memerintahkan mereka untuk memulangkannya ke Saudi. Ia membatalkan rencana transplantasi ginjalnya dan mengatakan kepada mereka bahwa uang seratus ribu riyal telah ia anggap sebagai sedekah untuk anak perempuan itu, jangan mengambil kembali darinya satu riyal pun. Setelah penolakan dari sebagian anak-anaknya dan kemarahan dari sebagian lainnya, mereka pun akhirnya mau menuruti kemauan ayahnya.  Setelah kembali ke Saudi, ia pergi ke rumah sakit seperti rutinitas biasanya untuk cuci darah. Pada pemeriksaan rutin, para dokter menemukan dengan penuh keheranan bahwa ginjalnya kembali dapat bekerja. Sebuah kuasa dari Sang Maha Raja untuk memberi kesembuhan tanpa membutuhkan pisau bedah. Dialah Yang Maha Kuasa yang melihat dari atas kerajaan-Nya, lalu menyembuhkan orang sakit, membahagiakan orang yang kesusahan, mengembalikan orang yang lama pergi, dan memulihkan orang yang terluka. Di sini saya bertanya-tanya: Siapa selain Al-Lathif Yang Maha Lembut yang dapat mengatur alur yang menakjubkan dalam cerita ini, yang menyembuhkan orang tua itu berkat sedekahnya, dan di waktu yang sama menjadikan kaya anak perempuan yang miskin itu dengan sedekahnya orang kaya yang menghampirinya dari jauh dengan raga dan hartanya, tanpa harus menjual ginjalnya?! Betapa lembutnya Engkau, ya Allah! وَتَضِيقُ دُنْيَانَا فَنَحْسَبُ أَنَّنَا سَنَمُوتُ يَأْسًا أَوْ نَمُوتُ نَحِيبًا Ketika dunia kita terasa sempit dan kita telah merasa. Kita akan binasa karena putus asa atau mati oleh tangisan. وَإِذَا بِلُطْفِ اللَّهِ يَهْطِلُ فَجْأَةً يُرَبِّي مِنَ الْيَبَسِ الْفُتَاتِ قُلُوبًا Tiba-tiba kelembutan Allah turun bagaikan hujan. Menumbuhkan kembali hati yang kering kerontang dan berhamburan. قُلْ لِلَّذِي مَلَأَ التَّشَاؤُمُ قَلْبَهُ وَمَضَى يُضَيِّقُ حَوْلَنَا الْآفَاقَا Katakanlah kepada orang yang mengisi hatinya dengan pesimisme. Dan terus menyempitkan ruang hidup di sekitar kita. سِرُّ السَّعَادَةِ حُسْنُ ظَنِّكَ بِالَّذِي خَلَقَ الْحَيَاةَ وَقَسَّمَ الْأَرْزَاقَا Rahasia kebahagiaan adalah berbaik sangka kepada-Nya. Yang telah menciptakan kehidupan dan membagi rezeki. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/180257/ألطاف-الله-تحوطك-في-مرضك/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 299 times, 1 visit(s) today Post Views: 117


Oleh: Dr. Shalah Abdusy Syakur Ketika engkau terkena satu penyakit, atau bahkan dua atau tiga, apakah engkau mengetahui berapa penyakit yang telah Allah jauhkan darimu, Dia menjagamu sehingga engkau tidak terkena penyakit itu tanpa kamu sadari?  Apakah pernah engkau saksikan bagaimana sebagian orang dapat selamat dari kecelakaan maut, mereka sudah berada di jurang kematian yang hampir pasti, tapi dalam sekejap mata, Allah Yang Maha Lembut menyelamatkan mereka dengan sebab yang tidak masuk akal atau tidak terkira sebelumnya?  Apakah engkau pernah mendengar kasus malpraktik, terlebih lagi kasus-kasus malpraktik yang mematikan, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari hal itu, menetapkan bagimu tim dokter yang punya kompetensi dan kemampuan yang baik, dan engkau tentu merasakan sakit yang sangat berat akibat penyakit atau terkena sesuatu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu kelembutan dengan menyediakan bagimu penawar atau pereda sakit, sehingga rasa sakitmu berangsur hilang, kengiluanmu mulai pergi, dan engkau kembali ke kehidupanmu yang baru. Bagaimana pereda nyeri itu bisa bereaksi terhadap rasa sakitmu, hingga akhirnya rasa itu hilang dan lenyap?  Bahkan di keadaan sakitmu yang paling berat, engkau masih berada dalam kelembutan Sang Maha Lembut, menjaga dan melindungimu, menghadirkan bagimu obat dan dokter, mengaruniakan kepadamu kesabaran, dan memberimu kesembuhan. Dialah Yang Maha Lembut.  Kemarilah, saya akan menemanimu dalam perjalanan menelusuri makna salah satu nama suci dari nama-nama Allah ini, agar kita dapat mengenali-Nya, mengetahui karunia, kemurahan, dan kebaikan-Nya. Nama Al-Lathif secara bahasa maknanya adalah Yang Maha Baik terhadap para hamba-Nya, yang selalu melimpahkan kebajikan kepada makhluk-Nya dengan memberi banyak manfaat bagi mereka dengan penuh kelembutan dan kehalusan. Perhatikanlah kalimat “dengan penuh kelembutan dan kehalusan”.  Al-Lathif adalah Yang Maha Mengetahui detail-detail segala hal dan rahasia-rahasianya. Makna asal kata “kelembutan” yakni, tersembunyinya cara dan halusnya pendekatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan kepada para hamba-Nya dalam ketersembunyian dan kerahasiaan sehingga mereka tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan bagi mereka sebab-sebab penghidupan dan keberhasilan dari arah yang tidak mereka duga. Dialah Yang Maha Lembut, Tersembunyi, dan Teliti dalam karunia dan kebaikan-Nya. وَهُوَ اللَّطِيفُ بِعَبْدِهِ وَلِعَبْدِهِ وَاللُّطْفُ فِي أَوْصَافِهِ نَوْعَانِ Dia Maha Lembut kepada hamba-Nya dan untuk hamba-Nya. Dan kelembutan dalam sifat-Nya ada dua macam. إِدْرَاكُ أَسْرَارِ الْأُمُورِ بِخِبْرَةٍ وَاللُّطْفُ عِنْدَ مَوَاقِعِ الْإِحْسَانِ Mengetahui rahasia segala urusan dengan penuh ketelitian. Dan kelembutan pada sumber-sumber karunia-Nya. فَيُرِيكَ عِزَّتَهُ وَيُبْدِي لُطْفَهُ وَالْعَبْدُ فِي الْغَفَلَاتِ عَنْ ذَا الشَّأْنِ Dia memperlihatkan keagungan-Nya dan menampakkan kelembutan-Nya. Sementara hamba dalam lengah terhadap hal yang agung ini. Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Siapa yang selamat dari kecelakaan atau musibah, atau kembali pulang dengan selamat setelah lama pergi, atau sembuh dari penyakit kronis, maka hendaklah ia mengetahui bahwa itu adalah bagian dari kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.  Lihatlah Nabi Yusuf Alaihissalam, apa yang beliau katakan ketika kembali berkumpul dan bersatu dengan keluarganya setelah terpisah puluhan tahun? “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100).  Beliau melewati banyak musibah besar sejak kecil, saudara-saudaranya bersekutu untuk membuat makar terhadapnya, membuatnya tidak bisa bersama kedua orang tuanya, ujian-ujian yang silih berganti, seandainya beliau selamat dari salah satunya, beliau tetap kesulitan untuk selamat dari ujian berikutnya, masuk ke dalam gelapnya dasar sumur, menjadi budak, mendapat tuduhan zalim yang menyeretnya ke penjara, sebatang kara jauh dari keluarga dan kenalan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Lembut kepada beliau, semua skenarionya bukan skenario manusia, tapi skenario ilahi. Sumur menjadi pelindung baginya dari pembunuhan, perbudakan menjadi pelindung baginya dari tersesat di gurun pasir, penjara menjadi pelindung baginya dari kemaksiatan, selamat dari godaan istri pembesar Mesir dan teman-temannya dan di penjara berkenalan dengan lelaki yang akhirnya menyampaikannya ke raja Mesir, ini merupakan kelembutan-kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau. Di antara kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain kepada beliau adalah Dia menjadikan pengetahuan beliau tentang takwil mimpi sebagai jalan keselamatannya, menjadi penanggung jawab perbendaharaan negara, bersatunya kembali keluarganya, pertaubatan saudara-saudaranya, serta ketenangan hati ayahnya dan kesembuhan matanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan ucapan beliau: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100). Kelembutan-kelembutan yang tersembunyi Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya ketika ia sedang sakit adalah dengan mengaruniakan kepadanya rasa berserah diri kepada ketetapan-Nya dan ridha dengan takdir-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah dengan mengilhamkan rasa sabar dan harapan terhadap pahala atas musibah yang menimpanya, memberinya taufik untuk bertaubat sebenar-benarnya, dan kembali berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh dan teguh pada syariat-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah melapangkan dadanya dengan keyakinan akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang sabar, memudahkan baginya mendapatkan teman yang baik dan tulus, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan tidak menganggap suatu sebab-sebab duniawi kecuali sekedar untuk dipakai dan dikonsumsi semata. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata tentang faktor-faktor yang dapat membantu orang yang tertimpa musibah dan cobaan untuk bersabar: “Di antara faktornya adalah senantiasa menunggu datangnya ruh jalan keluar, yakni kedamaian, ketenteraman, dan kenikmatan dari jalan keluar. Karena dengan menunggu dan menantinya akan meringankan beban kesulitan, terlebih lagi jika diiringi dengan kuatnya harapan atau keyakinan pasti jalan keluar itu akan datang. Jika sudah demikian, di sela-sela musibah itu ia akan merasakan ruh, kedamaian, dan ketenteraman jalan keluar, yang di antaranya merupakan bentuk halusnya kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan di antaranya menjadi jalan keluar yang disegerakan. Dengan hal itu dan lainnya dapat diketahui makna nama Allah al-Lathif.”  سَتُمْطِرُنَا الْبَشَائِرُ ذَاتَ يَوْمٍ وَيَعْظُمُ رَبُّنَا لِلصَّبْرِ أَجْرًا Suatu hari nanti kabar-kabar gembira akan menghujani kita. Dan Tuhan kita akan melipatgandakan pahala atas kesabaran. نُؤَمِّلُ بِاللَّطِيفِ ظُنُونَ خَيْرٍ وَنُوقِنُ أَنَّ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا Kita berharap kepada Yang Maha Lembut dengan sangkaan yang baik. Dan meyakini bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. فَمَا خَابَتْ قُلُوبٌ فِي عَظِيمٍ وَمَا رَجَعَ الدُّعَا وَالْكَفُّ صِفْرًا Hati yang berharap kepada Yang Maha Agung tidak akan kecewa. Dan doa tidak akan kembali dengan tangan yang hampa. Sembuh tanpa sebab yang jelas Penulis kita “Li-annaka Allah” menceritakan sebuah kisah bahwa ada salah satu orang kaya yang mengidap gagal ginjal. Anak-anaknya membawanya ke Mesir untuk transplantasi ginjal. Anak-anaknya sepakat dengan keluarga seorang anak perempuan yang masih kecil untuk membayar ginjalnya seharga seratus ribu riyal. Pada pagi hari, semua orang sudah berada di rumah sakit. Sebelum operasi dilakukan, orang tersebut ingin berjumpa dengan anak perempuan yang sepakat untuk menjual ginjal untuknya itu. Anak perempuan itu masuk menemuinya dengan canggung dan malu-malu. Lelaki itu bertanya: “Apa yang membuatmu menjual ginjalmu kepada seorang lelaki tua sepertiku?” Ia menjawab: “Karena himpitan kebutuhan, keluargaku miskin, saudara-saudaraku sedang menempuh kuliah. Saya harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka.”  Jawaban ini seakan-akan menamparnya dan menyadarkannya dari keterlenaannya. Seakan-akan ia lupa dengan darah kotor yang telah menumpuk dalam tubuhnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya: Apakah masuk akal ada manusia yang rela kehilangan sebagian anggota tubuhnya dan sebagian dari hidupnya demi bisa makan dan hidup? Ia kemudian segera memanggil anak-anaknya. Ketika mereka datang, ia memerintahkan mereka untuk memulangkannya ke Saudi. Ia membatalkan rencana transplantasi ginjalnya dan mengatakan kepada mereka bahwa uang seratus ribu riyal telah ia anggap sebagai sedekah untuk anak perempuan itu, jangan mengambil kembali darinya satu riyal pun. Setelah penolakan dari sebagian anak-anaknya dan kemarahan dari sebagian lainnya, mereka pun akhirnya mau menuruti kemauan ayahnya.  Setelah kembali ke Saudi, ia pergi ke rumah sakit seperti rutinitas biasanya untuk cuci darah. Pada pemeriksaan rutin, para dokter menemukan dengan penuh keheranan bahwa ginjalnya kembali dapat bekerja. Sebuah kuasa dari Sang Maha Raja untuk memberi kesembuhan tanpa membutuhkan pisau bedah. Dialah Yang Maha Kuasa yang melihat dari atas kerajaan-Nya, lalu menyembuhkan orang sakit, membahagiakan orang yang kesusahan, mengembalikan orang yang lama pergi, dan memulihkan orang yang terluka. Di sini saya bertanya-tanya: Siapa selain Al-Lathif Yang Maha Lembut yang dapat mengatur alur yang menakjubkan dalam cerita ini, yang menyembuhkan orang tua itu berkat sedekahnya, dan di waktu yang sama menjadikan kaya anak perempuan yang miskin itu dengan sedekahnya orang kaya yang menghampirinya dari jauh dengan raga dan hartanya, tanpa harus menjual ginjalnya?! Betapa lembutnya Engkau, ya Allah! وَتَضِيقُ دُنْيَانَا فَنَحْسَبُ أَنَّنَا سَنَمُوتُ يَأْسًا أَوْ نَمُوتُ نَحِيبًا Ketika dunia kita terasa sempit dan kita telah merasa. Kita akan binasa karena putus asa atau mati oleh tangisan. وَإِذَا بِلُطْفِ اللَّهِ يَهْطِلُ فَجْأَةً يُرَبِّي مِنَ الْيَبَسِ الْفُتَاتِ قُلُوبًا Tiba-tiba kelembutan Allah turun bagaikan hujan. Menumbuhkan kembali hati yang kering kerontang dan berhamburan. قُلْ لِلَّذِي مَلَأَ التَّشَاؤُمُ قَلْبَهُ وَمَضَى يُضَيِّقُ حَوْلَنَا الْآفَاقَا Katakanlah kepada orang yang mengisi hatinya dengan pesimisme. Dan terus menyempitkan ruang hidup di sekitar kita. سِرُّ السَّعَادَةِ حُسْنُ ظَنِّكَ بِالَّذِي خَلَقَ الْحَيَاةَ وَقَسَّمَ الْأَرْزَاقَا Rahasia kebahagiaan adalah berbaik sangka kepada-Nya. Yang telah menciptakan kehidupan dan membagi rezeki. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/180257/ألطاف-الله-تحوطك-في-مرضك/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 299 times, 1 visit(s) today Post Views: 117

Jangan Kecewa Jika Doamu Belum Dikabulkan: Rahasia Indah di Balik Doa yang Tertunda

Ketika engkau berdoa kepada Allah, mintalah sebesar kerajaan dan kekayaan-Nya, bukan berdasarkan kefakiranmu, wahai hamba yang miskin. Dialah Allah, penguasa alam semesta, yang memberi karunia dan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dialah Allah, yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yang di tangan-Nya terdapat seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Dialah Allah, yang apabila menghendaki sesuatu, cukup berfirman: “Jadilah!”, maka jadilah. Berdoalah kepada Allah Azza wa Jalla dan jangan merasa Allah terlalu lama mengabulkan doamu. Berdoalah kepada Allah! Ketahuilah, setiap kali engkau berdoa pada-Nya, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, selamanya tidak akan ada kemungkinan ketiga selain itu. Demi Allah, Allah pasti akan memberimu. Namun, sebagaimana sabda Nabi ‘alaihish shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Muslim memanjatkan doa kepada Allah dengan suatu permohonan yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi doanya langsung dikabulkan di dunia, yaitu Allah mewujudkan apa yang engkau pinta. Beliau melanjutkan: Atau akan dipalingkan darinya keburukan yang sebanding dengan doanya.” Sebanding dengan banyaknya doamu, Allah akan memalingkan keburukan darimu.Engkau telah banyak berdoa, tapi belum terwujud, maka percayalah bahwa Allah sebenarnya telah menyelamatkanmu dari berbagai petaka besar. Dan yang ketiga, sabda Nabi, “…bisa jadi doa itu disimpan sebagai pahala di akhirat.” Itu akan menjadi tabungan pahala bagimu, saat engkau berjumpa dengan Allah. Ketika engkau bangkit pada hari kiamat, engkau mendapati pahala-pahala kebaikan yang belum pernah engkau lakukan, serta ganjaran besar yang bukan berasal dari ibadah-ibadahmu, melainkan semua itu merupakan tabungan dari doa-doa yang belum terwujud selama engkau hidup di dunia. Demi Allah, saya rasa, jika kelak kita melihat doa-doa yang menjadi tabungan di akhirat tersebut, niscaya kita akan berandai-andai agar Allah tidak mengabulkan satu pun permintaan kita selama hidup di dunia. Bukankah sudah saya katakan, setiap kali engkau berseru: “Ya Rabb,” Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Tidak ada kemungkinan ketiga selain itu. ===== عِنْدَمَا تَدْعُو اللهَ ادْعُهُ وَاطْلُبْ عَلَى قَدْرِ مُلْكِهِ وَغِنَاهُ لَا عَلَى قَدْرِ فَقْرِكَ يَا مِسْكِينُ اللهُ الْمَالِكُ مَالِكُ الْمُلْكِ يُعْطِي وَيَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ الْقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مَنْ بِيَدِهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ اُدْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تَسْتَبْطِئَنَّ الْإِجَابَةَاُدْعُ اللهَ وَاعْلَمْ أَنَّكَ مَهْمَا دَعَوْتَهُ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَك أَبَدًا وَاللهِ لَا ثَالِثَ لَهُمَا وَاللهِ يُعْطِيكَ اللهُ لَكِنْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ يُحَقِّقُ اللهُ لَكَ مَا طَلَبْتَ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلُهَا بِقَدْرِ مَا تَدْعُو يَصْرِفُ اللهُ عَنْكَ مِنَ السُّوءِ دَعَوْتَ كَثِيرًا مَا تَحَقَّقَتْ ثِقْ أَنَّ اللهَ صَرَفَ عَنْكَ سُوءًا كَثِيرًا وَالثَّالِثَةُ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ تُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ يَكُونُ رَصِيدًا لَكَ يَوْمَ تَلْقَى اللهَ فَإِذَا جِئْتَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَدْتَ حَسَنَاتٍ مَا فَعَلْتَهَا وَأُجُورًا لَيْسَ لِعِبَادَاتٍ تَقَرَّبْتَ بِهَا بَلْ هِيَ كَانَتْ رَصِيدَ دَعَوَاتٍ مَا تَحَقَّقَتْ فِي دُنْيَاكَ أَظُنُّ وَاللهِ أَنَّنَا لَوْ رَأَيْنَا تِلْكَ الدَّعَوَاتِ الَّتِي أَضْحَتْ رَصِيدًا فِي الْآخِرَةِ لَتَمَنَّيْنَا أَلَّا يَسْتَجِيبَ اللهُ لَنَا دَعْوَةً فِي دُنْيَانَا أَمَا قُلْتُ لَكَ مَا قُلْتَ يَا رَبِّ إِلَّا أَعْطَاكَ وَاللهِ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ لَا ثَالِثَ لَهُمَا

Jangan Kecewa Jika Doamu Belum Dikabulkan: Rahasia Indah di Balik Doa yang Tertunda

Ketika engkau berdoa kepada Allah, mintalah sebesar kerajaan dan kekayaan-Nya, bukan berdasarkan kefakiranmu, wahai hamba yang miskin. Dialah Allah, penguasa alam semesta, yang memberi karunia dan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dialah Allah, yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yang di tangan-Nya terdapat seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Dialah Allah, yang apabila menghendaki sesuatu, cukup berfirman: “Jadilah!”, maka jadilah. Berdoalah kepada Allah Azza wa Jalla dan jangan merasa Allah terlalu lama mengabulkan doamu. Berdoalah kepada Allah! Ketahuilah, setiap kali engkau berdoa pada-Nya, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, selamanya tidak akan ada kemungkinan ketiga selain itu. Demi Allah, Allah pasti akan memberimu. Namun, sebagaimana sabda Nabi ‘alaihish shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Muslim memanjatkan doa kepada Allah dengan suatu permohonan yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi doanya langsung dikabulkan di dunia, yaitu Allah mewujudkan apa yang engkau pinta. Beliau melanjutkan: Atau akan dipalingkan darinya keburukan yang sebanding dengan doanya.” Sebanding dengan banyaknya doamu, Allah akan memalingkan keburukan darimu.Engkau telah banyak berdoa, tapi belum terwujud, maka percayalah bahwa Allah sebenarnya telah menyelamatkanmu dari berbagai petaka besar. Dan yang ketiga, sabda Nabi, “…bisa jadi doa itu disimpan sebagai pahala di akhirat.” Itu akan menjadi tabungan pahala bagimu, saat engkau berjumpa dengan Allah. Ketika engkau bangkit pada hari kiamat, engkau mendapati pahala-pahala kebaikan yang belum pernah engkau lakukan, serta ganjaran besar yang bukan berasal dari ibadah-ibadahmu, melainkan semua itu merupakan tabungan dari doa-doa yang belum terwujud selama engkau hidup di dunia. Demi Allah, saya rasa, jika kelak kita melihat doa-doa yang menjadi tabungan di akhirat tersebut, niscaya kita akan berandai-andai agar Allah tidak mengabulkan satu pun permintaan kita selama hidup di dunia. Bukankah sudah saya katakan, setiap kali engkau berseru: “Ya Rabb,” Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Tidak ada kemungkinan ketiga selain itu. ===== عِنْدَمَا تَدْعُو اللهَ ادْعُهُ وَاطْلُبْ عَلَى قَدْرِ مُلْكِهِ وَغِنَاهُ لَا عَلَى قَدْرِ فَقْرِكَ يَا مِسْكِينُ اللهُ الْمَالِكُ مَالِكُ الْمُلْكِ يُعْطِي وَيَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ الْقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مَنْ بِيَدِهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ اُدْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تَسْتَبْطِئَنَّ الْإِجَابَةَاُدْعُ اللهَ وَاعْلَمْ أَنَّكَ مَهْمَا دَعَوْتَهُ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَك أَبَدًا وَاللهِ لَا ثَالِثَ لَهُمَا وَاللهِ يُعْطِيكَ اللهُ لَكِنْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ يُحَقِّقُ اللهُ لَكَ مَا طَلَبْتَ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلُهَا بِقَدْرِ مَا تَدْعُو يَصْرِفُ اللهُ عَنْكَ مِنَ السُّوءِ دَعَوْتَ كَثِيرًا مَا تَحَقَّقَتْ ثِقْ أَنَّ اللهَ صَرَفَ عَنْكَ سُوءًا كَثِيرًا وَالثَّالِثَةُ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ تُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ يَكُونُ رَصِيدًا لَكَ يَوْمَ تَلْقَى اللهَ فَإِذَا جِئْتَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَدْتَ حَسَنَاتٍ مَا فَعَلْتَهَا وَأُجُورًا لَيْسَ لِعِبَادَاتٍ تَقَرَّبْتَ بِهَا بَلْ هِيَ كَانَتْ رَصِيدَ دَعَوَاتٍ مَا تَحَقَّقَتْ فِي دُنْيَاكَ أَظُنُّ وَاللهِ أَنَّنَا لَوْ رَأَيْنَا تِلْكَ الدَّعَوَاتِ الَّتِي أَضْحَتْ رَصِيدًا فِي الْآخِرَةِ لَتَمَنَّيْنَا أَلَّا يَسْتَجِيبَ اللهُ لَنَا دَعْوَةً فِي دُنْيَانَا أَمَا قُلْتُ لَكَ مَا قُلْتَ يَا رَبِّ إِلَّا أَعْطَاكَ وَاللهِ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ لَا ثَالِثَ لَهُمَا
Ketika engkau berdoa kepada Allah, mintalah sebesar kerajaan dan kekayaan-Nya, bukan berdasarkan kefakiranmu, wahai hamba yang miskin. Dialah Allah, penguasa alam semesta, yang memberi karunia dan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dialah Allah, yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yang di tangan-Nya terdapat seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Dialah Allah, yang apabila menghendaki sesuatu, cukup berfirman: “Jadilah!”, maka jadilah. Berdoalah kepada Allah Azza wa Jalla dan jangan merasa Allah terlalu lama mengabulkan doamu. Berdoalah kepada Allah! Ketahuilah, setiap kali engkau berdoa pada-Nya, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, selamanya tidak akan ada kemungkinan ketiga selain itu. Demi Allah, Allah pasti akan memberimu. Namun, sebagaimana sabda Nabi ‘alaihish shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Muslim memanjatkan doa kepada Allah dengan suatu permohonan yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi doanya langsung dikabulkan di dunia, yaitu Allah mewujudkan apa yang engkau pinta. Beliau melanjutkan: Atau akan dipalingkan darinya keburukan yang sebanding dengan doanya.” Sebanding dengan banyaknya doamu, Allah akan memalingkan keburukan darimu.Engkau telah banyak berdoa, tapi belum terwujud, maka percayalah bahwa Allah sebenarnya telah menyelamatkanmu dari berbagai petaka besar. Dan yang ketiga, sabda Nabi, “…bisa jadi doa itu disimpan sebagai pahala di akhirat.” Itu akan menjadi tabungan pahala bagimu, saat engkau berjumpa dengan Allah. Ketika engkau bangkit pada hari kiamat, engkau mendapati pahala-pahala kebaikan yang belum pernah engkau lakukan, serta ganjaran besar yang bukan berasal dari ibadah-ibadahmu, melainkan semua itu merupakan tabungan dari doa-doa yang belum terwujud selama engkau hidup di dunia. Demi Allah, saya rasa, jika kelak kita melihat doa-doa yang menjadi tabungan di akhirat tersebut, niscaya kita akan berandai-andai agar Allah tidak mengabulkan satu pun permintaan kita selama hidup di dunia. Bukankah sudah saya katakan, setiap kali engkau berseru: “Ya Rabb,” Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Tidak ada kemungkinan ketiga selain itu. ===== عِنْدَمَا تَدْعُو اللهَ ادْعُهُ وَاطْلُبْ عَلَى قَدْرِ مُلْكِهِ وَغِنَاهُ لَا عَلَى قَدْرِ فَقْرِكَ يَا مِسْكِينُ اللهُ الْمَالِكُ مَالِكُ الْمُلْكِ يُعْطِي وَيَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ الْقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مَنْ بِيَدِهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ اُدْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تَسْتَبْطِئَنَّ الْإِجَابَةَاُدْعُ اللهَ وَاعْلَمْ أَنَّكَ مَهْمَا دَعَوْتَهُ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَك أَبَدًا وَاللهِ لَا ثَالِثَ لَهُمَا وَاللهِ يُعْطِيكَ اللهُ لَكِنْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ يُحَقِّقُ اللهُ لَكَ مَا طَلَبْتَ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلُهَا بِقَدْرِ مَا تَدْعُو يَصْرِفُ اللهُ عَنْكَ مِنَ السُّوءِ دَعَوْتَ كَثِيرًا مَا تَحَقَّقَتْ ثِقْ أَنَّ اللهَ صَرَفَ عَنْكَ سُوءًا كَثِيرًا وَالثَّالِثَةُ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ تُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ يَكُونُ رَصِيدًا لَكَ يَوْمَ تَلْقَى اللهَ فَإِذَا جِئْتَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَدْتَ حَسَنَاتٍ مَا فَعَلْتَهَا وَأُجُورًا لَيْسَ لِعِبَادَاتٍ تَقَرَّبْتَ بِهَا بَلْ هِيَ كَانَتْ رَصِيدَ دَعَوَاتٍ مَا تَحَقَّقَتْ فِي دُنْيَاكَ أَظُنُّ وَاللهِ أَنَّنَا لَوْ رَأَيْنَا تِلْكَ الدَّعَوَاتِ الَّتِي أَضْحَتْ رَصِيدًا فِي الْآخِرَةِ لَتَمَنَّيْنَا أَلَّا يَسْتَجِيبَ اللهُ لَنَا دَعْوَةً فِي دُنْيَانَا أَمَا قُلْتُ لَكَ مَا قُلْتَ يَا رَبِّ إِلَّا أَعْطَاكَ وَاللهِ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ لَا ثَالِثَ لَهُمَا


Ketika engkau berdoa kepada Allah, mintalah sebesar kerajaan dan kekayaan-Nya, bukan berdasarkan kefakiranmu, wahai hamba yang miskin. Dialah Allah, penguasa alam semesta, yang memberi karunia dan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dialah Allah, yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yang di tangan-Nya terdapat seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Dialah Allah, yang apabila menghendaki sesuatu, cukup berfirman: “Jadilah!”, maka jadilah. Berdoalah kepada Allah Azza wa Jalla dan jangan merasa Allah terlalu lama mengabulkan doamu. Berdoalah kepada Allah! Ketahuilah, setiap kali engkau berdoa pada-Nya, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, selamanya tidak akan ada kemungkinan ketiga selain itu. Demi Allah, Allah pasti akan memberimu. Namun, sebagaimana sabda Nabi ‘alaihish shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Muslim memanjatkan doa kepada Allah dengan suatu permohonan yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi doanya langsung dikabulkan di dunia, yaitu Allah mewujudkan apa yang engkau pinta. Beliau melanjutkan: Atau akan dipalingkan darinya keburukan yang sebanding dengan doanya.” Sebanding dengan banyaknya doamu, Allah akan memalingkan keburukan darimu.Engkau telah banyak berdoa, tapi belum terwujud, maka percayalah bahwa Allah sebenarnya telah menyelamatkanmu dari berbagai petaka besar. Dan yang ketiga, sabda Nabi, “…bisa jadi doa itu disimpan sebagai pahala di akhirat.” Itu akan menjadi tabungan pahala bagimu, saat engkau berjumpa dengan Allah. Ketika engkau bangkit pada hari kiamat, engkau mendapati pahala-pahala kebaikan yang belum pernah engkau lakukan, serta ganjaran besar yang bukan berasal dari ibadah-ibadahmu, melainkan semua itu merupakan tabungan dari doa-doa yang belum terwujud selama engkau hidup di dunia. Demi Allah, saya rasa, jika kelak kita melihat doa-doa yang menjadi tabungan di akhirat tersebut, niscaya kita akan berandai-andai agar Allah tidak mengabulkan satu pun permintaan kita selama hidup di dunia. Bukankah sudah saya katakan, setiap kali engkau berseru: “Ya Rabb,” Allah pasti akan memberimu. Demi Allah, pilihannya: Allah pasti akan memberimu, atau Allah pasti akan memberimu. Tidak ada kemungkinan ketiga selain itu. ===== عِنْدَمَا تَدْعُو اللهَ ادْعُهُ وَاطْلُبْ عَلَى قَدْرِ مُلْكِهِ وَغِنَاهُ لَا عَلَى قَدْرِ فَقْرِكَ يَا مِسْكِينُ اللهُ الْمَالِكُ مَالِكُ الْمُلْكِ يُعْطِي وَيَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ الْقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مَنْ بِيَدِهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ اُدْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تَسْتَبْطِئَنَّ الْإِجَابَةَاُدْعُ اللهَ وَاعْلَمْ أَنَّكَ مَهْمَا دَعَوْتَهُ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَك أَبَدًا وَاللهِ لَا ثَالِثَ لَهُمَا وَاللهِ يُعْطِيكَ اللهُ لَكِنْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ يُحَقِّقُ اللهُ لَكَ مَا طَلَبْتَ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلُهَا بِقَدْرِ مَا تَدْعُو يَصْرِفُ اللهُ عَنْكَ مِنَ السُّوءِ دَعَوْتَ كَثِيرًا مَا تَحَقَّقَتْ ثِقْ أَنَّ اللهَ صَرَفَ عَنْكَ سُوءًا كَثِيرًا وَالثَّالِثَةُ قَالَ: وَإِمَّا أَنْ تُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ يَكُونُ رَصِيدًا لَكَ يَوْمَ تَلْقَى اللهَ فَإِذَا جِئْتَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَدْتَ حَسَنَاتٍ مَا فَعَلْتَهَا وَأُجُورًا لَيْسَ لِعِبَادَاتٍ تَقَرَّبْتَ بِهَا بَلْ هِيَ كَانَتْ رَصِيدَ دَعَوَاتٍ مَا تَحَقَّقَتْ فِي دُنْيَاكَ أَظُنُّ وَاللهِ أَنَّنَا لَوْ رَأَيْنَا تِلْكَ الدَّعَوَاتِ الَّتِي أَضْحَتْ رَصِيدًا فِي الْآخِرَةِ لَتَمَنَّيْنَا أَلَّا يَسْتَجِيبَ اللهُ لَنَا دَعْوَةً فِي دُنْيَانَا أَمَا قُلْتُ لَكَ مَا قُلْتَ يَا رَبِّ إِلَّا أَعْطَاكَ وَاللهِ إِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ وَإِمَّا أَنْ يُعْطِيَكَ لَا ثَالِثَ لَهُمَا

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMenata prioritas dalam kehidupanAgar tidak tertipu kesibukanDalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut IlmuMenata prioritas dalam kehidupanUntuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.Agar tidak tertipu kesibukanKesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?

Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?
Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamBagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?


Daftar Isi ToggleMasa terhentinya wahyuKembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiGenerasi pertama pemeluk IslamKarakteristik wahyu pada masa awal IslamPengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.Masa terhentinya wahyuSetelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-MuddatstsirKetika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyiTelah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.Generasi pertama pemeluk IslamMerupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.Karakteristik wahyu pada masa awal IslamWahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr. Artikel terkait:Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/43060-turunnya-wahyu-pertama-kepada-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam.html/embed#?secret=3enyZJ2V1N#?secret=1kt06RzEI4" data-secret="1kt06RzEI4" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?<iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; visibility: hidden;" title="&#8220;Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?&#8221; &#8212; Muslim.or.id" src="https://muslim.or.id/74827-bagaimanakah-al-quran-turun-kepada-nabi-muhammad.html/embed#?secret=NzgaWaw1Ai#?secret=nPWp5ofVil" data-secret="nPWp5ofVil" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>

Hukum Affiliate di Marketplace dengan Komisi yang Tidak Jelas (Majhul)

Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Hukum Affiliate di Marketplace dengan Komisi yang Tidak Jelas (Majhul)

Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAkad apa yang mendasari affiliate?Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituKesimpulan akad:Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalKesimpulanBisnis affiliate marketing kini menjadi salah satu model penghasilan digital yang paling diminati. Cara kerjanya sederhana: seseorang mempromosikan produk melalui tautan khusus, dan bila ada pembeli yang bertransaksi melalui tautan tersebut, ia mendapat komisi. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan serius dari sisi fikih: bagaimana jika besaran komisi tidak jelas, tidak pasti, bahkan terkadang tidak diterima sama sekali meski promosi telah berhasil?Akad apa yang mendasari affiliate?Dalam fikih muamalah, praktik affiliate paling dekat dengan dua akad: ji’ālah dan samsarah.Ji’ālah (الجعالة) adalah akad di mana seseorang menjanjikan imbalan kepada siapa saja yang berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Contoh klasiknya adalah: “Siapa yang menemukan barangku yang hilang, ia mendapat sekian dirham.” Dalam konteks affiliate, merchant (pemilik produk) berkata, “Siapa yang berhasil menjualkan produkku, ia mendapat komisi.” Ini adalah bentuk ji’ālah.Samsarah (السمسرة) adalah akad perantara atau makelar — seseorang yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli dan mendapat upah atas jasanya. Affiliate juga memiliki unsur ini.Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam Al-Mughni (6: 339) menjelaskan ji’ālah sebagai akad yang sah meski objek pekerjaannya tidak sepenuhnya terukur sebelumnya, karena hasilnyalah yang menjadi penentu upah. Ini memberikan kelenturan dibanding akad ijārah (upah kerja biasa) yang mensyaratkan pekerjaan dan upah harus jelas sejak awal.Masalah utama: Komisi yang tidak jelas (majhul)Syariat Islam sangat ketat soal kejelasan dalam akad. Ketidakjelasan yang berpotensi menimbulkan perselisihan disebut gharar (غَرَر) — dan ini terlarang. Rasulullah ﷺ bersabda,نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ“Rasulullah ﷺ melarang jual beli yang mengandung gharar (ketidakpastian).” (HR. Muslim no. 1513)Dalam affiliate, bentuk ketidakjelasan (majhul) yang sering terjadi antara lain: persentase komisi berubah-ubah tanpa pemberitahuan, sistem tracking yang tidak transparan sehingga penjualan tidak terhitung, atau ketentuan komisi yang bergantung pada syarat-syarat tersembunyi dalam kebijakan platform yang rumit dan mudah berubah. Semua ini mengandung unsur gharar yang perlu dikaji lebih dalam.Gharar: Mana yang dimaafkan, mana yang tidak?Para ulama membedakan gharar menjadi dua: gharar fahish (ketidakjelasan besar yang merusak akad) dan gharar yasir (ketidakjelasan kecil yang dimaafkan). Syekh Wahbah az-Zuhaili rahimahullāh dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (4: 450) menjelaskan bahwa gharar yang diharamkan adalah yang bersifat dominan dalam akad dan berpotensi melahirkan perselisihan. Adapun gharar ringan yang sulit dihindari dalam suatu transaksi adalah dimaafkan.Dalam konteks affiliate: jika persentase komisi sudah jelas sejak awal (misalnya 5% dari harga produk), dan ketidakpastiannya hanya pada apakah ada pembeli atau tidak — maka ini adalah gharar yasir yang wajar dalam ji’ālah dan dimaafkan. Namun jika komisinya sendiri tidak jelas nominalnya, berubah sepihak, atau sistem tracking-nya tidak dapat dipercaya — ini sudah masuk kategori gharar fahish yang bermasalah.Jika pelaku affiliate rida dengan ketidakjelasan ituIni adalah bagian yang paling menarik untuk dikaji. Sebagian pelaku affiliate menerima saja kondisi ini: “Dapat komisi alhamdulillah, tidak dapat pun tidak apa-apa.” Apakah keridaan ini menyelesaikan masalah syar’i-nya?Dalam fikih, ada kaidah terkenal:الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala perkara tergantung pada tujuan/niatnya.”Namun dalam muamalah, keridaan saja tidak cukup untuk menghalalkan akad yang cacat. Al-Qur’an memang menegaskan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali melalui perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)Ayat ini memang menyebut taradhin (saling rida) sebagai syarat. Namun, para ulama menegaskan bahwa taradhin adalah syarat perlu, bukan syarat cukup. Keridaan tidak menghalalkan riba, tidak menghalalkan judi, dan tidak serta-merta menghalalkan gharar fahish. Ibnu Taimiyah rahimahullāh dalam Majmu’ al-Fatawa (29: 148) berkata, “Ini adalah perkara yang tidak boleh dilakukan tanpa syarat sekalipun; maka syarat tidak dapat menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal.”Akan tetapi, jika kita membaca situasi ini dari sudut akad ji’ālah secara khusus, terdapat kelenturan. Dalam ji’ālah, pihak yang bekerja (amil) boleh saja tidak mendapat upah jika pekerjaannya tidak berhasil — itu sudah menjadi kesepakatan dari awal. Jika seorang affiliator memahami dan menerima bahwa: komisi hanya diperoleh jika penjualan terverifikasi oleh sistem platform, dan ia menerima risiko itu dengan sadar, maka ini lebih mendekati ji’ālah yang sah — asalkan besaran komisi saat berhasil tetap jelas.Kesimpulan akad:Jika komisi sudah jelas persentasenya sejak awal, namun ada risiko tidak terhitung karena faktor teknis → ini adalah ji’ālah dengan gharar yasir yang dimaafkan, dan affiliator yang rida menanggung risiko ini hukumnya dibolehkan.Jika komisi tidak jelas nominalnya, berubah sepihak tanpa pemberitahuan, atau ada penipuan sistemik dalam tracking → ini adalah gharar fahish dan akadnya bermasalah, meski affiliator rida sekalipun.Panduan praktis: Agar affiliate menjadi halalDari seluruh tinjauan di atas, agar praktik affiliate di marketplace menjadi akad yang bersih secara syariat, beberapa hal perlu dipastikan. Pertama, besaran komisi harus jelas sejak awal — baik dalam nominal maupun persentase yang tidak berubah sepihak. Kedua, mekanisme verifikasi penjualan harus transparan dan dapat dipercaya. Ketiga, kebijakan komisi tidak boleh berubah tanpa pemberitahuan yang layak kepada affiliator. Keempat, tidak ada penipuan dalam sistem tracking yang menyebabkan hak affiliator hilang secara sepihak.KesimpulanAffiliate marketing pada dasarnya adalah akad ji’ālah atau samsarah yang dibolehkan dalam Islam. Persoalan muncul ketika komisi bersifat majhul (tidak jelas) secara esensial — bukan sekadar tidak pasti hasilnya, melainkan tidak jelas besarannya. Keridaan affiliator tidak otomatis menyembuhkan cacat akad yang timbul dari gharar fahish. Namun jika komisi jelas, affiliator hanya menanggung risiko wajar bahwa tidak semua promosi berbuah komisi, maka keridaannya itu justru menjadi bagian yang sah dari akad ji’alah. Kuncinya satu: kejelasan sejak awal.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat…Baca juga: Praktek Riba dalam Transaksi Online***Penulis: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id

Kepedulian Islam Terhadap Hak-Hak Orang Sakit dan Berkebutuhan Khusus

Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 136

Kepedulian Islam Terhadap Hak-Hak Orang Sakit dan Berkebutuhan Khusus

Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 136
Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 136


Oleh: Syaikh Nida Abu Ahmad Agama Islam punya prinsip istimewa dalam memberi perhatian bagi orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus. Prinsip yang dimulai dengan memberi kemudahan bagi mereka dalam beberapa ketentuan syariat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Dan prinsip ini sampai pada pemberian harapan ke dalam jiwa mereka, juga menjaga hak-hak jiwa dan raga mereka. Inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, apabila mendengar ada orang yang sakit, beliau segera menjenguknya di rumahnya, meski dengan banyaknya tugas dan kesibukan beliau. Penjengukan beliau ini bukan karena memaksakan diri atau rasa terpaksa, tapi karena kesadaran akan kewajiban beliau terhadap orang sakit tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan beliaulah yang menjadikan penjengukan orang sakit adalah salah satu hak orang sakit itu?! Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim lainnya ada lima” Lalu beliau menyebutkan di antaranya: “Menjenguk orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu). Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam —yang merupakan pendidik dan teladan— menghibur orang yang sedang sakit atas kesulitan dan sakitnya. Beliau menampakkan —tanpa sikap yang dibuat-buat— kepedulian, perhatian, dan cinta beliau kepadanya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Saad bin Ubadah pernah mengadukan keluhan sakit kepadanya, lalu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk ke rumahnya, ternyata beliau mendapatinya dikelilingi orang-orang dari keluarganya. Beliau lalu bertanya: ‘Apakah ia telah wafat?’ Mereka menjawab: ‘Belum, wahai Rasulullah!’ Kemudian beliau menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menangis, orang-orang pun ikut menangis. Beliau lalu bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata atau kesedihan hati, tapi Dia menyiksa karena ini —beliau menunjuk ke arah lisannya— atau merahmati karenanya pula.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga senantiasa mendoakan orang yang sedang sakit, memberinya kabar gembira berupa ganjaran pahala atas sakit yang menimpanya, menghiburnya atas musibahnya, dan membuatnya ridha dengan keadaannya. Ummu Al-Ala’ menceritakan: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menjengukku ketika sakit, lalu beliau bersabda: ‘Bergembiralah wahai Ummu Al-Ala’, karena penyakit seorang muslim akan menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak.’” (HR. Abu Dawud. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 7851). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan tidak memberatkannya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma: “Kami pernah pergi bersafar, lalu salah satu dari kami terkena batu hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami junub, lalu bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apakah menurut kalian aku mendapat keringanan untuk bertayamum (untuk mandi wajib)?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menganggap engkau mendapat keringanan karena engkau masih mampu memakai air.’ Akhirnya ia mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau diberitahu kejadian tersebut. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membalas mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya ia cukup untuk bertayamum lalu mengikat atau membalut —perawi ragu kata pastinya— lukanya dengan sehelai kain, kemudian mengusap atasnya, dan mencuci (dengan air) anggota badannya yang lain.’” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Disebutkan juga dalam Shahih Al-Jami no. 4362). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga memenuhi kebutuhan orang yang sakit, dan berjalan bersamanya hingga dapat menyelesaikan kebutuhannya. Suatu ketika datang kepada beliau seorang wanita yang punya gangguan mental, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya suatu keperluan dengan engkau.” Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai ibu fulan, engkau mau kita bicara di gang yang mana, agar aku bisa memenuhi keperluanmu?” Beliau lalu berbicara dengan wanita itu di salah satu gang hingga ia mengungkapkan keperluannya. (HR. Muslim dari riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga menetapkan hak bagi orang sakit dan berkebutuhan khusus untuk berobat, karena kesehatan badan lahir dan batin adalah salah satu tujuan agama Islam. Oleh sebab itu, Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada orang-orang Arab Badui ketika mereka bertanya tentang berobat: تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً إِلَّا الْهَرَمَ “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali penuaan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dishahihkan Al-Albani dalam Ghayah al-Maram no. 292). Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga tidak melarang wanita muslim untuk mengobati laki-laki muslim. Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menetapkan Rafidah —seorang wanita dari kabilah Aslam— untuk mengobati Saad bin Muadz Radhiyallahu ‘anhu saat terkena anak panah pada perang Khandaq. Rafidah Radhiyallahu ‘anha mengobati orang-orang yang terluka dan mendedikasikan dirinya secara sukarela untuk melayani siapa saja kaum Muslimin yang terlantar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hlm. 239. Juga dalam Ash-Shahihah no. 1158). Dalam implementasinya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperlakukan Amru bin Al-Jamuh Radhiyallahu ‘anhu dengan perlakuan yang penuh penghormatan, meskipun Amru bin Al-Jamuh adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu kakinya mengalami pincang yang parah. Amru bin Al-Jamuh menceritakan bahwa empat anaknya yang pernah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin melarangnya ikut berperang pada perang Uhud. Amru bin Al-Jamuh lalu mendatangi Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Anak-anakku ingin mencegahku dari jalan ini dan pergi bersama engkau. Demi Allah, sungguh aku ingin menapaki surga dengan kaki pincangku ini!” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda kepada Amru: “Adapun engkau telah diberi uzur oleh Allah, sehingga engkau tidak lagi wajib berjihad.” Lalu bersabda kepada anak-anaknya: “Kalian tidak berhak melarangnya, semoga Allah mengaruniakan kesyahidan.” Akhirnya Amru bin Al-Jamuh pergi bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada perang Uhud, sehingga ia terbunuh. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda tentangnya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Dia akan memenuhi sumpahnya, di antara mereka adalah Amru bin Al-Jamuh, sungguh aku telah melihatnya menapakkan kaki di surga dengan kaki pincangnya.” (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Jabir Radhiyallahu ‘anhu). Demikianlah keadaan orang-orang sakit dan berkebutuhan khusus dalam Islam dan di bawah naungan peradaban Islam. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/173888/الإسلام-يراعي-حقوق-المرضى-وذوي-الاحتياجات-الخاصة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 164 times, 1 visit(s) today Post Views: 136

Teks Khotbah Jumat: Obat Penenang Tatkala Harga Menjulang

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Obat Penenang Tatkala Harga Menjulang

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanNaiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangTujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaKhotbah keduaLangkah taktis menghadapi harga naikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah!Bersyukurlah atas nikmat hirupan nafas dan tegukan air, sehingga kita dapat menegakkan tulang punggung kita untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Patutlah kita mensyukuri nikmat itu dengan meniti jalan ketakwaan sehingga kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jalan itu tiadalah dapat kita tempuh kecuali karena Allah ﷻ telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasulun Amin. Maka berselawatlah kepadanya, niscaya Allah ﷻ akan balaskan kepada kita sepuluh kali lipat.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanRealita hari ini yang tak terelakkan adalah keadaan ekonomi yang kian sulit. Harga bahan pokok meningkat, menggerus pemasukan kaum muslimin. Para jemaah, ketahuilah! Tentu di antara sebab dari kesulitan ini adalah sebagian dosa kita. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surah As-Syura ayat 30,وَمَاۤ اَصَابَكُمۡ مِّنۡ مُّصِيۡبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَيَعۡفُوۡا عَنۡ كَثِيۡرٍؕ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)Artinya, kesulitan ini hanyalah secuil dampak dari kezaliman diri kita. Masih banyak kezaliman yang Allah ﷻ maafkan dan tak wujudkan dalam bentuk musibah. Andai pun ini tak benar, tentulah keadaan ini merupakan jalan untuk kita naik level keimanan.Naiknya harga ini semua adalah ketetapan dari Allah ﷻKenaikan harga barang adalah takdir Allah ﷻ; meskipun bisa saja ada sebab-sebab perbuatan masyarakat maupun pemerintah, tetapi hal ini sangatlah kompleks sehingga tidak bisa kita sepenuhnya menyalahkan siapapun. Bahkan hal semacam ini pun pernah terjadi di masa Nabi ﷺ masih memimpin kaum muslimin secara langsung.Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Harga (barang-barang) di zaman Rasulullah ﷺ pernah naik. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, harga telah naik. Oleh karena itu, tetapkanlah harga bagi kami.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ“Sesungguhnya Allah, Dia-lah al-Musa’ir (Yang menetapkan harga), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rezeki), al-Baasith (Yang melapangkan rezeki), ar-Razzaaq (Yang Maha memberi rezeki) dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi dalam darah dan harta.” (HR. Ahmad no. 12591, Abu Daud no. 3451, Tirmidzi no. 1314, dan Ibnu Majah no. 2200; dan disahihkan oleh Al-Albani)Nabi ﷺ memberikan kabar bahwa Allah ﷻ ialah yang berhak menentukan harga. Allah ﷻ jugalah Al-Qabidh dan Al-Basith, Yang Maha menyempitkan dan melapangkan rezeki. Namun, beliau ﷺ tidak hanya menyebutkan kabar bahwa Allah ﷻ yang seakan-akan seperti lepas tangan, tetapi beliau juga memberi kabar bahwa Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq, Maha pemberi rezeki, sehingga jangan khawatir dengan keadaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwasanya pemimpin terbaik sekalipun tak mampu dan tak berhak menetapkan harga komoditas. Sehingga Nabi ﷺ berharap agar tidak ada yang menuntut kezaliman ini kepadanya.Kenaikan harga barang tidak mempengaruhi rezeki seseorangBagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki kita.Allah ﷻ berfirman,وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”Allah ﷻ Maha mengetahui bahwa jika hamba-Nya diberi rezeki lebih, niscaya mereka akan melampaui batas.وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)Allah ﷻ menetapkan rezeki dengan keadaan ialah Al-Khabir, Yang Maha mengetahui perkara detail, lagi Al-Bashir, melihat kenyataan yang ada. Tentulah Allah Al-Hakim, Yang Maha bijaksana, tidak akan menzalimi hamba-Nya dengan memberikan rezeki kurang dari hak-Nya. Padahal, Allah ﷻ mampu melakukannya.Tujuan kita diciptakan adalah beribadah, terlepas kondisinyaSejatinya tidak ada kewajiban untuk Allah ﷻ memberikan rezeki melimpah kepada kita semua. Karena Allah ﷻ adalah Penguasa yang tidak dituntut akan perbuatan-Nya. Namun, Allah ﷻ tetap memberikan kenikmatan dunia kepada hamba-Nya, padahal yang tertuntut adalah sang hamba. Hamba -yakni kita semua- tertuntut suatu perkara, yakni beribadah kepada Allah ﷻ, dan itulah satu-satunya tujuan. Dalam ayat yang masyhur, Allah ﷻ berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ – إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ“Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Tidaklah aku menghendaki rezeki dan pemberian makan dari mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Pemilik Kekuatan Mutlak serta Kekuatan Yang Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)Allah ﷻ tak butuh kepada ibadah kita, tidak pula menuntut untuk kita memberi rezeki dan makanan kepada Allah ﷻ. Malah justru Allah ﷻ yang menjamin rezeki kita, dan tidak ada yang mampu mencegah pemberian Allah ﷻ. Maka, pertanyakan kepada diri kita, “Sudahkah kita maksimal menghamba kepada Allah ﷻ?”بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهLangkah taktis menghadapi harga naikMaka solusinya para hadirin adalah:Pertama: Kuatkan tekad kita beribadah dan jadikan ini fokus utama kita saat ini.Kedua: Bekerjalah sebaik mungkin, karena ikhtiar kita bekerja adalah bagian dari ibadah yang dimaksud. Dan khotbah ini tidak menyuruh anda sekalian untuk menyerah, tetapi justru mengajak anda sekalian bersemangat mengejar rezeki yang sudah ditakdirkan Allah ﷻ.Ketiga: Bersyukurlah bahwa kita punya Allah ﷻ Ar-Razzaq, sehingga pikiran kita bisa fokus kepada pekerjaan, dan tidak tersibukkan dengan takaran rezeki. Kita serahkan seluruhnya kepada Allah ﷻ.Nabi ﷺ bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُOleh karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia.وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَCarilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 9640, disahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا – مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا – وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ

Takut Rezeki Habis? Takut Anak Terlantar? Cemas Masa Depan? Dengarkan Ini!

Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ
Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ


Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut? Mengapa kamu takut pada masa depan? Kenapa kamu takut? Anda berada dalam pengaturan Allah. Mengapa takut? Rezekimu ada di tangan-Nya. “Tidaklah satu jiwa akan meninggal dunia hingga seluruh rezekinya telah sempurna.” (HR. Al-Bazzar). “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Mengapa kamu takut? Takdirmu ada di tangan-Nya, perlindunganmu ada di tangan-Nya, keselamatanmu ada di tangan-Nya. Tempuhlah sebab-sebabnya! Doa-doa syar’i itu membentengi, dan kamu berada dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jangan takut! Bukan kamu yang bisa mencegah takdir menimpa dirimu, karena takdir-takdir Allah tetap berlaku. Pesawat-pesawat yang terbang, kereta-kereta yang melintas, kapal-kapal yang membelah laut, dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, semuanya berjalan dalam pengaturan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah yang menjaga, akan tetapi jagalah (aturan-aturan) Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mengapa takut? Mengapa takut akan masa depan anak-anak? Siapa yang mengurusmu dahulu? Siapa yang mencukupimu? Siapa yang memberimu hingga menjadikanmu memiliki keluarga? Setelah dulunya kamu seorang anak kecil yang lemah, yang tidak mampu membersihkan kotoranmu sendiri, lalu ibumu yang merawatmu. Yang mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kedua orang tua: “Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24). Fase yang paling lama dalam ketidakmampuan untuk mengandalkan diri sendiri dalam bertindak adalah fase kehidupan manusia. Hewan-hewan, kuda misalnya, ketika dilahirkan induknya, ia langsung berdiri tegak di sampingnya, lalu tiba-tiba sudah bisa menyusu. Demikian pula dengan seluruh hewan berkaki empat. Penyu-penyu yang keluar dari telurnya langsung berjalan menuju laut. Sungguh telah dikabarkan oleh Allah tentang hal itu: “Dia yang menentukan takdir, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 3). “Dia yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan Dia yang menentukan takdir lalu memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 2–3). Sedangkan manusia, fasenya paling lama. Umur satu tahun belum bisa apa-apa, tidak bisa menyuapi dirinya sendiri, tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, dan tidak bisa berpakaian. Umur dua tahun pun sama saja. Umur tiga tahun baru mulai sedikit-sedikit, dan seterusnya sampai…Lalu ia melupakan semua hal ini. Lantas mengapa kamu takut akan masa depan anak-anakmu? Allah yang mengurus mereka. “Apakah artinya aku harus meninggalkan segala hal?” Tidak, tempuhlah sebab-sebabnya dengan apa yang menjamin kehidupan yang layak bagi mereka. Namun, ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengurusmu dan mengurus mereka. Akan tetapi, jangan sampai ada di dalam dirimu atau di dalam hatimu rasa takut pada masa depan, seperti: “Bagaimana nanti? Apa yang akan terjadi?” Ridha pada ketetapan Allah. Apa pun yang terjadi, insya Allah itu adalah kebaikan, Allah menuliskan kebaikan. Mobilnya mogok, dia berkata, “Ini yang terbaik.” Terjadi sesuatu pada dirinya, dia berkata, “Allah memilihkan yang terbaik untukku di dalam kejadian ini.” Ini adalah bentuk keterikatan hati, ini adalah tawakal. Ketika seseorang selalu mengaitkan segala sesuatu kepada Allah, dan meyakini bahwa apa yang Allah pilihkan ini, baik maupun buruknya, adalah kebaikan baginya. Bisa jadi Allah menghindarkan darimu musibah besar yang seharusnya menimpamu, lalu yang datang menimpamu hanyalah sesuatu yang ringan. Bisa jadi takdir awal menetapkan ada batu besar yang akan jatuh menimpamu, batu itu tetap jatuh, tapi Allah mengubahnya menjadi debu sehingga yang jatuh menimpamu hanyalah debu. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh sebab itu, keliru jika seseorang mengucapkan kalimat yang tersebar luas di tengah masyarakat, padahal kalimat ini memiliki catatan kritis dari sisi akidah. Sebagian orang berkata: “Ya Allah, aku tidak meminta kepada-Mu untuk menolak takdir, akan tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalam takdir tersebut.” Ini keliru. Doa ini keliru! Guru kami, Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya—dan saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya ketika beliau ditanya tentang hal ini—mereka berkata: “Ini doa yang lumrah dipakai.” Beliau menjawab, “Keliru, keliru!” Justru kita meminta kepada Allah agar memalingkan dari kita keburukan takdir yang telah ditetapkan. Bukankah di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Dan palingkanlah dari kami keburukan apa yang telah Engkau takdirkan.” (HR. Ahmad). Kamu berdoa kepada Allah agar memalingkan keburukan dari kita. Oleh karena itu, bagaimana hubungan doa dan takdir? Doa itu naik, lalu berjumpa dengan takdir, kemudian keduanya saling beradu. Terkadang doa yang menang, atau takdir tetap berlaku. Jika takdir tetap berlaku, doa telah terjaga, maka doa itu dijadikan sebagai simpanan dan pahala yang kekal di sisi Allah, sehingga Allah memberinya manfaat lewat doa tersebut. Maka orang yang berdoa itu pasti beruntung, adakalanya Allah mengabulkan doanya di dunia, atau doanya disimpan untuknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kelak dia dapati di sisi Allah pada hari kiamat, lalu dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa pahala yang besar ini?” Allah menjawab, “Ini adalah doa-doa yang disimpan untukmu.” Maka saat itu ia berharap andai saja dahulu tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, dan berharap semua doanya dahulu benar-benar disimpan untuknya. ===== أَنْتَ ليْشْ خَائِفٌ؟ أَنْتَ ليْشْ تَخَافُ؟ ليْشْ تَخَافُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ؟ أَنْتَ خَائِفٌ لِيهْ؟ أَنْتَ فِي أَمْرِ الله؟ خَائِفٌ ليْشْ؟ رِزْقُكَ بِيَدِهِ وَلَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا (إِنَّهُ لَا تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ أَنْتَ خَائِفٌ ليْشْ؟ قَدَرُكَ بِيَدِهِ، حِفْظُكَ بِيَدِهِ، سَلَامَتُكَ بِيَدِهِ، خُذْ بِالْأَسْبَابِ الْأَدْعِيَةُ الشَّرْعِيَّةُ تُحَصِّنُ، وَأَنْتَ فِي تَدْبِيرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ لَا تَخَفْ لَسْتَ أَنْتَ الَّذِي تَمْنَعُ الْأَقْدَارَ عَنْ نَفْسِكَ، فَأَقْدَارُ اللهِ جَارِيَةٌ الطَّائِرَاتُ الطَّائِرَةُ وَالْقِطَارَاتُ الْعَابِرَةُ وَالسُّفُنُ الْمَاخِرَةُ وَالسَّيَّارَاتُ الْعَابِرَةُ كُلُّهَا بِأَمْرِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ، لَكِنْ أَنْتَ احْفَظِ اللهَ حَتَّى تُحْفَظَ ليْشْ خَائِفٌ؟ ليْشْ خَائِفٌ عَلَى الْأَوْلَادِ؟ مَنِ الَّذِي تَوَلَّاكَ أَنْتَ؟ مَنِ الَّذِي كَفَاكَ؟ مَنِ الَّذِي أَعْطَاكَ فَجَعَلَكَ ذَا عِيَالٍ؟ بَعْدَ أَنْ كُنْتَ طِفْلًا صَغِيرًا عَاجِزًا عَنْ تَنْظِيفِ نَجَاسَةِ نَفْسِكَ تَهْتَمُّ بِكَ أُمُّكَ الَّذِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْوَالِدَيْنِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ فِي عَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى الْاِعْتِمَادِ فِي الْأَفْعَالِ بِنَفْسِهِ، مَرْحَلَةُ الْإِنْسَانِ الْحَيَوَانَاتُ، الْحِصَانُ تَلِدُهُ أُمُّهُ، يَنْتَفِضُ بِجِوَارِهَا، وَإِذَا بِهِ يَلْقَمُ ثَدْيًا وَكَذَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَرْبَعِ السَّلَاحِفُ مِنْ بَيْضِهَا، تَذْهَبُ إِلَى الْبَحْرِ قَدْ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهَا: قَدَّرَ فَهَدَى الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى، وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى الْإِنْسَانُ أَطْوَلُ مَرْحَلَةٍ سَنَةٌ مَا يَقْدِرُ، لَا يُطْعِمُ نَفْسَهُ، وَلَا يُنَظِّفُ نَفْسَهُ، وَلَا يَلْبَسُ بَسْ سَنَتَيْنِ نَفْسُ الشَّيْءِ، ثَلَاثٌ يَبْدَأُ هَا وَهَكَذَا حَتَّى وَيَنْسَى هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، ليْشْ خَائِفٌ عَلَى عِيَالِكَ؟ اللهُ يَتَوَلَّاهُمْ يَعْنِي مَعْنَاهُ ذَلِكَ أَتْرُكُ كُلَّ شَيْءٍ؟ لَا، مَارِسْ بِالْأَسْبَابِ بِمَا يَكْفُلُ لَهُمْ حَيَاةً كَرِيمَةً وَلَكِن اعْلَمْ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّاكَ وَيَتَوَلَّاهُمْ لَكِنْ لَا يَكُونُ فِي نَفْسِكَ أَوْ فِي قَلْبِكَ الْخَوْفُ مِنَ الْمُسْتَقْبَلِ، شْ بِيصِير؟ شْ بِيحصَل؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ، حَصَلَ إِنْ شَاءَ اللهُ الْخَيْرُ، يَكْتُبُ الْخَيْرَ تَعَطَّلَتْ سَيَّارَتُهُ قَالَ: خَيْرَةٌ صَارَ لَهُ شَيْءٌ قَالَ: اللهُ يَخْتَارُ لِي فِيهِ الْخَيْرَ، هَذَا تَعَلُّقٌ، هَذَا تَوَكُّلٌ عِنْدَمَا دَائِمًا يَرْبِطُ كُلَّ شَيْءٍ بِاللهِ وَأَنَّ هَذَا الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ شَرٌّ، يُمْكِنُ اللهُ دَفَعَ عَنْكَ شَيْئًا يَحِلُّ عَلَيْكَ فَأَصَابَكَ شَيْءٌ يُمْكِنُ يُقَدَّرُ لَكَ صَخْرَةٌ تَنْزِلُ عَلَيْكَ فَتَنْزِلُ الصَّخْرَةُ لَكِنْ يَجْعَلُهَا اللهُ تُرَابًا فَتَنْزِلُ عَلَيْكَ فَلِذَلِكَ نَدْعُو اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا الشَّرَّ وَلِذَلِكَ خَطَأٌ أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ عِبَارَةً مُنْتَشِرَةً عِنْدَ النَّاسِ وَهِيَ عَلَيْهَا مَلْحَظٌ عَقَدِيٌّ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا أَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَاءِ وَلَكِنْ أَسْأَلُكَ اللُّطْفَ فِيهِ هَذَا غَلَطٌ، الدُّعَاءُ هَذَا غَلَطٌ سُئِلَ شَيْخُنَا الشَّيْخُ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ وَسَمِعْتُهُ بِنَفْسِي لَمَّا سُئِلَ هَذَا قَالُوا: هَذَا دُعَاءٌ جَارِيٌّ، قَالَ: غَلَطٌ غَلَطٌ بَلْ نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَصْرِفَ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَى أَلَيْسَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا قَضَيْتَ (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ)؟ تَدْعُو اللهُ يَصْرِفُ عَنَّا شَرَّ مَا وَلِذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالْقَضَاءُ فِي إيه؟ يَرْتَفِعُ الدُّعَاءُ وَيُقَابِلُ الْقَضَاءَ فَيَتَصَارَعَانِ أَوْ يَغْلِبُ الدُّعَاءُ أَوْ يَنْفُذُ الْقَضَاءُ، فَإِذَا نَفَذَ الْقَضَاءُ وَحُفِظَ الدُّعَاءُ جُعِلَ لَهُ عِنْدَ اللهِ ذُخْرًا وَبَقَاءً، فَنَفَعَهُ اللهُ بِهِفَصَ احِبُ الدُّعَاءِ مُفْلِحٌ، إِمَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ أَوْ أَنْ يُحْفَظَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَجِدَ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: رَبِّي أَيْ مَا هَذِهِ؟ قَالَ: دَعَوَاتٌ اُدُّخِرَتْ لَكَ فَيَتَمَنَّى أَنْ لَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ فِي الدُّنْيَا شَيْءٌ وَأَنَّهَا كُلَّهَا قَدِ ادُّخَرَتْ لَهُ
Prev     Next