Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar

Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar
Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar


Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar

5 Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

5 Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 745 times, 1 visit(s) today Post Views: 115

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 745 times, 1 visit(s) today Post Views: 115
Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 745 times, 1 visit(s) today Post Views: 115


Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 745 times, 1 visit(s) today Post Views: 115

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 4): Kokohnya Langit dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 4): Kokohnya Langit dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/


Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Kamu Orang Kaya, Hartamu Halal, tapi Kenapa Keluargamu Tak Bahagia? Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir

Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ

Kamu Orang Kaya, Hartamu Halal, tapi Kenapa Keluargamu Tak Bahagia? Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir

Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ
Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ


Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ

Biografi Imam Muhibbuddin Ath-Thabari: Tokoh Mazhab Syafi’i dari Makkah Al-Mukarramah

Daftar Isi ToggleNamaNisbahNama kun-yahJulukanJulukan yang beliau tidak sukaiKelahiran dan pertumbuhanPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridPujian para ulama terhadapnyaAkidahMazhab fikihWafatNamaAhmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hasyimi.Artinya, beliau termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Husain bin Ali, sehingga termasuk ahlul bait.NisbahDisebut Ath-Thabari, yaitu nisbah kepada daerah Thabaristan. Beliau juga dinisbahkan sebagai Asy-Syafi‘i, karena mengikuti mazhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i dan sangat mendalam serta menguasai mazhab tersebut.Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الشيخ محب الدين الطبري المكي الشافعي“Syekh Muhibuddin Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata,المحب الطبري… فقيه الحرم… المكي الشافعي“Al-Muhibb Ath-Thabari… Faqih (ahli fikih) Haram… Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Beliau juga dinisbahkan sebagai Al-Makki, karena dilahirkan di Makkah dan tumbuh besar di sana. Nisbah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, As-Suyuthi, dan selain keduanya.Nama kun-yahBeliau dikenal dengan kun-yah Abu Al-Abbas. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama yang menulis biografinya, seperti: Adz-Dzahabi, Al-Yafi‘i, As-Subki, As-Suyuthi, dan Ibnu Al-‘Imad.Taqiyuddin Al-Fasi menambahkan kun-yah lain, yaitu Abu Ja‘far. Dalam kitab Al-‘Aqd Ats-Tsamin, ia berkata,يكنى: أبا جعفر، وأبا العباس“Beliau dijuluki Abu Ja‘far dan Abu Al-Abbas.”JulukanImam Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar memiliki banyak gelar. Sebagian gelar tersebut berkaitan dengan kedudukan ilmiahnya dan keluasan ilmunya dalam bidang agama, seperti:Syekh Al-Haram شيخ الحرم (Guru besar Masjidil Haram), sebagaimana disebutkan oleh Al-Yafi‘i, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali, dan As-Subki.Bahkan As-Subki menambahkan: حافظ الحجاز بِلَا مدافعة “Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menyebutnya sebagai:Faqih Al-Haram فقيه الحرم (Ahli fikih Masjidil Haram)Muhaddits Al-Hijaz محدث الحجاز (Ahli hadis wilayah Hijaz)Syekh Asy-Syafi‘iyyah شيخ الشافعية (Tokoh ulama mazhab Syafi‘i)Sebagian gelar lainnya berkaitan dengan kecintaannya kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara beliau memang termasuk keturunan mereka, dari jalur Husain bin Ali Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah disebutkan.Hal ini tampak pada nama-nama dalam keluarganya, seperti: Muhammad, Ahmad, Hasan, Husain, dan nama-nama wanita seperti: Aisyah, Zainab, dan Fatimah.Begitu pula gelar-gelar seperti, Ar-Radhi (الرضي), Al-Muhibb (المحب), atau Muhibbuddin (محب الدين).Gelar “Muhibbuddin” ini sering muncul pada ayah dan kakek-kakeknya, dan juga pada keturunan setelahnya.Julukan yang beliau tidak sukaiAl-Muhibb Ath-Thabari memiliki satu gelar lain yang tidak ia sukai, yaitu “Muhyiddin” (محيي الدين) (penghidup agama).Taqiyuddin Al-Fasi rahimahullah berkata,وكان الشيخ محب الدين الطبري يُلقَّب بمحيي الدين قبل أن يلقب بمحب الدين، وكان يكرَه اللقب الأول، فزار المدينة النبوية، ومدح النبي صلى الله عليه وسلم بقصيدة، وسأل أن تكون جائزته عليها أن يزول عنه اللقب الأول، فزال حتى كأن لم يكن“Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari dahulu dijuluki “Muhyiddin” sebelum kemudian dikenal dengan julukan “Muhibbuddin”. Namun beliau tidak menyukai julukan yang pertama.Suatu ketika, beliau mengunjungi Madinah An-Nabawiyah, lalu memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah qasidah (syair pujian). Beliau memohon agar balasan atas qasidah tersebut adalah dihilangkannya julukan pertamanya. Maka julukan itu pun hilang, seakan-akan tidak pernah ada.”Kelahiran dan pertumbuhanPendapat yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas sejarawan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab adalah bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil akhir tahun 615 Hijriah. Tanggal ini juga tercatat pada halaman judul manuskrip jilid pertama dalam naskah yang tersimpan di perpustakaan Köprülü di Turki.Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, kemuliaan nasab, kedudukan sosial, dan kepemimpinan. Ayahnya, paman-pamannya, dan generasi setelah mereka memegang berbagai jabatan penting di kota suci Makkah, seperti qadhi, ulama, pengajar, khatib, mufti, dan imam. Hal ini merupakan sebuah keutamaan besar bagi keluarga Ath-Thabari. Semoga Allah meridai mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.Perjalanan menuntut ilmuSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang sangat mendukung, baik karena berasal dari keluarga ulama terkemuka di Makkah maupun karena kedekatannya dengan pusat ilmu di Tanah Haram. Ia mempelajari berbagai kitab hadis dan fikih, termasuk Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Jami‘ At-Tirmidzi, serta Shahih Ibnu Hibban, kepada sejumlah ulama besar di Makkah. Ia juga memperoleh ijazah dari para ulama di Baghdad, Syam, dan Mesir, serta memperdalam fikih di Mesir kepada Majduddin Al-Qusyairi. Di Yaman, ia dikenal sebagai pengajar terkemuka dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Raja Al-Muzaffar, yang bahkan memberinya tunjangan tetap untuk mengajar di madrasah keluarganya di Makkah.Guru-guruSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari menimba ilmu dari para ulama besar Hijaz pada masanya, serta dari para ulama yang datang ke Makkah saat musim haji dan umrah. Di antara guru-gurunya yang paling terkenal adalah Abu Al-Hasan Ali bin Al-Muqayyir, darinya ia mempelajari Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya; Taqiyuddin Ali bin Abi Bakar Ath-Thabari, Imam Maqam dan khatib Masjidil Haram; Abdurrahman bin Abi Harami Al-Makki; Syarafuddin Al-Mursi; Bahauddin Ibnu Al-Jummayzi; Syu‘aib bin Yahya Al-Iskandarani; Najmuddin Basyir Al-Qurasyi; serta ulama besar Ibnu Al-‘Adim Al-Halabi. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu agama, dan melalui merekalah Al-Muhibb Ath-Thabari memperoleh sanad, ijazah, serta keluasan ilmu yang mengantarkannya menjadi salah satu ulama besar di Hijaz.Murid-muridSebagaimana kebiasaan para ulama yang mengamalkan ilmunya, Imam Al-Muhibb Ath-Thabari aktif berdakwah melalui berbagai jalur seperti khatib, pengajar, mufti, qadhi, dan imam di Masjidil Haram. Dari majelis ilmunya, lahir banyak ulama besar yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai negeri. Di antara murid-muridnya adalah putranya sendiri, Jamaluddin Muhammad bin Ahmad, yang menjadi Qadhi Makkah; Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi; Alauddin Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi; Al-Hafizh Al-Barzali, sejarawan besar Syam; Quthbuddin Al-Qasthalani; pakar tafsir dan nahwu terkenal Abu Hayyan Al-Andalusi; serta Ibnu Al-Khabbaz Al-Anshari yang menjadi guru bagi ulama besar seperti Al-Mizzi dan Adz-Dzahabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmiah Al-Muhibb Ath-Thabari meluas dan berlanjut melalui generasi-generasi ulama setelahnya.Pujian para ulama terhadapnyaImam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله mendapatkan penerimaan yang luas di tengah masyarakat, baik dari kalangan ulama maupun orang awam. Itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau memperoleh penghormatan, pengagungan, dan pujian yang baik. Pujian semacam ini tidak diragukan lagi merupakan tanda kesalehan dan ketakwaan, sekaligus bukti keluasan ilmu dan ketajaman pemahaman.Al-Muhibb Ath-Thabari menggabungkan antara ibadah dan ilmu. Beliau hampir tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan menuntut atau mengajarkan ilmu, atau dalam ibadah.Abu Al-Yumn Ibnu ‘Asakir berkata,لم أرَ المحبَّ في وقت من الأوقات إلا في عملٍ من صلاةٍ أو طوافٍ أو دعاءٍ أو تعليمِ علمٍ أو تصنيفهِ، أو نحو هذا“Aku tidak pernah melihat Al-Muhibb pada suatu waktu pun kecuali sedang melakukan suatu amal, seperti salat, thawaf, berdoa, mengajar ilmu, atau menulis (mengarang), dan semisalnya.”Inilah ciri orang-orang saleh dan kebiasaan para penempuh jalan menuju Allah dengan keikhlasan dan ilmu.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان عالمًا عاملًا جليل القدر، عارفًا بالآثار، ومَن نظر في أحكامه عرَف مَحَلَّه مِن العلم والفقه“Beliau adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, memiliki kedudukan tinggi, menguasai atsar (hadis), dan siapa yang menelaah fatwa-fatwanya akan mengetahui kedudukannya dalam ilmu dan fikih.”Adz-Dzahabi rahimahullah juga berkata,وكان إمامًا صالحًا زاهدًا كبير الشأن“Beliau adalah seorang imam yang saleh, zuhud, dan memiliki kedudukan besar.”Tajuddin As-Subki berkata,شيخ الحرم، وحافظ الحجاز بلا مدافعة“Syekh Al-Haram dan Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Al-Yafi‘i berkata,شيخ الحرم الإمام العلَّامة الحافظ ذو التصانيف الكثيرة والفضائل الشهيرة“Syekh Al-Haram, imam, ulama besar, hafizh, pemilik banyak karya dan keutamaan yang masyhur.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,كان فقيهًا، بارعًا، محدثًا، حافظًا، درَّس وأفتى، وكان شيخ الشافعية هناك، ومحدِّث الحجاز في زمانه“Beliau seorang fakih yang unggul, muhaddits, hafizh, mengajar dan berfatwa, menjadi Syekh mazhab Syafi‘i di sana, serta muhaddits Hijaz pada zamannya.”Taqiyuddin Al-Fasi menukil perkataan Al-Hafizh Al-‘Ala’i,ما أخرجَتْ مكةُ بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري)“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”Namun ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut masih bisa diperdebatkan. Kemudian ia berkata,ووجدتُ بخط القطب الحلبي في ترجمة المحب الطبري: أنه لم يكن في زمانه مثلُه.“Aku menemukan tulisan Al-Quthb Al-Halabi dalam biografi Al-Muhibb Ath-Thabari bahwa pada zamannya, tidak ada yang sebanding dengannya.”Dan ia menegaskan,وهذا مما لا ريبَ فيه“Hal ini tidak diragukan lagi.”Keluasan ilmu Al-Muhibb Ath-Thabari tidak terbatas pada fikih, hadis, atau tafsir saja. Ia juga seorang ahli bahasa dan penyair yang fasih.Imam Taqiyuddin Al-Fasi berkata,وللشيخ محب الدين شعرٌ كثيرٌ جيد، يحويه ديوانه، وهي مجلدة لطيفة على ما رأيت“Syekh Muhibbuddin memiliki banyak syair yang bagus, yang terkumpul dalam diwan (kumpulan puisi)-nya, sebuah jilid yang indah sebagaimana yang aku lihat.”Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan,وله شِعرٌ جيد؛ فمنه قصيدته في المنازل التي بين مكة والمدينة تزيد على ثلاثمائة بيتٍ، كتبها عنه الحافظ شرف الدين الدمياطي في معجمه“Beliau memiliki syair yang bagus; di antaranya qasidahnya tentang tempat-tempat antara Makkah dan Madinah yang mencapai lebih dari tiga ratus bait. Qasidah itu ditulis oleh Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi dalam Mu‘jam-nya.”AkidahPada dasarnya, apabila para penulis biografi tidak menyebutkan secara khusus tentang mazhab akidah seseorang yang mereka tulis, maka hal itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki perjalanan hidup yang lurus dan akidah yang benar, sebagaimana mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Dari penelaahan terhadap kitab yang menjadi objek kajian ini, yaitu karya-karya Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله, tampak jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya bahwa beliau adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah Imam Masjidil Haram, Qadhi Makkah, Syekh Hijaz, dan tokoh mazhab Syafi‘i pada zamannya.Hal ini dapat disimpulkan dari perkataan-perkataannya dalam kitabnya, dari kuatnya kecintaan beliau terhadap agamanya, serta dari pembelaannya terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau juga menampilkan dan mengkritisi berbagai pandangan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah dalam persoalan akidah dan iman, serta membantahnya dengan dalil dan hujjah yang jelas.Mazhab fikihImam Tajuddin As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah Al-Kubra dan Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta yang lainnya, menyebutkan bahwa beliau bermazhab Syafi‘i. Bahkan, beliau merupakan imam (tokoh utama) mazhab Syafi‘i pada zamannya.Imam Al-‘Ala’i rahimahullah berkata,ما أخرجَت مكة بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”WafatPendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 694 Hijriah di Makkah Al-Mukarramah. Pendapat ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mu‘jam Al-Mukhtash bil Muhadditsin, Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab, dan juga oleh para ulama lainnya.Semoga Allah merahmatinya, meridainya, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari website alukah.net.

Biografi Imam Muhibbuddin Ath-Thabari: Tokoh Mazhab Syafi’i dari Makkah Al-Mukarramah

Daftar Isi ToggleNamaNisbahNama kun-yahJulukanJulukan yang beliau tidak sukaiKelahiran dan pertumbuhanPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridPujian para ulama terhadapnyaAkidahMazhab fikihWafatNamaAhmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hasyimi.Artinya, beliau termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Husain bin Ali, sehingga termasuk ahlul bait.NisbahDisebut Ath-Thabari, yaitu nisbah kepada daerah Thabaristan. Beliau juga dinisbahkan sebagai Asy-Syafi‘i, karena mengikuti mazhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i dan sangat mendalam serta menguasai mazhab tersebut.Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الشيخ محب الدين الطبري المكي الشافعي“Syekh Muhibuddin Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata,المحب الطبري… فقيه الحرم… المكي الشافعي“Al-Muhibb Ath-Thabari… Faqih (ahli fikih) Haram… Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Beliau juga dinisbahkan sebagai Al-Makki, karena dilahirkan di Makkah dan tumbuh besar di sana. Nisbah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, As-Suyuthi, dan selain keduanya.Nama kun-yahBeliau dikenal dengan kun-yah Abu Al-Abbas. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama yang menulis biografinya, seperti: Adz-Dzahabi, Al-Yafi‘i, As-Subki, As-Suyuthi, dan Ibnu Al-‘Imad.Taqiyuddin Al-Fasi menambahkan kun-yah lain, yaitu Abu Ja‘far. Dalam kitab Al-‘Aqd Ats-Tsamin, ia berkata,يكنى: أبا جعفر، وأبا العباس“Beliau dijuluki Abu Ja‘far dan Abu Al-Abbas.”JulukanImam Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar memiliki banyak gelar. Sebagian gelar tersebut berkaitan dengan kedudukan ilmiahnya dan keluasan ilmunya dalam bidang agama, seperti:Syekh Al-Haram شيخ الحرم (Guru besar Masjidil Haram), sebagaimana disebutkan oleh Al-Yafi‘i, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali, dan As-Subki.Bahkan As-Subki menambahkan: حافظ الحجاز بِلَا مدافعة “Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menyebutnya sebagai:Faqih Al-Haram فقيه الحرم (Ahli fikih Masjidil Haram)Muhaddits Al-Hijaz محدث الحجاز (Ahli hadis wilayah Hijaz)Syekh Asy-Syafi‘iyyah شيخ الشافعية (Tokoh ulama mazhab Syafi‘i)Sebagian gelar lainnya berkaitan dengan kecintaannya kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara beliau memang termasuk keturunan mereka, dari jalur Husain bin Ali Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah disebutkan.Hal ini tampak pada nama-nama dalam keluarganya, seperti: Muhammad, Ahmad, Hasan, Husain, dan nama-nama wanita seperti: Aisyah, Zainab, dan Fatimah.Begitu pula gelar-gelar seperti, Ar-Radhi (الرضي), Al-Muhibb (المحب), atau Muhibbuddin (محب الدين).Gelar “Muhibbuddin” ini sering muncul pada ayah dan kakek-kakeknya, dan juga pada keturunan setelahnya.Julukan yang beliau tidak sukaiAl-Muhibb Ath-Thabari memiliki satu gelar lain yang tidak ia sukai, yaitu “Muhyiddin” (محيي الدين) (penghidup agama).Taqiyuddin Al-Fasi rahimahullah berkata,وكان الشيخ محب الدين الطبري يُلقَّب بمحيي الدين قبل أن يلقب بمحب الدين، وكان يكرَه اللقب الأول، فزار المدينة النبوية، ومدح النبي صلى الله عليه وسلم بقصيدة، وسأل أن تكون جائزته عليها أن يزول عنه اللقب الأول، فزال حتى كأن لم يكن“Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari dahulu dijuluki “Muhyiddin” sebelum kemudian dikenal dengan julukan “Muhibbuddin”. Namun beliau tidak menyukai julukan yang pertama.Suatu ketika, beliau mengunjungi Madinah An-Nabawiyah, lalu memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah qasidah (syair pujian). Beliau memohon agar balasan atas qasidah tersebut adalah dihilangkannya julukan pertamanya. Maka julukan itu pun hilang, seakan-akan tidak pernah ada.”Kelahiran dan pertumbuhanPendapat yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas sejarawan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab adalah bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil akhir tahun 615 Hijriah. Tanggal ini juga tercatat pada halaman judul manuskrip jilid pertama dalam naskah yang tersimpan di perpustakaan Köprülü di Turki.Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, kemuliaan nasab, kedudukan sosial, dan kepemimpinan. Ayahnya, paman-pamannya, dan generasi setelah mereka memegang berbagai jabatan penting di kota suci Makkah, seperti qadhi, ulama, pengajar, khatib, mufti, dan imam. Hal ini merupakan sebuah keutamaan besar bagi keluarga Ath-Thabari. Semoga Allah meridai mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.Perjalanan menuntut ilmuSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang sangat mendukung, baik karena berasal dari keluarga ulama terkemuka di Makkah maupun karena kedekatannya dengan pusat ilmu di Tanah Haram. Ia mempelajari berbagai kitab hadis dan fikih, termasuk Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Jami‘ At-Tirmidzi, serta Shahih Ibnu Hibban, kepada sejumlah ulama besar di Makkah. Ia juga memperoleh ijazah dari para ulama di Baghdad, Syam, dan Mesir, serta memperdalam fikih di Mesir kepada Majduddin Al-Qusyairi. Di Yaman, ia dikenal sebagai pengajar terkemuka dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Raja Al-Muzaffar, yang bahkan memberinya tunjangan tetap untuk mengajar di madrasah keluarganya di Makkah.Guru-guruSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari menimba ilmu dari para ulama besar Hijaz pada masanya, serta dari para ulama yang datang ke Makkah saat musim haji dan umrah. Di antara guru-gurunya yang paling terkenal adalah Abu Al-Hasan Ali bin Al-Muqayyir, darinya ia mempelajari Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya; Taqiyuddin Ali bin Abi Bakar Ath-Thabari, Imam Maqam dan khatib Masjidil Haram; Abdurrahman bin Abi Harami Al-Makki; Syarafuddin Al-Mursi; Bahauddin Ibnu Al-Jummayzi; Syu‘aib bin Yahya Al-Iskandarani; Najmuddin Basyir Al-Qurasyi; serta ulama besar Ibnu Al-‘Adim Al-Halabi. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu agama, dan melalui merekalah Al-Muhibb Ath-Thabari memperoleh sanad, ijazah, serta keluasan ilmu yang mengantarkannya menjadi salah satu ulama besar di Hijaz.Murid-muridSebagaimana kebiasaan para ulama yang mengamalkan ilmunya, Imam Al-Muhibb Ath-Thabari aktif berdakwah melalui berbagai jalur seperti khatib, pengajar, mufti, qadhi, dan imam di Masjidil Haram. Dari majelis ilmunya, lahir banyak ulama besar yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai negeri. Di antara murid-muridnya adalah putranya sendiri, Jamaluddin Muhammad bin Ahmad, yang menjadi Qadhi Makkah; Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi; Alauddin Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi; Al-Hafizh Al-Barzali, sejarawan besar Syam; Quthbuddin Al-Qasthalani; pakar tafsir dan nahwu terkenal Abu Hayyan Al-Andalusi; serta Ibnu Al-Khabbaz Al-Anshari yang menjadi guru bagi ulama besar seperti Al-Mizzi dan Adz-Dzahabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmiah Al-Muhibb Ath-Thabari meluas dan berlanjut melalui generasi-generasi ulama setelahnya.Pujian para ulama terhadapnyaImam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله mendapatkan penerimaan yang luas di tengah masyarakat, baik dari kalangan ulama maupun orang awam. Itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau memperoleh penghormatan, pengagungan, dan pujian yang baik. Pujian semacam ini tidak diragukan lagi merupakan tanda kesalehan dan ketakwaan, sekaligus bukti keluasan ilmu dan ketajaman pemahaman.Al-Muhibb Ath-Thabari menggabungkan antara ibadah dan ilmu. Beliau hampir tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan menuntut atau mengajarkan ilmu, atau dalam ibadah.Abu Al-Yumn Ibnu ‘Asakir berkata,لم أرَ المحبَّ في وقت من الأوقات إلا في عملٍ من صلاةٍ أو طوافٍ أو دعاءٍ أو تعليمِ علمٍ أو تصنيفهِ، أو نحو هذا“Aku tidak pernah melihat Al-Muhibb pada suatu waktu pun kecuali sedang melakukan suatu amal, seperti salat, thawaf, berdoa, mengajar ilmu, atau menulis (mengarang), dan semisalnya.”Inilah ciri orang-orang saleh dan kebiasaan para penempuh jalan menuju Allah dengan keikhlasan dan ilmu.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان عالمًا عاملًا جليل القدر، عارفًا بالآثار، ومَن نظر في أحكامه عرَف مَحَلَّه مِن العلم والفقه“Beliau adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, memiliki kedudukan tinggi, menguasai atsar (hadis), dan siapa yang menelaah fatwa-fatwanya akan mengetahui kedudukannya dalam ilmu dan fikih.”Adz-Dzahabi rahimahullah juga berkata,وكان إمامًا صالحًا زاهدًا كبير الشأن“Beliau adalah seorang imam yang saleh, zuhud, dan memiliki kedudukan besar.”Tajuddin As-Subki berkata,شيخ الحرم، وحافظ الحجاز بلا مدافعة“Syekh Al-Haram dan Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Al-Yafi‘i berkata,شيخ الحرم الإمام العلَّامة الحافظ ذو التصانيف الكثيرة والفضائل الشهيرة“Syekh Al-Haram, imam, ulama besar, hafizh, pemilik banyak karya dan keutamaan yang masyhur.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,كان فقيهًا، بارعًا، محدثًا، حافظًا، درَّس وأفتى، وكان شيخ الشافعية هناك، ومحدِّث الحجاز في زمانه“Beliau seorang fakih yang unggul, muhaddits, hafizh, mengajar dan berfatwa, menjadi Syekh mazhab Syafi‘i di sana, serta muhaddits Hijaz pada zamannya.”Taqiyuddin Al-Fasi menukil perkataan Al-Hafizh Al-‘Ala’i,ما أخرجَتْ مكةُ بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري)“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”Namun ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut masih bisa diperdebatkan. Kemudian ia berkata,ووجدتُ بخط القطب الحلبي في ترجمة المحب الطبري: أنه لم يكن في زمانه مثلُه.“Aku menemukan tulisan Al-Quthb Al-Halabi dalam biografi Al-Muhibb Ath-Thabari bahwa pada zamannya, tidak ada yang sebanding dengannya.”Dan ia menegaskan,وهذا مما لا ريبَ فيه“Hal ini tidak diragukan lagi.”Keluasan ilmu Al-Muhibb Ath-Thabari tidak terbatas pada fikih, hadis, atau tafsir saja. Ia juga seorang ahli bahasa dan penyair yang fasih.Imam Taqiyuddin Al-Fasi berkata,وللشيخ محب الدين شعرٌ كثيرٌ جيد، يحويه ديوانه، وهي مجلدة لطيفة على ما رأيت“Syekh Muhibbuddin memiliki banyak syair yang bagus, yang terkumpul dalam diwan (kumpulan puisi)-nya, sebuah jilid yang indah sebagaimana yang aku lihat.”Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan,وله شِعرٌ جيد؛ فمنه قصيدته في المنازل التي بين مكة والمدينة تزيد على ثلاثمائة بيتٍ، كتبها عنه الحافظ شرف الدين الدمياطي في معجمه“Beliau memiliki syair yang bagus; di antaranya qasidahnya tentang tempat-tempat antara Makkah dan Madinah yang mencapai lebih dari tiga ratus bait. Qasidah itu ditulis oleh Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi dalam Mu‘jam-nya.”AkidahPada dasarnya, apabila para penulis biografi tidak menyebutkan secara khusus tentang mazhab akidah seseorang yang mereka tulis, maka hal itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki perjalanan hidup yang lurus dan akidah yang benar, sebagaimana mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Dari penelaahan terhadap kitab yang menjadi objek kajian ini, yaitu karya-karya Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله, tampak jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya bahwa beliau adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah Imam Masjidil Haram, Qadhi Makkah, Syekh Hijaz, dan tokoh mazhab Syafi‘i pada zamannya.Hal ini dapat disimpulkan dari perkataan-perkataannya dalam kitabnya, dari kuatnya kecintaan beliau terhadap agamanya, serta dari pembelaannya terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau juga menampilkan dan mengkritisi berbagai pandangan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah dalam persoalan akidah dan iman, serta membantahnya dengan dalil dan hujjah yang jelas.Mazhab fikihImam Tajuddin As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah Al-Kubra dan Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta yang lainnya, menyebutkan bahwa beliau bermazhab Syafi‘i. Bahkan, beliau merupakan imam (tokoh utama) mazhab Syafi‘i pada zamannya.Imam Al-‘Ala’i rahimahullah berkata,ما أخرجَت مكة بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”WafatPendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 694 Hijriah di Makkah Al-Mukarramah. Pendapat ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mu‘jam Al-Mukhtash bil Muhadditsin, Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab, dan juga oleh para ulama lainnya.Semoga Allah merahmatinya, meridainya, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari website alukah.net.
Daftar Isi ToggleNamaNisbahNama kun-yahJulukanJulukan yang beliau tidak sukaiKelahiran dan pertumbuhanPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridPujian para ulama terhadapnyaAkidahMazhab fikihWafatNamaAhmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hasyimi.Artinya, beliau termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Husain bin Ali, sehingga termasuk ahlul bait.NisbahDisebut Ath-Thabari, yaitu nisbah kepada daerah Thabaristan. Beliau juga dinisbahkan sebagai Asy-Syafi‘i, karena mengikuti mazhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i dan sangat mendalam serta menguasai mazhab tersebut.Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الشيخ محب الدين الطبري المكي الشافعي“Syekh Muhibuddin Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata,المحب الطبري… فقيه الحرم… المكي الشافعي“Al-Muhibb Ath-Thabari… Faqih (ahli fikih) Haram… Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Beliau juga dinisbahkan sebagai Al-Makki, karena dilahirkan di Makkah dan tumbuh besar di sana. Nisbah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, As-Suyuthi, dan selain keduanya.Nama kun-yahBeliau dikenal dengan kun-yah Abu Al-Abbas. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama yang menulis biografinya, seperti: Adz-Dzahabi, Al-Yafi‘i, As-Subki, As-Suyuthi, dan Ibnu Al-‘Imad.Taqiyuddin Al-Fasi menambahkan kun-yah lain, yaitu Abu Ja‘far. Dalam kitab Al-‘Aqd Ats-Tsamin, ia berkata,يكنى: أبا جعفر، وأبا العباس“Beliau dijuluki Abu Ja‘far dan Abu Al-Abbas.”JulukanImam Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar memiliki banyak gelar. Sebagian gelar tersebut berkaitan dengan kedudukan ilmiahnya dan keluasan ilmunya dalam bidang agama, seperti:Syekh Al-Haram شيخ الحرم (Guru besar Masjidil Haram), sebagaimana disebutkan oleh Al-Yafi‘i, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali, dan As-Subki.Bahkan As-Subki menambahkan: حافظ الحجاز بِلَا مدافعة “Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menyebutnya sebagai:Faqih Al-Haram فقيه الحرم (Ahli fikih Masjidil Haram)Muhaddits Al-Hijaz محدث الحجاز (Ahli hadis wilayah Hijaz)Syekh Asy-Syafi‘iyyah شيخ الشافعية (Tokoh ulama mazhab Syafi‘i)Sebagian gelar lainnya berkaitan dengan kecintaannya kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara beliau memang termasuk keturunan mereka, dari jalur Husain bin Ali Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah disebutkan.Hal ini tampak pada nama-nama dalam keluarganya, seperti: Muhammad, Ahmad, Hasan, Husain, dan nama-nama wanita seperti: Aisyah, Zainab, dan Fatimah.Begitu pula gelar-gelar seperti, Ar-Radhi (الرضي), Al-Muhibb (المحب), atau Muhibbuddin (محب الدين).Gelar “Muhibbuddin” ini sering muncul pada ayah dan kakek-kakeknya, dan juga pada keturunan setelahnya.Julukan yang beliau tidak sukaiAl-Muhibb Ath-Thabari memiliki satu gelar lain yang tidak ia sukai, yaitu “Muhyiddin” (محيي الدين) (penghidup agama).Taqiyuddin Al-Fasi rahimahullah berkata,وكان الشيخ محب الدين الطبري يُلقَّب بمحيي الدين قبل أن يلقب بمحب الدين، وكان يكرَه اللقب الأول، فزار المدينة النبوية، ومدح النبي صلى الله عليه وسلم بقصيدة، وسأل أن تكون جائزته عليها أن يزول عنه اللقب الأول، فزال حتى كأن لم يكن“Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari dahulu dijuluki “Muhyiddin” sebelum kemudian dikenal dengan julukan “Muhibbuddin”. Namun beliau tidak menyukai julukan yang pertama.Suatu ketika, beliau mengunjungi Madinah An-Nabawiyah, lalu memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah qasidah (syair pujian). Beliau memohon agar balasan atas qasidah tersebut adalah dihilangkannya julukan pertamanya. Maka julukan itu pun hilang, seakan-akan tidak pernah ada.”Kelahiran dan pertumbuhanPendapat yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas sejarawan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab adalah bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil akhir tahun 615 Hijriah. Tanggal ini juga tercatat pada halaman judul manuskrip jilid pertama dalam naskah yang tersimpan di perpustakaan Köprülü di Turki.Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, kemuliaan nasab, kedudukan sosial, dan kepemimpinan. Ayahnya, paman-pamannya, dan generasi setelah mereka memegang berbagai jabatan penting di kota suci Makkah, seperti qadhi, ulama, pengajar, khatib, mufti, dan imam. Hal ini merupakan sebuah keutamaan besar bagi keluarga Ath-Thabari. Semoga Allah meridai mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.Perjalanan menuntut ilmuSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang sangat mendukung, baik karena berasal dari keluarga ulama terkemuka di Makkah maupun karena kedekatannya dengan pusat ilmu di Tanah Haram. Ia mempelajari berbagai kitab hadis dan fikih, termasuk Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Jami‘ At-Tirmidzi, serta Shahih Ibnu Hibban, kepada sejumlah ulama besar di Makkah. Ia juga memperoleh ijazah dari para ulama di Baghdad, Syam, dan Mesir, serta memperdalam fikih di Mesir kepada Majduddin Al-Qusyairi. Di Yaman, ia dikenal sebagai pengajar terkemuka dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Raja Al-Muzaffar, yang bahkan memberinya tunjangan tetap untuk mengajar di madrasah keluarganya di Makkah.Guru-guruSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari menimba ilmu dari para ulama besar Hijaz pada masanya, serta dari para ulama yang datang ke Makkah saat musim haji dan umrah. Di antara guru-gurunya yang paling terkenal adalah Abu Al-Hasan Ali bin Al-Muqayyir, darinya ia mempelajari Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya; Taqiyuddin Ali bin Abi Bakar Ath-Thabari, Imam Maqam dan khatib Masjidil Haram; Abdurrahman bin Abi Harami Al-Makki; Syarafuddin Al-Mursi; Bahauddin Ibnu Al-Jummayzi; Syu‘aib bin Yahya Al-Iskandarani; Najmuddin Basyir Al-Qurasyi; serta ulama besar Ibnu Al-‘Adim Al-Halabi. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu agama, dan melalui merekalah Al-Muhibb Ath-Thabari memperoleh sanad, ijazah, serta keluasan ilmu yang mengantarkannya menjadi salah satu ulama besar di Hijaz.Murid-muridSebagaimana kebiasaan para ulama yang mengamalkan ilmunya, Imam Al-Muhibb Ath-Thabari aktif berdakwah melalui berbagai jalur seperti khatib, pengajar, mufti, qadhi, dan imam di Masjidil Haram. Dari majelis ilmunya, lahir banyak ulama besar yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai negeri. Di antara murid-muridnya adalah putranya sendiri, Jamaluddin Muhammad bin Ahmad, yang menjadi Qadhi Makkah; Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi; Alauddin Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi; Al-Hafizh Al-Barzali, sejarawan besar Syam; Quthbuddin Al-Qasthalani; pakar tafsir dan nahwu terkenal Abu Hayyan Al-Andalusi; serta Ibnu Al-Khabbaz Al-Anshari yang menjadi guru bagi ulama besar seperti Al-Mizzi dan Adz-Dzahabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmiah Al-Muhibb Ath-Thabari meluas dan berlanjut melalui generasi-generasi ulama setelahnya.Pujian para ulama terhadapnyaImam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله mendapatkan penerimaan yang luas di tengah masyarakat, baik dari kalangan ulama maupun orang awam. Itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau memperoleh penghormatan, pengagungan, dan pujian yang baik. Pujian semacam ini tidak diragukan lagi merupakan tanda kesalehan dan ketakwaan, sekaligus bukti keluasan ilmu dan ketajaman pemahaman.Al-Muhibb Ath-Thabari menggabungkan antara ibadah dan ilmu. Beliau hampir tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan menuntut atau mengajarkan ilmu, atau dalam ibadah.Abu Al-Yumn Ibnu ‘Asakir berkata,لم أرَ المحبَّ في وقت من الأوقات إلا في عملٍ من صلاةٍ أو طوافٍ أو دعاءٍ أو تعليمِ علمٍ أو تصنيفهِ، أو نحو هذا“Aku tidak pernah melihat Al-Muhibb pada suatu waktu pun kecuali sedang melakukan suatu amal, seperti salat, thawaf, berdoa, mengajar ilmu, atau menulis (mengarang), dan semisalnya.”Inilah ciri orang-orang saleh dan kebiasaan para penempuh jalan menuju Allah dengan keikhlasan dan ilmu.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان عالمًا عاملًا جليل القدر، عارفًا بالآثار، ومَن نظر في أحكامه عرَف مَحَلَّه مِن العلم والفقه“Beliau adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, memiliki kedudukan tinggi, menguasai atsar (hadis), dan siapa yang menelaah fatwa-fatwanya akan mengetahui kedudukannya dalam ilmu dan fikih.”Adz-Dzahabi rahimahullah juga berkata,وكان إمامًا صالحًا زاهدًا كبير الشأن“Beliau adalah seorang imam yang saleh, zuhud, dan memiliki kedudukan besar.”Tajuddin As-Subki berkata,شيخ الحرم، وحافظ الحجاز بلا مدافعة“Syekh Al-Haram dan Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Al-Yafi‘i berkata,شيخ الحرم الإمام العلَّامة الحافظ ذو التصانيف الكثيرة والفضائل الشهيرة“Syekh Al-Haram, imam, ulama besar, hafizh, pemilik banyak karya dan keutamaan yang masyhur.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,كان فقيهًا، بارعًا، محدثًا، حافظًا، درَّس وأفتى، وكان شيخ الشافعية هناك، ومحدِّث الحجاز في زمانه“Beliau seorang fakih yang unggul, muhaddits, hafizh, mengajar dan berfatwa, menjadi Syekh mazhab Syafi‘i di sana, serta muhaddits Hijaz pada zamannya.”Taqiyuddin Al-Fasi menukil perkataan Al-Hafizh Al-‘Ala’i,ما أخرجَتْ مكةُ بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري)“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”Namun ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut masih bisa diperdebatkan. Kemudian ia berkata,ووجدتُ بخط القطب الحلبي في ترجمة المحب الطبري: أنه لم يكن في زمانه مثلُه.“Aku menemukan tulisan Al-Quthb Al-Halabi dalam biografi Al-Muhibb Ath-Thabari bahwa pada zamannya, tidak ada yang sebanding dengannya.”Dan ia menegaskan,وهذا مما لا ريبَ فيه“Hal ini tidak diragukan lagi.”Keluasan ilmu Al-Muhibb Ath-Thabari tidak terbatas pada fikih, hadis, atau tafsir saja. Ia juga seorang ahli bahasa dan penyair yang fasih.Imam Taqiyuddin Al-Fasi berkata,وللشيخ محب الدين شعرٌ كثيرٌ جيد، يحويه ديوانه، وهي مجلدة لطيفة على ما رأيت“Syekh Muhibbuddin memiliki banyak syair yang bagus, yang terkumpul dalam diwan (kumpulan puisi)-nya, sebuah jilid yang indah sebagaimana yang aku lihat.”Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan,وله شِعرٌ جيد؛ فمنه قصيدته في المنازل التي بين مكة والمدينة تزيد على ثلاثمائة بيتٍ، كتبها عنه الحافظ شرف الدين الدمياطي في معجمه“Beliau memiliki syair yang bagus; di antaranya qasidahnya tentang tempat-tempat antara Makkah dan Madinah yang mencapai lebih dari tiga ratus bait. Qasidah itu ditulis oleh Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi dalam Mu‘jam-nya.”AkidahPada dasarnya, apabila para penulis biografi tidak menyebutkan secara khusus tentang mazhab akidah seseorang yang mereka tulis, maka hal itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki perjalanan hidup yang lurus dan akidah yang benar, sebagaimana mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Dari penelaahan terhadap kitab yang menjadi objek kajian ini, yaitu karya-karya Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله, tampak jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya bahwa beliau adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah Imam Masjidil Haram, Qadhi Makkah, Syekh Hijaz, dan tokoh mazhab Syafi‘i pada zamannya.Hal ini dapat disimpulkan dari perkataan-perkataannya dalam kitabnya, dari kuatnya kecintaan beliau terhadap agamanya, serta dari pembelaannya terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau juga menampilkan dan mengkritisi berbagai pandangan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah dalam persoalan akidah dan iman, serta membantahnya dengan dalil dan hujjah yang jelas.Mazhab fikihImam Tajuddin As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah Al-Kubra dan Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta yang lainnya, menyebutkan bahwa beliau bermazhab Syafi‘i. Bahkan, beliau merupakan imam (tokoh utama) mazhab Syafi‘i pada zamannya.Imam Al-‘Ala’i rahimahullah berkata,ما أخرجَت مكة بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”WafatPendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 694 Hijriah di Makkah Al-Mukarramah. Pendapat ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mu‘jam Al-Mukhtash bil Muhadditsin, Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab, dan juga oleh para ulama lainnya.Semoga Allah merahmatinya, meridainya, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari website alukah.net.


Daftar Isi ToggleNamaNisbahNama kun-yahJulukanJulukan yang beliau tidak sukaiKelahiran dan pertumbuhanPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridPujian para ulama terhadapnyaAkidahMazhab fikihWafatNamaAhmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Ibrahim, yang nasabnya bersambung kepada Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hasyimi.Artinya, beliau termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melalui jalur Husain bin Ali, sehingga termasuk ahlul bait.NisbahDisebut Ath-Thabari, yaitu nisbah kepada daerah Thabaristan. Beliau juga dinisbahkan sebagai Asy-Syafi‘i, karena mengikuti mazhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi‘i dan sangat mendalam serta menguasai mazhab tersebut.Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,الشيخ محب الدين الطبري المكي الشافعي“Syekh Muhibuddin Ath-Thabari Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata,المحب الطبري… فقيه الحرم… المكي الشافعي“Al-Muhibb Ath-Thabari… Faqih (ahli fikih) Haram… Al-Makki Asy-Syafi‘i.”Beliau juga dinisbahkan sebagai Al-Makki, karena dilahirkan di Makkah dan tumbuh besar di sana. Nisbah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir, As-Suyuthi, dan selain keduanya.Nama kun-yahBeliau dikenal dengan kun-yah Abu Al-Abbas. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama yang menulis biografinya, seperti: Adz-Dzahabi, Al-Yafi‘i, As-Subki, As-Suyuthi, dan Ibnu Al-‘Imad.Taqiyuddin Al-Fasi menambahkan kun-yah lain, yaitu Abu Ja‘far. Dalam kitab Al-‘Aqd Ats-Tsamin, ia berkata,يكنى: أبا جعفر، وأبا العباس“Beliau dijuluki Abu Ja‘far dan Abu Al-Abbas.”JulukanImam Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar memiliki banyak gelar. Sebagian gelar tersebut berkaitan dengan kedudukan ilmiahnya dan keluasan ilmunya dalam bidang agama, seperti:Syekh Al-Haram شيخ الحرم (Guru besar Masjidil Haram), sebagaimana disebutkan oleh Al-Yafi‘i, Ibnu Al-‘Imad Al-Hanbali, dan As-Subki.Bahkan As-Subki menambahkan: حافظ الحجاز بِلَا مدافعة “Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Adz-Dzahabi dan As-Suyuthi menyebutnya sebagai:Faqih Al-Haram فقيه الحرم (Ahli fikih Masjidil Haram)Muhaddits Al-Hijaz محدث الحجاز (Ahli hadis wilayah Hijaz)Syekh Asy-Syafi‘iyyah شيخ الشافعية (Tokoh ulama mazhab Syafi‘i)Sebagian gelar lainnya berkaitan dengan kecintaannya kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sementara beliau memang termasuk keturunan mereka, dari jalur Husain bin Ali Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah disebutkan.Hal ini tampak pada nama-nama dalam keluarganya, seperti: Muhammad, Ahmad, Hasan, Husain, dan nama-nama wanita seperti: Aisyah, Zainab, dan Fatimah.Begitu pula gelar-gelar seperti, Ar-Radhi (الرضي), Al-Muhibb (المحب), atau Muhibbuddin (محب الدين).Gelar “Muhibbuddin” ini sering muncul pada ayah dan kakek-kakeknya, dan juga pada keturunan setelahnya.Julukan yang beliau tidak sukaiAl-Muhibb Ath-Thabari memiliki satu gelar lain yang tidak ia sukai, yaitu “Muhyiddin” (محيي الدين) (penghidup agama).Taqiyuddin Al-Fasi rahimahullah berkata,وكان الشيخ محب الدين الطبري يُلقَّب بمحيي الدين قبل أن يلقب بمحب الدين، وكان يكرَه اللقب الأول، فزار المدينة النبوية، ومدح النبي صلى الله عليه وسلم بقصيدة، وسأل أن تكون جائزته عليها أن يزول عنه اللقب الأول، فزال حتى كأن لم يكن“Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari dahulu dijuluki “Muhyiddin” sebelum kemudian dikenal dengan julukan “Muhibbuddin”. Namun beliau tidak menyukai julukan yang pertama.Suatu ketika, beliau mengunjungi Madinah An-Nabawiyah, lalu memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah qasidah (syair pujian). Beliau memohon agar balasan atas qasidah tersebut adalah dihilangkannya julukan pertamanya. Maka julukan itu pun hilang, seakan-akan tidak pernah ada.”Kelahiran dan pertumbuhanPendapat yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas sejarawan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab adalah bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil akhir tahun 615 Hijriah. Tanggal ini juga tercatat pada halaman judul manuskrip jilid pertama dalam naskah yang tersimpan di perpustakaan Köprülü di Turki.Syekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, kemuliaan nasab, kedudukan sosial, dan kepemimpinan. Ayahnya, paman-pamannya, dan generasi setelah mereka memegang berbagai jabatan penting di kota suci Makkah, seperti qadhi, ulama, pengajar, khatib, mufti, dan imam. Hal ini merupakan sebuah keutamaan besar bagi keluarga Ath-Thabari. Semoga Allah meridai mereka dan membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.Perjalanan menuntut ilmuSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang sangat mendukung, baik karena berasal dari keluarga ulama terkemuka di Makkah maupun karena kedekatannya dengan pusat ilmu di Tanah Haram. Ia mempelajari berbagai kitab hadis dan fikih, termasuk Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Jami‘ At-Tirmidzi, serta Shahih Ibnu Hibban, kepada sejumlah ulama besar di Makkah. Ia juga memperoleh ijazah dari para ulama di Baghdad, Syam, dan Mesir, serta memperdalam fikih di Mesir kepada Majduddin Al-Qusyairi. Di Yaman, ia dikenal sebagai pengajar terkemuka dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Raja Al-Muzaffar, yang bahkan memberinya tunjangan tetap untuk mengajar di madrasah keluarganya di Makkah.Guru-guruSyekh Muhibbuddin Ath-Thabari menimba ilmu dari para ulama besar Hijaz pada masanya, serta dari para ulama yang datang ke Makkah saat musim haji dan umrah. Di antara guru-gurunya yang paling terkenal adalah Abu Al-Hasan Ali bin Al-Muqayyir, darinya ia mempelajari Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya; Taqiyuddin Ali bin Abi Bakar Ath-Thabari, Imam Maqam dan khatib Masjidil Haram; Abdurrahman bin Abi Harami Al-Makki; Syarafuddin Al-Mursi; Bahauddin Ibnu Al-Jummayzi; Syu‘aib bin Yahya Al-Iskandarani; Najmuddin Basyir Al-Qurasyi; serta ulama besar Ibnu Al-‘Adim Al-Halabi. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu agama, dan melalui merekalah Al-Muhibb Ath-Thabari memperoleh sanad, ijazah, serta keluasan ilmu yang mengantarkannya menjadi salah satu ulama besar di Hijaz.Murid-muridSebagaimana kebiasaan para ulama yang mengamalkan ilmunya, Imam Al-Muhibb Ath-Thabari aktif berdakwah melalui berbagai jalur seperti khatib, pengajar, mufti, qadhi, dan imam di Masjidil Haram. Dari majelis ilmunya, lahir banyak ulama besar yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai negeri. Di antara murid-muridnya adalah putranya sendiri, Jamaluddin Muhammad bin Ahmad, yang menjadi Qadhi Makkah; Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi; Alauddin Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi; Al-Hafizh Al-Barzali, sejarawan besar Syam; Quthbuddin Al-Qasthalani; pakar tafsir dan nahwu terkenal Abu Hayyan Al-Andalusi; serta Ibnu Al-Khabbaz Al-Anshari yang menjadi guru bagi ulama besar seperti Al-Mizzi dan Adz-Dzahabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh ilmiah Al-Muhibb Ath-Thabari meluas dan berlanjut melalui generasi-generasi ulama setelahnya.Pujian para ulama terhadapnyaImam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله mendapatkan penerimaan yang luas di tengah masyarakat, baik dari kalangan ulama maupun orang awam. Itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau memperoleh penghormatan, pengagungan, dan pujian yang baik. Pujian semacam ini tidak diragukan lagi merupakan tanda kesalehan dan ketakwaan, sekaligus bukti keluasan ilmu dan ketajaman pemahaman.Al-Muhibb Ath-Thabari menggabungkan antara ibadah dan ilmu. Beliau hampir tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan menuntut atau mengajarkan ilmu, atau dalam ibadah.Abu Al-Yumn Ibnu ‘Asakir berkata,لم أرَ المحبَّ في وقت من الأوقات إلا في عملٍ من صلاةٍ أو طوافٍ أو دعاءٍ أو تعليمِ علمٍ أو تصنيفهِ، أو نحو هذا“Aku tidak pernah melihat Al-Muhibb pada suatu waktu pun kecuali sedang melakukan suatu amal, seperti salat, thawaf, berdoa, mengajar ilmu, atau menulis (mengarang), dan semisalnya.”Inilah ciri orang-orang saleh dan kebiasaan para penempuh jalan menuju Allah dengan keikhlasan dan ilmu.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,كان عالمًا عاملًا جليل القدر، عارفًا بالآثار، ومَن نظر في أحكامه عرَف مَحَلَّه مِن العلم والفقه“Beliau adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, memiliki kedudukan tinggi, menguasai atsar (hadis), dan siapa yang menelaah fatwa-fatwanya akan mengetahui kedudukannya dalam ilmu dan fikih.”Adz-Dzahabi rahimahullah juga berkata,وكان إمامًا صالحًا زاهدًا كبير الشأن“Beliau adalah seorang imam yang saleh, zuhud, dan memiliki kedudukan besar.”Tajuddin As-Subki berkata,شيخ الحرم، وحافظ الحجاز بلا مدافعة“Syekh Al-Haram dan Hafizh Hijaz tanpa ada yang menandinginya.”Al-Yafi‘i berkata,شيخ الحرم الإمام العلَّامة الحافظ ذو التصانيف الكثيرة والفضائل الشهيرة“Syekh Al-Haram, imam, ulama besar, hafizh, pemilik banyak karya dan keutamaan yang masyhur.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,كان فقيهًا، بارعًا، محدثًا، حافظًا، درَّس وأفتى، وكان شيخ الشافعية هناك، ومحدِّث الحجاز في زمانه“Beliau seorang fakih yang unggul, muhaddits, hafizh, mengajar dan berfatwa, menjadi Syekh mazhab Syafi‘i di sana, serta muhaddits Hijaz pada zamannya.”Taqiyuddin Al-Fasi menukil perkataan Al-Hafizh Al-‘Ala’i,ما أخرجَتْ مكةُ بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري)“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”Namun ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut masih bisa diperdebatkan. Kemudian ia berkata,ووجدتُ بخط القطب الحلبي في ترجمة المحب الطبري: أنه لم يكن في زمانه مثلُه.“Aku menemukan tulisan Al-Quthb Al-Halabi dalam biografi Al-Muhibb Ath-Thabari bahwa pada zamannya, tidak ada yang sebanding dengannya.”Dan ia menegaskan,وهذا مما لا ريبَ فيه“Hal ini tidak diragukan lagi.”Keluasan ilmu Al-Muhibb Ath-Thabari tidak terbatas pada fikih, hadis, atau tafsir saja. Ia juga seorang ahli bahasa dan penyair yang fasih.Imam Taqiyuddin Al-Fasi berkata,وللشيخ محب الدين شعرٌ كثيرٌ جيد، يحويه ديوانه، وهي مجلدة لطيفة على ما رأيت“Syekh Muhibbuddin memiliki banyak syair yang bagus, yang terkumpul dalam diwan (kumpulan puisi)-nya, sebuah jilid yang indah sebagaimana yang aku lihat.”Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan,وله شِعرٌ جيد؛ فمنه قصيدته في المنازل التي بين مكة والمدينة تزيد على ثلاثمائة بيتٍ، كتبها عنه الحافظ شرف الدين الدمياطي في معجمه“Beliau memiliki syair yang bagus; di antaranya qasidahnya tentang tempat-tempat antara Makkah dan Madinah yang mencapai lebih dari tiga ratus bait. Qasidah itu ditulis oleh Al-Hafizh Syarafuddin Ad-Dimyathi dalam Mu‘jam-nya.”AkidahPada dasarnya, apabila para penulis biografi tidak menyebutkan secara khusus tentang mazhab akidah seseorang yang mereka tulis, maka hal itu biasanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki perjalanan hidup yang lurus dan akidah yang benar, sebagaimana mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Dari penelaahan terhadap kitab yang menjadi objek kajian ini, yaitu karya-karya Imam Al-Muhibb Ath-Thabari رحمه الله, tampak jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya bahwa beliau adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau adalah Imam Masjidil Haram, Qadhi Makkah, Syekh Hijaz, dan tokoh mazhab Syafi‘i pada zamannya.Hal ini dapat disimpulkan dari perkataan-perkataannya dalam kitabnya, dari kuatnya kecintaan beliau terhadap agamanya, serta dari pembelaannya terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau juga menampilkan dan mengkritisi berbagai pandangan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah dalam persoalan akidah dan iman, serta membantahnya dengan dalil dan hujjah yang jelas.Mazhab fikihImam Tajuddin As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah Al-Kubra dan Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta yang lainnya, menyebutkan bahwa beliau bermazhab Syafi‘i. Bahkan, beliau merupakan imam (tokoh utama) mazhab Syafi‘i pada zamannya.Imam Al-‘Ala’i rahimahullah berkata,ما أخرجَت مكة بعد الشافعي مثلَ المحب الطبري“Makkah tidak pernah melahirkan setelah Imam Asy-Syafi‘i seorang seperti Al-Muhibb Ath-Thabari.”WafatPendapat yang paling kuat menyatakan bahwa beliau wafat pada bulan Jumadil akhir tahun 694 Hijriah di Makkah Al-Mukarramah. Pendapat ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Mu‘jam Al-Mukhtash bil Muhadditsin, Ibnu Katsir dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyin, serta Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat Adz-Dzahab, dan juga oleh para ulama lainnya.Semoga Allah merahmatinya, meridainya, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari website alukah.net.

Nafsu, Kekayaan, dan Kehancuran Moral Manusia

Daftar Isi ToggleNafsu tidak mengenal batasKekayaan tidak menjamin ketenteramanNormalisasi dosa dan kerusakan hatiMengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanAkhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan dunia berkumpul dalam satu tangan.Terlepas dari benar valid atau tidaknya berita tersebut, kita benar-benar mendapatkan sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui batas kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.Ironisnya, fenomena tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil atau menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan iman dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lalu telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)Oleh karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat membutuhkan petunjuk, hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus pada jurang kehinaan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu.Nafsu tidak mengenal batasHawa nafsu memiliki kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran. Nafsu tidak memiliki titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya segera muncul.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak jelas. Seseorang yang telah memiliki pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dahulu dianggap dosa besar, perlahan menjadi terasa biasa. Inilah cara nafsu bekerja: mengikis rasa takut kepada Allah sedikit demi sedikit.Ketahuilah bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Kekayaan tidak menjamin ketenteramanSaudaraku, ketenangan tidak berasal dari kekayaan atau kenikmatan dunia. Harta hanya alat, bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun kenikmatan dunia pasti tidak akan terasa cukup.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Sejarah manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang memiliki kekuasaan dan harta melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan bahkan sangat mengerikan. Ini bukan karena kekayaan itu buruk, tetapi karena hati yang tidak terisi iman akan mencari kepuasan di tempat yang salah.Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)Inilah konsep qana’ah dalam Islam, yaitu rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka kita butuh ilmu agar mampu mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas pemberian dan anugerah dari Allah Ta’ala dengan tanpa mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan ilmu agama -merutinkan diri menghadiri kajian Islam guna menambah ilmu tentang agama mulia ini- kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan godaan setan. Insyaa Allah.Baca juga: Hakikat Kekayaan yang SebenarnyaNormalisasi dosa dan kerusakan hatiDosa yang dilakukan berulang kali akan mengeraskan hati. Ketika hati mengeras, sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan shahih oleh Tirmidzi)Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa kecil yang diremehkan, kemudian menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi perilaku yang lebih besar. Setan menghiasinya sehingga tampak wajar karena dosa telah menutupi hatinya. Ia pun sulit menerima nasihat.Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Mengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanIslam tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan manusia, tetapi mengendalikannya. Nafsu harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu akan menyeret manusia ke dalam kehinaan.Allah berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰفَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)Salah satu cara melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan sedekah bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia mengatakan “tidak” kepada keinginan yang tidak diridai Allah.Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dari setiap celah godaan setan dan hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah Ta’ala. Maka, orang yang mampu mengendalikan diri tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Saudaraku, kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski memiliki segalanya mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan akan terus menuntut hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.Oleh karena itu, pelajaran terpenting dari hadis tentang “lembah emas” adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki materi lebih banyak, tetapi pada hati yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika iman menjadi pusat hidup, keinginan dunia akan berada pada tempatnya, dan manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun. Wallahu a’lam.Baca juga: Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan?*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Nafsu, Kekayaan, dan Kehancuran Moral Manusia

Daftar Isi ToggleNafsu tidak mengenal batasKekayaan tidak menjamin ketenteramanNormalisasi dosa dan kerusakan hatiMengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanAkhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan dunia berkumpul dalam satu tangan.Terlepas dari benar valid atau tidaknya berita tersebut, kita benar-benar mendapatkan sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui batas kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.Ironisnya, fenomena tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil atau menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan iman dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lalu telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)Oleh karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat membutuhkan petunjuk, hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus pada jurang kehinaan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu.Nafsu tidak mengenal batasHawa nafsu memiliki kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran. Nafsu tidak memiliki titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya segera muncul.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak jelas. Seseorang yang telah memiliki pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dahulu dianggap dosa besar, perlahan menjadi terasa biasa. Inilah cara nafsu bekerja: mengikis rasa takut kepada Allah sedikit demi sedikit.Ketahuilah bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Kekayaan tidak menjamin ketenteramanSaudaraku, ketenangan tidak berasal dari kekayaan atau kenikmatan dunia. Harta hanya alat, bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun kenikmatan dunia pasti tidak akan terasa cukup.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Sejarah manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang memiliki kekuasaan dan harta melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan bahkan sangat mengerikan. Ini bukan karena kekayaan itu buruk, tetapi karena hati yang tidak terisi iman akan mencari kepuasan di tempat yang salah.Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)Inilah konsep qana’ah dalam Islam, yaitu rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka kita butuh ilmu agar mampu mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas pemberian dan anugerah dari Allah Ta’ala dengan tanpa mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan ilmu agama -merutinkan diri menghadiri kajian Islam guna menambah ilmu tentang agama mulia ini- kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan godaan setan. Insyaa Allah.Baca juga: Hakikat Kekayaan yang SebenarnyaNormalisasi dosa dan kerusakan hatiDosa yang dilakukan berulang kali akan mengeraskan hati. Ketika hati mengeras, sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan shahih oleh Tirmidzi)Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa kecil yang diremehkan, kemudian menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi perilaku yang lebih besar. Setan menghiasinya sehingga tampak wajar karena dosa telah menutupi hatinya. Ia pun sulit menerima nasihat.Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Mengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanIslam tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan manusia, tetapi mengendalikannya. Nafsu harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu akan menyeret manusia ke dalam kehinaan.Allah berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰفَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)Salah satu cara melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan sedekah bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia mengatakan “tidak” kepada keinginan yang tidak diridai Allah.Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dari setiap celah godaan setan dan hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah Ta’ala. Maka, orang yang mampu mengendalikan diri tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Saudaraku, kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski memiliki segalanya mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan akan terus menuntut hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.Oleh karena itu, pelajaran terpenting dari hadis tentang “lembah emas” adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki materi lebih banyak, tetapi pada hati yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika iman menjadi pusat hidup, keinginan dunia akan berada pada tempatnya, dan manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun. Wallahu a’lam.Baca juga: Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan?*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleNafsu tidak mengenal batasKekayaan tidak menjamin ketenteramanNormalisasi dosa dan kerusakan hatiMengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanAkhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan dunia berkumpul dalam satu tangan.Terlepas dari benar valid atau tidaknya berita tersebut, kita benar-benar mendapatkan sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui batas kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.Ironisnya, fenomena tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil atau menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan iman dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lalu telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)Oleh karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat membutuhkan petunjuk, hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus pada jurang kehinaan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu.Nafsu tidak mengenal batasHawa nafsu memiliki kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran. Nafsu tidak memiliki titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya segera muncul.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak jelas. Seseorang yang telah memiliki pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dahulu dianggap dosa besar, perlahan menjadi terasa biasa. Inilah cara nafsu bekerja: mengikis rasa takut kepada Allah sedikit demi sedikit.Ketahuilah bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Kekayaan tidak menjamin ketenteramanSaudaraku, ketenangan tidak berasal dari kekayaan atau kenikmatan dunia. Harta hanya alat, bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun kenikmatan dunia pasti tidak akan terasa cukup.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Sejarah manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang memiliki kekuasaan dan harta melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan bahkan sangat mengerikan. Ini bukan karena kekayaan itu buruk, tetapi karena hati yang tidak terisi iman akan mencari kepuasan di tempat yang salah.Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)Inilah konsep qana’ah dalam Islam, yaitu rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka kita butuh ilmu agar mampu mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas pemberian dan anugerah dari Allah Ta’ala dengan tanpa mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan ilmu agama -merutinkan diri menghadiri kajian Islam guna menambah ilmu tentang agama mulia ini- kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan godaan setan. Insyaa Allah.Baca juga: Hakikat Kekayaan yang SebenarnyaNormalisasi dosa dan kerusakan hatiDosa yang dilakukan berulang kali akan mengeraskan hati. Ketika hati mengeras, sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan shahih oleh Tirmidzi)Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa kecil yang diremehkan, kemudian menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi perilaku yang lebih besar. Setan menghiasinya sehingga tampak wajar karena dosa telah menutupi hatinya. Ia pun sulit menerima nasihat.Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Mengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanIslam tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan manusia, tetapi mengendalikannya. Nafsu harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu akan menyeret manusia ke dalam kehinaan.Allah berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰفَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)Salah satu cara melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan sedekah bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia mengatakan “tidak” kepada keinginan yang tidak diridai Allah.Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dari setiap celah godaan setan dan hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah Ta’ala. Maka, orang yang mampu mengendalikan diri tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Saudaraku, kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski memiliki segalanya mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan akan terus menuntut hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.Oleh karena itu, pelajaran terpenting dari hadis tentang “lembah emas” adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki materi lebih banyak, tetapi pada hati yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika iman menjadi pusat hidup, keinginan dunia akan berada pada tempatnya, dan manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun. Wallahu a’lam.Baca juga: Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan?*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleNafsu tidak mengenal batasKekayaan tidak menjamin ketenteramanNormalisasi dosa dan kerusakan hatiMengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanAkhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan dunia berkumpul dalam satu tangan.Terlepas dari benar valid atau tidaknya berita tersebut, kita benar-benar mendapatkan sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui batas kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.Ironisnya, fenomena tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil atau menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan iman dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lalu telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)Oleh karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat membutuhkan petunjuk, hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus pada jurang kehinaan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu.Nafsu tidak mengenal batasHawa nafsu memiliki kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran. Nafsu tidak memiliki titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya segera muncul.Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak jelas. Seseorang yang telah memiliki pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dahulu dianggap dosa besar, perlahan menjadi terasa biasa. Inilah cara nafsu bekerja: mengikis rasa takut kepada Allah sedikit demi sedikit.Ketahuilah bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Kekayaan tidak menjamin ketenteramanSaudaraku, ketenangan tidak berasal dari kekayaan atau kenikmatan dunia. Harta hanya alat, bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun kenikmatan dunia pasti tidak akan terasa cukup.Allah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Sejarah manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang memiliki kekuasaan dan harta melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan bahkan sangat mengerikan. Ini bukan karena kekayaan itu buruk, tetapi karena hati yang tidak terisi iman akan mencari kepuasan di tempat yang salah.Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)Inilah konsep qana’ah dalam Islam, yaitu rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka kita butuh ilmu agar mampu mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas pemberian dan anugerah dari Allah Ta’ala dengan tanpa mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan ilmu agama -merutinkan diri menghadiri kajian Islam guna menambah ilmu tentang agama mulia ini- kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan godaan setan. Insyaa Allah.Baca juga: Hakikat Kekayaan yang SebenarnyaNormalisasi dosa dan kerusakan hatiDosa yang dilakukan berulang kali akan mengeraskan hati. Ketika hati mengeras, sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan shahih oleh Tirmidzi)Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa kecil yang diremehkan, kemudian menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi perilaku yang lebih besar. Setan menghiasinya sehingga tampak wajar karena dosa telah menutupi hatinya. Ia pun sulit menerima nasihat.Allah Ta’ala berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Mengendalikan nafsu adalah jalan keselamatanIslam tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan manusia, tetapi mengendalikannya. Nafsu harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu akan menyeret manusia ke dalam kehinaan.Allah berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰفَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)Salah satu cara melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan sedekah bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia mengatakan “tidak” kepada keinginan yang tidak diridai Allah.Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dari setiap celah godaan setan dan hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah Ta’ala. Maka, orang yang mampu mengendalikan diri tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Saudaraku, kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski memiliki segalanya mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan akan terus menuntut hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.Oleh karena itu, pelajaran terpenting dari hadis tentang “lembah emas” adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki materi lebih banyak, tetapi pada hati yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika iman menjadi pusat hidup, keinginan dunia akan berada pada tempatnya, dan manusia akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun. Wallahu a’lam.Baca juga: Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan?*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Apa Itu Akhlak yang Baik: Dari Definisi Hasan Al-Bashri hingga Sabda Nabi – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Hasan Al-Bashri berbicara tentang hakikat akhlak yang baik. “Hakikat akhlak yang baik adalah berbuat baik kepada orang lain, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria.” Ini adalah definisi yang disampaikan dengan contohnya. Sebab, akhlak yang baik tidak hanya terbatas pada tiga hal tersebut. Seakan-akan Hasan Al-Bashri hendak mengatakan bahwa sifat paling menonjol dari akhlak yang baik, adalah berbuat baik, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria. Al-Qadhi Iyadh menambahkan, “Akhlak yang baik adalah bergaul dengan orang lain secara santun, dengan wajah berseri, penuh kasih sayang dan rasa peduli pada mereka, berlapang dada, berlemah lembut, dan bersabar menghadapi mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan, serta menjauhi kesombongan, merendahkan, bersikap kasar, marah-marah, dan membalas kesalahan mereka.” Ini pun definisi yang disampaikan melalui contoh. Semua itu adalah contoh dan gambaran dari akhlak yang baik, dan bukan definisinya. Karena itu, kita perlu menyebutkan definisi akhlak yang baik. Dan di antara ungkapan terbaik tentang definisinya adalah engkau memperlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Inilah akhlak yang baik. Engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Jika engkau ingin orang lain menghormatimu, hormatilah mereka. Jika engkau ingin orang lain memperlakukanmu dengan ucapan yang baik, maka ucapkanlah yang baik pula kepada mereka. Jika engkau tidak rela disakiti ucapan seseorang, janganlah engkau menyakiti orang lain dengan ucapanmu. Maka, akhlak yang baik adalah: jika engkau ingin orang yang berjumpa denganmu menyambutmu dengan wajah cerah, senyuman, penuh kasih sayang, dan ucapan yang baik, maka lakukanlah yang sama kepada orang lain. Jadi, hakikat akhlak yang baik adalah engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Sebagaimana Nabi ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَهَذَا التَّعْرِيفُ لَهُ بِالْمِثَالِ وَإِلَّا فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَا يَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَإِنَّمَا كَأَنَّ الْحَسَنَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبْرَزِ صِفَاتِ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هُوَ مُخَالَطَةُ النَّاسِ بِالْجَمِيلِ وَالْبِشْرِ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ وَالْإِشْفَاقُ عَلَيْهِمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَالْحِلْمُ عَنْهُمْ وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ فِي الْمَكَارِهِ وَتَرْكُ الْكِبْرِ وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَيْهِمْ وَمُجَانَبَةُ الْغِلْظَةِ وَالْغَضَبِ وَالْمُؤَاخَذَةِ وَهَذَا أَيْضًا تَعْرِيفٌ بِالْمِثَالِ هَذِهِ كُلُّهَا أَمْثِلَةٌ وَصُوَرٌ لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَلَيْسَتْ حَدًّا لَهُ فَنَحْتَاجُ إِلَى أَنْ نَذْكُرَ حَدًّا أَوْ تَعْرِيفًا لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِهِ هُوَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ هَذَا هُوَ حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ فَإِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِاحْتِرَامٍ فَعَامِلْهُمْ بِاحْتِرَامٍ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ فَعَامِلْهُمْ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ إِذَا كُنْتَ لَا تَرْضَى أَنَّ أَحَدًا يَجْرَحُكَ بِالْكَلَامِ لَا تَجْرَحِ النَّاسَ بِالْكَلَامِ فَحُسْنُ الْخُلُقِ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنَّ مَنْ يَلْقَاكَ يَلْقَاكَ بِالْبِشْرِ وَبِالِابْتِسَامَةِ وَالتَّوَدُّدِ وَالْجَمِيلِ مِنَ الْقَوْلِ فَافْعَلْ ذَلِكَ أَنْتَ مَعَ النَّاسِ فَإِذًا حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ هِيَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Apa Itu Akhlak yang Baik: Dari Definisi Hasan Al-Bashri hingga Sabda Nabi – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Hasan Al-Bashri berbicara tentang hakikat akhlak yang baik. “Hakikat akhlak yang baik adalah berbuat baik kepada orang lain, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria.” Ini adalah definisi yang disampaikan dengan contohnya. Sebab, akhlak yang baik tidak hanya terbatas pada tiga hal tersebut. Seakan-akan Hasan Al-Bashri hendak mengatakan bahwa sifat paling menonjol dari akhlak yang baik, adalah berbuat baik, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria. Al-Qadhi Iyadh menambahkan, “Akhlak yang baik adalah bergaul dengan orang lain secara santun, dengan wajah berseri, penuh kasih sayang dan rasa peduli pada mereka, berlapang dada, berlemah lembut, dan bersabar menghadapi mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan, serta menjauhi kesombongan, merendahkan, bersikap kasar, marah-marah, dan membalas kesalahan mereka.” Ini pun definisi yang disampaikan melalui contoh. Semua itu adalah contoh dan gambaran dari akhlak yang baik, dan bukan definisinya. Karena itu, kita perlu menyebutkan definisi akhlak yang baik. Dan di antara ungkapan terbaik tentang definisinya adalah engkau memperlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Inilah akhlak yang baik. Engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Jika engkau ingin orang lain menghormatimu, hormatilah mereka. Jika engkau ingin orang lain memperlakukanmu dengan ucapan yang baik, maka ucapkanlah yang baik pula kepada mereka. Jika engkau tidak rela disakiti ucapan seseorang, janganlah engkau menyakiti orang lain dengan ucapanmu. Maka, akhlak yang baik adalah: jika engkau ingin orang yang berjumpa denganmu menyambutmu dengan wajah cerah, senyuman, penuh kasih sayang, dan ucapan yang baik, maka lakukanlah yang sama kepada orang lain. Jadi, hakikat akhlak yang baik adalah engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Sebagaimana Nabi ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَهَذَا التَّعْرِيفُ لَهُ بِالْمِثَالِ وَإِلَّا فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَا يَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَإِنَّمَا كَأَنَّ الْحَسَنَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبْرَزِ صِفَاتِ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هُوَ مُخَالَطَةُ النَّاسِ بِالْجَمِيلِ وَالْبِشْرِ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ وَالْإِشْفَاقُ عَلَيْهِمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَالْحِلْمُ عَنْهُمْ وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ فِي الْمَكَارِهِ وَتَرْكُ الْكِبْرِ وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَيْهِمْ وَمُجَانَبَةُ الْغِلْظَةِ وَالْغَضَبِ وَالْمُؤَاخَذَةِ وَهَذَا أَيْضًا تَعْرِيفٌ بِالْمِثَالِ هَذِهِ كُلُّهَا أَمْثِلَةٌ وَصُوَرٌ لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَلَيْسَتْ حَدًّا لَهُ فَنَحْتَاجُ إِلَى أَنْ نَذْكُرَ حَدًّا أَوْ تَعْرِيفًا لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِهِ هُوَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ هَذَا هُوَ حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ فَإِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِاحْتِرَامٍ فَعَامِلْهُمْ بِاحْتِرَامٍ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ فَعَامِلْهُمْ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ إِذَا كُنْتَ لَا تَرْضَى أَنَّ أَحَدًا يَجْرَحُكَ بِالْكَلَامِ لَا تَجْرَحِ النَّاسَ بِالْكَلَامِ فَحُسْنُ الْخُلُقِ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنَّ مَنْ يَلْقَاكَ يَلْقَاكَ بِالْبِشْرِ وَبِالِابْتِسَامَةِ وَالتَّوَدُّدِ وَالْجَمِيلِ مِنَ الْقَوْلِ فَافْعَلْ ذَلِكَ أَنْتَ مَعَ النَّاسِ فَإِذًا حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ هِيَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Hasan Al-Bashri berbicara tentang hakikat akhlak yang baik. “Hakikat akhlak yang baik adalah berbuat baik kepada orang lain, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria.” Ini adalah definisi yang disampaikan dengan contohnya. Sebab, akhlak yang baik tidak hanya terbatas pada tiga hal tersebut. Seakan-akan Hasan Al-Bashri hendak mengatakan bahwa sifat paling menonjol dari akhlak yang baik, adalah berbuat baik, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria. Al-Qadhi Iyadh menambahkan, “Akhlak yang baik adalah bergaul dengan orang lain secara santun, dengan wajah berseri, penuh kasih sayang dan rasa peduli pada mereka, berlapang dada, berlemah lembut, dan bersabar menghadapi mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan, serta menjauhi kesombongan, merendahkan, bersikap kasar, marah-marah, dan membalas kesalahan mereka.” Ini pun definisi yang disampaikan melalui contoh. Semua itu adalah contoh dan gambaran dari akhlak yang baik, dan bukan definisinya. Karena itu, kita perlu menyebutkan definisi akhlak yang baik. Dan di antara ungkapan terbaik tentang definisinya adalah engkau memperlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Inilah akhlak yang baik. Engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Jika engkau ingin orang lain menghormatimu, hormatilah mereka. Jika engkau ingin orang lain memperlakukanmu dengan ucapan yang baik, maka ucapkanlah yang baik pula kepada mereka. Jika engkau tidak rela disakiti ucapan seseorang, janganlah engkau menyakiti orang lain dengan ucapanmu. Maka, akhlak yang baik adalah: jika engkau ingin orang yang berjumpa denganmu menyambutmu dengan wajah cerah, senyuman, penuh kasih sayang, dan ucapan yang baik, maka lakukanlah yang sama kepada orang lain. Jadi, hakikat akhlak yang baik adalah engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Sebagaimana Nabi ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَهَذَا التَّعْرِيفُ لَهُ بِالْمِثَالِ وَإِلَّا فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَا يَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَإِنَّمَا كَأَنَّ الْحَسَنَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبْرَزِ صِفَاتِ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هُوَ مُخَالَطَةُ النَّاسِ بِالْجَمِيلِ وَالْبِشْرِ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ وَالْإِشْفَاقُ عَلَيْهِمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَالْحِلْمُ عَنْهُمْ وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ فِي الْمَكَارِهِ وَتَرْكُ الْكِبْرِ وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَيْهِمْ وَمُجَانَبَةُ الْغِلْظَةِ وَالْغَضَبِ وَالْمُؤَاخَذَةِ وَهَذَا أَيْضًا تَعْرِيفٌ بِالْمِثَالِ هَذِهِ كُلُّهَا أَمْثِلَةٌ وَصُوَرٌ لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَلَيْسَتْ حَدًّا لَهُ فَنَحْتَاجُ إِلَى أَنْ نَذْكُرَ حَدًّا أَوْ تَعْرِيفًا لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِهِ هُوَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ هَذَا هُوَ حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ فَإِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِاحْتِرَامٍ فَعَامِلْهُمْ بِاحْتِرَامٍ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ فَعَامِلْهُمْ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ إِذَا كُنْتَ لَا تَرْضَى أَنَّ أَحَدًا يَجْرَحُكَ بِالْكَلَامِ لَا تَجْرَحِ النَّاسَ بِالْكَلَامِ فَحُسْنُ الْخُلُقِ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنَّ مَنْ يَلْقَاكَ يَلْقَاكَ بِالْبِشْرِ وَبِالِابْتِسَامَةِ وَالتَّوَدُّدِ وَالْجَمِيلِ مِنَ الْقَوْلِ فَافْعَلْ ذَلِكَ أَنْتَ مَعَ النَّاسِ فَإِذًا حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ هِيَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


Hasan Al-Bashri berbicara tentang hakikat akhlak yang baik. “Hakikat akhlak yang baik adalah berbuat baik kepada orang lain, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria.” Ini adalah definisi yang disampaikan dengan contohnya. Sebab, akhlak yang baik tidak hanya terbatas pada tiga hal tersebut. Seakan-akan Hasan Al-Bashri hendak mengatakan bahwa sifat paling menonjol dari akhlak yang baik, adalah berbuat baik, menahan diri dari menyakiti, dan berwajah ceria. Al-Qadhi Iyadh menambahkan, “Akhlak yang baik adalah bergaul dengan orang lain secara santun, dengan wajah berseri, penuh kasih sayang dan rasa peduli pada mereka, berlapang dada, berlemah lembut, dan bersabar menghadapi mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan, serta menjauhi kesombongan, merendahkan, bersikap kasar, marah-marah, dan membalas kesalahan mereka.” Ini pun definisi yang disampaikan melalui contoh. Semua itu adalah contoh dan gambaran dari akhlak yang baik, dan bukan definisinya. Karena itu, kita perlu menyebutkan definisi akhlak yang baik. Dan di antara ungkapan terbaik tentang definisinya adalah engkau memperlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Inilah akhlak yang baik. Engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Jika engkau ingin orang lain menghormatimu, hormatilah mereka. Jika engkau ingin orang lain memperlakukanmu dengan ucapan yang baik, maka ucapkanlah yang baik pula kepada mereka. Jika engkau tidak rela disakiti ucapan seseorang, janganlah engkau menyakiti orang lain dengan ucapanmu. Maka, akhlak yang baik adalah: jika engkau ingin orang yang berjumpa denganmu menyambutmu dengan wajah cerah, senyuman, penuh kasih sayang, dan ucapan yang baik, maka lakukanlah yang sama kepada orang lain. Jadi, hakikat akhlak yang baik adalah engkau memperlakukan orang lain, sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh mereka. Sebagaimana Nabi ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَهَذَا التَّعْرِيفُ لَهُ بِالْمِثَالِ وَإِلَّا فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَا يَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَإِنَّمَا كَأَنَّ الْحَسَنَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبْرَزِ صِفَاتِ حُسْنِ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هُوَ مُخَالَطَةُ النَّاسِ بِالْجَمِيلِ وَالْبِشْرِ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ وَالْإِشْفَاقُ عَلَيْهِمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَالْحِلْمُ عَنْهُمْ وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ فِي الْمَكَارِهِ وَتَرْكُ الْكِبْرِ وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَيْهِمْ وَمُجَانَبَةُ الْغِلْظَةِ وَالْغَضَبِ وَالْمُؤَاخَذَةِ وَهَذَا أَيْضًا تَعْرِيفٌ بِالْمِثَالِ هَذِهِ كُلُّهَا أَمْثِلَةٌ وَصُوَرٌ لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَلَيْسَتْ حَدًّا لَهُ فَنَحْتَاجُ إِلَى أَنْ نَذْكُرَ حَدًّا أَوْ تَعْرِيفًا لِحُسْنِ الْخُلُقِ وَأَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِهِ هُوَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ هَذَا هُوَ حُسْنُ الْخُلُقِ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ فَإِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِاحْتِرَامٍ فَعَامِلْهُمْ بِاحْتِرَامٍ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَكَ النَّاسُ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ فَعَامِلْهُمْ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ إِذَا كُنْتَ لَا تَرْضَى أَنَّ أَحَدًا يَجْرَحُكَ بِالْكَلَامِ لَا تَجْرَحِ النَّاسَ بِالْكَلَامِ فَحُسْنُ الْخُلُقِ إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنَّ مَنْ يَلْقَاكَ يَلْقَاكَ بِالْبِشْرِ وَبِالِابْتِسَامَةِ وَالتَّوَدُّدِ وَالْجَمِيلِ مِنَ الْقَوْلِ فَافْعَلْ ذَلِكَ أَنْتَ مَعَ النَّاسِ فَإِذًا حَقِيقَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ هِيَ أَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِمِثْلِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Keteguhan Iman di Dunia yang Penuh Gejolak

Di zaman yang diterpa dengan banyak peristiwa, bagaikan angin kencang yang menerpa gurun pasir, di zaman ketika hati bergejolak menanggung beratnya berbagai kabar berita dan silih bergantinya perubahan, ketika itu keteguhan iman menjadi nikmat yang setara dengan nikmat hidayah yang pertama kali menghampiri. Bahkan ia merupakan kelanjutan dan penjaga eksistensinya. Kita sedang menyaksikan zaman yang seorang insan hampir tidaklah menghirup nafas pada suatu peristiwa melainkan terjadi lagi peristiwa lainnya. Pada zaman ini, syubhat-syubhat begitu meracuni pikiran dan syahwat-syahwat begitu cepat menyambar hati. Pada zaman ini, orang yang berjalan di jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merasa dirinya membutuhkan keteguhan melebihi gunung yang menjulang tinggi dan keyakinan yang tidak tergoyahkan badai. Keteguhan bukanlah suatu kemewahan rohani, melainkan penegak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, timbangan orang-orang yang tulus dalam perjalanan kepada-Nya. Keteguhan merupakan derajat yang diminta oleh para nabi dalam doa mereka, sesuatu yang dirindukan orang-orang ikhlas, dan diperjuangkan oleh orang-orang bernurani jernih. Hal ini karena sudah menjadi tabiat jiwa manusia yang lemah dan selalu berubah-ubah, dan hati berada di antara dua jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu bagaimana dengan seorang insan yang hidup di zaman yang penuh dengan godaan, tekad sudah begitu lemah, dan hiruk-pikuk duniawi saling berdesakan menutupi kebeningan rohani? Keteguhan adalah derajat yang tidak diraih hanya dengan angan Keteguhan iman bukanlah kondisi sementara atau semangat yang membara sekejap saja, tapi ia bagaikan bangunan yang disusun batu batanya satu demi satu, pondasinya diawali dengan ketulusan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu disusul dengan tembok berupa kebenaran niat dan hasrat, kemudian atapnya dikokohkan dengan amal shaleh dan keistiqamahan di dalamnya. Ia juga bagaikan pohon yang penuh kebaikan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, akarnya menghujam kokoh di dasar keikhlasan, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Mungkin ia akan diterpa angin kencang, tapi ia tidak tumbang. Mungkin ia condong ke kiri dan kanan, tapi ia tidak patah, karena apa yang ada dalam batinnya lebih kuat daripada apa yang ada di tampilan luarnya. Untuk keteguhan inilah doa-doa dari Nabi terus terucap dari orang-orang yang teguh. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca doa: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi). Ini bukan karena keimanan itu sendiri dapat rusak, tapi karena hati merupakan wadah yang dapat terpapar guncangan setiap saat. Jalan terang benderang di dunia yang penuh gejolak Mungkin negara-negara berubah, roda politik berputar, orang-orang di sekitar kita berubah, hati saling berpaling, dan dunia kehilangan beberapa warnanya yang dulu begitu nyaman dan menenteramkan, tapi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berubah: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah  ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153). Di setiap zaman, orang beriman mengetahui bahwa di hadapannya hanya ada jalan yang sama, jalan penghambaan, jalan ketaatan, jalan keistiqamahan. Semua yang berubah hanya keadaan di sekitarnya, sedangkan jalan kebenaran tetap jelas, jernih, dan kokoh, ditapaki oleh para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Betapa indah ungkapan, “Dunia bergejolak, hati bergetar, dan fitnah-fitnah berjejalan, tapi orang yang telah mengenal arah langkahnya tidak akan terhempas oleh badai.”  Orang yang punya arah yang pasti dan keyakinan yang teguh terhadap Tuhannya tidak akan terpengaruh oleh gejolak yang dialami orang-orang di atas jalan mereka. Orang yang terombang-ambing hanyalah orang yang kehilangan arah, bukan orang yang diteguhkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas jalan yang lurus. Bagaimana orang beriman dapat menjaga keteguhannya? Keteguhan bukan hadiah cuma-cuma yang diberikan kepada semua orang tanpa usaha, bukan juga kekuatan rohani yang turun kepada seseorang begitu saja, tapi ia punya sebab-sebabnya, apabila seorang hamba menjalankan sebab-sebab itu, niscaya akan kuat tekadnya dan akan damai hatinya. Di antara sebab-sebab yang paling pentingnya adalah: 1. Berteman dengan Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara bertahap.” (QS. Al-Furqan: 32). Al-Qur’an merupakan ruh yang meredam guncangan hati dan cahaya yang menyingkap gelapnya ombang-ambing pikiran. Siapa yang senantiasa membaca dan menadaburinya, mencermati setiap ayat-ayat janji baik dan ancaman yang ada di dalamnya, niscaya ia mengetahui bahwa dunia dan guncangannya amat kecil untuk menggoyahkan hati yang disinari oleh Kitabullah. 2. Senantiasa mendirikan shalat dan berzikir Tidak ada hal yang lebih meneguhkan hati daripada berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada setiap sujud, beban akan dihempaskan. Pada setiap zikir, luka akan disembuhkan. Dan pada setiap munajat, jalan gelap akan tersinari. Salat bukanlah kebiasaan harian, tapi pengaturan ulang yang merapikan kembali jiwa seorang mukmin, mengembalikan keseimbangannya setiap kali ia merasa kacau. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Bilal Radhiyallahu ‘anhu: “Mari tegakkan salat! Damaikanlah kami dengannya!” (HR. Abu Dawud). 3. Berteman dengan orang-orang shaleh Pertemanan yang baik bagaikan pagar rahmat yang mengelilingi hati. Pertemanan itu akan menguatkannya kala ia melemah, menyemangatinya kala ia jenuh, meluruskannya kala ia berbelok, dan mengingatkannya kala ia mulai lupa. Dan ruh-ruh satu sama lain bagaikan tentara yang telah dikelompokkan, sehingga yang telah saling mengenal akan saling menyatu. 4. Menjauhi sumber-sumber gejolak Ada sebagian orang yang justru membawa gejolak dunia ini ke dalam hatinya, karena ia membuka setiap celahnya, menyerahkan kedua telinganya untuk mendengarkan segala berita, membuka kedua matanya untuk berbagai perdebatan, memberikan akalnya kepada semua analisa, dan menyerahkan hatinya kepada ketakutan. Siapa yang ingin keteguhan hati, hendaklah ia menutup fitnah sejak dari pintunya, agar yang masuk ke dalam hatinya adalah hal yang menguatkan, alih-alih perkara yang menambah ketakutan dan kegundahan. 5. Banyak berdoa Keteguhan bukan semata-mata usaha manusia saja, tapi ia merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia limpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, dulu para Salaf senantiasa menengadahkan kedua tangan mereka dengan doa: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَيَقِينًا لَا يَنْقُصُ، وَثَبَاتًا لَا يَزُولُ “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keimanan yang tidak akan goyah, keyakinan yang tidak akan berkurang, dan keteguhan yang tidak akan sirna.”  Keteguhan iman adalah keindahan yang terlihat pada momen-momennya Orang yang teguh bukanlah orang yang sekedar membahas tentang keteguhan, tapi orang yang tetap teguh ketika semua orang telah tumbang. Dialah orang yang tetap tersenyum di hadapan ujian, karena ia mengenal siapa yang memberi ujian. Orang yang terus gigih di depan berbagai fitnah, karena ia mengetahui ujung dari jalan itu. Orang yang sabar dalam ketaatan, karena ia melihat dengan cahaya hatinya apa yang tidak dilihat oleh orang-orang yang enggan bersabar. Mungkin manusia memandang orang yang teguh itu hanya diam, tapi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah suara keyakinan yang menggelegar. Mungkin juga mereka melihatnya menyendiri, tapi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah menyendiri bersama kebenaran. Dan mungkin mereka melihat ia orang yang keras kepala, tapi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hati yang lembut tapi tidak tergoyahkan. Penutup  Di dunia yang terus bergejolak bagai lautan, orang beriman tidak memiliki pilihan untuk goyah, tapi yang ia miliki hanya satu pilihan: yaitu untuk terus berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala sebaik-baiknya, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan langit, bukan dengan bumi, dan mengetahui bahwa keteguhan bukan terus menjadi dirinya, tapi terus mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun dunia di sekitarnya telah berubah. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/245983/الثبات-الإيماني-في-عالم-مضطرب Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 338 times, 1 visit(s) today Post Views: 99

Keteguhan Iman di Dunia yang Penuh Gejolak

Di zaman yang diterpa dengan banyak peristiwa, bagaikan angin kencang yang menerpa gurun pasir, di zaman ketika hati bergejolak menanggung beratnya berbagai kabar berita dan silih bergantinya perubahan, ketika itu keteguhan iman menjadi nikmat yang setara dengan nikmat hidayah yang pertama kali menghampiri. Bahkan ia merupakan kelanjutan dan penjaga eksistensinya. Kita sedang menyaksikan zaman yang seorang insan hampir tidaklah menghirup nafas pada suatu peristiwa melainkan terjadi lagi peristiwa lainnya. Pada zaman ini, syubhat-syubhat begitu meracuni pikiran dan syahwat-syahwat begitu cepat menyambar hati. Pada zaman ini, orang yang berjalan di jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merasa dirinya membutuhkan keteguhan melebihi gunung yang menjulang tinggi dan keyakinan yang tidak tergoyahkan badai. Keteguhan bukanlah suatu kemewahan rohani, melainkan penegak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, timbangan orang-orang yang tulus dalam perjalanan kepada-Nya. Keteguhan merupakan derajat yang diminta oleh para nabi dalam doa mereka, sesuatu yang dirindukan orang-orang ikhlas, dan diperjuangkan oleh orang-orang bernurani jernih. Hal ini karena sudah menjadi tabiat jiwa manusia yang lemah dan selalu berubah-ubah, dan hati berada di antara dua jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu bagaimana dengan seorang insan yang hidup di zaman yang penuh dengan godaan, tekad sudah begitu lemah, dan hiruk-pikuk duniawi saling berdesakan menutupi kebeningan rohani? Keteguhan adalah derajat yang tidak diraih hanya dengan angan Keteguhan iman bukanlah kondisi sementara atau semangat yang membara sekejap saja, tapi ia bagaikan bangunan yang disusun batu batanya satu demi satu, pondasinya diawali dengan ketulusan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu disusul dengan tembok berupa kebenaran niat dan hasrat, kemudian atapnya dikokohkan dengan amal shaleh dan keistiqamahan di dalamnya. Ia juga bagaikan pohon yang penuh kebaikan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, akarnya menghujam kokoh di dasar keikhlasan, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Mungkin ia akan diterpa angin kencang, tapi ia tidak tumbang. Mungkin ia condong ke kiri dan kanan, tapi ia tidak patah, karena apa yang ada dalam batinnya lebih kuat daripada apa yang ada di tampilan luarnya. Untuk keteguhan inilah doa-doa dari Nabi terus terucap dari orang-orang yang teguh. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca doa: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi). Ini bukan karena keimanan itu sendiri dapat rusak, tapi karena hati merupakan wadah yang dapat terpapar guncangan setiap saat. Jalan terang benderang di dunia yang penuh gejolak Mungkin negara-negara berubah, roda politik berputar, orang-orang di sekitar kita berubah, hati saling berpaling, dan dunia kehilangan beberapa warnanya yang dulu begitu nyaman dan menenteramkan, tapi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berubah: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah  ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153). Di setiap zaman, orang beriman mengetahui bahwa di hadapannya hanya ada jalan yang sama, jalan penghambaan, jalan ketaatan, jalan keistiqamahan. Semua yang berubah hanya keadaan di sekitarnya, sedangkan jalan kebenaran tetap jelas, jernih, dan kokoh, ditapaki oleh para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Betapa indah ungkapan, “Dunia bergejolak, hati bergetar, dan fitnah-fitnah berjejalan, tapi orang yang telah mengenal arah langkahnya tidak akan terhempas oleh badai.”  Orang yang punya arah yang pasti dan keyakinan yang teguh terhadap Tuhannya tidak akan terpengaruh oleh gejolak yang dialami orang-orang di atas jalan mereka. Orang yang terombang-ambing hanyalah orang yang kehilangan arah, bukan orang yang diteguhkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas jalan yang lurus. Bagaimana orang beriman dapat menjaga keteguhannya? Keteguhan bukan hadiah cuma-cuma yang diberikan kepada semua orang tanpa usaha, bukan juga kekuatan rohani yang turun kepada seseorang begitu saja, tapi ia punya sebab-sebabnya, apabila seorang hamba menjalankan sebab-sebab itu, niscaya akan kuat tekadnya dan akan damai hatinya. Di antara sebab-sebab yang paling pentingnya adalah: 1. Berteman dengan Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara bertahap.” (QS. Al-Furqan: 32). Al-Qur’an merupakan ruh yang meredam guncangan hati dan cahaya yang menyingkap gelapnya ombang-ambing pikiran. Siapa yang senantiasa membaca dan menadaburinya, mencermati setiap ayat-ayat janji baik dan ancaman yang ada di dalamnya, niscaya ia mengetahui bahwa dunia dan guncangannya amat kecil untuk menggoyahkan hati yang disinari oleh Kitabullah. 2. Senantiasa mendirikan shalat dan berzikir Tidak ada hal yang lebih meneguhkan hati daripada berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada setiap sujud, beban akan dihempaskan. Pada setiap zikir, luka akan disembuhkan. Dan pada setiap munajat, jalan gelap akan tersinari. Salat bukanlah kebiasaan harian, tapi pengaturan ulang yang merapikan kembali jiwa seorang mukmin, mengembalikan keseimbangannya setiap kali ia merasa kacau. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Bilal Radhiyallahu ‘anhu: “Mari tegakkan salat! Damaikanlah kami dengannya!” (HR. Abu Dawud). 3. Berteman dengan orang-orang shaleh Pertemanan yang baik bagaikan pagar rahmat yang mengelilingi hati. Pertemanan itu akan menguatkannya kala ia melemah, menyemangatinya kala ia jenuh, meluruskannya kala ia berbelok, dan mengingatkannya kala ia mulai lupa. Dan ruh-ruh satu sama lain bagaikan tentara yang telah dikelompokkan, sehingga yang telah saling mengenal akan saling menyatu. 4. Menjauhi sumber-sumber gejolak Ada sebagian orang yang justru membawa gejolak dunia ini ke dalam hatinya, karena ia membuka setiap celahnya, menyerahkan kedua telinganya untuk mendengarkan segala berita, membuka kedua matanya untuk berbagai perdebatan, memberikan akalnya kepada semua analisa, dan menyerahkan hatinya kepada ketakutan. Siapa yang ingin keteguhan hati, hendaklah ia menutup fitnah sejak dari pintunya, agar yang masuk ke dalam hatinya adalah hal yang menguatkan, alih-alih perkara yang menambah ketakutan dan kegundahan. 5. Banyak berdoa Keteguhan bukan semata-mata usaha manusia saja, tapi ia merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia limpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, dulu para Salaf senantiasa menengadahkan kedua tangan mereka dengan doa: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَيَقِينًا لَا يَنْقُصُ، وَثَبَاتًا لَا يَزُولُ “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keimanan yang tidak akan goyah, keyakinan yang tidak akan berkurang, dan keteguhan yang tidak akan sirna.”  Keteguhan iman adalah keindahan yang terlihat pada momen-momennya Orang yang teguh bukanlah orang yang sekedar membahas tentang keteguhan, tapi orang yang tetap teguh ketika semua orang telah tumbang. Dialah orang yang tetap tersenyum di hadapan ujian, karena ia mengenal siapa yang memberi ujian. Orang yang terus gigih di depan berbagai fitnah, karena ia mengetahui ujung dari jalan itu. Orang yang sabar dalam ketaatan, karena ia melihat dengan cahaya hatinya apa yang tidak dilihat oleh orang-orang yang enggan bersabar. Mungkin manusia memandang orang yang teguh itu hanya diam, tapi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah suara keyakinan yang menggelegar. Mungkin juga mereka melihatnya menyendiri, tapi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah menyendiri bersama kebenaran. Dan mungkin mereka melihat ia orang yang keras kepala, tapi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hati yang lembut tapi tidak tergoyahkan. Penutup  Di dunia yang terus bergejolak bagai lautan, orang beriman tidak memiliki pilihan untuk goyah, tapi yang ia miliki hanya satu pilihan: yaitu untuk terus berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala sebaik-baiknya, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan langit, bukan dengan bumi, dan mengetahui bahwa keteguhan bukan terus menjadi dirinya, tapi terus mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun dunia di sekitarnya telah berubah. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/245983/الثبات-الإيماني-في-عالم-مضطرب Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 338 times, 1 visit(s) today Post Views: 99
Di zaman yang diterpa dengan banyak peristiwa, bagaikan angin kencang yang menerpa gurun pasir, di zaman ketika hati bergejolak menanggung beratnya berbagai kabar berita dan silih bergantinya perubahan, ketika itu keteguhan iman menjadi nikmat yang setara dengan nikmat hidayah yang pertama kali menghampiri. Bahkan ia merupakan kelanjutan dan penjaga eksistensinya. Kita sedang menyaksikan zaman yang seorang insan hampir tidaklah menghirup nafas pada suatu peristiwa melainkan terjadi lagi peristiwa lainnya. Pada zaman ini, syubhat-syubhat begitu meracuni pikiran dan syahwat-syahwat begitu cepat menyambar hati. Pada zaman ini, orang yang berjalan di jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merasa dirinya membutuhkan keteguhan melebihi gunung yang menjulang tinggi dan keyakinan yang tidak tergoyahkan badai. Keteguhan bukanlah suatu kemewahan rohani, melainkan penegak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, timbangan orang-orang yang tulus dalam perjalanan kepada-Nya. Keteguhan merupakan derajat yang diminta oleh para nabi dalam doa mereka, sesuatu yang dirindukan orang-orang ikhlas, dan diperjuangkan oleh orang-orang bernurani jernih. Hal ini karena sudah menjadi tabiat jiwa manusia yang lemah dan selalu berubah-ubah, dan hati berada di antara dua jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu bagaimana dengan seorang insan yang hidup di zaman yang penuh dengan godaan, tekad sudah begitu lemah, dan hiruk-pikuk duniawi saling berdesakan menutupi kebeningan rohani? Keteguhan adalah derajat yang tidak diraih hanya dengan angan Keteguhan iman bukanlah kondisi sementara atau semangat yang membara sekejap saja, tapi ia bagaikan bangunan yang disusun batu batanya satu demi satu, pondasinya diawali dengan ketulusan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu disusul dengan tembok berupa kebenaran niat dan hasrat, kemudian atapnya dikokohkan dengan amal shaleh dan keistiqamahan di dalamnya. Ia juga bagaikan pohon yang penuh kebaikan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, akarnya menghujam kokoh di dasar keikhlasan, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Mungkin ia akan diterpa angin kencang, tapi ia tidak tumbang. Mungkin ia condong ke kiri dan kanan, tapi ia tidak patah, karena apa yang ada dalam batinnya lebih kuat daripada apa yang ada di tampilan luarnya. Untuk keteguhan inilah doa-doa dari Nabi terus terucap dari orang-orang yang teguh. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca doa: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi). Ini bukan karena keimanan itu sendiri dapat rusak, tapi karena hati merupakan wadah yang dapat terpapar guncangan setiap saat. Jalan terang benderang di dunia yang penuh gejolak Mungkin negara-negara berubah, roda politik berputar, orang-orang di sekitar kita berubah, hati saling berpaling, dan dunia kehilangan beberapa warnanya yang dulu begitu nyaman dan menenteramkan, tapi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berubah: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah  ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153). Di setiap zaman, orang beriman mengetahui bahwa di hadapannya hanya ada jalan yang sama, jalan penghambaan, jalan ketaatan, jalan keistiqamahan. Semua yang berubah hanya keadaan di sekitarnya, sedangkan jalan kebenaran tetap jelas, jernih, dan kokoh, ditapaki oleh para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Betapa indah ungkapan, “Dunia bergejolak, hati bergetar, dan fitnah-fitnah berjejalan, tapi orang yang telah mengenal arah langkahnya tidak akan terhempas oleh badai.”  Orang yang punya arah yang pasti dan keyakinan yang teguh terhadap Tuhannya tidak akan terpengaruh oleh gejolak yang dialami orang-orang di atas jalan mereka. Orang yang terombang-ambing hanyalah orang yang kehilangan arah, bukan orang yang diteguhkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas jalan yang lurus. Bagaimana orang beriman dapat menjaga keteguhannya? Keteguhan bukan hadiah cuma-cuma yang diberikan kepada semua orang tanpa usaha, bukan juga kekuatan rohani yang turun kepada seseorang begitu saja, tapi ia punya sebab-sebabnya, apabila seorang hamba menjalankan sebab-sebab itu, niscaya akan kuat tekadnya dan akan damai hatinya. Di antara sebab-sebab yang paling pentingnya adalah: 1. Berteman dengan Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara bertahap.” (QS. Al-Furqan: 32). Al-Qur’an merupakan ruh yang meredam guncangan hati dan cahaya yang menyingkap gelapnya ombang-ambing pikiran. Siapa yang senantiasa membaca dan menadaburinya, mencermati setiap ayat-ayat janji baik dan ancaman yang ada di dalamnya, niscaya ia mengetahui bahwa dunia dan guncangannya amat kecil untuk menggoyahkan hati yang disinari oleh Kitabullah. 2. Senantiasa mendirikan shalat dan berzikir Tidak ada hal yang lebih meneguhkan hati daripada berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada setiap sujud, beban akan dihempaskan. Pada setiap zikir, luka akan disembuhkan. Dan pada setiap munajat, jalan gelap akan tersinari. Salat bukanlah kebiasaan harian, tapi pengaturan ulang yang merapikan kembali jiwa seorang mukmin, mengembalikan keseimbangannya setiap kali ia merasa kacau. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Bilal Radhiyallahu ‘anhu: “Mari tegakkan salat! Damaikanlah kami dengannya!” (HR. Abu Dawud). 3. Berteman dengan orang-orang shaleh Pertemanan yang baik bagaikan pagar rahmat yang mengelilingi hati. Pertemanan itu akan menguatkannya kala ia melemah, menyemangatinya kala ia jenuh, meluruskannya kala ia berbelok, dan mengingatkannya kala ia mulai lupa. Dan ruh-ruh satu sama lain bagaikan tentara yang telah dikelompokkan, sehingga yang telah saling mengenal akan saling menyatu. 4. Menjauhi sumber-sumber gejolak Ada sebagian orang yang justru membawa gejolak dunia ini ke dalam hatinya, karena ia membuka setiap celahnya, menyerahkan kedua telinganya untuk mendengarkan segala berita, membuka kedua matanya untuk berbagai perdebatan, memberikan akalnya kepada semua analisa, dan menyerahkan hatinya kepada ketakutan. Siapa yang ingin keteguhan hati, hendaklah ia menutup fitnah sejak dari pintunya, agar yang masuk ke dalam hatinya adalah hal yang menguatkan, alih-alih perkara yang menambah ketakutan dan kegundahan. 5. Banyak berdoa Keteguhan bukan semata-mata usaha manusia saja, tapi ia merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia limpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, dulu para Salaf senantiasa menengadahkan kedua tangan mereka dengan doa: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَيَقِينًا لَا يَنْقُصُ، وَثَبَاتًا لَا يَزُولُ “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keimanan yang tidak akan goyah, keyakinan yang tidak akan berkurang, dan keteguhan yang tidak akan sirna.”  Keteguhan iman adalah keindahan yang terlihat pada momen-momennya Orang yang teguh bukanlah orang yang sekedar membahas tentang keteguhan, tapi orang yang tetap teguh ketika semua orang telah tumbang. Dialah orang yang tetap tersenyum di hadapan ujian, karena ia mengenal siapa yang memberi ujian. Orang yang terus gigih di depan berbagai fitnah, karena ia mengetahui ujung dari jalan itu. Orang yang sabar dalam ketaatan, karena ia melihat dengan cahaya hatinya apa yang tidak dilihat oleh orang-orang yang enggan bersabar. Mungkin manusia memandang orang yang teguh itu hanya diam, tapi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah suara keyakinan yang menggelegar. Mungkin juga mereka melihatnya menyendiri, tapi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah menyendiri bersama kebenaran. Dan mungkin mereka melihat ia orang yang keras kepala, tapi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hati yang lembut tapi tidak tergoyahkan. Penutup  Di dunia yang terus bergejolak bagai lautan, orang beriman tidak memiliki pilihan untuk goyah, tapi yang ia miliki hanya satu pilihan: yaitu untuk terus berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala sebaik-baiknya, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan langit, bukan dengan bumi, dan mengetahui bahwa keteguhan bukan terus menjadi dirinya, tapi terus mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun dunia di sekitarnya telah berubah. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/245983/الثبات-الإيماني-في-عالم-مضطرب Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 338 times, 1 visit(s) today Post Views: 99


Di zaman yang diterpa dengan banyak peristiwa, bagaikan angin kencang yang menerpa gurun pasir, di zaman ketika hati bergejolak menanggung beratnya berbagai kabar berita dan silih bergantinya perubahan, ketika itu keteguhan iman menjadi nikmat yang setara dengan nikmat hidayah yang pertama kali menghampiri. Bahkan ia merupakan kelanjutan dan penjaga eksistensinya. Kita sedang menyaksikan zaman yang seorang insan hampir tidaklah menghirup nafas pada suatu peristiwa melainkan terjadi lagi peristiwa lainnya. Pada zaman ini, syubhat-syubhat begitu meracuni pikiran dan syahwat-syahwat begitu cepat menyambar hati. Pada zaman ini, orang yang berjalan di jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merasa dirinya membutuhkan keteguhan melebihi gunung yang menjulang tinggi dan keyakinan yang tidak tergoyahkan badai. Keteguhan bukanlah suatu kemewahan rohani, melainkan penegak jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, timbangan orang-orang yang tulus dalam perjalanan kepada-Nya. Keteguhan merupakan derajat yang diminta oleh para nabi dalam doa mereka, sesuatu yang dirindukan orang-orang ikhlas, dan diperjuangkan oleh orang-orang bernurani jernih. Hal ini karena sudah menjadi tabiat jiwa manusia yang lemah dan selalu berubah-ubah, dan hati berada di antara dua jemari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu bagaimana dengan seorang insan yang hidup di zaman yang penuh dengan godaan, tekad sudah begitu lemah, dan hiruk-pikuk duniawi saling berdesakan menutupi kebeningan rohani? Keteguhan adalah derajat yang tidak diraih hanya dengan angan Keteguhan iman bukanlah kondisi sementara atau semangat yang membara sekejap saja, tapi ia bagaikan bangunan yang disusun batu batanya satu demi satu, pondasinya diawali dengan ketulusan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu disusul dengan tembok berupa kebenaran niat dan hasrat, kemudian atapnya dikokohkan dengan amal shaleh dan keistiqamahan di dalamnya. Ia juga bagaikan pohon yang penuh kebaikan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, akarnya menghujam kokoh di dasar keikhlasan, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Mungkin ia akan diterpa angin kencang, tapi ia tidak tumbang. Mungkin ia condong ke kiri dan kanan, tapi ia tidak patah, karena apa yang ada dalam batinnya lebih kuat daripada apa yang ada di tampilan luarnya. Untuk keteguhan inilah doa-doa dari Nabi terus terucap dari orang-orang yang teguh. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca doa: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi). Ini bukan karena keimanan itu sendiri dapat rusak, tapi karena hati merupakan wadah yang dapat terpapar guncangan setiap saat. Jalan terang benderang di dunia yang penuh gejolak Mungkin negara-negara berubah, roda politik berputar, orang-orang di sekitar kita berubah, hati saling berpaling, dan dunia kehilangan beberapa warnanya yang dulu begitu nyaman dan menenteramkan, tapi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berubah: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah  ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153). Di setiap zaman, orang beriman mengetahui bahwa di hadapannya hanya ada jalan yang sama, jalan penghambaan, jalan ketaatan, jalan keistiqamahan. Semua yang berubah hanya keadaan di sekitarnya, sedangkan jalan kebenaran tetap jelas, jernih, dan kokoh, ditapaki oleh para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Betapa indah ungkapan, “Dunia bergejolak, hati bergetar, dan fitnah-fitnah berjejalan, tapi orang yang telah mengenal arah langkahnya tidak akan terhempas oleh badai.”  Orang yang punya arah yang pasti dan keyakinan yang teguh terhadap Tuhannya tidak akan terpengaruh oleh gejolak yang dialami orang-orang di atas jalan mereka. Orang yang terombang-ambing hanyalah orang yang kehilangan arah, bukan orang yang diteguhkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas jalan yang lurus. Bagaimana orang beriman dapat menjaga keteguhannya? Keteguhan bukan hadiah cuma-cuma yang diberikan kepada semua orang tanpa usaha, bukan juga kekuatan rohani yang turun kepada seseorang begitu saja, tapi ia punya sebab-sebabnya, apabila seorang hamba menjalankan sebab-sebab itu, niscaya akan kuat tekadnya dan akan damai hatinya. Di antara sebab-sebab yang paling pentingnya adalah: 1. Berteman dengan Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara bertahap.” (QS. Al-Furqan: 32). Al-Qur’an merupakan ruh yang meredam guncangan hati dan cahaya yang menyingkap gelapnya ombang-ambing pikiran. Siapa yang senantiasa membaca dan menadaburinya, mencermati setiap ayat-ayat janji baik dan ancaman yang ada di dalamnya, niscaya ia mengetahui bahwa dunia dan guncangannya amat kecil untuk menggoyahkan hati yang disinari oleh Kitabullah. 2. Senantiasa mendirikan shalat dan berzikir Tidak ada hal yang lebih meneguhkan hati daripada berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada setiap sujud, beban akan dihempaskan. Pada setiap zikir, luka akan disembuhkan. Dan pada setiap munajat, jalan gelap akan tersinari. Salat bukanlah kebiasaan harian, tapi pengaturan ulang yang merapikan kembali jiwa seorang mukmin, mengembalikan keseimbangannya setiap kali ia merasa kacau. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Bilal Radhiyallahu ‘anhu: “Mari tegakkan salat! Damaikanlah kami dengannya!” (HR. Abu Dawud). 3. Berteman dengan orang-orang shaleh Pertemanan yang baik bagaikan pagar rahmat yang mengelilingi hati. Pertemanan itu akan menguatkannya kala ia melemah, menyemangatinya kala ia jenuh, meluruskannya kala ia berbelok, dan mengingatkannya kala ia mulai lupa. Dan ruh-ruh satu sama lain bagaikan tentara yang telah dikelompokkan, sehingga yang telah saling mengenal akan saling menyatu. 4. Menjauhi sumber-sumber gejolak Ada sebagian orang yang justru membawa gejolak dunia ini ke dalam hatinya, karena ia membuka setiap celahnya, menyerahkan kedua telinganya untuk mendengarkan segala berita, membuka kedua matanya untuk berbagai perdebatan, memberikan akalnya kepada semua analisa, dan menyerahkan hatinya kepada ketakutan. Siapa yang ingin keteguhan hati, hendaklah ia menutup fitnah sejak dari pintunya, agar yang masuk ke dalam hatinya adalah hal yang menguatkan, alih-alih perkara yang menambah ketakutan dan kegundahan. 5. Banyak berdoa Keteguhan bukan semata-mata usaha manusia saja, tapi ia merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia limpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, dulu para Salaf senantiasa menengadahkan kedua tangan mereka dengan doa: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَيَقِينًا لَا يَنْقُصُ، وَثَبَاتًا لَا يَزُولُ “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keimanan yang tidak akan goyah, keyakinan yang tidak akan berkurang, dan keteguhan yang tidak akan sirna.”  Keteguhan iman adalah keindahan yang terlihat pada momen-momennya Orang yang teguh bukanlah orang yang sekedar membahas tentang keteguhan, tapi orang yang tetap teguh ketika semua orang telah tumbang. Dialah orang yang tetap tersenyum di hadapan ujian, karena ia mengenal siapa yang memberi ujian. Orang yang terus gigih di depan berbagai fitnah, karena ia mengetahui ujung dari jalan itu. Orang yang sabar dalam ketaatan, karena ia melihat dengan cahaya hatinya apa yang tidak dilihat oleh orang-orang yang enggan bersabar. Mungkin manusia memandang orang yang teguh itu hanya diam, tapi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah suara keyakinan yang menggelegar. Mungkin juga mereka melihatnya menyendiri, tapi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah menyendiri bersama kebenaran. Dan mungkin mereka melihat ia orang yang keras kepala, tapi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah hati yang lembut tapi tidak tergoyahkan. Penutup  Di dunia yang terus bergejolak bagai lautan, orang beriman tidak memiliki pilihan untuk goyah, tapi yang ia miliki hanya satu pilihan: yaitu untuk terus berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala sebaik-baiknya, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan langit, bukan dengan bumi, dan mengetahui bahwa keteguhan bukan terus menjadi dirinya, tapi terus mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun dunia di sekitarnya telah berubah. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/245983/الثبات-الإيماني-في-عالم-مضطرب Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 338 times, 1 visit(s) today Post Views: 99

Umat “Iqra” tapi Enggan Membaca

Oleh: Muhammad bin Muhammad al-Asthal Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan. Dialah yang telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Saya haturkan shalawat dan salam kepada sang guru bagi umat manusia, Nabi kita, Muhammad. Semoga shalawat dan salam kesejahteraan selalu terlimpah kepada beliau dan setiap orang beriman yang bershalawat kepada beliau.  Amma ba’du: Bukan menjadi hal yang asing lagi bagi setiap orang yang memiliki hati yang hidup bahwa mengagungkan kedudukan ilmu merupakan ciri bagi seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihnya di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim dalam ucapannya: “Kebahagiaan jiwa dan rohani yang hakiki adalah kebahagiaan dengan ilmu, karena inilah kebahagiaan yang kekal meski keadaan yang silih berganti, baik itu di alam dunia, alam barzakh, maupun alam akhirat. Dengan kebahagiaan ini, seseorang dapat menaiki tangga-tangga keutamaan dan derajat-derajat kesempurnaan. Kalaulah bukan karena mayoritas manusia tidak mengetahui manisnya kenikmatan ini dan agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menghunuskan pedang untuk memperebutkannya. Namun, ia dirintangi dengan tabir hal-hal yang tidak menyenangkan, dan dibentengi dengan pagar-pagar kebodohan, sehingga dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan kebahagiaan ilmu ini bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Allahlah pemilik karunia yang agung.” Sudah menjadi hal yang diketahui oleh orang-orang berilmu bahwa asas-asas agama —terlebih lagi perkara-perkara turunannya— seperti dakwah, jihad, perencanaan, pengelolaan negara yang aktif, pembentukan keimanan, dan pengadaan kebahagiaan jiwa, semua ini terbangun di atas pondasi “Iqra”. Oleh sebab itulah, ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an adalah: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Setelah ini, Abu Hurairah telah sampai pada kesimpulan mendalam yang beliau tuangkan dalam ucapannya: “Sungguh mendalami agama beberapa saat lebih aku sukai daripada menghidupkan malam dengan shalat hingga subuh, dan orang yang paham agama lebih berat bagi setan (untuk disesatkan) daripada seribu ahli ibadah.” Bukan sesuatu yang mengherankan jika ilmu lebih utama daripada jihad, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyebut ilmu sebagai jihad besar, dan menyebut hujjah ilmiah dalam Al-Qur’an sebagai kekuasaan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ “Ataukah kamu mempunyai bukti (kekuasaan) yang nyata?” (QS. Ash-Shaffat: 156). Hal ini karena pedang hanya dapat menawan raga, tapi ilmu dapat menawan pikiran dan hati, sedangkan raga akan mengikuti hati. Oleh sebab itu, Sufyan bin Uyainah berkata: “Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah manusia yang ada di antara Allah dan para hamba-Nya, dan mereka adalah para rasul dan ulama.” Ibnu Mas’ud telah mengerti makna hal ini, seperti yang beliau ucapkan: “Kalian harus mencari ilmu sebelum ia diangkat, dan ia diangkat dengan wafatnya para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai syuhada menginginkan agar dihidupkan lagi sebagai ulama, karena mereka telah mengetahui kemuliaan para ulama. Sungguh setiap kalian tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, tapi ilmu harus didapatkan dengan belajar.” Ada nasihat yang selalu kami sampaikan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para generasi muda yang saleh dan sedang berjuang di negeri muslim, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai medan jihad dengan api dan senjata, bahwa siapa saja dari mereka yang diberi bakat untuk mencari ilmu, agar memanfaatkan bakat itu untuk terus menambah ilmu agamanya dan mendalami cabang-cabangnya, apalagi asas-asasnya, agar dia dapat memberi pengaruh positif di tengah-tengah komunitasnya, sehingga dia menjadi seperti hujan, di manapun ia turun, dapat memberi manfaat. Jangan lupa juga untuk tetap punya peran dalam melawan orang-orang kafir dengan pedang, agar mendapat bagian dalam setiap ganimah. Adapun orang yang amalan jihad baginya lebih utama, karena tidak mampu untuk belajar, maka hendaklah ia tidak lemah dalam mempelajari kadar minimal ilmu, yang dengan ilmu itu ia dapat menjalankan urusan agama dan dunianya dengan baik. Terdapat banyak rintangan yang menghalangi seseorang untuk mencapai tingkat keilmuan yang diharapkan, dan salah satu yang paling penting adalah kurangnya keikhlasan. Siapa yang mencari ilmu demi mendapat kedudukan duniawi atau kemaslahatan pribadi —baik itu berupa materi atau nonmateri— maka ia telah terhalang dengan pandangan berkabut yang mengganggu kejernihan pandangan dalam hatinya. Hal ini karena, “Siapa saja yang mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat (pamer) dengan orang-orang bodoh, atau agar manusia memalingkan wajah (perhatian) kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam.” (Hadis dishahihkan  oleh Al-Albani). Apabila kamu tidak ikhlas, maka tidak perlu berlelah-lelah dalam belajar. Jangan terlena dengan bagusnya pandangan orang lain terhadapmu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya telah menampakkan kepada orang lain kebaikan-kebaikanmu yang sedikit, dan menyembunyikan dari mereka keburukan-keburukanmu yang banyak sekali. Sehingga keutamaan sebenarnya adalah milik Dzat yang telah memberimu karunia dan menutupi aibmu, alih-alih milik orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu. Ketika ada orang yang memujimu, hendaklah kamu justru lebih berintrospeksi diri, karena suatu kebodohan jika kamu membiarkan aib yang meyakinkan dalam dirimu hanya karena orang lain menyangka kamu baik. “Dan sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. An-Najm: 28). Adapun pujian yang kamu dengan dari orang lain, itu adalah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, agar amalanmu dapat mengungguli reputasimu di hadapan orang lain, karena patokan keikhlasan ketika itu adalah amalan rahasiamu semasa hidup lebih banyak daripada amalanmu yang terang-terangan. Dan kamu punya sebaik-baik teladan dari generasi Salaf dalam hal ini. Jadilah seperti Sufyan Ats-Tsauri yang berkata: “Saya tidak memperhitungkan amalanku yang terlihat orang lain.” Kemudian kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami tercinta untuk berpegang erat pada perintah Tuhan “Iqra” (Bacalah!), dan harus ada sosok teladan untuk kita ikuti dalam perjalanan menuntut ilmu, atau teman yang dengannya kamu saling mendukung, agar kamu terhindar dari semangat yang meredup, sehingga kita dapat menghapus kebodohan dari diri kita.  Andai seorang pemuda membaca buku Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq dalam ilmu fikih, Syarh Lum’ah al-I’tiqad karya Ibnu Utsaimin dalam ilmu akidah, Riyadush Shalihin karya An-Nawawi —dan alangkah baiknya jika disertai dengan buku penjelasannya karya Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin—, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah dalam ilmu tarikh (sejarah), Tafsir As-Sa’di atau Tafsir Al-Jalalain dalam ilmu tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Masyariq Al-Asywaq fi Fadhail Al-Jihad karya Ibnu An-Nahhas, dan tentang Pemikiran Islam ada buku-buku Fikih Prioritas dan politik Islam, buku-buku Syaikh Khalid Abu Syadi dalam ilmu tazkiyatun nafs, dan buku-buku Ibnu Al-Qayyim bagi orang yang semangatnya biasa saja, serta buku-buku dasar dan buku-buku besar bagi orang yang semangatnya tinggi, dan buku-buku ini dapat ditanyakan kepada para ulama di negaramu. Seandainya ini dapat terwujud, tentu menjadi kebaikan yang besar, karena ilmu itu jika kamu kerahkan sepenuh dirimu untuknya, ia hanya akan memberikan sebagian dirinya kepadamu, dan jika kamu kerahkan sebagian dirimu untuknya,  ia tidak akan memberikan apapun untukmu. Apa yang kami sebutkan ini tidak mungkin dapat terwujud hanya dengan berbaring di bawah selimut atau melalui hibernasi panjang, karena ilmu tidak dapat diraih dengan kenyamanan raga. Imam Al-Jauzi telah berkata kepadamu: “Andai aku katakan kepada kalian bahwa aku telah membaca 20 ribu jilid buku, tentu sebenarnya lebih banyak dari itu. Hal ini karena kamu tidak akan meraih kejayaan hingga mencicipi pahitnya kesabaran.” Teruntuk setiap orang yang enggan membaca hingga akalnya berkarat tanpa ia sadari, dan bisa jadi kebodohan telah menguasai relung hatinya, inilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu:  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Teruntuk setiap orang yang berwawasan serba tanggung, yang telah mempelajari sebagian dari ilmu pengetahuan, tapi masih banyak yang belum ia pelajari, ini juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan untukmu: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Orang yang membinasakan diri dalam kelalaian dan menghabiskan kejayaan masa mudanya dengan hal-hal mubah tanpa makna, orang yang menit demi menit dan jam demi jamnya berlalu tanpa membaca satu ayat dengan tafsirnya, hadis dengan penjelasannya, masalah fikih yang ia butuhkan untuk keabsahan ibadahnya, atau buku bermanfaat yang menambah pundi-pundi ilmu dan pemahamannya, kami katakan kepadanya: Selamatkanlah dirimu selagi sempat, karena suatu keburukan jika kamu mati tapi jarak antara dirimu dengan ilmu sejauh timur dan barat. Mungkin kamu tidak bisa meraih nilai tinggi di universitas atau pendidikan formal, tapi kamu tetap harus tahu bahwa ilmu adalah cahaya dan kehidupan itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ “Sungguh telah datang kepadamu dari Allah suatu cahaya dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Maidah: 15). Adapun orang-orang yang menempuh jalan kebodohan, maka mereka bagaikan binatang ternak, atau bahkan lebih sesat daripada itu. Kita memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh. Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita bermanfaat dengan apa yang telah diajarkan kepada kita, serta menambah ilmu kita; sungguh Dia Maha Kuasa atas segalanya.  Sekian. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi terpilih kita, Nabi Muhammad. Dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/culture/0/9564/أمة-اقرأ-لا-تقرأ/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 1,248 times, 1 visit(s) today Post Views: 113

Umat “Iqra” tapi Enggan Membaca

Oleh: Muhammad bin Muhammad al-Asthal Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan. Dialah yang telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Saya haturkan shalawat dan salam kepada sang guru bagi umat manusia, Nabi kita, Muhammad. Semoga shalawat dan salam kesejahteraan selalu terlimpah kepada beliau dan setiap orang beriman yang bershalawat kepada beliau.  Amma ba’du: Bukan menjadi hal yang asing lagi bagi setiap orang yang memiliki hati yang hidup bahwa mengagungkan kedudukan ilmu merupakan ciri bagi seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihnya di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim dalam ucapannya: “Kebahagiaan jiwa dan rohani yang hakiki adalah kebahagiaan dengan ilmu, karena inilah kebahagiaan yang kekal meski keadaan yang silih berganti, baik itu di alam dunia, alam barzakh, maupun alam akhirat. Dengan kebahagiaan ini, seseorang dapat menaiki tangga-tangga keutamaan dan derajat-derajat kesempurnaan. Kalaulah bukan karena mayoritas manusia tidak mengetahui manisnya kenikmatan ini dan agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menghunuskan pedang untuk memperebutkannya. Namun, ia dirintangi dengan tabir hal-hal yang tidak menyenangkan, dan dibentengi dengan pagar-pagar kebodohan, sehingga dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan kebahagiaan ilmu ini bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Allahlah pemilik karunia yang agung.” Sudah menjadi hal yang diketahui oleh orang-orang berilmu bahwa asas-asas agama —terlebih lagi perkara-perkara turunannya— seperti dakwah, jihad, perencanaan, pengelolaan negara yang aktif, pembentukan keimanan, dan pengadaan kebahagiaan jiwa, semua ini terbangun di atas pondasi “Iqra”. Oleh sebab itulah, ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an adalah: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Setelah ini, Abu Hurairah telah sampai pada kesimpulan mendalam yang beliau tuangkan dalam ucapannya: “Sungguh mendalami agama beberapa saat lebih aku sukai daripada menghidupkan malam dengan shalat hingga subuh, dan orang yang paham agama lebih berat bagi setan (untuk disesatkan) daripada seribu ahli ibadah.” Bukan sesuatu yang mengherankan jika ilmu lebih utama daripada jihad, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyebut ilmu sebagai jihad besar, dan menyebut hujjah ilmiah dalam Al-Qur’an sebagai kekuasaan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ “Ataukah kamu mempunyai bukti (kekuasaan) yang nyata?” (QS. Ash-Shaffat: 156). Hal ini karena pedang hanya dapat menawan raga, tapi ilmu dapat menawan pikiran dan hati, sedangkan raga akan mengikuti hati. Oleh sebab itu, Sufyan bin Uyainah berkata: “Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah manusia yang ada di antara Allah dan para hamba-Nya, dan mereka adalah para rasul dan ulama.” Ibnu Mas’ud telah mengerti makna hal ini, seperti yang beliau ucapkan: “Kalian harus mencari ilmu sebelum ia diangkat, dan ia diangkat dengan wafatnya para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai syuhada menginginkan agar dihidupkan lagi sebagai ulama, karena mereka telah mengetahui kemuliaan para ulama. Sungguh setiap kalian tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, tapi ilmu harus didapatkan dengan belajar.” Ada nasihat yang selalu kami sampaikan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para generasi muda yang saleh dan sedang berjuang di negeri muslim, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai medan jihad dengan api dan senjata, bahwa siapa saja dari mereka yang diberi bakat untuk mencari ilmu, agar memanfaatkan bakat itu untuk terus menambah ilmu agamanya dan mendalami cabang-cabangnya, apalagi asas-asasnya, agar dia dapat memberi pengaruh positif di tengah-tengah komunitasnya, sehingga dia menjadi seperti hujan, di manapun ia turun, dapat memberi manfaat. Jangan lupa juga untuk tetap punya peran dalam melawan orang-orang kafir dengan pedang, agar mendapat bagian dalam setiap ganimah. Adapun orang yang amalan jihad baginya lebih utama, karena tidak mampu untuk belajar, maka hendaklah ia tidak lemah dalam mempelajari kadar minimal ilmu, yang dengan ilmu itu ia dapat menjalankan urusan agama dan dunianya dengan baik. Terdapat banyak rintangan yang menghalangi seseorang untuk mencapai tingkat keilmuan yang diharapkan, dan salah satu yang paling penting adalah kurangnya keikhlasan. Siapa yang mencari ilmu demi mendapat kedudukan duniawi atau kemaslahatan pribadi —baik itu berupa materi atau nonmateri— maka ia telah terhalang dengan pandangan berkabut yang mengganggu kejernihan pandangan dalam hatinya. Hal ini karena, “Siapa saja yang mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat (pamer) dengan orang-orang bodoh, atau agar manusia memalingkan wajah (perhatian) kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam.” (Hadis dishahihkan  oleh Al-Albani). Apabila kamu tidak ikhlas, maka tidak perlu berlelah-lelah dalam belajar. Jangan terlena dengan bagusnya pandangan orang lain terhadapmu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya telah menampakkan kepada orang lain kebaikan-kebaikanmu yang sedikit, dan menyembunyikan dari mereka keburukan-keburukanmu yang banyak sekali. Sehingga keutamaan sebenarnya adalah milik Dzat yang telah memberimu karunia dan menutupi aibmu, alih-alih milik orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu. Ketika ada orang yang memujimu, hendaklah kamu justru lebih berintrospeksi diri, karena suatu kebodohan jika kamu membiarkan aib yang meyakinkan dalam dirimu hanya karena orang lain menyangka kamu baik. “Dan sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. An-Najm: 28). Adapun pujian yang kamu dengan dari orang lain, itu adalah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, agar amalanmu dapat mengungguli reputasimu di hadapan orang lain, karena patokan keikhlasan ketika itu adalah amalan rahasiamu semasa hidup lebih banyak daripada amalanmu yang terang-terangan. Dan kamu punya sebaik-baik teladan dari generasi Salaf dalam hal ini. Jadilah seperti Sufyan Ats-Tsauri yang berkata: “Saya tidak memperhitungkan amalanku yang terlihat orang lain.” Kemudian kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami tercinta untuk berpegang erat pada perintah Tuhan “Iqra” (Bacalah!), dan harus ada sosok teladan untuk kita ikuti dalam perjalanan menuntut ilmu, atau teman yang dengannya kamu saling mendukung, agar kamu terhindar dari semangat yang meredup, sehingga kita dapat menghapus kebodohan dari diri kita.  Andai seorang pemuda membaca buku Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq dalam ilmu fikih, Syarh Lum’ah al-I’tiqad karya Ibnu Utsaimin dalam ilmu akidah, Riyadush Shalihin karya An-Nawawi —dan alangkah baiknya jika disertai dengan buku penjelasannya karya Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin—, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah dalam ilmu tarikh (sejarah), Tafsir As-Sa’di atau Tafsir Al-Jalalain dalam ilmu tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Masyariq Al-Asywaq fi Fadhail Al-Jihad karya Ibnu An-Nahhas, dan tentang Pemikiran Islam ada buku-buku Fikih Prioritas dan politik Islam, buku-buku Syaikh Khalid Abu Syadi dalam ilmu tazkiyatun nafs, dan buku-buku Ibnu Al-Qayyim bagi orang yang semangatnya biasa saja, serta buku-buku dasar dan buku-buku besar bagi orang yang semangatnya tinggi, dan buku-buku ini dapat ditanyakan kepada para ulama di negaramu. Seandainya ini dapat terwujud, tentu menjadi kebaikan yang besar, karena ilmu itu jika kamu kerahkan sepenuh dirimu untuknya, ia hanya akan memberikan sebagian dirinya kepadamu, dan jika kamu kerahkan sebagian dirimu untuknya,  ia tidak akan memberikan apapun untukmu. Apa yang kami sebutkan ini tidak mungkin dapat terwujud hanya dengan berbaring di bawah selimut atau melalui hibernasi panjang, karena ilmu tidak dapat diraih dengan kenyamanan raga. Imam Al-Jauzi telah berkata kepadamu: “Andai aku katakan kepada kalian bahwa aku telah membaca 20 ribu jilid buku, tentu sebenarnya lebih banyak dari itu. Hal ini karena kamu tidak akan meraih kejayaan hingga mencicipi pahitnya kesabaran.” Teruntuk setiap orang yang enggan membaca hingga akalnya berkarat tanpa ia sadari, dan bisa jadi kebodohan telah menguasai relung hatinya, inilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu:  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Teruntuk setiap orang yang berwawasan serba tanggung, yang telah mempelajari sebagian dari ilmu pengetahuan, tapi masih banyak yang belum ia pelajari, ini juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan untukmu: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Orang yang membinasakan diri dalam kelalaian dan menghabiskan kejayaan masa mudanya dengan hal-hal mubah tanpa makna, orang yang menit demi menit dan jam demi jamnya berlalu tanpa membaca satu ayat dengan tafsirnya, hadis dengan penjelasannya, masalah fikih yang ia butuhkan untuk keabsahan ibadahnya, atau buku bermanfaat yang menambah pundi-pundi ilmu dan pemahamannya, kami katakan kepadanya: Selamatkanlah dirimu selagi sempat, karena suatu keburukan jika kamu mati tapi jarak antara dirimu dengan ilmu sejauh timur dan barat. Mungkin kamu tidak bisa meraih nilai tinggi di universitas atau pendidikan formal, tapi kamu tetap harus tahu bahwa ilmu adalah cahaya dan kehidupan itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ “Sungguh telah datang kepadamu dari Allah suatu cahaya dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Maidah: 15). Adapun orang-orang yang menempuh jalan kebodohan, maka mereka bagaikan binatang ternak, atau bahkan lebih sesat daripada itu. Kita memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh. Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita bermanfaat dengan apa yang telah diajarkan kepada kita, serta menambah ilmu kita; sungguh Dia Maha Kuasa atas segalanya.  Sekian. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi terpilih kita, Nabi Muhammad. Dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/culture/0/9564/أمة-اقرأ-لا-تقرأ/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 1,248 times, 1 visit(s) today Post Views: 113
Oleh: Muhammad bin Muhammad al-Asthal Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan. Dialah yang telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Saya haturkan shalawat dan salam kepada sang guru bagi umat manusia, Nabi kita, Muhammad. Semoga shalawat dan salam kesejahteraan selalu terlimpah kepada beliau dan setiap orang beriman yang bershalawat kepada beliau.  Amma ba’du: Bukan menjadi hal yang asing lagi bagi setiap orang yang memiliki hati yang hidup bahwa mengagungkan kedudukan ilmu merupakan ciri bagi seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihnya di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim dalam ucapannya: “Kebahagiaan jiwa dan rohani yang hakiki adalah kebahagiaan dengan ilmu, karena inilah kebahagiaan yang kekal meski keadaan yang silih berganti, baik itu di alam dunia, alam barzakh, maupun alam akhirat. Dengan kebahagiaan ini, seseorang dapat menaiki tangga-tangga keutamaan dan derajat-derajat kesempurnaan. Kalaulah bukan karena mayoritas manusia tidak mengetahui manisnya kenikmatan ini dan agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menghunuskan pedang untuk memperebutkannya. Namun, ia dirintangi dengan tabir hal-hal yang tidak menyenangkan, dan dibentengi dengan pagar-pagar kebodohan, sehingga dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan kebahagiaan ilmu ini bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Allahlah pemilik karunia yang agung.” Sudah menjadi hal yang diketahui oleh orang-orang berilmu bahwa asas-asas agama —terlebih lagi perkara-perkara turunannya— seperti dakwah, jihad, perencanaan, pengelolaan negara yang aktif, pembentukan keimanan, dan pengadaan kebahagiaan jiwa, semua ini terbangun di atas pondasi “Iqra”. Oleh sebab itulah, ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an adalah: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Setelah ini, Abu Hurairah telah sampai pada kesimpulan mendalam yang beliau tuangkan dalam ucapannya: “Sungguh mendalami agama beberapa saat lebih aku sukai daripada menghidupkan malam dengan shalat hingga subuh, dan orang yang paham agama lebih berat bagi setan (untuk disesatkan) daripada seribu ahli ibadah.” Bukan sesuatu yang mengherankan jika ilmu lebih utama daripada jihad, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyebut ilmu sebagai jihad besar, dan menyebut hujjah ilmiah dalam Al-Qur’an sebagai kekuasaan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ “Ataukah kamu mempunyai bukti (kekuasaan) yang nyata?” (QS. Ash-Shaffat: 156). Hal ini karena pedang hanya dapat menawan raga, tapi ilmu dapat menawan pikiran dan hati, sedangkan raga akan mengikuti hati. Oleh sebab itu, Sufyan bin Uyainah berkata: “Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah manusia yang ada di antara Allah dan para hamba-Nya, dan mereka adalah para rasul dan ulama.” Ibnu Mas’ud telah mengerti makna hal ini, seperti yang beliau ucapkan: “Kalian harus mencari ilmu sebelum ia diangkat, dan ia diangkat dengan wafatnya para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai syuhada menginginkan agar dihidupkan lagi sebagai ulama, karena mereka telah mengetahui kemuliaan para ulama. Sungguh setiap kalian tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, tapi ilmu harus didapatkan dengan belajar.” Ada nasihat yang selalu kami sampaikan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para generasi muda yang saleh dan sedang berjuang di negeri muslim, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai medan jihad dengan api dan senjata, bahwa siapa saja dari mereka yang diberi bakat untuk mencari ilmu, agar memanfaatkan bakat itu untuk terus menambah ilmu agamanya dan mendalami cabang-cabangnya, apalagi asas-asasnya, agar dia dapat memberi pengaruh positif di tengah-tengah komunitasnya, sehingga dia menjadi seperti hujan, di manapun ia turun, dapat memberi manfaat. Jangan lupa juga untuk tetap punya peran dalam melawan orang-orang kafir dengan pedang, agar mendapat bagian dalam setiap ganimah. Adapun orang yang amalan jihad baginya lebih utama, karena tidak mampu untuk belajar, maka hendaklah ia tidak lemah dalam mempelajari kadar minimal ilmu, yang dengan ilmu itu ia dapat menjalankan urusan agama dan dunianya dengan baik. Terdapat banyak rintangan yang menghalangi seseorang untuk mencapai tingkat keilmuan yang diharapkan, dan salah satu yang paling penting adalah kurangnya keikhlasan. Siapa yang mencari ilmu demi mendapat kedudukan duniawi atau kemaslahatan pribadi —baik itu berupa materi atau nonmateri— maka ia telah terhalang dengan pandangan berkabut yang mengganggu kejernihan pandangan dalam hatinya. Hal ini karena, “Siapa saja yang mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat (pamer) dengan orang-orang bodoh, atau agar manusia memalingkan wajah (perhatian) kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam.” (Hadis dishahihkan  oleh Al-Albani). Apabila kamu tidak ikhlas, maka tidak perlu berlelah-lelah dalam belajar. Jangan terlena dengan bagusnya pandangan orang lain terhadapmu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya telah menampakkan kepada orang lain kebaikan-kebaikanmu yang sedikit, dan menyembunyikan dari mereka keburukan-keburukanmu yang banyak sekali. Sehingga keutamaan sebenarnya adalah milik Dzat yang telah memberimu karunia dan menutupi aibmu, alih-alih milik orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu. Ketika ada orang yang memujimu, hendaklah kamu justru lebih berintrospeksi diri, karena suatu kebodohan jika kamu membiarkan aib yang meyakinkan dalam dirimu hanya karena orang lain menyangka kamu baik. “Dan sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. An-Najm: 28). Adapun pujian yang kamu dengan dari orang lain, itu adalah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, agar amalanmu dapat mengungguli reputasimu di hadapan orang lain, karena patokan keikhlasan ketika itu adalah amalan rahasiamu semasa hidup lebih banyak daripada amalanmu yang terang-terangan. Dan kamu punya sebaik-baik teladan dari generasi Salaf dalam hal ini. Jadilah seperti Sufyan Ats-Tsauri yang berkata: “Saya tidak memperhitungkan amalanku yang terlihat orang lain.” Kemudian kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami tercinta untuk berpegang erat pada perintah Tuhan “Iqra” (Bacalah!), dan harus ada sosok teladan untuk kita ikuti dalam perjalanan menuntut ilmu, atau teman yang dengannya kamu saling mendukung, agar kamu terhindar dari semangat yang meredup, sehingga kita dapat menghapus kebodohan dari diri kita.  Andai seorang pemuda membaca buku Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq dalam ilmu fikih, Syarh Lum’ah al-I’tiqad karya Ibnu Utsaimin dalam ilmu akidah, Riyadush Shalihin karya An-Nawawi —dan alangkah baiknya jika disertai dengan buku penjelasannya karya Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin—, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah dalam ilmu tarikh (sejarah), Tafsir As-Sa’di atau Tafsir Al-Jalalain dalam ilmu tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Masyariq Al-Asywaq fi Fadhail Al-Jihad karya Ibnu An-Nahhas, dan tentang Pemikiran Islam ada buku-buku Fikih Prioritas dan politik Islam, buku-buku Syaikh Khalid Abu Syadi dalam ilmu tazkiyatun nafs, dan buku-buku Ibnu Al-Qayyim bagi orang yang semangatnya biasa saja, serta buku-buku dasar dan buku-buku besar bagi orang yang semangatnya tinggi, dan buku-buku ini dapat ditanyakan kepada para ulama di negaramu. Seandainya ini dapat terwujud, tentu menjadi kebaikan yang besar, karena ilmu itu jika kamu kerahkan sepenuh dirimu untuknya, ia hanya akan memberikan sebagian dirinya kepadamu, dan jika kamu kerahkan sebagian dirimu untuknya,  ia tidak akan memberikan apapun untukmu. Apa yang kami sebutkan ini tidak mungkin dapat terwujud hanya dengan berbaring di bawah selimut atau melalui hibernasi panjang, karena ilmu tidak dapat diraih dengan kenyamanan raga. Imam Al-Jauzi telah berkata kepadamu: “Andai aku katakan kepada kalian bahwa aku telah membaca 20 ribu jilid buku, tentu sebenarnya lebih banyak dari itu. Hal ini karena kamu tidak akan meraih kejayaan hingga mencicipi pahitnya kesabaran.” Teruntuk setiap orang yang enggan membaca hingga akalnya berkarat tanpa ia sadari, dan bisa jadi kebodohan telah menguasai relung hatinya, inilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu:  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Teruntuk setiap orang yang berwawasan serba tanggung, yang telah mempelajari sebagian dari ilmu pengetahuan, tapi masih banyak yang belum ia pelajari, ini juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan untukmu: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Orang yang membinasakan diri dalam kelalaian dan menghabiskan kejayaan masa mudanya dengan hal-hal mubah tanpa makna, orang yang menit demi menit dan jam demi jamnya berlalu tanpa membaca satu ayat dengan tafsirnya, hadis dengan penjelasannya, masalah fikih yang ia butuhkan untuk keabsahan ibadahnya, atau buku bermanfaat yang menambah pundi-pundi ilmu dan pemahamannya, kami katakan kepadanya: Selamatkanlah dirimu selagi sempat, karena suatu keburukan jika kamu mati tapi jarak antara dirimu dengan ilmu sejauh timur dan barat. Mungkin kamu tidak bisa meraih nilai tinggi di universitas atau pendidikan formal, tapi kamu tetap harus tahu bahwa ilmu adalah cahaya dan kehidupan itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ “Sungguh telah datang kepadamu dari Allah suatu cahaya dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Maidah: 15). Adapun orang-orang yang menempuh jalan kebodohan, maka mereka bagaikan binatang ternak, atau bahkan lebih sesat daripada itu. Kita memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh. Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita bermanfaat dengan apa yang telah diajarkan kepada kita, serta menambah ilmu kita; sungguh Dia Maha Kuasa atas segalanya.  Sekian. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi terpilih kita, Nabi Muhammad. Dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/culture/0/9564/أمة-اقرأ-لا-تقرأ/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 1,248 times, 1 visit(s) today Post Views: 113


Oleh: Muhammad bin Muhammad al-Asthal Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan. Dialah yang telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Saya haturkan shalawat dan salam kepada sang guru bagi umat manusia, Nabi kita, Muhammad. Semoga shalawat dan salam kesejahteraan selalu terlimpah kepada beliau dan setiap orang beriman yang bershalawat kepada beliau.  Amma ba’du: Bukan menjadi hal yang asing lagi bagi setiap orang yang memiliki hati yang hidup bahwa mengagungkan kedudukan ilmu merupakan ciri bagi seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilihnya di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Qayyim dalam ucapannya: “Kebahagiaan jiwa dan rohani yang hakiki adalah kebahagiaan dengan ilmu, karena inilah kebahagiaan yang kekal meski keadaan yang silih berganti, baik itu di alam dunia, alam barzakh, maupun alam akhirat. Dengan kebahagiaan ini, seseorang dapat menaiki tangga-tangga keutamaan dan derajat-derajat kesempurnaan. Kalaulah bukan karena mayoritas manusia tidak mengetahui manisnya kenikmatan ini dan agungnya kedudukannya, niscaya mereka akan saling menghunuskan pedang untuk memperebutkannya. Namun, ia dirintangi dengan tabir hal-hal yang tidak menyenangkan, dan dibentengi dengan pagar-pagar kebodohan, sehingga dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan kebahagiaan ilmu ini bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Allahlah pemilik karunia yang agung.” Sudah menjadi hal yang diketahui oleh orang-orang berilmu bahwa asas-asas agama —terlebih lagi perkara-perkara turunannya— seperti dakwah, jihad, perencanaan, pengelolaan negara yang aktif, pembentukan keimanan, dan pengadaan kebahagiaan jiwa, semua ini terbangun di atas pondasi “Iqra”. Oleh sebab itulah, ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an adalah: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Setelah ini, Abu Hurairah telah sampai pada kesimpulan mendalam yang beliau tuangkan dalam ucapannya: “Sungguh mendalami agama beberapa saat lebih aku sukai daripada menghidupkan malam dengan shalat hingga subuh, dan orang yang paham agama lebih berat bagi setan (untuk disesatkan) daripada seribu ahli ibadah.” Bukan sesuatu yang mengherankan jika ilmu lebih utama daripada jihad, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyebut ilmu sebagai jihad besar, dan menyebut hujjah ilmiah dalam Al-Qur’an sebagai kekuasaan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ “Ataukah kamu mempunyai bukti (kekuasaan) yang nyata?” (QS. Ash-Shaffat: 156). Hal ini karena pedang hanya dapat menawan raga, tapi ilmu dapat menawan pikiran dan hati, sedangkan raga akan mengikuti hati. Oleh sebab itu, Sufyan bin Uyainah berkata: “Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah manusia yang ada di antara Allah dan para hamba-Nya, dan mereka adalah para rasul dan ulama.” Ibnu Mas’ud telah mengerti makna hal ini, seperti yang beliau ucapkan: “Kalian harus mencari ilmu sebelum ia diangkat, dan ia diangkat dengan wafatnya para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai syuhada menginginkan agar dihidupkan lagi sebagai ulama, karena mereka telah mengetahui kemuliaan para ulama. Sungguh setiap kalian tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, tapi ilmu harus didapatkan dengan belajar.” Ada nasihat yang selalu kami sampaikan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para generasi muda yang saleh dan sedang berjuang di negeri muslim, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai medan jihad dengan api dan senjata, bahwa siapa saja dari mereka yang diberi bakat untuk mencari ilmu, agar memanfaatkan bakat itu untuk terus menambah ilmu agamanya dan mendalami cabang-cabangnya, apalagi asas-asasnya, agar dia dapat memberi pengaruh positif di tengah-tengah komunitasnya, sehingga dia menjadi seperti hujan, di manapun ia turun, dapat memberi manfaat. Jangan lupa juga untuk tetap punya peran dalam melawan orang-orang kafir dengan pedang, agar mendapat bagian dalam setiap ganimah. Adapun orang yang amalan jihad baginya lebih utama, karena tidak mampu untuk belajar, maka hendaklah ia tidak lemah dalam mempelajari kadar minimal ilmu, yang dengan ilmu itu ia dapat menjalankan urusan agama dan dunianya dengan baik. Terdapat banyak rintangan yang menghalangi seseorang untuk mencapai tingkat keilmuan yang diharapkan, dan salah satu yang paling penting adalah kurangnya keikhlasan. Siapa yang mencari ilmu demi mendapat kedudukan duniawi atau kemaslahatan pribadi —baik itu berupa materi atau nonmateri— maka ia telah terhalang dengan pandangan berkabut yang mengganggu kejernihan pandangan dalam hatinya. Hal ini karena, “Siapa saja yang mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat (pamer) dengan orang-orang bodoh, atau agar manusia memalingkan wajah (perhatian) kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam Jahannam.” (Hadis dishahihkan  oleh Al-Albani). Apabila kamu tidak ikhlas, maka tidak perlu berlelah-lelah dalam belajar. Jangan terlena dengan bagusnya pandangan orang lain terhadapmu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya telah menampakkan kepada orang lain kebaikan-kebaikanmu yang sedikit, dan menyembunyikan dari mereka keburukan-keburukanmu yang banyak sekali. Sehingga keutamaan sebenarnya adalah milik Dzat yang telah memberimu karunia dan menutupi aibmu, alih-alih milik orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu. Ketika ada orang yang memujimu, hendaklah kamu justru lebih berintrospeksi diri, karena suatu kebodohan jika kamu membiarkan aib yang meyakinkan dalam dirimu hanya karena orang lain menyangka kamu baik. “Dan sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. An-Najm: 28). Adapun pujian yang kamu dengan dari orang lain, itu adalah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, agar amalanmu dapat mengungguli reputasimu di hadapan orang lain, karena patokan keikhlasan ketika itu adalah amalan rahasiamu semasa hidup lebih banyak daripada amalanmu yang terang-terangan. Dan kamu punya sebaik-baik teladan dari generasi Salaf dalam hal ini. Jadilah seperti Sufyan Ats-Tsauri yang berkata: “Saya tidak memperhitungkan amalanku yang terlihat orang lain.” Kemudian kami nasihatkan kepada saudara-saudara kami tercinta untuk berpegang erat pada perintah Tuhan “Iqra” (Bacalah!), dan harus ada sosok teladan untuk kita ikuti dalam perjalanan menuntut ilmu, atau teman yang dengannya kamu saling mendukung, agar kamu terhindar dari semangat yang meredup, sehingga kita dapat menghapus kebodohan dari diri kita.  Andai seorang pemuda membaca buku Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq dalam ilmu fikih, Syarh Lum’ah al-I’tiqad karya Ibnu Utsaimin dalam ilmu akidah, Riyadush Shalihin karya An-Nawawi —dan alangkah baiknya jika disertai dengan buku penjelasannya karya Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin—, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah dalam ilmu tarikh (sejarah), Tafsir As-Sa’di atau Tafsir Al-Jalalain dalam ilmu tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Masyariq Al-Asywaq fi Fadhail Al-Jihad karya Ibnu An-Nahhas, dan tentang Pemikiran Islam ada buku-buku Fikih Prioritas dan politik Islam, buku-buku Syaikh Khalid Abu Syadi dalam ilmu tazkiyatun nafs, dan buku-buku Ibnu Al-Qayyim bagi orang yang semangatnya biasa saja, serta buku-buku dasar dan buku-buku besar bagi orang yang semangatnya tinggi, dan buku-buku ini dapat ditanyakan kepada para ulama di negaramu. Seandainya ini dapat terwujud, tentu menjadi kebaikan yang besar, karena ilmu itu jika kamu kerahkan sepenuh dirimu untuknya, ia hanya akan memberikan sebagian dirinya kepadamu, dan jika kamu kerahkan sebagian dirimu untuknya,  ia tidak akan memberikan apapun untukmu. Apa yang kami sebutkan ini tidak mungkin dapat terwujud hanya dengan berbaring di bawah selimut atau melalui hibernasi panjang, karena ilmu tidak dapat diraih dengan kenyamanan raga. Imam Al-Jauzi telah berkata kepadamu: “Andai aku katakan kepada kalian bahwa aku telah membaca 20 ribu jilid buku, tentu sebenarnya lebih banyak dari itu. Hal ini karena kamu tidak akan meraih kejayaan hingga mencicipi pahitnya kesabaran.” Teruntuk setiap orang yang enggan membaca hingga akalnya berkarat tanpa ia sadari, dan bisa jadi kebodohan telah menguasai relung hatinya, inilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu:  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Teruntuk setiap orang yang berwawasan serba tanggung, yang telah mempelajari sebagian dari ilmu pengetahuan, tapi masih banyak yang belum ia pelajari, ini juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan untukmu: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu.”  Orang yang membinasakan diri dalam kelalaian dan menghabiskan kejayaan masa mudanya dengan hal-hal mubah tanpa makna, orang yang menit demi menit dan jam demi jamnya berlalu tanpa membaca satu ayat dengan tafsirnya, hadis dengan penjelasannya, masalah fikih yang ia butuhkan untuk keabsahan ibadahnya, atau buku bermanfaat yang menambah pundi-pundi ilmu dan pemahamannya, kami katakan kepadanya: Selamatkanlah dirimu selagi sempat, karena suatu keburukan jika kamu mati tapi jarak antara dirimu dengan ilmu sejauh timur dan barat. Mungkin kamu tidak bisa meraih nilai tinggi di universitas atau pendidikan formal, tapi kamu tetap harus tahu bahwa ilmu adalah cahaya dan kehidupan itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ “Sungguh telah datang kepadamu dari Allah suatu cahaya dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Maidah: 15). Adapun orang-orang yang menempuh jalan kebodohan, maka mereka bagaikan binatang ternak, atau bahkan lebih sesat daripada itu. Kita memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh. Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjadikan kita bermanfaat dengan apa yang telah diajarkan kepada kita, serta menambah ilmu kita; sungguh Dia Maha Kuasa atas segalanya.  Sekian. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi terpilih kita, Nabi Muhammad. Dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Sumber: https://www.alukah.net/culture/0/9564/أمة-اقرأ-لا-تقرأ/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 1,248 times, 1 visit(s) today Post Views: 113

Wahai Jiwa, Jangan Kembali Kepada Kehinaan Maksiat!

Daftar Isi ToggleRendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanBertobat kepada Allah itu mudahBerhenti maksiat seketika sadarAnalogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanJiwa kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat hasrat melawannya terus terasah. Tugas kita adalah terus menjinakkannya agar senantiasa mengikuti arah menuju kebaikan. Namun, hewan yang telah menikmati bebasnya alam liar itu senantiasa memiliki hasrat untuk melawan. Oleh karena itu, di tengah hasrat menggeliat, inilah tugas utama untuk menjaga jiwa berada di halaman kebaikan.Bila jiwa sudah terbiasa dengan manisnya iman dan kebaikan, ini adalah kebahagiaan di atas kebahagiaan. Namun, sungguh jiwa yang sudah terbiasa dengan kebaikan, lalu berbalik arah menjadi liar dengan kemaksiatan, maka ini adalah kehinaan yang teramat. Simaklah uraian para ulama, di antaranya Ibnu Rajab rahimahullah, yang mengingatkan kita semua tentang hinanya kembali kepada kemaksiatan. Dalam Lathaiful Maarif (hal. 399), beliau memberi pesan,وما أقبَحَ السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوهاBetapa buruknya keburukan yang dilakukan setelah perbuatan kebaikan! Sungguh keburukan itu akan menghapus dan membinasakannya!ذنبٌ واحِدٌ بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَهاSatu dosa yang dilakukan setelah bertobat itu lebih buruk dari tujuh puluh dosa yang dilakukan sebelumnya.النكسة أصعب من المرض، وربما أهلَكَتْKambuhnya suatu penyakit itu jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan terkena sakit pertama kali. Demikian pula ia seringkali berujung kecelakaan–kematian.سلوا الله الثبات على الطَّاعاتِ إلى الممات، وتعوَّذُوا به من تقلُّب القلوب، ومِنَ الحَوْر بعد الكَوْرِMintalah kepada Allah ﷻ ketetapan hati di atas ketaatan sampai wafat. Dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari berbaliknya hati, serta kemunduran pasca kemajuan yang dilakukan.Rendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanIbnu Rajab rahimahullah memberikan wasiat,ما أوحشَ ذلّ المعصيةِ بَعْدَ عزِّ الطاعة، وأفحشَ فقر الطمع بعد غنى القناعة“Betapa menyedihkannya tergelincirnya kepada kemaksiatan setelah mencapai kemuliaan ketaatan. Dan betapa hinanya kefakiran berbuat tamak setelah kekayaan bersifat qanaah.ارحموا عزيز قوم بالمعاصي ذَلَّ، وغنِيَّ قومٍ بالذُّنوب افتقرKasihanilah orang yang dahulunya mulia, tetapi kemudian menjadi rendah karena tergelincir maksiat. Dan kasihanilah orang yang dahulunya kaya, tetapi kini menjadi miskin karena dosanya.”Ibnu Rajab rahimahullah ingin mengajak kita merenungi hinanya orang yang dulunya mulia karena amal kebajikan dan kekayaan akan ganjaran amalnya, lalu terjerembab ke jurang rendah maksiat dan dosa. Terhadap sosok yang demikian, hendaknya kita merasa kasihan. Rasa kasihan ini dapat kita tujukan kepada sosok yang tenggelam dalam kemaksiatan, baik sosok itu orang lain maupun diri kita sendiri.Kepada orang lain, janganlah kita biarkan ia tenggelam kembali dalam kehinaan, selamatkan dan jangan tertawakan mereka. Ulurkanlah tangan kepada mereka dengan rahmat dan kasih sayang. Semoga secercah iman di hatinya dapat mendorongnya untuk kembali kepada kemuliaan.Sedangkan jika sosok itu adalah diri kita sendiri, maka kasihanilah dengan berhenti membuat diri kita terus tenggelam. Allah ﷻ menjanjikan ampunan yang teramat luas bagi kita. Andai seorang hamba membawa dosa sepenuh bumi, sungguh ampunan Allah ﷻ melampaui itu.عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةًDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Kembalilah kepada-Nya dengan bersegera. Sungguh Allah ﷻ senantiasa membuka pintu tobat kepada hamba-Nya yang ingin kembali.Dalam sebuah hadis dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ﷻ selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim no. 2759)Baca juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Bertobat kepada Allah itu mudahSungguh mudah cara bertobat kepada Allah ﷻ. Tidak disyaratkan membawa hadiah sebagai pelembut hati, pengorbanan harta, atau semisalnya. Cukup dengan bersuci dan bersujud kepada-Nya, Allah ﷻ akan membukakan pintu ampunan kepada kita semuanya. Rasulullah ﷺ bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, berdiri untuk melakukan salat dua rakaat, kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi no. 406, diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Berhenti maksiat seketika sadarKemudian renungilah ayat yang Nabi kita ﷺ bacakan setelah sabdanya tersebut,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Salah satu sifat dari seorang yang bertobat diterangkan dalam ayat ini adalah,وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”Ibnu Katsir rahimahullah memberikan keterangan,أَيْ: تَابُوا مِنْ ذُنُوبِهِمْ، وَرَجَعُوا إِلَى اللَّهِ عَنْ قَرِيبٍ، وَلَمْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَيُصِرُّوا عَلَيْهَا غَيْرَ مقْلِعِين عَنْهَا، وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُمُ الذَّنْبُ تَابُوا عَنْهُ“Maksudnya adalah mereka bertobat dari dosanya dan segera kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak terus-menerus berbuat dosa atau mengulanginya. Sekalipun mereka mengulangi dosa itu, mereka bertobat atasnya.”Dari keterangan ini, ada tiga level orang yang bertobat:Pertama: Segera berhenti ketika tersadar, tidak menunda hingga maksiatnya selesai terlebih dahulu. Dan ini adalah level tertinggi.Kedua: Setelah maksiatnya selesai, ia benar-benar berhenti dan tidak mengulanginya.Ketiga: Seandainya mengulangi maksiat, mereka pun bersegera untuk bertobat darinya. Adapun kelaziman manusia adalah demikian, setidaknya kita dapat menjangkau level ini.Analogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanWahai para pejuang tobat! Terimalah pesan dari Ibnu Rajab rahimahullah kepada kita semua ini. Jadilah pria sejati yang bersabar akan masa sapihan dan jangan menjadi anak kecil yang merengek untuk menyusu kepada kemaksiatan.يا شُبَّانَ التوبةِ، لا تَرجِعُوا إلى ارتضاعِ ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام، فالرَّضاع إنما يصلُح للأطفال لا للرجال. ولكن لا بُدّ مِن الصّبْرِ على مَرَارة الفِطام؛ فإنْ صَبَرْتُم تعوَّضْتُم عن لَذَّةِ الهَوَى بحلاوة الإيمان في القلوب“Wahai para pemuda yang bertobat! Janganlah kalian kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah kalian disapih darinya. Menyusu itu hanya pantas bagi anak kecil, bukan kepada lelaki sejati. Akan tetapi, hendaknya kita bersabar atas pahitnya masa sapihan dari maksiat. Apabila kalian sabar, sungguh kelezatan hawa nafsu itu akan tergantikan dengan manisnya iman di hati kalian.” (Lathaiful Maarif, hal. 399-400)Baca juga: Tata Cara Salat Tobat***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Lathaiful Maarif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu KatsirTafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

Wahai Jiwa, Jangan Kembali Kepada Kehinaan Maksiat!

Daftar Isi ToggleRendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanBertobat kepada Allah itu mudahBerhenti maksiat seketika sadarAnalogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanJiwa kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat hasrat melawannya terus terasah. Tugas kita adalah terus menjinakkannya agar senantiasa mengikuti arah menuju kebaikan. Namun, hewan yang telah menikmati bebasnya alam liar itu senantiasa memiliki hasrat untuk melawan. Oleh karena itu, di tengah hasrat menggeliat, inilah tugas utama untuk menjaga jiwa berada di halaman kebaikan.Bila jiwa sudah terbiasa dengan manisnya iman dan kebaikan, ini adalah kebahagiaan di atas kebahagiaan. Namun, sungguh jiwa yang sudah terbiasa dengan kebaikan, lalu berbalik arah menjadi liar dengan kemaksiatan, maka ini adalah kehinaan yang teramat. Simaklah uraian para ulama, di antaranya Ibnu Rajab rahimahullah, yang mengingatkan kita semua tentang hinanya kembali kepada kemaksiatan. Dalam Lathaiful Maarif (hal. 399), beliau memberi pesan,وما أقبَحَ السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوهاBetapa buruknya keburukan yang dilakukan setelah perbuatan kebaikan! Sungguh keburukan itu akan menghapus dan membinasakannya!ذنبٌ واحِدٌ بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَهاSatu dosa yang dilakukan setelah bertobat itu lebih buruk dari tujuh puluh dosa yang dilakukan sebelumnya.النكسة أصعب من المرض، وربما أهلَكَتْKambuhnya suatu penyakit itu jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan terkena sakit pertama kali. Demikian pula ia seringkali berujung kecelakaan–kematian.سلوا الله الثبات على الطَّاعاتِ إلى الممات، وتعوَّذُوا به من تقلُّب القلوب، ومِنَ الحَوْر بعد الكَوْرِMintalah kepada Allah ﷻ ketetapan hati di atas ketaatan sampai wafat. Dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari berbaliknya hati, serta kemunduran pasca kemajuan yang dilakukan.Rendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanIbnu Rajab rahimahullah memberikan wasiat,ما أوحشَ ذلّ المعصيةِ بَعْدَ عزِّ الطاعة، وأفحشَ فقر الطمع بعد غنى القناعة“Betapa menyedihkannya tergelincirnya kepada kemaksiatan setelah mencapai kemuliaan ketaatan. Dan betapa hinanya kefakiran berbuat tamak setelah kekayaan bersifat qanaah.ارحموا عزيز قوم بالمعاصي ذَلَّ، وغنِيَّ قومٍ بالذُّنوب افتقرKasihanilah orang yang dahulunya mulia, tetapi kemudian menjadi rendah karena tergelincir maksiat. Dan kasihanilah orang yang dahulunya kaya, tetapi kini menjadi miskin karena dosanya.”Ibnu Rajab rahimahullah ingin mengajak kita merenungi hinanya orang yang dulunya mulia karena amal kebajikan dan kekayaan akan ganjaran amalnya, lalu terjerembab ke jurang rendah maksiat dan dosa. Terhadap sosok yang demikian, hendaknya kita merasa kasihan. Rasa kasihan ini dapat kita tujukan kepada sosok yang tenggelam dalam kemaksiatan, baik sosok itu orang lain maupun diri kita sendiri.Kepada orang lain, janganlah kita biarkan ia tenggelam kembali dalam kehinaan, selamatkan dan jangan tertawakan mereka. Ulurkanlah tangan kepada mereka dengan rahmat dan kasih sayang. Semoga secercah iman di hatinya dapat mendorongnya untuk kembali kepada kemuliaan.Sedangkan jika sosok itu adalah diri kita sendiri, maka kasihanilah dengan berhenti membuat diri kita terus tenggelam. Allah ﷻ menjanjikan ampunan yang teramat luas bagi kita. Andai seorang hamba membawa dosa sepenuh bumi, sungguh ampunan Allah ﷻ melampaui itu.عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةًDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Kembalilah kepada-Nya dengan bersegera. Sungguh Allah ﷻ senantiasa membuka pintu tobat kepada hamba-Nya yang ingin kembali.Dalam sebuah hadis dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ﷻ selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim no. 2759)Baca juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Bertobat kepada Allah itu mudahSungguh mudah cara bertobat kepada Allah ﷻ. Tidak disyaratkan membawa hadiah sebagai pelembut hati, pengorbanan harta, atau semisalnya. Cukup dengan bersuci dan bersujud kepada-Nya, Allah ﷻ akan membukakan pintu ampunan kepada kita semuanya. Rasulullah ﷺ bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, berdiri untuk melakukan salat dua rakaat, kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi no. 406, diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Berhenti maksiat seketika sadarKemudian renungilah ayat yang Nabi kita ﷺ bacakan setelah sabdanya tersebut,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Salah satu sifat dari seorang yang bertobat diterangkan dalam ayat ini adalah,وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”Ibnu Katsir rahimahullah memberikan keterangan,أَيْ: تَابُوا مِنْ ذُنُوبِهِمْ، وَرَجَعُوا إِلَى اللَّهِ عَنْ قَرِيبٍ، وَلَمْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَيُصِرُّوا عَلَيْهَا غَيْرَ مقْلِعِين عَنْهَا، وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُمُ الذَّنْبُ تَابُوا عَنْهُ“Maksudnya adalah mereka bertobat dari dosanya dan segera kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak terus-menerus berbuat dosa atau mengulanginya. Sekalipun mereka mengulangi dosa itu, mereka bertobat atasnya.”Dari keterangan ini, ada tiga level orang yang bertobat:Pertama: Segera berhenti ketika tersadar, tidak menunda hingga maksiatnya selesai terlebih dahulu. Dan ini adalah level tertinggi.Kedua: Setelah maksiatnya selesai, ia benar-benar berhenti dan tidak mengulanginya.Ketiga: Seandainya mengulangi maksiat, mereka pun bersegera untuk bertobat darinya. Adapun kelaziman manusia adalah demikian, setidaknya kita dapat menjangkau level ini.Analogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanWahai para pejuang tobat! Terimalah pesan dari Ibnu Rajab rahimahullah kepada kita semua ini. Jadilah pria sejati yang bersabar akan masa sapihan dan jangan menjadi anak kecil yang merengek untuk menyusu kepada kemaksiatan.يا شُبَّانَ التوبةِ، لا تَرجِعُوا إلى ارتضاعِ ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام، فالرَّضاع إنما يصلُح للأطفال لا للرجال. ولكن لا بُدّ مِن الصّبْرِ على مَرَارة الفِطام؛ فإنْ صَبَرْتُم تعوَّضْتُم عن لَذَّةِ الهَوَى بحلاوة الإيمان في القلوب“Wahai para pemuda yang bertobat! Janganlah kalian kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah kalian disapih darinya. Menyusu itu hanya pantas bagi anak kecil, bukan kepada lelaki sejati. Akan tetapi, hendaknya kita bersabar atas pahitnya masa sapihan dari maksiat. Apabila kalian sabar, sungguh kelezatan hawa nafsu itu akan tergantikan dengan manisnya iman di hati kalian.” (Lathaiful Maarif, hal. 399-400)Baca juga: Tata Cara Salat Tobat***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Lathaiful Maarif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu KatsirTafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app
Daftar Isi ToggleRendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanBertobat kepada Allah itu mudahBerhenti maksiat seketika sadarAnalogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanJiwa kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat hasrat melawannya terus terasah. Tugas kita adalah terus menjinakkannya agar senantiasa mengikuti arah menuju kebaikan. Namun, hewan yang telah menikmati bebasnya alam liar itu senantiasa memiliki hasrat untuk melawan. Oleh karena itu, di tengah hasrat menggeliat, inilah tugas utama untuk menjaga jiwa berada di halaman kebaikan.Bila jiwa sudah terbiasa dengan manisnya iman dan kebaikan, ini adalah kebahagiaan di atas kebahagiaan. Namun, sungguh jiwa yang sudah terbiasa dengan kebaikan, lalu berbalik arah menjadi liar dengan kemaksiatan, maka ini adalah kehinaan yang teramat. Simaklah uraian para ulama, di antaranya Ibnu Rajab rahimahullah, yang mengingatkan kita semua tentang hinanya kembali kepada kemaksiatan. Dalam Lathaiful Maarif (hal. 399), beliau memberi pesan,وما أقبَحَ السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوهاBetapa buruknya keburukan yang dilakukan setelah perbuatan kebaikan! Sungguh keburukan itu akan menghapus dan membinasakannya!ذنبٌ واحِدٌ بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَهاSatu dosa yang dilakukan setelah bertobat itu lebih buruk dari tujuh puluh dosa yang dilakukan sebelumnya.النكسة أصعب من المرض، وربما أهلَكَتْKambuhnya suatu penyakit itu jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan terkena sakit pertama kali. Demikian pula ia seringkali berujung kecelakaan–kematian.سلوا الله الثبات على الطَّاعاتِ إلى الممات، وتعوَّذُوا به من تقلُّب القلوب، ومِنَ الحَوْر بعد الكَوْرِMintalah kepada Allah ﷻ ketetapan hati di atas ketaatan sampai wafat. Dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari berbaliknya hati, serta kemunduran pasca kemajuan yang dilakukan.Rendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanIbnu Rajab rahimahullah memberikan wasiat,ما أوحشَ ذلّ المعصيةِ بَعْدَ عزِّ الطاعة، وأفحشَ فقر الطمع بعد غنى القناعة“Betapa menyedihkannya tergelincirnya kepada kemaksiatan setelah mencapai kemuliaan ketaatan. Dan betapa hinanya kefakiran berbuat tamak setelah kekayaan bersifat qanaah.ارحموا عزيز قوم بالمعاصي ذَلَّ، وغنِيَّ قومٍ بالذُّنوب افتقرKasihanilah orang yang dahulunya mulia, tetapi kemudian menjadi rendah karena tergelincir maksiat. Dan kasihanilah orang yang dahulunya kaya, tetapi kini menjadi miskin karena dosanya.”Ibnu Rajab rahimahullah ingin mengajak kita merenungi hinanya orang yang dulunya mulia karena amal kebajikan dan kekayaan akan ganjaran amalnya, lalu terjerembab ke jurang rendah maksiat dan dosa. Terhadap sosok yang demikian, hendaknya kita merasa kasihan. Rasa kasihan ini dapat kita tujukan kepada sosok yang tenggelam dalam kemaksiatan, baik sosok itu orang lain maupun diri kita sendiri.Kepada orang lain, janganlah kita biarkan ia tenggelam kembali dalam kehinaan, selamatkan dan jangan tertawakan mereka. Ulurkanlah tangan kepada mereka dengan rahmat dan kasih sayang. Semoga secercah iman di hatinya dapat mendorongnya untuk kembali kepada kemuliaan.Sedangkan jika sosok itu adalah diri kita sendiri, maka kasihanilah dengan berhenti membuat diri kita terus tenggelam. Allah ﷻ menjanjikan ampunan yang teramat luas bagi kita. Andai seorang hamba membawa dosa sepenuh bumi, sungguh ampunan Allah ﷻ melampaui itu.عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةًDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Kembalilah kepada-Nya dengan bersegera. Sungguh Allah ﷻ senantiasa membuka pintu tobat kepada hamba-Nya yang ingin kembali.Dalam sebuah hadis dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ﷻ selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim no. 2759)Baca juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Bertobat kepada Allah itu mudahSungguh mudah cara bertobat kepada Allah ﷻ. Tidak disyaratkan membawa hadiah sebagai pelembut hati, pengorbanan harta, atau semisalnya. Cukup dengan bersuci dan bersujud kepada-Nya, Allah ﷻ akan membukakan pintu ampunan kepada kita semuanya. Rasulullah ﷺ bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, berdiri untuk melakukan salat dua rakaat, kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi no. 406, diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Berhenti maksiat seketika sadarKemudian renungilah ayat yang Nabi kita ﷺ bacakan setelah sabdanya tersebut,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Salah satu sifat dari seorang yang bertobat diterangkan dalam ayat ini adalah,وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”Ibnu Katsir rahimahullah memberikan keterangan,أَيْ: تَابُوا مِنْ ذُنُوبِهِمْ، وَرَجَعُوا إِلَى اللَّهِ عَنْ قَرِيبٍ، وَلَمْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَيُصِرُّوا عَلَيْهَا غَيْرَ مقْلِعِين عَنْهَا، وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُمُ الذَّنْبُ تَابُوا عَنْهُ“Maksudnya adalah mereka bertobat dari dosanya dan segera kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak terus-menerus berbuat dosa atau mengulanginya. Sekalipun mereka mengulangi dosa itu, mereka bertobat atasnya.”Dari keterangan ini, ada tiga level orang yang bertobat:Pertama: Segera berhenti ketika tersadar, tidak menunda hingga maksiatnya selesai terlebih dahulu. Dan ini adalah level tertinggi.Kedua: Setelah maksiatnya selesai, ia benar-benar berhenti dan tidak mengulanginya.Ketiga: Seandainya mengulangi maksiat, mereka pun bersegera untuk bertobat darinya. Adapun kelaziman manusia adalah demikian, setidaknya kita dapat menjangkau level ini.Analogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanWahai para pejuang tobat! Terimalah pesan dari Ibnu Rajab rahimahullah kepada kita semua ini. Jadilah pria sejati yang bersabar akan masa sapihan dan jangan menjadi anak kecil yang merengek untuk menyusu kepada kemaksiatan.يا شُبَّانَ التوبةِ، لا تَرجِعُوا إلى ارتضاعِ ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام، فالرَّضاع إنما يصلُح للأطفال لا للرجال. ولكن لا بُدّ مِن الصّبْرِ على مَرَارة الفِطام؛ فإنْ صَبَرْتُم تعوَّضْتُم عن لَذَّةِ الهَوَى بحلاوة الإيمان في القلوب“Wahai para pemuda yang bertobat! Janganlah kalian kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah kalian disapih darinya. Menyusu itu hanya pantas bagi anak kecil, bukan kepada lelaki sejati. Akan tetapi, hendaknya kita bersabar atas pahitnya masa sapihan dari maksiat. Apabila kalian sabar, sungguh kelezatan hawa nafsu itu akan tergantikan dengan manisnya iman di hati kalian.” (Lathaiful Maarif, hal. 399-400)Baca juga: Tata Cara Salat Tobat***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Lathaiful Maarif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu KatsirTafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app


Daftar Isi ToggleRendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanBertobat kepada Allah itu mudahBerhenti maksiat seketika sadarAnalogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanJiwa kita ibarat tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan dunia ibarat alam liar yang membuat hasrat melawannya terus terasah. Tugas kita adalah terus menjinakkannya agar senantiasa mengikuti arah menuju kebaikan. Namun, hewan yang telah menikmati bebasnya alam liar itu senantiasa memiliki hasrat untuk melawan. Oleh karena itu, di tengah hasrat menggeliat, inilah tugas utama untuk menjaga jiwa berada di halaman kebaikan.Bila jiwa sudah terbiasa dengan manisnya iman dan kebaikan, ini adalah kebahagiaan di atas kebahagiaan. Namun, sungguh jiwa yang sudah terbiasa dengan kebaikan, lalu berbalik arah menjadi liar dengan kemaksiatan, maka ini adalah kehinaan yang teramat. Simaklah uraian para ulama, di antaranya Ibnu Rajab rahimahullah, yang mengingatkan kita semua tentang hinanya kembali kepada kemaksiatan. Dalam Lathaiful Maarif (hal. 399), beliau memberi pesan,وما أقبَحَ السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوهاBetapa buruknya keburukan yang dilakukan setelah perbuatan kebaikan! Sungguh keburukan itu akan menghapus dan membinasakannya!ذنبٌ واحِدٌ بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَهاSatu dosa yang dilakukan setelah bertobat itu lebih buruk dari tujuh puluh dosa yang dilakukan sebelumnya.النكسة أصعب من المرض، وربما أهلَكَتْKambuhnya suatu penyakit itu jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan terkena sakit pertama kali. Demikian pula ia seringkali berujung kecelakaan–kematian.سلوا الله الثبات على الطَّاعاتِ إلى الممات، وتعوَّذُوا به من تقلُّب القلوب، ومِنَ الحَوْر بعد الكَوْرِMintalah kepada Allah ﷻ ketetapan hati di atas ketaatan sampai wafat. Dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari berbaliknya hati, serta kemunduran pasca kemajuan yang dilakukan.Rendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatanIbnu Rajab rahimahullah memberikan wasiat,ما أوحشَ ذلّ المعصيةِ بَعْدَ عزِّ الطاعة، وأفحشَ فقر الطمع بعد غنى القناعة“Betapa menyedihkannya tergelincirnya kepada kemaksiatan setelah mencapai kemuliaan ketaatan. Dan betapa hinanya kefakiran berbuat tamak setelah kekayaan bersifat qanaah.ارحموا عزيز قوم بالمعاصي ذَلَّ، وغنِيَّ قومٍ بالذُّنوب افتقرKasihanilah orang yang dahulunya mulia, tetapi kemudian menjadi rendah karena tergelincir maksiat. Dan kasihanilah orang yang dahulunya kaya, tetapi kini menjadi miskin karena dosanya.”Ibnu Rajab rahimahullah ingin mengajak kita merenungi hinanya orang yang dulunya mulia karena amal kebajikan dan kekayaan akan ganjaran amalnya, lalu terjerembab ke jurang rendah maksiat dan dosa. Terhadap sosok yang demikian, hendaknya kita merasa kasihan. Rasa kasihan ini dapat kita tujukan kepada sosok yang tenggelam dalam kemaksiatan, baik sosok itu orang lain maupun diri kita sendiri.Kepada orang lain, janganlah kita biarkan ia tenggelam kembali dalam kehinaan, selamatkan dan jangan tertawakan mereka. Ulurkanlah tangan kepada mereka dengan rahmat dan kasih sayang. Semoga secercah iman di hatinya dapat mendorongnya untuk kembali kepada kemuliaan.Sedangkan jika sosok itu adalah diri kita sendiri, maka kasihanilah dengan berhenti membuat diri kita terus tenggelam. Allah ﷻ menjanjikan ampunan yang teramat luas bagi kita. Andai seorang hamba membawa dosa sepenuh bumi, sungguh ampunan Allah ﷻ melampaui itu.عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةًDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Kembalilah kepada-Nya dengan bersegera. Sungguh Allah ﷻ senantiasa membuka pintu tobat kepada hamba-Nya yang ingin kembali.Dalam sebuah hadis dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah ﷻ selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim no. 2759)Baca juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Bertobat kepada Allah itu mudahSungguh mudah cara bertobat kepada Allah ﷻ. Tidak disyaratkan membawa hadiah sebagai pelembut hati, pengorbanan harta, atau semisalnya. Cukup dengan bersuci dan bersujud kepada-Nya, Allah ﷻ akan membukakan pintu ampunan kepada kita semuanya. Rasulullah ﷺ bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, berdiri untuk melakukan salat dua rakaat, kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi no. 406, diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Berhenti maksiat seketika sadarKemudian renungilah ayat yang Nabi kita ﷺ bacakan setelah sabdanya tersebut,وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)Salah satu sifat dari seorang yang bertobat diterangkan dalam ayat ini adalah,وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”Ibnu Katsir rahimahullah memberikan keterangan,أَيْ: تَابُوا مِنْ ذُنُوبِهِمْ، وَرَجَعُوا إِلَى اللَّهِ عَنْ قَرِيبٍ، وَلَمْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَيُصِرُّوا عَلَيْهَا غَيْرَ مقْلِعِين عَنْهَا، وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُمُ الذَّنْبُ تَابُوا عَنْهُ“Maksudnya adalah mereka bertobat dari dosanya dan segera kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak terus-menerus berbuat dosa atau mengulanginya. Sekalipun mereka mengulangi dosa itu, mereka bertobat atasnya.”Dari keterangan ini, ada tiga level orang yang bertobat:Pertama: Segera berhenti ketika tersadar, tidak menunda hingga maksiatnya selesai terlebih dahulu. Dan ini adalah level tertinggi.Kedua: Setelah maksiatnya selesai, ia benar-benar berhenti dan tidak mengulanginya.Ketiga: Seandainya mengulangi maksiat, mereka pun bersegera untuk bertobat darinya. Adapun kelaziman manusia adalah demikian, setidaknya kita dapat menjangkau level ini.Analogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihanWahai para pejuang tobat! Terimalah pesan dari Ibnu Rajab rahimahullah kepada kita semua ini. Jadilah pria sejati yang bersabar akan masa sapihan dan jangan menjadi anak kecil yang merengek untuk menyusu kepada kemaksiatan.يا شُبَّانَ التوبةِ، لا تَرجِعُوا إلى ارتضاعِ ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام، فالرَّضاع إنما يصلُح للأطفال لا للرجال. ولكن لا بُدّ مِن الصّبْرِ على مَرَارة الفِطام؛ فإنْ صَبَرْتُم تعوَّضْتُم عن لَذَّةِ الهَوَى بحلاوة الإيمان في القلوب“Wahai para pemuda yang bertobat! Janganlah kalian kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah kalian disapih darinya. Menyusu itu hanya pantas bagi anak kecil, bukan kepada lelaki sejati. Akan tetapi, hendaknya kita bersabar atas pahitnya masa sapihan dari maksiat. Apabila kalian sabar, sungguh kelezatan hawa nafsu itu akan tergantikan dengan manisnya iman di hati kalian.” (Lathaiful Maarif, hal. 399-400)Baca juga: Tata Cara Salat Tobat***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Lathaiful Maarif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu KatsirTafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

Saat Hati Sudah Lelah Melawan Dosa, Inilah Nasihat Setengah Halaman Ibnu Taimiyyah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Pasal: Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya untuk penyakit jiwa yang sulit disembuhkan ini, penawar untuk sihir yang mematikan ini, serta solusi mengatasi kerusakan yang menimpa jiwa ini? Adakah jalan yang lurus menuju taufik Allah? Mungkinkah orang yang mabuk oleh khamar hawa nafsu bisa sadar kembali? Mungkinkah orang yang diperbudak cinta bisa mengendalikan hatinya, padahal cinta itu telah merasuk ke lubuk hatinya yang paling dalam? Ya, pertanyaan ini, bagaimana beliau membukanya di awal? Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya Seolah beliau mengisyaratkan bahwa ini adalah kembali kepada. Bagaimanapun, pertanyaan inilah yang menjadi fondasi seluruh kitab ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—yang Ibnul Qayyim adalah murid beliau—pernah diajukan pertanyaan yang sama persis, bahkan redaksinya hampir sama dengan yang disebut Ibnul Qayyim. Mari kita dengar sekali lagi pertanyaan yang disebut oleh Ibnul Qayyim. Lalu setelah itu, kita baca pertanyaan yang diajukan kepada Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan ini hanya dalam setengah halaman kertas. Ibnul Qayyim menjawabnya dalam satu jilid kitab. Sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman saja. Namun, jawabannya sangat padat makna. Menurut saya, jawaban ini lebih dari cukup bagi siapa saja yang diberi taufik untuk mengamalkannya, sungguh padat makna. Oleh karena itu, lembaran ini—insya Allah—mulai hari ini akan menyebar ke berbagai penjuru, agar masyarakat bisa mengambil manfaat dan saling bantu membagikannya. Manfaatnya bagi orang banyak sangat besar, dan inilah yang dijawab oleh Ibnu Taimiyyah. Pertanyaan ini dijawab Ibnul Qayyim dalam satu jilid kitab, sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman, tapi ringkasan yang sangat luar biasa dan bermanfaat dalam pembahasan ini. Sekarang, simaklah pertanyaan untuk Ibnu Taimiyyah beserta jawabannya: Syaikhul Islam —semoga Allah meridainya dan membalasnya dengan surga— ditanya: Apa obat bagi seseorang yang penyakitnya telah menguasai dirinya? Apa pula solusi bagi orang yang jiwanya telah dikuasai kerusakan? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang dikalahkan rasa malas? Apa pula jalan menuju taufik Allah? Apa solusi bagi orang yang diserang kebingungan? Saat ingin mendekat kepada Allah, hawa nafsunya menghalangi dirinya. Ketika ia ingin mengambil pelajaran, pikirannya justru berkecamuk. Saat ia ingin mulai beramal, rasa lemah justru melumpuhkannya. Hawa nafsu telah menguasainya. Engkau melihatnya sepanjang waktu dalam kebingungan: tampak sadar, tapi sesungguhnya ia sedang mabuk. Setiap ia berusaha mendekat kepada orang yang dicintainya, semua upayanya tercerai-berai, sementara keterasingan justru terus menyambung. Ia tinggalkan keluarga dan orang-orang dekatnya, berharap menemukan ketenangan jiwa, tapi justru nyanyian yang melalaikan yang menopangnya. Tak bertambah pada dirinya selain kebingungan dan melemahnya tekad. Sungguhkah begini, di tangan mereka, siapa yang memohon perlindungan justru dihinakan? Maka beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Itulah pertanyaan tadi. Jawabannya singkat, tapi sebagaimana saya sebutkan, padat dan sangat bermanfaat. Beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Obatnya adalah berlindung kepada Allah Ta’ala dan terus merendahkan diri kepada-Nya. Hendaknya ia mempelajari doa-doa yang diajarkan Nabi. Hendaknya pula ia bersungguh-sungguh berdoa di waktu-waktu mustajab, seperti di penghujung malam, antara azan dan iqamah, saat sujud (dalam salat), dan di akhir salat. Hendaknya ia mengiringi semua itu dengan istighfar. Sebab siapa yang beristighfar, lalu bertobat kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya kenikmatan yang baik hingga waktu yang telah ditetapkan. Hendaknya pula ia merutinkan membaca zikir pagi, zikir petang, dan zikir sebelum tidur, serta bersabar menghadapi berbagai hambatan dan penghalang. Sebab, tidak lama kemudian, Allah akan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya, dan menanamkan iman di dalam hatinya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh menyempurnakan salat lima waktu, lahir maupun batin, karena salat adalah tiang agama. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Artinya ia memperbanyak mengucapkannya, seperti disebutkan dalam hadis: “Perbanyaklah ucapan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH…” (HR. Ahmad). Dengan kalimat itu, seseorang mampu memikul beban berat, menghadapi kesulitan besar, dan meraih derajat mulia. Jangan pernah bosan berdoa dan bermohon pada Allah. Sebab doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, lalu berkata: “Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar hadir bersama kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tak seorang pun—bahkan nabi, apalagi selainnya—meraih kebaikan besar kecuali dengan kesabaran. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jawaban ini sungguh luar biasa. Meski singkat dan ringkas, jawaban ini begitu lengkap: memadai, menyembuhkan, dan mencukupi. Saya menyarankan agar jawaban ini disebarkan seluas-luasnya. Semoga Allah memberi manfaat dengannya kepada hamba-hamba-Nya, terutama mereka yang sedang diuji dengan persoalan seperti ini. Inilah kebingungan mereka, inilah luka mereka, dan inilah harapan mereka untuk terbebas dari dosa. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita taufik untuk meraih setiap kebaikan, dan menjadikan kita pembuka pintu kebaikan serta penutup pintu keburukan. Semoga Allah memberi kita hidayah, memudahkan hidayah untuk kita, menjadikan kita sebab hidayah bagi orang lain, dan memudahkan jalan hidayah bagi kita. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: فَصْلٌ: فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ لِهَذَا الدَّاءِ العُضَالِ، وَرُقْيَةٍ لِهَذَا السِّحْرِ القَتَّالِ وَمَا الِاحْتِيَالُ لِدَفْعِ هَذَا الخَبَالِ؟ وَهَلْ مِنْ طَرِيقٍ قَاصِدٍ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَهَلْ يُمْكِنُ السَّكْرَانَ بِخَمْرَةِ الهَوَى أَنْ يَفِيقَ؟ وَهَلْ يَمْلِكُ العَاشِقُ قَلْبَهُ وَالعِشْقُ قَدْ وَصَلَ إِلَى سُوَيْدَائِهِ؟ نَعَمْ، هَذَا السُّؤَالُ قَدَّمَهُ بِمَاذَا قَالَ فِي بِدَايَتِهِ فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ؟ كَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّهُ أَنَّهُ عَوْدَةٌ إِلَى عَلَى كُلٍّ، هَذَا السُّؤَالُ هُوَ الَّذِي بَنَى عَلَيْهِ الكِتَابَ كُلَّهُ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الَّذِي تِلْمِيذُهُ ابْنُ القَيِّمِ سُئِلَ السُّؤَالُ نَفْسُهُ يَكَادُ يَكُونُ بِحُرُوفِهِ هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ يَعْنِي نَسْمَعُ مَرَّةً ثَانِيَةً السُّؤَالَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ َقْرَأُ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَأَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، أَجَابَ عَلَى هَذَا السُّؤَالِ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ ابْنُ القَيِّمِ أَجَابَ فِي كِتَابٍ مُجَلَّدٍ وَابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ لَكِنَّهَا مَلِيئَةٌ أَرَى فِيهَا يَعْنِي كِفَايَةً عَظِيمَةً جِدًّا لِمَنْ وُفِّقَ لِلْعَمَلِ بِهَا، مَلِيئَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا هَذِهِ الوَرَقَةُ مِنَ اليَوْمِ تَنْطَلِقُ إِنْ شَاءَ اللهُ إِلَى جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ يَسْتَفِيدُ مِنْهَا النَّاسُ، يَكُونُ هُنَاكَ تَعَاوُنٌ فِي إِيصَالِهَا وَنَفْعُ النَّاسِ بِهَا عَظِيمٌ جِدًّا، فَهَذَا الَّذِي أَجَابَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ عَنْهُ هُنَا ابْنُ القَيِّمِ فِي مُجَلَّدٍ أَجَابَ عَنْهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، لَكِنْ خُلَاصَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا وَنَافِعَةٌ فِي هَذَا البَابِ اسْمَعُوا الآنَ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَجَوَابَهُ عَلَيْهِ سُئِلَ شَيْخُ الإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَثَابَهُ الجَنَّةَ مَا دَوَاءُ مَنْ تَحَكَّمَ فِيهِ الدَّاءُ؟ وَمَا الِاحْتِيَالُ فِيمَنْ تَسَلَّطَ عَلَيْهِ الخَبَالُ؟ وَمَا العَمَلُ فِيمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الكَسَلُ؟ وَمَا الطَّرِيقُ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَمَا الحِيلَةُ فِيمَنْ سَطَتْ عَلَيْهِ الحَيْرَةُ؟ إِنْ قَصَدَ التَّوَجُّهَ إِلَى اللهِ مَنَعَهُ هَوَاهُ وَإِنْ رَامَ الِادِّكَارَ غَلَبَ عَلَيْهِ الِافْتِكَارُ وَإِنْ أَرَادَ يَشْتَغِلُ لَمْ يُطَاوِعْهُ الفَشَلُ غَلَبَ الهَوَى فَتَرَاهُ فِي أَوْقَاتِهِ حَيْرَانَ صَاحٍ بَلْ هُوَ السَّكْرَانُ إِنْ رَامَ قُرْبًا لِلْحَبِيبِ تَفَرَّقَتْ أَسْبَابُهُ وَتَوَاصَلَ الهِجْرَانُ هَجَرَ الأَقَارِبَ وَالمَعَارِفَ عَلَّهُ يَجِدُ الغِنَى وَعَلَى الغِنَاءِ يُعَانُ مَا ازْدَادَ إِلَّا حَيْرَةً وَتَوَانِيًا أَكَذَا بِهِمْ مَنْ يَسْتَجِيرُ يُهَانُ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا الآنَ السُّؤَالُ الجَوَابُ يَعْنِي مُخْتَصَرٌ لَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ وَافٍ وَنَافِعٌ جِدًّا، نَعَمْ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوَاؤُهُ الِالْتِجَاءُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَدَوَامُ التَّضَرُّعِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَالدُّعَاءُ بِأَنْ يَتَعَلَّمَ الأَدْعِيَةَ المَأْثُورَةَ وَيَتَوَخَّى الدُّعَاءَ فِي مَظَانِّ الإِجَابَةِ مِثْلَ آخِرِ اللَّيْلِ وَأَوْقَاتِ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ، وَفِي سُجُودِهِ، وَفِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ وَيَضُمُّ إِلَى ذَلِكَ الاسْتِغْفَارَ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَغْفَرَ اللهَ ثُمَّ تَابَ إِلَيْهِ مَتَّعَهُ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَلْيَتَّخِذْ وِرْدًا مِنَ الأَذْكَارِ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَوَقْتَ النَّوْمِ وَلْيَصْبِرْ عَلَى مَا يَعْرِضُ لَهُ مِنَ المَوَانِعِ وَالصَّوَارِفِ فَإِنَّهُ لَا يَلْبَثُ أَنْ يُؤَيِّدَهُ اللهُ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيَكْتُبَ الإِيمَانَ فِي قَلْبِهِ وَلْيَحْرِصْ عَلَى إِكْمَالِ الفَرَائِضِ مِنَ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِبَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ فَإِنَّهَا عَمُودُ الدِّينِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ يَعْنِي يُكْثِرُ مِنْهَا، مِثْلَ مَا فِي الحَدِيثِ: أَكْثِرُوا مِنْ قَولِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهُ بِهَا يَحْمِلُ الأَثْقَالَ، وَيُكَابِدُ الأَهْوَالَ، وَيَنَالُ رَفِيعَ الأَحْوَالِ وَلَا يَسْأَمْ مِنَ الدُّعَاءِ وَالطَّلَبِ فَإِنَّ العَبْدَ يُسْتَجَابُ لَهُ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي وَلْيَعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًاوَلَمْ يَنَلْ أَحَدٌ شَيْئًا مِنْ جَسِيمِ الخَيْرِ — نَبِيٌّ فَمَنْ دُونَهُ — إِلَّا بِالصَّبْرِ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ هَذَا الجَوَابُ جَوَابٌ عَظِيمٌ جِدًّا وَهُوَ مَعَ وَجَازَتِهِ وَاخْتِصَارِهِ فِيهِ وَفَاءٌ وَفِيهِ شِفَاءٌ وَفِيهِ كِفَايَةٌ وَأَنْصَحُ بِأَنْ يُنْشَرَ عَلَى نِطَاقٍ وَاسِعٍ جِدًّا يَنْفَعُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ عِبَادَ اللهِ، وَخَاصَّةً المُبْتَلِينَ الَّذِينَ هَذَا سُؤَالُهُمْ وَهَذِه حَيْرَتُهُمْ وَهَذِه آلَامُهُمْ، وَهَذِه رَغْبَتُهُمْ فِي الفَكَاكِ مِنَ الذُّنُوبِ وَالخَلَاصِ مِنْهَا نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوفِّقَنَا أَجْمَعِينَ بِكُلِّ خَيْرٍ وَأَنْ يَجْعَلَنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَأَنْ يَهْدِيَنَا وَيَهْدِيَ لَنَا وَيَهْدِيَ بِنَا، وَأَنْ يُيَسِّرَ الهُدَى لَنَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا

Saat Hati Sudah Lelah Melawan Dosa, Inilah Nasihat Setengah Halaman Ibnu Taimiyyah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Pasal: Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya untuk penyakit jiwa yang sulit disembuhkan ini, penawar untuk sihir yang mematikan ini, serta solusi mengatasi kerusakan yang menimpa jiwa ini? Adakah jalan yang lurus menuju taufik Allah? Mungkinkah orang yang mabuk oleh khamar hawa nafsu bisa sadar kembali? Mungkinkah orang yang diperbudak cinta bisa mengendalikan hatinya, padahal cinta itu telah merasuk ke lubuk hatinya yang paling dalam? Ya, pertanyaan ini, bagaimana beliau membukanya di awal? Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya Seolah beliau mengisyaratkan bahwa ini adalah kembali kepada. Bagaimanapun, pertanyaan inilah yang menjadi fondasi seluruh kitab ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—yang Ibnul Qayyim adalah murid beliau—pernah diajukan pertanyaan yang sama persis, bahkan redaksinya hampir sama dengan yang disebut Ibnul Qayyim. Mari kita dengar sekali lagi pertanyaan yang disebut oleh Ibnul Qayyim. Lalu setelah itu, kita baca pertanyaan yang diajukan kepada Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan ini hanya dalam setengah halaman kertas. Ibnul Qayyim menjawabnya dalam satu jilid kitab. Sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman saja. Namun, jawabannya sangat padat makna. Menurut saya, jawaban ini lebih dari cukup bagi siapa saja yang diberi taufik untuk mengamalkannya, sungguh padat makna. Oleh karena itu, lembaran ini—insya Allah—mulai hari ini akan menyebar ke berbagai penjuru, agar masyarakat bisa mengambil manfaat dan saling bantu membagikannya. Manfaatnya bagi orang banyak sangat besar, dan inilah yang dijawab oleh Ibnu Taimiyyah. Pertanyaan ini dijawab Ibnul Qayyim dalam satu jilid kitab, sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman, tapi ringkasan yang sangat luar biasa dan bermanfaat dalam pembahasan ini. Sekarang, simaklah pertanyaan untuk Ibnu Taimiyyah beserta jawabannya: Syaikhul Islam —semoga Allah meridainya dan membalasnya dengan surga— ditanya: Apa obat bagi seseorang yang penyakitnya telah menguasai dirinya? Apa pula solusi bagi orang yang jiwanya telah dikuasai kerusakan? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang dikalahkan rasa malas? Apa pula jalan menuju taufik Allah? Apa solusi bagi orang yang diserang kebingungan? Saat ingin mendekat kepada Allah, hawa nafsunya menghalangi dirinya. Ketika ia ingin mengambil pelajaran, pikirannya justru berkecamuk. Saat ia ingin mulai beramal, rasa lemah justru melumpuhkannya. Hawa nafsu telah menguasainya. Engkau melihatnya sepanjang waktu dalam kebingungan: tampak sadar, tapi sesungguhnya ia sedang mabuk. Setiap ia berusaha mendekat kepada orang yang dicintainya, semua upayanya tercerai-berai, sementara keterasingan justru terus menyambung. Ia tinggalkan keluarga dan orang-orang dekatnya, berharap menemukan ketenangan jiwa, tapi justru nyanyian yang melalaikan yang menopangnya. Tak bertambah pada dirinya selain kebingungan dan melemahnya tekad. Sungguhkah begini, di tangan mereka, siapa yang memohon perlindungan justru dihinakan? Maka beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Itulah pertanyaan tadi. Jawabannya singkat, tapi sebagaimana saya sebutkan, padat dan sangat bermanfaat. Beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Obatnya adalah berlindung kepada Allah Ta’ala dan terus merendahkan diri kepada-Nya. Hendaknya ia mempelajari doa-doa yang diajarkan Nabi. Hendaknya pula ia bersungguh-sungguh berdoa di waktu-waktu mustajab, seperti di penghujung malam, antara azan dan iqamah, saat sujud (dalam salat), dan di akhir salat. Hendaknya ia mengiringi semua itu dengan istighfar. Sebab siapa yang beristighfar, lalu bertobat kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya kenikmatan yang baik hingga waktu yang telah ditetapkan. Hendaknya pula ia merutinkan membaca zikir pagi, zikir petang, dan zikir sebelum tidur, serta bersabar menghadapi berbagai hambatan dan penghalang. Sebab, tidak lama kemudian, Allah akan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya, dan menanamkan iman di dalam hatinya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh menyempurnakan salat lima waktu, lahir maupun batin, karena salat adalah tiang agama. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Artinya ia memperbanyak mengucapkannya, seperti disebutkan dalam hadis: “Perbanyaklah ucapan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH…” (HR. Ahmad). Dengan kalimat itu, seseorang mampu memikul beban berat, menghadapi kesulitan besar, dan meraih derajat mulia. Jangan pernah bosan berdoa dan bermohon pada Allah. Sebab doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, lalu berkata: “Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar hadir bersama kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tak seorang pun—bahkan nabi, apalagi selainnya—meraih kebaikan besar kecuali dengan kesabaran. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jawaban ini sungguh luar biasa. Meski singkat dan ringkas, jawaban ini begitu lengkap: memadai, menyembuhkan, dan mencukupi. Saya menyarankan agar jawaban ini disebarkan seluas-luasnya. Semoga Allah memberi manfaat dengannya kepada hamba-hamba-Nya, terutama mereka yang sedang diuji dengan persoalan seperti ini. Inilah kebingungan mereka, inilah luka mereka, dan inilah harapan mereka untuk terbebas dari dosa. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita taufik untuk meraih setiap kebaikan, dan menjadikan kita pembuka pintu kebaikan serta penutup pintu keburukan. Semoga Allah memberi kita hidayah, memudahkan hidayah untuk kita, menjadikan kita sebab hidayah bagi orang lain, dan memudahkan jalan hidayah bagi kita. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: فَصْلٌ: فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ لِهَذَا الدَّاءِ العُضَالِ، وَرُقْيَةٍ لِهَذَا السِّحْرِ القَتَّالِ وَمَا الِاحْتِيَالُ لِدَفْعِ هَذَا الخَبَالِ؟ وَهَلْ مِنْ طَرِيقٍ قَاصِدٍ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَهَلْ يُمْكِنُ السَّكْرَانَ بِخَمْرَةِ الهَوَى أَنْ يَفِيقَ؟ وَهَلْ يَمْلِكُ العَاشِقُ قَلْبَهُ وَالعِشْقُ قَدْ وَصَلَ إِلَى سُوَيْدَائِهِ؟ نَعَمْ، هَذَا السُّؤَالُ قَدَّمَهُ بِمَاذَا قَالَ فِي بِدَايَتِهِ فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ؟ كَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّهُ أَنَّهُ عَوْدَةٌ إِلَى عَلَى كُلٍّ، هَذَا السُّؤَالُ هُوَ الَّذِي بَنَى عَلَيْهِ الكِتَابَ كُلَّهُ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الَّذِي تِلْمِيذُهُ ابْنُ القَيِّمِ سُئِلَ السُّؤَالُ نَفْسُهُ يَكَادُ يَكُونُ بِحُرُوفِهِ هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ يَعْنِي نَسْمَعُ مَرَّةً ثَانِيَةً السُّؤَالَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ َقْرَأُ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَأَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، أَجَابَ عَلَى هَذَا السُّؤَالِ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ ابْنُ القَيِّمِ أَجَابَ فِي كِتَابٍ مُجَلَّدٍ وَابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ لَكِنَّهَا مَلِيئَةٌ أَرَى فِيهَا يَعْنِي كِفَايَةً عَظِيمَةً جِدًّا لِمَنْ وُفِّقَ لِلْعَمَلِ بِهَا، مَلِيئَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا هَذِهِ الوَرَقَةُ مِنَ اليَوْمِ تَنْطَلِقُ إِنْ شَاءَ اللهُ إِلَى جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ يَسْتَفِيدُ مِنْهَا النَّاسُ، يَكُونُ هُنَاكَ تَعَاوُنٌ فِي إِيصَالِهَا وَنَفْعُ النَّاسِ بِهَا عَظِيمٌ جِدًّا، فَهَذَا الَّذِي أَجَابَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ عَنْهُ هُنَا ابْنُ القَيِّمِ فِي مُجَلَّدٍ أَجَابَ عَنْهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، لَكِنْ خُلَاصَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا وَنَافِعَةٌ فِي هَذَا البَابِ اسْمَعُوا الآنَ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَجَوَابَهُ عَلَيْهِ سُئِلَ شَيْخُ الإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَثَابَهُ الجَنَّةَ مَا دَوَاءُ مَنْ تَحَكَّمَ فِيهِ الدَّاءُ؟ وَمَا الِاحْتِيَالُ فِيمَنْ تَسَلَّطَ عَلَيْهِ الخَبَالُ؟ وَمَا العَمَلُ فِيمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الكَسَلُ؟ وَمَا الطَّرِيقُ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَمَا الحِيلَةُ فِيمَنْ سَطَتْ عَلَيْهِ الحَيْرَةُ؟ إِنْ قَصَدَ التَّوَجُّهَ إِلَى اللهِ مَنَعَهُ هَوَاهُ وَإِنْ رَامَ الِادِّكَارَ غَلَبَ عَلَيْهِ الِافْتِكَارُ وَإِنْ أَرَادَ يَشْتَغِلُ لَمْ يُطَاوِعْهُ الفَشَلُ غَلَبَ الهَوَى فَتَرَاهُ فِي أَوْقَاتِهِ حَيْرَانَ صَاحٍ بَلْ هُوَ السَّكْرَانُ إِنْ رَامَ قُرْبًا لِلْحَبِيبِ تَفَرَّقَتْ أَسْبَابُهُ وَتَوَاصَلَ الهِجْرَانُ هَجَرَ الأَقَارِبَ وَالمَعَارِفَ عَلَّهُ يَجِدُ الغِنَى وَعَلَى الغِنَاءِ يُعَانُ مَا ازْدَادَ إِلَّا حَيْرَةً وَتَوَانِيًا أَكَذَا بِهِمْ مَنْ يَسْتَجِيرُ يُهَانُ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا الآنَ السُّؤَالُ الجَوَابُ يَعْنِي مُخْتَصَرٌ لَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ وَافٍ وَنَافِعٌ جِدًّا، نَعَمْ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوَاؤُهُ الِالْتِجَاءُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَدَوَامُ التَّضَرُّعِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَالدُّعَاءُ بِأَنْ يَتَعَلَّمَ الأَدْعِيَةَ المَأْثُورَةَ وَيَتَوَخَّى الدُّعَاءَ فِي مَظَانِّ الإِجَابَةِ مِثْلَ آخِرِ اللَّيْلِ وَأَوْقَاتِ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ، وَفِي سُجُودِهِ، وَفِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ وَيَضُمُّ إِلَى ذَلِكَ الاسْتِغْفَارَ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَغْفَرَ اللهَ ثُمَّ تَابَ إِلَيْهِ مَتَّعَهُ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَلْيَتَّخِذْ وِرْدًا مِنَ الأَذْكَارِ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَوَقْتَ النَّوْمِ وَلْيَصْبِرْ عَلَى مَا يَعْرِضُ لَهُ مِنَ المَوَانِعِ وَالصَّوَارِفِ فَإِنَّهُ لَا يَلْبَثُ أَنْ يُؤَيِّدَهُ اللهُ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيَكْتُبَ الإِيمَانَ فِي قَلْبِهِ وَلْيَحْرِصْ عَلَى إِكْمَالِ الفَرَائِضِ مِنَ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِبَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ فَإِنَّهَا عَمُودُ الدِّينِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ يَعْنِي يُكْثِرُ مِنْهَا، مِثْلَ مَا فِي الحَدِيثِ: أَكْثِرُوا مِنْ قَولِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهُ بِهَا يَحْمِلُ الأَثْقَالَ، وَيُكَابِدُ الأَهْوَالَ، وَيَنَالُ رَفِيعَ الأَحْوَالِ وَلَا يَسْأَمْ مِنَ الدُّعَاءِ وَالطَّلَبِ فَإِنَّ العَبْدَ يُسْتَجَابُ لَهُ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي وَلْيَعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًاوَلَمْ يَنَلْ أَحَدٌ شَيْئًا مِنْ جَسِيمِ الخَيْرِ — نَبِيٌّ فَمَنْ دُونَهُ — إِلَّا بِالصَّبْرِ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ هَذَا الجَوَابُ جَوَابٌ عَظِيمٌ جِدًّا وَهُوَ مَعَ وَجَازَتِهِ وَاخْتِصَارِهِ فِيهِ وَفَاءٌ وَفِيهِ شِفَاءٌ وَفِيهِ كِفَايَةٌ وَأَنْصَحُ بِأَنْ يُنْشَرَ عَلَى نِطَاقٍ وَاسِعٍ جِدًّا يَنْفَعُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ عِبَادَ اللهِ، وَخَاصَّةً المُبْتَلِينَ الَّذِينَ هَذَا سُؤَالُهُمْ وَهَذِه حَيْرَتُهُمْ وَهَذِه آلَامُهُمْ، وَهَذِه رَغْبَتُهُمْ فِي الفَكَاكِ مِنَ الذُّنُوبِ وَالخَلَاصِ مِنْهَا نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوفِّقَنَا أَجْمَعِينَ بِكُلِّ خَيْرٍ وَأَنْ يَجْعَلَنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَأَنْ يَهْدِيَنَا وَيَهْدِيَ لَنَا وَيَهْدِيَ بِنَا، وَأَنْ يُيَسِّرَ الهُدَى لَنَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Pasal: Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya untuk penyakit jiwa yang sulit disembuhkan ini, penawar untuk sihir yang mematikan ini, serta solusi mengatasi kerusakan yang menimpa jiwa ini? Adakah jalan yang lurus menuju taufik Allah? Mungkinkah orang yang mabuk oleh khamar hawa nafsu bisa sadar kembali? Mungkinkah orang yang diperbudak cinta bisa mengendalikan hatinya, padahal cinta itu telah merasuk ke lubuk hatinya yang paling dalam? Ya, pertanyaan ini, bagaimana beliau membukanya di awal? Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya Seolah beliau mengisyaratkan bahwa ini adalah kembali kepada. Bagaimanapun, pertanyaan inilah yang menjadi fondasi seluruh kitab ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—yang Ibnul Qayyim adalah murid beliau—pernah diajukan pertanyaan yang sama persis, bahkan redaksinya hampir sama dengan yang disebut Ibnul Qayyim. Mari kita dengar sekali lagi pertanyaan yang disebut oleh Ibnul Qayyim. Lalu setelah itu, kita baca pertanyaan yang diajukan kepada Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan ini hanya dalam setengah halaman kertas. Ibnul Qayyim menjawabnya dalam satu jilid kitab. Sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman saja. Namun, jawabannya sangat padat makna. Menurut saya, jawaban ini lebih dari cukup bagi siapa saja yang diberi taufik untuk mengamalkannya, sungguh padat makna. Oleh karena itu, lembaran ini—insya Allah—mulai hari ini akan menyebar ke berbagai penjuru, agar masyarakat bisa mengambil manfaat dan saling bantu membagikannya. Manfaatnya bagi orang banyak sangat besar, dan inilah yang dijawab oleh Ibnu Taimiyyah. Pertanyaan ini dijawab Ibnul Qayyim dalam satu jilid kitab, sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman, tapi ringkasan yang sangat luar biasa dan bermanfaat dalam pembahasan ini. Sekarang, simaklah pertanyaan untuk Ibnu Taimiyyah beserta jawabannya: Syaikhul Islam —semoga Allah meridainya dan membalasnya dengan surga— ditanya: Apa obat bagi seseorang yang penyakitnya telah menguasai dirinya? Apa pula solusi bagi orang yang jiwanya telah dikuasai kerusakan? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang dikalahkan rasa malas? Apa pula jalan menuju taufik Allah? Apa solusi bagi orang yang diserang kebingungan? Saat ingin mendekat kepada Allah, hawa nafsunya menghalangi dirinya. Ketika ia ingin mengambil pelajaran, pikirannya justru berkecamuk. Saat ia ingin mulai beramal, rasa lemah justru melumpuhkannya. Hawa nafsu telah menguasainya. Engkau melihatnya sepanjang waktu dalam kebingungan: tampak sadar, tapi sesungguhnya ia sedang mabuk. Setiap ia berusaha mendekat kepada orang yang dicintainya, semua upayanya tercerai-berai, sementara keterasingan justru terus menyambung. Ia tinggalkan keluarga dan orang-orang dekatnya, berharap menemukan ketenangan jiwa, tapi justru nyanyian yang melalaikan yang menopangnya. Tak bertambah pada dirinya selain kebingungan dan melemahnya tekad. Sungguhkah begini, di tangan mereka, siapa yang memohon perlindungan justru dihinakan? Maka beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Itulah pertanyaan tadi. Jawabannya singkat, tapi sebagaimana saya sebutkan, padat dan sangat bermanfaat. Beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Obatnya adalah berlindung kepada Allah Ta’ala dan terus merendahkan diri kepada-Nya. Hendaknya ia mempelajari doa-doa yang diajarkan Nabi. Hendaknya pula ia bersungguh-sungguh berdoa di waktu-waktu mustajab, seperti di penghujung malam, antara azan dan iqamah, saat sujud (dalam salat), dan di akhir salat. Hendaknya ia mengiringi semua itu dengan istighfar. Sebab siapa yang beristighfar, lalu bertobat kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya kenikmatan yang baik hingga waktu yang telah ditetapkan. Hendaknya pula ia merutinkan membaca zikir pagi, zikir petang, dan zikir sebelum tidur, serta bersabar menghadapi berbagai hambatan dan penghalang. Sebab, tidak lama kemudian, Allah akan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya, dan menanamkan iman di dalam hatinya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh menyempurnakan salat lima waktu, lahir maupun batin, karena salat adalah tiang agama. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Artinya ia memperbanyak mengucapkannya, seperti disebutkan dalam hadis: “Perbanyaklah ucapan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH…” (HR. Ahmad). Dengan kalimat itu, seseorang mampu memikul beban berat, menghadapi kesulitan besar, dan meraih derajat mulia. Jangan pernah bosan berdoa dan bermohon pada Allah. Sebab doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, lalu berkata: “Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar hadir bersama kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tak seorang pun—bahkan nabi, apalagi selainnya—meraih kebaikan besar kecuali dengan kesabaran. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jawaban ini sungguh luar biasa. Meski singkat dan ringkas, jawaban ini begitu lengkap: memadai, menyembuhkan, dan mencukupi. Saya menyarankan agar jawaban ini disebarkan seluas-luasnya. Semoga Allah memberi manfaat dengannya kepada hamba-hamba-Nya, terutama mereka yang sedang diuji dengan persoalan seperti ini. Inilah kebingungan mereka, inilah luka mereka, dan inilah harapan mereka untuk terbebas dari dosa. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita taufik untuk meraih setiap kebaikan, dan menjadikan kita pembuka pintu kebaikan serta penutup pintu keburukan. Semoga Allah memberi kita hidayah, memudahkan hidayah untuk kita, menjadikan kita sebab hidayah bagi orang lain, dan memudahkan jalan hidayah bagi kita. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: فَصْلٌ: فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ لِهَذَا الدَّاءِ العُضَالِ، وَرُقْيَةٍ لِهَذَا السِّحْرِ القَتَّالِ وَمَا الِاحْتِيَالُ لِدَفْعِ هَذَا الخَبَالِ؟ وَهَلْ مِنْ طَرِيقٍ قَاصِدٍ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَهَلْ يُمْكِنُ السَّكْرَانَ بِخَمْرَةِ الهَوَى أَنْ يَفِيقَ؟ وَهَلْ يَمْلِكُ العَاشِقُ قَلْبَهُ وَالعِشْقُ قَدْ وَصَلَ إِلَى سُوَيْدَائِهِ؟ نَعَمْ، هَذَا السُّؤَالُ قَدَّمَهُ بِمَاذَا قَالَ فِي بِدَايَتِهِ فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ؟ كَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّهُ أَنَّهُ عَوْدَةٌ إِلَى عَلَى كُلٍّ، هَذَا السُّؤَالُ هُوَ الَّذِي بَنَى عَلَيْهِ الكِتَابَ كُلَّهُ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الَّذِي تِلْمِيذُهُ ابْنُ القَيِّمِ سُئِلَ السُّؤَالُ نَفْسُهُ يَكَادُ يَكُونُ بِحُرُوفِهِ هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ يَعْنِي نَسْمَعُ مَرَّةً ثَانِيَةً السُّؤَالَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ َقْرَأُ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَأَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، أَجَابَ عَلَى هَذَا السُّؤَالِ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ ابْنُ القَيِّمِ أَجَابَ فِي كِتَابٍ مُجَلَّدٍ وَابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ لَكِنَّهَا مَلِيئَةٌ أَرَى فِيهَا يَعْنِي كِفَايَةً عَظِيمَةً جِدًّا لِمَنْ وُفِّقَ لِلْعَمَلِ بِهَا، مَلِيئَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا هَذِهِ الوَرَقَةُ مِنَ اليَوْمِ تَنْطَلِقُ إِنْ شَاءَ اللهُ إِلَى جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ يَسْتَفِيدُ مِنْهَا النَّاسُ، يَكُونُ هُنَاكَ تَعَاوُنٌ فِي إِيصَالِهَا وَنَفْعُ النَّاسِ بِهَا عَظِيمٌ جِدًّا، فَهَذَا الَّذِي أَجَابَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ عَنْهُ هُنَا ابْنُ القَيِّمِ فِي مُجَلَّدٍ أَجَابَ عَنْهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، لَكِنْ خُلَاصَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا وَنَافِعَةٌ فِي هَذَا البَابِ اسْمَعُوا الآنَ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَجَوَابَهُ عَلَيْهِ سُئِلَ شَيْخُ الإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَثَابَهُ الجَنَّةَ مَا دَوَاءُ مَنْ تَحَكَّمَ فِيهِ الدَّاءُ؟ وَمَا الِاحْتِيَالُ فِيمَنْ تَسَلَّطَ عَلَيْهِ الخَبَالُ؟ وَمَا العَمَلُ فِيمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الكَسَلُ؟ وَمَا الطَّرِيقُ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَمَا الحِيلَةُ فِيمَنْ سَطَتْ عَلَيْهِ الحَيْرَةُ؟ إِنْ قَصَدَ التَّوَجُّهَ إِلَى اللهِ مَنَعَهُ هَوَاهُ وَإِنْ رَامَ الِادِّكَارَ غَلَبَ عَلَيْهِ الِافْتِكَارُ وَإِنْ أَرَادَ يَشْتَغِلُ لَمْ يُطَاوِعْهُ الفَشَلُ غَلَبَ الهَوَى فَتَرَاهُ فِي أَوْقَاتِهِ حَيْرَانَ صَاحٍ بَلْ هُوَ السَّكْرَانُ إِنْ رَامَ قُرْبًا لِلْحَبِيبِ تَفَرَّقَتْ أَسْبَابُهُ وَتَوَاصَلَ الهِجْرَانُ هَجَرَ الأَقَارِبَ وَالمَعَارِفَ عَلَّهُ يَجِدُ الغِنَى وَعَلَى الغِنَاءِ يُعَانُ مَا ازْدَادَ إِلَّا حَيْرَةً وَتَوَانِيًا أَكَذَا بِهِمْ مَنْ يَسْتَجِيرُ يُهَانُ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا الآنَ السُّؤَالُ الجَوَابُ يَعْنِي مُخْتَصَرٌ لَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ وَافٍ وَنَافِعٌ جِدًّا، نَعَمْ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوَاؤُهُ الِالْتِجَاءُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَدَوَامُ التَّضَرُّعِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَالدُّعَاءُ بِأَنْ يَتَعَلَّمَ الأَدْعِيَةَ المَأْثُورَةَ وَيَتَوَخَّى الدُّعَاءَ فِي مَظَانِّ الإِجَابَةِ مِثْلَ آخِرِ اللَّيْلِ وَأَوْقَاتِ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ، وَفِي سُجُودِهِ، وَفِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ وَيَضُمُّ إِلَى ذَلِكَ الاسْتِغْفَارَ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَغْفَرَ اللهَ ثُمَّ تَابَ إِلَيْهِ مَتَّعَهُ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَلْيَتَّخِذْ وِرْدًا مِنَ الأَذْكَارِ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَوَقْتَ النَّوْمِ وَلْيَصْبِرْ عَلَى مَا يَعْرِضُ لَهُ مِنَ المَوَانِعِ وَالصَّوَارِفِ فَإِنَّهُ لَا يَلْبَثُ أَنْ يُؤَيِّدَهُ اللهُ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيَكْتُبَ الإِيمَانَ فِي قَلْبِهِ وَلْيَحْرِصْ عَلَى إِكْمَالِ الفَرَائِضِ مِنَ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِبَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ فَإِنَّهَا عَمُودُ الدِّينِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ يَعْنِي يُكْثِرُ مِنْهَا، مِثْلَ مَا فِي الحَدِيثِ: أَكْثِرُوا مِنْ قَولِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهُ بِهَا يَحْمِلُ الأَثْقَالَ، وَيُكَابِدُ الأَهْوَالَ، وَيَنَالُ رَفِيعَ الأَحْوَالِ وَلَا يَسْأَمْ مِنَ الدُّعَاءِ وَالطَّلَبِ فَإِنَّ العَبْدَ يُسْتَجَابُ لَهُ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي وَلْيَعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًاوَلَمْ يَنَلْ أَحَدٌ شَيْئًا مِنْ جَسِيمِ الخَيْرِ — نَبِيٌّ فَمَنْ دُونَهُ — إِلَّا بِالصَّبْرِ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ هَذَا الجَوَابُ جَوَابٌ عَظِيمٌ جِدًّا وَهُوَ مَعَ وَجَازَتِهِ وَاخْتِصَارِهِ فِيهِ وَفَاءٌ وَفِيهِ شِفَاءٌ وَفِيهِ كِفَايَةٌ وَأَنْصَحُ بِأَنْ يُنْشَرَ عَلَى نِطَاقٍ وَاسِعٍ جِدًّا يَنْفَعُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ عِبَادَ اللهِ، وَخَاصَّةً المُبْتَلِينَ الَّذِينَ هَذَا سُؤَالُهُمْ وَهَذِه حَيْرَتُهُمْ وَهَذِه آلَامُهُمْ، وَهَذِه رَغْبَتُهُمْ فِي الفَكَاكِ مِنَ الذُّنُوبِ وَالخَلَاصِ مِنْهَا نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوفِّقَنَا أَجْمَعِينَ بِكُلِّ خَيْرٍ وَأَنْ يَجْعَلَنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَأَنْ يَهْدِيَنَا وَيَهْدِيَ لَنَا وَيَهْدِيَ بِنَا، وَأَنْ يُيَسِّرَ الهُدَى لَنَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Pasal: Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya untuk penyakit jiwa yang sulit disembuhkan ini, penawar untuk sihir yang mematikan ini, serta solusi mengatasi kerusakan yang menimpa jiwa ini? Adakah jalan yang lurus menuju taufik Allah? Mungkinkah orang yang mabuk oleh khamar hawa nafsu bisa sadar kembali? Mungkinkah orang yang diperbudak cinta bisa mengendalikan hatinya, padahal cinta itu telah merasuk ke lubuk hatinya yang paling dalam? Ya, pertanyaan ini, bagaimana beliau membukanya di awal? Lalu jika ditanyakan: Di tengah semua keadaan itu, adakah obatnya Seolah beliau mengisyaratkan bahwa ini adalah kembali kepada. Bagaimanapun, pertanyaan inilah yang menjadi fondasi seluruh kitab ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—yang Ibnul Qayyim adalah murid beliau—pernah diajukan pertanyaan yang sama persis, bahkan redaksinya hampir sama dengan yang disebut Ibnul Qayyim. Mari kita dengar sekali lagi pertanyaan yang disebut oleh Ibnul Qayyim. Lalu setelah itu, kita baca pertanyaan yang diajukan kepada Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan ini hanya dalam setengah halaman kertas. Ibnul Qayyim menjawabnya dalam satu jilid kitab. Sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman saja. Namun, jawabannya sangat padat makna. Menurut saya, jawaban ini lebih dari cukup bagi siapa saja yang diberi taufik untuk mengamalkannya, sungguh padat makna. Oleh karena itu, lembaran ini—insya Allah—mulai hari ini akan menyebar ke berbagai penjuru, agar masyarakat bisa mengambil manfaat dan saling bantu membagikannya. Manfaatnya bagi orang banyak sangat besar, dan inilah yang dijawab oleh Ibnu Taimiyyah. Pertanyaan ini dijawab Ibnul Qayyim dalam satu jilid kitab, sedangkan Ibnu Taimiyyah menjawabnya dalam setengah halaman, tapi ringkasan yang sangat luar biasa dan bermanfaat dalam pembahasan ini. Sekarang, simaklah pertanyaan untuk Ibnu Taimiyyah beserta jawabannya: Syaikhul Islam —semoga Allah meridainya dan membalasnya dengan surga— ditanya: Apa obat bagi seseorang yang penyakitnya telah menguasai dirinya? Apa pula solusi bagi orang yang jiwanya telah dikuasai kerusakan? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang dikalahkan rasa malas? Apa pula jalan menuju taufik Allah? Apa solusi bagi orang yang diserang kebingungan? Saat ingin mendekat kepada Allah, hawa nafsunya menghalangi dirinya. Ketika ia ingin mengambil pelajaran, pikirannya justru berkecamuk. Saat ia ingin mulai beramal, rasa lemah justru melumpuhkannya. Hawa nafsu telah menguasainya. Engkau melihatnya sepanjang waktu dalam kebingungan: tampak sadar, tapi sesungguhnya ia sedang mabuk. Setiap ia berusaha mendekat kepada orang yang dicintainya, semua upayanya tercerai-berai, sementara keterasingan justru terus menyambung. Ia tinggalkan keluarga dan orang-orang dekatnya, berharap menemukan ketenangan jiwa, tapi justru nyanyian yang melalaikan yang menopangnya. Tak bertambah pada dirinya selain kebingungan dan melemahnya tekad. Sungguhkah begini, di tangan mereka, siapa yang memohon perlindungan justru dihinakan? Maka beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Itulah pertanyaan tadi. Jawabannya singkat, tapi sebagaimana saya sebutkan, padat dan sangat bermanfaat. Beliau —semoga Allah meridainya— menjawab: Obatnya adalah berlindung kepada Allah Ta’ala dan terus merendahkan diri kepada-Nya. Hendaknya ia mempelajari doa-doa yang diajarkan Nabi. Hendaknya pula ia bersungguh-sungguh berdoa di waktu-waktu mustajab, seperti di penghujung malam, antara azan dan iqamah, saat sujud (dalam salat), dan di akhir salat. Hendaknya ia mengiringi semua itu dengan istighfar. Sebab siapa yang beristighfar, lalu bertobat kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya kenikmatan yang baik hingga waktu yang telah ditetapkan. Hendaknya pula ia merutinkan membaca zikir pagi, zikir petang, dan zikir sebelum tidur, serta bersabar menghadapi berbagai hambatan dan penghalang. Sebab, tidak lama kemudian, Allah akan menguatkannya dengan pertolongan dari sisi-Nya, dan menanamkan iman di dalam hatinya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh menyempurnakan salat lima waktu, lahir maupun batin, karena salat adalah tiang agama. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Serta jadikanlah LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM sebagai zikir yang paling sering ia ucapkan. Artinya ia memperbanyak mengucapkannya, seperti disebutkan dalam hadis: “Perbanyaklah ucapan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH…” (HR. Ahmad). Dengan kalimat itu, seseorang mampu memikul beban berat, menghadapi kesulitan besar, dan meraih derajat mulia. Jangan pernah bosan berdoa dan bermohon pada Allah. Sebab doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, lalu berkata: “Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar hadir bersama kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tak seorang pun—bahkan nabi, apalagi selainnya—meraih kebaikan besar kecuali dengan kesabaran. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jawaban ini sungguh luar biasa. Meski singkat dan ringkas, jawaban ini begitu lengkap: memadai, menyembuhkan, dan mencukupi. Saya menyarankan agar jawaban ini disebarkan seluas-luasnya. Semoga Allah memberi manfaat dengannya kepada hamba-hamba-Nya, terutama mereka yang sedang diuji dengan persoalan seperti ini. Inilah kebingungan mereka, inilah luka mereka, dan inilah harapan mereka untuk terbebas dari dosa. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita taufik untuk meraih setiap kebaikan, dan menjadikan kita pembuka pintu kebaikan serta penutup pintu keburukan. Semoga Allah memberi kita hidayah, memudahkan hidayah untuk kita, menjadikan kita sebab hidayah bagi orang lain, dan memudahkan jalan hidayah bagi kita. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ: فَصْلٌ: فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ لِهَذَا الدَّاءِ العُضَالِ، وَرُقْيَةٍ لِهَذَا السِّحْرِ القَتَّالِ وَمَا الِاحْتِيَالُ لِدَفْعِ هَذَا الخَبَالِ؟ وَهَلْ مِنْ طَرِيقٍ قَاصِدٍ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَهَلْ يُمْكِنُ السَّكْرَانَ بِخَمْرَةِ الهَوَى أَنْ يَفِيقَ؟ وَهَلْ يَمْلِكُ العَاشِقُ قَلْبَهُ وَالعِشْقُ قَدْ وَصَلَ إِلَى سُوَيْدَائِهِ؟ نَعَمْ، هَذَا السُّؤَالُ قَدَّمَهُ بِمَاذَا قَالَ فِي بِدَايَتِهِ فَإِنْ قِيلَ: وَهَلْ مَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ دَوَاءٍ؟ كَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّهُ أَنَّهُ عَوْدَةٌ إِلَى عَلَى كُلٍّ، هَذَا السُّؤَالُ هُوَ الَّذِي بَنَى عَلَيْهِ الكِتَابَ كُلَّهُ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الَّذِي تِلْمِيذُهُ ابْنُ القَيِّمِ سُئِلَ السُّؤَالُ نَفْسُهُ يَكَادُ يَكُونُ بِحُرُوفِهِ هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ يَعْنِي نَسْمَعُ مَرَّةً ثَانِيَةً السُّؤَالَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ القَيِّمِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ َقْرَأُ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَأَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، أَجَابَ عَلَى هَذَا السُّؤَالِ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ ابْنُ القَيِّمِ أَجَابَ فِي كِتَابٍ مُجَلَّدٍ وَابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ لَكِنَّهَا مَلِيئَةٌ أَرَى فِيهَا يَعْنِي كِفَايَةً عَظِيمَةً جِدًّا لِمَنْ وُفِّقَ لِلْعَمَلِ بِهَا، مَلِيئَةٌ جِدًّا وَلِهَذَا هَذِهِ الوَرَقَةُ مِنَ اليَوْمِ تَنْطَلِقُ إِنْ شَاءَ اللهُ إِلَى جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ يَسْتَفِيدُ مِنْهَا النَّاسُ، يَكُونُ هُنَاكَ تَعَاوُنٌ فِي إِيصَالِهَا وَنَفْعُ النَّاسِ بِهَا عَظِيمٌ جِدًّا، فَهَذَا الَّذِي أَجَابَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ أَجَابَ عَنْهُ هُنَا ابْنُ القَيِّمِ فِي مُجَلَّدٍ أَجَابَ عَنْهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي نِصْفِ وَرَقَةٍ، لَكِنْ خُلَاصَةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا وَنَافِعَةٌ فِي هَذَا البَابِ اسْمَعُوا الآنَ السُّؤَالَ الَّذِي وُجِّهَ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَجَوَابَهُ عَلَيْهِ سُئِلَ شَيْخُ الإِسْلَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَثَابَهُ الجَنَّةَ مَا دَوَاءُ مَنْ تَحَكَّمَ فِيهِ الدَّاءُ؟ وَمَا الِاحْتِيَالُ فِيمَنْ تَسَلَّطَ عَلَيْهِ الخَبَالُ؟ وَمَا العَمَلُ فِيمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الكَسَلُ؟ وَمَا الطَّرِيقُ إِلَى التَّوْفِيقِ؟ وَمَا الحِيلَةُ فِيمَنْ سَطَتْ عَلَيْهِ الحَيْرَةُ؟ إِنْ قَصَدَ التَّوَجُّهَ إِلَى اللهِ مَنَعَهُ هَوَاهُ وَإِنْ رَامَ الِادِّكَارَ غَلَبَ عَلَيْهِ الِافْتِكَارُ وَإِنْ أَرَادَ يَشْتَغِلُ لَمْ يُطَاوِعْهُ الفَشَلُ غَلَبَ الهَوَى فَتَرَاهُ فِي أَوْقَاتِهِ حَيْرَانَ صَاحٍ بَلْ هُوَ السَّكْرَانُ إِنْ رَامَ قُرْبًا لِلْحَبِيبِ تَفَرَّقَتْ أَسْبَابُهُ وَتَوَاصَلَ الهِجْرَانُ هَجَرَ الأَقَارِبَ وَالمَعَارِفَ عَلَّهُ يَجِدُ الغِنَى وَعَلَى الغِنَاءِ يُعَانُ مَا ازْدَادَ إِلَّا حَيْرَةً وَتَوَانِيًا أَكَذَا بِهِمْ مَنْ يَسْتَجِيرُ يُهَانُ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَذَا الآنَ السُّؤَالُ الجَوَابُ يَعْنِي مُخْتَصَرٌ لَكِنْ كَمَا ذَكَرْتُ وَافٍ وَنَافِعٌ جِدًّا، نَعَمْ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوَاؤُهُ الِالْتِجَاءُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَدَوَامُ التَّضَرُّعِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَالدُّعَاءُ بِأَنْ يَتَعَلَّمَ الأَدْعِيَةَ المَأْثُورَةَ وَيَتَوَخَّى الدُّعَاءَ فِي مَظَانِّ الإِجَابَةِ مِثْلَ آخِرِ اللَّيْلِ وَأَوْقَاتِ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ، وَفِي سُجُودِهِ، وَفِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ وَيَضُمُّ إِلَى ذَلِكَ الاسْتِغْفَارَ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَغْفَرَ اللهَ ثُمَّ تَابَ إِلَيْهِ مَتَّعَهُ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَلْيَتَّخِذْ وِرْدًا مِنَ الأَذْكَارِ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَوَقْتَ النَّوْمِ وَلْيَصْبِرْ عَلَى مَا يَعْرِضُ لَهُ مِنَ المَوَانِعِ وَالصَّوَارِفِ فَإِنَّهُ لَا يَلْبَثُ أَنْ يُؤَيِّدَهُ اللهُ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيَكْتُبَ الإِيمَانَ فِي قَلْبِهِ وَلْيَحْرِصْ عَلَى إِكْمَالِ الفَرَائِضِ مِنَ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِبَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ فَإِنَّهَا عَمُودُ الدِّينِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ وَلْتَكُنْ هِجِّيرَاهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ يَعْنِي يُكْثِرُ مِنْهَا، مِثْلَ مَا فِي الحَدِيثِ: أَكْثِرُوا مِنْ قَولِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهُ بِهَا يَحْمِلُ الأَثْقَالَ، وَيُكَابِدُ الأَهْوَالَ، وَيَنَالُ رَفِيعَ الأَحْوَالِ وَلَا يَسْأَمْ مِنَ الدُّعَاءِ وَالطَّلَبِ فَإِنَّ العَبْدَ يُسْتَجَابُ لَهُ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي وَلْيَعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًاوَلَمْ يَنَلْ أَحَدٌ شَيْئًا مِنْ جَسِيمِ الخَيْرِ — نَبِيٌّ فَمَنْ دُونَهُ — إِلَّا بِالصَّبْرِ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ هَذَا الجَوَابُ جَوَابٌ عَظِيمٌ جِدًّا وَهُوَ مَعَ وَجَازَتِهِ وَاخْتِصَارِهِ فِيهِ وَفَاءٌ وَفِيهِ شِفَاءٌ وَفِيهِ كِفَايَةٌ وَأَنْصَحُ بِأَنْ يُنْشَرَ عَلَى نِطَاقٍ وَاسِعٍ جِدًّا يَنْفَعُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ عِبَادَ اللهِ، وَخَاصَّةً المُبْتَلِينَ الَّذِينَ هَذَا سُؤَالُهُمْ وَهَذِه حَيْرَتُهُمْ وَهَذِه آلَامُهُمْ، وَهَذِه رَغْبَتُهُمْ فِي الفَكَاكِ مِنَ الذُّنُوبِ وَالخَلَاصِ مِنْهَا نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوفِّقَنَا أَجْمَعِينَ بِكُلِّ خَيْرٍ وَأَنْ يَجْعَلَنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَأَنْ يَهْدِيَنَا وَيَهْدِيَ لَنَا وَيَهْدِيَ بِنَا، وَأَنْ يُيَسِّرَ الهُدَى لَنَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا

Jawamiul Kalim: Salah Satu Keistimewaan Rasulullah

Daftar Isi ToggleApa itu jawamiul kalim?Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahContoh-contoh jawamiul kalimPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKetika Allah mengutus seseorang untuk menjadi Nabi dan Rasul, Allah berikan kepada mereka juga mukjizat dan keistimewaan sebagai bekal berdakwah dan sebagai bukti kenabian mereka. Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Sulaiman untuk bisa berbicara dengan hewan, Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Nuh yang bisa membelah lautan dengan izin Allah, dan para Nabi lainnya juga demikian.Tentunya, utusan terakhir yang Allah utus sebagai Nabi dan Rasul juga Allah berikan keistimewaan. Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allah berikan kepada beliau jawamiul kalim. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُعْطِيتُ جَوامِعَ الكَلِمِ، ونُصِرْتُ بالرعْبِ، وأُحِلتْ لِيَ الغَنائِمُ، وجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ طَهُورًا ومَسْجِدًا، وأُرْسِلْتُ إلى الخَلْقِ كافةً، وخُتِمَ بيَ النبِيونَ“Aku dianugerahi dengan jawamiul kalim, aku ditolong dengan rasa gentar (pada hati musuh), dihalalkan bagiku harta rampasan perang (ghanimah), dan dijadikan bagiku bumi ini suci dan tempat bersujud (masjid). Aku diutus kepada seluruh makhluk secara keseluruhan, dan para nabi ditutup dengan diutusnya diriku.” (HR. Muslim)Pada hadis di atas, Rasulullah sedang menjelaskan bahwa para Nabi diberikan oleh Allah berbagai keistimewaan. Rasulullah menyampaikan ada 6 keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu:– Allah membuat musuh Rasulullah merasa gentar;– Halalnya harta rampasan perang;– Bumi/tanah adalah suci dan bisa manjadi tempat salat (ibadah);– Rasulullah diutus untuk seluruh makhluk;– Rasulullah merupakan penutup para utusan Allah;– Jawamiul kalim.Salah satu dari 6 keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau adalah Allah anugerahkan kepada Rasulullah jawamiul kalim.Apa itu jawamiul kalim?Jawamiul kalim merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasulullah. Lalu apa itu sebenarnya jawamiul kalim? Jawamiul kalim bisa didefinisikan sebagai berikut:قليلة ويسيرة الألفاظ، ولكنها تحتوي وتشتمل المعاني الكبيرة الكثيرة“Sedikit dan ringannya lafaz, akan tetapi terkandung makna-makna yang agung dan luas.”Begitulah Allah berikan keistimewaan kepada Rasulullah sehingga perkataan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bisa ringkas dan padat, akan tetapi memiliki makna yang luar biasa, juga terkandung banyak faidah dan pelajaran yang bisa diambil. Efeknya apa? Perkataan beliau yang ringkas tersebut menjadi mudah untuk ditangkap oleh banyak kalangan karena ringkasnya. Juga mudah bagi kaum muslimin untuk menghafalnya.Kemudahan tersebut tentunya tidak lain merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas agama ini dan salah satu cara dari Allah untuk menjaga kemurnian agama ini hingga akhir zaman.Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahMengapa Rasulullah bisa mengucapkan perkataan-perkataan berupa jawamiul kalim ini? Kata-kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa ringkas, akan tetapi memliki banyak pelajaran penting dan relevan hingga sekarang. Jawabannya adalah sejatinya, perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut sebagaimana firman Allah,وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى“Tidaklah dia (Rasulullah) berkata dari hawa nafsunya, melainkan adalah wahyu yang turun kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,مَا يَقُولُ قَوْلًا عَنْ هَوًى وَغَرَضٍ، إِنمَا يَقُولُ مَا أُمِرَ بِهِ، يُبَلغُهُ إِلَى الناسِ كَامِلًا موفرًا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ“Tidaklah beliau (Rasulullah) mengucapkan sebuah ucapan berdasarkan dari hawa nafsu dan maksud pribadinya. Sesungguhnya beliau mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau. Beliau pun menyampaikannya kepada manusia secara lengkap dan utuh tanpa ada penambahan maupun pengurangan.”Oleh karena itu, ucapan-ucapan beliau seringkali mengandung makna yang luar biasa dan selalu relevan sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya ucapan beliau bukan datang dari diri pribadi beliau, melainkan merupakan wahyu dari Allah yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Contoh-contoh jawamiul kalimSetelah kita membahas tentang jawamiul kalim, selanjutnya kita akan lihat contoh-contoh dari jawamiul kalim tersebut. Di antara contohnya adalah:Pertamaإنما الأعمال بالنيات، ولِكُل امْرِئٍ ما نَوى“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap perbuatan tergantung apa yang diniatkan darinya.” (HR. Muslim)Contoh pertama dari jawamiul kalim adalah hadis tentang niat di atas. Hadis tersebut bisa dikatakan merupakan pondasi bagi amalan seseorang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya amalan dalam Islam semuanya berkaitan dengan niat.Niat merupakan hal yang membedakan suatu kegiatan merupakan ibadah atau bukan. Niat juga merupakan pembeda satu ibadah dengan ibadah lainnya. Niat jugalah yang membuat amalan harian bisa diganjar pahala dan sebaliknya, membuat amalan ibadah malah menjadi penyebab datangnya api neraka. Semuanya berputar seputar niat.Keduaلا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“Tidaklah seorang mukmin tersengat dari lubang (sarang hewan) yang sama dua kali.” (HR. Bukhari)Contoh selanjutnya adalah hadis di atas. Hadis tersebut merupakan nasihat agung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sejatinya seorang muslim tidaklah patut untuk mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus. Seseorang tentu bisa berbuat salah karena lalai atau semisalnya. Akan tetapi, seorang yang beriman tentunya sadar atas kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.Ketigaدعْ ما يُريبُك إلى ما لا يُريبُك“Tinggalkan yang meragukanmu kepada hal yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi)Hadis selanjutnya adalah hadis di atas yang merupakan nasihat dari Rasulullah untuk meninggalkan segala hal yang membuat kita ragu. Hal tersebut bisa berupa perkataan atau perbuatan yang kita tidak tahu itu hal yang boleh atau tidak. Jika kita masih ragu, sebaiknya kita tinggalkan.Hadis ini memiliki pelajaran penting bagi kita semua yang bisa kita aplikasikan pada banyak perkara dalam perkara agama. Hadis ini mengajarkan agar kita senantiasa berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan menerjang hal yang masih kita ragu mengenai hukumnya.Keempatلا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتى يُحِب لأخِيهِ ما يُحِب لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim)Contoh keempat adalah pada hadis di atas. Sebuah hadis indah yang mengajarkan kita standar untuk memperlakukan orang lain. Hendaknya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan sehingga kita bisa berbuat baik pada mereka dan juga mengajarkan kita untuk beradab dan memperlakukan orang lain dengan benar.Kelimaلا ضرر ولا ضرار “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah)Contoh terakhir adalah hadis di atas. Hadis yang agung ini merupakan landasan agama Islam dalam mengharamkan suatu perbuatan. Hadis ini juga menjadi kaidah fikih yang menentukan apakah suatu perbuatan itu boleh atau tidak. Sejatinya, Islam melarang setiap perbuatan yang membahayakan, entah bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Bahkan, Islam mengangkat beban syariat bagi orang yang akan mengalami bahaya jika ia memaksakan diri untuk melakukan ibadah.Baca juga: Keistimewaan Para Rasul***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi: Alukah.netIslamweb.net

Jawamiul Kalim: Salah Satu Keistimewaan Rasulullah

Daftar Isi ToggleApa itu jawamiul kalim?Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahContoh-contoh jawamiul kalimPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKetika Allah mengutus seseorang untuk menjadi Nabi dan Rasul, Allah berikan kepada mereka juga mukjizat dan keistimewaan sebagai bekal berdakwah dan sebagai bukti kenabian mereka. Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Sulaiman untuk bisa berbicara dengan hewan, Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Nuh yang bisa membelah lautan dengan izin Allah, dan para Nabi lainnya juga demikian.Tentunya, utusan terakhir yang Allah utus sebagai Nabi dan Rasul juga Allah berikan keistimewaan. Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allah berikan kepada beliau jawamiul kalim. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُعْطِيتُ جَوامِعَ الكَلِمِ، ونُصِرْتُ بالرعْبِ، وأُحِلتْ لِيَ الغَنائِمُ، وجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ طَهُورًا ومَسْجِدًا، وأُرْسِلْتُ إلى الخَلْقِ كافةً، وخُتِمَ بيَ النبِيونَ“Aku dianugerahi dengan jawamiul kalim, aku ditolong dengan rasa gentar (pada hati musuh), dihalalkan bagiku harta rampasan perang (ghanimah), dan dijadikan bagiku bumi ini suci dan tempat bersujud (masjid). Aku diutus kepada seluruh makhluk secara keseluruhan, dan para nabi ditutup dengan diutusnya diriku.” (HR. Muslim)Pada hadis di atas, Rasulullah sedang menjelaskan bahwa para Nabi diberikan oleh Allah berbagai keistimewaan. Rasulullah menyampaikan ada 6 keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu:– Allah membuat musuh Rasulullah merasa gentar;– Halalnya harta rampasan perang;– Bumi/tanah adalah suci dan bisa manjadi tempat salat (ibadah);– Rasulullah diutus untuk seluruh makhluk;– Rasulullah merupakan penutup para utusan Allah;– Jawamiul kalim.Salah satu dari 6 keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau adalah Allah anugerahkan kepada Rasulullah jawamiul kalim.Apa itu jawamiul kalim?Jawamiul kalim merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasulullah. Lalu apa itu sebenarnya jawamiul kalim? Jawamiul kalim bisa didefinisikan sebagai berikut:قليلة ويسيرة الألفاظ، ولكنها تحتوي وتشتمل المعاني الكبيرة الكثيرة“Sedikit dan ringannya lafaz, akan tetapi terkandung makna-makna yang agung dan luas.”Begitulah Allah berikan keistimewaan kepada Rasulullah sehingga perkataan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bisa ringkas dan padat, akan tetapi memiliki makna yang luar biasa, juga terkandung banyak faidah dan pelajaran yang bisa diambil. Efeknya apa? Perkataan beliau yang ringkas tersebut menjadi mudah untuk ditangkap oleh banyak kalangan karena ringkasnya. Juga mudah bagi kaum muslimin untuk menghafalnya.Kemudahan tersebut tentunya tidak lain merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas agama ini dan salah satu cara dari Allah untuk menjaga kemurnian agama ini hingga akhir zaman.Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahMengapa Rasulullah bisa mengucapkan perkataan-perkataan berupa jawamiul kalim ini? Kata-kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa ringkas, akan tetapi memliki banyak pelajaran penting dan relevan hingga sekarang. Jawabannya adalah sejatinya, perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut sebagaimana firman Allah,وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى“Tidaklah dia (Rasulullah) berkata dari hawa nafsunya, melainkan adalah wahyu yang turun kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,مَا يَقُولُ قَوْلًا عَنْ هَوًى وَغَرَضٍ، إِنمَا يَقُولُ مَا أُمِرَ بِهِ، يُبَلغُهُ إِلَى الناسِ كَامِلًا موفرًا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ“Tidaklah beliau (Rasulullah) mengucapkan sebuah ucapan berdasarkan dari hawa nafsu dan maksud pribadinya. Sesungguhnya beliau mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau. Beliau pun menyampaikannya kepada manusia secara lengkap dan utuh tanpa ada penambahan maupun pengurangan.”Oleh karena itu, ucapan-ucapan beliau seringkali mengandung makna yang luar biasa dan selalu relevan sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya ucapan beliau bukan datang dari diri pribadi beliau, melainkan merupakan wahyu dari Allah yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Contoh-contoh jawamiul kalimSetelah kita membahas tentang jawamiul kalim, selanjutnya kita akan lihat contoh-contoh dari jawamiul kalim tersebut. Di antara contohnya adalah:Pertamaإنما الأعمال بالنيات، ولِكُل امْرِئٍ ما نَوى“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap perbuatan tergantung apa yang diniatkan darinya.” (HR. Muslim)Contoh pertama dari jawamiul kalim adalah hadis tentang niat di atas. Hadis tersebut bisa dikatakan merupakan pondasi bagi amalan seseorang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya amalan dalam Islam semuanya berkaitan dengan niat.Niat merupakan hal yang membedakan suatu kegiatan merupakan ibadah atau bukan. Niat juga merupakan pembeda satu ibadah dengan ibadah lainnya. Niat jugalah yang membuat amalan harian bisa diganjar pahala dan sebaliknya, membuat amalan ibadah malah menjadi penyebab datangnya api neraka. Semuanya berputar seputar niat.Keduaلا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“Tidaklah seorang mukmin tersengat dari lubang (sarang hewan) yang sama dua kali.” (HR. Bukhari)Contoh selanjutnya adalah hadis di atas. Hadis tersebut merupakan nasihat agung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sejatinya seorang muslim tidaklah patut untuk mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus. Seseorang tentu bisa berbuat salah karena lalai atau semisalnya. Akan tetapi, seorang yang beriman tentunya sadar atas kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.Ketigaدعْ ما يُريبُك إلى ما لا يُريبُك“Tinggalkan yang meragukanmu kepada hal yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi)Hadis selanjutnya adalah hadis di atas yang merupakan nasihat dari Rasulullah untuk meninggalkan segala hal yang membuat kita ragu. Hal tersebut bisa berupa perkataan atau perbuatan yang kita tidak tahu itu hal yang boleh atau tidak. Jika kita masih ragu, sebaiknya kita tinggalkan.Hadis ini memiliki pelajaran penting bagi kita semua yang bisa kita aplikasikan pada banyak perkara dalam perkara agama. Hadis ini mengajarkan agar kita senantiasa berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan menerjang hal yang masih kita ragu mengenai hukumnya.Keempatلا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتى يُحِب لأخِيهِ ما يُحِب لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim)Contoh keempat adalah pada hadis di atas. Sebuah hadis indah yang mengajarkan kita standar untuk memperlakukan orang lain. Hendaknya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan sehingga kita bisa berbuat baik pada mereka dan juga mengajarkan kita untuk beradab dan memperlakukan orang lain dengan benar.Kelimaلا ضرر ولا ضرار “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah)Contoh terakhir adalah hadis di atas. Hadis yang agung ini merupakan landasan agama Islam dalam mengharamkan suatu perbuatan. Hadis ini juga menjadi kaidah fikih yang menentukan apakah suatu perbuatan itu boleh atau tidak. Sejatinya, Islam melarang setiap perbuatan yang membahayakan, entah bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Bahkan, Islam mengangkat beban syariat bagi orang yang akan mengalami bahaya jika ia memaksakan diri untuk melakukan ibadah.Baca juga: Keistimewaan Para Rasul***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi: Alukah.netIslamweb.net
Daftar Isi ToggleApa itu jawamiul kalim?Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahContoh-contoh jawamiul kalimPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKetika Allah mengutus seseorang untuk menjadi Nabi dan Rasul, Allah berikan kepada mereka juga mukjizat dan keistimewaan sebagai bekal berdakwah dan sebagai bukti kenabian mereka. Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Sulaiman untuk bisa berbicara dengan hewan, Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Nuh yang bisa membelah lautan dengan izin Allah, dan para Nabi lainnya juga demikian.Tentunya, utusan terakhir yang Allah utus sebagai Nabi dan Rasul juga Allah berikan keistimewaan. Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allah berikan kepada beliau jawamiul kalim. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُعْطِيتُ جَوامِعَ الكَلِمِ، ونُصِرْتُ بالرعْبِ، وأُحِلتْ لِيَ الغَنائِمُ، وجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ طَهُورًا ومَسْجِدًا، وأُرْسِلْتُ إلى الخَلْقِ كافةً، وخُتِمَ بيَ النبِيونَ“Aku dianugerahi dengan jawamiul kalim, aku ditolong dengan rasa gentar (pada hati musuh), dihalalkan bagiku harta rampasan perang (ghanimah), dan dijadikan bagiku bumi ini suci dan tempat bersujud (masjid). Aku diutus kepada seluruh makhluk secara keseluruhan, dan para nabi ditutup dengan diutusnya diriku.” (HR. Muslim)Pada hadis di atas, Rasulullah sedang menjelaskan bahwa para Nabi diberikan oleh Allah berbagai keistimewaan. Rasulullah menyampaikan ada 6 keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu:– Allah membuat musuh Rasulullah merasa gentar;– Halalnya harta rampasan perang;– Bumi/tanah adalah suci dan bisa manjadi tempat salat (ibadah);– Rasulullah diutus untuk seluruh makhluk;– Rasulullah merupakan penutup para utusan Allah;– Jawamiul kalim.Salah satu dari 6 keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau adalah Allah anugerahkan kepada Rasulullah jawamiul kalim.Apa itu jawamiul kalim?Jawamiul kalim merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasulullah. Lalu apa itu sebenarnya jawamiul kalim? Jawamiul kalim bisa didefinisikan sebagai berikut:قليلة ويسيرة الألفاظ، ولكنها تحتوي وتشتمل المعاني الكبيرة الكثيرة“Sedikit dan ringannya lafaz, akan tetapi terkandung makna-makna yang agung dan luas.”Begitulah Allah berikan keistimewaan kepada Rasulullah sehingga perkataan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bisa ringkas dan padat, akan tetapi memiliki makna yang luar biasa, juga terkandung banyak faidah dan pelajaran yang bisa diambil. Efeknya apa? Perkataan beliau yang ringkas tersebut menjadi mudah untuk ditangkap oleh banyak kalangan karena ringkasnya. Juga mudah bagi kaum muslimin untuk menghafalnya.Kemudahan tersebut tentunya tidak lain merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas agama ini dan salah satu cara dari Allah untuk menjaga kemurnian agama ini hingga akhir zaman.Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahMengapa Rasulullah bisa mengucapkan perkataan-perkataan berupa jawamiul kalim ini? Kata-kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa ringkas, akan tetapi memliki banyak pelajaran penting dan relevan hingga sekarang. Jawabannya adalah sejatinya, perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut sebagaimana firman Allah,وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى“Tidaklah dia (Rasulullah) berkata dari hawa nafsunya, melainkan adalah wahyu yang turun kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,مَا يَقُولُ قَوْلًا عَنْ هَوًى وَغَرَضٍ، إِنمَا يَقُولُ مَا أُمِرَ بِهِ، يُبَلغُهُ إِلَى الناسِ كَامِلًا موفرًا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ“Tidaklah beliau (Rasulullah) mengucapkan sebuah ucapan berdasarkan dari hawa nafsu dan maksud pribadinya. Sesungguhnya beliau mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau. Beliau pun menyampaikannya kepada manusia secara lengkap dan utuh tanpa ada penambahan maupun pengurangan.”Oleh karena itu, ucapan-ucapan beliau seringkali mengandung makna yang luar biasa dan selalu relevan sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya ucapan beliau bukan datang dari diri pribadi beliau, melainkan merupakan wahyu dari Allah yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Contoh-contoh jawamiul kalimSetelah kita membahas tentang jawamiul kalim, selanjutnya kita akan lihat contoh-contoh dari jawamiul kalim tersebut. Di antara contohnya adalah:Pertamaإنما الأعمال بالنيات، ولِكُل امْرِئٍ ما نَوى“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap perbuatan tergantung apa yang diniatkan darinya.” (HR. Muslim)Contoh pertama dari jawamiul kalim adalah hadis tentang niat di atas. Hadis tersebut bisa dikatakan merupakan pondasi bagi amalan seseorang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya amalan dalam Islam semuanya berkaitan dengan niat.Niat merupakan hal yang membedakan suatu kegiatan merupakan ibadah atau bukan. Niat juga merupakan pembeda satu ibadah dengan ibadah lainnya. Niat jugalah yang membuat amalan harian bisa diganjar pahala dan sebaliknya, membuat amalan ibadah malah menjadi penyebab datangnya api neraka. Semuanya berputar seputar niat.Keduaلا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“Tidaklah seorang mukmin tersengat dari lubang (sarang hewan) yang sama dua kali.” (HR. Bukhari)Contoh selanjutnya adalah hadis di atas. Hadis tersebut merupakan nasihat agung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sejatinya seorang muslim tidaklah patut untuk mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus. Seseorang tentu bisa berbuat salah karena lalai atau semisalnya. Akan tetapi, seorang yang beriman tentunya sadar atas kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.Ketigaدعْ ما يُريبُك إلى ما لا يُريبُك“Tinggalkan yang meragukanmu kepada hal yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi)Hadis selanjutnya adalah hadis di atas yang merupakan nasihat dari Rasulullah untuk meninggalkan segala hal yang membuat kita ragu. Hal tersebut bisa berupa perkataan atau perbuatan yang kita tidak tahu itu hal yang boleh atau tidak. Jika kita masih ragu, sebaiknya kita tinggalkan.Hadis ini memiliki pelajaran penting bagi kita semua yang bisa kita aplikasikan pada banyak perkara dalam perkara agama. Hadis ini mengajarkan agar kita senantiasa berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan menerjang hal yang masih kita ragu mengenai hukumnya.Keempatلا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتى يُحِب لأخِيهِ ما يُحِب لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim)Contoh keempat adalah pada hadis di atas. Sebuah hadis indah yang mengajarkan kita standar untuk memperlakukan orang lain. Hendaknya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan sehingga kita bisa berbuat baik pada mereka dan juga mengajarkan kita untuk beradab dan memperlakukan orang lain dengan benar.Kelimaلا ضرر ولا ضرار “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah)Contoh terakhir adalah hadis di atas. Hadis yang agung ini merupakan landasan agama Islam dalam mengharamkan suatu perbuatan. Hadis ini juga menjadi kaidah fikih yang menentukan apakah suatu perbuatan itu boleh atau tidak. Sejatinya, Islam melarang setiap perbuatan yang membahayakan, entah bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Bahkan, Islam mengangkat beban syariat bagi orang yang akan mengalami bahaya jika ia memaksakan diri untuk melakukan ibadah.Baca juga: Keistimewaan Para Rasul***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi: Alukah.netIslamweb.net


Daftar Isi ToggleApa itu jawamiul kalim?Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahContoh-contoh jawamiul kalimPertamaKeduaKetigaKeempatKelimaKetika Allah mengutus seseorang untuk menjadi Nabi dan Rasul, Allah berikan kepada mereka juga mukjizat dan keistimewaan sebagai bekal berdakwah dan sebagai bukti kenabian mereka. Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Sulaiman untuk bisa berbicara dengan hewan, Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Nuh yang bisa membelah lautan dengan izin Allah, dan para Nabi lainnya juga demikian.Tentunya, utusan terakhir yang Allah utus sebagai Nabi dan Rasul juga Allah berikan keistimewaan. Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allah berikan kepada beliau jawamiul kalim. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أُعْطِيتُ جَوامِعَ الكَلِمِ، ونُصِرْتُ بالرعْبِ، وأُحِلتْ لِيَ الغَنائِمُ، وجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ طَهُورًا ومَسْجِدًا، وأُرْسِلْتُ إلى الخَلْقِ كافةً، وخُتِمَ بيَ النبِيونَ“Aku dianugerahi dengan jawamiul kalim, aku ditolong dengan rasa gentar (pada hati musuh), dihalalkan bagiku harta rampasan perang (ghanimah), dan dijadikan bagiku bumi ini suci dan tempat bersujud (masjid). Aku diutus kepada seluruh makhluk secara keseluruhan, dan para nabi ditutup dengan diutusnya diriku.” (HR. Muslim)Pada hadis di atas, Rasulullah sedang menjelaskan bahwa para Nabi diberikan oleh Allah berbagai keistimewaan. Rasulullah menyampaikan ada 6 keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu:– Allah membuat musuh Rasulullah merasa gentar;– Halalnya harta rampasan perang;– Bumi/tanah adalah suci dan bisa manjadi tempat salat (ibadah);– Rasulullah diutus untuk seluruh makhluk;– Rasulullah merupakan penutup para utusan Allah;– Jawamiul kalim.Salah satu dari 6 keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau adalah Allah anugerahkan kepada Rasulullah jawamiul kalim.Apa itu jawamiul kalim?Jawamiul kalim merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasulullah. Lalu apa itu sebenarnya jawamiul kalim? Jawamiul kalim bisa didefinisikan sebagai berikut:قليلة ويسيرة الألفاظ، ولكنها تحتوي وتشتمل المعاني الكبيرة الكثيرة“Sedikit dan ringannya lafaz, akan tetapi terkandung makna-makna yang agung dan luas.”Begitulah Allah berikan keistimewaan kepada Rasulullah sehingga perkataan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bisa ringkas dan padat, akan tetapi memiliki makna yang luar biasa, juga terkandung banyak faidah dan pelajaran yang bisa diambil. Efeknya apa? Perkataan beliau yang ringkas tersebut menjadi mudah untuk ditangkap oleh banyak kalangan karena ringkasnya. Juga mudah bagi kaum muslimin untuk menghafalnya.Kemudahan tersebut tentunya tidak lain merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas agama ini dan salah satu cara dari Allah untuk menjaga kemurnian agama ini hingga akhir zaman.Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu AllahMengapa Rasulullah bisa mengucapkan perkataan-perkataan berupa jawamiul kalim ini? Kata-kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa ringkas, akan tetapi memliki banyak pelajaran penting dan relevan hingga sekarang. Jawabannya adalah sejatinya, perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut sebagaimana firman Allah,وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى“Tidaklah dia (Rasulullah) berkata dari hawa nafsunya, melainkan adalah wahyu yang turun kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,مَا يَقُولُ قَوْلًا عَنْ هَوًى وَغَرَضٍ، إِنمَا يَقُولُ مَا أُمِرَ بِهِ، يُبَلغُهُ إِلَى الناسِ كَامِلًا موفرًا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ“Tidaklah beliau (Rasulullah) mengucapkan sebuah ucapan berdasarkan dari hawa nafsu dan maksud pribadinya. Sesungguhnya beliau mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau. Beliau pun menyampaikannya kepada manusia secara lengkap dan utuh tanpa ada penambahan maupun pengurangan.”Oleh karena itu, ucapan-ucapan beliau seringkali mengandung makna yang luar biasa dan selalu relevan sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya ucapan beliau bukan datang dari diri pribadi beliau, melainkan merupakan wahyu dari Allah yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Contoh-contoh jawamiul kalimSetelah kita membahas tentang jawamiul kalim, selanjutnya kita akan lihat contoh-contoh dari jawamiul kalim tersebut. Di antara contohnya adalah:Pertamaإنما الأعمال بالنيات، ولِكُل امْرِئٍ ما نَوى“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap perbuatan tergantung apa yang diniatkan darinya.” (HR. Muslim)Contoh pertama dari jawamiul kalim adalah hadis tentang niat di atas. Hadis tersebut bisa dikatakan merupakan pondasi bagi amalan seseorang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya amalan dalam Islam semuanya berkaitan dengan niat.Niat merupakan hal yang membedakan suatu kegiatan merupakan ibadah atau bukan. Niat juga merupakan pembeda satu ibadah dengan ibadah lainnya. Niat jugalah yang membuat amalan harian bisa diganjar pahala dan sebaliknya, membuat amalan ibadah malah menjadi penyebab datangnya api neraka. Semuanya berputar seputar niat.Keduaلا يلدغ المؤمن من جحر مرتين“Tidaklah seorang mukmin tersengat dari lubang (sarang hewan) yang sama dua kali.” (HR. Bukhari)Contoh selanjutnya adalah hadis di atas. Hadis tersebut merupakan nasihat agung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sejatinya seorang muslim tidaklah patut untuk mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus. Seseorang tentu bisa berbuat salah karena lalai atau semisalnya. Akan tetapi, seorang yang beriman tentunya sadar atas kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.Ketigaدعْ ما يُريبُك إلى ما لا يُريبُك“Tinggalkan yang meragukanmu kepada hal yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi)Hadis selanjutnya adalah hadis di atas yang merupakan nasihat dari Rasulullah untuk meninggalkan segala hal yang membuat kita ragu. Hal tersebut bisa berupa perkataan atau perbuatan yang kita tidak tahu itu hal yang boleh atau tidak. Jika kita masih ragu, sebaiknya kita tinggalkan.Hadis ini memiliki pelajaran penting bagi kita semua yang bisa kita aplikasikan pada banyak perkara dalam perkara agama. Hadis ini mengajarkan agar kita senantiasa berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan menerjang hal yang masih kita ragu mengenai hukumnya.Keempatلا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتى يُحِب لأخِيهِ ما يُحِب لِنَفْسِهِ “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim)Contoh keempat adalah pada hadis di atas. Sebuah hadis indah yang mengajarkan kita standar untuk memperlakukan orang lain. Hendaknya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan sehingga kita bisa berbuat baik pada mereka dan juga mengajarkan kita untuk beradab dan memperlakukan orang lain dengan benar.Kelimaلا ضرر ولا ضرار “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah)Contoh terakhir adalah hadis di atas. Hadis yang agung ini merupakan landasan agama Islam dalam mengharamkan suatu perbuatan. Hadis ini juga menjadi kaidah fikih yang menentukan apakah suatu perbuatan itu boleh atau tidak. Sejatinya, Islam melarang setiap perbuatan yang membahayakan, entah bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Bahkan, Islam mengangkat beban syariat bagi orang yang akan mengalami bahaya jika ia memaksakan diri untuk melakukan ibadah.Baca juga: Keistimewaan Para Rasul***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi: Alukah.netIslamweb.net

Umrah dengan Cicilan, Bolehkah? Kajian Fikih tentang Travel, Pembiayaan, dan Bonus Umrah Gratis

Banyak kaum muslimin ingin berangkat umrah, namun belum memiliki dana yang cukup untuk membayar secara tunai. Karena itu, sebagian travel menawarkan fasilitas cicilan, bahkan bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan agar jamaah dapat berangkat lebih mudah. Lalu, bagaimana hukum sistem seperti ini dalam Islam? Apakah termasuk riba, ataukah masih dibolehkan dalam koridor syariat? Tulisan ini mengulas jawabannya berdasarkan kajian fikih muamalah dan pendapat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan Pembiayaan 1.1. Ringkasan Faedah Fikih 2. Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk Koordinator 3. Penutup  Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan PembiayaanPertanyaanSaya memiliki perusahaan wisata, haji, dan umrah. Salah satu perusahaan pembiayaan ingin bekerja sama dengan saya untuk memberikan fasilitas cicilan kepada pelanggan yang menginginkannya.Jadi, siapa saja yang membutuhkan pembayaran secara angsuran akan berurusan dengan perusahaan pembiayaan tersebut. Adapun saya tetap melaksanakan program haji atau umrah, dan saya menerima pembayaran penuh atas hak saya.Apakah model seperti ini diperbolehkan, ataukah termasuk riba?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Layanan haji dan umrah termasuk dalam kategori ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia (ijarah al-manāfi‘ al-maushūfah fi adz-dzimmah). Akad semacam ini pada dasarnya sah menurut syariat.Dalam akad ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah (biaya sewa atau jasa) harus dilakukan tunai pada saat akad, selama akad tersebut tidak dilakukan dengan lafaz salam. Ini adalah pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa nomor 135463.Pendapat ini juga dipilih oleh Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami Ad-Duwali (Akademi Fikih Islam Internasional) yang berada di bawah naungan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dalam pembahasan mengenai penundaan pembayaran ujrah pada akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Dalam keputusannya disebutkan:“Dalam akad ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dalam tanggungan, diperbolehkan membayar ujrah secara tunai, secara angsuran, maupun ditangguhkan pembayarannya.”Berdasarkan hal tersebut, model transaksi yang disebutkan oleh penanya dapat dibuat sesuai syariat dengan menggunakan dua akad yang terpisah, yaitu:Akad Pertama:  Akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah antara pelanggan dan perusahaan pembiayaan. Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tangguh dan dicicil.Akad Kedua:  Akad ijarah lainnya yang terpisah antara perusahaan pembiayaan dan pemilik usaha wisata (penanya). Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tunai atau langsung.Disebutkan dalam Standar Syariah yang diterbitkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) pada Standar Nomor 34:“Diperbolehkan akad ijarah dilakukan atas suatu manfaat (jasa) yang dijelaskan spesifikasinya secara rinci dalam tanggungan, dengan penjelasan yang cukup untuk menghilangkan ketidakjelasan yang dapat menimbulkan sengketa. Dalam kondisi seperti ini, manfaat tersebut tidak disyaratkan sudah dimiliki oleh penyedia jasa pada saat akad. Yang penting, disepakati bahwa jasa yang dijelaskan tersebut akan diberikan pada waktu yang telah ditentukan. Selain itu, harus diperhatikan bahwa penyedia jasa memungkinkan untuk memiliki atau menyediakan jasa tersebut, serta mampu menyerahkannya kepada penyewa pada waktu yang telah disepakati, baik dilakukan sendiri maupun melalui pihak lain. Dalam akad seperti ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan tunai, selama akad tersebut tidak menggunakan lafaz salam atau salaf.”Wallāhu a‘lam.Referensi Fatwa: Islamweb, no. 480154 Ringkasan Faedah FikihDari fatwa ini dapat dipahami beberapa poin penting:Layanan haji dan umrah dipandang sebagai objek ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu manfaat atau jasa yang akan diberikan di masa mendatang dan menjadi tanggungan penyedia.Biaya jasa boleh dibayar secara angsuran atau ditangguhkan, menurut pendapat yang lebih kuat.Perusahaan pembiayaan dapat menjadi pihak yang membeli manfaat tersebut dari travel, lalu menjual manfaat yang sama kepada pelanggan dengan akad ijarah yang terpisah.Penyedia jasa tidak harus melaksanakan sendiri seluruh layanan, tetapi boleh menggunakan pihak lain sebagai pelaksana selama mampu menjamin terlaksananya layanan yang dijanjikan.Yang harus dihindari adalah menjadikan transaksi tersebut sebagai pinjaman uang yang menghasilkan tambahan karena penangguhan pembayaran, karena itu termasuk riba. Adapun jika akadnya benar-benar akad jasa (ijarah), maka hukumnya berbeda dengan akad pinjaman (qardh). Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk KoordinatorPertanyaanSaya adalah seorang pegawai pemerintah. Atas inisiatif pribadi, saya membuat kerja sama dengan sebuah perusahaan perjalanan agar mereka dapat memberangkatkan para calon jamaah umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dengan sistem pembayaran angsuran bulanan, disertai jaminan administratif dan resmi. Perusahaan tersebut juga memberikan saya fasilitas berupa perjalanan umrah gratis apabila saya berhasil mengajak dua puluh pegawai untuk berangkat umrah melalui mereka.Apakah para pegawai tersebut boleh berangkat umrah dengan sistem cicilan dan dengan harga yang sama seperti pembayaran tunai?Dan apakah saya boleh berangkat umrah atas biaya perusahaan tersebut sebagai imbalan atas jasa dan usaha saya dalam mengoordinasikan keberangkatan para jamaah umrah?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Mengenai pemberangkatan jamaah haji dan umrah dengan pembayaran secara angsuran, para ulama berbeda pendapat karena di dalamnya terdapat persoalan penundaan pembayaran ujrah (biaya jasa) yang menjadi imbalan atas manfaat yang masih berada dalam tanggungan (maushufah fi adz-dzimmah).Sebagian ulama melarangnya dan mensyaratkan agar ujrah dibayar tunai pada saat akad, sebagaimana harga dalam akad salam. Sebagian ulama lainnya membolehkan penundaan seluruh atau sebagian pembayaran ujrah.Dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah disebutkan rincian perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut:Pendapat Pertama: Mazhab HanafiMenurut mazhab Hanafi, pada asalnya ujrah tidak otomatis menjadi hak yang harus dibayar hanya karena akad telah dilakukan. Ujrah baru menjadi wajib dengan salah satu dari beberapa sebab berikut:pembayaran dipercepat,disyaratkan dalam akad,manfaat telah digunakan,atau penyewa telah memungkinkan untuk menggunakan manfaat tersebut.Karena akad ijarah berhubungan dengan manfaat yang muncul secara bertahap, sedangkan manfaat tersebut tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad berlangsung, maka imbalannya pun tidak harus dibayar sekaligus saat akad.Ibnu ‘Abidin berkata:“Ujrah tidak menjadi hak hanya dengan akad, karena akad ijarah dilakukan atas manfaat, sedangkan manfaat muncul sedikit demi sedikit. Pada asalnya, imbalan mengikuti objek yang diberi imbalan. Karena manfaat tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad, maka imbalannya pun tidak wajib sekaligus saat akad, kecuali apabila disyaratkan atau dibayar lebih dahulu.”Pendapat Kedua: Mazhab MalikiMenurut mazhab Maliki, agar ijarah dzimmah sah, ujrah harus dibayar di awal akad.Sebab apabila manfaat dan ujrah sama-sama ditunda, maka akan terjadi pertukaran utang dengan utang (bai‘ al-kāli’ bil-kāli’) yang dilarang.Namun apabila penyewa sudah mulai menikmati manfaat, misalnya sudah mulai menggunakan kendaraan yang disewa, maka setelah itu pembayaran ujrah boleh ditunda.Mereka juga menganggap bahwa menunda pembayaran selama dua atau tiga hari masih termasuk kategori pembayaran tunai, karena sesuatu yang sangat dekat dengan suatu keadaan dihukumi seperti keadaan tersebut.Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara akad yang dilakukan dengan lafaz ijarah maupun lafaz salam.Pendapat Ketiga: Mazhab Syafi’iMazhab Syafi’i mensyaratkan agar dalam ijarah dzimmah, pihak yang menyewakan menerima ujrah di majelis akad.Apabila kedua pihak berpisah sebelum ujrah diterima, maka akad batal.Alasannya, ijarah dzimmah dipandang sebagai bentuk salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘), sehingga hukumnya mengikuti akad salam pada barang.Pendapat Keempat: Mazhab HanbaliMenurut mazhab Hanbali, apabila akad dilakukan dengan lafaz salam atau salaf, maka pembayaran ujrah harus dilakukan saat akad.Contohnya seseorang berkata:“Aku melakukan salam dengan satu dinar ini untuk manfaat seekor kendaraan dengan spesifikasi tertentu yang akan membawaku ke tempat tertentu.”Atau:“Aku melakukan salam untuk manfaat seorang pekerja dengan spesifikasi tertentu yang akan membangun tembok tertentu.”Dalam keadaan seperti ini, pembayaran ujrah harus dilakukan di majelis akad. Jika tidak, maka akad berubah menjadi pertukaran utang dengan utang yang terlarang.Namun apabila akad tidak menggunakan lafaz salam atau salaf, melainkan menggunakan akad ijarah biasa, maka pembayaran ujrah tidak harus dipercepat karena akad tersebut tidak dianggap sebagai salam.Kesimpulan HukumBerdasarkan pendapat yang membolehkan penundaan pembayaran ujrah, maka tidak mengapa biaya umrah tersebut dibayar secara angsuran, baik seluruhnya maupun sebagian.Tidak mengapa pula harga cicilan lebih tinggi daripada harga tunai. Sebab dalam transaksi muamalah dikenal kaidah bahwa:“Jangka waktu memiliki nilai yang diperhitungkan dalam harga.”Yang penting adalah:harga telah ditentukan secara jelas sejak awal akad,tidak boleh ada tambahan baru apabila terjadi keterlambatan pembayaran cicilan,dan jumlah cicilan harus tetap serta tidak berubah selama masa akad.Hukum Mendapatkan Umrah Gratis sebagai Imbalan JasaAdapun jasa yang Anda lakukan berupa menjadi perantara (samsarah) antara perusahaan perjalanan dan para pelanggan, kemudian perusahaan memberikan kepada Anda manfaat tertentu yang telah diketahui, yaitu perjalanan umrah gratis, maka hal tersebut tidak mengapa.Imbalan tersebut termasuk kompensasi atas jasa yang Anda berikan.Imam Asy-Syarbini berkata dalam Mughni Al-Muhtaj:“Apabila seseorang menukar suatu manfaat dengan manfaat lainnya, maka hal itu diperbolehkan tanpa perselisihan.”Imam Al-Bukhari juga membuat bab khusus berjudul:باب أجر السمسرة“Bab Upah bagi Perantara (Broker).”Beliau menukil bahwa:Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim An-Nakha‘i, dan Al-Hasan Al-Bashri tidak memandang adanya masalah dalam mengambil upah sebagai perantara atau makelar.Wallāhu a‘lam. PenutupKeinginan untuk berangkat ke Tanah Suci adalah cita-cita mulia yang hendaknya ditempuh dengan cara yang halal. Kemudahan pembayaran melalui cicilan tidak boleh membuat seorang muslim mengabaikan kejelasan akad dan menjatuhkan diri ke dalam transaksi yang mengandung riba. Demikian pula penyelenggara perjalanan umrah hendaknya menjaga amanah dan transparansi dalam setiap layanan yang ditawarkan kepada jamaah. Semoga Allah memudahkan kita meraih umrah dan haji yang mabrur melalui jalan yang halal dan penuh keberkahan.—– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah fikih muamalah haji cicilan ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah pembiayaan syariah riba samsarah travel umrah umrah cicilan

Umrah dengan Cicilan, Bolehkah? Kajian Fikih tentang Travel, Pembiayaan, dan Bonus Umrah Gratis

Banyak kaum muslimin ingin berangkat umrah, namun belum memiliki dana yang cukup untuk membayar secara tunai. Karena itu, sebagian travel menawarkan fasilitas cicilan, bahkan bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan agar jamaah dapat berangkat lebih mudah. Lalu, bagaimana hukum sistem seperti ini dalam Islam? Apakah termasuk riba, ataukah masih dibolehkan dalam koridor syariat? Tulisan ini mengulas jawabannya berdasarkan kajian fikih muamalah dan pendapat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan Pembiayaan 1.1. Ringkasan Faedah Fikih 2. Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk Koordinator 3. Penutup  Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan PembiayaanPertanyaanSaya memiliki perusahaan wisata, haji, dan umrah. Salah satu perusahaan pembiayaan ingin bekerja sama dengan saya untuk memberikan fasilitas cicilan kepada pelanggan yang menginginkannya.Jadi, siapa saja yang membutuhkan pembayaran secara angsuran akan berurusan dengan perusahaan pembiayaan tersebut. Adapun saya tetap melaksanakan program haji atau umrah, dan saya menerima pembayaran penuh atas hak saya.Apakah model seperti ini diperbolehkan, ataukah termasuk riba?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Layanan haji dan umrah termasuk dalam kategori ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia (ijarah al-manāfi‘ al-maushūfah fi adz-dzimmah). Akad semacam ini pada dasarnya sah menurut syariat.Dalam akad ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah (biaya sewa atau jasa) harus dilakukan tunai pada saat akad, selama akad tersebut tidak dilakukan dengan lafaz salam. Ini adalah pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa nomor 135463.Pendapat ini juga dipilih oleh Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami Ad-Duwali (Akademi Fikih Islam Internasional) yang berada di bawah naungan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dalam pembahasan mengenai penundaan pembayaran ujrah pada akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Dalam keputusannya disebutkan:“Dalam akad ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dalam tanggungan, diperbolehkan membayar ujrah secara tunai, secara angsuran, maupun ditangguhkan pembayarannya.”Berdasarkan hal tersebut, model transaksi yang disebutkan oleh penanya dapat dibuat sesuai syariat dengan menggunakan dua akad yang terpisah, yaitu:Akad Pertama:  Akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah antara pelanggan dan perusahaan pembiayaan. Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tangguh dan dicicil.Akad Kedua:  Akad ijarah lainnya yang terpisah antara perusahaan pembiayaan dan pemilik usaha wisata (penanya). Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tunai atau langsung.Disebutkan dalam Standar Syariah yang diterbitkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) pada Standar Nomor 34:“Diperbolehkan akad ijarah dilakukan atas suatu manfaat (jasa) yang dijelaskan spesifikasinya secara rinci dalam tanggungan, dengan penjelasan yang cukup untuk menghilangkan ketidakjelasan yang dapat menimbulkan sengketa. Dalam kondisi seperti ini, manfaat tersebut tidak disyaratkan sudah dimiliki oleh penyedia jasa pada saat akad. Yang penting, disepakati bahwa jasa yang dijelaskan tersebut akan diberikan pada waktu yang telah ditentukan. Selain itu, harus diperhatikan bahwa penyedia jasa memungkinkan untuk memiliki atau menyediakan jasa tersebut, serta mampu menyerahkannya kepada penyewa pada waktu yang telah disepakati, baik dilakukan sendiri maupun melalui pihak lain. Dalam akad seperti ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan tunai, selama akad tersebut tidak menggunakan lafaz salam atau salaf.”Wallāhu a‘lam.Referensi Fatwa: Islamweb, no. 480154 Ringkasan Faedah FikihDari fatwa ini dapat dipahami beberapa poin penting:Layanan haji dan umrah dipandang sebagai objek ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu manfaat atau jasa yang akan diberikan di masa mendatang dan menjadi tanggungan penyedia.Biaya jasa boleh dibayar secara angsuran atau ditangguhkan, menurut pendapat yang lebih kuat.Perusahaan pembiayaan dapat menjadi pihak yang membeli manfaat tersebut dari travel, lalu menjual manfaat yang sama kepada pelanggan dengan akad ijarah yang terpisah.Penyedia jasa tidak harus melaksanakan sendiri seluruh layanan, tetapi boleh menggunakan pihak lain sebagai pelaksana selama mampu menjamin terlaksananya layanan yang dijanjikan.Yang harus dihindari adalah menjadikan transaksi tersebut sebagai pinjaman uang yang menghasilkan tambahan karena penangguhan pembayaran, karena itu termasuk riba. Adapun jika akadnya benar-benar akad jasa (ijarah), maka hukumnya berbeda dengan akad pinjaman (qardh). Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk KoordinatorPertanyaanSaya adalah seorang pegawai pemerintah. Atas inisiatif pribadi, saya membuat kerja sama dengan sebuah perusahaan perjalanan agar mereka dapat memberangkatkan para calon jamaah umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dengan sistem pembayaran angsuran bulanan, disertai jaminan administratif dan resmi. Perusahaan tersebut juga memberikan saya fasilitas berupa perjalanan umrah gratis apabila saya berhasil mengajak dua puluh pegawai untuk berangkat umrah melalui mereka.Apakah para pegawai tersebut boleh berangkat umrah dengan sistem cicilan dan dengan harga yang sama seperti pembayaran tunai?Dan apakah saya boleh berangkat umrah atas biaya perusahaan tersebut sebagai imbalan atas jasa dan usaha saya dalam mengoordinasikan keberangkatan para jamaah umrah?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Mengenai pemberangkatan jamaah haji dan umrah dengan pembayaran secara angsuran, para ulama berbeda pendapat karena di dalamnya terdapat persoalan penundaan pembayaran ujrah (biaya jasa) yang menjadi imbalan atas manfaat yang masih berada dalam tanggungan (maushufah fi adz-dzimmah).Sebagian ulama melarangnya dan mensyaratkan agar ujrah dibayar tunai pada saat akad, sebagaimana harga dalam akad salam. Sebagian ulama lainnya membolehkan penundaan seluruh atau sebagian pembayaran ujrah.Dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah disebutkan rincian perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut:Pendapat Pertama: Mazhab HanafiMenurut mazhab Hanafi, pada asalnya ujrah tidak otomatis menjadi hak yang harus dibayar hanya karena akad telah dilakukan. Ujrah baru menjadi wajib dengan salah satu dari beberapa sebab berikut:pembayaran dipercepat,disyaratkan dalam akad,manfaat telah digunakan,atau penyewa telah memungkinkan untuk menggunakan manfaat tersebut.Karena akad ijarah berhubungan dengan manfaat yang muncul secara bertahap, sedangkan manfaat tersebut tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad berlangsung, maka imbalannya pun tidak harus dibayar sekaligus saat akad.Ibnu ‘Abidin berkata:“Ujrah tidak menjadi hak hanya dengan akad, karena akad ijarah dilakukan atas manfaat, sedangkan manfaat muncul sedikit demi sedikit. Pada asalnya, imbalan mengikuti objek yang diberi imbalan. Karena manfaat tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad, maka imbalannya pun tidak wajib sekaligus saat akad, kecuali apabila disyaratkan atau dibayar lebih dahulu.”Pendapat Kedua: Mazhab MalikiMenurut mazhab Maliki, agar ijarah dzimmah sah, ujrah harus dibayar di awal akad.Sebab apabila manfaat dan ujrah sama-sama ditunda, maka akan terjadi pertukaran utang dengan utang (bai‘ al-kāli’ bil-kāli’) yang dilarang.Namun apabila penyewa sudah mulai menikmati manfaat, misalnya sudah mulai menggunakan kendaraan yang disewa, maka setelah itu pembayaran ujrah boleh ditunda.Mereka juga menganggap bahwa menunda pembayaran selama dua atau tiga hari masih termasuk kategori pembayaran tunai, karena sesuatu yang sangat dekat dengan suatu keadaan dihukumi seperti keadaan tersebut.Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara akad yang dilakukan dengan lafaz ijarah maupun lafaz salam.Pendapat Ketiga: Mazhab Syafi’iMazhab Syafi’i mensyaratkan agar dalam ijarah dzimmah, pihak yang menyewakan menerima ujrah di majelis akad.Apabila kedua pihak berpisah sebelum ujrah diterima, maka akad batal.Alasannya, ijarah dzimmah dipandang sebagai bentuk salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘), sehingga hukumnya mengikuti akad salam pada barang.Pendapat Keempat: Mazhab HanbaliMenurut mazhab Hanbali, apabila akad dilakukan dengan lafaz salam atau salaf, maka pembayaran ujrah harus dilakukan saat akad.Contohnya seseorang berkata:“Aku melakukan salam dengan satu dinar ini untuk manfaat seekor kendaraan dengan spesifikasi tertentu yang akan membawaku ke tempat tertentu.”Atau:“Aku melakukan salam untuk manfaat seorang pekerja dengan spesifikasi tertentu yang akan membangun tembok tertentu.”Dalam keadaan seperti ini, pembayaran ujrah harus dilakukan di majelis akad. Jika tidak, maka akad berubah menjadi pertukaran utang dengan utang yang terlarang.Namun apabila akad tidak menggunakan lafaz salam atau salaf, melainkan menggunakan akad ijarah biasa, maka pembayaran ujrah tidak harus dipercepat karena akad tersebut tidak dianggap sebagai salam.Kesimpulan HukumBerdasarkan pendapat yang membolehkan penundaan pembayaran ujrah, maka tidak mengapa biaya umrah tersebut dibayar secara angsuran, baik seluruhnya maupun sebagian.Tidak mengapa pula harga cicilan lebih tinggi daripada harga tunai. Sebab dalam transaksi muamalah dikenal kaidah bahwa:“Jangka waktu memiliki nilai yang diperhitungkan dalam harga.”Yang penting adalah:harga telah ditentukan secara jelas sejak awal akad,tidak boleh ada tambahan baru apabila terjadi keterlambatan pembayaran cicilan,dan jumlah cicilan harus tetap serta tidak berubah selama masa akad.Hukum Mendapatkan Umrah Gratis sebagai Imbalan JasaAdapun jasa yang Anda lakukan berupa menjadi perantara (samsarah) antara perusahaan perjalanan dan para pelanggan, kemudian perusahaan memberikan kepada Anda manfaat tertentu yang telah diketahui, yaitu perjalanan umrah gratis, maka hal tersebut tidak mengapa.Imbalan tersebut termasuk kompensasi atas jasa yang Anda berikan.Imam Asy-Syarbini berkata dalam Mughni Al-Muhtaj:“Apabila seseorang menukar suatu manfaat dengan manfaat lainnya, maka hal itu diperbolehkan tanpa perselisihan.”Imam Al-Bukhari juga membuat bab khusus berjudul:باب أجر السمسرة“Bab Upah bagi Perantara (Broker).”Beliau menukil bahwa:Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim An-Nakha‘i, dan Al-Hasan Al-Bashri tidak memandang adanya masalah dalam mengambil upah sebagai perantara atau makelar.Wallāhu a‘lam. PenutupKeinginan untuk berangkat ke Tanah Suci adalah cita-cita mulia yang hendaknya ditempuh dengan cara yang halal. Kemudahan pembayaran melalui cicilan tidak boleh membuat seorang muslim mengabaikan kejelasan akad dan menjatuhkan diri ke dalam transaksi yang mengandung riba. Demikian pula penyelenggara perjalanan umrah hendaknya menjaga amanah dan transparansi dalam setiap layanan yang ditawarkan kepada jamaah. Semoga Allah memudahkan kita meraih umrah dan haji yang mabrur melalui jalan yang halal dan penuh keberkahan.—– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah fikih muamalah haji cicilan ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah pembiayaan syariah riba samsarah travel umrah umrah cicilan
Banyak kaum muslimin ingin berangkat umrah, namun belum memiliki dana yang cukup untuk membayar secara tunai. Karena itu, sebagian travel menawarkan fasilitas cicilan, bahkan bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan agar jamaah dapat berangkat lebih mudah. Lalu, bagaimana hukum sistem seperti ini dalam Islam? Apakah termasuk riba, ataukah masih dibolehkan dalam koridor syariat? Tulisan ini mengulas jawabannya berdasarkan kajian fikih muamalah dan pendapat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan Pembiayaan 1.1. Ringkasan Faedah Fikih 2. Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk Koordinator 3. Penutup  Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan PembiayaanPertanyaanSaya memiliki perusahaan wisata, haji, dan umrah. Salah satu perusahaan pembiayaan ingin bekerja sama dengan saya untuk memberikan fasilitas cicilan kepada pelanggan yang menginginkannya.Jadi, siapa saja yang membutuhkan pembayaran secara angsuran akan berurusan dengan perusahaan pembiayaan tersebut. Adapun saya tetap melaksanakan program haji atau umrah, dan saya menerima pembayaran penuh atas hak saya.Apakah model seperti ini diperbolehkan, ataukah termasuk riba?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Layanan haji dan umrah termasuk dalam kategori ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia (ijarah al-manāfi‘ al-maushūfah fi adz-dzimmah). Akad semacam ini pada dasarnya sah menurut syariat.Dalam akad ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah (biaya sewa atau jasa) harus dilakukan tunai pada saat akad, selama akad tersebut tidak dilakukan dengan lafaz salam. Ini adalah pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa nomor 135463.Pendapat ini juga dipilih oleh Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami Ad-Duwali (Akademi Fikih Islam Internasional) yang berada di bawah naungan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dalam pembahasan mengenai penundaan pembayaran ujrah pada akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Dalam keputusannya disebutkan:“Dalam akad ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dalam tanggungan, diperbolehkan membayar ujrah secara tunai, secara angsuran, maupun ditangguhkan pembayarannya.”Berdasarkan hal tersebut, model transaksi yang disebutkan oleh penanya dapat dibuat sesuai syariat dengan menggunakan dua akad yang terpisah, yaitu:Akad Pertama:  Akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah antara pelanggan dan perusahaan pembiayaan. Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tangguh dan dicicil.Akad Kedua:  Akad ijarah lainnya yang terpisah antara perusahaan pembiayaan dan pemilik usaha wisata (penanya). Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tunai atau langsung.Disebutkan dalam Standar Syariah yang diterbitkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) pada Standar Nomor 34:“Diperbolehkan akad ijarah dilakukan atas suatu manfaat (jasa) yang dijelaskan spesifikasinya secara rinci dalam tanggungan, dengan penjelasan yang cukup untuk menghilangkan ketidakjelasan yang dapat menimbulkan sengketa. Dalam kondisi seperti ini, manfaat tersebut tidak disyaratkan sudah dimiliki oleh penyedia jasa pada saat akad. Yang penting, disepakati bahwa jasa yang dijelaskan tersebut akan diberikan pada waktu yang telah ditentukan. Selain itu, harus diperhatikan bahwa penyedia jasa memungkinkan untuk memiliki atau menyediakan jasa tersebut, serta mampu menyerahkannya kepada penyewa pada waktu yang telah disepakati, baik dilakukan sendiri maupun melalui pihak lain. Dalam akad seperti ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan tunai, selama akad tersebut tidak menggunakan lafaz salam atau salaf.”Wallāhu a‘lam.Referensi Fatwa: Islamweb, no. 480154 Ringkasan Faedah FikihDari fatwa ini dapat dipahami beberapa poin penting:Layanan haji dan umrah dipandang sebagai objek ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu manfaat atau jasa yang akan diberikan di masa mendatang dan menjadi tanggungan penyedia.Biaya jasa boleh dibayar secara angsuran atau ditangguhkan, menurut pendapat yang lebih kuat.Perusahaan pembiayaan dapat menjadi pihak yang membeli manfaat tersebut dari travel, lalu menjual manfaat yang sama kepada pelanggan dengan akad ijarah yang terpisah.Penyedia jasa tidak harus melaksanakan sendiri seluruh layanan, tetapi boleh menggunakan pihak lain sebagai pelaksana selama mampu menjamin terlaksananya layanan yang dijanjikan.Yang harus dihindari adalah menjadikan transaksi tersebut sebagai pinjaman uang yang menghasilkan tambahan karena penangguhan pembayaran, karena itu termasuk riba. Adapun jika akadnya benar-benar akad jasa (ijarah), maka hukumnya berbeda dengan akad pinjaman (qardh). Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk KoordinatorPertanyaanSaya adalah seorang pegawai pemerintah. Atas inisiatif pribadi, saya membuat kerja sama dengan sebuah perusahaan perjalanan agar mereka dapat memberangkatkan para calon jamaah umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dengan sistem pembayaran angsuran bulanan, disertai jaminan administratif dan resmi. Perusahaan tersebut juga memberikan saya fasilitas berupa perjalanan umrah gratis apabila saya berhasil mengajak dua puluh pegawai untuk berangkat umrah melalui mereka.Apakah para pegawai tersebut boleh berangkat umrah dengan sistem cicilan dan dengan harga yang sama seperti pembayaran tunai?Dan apakah saya boleh berangkat umrah atas biaya perusahaan tersebut sebagai imbalan atas jasa dan usaha saya dalam mengoordinasikan keberangkatan para jamaah umrah?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Mengenai pemberangkatan jamaah haji dan umrah dengan pembayaran secara angsuran, para ulama berbeda pendapat karena di dalamnya terdapat persoalan penundaan pembayaran ujrah (biaya jasa) yang menjadi imbalan atas manfaat yang masih berada dalam tanggungan (maushufah fi adz-dzimmah).Sebagian ulama melarangnya dan mensyaratkan agar ujrah dibayar tunai pada saat akad, sebagaimana harga dalam akad salam. Sebagian ulama lainnya membolehkan penundaan seluruh atau sebagian pembayaran ujrah.Dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah disebutkan rincian perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut:Pendapat Pertama: Mazhab HanafiMenurut mazhab Hanafi, pada asalnya ujrah tidak otomatis menjadi hak yang harus dibayar hanya karena akad telah dilakukan. Ujrah baru menjadi wajib dengan salah satu dari beberapa sebab berikut:pembayaran dipercepat,disyaratkan dalam akad,manfaat telah digunakan,atau penyewa telah memungkinkan untuk menggunakan manfaat tersebut.Karena akad ijarah berhubungan dengan manfaat yang muncul secara bertahap, sedangkan manfaat tersebut tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad berlangsung, maka imbalannya pun tidak harus dibayar sekaligus saat akad.Ibnu ‘Abidin berkata:“Ujrah tidak menjadi hak hanya dengan akad, karena akad ijarah dilakukan atas manfaat, sedangkan manfaat muncul sedikit demi sedikit. Pada asalnya, imbalan mengikuti objek yang diberi imbalan. Karena manfaat tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad, maka imbalannya pun tidak wajib sekaligus saat akad, kecuali apabila disyaratkan atau dibayar lebih dahulu.”Pendapat Kedua: Mazhab MalikiMenurut mazhab Maliki, agar ijarah dzimmah sah, ujrah harus dibayar di awal akad.Sebab apabila manfaat dan ujrah sama-sama ditunda, maka akan terjadi pertukaran utang dengan utang (bai‘ al-kāli’ bil-kāli’) yang dilarang.Namun apabila penyewa sudah mulai menikmati manfaat, misalnya sudah mulai menggunakan kendaraan yang disewa, maka setelah itu pembayaran ujrah boleh ditunda.Mereka juga menganggap bahwa menunda pembayaran selama dua atau tiga hari masih termasuk kategori pembayaran tunai, karena sesuatu yang sangat dekat dengan suatu keadaan dihukumi seperti keadaan tersebut.Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara akad yang dilakukan dengan lafaz ijarah maupun lafaz salam.Pendapat Ketiga: Mazhab Syafi’iMazhab Syafi’i mensyaratkan agar dalam ijarah dzimmah, pihak yang menyewakan menerima ujrah di majelis akad.Apabila kedua pihak berpisah sebelum ujrah diterima, maka akad batal.Alasannya, ijarah dzimmah dipandang sebagai bentuk salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘), sehingga hukumnya mengikuti akad salam pada barang.Pendapat Keempat: Mazhab HanbaliMenurut mazhab Hanbali, apabila akad dilakukan dengan lafaz salam atau salaf, maka pembayaran ujrah harus dilakukan saat akad.Contohnya seseorang berkata:“Aku melakukan salam dengan satu dinar ini untuk manfaat seekor kendaraan dengan spesifikasi tertentu yang akan membawaku ke tempat tertentu.”Atau:“Aku melakukan salam untuk manfaat seorang pekerja dengan spesifikasi tertentu yang akan membangun tembok tertentu.”Dalam keadaan seperti ini, pembayaran ujrah harus dilakukan di majelis akad. Jika tidak, maka akad berubah menjadi pertukaran utang dengan utang yang terlarang.Namun apabila akad tidak menggunakan lafaz salam atau salaf, melainkan menggunakan akad ijarah biasa, maka pembayaran ujrah tidak harus dipercepat karena akad tersebut tidak dianggap sebagai salam.Kesimpulan HukumBerdasarkan pendapat yang membolehkan penundaan pembayaran ujrah, maka tidak mengapa biaya umrah tersebut dibayar secara angsuran, baik seluruhnya maupun sebagian.Tidak mengapa pula harga cicilan lebih tinggi daripada harga tunai. Sebab dalam transaksi muamalah dikenal kaidah bahwa:“Jangka waktu memiliki nilai yang diperhitungkan dalam harga.”Yang penting adalah:harga telah ditentukan secara jelas sejak awal akad,tidak boleh ada tambahan baru apabila terjadi keterlambatan pembayaran cicilan,dan jumlah cicilan harus tetap serta tidak berubah selama masa akad.Hukum Mendapatkan Umrah Gratis sebagai Imbalan JasaAdapun jasa yang Anda lakukan berupa menjadi perantara (samsarah) antara perusahaan perjalanan dan para pelanggan, kemudian perusahaan memberikan kepada Anda manfaat tertentu yang telah diketahui, yaitu perjalanan umrah gratis, maka hal tersebut tidak mengapa.Imbalan tersebut termasuk kompensasi atas jasa yang Anda berikan.Imam Asy-Syarbini berkata dalam Mughni Al-Muhtaj:“Apabila seseorang menukar suatu manfaat dengan manfaat lainnya, maka hal itu diperbolehkan tanpa perselisihan.”Imam Al-Bukhari juga membuat bab khusus berjudul:باب أجر السمسرة“Bab Upah bagi Perantara (Broker).”Beliau menukil bahwa:Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim An-Nakha‘i, dan Al-Hasan Al-Bashri tidak memandang adanya masalah dalam mengambil upah sebagai perantara atau makelar.Wallāhu a‘lam. PenutupKeinginan untuk berangkat ke Tanah Suci adalah cita-cita mulia yang hendaknya ditempuh dengan cara yang halal. Kemudahan pembayaran melalui cicilan tidak boleh membuat seorang muslim mengabaikan kejelasan akad dan menjatuhkan diri ke dalam transaksi yang mengandung riba. Demikian pula penyelenggara perjalanan umrah hendaknya menjaga amanah dan transparansi dalam setiap layanan yang ditawarkan kepada jamaah. Semoga Allah memudahkan kita meraih umrah dan haji yang mabrur melalui jalan yang halal dan penuh keberkahan.—– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah fikih muamalah haji cicilan ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah pembiayaan syariah riba samsarah travel umrah umrah cicilan


Banyak kaum muslimin ingin berangkat umrah, namun belum memiliki dana yang cukup untuk membayar secara tunai. Karena itu, sebagian travel menawarkan fasilitas cicilan, bahkan bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan agar jamaah dapat berangkat lebih mudah. Lalu, bagaimana hukum sistem seperti ini dalam Islam? Apakah termasuk riba, ataukah masih dibolehkan dalam koridor syariat? Tulisan ini mengulas jawabannya berdasarkan kajian fikih muamalah dan pendapat para ulama.  Daftar Isi tutup 1. Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan Pembiayaan 1.1. Ringkasan Faedah Fikih 2. Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk Koordinator 3. Penutup  Kerja Sama Travel Umrah dengan Perusahaan PembiayaanPertanyaanSaya memiliki perusahaan wisata, haji, dan umrah. Salah satu perusahaan pembiayaan ingin bekerja sama dengan saya untuk memberikan fasilitas cicilan kepada pelanggan yang menginginkannya.Jadi, siapa saja yang membutuhkan pembayaran secara angsuran akan berurusan dengan perusahaan pembiayaan tersebut. Adapun saya tetap melaksanakan program haji atau umrah, dan saya menerima pembayaran penuh atas hak saya.Apakah model seperti ini diperbolehkan, ataukah termasuk riba?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Layanan haji dan umrah termasuk dalam kategori ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dan menjadi tanggungan penyedia (ijarah al-manāfi‘ al-maushūfah fi adz-dzimmah). Akad semacam ini pada dasarnya sah menurut syariat.Dalam akad ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah (biaya sewa atau jasa) harus dilakukan tunai pada saat akad, selama akad tersebut tidak dilakukan dengan lafaz salam. Ini adalah pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa nomor 135463.Pendapat ini juga dipilih oleh Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami Ad-Duwali (Akademi Fikih Islam Internasional) yang berada di bawah naungan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dalam pembahasan mengenai penundaan pembayaran ujrah pada akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah.Dalam keputusannya disebutkan:“Dalam akad ijarah atas manfaat yang dijelaskan spesifikasinya dalam tanggungan, diperbolehkan membayar ujrah secara tunai, secara angsuran, maupun ditangguhkan pembayarannya.”Berdasarkan hal tersebut, model transaksi yang disebutkan oleh penanya dapat dibuat sesuai syariat dengan menggunakan dua akad yang terpisah, yaitu:Akad Pertama:  Akad ijarah maushufah fi adz-dzimmah antara pelanggan dan perusahaan pembiayaan. Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tangguh dan dicicil.Akad Kedua:  Akad ijarah lainnya yang terpisah antara perusahaan pembiayaan dan pemilik usaha wisata (penanya). Dalam akad ini, biaya jasa dibayar secara tunai atau langsung.Disebutkan dalam Standar Syariah yang diterbitkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) pada Standar Nomor 34:“Diperbolehkan akad ijarah dilakukan atas suatu manfaat (jasa) yang dijelaskan spesifikasinya secara rinci dalam tanggungan, dengan penjelasan yang cukup untuk menghilangkan ketidakjelasan yang dapat menimbulkan sengketa. Dalam kondisi seperti ini, manfaat tersebut tidak disyaratkan sudah dimiliki oleh penyedia jasa pada saat akad. Yang penting, disepakati bahwa jasa yang dijelaskan tersebut akan diberikan pada waktu yang telah ditentukan. Selain itu, harus diperhatikan bahwa penyedia jasa memungkinkan untuk memiliki atau menyediakan jasa tersebut, serta mampu menyerahkannya kepada penyewa pada waktu yang telah disepakati, baik dilakukan sendiri maupun melalui pihak lain. Dalam akad seperti ini tidak disyaratkan pembayaran ujrah dilakukan tunai, selama akad tersebut tidak menggunakan lafaz salam atau salaf.”Wallāhu a‘lam.Referensi Fatwa: Islamweb, no. 480154 Ringkasan Faedah FikihDari fatwa ini dapat dipahami beberapa poin penting:Layanan haji dan umrah dipandang sebagai objek ijarah maushufah fi adz-dzimmah, yaitu manfaat atau jasa yang akan diberikan di masa mendatang dan menjadi tanggungan penyedia.Biaya jasa boleh dibayar secara angsuran atau ditangguhkan, menurut pendapat yang lebih kuat.Perusahaan pembiayaan dapat menjadi pihak yang membeli manfaat tersebut dari travel, lalu menjual manfaat yang sama kepada pelanggan dengan akad ijarah yang terpisah.Penyedia jasa tidak harus melaksanakan sendiri seluruh layanan, tetapi boleh menggunakan pihak lain sebagai pelaksana selama mampu menjamin terlaksananya layanan yang dijanjikan.Yang harus dihindari adalah menjadikan transaksi tersebut sebagai pinjaman uang yang menghasilkan tambahan karena penangguhan pembayaran, karena itu termasuk riba. Adapun jika akadnya benar-benar akad jasa (ijarah), maka hukumnya berbeda dengan akad pinjaman (qardh). Umrah dengan Sistem Angsuran dan Bonus Umrah Gratis untuk KoordinatorPertanyaanSaya adalah seorang pegawai pemerintah. Atas inisiatif pribadi, saya membuat kerja sama dengan sebuah perusahaan perjalanan agar mereka dapat memberangkatkan para calon jamaah umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dengan sistem pembayaran angsuran bulanan, disertai jaminan administratif dan resmi. Perusahaan tersebut juga memberikan saya fasilitas berupa perjalanan umrah gratis apabila saya berhasil mengajak dua puluh pegawai untuk berangkat umrah melalui mereka.Apakah para pegawai tersebut boleh berangkat umrah dengan sistem cicilan dan dengan harga yang sama seperti pembayaran tunai?Dan apakah saya boleh berangkat umrah atas biaya perusahaan tersebut sebagai imbalan atas jasa dan usaha saya dalam mengoordinasikan keberangkatan para jamaah umrah?JawabanAlhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Mengenai pemberangkatan jamaah haji dan umrah dengan pembayaran secara angsuran, para ulama berbeda pendapat karena di dalamnya terdapat persoalan penundaan pembayaran ujrah (biaya jasa) yang menjadi imbalan atas manfaat yang masih berada dalam tanggungan (maushufah fi adz-dzimmah).Sebagian ulama melarangnya dan mensyaratkan agar ujrah dibayar tunai pada saat akad, sebagaimana harga dalam akad salam. Sebagian ulama lainnya membolehkan penundaan seluruh atau sebagian pembayaran ujrah.Dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah disebutkan rincian perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut:Pendapat Pertama: Mazhab HanafiMenurut mazhab Hanafi, pada asalnya ujrah tidak otomatis menjadi hak yang harus dibayar hanya karena akad telah dilakukan. Ujrah baru menjadi wajib dengan salah satu dari beberapa sebab berikut:pembayaran dipercepat,disyaratkan dalam akad,manfaat telah digunakan,atau penyewa telah memungkinkan untuk menggunakan manfaat tersebut.Karena akad ijarah berhubungan dengan manfaat yang muncul secara bertahap, sedangkan manfaat tersebut tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad berlangsung, maka imbalannya pun tidak harus dibayar sekaligus saat akad.Ibnu ‘Abidin berkata:“Ujrah tidak menjadi hak hanya dengan akad, karena akad ijarah dilakukan atas manfaat, sedangkan manfaat muncul sedikit demi sedikit. Pada asalnya, imbalan mengikuti objek yang diberi imbalan. Karena manfaat tidak dapat diperoleh sekaligus saat akad, maka imbalannya pun tidak wajib sekaligus saat akad, kecuali apabila disyaratkan atau dibayar lebih dahulu.”Pendapat Kedua: Mazhab MalikiMenurut mazhab Maliki, agar ijarah dzimmah sah, ujrah harus dibayar di awal akad.Sebab apabila manfaat dan ujrah sama-sama ditunda, maka akan terjadi pertukaran utang dengan utang (bai‘ al-kāli’ bil-kāli’) yang dilarang.Namun apabila penyewa sudah mulai menikmati manfaat, misalnya sudah mulai menggunakan kendaraan yang disewa, maka setelah itu pembayaran ujrah boleh ditunda.Mereka juga menganggap bahwa menunda pembayaran selama dua atau tiga hari masih termasuk kategori pembayaran tunai, karena sesuatu yang sangat dekat dengan suatu keadaan dihukumi seperti keadaan tersebut.Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara akad yang dilakukan dengan lafaz ijarah maupun lafaz salam.Pendapat Ketiga: Mazhab Syafi’iMazhab Syafi’i mensyaratkan agar dalam ijarah dzimmah, pihak yang menyewakan menerima ujrah di majelis akad.Apabila kedua pihak berpisah sebelum ujrah diterima, maka akad batal.Alasannya, ijarah dzimmah dipandang sebagai bentuk salam dalam manfaat (salam fi al-manāfi‘), sehingga hukumnya mengikuti akad salam pada barang.Pendapat Keempat: Mazhab HanbaliMenurut mazhab Hanbali, apabila akad dilakukan dengan lafaz salam atau salaf, maka pembayaran ujrah harus dilakukan saat akad.Contohnya seseorang berkata:“Aku melakukan salam dengan satu dinar ini untuk manfaat seekor kendaraan dengan spesifikasi tertentu yang akan membawaku ke tempat tertentu.”Atau:“Aku melakukan salam untuk manfaat seorang pekerja dengan spesifikasi tertentu yang akan membangun tembok tertentu.”Dalam keadaan seperti ini, pembayaran ujrah harus dilakukan di majelis akad. Jika tidak, maka akad berubah menjadi pertukaran utang dengan utang yang terlarang.Namun apabila akad tidak menggunakan lafaz salam atau salaf, melainkan menggunakan akad ijarah biasa, maka pembayaran ujrah tidak harus dipercepat karena akad tersebut tidak dianggap sebagai salam.Kesimpulan HukumBerdasarkan pendapat yang membolehkan penundaan pembayaran ujrah, maka tidak mengapa biaya umrah tersebut dibayar secara angsuran, baik seluruhnya maupun sebagian.Tidak mengapa pula harga cicilan lebih tinggi daripada harga tunai. Sebab dalam transaksi muamalah dikenal kaidah bahwa:“Jangka waktu memiliki nilai yang diperhitungkan dalam harga.”Yang penting adalah:harga telah ditentukan secara jelas sejak awal akad,tidak boleh ada tambahan baru apabila terjadi keterlambatan pembayaran cicilan,dan jumlah cicilan harus tetap serta tidak berubah selama masa akad.Hukum Mendapatkan Umrah Gratis sebagai Imbalan JasaAdapun jasa yang Anda lakukan berupa menjadi perantara (samsarah) antara perusahaan perjalanan dan para pelanggan, kemudian perusahaan memberikan kepada Anda manfaat tertentu yang telah diketahui, yaitu perjalanan umrah gratis, maka hal tersebut tidak mengapa.Imbalan tersebut termasuk kompensasi atas jasa yang Anda berikan.Imam Asy-Syarbini berkata dalam Mughni Al-Muhtaj:“Apabila seseorang menukar suatu manfaat dengan manfaat lainnya, maka hal itu diperbolehkan tanpa perselisihan.”Imam Al-Bukhari juga membuat bab khusus berjudul:باب أجر السمسرة“Bab Upah bagi Perantara (Broker).”Beliau menukil bahwa:Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim An-Nakha‘i, dan Al-Hasan Al-Bashri tidak memandang adanya masalah dalam mengambil upah sebagai perantara atau makelar.Wallāhu a‘lam. PenutupKeinginan untuk berangkat ke Tanah Suci adalah cita-cita mulia yang hendaknya ditempuh dengan cara yang halal. Kemudahan pembayaran melalui cicilan tidak boleh membuat seorang muslim mengabaikan kejelasan akad dan menjatuhkan diri ke dalam transaksi yang mengandung riba. Demikian pula penyelenggara perjalanan umrah hendaknya menjaga amanah dan transparansi dalam setiap layanan yang ditawarkan kepada jamaah. Semoga Allah memudahkan kita meraih umrah dan haji yang mabrur melalui jalan yang halal dan penuh keberkahan.—– Selesai ditulis di Makkah saat berhaji bersama jamaah Nur Ramadhan Wisata 2026, 17 Dzulhijjah 1447 H, 3 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakad syariah fikih muamalah haji cicilan ijarah ijarah maushufah fi adz-dzimmah pembiayaan syariah riba samsarah travel umrah umrah cicilan
Prev     Next