OCD dalam Islam: Memahami Waswas, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Banyak orang yang tersiksa oleh waswas dalam wudhu, shalat, talak, niat, bahkan dalam akidah, lalu mengira bahwa semua itu terjadi karena lemahnya iman. Padahal, sebagian kasus tersebut termasuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang memiliki karakteristik berbeda dengan waswas setan yang biasa. Tulisan ini akan membantu Anda memahami perbedaan keduanya, mengenali gejalanya, serta mengetahui panduan syariat dan terapi yang tepat untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan Istilah 1.1. Waswas dalam bahasa Arab 1.2. Waswas dalam Istilah 2. Hadits-Hadits Penting tentang Waswas 2.1. 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada Maksiat 2.2. 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benar 2.3. 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan Dosa 2.4. 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setan 2.5. 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allah 2.6. 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswas 3. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang Waswas 3.1. 1. Waswas yang Mengajak kepada Maksiat 3.2. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang Sekilas 3.3. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCD 4. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD) 4.1. Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD) 4.2. Definisi OCD Menurut DSM-5 4.3. Dampak OCD 4.4. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCD 4.5. Sejarah Istilah OCD 4.6. Tingkat Penyebaran OCD 4.7. Jenis-Jenis Gangguan OCD 4.7.1. A. OCD Kebersihan dan Kesucian 4.7.2. B. OCD dalam Shalat 4.7.3. C. OCD Pikiran-Pikiran Keagamaan 4.7.4. D. OCD dalam Praktik Keagamaan 4.7.5. E. OCD Memeriksa dan Memastikan 4.7.6. F. OCD Menghitung 4.7.7. G. OCD Kerapian dan Keteraturan 4.7.8. H. OCD Bertema Seksual 4.7.9. I. OCD Bertema Menyakiti Orang Lain 5. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari Setan 6. OCD dalam Pembahasan Ulama Islam 6.1. Gambaran OCD Menurut Imam Al-Juwaini 6.2. Penjelasan Ibnul Jauzi 6.3. Penjelasan Ibnu Qudamah 6.4. Penjelasan Ibnul Qayyim 6.5. Catatan Penting 7. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD 7.1. 1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya Waswas 7.2. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan Psikiatri 7.3. 3. Manfaatkan Terapi Psikologis 7.4. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation) 7.5. 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara Rutin 7.6. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin Keimanan 7.7. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCD 7.8. 8. Hentikan Pengulangan Perilaku 7.9. 9. Lawan OCD Secara Menyeluruh 7.10. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari Penyebabnya 7.11. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran Obsesif 7.12. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCD 7.13. 13. Mintalah Bantuan Orang Terdekat 7.14. 14. Kesembuhan Membutuhkan Perjuangan 7.15. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi Kemunduran 7.16. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena Ragu 7.17. 17. Bangun Sikap Berdasarkan Kepastian 7.18. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih Mudah 7.19. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa Bersalah 7.20. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan Suci 7.21. 21. Syariat Dibangun di Atas Kemudahan 7.22. 22. Niat Tidak Perlu Dipersulit 7.23. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya Amal 7.24. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan Pikiran 7.25. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-Ulang 7.26. 26. Bersabar atas OCD Bernilai Ibadah 7.27. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai Dosa 7.28. 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi Pahala 7.29. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCD 7.30. 30. Kunci Utama: Mengabaikan Waswas 8. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung Terapi 8.1. Mengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan Agama 8.2. Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu Lama 8.3. Mengatasi OCD dalam Istinja 8.4. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam Shalat 8.5. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul Ihram 8.6. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung Rakaat 8.7. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat Shalat 8.8. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan Talak 9. Penegasan 10. Nasihat Penutup  Penyakit waswas obsesif-kompulsif (OCD) adalah gangguan kejiwaan yang telah dikenal luas. Seseorang dapat mengalaminya tanpa kehendak dan tanpa pilihan dari dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit fisik dan gangguan kejiwaan lainnya, OCD merupakan ujian dari Allah yang akan mendatangkan pahala bagi seorang hamba jika ia bersabar menghadapinya. Seorang hamba juga dianjurkan untuk mencari pengobatan, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.Penggunaan istilah waswas untuk menyebut penyakit ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih pemahaman dengan waswas yang berasal dari diri sendiri atau dari setan. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu muncul tanpa pilihan manusia. Namun, OCD berbeda karena memiliki faktor-faktor biologis sebagai penyebabnya. Selain itu, OCD ditandai dengan tingkat pengulangan, tekanan, dan dorongan yang jauh lebih kuat dibandingkan waswas biasa.Tampaknya, kesamaan istilah inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kekeliruan dalam memahami OCD. Banyak orang mencampuradukkan OCD dengan waswas yang berasal dari setan. Akibatnya, muncul berbagai kesalahan dalam penanganannya. Sebagian penderita juga menyalahkan diri sendiri dan mengira bahwa kondisi yang mereka alami disebabkan oleh lemahnya iman.Karena alasan tersebut, sebagian pakar, seperti Dr. Wa’il Abu Hindi, mengusulkan agar istilah waswas pada penyakit ini diganti dengan istilah istihwadz qahri (gangguan dominasi kompulsif). Lihat kitab Al-Waswas Al-Qahri hlm. 18 dan seterusnya.Apakah penjelasan ini berarti setan sama sekali tidak memiliki peran dalam munculnya OCD?Tidak. Tetap ada kemungkinan bahwa setan memiliki hubungan dengan munculnya gangguan OCD. Namun, hal itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang, juga tidak berpengaruh terhadap pahala dan dosa yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Sebagai contoh, darah istihadhah pada wanita adalah persoalan biologis murni dan tidak berkaitan dengan keimanan penderitanya. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai:رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ“Satu gangguan dari setan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 128 dan selainnya).Maksudnya, OCD memiliki faktor-faktor penyebab berupa unsur keturunan, biologis, dan lingkungan. Faktor-faktor ini menjadikan sifat OCD berbeda dari waswas setan dalam pengertian yang biasa dikenal, sehingga cara memahami dan menanganinya pun berbeda.Untuk memperjelas pembahasan tentang OCD dan cara menghadapinya, penjelasan selanjutnya akan disusun dalam beberapa poin pembahasan berikut. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan IstilahWaswas dalam bahasa ArabIbnu Faris berkata:“Huruf waw dan sin menunjukkan makna suara yang pelan dan tidak keras. Suara perhiasan disebut waswas. Bisikan pemburu disebut waswas. Godaan setan kepada anak Adam juga disebut waswas.”Waswasah dan waswas—dengan huruf waw pertama dibaca fathah atau kasrah—berarti bisikan hati atau percakapan dalam diri.Selain itu, waswasah juga berarti lintasan pikiran yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.” (QS. Al-A‘raf: 20)Waswas juga bermakna bisikan yang tersembunyi dan sangat halus. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)Seseorang disebut muwaswis (orang yang banyak berwaswas) apabila waswas telah mendominasi dirinya.Kata waswas juga digunakan untuk menyebut setan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan kata sumber (masdar) untuk menunjukkan pelakunya. Dengan demikian, Al-Waswas menjadi salah satu nama setan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas: 4–5) Waswas dalam IstilahWaswas adalah bisikan yang datang dari diri sendiri atau dari setan mengenai sesuatu yang tidak mengandung manfaat dan kebaikan. Hadits-Hadits Penting tentang WaswasHadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membahas waswas dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut: 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada MaksiatDari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن للشَّيطانِ للمَّةً بابنِ آدمَ، ولِلمَلك لَمَّةٌ، فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ: فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكْذيبٌ بالحقِّ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ، فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ. فمَن وجدَ ذلِكَ فليعلم أنَّهُ منَ اللَّهِ، فليحمَدِ اللَّهَ، ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ منَ الشَّيطانِ. ثمَّ قرأَ: {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا} [البقرة: 268] الآيةَ“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Siapa yang mendapati bisikan yang baik, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan memuji-Nya. Siapa yang mendapati selain itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan.”Kemudian beliau membaca firman Allah:“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268)(HR. At-Tirmidzi no. 2988 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11051. Sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir, 1:325). 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benara. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuBeberapa sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به، قال: (وقد وجدتموه؟) قالوا: نعم، قال: (ذاك صريح الإيمان)“Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang sangat berat sehingga salah seorang dari kami merasa enggan untuk mengucapkannya.”Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?”Mereka menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Itulah tanda iman yang murni.” (HR. Muslim no. 132).Maksudnya, mereka mendapati lintasan pikiran yang buruk tentang agama atau tentang Allah, tetapi mereka sangat membencinya dan tidak berani mengungkapkannya.b. Hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waswas, beliau menjawab:تلك محض الإيمان“Itu adalah iman yang murni.” (HR. Muslim no. 133). 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan DosaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ. “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya. Demikian pula terhadap sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih dalam Shahih Ibnu Majah no. 1676). 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setana. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَنَا يَجِدُ فِي نَفْسِهِ، يُعَرِّضُ بِالشَّيْءِ، لَأَنْ يَكُونَ حُمَمَةً أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ».Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai menjadi arang yang terbakar daripada mengucapkannya.”Beliau bersabda: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya setan hanya sebatas bisikan.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 5112).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ، فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ.“Sesungguhnya ketika setan mendengar azan untuk shalat, ia lari sambil kentut agar tidak mendengar suara azan. Ketika azan selesai, ia kembali dan membisikkan waswas. Ketika iqamah dikumandangkan, ia pergi lagi. Setelah iqamah selesai, ia kembali dan membisikkan waswas.” (HR. Muslim no. 389). 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allaha. Hadits Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhuأَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا». قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي.Utsman bin Abil Ash mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku sehingga membuatku bingung.”Beliau bersabda, “Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”Utsman berkata, “Aku melakukannya, lalu Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ».“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian dan berkata: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Hingga akhirnya ia berkata: Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134).c. Hadits tentang Membaca Surah Al-IkhlasDalam sebuah hadits disebutkan,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia saling bertanya hingga ada yang berkata: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Jika mereka mengatakan demikian, maka bacalah (surah Al-Ikhlas): ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian meludahlah ringan ke sebelah kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah dari setan.” (HR. dinilai sahih dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8182). 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswasa. Mengatakan “Aku Beriman kepada Allah”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 4721).b. Tidak Menghiraukan Keraguan yang Tidak PastiAbdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang merasa seolah-olah keluar sesuatu ketika shalat. Beliau bersabda,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat atau meninggalkannya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 177).Hadits ini mengajarkan prinsip penting dalam menghadapi waswas: jangan mengikuti keraguan dan dugaan semata, tetapi berpeganglah pada sesuatu yang benar-benar pasti. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang WaswasKetika mencermati hadits-hadits yang telah disebutkan, kita dapat melihat bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan dua jenis utama waswas.1. Waswas yang Mengajak kepada MaksiatJenis pertama adalah waswas yang mendorong seseorang untuk melihat, melakukan, atau mendengarkan sesuatu yang haram.Waswas seperti ini merupakan bagian dari tabiat manusia. Ia masuk ke dalam jiwa melalui hawa nafsu, yaitu melalui hal-hal yang disukai dan diinginkan oleh seseorang. Waswas jenis ini bukanlah akibat gangguan biologis dan bukan pula penyakit pada dirinya sendiri. Karena itu, waswas semacam ini dapat dialami oleh seluruh manusia, tidak terbatas pada orang yang memiliki gangguan kejiwaan tertentu.Respons seseorang terhadap waswas jenis inilah yang akan menjadi sebab ia mendapatkan pahala atau dosa di sisi Allah. Jika ia menolaknya, ia mendapatkan pahala. Jika ia mengikutinya, ia bisa terjatuh ke dalam maksiat.Sumber waswas ini berasal dari tiga hal:Nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis-su’).Setan dari kalangan jin.Setan dari kalangan manusia.Hanya saja, bisikan manusia biasanya berupa ucapan yang terdengar secara langsung, bukan sekadar lintasan pikiran dalam hati dan akal. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang SekilasJenis kedua adalah waswas dalam bentuk keraguan yang datang sesekali dan bukan menjadi kebiasaan yang terus-menerus.Waswas ini dapat muncul dalam urusan agama maupun kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang mulai ragu terhadap keimanannya, wudhunya, shalatnya, sahabatnya, kerabatnya, atau merasa tidak fokus dan tidak khusyuk dalam shalat.Berbeda dengan jenis pertama, waswas ini tidak mengajak seseorang kepada sesuatu yang ia sukai. Tujuannya adalah menanamkan keraguan dan kegelisahan dalam diri manusia. Keraguan itu bisa berkaitan dengan keyakinan yang ia pegang, atau mengenai suatu perbuatan apakah sudah dilakukan atau belum. Terkadang tujuan waswas ini hanyalah menyibukkan seseorang dari perkara-perkara yang seharusnya ia kerjakan dan yang bermanfaat baginya.Waswas semacam ini biasanya dapat hilang dengan segera melalui:Berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.Mengingat bahwa pikiran-pikiran tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.Melawannya dengan kesungguhan dan sikap tegas terhadap diri sendiri.Sumber utama waswas ini adalah setan, meskipun sebagian di antaranya mungkin berasal dari bisikan diri sendiri. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCDPara ulama Islam telah membedakan antara waswas yang datang sesekali seperti ini dengan jenis lain yang dalam dunia kedokteran modern dikenal sebagai gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) atau waswas obsesif-kompulsif.Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (2:466):“Orang yang disebut mustankih adalah orang yang selalu diliputi keraguan dalam setiap wudhu atau shalatnya, atau keraguan itu datang kepadanya sekali atau dua kali setiap hari. Adapun jika keraguan itu hanya muncul setelah dua atau tiga hari sekali, maka ia tidak termasuk orang yang mengalami waswas yang menetap (mustankih).”Dengan demikian, tidak setiap keraguan yang muncul dalam ibadah termasuk gangguan waswas yang berat. Keraguan yang sesekali muncul masih tergolong hal yang biasa dialami manusia. Adapun jika keraguan itu terus berulang, mendominasi pikiran, dan sulit dikendalikan, maka keadaannya berbeda dan memerlukan penanganan yang lebih khusus. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD)Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD)Dalam buku Al-Bandul karya Dr. Muhammad Asy-Syami disebutkan:“OCD adalah dominasi suatu pikiran tertentu yang memaksa dan terus-menerus hadir dalam diri penderitanya sehingga sulit dilawan. Pikiran tersebut terasa asing bagi dirinya. Ia sadar bahwa pikiran itu bukan berasal dari keinginannya, tidak sesuai dengan keyakinannya, dan tidak masuk akal menurut dirinya. Pikiran itu biasanya disertai rasa takut dan cemas, baik karena keberadaan pikiran itu sendiri maupun akibat yang ditimbulkannya. Namun, ia tidak mampu mengusirnya dari pikirannya. Pikiran tersebut terus berulang hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, pikiran tersebut mendorongnya melakukan tindakan-tindakan kompulsif karena ia mengira tindakan itu akan mengurangi gangguan tersebut. Padahal kenyataannya, gangguan itu justru semakin bertambah seiring waktu.” Definisi OCD Menurut DSM-5Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi Kelima (DSM-5), yang menjadi rujukan dunia medis internasional, menjelaskan bahwa OCD ditandai oleh adanya obsesi, tindakan kompulsif, atau keduanya.A. ObsesiObsesi berupa:Pikiran, dorongan, atau gambaran yang muncul berulang-ulang dan menetap.Pada suatu waktu selama gangguan berlangsung, penderita merasakannya sebagai sesuatu yang menyusup, mengganggu, dan tidak diinginkan.Pikiran tersebut menimbulkan kecemasan atau tekanan psikologis yang nyata.Penderita biasanya berusaha:Mengabaikan atau menekan pikiran tersebut.Menetralisirnya dengan pikiran lain atau dengan melakukan tindakan tertentu (kompulsi).B. Tindakan KompulsifTindakan kompulsif memiliki dua ciri utama:Pertama, berupa perilaku berulang atau aktivitas mental yang dilakukan terus-menerus, seperti:Mencuci tangan berulang kali.Menata barang secara berlebihan.Memeriksa sesuatu berulang kali.Mengulang bacaan dalam shalat.Menghitung angka tertentu.Mengulang kata-kata dalam hati.Penderita merasa terdorong untuk melakukannya sebagai respons terhadap obsesi atau karena adanya aturan yang menurutnya harus diterapkan secara ketat.Kedua, tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan:Mengurangi kecemasan atau tekanan batin.Mencegah terjadinya sesuatu yang dianggap buruk atau menakutkan.Namun, tindakan itu sering kali:Tidak memiliki hubungan yang realistis dengan tujuan yang ingin dicapai.Atau dilakukan secara berlebihan. Dampak OCDObsesi dan tindakan kompulsif biasanya:Menghabiskan banyak waktu (misalnya lebih dari satu jam setiap hari).Menimbulkan tekanan psikologis yang berat.Mengganggu kehidupan sosial.Mengganggu pekerjaan.Menghambat berbagai aktivitas penting lainnya. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCDDr. Wa’il Abu Hindi dalam Al-Waswas Al-Qahri min Manzhur ‘Arabi Islami (hlm. 19) merangkum ciri-ciri pikiran yang tergolong OCD sebagai berikut:Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memaksa masuk ke dalam kesadarannya dan menguasai pikirannya tanpa kehendaknya, meskipun ia sadar bahwa pikiran itu berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pengaruh luar.Penderita meyakini bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal, tidak benar, tidak penting, dan sebenarnya tidak layak mendapatkan perhatian.Penderita terus-menerus berusaha melawan dan menolaknya.Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memiliki kekuatan yang memaksa dirinya. Semakin ia melawan, semakin kuat dan sering pikiran itu muncul, sehingga ia terjebak dalam lingkaran pengulangan yang tidak berkesudahan. Sejarah Istilah OCDOrang pertama yang menyebut gangguan ini sebagai penyakit medis adalah dokter Prancis Jean Étienne Dominique pada tahun 1838. Saat itu gangguan ini dianggap sebagai salah satu bentuk kegilaan.Kemudian pada tahun 1877, psikiater Jerman Karl Westphal turut membahasnya.Pada tahun 1903, psikolog Prancis Pierre Janet menerbitkan buku berjudul Obsessions and Psychasthenia (Al-Waswas wa Adh-Dha‘f An-Nafsi).Setelah itu, istilah ini semakin dikenal luas melalui berbagai tulisan Sigmund Freud, yang tersebar luas di dunia psikologi dan psikiatri. Tingkat Penyebaran OCDBanyak penderita OCD merasa bahwa hanya dirinya yang mengalami gangguan ini. Padahal kenyataannya, OCD termasuk gangguan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat.Diperkirakan sekitar 2–3% populasi mengalami OCD, atau sekitar 1 orang dari setiap 40 orang.Pada anak-anak, angka kejadiannya sekitar 1 anak dari setiap 200 anak.Karena itu, OCD bukanlah gangguan yang langka. Banyak orang mengalaminya, meskipun tidak semua berani menceritakan atau mencari bantuan untuk mengatasinya. Jenis-Jenis Gangguan OCDGangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki banyak bentuk dan variasi. Semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu adanya suatu pikiran tertentu yang menguasai pikiran seseorang sehingga sulit ditolak. Pikiran tersebut kemudian memaksa penderitanya melakukan tindakan tertentu secara berulang.Sulit untuk menyebutkan seluruh jenis OCD, tetapi berikut beberapa bentuk yang paling sering ditemukan.A. OCD Kebersihan dan KesucianPada jenis ini, penderita merasa ada bagian tubuhnya—biasanya tangan—yang belum bersih. Ia mencucinya, tetapi setelah selesai tetap merasa belum bersih sehingga kembali mencuci tangannya. Pikiran yang sama terus muncul dan tindakan mencuci terus berulang.Terkadang ia mencuci tangan hingga satu jam atau lebih dalam sekali mencuci sampai kulit tangannya rusak dan terluka.Hal yang sama juga dapat terjadi saat mandi. Ia mengulang mandi berkali-kali dan setiap kali berlangsung sangat lama, bisa sampai satu jam atau beberapa jam, karena merasa ada bagian tubuh yang belum dibersihkan dengan sempurna.Meskipun sebenarnya ia merasa pikiran itu aneh dan mengganggu, lama-kelamaan ia mencari pembenaran dengan menganggap bahwa kebersihannya memang belum sempurna atau proses pembersihan sebelumnya belum cukup.Jenis ini juga dapat muncul dalam bentuk ketakutan berlebihan terhadap virus dan bakteri. Fenomena ini banyak terlihat selama pandemi Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020. Penderita terus-menerus melakukan sterilisasi dan pembersihan karena merasa hampir semua benda dapat menularkan penyakit.Dalam kasus yang berat, seseorang bahkan enggan keluar rumah kecuali dalam keadaan sangat mendesak karena khawatir harus menjalani ritual pembersihan yang panjang dan melelahkan ketika kembali ke rumah.Pada sebagian wanita, OCD ini muncul dalam bentuk rasa jijik yang berlebihan terhadap diri sendiri saat masa haid. Ia mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari, mencuci seprai dan kursi yang digunakan, meskipun telah memakai pembalut dengan baik. Bahkan ia merasa jijik terhadap wanita lain yang sedang haid hingga melarang mereka duduk di tempat tidur, kursi, atau menggunakan kamar mandi pribadinya. Ia juga menghindari melewati tempat pembuangan sampah karena takut terdapat pembalut bekas di sana.Pada sebagian laki-laki, OCD muncul dalam masalah sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil. Mereka berusaha mengeluarkan seluruh sisa air kencing dengan berbagai cara, seperti batuk berulang kali atau menekan dengan keras, sehingga proses bersuci dan istinja menjadi sangat lama. B. OCD dalam ShalatPenderita terus-menerus ragu mengenai jumlah rakaat, rukuk, atau sujud yang telah dilakukan.Karena keraguan tersebut, ia mengulang shalat berkali-kali untuk memastikan bahwa shalatnya sah. Ia juga sering melakukan sujud sahwi karena merasa ada banyak kekurangan dalam shalatnya.Bentuk lain adalah keraguan mengenai niat shalat. Ia terus memikirkan apakah niatnya sudah benar atau belum, hingga berdiri lama sebelum memulai shalat. Bahkan terkadang waktu shalat hampir habis sementara ia masih sibuk memikirkan niat.Sebagian penderita juga terus mengulang takbiratul ihram karena merasa takbir pertama belum benar. C. OCD Pikiran-Pikiran KeagamaanJenis ini berupa munculnya pikiran atau kalimat yang buruk tentang Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama Islam, atau Al-Qur’an.Pikiran-pikiran tersebut sangat mengganggu karena penderita merasa dirinya telah keluar dari agama akibat pikiran itu, padahal sebenarnya ia membencinya dan tidak meyakininya.Sebagian penderita terus mengulang syahadat karena mengira dirinya telah kafir dan harus masuk Islam kembali.Jenis OCD ini sangat berbeda dengan pemikiran ateisme atau keraguan intelektual yang muncul karena syubhat. Pada OCD, penderita justru menolak dan membenci pikiran tersebut serta berusaha keras mengusirnya.Menariknya, banyak penderita OCD jenis ini justru berasal dari kalangan yang memiliki semangat kuat dalam menjalankan agama. D. OCD dalam Praktik KeagamaanBentuknya antara lain:Berlebihan dalam memperhatikan makhraj huruf saat berbicara atau membaca Al-Qur’an melebihi batas yang wajar.Terlalu ketat dalam tajwid hingga menjadi beban.Keraguan terus-menerus apakah telah menjatuhkan talak kepada istrinya atau belum.Keraguan terhadap kesucian air yang sebenarnya tidak ada tanda najis padanya.Keraguan apakah hewan sembelihan telah disebut nama Allah saat disembelih atau belum.Pada penganut agama lain, bentuk OCD keagamaan dapat muncul dalam bentuk pengakuan dosa berulang-ulang atau ketakutan berlebihan terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu. E. OCD Memeriksa dan MemastikanPenderita terus-menerus memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah diperiksa.Misalnya:Mengecek pintu berkali-kali karena takut belum terkunci.Memeriksa jendela berulang kali.Memastikan kompor sudah dimatikan berkali-kali karena takut terjadi kebakaran.Bahkan setelah keluar rumah, ia bisa kembali lagi hanya untuk memeriksa hal yang sama. Akibatnya, ia sering terlambat karena terlalu banyak memeriksa dan memastikan. F. OCD MenghitungPenderita merasa perlu menghitung sesuatu secara berulang.Misalnya:Menghitung uang berkali-kali meskipun sudah mengetahui jumlahnya.Menghitung pulpen atau barang pribadinya berulang kali.Menghitung benda-benda di rumah seperti jumlah ubin lantai atau benda lainnya. G. OCD Kerapian dan KeteraturanPenderita tidak pernah merasa puas dalam menata barang-barangnya. Ia ingin segala sesuatu tersusun dengan:Simetris.Seimbang.Rapi sempurna.Perubahan kecil saja dapat membuatnya sangat terganggu. Bahkan hal-hal sepele seperti posisi serat karpet pun bisa menjadi sumber kegelisahan. H. OCD Bertema SeksualJenis ini memiliki berbagai bentuk, di antaranya:Pandangan yang secara tidak terkendali tertuju pada area sensitif tubuh orang lain, bukan karena syahwat, tetapi karena dorongan obsesif.Munculnya gambaran hubungan seksual dalam pikiran yang terus berulang tanpa keinginan untuk melakukannya.Ketakutan berlebihan bahwa dirinya akan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita atau anak-anak, padahal ia sama sekali tidak menginginkannya.Ketakutan bahwa dirinya memiliki orientasi seksual tertentu, padahal kenyataannya tidak demikian.Pada semua bentuk ini, penderita tidak menghendaki pikiran tersebut dan justru merasa terganggu olehnya. I. OCD Bertema Menyakiti Orang LainPada jenis ini muncul ketakutan atau gambaran bahwa dirinya akan mencelakai orang lain.Misalnya seorang ibu merasa takut akan menyakiti anak-anaknya, padahal ia sangat mencintai mereka dan tidak pernah ingin melakukan hal itu.Ada pula penderita yang terus membayangkan dirinya menusuk seseorang dengan pisau atau menembak orang lain dengan senjata api. Padahal ia bukan orang yang keras atau agresif dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.Pikiran-pikiran tersebut muncul secara paksa, mengganggu, dan bertentangan dengan kepribadian serta keinginan asli penderita. Karena itulah pikiran tersebut menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mereka. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari SetanBerdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat membandingkan antara gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan waswas dari setan berdasarkan pemahaman syariat yang telah dikenal. AspekOCD (Waswas Obsesif-Kompulsif)Waswas dari SetanTingkat kejadianDialami sekitar 2–3% manusia.Dialami oleh seluruh manusia.Awal kemunculanDapat muncul pada berbagai usia, terutama masa remaja.Ada sejak manusia lahir dan biasanya semakin aktif ketika seseorang baligh serta mulai memikul beban syariat.Perasaan terhadap pikiran yang munculPenderita merasa pikiran itu asing, memaksa, dan bukan bagian dari dirinya.Biasanya tidak terasa asing dan sering kali terasa dekat dengan keinginan diri sendiri.Perasaan yang menyertainyaDisertai penolakan kuat, kecemasan, dan tekanan yang berat.Jika berkaitan dengan syahwat, sering disertai rasa nikmat. Jika berkaitan dengan syubhat, biasanya hanya menimbulkan kegelisahan ringan.Sifat pikiranUmumnya tidak logis dan tidak masuk akal.Kebanyakan tampak logis dan memiliki alasan atau pembenaran tertentu.Lebih sering terjadi padaOrang yang mudah cemas, mudah ragu, terlalu banyak berpikir, berkepribadian rapuh, dan kurang percaya diri.Orang yang jauh dari Allah dan lemah imannya. Namun terkadang juga semakin kuat pada orang yang kuat imannya karena kerasnya permusuhan setan terhadap mereka.Cara penangananMelalui pengobatan medis, terapi perilaku, dan terapi kognitif.Dengan mendekatkan diri kepada Allah, menyelisihi ajakan setan, dan memperbaiki jiwa yang cenderung kepada keburukan.Akhir gangguanDapat berakhir atau membaik dengan terapi dan pengobatan yang tepat.Tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia hidup. Ia merupakan bagian dari perjuangan melawan setan hingga akhir hayat.Pandangan masyarakatMasih sering dianggap aneh dan kurang dipahami.Umumnya dipahami dan diterima sebagai bagian dari ujian hidup manusia dalam menghadapi setan.Dukungan sosial bagi penderitanyaBiasanya masih sangat terbatas.Umumnya lebih mudah dipahami oleh masyarakat.Dari perbandingan ini terlihat bahwa OCD tidak sama dengan waswas setan yang biasa dibahas dalam kitab-kitab tazkiyatun nafs. Keduanya memang sama-sama melibatkan pikiran yang mengganggu, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.Waswas setan umumnya dihadapi dengan iman, dzikir, isti’adzah, dan mujahadah melawan hawa nafsu. Adapun OCD sering kali memerlukan penanganan tambahan berupa terapi psikologis dan pengobatan medis yang sesuai.Karena itu, tidak tepat jika setiap penderita OCD langsung dianggap memiliki iman yang lemah atau kurang dzikir. Sebagaimana penyakit fisik membutuhkan pengobatan, OCD juga termasuk ujian yang memerlukan penanganan yang sesuai dengan sebab-sebabnya. OCD dalam Pembahasan Ulama IslamPara ulama Islam telah mengenal fenomena yang saat ini dikenal sebagai OCD dan membedakannya dari keraguan biasa yang sesekali muncul.Dalam mazhab Maliki, kondisi ini disebut asy-syakku al-mustankih (keraguan yang menguasai seseorang). Kata mustankih berarti keraguan yang telah mendominasi seseorang sehingga sulit ia tolak atau kendalikan.Syaikh Muhammad ‘Aliys rahimahullah berkata, “Yang wajib dalam mandi adalah menggosok anggota tubuh yang dicuci… Dalam masalah ini cukup berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh zhonn) menurut pendapat yang benar. Dugaan kuat sudah mencukupi untuk memastikan sampainya air pada anggota tubuh yang wajib dibasuh berdasarkan kesepakatan ulama. Namun bagi orang yang mengalami keraguan yang terus-menerus (mustankih), tidak disyaratkan adanya dugaan kuat karena ia sulit mencapainya. Bahkan keraguan yang ada sudah dianggap cukup baginya, dan ia wajib mengabaikannya. Tidak ada obat baginya selain cara itu.” (Minah Al-Jalil, 1:127)Pernyataan ini menunjukkan bahwa para ulama telah memahami adanya kondisi keraguan yang menetap dan tidak normal, sehingga cara menghadapinya berbeda dari keraguan biasa.Beberapa ulama besar seperti Ibnu Qudamah, Ibnul Jauzi, dan Ibnul Qayyim juga membahas fenomena ini serta menawarkan cara-cara untuk mengatasinya.Namun, dalam tulisan mereka terdapat kritik keras terhadap orang yang terjebak dalam waswas. Jika dibaca pada masa sekarang, sebagian ungkapan tersebut mungkin terasa berat bagi penderita OCD.Hal itu dapat dipahami karena pada masa mereka belum dikenal penjelasan medis modern mengenai OCD, terutama aspek biologis dan aspek yang berada di luar kendali penderita.Meski demikian, sebagian kritik tersebut tetap memiliki manfaat, yaitu mengingatkan bahwa penderita tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan dan tidak menyerah kepada gangguan yang dialaminya. Gambaran OCD Menurut Imam Al-JuwainiAbu Muhammad Al-Juwaini rahimahullah dalam kitab At-Tabshirah menjelaskan sebagian perilaku orang yang mengalami waswas berlebihan.Beliau menceritakan bahwa ada orang yang terus mengulang takbiratul ihram hingga waktu shalat hampir habis. Ada pula yang sampai kehilangan shalat Jumat bersama imam karena terlalu lama mengulang takbir.Ketika hendak buang hajat, sebagian mereka bahkan menyiapkan banyak batu dan alat pembersih secara berlebihan. Saat menggunakan air pun mereka menghabiskan air dalam jumlah yang sangat banyak.Peneliti kitab tersebut, Dr. Muhammad As-Sudais, menyatakan bahwa banyaknya pembahasan Al-Juwaini tentang masalah ini menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan berupa waswas telah banyak ditemukan pada zamannya sehingga beliau merasa perlu menulis kitab khusus mengenai hal tersebut. Penjelasan Ibnul JauziDalam kitab Talbis Iblis, Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan beribadah.Beliau menyebut sebagian orang yang terlalu lama berada di kamar mandi karena merasa masih ada sisa air kencing yang belum keluar. Mereka berjalan ke sana kemari, berdeham berulang kali, mengangkat dan menurunkan kaki, dengan keyakinan bahwa semua itu akan mengeluarkan sisa air kencing.Padahal semakin mereka melakukan hal tersebut, semakin kuat perasaan bahwa masih ada sesuatu yang belum keluar.Beliau juga menggambarkan orang yang:Terus mengulang niat wudhu dan shalat.Selalu meragukan kesucian air.Menggunakan air secara berlebihan ketika berwudhu.Menghabiskan waktu terlalu lama hingga kehilangan keutamaan awal waktu shalat atau bahkan kehilangan shalat berjamaah.Berulang kali mencuci pakaian yang sebenarnya sudah suci.Beliau juga menyebut orang yang:Mengulang takbiratul ihram berkali-kali.Membatalkan niat lalu mengulanginya lagi.Terlambat mengikuti imam karena sibuk dengan keraguan.Kemudian beliau berkata:“Ketahuilah bahwa waswas dalam niat shalat berasal dari kelemahan akal dan ketidaktahuan terhadap syariat.”Beliau juga membawakan kisah terkenal dari Ibnu Aqil rahimahullah.Seseorang mengadu kepadanya:“Aku mencuci anggota tubuh lalu merasa belum mencucinya. Aku bertakbir lalu merasa belum bertakbir.”Ibnu Aqil menjawab:“Tinggalkan saja shalat, karena shalat tidak wajib bagimu.”Orang-orang yang mendengar ucapan tersebut merasa heran.Ibnu Aqil menjelaskan:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa pena pencatat amal diangkat dari orang gila hingga ia sadar. Orang yang bertakbir lalu berkata ‘aku belum bertakbir’ bukanlah orang yang berakal normal. Sedangkan orang gila tidak dibebani shalat.”Ungkapan ini tentu merupakan bentuk penegasan keras untuk menunjukkan betapa tidak masuk akalnya keraguan semacam itu. Penjelasan Ibnu QudamahIbnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Dzamm Al-Muwaswisin wa At-Tahdzir min Al-Waswasah menjelaskan bahwa sebagian orang akhirnya begitu tunduk kepada waswas hingga lebih mempercayai keraguan daripada apa yang mereka lihat dan yakini sendiri.Seseorang melihat dirinya telah berwudhu, mendengar dirinya bertakbir, dan mengetahui niatnya dengan yakin. Namun setelah itu ia tetap meragukan semuanya.Akibatnya, ia:Menyakiti dirinya sendiri.Menggunakan air secara berlebihan.Menggosok tubuh secara berlebihan.Menyiksa dirinya dengan air dingin.Kehilangan takbir pertama bersama imam.Kehilangan sebagian rakaat.Bahkan terkadang kehilangan waktu shalat.Beliau juga menyebut orang yang mengulang-ulang kata dalam Al-Fatihah, tasyahud, salam, atau takbir hingga merusak shalatnya sendiri.Menariknya, beliau mengatakan:“Banyak orang yang berwaswas dan memahami syariat sebenarnya mengakui bahwa tindakan mereka salah. Mereka bahkan berfatwa kepada orang lain dengan fatwa yang berbeda dari apa yang mereka lakukan, dan berkata: ‘Jangan meniru kami.’ Ini sungguh mengherankan.”Jika dilihat dari sudut pandang kedokteran modern, keheranan tersebut dapat dipahami karena pada masa itu OCD belum dikenal sebagai gangguan psikologis. Yang terlihat oleh para ulama adalah seseorang mengetahui kebenaran tetapi tidak mampu menghentikan perilakunya.Padahal ketidakmampuan menghentikan perilaku itulah yang menjadi salah satu ciri utama OCD. Penjelasan Ibnul QayyimIbnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan shalat.Beliau menggambarkan orang yang merasa wudhunya tidak sah meskipun telah berwudhu sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu.Beliau juga menyebut bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha menggunakan satu wadah air yang sama. Namun orang yang terjangkit waswas mungkin akan menganggap jumlah air tersebut tidak cukup bahkan untuk satu orang.Ibnul Qayyim juga membahas alasan yang sering digunakan para penderita waswas, yaitu menganggap perilaku mereka sebagai bentuk kehati-hatian dalam agama.Mereka beralasan:“Kami melakukan ini demi kehati-hatian dan menjaga agama.”Namun beliau menjelaskan panjang lebar bahwa kehati-hatian yang benar tidak boleh berubah menjadi sikap berlebihan yang justru menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau juga menyebut kisah seseorang yang berulang kali mengulang niat shalat hingga akhirnya bersumpah dengan talak agar tidak mengulanginya lagi. Namun karena tidak mampu menahan diri, ia tetap mengulang niat tersebut sehingga sumpahnya menyebabkan perceraian dengan istrinya.Ibnul Qayyim juga menukil ucapan Imam Al-Ghazali:“Waswas disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap syariat atau gangguan pada akal. Keduanya termasuk kekurangan dan cacat yang besar.”Beliau bahkan menyebut sebelas cara yang biasa dilakukan orang yang terobsesi memastikan seluruh air kencing telah keluar, seperti menarik kemaluan, mengguncangnya, berdeham, berjalan-jalan, melompat, dan berbagai tindakan lainnya. Catatan PentingSetelah membaca berbagai penjelasan ulama di atas, perlu ditegaskan kembali bahwa kritik mereka terutama ditujukan kepada orang yang membela dan membenarkan perilaku waswasnya, serta menganggapnya sebagai bentuk kehati-hatian yang benar dalam agama.Sebagian ungkapan keras mereka juga lahir dari keterbatasan pengetahuan medis pada masa itu mengenai OCD sebagai gangguan psikologis yang memiliki unsur di luar kendali penderita.Namun dari penjelasan para ulama tersebut tetap dapat diambil pelajaran penting, yaitu bahwa penderita OCD tidak boleh pasrah kepada penyakitnya. Ia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan, terapi, dan jalan kesembuhan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya WaswasKaidah dasarnya adalah bahwa berbagai lintasan pikiran dan waswas muncul pada diri seseorang tanpa ia kehendaki. Karena itu, seseorang tidak berdosa hanya karena munculnya pikiran tersebut.Yang dituntut darinya adalah memberikan respons yang benar. Pada waswas setan, caranya dengan berlindung kepada Allah. Sedangkan pada OCD, caranya dengan menempuh pengobatan dan terapi yang sesuai. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan PsikiatriJika dokter memandang obat diperlukan, maka pengobatan hendaknya dijalani.Banyak orang takut menggunakan obat kejiwaan karena berbagai anggapan yang keliru, seperti:Menyebabkan ketergantungan.Lebih banyak mudarat daripada manfaat.Merusak tubuh secara permanen.Anggapan tersebut tidak benar secara umum. Obat-obatan dibuat untuk membantu pasien. Jika mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, tentu tidak akan diizinkan digunakan oleh lembaga kesehatan dunia. Pengalaman medis selama puluhan tahun dan penelitian terhadap jutaan pasien menunjukkan bahwa obat memiliki manfaat yang besar dalam membantu mengatasi OCD. 3. Manfaatkan Terapi PsikologisSelain obat, terdapat berbagai terapi yang terbukti membantu, seperti:Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT).Terapi Perilaku Dialektis (Dialectical Behavioral Therapy/DBT).Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy/ACT).Dokter atau terapis dapat membantu menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation)Ulangi kalimat-kalimat yang benar untuk melawan pikiran obsesif, misalnya:“Aku tidak berburuk sangka kepada Allah.”“Wudhuku tidak batal.”“Shalatku sah.”“Tanganku sudah bersih.” 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara RutinMenulis kalimat-kalimat tersebut sekitar sepuluh kali setiap hari dapat membantu memperkuat pola pikir yang sehat. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin KeimananTeruslah mengingatkan diri:“Apa yang aku alami adalah gejala penyakit, bukan cerminan keimanan atau kepribadianku.”Jika perlu, tuliskan kalimat ini berulang kali setiap hari. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCDBayangkan bagaimana hidup tanpa mengulang-ulang tindakan yang sama.Latih diri untuk membayangkan perilaku yang sehat dan normal, kemudian berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. 8. Hentikan Pengulangan PerilakuUsahakan untuk tidak mengulangi tindakan yang sama.Segera alihkan perhatian kepada aktivitas lain sebelum dorongan obsesif menguasai pikiran.Perlu dipahami bahwa perlawanan ini biasanya menimbulkan ketegangan pada awalnya. Namun jika dilawan, OCD akan melemah. Jika dituruti, OCD akan semakin kuat. 9. Lawan OCD Secara MenyeluruhJangan hanya melawan satu bentuk waswas lalu membiarkan bentuk lainnya.Fokuslah pada yang paling kuat terlebih dahulu, tetapi tetap berusaha mengurangi seluruh perilaku obsesif yang ada. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari PenyebabnyaTerlalu lama memikirkan penyebab OCD sering kali tidak menghasilkan solusi.Lebih baik mengarahkan tenaga kepada langkah-langkah penyembuhan. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran ObsesifSemakin sering seseorang mendebati pikiran obsesif, biasanya semakin kuat pikiran tersebut.Karena itu, jangan sibuk memikirkan waswas atau lawannya. Alihkan pikiran kepada hal lain yang berbeda sama sekali. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCDBanyak penderita memiliki “aturan pribadi” yang tidak rasional.Misalnya aturan kebersihan yang berlebihan.Cara mengatasinya adalah dengan menghadapi secara bertahap hal-hal yang ditakuti, bukan menghindarinya. 13. Mintalah Bantuan Orang TerdekatLibatkan keluarga atau orang yang dipercaya untuk membantu memutus pola perilaku OCD.Misalnya, meminta anggota keluarga menghentikan proses mencuci tangan ketika sudah mencapai batas normal. 14. Kesembuhan Membutuhkan PerjuanganTidak ada terapi OCD tanpa usaha dan perjuangan.Semakin serius seseorang melawan OCD, semakin besar peluang keberhasilannya. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi KemunduranTerkadang ada masa semangat, terkadang ada masa lemah.Tetaplah melanjutkan proses terapi walaupun sesekali mengalami kemunduran. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena RaguSesuatu yang sudah pasti tidak gugur hanya karena keraguan.Karena itu, penderita OCD perlu terus mengingatkan dirinya:“Aku memang memiliki masalah waswas, sehingga keraguan yang muncul tidak layak dijadikan pegangan.” 17. Bangun Sikap Berdasarkan KepastianNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang ragu apakah kentut atau tidak,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat hingga mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 137)Jika orang yang sehat saja diperintahkan berpegang pada kepastian, maka penderita OCD lebih pantas lagi untuk tidak mengikuti keraguan yang tidak memiliki bukti. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih MudahDalam masalah khilafiah yang diakui ulama, penderita OCD boleh mengambil pendapat yang lebih ringan setelah berkonsultasi dengan seorang mufti atau ustadz yang memahami kondisinya.Sebaliknya, selalu memilih pendapat yang paling berat sering kali bukan karena wara’, melainkan karena dorongan OCD. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa BersalahJangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.OCD adalah penyakit, bukan dosa yang sengaja dilakukan. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan SuciSesuatu tidak dianggap haram atau najis kecuali ada dalil yang jelas.Karena itu, jangan membangun hukum berdasarkan dugaan dan prasangka. 21. Syariat Dibangun di Atas KemudahanSalah satu tujuan syariat adalah memberikan kemudahan, terutama bagi orang yang memiliki kesulitan dan uzur.Kemudahan bukan berarti meninggalkan ibadah, tetapi melaksanakan ibadah dengan cara yang benar dan tidak memberatkan diri. 22. Niat Tidak Perlu DipersulitNiat tidak memerlukan pelafalan khusus.Ketika seseorang bergerak untuk melakukan suatu ibadah, pada hakikatnya ia telah berniat melakukannya. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya AmalTugas seorang hamba adalah beramal dengan benar dan ikhlas.Adapun diterima atau tidaknya amal merupakan urusan Allah. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan PikiranSeseorang dihukum karena keyakinan yang dipilihnya atau tindakan yang sengaja dilakukannya, bukan karena pikiran yang datang tanpa kehendaknya. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-UlangSelama seseorang tidak meyakini kekafiran dengan pilihan dan keyakinannya sendiri, maka ia tetap berada dalam Islam.Pikiran obsesif tidak mengeluarkan seseorang dari agama. 26. Bersabar atas OCD Bernilai IbadahKesabaran menghadapi penyakit adalah sebab datangnya pahala dari Allah.Bisa jadi seseorang merasa dirinya penuh dosa, padahal dengan kesabarannya menghadapi ujian tersebut, derajatnya justru semakin tinggi di sisi Allah. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai DosaSeseorang baru berdosa apabila:Melakukannya dengan sengaja.Melakukannya atas pilihannya sendiri.Mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram.Adapun pikiran dan dorongan obsesif tidak dicatat sebagai dosa.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.““Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya atau mengucapkannya.” (HR. Bukhari no. 2528) 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi PahalaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً.“Barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491)Jika orang yang sengaja berniat maksiat lalu membatalkannya mendapat pahala, maka orang yang dipaksa oleh pikiran obsesif lalu terus melawannya tentu lebih layak berharap pahala dari Allah. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCDBanyak penderita terus-menerus mencari fatwa untuk menenangkan diri.Ketenangan itu biasanya hanya sementara. Setelah itu muncul lagi keraguan baru.Karena itu, pencarian kepastian yang terus-menerus sering menjadi bahan bakar OCD.Ketika para sahabat mengalami waswas berupa pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab dengan pembahasan filsafat yang panjang. Beliau justru memerintahkan mereka untuk berhenti mengikuti pikiran tersebut.Waswas mirip rasa gatal. Semakin digaruk, semakin ingin digaruk. 30. Kunci Utama: Mengabaikan WaswasInilah prinsip terpenting dalam menghadapi OCD.Ad-Dardir rahimahullah berkata:“Adapun orang yang sering dilanda keraguan (mustankih), maka yang wajib baginya adalah berpaling dari keraguan tersebut. Karena mengikuti waswas dapat merusak agama dari akarnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”Tentu mengabaikan waswas tidak selalu mudah. Terkadang tekanan penyakit sangat kuat. Namun tujuan seluruh terapi dan usaha yang dilakukan adalah membantu penderita sampai pada kemampuan untuk tidak lagi melayani dan mengikuti waswas yang datang kepadanya.Singkatnya, semakin sering waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh. Semakin sering diabaikan dan dilawan, semakin lemah pengaruhnya. Ini adalah salah satu kunci terbesar dalam proses pemulihan OCD. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung TerapiMengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan AgamaPertama, sebagian penderita OCD mengalami pikiran-pikiran buruk tentang Allah, agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Al-Qur’an. Mereka merasa bertanggung jawab dan akan dihukum karena pikiran tersebut. Padahal anggapan itu tidak benar.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya, mengucapkannya, atau dipaksa melakukannya.” (HR. Shahih Ibnu Majah, no. 1676)Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang tidak bertanggung jawab atas pikiran yang muncul di dalam dirinya selama ia tidak mengubahnya menjadi ucapan atau perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Semakin besar rasa takut seseorang bahwa ia telah berbuat buruk kepada Allah atau Rasul-Nya melalui pikiran tersebut, semakin ia perlu memahami bahwa dirinya sedang dipaksa oleh penyakit ini dan tidak memiliki kendali penuh atas kemunculannya. Selama hatinya tetap beriman dan tenang dengan keimanan, maka waswas tersebut termasuk bentuk keterpaksaan yang tidak membuatnya berdosa. Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (QS. An-Nahl: 106)Kedua, petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika muncul waswas tentang AllahTerdapat beberapa hadits yang menjelaskan bagaimana seseorang harus bersikap ketika muncul waswas dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu tentang Allah.Hadits pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا، خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ؛ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa mendapati sesuatu dari hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 134)Hadits kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia terus bertanya-tanya hingga salah seorang di antara mereka berkata: ‘Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Jika mereka mengatakan hal itu, maka katakanlah: ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung kepada Allah dari setan.” (HR. Ash-Shahihah dalam Shahih Al-Jami’ no. 8182)Hadits ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ.“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya ia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti.” (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134)Dari hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa apabila seseorang didatangi waswas semacam itu, maka hendaknya ia melakukan beberapa hal berikut:Mengucapkan: “Āmantu billāh” (Aku beriman kepada Allah).Membaca Surah Al-Ikhlas.Meludah ringan ke sebelah kiri sebanyak tiga kali, yaitu menghembuskan ludah tipis tanpa mengeluarkan air ludah yang nyata.Menghentikan waswas tersebut sama sekali, tidak melanjutkan pembahasannya, tidak terus memikirkannya, dan tidak berusaha menelusuri pertanyaan-pertanyaan itu lebih jauh.  Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu LamaTerdapat beberapa hadits yang melarang pemborosan air.أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: «مَا هَذَا السَّرَفُ؟» قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ».Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Sa’ad berwudhu dengan berlebihan, beliau bersabda: “Apa pemborosan ini?”Sa’ad bertanya: “Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?”Beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (Silsilah Ash-Shahihah, no. 3292)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan ukuran air yang cukup untuk bersuci:يُجْزِئُ مِنَ الْوُضُوءِ الْمُدُّ، وَمِنَ الْجَنَابَةِ صَاعٌ.“Satu mud cukup untuk wudhu dan satu sha’ cukup untuk mandi junub.” (Silsilah Ash-Shahihah, 4:644)Dalam makna yang sama, ada seseorang yang bertanya di hadapan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma tentang mandi. Jabir menjawab, “Satu sha’ sudah mencukupimu.”Lalu seseorang berkata, “Itu tidak cukup bagiku.”Maka Jabir menjawab, “Ukuran itu dahulu telah mencukupi orang yang rambutnya lebih lebat darimu.” (HR. Bukhari, no. 252)Yang dimaksud oleh Jabir adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau memiliki rambut yang lebih banyak dan lebih panjang daripada orang yang bertanya tersebut, namun tetap cukup mandi dengan satu sha’ air.Satu mud kira-kira setara dengan dua pertiga liter (687 ml), atau kurang lebih satu botol air minum kecil. Sedangkan satu sha’ setara dengan sekitar 2,75 liter, yaitu kurang lebih satu setengah botol air ukuran besar (masing-masing berisi 1,5 liter).Diriwayatkan pula secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu dengan air yang diletakkan dalam sebuah wadah yang ukurannya sekitar dua pertiga mud. (HR. An-Nasa’i, 1:58). Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan dua pertiga botol air kecil.Selain itu, Abu Dawud (no. 135), An-Nasa’i (no. 140), dan Ahmad (no. 6684) meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang wudhu. Lalu Nabi memperagakan wudhu dengan membasuh setiap anggota tiga kali, kemudian bersabda,هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ“Beginilah wudhu. Barang siapa menambah dari ini, maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan berbuat zalim.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى كَرَاهَةِ الزِّيَادَةِ عَلَى الثَّلَاثِ، وَالْمُرَادُ بِالثَّلَاثِ الْمُسْتَوْعِبَةِ لِلْعُضْوِ، وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَسْتَوْعِبِ الْعُضْوَ إِلَّا بِغَرْفَتَيْنِ، فَهِيَ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ“Para ulama telah bersepakat bahwa menambah basuhan lebih dari tiga kali hukumnya makruh. Yang dimaksud tiga kali adalah tiga kali yang telah mencakup seluruh anggota tubuh yang wajib dibasuh. Adapun jika suatu anggota belum terbasuh sempurna kecuali dengan dua cidukan air, maka itu tetap dihitung sebagai satu kali basuhan.”Dari hadits-hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:Berlebihan dalam menggunakan air adalah sesuatu yang dilarang, meskipun air tersebut digunakan untuk ibadah yang sangat penting seperti wudhu untuk shalat. Bahkan larangan itu tetap berlaku meskipun airnya berasal dari sungai yang mengalir dan tidak akan habis.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan tata cara wudhu kepada umat ini juga telah mengajarkan ukuran air yang cukup untuk berwudhu. Beliau bahkan memperingatkan bahwa orang yang melampaui batas tersebut telah berbuat buruk dan zalim. Ini merupakan peringatan yang sangat serius.Sebagian tabi’in dahulu juga pernah merasa heran bagaimana mungkin jumlah air yang sedikit itu bisa mencukupi. Namun mereka dijawab bahwa ukuran tersebut dahulu telah mencukupi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia terbaik yang paling sempurna dalam bersuci. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa air sebanyak itu tidak cukup baginya untuk berwudhu. Mengatasi OCD dalam IstinjaSebagian penderita OCD mengeluhkan bahwa mereka mengalami kesulitan saat istinja (bersuci setelah buang air kecil). Banyak di antara mereka menghabiskan waktu yang lama untuk memastikan tidak ada lagi tetesan air kencing yang keluar setelah selesai buang air kecil. Sebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama sejak berabad-abad yang lalu telah membahas bentuk waswas seperti ini. Masalah ini sering dijumpai dalam pembahasan fikih thaharah ketika membahas orang yang mengalami salasul baul (keluar air kencing terus-menerus). Sebagian ahli fikih menyebutnya sebagai masalah “pemilik satu atau dua tetes air kencing”.Dalam masalah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:Waswas semacam ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan melihat secara langsung bagian yang menjadi sumber keluarnya air kencing, karena perbedaan bentuk anatomi tubuh. Organ yang digunakan untuk buang air kecil pada laki-laki berada di luar tubuh sehingga lebih mudah diamati ketika buang air kecil dan beristinja. Adapun pada perempuan, saluran keluarnya air kencing tidak mudah dilihat secara langsung. Karena itu, jika perempuan mengalami waswas, biasanya berkaitan dengan cairan vagina atau darah yang keluar dari tubuh dan terlihat pada pakaian.Secara fisik memang ada sebab yang memungkinkan keluarnya beberapa tetes cairan setelah suatu cairan melewati saluran yang sempit. Sebagai contoh, pada selang air sering kali masih ada sisa air yang menempel pada bagian dalamnya setelah digunakan. Lama-kelamaan titik-titik air tersebut berkumpul lalu membentuk tetesan yang akhirnya jatuh. Hal serupa dapat terjadi pada organ kemaluan laki-laki. Selain itu, panjang saluran kencing pada laki-laki sekitar lima kali lebih panjang daripada perempuan. Pada laki-laki dewasa panjangnya sekitar 20 cm, sedangkan pada perempuan hanya sekitar 4 cm. Karena itu, kemungkinan keluarnya sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil lebih sering terjadi pada laki-laki, sehingga waswas jenis ini juga lebih banyak ditemukan pada mereka.Sebagian penderita waswas mengira bahwa cairan yang keluar adalah mani, madzi, atau wadi. Padahal pada umumnya yang keluar hanyalah tetesan air kencing, kecuali jika memang ada penyakit tertentu pada organ tubuh. Dalam keadaan normal, mani atau madzi—yaitu cairan bening dan lengket yang keluar setelah adanya rangsangan seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan—tidak mungkin keluar setelah buang air kecil, karena keduanya berkaitan dengan rangsangan seksual yang disertai perubahan fisiologis tertentu. Jika cairan tersebut keluar saat buang air kecil, maka itu termasuk kondisi medis yang memerlukan penanganan. Adapun wadi, yaitu cairan putih yang tidak lengket, biasanya keluar pada kasus peradangan prostat pada laki-laki. Ini juga termasuk penyakit fisik yang ditangani oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Karena itu, cairan yang biasanya menimbulkan waswas pada kebanyakan penderita sebenarnya hanyalah tetesan air kencing, kecuali pada kasus-kasus penyakit tertentu yang memiliki pengobatan tersendiri.Berbagai cara yang dilakukan untuk menekan kandung kemih agar mengeluarkan seluruh air kencing tidak akan menghentikan keluarnya tetesan tersebut. Sebab ginjal bekerja sepanjang waktu dan terus menghasilkan air kencing dalam bentuk tetesan-tetesan kecil yang kemudian terkumpul di kandung kemih hingga penuh. Setelah itu muncullah dorongan untuk buang air kecil dan seseorang secara sadar membuka saluran keluarnya air kencing sehingga air kencing keluar. Ketika seseorang masih duduk di kamar mandi, pada hakikatnya saluran tersebut masih terbuka sehingga setiap tetesan baru yang dihasilkan ginjal dapat langsung keluar. Proses ini berlangsung terus-menerus dan tidak berhenti. Oleh karena itu, berbagai tindakan untuk memaksa keluarnya seluruh tetesan air kencing tidak memiliki manfaat. Bahkan tindakan tersebut justru semakin menguatkan waswas, karena setiap kali penderita menemukan tetesan baru, ia merasa harus lebih berhati-hati lagi.Terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan solusi praktis terhadap masalah ini. Solusi tersebut merupakan sunnah yang banyak ditinggalkan, baik oleh orang yang sehat maupun oleh penderita waswas, yaitu memercikkan air pada pakaian bagian luar di sekitar kemaluan setelah berwudhu. Sebagian ulama berpendapat bahwa percikan air tersebut dilakukan pada kemaluan itu sendiri. Baik yang dimaksud adalah kemaluan maupun pakaian di sekitarnya, keduanya menunjukkan bahwa memercikkan air setelah bersuci adalah amalan yang dianjurkan dan hikmahnya sangat jelas.Disebutkan dalam hadits bahwa Al-Hakam bin Sufyan Ats-Tsaqafi melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau mengambil segenggam air dan memercikkannya ke kemaluannya. (HR. Ibnu Majah no. 379 dan An-Nasa’i no. 134).Para ulama menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Yaitu beliau memercikkan air tersebut untuk menghilangkan waswas dan sebagai pengajaran bagi umat.”Perhatikanlah sunnah ini. Amalannya sangat sederhana, namun memiliki pengaruh yang besar dalam mencegah waswas. Ketika seseorang yang mengalami waswas merasakan adanya kelembapan setelah bersuci, ia dapat mengatakan kepada dirinya bahwa itu hanyalah bekas percikan air tersebut. Dengan demikian, waswas pun menjadi lebih mudah ditolak.Adapun mengenai hukum mencuci pakaian yang terkena najis dalam jumlah yang sangat sedikit, para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang hal itu dan juga tentang ukuran najis yang dianggap sedikit. Jika najis tersebut sangat kecil, seperti setitik air kencing atau wadi, maka ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa tidak wajib mencucinya. Ulama Malikiyah juga memiliki pendapat yang serupa dalam keadaan yang sulit dihindari, seperti bekas yang sangat kecil akibat lalat yang hinggap pada kotoran atau air kencing. Sementara ulama Hanafiyah berpendapat bahwa najis berat yang ditetapkan berdasarkan dalil yang pasti, seperti darah, air kencing, dan khamr, dimaafkan apabila ukurannya tidak melebihi satu dirham. Namun ada pula ulama lain yang berbeda pendapat dalam masalah ini.Karena itu, penderita OCD atau waswas boleh mengambil pendapat yang paling ringan dalam masalah ini, karena termasuk masalah khilaf yang masih dianggap sah oleh para ulama dan ia termasuk orang yang memiliki uzur dalam persoalan tersebut. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam ShalatOrang yang mengalami waswas dalam niat merasa bahwa dirinya belum menghadirkan niat untuk shalat. Karena itu, ia menghabiskan waktu yang lama untuk menghadirkan dan memperbarui niat tersebut berulang-ulang. Hal ini terjadi karena ia belum memahami makna niat dan cara menghadirkannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 3429)Beliau juga bersabda,وَلَا عَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ.“Tidak ada amal kecuali dengan niat.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2415)Maksud hadits-hadits tersebut adalah bahwa setiap perbuatan pasti disertai niat. Tidak mungkin ada suatu perbuatan tanpa niat. Karena itu, tidak mungkin seseorang telah berdiri untuk shalat dan mulai melaksanakan shalat, sementara ia tidak berniat shalat. Hal itu mustahil, baik menurut syariat maupun menurut akal.Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah keikhlasan niat karena Allah. Artinya, seseorang shalat karena Allah, bukan karena riya atau karena takut kepada manusia. Hal ini dapat dipahami dari bagian akhir hadits pertama:“Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.”Hijrah adalah suatu perbuatan. Orang yang berhijrah pasti memiliki niat untuk berhijrah. Akan tetapi yang lebih penting adalah bahwa hijrahnya dilakukan semata-mata karena Allah.Demikian pula orang yang berdiri untuk melaksanakan shalat Zhuhur, maka sudah pasti ia memiliki niat bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat Zhuhur yang wajib karena Allah. Tidak mungkin ia berdiri dan memulai shalat tersebut tanpa memiliki niat untuk melaksanakannya. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul IhramSebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama terdahulu telah membahas orang-orang yang mengalami waswas dalam takbiratul ihram. Di antara mereka ada yang mengulang takbir lebih dari sekali karena mengira bahwa takbirnya belum sah. Ada pula yang memutus-mutus lafaz takbir ketika mengucapkannya sehingga berkata, “Allāhu Akkkbar.”Akar masalah ini sebenarnya kembali kepada masalah niat yang telah dijelaskan sebelumnya, serta anggapan bahwa jika ia salah mengangkat tangan atau salah mengucapkan takbir, maka ia belum masuk ke dalam shalat.Adapun mengenai mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir, terkadang setelah takbir, dan terkadang sebelum takbir. Beliau juga terkadang mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya.Karena itu, dalam masalah ini terdapat kelonggaran. Seseorang boleh melakukan salah satu dari bentuk-bentuk tersebut dan semuanya diterima.Adapun lafaz takbir, yang perlu dilakukan oleh orang yang shalat adalah tidak memusatkan perhatian secara berlebihan pada cara mengucapkannya. Terlalu fokus pada sesuatu yang sebenarnya mudah dan biasa justru akan membuatnya menjadi sulit. Sebagaimana seseorang berbicara dalam percakapan sehari-hari tanpa memikirkan secara rinci setiap kata yang keluar dari lisannya, demikian pula takbiratul ihram. Kata-katanya termasuk ungkapan yang sederhana dan dapat diucapkan secara langsung.Masalah yang lebih besar yang menimpa orang yang mengulang-ulang takbir adalah bahwa ia biasanya terjatuh ke dalam salah satu dari dua kesalahan berikut:Pertama, ia menganggap dirinya sudah masuk ke dalam shalat. Jika demikian, maka pengulangan takbir yang ia lakukan setelahnya termasuk gerakan tambahan yang tidak diperlukan dan tidak disyariatkan dalam shalat, sehingga tidak dibenarkan.Kedua, ia menganggap dirinya belum masuk ke dalam shalat, padahal niat dan takbirnya yang pertama sudah memasukkannya ke dalam shalat. Akibatnya, ia bertindak sebagaimana orang yang masih berada di luar shalat, padahal sebenarnya ia sudah berada di dalam shalat.Bahkan ada sebagian orang yang bertakbir, kemudian mengucapkan salam untuk keluar dari shalat, lalu bertakbir lagi untuk masuk ke dalam shalat. Dengan demikian ia terjatuh ke dalam kesalahan lain, yaitu keluar dari shalat tanpa alasan dan tanpa kebutuhan yang dibenarkan, padahal hal itu tidak diperbolehkan. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung RakaatDisebutkan dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’ (2/299):“Adapun orang yang mengalami waswas, maka keraguannya tidak dianggap. Karena itu, penyair berkata:وَالشَّكُّ بَعْدَ الْفِعْلِ لَا يُؤَثِّرُ … وَهَكَذَا إِذَا الشُّكُوكُ تَكْثُرُفَإِذَا كَثُرَتِ الشُّكُوكُ، فَهَذَا وَسْوَاسٌ لَا يُعْتَدُّ بِهِ.Keraguan setelah suatu perbuatan tidak berpengaruh,Demikian pula jika keraguan itu terlalu sering terjadi.Jika keraguan telah sering terjadi, maka itu termasuk waswas yang tidak perlu diperhatikan.”Disebutkan pula dalam Mathalib Uli An-Nuha (1:507):“Tidak disyariatkan sujud sahwi apabila keraguan sudah sering terjadi hingga menyerupai waswas. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mengabaikannya. Demikian pula jika keraguan sering terjadi dalam wudhu, mandi, menghilangkan najis, atau tayamum, maka ia harus mengabaikannya. Sebab jika keraguan tersebut diikuti, seseorang akan terjatuh pada bentuk sikap yang berlebihan dan memaksakan diri. Hal itu dapat mengakibatkan penambahan dalam shalat, padahal ia sebenarnya telah yakin bahwa shalatnya telah sempurna. Karena itu, keraguan tersebut wajib ditinggalkan dan tidak dipedulikan.” Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat ShalatSebagian penderita OCD merasa bahwa wudhunya telah batal ketika sedang shalat. Akibatnya, ia menganggap dirinya telah keluar dari shalat sehingga harus pergi berwudhu kembali dan mengulang shalatnya. Perilaku ini terus berulang.Terdapat hadits-hadits yang membimbing kita tentang cara bersikap yang benar dalam keadaan seperti ini. Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang merasakan sesuatu ketika sedang shalat, apakah ia harus membatalkan shalatnya?Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:لَا، حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Tidak, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari, no. 137)Maksud hadits ini adalah bahwa apabila seseorang merasa seakan-akan telah berhadas atau mengeluarkan angin ketika sedang shalat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan dua tanda yang jelas agar seseorang benar-benar yakin bahwa wudhunya telah batal, yaitu mendengar suara atau mencium bau. Jika salah satu dari dua tanda tersebut tidak ada, maka ia tidak boleh keluar dari shalatnya dan harus melanjutkan shalat tersebut hingga selesai.Diriwayatkan pula dari banyak sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, serta dari para tabi’in seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, dan Mujahid, bahwa mereka melarang seseorang meninggalkan shalat hanya karena merasa ada tetesan air kencing yang keluar.Bahkan Mujahid berkata:لَأَنْ أُصَلِّيَ وَقَدْ خَرَجَ مِنِّي شَيْءٌ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُطِيعَ الشَّيْطَانَ.“Aku lebih suka tetap shalat meskipun ada sesuatu yang keluar dariku daripada menaati setan.” (Dzamm Al-Muwaswisin, 80)Sa’id menjawab,إِنِّي لَأَجِدُ الْبَلَلَ وَأَنَا أُصَلِّي، أَفَأَنْصَرِفُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: «لَوْ سَالَ عَلَى فَخِذِي مَا انْصَرَفْتُ حَتَّى أَقْضِيَ صَلَاتِي».“Seandainya cairan itu mengalir di pahaku, aku tetap tidak akan membatalkan shalat sampai aku menyelesaikannya.” (Syarh As-Sunnah, 1:355) Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan TalakContohnya adalah seseorang mengira bahwa dirinya telah mengucapkan talak, padahal sebenarnya ia tidak bermaksud menceraikan istrinya.Manusia dibebani hukum dan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang sengaja ia lakukan dengan pilihan dan kehendaknya sendiri secara penuh. Adapun bisikan dan waswas yang muncul dalam dirinya tidak menjadi sebab seseorang dihukum, kecuali jika bisikan tersebut berubah menjadi perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Sebelumnya telah disebutkan hadits,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka selama mereka belum melakukannya atau mengucapkannya.”Perbuatan atau ucapan adalah sesuatu yang dapat disaksikan oleh seseorang dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, apabila seseorang mengira bahwa dirinya telah melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu di hadapan orang lain, sementara orang-orang di sekitarnya mengingkari bahwa ia telah melakukannya atau mengucapkannya, maka hal itu hanyalah prasangka dan khayalan dari dirinya sendiri. Ia tidak dihukum karenanya dan tidak berlaku konsekuensi hukum apa pun atasnya.Bahkan menurut sebagian ulama, orang yang tertimpa OCD tidak jatuh talaknya meskipun ia mengucapkan lafaz talak, selama ia tidak benar-benar bermaksud menceraikan istrinya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata. “Orang yang tertimpa waswas tidak jatuh talaknya, meskipun ia mengucapkannya dengan lisannya, selama ia tidak bermaksud menjatuhkan talak. Sebab lafaz yang keluar dari lisan orang yang mengalami waswas terjadi tanpa tujuan dan tanpa kehendak. Ia berada dalam keadaan tertekan dan terdorong melakukannya karena kuatnya dorongan dan lemahnya kemampuan untuk menolaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada talak dalam keadaan tertutup (terpaksa atau kehilangan kendali).’ Karena itu, talak tidak jatuh darinya selama ia tidak menghendakinya dengan kehendak yang sungguh-sungguh dan tenang. Sesuatu yang terjadi karena paksaan tanpa tujuan dan tanpa pilihan tidak menyebabkan jatuhnya talak.”Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya PenegasanSebagai penegasan terakhir, perlu ditegaskan bahwa menggabungkan penggunaan obat-obatan anti-OCD dengan berbagai metode terapi psikologis merupakan pendekatan yang terbukti memberikan keberhasilan yang nyata dalam menangani gangguan obsesif-kompulsif (OCD).Keberhasilan terapi akan semakin besar apabila terapis dan dokter mampu memilih obat yang tepat, dosis yang sesuai, serta terapi perilaku yang cocok dengan metode yang tepat. Hal ini karena setiap orang memiliki perbedaan dalam menerima pengobatan. Demikian pula, dosis yang sesuai bagi satu orang belum tentu sesuai bagi orang lain. Begitu juga dengan terapi perilaku dan terapi kognitif; metode yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi orang lain.Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya Nasihat PenutupJangan mudah menuduh penderita OCD sebagai orang yang lemah iman, karena sebagian waswas muncul tanpa kehendak dan menjadi ujian yang berat. Namun, penderita juga tidak boleh pasrah; ia perlu menempuh sebab kesembuhan dengan ilmu, dzikir, terapi, dan bantuan ahli. Syariat Islam dibangun di atas kemudahan, bukan untuk menyiksa orang yang sedang berjuang melawan penyakit. Semakin waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh; semakin diabaikan dengan cara yang benar, semakin lemah pengaruhnya.اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabb an-nās, adzhibil ba’sa, wasyfi Antasy-Syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yughadiru saqaman.Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit. Referensi utama tulisan ini: Islamqa – Al-Waswasah Al-QahriBaca Juga:Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara MengobatinyaRagu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety Fikih Shalat fikih thaharah gangguan kesehatan mental kaidah fikih kesehatan mental Islam niat shalat OCD terapi OCD waswas waswas setan waswas talak

OCD dalam Islam: Memahami Waswas, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Banyak orang yang tersiksa oleh waswas dalam wudhu, shalat, talak, niat, bahkan dalam akidah, lalu mengira bahwa semua itu terjadi karena lemahnya iman. Padahal, sebagian kasus tersebut termasuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang memiliki karakteristik berbeda dengan waswas setan yang biasa. Tulisan ini akan membantu Anda memahami perbedaan keduanya, mengenali gejalanya, serta mengetahui panduan syariat dan terapi yang tepat untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan Istilah 1.1. Waswas dalam bahasa Arab 1.2. Waswas dalam Istilah 2. Hadits-Hadits Penting tentang Waswas 2.1. 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada Maksiat 2.2. 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benar 2.3. 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan Dosa 2.4. 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setan 2.5. 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allah 2.6. 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswas 3. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang Waswas 3.1. 1. Waswas yang Mengajak kepada Maksiat 3.2. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang Sekilas 3.3. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCD 4. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD) 4.1. Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD) 4.2. Definisi OCD Menurut DSM-5 4.3. Dampak OCD 4.4. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCD 4.5. Sejarah Istilah OCD 4.6. Tingkat Penyebaran OCD 4.7. Jenis-Jenis Gangguan OCD 4.7.1. A. OCD Kebersihan dan Kesucian 4.7.2. B. OCD dalam Shalat 4.7.3. C. OCD Pikiran-Pikiran Keagamaan 4.7.4. D. OCD dalam Praktik Keagamaan 4.7.5. E. OCD Memeriksa dan Memastikan 4.7.6. F. OCD Menghitung 4.7.7. G. OCD Kerapian dan Keteraturan 4.7.8. H. OCD Bertema Seksual 4.7.9. I. OCD Bertema Menyakiti Orang Lain 5. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari Setan 6. OCD dalam Pembahasan Ulama Islam 6.1. Gambaran OCD Menurut Imam Al-Juwaini 6.2. Penjelasan Ibnul Jauzi 6.3. Penjelasan Ibnu Qudamah 6.4. Penjelasan Ibnul Qayyim 6.5. Catatan Penting 7. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD 7.1. 1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya Waswas 7.2. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan Psikiatri 7.3. 3. Manfaatkan Terapi Psikologis 7.4. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation) 7.5. 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara Rutin 7.6. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin Keimanan 7.7. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCD 7.8. 8. Hentikan Pengulangan Perilaku 7.9. 9. Lawan OCD Secara Menyeluruh 7.10. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari Penyebabnya 7.11. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran Obsesif 7.12. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCD 7.13. 13. Mintalah Bantuan Orang Terdekat 7.14. 14. Kesembuhan Membutuhkan Perjuangan 7.15. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi Kemunduran 7.16. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena Ragu 7.17. 17. Bangun Sikap Berdasarkan Kepastian 7.18. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih Mudah 7.19. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa Bersalah 7.20. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan Suci 7.21. 21. Syariat Dibangun di Atas Kemudahan 7.22. 22. Niat Tidak Perlu Dipersulit 7.23. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya Amal 7.24. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan Pikiran 7.25. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-Ulang 7.26. 26. Bersabar atas OCD Bernilai Ibadah 7.27. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai Dosa 7.28. 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi Pahala 7.29. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCD 7.30. 30. Kunci Utama: Mengabaikan Waswas 8. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung Terapi 8.1. Mengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan Agama 8.2. Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu Lama 8.3. Mengatasi OCD dalam Istinja 8.4. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam Shalat 8.5. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul Ihram 8.6. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung Rakaat 8.7. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat Shalat 8.8. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan Talak 9. Penegasan 10. Nasihat Penutup  Penyakit waswas obsesif-kompulsif (OCD) adalah gangguan kejiwaan yang telah dikenal luas. Seseorang dapat mengalaminya tanpa kehendak dan tanpa pilihan dari dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit fisik dan gangguan kejiwaan lainnya, OCD merupakan ujian dari Allah yang akan mendatangkan pahala bagi seorang hamba jika ia bersabar menghadapinya. Seorang hamba juga dianjurkan untuk mencari pengobatan, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.Penggunaan istilah waswas untuk menyebut penyakit ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih pemahaman dengan waswas yang berasal dari diri sendiri atau dari setan. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu muncul tanpa pilihan manusia. Namun, OCD berbeda karena memiliki faktor-faktor biologis sebagai penyebabnya. Selain itu, OCD ditandai dengan tingkat pengulangan, tekanan, dan dorongan yang jauh lebih kuat dibandingkan waswas biasa.Tampaknya, kesamaan istilah inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kekeliruan dalam memahami OCD. Banyak orang mencampuradukkan OCD dengan waswas yang berasal dari setan. Akibatnya, muncul berbagai kesalahan dalam penanganannya. Sebagian penderita juga menyalahkan diri sendiri dan mengira bahwa kondisi yang mereka alami disebabkan oleh lemahnya iman.Karena alasan tersebut, sebagian pakar, seperti Dr. Wa’il Abu Hindi, mengusulkan agar istilah waswas pada penyakit ini diganti dengan istilah istihwadz qahri (gangguan dominasi kompulsif). Lihat kitab Al-Waswas Al-Qahri hlm. 18 dan seterusnya.Apakah penjelasan ini berarti setan sama sekali tidak memiliki peran dalam munculnya OCD?Tidak. Tetap ada kemungkinan bahwa setan memiliki hubungan dengan munculnya gangguan OCD. Namun, hal itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang, juga tidak berpengaruh terhadap pahala dan dosa yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Sebagai contoh, darah istihadhah pada wanita adalah persoalan biologis murni dan tidak berkaitan dengan keimanan penderitanya. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai:رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ“Satu gangguan dari setan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 128 dan selainnya).Maksudnya, OCD memiliki faktor-faktor penyebab berupa unsur keturunan, biologis, dan lingkungan. Faktor-faktor ini menjadikan sifat OCD berbeda dari waswas setan dalam pengertian yang biasa dikenal, sehingga cara memahami dan menanganinya pun berbeda.Untuk memperjelas pembahasan tentang OCD dan cara menghadapinya, penjelasan selanjutnya akan disusun dalam beberapa poin pembahasan berikut. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan IstilahWaswas dalam bahasa ArabIbnu Faris berkata:“Huruf waw dan sin menunjukkan makna suara yang pelan dan tidak keras. Suara perhiasan disebut waswas. Bisikan pemburu disebut waswas. Godaan setan kepada anak Adam juga disebut waswas.”Waswasah dan waswas—dengan huruf waw pertama dibaca fathah atau kasrah—berarti bisikan hati atau percakapan dalam diri.Selain itu, waswasah juga berarti lintasan pikiran yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.” (QS. Al-A‘raf: 20)Waswas juga bermakna bisikan yang tersembunyi dan sangat halus. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)Seseorang disebut muwaswis (orang yang banyak berwaswas) apabila waswas telah mendominasi dirinya.Kata waswas juga digunakan untuk menyebut setan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan kata sumber (masdar) untuk menunjukkan pelakunya. Dengan demikian, Al-Waswas menjadi salah satu nama setan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas: 4–5) Waswas dalam IstilahWaswas adalah bisikan yang datang dari diri sendiri atau dari setan mengenai sesuatu yang tidak mengandung manfaat dan kebaikan. Hadits-Hadits Penting tentang WaswasHadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membahas waswas dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut: 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada MaksiatDari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن للشَّيطانِ للمَّةً بابنِ آدمَ، ولِلمَلك لَمَّةٌ، فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ: فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكْذيبٌ بالحقِّ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ، فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ. فمَن وجدَ ذلِكَ فليعلم أنَّهُ منَ اللَّهِ، فليحمَدِ اللَّهَ، ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ منَ الشَّيطانِ. ثمَّ قرأَ: {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا} [البقرة: 268] الآيةَ“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Siapa yang mendapati bisikan yang baik, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan memuji-Nya. Siapa yang mendapati selain itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan.”Kemudian beliau membaca firman Allah:“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268)(HR. At-Tirmidzi no. 2988 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11051. Sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir, 1:325). 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benara. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuBeberapa sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به، قال: (وقد وجدتموه؟) قالوا: نعم، قال: (ذاك صريح الإيمان)“Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang sangat berat sehingga salah seorang dari kami merasa enggan untuk mengucapkannya.”Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?”Mereka menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Itulah tanda iman yang murni.” (HR. Muslim no. 132).Maksudnya, mereka mendapati lintasan pikiran yang buruk tentang agama atau tentang Allah, tetapi mereka sangat membencinya dan tidak berani mengungkapkannya.b. Hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waswas, beliau menjawab:تلك محض الإيمان“Itu adalah iman yang murni.” (HR. Muslim no. 133). 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan DosaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ. “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya. Demikian pula terhadap sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih dalam Shahih Ibnu Majah no. 1676). 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setana. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَنَا يَجِدُ فِي نَفْسِهِ، يُعَرِّضُ بِالشَّيْءِ، لَأَنْ يَكُونَ حُمَمَةً أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ».Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai menjadi arang yang terbakar daripada mengucapkannya.”Beliau bersabda: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya setan hanya sebatas bisikan.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 5112).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ، فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ.“Sesungguhnya ketika setan mendengar azan untuk shalat, ia lari sambil kentut agar tidak mendengar suara azan. Ketika azan selesai, ia kembali dan membisikkan waswas. Ketika iqamah dikumandangkan, ia pergi lagi. Setelah iqamah selesai, ia kembali dan membisikkan waswas.” (HR. Muslim no. 389). 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allaha. Hadits Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhuأَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا». قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي.Utsman bin Abil Ash mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku sehingga membuatku bingung.”Beliau bersabda, “Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”Utsman berkata, “Aku melakukannya, lalu Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ».“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian dan berkata: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Hingga akhirnya ia berkata: Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134).c. Hadits tentang Membaca Surah Al-IkhlasDalam sebuah hadits disebutkan,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia saling bertanya hingga ada yang berkata: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Jika mereka mengatakan demikian, maka bacalah (surah Al-Ikhlas): ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian meludahlah ringan ke sebelah kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah dari setan.” (HR. dinilai sahih dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8182). 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswasa. Mengatakan “Aku Beriman kepada Allah”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 4721).b. Tidak Menghiraukan Keraguan yang Tidak PastiAbdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang merasa seolah-olah keluar sesuatu ketika shalat. Beliau bersabda,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat atau meninggalkannya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 177).Hadits ini mengajarkan prinsip penting dalam menghadapi waswas: jangan mengikuti keraguan dan dugaan semata, tetapi berpeganglah pada sesuatu yang benar-benar pasti. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang WaswasKetika mencermati hadits-hadits yang telah disebutkan, kita dapat melihat bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan dua jenis utama waswas.1. Waswas yang Mengajak kepada MaksiatJenis pertama adalah waswas yang mendorong seseorang untuk melihat, melakukan, atau mendengarkan sesuatu yang haram.Waswas seperti ini merupakan bagian dari tabiat manusia. Ia masuk ke dalam jiwa melalui hawa nafsu, yaitu melalui hal-hal yang disukai dan diinginkan oleh seseorang. Waswas jenis ini bukanlah akibat gangguan biologis dan bukan pula penyakit pada dirinya sendiri. Karena itu, waswas semacam ini dapat dialami oleh seluruh manusia, tidak terbatas pada orang yang memiliki gangguan kejiwaan tertentu.Respons seseorang terhadap waswas jenis inilah yang akan menjadi sebab ia mendapatkan pahala atau dosa di sisi Allah. Jika ia menolaknya, ia mendapatkan pahala. Jika ia mengikutinya, ia bisa terjatuh ke dalam maksiat.Sumber waswas ini berasal dari tiga hal:Nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis-su’).Setan dari kalangan jin.Setan dari kalangan manusia.Hanya saja, bisikan manusia biasanya berupa ucapan yang terdengar secara langsung, bukan sekadar lintasan pikiran dalam hati dan akal. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang SekilasJenis kedua adalah waswas dalam bentuk keraguan yang datang sesekali dan bukan menjadi kebiasaan yang terus-menerus.Waswas ini dapat muncul dalam urusan agama maupun kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang mulai ragu terhadap keimanannya, wudhunya, shalatnya, sahabatnya, kerabatnya, atau merasa tidak fokus dan tidak khusyuk dalam shalat.Berbeda dengan jenis pertama, waswas ini tidak mengajak seseorang kepada sesuatu yang ia sukai. Tujuannya adalah menanamkan keraguan dan kegelisahan dalam diri manusia. Keraguan itu bisa berkaitan dengan keyakinan yang ia pegang, atau mengenai suatu perbuatan apakah sudah dilakukan atau belum. Terkadang tujuan waswas ini hanyalah menyibukkan seseorang dari perkara-perkara yang seharusnya ia kerjakan dan yang bermanfaat baginya.Waswas semacam ini biasanya dapat hilang dengan segera melalui:Berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.Mengingat bahwa pikiran-pikiran tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.Melawannya dengan kesungguhan dan sikap tegas terhadap diri sendiri.Sumber utama waswas ini adalah setan, meskipun sebagian di antaranya mungkin berasal dari bisikan diri sendiri. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCDPara ulama Islam telah membedakan antara waswas yang datang sesekali seperti ini dengan jenis lain yang dalam dunia kedokteran modern dikenal sebagai gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) atau waswas obsesif-kompulsif.Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (2:466):“Orang yang disebut mustankih adalah orang yang selalu diliputi keraguan dalam setiap wudhu atau shalatnya, atau keraguan itu datang kepadanya sekali atau dua kali setiap hari. Adapun jika keraguan itu hanya muncul setelah dua atau tiga hari sekali, maka ia tidak termasuk orang yang mengalami waswas yang menetap (mustankih).”Dengan demikian, tidak setiap keraguan yang muncul dalam ibadah termasuk gangguan waswas yang berat. Keraguan yang sesekali muncul masih tergolong hal yang biasa dialami manusia. Adapun jika keraguan itu terus berulang, mendominasi pikiran, dan sulit dikendalikan, maka keadaannya berbeda dan memerlukan penanganan yang lebih khusus. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD)Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD)Dalam buku Al-Bandul karya Dr. Muhammad Asy-Syami disebutkan:“OCD adalah dominasi suatu pikiran tertentu yang memaksa dan terus-menerus hadir dalam diri penderitanya sehingga sulit dilawan. Pikiran tersebut terasa asing bagi dirinya. Ia sadar bahwa pikiran itu bukan berasal dari keinginannya, tidak sesuai dengan keyakinannya, dan tidak masuk akal menurut dirinya. Pikiran itu biasanya disertai rasa takut dan cemas, baik karena keberadaan pikiran itu sendiri maupun akibat yang ditimbulkannya. Namun, ia tidak mampu mengusirnya dari pikirannya. Pikiran tersebut terus berulang hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, pikiran tersebut mendorongnya melakukan tindakan-tindakan kompulsif karena ia mengira tindakan itu akan mengurangi gangguan tersebut. Padahal kenyataannya, gangguan itu justru semakin bertambah seiring waktu.” Definisi OCD Menurut DSM-5Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi Kelima (DSM-5), yang menjadi rujukan dunia medis internasional, menjelaskan bahwa OCD ditandai oleh adanya obsesi, tindakan kompulsif, atau keduanya.A. ObsesiObsesi berupa:Pikiran, dorongan, atau gambaran yang muncul berulang-ulang dan menetap.Pada suatu waktu selama gangguan berlangsung, penderita merasakannya sebagai sesuatu yang menyusup, mengganggu, dan tidak diinginkan.Pikiran tersebut menimbulkan kecemasan atau tekanan psikologis yang nyata.Penderita biasanya berusaha:Mengabaikan atau menekan pikiran tersebut.Menetralisirnya dengan pikiran lain atau dengan melakukan tindakan tertentu (kompulsi).B. Tindakan KompulsifTindakan kompulsif memiliki dua ciri utama:Pertama, berupa perilaku berulang atau aktivitas mental yang dilakukan terus-menerus, seperti:Mencuci tangan berulang kali.Menata barang secara berlebihan.Memeriksa sesuatu berulang kali.Mengulang bacaan dalam shalat.Menghitung angka tertentu.Mengulang kata-kata dalam hati.Penderita merasa terdorong untuk melakukannya sebagai respons terhadap obsesi atau karena adanya aturan yang menurutnya harus diterapkan secara ketat.Kedua, tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan:Mengurangi kecemasan atau tekanan batin.Mencegah terjadinya sesuatu yang dianggap buruk atau menakutkan.Namun, tindakan itu sering kali:Tidak memiliki hubungan yang realistis dengan tujuan yang ingin dicapai.Atau dilakukan secara berlebihan. Dampak OCDObsesi dan tindakan kompulsif biasanya:Menghabiskan banyak waktu (misalnya lebih dari satu jam setiap hari).Menimbulkan tekanan psikologis yang berat.Mengganggu kehidupan sosial.Mengganggu pekerjaan.Menghambat berbagai aktivitas penting lainnya. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCDDr. Wa’il Abu Hindi dalam Al-Waswas Al-Qahri min Manzhur ‘Arabi Islami (hlm. 19) merangkum ciri-ciri pikiran yang tergolong OCD sebagai berikut:Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memaksa masuk ke dalam kesadarannya dan menguasai pikirannya tanpa kehendaknya, meskipun ia sadar bahwa pikiran itu berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pengaruh luar.Penderita meyakini bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal, tidak benar, tidak penting, dan sebenarnya tidak layak mendapatkan perhatian.Penderita terus-menerus berusaha melawan dan menolaknya.Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memiliki kekuatan yang memaksa dirinya. Semakin ia melawan, semakin kuat dan sering pikiran itu muncul, sehingga ia terjebak dalam lingkaran pengulangan yang tidak berkesudahan. Sejarah Istilah OCDOrang pertama yang menyebut gangguan ini sebagai penyakit medis adalah dokter Prancis Jean Étienne Dominique pada tahun 1838. Saat itu gangguan ini dianggap sebagai salah satu bentuk kegilaan.Kemudian pada tahun 1877, psikiater Jerman Karl Westphal turut membahasnya.Pada tahun 1903, psikolog Prancis Pierre Janet menerbitkan buku berjudul Obsessions and Psychasthenia (Al-Waswas wa Adh-Dha‘f An-Nafsi).Setelah itu, istilah ini semakin dikenal luas melalui berbagai tulisan Sigmund Freud, yang tersebar luas di dunia psikologi dan psikiatri. Tingkat Penyebaran OCDBanyak penderita OCD merasa bahwa hanya dirinya yang mengalami gangguan ini. Padahal kenyataannya, OCD termasuk gangguan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat.Diperkirakan sekitar 2–3% populasi mengalami OCD, atau sekitar 1 orang dari setiap 40 orang.Pada anak-anak, angka kejadiannya sekitar 1 anak dari setiap 200 anak.Karena itu, OCD bukanlah gangguan yang langka. Banyak orang mengalaminya, meskipun tidak semua berani menceritakan atau mencari bantuan untuk mengatasinya. Jenis-Jenis Gangguan OCDGangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki banyak bentuk dan variasi. Semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu adanya suatu pikiran tertentu yang menguasai pikiran seseorang sehingga sulit ditolak. Pikiran tersebut kemudian memaksa penderitanya melakukan tindakan tertentu secara berulang.Sulit untuk menyebutkan seluruh jenis OCD, tetapi berikut beberapa bentuk yang paling sering ditemukan.A. OCD Kebersihan dan KesucianPada jenis ini, penderita merasa ada bagian tubuhnya—biasanya tangan—yang belum bersih. Ia mencucinya, tetapi setelah selesai tetap merasa belum bersih sehingga kembali mencuci tangannya. Pikiran yang sama terus muncul dan tindakan mencuci terus berulang.Terkadang ia mencuci tangan hingga satu jam atau lebih dalam sekali mencuci sampai kulit tangannya rusak dan terluka.Hal yang sama juga dapat terjadi saat mandi. Ia mengulang mandi berkali-kali dan setiap kali berlangsung sangat lama, bisa sampai satu jam atau beberapa jam, karena merasa ada bagian tubuh yang belum dibersihkan dengan sempurna.Meskipun sebenarnya ia merasa pikiran itu aneh dan mengganggu, lama-kelamaan ia mencari pembenaran dengan menganggap bahwa kebersihannya memang belum sempurna atau proses pembersihan sebelumnya belum cukup.Jenis ini juga dapat muncul dalam bentuk ketakutan berlebihan terhadap virus dan bakteri. Fenomena ini banyak terlihat selama pandemi Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020. Penderita terus-menerus melakukan sterilisasi dan pembersihan karena merasa hampir semua benda dapat menularkan penyakit.Dalam kasus yang berat, seseorang bahkan enggan keluar rumah kecuali dalam keadaan sangat mendesak karena khawatir harus menjalani ritual pembersihan yang panjang dan melelahkan ketika kembali ke rumah.Pada sebagian wanita, OCD ini muncul dalam bentuk rasa jijik yang berlebihan terhadap diri sendiri saat masa haid. Ia mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari, mencuci seprai dan kursi yang digunakan, meskipun telah memakai pembalut dengan baik. Bahkan ia merasa jijik terhadap wanita lain yang sedang haid hingga melarang mereka duduk di tempat tidur, kursi, atau menggunakan kamar mandi pribadinya. Ia juga menghindari melewati tempat pembuangan sampah karena takut terdapat pembalut bekas di sana.Pada sebagian laki-laki, OCD muncul dalam masalah sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil. Mereka berusaha mengeluarkan seluruh sisa air kencing dengan berbagai cara, seperti batuk berulang kali atau menekan dengan keras, sehingga proses bersuci dan istinja menjadi sangat lama. B. OCD dalam ShalatPenderita terus-menerus ragu mengenai jumlah rakaat, rukuk, atau sujud yang telah dilakukan.Karena keraguan tersebut, ia mengulang shalat berkali-kali untuk memastikan bahwa shalatnya sah. Ia juga sering melakukan sujud sahwi karena merasa ada banyak kekurangan dalam shalatnya.Bentuk lain adalah keraguan mengenai niat shalat. Ia terus memikirkan apakah niatnya sudah benar atau belum, hingga berdiri lama sebelum memulai shalat. Bahkan terkadang waktu shalat hampir habis sementara ia masih sibuk memikirkan niat.Sebagian penderita juga terus mengulang takbiratul ihram karena merasa takbir pertama belum benar. C. OCD Pikiran-Pikiran KeagamaanJenis ini berupa munculnya pikiran atau kalimat yang buruk tentang Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama Islam, atau Al-Qur’an.Pikiran-pikiran tersebut sangat mengganggu karena penderita merasa dirinya telah keluar dari agama akibat pikiran itu, padahal sebenarnya ia membencinya dan tidak meyakininya.Sebagian penderita terus mengulang syahadat karena mengira dirinya telah kafir dan harus masuk Islam kembali.Jenis OCD ini sangat berbeda dengan pemikiran ateisme atau keraguan intelektual yang muncul karena syubhat. Pada OCD, penderita justru menolak dan membenci pikiran tersebut serta berusaha keras mengusirnya.Menariknya, banyak penderita OCD jenis ini justru berasal dari kalangan yang memiliki semangat kuat dalam menjalankan agama. D. OCD dalam Praktik KeagamaanBentuknya antara lain:Berlebihan dalam memperhatikan makhraj huruf saat berbicara atau membaca Al-Qur’an melebihi batas yang wajar.Terlalu ketat dalam tajwid hingga menjadi beban.Keraguan terus-menerus apakah telah menjatuhkan talak kepada istrinya atau belum.Keraguan terhadap kesucian air yang sebenarnya tidak ada tanda najis padanya.Keraguan apakah hewan sembelihan telah disebut nama Allah saat disembelih atau belum.Pada penganut agama lain, bentuk OCD keagamaan dapat muncul dalam bentuk pengakuan dosa berulang-ulang atau ketakutan berlebihan terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu. E. OCD Memeriksa dan MemastikanPenderita terus-menerus memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah diperiksa.Misalnya:Mengecek pintu berkali-kali karena takut belum terkunci.Memeriksa jendela berulang kali.Memastikan kompor sudah dimatikan berkali-kali karena takut terjadi kebakaran.Bahkan setelah keluar rumah, ia bisa kembali lagi hanya untuk memeriksa hal yang sama. Akibatnya, ia sering terlambat karena terlalu banyak memeriksa dan memastikan. F. OCD MenghitungPenderita merasa perlu menghitung sesuatu secara berulang.Misalnya:Menghitung uang berkali-kali meskipun sudah mengetahui jumlahnya.Menghitung pulpen atau barang pribadinya berulang kali.Menghitung benda-benda di rumah seperti jumlah ubin lantai atau benda lainnya. G. OCD Kerapian dan KeteraturanPenderita tidak pernah merasa puas dalam menata barang-barangnya. Ia ingin segala sesuatu tersusun dengan:Simetris.Seimbang.Rapi sempurna.Perubahan kecil saja dapat membuatnya sangat terganggu. Bahkan hal-hal sepele seperti posisi serat karpet pun bisa menjadi sumber kegelisahan. H. OCD Bertema SeksualJenis ini memiliki berbagai bentuk, di antaranya:Pandangan yang secara tidak terkendali tertuju pada area sensitif tubuh orang lain, bukan karena syahwat, tetapi karena dorongan obsesif.Munculnya gambaran hubungan seksual dalam pikiran yang terus berulang tanpa keinginan untuk melakukannya.Ketakutan berlebihan bahwa dirinya akan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita atau anak-anak, padahal ia sama sekali tidak menginginkannya.Ketakutan bahwa dirinya memiliki orientasi seksual tertentu, padahal kenyataannya tidak demikian.Pada semua bentuk ini, penderita tidak menghendaki pikiran tersebut dan justru merasa terganggu olehnya. I. OCD Bertema Menyakiti Orang LainPada jenis ini muncul ketakutan atau gambaran bahwa dirinya akan mencelakai orang lain.Misalnya seorang ibu merasa takut akan menyakiti anak-anaknya, padahal ia sangat mencintai mereka dan tidak pernah ingin melakukan hal itu.Ada pula penderita yang terus membayangkan dirinya menusuk seseorang dengan pisau atau menembak orang lain dengan senjata api. Padahal ia bukan orang yang keras atau agresif dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.Pikiran-pikiran tersebut muncul secara paksa, mengganggu, dan bertentangan dengan kepribadian serta keinginan asli penderita. Karena itulah pikiran tersebut menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mereka. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari SetanBerdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat membandingkan antara gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan waswas dari setan berdasarkan pemahaman syariat yang telah dikenal. AspekOCD (Waswas Obsesif-Kompulsif)Waswas dari SetanTingkat kejadianDialami sekitar 2–3% manusia.Dialami oleh seluruh manusia.Awal kemunculanDapat muncul pada berbagai usia, terutama masa remaja.Ada sejak manusia lahir dan biasanya semakin aktif ketika seseorang baligh serta mulai memikul beban syariat.Perasaan terhadap pikiran yang munculPenderita merasa pikiran itu asing, memaksa, dan bukan bagian dari dirinya.Biasanya tidak terasa asing dan sering kali terasa dekat dengan keinginan diri sendiri.Perasaan yang menyertainyaDisertai penolakan kuat, kecemasan, dan tekanan yang berat.Jika berkaitan dengan syahwat, sering disertai rasa nikmat. Jika berkaitan dengan syubhat, biasanya hanya menimbulkan kegelisahan ringan.Sifat pikiranUmumnya tidak logis dan tidak masuk akal.Kebanyakan tampak logis dan memiliki alasan atau pembenaran tertentu.Lebih sering terjadi padaOrang yang mudah cemas, mudah ragu, terlalu banyak berpikir, berkepribadian rapuh, dan kurang percaya diri.Orang yang jauh dari Allah dan lemah imannya. Namun terkadang juga semakin kuat pada orang yang kuat imannya karena kerasnya permusuhan setan terhadap mereka.Cara penangananMelalui pengobatan medis, terapi perilaku, dan terapi kognitif.Dengan mendekatkan diri kepada Allah, menyelisihi ajakan setan, dan memperbaiki jiwa yang cenderung kepada keburukan.Akhir gangguanDapat berakhir atau membaik dengan terapi dan pengobatan yang tepat.Tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia hidup. Ia merupakan bagian dari perjuangan melawan setan hingga akhir hayat.Pandangan masyarakatMasih sering dianggap aneh dan kurang dipahami.Umumnya dipahami dan diterima sebagai bagian dari ujian hidup manusia dalam menghadapi setan.Dukungan sosial bagi penderitanyaBiasanya masih sangat terbatas.Umumnya lebih mudah dipahami oleh masyarakat.Dari perbandingan ini terlihat bahwa OCD tidak sama dengan waswas setan yang biasa dibahas dalam kitab-kitab tazkiyatun nafs. Keduanya memang sama-sama melibatkan pikiran yang mengganggu, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.Waswas setan umumnya dihadapi dengan iman, dzikir, isti’adzah, dan mujahadah melawan hawa nafsu. Adapun OCD sering kali memerlukan penanganan tambahan berupa terapi psikologis dan pengobatan medis yang sesuai.Karena itu, tidak tepat jika setiap penderita OCD langsung dianggap memiliki iman yang lemah atau kurang dzikir. Sebagaimana penyakit fisik membutuhkan pengobatan, OCD juga termasuk ujian yang memerlukan penanganan yang sesuai dengan sebab-sebabnya. OCD dalam Pembahasan Ulama IslamPara ulama Islam telah mengenal fenomena yang saat ini dikenal sebagai OCD dan membedakannya dari keraguan biasa yang sesekali muncul.Dalam mazhab Maliki, kondisi ini disebut asy-syakku al-mustankih (keraguan yang menguasai seseorang). Kata mustankih berarti keraguan yang telah mendominasi seseorang sehingga sulit ia tolak atau kendalikan.Syaikh Muhammad ‘Aliys rahimahullah berkata, “Yang wajib dalam mandi adalah menggosok anggota tubuh yang dicuci… Dalam masalah ini cukup berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh zhonn) menurut pendapat yang benar. Dugaan kuat sudah mencukupi untuk memastikan sampainya air pada anggota tubuh yang wajib dibasuh berdasarkan kesepakatan ulama. Namun bagi orang yang mengalami keraguan yang terus-menerus (mustankih), tidak disyaratkan adanya dugaan kuat karena ia sulit mencapainya. Bahkan keraguan yang ada sudah dianggap cukup baginya, dan ia wajib mengabaikannya. Tidak ada obat baginya selain cara itu.” (Minah Al-Jalil, 1:127)Pernyataan ini menunjukkan bahwa para ulama telah memahami adanya kondisi keraguan yang menetap dan tidak normal, sehingga cara menghadapinya berbeda dari keraguan biasa.Beberapa ulama besar seperti Ibnu Qudamah, Ibnul Jauzi, dan Ibnul Qayyim juga membahas fenomena ini serta menawarkan cara-cara untuk mengatasinya.Namun, dalam tulisan mereka terdapat kritik keras terhadap orang yang terjebak dalam waswas. Jika dibaca pada masa sekarang, sebagian ungkapan tersebut mungkin terasa berat bagi penderita OCD.Hal itu dapat dipahami karena pada masa mereka belum dikenal penjelasan medis modern mengenai OCD, terutama aspek biologis dan aspek yang berada di luar kendali penderita.Meski demikian, sebagian kritik tersebut tetap memiliki manfaat, yaitu mengingatkan bahwa penderita tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan dan tidak menyerah kepada gangguan yang dialaminya. Gambaran OCD Menurut Imam Al-JuwainiAbu Muhammad Al-Juwaini rahimahullah dalam kitab At-Tabshirah menjelaskan sebagian perilaku orang yang mengalami waswas berlebihan.Beliau menceritakan bahwa ada orang yang terus mengulang takbiratul ihram hingga waktu shalat hampir habis. Ada pula yang sampai kehilangan shalat Jumat bersama imam karena terlalu lama mengulang takbir.Ketika hendak buang hajat, sebagian mereka bahkan menyiapkan banyak batu dan alat pembersih secara berlebihan. Saat menggunakan air pun mereka menghabiskan air dalam jumlah yang sangat banyak.Peneliti kitab tersebut, Dr. Muhammad As-Sudais, menyatakan bahwa banyaknya pembahasan Al-Juwaini tentang masalah ini menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan berupa waswas telah banyak ditemukan pada zamannya sehingga beliau merasa perlu menulis kitab khusus mengenai hal tersebut. Penjelasan Ibnul JauziDalam kitab Talbis Iblis, Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan beribadah.Beliau menyebut sebagian orang yang terlalu lama berada di kamar mandi karena merasa masih ada sisa air kencing yang belum keluar. Mereka berjalan ke sana kemari, berdeham berulang kali, mengangkat dan menurunkan kaki, dengan keyakinan bahwa semua itu akan mengeluarkan sisa air kencing.Padahal semakin mereka melakukan hal tersebut, semakin kuat perasaan bahwa masih ada sesuatu yang belum keluar.Beliau juga menggambarkan orang yang:Terus mengulang niat wudhu dan shalat.Selalu meragukan kesucian air.Menggunakan air secara berlebihan ketika berwudhu.Menghabiskan waktu terlalu lama hingga kehilangan keutamaan awal waktu shalat atau bahkan kehilangan shalat berjamaah.Berulang kali mencuci pakaian yang sebenarnya sudah suci.Beliau juga menyebut orang yang:Mengulang takbiratul ihram berkali-kali.Membatalkan niat lalu mengulanginya lagi.Terlambat mengikuti imam karena sibuk dengan keraguan.Kemudian beliau berkata:“Ketahuilah bahwa waswas dalam niat shalat berasal dari kelemahan akal dan ketidaktahuan terhadap syariat.”Beliau juga membawakan kisah terkenal dari Ibnu Aqil rahimahullah.Seseorang mengadu kepadanya:“Aku mencuci anggota tubuh lalu merasa belum mencucinya. Aku bertakbir lalu merasa belum bertakbir.”Ibnu Aqil menjawab:“Tinggalkan saja shalat, karena shalat tidak wajib bagimu.”Orang-orang yang mendengar ucapan tersebut merasa heran.Ibnu Aqil menjelaskan:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa pena pencatat amal diangkat dari orang gila hingga ia sadar. Orang yang bertakbir lalu berkata ‘aku belum bertakbir’ bukanlah orang yang berakal normal. Sedangkan orang gila tidak dibebani shalat.”Ungkapan ini tentu merupakan bentuk penegasan keras untuk menunjukkan betapa tidak masuk akalnya keraguan semacam itu. Penjelasan Ibnu QudamahIbnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Dzamm Al-Muwaswisin wa At-Tahdzir min Al-Waswasah menjelaskan bahwa sebagian orang akhirnya begitu tunduk kepada waswas hingga lebih mempercayai keraguan daripada apa yang mereka lihat dan yakini sendiri.Seseorang melihat dirinya telah berwudhu, mendengar dirinya bertakbir, dan mengetahui niatnya dengan yakin. Namun setelah itu ia tetap meragukan semuanya.Akibatnya, ia:Menyakiti dirinya sendiri.Menggunakan air secara berlebihan.Menggosok tubuh secara berlebihan.Menyiksa dirinya dengan air dingin.Kehilangan takbir pertama bersama imam.Kehilangan sebagian rakaat.Bahkan terkadang kehilangan waktu shalat.Beliau juga menyebut orang yang mengulang-ulang kata dalam Al-Fatihah, tasyahud, salam, atau takbir hingga merusak shalatnya sendiri.Menariknya, beliau mengatakan:“Banyak orang yang berwaswas dan memahami syariat sebenarnya mengakui bahwa tindakan mereka salah. Mereka bahkan berfatwa kepada orang lain dengan fatwa yang berbeda dari apa yang mereka lakukan, dan berkata: ‘Jangan meniru kami.’ Ini sungguh mengherankan.”Jika dilihat dari sudut pandang kedokteran modern, keheranan tersebut dapat dipahami karena pada masa itu OCD belum dikenal sebagai gangguan psikologis. Yang terlihat oleh para ulama adalah seseorang mengetahui kebenaran tetapi tidak mampu menghentikan perilakunya.Padahal ketidakmampuan menghentikan perilaku itulah yang menjadi salah satu ciri utama OCD. Penjelasan Ibnul QayyimIbnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan shalat.Beliau menggambarkan orang yang merasa wudhunya tidak sah meskipun telah berwudhu sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu.Beliau juga menyebut bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha menggunakan satu wadah air yang sama. Namun orang yang terjangkit waswas mungkin akan menganggap jumlah air tersebut tidak cukup bahkan untuk satu orang.Ibnul Qayyim juga membahas alasan yang sering digunakan para penderita waswas, yaitu menganggap perilaku mereka sebagai bentuk kehati-hatian dalam agama.Mereka beralasan:“Kami melakukan ini demi kehati-hatian dan menjaga agama.”Namun beliau menjelaskan panjang lebar bahwa kehati-hatian yang benar tidak boleh berubah menjadi sikap berlebihan yang justru menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau juga menyebut kisah seseorang yang berulang kali mengulang niat shalat hingga akhirnya bersumpah dengan talak agar tidak mengulanginya lagi. Namun karena tidak mampu menahan diri, ia tetap mengulang niat tersebut sehingga sumpahnya menyebabkan perceraian dengan istrinya.Ibnul Qayyim juga menukil ucapan Imam Al-Ghazali:“Waswas disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap syariat atau gangguan pada akal. Keduanya termasuk kekurangan dan cacat yang besar.”Beliau bahkan menyebut sebelas cara yang biasa dilakukan orang yang terobsesi memastikan seluruh air kencing telah keluar, seperti menarik kemaluan, mengguncangnya, berdeham, berjalan-jalan, melompat, dan berbagai tindakan lainnya. Catatan PentingSetelah membaca berbagai penjelasan ulama di atas, perlu ditegaskan kembali bahwa kritik mereka terutama ditujukan kepada orang yang membela dan membenarkan perilaku waswasnya, serta menganggapnya sebagai bentuk kehati-hatian yang benar dalam agama.Sebagian ungkapan keras mereka juga lahir dari keterbatasan pengetahuan medis pada masa itu mengenai OCD sebagai gangguan psikologis yang memiliki unsur di luar kendali penderita.Namun dari penjelasan para ulama tersebut tetap dapat diambil pelajaran penting, yaitu bahwa penderita OCD tidak boleh pasrah kepada penyakitnya. Ia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan, terapi, dan jalan kesembuhan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya WaswasKaidah dasarnya adalah bahwa berbagai lintasan pikiran dan waswas muncul pada diri seseorang tanpa ia kehendaki. Karena itu, seseorang tidak berdosa hanya karena munculnya pikiran tersebut.Yang dituntut darinya adalah memberikan respons yang benar. Pada waswas setan, caranya dengan berlindung kepada Allah. Sedangkan pada OCD, caranya dengan menempuh pengobatan dan terapi yang sesuai. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan PsikiatriJika dokter memandang obat diperlukan, maka pengobatan hendaknya dijalani.Banyak orang takut menggunakan obat kejiwaan karena berbagai anggapan yang keliru, seperti:Menyebabkan ketergantungan.Lebih banyak mudarat daripada manfaat.Merusak tubuh secara permanen.Anggapan tersebut tidak benar secara umum. Obat-obatan dibuat untuk membantu pasien. Jika mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, tentu tidak akan diizinkan digunakan oleh lembaga kesehatan dunia. Pengalaman medis selama puluhan tahun dan penelitian terhadap jutaan pasien menunjukkan bahwa obat memiliki manfaat yang besar dalam membantu mengatasi OCD. 3. Manfaatkan Terapi PsikologisSelain obat, terdapat berbagai terapi yang terbukti membantu, seperti:Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT).Terapi Perilaku Dialektis (Dialectical Behavioral Therapy/DBT).Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy/ACT).Dokter atau terapis dapat membantu menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation)Ulangi kalimat-kalimat yang benar untuk melawan pikiran obsesif, misalnya:“Aku tidak berburuk sangka kepada Allah.”“Wudhuku tidak batal.”“Shalatku sah.”“Tanganku sudah bersih.” 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara RutinMenulis kalimat-kalimat tersebut sekitar sepuluh kali setiap hari dapat membantu memperkuat pola pikir yang sehat. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin KeimananTeruslah mengingatkan diri:“Apa yang aku alami adalah gejala penyakit, bukan cerminan keimanan atau kepribadianku.”Jika perlu, tuliskan kalimat ini berulang kali setiap hari. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCDBayangkan bagaimana hidup tanpa mengulang-ulang tindakan yang sama.Latih diri untuk membayangkan perilaku yang sehat dan normal, kemudian berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. 8. Hentikan Pengulangan PerilakuUsahakan untuk tidak mengulangi tindakan yang sama.Segera alihkan perhatian kepada aktivitas lain sebelum dorongan obsesif menguasai pikiran.Perlu dipahami bahwa perlawanan ini biasanya menimbulkan ketegangan pada awalnya. Namun jika dilawan, OCD akan melemah. Jika dituruti, OCD akan semakin kuat. 9. Lawan OCD Secara MenyeluruhJangan hanya melawan satu bentuk waswas lalu membiarkan bentuk lainnya.Fokuslah pada yang paling kuat terlebih dahulu, tetapi tetap berusaha mengurangi seluruh perilaku obsesif yang ada. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari PenyebabnyaTerlalu lama memikirkan penyebab OCD sering kali tidak menghasilkan solusi.Lebih baik mengarahkan tenaga kepada langkah-langkah penyembuhan. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran ObsesifSemakin sering seseorang mendebati pikiran obsesif, biasanya semakin kuat pikiran tersebut.Karena itu, jangan sibuk memikirkan waswas atau lawannya. Alihkan pikiran kepada hal lain yang berbeda sama sekali. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCDBanyak penderita memiliki “aturan pribadi” yang tidak rasional.Misalnya aturan kebersihan yang berlebihan.Cara mengatasinya adalah dengan menghadapi secara bertahap hal-hal yang ditakuti, bukan menghindarinya. 13. Mintalah Bantuan Orang TerdekatLibatkan keluarga atau orang yang dipercaya untuk membantu memutus pola perilaku OCD.Misalnya, meminta anggota keluarga menghentikan proses mencuci tangan ketika sudah mencapai batas normal. 14. Kesembuhan Membutuhkan PerjuanganTidak ada terapi OCD tanpa usaha dan perjuangan.Semakin serius seseorang melawan OCD, semakin besar peluang keberhasilannya. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi KemunduranTerkadang ada masa semangat, terkadang ada masa lemah.Tetaplah melanjutkan proses terapi walaupun sesekali mengalami kemunduran. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena RaguSesuatu yang sudah pasti tidak gugur hanya karena keraguan.Karena itu, penderita OCD perlu terus mengingatkan dirinya:“Aku memang memiliki masalah waswas, sehingga keraguan yang muncul tidak layak dijadikan pegangan.” 17. Bangun Sikap Berdasarkan KepastianNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang ragu apakah kentut atau tidak,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat hingga mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 137)Jika orang yang sehat saja diperintahkan berpegang pada kepastian, maka penderita OCD lebih pantas lagi untuk tidak mengikuti keraguan yang tidak memiliki bukti. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih MudahDalam masalah khilafiah yang diakui ulama, penderita OCD boleh mengambil pendapat yang lebih ringan setelah berkonsultasi dengan seorang mufti atau ustadz yang memahami kondisinya.Sebaliknya, selalu memilih pendapat yang paling berat sering kali bukan karena wara’, melainkan karena dorongan OCD. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa BersalahJangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.OCD adalah penyakit, bukan dosa yang sengaja dilakukan. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan SuciSesuatu tidak dianggap haram atau najis kecuali ada dalil yang jelas.Karena itu, jangan membangun hukum berdasarkan dugaan dan prasangka. 21. Syariat Dibangun di Atas KemudahanSalah satu tujuan syariat adalah memberikan kemudahan, terutama bagi orang yang memiliki kesulitan dan uzur.Kemudahan bukan berarti meninggalkan ibadah, tetapi melaksanakan ibadah dengan cara yang benar dan tidak memberatkan diri. 22. Niat Tidak Perlu DipersulitNiat tidak memerlukan pelafalan khusus.Ketika seseorang bergerak untuk melakukan suatu ibadah, pada hakikatnya ia telah berniat melakukannya. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya AmalTugas seorang hamba adalah beramal dengan benar dan ikhlas.Adapun diterima atau tidaknya amal merupakan urusan Allah. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan PikiranSeseorang dihukum karena keyakinan yang dipilihnya atau tindakan yang sengaja dilakukannya, bukan karena pikiran yang datang tanpa kehendaknya. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-UlangSelama seseorang tidak meyakini kekafiran dengan pilihan dan keyakinannya sendiri, maka ia tetap berada dalam Islam.Pikiran obsesif tidak mengeluarkan seseorang dari agama. 26. Bersabar atas OCD Bernilai IbadahKesabaran menghadapi penyakit adalah sebab datangnya pahala dari Allah.Bisa jadi seseorang merasa dirinya penuh dosa, padahal dengan kesabarannya menghadapi ujian tersebut, derajatnya justru semakin tinggi di sisi Allah. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai DosaSeseorang baru berdosa apabila:Melakukannya dengan sengaja.Melakukannya atas pilihannya sendiri.Mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram.Adapun pikiran dan dorongan obsesif tidak dicatat sebagai dosa.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.““Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya atau mengucapkannya.” (HR. Bukhari no. 2528) 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi PahalaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً.“Barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491)Jika orang yang sengaja berniat maksiat lalu membatalkannya mendapat pahala, maka orang yang dipaksa oleh pikiran obsesif lalu terus melawannya tentu lebih layak berharap pahala dari Allah. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCDBanyak penderita terus-menerus mencari fatwa untuk menenangkan diri.Ketenangan itu biasanya hanya sementara. Setelah itu muncul lagi keraguan baru.Karena itu, pencarian kepastian yang terus-menerus sering menjadi bahan bakar OCD.Ketika para sahabat mengalami waswas berupa pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab dengan pembahasan filsafat yang panjang. Beliau justru memerintahkan mereka untuk berhenti mengikuti pikiran tersebut.Waswas mirip rasa gatal. Semakin digaruk, semakin ingin digaruk. 30. Kunci Utama: Mengabaikan WaswasInilah prinsip terpenting dalam menghadapi OCD.Ad-Dardir rahimahullah berkata:“Adapun orang yang sering dilanda keraguan (mustankih), maka yang wajib baginya adalah berpaling dari keraguan tersebut. Karena mengikuti waswas dapat merusak agama dari akarnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”Tentu mengabaikan waswas tidak selalu mudah. Terkadang tekanan penyakit sangat kuat. Namun tujuan seluruh terapi dan usaha yang dilakukan adalah membantu penderita sampai pada kemampuan untuk tidak lagi melayani dan mengikuti waswas yang datang kepadanya.Singkatnya, semakin sering waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh. Semakin sering diabaikan dan dilawan, semakin lemah pengaruhnya. Ini adalah salah satu kunci terbesar dalam proses pemulihan OCD. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung TerapiMengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan AgamaPertama, sebagian penderita OCD mengalami pikiran-pikiran buruk tentang Allah, agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Al-Qur’an. Mereka merasa bertanggung jawab dan akan dihukum karena pikiran tersebut. Padahal anggapan itu tidak benar.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya, mengucapkannya, atau dipaksa melakukannya.” (HR. Shahih Ibnu Majah, no. 1676)Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang tidak bertanggung jawab atas pikiran yang muncul di dalam dirinya selama ia tidak mengubahnya menjadi ucapan atau perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Semakin besar rasa takut seseorang bahwa ia telah berbuat buruk kepada Allah atau Rasul-Nya melalui pikiran tersebut, semakin ia perlu memahami bahwa dirinya sedang dipaksa oleh penyakit ini dan tidak memiliki kendali penuh atas kemunculannya. Selama hatinya tetap beriman dan tenang dengan keimanan, maka waswas tersebut termasuk bentuk keterpaksaan yang tidak membuatnya berdosa. Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (QS. An-Nahl: 106)Kedua, petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika muncul waswas tentang AllahTerdapat beberapa hadits yang menjelaskan bagaimana seseorang harus bersikap ketika muncul waswas dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu tentang Allah.Hadits pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا، خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ؛ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa mendapati sesuatu dari hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 134)Hadits kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia terus bertanya-tanya hingga salah seorang di antara mereka berkata: ‘Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Jika mereka mengatakan hal itu, maka katakanlah: ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung kepada Allah dari setan.” (HR. Ash-Shahihah dalam Shahih Al-Jami’ no. 8182)Hadits ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ.“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya ia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti.” (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134)Dari hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa apabila seseorang didatangi waswas semacam itu, maka hendaknya ia melakukan beberapa hal berikut:Mengucapkan: “Āmantu billāh” (Aku beriman kepada Allah).Membaca Surah Al-Ikhlas.Meludah ringan ke sebelah kiri sebanyak tiga kali, yaitu menghembuskan ludah tipis tanpa mengeluarkan air ludah yang nyata.Menghentikan waswas tersebut sama sekali, tidak melanjutkan pembahasannya, tidak terus memikirkannya, dan tidak berusaha menelusuri pertanyaan-pertanyaan itu lebih jauh.  Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu LamaTerdapat beberapa hadits yang melarang pemborosan air.أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: «مَا هَذَا السَّرَفُ؟» قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ».Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Sa’ad berwudhu dengan berlebihan, beliau bersabda: “Apa pemborosan ini?”Sa’ad bertanya: “Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?”Beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (Silsilah Ash-Shahihah, no. 3292)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan ukuran air yang cukup untuk bersuci:يُجْزِئُ مِنَ الْوُضُوءِ الْمُدُّ، وَمِنَ الْجَنَابَةِ صَاعٌ.“Satu mud cukup untuk wudhu dan satu sha’ cukup untuk mandi junub.” (Silsilah Ash-Shahihah, 4:644)Dalam makna yang sama, ada seseorang yang bertanya di hadapan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma tentang mandi. Jabir menjawab, “Satu sha’ sudah mencukupimu.”Lalu seseorang berkata, “Itu tidak cukup bagiku.”Maka Jabir menjawab, “Ukuran itu dahulu telah mencukupi orang yang rambutnya lebih lebat darimu.” (HR. Bukhari, no. 252)Yang dimaksud oleh Jabir adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau memiliki rambut yang lebih banyak dan lebih panjang daripada orang yang bertanya tersebut, namun tetap cukup mandi dengan satu sha’ air.Satu mud kira-kira setara dengan dua pertiga liter (687 ml), atau kurang lebih satu botol air minum kecil. Sedangkan satu sha’ setara dengan sekitar 2,75 liter, yaitu kurang lebih satu setengah botol air ukuran besar (masing-masing berisi 1,5 liter).Diriwayatkan pula secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu dengan air yang diletakkan dalam sebuah wadah yang ukurannya sekitar dua pertiga mud. (HR. An-Nasa’i, 1:58). Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan dua pertiga botol air kecil.Selain itu, Abu Dawud (no. 135), An-Nasa’i (no. 140), dan Ahmad (no. 6684) meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang wudhu. Lalu Nabi memperagakan wudhu dengan membasuh setiap anggota tiga kali, kemudian bersabda,هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ“Beginilah wudhu. Barang siapa menambah dari ini, maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan berbuat zalim.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى كَرَاهَةِ الزِّيَادَةِ عَلَى الثَّلَاثِ، وَالْمُرَادُ بِالثَّلَاثِ الْمُسْتَوْعِبَةِ لِلْعُضْوِ، وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَسْتَوْعِبِ الْعُضْوَ إِلَّا بِغَرْفَتَيْنِ، فَهِيَ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ“Para ulama telah bersepakat bahwa menambah basuhan lebih dari tiga kali hukumnya makruh. Yang dimaksud tiga kali adalah tiga kali yang telah mencakup seluruh anggota tubuh yang wajib dibasuh. Adapun jika suatu anggota belum terbasuh sempurna kecuali dengan dua cidukan air, maka itu tetap dihitung sebagai satu kali basuhan.”Dari hadits-hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:Berlebihan dalam menggunakan air adalah sesuatu yang dilarang, meskipun air tersebut digunakan untuk ibadah yang sangat penting seperti wudhu untuk shalat. Bahkan larangan itu tetap berlaku meskipun airnya berasal dari sungai yang mengalir dan tidak akan habis.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan tata cara wudhu kepada umat ini juga telah mengajarkan ukuran air yang cukup untuk berwudhu. Beliau bahkan memperingatkan bahwa orang yang melampaui batas tersebut telah berbuat buruk dan zalim. Ini merupakan peringatan yang sangat serius.Sebagian tabi’in dahulu juga pernah merasa heran bagaimana mungkin jumlah air yang sedikit itu bisa mencukupi. Namun mereka dijawab bahwa ukuran tersebut dahulu telah mencukupi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia terbaik yang paling sempurna dalam bersuci. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa air sebanyak itu tidak cukup baginya untuk berwudhu. Mengatasi OCD dalam IstinjaSebagian penderita OCD mengeluhkan bahwa mereka mengalami kesulitan saat istinja (bersuci setelah buang air kecil). Banyak di antara mereka menghabiskan waktu yang lama untuk memastikan tidak ada lagi tetesan air kencing yang keluar setelah selesai buang air kecil. Sebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama sejak berabad-abad yang lalu telah membahas bentuk waswas seperti ini. Masalah ini sering dijumpai dalam pembahasan fikih thaharah ketika membahas orang yang mengalami salasul baul (keluar air kencing terus-menerus). Sebagian ahli fikih menyebutnya sebagai masalah “pemilik satu atau dua tetes air kencing”.Dalam masalah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:Waswas semacam ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan melihat secara langsung bagian yang menjadi sumber keluarnya air kencing, karena perbedaan bentuk anatomi tubuh. Organ yang digunakan untuk buang air kecil pada laki-laki berada di luar tubuh sehingga lebih mudah diamati ketika buang air kecil dan beristinja. Adapun pada perempuan, saluran keluarnya air kencing tidak mudah dilihat secara langsung. Karena itu, jika perempuan mengalami waswas, biasanya berkaitan dengan cairan vagina atau darah yang keluar dari tubuh dan terlihat pada pakaian.Secara fisik memang ada sebab yang memungkinkan keluarnya beberapa tetes cairan setelah suatu cairan melewati saluran yang sempit. Sebagai contoh, pada selang air sering kali masih ada sisa air yang menempel pada bagian dalamnya setelah digunakan. Lama-kelamaan titik-titik air tersebut berkumpul lalu membentuk tetesan yang akhirnya jatuh. Hal serupa dapat terjadi pada organ kemaluan laki-laki. Selain itu, panjang saluran kencing pada laki-laki sekitar lima kali lebih panjang daripada perempuan. Pada laki-laki dewasa panjangnya sekitar 20 cm, sedangkan pada perempuan hanya sekitar 4 cm. Karena itu, kemungkinan keluarnya sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil lebih sering terjadi pada laki-laki, sehingga waswas jenis ini juga lebih banyak ditemukan pada mereka.Sebagian penderita waswas mengira bahwa cairan yang keluar adalah mani, madzi, atau wadi. Padahal pada umumnya yang keluar hanyalah tetesan air kencing, kecuali jika memang ada penyakit tertentu pada organ tubuh. Dalam keadaan normal, mani atau madzi—yaitu cairan bening dan lengket yang keluar setelah adanya rangsangan seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan—tidak mungkin keluar setelah buang air kecil, karena keduanya berkaitan dengan rangsangan seksual yang disertai perubahan fisiologis tertentu. Jika cairan tersebut keluar saat buang air kecil, maka itu termasuk kondisi medis yang memerlukan penanganan. Adapun wadi, yaitu cairan putih yang tidak lengket, biasanya keluar pada kasus peradangan prostat pada laki-laki. Ini juga termasuk penyakit fisik yang ditangani oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Karena itu, cairan yang biasanya menimbulkan waswas pada kebanyakan penderita sebenarnya hanyalah tetesan air kencing, kecuali pada kasus-kasus penyakit tertentu yang memiliki pengobatan tersendiri.Berbagai cara yang dilakukan untuk menekan kandung kemih agar mengeluarkan seluruh air kencing tidak akan menghentikan keluarnya tetesan tersebut. Sebab ginjal bekerja sepanjang waktu dan terus menghasilkan air kencing dalam bentuk tetesan-tetesan kecil yang kemudian terkumpul di kandung kemih hingga penuh. Setelah itu muncullah dorongan untuk buang air kecil dan seseorang secara sadar membuka saluran keluarnya air kencing sehingga air kencing keluar. Ketika seseorang masih duduk di kamar mandi, pada hakikatnya saluran tersebut masih terbuka sehingga setiap tetesan baru yang dihasilkan ginjal dapat langsung keluar. Proses ini berlangsung terus-menerus dan tidak berhenti. Oleh karena itu, berbagai tindakan untuk memaksa keluarnya seluruh tetesan air kencing tidak memiliki manfaat. Bahkan tindakan tersebut justru semakin menguatkan waswas, karena setiap kali penderita menemukan tetesan baru, ia merasa harus lebih berhati-hati lagi.Terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan solusi praktis terhadap masalah ini. Solusi tersebut merupakan sunnah yang banyak ditinggalkan, baik oleh orang yang sehat maupun oleh penderita waswas, yaitu memercikkan air pada pakaian bagian luar di sekitar kemaluan setelah berwudhu. Sebagian ulama berpendapat bahwa percikan air tersebut dilakukan pada kemaluan itu sendiri. Baik yang dimaksud adalah kemaluan maupun pakaian di sekitarnya, keduanya menunjukkan bahwa memercikkan air setelah bersuci adalah amalan yang dianjurkan dan hikmahnya sangat jelas.Disebutkan dalam hadits bahwa Al-Hakam bin Sufyan Ats-Tsaqafi melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau mengambil segenggam air dan memercikkannya ke kemaluannya. (HR. Ibnu Majah no. 379 dan An-Nasa’i no. 134).Para ulama menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Yaitu beliau memercikkan air tersebut untuk menghilangkan waswas dan sebagai pengajaran bagi umat.”Perhatikanlah sunnah ini. Amalannya sangat sederhana, namun memiliki pengaruh yang besar dalam mencegah waswas. Ketika seseorang yang mengalami waswas merasakan adanya kelembapan setelah bersuci, ia dapat mengatakan kepada dirinya bahwa itu hanyalah bekas percikan air tersebut. Dengan demikian, waswas pun menjadi lebih mudah ditolak.Adapun mengenai hukum mencuci pakaian yang terkena najis dalam jumlah yang sangat sedikit, para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang hal itu dan juga tentang ukuran najis yang dianggap sedikit. Jika najis tersebut sangat kecil, seperti setitik air kencing atau wadi, maka ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa tidak wajib mencucinya. Ulama Malikiyah juga memiliki pendapat yang serupa dalam keadaan yang sulit dihindari, seperti bekas yang sangat kecil akibat lalat yang hinggap pada kotoran atau air kencing. Sementara ulama Hanafiyah berpendapat bahwa najis berat yang ditetapkan berdasarkan dalil yang pasti, seperti darah, air kencing, dan khamr, dimaafkan apabila ukurannya tidak melebihi satu dirham. Namun ada pula ulama lain yang berbeda pendapat dalam masalah ini.Karena itu, penderita OCD atau waswas boleh mengambil pendapat yang paling ringan dalam masalah ini, karena termasuk masalah khilaf yang masih dianggap sah oleh para ulama dan ia termasuk orang yang memiliki uzur dalam persoalan tersebut. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam ShalatOrang yang mengalami waswas dalam niat merasa bahwa dirinya belum menghadirkan niat untuk shalat. Karena itu, ia menghabiskan waktu yang lama untuk menghadirkan dan memperbarui niat tersebut berulang-ulang. Hal ini terjadi karena ia belum memahami makna niat dan cara menghadirkannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 3429)Beliau juga bersabda,وَلَا عَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ.“Tidak ada amal kecuali dengan niat.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2415)Maksud hadits-hadits tersebut adalah bahwa setiap perbuatan pasti disertai niat. Tidak mungkin ada suatu perbuatan tanpa niat. Karena itu, tidak mungkin seseorang telah berdiri untuk shalat dan mulai melaksanakan shalat, sementara ia tidak berniat shalat. Hal itu mustahil, baik menurut syariat maupun menurut akal.Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah keikhlasan niat karena Allah. Artinya, seseorang shalat karena Allah, bukan karena riya atau karena takut kepada manusia. Hal ini dapat dipahami dari bagian akhir hadits pertama:“Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.”Hijrah adalah suatu perbuatan. Orang yang berhijrah pasti memiliki niat untuk berhijrah. Akan tetapi yang lebih penting adalah bahwa hijrahnya dilakukan semata-mata karena Allah.Demikian pula orang yang berdiri untuk melaksanakan shalat Zhuhur, maka sudah pasti ia memiliki niat bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat Zhuhur yang wajib karena Allah. Tidak mungkin ia berdiri dan memulai shalat tersebut tanpa memiliki niat untuk melaksanakannya. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul IhramSebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama terdahulu telah membahas orang-orang yang mengalami waswas dalam takbiratul ihram. Di antara mereka ada yang mengulang takbir lebih dari sekali karena mengira bahwa takbirnya belum sah. Ada pula yang memutus-mutus lafaz takbir ketika mengucapkannya sehingga berkata, “Allāhu Akkkbar.”Akar masalah ini sebenarnya kembali kepada masalah niat yang telah dijelaskan sebelumnya, serta anggapan bahwa jika ia salah mengangkat tangan atau salah mengucapkan takbir, maka ia belum masuk ke dalam shalat.Adapun mengenai mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir, terkadang setelah takbir, dan terkadang sebelum takbir. Beliau juga terkadang mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya.Karena itu, dalam masalah ini terdapat kelonggaran. Seseorang boleh melakukan salah satu dari bentuk-bentuk tersebut dan semuanya diterima.Adapun lafaz takbir, yang perlu dilakukan oleh orang yang shalat adalah tidak memusatkan perhatian secara berlebihan pada cara mengucapkannya. Terlalu fokus pada sesuatu yang sebenarnya mudah dan biasa justru akan membuatnya menjadi sulit. Sebagaimana seseorang berbicara dalam percakapan sehari-hari tanpa memikirkan secara rinci setiap kata yang keluar dari lisannya, demikian pula takbiratul ihram. Kata-katanya termasuk ungkapan yang sederhana dan dapat diucapkan secara langsung.Masalah yang lebih besar yang menimpa orang yang mengulang-ulang takbir adalah bahwa ia biasanya terjatuh ke dalam salah satu dari dua kesalahan berikut:Pertama, ia menganggap dirinya sudah masuk ke dalam shalat. Jika demikian, maka pengulangan takbir yang ia lakukan setelahnya termasuk gerakan tambahan yang tidak diperlukan dan tidak disyariatkan dalam shalat, sehingga tidak dibenarkan.Kedua, ia menganggap dirinya belum masuk ke dalam shalat, padahal niat dan takbirnya yang pertama sudah memasukkannya ke dalam shalat. Akibatnya, ia bertindak sebagaimana orang yang masih berada di luar shalat, padahal sebenarnya ia sudah berada di dalam shalat.Bahkan ada sebagian orang yang bertakbir, kemudian mengucapkan salam untuk keluar dari shalat, lalu bertakbir lagi untuk masuk ke dalam shalat. Dengan demikian ia terjatuh ke dalam kesalahan lain, yaitu keluar dari shalat tanpa alasan dan tanpa kebutuhan yang dibenarkan, padahal hal itu tidak diperbolehkan. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung RakaatDisebutkan dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’ (2/299):“Adapun orang yang mengalami waswas, maka keraguannya tidak dianggap. Karena itu, penyair berkata:وَالشَّكُّ بَعْدَ الْفِعْلِ لَا يُؤَثِّرُ … وَهَكَذَا إِذَا الشُّكُوكُ تَكْثُرُفَإِذَا كَثُرَتِ الشُّكُوكُ، فَهَذَا وَسْوَاسٌ لَا يُعْتَدُّ بِهِ.Keraguan setelah suatu perbuatan tidak berpengaruh,Demikian pula jika keraguan itu terlalu sering terjadi.Jika keraguan telah sering terjadi, maka itu termasuk waswas yang tidak perlu diperhatikan.”Disebutkan pula dalam Mathalib Uli An-Nuha (1:507):“Tidak disyariatkan sujud sahwi apabila keraguan sudah sering terjadi hingga menyerupai waswas. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mengabaikannya. Demikian pula jika keraguan sering terjadi dalam wudhu, mandi, menghilangkan najis, atau tayamum, maka ia harus mengabaikannya. Sebab jika keraguan tersebut diikuti, seseorang akan terjatuh pada bentuk sikap yang berlebihan dan memaksakan diri. Hal itu dapat mengakibatkan penambahan dalam shalat, padahal ia sebenarnya telah yakin bahwa shalatnya telah sempurna. Karena itu, keraguan tersebut wajib ditinggalkan dan tidak dipedulikan.” Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat ShalatSebagian penderita OCD merasa bahwa wudhunya telah batal ketika sedang shalat. Akibatnya, ia menganggap dirinya telah keluar dari shalat sehingga harus pergi berwudhu kembali dan mengulang shalatnya. Perilaku ini terus berulang.Terdapat hadits-hadits yang membimbing kita tentang cara bersikap yang benar dalam keadaan seperti ini. Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang merasakan sesuatu ketika sedang shalat, apakah ia harus membatalkan shalatnya?Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:لَا، حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Tidak, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari, no. 137)Maksud hadits ini adalah bahwa apabila seseorang merasa seakan-akan telah berhadas atau mengeluarkan angin ketika sedang shalat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan dua tanda yang jelas agar seseorang benar-benar yakin bahwa wudhunya telah batal, yaitu mendengar suara atau mencium bau. Jika salah satu dari dua tanda tersebut tidak ada, maka ia tidak boleh keluar dari shalatnya dan harus melanjutkan shalat tersebut hingga selesai.Diriwayatkan pula dari banyak sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, serta dari para tabi’in seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, dan Mujahid, bahwa mereka melarang seseorang meninggalkan shalat hanya karena merasa ada tetesan air kencing yang keluar.Bahkan Mujahid berkata:لَأَنْ أُصَلِّيَ وَقَدْ خَرَجَ مِنِّي شَيْءٌ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُطِيعَ الشَّيْطَانَ.“Aku lebih suka tetap shalat meskipun ada sesuatu yang keluar dariku daripada menaati setan.” (Dzamm Al-Muwaswisin, 80)Sa’id menjawab,إِنِّي لَأَجِدُ الْبَلَلَ وَأَنَا أُصَلِّي، أَفَأَنْصَرِفُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: «لَوْ سَالَ عَلَى فَخِذِي مَا انْصَرَفْتُ حَتَّى أَقْضِيَ صَلَاتِي».“Seandainya cairan itu mengalir di pahaku, aku tetap tidak akan membatalkan shalat sampai aku menyelesaikannya.” (Syarh As-Sunnah, 1:355) Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan TalakContohnya adalah seseorang mengira bahwa dirinya telah mengucapkan talak, padahal sebenarnya ia tidak bermaksud menceraikan istrinya.Manusia dibebani hukum dan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang sengaja ia lakukan dengan pilihan dan kehendaknya sendiri secara penuh. Adapun bisikan dan waswas yang muncul dalam dirinya tidak menjadi sebab seseorang dihukum, kecuali jika bisikan tersebut berubah menjadi perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Sebelumnya telah disebutkan hadits,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka selama mereka belum melakukannya atau mengucapkannya.”Perbuatan atau ucapan adalah sesuatu yang dapat disaksikan oleh seseorang dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, apabila seseorang mengira bahwa dirinya telah melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu di hadapan orang lain, sementara orang-orang di sekitarnya mengingkari bahwa ia telah melakukannya atau mengucapkannya, maka hal itu hanyalah prasangka dan khayalan dari dirinya sendiri. Ia tidak dihukum karenanya dan tidak berlaku konsekuensi hukum apa pun atasnya.Bahkan menurut sebagian ulama, orang yang tertimpa OCD tidak jatuh talaknya meskipun ia mengucapkan lafaz talak, selama ia tidak benar-benar bermaksud menceraikan istrinya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata. “Orang yang tertimpa waswas tidak jatuh talaknya, meskipun ia mengucapkannya dengan lisannya, selama ia tidak bermaksud menjatuhkan talak. Sebab lafaz yang keluar dari lisan orang yang mengalami waswas terjadi tanpa tujuan dan tanpa kehendak. Ia berada dalam keadaan tertekan dan terdorong melakukannya karena kuatnya dorongan dan lemahnya kemampuan untuk menolaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada talak dalam keadaan tertutup (terpaksa atau kehilangan kendali).’ Karena itu, talak tidak jatuh darinya selama ia tidak menghendakinya dengan kehendak yang sungguh-sungguh dan tenang. Sesuatu yang terjadi karena paksaan tanpa tujuan dan tanpa pilihan tidak menyebabkan jatuhnya talak.”Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya PenegasanSebagai penegasan terakhir, perlu ditegaskan bahwa menggabungkan penggunaan obat-obatan anti-OCD dengan berbagai metode terapi psikologis merupakan pendekatan yang terbukti memberikan keberhasilan yang nyata dalam menangani gangguan obsesif-kompulsif (OCD).Keberhasilan terapi akan semakin besar apabila terapis dan dokter mampu memilih obat yang tepat, dosis yang sesuai, serta terapi perilaku yang cocok dengan metode yang tepat. Hal ini karena setiap orang memiliki perbedaan dalam menerima pengobatan. Demikian pula, dosis yang sesuai bagi satu orang belum tentu sesuai bagi orang lain. Begitu juga dengan terapi perilaku dan terapi kognitif; metode yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi orang lain.Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya Nasihat PenutupJangan mudah menuduh penderita OCD sebagai orang yang lemah iman, karena sebagian waswas muncul tanpa kehendak dan menjadi ujian yang berat. Namun, penderita juga tidak boleh pasrah; ia perlu menempuh sebab kesembuhan dengan ilmu, dzikir, terapi, dan bantuan ahli. Syariat Islam dibangun di atas kemudahan, bukan untuk menyiksa orang yang sedang berjuang melawan penyakit. Semakin waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh; semakin diabaikan dengan cara yang benar, semakin lemah pengaruhnya.اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabb an-nās, adzhibil ba’sa, wasyfi Antasy-Syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yughadiru saqaman.Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit. Referensi utama tulisan ini: Islamqa – Al-Waswasah Al-QahriBaca Juga:Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara MengobatinyaRagu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety Fikih Shalat fikih thaharah gangguan kesehatan mental kaidah fikih kesehatan mental Islam niat shalat OCD terapi OCD waswas waswas setan waswas talak
Banyak orang yang tersiksa oleh waswas dalam wudhu, shalat, talak, niat, bahkan dalam akidah, lalu mengira bahwa semua itu terjadi karena lemahnya iman. Padahal, sebagian kasus tersebut termasuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang memiliki karakteristik berbeda dengan waswas setan yang biasa. Tulisan ini akan membantu Anda memahami perbedaan keduanya, mengenali gejalanya, serta mengetahui panduan syariat dan terapi yang tepat untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan Istilah 1.1. Waswas dalam bahasa Arab 1.2. Waswas dalam Istilah 2. Hadits-Hadits Penting tentang Waswas 2.1. 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada Maksiat 2.2. 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benar 2.3. 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan Dosa 2.4. 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setan 2.5. 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allah 2.6. 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswas 3. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang Waswas 3.1. 1. Waswas yang Mengajak kepada Maksiat 3.2. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang Sekilas 3.3. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCD 4. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD) 4.1. Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD) 4.2. Definisi OCD Menurut DSM-5 4.3. Dampak OCD 4.4. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCD 4.5. Sejarah Istilah OCD 4.6. Tingkat Penyebaran OCD 4.7. Jenis-Jenis Gangguan OCD 4.7.1. A. OCD Kebersihan dan Kesucian 4.7.2. B. OCD dalam Shalat 4.7.3. C. OCD Pikiran-Pikiran Keagamaan 4.7.4. D. OCD dalam Praktik Keagamaan 4.7.5. E. OCD Memeriksa dan Memastikan 4.7.6. F. OCD Menghitung 4.7.7. G. OCD Kerapian dan Keteraturan 4.7.8. H. OCD Bertema Seksual 4.7.9. I. OCD Bertema Menyakiti Orang Lain 5. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari Setan 6. OCD dalam Pembahasan Ulama Islam 6.1. Gambaran OCD Menurut Imam Al-Juwaini 6.2. Penjelasan Ibnul Jauzi 6.3. Penjelasan Ibnu Qudamah 6.4. Penjelasan Ibnul Qayyim 6.5. Catatan Penting 7. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD 7.1. 1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya Waswas 7.2. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan Psikiatri 7.3. 3. Manfaatkan Terapi Psikologis 7.4. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation) 7.5. 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara Rutin 7.6. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin Keimanan 7.7. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCD 7.8. 8. Hentikan Pengulangan Perilaku 7.9. 9. Lawan OCD Secara Menyeluruh 7.10. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari Penyebabnya 7.11. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran Obsesif 7.12. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCD 7.13. 13. Mintalah Bantuan Orang Terdekat 7.14. 14. Kesembuhan Membutuhkan Perjuangan 7.15. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi Kemunduran 7.16. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena Ragu 7.17. 17. Bangun Sikap Berdasarkan Kepastian 7.18. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih Mudah 7.19. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa Bersalah 7.20. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan Suci 7.21. 21. Syariat Dibangun di Atas Kemudahan 7.22. 22. Niat Tidak Perlu Dipersulit 7.23. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya Amal 7.24. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan Pikiran 7.25. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-Ulang 7.26. 26. Bersabar atas OCD Bernilai Ibadah 7.27. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai Dosa 7.28. 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi Pahala 7.29. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCD 7.30. 30. Kunci Utama: Mengabaikan Waswas 8. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung Terapi 8.1. Mengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan Agama 8.2. Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu Lama 8.3. Mengatasi OCD dalam Istinja 8.4. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam Shalat 8.5. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul Ihram 8.6. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung Rakaat 8.7. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat Shalat 8.8. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan Talak 9. Penegasan 10. Nasihat Penutup  Penyakit waswas obsesif-kompulsif (OCD) adalah gangguan kejiwaan yang telah dikenal luas. Seseorang dapat mengalaminya tanpa kehendak dan tanpa pilihan dari dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit fisik dan gangguan kejiwaan lainnya, OCD merupakan ujian dari Allah yang akan mendatangkan pahala bagi seorang hamba jika ia bersabar menghadapinya. Seorang hamba juga dianjurkan untuk mencari pengobatan, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.Penggunaan istilah waswas untuk menyebut penyakit ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih pemahaman dengan waswas yang berasal dari diri sendiri atau dari setan. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu muncul tanpa pilihan manusia. Namun, OCD berbeda karena memiliki faktor-faktor biologis sebagai penyebabnya. Selain itu, OCD ditandai dengan tingkat pengulangan, tekanan, dan dorongan yang jauh lebih kuat dibandingkan waswas biasa.Tampaknya, kesamaan istilah inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kekeliruan dalam memahami OCD. Banyak orang mencampuradukkan OCD dengan waswas yang berasal dari setan. Akibatnya, muncul berbagai kesalahan dalam penanganannya. Sebagian penderita juga menyalahkan diri sendiri dan mengira bahwa kondisi yang mereka alami disebabkan oleh lemahnya iman.Karena alasan tersebut, sebagian pakar, seperti Dr. Wa’il Abu Hindi, mengusulkan agar istilah waswas pada penyakit ini diganti dengan istilah istihwadz qahri (gangguan dominasi kompulsif). Lihat kitab Al-Waswas Al-Qahri hlm. 18 dan seterusnya.Apakah penjelasan ini berarti setan sama sekali tidak memiliki peran dalam munculnya OCD?Tidak. Tetap ada kemungkinan bahwa setan memiliki hubungan dengan munculnya gangguan OCD. Namun, hal itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang, juga tidak berpengaruh terhadap pahala dan dosa yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Sebagai contoh, darah istihadhah pada wanita adalah persoalan biologis murni dan tidak berkaitan dengan keimanan penderitanya. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai:رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ“Satu gangguan dari setan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 128 dan selainnya).Maksudnya, OCD memiliki faktor-faktor penyebab berupa unsur keturunan, biologis, dan lingkungan. Faktor-faktor ini menjadikan sifat OCD berbeda dari waswas setan dalam pengertian yang biasa dikenal, sehingga cara memahami dan menanganinya pun berbeda.Untuk memperjelas pembahasan tentang OCD dan cara menghadapinya, penjelasan selanjutnya akan disusun dalam beberapa poin pembahasan berikut. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan IstilahWaswas dalam bahasa ArabIbnu Faris berkata:“Huruf waw dan sin menunjukkan makna suara yang pelan dan tidak keras. Suara perhiasan disebut waswas. Bisikan pemburu disebut waswas. Godaan setan kepada anak Adam juga disebut waswas.”Waswasah dan waswas—dengan huruf waw pertama dibaca fathah atau kasrah—berarti bisikan hati atau percakapan dalam diri.Selain itu, waswasah juga berarti lintasan pikiran yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.” (QS. Al-A‘raf: 20)Waswas juga bermakna bisikan yang tersembunyi dan sangat halus. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)Seseorang disebut muwaswis (orang yang banyak berwaswas) apabila waswas telah mendominasi dirinya.Kata waswas juga digunakan untuk menyebut setan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan kata sumber (masdar) untuk menunjukkan pelakunya. Dengan demikian, Al-Waswas menjadi salah satu nama setan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas: 4–5) Waswas dalam IstilahWaswas adalah bisikan yang datang dari diri sendiri atau dari setan mengenai sesuatu yang tidak mengandung manfaat dan kebaikan. Hadits-Hadits Penting tentang WaswasHadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membahas waswas dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut: 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada MaksiatDari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن للشَّيطانِ للمَّةً بابنِ آدمَ، ولِلمَلك لَمَّةٌ، فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ: فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكْذيبٌ بالحقِّ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ، فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ. فمَن وجدَ ذلِكَ فليعلم أنَّهُ منَ اللَّهِ، فليحمَدِ اللَّهَ، ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ منَ الشَّيطانِ. ثمَّ قرأَ: {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا} [البقرة: 268] الآيةَ“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Siapa yang mendapati bisikan yang baik, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan memuji-Nya. Siapa yang mendapati selain itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan.”Kemudian beliau membaca firman Allah:“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268)(HR. At-Tirmidzi no. 2988 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11051. Sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir, 1:325). 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benara. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuBeberapa sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به، قال: (وقد وجدتموه؟) قالوا: نعم، قال: (ذاك صريح الإيمان)“Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang sangat berat sehingga salah seorang dari kami merasa enggan untuk mengucapkannya.”Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?”Mereka menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Itulah tanda iman yang murni.” (HR. Muslim no. 132).Maksudnya, mereka mendapati lintasan pikiran yang buruk tentang agama atau tentang Allah, tetapi mereka sangat membencinya dan tidak berani mengungkapkannya.b. Hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waswas, beliau menjawab:تلك محض الإيمان“Itu adalah iman yang murni.” (HR. Muslim no. 133). 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan DosaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ. “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya. Demikian pula terhadap sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih dalam Shahih Ibnu Majah no. 1676). 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setana. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَنَا يَجِدُ فِي نَفْسِهِ، يُعَرِّضُ بِالشَّيْءِ، لَأَنْ يَكُونَ حُمَمَةً أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ».Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai menjadi arang yang terbakar daripada mengucapkannya.”Beliau bersabda: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya setan hanya sebatas bisikan.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 5112).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ، فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ.“Sesungguhnya ketika setan mendengar azan untuk shalat, ia lari sambil kentut agar tidak mendengar suara azan. Ketika azan selesai, ia kembali dan membisikkan waswas. Ketika iqamah dikumandangkan, ia pergi lagi. Setelah iqamah selesai, ia kembali dan membisikkan waswas.” (HR. Muslim no. 389). 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allaha. Hadits Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhuأَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا». قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي.Utsman bin Abil Ash mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku sehingga membuatku bingung.”Beliau bersabda, “Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”Utsman berkata, “Aku melakukannya, lalu Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ».“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian dan berkata: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Hingga akhirnya ia berkata: Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134).c. Hadits tentang Membaca Surah Al-IkhlasDalam sebuah hadits disebutkan,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia saling bertanya hingga ada yang berkata: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Jika mereka mengatakan demikian, maka bacalah (surah Al-Ikhlas): ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian meludahlah ringan ke sebelah kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah dari setan.” (HR. dinilai sahih dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8182). 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswasa. Mengatakan “Aku Beriman kepada Allah”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 4721).b. Tidak Menghiraukan Keraguan yang Tidak PastiAbdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang merasa seolah-olah keluar sesuatu ketika shalat. Beliau bersabda,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat atau meninggalkannya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 177).Hadits ini mengajarkan prinsip penting dalam menghadapi waswas: jangan mengikuti keraguan dan dugaan semata, tetapi berpeganglah pada sesuatu yang benar-benar pasti. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang WaswasKetika mencermati hadits-hadits yang telah disebutkan, kita dapat melihat bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan dua jenis utama waswas.1. Waswas yang Mengajak kepada MaksiatJenis pertama adalah waswas yang mendorong seseorang untuk melihat, melakukan, atau mendengarkan sesuatu yang haram.Waswas seperti ini merupakan bagian dari tabiat manusia. Ia masuk ke dalam jiwa melalui hawa nafsu, yaitu melalui hal-hal yang disukai dan diinginkan oleh seseorang. Waswas jenis ini bukanlah akibat gangguan biologis dan bukan pula penyakit pada dirinya sendiri. Karena itu, waswas semacam ini dapat dialami oleh seluruh manusia, tidak terbatas pada orang yang memiliki gangguan kejiwaan tertentu.Respons seseorang terhadap waswas jenis inilah yang akan menjadi sebab ia mendapatkan pahala atau dosa di sisi Allah. Jika ia menolaknya, ia mendapatkan pahala. Jika ia mengikutinya, ia bisa terjatuh ke dalam maksiat.Sumber waswas ini berasal dari tiga hal:Nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis-su’).Setan dari kalangan jin.Setan dari kalangan manusia.Hanya saja, bisikan manusia biasanya berupa ucapan yang terdengar secara langsung, bukan sekadar lintasan pikiran dalam hati dan akal. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang SekilasJenis kedua adalah waswas dalam bentuk keraguan yang datang sesekali dan bukan menjadi kebiasaan yang terus-menerus.Waswas ini dapat muncul dalam urusan agama maupun kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang mulai ragu terhadap keimanannya, wudhunya, shalatnya, sahabatnya, kerabatnya, atau merasa tidak fokus dan tidak khusyuk dalam shalat.Berbeda dengan jenis pertama, waswas ini tidak mengajak seseorang kepada sesuatu yang ia sukai. Tujuannya adalah menanamkan keraguan dan kegelisahan dalam diri manusia. Keraguan itu bisa berkaitan dengan keyakinan yang ia pegang, atau mengenai suatu perbuatan apakah sudah dilakukan atau belum. Terkadang tujuan waswas ini hanyalah menyibukkan seseorang dari perkara-perkara yang seharusnya ia kerjakan dan yang bermanfaat baginya.Waswas semacam ini biasanya dapat hilang dengan segera melalui:Berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.Mengingat bahwa pikiran-pikiran tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.Melawannya dengan kesungguhan dan sikap tegas terhadap diri sendiri.Sumber utama waswas ini adalah setan, meskipun sebagian di antaranya mungkin berasal dari bisikan diri sendiri. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCDPara ulama Islam telah membedakan antara waswas yang datang sesekali seperti ini dengan jenis lain yang dalam dunia kedokteran modern dikenal sebagai gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) atau waswas obsesif-kompulsif.Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (2:466):“Orang yang disebut mustankih adalah orang yang selalu diliputi keraguan dalam setiap wudhu atau shalatnya, atau keraguan itu datang kepadanya sekali atau dua kali setiap hari. Adapun jika keraguan itu hanya muncul setelah dua atau tiga hari sekali, maka ia tidak termasuk orang yang mengalami waswas yang menetap (mustankih).”Dengan demikian, tidak setiap keraguan yang muncul dalam ibadah termasuk gangguan waswas yang berat. Keraguan yang sesekali muncul masih tergolong hal yang biasa dialami manusia. Adapun jika keraguan itu terus berulang, mendominasi pikiran, dan sulit dikendalikan, maka keadaannya berbeda dan memerlukan penanganan yang lebih khusus. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD)Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD)Dalam buku Al-Bandul karya Dr. Muhammad Asy-Syami disebutkan:“OCD adalah dominasi suatu pikiran tertentu yang memaksa dan terus-menerus hadir dalam diri penderitanya sehingga sulit dilawan. Pikiran tersebut terasa asing bagi dirinya. Ia sadar bahwa pikiran itu bukan berasal dari keinginannya, tidak sesuai dengan keyakinannya, dan tidak masuk akal menurut dirinya. Pikiran itu biasanya disertai rasa takut dan cemas, baik karena keberadaan pikiran itu sendiri maupun akibat yang ditimbulkannya. Namun, ia tidak mampu mengusirnya dari pikirannya. Pikiran tersebut terus berulang hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, pikiran tersebut mendorongnya melakukan tindakan-tindakan kompulsif karena ia mengira tindakan itu akan mengurangi gangguan tersebut. Padahal kenyataannya, gangguan itu justru semakin bertambah seiring waktu.” Definisi OCD Menurut DSM-5Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi Kelima (DSM-5), yang menjadi rujukan dunia medis internasional, menjelaskan bahwa OCD ditandai oleh adanya obsesi, tindakan kompulsif, atau keduanya.A. ObsesiObsesi berupa:Pikiran, dorongan, atau gambaran yang muncul berulang-ulang dan menetap.Pada suatu waktu selama gangguan berlangsung, penderita merasakannya sebagai sesuatu yang menyusup, mengganggu, dan tidak diinginkan.Pikiran tersebut menimbulkan kecemasan atau tekanan psikologis yang nyata.Penderita biasanya berusaha:Mengabaikan atau menekan pikiran tersebut.Menetralisirnya dengan pikiran lain atau dengan melakukan tindakan tertentu (kompulsi).B. Tindakan KompulsifTindakan kompulsif memiliki dua ciri utama:Pertama, berupa perilaku berulang atau aktivitas mental yang dilakukan terus-menerus, seperti:Mencuci tangan berulang kali.Menata barang secara berlebihan.Memeriksa sesuatu berulang kali.Mengulang bacaan dalam shalat.Menghitung angka tertentu.Mengulang kata-kata dalam hati.Penderita merasa terdorong untuk melakukannya sebagai respons terhadap obsesi atau karena adanya aturan yang menurutnya harus diterapkan secara ketat.Kedua, tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan:Mengurangi kecemasan atau tekanan batin.Mencegah terjadinya sesuatu yang dianggap buruk atau menakutkan.Namun, tindakan itu sering kali:Tidak memiliki hubungan yang realistis dengan tujuan yang ingin dicapai.Atau dilakukan secara berlebihan. Dampak OCDObsesi dan tindakan kompulsif biasanya:Menghabiskan banyak waktu (misalnya lebih dari satu jam setiap hari).Menimbulkan tekanan psikologis yang berat.Mengganggu kehidupan sosial.Mengganggu pekerjaan.Menghambat berbagai aktivitas penting lainnya. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCDDr. Wa’il Abu Hindi dalam Al-Waswas Al-Qahri min Manzhur ‘Arabi Islami (hlm. 19) merangkum ciri-ciri pikiran yang tergolong OCD sebagai berikut:Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memaksa masuk ke dalam kesadarannya dan menguasai pikirannya tanpa kehendaknya, meskipun ia sadar bahwa pikiran itu berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pengaruh luar.Penderita meyakini bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal, tidak benar, tidak penting, dan sebenarnya tidak layak mendapatkan perhatian.Penderita terus-menerus berusaha melawan dan menolaknya.Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memiliki kekuatan yang memaksa dirinya. Semakin ia melawan, semakin kuat dan sering pikiran itu muncul, sehingga ia terjebak dalam lingkaran pengulangan yang tidak berkesudahan. Sejarah Istilah OCDOrang pertama yang menyebut gangguan ini sebagai penyakit medis adalah dokter Prancis Jean Étienne Dominique pada tahun 1838. Saat itu gangguan ini dianggap sebagai salah satu bentuk kegilaan.Kemudian pada tahun 1877, psikiater Jerman Karl Westphal turut membahasnya.Pada tahun 1903, psikolog Prancis Pierre Janet menerbitkan buku berjudul Obsessions and Psychasthenia (Al-Waswas wa Adh-Dha‘f An-Nafsi).Setelah itu, istilah ini semakin dikenal luas melalui berbagai tulisan Sigmund Freud, yang tersebar luas di dunia psikologi dan psikiatri. Tingkat Penyebaran OCDBanyak penderita OCD merasa bahwa hanya dirinya yang mengalami gangguan ini. Padahal kenyataannya, OCD termasuk gangguan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat.Diperkirakan sekitar 2–3% populasi mengalami OCD, atau sekitar 1 orang dari setiap 40 orang.Pada anak-anak, angka kejadiannya sekitar 1 anak dari setiap 200 anak.Karena itu, OCD bukanlah gangguan yang langka. Banyak orang mengalaminya, meskipun tidak semua berani menceritakan atau mencari bantuan untuk mengatasinya. Jenis-Jenis Gangguan OCDGangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki banyak bentuk dan variasi. Semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu adanya suatu pikiran tertentu yang menguasai pikiran seseorang sehingga sulit ditolak. Pikiran tersebut kemudian memaksa penderitanya melakukan tindakan tertentu secara berulang.Sulit untuk menyebutkan seluruh jenis OCD, tetapi berikut beberapa bentuk yang paling sering ditemukan.A. OCD Kebersihan dan KesucianPada jenis ini, penderita merasa ada bagian tubuhnya—biasanya tangan—yang belum bersih. Ia mencucinya, tetapi setelah selesai tetap merasa belum bersih sehingga kembali mencuci tangannya. Pikiran yang sama terus muncul dan tindakan mencuci terus berulang.Terkadang ia mencuci tangan hingga satu jam atau lebih dalam sekali mencuci sampai kulit tangannya rusak dan terluka.Hal yang sama juga dapat terjadi saat mandi. Ia mengulang mandi berkali-kali dan setiap kali berlangsung sangat lama, bisa sampai satu jam atau beberapa jam, karena merasa ada bagian tubuh yang belum dibersihkan dengan sempurna.Meskipun sebenarnya ia merasa pikiran itu aneh dan mengganggu, lama-kelamaan ia mencari pembenaran dengan menganggap bahwa kebersihannya memang belum sempurna atau proses pembersihan sebelumnya belum cukup.Jenis ini juga dapat muncul dalam bentuk ketakutan berlebihan terhadap virus dan bakteri. Fenomena ini banyak terlihat selama pandemi Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020. Penderita terus-menerus melakukan sterilisasi dan pembersihan karena merasa hampir semua benda dapat menularkan penyakit.Dalam kasus yang berat, seseorang bahkan enggan keluar rumah kecuali dalam keadaan sangat mendesak karena khawatir harus menjalani ritual pembersihan yang panjang dan melelahkan ketika kembali ke rumah.Pada sebagian wanita, OCD ini muncul dalam bentuk rasa jijik yang berlebihan terhadap diri sendiri saat masa haid. Ia mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari, mencuci seprai dan kursi yang digunakan, meskipun telah memakai pembalut dengan baik. Bahkan ia merasa jijik terhadap wanita lain yang sedang haid hingga melarang mereka duduk di tempat tidur, kursi, atau menggunakan kamar mandi pribadinya. Ia juga menghindari melewati tempat pembuangan sampah karena takut terdapat pembalut bekas di sana.Pada sebagian laki-laki, OCD muncul dalam masalah sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil. Mereka berusaha mengeluarkan seluruh sisa air kencing dengan berbagai cara, seperti batuk berulang kali atau menekan dengan keras, sehingga proses bersuci dan istinja menjadi sangat lama. B. OCD dalam ShalatPenderita terus-menerus ragu mengenai jumlah rakaat, rukuk, atau sujud yang telah dilakukan.Karena keraguan tersebut, ia mengulang shalat berkali-kali untuk memastikan bahwa shalatnya sah. Ia juga sering melakukan sujud sahwi karena merasa ada banyak kekurangan dalam shalatnya.Bentuk lain adalah keraguan mengenai niat shalat. Ia terus memikirkan apakah niatnya sudah benar atau belum, hingga berdiri lama sebelum memulai shalat. Bahkan terkadang waktu shalat hampir habis sementara ia masih sibuk memikirkan niat.Sebagian penderita juga terus mengulang takbiratul ihram karena merasa takbir pertama belum benar. C. OCD Pikiran-Pikiran KeagamaanJenis ini berupa munculnya pikiran atau kalimat yang buruk tentang Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama Islam, atau Al-Qur’an.Pikiran-pikiran tersebut sangat mengganggu karena penderita merasa dirinya telah keluar dari agama akibat pikiran itu, padahal sebenarnya ia membencinya dan tidak meyakininya.Sebagian penderita terus mengulang syahadat karena mengira dirinya telah kafir dan harus masuk Islam kembali.Jenis OCD ini sangat berbeda dengan pemikiran ateisme atau keraguan intelektual yang muncul karena syubhat. Pada OCD, penderita justru menolak dan membenci pikiran tersebut serta berusaha keras mengusirnya.Menariknya, banyak penderita OCD jenis ini justru berasal dari kalangan yang memiliki semangat kuat dalam menjalankan agama. D. OCD dalam Praktik KeagamaanBentuknya antara lain:Berlebihan dalam memperhatikan makhraj huruf saat berbicara atau membaca Al-Qur’an melebihi batas yang wajar.Terlalu ketat dalam tajwid hingga menjadi beban.Keraguan terus-menerus apakah telah menjatuhkan talak kepada istrinya atau belum.Keraguan terhadap kesucian air yang sebenarnya tidak ada tanda najis padanya.Keraguan apakah hewan sembelihan telah disebut nama Allah saat disembelih atau belum.Pada penganut agama lain, bentuk OCD keagamaan dapat muncul dalam bentuk pengakuan dosa berulang-ulang atau ketakutan berlebihan terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu. E. OCD Memeriksa dan MemastikanPenderita terus-menerus memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah diperiksa.Misalnya:Mengecek pintu berkali-kali karena takut belum terkunci.Memeriksa jendela berulang kali.Memastikan kompor sudah dimatikan berkali-kali karena takut terjadi kebakaran.Bahkan setelah keluar rumah, ia bisa kembali lagi hanya untuk memeriksa hal yang sama. Akibatnya, ia sering terlambat karena terlalu banyak memeriksa dan memastikan. F. OCD MenghitungPenderita merasa perlu menghitung sesuatu secara berulang.Misalnya:Menghitung uang berkali-kali meskipun sudah mengetahui jumlahnya.Menghitung pulpen atau barang pribadinya berulang kali.Menghitung benda-benda di rumah seperti jumlah ubin lantai atau benda lainnya. G. OCD Kerapian dan KeteraturanPenderita tidak pernah merasa puas dalam menata barang-barangnya. Ia ingin segala sesuatu tersusun dengan:Simetris.Seimbang.Rapi sempurna.Perubahan kecil saja dapat membuatnya sangat terganggu. Bahkan hal-hal sepele seperti posisi serat karpet pun bisa menjadi sumber kegelisahan. H. OCD Bertema SeksualJenis ini memiliki berbagai bentuk, di antaranya:Pandangan yang secara tidak terkendali tertuju pada area sensitif tubuh orang lain, bukan karena syahwat, tetapi karena dorongan obsesif.Munculnya gambaran hubungan seksual dalam pikiran yang terus berulang tanpa keinginan untuk melakukannya.Ketakutan berlebihan bahwa dirinya akan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita atau anak-anak, padahal ia sama sekali tidak menginginkannya.Ketakutan bahwa dirinya memiliki orientasi seksual tertentu, padahal kenyataannya tidak demikian.Pada semua bentuk ini, penderita tidak menghendaki pikiran tersebut dan justru merasa terganggu olehnya. I. OCD Bertema Menyakiti Orang LainPada jenis ini muncul ketakutan atau gambaran bahwa dirinya akan mencelakai orang lain.Misalnya seorang ibu merasa takut akan menyakiti anak-anaknya, padahal ia sangat mencintai mereka dan tidak pernah ingin melakukan hal itu.Ada pula penderita yang terus membayangkan dirinya menusuk seseorang dengan pisau atau menembak orang lain dengan senjata api. Padahal ia bukan orang yang keras atau agresif dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.Pikiran-pikiran tersebut muncul secara paksa, mengganggu, dan bertentangan dengan kepribadian serta keinginan asli penderita. Karena itulah pikiran tersebut menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mereka. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari SetanBerdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat membandingkan antara gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan waswas dari setan berdasarkan pemahaman syariat yang telah dikenal. AspekOCD (Waswas Obsesif-Kompulsif)Waswas dari SetanTingkat kejadianDialami sekitar 2–3% manusia.Dialami oleh seluruh manusia.Awal kemunculanDapat muncul pada berbagai usia, terutama masa remaja.Ada sejak manusia lahir dan biasanya semakin aktif ketika seseorang baligh serta mulai memikul beban syariat.Perasaan terhadap pikiran yang munculPenderita merasa pikiran itu asing, memaksa, dan bukan bagian dari dirinya.Biasanya tidak terasa asing dan sering kali terasa dekat dengan keinginan diri sendiri.Perasaan yang menyertainyaDisertai penolakan kuat, kecemasan, dan tekanan yang berat.Jika berkaitan dengan syahwat, sering disertai rasa nikmat. Jika berkaitan dengan syubhat, biasanya hanya menimbulkan kegelisahan ringan.Sifat pikiranUmumnya tidak logis dan tidak masuk akal.Kebanyakan tampak logis dan memiliki alasan atau pembenaran tertentu.Lebih sering terjadi padaOrang yang mudah cemas, mudah ragu, terlalu banyak berpikir, berkepribadian rapuh, dan kurang percaya diri.Orang yang jauh dari Allah dan lemah imannya. Namun terkadang juga semakin kuat pada orang yang kuat imannya karena kerasnya permusuhan setan terhadap mereka.Cara penangananMelalui pengobatan medis, terapi perilaku, dan terapi kognitif.Dengan mendekatkan diri kepada Allah, menyelisihi ajakan setan, dan memperbaiki jiwa yang cenderung kepada keburukan.Akhir gangguanDapat berakhir atau membaik dengan terapi dan pengobatan yang tepat.Tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia hidup. Ia merupakan bagian dari perjuangan melawan setan hingga akhir hayat.Pandangan masyarakatMasih sering dianggap aneh dan kurang dipahami.Umumnya dipahami dan diterima sebagai bagian dari ujian hidup manusia dalam menghadapi setan.Dukungan sosial bagi penderitanyaBiasanya masih sangat terbatas.Umumnya lebih mudah dipahami oleh masyarakat.Dari perbandingan ini terlihat bahwa OCD tidak sama dengan waswas setan yang biasa dibahas dalam kitab-kitab tazkiyatun nafs. Keduanya memang sama-sama melibatkan pikiran yang mengganggu, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.Waswas setan umumnya dihadapi dengan iman, dzikir, isti’adzah, dan mujahadah melawan hawa nafsu. Adapun OCD sering kali memerlukan penanganan tambahan berupa terapi psikologis dan pengobatan medis yang sesuai.Karena itu, tidak tepat jika setiap penderita OCD langsung dianggap memiliki iman yang lemah atau kurang dzikir. Sebagaimana penyakit fisik membutuhkan pengobatan, OCD juga termasuk ujian yang memerlukan penanganan yang sesuai dengan sebab-sebabnya. OCD dalam Pembahasan Ulama IslamPara ulama Islam telah mengenal fenomena yang saat ini dikenal sebagai OCD dan membedakannya dari keraguan biasa yang sesekali muncul.Dalam mazhab Maliki, kondisi ini disebut asy-syakku al-mustankih (keraguan yang menguasai seseorang). Kata mustankih berarti keraguan yang telah mendominasi seseorang sehingga sulit ia tolak atau kendalikan.Syaikh Muhammad ‘Aliys rahimahullah berkata, “Yang wajib dalam mandi adalah menggosok anggota tubuh yang dicuci… Dalam masalah ini cukup berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh zhonn) menurut pendapat yang benar. Dugaan kuat sudah mencukupi untuk memastikan sampainya air pada anggota tubuh yang wajib dibasuh berdasarkan kesepakatan ulama. Namun bagi orang yang mengalami keraguan yang terus-menerus (mustankih), tidak disyaratkan adanya dugaan kuat karena ia sulit mencapainya. Bahkan keraguan yang ada sudah dianggap cukup baginya, dan ia wajib mengabaikannya. Tidak ada obat baginya selain cara itu.” (Minah Al-Jalil, 1:127)Pernyataan ini menunjukkan bahwa para ulama telah memahami adanya kondisi keraguan yang menetap dan tidak normal, sehingga cara menghadapinya berbeda dari keraguan biasa.Beberapa ulama besar seperti Ibnu Qudamah, Ibnul Jauzi, dan Ibnul Qayyim juga membahas fenomena ini serta menawarkan cara-cara untuk mengatasinya.Namun, dalam tulisan mereka terdapat kritik keras terhadap orang yang terjebak dalam waswas. Jika dibaca pada masa sekarang, sebagian ungkapan tersebut mungkin terasa berat bagi penderita OCD.Hal itu dapat dipahami karena pada masa mereka belum dikenal penjelasan medis modern mengenai OCD, terutama aspek biologis dan aspek yang berada di luar kendali penderita.Meski demikian, sebagian kritik tersebut tetap memiliki manfaat, yaitu mengingatkan bahwa penderita tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan dan tidak menyerah kepada gangguan yang dialaminya. Gambaran OCD Menurut Imam Al-JuwainiAbu Muhammad Al-Juwaini rahimahullah dalam kitab At-Tabshirah menjelaskan sebagian perilaku orang yang mengalami waswas berlebihan.Beliau menceritakan bahwa ada orang yang terus mengulang takbiratul ihram hingga waktu shalat hampir habis. Ada pula yang sampai kehilangan shalat Jumat bersama imam karena terlalu lama mengulang takbir.Ketika hendak buang hajat, sebagian mereka bahkan menyiapkan banyak batu dan alat pembersih secara berlebihan. Saat menggunakan air pun mereka menghabiskan air dalam jumlah yang sangat banyak.Peneliti kitab tersebut, Dr. Muhammad As-Sudais, menyatakan bahwa banyaknya pembahasan Al-Juwaini tentang masalah ini menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan berupa waswas telah banyak ditemukan pada zamannya sehingga beliau merasa perlu menulis kitab khusus mengenai hal tersebut. Penjelasan Ibnul JauziDalam kitab Talbis Iblis, Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan beribadah.Beliau menyebut sebagian orang yang terlalu lama berada di kamar mandi karena merasa masih ada sisa air kencing yang belum keluar. Mereka berjalan ke sana kemari, berdeham berulang kali, mengangkat dan menurunkan kaki, dengan keyakinan bahwa semua itu akan mengeluarkan sisa air kencing.Padahal semakin mereka melakukan hal tersebut, semakin kuat perasaan bahwa masih ada sesuatu yang belum keluar.Beliau juga menggambarkan orang yang:Terus mengulang niat wudhu dan shalat.Selalu meragukan kesucian air.Menggunakan air secara berlebihan ketika berwudhu.Menghabiskan waktu terlalu lama hingga kehilangan keutamaan awal waktu shalat atau bahkan kehilangan shalat berjamaah.Berulang kali mencuci pakaian yang sebenarnya sudah suci.Beliau juga menyebut orang yang:Mengulang takbiratul ihram berkali-kali.Membatalkan niat lalu mengulanginya lagi.Terlambat mengikuti imam karena sibuk dengan keraguan.Kemudian beliau berkata:“Ketahuilah bahwa waswas dalam niat shalat berasal dari kelemahan akal dan ketidaktahuan terhadap syariat.”Beliau juga membawakan kisah terkenal dari Ibnu Aqil rahimahullah.Seseorang mengadu kepadanya:“Aku mencuci anggota tubuh lalu merasa belum mencucinya. Aku bertakbir lalu merasa belum bertakbir.”Ibnu Aqil menjawab:“Tinggalkan saja shalat, karena shalat tidak wajib bagimu.”Orang-orang yang mendengar ucapan tersebut merasa heran.Ibnu Aqil menjelaskan:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa pena pencatat amal diangkat dari orang gila hingga ia sadar. Orang yang bertakbir lalu berkata ‘aku belum bertakbir’ bukanlah orang yang berakal normal. Sedangkan orang gila tidak dibebani shalat.”Ungkapan ini tentu merupakan bentuk penegasan keras untuk menunjukkan betapa tidak masuk akalnya keraguan semacam itu. Penjelasan Ibnu QudamahIbnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Dzamm Al-Muwaswisin wa At-Tahdzir min Al-Waswasah menjelaskan bahwa sebagian orang akhirnya begitu tunduk kepada waswas hingga lebih mempercayai keraguan daripada apa yang mereka lihat dan yakini sendiri.Seseorang melihat dirinya telah berwudhu, mendengar dirinya bertakbir, dan mengetahui niatnya dengan yakin. Namun setelah itu ia tetap meragukan semuanya.Akibatnya, ia:Menyakiti dirinya sendiri.Menggunakan air secara berlebihan.Menggosok tubuh secara berlebihan.Menyiksa dirinya dengan air dingin.Kehilangan takbir pertama bersama imam.Kehilangan sebagian rakaat.Bahkan terkadang kehilangan waktu shalat.Beliau juga menyebut orang yang mengulang-ulang kata dalam Al-Fatihah, tasyahud, salam, atau takbir hingga merusak shalatnya sendiri.Menariknya, beliau mengatakan:“Banyak orang yang berwaswas dan memahami syariat sebenarnya mengakui bahwa tindakan mereka salah. Mereka bahkan berfatwa kepada orang lain dengan fatwa yang berbeda dari apa yang mereka lakukan, dan berkata: ‘Jangan meniru kami.’ Ini sungguh mengherankan.”Jika dilihat dari sudut pandang kedokteran modern, keheranan tersebut dapat dipahami karena pada masa itu OCD belum dikenal sebagai gangguan psikologis. Yang terlihat oleh para ulama adalah seseorang mengetahui kebenaran tetapi tidak mampu menghentikan perilakunya.Padahal ketidakmampuan menghentikan perilaku itulah yang menjadi salah satu ciri utama OCD. Penjelasan Ibnul QayyimIbnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan shalat.Beliau menggambarkan orang yang merasa wudhunya tidak sah meskipun telah berwudhu sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu.Beliau juga menyebut bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha menggunakan satu wadah air yang sama. Namun orang yang terjangkit waswas mungkin akan menganggap jumlah air tersebut tidak cukup bahkan untuk satu orang.Ibnul Qayyim juga membahas alasan yang sering digunakan para penderita waswas, yaitu menganggap perilaku mereka sebagai bentuk kehati-hatian dalam agama.Mereka beralasan:“Kami melakukan ini demi kehati-hatian dan menjaga agama.”Namun beliau menjelaskan panjang lebar bahwa kehati-hatian yang benar tidak boleh berubah menjadi sikap berlebihan yang justru menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau juga menyebut kisah seseorang yang berulang kali mengulang niat shalat hingga akhirnya bersumpah dengan talak agar tidak mengulanginya lagi. Namun karena tidak mampu menahan diri, ia tetap mengulang niat tersebut sehingga sumpahnya menyebabkan perceraian dengan istrinya.Ibnul Qayyim juga menukil ucapan Imam Al-Ghazali:“Waswas disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap syariat atau gangguan pada akal. Keduanya termasuk kekurangan dan cacat yang besar.”Beliau bahkan menyebut sebelas cara yang biasa dilakukan orang yang terobsesi memastikan seluruh air kencing telah keluar, seperti menarik kemaluan, mengguncangnya, berdeham, berjalan-jalan, melompat, dan berbagai tindakan lainnya. Catatan PentingSetelah membaca berbagai penjelasan ulama di atas, perlu ditegaskan kembali bahwa kritik mereka terutama ditujukan kepada orang yang membela dan membenarkan perilaku waswasnya, serta menganggapnya sebagai bentuk kehati-hatian yang benar dalam agama.Sebagian ungkapan keras mereka juga lahir dari keterbatasan pengetahuan medis pada masa itu mengenai OCD sebagai gangguan psikologis yang memiliki unsur di luar kendali penderita.Namun dari penjelasan para ulama tersebut tetap dapat diambil pelajaran penting, yaitu bahwa penderita OCD tidak boleh pasrah kepada penyakitnya. Ia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan, terapi, dan jalan kesembuhan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya WaswasKaidah dasarnya adalah bahwa berbagai lintasan pikiran dan waswas muncul pada diri seseorang tanpa ia kehendaki. Karena itu, seseorang tidak berdosa hanya karena munculnya pikiran tersebut.Yang dituntut darinya adalah memberikan respons yang benar. Pada waswas setan, caranya dengan berlindung kepada Allah. Sedangkan pada OCD, caranya dengan menempuh pengobatan dan terapi yang sesuai. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan PsikiatriJika dokter memandang obat diperlukan, maka pengobatan hendaknya dijalani.Banyak orang takut menggunakan obat kejiwaan karena berbagai anggapan yang keliru, seperti:Menyebabkan ketergantungan.Lebih banyak mudarat daripada manfaat.Merusak tubuh secara permanen.Anggapan tersebut tidak benar secara umum. Obat-obatan dibuat untuk membantu pasien. Jika mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, tentu tidak akan diizinkan digunakan oleh lembaga kesehatan dunia. Pengalaman medis selama puluhan tahun dan penelitian terhadap jutaan pasien menunjukkan bahwa obat memiliki manfaat yang besar dalam membantu mengatasi OCD. 3. Manfaatkan Terapi PsikologisSelain obat, terdapat berbagai terapi yang terbukti membantu, seperti:Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT).Terapi Perilaku Dialektis (Dialectical Behavioral Therapy/DBT).Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy/ACT).Dokter atau terapis dapat membantu menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation)Ulangi kalimat-kalimat yang benar untuk melawan pikiran obsesif, misalnya:“Aku tidak berburuk sangka kepada Allah.”“Wudhuku tidak batal.”“Shalatku sah.”“Tanganku sudah bersih.” 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara RutinMenulis kalimat-kalimat tersebut sekitar sepuluh kali setiap hari dapat membantu memperkuat pola pikir yang sehat. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin KeimananTeruslah mengingatkan diri:“Apa yang aku alami adalah gejala penyakit, bukan cerminan keimanan atau kepribadianku.”Jika perlu, tuliskan kalimat ini berulang kali setiap hari. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCDBayangkan bagaimana hidup tanpa mengulang-ulang tindakan yang sama.Latih diri untuk membayangkan perilaku yang sehat dan normal, kemudian berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. 8. Hentikan Pengulangan PerilakuUsahakan untuk tidak mengulangi tindakan yang sama.Segera alihkan perhatian kepada aktivitas lain sebelum dorongan obsesif menguasai pikiran.Perlu dipahami bahwa perlawanan ini biasanya menimbulkan ketegangan pada awalnya. Namun jika dilawan, OCD akan melemah. Jika dituruti, OCD akan semakin kuat. 9. Lawan OCD Secara MenyeluruhJangan hanya melawan satu bentuk waswas lalu membiarkan bentuk lainnya.Fokuslah pada yang paling kuat terlebih dahulu, tetapi tetap berusaha mengurangi seluruh perilaku obsesif yang ada. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari PenyebabnyaTerlalu lama memikirkan penyebab OCD sering kali tidak menghasilkan solusi.Lebih baik mengarahkan tenaga kepada langkah-langkah penyembuhan. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran ObsesifSemakin sering seseorang mendebati pikiran obsesif, biasanya semakin kuat pikiran tersebut.Karena itu, jangan sibuk memikirkan waswas atau lawannya. Alihkan pikiran kepada hal lain yang berbeda sama sekali. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCDBanyak penderita memiliki “aturan pribadi” yang tidak rasional.Misalnya aturan kebersihan yang berlebihan.Cara mengatasinya adalah dengan menghadapi secara bertahap hal-hal yang ditakuti, bukan menghindarinya. 13. Mintalah Bantuan Orang TerdekatLibatkan keluarga atau orang yang dipercaya untuk membantu memutus pola perilaku OCD.Misalnya, meminta anggota keluarga menghentikan proses mencuci tangan ketika sudah mencapai batas normal. 14. Kesembuhan Membutuhkan PerjuanganTidak ada terapi OCD tanpa usaha dan perjuangan.Semakin serius seseorang melawan OCD, semakin besar peluang keberhasilannya. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi KemunduranTerkadang ada masa semangat, terkadang ada masa lemah.Tetaplah melanjutkan proses terapi walaupun sesekali mengalami kemunduran. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena RaguSesuatu yang sudah pasti tidak gugur hanya karena keraguan.Karena itu, penderita OCD perlu terus mengingatkan dirinya:“Aku memang memiliki masalah waswas, sehingga keraguan yang muncul tidak layak dijadikan pegangan.” 17. Bangun Sikap Berdasarkan KepastianNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang ragu apakah kentut atau tidak,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat hingga mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 137)Jika orang yang sehat saja diperintahkan berpegang pada kepastian, maka penderita OCD lebih pantas lagi untuk tidak mengikuti keraguan yang tidak memiliki bukti. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih MudahDalam masalah khilafiah yang diakui ulama, penderita OCD boleh mengambil pendapat yang lebih ringan setelah berkonsultasi dengan seorang mufti atau ustadz yang memahami kondisinya.Sebaliknya, selalu memilih pendapat yang paling berat sering kali bukan karena wara’, melainkan karena dorongan OCD. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa BersalahJangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.OCD adalah penyakit, bukan dosa yang sengaja dilakukan. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan SuciSesuatu tidak dianggap haram atau najis kecuali ada dalil yang jelas.Karena itu, jangan membangun hukum berdasarkan dugaan dan prasangka. 21. Syariat Dibangun di Atas KemudahanSalah satu tujuan syariat adalah memberikan kemudahan, terutama bagi orang yang memiliki kesulitan dan uzur.Kemudahan bukan berarti meninggalkan ibadah, tetapi melaksanakan ibadah dengan cara yang benar dan tidak memberatkan diri. 22. Niat Tidak Perlu DipersulitNiat tidak memerlukan pelafalan khusus.Ketika seseorang bergerak untuk melakukan suatu ibadah, pada hakikatnya ia telah berniat melakukannya. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya AmalTugas seorang hamba adalah beramal dengan benar dan ikhlas.Adapun diterima atau tidaknya amal merupakan urusan Allah. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan PikiranSeseorang dihukum karena keyakinan yang dipilihnya atau tindakan yang sengaja dilakukannya, bukan karena pikiran yang datang tanpa kehendaknya. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-UlangSelama seseorang tidak meyakini kekafiran dengan pilihan dan keyakinannya sendiri, maka ia tetap berada dalam Islam.Pikiran obsesif tidak mengeluarkan seseorang dari agama. 26. Bersabar atas OCD Bernilai IbadahKesabaran menghadapi penyakit adalah sebab datangnya pahala dari Allah.Bisa jadi seseorang merasa dirinya penuh dosa, padahal dengan kesabarannya menghadapi ujian tersebut, derajatnya justru semakin tinggi di sisi Allah. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai DosaSeseorang baru berdosa apabila:Melakukannya dengan sengaja.Melakukannya atas pilihannya sendiri.Mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram.Adapun pikiran dan dorongan obsesif tidak dicatat sebagai dosa.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.““Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya atau mengucapkannya.” (HR. Bukhari no. 2528) 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi PahalaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً.“Barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491)Jika orang yang sengaja berniat maksiat lalu membatalkannya mendapat pahala, maka orang yang dipaksa oleh pikiran obsesif lalu terus melawannya tentu lebih layak berharap pahala dari Allah. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCDBanyak penderita terus-menerus mencari fatwa untuk menenangkan diri.Ketenangan itu biasanya hanya sementara. Setelah itu muncul lagi keraguan baru.Karena itu, pencarian kepastian yang terus-menerus sering menjadi bahan bakar OCD.Ketika para sahabat mengalami waswas berupa pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab dengan pembahasan filsafat yang panjang. Beliau justru memerintahkan mereka untuk berhenti mengikuti pikiran tersebut.Waswas mirip rasa gatal. Semakin digaruk, semakin ingin digaruk. 30. Kunci Utama: Mengabaikan WaswasInilah prinsip terpenting dalam menghadapi OCD.Ad-Dardir rahimahullah berkata:“Adapun orang yang sering dilanda keraguan (mustankih), maka yang wajib baginya adalah berpaling dari keraguan tersebut. Karena mengikuti waswas dapat merusak agama dari akarnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”Tentu mengabaikan waswas tidak selalu mudah. Terkadang tekanan penyakit sangat kuat. Namun tujuan seluruh terapi dan usaha yang dilakukan adalah membantu penderita sampai pada kemampuan untuk tidak lagi melayani dan mengikuti waswas yang datang kepadanya.Singkatnya, semakin sering waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh. Semakin sering diabaikan dan dilawan, semakin lemah pengaruhnya. Ini adalah salah satu kunci terbesar dalam proses pemulihan OCD. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung TerapiMengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan AgamaPertama, sebagian penderita OCD mengalami pikiran-pikiran buruk tentang Allah, agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Al-Qur’an. Mereka merasa bertanggung jawab dan akan dihukum karena pikiran tersebut. Padahal anggapan itu tidak benar.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya, mengucapkannya, atau dipaksa melakukannya.” (HR. Shahih Ibnu Majah, no. 1676)Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang tidak bertanggung jawab atas pikiran yang muncul di dalam dirinya selama ia tidak mengubahnya menjadi ucapan atau perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Semakin besar rasa takut seseorang bahwa ia telah berbuat buruk kepada Allah atau Rasul-Nya melalui pikiran tersebut, semakin ia perlu memahami bahwa dirinya sedang dipaksa oleh penyakit ini dan tidak memiliki kendali penuh atas kemunculannya. Selama hatinya tetap beriman dan tenang dengan keimanan, maka waswas tersebut termasuk bentuk keterpaksaan yang tidak membuatnya berdosa. Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (QS. An-Nahl: 106)Kedua, petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika muncul waswas tentang AllahTerdapat beberapa hadits yang menjelaskan bagaimana seseorang harus bersikap ketika muncul waswas dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu tentang Allah.Hadits pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا، خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ؛ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa mendapati sesuatu dari hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 134)Hadits kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia terus bertanya-tanya hingga salah seorang di antara mereka berkata: ‘Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Jika mereka mengatakan hal itu, maka katakanlah: ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung kepada Allah dari setan.” (HR. Ash-Shahihah dalam Shahih Al-Jami’ no. 8182)Hadits ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ.“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya ia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti.” (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134)Dari hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa apabila seseorang didatangi waswas semacam itu, maka hendaknya ia melakukan beberapa hal berikut:Mengucapkan: “Āmantu billāh” (Aku beriman kepada Allah).Membaca Surah Al-Ikhlas.Meludah ringan ke sebelah kiri sebanyak tiga kali, yaitu menghembuskan ludah tipis tanpa mengeluarkan air ludah yang nyata.Menghentikan waswas tersebut sama sekali, tidak melanjutkan pembahasannya, tidak terus memikirkannya, dan tidak berusaha menelusuri pertanyaan-pertanyaan itu lebih jauh.  Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu LamaTerdapat beberapa hadits yang melarang pemborosan air.أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: «مَا هَذَا السَّرَفُ؟» قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ».Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Sa’ad berwudhu dengan berlebihan, beliau bersabda: “Apa pemborosan ini?”Sa’ad bertanya: “Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?”Beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (Silsilah Ash-Shahihah, no. 3292)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan ukuran air yang cukup untuk bersuci:يُجْزِئُ مِنَ الْوُضُوءِ الْمُدُّ، وَمِنَ الْجَنَابَةِ صَاعٌ.“Satu mud cukup untuk wudhu dan satu sha’ cukup untuk mandi junub.” (Silsilah Ash-Shahihah, 4:644)Dalam makna yang sama, ada seseorang yang bertanya di hadapan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma tentang mandi. Jabir menjawab, “Satu sha’ sudah mencukupimu.”Lalu seseorang berkata, “Itu tidak cukup bagiku.”Maka Jabir menjawab, “Ukuran itu dahulu telah mencukupi orang yang rambutnya lebih lebat darimu.” (HR. Bukhari, no. 252)Yang dimaksud oleh Jabir adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau memiliki rambut yang lebih banyak dan lebih panjang daripada orang yang bertanya tersebut, namun tetap cukup mandi dengan satu sha’ air.Satu mud kira-kira setara dengan dua pertiga liter (687 ml), atau kurang lebih satu botol air minum kecil. Sedangkan satu sha’ setara dengan sekitar 2,75 liter, yaitu kurang lebih satu setengah botol air ukuran besar (masing-masing berisi 1,5 liter).Diriwayatkan pula secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu dengan air yang diletakkan dalam sebuah wadah yang ukurannya sekitar dua pertiga mud. (HR. An-Nasa’i, 1:58). Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan dua pertiga botol air kecil.Selain itu, Abu Dawud (no. 135), An-Nasa’i (no. 140), dan Ahmad (no. 6684) meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang wudhu. Lalu Nabi memperagakan wudhu dengan membasuh setiap anggota tiga kali, kemudian bersabda,هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ“Beginilah wudhu. Barang siapa menambah dari ini, maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan berbuat zalim.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى كَرَاهَةِ الزِّيَادَةِ عَلَى الثَّلَاثِ، وَالْمُرَادُ بِالثَّلَاثِ الْمُسْتَوْعِبَةِ لِلْعُضْوِ، وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَسْتَوْعِبِ الْعُضْوَ إِلَّا بِغَرْفَتَيْنِ، فَهِيَ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ“Para ulama telah bersepakat bahwa menambah basuhan lebih dari tiga kali hukumnya makruh. Yang dimaksud tiga kali adalah tiga kali yang telah mencakup seluruh anggota tubuh yang wajib dibasuh. Adapun jika suatu anggota belum terbasuh sempurna kecuali dengan dua cidukan air, maka itu tetap dihitung sebagai satu kali basuhan.”Dari hadits-hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:Berlebihan dalam menggunakan air adalah sesuatu yang dilarang, meskipun air tersebut digunakan untuk ibadah yang sangat penting seperti wudhu untuk shalat. Bahkan larangan itu tetap berlaku meskipun airnya berasal dari sungai yang mengalir dan tidak akan habis.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan tata cara wudhu kepada umat ini juga telah mengajarkan ukuran air yang cukup untuk berwudhu. Beliau bahkan memperingatkan bahwa orang yang melampaui batas tersebut telah berbuat buruk dan zalim. Ini merupakan peringatan yang sangat serius.Sebagian tabi’in dahulu juga pernah merasa heran bagaimana mungkin jumlah air yang sedikit itu bisa mencukupi. Namun mereka dijawab bahwa ukuran tersebut dahulu telah mencukupi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia terbaik yang paling sempurna dalam bersuci. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa air sebanyak itu tidak cukup baginya untuk berwudhu. Mengatasi OCD dalam IstinjaSebagian penderita OCD mengeluhkan bahwa mereka mengalami kesulitan saat istinja (bersuci setelah buang air kecil). Banyak di antara mereka menghabiskan waktu yang lama untuk memastikan tidak ada lagi tetesan air kencing yang keluar setelah selesai buang air kecil. Sebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama sejak berabad-abad yang lalu telah membahas bentuk waswas seperti ini. Masalah ini sering dijumpai dalam pembahasan fikih thaharah ketika membahas orang yang mengalami salasul baul (keluar air kencing terus-menerus). Sebagian ahli fikih menyebutnya sebagai masalah “pemilik satu atau dua tetes air kencing”.Dalam masalah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:Waswas semacam ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan melihat secara langsung bagian yang menjadi sumber keluarnya air kencing, karena perbedaan bentuk anatomi tubuh. Organ yang digunakan untuk buang air kecil pada laki-laki berada di luar tubuh sehingga lebih mudah diamati ketika buang air kecil dan beristinja. Adapun pada perempuan, saluran keluarnya air kencing tidak mudah dilihat secara langsung. Karena itu, jika perempuan mengalami waswas, biasanya berkaitan dengan cairan vagina atau darah yang keluar dari tubuh dan terlihat pada pakaian.Secara fisik memang ada sebab yang memungkinkan keluarnya beberapa tetes cairan setelah suatu cairan melewati saluran yang sempit. Sebagai contoh, pada selang air sering kali masih ada sisa air yang menempel pada bagian dalamnya setelah digunakan. Lama-kelamaan titik-titik air tersebut berkumpul lalu membentuk tetesan yang akhirnya jatuh. Hal serupa dapat terjadi pada organ kemaluan laki-laki. Selain itu, panjang saluran kencing pada laki-laki sekitar lima kali lebih panjang daripada perempuan. Pada laki-laki dewasa panjangnya sekitar 20 cm, sedangkan pada perempuan hanya sekitar 4 cm. Karena itu, kemungkinan keluarnya sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil lebih sering terjadi pada laki-laki, sehingga waswas jenis ini juga lebih banyak ditemukan pada mereka.Sebagian penderita waswas mengira bahwa cairan yang keluar adalah mani, madzi, atau wadi. Padahal pada umumnya yang keluar hanyalah tetesan air kencing, kecuali jika memang ada penyakit tertentu pada organ tubuh. Dalam keadaan normal, mani atau madzi—yaitu cairan bening dan lengket yang keluar setelah adanya rangsangan seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan—tidak mungkin keluar setelah buang air kecil, karena keduanya berkaitan dengan rangsangan seksual yang disertai perubahan fisiologis tertentu. Jika cairan tersebut keluar saat buang air kecil, maka itu termasuk kondisi medis yang memerlukan penanganan. Adapun wadi, yaitu cairan putih yang tidak lengket, biasanya keluar pada kasus peradangan prostat pada laki-laki. Ini juga termasuk penyakit fisik yang ditangani oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Karena itu, cairan yang biasanya menimbulkan waswas pada kebanyakan penderita sebenarnya hanyalah tetesan air kencing, kecuali pada kasus-kasus penyakit tertentu yang memiliki pengobatan tersendiri.Berbagai cara yang dilakukan untuk menekan kandung kemih agar mengeluarkan seluruh air kencing tidak akan menghentikan keluarnya tetesan tersebut. Sebab ginjal bekerja sepanjang waktu dan terus menghasilkan air kencing dalam bentuk tetesan-tetesan kecil yang kemudian terkumpul di kandung kemih hingga penuh. Setelah itu muncullah dorongan untuk buang air kecil dan seseorang secara sadar membuka saluran keluarnya air kencing sehingga air kencing keluar. Ketika seseorang masih duduk di kamar mandi, pada hakikatnya saluran tersebut masih terbuka sehingga setiap tetesan baru yang dihasilkan ginjal dapat langsung keluar. Proses ini berlangsung terus-menerus dan tidak berhenti. Oleh karena itu, berbagai tindakan untuk memaksa keluarnya seluruh tetesan air kencing tidak memiliki manfaat. Bahkan tindakan tersebut justru semakin menguatkan waswas, karena setiap kali penderita menemukan tetesan baru, ia merasa harus lebih berhati-hati lagi.Terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan solusi praktis terhadap masalah ini. Solusi tersebut merupakan sunnah yang banyak ditinggalkan, baik oleh orang yang sehat maupun oleh penderita waswas, yaitu memercikkan air pada pakaian bagian luar di sekitar kemaluan setelah berwudhu. Sebagian ulama berpendapat bahwa percikan air tersebut dilakukan pada kemaluan itu sendiri. Baik yang dimaksud adalah kemaluan maupun pakaian di sekitarnya, keduanya menunjukkan bahwa memercikkan air setelah bersuci adalah amalan yang dianjurkan dan hikmahnya sangat jelas.Disebutkan dalam hadits bahwa Al-Hakam bin Sufyan Ats-Tsaqafi melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau mengambil segenggam air dan memercikkannya ke kemaluannya. (HR. Ibnu Majah no. 379 dan An-Nasa’i no. 134).Para ulama menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Yaitu beliau memercikkan air tersebut untuk menghilangkan waswas dan sebagai pengajaran bagi umat.”Perhatikanlah sunnah ini. Amalannya sangat sederhana, namun memiliki pengaruh yang besar dalam mencegah waswas. Ketika seseorang yang mengalami waswas merasakan adanya kelembapan setelah bersuci, ia dapat mengatakan kepada dirinya bahwa itu hanyalah bekas percikan air tersebut. Dengan demikian, waswas pun menjadi lebih mudah ditolak.Adapun mengenai hukum mencuci pakaian yang terkena najis dalam jumlah yang sangat sedikit, para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang hal itu dan juga tentang ukuran najis yang dianggap sedikit. Jika najis tersebut sangat kecil, seperti setitik air kencing atau wadi, maka ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa tidak wajib mencucinya. Ulama Malikiyah juga memiliki pendapat yang serupa dalam keadaan yang sulit dihindari, seperti bekas yang sangat kecil akibat lalat yang hinggap pada kotoran atau air kencing. Sementara ulama Hanafiyah berpendapat bahwa najis berat yang ditetapkan berdasarkan dalil yang pasti, seperti darah, air kencing, dan khamr, dimaafkan apabila ukurannya tidak melebihi satu dirham. Namun ada pula ulama lain yang berbeda pendapat dalam masalah ini.Karena itu, penderita OCD atau waswas boleh mengambil pendapat yang paling ringan dalam masalah ini, karena termasuk masalah khilaf yang masih dianggap sah oleh para ulama dan ia termasuk orang yang memiliki uzur dalam persoalan tersebut. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam ShalatOrang yang mengalami waswas dalam niat merasa bahwa dirinya belum menghadirkan niat untuk shalat. Karena itu, ia menghabiskan waktu yang lama untuk menghadirkan dan memperbarui niat tersebut berulang-ulang. Hal ini terjadi karena ia belum memahami makna niat dan cara menghadirkannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 3429)Beliau juga bersabda,وَلَا عَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ.“Tidak ada amal kecuali dengan niat.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2415)Maksud hadits-hadits tersebut adalah bahwa setiap perbuatan pasti disertai niat. Tidak mungkin ada suatu perbuatan tanpa niat. Karena itu, tidak mungkin seseorang telah berdiri untuk shalat dan mulai melaksanakan shalat, sementara ia tidak berniat shalat. Hal itu mustahil, baik menurut syariat maupun menurut akal.Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah keikhlasan niat karena Allah. Artinya, seseorang shalat karena Allah, bukan karena riya atau karena takut kepada manusia. Hal ini dapat dipahami dari bagian akhir hadits pertama:“Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.”Hijrah adalah suatu perbuatan. Orang yang berhijrah pasti memiliki niat untuk berhijrah. Akan tetapi yang lebih penting adalah bahwa hijrahnya dilakukan semata-mata karena Allah.Demikian pula orang yang berdiri untuk melaksanakan shalat Zhuhur, maka sudah pasti ia memiliki niat bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat Zhuhur yang wajib karena Allah. Tidak mungkin ia berdiri dan memulai shalat tersebut tanpa memiliki niat untuk melaksanakannya. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul IhramSebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama terdahulu telah membahas orang-orang yang mengalami waswas dalam takbiratul ihram. Di antara mereka ada yang mengulang takbir lebih dari sekali karena mengira bahwa takbirnya belum sah. Ada pula yang memutus-mutus lafaz takbir ketika mengucapkannya sehingga berkata, “Allāhu Akkkbar.”Akar masalah ini sebenarnya kembali kepada masalah niat yang telah dijelaskan sebelumnya, serta anggapan bahwa jika ia salah mengangkat tangan atau salah mengucapkan takbir, maka ia belum masuk ke dalam shalat.Adapun mengenai mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir, terkadang setelah takbir, dan terkadang sebelum takbir. Beliau juga terkadang mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya.Karena itu, dalam masalah ini terdapat kelonggaran. Seseorang boleh melakukan salah satu dari bentuk-bentuk tersebut dan semuanya diterima.Adapun lafaz takbir, yang perlu dilakukan oleh orang yang shalat adalah tidak memusatkan perhatian secara berlebihan pada cara mengucapkannya. Terlalu fokus pada sesuatu yang sebenarnya mudah dan biasa justru akan membuatnya menjadi sulit. Sebagaimana seseorang berbicara dalam percakapan sehari-hari tanpa memikirkan secara rinci setiap kata yang keluar dari lisannya, demikian pula takbiratul ihram. Kata-katanya termasuk ungkapan yang sederhana dan dapat diucapkan secara langsung.Masalah yang lebih besar yang menimpa orang yang mengulang-ulang takbir adalah bahwa ia biasanya terjatuh ke dalam salah satu dari dua kesalahan berikut:Pertama, ia menganggap dirinya sudah masuk ke dalam shalat. Jika demikian, maka pengulangan takbir yang ia lakukan setelahnya termasuk gerakan tambahan yang tidak diperlukan dan tidak disyariatkan dalam shalat, sehingga tidak dibenarkan.Kedua, ia menganggap dirinya belum masuk ke dalam shalat, padahal niat dan takbirnya yang pertama sudah memasukkannya ke dalam shalat. Akibatnya, ia bertindak sebagaimana orang yang masih berada di luar shalat, padahal sebenarnya ia sudah berada di dalam shalat.Bahkan ada sebagian orang yang bertakbir, kemudian mengucapkan salam untuk keluar dari shalat, lalu bertakbir lagi untuk masuk ke dalam shalat. Dengan demikian ia terjatuh ke dalam kesalahan lain, yaitu keluar dari shalat tanpa alasan dan tanpa kebutuhan yang dibenarkan, padahal hal itu tidak diperbolehkan. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung RakaatDisebutkan dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’ (2/299):“Adapun orang yang mengalami waswas, maka keraguannya tidak dianggap. Karena itu, penyair berkata:وَالشَّكُّ بَعْدَ الْفِعْلِ لَا يُؤَثِّرُ … وَهَكَذَا إِذَا الشُّكُوكُ تَكْثُرُفَإِذَا كَثُرَتِ الشُّكُوكُ، فَهَذَا وَسْوَاسٌ لَا يُعْتَدُّ بِهِ.Keraguan setelah suatu perbuatan tidak berpengaruh,Demikian pula jika keraguan itu terlalu sering terjadi.Jika keraguan telah sering terjadi, maka itu termasuk waswas yang tidak perlu diperhatikan.”Disebutkan pula dalam Mathalib Uli An-Nuha (1:507):“Tidak disyariatkan sujud sahwi apabila keraguan sudah sering terjadi hingga menyerupai waswas. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mengabaikannya. Demikian pula jika keraguan sering terjadi dalam wudhu, mandi, menghilangkan najis, atau tayamum, maka ia harus mengabaikannya. Sebab jika keraguan tersebut diikuti, seseorang akan terjatuh pada bentuk sikap yang berlebihan dan memaksakan diri. Hal itu dapat mengakibatkan penambahan dalam shalat, padahal ia sebenarnya telah yakin bahwa shalatnya telah sempurna. Karena itu, keraguan tersebut wajib ditinggalkan dan tidak dipedulikan.” Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat ShalatSebagian penderita OCD merasa bahwa wudhunya telah batal ketika sedang shalat. Akibatnya, ia menganggap dirinya telah keluar dari shalat sehingga harus pergi berwudhu kembali dan mengulang shalatnya. Perilaku ini terus berulang.Terdapat hadits-hadits yang membimbing kita tentang cara bersikap yang benar dalam keadaan seperti ini. Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang merasakan sesuatu ketika sedang shalat, apakah ia harus membatalkan shalatnya?Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:لَا، حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Tidak, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari, no. 137)Maksud hadits ini adalah bahwa apabila seseorang merasa seakan-akan telah berhadas atau mengeluarkan angin ketika sedang shalat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan dua tanda yang jelas agar seseorang benar-benar yakin bahwa wudhunya telah batal, yaitu mendengar suara atau mencium bau. Jika salah satu dari dua tanda tersebut tidak ada, maka ia tidak boleh keluar dari shalatnya dan harus melanjutkan shalat tersebut hingga selesai.Diriwayatkan pula dari banyak sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, serta dari para tabi’in seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, dan Mujahid, bahwa mereka melarang seseorang meninggalkan shalat hanya karena merasa ada tetesan air kencing yang keluar.Bahkan Mujahid berkata:لَأَنْ أُصَلِّيَ وَقَدْ خَرَجَ مِنِّي شَيْءٌ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُطِيعَ الشَّيْطَانَ.“Aku lebih suka tetap shalat meskipun ada sesuatu yang keluar dariku daripada menaati setan.” (Dzamm Al-Muwaswisin, 80)Sa’id menjawab,إِنِّي لَأَجِدُ الْبَلَلَ وَأَنَا أُصَلِّي، أَفَأَنْصَرِفُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: «لَوْ سَالَ عَلَى فَخِذِي مَا انْصَرَفْتُ حَتَّى أَقْضِيَ صَلَاتِي».“Seandainya cairan itu mengalir di pahaku, aku tetap tidak akan membatalkan shalat sampai aku menyelesaikannya.” (Syarh As-Sunnah, 1:355) Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan TalakContohnya adalah seseorang mengira bahwa dirinya telah mengucapkan talak, padahal sebenarnya ia tidak bermaksud menceraikan istrinya.Manusia dibebani hukum dan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang sengaja ia lakukan dengan pilihan dan kehendaknya sendiri secara penuh. Adapun bisikan dan waswas yang muncul dalam dirinya tidak menjadi sebab seseorang dihukum, kecuali jika bisikan tersebut berubah menjadi perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Sebelumnya telah disebutkan hadits,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka selama mereka belum melakukannya atau mengucapkannya.”Perbuatan atau ucapan adalah sesuatu yang dapat disaksikan oleh seseorang dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, apabila seseorang mengira bahwa dirinya telah melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu di hadapan orang lain, sementara orang-orang di sekitarnya mengingkari bahwa ia telah melakukannya atau mengucapkannya, maka hal itu hanyalah prasangka dan khayalan dari dirinya sendiri. Ia tidak dihukum karenanya dan tidak berlaku konsekuensi hukum apa pun atasnya.Bahkan menurut sebagian ulama, orang yang tertimpa OCD tidak jatuh talaknya meskipun ia mengucapkan lafaz talak, selama ia tidak benar-benar bermaksud menceraikan istrinya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata. “Orang yang tertimpa waswas tidak jatuh talaknya, meskipun ia mengucapkannya dengan lisannya, selama ia tidak bermaksud menjatuhkan talak. Sebab lafaz yang keluar dari lisan orang yang mengalami waswas terjadi tanpa tujuan dan tanpa kehendak. Ia berada dalam keadaan tertekan dan terdorong melakukannya karena kuatnya dorongan dan lemahnya kemampuan untuk menolaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada talak dalam keadaan tertutup (terpaksa atau kehilangan kendali).’ Karena itu, talak tidak jatuh darinya selama ia tidak menghendakinya dengan kehendak yang sungguh-sungguh dan tenang. Sesuatu yang terjadi karena paksaan tanpa tujuan dan tanpa pilihan tidak menyebabkan jatuhnya talak.”Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya PenegasanSebagai penegasan terakhir, perlu ditegaskan bahwa menggabungkan penggunaan obat-obatan anti-OCD dengan berbagai metode terapi psikologis merupakan pendekatan yang terbukti memberikan keberhasilan yang nyata dalam menangani gangguan obsesif-kompulsif (OCD).Keberhasilan terapi akan semakin besar apabila terapis dan dokter mampu memilih obat yang tepat, dosis yang sesuai, serta terapi perilaku yang cocok dengan metode yang tepat. Hal ini karena setiap orang memiliki perbedaan dalam menerima pengobatan. Demikian pula, dosis yang sesuai bagi satu orang belum tentu sesuai bagi orang lain. Begitu juga dengan terapi perilaku dan terapi kognitif; metode yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi orang lain.Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya Nasihat PenutupJangan mudah menuduh penderita OCD sebagai orang yang lemah iman, karena sebagian waswas muncul tanpa kehendak dan menjadi ujian yang berat. Namun, penderita juga tidak boleh pasrah; ia perlu menempuh sebab kesembuhan dengan ilmu, dzikir, terapi, dan bantuan ahli. Syariat Islam dibangun di atas kemudahan, bukan untuk menyiksa orang yang sedang berjuang melawan penyakit. Semakin waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh; semakin diabaikan dengan cara yang benar, semakin lemah pengaruhnya.اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabb an-nās, adzhibil ba’sa, wasyfi Antasy-Syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yughadiru saqaman.Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit. Referensi utama tulisan ini: Islamqa – Al-Waswasah Al-QahriBaca Juga:Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara MengobatinyaRagu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety Fikih Shalat fikih thaharah gangguan kesehatan mental kaidah fikih kesehatan mental Islam niat shalat OCD terapi OCD waswas waswas setan waswas talak


Banyak orang yang tersiksa oleh waswas dalam wudhu, shalat, talak, niat, bahkan dalam akidah, lalu mengira bahwa semua itu terjadi karena lemahnya iman. Padahal, sebagian kasus tersebut termasuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang memiliki karakteristik berbeda dengan waswas setan yang biasa. Tulisan ini akan membantu Anda memahami perbedaan keduanya, mengenali gejalanya, serta mengetahui panduan syariat dan terapi yang tepat untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan Istilah 1.1. Waswas dalam bahasa Arab 1.2. Waswas dalam Istilah 2. Hadits-Hadits Penting tentang Waswas 2.1. 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada Maksiat 2.2. 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benar 2.3. 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan Dosa 2.4. 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setan 2.5. 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allah 2.6. 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswas 3. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang Waswas 3.1. 1. Waswas yang Mengajak kepada Maksiat 3.2. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang Sekilas 3.3. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCD 4. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD) 4.1. Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD) 4.2. Definisi OCD Menurut DSM-5 4.3. Dampak OCD 4.4. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCD 4.5. Sejarah Istilah OCD 4.6. Tingkat Penyebaran OCD 4.7. Jenis-Jenis Gangguan OCD 4.7.1. A. OCD Kebersihan dan Kesucian 4.7.2. B. OCD dalam Shalat 4.7.3. C. OCD Pikiran-Pikiran Keagamaan 4.7.4. D. OCD dalam Praktik Keagamaan 4.7.5. E. OCD Memeriksa dan Memastikan 4.7.6. F. OCD Menghitung 4.7.7. G. OCD Kerapian dan Keteraturan 4.7.8. H. OCD Bertema Seksual 4.7.9. I. OCD Bertema Menyakiti Orang Lain 5. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari Setan 6. OCD dalam Pembahasan Ulama Islam 6.1. Gambaran OCD Menurut Imam Al-Juwaini 6.2. Penjelasan Ibnul Jauzi 6.3. Penjelasan Ibnu Qudamah 6.4. Penjelasan Ibnul Qayyim 6.5. Catatan Penting 7. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD 7.1. 1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya Waswas 7.2. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan Psikiatri 7.3. 3. Manfaatkan Terapi Psikologis 7.4. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation) 7.5. 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara Rutin 7.6. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin Keimanan 7.7. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCD 7.8. 8. Hentikan Pengulangan Perilaku 7.9. 9. Lawan OCD Secara Menyeluruh 7.10. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari Penyebabnya 7.11. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran Obsesif 7.12. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCD 7.13. 13. Mintalah Bantuan Orang Terdekat 7.14. 14. Kesembuhan Membutuhkan Perjuangan 7.15. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi Kemunduran 7.16. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena Ragu 7.17. 17. Bangun Sikap Berdasarkan Kepastian 7.18. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih Mudah 7.19. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa Bersalah 7.20. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan Suci 7.21. 21. Syariat Dibangun di Atas Kemudahan 7.22. 22. Niat Tidak Perlu Dipersulit 7.23. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya Amal 7.24. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan Pikiran 7.25. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-Ulang 7.26. 26. Bersabar atas OCD Bernilai Ibadah 7.27. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai Dosa 7.28. 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi Pahala 7.29. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCD 7.30. 30. Kunci Utama: Mengabaikan Waswas 8. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung Terapi 8.1. Mengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan Agama 8.2. Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu Lama 8.3. Mengatasi OCD dalam Istinja 8.4. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam Shalat 8.5. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul Ihram 8.6. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung Rakaat 8.7. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat Shalat 8.8. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan Talak 9. Penegasan 10. Nasihat Penutup  Penyakit waswas obsesif-kompulsif (OCD) adalah gangguan kejiwaan yang telah dikenal luas. Seseorang dapat mengalaminya tanpa kehendak dan tanpa pilihan dari dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit fisik dan gangguan kejiwaan lainnya, OCD merupakan ujian dari Allah yang akan mendatangkan pahala bagi seorang hamba jika ia bersabar menghadapinya. Seorang hamba juga dianjurkan untuk mencari pengobatan, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.Penggunaan istilah waswas untuk menyebut penyakit ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih pemahaman dengan waswas yang berasal dari diri sendiri atau dari setan. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu muncul tanpa pilihan manusia. Namun, OCD berbeda karena memiliki faktor-faktor biologis sebagai penyebabnya. Selain itu, OCD ditandai dengan tingkat pengulangan, tekanan, dan dorongan yang jauh lebih kuat dibandingkan waswas biasa.Tampaknya, kesamaan istilah inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kekeliruan dalam memahami OCD. Banyak orang mencampuradukkan OCD dengan waswas yang berasal dari setan. Akibatnya, muncul berbagai kesalahan dalam penanganannya. Sebagian penderita juga menyalahkan diri sendiri dan mengira bahwa kondisi yang mereka alami disebabkan oleh lemahnya iman.Karena alasan tersebut, sebagian pakar, seperti Dr. Wa’il Abu Hindi, mengusulkan agar istilah waswas pada penyakit ini diganti dengan istilah istihwadz qahri (gangguan dominasi kompulsif). Lihat kitab Al-Waswas Al-Qahri hlm. 18 dan seterusnya.Apakah penjelasan ini berarti setan sama sekali tidak memiliki peran dalam munculnya OCD?Tidak. Tetap ada kemungkinan bahwa setan memiliki hubungan dengan munculnya gangguan OCD. Namun, hal itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang, juga tidak berpengaruh terhadap pahala dan dosa yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Sebagai contoh, darah istihadhah pada wanita adalah persoalan biologis murni dan tidak berkaitan dengan keimanan penderitanya. Meskipun demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai:رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ“Satu gangguan dari setan.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 128 dan selainnya).Maksudnya, OCD memiliki faktor-faktor penyebab berupa unsur keturunan, biologis, dan lingkungan. Faktor-faktor ini menjadikan sifat OCD berbeda dari waswas setan dalam pengertian yang biasa dikenal, sehingga cara memahami dan menanganinya pun berbeda.Untuk memperjelas pembahasan tentang OCD dan cara menghadapinya, penjelasan selanjutnya akan disusun dalam beberapa poin pembahasan berikut. Pengertian Waswas dalam Bahasa dan IstilahWaswas dalam bahasa ArabIbnu Faris berkata:“Huruf waw dan sin menunjukkan makna suara yang pelan dan tidak keras. Suara perhiasan disebut waswas. Bisikan pemburu disebut waswas. Godaan setan kepada anak Adam juga disebut waswas.”Waswasah dan waswas—dengan huruf waw pertama dibaca fathah atau kasrah—berarti bisikan hati atau percakapan dalam diri.Selain itu, waswasah juga berarti lintasan pikiran yang buruk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.” (QS. Al-A‘raf: 20)Waswas juga bermakna bisikan yang tersembunyi dan sangat halus. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)Seseorang disebut muwaswis (orang yang banyak berwaswas) apabila waswas telah mendominasi dirinya.Kata waswas juga digunakan untuk menyebut setan itu sendiri, yaitu dengan penggunaan kata sumber (masdar) untuk menunjukkan pelakunya. Dengan demikian, Al-Waswas menjadi salah satu nama setan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas: 4–5) Waswas dalam IstilahWaswas adalah bisikan yang datang dari diri sendiri atau dari setan mengenai sesuatu yang tidak mengandung manfaat dan kebaikan. Hadits-Hadits Penting tentang WaswasHadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membahas waswas dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut: 1. Hadits yang Menjelaskan Bisikan Setan untuk Mengajak kepada MaksiatDari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,إن للشَّيطانِ للمَّةً بابنِ آدمَ، ولِلمَلك لَمَّةٌ، فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ: فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكْذيبٌ بالحقِّ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ، فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ. فمَن وجدَ ذلِكَ فليعلم أنَّهُ منَ اللَّهِ، فليحمَدِ اللَّهَ، ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ منَ الشَّيطانِ. ثمَّ قرأَ: {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا} [البقرة: 268] الآيةَ“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Siapa yang mendapati bisikan yang baik, hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan memuji-Nya. Siapa yang mendapati selain itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan.”Kemudian beliau membaca firman Allah:“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268)(HR. At-Tirmidzi no. 2988 dan An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11051. Sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir, 1:325). 2. Hadits yang Menunjukkan Bahwa Orang yang Mengalami Waswas Tetap Memiliki Iman yang Benara. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuBeberapa sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به، قال: (وقد وجدتموه؟) قالوا: نعم، قال: (ذاك صريح الإيمان)“Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang sangat berat sehingga salah seorang dari kami merasa enggan untuk mengucapkannya.”Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?”Mereka menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Itulah tanda iman yang murni.” (HR. Muslim no. 132).Maksudnya, mereka mendapati lintasan pikiran yang buruk tentang agama atau tentang Allah, tetapi mereka sangat membencinya dan tidak berani mengungkapkannya.b. Hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuKetika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waswas, beliau menjawab:تلك محض الإيمان“Itu adalah iman yang murni.” (HR. Muslim no. 133). 3. Hadits yang Menjelaskan Bahwa Bisikan Hati Tidak Mendatangkan DosaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ. “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya. Demikian pula terhadap sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih dalam Shahih Ibnu Majah no. 1676). 4. Hadits yang Menisbatkan Waswas kepada Setana. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَنَا يَجِدُ فِي نَفْسِهِ، يُعَرِّضُ بِالشَّيْءِ، لَأَنْ يَكُونَ حُمَمَةً أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، فَقَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ».Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai menjadi arang yang terbakar daripada mengucapkannya.”Beliau bersabda: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya setan hanya sebatas bisikan.” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 5112).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ، فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يُسْمَعَ صَوْتُهُ، فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ.“Sesungguhnya ketika setan mendengar azan untuk shalat, ia lari sambil kentut agar tidak mendengar suara azan. Ketika azan selesai, ia kembali dan membisikkan waswas. Ketika iqamah dikumandangkan, ia pergi lagi. Setelah iqamah selesai, ia kembali dan membisikkan waswas.” (HR. Muslim no. 389). 5. Hadits yang Mengajarkan Pengobatan Praktis dengan Berlindung kepada Allaha. Hadits Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhuأَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي، يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا». قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي.Utsman bin Abil Ash mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku sehingga membuatku bingung.”Beliau bersabda, “Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”Utsman berkata, “Aku melakukannya, lalu Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203).b. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ».“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian dan berkata: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Hingga akhirnya ia berkata: Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134).c. Hadits tentang Membaca Surah Al-IkhlasDalam sebuah hadits disebutkan,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia saling bertanya hingga ada yang berkata: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Jika mereka mengatakan demikian, maka bacalah (surah Al-Ikhlas): ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian meludahlah ringan ke sebelah kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah dari setan.” (HR. dinilai sahih dalam Shahih Al-Jami‘ no. 8182). 6. Hadits yang Mengajarkan Terapi Perilaku dalam Menghadapi Waswasa. Mengatakan “Aku Beriman kepada Allah”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Abu Daud; dinilai sahih dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 4721).b. Tidak Menghiraukan Keraguan yang Tidak PastiAbdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang merasa seolah-olah keluar sesuatu ketika shalat. Beliau bersabda,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat atau meninggalkannya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 177).Hadits ini mengajarkan prinsip penting dalam menghadapi waswas: jangan mengikuti keraguan dan dugaan semata, tetapi berpeganglah pada sesuatu yang benar-benar pasti. Pelajaran dari Hadits-Hadits tentang WaswasKetika mencermati hadits-hadits yang telah disebutkan, kita dapat melihat bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan dua jenis utama waswas.1. Waswas yang Mengajak kepada MaksiatJenis pertama adalah waswas yang mendorong seseorang untuk melihat, melakukan, atau mendengarkan sesuatu yang haram.Waswas seperti ini merupakan bagian dari tabiat manusia. Ia masuk ke dalam jiwa melalui hawa nafsu, yaitu melalui hal-hal yang disukai dan diinginkan oleh seseorang. Waswas jenis ini bukanlah akibat gangguan biologis dan bukan pula penyakit pada dirinya sendiri. Karena itu, waswas semacam ini dapat dialami oleh seluruh manusia, tidak terbatas pada orang yang memiliki gangguan kejiwaan tertentu.Respons seseorang terhadap waswas jenis inilah yang akan menjadi sebab ia mendapatkan pahala atau dosa di sisi Allah. Jika ia menolaknya, ia mendapatkan pahala. Jika ia mengikutinya, ia bisa terjatuh ke dalam maksiat.Sumber waswas ini berasal dari tiga hal:Nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis-su’).Setan dari kalangan jin.Setan dari kalangan manusia.Hanya saja, bisikan manusia biasanya berupa ucapan yang terdengar secara langsung, bukan sekadar lintasan pikiran dalam hati dan akal. 2. Waswas Berupa Keraguan yang Datang SekilasJenis kedua adalah waswas dalam bentuk keraguan yang datang sesekali dan bukan menjadi kebiasaan yang terus-menerus.Waswas ini dapat muncul dalam urusan agama maupun kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang mulai ragu terhadap keimanannya, wudhunya, shalatnya, sahabatnya, kerabatnya, atau merasa tidak fokus dan tidak khusyuk dalam shalat.Berbeda dengan jenis pertama, waswas ini tidak mengajak seseorang kepada sesuatu yang ia sukai. Tujuannya adalah menanamkan keraguan dan kegelisahan dalam diri manusia. Keraguan itu bisa berkaitan dengan keyakinan yang ia pegang, atau mengenai suatu perbuatan apakah sudah dilakukan atau belum. Terkadang tujuan waswas ini hanyalah menyibukkan seseorang dari perkara-perkara yang seharusnya ia kerjakan dan yang bermanfaat baginya.Waswas semacam ini biasanya dapat hilang dengan segera melalui:Berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.Mengingat bahwa pikiran-pikiran tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.Melawannya dengan kesungguhan dan sikap tegas terhadap diri sendiri.Sumber utama waswas ini adalah setan, meskipun sebagian di antaranya mungkin berasal dari bisikan diri sendiri. Perbedaan antara Waswas Biasa dan OCDPara ulama Islam telah membedakan antara waswas yang datang sesekali seperti ini dengan jenis lain yang dalam dunia kedokteran modern dikenal sebagai gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) atau waswas obsesif-kompulsif.Al-Haththab rahimahullah berkata dalam Mawahib Al-Jalil (2:466):“Orang yang disebut mustankih adalah orang yang selalu diliputi keraguan dalam setiap wudhu atau shalatnya, atau keraguan itu datang kepadanya sekali atau dua kali setiap hari. Adapun jika keraguan itu hanya muncul setelah dua atau tiga hari sekali, maka ia tidak termasuk orang yang mengalami waswas yang menetap (mustankih).”Dengan demikian, tidak setiap keraguan yang muncul dalam ibadah termasuk gangguan waswas yang berat. Keraguan yang sesekali muncul masih tergolong hal yang biasa dialami manusia. Adapun jika keraguan itu terus berulang, mendominasi pikiran, dan sulit dikendalikan, maka keadaannya berbeda dan memerlukan penanganan yang lebih khusus. Gangguan Waswas Obsesif-Kompulsif (OCD)Hakikat Penyakit OCD (Obsessive-Compulsive Disorder – OCD)Dalam buku Al-Bandul karya Dr. Muhammad Asy-Syami disebutkan:“OCD adalah dominasi suatu pikiran tertentu yang memaksa dan terus-menerus hadir dalam diri penderitanya sehingga sulit dilawan. Pikiran tersebut terasa asing bagi dirinya. Ia sadar bahwa pikiran itu bukan berasal dari keinginannya, tidak sesuai dengan keyakinannya, dan tidak masuk akal menurut dirinya. Pikiran itu biasanya disertai rasa takut dan cemas, baik karena keberadaan pikiran itu sendiri maupun akibat yang ditimbulkannya. Namun, ia tidak mampu mengusirnya dari pikirannya. Pikiran tersebut terus berulang hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, pikiran tersebut mendorongnya melakukan tindakan-tindakan kompulsif karena ia mengira tindakan itu akan mengurangi gangguan tersebut. Padahal kenyataannya, gangguan itu justru semakin bertambah seiring waktu.” Definisi OCD Menurut DSM-5Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental Edisi Kelima (DSM-5), yang menjadi rujukan dunia medis internasional, menjelaskan bahwa OCD ditandai oleh adanya obsesi, tindakan kompulsif, atau keduanya.A. ObsesiObsesi berupa:Pikiran, dorongan, atau gambaran yang muncul berulang-ulang dan menetap.Pada suatu waktu selama gangguan berlangsung, penderita merasakannya sebagai sesuatu yang menyusup, mengganggu, dan tidak diinginkan.Pikiran tersebut menimbulkan kecemasan atau tekanan psikologis yang nyata.Penderita biasanya berusaha:Mengabaikan atau menekan pikiran tersebut.Menetralisirnya dengan pikiran lain atau dengan melakukan tindakan tertentu (kompulsi).B. Tindakan KompulsifTindakan kompulsif memiliki dua ciri utama:Pertama, berupa perilaku berulang atau aktivitas mental yang dilakukan terus-menerus, seperti:Mencuci tangan berulang kali.Menata barang secara berlebihan.Memeriksa sesuatu berulang kali.Mengulang bacaan dalam shalat.Menghitung angka tertentu.Mengulang kata-kata dalam hati.Penderita merasa terdorong untuk melakukannya sebagai respons terhadap obsesi atau karena adanya aturan yang menurutnya harus diterapkan secara ketat.Kedua, tindakan tersebut dilakukan dengan tujuan:Mengurangi kecemasan atau tekanan batin.Mencegah terjadinya sesuatu yang dianggap buruk atau menakutkan.Namun, tindakan itu sering kali:Tidak memiliki hubungan yang realistis dengan tujuan yang ingin dicapai.Atau dilakukan secara berlebihan. Dampak OCDObsesi dan tindakan kompulsif biasanya:Menghabiskan banyak waktu (misalnya lebih dari satu jam setiap hari).Menimbulkan tekanan psikologis yang berat.Mengganggu kehidupan sosial.Mengganggu pekerjaan.Menghambat berbagai aktivitas penting lainnya. Ciri-Ciri Pikiran yang Termasuk OCDDr. Wa’il Abu Hindi dalam Al-Waswas Al-Qahri min Manzhur ‘Arabi Islami (hlm. 19) merangkum ciri-ciri pikiran yang tergolong OCD sebagai berikut:Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memaksa masuk ke dalam kesadarannya dan menguasai pikirannya tanpa kehendaknya, meskipun ia sadar bahwa pikiran itu berasal dari dirinya sendiri, bukan dari pengaruh luar.Penderita meyakini bahwa pikiran tersebut tidak masuk akal, tidak benar, tidak penting, dan sebenarnya tidak layak mendapatkan perhatian.Penderita terus-menerus berusaha melawan dan menolaknya.Penderita merasa bahwa pikiran tersebut memiliki kekuatan yang memaksa dirinya. Semakin ia melawan, semakin kuat dan sering pikiran itu muncul, sehingga ia terjebak dalam lingkaran pengulangan yang tidak berkesudahan. Sejarah Istilah OCDOrang pertama yang menyebut gangguan ini sebagai penyakit medis adalah dokter Prancis Jean Étienne Dominique pada tahun 1838. Saat itu gangguan ini dianggap sebagai salah satu bentuk kegilaan.Kemudian pada tahun 1877, psikiater Jerman Karl Westphal turut membahasnya.Pada tahun 1903, psikolog Prancis Pierre Janet menerbitkan buku berjudul Obsessions and Psychasthenia (Al-Waswas wa Adh-Dha‘f An-Nafsi).Setelah itu, istilah ini semakin dikenal luas melalui berbagai tulisan Sigmund Freud, yang tersebar luas di dunia psikologi dan psikiatri. Tingkat Penyebaran OCDBanyak penderita OCD merasa bahwa hanya dirinya yang mengalami gangguan ini. Padahal kenyataannya, OCD termasuk gangguan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat.Diperkirakan sekitar 2–3% populasi mengalami OCD, atau sekitar 1 orang dari setiap 40 orang.Pada anak-anak, angka kejadiannya sekitar 1 anak dari setiap 200 anak.Karena itu, OCD bukanlah gangguan yang langka. Banyak orang mengalaminya, meskipun tidak semua berani menceritakan atau mencari bantuan untuk mengatasinya. Jenis-Jenis Gangguan OCDGangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki banyak bentuk dan variasi. Semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu adanya suatu pikiran tertentu yang menguasai pikiran seseorang sehingga sulit ditolak. Pikiran tersebut kemudian memaksa penderitanya melakukan tindakan tertentu secara berulang.Sulit untuk menyebutkan seluruh jenis OCD, tetapi berikut beberapa bentuk yang paling sering ditemukan.A. OCD Kebersihan dan KesucianPada jenis ini, penderita merasa ada bagian tubuhnya—biasanya tangan—yang belum bersih. Ia mencucinya, tetapi setelah selesai tetap merasa belum bersih sehingga kembali mencuci tangannya. Pikiran yang sama terus muncul dan tindakan mencuci terus berulang.Terkadang ia mencuci tangan hingga satu jam atau lebih dalam sekali mencuci sampai kulit tangannya rusak dan terluka.Hal yang sama juga dapat terjadi saat mandi. Ia mengulang mandi berkali-kali dan setiap kali berlangsung sangat lama, bisa sampai satu jam atau beberapa jam, karena merasa ada bagian tubuh yang belum dibersihkan dengan sempurna.Meskipun sebenarnya ia merasa pikiran itu aneh dan mengganggu, lama-kelamaan ia mencari pembenaran dengan menganggap bahwa kebersihannya memang belum sempurna atau proses pembersihan sebelumnya belum cukup.Jenis ini juga dapat muncul dalam bentuk ketakutan berlebihan terhadap virus dan bakteri. Fenomena ini banyak terlihat selama pandemi Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020. Penderita terus-menerus melakukan sterilisasi dan pembersihan karena merasa hampir semua benda dapat menularkan penyakit.Dalam kasus yang berat, seseorang bahkan enggan keluar rumah kecuali dalam keadaan sangat mendesak karena khawatir harus menjalani ritual pembersihan yang panjang dan melelahkan ketika kembali ke rumah.Pada sebagian wanita, OCD ini muncul dalam bentuk rasa jijik yang berlebihan terhadap diri sendiri saat masa haid. Ia mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari, mencuci seprai dan kursi yang digunakan, meskipun telah memakai pembalut dengan baik. Bahkan ia merasa jijik terhadap wanita lain yang sedang haid hingga melarang mereka duduk di tempat tidur, kursi, atau menggunakan kamar mandi pribadinya. Ia juga menghindari melewati tempat pembuangan sampah karena takut terdapat pembalut bekas di sana.Pada sebagian laki-laki, OCD muncul dalam masalah sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil. Mereka berusaha mengeluarkan seluruh sisa air kencing dengan berbagai cara, seperti batuk berulang kali atau menekan dengan keras, sehingga proses bersuci dan istinja menjadi sangat lama. B. OCD dalam ShalatPenderita terus-menerus ragu mengenai jumlah rakaat, rukuk, atau sujud yang telah dilakukan.Karena keraguan tersebut, ia mengulang shalat berkali-kali untuk memastikan bahwa shalatnya sah. Ia juga sering melakukan sujud sahwi karena merasa ada banyak kekurangan dalam shalatnya.Bentuk lain adalah keraguan mengenai niat shalat. Ia terus memikirkan apakah niatnya sudah benar atau belum, hingga berdiri lama sebelum memulai shalat. Bahkan terkadang waktu shalat hampir habis sementara ia masih sibuk memikirkan niat.Sebagian penderita juga terus mengulang takbiratul ihram karena merasa takbir pertama belum benar. C. OCD Pikiran-Pikiran KeagamaanJenis ini berupa munculnya pikiran atau kalimat yang buruk tentang Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama Islam, atau Al-Qur’an.Pikiran-pikiran tersebut sangat mengganggu karena penderita merasa dirinya telah keluar dari agama akibat pikiran itu, padahal sebenarnya ia membencinya dan tidak meyakininya.Sebagian penderita terus mengulang syahadat karena mengira dirinya telah kafir dan harus masuk Islam kembali.Jenis OCD ini sangat berbeda dengan pemikiran ateisme atau keraguan intelektual yang muncul karena syubhat. Pada OCD, penderita justru menolak dan membenci pikiran tersebut serta berusaha keras mengusirnya.Menariknya, banyak penderita OCD jenis ini justru berasal dari kalangan yang memiliki semangat kuat dalam menjalankan agama. D. OCD dalam Praktik KeagamaanBentuknya antara lain:Berlebihan dalam memperhatikan makhraj huruf saat berbicara atau membaca Al-Qur’an melebihi batas yang wajar.Terlalu ketat dalam tajwid hingga menjadi beban.Keraguan terus-menerus apakah telah menjatuhkan talak kepada istrinya atau belum.Keraguan terhadap kesucian air yang sebenarnya tidak ada tanda najis padanya.Keraguan apakah hewan sembelihan telah disebut nama Allah saat disembelih atau belum.Pada penganut agama lain, bentuk OCD keagamaan dapat muncul dalam bentuk pengakuan dosa berulang-ulang atau ketakutan berlebihan terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu. E. OCD Memeriksa dan MemastikanPenderita terus-menerus memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah diperiksa.Misalnya:Mengecek pintu berkali-kali karena takut belum terkunci.Memeriksa jendela berulang kali.Memastikan kompor sudah dimatikan berkali-kali karena takut terjadi kebakaran.Bahkan setelah keluar rumah, ia bisa kembali lagi hanya untuk memeriksa hal yang sama. Akibatnya, ia sering terlambat karena terlalu banyak memeriksa dan memastikan. F. OCD MenghitungPenderita merasa perlu menghitung sesuatu secara berulang.Misalnya:Menghitung uang berkali-kali meskipun sudah mengetahui jumlahnya.Menghitung pulpen atau barang pribadinya berulang kali.Menghitung benda-benda di rumah seperti jumlah ubin lantai atau benda lainnya. G. OCD Kerapian dan KeteraturanPenderita tidak pernah merasa puas dalam menata barang-barangnya. Ia ingin segala sesuatu tersusun dengan:Simetris.Seimbang.Rapi sempurna.Perubahan kecil saja dapat membuatnya sangat terganggu. Bahkan hal-hal sepele seperti posisi serat karpet pun bisa menjadi sumber kegelisahan. H. OCD Bertema SeksualJenis ini memiliki berbagai bentuk, di antaranya:Pandangan yang secara tidak terkendali tertuju pada area sensitif tubuh orang lain, bukan karena syahwat, tetapi karena dorongan obsesif.Munculnya gambaran hubungan seksual dalam pikiran yang terus berulang tanpa keinginan untuk melakukannya.Ketakutan berlebihan bahwa dirinya akan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita atau anak-anak, padahal ia sama sekali tidak menginginkannya.Ketakutan bahwa dirinya memiliki orientasi seksual tertentu, padahal kenyataannya tidak demikian.Pada semua bentuk ini, penderita tidak menghendaki pikiran tersebut dan justru merasa terganggu olehnya. I. OCD Bertema Menyakiti Orang LainPada jenis ini muncul ketakutan atau gambaran bahwa dirinya akan mencelakai orang lain.Misalnya seorang ibu merasa takut akan menyakiti anak-anaknya, padahal ia sangat mencintai mereka dan tidak pernah ingin melakukan hal itu.Ada pula penderita yang terus membayangkan dirinya menusuk seseorang dengan pisau atau menembak orang lain dengan senjata api. Padahal ia bukan orang yang keras atau agresif dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.Pikiran-pikiran tersebut muncul secara paksa, mengganggu, dan bertentangan dengan kepribadian serta keinginan asli penderita. Karena itulah pikiran tersebut menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mereka. Perbedaan antara OCD dan Waswas dari SetanBerdasarkan penjelasan sebelumnya, kita dapat membandingkan antara gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan waswas dari setan berdasarkan pemahaman syariat yang telah dikenal. AspekOCD (Waswas Obsesif-Kompulsif)Waswas dari SetanTingkat kejadianDialami sekitar 2–3% manusia.Dialami oleh seluruh manusia.Awal kemunculanDapat muncul pada berbagai usia, terutama masa remaja.Ada sejak manusia lahir dan biasanya semakin aktif ketika seseorang baligh serta mulai memikul beban syariat.Perasaan terhadap pikiran yang munculPenderita merasa pikiran itu asing, memaksa, dan bukan bagian dari dirinya.Biasanya tidak terasa asing dan sering kali terasa dekat dengan keinginan diri sendiri.Perasaan yang menyertainyaDisertai penolakan kuat, kecemasan, dan tekanan yang berat.Jika berkaitan dengan syahwat, sering disertai rasa nikmat. Jika berkaitan dengan syubhat, biasanya hanya menimbulkan kegelisahan ringan.Sifat pikiranUmumnya tidak logis dan tidak masuk akal.Kebanyakan tampak logis dan memiliki alasan atau pembenaran tertentu.Lebih sering terjadi padaOrang yang mudah cemas, mudah ragu, terlalu banyak berpikir, berkepribadian rapuh, dan kurang percaya diri.Orang yang jauh dari Allah dan lemah imannya. Namun terkadang juga semakin kuat pada orang yang kuat imannya karena kerasnya permusuhan setan terhadap mereka.Cara penangananMelalui pengobatan medis, terapi perilaku, dan terapi kognitif.Dengan mendekatkan diri kepada Allah, menyelisihi ajakan setan, dan memperbaiki jiwa yang cenderung kepada keburukan.Akhir gangguanDapat berakhir atau membaik dengan terapi dan pengobatan yang tepat.Tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia hidup. Ia merupakan bagian dari perjuangan melawan setan hingga akhir hayat.Pandangan masyarakatMasih sering dianggap aneh dan kurang dipahami.Umumnya dipahami dan diterima sebagai bagian dari ujian hidup manusia dalam menghadapi setan.Dukungan sosial bagi penderitanyaBiasanya masih sangat terbatas.Umumnya lebih mudah dipahami oleh masyarakat.Dari perbandingan ini terlihat bahwa OCD tidak sama dengan waswas setan yang biasa dibahas dalam kitab-kitab tazkiyatun nafs. Keduanya memang sama-sama melibatkan pikiran yang mengganggu, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.Waswas setan umumnya dihadapi dengan iman, dzikir, isti’adzah, dan mujahadah melawan hawa nafsu. Adapun OCD sering kali memerlukan penanganan tambahan berupa terapi psikologis dan pengobatan medis yang sesuai.Karena itu, tidak tepat jika setiap penderita OCD langsung dianggap memiliki iman yang lemah atau kurang dzikir. Sebagaimana penyakit fisik membutuhkan pengobatan, OCD juga termasuk ujian yang memerlukan penanganan yang sesuai dengan sebab-sebabnya. OCD dalam Pembahasan Ulama IslamPara ulama Islam telah mengenal fenomena yang saat ini dikenal sebagai OCD dan membedakannya dari keraguan biasa yang sesekali muncul.Dalam mazhab Maliki, kondisi ini disebut asy-syakku al-mustankih (keraguan yang menguasai seseorang). Kata mustankih berarti keraguan yang telah mendominasi seseorang sehingga sulit ia tolak atau kendalikan.Syaikh Muhammad ‘Aliys rahimahullah berkata, “Yang wajib dalam mandi adalah menggosok anggota tubuh yang dicuci… Dalam masalah ini cukup berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh zhonn) menurut pendapat yang benar. Dugaan kuat sudah mencukupi untuk memastikan sampainya air pada anggota tubuh yang wajib dibasuh berdasarkan kesepakatan ulama. Namun bagi orang yang mengalami keraguan yang terus-menerus (mustankih), tidak disyaratkan adanya dugaan kuat karena ia sulit mencapainya. Bahkan keraguan yang ada sudah dianggap cukup baginya, dan ia wajib mengabaikannya. Tidak ada obat baginya selain cara itu.” (Minah Al-Jalil, 1:127)Pernyataan ini menunjukkan bahwa para ulama telah memahami adanya kondisi keraguan yang menetap dan tidak normal, sehingga cara menghadapinya berbeda dari keraguan biasa.Beberapa ulama besar seperti Ibnu Qudamah, Ibnul Jauzi, dan Ibnul Qayyim juga membahas fenomena ini serta menawarkan cara-cara untuk mengatasinya.Namun, dalam tulisan mereka terdapat kritik keras terhadap orang yang terjebak dalam waswas. Jika dibaca pada masa sekarang, sebagian ungkapan tersebut mungkin terasa berat bagi penderita OCD.Hal itu dapat dipahami karena pada masa mereka belum dikenal penjelasan medis modern mengenai OCD, terutama aspek biologis dan aspek yang berada di luar kendali penderita.Meski demikian, sebagian kritik tersebut tetap memiliki manfaat, yaitu mengingatkan bahwa penderita tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan dan tidak menyerah kepada gangguan yang dialaminya. Gambaran OCD Menurut Imam Al-JuwainiAbu Muhammad Al-Juwaini rahimahullah dalam kitab At-Tabshirah menjelaskan sebagian perilaku orang yang mengalami waswas berlebihan.Beliau menceritakan bahwa ada orang yang terus mengulang takbiratul ihram hingga waktu shalat hampir habis. Ada pula yang sampai kehilangan shalat Jumat bersama imam karena terlalu lama mengulang takbir.Ketika hendak buang hajat, sebagian mereka bahkan menyiapkan banyak batu dan alat pembersih secara berlebihan. Saat menggunakan air pun mereka menghabiskan air dalam jumlah yang sangat banyak.Peneliti kitab tersebut, Dr. Muhammad As-Sudais, menyatakan bahwa banyaknya pembahasan Al-Juwaini tentang masalah ini menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan berupa waswas telah banyak ditemukan pada zamannya sehingga beliau merasa perlu menulis kitab khusus mengenai hal tersebut. Penjelasan Ibnul JauziDalam kitab Talbis Iblis, Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan beribadah.Beliau menyebut sebagian orang yang terlalu lama berada di kamar mandi karena merasa masih ada sisa air kencing yang belum keluar. Mereka berjalan ke sana kemari, berdeham berulang kali, mengangkat dan menurunkan kaki, dengan keyakinan bahwa semua itu akan mengeluarkan sisa air kencing.Padahal semakin mereka melakukan hal tersebut, semakin kuat perasaan bahwa masih ada sesuatu yang belum keluar.Beliau juga menggambarkan orang yang:Terus mengulang niat wudhu dan shalat.Selalu meragukan kesucian air.Menggunakan air secara berlebihan ketika berwudhu.Menghabiskan waktu terlalu lama hingga kehilangan keutamaan awal waktu shalat atau bahkan kehilangan shalat berjamaah.Berulang kali mencuci pakaian yang sebenarnya sudah suci.Beliau juga menyebut orang yang:Mengulang takbiratul ihram berkali-kali.Membatalkan niat lalu mengulanginya lagi.Terlambat mengikuti imam karena sibuk dengan keraguan.Kemudian beliau berkata:“Ketahuilah bahwa waswas dalam niat shalat berasal dari kelemahan akal dan ketidaktahuan terhadap syariat.”Beliau juga membawakan kisah terkenal dari Ibnu Aqil rahimahullah.Seseorang mengadu kepadanya:“Aku mencuci anggota tubuh lalu merasa belum mencucinya. Aku bertakbir lalu merasa belum bertakbir.”Ibnu Aqil menjawab:“Tinggalkan saja shalat, karena shalat tidak wajib bagimu.”Orang-orang yang mendengar ucapan tersebut merasa heran.Ibnu Aqil menjelaskan:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa pena pencatat amal diangkat dari orang gila hingga ia sadar. Orang yang bertakbir lalu berkata ‘aku belum bertakbir’ bukanlah orang yang berakal normal. Sedangkan orang gila tidak dibebani shalat.”Ungkapan ini tentu merupakan bentuk penegasan keras untuk menunjukkan betapa tidak masuk akalnya keraguan semacam itu. Penjelasan Ibnu QudamahIbnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Dzamm Al-Muwaswisin wa At-Tahdzir min Al-Waswasah menjelaskan bahwa sebagian orang akhirnya begitu tunduk kepada waswas hingga lebih mempercayai keraguan daripada apa yang mereka lihat dan yakini sendiri.Seseorang melihat dirinya telah berwudhu, mendengar dirinya bertakbir, dan mengetahui niatnya dengan yakin. Namun setelah itu ia tetap meragukan semuanya.Akibatnya, ia:Menyakiti dirinya sendiri.Menggunakan air secara berlebihan.Menggosok tubuh secara berlebihan.Menyiksa dirinya dengan air dingin.Kehilangan takbir pertama bersama imam.Kehilangan sebagian rakaat.Bahkan terkadang kehilangan waktu shalat.Beliau juga menyebut orang yang mengulang-ulang kata dalam Al-Fatihah, tasyahud, salam, atau takbir hingga merusak shalatnya sendiri.Menariknya, beliau mengatakan:“Banyak orang yang berwaswas dan memahami syariat sebenarnya mengakui bahwa tindakan mereka salah. Mereka bahkan berfatwa kepada orang lain dengan fatwa yang berbeda dari apa yang mereka lakukan, dan berkata: ‘Jangan meniru kami.’ Ini sungguh mengherankan.”Jika dilihat dari sudut pandang kedokteran modern, keheranan tersebut dapat dipahami karena pada masa itu OCD belum dikenal sebagai gangguan psikologis. Yang terlihat oleh para ulama adalah seseorang mengetahui kebenaran tetapi tidak mampu menghentikan perilakunya.Padahal ketidakmampuan menghentikan perilaku itulah yang menjadi salah satu ciri utama OCD. Penjelasan Ibnul QayyimIbnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan berbagai bentuk waswas dalam bersuci dan shalat.Beliau menggambarkan orang yang merasa wudhunya tidak sah meskipun telah berwudhu sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu.Beliau juga menyebut bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha menggunakan satu wadah air yang sama. Namun orang yang terjangkit waswas mungkin akan menganggap jumlah air tersebut tidak cukup bahkan untuk satu orang.Ibnul Qayyim juga membahas alasan yang sering digunakan para penderita waswas, yaitu menganggap perilaku mereka sebagai bentuk kehati-hatian dalam agama.Mereka beralasan:“Kami melakukan ini demi kehati-hatian dan menjaga agama.”Namun beliau menjelaskan panjang lebar bahwa kehati-hatian yang benar tidak boleh berubah menjadi sikap berlebihan yang justru menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau juga menyebut kisah seseorang yang berulang kali mengulang niat shalat hingga akhirnya bersumpah dengan talak agar tidak mengulanginya lagi. Namun karena tidak mampu menahan diri, ia tetap mengulang niat tersebut sehingga sumpahnya menyebabkan perceraian dengan istrinya.Ibnul Qayyim juga menukil ucapan Imam Al-Ghazali:“Waswas disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap syariat atau gangguan pada akal. Keduanya termasuk kekurangan dan cacat yang besar.”Beliau bahkan menyebut sebelas cara yang biasa dilakukan orang yang terobsesi memastikan seluruh air kencing telah keluar, seperti menarik kemaluan, mengguncangnya, berdeham, berjalan-jalan, melompat, dan berbagai tindakan lainnya. Catatan PentingSetelah membaca berbagai penjelasan ulama di atas, perlu ditegaskan kembali bahwa kritik mereka terutama ditujukan kepada orang yang membela dan membenarkan perilaku waswasnya, serta menganggapnya sebagai bentuk kehati-hatian yang benar dalam agama.Sebagian ungkapan keras mereka juga lahir dari keterbatasan pengetahuan medis pada masa itu mengenai OCD sebagai gangguan psikologis yang memiliki unsur di luar kendali penderita.Namun dari penjelasan para ulama tersebut tetap dapat diambil pelajaran penting, yaitu bahwa penderita OCD tidak boleh pasrah kepada penyakitnya. Ia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha mencari pengobatan, terapi, dan jalan kesembuhan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Nasihat, Panduan, dan Kaidah dalam Memahami serta Menghadapi OCD1. Jangan Menyalahkan Diri atas Munculnya WaswasKaidah dasarnya adalah bahwa berbagai lintasan pikiran dan waswas muncul pada diri seseorang tanpa ia kehendaki. Karena itu, seseorang tidak berdosa hanya karena munculnya pikiran tersebut.Yang dituntut darinya adalah memberikan respons yang benar. Pada waswas setan, caranya dengan berlindung kepada Allah. Sedangkan pada OCD, caranya dengan menempuh pengobatan dan terapi yang sesuai. 2. Jangan Takut terhadap Pengobatan PsikiatriJika dokter memandang obat diperlukan, maka pengobatan hendaknya dijalani.Banyak orang takut menggunakan obat kejiwaan karena berbagai anggapan yang keliru, seperti:Menyebabkan ketergantungan.Lebih banyak mudarat daripada manfaat.Merusak tubuh secara permanen.Anggapan tersebut tidak benar secara umum. Obat-obatan dibuat untuk membantu pasien. Jika mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, tentu tidak akan diizinkan digunakan oleh lembaga kesehatan dunia. Pengalaman medis selama puluhan tahun dan penelitian terhadap jutaan pasien menunjukkan bahwa obat memiliki manfaat yang besar dalam membantu mengatasi OCD. 3. Manfaatkan Terapi PsikologisSelain obat, terdapat berbagai terapi yang terbukti membantu, seperti:Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT).Terapi Perilaku Dialektis (Dialectical Behavioral Therapy/DBT).Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy/ACT).Dokter atau terapis dapat membantu menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien. 4. Gunakan Kalimat Penguat (Self-Affirmation)Ulangi kalimat-kalimat yang benar untuk melawan pikiran obsesif, misalnya:“Aku tidak berburuk sangka kepada Allah.”“Wudhuku tidak batal.”“Shalatku sah.”“Tanganku sudah bersih.” 5. Tuliskan Kalimat Penguat Secara RutinMenulis kalimat-kalimat tersebut sekitar sepuluh kali setiap hari dapat membantu memperkuat pola pikir yang sehat. 6. Sadari bahwa Ini Penyakit, Bukan Cermin KeimananTeruslah mengingatkan diri:“Apa yang aku alami adalah gejala penyakit, bukan cerminan keimanan atau kepribadianku.”Jika perlu, tuliskan kalimat ini berulang kali setiap hari. 7. Bayangkan Dirimu Bebas dari OCDBayangkan bagaimana hidup tanpa mengulang-ulang tindakan yang sama.Latih diri untuk membayangkan perilaku yang sehat dan normal, kemudian berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. 8. Hentikan Pengulangan PerilakuUsahakan untuk tidak mengulangi tindakan yang sama.Segera alihkan perhatian kepada aktivitas lain sebelum dorongan obsesif menguasai pikiran.Perlu dipahami bahwa perlawanan ini biasanya menimbulkan ketegangan pada awalnya. Namun jika dilawan, OCD akan melemah. Jika dituruti, OCD akan semakin kuat. 9. Lawan OCD Secara MenyeluruhJangan hanya melawan satu bentuk waswas lalu membiarkan bentuk lainnya.Fokuslah pada yang paling kuat terlebih dahulu, tetapi tetap berusaha mengurangi seluruh perilaku obsesif yang ada. 10. Jangan Terlalu Sibuk Mencari PenyebabnyaTerlalu lama memikirkan penyebab OCD sering kali tidak menghasilkan solusi.Lebih baik mengarahkan tenaga kepada langkah-langkah penyembuhan. 11. Jangan Berdebat dengan Pikiran ObsesifSemakin sering seseorang mendebati pikiran obsesif, biasanya semakin kuat pikiran tersebut.Karena itu, jangan sibuk memikirkan waswas atau lawannya. Alihkan pikiran kepada hal lain yang berbeda sama sekali. 12. Hancurkan Aturan Khusus yang Dibuat OCDBanyak penderita memiliki “aturan pribadi” yang tidak rasional.Misalnya aturan kebersihan yang berlebihan.Cara mengatasinya adalah dengan menghadapi secara bertahap hal-hal yang ditakuti, bukan menghindarinya. 13. Mintalah Bantuan Orang TerdekatLibatkan keluarga atau orang yang dipercaya untuk membantu memutus pola perilaku OCD.Misalnya, meminta anggota keluarga menghentikan proses mencuci tangan ketika sudah mencapai batas normal. 14. Kesembuhan Membutuhkan PerjuanganTidak ada terapi OCD tanpa usaha dan perjuangan.Semakin serius seseorang melawan OCD, semakin besar peluang keberhasilannya. 15. Tetap Bertahan Meski Terjadi KemunduranTerkadang ada masa semangat, terkadang ada masa lemah.Tetaplah melanjutkan proses terapi walaupun sesekali mengalami kemunduran. 16. Pegang Kaidah: Yakin Tidak Hilang karena RaguSesuatu yang sudah pasti tidak gugur hanya karena keraguan.Karena itu, penderita OCD perlu terus mengingatkan dirinya:“Aku memang memiliki masalah waswas, sehingga keraguan yang muncul tidak layak dijadikan pegangan.” 17. Bangun Sikap Berdasarkan KepastianNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang ragu apakah kentut atau tidak,لَا يَنْفَتِلْ – أَوْ لَا يَنْصَرِفْ – حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Janganlah ia membatalkan shalat hingga mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari no. 137)Jika orang yang sehat saja diperintahkan berpegang pada kepastian, maka penderita OCD lebih pantas lagi untuk tidak mengikuti keraguan yang tidak memiliki bukti. 18. Boleh Mengambil Pendapat Fikih yang Lebih MudahDalam masalah khilafiah yang diakui ulama, penderita OCD boleh mengambil pendapat yang lebih ringan setelah berkonsultasi dengan seorang mufti atau ustadz yang memahami kondisinya.Sebaliknya, selalu memilih pendapat yang paling berat sering kali bukan karena wara’, melainkan karena dorongan OCD. 19. Jangan Tenggelam dalam Rasa BersalahJangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.OCD adalah penyakit, bukan dosa yang sengaja dilakukan. 20. Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh dan SuciSesuatu tidak dianggap haram atau najis kecuali ada dalil yang jelas.Karena itu, jangan membangun hukum berdasarkan dugaan dan prasangka. 21. Syariat Dibangun di Atas KemudahanSalah satu tujuan syariat adalah memberikan kemudahan, terutama bagi orang yang memiliki kesulitan dan uzur.Kemudahan bukan berarti meninggalkan ibadah, tetapi melaksanakan ibadah dengan cara yang benar dan tidak memberatkan diri. 22. Niat Tidak Perlu DipersulitNiat tidak memerlukan pelafalan khusus.Ketika seseorang bergerak untuk melakukan suatu ibadah, pada hakikatnya ia telah berniat melakukannya. 23. Jangan Terlalu Sibuk Memikirkan Diterima atau Tidaknya AmalTugas seorang hamba adalah beramal dengan benar dan ikhlas.Adapun diterima atau tidaknya amal merupakan urusan Allah. 24. Manusia Tidak Dihukum karena Lintasan PikiranSeseorang dihukum karena keyakinan yang dipilihnya atau tindakan yang sengaja dilakukannya, bukan karena pikiran yang datang tanpa kehendaknya. 25. Tidak Perlu Memperbarui Syahadat Berulang-UlangSelama seseorang tidak meyakini kekafiran dengan pilihan dan keyakinannya sendiri, maka ia tetap berada dalam Islam.Pikiran obsesif tidak mengeluarkan seseorang dari agama. 26. Bersabar atas OCD Bernilai IbadahKesabaran menghadapi penyakit adalah sebab datangnya pahala dari Allah.Bisa jadi seseorang merasa dirinya penuh dosa, padahal dengan kesabarannya menghadapi ujian tersebut, derajatnya justru semakin tinggi di sisi Allah. 27. Pikiran Obsesif Tidak Dicatat sebagai DosaSeseorang baru berdosa apabila:Melakukannya dengan sengaja.Melakukannya atas pilihannya sendiri.Mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram.Adapun pikiran dan dorongan obsesif tidak dicatat sebagai dosa.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.““Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya atau mengucapkannya.” (HR. Bukhari no. 2528) 28. Menolak Pikiran Buruk Bisa Menjadi PahalaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً.“Barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491)Jika orang yang sengaja berniat maksiat lalu membatalkannya mendapat pahala, maka orang yang dipaksa oleh pikiran obsesif lalu terus melawannya tentu lebih layak berharap pahala dari Allah. 29. Terlalu Sering Bertanya tentang Masalah Waswas Justru Memperkuat OCDBanyak penderita terus-menerus mencari fatwa untuk menenangkan diri.Ketenangan itu biasanya hanya sementara. Setelah itu muncul lagi keraguan baru.Karena itu, pencarian kepastian yang terus-menerus sering menjadi bahan bakar OCD.Ketika para sahabat mengalami waswas berupa pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab dengan pembahasan filsafat yang panjang. Beliau justru memerintahkan mereka untuk berhenti mengikuti pikiran tersebut.Waswas mirip rasa gatal. Semakin digaruk, semakin ingin digaruk. 30. Kunci Utama: Mengabaikan WaswasInilah prinsip terpenting dalam menghadapi OCD.Ad-Dardir rahimahullah berkata:“Adapun orang yang sering dilanda keraguan (mustankih), maka yang wajib baginya adalah berpaling dari keraguan tersebut. Karena mengikuti waswas dapat merusak agama dari akarnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”Tentu mengabaikan waswas tidak selalu mudah. Terkadang tekanan penyakit sangat kuat. Namun tujuan seluruh terapi dan usaha yang dilakukan adalah membantu penderita sampai pada kemampuan untuk tidak lagi melayani dan mengikuti waswas yang datang kepadanya.Singkatnya, semakin sering waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh. Semakin sering diabaikan dan dilawan, semakin lemah pengaruhnya. Ini adalah salah satu kunci terbesar dalam proses pemulihan OCD. Contoh Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Penderita OCD sebagai Pendukung TerapiMengatasi OCD Berupa Pikiran-Pikiran tentang Allah dan AgamaPertama, sebagian penderita OCD mengalami pikiran-pikiran buruk tentang Allah, agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Al-Qur’an. Mereka merasa bertanggung jawab dan akan dihukum karena pikiran tersebut. Padahal anggapan itu tidak benar.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ، أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya, mengucapkannya, atau dipaksa melakukannya.” (HR. Shahih Ibnu Majah, no. 1676)Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang tidak bertanggung jawab atas pikiran yang muncul di dalam dirinya selama ia tidak mengubahnya menjadi ucapan atau perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Semakin besar rasa takut seseorang bahwa ia telah berbuat buruk kepada Allah atau Rasul-Nya melalui pikiran tersebut, semakin ia perlu memahami bahwa dirinya sedang dipaksa oleh penyakit ini dan tidak memiliki kendali penuh atas kemunculannya. Selama hatinya tetap beriman dan tenang dengan keimanan, maka waswas tersebut termasuk bentuk keterpaksaan yang tidak membuatnya berdosa. Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (QS. An-Nahl: 106)Kedua, petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika muncul waswas tentang AllahTerdapat beberapa hadits yang menjelaskan bagaimana seseorang harus bersikap ketika muncul waswas dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu tentang Allah.Hadits pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يُقَالَ: هَذَا، خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ؛ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ.“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan seluruh makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa mendapati sesuatu dari hal itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 134)Hadits kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ، حَتَّى يَقُولَ قَائِلُهُمْ: هَذَا اللَّهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ؟ فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ.“Hampir saja manusia terus bertanya-tanya hingga salah seorang di antara mereka berkata: ‘Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Jika mereka mengatakan hal itu, maka katakanlah: ‘Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’ Kemudian hendaklah ia meludah ringan ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung kepada Allah dari setan.” (HR. Ash-Shahihah dalam Shahih Al-Jami’ no. 8182)Hadits ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ.“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya ia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika ia telah sampai pada pertanyaan itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti.” (HR. Bukhari, no. 3276 dan Muslim, no. 134)Dari hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa apabila seseorang didatangi waswas semacam itu, maka hendaknya ia melakukan beberapa hal berikut:Mengucapkan: “Āmantu billāh” (Aku beriman kepada Allah).Membaca Surah Al-Ikhlas.Meludah ringan ke sebelah kiri sebanyak tiga kali, yaitu menghembuskan ludah tipis tanpa mengeluarkan air ludah yang nyata.Menghentikan waswas tersebut sama sekali, tidak melanjutkan pembahasannya, tidak terus memikirkannya, dan tidak berusaha menelusuri pertanyaan-pertanyaan itu lebih jauh.  Mengatasi OCD yang Menyebabkan Wudhu dan Mandi Terlalu LamaTerdapat beberapa hadits yang melarang pemborosan air.أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: «مَا هَذَا السَّرَفُ؟» قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ».Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Sa’ad berwudhu dengan berlebihan, beliau bersabda: “Apa pemborosan ini?”Sa’ad bertanya: “Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?”Beliau menjawab: “Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (Silsilah Ash-Shahihah, no. 3292)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan ukuran air yang cukup untuk bersuci:يُجْزِئُ مِنَ الْوُضُوءِ الْمُدُّ، وَمِنَ الْجَنَابَةِ صَاعٌ.“Satu mud cukup untuk wudhu dan satu sha’ cukup untuk mandi junub.” (Silsilah Ash-Shahihah, 4:644)Dalam makna yang sama, ada seseorang yang bertanya di hadapan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma tentang mandi. Jabir menjawab, “Satu sha’ sudah mencukupimu.”Lalu seseorang berkata, “Itu tidak cukup bagiku.”Maka Jabir menjawab, “Ukuran itu dahulu telah mencukupi orang yang rambutnya lebih lebat darimu.” (HR. Bukhari, no. 252)Yang dimaksud oleh Jabir adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau memiliki rambut yang lebih banyak dan lebih panjang daripada orang yang bertanya tersebut, namun tetap cukup mandi dengan satu sha’ air.Satu mud kira-kira setara dengan dua pertiga liter (687 ml), atau kurang lebih satu botol air minum kecil. Sedangkan satu sha’ setara dengan sekitar 2,75 liter, yaitu kurang lebih satu setengah botol air ukuran besar (masing-masing berisi 1,5 liter).Diriwayatkan pula secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu dengan air yang diletakkan dalam sebuah wadah yang ukurannya sekitar dua pertiga mud. (HR. An-Nasa’i, 1:58). Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan dua pertiga botol air kecil.Selain itu, Abu Dawud (no. 135), An-Nasa’i (no. 140), dan Ahmad (no. 6684) meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang wudhu. Lalu Nabi memperagakan wudhu dengan membasuh setiap anggota tiga kali, kemudian bersabda,هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ“Beginilah wudhu. Barang siapa menambah dari ini, maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan berbuat zalim.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى كَرَاهَةِ الزِّيَادَةِ عَلَى الثَّلَاثِ، وَالْمُرَادُ بِالثَّلَاثِ الْمُسْتَوْعِبَةِ لِلْعُضْوِ، وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَسْتَوْعِبِ الْعُضْوَ إِلَّا بِغَرْفَتَيْنِ، فَهِيَ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ“Para ulama telah bersepakat bahwa menambah basuhan lebih dari tiga kali hukumnya makruh. Yang dimaksud tiga kali adalah tiga kali yang telah mencakup seluruh anggota tubuh yang wajib dibasuh. Adapun jika suatu anggota belum terbasuh sempurna kecuali dengan dua cidukan air, maka itu tetap dihitung sebagai satu kali basuhan.”Dari hadits-hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran:Berlebihan dalam menggunakan air adalah sesuatu yang dilarang, meskipun air tersebut digunakan untuk ibadah yang sangat penting seperti wudhu untuk shalat. Bahkan larangan itu tetap berlaku meskipun airnya berasal dari sungai yang mengalir dan tidak akan habis.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan tata cara wudhu kepada umat ini juga telah mengajarkan ukuran air yang cukup untuk berwudhu. Beliau bahkan memperingatkan bahwa orang yang melampaui batas tersebut telah berbuat buruk dan zalim. Ini merupakan peringatan yang sangat serius.Sebagian tabi’in dahulu juga pernah merasa heran bagaimana mungkin jumlah air yang sedikit itu bisa mencukupi. Namun mereka dijawab bahwa ukuran tersebut dahulu telah mencukupi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia terbaik yang paling sempurna dalam bersuci. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa air sebanyak itu tidak cukup baginya untuk berwudhu. Mengatasi OCD dalam IstinjaSebagian penderita OCD mengeluhkan bahwa mereka mengalami kesulitan saat istinja (bersuci setelah buang air kecil). Banyak di antara mereka menghabiskan waktu yang lama untuk memastikan tidak ada lagi tetesan air kencing yang keluar setelah selesai buang air kecil. Sebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama sejak berabad-abad yang lalu telah membahas bentuk waswas seperti ini. Masalah ini sering dijumpai dalam pembahasan fikih thaharah ketika membahas orang yang mengalami salasul baul (keluar air kencing terus-menerus). Sebagian ahli fikih menyebutnya sebagai masalah “pemilik satu atau dua tetes air kencing”.Dalam masalah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:Waswas semacam ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan melihat secara langsung bagian yang menjadi sumber keluarnya air kencing, karena perbedaan bentuk anatomi tubuh. Organ yang digunakan untuk buang air kecil pada laki-laki berada di luar tubuh sehingga lebih mudah diamati ketika buang air kecil dan beristinja. Adapun pada perempuan, saluran keluarnya air kencing tidak mudah dilihat secara langsung. Karena itu, jika perempuan mengalami waswas, biasanya berkaitan dengan cairan vagina atau darah yang keluar dari tubuh dan terlihat pada pakaian.Secara fisik memang ada sebab yang memungkinkan keluarnya beberapa tetes cairan setelah suatu cairan melewati saluran yang sempit. Sebagai contoh, pada selang air sering kali masih ada sisa air yang menempel pada bagian dalamnya setelah digunakan. Lama-kelamaan titik-titik air tersebut berkumpul lalu membentuk tetesan yang akhirnya jatuh. Hal serupa dapat terjadi pada organ kemaluan laki-laki. Selain itu, panjang saluran kencing pada laki-laki sekitar lima kali lebih panjang daripada perempuan. Pada laki-laki dewasa panjangnya sekitar 20 cm, sedangkan pada perempuan hanya sekitar 4 cm. Karena itu, kemungkinan keluarnya sisa tetesan air kencing setelah buang air kecil lebih sering terjadi pada laki-laki, sehingga waswas jenis ini juga lebih banyak ditemukan pada mereka.Sebagian penderita waswas mengira bahwa cairan yang keluar adalah mani, madzi, atau wadi. Padahal pada umumnya yang keluar hanyalah tetesan air kencing, kecuali jika memang ada penyakit tertentu pada organ tubuh. Dalam keadaan normal, mani atau madzi—yaitu cairan bening dan lengket yang keluar setelah adanya rangsangan seksual, baik pada laki-laki maupun perempuan—tidak mungkin keluar setelah buang air kecil, karena keduanya berkaitan dengan rangsangan seksual yang disertai perubahan fisiologis tertentu. Jika cairan tersebut keluar saat buang air kecil, maka itu termasuk kondisi medis yang memerlukan penanganan. Adapun wadi, yaitu cairan putih yang tidak lengket, biasanya keluar pada kasus peradangan prostat pada laki-laki. Ini juga termasuk penyakit fisik yang ditangani oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Karena itu, cairan yang biasanya menimbulkan waswas pada kebanyakan penderita sebenarnya hanyalah tetesan air kencing, kecuali pada kasus-kasus penyakit tertentu yang memiliki pengobatan tersendiri.Berbagai cara yang dilakukan untuk menekan kandung kemih agar mengeluarkan seluruh air kencing tidak akan menghentikan keluarnya tetesan tersebut. Sebab ginjal bekerja sepanjang waktu dan terus menghasilkan air kencing dalam bentuk tetesan-tetesan kecil yang kemudian terkumpul di kandung kemih hingga penuh. Setelah itu muncullah dorongan untuk buang air kecil dan seseorang secara sadar membuka saluran keluarnya air kencing sehingga air kencing keluar. Ketika seseorang masih duduk di kamar mandi, pada hakikatnya saluran tersebut masih terbuka sehingga setiap tetesan baru yang dihasilkan ginjal dapat langsung keluar. Proses ini berlangsung terus-menerus dan tidak berhenti. Oleh karena itu, berbagai tindakan untuk memaksa keluarnya seluruh tetesan air kencing tidak memiliki manfaat. Bahkan tindakan tersebut justru semakin menguatkan waswas, karena setiap kali penderita menemukan tetesan baru, ia merasa harus lebih berhati-hati lagi.Terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan solusi praktis terhadap masalah ini. Solusi tersebut merupakan sunnah yang banyak ditinggalkan, baik oleh orang yang sehat maupun oleh penderita waswas, yaitu memercikkan air pada pakaian bagian luar di sekitar kemaluan setelah berwudhu. Sebagian ulama berpendapat bahwa percikan air tersebut dilakukan pada kemaluan itu sendiri. Baik yang dimaksud adalah kemaluan maupun pakaian di sekitarnya, keduanya menunjukkan bahwa memercikkan air setelah bersuci adalah amalan yang dianjurkan dan hikmahnya sangat jelas.Disebutkan dalam hadits bahwa Al-Hakam bin Sufyan Ats-Tsaqafi melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau mengambil segenggam air dan memercikkannya ke kemaluannya. (HR. Ibnu Majah no. 379 dan An-Nasa’i no. 134).Para ulama menjelaskan hadits tersebut dengan mengatakan: “Yaitu beliau memercikkan air tersebut untuk menghilangkan waswas dan sebagai pengajaran bagi umat.”Perhatikanlah sunnah ini. Amalannya sangat sederhana, namun memiliki pengaruh yang besar dalam mencegah waswas. Ketika seseorang yang mengalami waswas merasakan adanya kelembapan setelah bersuci, ia dapat mengatakan kepada dirinya bahwa itu hanyalah bekas percikan air tersebut. Dengan demikian, waswas pun menjadi lebih mudah ditolak.Adapun mengenai hukum mencuci pakaian yang terkena najis dalam jumlah yang sangat sedikit, para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang hal itu dan juga tentang ukuran najis yang dianggap sedikit. Jika najis tersebut sangat kecil, seperti setitik air kencing atau wadi, maka ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa tidak wajib mencucinya. Ulama Malikiyah juga memiliki pendapat yang serupa dalam keadaan yang sulit dihindari, seperti bekas yang sangat kecil akibat lalat yang hinggap pada kotoran atau air kencing. Sementara ulama Hanafiyah berpendapat bahwa najis berat yang ditetapkan berdasarkan dalil yang pasti, seperti darah, air kencing, dan khamr, dimaafkan apabila ukurannya tidak melebihi satu dirham. Namun ada pula ulama lain yang berbeda pendapat dalam masalah ini.Karena itu, penderita OCD atau waswas boleh mengambil pendapat yang paling ringan dalam masalah ini, karena termasuk masalah khilaf yang masih dianggap sah oleh para ulama dan ia termasuk orang yang memiliki uzur dalam persoalan tersebut. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Menghadirkan Niat, Terutama dalam ShalatOrang yang mengalami waswas dalam niat merasa bahwa dirinya belum menghadirkan niat untuk shalat. Karena itu, ia menghabiskan waktu yang lama untuk menghadirkan dan memperbarui niat tersebut berulang-ulang. Hal ini terjadi karena ia belum memahami makna niat dan cara menghadirkannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 3429)Beliau juga bersabda,وَلَا عَمَلَ إِلَّا بِنِيَّةٍ.“Tidak ada amal kecuali dengan niat.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2415)Maksud hadits-hadits tersebut adalah bahwa setiap perbuatan pasti disertai niat. Tidak mungkin ada suatu perbuatan tanpa niat. Karena itu, tidak mungkin seseorang telah berdiri untuk shalat dan mulai melaksanakan shalat, sementara ia tidak berniat shalat. Hal itu mustahil, baik menurut syariat maupun menurut akal.Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah keikhlasan niat karena Allah. Artinya, seseorang shalat karena Allah, bukan karena riya atau karena takut kepada manusia. Hal ini dapat dipahami dari bagian akhir hadits pertama:“Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.”Hijrah adalah suatu perbuatan. Orang yang berhijrah pasti memiliki niat untuk berhijrah. Akan tetapi yang lebih penting adalah bahwa hijrahnya dilakukan semata-mata karena Allah.Demikian pula orang yang berdiri untuk melaksanakan shalat Zhuhur, maka sudah pasti ia memiliki niat bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat Zhuhur yang wajib karena Allah. Tidak mungkin ia berdiri dan memulai shalat tersebut tanpa memiliki niat untuk melaksanakannya. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Takbiratul IhramSebelumnya telah disebutkan bahwa para ulama terdahulu telah membahas orang-orang yang mengalami waswas dalam takbiratul ihram. Di antara mereka ada yang mengulang takbir lebih dari sekali karena mengira bahwa takbirnya belum sah. Ada pula yang memutus-mutus lafaz takbir ketika mengucapkannya sehingga berkata, “Allāhu Akkkbar.”Akar masalah ini sebenarnya kembali kepada masalah niat yang telah dijelaskan sebelumnya, serta anggapan bahwa jika ia salah mengangkat tangan atau salah mengucapkan takbir, maka ia belum masuk ke dalam shalat.Adapun mengenai mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir, terkadang setelah takbir, dan terkadang sebelum takbir. Beliau juga terkadang mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya.Karena itu, dalam masalah ini terdapat kelonggaran. Seseorang boleh melakukan salah satu dari bentuk-bentuk tersebut dan semuanya diterima.Adapun lafaz takbir, yang perlu dilakukan oleh orang yang shalat adalah tidak memusatkan perhatian secara berlebihan pada cara mengucapkannya. Terlalu fokus pada sesuatu yang sebenarnya mudah dan biasa justru akan membuatnya menjadi sulit. Sebagaimana seseorang berbicara dalam percakapan sehari-hari tanpa memikirkan secara rinci setiap kata yang keluar dari lisannya, demikian pula takbiratul ihram. Kata-katanya termasuk ungkapan yang sederhana dan dapat diucapkan secara langsung.Masalah yang lebih besar yang menimpa orang yang mengulang-ulang takbir adalah bahwa ia biasanya terjatuh ke dalam salah satu dari dua kesalahan berikut:Pertama, ia menganggap dirinya sudah masuk ke dalam shalat. Jika demikian, maka pengulangan takbir yang ia lakukan setelahnya termasuk gerakan tambahan yang tidak diperlukan dan tidak disyariatkan dalam shalat, sehingga tidak dibenarkan.Kedua, ia menganggap dirinya belum masuk ke dalam shalat, padahal niat dan takbirnya yang pertama sudah memasukkannya ke dalam shalat. Akibatnya, ia bertindak sebagaimana orang yang masih berada di luar shalat, padahal sebenarnya ia sudah berada di dalam shalat.Bahkan ada sebagian orang yang bertakbir, kemudian mengucapkan salam untuk keluar dari shalat, lalu bertakbir lagi untuk masuk ke dalam shalat. Dengan demikian ia terjatuh ke dalam kesalahan lain, yaitu keluar dari shalat tanpa alasan dan tanpa kebutuhan yang dibenarkan, padahal hal itu tidak diperbolehkan. Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Keraguan dalam Menghitung RakaatDisebutkan dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’ (2/299):“Adapun orang yang mengalami waswas, maka keraguannya tidak dianggap. Karena itu, penyair berkata:وَالشَّكُّ بَعْدَ الْفِعْلِ لَا يُؤَثِّرُ … وَهَكَذَا إِذَا الشُّكُوكُ تَكْثُرُفَإِذَا كَثُرَتِ الشُّكُوكُ، فَهَذَا وَسْوَاسٌ لَا يُعْتَدُّ بِهِ.Keraguan setelah suatu perbuatan tidak berpengaruh,Demikian pula jika keraguan itu terlalu sering terjadi.Jika keraguan telah sering terjadi, maka itu termasuk waswas yang tidak perlu diperhatikan.”Disebutkan pula dalam Mathalib Uli An-Nuha (1:507):“Tidak disyariatkan sujud sahwi apabila keraguan sudah sering terjadi hingga menyerupai waswas. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mengabaikannya. Demikian pula jika keraguan sering terjadi dalam wudhu, mandi, menghilangkan najis, atau tayamum, maka ia harus mengabaikannya. Sebab jika keraguan tersebut diikuti, seseorang akan terjatuh pada bentuk sikap yang berlebihan dan memaksakan diri. Hal itu dapat mengakibatkan penambahan dalam shalat, padahal ia sebenarnya telah yakin bahwa shalatnya telah sempurna. Karena itu, keraguan tersebut wajib ditinggalkan dan tidak dipedulikan.” Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Batalnya Wudhu Saat ShalatSebagian penderita OCD merasa bahwa wudhunya telah batal ketika sedang shalat. Akibatnya, ia menganggap dirinya telah keluar dari shalat sehingga harus pergi berwudhu kembali dan mengulang shalatnya. Perilaku ini terus berulang.Terdapat hadits-hadits yang membimbing kita tentang cara bersikap yang benar dalam keadaan seperti ini. Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang merasakan sesuatu ketika sedang shalat, apakah ia harus membatalkan shalatnya?Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:لَا، حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا.“Tidak, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Bukhari, no. 137)Maksud hadits ini adalah bahwa apabila seseorang merasa seakan-akan telah berhadas atau mengeluarkan angin ketika sedang shalat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan dua tanda yang jelas agar seseorang benar-benar yakin bahwa wudhunya telah batal, yaitu mendengar suara atau mencium bau. Jika salah satu dari dua tanda tersebut tidak ada, maka ia tidak boleh keluar dari shalatnya dan harus melanjutkan shalat tersebut hingga selesai.Diriwayatkan pula dari banyak sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, serta dari para tabi’in seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, dan Mujahid, bahwa mereka melarang seseorang meninggalkan shalat hanya karena merasa ada tetesan air kencing yang keluar.Bahkan Mujahid berkata:لَأَنْ أُصَلِّيَ وَقَدْ خَرَجَ مِنِّي شَيْءٌ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُطِيعَ الشَّيْطَانَ.“Aku lebih suka tetap shalat meskipun ada sesuatu yang keluar dariku daripada menaati setan.” (Dzamm Al-Muwaswisin, 80)Sa’id menjawab,إِنِّي لَأَجِدُ الْبَلَلَ وَأَنَا أُصَلِّي، أَفَأَنْصَرِفُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: «لَوْ سَالَ عَلَى فَخِذِي مَا انْصَرَفْتُ حَتَّى أَقْضِيَ صَلَاتِي».“Seandainya cairan itu mengalir di pahaku, aku tetap tidak akan membatalkan shalat sampai aku menyelesaikannya.” (Syarh As-Sunnah, 1:355) Mengatasi OCD yang Berkaitan dengan Ucapan TalakContohnya adalah seseorang mengira bahwa dirinya telah mengucapkan talak, padahal sebenarnya ia tidak bermaksud menceraikan istrinya.Manusia dibebani hukum dan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang sengaja ia lakukan dengan pilihan dan kehendaknya sendiri secara penuh. Adapun bisikan dan waswas yang muncul dalam dirinya tidak menjadi sebab seseorang dihukum, kecuali jika bisikan tersebut berubah menjadi perbuatan yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.Sebelumnya telah disebutkan hadits,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ.“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh hati mereka selama mereka belum melakukannya atau mengucapkannya.”Perbuatan atau ucapan adalah sesuatu yang dapat disaksikan oleh seseorang dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, apabila seseorang mengira bahwa dirinya telah melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu di hadapan orang lain, sementara orang-orang di sekitarnya mengingkari bahwa ia telah melakukannya atau mengucapkannya, maka hal itu hanyalah prasangka dan khayalan dari dirinya sendiri. Ia tidak dihukum karenanya dan tidak berlaku konsekuensi hukum apa pun atasnya.Bahkan menurut sebagian ulama, orang yang tertimpa OCD tidak jatuh talaknya meskipun ia mengucapkan lafaz talak, selama ia tidak benar-benar bermaksud menceraikan istrinya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata. “Orang yang tertimpa waswas tidak jatuh talaknya, meskipun ia mengucapkannya dengan lisannya, selama ia tidak bermaksud menjatuhkan talak. Sebab lafaz yang keluar dari lisan orang yang mengalami waswas terjadi tanpa tujuan dan tanpa kehendak. Ia berada dalam keadaan tertekan dan terdorong melakukannya karena kuatnya dorongan dan lemahnya kemampuan untuk menolaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada talak dalam keadaan tertutup (terpaksa atau kehilangan kendali).’ Karena itu, talak tidak jatuh darinya selama ia tidak menghendakinya dengan kehendak yang sungguh-sungguh dan tenang. Sesuatu yang terjadi karena paksaan tanpa tujuan dan tanpa pilihan tidak menyebabkan jatuhnya talak.”Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya PenegasanSebagai penegasan terakhir, perlu ditegaskan bahwa menggabungkan penggunaan obat-obatan anti-OCD dengan berbagai metode terapi psikologis merupakan pendekatan yang terbukti memberikan keberhasilan yang nyata dalam menangani gangguan obsesif-kompulsif (OCD).Keberhasilan terapi akan semakin besar apabila terapis dan dokter mampu memilih obat yang tepat, dosis yang sesuai, serta terapi perilaku yang cocok dengan metode yang tepat. Hal ini karena setiap orang memiliki perbedaan dalam menerima pengobatan. Demikian pula, dosis yang sesuai bagi satu orang belum tentu sesuai bagi orang lain. Begitu juga dengan terapi perilaku dan terapi kognitif; metode yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi orang lain.Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya Nasihat PenutupJangan mudah menuduh penderita OCD sebagai orang yang lemah iman, karena sebagian waswas muncul tanpa kehendak dan menjadi ujian yang berat. Namun, penderita juga tidak boleh pasrah; ia perlu menempuh sebab kesembuhan dengan ilmu, dzikir, terapi, dan bantuan ahli. Syariat Islam dibangun di atas kemudahan, bukan untuk menyiksa orang yang sedang berjuang melawan penyakit. Semakin waswas dilayani, semakin kuat ia tumbuh; semakin diabaikan dengan cara yang benar, semakin lemah pengaruhnya.اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًاAllahumma Rabb an-nās, adzhibil ba’sa, wasyfi Antasy-Syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yughadiru saqaman.Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit. Referensi utama tulisan ini: Islamqa – Al-Waswasah Al-QahriBaca Juga:Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara MengobatinyaRagu dalam Shalat, Sujud Sahwi Sebelum ataukah Bakda Salam?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety Fikih Shalat fikih thaharah gangguan kesehatan mental kaidah fikih kesehatan mental Islam niat shalat OCD terapi OCD waswas waswas setan waswas talak

Setengah Penghuni Surga dari Umat Nabi Muhammad ﷺ?

Tahukah Anda bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan harapan besar tentang jumlah penghuni surga dari umat beliau? Kabar gembira ini membuat para sahabat bergembira dan semakin bersyukur kepada Allah. Namun di balik kabar tersebut, ada pelajaran penting tentang hakikat kebenaran, sedikitnya orang yang berpegang teguh pada iman, dan besarnya nikmat menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Nasihat Penutup 4. Referensi  Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٠/٤٣١ ــ وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي قُبَّةٍ نَحْوًا مِنْ أَرْبَعِينَ رَجُلًا، فَقَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ، أَوْ كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah qubbah (kemah kecil yang berbentuk bundar) bersama sekitar empat puluh orang.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi setengah dari penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang berserah diri (muslim). Kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik hanyalah seperti sehelai rambut putih pada kulit sapi yang hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit sapi yang merah.’ (HR. Bukhari, 11:378  dan Muslim, no. 221, 377)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Faedah HaditsSurga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang beriman dan berserah diri kepada Allah.Orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghuni surga yang paling banyak. Ini menunjukkan kedudukan mulia umat yang dirahmati ini di sisi Allah Ta‘ala.Jumlah orang beriman sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang kafir. Karena itu, seorang mukmin yang memiliki pandangan yang benar tidak menilai suatu perkara berdasarkan banyaknya pengikut, tetapi mengenali kebenaran berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat Allah Rabb semesta alam dan petunjuk generasi terdahulu yang saleh.Memberikan kabar gembira secara bertahap dan mengulanginya berkali-kali lebih mendorong seseorang untuk terus memperbarui rasa syukur kepada Allah.Boleh bersumpah tanpa diminta untuk menegaskan suatu berita yang penting.Dianjurkan menggunakan perumpamaan agar suatu makna lebih mudah dipahami oleh pendengar. Nasihat PenutupDi zaman media sosial, banyak orang mengira bahwa kebenaran selalu berada di pihak yang paling ramai dan paling populer. Padahal, seorang mukmin diperintahkan untuk mengikuti dalil, bukan mengikuti arus mayoritas. Jangan merasa asing ketika berusaha berpegang teguh pada sunnah, karena jalan para nabi dan orang saleh memang sering ditempuh oleh sedikit manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk penghuni surga yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالسُّنَّةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.Allahumma ij‘alnā min ahlil-jannah, wa tsabbitnā ‘alal-īmāni was-sunnah, wakhtim lanā bil-husnā.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga, teguhkanlah kami di atas iman dan sunnah, serta tutuplah hidup kami dengan akhir yang baik.Baca juga: Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsar raja hadis riyadhus shalihin iman kajian hadis motivasi Islam penghuni surga riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah surga tauhid umat nabi muhammad

Setengah Penghuni Surga dari Umat Nabi Muhammad ﷺ?

Tahukah Anda bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan harapan besar tentang jumlah penghuni surga dari umat beliau? Kabar gembira ini membuat para sahabat bergembira dan semakin bersyukur kepada Allah. Namun di balik kabar tersebut, ada pelajaran penting tentang hakikat kebenaran, sedikitnya orang yang berpegang teguh pada iman, dan besarnya nikmat menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Nasihat Penutup 4. Referensi  Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٠/٤٣١ ــ وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي قُبَّةٍ نَحْوًا مِنْ أَرْبَعِينَ رَجُلًا، فَقَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ، أَوْ كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah qubbah (kemah kecil yang berbentuk bundar) bersama sekitar empat puluh orang.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi setengah dari penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang berserah diri (muslim). Kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik hanyalah seperti sehelai rambut putih pada kulit sapi yang hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit sapi yang merah.’ (HR. Bukhari, 11:378  dan Muslim, no. 221, 377)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Faedah HaditsSurga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang beriman dan berserah diri kepada Allah.Orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghuni surga yang paling banyak. Ini menunjukkan kedudukan mulia umat yang dirahmati ini di sisi Allah Ta‘ala.Jumlah orang beriman sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang kafir. Karena itu, seorang mukmin yang memiliki pandangan yang benar tidak menilai suatu perkara berdasarkan banyaknya pengikut, tetapi mengenali kebenaran berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat Allah Rabb semesta alam dan petunjuk generasi terdahulu yang saleh.Memberikan kabar gembira secara bertahap dan mengulanginya berkali-kali lebih mendorong seseorang untuk terus memperbarui rasa syukur kepada Allah.Boleh bersumpah tanpa diminta untuk menegaskan suatu berita yang penting.Dianjurkan menggunakan perumpamaan agar suatu makna lebih mudah dipahami oleh pendengar. Nasihat PenutupDi zaman media sosial, banyak orang mengira bahwa kebenaran selalu berada di pihak yang paling ramai dan paling populer. Padahal, seorang mukmin diperintahkan untuk mengikuti dalil, bukan mengikuti arus mayoritas. Jangan merasa asing ketika berusaha berpegang teguh pada sunnah, karena jalan para nabi dan orang saleh memang sering ditempuh oleh sedikit manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk penghuni surga yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالسُّنَّةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.Allahumma ij‘alnā min ahlil-jannah, wa tsabbitnā ‘alal-īmāni was-sunnah, wakhtim lanā bil-husnā.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga, teguhkanlah kami di atas iman dan sunnah, serta tutuplah hidup kami dengan akhir yang baik.Baca juga: Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsar raja hadis riyadhus shalihin iman kajian hadis motivasi Islam penghuni surga riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah surga tauhid umat nabi muhammad
Tahukah Anda bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan harapan besar tentang jumlah penghuni surga dari umat beliau? Kabar gembira ini membuat para sahabat bergembira dan semakin bersyukur kepada Allah. Namun di balik kabar tersebut, ada pelajaran penting tentang hakikat kebenaran, sedikitnya orang yang berpegang teguh pada iman, dan besarnya nikmat menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Nasihat Penutup 4. Referensi  Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٠/٤٣١ ــ وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي قُبَّةٍ نَحْوًا مِنْ أَرْبَعِينَ رَجُلًا، فَقَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ، أَوْ كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah qubbah (kemah kecil yang berbentuk bundar) bersama sekitar empat puluh orang.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi setengah dari penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang berserah diri (muslim). Kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik hanyalah seperti sehelai rambut putih pada kulit sapi yang hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit sapi yang merah.’ (HR. Bukhari, 11:378  dan Muslim, no. 221, 377)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Faedah HaditsSurga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang beriman dan berserah diri kepada Allah.Orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghuni surga yang paling banyak. Ini menunjukkan kedudukan mulia umat yang dirahmati ini di sisi Allah Ta‘ala.Jumlah orang beriman sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang kafir. Karena itu, seorang mukmin yang memiliki pandangan yang benar tidak menilai suatu perkara berdasarkan banyaknya pengikut, tetapi mengenali kebenaran berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat Allah Rabb semesta alam dan petunjuk generasi terdahulu yang saleh.Memberikan kabar gembira secara bertahap dan mengulanginya berkali-kali lebih mendorong seseorang untuk terus memperbarui rasa syukur kepada Allah.Boleh bersumpah tanpa diminta untuk menegaskan suatu berita yang penting.Dianjurkan menggunakan perumpamaan agar suatu makna lebih mudah dipahami oleh pendengar. Nasihat PenutupDi zaman media sosial, banyak orang mengira bahwa kebenaran selalu berada di pihak yang paling ramai dan paling populer. Padahal, seorang mukmin diperintahkan untuk mengikuti dalil, bukan mengikuti arus mayoritas. Jangan merasa asing ketika berusaha berpegang teguh pada sunnah, karena jalan para nabi dan orang saleh memang sering ditempuh oleh sedikit manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk penghuni surga yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالسُّنَّةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.Allahumma ij‘alnā min ahlil-jannah, wa tsabbitnā ‘alal-īmāni was-sunnah, wakhtim lanā bil-husnā.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga, teguhkanlah kami di atas iman dan sunnah, serta tutuplah hidup kami dengan akhir yang baik.Baca juga: Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsar raja hadis riyadhus shalihin iman kajian hadis motivasi Islam penghuni surga riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah surga tauhid umat nabi muhammad


Tahukah Anda bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan harapan besar tentang jumlah penghuni surga dari umat beliau? Kabar gembira ini membuat para sahabat bergembira dan semakin bersyukur kepada Allah. Namun di balik kabar tersebut, ada pelajaran penting tentang hakikat kebenaran, sedikitnya orang yang berpegang teguh pada iman, dan besarnya nikmat menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ.  Daftar Isi tutup 1. Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Nasihat Penutup 4. Referensi  Hadits 20/431 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٠/٤٣١ ــ وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي قُبَّةٍ نَحْوًا مِنْ أَرْبَعِينَ رَجُلًا، فَقَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟» قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ، أَوْ كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah qubbah (kemah kecil yang berbentuk bundar) bersama sekitar empat puluh orang.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi seperempat penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Apakah kalian rela menjadi sepertiga penghuni surga?’ Kami menjawab, ‘Ya.’Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi setengah dari penghuni surga. Hal itu karena surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang berserah diri (muslim). Kalian dibandingkan dengan orang-orang musyrik hanyalah seperti sehelai rambut putih pada kulit sapi yang hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada kulit sapi yang merah.’ (HR. Bukhari, 11:378  dan Muslim, no. 221, 377)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Faedah HaditsSurga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang beriman dan berserah diri kepada Allah.Orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghuni surga yang paling banyak. Ini menunjukkan kedudukan mulia umat yang dirahmati ini di sisi Allah Ta‘ala.Jumlah orang beriman sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang kafir. Karena itu, seorang mukmin yang memiliki pandangan yang benar tidak menilai suatu perkara berdasarkan banyaknya pengikut, tetapi mengenali kebenaran berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat Allah Rabb semesta alam dan petunjuk generasi terdahulu yang saleh.Memberikan kabar gembira secara bertahap dan mengulanginya berkali-kali lebih mendorong seseorang untuk terus memperbarui rasa syukur kepada Allah.Boleh bersumpah tanpa diminta untuk menegaskan suatu berita yang penting.Dianjurkan menggunakan perumpamaan agar suatu makna lebih mudah dipahami oleh pendengar. Nasihat PenutupDi zaman media sosial, banyak orang mengira bahwa kebenaran selalu berada di pihak yang paling ramai dan paling populer. Padahal, seorang mukmin diperintahkan untuk mengikuti dalil, bukan mengikuti arus mayoritas. Jangan merasa asing ketika berusaha berpegang teguh pada sunnah, karena jalan para nabi dan orang saleh memang sering ditempuh oleh sedikit manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk penghuni surga yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالسُّنَّةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.Allahumma ij‘alnā min ahlil-jannah, wa tsabbitnā ‘alal-īmāni was-sunnah, wakhtim lanā bil-husnā.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga, teguhkanlah kami di atas iman dan sunnah, serta tutuplah hidup kami dengan akhir yang baik.Baca juga: Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.Baca Juga:Amalan yang Paling Banyak Membuat Masuk Surga70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsar raja hadis riyadhus shalihin iman kajian hadis motivasi Islam penghuni surga riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap sunnah surga tauhid umat nabi muhammad

Sudah Salat, Tapi Masih Depresi? Inilah Jawaban Islam

Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.

Sudah Salat, Tapi Masih Depresi? Inilah Jawaban Islam

Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.
Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.


Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.

Apakah Nabi Muhammad ﷺ Miskin atau Kaya?

Banyak orang mengira Rasulullah ﷺ selalu hidup dalam kemiskinan. Padahal terdapat hadis sahih yang menunjukkan bahwa beliau memiliki ternak, tanah, dan harta yang cukup untuk menjamu tamu serta memenuhi kebutuhan keluarganya. Lalu bagaimana cara memahami hadis-hadis yang menyebutkan bahwa berbulan-bulan tidak ada api yang menyala di rumah beliau? Jawabannya akan membuka pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan Nabi ﷺ dan hakikat zuhud yang sebenarnya.  Daftar Isi tutup 1. Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan Ternak 2. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat Sederhana 3. Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak Berbeda 4. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan Berkecukupan 5. Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan Cukup 6. Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya? 7. Nasihat Penutup 7.1. Catatan tentang harta fai’  Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan TernakHadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (26/309), Abu Dawud (142), Ibnu Hibban dalam Al-Ihsan (3/332), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/110), dan lainnya, dari Ismail bin Katsir Abu Hasyim Al-Makki, dari Ashim bin Laqith bin Shabirah, dari ayahnya, Laqith bin Shabirah, ia berkata:“Aku adalah utusan Bani Al-Muntafiq—atau termasuk dalam rombongan utusan Bani Al-Muntafiq—yang datang menemui Rasulullah ﷺ. Ketika kami tiba di tempat Rasulullah ﷺ, kami tidak menjumpai beliau di rumahnya. Kami justru bertemu dengan Aisyah Ummul Mukminin. Beliau memerintahkan agar dibuatkan untuk kami khazirah (sejenis makanan dari daging dan tepung), lalu makanan itu pun disiapkan untuk kami. Kemudian kami dibawakan sebuah qina’ (nampan berisi kurma).Lalu Rasulullah ﷺ datang dan bertanya,‘Apakah kalian sudah mendapatkan sesuatu untuk dimakan? Atau sudah diperintahkan sesuatu untuk kalian?’Kami menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang penggembala menggiring kambing-kambingnya ke kandang. Bersamanya ada seekor anak kambing yang mengembik. Rasulullah ﷺ bertanya,‘Apa yang baru dilahirkan, wahai fulan?’Ia menjawab, ‘Seekor anak kambing.’Beliau bersabda,‘Sembelihlah untuk kami seekor kambing sebagai gantinya.’Kemudian beliau bersabda,‘Jangan engkau mengira—beliau tidak mengatakan “jangan kalian mengira”—bahwa kami menyembelih kambing itu karena dirimu. Kami memiliki seratus ekor kambing dan tidak ingin jumlahnya bertambah. Jika penggembala mendapatkan seekor anak kambing yang lahir, kami menyembelih seekor kambing sebagai gantinya.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang lisannya memiliki sesuatu (maksudnya suka berkata kasar).’Beliau bersabda,‘Kalau begitu, ceraikanlah dia.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku telah lama hidup bersamanya dan aku juga memiliki anak darinya.’Beliau bersabda,‘Perintahkanlah dia (kepada kebaikan), nasihatilah dia. Jika memang ada kebaikan pada dirinya, ia akan melakukannya. Dan janganlah engkau memukul istrimu sebagaimana engkau memukul budak perempuanmu.’Aku lalu berkata,‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudu.’Beliau bersabda,‘Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jari, dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.’”Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Adz-Dzahabi menyetujuinya. Para peneliti Musnad Ahmad juga menilai sanadnya sahih. Demikian pula Al-Albani menilainya sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud.Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki makanan yang dapat dimakan dan dimasak, serta memiliki sesuatu yang cukup untuk menjamu tamu. Sekilas hal ini tampak bertentangan dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa keluarga Nabi ﷺ hidup dalam keadaan sangat sederhana, sampai-sampai berbulan-bulan berlalu tanpa ada masakan yang dibuat di rumah beliau. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat SederhanaSebagaimana dalam hadis Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata kepada Urwah:“Wahai anak saudariku, sungguh kami pernah melihat tiga kali bulan sabit dalam dua bulan, sementara tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah ﷺ.”Urwah bertanya,“Lalu dengan apa kalian hidup?”Aisyah menjawab,“Dengan dua yang hitam, yaitu kurma dan air. Hanya saja Rasulullah ﷺ memiliki tetangga dari kalangan Anshar yang mempunyai hewan perah. Mereka biasa memberikan susu dari hewan-hewan mereka kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberi kami minum.” (HR. Bukhari no. 6459 dan Muslim no. 2972)Dalam riwayat lain disebutkan:“Pernah sebulan penuh berlalu tanpa kami menyalakan api. Makanan kami hanyalah kurma dan air, kecuali jika ada sedikit daging yang diberikan kepada kami.” (HR. Bukhari no. 6458 dan Muslim no. 2972) Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak BerbedaCara menggabungkan berbagai riwayat ini adalah dengan mengatakan bahwa selama tinggal di Madinah, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada tahun-tahun awal hijrah, kehidupan sangat sulit. Banyak kaum Muhajirin berada dalam kemiskinan, bahkan kurma pun tidak melimpah. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi, harta mulai bertambah. Ketika Khaibar ditaklukkan, misalnya, kurma menjadi jauh lebih banyak.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:“Ketika Khaibar ditaklukkan, kami berkata, ‘Sekarang kami akan kenyang dengan kurma.’” (HR. Bukhari no. 4242)Setelah itu, penaklukan demi penaklukan terus terjadi. Harta berupa ternak dan berbagai kekayaan lainnya semakin banyak. Kaum muslimin pun memperoleh kelapangan hidup, demikian pula Nabi ﷺ.Adapun rombongan Bani Al-Muntafiq yang di dalamnya terdapat Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, para ulama menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada Tahun Delegasi (‘Amul Wufud), yaitu tahun kesembilan atau kesepuluh Hijriah, menjelang akhir kehidupan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan BerkecukupanIbnu Qutaibah rahimahullah berkata:“Karena ketika Allah mewafatkan beliau, beliau berada dalam keadaan kaya dan berkecukupan melalui harta yang Allah karuniakan kepada beliau, meskipun beliau tidak pernah menumpuk satu dirham di atas dirham lainnya.Tidak tepat dikatakan bahwa seseorang yang meninggalkan kebun-kebun di Madinah, berbagai harta, dan tanah Fadak, meninggal dalam keadaan miskin. Allah Ta’ala berfirman:‘Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu tidak mengetahui jalan lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu miskin lalu Dia memberi kecukupan.’ (Adh-Dhuha: 6–8)Kata ‘aail berarti orang miskin, baik memiliki tanggungan maupun tidak. Sedangkan mu‘il berarti orang yang memiliki tanggungan, baik memiliki harta maupun tidak.Keadaan Nabi ﷺ ketika diutus dan ketika wafat menunjukkan kebenaran firman Allah tersebut. Beliau diutus dalam keadaan miskin dan diwafatkan dalam keadaan kaya.” (Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits, hlm. 248) Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan CukupAl-Qurthubi rahimahullah berkata:“Jangan dikatakan bahwa keadaan Rasulullah ﷺ adalah kemiskinan yang sangat berat sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis. Beliau pernah menahan lapar berhari-hari, tidak kenyang selama dua hari berturut-turut, mengikat batu di perutnya karena lapar, hanya memiliki satu pakaian, dan ketika pakaian itu dicuci beliau menunggu sampai kering. Bahkan ketika wafat, baju besinya masih tergadaikan untuk mendapatkan gandum bagi keluarganya. Beliau juga tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing, ataupun unta. Semua ini menunjukkan kemiskinan yang sangat berat.Jawabannya, Nabi ﷺ telah merasakan tiga keadaan sekaligus: kemiskinan, kekayaan, dan kecukupan.Pada awal kehidupannya, beliau mengalami kemiskinan sebagai bentuk latihan dan pendidikan jiwa. Setelah itu Allah memberi beliau kemampuan menguasai dunia, namun beliau tidak tertarik kepadanya. Berbagai penaklukan dan harta datang kepada beliau, tetapi beliau tidak berpaling kepadanya. Beliau bahkan bersabda:‘Aku tidak memiliki bagian dari harta fai’ yang Allah berikan kepada kalian kecuali seperlima, dan seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian.’Ini adalah keadaan orang kaya yang bersyukur.Kemudian beliau hanya mengambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Beliau memiliki tanah di Khaibar dan mengambil darinya kebutuhan keluarganya selama setahun. Dengan demikian, beliau tidak lagi berada dalam kemiskinan yang sangat berat, dan tercapailah kecukupan yang beliau mohonkan dalam doanya.Ketika menjelang wafat, beliau menjadikan tanah itu sebagai wakaf bagi keluarganya agar kecukupan tersebut terus berlanjut untuk mereka sebagaimana yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.” (Al-Mufhim, 7/130–131)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi awal umat ini ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Dzar Al-Ghifari.Dan ada pula yang merasakan keduanya: kadang kaya dan kadang miskin, sehingga menggabungkan syukur orang kaya dan kesabaran orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” (Majmu’ Al-Fatawa, 11/124)Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya:“Bukankah Rasulullah ﷺ memiliki harta dari harta fai’ yang Allah berikan kepadanya?”Beliau menjawab:“Kadang ada dan kadang tidak. Terkadang harta terkumpul dalam jumlah banyak, seperti setelah pengusiran Bani Nadhir. Saat itu beliau memperoleh harta yang cukup banyak. Beliau menyisihkan nafkah keluarganya untuk setahun, sedangkan sisanya digunakan untuk membeli kuda dan persenjataan sebagai persiapan jihad di jalan Allah. Namun terkadang banyak tamu dan utusan yang datang sehingga beliau memberikannya kepada mereka, akibatnya harta yang tersisa menjadi sedikit.” (Fatawa Ad-Durus)Hadits-hadits sahih yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah mengalami kesulitan hidup dan kekurangan makanan tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa beliau memiliki harta dan sebagian kepemilikan.Sebab, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada awal masa tinggal beliau di Madinah, harta masih sedikit dan kehidupan cukup sempit. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi dan wilayah Islam semakin luas, Allah Ta’ala melimpahkan rezeki kepada beliau sehingga harta bertambah dan kehidupan menjadi lebih lapang. Wallahu a‘lam.Referensi: Islamqa.Com Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya?Nabi ﷺ berasal dari Bani Hasyim. Bani Hasyim adalah pemimpin Quraisy di Makkah, sedangkan Quraisy merupakan suku Arab yang paling pertengahan kedudukannya dan paling mulia nasabnya. Di kalangan Bani Hasyim ada yang kaya raya dan ada pula yang keadaannya di bawah itu.Adapun Nabi ﷺ, beliau tidak termasuk golongan orang-orang kaya yang memiliki banyak harta. Namun demikian, tidak salah orang yang menafikan sifat fakir dari beliau, yaitu fakir dalam arti membutuhkan makhluk. Sebab Allah Ta’ala telah mencukupkan beliau dengan karunia-Nya.Tajuddin As-Subki berkata dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah:“Aku berkali-kali mendengar dari guruku, yaitu ayahku rahimahullah—dan inilah keyakinanku—bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir sama sekali dan tidak pernah berada dalam keadaan sebagaimana orang-orang fakir. Bahkan beliau adalah manusia yang paling kaya dengan Allah. Allah Ta’ala telah mencukupi urusan dunia beliau, diri beliau, keluarga beliau, dan penghidupan beliau.Aku masih ingat bahwa guruku rahimahullah pernah mengusir dari majelisnya seseorang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah orang fakir. Beliau marah dengan sangat keras dan hampir saja menghukumnya. Orang itu tidak selamat kecuali setelah bertobat dan menarik ucapannya.Beliau juga berkata tentang doa Nabi ﷺ:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا‘Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin.’Yang dimaksud dengan doa ini adalah kerendahan hati dan ketundukan hati, bukan kemiskinan dalam arti tidak memiliki kecukupan hidup.Beliau sangat keras mengingkari orang yang meyakini bahwa Nabi ﷺ miskin dalam arti kekurangan harta. Dan kebenaran memang bersamanya.Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir dari sisi harta dan tidak pula miskin. Akan tetapi, beliau adalah manusia yang paling banyak merendahkan diri kepada Rabbnya, paling tunduk kepada-Nya, paling kuat menampakkan kebutuhan kepada-Nya, dan paling merendahkan diri di hadapan-Nya.” Selesai.Penafian sifat fakir dari Nabi ﷺ ini ditinjau dari keadaan beliau yang dominan. Hal itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau terkadang lapar atau pernah berutang. Sebab beliau menginfakkan apa yang ada pada dirinya untuk jihad dan untuk kaum fakir muslimin. Setelah itu, tidak lama kemudian Allah ‘Azza wa Jalla membukakan kembali pintu rezeki dan karunia-Nya untuk beliau sehingga beliau kembali berkecukupan.Karena itu, Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:﴿وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى﴾“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh-Dhuha: 8)Beliau berkata:“Artinya, engkau dahulu miskin dan memiliki tanggungan keluarga, lalu Allah mencukupkanmu dari selain-Nya. Dengan demikian, Allah mengumpulkan pada diri beliau dua kedudukan sekaligus: sebagai orang fakir yang sabar dan sebagai orang kaya yang bersyukur.” Selesai.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu‘ Al-Fatawa:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi terdahulu yang utama, ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa‘d bin Mu‘adz, Usaid bin Hudhair, As‘ad bin Zurarah, Abu Ayyub Al-Anshari, Ubadah bin Ash-Shamit, dan yang semisal mereka. Mereka termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Al-Masih Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Mush‘ab bin Umair, Salman Al-Farisi, dan yang semisal mereka. Mereka juga termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Dan di antara mereka ada yang mengalami kedua keadaan tersebut: kadang kaya dan kadang miskin. Mereka memiliki kebaikan orang-orang kaya dan kesabaran orang-orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” Selesai.Wallahu a‘lam.Referensi: Islamweb.ComDari sini kita memahami bahwa:Rasulullah ﷺ pernah memiliki sumber harta yang besar.Beliau bukan orang yang selalu hidup dalam kemiskinan mutlak.Namun beliau juga bukan orang yang menumpuk kekayaan untuk dirinya.Harta berada di tangan beliau, bukan di hati beliau.Karena itu para ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan dua kedudukan mulia sekaligus: kesabaran orang fakir ketika sempit dan syukur orang kaya ketika lapang. Inilah kesempurnaan yang tidak dimiliki kebanyakan manusia. Nasihat PenutupBanyak orang mengira zuhud berarti hidup miskin dan tidak memiliki harta. Padahal yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, walaupun Allah memberikan kelapangan rezeki. Yang berbahaya bukan banyaknya harta, tetapi ketika hati bergantung kepada harta dan lalai dari akhirat. Karena itu, mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, hati yang qanaah, dan rezeki yang cukup untuk beribadah kepada-Nya.اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَاAllahummakfinaa bihalaalika ‘an haraamika, wa aghninaa bifadhlika ‘amman siwaaka, waj‘alid dunyaa fii aydiinaa wa laa taj‘alhaa fii quluubinaa.“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Jadikan dunia berada di tangan kami dan jangan Engkau jadikan ia berada di hati kami.” Catatan tentang harta fai’Harta fai’ (الفيء) adalah harta yang diperoleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan atau pertempuran langsung.Allah Ta’ala berfirman:وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ“Dan harta fai’ yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari mereka, untuk mendapatkannya kalian tidak mengerahkan kuda maupun unta.” (QS. Al-Hasyr: 6)Bedanya dengan ghanimahGhanimah (غنيمة)Diperoleh melalui peperangan.Ada pertempuran melawan musuh.Dibagi kepada para mujahid setelah dikeluarkan seperlima (khumus).Fai’ (فيء)Diperoleh tanpa peperangan.Misalnya musuh menyerah, melarikan diri, membuat perjanjian, atau meninggalkan harta mereka.Pengelolaannya berada di tangan Rasulullah ﷺ atau pemerintah kaum muslimin untuk kemaslahatan umat.Contoh terkenal: Harta Bani NadhirKetika kaum Yahudi Bani Nadhir diusir dari Madinah, mereka meninggalkan kebun-kebun kurma, tanah, dan berbagai aset. Harta tersebut menjadi fai’, bukan ghanimah, karena tidak terjadi peperangan besar yang melibatkan pasukan.Karena itulah Ibnu Baz rahimahullah mengatakan bahwa setelah pengusiran Bani Nadhir, Rasulullah ﷺ memperoleh harta yang cukup banyak dari fai’. Dari harta itu beliau:menyisihkan nafkah keluarganya selama setahun,membeli kuda dan persenjataan untuk jihad,membantu kaum muslimin,menjamu tamu dan para utusan yang datang.Baca Juga:Seorang Milyarder Bisakah Disebut Zuhud?Sederhana itu Lebih Baik—- Diselesaikan di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin,  ke Masjid RS JIH, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Nabi fakir dan kaya hadis Nabi harta dalam Islam kaya kehidupan Nabi miskin qanaah rasulullah rumaysho sirah nabawiyah zuhud

Apakah Nabi Muhammad ﷺ Miskin atau Kaya?

Banyak orang mengira Rasulullah ﷺ selalu hidup dalam kemiskinan. Padahal terdapat hadis sahih yang menunjukkan bahwa beliau memiliki ternak, tanah, dan harta yang cukup untuk menjamu tamu serta memenuhi kebutuhan keluarganya. Lalu bagaimana cara memahami hadis-hadis yang menyebutkan bahwa berbulan-bulan tidak ada api yang menyala di rumah beliau? Jawabannya akan membuka pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan Nabi ﷺ dan hakikat zuhud yang sebenarnya.  Daftar Isi tutup 1. Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan Ternak 2. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat Sederhana 3. Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak Berbeda 4. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan Berkecukupan 5. Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan Cukup 6. Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya? 7. Nasihat Penutup 7.1. Catatan tentang harta fai’  Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan TernakHadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (26/309), Abu Dawud (142), Ibnu Hibban dalam Al-Ihsan (3/332), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/110), dan lainnya, dari Ismail bin Katsir Abu Hasyim Al-Makki, dari Ashim bin Laqith bin Shabirah, dari ayahnya, Laqith bin Shabirah, ia berkata:“Aku adalah utusan Bani Al-Muntafiq—atau termasuk dalam rombongan utusan Bani Al-Muntafiq—yang datang menemui Rasulullah ﷺ. Ketika kami tiba di tempat Rasulullah ﷺ, kami tidak menjumpai beliau di rumahnya. Kami justru bertemu dengan Aisyah Ummul Mukminin. Beliau memerintahkan agar dibuatkan untuk kami khazirah (sejenis makanan dari daging dan tepung), lalu makanan itu pun disiapkan untuk kami. Kemudian kami dibawakan sebuah qina’ (nampan berisi kurma).Lalu Rasulullah ﷺ datang dan bertanya,‘Apakah kalian sudah mendapatkan sesuatu untuk dimakan? Atau sudah diperintahkan sesuatu untuk kalian?’Kami menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang penggembala menggiring kambing-kambingnya ke kandang. Bersamanya ada seekor anak kambing yang mengembik. Rasulullah ﷺ bertanya,‘Apa yang baru dilahirkan, wahai fulan?’Ia menjawab, ‘Seekor anak kambing.’Beliau bersabda,‘Sembelihlah untuk kami seekor kambing sebagai gantinya.’Kemudian beliau bersabda,‘Jangan engkau mengira—beliau tidak mengatakan “jangan kalian mengira”—bahwa kami menyembelih kambing itu karena dirimu. Kami memiliki seratus ekor kambing dan tidak ingin jumlahnya bertambah. Jika penggembala mendapatkan seekor anak kambing yang lahir, kami menyembelih seekor kambing sebagai gantinya.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang lisannya memiliki sesuatu (maksudnya suka berkata kasar).’Beliau bersabda,‘Kalau begitu, ceraikanlah dia.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku telah lama hidup bersamanya dan aku juga memiliki anak darinya.’Beliau bersabda,‘Perintahkanlah dia (kepada kebaikan), nasihatilah dia. Jika memang ada kebaikan pada dirinya, ia akan melakukannya. Dan janganlah engkau memukul istrimu sebagaimana engkau memukul budak perempuanmu.’Aku lalu berkata,‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudu.’Beliau bersabda,‘Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jari, dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.’”Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Adz-Dzahabi menyetujuinya. Para peneliti Musnad Ahmad juga menilai sanadnya sahih. Demikian pula Al-Albani menilainya sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud.Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki makanan yang dapat dimakan dan dimasak, serta memiliki sesuatu yang cukup untuk menjamu tamu. Sekilas hal ini tampak bertentangan dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa keluarga Nabi ﷺ hidup dalam keadaan sangat sederhana, sampai-sampai berbulan-bulan berlalu tanpa ada masakan yang dibuat di rumah beliau. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat SederhanaSebagaimana dalam hadis Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata kepada Urwah:“Wahai anak saudariku, sungguh kami pernah melihat tiga kali bulan sabit dalam dua bulan, sementara tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah ﷺ.”Urwah bertanya,“Lalu dengan apa kalian hidup?”Aisyah menjawab,“Dengan dua yang hitam, yaitu kurma dan air. Hanya saja Rasulullah ﷺ memiliki tetangga dari kalangan Anshar yang mempunyai hewan perah. Mereka biasa memberikan susu dari hewan-hewan mereka kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberi kami minum.” (HR. Bukhari no. 6459 dan Muslim no. 2972)Dalam riwayat lain disebutkan:“Pernah sebulan penuh berlalu tanpa kami menyalakan api. Makanan kami hanyalah kurma dan air, kecuali jika ada sedikit daging yang diberikan kepada kami.” (HR. Bukhari no. 6458 dan Muslim no. 2972) Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak BerbedaCara menggabungkan berbagai riwayat ini adalah dengan mengatakan bahwa selama tinggal di Madinah, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada tahun-tahun awal hijrah, kehidupan sangat sulit. Banyak kaum Muhajirin berada dalam kemiskinan, bahkan kurma pun tidak melimpah. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi, harta mulai bertambah. Ketika Khaibar ditaklukkan, misalnya, kurma menjadi jauh lebih banyak.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:“Ketika Khaibar ditaklukkan, kami berkata, ‘Sekarang kami akan kenyang dengan kurma.’” (HR. Bukhari no. 4242)Setelah itu, penaklukan demi penaklukan terus terjadi. Harta berupa ternak dan berbagai kekayaan lainnya semakin banyak. Kaum muslimin pun memperoleh kelapangan hidup, demikian pula Nabi ﷺ.Adapun rombongan Bani Al-Muntafiq yang di dalamnya terdapat Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, para ulama menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada Tahun Delegasi (‘Amul Wufud), yaitu tahun kesembilan atau kesepuluh Hijriah, menjelang akhir kehidupan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan BerkecukupanIbnu Qutaibah rahimahullah berkata:“Karena ketika Allah mewafatkan beliau, beliau berada dalam keadaan kaya dan berkecukupan melalui harta yang Allah karuniakan kepada beliau, meskipun beliau tidak pernah menumpuk satu dirham di atas dirham lainnya.Tidak tepat dikatakan bahwa seseorang yang meninggalkan kebun-kebun di Madinah, berbagai harta, dan tanah Fadak, meninggal dalam keadaan miskin. Allah Ta’ala berfirman:‘Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu tidak mengetahui jalan lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu miskin lalu Dia memberi kecukupan.’ (Adh-Dhuha: 6–8)Kata ‘aail berarti orang miskin, baik memiliki tanggungan maupun tidak. Sedangkan mu‘il berarti orang yang memiliki tanggungan, baik memiliki harta maupun tidak.Keadaan Nabi ﷺ ketika diutus dan ketika wafat menunjukkan kebenaran firman Allah tersebut. Beliau diutus dalam keadaan miskin dan diwafatkan dalam keadaan kaya.” (Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits, hlm. 248) Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan CukupAl-Qurthubi rahimahullah berkata:“Jangan dikatakan bahwa keadaan Rasulullah ﷺ adalah kemiskinan yang sangat berat sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis. Beliau pernah menahan lapar berhari-hari, tidak kenyang selama dua hari berturut-turut, mengikat batu di perutnya karena lapar, hanya memiliki satu pakaian, dan ketika pakaian itu dicuci beliau menunggu sampai kering. Bahkan ketika wafat, baju besinya masih tergadaikan untuk mendapatkan gandum bagi keluarganya. Beliau juga tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing, ataupun unta. Semua ini menunjukkan kemiskinan yang sangat berat.Jawabannya, Nabi ﷺ telah merasakan tiga keadaan sekaligus: kemiskinan, kekayaan, dan kecukupan.Pada awal kehidupannya, beliau mengalami kemiskinan sebagai bentuk latihan dan pendidikan jiwa. Setelah itu Allah memberi beliau kemampuan menguasai dunia, namun beliau tidak tertarik kepadanya. Berbagai penaklukan dan harta datang kepada beliau, tetapi beliau tidak berpaling kepadanya. Beliau bahkan bersabda:‘Aku tidak memiliki bagian dari harta fai’ yang Allah berikan kepada kalian kecuali seperlima, dan seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian.’Ini adalah keadaan orang kaya yang bersyukur.Kemudian beliau hanya mengambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Beliau memiliki tanah di Khaibar dan mengambil darinya kebutuhan keluarganya selama setahun. Dengan demikian, beliau tidak lagi berada dalam kemiskinan yang sangat berat, dan tercapailah kecukupan yang beliau mohonkan dalam doanya.Ketika menjelang wafat, beliau menjadikan tanah itu sebagai wakaf bagi keluarganya agar kecukupan tersebut terus berlanjut untuk mereka sebagaimana yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.” (Al-Mufhim, 7/130–131)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi awal umat ini ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Dzar Al-Ghifari.Dan ada pula yang merasakan keduanya: kadang kaya dan kadang miskin, sehingga menggabungkan syukur orang kaya dan kesabaran orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” (Majmu’ Al-Fatawa, 11/124)Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya:“Bukankah Rasulullah ﷺ memiliki harta dari harta fai’ yang Allah berikan kepadanya?”Beliau menjawab:“Kadang ada dan kadang tidak. Terkadang harta terkumpul dalam jumlah banyak, seperti setelah pengusiran Bani Nadhir. Saat itu beliau memperoleh harta yang cukup banyak. Beliau menyisihkan nafkah keluarganya untuk setahun, sedangkan sisanya digunakan untuk membeli kuda dan persenjataan sebagai persiapan jihad di jalan Allah. Namun terkadang banyak tamu dan utusan yang datang sehingga beliau memberikannya kepada mereka, akibatnya harta yang tersisa menjadi sedikit.” (Fatawa Ad-Durus)Hadits-hadits sahih yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah mengalami kesulitan hidup dan kekurangan makanan tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa beliau memiliki harta dan sebagian kepemilikan.Sebab, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada awal masa tinggal beliau di Madinah, harta masih sedikit dan kehidupan cukup sempit. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi dan wilayah Islam semakin luas, Allah Ta’ala melimpahkan rezeki kepada beliau sehingga harta bertambah dan kehidupan menjadi lebih lapang. Wallahu a‘lam.Referensi: Islamqa.Com Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya?Nabi ﷺ berasal dari Bani Hasyim. Bani Hasyim adalah pemimpin Quraisy di Makkah, sedangkan Quraisy merupakan suku Arab yang paling pertengahan kedudukannya dan paling mulia nasabnya. Di kalangan Bani Hasyim ada yang kaya raya dan ada pula yang keadaannya di bawah itu.Adapun Nabi ﷺ, beliau tidak termasuk golongan orang-orang kaya yang memiliki banyak harta. Namun demikian, tidak salah orang yang menafikan sifat fakir dari beliau, yaitu fakir dalam arti membutuhkan makhluk. Sebab Allah Ta’ala telah mencukupkan beliau dengan karunia-Nya.Tajuddin As-Subki berkata dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah:“Aku berkali-kali mendengar dari guruku, yaitu ayahku rahimahullah—dan inilah keyakinanku—bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir sama sekali dan tidak pernah berada dalam keadaan sebagaimana orang-orang fakir. Bahkan beliau adalah manusia yang paling kaya dengan Allah. Allah Ta’ala telah mencukupi urusan dunia beliau, diri beliau, keluarga beliau, dan penghidupan beliau.Aku masih ingat bahwa guruku rahimahullah pernah mengusir dari majelisnya seseorang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah orang fakir. Beliau marah dengan sangat keras dan hampir saja menghukumnya. Orang itu tidak selamat kecuali setelah bertobat dan menarik ucapannya.Beliau juga berkata tentang doa Nabi ﷺ:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا‘Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin.’Yang dimaksud dengan doa ini adalah kerendahan hati dan ketundukan hati, bukan kemiskinan dalam arti tidak memiliki kecukupan hidup.Beliau sangat keras mengingkari orang yang meyakini bahwa Nabi ﷺ miskin dalam arti kekurangan harta. Dan kebenaran memang bersamanya.Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir dari sisi harta dan tidak pula miskin. Akan tetapi, beliau adalah manusia yang paling banyak merendahkan diri kepada Rabbnya, paling tunduk kepada-Nya, paling kuat menampakkan kebutuhan kepada-Nya, dan paling merendahkan diri di hadapan-Nya.” Selesai.Penafian sifat fakir dari Nabi ﷺ ini ditinjau dari keadaan beliau yang dominan. Hal itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau terkadang lapar atau pernah berutang. Sebab beliau menginfakkan apa yang ada pada dirinya untuk jihad dan untuk kaum fakir muslimin. Setelah itu, tidak lama kemudian Allah ‘Azza wa Jalla membukakan kembali pintu rezeki dan karunia-Nya untuk beliau sehingga beliau kembali berkecukupan.Karena itu, Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:﴿وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى﴾“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh-Dhuha: 8)Beliau berkata:“Artinya, engkau dahulu miskin dan memiliki tanggungan keluarga, lalu Allah mencukupkanmu dari selain-Nya. Dengan demikian, Allah mengumpulkan pada diri beliau dua kedudukan sekaligus: sebagai orang fakir yang sabar dan sebagai orang kaya yang bersyukur.” Selesai.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu‘ Al-Fatawa:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi terdahulu yang utama, ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa‘d bin Mu‘adz, Usaid bin Hudhair, As‘ad bin Zurarah, Abu Ayyub Al-Anshari, Ubadah bin Ash-Shamit, dan yang semisal mereka. Mereka termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Al-Masih Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Mush‘ab bin Umair, Salman Al-Farisi, dan yang semisal mereka. Mereka juga termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Dan di antara mereka ada yang mengalami kedua keadaan tersebut: kadang kaya dan kadang miskin. Mereka memiliki kebaikan orang-orang kaya dan kesabaran orang-orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” Selesai.Wallahu a‘lam.Referensi: Islamweb.ComDari sini kita memahami bahwa:Rasulullah ﷺ pernah memiliki sumber harta yang besar.Beliau bukan orang yang selalu hidup dalam kemiskinan mutlak.Namun beliau juga bukan orang yang menumpuk kekayaan untuk dirinya.Harta berada di tangan beliau, bukan di hati beliau.Karena itu para ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan dua kedudukan mulia sekaligus: kesabaran orang fakir ketika sempit dan syukur orang kaya ketika lapang. Inilah kesempurnaan yang tidak dimiliki kebanyakan manusia. Nasihat PenutupBanyak orang mengira zuhud berarti hidup miskin dan tidak memiliki harta. Padahal yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, walaupun Allah memberikan kelapangan rezeki. Yang berbahaya bukan banyaknya harta, tetapi ketika hati bergantung kepada harta dan lalai dari akhirat. Karena itu, mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, hati yang qanaah, dan rezeki yang cukup untuk beribadah kepada-Nya.اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَاAllahummakfinaa bihalaalika ‘an haraamika, wa aghninaa bifadhlika ‘amman siwaaka, waj‘alid dunyaa fii aydiinaa wa laa taj‘alhaa fii quluubinaa.“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Jadikan dunia berada di tangan kami dan jangan Engkau jadikan ia berada di hati kami.” Catatan tentang harta fai’Harta fai’ (الفيء) adalah harta yang diperoleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan atau pertempuran langsung.Allah Ta’ala berfirman:وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ“Dan harta fai’ yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari mereka, untuk mendapatkannya kalian tidak mengerahkan kuda maupun unta.” (QS. Al-Hasyr: 6)Bedanya dengan ghanimahGhanimah (غنيمة)Diperoleh melalui peperangan.Ada pertempuran melawan musuh.Dibagi kepada para mujahid setelah dikeluarkan seperlima (khumus).Fai’ (فيء)Diperoleh tanpa peperangan.Misalnya musuh menyerah, melarikan diri, membuat perjanjian, atau meninggalkan harta mereka.Pengelolaannya berada di tangan Rasulullah ﷺ atau pemerintah kaum muslimin untuk kemaslahatan umat.Contoh terkenal: Harta Bani NadhirKetika kaum Yahudi Bani Nadhir diusir dari Madinah, mereka meninggalkan kebun-kebun kurma, tanah, dan berbagai aset. Harta tersebut menjadi fai’, bukan ghanimah, karena tidak terjadi peperangan besar yang melibatkan pasukan.Karena itulah Ibnu Baz rahimahullah mengatakan bahwa setelah pengusiran Bani Nadhir, Rasulullah ﷺ memperoleh harta yang cukup banyak dari fai’. Dari harta itu beliau:menyisihkan nafkah keluarganya selama setahun,membeli kuda dan persenjataan untuk jihad,membantu kaum muslimin,menjamu tamu dan para utusan yang datang.Baca Juga:Seorang Milyarder Bisakah Disebut Zuhud?Sederhana itu Lebih Baik—- Diselesaikan di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin,  ke Masjid RS JIH, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Nabi fakir dan kaya hadis Nabi harta dalam Islam kaya kehidupan Nabi miskin qanaah rasulullah rumaysho sirah nabawiyah zuhud
Banyak orang mengira Rasulullah ﷺ selalu hidup dalam kemiskinan. Padahal terdapat hadis sahih yang menunjukkan bahwa beliau memiliki ternak, tanah, dan harta yang cukup untuk menjamu tamu serta memenuhi kebutuhan keluarganya. Lalu bagaimana cara memahami hadis-hadis yang menyebutkan bahwa berbulan-bulan tidak ada api yang menyala di rumah beliau? Jawabannya akan membuka pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan Nabi ﷺ dan hakikat zuhud yang sebenarnya.  Daftar Isi tutup 1. Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan Ternak 2. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat Sederhana 3. Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak Berbeda 4. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan Berkecukupan 5. Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan Cukup 6. Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya? 7. Nasihat Penutup 7.1. Catatan tentang harta fai’  Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan TernakHadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (26/309), Abu Dawud (142), Ibnu Hibban dalam Al-Ihsan (3/332), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/110), dan lainnya, dari Ismail bin Katsir Abu Hasyim Al-Makki, dari Ashim bin Laqith bin Shabirah, dari ayahnya, Laqith bin Shabirah, ia berkata:“Aku adalah utusan Bani Al-Muntafiq—atau termasuk dalam rombongan utusan Bani Al-Muntafiq—yang datang menemui Rasulullah ﷺ. Ketika kami tiba di tempat Rasulullah ﷺ, kami tidak menjumpai beliau di rumahnya. Kami justru bertemu dengan Aisyah Ummul Mukminin. Beliau memerintahkan agar dibuatkan untuk kami khazirah (sejenis makanan dari daging dan tepung), lalu makanan itu pun disiapkan untuk kami. Kemudian kami dibawakan sebuah qina’ (nampan berisi kurma).Lalu Rasulullah ﷺ datang dan bertanya,‘Apakah kalian sudah mendapatkan sesuatu untuk dimakan? Atau sudah diperintahkan sesuatu untuk kalian?’Kami menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang penggembala menggiring kambing-kambingnya ke kandang. Bersamanya ada seekor anak kambing yang mengembik. Rasulullah ﷺ bertanya,‘Apa yang baru dilahirkan, wahai fulan?’Ia menjawab, ‘Seekor anak kambing.’Beliau bersabda,‘Sembelihlah untuk kami seekor kambing sebagai gantinya.’Kemudian beliau bersabda,‘Jangan engkau mengira—beliau tidak mengatakan “jangan kalian mengira”—bahwa kami menyembelih kambing itu karena dirimu. Kami memiliki seratus ekor kambing dan tidak ingin jumlahnya bertambah. Jika penggembala mendapatkan seekor anak kambing yang lahir, kami menyembelih seekor kambing sebagai gantinya.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang lisannya memiliki sesuatu (maksudnya suka berkata kasar).’Beliau bersabda,‘Kalau begitu, ceraikanlah dia.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku telah lama hidup bersamanya dan aku juga memiliki anak darinya.’Beliau bersabda,‘Perintahkanlah dia (kepada kebaikan), nasihatilah dia. Jika memang ada kebaikan pada dirinya, ia akan melakukannya. Dan janganlah engkau memukul istrimu sebagaimana engkau memukul budak perempuanmu.’Aku lalu berkata,‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudu.’Beliau bersabda,‘Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jari, dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.’”Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Adz-Dzahabi menyetujuinya. Para peneliti Musnad Ahmad juga menilai sanadnya sahih. Demikian pula Al-Albani menilainya sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud.Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki makanan yang dapat dimakan dan dimasak, serta memiliki sesuatu yang cukup untuk menjamu tamu. Sekilas hal ini tampak bertentangan dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa keluarga Nabi ﷺ hidup dalam keadaan sangat sederhana, sampai-sampai berbulan-bulan berlalu tanpa ada masakan yang dibuat di rumah beliau. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat SederhanaSebagaimana dalam hadis Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata kepada Urwah:“Wahai anak saudariku, sungguh kami pernah melihat tiga kali bulan sabit dalam dua bulan, sementara tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah ﷺ.”Urwah bertanya,“Lalu dengan apa kalian hidup?”Aisyah menjawab,“Dengan dua yang hitam, yaitu kurma dan air. Hanya saja Rasulullah ﷺ memiliki tetangga dari kalangan Anshar yang mempunyai hewan perah. Mereka biasa memberikan susu dari hewan-hewan mereka kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberi kami minum.” (HR. Bukhari no. 6459 dan Muslim no. 2972)Dalam riwayat lain disebutkan:“Pernah sebulan penuh berlalu tanpa kami menyalakan api. Makanan kami hanyalah kurma dan air, kecuali jika ada sedikit daging yang diberikan kepada kami.” (HR. Bukhari no. 6458 dan Muslim no. 2972) Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak BerbedaCara menggabungkan berbagai riwayat ini adalah dengan mengatakan bahwa selama tinggal di Madinah, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada tahun-tahun awal hijrah, kehidupan sangat sulit. Banyak kaum Muhajirin berada dalam kemiskinan, bahkan kurma pun tidak melimpah. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi, harta mulai bertambah. Ketika Khaibar ditaklukkan, misalnya, kurma menjadi jauh lebih banyak.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:“Ketika Khaibar ditaklukkan, kami berkata, ‘Sekarang kami akan kenyang dengan kurma.’” (HR. Bukhari no. 4242)Setelah itu, penaklukan demi penaklukan terus terjadi. Harta berupa ternak dan berbagai kekayaan lainnya semakin banyak. Kaum muslimin pun memperoleh kelapangan hidup, demikian pula Nabi ﷺ.Adapun rombongan Bani Al-Muntafiq yang di dalamnya terdapat Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, para ulama menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada Tahun Delegasi (‘Amul Wufud), yaitu tahun kesembilan atau kesepuluh Hijriah, menjelang akhir kehidupan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan BerkecukupanIbnu Qutaibah rahimahullah berkata:“Karena ketika Allah mewafatkan beliau, beliau berada dalam keadaan kaya dan berkecukupan melalui harta yang Allah karuniakan kepada beliau, meskipun beliau tidak pernah menumpuk satu dirham di atas dirham lainnya.Tidak tepat dikatakan bahwa seseorang yang meninggalkan kebun-kebun di Madinah, berbagai harta, dan tanah Fadak, meninggal dalam keadaan miskin. Allah Ta’ala berfirman:‘Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu tidak mengetahui jalan lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu miskin lalu Dia memberi kecukupan.’ (Adh-Dhuha: 6–8)Kata ‘aail berarti orang miskin, baik memiliki tanggungan maupun tidak. Sedangkan mu‘il berarti orang yang memiliki tanggungan, baik memiliki harta maupun tidak.Keadaan Nabi ﷺ ketika diutus dan ketika wafat menunjukkan kebenaran firman Allah tersebut. Beliau diutus dalam keadaan miskin dan diwafatkan dalam keadaan kaya.” (Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits, hlm. 248) Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan CukupAl-Qurthubi rahimahullah berkata:“Jangan dikatakan bahwa keadaan Rasulullah ﷺ adalah kemiskinan yang sangat berat sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis. Beliau pernah menahan lapar berhari-hari, tidak kenyang selama dua hari berturut-turut, mengikat batu di perutnya karena lapar, hanya memiliki satu pakaian, dan ketika pakaian itu dicuci beliau menunggu sampai kering. Bahkan ketika wafat, baju besinya masih tergadaikan untuk mendapatkan gandum bagi keluarganya. Beliau juga tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing, ataupun unta. Semua ini menunjukkan kemiskinan yang sangat berat.Jawabannya, Nabi ﷺ telah merasakan tiga keadaan sekaligus: kemiskinan, kekayaan, dan kecukupan.Pada awal kehidupannya, beliau mengalami kemiskinan sebagai bentuk latihan dan pendidikan jiwa. Setelah itu Allah memberi beliau kemampuan menguasai dunia, namun beliau tidak tertarik kepadanya. Berbagai penaklukan dan harta datang kepada beliau, tetapi beliau tidak berpaling kepadanya. Beliau bahkan bersabda:‘Aku tidak memiliki bagian dari harta fai’ yang Allah berikan kepada kalian kecuali seperlima, dan seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian.’Ini adalah keadaan orang kaya yang bersyukur.Kemudian beliau hanya mengambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Beliau memiliki tanah di Khaibar dan mengambil darinya kebutuhan keluarganya selama setahun. Dengan demikian, beliau tidak lagi berada dalam kemiskinan yang sangat berat, dan tercapailah kecukupan yang beliau mohonkan dalam doanya.Ketika menjelang wafat, beliau menjadikan tanah itu sebagai wakaf bagi keluarganya agar kecukupan tersebut terus berlanjut untuk mereka sebagaimana yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.” (Al-Mufhim, 7/130–131)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi awal umat ini ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Dzar Al-Ghifari.Dan ada pula yang merasakan keduanya: kadang kaya dan kadang miskin, sehingga menggabungkan syukur orang kaya dan kesabaran orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” (Majmu’ Al-Fatawa, 11/124)Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya:“Bukankah Rasulullah ﷺ memiliki harta dari harta fai’ yang Allah berikan kepadanya?”Beliau menjawab:“Kadang ada dan kadang tidak. Terkadang harta terkumpul dalam jumlah banyak, seperti setelah pengusiran Bani Nadhir. Saat itu beliau memperoleh harta yang cukup banyak. Beliau menyisihkan nafkah keluarganya untuk setahun, sedangkan sisanya digunakan untuk membeli kuda dan persenjataan sebagai persiapan jihad di jalan Allah. Namun terkadang banyak tamu dan utusan yang datang sehingga beliau memberikannya kepada mereka, akibatnya harta yang tersisa menjadi sedikit.” (Fatawa Ad-Durus)Hadits-hadits sahih yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah mengalami kesulitan hidup dan kekurangan makanan tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa beliau memiliki harta dan sebagian kepemilikan.Sebab, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada awal masa tinggal beliau di Madinah, harta masih sedikit dan kehidupan cukup sempit. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi dan wilayah Islam semakin luas, Allah Ta’ala melimpahkan rezeki kepada beliau sehingga harta bertambah dan kehidupan menjadi lebih lapang. Wallahu a‘lam.Referensi: Islamqa.Com Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya?Nabi ﷺ berasal dari Bani Hasyim. Bani Hasyim adalah pemimpin Quraisy di Makkah, sedangkan Quraisy merupakan suku Arab yang paling pertengahan kedudukannya dan paling mulia nasabnya. Di kalangan Bani Hasyim ada yang kaya raya dan ada pula yang keadaannya di bawah itu.Adapun Nabi ﷺ, beliau tidak termasuk golongan orang-orang kaya yang memiliki banyak harta. Namun demikian, tidak salah orang yang menafikan sifat fakir dari beliau, yaitu fakir dalam arti membutuhkan makhluk. Sebab Allah Ta’ala telah mencukupkan beliau dengan karunia-Nya.Tajuddin As-Subki berkata dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah:“Aku berkali-kali mendengar dari guruku, yaitu ayahku rahimahullah—dan inilah keyakinanku—bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir sama sekali dan tidak pernah berada dalam keadaan sebagaimana orang-orang fakir. Bahkan beliau adalah manusia yang paling kaya dengan Allah. Allah Ta’ala telah mencukupi urusan dunia beliau, diri beliau, keluarga beliau, dan penghidupan beliau.Aku masih ingat bahwa guruku rahimahullah pernah mengusir dari majelisnya seseorang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah orang fakir. Beliau marah dengan sangat keras dan hampir saja menghukumnya. Orang itu tidak selamat kecuali setelah bertobat dan menarik ucapannya.Beliau juga berkata tentang doa Nabi ﷺ:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا‘Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin.’Yang dimaksud dengan doa ini adalah kerendahan hati dan ketundukan hati, bukan kemiskinan dalam arti tidak memiliki kecukupan hidup.Beliau sangat keras mengingkari orang yang meyakini bahwa Nabi ﷺ miskin dalam arti kekurangan harta. Dan kebenaran memang bersamanya.Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir dari sisi harta dan tidak pula miskin. Akan tetapi, beliau adalah manusia yang paling banyak merendahkan diri kepada Rabbnya, paling tunduk kepada-Nya, paling kuat menampakkan kebutuhan kepada-Nya, dan paling merendahkan diri di hadapan-Nya.” Selesai.Penafian sifat fakir dari Nabi ﷺ ini ditinjau dari keadaan beliau yang dominan. Hal itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau terkadang lapar atau pernah berutang. Sebab beliau menginfakkan apa yang ada pada dirinya untuk jihad dan untuk kaum fakir muslimin. Setelah itu, tidak lama kemudian Allah ‘Azza wa Jalla membukakan kembali pintu rezeki dan karunia-Nya untuk beliau sehingga beliau kembali berkecukupan.Karena itu, Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:﴿وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى﴾“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh-Dhuha: 8)Beliau berkata:“Artinya, engkau dahulu miskin dan memiliki tanggungan keluarga, lalu Allah mencukupkanmu dari selain-Nya. Dengan demikian, Allah mengumpulkan pada diri beliau dua kedudukan sekaligus: sebagai orang fakir yang sabar dan sebagai orang kaya yang bersyukur.” Selesai.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu‘ Al-Fatawa:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi terdahulu yang utama, ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa‘d bin Mu‘adz, Usaid bin Hudhair, As‘ad bin Zurarah, Abu Ayyub Al-Anshari, Ubadah bin Ash-Shamit, dan yang semisal mereka. Mereka termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Al-Masih Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Mush‘ab bin Umair, Salman Al-Farisi, dan yang semisal mereka. Mereka juga termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Dan di antara mereka ada yang mengalami kedua keadaan tersebut: kadang kaya dan kadang miskin. Mereka memiliki kebaikan orang-orang kaya dan kesabaran orang-orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” Selesai.Wallahu a‘lam.Referensi: Islamweb.ComDari sini kita memahami bahwa:Rasulullah ﷺ pernah memiliki sumber harta yang besar.Beliau bukan orang yang selalu hidup dalam kemiskinan mutlak.Namun beliau juga bukan orang yang menumpuk kekayaan untuk dirinya.Harta berada di tangan beliau, bukan di hati beliau.Karena itu para ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan dua kedudukan mulia sekaligus: kesabaran orang fakir ketika sempit dan syukur orang kaya ketika lapang. Inilah kesempurnaan yang tidak dimiliki kebanyakan manusia. Nasihat PenutupBanyak orang mengira zuhud berarti hidup miskin dan tidak memiliki harta. Padahal yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, walaupun Allah memberikan kelapangan rezeki. Yang berbahaya bukan banyaknya harta, tetapi ketika hati bergantung kepada harta dan lalai dari akhirat. Karena itu, mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, hati yang qanaah, dan rezeki yang cukup untuk beribadah kepada-Nya.اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَاAllahummakfinaa bihalaalika ‘an haraamika, wa aghninaa bifadhlika ‘amman siwaaka, waj‘alid dunyaa fii aydiinaa wa laa taj‘alhaa fii quluubinaa.“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Jadikan dunia berada di tangan kami dan jangan Engkau jadikan ia berada di hati kami.” Catatan tentang harta fai’Harta fai’ (الفيء) adalah harta yang diperoleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan atau pertempuran langsung.Allah Ta’ala berfirman:وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ“Dan harta fai’ yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari mereka, untuk mendapatkannya kalian tidak mengerahkan kuda maupun unta.” (QS. Al-Hasyr: 6)Bedanya dengan ghanimahGhanimah (غنيمة)Diperoleh melalui peperangan.Ada pertempuran melawan musuh.Dibagi kepada para mujahid setelah dikeluarkan seperlima (khumus).Fai’ (فيء)Diperoleh tanpa peperangan.Misalnya musuh menyerah, melarikan diri, membuat perjanjian, atau meninggalkan harta mereka.Pengelolaannya berada di tangan Rasulullah ﷺ atau pemerintah kaum muslimin untuk kemaslahatan umat.Contoh terkenal: Harta Bani NadhirKetika kaum Yahudi Bani Nadhir diusir dari Madinah, mereka meninggalkan kebun-kebun kurma, tanah, dan berbagai aset. Harta tersebut menjadi fai’, bukan ghanimah, karena tidak terjadi peperangan besar yang melibatkan pasukan.Karena itulah Ibnu Baz rahimahullah mengatakan bahwa setelah pengusiran Bani Nadhir, Rasulullah ﷺ memperoleh harta yang cukup banyak dari fai’. Dari harta itu beliau:menyisihkan nafkah keluarganya selama setahun,membeli kuda dan persenjataan untuk jihad,membantu kaum muslimin,menjamu tamu dan para utusan yang datang.Baca Juga:Seorang Milyarder Bisakah Disebut Zuhud?Sederhana itu Lebih Baik—- Diselesaikan di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin,  ke Masjid RS JIH, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Nabi fakir dan kaya hadis Nabi harta dalam Islam kaya kehidupan Nabi miskin qanaah rasulullah rumaysho sirah nabawiyah zuhud


Banyak orang mengira Rasulullah ﷺ selalu hidup dalam kemiskinan. Padahal terdapat hadis sahih yang menunjukkan bahwa beliau memiliki ternak, tanah, dan harta yang cukup untuk menjamu tamu serta memenuhi kebutuhan keluarganya. Lalu bagaimana cara memahami hadis-hadis yang menyebutkan bahwa berbulan-bulan tidak ada api yang menyala di rumah beliau? Jawabannya akan membuka pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan Nabi ﷺ dan hakikat zuhud yang sebenarnya.  Daftar Isi tutup 1. Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan Ternak 2. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat Sederhana 3. Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak Berbeda 4. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan Berkecukupan 5. Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan Cukup 6. Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya? 7. Nasihat Penutup 7.1. Catatan tentang harta fai’  Hadits yang Menunjukkan Nabi ﷺ Memiliki Harta dan TernakHadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (26/309), Abu Dawud (142), Ibnu Hibban dalam Al-Ihsan (3/332), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/110), dan lainnya, dari Ismail bin Katsir Abu Hasyim Al-Makki, dari Ashim bin Laqith bin Shabirah, dari ayahnya, Laqith bin Shabirah, ia berkata:“Aku adalah utusan Bani Al-Muntafiq—atau termasuk dalam rombongan utusan Bani Al-Muntafiq—yang datang menemui Rasulullah ﷺ. Ketika kami tiba di tempat Rasulullah ﷺ, kami tidak menjumpai beliau di rumahnya. Kami justru bertemu dengan Aisyah Ummul Mukminin. Beliau memerintahkan agar dibuatkan untuk kami khazirah (sejenis makanan dari daging dan tepung), lalu makanan itu pun disiapkan untuk kami. Kemudian kami dibawakan sebuah qina’ (nampan berisi kurma).Lalu Rasulullah ﷺ datang dan bertanya,‘Apakah kalian sudah mendapatkan sesuatu untuk dimakan? Atau sudah diperintahkan sesuatu untuk kalian?’Kami menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang penggembala menggiring kambing-kambingnya ke kandang. Bersamanya ada seekor anak kambing yang mengembik. Rasulullah ﷺ bertanya,‘Apa yang baru dilahirkan, wahai fulan?’Ia menjawab, ‘Seekor anak kambing.’Beliau bersabda,‘Sembelihlah untuk kami seekor kambing sebagai gantinya.’Kemudian beliau bersabda,‘Jangan engkau mengira—beliau tidak mengatakan “jangan kalian mengira”—bahwa kami menyembelih kambing itu karena dirimu. Kami memiliki seratus ekor kambing dan tidak ingin jumlahnya bertambah. Jika penggembala mendapatkan seekor anak kambing yang lahir, kami menyembelih seekor kambing sebagai gantinya.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang lisannya memiliki sesuatu (maksudnya suka berkata kasar).’Beliau bersabda,‘Kalau begitu, ceraikanlah dia.’Aku berkata,‘Wahai Rasulullah, aku telah lama hidup bersamanya dan aku juga memiliki anak darinya.’Beliau bersabda,‘Perintahkanlah dia (kepada kebaikan), nasihatilah dia. Jika memang ada kebaikan pada dirinya, ia akan melakukannya. Dan janganlah engkau memukul istrimu sebagaimana engkau memukul budak perempuanmu.’Aku lalu berkata,‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang wudu.’Beliau bersabda,‘Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah jari-jari, dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.’”Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Adz-Dzahabi menyetujuinya. Para peneliti Musnad Ahmad juga menilai sanadnya sahih. Demikian pula Al-Albani menilainya sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud.Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki makanan yang dapat dimakan dan dimasak, serta memiliki sesuatu yang cukup untuk menjamu tamu. Sekilas hal ini tampak bertentangan dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa keluarga Nabi ﷺ hidup dalam keadaan sangat sederhana, sampai-sampai berbulan-bulan berlalu tanpa ada masakan yang dibuat di rumah beliau. Rumah Tangga Nabi ﷺ Pernah Sangat SederhanaSebagaimana dalam hadis Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata kepada Urwah:“Wahai anak saudariku, sungguh kami pernah melihat tiga kali bulan sabit dalam dua bulan, sementara tidak pernah dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah ﷺ.”Urwah bertanya,“Lalu dengan apa kalian hidup?”Aisyah menjawab,“Dengan dua yang hitam, yaitu kurma dan air. Hanya saja Rasulullah ﷺ memiliki tetangga dari kalangan Anshar yang mempunyai hewan perah. Mereka biasa memberikan susu dari hewan-hewan mereka kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberi kami minum.” (HR. Bukhari no. 6459 dan Muslim no. 2972)Dalam riwayat lain disebutkan:“Pernah sebulan penuh berlalu tanpa kami menyalakan api. Makanan kami hanyalah kurma dan air, kecuali jika ada sedikit daging yang diberikan kepada kami.” (HR. Bukhari no. 6458 dan Muslim no. 2972) Cara Menggabungkan Dua Riwayat yang Tampak BerbedaCara menggabungkan berbagai riwayat ini adalah dengan mengatakan bahwa selama tinggal di Madinah, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada tahun-tahun awal hijrah, kehidupan sangat sulit. Banyak kaum Muhajirin berada dalam kemiskinan, bahkan kurma pun tidak melimpah. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi, harta mulai bertambah. Ketika Khaibar ditaklukkan, misalnya, kurma menjadi jauh lebih banyak.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:“Ketika Khaibar ditaklukkan, kami berkata, ‘Sekarang kami akan kenyang dengan kurma.’” (HR. Bukhari no. 4242)Setelah itu, penaklukan demi penaklukan terus terjadi. Harta berupa ternak dan berbagai kekayaan lainnya semakin banyak. Kaum muslimin pun memperoleh kelapangan hidup, demikian pula Nabi ﷺ.Adapun rombongan Bani Al-Muntafiq yang di dalamnya terdapat Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu, para ulama menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada Tahun Delegasi (‘Amul Wufud), yaitu tahun kesembilan atau kesepuluh Hijriah, menjelang akhir kehidupan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ Wafat dalam Keadaan BerkecukupanIbnu Qutaibah rahimahullah berkata:“Karena ketika Allah mewafatkan beliau, beliau berada dalam keadaan kaya dan berkecukupan melalui harta yang Allah karuniakan kepada beliau, meskipun beliau tidak pernah menumpuk satu dirham di atas dirham lainnya.Tidak tepat dikatakan bahwa seseorang yang meninggalkan kebun-kebun di Madinah, berbagai harta, dan tanah Fadak, meninggal dalam keadaan miskin. Allah Ta’ala berfirman:‘Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu tidak mengetahui jalan lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu miskin lalu Dia memberi kecukupan.’ (Adh-Dhuha: 6–8)Kata ‘aail berarti orang miskin, baik memiliki tanggungan maupun tidak. Sedangkan mu‘il berarti orang yang memiliki tanggungan, baik memiliki harta maupun tidak.Keadaan Nabi ﷺ ketika diutus dan ketika wafat menunjukkan kebenaran firman Allah tersebut. Beliau diutus dalam keadaan miskin dan diwafatkan dalam keadaan kaya.” (Ta’wil Mukhtalif Al-Hadits, hlm. 248) Penjelasan Al-Qurthubi: Nabi ﷺ Mengalami Fase Fakir, Kaya, dan CukupAl-Qurthubi rahimahullah berkata:“Jangan dikatakan bahwa keadaan Rasulullah ﷺ adalah kemiskinan yang sangat berat sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis. Beliau pernah menahan lapar berhari-hari, tidak kenyang selama dua hari berturut-turut, mengikat batu di perutnya karena lapar, hanya memiliki satu pakaian, dan ketika pakaian itu dicuci beliau menunggu sampai kering. Bahkan ketika wafat, baju besinya masih tergadaikan untuk mendapatkan gandum bagi keluarganya. Beliau juga tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing, ataupun unta. Semua ini menunjukkan kemiskinan yang sangat berat.Jawabannya, Nabi ﷺ telah merasakan tiga keadaan sekaligus: kemiskinan, kekayaan, dan kecukupan.Pada awal kehidupannya, beliau mengalami kemiskinan sebagai bentuk latihan dan pendidikan jiwa. Setelah itu Allah memberi beliau kemampuan menguasai dunia, namun beliau tidak tertarik kepadanya. Berbagai penaklukan dan harta datang kepada beliau, tetapi beliau tidak berpaling kepadanya. Beliau bahkan bersabda:‘Aku tidak memiliki bagian dari harta fai’ yang Allah berikan kepada kalian kecuali seperlima, dan seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian.’Ini adalah keadaan orang kaya yang bersyukur.Kemudian beliau hanya mengambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan keluarganya. Beliau memiliki tanah di Khaibar dan mengambil darinya kebutuhan keluarganya selama setahun. Dengan demikian, beliau tidak lagi berada dalam kemiskinan yang sangat berat, dan tercapailah kecukupan yang beliau mohonkan dalam doanya.Ketika menjelang wafat, beliau menjadikan tanah itu sebagai wakaf bagi keluarganya agar kecukupan tersebut terus berlanjut untuk mereka sebagaimana yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.” (Al-Mufhim, 7/130–131)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi awal umat ini ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Dzar Al-Ghifari.Dan ada pula yang merasakan keduanya: kadang kaya dan kadang miskin, sehingga menggabungkan syukur orang kaya dan kesabaran orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” (Majmu’ Al-Fatawa, 11/124)Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya:“Bukankah Rasulullah ﷺ memiliki harta dari harta fai’ yang Allah berikan kepadanya?”Beliau menjawab:“Kadang ada dan kadang tidak. Terkadang harta terkumpul dalam jumlah banyak, seperti setelah pengusiran Bani Nadhir. Saat itu beliau memperoleh harta yang cukup banyak. Beliau menyisihkan nafkah keluarganya untuk setahun, sedangkan sisanya digunakan untuk membeli kuda dan persenjataan sebagai persiapan jihad di jalan Allah. Namun terkadang banyak tamu dan utusan yang datang sehingga beliau memberikannya kepada mereka, akibatnya harta yang tersisa menjadi sedikit.” (Fatawa Ad-Durus)Hadits-hadits sahih yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah mengalami kesulitan hidup dan kekurangan makanan tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa beliau memiliki harta dan sebagian kepemilikan.Sebab, Nabi ﷺ mengalami beberapa fase kehidupan. Pada awal masa tinggal beliau di Madinah, harta masih sedikit dan kehidupan cukup sempit. Namun setelah berbagai penaklukan terjadi dan wilayah Islam semakin luas, Allah Ta’ala melimpahkan rezeki kepada beliau sehingga harta bertambah dan kehidupan menjadi lebih lapang. Wallahu a‘lam.Referensi: Islamqa.Com Dalam Doa, Nabi Minta Dihidupkan dalam Keadaan Miskin, Apa Maksudnya?Nabi ﷺ berasal dari Bani Hasyim. Bani Hasyim adalah pemimpin Quraisy di Makkah, sedangkan Quraisy merupakan suku Arab yang paling pertengahan kedudukannya dan paling mulia nasabnya. Di kalangan Bani Hasyim ada yang kaya raya dan ada pula yang keadaannya di bawah itu.Adapun Nabi ﷺ, beliau tidak termasuk golongan orang-orang kaya yang memiliki banyak harta. Namun demikian, tidak salah orang yang menafikan sifat fakir dari beliau, yaitu fakir dalam arti membutuhkan makhluk. Sebab Allah Ta’ala telah mencukupkan beliau dengan karunia-Nya.Tajuddin As-Subki berkata dalam Thabaqat Asy-Syafi‘iyyah:“Aku berkali-kali mendengar dari guruku, yaitu ayahku rahimahullah—dan inilah keyakinanku—bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir sama sekali dan tidak pernah berada dalam keadaan sebagaimana orang-orang fakir. Bahkan beliau adalah manusia yang paling kaya dengan Allah. Allah Ta’ala telah mencukupi urusan dunia beliau, diri beliau, keluarga beliau, dan penghidupan beliau.Aku masih ingat bahwa guruku rahimahullah pernah mengusir dari majelisnya seseorang yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah orang fakir. Beliau marah dengan sangat keras dan hampir saja menghukumnya. Orang itu tidak selamat kecuali setelah bertobat dan menarik ucapannya.Beliau juga berkata tentang doa Nabi ﷺ:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا‘Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin.’Yang dimaksud dengan doa ini adalah kerendahan hati dan ketundukan hati, bukan kemiskinan dalam arti tidak memiliki kecukupan hidup.Beliau sangat keras mengingkari orang yang meyakini bahwa Nabi ﷺ miskin dalam arti kekurangan harta. Dan kebenaran memang bersamanya.Nabi ﷺ tidak pernah menjadi orang fakir dari sisi harta dan tidak pula miskin. Akan tetapi, beliau adalah manusia yang paling banyak merendahkan diri kepada Rabbnya, paling tunduk kepada-Nya, paling kuat menampakkan kebutuhan kepada-Nya, dan paling merendahkan diri di hadapan-Nya.” Selesai.Penafian sifat fakir dari Nabi ﷺ ini ditinjau dari keadaan beliau yang dominan. Hal itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau terkadang lapar atau pernah berutang. Sebab beliau menginfakkan apa yang ada pada dirinya untuk jihad dan untuk kaum fakir muslimin. Setelah itu, tidak lama kemudian Allah ‘Azza wa Jalla membukakan kembali pintu rezeki dan karunia-Nya untuk beliau sehingga beliau kembali berkecukupan.Karena itu, Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:﴿وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى﴾“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh-Dhuha: 8)Beliau berkata:“Artinya, engkau dahulu miskin dan memiliki tanggungan keluarga, lalu Allah mencukupkanmu dari selain-Nya. Dengan demikian, Allah mengumpulkan pada diri beliau dua kedudukan sekaligus: sebagai orang fakir yang sabar dan sebagai orang kaya yang bersyukur.” Selesai.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu‘ Al-Fatawa:“Di antara para nabi, rasul, dan generasi terdahulu yang utama, ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalil, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa‘d bin Mu‘adz, Usaid bin Hudhair, As‘ad bin Zurarah, Abu Ayyub Al-Anshari, Ubadah bin Ash-Shamit, dan yang semisal mereka. Mereka termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Di antara mereka ada yang miskin, seperti Al-Masih Isa bin Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Mush‘ab bin Umair, Salman Al-Farisi, dan yang semisal mereka. Mereka juga termasuk makhluk terbaik dari kalangan nabi dan shiddiqin.Dan di antara mereka ada yang mengalami kedua keadaan tersebut: kadang kaya dan kadang miskin. Mereka memiliki kebaikan orang-orang kaya dan kesabaran orang-orang miskin, seperti Nabi kita Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar.” Selesai.Wallahu a‘lam.Referensi: Islamweb.ComDari sini kita memahami bahwa:Rasulullah ﷺ pernah memiliki sumber harta yang besar.Beliau bukan orang yang selalu hidup dalam kemiskinan mutlak.Namun beliau juga bukan orang yang menumpuk kekayaan untuk dirinya.Harta berada di tangan beliau, bukan di hati beliau.Karena itu para ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan dua kedudukan mulia sekaligus: kesabaran orang fakir ketika sempit dan syukur orang kaya ketika lapang. Inilah kesempurnaan yang tidak dimiliki kebanyakan manusia. Nasihat PenutupBanyak orang mengira zuhud berarti hidup miskin dan tidak memiliki harta. Padahal yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, walaupun Allah memberikan kelapangan rezeki. Yang berbahaya bukan banyaknya harta, tetapi ketika hati bergantung kepada harta dan lalai dari akhirat. Karena itu, mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, hati yang qanaah, dan rezeki yang cukup untuk beribadah kepada-Nya.اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَاAllahummakfinaa bihalaalika ‘an haraamika, wa aghninaa bifadhlika ‘amman siwaaka, waj‘alid dunyaa fii aydiinaa wa laa taj‘alhaa fii quluubinaa.“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Jadikan dunia berada di tangan kami dan jangan Engkau jadikan ia berada di hati kami.” Catatan tentang harta fai’Harta fai’ (الفيء) adalah harta yang diperoleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan atau pertempuran langsung.Allah Ta’ala berfirman:وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ“Dan harta fai’ yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari mereka, untuk mendapatkannya kalian tidak mengerahkan kuda maupun unta.” (QS. Al-Hasyr: 6)Bedanya dengan ghanimahGhanimah (غنيمة)Diperoleh melalui peperangan.Ada pertempuran melawan musuh.Dibagi kepada para mujahid setelah dikeluarkan seperlima (khumus).Fai’ (فيء)Diperoleh tanpa peperangan.Misalnya musuh menyerah, melarikan diri, membuat perjanjian, atau meninggalkan harta mereka.Pengelolaannya berada di tangan Rasulullah ﷺ atau pemerintah kaum muslimin untuk kemaslahatan umat.Contoh terkenal: Harta Bani NadhirKetika kaum Yahudi Bani Nadhir diusir dari Madinah, mereka meninggalkan kebun-kebun kurma, tanah, dan berbagai aset. Harta tersebut menjadi fai’, bukan ghanimah, karena tidak terjadi peperangan besar yang melibatkan pasukan.Karena itulah Ibnu Baz rahimahullah mengatakan bahwa setelah pengusiran Bani Nadhir, Rasulullah ﷺ memperoleh harta yang cukup banyak dari fai’. Dari harta itu beliau:menyisihkan nafkah keluarganya selama setahun,membeli kuda dan persenjataan untuk jihad,membantu kaum muslimin,menjamu tamu dan para utusan yang datang.Baca Juga:Seorang Milyarder Bisakah Disebut Zuhud?Sederhana itu Lebih Baik—- Diselesaikan di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin,  ke Masjid RS JIH, 29 Dzulhijjah 1447 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Nabi fakir dan kaya hadis Nabi harta dalam Islam kaya kehidupan Nabi miskin qanaah rasulullah rumaysho sirah nabawiyah zuhud

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.
Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.


Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.

Fikih Riba (Bag. 13): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (1)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.

Fikih Riba (Bag. 13): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (1)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.
Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.


Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.

Jangan Merasa Aman dengan Imanmu Hari Ini – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ

Jangan Merasa Aman dengan Imanmu Hari Ini – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ
Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ


Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ

Khutbah Jumat: Saat Maksiat Dibiarkan, Azab Bisa Menimpa Semua Orang

Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25

Khutbah Jumat: Saat Maksiat Dibiarkan, Azab Bisa Menimpa Semua Orang

Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25
Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25


Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

Jangan Sampai Shalat Kita Seperti Jasad Tanpa Ruh – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي

Jangan Sampai Shalat Kita Seperti Jasad Tanpa Ruh – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي
Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي


Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي

Musibahmu karena Dosa…atau karena Allah Sayang Padamu? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Musibahmu karena Dosa…atau karena Allah Sayang Padamu? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Hak-Hak Tetangga

Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 630 times, 2 visit(s) today Post Views: 120

Hak-Hak Tetangga

Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 630 times, 2 visit(s) today Post Views: 120
Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 630 times, 2 visit(s) today Post Views: 120


Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 630 times, 2 visit(s) today Post Views: 120

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Rakyat Terbaik

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Rakyat Terbaik

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id


Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Prev     Next