Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 5): Keadaan Akhir Manusia di Hari Kiamat

Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari kiamat yang dapat direnungkan oleh akal. Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka, apabila malapetaka terbesar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 34)Kiamat adalah suatu bencana dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari kiamat datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melebihi bencana apapun yang pernah terjadi.قال ابن عباس: هي القيامة سميت بذلك لأنها تطم على كل أمرٍ هائل مفظع“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari kiamat disebut sebagai at-thaammah karena kedahsyatan huru-hara kiamat tersebut akan menutupi dan mengalahkan segala bentuk perkara mengerikan dan bencana apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafasir, 3: 491)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى“Pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)Manusia pada hari itu teringat dengan semua kebaikan atau keburukan yang telah dia kerjakan di dunia, dirinya melihat amal-amal tersebut sudah tersusun rapi dalam catatan amal malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 36)Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang akan melihat neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat ini,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ أَيْ ظَهَرَتْ. لِمَنْ يَرى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُكْشَفُ عَنْهَا فَيَرَاهَا تَتَلَظَّى كُلُّ ذِي بَصَرٍ. وَقِيلَ: الْمُرَادُ الْكَافِرُ لِأَنَّهُ الَّذِي يَرَى النَّارَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَافِ الْعَذَابِ. وَقِيلَ: يَرَاهَا الْمُؤْمِنُ لِيَعْرِفَ قَدْرَ النِّعْمَةِ وَيُصْلَى الْكَافِرُ بِالنَّارِ“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka akan ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang memiliki penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang melihat neraka dan berbagai siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kaum mukminin juga melihat neraka agar semakin besar rasa syukur mereka karena telah diselamatkan dari neraka dan melihat kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19: 207)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ طَغٰى“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)Melampaui batas yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk memiliki batasan sebagai hamba dari Allah Ta’ala, akan tetapi mereka terjang dan robek batas tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.Mereka juga melampaui batasan dalam kehidupan bersama makhluk lain. Allah telah menggariskan batasan dengan makhluk lain dengan tidak saling menzalimi. Akan tetapi, mereka juga merusak batas ini dengan saling membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, memakan harta orang lain dengan saling menipu, menghancurkan kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan zalim lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka habis hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi benturan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih keuntungan duniawi yang bisa cepat didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, memakan harta haram, dan melanggar syariat demi keuntungan duniawi yang remeh temeh.Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa akan hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.Pada ayat 37 dan 38, Allah sebutkan secara global tentang kriteria penghuni neraka. Sehingga wajib bagi kita untuk muhasabah dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penghuni neraka tersebut ataukah tidak?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 39)Neraka Jahim menjadi tempat tinggal abadi mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal atau sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, harta sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api akan tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, bahkan untuk sekedar dibayangkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka yang membuat kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebutkan kebalikanya. Yaitu kriteria para penghuni surga yang kekal abadi, sebagai bentuk motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.Ada dua sifat yang Allah sebutkan: pertama berkaitan dengan rasa takut mereka kepada Allah, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Rasa takut ini sangat berkaitan dengan sifat kedua, yaitu mengerem diri mereka dari melakukan kemaksiatan yang didasari atas syahwat kebinatangan yang ada pada diri.Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dahulu karena itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah akan mudah baginya melakukan berbagai macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah hal terlarang.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau akan beristirahat di surga Allah.Setelah Allah sebutkan sifat penghuni neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan akidah orang musyrik yang mempertanyakan kapan kiamat itu terjadi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَا“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang akan datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah memberitahu kapan itu terjadi, karena Nabi tidak mengetahui.Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan kiamat itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang benar pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan karena jengah dan bernada menghina.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَا“Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, karena kiamat adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَا“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَا“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari kiamat).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 45)Allah membela Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang memiliki rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini karena peringatan hanya bermanfaat bagi mereka. Mereka akan mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut akan acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, bahkan menghina orang yang memperingatkan akan datangnya kiamat, dimana hal ini banyak terjadi di zaman kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا“Pada hari ketika melihatnya (hari kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sebentar saja di dunia.Tidak perlu jauh melihat hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, atau mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa kecil kita, ketika orang tua masih hidup, ketika masih muda, kita akan merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lalu tiba-tiba saja kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita.Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 4***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 5): Keadaan Akhir Manusia di Hari Kiamat

Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari kiamat yang dapat direnungkan oleh akal. Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka, apabila malapetaka terbesar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 34)Kiamat adalah suatu bencana dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari kiamat datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melebihi bencana apapun yang pernah terjadi.قال ابن عباس: هي القيامة سميت بذلك لأنها تطم على كل أمرٍ هائل مفظع“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari kiamat disebut sebagai at-thaammah karena kedahsyatan huru-hara kiamat tersebut akan menutupi dan mengalahkan segala bentuk perkara mengerikan dan bencana apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafasir, 3: 491)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى“Pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)Manusia pada hari itu teringat dengan semua kebaikan atau keburukan yang telah dia kerjakan di dunia, dirinya melihat amal-amal tersebut sudah tersusun rapi dalam catatan amal malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 36)Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang akan melihat neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat ini,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ أَيْ ظَهَرَتْ. لِمَنْ يَرى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُكْشَفُ عَنْهَا فَيَرَاهَا تَتَلَظَّى كُلُّ ذِي بَصَرٍ. وَقِيلَ: الْمُرَادُ الْكَافِرُ لِأَنَّهُ الَّذِي يَرَى النَّارَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَافِ الْعَذَابِ. وَقِيلَ: يَرَاهَا الْمُؤْمِنُ لِيَعْرِفَ قَدْرَ النِّعْمَةِ وَيُصْلَى الْكَافِرُ بِالنَّارِ“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka akan ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang memiliki penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang melihat neraka dan berbagai siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kaum mukminin juga melihat neraka agar semakin besar rasa syukur mereka karena telah diselamatkan dari neraka dan melihat kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19: 207)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ طَغٰى“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)Melampaui batas yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk memiliki batasan sebagai hamba dari Allah Ta’ala, akan tetapi mereka terjang dan robek batas tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.Mereka juga melampaui batasan dalam kehidupan bersama makhluk lain. Allah telah menggariskan batasan dengan makhluk lain dengan tidak saling menzalimi. Akan tetapi, mereka juga merusak batas ini dengan saling membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, memakan harta orang lain dengan saling menipu, menghancurkan kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan zalim lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka habis hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi benturan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih keuntungan duniawi yang bisa cepat didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, memakan harta haram, dan melanggar syariat demi keuntungan duniawi yang remeh temeh.Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa akan hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.Pada ayat 37 dan 38, Allah sebutkan secara global tentang kriteria penghuni neraka. Sehingga wajib bagi kita untuk muhasabah dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penghuni neraka tersebut ataukah tidak?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 39)Neraka Jahim menjadi tempat tinggal abadi mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal atau sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, harta sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api akan tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, bahkan untuk sekedar dibayangkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka yang membuat kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebutkan kebalikanya. Yaitu kriteria para penghuni surga yang kekal abadi, sebagai bentuk motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.Ada dua sifat yang Allah sebutkan: pertama berkaitan dengan rasa takut mereka kepada Allah, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Rasa takut ini sangat berkaitan dengan sifat kedua, yaitu mengerem diri mereka dari melakukan kemaksiatan yang didasari atas syahwat kebinatangan yang ada pada diri.Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dahulu karena itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah akan mudah baginya melakukan berbagai macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah hal terlarang.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau akan beristirahat di surga Allah.Setelah Allah sebutkan sifat penghuni neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan akidah orang musyrik yang mempertanyakan kapan kiamat itu terjadi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَا“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang akan datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah memberitahu kapan itu terjadi, karena Nabi tidak mengetahui.Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan kiamat itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang benar pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan karena jengah dan bernada menghina.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَا“Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, karena kiamat adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَا“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَا“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari kiamat).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 45)Allah membela Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang memiliki rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini karena peringatan hanya bermanfaat bagi mereka. Mereka akan mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut akan acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, bahkan menghina orang yang memperingatkan akan datangnya kiamat, dimana hal ini banyak terjadi di zaman kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا“Pada hari ketika melihatnya (hari kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sebentar saja di dunia.Tidak perlu jauh melihat hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, atau mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa kecil kita, ketika orang tua masih hidup, ketika masih muda, kita akan merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lalu tiba-tiba saja kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita.Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 4***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari kiamat yang dapat direnungkan oleh akal. Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka, apabila malapetaka terbesar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 34)Kiamat adalah suatu bencana dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari kiamat datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melebihi bencana apapun yang pernah terjadi.قال ابن عباس: هي القيامة سميت بذلك لأنها تطم على كل أمرٍ هائل مفظع“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari kiamat disebut sebagai at-thaammah karena kedahsyatan huru-hara kiamat tersebut akan menutupi dan mengalahkan segala bentuk perkara mengerikan dan bencana apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafasir, 3: 491)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى“Pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)Manusia pada hari itu teringat dengan semua kebaikan atau keburukan yang telah dia kerjakan di dunia, dirinya melihat amal-amal tersebut sudah tersusun rapi dalam catatan amal malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 36)Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang akan melihat neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat ini,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ أَيْ ظَهَرَتْ. لِمَنْ يَرى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُكْشَفُ عَنْهَا فَيَرَاهَا تَتَلَظَّى كُلُّ ذِي بَصَرٍ. وَقِيلَ: الْمُرَادُ الْكَافِرُ لِأَنَّهُ الَّذِي يَرَى النَّارَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَافِ الْعَذَابِ. وَقِيلَ: يَرَاهَا الْمُؤْمِنُ لِيَعْرِفَ قَدْرَ النِّعْمَةِ وَيُصْلَى الْكَافِرُ بِالنَّارِ“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka akan ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang memiliki penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang melihat neraka dan berbagai siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kaum mukminin juga melihat neraka agar semakin besar rasa syukur mereka karena telah diselamatkan dari neraka dan melihat kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19: 207)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ طَغٰى“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)Melampaui batas yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk memiliki batasan sebagai hamba dari Allah Ta’ala, akan tetapi mereka terjang dan robek batas tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.Mereka juga melampaui batasan dalam kehidupan bersama makhluk lain. Allah telah menggariskan batasan dengan makhluk lain dengan tidak saling menzalimi. Akan tetapi, mereka juga merusak batas ini dengan saling membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, memakan harta orang lain dengan saling menipu, menghancurkan kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan zalim lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka habis hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi benturan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih keuntungan duniawi yang bisa cepat didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, memakan harta haram, dan melanggar syariat demi keuntungan duniawi yang remeh temeh.Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa akan hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.Pada ayat 37 dan 38, Allah sebutkan secara global tentang kriteria penghuni neraka. Sehingga wajib bagi kita untuk muhasabah dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penghuni neraka tersebut ataukah tidak?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 39)Neraka Jahim menjadi tempat tinggal abadi mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal atau sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, harta sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api akan tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, bahkan untuk sekedar dibayangkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka yang membuat kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebutkan kebalikanya. Yaitu kriteria para penghuni surga yang kekal abadi, sebagai bentuk motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.Ada dua sifat yang Allah sebutkan: pertama berkaitan dengan rasa takut mereka kepada Allah, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Rasa takut ini sangat berkaitan dengan sifat kedua, yaitu mengerem diri mereka dari melakukan kemaksiatan yang didasari atas syahwat kebinatangan yang ada pada diri.Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dahulu karena itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah akan mudah baginya melakukan berbagai macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah hal terlarang.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau akan beristirahat di surga Allah.Setelah Allah sebutkan sifat penghuni neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan akidah orang musyrik yang mempertanyakan kapan kiamat itu terjadi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَا“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang akan datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah memberitahu kapan itu terjadi, karena Nabi tidak mengetahui.Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan kiamat itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang benar pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan karena jengah dan bernada menghina.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَا“Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, karena kiamat adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَا“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَا“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari kiamat).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 45)Allah membela Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang memiliki rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini karena peringatan hanya bermanfaat bagi mereka. Mereka akan mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut akan acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, bahkan menghina orang yang memperingatkan akan datangnya kiamat, dimana hal ini banyak terjadi di zaman kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا“Pada hari ketika melihatnya (hari kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sebentar saja di dunia.Tidak perlu jauh melihat hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, atau mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa kecil kita, ketika orang tua masih hidup, ketika masih muda, kita akan merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lalu tiba-tiba saja kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita.Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 4***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/


Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan penciptaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban ciptaan dan pengaturan. Penyebutan berbagai hal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari kiamat yang dapat direnungkan oleh akal. Allah mampu menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى“Maka, apabila malapetaka terbesar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 34)Kiamat adalah suatu bencana dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari kiamat datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melebihi bencana apapun yang pernah terjadi.قال ابن عباس: هي القيامة سميت بذلك لأنها تطم على كل أمرٍ هائل مفظع“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari kiamat disebut sebagai at-thaammah karena kedahsyatan huru-hara kiamat tersebut akan menutupi dan mengalahkan segala bentuk perkara mengerikan dan bencana apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafasir, 3: 491)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى“Pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)Manusia pada hari itu teringat dengan semua kebaikan atau keburukan yang telah dia kerjakan di dunia, dirinya melihat amal-amal tersebut sudah tersusun rapi dalam catatan amal malaikat.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 36)Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang akan melihat neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat ini,وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ أَيْ ظَهَرَتْ. لِمَنْ يَرى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُكْشَفُ عَنْهَا فَيَرَاهَا تَتَلَظَّى كُلُّ ذِي بَصَرٍ. وَقِيلَ: الْمُرَادُ الْكَافِرُ لِأَنَّهُ الَّذِي يَرَى النَّارَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَافِ الْعَذَابِ. وَقِيلَ: يَرَاهَا الْمُؤْمِنُ لِيَعْرِفَ قَدْرَ النِّعْمَةِ وَيُصْلَى الْكَافِرُ بِالنَّارِ“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka akan ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang memiliki penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang melihat neraka dan berbagai siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kaum mukminin juga melihat neraka agar semakin besar rasa syukur mereka karena telah diselamatkan dari neraka dan melihat kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19: 207)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَمَّا مَنْ طَغٰى“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)Melampaui batas yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk memiliki batasan sebagai hamba dari Allah Ta’ala, akan tetapi mereka terjang dan robek batas tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.Mereka juga melampaui batasan dalam kehidupan bersama makhluk lain. Allah telah menggariskan batasan dengan makhluk lain dengan tidak saling menzalimi. Akan tetapi, mereka juga merusak batas ini dengan saling membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, memakan harta orang lain dengan saling menipu, menghancurkan kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan zalim lainnya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka habis hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi benturan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih keuntungan duniawi yang bisa cepat didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, memakan harta haram, dan melanggar syariat demi keuntungan duniawi yang remeh temeh.Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa akan hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.Pada ayat 37 dan 38, Allah sebutkan secara global tentang kriteria penghuni neraka. Sehingga wajib bagi kita untuk muhasabah dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penghuni neraka tersebut ataukah tidak?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 39)Neraka Jahim menjadi tempat tinggal abadi mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal atau sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, harta sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api akan tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, bahkan untuk sekedar dibayangkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat penghuni neraka yang membuat kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebutkan kebalikanya. Yaitu kriteria para penghuni surga yang kekal abadi, sebagai bentuk motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.Ada dua sifat yang Allah sebutkan: pertama berkaitan dengan rasa takut mereka kepada Allah, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Rasa takut ini sangat berkaitan dengan sifat kedua, yaitu mengerem diri mereka dari melakukan kemaksiatan yang didasari atas syahwat kebinatangan yang ada pada diri.Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dahulu karena itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah akan mudah baginya melakukan berbagai macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah hal terlarang.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau akan beristirahat di surga Allah.Setelah Allah sebutkan sifat penghuni neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan akidah orang musyrik yang mempertanyakan kapan kiamat itu terjadi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَا“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang akan datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah memberitahu kapan itu terjadi, karena Nabi tidak mengetahui.Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan kiamat itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang benar pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan karena jengah dan bernada menghina.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَا“Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, karena kiamat adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَا“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَا“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari kiamat).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 45)Allah membela Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang memiliki rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini karena peringatan hanya bermanfaat bagi mereka. Mereka akan mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut akan acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, bahkan menghina orang yang memperingatkan akan datangnya kiamat, dimana hal ini banyak terjadi di zaman kita.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا“Pada hari ketika melihatnya (hari kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sebentar saja di dunia.Tidak perlu jauh melihat hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, atau mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa kecil kita, ketika orang tua masih hidup, ketika masih muda, kita akan merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lalu tiba-tiba saja kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita.Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 4***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Fikih “DP” (Uang Muka): Mengenal Hukum Bay’ Al-‘Urbun dalam Jual Beli

Daftar Isi ToggleDefinisi bay’ al-‘urbunJenis-jenis bay’ al-‘urbun– Sebelum dilaksanakan akad– Beriringan dengan dimulainya akadPendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat yang lebih kuatManfaat bay’ al-‘urbunDi antara pembahasan-pembahasan dalam bidang fikih muamalah, terdapat satu masalah yang sangat penting untuk diketahui. Transaksi ini sangat sering dilaksanakan oleh kaum muslimin tatkala melakukan jual beli. Kita sering menyebutnya dengan “DP (down payment)”, “uang muka”, “panjer”, dan lain sebagainya.Transaksi ini sudah menjadi lumrah dan umum di kalangan kaum muslimin, mengingat praktik semacam ini berlaku pada berbagai macam transaksi, seperti pembelian properti, kendaraan, sampai pada transaksi e-commerce. Mudahnya, DP ini dijadikan sebagai sarana pengikat komitmen antara pembeli dan penjual.Definisi bay’ al-‘urbunDi dalam fikih muamalah, transaksi ini disebut dengan enam bahasa. Namun yang lebih tepat adalah penyebutan di bawah ini [1]:– بَيْعُ العَرَبُوْن (bay’ al-‘arabun)– بَيْعُ العُرْبَان (bay’ al-‘urban)– بَيْعُ العُرْبُوْن (bay’ al-‘urbun)Secara bahasa (etimologi), bay’ al-‘urbun adalah,التَّسْلِيْمُ وَالتَّقْدِيْمُ“Penyerahan dan pengajuan.” Adapun secara istilah (terminologi), bay’ al-‘urbun adalah,هُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ الرَّجُلُ شَيْئًا، فَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ الْمَبِيعِ دِرْهَمًا، أَوْ غَيْرَهُ مَثَلًا، عَلَى أَنَّهُ إِنْ نَفَذَ الْبَيْعُ بَيْنَهُمَا احْتُسِبَ الْمَدْفُوعُ مِنَ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَنْفُذْ، يُجْعَلْ هِبَةً مِنَ الْمُشْتَرِي لِلْبَائِعِ.“Yaitu seseorang membeli sesuatu, lalu ia menyerahkan sejumlah uang seperti satu dirham atau nominal lainnya dari total harga barang kepada penjual, dengan ketentuan: jika transaksi jual beli tersebut jadi berlangsung di antara keduanya, maka uang yang telah dibayarkan itu dihitung sebagai bagian dari harga barang. Namun, jika transaksi tidak jadi berlangsung, maka uang tersebut dijadikan sebagai hibah (pemberian sukarela) dari pembeli untuk penjual.” [1]Ringkasnya, bay’ al-‘urbun adalah sebuah nominal yang diberikan di awal transaksi sebagai uang jaminan atau tanda jadi dari pembeli untuk penjual. Nominal tersebut merupakan bagian kecil dari harga barang. Jika transaksi tersebut dibatalkan, maka uang atau nominal tersebut dijadikan sebagai hibah yang diberikan pembeli kepada penjual. Jika transaksi tidak dibatalkan, maka nominal yang telah dibayarkan di awal tersebut include dari harga barang yang ingin dibeli (sehingga pembeli tinggal melunasi selisih atau sisanya).Sehingga sejatinya, pada jual beli ini terdapat “khiyar (hak pilih)” secara tidak langsung. Jika jadi, maka uang muka menjadi bagian dari harga barang. Jika tidak, maka hanguslah uang muka yang telah diberikan oleh pembeli.Jenis-jenis bay’ al-‘urbunTerdapat dua jenis bay’ al-‘urbun:– Sebelum dilaksanakan akadPembeli memberikan uang muka kepada penjual; jika transaksi jual beli berlanjut, maka uang muka termasuk harga barang. Jika transaksi jual beli tidak berlanjut, maka uang muka dikembalikan kepada pembeli.Dalam hal ini, hukumnya boleh dan tidak ada permasalahan pada akad ini. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, المُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ“Kaum muslimin itu harus memenuhi kesepakatan yang telah mereka buat.” (HR. Al-Hakim)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ بَيْعُ الْعُرْبَانِ الَّذِي أَجَازَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ صَحَّ عَنْهُ أَنْ يُجْعَلَ الْعُرْبَانُ عَنِ الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ سِلْعَتِهِ إِنْ تَمَّ الْبَيْعُ وَإِلَّا رَدَّهُ وَهَذَا وَجْهٌ جَائِزٌ عِنْدَ الْجَمِيعِ“Terdapat kemungkinan, bahwa bay’ al-‘urban yang diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -andaikata hadis tersebut sahih dari beliau-, adalah jika transaksi jual beli itu jadi, maka uang muka tersebut dijadikan bagian dari harga barang milik penjual. Namun, jika transaksi tersebut tidak jadi, maka penjual mengembalikan uang muka tersebut (kepada pembeli). Dan bentuk seperti ini adalah perkara yang diperbolehkan menurut kesepakatan seluruh ulama (ijmak).” [2]– Beriringan dengan dimulainya akad Jenis ini sama dengan definisi yang disebutkan di atas. Yaitu, pembeli memberikan uang muka kepada penjual. Jika transaksi jual beli jadi, maka uang muka termasuk bagian dari harga barang. Dan jika tidak jadi, maka uang muka hangus dan diberikan kepada penjual.Para ulama berselisih pada jenis ini, terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’i, dan sebagian dari pendapat Hanbali, yaitu Al-Imam Abul Khattab rahimahumullah.Dalil dari jumhur ulama:– Terdapat hadis yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli ‘urban.” (HR. Ibnu Majah)– Bahwasanya bay’ al-urbun tak ubahnya seperti memakan harta manusia dengan cara yang batil. Hal ini dilihat dari sisi uang yang sudah dibayarkan oleh pembeli menjadi hangus dan diserahkan kepada penjual.Pendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Hanbali selain dari Al-Imam Abul Khattab rahimahullah.Dalil dari pendapat ini:– Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,اشْتَرَى نَافِعُ بْنُ عَبْدِ الْحَارِثِ دَارًا لِلسِّجْنِ بِمَكَّةَ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ عَلَى أَنَّ عُمَرَ إِنْ رَضِيَ فَالْبَيْعُ بَيْعُهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْضَ عُمَرُ فَلِصَفْوَانَ أَرْبَعُمِائَةٍ، وَسَجَنَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ“Nafi’ bin Abdul Harits membeli sebuah rumah di Makkah dari Shafwan bin Umayyah untuk dijadikan penjara, dengan syarat: jika Umar rida (setuju), maka jual beli itu sah. Namun, jika Umar tidak setuju, maka Shafwan berhak mendapatkan empat ratus (dirham/dinar sebagai ganti rugi), dan Ibnu Az-Zubair pernah dipenjara di Makkah.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan persetujuan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dan tidak ada yang menyelisihinya.– Hadis yang dijadikan dalil akan larangan bay’ al-‘urbun adalah hadis yang dha’if (lemah). Hadis tersebut dilemahkan oleh para ulama, di antaranya oleh Imam Ahmad rahimahullah. Bahkan disebutkan hadis tersebut munqathi’ (terputus jalur periwayatannya).– Para ulama yang membolehkan berpendapat bahwasanya transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena sesungguhnya penjual mengambil harta tersebut sebagai kompensasi atas waktu tunggu, serta tertahannya barang komoditas tersebut di tangannya tanpa terjual.Hal ini karena ia harus menunggu hingga pembeli ini memantapkan niatnya untuk membeli. Padahal, adakalanya pembeli tersebut tidak jadi membeli, sehingga penjual telah menahan barang ini tanpa bisa menjualnya kepada orang lain.Oleh karena itu, transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil, karena penjual bisa saja mendapatkan maslahat (keuntungan) atau justru mengalami kerugian akibat waktu tersebut.Pendapat yang lebih kuatPendapat yang kuat dan dipilih oleh beberapa ulama pada masa ini, yaitu bay’ al-‘urbun hukumnya mubah dan diperbolehkan selama terpenuhi syarat-syaratnya [3], yaitu:–  Harus adanya jangka waktu tertentu yang disepakati antara pembeli dan penjual sejak pemberian uang muka.– Nominal dari uang muka tidaklah besar, ia hanya nominal kecil sebagai jaminan saja.– Jika pembeli membatalkan karena alasan kuat dan syar’i (seperti sakit keras, kecelakaan, dan lain sebagainya), penjual harus mengembalikan uang muka tersebut kepada pembeli tanpa dirugikan.Manfaat bay’ al-‘urbunAdapun manfaat dari bay’ al-‘urbun adalah [3]:Pertama: Penjual mengetahui keseriusan pembeli dalam transaksi jual beli.Kedua: Pembeli memiliki keseriusan untuk melunasi transaksi, karena dia mengetahui uang yang sudah masuk tidak dapat dikembalikan.Ketiga: Adakalanya barang tertahan di pembeli, sehingga tidak bisa dibeli oleh orang lain karena sudah dipesan oleh pembeli. Tentu hal ini menimbulkan mudarat bagi penjual jika di kemudian waktu tidak jadi dibeli. Sehingga dengan adanya uang muka, terdapat kompensasi atas waktu dan kesempatan yang seharusnya penjual mungkin bisa memperoleh keuntungan.Wallahu a’lam.Baca juga: Jual Beli dan Syarat-Syaratnya***Depok, 5 Zulhijah 1447/ 22 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 5: 3434.[2] Al-Istidzkar, 5: 265.[3] Video Syekh Dr. Aziz Farhan Al-Anazi: https://www.youtube.com/watch?v=AKv1zs1Ww6ADaftar Pustaka– Az-Zuhaili, Wahbah. 1997. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-4. Damaskus: Darul Fikr.– Ibn Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah. 2000. Al-Istidkar. Penyunting: Salim Muhammad Ata dan Muhammad Ali Mu’awwad. Cetakan ke-1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Fikih “DP” (Uang Muka): Mengenal Hukum Bay’ Al-‘Urbun dalam Jual Beli

Daftar Isi ToggleDefinisi bay’ al-‘urbunJenis-jenis bay’ al-‘urbun– Sebelum dilaksanakan akad– Beriringan dengan dimulainya akadPendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat yang lebih kuatManfaat bay’ al-‘urbunDi antara pembahasan-pembahasan dalam bidang fikih muamalah, terdapat satu masalah yang sangat penting untuk diketahui. Transaksi ini sangat sering dilaksanakan oleh kaum muslimin tatkala melakukan jual beli. Kita sering menyebutnya dengan “DP (down payment)”, “uang muka”, “panjer”, dan lain sebagainya.Transaksi ini sudah menjadi lumrah dan umum di kalangan kaum muslimin, mengingat praktik semacam ini berlaku pada berbagai macam transaksi, seperti pembelian properti, kendaraan, sampai pada transaksi e-commerce. Mudahnya, DP ini dijadikan sebagai sarana pengikat komitmen antara pembeli dan penjual.Definisi bay’ al-‘urbunDi dalam fikih muamalah, transaksi ini disebut dengan enam bahasa. Namun yang lebih tepat adalah penyebutan di bawah ini [1]:– بَيْعُ العَرَبُوْن (bay’ al-‘arabun)– بَيْعُ العُرْبَان (bay’ al-‘urban)– بَيْعُ العُرْبُوْن (bay’ al-‘urbun)Secara bahasa (etimologi), bay’ al-‘urbun adalah,التَّسْلِيْمُ وَالتَّقْدِيْمُ“Penyerahan dan pengajuan.” Adapun secara istilah (terminologi), bay’ al-‘urbun adalah,هُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ الرَّجُلُ شَيْئًا، فَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ الْمَبِيعِ دِرْهَمًا، أَوْ غَيْرَهُ مَثَلًا، عَلَى أَنَّهُ إِنْ نَفَذَ الْبَيْعُ بَيْنَهُمَا احْتُسِبَ الْمَدْفُوعُ مِنَ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَنْفُذْ، يُجْعَلْ هِبَةً مِنَ الْمُشْتَرِي لِلْبَائِعِ.“Yaitu seseorang membeli sesuatu, lalu ia menyerahkan sejumlah uang seperti satu dirham atau nominal lainnya dari total harga barang kepada penjual, dengan ketentuan: jika transaksi jual beli tersebut jadi berlangsung di antara keduanya, maka uang yang telah dibayarkan itu dihitung sebagai bagian dari harga barang. Namun, jika transaksi tidak jadi berlangsung, maka uang tersebut dijadikan sebagai hibah (pemberian sukarela) dari pembeli untuk penjual.” [1]Ringkasnya, bay’ al-‘urbun adalah sebuah nominal yang diberikan di awal transaksi sebagai uang jaminan atau tanda jadi dari pembeli untuk penjual. Nominal tersebut merupakan bagian kecil dari harga barang. Jika transaksi tersebut dibatalkan, maka uang atau nominal tersebut dijadikan sebagai hibah yang diberikan pembeli kepada penjual. Jika transaksi tidak dibatalkan, maka nominal yang telah dibayarkan di awal tersebut include dari harga barang yang ingin dibeli (sehingga pembeli tinggal melunasi selisih atau sisanya).Sehingga sejatinya, pada jual beli ini terdapat “khiyar (hak pilih)” secara tidak langsung. Jika jadi, maka uang muka menjadi bagian dari harga barang. Jika tidak, maka hanguslah uang muka yang telah diberikan oleh pembeli.Jenis-jenis bay’ al-‘urbunTerdapat dua jenis bay’ al-‘urbun:– Sebelum dilaksanakan akadPembeli memberikan uang muka kepada penjual; jika transaksi jual beli berlanjut, maka uang muka termasuk harga barang. Jika transaksi jual beli tidak berlanjut, maka uang muka dikembalikan kepada pembeli.Dalam hal ini, hukumnya boleh dan tidak ada permasalahan pada akad ini. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, المُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ“Kaum muslimin itu harus memenuhi kesepakatan yang telah mereka buat.” (HR. Al-Hakim)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ بَيْعُ الْعُرْبَانِ الَّذِي أَجَازَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ صَحَّ عَنْهُ أَنْ يُجْعَلَ الْعُرْبَانُ عَنِ الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ سِلْعَتِهِ إِنْ تَمَّ الْبَيْعُ وَإِلَّا رَدَّهُ وَهَذَا وَجْهٌ جَائِزٌ عِنْدَ الْجَمِيعِ“Terdapat kemungkinan, bahwa bay’ al-‘urban yang diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -andaikata hadis tersebut sahih dari beliau-, adalah jika transaksi jual beli itu jadi, maka uang muka tersebut dijadikan bagian dari harga barang milik penjual. Namun, jika transaksi tersebut tidak jadi, maka penjual mengembalikan uang muka tersebut (kepada pembeli). Dan bentuk seperti ini adalah perkara yang diperbolehkan menurut kesepakatan seluruh ulama (ijmak).” [2]– Beriringan dengan dimulainya akad Jenis ini sama dengan definisi yang disebutkan di atas. Yaitu, pembeli memberikan uang muka kepada penjual. Jika transaksi jual beli jadi, maka uang muka termasuk bagian dari harga barang. Dan jika tidak jadi, maka uang muka hangus dan diberikan kepada penjual.Para ulama berselisih pada jenis ini, terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’i, dan sebagian dari pendapat Hanbali, yaitu Al-Imam Abul Khattab rahimahumullah.Dalil dari jumhur ulama:– Terdapat hadis yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli ‘urban.” (HR. Ibnu Majah)– Bahwasanya bay’ al-urbun tak ubahnya seperti memakan harta manusia dengan cara yang batil. Hal ini dilihat dari sisi uang yang sudah dibayarkan oleh pembeli menjadi hangus dan diserahkan kepada penjual.Pendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Hanbali selain dari Al-Imam Abul Khattab rahimahullah.Dalil dari pendapat ini:– Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,اشْتَرَى نَافِعُ بْنُ عَبْدِ الْحَارِثِ دَارًا لِلسِّجْنِ بِمَكَّةَ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ عَلَى أَنَّ عُمَرَ إِنْ رَضِيَ فَالْبَيْعُ بَيْعُهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْضَ عُمَرُ فَلِصَفْوَانَ أَرْبَعُمِائَةٍ، وَسَجَنَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ“Nafi’ bin Abdul Harits membeli sebuah rumah di Makkah dari Shafwan bin Umayyah untuk dijadikan penjara, dengan syarat: jika Umar rida (setuju), maka jual beli itu sah. Namun, jika Umar tidak setuju, maka Shafwan berhak mendapatkan empat ratus (dirham/dinar sebagai ganti rugi), dan Ibnu Az-Zubair pernah dipenjara di Makkah.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan persetujuan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dan tidak ada yang menyelisihinya.– Hadis yang dijadikan dalil akan larangan bay’ al-‘urbun adalah hadis yang dha’if (lemah). Hadis tersebut dilemahkan oleh para ulama, di antaranya oleh Imam Ahmad rahimahullah. Bahkan disebutkan hadis tersebut munqathi’ (terputus jalur periwayatannya).– Para ulama yang membolehkan berpendapat bahwasanya transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena sesungguhnya penjual mengambil harta tersebut sebagai kompensasi atas waktu tunggu, serta tertahannya barang komoditas tersebut di tangannya tanpa terjual.Hal ini karena ia harus menunggu hingga pembeli ini memantapkan niatnya untuk membeli. Padahal, adakalanya pembeli tersebut tidak jadi membeli, sehingga penjual telah menahan barang ini tanpa bisa menjualnya kepada orang lain.Oleh karena itu, transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil, karena penjual bisa saja mendapatkan maslahat (keuntungan) atau justru mengalami kerugian akibat waktu tersebut.Pendapat yang lebih kuatPendapat yang kuat dan dipilih oleh beberapa ulama pada masa ini, yaitu bay’ al-‘urbun hukumnya mubah dan diperbolehkan selama terpenuhi syarat-syaratnya [3], yaitu:–  Harus adanya jangka waktu tertentu yang disepakati antara pembeli dan penjual sejak pemberian uang muka.– Nominal dari uang muka tidaklah besar, ia hanya nominal kecil sebagai jaminan saja.– Jika pembeli membatalkan karena alasan kuat dan syar’i (seperti sakit keras, kecelakaan, dan lain sebagainya), penjual harus mengembalikan uang muka tersebut kepada pembeli tanpa dirugikan.Manfaat bay’ al-‘urbunAdapun manfaat dari bay’ al-‘urbun adalah [3]:Pertama: Penjual mengetahui keseriusan pembeli dalam transaksi jual beli.Kedua: Pembeli memiliki keseriusan untuk melunasi transaksi, karena dia mengetahui uang yang sudah masuk tidak dapat dikembalikan.Ketiga: Adakalanya barang tertahan di pembeli, sehingga tidak bisa dibeli oleh orang lain karena sudah dipesan oleh pembeli. Tentu hal ini menimbulkan mudarat bagi penjual jika di kemudian waktu tidak jadi dibeli. Sehingga dengan adanya uang muka, terdapat kompensasi atas waktu dan kesempatan yang seharusnya penjual mungkin bisa memperoleh keuntungan.Wallahu a’lam.Baca juga: Jual Beli dan Syarat-Syaratnya***Depok, 5 Zulhijah 1447/ 22 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 5: 3434.[2] Al-Istidzkar, 5: 265.[3] Video Syekh Dr. Aziz Farhan Al-Anazi: https://www.youtube.com/watch?v=AKv1zs1Ww6ADaftar Pustaka– Az-Zuhaili, Wahbah. 1997. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-4. Damaskus: Darul Fikr.– Ibn Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah. 2000. Al-Istidkar. Penyunting: Salim Muhammad Ata dan Muhammad Ali Mu’awwad. Cetakan ke-1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Daftar Isi ToggleDefinisi bay’ al-‘urbunJenis-jenis bay’ al-‘urbun– Sebelum dilaksanakan akad– Beriringan dengan dimulainya akadPendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat yang lebih kuatManfaat bay’ al-‘urbunDi antara pembahasan-pembahasan dalam bidang fikih muamalah, terdapat satu masalah yang sangat penting untuk diketahui. Transaksi ini sangat sering dilaksanakan oleh kaum muslimin tatkala melakukan jual beli. Kita sering menyebutnya dengan “DP (down payment)”, “uang muka”, “panjer”, dan lain sebagainya.Transaksi ini sudah menjadi lumrah dan umum di kalangan kaum muslimin, mengingat praktik semacam ini berlaku pada berbagai macam transaksi, seperti pembelian properti, kendaraan, sampai pada transaksi e-commerce. Mudahnya, DP ini dijadikan sebagai sarana pengikat komitmen antara pembeli dan penjual.Definisi bay’ al-‘urbunDi dalam fikih muamalah, transaksi ini disebut dengan enam bahasa. Namun yang lebih tepat adalah penyebutan di bawah ini [1]:– بَيْعُ العَرَبُوْن (bay’ al-‘arabun)– بَيْعُ العُرْبَان (bay’ al-‘urban)– بَيْعُ العُرْبُوْن (bay’ al-‘urbun)Secara bahasa (etimologi), bay’ al-‘urbun adalah,التَّسْلِيْمُ وَالتَّقْدِيْمُ“Penyerahan dan pengajuan.” Adapun secara istilah (terminologi), bay’ al-‘urbun adalah,هُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ الرَّجُلُ شَيْئًا، فَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ الْمَبِيعِ دِرْهَمًا، أَوْ غَيْرَهُ مَثَلًا، عَلَى أَنَّهُ إِنْ نَفَذَ الْبَيْعُ بَيْنَهُمَا احْتُسِبَ الْمَدْفُوعُ مِنَ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَنْفُذْ، يُجْعَلْ هِبَةً مِنَ الْمُشْتَرِي لِلْبَائِعِ.“Yaitu seseorang membeli sesuatu, lalu ia menyerahkan sejumlah uang seperti satu dirham atau nominal lainnya dari total harga barang kepada penjual, dengan ketentuan: jika transaksi jual beli tersebut jadi berlangsung di antara keduanya, maka uang yang telah dibayarkan itu dihitung sebagai bagian dari harga barang. Namun, jika transaksi tidak jadi berlangsung, maka uang tersebut dijadikan sebagai hibah (pemberian sukarela) dari pembeli untuk penjual.” [1]Ringkasnya, bay’ al-‘urbun adalah sebuah nominal yang diberikan di awal transaksi sebagai uang jaminan atau tanda jadi dari pembeli untuk penjual. Nominal tersebut merupakan bagian kecil dari harga barang. Jika transaksi tersebut dibatalkan, maka uang atau nominal tersebut dijadikan sebagai hibah yang diberikan pembeli kepada penjual. Jika transaksi tidak dibatalkan, maka nominal yang telah dibayarkan di awal tersebut include dari harga barang yang ingin dibeli (sehingga pembeli tinggal melunasi selisih atau sisanya).Sehingga sejatinya, pada jual beli ini terdapat “khiyar (hak pilih)” secara tidak langsung. Jika jadi, maka uang muka menjadi bagian dari harga barang. Jika tidak, maka hanguslah uang muka yang telah diberikan oleh pembeli.Jenis-jenis bay’ al-‘urbunTerdapat dua jenis bay’ al-‘urbun:– Sebelum dilaksanakan akadPembeli memberikan uang muka kepada penjual; jika transaksi jual beli berlanjut, maka uang muka termasuk harga barang. Jika transaksi jual beli tidak berlanjut, maka uang muka dikembalikan kepada pembeli.Dalam hal ini, hukumnya boleh dan tidak ada permasalahan pada akad ini. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, المُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ“Kaum muslimin itu harus memenuhi kesepakatan yang telah mereka buat.” (HR. Al-Hakim)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ بَيْعُ الْعُرْبَانِ الَّذِي أَجَازَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ صَحَّ عَنْهُ أَنْ يُجْعَلَ الْعُرْبَانُ عَنِ الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ سِلْعَتِهِ إِنْ تَمَّ الْبَيْعُ وَإِلَّا رَدَّهُ وَهَذَا وَجْهٌ جَائِزٌ عِنْدَ الْجَمِيعِ“Terdapat kemungkinan, bahwa bay’ al-‘urban yang diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -andaikata hadis tersebut sahih dari beliau-, adalah jika transaksi jual beli itu jadi, maka uang muka tersebut dijadikan bagian dari harga barang milik penjual. Namun, jika transaksi tersebut tidak jadi, maka penjual mengembalikan uang muka tersebut (kepada pembeli). Dan bentuk seperti ini adalah perkara yang diperbolehkan menurut kesepakatan seluruh ulama (ijmak).” [2]– Beriringan dengan dimulainya akad Jenis ini sama dengan definisi yang disebutkan di atas. Yaitu, pembeli memberikan uang muka kepada penjual. Jika transaksi jual beli jadi, maka uang muka termasuk bagian dari harga barang. Dan jika tidak jadi, maka uang muka hangus dan diberikan kepada penjual.Para ulama berselisih pada jenis ini, terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’i, dan sebagian dari pendapat Hanbali, yaitu Al-Imam Abul Khattab rahimahumullah.Dalil dari jumhur ulama:– Terdapat hadis yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli ‘urban.” (HR. Ibnu Majah)– Bahwasanya bay’ al-urbun tak ubahnya seperti memakan harta manusia dengan cara yang batil. Hal ini dilihat dari sisi uang yang sudah dibayarkan oleh pembeli menjadi hangus dan diserahkan kepada penjual.Pendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Hanbali selain dari Al-Imam Abul Khattab rahimahullah.Dalil dari pendapat ini:– Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,اشْتَرَى نَافِعُ بْنُ عَبْدِ الْحَارِثِ دَارًا لِلسِّجْنِ بِمَكَّةَ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ عَلَى أَنَّ عُمَرَ إِنْ رَضِيَ فَالْبَيْعُ بَيْعُهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْضَ عُمَرُ فَلِصَفْوَانَ أَرْبَعُمِائَةٍ، وَسَجَنَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ“Nafi’ bin Abdul Harits membeli sebuah rumah di Makkah dari Shafwan bin Umayyah untuk dijadikan penjara, dengan syarat: jika Umar rida (setuju), maka jual beli itu sah. Namun, jika Umar tidak setuju, maka Shafwan berhak mendapatkan empat ratus (dirham/dinar sebagai ganti rugi), dan Ibnu Az-Zubair pernah dipenjara di Makkah.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan persetujuan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dan tidak ada yang menyelisihinya.– Hadis yang dijadikan dalil akan larangan bay’ al-‘urbun adalah hadis yang dha’if (lemah). Hadis tersebut dilemahkan oleh para ulama, di antaranya oleh Imam Ahmad rahimahullah. Bahkan disebutkan hadis tersebut munqathi’ (terputus jalur periwayatannya).– Para ulama yang membolehkan berpendapat bahwasanya transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena sesungguhnya penjual mengambil harta tersebut sebagai kompensasi atas waktu tunggu, serta tertahannya barang komoditas tersebut di tangannya tanpa terjual.Hal ini karena ia harus menunggu hingga pembeli ini memantapkan niatnya untuk membeli. Padahal, adakalanya pembeli tersebut tidak jadi membeli, sehingga penjual telah menahan barang ini tanpa bisa menjualnya kepada orang lain.Oleh karena itu, transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil, karena penjual bisa saja mendapatkan maslahat (keuntungan) atau justru mengalami kerugian akibat waktu tersebut.Pendapat yang lebih kuatPendapat yang kuat dan dipilih oleh beberapa ulama pada masa ini, yaitu bay’ al-‘urbun hukumnya mubah dan diperbolehkan selama terpenuhi syarat-syaratnya [3], yaitu:–  Harus adanya jangka waktu tertentu yang disepakati antara pembeli dan penjual sejak pemberian uang muka.– Nominal dari uang muka tidaklah besar, ia hanya nominal kecil sebagai jaminan saja.– Jika pembeli membatalkan karena alasan kuat dan syar’i (seperti sakit keras, kecelakaan, dan lain sebagainya), penjual harus mengembalikan uang muka tersebut kepada pembeli tanpa dirugikan.Manfaat bay’ al-‘urbunAdapun manfaat dari bay’ al-‘urbun adalah [3]:Pertama: Penjual mengetahui keseriusan pembeli dalam transaksi jual beli.Kedua: Pembeli memiliki keseriusan untuk melunasi transaksi, karena dia mengetahui uang yang sudah masuk tidak dapat dikembalikan.Ketiga: Adakalanya barang tertahan di pembeli, sehingga tidak bisa dibeli oleh orang lain karena sudah dipesan oleh pembeli. Tentu hal ini menimbulkan mudarat bagi penjual jika di kemudian waktu tidak jadi dibeli. Sehingga dengan adanya uang muka, terdapat kompensasi atas waktu dan kesempatan yang seharusnya penjual mungkin bisa memperoleh keuntungan.Wallahu a’lam.Baca juga: Jual Beli dan Syarat-Syaratnya***Depok, 5 Zulhijah 1447/ 22 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 5: 3434.[2] Al-Istidzkar, 5: 265.[3] Video Syekh Dr. Aziz Farhan Al-Anazi: https://www.youtube.com/watch?v=AKv1zs1Ww6ADaftar Pustaka– Az-Zuhaili, Wahbah. 1997. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-4. Damaskus: Darul Fikr.– Ibn Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah. 2000. Al-Istidkar. Penyunting: Salim Muhammad Ata dan Muhammad Ali Mu’awwad. Cetakan ke-1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.


Daftar Isi ToggleDefinisi bay’ al-‘urbunJenis-jenis bay’ al-‘urbun– Sebelum dilaksanakan akad– Beriringan dengan dimulainya akadPendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat yang lebih kuatManfaat bay’ al-‘urbunDi antara pembahasan-pembahasan dalam bidang fikih muamalah, terdapat satu masalah yang sangat penting untuk diketahui. Transaksi ini sangat sering dilaksanakan oleh kaum muslimin tatkala melakukan jual beli. Kita sering menyebutnya dengan “DP (down payment)”, “uang muka”, “panjer”, dan lain sebagainya.Transaksi ini sudah menjadi lumrah dan umum di kalangan kaum muslimin, mengingat praktik semacam ini berlaku pada berbagai macam transaksi, seperti pembelian properti, kendaraan, sampai pada transaksi e-commerce. Mudahnya, DP ini dijadikan sebagai sarana pengikat komitmen antara pembeli dan penjual.Definisi bay’ al-‘urbunDi dalam fikih muamalah, transaksi ini disebut dengan enam bahasa. Namun yang lebih tepat adalah penyebutan di bawah ini [1]:– بَيْعُ العَرَبُوْن (bay’ al-‘arabun)– بَيْعُ العُرْبَان (bay’ al-‘urban)– بَيْعُ العُرْبُوْن (bay’ al-‘urbun)Secara bahasa (etimologi), bay’ al-‘urbun adalah,التَّسْلِيْمُ وَالتَّقْدِيْمُ“Penyerahan dan pengajuan.” Adapun secara istilah (terminologi), bay’ al-‘urbun adalah,هُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ الرَّجُلُ شَيْئًا، فَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ الْمَبِيعِ دِرْهَمًا، أَوْ غَيْرَهُ مَثَلًا، عَلَى أَنَّهُ إِنْ نَفَذَ الْبَيْعُ بَيْنَهُمَا احْتُسِبَ الْمَدْفُوعُ مِنَ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَنْفُذْ، يُجْعَلْ هِبَةً مِنَ الْمُشْتَرِي لِلْبَائِعِ.“Yaitu seseorang membeli sesuatu, lalu ia menyerahkan sejumlah uang seperti satu dirham atau nominal lainnya dari total harga barang kepada penjual, dengan ketentuan: jika transaksi jual beli tersebut jadi berlangsung di antara keduanya, maka uang yang telah dibayarkan itu dihitung sebagai bagian dari harga barang. Namun, jika transaksi tidak jadi berlangsung, maka uang tersebut dijadikan sebagai hibah (pemberian sukarela) dari pembeli untuk penjual.” [1]Ringkasnya, bay’ al-‘urbun adalah sebuah nominal yang diberikan di awal transaksi sebagai uang jaminan atau tanda jadi dari pembeli untuk penjual. Nominal tersebut merupakan bagian kecil dari harga barang. Jika transaksi tersebut dibatalkan, maka uang atau nominal tersebut dijadikan sebagai hibah yang diberikan pembeli kepada penjual. Jika transaksi tidak dibatalkan, maka nominal yang telah dibayarkan di awal tersebut include dari harga barang yang ingin dibeli (sehingga pembeli tinggal melunasi selisih atau sisanya).Sehingga sejatinya, pada jual beli ini terdapat “khiyar (hak pilih)” secara tidak langsung. Jika jadi, maka uang muka menjadi bagian dari harga barang. Jika tidak, maka hanguslah uang muka yang telah diberikan oleh pembeli.Jenis-jenis bay’ al-‘urbunTerdapat dua jenis bay’ al-‘urbun:– Sebelum dilaksanakan akadPembeli memberikan uang muka kepada penjual; jika transaksi jual beli berlanjut, maka uang muka termasuk harga barang. Jika transaksi jual beli tidak berlanjut, maka uang muka dikembalikan kepada pembeli.Dalam hal ini, hukumnya boleh dan tidak ada permasalahan pada akad ini. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, المُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ“Kaum muslimin itu harus memenuhi kesepakatan yang telah mereka buat.” (HR. Al-Hakim)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ بَيْعُ الْعُرْبَانِ الَّذِي أَجَازَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ صَحَّ عَنْهُ أَنْ يُجْعَلَ الْعُرْبَانُ عَنِ الْبَائِعِ مِنْ ثَمَنِ سِلْعَتِهِ إِنْ تَمَّ الْبَيْعُ وَإِلَّا رَدَّهُ وَهَذَا وَجْهٌ جَائِزٌ عِنْدَ الْجَمِيعِ“Terdapat kemungkinan, bahwa bay’ al-‘urban yang diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -andaikata hadis tersebut sahih dari beliau-, adalah jika transaksi jual beli itu jadi, maka uang muka tersebut dijadikan bagian dari harga barang milik penjual. Namun, jika transaksi tersebut tidak jadi, maka penjual mengembalikan uang muka tersebut (kepada pembeli). Dan bentuk seperti ini adalah perkara yang diperbolehkan menurut kesepakatan seluruh ulama (ijmak).” [2]– Beriringan dengan dimulainya akad Jenis ini sama dengan definisi yang disebutkan di atas. Yaitu, pembeli memberikan uang muka kepada penjual. Jika transaksi jual beli jadi, maka uang muka termasuk bagian dari harga barang. Dan jika tidak jadi, maka uang muka hangus dan diberikan kepada penjual.Para ulama berselisih pada jenis ini, terbagi menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: Jenis transaksi ini hukumnya haramPendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’i, dan sebagian dari pendapat Hanbali, yaitu Al-Imam Abul Khattab rahimahumullah.Dalil dari jumhur ulama:– Terdapat hadis yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli ‘urban.” (HR. Ibnu Majah)– Bahwasanya bay’ al-urbun tak ubahnya seperti memakan harta manusia dengan cara yang batil. Hal ini dilihat dari sisi uang yang sudah dibayarkan oleh pembeli menjadi hangus dan diserahkan kepada penjual.Pendapat kedua: Hukumnya bolehPendapat ini merupakan pendapat dari mazhab Hanbali selain dari Al-Imam Abul Khattab rahimahullah.Dalil dari pendapat ini:– Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,اشْتَرَى نَافِعُ بْنُ عَبْدِ الْحَارِثِ دَارًا لِلسِّجْنِ بِمَكَّةَ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ عَلَى أَنَّ عُمَرَ إِنْ رَضِيَ فَالْبَيْعُ بَيْعُهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْضَ عُمَرُ فَلِصَفْوَانَ أَرْبَعُمِائَةٍ، وَسَجَنَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ“Nafi’ bin Abdul Harits membeli sebuah rumah di Makkah dari Shafwan bin Umayyah untuk dijadikan penjara, dengan syarat: jika Umar rida (setuju), maka jual beli itu sah. Namun, jika Umar tidak setuju, maka Shafwan berhak mendapatkan empat ratus (dirham/dinar sebagai ganti rugi), dan Ibnu Az-Zubair pernah dipenjara di Makkah.” (HR. Bukhari)Hadis ini menunjukkan persetujuan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dan tidak ada yang menyelisihinya.– Hadis yang dijadikan dalil akan larangan bay’ al-‘urbun adalah hadis yang dha’if (lemah). Hadis tersebut dilemahkan oleh para ulama, di antaranya oleh Imam Ahmad rahimahullah. Bahkan disebutkan hadis tersebut munqathi’ (terputus jalur periwayatannya).– Para ulama yang membolehkan berpendapat bahwasanya transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena sesungguhnya penjual mengambil harta tersebut sebagai kompensasi atas waktu tunggu, serta tertahannya barang komoditas tersebut di tangannya tanpa terjual.Hal ini karena ia harus menunggu hingga pembeli ini memantapkan niatnya untuk membeli. Padahal, adakalanya pembeli tersebut tidak jadi membeli, sehingga penjual telah menahan barang ini tanpa bisa menjualnya kepada orang lain.Oleh karena itu, transaksi ini bukanlah termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil, karena penjual bisa saja mendapatkan maslahat (keuntungan) atau justru mengalami kerugian akibat waktu tersebut.Pendapat yang lebih kuatPendapat yang kuat dan dipilih oleh beberapa ulama pada masa ini, yaitu bay’ al-‘urbun hukumnya mubah dan diperbolehkan selama terpenuhi syarat-syaratnya [3], yaitu:–  Harus adanya jangka waktu tertentu yang disepakati antara pembeli dan penjual sejak pemberian uang muka.– Nominal dari uang muka tidaklah besar, ia hanya nominal kecil sebagai jaminan saja.– Jika pembeli membatalkan karena alasan kuat dan syar’i (seperti sakit keras, kecelakaan, dan lain sebagainya), penjual harus mengembalikan uang muka tersebut kepada pembeli tanpa dirugikan.Manfaat bay’ al-‘urbunAdapun manfaat dari bay’ al-‘urbun adalah [3]:Pertama: Penjual mengetahui keseriusan pembeli dalam transaksi jual beli.Kedua: Pembeli memiliki keseriusan untuk melunasi transaksi, karena dia mengetahui uang yang sudah masuk tidak dapat dikembalikan.Ketiga: Adakalanya barang tertahan di pembeli, sehingga tidak bisa dibeli oleh orang lain karena sudah dipesan oleh pembeli. Tentu hal ini menimbulkan mudarat bagi penjual jika di kemudian waktu tidak jadi dibeli. Sehingga dengan adanya uang muka, terdapat kompensasi atas waktu dan kesempatan yang seharusnya penjual mungkin bisa memperoleh keuntungan.Wallahu a’lam.Baca juga: Jual Beli dan Syarat-Syaratnya***Depok, 5 Zulhijah 1447/ 22 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 5: 3434.[2] Al-Istidzkar, 5: 265.[3] Video Syekh Dr. Aziz Farhan Al-Anazi: https://www.youtube.com/watch?v=AKv1zs1Ww6ADaftar Pustaka– Az-Zuhaili, Wahbah. 1997. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Cetakan ke-4. Damaskus: Darul Fikr.– Ibn Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah. 2000. Al-Istidkar. Penyunting: Salim Muhammad Ata dan Muhammad Ali Mu’awwad. Cetakan ke-1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Rahasia Amalan Dapat Pahala Haji 5x Setiap Hari – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib,maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud). Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah haji yang sesungguhnya. Sebab beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”. Karena, sekiranya beliau hanya menyebut “orang yang berhaji”, mungkin akan ada yang berkata bahwa yang dimaksud adalah orang menuju suatu tempat. Namun, ketika beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”, maka diketahui bahwa yang dimaksud adalah haji secara hakiki. Jadi, siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Di antara pahala orang yang bersuci di rumahnya, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu, adalah Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji. Karunia Allah itu amat luas. Karunia Allah tidak boleh dipersempit. Penakwilan sebagian ulama terhadap hadis ini tidaklah diperlukan. Justru hadis ini dipahami sesuai makna zahirnya. “Baginya pahala orang yang berhaji.” Yakni setiap kali engkau bersuci di rumahmu, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu. Maka di antara pahala yang dituliskan untukmu adalah pahala orang yang berhaji. Dan pahala haji sudah kita ketahui bersama. ===== عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ يَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَهَذَا لِبَيَانِ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً لِأَنَّهُ قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ الْحَاجُّ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ الْمَقْصُودُ الْقَاصِدُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ عُلِمَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً فَمَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ مِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَطَهَّرُ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ لِيُصَلِّيَ الْفَرِيضَةَ أَنَّ اللَّهَ يَكْتُبُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ وَفَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ وَلَا يُحَجَّرُ فَضْلُ اللَّهِ وَتَأْوِيلَاتُ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ لِلْحَدِيثِ لَا دَاعِيَ لَهَا بَلِ الْحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ كُلَّمَا تَطَهَّرْتَ فِي بَيْتِكَ وَخَرَجْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِتُؤَدِّيَ صَلَاةً مَفْرُوضَةً فَمِنَ الْأُجُورِ الَّتِي تُكْتَبُ لَكَ أَجْرُ الْحَاجِّ وَأَجْرُ الْحَجِّ مَعْلُومٌ

Rahasia Amalan Dapat Pahala Haji 5x Setiap Hari – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib,maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud). Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah haji yang sesungguhnya. Sebab beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”. Karena, sekiranya beliau hanya menyebut “orang yang berhaji”, mungkin akan ada yang berkata bahwa yang dimaksud adalah orang menuju suatu tempat. Namun, ketika beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”, maka diketahui bahwa yang dimaksud adalah haji secara hakiki. Jadi, siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Di antara pahala orang yang bersuci di rumahnya, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu, adalah Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji. Karunia Allah itu amat luas. Karunia Allah tidak boleh dipersempit. Penakwilan sebagian ulama terhadap hadis ini tidaklah diperlukan. Justru hadis ini dipahami sesuai makna zahirnya. “Baginya pahala orang yang berhaji.” Yakni setiap kali engkau bersuci di rumahmu, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu. Maka di antara pahala yang dituliskan untukmu adalah pahala orang yang berhaji. Dan pahala haji sudah kita ketahui bersama. ===== عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ يَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَهَذَا لِبَيَانِ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً لِأَنَّهُ قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ الْحَاجُّ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ الْمَقْصُودُ الْقَاصِدُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ عُلِمَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً فَمَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ مِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَطَهَّرُ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ لِيُصَلِّيَ الْفَرِيضَةَ أَنَّ اللَّهَ يَكْتُبُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ وَفَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ وَلَا يُحَجَّرُ فَضْلُ اللَّهِ وَتَأْوِيلَاتُ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ لِلْحَدِيثِ لَا دَاعِيَ لَهَا بَلِ الْحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ كُلَّمَا تَطَهَّرْتَ فِي بَيْتِكَ وَخَرَجْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِتُؤَدِّيَ صَلَاةً مَفْرُوضَةً فَمِنَ الْأُجُورِ الَّتِي تُكْتَبُ لَكَ أَجْرُ الْحَاجِّ وَأَجْرُ الْحَجِّ مَعْلُومٌ
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib,maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud). Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah haji yang sesungguhnya. Sebab beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”. Karena, sekiranya beliau hanya menyebut “orang yang berhaji”, mungkin akan ada yang berkata bahwa yang dimaksud adalah orang menuju suatu tempat. Namun, ketika beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”, maka diketahui bahwa yang dimaksud adalah haji secara hakiki. Jadi, siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Di antara pahala orang yang bersuci di rumahnya, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu, adalah Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji. Karunia Allah itu amat luas. Karunia Allah tidak boleh dipersempit. Penakwilan sebagian ulama terhadap hadis ini tidaklah diperlukan. Justru hadis ini dipahami sesuai makna zahirnya. “Baginya pahala orang yang berhaji.” Yakni setiap kali engkau bersuci di rumahmu, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu. Maka di antara pahala yang dituliskan untukmu adalah pahala orang yang berhaji. Dan pahala haji sudah kita ketahui bersama. ===== عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ يَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَهَذَا لِبَيَانِ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً لِأَنَّهُ قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ الْحَاجُّ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ الْمَقْصُودُ الْقَاصِدُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ عُلِمَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً فَمَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ مِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَطَهَّرُ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ لِيُصَلِّيَ الْفَرِيضَةَ أَنَّ اللَّهَ يَكْتُبُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ وَفَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ وَلَا يُحَجَّرُ فَضْلُ اللَّهِ وَتَأْوِيلَاتُ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ لِلْحَدِيثِ لَا دَاعِيَ لَهَا بَلِ الْحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ كُلَّمَا تَطَهَّرْتَ فِي بَيْتِكَ وَخَرَجْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِتُؤَدِّيَ صَلَاةً مَفْرُوضَةً فَمِنَ الْأُجُورِ الَّتِي تُكْتَبُ لَكَ أَجْرُ الْحَاجِّ وَأَجْرُ الْحَجِّ مَعْلُومٌ


Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib,maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud). Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah haji yang sesungguhnya. Sebab beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”. Karena, sekiranya beliau hanya menyebut “orang yang berhaji”, mungkin akan ada yang berkata bahwa yang dimaksud adalah orang menuju suatu tempat. Namun, ketika beliau menyebut, “orang yang berhaji dalam keadaan ihram”, maka diketahui bahwa yang dimaksud adalah haji secara hakiki. Jadi, siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci menuju salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Di antara pahala orang yang bersuci di rumahnya, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu, adalah Allah menuliskan baginya pahala orang yang berhaji. Karunia Allah itu amat luas. Karunia Allah tidak boleh dipersempit. Penakwilan sebagian ulama terhadap hadis ini tidaklah diperlukan. Justru hadis ini dipahami sesuai makna zahirnya. “Baginya pahala orang yang berhaji.” Yakni setiap kali engkau bersuci di rumahmu, lalu keluar menuju masjid untuk menunaikan salat fardu. Maka di antara pahala yang dituliskan untukmu adalah pahala orang yang berhaji. Dan pahala haji sudah kita ketahui bersama. ===== عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ يَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَهَذَا لِبَيَانِ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً لِأَنَّهُ قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ لِأَنَّهُ لَوْ قَالَ الْحَاجُّ قَدْ يَقُولُ قَائِلٌ الْمَقْصُودُ الْقَاصِدُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ الْحَاجُّ الْمُحْرِمُ عُلِمَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ الْحَجُّ حَقِيقَةً فَمَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ مِنْ أُجُورِ مَنْ يَتَطَهَّرُ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ لِيُصَلِّيَ الْفَرِيضَةَ أَنَّ اللَّهَ يَكْتُبُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ وَفَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ وَلَا يُحَجَّرُ فَضْلُ اللَّهِ وَتَأْوِيلَاتُ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ لِلْحَدِيثِ لَا دَاعِيَ لَهَا بَلِ الْحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ كُلَّمَا تَطَهَّرْتَ فِي بَيْتِكَ وَخَرَجْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِتُؤَدِّيَ صَلَاةً مَفْرُوضَةً فَمِنَ الْأُجُورِ الَّتِي تُكْتَبُ لَكَ أَجْرُ الْحَاجِّ وَأَجْرُ الْحَجِّ مَعْلُومٌ

Takut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?

Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah

Takut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?

Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah
Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah


Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah

Ta’zir dalam Islam: Salah Satu Bentuk Hukum Syariat

Daftar Isi TogglePengertian dan dasar hukum ta’zirHad, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamKapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanSemua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman ada sebagai bentuk akibat dari perbuatan kesalahan. Umumnya, diharapkan muncul dari hukuman yang ditegakkan adanya perbaikan. Islam hadir bukan hanya memperbaiki cara beribadah dan berakhlak, Islam juga mengatur dengan sangat rinci bagaimana masyarakat ditegakkan, bagaimana pelanggar dihukum, dan siapa yang berhak menjalankan hukuman itu. Ini bukan soal kekejaman. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25)Dalam sistem hukum pidana Islam ada empat jenis hukuman: had, qisas, diyat, dan ta’zir. Keempatnya berbeda dalam sumber, kadar, dan mekanismenya. Ta’zir adalah yang paling paling jarang dibahas..Pengertian dan dasar hukum ta’zirTa’zir secara bahasa berarti mencegah dan mendidik. Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah,التَّعْزِيرُ تَأْدِيبٌ عَلَى ذُنُوبٍ لَمْ تُشْرَعْ فِيهَا الحُدُودُ“Ta’zir adalah hukuman ta’dib atas pelanggaran-pelanggaran yang tidak ditetapkan had padanya.” [1]Al-Mawardi juga rahimahullah menjelaskan hukumnya dalam Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf,التَّعْزيرِ واجِبٌ فى كلِّ مَعْصيةٍ لا حَدَّ فيها ولا كَفَّارَةَ“Ta’zir wajib untuk setiap kemaksiatan (pelanggaran) yang tidak ada had dan kaffarahnya.” [2]Dasar kewenangannya adalah perintah Allah kepada pemimpin untuk menegakkan keadilan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُم“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)Had, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamHad adalah hukuman yang kadarnya ditetapkan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an dan sunah. Tidak boleh dikurangi, tidak boleh ditambah, tidak boleh digugurkan oleh siapa pun. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar batas-batas Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyahnya,الحدود زواجر وضعها الله تعالى للردع عن ارتكاب ما حظر، وترك ما أمر به“Had adalah pencegah yang Allah syariatkan agar orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya karena takut akan hukuman.” [3]Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa had tidak pandang bulu,إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan had padanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Qisas adalah balasan setimpal atas kejahatan terhadap jiwa dan anggota badan. Allah Ta’ala berfirman,وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ“Dan Kami telah menetapkan atas mereka di dalamnya bahwa jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata.” (QS. Al-Maidah: 45)Syekh Shalih Al-Fauzan rahimahullah berkata dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi,وَالْقِصَاصُ وَاجِبٌ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالإِجْمَاعِ“Qisas adalah wajib berdasarkan Kitab, sunah, dan ijmak.” [5]Diyat adalah ganti rugi harta yang ditetapkan syariat, dibayarkan ketika qisas digantikan dengan pemaafan. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ“Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 178)Ta’zir berbeda dari ketiganya karena kadarnya tidak ditetapkan secara pasti oleh syariat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menukil perkataan Ibnu Aqil Al-Hanbali dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,مِن السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إِلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنِ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ وَلَمْ يَنْزِلْ بِهِ وَحْيٌ“(Ta`zir) termasuk bagian siyasah yang tindakannya didasari yang dengannya manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, meskipun tidak ditetapkan langsung oleh Rasul dan tidak turun wahyu tentangnya.” [6]Baca juga: Membunuh karena Dipaksa, Bagaimana dalam Pandangan Islam?Kapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanTa’zir diberlakukan pada tiga keadaan: 1) pelanggaran yang tidak ada had-nya sama sekali dalam syariat namun jelas kemaksiatan, seperti suap dan penipuan; 2) pelanggaran yang asalnya memiliki had, namun had tidak bisa ditegakkan karena syubhat atau syarat tidak terpenuhi; atau 3) pelanggaran terhadap ketertiban umum yang berlaku.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْلِدُوا فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ“Seseorang tidak boleh dicambuk lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam had dari had-had Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [7]Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa ta’zir ada dalam syariat dan sekaligus menegaskan batas atasnya. Adapun bentuknya tidak terbatas pada cambukan. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah,يَجِبُ تَعْزِيرُ كُلِّ مَنْ أَتَى مُحَرَّمًا أَوْ تَرَكَ وَاجِبًا إِذَا رَأَى وَلِيُّ الأَمْرِ أَنَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً“Wajib dita’zir setiap orang yang melakukan hal yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, apabila penguasa memandang bahwa dalam hal itu terdapat kemaslahatan.” [8]Ibnu Farhun rahimahullah menyebutkan dalam Tabsirat al-Hukkam bahwa bentuk ta’zir bisa berupa penjara, pengasingan, denda harta, pencabutan jabatan, atau celaan secara lisan, semua tergantung berat ringannya pelanggaran dan pertimbangan hakim. [9]Semua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHad, qisas, diyat, dan ta’zir, semuanya hanya boleh dijalankan oleh penguasa yang sah melalui peradilan yang benar. Tidak ada satu pun yang menjadi hak individu untuk dieksekusi sendiri, meski ia yakin pelaku bersalah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya; dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [10]Badruddin Ibnu Jama‘ah rahimahullah menyebutkan dalam Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam bahwa di antara kewajiban pemimpin adalah,إِقَامَة الْحُدُود الشَّرْعِيَّة، صِيَانة لمحارم الله عَن التجريء عَلَيْهَا، ولحقوق الْعباد عَن التخطي إِلَيْهَا.“Menegakkan had untuk menjaga larangan-larangan Allah dari pelanggaran, dan memelihara hak-hak hamba dari kebinasaan.” [11]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,وإقامة الحدود عليهم، والتعزيرات، ليست لهم ولا لآحاد الناس، وإنَّما هي من صلاحيات الإمام، أو رئيس الدولة.“Menegakkan hudud dan menjatuhkan hukuman ta’zir bukanlah wewenang mereka ataupun setiap individu dari masyarakat. Kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh imam (penguasa) atau kepala negara.” [12]Ini tegas. Siapa yang menghukum orang lain tanpa kewenangan resmi, ia bukan sedang menegakkan syariat. Ia sedang melanggarnya.Hukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman dalam Islam bukan soal balas dendam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا“Satu had yang ditegakkan di muka bumi lebih baik bagi penghuninya daripada mereka diguyur hujan selama empat puluh pagi.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [13]Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Mustadrak,فَإِنَّ الْعُقُوبَاتِ الشَّرْعِيَّةَ شُرِعَتْ رَحْمَةً مِنَ اللَّهِ بِعِبَادِهِ فَهِيَ مِنْ جِنْسِ إِكْرَامِهِمْ وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ“Sesungguhnya hukuman-hukuman syariat disyariatkan sebagai rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia termasuk bagian dari kemuliaan dan kebaikan Allah kepada mereka.” [14]Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata dalam Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram,قال أبو ثور: التعزير على قدر الجناية، وتسرع الفاعل في الشر، وعلى قدر ما يكون أنكى، وأبلغ في الأدب،“Abu Tsaur berkata, “Hukuman ta’zir diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan, tingkat kenekatan pelaku dalam melakukan keburukan, serta dengan mempertimbangkan hukuman yang paling memberikan efek jera dan paling efektif dalam mendidik pelaku.” [15]Hukuman yang adil bukan yang paling berat. Hukuman yang adil adalah yang setimpal dengan pelanggaran; dijalankan oleh yang berwenang; dengan tujuan memperbaiki, bukan menghancurkan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang adil dan masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Aamiin.Baca juga: Bolehkah Hukuman Kebiri Bagi Pemerkosa ***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 297.[2] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min al-Khilaf, 26: 447.[3] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 325.[4] HR. Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688.[5] Shalih Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2: 420.[6] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah, hal. 29.[7] HR. Bukhari no. 6850 dan Muslim no. 1708.[8] Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah, hal. 62.[9] Ibnu Farhun, Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam, 2: 297–300.[10] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[11] Badruddin Ibnu Jama‘ah, Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam, hal. 67.[12] Abdul Mannan At-Talibi, Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah, hal. 28.[13] HR. Ibnu Majah no. 2538; An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra. Dihasankan oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.[14] Ibnu Taimiyyah, Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam, 5: 93.[15] Abdullah Al-Bassam, Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, 6: 230. Daftar PustakaAl-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih. Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Makkah Al-Mukarramah: Maktabah Al-Asadi, cet. 5, 1423 H/2003 M.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin Abdullah. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi. Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, cet. 1, 1423 H.Al-Mardawi, Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf. Tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Abdul Fattah Muhammad Al-Hulw. Kairo: Hajr li At-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘ wa Al-I‘lan, cet. 1, 1415 H/1995 M.Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Baghdadi. Al-Ahkam As-Sulthaniyyah. Kairo: Dar Al-Hadits.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.At-Talibi, Abdul Mannan. Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah. Karya ilmiah tidak diterbitkan.Ibnu Farhun, Ibrahim bin Ali. Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam. Kairo: Maktabah Al-Kulliyyat Al-Azhariyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M.Ibnu Jama‘ah, Muhammad bin Ibrahim bin Sa‘dillah Al-Kinani Al-Hamawi Asy-Syafi‘i. Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam. Tahqiq dan dirasah Fuad Abdul Mun‘im Ahmad. Doha: Dar Ats-Tsaqafah, cet. 3, 1408 H/1988 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah. Kairo: Al-Muassasah Al-‘Arabiyyah li At-Tiba‘ah wa An-Nasyr, 1961.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam. Jam‘ wa tartib Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim. Cet. 1, 1418 H.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah. Tahqiq Ali bin Muhammad Al-‘Imran. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. 4, 1440 H/2019 M.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.

Ta’zir dalam Islam: Salah Satu Bentuk Hukum Syariat

Daftar Isi TogglePengertian dan dasar hukum ta’zirHad, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamKapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanSemua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman ada sebagai bentuk akibat dari perbuatan kesalahan. Umumnya, diharapkan muncul dari hukuman yang ditegakkan adanya perbaikan. Islam hadir bukan hanya memperbaiki cara beribadah dan berakhlak, Islam juga mengatur dengan sangat rinci bagaimana masyarakat ditegakkan, bagaimana pelanggar dihukum, dan siapa yang berhak menjalankan hukuman itu. Ini bukan soal kekejaman. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25)Dalam sistem hukum pidana Islam ada empat jenis hukuman: had, qisas, diyat, dan ta’zir. Keempatnya berbeda dalam sumber, kadar, dan mekanismenya. Ta’zir adalah yang paling paling jarang dibahas..Pengertian dan dasar hukum ta’zirTa’zir secara bahasa berarti mencegah dan mendidik. Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah,التَّعْزِيرُ تَأْدِيبٌ عَلَى ذُنُوبٍ لَمْ تُشْرَعْ فِيهَا الحُدُودُ“Ta’zir adalah hukuman ta’dib atas pelanggaran-pelanggaran yang tidak ditetapkan had padanya.” [1]Al-Mawardi juga rahimahullah menjelaskan hukumnya dalam Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf,التَّعْزيرِ واجِبٌ فى كلِّ مَعْصيةٍ لا حَدَّ فيها ولا كَفَّارَةَ“Ta’zir wajib untuk setiap kemaksiatan (pelanggaran) yang tidak ada had dan kaffarahnya.” [2]Dasar kewenangannya adalah perintah Allah kepada pemimpin untuk menegakkan keadilan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُم“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)Had, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamHad adalah hukuman yang kadarnya ditetapkan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an dan sunah. Tidak boleh dikurangi, tidak boleh ditambah, tidak boleh digugurkan oleh siapa pun. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar batas-batas Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyahnya,الحدود زواجر وضعها الله تعالى للردع عن ارتكاب ما حظر، وترك ما أمر به“Had adalah pencegah yang Allah syariatkan agar orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya karena takut akan hukuman.” [3]Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa had tidak pandang bulu,إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan had padanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Qisas adalah balasan setimpal atas kejahatan terhadap jiwa dan anggota badan. Allah Ta’ala berfirman,وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ“Dan Kami telah menetapkan atas mereka di dalamnya bahwa jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata.” (QS. Al-Maidah: 45)Syekh Shalih Al-Fauzan rahimahullah berkata dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi,وَالْقِصَاصُ وَاجِبٌ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالإِجْمَاعِ“Qisas adalah wajib berdasarkan Kitab, sunah, dan ijmak.” [5]Diyat adalah ganti rugi harta yang ditetapkan syariat, dibayarkan ketika qisas digantikan dengan pemaafan. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ“Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 178)Ta’zir berbeda dari ketiganya karena kadarnya tidak ditetapkan secara pasti oleh syariat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menukil perkataan Ibnu Aqil Al-Hanbali dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,مِن السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إِلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنِ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ وَلَمْ يَنْزِلْ بِهِ وَحْيٌ“(Ta`zir) termasuk bagian siyasah yang tindakannya didasari yang dengannya manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, meskipun tidak ditetapkan langsung oleh Rasul dan tidak turun wahyu tentangnya.” [6]Baca juga: Membunuh karena Dipaksa, Bagaimana dalam Pandangan Islam?Kapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanTa’zir diberlakukan pada tiga keadaan: 1) pelanggaran yang tidak ada had-nya sama sekali dalam syariat namun jelas kemaksiatan, seperti suap dan penipuan; 2) pelanggaran yang asalnya memiliki had, namun had tidak bisa ditegakkan karena syubhat atau syarat tidak terpenuhi; atau 3) pelanggaran terhadap ketertiban umum yang berlaku.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْلِدُوا فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ“Seseorang tidak boleh dicambuk lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam had dari had-had Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [7]Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa ta’zir ada dalam syariat dan sekaligus menegaskan batas atasnya. Adapun bentuknya tidak terbatas pada cambukan. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah,يَجِبُ تَعْزِيرُ كُلِّ مَنْ أَتَى مُحَرَّمًا أَوْ تَرَكَ وَاجِبًا إِذَا رَأَى وَلِيُّ الأَمْرِ أَنَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً“Wajib dita’zir setiap orang yang melakukan hal yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, apabila penguasa memandang bahwa dalam hal itu terdapat kemaslahatan.” [8]Ibnu Farhun rahimahullah menyebutkan dalam Tabsirat al-Hukkam bahwa bentuk ta’zir bisa berupa penjara, pengasingan, denda harta, pencabutan jabatan, atau celaan secara lisan, semua tergantung berat ringannya pelanggaran dan pertimbangan hakim. [9]Semua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHad, qisas, diyat, dan ta’zir, semuanya hanya boleh dijalankan oleh penguasa yang sah melalui peradilan yang benar. Tidak ada satu pun yang menjadi hak individu untuk dieksekusi sendiri, meski ia yakin pelaku bersalah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya; dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [10]Badruddin Ibnu Jama‘ah rahimahullah menyebutkan dalam Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam bahwa di antara kewajiban pemimpin adalah,إِقَامَة الْحُدُود الشَّرْعِيَّة، صِيَانة لمحارم الله عَن التجريء عَلَيْهَا، ولحقوق الْعباد عَن التخطي إِلَيْهَا.“Menegakkan had untuk menjaga larangan-larangan Allah dari pelanggaran, dan memelihara hak-hak hamba dari kebinasaan.” [11]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,وإقامة الحدود عليهم، والتعزيرات، ليست لهم ولا لآحاد الناس، وإنَّما هي من صلاحيات الإمام، أو رئيس الدولة.“Menegakkan hudud dan menjatuhkan hukuman ta’zir bukanlah wewenang mereka ataupun setiap individu dari masyarakat. Kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh imam (penguasa) atau kepala negara.” [12]Ini tegas. Siapa yang menghukum orang lain tanpa kewenangan resmi, ia bukan sedang menegakkan syariat. Ia sedang melanggarnya.Hukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman dalam Islam bukan soal balas dendam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا“Satu had yang ditegakkan di muka bumi lebih baik bagi penghuninya daripada mereka diguyur hujan selama empat puluh pagi.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [13]Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Mustadrak,فَإِنَّ الْعُقُوبَاتِ الشَّرْعِيَّةَ شُرِعَتْ رَحْمَةً مِنَ اللَّهِ بِعِبَادِهِ فَهِيَ مِنْ جِنْسِ إِكْرَامِهِمْ وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ“Sesungguhnya hukuman-hukuman syariat disyariatkan sebagai rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia termasuk bagian dari kemuliaan dan kebaikan Allah kepada mereka.” [14]Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata dalam Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram,قال أبو ثور: التعزير على قدر الجناية، وتسرع الفاعل في الشر، وعلى قدر ما يكون أنكى، وأبلغ في الأدب،“Abu Tsaur berkata, “Hukuman ta’zir diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan, tingkat kenekatan pelaku dalam melakukan keburukan, serta dengan mempertimbangkan hukuman yang paling memberikan efek jera dan paling efektif dalam mendidik pelaku.” [15]Hukuman yang adil bukan yang paling berat. Hukuman yang adil adalah yang setimpal dengan pelanggaran; dijalankan oleh yang berwenang; dengan tujuan memperbaiki, bukan menghancurkan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang adil dan masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Aamiin.Baca juga: Bolehkah Hukuman Kebiri Bagi Pemerkosa ***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 297.[2] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min al-Khilaf, 26: 447.[3] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 325.[4] HR. Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688.[5] Shalih Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2: 420.[6] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah, hal. 29.[7] HR. Bukhari no. 6850 dan Muslim no. 1708.[8] Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah, hal. 62.[9] Ibnu Farhun, Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam, 2: 297–300.[10] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[11] Badruddin Ibnu Jama‘ah, Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam, hal. 67.[12] Abdul Mannan At-Talibi, Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah, hal. 28.[13] HR. Ibnu Majah no. 2538; An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra. Dihasankan oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.[14] Ibnu Taimiyyah, Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam, 5: 93.[15] Abdullah Al-Bassam, Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, 6: 230. Daftar PustakaAl-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih. Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Makkah Al-Mukarramah: Maktabah Al-Asadi, cet. 5, 1423 H/2003 M.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin Abdullah. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi. Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, cet. 1, 1423 H.Al-Mardawi, Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf. Tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Abdul Fattah Muhammad Al-Hulw. Kairo: Hajr li At-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘ wa Al-I‘lan, cet. 1, 1415 H/1995 M.Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Baghdadi. Al-Ahkam As-Sulthaniyyah. Kairo: Dar Al-Hadits.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.At-Talibi, Abdul Mannan. Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah. Karya ilmiah tidak diterbitkan.Ibnu Farhun, Ibrahim bin Ali. Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam. Kairo: Maktabah Al-Kulliyyat Al-Azhariyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M.Ibnu Jama‘ah, Muhammad bin Ibrahim bin Sa‘dillah Al-Kinani Al-Hamawi Asy-Syafi‘i. Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam. Tahqiq dan dirasah Fuad Abdul Mun‘im Ahmad. Doha: Dar Ats-Tsaqafah, cet. 3, 1408 H/1988 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah. Kairo: Al-Muassasah Al-‘Arabiyyah li At-Tiba‘ah wa An-Nasyr, 1961.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam. Jam‘ wa tartib Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim. Cet. 1, 1418 H.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah. Tahqiq Ali bin Muhammad Al-‘Imran. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. 4, 1440 H/2019 M.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.
Daftar Isi TogglePengertian dan dasar hukum ta’zirHad, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamKapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanSemua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman ada sebagai bentuk akibat dari perbuatan kesalahan. Umumnya, diharapkan muncul dari hukuman yang ditegakkan adanya perbaikan. Islam hadir bukan hanya memperbaiki cara beribadah dan berakhlak, Islam juga mengatur dengan sangat rinci bagaimana masyarakat ditegakkan, bagaimana pelanggar dihukum, dan siapa yang berhak menjalankan hukuman itu. Ini bukan soal kekejaman. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25)Dalam sistem hukum pidana Islam ada empat jenis hukuman: had, qisas, diyat, dan ta’zir. Keempatnya berbeda dalam sumber, kadar, dan mekanismenya. Ta’zir adalah yang paling paling jarang dibahas..Pengertian dan dasar hukum ta’zirTa’zir secara bahasa berarti mencegah dan mendidik. Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah,التَّعْزِيرُ تَأْدِيبٌ عَلَى ذُنُوبٍ لَمْ تُشْرَعْ فِيهَا الحُدُودُ“Ta’zir adalah hukuman ta’dib atas pelanggaran-pelanggaran yang tidak ditetapkan had padanya.” [1]Al-Mawardi juga rahimahullah menjelaskan hukumnya dalam Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf,التَّعْزيرِ واجِبٌ فى كلِّ مَعْصيةٍ لا حَدَّ فيها ولا كَفَّارَةَ“Ta’zir wajib untuk setiap kemaksiatan (pelanggaran) yang tidak ada had dan kaffarahnya.” [2]Dasar kewenangannya adalah perintah Allah kepada pemimpin untuk menegakkan keadilan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُم“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)Had, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamHad adalah hukuman yang kadarnya ditetapkan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an dan sunah. Tidak boleh dikurangi, tidak boleh ditambah, tidak boleh digugurkan oleh siapa pun. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar batas-batas Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyahnya,الحدود زواجر وضعها الله تعالى للردع عن ارتكاب ما حظر، وترك ما أمر به“Had adalah pencegah yang Allah syariatkan agar orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya karena takut akan hukuman.” [3]Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa had tidak pandang bulu,إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan had padanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Qisas adalah balasan setimpal atas kejahatan terhadap jiwa dan anggota badan. Allah Ta’ala berfirman,وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ“Dan Kami telah menetapkan atas mereka di dalamnya bahwa jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata.” (QS. Al-Maidah: 45)Syekh Shalih Al-Fauzan rahimahullah berkata dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi,وَالْقِصَاصُ وَاجِبٌ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالإِجْمَاعِ“Qisas adalah wajib berdasarkan Kitab, sunah, dan ijmak.” [5]Diyat adalah ganti rugi harta yang ditetapkan syariat, dibayarkan ketika qisas digantikan dengan pemaafan. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ“Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 178)Ta’zir berbeda dari ketiganya karena kadarnya tidak ditetapkan secara pasti oleh syariat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menukil perkataan Ibnu Aqil Al-Hanbali dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,مِن السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إِلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنِ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ وَلَمْ يَنْزِلْ بِهِ وَحْيٌ“(Ta`zir) termasuk bagian siyasah yang tindakannya didasari yang dengannya manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, meskipun tidak ditetapkan langsung oleh Rasul dan tidak turun wahyu tentangnya.” [6]Baca juga: Membunuh karena Dipaksa, Bagaimana dalam Pandangan Islam?Kapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanTa’zir diberlakukan pada tiga keadaan: 1) pelanggaran yang tidak ada had-nya sama sekali dalam syariat namun jelas kemaksiatan, seperti suap dan penipuan; 2) pelanggaran yang asalnya memiliki had, namun had tidak bisa ditegakkan karena syubhat atau syarat tidak terpenuhi; atau 3) pelanggaran terhadap ketertiban umum yang berlaku.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْلِدُوا فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ“Seseorang tidak boleh dicambuk lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam had dari had-had Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [7]Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa ta’zir ada dalam syariat dan sekaligus menegaskan batas atasnya. Adapun bentuknya tidak terbatas pada cambukan. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah,يَجِبُ تَعْزِيرُ كُلِّ مَنْ أَتَى مُحَرَّمًا أَوْ تَرَكَ وَاجِبًا إِذَا رَأَى وَلِيُّ الأَمْرِ أَنَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً“Wajib dita’zir setiap orang yang melakukan hal yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, apabila penguasa memandang bahwa dalam hal itu terdapat kemaslahatan.” [8]Ibnu Farhun rahimahullah menyebutkan dalam Tabsirat al-Hukkam bahwa bentuk ta’zir bisa berupa penjara, pengasingan, denda harta, pencabutan jabatan, atau celaan secara lisan, semua tergantung berat ringannya pelanggaran dan pertimbangan hakim. [9]Semua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHad, qisas, diyat, dan ta’zir, semuanya hanya boleh dijalankan oleh penguasa yang sah melalui peradilan yang benar. Tidak ada satu pun yang menjadi hak individu untuk dieksekusi sendiri, meski ia yakin pelaku bersalah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya; dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [10]Badruddin Ibnu Jama‘ah rahimahullah menyebutkan dalam Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam bahwa di antara kewajiban pemimpin adalah,إِقَامَة الْحُدُود الشَّرْعِيَّة، صِيَانة لمحارم الله عَن التجريء عَلَيْهَا، ولحقوق الْعباد عَن التخطي إِلَيْهَا.“Menegakkan had untuk menjaga larangan-larangan Allah dari pelanggaran, dan memelihara hak-hak hamba dari kebinasaan.” [11]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,وإقامة الحدود عليهم، والتعزيرات، ليست لهم ولا لآحاد الناس، وإنَّما هي من صلاحيات الإمام، أو رئيس الدولة.“Menegakkan hudud dan menjatuhkan hukuman ta’zir bukanlah wewenang mereka ataupun setiap individu dari masyarakat. Kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh imam (penguasa) atau kepala negara.” [12]Ini tegas. Siapa yang menghukum orang lain tanpa kewenangan resmi, ia bukan sedang menegakkan syariat. Ia sedang melanggarnya.Hukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman dalam Islam bukan soal balas dendam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا“Satu had yang ditegakkan di muka bumi lebih baik bagi penghuninya daripada mereka diguyur hujan selama empat puluh pagi.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [13]Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Mustadrak,فَإِنَّ الْعُقُوبَاتِ الشَّرْعِيَّةَ شُرِعَتْ رَحْمَةً مِنَ اللَّهِ بِعِبَادِهِ فَهِيَ مِنْ جِنْسِ إِكْرَامِهِمْ وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ“Sesungguhnya hukuman-hukuman syariat disyariatkan sebagai rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia termasuk bagian dari kemuliaan dan kebaikan Allah kepada mereka.” [14]Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata dalam Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram,قال أبو ثور: التعزير على قدر الجناية، وتسرع الفاعل في الشر، وعلى قدر ما يكون أنكى، وأبلغ في الأدب،“Abu Tsaur berkata, “Hukuman ta’zir diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan, tingkat kenekatan pelaku dalam melakukan keburukan, serta dengan mempertimbangkan hukuman yang paling memberikan efek jera dan paling efektif dalam mendidik pelaku.” [15]Hukuman yang adil bukan yang paling berat. Hukuman yang adil adalah yang setimpal dengan pelanggaran; dijalankan oleh yang berwenang; dengan tujuan memperbaiki, bukan menghancurkan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang adil dan masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Aamiin.Baca juga: Bolehkah Hukuman Kebiri Bagi Pemerkosa ***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 297.[2] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min al-Khilaf, 26: 447.[3] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 325.[4] HR. Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688.[5] Shalih Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2: 420.[6] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah, hal. 29.[7] HR. Bukhari no. 6850 dan Muslim no. 1708.[8] Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah, hal. 62.[9] Ibnu Farhun, Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam, 2: 297–300.[10] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[11] Badruddin Ibnu Jama‘ah, Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam, hal. 67.[12] Abdul Mannan At-Talibi, Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah, hal. 28.[13] HR. Ibnu Majah no. 2538; An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra. Dihasankan oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.[14] Ibnu Taimiyyah, Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam, 5: 93.[15] Abdullah Al-Bassam, Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, 6: 230. Daftar PustakaAl-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih. Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Makkah Al-Mukarramah: Maktabah Al-Asadi, cet. 5, 1423 H/2003 M.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin Abdullah. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi. Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, cet. 1, 1423 H.Al-Mardawi, Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf. Tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Abdul Fattah Muhammad Al-Hulw. Kairo: Hajr li At-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘ wa Al-I‘lan, cet. 1, 1415 H/1995 M.Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Baghdadi. Al-Ahkam As-Sulthaniyyah. Kairo: Dar Al-Hadits.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.At-Talibi, Abdul Mannan. Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah. Karya ilmiah tidak diterbitkan.Ibnu Farhun, Ibrahim bin Ali. Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam. Kairo: Maktabah Al-Kulliyyat Al-Azhariyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M.Ibnu Jama‘ah, Muhammad bin Ibrahim bin Sa‘dillah Al-Kinani Al-Hamawi Asy-Syafi‘i. Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam. Tahqiq dan dirasah Fuad Abdul Mun‘im Ahmad. Doha: Dar Ats-Tsaqafah, cet. 3, 1408 H/1988 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah. Kairo: Al-Muassasah Al-‘Arabiyyah li At-Tiba‘ah wa An-Nasyr, 1961.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam. Jam‘ wa tartib Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim. Cet. 1, 1418 H.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah. Tahqiq Ali bin Muhammad Al-‘Imran. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. 4, 1440 H/2019 M.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.


Daftar Isi TogglePengertian dan dasar hukum ta’zirHad, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamKapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanSemua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman ada sebagai bentuk akibat dari perbuatan kesalahan. Umumnya, diharapkan muncul dari hukuman yang ditegakkan adanya perbaikan. Islam hadir bukan hanya memperbaiki cara beribadah dan berakhlak, Islam juga mengatur dengan sangat rinci bagaimana masyarakat ditegakkan, bagaimana pelanggar dihukum, dan siapa yang berhak menjalankan hukuman itu. Ini bukan soal kekejaman. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25)Dalam sistem hukum pidana Islam ada empat jenis hukuman: had, qisas, diyat, dan ta’zir. Keempatnya berbeda dalam sumber, kadar, dan mekanismenya. Ta’zir adalah yang paling paling jarang dibahas..Pengertian dan dasar hukum ta’zirTa’zir secara bahasa berarti mencegah dan mendidik. Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah,التَّعْزِيرُ تَأْدِيبٌ عَلَى ذُنُوبٍ لَمْ تُشْرَعْ فِيهَا الحُدُودُ“Ta’zir adalah hukuman ta’dib atas pelanggaran-pelanggaran yang tidak ditetapkan had padanya.” [1]Al-Mawardi juga rahimahullah menjelaskan hukumnya dalam Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf,التَّعْزيرِ واجِبٌ فى كلِّ مَعْصيةٍ لا حَدَّ فيها ولا كَفَّارَةَ“Ta’zir wajib untuk setiap kemaksiatan (pelanggaran) yang tidak ada had dan kaffarahnya.” [2]Dasar kewenangannya adalah perintah Allah kepada pemimpin untuk menegakkan keadilan,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُم“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)Had, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam IslamHad adalah hukuman yang kadarnya ditetapkan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an dan sunah. Tidak boleh dikurangi, tidak boleh ditambah, tidak boleh digugurkan oleh siapa pun. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar batas-batas Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyahnya,الحدود زواجر وضعها الله تعالى للردع عن ارتكاب ما حظر، وترك ما أمر به“Had adalah pencegah yang Allah syariatkan agar orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya karena takut akan hukuman.” [3]Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa had tidak pandang bulu,إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan had padanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Qisas adalah balasan setimpal atas kejahatan terhadap jiwa dan anggota badan. Allah Ta’ala berfirman,وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ“Dan Kami telah menetapkan atas mereka di dalamnya bahwa jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata.” (QS. Al-Maidah: 45)Syekh Shalih Al-Fauzan rahimahullah berkata dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi,وَالْقِصَاصُ وَاجِبٌ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالإِجْمَاعِ“Qisas adalah wajib berdasarkan Kitab, sunah, dan ijmak.” [5]Diyat adalah ganti rugi harta yang ditetapkan syariat, dibayarkan ketika qisas digantikan dengan pemaafan. Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ“Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 178)Ta’zir berbeda dari ketiganya karena kadarnya tidak ditetapkan secara pasti oleh syariat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menukil perkataan Ibnu Aqil Al-Hanbali dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,مِن السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إِلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنِ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ وَلَمْ يَنْزِلْ بِهِ وَحْيٌ“(Ta`zir) termasuk bagian siyasah yang tindakannya didasari yang dengannya manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, meskipun tidak ditetapkan langsung oleh Rasul dan tidak turun wahyu tentangnya.” [6]Baca juga: Membunuh karena Dipaksa, Bagaimana dalam Pandangan Islam?Kapan dan bagaimana ta’zir diberlakukanTa’zir diberlakukan pada tiga keadaan: 1) pelanggaran yang tidak ada had-nya sama sekali dalam syariat namun jelas kemaksiatan, seperti suap dan penipuan; 2) pelanggaran yang asalnya memiliki had, namun had tidak bisa ditegakkan karena syubhat atau syarat tidak terpenuhi; atau 3) pelanggaran terhadap ketertiban umum yang berlaku.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْلِدُوا فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ“Seseorang tidak boleh dicambuk lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam had dari had-had Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [7]Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa ta’zir ada dalam syariat dan sekaligus menegaskan batas atasnya. Adapun bentuknya tidak terbatas pada cambukan. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah,يَجِبُ تَعْزِيرُ كُلِّ مَنْ أَتَى مُحَرَّمًا أَوْ تَرَكَ وَاجِبًا إِذَا رَأَى وَلِيُّ الأَمْرِ أَنَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً“Wajib dita’zir setiap orang yang melakukan hal yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, apabila penguasa memandang bahwa dalam hal itu terdapat kemaslahatan.” [8]Ibnu Farhun rahimahullah menyebutkan dalam Tabsirat al-Hukkam bahwa bentuk ta’zir bisa berupa penjara, pengasingan, denda harta, pencabutan jabatan, atau celaan secara lisan, semua tergantung berat ringannya pelanggaran dan pertimbangan hakim. [9]Semua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individuHad, qisas, diyat, dan ta’zir, semuanya hanya boleh dijalankan oleh penguasa yang sah melalui peradilan yang benar. Tidak ada satu pun yang menjadi hak individu untuk dieksekusi sendiri, meski ia yakin pelaku bersalah. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya; dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [10]Badruddin Ibnu Jama‘ah rahimahullah menyebutkan dalam Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam bahwa di antara kewajiban pemimpin adalah,إِقَامَة الْحُدُود الشَّرْعِيَّة، صِيَانة لمحارم الله عَن التجريء عَلَيْهَا، ولحقوق الْعباد عَن التخطي إِلَيْهَا.“Menegakkan had untuk menjaga larangan-larangan Allah dari pelanggaran, dan memelihara hak-hak hamba dari kebinasaan.” [11]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,وإقامة الحدود عليهم، والتعزيرات، ليست لهم ولا لآحاد الناس، وإنَّما هي من صلاحيات الإمام، أو رئيس الدولة.“Menegakkan hudud dan menjatuhkan hukuman ta’zir bukanlah wewenang mereka ataupun setiap individu dari masyarakat. Kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh imam (penguasa) atau kepala negara.” [12]Ini tegas. Siapa yang menghukum orang lain tanpa kewenangan resmi, ia bukan sedang menegakkan syariat. Ia sedang melanggarnya.Hukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatanHukuman dalam Islam bukan soal balas dendam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا“Satu had yang ditegakkan di muka bumi lebih baik bagi penghuninya daripada mereka diguyur hujan selama empat puluh pagi.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [13]Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Mustadrak,فَإِنَّ الْعُقُوبَاتِ الشَّرْعِيَّةَ شُرِعَتْ رَحْمَةً مِنَ اللَّهِ بِعِبَادِهِ فَهِيَ مِنْ جِنْسِ إِكْرَامِهِمْ وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ“Sesungguhnya hukuman-hukuman syariat disyariatkan sebagai rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia termasuk bagian dari kemuliaan dan kebaikan Allah kepada mereka.” [14]Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata dalam Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram,قال أبو ثور: التعزير على قدر الجناية، وتسرع الفاعل في الشر، وعلى قدر ما يكون أنكى، وأبلغ في الأدب،“Abu Tsaur berkata, “Hukuman ta’zir diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan, tingkat kenekatan pelaku dalam melakukan keburukan, serta dengan mempertimbangkan hukuman yang paling memberikan efek jera dan paling efektif dalam mendidik pelaku.” [15]Hukuman yang adil bukan yang paling berat. Hukuman yang adil adalah yang setimpal dengan pelanggaran; dijalankan oleh yang berwenang; dengan tujuan memperbaiki, bukan menghancurkan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang adil dan masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Aamiin.Baca juga: Bolehkah Hukuman Kebiri Bagi Pemerkosa ***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 297.[2] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min al-Khilaf, 26: 447.[3] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 325.[4] HR. Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688.[5] Shalih Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2: 420.[6] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah, hal. 29.[7] HR. Bukhari no. 6850 dan Muslim no. 1708.[8] Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah, hal. 62.[9] Ibnu Farhun, Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam, 2: 297–300.[10] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[11] Badruddin Ibnu Jama‘ah, Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam, hal. 67.[12] Abdul Mannan At-Talibi, Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah, hal. 28.[13] HR. Ibnu Majah no. 2538; An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra. Dihasankan oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.[14] Ibnu Taimiyyah, Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam, 5: 93.[15] Abdullah Al-Bassam, Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, 6: 230. Daftar PustakaAl-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih. Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Makkah Al-Mukarramah: Maktabah Al-Asadi, cet. 5, 1423 H/2003 M.Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin Abdullah. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi. Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, cet. 1, 1423 H.Al-Mardawi, Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf. Tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Abdul Fattah Muhammad Al-Hulw. Kairo: Hajr li At-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘ wa Al-I‘lan, cet. 1, 1415 H/1995 M.Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Baghdadi. Al-Ahkam As-Sulthaniyyah. Kairo: Dar Al-Hadits.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.At-Talibi, Abdul Mannan. Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah. Karya ilmiah tidak diterbitkan.Ibnu Farhun, Ibrahim bin Ali. Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam. Kairo: Maktabah Al-Kulliyyat Al-Azhariyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M.Ibnu Jama‘ah, Muhammad bin Ibrahim bin Sa‘dillah Al-Kinani Al-Hamawi Asy-Syafi‘i. Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam. Tahqiq dan dirasah Fuad Abdul Mun‘im Ahmad. Doha: Dar Ats-Tsaqafah, cet. 3, 1408 H/1988 M.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah. Kairo: Al-Muassasah Al-‘Arabiyyah li At-Tiba‘ah wa An-Nasyr, 1961.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam. Jam‘ wa tartib Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim. Cet. 1, 1418 H.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah. Tahqiq Ali bin Muhammad Al-‘Imran. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. 4, 1440 H/2019 M.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.

Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami

Barangkali tugas-tugas yang berada di pundak wanita muslimah pada masa sekarang sangat banyak. Sebagiannya memang termasuk tanggung jawab asli seorang wanita, sedangkan sebagian lainnya merupakan konsekuensi dari kehidupan modern beserta berbagai perkembangan dan tuntutannya, yang dalam banyak hal justru menambah beban yang harus dipikul oleh wanita.Karena itu, pemahaman seorang muslimah terhadap hakikat tugas-tugas yang diembannya, kemudian pemahamannya terhadap skala prioritas di antara tugas-tugas tersebut, merupakan perkara yang sangat penting. Dengan demikian, ia dapat mengatur urusan agamanya dan urusan dunianya dengan baik sekaligus.Seorang wanita muslimah hendaknya menempatkan seluruh tugasnya sesuai dengan tingkat prioritas masing-masing.Pertama, ia adalah seorang hamba Allah yang beribadah kepada-Nya.Setelah itu, ia adalah seorang istri yang melalui perannya akan terbangun kehidupan rumah tangga.Ia juga seorang ibu yang bertugas membentuk generasi penerus. Selain itu, ia bertanggung jawab atas rumah tangganya sebagai pengelola dan penjaganya.Selanjutnya, ia adalah seorang dai bagi lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia merupakan pribadi yang positif dan aktif berinteraksi dengan masyarakat.Kemudian, ia juga dapat menjadi seorang wanita yang bekerja dan memberikan layanan yang dibutuhkan bagi kemajuan umatnya.Berikut ini akan dijelaskan rincian dari masing-masing peran tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Sebagai Hamba yang Beribadah kepada Allah 2. Istri yang Salehah 3. Nasihat Penutup  Sebagai Hamba yang Beribadah kepada AllahIbadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah tujuan utama penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Salah satu definisi ibadah yang paling indah adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan:الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.Baca juga: Pengertian Ibadah, Apa itu Ibadah? Berdasarkan pengertian ini, ibadah seorang wanita dapat dibagi menjadi dua bagian:Pertama: Ibadah dalam Makna UmumIbadah dalam makna umum mencakup seluruh tugas dan aktivitas wanita yang akan disebutkan kemudian, dengan syarat niatnya diperbaiki dan semua amal tersebut dilakukan karena mengharap pahala dari Allah.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162)Kedua: Ibadah dalam Makna KhususIbadah dalam makna khusus meliputi salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, haji, umrah, tafakur, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.Jenis ibadah ini harus mendapatkan prioritas utama dalam kehidupan seorang muslimah, sebagaimana hal itu juga menjadi prioritas utama bagi seorang muslim.Ibadah-ibadah ini tidak bergantung pada perbedaan kondisi yang dialami para wanita. Bagaimanapun besarnya tanggung jawab dan berbagai kesibukan yang ada, ibadah harus tetap menempati prioritas utama dari sisi perhatian dan kepedulian, bukan dari sisi lamanya waktu yang dihabiskan.Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan TugasDalam kondisi tertentu, karena berbagai tekanan dan kesibukan yang dihadapi seorang wanita, waktu yang digunakan untuk ibadah mungkin hanya sekitar dua jam, sedangkan mengurus rumah dan anak-anak bisa menghabiskan lebih dari delapan jam. Namun, selain memperbarui niat agar mengurus rumah dan anak-anak menjadi bentuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, perhatian utama tetap harus diberikan kepada ibadah.Karena itu, ketika azan berkumandang—bahkan mungkin beberapa saat sebelumnya—aktivitas kehidupan yang biasa dilakukan harus dihentikan sejenak agar salat dapat ditunaikan tepat pada waktunya. Dengan demikian, salat tetap memiliki kedudukan yang paling penting, meskipun pelaksanaannya mungkin hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit. Demikian pula halnya dengan ibadah-ibadah yang lain.Selain itu, seorang wanita hendaknya memilih waktu-waktu khusus yang tenang, seperti pada sepertiga malam terakhir, untuk melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an agar keimanannya senantiasa diperbarui. Sebab, iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Hal ini tidak akan terwujud kecuali pada diri wanita yang memiliki semangat dan tekad yang tinggi.Rumah tangga muslim harus menjadi rumah yang hidup dengan dzikir dan salat. Ibadah merupakan ciri pertama yang membedakannya dari rumah-rumah lainnya. Sungguh mengherankan ketika ada sebagian wanita yang fokus mengurus rumahnya, namun masih mengeluhkan kebosanan dan kekosongan waktu. Padahal Allah telah menganugerahkan kepadanya kesempatan yang sangat besar untuk memakmurkan rumah dan hatinya dengan ibadah, yang merupakan prioritas utama dalam kehidupan setiap muslim. Istri yang SalehahPernikahan adalah nikmat yang sangat besar di antara berbagai nikmat Allah ‘Azza wa Jalla. Terkadang seseorang baru merasakan betapa berharganya nikmat itu ketika ia kehilangannya. Allah Ta’ala berfirman,﴿ وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan padanya. Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Hendaknya setiap wanita merenungkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari utusan kaum wanita, yaitu Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha. Beliau datang menemui Nabi ﷺ ketika beliau sedang bersama para sahabatnya, lalu berkata:“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku datang sebagai wakil kaum wanita kepadamu. Semoga diriku menjadi tebusanmu. Ketahuilah, tidak ada seorang wanita pun yang berada di timur maupun di barat yang mendengar keberangkatanku ini melainkan ia memiliki pandangan yang sama denganku.Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada kaum laki-laki dan kaum wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Tuhan yang mengutusmu.Kami, kaum wanita, adalah orang-orang yang lebih banyak berada di rumah, mengurus rumah tangga kalian, memenuhi kebutuhan kalian, dan mengandung anak-anak kalian.Sementara kalian, kaum laki-laki, diberi keutamaan atas kami dengan menghadiri salat Jumat dan salat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih utama dari itu semua adalah berjihad di jalan Allah.Ketika salah seorang dari kalian berangkat untuk berhaji, berumrah, atau berjaga di perbatasan, kamilah yang menjaga harta kalian, membuatkan pakaian kalian, dan membesarkan anak-anak kalian. Lalu bagaimana kami bisa ikut memperoleh pahala seperti yang kalian dapatkan, wahai Rasulullah?”.Beliau melanjutkan: Maka Nabi ﷺ memalingkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik daripada pertanyaannya tentang urusan agamanya seperti wanita ini?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka ada wanita yang dapat memahami persoalan seperti ini.”Kemudian Nabi ﷺ berpaling kepadanya dan bersabda:“Pulanglah, wahai wanita. Beritahukan kepada para wanita yang ada di belakangmu bahwa baiknya perlakuan salah seorang dari kalian kepada suaminya, usahanya mencari keridhaannya, dan kesediaannya mengikuti hal-hal yang ia setujui, sebanding dengan semua amal tersebut.”Maka wanita itu pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena sangat gembira dengan kabar tersebut.Hadits ini memiliki banyak riwayat pendukung yang menunjukkan besarnya hak suami dan pentingnya kedudukannya.Di antaranya adalah hadits dari Husain bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, bahwa bibinya datang kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya:“Apakah engkau memiliki suami?” Ia menjawab, “Ya.”Beliau bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengannya?” Ia menjawab, “Aku selalu berusaha memenuhi haknya semampuku, kecuali pada hal-hal yang memang tidak mampu kulakukan.”Beliau bersabda:فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ.“Perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya ia bisa menjadi surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)Demikian pula hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ».“Apabila seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ibnu Hibban)Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa menjadi istri yang salehah bukanlah kedudukan yang rendah. Bahkan, ketika seorang wanita menunaikan hak-hak suaminya dengan baik, mencari keridhaannya dalam perkara yang dibenarkan syariat, menjaga rumah tangga dan keluarganya, maka ia dapat meraih pahala yang sangat besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.Sayangnya, banyak wanita terjatuh pada kekeliruan dengan mendahulukan urusan rumah dan anak-anak daripada hak suami. Akibatnya, hasil yang mereka peroleh justru berlawanan dengan apa yang mereka harapkan dan inginkan.Nabi ﷺ bersabda:«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ، فَلْتَأْتِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ»“Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk suatu keperluannya, hendaklah ia mendatanginya meskipun saat itu ia sedang berada di tungku (memanggang roti).” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, disahihkan oleh Ibnu Hibban)Maksudnya, seorang wanita hendaknya meninggalkan urusan dunia apa pun, meskipun sangat penting, ketika suaminya memanggil untuk kebutuhannya. Bahkan jika saat itu ia baru saja menyiapkan adonan dan sedang bersiap memanggangnya di tungku, padahal pekerjaan tersebut sangat penting dan waktunya terbatas. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita yang masih membuat roti sendiri hingga sekarang.Lalu bagaimana dengan sebagian wanita yang menunda memenuhi panggilan suaminya karena sedang mencuci, membersihkan rumah, memasak, mendampingi anak belajar, atau melakukan berbagai pekerjaan penting lainnya?Semua itu memang penting. Namun dalam skala prioritas seorang muslimah, hak suami memiliki kedudukan yang lebih utama. Oleh karena itu, seorang istri yang bijak akan berusaha menempatkan setiap urusan pada posisinya yang benar, sehingga ia dapat menunaikan hak-hak yang paling besar dan paling wajib didahulukan.Bahkan dari sisi kehidupan duniawi, suami yang kebutuhannya tidak terpenuhi akan mudah menjadi marah dan emosional. Ia cenderung hanya melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Makanan yang didahulukan daripada dirinya akan dianggap terlalu asin, terlalu panas, atau rasanya tidak enak. Rumah yang telah diatur dan dibersihkan dengan susah payah oleh istrinya pun akan ia cari-cari kekurangannya. Mungkin hanya karena sebuah mainan anak yang tidak berada pada tempatnya, ia akan memarahi istrinya dan menganggapnya lalai serta membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Karena itu, sebagian wanita merasa heran ketika melihat ada seorang istri yang diperlakukan dengan penuh kelembutan dan penghormatan oleh suaminya, padahal menurut penilaian mereka, wanita tersebut tidak mengurus pekerjaan rumah sebaik mereka dan tidak pula terlalu mahir dalam memasak seperti mereka.Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa wanita tersebut memahami skala prioritas dalam kehidupannya. Ia menempatkan setiap hak pada tempatnya dan memberikan kepada setiap pihak hak yang menjadi bagiannya.Setelah menunaikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, prioritas utama bagi seorang wanita yang telah menikah adalah suaminya, baik dalam aspek lahir maupun batin. Hal itu tampak dalam perhatiannya terhadap penampilan dirinya, kelembutan suaranya, tutur katanya yang halus dan menyenangkan, kepeduliannya terhadap urusan suaminya, serta perhatiannya terhadap berbagai hal yang menjadi pikirannya.Singkatnya, semua itu tercakup dalam satu ungkapan yang sangat indah, yaitu husnut taba‘ul (حُسْنُ التَّبَعُّلِ), yakni kemampuan seorang istri untuk mempergauli dan melayani suaminya dengan cara yang baik, penuh kelembutan, serta sesuai dengan tuntunan syariat. Nasihat PenutupBanyak problem rumah tangga pada masa sekarang bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena salah dalam menyusun prioritas. Sebagian istri sangat perhatian kepada anak-anak, pekerjaan, dan urusan rumah, namun kurang memperhatikan kebutuhan suaminya. Padahal setelah menunaikan hak Allah, salah satu kewajiban terbesar bagi wanita yang telah menikah adalah menunaikan hak suami dengan baik. Rumah tangga yang dibangun di atas ibadah dan husnut taba‘ul lebih dekat kepada ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Referensi tulisan: alukah.netBaca Juga:Khutbah Jumat: Mengapa Suami/Istri Berselingkuh? Ini Penyebab dan Solusinya3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak suami husnut tabaul ibadah wanita istri salehah keluarga sakinah muslimah nasihat keluarga pendidikan anak rumah tangga islami wanita muslimah

Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami

Barangkali tugas-tugas yang berada di pundak wanita muslimah pada masa sekarang sangat banyak. Sebagiannya memang termasuk tanggung jawab asli seorang wanita, sedangkan sebagian lainnya merupakan konsekuensi dari kehidupan modern beserta berbagai perkembangan dan tuntutannya, yang dalam banyak hal justru menambah beban yang harus dipikul oleh wanita.Karena itu, pemahaman seorang muslimah terhadap hakikat tugas-tugas yang diembannya, kemudian pemahamannya terhadap skala prioritas di antara tugas-tugas tersebut, merupakan perkara yang sangat penting. Dengan demikian, ia dapat mengatur urusan agamanya dan urusan dunianya dengan baik sekaligus.Seorang wanita muslimah hendaknya menempatkan seluruh tugasnya sesuai dengan tingkat prioritas masing-masing.Pertama, ia adalah seorang hamba Allah yang beribadah kepada-Nya.Setelah itu, ia adalah seorang istri yang melalui perannya akan terbangun kehidupan rumah tangga.Ia juga seorang ibu yang bertugas membentuk generasi penerus. Selain itu, ia bertanggung jawab atas rumah tangganya sebagai pengelola dan penjaganya.Selanjutnya, ia adalah seorang dai bagi lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia merupakan pribadi yang positif dan aktif berinteraksi dengan masyarakat.Kemudian, ia juga dapat menjadi seorang wanita yang bekerja dan memberikan layanan yang dibutuhkan bagi kemajuan umatnya.Berikut ini akan dijelaskan rincian dari masing-masing peran tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Sebagai Hamba yang Beribadah kepada Allah 2. Istri yang Salehah 3. Nasihat Penutup  Sebagai Hamba yang Beribadah kepada AllahIbadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah tujuan utama penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Salah satu definisi ibadah yang paling indah adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan:الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.Baca juga: Pengertian Ibadah, Apa itu Ibadah? Berdasarkan pengertian ini, ibadah seorang wanita dapat dibagi menjadi dua bagian:Pertama: Ibadah dalam Makna UmumIbadah dalam makna umum mencakup seluruh tugas dan aktivitas wanita yang akan disebutkan kemudian, dengan syarat niatnya diperbaiki dan semua amal tersebut dilakukan karena mengharap pahala dari Allah.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162)Kedua: Ibadah dalam Makna KhususIbadah dalam makna khusus meliputi salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, haji, umrah, tafakur, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.Jenis ibadah ini harus mendapatkan prioritas utama dalam kehidupan seorang muslimah, sebagaimana hal itu juga menjadi prioritas utama bagi seorang muslim.Ibadah-ibadah ini tidak bergantung pada perbedaan kondisi yang dialami para wanita. Bagaimanapun besarnya tanggung jawab dan berbagai kesibukan yang ada, ibadah harus tetap menempati prioritas utama dari sisi perhatian dan kepedulian, bukan dari sisi lamanya waktu yang dihabiskan.Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan TugasDalam kondisi tertentu, karena berbagai tekanan dan kesibukan yang dihadapi seorang wanita, waktu yang digunakan untuk ibadah mungkin hanya sekitar dua jam, sedangkan mengurus rumah dan anak-anak bisa menghabiskan lebih dari delapan jam. Namun, selain memperbarui niat agar mengurus rumah dan anak-anak menjadi bentuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, perhatian utama tetap harus diberikan kepada ibadah.Karena itu, ketika azan berkumandang—bahkan mungkin beberapa saat sebelumnya—aktivitas kehidupan yang biasa dilakukan harus dihentikan sejenak agar salat dapat ditunaikan tepat pada waktunya. Dengan demikian, salat tetap memiliki kedudukan yang paling penting, meskipun pelaksanaannya mungkin hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit. Demikian pula halnya dengan ibadah-ibadah yang lain.Selain itu, seorang wanita hendaknya memilih waktu-waktu khusus yang tenang, seperti pada sepertiga malam terakhir, untuk melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an agar keimanannya senantiasa diperbarui. Sebab, iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Hal ini tidak akan terwujud kecuali pada diri wanita yang memiliki semangat dan tekad yang tinggi.Rumah tangga muslim harus menjadi rumah yang hidup dengan dzikir dan salat. Ibadah merupakan ciri pertama yang membedakannya dari rumah-rumah lainnya. Sungguh mengherankan ketika ada sebagian wanita yang fokus mengurus rumahnya, namun masih mengeluhkan kebosanan dan kekosongan waktu. Padahal Allah telah menganugerahkan kepadanya kesempatan yang sangat besar untuk memakmurkan rumah dan hatinya dengan ibadah, yang merupakan prioritas utama dalam kehidupan setiap muslim. Istri yang SalehahPernikahan adalah nikmat yang sangat besar di antara berbagai nikmat Allah ‘Azza wa Jalla. Terkadang seseorang baru merasakan betapa berharganya nikmat itu ketika ia kehilangannya. Allah Ta’ala berfirman,﴿ وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan padanya. Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Hendaknya setiap wanita merenungkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari utusan kaum wanita, yaitu Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha. Beliau datang menemui Nabi ﷺ ketika beliau sedang bersama para sahabatnya, lalu berkata:“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku datang sebagai wakil kaum wanita kepadamu. Semoga diriku menjadi tebusanmu. Ketahuilah, tidak ada seorang wanita pun yang berada di timur maupun di barat yang mendengar keberangkatanku ini melainkan ia memiliki pandangan yang sama denganku.Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada kaum laki-laki dan kaum wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Tuhan yang mengutusmu.Kami, kaum wanita, adalah orang-orang yang lebih banyak berada di rumah, mengurus rumah tangga kalian, memenuhi kebutuhan kalian, dan mengandung anak-anak kalian.Sementara kalian, kaum laki-laki, diberi keutamaan atas kami dengan menghadiri salat Jumat dan salat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih utama dari itu semua adalah berjihad di jalan Allah.Ketika salah seorang dari kalian berangkat untuk berhaji, berumrah, atau berjaga di perbatasan, kamilah yang menjaga harta kalian, membuatkan pakaian kalian, dan membesarkan anak-anak kalian. Lalu bagaimana kami bisa ikut memperoleh pahala seperti yang kalian dapatkan, wahai Rasulullah?”.Beliau melanjutkan: Maka Nabi ﷺ memalingkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik daripada pertanyaannya tentang urusan agamanya seperti wanita ini?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka ada wanita yang dapat memahami persoalan seperti ini.”Kemudian Nabi ﷺ berpaling kepadanya dan bersabda:“Pulanglah, wahai wanita. Beritahukan kepada para wanita yang ada di belakangmu bahwa baiknya perlakuan salah seorang dari kalian kepada suaminya, usahanya mencari keridhaannya, dan kesediaannya mengikuti hal-hal yang ia setujui, sebanding dengan semua amal tersebut.”Maka wanita itu pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena sangat gembira dengan kabar tersebut.Hadits ini memiliki banyak riwayat pendukung yang menunjukkan besarnya hak suami dan pentingnya kedudukannya.Di antaranya adalah hadits dari Husain bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, bahwa bibinya datang kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya:“Apakah engkau memiliki suami?” Ia menjawab, “Ya.”Beliau bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengannya?” Ia menjawab, “Aku selalu berusaha memenuhi haknya semampuku, kecuali pada hal-hal yang memang tidak mampu kulakukan.”Beliau bersabda:فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ.“Perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya ia bisa menjadi surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)Demikian pula hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ».“Apabila seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ibnu Hibban)Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa menjadi istri yang salehah bukanlah kedudukan yang rendah. Bahkan, ketika seorang wanita menunaikan hak-hak suaminya dengan baik, mencari keridhaannya dalam perkara yang dibenarkan syariat, menjaga rumah tangga dan keluarganya, maka ia dapat meraih pahala yang sangat besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.Sayangnya, banyak wanita terjatuh pada kekeliruan dengan mendahulukan urusan rumah dan anak-anak daripada hak suami. Akibatnya, hasil yang mereka peroleh justru berlawanan dengan apa yang mereka harapkan dan inginkan.Nabi ﷺ bersabda:«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ، فَلْتَأْتِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ»“Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk suatu keperluannya, hendaklah ia mendatanginya meskipun saat itu ia sedang berada di tungku (memanggang roti).” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, disahihkan oleh Ibnu Hibban)Maksudnya, seorang wanita hendaknya meninggalkan urusan dunia apa pun, meskipun sangat penting, ketika suaminya memanggil untuk kebutuhannya. Bahkan jika saat itu ia baru saja menyiapkan adonan dan sedang bersiap memanggangnya di tungku, padahal pekerjaan tersebut sangat penting dan waktunya terbatas. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita yang masih membuat roti sendiri hingga sekarang.Lalu bagaimana dengan sebagian wanita yang menunda memenuhi panggilan suaminya karena sedang mencuci, membersihkan rumah, memasak, mendampingi anak belajar, atau melakukan berbagai pekerjaan penting lainnya?Semua itu memang penting. Namun dalam skala prioritas seorang muslimah, hak suami memiliki kedudukan yang lebih utama. Oleh karena itu, seorang istri yang bijak akan berusaha menempatkan setiap urusan pada posisinya yang benar, sehingga ia dapat menunaikan hak-hak yang paling besar dan paling wajib didahulukan.Bahkan dari sisi kehidupan duniawi, suami yang kebutuhannya tidak terpenuhi akan mudah menjadi marah dan emosional. Ia cenderung hanya melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Makanan yang didahulukan daripada dirinya akan dianggap terlalu asin, terlalu panas, atau rasanya tidak enak. Rumah yang telah diatur dan dibersihkan dengan susah payah oleh istrinya pun akan ia cari-cari kekurangannya. Mungkin hanya karena sebuah mainan anak yang tidak berada pada tempatnya, ia akan memarahi istrinya dan menganggapnya lalai serta membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Karena itu, sebagian wanita merasa heran ketika melihat ada seorang istri yang diperlakukan dengan penuh kelembutan dan penghormatan oleh suaminya, padahal menurut penilaian mereka, wanita tersebut tidak mengurus pekerjaan rumah sebaik mereka dan tidak pula terlalu mahir dalam memasak seperti mereka.Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa wanita tersebut memahami skala prioritas dalam kehidupannya. Ia menempatkan setiap hak pada tempatnya dan memberikan kepada setiap pihak hak yang menjadi bagiannya.Setelah menunaikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, prioritas utama bagi seorang wanita yang telah menikah adalah suaminya, baik dalam aspek lahir maupun batin. Hal itu tampak dalam perhatiannya terhadap penampilan dirinya, kelembutan suaranya, tutur katanya yang halus dan menyenangkan, kepeduliannya terhadap urusan suaminya, serta perhatiannya terhadap berbagai hal yang menjadi pikirannya.Singkatnya, semua itu tercakup dalam satu ungkapan yang sangat indah, yaitu husnut taba‘ul (حُسْنُ التَّبَعُّلِ), yakni kemampuan seorang istri untuk mempergauli dan melayani suaminya dengan cara yang baik, penuh kelembutan, serta sesuai dengan tuntunan syariat. Nasihat PenutupBanyak problem rumah tangga pada masa sekarang bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena salah dalam menyusun prioritas. Sebagian istri sangat perhatian kepada anak-anak, pekerjaan, dan urusan rumah, namun kurang memperhatikan kebutuhan suaminya. Padahal setelah menunaikan hak Allah, salah satu kewajiban terbesar bagi wanita yang telah menikah adalah menunaikan hak suami dengan baik. Rumah tangga yang dibangun di atas ibadah dan husnut taba‘ul lebih dekat kepada ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Referensi tulisan: alukah.netBaca Juga:Khutbah Jumat: Mengapa Suami/Istri Berselingkuh? Ini Penyebab dan Solusinya3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak suami husnut tabaul ibadah wanita istri salehah keluarga sakinah muslimah nasihat keluarga pendidikan anak rumah tangga islami wanita muslimah
Barangkali tugas-tugas yang berada di pundak wanita muslimah pada masa sekarang sangat banyak. Sebagiannya memang termasuk tanggung jawab asli seorang wanita, sedangkan sebagian lainnya merupakan konsekuensi dari kehidupan modern beserta berbagai perkembangan dan tuntutannya, yang dalam banyak hal justru menambah beban yang harus dipikul oleh wanita.Karena itu, pemahaman seorang muslimah terhadap hakikat tugas-tugas yang diembannya, kemudian pemahamannya terhadap skala prioritas di antara tugas-tugas tersebut, merupakan perkara yang sangat penting. Dengan demikian, ia dapat mengatur urusan agamanya dan urusan dunianya dengan baik sekaligus.Seorang wanita muslimah hendaknya menempatkan seluruh tugasnya sesuai dengan tingkat prioritas masing-masing.Pertama, ia adalah seorang hamba Allah yang beribadah kepada-Nya.Setelah itu, ia adalah seorang istri yang melalui perannya akan terbangun kehidupan rumah tangga.Ia juga seorang ibu yang bertugas membentuk generasi penerus. Selain itu, ia bertanggung jawab atas rumah tangganya sebagai pengelola dan penjaganya.Selanjutnya, ia adalah seorang dai bagi lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia merupakan pribadi yang positif dan aktif berinteraksi dengan masyarakat.Kemudian, ia juga dapat menjadi seorang wanita yang bekerja dan memberikan layanan yang dibutuhkan bagi kemajuan umatnya.Berikut ini akan dijelaskan rincian dari masing-masing peran tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Sebagai Hamba yang Beribadah kepada Allah 2. Istri yang Salehah 3. Nasihat Penutup  Sebagai Hamba yang Beribadah kepada AllahIbadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah tujuan utama penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Salah satu definisi ibadah yang paling indah adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan:الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.Baca juga: Pengertian Ibadah, Apa itu Ibadah? Berdasarkan pengertian ini, ibadah seorang wanita dapat dibagi menjadi dua bagian:Pertama: Ibadah dalam Makna UmumIbadah dalam makna umum mencakup seluruh tugas dan aktivitas wanita yang akan disebutkan kemudian, dengan syarat niatnya diperbaiki dan semua amal tersebut dilakukan karena mengharap pahala dari Allah.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162)Kedua: Ibadah dalam Makna KhususIbadah dalam makna khusus meliputi salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, haji, umrah, tafakur, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.Jenis ibadah ini harus mendapatkan prioritas utama dalam kehidupan seorang muslimah, sebagaimana hal itu juga menjadi prioritas utama bagi seorang muslim.Ibadah-ibadah ini tidak bergantung pada perbedaan kondisi yang dialami para wanita. Bagaimanapun besarnya tanggung jawab dan berbagai kesibukan yang ada, ibadah harus tetap menempati prioritas utama dari sisi perhatian dan kepedulian, bukan dari sisi lamanya waktu yang dihabiskan.Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan TugasDalam kondisi tertentu, karena berbagai tekanan dan kesibukan yang dihadapi seorang wanita, waktu yang digunakan untuk ibadah mungkin hanya sekitar dua jam, sedangkan mengurus rumah dan anak-anak bisa menghabiskan lebih dari delapan jam. Namun, selain memperbarui niat agar mengurus rumah dan anak-anak menjadi bentuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, perhatian utama tetap harus diberikan kepada ibadah.Karena itu, ketika azan berkumandang—bahkan mungkin beberapa saat sebelumnya—aktivitas kehidupan yang biasa dilakukan harus dihentikan sejenak agar salat dapat ditunaikan tepat pada waktunya. Dengan demikian, salat tetap memiliki kedudukan yang paling penting, meskipun pelaksanaannya mungkin hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit. Demikian pula halnya dengan ibadah-ibadah yang lain.Selain itu, seorang wanita hendaknya memilih waktu-waktu khusus yang tenang, seperti pada sepertiga malam terakhir, untuk melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an agar keimanannya senantiasa diperbarui. Sebab, iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Hal ini tidak akan terwujud kecuali pada diri wanita yang memiliki semangat dan tekad yang tinggi.Rumah tangga muslim harus menjadi rumah yang hidup dengan dzikir dan salat. Ibadah merupakan ciri pertama yang membedakannya dari rumah-rumah lainnya. Sungguh mengherankan ketika ada sebagian wanita yang fokus mengurus rumahnya, namun masih mengeluhkan kebosanan dan kekosongan waktu. Padahal Allah telah menganugerahkan kepadanya kesempatan yang sangat besar untuk memakmurkan rumah dan hatinya dengan ibadah, yang merupakan prioritas utama dalam kehidupan setiap muslim. Istri yang SalehahPernikahan adalah nikmat yang sangat besar di antara berbagai nikmat Allah ‘Azza wa Jalla. Terkadang seseorang baru merasakan betapa berharganya nikmat itu ketika ia kehilangannya. Allah Ta’ala berfirman,﴿ وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan padanya. Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Hendaknya setiap wanita merenungkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari utusan kaum wanita, yaitu Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha. Beliau datang menemui Nabi ﷺ ketika beliau sedang bersama para sahabatnya, lalu berkata:“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku datang sebagai wakil kaum wanita kepadamu. Semoga diriku menjadi tebusanmu. Ketahuilah, tidak ada seorang wanita pun yang berada di timur maupun di barat yang mendengar keberangkatanku ini melainkan ia memiliki pandangan yang sama denganku.Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada kaum laki-laki dan kaum wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Tuhan yang mengutusmu.Kami, kaum wanita, adalah orang-orang yang lebih banyak berada di rumah, mengurus rumah tangga kalian, memenuhi kebutuhan kalian, dan mengandung anak-anak kalian.Sementara kalian, kaum laki-laki, diberi keutamaan atas kami dengan menghadiri salat Jumat dan salat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih utama dari itu semua adalah berjihad di jalan Allah.Ketika salah seorang dari kalian berangkat untuk berhaji, berumrah, atau berjaga di perbatasan, kamilah yang menjaga harta kalian, membuatkan pakaian kalian, dan membesarkan anak-anak kalian. Lalu bagaimana kami bisa ikut memperoleh pahala seperti yang kalian dapatkan, wahai Rasulullah?”.Beliau melanjutkan: Maka Nabi ﷺ memalingkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik daripada pertanyaannya tentang urusan agamanya seperti wanita ini?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka ada wanita yang dapat memahami persoalan seperti ini.”Kemudian Nabi ﷺ berpaling kepadanya dan bersabda:“Pulanglah, wahai wanita. Beritahukan kepada para wanita yang ada di belakangmu bahwa baiknya perlakuan salah seorang dari kalian kepada suaminya, usahanya mencari keridhaannya, dan kesediaannya mengikuti hal-hal yang ia setujui, sebanding dengan semua amal tersebut.”Maka wanita itu pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena sangat gembira dengan kabar tersebut.Hadits ini memiliki banyak riwayat pendukung yang menunjukkan besarnya hak suami dan pentingnya kedudukannya.Di antaranya adalah hadits dari Husain bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, bahwa bibinya datang kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya:“Apakah engkau memiliki suami?” Ia menjawab, “Ya.”Beliau bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengannya?” Ia menjawab, “Aku selalu berusaha memenuhi haknya semampuku, kecuali pada hal-hal yang memang tidak mampu kulakukan.”Beliau bersabda:فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ.“Perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya ia bisa menjadi surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)Demikian pula hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ».“Apabila seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ibnu Hibban)Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa menjadi istri yang salehah bukanlah kedudukan yang rendah. Bahkan, ketika seorang wanita menunaikan hak-hak suaminya dengan baik, mencari keridhaannya dalam perkara yang dibenarkan syariat, menjaga rumah tangga dan keluarganya, maka ia dapat meraih pahala yang sangat besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.Sayangnya, banyak wanita terjatuh pada kekeliruan dengan mendahulukan urusan rumah dan anak-anak daripada hak suami. Akibatnya, hasil yang mereka peroleh justru berlawanan dengan apa yang mereka harapkan dan inginkan.Nabi ﷺ bersabda:«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ، فَلْتَأْتِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ»“Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk suatu keperluannya, hendaklah ia mendatanginya meskipun saat itu ia sedang berada di tungku (memanggang roti).” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, disahihkan oleh Ibnu Hibban)Maksudnya, seorang wanita hendaknya meninggalkan urusan dunia apa pun, meskipun sangat penting, ketika suaminya memanggil untuk kebutuhannya. Bahkan jika saat itu ia baru saja menyiapkan adonan dan sedang bersiap memanggangnya di tungku, padahal pekerjaan tersebut sangat penting dan waktunya terbatas. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita yang masih membuat roti sendiri hingga sekarang.Lalu bagaimana dengan sebagian wanita yang menunda memenuhi panggilan suaminya karena sedang mencuci, membersihkan rumah, memasak, mendampingi anak belajar, atau melakukan berbagai pekerjaan penting lainnya?Semua itu memang penting. Namun dalam skala prioritas seorang muslimah, hak suami memiliki kedudukan yang lebih utama. Oleh karena itu, seorang istri yang bijak akan berusaha menempatkan setiap urusan pada posisinya yang benar, sehingga ia dapat menunaikan hak-hak yang paling besar dan paling wajib didahulukan.Bahkan dari sisi kehidupan duniawi, suami yang kebutuhannya tidak terpenuhi akan mudah menjadi marah dan emosional. Ia cenderung hanya melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Makanan yang didahulukan daripada dirinya akan dianggap terlalu asin, terlalu panas, atau rasanya tidak enak. Rumah yang telah diatur dan dibersihkan dengan susah payah oleh istrinya pun akan ia cari-cari kekurangannya. Mungkin hanya karena sebuah mainan anak yang tidak berada pada tempatnya, ia akan memarahi istrinya dan menganggapnya lalai serta membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Karena itu, sebagian wanita merasa heran ketika melihat ada seorang istri yang diperlakukan dengan penuh kelembutan dan penghormatan oleh suaminya, padahal menurut penilaian mereka, wanita tersebut tidak mengurus pekerjaan rumah sebaik mereka dan tidak pula terlalu mahir dalam memasak seperti mereka.Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa wanita tersebut memahami skala prioritas dalam kehidupannya. Ia menempatkan setiap hak pada tempatnya dan memberikan kepada setiap pihak hak yang menjadi bagiannya.Setelah menunaikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, prioritas utama bagi seorang wanita yang telah menikah adalah suaminya, baik dalam aspek lahir maupun batin. Hal itu tampak dalam perhatiannya terhadap penampilan dirinya, kelembutan suaranya, tutur katanya yang halus dan menyenangkan, kepeduliannya terhadap urusan suaminya, serta perhatiannya terhadap berbagai hal yang menjadi pikirannya.Singkatnya, semua itu tercakup dalam satu ungkapan yang sangat indah, yaitu husnut taba‘ul (حُسْنُ التَّبَعُّلِ), yakni kemampuan seorang istri untuk mempergauli dan melayani suaminya dengan cara yang baik, penuh kelembutan, serta sesuai dengan tuntunan syariat. Nasihat PenutupBanyak problem rumah tangga pada masa sekarang bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena salah dalam menyusun prioritas. Sebagian istri sangat perhatian kepada anak-anak, pekerjaan, dan urusan rumah, namun kurang memperhatikan kebutuhan suaminya. Padahal setelah menunaikan hak Allah, salah satu kewajiban terbesar bagi wanita yang telah menikah adalah menunaikan hak suami dengan baik. Rumah tangga yang dibangun di atas ibadah dan husnut taba‘ul lebih dekat kepada ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Referensi tulisan: alukah.netBaca Juga:Khutbah Jumat: Mengapa Suami/Istri Berselingkuh? Ini Penyebab dan Solusinya3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak suami husnut tabaul ibadah wanita istri salehah keluarga sakinah muslimah nasihat keluarga pendidikan anak rumah tangga islami wanita muslimah


Barangkali tugas-tugas yang berada di pundak wanita muslimah pada masa sekarang sangat banyak. Sebagiannya memang termasuk tanggung jawab asli seorang wanita, sedangkan sebagian lainnya merupakan konsekuensi dari kehidupan modern beserta berbagai perkembangan dan tuntutannya, yang dalam banyak hal justru menambah beban yang harus dipikul oleh wanita.Karena itu, pemahaman seorang muslimah terhadap hakikat tugas-tugas yang diembannya, kemudian pemahamannya terhadap skala prioritas di antara tugas-tugas tersebut, merupakan perkara yang sangat penting. Dengan demikian, ia dapat mengatur urusan agamanya dan urusan dunianya dengan baik sekaligus.Seorang wanita muslimah hendaknya menempatkan seluruh tugasnya sesuai dengan tingkat prioritas masing-masing.Pertama, ia adalah seorang hamba Allah yang beribadah kepada-Nya.Setelah itu, ia adalah seorang istri yang melalui perannya akan terbangun kehidupan rumah tangga.Ia juga seorang ibu yang bertugas membentuk generasi penerus. Selain itu, ia bertanggung jawab atas rumah tangganya sebagai pengelola dan penjaganya.Selanjutnya, ia adalah seorang dai bagi lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia merupakan pribadi yang positif dan aktif berinteraksi dengan masyarakat.Kemudian, ia juga dapat menjadi seorang wanita yang bekerja dan memberikan layanan yang dibutuhkan bagi kemajuan umatnya.Berikut ini akan dijelaskan rincian dari masing-masing peran tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Sebagai Hamba yang Beribadah kepada Allah 2. Istri yang Salehah 3. Nasihat Penutup  Sebagai Hamba yang Beribadah kepada AllahIbadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah tujuan utama penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman:﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Salah satu definisi ibadah yang paling indah adalah definisi yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan:الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.Baca juga: Pengertian Ibadah, Apa itu Ibadah? Berdasarkan pengertian ini, ibadah seorang wanita dapat dibagi menjadi dua bagian:Pertama: Ibadah dalam Makna UmumIbadah dalam makna umum mencakup seluruh tugas dan aktivitas wanita yang akan disebutkan kemudian, dengan syarat niatnya diperbaiki dan semua amal tersebut dilakukan karena mengharap pahala dari Allah.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162)Kedua: Ibadah dalam Makna KhususIbadah dalam makna khusus meliputi salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, haji, umrah, tafakur, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.Jenis ibadah ini harus mendapatkan prioritas utama dalam kehidupan seorang muslimah, sebagaimana hal itu juga menjadi prioritas utama bagi seorang muslim.Ibadah-ibadah ini tidak bergantung pada perbedaan kondisi yang dialami para wanita. Bagaimanapun besarnya tanggung jawab dan berbagai kesibukan yang ada, ibadah harus tetap menempati prioritas utama dari sisi perhatian dan kepedulian, bukan dari sisi lamanya waktu yang dihabiskan.Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan TugasDalam kondisi tertentu, karena berbagai tekanan dan kesibukan yang dihadapi seorang wanita, waktu yang digunakan untuk ibadah mungkin hanya sekitar dua jam, sedangkan mengurus rumah dan anak-anak bisa menghabiskan lebih dari delapan jam. Namun, selain memperbarui niat agar mengurus rumah dan anak-anak menjadi bentuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, perhatian utama tetap harus diberikan kepada ibadah.Karena itu, ketika azan berkumandang—bahkan mungkin beberapa saat sebelumnya—aktivitas kehidupan yang biasa dilakukan harus dihentikan sejenak agar salat dapat ditunaikan tepat pada waktunya. Dengan demikian, salat tetap memiliki kedudukan yang paling penting, meskipun pelaksanaannya mungkin hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit. Demikian pula halnya dengan ibadah-ibadah yang lain.Selain itu, seorang wanita hendaknya memilih waktu-waktu khusus yang tenang, seperti pada sepertiga malam terakhir, untuk melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an agar keimanannya senantiasa diperbarui. Sebab, iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Hal ini tidak akan terwujud kecuali pada diri wanita yang memiliki semangat dan tekad yang tinggi.Rumah tangga muslim harus menjadi rumah yang hidup dengan dzikir dan salat. Ibadah merupakan ciri pertama yang membedakannya dari rumah-rumah lainnya. Sungguh mengherankan ketika ada sebagian wanita yang fokus mengurus rumahnya, namun masih mengeluhkan kebosanan dan kekosongan waktu. Padahal Allah telah menganugerahkan kepadanya kesempatan yang sangat besar untuk memakmurkan rumah dan hatinya dengan ibadah, yang merupakan prioritas utama dalam kehidupan setiap muslim. Istri yang SalehahPernikahan adalah nikmat yang sangat besar di antara berbagai nikmat Allah ‘Azza wa Jalla. Terkadang seseorang baru merasakan betapa berharganya nikmat itu ketika ia kehilangannya. Allah Ta’ala berfirman,﴿ وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan padanya. Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Hendaknya setiap wanita merenungkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari utusan kaum wanita, yaitu Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha. Beliau datang menemui Nabi ﷺ ketika beliau sedang bersama para sahabatnya, lalu berkata:“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku datang sebagai wakil kaum wanita kepadamu. Semoga diriku menjadi tebusanmu. Ketahuilah, tidak ada seorang wanita pun yang berada di timur maupun di barat yang mendengar keberangkatanku ini melainkan ia memiliki pandangan yang sama denganku.Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada kaum laki-laki dan kaum wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Tuhan yang mengutusmu.Kami, kaum wanita, adalah orang-orang yang lebih banyak berada di rumah, mengurus rumah tangga kalian, memenuhi kebutuhan kalian, dan mengandung anak-anak kalian.Sementara kalian, kaum laki-laki, diberi keutamaan atas kami dengan menghadiri salat Jumat dan salat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih utama dari itu semua adalah berjihad di jalan Allah.Ketika salah seorang dari kalian berangkat untuk berhaji, berumrah, atau berjaga di perbatasan, kamilah yang menjaga harta kalian, membuatkan pakaian kalian, dan membesarkan anak-anak kalian. Lalu bagaimana kami bisa ikut memperoleh pahala seperti yang kalian dapatkan, wahai Rasulullah?”.Beliau melanjutkan: Maka Nabi ﷺ memalingkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik daripada pertanyaannya tentang urusan agamanya seperti wanita ini?”Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka ada wanita yang dapat memahami persoalan seperti ini.”Kemudian Nabi ﷺ berpaling kepadanya dan bersabda:“Pulanglah, wahai wanita. Beritahukan kepada para wanita yang ada di belakangmu bahwa baiknya perlakuan salah seorang dari kalian kepada suaminya, usahanya mencari keridhaannya, dan kesediaannya mengikuti hal-hal yang ia setujui, sebanding dengan semua amal tersebut.”Maka wanita itu pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena sangat gembira dengan kabar tersebut.Hadits ini memiliki banyak riwayat pendukung yang menunjukkan besarnya hak suami dan pentingnya kedudukannya.Di antaranya adalah hadits dari Husain bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, bahwa bibinya datang kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya:“Apakah engkau memiliki suami?” Ia menjawab, “Ya.”Beliau bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengannya?” Ia menjawab, “Aku selalu berusaha memenuhi haknya semampuku, kecuali pada hal-hal yang memang tidak mampu kulakukan.”Beliau bersabda:فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ.“Perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya ia bisa menjadi surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)Demikian pula hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ».“Apabila seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga melalui pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ibnu Hibban)Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa menjadi istri yang salehah bukanlah kedudukan yang rendah. Bahkan, ketika seorang wanita menunaikan hak-hak suaminya dengan baik, mencari keridhaannya dalam perkara yang dibenarkan syariat, menjaga rumah tangga dan keluarganya, maka ia dapat meraih pahala yang sangat besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.Sayangnya, banyak wanita terjatuh pada kekeliruan dengan mendahulukan urusan rumah dan anak-anak daripada hak suami. Akibatnya, hasil yang mereka peroleh justru berlawanan dengan apa yang mereka harapkan dan inginkan.Nabi ﷺ bersabda:«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ، فَلْتَأْتِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ»“Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk suatu keperluannya, hendaklah ia mendatanginya meskipun saat itu ia sedang berada di tungku (memanggang roti).” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, disahihkan oleh Ibnu Hibban)Maksudnya, seorang wanita hendaknya meninggalkan urusan dunia apa pun, meskipun sangat penting, ketika suaminya memanggil untuk kebutuhannya. Bahkan jika saat itu ia baru saja menyiapkan adonan dan sedang bersiap memanggangnya di tungku, padahal pekerjaan tersebut sangat penting dan waktunya terbatas. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita yang masih membuat roti sendiri hingga sekarang.Lalu bagaimana dengan sebagian wanita yang menunda memenuhi panggilan suaminya karena sedang mencuci, membersihkan rumah, memasak, mendampingi anak belajar, atau melakukan berbagai pekerjaan penting lainnya?Semua itu memang penting. Namun dalam skala prioritas seorang muslimah, hak suami memiliki kedudukan yang lebih utama. Oleh karena itu, seorang istri yang bijak akan berusaha menempatkan setiap urusan pada posisinya yang benar, sehingga ia dapat menunaikan hak-hak yang paling besar dan paling wajib didahulukan.Bahkan dari sisi kehidupan duniawi, suami yang kebutuhannya tidak terpenuhi akan mudah menjadi marah dan emosional. Ia cenderung hanya melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Makanan yang didahulukan daripada dirinya akan dianggap terlalu asin, terlalu panas, atau rasanya tidak enak. Rumah yang telah diatur dan dibersihkan dengan susah payah oleh istrinya pun akan ia cari-cari kekurangannya. Mungkin hanya karena sebuah mainan anak yang tidak berada pada tempatnya, ia akan memarahi istrinya dan menganggapnya lalai serta membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Karena itu, sebagian wanita merasa heran ketika melihat ada seorang istri yang diperlakukan dengan penuh kelembutan dan penghormatan oleh suaminya, padahal menurut penilaian mereka, wanita tersebut tidak mengurus pekerjaan rumah sebaik mereka dan tidak pula terlalu mahir dalam memasak seperti mereka.Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa wanita tersebut memahami skala prioritas dalam kehidupannya. Ia menempatkan setiap hak pada tempatnya dan memberikan kepada setiap pihak hak yang menjadi bagiannya.Setelah menunaikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, prioritas utama bagi seorang wanita yang telah menikah adalah suaminya, baik dalam aspek lahir maupun batin. Hal itu tampak dalam perhatiannya terhadap penampilan dirinya, kelembutan suaranya, tutur katanya yang halus dan menyenangkan, kepeduliannya terhadap urusan suaminya, serta perhatiannya terhadap berbagai hal yang menjadi pikirannya.Singkatnya, semua itu tercakup dalam satu ungkapan yang sangat indah, yaitu husnut taba‘ul (حُسْنُ التَّبَعُّلِ), yakni kemampuan seorang istri untuk mempergauli dan melayani suaminya dengan cara yang baik, penuh kelembutan, serta sesuai dengan tuntunan syariat. Nasihat PenutupBanyak problem rumah tangga pada masa sekarang bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena salah dalam menyusun prioritas. Sebagian istri sangat perhatian kepada anak-anak, pekerjaan, dan urusan rumah, namun kurang memperhatikan kebutuhan suaminya. Padahal setelah menunaikan hak Allah, salah satu kewajiban terbesar bagi wanita yang telah menikah adalah menunaikan hak suami dengan baik. Rumah tangga yang dibangun di atas ibadah dan husnut taba‘ul lebih dekat kepada ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Referensi tulisan: alukah.netBaca Juga:Khutbah Jumat: Mengapa Suami/Istri Berselingkuh? Ini Penyebab dan Solusinya3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak suami husnut tabaul ibadah wanita istri salehah keluarga sakinah muslimah nasihat keluarga pendidikan anak rumah tangga islami wanita muslimah

Hukum PDKT Online via Sosmed dalam Islam

Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.

Hukum PDKT Online via Sosmed dalam Islam

Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.
Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.


Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.

Pengakuan Dosa Menghapus Kesalahan

Banyak orang takut mengingat dosa-dosa masa lalunya. Padahal, dalam hadis ini terdapat kabar gembira bahwa seorang mukmin yang jujur mengakui dosanya di hadapan Allah akan mendapatkan ampunan dari-Nya. Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju keselamatan bukanlah mengingkari kesalahan, tetapi mengakuinya, bertobat, dan berharap kepada rahmat Allah.Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan  Daftar Isi tutup 1. Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Pengakuan Dosa yang Berujung Ampunan 4. Referensi  Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٢/٤٣٣ ــ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat, seorang mukmin didekatkan kepada Rabbnya hingga Allah menaunginya dengan perlindungan-Nya. Lalu Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya. Allah berfirman: “Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?” Ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengetahuinya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.” Kemudian ia diberikan catatan amal kebaikannya.’” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 8:353 dan Muslim, no. 2768)“Kanafuhu” berarti perlindungan dan rahmat-Nya.Baca juga: Jangan Tertipu dengan Ampunan Allah Faedah HaditsAllah menjaga, memperhatikan, dan menutupi aib orang-orang yang sempurna imannya di dunia dan akhirat.Seorang mukmin tidak berdusta, baik di dunia maupun di akhirat.Pengakuan (atas dosa) menghapus dosa (al-i’tirof yamhul iqtirof).Anjuran untuk menutupi aib seorang mukmin semampunya.Penetapan sifat berbicara bagi Allah Rabb semesta alam.Semua amal hamba akan diperhitungkan oleh Allah. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, karena ia berada di bawah kehendak Allah.Baca juga: Keutamaan Istighfar Sebagai Penghalang Musibah Pengakuan Dosa yang Berujung AmpunanDi antara faedah penting hadis ini adalah kaidah:الِاعْتِرَافُ يَمْحُو الِاقْتِرَافَ“Pengakuan dosa menghapus kesalahan yang dilakukan.”Maksudnya, seorang hamba yang mengakui dosanya, tidak membela dirinya, dan kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan akan lebih dekat kepada ampunan Allah daripada orang yang terus-menerus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya.Baca juga: Keutamaan Sayyidul Istighfar ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa hari kiamat iman menutupi aib muhasabah pengakuan dosa Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap taubat

Pengakuan Dosa Menghapus Kesalahan

Banyak orang takut mengingat dosa-dosa masa lalunya. Padahal, dalam hadis ini terdapat kabar gembira bahwa seorang mukmin yang jujur mengakui dosanya di hadapan Allah akan mendapatkan ampunan dari-Nya. Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju keselamatan bukanlah mengingkari kesalahan, tetapi mengakuinya, bertobat, dan berharap kepada rahmat Allah.Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan  Daftar Isi tutup 1. Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Pengakuan Dosa yang Berujung Ampunan 4. Referensi  Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٢/٤٣٣ ــ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat, seorang mukmin didekatkan kepada Rabbnya hingga Allah menaunginya dengan perlindungan-Nya. Lalu Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya. Allah berfirman: “Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?” Ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengetahuinya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.” Kemudian ia diberikan catatan amal kebaikannya.’” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 8:353 dan Muslim, no. 2768)“Kanafuhu” berarti perlindungan dan rahmat-Nya.Baca juga: Jangan Tertipu dengan Ampunan Allah Faedah HaditsAllah menjaga, memperhatikan, dan menutupi aib orang-orang yang sempurna imannya di dunia dan akhirat.Seorang mukmin tidak berdusta, baik di dunia maupun di akhirat.Pengakuan (atas dosa) menghapus dosa (al-i’tirof yamhul iqtirof).Anjuran untuk menutupi aib seorang mukmin semampunya.Penetapan sifat berbicara bagi Allah Rabb semesta alam.Semua amal hamba akan diperhitungkan oleh Allah. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, karena ia berada di bawah kehendak Allah.Baca juga: Keutamaan Istighfar Sebagai Penghalang Musibah Pengakuan Dosa yang Berujung AmpunanDi antara faedah penting hadis ini adalah kaidah:الِاعْتِرَافُ يَمْحُو الِاقْتِرَافَ“Pengakuan dosa menghapus kesalahan yang dilakukan.”Maksudnya, seorang hamba yang mengakui dosanya, tidak membela dirinya, dan kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan akan lebih dekat kepada ampunan Allah daripada orang yang terus-menerus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya.Baca juga: Keutamaan Sayyidul Istighfar ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa hari kiamat iman menutupi aib muhasabah pengakuan dosa Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap taubat
Banyak orang takut mengingat dosa-dosa masa lalunya. Padahal, dalam hadis ini terdapat kabar gembira bahwa seorang mukmin yang jujur mengakui dosanya di hadapan Allah akan mendapatkan ampunan dari-Nya. Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju keselamatan bukanlah mengingkari kesalahan, tetapi mengakuinya, bertobat, dan berharap kepada rahmat Allah.Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan  Daftar Isi tutup 1. Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Pengakuan Dosa yang Berujung Ampunan 4. Referensi  Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٢/٤٣٣ ــ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat, seorang mukmin didekatkan kepada Rabbnya hingga Allah menaunginya dengan perlindungan-Nya. Lalu Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya. Allah berfirman: “Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?” Ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengetahuinya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.” Kemudian ia diberikan catatan amal kebaikannya.’” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 8:353 dan Muslim, no. 2768)“Kanafuhu” berarti perlindungan dan rahmat-Nya.Baca juga: Jangan Tertipu dengan Ampunan Allah Faedah HaditsAllah menjaga, memperhatikan, dan menutupi aib orang-orang yang sempurna imannya di dunia dan akhirat.Seorang mukmin tidak berdusta, baik di dunia maupun di akhirat.Pengakuan (atas dosa) menghapus dosa (al-i’tirof yamhul iqtirof).Anjuran untuk menutupi aib seorang mukmin semampunya.Penetapan sifat berbicara bagi Allah Rabb semesta alam.Semua amal hamba akan diperhitungkan oleh Allah. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, karena ia berada di bawah kehendak Allah.Baca juga: Keutamaan Istighfar Sebagai Penghalang Musibah Pengakuan Dosa yang Berujung AmpunanDi antara faedah penting hadis ini adalah kaidah:الِاعْتِرَافُ يَمْحُو الِاقْتِرَافَ“Pengakuan dosa menghapus kesalahan yang dilakukan.”Maksudnya, seorang hamba yang mengakui dosanya, tidak membela dirinya, dan kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan akan lebih dekat kepada ampunan Allah daripada orang yang terus-menerus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya.Baca juga: Keutamaan Sayyidul Istighfar ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa hari kiamat iman menutupi aib muhasabah pengakuan dosa Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap taubat


Banyak orang takut mengingat dosa-dosa masa lalunya. Padahal, dalam hadis ini terdapat kabar gembira bahwa seorang mukmin yang jujur mengakui dosanya di hadapan Allah akan mendapatkan ampunan dari-Nya. Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju keselamatan bukanlah mengingkari kesalahan, tetapi mengakuinya, bertobat, dan berharap kepada rahmat Allah.Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan  Daftar Isi tutup 1. Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah 2. Faedah Hadits 3. Pengakuan Dosa yang Berujung Ampunan 4. Referensi  Hadits 22/433 dari Kitab Riyadhus Sholihin – Bab Ar-Raja’ (Berharap) karya Imam Nawawi rahimahullah٢٢/٤٣٣ ــ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat, seorang mukmin didekatkan kepada Rabbnya hingga Allah menaunginya dengan perlindungan-Nya. Lalu Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya. Allah berfirman: “Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?” Ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengetahuinya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.” Kemudian ia diberikan catatan amal kebaikannya.’” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 8:353 dan Muslim, no. 2768)“Kanafuhu” berarti perlindungan dan rahmat-Nya.Baca juga: Jangan Tertipu dengan Ampunan Allah Faedah HaditsAllah menjaga, memperhatikan, dan menutupi aib orang-orang yang sempurna imannya di dunia dan akhirat.Seorang mukmin tidak berdusta, baik di dunia maupun di akhirat.Pengakuan (atas dosa) menghapus dosa (al-i’tirof yamhul iqtirof).Anjuran untuk menutupi aib seorang mukmin semampunya.Penetapan sifat berbicara bagi Allah Rabb semesta alam.Semua amal hamba akan diperhitungkan oleh Allah. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, karena ia berada di bawah kehendak Allah.Baca juga: Keutamaan Istighfar Sebagai Penghalang Musibah Pengakuan Dosa yang Berujung AmpunanDi antara faedah penting hadis ini adalah kaidah:الِاعْتِرَافُ يَمْحُو الِاقْتِرَافَ“Pengakuan dosa menghapus kesalahan yang dilakukan.”Maksudnya, seorang hamba yang mengakui dosanya, tidak membela dirinya, dan kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan akan lebih dekat kepada ampunan Allah daripada orang yang terus-menerus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya.Baca juga: Keutamaan Sayyidul Istighfar ReferensiAl-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 15 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsampunan Allah dosa hari kiamat iman menutupi aib muhasabah pengakuan dosa Rahmat Allah riyadhus sholihin riyadhus sholihin berharap taubat

Jangan Lupakan Doa Ini Sebelum Bersama Istri Agar Lahir Anak Saleh

Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ

Jangan Lupakan Doa Ini Sebelum Bersama Istri Agar Lahir Anak Saleh

Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ
Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ


Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ

Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah?

Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya? —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas

Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah?

Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya? —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas
Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya? —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas


Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya? —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas

Laporan Produksi Yufid — Mei 2026

(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 83

Laporan Produksi Yufid — Mei 2026

(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 83
(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 83


(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 148 times, 1 visit(s) today Post Views: 83

Dosa dan Bahaya Perselingkuhan

Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.

Dosa dan Bahaya Perselingkuhan

Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.
Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.


Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.

Kenapa Salat Terasa Biasa Saja? Sulit Khusyuk? Ini Rahasia Agar Ibadah Terasa Nikmat

Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ

Kenapa Salat Terasa Biasa Saja? Sulit Khusyuk? Ini Rahasia Agar Ibadah Terasa Nikmat

Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ
Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ


Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ

OCD dan Waswas: Ketika Keraguan Tidak Kunjung Berakhir

Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu

OCD dan Waswas: Ketika Keraguan Tidak Kunjung Berakhir

Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu
Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu


Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu
Prev     Next