Senjata Mengusir Setan Saat Ibadah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ

Senjata Mengusir Setan Saat Ibadah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ
Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ


Pertanyaan. Saudara kita, Muhammad, memiliki sebuah kemusykilan. Apakah amal ketaatan dihadiri malaikat dan juga setan? Maksudnya, apakah setan juga hadir pada sebagian amal ketaatan? Ya, setan bisa saja hadir pada sebagian amal ketaatan. Karena itu, ketika orang yang salat mengucapkan takbiratul ihram dalam salatnya, setan datang untuk membisikkan waswas kepadanya, padahal salat adalah ketaatan. Setan juga bisa hadir pada amal ketaatan lain untuk mengacaukannya. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan orang yang membaca Al-Qur’an agar berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (membaca ta’awudz). “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Dengan demikian, yang dapat mengusir setan adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Jika godaan setan datang kepada seseorang saat ia sedang berbuat taat, baik dalam salat maupun selainnya, hendaklah ia mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIMAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkannya, setan akan lari darinya, dan godaan setan langsung tersingkir darinya. Bahkan, jika ia sedang salat, lalu godaan dan bisikan setan semakin banyak mengganggunya, disyariatkan baginya meludah ringan (ke kiri) sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM. Sebagaimana tuntunan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setan bisa hadir pada sebagian ibadah untuk merusaknya bagi seorang muslim. Seorang muslim harus waspada dan selalu sadar bahwa setan adalah musuhnya, dan selalu mengintainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6) “Jadikanlah ia musuh,” yaitu dengan selalu menyadari bahwa musuh ini terus mengintai kalian. Tidaklah seorang muslim menempuh jalan kebaikan, melainkan setan menghadangnya. Setan berusaha melemahkan semangatnya dari jalan itu. Serta berusaha menghiasi maksiat agar tampak indah baginya. Setan adalah musuh manusia. “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) Di antara rahmat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjadikan bagi seorang muslim senjata untuk membela dan melindungi dirinya, yaitu zikir-zikir. Di antaranya adalah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Maka, perkara terbesar yang mengusir setan adalah berlindung kepada Allah. Setiap kali setan datang, ucapkanlah: A-’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM.Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. ROBBI A-’UUDZUBIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIIN WA A-’UUDZUBIKA ROBBI AY-YAHDHURUUN Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. (QS. Al-Mukminun: 97–98) Demikian. ===== الْأَسْئِلَةُ، أَخُونَا مُحَمَّدٌ عِنْدَهُ إِشْكَالِيَّةٌ أَوِ اسْتِشْكَالٌ هَلِ الطَّاعَةُ يَحْضُرُهَا الْمَلَكُ وَالشَّيْطَانُ أَيْضًا؟ يَعْنِي: الشَّيْطَانُ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ؟ نَعَمْ، الشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الطَّاعَاتِ لِذَلِكَ إِذَا كَبَّرَ الْمُصَلِّي فِي صَلَاتِهِ أَتَى يُوَسْوِسُ لِلْمُصَلِّي مَعَ كَوْنِ الصَّلَاةِ طَاعَةً وَقَدْ أَيْضًا يَحْضُرُ طَاعَاتٍ أُخْرَى أَيْضًا لِأَجْلِ التَّشْوِيشِ وَلِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ هُوَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ فَإِذَا أَتَتْ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ فِي الطَّاعَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا، يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ سَيَجِدُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَهْرُبُ مِنْهُ وَتَنْقَشِعُ عَنْهُ وَسَاوِسُ الشَّيْطَانِ مُبَاشَرَةً بَلْ إِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي صَلَاتِهِ وَكَثُرَتْ عَلَيْهِ الْوَسَاوِسُ وَالْهَوَاجِسُ يُشْرَعُ لَهُ أَنْ يَنْفُثَ ثَلَاثًا وَأَنْ يَقُولَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ كَمَا أَرْشَدَ لِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالشَّيْطَانُ قَدْ يَحْضُرُ بَعْضَ الْعِبَادَاتِ لِأَجْلِ إِفْسَادِهَا عَلَى الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ حَذِرًا وَأَنْ يَسْتَحْضِرَ أَنَّ هَذَا الشَّيْطَانَ عَدُوٌّ لَهُ وَأَنَّهُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، وَذَلِكَ بِاسْتِحْضَارِ أَنَّ هَذَا الْعَدُوَّ أَنَّهُ مُتَرَبِّصٌ بِكُمْ مَا أَنْ يَسْلُكَ الْمُسْلِمُ طَرِيقَ الْخَيْرِ إِلَّا وَيَقِفُ لَهُ بِالْمِرْصَادِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُثَبِّطَهُ عَنْ هَذَا الطَّرِيقِ وَيُحَاوِلُ أَنْ يُزَيِّنَ لَهُ الْمَعْصِيَةَ فَهُوَ عَدُوٌّ لِلْإِنْسَانِ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِ أَسْلِحَةً يَتَسَلَّحُ بِهَا وَيَتَحَصَّنُ بِهَا، وَهِيَ الْأَذْكَارُ وَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَأَعْظَمُ مَا يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ كُلَّمَا أَتَى الشَّيْطَانُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ نَعَمْ

Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri

Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub

Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri

Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub
Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub


Ada penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi pelan-pelan merusak amal dan hubungan kita dengan sesama. Itulah ujub, sombong, angkuh, dan suka membanggakan diri. Tulisan ini mengajak kita mengenali penyakit tersebut, memahami bahayanya, lalu belajar cara membersihkan hati darinya.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong? 2. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’an 3. Semua Penyakit Ini Bersumber dari Kesombongan 4. Penyakit Hati Bisa Menjadi Karakter 5. Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri 6. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh Allah 7. Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk Menghilangkannya 8. Nasihat Terakhir  Apa Itu Ujub, Khuyala’, Fakhr, dan Sombong?Ujub adalah rasa sangat senang seseorang terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang ujub,رُؤْيَةُ نَفْسِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَنْ شُهُودِ مِنَّةِ رَبِّهِ وَتَوْفِيقِهِ.“Asalnya adalah seseorang memandang dirinya sendiri, sementara ia lalai dari menyaksikan karunia Rabbnya dan taufik-Nya.” (Al-Fawā’id, hlm. 152)Khuyala’ adalah seseorang memandang dirinya lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya, atau lebih tinggi daripada yang layak ia dapatkan, atau ia menampakkan kepada manusia keagungan dirinya.Fakhr adalah membanggakan diri dengan berbagai kelebihan dan menyebut-nyebut keutamaan, dengan menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Ujub dan Sombong Sering Disebut Bersamaan dalam Al-Qur’anSifat-sifat ini saling beririsan sehingga membuatnya sangat berkaitan satu sama lain, terutama fakhr dan khuyala’. Hampir tidak ada orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, lalu ia selamat dari sifat yang menjadi saudaranya.Seakan-akan sifat-sifat ini adalah saluran-saluran yang memancar dari satu sumber yang sama, yaitu kesombongan. Sumbernya adalah bayangan tentang kebesaran diri dan keutamaannya, serta keinginan agar makhluk mengagungkannya dan memujinya.Karena itu, kita sering mendapati sifat-sifat ini disebutkan secara beriringan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan janganlah memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata, “Dikatakan: khāla ar-rajulu yakhūlu khaulan, yaitu ketika seseorang sombong dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.” Demikian dalam Al-Muḥarrar Al-Wajīz, 2/51.Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”Maksudnya adalah orang yang sombong dalam dirinya, merasa kagum terhadap dirinya, bersikap angkuh, dan membanggakan diri di hadapan manusia. Ia memandang dirinya lebih baik daripada mereka. Dalam pandangannya sendiri, ia adalah orang besar. Namun di sisi Allah, ia hina, dan di tengah manusia, ia dibenci. Demikian dalam Tafsīr Ibnu Katsīr, 2:301. Semua Penyakit Ini Bersumber dari KesombonganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,فَالْفَخْرُ وَالْبَطَرُ وَالْأَشَرُ وَالْعُجْبُ وَالْحَسَدُ وَالْبَغْيُ وَالْخُيَلَاءُ وَالظُّلْمُ وَالْقَسْوَةُ وَالتَّجَبُّرُ وَالْإِعْرَاضُ وَإِبَاءُ قَبُولِ النَّصِيحَةِ وَالِاسْتِئْثَارُ وَطَلَبُ الْعُلُوِّ وَحُبُّ الْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ وَأَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ، وَأَمْثَالُ ذَلِكَ؛ كُلُّهَا نَاشِئَةٌ مِنَ الْكِبْرِ.“Fakhr, bathar, asyar, ujub, hasad, melampaui batas, khuyala’, zalim, keras hati, sewenang-wenang, berpaling, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, mencari kedudukan tinggi, cinta kedudukan dan kepemimpinan, ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukan, dan hal-hal semisal itu, semuanya lahir dari kesombongan.” (Al-Fawā’id, hlm. 209).Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga Penyakit Hati Bisa Menjadi KarakterDi antara manusia ada yang memang memiliki bawaan sebagian sifat buruk, seperti khuyala’ (angkuh), ujub, fakhr (membanggakan diri), sombong, dan sifat buruk lainnya. Namun ia terus melawan sifat-sifat tersebut hingga Allah menyembuhkannya darinya.Ada pula orang yang semula selamat dari sifat-sifat buruk itu, tetapi ia terus berjalan di jalan yang membuatnya memiliki sifat tersebut, serta berteman dengan orang-orang yang memilikinya, hingga akhirnya sifat itu menjadi karakter yang melekat pada dirinya.Tidak ada satu hati pun yang benar-benar kosong dari penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan, ia akan menumpuk dan saling bertambah. Setiap manusia memiliki sebagian sifat baik dan sebagian sifat buruk. Ada orang yang menumbuhkan sifat-sifat baik dalam dirinya dan membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk, hingga ia menjadi seperti emas yang murni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (QS. Asy-Syams: 9)Ada pula yang sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10) Hukuman bagi Orang yang Sombong dan Membanggakan DiriKesombongan adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat tersebut, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan urusannya. Karena fakhr dan khuyala’ sama-sama termasuk cabang kesombongan, maka setiap orang yang memiliki salah satu dari sifat tersebut akan mendapatkan bagian dari ancaman yang disebutkan tentang kesombongan.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ.“Kebesaran adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2620 dan Abu Daud, no. 4090; lafaz ini milik Abu Daud).Setiap orang yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang yang paling hina.Orang yang sombong kepada manusia kelak pada hari kiamat akan diinjak di bawah telapak kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، يُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى: بُولَسُ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ؛ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka digiring menuju sebuah penjara di Jahanam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas menyelimuti mereka dari atas. Mereka diberi minum dari perasan penghuni neraka, yaitu thinatul khabal.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2492 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025. Akibat Buruk Ujub: Dibinasakan oleh AllahDi antara dalil yang menyebutkan hukuman bagi orang yang kagum terhadap dirinya sendiri adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ رَأْسَهُ، يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ، إِذْ خَسَفَ اللهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, dan ia berjalan dengan penuh keangkuhan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 3297 dan Muslim, no. 2088). Cara Mengenali Penyakit Hati dalam Diri dan Jalan untuk MenghilangkannyaBanyak orang tidak mengetahui aib dirinya sendiri. Seseorang bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak melihat batang besar di matanya sendiri. Karena itu, siapa yang ingin mengenal dirinya—apakah ia memiliki sifat-sifat buruk ini atau tidak—dan ingin membersihkan diri darinya, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, di antaranya:Hendaknya ia memiliki seorang guru yang berilmu, mendidik, dan membimbing. Guru tersebut menunjukkan aib dirinya, membantunya meninggalkan akhlak yang rendah dan buruk, serta membimbingnya untuk berhias dengan adab dan akhlak yang mulia.Hendaknya ia memperhatikan aib dirinya melalui nasihat orang-orang yang menasihatinya, arahan saudara-saudaranya, serta orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jangan sampai kemarahannya demi membela diri dan keinginannya untuk menang membuatnya mengingkari kebenaran dan meninggalkan nasihat orang yang menasihatinya. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”Hendaknya ia membaca buku-buku tentang akhlak. Dari buku-buku itu, ia mengenal sifat-sifat orang yang sombong dan kagum terhadap dirinya sendiri, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, lalu mengukurnya pada dirinya. Bisa jadi sebagian sifat tersebut ada pada dirinya, sementara ia tidak menyadarinya.Hendaknya ia mengambil manfaat untuk mengenal aib dirinya dari ucapan musuh-musuhnya. Bisa jadi seseorang lebih banyak mengambil manfaat dari musuh yang sedang berseteru dengannya dan mengingatkan aib-aibnya, daripada dari teman yang suka berbasa-basi, memujinya, menyanjungnya, dan menyembunyikan aibnya.Hendaknya ia bergaul dengan manusia. Setiap kali ia melihat sesuatu yang tercela dari akhlak dan perilaku manusia, hendaknya ia menuntut dirinya sendiri untuk menjauhinya. Pernah dikatakan kepada ‘Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang mendidikmu?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang bodoh sebagai sesuatu yang buruk, maka aku pun menjauhinya.”Hendaknya ia memandang dirinya seperti manusia lainnya. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ayah dan ibu sebagaimana ia juga lahir. Tolok ukur yang benar hanyalah takwa. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaknya ia mengetahui bahwa hak Allah ‘azza wa jalla jauh lebih besar daripada amal yang telah ia lakukan. Seandainya seluruh amalnya ditimbang pada hari kiamat, niscaya amal itu tidak akan sebanding dengan satu nikmat saja, seperti nikmat penglihatan. Lalu bagaimana dengan nikmat hidayah? Bagaimana pula dengan nikmat iman? Ia juga harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberinya taufik untuk melakukan amal tersebut. Lantas, mengapa ia harus ujub?Hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberi hidayah dan taufik untuk memiliki akhlak yang baik serta dijauhkan dari akhlak yang buruk. Di antara doa Nabi ﷺ adalah,وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan akhlak yang buruk dariku selain Engkau.” (HR. Muslim, no. 771) Nasihat TerakhirDi zaman media sosial, ujub dan sombong bisa tumbuh sangat halus melalui pujian, angka penonton, jumlah pengikut, dan komentar manusia. Seorang hamba perlu sering memeriksa niatnya, karena amal yang tampak besar bisa rusak ketika hati ingin dipuji. Jangan takut menerima nasihat, sebab orang yang menunjukkan aib kita bisa menjadi sebab keselamatan hati kita. Mintalah kepada Allah agar hati tetap rendah, amal diterima, dan diri dijauhkan dari bangga terhadap kelebihan sendiri.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.ALLAAHUMMAHDINAA LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLAA ANTA, WASHRIF ‘ANNAA SAYYI-AHAA, LAA YASHRIFU ‘ANNAA SAYYI-AHAA ILLAA ANTA.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik selain Engkau. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan kami dari akhlak yang buruk selain Engkau.” Referensi: Islamqa, no. 260962 —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak mulia akhlak tercela bahaya sombong fakhr khuyala nasihat hati penyakit hati sombong tazkiyatun nafs ujub

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleHari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaPuasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluAnjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamPenyimpangan pada hari ‘AsyuraPenutupDalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)Selain itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang paling utama untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut bulan Muharam ini dengan ‘syahrullah al-muharram’ atau bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada bulan dalam setahun setelah Ramadan yang lebih utama untuk memperbanyak ibadah puasa daripada bulan Muharam. Oleh karena itu, datangnya bulan Muharam merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan memahami kemuliaan bulan ini, seorang muslim hendaknya menyambut bulan Muharam dengan semangat beribadah serta memanfaatkan hari-harinya untuk meraih pahala dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Berikut ini adalah keutamaan yang lainnya pada bulan Muharam sehingga membuat kita lebih bersemangat dalam beramal saleh:Hari ‘Asyura dan peristiwa agung di dalamnyaDi antara hari yang paling utama pada bulan Muharam adalah hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki nilai sejarah yang sangat agung, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan orang-orang yang beriman dari kezaliman Fir‘aun.Atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla, Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun terbelah menjadi jalan-jalan kering. Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya selamat, sedangkan Fir‘aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ“Lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (QS. Asy-Syu‘ara: 66)Peristiwa inilah yang terjadi pada tanggal sepuluh Muharam dan menjadi sebab disyariatkannya puasa ‘Asyura.Peristiwa besar ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dari musuh-musuhnya, demikian pula Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada kebenaran.Puasa ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang laluSetelah mengetahui puncak dari keutamaan bulan ini terletak pada hari kesepuluhnya (hari ‘Asyura) dimana terjadi peristiwa besar antara kebenaran melawan kezaliman, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu atau yang dikenal dengan puasa ‘Asyura. Hal ini sebagaimana hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya tentang keistimewaan puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)Menurut An-Nawawi rahimahullah, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun sebelumnya. Adapun dosa-dosa besar, bisa saja diringankan; tetapi jika ingin Allah Ta’ala hapuskan, maka memerlukan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46)Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan melaksanakan puasa pada hari ‘Asyura (10 Muharam), seorang muslim dapat memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Oleh sebab itu, para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh keberkahan ini.Anjuran berpuasa pada tanggal 9 MuharamDi samping keutamaan puasa pada hari ‘Asyura yang sangat luar biasa, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkeinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharam atau dikenal dengan puasa Tasu’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeinginan melakukan puasa tersebut karena beliau ingin menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari kesepuluh saja. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع.“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika tahun depan tiba, insyaallah, kita akan berpuasa juga pada hari kesembilannya.’”Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Namun, belum sempat datang tahun berikutnya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 1134)Para ulama sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melaksanakan puasa di dua hari tersebut (tanggal 9 dan 10 Muharam) karena melihat begitu gigihnya tekad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ingin menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan hari ‘Asyura saja.Penyimpangan pada hari ‘AsyuraPara ulama menjelaskan bahwa setelah wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala, muncul berbagai penyimpangan dalam memperingati hari ‘Asyura. Sebagian kelompok menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ratapan, tangisan, dan hari melukai diri sendiri (secara fisik) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah Rafidhah. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai hari pesta dan perayaan. Kedua sikap ini tidak memiliki landasan dalam syariat.Islam melarang meratapi kematian dengan cara-cara jahiliah. Demikian pula tidak ada dalil sahih yang menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya selain dua hari raya yang telah disyariatkan, yati Idulfitri dan Iduladha. Sikap yang benar adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghidupkan hari ‘Asyura dengan ibadah puasa sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.PenutupBulan Muharam adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan termasuk bulan haram yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat hari ‘Asyura, hari bersejarah yang menjadi tanda kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas kezaliman Fir‘aun, sekaligus hari yang dianjurkan untuk berpuasa karena pahala dan keutamaannya yang agung.Puasa ‘Asyura merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya menyambut bulan Muharam dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan menghidupkan sunah puasa ‘Asyura.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Muharam dengan sebaik-baiknya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Wallahu a’lam bisshawab.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Bahaya Sombong: Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk

Bahaya Sombong: Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga

Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk
Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk


Sombong bukan sekadar merasa diri lebih hebat, tetapi penyakit hati yang pertama kali menyeret Iblis pada pembangkangan. Banyak orang tampak baik secara lahir, tetapi rusak karena menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghalangi surga, mengundang kehinaan, dan hanya bisa diobati dengan tawaduk kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Sombong adalah Akhlak Iblis 2. Sombong Menghalangi Seseorang dari Surga 3. Sombong dalam Pakaian dan Penampilan 4. Kesombongan Hanya Layak bagi Allah 5. Orang Sombong akan Direndahkan 6. Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi Ukuran 7. Jangan Berjalan dengan Angkuh 8. Ingat Asal dan Akhir Manusia 9. Nasihat Penutup  Sombong adalah sifat tercela. Sifat ini dimiliki oleh Iblis dan bala tentaranya dari kalangan penduduk dunia, yaitu orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah Ta’ala. Sombong adalah Akhlak IblisMakhluk pertama yang sombong kepada Allah dan kepada makhluk-Nya adalah Iblis yang terlaknat. Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk sujud kepada Adam, ia menolak dan menyombongkan diri. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ۝ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)-mu. Kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A’raf: 11–12)Kesombongan adalah salah satu akhlak Iblis. Siapa saja yang ingin bersikap sombong, hendaklah ia sadar bahwa dirinya sedang meniru akhlak setan. Ia tidak sedang meneladani akhlak para malaikat yang mulia, yang taat kepada Rabb mereka lalu segera bersujud. Sombong Menghalangi Seseorang dari SurgaBelum lagi, kesombongan menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Kesombongan juga membuat dirinya terhalang dari pandangan Rabb Yang Mahaperkasa kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam dua hadis berikut.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.” Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahindah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim, no. 91)بَطَرُ الْحَقِّ artinya menolak kebenaran setelah mengetahuinya.غَمْطُ النَّاسِ artinya merendahkan manusia. Sombong dalam Pakaian dan PenampilanDari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ.“Siapa saja yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.” Abu Bakr berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi kainku kadang turun, kecuali jika aku terus menjaganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Bukhari, no. 3465) Kesombongan Hanya Layak bagi AllahSombong adalah salah satu sifat yang tidak layak dimiliki kecuali oleh Allah Ta’ala. Siapa saja yang menyaingi Allah dalam sifat ini, Allah akan membinasakannya, mematahkannya, dan menyempitkan hidupnya.Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,الْعِزُّ إِزَارُهُ، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ، فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ.“Kemuliaan adalah kain-Nya, dan kebesaran adalah selendang-Nya. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim, no. 2620)Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Demikianlah redaksi hadits ini dalam seluruh naskah. Kata ganti pada kalimat إِزَارُهُ dan رِدَاؤُهُ kembali kepada Allah Ta’ala karena hal itu sudah diketahui. Dalam hadis ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tersurat. Perkiraannya adalah, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam hal itu, Aku akan menyiksanya.”’Makna يُنَازِعُنِي adalah seseorang berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga ia seakan-akan menjadi pihak yang ikut memiliki sifat itu.Hadis ini berisi ancaman yang sangat keras terhadap kesombongan dan secara tegas menunjukkan haramnya sifat tersebut.” Syarh Muslim (16:173). Orang Sombong akan DirendahkanSiapa saja yang berusaha sombong dan meninggikan diri, Allah Ta’ala akan merendahkannya ke tempat yang paling bawah dan menjadikannya termasuk orang-orang yang paling hina. Sebab, ia telah menyelisihi ketentuan asalnya, maka Allah membalasnya dengan kebalikan dari tujuan yang ia inginkan. Ada ungkapan, “Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”Orang yang sombong kepada manusia, pada hari Kiamat akan diinjak-injak di bawah kaki manusia. Allah Ta’ala akan menghinakannya sebagai balasan atas kesombongan yang dahulu ia lakukan.Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi dalam bentuk manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah. Mereka kemudian digiring menuju sebuah penjara di Jahannam yang bernama Bulas. Api yang sangat panas berada di atas mereka. Mereka diberi minum dari perasan penduduk neraka, yaitu thinah al-khabal.” (HR. Tirmidzi, no. 2492; dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 2025)“Mereka diberi minum” dalam bentuk kalimat pasif, maksudnya para malaikat penjaga Jahannam memberi mereka minum dengan perintah Rabb mereka, “dari perasan penduduk neraka”, yaitu cairan yang mengalir dari darah, nanah, dan cairan busuk penduduk neraka, serta bau busuk mereka. Perasan ini disebut “thinah al-khabal”, yaitu kerusakan yang membuat tubuh menjadi rusak.Obat Kesombongan: Sadar bahwa Takwa yang Menjadi UkuranDi antara cara mengobati kesombongan adalah hendaklah seseorang memandang dirinya sama seperti manusia yang lain. Mereka sama seperti dirinya; lahir dari ibu dan ayah, sebagaimana ia juga lahir dari ibu dan ayah. Hendaklah ia menyadari bahwa takwa adalah ukuran yang sebenarnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)Hendaklah seorang muslim yang sombong menyadari bahwa setinggi apa pun kedudukannya, ia tetap terlalu lemah untuk dapat setinggi gunung atau menembus bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19) Jangan Berjalan dengan AngkuhImam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala, وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ‘dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh,’ adalah larangan dari sikap congkak dan perintah untuk bersikap tawaduk.Al-marh maknanya adalah sangat gembira. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong ketika berjalan. Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah seseorang melampaui batas kedudukannya.Qatadah berkata, ‘Maknanya adalah congkak ketika berjalan.’Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah sombong dan melampaui batas. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah semangat.Semua pendapat ini saling berdekatan, tetapi terbagi menjadi dua bagian:Pertama, makna yang tercela. Kedua, makna yang terpuji.Sombong, melampaui batas, congkak, dan seseorang melampaui batas kedudukannya adalah makna yang tercela.Adapun gembira dan semangat adalah makna yang terpuji.”Tafsir Al-Qurthubi (10:260).Baca juga: Memiliki Sifat Tawadhu’ Ingat Asal dan Akhir ManusiaDi antara obat kesombongan adalah hendaklah seseorang mengetahui bahwa orang yang sombong pada hari Kiamat akan dikumpulkan dalam keadaan kecil seperti semut-semut kecil, lalu diinjak oleh kaki manusia.Orang yang sombong dibenci oleh manusia, sebagaimana ia juga dibenci oleh Allah Ta’ala. Manusia mencintai orang yang tawaduk, mudah bergaul, lembut, dan ringan dalam bermuamalah. Sebaliknya, mereka membenci orang yang kasar dan keras.Di antara obat kesombongan pula adalah hendaklah seseorang mengingat bahwa dirinya dan air seni keluar dari tempat yang sama. Awal penciptaannya hanyalah setetes mani yang hina. Akhir keadaannya adalah bangkai yang busuk. Di antara awal dan akhir itu, ia membawa kotoran dalam perutnya. Lalu, dengan apa ia hendak menyombongkan diri?!Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar melindungi kita dari kesombongan dan menganugerahkan kepada kita sifat tawaduk.Baca juga: Merasa Yang Lain Lebih Mulia Dari Diri Sendiri Nasihat PenutupDi zaman media sosial, kesombongan bisa muncul dalam bentuk merasa paling benar, paling berilmu, paling saleh, paling berhasil, atau paling layak dipuji. Kadang seseorang tidak merasa sedang sombong, padahal ia sulit menerima nasihat dan mudah merendahkan orang lain. Maka, ukuran kemuliaan bukanlah pengikut, jabatan, harta, ilmu, atau penampilan, tetapi takwa kepada Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan dan menjadikan kita hamba yang tawaduk.اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ لَكَ وَلِعِبَادِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.ALLAAHUMMA THAHHIR QULUUBANAA MINAL KIBRI WAL ‘UJBI WAR RIYAA’, WARZUQNAT TAWAADHU‘A LAKA WA LI‘IBAADIK, WAJ‘ALNAA MIN ‘IBAADIKAL MUTTAQIIN.“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Anugerahkanlah kepada kami sifat tawaduk kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” Referensi: Islamqa no. 9229Dorar.net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak Iblis bahaya sombong menolak kebenaran merendahkan orang lain nasihat islam penyakit hati rendah hati sombong takwa tawadhu tawaduk

Surat Rasulullah Kepada Heraklius

Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight

Surat Rasulullah Kepada Heraklius

Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight
Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight


Daftar Isi ToggleIsi surat Rasulullah kepada HerakliusJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahPertemuan Heraklius dengan Abu SufyanPenutupSalah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dari Nabi yang lainnya adalah beliau Allah utus untuk seluruh bangsa. Tidak terkhusus bangsa Arab saja, tapi seluruh penduduk bumi merupakan target dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Oleh karena itu, upaya beliau berdakwah tidak hanya sebatas pada bangsa Arab saja, tapi ke seluruh bangsa. Salah satu upaya awal beliau untuk mendakwahi bangsa-bangsa lain adalah dengan mengirim surat kepada penguasa mereka. Salah satu surat tersebut adalah surat Rasulullah kepada Heraklius, kaisar Romawi (Bizantium).Isi surat Rasulullah kepada HerakliusIsi surat Rasulullah kepada Heraklius sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut,بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد، فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa rakyatmu (para pengikutmu).‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).”’ (QS. Ali Imran: 64)” (HR. Muslim)Itulah isi surat Rasulullah kepada Heraklius, sebuah surat ringkas dengan isi yang tegas dan jelas, menyerukan dakwah Islam kepada penduduk Romawi.Pada surat ini, Rasulullah dengan jelas menyebut dirinya sebagai utusan Allah (Rasulullah), bukan sebagai Nabi. Mengapa? Hal tersebut agar Heraklius memahami bahwasanya Rasulullah adalah utusan Allah yang diutus untuk seluruh bangsa, bukan seorang Nabi yang hanya ditugaskan berdakwah kepada bangsanya saja.Surat ini juga ditutup dengan sebuah ayat yang agung, yaitu surah Ali-Imran ayat ke-64. Hal tersebut dikarenakan orang Nasrani yang berilmu bisa membedakan mana firman Allah dan mana yang bukan karena wawasan mereka, pengalaman, serta pengetahuan tentang Injil. Hal tersebut sebagaimana yang sebelumnya pernah Rasulullah alami bersama Waraqah bin Naufal.Ayat tersebut juga merupakan sebuah ayat yang menyoroti masalah pada kaum Nasrani. Mereka menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, mulai dari menyatakan Nabi Isa adalah anak Allah sekaligus tuhan, Allah adalah satu dari yang tiga, dan lain sebagainya.Baca juga: Lima Rahasia Di Balik Kalender MasehiJawaban Heraklius terhadap surat RasulullahSurat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Heraklius. Heraklius pun menjawab surat dari Rasulullah,إلى أحمد رسول الله الذي بشر به عيسى؛ من قيصر ملك الروم، إنه جاءني كتابك مع رسولك، وإني أشهد أنك رسول الله، نجدك عندنا في الإنجيل، بشرنا بك عيسى بن مريم، وإني دعوت الروم إلى أن يؤمنوا بك فأبوا، ولو أطاعوني لكان خيراً لهم، ولوددت أني عندك فأخدمك وأغسل قدميك“Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah diberitakan oleh Isa, dari Kaisar, raja Romawi. Sungguh telah sampai kepadaku suratmu melalui utusanmu. Dan aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Kami mendapati sifatmu tertulis di sisi kami dalam Injil. Isa putra Maryam telah memberi kabar gembira tentang kedatanganmu.Sungguh, aku telah mengajak bangsa Romawi agar beriman kepadamu, namun mereka menolak. Seandainya mereka menaatiku, tentu itu lebih baik bagi mereka. Sungguh, aku berharap dapat berada di sisimu, lalu melayanimu dan membasuh kedua kakimu.” (Majmu’ah al-Watsa’iq as-Siyasiyyah lil-‘Ahd an-Nabawi wal-Khilafah ar-Rasyidah)Ternyata, surat Rasulullah kepada Heraklius disambut positif oleh Heraklius dan tidak diabaikan. Padahal, jika kita lihat pada waktu itu, Arab bukanlah suatu daerah yang kekuatannya diperhitungkan dan Romawi ketika itu merupakan salah satu kerajaan adi daya yang besar. Akan tetapi, Heraklius ketika itu mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sehingga Heraklius pun menyambut dan menjawab surat dari Rasulullah.Heraklius juga menyebutkan dan mengaku bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Heraklius pun menyebutkan nama Rasulullah terlebih dahulu sebelum namanya sendiri sebagai bentuk penghormatan.Akan tetapi, mengapa Heraklius menyebut nama Rasulullah dengan Ahmad dan bukan Muhammad? Hal tersebut dikarenakan nama Ahmad adalah nama yang dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam kepada para pengikutnya. Ahmad juga tentunya adalah nama lain dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi, walaupun Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, ia tidak lantas menjadi seorang muslim. Heraklius memilih untuk tetap pada agama Nasrani karena bangsa Romawi tidak mau beriman kepada Rasulullah sehingga ia pun memilih untuk bersama dengan bangsanya.Pertemuan Heraklius dengan Abu SufyanMengapa Heraklius bisa mengetahui bahwa Rasulullah merupakan seorang utusan Allah? Ternyata ketika itu, Allah takdirkan Heraklius bertemu dengan Abu Sufyan yang sedang berdagang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,أنَّ هِرَقلَ أرسَلَ إليه في رَكبٍ مِن قُرَيشٍ كانوا تِجارًا بالشَّأمِ، في المُدَّةِ التي مادَّ فيها رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أبا سُفيانَ في كُفَّارِ قُرَيشٍ“Bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang berada dalam rombongan kaum Quraisy. Mereka sedang berdagang di negeri Syam, pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.” (HR. Bukhari)Dari pertemuan dengan Abu Sufyan ini, Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Uniknya ketika itu, Abu Sufyan belum masuk Islam dan merupakan sosok yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak serta merta menjelek-jelekkan Rasulullah di hadapan Heraklius. Abu Sufyan pun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Heraklius secara apa adanya.Persaksian yang diberikan oleh Abu Sufyan tentang Rasulullah inilah yang menjadikan Heraklius mengetahui siapa sebenarnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius pun menyadari bahwa sifat-sifat Rasulullah yang disampaikan oleh Abu Sufyan merupakan sifat kenabian yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.PenutupDari surat Rasulullah kepada Heraklius, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulullah benar-benar sifat kenabian. Sehingga kita jangan sampai ragu terhadap Islam kita, karena mereka yang berperang terhadap Rasulullah tidak semuanya dikarenakan tidak tahu, tidak percaya, dan semisalnya. Akan tetapi, ada alasan lain yang menyebabkan mereka menolak dakwah Rasulullah, mulai dari kekuasaan, martabat, dan menjaga tradisi nenek moyang.Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.alukah.net/spotlight

Durhaka terhadap Anak

Oleh: Hibah Hilmi Al-Jabiri Kita selalu membicarakan tema berbakti dan durhaka terhadap kedua orang tua, tapi tidak terbersit dalam pikiran kita meski hanya sekilas bahwa bisa saja kita (sebagai orang tua) yang justru durhaka terhadap anak-anak kita, dengan buruknya sikap kita, perlakuan kasar kita, ketidakadilan kita di antara mereka, atau kelalaian kita terhadap mereka. Banyak ayah dan ibu yang berada dalam ketegangan saraf akibat masalah-masalah hidup. Sudah menjadi ciri khas zaman ini sikap impulsif dan cepatnya terpancing emosi. Seorang ibu tidak mungkin dapat meluapkan emosi kepada suaminya, sehingga ia meluapkannya kepada anaknya yang lemah. Begitu juga ayah yang tidak mungkin melampiaskan emosi kepada direkturnya di tempat kerja, akhirnya ia melampiaskannya kepada istri dan anak-anaknya. Hal ini karena anak-anak masih lemah, tidak punya kemampuan untuk membela diri, akhirnya kita menghukum mereka atas sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka, kita meruntuhkan mental mereka, dan sering kali kita yakin bahwa kekerasan adalah metode terbaik untuk mendidik mereka. Kita tidak pernah merenung sejenak, untuk sadar bahwa kita akan mendapat balasan atas kezaliman kita terhadap anak-anak kita, ketika kita memukul mereka secara zalim, atau berburuk sangka terhadap mereka dan langsung menghukum mereka atas dasar dugaan tanpa bukti, atau kita sudah tertekan dan merasa tidak mampu lagi menanggung tingkah laku dan permainan mereka, tanpa menyadari bahwa pukulan atau hukuman jika lebih besar daripada tingkat kesalahannya, maka mereka akan menuntut balas terhadap kita pada hari kiamat kelak! Pernah ada seorang lelaki yang datang dan langsung duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Aku punya dua budak yang berbohong kepadaku, mengkhianatiku, dan membangkang terhadapku. Lalu aku mencela dan memukul mereka. Bagaimana nasibku terhadap mereka?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Jika hari kiamat tiba, akan dihitung apa yang telah mereka khianati, mereka durhakai, dan mereka dustakan kepadamu dengan hukumanmu kepada mereka, jika hukumanmu kepada mereka sebanding dengan dosa-dosa mereka, maka itu impas, tidak ada (pahala) bagimu dan tidak ada (dosa) atasmu. Jika hukumanmu kepada mereka kurang dari dosa mereka, maka itu adalah kelebihan (pahala) bagimu. Dan jika hukumanmu kepada mereka melebihi dosa-dosa mereka, maka akan dilakukan qisas bagi mereka terhadapmu atas kelebihan tersebut.” Kemudian laki-laki itu pun menepi lalu mulai berseru dan menangis, kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ‘Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkannya (pahala/dosanya). Dan cukuplah Kami saja yang memperhitungkan.’ (QS. Al-Anbiya: 47).” Laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak menemukan sesuatu yang lebih baik bagiku dan bagi mereka daripada berpisah dengan mereka, aku persaksikan kepadamu bahwa mereka semua adalah orang-orang yang merdeka (aku merdekakan).” (HR. At-Tirmidzi). Apabila orang yang menghukum budak melebihi kadar yang seharusnya akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai kadar kelebihannya dalam menghukum dan dituntut qisas terhadapnya, lalu bagaimana dengan menghukum selain budak, terlebih lagi anak-anak yang masih kecil?! Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita memperlakukan mereka dengan berbeda-beda, bahkan dari sisi ciuman, pelukan, dan senyuman bagi mereka. Kita menanamkan kecemburuan dan kebencian di antara mereka. Juga ketika kita membedakan cinta antara anak laki-laki dan perempuan, atau ini berbakat dan itu tidak, atau atas alasan apa pun, kita tidak punya pembenaran apa pun untuk membeda-bedakan mereka. Kita durhaka terhadap anak-anak kita ketika kita lalai terhadap mereka. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْيَتِيمُ مَنِ انْتَهَى أَبَوَاهُ مِنْ هَمِّ الْحَيَاةِ وَخَلَّفَاهُ ذَلِيلًا Anak yatim bukanlah orang yang kedua orang tuanya telah pergi, Dari hiruk-pikuk kehidupan dan meninggalkannya dalam keadaan terlantar. إِنَّ الْيَتِيمَ هُوَ الَّذِي تَلْقَى لَهُ أُمًّا تَخَلَّتْ أَوْ أَبًا مَشْغُولًا Namun anak yatim sejati adalah yang mendapati ibunya,  Tapi mengabaikannya dan ayah yang sibuk darinya. Kita mengabaikan mereka dengan kesibukan, teman-teman, dan gawai-gawai kita. Kita harus mendekat kepada anak-anak kita, membuat mereka merasakan cinta kita kepada mereka, membuat mereka merasa bahwa mereka adalah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam hiruk-pikuk kehidupan ini kita lupa untuk mengucapkan kepada mereka ucapan lembut atau memanggil mereka dengan panggilan “Sayang!” atau juga memeluk mereka dan membuat mereka merasakan kehangatan kasih kita. Kita habiskan waktu bersama gawai-gawai kita lebih banyak daripada yang kita habiskan bersama anak-anak kita. Sering kali kita tertawa lebih kencang ketika menulis pesan di Whatsapp atau Facebook daripada ketika tertawa, bermain, dan bercanda dengan mereka. Kita harus menyisihkan waktu –meski hanya satu hari dalam seminggu– untuk bersama anak-anak saja, melupakan segala urusan selain urusan dengan mereka, membuat mereka merasakan kedekatan kita dengan mereka. Kita tidak ingin anak-anak kita hidup seperti anak yatim ketika kita masih hidup. Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita abai terhadap pengasuhan mereka. Kita mengira apabila telah mendaftarkan mereka ke sekolah terbaik, memberi mereka makanan paling lezat, dan membelikan mereka pakaian paling mahal, maka kita telah menjalankan kewajiban kita dengan itu. Ada orang yang berinvestasi melalui hartanya, tapi ada juga orang yang berinvestasi melalui anak-anaknya. Betapa banyak anak orang-orang miskin yang lebih berprestasi berkat pengasuhan dan perhatian yang baik dari mereka. Prestasi dan pendidikan yang baik tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan, tapi kaitannya adalah dengan pengasuhan dan usaha yang dikerahkan. Apakah kita telah menanyakan anak-anak kita tentang shalat dan puasa? Selalu berusaha membangunkan mereka untuk shalat subuh seperti kita membangunkan mereka untuk pergi sekolah? Apakah kita telah berusaha membuat mereka hafal Al-Qur’an sebagaimana usaha kita agar mereka mendapat nilai akhir yang bagus di sekolah? Apakah kita mengawasi pergaulan mereka dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk? Apakah kita telah menanamkan nilai-nilai dan akhlak, atau kita membiarkan mereka diasuh oleh televisi, gawai, dan teman-teman mereka? Apakah kita sibuk dengan pekerjaan kita lalu membuang anak-anak kita di tempat pengasuhan atau kepada pembantu dan juga nenek-nenek mereka agar mengasuh mereka? Kita harus mengatur ulang pola pikir kita, menyusun kembali prioritas kita dan metode interaksi kita serta perhatian kita terhadap anak-anak kita. Tidak mungkin kita berniat melakukan perubahan tanpa kita menggandeng tangan mereka bersama kita. Sebagaimana kita berusaha keras untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita juga harus berusaha keras untuk mendekatkan anak-anak kita kepada-Nya, dan supaya mereka berjalan bersama kita meniti jalan yang telah kita awali ini, dan dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala ujung jalannya adalah surga. Penerapan praktis Awasilah anak-anakmu dari sisi agama dan akhlak mereka. Tanamkanlah nilai-nilai agama dalam diri mereka melalui sarana mendengarkan kajian, membaca buku, dan berusaha memahamkannya kepada mereka, atau dengan membelikan buku-buku anak tentang pendidikan agama. Mulailah segera mengajarkan anak-anakmu Al-Qur’an, mengajak mereka menghafalnya, dan membuat mereka terpaut dengannya melalui TPA di masjid atau program sendiri di rumah. Sisihkan waktu khusus setiap hari atau setiap minggu bersama anak-anakmu, untuk duduk dengan mereka, mengetahui kabar-kabar mereka, mengenal hal-hal yang mereka sukai, dan bermain bersama. Bacalah buku-buku parenting dan mempelajari metode-metode pengasuhan yang benar. Saya rekomendasikan buku Ta’sis Aqliyah ath-Thifli (Membangun kecerdasan anak) karya Abdul Karim Bakkar. Buatlah alternatif-alternatif lain dalam menghukum, tanpa pukulan dan kekerasan jasmani atau mental. Gantilah kata-kata kasar dengan kata-kata yang penuh kasih sayang, seperti “Sayangku!” Sumber: https://www.alukah.net/social/1030/154475/عقوق-الأبناء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 725 times, 1 visit(s) today Post Views: 114

Durhaka terhadap Anak

Oleh: Hibah Hilmi Al-Jabiri Kita selalu membicarakan tema berbakti dan durhaka terhadap kedua orang tua, tapi tidak terbersit dalam pikiran kita meski hanya sekilas bahwa bisa saja kita (sebagai orang tua) yang justru durhaka terhadap anak-anak kita, dengan buruknya sikap kita, perlakuan kasar kita, ketidakadilan kita di antara mereka, atau kelalaian kita terhadap mereka. Banyak ayah dan ibu yang berada dalam ketegangan saraf akibat masalah-masalah hidup. Sudah menjadi ciri khas zaman ini sikap impulsif dan cepatnya terpancing emosi. Seorang ibu tidak mungkin dapat meluapkan emosi kepada suaminya, sehingga ia meluapkannya kepada anaknya yang lemah. Begitu juga ayah yang tidak mungkin melampiaskan emosi kepada direkturnya di tempat kerja, akhirnya ia melampiaskannya kepada istri dan anak-anaknya. Hal ini karena anak-anak masih lemah, tidak punya kemampuan untuk membela diri, akhirnya kita menghukum mereka atas sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka, kita meruntuhkan mental mereka, dan sering kali kita yakin bahwa kekerasan adalah metode terbaik untuk mendidik mereka. Kita tidak pernah merenung sejenak, untuk sadar bahwa kita akan mendapat balasan atas kezaliman kita terhadap anak-anak kita, ketika kita memukul mereka secara zalim, atau berburuk sangka terhadap mereka dan langsung menghukum mereka atas dasar dugaan tanpa bukti, atau kita sudah tertekan dan merasa tidak mampu lagi menanggung tingkah laku dan permainan mereka, tanpa menyadari bahwa pukulan atau hukuman jika lebih besar daripada tingkat kesalahannya, maka mereka akan menuntut balas terhadap kita pada hari kiamat kelak! Pernah ada seorang lelaki yang datang dan langsung duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Aku punya dua budak yang berbohong kepadaku, mengkhianatiku, dan membangkang terhadapku. Lalu aku mencela dan memukul mereka. Bagaimana nasibku terhadap mereka?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Jika hari kiamat tiba, akan dihitung apa yang telah mereka khianati, mereka durhakai, dan mereka dustakan kepadamu dengan hukumanmu kepada mereka, jika hukumanmu kepada mereka sebanding dengan dosa-dosa mereka, maka itu impas, tidak ada (pahala) bagimu dan tidak ada (dosa) atasmu. Jika hukumanmu kepada mereka kurang dari dosa mereka, maka itu adalah kelebihan (pahala) bagimu. Dan jika hukumanmu kepada mereka melebihi dosa-dosa mereka, maka akan dilakukan qisas bagi mereka terhadapmu atas kelebihan tersebut.” Kemudian laki-laki itu pun menepi lalu mulai berseru dan menangis, kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ‘Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkannya (pahala/dosanya). Dan cukuplah Kami saja yang memperhitungkan.’ (QS. Al-Anbiya: 47).” Laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak menemukan sesuatu yang lebih baik bagiku dan bagi mereka daripada berpisah dengan mereka, aku persaksikan kepadamu bahwa mereka semua adalah orang-orang yang merdeka (aku merdekakan).” (HR. At-Tirmidzi). Apabila orang yang menghukum budak melebihi kadar yang seharusnya akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai kadar kelebihannya dalam menghukum dan dituntut qisas terhadapnya, lalu bagaimana dengan menghukum selain budak, terlebih lagi anak-anak yang masih kecil?! Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita memperlakukan mereka dengan berbeda-beda, bahkan dari sisi ciuman, pelukan, dan senyuman bagi mereka. Kita menanamkan kecemburuan dan kebencian di antara mereka. Juga ketika kita membedakan cinta antara anak laki-laki dan perempuan, atau ini berbakat dan itu tidak, atau atas alasan apa pun, kita tidak punya pembenaran apa pun untuk membeda-bedakan mereka. Kita durhaka terhadap anak-anak kita ketika kita lalai terhadap mereka. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْيَتِيمُ مَنِ انْتَهَى أَبَوَاهُ مِنْ هَمِّ الْحَيَاةِ وَخَلَّفَاهُ ذَلِيلًا Anak yatim bukanlah orang yang kedua orang tuanya telah pergi, Dari hiruk-pikuk kehidupan dan meninggalkannya dalam keadaan terlantar. إِنَّ الْيَتِيمَ هُوَ الَّذِي تَلْقَى لَهُ أُمًّا تَخَلَّتْ أَوْ أَبًا مَشْغُولًا Namun anak yatim sejati adalah yang mendapati ibunya,  Tapi mengabaikannya dan ayah yang sibuk darinya. Kita mengabaikan mereka dengan kesibukan, teman-teman, dan gawai-gawai kita. Kita harus mendekat kepada anak-anak kita, membuat mereka merasakan cinta kita kepada mereka, membuat mereka merasa bahwa mereka adalah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam hiruk-pikuk kehidupan ini kita lupa untuk mengucapkan kepada mereka ucapan lembut atau memanggil mereka dengan panggilan “Sayang!” atau juga memeluk mereka dan membuat mereka merasakan kehangatan kasih kita. Kita habiskan waktu bersama gawai-gawai kita lebih banyak daripada yang kita habiskan bersama anak-anak kita. Sering kali kita tertawa lebih kencang ketika menulis pesan di Whatsapp atau Facebook daripada ketika tertawa, bermain, dan bercanda dengan mereka. Kita harus menyisihkan waktu –meski hanya satu hari dalam seminggu– untuk bersama anak-anak saja, melupakan segala urusan selain urusan dengan mereka, membuat mereka merasakan kedekatan kita dengan mereka. Kita tidak ingin anak-anak kita hidup seperti anak yatim ketika kita masih hidup. Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita abai terhadap pengasuhan mereka. Kita mengira apabila telah mendaftarkan mereka ke sekolah terbaik, memberi mereka makanan paling lezat, dan membelikan mereka pakaian paling mahal, maka kita telah menjalankan kewajiban kita dengan itu. Ada orang yang berinvestasi melalui hartanya, tapi ada juga orang yang berinvestasi melalui anak-anaknya. Betapa banyak anak orang-orang miskin yang lebih berprestasi berkat pengasuhan dan perhatian yang baik dari mereka. Prestasi dan pendidikan yang baik tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan, tapi kaitannya adalah dengan pengasuhan dan usaha yang dikerahkan. Apakah kita telah menanyakan anak-anak kita tentang shalat dan puasa? Selalu berusaha membangunkan mereka untuk shalat subuh seperti kita membangunkan mereka untuk pergi sekolah? Apakah kita telah berusaha membuat mereka hafal Al-Qur’an sebagaimana usaha kita agar mereka mendapat nilai akhir yang bagus di sekolah? Apakah kita mengawasi pergaulan mereka dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk? Apakah kita telah menanamkan nilai-nilai dan akhlak, atau kita membiarkan mereka diasuh oleh televisi, gawai, dan teman-teman mereka? Apakah kita sibuk dengan pekerjaan kita lalu membuang anak-anak kita di tempat pengasuhan atau kepada pembantu dan juga nenek-nenek mereka agar mengasuh mereka? Kita harus mengatur ulang pola pikir kita, menyusun kembali prioritas kita dan metode interaksi kita serta perhatian kita terhadap anak-anak kita. Tidak mungkin kita berniat melakukan perubahan tanpa kita menggandeng tangan mereka bersama kita. Sebagaimana kita berusaha keras untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita juga harus berusaha keras untuk mendekatkan anak-anak kita kepada-Nya, dan supaya mereka berjalan bersama kita meniti jalan yang telah kita awali ini, dan dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala ujung jalannya adalah surga. Penerapan praktis Awasilah anak-anakmu dari sisi agama dan akhlak mereka. Tanamkanlah nilai-nilai agama dalam diri mereka melalui sarana mendengarkan kajian, membaca buku, dan berusaha memahamkannya kepada mereka, atau dengan membelikan buku-buku anak tentang pendidikan agama. Mulailah segera mengajarkan anak-anakmu Al-Qur’an, mengajak mereka menghafalnya, dan membuat mereka terpaut dengannya melalui TPA di masjid atau program sendiri di rumah. Sisihkan waktu khusus setiap hari atau setiap minggu bersama anak-anakmu, untuk duduk dengan mereka, mengetahui kabar-kabar mereka, mengenal hal-hal yang mereka sukai, dan bermain bersama. Bacalah buku-buku parenting dan mempelajari metode-metode pengasuhan yang benar. Saya rekomendasikan buku Ta’sis Aqliyah ath-Thifli (Membangun kecerdasan anak) karya Abdul Karim Bakkar. Buatlah alternatif-alternatif lain dalam menghukum, tanpa pukulan dan kekerasan jasmani atau mental. Gantilah kata-kata kasar dengan kata-kata yang penuh kasih sayang, seperti “Sayangku!” Sumber: https://www.alukah.net/social/1030/154475/عقوق-الأبناء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 725 times, 1 visit(s) today Post Views: 114
Oleh: Hibah Hilmi Al-Jabiri Kita selalu membicarakan tema berbakti dan durhaka terhadap kedua orang tua, tapi tidak terbersit dalam pikiran kita meski hanya sekilas bahwa bisa saja kita (sebagai orang tua) yang justru durhaka terhadap anak-anak kita, dengan buruknya sikap kita, perlakuan kasar kita, ketidakadilan kita di antara mereka, atau kelalaian kita terhadap mereka. Banyak ayah dan ibu yang berada dalam ketegangan saraf akibat masalah-masalah hidup. Sudah menjadi ciri khas zaman ini sikap impulsif dan cepatnya terpancing emosi. Seorang ibu tidak mungkin dapat meluapkan emosi kepada suaminya, sehingga ia meluapkannya kepada anaknya yang lemah. Begitu juga ayah yang tidak mungkin melampiaskan emosi kepada direkturnya di tempat kerja, akhirnya ia melampiaskannya kepada istri dan anak-anaknya. Hal ini karena anak-anak masih lemah, tidak punya kemampuan untuk membela diri, akhirnya kita menghukum mereka atas sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka, kita meruntuhkan mental mereka, dan sering kali kita yakin bahwa kekerasan adalah metode terbaik untuk mendidik mereka. Kita tidak pernah merenung sejenak, untuk sadar bahwa kita akan mendapat balasan atas kezaliman kita terhadap anak-anak kita, ketika kita memukul mereka secara zalim, atau berburuk sangka terhadap mereka dan langsung menghukum mereka atas dasar dugaan tanpa bukti, atau kita sudah tertekan dan merasa tidak mampu lagi menanggung tingkah laku dan permainan mereka, tanpa menyadari bahwa pukulan atau hukuman jika lebih besar daripada tingkat kesalahannya, maka mereka akan menuntut balas terhadap kita pada hari kiamat kelak! Pernah ada seorang lelaki yang datang dan langsung duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Aku punya dua budak yang berbohong kepadaku, mengkhianatiku, dan membangkang terhadapku. Lalu aku mencela dan memukul mereka. Bagaimana nasibku terhadap mereka?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Jika hari kiamat tiba, akan dihitung apa yang telah mereka khianati, mereka durhakai, dan mereka dustakan kepadamu dengan hukumanmu kepada mereka, jika hukumanmu kepada mereka sebanding dengan dosa-dosa mereka, maka itu impas, tidak ada (pahala) bagimu dan tidak ada (dosa) atasmu. Jika hukumanmu kepada mereka kurang dari dosa mereka, maka itu adalah kelebihan (pahala) bagimu. Dan jika hukumanmu kepada mereka melebihi dosa-dosa mereka, maka akan dilakukan qisas bagi mereka terhadapmu atas kelebihan tersebut.” Kemudian laki-laki itu pun menepi lalu mulai berseru dan menangis, kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ‘Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkannya (pahala/dosanya). Dan cukuplah Kami saja yang memperhitungkan.’ (QS. Al-Anbiya: 47).” Laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak menemukan sesuatu yang lebih baik bagiku dan bagi mereka daripada berpisah dengan mereka, aku persaksikan kepadamu bahwa mereka semua adalah orang-orang yang merdeka (aku merdekakan).” (HR. At-Tirmidzi). Apabila orang yang menghukum budak melebihi kadar yang seharusnya akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai kadar kelebihannya dalam menghukum dan dituntut qisas terhadapnya, lalu bagaimana dengan menghukum selain budak, terlebih lagi anak-anak yang masih kecil?! Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita memperlakukan mereka dengan berbeda-beda, bahkan dari sisi ciuman, pelukan, dan senyuman bagi mereka. Kita menanamkan kecemburuan dan kebencian di antara mereka. Juga ketika kita membedakan cinta antara anak laki-laki dan perempuan, atau ini berbakat dan itu tidak, atau atas alasan apa pun, kita tidak punya pembenaran apa pun untuk membeda-bedakan mereka. Kita durhaka terhadap anak-anak kita ketika kita lalai terhadap mereka. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْيَتِيمُ مَنِ انْتَهَى أَبَوَاهُ مِنْ هَمِّ الْحَيَاةِ وَخَلَّفَاهُ ذَلِيلًا Anak yatim bukanlah orang yang kedua orang tuanya telah pergi, Dari hiruk-pikuk kehidupan dan meninggalkannya dalam keadaan terlantar. إِنَّ الْيَتِيمَ هُوَ الَّذِي تَلْقَى لَهُ أُمًّا تَخَلَّتْ أَوْ أَبًا مَشْغُولًا Namun anak yatim sejati adalah yang mendapati ibunya,  Tapi mengabaikannya dan ayah yang sibuk darinya. Kita mengabaikan mereka dengan kesibukan, teman-teman, dan gawai-gawai kita. Kita harus mendekat kepada anak-anak kita, membuat mereka merasakan cinta kita kepada mereka, membuat mereka merasa bahwa mereka adalah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam hiruk-pikuk kehidupan ini kita lupa untuk mengucapkan kepada mereka ucapan lembut atau memanggil mereka dengan panggilan “Sayang!” atau juga memeluk mereka dan membuat mereka merasakan kehangatan kasih kita. Kita habiskan waktu bersama gawai-gawai kita lebih banyak daripada yang kita habiskan bersama anak-anak kita. Sering kali kita tertawa lebih kencang ketika menulis pesan di Whatsapp atau Facebook daripada ketika tertawa, bermain, dan bercanda dengan mereka. Kita harus menyisihkan waktu –meski hanya satu hari dalam seminggu– untuk bersama anak-anak saja, melupakan segala urusan selain urusan dengan mereka, membuat mereka merasakan kedekatan kita dengan mereka. Kita tidak ingin anak-anak kita hidup seperti anak yatim ketika kita masih hidup. Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita abai terhadap pengasuhan mereka. Kita mengira apabila telah mendaftarkan mereka ke sekolah terbaik, memberi mereka makanan paling lezat, dan membelikan mereka pakaian paling mahal, maka kita telah menjalankan kewajiban kita dengan itu. Ada orang yang berinvestasi melalui hartanya, tapi ada juga orang yang berinvestasi melalui anak-anaknya. Betapa banyak anak orang-orang miskin yang lebih berprestasi berkat pengasuhan dan perhatian yang baik dari mereka. Prestasi dan pendidikan yang baik tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan, tapi kaitannya adalah dengan pengasuhan dan usaha yang dikerahkan. Apakah kita telah menanyakan anak-anak kita tentang shalat dan puasa? Selalu berusaha membangunkan mereka untuk shalat subuh seperti kita membangunkan mereka untuk pergi sekolah? Apakah kita telah berusaha membuat mereka hafal Al-Qur’an sebagaimana usaha kita agar mereka mendapat nilai akhir yang bagus di sekolah? Apakah kita mengawasi pergaulan mereka dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk? Apakah kita telah menanamkan nilai-nilai dan akhlak, atau kita membiarkan mereka diasuh oleh televisi, gawai, dan teman-teman mereka? Apakah kita sibuk dengan pekerjaan kita lalu membuang anak-anak kita di tempat pengasuhan atau kepada pembantu dan juga nenek-nenek mereka agar mengasuh mereka? Kita harus mengatur ulang pola pikir kita, menyusun kembali prioritas kita dan metode interaksi kita serta perhatian kita terhadap anak-anak kita. Tidak mungkin kita berniat melakukan perubahan tanpa kita menggandeng tangan mereka bersama kita. Sebagaimana kita berusaha keras untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita juga harus berusaha keras untuk mendekatkan anak-anak kita kepada-Nya, dan supaya mereka berjalan bersama kita meniti jalan yang telah kita awali ini, dan dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala ujung jalannya adalah surga. Penerapan praktis Awasilah anak-anakmu dari sisi agama dan akhlak mereka. Tanamkanlah nilai-nilai agama dalam diri mereka melalui sarana mendengarkan kajian, membaca buku, dan berusaha memahamkannya kepada mereka, atau dengan membelikan buku-buku anak tentang pendidikan agama. Mulailah segera mengajarkan anak-anakmu Al-Qur’an, mengajak mereka menghafalnya, dan membuat mereka terpaut dengannya melalui TPA di masjid atau program sendiri di rumah. Sisihkan waktu khusus setiap hari atau setiap minggu bersama anak-anakmu, untuk duduk dengan mereka, mengetahui kabar-kabar mereka, mengenal hal-hal yang mereka sukai, dan bermain bersama. Bacalah buku-buku parenting dan mempelajari metode-metode pengasuhan yang benar. Saya rekomendasikan buku Ta’sis Aqliyah ath-Thifli (Membangun kecerdasan anak) karya Abdul Karim Bakkar. Buatlah alternatif-alternatif lain dalam menghukum, tanpa pukulan dan kekerasan jasmani atau mental. Gantilah kata-kata kasar dengan kata-kata yang penuh kasih sayang, seperti “Sayangku!” Sumber: https://www.alukah.net/social/1030/154475/عقوق-الأبناء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 725 times, 1 visit(s) today Post Views: 114


Oleh: Hibah Hilmi Al-Jabiri Kita selalu membicarakan tema berbakti dan durhaka terhadap kedua orang tua, tapi tidak terbersit dalam pikiran kita meski hanya sekilas bahwa bisa saja kita (sebagai orang tua) yang justru durhaka terhadap anak-anak kita, dengan buruknya sikap kita, perlakuan kasar kita, ketidakadilan kita di antara mereka, atau kelalaian kita terhadap mereka. Banyak ayah dan ibu yang berada dalam ketegangan saraf akibat masalah-masalah hidup. Sudah menjadi ciri khas zaman ini sikap impulsif dan cepatnya terpancing emosi. Seorang ibu tidak mungkin dapat meluapkan emosi kepada suaminya, sehingga ia meluapkannya kepada anaknya yang lemah. Begitu juga ayah yang tidak mungkin melampiaskan emosi kepada direkturnya di tempat kerja, akhirnya ia melampiaskannya kepada istri dan anak-anaknya. Hal ini karena anak-anak masih lemah, tidak punya kemampuan untuk membela diri, akhirnya kita menghukum mereka atas sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka, kita meruntuhkan mental mereka, dan sering kali kita yakin bahwa kekerasan adalah metode terbaik untuk mendidik mereka. Kita tidak pernah merenung sejenak, untuk sadar bahwa kita akan mendapat balasan atas kezaliman kita terhadap anak-anak kita, ketika kita memukul mereka secara zalim, atau berburuk sangka terhadap mereka dan langsung menghukum mereka atas dasar dugaan tanpa bukti, atau kita sudah tertekan dan merasa tidak mampu lagi menanggung tingkah laku dan permainan mereka, tanpa menyadari bahwa pukulan atau hukuman jika lebih besar daripada tingkat kesalahannya, maka mereka akan menuntut balas terhadap kita pada hari kiamat kelak! Pernah ada seorang lelaki yang datang dan langsung duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Aku punya dua budak yang berbohong kepadaku, mengkhianatiku, dan membangkang terhadapku. Lalu aku mencela dan memukul mereka. Bagaimana nasibku terhadap mereka?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Jika hari kiamat tiba, akan dihitung apa yang telah mereka khianati, mereka durhakai, dan mereka dustakan kepadamu dengan hukumanmu kepada mereka, jika hukumanmu kepada mereka sebanding dengan dosa-dosa mereka, maka itu impas, tidak ada (pahala) bagimu dan tidak ada (dosa) atasmu. Jika hukumanmu kepada mereka kurang dari dosa mereka, maka itu adalah kelebihan (pahala) bagimu. Dan jika hukumanmu kepada mereka melebihi dosa-dosa mereka, maka akan dilakukan qisas bagi mereka terhadapmu atas kelebihan tersebut.” Kemudian laki-laki itu pun menepi lalu mulai berseru dan menangis, kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ‘Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkannya (pahala/dosanya). Dan cukuplah Kami saja yang memperhitungkan.’ (QS. Al-Anbiya: 47).” Laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak menemukan sesuatu yang lebih baik bagiku dan bagi mereka daripada berpisah dengan mereka, aku persaksikan kepadamu bahwa mereka semua adalah orang-orang yang merdeka (aku merdekakan).” (HR. At-Tirmidzi). Apabila orang yang menghukum budak melebihi kadar yang seharusnya akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai kadar kelebihannya dalam menghukum dan dituntut qisas terhadapnya, lalu bagaimana dengan menghukum selain budak, terlebih lagi anak-anak yang masih kecil?! Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita memperlakukan mereka dengan berbeda-beda, bahkan dari sisi ciuman, pelukan, dan senyuman bagi mereka. Kita menanamkan kecemburuan dan kebencian di antara mereka. Juga ketika kita membedakan cinta antara anak laki-laki dan perempuan, atau ini berbakat dan itu tidak, atau atas alasan apa pun, kita tidak punya pembenaran apa pun untuk membeda-bedakan mereka. Kita durhaka terhadap anak-anak kita ketika kita lalai terhadap mereka. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْيَتِيمُ مَنِ انْتَهَى أَبَوَاهُ مِنْ هَمِّ الْحَيَاةِ وَخَلَّفَاهُ ذَلِيلًا Anak yatim bukanlah orang yang kedua orang tuanya telah pergi, Dari hiruk-pikuk kehidupan dan meninggalkannya dalam keadaan terlantar. إِنَّ الْيَتِيمَ هُوَ الَّذِي تَلْقَى لَهُ أُمًّا تَخَلَّتْ أَوْ أَبًا مَشْغُولًا Namun anak yatim sejati adalah yang mendapati ibunya,  Tapi mengabaikannya dan ayah yang sibuk darinya. Kita mengabaikan mereka dengan kesibukan, teman-teman, dan gawai-gawai kita. Kita harus mendekat kepada anak-anak kita, membuat mereka merasakan cinta kita kepada mereka, membuat mereka merasa bahwa mereka adalah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam hiruk-pikuk kehidupan ini kita lupa untuk mengucapkan kepada mereka ucapan lembut atau memanggil mereka dengan panggilan “Sayang!” atau juga memeluk mereka dan membuat mereka merasakan kehangatan kasih kita. Kita habiskan waktu bersama gawai-gawai kita lebih banyak daripada yang kita habiskan bersama anak-anak kita. Sering kali kita tertawa lebih kencang ketika menulis pesan di Whatsapp atau Facebook daripada ketika tertawa, bermain, dan bercanda dengan mereka. Kita harus menyisihkan waktu –meski hanya satu hari dalam seminggu– untuk bersama anak-anak saja, melupakan segala urusan selain urusan dengan mereka, membuat mereka merasakan kedekatan kita dengan mereka. Kita tidak ingin anak-anak kita hidup seperti anak yatim ketika kita masih hidup. Kita durhaka terhadap anak-anak ketika kita abai terhadap pengasuhan mereka. Kita mengira apabila telah mendaftarkan mereka ke sekolah terbaik, memberi mereka makanan paling lezat, dan membelikan mereka pakaian paling mahal, maka kita telah menjalankan kewajiban kita dengan itu. Ada orang yang berinvestasi melalui hartanya, tapi ada juga orang yang berinvestasi melalui anak-anaknya. Betapa banyak anak orang-orang miskin yang lebih berprestasi berkat pengasuhan dan perhatian yang baik dari mereka. Prestasi dan pendidikan yang baik tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan, tapi kaitannya adalah dengan pengasuhan dan usaha yang dikerahkan. Apakah kita telah menanyakan anak-anak kita tentang shalat dan puasa? Selalu berusaha membangunkan mereka untuk shalat subuh seperti kita membangunkan mereka untuk pergi sekolah? Apakah kita telah berusaha membuat mereka hafal Al-Qur’an sebagaimana usaha kita agar mereka mendapat nilai akhir yang bagus di sekolah? Apakah kita mengawasi pergaulan mereka dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk? Apakah kita telah menanamkan nilai-nilai dan akhlak, atau kita membiarkan mereka diasuh oleh televisi, gawai, dan teman-teman mereka? Apakah kita sibuk dengan pekerjaan kita lalu membuang anak-anak kita di tempat pengasuhan atau kepada pembantu dan juga nenek-nenek mereka agar mengasuh mereka? Kita harus mengatur ulang pola pikir kita, menyusun kembali prioritas kita dan metode interaksi kita serta perhatian kita terhadap anak-anak kita. Tidak mungkin kita berniat melakukan perubahan tanpa kita menggandeng tangan mereka bersama kita. Sebagaimana kita berusaha keras untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita juga harus berusaha keras untuk mendekatkan anak-anak kita kepada-Nya, dan supaya mereka berjalan bersama kita meniti jalan yang telah kita awali ini, dan dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala ujung jalannya adalah surga. Penerapan praktis Awasilah anak-anakmu dari sisi agama dan akhlak mereka. Tanamkanlah nilai-nilai agama dalam diri mereka melalui sarana mendengarkan kajian, membaca buku, dan berusaha memahamkannya kepada mereka, atau dengan membelikan buku-buku anak tentang pendidikan agama. Mulailah segera mengajarkan anak-anakmu Al-Qur’an, mengajak mereka menghafalnya, dan membuat mereka terpaut dengannya melalui TPA di masjid atau program sendiri di rumah. Sisihkan waktu khusus setiap hari atau setiap minggu bersama anak-anakmu, untuk duduk dengan mereka, mengetahui kabar-kabar mereka, mengenal hal-hal yang mereka sukai, dan bermain bersama. Bacalah buku-buku parenting dan mempelajari metode-metode pengasuhan yang benar. Saya rekomendasikan buku Ta’sis Aqliyah ath-Thifli (Membangun kecerdasan anak) karya Abdul Karim Bakkar. Buatlah alternatif-alternatif lain dalam menghukum, tanpa pukulan dan kekerasan jasmani atau mental. Gantilah kata-kata kasar dengan kata-kata yang penuh kasih sayang, seperti “Sayangku!” Sumber: https://www.alukah.net/social/1030/154475/عقوق-الأبناء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 725 times, 1 visit(s) today Post Views: 114

Amalan-Amalan Penggugur Dosa

Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن أفضل ما يتمناه المسلم أن يخرج من هذه الدنيا وقد غفر الله له ذنوبه، وضاعف له في حسناته. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Hal terbesar yang didambakan seorang Muslim adalah dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dilipatgandakan kebaikan-kebaikannya. Di antara hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menghadirkan musuh-musuh bagi manusia yang selalu mengiming-iminginya dosa, membuatnya meremehkan perbuatan dosa, dan menjauhkannya dari kebaikan. Musuh-musuh ini berupa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, setan, dan syahwat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:  وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat: 40-41). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ “Iblis berkata: ‘Karena Engkau (Allah) telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’raf: 16-17). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43). Di antara rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya bagi para hamba-Nya adalah Dia menghadirkan bagi mereka hal-hal yang dapat menjadi sebab penggugur dan penghapus dosa mereka. Penggugur-penggugur dosa ini berupa ucapan dan amalan yang disyariatkan dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara penggugur-penggugur ini adalah: Pertama: Beriman kepada Allah, mengesakan-Nya, dan beramal shaleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 7). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُسْلِمٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka akan diampuni setiap hamba muslim yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim no. 2565). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ: مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ؛ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233). Ketiga: Bertaubat dengan taubat yang tulus Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: الَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا * يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا * إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya, yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70). Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ “Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah no. 3427 jilid 2 hlm. 419). Keempat: Beristighfar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). Imam Abu Daud meriwayatkan dari hadis Zaid Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ “Barangsiapa yang mengucapkan: Astaghfirullahalladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, wa atuubu ilaihi (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Daud no. 1517. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 1343 jilid 1 hlm. 283). Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:  يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim no. 2577). Kelima: Berwudhu Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Humran, bekas budak Utsman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Utsman bin Affan dengan membawa air wudhu, lalu beliau berwudhu. Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Sungguh banyak orang yang membicarakan hadis-hadis dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak aku ketahui hadis-hadis apa itu. Hanya saja aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian beliau bersabda:  مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً Siapa yang berwudhu seperti ini, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, kemudian shalat dan perjalanannya menuju Masjid menjadi amal tambahan baginya.’” (HR. Muslim no. 229). Keenam: Mendirikan shalat dan berjalan menuju masjid untuk shalat Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat, maka itulah yang dinamakan ribat, itulah ribat, itulah ribat.” (HR. Muslim no. 251). Ketujuh: Bersedekah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271). Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam As-Sunan dari hadis Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616, dan beliau berkata: “Hadis ini hasan shahih”). Kedelapan: Menunaikan haji dan umrah Imam An-Nasa’i meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan dosa-dosa sebagaimana alat tiup pandai besi menghilangkan karat pada besi.” (HR. An-Nasa’i no. 2631. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 2467 jilid 2 hlm. 558). Kesembilan: Tertimpa musibah Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah bahwa ketika turun ayat: “Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa: 123) kaum Muslimin menjadi sangat sedih. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: قَارِبُوا، وَسَدِّدُوا؛ فَفِي كُلِّ مَا يُصَابُ بِهِ الْمُسْلِمُ كَفَّارَةٌ، حَتَّى النَّكْبَةِ يُنْكَبُهَا، أَوِ الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا “Teruslah berusaha sesuai dengan kebenaran dan menempuh jalannya, karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penggugur dosa baginya, bahkan termasuk bencana yang dialaminya atau duri yang menusuknya.” (HR. Muslim no. 2574). Kesepuluh: Berpuasa dan shalat malam pada bulan Ramadhan Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 38 dan Muslim no. 759). Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga salawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.  Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/74277/مكفرات-الذنوب/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 660 times, 1 visit(s) today Post Views: 115

Amalan-Amalan Penggugur Dosa

Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن أفضل ما يتمناه المسلم أن يخرج من هذه الدنيا وقد غفر الله له ذنوبه، وضاعف له في حسناته. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Hal terbesar yang didambakan seorang Muslim adalah dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dilipatgandakan kebaikan-kebaikannya. Di antara hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menghadirkan musuh-musuh bagi manusia yang selalu mengiming-iminginya dosa, membuatnya meremehkan perbuatan dosa, dan menjauhkannya dari kebaikan. Musuh-musuh ini berupa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, setan, dan syahwat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:  وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat: 40-41). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ “Iblis berkata: ‘Karena Engkau (Allah) telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’raf: 16-17). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43). Di antara rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya bagi para hamba-Nya adalah Dia menghadirkan bagi mereka hal-hal yang dapat menjadi sebab penggugur dan penghapus dosa mereka. Penggugur-penggugur dosa ini berupa ucapan dan amalan yang disyariatkan dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara penggugur-penggugur ini adalah: Pertama: Beriman kepada Allah, mengesakan-Nya, dan beramal shaleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 7). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُسْلِمٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka akan diampuni setiap hamba muslim yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim no. 2565). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ: مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ؛ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233). Ketiga: Bertaubat dengan taubat yang tulus Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: الَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا * يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا * إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya, yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70). Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ “Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah no. 3427 jilid 2 hlm. 419). Keempat: Beristighfar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). Imam Abu Daud meriwayatkan dari hadis Zaid Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ “Barangsiapa yang mengucapkan: Astaghfirullahalladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, wa atuubu ilaihi (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Daud no. 1517. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 1343 jilid 1 hlm. 283). Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:  يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim no. 2577). Kelima: Berwudhu Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Humran, bekas budak Utsman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Utsman bin Affan dengan membawa air wudhu, lalu beliau berwudhu. Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Sungguh banyak orang yang membicarakan hadis-hadis dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak aku ketahui hadis-hadis apa itu. Hanya saja aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian beliau bersabda:  مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً Siapa yang berwudhu seperti ini, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, kemudian shalat dan perjalanannya menuju Masjid menjadi amal tambahan baginya.’” (HR. Muslim no. 229). Keenam: Mendirikan shalat dan berjalan menuju masjid untuk shalat Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat, maka itulah yang dinamakan ribat, itulah ribat, itulah ribat.” (HR. Muslim no. 251). Ketujuh: Bersedekah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271). Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam As-Sunan dari hadis Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616, dan beliau berkata: “Hadis ini hasan shahih”). Kedelapan: Menunaikan haji dan umrah Imam An-Nasa’i meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan dosa-dosa sebagaimana alat tiup pandai besi menghilangkan karat pada besi.” (HR. An-Nasa’i no. 2631. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 2467 jilid 2 hlm. 558). Kesembilan: Tertimpa musibah Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah bahwa ketika turun ayat: “Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa: 123) kaum Muslimin menjadi sangat sedih. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: قَارِبُوا، وَسَدِّدُوا؛ فَفِي كُلِّ مَا يُصَابُ بِهِ الْمُسْلِمُ كَفَّارَةٌ، حَتَّى النَّكْبَةِ يُنْكَبُهَا، أَوِ الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا “Teruslah berusaha sesuai dengan kebenaran dan menempuh jalannya, karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penggugur dosa baginya, bahkan termasuk bencana yang dialaminya atau duri yang menusuknya.” (HR. Muslim no. 2574). Kesepuluh: Berpuasa dan shalat malam pada bulan Ramadhan Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 38 dan Muslim no. 759). Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga salawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.  Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/74277/مكفرات-الذنوب/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 660 times, 1 visit(s) today Post Views: 115
Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن أفضل ما يتمناه المسلم أن يخرج من هذه الدنيا وقد غفر الله له ذنوبه، وضاعف له في حسناته. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Hal terbesar yang didambakan seorang Muslim adalah dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dilipatgandakan kebaikan-kebaikannya. Di antara hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menghadirkan musuh-musuh bagi manusia yang selalu mengiming-iminginya dosa, membuatnya meremehkan perbuatan dosa, dan menjauhkannya dari kebaikan. Musuh-musuh ini berupa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, setan, dan syahwat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:  وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat: 40-41). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ “Iblis berkata: ‘Karena Engkau (Allah) telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’raf: 16-17). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43). Di antara rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya bagi para hamba-Nya adalah Dia menghadirkan bagi mereka hal-hal yang dapat menjadi sebab penggugur dan penghapus dosa mereka. Penggugur-penggugur dosa ini berupa ucapan dan amalan yang disyariatkan dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara penggugur-penggugur ini adalah: Pertama: Beriman kepada Allah, mengesakan-Nya, dan beramal shaleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 7). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُسْلِمٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka akan diampuni setiap hamba muslim yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim no. 2565). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ: مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ؛ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233). Ketiga: Bertaubat dengan taubat yang tulus Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: الَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا * يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا * إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya, yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70). Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ “Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah no. 3427 jilid 2 hlm. 419). Keempat: Beristighfar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). Imam Abu Daud meriwayatkan dari hadis Zaid Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ “Barangsiapa yang mengucapkan: Astaghfirullahalladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, wa atuubu ilaihi (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Daud no. 1517. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 1343 jilid 1 hlm. 283). Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:  يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim no. 2577). Kelima: Berwudhu Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Humran, bekas budak Utsman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Utsman bin Affan dengan membawa air wudhu, lalu beliau berwudhu. Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Sungguh banyak orang yang membicarakan hadis-hadis dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak aku ketahui hadis-hadis apa itu. Hanya saja aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian beliau bersabda:  مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً Siapa yang berwudhu seperti ini, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, kemudian shalat dan perjalanannya menuju Masjid menjadi amal tambahan baginya.’” (HR. Muslim no. 229). Keenam: Mendirikan shalat dan berjalan menuju masjid untuk shalat Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat, maka itulah yang dinamakan ribat, itulah ribat, itulah ribat.” (HR. Muslim no. 251). Ketujuh: Bersedekah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271). Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam As-Sunan dari hadis Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616, dan beliau berkata: “Hadis ini hasan shahih”). Kedelapan: Menunaikan haji dan umrah Imam An-Nasa’i meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan dosa-dosa sebagaimana alat tiup pandai besi menghilangkan karat pada besi.” (HR. An-Nasa’i no. 2631. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 2467 jilid 2 hlm. 558). Kesembilan: Tertimpa musibah Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah bahwa ketika turun ayat: “Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa: 123) kaum Muslimin menjadi sangat sedih. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: قَارِبُوا، وَسَدِّدُوا؛ فَفِي كُلِّ مَا يُصَابُ بِهِ الْمُسْلِمُ كَفَّارَةٌ، حَتَّى النَّكْبَةِ يُنْكَبُهَا، أَوِ الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا “Teruslah berusaha sesuai dengan kebenaran dan menempuh jalannya, karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penggugur dosa baginya, bahkan termasuk bencana yang dialaminya atau duri yang menusuknya.” (HR. Muslim no. 2574). Kesepuluh: Berpuasa dan shalat malam pada bulan Ramadhan Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 38 dan Muslim no. 759). Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga salawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.  Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/74277/مكفرات-الذنوب/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 660 times, 1 visit(s) today Post Views: 115


Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن أفضل ما يتمناه المسلم أن يخرج من هذه الدنيا وقد غفر الله له ذنوبه، وضاعف له في حسناته. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Hal terbesar yang didambakan seorang Muslim adalah dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dilipatgandakan kebaikan-kebaikannya. Di antara hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menghadirkan musuh-musuh bagi manusia yang selalu mengiming-iminginya dosa, membuatnya meremehkan perbuatan dosa, dan menjauhkannya dari kebaikan. Musuh-musuh ini berupa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, setan, dan syahwat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:  وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat: 40-41). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ “Iblis berkata: ‘Karena Engkau (Allah) telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’raf: 16-17). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43). Di antara rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya bagi para hamba-Nya adalah Dia menghadirkan bagi mereka hal-hal yang dapat menjadi sebab penggugur dan penghapus dosa mereka. Penggugur-penggugur dosa ini berupa ucapan dan amalan yang disyariatkan dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antara penggugur-penggugur ini adalah: Pertama: Beriman kepada Allah, mengesakan-Nya, dan beramal shaleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 7). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُسْلِمٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka akan diampuni setiap hamba muslim yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim no. 2565). Kedua: Menjauhi dosa-dosa besar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa: 31). Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ: مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ؛ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut apabila dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233). Ketiga: Bertaubat dengan taubat yang tulus Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: الَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا * يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا * إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya, yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70). Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ “Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah no. 3427 jilid 2 hlm. 419). Keempat: Beristighfar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا “Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106). Imam Abu Daud meriwayatkan dari hadis Zaid Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ “Barangsiapa yang mengucapkan: Astaghfirullahalladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu, wa atuubu ilaihi (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepada-Nya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Daud no. 1517. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 1343 jilid 1 hlm. 283). Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:  يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim no. 2577). Kelima: Berwudhu Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Humran, bekas budak Utsman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Utsman bin Affan dengan membawa air wudhu, lalu beliau berwudhu. Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Sungguh banyak orang yang membicarakan hadis-hadis dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak aku ketahui hadis-hadis apa itu. Hanya saja aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berwudhu seperti wudhuku ini. Kemudian beliau bersabda:  مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً Siapa yang berwudhu seperti ini, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, kemudian shalat dan perjalanannya menuju Masjid menjadi amal tambahan baginya.’” (HR. Muslim no. 229). Keenam: Mendirikan shalat dan berjalan menuju masjid untuk shalat Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat, maka itulah yang dinamakan ribat, itulah ribat, itulah ribat.” (HR. Muslim no. 251). Ketujuh: Bersedekah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271). Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam As-Sunan dari hadis Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616, dan beliau berkata: “Hadis ini hasan shahih”). Kedelapan: Menunaikan haji dan umrah Imam An-Nasa’i meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ “Iringilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan dosa-dosa sebagaimana alat tiup pandai besi menghilangkan karat pada besi.” (HR. An-Nasa’i no. 2631. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 2467 jilid 2 hlm. 558). Kesembilan: Tertimpa musibah Imam Muslim meriwayatkan dalam Ash-Shahih dari hadis Abu Hurairah bahwa ketika turun ayat: “Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa: 123) kaum Muslimin menjadi sangat sedih. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: قَارِبُوا، وَسَدِّدُوا؛ فَفِي كُلِّ مَا يُصَابُ بِهِ الْمُسْلِمُ كَفَّارَةٌ، حَتَّى النَّكْبَةِ يُنْكَبُهَا، أَوِ الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا “Teruslah berusaha sesuai dengan kebenaran dan menempuh jalannya, karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penggugur dosa baginya, bahkan termasuk bencana yang dialaminya atau duri yang menusuknya.” (HR. Muslim no. 2574). Kesepuluh: Berpuasa dan shalat malam pada bulan Ramadhan Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 38 dan Muslim no. 759). Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga salawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.  Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/74277/مكفرات-الذنوب/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 660 times, 1 visit(s) today Post Views: 115

Cara Jitu Agar Salat Tidak Pernah Telat – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Sebagian orang berkata, “Saya tahu pentingnya salat, kedudukannya yang agung dalam agama, bahwa salat adalah tiang agama Islam, dan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Namun, saya sering kalah oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu menjaganya.” Jika ia laki-laki, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat berjamaah di masjid.” Jika perempuan, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat tepat waktu.” Lalu, apa solusi dan obatnya? Jawabannya dengan satu kalimat singkat: Jika kamu ingin menjaga salat, maka tingkatkan kepedulianmu terhadap salat. Jadikan salat sebagai prioritas utamamu. Jangan menjadikan salat sebagai kegiatan sampingan. Jika kepedulianmu terhadap salat kuat, demi Allah, tidak ada satu salat pun yang akan terlewat darimu. Namun, jika kepedulianmu terhadap salat lemah, kamu akan merasa berat dan malas-malasan. Kadang kamu dikalahkan tidur, kadang pula tersibukkan oleh hal lain. Karena kepedulianmu lemah. Ambillah contoh dari urusan dunia yang mendapat perhatian besar. Misalnya, kamu punya jadwal penerbangan di bandara pada waktu Salat Subuh. Apakah kamu akan terlambat dari jadwal itu dengan alasan tidurmu terlalu lelap? Apakah kamu akan bermalas-malasan? Apakah kamu akan bersantai-santai? Jawabannya: tidak. Justru kamu akan segera berangkat ke bandara, bahkan mungkin lebih berhati-hati, kamu datang ke bandara lebih awal karena khawatir tertinggal penerbangan. Mengapa demikian? Karena perhatianmu besar. Begitu pula seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Ia punya ujian pada jam tertentu. Kita dapati pelajar itu, bahkan semua pelajar, datang pada waktu yang telah ditentukan. Kita tidak akan mendapati seorang pun beralasan bahwa tidurnya terlalu lelap, atau ia malas, dan alasan semacamnya. Memang, terkadang ada keadaan darurat, seperti sakit dan semisalnya. Hal seperti ini ada. Namun, kita tidak mendapati orang beralasan karena tidurnya terlalu lelap, atau karena malas dan semisalnya. Karena kepedulian terhadap ujian itu besar. Jadi, wahai saudara-saudaraku, persoalannya adalah kepedulian. Saya ingat, ada seorang saudara bercerita kepada saya tentang seseorang yang dahulu tidak salat berjamaah di masjid. Lalu ia mendengar nasihat saya dengan makna seperti ini: bahwa ia harus meningkatkan perhatiannya terhadap salat, dan bahwa Salat Subuh jangan sampai terlewat darinya. Ia bercerita, “Orang itu pun menerapkan nasihat itu dan meningkatkan kepeduliannya terhadap Salat Subuh. Akhirnya, sekarang Salat Subuh berjamaah di masjid tidak pernah lagi terlewat darinya. Sebab, ia telah meningkatkan kepeduliannya terhadap salat itu. Salat pun menjadi prioritas utamanya, serta menjadi salah satu urusan terpenting dalam hidupnya. Dengan itu, ia menjadi orang yang menjaga salat berjamaah di masjid. Jadi, persoalannya adalah kepedulian. Siapa yang kepeduliannya terhadap salat besar, salat tidak akan terlewat darinya. Namun, siapa yang kepeduliannya terhadap salat lemah, ia akan merasa berat dan malas. Bisa jadi ia dikalahkan hawa nafsu, tidur, dan semisalnya. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sungguh, salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45) ===== بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَعْرِفُ أَهَمِّيَّةَ الصَّلَاةِ وَعَظِيمَ مَنْزِلَتِهَا فِي الدِّينِ وَأَنَّهَا عَمُودُ دِينِ الْإِسْلَامِ وَالرُّكْنُ الثَّانِي مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ لَكِنْ تَغْلِبُنِي نَفْسِي فَلَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا إِذَا كَانَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَرْأَةُ تَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا فِي وَقْتِهَا فَمَا الْحَلُّ وَمَا الْعِلَاجُ؟ الْجَوَابُ بِجُمْلَةٍ مُخْتَصَرَةٍ إِذَا أَرَدْتَ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصَّلَاةِ فَارْفَعْ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا اجْعَلْهَا أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِكَ لَا تَجْعَلْهَا عَلَى الْهَامِشِ إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِالصَّلَاةِ قَوِيًّا فَوَاللَّهِ لَنْ تَفُوتَكَ أَيُّ صَلَاةٍ أَمَّا إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِهَا ضَعِيفًا فَسَتَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا يَغْلِبُكَ النَّوْمُ تَارَةً وَرُبَّمَا تَنْشَغِلُ تَارَةً لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ ضَعِيْفٌ وَخُذْ مِثَالًا لِذَلِكَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا الَّتِي يَكُونُ الِاهْتِمَامُ بِهَا كَبِيرًا كَأَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مَوْعِدٌ فِي الْمَطَارِ فِي وَقْتِ صَلَاةِ الْفَجْرِ هَلْ تَتَأَخَّرُ عَنْ هَذَا الْمَوْعِدِ بِحُجَّةِ أَنَّ نَوْمَكَ ثَقِيلٌ؟ هَلْ تَتَكَاسَلُ؟ هَلْ تَتَرَاخَى؟ الْجَوَابُ: لَا وَإِنَّمَا تَنْطَلِقُ لِلْمَطَارِ وَرُبَّمَا تَحْتَاطُ وَتَأْتِي لِلْمَطَارِ مُبَكِّرًا خَشْيَةَ أَنْ تَفُوتَكَ الرِّحْلَةُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَانَ كَبِيرًا كَذَلِكَ أَيْضًا الطَّالِبُ الَّذِي عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ مُحَدَّدٌ فِي سَاعَةِ كَذَا نَجِدُ أَنَّ الطَّالِبَ بَلْ جَمِيعَ الطُّلَّابِ يَأْتُونَ فِي الْوَقْتِ الْمُحَدَّدِ وَلَمْ نَجِدْ أَنَّ أَحَدًا اعْتَذَرَ بِأَنَّ نَوْمَهُ ثَقِيلٌ أَوْ أَنَّهُ تَكَاسَلَ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ، قَدْ يَكُونُ هُنَاكَ ظُرُوفٌ قَاهِرَةٌ كَمَرَضٍ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ هَذَا يُوجَدُ، لَكِنْ لَمْ نَجِدْ مَنْ يَعْتَذِرُ بِثِقَلِ النَّوْمِ أَوِ التَّكَاسُلِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَبِيرٌ فَالْمَسْأَلَةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هِيَ مَسْأَلَةُ الِاهْتِمَامِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الْإِخْوَةِ نَقَلَ لِي عَنْ شَخْصٍ كَانَ لَا يُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَ مِنِّي كَلِمَةً بِهَذَا الْمَعْنَى بِأَنْ يَرْفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِالصَّلَاةِ وَأَنَّ صَلَاةَ الْفَجْرِ لَنْ تَفُوتَهُ يَقُولُ: وَطَبَّقَ هَذِهِ الْفِكْرَةَ فَرَفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَأَصْبَحَ الْآنَ لَا تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَبَدًا لِأَنَّهُ رَفَعَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا وَأَصْبَحَتِ الصَّلَاةُ أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِهِ وَأَصْبَحَتْ مِنْ أُمُورِهِ الْأَسَاسِيَّةِ فِي الْحَيَاةِ فَبِذَلِكَ أَصْبَحَ مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَسْأَلَةُ إِذًا هِيَ مَسْأَلَةُ اهْتِمَامٍ مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ كَبِيرًا فَلَنْ تَفُوتَهُ الصَّلَاةُ أَبَدًا أَمَّا مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ ضَعِيفًا فَسَيَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا تَغْلِبُهُ نَفْسُهُ وَيَغْلِبُهُ النَّوْمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Cara Jitu Agar Salat Tidak Pernah Telat – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Sebagian orang berkata, “Saya tahu pentingnya salat, kedudukannya yang agung dalam agama, bahwa salat adalah tiang agama Islam, dan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Namun, saya sering kalah oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu menjaganya.” Jika ia laki-laki, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat berjamaah di masjid.” Jika perempuan, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat tepat waktu.” Lalu, apa solusi dan obatnya? Jawabannya dengan satu kalimat singkat: Jika kamu ingin menjaga salat, maka tingkatkan kepedulianmu terhadap salat. Jadikan salat sebagai prioritas utamamu. Jangan menjadikan salat sebagai kegiatan sampingan. Jika kepedulianmu terhadap salat kuat, demi Allah, tidak ada satu salat pun yang akan terlewat darimu. Namun, jika kepedulianmu terhadap salat lemah, kamu akan merasa berat dan malas-malasan. Kadang kamu dikalahkan tidur, kadang pula tersibukkan oleh hal lain. Karena kepedulianmu lemah. Ambillah contoh dari urusan dunia yang mendapat perhatian besar. Misalnya, kamu punya jadwal penerbangan di bandara pada waktu Salat Subuh. Apakah kamu akan terlambat dari jadwal itu dengan alasan tidurmu terlalu lelap? Apakah kamu akan bermalas-malasan? Apakah kamu akan bersantai-santai? Jawabannya: tidak. Justru kamu akan segera berangkat ke bandara, bahkan mungkin lebih berhati-hati, kamu datang ke bandara lebih awal karena khawatir tertinggal penerbangan. Mengapa demikian? Karena perhatianmu besar. Begitu pula seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Ia punya ujian pada jam tertentu. Kita dapati pelajar itu, bahkan semua pelajar, datang pada waktu yang telah ditentukan. Kita tidak akan mendapati seorang pun beralasan bahwa tidurnya terlalu lelap, atau ia malas, dan alasan semacamnya. Memang, terkadang ada keadaan darurat, seperti sakit dan semisalnya. Hal seperti ini ada. Namun, kita tidak mendapati orang beralasan karena tidurnya terlalu lelap, atau karena malas dan semisalnya. Karena kepedulian terhadap ujian itu besar. Jadi, wahai saudara-saudaraku, persoalannya adalah kepedulian. Saya ingat, ada seorang saudara bercerita kepada saya tentang seseorang yang dahulu tidak salat berjamaah di masjid. Lalu ia mendengar nasihat saya dengan makna seperti ini: bahwa ia harus meningkatkan perhatiannya terhadap salat, dan bahwa Salat Subuh jangan sampai terlewat darinya. Ia bercerita, “Orang itu pun menerapkan nasihat itu dan meningkatkan kepeduliannya terhadap Salat Subuh. Akhirnya, sekarang Salat Subuh berjamaah di masjid tidak pernah lagi terlewat darinya. Sebab, ia telah meningkatkan kepeduliannya terhadap salat itu. Salat pun menjadi prioritas utamanya, serta menjadi salah satu urusan terpenting dalam hidupnya. Dengan itu, ia menjadi orang yang menjaga salat berjamaah di masjid. Jadi, persoalannya adalah kepedulian. Siapa yang kepeduliannya terhadap salat besar, salat tidak akan terlewat darinya. Namun, siapa yang kepeduliannya terhadap salat lemah, ia akan merasa berat dan malas. Bisa jadi ia dikalahkan hawa nafsu, tidur, dan semisalnya. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sungguh, salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45) ===== بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَعْرِفُ أَهَمِّيَّةَ الصَّلَاةِ وَعَظِيمَ مَنْزِلَتِهَا فِي الدِّينِ وَأَنَّهَا عَمُودُ دِينِ الْإِسْلَامِ وَالرُّكْنُ الثَّانِي مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ لَكِنْ تَغْلِبُنِي نَفْسِي فَلَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا إِذَا كَانَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَرْأَةُ تَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا فِي وَقْتِهَا فَمَا الْحَلُّ وَمَا الْعِلَاجُ؟ الْجَوَابُ بِجُمْلَةٍ مُخْتَصَرَةٍ إِذَا أَرَدْتَ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصَّلَاةِ فَارْفَعْ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا اجْعَلْهَا أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِكَ لَا تَجْعَلْهَا عَلَى الْهَامِشِ إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِالصَّلَاةِ قَوِيًّا فَوَاللَّهِ لَنْ تَفُوتَكَ أَيُّ صَلَاةٍ أَمَّا إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِهَا ضَعِيفًا فَسَتَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا يَغْلِبُكَ النَّوْمُ تَارَةً وَرُبَّمَا تَنْشَغِلُ تَارَةً لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ ضَعِيْفٌ وَخُذْ مِثَالًا لِذَلِكَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا الَّتِي يَكُونُ الِاهْتِمَامُ بِهَا كَبِيرًا كَأَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مَوْعِدٌ فِي الْمَطَارِ فِي وَقْتِ صَلَاةِ الْفَجْرِ هَلْ تَتَأَخَّرُ عَنْ هَذَا الْمَوْعِدِ بِحُجَّةِ أَنَّ نَوْمَكَ ثَقِيلٌ؟ هَلْ تَتَكَاسَلُ؟ هَلْ تَتَرَاخَى؟ الْجَوَابُ: لَا وَإِنَّمَا تَنْطَلِقُ لِلْمَطَارِ وَرُبَّمَا تَحْتَاطُ وَتَأْتِي لِلْمَطَارِ مُبَكِّرًا خَشْيَةَ أَنْ تَفُوتَكَ الرِّحْلَةُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَانَ كَبِيرًا كَذَلِكَ أَيْضًا الطَّالِبُ الَّذِي عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ مُحَدَّدٌ فِي سَاعَةِ كَذَا نَجِدُ أَنَّ الطَّالِبَ بَلْ جَمِيعَ الطُّلَّابِ يَأْتُونَ فِي الْوَقْتِ الْمُحَدَّدِ وَلَمْ نَجِدْ أَنَّ أَحَدًا اعْتَذَرَ بِأَنَّ نَوْمَهُ ثَقِيلٌ أَوْ أَنَّهُ تَكَاسَلَ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ، قَدْ يَكُونُ هُنَاكَ ظُرُوفٌ قَاهِرَةٌ كَمَرَضٍ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ هَذَا يُوجَدُ، لَكِنْ لَمْ نَجِدْ مَنْ يَعْتَذِرُ بِثِقَلِ النَّوْمِ أَوِ التَّكَاسُلِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَبِيرٌ فَالْمَسْأَلَةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هِيَ مَسْأَلَةُ الِاهْتِمَامِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الْإِخْوَةِ نَقَلَ لِي عَنْ شَخْصٍ كَانَ لَا يُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَ مِنِّي كَلِمَةً بِهَذَا الْمَعْنَى بِأَنْ يَرْفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِالصَّلَاةِ وَأَنَّ صَلَاةَ الْفَجْرِ لَنْ تَفُوتَهُ يَقُولُ: وَطَبَّقَ هَذِهِ الْفِكْرَةَ فَرَفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَأَصْبَحَ الْآنَ لَا تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَبَدًا لِأَنَّهُ رَفَعَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا وَأَصْبَحَتِ الصَّلَاةُ أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِهِ وَأَصْبَحَتْ مِنْ أُمُورِهِ الْأَسَاسِيَّةِ فِي الْحَيَاةِ فَبِذَلِكَ أَصْبَحَ مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَسْأَلَةُ إِذًا هِيَ مَسْأَلَةُ اهْتِمَامٍ مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ كَبِيرًا فَلَنْ تَفُوتَهُ الصَّلَاةُ أَبَدًا أَمَّا مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ ضَعِيفًا فَسَيَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا تَغْلِبُهُ نَفْسُهُ وَيَغْلِبُهُ النَّوْمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Sebagian orang berkata, “Saya tahu pentingnya salat, kedudukannya yang agung dalam agama, bahwa salat adalah tiang agama Islam, dan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Namun, saya sering kalah oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu menjaganya.” Jika ia laki-laki, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat berjamaah di masjid.” Jika perempuan, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat tepat waktu.” Lalu, apa solusi dan obatnya? Jawabannya dengan satu kalimat singkat: Jika kamu ingin menjaga salat, maka tingkatkan kepedulianmu terhadap salat. Jadikan salat sebagai prioritas utamamu. Jangan menjadikan salat sebagai kegiatan sampingan. Jika kepedulianmu terhadap salat kuat, demi Allah, tidak ada satu salat pun yang akan terlewat darimu. Namun, jika kepedulianmu terhadap salat lemah, kamu akan merasa berat dan malas-malasan. Kadang kamu dikalahkan tidur, kadang pula tersibukkan oleh hal lain. Karena kepedulianmu lemah. Ambillah contoh dari urusan dunia yang mendapat perhatian besar. Misalnya, kamu punya jadwal penerbangan di bandara pada waktu Salat Subuh. Apakah kamu akan terlambat dari jadwal itu dengan alasan tidurmu terlalu lelap? Apakah kamu akan bermalas-malasan? Apakah kamu akan bersantai-santai? Jawabannya: tidak. Justru kamu akan segera berangkat ke bandara, bahkan mungkin lebih berhati-hati, kamu datang ke bandara lebih awal karena khawatir tertinggal penerbangan. Mengapa demikian? Karena perhatianmu besar. Begitu pula seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Ia punya ujian pada jam tertentu. Kita dapati pelajar itu, bahkan semua pelajar, datang pada waktu yang telah ditentukan. Kita tidak akan mendapati seorang pun beralasan bahwa tidurnya terlalu lelap, atau ia malas, dan alasan semacamnya. Memang, terkadang ada keadaan darurat, seperti sakit dan semisalnya. Hal seperti ini ada. Namun, kita tidak mendapati orang beralasan karena tidurnya terlalu lelap, atau karena malas dan semisalnya. Karena kepedulian terhadap ujian itu besar. Jadi, wahai saudara-saudaraku, persoalannya adalah kepedulian. Saya ingat, ada seorang saudara bercerita kepada saya tentang seseorang yang dahulu tidak salat berjamaah di masjid. Lalu ia mendengar nasihat saya dengan makna seperti ini: bahwa ia harus meningkatkan perhatiannya terhadap salat, dan bahwa Salat Subuh jangan sampai terlewat darinya. Ia bercerita, “Orang itu pun menerapkan nasihat itu dan meningkatkan kepeduliannya terhadap Salat Subuh. Akhirnya, sekarang Salat Subuh berjamaah di masjid tidak pernah lagi terlewat darinya. Sebab, ia telah meningkatkan kepeduliannya terhadap salat itu. Salat pun menjadi prioritas utamanya, serta menjadi salah satu urusan terpenting dalam hidupnya. Dengan itu, ia menjadi orang yang menjaga salat berjamaah di masjid. Jadi, persoalannya adalah kepedulian. Siapa yang kepeduliannya terhadap salat besar, salat tidak akan terlewat darinya. Namun, siapa yang kepeduliannya terhadap salat lemah, ia akan merasa berat dan malas. Bisa jadi ia dikalahkan hawa nafsu, tidur, dan semisalnya. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sungguh, salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45) ===== بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَعْرِفُ أَهَمِّيَّةَ الصَّلَاةِ وَعَظِيمَ مَنْزِلَتِهَا فِي الدِّينِ وَأَنَّهَا عَمُودُ دِينِ الْإِسْلَامِ وَالرُّكْنُ الثَّانِي مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ لَكِنْ تَغْلِبُنِي نَفْسِي فَلَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا إِذَا كَانَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَرْأَةُ تَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا فِي وَقْتِهَا فَمَا الْحَلُّ وَمَا الْعِلَاجُ؟ الْجَوَابُ بِجُمْلَةٍ مُخْتَصَرَةٍ إِذَا أَرَدْتَ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصَّلَاةِ فَارْفَعْ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا اجْعَلْهَا أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِكَ لَا تَجْعَلْهَا عَلَى الْهَامِشِ إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِالصَّلَاةِ قَوِيًّا فَوَاللَّهِ لَنْ تَفُوتَكَ أَيُّ صَلَاةٍ أَمَّا إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِهَا ضَعِيفًا فَسَتَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا يَغْلِبُكَ النَّوْمُ تَارَةً وَرُبَّمَا تَنْشَغِلُ تَارَةً لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ ضَعِيْفٌ وَخُذْ مِثَالًا لِذَلِكَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا الَّتِي يَكُونُ الِاهْتِمَامُ بِهَا كَبِيرًا كَأَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مَوْعِدٌ فِي الْمَطَارِ فِي وَقْتِ صَلَاةِ الْفَجْرِ هَلْ تَتَأَخَّرُ عَنْ هَذَا الْمَوْعِدِ بِحُجَّةِ أَنَّ نَوْمَكَ ثَقِيلٌ؟ هَلْ تَتَكَاسَلُ؟ هَلْ تَتَرَاخَى؟ الْجَوَابُ: لَا وَإِنَّمَا تَنْطَلِقُ لِلْمَطَارِ وَرُبَّمَا تَحْتَاطُ وَتَأْتِي لِلْمَطَارِ مُبَكِّرًا خَشْيَةَ أَنْ تَفُوتَكَ الرِّحْلَةُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَانَ كَبِيرًا كَذَلِكَ أَيْضًا الطَّالِبُ الَّذِي عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ مُحَدَّدٌ فِي سَاعَةِ كَذَا نَجِدُ أَنَّ الطَّالِبَ بَلْ جَمِيعَ الطُّلَّابِ يَأْتُونَ فِي الْوَقْتِ الْمُحَدَّدِ وَلَمْ نَجِدْ أَنَّ أَحَدًا اعْتَذَرَ بِأَنَّ نَوْمَهُ ثَقِيلٌ أَوْ أَنَّهُ تَكَاسَلَ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ، قَدْ يَكُونُ هُنَاكَ ظُرُوفٌ قَاهِرَةٌ كَمَرَضٍ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ هَذَا يُوجَدُ، لَكِنْ لَمْ نَجِدْ مَنْ يَعْتَذِرُ بِثِقَلِ النَّوْمِ أَوِ التَّكَاسُلِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَبِيرٌ فَالْمَسْأَلَةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هِيَ مَسْأَلَةُ الِاهْتِمَامِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الْإِخْوَةِ نَقَلَ لِي عَنْ شَخْصٍ كَانَ لَا يُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَ مِنِّي كَلِمَةً بِهَذَا الْمَعْنَى بِأَنْ يَرْفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِالصَّلَاةِ وَأَنَّ صَلَاةَ الْفَجْرِ لَنْ تَفُوتَهُ يَقُولُ: وَطَبَّقَ هَذِهِ الْفِكْرَةَ فَرَفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَأَصْبَحَ الْآنَ لَا تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَبَدًا لِأَنَّهُ رَفَعَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا وَأَصْبَحَتِ الصَّلَاةُ أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِهِ وَأَصْبَحَتْ مِنْ أُمُورِهِ الْأَسَاسِيَّةِ فِي الْحَيَاةِ فَبِذَلِكَ أَصْبَحَ مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَسْأَلَةُ إِذًا هِيَ مَسْأَلَةُ اهْتِمَامٍ مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ كَبِيرًا فَلَنْ تَفُوتَهُ الصَّلَاةُ أَبَدًا أَمَّا مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ ضَعِيفًا فَسَيَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا تَغْلِبُهُ نَفْسُهُ وَيَغْلِبُهُ النَّوْمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ


Sebagian orang berkata, “Saya tahu pentingnya salat, kedudukannya yang agung dalam agama, bahwa salat adalah tiang agama Islam, dan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Namun, saya sering kalah oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu menjaganya.” Jika ia laki-laki, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat berjamaah di masjid.” Jika perempuan, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat tepat waktu.” Lalu, apa solusi dan obatnya? Jawabannya dengan satu kalimat singkat: Jika kamu ingin menjaga salat, maka tingkatkan kepedulianmu terhadap salat. Jadikan salat sebagai prioritas utamamu. Jangan menjadikan salat sebagai kegiatan sampingan. Jika kepedulianmu terhadap salat kuat, demi Allah, tidak ada satu salat pun yang akan terlewat darimu. Namun, jika kepedulianmu terhadap salat lemah, kamu akan merasa berat dan malas-malasan. Kadang kamu dikalahkan tidur, kadang pula tersibukkan oleh hal lain. Karena kepedulianmu lemah. Ambillah contoh dari urusan dunia yang mendapat perhatian besar. Misalnya, kamu punya jadwal penerbangan di bandara pada waktu Salat Subuh. Apakah kamu akan terlambat dari jadwal itu dengan alasan tidurmu terlalu lelap? Apakah kamu akan bermalas-malasan? Apakah kamu akan bersantai-santai? Jawabannya: tidak. Justru kamu akan segera berangkat ke bandara, bahkan mungkin lebih berhati-hati, kamu datang ke bandara lebih awal karena khawatir tertinggal penerbangan. Mengapa demikian? Karena perhatianmu besar. Begitu pula seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Ia punya ujian pada jam tertentu. Kita dapati pelajar itu, bahkan semua pelajar, datang pada waktu yang telah ditentukan. Kita tidak akan mendapati seorang pun beralasan bahwa tidurnya terlalu lelap, atau ia malas, dan alasan semacamnya. Memang, terkadang ada keadaan darurat, seperti sakit dan semisalnya. Hal seperti ini ada. Namun, kita tidak mendapati orang beralasan karena tidurnya terlalu lelap, atau karena malas dan semisalnya. Karena kepedulian terhadap ujian itu besar. Jadi, wahai saudara-saudaraku, persoalannya adalah kepedulian. Saya ingat, ada seorang saudara bercerita kepada saya tentang seseorang yang dahulu tidak salat berjamaah di masjid. Lalu ia mendengar nasihat saya dengan makna seperti ini: bahwa ia harus meningkatkan perhatiannya terhadap salat, dan bahwa Salat Subuh jangan sampai terlewat darinya. Ia bercerita, “Orang itu pun menerapkan nasihat itu dan meningkatkan kepeduliannya terhadap Salat Subuh. Akhirnya, sekarang Salat Subuh berjamaah di masjid tidak pernah lagi terlewat darinya. Sebab, ia telah meningkatkan kepeduliannya terhadap salat itu. Salat pun menjadi prioritas utamanya, serta menjadi salah satu urusan terpenting dalam hidupnya. Dengan itu, ia menjadi orang yang menjaga salat berjamaah di masjid. Jadi, persoalannya adalah kepedulian. Siapa yang kepeduliannya terhadap salat besar, salat tidak akan terlewat darinya. Namun, siapa yang kepeduliannya terhadap salat lemah, ia akan merasa berat dan malas. Bisa jadi ia dikalahkan hawa nafsu, tidur, dan semisalnya. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sungguh, salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45) ===== بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَعْرِفُ أَهَمِّيَّةَ الصَّلَاةِ وَعَظِيمَ مَنْزِلَتِهَا فِي الدِّينِ وَأَنَّهَا عَمُودُ دِينِ الْإِسْلَامِ وَالرُّكْنُ الثَّانِي مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ لَكِنْ تَغْلِبُنِي نَفْسِي فَلَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا إِذَا كَانَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَرْأَةُ تَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا فِي وَقْتِهَا فَمَا الْحَلُّ وَمَا الْعِلَاجُ؟ الْجَوَابُ بِجُمْلَةٍ مُخْتَصَرَةٍ إِذَا أَرَدْتَ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصَّلَاةِ فَارْفَعْ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا اجْعَلْهَا أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِكَ لَا تَجْعَلْهَا عَلَى الْهَامِشِ إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِالصَّلَاةِ قَوِيًّا فَوَاللَّهِ لَنْ تَفُوتَكَ أَيُّ صَلَاةٍ أَمَّا إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِهَا ضَعِيفًا فَسَتَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا يَغْلِبُكَ النَّوْمُ تَارَةً وَرُبَّمَا تَنْشَغِلُ تَارَةً لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ ضَعِيْفٌ وَخُذْ مِثَالًا لِذَلِكَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا الَّتِي يَكُونُ الِاهْتِمَامُ بِهَا كَبِيرًا كَأَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مَوْعِدٌ فِي الْمَطَارِ فِي وَقْتِ صَلَاةِ الْفَجْرِ هَلْ تَتَأَخَّرُ عَنْ هَذَا الْمَوْعِدِ بِحُجَّةِ أَنَّ نَوْمَكَ ثَقِيلٌ؟ هَلْ تَتَكَاسَلُ؟ هَلْ تَتَرَاخَى؟ الْجَوَابُ: لَا وَإِنَّمَا تَنْطَلِقُ لِلْمَطَارِ وَرُبَّمَا تَحْتَاطُ وَتَأْتِي لِلْمَطَارِ مُبَكِّرًا خَشْيَةَ أَنْ تَفُوتَكَ الرِّحْلَةُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَانَ كَبِيرًا كَذَلِكَ أَيْضًا الطَّالِبُ الَّذِي عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ مُحَدَّدٌ فِي سَاعَةِ كَذَا نَجِدُ أَنَّ الطَّالِبَ بَلْ جَمِيعَ الطُّلَّابِ يَأْتُونَ فِي الْوَقْتِ الْمُحَدَّدِ وَلَمْ نَجِدْ أَنَّ أَحَدًا اعْتَذَرَ بِأَنَّ نَوْمَهُ ثَقِيلٌ أَوْ أَنَّهُ تَكَاسَلَ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ، قَدْ يَكُونُ هُنَاكَ ظُرُوفٌ قَاهِرَةٌ كَمَرَضٍ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ هَذَا يُوجَدُ، لَكِنْ لَمْ نَجِدْ مَنْ يَعْتَذِرُ بِثِقَلِ النَّوْمِ أَوِ التَّكَاسُلِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَبِيرٌ فَالْمَسْأَلَةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هِيَ مَسْأَلَةُ الِاهْتِمَامِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الْإِخْوَةِ نَقَلَ لِي عَنْ شَخْصٍ كَانَ لَا يُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَ مِنِّي كَلِمَةً بِهَذَا الْمَعْنَى بِأَنْ يَرْفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِالصَّلَاةِ وَأَنَّ صَلَاةَ الْفَجْرِ لَنْ تَفُوتَهُ يَقُولُ: وَطَبَّقَ هَذِهِ الْفِكْرَةَ فَرَفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَأَصْبَحَ الْآنَ لَا تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَبَدًا لِأَنَّهُ رَفَعَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا وَأَصْبَحَتِ الصَّلَاةُ أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِهِ وَأَصْبَحَتْ مِنْ أُمُورِهِ الْأَسَاسِيَّةِ فِي الْحَيَاةِ فَبِذَلِكَ أَصْبَحَ مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَسْأَلَةُ إِذًا هِيَ مَسْأَلَةُ اهْتِمَامٍ مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ كَبِيرًا فَلَنْ تَفُوتَهُ الصَّلَاةُ أَبَدًا أَمَّا مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ ضَعِيفًا فَسَيَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا تَغْلِبُهُ نَفْسُهُ وَيَغْلِبُهُ النَّوْمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Kaidah Fikih: Keyakinan Tidak Dapat Dihilangkan oleh Keraguan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleDalil-dalil dari kaidah iniDalil dari Al-Qur’anPertama:Kedua:Dalil dari As-SunahPertama:Kedua:Ketiga:Dalil ijma’ (kesepakatan)Dalil akalContoh penerapan kaidahPerlu diketahui bahwasanya kaidah fikih yang dituliskan oleh para ulama, tidak serta merta para ulama tersebut menuliskannya di dalam kitab-kitab mereka tanpa ada landasan apapun. Namun, kaidah fikih dituliskan oleh para ulama dibangun di atas dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah.Sehingga setiap kaidah fikih yang ada perlu dilihat terlebih dahulu, dari manakah sumbernya? Apakah bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah? Jika tidak, maka kaidah tersebut sangat berhak untuk ditolak. Mengingat kaidah fikih bukanlah dalil yang harus diterima. Kaidah fikih hanya sebagai pelengkap dan metode penalaran suatu hukum, bukan dalil yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa ditolak.Untuk itu, mengetahui tentang dalil dari setiap kaidah sangatlah penting. Hal ini sebagai asas untuk memahami kaidah tersebut sekaligus membantu dalam memahami permasalahan-permasalahan fikih yang ada.Dalil-dalil dari kaidah iniDalil-dalil dari kaidah ini adalah sebagai berikut [1]:Dalil dari Al-Qur’anPertama:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَتَّبِعُ اَكۡثَرُهُمۡ اِلَّا ظَنًّا ؕ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡــًٔا​ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌۢ بِمَا يَفۡعَلُوۡنَ‏“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)Di antara penafsiran dzan (dugaan kuat) pada ayat ini adalah suatu keadaan yang tidak mengetahui hakikat dan kebenaran sesuatu. Keadaan ini bermuara pada keraguan dan ketidakyakinan, dan ayat ini menunjukkan bahwasanya keadaan ragu tidak dapat menggantikan hal yang pasti dan yakin. Sehingga jika bertemu antara ragu dan yakin, keraguan tidak akan mampu untuk melawan suatu hal yang pasti dan yakin. Hukum akan tetap pada sesuatu yang sudah diyakini.Kedua:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا لَهُمۡ بِهٖ مِنۡ عِلۡمٍ​ؕ اِنۡ يَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ​ۚ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡـًٔـاۚ‏“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.” (QS. An-Najm:28)Pada ayat ini, dzan ditafsirkan dengan makna al-wahm (dugaan yang sangat lemah). Dan adakalanya, al-wahm disebutkan dengan adz-dzan al-faasid (persangkaan yang rusak/keliru). Ayat ini menjelaskan bahwasanya al-wahm karena kelemahannya tidak dapat menggantikan kebenaran sedikitpun. Hal ini menunjukkan bahwasanya al-wahm jika berhadapan dengan hal yang yakin, maka tidak akan kuat untuk melawannya. Sehingga hukum kembali kepada keyakinan.Al-Imam As-Sam’ani rahimahullah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya,أَيْ: لَا يَنُوبُ عَلَى الْحَقِّ أَبَدًا“(Persangkaan yang rusak) tidak dapat menggantikan kebenaran selama-lamanya.” [2]Dalil dari As-SunahPertama: Hadis tentang seseorang yang diadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia dibayang-bayangi perasaan seolah-olah ia mendapati sesuatu (batal) di dalam salatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia membatalkan salatnya, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadis ini,وَهَذَا الحَدِيْثُ أَصْلٌ مِنْ أُصُوْلِ الإِسْلَامِ وَقَاعِدَةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ قَوَاعِد الفِقْهِ، وَهِيَ أَنَّ الأَشْيَاءَ يُحْكَمُ بِبَقَائِهَا عَلَى أُصُوْلِهَا، حَتَّى يُتيقَّنَ خِلَافُ ذَلِك، وَلَا يَضُرّ الشَّكُ الطَّارِئُ عَلَيْهَا“Hadis ini merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Islam, salah satu kaidah yang agung di antara kaidah fikih. Yaitu: bahwa segala sesuatu dihukumi tetap berada pada asalnya, sampai diyakini ada yang menyelisihi (mengubah) hal tersebut. Dan keraguan yang baru datang tidaklah merusak status hukum asal tersebut.” [3]Kedua: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئاً فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ : أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيحاً.“Jika seseorang di antara kalian merasakan sesuatu di dalam perutnya, lalu ia merasa ragu apakah ada yang keluar darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim)Ketiga: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثاً أَمْ أَرْبَعاً؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ“Jika salah seorang kalian ragu di dalam salatnya, lalu ia tidak mengetahui sudah berapa rakaat ia salat, tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan dan menetapkan hukum di atas jumlah rakaat yang diyakini.” (HR. Muslim)Dalil ijma’ (kesepakatan)Para ulama telah bersepakat untuk mengamalkan kaidah ini, kendati para ulama berselisih pada sebagian perincian kaidah ini. Al-Qarrafi rahimahullah berkata,فَهَذِهِ قَاعِدَةٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ كُلَّ مَشْكُوكٍ فِيهِ يُجْعَلُ كَالْمَعْدُومِ الَّذِي يُجْزَمُ بِعَدَمِهِ“Ini adalah kaidah yang disepakati, yaitu bahwa segala sesuatu yang diragukan keberadaannya, maka ia dihukumi seperti sesuatu yang tidak ada, yang telah dipastikan ketidakadaannya.” [4]Inilah dalil-dalil kaidah ini secara naql. Dalil akalAdapun dalil secara akal bahwa di keadaan manapun, hal yang diyakini pasti lebih kuat dibandingkan hal yang masih ragu-ragu. Sehingga secara akal tidak mungkin keyakinan yang kuat dapat dihilangkan dengan keraguan yang lemah sifatnya.Contoh penerapan kaidahDi antara contoh penerapan kaidah ini adalah [5]:– Jika ada seseorang yang yakin ia sudah dalam keadaan suci (berwudu), kemudian ia ragu apakah sudah ber-hadats ataukah belum, maka ia dihukumi sebagai orang yang masih dalam keadaan suci. Hal ini karena yakin tidak bisa dilawan dengan keraguan.– Jika telah tetap dan pasti seseorang itu memiliki utang, kemudian kita ragu apakah dia sudah membayar atau belum, maka utang tetap berlaku.– Seorang laki-laki menikahi perempuan dengan akad yang sah. Kemudian pada suatu hari ia ragu, apakah ia sudah mentalak istrinya ataukah belum. Maka, pernikahannya tetap berjalan pada asalnya, dan tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 12 Zulhijah 1447/ 29 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 105-108.[2] Tafsir As-Sam’ani, 5: 297.[3] Syarh Shahih Muslim, 4: 49.[4] Anwaarul Buruq, 1: 111.[5] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 170. Referensi:As-Sam‘ānī, Abū Al-Muzhaffar Manṣūr bin Muḥammad. Tafsīr Al-Qur’ān. Riyadh: Dār al-Waṭan, 1418 H/1997 M.An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyī Ad-Dīn Yahyā bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Hajjāj. Beirut: Dār Iḥyā’ At-Turāṡ Al-‘Arabī, 1392 H/1972 M.Al-Qarāfī, Abū Al-‘Abbās Syihāb Ad-Dīn Aḥmad bin Idrīs. Anwār Al-Burūq fī Anwā’ Al-Furūq. Beirut: ‘Ālam Al-Kutub.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah Al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.

Kaidah Fikih: Keyakinan Tidak Dapat Dihilangkan oleh Keraguan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleDalil-dalil dari kaidah iniDalil dari Al-Qur’anPertama:Kedua:Dalil dari As-SunahPertama:Kedua:Ketiga:Dalil ijma’ (kesepakatan)Dalil akalContoh penerapan kaidahPerlu diketahui bahwasanya kaidah fikih yang dituliskan oleh para ulama, tidak serta merta para ulama tersebut menuliskannya di dalam kitab-kitab mereka tanpa ada landasan apapun. Namun, kaidah fikih dituliskan oleh para ulama dibangun di atas dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah.Sehingga setiap kaidah fikih yang ada perlu dilihat terlebih dahulu, dari manakah sumbernya? Apakah bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah? Jika tidak, maka kaidah tersebut sangat berhak untuk ditolak. Mengingat kaidah fikih bukanlah dalil yang harus diterima. Kaidah fikih hanya sebagai pelengkap dan metode penalaran suatu hukum, bukan dalil yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa ditolak.Untuk itu, mengetahui tentang dalil dari setiap kaidah sangatlah penting. Hal ini sebagai asas untuk memahami kaidah tersebut sekaligus membantu dalam memahami permasalahan-permasalahan fikih yang ada.Dalil-dalil dari kaidah iniDalil-dalil dari kaidah ini adalah sebagai berikut [1]:Dalil dari Al-Qur’anPertama:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَتَّبِعُ اَكۡثَرُهُمۡ اِلَّا ظَنًّا ؕ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡــًٔا​ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌۢ بِمَا يَفۡعَلُوۡنَ‏“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)Di antara penafsiran dzan (dugaan kuat) pada ayat ini adalah suatu keadaan yang tidak mengetahui hakikat dan kebenaran sesuatu. Keadaan ini bermuara pada keraguan dan ketidakyakinan, dan ayat ini menunjukkan bahwasanya keadaan ragu tidak dapat menggantikan hal yang pasti dan yakin. Sehingga jika bertemu antara ragu dan yakin, keraguan tidak akan mampu untuk melawan suatu hal yang pasti dan yakin. Hukum akan tetap pada sesuatu yang sudah diyakini.Kedua:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا لَهُمۡ بِهٖ مِنۡ عِلۡمٍ​ؕ اِنۡ يَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ​ۚ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡـًٔـاۚ‏“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.” (QS. An-Najm:28)Pada ayat ini, dzan ditafsirkan dengan makna al-wahm (dugaan yang sangat lemah). Dan adakalanya, al-wahm disebutkan dengan adz-dzan al-faasid (persangkaan yang rusak/keliru). Ayat ini menjelaskan bahwasanya al-wahm karena kelemahannya tidak dapat menggantikan kebenaran sedikitpun. Hal ini menunjukkan bahwasanya al-wahm jika berhadapan dengan hal yang yakin, maka tidak akan kuat untuk melawannya. Sehingga hukum kembali kepada keyakinan.Al-Imam As-Sam’ani rahimahullah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya,أَيْ: لَا يَنُوبُ عَلَى الْحَقِّ أَبَدًا“(Persangkaan yang rusak) tidak dapat menggantikan kebenaran selama-lamanya.” [2]Dalil dari As-SunahPertama: Hadis tentang seseorang yang diadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia dibayang-bayangi perasaan seolah-olah ia mendapati sesuatu (batal) di dalam salatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia membatalkan salatnya, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadis ini,وَهَذَا الحَدِيْثُ أَصْلٌ مِنْ أُصُوْلِ الإِسْلَامِ وَقَاعِدَةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ قَوَاعِد الفِقْهِ، وَهِيَ أَنَّ الأَشْيَاءَ يُحْكَمُ بِبَقَائِهَا عَلَى أُصُوْلِهَا، حَتَّى يُتيقَّنَ خِلَافُ ذَلِك، وَلَا يَضُرّ الشَّكُ الطَّارِئُ عَلَيْهَا“Hadis ini merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Islam, salah satu kaidah yang agung di antara kaidah fikih. Yaitu: bahwa segala sesuatu dihukumi tetap berada pada asalnya, sampai diyakini ada yang menyelisihi (mengubah) hal tersebut. Dan keraguan yang baru datang tidaklah merusak status hukum asal tersebut.” [3]Kedua: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئاً فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ : أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيحاً.“Jika seseorang di antara kalian merasakan sesuatu di dalam perutnya, lalu ia merasa ragu apakah ada yang keluar darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim)Ketiga: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثاً أَمْ أَرْبَعاً؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ“Jika salah seorang kalian ragu di dalam salatnya, lalu ia tidak mengetahui sudah berapa rakaat ia salat, tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan dan menetapkan hukum di atas jumlah rakaat yang diyakini.” (HR. Muslim)Dalil ijma’ (kesepakatan)Para ulama telah bersepakat untuk mengamalkan kaidah ini, kendati para ulama berselisih pada sebagian perincian kaidah ini. Al-Qarrafi rahimahullah berkata,فَهَذِهِ قَاعِدَةٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ كُلَّ مَشْكُوكٍ فِيهِ يُجْعَلُ كَالْمَعْدُومِ الَّذِي يُجْزَمُ بِعَدَمِهِ“Ini adalah kaidah yang disepakati, yaitu bahwa segala sesuatu yang diragukan keberadaannya, maka ia dihukumi seperti sesuatu yang tidak ada, yang telah dipastikan ketidakadaannya.” [4]Inilah dalil-dalil kaidah ini secara naql. Dalil akalAdapun dalil secara akal bahwa di keadaan manapun, hal yang diyakini pasti lebih kuat dibandingkan hal yang masih ragu-ragu. Sehingga secara akal tidak mungkin keyakinan yang kuat dapat dihilangkan dengan keraguan yang lemah sifatnya.Contoh penerapan kaidahDi antara contoh penerapan kaidah ini adalah [5]:– Jika ada seseorang yang yakin ia sudah dalam keadaan suci (berwudu), kemudian ia ragu apakah sudah ber-hadats ataukah belum, maka ia dihukumi sebagai orang yang masih dalam keadaan suci. Hal ini karena yakin tidak bisa dilawan dengan keraguan.– Jika telah tetap dan pasti seseorang itu memiliki utang, kemudian kita ragu apakah dia sudah membayar atau belum, maka utang tetap berlaku.– Seorang laki-laki menikahi perempuan dengan akad yang sah. Kemudian pada suatu hari ia ragu, apakah ia sudah mentalak istrinya ataukah belum. Maka, pernikahannya tetap berjalan pada asalnya, dan tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 12 Zulhijah 1447/ 29 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 105-108.[2] Tafsir As-Sam’ani, 5: 297.[3] Syarh Shahih Muslim, 4: 49.[4] Anwaarul Buruq, 1: 111.[5] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 170. Referensi:As-Sam‘ānī, Abū Al-Muzhaffar Manṣūr bin Muḥammad. Tafsīr Al-Qur’ān. Riyadh: Dār al-Waṭan, 1418 H/1997 M.An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyī Ad-Dīn Yahyā bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Hajjāj. Beirut: Dār Iḥyā’ At-Turāṡ Al-‘Arabī, 1392 H/1972 M.Al-Qarāfī, Abū Al-‘Abbās Syihāb Ad-Dīn Aḥmad bin Idrīs. Anwār Al-Burūq fī Anwā’ Al-Furūq. Beirut: ‘Ālam Al-Kutub.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah Al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.
Daftar Isi ToggleDalil-dalil dari kaidah iniDalil dari Al-Qur’anPertama:Kedua:Dalil dari As-SunahPertama:Kedua:Ketiga:Dalil ijma’ (kesepakatan)Dalil akalContoh penerapan kaidahPerlu diketahui bahwasanya kaidah fikih yang dituliskan oleh para ulama, tidak serta merta para ulama tersebut menuliskannya di dalam kitab-kitab mereka tanpa ada landasan apapun. Namun, kaidah fikih dituliskan oleh para ulama dibangun di atas dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah.Sehingga setiap kaidah fikih yang ada perlu dilihat terlebih dahulu, dari manakah sumbernya? Apakah bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah? Jika tidak, maka kaidah tersebut sangat berhak untuk ditolak. Mengingat kaidah fikih bukanlah dalil yang harus diterima. Kaidah fikih hanya sebagai pelengkap dan metode penalaran suatu hukum, bukan dalil yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa ditolak.Untuk itu, mengetahui tentang dalil dari setiap kaidah sangatlah penting. Hal ini sebagai asas untuk memahami kaidah tersebut sekaligus membantu dalam memahami permasalahan-permasalahan fikih yang ada.Dalil-dalil dari kaidah iniDalil-dalil dari kaidah ini adalah sebagai berikut [1]:Dalil dari Al-Qur’anPertama:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَتَّبِعُ اَكۡثَرُهُمۡ اِلَّا ظَنًّا ؕ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡــًٔا​ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌۢ بِمَا يَفۡعَلُوۡنَ‏“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)Di antara penafsiran dzan (dugaan kuat) pada ayat ini adalah suatu keadaan yang tidak mengetahui hakikat dan kebenaran sesuatu. Keadaan ini bermuara pada keraguan dan ketidakyakinan, dan ayat ini menunjukkan bahwasanya keadaan ragu tidak dapat menggantikan hal yang pasti dan yakin. Sehingga jika bertemu antara ragu dan yakin, keraguan tidak akan mampu untuk melawan suatu hal yang pasti dan yakin. Hukum akan tetap pada sesuatu yang sudah diyakini.Kedua:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا لَهُمۡ بِهٖ مِنۡ عِلۡمٍ​ؕ اِنۡ يَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ​ۚ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡـًٔـاۚ‏“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.” (QS. An-Najm:28)Pada ayat ini, dzan ditafsirkan dengan makna al-wahm (dugaan yang sangat lemah). Dan adakalanya, al-wahm disebutkan dengan adz-dzan al-faasid (persangkaan yang rusak/keliru). Ayat ini menjelaskan bahwasanya al-wahm karena kelemahannya tidak dapat menggantikan kebenaran sedikitpun. Hal ini menunjukkan bahwasanya al-wahm jika berhadapan dengan hal yang yakin, maka tidak akan kuat untuk melawannya. Sehingga hukum kembali kepada keyakinan.Al-Imam As-Sam’ani rahimahullah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya,أَيْ: لَا يَنُوبُ عَلَى الْحَقِّ أَبَدًا“(Persangkaan yang rusak) tidak dapat menggantikan kebenaran selama-lamanya.” [2]Dalil dari As-SunahPertama: Hadis tentang seseorang yang diadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia dibayang-bayangi perasaan seolah-olah ia mendapati sesuatu (batal) di dalam salatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia membatalkan salatnya, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadis ini,وَهَذَا الحَدِيْثُ أَصْلٌ مِنْ أُصُوْلِ الإِسْلَامِ وَقَاعِدَةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ قَوَاعِد الفِقْهِ، وَهِيَ أَنَّ الأَشْيَاءَ يُحْكَمُ بِبَقَائِهَا عَلَى أُصُوْلِهَا، حَتَّى يُتيقَّنَ خِلَافُ ذَلِك، وَلَا يَضُرّ الشَّكُ الطَّارِئُ عَلَيْهَا“Hadis ini merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Islam, salah satu kaidah yang agung di antara kaidah fikih. Yaitu: bahwa segala sesuatu dihukumi tetap berada pada asalnya, sampai diyakini ada yang menyelisihi (mengubah) hal tersebut. Dan keraguan yang baru datang tidaklah merusak status hukum asal tersebut.” [3]Kedua: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئاً فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ : أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيحاً.“Jika seseorang di antara kalian merasakan sesuatu di dalam perutnya, lalu ia merasa ragu apakah ada yang keluar darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim)Ketiga: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثاً أَمْ أَرْبَعاً؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ“Jika salah seorang kalian ragu di dalam salatnya, lalu ia tidak mengetahui sudah berapa rakaat ia salat, tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan dan menetapkan hukum di atas jumlah rakaat yang diyakini.” (HR. Muslim)Dalil ijma’ (kesepakatan)Para ulama telah bersepakat untuk mengamalkan kaidah ini, kendati para ulama berselisih pada sebagian perincian kaidah ini. Al-Qarrafi rahimahullah berkata,فَهَذِهِ قَاعِدَةٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ كُلَّ مَشْكُوكٍ فِيهِ يُجْعَلُ كَالْمَعْدُومِ الَّذِي يُجْزَمُ بِعَدَمِهِ“Ini adalah kaidah yang disepakati, yaitu bahwa segala sesuatu yang diragukan keberadaannya, maka ia dihukumi seperti sesuatu yang tidak ada, yang telah dipastikan ketidakadaannya.” [4]Inilah dalil-dalil kaidah ini secara naql. Dalil akalAdapun dalil secara akal bahwa di keadaan manapun, hal yang diyakini pasti lebih kuat dibandingkan hal yang masih ragu-ragu. Sehingga secara akal tidak mungkin keyakinan yang kuat dapat dihilangkan dengan keraguan yang lemah sifatnya.Contoh penerapan kaidahDi antara contoh penerapan kaidah ini adalah [5]:– Jika ada seseorang yang yakin ia sudah dalam keadaan suci (berwudu), kemudian ia ragu apakah sudah ber-hadats ataukah belum, maka ia dihukumi sebagai orang yang masih dalam keadaan suci. Hal ini karena yakin tidak bisa dilawan dengan keraguan.– Jika telah tetap dan pasti seseorang itu memiliki utang, kemudian kita ragu apakah dia sudah membayar atau belum, maka utang tetap berlaku.– Seorang laki-laki menikahi perempuan dengan akad yang sah. Kemudian pada suatu hari ia ragu, apakah ia sudah mentalak istrinya ataukah belum. Maka, pernikahannya tetap berjalan pada asalnya, dan tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 12 Zulhijah 1447/ 29 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 105-108.[2] Tafsir As-Sam’ani, 5: 297.[3] Syarh Shahih Muslim, 4: 49.[4] Anwaarul Buruq, 1: 111.[5] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 170. Referensi:As-Sam‘ānī, Abū Al-Muzhaffar Manṣūr bin Muḥammad. Tafsīr Al-Qur’ān. Riyadh: Dār al-Waṭan, 1418 H/1997 M.An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyī Ad-Dīn Yahyā bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Hajjāj. Beirut: Dār Iḥyā’ At-Turāṡ Al-‘Arabī, 1392 H/1972 M.Al-Qarāfī, Abū Al-‘Abbās Syihāb Ad-Dīn Aḥmad bin Idrīs. Anwār Al-Burūq fī Anwā’ Al-Furūq. Beirut: ‘Ālam Al-Kutub.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah Al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.


Daftar Isi ToggleDalil-dalil dari kaidah iniDalil dari Al-Qur’anPertama:Kedua:Dalil dari As-SunahPertama:Kedua:Ketiga:Dalil ijma’ (kesepakatan)Dalil akalContoh penerapan kaidahPerlu diketahui bahwasanya kaidah fikih yang dituliskan oleh para ulama, tidak serta merta para ulama tersebut menuliskannya di dalam kitab-kitab mereka tanpa ada landasan apapun. Namun, kaidah fikih dituliskan oleh para ulama dibangun di atas dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah.Sehingga setiap kaidah fikih yang ada perlu dilihat terlebih dahulu, dari manakah sumbernya? Apakah bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah? Jika tidak, maka kaidah tersebut sangat berhak untuk ditolak. Mengingat kaidah fikih bukanlah dalil yang harus diterima. Kaidah fikih hanya sebagai pelengkap dan metode penalaran suatu hukum, bukan dalil yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa ditolak.Untuk itu, mengetahui tentang dalil dari setiap kaidah sangatlah penting. Hal ini sebagai asas untuk memahami kaidah tersebut sekaligus membantu dalam memahami permasalahan-permasalahan fikih yang ada.Dalil-dalil dari kaidah iniDalil-dalil dari kaidah ini adalah sebagai berikut [1]:Dalil dari Al-Qur’anPertama:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَتَّبِعُ اَكۡثَرُهُمۡ اِلَّا ظَنًّا ؕ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡــًٔا​ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌۢ بِمَا يَفۡعَلُوۡنَ‏“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)Di antara penafsiran dzan (dugaan kuat) pada ayat ini adalah suatu keadaan yang tidak mengetahui hakikat dan kebenaran sesuatu. Keadaan ini bermuara pada keraguan dan ketidakyakinan, dan ayat ini menunjukkan bahwasanya keadaan ragu tidak dapat menggantikan hal yang pasti dan yakin. Sehingga jika bertemu antara ragu dan yakin, keraguan tidak akan mampu untuk melawan suatu hal yang pasti dan yakin. Hukum akan tetap pada sesuatu yang sudah diyakini.Kedua:Allah Ta’ala berfirman,وَمَا لَهُمۡ بِهٖ مِنۡ عِلۡمٍ​ؕ اِنۡ يَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ​ۚ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغۡنِىۡ مِنَ الۡحَـقِّ شَيۡـًٔـاۚ‏“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.” (QS. An-Najm:28)Pada ayat ini, dzan ditafsirkan dengan makna al-wahm (dugaan yang sangat lemah). Dan adakalanya, al-wahm disebutkan dengan adz-dzan al-faasid (persangkaan yang rusak/keliru). Ayat ini menjelaskan bahwasanya al-wahm karena kelemahannya tidak dapat menggantikan kebenaran sedikitpun. Hal ini menunjukkan bahwasanya al-wahm jika berhadapan dengan hal yang yakin, maka tidak akan kuat untuk melawannya. Sehingga hukum kembali kepada keyakinan.Al-Imam As-Sam’ani rahimahullah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya,أَيْ: لَا يَنُوبُ عَلَى الْحَقِّ أَبَدًا“(Persangkaan yang rusak) tidak dapat menggantikan kebenaran selama-lamanya.” [2]Dalil dari As-SunahPertama: Hadis tentang seseorang yang diadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia dibayang-bayangi perasaan seolah-olah ia mendapati sesuatu (batal) di dalam salatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيْحاً“Janganlah ia membatalkan salatnya, sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (Muttafaqun ‘alaih)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadis ini,وَهَذَا الحَدِيْثُ أَصْلٌ مِنْ أُصُوْلِ الإِسْلَامِ وَقَاعِدَةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ قَوَاعِد الفِقْهِ، وَهِيَ أَنَّ الأَشْيَاءَ يُحْكَمُ بِبَقَائِهَا عَلَى أُصُوْلِهَا، حَتَّى يُتيقَّنَ خِلَافُ ذَلِك، وَلَا يَضُرّ الشَّكُ الطَّارِئُ عَلَيْهَا“Hadis ini merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Islam, salah satu kaidah yang agung di antara kaidah fikih. Yaitu: bahwa segala sesuatu dihukumi tetap berada pada asalnya, sampai diyakini ada yang menyelisihi (mengubah) hal tersebut. Dan keraguan yang baru datang tidaklah merusak status hukum asal tersebut.” [3]Kedua: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئاً فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ : أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيحاً.“Jika seseorang di antara kalian merasakan sesuatu di dalam perutnya, lalu ia merasa ragu apakah ada yang keluar darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim)Ketiga: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثاً أَمْ أَرْبَعاً؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ“Jika salah seorang kalian ragu di dalam salatnya, lalu ia tidak mengetahui sudah berapa rakaat ia salat, tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan dan menetapkan hukum di atas jumlah rakaat yang diyakini.” (HR. Muslim)Dalil ijma’ (kesepakatan)Para ulama telah bersepakat untuk mengamalkan kaidah ini, kendati para ulama berselisih pada sebagian perincian kaidah ini. Al-Qarrafi rahimahullah berkata,فَهَذِهِ قَاعِدَةٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهَا وَهِيَ أَنَّ كُلَّ مَشْكُوكٍ فِيهِ يُجْعَلُ كَالْمَعْدُومِ الَّذِي يُجْزَمُ بِعَدَمِهِ“Ini adalah kaidah yang disepakati, yaitu bahwa segala sesuatu yang diragukan keberadaannya, maka ia dihukumi seperti sesuatu yang tidak ada, yang telah dipastikan ketidakadaannya.” [4]Inilah dalil-dalil kaidah ini secara naql. Dalil akalAdapun dalil secara akal bahwa di keadaan manapun, hal yang diyakini pasti lebih kuat dibandingkan hal yang masih ragu-ragu. Sehingga secara akal tidak mungkin keyakinan yang kuat dapat dihilangkan dengan keraguan yang lemah sifatnya.Contoh penerapan kaidahDi antara contoh penerapan kaidah ini adalah [5]:– Jika ada seseorang yang yakin ia sudah dalam keadaan suci (berwudu), kemudian ia ragu apakah sudah ber-hadats ataukah belum, maka ia dihukumi sebagai orang yang masih dalam keadaan suci. Hal ini karena yakin tidak bisa dilawan dengan keraguan.– Jika telah tetap dan pasti seseorang itu memiliki utang, kemudian kita ragu apakah dia sudah membayar atau belum, maka utang tetap berlaku.– Seorang laki-laki menikahi perempuan dengan akad yang sah. Kemudian pada suatu hari ia ragu, apakah ia sudah mentalak istrinya ataukah belum. Maka, pernikahannya tetap berjalan pada asalnya, dan tidak jatuh talak.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 12 Zulhijah 1447/ 29 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah, hal. 105-108.[2] Tafsir As-Sam’ani, 5: 297.[3] Syarh Shahih Muslim, 4: 49.[4] Anwaarul Buruq, 1: 111.[5] Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, hal. 170. Referensi:As-Sam‘ānī, Abū Al-Muzhaffar Manṣūr bin Muḥammad. Tafsīr Al-Qur’ān. Riyadh: Dār al-Waṭan, 1418 H/1997 M.An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyī Ad-Dīn Yahyā bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Hajjāj. Beirut: Dār Iḥyā’ At-Turāṡ Al-‘Arabī, 1392 H/1972 M.Al-Qarāfī, Abū Al-‘Abbās Syihāb Ad-Dīn Aḥmad bin Idrīs. Anwār Al-Burūq fī Anwā’ Al-Furūq. Beirut: ‘Ālam Al-Kutub.Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī Al-Qawā‘id Al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah Al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.Al-Ghazziy, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idaahi Qawa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-Alamiyah, 1422 H/2002M.

Biografi Ibnu Khuzaimah

Daftar Isi ToggleNama dan kelahiranPerjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahGuru-gurunyaMurid-muridnyaKeberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahKedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahKarya-karyanyaKitab Shahih Ibnu KhuzaimahPujian para ulamaWafatNama dan kelahiranBeliau adalah Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Faqih, Syekhul Islam, Imam para imam: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah bin Shalih bin Bakr, Abu Bakar As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi‘i.Beliau dilahirkan pada tahun 223 H. Sejak masa mudanya, ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu hadis dan fikih, hingga menjadi sosok yang dijadikan perumpamaan dalam keluasan ilmu dan ketelitian (ketekunan) dalam penguasaannya.Perjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahSesuai dengan tradisi para ulama pada masanya, Ibnu Khuzaimah berkeinginan melakukan perjalanan untuk mendengar dan menuntut hadis Nabi ﷺ. Ia ingin pergi belajar kepada Qutaibah, lalu meminta izin kepada ayahnya. Ayahnya berkata, “Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu hingga aku mengizinkanmu.” Ibnu Khuzaimah berkata, “Maka aku pun menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, ayahku berkata, ‘Tinggallah sampai engkau mengkhatamkannya dalam salat.’ Aku pun melakukannya. Setelah hari raya, beliau mengizinkanku. Lalu aku berangkat ke Marw dan belajar di Marw Ar-Rudh dari Muhammad bin Hisyam, namun kemudian sampai kepada kami kabar wafatnya Qutaibah.” Qutaibah wafat pada tahun 240 H.Dengan demikian, Ibnu Khuzaimah memulai perjalanan ilmiahnya pada usia sekitar tujuh belas tahun. Perjalanannya sangat luas hingga mencakup berbagai wilayah dunia Islam bagian timur saat itu. Ia belajar di Naisabur dari Ibnu Rahawaih dan lainnya; di Marw dari Ali bin Muhammad dan lainnya; di Rayy dari Muhammad bin Mihran; di Syam dari Musa bin Sahl Ar-Ramli; di Jazirah dari Abdul Jabbar bin Al-‘Ala’; di Mesir dari Yunus bin Abdul A‘la; di Wasith dari Muhammad bin Harb; di Baghdad dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani; di Bashrah dari Nashr bin Ali Al-Azdi Al-Jahdhami; dan di Kufah dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala Al-Hamdani serta lainnya.Ia juga meriwayatkan dari Imam Al-Bukhari, Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Adz-Dzuhali, dan banyak ulama lainnya. Bahkan sebagian guru-gurunya termasuk Al-Bukhari dan Muslim (di luar Kitab Shahih keduanya) meriwayatkan darinya.Guru-gurunyaIbnu Khuzaimah meriwayatkan hadis dari banyak guru besar pada masanya. Ia pernah mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Humaid, namun tidak meriwayatkan dari keduanya karena saat itu ia masih kecil dan belum memiliki pemahaman yang matang. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Mahmud bin Ghailan, ‘Utbah bin Abdullah Al-Marwazi, Ali bin Hujr, Ahmad bin Mani‘, Bisyr bin Mu‘adz, Abu Kuraib, Abdul Jabbar bin Al-‘Ala, Ahmad bin Ibrahim Ad-Dawraqi dan saudaranya Ya‘qub, Ishaq bin Syahin, ‘Amr bin Ali, Ziyad bin Ayyub, Muhammad bin Mihran Al-Jammal, Abu Sa‘id Al-Asyajj, Yusuf bin Wadhi‘ Al-Hasyimi, Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Al-Mutsanna, Al-Husain bin Huraits, Muhammad bin Abdul A‘la Ash-Shan‘ani, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi, Nashr bin Ali, Muhammad bin Ali, Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami, Yunus bin Abdul A‘la, Ahmad bin Abdurrahman Al-Wahbi, Yusuf bin Musa, Muhammad bin Rafi‘, Muhammad bin Yahya Al-Qath‘i, Salam bin Junadah, Yahya bin Hakim, Ismail bin Bisyr bin Manshur As-Sulaimi, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za‘farani, Harun bin Ishaq Al-Hamdani, dan banyak lagi lainnya. Banyaknya guru yang ia ambil riwayat darinya menunjukkan keluasan rihlah (perjalanan) ilmiah dan tingginya kedudukannya dalam bidang hadis.Murid-muridnyaDi antara murid-murid Ibnu Khuzaimah adalah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (di luar kitab Shahih keduanya), serta Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam yang juga termasuk salah satu gurunya. Selain itu, meriwayatkan darinya Ahmad bin Al-Mubarak Al-Mustamli, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu Hamid bin Asy-Syarqi, Abu Al-Abbas Ad-Daghuli, Abu Ali Al-Husain bin Muhammad An-Naisaburi, Abu Hatim Al-Busti, Abu Ahmad bin ‘Adi, Abu ‘Amr bin Hamdan, Ishaq bin Sa‘d An-Nasawi, Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Baluwayh, Abu Bakar Ahmad bin Mihran Al-Muqri’, cucunya Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Khuzaimah, Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Nushair Al-Mu‘addil, Abu Bakar bin Ishaq Ash-Shabghi, Abu Sahl Ash-Sha‘luki, Al-Husain bin Ali At-Tamimi (Husainak), Bisyr bin Muhammad bin Muhammad bin Yasin, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ja‘far Asy-Syaibani, Abu Al-Husain Ahmad bin Muhammad Al-Buhairi, Al-Khalil bin Ahmad As-Sijzi Al-Qadhi, Abu Sa‘id Muhammad bin Bisyr Al-Karabisi, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al-Karabisi Al-Hakim, dan Abu Nashr Ahmad bin Al-Husain Al-Marwani. Banyaknya ulama besar yang meriwayatkan darinya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam ilmu hadis serta luasnya pengaruh keilmuannya.Keberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah dikenal memiliki keberanian dan ketegasan sikap. Ia tidak takut kepada para penguasa maupun pejabat. Abu Bakar bin Baluwayh meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Khuzaimah berkata, “Aku pernah berada di hadapan Amir Ismail bin Ahmad. Ia meriwayatkan sebuah hadis dari ayahnya, namun ia keliru dalam sanadnya, lalu aku mengoreksinya.” Setelah keluar dari majelis itu, Abu Dzar Al-Qadhi berkata kepadanya, “Kami sebenarnya sudah mengetahui sejak dua puluh tahun bahwa hadis itu keliru, tetapi tidak seorang pun di antara kami berani mengoreksinya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab,لا يحل لي أن أسمع حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فيه خطأ أو تحريف فلا أرده“Tidak halal bagiku mendengar hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat kesalahan atau perubahan di dalamnya, lalu aku tidak meluruskannya.”Kedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah rahimahullah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan murah hati. Ia gemar bersedekah bahkan hingga menyedekahkan pakaiannya, dan disebutkan bahwa ia hampir tidak pernah memakai satu baju dua kali karena sering memberikannya kepada orang lain.Muhammad bin Al-Fadhl berkata, “Kakekku Abu Bakar (Ibnu Khuzaimah) tidak pernah menyimpan harta sedikit pun sesuai kemampuannya, bahkan ia menginfakkannya untuk para penuntut ilmu. Ia tidak mengenal timbangan (tidak terbiasa menghitung nilai uang dengan teliti) dan tidak membedakan antara sepuluh dan dua puluh. Terkadang kami mengambil darinya sepuluh, namun ia mengira itu lima.”Al-Hakim berkata bahwa Ibnu Khuzaimah pernah mengadakan jamuan besar di sebuah kebun, mengundang orang-orang miskin dan kaya. Ia menghadirkan berbagai makanan, daging panggang, dan manisan dari seluruh penjuru kota. Hari itu menjadi peristiwa besar yang dihadiri oleh banyak orang, suatu jamuan yang biasanya tidak mampu diselenggarakan kecuali oleh seorang penguasa besar. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 309 H.Karya-karyanyaAl-Hakim Abu Abdullah menyebutkan bahwa karya-karya Ibnu Khuzaimah berjumlah lebih dari 140 judul. Namun, sumber yang ada sekarang tidak memberikan penjelasan lengkap tentang semua karya tersebut, bahkan banyak yang tidak lagi diketahui namanya. Yang masih dikenal saat ini hanyalah kitab At-Tauhid yang sudah dicetak, serta bagian yang tersisa dari Shahih Ibnu Khuzaimah. Selain itu, ada juga kitab berjudul Sya’nud Du‘a wa Tafsir al-Ad‘iyah al-Ma’tsurah ‘an Rasulillah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tersimpan di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.Ibnu Khuzaimah sering menyebut nama karya-karyanya di dalam kitab At-Tauhid dan Shahih-nya. Dari sana dapat ditemukan beberapa judul seperti Kitab Al-Iman, Ash-Shalah, Az-Zakah, Ash-Shiyam, Al-Jihad, At-Tafsir, Al-Buyu‘, Al-Imamah, Al-Fitan, dan Al-Qadar. Namun muncul pertanyaan: apakah semua judul itu adalah kitab yang berdiri sendiri, atau sebenarnya hanya bagian dari satu kitab besar, seperti kebiasaan para ulama hadis dahulu?Kemungkinan besar, sebagian judul tersebut hanyalah bagian atau bab dari kitab besarnya. Hal ini karena dalam beberapa tempat Ibnu Khuzaimah merujuk pembahasan ke “Kitab Ash-Shalah” atau “Kitab Ash-Shadaqat”, padahal hadis-hadis itu sebenarnya terdapat dalam Shahih-nya. Jadi, besar kemungkinan tidak semua judul itu merupakan kitab terpisah, melainkan bagian dari karya besarnya.Kitab Shahih Ibnu KhuzaimahDalam daftar karya Ibnu Khuzaimah, tidak disebutkan kitab yang bernama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan beliau sendiri tidak pernah menamainya dengan sebutan “Ash-Shahih”, termasuk ketika menyebutnya dalam kitab At-Tauhid. Hal ini karena sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak memberi nama kitabnya dengan judul Shahih, sebagaimana Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Bukhari juga tidak menamai kitab mereka dengan nama yang sekarang terkenal.Imam Al-Bukhari, misalnya, memberi judul kitabnya Al-Jami‘ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umur Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Ibnu Hibban menamai kitabnya Al-Musnad Ash-Shahih ‘ala At-Taqasim wal-Anwa‘. Sedangkan Ibnu Khuzaimah menamai kitabnya Mukhtashar Al-Mukhtashar min Al-Musnad Ash-Shahih ‘an An-Nabi.Seiring berjalannya waktu, kitab-kitab tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama singkat “Shahih”. Namun, tidak ditemukan ulama terdahulu yang secara khusus menyebut karya Ibnu Khuzaimah dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan Al-Khalili (w. 446 H) dalam kitab Al-Irsyad hanya menyebut bahwa cucunya, Muhammad bin Al-Fadhl, meriwayatkan darinya kitab Mukhtashar Al-Mukhtashar dan karya-karya lainnya.Pada masa-masa berikutnya, kitab karya Ibnu Khuzaimah mulai dikenal dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib sudah menyebutnya dengan istilah tersebut, dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya.” Setelah itu, para ulama seperti Ad-Dimyathi, At-Turkumani, dan Az-Zayla‘i juga menggunakan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, dan penamaan ini kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan ulama lainnya.Namun sebenarnya, nama yang diberikan langsung oleh Ibnu Khuzaimah untuk kitabnya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad ash-Shahih ‘an an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, sebutan Shahih Ibnu Khuzaimah adalah nama yang menjadi populer di kalangan ulama setelah masa beliau, bukan nama asli yang beliau tetapkan sendiri.Pujian para ulamaIbnu Hibban berkata,ما رأيت على وجه الأرض من يحسن صناعة السنن ويحفظ ألفاظها، الصحاح وزياداتها حتى كأن السنن كلها بين عينيه، إلا محمد بن إسحاق فقط“Aku tidak pernah melihat di muka bumi ini seseorang yang begitu ahli dalam ilmu sunah, begitu baik dalam menguasainya, dan hafal lafaz-lafaznya, baik hadis-hadis sahih maupun tambahan-tambahannya, seakan-akan seluruh sunah berada di depan matanya, selain Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah) saja.”Ad-Daraquthni berkata,كان ابن خزيمة ثبتًا معدوم النظير“Ibnu Khuzaimah adalah seorang ulama yang sangat kokoh (terpercaya dan kuat hafalannya), dan tidak ada tandingannya.”Abu Ali Al-Husain bin Muhammad Al-Hafizh berkata,لم أرَ مثل محمد بن إسحاق، قال: وكان ابن خزيمة يحفظ الفقهيات من حديثه كما يحفظ القارئ السورة“Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ishaq.” Ia juga mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah menghafal hadis-hadis yang berkaitan dengan fikih sebagaimana seorang pembaca Al-Qur’an menghafal satu surah.Ibnu As-Suraij berkata,ابن خزيمة يخرج النكت من حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالمنقاش“Ibnu Khuzaimah mampu mengeluarkan makna-makna halus (pelajaran dan faedah yang mendalam) dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat teliti, seakan-akan menggunakan pinset.”WafatIbnu Khuzaimah wafat pada malam Sabtu, tanggal 2 Zulkaidah tahun 311 H. Yang menyalatkannya adalah putranya, Abu An-Nashr. Ia dimakamkan di sebuah ruangan di rumahnya, dan kemudian ruangan tersebut dijadikan tempat pemakaman. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat yang luas kepadanya.Baca juga: Mengenal Beberapa Ulama Hadis Mutaqaddimin***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website: https://www.alukah.net

Biografi Ibnu Khuzaimah

Daftar Isi ToggleNama dan kelahiranPerjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahGuru-gurunyaMurid-muridnyaKeberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahKedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahKarya-karyanyaKitab Shahih Ibnu KhuzaimahPujian para ulamaWafatNama dan kelahiranBeliau adalah Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Faqih, Syekhul Islam, Imam para imam: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah bin Shalih bin Bakr, Abu Bakar As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi‘i.Beliau dilahirkan pada tahun 223 H. Sejak masa mudanya, ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu hadis dan fikih, hingga menjadi sosok yang dijadikan perumpamaan dalam keluasan ilmu dan ketelitian (ketekunan) dalam penguasaannya.Perjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahSesuai dengan tradisi para ulama pada masanya, Ibnu Khuzaimah berkeinginan melakukan perjalanan untuk mendengar dan menuntut hadis Nabi ﷺ. Ia ingin pergi belajar kepada Qutaibah, lalu meminta izin kepada ayahnya. Ayahnya berkata, “Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu hingga aku mengizinkanmu.” Ibnu Khuzaimah berkata, “Maka aku pun menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, ayahku berkata, ‘Tinggallah sampai engkau mengkhatamkannya dalam salat.’ Aku pun melakukannya. Setelah hari raya, beliau mengizinkanku. Lalu aku berangkat ke Marw dan belajar di Marw Ar-Rudh dari Muhammad bin Hisyam, namun kemudian sampai kepada kami kabar wafatnya Qutaibah.” Qutaibah wafat pada tahun 240 H.Dengan demikian, Ibnu Khuzaimah memulai perjalanan ilmiahnya pada usia sekitar tujuh belas tahun. Perjalanannya sangat luas hingga mencakup berbagai wilayah dunia Islam bagian timur saat itu. Ia belajar di Naisabur dari Ibnu Rahawaih dan lainnya; di Marw dari Ali bin Muhammad dan lainnya; di Rayy dari Muhammad bin Mihran; di Syam dari Musa bin Sahl Ar-Ramli; di Jazirah dari Abdul Jabbar bin Al-‘Ala’; di Mesir dari Yunus bin Abdul A‘la; di Wasith dari Muhammad bin Harb; di Baghdad dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani; di Bashrah dari Nashr bin Ali Al-Azdi Al-Jahdhami; dan di Kufah dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala Al-Hamdani serta lainnya.Ia juga meriwayatkan dari Imam Al-Bukhari, Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Adz-Dzuhali, dan banyak ulama lainnya. Bahkan sebagian guru-gurunya termasuk Al-Bukhari dan Muslim (di luar Kitab Shahih keduanya) meriwayatkan darinya.Guru-gurunyaIbnu Khuzaimah meriwayatkan hadis dari banyak guru besar pada masanya. Ia pernah mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Humaid, namun tidak meriwayatkan dari keduanya karena saat itu ia masih kecil dan belum memiliki pemahaman yang matang. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Mahmud bin Ghailan, ‘Utbah bin Abdullah Al-Marwazi, Ali bin Hujr, Ahmad bin Mani‘, Bisyr bin Mu‘adz, Abu Kuraib, Abdul Jabbar bin Al-‘Ala, Ahmad bin Ibrahim Ad-Dawraqi dan saudaranya Ya‘qub, Ishaq bin Syahin, ‘Amr bin Ali, Ziyad bin Ayyub, Muhammad bin Mihran Al-Jammal, Abu Sa‘id Al-Asyajj, Yusuf bin Wadhi‘ Al-Hasyimi, Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Al-Mutsanna, Al-Husain bin Huraits, Muhammad bin Abdul A‘la Ash-Shan‘ani, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi, Nashr bin Ali, Muhammad bin Ali, Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami, Yunus bin Abdul A‘la, Ahmad bin Abdurrahman Al-Wahbi, Yusuf bin Musa, Muhammad bin Rafi‘, Muhammad bin Yahya Al-Qath‘i, Salam bin Junadah, Yahya bin Hakim, Ismail bin Bisyr bin Manshur As-Sulaimi, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za‘farani, Harun bin Ishaq Al-Hamdani, dan banyak lagi lainnya. Banyaknya guru yang ia ambil riwayat darinya menunjukkan keluasan rihlah (perjalanan) ilmiah dan tingginya kedudukannya dalam bidang hadis.Murid-muridnyaDi antara murid-murid Ibnu Khuzaimah adalah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (di luar kitab Shahih keduanya), serta Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam yang juga termasuk salah satu gurunya. Selain itu, meriwayatkan darinya Ahmad bin Al-Mubarak Al-Mustamli, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu Hamid bin Asy-Syarqi, Abu Al-Abbas Ad-Daghuli, Abu Ali Al-Husain bin Muhammad An-Naisaburi, Abu Hatim Al-Busti, Abu Ahmad bin ‘Adi, Abu ‘Amr bin Hamdan, Ishaq bin Sa‘d An-Nasawi, Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Baluwayh, Abu Bakar Ahmad bin Mihran Al-Muqri’, cucunya Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Khuzaimah, Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Nushair Al-Mu‘addil, Abu Bakar bin Ishaq Ash-Shabghi, Abu Sahl Ash-Sha‘luki, Al-Husain bin Ali At-Tamimi (Husainak), Bisyr bin Muhammad bin Muhammad bin Yasin, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ja‘far Asy-Syaibani, Abu Al-Husain Ahmad bin Muhammad Al-Buhairi, Al-Khalil bin Ahmad As-Sijzi Al-Qadhi, Abu Sa‘id Muhammad bin Bisyr Al-Karabisi, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al-Karabisi Al-Hakim, dan Abu Nashr Ahmad bin Al-Husain Al-Marwani. Banyaknya ulama besar yang meriwayatkan darinya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam ilmu hadis serta luasnya pengaruh keilmuannya.Keberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah dikenal memiliki keberanian dan ketegasan sikap. Ia tidak takut kepada para penguasa maupun pejabat. Abu Bakar bin Baluwayh meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Khuzaimah berkata, “Aku pernah berada di hadapan Amir Ismail bin Ahmad. Ia meriwayatkan sebuah hadis dari ayahnya, namun ia keliru dalam sanadnya, lalu aku mengoreksinya.” Setelah keluar dari majelis itu, Abu Dzar Al-Qadhi berkata kepadanya, “Kami sebenarnya sudah mengetahui sejak dua puluh tahun bahwa hadis itu keliru, tetapi tidak seorang pun di antara kami berani mengoreksinya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab,لا يحل لي أن أسمع حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فيه خطأ أو تحريف فلا أرده“Tidak halal bagiku mendengar hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat kesalahan atau perubahan di dalamnya, lalu aku tidak meluruskannya.”Kedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah rahimahullah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan murah hati. Ia gemar bersedekah bahkan hingga menyedekahkan pakaiannya, dan disebutkan bahwa ia hampir tidak pernah memakai satu baju dua kali karena sering memberikannya kepada orang lain.Muhammad bin Al-Fadhl berkata, “Kakekku Abu Bakar (Ibnu Khuzaimah) tidak pernah menyimpan harta sedikit pun sesuai kemampuannya, bahkan ia menginfakkannya untuk para penuntut ilmu. Ia tidak mengenal timbangan (tidak terbiasa menghitung nilai uang dengan teliti) dan tidak membedakan antara sepuluh dan dua puluh. Terkadang kami mengambil darinya sepuluh, namun ia mengira itu lima.”Al-Hakim berkata bahwa Ibnu Khuzaimah pernah mengadakan jamuan besar di sebuah kebun, mengundang orang-orang miskin dan kaya. Ia menghadirkan berbagai makanan, daging panggang, dan manisan dari seluruh penjuru kota. Hari itu menjadi peristiwa besar yang dihadiri oleh banyak orang, suatu jamuan yang biasanya tidak mampu diselenggarakan kecuali oleh seorang penguasa besar. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 309 H.Karya-karyanyaAl-Hakim Abu Abdullah menyebutkan bahwa karya-karya Ibnu Khuzaimah berjumlah lebih dari 140 judul. Namun, sumber yang ada sekarang tidak memberikan penjelasan lengkap tentang semua karya tersebut, bahkan banyak yang tidak lagi diketahui namanya. Yang masih dikenal saat ini hanyalah kitab At-Tauhid yang sudah dicetak, serta bagian yang tersisa dari Shahih Ibnu Khuzaimah. Selain itu, ada juga kitab berjudul Sya’nud Du‘a wa Tafsir al-Ad‘iyah al-Ma’tsurah ‘an Rasulillah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tersimpan di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.Ibnu Khuzaimah sering menyebut nama karya-karyanya di dalam kitab At-Tauhid dan Shahih-nya. Dari sana dapat ditemukan beberapa judul seperti Kitab Al-Iman, Ash-Shalah, Az-Zakah, Ash-Shiyam, Al-Jihad, At-Tafsir, Al-Buyu‘, Al-Imamah, Al-Fitan, dan Al-Qadar. Namun muncul pertanyaan: apakah semua judul itu adalah kitab yang berdiri sendiri, atau sebenarnya hanya bagian dari satu kitab besar, seperti kebiasaan para ulama hadis dahulu?Kemungkinan besar, sebagian judul tersebut hanyalah bagian atau bab dari kitab besarnya. Hal ini karena dalam beberapa tempat Ibnu Khuzaimah merujuk pembahasan ke “Kitab Ash-Shalah” atau “Kitab Ash-Shadaqat”, padahal hadis-hadis itu sebenarnya terdapat dalam Shahih-nya. Jadi, besar kemungkinan tidak semua judul itu merupakan kitab terpisah, melainkan bagian dari karya besarnya.Kitab Shahih Ibnu KhuzaimahDalam daftar karya Ibnu Khuzaimah, tidak disebutkan kitab yang bernama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan beliau sendiri tidak pernah menamainya dengan sebutan “Ash-Shahih”, termasuk ketika menyebutnya dalam kitab At-Tauhid. Hal ini karena sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak memberi nama kitabnya dengan judul Shahih, sebagaimana Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Bukhari juga tidak menamai kitab mereka dengan nama yang sekarang terkenal.Imam Al-Bukhari, misalnya, memberi judul kitabnya Al-Jami‘ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umur Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Ibnu Hibban menamai kitabnya Al-Musnad Ash-Shahih ‘ala At-Taqasim wal-Anwa‘. Sedangkan Ibnu Khuzaimah menamai kitabnya Mukhtashar Al-Mukhtashar min Al-Musnad Ash-Shahih ‘an An-Nabi.Seiring berjalannya waktu, kitab-kitab tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama singkat “Shahih”. Namun, tidak ditemukan ulama terdahulu yang secara khusus menyebut karya Ibnu Khuzaimah dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan Al-Khalili (w. 446 H) dalam kitab Al-Irsyad hanya menyebut bahwa cucunya, Muhammad bin Al-Fadhl, meriwayatkan darinya kitab Mukhtashar Al-Mukhtashar dan karya-karya lainnya.Pada masa-masa berikutnya, kitab karya Ibnu Khuzaimah mulai dikenal dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib sudah menyebutnya dengan istilah tersebut, dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya.” Setelah itu, para ulama seperti Ad-Dimyathi, At-Turkumani, dan Az-Zayla‘i juga menggunakan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, dan penamaan ini kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan ulama lainnya.Namun sebenarnya, nama yang diberikan langsung oleh Ibnu Khuzaimah untuk kitabnya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad ash-Shahih ‘an an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, sebutan Shahih Ibnu Khuzaimah adalah nama yang menjadi populer di kalangan ulama setelah masa beliau, bukan nama asli yang beliau tetapkan sendiri.Pujian para ulamaIbnu Hibban berkata,ما رأيت على وجه الأرض من يحسن صناعة السنن ويحفظ ألفاظها، الصحاح وزياداتها حتى كأن السنن كلها بين عينيه، إلا محمد بن إسحاق فقط“Aku tidak pernah melihat di muka bumi ini seseorang yang begitu ahli dalam ilmu sunah, begitu baik dalam menguasainya, dan hafal lafaz-lafaznya, baik hadis-hadis sahih maupun tambahan-tambahannya, seakan-akan seluruh sunah berada di depan matanya, selain Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah) saja.”Ad-Daraquthni berkata,كان ابن خزيمة ثبتًا معدوم النظير“Ibnu Khuzaimah adalah seorang ulama yang sangat kokoh (terpercaya dan kuat hafalannya), dan tidak ada tandingannya.”Abu Ali Al-Husain bin Muhammad Al-Hafizh berkata,لم أرَ مثل محمد بن إسحاق، قال: وكان ابن خزيمة يحفظ الفقهيات من حديثه كما يحفظ القارئ السورة“Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ishaq.” Ia juga mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah menghafal hadis-hadis yang berkaitan dengan fikih sebagaimana seorang pembaca Al-Qur’an menghafal satu surah.Ibnu As-Suraij berkata,ابن خزيمة يخرج النكت من حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالمنقاش“Ibnu Khuzaimah mampu mengeluarkan makna-makna halus (pelajaran dan faedah yang mendalam) dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat teliti, seakan-akan menggunakan pinset.”WafatIbnu Khuzaimah wafat pada malam Sabtu, tanggal 2 Zulkaidah tahun 311 H. Yang menyalatkannya adalah putranya, Abu An-Nashr. Ia dimakamkan di sebuah ruangan di rumahnya, dan kemudian ruangan tersebut dijadikan tempat pemakaman. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat yang luas kepadanya.Baca juga: Mengenal Beberapa Ulama Hadis Mutaqaddimin***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website: https://www.alukah.net
Daftar Isi ToggleNama dan kelahiranPerjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahGuru-gurunyaMurid-muridnyaKeberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahKedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahKarya-karyanyaKitab Shahih Ibnu KhuzaimahPujian para ulamaWafatNama dan kelahiranBeliau adalah Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Faqih, Syekhul Islam, Imam para imam: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah bin Shalih bin Bakr, Abu Bakar As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi‘i.Beliau dilahirkan pada tahun 223 H. Sejak masa mudanya, ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu hadis dan fikih, hingga menjadi sosok yang dijadikan perumpamaan dalam keluasan ilmu dan ketelitian (ketekunan) dalam penguasaannya.Perjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahSesuai dengan tradisi para ulama pada masanya, Ibnu Khuzaimah berkeinginan melakukan perjalanan untuk mendengar dan menuntut hadis Nabi ﷺ. Ia ingin pergi belajar kepada Qutaibah, lalu meminta izin kepada ayahnya. Ayahnya berkata, “Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu hingga aku mengizinkanmu.” Ibnu Khuzaimah berkata, “Maka aku pun menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, ayahku berkata, ‘Tinggallah sampai engkau mengkhatamkannya dalam salat.’ Aku pun melakukannya. Setelah hari raya, beliau mengizinkanku. Lalu aku berangkat ke Marw dan belajar di Marw Ar-Rudh dari Muhammad bin Hisyam, namun kemudian sampai kepada kami kabar wafatnya Qutaibah.” Qutaibah wafat pada tahun 240 H.Dengan demikian, Ibnu Khuzaimah memulai perjalanan ilmiahnya pada usia sekitar tujuh belas tahun. Perjalanannya sangat luas hingga mencakup berbagai wilayah dunia Islam bagian timur saat itu. Ia belajar di Naisabur dari Ibnu Rahawaih dan lainnya; di Marw dari Ali bin Muhammad dan lainnya; di Rayy dari Muhammad bin Mihran; di Syam dari Musa bin Sahl Ar-Ramli; di Jazirah dari Abdul Jabbar bin Al-‘Ala’; di Mesir dari Yunus bin Abdul A‘la; di Wasith dari Muhammad bin Harb; di Baghdad dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani; di Bashrah dari Nashr bin Ali Al-Azdi Al-Jahdhami; dan di Kufah dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala Al-Hamdani serta lainnya.Ia juga meriwayatkan dari Imam Al-Bukhari, Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Adz-Dzuhali, dan banyak ulama lainnya. Bahkan sebagian guru-gurunya termasuk Al-Bukhari dan Muslim (di luar Kitab Shahih keduanya) meriwayatkan darinya.Guru-gurunyaIbnu Khuzaimah meriwayatkan hadis dari banyak guru besar pada masanya. Ia pernah mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Humaid, namun tidak meriwayatkan dari keduanya karena saat itu ia masih kecil dan belum memiliki pemahaman yang matang. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Mahmud bin Ghailan, ‘Utbah bin Abdullah Al-Marwazi, Ali bin Hujr, Ahmad bin Mani‘, Bisyr bin Mu‘adz, Abu Kuraib, Abdul Jabbar bin Al-‘Ala, Ahmad bin Ibrahim Ad-Dawraqi dan saudaranya Ya‘qub, Ishaq bin Syahin, ‘Amr bin Ali, Ziyad bin Ayyub, Muhammad bin Mihran Al-Jammal, Abu Sa‘id Al-Asyajj, Yusuf bin Wadhi‘ Al-Hasyimi, Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Al-Mutsanna, Al-Husain bin Huraits, Muhammad bin Abdul A‘la Ash-Shan‘ani, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi, Nashr bin Ali, Muhammad bin Ali, Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami, Yunus bin Abdul A‘la, Ahmad bin Abdurrahman Al-Wahbi, Yusuf bin Musa, Muhammad bin Rafi‘, Muhammad bin Yahya Al-Qath‘i, Salam bin Junadah, Yahya bin Hakim, Ismail bin Bisyr bin Manshur As-Sulaimi, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za‘farani, Harun bin Ishaq Al-Hamdani, dan banyak lagi lainnya. Banyaknya guru yang ia ambil riwayat darinya menunjukkan keluasan rihlah (perjalanan) ilmiah dan tingginya kedudukannya dalam bidang hadis.Murid-muridnyaDi antara murid-murid Ibnu Khuzaimah adalah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (di luar kitab Shahih keduanya), serta Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam yang juga termasuk salah satu gurunya. Selain itu, meriwayatkan darinya Ahmad bin Al-Mubarak Al-Mustamli, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu Hamid bin Asy-Syarqi, Abu Al-Abbas Ad-Daghuli, Abu Ali Al-Husain bin Muhammad An-Naisaburi, Abu Hatim Al-Busti, Abu Ahmad bin ‘Adi, Abu ‘Amr bin Hamdan, Ishaq bin Sa‘d An-Nasawi, Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Baluwayh, Abu Bakar Ahmad bin Mihran Al-Muqri’, cucunya Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Khuzaimah, Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Nushair Al-Mu‘addil, Abu Bakar bin Ishaq Ash-Shabghi, Abu Sahl Ash-Sha‘luki, Al-Husain bin Ali At-Tamimi (Husainak), Bisyr bin Muhammad bin Muhammad bin Yasin, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ja‘far Asy-Syaibani, Abu Al-Husain Ahmad bin Muhammad Al-Buhairi, Al-Khalil bin Ahmad As-Sijzi Al-Qadhi, Abu Sa‘id Muhammad bin Bisyr Al-Karabisi, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al-Karabisi Al-Hakim, dan Abu Nashr Ahmad bin Al-Husain Al-Marwani. Banyaknya ulama besar yang meriwayatkan darinya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam ilmu hadis serta luasnya pengaruh keilmuannya.Keberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah dikenal memiliki keberanian dan ketegasan sikap. Ia tidak takut kepada para penguasa maupun pejabat. Abu Bakar bin Baluwayh meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Khuzaimah berkata, “Aku pernah berada di hadapan Amir Ismail bin Ahmad. Ia meriwayatkan sebuah hadis dari ayahnya, namun ia keliru dalam sanadnya, lalu aku mengoreksinya.” Setelah keluar dari majelis itu, Abu Dzar Al-Qadhi berkata kepadanya, “Kami sebenarnya sudah mengetahui sejak dua puluh tahun bahwa hadis itu keliru, tetapi tidak seorang pun di antara kami berani mengoreksinya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab,لا يحل لي أن أسمع حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فيه خطأ أو تحريف فلا أرده“Tidak halal bagiku mendengar hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat kesalahan atau perubahan di dalamnya, lalu aku tidak meluruskannya.”Kedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah rahimahullah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan murah hati. Ia gemar bersedekah bahkan hingga menyedekahkan pakaiannya, dan disebutkan bahwa ia hampir tidak pernah memakai satu baju dua kali karena sering memberikannya kepada orang lain.Muhammad bin Al-Fadhl berkata, “Kakekku Abu Bakar (Ibnu Khuzaimah) tidak pernah menyimpan harta sedikit pun sesuai kemampuannya, bahkan ia menginfakkannya untuk para penuntut ilmu. Ia tidak mengenal timbangan (tidak terbiasa menghitung nilai uang dengan teliti) dan tidak membedakan antara sepuluh dan dua puluh. Terkadang kami mengambil darinya sepuluh, namun ia mengira itu lima.”Al-Hakim berkata bahwa Ibnu Khuzaimah pernah mengadakan jamuan besar di sebuah kebun, mengundang orang-orang miskin dan kaya. Ia menghadirkan berbagai makanan, daging panggang, dan manisan dari seluruh penjuru kota. Hari itu menjadi peristiwa besar yang dihadiri oleh banyak orang, suatu jamuan yang biasanya tidak mampu diselenggarakan kecuali oleh seorang penguasa besar. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 309 H.Karya-karyanyaAl-Hakim Abu Abdullah menyebutkan bahwa karya-karya Ibnu Khuzaimah berjumlah lebih dari 140 judul. Namun, sumber yang ada sekarang tidak memberikan penjelasan lengkap tentang semua karya tersebut, bahkan banyak yang tidak lagi diketahui namanya. Yang masih dikenal saat ini hanyalah kitab At-Tauhid yang sudah dicetak, serta bagian yang tersisa dari Shahih Ibnu Khuzaimah. Selain itu, ada juga kitab berjudul Sya’nud Du‘a wa Tafsir al-Ad‘iyah al-Ma’tsurah ‘an Rasulillah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tersimpan di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.Ibnu Khuzaimah sering menyebut nama karya-karyanya di dalam kitab At-Tauhid dan Shahih-nya. Dari sana dapat ditemukan beberapa judul seperti Kitab Al-Iman, Ash-Shalah, Az-Zakah, Ash-Shiyam, Al-Jihad, At-Tafsir, Al-Buyu‘, Al-Imamah, Al-Fitan, dan Al-Qadar. Namun muncul pertanyaan: apakah semua judul itu adalah kitab yang berdiri sendiri, atau sebenarnya hanya bagian dari satu kitab besar, seperti kebiasaan para ulama hadis dahulu?Kemungkinan besar, sebagian judul tersebut hanyalah bagian atau bab dari kitab besarnya. Hal ini karena dalam beberapa tempat Ibnu Khuzaimah merujuk pembahasan ke “Kitab Ash-Shalah” atau “Kitab Ash-Shadaqat”, padahal hadis-hadis itu sebenarnya terdapat dalam Shahih-nya. Jadi, besar kemungkinan tidak semua judul itu merupakan kitab terpisah, melainkan bagian dari karya besarnya.Kitab Shahih Ibnu KhuzaimahDalam daftar karya Ibnu Khuzaimah, tidak disebutkan kitab yang bernama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan beliau sendiri tidak pernah menamainya dengan sebutan “Ash-Shahih”, termasuk ketika menyebutnya dalam kitab At-Tauhid. Hal ini karena sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak memberi nama kitabnya dengan judul Shahih, sebagaimana Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Bukhari juga tidak menamai kitab mereka dengan nama yang sekarang terkenal.Imam Al-Bukhari, misalnya, memberi judul kitabnya Al-Jami‘ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umur Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Ibnu Hibban menamai kitabnya Al-Musnad Ash-Shahih ‘ala At-Taqasim wal-Anwa‘. Sedangkan Ibnu Khuzaimah menamai kitabnya Mukhtashar Al-Mukhtashar min Al-Musnad Ash-Shahih ‘an An-Nabi.Seiring berjalannya waktu, kitab-kitab tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama singkat “Shahih”. Namun, tidak ditemukan ulama terdahulu yang secara khusus menyebut karya Ibnu Khuzaimah dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan Al-Khalili (w. 446 H) dalam kitab Al-Irsyad hanya menyebut bahwa cucunya, Muhammad bin Al-Fadhl, meriwayatkan darinya kitab Mukhtashar Al-Mukhtashar dan karya-karya lainnya.Pada masa-masa berikutnya, kitab karya Ibnu Khuzaimah mulai dikenal dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib sudah menyebutnya dengan istilah tersebut, dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya.” Setelah itu, para ulama seperti Ad-Dimyathi, At-Turkumani, dan Az-Zayla‘i juga menggunakan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, dan penamaan ini kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan ulama lainnya.Namun sebenarnya, nama yang diberikan langsung oleh Ibnu Khuzaimah untuk kitabnya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad ash-Shahih ‘an an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, sebutan Shahih Ibnu Khuzaimah adalah nama yang menjadi populer di kalangan ulama setelah masa beliau, bukan nama asli yang beliau tetapkan sendiri.Pujian para ulamaIbnu Hibban berkata,ما رأيت على وجه الأرض من يحسن صناعة السنن ويحفظ ألفاظها، الصحاح وزياداتها حتى كأن السنن كلها بين عينيه، إلا محمد بن إسحاق فقط“Aku tidak pernah melihat di muka bumi ini seseorang yang begitu ahli dalam ilmu sunah, begitu baik dalam menguasainya, dan hafal lafaz-lafaznya, baik hadis-hadis sahih maupun tambahan-tambahannya, seakan-akan seluruh sunah berada di depan matanya, selain Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah) saja.”Ad-Daraquthni berkata,كان ابن خزيمة ثبتًا معدوم النظير“Ibnu Khuzaimah adalah seorang ulama yang sangat kokoh (terpercaya dan kuat hafalannya), dan tidak ada tandingannya.”Abu Ali Al-Husain bin Muhammad Al-Hafizh berkata,لم أرَ مثل محمد بن إسحاق، قال: وكان ابن خزيمة يحفظ الفقهيات من حديثه كما يحفظ القارئ السورة“Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ishaq.” Ia juga mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah menghafal hadis-hadis yang berkaitan dengan fikih sebagaimana seorang pembaca Al-Qur’an menghafal satu surah.Ibnu As-Suraij berkata,ابن خزيمة يخرج النكت من حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالمنقاش“Ibnu Khuzaimah mampu mengeluarkan makna-makna halus (pelajaran dan faedah yang mendalam) dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat teliti, seakan-akan menggunakan pinset.”WafatIbnu Khuzaimah wafat pada malam Sabtu, tanggal 2 Zulkaidah tahun 311 H. Yang menyalatkannya adalah putranya, Abu An-Nashr. Ia dimakamkan di sebuah ruangan di rumahnya, dan kemudian ruangan tersebut dijadikan tempat pemakaman. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat yang luas kepadanya.Baca juga: Mengenal Beberapa Ulama Hadis Mutaqaddimin***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website: https://www.alukah.net


Daftar Isi ToggleNama dan kelahiranPerjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahGuru-gurunyaMurid-muridnyaKeberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahKedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahKarya-karyanyaKitab Shahih Ibnu KhuzaimahPujian para ulamaWafatNama dan kelahiranBeliau adalah Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Faqih, Syekhul Islam, Imam para imam: Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah bin Shalih bin Bakr, Abu Bakar As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi‘i.Beliau dilahirkan pada tahun 223 H. Sejak masa mudanya, ia menaruh perhatian besar terhadap ilmu hadis dan fikih, hingga menjadi sosok yang dijadikan perumpamaan dalam keluasan ilmu dan ketelitian (ketekunan) dalam penguasaannya.Perjalanan ilmiah (rihlah) Ibnu KhuzaimahSesuai dengan tradisi para ulama pada masanya, Ibnu Khuzaimah berkeinginan melakukan perjalanan untuk mendengar dan menuntut hadis Nabi ﷺ. Ia ingin pergi belajar kepada Qutaibah, lalu meminta izin kepada ayahnya. Ayahnya berkata, “Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu hingga aku mengizinkanmu.” Ibnu Khuzaimah berkata, “Maka aku pun menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, ayahku berkata, ‘Tinggallah sampai engkau mengkhatamkannya dalam salat.’ Aku pun melakukannya. Setelah hari raya, beliau mengizinkanku. Lalu aku berangkat ke Marw dan belajar di Marw Ar-Rudh dari Muhammad bin Hisyam, namun kemudian sampai kepada kami kabar wafatnya Qutaibah.” Qutaibah wafat pada tahun 240 H.Dengan demikian, Ibnu Khuzaimah memulai perjalanan ilmiahnya pada usia sekitar tujuh belas tahun. Perjalanannya sangat luas hingga mencakup berbagai wilayah dunia Islam bagian timur saat itu. Ia belajar di Naisabur dari Ibnu Rahawaih dan lainnya; di Marw dari Ali bin Muhammad dan lainnya; di Rayy dari Muhammad bin Mihran; di Syam dari Musa bin Sahl Ar-Ramli; di Jazirah dari Abdul Jabbar bin Al-‘Ala’; di Mesir dari Yunus bin Abdul A‘la; di Wasith dari Muhammad bin Harb; di Baghdad dari Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani; di Bashrah dari Nashr bin Ali Al-Azdi Al-Jahdhami; dan di Kufah dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-Ala Al-Hamdani serta lainnya.Ia juga meriwayatkan dari Imam Al-Bukhari, Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Adz-Dzuhali, dan banyak ulama lainnya. Bahkan sebagian guru-gurunya termasuk Al-Bukhari dan Muslim (di luar Kitab Shahih keduanya) meriwayatkan darinya.Guru-gurunyaIbnu Khuzaimah meriwayatkan hadis dari banyak guru besar pada masanya. Ia pernah mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Humaid, namun tidak meriwayatkan dari keduanya karena saat itu ia masih kecil dan belum memiliki pemahaman yang matang. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Mahmud bin Ghailan, ‘Utbah bin Abdullah Al-Marwazi, Ali bin Hujr, Ahmad bin Mani‘, Bisyr bin Mu‘adz, Abu Kuraib, Abdul Jabbar bin Al-‘Ala, Ahmad bin Ibrahim Ad-Dawraqi dan saudaranya Ya‘qub, Ishaq bin Syahin, ‘Amr bin Ali, Ziyad bin Ayyub, Muhammad bin Mihran Al-Jammal, Abu Sa‘id Al-Asyajj, Yusuf bin Wadhi‘ Al-Hasyimi, Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Al-Mutsanna, Al-Husain bin Huraits, Muhammad bin Abdul A‘la Ash-Shan‘ani, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi, Nashr bin Ali, Muhammad bin Ali, Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami, Yunus bin Abdul A‘la, Ahmad bin Abdurrahman Al-Wahbi, Yusuf bin Musa, Muhammad bin Rafi‘, Muhammad bin Yahya Al-Qath‘i, Salam bin Junadah, Yahya bin Hakim, Ismail bin Bisyr bin Manshur As-Sulaimi, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za‘farani, Harun bin Ishaq Al-Hamdani, dan banyak lagi lainnya. Banyaknya guru yang ia ambil riwayat darinya menunjukkan keluasan rihlah (perjalanan) ilmiah dan tingginya kedudukannya dalam bidang hadis.Murid-muridnyaDi antara murid-murid Ibnu Khuzaimah adalah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (di luar kitab Shahih keduanya), serta Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam yang juga termasuk salah satu gurunya. Selain itu, meriwayatkan darinya Ahmad bin Al-Mubarak Al-Mustamli, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu Hamid bin Asy-Syarqi, Abu Al-Abbas Ad-Daghuli, Abu Ali Al-Husain bin Muhammad An-Naisaburi, Abu Hatim Al-Busti, Abu Ahmad bin ‘Adi, Abu ‘Amr bin Hamdan, Ishaq bin Sa‘d An-Nasawi, Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Baluwayh, Abu Bakar Ahmad bin Mihran Al-Muqri’, cucunya Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Khuzaimah, Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Nushair Al-Mu‘addil, Abu Bakar bin Ishaq Ash-Shabghi, Abu Sahl Ash-Sha‘luki, Al-Husain bin Ali At-Tamimi (Husainak), Bisyr bin Muhammad bin Muhammad bin Yasin, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ja‘far Asy-Syaibani, Abu Al-Husain Ahmad bin Muhammad Al-Buhairi, Al-Khalil bin Ahmad As-Sijzi Al-Qadhi, Abu Sa‘id Muhammad bin Bisyr Al-Karabisi, Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al-Karabisi Al-Hakim, dan Abu Nashr Ahmad bin Al-Husain Al-Marwani. Banyaknya ulama besar yang meriwayatkan darinya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam ilmu hadis serta luasnya pengaruh keilmuannya.Keberanian dan ketegasan Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah dikenal memiliki keberanian dan ketegasan sikap. Ia tidak takut kepada para penguasa maupun pejabat. Abu Bakar bin Baluwayh meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Khuzaimah berkata, “Aku pernah berada di hadapan Amir Ismail bin Ahmad. Ia meriwayatkan sebuah hadis dari ayahnya, namun ia keliru dalam sanadnya, lalu aku mengoreksinya.” Setelah keluar dari majelis itu, Abu Dzar Al-Qadhi berkata kepadanya, “Kami sebenarnya sudah mengetahui sejak dua puluh tahun bahwa hadis itu keliru, tetapi tidak seorang pun di antara kami berani mengoreksinya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab,لا يحل لي أن أسمع حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فيه خطأ أو تحريف فلا أرده“Tidak halal bagiku mendengar hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat kesalahan atau perubahan di dalamnya, lalu aku tidak meluruskannya.”Kedermawanan dan kemurahan hati Ibnu KhuzaimahIbnu Khuzaimah rahimahullah dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan murah hati. Ia gemar bersedekah bahkan hingga menyedekahkan pakaiannya, dan disebutkan bahwa ia hampir tidak pernah memakai satu baju dua kali karena sering memberikannya kepada orang lain.Muhammad bin Al-Fadhl berkata, “Kakekku Abu Bakar (Ibnu Khuzaimah) tidak pernah menyimpan harta sedikit pun sesuai kemampuannya, bahkan ia menginfakkannya untuk para penuntut ilmu. Ia tidak mengenal timbangan (tidak terbiasa menghitung nilai uang dengan teliti) dan tidak membedakan antara sepuluh dan dua puluh. Terkadang kami mengambil darinya sepuluh, namun ia mengira itu lima.”Al-Hakim berkata bahwa Ibnu Khuzaimah pernah mengadakan jamuan besar di sebuah kebun, mengundang orang-orang miskin dan kaya. Ia menghadirkan berbagai makanan, daging panggang, dan manisan dari seluruh penjuru kota. Hari itu menjadi peristiwa besar yang dihadiri oleh banyak orang, suatu jamuan yang biasanya tidak mampu diselenggarakan kecuali oleh seorang penguasa besar. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 309 H.Karya-karyanyaAl-Hakim Abu Abdullah menyebutkan bahwa karya-karya Ibnu Khuzaimah berjumlah lebih dari 140 judul. Namun, sumber yang ada sekarang tidak memberikan penjelasan lengkap tentang semua karya tersebut, bahkan banyak yang tidak lagi diketahui namanya. Yang masih dikenal saat ini hanyalah kitab At-Tauhid yang sudah dicetak, serta bagian yang tersisa dari Shahih Ibnu Khuzaimah. Selain itu, ada juga kitab berjudul Sya’nud Du‘a wa Tafsir al-Ad‘iyah al-Ma’tsurah ‘an Rasulillah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tersimpan di perpustakaan Azh-Zhahiriyah.Ibnu Khuzaimah sering menyebut nama karya-karyanya di dalam kitab At-Tauhid dan Shahih-nya. Dari sana dapat ditemukan beberapa judul seperti Kitab Al-Iman, Ash-Shalah, Az-Zakah, Ash-Shiyam, Al-Jihad, At-Tafsir, Al-Buyu‘, Al-Imamah, Al-Fitan, dan Al-Qadar. Namun muncul pertanyaan: apakah semua judul itu adalah kitab yang berdiri sendiri, atau sebenarnya hanya bagian dari satu kitab besar, seperti kebiasaan para ulama hadis dahulu?Kemungkinan besar, sebagian judul tersebut hanyalah bagian atau bab dari kitab besarnya. Hal ini karena dalam beberapa tempat Ibnu Khuzaimah merujuk pembahasan ke “Kitab Ash-Shalah” atau “Kitab Ash-Shadaqat”, padahal hadis-hadis itu sebenarnya terdapat dalam Shahih-nya. Jadi, besar kemungkinan tidak semua judul itu merupakan kitab terpisah, melainkan bagian dari karya besarnya.Kitab Shahih Ibnu KhuzaimahDalam daftar karya Ibnu Khuzaimah, tidak disebutkan kitab yang bernama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan beliau sendiri tidak pernah menamainya dengan sebutan “Ash-Shahih”, termasuk ketika menyebutnya dalam kitab At-Tauhid. Hal ini karena sebenarnya Ibnu Khuzaimah tidak memberi nama kitabnya dengan judul Shahih, sebagaimana Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Bukhari juga tidak menamai kitab mereka dengan nama yang sekarang terkenal.Imam Al-Bukhari, misalnya, memberi judul kitabnya Al-Jami‘ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umur Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi. Ibnu Hibban menamai kitabnya Al-Musnad Ash-Shahih ‘ala At-Taqasim wal-Anwa‘. Sedangkan Ibnu Khuzaimah menamai kitabnya Mukhtashar Al-Mukhtashar min Al-Musnad Ash-Shahih ‘an An-Nabi.Seiring berjalannya waktu, kitab-kitab tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama singkat “Shahih”. Namun, tidak ditemukan ulama terdahulu yang secara khusus menyebut karya Ibnu Khuzaimah dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Bahkan Al-Khalili (w. 446 H) dalam kitab Al-Irsyad hanya menyebut bahwa cucunya, Muhammad bin Al-Fadhl, meriwayatkan darinya kitab Mukhtashar Al-Mukhtashar dan karya-karya lainnya.Pada masa-masa berikutnya, kitab karya Ibnu Khuzaimah mulai dikenal dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah. Al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib sudah menyebutnya dengan istilah tersebut, dengan mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya.” Setelah itu, para ulama seperti Ad-Dimyathi, At-Turkumani, dan Az-Zayla‘i juga menggunakan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, dan penamaan ini kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan ulama lainnya.Namun sebenarnya, nama yang diberikan langsung oleh Ibnu Khuzaimah untuk kitabnya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad ash-Shahih ‘an an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, sebutan Shahih Ibnu Khuzaimah adalah nama yang menjadi populer di kalangan ulama setelah masa beliau, bukan nama asli yang beliau tetapkan sendiri.Pujian para ulamaIbnu Hibban berkata,ما رأيت على وجه الأرض من يحسن صناعة السنن ويحفظ ألفاظها، الصحاح وزياداتها حتى كأن السنن كلها بين عينيه، إلا محمد بن إسحاق فقط“Aku tidak pernah melihat di muka bumi ini seseorang yang begitu ahli dalam ilmu sunah, begitu baik dalam menguasainya, dan hafal lafaz-lafaznya, baik hadis-hadis sahih maupun tambahan-tambahannya, seakan-akan seluruh sunah berada di depan matanya, selain Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah) saja.”Ad-Daraquthni berkata,كان ابن خزيمة ثبتًا معدوم النظير“Ibnu Khuzaimah adalah seorang ulama yang sangat kokoh (terpercaya dan kuat hafalannya), dan tidak ada tandingannya.”Abu Ali Al-Husain bin Muhammad Al-Hafizh berkata,لم أرَ مثل محمد بن إسحاق، قال: وكان ابن خزيمة يحفظ الفقهيات من حديثه كما يحفظ القارئ السورة“Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ishaq.” Ia juga mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah menghafal hadis-hadis yang berkaitan dengan fikih sebagaimana seorang pembaca Al-Qur’an menghafal satu surah.Ibnu As-Suraij berkata,ابن خزيمة يخرج النكت من حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بالمنقاش“Ibnu Khuzaimah mampu mengeluarkan makna-makna halus (pelajaran dan faedah yang mendalam) dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat teliti, seakan-akan menggunakan pinset.”WafatIbnu Khuzaimah wafat pada malam Sabtu, tanggal 2 Zulkaidah tahun 311 H. Yang menyalatkannya adalah putranya, Abu An-Nashr. Ia dimakamkan di sebuah ruangan di rumahnya, dan kemudian ruangan tersebut dijadikan tempat pemakaman. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat yang luas kepadanya.Baca juga: Mengenal Beberapa Ulama Hadis Mutaqaddimin***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website: https://www.alukah.net

Rahasia Rumah Tangga Tenang – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada yang bertanya: apa batasan At-Taghaful terhadap kesalahan istri? Apa cara yang benar untuk menghindari perselisihan? Orang yang bertanya ini, (sepertinya) tidak ingin bersikap At-Taghaful. Dalam kehidupan, sikap memaklumi itu tidaklah terbatas. Kecuali dalam perkara mungkar dan meninggalkan kewajiban. Sebagaimana ucapan para salaf, “At-Taghaful itu sembilan persepuluh kehidupan.” Ini berlaku untuk semua orang. Jika engkau tidak pandai memaklumi, engkau akan menderita dan membuat orang lain menderita. Sikap memaklumi ini tidak ada batasnya. Kecuali terhadap perbuatan mungkar, maka tidak boleh mengabaikannya. Terhadap kewajiban yang ditinggalkan, juga tidak boleh mengabaikannya. Begitu pula terhadap hal-hal yang membahayakan, tidak boleh mengabaikannya. Kecuali pada tiga perkara tersebut. Selain itu, hendaknya seseorang pandai memaklumi. Kadang seseorang tampak seolah-olah pura-pura tidak tahu, tapi ia berusaha menanganinya dengan cerdas. Mungkin ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai. Secara lahir, ia tampak tidak mempermasalahkannya. Namun, ia berusaha menanganinya dengan cara yang lain. Ia menanganinya dengan cara lain. Suatu kali, ada seseorang bercerita. Ia mengatakan bahwa ia menikahi seorang wanita. Istrinya tidak memberi garam pada makanan. Ia berkata, “Padahal aku tidak suka makan tanpa garam.” Ia berkata, “Aku tidak langsung mengatakannya kepada istriku.” “Aku bersabar sebentar, pada awal-awal ia menyajikan makanan,” katanya. “Lalu aku bercerita seakan-akan ada orang malang yang mengadu dan mengeluh,” ujarnya. “Aku katakan pada orang itu, ‘Semoga Allah menolongmu dan mengaruniakan istri baik yang memahami apa yang engkau sukai.’” Ia bilang bahwa istrinya akhirnya paham. Istrinya pun menyelesaikan masalah itu. Wahai saudara-saudaraku, sikap pura-pura tidak tahu dan memaklumi hal kecil (At-Taghaful) adalah garam kehidupan. Siapa yang tidak pandai memaklumi orang lain, hidupnya tidak akan terasa nyaman. Namun, tidak boleh abai terhadap perbuatan mungkar. Tidak pula dalam hal meninggalkan kewajiban. Dan tidak pula dalam hal yang membahayakan. Kecuali 3 hal itu, lautan At-Taghaful dalam kehidupan ini sangat luas. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi saya dan kalian pemahaman dalam agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kepada saya dan kalian kehidupan yang baik. Semoga Allah menjadikan saya dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menjadikan ucapan dan perbuatan kita sebagai hal yang membahagiakan kita saat bertemu dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ: مَا هُوَ الضَّابِطُ فِي التَّغَافُلِ عَنِ الزَّوْجَةِ؟ وَمَا هِيَ الطَّرِيقَةُ الْقَوِيمَةُ لِتَجَنُّبِ النِّزَاعِ؟ الَّذِي يَسْأَلُ هَذَا السُّؤَالَ مَا يُرِيدُ أَنْ يَتَغَافَلَ التَّغَافُلُ لَا حَدَّ لَهُ فِي الْحَيَاةِ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ وَتَرْكِ الْوَاجِبَاتِ كَمَا قَالَ السَّلَفُ: التَّغَافُلُ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْحَيَاةِ مَعَ كُلِّ النَّاسِ إِذَا لَمْ تُعْمِلِ التَّغَافُلَ سَتَشْقَى وَتُشْقِي وَالتَّغَافُلُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوْ تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوِ الْأُمُورِ الضَّارَّةِ فَلَا تَغَافُلَ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ وَغَيْرُ ذَلِكَ يُعْمِلُ الْإِنْسَانُ التَّغَافُلَ وَقَدْ يَتَغَافَلُ الْإِنْسَانُ فِي الظَّاهِرِ وَلَكِنَّهُ يَتَصَرَّفُ بِذَكَاءٍ قَدْ يَرَى شَيْئًا أَوْ هُنَاكَ شَيْءٌ مَا يُعْجِبُهُ فَيَتَغَافَلُ فِي الظَّاهِرِ لَكِنْ يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى مَرَّةً أَحَدُ الْإِخْوَةِ يَحْكِي يَقُولُ: أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَا تَضَعُ فِي الطَّعَامِ مِلْحًا يَقُولُ: وَأَنَا لَا أُحِبُّ الْأَكْلَ بِلَا مِلْحٍ يَقُولُ: مَا قُلْتُ لَهَا يَقُولُ: صَبَرْتُ قَلِيلًا، أَوَّلَ مَا تَضَعُ قَالَ: يَعْنِي فَالْمِسْكِينُ يَشْتَكِي وَكَذَا وَقُلْتُ لَهُ: يَعْنِي أَعَانَكَ اللَّهُ وَاللَّهُ يَرْزُقُكَ امْرَأَةً طَيِّبَةً تَعْرِفُ مَا تُحِبُّ وَكَذَا قَالَ: فَالْمَرْأَةُ فَهِمَتْ وَأَصْلَحَتِ الْمَوْضُوعَ يَا إِخْوَةُ، التَّغَافُلُ مِلْحُ الْحَيَاةِ مَنْ لَمْ يَتَغَافَلْ مَعَ النَّاسِ لَنْ تَطِيبَ لَهُ الْحَيَاةُ لَكِنْ لَا تَغَافُلَ فِي فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَلَا فِي تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ وَلَا فِيمَا يَضُرُّ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَبَحْرُ التَّغَافُلِ وَاسِعٌ فِيهَا أَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُفَقِّهَنِي وَإِيَّاكُمْ فِي دِينِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنِي وَإِيَّاكُمْ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ وَأَنْ يَجْعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَنْ يَجْعَلَ مَا نَقُولُهُ وَنَفْعَلُهُ مِمَّا يَسُرُّنَا عِنْدَ لِقَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Rahasia Rumah Tangga Tenang – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada yang bertanya: apa batasan At-Taghaful terhadap kesalahan istri? Apa cara yang benar untuk menghindari perselisihan? Orang yang bertanya ini, (sepertinya) tidak ingin bersikap At-Taghaful. Dalam kehidupan, sikap memaklumi itu tidaklah terbatas. Kecuali dalam perkara mungkar dan meninggalkan kewajiban. Sebagaimana ucapan para salaf, “At-Taghaful itu sembilan persepuluh kehidupan.” Ini berlaku untuk semua orang. Jika engkau tidak pandai memaklumi, engkau akan menderita dan membuat orang lain menderita. Sikap memaklumi ini tidak ada batasnya. Kecuali terhadap perbuatan mungkar, maka tidak boleh mengabaikannya. Terhadap kewajiban yang ditinggalkan, juga tidak boleh mengabaikannya. Begitu pula terhadap hal-hal yang membahayakan, tidak boleh mengabaikannya. Kecuali pada tiga perkara tersebut. Selain itu, hendaknya seseorang pandai memaklumi. Kadang seseorang tampak seolah-olah pura-pura tidak tahu, tapi ia berusaha menanganinya dengan cerdas. Mungkin ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai. Secara lahir, ia tampak tidak mempermasalahkannya. Namun, ia berusaha menanganinya dengan cara yang lain. Ia menanganinya dengan cara lain. Suatu kali, ada seseorang bercerita. Ia mengatakan bahwa ia menikahi seorang wanita. Istrinya tidak memberi garam pada makanan. Ia berkata, “Padahal aku tidak suka makan tanpa garam.” Ia berkata, “Aku tidak langsung mengatakannya kepada istriku.” “Aku bersabar sebentar, pada awal-awal ia menyajikan makanan,” katanya. “Lalu aku bercerita seakan-akan ada orang malang yang mengadu dan mengeluh,” ujarnya. “Aku katakan pada orang itu, ‘Semoga Allah menolongmu dan mengaruniakan istri baik yang memahami apa yang engkau sukai.’” Ia bilang bahwa istrinya akhirnya paham. Istrinya pun menyelesaikan masalah itu. Wahai saudara-saudaraku, sikap pura-pura tidak tahu dan memaklumi hal kecil (At-Taghaful) adalah garam kehidupan. Siapa yang tidak pandai memaklumi orang lain, hidupnya tidak akan terasa nyaman. Namun, tidak boleh abai terhadap perbuatan mungkar. Tidak pula dalam hal meninggalkan kewajiban. Dan tidak pula dalam hal yang membahayakan. Kecuali 3 hal itu, lautan At-Taghaful dalam kehidupan ini sangat luas. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi saya dan kalian pemahaman dalam agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kepada saya dan kalian kehidupan yang baik. Semoga Allah menjadikan saya dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menjadikan ucapan dan perbuatan kita sebagai hal yang membahagiakan kita saat bertemu dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ: مَا هُوَ الضَّابِطُ فِي التَّغَافُلِ عَنِ الزَّوْجَةِ؟ وَمَا هِيَ الطَّرِيقَةُ الْقَوِيمَةُ لِتَجَنُّبِ النِّزَاعِ؟ الَّذِي يَسْأَلُ هَذَا السُّؤَالَ مَا يُرِيدُ أَنْ يَتَغَافَلَ التَّغَافُلُ لَا حَدَّ لَهُ فِي الْحَيَاةِ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ وَتَرْكِ الْوَاجِبَاتِ كَمَا قَالَ السَّلَفُ: التَّغَافُلُ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْحَيَاةِ مَعَ كُلِّ النَّاسِ إِذَا لَمْ تُعْمِلِ التَّغَافُلَ سَتَشْقَى وَتُشْقِي وَالتَّغَافُلُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوْ تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوِ الْأُمُورِ الضَّارَّةِ فَلَا تَغَافُلَ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ وَغَيْرُ ذَلِكَ يُعْمِلُ الْإِنْسَانُ التَّغَافُلَ وَقَدْ يَتَغَافَلُ الْإِنْسَانُ فِي الظَّاهِرِ وَلَكِنَّهُ يَتَصَرَّفُ بِذَكَاءٍ قَدْ يَرَى شَيْئًا أَوْ هُنَاكَ شَيْءٌ مَا يُعْجِبُهُ فَيَتَغَافَلُ فِي الظَّاهِرِ لَكِنْ يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى مَرَّةً أَحَدُ الْإِخْوَةِ يَحْكِي يَقُولُ: أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَا تَضَعُ فِي الطَّعَامِ مِلْحًا يَقُولُ: وَأَنَا لَا أُحِبُّ الْأَكْلَ بِلَا مِلْحٍ يَقُولُ: مَا قُلْتُ لَهَا يَقُولُ: صَبَرْتُ قَلِيلًا، أَوَّلَ مَا تَضَعُ قَالَ: يَعْنِي فَالْمِسْكِينُ يَشْتَكِي وَكَذَا وَقُلْتُ لَهُ: يَعْنِي أَعَانَكَ اللَّهُ وَاللَّهُ يَرْزُقُكَ امْرَأَةً طَيِّبَةً تَعْرِفُ مَا تُحِبُّ وَكَذَا قَالَ: فَالْمَرْأَةُ فَهِمَتْ وَأَصْلَحَتِ الْمَوْضُوعَ يَا إِخْوَةُ، التَّغَافُلُ مِلْحُ الْحَيَاةِ مَنْ لَمْ يَتَغَافَلْ مَعَ النَّاسِ لَنْ تَطِيبَ لَهُ الْحَيَاةُ لَكِنْ لَا تَغَافُلَ فِي فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَلَا فِي تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ وَلَا فِيمَا يَضُرُّ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَبَحْرُ التَّغَافُلِ وَاسِعٌ فِيهَا أَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُفَقِّهَنِي وَإِيَّاكُمْ فِي دِينِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنِي وَإِيَّاكُمْ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ وَأَنْ يَجْعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَنْ يَجْعَلَ مَا نَقُولُهُ وَنَفْعَلُهُ مِمَّا يَسُرُّنَا عِنْدَ لِقَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada yang bertanya: apa batasan At-Taghaful terhadap kesalahan istri? Apa cara yang benar untuk menghindari perselisihan? Orang yang bertanya ini, (sepertinya) tidak ingin bersikap At-Taghaful. Dalam kehidupan, sikap memaklumi itu tidaklah terbatas. Kecuali dalam perkara mungkar dan meninggalkan kewajiban. Sebagaimana ucapan para salaf, “At-Taghaful itu sembilan persepuluh kehidupan.” Ini berlaku untuk semua orang. Jika engkau tidak pandai memaklumi, engkau akan menderita dan membuat orang lain menderita. Sikap memaklumi ini tidak ada batasnya. Kecuali terhadap perbuatan mungkar, maka tidak boleh mengabaikannya. Terhadap kewajiban yang ditinggalkan, juga tidak boleh mengabaikannya. Begitu pula terhadap hal-hal yang membahayakan, tidak boleh mengabaikannya. Kecuali pada tiga perkara tersebut. Selain itu, hendaknya seseorang pandai memaklumi. Kadang seseorang tampak seolah-olah pura-pura tidak tahu, tapi ia berusaha menanganinya dengan cerdas. Mungkin ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai. Secara lahir, ia tampak tidak mempermasalahkannya. Namun, ia berusaha menanganinya dengan cara yang lain. Ia menanganinya dengan cara lain. Suatu kali, ada seseorang bercerita. Ia mengatakan bahwa ia menikahi seorang wanita. Istrinya tidak memberi garam pada makanan. Ia berkata, “Padahal aku tidak suka makan tanpa garam.” Ia berkata, “Aku tidak langsung mengatakannya kepada istriku.” “Aku bersabar sebentar, pada awal-awal ia menyajikan makanan,” katanya. “Lalu aku bercerita seakan-akan ada orang malang yang mengadu dan mengeluh,” ujarnya. “Aku katakan pada orang itu, ‘Semoga Allah menolongmu dan mengaruniakan istri baik yang memahami apa yang engkau sukai.’” Ia bilang bahwa istrinya akhirnya paham. Istrinya pun menyelesaikan masalah itu. Wahai saudara-saudaraku, sikap pura-pura tidak tahu dan memaklumi hal kecil (At-Taghaful) adalah garam kehidupan. Siapa yang tidak pandai memaklumi orang lain, hidupnya tidak akan terasa nyaman. Namun, tidak boleh abai terhadap perbuatan mungkar. Tidak pula dalam hal meninggalkan kewajiban. Dan tidak pula dalam hal yang membahayakan. Kecuali 3 hal itu, lautan At-Taghaful dalam kehidupan ini sangat luas. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi saya dan kalian pemahaman dalam agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kepada saya dan kalian kehidupan yang baik. Semoga Allah menjadikan saya dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menjadikan ucapan dan perbuatan kita sebagai hal yang membahagiakan kita saat bertemu dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ: مَا هُوَ الضَّابِطُ فِي التَّغَافُلِ عَنِ الزَّوْجَةِ؟ وَمَا هِيَ الطَّرِيقَةُ الْقَوِيمَةُ لِتَجَنُّبِ النِّزَاعِ؟ الَّذِي يَسْأَلُ هَذَا السُّؤَالَ مَا يُرِيدُ أَنْ يَتَغَافَلَ التَّغَافُلُ لَا حَدَّ لَهُ فِي الْحَيَاةِ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ وَتَرْكِ الْوَاجِبَاتِ كَمَا قَالَ السَّلَفُ: التَّغَافُلُ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْحَيَاةِ مَعَ كُلِّ النَّاسِ إِذَا لَمْ تُعْمِلِ التَّغَافُلَ سَتَشْقَى وَتُشْقِي وَالتَّغَافُلُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوْ تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوِ الْأُمُورِ الضَّارَّةِ فَلَا تَغَافُلَ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ وَغَيْرُ ذَلِكَ يُعْمِلُ الْإِنْسَانُ التَّغَافُلَ وَقَدْ يَتَغَافَلُ الْإِنْسَانُ فِي الظَّاهِرِ وَلَكِنَّهُ يَتَصَرَّفُ بِذَكَاءٍ قَدْ يَرَى شَيْئًا أَوْ هُنَاكَ شَيْءٌ مَا يُعْجِبُهُ فَيَتَغَافَلُ فِي الظَّاهِرِ لَكِنْ يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى مَرَّةً أَحَدُ الْإِخْوَةِ يَحْكِي يَقُولُ: أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَا تَضَعُ فِي الطَّعَامِ مِلْحًا يَقُولُ: وَأَنَا لَا أُحِبُّ الْأَكْلَ بِلَا مِلْحٍ يَقُولُ: مَا قُلْتُ لَهَا يَقُولُ: صَبَرْتُ قَلِيلًا، أَوَّلَ مَا تَضَعُ قَالَ: يَعْنِي فَالْمِسْكِينُ يَشْتَكِي وَكَذَا وَقُلْتُ لَهُ: يَعْنِي أَعَانَكَ اللَّهُ وَاللَّهُ يَرْزُقُكَ امْرَأَةً طَيِّبَةً تَعْرِفُ مَا تُحِبُّ وَكَذَا قَالَ: فَالْمَرْأَةُ فَهِمَتْ وَأَصْلَحَتِ الْمَوْضُوعَ يَا إِخْوَةُ، التَّغَافُلُ مِلْحُ الْحَيَاةِ مَنْ لَمْ يَتَغَافَلْ مَعَ النَّاسِ لَنْ تَطِيبَ لَهُ الْحَيَاةُ لَكِنْ لَا تَغَافُلَ فِي فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَلَا فِي تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ وَلَا فِيمَا يَضُرُّ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَبَحْرُ التَّغَافُلِ وَاسِعٌ فِيهَا أَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُفَقِّهَنِي وَإِيَّاكُمْ فِي دِينِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنِي وَإِيَّاكُمْ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ وَأَنْ يَجْعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَنْ يَجْعَلَ مَا نَقُولُهُ وَنَفْعَلُهُ مِمَّا يَسُرُّنَا عِنْدَ لِقَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada yang bertanya: apa batasan At-Taghaful terhadap kesalahan istri? Apa cara yang benar untuk menghindari perselisihan? Orang yang bertanya ini, (sepertinya) tidak ingin bersikap At-Taghaful. Dalam kehidupan, sikap memaklumi itu tidaklah terbatas. Kecuali dalam perkara mungkar dan meninggalkan kewajiban. Sebagaimana ucapan para salaf, “At-Taghaful itu sembilan persepuluh kehidupan.” Ini berlaku untuk semua orang. Jika engkau tidak pandai memaklumi, engkau akan menderita dan membuat orang lain menderita. Sikap memaklumi ini tidak ada batasnya. Kecuali terhadap perbuatan mungkar, maka tidak boleh mengabaikannya. Terhadap kewajiban yang ditinggalkan, juga tidak boleh mengabaikannya. Begitu pula terhadap hal-hal yang membahayakan, tidak boleh mengabaikannya. Kecuali pada tiga perkara tersebut. Selain itu, hendaknya seseorang pandai memaklumi. Kadang seseorang tampak seolah-olah pura-pura tidak tahu, tapi ia berusaha menanganinya dengan cerdas. Mungkin ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai. Secara lahir, ia tampak tidak mempermasalahkannya. Namun, ia berusaha menanganinya dengan cara yang lain. Ia menanganinya dengan cara lain. Suatu kali, ada seseorang bercerita. Ia mengatakan bahwa ia menikahi seorang wanita. Istrinya tidak memberi garam pada makanan. Ia berkata, “Padahal aku tidak suka makan tanpa garam.” Ia berkata, “Aku tidak langsung mengatakannya kepada istriku.” “Aku bersabar sebentar, pada awal-awal ia menyajikan makanan,” katanya. “Lalu aku bercerita seakan-akan ada orang malang yang mengadu dan mengeluh,” ujarnya. “Aku katakan pada orang itu, ‘Semoga Allah menolongmu dan mengaruniakan istri baik yang memahami apa yang engkau sukai.’” Ia bilang bahwa istrinya akhirnya paham. Istrinya pun menyelesaikan masalah itu. Wahai saudara-saudaraku, sikap pura-pura tidak tahu dan memaklumi hal kecil (At-Taghaful) adalah garam kehidupan. Siapa yang tidak pandai memaklumi orang lain, hidupnya tidak akan terasa nyaman. Namun, tidak boleh abai terhadap perbuatan mungkar. Tidak pula dalam hal meninggalkan kewajiban. Dan tidak pula dalam hal yang membahayakan. Kecuali 3 hal itu, lautan At-Taghaful dalam kehidupan ini sangat luas. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi saya dan kalian pemahaman dalam agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kepada saya dan kalian kehidupan yang baik. Semoga Allah menjadikan saya dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menjadikan ucapan dan perbuatan kita sebagai hal yang membahagiakan kita saat bertemu dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita. ===== أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ: مَا هُوَ الضَّابِطُ فِي التَّغَافُلِ عَنِ الزَّوْجَةِ؟ وَمَا هِيَ الطَّرِيقَةُ الْقَوِيمَةُ لِتَجَنُّبِ النِّزَاعِ؟ الَّذِي يَسْأَلُ هَذَا السُّؤَالَ مَا يُرِيدُ أَنْ يَتَغَافَلَ التَّغَافُلُ لَا حَدَّ لَهُ فِي الْحَيَاةِ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ وَتَرْكِ الْوَاجِبَاتِ كَمَا قَالَ السَّلَفُ: التَّغَافُلُ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْحَيَاةِ مَعَ كُلِّ النَّاسِ إِذَا لَمْ تُعْمِلِ التَّغَافُلَ سَتَشْقَى وَتُشْقِي وَالتَّغَافُلُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوْ تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوِ الْأُمُورِ الضَّارَّةِ فَلَا تَغَافُلَ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ وَغَيْرُ ذَلِكَ يُعْمِلُ الْإِنْسَانُ التَّغَافُلَ وَقَدْ يَتَغَافَلُ الْإِنْسَانُ فِي الظَّاهِرِ وَلَكِنَّهُ يَتَصَرَّفُ بِذَكَاءٍ قَدْ يَرَى شَيْئًا أَوْ هُنَاكَ شَيْءٌ مَا يُعْجِبُهُ فَيَتَغَافَلُ فِي الظَّاهِرِ لَكِنْ يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى مَرَّةً أَحَدُ الْإِخْوَةِ يَحْكِي يَقُولُ: أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَا تَضَعُ فِي الطَّعَامِ مِلْحًا يَقُولُ: وَأَنَا لَا أُحِبُّ الْأَكْلَ بِلَا مِلْحٍ يَقُولُ: مَا قُلْتُ لَهَا يَقُولُ: صَبَرْتُ قَلِيلًا، أَوَّلَ مَا تَضَعُ قَالَ: يَعْنِي فَالْمِسْكِينُ يَشْتَكِي وَكَذَا وَقُلْتُ لَهُ: يَعْنِي أَعَانَكَ اللَّهُ وَاللَّهُ يَرْزُقُكَ امْرَأَةً طَيِّبَةً تَعْرِفُ مَا تُحِبُّ وَكَذَا قَالَ: فَالْمَرْأَةُ فَهِمَتْ وَأَصْلَحَتِ الْمَوْضُوعَ يَا إِخْوَةُ، التَّغَافُلُ مِلْحُ الْحَيَاةِ مَنْ لَمْ يَتَغَافَلْ مَعَ النَّاسِ لَنْ تَطِيبَ لَهُ الْحَيَاةُ لَكِنْ لَا تَغَافُلَ فِي فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَلَا فِي تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ وَلَا فِيمَا يَضُرُّ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَبَحْرُ التَّغَافُلِ وَاسِعٌ فِيهَا أَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُفَقِّهَنِي وَإِيَّاكُمْ فِي دِينِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنِي وَإِيَّاكُمْ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ وَأَنْ يَجْعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَنْ يَجْعَلَ مَا نَقُولُهُ وَنَفْعَلُهُ مِمَّا يَسُرُّنَا عِنْدَ لِقَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Biografi Ibnu Hibban

Daftar Isi ToggleNamaKelahiranPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridKarya-karyaFitnah yang menimpa Ibnu HibbanPujian para ulamaWafatNamaBeliau adalah seorang imam besar dan ulama terkemuka, hafizh hadis yang sangat teliti dan kuat hafalannya, serta dikenal sebagai Syekh Khurasan. Nama lengkapnya adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu‘adz bin Ma‘bad bin Suhaid bin Hadiyah bin Murrah bin Sa‘d bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim At-Tamimi Al-Busti. Nasabnya bersambung kepada kabilah Bani Tamim. Ia dikenal sebagai penulis banyak karya ilmiah (shahib at-tashanif) yang bernilai tinggi dalam bidang hadis dan ilmu-ilmunya.KelahiranBeliau rahimahullah lahir di kota Bust, wilayah Sijistan, sekitar tahun 270 H.Perjalanan menuntut ilmuIbnu Hibban mulai menuntut ilmu sekitar tahun 300 H dan sejak awal menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mempelajari hadis. Ia melakukan perjalanan ilmiah yang sangat luas dan panjang, bahkan berlangsung hampir empat puluh tahun. Perjalanannya membentang dari wilayah Syasy di Asia Tengah hingga Iskandariyah di Mesir. Ia mengunjungi Khurasan, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Naisabur, serta negeri-negeri di seberang Sungai Oxus (kini wilayah Uzbekistan). Disebutkan bahwa ia memasuki sekitar lima puluh kota, dan di setiap kota itu ia memiliki sejumlah guru.Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak imam besar dan ulama terkemuka serta memperoleh sanad-sanad yang tinggi. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab, Imam An-Nasa’i, dan Ja‘far bin Ahmad di Damaskus. Bahkan disebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ribu guru, menunjukkan betapa luas jaringan keilmuannya.Selain menuntut ilmu, ia juga aktif mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu dan membimbing masyarakat dalam memahami agama. Di beberapa tempat seperti Samarkand, Naisabur, dan Nasa di wilayah Khurasan, ia pernah menjabat sebagai qadhi (hakim). Setelah menyelesaikan perjalanan ilmiahnya, ia kembali ke Naisabur, lalu pulang ke kampung halamannya di Bust. Di sanalah ia menetap dan menyelesaikan karya-karya ilmiahnya hingga akhir hayatnya. Kesungguhan belajar, banyaknya guru yang ia temui, serta luasnya perjalanan ilmiahnya menjadikannya salah satu ulama besar dalam bidang hadis.Guru-guruDi antara guru-guru Ibnu Hibban adalah Al-Husain bin Idris Al-Harawi, Abu Khalifah Al-Jumahi, Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i, Imran bin Musa bin Mujasyi‘, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya‘la Al-Maushili, Ahmad bin Al-Hasan Ash-Shufi, Ja‘far bin Ahmad Ad-Dimasyqi, dan Abu Bakar bin Khuzaimah. Selain mereka, masih banyak lagi guru lainnya yang jumlahnya sangat banyak, dari wilayah Mesir hingga Khurasan. Hal ini menunjukkan luasnya perjalanan ilmiah dan banyaknya ulama yang menjadi sumber ilmu baginya.Murid-muridDi antara murid-murid Ibnu Hibban adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Manshur bin Abdullah Al-Khalidi, Abu Mu‘adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah, Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zuzani, dan Muhammad bin Ahmad bin Manshur An-Nauqati, serta banyak lagi lainnya. Mereka termasuk para ulama yang kemudian turut menyebarkan dan mengembangkan ilmu hadis.Karya-karyaIbnu Hibban رحمه الله memiliki sangat banyak karya ilmiah dalam berbagai bidang, terutama hadis dan ilmu-ilmunya. Namun, sangat disayangkan karena sebagian besar karyanya telah hilang dan yang tersisa hingga sekarang hanya sedikit. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Anwa‘ wat-Taqasim, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban atau Al-Musnad Ash-Shahih. Kitab ini disusun dengan sistem yang rapi dan khusus, meskipun cukup sulit dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar menguasai metodenya. Dalam mukadimah kitab tersebut, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa ia hanya meriwayatkan hadis dari perawi yang memenuhi lima syarat, yaitu adil dalam agama dan berakhlak baik, dikenal jujur dalam meriwayatkan hadis, memiliki pemahaman yang baik terhadap hadis, mengetahui maknanya sehingga tidak salah dalam menyampaikannya, serta tidak melakukan tadlis (menyembunyikan cacat dalam sanad).Selain kitab tersebut, ia juga menulis banyak karya lain, seperti Tafsir Al-Qur’an, Al-Jarh wat-Ta‘dil, Ats-Tsiqat, Adh-Dhu‘afa’, berbagai kitab Al-‘Ilal (tentang cacat hadis), Al-Musnad fil Hadits, As-Sunan, Syu‘ab Al-Iman, Shifat Ash-Shalah, Raudhat Al-‘Uqala’, Al-Jam‘ bain Al-Akhbar Al-Mutadadhah, dan Al-Hidayah ila ‘Ilm As-Sunan. Ia juga menulis kitab tentang biografi dan perawi hadis, seperti Ash-Shahabah, At-Tabi‘in, Taba‘ At-Tabi‘in, Al-Mu‘jam ‘ala Al-Mudun, serta kitab-kitab yang membedakan nama-nama perawi yang mirip agar tidak tertukar. Selain itu, ia menyusun kitab tentang keutamaan para imam seperti Manaqib Asy-Syafi‘i dan Manaqib Malik.Banyaknya karya ini menunjukkan keluasan ilmu dan ketekunan Ibnu Hibban dalam menulis. Namun, sebagian besar kitabnya hilang karena kondisi zaman yang tidak stabil. Disebutkan bahwa ia pernah mewakafkan seluruh kitabnya untuk para penuntut ilmu di sebuah rumah, tetapi ketika terjadi kekacauan dan melemahnya kekuasaan, tempat tersebut dikuasai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak kitab-kitab beliau yang akhirnya hilang.Fitnah yang menimpa Ibnu HibbanUjian yang menimpa Imam Ibnu Hibban termasuk peristiwa yang sangat berat dan hampir membahayakan nyawanya serta mengancam warisan ilmunya. Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya kesalahan dalam memahami makna suatu kata dan menafsirkan ucapan seseorang dengan makna yang tidak ia maksudkan. Dalam hal ini, kita teringat perkataan Imam Malik,إذا قال الرجل قولا يحتمل الكفر من تسعة وتسعين وجهًا، والإيمان من وجه واحد حملناها على الإيمان“Jika suatu ucapan mengandung kemungkinan kufur dari sembilan puluh sembilan sisi dan kemungkinan iman dari satu sisi, maka kita harus membawanya kepada makna iman.”Perkataan ini sangat sesuai dengan ujian yang dialami oleh Ibnu Hibban. Kisahnya bermula ketika Ibnu Hibban sedang mengajar di Naisabur dan ditanya tentang makna kenabian. Ia menjawab,النبوة ((العلم والعمل))“Kenabian adalah ilmu dan amal.”Di majelis itu hadir beberapa penceramah, dan salah seorang dari mereka menuduhnya sebagai zindik karena dianggap berpendapat bahwa kenabian bisa diperoleh dengan usaha manusia. Suasana menjadi gaduh, orang-orang terpecah antara yang membela dan yang menuduh. Para penentangnya kemudian membuat laporan resmi, memvonisnya zindik, melarang orang menghadiri majelisnya, bahkan mengirim surat kepada khalifah Abbasiyah agar ia dihukum mati.Khalifah memerintahkan agar perkara itu diselidiki dan jika tuduhan itu benar, maka ia dihukum. Setelah melalui proses panjang, terbukti bahwa Ibnu Hibban tidak bersalah. Namun, ia tetap dipaksa meninggalkan Naisabur menuju Sijistan. Di sana pun fitnah masih mengikutinya. Seorang penceramah bernama Yahya bin ‘Ammar terus menghasut masyarakat terhadapnya hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Bust. Ia menetap di sana sampai wafatnya dalam keadaan sedih akibat tuduhan tersebut.Padahal, ucapan “Kenabian adalah ilmu dan amal” memiliki makna yang benar jika dipahami dengan tepat. Maksudnya adalah bahwa sifat dan tugas utama para Nabi adalah memiliki ilmu yang sempurna dan amal yang sempurna. Namun, tidak setiap orang yang berilmu dan beramal bisa menjadi Nabi, karena kenabian adalah pilihan dan anugerah khusus dari Allah, bukan sesuatu yang dapat diusahakan manusia.Kalimat ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji itu adalah Arafah,” yang menunjukkan pentingnya wukuf di Arafah, tetapi bukan berarti haji sah hanya dengan wukuf itu saja tanpa memenuhi rukun lainnya. Demikian pula ilmu dan amal adalah bagian penting dari kenabian, dan itulah yang dimaksud Ibnu Hibban.Fitnah ini mengingatkan pada ujian yang pernah dialami Imam Al-Bukhari. Semoga Allah merahmati kedua imam besar ini, meninggikan derajat mereka, dan menjadikan umat Islam mampu menjaga kehormatan para ulama dari tuduhan dan fitnah yang tidak benar.Pujian para ulamaIbnu Hibban memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu hadis. Ia termasuk ulama besar yang sampai-sampai orang-orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengar langsung kitab-kitab dan sanad-sanadnya. Keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ulama sezamannya maupun generasi setelahnya.Muridnya sendiri, Abu Abdullah Al-Hakim yang merupakan seorang ulama besar hadis dan penulis kitab Al-Mustadrak, memuji beliau dengan mengatakan,كان ابن حبان من أوعية العلم في الفقه واللغة، والحديث والوعظ، ومن عقلاء الرجال“Ibnu Hibban adalah salah satu gudang ilmu dalam bidang fikih, bahasa, hadis, dan nasihat (dakwah). Ia juga termasuk orang yang cerdas dan bijaksana.”Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Hibban dengan mengatakan,الإمام العلامة، الحافظ المجوِّد، شيخ خراسان“Ia adalah seorang imam besar, ulama yang sangat berilmu, hafizh yang teliti dan kuat hafalannya, serta Syekh Khurasan.”Al-Hafizh Abu Sa‘d Al-Idrisi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان من فقهاء الدين، وحفاظ الآثار، عالما بالطب وبالنجوم [يقصد الفلك] وفتون العلم، وقد صنف المسند الصحيح، وقد تولى قضاء سمرقند زمانًا؛ فنشر الفقه والعلم هناك بين الناس“Ia termasuk ulama besar dalam agama, hafizh dalam hadis, serta memiliki pengetahuan tentang ilmu kedokteran dan ilmu bintang (astronomi), juga menguasai berbagai cabang ilmu. Ia menyusun kitab Al-Musnad Ash-Shahih, dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Samarkand untuk beberapa waktu. Di sana ia menyebarkan ilmu fikih dan ilmu agama di tengah masyarakat.”Al-Khatib Al-Baghdadi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان ثقة نبيلا فهمًا“Ia adalah seorang yang terpercaya (tsiqah), mulia, dan memiliki pemahaman yang baik.”Sebagian ulama juga berpendapat bahwa jika Ibnu Hibban tidak memasukkan sebagian perawi yang tidak dikenal (majhul) sebagai perawi terpercaya dalam kitab Musnad-nya, maka kedudukan kitab tersebut bisa saja sejajar dengan enam kitab hadis yang terkenal (Kutubus Sittah). Bahkan, hal itu mungkin akan semakin meninggikan posisi dan kedudukannya di antara para ulama hadis.WafatImam Abu Hatim Ibnu Hibban رحمه الله wafat pada bulan Syawal tahun 354 H. Saat itu, usianya sekitar delapan puluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan balasan berupa surga-Nya.Baca juga: Biografi Abdullah bin Al Mubarak***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari :[1] Alukah.net[2] Ketabonline.com[3] Mawdoo3.com[4] Arab-ency.com.sy

Biografi Ibnu Hibban

Daftar Isi ToggleNamaKelahiranPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridKarya-karyaFitnah yang menimpa Ibnu HibbanPujian para ulamaWafatNamaBeliau adalah seorang imam besar dan ulama terkemuka, hafizh hadis yang sangat teliti dan kuat hafalannya, serta dikenal sebagai Syekh Khurasan. Nama lengkapnya adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu‘adz bin Ma‘bad bin Suhaid bin Hadiyah bin Murrah bin Sa‘d bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim At-Tamimi Al-Busti. Nasabnya bersambung kepada kabilah Bani Tamim. Ia dikenal sebagai penulis banyak karya ilmiah (shahib at-tashanif) yang bernilai tinggi dalam bidang hadis dan ilmu-ilmunya.KelahiranBeliau rahimahullah lahir di kota Bust, wilayah Sijistan, sekitar tahun 270 H.Perjalanan menuntut ilmuIbnu Hibban mulai menuntut ilmu sekitar tahun 300 H dan sejak awal menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mempelajari hadis. Ia melakukan perjalanan ilmiah yang sangat luas dan panjang, bahkan berlangsung hampir empat puluh tahun. Perjalanannya membentang dari wilayah Syasy di Asia Tengah hingga Iskandariyah di Mesir. Ia mengunjungi Khurasan, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Naisabur, serta negeri-negeri di seberang Sungai Oxus (kini wilayah Uzbekistan). Disebutkan bahwa ia memasuki sekitar lima puluh kota, dan di setiap kota itu ia memiliki sejumlah guru.Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak imam besar dan ulama terkemuka serta memperoleh sanad-sanad yang tinggi. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab, Imam An-Nasa’i, dan Ja‘far bin Ahmad di Damaskus. Bahkan disebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ribu guru, menunjukkan betapa luas jaringan keilmuannya.Selain menuntut ilmu, ia juga aktif mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu dan membimbing masyarakat dalam memahami agama. Di beberapa tempat seperti Samarkand, Naisabur, dan Nasa di wilayah Khurasan, ia pernah menjabat sebagai qadhi (hakim). Setelah menyelesaikan perjalanan ilmiahnya, ia kembali ke Naisabur, lalu pulang ke kampung halamannya di Bust. Di sanalah ia menetap dan menyelesaikan karya-karya ilmiahnya hingga akhir hayatnya. Kesungguhan belajar, banyaknya guru yang ia temui, serta luasnya perjalanan ilmiahnya menjadikannya salah satu ulama besar dalam bidang hadis.Guru-guruDi antara guru-guru Ibnu Hibban adalah Al-Husain bin Idris Al-Harawi, Abu Khalifah Al-Jumahi, Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i, Imran bin Musa bin Mujasyi‘, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya‘la Al-Maushili, Ahmad bin Al-Hasan Ash-Shufi, Ja‘far bin Ahmad Ad-Dimasyqi, dan Abu Bakar bin Khuzaimah. Selain mereka, masih banyak lagi guru lainnya yang jumlahnya sangat banyak, dari wilayah Mesir hingga Khurasan. Hal ini menunjukkan luasnya perjalanan ilmiah dan banyaknya ulama yang menjadi sumber ilmu baginya.Murid-muridDi antara murid-murid Ibnu Hibban adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Manshur bin Abdullah Al-Khalidi, Abu Mu‘adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah, Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zuzani, dan Muhammad bin Ahmad bin Manshur An-Nauqati, serta banyak lagi lainnya. Mereka termasuk para ulama yang kemudian turut menyebarkan dan mengembangkan ilmu hadis.Karya-karyaIbnu Hibban رحمه الله memiliki sangat banyak karya ilmiah dalam berbagai bidang, terutama hadis dan ilmu-ilmunya. Namun, sangat disayangkan karena sebagian besar karyanya telah hilang dan yang tersisa hingga sekarang hanya sedikit. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Anwa‘ wat-Taqasim, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban atau Al-Musnad Ash-Shahih. Kitab ini disusun dengan sistem yang rapi dan khusus, meskipun cukup sulit dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar menguasai metodenya. Dalam mukadimah kitab tersebut, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa ia hanya meriwayatkan hadis dari perawi yang memenuhi lima syarat, yaitu adil dalam agama dan berakhlak baik, dikenal jujur dalam meriwayatkan hadis, memiliki pemahaman yang baik terhadap hadis, mengetahui maknanya sehingga tidak salah dalam menyampaikannya, serta tidak melakukan tadlis (menyembunyikan cacat dalam sanad).Selain kitab tersebut, ia juga menulis banyak karya lain, seperti Tafsir Al-Qur’an, Al-Jarh wat-Ta‘dil, Ats-Tsiqat, Adh-Dhu‘afa’, berbagai kitab Al-‘Ilal (tentang cacat hadis), Al-Musnad fil Hadits, As-Sunan, Syu‘ab Al-Iman, Shifat Ash-Shalah, Raudhat Al-‘Uqala’, Al-Jam‘ bain Al-Akhbar Al-Mutadadhah, dan Al-Hidayah ila ‘Ilm As-Sunan. Ia juga menulis kitab tentang biografi dan perawi hadis, seperti Ash-Shahabah, At-Tabi‘in, Taba‘ At-Tabi‘in, Al-Mu‘jam ‘ala Al-Mudun, serta kitab-kitab yang membedakan nama-nama perawi yang mirip agar tidak tertukar. Selain itu, ia menyusun kitab tentang keutamaan para imam seperti Manaqib Asy-Syafi‘i dan Manaqib Malik.Banyaknya karya ini menunjukkan keluasan ilmu dan ketekunan Ibnu Hibban dalam menulis. Namun, sebagian besar kitabnya hilang karena kondisi zaman yang tidak stabil. Disebutkan bahwa ia pernah mewakafkan seluruh kitabnya untuk para penuntut ilmu di sebuah rumah, tetapi ketika terjadi kekacauan dan melemahnya kekuasaan, tempat tersebut dikuasai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak kitab-kitab beliau yang akhirnya hilang.Fitnah yang menimpa Ibnu HibbanUjian yang menimpa Imam Ibnu Hibban termasuk peristiwa yang sangat berat dan hampir membahayakan nyawanya serta mengancam warisan ilmunya. Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya kesalahan dalam memahami makna suatu kata dan menafsirkan ucapan seseorang dengan makna yang tidak ia maksudkan. Dalam hal ini, kita teringat perkataan Imam Malik,إذا قال الرجل قولا يحتمل الكفر من تسعة وتسعين وجهًا، والإيمان من وجه واحد حملناها على الإيمان“Jika suatu ucapan mengandung kemungkinan kufur dari sembilan puluh sembilan sisi dan kemungkinan iman dari satu sisi, maka kita harus membawanya kepada makna iman.”Perkataan ini sangat sesuai dengan ujian yang dialami oleh Ibnu Hibban. Kisahnya bermula ketika Ibnu Hibban sedang mengajar di Naisabur dan ditanya tentang makna kenabian. Ia menjawab,النبوة ((العلم والعمل))“Kenabian adalah ilmu dan amal.”Di majelis itu hadir beberapa penceramah, dan salah seorang dari mereka menuduhnya sebagai zindik karena dianggap berpendapat bahwa kenabian bisa diperoleh dengan usaha manusia. Suasana menjadi gaduh, orang-orang terpecah antara yang membela dan yang menuduh. Para penentangnya kemudian membuat laporan resmi, memvonisnya zindik, melarang orang menghadiri majelisnya, bahkan mengirim surat kepada khalifah Abbasiyah agar ia dihukum mati.Khalifah memerintahkan agar perkara itu diselidiki dan jika tuduhan itu benar, maka ia dihukum. Setelah melalui proses panjang, terbukti bahwa Ibnu Hibban tidak bersalah. Namun, ia tetap dipaksa meninggalkan Naisabur menuju Sijistan. Di sana pun fitnah masih mengikutinya. Seorang penceramah bernama Yahya bin ‘Ammar terus menghasut masyarakat terhadapnya hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Bust. Ia menetap di sana sampai wafatnya dalam keadaan sedih akibat tuduhan tersebut.Padahal, ucapan “Kenabian adalah ilmu dan amal” memiliki makna yang benar jika dipahami dengan tepat. Maksudnya adalah bahwa sifat dan tugas utama para Nabi adalah memiliki ilmu yang sempurna dan amal yang sempurna. Namun, tidak setiap orang yang berilmu dan beramal bisa menjadi Nabi, karena kenabian adalah pilihan dan anugerah khusus dari Allah, bukan sesuatu yang dapat diusahakan manusia.Kalimat ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji itu adalah Arafah,” yang menunjukkan pentingnya wukuf di Arafah, tetapi bukan berarti haji sah hanya dengan wukuf itu saja tanpa memenuhi rukun lainnya. Demikian pula ilmu dan amal adalah bagian penting dari kenabian, dan itulah yang dimaksud Ibnu Hibban.Fitnah ini mengingatkan pada ujian yang pernah dialami Imam Al-Bukhari. Semoga Allah merahmati kedua imam besar ini, meninggikan derajat mereka, dan menjadikan umat Islam mampu menjaga kehormatan para ulama dari tuduhan dan fitnah yang tidak benar.Pujian para ulamaIbnu Hibban memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu hadis. Ia termasuk ulama besar yang sampai-sampai orang-orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengar langsung kitab-kitab dan sanad-sanadnya. Keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ulama sezamannya maupun generasi setelahnya.Muridnya sendiri, Abu Abdullah Al-Hakim yang merupakan seorang ulama besar hadis dan penulis kitab Al-Mustadrak, memuji beliau dengan mengatakan,كان ابن حبان من أوعية العلم في الفقه واللغة، والحديث والوعظ، ومن عقلاء الرجال“Ibnu Hibban adalah salah satu gudang ilmu dalam bidang fikih, bahasa, hadis, dan nasihat (dakwah). Ia juga termasuk orang yang cerdas dan bijaksana.”Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Hibban dengan mengatakan,الإمام العلامة، الحافظ المجوِّد، شيخ خراسان“Ia adalah seorang imam besar, ulama yang sangat berilmu, hafizh yang teliti dan kuat hafalannya, serta Syekh Khurasan.”Al-Hafizh Abu Sa‘d Al-Idrisi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان من فقهاء الدين، وحفاظ الآثار، عالما بالطب وبالنجوم [يقصد الفلك] وفتون العلم، وقد صنف المسند الصحيح، وقد تولى قضاء سمرقند زمانًا؛ فنشر الفقه والعلم هناك بين الناس“Ia termasuk ulama besar dalam agama, hafizh dalam hadis, serta memiliki pengetahuan tentang ilmu kedokteran dan ilmu bintang (astronomi), juga menguasai berbagai cabang ilmu. Ia menyusun kitab Al-Musnad Ash-Shahih, dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Samarkand untuk beberapa waktu. Di sana ia menyebarkan ilmu fikih dan ilmu agama di tengah masyarakat.”Al-Khatib Al-Baghdadi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان ثقة نبيلا فهمًا“Ia adalah seorang yang terpercaya (tsiqah), mulia, dan memiliki pemahaman yang baik.”Sebagian ulama juga berpendapat bahwa jika Ibnu Hibban tidak memasukkan sebagian perawi yang tidak dikenal (majhul) sebagai perawi terpercaya dalam kitab Musnad-nya, maka kedudukan kitab tersebut bisa saja sejajar dengan enam kitab hadis yang terkenal (Kutubus Sittah). Bahkan, hal itu mungkin akan semakin meninggikan posisi dan kedudukannya di antara para ulama hadis.WafatImam Abu Hatim Ibnu Hibban رحمه الله wafat pada bulan Syawal tahun 354 H. Saat itu, usianya sekitar delapan puluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan balasan berupa surga-Nya.Baca juga: Biografi Abdullah bin Al Mubarak***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari :[1] Alukah.net[2] Ketabonline.com[3] Mawdoo3.com[4] Arab-ency.com.sy
Daftar Isi ToggleNamaKelahiranPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridKarya-karyaFitnah yang menimpa Ibnu HibbanPujian para ulamaWafatNamaBeliau adalah seorang imam besar dan ulama terkemuka, hafizh hadis yang sangat teliti dan kuat hafalannya, serta dikenal sebagai Syekh Khurasan. Nama lengkapnya adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu‘adz bin Ma‘bad bin Suhaid bin Hadiyah bin Murrah bin Sa‘d bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim At-Tamimi Al-Busti. Nasabnya bersambung kepada kabilah Bani Tamim. Ia dikenal sebagai penulis banyak karya ilmiah (shahib at-tashanif) yang bernilai tinggi dalam bidang hadis dan ilmu-ilmunya.KelahiranBeliau rahimahullah lahir di kota Bust, wilayah Sijistan, sekitar tahun 270 H.Perjalanan menuntut ilmuIbnu Hibban mulai menuntut ilmu sekitar tahun 300 H dan sejak awal menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mempelajari hadis. Ia melakukan perjalanan ilmiah yang sangat luas dan panjang, bahkan berlangsung hampir empat puluh tahun. Perjalanannya membentang dari wilayah Syasy di Asia Tengah hingga Iskandariyah di Mesir. Ia mengunjungi Khurasan, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Naisabur, serta negeri-negeri di seberang Sungai Oxus (kini wilayah Uzbekistan). Disebutkan bahwa ia memasuki sekitar lima puluh kota, dan di setiap kota itu ia memiliki sejumlah guru.Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak imam besar dan ulama terkemuka serta memperoleh sanad-sanad yang tinggi. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab, Imam An-Nasa’i, dan Ja‘far bin Ahmad di Damaskus. Bahkan disebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ribu guru, menunjukkan betapa luas jaringan keilmuannya.Selain menuntut ilmu, ia juga aktif mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu dan membimbing masyarakat dalam memahami agama. Di beberapa tempat seperti Samarkand, Naisabur, dan Nasa di wilayah Khurasan, ia pernah menjabat sebagai qadhi (hakim). Setelah menyelesaikan perjalanan ilmiahnya, ia kembali ke Naisabur, lalu pulang ke kampung halamannya di Bust. Di sanalah ia menetap dan menyelesaikan karya-karya ilmiahnya hingga akhir hayatnya. Kesungguhan belajar, banyaknya guru yang ia temui, serta luasnya perjalanan ilmiahnya menjadikannya salah satu ulama besar dalam bidang hadis.Guru-guruDi antara guru-guru Ibnu Hibban adalah Al-Husain bin Idris Al-Harawi, Abu Khalifah Al-Jumahi, Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i, Imran bin Musa bin Mujasyi‘, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya‘la Al-Maushili, Ahmad bin Al-Hasan Ash-Shufi, Ja‘far bin Ahmad Ad-Dimasyqi, dan Abu Bakar bin Khuzaimah. Selain mereka, masih banyak lagi guru lainnya yang jumlahnya sangat banyak, dari wilayah Mesir hingga Khurasan. Hal ini menunjukkan luasnya perjalanan ilmiah dan banyaknya ulama yang menjadi sumber ilmu baginya.Murid-muridDi antara murid-murid Ibnu Hibban adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Manshur bin Abdullah Al-Khalidi, Abu Mu‘adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah, Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zuzani, dan Muhammad bin Ahmad bin Manshur An-Nauqati, serta banyak lagi lainnya. Mereka termasuk para ulama yang kemudian turut menyebarkan dan mengembangkan ilmu hadis.Karya-karyaIbnu Hibban رحمه الله memiliki sangat banyak karya ilmiah dalam berbagai bidang, terutama hadis dan ilmu-ilmunya. Namun, sangat disayangkan karena sebagian besar karyanya telah hilang dan yang tersisa hingga sekarang hanya sedikit. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Anwa‘ wat-Taqasim, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban atau Al-Musnad Ash-Shahih. Kitab ini disusun dengan sistem yang rapi dan khusus, meskipun cukup sulit dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar menguasai metodenya. Dalam mukadimah kitab tersebut, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa ia hanya meriwayatkan hadis dari perawi yang memenuhi lima syarat, yaitu adil dalam agama dan berakhlak baik, dikenal jujur dalam meriwayatkan hadis, memiliki pemahaman yang baik terhadap hadis, mengetahui maknanya sehingga tidak salah dalam menyampaikannya, serta tidak melakukan tadlis (menyembunyikan cacat dalam sanad).Selain kitab tersebut, ia juga menulis banyak karya lain, seperti Tafsir Al-Qur’an, Al-Jarh wat-Ta‘dil, Ats-Tsiqat, Adh-Dhu‘afa’, berbagai kitab Al-‘Ilal (tentang cacat hadis), Al-Musnad fil Hadits, As-Sunan, Syu‘ab Al-Iman, Shifat Ash-Shalah, Raudhat Al-‘Uqala’, Al-Jam‘ bain Al-Akhbar Al-Mutadadhah, dan Al-Hidayah ila ‘Ilm As-Sunan. Ia juga menulis kitab tentang biografi dan perawi hadis, seperti Ash-Shahabah, At-Tabi‘in, Taba‘ At-Tabi‘in, Al-Mu‘jam ‘ala Al-Mudun, serta kitab-kitab yang membedakan nama-nama perawi yang mirip agar tidak tertukar. Selain itu, ia menyusun kitab tentang keutamaan para imam seperti Manaqib Asy-Syafi‘i dan Manaqib Malik.Banyaknya karya ini menunjukkan keluasan ilmu dan ketekunan Ibnu Hibban dalam menulis. Namun, sebagian besar kitabnya hilang karena kondisi zaman yang tidak stabil. Disebutkan bahwa ia pernah mewakafkan seluruh kitabnya untuk para penuntut ilmu di sebuah rumah, tetapi ketika terjadi kekacauan dan melemahnya kekuasaan, tempat tersebut dikuasai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak kitab-kitab beliau yang akhirnya hilang.Fitnah yang menimpa Ibnu HibbanUjian yang menimpa Imam Ibnu Hibban termasuk peristiwa yang sangat berat dan hampir membahayakan nyawanya serta mengancam warisan ilmunya. Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya kesalahan dalam memahami makna suatu kata dan menafsirkan ucapan seseorang dengan makna yang tidak ia maksudkan. Dalam hal ini, kita teringat perkataan Imam Malik,إذا قال الرجل قولا يحتمل الكفر من تسعة وتسعين وجهًا، والإيمان من وجه واحد حملناها على الإيمان“Jika suatu ucapan mengandung kemungkinan kufur dari sembilan puluh sembilan sisi dan kemungkinan iman dari satu sisi, maka kita harus membawanya kepada makna iman.”Perkataan ini sangat sesuai dengan ujian yang dialami oleh Ibnu Hibban. Kisahnya bermula ketika Ibnu Hibban sedang mengajar di Naisabur dan ditanya tentang makna kenabian. Ia menjawab,النبوة ((العلم والعمل))“Kenabian adalah ilmu dan amal.”Di majelis itu hadir beberapa penceramah, dan salah seorang dari mereka menuduhnya sebagai zindik karena dianggap berpendapat bahwa kenabian bisa diperoleh dengan usaha manusia. Suasana menjadi gaduh, orang-orang terpecah antara yang membela dan yang menuduh. Para penentangnya kemudian membuat laporan resmi, memvonisnya zindik, melarang orang menghadiri majelisnya, bahkan mengirim surat kepada khalifah Abbasiyah agar ia dihukum mati.Khalifah memerintahkan agar perkara itu diselidiki dan jika tuduhan itu benar, maka ia dihukum. Setelah melalui proses panjang, terbukti bahwa Ibnu Hibban tidak bersalah. Namun, ia tetap dipaksa meninggalkan Naisabur menuju Sijistan. Di sana pun fitnah masih mengikutinya. Seorang penceramah bernama Yahya bin ‘Ammar terus menghasut masyarakat terhadapnya hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Bust. Ia menetap di sana sampai wafatnya dalam keadaan sedih akibat tuduhan tersebut.Padahal, ucapan “Kenabian adalah ilmu dan amal” memiliki makna yang benar jika dipahami dengan tepat. Maksudnya adalah bahwa sifat dan tugas utama para Nabi adalah memiliki ilmu yang sempurna dan amal yang sempurna. Namun, tidak setiap orang yang berilmu dan beramal bisa menjadi Nabi, karena kenabian adalah pilihan dan anugerah khusus dari Allah, bukan sesuatu yang dapat diusahakan manusia.Kalimat ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji itu adalah Arafah,” yang menunjukkan pentingnya wukuf di Arafah, tetapi bukan berarti haji sah hanya dengan wukuf itu saja tanpa memenuhi rukun lainnya. Demikian pula ilmu dan amal adalah bagian penting dari kenabian, dan itulah yang dimaksud Ibnu Hibban.Fitnah ini mengingatkan pada ujian yang pernah dialami Imam Al-Bukhari. Semoga Allah merahmati kedua imam besar ini, meninggikan derajat mereka, dan menjadikan umat Islam mampu menjaga kehormatan para ulama dari tuduhan dan fitnah yang tidak benar.Pujian para ulamaIbnu Hibban memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu hadis. Ia termasuk ulama besar yang sampai-sampai orang-orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengar langsung kitab-kitab dan sanad-sanadnya. Keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ulama sezamannya maupun generasi setelahnya.Muridnya sendiri, Abu Abdullah Al-Hakim yang merupakan seorang ulama besar hadis dan penulis kitab Al-Mustadrak, memuji beliau dengan mengatakan,كان ابن حبان من أوعية العلم في الفقه واللغة، والحديث والوعظ، ومن عقلاء الرجال“Ibnu Hibban adalah salah satu gudang ilmu dalam bidang fikih, bahasa, hadis, dan nasihat (dakwah). Ia juga termasuk orang yang cerdas dan bijaksana.”Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Hibban dengan mengatakan,الإمام العلامة، الحافظ المجوِّد، شيخ خراسان“Ia adalah seorang imam besar, ulama yang sangat berilmu, hafizh yang teliti dan kuat hafalannya, serta Syekh Khurasan.”Al-Hafizh Abu Sa‘d Al-Idrisi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان من فقهاء الدين، وحفاظ الآثار، عالما بالطب وبالنجوم [يقصد الفلك] وفتون العلم، وقد صنف المسند الصحيح، وقد تولى قضاء سمرقند زمانًا؛ فنشر الفقه والعلم هناك بين الناس“Ia termasuk ulama besar dalam agama, hafizh dalam hadis, serta memiliki pengetahuan tentang ilmu kedokteran dan ilmu bintang (astronomi), juga menguasai berbagai cabang ilmu. Ia menyusun kitab Al-Musnad Ash-Shahih, dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Samarkand untuk beberapa waktu. Di sana ia menyebarkan ilmu fikih dan ilmu agama di tengah masyarakat.”Al-Khatib Al-Baghdadi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان ثقة نبيلا فهمًا“Ia adalah seorang yang terpercaya (tsiqah), mulia, dan memiliki pemahaman yang baik.”Sebagian ulama juga berpendapat bahwa jika Ibnu Hibban tidak memasukkan sebagian perawi yang tidak dikenal (majhul) sebagai perawi terpercaya dalam kitab Musnad-nya, maka kedudukan kitab tersebut bisa saja sejajar dengan enam kitab hadis yang terkenal (Kutubus Sittah). Bahkan, hal itu mungkin akan semakin meninggikan posisi dan kedudukannya di antara para ulama hadis.WafatImam Abu Hatim Ibnu Hibban رحمه الله wafat pada bulan Syawal tahun 354 H. Saat itu, usianya sekitar delapan puluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan balasan berupa surga-Nya.Baca juga: Biografi Abdullah bin Al Mubarak***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari :[1] Alukah.net[2] Ketabonline.com[3] Mawdoo3.com[4] Arab-ency.com.sy


Daftar Isi ToggleNamaKelahiranPerjalanan menuntut ilmuGuru-guruMurid-muridKarya-karyaFitnah yang menimpa Ibnu HibbanPujian para ulamaWafatNamaBeliau adalah seorang imam besar dan ulama terkemuka, hafizh hadis yang sangat teliti dan kuat hafalannya, serta dikenal sebagai Syekh Khurasan. Nama lengkapnya adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu‘adz bin Ma‘bad bin Suhaid bin Hadiyah bin Murrah bin Sa‘d bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim At-Tamimi Al-Busti. Nasabnya bersambung kepada kabilah Bani Tamim. Ia dikenal sebagai penulis banyak karya ilmiah (shahib at-tashanif) yang bernilai tinggi dalam bidang hadis dan ilmu-ilmunya.KelahiranBeliau rahimahullah lahir di kota Bust, wilayah Sijistan, sekitar tahun 270 H.Perjalanan menuntut ilmuIbnu Hibban mulai menuntut ilmu sekitar tahun 300 H dan sejak awal menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mempelajari hadis. Ia melakukan perjalanan ilmiah yang sangat luas dan panjang, bahkan berlangsung hampir empat puluh tahun. Perjalanannya membentang dari wilayah Syasy di Asia Tengah hingga Iskandariyah di Mesir. Ia mengunjungi Khurasan, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Naisabur, serta negeri-negeri di seberang Sungai Oxus (kini wilayah Uzbekistan). Disebutkan bahwa ia memasuki sekitar lima puluh kota, dan di setiap kota itu ia memiliki sejumlah guru.Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak imam besar dan ulama terkemuka serta memperoleh sanad-sanad yang tinggi. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab, Imam An-Nasa’i, dan Ja‘far bin Ahmad di Damaskus. Bahkan disebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ribu guru, menunjukkan betapa luas jaringan keilmuannya.Selain menuntut ilmu, ia juga aktif mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu dan membimbing masyarakat dalam memahami agama. Di beberapa tempat seperti Samarkand, Naisabur, dan Nasa di wilayah Khurasan, ia pernah menjabat sebagai qadhi (hakim). Setelah menyelesaikan perjalanan ilmiahnya, ia kembali ke Naisabur, lalu pulang ke kampung halamannya di Bust. Di sanalah ia menetap dan menyelesaikan karya-karya ilmiahnya hingga akhir hayatnya. Kesungguhan belajar, banyaknya guru yang ia temui, serta luasnya perjalanan ilmiahnya menjadikannya salah satu ulama besar dalam bidang hadis.Guru-guruDi antara guru-guru Ibnu Hibban adalah Al-Husain bin Idris Al-Harawi, Abu Khalifah Al-Jumahi, Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i, Imran bin Musa bin Mujasyi‘, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya‘la Al-Maushili, Ahmad bin Al-Hasan Ash-Shufi, Ja‘far bin Ahmad Ad-Dimasyqi, dan Abu Bakar bin Khuzaimah. Selain mereka, masih banyak lagi guru lainnya yang jumlahnya sangat banyak, dari wilayah Mesir hingga Khurasan. Hal ini menunjukkan luasnya perjalanan ilmiah dan banyaknya ulama yang menjadi sumber ilmu baginya.Murid-muridDi antara murid-murid Ibnu Hibban adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Manshur bin Abdullah Al-Khalidi, Abu Mu‘adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah, Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zuzani, dan Muhammad bin Ahmad bin Manshur An-Nauqati, serta banyak lagi lainnya. Mereka termasuk para ulama yang kemudian turut menyebarkan dan mengembangkan ilmu hadis.Karya-karyaIbnu Hibban رحمه الله memiliki sangat banyak karya ilmiah dalam berbagai bidang, terutama hadis dan ilmu-ilmunya. Namun, sangat disayangkan karena sebagian besar karyanya telah hilang dan yang tersisa hingga sekarang hanya sedikit. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Anwa‘ wat-Taqasim, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban atau Al-Musnad Ash-Shahih. Kitab ini disusun dengan sistem yang rapi dan khusus, meskipun cukup sulit dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar menguasai metodenya. Dalam mukadimah kitab tersebut, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa ia hanya meriwayatkan hadis dari perawi yang memenuhi lima syarat, yaitu adil dalam agama dan berakhlak baik, dikenal jujur dalam meriwayatkan hadis, memiliki pemahaman yang baik terhadap hadis, mengetahui maknanya sehingga tidak salah dalam menyampaikannya, serta tidak melakukan tadlis (menyembunyikan cacat dalam sanad).Selain kitab tersebut, ia juga menulis banyak karya lain, seperti Tafsir Al-Qur’an, Al-Jarh wat-Ta‘dil, Ats-Tsiqat, Adh-Dhu‘afa’, berbagai kitab Al-‘Ilal (tentang cacat hadis), Al-Musnad fil Hadits, As-Sunan, Syu‘ab Al-Iman, Shifat Ash-Shalah, Raudhat Al-‘Uqala’, Al-Jam‘ bain Al-Akhbar Al-Mutadadhah, dan Al-Hidayah ila ‘Ilm As-Sunan. Ia juga menulis kitab tentang biografi dan perawi hadis, seperti Ash-Shahabah, At-Tabi‘in, Taba‘ At-Tabi‘in, Al-Mu‘jam ‘ala Al-Mudun, serta kitab-kitab yang membedakan nama-nama perawi yang mirip agar tidak tertukar. Selain itu, ia menyusun kitab tentang keutamaan para imam seperti Manaqib Asy-Syafi‘i dan Manaqib Malik.Banyaknya karya ini menunjukkan keluasan ilmu dan ketekunan Ibnu Hibban dalam menulis. Namun, sebagian besar kitabnya hilang karena kondisi zaman yang tidak stabil. Disebutkan bahwa ia pernah mewakafkan seluruh kitabnya untuk para penuntut ilmu di sebuah rumah, tetapi ketika terjadi kekacauan dan melemahnya kekuasaan, tempat tersebut dikuasai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak kitab-kitab beliau yang akhirnya hilang.Fitnah yang menimpa Ibnu HibbanUjian yang menimpa Imam Ibnu Hibban termasuk peristiwa yang sangat berat dan hampir membahayakan nyawanya serta mengancam warisan ilmunya. Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya kesalahan dalam memahami makna suatu kata dan menafsirkan ucapan seseorang dengan makna yang tidak ia maksudkan. Dalam hal ini, kita teringat perkataan Imam Malik,إذا قال الرجل قولا يحتمل الكفر من تسعة وتسعين وجهًا، والإيمان من وجه واحد حملناها على الإيمان“Jika suatu ucapan mengandung kemungkinan kufur dari sembilan puluh sembilan sisi dan kemungkinan iman dari satu sisi, maka kita harus membawanya kepada makna iman.”Perkataan ini sangat sesuai dengan ujian yang dialami oleh Ibnu Hibban. Kisahnya bermula ketika Ibnu Hibban sedang mengajar di Naisabur dan ditanya tentang makna kenabian. Ia menjawab,النبوة ((العلم والعمل))“Kenabian adalah ilmu dan amal.”Di majelis itu hadir beberapa penceramah, dan salah seorang dari mereka menuduhnya sebagai zindik karena dianggap berpendapat bahwa kenabian bisa diperoleh dengan usaha manusia. Suasana menjadi gaduh, orang-orang terpecah antara yang membela dan yang menuduh. Para penentangnya kemudian membuat laporan resmi, memvonisnya zindik, melarang orang menghadiri majelisnya, bahkan mengirim surat kepada khalifah Abbasiyah agar ia dihukum mati.Khalifah memerintahkan agar perkara itu diselidiki dan jika tuduhan itu benar, maka ia dihukum. Setelah melalui proses panjang, terbukti bahwa Ibnu Hibban tidak bersalah. Namun, ia tetap dipaksa meninggalkan Naisabur menuju Sijistan. Di sana pun fitnah masih mengikutinya. Seorang penceramah bernama Yahya bin ‘Ammar terus menghasut masyarakat terhadapnya hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Bust. Ia menetap di sana sampai wafatnya dalam keadaan sedih akibat tuduhan tersebut.Padahal, ucapan “Kenabian adalah ilmu dan amal” memiliki makna yang benar jika dipahami dengan tepat. Maksudnya adalah bahwa sifat dan tugas utama para Nabi adalah memiliki ilmu yang sempurna dan amal yang sempurna. Namun, tidak setiap orang yang berilmu dan beramal bisa menjadi Nabi, karena kenabian adalah pilihan dan anugerah khusus dari Allah, bukan sesuatu yang dapat diusahakan manusia.Kalimat ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji itu adalah Arafah,” yang menunjukkan pentingnya wukuf di Arafah, tetapi bukan berarti haji sah hanya dengan wukuf itu saja tanpa memenuhi rukun lainnya. Demikian pula ilmu dan amal adalah bagian penting dari kenabian, dan itulah yang dimaksud Ibnu Hibban.Fitnah ini mengingatkan pada ujian yang pernah dialami Imam Al-Bukhari. Semoga Allah merahmati kedua imam besar ini, meninggikan derajat mereka, dan menjadikan umat Islam mampu menjaga kehormatan para ulama dari tuduhan dan fitnah yang tidak benar.Pujian para ulamaIbnu Hibban memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu hadis. Ia termasuk ulama besar yang sampai-sampai orang-orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengar langsung kitab-kitab dan sanad-sanadnya. Keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ulama sezamannya maupun generasi setelahnya.Muridnya sendiri, Abu Abdullah Al-Hakim yang merupakan seorang ulama besar hadis dan penulis kitab Al-Mustadrak, memuji beliau dengan mengatakan,كان ابن حبان من أوعية العلم في الفقه واللغة، والحديث والوعظ، ومن عقلاء الرجال“Ibnu Hibban adalah salah satu gudang ilmu dalam bidang fikih, bahasa, hadis, dan nasihat (dakwah). Ia juga termasuk orang yang cerdas dan bijaksana.”Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Hibban dengan mengatakan,الإمام العلامة، الحافظ المجوِّد، شيخ خراسان“Ia adalah seorang imam besar, ulama yang sangat berilmu, hafizh yang teliti dan kuat hafalannya, serta Syekh Khurasan.”Al-Hafizh Abu Sa‘d Al-Idrisi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان من فقهاء الدين، وحفاظ الآثار، عالما بالطب وبالنجوم [يقصد الفلك] وفتون العلم، وقد صنف المسند الصحيح، وقد تولى قضاء سمرقند زمانًا؛ فنشر الفقه والعلم هناك بين الناس“Ia termasuk ulama besar dalam agama, hafizh dalam hadis, serta memiliki pengetahuan tentang ilmu kedokteran dan ilmu bintang (astronomi), juga menguasai berbagai cabang ilmu. Ia menyusun kitab Al-Musnad Ash-Shahih, dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Samarkand untuk beberapa waktu. Di sana ia menyebarkan ilmu fikih dan ilmu agama di tengah masyarakat.”Al-Khatib Al-Baghdadi berkata tentang Ibnu Hibban,كان ابن حبان ثقة نبيلا فهمًا“Ia adalah seorang yang terpercaya (tsiqah), mulia, dan memiliki pemahaman yang baik.”Sebagian ulama juga berpendapat bahwa jika Ibnu Hibban tidak memasukkan sebagian perawi yang tidak dikenal (majhul) sebagai perawi terpercaya dalam kitab Musnad-nya, maka kedudukan kitab tersebut bisa saja sejajar dengan enam kitab hadis yang terkenal (Kutubus Sittah). Bahkan, hal itu mungkin akan semakin meninggikan posisi dan kedudukannya di antara para ulama hadis.WafatImam Abu Hatim Ibnu Hibban رحمه الله wafat pada bulan Syawal tahun 354 H. Saat itu, usianya sekitar delapan puluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan balasan berupa surga-Nya.Baca juga: Biografi Abdullah bin Al Mubarak***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari :[1] Alukah.net[2] Ketabonline.com[3] Mawdoo3.com[4] Arab-ency.com.sy

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

Daftar Isi TogglePertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaKedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻKetiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaKeempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatKelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanKeenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaKetujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?PenutupAda satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian yang menanyakan ini memanglah orang awam, sebagian lagi adalah kaum ateis atau juga agnostik yang mencoba mengkritisi konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Namun, siapapun yang mengajukan pertanyaan ini, perlu sekali untuk dijawab dengan ilmu yang mumpuni. Penulis akan mencoba menyusun jawaban yang semoga Allah ﷻ berikan tuntunan di dalamnya.Pertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaSatu contoh argumen ringan yang menggelitik, tetapi cukup menjadi bekal adalah: kita sendiri tidak pernah melihat wujud otak kita sendiri. Namun, kita percaya bahwa kita memiliki otak, bukan?Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa kita memiliki otak? Jelas ada proses permisalan yang kita lakukan. Kita menerima suatu kebenaran absolut bahwasanya umumnya manusia punya otak, kita pun bisa membuktikannya dengan gambar dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Dan kita sendiri adalah bagian dari manusia itu sendiri. Kita pun membuktikan bahwa diri kita adalah sejenis manusia dengan melihat kesamaan fitur yang banyak sekali. Maka, kita bisa meyakini dengan kuat meskipun tidak pernah melihat, bahwa kita memiliki otak dalam tempurung kepala kita.Di masa kini, jika kita memiliki wawasan sains yang cukup, dengan mudah kita bisa menerima argumen ini. Ada banyak hal di dunia ini yang tak pernah kita lihat secara langsung, tetapi kita yakini keberadaannya. Kita ambil contoh terdekat, yakni seluruh atom yang menyusun diri kita. Kita meyakini bahwa diri kita terdiri dari partikel atomik, tetapi kita sendiri tidak pernah melihat satuannya. Mungkin, sudah ada beberapa ilmuwan yang dapat melihat wujud susunan atom, tetapi kebanyakan dari kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi kita tetap percaya. Yang lebih signifikan lagi adalah wujud sub-atom, yang menyusun atom keseluruhan, hanya bisa ditentukan berdasarkan pantulan gelombang dan fenomena fisika.Jika kita hendak mengambil contoh yang amat jauh, maka contoh itu adalah bintang-bintang dan juga lubang hitam di langit kita. Ada banyak sekali kabar bintang yang sampai kepada kita itu dalam wujud paparan gelombang yang tak tertangkap mata. Lubang hitam misalnya, kita hanya bisa melihat belokan cahaya yang disebabkan gravitasinya. Adapun lubang hitamnya sendiri, kita tidak bisa memastikan wujudnya secara zat. Padahal kita mengakuinya sebagai pengetahuan populer saat ini.Semua itu menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk membuat kita menjadi yakin tanpa melihat. Di antara cara itu adalah mengumpulkan banyak indikasi, persaksian, permisalan sejenis, serta masih banyak lagi. Sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang paling banyak tanda keberadaannya.Kedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻSeluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan Allah ﷻ. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,كَيْفَ يُطْلَبُ الدَّلِيلُ عَلَى مَنْ هُوَ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؟“Bagaimana dituntut agar dapat mencari bukti untuk menunjukkan sesuatu yang ia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu?” (Madarijus Salikin, 1: 82) [1]Beliau lanjutkan dengan permisalan bahwa siang hari tidak perlu dibuktikan lagi karena saking jelasnya perwujudannya bagi siapapun yang berakal. Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian berkata,وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ تَعَالَى أَظْهَرُ لِلْعُقُولِ وَالْفِطَرِ مِنْ وُجُودِ النَّهَارِ“Sudah diketahui bahwasaanya keberadaan Tuhan ﷻ lebih jelas bagi akal dan fitrah dibandingkan wujudnya realitas siang hari.” (Madarijus Salikin, 1: 83)Tidakkah kita melihat langit dengan segala isinya beredar dengan ketentuan dan garis-garis edarnya? Tidakkah kita melihat ragam bentuk makhluk hidup dapat bersama dengan segala keindahannya? Tidakkah kita sadar ada doa yang kita panjatkan dan dikabulkan dalam keadaan terbaiknya?أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)Semua ini adalah bukti bahwasanya ada wujud Allah ﷻ meskipun ia tidak terlihat dengan mata kepala langsung. Dan Allah ﷻ pun telah mengajak kita semua untuk merenungi hal ini dalam banyak ayat-Nya.Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?Ketiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaDi dunia ini, tidak semua orang memiliki penglihatan mata yang sempurna. Ada yang matanya rabun, katarak, bahkan (maaf) buta. Jika Allah ﷻ terlihat dalam wujud fisikal yang tertangkap, maka sungguh ini menjadi tidak adil bagi manusia yang tak mampu melihat. Sedang Allah ﷻ adalah Zat Maha Adil, Dia tidak memberikan ruang kezaliman bagi diri-Nya.Dalam sebuah hadis qudsi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)Keempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatMeski di dunia tidak mungkin terlihat, tetapi Allah ﷻ berjanji akan memberikan penglihatan atas diri-Nya bagi manusia di hari akhirat nanti. Allah ﷻ berfirman,وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat…” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksud ayat tersebut,تَرَاهُ عَيَانًا، كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي صَحِيحِهِ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانا“Mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jarir, dalam kitab Shahih-nya, “Sungguh mereka akan segera melihat Tuhan mereka benar-benar dengan mata kepala langsung.” (HR. Bukhari no. 554)Allah ﷻ pasti terlihat di hari akhirat -bagi orang beriman- adalah akidah yang ditetapkan oleh Ahlus Sunah, sebagaimana dinukilkan oleh para imam salaf, termasuk dalam pembahasan panjang Ibn Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah dalam Syarah Thahawiyah-nya.Kelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanAllah ﷻ berfirman,لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini, seperti firman Allah,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)Kenikmatan tambahan itu adalah melihat wajah Allah ﷻ. Sungguh hanya orang beriman yang dapat melihat tambahan kenikmatan tiada tara ini. Adapun orang kafir dan munafik, tidak mendapatkan nikmat ini. Allah ﷻ berfirman,كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Keenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaDunia itu adalah darul bala, arena ujian bagi manusia. Ujian yang Allah ﷻ berikan adalah jalan bagi kita untuk menuju surga Allah ﷻ, jika sukses; atau justru gagal dan terjerembab ke dalam neraka-Nya.Kegaiban Allah ﷻ dari sudut pandang manusia adalah ujian yang menguji keimanan manusia. Lihatlah kepada kabar tentang sifat orang yang beriman dan menerima kebenaran Islam dalam awal mushaf Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah, muslim sejati dituntut untuk mengimani perkara gaib sebagaimana firman Allah ﷻ,الم  ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ“Alif la mim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3)Oleh karena itu, wajar sekali ketika tidak tampaknya wujud Allah ﷻ itu berselarasan dengan konsep dunia sebagai arena ujian kehidupan. Tidak tampaknya wujud zat Allah ﷻ adalah anugerah bagi mereka yang benar-benar beriman kepada-Nya. Karena dengan itulah, Allah ﷻ berikan pahala istimewa dibandingkan orang yang tidak percaya.Ketujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?Realitanya, para penentang eksistensi Tuhan dari kalangan ateis dan agnostik, tetap tidak akan beriman kepada Allah ﷻ meskipun wujud Allah ﷻ tampak pada bola matanya, jika mereka berkeras hatinya. Disebutkan salah satu tokoh ateis, Bertrand Russell, dia berkata, “Seandainya Tuhan menampakkan wujudnya sebelum aku mati, aku akan berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak tunjukkan bukti yang lebih baik lagi?’”Demikian juga pernyataan ateis skeptisis, Richard Dawkins, bahwa meskipun ada hal ajaib yang dapat berkorelasi dengan bukti keberadaan Tuhan, ia akan selalu mencari jawaban kritikal berbasis alasan logis untuk membantahnya. [2]PenutupJika kita dapat menyelami samudera ayat Allah ﷻ dengan akal dan fitrah yang Allah ﷻ tanamkan pada diri kita, maka kita dapat merasakan banyak keajaiban dari satu takdir Allah ﷻ. Sebuah takdir untuk kita tidak bisa melihat Allah ﷻ secara langsung di dunia, justru mengandung hikmah yang luar biasa besar bagi sistem kehidupan manusia. Di dalam kegaiban Allah ﷻ secara pandangan mata, justru terkandung nilai keadilan dan janji kenikmatan yang memotivasi kita untuk beramal lebih.Selain itu, justru ayat Allah ﷻ yang banyak ini menjadi bukti yang cukup untuk membungkam orang yang sinis dengan Islam, dari kalangan ateis maupun penganut agnostisme. Kembalilah kepada Allah ﷻ, wahai orang-orang yang telah melampaui batas!Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dinukilkan pula dalam Syarah Rinci Rukun Iman dan Mausuah Al-Aqdiyah.[2] Nukilan ini diambil dari situs yang mengkaji argumen ateis berikut: https://www.str.org/w/why-evidence-will-not-convince-some-atheists

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

Daftar Isi TogglePertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaKedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻKetiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaKeempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatKelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanKeenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaKetujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?PenutupAda satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian yang menanyakan ini memanglah orang awam, sebagian lagi adalah kaum ateis atau juga agnostik yang mencoba mengkritisi konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Namun, siapapun yang mengajukan pertanyaan ini, perlu sekali untuk dijawab dengan ilmu yang mumpuni. Penulis akan mencoba menyusun jawaban yang semoga Allah ﷻ berikan tuntunan di dalamnya.Pertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaSatu contoh argumen ringan yang menggelitik, tetapi cukup menjadi bekal adalah: kita sendiri tidak pernah melihat wujud otak kita sendiri. Namun, kita percaya bahwa kita memiliki otak, bukan?Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa kita memiliki otak? Jelas ada proses permisalan yang kita lakukan. Kita menerima suatu kebenaran absolut bahwasanya umumnya manusia punya otak, kita pun bisa membuktikannya dengan gambar dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Dan kita sendiri adalah bagian dari manusia itu sendiri. Kita pun membuktikan bahwa diri kita adalah sejenis manusia dengan melihat kesamaan fitur yang banyak sekali. Maka, kita bisa meyakini dengan kuat meskipun tidak pernah melihat, bahwa kita memiliki otak dalam tempurung kepala kita.Di masa kini, jika kita memiliki wawasan sains yang cukup, dengan mudah kita bisa menerima argumen ini. Ada banyak hal di dunia ini yang tak pernah kita lihat secara langsung, tetapi kita yakini keberadaannya. Kita ambil contoh terdekat, yakni seluruh atom yang menyusun diri kita. Kita meyakini bahwa diri kita terdiri dari partikel atomik, tetapi kita sendiri tidak pernah melihat satuannya. Mungkin, sudah ada beberapa ilmuwan yang dapat melihat wujud susunan atom, tetapi kebanyakan dari kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi kita tetap percaya. Yang lebih signifikan lagi adalah wujud sub-atom, yang menyusun atom keseluruhan, hanya bisa ditentukan berdasarkan pantulan gelombang dan fenomena fisika.Jika kita hendak mengambil contoh yang amat jauh, maka contoh itu adalah bintang-bintang dan juga lubang hitam di langit kita. Ada banyak sekali kabar bintang yang sampai kepada kita itu dalam wujud paparan gelombang yang tak tertangkap mata. Lubang hitam misalnya, kita hanya bisa melihat belokan cahaya yang disebabkan gravitasinya. Adapun lubang hitamnya sendiri, kita tidak bisa memastikan wujudnya secara zat. Padahal kita mengakuinya sebagai pengetahuan populer saat ini.Semua itu menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk membuat kita menjadi yakin tanpa melihat. Di antara cara itu adalah mengumpulkan banyak indikasi, persaksian, permisalan sejenis, serta masih banyak lagi. Sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang paling banyak tanda keberadaannya.Kedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻSeluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan Allah ﷻ. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,كَيْفَ يُطْلَبُ الدَّلِيلُ عَلَى مَنْ هُوَ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؟“Bagaimana dituntut agar dapat mencari bukti untuk menunjukkan sesuatu yang ia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu?” (Madarijus Salikin, 1: 82) [1]Beliau lanjutkan dengan permisalan bahwa siang hari tidak perlu dibuktikan lagi karena saking jelasnya perwujudannya bagi siapapun yang berakal. Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian berkata,وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ تَعَالَى أَظْهَرُ لِلْعُقُولِ وَالْفِطَرِ مِنْ وُجُودِ النَّهَارِ“Sudah diketahui bahwasaanya keberadaan Tuhan ﷻ lebih jelas bagi akal dan fitrah dibandingkan wujudnya realitas siang hari.” (Madarijus Salikin, 1: 83)Tidakkah kita melihat langit dengan segala isinya beredar dengan ketentuan dan garis-garis edarnya? Tidakkah kita melihat ragam bentuk makhluk hidup dapat bersama dengan segala keindahannya? Tidakkah kita sadar ada doa yang kita panjatkan dan dikabulkan dalam keadaan terbaiknya?أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)Semua ini adalah bukti bahwasanya ada wujud Allah ﷻ meskipun ia tidak terlihat dengan mata kepala langsung. Dan Allah ﷻ pun telah mengajak kita semua untuk merenungi hal ini dalam banyak ayat-Nya.Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?Ketiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaDi dunia ini, tidak semua orang memiliki penglihatan mata yang sempurna. Ada yang matanya rabun, katarak, bahkan (maaf) buta. Jika Allah ﷻ terlihat dalam wujud fisikal yang tertangkap, maka sungguh ini menjadi tidak adil bagi manusia yang tak mampu melihat. Sedang Allah ﷻ adalah Zat Maha Adil, Dia tidak memberikan ruang kezaliman bagi diri-Nya.Dalam sebuah hadis qudsi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)Keempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatMeski di dunia tidak mungkin terlihat, tetapi Allah ﷻ berjanji akan memberikan penglihatan atas diri-Nya bagi manusia di hari akhirat nanti. Allah ﷻ berfirman,وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat…” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksud ayat tersebut,تَرَاهُ عَيَانًا، كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي صَحِيحِهِ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانا“Mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jarir, dalam kitab Shahih-nya, “Sungguh mereka akan segera melihat Tuhan mereka benar-benar dengan mata kepala langsung.” (HR. Bukhari no. 554)Allah ﷻ pasti terlihat di hari akhirat -bagi orang beriman- adalah akidah yang ditetapkan oleh Ahlus Sunah, sebagaimana dinukilkan oleh para imam salaf, termasuk dalam pembahasan panjang Ibn Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah dalam Syarah Thahawiyah-nya.Kelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanAllah ﷻ berfirman,لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini, seperti firman Allah,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)Kenikmatan tambahan itu adalah melihat wajah Allah ﷻ. Sungguh hanya orang beriman yang dapat melihat tambahan kenikmatan tiada tara ini. Adapun orang kafir dan munafik, tidak mendapatkan nikmat ini. Allah ﷻ berfirman,كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Keenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaDunia itu adalah darul bala, arena ujian bagi manusia. Ujian yang Allah ﷻ berikan adalah jalan bagi kita untuk menuju surga Allah ﷻ, jika sukses; atau justru gagal dan terjerembab ke dalam neraka-Nya.Kegaiban Allah ﷻ dari sudut pandang manusia adalah ujian yang menguji keimanan manusia. Lihatlah kepada kabar tentang sifat orang yang beriman dan menerima kebenaran Islam dalam awal mushaf Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah, muslim sejati dituntut untuk mengimani perkara gaib sebagaimana firman Allah ﷻ,الم  ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ“Alif la mim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3)Oleh karena itu, wajar sekali ketika tidak tampaknya wujud Allah ﷻ itu berselarasan dengan konsep dunia sebagai arena ujian kehidupan. Tidak tampaknya wujud zat Allah ﷻ adalah anugerah bagi mereka yang benar-benar beriman kepada-Nya. Karena dengan itulah, Allah ﷻ berikan pahala istimewa dibandingkan orang yang tidak percaya.Ketujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?Realitanya, para penentang eksistensi Tuhan dari kalangan ateis dan agnostik, tetap tidak akan beriman kepada Allah ﷻ meskipun wujud Allah ﷻ tampak pada bola matanya, jika mereka berkeras hatinya. Disebutkan salah satu tokoh ateis, Bertrand Russell, dia berkata, “Seandainya Tuhan menampakkan wujudnya sebelum aku mati, aku akan berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak tunjukkan bukti yang lebih baik lagi?’”Demikian juga pernyataan ateis skeptisis, Richard Dawkins, bahwa meskipun ada hal ajaib yang dapat berkorelasi dengan bukti keberadaan Tuhan, ia akan selalu mencari jawaban kritikal berbasis alasan logis untuk membantahnya. [2]PenutupJika kita dapat menyelami samudera ayat Allah ﷻ dengan akal dan fitrah yang Allah ﷻ tanamkan pada diri kita, maka kita dapat merasakan banyak keajaiban dari satu takdir Allah ﷻ. Sebuah takdir untuk kita tidak bisa melihat Allah ﷻ secara langsung di dunia, justru mengandung hikmah yang luar biasa besar bagi sistem kehidupan manusia. Di dalam kegaiban Allah ﷻ secara pandangan mata, justru terkandung nilai keadilan dan janji kenikmatan yang memotivasi kita untuk beramal lebih.Selain itu, justru ayat Allah ﷻ yang banyak ini menjadi bukti yang cukup untuk membungkam orang yang sinis dengan Islam, dari kalangan ateis maupun penganut agnostisme. Kembalilah kepada Allah ﷻ, wahai orang-orang yang telah melampaui batas!Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dinukilkan pula dalam Syarah Rinci Rukun Iman dan Mausuah Al-Aqdiyah.[2] Nukilan ini diambil dari situs yang mengkaji argumen ateis berikut: https://www.str.org/w/why-evidence-will-not-convince-some-atheists
Daftar Isi TogglePertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaKedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻKetiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaKeempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatKelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanKeenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaKetujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?PenutupAda satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian yang menanyakan ini memanglah orang awam, sebagian lagi adalah kaum ateis atau juga agnostik yang mencoba mengkritisi konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Namun, siapapun yang mengajukan pertanyaan ini, perlu sekali untuk dijawab dengan ilmu yang mumpuni. Penulis akan mencoba menyusun jawaban yang semoga Allah ﷻ berikan tuntunan di dalamnya.Pertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaSatu contoh argumen ringan yang menggelitik, tetapi cukup menjadi bekal adalah: kita sendiri tidak pernah melihat wujud otak kita sendiri. Namun, kita percaya bahwa kita memiliki otak, bukan?Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa kita memiliki otak? Jelas ada proses permisalan yang kita lakukan. Kita menerima suatu kebenaran absolut bahwasanya umumnya manusia punya otak, kita pun bisa membuktikannya dengan gambar dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Dan kita sendiri adalah bagian dari manusia itu sendiri. Kita pun membuktikan bahwa diri kita adalah sejenis manusia dengan melihat kesamaan fitur yang banyak sekali. Maka, kita bisa meyakini dengan kuat meskipun tidak pernah melihat, bahwa kita memiliki otak dalam tempurung kepala kita.Di masa kini, jika kita memiliki wawasan sains yang cukup, dengan mudah kita bisa menerima argumen ini. Ada banyak hal di dunia ini yang tak pernah kita lihat secara langsung, tetapi kita yakini keberadaannya. Kita ambil contoh terdekat, yakni seluruh atom yang menyusun diri kita. Kita meyakini bahwa diri kita terdiri dari partikel atomik, tetapi kita sendiri tidak pernah melihat satuannya. Mungkin, sudah ada beberapa ilmuwan yang dapat melihat wujud susunan atom, tetapi kebanyakan dari kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi kita tetap percaya. Yang lebih signifikan lagi adalah wujud sub-atom, yang menyusun atom keseluruhan, hanya bisa ditentukan berdasarkan pantulan gelombang dan fenomena fisika.Jika kita hendak mengambil contoh yang amat jauh, maka contoh itu adalah bintang-bintang dan juga lubang hitam di langit kita. Ada banyak sekali kabar bintang yang sampai kepada kita itu dalam wujud paparan gelombang yang tak tertangkap mata. Lubang hitam misalnya, kita hanya bisa melihat belokan cahaya yang disebabkan gravitasinya. Adapun lubang hitamnya sendiri, kita tidak bisa memastikan wujudnya secara zat. Padahal kita mengakuinya sebagai pengetahuan populer saat ini.Semua itu menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk membuat kita menjadi yakin tanpa melihat. Di antara cara itu adalah mengumpulkan banyak indikasi, persaksian, permisalan sejenis, serta masih banyak lagi. Sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang paling banyak tanda keberadaannya.Kedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻSeluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan Allah ﷻ. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,كَيْفَ يُطْلَبُ الدَّلِيلُ عَلَى مَنْ هُوَ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؟“Bagaimana dituntut agar dapat mencari bukti untuk menunjukkan sesuatu yang ia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu?” (Madarijus Salikin, 1: 82) [1]Beliau lanjutkan dengan permisalan bahwa siang hari tidak perlu dibuktikan lagi karena saking jelasnya perwujudannya bagi siapapun yang berakal. Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian berkata,وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ تَعَالَى أَظْهَرُ لِلْعُقُولِ وَالْفِطَرِ مِنْ وُجُودِ النَّهَارِ“Sudah diketahui bahwasaanya keberadaan Tuhan ﷻ lebih jelas bagi akal dan fitrah dibandingkan wujudnya realitas siang hari.” (Madarijus Salikin, 1: 83)Tidakkah kita melihat langit dengan segala isinya beredar dengan ketentuan dan garis-garis edarnya? Tidakkah kita melihat ragam bentuk makhluk hidup dapat bersama dengan segala keindahannya? Tidakkah kita sadar ada doa yang kita panjatkan dan dikabulkan dalam keadaan terbaiknya?أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)Semua ini adalah bukti bahwasanya ada wujud Allah ﷻ meskipun ia tidak terlihat dengan mata kepala langsung. Dan Allah ﷻ pun telah mengajak kita semua untuk merenungi hal ini dalam banyak ayat-Nya.Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?Ketiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaDi dunia ini, tidak semua orang memiliki penglihatan mata yang sempurna. Ada yang matanya rabun, katarak, bahkan (maaf) buta. Jika Allah ﷻ terlihat dalam wujud fisikal yang tertangkap, maka sungguh ini menjadi tidak adil bagi manusia yang tak mampu melihat. Sedang Allah ﷻ adalah Zat Maha Adil, Dia tidak memberikan ruang kezaliman bagi diri-Nya.Dalam sebuah hadis qudsi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)Keempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatMeski di dunia tidak mungkin terlihat, tetapi Allah ﷻ berjanji akan memberikan penglihatan atas diri-Nya bagi manusia di hari akhirat nanti. Allah ﷻ berfirman,وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat…” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksud ayat tersebut,تَرَاهُ عَيَانًا، كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي صَحِيحِهِ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانا“Mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jarir, dalam kitab Shahih-nya, “Sungguh mereka akan segera melihat Tuhan mereka benar-benar dengan mata kepala langsung.” (HR. Bukhari no. 554)Allah ﷻ pasti terlihat di hari akhirat -bagi orang beriman- adalah akidah yang ditetapkan oleh Ahlus Sunah, sebagaimana dinukilkan oleh para imam salaf, termasuk dalam pembahasan panjang Ibn Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah dalam Syarah Thahawiyah-nya.Kelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanAllah ﷻ berfirman,لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini, seperti firman Allah,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)Kenikmatan tambahan itu adalah melihat wajah Allah ﷻ. Sungguh hanya orang beriman yang dapat melihat tambahan kenikmatan tiada tara ini. Adapun orang kafir dan munafik, tidak mendapatkan nikmat ini. Allah ﷻ berfirman,كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Keenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaDunia itu adalah darul bala, arena ujian bagi manusia. Ujian yang Allah ﷻ berikan adalah jalan bagi kita untuk menuju surga Allah ﷻ, jika sukses; atau justru gagal dan terjerembab ke dalam neraka-Nya.Kegaiban Allah ﷻ dari sudut pandang manusia adalah ujian yang menguji keimanan manusia. Lihatlah kepada kabar tentang sifat orang yang beriman dan menerima kebenaran Islam dalam awal mushaf Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah, muslim sejati dituntut untuk mengimani perkara gaib sebagaimana firman Allah ﷻ,الم  ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ“Alif la mim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3)Oleh karena itu, wajar sekali ketika tidak tampaknya wujud Allah ﷻ itu berselarasan dengan konsep dunia sebagai arena ujian kehidupan. Tidak tampaknya wujud zat Allah ﷻ adalah anugerah bagi mereka yang benar-benar beriman kepada-Nya. Karena dengan itulah, Allah ﷻ berikan pahala istimewa dibandingkan orang yang tidak percaya.Ketujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?Realitanya, para penentang eksistensi Tuhan dari kalangan ateis dan agnostik, tetap tidak akan beriman kepada Allah ﷻ meskipun wujud Allah ﷻ tampak pada bola matanya, jika mereka berkeras hatinya. Disebutkan salah satu tokoh ateis, Bertrand Russell, dia berkata, “Seandainya Tuhan menampakkan wujudnya sebelum aku mati, aku akan berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak tunjukkan bukti yang lebih baik lagi?’”Demikian juga pernyataan ateis skeptisis, Richard Dawkins, bahwa meskipun ada hal ajaib yang dapat berkorelasi dengan bukti keberadaan Tuhan, ia akan selalu mencari jawaban kritikal berbasis alasan logis untuk membantahnya. [2]PenutupJika kita dapat menyelami samudera ayat Allah ﷻ dengan akal dan fitrah yang Allah ﷻ tanamkan pada diri kita, maka kita dapat merasakan banyak keajaiban dari satu takdir Allah ﷻ. Sebuah takdir untuk kita tidak bisa melihat Allah ﷻ secara langsung di dunia, justru mengandung hikmah yang luar biasa besar bagi sistem kehidupan manusia. Di dalam kegaiban Allah ﷻ secara pandangan mata, justru terkandung nilai keadilan dan janji kenikmatan yang memotivasi kita untuk beramal lebih.Selain itu, justru ayat Allah ﷻ yang banyak ini menjadi bukti yang cukup untuk membungkam orang yang sinis dengan Islam, dari kalangan ateis maupun penganut agnostisme. Kembalilah kepada Allah ﷻ, wahai orang-orang yang telah melampaui batas!Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dinukilkan pula dalam Syarah Rinci Rukun Iman dan Mausuah Al-Aqdiyah.[2] Nukilan ini diambil dari situs yang mengkaji argumen ateis berikut: https://www.str.org/w/why-evidence-will-not-convince-some-atheists


Daftar Isi TogglePertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaKedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻKetiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaKeempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatKelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanKeenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaKetujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?PenutupAda satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian yang menanyakan ini memanglah orang awam, sebagian lagi adalah kaum ateis atau juga agnostik yang mencoba mengkritisi konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Namun, siapapun yang mengajukan pertanyaan ini, perlu sekali untuk dijawab dengan ilmu yang mumpuni. Penulis akan mencoba menyusun jawaban yang semoga Allah ﷻ berikan tuntunan di dalamnya.Pertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak adaSatu contoh argumen ringan yang menggelitik, tetapi cukup menjadi bekal adalah: kita sendiri tidak pernah melihat wujud otak kita sendiri. Namun, kita percaya bahwa kita memiliki otak, bukan?Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa kita memiliki otak? Jelas ada proses permisalan yang kita lakukan. Kita menerima suatu kebenaran absolut bahwasanya umumnya manusia punya otak, kita pun bisa membuktikannya dengan gambar dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Dan kita sendiri adalah bagian dari manusia itu sendiri. Kita pun membuktikan bahwa diri kita adalah sejenis manusia dengan melihat kesamaan fitur yang banyak sekali. Maka, kita bisa meyakini dengan kuat meskipun tidak pernah melihat, bahwa kita memiliki otak dalam tempurung kepala kita.Di masa kini, jika kita memiliki wawasan sains yang cukup, dengan mudah kita bisa menerima argumen ini. Ada banyak hal di dunia ini yang tak pernah kita lihat secara langsung, tetapi kita yakini keberadaannya. Kita ambil contoh terdekat, yakni seluruh atom yang menyusun diri kita. Kita meyakini bahwa diri kita terdiri dari partikel atomik, tetapi kita sendiri tidak pernah melihat satuannya. Mungkin, sudah ada beberapa ilmuwan yang dapat melihat wujud susunan atom, tetapi kebanyakan dari kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi kita tetap percaya. Yang lebih signifikan lagi adalah wujud sub-atom, yang menyusun atom keseluruhan, hanya bisa ditentukan berdasarkan pantulan gelombang dan fenomena fisika.Jika kita hendak mengambil contoh yang amat jauh, maka contoh itu adalah bintang-bintang dan juga lubang hitam di langit kita. Ada banyak sekali kabar bintang yang sampai kepada kita itu dalam wujud paparan gelombang yang tak tertangkap mata. Lubang hitam misalnya, kita hanya bisa melihat belokan cahaya yang disebabkan gravitasinya. Adapun lubang hitamnya sendiri, kita tidak bisa memastikan wujudnya secara zat. Padahal kita mengakuinya sebagai pengetahuan populer saat ini.Semua itu menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk membuat kita menjadi yakin tanpa melihat. Di antara cara itu adalah mengumpulkan banyak indikasi, persaksian, permisalan sejenis, serta masih banyak lagi. Sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang paling banyak tanda keberadaannya.Kedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻSeluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan Allah ﷻ. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,كَيْفَ يُطْلَبُ الدَّلِيلُ عَلَى مَنْ هُوَ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؟“Bagaimana dituntut agar dapat mencari bukti untuk menunjukkan sesuatu yang ia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu?” (Madarijus Salikin, 1: 82) [1]Beliau lanjutkan dengan permisalan bahwa siang hari tidak perlu dibuktikan lagi karena saking jelasnya perwujudannya bagi siapapun yang berakal. Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian berkata,وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ تَعَالَى أَظْهَرُ لِلْعُقُولِ وَالْفِطَرِ مِنْ وُجُودِ النَّهَارِ“Sudah diketahui bahwasaanya keberadaan Tuhan ﷻ lebih jelas bagi akal dan fitrah dibandingkan wujudnya realitas siang hari.” (Madarijus Salikin, 1: 83)Tidakkah kita melihat langit dengan segala isinya beredar dengan ketentuan dan garis-garis edarnya? Tidakkah kita melihat ragam bentuk makhluk hidup dapat bersama dengan segala keindahannya? Tidakkah kita sadar ada doa yang kita panjatkan dan dikabulkan dalam keadaan terbaiknya?أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)Semua ini adalah bukti bahwasanya ada wujud Allah ﷻ meskipun ia tidak terlihat dengan mata kepala langsung. Dan Allah ﷻ pun telah mengajak kita semua untuk merenungi hal ini dalam banyak ayat-Nya.Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?Ketiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-NyaDi dunia ini, tidak semua orang memiliki penglihatan mata yang sempurna. Ada yang matanya rabun, katarak, bahkan (maaf) buta. Jika Allah ﷻ terlihat dalam wujud fisikal yang tertangkap, maka sungguh ini menjadi tidak adil bagi manusia yang tak mampu melihat. Sedang Allah ﷻ adalah Zat Maha Adil, Dia tidak memberikan ruang kezaliman bagi diri-Nya.Dalam sebuah hadis qudsi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ,يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)Keempat: Allah ﷻ pasti akan terlihatMeski di dunia tidak mungkin terlihat, tetapi Allah ﷻ berjanji akan memberikan penglihatan atas diri-Nya bagi manusia di hari akhirat nanti. Allah ﷻ berfirman,وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat…” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksud ayat tersebut,تَرَاهُ عَيَانًا، كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي صَحِيحِهِ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانا“Mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jarir, dalam kitab Shahih-nya, “Sungguh mereka akan segera melihat Tuhan mereka benar-benar dengan mata kepala langsung.” (HR. Bukhari no. 554)Allah ﷻ pasti terlihat di hari akhirat -bagi orang beriman- adalah akidah yang ditetapkan oleh Ahlus Sunah, sebagaimana dinukilkan oleh para imam salaf, termasuk dalam pembahasan panjang Ibn Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah dalam Syarah Thahawiyah-nya.Kelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang berimanAllah ﷻ berfirman,لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaf: 35)Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini, seperti firman Allah,لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)Kenikmatan tambahan itu adalah melihat wajah Allah ﷻ. Sungguh hanya orang beriman yang dapat melihat tambahan kenikmatan tiada tara ini. Adapun orang kafir dan munafik, tidak mendapatkan nikmat ini. Allah ﷻ berfirman,كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)Keenam: Kesempurnaan konsep ujian di duniaDunia itu adalah darul bala, arena ujian bagi manusia. Ujian yang Allah ﷻ berikan adalah jalan bagi kita untuk menuju surga Allah ﷻ, jika sukses; atau justru gagal dan terjerembab ke dalam neraka-Nya.Kegaiban Allah ﷻ dari sudut pandang manusia adalah ujian yang menguji keimanan manusia. Lihatlah kepada kabar tentang sifat orang yang beriman dan menerima kebenaran Islam dalam awal mushaf Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah, muslim sejati dituntut untuk mengimani perkara gaib sebagaimana firman Allah ﷻ,الم  ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ“Alif la mim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3)Oleh karena itu, wajar sekali ketika tidak tampaknya wujud Allah ﷻ itu berselarasan dengan konsep dunia sebagai arena ujian kehidupan. Tidak tampaknya wujud zat Allah ﷻ adalah anugerah bagi mereka yang benar-benar beriman kepada-Nya. Karena dengan itulah, Allah ﷻ berikan pahala istimewa dibandingkan orang yang tidak percaya.Ketujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?Realitanya, para penentang eksistensi Tuhan dari kalangan ateis dan agnostik, tetap tidak akan beriman kepada Allah ﷻ meskipun wujud Allah ﷻ tampak pada bola matanya, jika mereka berkeras hatinya. Disebutkan salah satu tokoh ateis, Bertrand Russell, dia berkata, “Seandainya Tuhan menampakkan wujudnya sebelum aku mati, aku akan berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak tunjukkan bukti yang lebih baik lagi?’”Demikian juga pernyataan ateis skeptisis, Richard Dawkins, bahwa meskipun ada hal ajaib yang dapat berkorelasi dengan bukti keberadaan Tuhan, ia akan selalu mencari jawaban kritikal berbasis alasan logis untuk membantahnya. [2]PenutupJika kita dapat menyelami samudera ayat Allah ﷻ dengan akal dan fitrah yang Allah ﷻ tanamkan pada diri kita, maka kita dapat merasakan banyak keajaiban dari satu takdir Allah ﷻ. Sebuah takdir untuk kita tidak bisa melihat Allah ﷻ secara langsung di dunia, justru mengandung hikmah yang luar biasa besar bagi sistem kehidupan manusia. Di dalam kegaiban Allah ﷻ secara pandangan mata, justru terkandung nilai keadilan dan janji kenikmatan yang memotivasi kita untuk beramal lebih.Selain itu, justru ayat Allah ﷻ yang banyak ini menjadi bukti yang cukup untuk membungkam orang yang sinis dengan Islam, dari kalangan ateis maupun penganut agnostisme. Kembalilah kepada Allah ﷻ, wahai orang-orang yang telah melampaui batas!Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dinukilkan pula dalam Syarah Rinci Rukun Iman dan Mausuah Al-Aqdiyah.[2] Nukilan ini diambil dari situs yang mengkaji argumen ateis berikut: https://www.str.org/w/why-evidence-will-not-convince-some-atheists

Cemas Mikirin Besok? Dengarkan Nasihat Ini – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyukai sikap optimis. Beliau suka bersikap optimis terhadap apa yang akan datang. Disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hadis hasan, dari hadis Ibnu Mas’ud secara mauquf, dan diriwayatkan pula secara marfu’, “Malaikat memiliki bisikan dalam hati anak Adam, dan setan pun memiliki bisikan.” Bisikan setan maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Bisikan malaikat juga maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun bisikan setan, yaitu setan membuat manusia sedih.” Setan membuatmu sedih terhadap masa depan. Setan sering mendatangi anak Adam dan sering berada dekat dengannya. Lalu setan membuat manusia bersedih atas masa lalu, dan menakut-nakutinya terhadap masa depan. Maka, engkau pun melihat orang yang sedang didekati setan, ia merasa takut terhadap apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi ia cemas terhadap nasib anaknya, padahal ia sendiri belum menikah. Bisa jadi ia cemas terhadap kesehatannya, padahal ia sedang sangat sehat. Engkau melihatnya memikirkan masa tua dan keadaan dirinya kelak. Bisa jadi ia cemas terhadap hartanya, padahal perdagangannya sedang untung. Itu semua tidak lain berasal dari setan, agar ia bersedih dan semakin gelisah. Namun, seorang mukmin tahu bahwa apa yang akan datang, terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah. Ia juga tahu bahwa kegelisahan itu hanya merusak harinya, dan tidak memperbaiki esoknya. Siapa yang terlalu gelisah hari ini karena memikirkan esok, sejatinya ia sedang merusak harinya. Padahal esoknya tidak akan berubah dari apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan baginya. Di antara yang pernah disebutkan dalam sebagian surat kabar, bahwa ada seorang pria di Inggris yang melakukan penelitian, sekitar 25 tahun yang lalu. Ia mendatangi para siswa sekolah menengah, dan mengumpulkan lebih dari 100 siswa. Ia bertanya, “Kalian ingin menjadi apa di masa depan?” Maka, setiap siswa pun menyusun rencana masa depannya, dan menentukan arah hidupnya. Kemudian, sekitar 20 tahun setelah itu, peneliti tersebut mencoba mencari mereka lagi. Namun, ia hanya menemukan sekitar 70 persen dari mereka. Adapun 30 persen sisanya, ia tidak menemukan jalan untuk melacak mereka. Mungkin mereka telah meninggal, atau ada sebab lain. Kemudian ia mencermati 70 persen tersebut, untuk melihat siapa di antara mereka yang hidupnya berjalan sesuai rencana. Ternyata ia menemukan bahwa yang berhasil tidak lebih dari 3 persen saja. Selebihnya, hidup mereka berjalan tidak sesuai rencana yang pernah mereka susun. Meskipun ini berkaitan dengan hal lain, ia tetap memberi pelajaran untuk pembahasan kita. Karena seberapa pun besarnya engkau berambisi terhadap masa depan, ia tetap berada dalam ketetapan dan takdir Allah. Maka, lakukanlah sebab-sebab yang mampu engkau lakukan. Adapun perkara gaib, ilmunya hanya ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Perkara kedua, apabila seorang mukmin ditimpa kegelisahan dan kesedihan, ia mengusirnya dengan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari beliau. Dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun, Beliau sering berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan, ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.’” Tidaklah seseorang mengangkat kedua tangannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, lalu menyeru dan bermunajat kepada-Nya, memohon dengan sungguh-sungguh dan mengadukan isi hatinya kepada-Nya, melainkan Allah akan memberi jalan keluar dari kegelisahannya, menghilangkan kesusahannya dan apa yang membahayakannya. “Bukankah Dia yang mengabulkan doa orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml: 62) Itulah Allah ‘Azza wa Jalla. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (HR. Ibnu Majah) Maka, kegelisahan apa pun yang menimpamu, dan urusan apa pun yang engkau takutkan, lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan jujur dan baik dalam doamu, maka Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kesusahan itu darimu. ===== كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ يُحِبُّ أَنْ يَتَفَاءَلَ لِمَا سَيَأْتِي وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَلِكَ فِيمَا رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا، وَرُوِيَ مَرْفُوعً وَلِلْمَلَكِ بِابْنِ آدَمَ لَمَّةٌ، وَلِلشَّيْطَانِ لَمَّةٌ لَمَّةُ الشَّيْطَانِ أَيْ قُرْبُهُ وَلَمَّةُ الْمَلَكِ أَيْ قُرْبُهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يُحَزِّنُهُ يُحَزِّنُهُ، يُحَزِّنُكَ فِيمَا سَيَأْتِي فَالشَّيْطَانُ يَأْتِي لِابْنِ آدَمَ كَثِيرًا وَيَكُونُ قَرِيبًا مِنْهُمْ فِي أَحَايِينَ كَثِيرَةٍ فَيُحَزِّنُهُ عَلَى مَا مَضَى وَيُخَوِّفُهُ مَا سَيَأْتِي فَتَرَى الْمَرْءَ الَّذِي كَانَ الشَّيْطَانُ مِنْهُ فِي لَمَّةٍ وَقُرْبٍ يَخَافُ مَا سَيَكُونُ فِي الْغَدِ بَّمَا خَافَ عَلَى وَلَدِهِ وَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ بَعْدُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى صِحَّتِهِ وَهُوَ فِي أَكْمَلِ الصِّحَّةِ فَتَرَاهُ يُفَكِّرُ فِي الْهَرَمِ وَمَا سَيَكُونُ عَلَيْهِ ذَلِكَ الْيَوْمُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى مَالِهِ وَتِجَارَتُهُ رَابِحَةٌ وَمَا ذَاكَ إِلَّا مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَهُ وَيَزِيدَ هَمَّهُ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ يَعْلَمُ أَنَّ مَا سَيَأْتِي بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنَّ هَذَا الْهَمَّ إِنَّمَا هُوَ مُفْسِدٌ لِيَوْمِهِ وَلَيْسَ مُصْلِحًا لِغَدِهِ فَمَنِ اهْتَمَّ فِي هَذَا الْيَوْمِ لِلْغَدِ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ أَفْسَدَ يَوْمَهُ وَغَدُهُ لَمْ يَتَغَيَّرْ مَا كَتَبَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ وَمِمَّا ذُكِرَ أَوْ ذُكِرَ فِي بَعْضِ الصُّحُفِ السَّيَّارَةِ أَنَّ رَجُلًا فِي إِنْجِلْتَرَا عَمِلَ بَحْثًا قَبْلَ نَحْوِ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ عَامًاأَتَى لِطُلَّابِ الْمَرْحَلَةِ الثَّانَوِيَّةِ وَجَمَعَ مَا يَزِيدُ عَلَى مِئَةٍ مِنْهُمْ وَقَالَ: مَاذَا تُرِيدُونَ أَنْ تَكُونُوا فِي الْغَدِ؟ فَكُلٌّ خَطَّطَ لِمُسْتَقْبَلِهِ وَحَدَّدَ مَسَارَ حَيَاتِهِ ثُمَّ بَعْدَ نَحْوٍ مِنْ عِشْرِينَ عَامًا حَاوَلَ أَنْ يَبْحَثَ عَنْ أُولَئِكَ الْقَوْمِ فَمَا وَجَدَ مِنْهُمْ إِلَّا نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ بِالْمِئَةِ وَأَمَّا الثَّلَاثُونَ الْآخَرُونَ فَلَمْ يَجِدْ لَهُمْ طَرِيقًا إِمَّا أَنَّهُمْ تُوُفُّوا أَوْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ نَظَرَ فِي هَؤُلَاءِ فَمَنْ كَانَتْ حَيَاتُهُ عَلَى وِفْقِ مَا خَطَّطَ لَهُ فَوَجَدَ أَنَّهَا لَمْ تَتَجَاوَزْ نِسْبَتُهُمْ ثَلَاثَةً بِالْمِئَةِ وَمَا عَدَاهُمْ سَارَتْ حَيَاتُهُمْ عَلَى غَيْرِ مَا خَطَّطَ وَهَذَا وَإِنْ كَانَ لِأَمْرٍ آخَرَ فَإِنَّهُ يَدُلُّنَا عَلَى مَا نَحْنُ فِيهِ فَإِنَّكَ مَهْمَا حَرَصْتَ عَلَى الْغَدِ فَإِنَّ الْغَدَ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنْتَ ابْذُلِ الْأَسْبَابَ عَلَى قَدْرِ اسْتِطَاعَتِكَ وَالْغَيْبُ عِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرًا ثَانِيًا، الْمُؤْمِنُ إِذَا جَاءَهُ شَيْءٌ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ يَطْرُدُهُ بِدُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ دُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِزَالَةِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ عَنْهُ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِيَ سِنِينَ فَكَانَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا، فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ فَمَا رَفَعَ أَحَدٌ يَدَيْهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَنَادَاهُ وَنَاجَاهُ وَابْتَهَلَ إِلَيْهِ وَشَكَا إِلَيْهِ نَجْوَاهُ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ هَمَّهُ وَأَزَالَ عَنْهُ غَمَّهُ وَمَا أَضَرَّ بِهِ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ ذَلِكُم هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَإِنَّهُ لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ فَمَهْمَا نَزَلَ بِكَ مِنْ هَمٍّ وَمَهْمَا خِفْتَ مِنْ أَمْرٍ فَدَعَوْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ صَادِقًا فِي دُعَائِكَ مُحْسِنًا فِيهِ فَإِنَّ اللهَ سَيُزِيلُ عَنْكَ هَذَا الْهَمَّ وَالْغَمَّ

Cemas Mikirin Besok? Dengarkan Nasihat Ini – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyukai sikap optimis. Beliau suka bersikap optimis terhadap apa yang akan datang. Disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hadis hasan, dari hadis Ibnu Mas’ud secara mauquf, dan diriwayatkan pula secara marfu’, “Malaikat memiliki bisikan dalam hati anak Adam, dan setan pun memiliki bisikan.” Bisikan setan maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Bisikan malaikat juga maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun bisikan setan, yaitu setan membuat manusia sedih.” Setan membuatmu sedih terhadap masa depan. Setan sering mendatangi anak Adam dan sering berada dekat dengannya. Lalu setan membuat manusia bersedih atas masa lalu, dan menakut-nakutinya terhadap masa depan. Maka, engkau pun melihat orang yang sedang didekati setan, ia merasa takut terhadap apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi ia cemas terhadap nasib anaknya, padahal ia sendiri belum menikah. Bisa jadi ia cemas terhadap kesehatannya, padahal ia sedang sangat sehat. Engkau melihatnya memikirkan masa tua dan keadaan dirinya kelak. Bisa jadi ia cemas terhadap hartanya, padahal perdagangannya sedang untung. Itu semua tidak lain berasal dari setan, agar ia bersedih dan semakin gelisah. Namun, seorang mukmin tahu bahwa apa yang akan datang, terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah. Ia juga tahu bahwa kegelisahan itu hanya merusak harinya, dan tidak memperbaiki esoknya. Siapa yang terlalu gelisah hari ini karena memikirkan esok, sejatinya ia sedang merusak harinya. Padahal esoknya tidak akan berubah dari apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan baginya. Di antara yang pernah disebutkan dalam sebagian surat kabar, bahwa ada seorang pria di Inggris yang melakukan penelitian, sekitar 25 tahun yang lalu. Ia mendatangi para siswa sekolah menengah, dan mengumpulkan lebih dari 100 siswa. Ia bertanya, “Kalian ingin menjadi apa di masa depan?” Maka, setiap siswa pun menyusun rencana masa depannya, dan menentukan arah hidupnya. Kemudian, sekitar 20 tahun setelah itu, peneliti tersebut mencoba mencari mereka lagi. Namun, ia hanya menemukan sekitar 70 persen dari mereka. Adapun 30 persen sisanya, ia tidak menemukan jalan untuk melacak mereka. Mungkin mereka telah meninggal, atau ada sebab lain. Kemudian ia mencermati 70 persen tersebut, untuk melihat siapa di antara mereka yang hidupnya berjalan sesuai rencana. Ternyata ia menemukan bahwa yang berhasil tidak lebih dari 3 persen saja. Selebihnya, hidup mereka berjalan tidak sesuai rencana yang pernah mereka susun. Meskipun ini berkaitan dengan hal lain, ia tetap memberi pelajaran untuk pembahasan kita. Karena seberapa pun besarnya engkau berambisi terhadap masa depan, ia tetap berada dalam ketetapan dan takdir Allah. Maka, lakukanlah sebab-sebab yang mampu engkau lakukan. Adapun perkara gaib, ilmunya hanya ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Perkara kedua, apabila seorang mukmin ditimpa kegelisahan dan kesedihan, ia mengusirnya dengan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari beliau. Dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun, Beliau sering berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan, ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.’” Tidaklah seseorang mengangkat kedua tangannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, lalu menyeru dan bermunajat kepada-Nya, memohon dengan sungguh-sungguh dan mengadukan isi hatinya kepada-Nya, melainkan Allah akan memberi jalan keluar dari kegelisahannya, menghilangkan kesusahannya dan apa yang membahayakannya. “Bukankah Dia yang mengabulkan doa orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml: 62) Itulah Allah ‘Azza wa Jalla. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (HR. Ibnu Majah) Maka, kegelisahan apa pun yang menimpamu, dan urusan apa pun yang engkau takutkan, lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan jujur dan baik dalam doamu, maka Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kesusahan itu darimu. ===== كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ يُحِبُّ أَنْ يَتَفَاءَلَ لِمَا سَيَأْتِي وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَلِكَ فِيمَا رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا، وَرُوِيَ مَرْفُوعً وَلِلْمَلَكِ بِابْنِ آدَمَ لَمَّةٌ، وَلِلشَّيْطَانِ لَمَّةٌ لَمَّةُ الشَّيْطَانِ أَيْ قُرْبُهُ وَلَمَّةُ الْمَلَكِ أَيْ قُرْبُهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يُحَزِّنُهُ يُحَزِّنُهُ، يُحَزِّنُكَ فِيمَا سَيَأْتِي فَالشَّيْطَانُ يَأْتِي لِابْنِ آدَمَ كَثِيرًا وَيَكُونُ قَرِيبًا مِنْهُمْ فِي أَحَايِينَ كَثِيرَةٍ فَيُحَزِّنُهُ عَلَى مَا مَضَى وَيُخَوِّفُهُ مَا سَيَأْتِي فَتَرَى الْمَرْءَ الَّذِي كَانَ الشَّيْطَانُ مِنْهُ فِي لَمَّةٍ وَقُرْبٍ يَخَافُ مَا سَيَكُونُ فِي الْغَدِ بَّمَا خَافَ عَلَى وَلَدِهِ وَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ بَعْدُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى صِحَّتِهِ وَهُوَ فِي أَكْمَلِ الصِّحَّةِ فَتَرَاهُ يُفَكِّرُ فِي الْهَرَمِ وَمَا سَيَكُونُ عَلَيْهِ ذَلِكَ الْيَوْمُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى مَالِهِ وَتِجَارَتُهُ رَابِحَةٌ وَمَا ذَاكَ إِلَّا مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَهُ وَيَزِيدَ هَمَّهُ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ يَعْلَمُ أَنَّ مَا سَيَأْتِي بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنَّ هَذَا الْهَمَّ إِنَّمَا هُوَ مُفْسِدٌ لِيَوْمِهِ وَلَيْسَ مُصْلِحًا لِغَدِهِ فَمَنِ اهْتَمَّ فِي هَذَا الْيَوْمِ لِلْغَدِ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ أَفْسَدَ يَوْمَهُ وَغَدُهُ لَمْ يَتَغَيَّرْ مَا كَتَبَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ وَمِمَّا ذُكِرَ أَوْ ذُكِرَ فِي بَعْضِ الصُّحُفِ السَّيَّارَةِ أَنَّ رَجُلًا فِي إِنْجِلْتَرَا عَمِلَ بَحْثًا قَبْلَ نَحْوِ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ عَامًاأَتَى لِطُلَّابِ الْمَرْحَلَةِ الثَّانَوِيَّةِ وَجَمَعَ مَا يَزِيدُ عَلَى مِئَةٍ مِنْهُمْ وَقَالَ: مَاذَا تُرِيدُونَ أَنْ تَكُونُوا فِي الْغَدِ؟ فَكُلٌّ خَطَّطَ لِمُسْتَقْبَلِهِ وَحَدَّدَ مَسَارَ حَيَاتِهِ ثُمَّ بَعْدَ نَحْوٍ مِنْ عِشْرِينَ عَامًا حَاوَلَ أَنْ يَبْحَثَ عَنْ أُولَئِكَ الْقَوْمِ فَمَا وَجَدَ مِنْهُمْ إِلَّا نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ بِالْمِئَةِ وَأَمَّا الثَّلَاثُونَ الْآخَرُونَ فَلَمْ يَجِدْ لَهُمْ طَرِيقًا إِمَّا أَنَّهُمْ تُوُفُّوا أَوْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ نَظَرَ فِي هَؤُلَاءِ فَمَنْ كَانَتْ حَيَاتُهُ عَلَى وِفْقِ مَا خَطَّطَ لَهُ فَوَجَدَ أَنَّهَا لَمْ تَتَجَاوَزْ نِسْبَتُهُمْ ثَلَاثَةً بِالْمِئَةِ وَمَا عَدَاهُمْ سَارَتْ حَيَاتُهُمْ عَلَى غَيْرِ مَا خَطَّطَ وَهَذَا وَإِنْ كَانَ لِأَمْرٍ آخَرَ فَإِنَّهُ يَدُلُّنَا عَلَى مَا نَحْنُ فِيهِ فَإِنَّكَ مَهْمَا حَرَصْتَ عَلَى الْغَدِ فَإِنَّ الْغَدَ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنْتَ ابْذُلِ الْأَسْبَابَ عَلَى قَدْرِ اسْتِطَاعَتِكَ وَالْغَيْبُ عِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرًا ثَانِيًا، الْمُؤْمِنُ إِذَا جَاءَهُ شَيْءٌ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ يَطْرُدُهُ بِدُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ دُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِزَالَةِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ عَنْهُ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِيَ سِنِينَ فَكَانَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا، فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ فَمَا رَفَعَ أَحَدٌ يَدَيْهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَنَادَاهُ وَنَاجَاهُ وَابْتَهَلَ إِلَيْهِ وَشَكَا إِلَيْهِ نَجْوَاهُ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ هَمَّهُ وَأَزَالَ عَنْهُ غَمَّهُ وَمَا أَضَرَّ بِهِ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ ذَلِكُم هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَإِنَّهُ لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ فَمَهْمَا نَزَلَ بِكَ مِنْ هَمٍّ وَمَهْمَا خِفْتَ مِنْ أَمْرٍ فَدَعَوْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ صَادِقًا فِي دُعَائِكَ مُحْسِنًا فِيهِ فَإِنَّ اللهَ سَيُزِيلُ عَنْكَ هَذَا الْهَمَّ وَالْغَمَّ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyukai sikap optimis. Beliau suka bersikap optimis terhadap apa yang akan datang. Disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hadis hasan, dari hadis Ibnu Mas’ud secara mauquf, dan diriwayatkan pula secara marfu’, “Malaikat memiliki bisikan dalam hati anak Adam, dan setan pun memiliki bisikan.” Bisikan setan maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Bisikan malaikat juga maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun bisikan setan, yaitu setan membuat manusia sedih.” Setan membuatmu sedih terhadap masa depan. Setan sering mendatangi anak Adam dan sering berada dekat dengannya. Lalu setan membuat manusia bersedih atas masa lalu, dan menakut-nakutinya terhadap masa depan. Maka, engkau pun melihat orang yang sedang didekati setan, ia merasa takut terhadap apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi ia cemas terhadap nasib anaknya, padahal ia sendiri belum menikah. Bisa jadi ia cemas terhadap kesehatannya, padahal ia sedang sangat sehat. Engkau melihatnya memikirkan masa tua dan keadaan dirinya kelak. Bisa jadi ia cemas terhadap hartanya, padahal perdagangannya sedang untung. Itu semua tidak lain berasal dari setan, agar ia bersedih dan semakin gelisah. Namun, seorang mukmin tahu bahwa apa yang akan datang, terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah. Ia juga tahu bahwa kegelisahan itu hanya merusak harinya, dan tidak memperbaiki esoknya. Siapa yang terlalu gelisah hari ini karena memikirkan esok, sejatinya ia sedang merusak harinya. Padahal esoknya tidak akan berubah dari apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan baginya. Di antara yang pernah disebutkan dalam sebagian surat kabar, bahwa ada seorang pria di Inggris yang melakukan penelitian, sekitar 25 tahun yang lalu. Ia mendatangi para siswa sekolah menengah, dan mengumpulkan lebih dari 100 siswa. Ia bertanya, “Kalian ingin menjadi apa di masa depan?” Maka, setiap siswa pun menyusun rencana masa depannya, dan menentukan arah hidupnya. Kemudian, sekitar 20 tahun setelah itu, peneliti tersebut mencoba mencari mereka lagi. Namun, ia hanya menemukan sekitar 70 persen dari mereka. Adapun 30 persen sisanya, ia tidak menemukan jalan untuk melacak mereka. Mungkin mereka telah meninggal, atau ada sebab lain. Kemudian ia mencermati 70 persen tersebut, untuk melihat siapa di antara mereka yang hidupnya berjalan sesuai rencana. Ternyata ia menemukan bahwa yang berhasil tidak lebih dari 3 persen saja. Selebihnya, hidup mereka berjalan tidak sesuai rencana yang pernah mereka susun. Meskipun ini berkaitan dengan hal lain, ia tetap memberi pelajaran untuk pembahasan kita. Karena seberapa pun besarnya engkau berambisi terhadap masa depan, ia tetap berada dalam ketetapan dan takdir Allah. Maka, lakukanlah sebab-sebab yang mampu engkau lakukan. Adapun perkara gaib, ilmunya hanya ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Perkara kedua, apabila seorang mukmin ditimpa kegelisahan dan kesedihan, ia mengusirnya dengan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari beliau. Dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun, Beliau sering berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan, ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.’” Tidaklah seseorang mengangkat kedua tangannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, lalu menyeru dan bermunajat kepada-Nya, memohon dengan sungguh-sungguh dan mengadukan isi hatinya kepada-Nya, melainkan Allah akan memberi jalan keluar dari kegelisahannya, menghilangkan kesusahannya dan apa yang membahayakannya. “Bukankah Dia yang mengabulkan doa orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml: 62) Itulah Allah ‘Azza wa Jalla. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (HR. Ibnu Majah) Maka, kegelisahan apa pun yang menimpamu, dan urusan apa pun yang engkau takutkan, lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan jujur dan baik dalam doamu, maka Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kesusahan itu darimu. ===== كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ يُحِبُّ أَنْ يَتَفَاءَلَ لِمَا سَيَأْتِي وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَلِكَ فِيمَا رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا، وَرُوِيَ مَرْفُوعً وَلِلْمَلَكِ بِابْنِ آدَمَ لَمَّةٌ، وَلِلشَّيْطَانِ لَمَّةٌ لَمَّةُ الشَّيْطَانِ أَيْ قُرْبُهُ وَلَمَّةُ الْمَلَكِ أَيْ قُرْبُهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يُحَزِّنُهُ يُحَزِّنُهُ، يُحَزِّنُكَ فِيمَا سَيَأْتِي فَالشَّيْطَانُ يَأْتِي لِابْنِ آدَمَ كَثِيرًا وَيَكُونُ قَرِيبًا مِنْهُمْ فِي أَحَايِينَ كَثِيرَةٍ فَيُحَزِّنُهُ عَلَى مَا مَضَى وَيُخَوِّفُهُ مَا سَيَأْتِي فَتَرَى الْمَرْءَ الَّذِي كَانَ الشَّيْطَانُ مِنْهُ فِي لَمَّةٍ وَقُرْبٍ يَخَافُ مَا سَيَكُونُ فِي الْغَدِ بَّمَا خَافَ عَلَى وَلَدِهِ وَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ بَعْدُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى صِحَّتِهِ وَهُوَ فِي أَكْمَلِ الصِّحَّةِ فَتَرَاهُ يُفَكِّرُ فِي الْهَرَمِ وَمَا سَيَكُونُ عَلَيْهِ ذَلِكَ الْيَوْمُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى مَالِهِ وَتِجَارَتُهُ رَابِحَةٌ وَمَا ذَاكَ إِلَّا مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَهُ وَيَزِيدَ هَمَّهُ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ يَعْلَمُ أَنَّ مَا سَيَأْتِي بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنَّ هَذَا الْهَمَّ إِنَّمَا هُوَ مُفْسِدٌ لِيَوْمِهِ وَلَيْسَ مُصْلِحًا لِغَدِهِ فَمَنِ اهْتَمَّ فِي هَذَا الْيَوْمِ لِلْغَدِ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ أَفْسَدَ يَوْمَهُ وَغَدُهُ لَمْ يَتَغَيَّرْ مَا كَتَبَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ وَمِمَّا ذُكِرَ أَوْ ذُكِرَ فِي بَعْضِ الصُّحُفِ السَّيَّارَةِ أَنَّ رَجُلًا فِي إِنْجِلْتَرَا عَمِلَ بَحْثًا قَبْلَ نَحْوِ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ عَامًاأَتَى لِطُلَّابِ الْمَرْحَلَةِ الثَّانَوِيَّةِ وَجَمَعَ مَا يَزِيدُ عَلَى مِئَةٍ مِنْهُمْ وَقَالَ: مَاذَا تُرِيدُونَ أَنْ تَكُونُوا فِي الْغَدِ؟ فَكُلٌّ خَطَّطَ لِمُسْتَقْبَلِهِ وَحَدَّدَ مَسَارَ حَيَاتِهِ ثُمَّ بَعْدَ نَحْوٍ مِنْ عِشْرِينَ عَامًا حَاوَلَ أَنْ يَبْحَثَ عَنْ أُولَئِكَ الْقَوْمِ فَمَا وَجَدَ مِنْهُمْ إِلَّا نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ بِالْمِئَةِ وَأَمَّا الثَّلَاثُونَ الْآخَرُونَ فَلَمْ يَجِدْ لَهُمْ طَرِيقًا إِمَّا أَنَّهُمْ تُوُفُّوا أَوْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ نَظَرَ فِي هَؤُلَاءِ فَمَنْ كَانَتْ حَيَاتُهُ عَلَى وِفْقِ مَا خَطَّطَ لَهُ فَوَجَدَ أَنَّهَا لَمْ تَتَجَاوَزْ نِسْبَتُهُمْ ثَلَاثَةً بِالْمِئَةِ وَمَا عَدَاهُمْ سَارَتْ حَيَاتُهُمْ عَلَى غَيْرِ مَا خَطَّطَ وَهَذَا وَإِنْ كَانَ لِأَمْرٍ آخَرَ فَإِنَّهُ يَدُلُّنَا عَلَى مَا نَحْنُ فِيهِ فَإِنَّكَ مَهْمَا حَرَصْتَ عَلَى الْغَدِ فَإِنَّ الْغَدَ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنْتَ ابْذُلِ الْأَسْبَابَ عَلَى قَدْرِ اسْتِطَاعَتِكَ وَالْغَيْبُ عِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرًا ثَانِيًا، الْمُؤْمِنُ إِذَا جَاءَهُ شَيْءٌ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ يَطْرُدُهُ بِدُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ دُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِزَالَةِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ عَنْهُ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِيَ سِنِينَ فَكَانَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا، فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ فَمَا رَفَعَ أَحَدٌ يَدَيْهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَنَادَاهُ وَنَاجَاهُ وَابْتَهَلَ إِلَيْهِ وَشَكَا إِلَيْهِ نَجْوَاهُ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ هَمَّهُ وَأَزَالَ عَنْهُ غَمَّهُ وَمَا أَضَرَّ بِهِ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ ذَلِكُم هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَإِنَّهُ لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ فَمَهْمَا نَزَلَ بِكَ مِنْ هَمٍّ وَمَهْمَا خِفْتَ مِنْ أَمْرٍ فَدَعَوْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ صَادِقًا فِي دُعَائِكَ مُحْسِنًا فِيهِ فَإِنَّ اللهَ سَيُزِيلُ عَنْكَ هَذَا الْهَمَّ وَالْغَمَّ


Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyukai sikap optimis. Beliau suka bersikap optimis terhadap apa yang akan datang. Disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hadis hasan, dari hadis Ibnu Mas’ud secara mauquf, dan diriwayatkan pula secara marfu’, “Malaikat memiliki bisikan dalam hati anak Adam, dan setan pun memiliki bisikan.” Bisikan setan maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Bisikan malaikat juga maksudnya adalah kedekatannya dengan hati manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun bisikan setan, yaitu setan membuat manusia sedih.” Setan membuatmu sedih terhadap masa depan. Setan sering mendatangi anak Adam dan sering berada dekat dengannya. Lalu setan membuat manusia bersedih atas masa lalu, dan menakut-nakutinya terhadap masa depan. Maka, engkau pun melihat orang yang sedang didekati setan, ia merasa takut terhadap apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi ia cemas terhadap nasib anaknya, padahal ia sendiri belum menikah. Bisa jadi ia cemas terhadap kesehatannya, padahal ia sedang sangat sehat. Engkau melihatnya memikirkan masa tua dan keadaan dirinya kelak. Bisa jadi ia cemas terhadap hartanya, padahal perdagangannya sedang untung. Itu semua tidak lain berasal dari setan, agar ia bersedih dan semakin gelisah. Namun, seorang mukmin tahu bahwa apa yang akan datang, terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah. Ia juga tahu bahwa kegelisahan itu hanya merusak harinya, dan tidak memperbaiki esoknya. Siapa yang terlalu gelisah hari ini karena memikirkan esok, sejatinya ia sedang merusak harinya. Padahal esoknya tidak akan berubah dari apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan baginya. Di antara yang pernah disebutkan dalam sebagian surat kabar, bahwa ada seorang pria di Inggris yang melakukan penelitian, sekitar 25 tahun yang lalu. Ia mendatangi para siswa sekolah menengah, dan mengumpulkan lebih dari 100 siswa. Ia bertanya, “Kalian ingin menjadi apa di masa depan?” Maka, setiap siswa pun menyusun rencana masa depannya, dan menentukan arah hidupnya. Kemudian, sekitar 20 tahun setelah itu, peneliti tersebut mencoba mencari mereka lagi. Namun, ia hanya menemukan sekitar 70 persen dari mereka. Adapun 30 persen sisanya, ia tidak menemukan jalan untuk melacak mereka. Mungkin mereka telah meninggal, atau ada sebab lain. Kemudian ia mencermati 70 persen tersebut, untuk melihat siapa di antara mereka yang hidupnya berjalan sesuai rencana. Ternyata ia menemukan bahwa yang berhasil tidak lebih dari 3 persen saja. Selebihnya, hidup mereka berjalan tidak sesuai rencana yang pernah mereka susun. Meskipun ini berkaitan dengan hal lain, ia tetap memberi pelajaran untuk pembahasan kita. Karena seberapa pun besarnya engkau berambisi terhadap masa depan, ia tetap berada dalam ketetapan dan takdir Allah. Maka, lakukanlah sebab-sebab yang mampu engkau lakukan. Adapun perkara gaib, ilmunya hanya ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Perkara kedua, apabila seorang mukmin ditimpa kegelisahan dan kesedihan, ia mengusirnya dengan berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari beliau. Dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun, Beliau sering berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan, ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.’” Tidaklah seseorang mengangkat kedua tangannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, lalu menyeru dan bermunajat kepada-Nya, memohon dengan sungguh-sungguh dan mengadukan isi hatinya kepada-Nya, melainkan Allah akan memberi jalan keluar dari kegelisahannya, menghilangkan kesusahannya dan apa yang membahayakannya. “Bukankah Dia yang mengabulkan doa orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml: 62) Itulah Allah ‘Azza wa Jalla. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (HR. Ibnu Majah) Maka, kegelisahan apa pun yang menimpamu, dan urusan apa pun yang engkau takutkan, lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan jujur dan baik dalam doamu, maka Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kesusahan itu darimu. ===== كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ يُحِبُّ أَنْ يَتَفَاءَلَ لِمَا سَيَأْتِي وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذَلِكَ فِيمَا رَوَى التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا، وَرُوِيَ مَرْفُوعً وَلِلْمَلَكِ بِابْنِ آدَمَ لَمَّةٌ، وَلِلشَّيْطَانِ لَمَّةٌ لَمَّةُ الشَّيْطَانِ أَيْ قُرْبُهُ وَلَمَّةُ الْمَلَكِ أَيْ قُرْبُهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يُحَزِّنُهُ يُحَزِّنُهُ، يُحَزِّنُكَ فِيمَا سَيَأْتِي فَالشَّيْطَانُ يَأْتِي لِابْنِ آدَمَ كَثِيرًا وَيَكُونُ قَرِيبًا مِنْهُمْ فِي أَحَايِينَ كَثِيرَةٍ فَيُحَزِّنُهُ عَلَى مَا مَضَى وَيُخَوِّفُهُ مَا سَيَأْتِي فَتَرَى الْمَرْءَ الَّذِي كَانَ الشَّيْطَانُ مِنْهُ فِي لَمَّةٍ وَقُرْبٍ يَخَافُ مَا سَيَكُونُ فِي الْغَدِ بَّمَا خَافَ عَلَى وَلَدِهِ وَهُوَ لَمْ يَتَزَوَّجْ بَعْدُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى صِحَّتِهِ وَهُوَ فِي أَكْمَلِ الصِّحَّةِ فَتَرَاهُ يُفَكِّرُ فِي الْهَرَمِ وَمَا سَيَكُونُ عَلَيْهِ ذَلِكَ الْيَوْمُ وَرُبَّمَا خَافَ عَلَى مَالِهِ وَتِجَارَتُهُ رَابِحَةٌ وَمَا ذَاكَ إِلَّا مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَهُ وَيَزِيدَ هَمَّهُ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ يَعْلَمُ أَنَّ مَا سَيَأْتِي بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنَّ هَذَا الْهَمَّ إِنَّمَا هُوَ مُفْسِدٌ لِيَوْمِهِ وَلَيْسَ مُصْلِحًا لِغَدِهِ فَمَنِ اهْتَمَّ فِي هَذَا الْيَوْمِ لِلْغَدِ فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ أَفْسَدَ يَوْمَهُ وَغَدُهُ لَمْ يَتَغَيَّرْ مَا كَتَبَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ وَمِمَّا ذُكِرَ أَوْ ذُكِرَ فِي بَعْضِ الصُّحُفِ السَّيَّارَةِ أَنَّ رَجُلًا فِي إِنْجِلْتَرَا عَمِلَ بَحْثًا قَبْلَ نَحْوِ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ عَامًاأَتَى لِطُلَّابِ الْمَرْحَلَةِ الثَّانَوِيَّةِ وَجَمَعَ مَا يَزِيدُ عَلَى مِئَةٍ مِنْهُمْ وَقَالَ: مَاذَا تُرِيدُونَ أَنْ تَكُونُوا فِي الْغَدِ؟ فَكُلٌّ خَطَّطَ لِمُسْتَقْبَلِهِ وَحَدَّدَ مَسَارَ حَيَاتِهِ ثُمَّ بَعْدَ نَحْوٍ مِنْ عِشْرِينَ عَامًا حَاوَلَ أَنْ يَبْحَثَ عَنْ أُولَئِكَ الْقَوْمِ فَمَا وَجَدَ مِنْهُمْ إِلَّا نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ بِالْمِئَةِ وَأَمَّا الثَّلَاثُونَ الْآخَرُونَ فَلَمْ يَجِدْ لَهُمْ طَرِيقًا إِمَّا أَنَّهُمْ تُوُفُّوا أَوْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ نَظَرَ فِي هَؤُلَاءِ فَمَنْ كَانَتْ حَيَاتُهُ عَلَى وِفْقِ مَا خَطَّطَ لَهُ فَوَجَدَ أَنَّهَا لَمْ تَتَجَاوَزْ نِسْبَتُهُمْ ثَلَاثَةً بِالْمِئَةِ وَمَا عَدَاهُمْ سَارَتْ حَيَاتُهُمْ عَلَى غَيْرِ مَا خَطَّطَ وَهَذَا وَإِنْ كَانَ لِأَمْرٍ آخَرَ فَإِنَّهُ يَدُلُّنَا عَلَى مَا نَحْنُ فِيهِ فَإِنَّكَ مَهْمَا حَرَصْتَ عَلَى الْغَدِ فَإِنَّ الْغَدَ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَأَنْتَ ابْذُلِ الْأَسْبَابَ عَلَى قَدْرِ اسْتِطَاعَتِكَ وَالْغَيْبُ عِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرًا ثَانِيًا، الْمُؤْمِنُ إِذَا جَاءَهُ شَيْءٌ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ يَطْرُدُهُ بِدُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ كَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ دُعَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِزَالَةِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ عَنْهُ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِيَ سِنِينَ فَكَانَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا، فَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ فَمَا رَفَعَ أَحَدٌ يَدَيْهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَنَادَاهُ وَنَاجَاهُ وَابْتَهَلَ إِلَيْهِ وَشَكَا إِلَيْهِ نَجْوَاهُ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ هَمَّهُ وَأَزَالَ عَنْهُ غَمَّهُ وَمَا أَضَرَّ بِهِ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ ذَلِكُم هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَإِنَّهُ لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ فَمَهْمَا نَزَلَ بِكَ مِنْ هَمٍّ وَمَهْمَا خِفْتَ مِنْ أَمْرٍ فَدَعَوْتَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ صَادِقًا فِي دُعَائِكَ مُحْسِنًا فِيهِ فَإِنَّ اللهَ سَيُزِيلُ عَنْكَ هَذَا الْهَمَّ وَالْغَمَّ
Prev     Next