Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

Daftar Isi TogglePertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganKetiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikSiapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang lain. Namun, seorang mukmin tidak hanya memandang pujian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia juga melihatnya sebagai ujian yang dapat mengangkat derajatnya atau justru menjerumuskannya ke dalam kesombongan.Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mengalami kondisi ketika ada orang yang memuji dan menyanjung kita serta menganggap kita sebagai sosok orang yang baik. Lalu, apa yang seharusnya kita ucapkan saat itu dan bagaimana sikap kita apabila mengalami kondisi tersebut? Mari perhatikan dan simak atsar berikut ini.Dari Adi bin Arthaah, dia bercerita,كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika dia dipuji, dia mengucapkan, ‘Allahumma la tu-akhizni bima yaqulun, waghfirli mala ya’lamun, waj’alni khoiron mimma yadzunnun.’ (Wahai Allah, janganlah Engkau siksa hamba-Mu ini dengan sebab pujian yang mereka ucapkan, ampunilah hamba-Mu ini dari perbuatan dosa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah hamba lebih baik dari perkiraan mereka).” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad, no. 585. Syekh Al-Albani rahimahullah menilai sanad hadis ini sahih. Potongan terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, 4: 228)Dari atsar yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiPujian sering kali menjadi pintu masuk bagi penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar dan menerima sanjungan, ia bisa mulai mengagumi dirinya sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan lupa bahwa seluruh kebaikan yang ada padanya adalah karunia Allah semata.Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)Seorang mukmin memahami bahwa manusia hanya melihat sebagian kecil dari dirinya. Mereka melihat kebaikan yang tampak, sementara berbagai kekurangan, dosa, dan aib yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Oleh karena itu, semakin banyak pujian yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tidak tertipu oleh penilaian manusia.Baca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganPerhatikan doa para sahabat, “Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui.”Kalimat ini menunjukkan betapa dalamnya pengenalan mereka terhadap diri sendiri. Ketika orang lain melihat kelebihan mereka, mereka justru mengingat dosa-dosa, aib, dan kekurangan yang tersembunyi.Inilah salah satu obat paling ampuh untuk menghancurkan kesombongan yaitu dengan mengingat dosa-dosa diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik, dia akan sadar bahwa amalnya masih sedikit, ilmunya masih kurang, ibadahnya masih jauh dari sempurna, dan dosanya banyak yang tidak diketahui manusia. Oleh sebab itu, ketika dipuji, hendaknya ia memperbanyak istigfar dan menyadari akan kekurangan dirinya yang tidak nampak dari pandangan orang lain.Ketiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikBagian terakhir dari doa sahabat tersebut sangat menyentuh, “Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”Ini menunjukkan bahwa ketika dipuji, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala agar benar-benar memperbaiki dirinya. Sering kali manusia menilai kita lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Mereka melihat sisi luar, sementara Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati dan amal kita yang sesungguhnya.Oleh karena itu, ketika dipuji, jadikanlah pujian tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika orang lain menganggap kita sebagai orang yang saleh, maka berusahalah agar kita benar-benar menjadi saleh di sisi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat (mau menerima) petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)Pujian bukanlah tanda bahwa kita telah sempurna. Pujian adalah ujian yang menguji keikhlasan dan kerendahan hati kita. Ketika orang lain memuji kita, janganlah hati menjadi tinggi, tetapi tundukkanlah diri di hadapan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, tidak tertipu oleh pujian manusia, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin.Baca juga: Ketika Kita Ingin Dilihat***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

Daftar Isi TogglePertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganKetiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikSiapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang lain. Namun, seorang mukmin tidak hanya memandang pujian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia juga melihatnya sebagai ujian yang dapat mengangkat derajatnya atau justru menjerumuskannya ke dalam kesombongan.Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mengalami kondisi ketika ada orang yang memuji dan menyanjung kita serta menganggap kita sebagai sosok orang yang baik. Lalu, apa yang seharusnya kita ucapkan saat itu dan bagaimana sikap kita apabila mengalami kondisi tersebut? Mari perhatikan dan simak atsar berikut ini.Dari Adi bin Arthaah, dia bercerita,كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika dia dipuji, dia mengucapkan, ‘Allahumma la tu-akhizni bima yaqulun, waghfirli mala ya’lamun, waj’alni khoiron mimma yadzunnun.’ (Wahai Allah, janganlah Engkau siksa hamba-Mu ini dengan sebab pujian yang mereka ucapkan, ampunilah hamba-Mu ini dari perbuatan dosa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah hamba lebih baik dari perkiraan mereka).” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad, no. 585. Syekh Al-Albani rahimahullah menilai sanad hadis ini sahih. Potongan terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, 4: 228)Dari atsar yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiPujian sering kali menjadi pintu masuk bagi penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar dan menerima sanjungan, ia bisa mulai mengagumi dirinya sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan lupa bahwa seluruh kebaikan yang ada padanya adalah karunia Allah semata.Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)Seorang mukmin memahami bahwa manusia hanya melihat sebagian kecil dari dirinya. Mereka melihat kebaikan yang tampak, sementara berbagai kekurangan, dosa, dan aib yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Oleh karena itu, semakin banyak pujian yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tidak tertipu oleh penilaian manusia.Baca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganPerhatikan doa para sahabat, “Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui.”Kalimat ini menunjukkan betapa dalamnya pengenalan mereka terhadap diri sendiri. Ketika orang lain melihat kelebihan mereka, mereka justru mengingat dosa-dosa, aib, dan kekurangan yang tersembunyi.Inilah salah satu obat paling ampuh untuk menghancurkan kesombongan yaitu dengan mengingat dosa-dosa diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik, dia akan sadar bahwa amalnya masih sedikit, ilmunya masih kurang, ibadahnya masih jauh dari sempurna, dan dosanya banyak yang tidak diketahui manusia. Oleh sebab itu, ketika dipuji, hendaknya ia memperbanyak istigfar dan menyadari akan kekurangan dirinya yang tidak nampak dari pandangan orang lain.Ketiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikBagian terakhir dari doa sahabat tersebut sangat menyentuh, “Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”Ini menunjukkan bahwa ketika dipuji, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala agar benar-benar memperbaiki dirinya. Sering kali manusia menilai kita lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Mereka melihat sisi luar, sementara Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati dan amal kita yang sesungguhnya.Oleh karena itu, ketika dipuji, jadikanlah pujian tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika orang lain menganggap kita sebagai orang yang saleh, maka berusahalah agar kita benar-benar menjadi saleh di sisi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat (mau menerima) petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)Pujian bukanlah tanda bahwa kita telah sempurna. Pujian adalah ujian yang menguji keikhlasan dan kerendahan hati kita. Ketika orang lain memuji kita, janganlah hati menjadi tinggi, tetapi tundukkanlah diri di hadapan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, tidak tertipu oleh pujian manusia, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin.Baca juga: Ketika Kita Ingin Dilihat***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganKetiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikSiapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang lain. Namun, seorang mukmin tidak hanya memandang pujian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia juga melihatnya sebagai ujian yang dapat mengangkat derajatnya atau justru menjerumuskannya ke dalam kesombongan.Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mengalami kondisi ketika ada orang yang memuji dan menyanjung kita serta menganggap kita sebagai sosok orang yang baik. Lalu, apa yang seharusnya kita ucapkan saat itu dan bagaimana sikap kita apabila mengalami kondisi tersebut? Mari perhatikan dan simak atsar berikut ini.Dari Adi bin Arthaah, dia bercerita,كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika dia dipuji, dia mengucapkan, ‘Allahumma la tu-akhizni bima yaqulun, waghfirli mala ya’lamun, waj’alni khoiron mimma yadzunnun.’ (Wahai Allah, janganlah Engkau siksa hamba-Mu ini dengan sebab pujian yang mereka ucapkan, ampunilah hamba-Mu ini dari perbuatan dosa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah hamba lebih baik dari perkiraan mereka).” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad, no. 585. Syekh Al-Albani rahimahullah menilai sanad hadis ini sahih. Potongan terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, 4: 228)Dari atsar yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiPujian sering kali menjadi pintu masuk bagi penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar dan menerima sanjungan, ia bisa mulai mengagumi dirinya sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan lupa bahwa seluruh kebaikan yang ada padanya adalah karunia Allah semata.Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)Seorang mukmin memahami bahwa manusia hanya melihat sebagian kecil dari dirinya. Mereka melihat kebaikan yang tampak, sementara berbagai kekurangan, dosa, dan aib yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Oleh karena itu, semakin banyak pujian yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tidak tertipu oleh penilaian manusia.Baca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganPerhatikan doa para sahabat, “Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui.”Kalimat ini menunjukkan betapa dalamnya pengenalan mereka terhadap diri sendiri. Ketika orang lain melihat kelebihan mereka, mereka justru mengingat dosa-dosa, aib, dan kekurangan yang tersembunyi.Inilah salah satu obat paling ampuh untuk menghancurkan kesombongan yaitu dengan mengingat dosa-dosa diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik, dia akan sadar bahwa amalnya masih sedikit, ilmunya masih kurang, ibadahnya masih jauh dari sempurna, dan dosanya banyak yang tidak diketahui manusia. Oleh sebab itu, ketika dipuji, hendaknya ia memperbanyak istigfar dan menyadari akan kekurangan dirinya yang tidak nampak dari pandangan orang lain.Ketiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikBagian terakhir dari doa sahabat tersebut sangat menyentuh, “Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”Ini menunjukkan bahwa ketika dipuji, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala agar benar-benar memperbaiki dirinya. Sering kali manusia menilai kita lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Mereka melihat sisi luar, sementara Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati dan amal kita yang sesungguhnya.Oleh karena itu, ketika dipuji, jadikanlah pujian tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika orang lain menganggap kita sebagai orang yang saleh, maka berusahalah agar kita benar-benar menjadi saleh di sisi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat (mau menerima) petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)Pujian bukanlah tanda bahwa kita telah sempurna. Pujian adalah ujian yang menguji keikhlasan dan kerendahan hati kita. Ketika orang lain memuji kita, janganlah hati menjadi tinggi, tetapi tundukkanlah diri di hadapan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, tidak tertipu oleh pujian manusia, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin.Baca juga: Ketika Kita Ingin Dilihat***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganKetiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikSiapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang lain. Namun, seorang mukmin tidak hanya memandang pujian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia juga melihatnya sebagai ujian yang dapat mengangkat derajatnya atau justru menjerumuskannya ke dalam kesombongan.Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mengalami kondisi ketika ada orang yang memuji dan menyanjung kita serta menganggap kita sebagai sosok orang yang baik. Lalu, apa yang seharusnya kita ucapkan saat itu dan bagaimana sikap kita apabila mengalami kondisi tersebut? Mari perhatikan dan simak atsar berikut ini.Dari Adi bin Arthaah, dia bercerita,كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika dia dipuji, dia mengucapkan, ‘Allahumma la tu-akhizni bima yaqulun, waghfirli mala ya’lamun, waj’alni khoiron mimma yadzunnun.’ (Wahai Allah, janganlah Engkau siksa hamba-Mu ini dengan sebab pujian yang mereka ucapkan, ampunilah hamba-Mu ini dari perbuatan dosa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah hamba lebih baik dari perkiraan mereka).” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad, no. 585. Syekh Al-Albani rahimahullah menilai sanad hadis ini sahih. Potongan terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, 4: 228)Dari atsar yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipujiPujian sering kali menjadi pintu masuk bagi penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar dan menerima sanjungan, ia bisa mulai mengagumi dirinya sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan lupa bahwa seluruh kebaikan yang ada padanya adalah karunia Allah semata.Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)Seorang mukmin memahami bahwa manusia hanya melihat sebagian kecil dari dirinya. Mereka melihat kebaikan yang tampak, sementara berbagai kekurangan, dosa, dan aib yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Oleh karena itu, semakin banyak pujian yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tidak tertipu oleh penilaian manusia.Baca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiKedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombonganPerhatikan doa para sahabat, “Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui.”Kalimat ini menunjukkan betapa dalamnya pengenalan mereka terhadap diri sendiri. Ketika orang lain melihat kelebihan mereka, mereka justru mengingat dosa-dosa, aib, dan kekurangan yang tersembunyi.Inilah salah satu obat paling ampuh untuk menghancurkan kesombongan yaitu dengan mengingat dosa-dosa diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik, dia akan sadar bahwa amalnya masih sedikit, ilmunya masih kurang, ibadahnya masih jauh dari sempurna, dan dosanya banyak yang tidak diketahui manusia. Oleh sebab itu, ketika dipuji, hendaknya ia memperbanyak istigfar dan menyadari akan kekurangan dirinya yang tidak nampak dari pandangan orang lain.Ketiga, rajinlah berdoa agar dijadikan sebagai orang yang baikBagian terakhir dari doa sahabat tersebut sangat menyentuh, “Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”Ini menunjukkan bahwa ketika dipuji, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala agar benar-benar memperbaiki dirinya. Sering kali manusia menilai kita lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Mereka melihat sisi luar, sementara Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati dan amal kita yang sesungguhnya.Oleh karena itu, ketika dipuji, jadikanlah pujian tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika orang lain menganggap kita sebagai orang yang saleh, maka berusahalah agar kita benar-benar menjadi saleh di sisi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ“Dan orang-orang yang mendapat (mau menerima) petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)Pujian bukanlah tanda bahwa kita telah sempurna. Pujian adalah ujian yang menguji keikhlasan dan kerendahan hati kita. Ketika orang lain memuji kita, janganlah hati menjadi tinggi, tetapi tundukkanlah diri di hadapan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, tidak tertipu oleh pujian manusia, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin.Baca juga: Ketika Kita Ingin Dilihat***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Fatwa Ulama: Hukum Menangis Dalam Salat Karena Musibah

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kami sebelumnya mengira bahwa imam yang memimpin salat kami di masjid menangis saat membaca (Al-Qur’an) karena takut kepada Allah Ta’ala. Kemudian, ternyata kami mengetahui bahwa ia—saat teringat musibah dan kesulitan yang menimpanya—menangis dengan suara dan erangan, dan beberapa jemaah pun ikut menangis bersamanya. Ketika ia ditegur tentang hal itu, ia berkata, “Sesungguhnya urusan menangis itu di luar kemampuanku, jadi jangan salahkan aku.” Lalu, bagaimana hukum salat ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama membedakan antara menangis dalam salat karena takut kepada Allah dan menangis karena musibah atau bencana.Menangis dalam salat saat membaca (Al-Qur’an), saat sujud, atau saat berdoa—jika benar-benar berasal dari rasa takut kepada Allah Ta’ala (secara tulus, bukan dibuat-buat)—terdapat nash-nash syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk sifat orang-orang saleh yang khusyuk. Hal ini tidak dibedakan antara sujud dalam salat wajib, sujud tilawah, maupun sujud syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 109)Dan seperti itu pula firman-Nya,خَرُّواْ سُجَّدٗا وَبُكِيّٗا“Mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)Turunnya kedua ayat tersebut dalam konteks memuji mereka karena menangis saat sujud menunjukkan anjuran (istihbab) untuk melakukannya. Hal ini diperkuat oleh hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ المِرْجَلِ“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang salat, dan terdengar dari rongga (dada) beliau suara gemuruh seperti gemuruhnya cerek (yang mendidih)”, maksudnya: beliau menangis. [1]Dan hadis Ali radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,مَا كَانَ فِينَا فَارِسٌ يَومَ بَدْرٍ غَيْرُ المِقْدَادِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا فِينَا إِلَّا نَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُصَلِّي وَيَبْكِي، حَتَّى أَصْبَحَ“Tidak ada seorang penunggang kuda pun di antara kami pada perang Badar selain Al-Miqdad. Dan sungguh, aku melihat kami (para sahabat) semuanya tidur, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang salat dan menangis di bawah sebuah pohon hingga pagi.” [2]Dan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mengimami salat orang-orang, lalu dikatakan kepada beliau (tentang Abu Bakar), “Sesungguhnya dia adalah seorang yang lembut hatinya dan banyak menangis saat membaca Al-Qur’an.” [3]Dan hadis Abdullah bin Syaddad bin Al-Had, yang berkata, “Aku mendengar suara isak tangis [4] Umar, padahal aku berada di shaf paling belakang, saat beliau membaca ayat,إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86) [5]Tidak ada seorang pun dari sahabat atau selain mereka yang berada di belakangnya yang mengingkari hal itu, sehingga hal ini menjadi ijma’ sukuti (kesepakatan dengan cara diam/tidak mengingkari).Adapun menangis dalam salat karena musibah yang menimpanya, rasa sakit yang dideritanya, atau karena mengingat keduanya, jika ia tidak mampu menahannya (maghluban ‘alaih) dan tidak kuasa mencegahnya, maka hal itu tidak mempengaruhi salatnya dan sama sekali tidak memutus (membatalkan) salatnya. Sebab, “tidak ada taklif (beban) kecuali sesuai kemampuan”, berdasarkan firman Allah Ta’ala,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 6)Dan firman-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Apa yang tidak dapat ditahan oleh orang yang salat seperti bersin, menangis, dan menguap, maka pendapat yang sahih menurut mayoritas ulama (jumhur) adalah bahwa hal itu tidak membatalkan (salat). Ini adalah pendapat yang dinukil dari Ahmad dan selainnya.” [6]Adapun jika menangis itu terjadi karena mengingat musibah yang menimpanya—baik disertai suara erangan, keluh-kesah, atau yang semakna, maupun tidak disertai suara—jika ia melakukannya dengan sengaja (mukhtaran) dan ia mampu mencegahnya namun tetap terus melakukannya, maka para fuqaha (ahli fikih) berbeda pendapat mengenai hukum salatnya.Baca juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainPendapat pertama: Menyatakan bahwa salatnya batal secara mutlak. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh imam empat mazhab dan selain mereka. Alasan mereka, karena tangisan itu terjadi disebabkan oleh hal di luar salat.Pendapat kedua: Menyatakan bahwa salatnya tidak batal secara mutlak. Ini adalah mazhab Abu Yusuf, dan merupakan satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menguatkan pendapat ini dan berkata, “Abu Yusuf berkata tentang keluh-kesah dan erangan, ‘Itu tidak membatalkan (salat) secara mutlak menurut prinsipnya.’ Dan ini adalah pendapat yang paling sahih dalam masalah ini.” [7]Dan tampaknya bahwa penyebab perbedaan pendapat ini kembali pada pertanyaan berikut:Apakah tangisan, erangan, keluh-kesah, berdehem, meniup, dan yang semakna dengannya termasuk jenis ucapan manusia sehingga membatalkan salat? Ataukah itu semua bukan termasuk jenis ucapan mereka, melainkan termasuk jenis gerakan sehingga yang sedikit darinya tidak membatalkan shalat?Pihak pertama berpendapat bahwa tangisan, erangan, keluh-kesah, dan yang semakna dengannya tidak keluar dari keumuman larangan berbicara dalam salat. Mereka memandang bahwa jika hal-hal tersebut bukan karena takut kepada Allah, maka itu adalah bentuk menampakkan kepanikan dan penyesalan, sehingga termasuk ucapan manusia yang memutus (membatalkan) salat.Pihak kedua berpendapat bahwa hal-hal tersebut bukan termasuk jenis ucapan manusia, dan hampir tidak jelas darinya satu huruf yang terbentuk secara pasti, sehingga lebih mirip suara kosong yang tidak mengandung pemenggalan kata. Itu semua termasuk jenis gerakan. Berdasarkan ini, mereka menyatakan bahwa hal itu tidak membatalkan salat. Pendapat inilah yang sahih (kuat) dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar. [8]Ibnu Taimiyah pun menguatkannya dengan perincian sebagai berikut:“Ucapan (dalam salat) memiliki tiga tingkatan:Pertama: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan konvensi bahasa (al-wad’), baik dengan sendirinya maupun bersama kata lain seperti “fi” (dalam) dan “‘an” (tentang). Ucapan jenis ini, seperti: “yad” (tangan), “dam” (darah), “fum” (mulut), “khudz” (ambillah), adalah ucapan (yang membatalkan).Kedua: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan tabiat (al-thab’), seperti keluh-kesah (ta’awwuh), erangan (anin), tangisan (buka’), dan sejenisnya.Ketiga: Suara yang tidak menunjukkan makna apa pun, baik berdasarkan tabiat maupun konvensi bahasa, seperti berdehem (nahnahah). Bagian (ketiga) inilah yang dahulu dilakukan oleh Imam Ahmad dalam salatnya…”Kemudian Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan berbagai pendapat dan dalil-dalilnya dalam masalah ini. Beliau membedakan antara tertawa terbahak-bahak (qahqahah) dan menangis (buka’), serta menjelaskan alasan tidak disamakannya keduanya, karena pada tertawa terbahak-bahak terdapat unsur yang bertentangan dengan hakikat salat dan merusak kesuciannya. Beliau berkata,“Dan telah jelas bahwa suara-suara tenggorokan ini, yang tidak menunjukkan makna berdasarkan konvensi bahasa, diperselisihkan hukumnya dalam mazhab Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. Namun, yang paling jelas (ash-har) dalam kesemuanya adalah bahwa suara-suara tersebut tidak membatalkan (salat). Karena suara-suara itu termasuk jenis gerakan. Dan sebagaimana gerakan sedikit tidak membatalkan, maka suara sedikit pun tidak membatalkan. Berbeda dengan suara tertawa terbahak-bahak (qahqahah), karena kedudukannya seperti gerakan banyak, dan itu bertentangan dengan (hakikat) salat. Bahkan tertawa terbahak-bahak lebih bertentangan dengan tujuan salat. Oleh karena itu, ia tidak boleh sama sekali dalam salat. Berbeda dengan gerakan banyak, yang masih diberi keringanan jika ada kebutuhan (darurat).” [9]Demikianlah. Selayaknya bagi seorang imam untuk berusaha semampunya menghindari gerakan-gerakan dan suara-suara tenggorokan dalam salatnya, agar tidak mengganggu jemaah dalam mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia baca, sehingga mereka dapat memahami firman Allah Ta’ala, mengambil manfaat, pelajaran, ibrah, serta mengamalkannya.Adapun suara atau gerakan yang tidak dapat ia tahan dan di luar kemampuannya untuk mencegahnya, maka hal itu tidaklah membahayakan (salatnya), karena:لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).” (QS. Ath-Thalaq: 7)Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1320Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “Ash-Shalah” (no. 904), bab: Menangis dalam salat, An-Nasa’i dalam “As-Sahwu” (no. 1214), bab: Menangis dalam salat, Ibnu Hibban dalam “Shahih-nya” (no. 665, 753), Ahmad dalam “Musnad-nya” (no. 16312, 16317, 16326), dari hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir Al-‘Amiri Al-Harasyi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh An-Nawawi dalam “Al-Khulashah” (1: 497), Al-Albani dalam “At-Ta’liqat Al-Hisan” (no. 750), dan Al-Wadi’i dalam “Ash-Shahih Al-Musnad” (no. 579)][2] Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 1023), Abu Ya’la dalam “Musnad-nya” (no. 280), Ibnu Khuzaimah (no. 899), Ibnu Hibban (no. 2257) dari hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib” (no. 545) dan dalam “Shifatush Shalah” (1: 120).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam “Al-Adzan” (no. 682), bab: Orang yang berilmu dan utama lebih berhak menjadi imam, dari hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca (Al-Qur’an), tangisannya mengalahkannya.”Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Ash-Shalah (no. 418) dari hadis Ibnu Umar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca Al-Qur’an, dia tidak dapat menahan air matanya.” Lafaz yang ada dalam fatwa ini berasal dari Ibnu Khuzaimah (no. 899).[4] An-Nasyij: Suara yang terhenti-henti di tenggorokan, atau suara yang disertai kesedihan dan tangisan, seperti seorang anak yang mengulang-ulang tangisannya di dadanya. ‘Nasyaja yansyiju nasyjan wa nasyijan’ artinya jika tersedak oleh tangisan di tenggorokannya tanpa suara jeritan yang keras. [Lihat “Ash-Shihah” karya Al-Jauhari (1: 344), “An-Nihayah” karya Ibnul Atsir (2: 447, 5: 52-53)][5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) dalam “Al-Adzan” (2: 206), bab: Jika imam menangis dalam salat, dan diriwayatkan secara maushul (dengan sanad lengkap) oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (no. 3565, 35527), Abdurrazzaq dalam “Al-Mushannaf” (no. 2716), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1895), dari Abdullah bin Syaddad bin Al-Had Al-Kinani Al-Laitsi Al-‘Utwari radhiyallahu ‘anhuma.Dan dengan makna serupa dari ‘Alqamah bin [Abi] Waqqash Al-Laitsi, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 35530), Abdurrazzaq (no. 2703), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1896). Atsar ini dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam “Taghliq At-Ta’liq” (2: 300).[6] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 623).[7] Ibid (22: 621).[8] Lihat “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar (2: 206).[9] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 616-624).

Fatwa Ulama: Hukum Menangis Dalam Salat Karena Musibah

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kami sebelumnya mengira bahwa imam yang memimpin salat kami di masjid menangis saat membaca (Al-Qur’an) karena takut kepada Allah Ta’ala. Kemudian, ternyata kami mengetahui bahwa ia—saat teringat musibah dan kesulitan yang menimpanya—menangis dengan suara dan erangan, dan beberapa jemaah pun ikut menangis bersamanya. Ketika ia ditegur tentang hal itu, ia berkata, “Sesungguhnya urusan menangis itu di luar kemampuanku, jadi jangan salahkan aku.” Lalu, bagaimana hukum salat ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama membedakan antara menangis dalam salat karena takut kepada Allah dan menangis karena musibah atau bencana.Menangis dalam salat saat membaca (Al-Qur’an), saat sujud, atau saat berdoa—jika benar-benar berasal dari rasa takut kepada Allah Ta’ala (secara tulus, bukan dibuat-buat)—terdapat nash-nash syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk sifat orang-orang saleh yang khusyuk. Hal ini tidak dibedakan antara sujud dalam salat wajib, sujud tilawah, maupun sujud syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 109)Dan seperti itu pula firman-Nya,خَرُّواْ سُجَّدٗا وَبُكِيّٗا“Mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)Turunnya kedua ayat tersebut dalam konteks memuji mereka karena menangis saat sujud menunjukkan anjuran (istihbab) untuk melakukannya. Hal ini diperkuat oleh hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ المِرْجَلِ“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang salat, dan terdengar dari rongga (dada) beliau suara gemuruh seperti gemuruhnya cerek (yang mendidih)”, maksudnya: beliau menangis. [1]Dan hadis Ali radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,مَا كَانَ فِينَا فَارِسٌ يَومَ بَدْرٍ غَيْرُ المِقْدَادِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا فِينَا إِلَّا نَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُصَلِّي وَيَبْكِي، حَتَّى أَصْبَحَ“Tidak ada seorang penunggang kuda pun di antara kami pada perang Badar selain Al-Miqdad. Dan sungguh, aku melihat kami (para sahabat) semuanya tidur, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang salat dan menangis di bawah sebuah pohon hingga pagi.” [2]Dan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mengimami salat orang-orang, lalu dikatakan kepada beliau (tentang Abu Bakar), “Sesungguhnya dia adalah seorang yang lembut hatinya dan banyak menangis saat membaca Al-Qur’an.” [3]Dan hadis Abdullah bin Syaddad bin Al-Had, yang berkata, “Aku mendengar suara isak tangis [4] Umar, padahal aku berada di shaf paling belakang, saat beliau membaca ayat,إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86) [5]Tidak ada seorang pun dari sahabat atau selain mereka yang berada di belakangnya yang mengingkari hal itu, sehingga hal ini menjadi ijma’ sukuti (kesepakatan dengan cara diam/tidak mengingkari).Adapun menangis dalam salat karena musibah yang menimpanya, rasa sakit yang dideritanya, atau karena mengingat keduanya, jika ia tidak mampu menahannya (maghluban ‘alaih) dan tidak kuasa mencegahnya, maka hal itu tidak mempengaruhi salatnya dan sama sekali tidak memutus (membatalkan) salatnya. Sebab, “tidak ada taklif (beban) kecuali sesuai kemampuan”, berdasarkan firman Allah Ta’ala,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 6)Dan firman-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Apa yang tidak dapat ditahan oleh orang yang salat seperti bersin, menangis, dan menguap, maka pendapat yang sahih menurut mayoritas ulama (jumhur) adalah bahwa hal itu tidak membatalkan (salat). Ini adalah pendapat yang dinukil dari Ahmad dan selainnya.” [6]Adapun jika menangis itu terjadi karena mengingat musibah yang menimpanya—baik disertai suara erangan, keluh-kesah, atau yang semakna, maupun tidak disertai suara—jika ia melakukannya dengan sengaja (mukhtaran) dan ia mampu mencegahnya namun tetap terus melakukannya, maka para fuqaha (ahli fikih) berbeda pendapat mengenai hukum salatnya.Baca juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainPendapat pertama: Menyatakan bahwa salatnya batal secara mutlak. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh imam empat mazhab dan selain mereka. Alasan mereka, karena tangisan itu terjadi disebabkan oleh hal di luar salat.Pendapat kedua: Menyatakan bahwa salatnya tidak batal secara mutlak. Ini adalah mazhab Abu Yusuf, dan merupakan satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menguatkan pendapat ini dan berkata, “Abu Yusuf berkata tentang keluh-kesah dan erangan, ‘Itu tidak membatalkan (salat) secara mutlak menurut prinsipnya.’ Dan ini adalah pendapat yang paling sahih dalam masalah ini.” [7]Dan tampaknya bahwa penyebab perbedaan pendapat ini kembali pada pertanyaan berikut:Apakah tangisan, erangan, keluh-kesah, berdehem, meniup, dan yang semakna dengannya termasuk jenis ucapan manusia sehingga membatalkan salat? Ataukah itu semua bukan termasuk jenis ucapan mereka, melainkan termasuk jenis gerakan sehingga yang sedikit darinya tidak membatalkan shalat?Pihak pertama berpendapat bahwa tangisan, erangan, keluh-kesah, dan yang semakna dengannya tidak keluar dari keumuman larangan berbicara dalam salat. Mereka memandang bahwa jika hal-hal tersebut bukan karena takut kepada Allah, maka itu adalah bentuk menampakkan kepanikan dan penyesalan, sehingga termasuk ucapan manusia yang memutus (membatalkan) salat.Pihak kedua berpendapat bahwa hal-hal tersebut bukan termasuk jenis ucapan manusia, dan hampir tidak jelas darinya satu huruf yang terbentuk secara pasti, sehingga lebih mirip suara kosong yang tidak mengandung pemenggalan kata. Itu semua termasuk jenis gerakan. Berdasarkan ini, mereka menyatakan bahwa hal itu tidak membatalkan salat. Pendapat inilah yang sahih (kuat) dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar. [8]Ibnu Taimiyah pun menguatkannya dengan perincian sebagai berikut:“Ucapan (dalam salat) memiliki tiga tingkatan:Pertama: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan konvensi bahasa (al-wad’), baik dengan sendirinya maupun bersama kata lain seperti “fi” (dalam) dan “‘an” (tentang). Ucapan jenis ini, seperti: “yad” (tangan), “dam” (darah), “fum” (mulut), “khudz” (ambillah), adalah ucapan (yang membatalkan).Kedua: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan tabiat (al-thab’), seperti keluh-kesah (ta’awwuh), erangan (anin), tangisan (buka’), dan sejenisnya.Ketiga: Suara yang tidak menunjukkan makna apa pun, baik berdasarkan tabiat maupun konvensi bahasa, seperti berdehem (nahnahah). Bagian (ketiga) inilah yang dahulu dilakukan oleh Imam Ahmad dalam salatnya…”Kemudian Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan berbagai pendapat dan dalil-dalilnya dalam masalah ini. Beliau membedakan antara tertawa terbahak-bahak (qahqahah) dan menangis (buka’), serta menjelaskan alasan tidak disamakannya keduanya, karena pada tertawa terbahak-bahak terdapat unsur yang bertentangan dengan hakikat salat dan merusak kesuciannya. Beliau berkata,“Dan telah jelas bahwa suara-suara tenggorokan ini, yang tidak menunjukkan makna berdasarkan konvensi bahasa, diperselisihkan hukumnya dalam mazhab Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. Namun, yang paling jelas (ash-har) dalam kesemuanya adalah bahwa suara-suara tersebut tidak membatalkan (salat). Karena suara-suara itu termasuk jenis gerakan. Dan sebagaimana gerakan sedikit tidak membatalkan, maka suara sedikit pun tidak membatalkan. Berbeda dengan suara tertawa terbahak-bahak (qahqahah), karena kedudukannya seperti gerakan banyak, dan itu bertentangan dengan (hakikat) salat. Bahkan tertawa terbahak-bahak lebih bertentangan dengan tujuan salat. Oleh karena itu, ia tidak boleh sama sekali dalam salat. Berbeda dengan gerakan banyak, yang masih diberi keringanan jika ada kebutuhan (darurat).” [9]Demikianlah. Selayaknya bagi seorang imam untuk berusaha semampunya menghindari gerakan-gerakan dan suara-suara tenggorokan dalam salatnya, agar tidak mengganggu jemaah dalam mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia baca, sehingga mereka dapat memahami firman Allah Ta’ala, mengambil manfaat, pelajaran, ibrah, serta mengamalkannya.Adapun suara atau gerakan yang tidak dapat ia tahan dan di luar kemampuannya untuk mencegahnya, maka hal itu tidaklah membahayakan (salatnya), karena:لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).” (QS. Ath-Thalaq: 7)Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1320Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “Ash-Shalah” (no. 904), bab: Menangis dalam salat, An-Nasa’i dalam “As-Sahwu” (no. 1214), bab: Menangis dalam salat, Ibnu Hibban dalam “Shahih-nya” (no. 665, 753), Ahmad dalam “Musnad-nya” (no. 16312, 16317, 16326), dari hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir Al-‘Amiri Al-Harasyi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh An-Nawawi dalam “Al-Khulashah” (1: 497), Al-Albani dalam “At-Ta’liqat Al-Hisan” (no. 750), dan Al-Wadi’i dalam “Ash-Shahih Al-Musnad” (no. 579)][2] Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 1023), Abu Ya’la dalam “Musnad-nya” (no. 280), Ibnu Khuzaimah (no. 899), Ibnu Hibban (no. 2257) dari hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib” (no. 545) dan dalam “Shifatush Shalah” (1: 120).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam “Al-Adzan” (no. 682), bab: Orang yang berilmu dan utama lebih berhak menjadi imam, dari hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca (Al-Qur’an), tangisannya mengalahkannya.”Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Ash-Shalah (no. 418) dari hadis Ibnu Umar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca Al-Qur’an, dia tidak dapat menahan air matanya.” Lafaz yang ada dalam fatwa ini berasal dari Ibnu Khuzaimah (no. 899).[4] An-Nasyij: Suara yang terhenti-henti di tenggorokan, atau suara yang disertai kesedihan dan tangisan, seperti seorang anak yang mengulang-ulang tangisannya di dadanya. ‘Nasyaja yansyiju nasyjan wa nasyijan’ artinya jika tersedak oleh tangisan di tenggorokannya tanpa suara jeritan yang keras. [Lihat “Ash-Shihah” karya Al-Jauhari (1: 344), “An-Nihayah” karya Ibnul Atsir (2: 447, 5: 52-53)][5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) dalam “Al-Adzan” (2: 206), bab: Jika imam menangis dalam salat, dan diriwayatkan secara maushul (dengan sanad lengkap) oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (no. 3565, 35527), Abdurrazzaq dalam “Al-Mushannaf” (no. 2716), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1895), dari Abdullah bin Syaddad bin Al-Had Al-Kinani Al-Laitsi Al-‘Utwari radhiyallahu ‘anhuma.Dan dengan makna serupa dari ‘Alqamah bin [Abi] Waqqash Al-Laitsi, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 35530), Abdurrazzaq (no. 2703), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1896). Atsar ini dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam “Taghliq At-Ta’liq” (2: 300).[6] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 623).[7] Ibid (22: 621).[8] Lihat “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar (2: 206).[9] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 616-624).
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kami sebelumnya mengira bahwa imam yang memimpin salat kami di masjid menangis saat membaca (Al-Qur’an) karena takut kepada Allah Ta’ala. Kemudian, ternyata kami mengetahui bahwa ia—saat teringat musibah dan kesulitan yang menimpanya—menangis dengan suara dan erangan, dan beberapa jemaah pun ikut menangis bersamanya. Ketika ia ditegur tentang hal itu, ia berkata, “Sesungguhnya urusan menangis itu di luar kemampuanku, jadi jangan salahkan aku.” Lalu, bagaimana hukum salat ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama membedakan antara menangis dalam salat karena takut kepada Allah dan menangis karena musibah atau bencana.Menangis dalam salat saat membaca (Al-Qur’an), saat sujud, atau saat berdoa—jika benar-benar berasal dari rasa takut kepada Allah Ta’ala (secara tulus, bukan dibuat-buat)—terdapat nash-nash syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk sifat orang-orang saleh yang khusyuk. Hal ini tidak dibedakan antara sujud dalam salat wajib, sujud tilawah, maupun sujud syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 109)Dan seperti itu pula firman-Nya,خَرُّواْ سُجَّدٗا وَبُكِيّٗا“Mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)Turunnya kedua ayat tersebut dalam konteks memuji mereka karena menangis saat sujud menunjukkan anjuran (istihbab) untuk melakukannya. Hal ini diperkuat oleh hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ المِرْجَلِ“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang salat, dan terdengar dari rongga (dada) beliau suara gemuruh seperti gemuruhnya cerek (yang mendidih)”, maksudnya: beliau menangis. [1]Dan hadis Ali radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,مَا كَانَ فِينَا فَارِسٌ يَومَ بَدْرٍ غَيْرُ المِقْدَادِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا فِينَا إِلَّا نَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُصَلِّي وَيَبْكِي، حَتَّى أَصْبَحَ“Tidak ada seorang penunggang kuda pun di antara kami pada perang Badar selain Al-Miqdad. Dan sungguh, aku melihat kami (para sahabat) semuanya tidur, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang salat dan menangis di bawah sebuah pohon hingga pagi.” [2]Dan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mengimami salat orang-orang, lalu dikatakan kepada beliau (tentang Abu Bakar), “Sesungguhnya dia adalah seorang yang lembut hatinya dan banyak menangis saat membaca Al-Qur’an.” [3]Dan hadis Abdullah bin Syaddad bin Al-Had, yang berkata, “Aku mendengar suara isak tangis [4] Umar, padahal aku berada di shaf paling belakang, saat beliau membaca ayat,إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86) [5]Tidak ada seorang pun dari sahabat atau selain mereka yang berada di belakangnya yang mengingkari hal itu, sehingga hal ini menjadi ijma’ sukuti (kesepakatan dengan cara diam/tidak mengingkari).Adapun menangis dalam salat karena musibah yang menimpanya, rasa sakit yang dideritanya, atau karena mengingat keduanya, jika ia tidak mampu menahannya (maghluban ‘alaih) dan tidak kuasa mencegahnya, maka hal itu tidak mempengaruhi salatnya dan sama sekali tidak memutus (membatalkan) salatnya. Sebab, “tidak ada taklif (beban) kecuali sesuai kemampuan”, berdasarkan firman Allah Ta’ala,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 6)Dan firman-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Apa yang tidak dapat ditahan oleh orang yang salat seperti bersin, menangis, dan menguap, maka pendapat yang sahih menurut mayoritas ulama (jumhur) adalah bahwa hal itu tidak membatalkan (salat). Ini adalah pendapat yang dinukil dari Ahmad dan selainnya.” [6]Adapun jika menangis itu terjadi karena mengingat musibah yang menimpanya—baik disertai suara erangan, keluh-kesah, atau yang semakna, maupun tidak disertai suara—jika ia melakukannya dengan sengaja (mukhtaran) dan ia mampu mencegahnya namun tetap terus melakukannya, maka para fuqaha (ahli fikih) berbeda pendapat mengenai hukum salatnya.Baca juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainPendapat pertama: Menyatakan bahwa salatnya batal secara mutlak. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh imam empat mazhab dan selain mereka. Alasan mereka, karena tangisan itu terjadi disebabkan oleh hal di luar salat.Pendapat kedua: Menyatakan bahwa salatnya tidak batal secara mutlak. Ini adalah mazhab Abu Yusuf, dan merupakan satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menguatkan pendapat ini dan berkata, “Abu Yusuf berkata tentang keluh-kesah dan erangan, ‘Itu tidak membatalkan (salat) secara mutlak menurut prinsipnya.’ Dan ini adalah pendapat yang paling sahih dalam masalah ini.” [7]Dan tampaknya bahwa penyebab perbedaan pendapat ini kembali pada pertanyaan berikut:Apakah tangisan, erangan, keluh-kesah, berdehem, meniup, dan yang semakna dengannya termasuk jenis ucapan manusia sehingga membatalkan salat? Ataukah itu semua bukan termasuk jenis ucapan mereka, melainkan termasuk jenis gerakan sehingga yang sedikit darinya tidak membatalkan shalat?Pihak pertama berpendapat bahwa tangisan, erangan, keluh-kesah, dan yang semakna dengannya tidak keluar dari keumuman larangan berbicara dalam salat. Mereka memandang bahwa jika hal-hal tersebut bukan karena takut kepada Allah, maka itu adalah bentuk menampakkan kepanikan dan penyesalan, sehingga termasuk ucapan manusia yang memutus (membatalkan) salat.Pihak kedua berpendapat bahwa hal-hal tersebut bukan termasuk jenis ucapan manusia, dan hampir tidak jelas darinya satu huruf yang terbentuk secara pasti, sehingga lebih mirip suara kosong yang tidak mengandung pemenggalan kata. Itu semua termasuk jenis gerakan. Berdasarkan ini, mereka menyatakan bahwa hal itu tidak membatalkan salat. Pendapat inilah yang sahih (kuat) dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar. [8]Ibnu Taimiyah pun menguatkannya dengan perincian sebagai berikut:“Ucapan (dalam salat) memiliki tiga tingkatan:Pertama: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan konvensi bahasa (al-wad’), baik dengan sendirinya maupun bersama kata lain seperti “fi” (dalam) dan “‘an” (tentang). Ucapan jenis ini, seperti: “yad” (tangan), “dam” (darah), “fum” (mulut), “khudz” (ambillah), adalah ucapan (yang membatalkan).Kedua: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan tabiat (al-thab’), seperti keluh-kesah (ta’awwuh), erangan (anin), tangisan (buka’), dan sejenisnya.Ketiga: Suara yang tidak menunjukkan makna apa pun, baik berdasarkan tabiat maupun konvensi bahasa, seperti berdehem (nahnahah). Bagian (ketiga) inilah yang dahulu dilakukan oleh Imam Ahmad dalam salatnya…”Kemudian Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan berbagai pendapat dan dalil-dalilnya dalam masalah ini. Beliau membedakan antara tertawa terbahak-bahak (qahqahah) dan menangis (buka’), serta menjelaskan alasan tidak disamakannya keduanya, karena pada tertawa terbahak-bahak terdapat unsur yang bertentangan dengan hakikat salat dan merusak kesuciannya. Beliau berkata,“Dan telah jelas bahwa suara-suara tenggorokan ini, yang tidak menunjukkan makna berdasarkan konvensi bahasa, diperselisihkan hukumnya dalam mazhab Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. Namun, yang paling jelas (ash-har) dalam kesemuanya adalah bahwa suara-suara tersebut tidak membatalkan (salat). Karena suara-suara itu termasuk jenis gerakan. Dan sebagaimana gerakan sedikit tidak membatalkan, maka suara sedikit pun tidak membatalkan. Berbeda dengan suara tertawa terbahak-bahak (qahqahah), karena kedudukannya seperti gerakan banyak, dan itu bertentangan dengan (hakikat) salat. Bahkan tertawa terbahak-bahak lebih bertentangan dengan tujuan salat. Oleh karena itu, ia tidak boleh sama sekali dalam salat. Berbeda dengan gerakan banyak, yang masih diberi keringanan jika ada kebutuhan (darurat).” [9]Demikianlah. Selayaknya bagi seorang imam untuk berusaha semampunya menghindari gerakan-gerakan dan suara-suara tenggorokan dalam salatnya, agar tidak mengganggu jemaah dalam mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia baca, sehingga mereka dapat memahami firman Allah Ta’ala, mengambil manfaat, pelajaran, ibrah, serta mengamalkannya.Adapun suara atau gerakan yang tidak dapat ia tahan dan di luar kemampuannya untuk mencegahnya, maka hal itu tidaklah membahayakan (salatnya), karena:لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).” (QS. Ath-Thalaq: 7)Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1320Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “Ash-Shalah” (no. 904), bab: Menangis dalam salat, An-Nasa’i dalam “As-Sahwu” (no. 1214), bab: Menangis dalam salat, Ibnu Hibban dalam “Shahih-nya” (no. 665, 753), Ahmad dalam “Musnad-nya” (no. 16312, 16317, 16326), dari hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir Al-‘Amiri Al-Harasyi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh An-Nawawi dalam “Al-Khulashah” (1: 497), Al-Albani dalam “At-Ta’liqat Al-Hisan” (no. 750), dan Al-Wadi’i dalam “Ash-Shahih Al-Musnad” (no. 579)][2] Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 1023), Abu Ya’la dalam “Musnad-nya” (no. 280), Ibnu Khuzaimah (no. 899), Ibnu Hibban (no. 2257) dari hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib” (no. 545) dan dalam “Shifatush Shalah” (1: 120).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam “Al-Adzan” (no. 682), bab: Orang yang berilmu dan utama lebih berhak menjadi imam, dari hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca (Al-Qur’an), tangisannya mengalahkannya.”Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Ash-Shalah (no. 418) dari hadis Ibnu Umar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca Al-Qur’an, dia tidak dapat menahan air matanya.” Lafaz yang ada dalam fatwa ini berasal dari Ibnu Khuzaimah (no. 899).[4] An-Nasyij: Suara yang terhenti-henti di tenggorokan, atau suara yang disertai kesedihan dan tangisan, seperti seorang anak yang mengulang-ulang tangisannya di dadanya. ‘Nasyaja yansyiju nasyjan wa nasyijan’ artinya jika tersedak oleh tangisan di tenggorokannya tanpa suara jeritan yang keras. [Lihat “Ash-Shihah” karya Al-Jauhari (1: 344), “An-Nihayah” karya Ibnul Atsir (2: 447, 5: 52-53)][5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) dalam “Al-Adzan” (2: 206), bab: Jika imam menangis dalam salat, dan diriwayatkan secara maushul (dengan sanad lengkap) oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (no. 3565, 35527), Abdurrazzaq dalam “Al-Mushannaf” (no. 2716), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1895), dari Abdullah bin Syaddad bin Al-Had Al-Kinani Al-Laitsi Al-‘Utwari radhiyallahu ‘anhuma.Dan dengan makna serupa dari ‘Alqamah bin [Abi] Waqqash Al-Laitsi, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 35530), Abdurrazzaq (no. 2703), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1896). Atsar ini dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam “Taghliq At-Ta’liq” (2: 300).[6] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 623).[7] Ibid (22: 621).[8] Lihat “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar (2: 206).[9] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 616-624).


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Kami sebelumnya mengira bahwa imam yang memimpin salat kami di masjid menangis saat membaca (Al-Qur’an) karena takut kepada Allah Ta’ala. Kemudian, ternyata kami mengetahui bahwa ia—saat teringat musibah dan kesulitan yang menimpanya—menangis dengan suara dan erangan, dan beberapa jemaah pun ikut menangis bersamanya. Ketika ia ditegur tentang hal itu, ia berkata, “Sesungguhnya urusan menangis itu di luar kemampuanku, jadi jangan salahkan aku.” Lalu, bagaimana hukum salat ini? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan selawat serta salam kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama membedakan antara menangis dalam salat karena takut kepada Allah dan menangis karena musibah atau bencana.Menangis dalam salat saat membaca (Al-Qur’an), saat sujud, atau saat berdoa—jika benar-benar berasal dari rasa takut kepada Allah Ta’ala (secara tulus, bukan dibuat-buat)—terdapat nash-nash syar’i yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk sifat orang-orang saleh yang khusyuk. Hal ini tidak dibedakan antara sujud dalam salat wajib, sujud tilawah, maupun sujud syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 109)Dan seperti itu pula firman-Nya,خَرُّواْ سُجَّدٗا وَبُكِيّٗا“Mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)Turunnya kedua ayat tersebut dalam konteks memuji mereka karena menangis saat sujud menunjukkan anjuran (istihbab) untuk melakukannya. Hal ini diperkuat oleh hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ المِرْجَلِ“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang salat, dan terdengar dari rongga (dada) beliau suara gemuruh seperti gemuruhnya cerek (yang mendidih)”, maksudnya: beliau menangis. [1]Dan hadis Ali radhiyallahu ‘anhu, yang berkata,مَا كَانَ فِينَا فَارِسٌ يَومَ بَدْرٍ غَيْرُ المِقْدَادِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا فِينَا إِلَّا نَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُصَلِّي وَيَبْكِي، حَتَّى أَصْبَحَ“Tidak ada seorang penunggang kuda pun di antara kami pada perang Badar selain Al-Miqdad. Dan sungguh, aku melihat kami (para sahabat) semuanya tidur, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang salat dan menangis di bawah sebuah pohon hingga pagi.” [2]Dan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mengimami salat orang-orang, lalu dikatakan kepada beliau (tentang Abu Bakar), “Sesungguhnya dia adalah seorang yang lembut hatinya dan banyak menangis saat membaca Al-Qur’an.” [3]Dan hadis Abdullah bin Syaddad bin Al-Had, yang berkata, “Aku mendengar suara isak tangis [4] Umar, padahal aku berada di shaf paling belakang, saat beliau membaca ayat,إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86) [5]Tidak ada seorang pun dari sahabat atau selain mereka yang berada di belakangnya yang mengingkari hal itu, sehingga hal ini menjadi ijma’ sukuti (kesepakatan dengan cara diam/tidak mengingkari).Adapun menangis dalam salat karena musibah yang menimpanya, rasa sakit yang dideritanya, atau karena mengingat keduanya, jika ia tidak mampu menahannya (maghluban ‘alaih) dan tidak kuasa mencegahnya, maka hal itu tidak mempengaruhi salatnya dan sama sekali tidak memutus (membatalkan) salatnya. Sebab, “tidak ada taklif (beban) kecuali sesuai kemampuan”, berdasarkan firman Allah Ta’ala,فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 6)Dan firman-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Apa yang tidak dapat ditahan oleh orang yang salat seperti bersin, menangis, dan menguap, maka pendapat yang sahih menurut mayoritas ulama (jumhur) adalah bahwa hal itu tidak membatalkan (salat). Ini adalah pendapat yang dinukil dari Ahmad dan selainnya.” [6]Adapun jika menangis itu terjadi karena mengingat musibah yang menimpanya—baik disertai suara erangan, keluh-kesah, atau yang semakna, maupun tidak disertai suara—jika ia melakukannya dengan sengaja (mukhtaran) dan ia mampu mencegahnya namun tetap terus melakukannya, maka para fuqaha (ahli fikih) berbeda pendapat mengenai hukum salatnya.Baca juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainPendapat pertama: Menyatakan bahwa salatnya batal secara mutlak. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh imam empat mazhab dan selain mereka. Alasan mereka, karena tangisan itu terjadi disebabkan oleh hal di luar salat.Pendapat kedua: Menyatakan bahwa salatnya tidak batal secara mutlak. Ini adalah mazhab Abu Yusuf, dan merupakan satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Ibnu Taimiyyah rahimahullah menguatkan pendapat ini dan berkata, “Abu Yusuf berkata tentang keluh-kesah dan erangan, ‘Itu tidak membatalkan (salat) secara mutlak menurut prinsipnya.’ Dan ini adalah pendapat yang paling sahih dalam masalah ini.” [7]Dan tampaknya bahwa penyebab perbedaan pendapat ini kembali pada pertanyaan berikut:Apakah tangisan, erangan, keluh-kesah, berdehem, meniup, dan yang semakna dengannya termasuk jenis ucapan manusia sehingga membatalkan salat? Ataukah itu semua bukan termasuk jenis ucapan mereka, melainkan termasuk jenis gerakan sehingga yang sedikit darinya tidak membatalkan shalat?Pihak pertama berpendapat bahwa tangisan, erangan, keluh-kesah, dan yang semakna dengannya tidak keluar dari keumuman larangan berbicara dalam salat. Mereka memandang bahwa jika hal-hal tersebut bukan karena takut kepada Allah, maka itu adalah bentuk menampakkan kepanikan dan penyesalan, sehingga termasuk ucapan manusia yang memutus (membatalkan) salat.Pihak kedua berpendapat bahwa hal-hal tersebut bukan termasuk jenis ucapan manusia, dan hampir tidak jelas darinya satu huruf yang terbentuk secara pasti, sehingga lebih mirip suara kosong yang tidak mengandung pemenggalan kata. Itu semua termasuk jenis gerakan. Berdasarkan ini, mereka menyatakan bahwa hal itu tidak membatalkan salat. Pendapat inilah yang sahih (kuat) dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar. [8]Ibnu Taimiyah pun menguatkannya dengan perincian sebagai berikut:“Ucapan (dalam salat) memiliki tiga tingkatan:Pertama: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan konvensi bahasa (al-wad’), baik dengan sendirinya maupun bersama kata lain seperti “fi” (dalam) dan “‘an” (tentang). Ucapan jenis ini, seperti: “yad” (tangan), “dam” (darah), “fum” (mulut), “khudz” (ambillah), adalah ucapan (yang membatalkan).Kedua: Suara yang menunjukkan suatu makna berdasarkan tabiat (al-thab’), seperti keluh-kesah (ta’awwuh), erangan (anin), tangisan (buka’), dan sejenisnya.Ketiga: Suara yang tidak menunjukkan makna apa pun, baik berdasarkan tabiat maupun konvensi bahasa, seperti berdehem (nahnahah). Bagian (ketiga) inilah yang dahulu dilakukan oleh Imam Ahmad dalam salatnya…”Kemudian Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan berbagai pendapat dan dalil-dalilnya dalam masalah ini. Beliau membedakan antara tertawa terbahak-bahak (qahqahah) dan menangis (buka’), serta menjelaskan alasan tidak disamakannya keduanya, karena pada tertawa terbahak-bahak terdapat unsur yang bertentangan dengan hakikat salat dan merusak kesuciannya. Beliau berkata,“Dan telah jelas bahwa suara-suara tenggorokan ini, yang tidak menunjukkan makna berdasarkan konvensi bahasa, diperselisihkan hukumnya dalam mazhab Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. Namun, yang paling jelas (ash-har) dalam kesemuanya adalah bahwa suara-suara tersebut tidak membatalkan (salat). Karena suara-suara itu termasuk jenis gerakan. Dan sebagaimana gerakan sedikit tidak membatalkan, maka suara sedikit pun tidak membatalkan. Berbeda dengan suara tertawa terbahak-bahak (qahqahah), karena kedudukannya seperti gerakan banyak, dan itu bertentangan dengan (hakikat) salat. Bahkan tertawa terbahak-bahak lebih bertentangan dengan tujuan salat. Oleh karena itu, ia tidak boleh sama sekali dalam salat. Berbeda dengan gerakan banyak, yang masih diberi keringanan jika ada kebutuhan (darurat).” [9]Demikianlah. Selayaknya bagi seorang imam untuk berusaha semampunya menghindari gerakan-gerakan dan suara-suara tenggorokan dalam salatnya, agar tidak mengganggu jemaah dalam mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia baca, sehingga mereka dapat memahami firman Allah Ta’ala, mengambil manfaat, pelajaran, ibrah, serta mengamalkannya.Adapun suara atau gerakan yang tidak dapat ia tahan dan di luar kemampuannya untuk mencegahnya, maka hal itu tidaklah membahayakan (salatnya), karena:لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).” (QS. Ath-Thalaq: 7)Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.Baca juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1320Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam “Ash-Shalah” (no. 904), bab: Menangis dalam salat, An-Nasa’i dalam “As-Sahwu” (no. 1214), bab: Menangis dalam salat, Ibnu Hibban dalam “Shahih-nya” (no. 665, 753), Ahmad dalam “Musnad-nya” (no. 16312, 16317, 16326), dari hadis Abdullah bin Asy-Syikhkhir Al-‘Amiri Al-Harasyi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh An-Nawawi dalam “Al-Khulashah” (1: 497), Al-Albani dalam “At-Ta’liqat Al-Hisan” (no. 750), dan Al-Wadi’i dalam “Ash-Shahih Al-Musnad” (no. 579)][2] Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 1023), Abu Ya’la dalam “Musnad-nya” (no. 280), Ibnu Khuzaimah (no. 899), Ibnu Hibban (no. 2257) dari hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib” (no. 545) dan dalam “Shifatush Shalah” (1: 120).[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam “Al-Adzan” (no. 682), bab: Orang yang berilmu dan utama lebih berhak menjadi imam, dari hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca (Al-Qur’an), tangisannya mengalahkannya.”Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Ash-Shalah (no. 418) dari hadis Ibnu Umar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya: jika membaca Al-Qur’an, dia tidak dapat menahan air matanya.” Lafaz yang ada dalam fatwa ini berasal dari Ibnu Khuzaimah (no. 899).[4] An-Nasyij: Suara yang terhenti-henti di tenggorokan, atau suara yang disertai kesedihan dan tangisan, seperti seorang anak yang mengulang-ulang tangisannya di dadanya. ‘Nasyaja yansyiju nasyjan wa nasyijan’ artinya jika tersedak oleh tangisan di tenggorokannya tanpa suara jeritan yang keras. [Lihat “Ash-Shihah” karya Al-Jauhari (1: 344), “An-Nihayah” karya Ibnul Atsir (2: 447, 5: 52-53)][5] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) dalam “Al-Adzan” (2: 206), bab: Jika imam menangis dalam salat, dan diriwayatkan secara maushul (dengan sanad lengkap) oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (no. 3565, 35527), Abdurrazzaq dalam “Al-Mushannaf” (no. 2716), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1895), dari Abdullah bin Syaddad bin Al-Had Al-Kinani Al-Laitsi Al-‘Utwari radhiyallahu ‘anhuma.Dan dengan makna serupa dari ‘Alqamah bin [Abi] Waqqash Al-Laitsi, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 35530), Abdurrazzaq (no. 2703), dan Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Iman” (no. 1896). Atsar ini dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam “Taghliq At-Ta’liq” (2: 300).[6] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 623).[7] Ibid (22: 621).[8] Lihat “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar (2: 206).[9] “Majmu’ Al-Fatawa” karya Ibnu Taimiyyah (22: 616-624).

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 33): Huruf أَنْ yang Boleh Dilesapkan (Al-Mudhmarah Jawazan)

Daftar Isi TogglePengertian huruf أَنْ mashdariyyahPertama: Setelah huruf و (waw)Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Keempat: Setelah huruf أو (aw)KesimpulanIbnu Hisyam menjelaskan bahwa huruf أَنْ terkadang boleh ditampakkan dan boleh pula dilesapkan. Beliau mengatakan,مُضْمَرَةً جَوَازًا بَعْدَ عَاطِفٍ مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf yang didahului oleh isim murni (isim khalish).”Beliau memberi contoh:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي“Memakai pakaian abaya dan mataku menjadi tenang.”Beliau juga menyebutkan bahwa huruf أَنْ boleh dilesapkan setelah huruf lam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 44,لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ“Agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)Pengertian huruf أَنْ mashdariyyahHuruf أَنْ mashdariyyah, baik yang tampak (zhahir) maupun yang dilesapkan (mudhmarah), berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’.Huruf أَنْ memiliki tiga keadaan, yaitu:Pertama: Boleh dilesapkan (jawazan);Kedua: Wajib ditampakkan; danKetiga: Wajib dilesapkan.Pembahasan kali ini berkaitan dengan keadaan pertama, yaitu huruf أَنْ yang boleh ditampakkan ataupun dilesapkan.Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf dan sebelumnya terdapat isim jamid murni, yaitu isim yang tidak mengandung makna fi‘il dan tidak dapat ditakwil menjadi fi‘il.Biasanya, isim tersebut berbentuk mashdar. Adapun huruf athaf yang dimaksud adalah: و ,ف, ثم ,أوPertama: Setelah huruf و (waw)Contohnya adalah:عَمَلٌ وَأُحَصِّلَ رِزْقِي خَيْرٌ مِنْ رَاحَةٍ وَأَمُدَّ يَدِي لِلسُّؤَالِ“Bekerja dan aku mencari rezekiku itu lebih baik daripada bersantai lalu mengulurkan tanganku untuk meminta-minta.”Pada kata وَأَمُدَّ terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan. Asalnya adalah وَأَنْ أَمُدَّ. Meskipun huruf أَنْ tidak tampak, tetap ada pengaruhnya, yaitu me-nashab-kan fi‘il mudhori’ setelahnya.Contoh lainnya adalah perkataan seorang perempuan:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ لُبْسِ الشُّفُوفِ“Memakai pakaian abaya dan kedua mataku tenang itu lebih aku sukai daripada memakai pakaian tipis.”Kata لُبْسُ pada contoh di atas berkedudukan sebagai mubtada marfu’. Sedangkan kata وَتَقَرَّ adalah fi‘il mudhari’ manshub karena adanya huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf waw athaf.Adapun kata عَيْنِي berkedudukan sebagai fa‘il marfu’ dengan dhammah muqaddarah. Sementara yaa mutakallim menjadi mudhaf ilaih. Kemudian kata أَحَبُّ menjadi khabar mubtada’.Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Contohnya adalah:إِنَّ دِرَاسَتِي النَّحْوَ فَأَسْتَفِيدَ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ دِرَاسَةِ الْبَلَاغَةِ“Sesungguhnya aku mempelajari ilmu nahwu, lalu aku mendapatkan faedah darinya itu lebih aku sukai daripada mempelajari ilmu balaghah.”Kata فَأَسْتَفِيدَ pada contoh di atas berkedudukan manshub karena terdapat huruf an yang dilesapkan setelah huruf faa’. Asal katanya adalah فَأَنْ أَسْتَفِيدَ.Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Contohnya adalah:إِنَّ جَمْعِي الْمَالَ ثُمَّ أُمْسِكَهُ دَلِيلُ الْحِرْمَانِ“Sesungguhnya aku mengumpulkan harta kemudian aku menahannya merupakan tanda terhalang dari kebaikan.”Pada kata أُمْسِكَهُ, asalnya adalah أَنْ أُمْسِكَهُ. Huruf أَنْ dihapus secara “boleh” (jawazan), bukan wajib.Keempat: Setelah huruf أو (aw)Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللّٰهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan.” (QS. Asy-Syura: 51)Pada kata يُرْسِلَ dibaca manshub karena terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf أَوْ. Asalnya adalah أَوْ أَنْ يُرْسِلَ. Huruf an bersama fi‘il setelahnya membentuk mashdar muawwal yang di-athaf-kan kepada kata وَحْيًا.Demikianlah bacaan tujuh imam qira’at, kecuali Imam Nafi‘ Al-Madani yang membaca يُرْسِلُ dengan keadaan marfu’.KesimpulanHuruf an mashdariyyah berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’, baik dalam keadaan tampak maupun dilesapkan.Huruf an boleh dilesapkan apabila:1) Terletak setelah huruf athaf;2) Didahului oleh isim jamid murni; dan3) Huruf athaf tersebut berupa: و ,ف, ثم ,أوDalam keadaan seperti ini, fi‘il mudhari’ setelahnya tetap manshub walaupun huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian kaidah nahwu Arab, di mana keberadaan suatu amil terkadang diperkirakan walaupun tidak disebutkan secara langsung dalam susunan kalimat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 32***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 33): Huruf أَنْ yang Boleh Dilesapkan (Al-Mudhmarah Jawazan)

Daftar Isi TogglePengertian huruf أَنْ mashdariyyahPertama: Setelah huruf و (waw)Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Keempat: Setelah huruf أو (aw)KesimpulanIbnu Hisyam menjelaskan bahwa huruf أَنْ terkadang boleh ditampakkan dan boleh pula dilesapkan. Beliau mengatakan,مُضْمَرَةً جَوَازًا بَعْدَ عَاطِفٍ مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf yang didahului oleh isim murni (isim khalish).”Beliau memberi contoh:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي“Memakai pakaian abaya dan mataku menjadi tenang.”Beliau juga menyebutkan bahwa huruf أَنْ boleh dilesapkan setelah huruf lam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 44,لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ“Agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)Pengertian huruf أَنْ mashdariyyahHuruf أَنْ mashdariyyah, baik yang tampak (zhahir) maupun yang dilesapkan (mudhmarah), berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’.Huruf أَنْ memiliki tiga keadaan, yaitu:Pertama: Boleh dilesapkan (jawazan);Kedua: Wajib ditampakkan; danKetiga: Wajib dilesapkan.Pembahasan kali ini berkaitan dengan keadaan pertama, yaitu huruf أَنْ yang boleh ditampakkan ataupun dilesapkan.Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf dan sebelumnya terdapat isim jamid murni, yaitu isim yang tidak mengandung makna fi‘il dan tidak dapat ditakwil menjadi fi‘il.Biasanya, isim tersebut berbentuk mashdar. Adapun huruf athaf yang dimaksud adalah: و ,ف, ثم ,أوPertama: Setelah huruf و (waw)Contohnya adalah:عَمَلٌ وَأُحَصِّلَ رِزْقِي خَيْرٌ مِنْ رَاحَةٍ وَأَمُدَّ يَدِي لِلسُّؤَالِ“Bekerja dan aku mencari rezekiku itu lebih baik daripada bersantai lalu mengulurkan tanganku untuk meminta-minta.”Pada kata وَأَمُدَّ terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan. Asalnya adalah وَأَنْ أَمُدَّ. Meskipun huruf أَنْ tidak tampak, tetap ada pengaruhnya, yaitu me-nashab-kan fi‘il mudhori’ setelahnya.Contoh lainnya adalah perkataan seorang perempuan:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ لُبْسِ الشُّفُوفِ“Memakai pakaian abaya dan kedua mataku tenang itu lebih aku sukai daripada memakai pakaian tipis.”Kata لُبْسُ pada contoh di atas berkedudukan sebagai mubtada marfu’. Sedangkan kata وَتَقَرَّ adalah fi‘il mudhari’ manshub karena adanya huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf waw athaf.Adapun kata عَيْنِي berkedudukan sebagai fa‘il marfu’ dengan dhammah muqaddarah. Sementara yaa mutakallim menjadi mudhaf ilaih. Kemudian kata أَحَبُّ menjadi khabar mubtada’.Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Contohnya adalah:إِنَّ دِرَاسَتِي النَّحْوَ فَأَسْتَفِيدَ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ دِرَاسَةِ الْبَلَاغَةِ“Sesungguhnya aku mempelajari ilmu nahwu, lalu aku mendapatkan faedah darinya itu lebih aku sukai daripada mempelajari ilmu balaghah.”Kata فَأَسْتَفِيدَ pada contoh di atas berkedudukan manshub karena terdapat huruf an yang dilesapkan setelah huruf faa’. Asal katanya adalah فَأَنْ أَسْتَفِيدَ.Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Contohnya adalah:إِنَّ جَمْعِي الْمَالَ ثُمَّ أُمْسِكَهُ دَلِيلُ الْحِرْمَانِ“Sesungguhnya aku mengumpulkan harta kemudian aku menahannya merupakan tanda terhalang dari kebaikan.”Pada kata أُمْسِكَهُ, asalnya adalah أَنْ أُمْسِكَهُ. Huruf أَنْ dihapus secara “boleh” (jawazan), bukan wajib.Keempat: Setelah huruf أو (aw)Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللّٰهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan.” (QS. Asy-Syura: 51)Pada kata يُرْسِلَ dibaca manshub karena terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf أَوْ. Asalnya adalah أَوْ أَنْ يُرْسِلَ. Huruf an bersama fi‘il setelahnya membentuk mashdar muawwal yang di-athaf-kan kepada kata وَحْيًا.Demikianlah bacaan tujuh imam qira’at, kecuali Imam Nafi‘ Al-Madani yang membaca يُرْسِلُ dengan keadaan marfu’.KesimpulanHuruf an mashdariyyah berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’, baik dalam keadaan tampak maupun dilesapkan.Huruf an boleh dilesapkan apabila:1) Terletak setelah huruf athaf;2) Didahului oleh isim jamid murni; dan3) Huruf athaf tersebut berupa: و ,ف, ثم ,أوDalam keadaan seperti ini, fi‘il mudhari’ setelahnya tetap manshub walaupun huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian kaidah nahwu Arab, di mana keberadaan suatu amil terkadang diperkirakan walaupun tidak disebutkan secara langsung dalam susunan kalimat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 32***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePengertian huruf أَنْ mashdariyyahPertama: Setelah huruf و (waw)Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Keempat: Setelah huruf أو (aw)KesimpulanIbnu Hisyam menjelaskan bahwa huruf أَنْ terkadang boleh ditampakkan dan boleh pula dilesapkan. Beliau mengatakan,مُضْمَرَةً جَوَازًا بَعْدَ عَاطِفٍ مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf yang didahului oleh isim murni (isim khalish).”Beliau memberi contoh:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي“Memakai pakaian abaya dan mataku menjadi tenang.”Beliau juga menyebutkan bahwa huruf أَنْ boleh dilesapkan setelah huruf lam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 44,لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ“Agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)Pengertian huruf أَنْ mashdariyyahHuruf أَنْ mashdariyyah, baik yang tampak (zhahir) maupun yang dilesapkan (mudhmarah), berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’.Huruf أَنْ memiliki tiga keadaan, yaitu:Pertama: Boleh dilesapkan (jawazan);Kedua: Wajib ditampakkan; danKetiga: Wajib dilesapkan.Pembahasan kali ini berkaitan dengan keadaan pertama, yaitu huruf أَنْ yang boleh ditampakkan ataupun dilesapkan.Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf dan sebelumnya terdapat isim jamid murni, yaitu isim yang tidak mengandung makna fi‘il dan tidak dapat ditakwil menjadi fi‘il.Biasanya, isim tersebut berbentuk mashdar. Adapun huruf athaf yang dimaksud adalah: و ,ف, ثم ,أوPertama: Setelah huruf و (waw)Contohnya adalah:عَمَلٌ وَأُحَصِّلَ رِزْقِي خَيْرٌ مِنْ رَاحَةٍ وَأَمُدَّ يَدِي لِلسُّؤَالِ“Bekerja dan aku mencari rezekiku itu lebih baik daripada bersantai lalu mengulurkan tanganku untuk meminta-minta.”Pada kata وَأَمُدَّ terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan. Asalnya adalah وَأَنْ أَمُدَّ. Meskipun huruf أَنْ tidak tampak, tetap ada pengaruhnya, yaitu me-nashab-kan fi‘il mudhori’ setelahnya.Contoh lainnya adalah perkataan seorang perempuan:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ لُبْسِ الشُّفُوفِ“Memakai pakaian abaya dan kedua mataku tenang itu lebih aku sukai daripada memakai pakaian tipis.”Kata لُبْسُ pada contoh di atas berkedudukan sebagai mubtada marfu’. Sedangkan kata وَتَقَرَّ adalah fi‘il mudhari’ manshub karena adanya huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf waw athaf.Adapun kata عَيْنِي berkedudukan sebagai fa‘il marfu’ dengan dhammah muqaddarah. Sementara yaa mutakallim menjadi mudhaf ilaih. Kemudian kata أَحَبُّ menjadi khabar mubtada’.Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Contohnya adalah:إِنَّ دِرَاسَتِي النَّحْوَ فَأَسْتَفِيدَ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ دِرَاسَةِ الْبَلَاغَةِ“Sesungguhnya aku mempelajari ilmu nahwu, lalu aku mendapatkan faedah darinya itu lebih aku sukai daripada mempelajari ilmu balaghah.”Kata فَأَسْتَفِيدَ pada contoh di atas berkedudukan manshub karena terdapat huruf an yang dilesapkan setelah huruf faa’. Asal katanya adalah فَأَنْ أَسْتَفِيدَ.Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Contohnya adalah:إِنَّ جَمْعِي الْمَالَ ثُمَّ أُمْسِكَهُ دَلِيلُ الْحِرْمَانِ“Sesungguhnya aku mengumpulkan harta kemudian aku menahannya merupakan tanda terhalang dari kebaikan.”Pada kata أُمْسِكَهُ, asalnya adalah أَنْ أُمْسِكَهُ. Huruf أَنْ dihapus secara “boleh” (jawazan), bukan wajib.Keempat: Setelah huruf أو (aw)Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللّٰهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan.” (QS. Asy-Syura: 51)Pada kata يُرْسِلَ dibaca manshub karena terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf أَوْ. Asalnya adalah أَوْ أَنْ يُرْسِلَ. Huruf an bersama fi‘il setelahnya membentuk mashdar muawwal yang di-athaf-kan kepada kata وَحْيًا.Demikianlah bacaan tujuh imam qira’at, kecuali Imam Nafi‘ Al-Madani yang membaca يُرْسِلُ dengan keadaan marfu’.KesimpulanHuruf an mashdariyyah berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’, baik dalam keadaan tampak maupun dilesapkan.Huruf an boleh dilesapkan apabila:1) Terletak setelah huruf athaf;2) Didahului oleh isim jamid murni; dan3) Huruf athaf tersebut berupa: و ,ف, ثم ,أوDalam keadaan seperti ini, fi‘il mudhari’ setelahnya tetap manshub walaupun huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian kaidah nahwu Arab, di mana keberadaan suatu amil terkadang diperkirakan walaupun tidak disebutkan secara langsung dalam susunan kalimat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 32***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePengertian huruf أَنْ mashdariyyahPertama: Setelah huruf و (waw)Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Keempat: Setelah huruf أو (aw)KesimpulanIbnu Hisyam menjelaskan bahwa huruf أَنْ terkadang boleh ditampakkan dan boleh pula dilesapkan. Beliau mengatakan,مُضْمَرَةً جَوَازًا بَعْدَ عَاطِفٍ مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ“Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf yang didahului oleh isim murni (isim khalish).”Beliau memberi contoh:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي“Memakai pakaian abaya dan mataku menjadi tenang.”Beliau juga menyebutkan bahwa huruf أَنْ boleh dilesapkan setelah huruf lam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 44,لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ“Agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)Pengertian huruf أَنْ mashdariyyahHuruf أَنْ mashdariyyah, baik yang tampak (zhahir) maupun yang dilesapkan (mudhmarah), berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’.Huruf أَنْ memiliki tiga keadaan, yaitu:Pertama: Boleh dilesapkan (jawazan);Kedua: Wajib ditampakkan; danKetiga: Wajib dilesapkan.Pembahasan kali ini berkaitan dengan keadaan pertama, yaitu huruf أَنْ yang boleh ditampakkan ataupun dilesapkan.Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf dan sebelumnya terdapat isim jamid murni, yaitu isim yang tidak mengandung makna fi‘il dan tidak dapat ditakwil menjadi fi‘il.Biasanya, isim tersebut berbentuk mashdar. Adapun huruf athaf yang dimaksud adalah: و ,ف, ثم ,أوPertama: Setelah huruf و (waw)Contohnya adalah:عَمَلٌ وَأُحَصِّلَ رِزْقِي خَيْرٌ مِنْ رَاحَةٍ وَأَمُدَّ يَدِي لِلسُّؤَالِ“Bekerja dan aku mencari rezekiku itu lebih baik daripada bersantai lalu mengulurkan tanganku untuk meminta-minta.”Pada kata وَأَمُدَّ terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan. Asalnya adalah وَأَنْ أَمُدَّ. Meskipun huruf أَنْ tidak tampak, tetap ada pengaruhnya, yaitu me-nashab-kan fi‘il mudhori’ setelahnya.Contoh lainnya adalah perkataan seorang perempuan:وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ لُبْسِ الشُّفُوفِ“Memakai pakaian abaya dan kedua mataku tenang itu lebih aku sukai daripada memakai pakaian tipis.”Kata لُبْسُ pada contoh di atas berkedudukan sebagai mubtada marfu’. Sedangkan kata وَتَقَرَّ adalah fi‘il mudhari’ manshub karena adanya huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf waw athaf.Adapun kata عَيْنِي berkedudukan sebagai fa‘il marfu’ dengan dhammah muqaddarah. Sementara yaa mutakallim menjadi mudhaf ilaih. Kemudian kata أَحَبُّ menjadi khabar mubtada’.Kedua: Setelah huruf ف (faa’)Contohnya adalah:إِنَّ دِرَاسَتِي النَّحْوَ فَأَسْتَفِيدَ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ دِرَاسَةِ الْبَلَاغَةِ“Sesungguhnya aku mempelajari ilmu nahwu, lalu aku mendapatkan faedah darinya itu lebih aku sukai daripada mempelajari ilmu balaghah.”Kata فَأَسْتَفِيدَ pada contoh di atas berkedudukan manshub karena terdapat huruf an yang dilesapkan setelah huruf faa’. Asal katanya adalah فَأَنْ أَسْتَفِيدَ.Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)Contohnya adalah:إِنَّ جَمْعِي الْمَالَ ثُمَّ أُمْسِكَهُ دَلِيلُ الْحِرْمَانِ“Sesungguhnya aku mengumpulkan harta kemudian aku menahannya merupakan tanda terhalang dari kebaikan.”Pada kata أُمْسِكَهُ, asalnya adalah أَنْ أُمْسِكَهُ. Huruf أَنْ dihapus secara “boleh” (jawazan), bukan wajib.Keempat: Setelah huruf أو (aw)Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللّٰهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan.” (QS. Asy-Syura: 51)Pada kata يُرْسِلَ dibaca manshub karena terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf أَوْ. Asalnya adalah أَوْ أَنْ يُرْسِلَ. Huruf an bersama fi‘il setelahnya membentuk mashdar muawwal yang di-athaf-kan kepada kata وَحْيًا.Demikianlah bacaan tujuh imam qira’at, kecuali Imam Nafi‘ Al-Madani yang membaca يُرْسِلُ dengan keadaan marfu’.KesimpulanHuruf an mashdariyyah berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’, baik dalam keadaan tampak maupun dilesapkan.Huruf an boleh dilesapkan apabila:1) Terletak setelah huruf athaf;2) Didahului oleh isim jamid murni; dan3) Huruf athaf tersebut berupa: و ,ف, ثم ,أوDalam keadaan seperti ini, fi‘il mudhari’ setelahnya tetap manshub walaupun huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz.Pembahasan ini menunjukkan ketelitian kaidah nahwu Arab, di mana keberadaan suatu amil terkadang diperkirakan walaupun tidak disebutkan secara langsung dalam susunan kalimat.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 32***Penulis: Rafi NugrahaArtikel Muslim.or.id

Keteguhan Para Sahabat Pada Masa Awal Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKeteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamKeteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaPada artikel sebelumnya, kita telah membahas permulaan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau dakwah sirriyyah. Pada artikel ini, kita akan melihat sebagian keteguhan para sahabat generasi awal setelah mereka menerima Islam.Tidak dipungkiri bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki andil besar dalam mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam agama Islam di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau aktif mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang beliau percayai. Setidaknya ada lima tokoh yang masuk Islam melalui beliau: Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-’Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Mereka semua termasuk ke dalam jajaran sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Kita akan bahas sekilas kisah masuk Islamnya mereka dan para sahabat lainnya.Keteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamSetelah masuk Islam, Utsman mendapatkan pertentangan dari keluarganya sendiri. Saat itu, usianya mendekati tiga puluh tahun. Paman beliau, al-Hakam bin Abil ‘Ash (الحكم بن أبي العاص), mengikat Utsman dengan tali lantaran keislamannya. Al-Hakam juga berkata, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu kemudian memilih agama yang baru muncul?! Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu hingga kamu meninggalkan agama yang sedang kamu pegang.”Namun, Utsman menolak sembari menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya.” Melihat keteguhan Utsman di atas kebenaran, al-Hakam akhirnya melepaskan dan membiarkannya.Keteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamPertentangan juga dialami oleh az-Zubair bin al-’Awwam. Saat ia memeluk Islam, pamannya, Naufal bin Khuwailid (نوفل بن خويلد) pernah mengepulkan asap kepadanya dalam keadaan terikat. Ini dilakukan oleh pamannya dengan tujuan agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya. Akan tetapi, Allah menguatkannya dengan keteguhan sehingga ia tetap di atas agama Islam. Az-Zubair bin al-’Awwam kala itu adalah seorang pemuda yang belum jauh dari usia balig.Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘AwwamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin ‘Auf juga masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada masa jahiliah, ia bernama ‘Abd ‘Amr (عبد عمرو). Setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ menamainya Abdurrahman. Abdurrahman bin ‘Auf sudah masuk Islam sebelum Rasulullah ﷺ menjadikan rumah al-Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam) sebagai pusat dakwah.Baca juga: Biografi Abdurrahman bin Auf: Sahabat Mulia dan DermawanKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaSa’ad bin Abi Waqqash mendapatkan pertentangan hebat dari ibunya saat masuk Islam. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan (حمنة بنت أبي سفيان) berkata setelah mengetahui keislamannya, “Wahai Sa’ad, telah sampai kepadaku bahwa kamu telah keluar dari agama nenek moyangmu. Demi Allah, aku tidak akan dinaungi dari panas dan dingin, dan makanan serta minuman haram bagiku, sampai kamu kafir kepada Muhammad.” Ibunya mengancam Sa’ad dengan tidak tinggal di rumah, tidak makan, dan tidak minum jika Sa’ad tetap di atas agama Islam. Ibunya melakukan hal itu selama tiga hari.Sa’ad pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengadukan perihal ibunya tersebut. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam surah Al-’Ankabut sebagai pengajaran,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. Kepada-Kulah tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-’Ankabut: 8)Baca juga: Keutamaan-Keutamaan Sa’ad bin Abi WaqashMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin ‘Ubaidillah juga masuk Islam melalui Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebelumnya, Thalhah telah mengetahui penyebutan Rasulullah ﷺ dan sifat-sifatnya dari para rahib. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengajaknya, kemudian ia mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ, serta ia melihat agama Islam kokoh dan jauh dari cela-cela yang ada pada bangsa Arab, maka Thalhah pun segera masuk Islam.Baca juga: Awal Kehidupan dan Kisah Thalhah di Perang UhudSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaSa’id bin Zaid juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Beliau juga masuk Islam sebelum rumah al-Arqam bin Abil Arqam menjadi pusat dakwah. Dalam salah satu riwayat, Sa‘id bin Zaid pernah menceritakan bahwa dirinya bersama istrinya, Fathimah binti al-Khaththab, pernah diikat oleh Umar bin al-Khaththab sebelum Umar masuk Islam. Peristiwa ini menunjukkan adanya penentangan dari keluarga akibat keislaman mereka.Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin ZaidMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udSelain melalui Abu Bakar ash-Shiddiq, ada pula sahabat Nabi yang masuk Islam setelah melihat mukjizat Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia dahulu sempat bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith (عقبة بن أبي معيط). Di tengah-tengah pekerjaannya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq melintas melewatinya. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Apakah ada susu?” Maksudnya apakah ada kambing gembalaan Ibnu Mas’ud yang memiliki susu pada ambingnya. Ibnu Mas’ud mengatakan iya, tetapi ia menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa dirinya hanya diberi amanah sehingga tidak berhak memberikan susu kepada orang lain.Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah ada kambing betina yang belum dikawini pejantan?” Ibnu Mas’ud pun membawakan kambing tersebut beserta wadahnya kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap ambingnya dan tiba-tiba air susu keluar dengan melimpah. Rasulullah ﷺ kemudian memerahnya dan meminum susu tersebut. Beliau ﷺ juga memberikan susu tersebut kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada ambing tersebut, “Menyusutlah!” Seketika, ambing itu pun mengkerut kembali seperti semula.Setelah melihat tanda-tanda yang terang dan mengetahui akhlak-akhlak mulia yang diserukan Islam, ia pun segera meninggalkan penyembahan berhala dan senantiasa bersama Rasulullah ﷺ.Abdullah bin Mas’ud sering masuk menemui Rasulullah ﷺ tanpa dihalangi. Ia dikenal dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia berjalan di depan beliau, menutupi beliau ketika beliau mandi, membangunkan beliau ketika tidur, serta memakaikan dan membawakan sandal beliau.Baca juga: Kisah Pemegang Rahasia Rasulullah, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaAda pula para sahabat yang mendatangi Rasulullah ﷺ bersama-sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada lima orang yang bersama-sama mendatangi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan ‘Ubaidah bin al-Harits (عبيدة بن الحارث). Kemudian Rasulullah ﷺ menawarkan Islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Akhirnya, mereka semua masuk Islam dalam satu waktu. Peristiwa ini juga terjadi sebelum pusat dakwah bertempat di rumah al-Arqam.Baca juga: Mengambil Pelajaran dari Jihad Abu Ubaidah bin JarrahDemikianlah sebagian kisah para sahabat awal yang menerima Islam pada masa dakwah sirriyyah. Sebagian dari mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, sementara sebagian lainnya datang langsung kepada Rasulullah ﷺ setelah melihat tanda-tanda kebenaran. Tidak sedikit dari mereka yang harus menghadapi penentangan keluarga dan tekanan masyarakat. Namun, Allah meneguhkan mereka di atas Islam.Semoga kisah mereka menjadi penguat bagi kita untuk tetap teguh di atas kebenaran. Insyaallah, kisah keteguhan para sahabat awal lainnya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.Siyar A’lām an-Nubalā’, karya Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi.al-Ishābah fī Tamyīz ash-Shahābah, karya Ibnu Hajar al-’Asqalāni.

Keteguhan Para Sahabat Pada Masa Awal Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKeteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamKeteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaPada artikel sebelumnya, kita telah membahas permulaan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau dakwah sirriyyah. Pada artikel ini, kita akan melihat sebagian keteguhan para sahabat generasi awal setelah mereka menerima Islam.Tidak dipungkiri bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki andil besar dalam mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam agama Islam di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau aktif mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang beliau percayai. Setidaknya ada lima tokoh yang masuk Islam melalui beliau: Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-’Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Mereka semua termasuk ke dalam jajaran sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Kita akan bahas sekilas kisah masuk Islamnya mereka dan para sahabat lainnya.Keteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamSetelah masuk Islam, Utsman mendapatkan pertentangan dari keluarganya sendiri. Saat itu, usianya mendekati tiga puluh tahun. Paman beliau, al-Hakam bin Abil ‘Ash (الحكم بن أبي العاص), mengikat Utsman dengan tali lantaran keislamannya. Al-Hakam juga berkata, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu kemudian memilih agama yang baru muncul?! Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu hingga kamu meninggalkan agama yang sedang kamu pegang.”Namun, Utsman menolak sembari menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya.” Melihat keteguhan Utsman di atas kebenaran, al-Hakam akhirnya melepaskan dan membiarkannya.Keteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamPertentangan juga dialami oleh az-Zubair bin al-’Awwam. Saat ia memeluk Islam, pamannya, Naufal bin Khuwailid (نوفل بن خويلد) pernah mengepulkan asap kepadanya dalam keadaan terikat. Ini dilakukan oleh pamannya dengan tujuan agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya. Akan tetapi, Allah menguatkannya dengan keteguhan sehingga ia tetap di atas agama Islam. Az-Zubair bin al-’Awwam kala itu adalah seorang pemuda yang belum jauh dari usia balig.Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘AwwamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin ‘Auf juga masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada masa jahiliah, ia bernama ‘Abd ‘Amr (عبد عمرو). Setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ menamainya Abdurrahman. Abdurrahman bin ‘Auf sudah masuk Islam sebelum Rasulullah ﷺ menjadikan rumah al-Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam) sebagai pusat dakwah.Baca juga: Biografi Abdurrahman bin Auf: Sahabat Mulia dan DermawanKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaSa’ad bin Abi Waqqash mendapatkan pertentangan hebat dari ibunya saat masuk Islam. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan (حمنة بنت أبي سفيان) berkata setelah mengetahui keislamannya, “Wahai Sa’ad, telah sampai kepadaku bahwa kamu telah keluar dari agama nenek moyangmu. Demi Allah, aku tidak akan dinaungi dari panas dan dingin, dan makanan serta minuman haram bagiku, sampai kamu kafir kepada Muhammad.” Ibunya mengancam Sa’ad dengan tidak tinggal di rumah, tidak makan, dan tidak minum jika Sa’ad tetap di atas agama Islam. Ibunya melakukan hal itu selama tiga hari.Sa’ad pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengadukan perihal ibunya tersebut. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam surah Al-’Ankabut sebagai pengajaran,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. Kepada-Kulah tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-’Ankabut: 8)Baca juga: Keutamaan-Keutamaan Sa’ad bin Abi WaqashMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin ‘Ubaidillah juga masuk Islam melalui Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebelumnya, Thalhah telah mengetahui penyebutan Rasulullah ﷺ dan sifat-sifatnya dari para rahib. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengajaknya, kemudian ia mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ, serta ia melihat agama Islam kokoh dan jauh dari cela-cela yang ada pada bangsa Arab, maka Thalhah pun segera masuk Islam.Baca juga: Awal Kehidupan dan Kisah Thalhah di Perang UhudSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaSa’id bin Zaid juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Beliau juga masuk Islam sebelum rumah al-Arqam bin Abil Arqam menjadi pusat dakwah. Dalam salah satu riwayat, Sa‘id bin Zaid pernah menceritakan bahwa dirinya bersama istrinya, Fathimah binti al-Khaththab, pernah diikat oleh Umar bin al-Khaththab sebelum Umar masuk Islam. Peristiwa ini menunjukkan adanya penentangan dari keluarga akibat keislaman mereka.Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin ZaidMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udSelain melalui Abu Bakar ash-Shiddiq, ada pula sahabat Nabi yang masuk Islam setelah melihat mukjizat Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia dahulu sempat bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith (عقبة بن أبي معيط). Di tengah-tengah pekerjaannya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq melintas melewatinya. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Apakah ada susu?” Maksudnya apakah ada kambing gembalaan Ibnu Mas’ud yang memiliki susu pada ambingnya. Ibnu Mas’ud mengatakan iya, tetapi ia menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa dirinya hanya diberi amanah sehingga tidak berhak memberikan susu kepada orang lain.Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah ada kambing betina yang belum dikawini pejantan?” Ibnu Mas’ud pun membawakan kambing tersebut beserta wadahnya kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap ambingnya dan tiba-tiba air susu keluar dengan melimpah. Rasulullah ﷺ kemudian memerahnya dan meminum susu tersebut. Beliau ﷺ juga memberikan susu tersebut kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada ambing tersebut, “Menyusutlah!” Seketika, ambing itu pun mengkerut kembali seperti semula.Setelah melihat tanda-tanda yang terang dan mengetahui akhlak-akhlak mulia yang diserukan Islam, ia pun segera meninggalkan penyembahan berhala dan senantiasa bersama Rasulullah ﷺ.Abdullah bin Mas’ud sering masuk menemui Rasulullah ﷺ tanpa dihalangi. Ia dikenal dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia berjalan di depan beliau, menutupi beliau ketika beliau mandi, membangunkan beliau ketika tidur, serta memakaikan dan membawakan sandal beliau.Baca juga: Kisah Pemegang Rahasia Rasulullah, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaAda pula para sahabat yang mendatangi Rasulullah ﷺ bersama-sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada lima orang yang bersama-sama mendatangi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan ‘Ubaidah bin al-Harits (عبيدة بن الحارث). Kemudian Rasulullah ﷺ menawarkan Islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Akhirnya, mereka semua masuk Islam dalam satu waktu. Peristiwa ini juga terjadi sebelum pusat dakwah bertempat di rumah al-Arqam.Baca juga: Mengambil Pelajaran dari Jihad Abu Ubaidah bin JarrahDemikianlah sebagian kisah para sahabat awal yang menerima Islam pada masa dakwah sirriyyah. Sebagian dari mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, sementara sebagian lainnya datang langsung kepada Rasulullah ﷺ setelah melihat tanda-tanda kebenaran. Tidak sedikit dari mereka yang harus menghadapi penentangan keluarga dan tekanan masyarakat. Namun, Allah meneguhkan mereka di atas Islam.Semoga kisah mereka menjadi penguat bagi kita untuk tetap teguh di atas kebenaran. Insyaallah, kisah keteguhan para sahabat awal lainnya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.Siyar A’lām an-Nubalā’, karya Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi.al-Ishābah fī Tamyīz ash-Shahābah, karya Ibnu Hajar al-’Asqalāni.
Daftar Isi ToggleKeteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamKeteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaPada artikel sebelumnya, kita telah membahas permulaan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau dakwah sirriyyah. Pada artikel ini, kita akan melihat sebagian keteguhan para sahabat generasi awal setelah mereka menerima Islam.Tidak dipungkiri bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki andil besar dalam mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam agama Islam di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau aktif mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang beliau percayai. Setidaknya ada lima tokoh yang masuk Islam melalui beliau: Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-’Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Mereka semua termasuk ke dalam jajaran sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Kita akan bahas sekilas kisah masuk Islamnya mereka dan para sahabat lainnya.Keteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamSetelah masuk Islam, Utsman mendapatkan pertentangan dari keluarganya sendiri. Saat itu, usianya mendekati tiga puluh tahun. Paman beliau, al-Hakam bin Abil ‘Ash (الحكم بن أبي العاص), mengikat Utsman dengan tali lantaran keislamannya. Al-Hakam juga berkata, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu kemudian memilih agama yang baru muncul?! Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu hingga kamu meninggalkan agama yang sedang kamu pegang.”Namun, Utsman menolak sembari menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya.” Melihat keteguhan Utsman di atas kebenaran, al-Hakam akhirnya melepaskan dan membiarkannya.Keteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamPertentangan juga dialami oleh az-Zubair bin al-’Awwam. Saat ia memeluk Islam, pamannya, Naufal bin Khuwailid (نوفل بن خويلد) pernah mengepulkan asap kepadanya dalam keadaan terikat. Ini dilakukan oleh pamannya dengan tujuan agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya. Akan tetapi, Allah menguatkannya dengan keteguhan sehingga ia tetap di atas agama Islam. Az-Zubair bin al-’Awwam kala itu adalah seorang pemuda yang belum jauh dari usia balig.Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘AwwamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin ‘Auf juga masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada masa jahiliah, ia bernama ‘Abd ‘Amr (عبد عمرو). Setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ menamainya Abdurrahman. Abdurrahman bin ‘Auf sudah masuk Islam sebelum Rasulullah ﷺ menjadikan rumah al-Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam) sebagai pusat dakwah.Baca juga: Biografi Abdurrahman bin Auf: Sahabat Mulia dan DermawanKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaSa’ad bin Abi Waqqash mendapatkan pertentangan hebat dari ibunya saat masuk Islam. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan (حمنة بنت أبي سفيان) berkata setelah mengetahui keislamannya, “Wahai Sa’ad, telah sampai kepadaku bahwa kamu telah keluar dari agama nenek moyangmu. Demi Allah, aku tidak akan dinaungi dari panas dan dingin, dan makanan serta minuman haram bagiku, sampai kamu kafir kepada Muhammad.” Ibunya mengancam Sa’ad dengan tidak tinggal di rumah, tidak makan, dan tidak minum jika Sa’ad tetap di atas agama Islam. Ibunya melakukan hal itu selama tiga hari.Sa’ad pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengadukan perihal ibunya tersebut. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam surah Al-’Ankabut sebagai pengajaran,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. Kepada-Kulah tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-’Ankabut: 8)Baca juga: Keutamaan-Keutamaan Sa’ad bin Abi WaqashMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin ‘Ubaidillah juga masuk Islam melalui Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebelumnya, Thalhah telah mengetahui penyebutan Rasulullah ﷺ dan sifat-sifatnya dari para rahib. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengajaknya, kemudian ia mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ, serta ia melihat agama Islam kokoh dan jauh dari cela-cela yang ada pada bangsa Arab, maka Thalhah pun segera masuk Islam.Baca juga: Awal Kehidupan dan Kisah Thalhah di Perang UhudSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaSa’id bin Zaid juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Beliau juga masuk Islam sebelum rumah al-Arqam bin Abil Arqam menjadi pusat dakwah. Dalam salah satu riwayat, Sa‘id bin Zaid pernah menceritakan bahwa dirinya bersama istrinya, Fathimah binti al-Khaththab, pernah diikat oleh Umar bin al-Khaththab sebelum Umar masuk Islam. Peristiwa ini menunjukkan adanya penentangan dari keluarga akibat keislaman mereka.Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin ZaidMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udSelain melalui Abu Bakar ash-Shiddiq, ada pula sahabat Nabi yang masuk Islam setelah melihat mukjizat Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia dahulu sempat bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith (عقبة بن أبي معيط). Di tengah-tengah pekerjaannya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq melintas melewatinya. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Apakah ada susu?” Maksudnya apakah ada kambing gembalaan Ibnu Mas’ud yang memiliki susu pada ambingnya. Ibnu Mas’ud mengatakan iya, tetapi ia menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa dirinya hanya diberi amanah sehingga tidak berhak memberikan susu kepada orang lain.Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah ada kambing betina yang belum dikawini pejantan?” Ibnu Mas’ud pun membawakan kambing tersebut beserta wadahnya kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap ambingnya dan tiba-tiba air susu keluar dengan melimpah. Rasulullah ﷺ kemudian memerahnya dan meminum susu tersebut. Beliau ﷺ juga memberikan susu tersebut kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada ambing tersebut, “Menyusutlah!” Seketika, ambing itu pun mengkerut kembali seperti semula.Setelah melihat tanda-tanda yang terang dan mengetahui akhlak-akhlak mulia yang diserukan Islam, ia pun segera meninggalkan penyembahan berhala dan senantiasa bersama Rasulullah ﷺ.Abdullah bin Mas’ud sering masuk menemui Rasulullah ﷺ tanpa dihalangi. Ia dikenal dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia berjalan di depan beliau, menutupi beliau ketika beliau mandi, membangunkan beliau ketika tidur, serta memakaikan dan membawakan sandal beliau.Baca juga: Kisah Pemegang Rahasia Rasulullah, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaAda pula para sahabat yang mendatangi Rasulullah ﷺ bersama-sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada lima orang yang bersama-sama mendatangi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan ‘Ubaidah bin al-Harits (عبيدة بن الحارث). Kemudian Rasulullah ﷺ menawarkan Islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Akhirnya, mereka semua masuk Islam dalam satu waktu. Peristiwa ini juga terjadi sebelum pusat dakwah bertempat di rumah al-Arqam.Baca juga: Mengambil Pelajaran dari Jihad Abu Ubaidah bin JarrahDemikianlah sebagian kisah para sahabat awal yang menerima Islam pada masa dakwah sirriyyah. Sebagian dari mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, sementara sebagian lainnya datang langsung kepada Rasulullah ﷺ setelah melihat tanda-tanda kebenaran. Tidak sedikit dari mereka yang harus menghadapi penentangan keluarga dan tekanan masyarakat. Namun, Allah meneguhkan mereka di atas Islam.Semoga kisah mereka menjadi penguat bagi kita untuk tetap teguh di atas kebenaran. Insyaallah, kisah keteguhan para sahabat awal lainnya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.Siyar A’lām an-Nubalā’, karya Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi.al-Ishābah fī Tamyīz ash-Shahābah, karya Ibnu Hajar al-’Asqalāni.


Daftar Isi ToggleKeteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamKeteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaPada artikel sebelumnya, kita telah membahas permulaan dakwah secara sembunyi-sembunyi atau dakwah sirriyyah. Pada artikel ini, kita akan melihat sebagian keteguhan para sahabat generasi awal setelah mereka menerima Islam.Tidak dipungkiri bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki andil besar dalam mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam agama Islam di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau aktif mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang beliau percayai. Setidaknya ada lima tokoh yang masuk Islam melalui beliau: Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-’Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Mereka semua termasuk ke dalam jajaran sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Kita akan bahas sekilas kisah masuk Islamnya mereka dan para sahabat lainnya.Keteguhan Utsman bin Affan setelah masuk IslamSetelah masuk Islam, Utsman mendapatkan pertentangan dari keluarganya sendiri. Saat itu, usianya mendekati tiga puluh tahun. Paman beliau, al-Hakam bin Abil ‘Ash (الحكم بن أبي العاص), mengikat Utsman dengan tali lantaran keislamannya. Al-Hakam juga berkata, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu kemudian memilih agama yang baru muncul?! Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu hingga kamu meninggalkan agama yang sedang kamu pegang.”Namun, Utsman menolak sembari menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya.” Melihat keteguhan Utsman di atas kebenaran, al-Hakam akhirnya melepaskan dan membiarkannya.Keteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk IslamPertentangan juga dialami oleh az-Zubair bin al-’Awwam. Saat ia memeluk Islam, pamannya, Naufal bin Khuwailid (نوفل بن خويلد) pernah mengepulkan asap kepadanya dalam keadaan terikat. Ini dilakukan oleh pamannya dengan tujuan agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya. Akan tetapi, Allah menguatkannya dengan keteguhan sehingga ia tetap di atas agama Islam. Az-Zubair bin al-’Awwam kala itu adalah seorang pemuda yang belum jauh dari usia balig.Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘AwwamMasuk Islamnya Abdurrahman bin ‘AufAbdurrahman bin ‘Auf juga masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada masa jahiliah, ia bernama ‘Abd ‘Amr (عبد عمرو). Setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ menamainya Abdurrahman. Abdurrahman bin ‘Auf sudah masuk Islam sebelum Rasulullah ﷺ menjadikan rumah al-Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam) sebagai pusat dakwah.Baca juga: Biografi Abdurrahman bin Auf: Sahabat Mulia dan DermawanKeteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunyaSa’ad bin Abi Waqqash mendapatkan pertentangan hebat dari ibunya saat masuk Islam. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan (حمنة بنت أبي سفيان) berkata setelah mengetahui keislamannya, “Wahai Sa’ad, telah sampai kepadaku bahwa kamu telah keluar dari agama nenek moyangmu. Demi Allah, aku tidak akan dinaungi dari panas dan dingin, dan makanan serta minuman haram bagiku, sampai kamu kafir kepada Muhammad.” Ibunya mengancam Sa’ad dengan tidak tinggal di rumah, tidak makan, dan tidak minum jika Sa’ad tetap di atas agama Islam. Ibunya melakukan hal itu selama tiga hari.Sa’ad pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengadukan perihal ibunya tersebut. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam surah Al-’Ankabut sebagai pengajaran,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. Kepada-Kulah tempat kembali kalian, lalu Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-’Ankabut: 8)Baca juga: Keutamaan-Keutamaan Sa’ad bin Abi WaqashMasuk Islamnya Thalhah bin ‘UbaidillahThalhah bin ‘Ubaidillah juga masuk Islam melalui Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebelumnya, Thalhah telah mengetahui penyebutan Rasulullah ﷺ dan sifat-sifatnya dari para rahib. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengajaknya, kemudian ia mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ, serta ia melihat agama Islam kokoh dan jauh dari cela-cela yang ada pada bangsa Arab, maka Thalhah pun segera masuk Islam.Baca juga: Awal Kehidupan dan Kisah Thalhah di Perang UhudSa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganyaSa’id bin Zaid juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Beliau juga masuk Islam sebelum rumah al-Arqam bin Abil Arqam menjadi pusat dakwah. Dalam salah satu riwayat, Sa‘id bin Zaid pernah menceritakan bahwa dirinya bersama istrinya, Fathimah binti al-Khaththab, pernah diikat oleh Umar bin al-Khaththab sebelum Umar masuk Islam. Peristiwa ini menunjukkan adanya penentangan dari keluarga akibat keislaman mereka.Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin ZaidMasuk Islamnya Abdullah bin Mas‘udSelain melalui Abu Bakar ash-Shiddiq, ada pula sahabat Nabi yang masuk Islam setelah melihat mukjizat Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia dahulu sempat bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith (عقبة بن أبي معيط). Di tengah-tengah pekerjaannya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq melintas melewatinya. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Apakah ada susu?” Maksudnya apakah ada kambing gembalaan Ibnu Mas’ud yang memiliki susu pada ambingnya. Ibnu Mas’ud mengatakan iya, tetapi ia menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa dirinya hanya diberi amanah sehingga tidak berhak memberikan susu kepada orang lain.Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah ada kambing betina yang belum dikawini pejantan?” Ibnu Mas’ud pun membawakan kambing tersebut beserta wadahnya kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap ambingnya dan tiba-tiba air susu keluar dengan melimpah. Rasulullah ﷺ kemudian memerahnya dan meminum susu tersebut. Beliau ﷺ juga memberikan susu tersebut kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada ambing tersebut, “Menyusutlah!” Seketika, ambing itu pun mengkerut kembali seperti semula.Setelah melihat tanda-tanda yang terang dan mengetahui akhlak-akhlak mulia yang diserukan Islam, ia pun segera meninggalkan penyembahan berhala dan senantiasa bersama Rasulullah ﷺ.Abdullah bin Mas’ud sering masuk menemui Rasulullah ﷺ tanpa dihalangi. Ia dikenal dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia berjalan di depan beliau, menutupi beliau ketika beliau mandi, membangunkan beliau ketika tidur, serta memakaikan dan membawakan sandal beliau.Baca juga: Kisah Pemegang Rahasia Rasulullah, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuLima sahabat yang masuk Islam bersama-samaAda pula para sahabat yang mendatangi Rasulullah ﷺ bersama-sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada lima orang yang bersama-sama mendatangi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan ‘Ubaidah bin al-Harits (عبيدة بن الحارث). Kemudian Rasulullah ﷺ menawarkan Islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Akhirnya, mereka semua masuk Islam dalam satu waktu. Peristiwa ini juga terjadi sebelum pusat dakwah bertempat di rumah al-Arqam.Baca juga: Mengambil Pelajaran dari Jihad Abu Ubaidah bin JarrahDemikianlah sebagian kisah para sahabat awal yang menerima Islam pada masa dakwah sirriyyah. Sebagian dari mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, sementara sebagian lainnya datang langsung kepada Rasulullah ﷺ setelah melihat tanda-tanda kebenaran. Tidak sedikit dari mereka yang harus menghadapi penentangan keluarga dan tekanan masyarakat. Namun, Allah meneguhkan mereka di atas Islam.Semoga kisah mereka menjadi penguat bagi kita untuk tetap teguh di atas kebenaran. Insyaallah, kisah keteguhan para sahabat awal lainnya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.Siyar A’lām an-Nubalā’, karya Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi.al-Ishābah fī Tamyīz ash-Shahābah, karya Ibnu Hajar al-’Asqalāni.

Keutamaan Besar Membaca dan Tadabur Surah Al-Kahfi – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Keutamaan Besar Membaca dan Tadabur Surah Al-Kahfi – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ


Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia, dan cahaya baginya pada hari kiamat. Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, niscaya Dajjal tidak dapat membahayakannya. Hadis ini akan disebutkan nanti, insya Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, juga Al-Hakim, dan beliau mensahihkannya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu menjadi cahaya baginya dari tempat ia berada hingga Makkah.” Perhatikan batasan ini: “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan.” Maksudnya, ia membacanya dengan tilawah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membacakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya adalah mengharap wajah Allah. Ia juga mentadaburi surah ini, karena surah ini diturunkan untuk ditadaburi. Maka surah itu menjadi cahaya baginya, yang membentang dari tempat ia berada hingga Makkah. “Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhirnya, lalu Dajjal muncul, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya.” “Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya” maksudnya: ia aman dari fitnah Dajjal. Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya. Al-Albani berkata tentang hadis ini, “Hadis ini sahih li ghairihi.” Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata… Perhatikan, riwayat ini mauquf. Yang pertama marfu’, sedangkan yang ini mauquf. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, lalu ia keluar menghadapi Dajjal, maka Dajjal tidak diberi kuasa untuk menguasainya, atau Dajjal tidak memiliki jalan untuk menguasainya.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan beliau mensahihkannya.Penilaian ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.” Dan hadis ini disahihkan oleh Al-Albani. Jadi, membaca Surah Al-Kahfi adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. “Siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat…” ===== سُورَةُ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَنُورٌ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ هَذَا سَيَأْتِي لَاحِقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَعِنْدَ النَّسَائِيِّ فِي الْكُبْرَى وَالْحَاكِمِ وَصَحَّحَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَانْظُرِ الْقَيْدَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ فَقَرَأَهَا بِتِلَاوَةٍ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهَا عَلَى أَصْحَابِهِ وَكَانَ قَصْدُهُ وَجْهَ اللَّهِ وَتَدَبَّرَ هَذِهِ السُّورَةَ لِأَنَّهَا لِلتَّدَبُّرِ أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ بِعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا فَخَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ يَعْنِي أَمِنَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ وَلَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ الدَّجَّالُ وَقَالَ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ صَحِيحٌ لِغَيْرِهِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْحَظِ الْآنَ هَذَا مَوْقُوفٌ الْأَوَّلُ مَرْفُوعٌ وَهَذَا مَوْقُوفٌ قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الدَّجَّالِ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْكَهْفِ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan

Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan

Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahPertanyaan tentang akhlak dan peperanganApa yang diajarkan sang Nabi?Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaKesimpulan Heraklius tentang kenabianPenutupKetika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.Pemanggilan Abu Sufyan oleh HerakliusKetika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum IslamPertanyaan tentang nasab dan pengikut RasulullahSetelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدونSelanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”Pertanyaan tentang akhlak dan peperanganSetelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منهHeraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”Aku menjawab, “Tidak ada.”Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”Aku menjawab, “Tidak pernah.”Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”Aku menjawab, “Ya.”Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”Apa yang diajarkan sang Nabi?Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلةHeraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”Penjelasan Heraklius atas pertanyaannyaSetelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومهاHeraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبلهAku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيهAku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسلAku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتمAku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوبAku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدرAku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.Kesimpulan Heraklius tentang kenabianDari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتينAku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمهAku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”PenutupItulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Tidak Semua Orang Mampu Rida dengan Musibah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Tidak Semua Orang Mampu Rida dengan Musibah – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ
Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ


Derajat rida terhadap qada dan qadar adalah derajat yang sangat tinggi dan derajat yang mulia. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk mencapainya, kecuali para wali Allah ‘Azza wa Jalla.Apa makna rida terhadap qada dan qadar? Rida terhadap qada dan qadar maknanya adalah keadaan seseorang setelah tertimpa musibah sama seperti keadaannya sebelum tertimpa musibah, dari sisi rida, tunduk, dan berserah kepada qada dan qadar Allah.Para ulama berbeda pendapat tentang hukum rida saat tertimpa musibah. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh banyak ulama peneliti, adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Sebab, kebanyakan manusia tidak mampu mencapai derajat ini. Seseorang tertimpa musibah besar, lalu tetap rida terhadap qada dan qadar Allah. Tidak ada yang mampu mencapai derajat itu kecuali orang yang kuat imannya. Mayoritas manusia tidak mampu sampai pada derajat ini.Maka, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rida itu mustahab, bukan wajib. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan sejumlah ulama peneliti. ===== مَرْتَبَةُ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَلِيَّةٌ وَمَرْتَبَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يُوَفَّقُ لَهَا إِلَّا أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا مَعْنَى الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ؟ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ مَعْنَاهُ أَنْ تَكُونَ حَالُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ الْمُصِيبَةِ كَحَالِهِ قَبْلَ الْمُصِيبَةِ مِنْ جِهَةِ الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ لِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي حُكْمِ الرِّضَا بِالْمُصِيبَةِ وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ إِنْسَانٌ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ عَظِيمَةٍ ثُمَّ يَرْضَى بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهِ إِلَّا قَوِيُّ الْإِيمَانِ أَكْثَرُ النَّاسِ مَا يَسْتَطِيعُونَ الْوُصُولَ لِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا أَنَّ الرِّضَا مُسْتَحَبٌّ وَلَيْسَ وَاجِبًا اخْتَارَ هَذَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ وَابْنُ الْقَيِّمُ وَجَمْعٌ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.
Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.


Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaStandar kesamaan (tamatsul)Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus untuk barang yang sejenis. Seperti menukar emas dengan emas, kurma dengan kurma, gandum dengan gandum, dan yang lainnya.Sebagaimana yang sudah dijelaskan (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9) bahwa pada keadaan ini, wajib sama rata dalam takaran dan timbangan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjatuh kepada riba fadhl.Ketentuan-ketentuan “sama rata” dalam takaran dan timbangan [1]Para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya sama rata dalam jual beli barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nyaAgar transaksi jual beli atau barter terealisasi secara sah, maka harus terwujud kesamaan sesuai standar syar’i. Yaitu, barang yang ditakar harus sama dalam takaran; dan barang yang ditimbang harus sama dalam timbangan. Karena jika tidak ada kesamarataan, akan masuk dalam kategori riba fadhl, dan riba fadhl membuat transaksi jual beli menjadi batal dan tidak sah.Dalam hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Secara realita, kita tidak dapat mengetahui lebih atau tidaknya antara barang ribawi yang ditukar melainkan dengan cara ditakar atau ditimbang.– Di antara kaidah yang disebutkan oleh para ulama pada permasalahan ini adalah,الجَهْلُ بِالتَّمَاثُلِ كَالْعِلْمِ بِالتَّفَاضُلِ“Ketidaktahuan tentang adanya kesamaan hukumnya seperti mengetahui adanya kelebihan.” Kaidah ini khusus dalam permasalahan ini saja. Maksud dari kaidah ini, tidak ada bedanya antara “mengetahui adanya kelebihan dalam penukaran” dengan “tidak mengetahui adanya kesamarataan dalam penukaran barang ribawi“. Oleh karena itu, jika dua orang yang bertransaksi tidak mengetahui adanya kesamarataan ketika melakukan transaksi tukar menukar barang ribawi yang sejenis dan sama ‘illat-nya, hal ini dapat menyebabkan terjatuh ke dalam riba fadhl.Mengapa? Karena tidak ada kepastian padanya, bisa jadi ada lebih di antara salah satu barang yang ditukar pada takaran atau timbangannya. Sedangkan syarat dalam tukar menukar barang yang sejenis dan sama ‘illat-nya itu diharuskan sama rata dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu, apabila seseorang menjual sebagian barang sejenis dengan sebagian lainnya secara jazaf (tanpa ditakar atau ditimbang secara pasti), atau salah satu dari dua barang yang ditukarkan diberikan secara jazaf, maka hal itu tidak diperbolehkan.Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ بَيْعَ الصُّبْرَةِ بِالصُّبْرَةِ مِنَ الطَّعَامِ غَيْرُ جَائِزٍ، إِذَا كَانَ مِنْ صِنْفٍ وَاحِدٍ“Para ulama telah bersepakat bahwa menjual satu tumpukan bahan makanan dengan tumpukan bahan makanan lainnya tidak diperbolehkan apabila keduanya berasal dari satu jenis yang sama.” [2]Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, نَهى رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن بَيعِ الصُّبرةِ مِنَ التَّمرِ، لا يُعلَمُ مَكيلَتُها، بالكَيلِ المُسَمَّى مِنَ التَّمرِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual satu tumpukan kurma yang tidak diketahui takarannya dengan sejumlah kurma yang telah diketahui takarannya.” (HR. Muslim)Baca juga: Riba dan PengertiannyaStandar kesamaan (tamatsul)Pertama: Perlu diketahui bahwasanya dalam hal ini ada dua kategori dalam standar kesamaan, yaitu barang ribawi yang ditakar dan barang ribawi yang ditimbang. Kebanyakan dari barang ribawi termasuk kategori yang berbeda antara takaran dan timbangan, sementara kesamaan disyaratkan ketika ditukar dengan jenisnya yang sama. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjual atau menukar kecuali dengan standar syar’i yang berlaku padanya. Maksudnya, barang yang ditakar ditukar dengan barang yang ditakar, dan yang ditimbang ditukar dengan barang yang ditimbang.Para ulama berkata, “Tidak boleh menjual barang yang asalnya ditakar dengan yang sejenis dengan cara ditimbang, dan tidak boleh menjual barang yang asalnya ditimbang dengan yang sejenis dengan cara ditakar.” Sebab, kesamaan pada barang yang ditakar harus diketahui melalui takaran, sedangkan kesamaan dalam barang yang ditimbang harus diketahui melalui timbangan.Contohnya, seseorang menukar 1 kg beras jenis A dengan 1 kg beras jenis B. Meskipun berat timbangannya sama-sama 1 kg, bisa jadi takaran beras jenis A lebih banyak daripada beras jenis B.Hal ini karena menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, beras termasuk kategori barang yang standar ukurannya adalah takaran. Karenanya, kesamaan dalam pertukaran beras dengan beras tidak dapat dipastikan hanya dengan menimbangnya. Bisa jadi 1 kg beras jenis A setara dengan 1,5 liter; sedangkan 1 kg beras jenis B setara dengan 1,7 liter. Karena terdapat perbedaan dalam takaran, maka syarat kesamaan (tamatsul) tidak dapat dipastikan terpenuhi.Kedua: Para ulama berbeda pendapat tentang menjual barang ribawi yang ditimbang dengan jenis yang sama melalui perkiraan ketika ada kebutuhan atau kondisi yang mendesak.Maksud dari kebutuhan atau kondisi yang mendesak adalah ketika seseorang sedang safar atau ketika tidak ada timbangan di sisinya yang bisa digunakan untuk menimbang.Jumhur ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali, Zahiri, dan sebagian pendapat mazhab Maliki melarangnya. Dasarnya adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, لا تَبيعوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ، لا تُشِفُّوا بعضَها على بعضٍ“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)Menurut pendapat ini, timbangan tidak bisa diperkirakan. Karena pada perkiraan terdapat kemungkinan lebih atau kurang, sehingga syarat berupa “sama rata” tidak dapat terpenuhi dalam kondisi ini.Adapun pendapat Imam Malik dan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berpendapat bolehnya melakukan perkiraan dalam timbangan ketika ada kebutuhan.Mereka berdalil bahwa syariat terkadang menjadikan ijtihad dan perkiraan sebagai pengganti ilmu yang pasti. Mereka juga meng-qiyaskan dengan akad ‘araya, yaitu ketika kurma basah yang masih di pohon sulit untuk diketahui ukuran yang pasti. Sehingga caranya adalah dengan diperkirakan taksiran kadarnya untuk ditukar dengan kurma kering yang telah diketahui ukurannya.Dan pendapat ini lebih kuat dalam kondisi ketika dibutuhkan. Sebab terdapat suatu kaidah,الأَمْرُ إِذَا ضَاقَ اِتَّسَعَ“Ketika suatu urusan menjadi sempit, (syariat) memberikan kelonggaran.” Ketiga: Di antara hal yang penting dalam pembahasan ini yaitu, ketika barang yang ditakar atau ditimbang dijual dengan barang yang berbeda jenis.Dalam hal ini diperbolehkan menggunakan ukuran standar selain asalnya, baik dengan takaran maupun timbangan. Karena syarat tamatsul (kesamaan) memang tidak berlaku ketika barang yang dipertukarkan berbeda jenis.Contohnya, satu kilogram gandum ditukar dengan satu kilogram jelai (sya’ir) yang pada asalnya kedua barang ini ditakar. Hal ini diperbolehkan, karena gandum dan jelai adalah dua jenis yang berbeda. Yang disyariatkan dalam hal ini hanyalah serah terima dilakukan secara tunai agar tidak terjadi riba nasi’ah (penundaan serah terima), sedangkan kesamaan kadar tidak disyaratkan jika jenis berbeda.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 13 LANJUT KE BAGIAN 15***Depok, 20 Zulhijah 1447/ 6 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 191-193), dengan beberapa perubahan.[2] Al-Ijma’, no. 491 hal. 97.Referensi:– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.– An-Naisaburi, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Fuad Abdul Mun’im Ahmad. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar al-Muslim, 1425 H/2004 M.

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.
Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.


Daftar Isi ToggleWaktu pelaksanaan akikahTempat penyembelihan akikahSiapa yang melakukan dan menanggung akikah?Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Waktu pelaksanaan akikahWaktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah menyembelihnya pada hari ketujuh, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini berdasarkan hadis Samurah [1].” [2]Jika dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh, apakah hari kelahiran termasuk dalam hitungannya? Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hari kelahiran dihitung. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat. Pendapat pertama yang lebih sahih adalah hari kelahiran dihitung dan kurban dilaksanakan pada hari ketujuh. Pendapat kedua yaitu dilaksanakan pada hari setelah hari ketujuh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al-Buwayti (salah satu murid utama Imam Asy-Syafi’i) dan mazhab Maliki [3]. Namun, pendapat pertama lebih disukai karena didukung oleh makna hadis yang jelas. Apabila anak lahir pada malam hari, maka hari pertama dihitung pada malam itu, dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat [4].” Pendapat pertama sejalan dengan Eksilopedia Fikih (30: 279) dan pendapat Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah [5]. Ini adalah masalah pilihan. Jika memungkinkan, lakukan akikah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan hingga setelah hari ketujuh, tidak ada salahnya dan akikah tersebut tetap sah.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dilakukan setelah atau sesudah hari ketujuh dan setelah kelahiran langsung, maka sah. Namun, jika dilakukan sebelum kelahiran, maka tidak sah; tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini dan dianggap hanya sebagai daging biasa (bukan daging akikah).” [6]Tempat penyembelihan akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang paling baik untuk menyembelih akikah. Apakah lebih baik menyembelihnya di kampung halaman (daerah asal) atau di tempat orang tua jika tinggal di tempat lain, misalnya ayah dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda? Misalnya, ayah bekerja di Saudi Arabia, sedangkan anak lahir di Indonesia.Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah menyatakan, “Ada kemungkinan akikah tersebut disembelih di kampung halaman anak tersebut, dengan qiyas (analogi) zakat fitrah yang dibayarkan di negara tempat orang tersebut tinggal. Namun, pendapat yang dipilih ialah menyembelih akikah di tempat orang (orang tua/ayahnya) yang melaksanakan akikah, karena merekalah yang berkewajiban melaksanakannya.” [7]Syekh Ibnu Jibriin rahimahullah berpendapat bahwa lebih baik menyembelihnya di tempat anaknya. Ketika beliau ditanya: haruskah hewan akikah disembelih di negara orang tua tinggal atau di negara tempat anak dilahirkan? Lalu ia meminta bukti jika ada. Ia menjawab, “Sebaiknya dilakukan di negara tempat anak berada. Jika ayah berada di negara lain, ia harus mengirimkan uang untuk akikah, menunjuk seseorang untuk menyembelihnya, serta mengundang orang lain agar doanya lebih dekat dengan bayinya dan memberikan barokah kepadanya, dan seterusnya.“ [8] [9]Diperbolehkan juga menyembelih satu ekor domba di satu negara dan satu ekor lain di negara lain untuk bersuka cita atas keluarganya. [10]Siapa yang melakukan dan menanggung akikah?Prinsip umumnya yaitu akikah dilakukan dan dibayar oleh ayah dari anak itu sendiri, bukan ditanggung oleh ibunya atau uang anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang pertama yang disebut dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan akikah. Namun, para ulama menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seseorang selain ayah untuk menanggung dan melakukan akikah dalam kasus-kasus sebagai berikut:1) Jika ayah lalai dan menolak untuk melaksanakan akikah;2) Jika seseorang meminta izin kepada ayah bayi tersebut untuk melakukan akikah atas bayi tersebut, dan sang ayah mengizinkannya.Dalil yang menunjukkan hal tersebut berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih (akikah) untuk Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, masing-masing dengan dua ekor domba jantan.” [11]Fakta bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan akikah untuk kedua cucunya merupakan bukti bahwa seorang kerabat selain ayah diperbolehkan melakukan akikah jika mendapat izin dari ayahnya.Apabila seorang ibu sudah bercerai, maka tidak diwajibkan untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, tetapi dianjurkan baginya untuk melakukannya apabila sang ayah menolak melakukannya atau tidak mampu karena jarak atau ketidaktahuan tentang kelahiran dan sebagainya. Allah Ta’ala yang akan mencatat pahala dan balasan. [12]Apakah seseorang yang masuk Islam perlu melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya?Jika seseorang masuk Islam, tidak ada salahnya melaksanakan akikah untuk dirinya sendiri, jika dia mau; dan begitu pula untuk anak-anaknya yang masuk Islam jika dia mampu secara finansial. Hal ini karena hikmah di baliknya adalah untuk mencari kesejahteraan anak, membebaskannya dari belenggu setan, melindunginya dari setan, dan hal ini tidak dapat dicapai bagi orang kafir. [13]Apakah seseorang harus melakukan akikah lagi untuk dirinya sendiri jika ia mengubah namanya?Mengubah nama tidak mengharuskan seseorang melakukan akikah lagi. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengubah nama itu diperbolehkan, dan lebih baik jika mengubah nama yang tidak pantas.” Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam memperbolehkan mengubah nama. Hal ini tidak mengharuskan seseorang untuk mengulang akikah, sebagaimana pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang awam. [14]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang terlantar?Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ketika ditanya mengenai hal ini menyatakan, “Ya, dianjurkan untuk melaksanakan akikah karena bermanfaat dan tidak membahayakannya. Ini adalah bagian dari kebaikanmu kepadanya dan mungkin akan menjadi sebab kesalehannya.” [15]Bagaimana hukum akikah untuk anak yang lahir di luar nikah?Sunah menganjurkan akikah untuk semua bayi yang baru lahir tanpa terkecuali, dan anak yang lahir di luar nikah termasuk dalam keumuman hadis-hadis ini sehingga akikah harus dilakukan untuknya. Karena akikah ini merupakan tanggung jawab ibunya, maka ibunyalah yang harus melaksanakan akikah. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai ini menjawab, “Ya, diperbolehkan bagi seorang ibu melaksanakan akikah. Dianjurkan agar ia melaksanakannya untuk anaknya dan ia wajib menafkahi anaknya jika mampu. Jika ia tidak mampu, anaknya harus diasuh oleh wali yang disediakan oleh negara. Jika ia mampu, ia harus membesarkannya, memperlakukannya dengan baik, dan melaksanakan akikah untuknya. Ia wajib membesarkannya dan bertobat kepada Allah atas apa yang telah dilakukannya, dan anaknya dinasabkan kepada ibunya.” [16]Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2455) dan disahihkan oleh al-Albani.[2] Al-Mughni, 9: 364.[3] Al-Taj wa al-Iklil, 4: 390.[4] Al-Majmu’, 8: 411.[5] Asy-Syarh al-Mumti’, 7: 493.[6] Al-Majmu’, 8: 411.[7] Al-Fatawa al-Kubra, 4: 257.[8] http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=5369[9] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 132524 dan 202306.[10] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 134931.[11] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (no. 4219) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i.[12] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 162811, 85392.[13] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 201479, 12448.[14] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 10: 850. Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 134931.[15] Lihat islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 262636.[16] Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz (28: 124). Lihat juga islamqa.info, jawaban atas pertanyaan no. 228538.

FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup

Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi

FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup

Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi
Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi


Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.  Daftar Isi tutup 1. Apa Itu FOMO? 2. FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan 3. Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini? 4. Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan 5. Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan 6. FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal? 7. FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup 8. FOMO dan Hati yang Gelisah 9. FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan 10. Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah? 11. Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim 12. Cara Mengendalikan FOMO 13. Nasihat Terakhir 13.1. 5 Pertanyaan Anti-FOMO 13.2. Rumus Ringkas Anti-FOMO 14. Referensi  Apa Itu FOMO?FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”“Jangan-jangan saya tertinggal.”“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. FOMO Bukan Sekadar Ikut-IkutanSecara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.Baca juga: Mengikuti Gaya Orang Kafir, Tasyabbuh Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan. Dampak Baik FOMO Jika DiarahkanFOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:Pertama, mendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.Baca juga: Berlomba dalam Meraih Pahala Dampak Buruk FOMO Jika Tidak DikendalikanDampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.Di antara dampak buruk FOMO adalah:Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.Kelima, boros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Baca juga: Overthinking dalam Islam, Kapan Berpikir Menjadi Masalah? FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis. Baca juga: Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan HidupMedia sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.Akhirnya muncul bisikan:“Saya kapan?”“Saya kok begini-begini saja?”“Saya tertinggal jauh.”“Hidup orang lain kok lebih mudah?”Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)Baca juga: Meraih Sifat QanaahHadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? FOMO dan Hati yang GelisahFOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.Baca juga: Rezeki Tak Mungkin Tertukar FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap SeruanFOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”Baca juga: 40 Alasan Ilmu Agama Lebih Baik daripada HartaIlmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:Apakah ini sesuai ilmu?Apakah ini halal?Apakah ini membawa manfaat?Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.Baca juga: Ilmu Lebih Berharga dari Harta, Inspirasi Parenting dari Kisah Farrukh dan Rabi‘ah Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan. Baca juga: Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang MuslimBahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman. Cara Mengendalikan FOMOAda beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.Ketiga, perbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.Keempat, pilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.Keenam, ingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.Baca juga: Tawakal kepada Allah yang Memberi Kecukupan (Perkataan Ibnul Qayyim) Nasihat TerakhirFOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.” 5 Pertanyaan Anti-FOMOKalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting? Rumus Ringkas Anti-FOMOBeli karena butuh, bukan karena gaduh.Pilih karena manfaat, bukan karena viral.Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.Baca juga: 5 Manfaat Sifat Qanaah ReferensiAkbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273 —- Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfear of missing out FOMO gangguan kesehatan mental ikut tren ilmu agama kesehatan mental media sosial nasihat islam overthinking qanaah tujuan hidup validasi

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.
Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.


Daftar Isi ToggleDalil akikahHukum akikahMakna akikahPengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang disembelih saat bayi lahir dan orang-orang Arab biasa melakukan hal tersebut sebelum datangnya Islam. [1]Dalil akikahDalil yang mensyariatkan akikah adalah sebagai berikut,عن بريدة -رضي الله عنه- قال: (كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسـه بدمهـا، فلما جاء الله بالإسـلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران)Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika seorang bayi lahir dari salah satu kami, kami menyembelih seekor domba dan mengolesi kepala bayinya dengan darahnya. Dan ketika Allah mendatangkan agama Islam, kami biasa menyembelih seekor domba, mencukur kepala bayi, dan mengoleskan kepalanya dengan safron (sejenis parfum).” (HR. Abu Dawud) [2]عن سلمان بن عامر -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دمًا، وأميطوا عنه الأذى)Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak yang baru lahir terdapat (syariat) akikah, maka tumpahkanlah darah untuknya (yaitu dengan menyembelih domba, pent.) dan hilangkanlah bahaya darinya.” (HR. Bukhari) [3]عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلم قال: (كلُّ غلامٍ مرتهن بعقيقته، تُذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمَّى)Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya; akikah disembelih (domba) untuknya pada hari ketujuh, kepalanya dicukur, dan dia diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi) [4]Hukum akikahPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum akikah yang terdiri dari tiga pendapat. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa akikah itu wajib, sebagian yang lain menyimpulkan sunnah mustahab (yang tidak ditekankan), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah muakkad (yang ditekankan). Pandangan yang rajih (kuat) mengenai hal ini adalah sunnah muakkad, yang berarti tidak boleh diabaikan bagi yang mampu, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.Hal ini didasarkan pada dalil berikut ini,أن رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: (مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa memiliki seorang anak dan kecintaan terhadap anaknya, maka hendaklah ia berkurban. Untuk anak laki-laki yaitu dua ekor domba yang nilainya sama, dan untuk anak perempuan yaitu satu ekor domba.” (HR. Abu Dawud) [5]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan perintah ini didasarkan pada kecintaan yang melakukannya, dan hal ini menunjukkan bahwa amalan ini disunahkan, bukan wajib. [6]Ulama-ulama dari Lajnah Daimah mengatakan, “Akikah itu sunnah muakkad. Untuk anak laki-laki dibutuhkan dua ekor domba yang masing-masing memenuhi syarat untuk kurban. Untuk anak perempuan, dibutuhkan satu ekor domba. Domba tersebut disembelih pada hari ketujuh. Jika ditunda hingga melewati hari ketujuh, diperbolehkan menyembelihnya kapan pun setelahnya dan tidak ada dosa atas penundaan tersebut, tetapi lebih baik melaksanakannya lebih awal jika memungkinkan.” [7]Namun, tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak wajib bagi orang fakir (miskin), apalagi bagi orang yang sedang terlilit utang. Adapun sesuatu yang lebih utama dari akikah, seperti haji, seharusnya tidak didahulukan daripada melunasinya. [8]Lalu bagaimana jika seseorang bernazar untuk melaksanakan akikah (kurban) untuk anaknya, namun kemudian tidak mampu melaksanakannya? Apakah hal ini diwajibkan kepadanya?Telah disebutkan bahwa akikah adalah sunnah muakkad dan tidak boleh diabaikan oleh mereka yang mampu melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka yang tidak melaksanakannya. Namun, siapa pun yang bernazar untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, maka wajib melaksanakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ“Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka hendaklah ia taat kepada-Nya.” (HR. Bukhari) [9]Apabila ia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka terdapat dua kemungkinan:Pertama: Dia telah menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, baik secara lisan maupun dalam niatnya, misalnya, berniat menyembelih pada minggu pertama atau bulan pertama setelah kelahiran. Jika waktu yang telah ditentukan tersebut berlalu dan dia tidak mampu memenuhi nazarnya, maka ia wajib membayar tebusan atas pelanggaran nazar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ“Tebusan nazar sama besar dengan tebusan sumpah.” (HR. Muslim) [10]Kedua: Dia tidak menetapkan waktu tertentu untuk menyembelih akikah, sehingga akikah tetap menjadi utang sampai dia mampu melunasinya. Akikah tidak memiliki batas waktu tertentu; dia diperbolehkan menyembelihnya kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah lahir. [11]Makna akikahApa makna dari: “Setiap anak tergadaikan (terikat) dengan akikahnya”? [12] Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya: sebagian ulama mengatakan bahwa jika akikah tidak dilakukan dan anaknya meninggal, ia akan terhalang untuk menjadi syafaat bagi orang tuanya. Sebagian lain mengatakan bahwa akikah adalah sarana untuk melindungi anak dari setan dan membebaskannya dari pengaruhnya. Seorang anak mungkin kehilangan kebaikan karena kelalaian orang tuanya, meskipun itu bukan kesalahannya. Demikian pula, jika ayahnya menyebut nama Allah (bismillah) saat ber-jima’ (berhubungan intim), maka setan tidak akan membahayakan anaknya; tetapi jika ia tidak melakukannya, anak tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan dari setan. [13]Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Di antara makna akikah yaitu ia merupakan sedekah yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir dan membebaskan dari belenggu karena ia terikat oleh akikahnya sampai ia memberi syafaat untuk orang tuanya. Makna lain yaitu sebagai tebusan bagi bayi yang baru lahir, sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala menebus Ismail dengan seekor domba jantan [14]. Makna lain yaitu berkumpulnya kerabat dan teman-teman dalam jamuan tersebut [15]. Hikmah di balik membagikan makanan akikah adalah untuk berbagi suka cita atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. [16]Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Luqman Hasan NahariArtikel Muslim.or.id Sumber: Diterjemahkan dari islamqa.info pada bab hukum-hukum akikah.Catatan Kaki:[1] Al-Hawi Al-Kabir, 15: 126.[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2843) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”.[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5154).[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 2563). Lihat juga islamqa.info pada pertanyaan no. 60252.[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2842).[6] Lihat Tuhfat Al-Mawdud, hal. 157.[7] Fatwa Lajnah Daimah, 11: 439. Hadis ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.[8] Lihat islamqa.info pada pertanyaan no. 20018.[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6696).[10] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1645).[11] Lihat jawaban di islamqa.info untuk pertanyaan no. 119562.[12] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1522) dan dikatakan hadis ini hasan shahih oleh Ibnu Majah (no. 3165). Lihat Shahih Ibnu Majah (no. 2563).[13] Lihat Zad al-Ma’ad (2: 325) dan Syarh al-Mumti’ (7: 535). Lihat juga islamqa.info pada jawaban untuk pertanyaan no. 12448.[14] Tuhfat al-Mawdud, hal. 69.[15] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 7889.[16] Lihat islamqa.info, jawaban untuk pertanyaan no. 205413.

Sikap Anak Ketika Orang Tua Bercerai

Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Sikap Anak Ketika Orang Tua Bercerai

Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMemahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahPerceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakTidak memihak secara zalimMenjaga lisan dan rahasia keluargaMengelola emosi dengan imanBersabar dalam ujianJangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakMenguatkan hubungan dengan AllahMenjadi anak yang lebih baikSaatnya bangkitPerceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir AllahLangkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anakPerceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”Tidak memihak secara zalimSalah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)Menjaga lisan dan rahasia keluargaDi era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.Mengelola emosi dengan imanPerceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.Bersabar dalam ujianAllah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Dan Allah juga berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusakSebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Allah Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Menguatkan hubungan dengan AllahKetika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)Doa menjadi kekuatan besar,رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.Menjadi anak yang lebih baikPerceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.Saatnya bangkitPerceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

NPD: Bahaya Narsistik dan Cinta Pujian

Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub

NPD: Bahaya Narsistik dan Cinta Pujian

Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub
Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub


Di zaman media sosial, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sedang memberi makan ego lewat pujian, tampilan, dan validasi manusia. NPD atau gangguan kepribadian narsistik bukan sekadar suka tampil, tetapi bisa menjadi pola kepribadian yang merusak hubungan dan membuat seseorang sulit berempati. Islam sejak awal sudah mengingatkan bahaya kibr, ‘ujub, riya’, cinta pujian, dan merendahkan manusia.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu NPD? 2. Ciri-Ciri NPD yang Perlu Diwaspadai 3. Apa Penyebab NPD? 4. Media Sosial dan Budaya Validasi 5. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD? 6. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPD 7. Penanganan untuk Diri Sendiri 8. Penanganan untuk Orang Sekitar 9. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit Hati 10. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik 11. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik 12. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik  Apa itu NPD?NPD adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang sangat terpusat pada dirinya, haus pujian, merasa paling penting, sulit berempati, dan mudah merendahkan orang lain. Dalam tinjauan Islam, gejala-gejala ini sangat dekat dengan penyakit hati seperti kibr, ‘ujub, fakhr, khuyala’, cinta kedudukan, dan menolak nasihat. Media sosial bukan penyebab tunggal NPD, tetapi dapat memperkuat sifat narsistik ketika seseorang menjadikan popularitas, pujian, dan citra diri sebagai ukuran nilai dirinya. Solusinya harus menyatukan dua jalan: terapi psikologis oleh ahlinya dan tazkiyatun nafs melalui tawadhu, muhasabah, menerima nasihat, amal tersembunyi, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai gangguan kepribadian narsistik.Secara klinis, NPD adalah pola kepribadian yang menetap, ditandai oleh rasa diri yang sangat penting atau grandiositas, kebutuhan kuat untuk dikagumi, kurang empati, rasa berhak, dan pola relasi yang sering eksploitatif atau bermasalah. Dalam DSM-5/DSM-5-TR, NPD termasuk gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kelompok gangguan yang sering tampak dramatis, emosional, atau tidak stabil; diagnosis mensyaratkan pola yang menetap, kaku, maladaptif, dan menimbulkan gangguan fungsi atau penderitaan, bukan sekadar percaya diri tinggi. Ciri-Ciri NPD yang Perlu DiwaspadaiCiri yang sering disebut dalam literatur klinis adalah:merasa diri sangat penting atau istimewa,sibuk dengan fantasi sukses, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau status,merasa hanya bisa dipahami oleh orang-orang “level tinggi”,membutuhkan kekaguman berlebihan,merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus,mengeksploitasi orang lain,kurang empati,iri kepada orang lain atau yakin orang lain iri kepadanya,bersikap arogan atau merendahkan.Namun, catatan pentingnya: diagnosis tidak boleh dibuat dari satu-dua ciri saja, apalagi dari konflik rumah tangga semata. Diagnosis NPD memerlukan asesmen klinis oleh psikolog klinis/psikiater, wawancara mendalam, riwayat jangka panjang, dan pembedaan dari gangguan lain seperti bipolar mania, borderline personality disorder, antisocial personality disorder, depresi, trauma, atau sekadar gaya komunikasi buruk. Apa Penyebab NPD?Penyebab NPD tidak tunggal. Biasanya gabungan dari beberapa faktor:Pertama: faktor bawaan dan temperamen.Sebagian orang sejak kecil memiliki temperamen lebih dominan, sensitif terhadap penilaian, atau sangat butuh pengakuan.Kedua: pola asuh yang keliru.Dua pola yang sering dibahas dalam riset: anak terlalu dipuja seakan selalu istimewa, atau sebaliknya anak terlalu sering direndahkan sehingga ia membangun “topeng kebesaran” untuk menutup rasa rapuh.Ketiga: pengalaman masa kecil yang buruk.Trauma, penolakan, pengabaian, kekerasan emosional, keluarga tidak stabil, atau tuntutan berlebihan dapat menjadi faktor risiko. Review 2024 menyebut adverse childhood experiences sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan NPD pada masa dewasa.Keempat: lingkungan sosial yang memberi hadiah pada pamer diri.Budaya yang terlalu mengukur nilai manusia dari popularitas, penampilan, kekayaan, jabatan, jumlah followers, dan pujian bisa memperkuat sifat narsistik. Media Sosial dan Budaya ValidasiMedia sosial tidak otomatis menyebabkan NPD, tetapi dapat menjadi ruang yang memperkuat sifat narsistik. Sistem like, komentar, follower, view, dan algoritma popularitas dapat membuat seseorang semakin haus validasi, ingin selalu tampil, sulit menerima kritik, dan membangun citra diri yang berlebihan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini perlu diwaspadai karena dekat dengan penyakit hati seperti riya’, sum’ah, ujub, cinta pujian, sombong, dan merendahkan manusia. Karena itu, pengguna media sosial perlu terus meluruskan niat: apakah ia sedang mencari ridha Allah dan manfaat bagi manusia, atau sedang memberi makan ego dirinya sendiri?Media sosial memberi ruang besar untuk:mencari validasi,mengejar likes dan komentar,membangun citra diri palsu,membandingkan diri,ingin terkenal,merasa hidup harus selalu terlihat hebat.Media sosial tidak otomatis membuat orang menjadi NPD, tetapi budaya pamer, validasi, dan ingin viral dapat memperkuat sifat narsistik pada orang yang sudah punya kecenderungan ke arah itu.Dalam bahasa syariat: medsos bisa menjadi ladang riya’, sum‘ah, ‘ujub, fakhr, hasad, dan hubbuzh zhuhur bila tidak dijaga dengan takwa. Bagaimana Mengetahui Orang Terkena NPD?Jangan langsung melabeli. Tetapi ciri-ciri yang perlu diwaspadai:Selalu ingin jadi pusat perhatian.Sulit menerima kritik, bahkan nasihat lembut pun dianggap serangan.Merasa dirinya paling berjasa, paling benar, paling pintar, atau paling layak dihormati.Sering merendahkan orang lain, tetapi sangat marah jika dirinya direndahkan.Butuh pujian terus-menerus.Tidak mudah meminta maaf, atau meminta maaf hanya untuk mengendalikan situasi.Kurang empati terhadap perasaan pasangan, anak, keluarga, atau teman.Suka memanipulasi: membuat orang merasa bersalah, takut, atau bergantung kepadanya.Relasi dekatnya sering rusak karena kontrol, penghinaan, atau drama.Harga dirinya rapuh; kritik kecil bisa membuatnya marah besar, diam menghukum, atau menyerang balik.Dalam istilah syariat, tanda yang paling jelas adalah dua hal dalam hadits:بَطَرُ الْحَقِّ: menolak kebenaran.غَمْطُ النَّاسِ: merendahkan manusia.Dua hal ini sangat penting untuk membedakan antara percaya diri yang sehat dan kesombongan yang rusak. Beda Percaya Diri, Sombong, dan NPDPercaya diri sehat: tahu kelebihan diri, tetapi tetap mau belajar, menerima nasihat, dan menghargai orang lain.Sombong/kibr: merasa lebih tinggi, menolak kebenaran, merendahkan orang lain.NPD: pola kepribadian yang menetap, berat, berulang, mengganggu relasi, pekerjaan, keluarga, dan biasanya sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Penanganan untuk Diri SendiriBila seseorang merasa punya gejala narsistik, langkahnya:Pertama: jangan bangga dengan label “narsis”.Ini bukan identitas keren. Ini sinyal untuk muhasabah.Kedua: belajar menerima kritik kecil.Latih diri untuk diam dulu ketika dikoreksi. Jangan langsung membela diri.Ketiga: catat pola diri.Misalnya: “Kapan saya marah? Ketika tidak dipuji? Ketika dikritik? Ketika orang lain lebih berhasil?”Keempat: latih empati.Tanyakan: “Apa dampak ucapanku bagi orang lain? Apakah aku sedang ingin benar atau ingin menang?”Kelima: kurangi panggung validasi.Batasi kebiasaan mengecek likes, komentar, pujian, dan respons orang.Keenam: perbanyak amal yang tidak diketahui orang.Ini terapi syar’i yang sangat kuat untuk melawan cinta popularitas.Ketujuh: cari bantuan profesional.Terapi untuk NPD biasanya bukan obat utama, tetapi psikoterapi: membangun kesadaran diri, memperbaiki empati, mengatur emosi, dan memperbaiki relasi. Review klinis menyebut terapi NPD memang menantang karena ada pola kontrol, agresivitas, penghindaran, dan sulit membangun hubungan terapi, tetapi perubahan tetap mungkin dengan proses yang tepat. Penanganan untuk Orang SekitarBila menghadapi orang dengan sifat narsistik berat:Jangan mudah terpancing debat panjang.Tetapkan batasan yang jelas.Jangan terus-menerus memberi “bahan bakar” berupa pujian palsu.Jangan membalas penghinaan dengan penghinaan.Pisahkan antara menghormati orang dan membiarkan kezaliman.Dokumentasikan bila ada kekerasan, ancaman, atau manipulasi berat.Ajak konsultasi ke ahli bila memungkinkan.Dalam rumah tangga, libatkan mediator yang adil dan matang.Jika ada kekerasan fisik atau ancaman serius, keselamatan korban harus didahulukan.Dalam syariat, sabar bukan berarti membiarkan kezaliman. Tawadhu bukan berarti boleh diinjak-injak. Berbuat baik bukan berarti membenarkan perilaku merusak. Nasihat Alim Ulama untuk Sisi Penyakit HatiTerapi kibr (sombong) adalah menyadari bahwa manusia sama-sama berasal dari ayah dan ibu, standar kemuliaan hanyalah takwa, mengingat kelemahan diri, dan memahami bahwa manusia membenci orang kasar lagi sombong, sedangkan Allah mencintai tawadhu.Baca juga: Bahaya Sombong, Akhlak Iblis yang Menghalangi Surga ‘Ujub dan fakhr (bangga diri), obatnya adalah menerima nasihat, tidak marah ketika dikoreksi, membaca kitab akhlak, mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, menyadari bahwa kemuliaan bukan dengan pujian manusia, dan berdoa agar diberi akhlak yang baik.Baca juga: Awas Ujub! Amal Bisa Rusak karena Bangga Diri Nasihat praktisnya:Pertama: biasakan berkata, “Mungkin saya salah.”Kedua: biasakan menerima nasihat tanpa langsung membantah.Ketiga: sembunyikan sebagian amal.Keempat: berteman dengan orang saleh yang berani menasihati.Kelima: baca sirah Nabi ﷺ tentang tawadhu.Keenam: ingat kematian, karena semua pangkat, popularitas, dan pujian akan selesai. Dalil Al-Qur’an yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Larangan sombong, merendahkan orang, dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ“Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)Ayat ini sangat dekat dengan kritik terhadap sifat narsistik: merasa diri lebih tinggi, merendahkan orang lain, dan ingin tampak hebat di hadapan manusia.2. Allah tidak mencintai orang sombong dan membanggakan diriAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)Sifat mukhtal adalah merasa besar dalam diri, sedangkan fakhur adalah suka menampakkan kelebihan diri kepada orang lain. Dua sifat ini sangat dekat dengan perilaku haus pengakuan dan cinta pujian.3. Jangan merasa diri paling suciAllah Ta’ala berfirman,فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)Ini adalah dalil penting untuk mengkritik orang yang merasa dirinya paling baik, paling benar, paling saleh, paling berjasa, atau paling layak dipuji.4. Jangan berjalan di bumi dengan angkuhAllah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا“Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak pula akan setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)Ayat ini menghancurkan ilusi kebesaran diri. Sehebat apa pun manusia, ia tetap lemah, terbatas, dan tidak pantas menyombongkan diri.5. Kisah Qarun: sombong karena prestasi dan kekayaanAllah Ta’ala berfirman tentang Qarun,قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)Ini adalah contoh sikap narsistik dalam bentuk merasa semua keberhasilan berasal dari kehebatan diri sendiri. Ia lupa bahwa nikmat itu dari Allah.Allah juga berfirman,فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)Ini menunjukkan bahaya besar ketika kekayaan, jabatan, ilmu, atau popularitas membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan lebih tinggi dari orang lain.6. Jangan mencela dan merendahkan orang lainAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)Orang yang narsistik sering merasa dirinya lebih tinggi dan mudah merendahkan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa bisa jadi orang yang ia rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.7. Celaka bagi pencela dan pembanggakan hartaAllah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ“Celakalah bagi setiap pencela dan pengumpat, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal.” (QS. Al-Humazah: 1–3)Ayat ini mencela orang yang suka merendahkan orang lain, membanggakan hartanya, dan merasa dirinya aman karena apa yang ia miliki.8. Orang yang ingin dipuji atas sesuatu yang tidak ia lakukanAllah Ta’ala berfirman,وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ“Mereka suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Maka janganlah engkau mengira mereka akan selamat dari azab.” (QS. Ali ‘Imran: 188)Ini sangat relevan dengan budaya pencitraan: ingin dipuji, ingin terlihat berjasa, ingin dianggap hebat, padahal tidak sesuai kenyataan. Dalil Hadits yang Mengkritik Sifat Narsistik1. Kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”Ada seseorang bertanya, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.”Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Ini dalil paling utama. Sifat narsistik yang paling berbahaya adalah dua hal ini: tidak mau menerima kebenaran dan mudah merendahkan orang lain.2. Larangan bangga diri dan merasa lebih tinggi dari orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sampai tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim)Hadits ini mengajarkan dua obat besar untuk sifat narsistik: tawadhu dan tidak menzalimi orang lain.3. Orang sombong akan dihinakan pada hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam rupa manusia. Kehinaan meliputi mereka dari segala arah.” (HR. At-Tirmidzi)Di dunia ia ingin terlihat besar. Pada hari kiamat, Allah hinakan ia menjadi sangat kecil.4. Bahaya ‘ujub: kagum kepada diri sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.“Tiga perkara yang membinasakan: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang kagum kepada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi dan lainnya)‘Ujub adalah penyakit inti dalam narsistik: seseorang terpukau dengan dirinya sendiri, kelebihan dirinya, pendapatnya, ilmunya, amalnya, atau statusnya.5. Larangan merendahkan sesama muslimRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ.“Cukuplah seseorang dianggap buruk ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)Ini dalil tegas bahwa merendahkan orang lain sudah cukup menjadi tanda buruknya akhlak seseorang.6. Larangan hasad, saling membenci, dan saling menjatuhkanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu dalam jual beli, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)Orang yang narsistik sering sulit melihat orang lain berhasil. Ia mudah iri, merasa tersaingi, lalu ingin menjatuhkan. Hadits ini menutup jalan menuju kerusakan itu.7. Larangan riya’ dan mencari pujian manusiaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.“Siapa yang memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan membongkar niatnya. Siapa yang berbuat riya, Allah akan menampakkan riya’nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini sangat relevan dengan narsistik spiritual: ibadah, ilmu, dakwah, sedekah, atau amal sosial dilakukan agar terlihat hebat di mata manusia.8. Orang yang beramal besar tetapi niatnya ingin dipujiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, orang yang berjihad, dan orang yang bersedekah. Mereka ditanya tentang amalnya, lalu masing-masing mengaku beramal karena Allah. Namun dikatakan kepada mereka,كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia seorang qari.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang berjihad,وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau berperang agar dikatakan, ‘Ia pemberani.’ Dan pujian itu telah dikatakan.”Dalam riwayat tentang orang yang bersedekah,وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ.“Engkau melakukannya agar dikatakan, ‘Ia dermawan.’ Dan pujian itu telah dikatakan.” (HR. Muslim)Hadits ini sangat tajam untuk mengkritik orang yang menjadikan amal sebagai panggung pencitraan.9. Orang yang tampil seolah memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ia milikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.“Orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini relevan dengan pencitraan palsu: ingin tampak kaya, tampak alim, tampak sukses, tampak berjasa, tampak saleh, padahal kenyataannya tidak demikian.10. Orang yang berjalan dengan kagum pada dirinya sendiriRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.“Ketika ada seseorang berjalan dengan pakaian indah yang membuat dirinya kagum, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahaya ketika penampilan membuat seseorang kagum kepada diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalil yang Menunjukkan Obat Sifat Narsistik1. Tawadhu karena AllahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)Orang yang ingin diangkat manusia sering jatuh dalam kesombongan. Orang yang merendahkan diri karena Allah justru akan diangkat oleh Allah.2. Mencintai kebaikan untuk orang lainRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ini obat besar untuk kurang empati. Orang yang sehat imannya tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga mencintai kebaikan untuk orang lain.3. Doa berlindung dari syirik tersembunyiDoa yang sangat relevan untuk membersihkan hati dari riya’, sum‘ah, dan ‘ujub adalah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani)Doa ini sangat penting karena penyakit hati kadang sangat halus. Seseorang bisa merasa ikhlas, padahal sedang mencari pujian. Ia bisa merasa berdakwah, padahal sedang membangun citra diri. Ia bisa merasa menasihati, padahal sedang menunjukkan kehebatan dirinya. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 11 Muharram 1448 H, 26 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbangga diri gangguan kesehatan mental media sosial muhasabah diri narsis narsistik npd penyakit hati riya sombong syirik tawadhu tazkiyatun nafs ujub
Prev     Next