Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.074 video dengan total 6.896.408 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.145 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 942.223.451 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.884 video Total Subscribers: 4.199.155 subscribers Total Tayangan Video: 743.041.691 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Desember 2025: 108 video Tayangan Video Desember 2025: 2.585.870 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 270.566 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.774 Selama bulan Desember 2025 tim Yufid menyiarkan 111 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.212 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.164.659 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Desember 2025: 37 video Tayangan Video Desember 2025: 105.631 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 6.511 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +835 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 551.053 Total Tayangan Video: 171.991.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 1.512.806 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 82.118 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.138 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 481.625 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2025: 795 views Jam Tayang Video Desember 2025: 85 Jam Penambahan Subscribers Desember 2025: 5 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.200 Total Tayangan Video: 3.544.419 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers Desember 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.859 Postingan Total Pengikut: 1.196.736 followers Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 3.042.284 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +7.894 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.769 Postingan Total Pengikut: 552.012 Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 845.484 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +3.248 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 4 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.175 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 10 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.145 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 766 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.317 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan Desember 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2025 ini saja telah didengarkan 18.032 kali dan telah di download sebanyak 374 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 62.164 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.742 artikel dengan total durasi audio 263 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 18 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 371 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.074 video dengan total 6.896.408 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.145 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 942.223.451 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.884 video Total Subscribers: 4.199.155 subscribers Total Tayangan Video: 743.041.691 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Desember 2025: 108 video Tayangan Video Desember 2025: 2.585.870 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 270.566 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.774 Selama bulan Desember 2025 tim Yufid menyiarkan 111 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.212 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.164.659 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Desember 2025: 37 video Tayangan Video Desember 2025: 105.631 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 6.511 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +835 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 551.053 Total Tayangan Video: 171.991.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 1.512.806 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 82.118 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.138 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 481.625 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2025: 795 views Jam Tayang Video Desember 2025: 85 Jam Penambahan Subscribers Desember 2025: 5 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.200 Total Tayangan Video: 3.544.419 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers Desember 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.859 Postingan Total Pengikut: 1.196.736 followers Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 3.042.284 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +7.894 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.769 Postingan Total Pengikut: 552.012 Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 845.484 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +3.248 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 4 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.175 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 10 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.145 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 766 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.317 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan Desember 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2025 ini saja telah didengarkan 18.032 kali dan telah di download sebanyak 374 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 62.164 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.742 artikel dengan total durasi audio 263 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 18 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 371 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.074 video dengan total 6.896.408 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.145 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 942.223.451 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.884 video Total Subscribers: 4.199.155 subscribers Total Tayangan Video: 743.041.691 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Desember 2025: 108 video Tayangan Video Desember 2025: 2.585.870 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 270.566 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.774 Selama bulan Desember 2025 tim Yufid menyiarkan 111 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.212 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.164.659 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Desember 2025: 37 video Tayangan Video Desember 2025: 105.631 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 6.511 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +835 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 551.053 Total Tayangan Video: 171.991.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 1.512.806 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 82.118 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.138 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 481.625 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2025: 795 views Jam Tayang Video Desember 2025: 85 Jam Penambahan Subscribers Desember 2025: 5 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.200 Total Tayangan Video: 3.544.419 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers Desember 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.859 Postingan Total Pengikut: 1.196.736 followers Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 3.042.284 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +7.894 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.769 Postingan Total Pengikut: 552.012 Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 845.484 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +3.248 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 4 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.175 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 10 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.145 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 766 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.317 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan Desember 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2025 ini saja telah didengarkan 18.032 kali dan telah di download sebanyak 374 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 62.164 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.742 artikel dengan total durasi audio 263 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 18 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 371 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Desember 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.074 video dengan total 6.896.408 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.145 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 942.223.451 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/01/image.png" alt="" class="wp-image-545"/> Total Video Yufid.TV: 19.884 video Total Subscribers: 4.199.155 subscribers Total Tayangan Video: 743.041.691 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Desember 2025: 108 video Tayangan Video Desember 2025: 2.585.870 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 270.566 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.774 Selama bulan Desember 2025 tim Yufid menyiarkan 111 video live. Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/01/image-2.png" alt="" class="wp-image-547"/> Total Video Yufid Edu: 3.212 video Total Subscribers: 334.231 Total Tayangan Video: 23.164.659 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Desember 2025: 37 video Tayangan Video Desember 2025: 105.631 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 6.511 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +835 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/01/image-4.png" alt="" class="wp-image-549"/> Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 551.053 Total Tayangan Video: 171.991.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 1.512.806 views Waktu Tayang Video Desember 2025: 82.118 jam Penambahan Subscribers Desember 2025: +3.138 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 481.625 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Desember 2025: 795 views Jam Tayang Video Desember 2025: 85 Jam Penambahan Subscribers Desember 2025: 5 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.200 Total Tayangan Video: 3.544.419 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Desember 2025: 0 video Tayangan Video Desember 2025: 35.492 views Penambahan Subscribers Desember 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/01/image-5.png" alt="" class="wp-image-550"/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.859 Postingan Total Pengikut: 1.196.736 followers Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 3.042.284 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +7.894 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.769 Postingan Total Pengikut: 552.012 Konten Bulan Desember 2025: 53 Views Konten Desember: 845.484 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Desember 2025: +3.248 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/01/image-1.png" alt="" class="wp-image-546"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 14 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2026/01/image-3.png" alt="" class="wp-image-548"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 4 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.175 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 10 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.145 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 766 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.317 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 5 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 35.500 file mp3 dengan total ukuran 500 Gb dan pada bulan Desember 2025 ini telah mempublikasikan 467 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Desember 2025 ini saja telah didengarkan 18.032 kali dan telah di download sebanyak 374 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 62.164 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.742 artikel dengan total durasi audio 263 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Desember 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 18 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Desember 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Sudah Sholat Belum, Insya Allah, Allah In Arabic, Arti Surat Almaidah Ayat 51, Ayat Ayat Rukiah Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 371 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kelembutan: Senjata Diam-Diam, Masalah Besar Bisa Selesai dengan Cara Ini – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Banyak urusan yang hanya dapat terselesaikan dengan sikap lembut. Terlebih lagi dalam menangani berbagai masalah. Sering kali, penyelesaiannya dengan kelembutan jauh lebih efektif dibandingkan dengan kekerasan. Sebagai contoh, permasalahan rumah tangga yang terjadi antara suami dan istri. Terkadang, ketika seorang suami bersikap lembut dalam menangani masalah, maka masalah itu cepat sekali terselesaikan. Namun, apabila ia memilih sikap keras, maka persoalan itu justru semakin memburuk. Di antara penerapan sikap tersebut, adalah terwujudnya dialog yang lembut, tenang, dan penuh keteduhan antara kedua belah pihak. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang hakim yang didatangi seorang laki-laki yang berniat menceraikan istrinya. Hakim itu berkata, “Kamu harus menghadirkan istrimu.” Maka sang suami pun menghadirkannya. Kemudian hakim tersebut memasukkan keduanya ke ruang sidang. Hakim mulai bertanya tentang siapa mereka dan apa masalah yang terjadi, lalu membuka dialog dengan keduanya. Setelah itu, hakim berkata, “Berdialoglah kalian berdua. Aku akan kembali menemui kalian setengah jam lagi.” Setelah setengah jam berlalu, hakim itu kembali. Ternyata keduanya sedang tertawa dan telah berdamai. Suami itu lalu pulang bersama istrinya, dan masalah mereka telah terselesaikan. Padahal sebelumnya ia datang dengan niat untuk menceraikan istrinya. Namun, sebelumnya tidak pernah ada ruang untuk dialog, saling mendengar, dan saling memberi. Tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan kelembutan dan ketenangan. Ketika suasana seperti ini akhirnya tercipta di antara mereka, persoalan pun sirna. Ternyata masalah itu hanyalah ganjalan di dalam hati saja, lalu menghilang dan lenyap. Hakim itu menyelesaikan masalahnya dengan penuh kebijaksanaan. Kisah ini menjadi bukti bahwa banyak urusan dapat diatasi dengan kelembutan, ketenangan, dan dialog yang baik. “Sesungguhnya Allah memberikan melalui kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan melalui kekerasan.” “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.” ===== فَكَثِيرٌ مِنَ الْأُمُورِ إِنَّمَا تَتَأَتَّى مَعَ الرِّفْقِ خَاصَّةً فِي عِلَاجِ الْمَشَاكِلِ يَكُونُ حَلُّهَا بِالرِّفْقِ أَكْثَرَ مِنْ حِلِّهَا بِالْعُنْفِ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ الْمَشَاكِلُ الزَّوْجِيَّةُ الَّتِي تَقَعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ أَحْيَانًا إِذَا اسْتَعْمَلَ الزَّوْجُ الرِّفْقَ فِي مُعَالَجَةِ الْمُشْكِلَةِ فَإِنَّهَا سُرْعَانَ مَا تَنْحَلُّ لَكِنْ إِذَا اسْتَعْمَلَ الْعُنْفَ فَإِنَّهَا تَزْدَادُ سُوءًا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حِوَارٌ بِرِفْقٍ وَلِيْنٍ وَهُدُوءٍ بَيْنَ الطَّرَفَيْنِ وَأَذْكُرُ أَنَّ قَاضِيًا أَتَاهُ رَجُلٌ لِيُطَلِّقَ امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَا بُدَّ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فَأَتَى بِهَا فَأَدْخَلَهُمَا فِي الْمُخْتَصَرِ وَسَأَلَ يَعْنِي مَنْ الَّذِي مَا الْمُشْكِلَةُ؟ مَا كَذَا؟ ابْتَدَأَ مَعَهُمَا الْحِوَارَ ثُمَّ قَالَ تَحَاوَرَا فِيمَا بَيْنَكُمَا وَسَأَعُوْدُ عَلَيْكُمَا بَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ وَبَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ أَتَى إِلَيْهِمَا وَإِذَا هُمَا يَضْحَكَانِ وَقَدْ تَصَالَحَا وَرَجَعَ هَذَا الرَّجُلُ بِزَوْجَتِهِ قَدْ صَلَحَتْ أُمُورُهُمَا مَعَ أَنَّهُ أَتَى لِيُطَلِّقَهَا لَكِنْ مَا كَانَ فِيهِ وَقْتٌ لِلْحِوَارِ وَالْأَخْذِ وَالْإِعْطَاءِ وَيَعْنِي أَنْ يَتَكَلَّمَ مَعَهَا بِرِفْقٍ وَهُدُوءٍ فَلَمَّا حَصَلَ هَذَا الْجَوُّ بَيْنَهُمَا زَالَتِ الْمُشْكِلَةُ يَعْنِي شَيْءٌ فِي النُّفُوسِ فَقَطْ وَذَهَبَ وَزَالَ وَكَانَ هَذَا يَعْنِي الْقَاضِي عِنْدَهُ حِكْمَةٌ وَهَذَا أَيْضًا يَعْنِي هَذَا مِثَالٌ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ يُمْكِنُ أَنْ تُعَالَجَ مُشْكِلَاتُهَا بِالرِّفْقِ وَبِالْهُدُوءِ وَبِالْحِوَارِ إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ لَا يَكُونُ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Kelembutan: Senjata Diam-Diam, Masalah Besar Bisa Selesai dengan Cara Ini – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Banyak urusan yang hanya dapat terselesaikan dengan sikap lembut. Terlebih lagi dalam menangani berbagai masalah. Sering kali, penyelesaiannya dengan kelembutan jauh lebih efektif dibandingkan dengan kekerasan. Sebagai contoh, permasalahan rumah tangga yang terjadi antara suami dan istri. Terkadang, ketika seorang suami bersikap lembut dalam menangani masalah, maka masalah itu cepat sekali terselesaikan. Namun, apabila ia memilih sikap keras, maka persoalan itu justru semakin memburuk. Di antara penerapan sikap tersebut, adalah terwujudnya dialog yang lembut, tenang, dan penuh keteduhan antara kedua belah pihak. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang hakim yang didatangi seorang laki-laki yang berniat menceraikan istrinya. Hakim itu berkata, “Kamu harus menghadirkan istrimu.” Maka sang suami pun menghadirkannya. Kemudian hakim tersebut memasukkan keduanya ke ruang sidang. Hakim mulai bertanya tentang siapa mereka dan apa masalah yang terjadi, lalu membuka dialog dengan keduanya. Setelah itu, hakim berkata, “Berdialoglah kalian berdua. Aku akan kembali menemui kalian setengah jam lagi.” Setelah setengah jam berlalu, hakim itu kembali. Ternyata keduanya sedang tertawa dan telah berdamai. Suami itu lalu pulang bersama istrinya, dan masalah mereka telah terselesaikan. Padahal sebelumnya ia datang dengan niat untuk menceraikan istrinya. Namun, sebelumnya tidak pernah ada ruang untuk dialog, saling mendengar, dan saling memberi. Tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan kelembutan dan ketenangan. Ketika suasana seperti ini akhirnya tercipta di antara mereka, persoalan pun sirna. Ternyata masalah itu hanyalah ganjalan di dalam hati saja, lalu menghilang dan lenyap. Hakim itu menyelesaikan masalahnya dengan penuh kebijaksanaan. Kisah ini menjadi bukti bahwa banyak urusan dapat diatasi dengan kelembutan, ketenangan, dan dialog yang baik. “Sesungguhnya Allah memberikan melalui kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan melalui kekerasan.” “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.” ===== فَكَثِيرٌ مِنَ الْأُمُورِ إِنَّمَا تَتَأَتَّى مَعَ الرِّفْقِ خَاصَّةً فِي عِلَاجِ الْمَشَاكِلِ يَكُونُ حَلُّهَا بِالرِّفْقِ أَكْثَرَ مِنْ حِلِّهَا بِالْعُنْفِ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ الْمَشَاكِلُ الزَّوْجِيَّةُ الَّتِي تَقَعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ أَحْيَانًا إِذَا اسْتَعْمَلَ الزَّوْجُ الرِّفْقَ فِي مُعَالَجَةِ الْمُشْكِلَةِ فَإِنَّهَا سُرْعَانَ مَا تَنْحَلُّ لَكِنْ إِذَا اسْتَعْمَلَ الْعُنْفَ فَإِنَّهَا تَزْدَادُ سُوءًا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حِوَارٌ بِرِفْقٍ وَلِيْنٍ وَهُدُوءٍ بَيْنَ الطَّرَفَيْنِ وَأَذْكُرُ أَنَّ قَاضِيًا أَتَاهُ رَجُلٌ لِيُطَلِّقَ امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَا بُدَّ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فَأَتَى بِهَا فَأَدْخَلَهُمَا فِي الْمُخْتَصَرِ وَسَأَلَ يَعْنِي مَنْ الَّذِي مَا الْمُشْكِلَةُ؟ مَا كَذَا؟ ابْتَدَأَ مَعَهُمَا الْحِوَارَ ثُمَّ قَالَ تَحَاوَرَا فِيمَا بَيْنَكُمَا وَسَأَعُوْدُ عَلَيْكُمَا بَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ وَبَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ أَتَى إِلَيْهِمَا وَإِذَا هُمَا يَضْحَكَانِ وَقَدْ تَصَالَحَا وَرَجَعَ هَذَا الرَّجُلُ بِزَوْجَتِهِ قَدْ صَلَحَتْ أُمُورُهُمَا مَعَ أَنَّهُ أَتَى لِيُطَلِّقَهَا لَكِنْ مَا كَانَ فِيهِ وَقْتٌ لِلْحِوَارِ وَالْأَخْذِ وَالْإِعْطَاءِ وَيَعْنِي أَنْ يَتَكَلَّمَ مَعَهَا بِرِفْقٍ وَهُدُوءٍ فَلَمَّا حَصَلَ هَذَا الْجَوُّ بَيْنَهُمَا زَالَتِ الْمُشْكِلَةُ يَعْنِي شَيْءٌ فِي النُّفُوسِ فَقَطْ وَذَهَبَ وَزَالَ وَكَانَ هَذَا يَعْنِي الْقَاضِي عِنْدَهُ حِكْمَةٌ وَهَذَا أَيْضًا يَعْنِي هَذَا مِثَالٌ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ يُمْكِنُ أَنْ تُعَالَجَ مُشْكِلَاتُهَا بِالرِّفْقِ وَبِالْهُدُوءِ وَبِالْحِوَارِ إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ لَا يَكُونُ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Banyak urusan yang hanya dapat terselesaikan dengan sikap lembut. Terlebih lagi dalam menangani berbagai masalah. Sering kali, penyelesaiannya dengan kelembutan jauh lebih efektif dibandingkan dengan kekerasan. Sebagai contoh, permasalahan rumah tangga yang terjadi antara suami dan istri. Terkadang, ketika seorang suami bersikap lembut dalam menangani masalah, maka masalah itu cepat sekali terselesaikan. Namun, apabila ia memilih sikap keras, maka persoalan itu justru semakin memburuk. Di antara penerapan sikap tersebut, adalah terwujudnya dialog yang lembut, tenang, dan penuh keteduhan antara kedua belah pihak. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang hakim yang didatangi seorang laki-laki yang berniat menceraikan istrinya. Hakim itu berkata, “Kamu harus menghadirkan istrimu.” Maka sang suami pun menghadirkannya. Kemudian hakim tersebut memasukkan keduanya ke ruang sidang. Hakim mulai bertanya tentang siapa mereka dan apa masalah yang terjadi, lalu membuka dialog dengan keduanya. Setelah itu, hakim berkata, “Berdialoglah kalian berdua. Aku akan kembali menemui kalian setengah jam lagi.” Setelah setengah jam berlalu, hakim itu kembali. Ternyata keduanya sedang tertawa dan telah berdamai. Suami itu lalu pulang bersama istrinya, dan masalah mereka telah terselesaikan. Padahal sebelumnya ia datang dengan niat untuk menceraikan istrinya. Namun, sebelumnya tidak pernah ada ruang untuk dialog, saling mendengar, dan saling memberi. Tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan kelembutan dan ketenangan. Ketika suasana seperti ini akhirnya tercipta di antara mereka, persoalan pun sirna. Ternyata masalah itu hanyalah ganjalan di dalam hati saja, lalu menghilang dan lenyap. Hakim itu menyelesaikan masalahnya dengan penuh kebijaksanaan. Kisah ini menjadi bukti bahwa banyak urusan dapat diatasi dengan kelembutan, ketenangan, dan dialog yang baik. “Sesungguhnya Allah memberikan melalui kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan melalui kekerasan.” “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.” ===== فَكَثِيرٌ مِنَ الْأُمُورِ إِنَّمَا تَتَأَتَّى مَعَ الرِّفْقِ خَاصَّةً فِي عِلَاجِ الْمَشَاكِلِ يَكُونُ حَلُّهَا بِالرِّفْقِ أَكْثَرَ مِنْ حِلِّهَا بِالْعُنْفِ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ الْمَشَاكِلُ الزَّوْجِيَّةُ الَّتِي تَقَعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ أَحْيَانًا إِذَا اسْتَعْمَلَ الزَّوْجُ الرِّفْقَ فِي مُعَالَجَةِ الْمُشْكِلَةِ فَإِنَّهَا سُرْعَانَ مَا تَنْحَلُّ لَكِنْ إِذَا اسْتَعْمَلَ الْعُنْفَ فَإِنَّهَا تَزْدَادُ سُوءًا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حِوَارٌ بِرِفْقٍ وَلِيْنٍ وَهُدُوءٍ بَيْنَ الطَّرَفَيْنِ وَأَذْكُرُ أَنَّ قَاضِيًا أَتَاهُ رَجُلٌ لِيُطَلِّقَ امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَا بُدَّ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فَأَتَى بِهَا فَأَدْخَلَهُمَا فِي الْمُخْتَصَرِ وَسَأَلَ يَعْنِي مَنْ الَّذِي مَا الْمُشْكِلَةُ؟ مَا كَذَا؟ ابْتَدَأَ مَعَهُمَا الْحِوَارَ ثُمَّ قَالَ تَحَاوَرَا فِيمَا بَيْنَكُمَا وَسَأَعُوْدُ عَلَيْكُمَا بَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ وَبَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ أَتَى إِلَيْهِمَا وَإِذَا هُمَا يَضْحَكَانِ وَقَدْ تَصَالَحَا وَرَجَعَ هَذَا الرَّجُلُ بِزَوْجَتِهِ قَدْ صَلَحَتْ أُمُورُهُمَا مَعَ أَنَّهُ أَتَى لِيُطَلِّقَهَا لَكِنْ مَا كَانَ فِيهِ وَقْتٌ لِلْحِوَارِ وَالْأَخْذِ وَالْإِعْطَاءِ وَيَعْنِي أَنْ يَتَكَلَّمَ مَعَهَا بِرِفْقٍ وَهُدُوءٍ فَلَمَّا حَصَلَ هَذَا الْجَوُّ بَيْنَهُمَا زَالَتِ الْمُشْكِلَةُ يَعْنِي شَيْءٌ فِي النُّفُوسِ فَقَطْ وَذَهَبَ وَزَالَ وَكَانَ هَذَا يَعْنِي الْقَاضِي عِنْدَهُ حِكْمَةٌ وَهَذَا أَيْضًا يَعْنِي هَذَا مِثَالٌ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ يُمْكِنُ أَنْ تُعَالَجَ مُشْكِلَاتُهَا بِالرِّفْقِ وَبِالْهُدُوءِ وَبِالْحِوَارِ إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ لَا يَكُونُ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ


Banyak urusan yang hanya dapat terselesaikan dengan sikap lembut. Terlebih lagi dalam menangani berbagai masalah. Sering kali, penyelesaiannya dengan kelembutan jauh lebih efektif dibandingkan dengan kekerasan. Sebagai contoh, permasalahan rumah tangga yang terjadi antara suami dan istri. Terkadang, ketika seorang suami bersikap lembut dalam menangani masalah, maka masalah itu cepat sekali terselesaikan. Namun, apabila ia memilih sikap keras, maka persoalan itu justru semakin memburuk. Di antara penerapan sikap tersebut, adalah terwujudnya dialog yang lembut, tenang, dan penuh keteduhan antara kedua belah pihak. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang hakim yang didatangi seorang laki-laki yang berniat menceraikan istrinya. Hakim itu berkata, “Kamu harus menghadirkan istrimu.” Maka sang suami pun menghadirkannya. Kemudian hakim tersebut memasukkan keduanya ke ruang sidang. Hakim mulai bertanya tentang siapa mereka dan apa masalah yang terjadi, lalu membuka dialog dengan keduanya. Setelah itu, hakim berkata, “Berdialoglah kalian berdua. Aku akan kembali menemui kalian setengah jam lagi.” Setelah setengah jam berlalu, hakim itu kembali. Ternyata keduanya sedang tertawa dan telah berdamai. Suami itu lalu pulang bersama istrinya, dan masalah mereka telah terselesaikan. Padahal sebelumnya ia datang dengan niat untuk menceraikan istrinya. Namun, sebelumnya tidak pernah ada ruang untuk dialog, saling mendengar, dan saling memberi. Tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan kelembutan dan ketenangan. Ketika suasana seperti ini akhirnya tercipta di antara mereka, persoalan pun sirna. Ternyata masalah itu hanyalah ganjalan di dalam hati saja, lalu menghilang dan lenyap. Hakim itu menyelesaikan masalahnya dengan penuh kebijaksanaan. Kisah ini menjadi bukti bahwa banyak urusan dapat diatasi dengan kelembutan, ketenangan, dan dialog yang baik. “Sesungguhnya Allah memberikan melalui kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan melalui kekerasan.” “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.” ===== فَكَثِيرٌ مِنَ الْأُمُورِ إِنَّمَا تَتَأَتَّى مَعَ الرِّفْقِ خَاصَّةً فِي عِلَاجِ الْمَشَاكِلِ يَكُونُ حَلُّهَا بِالرِّفْقِ أَكْثَرَ مِنْ حِلِّهَا بِالْعُنْفِ فَعَلَى سَبِيلِ الْمِثَالِ الْمَشَاكِلُ الزَّوْجِيَّةُ الَّتِي تَقَعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ أَحْيَانًا إِذَا اسْتَعْمَلَ الزَّوْجُ الرِّفْقَ فِي مُعَالَجَةِ الْمُشْكِلَةِ فَإِنَّهَا سُرْعَانَ مَا تَنْحَلُّ لَكِنْ إِذَا اسْتَعْمَلَ الْعُنْفَ فَإِنَّهَا تَزْدَادُ سُوءًا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حِوَارٌ بِرِفْقٍ وَلِيْنٍ وَهُدُوءٍ بَيْنَ الطَّرَفَيْنِ وَأَذْكُرُ أَنَّ قَاضِيًا أَتَاهُ رَجُلٌ لِيُطَلِّقَ امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَا بُدَّ أَنْ تَأْتِيَ بِهَا فَأَتَى بِهَا فَأَدْخَلَهُمَا فِي الْمُخْتَصَرِ وَسَأَلَ يَعْنِي مَنْ الَّذِي مَا الْمُشْكِلَةُ؟ مَا كَذَا؟ ابْتَدَأَ مَعَهُمَا الْحِوَارَ ثُمَّ قَالَ تَحَاوَرَا فِيمَا بَيْنَكُمَا وَسَأَعُوْدُ عَلَيْكُمَا بَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ وَبَعْدَ نِصْفِ سَاعَةٍ أَتَى إِلَيْهِمَا وَإِذَا هُمَا يَضْحَكَانِ وَقَدْ تَصَالَحَا وَرَجَعَ هَذَا الرَّجُلُ بِزَوْجَتِهِ قَدْ صَلَحَتْ أُمُورُهُمَا مَعَ أَنَّهُ أَتَى لِيُطَلِّقَهَا لَكِنْ مَا كَانَ فِيهِ وَقْتٌ لِلْحِوَارِ وَالْأَخْذِ وَالْإِعْطَاءِ وَيَعْنِي أَنْ يَتَكَلَّمَ مَعَهَا بِرِفْقٍ وَهُدُوءٍ فَلَمَّا حَصَلَ هَذَا الْجَوُّ بَيْنَهُمَا زَالَتِ الْمُشْكِلَةُ يَعْنِي شَيْءٌ فِي النُّفُوسِ فَقَطْ وَذَهَبَ وَزَالَ وَكَانَ هَذَا يَعْنِي الْقَاضِي عِنْدَهُ حِكْمَةٌ وَهَذَا أَيْضًا يَعْنِي هَذَا مِثَالٌ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأُمُورِ يُمْكِنُ أَنْ تُعَالَجَ مُشْكِلَاتُهَا بِالرِّفْقِ وَبِالْهُدُوءِ وَبِالْحِوَارِ إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ لَا يَكُونُ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Khutbah Jumat: Ramadhan Madrasah Iman, Mendidik Ikhlas, Doa, dan Raih Syafaat

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, namun merupakan madrasah besar yang mendidik keimanan seorang hamba. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk ikhlas dalam ibadah, mendekat kepada Allah dengan doa, serta menumbuhkan keyakinan akan hari akhir, syafaat, dan ampunan-Nya. Inilah buah agung Ramadhan: iman yang tumbuh, hati yang bersih, dan harapan besar untuk keselamatan di akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui Keikhlasan 3. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui Doa 4. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui Syafaat 5. 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘ala 6. 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan Allah 7. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Hendaklah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat diberi kemudahan hadir di shalat Jumat kali ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Lalu shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita yang mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beberapa hari lagi Ramadhan menghampiri kita. Semoga Allah memberikan kita keberkahan umur untuk menyambutnya.Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau: ِ«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. An-Nasā’i dalam Sunan-nya, no. 2106 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 7148, dengan lafaz hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i dalam kitab Ahādīts Mu‘allalah, hlm. 422)Jamaah Jumat rahimakumullah, setelah Rasulullah ﷺ mengabarkan keagungan dan kemuliaan bulan Ramadan—dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan—maka pertanyaan penting bagi kita adalah: apa hikmah dan buah besar yang seharusnya lahir dari ibadah puasa di bulan yang agung ini?Di antara buah terpenting dari puasa itulah adalah tentang keimanan. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui KeikhlasanSalah satu dampak terbesar dari ibadah puasa adalah tumbuhnya keikhlasan. Keikhlasan merupakan buah yang diraih seorang muslim dari puasanya. Hal ini karena puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi, hanya antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa mendidik seorang mukmin untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh amal hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi:ِ«إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي»“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)Ikhlas adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah, membersihkan amal dari keinginan dipuji manusia, serta menyelaraskan antara lahir dan batin tanpa mencari pengakuan selain dari-Nya.Praktik ikhlas dibicarakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari Kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka adalah:ِوَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّىٰ لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”Jamaah Jumat rahimakumullah, di zaman sekarang riya’ sering hadir dengan wajah yang halus dan terlihat “biasa”. Di antaranya:Beribadah lalu dipamerkan di media sosial, seperti memotret sedekah, infak, atau kegiatan masjid lalu diunggah agar mendapat pujian dan pengakuan.Mengunggah momen ibadah dengan tujuan pencitraan, bukan untuk mengajak kebaikan, tetapi agar dianggap paling saleh, paling hijrah, atau paling peduli.Merasa kecewa ketika amal tidak mendapat respon, like, komentar, atau pujian, padahal seharusnya ridha Allah-lah yang dicari.Inilah bentuk riya’ di zaman digital: amal dilakukan, tetapi hati sibuk menunggu penilaian manusia. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui DoaTerdapat keterkaitan yang sangat kuat antara puasa dan doa. Hal ini terlihat dari penempatan ayat Allah:ِ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Ayat ini terletak di antara ayat-ayat tentang puasa, sebagai penegasan adanya hubungan erat antara puasa dan doa. Puasa merupakan keadaan yang sangat diharapkan terkabulnya doa. Dalil-dalil menunjukkan keutamaan berdoa saat berpuasa, dan seorang mukmin sangat diharapkan doanya dikabulkan apabila syarat-syaratnya terpenuhi dan penghalangnya tidak ada.Dalam hadits disebutkan:ِ«لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ»“Bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.” (HR. al-Hakim)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (hlm. 16-17) sebagai berikut.ِوالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ نُزُوْلَهُ وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِDoa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi berbagai musibah: doa dapat menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya musibah, serta mengangkat atau meringankannya ketika musibah itu telah terjadi. Karena itu, doa adalah senjata seorang mukmin.Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ِالدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” Keadaan seorang mukmin saat berpuasa sangat layak untuk dikabulkan doanya, karena ia berada dalam kondisi dekat dengan Rabb-nya, akibat jiwanya yang tunduk, kelelahan, dan kelemahan dirinya di hadapan Allah. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui SyafaatPuasa juga mengandung penetapan adanya syafaat pada hari Kiamat. Puasa termasuk di antara amalan yang diberi kemampuan untuk memberi syafaat. Allah mengkhususkannya dengan syafaat karena keagungan kedudukannya dan besarnya keutamaannya. Dengan izin Allah, puasa menjadi pemberi syafaat bagi seorang mukmin pada hari Kiamat. Dalam hadits disebutkan:ِ«إِنَّ الصِّيَامَ وَالْقُرْآنَ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad)Syafaat sendiri maknanya adalah thalabul khair lil ghairi, memohon kebaikan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Syafaat bisa jadi dari amalan kita, bisa jadi pula karena sayangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya,ِأتَدرونَ ما خَيَّرَني ربِّيَ اللَّيلةَ ؟ قُلنا : اللَّهُ ورسولُهُ أعلمُ ، قالَ : فإنَّهُ خَيَّرَني بينَ أن يدخلَ نصفُ أُمَّتي الجنَّةَ ، وبينَ الشَّفاعةِ ، فاختَرتُ الشَّفاعةَ ، قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ ادعُ اللَّهَ أن يجعلَنا مِن أهْلِها ، قالَ : هيَ لِكُلِّ مُسلمٍ“Apakah kalian tahu apa yang Rabbku tawarkan kepadaku malam ini?”Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memberiku pilihan antara masuknya setengah dari umatku ke dalam surga, atau syafaat. Maka aku memilih syafaat.”Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkannya.”Beliau bersabda, “Syafaat itu diperuntukkan bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 4317; hadits sahih menurut Syaikh Al-Albani) 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘alaPuasa juga mengandung penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah Ta‘ala, yaitu bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya, dan sifat ini termasuk sifat dzatiyyah yang tidak terpisah dari-Nya. Diturunkannya Al-Qur’an dari Allah pada bulan puasa menjadi dalil bagi sifat ini, karena penurunan hanya terjadi dari tempat yang tinggi.Di antara bukti kemuliaan puasa di sisi Allah adalah bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini dari atas tujuh lapis langit, untuk menjelaskan keutamaan dan kedudukannya. Allah Ta‘ala berfirman:ِ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185) 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan AllahPuasa juga mengandung penetapan sifat al-‘afwu (Maha Pemaaf) bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Allah mensyariatkan puasa agar sifat ini tampak pada hamba-hamba-Nya yang berpuasa, bahwa Dia memaafkan orang yang berbuat dosa dan melapangkan kesalahan orang yang khilaf.Oleh karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan maaf kepada Allah pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan dengan doa:ِ«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:ِالْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan ridha kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.ِفَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Demikian Khutbah pertama ini, semoga Allah mudahkan kita berjumpa dengan Ramadhan.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Silakan download buku gratis: RAMADHAN, MADRASAH IMAN —— Khutbah Jumat @ Masjid Pogung Raya, 4 Syakban 1447 H, 23 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat khutbah jumat ramadhan menyambut ramadhan pelajaran iman dari ramadhan ramadhan

Khutbah Jumat: Ramadhan Madrasah Iman, Mendidik Ikhlas, Doa, dan Raih Syafaat

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, namun merupakan madrasah besar yang mendidik keimanan seorang hamba. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk ikhlas dalam ibadah, mendekat kepada Allah dengan doa, serta menumbuhkan keyakinan akan hari akhir, syafaat, dan ampunan-Nya. Inilah buah agung Ramadhan: iman yang tumbuh, hati yang bersih, dan harapan besar untuk keselamatan di akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui Keikhlasan 3. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui Doa 4. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui Syafaat 5. 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘ala 6. 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan Allah 7. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Hendaklah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat diberi kemudahan hadir di shalat Jumat kali ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Lalu shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita yang mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beberapa hari lagi Ramadhan menghampiri kita. Semoga Allah memberikan kita keberkahan umur untuk menyambutnya.Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau: ِ«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. An-Nasā’i dalam Sunan-nya, no. 2106 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 7148, dengan lafaz hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i dalam kitab Ahādīts Mu‘allalah, hlm. 422)Jamaah Jumat rahimakumullah, setelah Rasulullah ﷺ mengabarkan keagungan dan kemuliaan bulan Ramadan—dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan—maka pertanyaan penting bagi kita adalah: apa hikmah dan buah besar yang seharusnya lahir dari ibadah puasa di bulan yang agung ini?Di antara buah terpenting dari puasa itulah adalah tentang keimanan. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui KeikhlasanSalah satu dampak terbesar dari ibadah puasa adalah tumbuhnya keikhlasan. Keikhlasan merupakan buah yang diraih seorang muslim dari puasanya. Hal ini karena puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi, hanya antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa mendidik seorang mukmin untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh amal hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi:ِ«إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي»“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)Ikhlas adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah, membersihkan amal dari keinginan dipuji manusia, serta menyelaraskan antara lahir dan batin tanpa mencari pengakuan selain dari-Nya.Praktik ikhlas dibicarakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari Kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka adalah:ِوَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّىٰ لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”Jamaah Jumat rahimakumullah, di zaman sekarang riya’ sering hadir dengan wajah yang halus dan terlihat “biasa”. Di antaranya:Beribadah lalu dipamerkan di media sosial, seperti memotret sedekah, infak, atau kegiatan masjid lalu diunggah agar mendapat pujian dan pengakuan.Mengunggah momen ibadah dengan tujuan pencitraan, bukan untuk mengajak kebaikan, tetapi agar dianggap paling saleh, paling hijrah, atau paling peduli.Merasa kecewa ketika amal tidak mendapat respon, like, komentar, atau pujian, padahal seharusnya ridha Allah-lah yang dicari.Inilah bentuk riya’ di zaman digital: amal dilakukan, tetapi hati sibuk menunggu penilaian manusia. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui DoaTerdapat keterkaitan yang sangat kuat antara puasa dan doa. Hal ini terlihat dari penempatan ayat Allah:ِ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Ayat ini terletak di antara ayat-ayat tentang puasa, sebagai penegasan adanya hubungan erat antara puasa dan doa. Puasa merupakan keadaan yang sangat diharapkan terkabulnya doa. Dalil-dalil menunjukkan keutamaan berdoa saat berpuasa, dan seorang mukmin sangat diharapkan doanya dikabulkan apabila syarat-syaratnya terpenuhi dan penghalangnya tidak ada.Dalam hadits disebutkan:ِ«لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ»“Bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.” (HR. al-Hakim)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (hlm. 16-17) sebagai berikut.ِوالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ نُزُوْلَهُ وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِDoa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi berbagai musibah: doa dapat menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya musibah, serta mengangkat atau meringankannya ketika musibah itu telah terjadi. Karena itu, doa adalah senjata seorang mukmin.Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ِالدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” Keadaan seorang mukmin saat berpuasa sangat layak untuk dikabulkan doanya, karena ia berada dalam kondisi dekat dengan Rabb-nya, akibat jiwanya yang tunduk, kelelahan, dan kelemahan dirinya di hadapan Allah. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui SyafaatPuasa juga mengandung penetapan adanya syafaat pada hari Kiamat. Puasa termasuk di antara amalan yang diberi kemampuan untuk memberi syafaat. Allah mengkhususkannya dengan syafaat karena keagungan kedudukannya dan besarnya keutamaannya. Dengan izin Allah, puasa menjadi pemberi syafaat bagi seorang mukmin pada hari Kiamat. Dalam hadits disebutkan:ِ«إِنَّ الصِّيَامَ وَالْقُرْآنَ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad)Syafaat sendiri maknanya adalah thalabul khair lil ghairi, memohon kebaikan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Syafaat bisa jadi dari amalan kita, bisa jadi pula karena sayangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya,ِأتَدرونَ ما خَيَّرَني ربِّيَ اللَّيلةَ ؟ قُلنا : اللَّهُ ورسولُهُ أعلمُ ، قالَ : فإنَّهُ خَيَّرَني بينَ أن يدخلَ نصفُ أُمَّتي الجنَّةَ ، وبينَ الشَّفاعةِ ، فاختَرتُ الشَّفاعةَ ، قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ ادعُ اللَّهَ أن يجعلَنا مِن أهْلِها ، قالَ : هيَ لِكُلِّ مُسلمٍ“Apakah kalian tahu apa yang Rabbku tawarkan kepadaku malam ini?”Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memberiku pilihan antara masuknya setengah dari umatku ke dalam surga, atau syafaat. Maka aku memilih syafaat.”Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkannya.”Beliau bersabda, “Syafaat itu diperuntukkan bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 4317; hadits sahih menurut Syaikh Al-Albani) 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘alaPuasa juga mengandung penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah Ta‘ala, yaitu bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya, dan sifat ini termasuk sifat dzatiyyah yang tidak terpisah dari-Nya. Diturunkannya Al-Qur’an dari Allah pada bulan puasa menjadi dalil bagi sifat ini, karena penurunan hanya terjadi dari tempat yang tinggi.Di antara bukti kemuliaan puasa di sisi Allah adalah bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini dari atas tujuh lapis langit, untuk menjelaskan keutamaan dan kedudukannya. Allah Ta‘ala berfirman:ِ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185) 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan AllahPuasa juga mengandung penetapan sifat al-‘afwu (Maha Pemaaf) bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Allah mensyariatkan puasa agar sifat ini tampak pada hamba-hamba-Nya yang berpuasa, bahwa Dia memaafkan orang yang berbuat dosa dan melapangkan kesalahan orang yang khilaf.Oleh karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan maaf kepada Allah pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan dengan doa:ِ«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:ِالْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan ridha kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.ِفَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Demikian Khutbah pertama ini, semoga Allah mudahkan kita berjumpa dengan Ramadhan.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Silakan download buku gratis: RAMADHAN, MADRASAH IMAN —— Khutbah Jumat @ Masjid Pogung Raya, 4 Syakban 1447 H, 23 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat khutbah jumat ramadhan menyambut ramadhan pelajaran iman dari ramadhan ramadhan
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, namun merupakan madrasah besar yang mendidik keimanan seorang hamba. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk ikhlas dalam ibadah, mendekat kepada Allah dengan doa, serta menumbuhkan keyakinan akan hari akhir, syafaat, dan ampunan-Nya. Inilah buah agung Ramadhan: iman yang tumbuh, hati yang bersih, dan harapan besar untuk keselamatan di akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui Keikhlasan 3. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui Doa 4. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui Syafaat 5. 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘ala 6. 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan Allah 7. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Hendaklah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat diberi kemudahan hadir di shalat Jumat kali ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Lalu shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita yang mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beberapa hari lagi Ramadhan menghampiri kita. Semoga Allah memberikan kita keberkahan umur untuk menyambutnya.Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau: ِ«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. An-Nasā’i dalam Sunan-nya, no. 2106 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 7148, dengan lafaz hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i dalam kitab Ahādīts Mu‘allalah, hlm. 422)Jamaah Jumat rahimakumullah, setelah Rasulullah ﷺ mengabarkan keagungan dan kemuliaan bulan Ramadan—dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan—maka pertanyaan penting bagi kita adalah: apa hikmah dan buah besar yang seharusnya lahir dari ibadah puasa di bulan yang agung ini?Di antara buah terpenting dari puasa itulah adalah tentang keimanan. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui KeikhlasanSalah satu dampak terbesar dari ibadah puasa adalah tumbuhnya keikhlasan. Keikhlasan merupakan buah yang diraih seorang muslim dari puasanya. Hal ini karena puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi, hanya antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa mendidik seorang mukmin untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh amal hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi:ِ«إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي»“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)Ikhlas adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah, membersihkan amal dari keinginan dipuji manusia, serta menyelaraskan antara lahir dan batin tanpa mencari pengakuan selain dari-Nya.Praktik ikhlas dibicarakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari Kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka adalah:ِوَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّىٰ لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”Jamaah Jumat rahimakumullah, di zaman sekarang riya’ sering hadir dengan wajah yang halus dan terlihat “biasa”. Di antaranya:Beribadah lalu dipamerkan di media sosial, seperti memotret sedekah, infak, atau kegiatan masjid lalu diunggah agar mendapat pujian dan pengakuan.Mengunggah momen ibadah dengan tujuan pencitraan, bukan untuk mengajak kebaikan, tetapi agar dianggap paling saleh, paling hijrah, atau paling peduli.Merasa kecewa ketika amal tidak mendapat respon, like, komentar, atau pujian, padahal seharusnya ridha Allah-lah yang dicari.Inilah bentuk riya’ di zaman digital: amal dilakukan, tetapi hati sibuk menunggu penilaian manusia. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui DoaTerdapat keterkaitan yang sangat kuat antara puasa dan doa. Hal ini terlihat dari penempatan ayat Allah:ِ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Ayat ini terletak di antara ayat-ayat tentang puasa, sebagai penegasan adanya hubungan erat antara puasa dan doa. Puasa merupakan keadaan yang sangat diharapkan terkabulnya doa. Dalil-dalil menunjukkan keutamaan berdoa saat berpuasa, dan seorang mukmin sangat diharapkan doanya dikabulkan apabila syarat-syaratnya terpenuhi dan penghalangnya tidak ada.Dalam hadits disebutkan:ِ«لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ»“Bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.” (HR. al-Hakim)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (hlm. 16-17) sebagai berikut.ِوالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ نُزُوْلَهُ وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِDoa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi berbagai musibah: doa dapat menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya musibah, serta mengangkat atau meringankannya ketika musibah itu telah terjadi. Karena itu, doa adalah senjata seorang mukmin.Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ِالدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” Keadaan seorang mukmin saat berpuasa sangat layak untuk dikabulkan doanya, karena ia berada dalam kondisi dekat dengan Rabb-nya, akibat jiwanya yang tunduk, kelelahan, dan kelemahan dirinya di hadapan Allah. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui SyafaatPuasa juga mengandung penetapan adanya syafaat pada hari Kiamat. Puasa termasuk di antara amalan yang diberi kemampuan untuk memberi syafaat. Allah mengkhususkannya dengan syafaat karena keagungan kedudukannya dan besarnya keutamaannya. Dengan izin Allah, puasa menjadi pemberi syafaat bagi seorang mukmin pada hari Kiamat. Dalam hadits disebutkan:ِ«إِنَّ الصِّيَامَ وَالْقُرْآنَ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad)Syafaat sendiri maknanya adalah thalabul khair lil ghairi, memohon kebaikan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Syafaat bisa jadi dari amalan kita, bisa jadi pula karena sayangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya,ِأتَدرونَ ما خَيَّرَني ربِّيَ اللَّيلةَ ؟ قُلنا : اللَّهُ ورسولُهُ أعلمُ ، قالَ : فإنَّهُ خَيَّرَني بينَ أن يدخلَ نصفُ أُمَّتي الجنَّةَ ، وبينَ الشَّفاعةِ ، فاختَرتُ الشَّفاعةَ ، قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ ادعُ اللَّهَ أن يجعلَنا مِن أهْلِها ، قالَ : هيَ لِكُلِّ مُسلمٍ“Apakah kalian tahu apa yang Rabbku tawarkan kepadaku malam ini?”Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memberiku pilihan antara masuknya setengah dari umatku ke dalam surga, atau syafaat. Maka aku memilih syafaat.”Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkannya.”Beliau bersabda, “Syafaat itu diperuntukkan bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 4317; hadits sahih menurut Syaikh Al-Albani) 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘alaPuasa juga mengandung penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah Ta‘ala, yaitu bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya, dan sifat ini termasuk sifat dzatiyyah yang tidak terpisah dari-Nya. Diturunkannya Al-Qur’an dari Allah pada bulan puasa menjadi dalil bagi sifat ini, karena penurunan hanya terjadi dari tempat yang tinggi.Di antara bukti kemuliaan puasa di sisi Allah adalah bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini dari atas tujuh lapis langit, untuk menjelaskan keutamaan dan kedudukannya. Allah Ta‘ala berfirman:ِ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185) 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan AllahPuasa juga mengandung penetapan sifat al-‘afwu (Maha Pemaaf) bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Allah mensyariatkan puasa agar sifat ini tampak pada hamba-hamba-Nya yang berpuasa, bahwa Dia memaafkan orang yang berbuat dosa dan melapangkan kesalahan orang yang khilaf.Oleh karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan maaf kepada Allah pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan dengan doa:ِ«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:ِالْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan ridha kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.ِفَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Demikian Khutbah pertama ini, semoga Allah mudahkan kita berjumpa dengan Ramadhan.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Silakan download buku gratis: RAMADHAN, MADRASAH IMAN —— Khutbah Jumat @ Masjid Pogung Raya, 4 Syakban 1447 H, 23 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat khutbah jumat ramadhan menyambut ramadhan pelajaran iman dari ramadhan ramadhan


Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, namun merupakan madrasah besar yang mendidik keimanan seorang hamba. Melalui puasa, seorang muslim dilatih untuk ikhlas dalam ibadah, mendekat kepada Allah dengan doa, serta menumbuhkan keyakinan akan hari akhir, syafaat, dan ampunan-Nya. Inilah buah agung Ramadhan: iman yang tumbuh, hati yang bersih, dan harapan besar untuk keselamatan di akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui Keikhlasan 3. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui Doa 4. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui Syafaat 5. 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘ala 6. 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan Allah 7. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Hendaklah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat diberi kemudahan hadir di shalat Jumat kali ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Lalu shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita yang mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beberapa hari lagi Ramadhan menghampiri kita. Semoga Allah memberikan kita keberkahan umur untuk menyambutnya.Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau: ِ«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. An-Nasā’i dalam Sunan-nya, no. 2106 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 7148, dengan lafaz hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i dalam kitab Ahādīts Mu‘allalah, hlm. 422)Jamaah Jumat rahimakumullah, setelah Rasulullah ﷺ mengabarkan keagungan dan kemuliaan bulan Ramadan—dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan—maka pertanyaan penting bagi kita adalah: apa hikmah dan buah besar yang seharusnya lahir dari ibadah puasa di bulan yang agung ini?Di antara buah terpenting dari puasa itulah adalah tentang keimanan. 1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui KeikhlasanSalah satu dampak terbesar dari ibadah puasa adalah tumbuhnya keikhlasan. Keikhlasan merupakan buah yang diraih seorang muslim dari puasanya. Hal ini karena puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi, hanya antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa mendidik seorang mukmin untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh amal hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi:ِ«إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي»“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)Ikhlas adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah, membersihkan amal dari keinginan dipuji manusia, serta menyelaraskan antara lahir dan batin tanpa mencari pengakuan selain dari-Nya.Praktik ikhlas dibicarakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari Kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka adalah:ِوَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّىٰ لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”Jamaah Jumat rahimakumullah, di zaman sekarang riya’ sering hadir dengan wajah yang halus dan terlihat “biasa”. Di antaranya:Beribadah lalu dipamerkan di media sosial, seperti memotret sedekah, infak, atau kegiatan masjid lalu diunggah agar mendapat pujian dan pengakuan.Mengunggah momen ibadah dengan tujuan pencitraan, bukan untuk mengajak kebaikan, tetapi agar dianggap paling saleh, paling hijrah, atau paling peduli.Merasa kecewa ketika amal tidak mendapat respon, like, komentar, atau pujian, padahal seharusnya ridha Allah-lah yang dicari.Inilah bentuk riya’ di zaman digital: amal dilakukan, tetapi hati sibuk menunggu penilaian manusia. 2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui DoaTerdapat keterkaitan yang sangat kuat antara puasa dan doa. Hal ini terlihat dari penempatan ayat Allah:ِ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)Ayat ini terletak di antara ayat-ayat tentang puasa, sebagai penegasan adanya hubungan erat antara puasa dan doa. Puasa merupakan keadaan yang sangat diharapkan terkabulnya doa. Dalil-dalil menunjukkan keutamaan berdoa saat berpuasa, dan seorang mukmin sangat diharapkan doanya dikabulkan apabila syarat-syaratnya terpenuhi dan penghalangnya tidak ada.Dalam hadits disebutkan:ِ«لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ»“Bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.” (HR. al-Hakim)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (hlm. 16-17) sebagai berikut.ِوالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ نُزُوْلَهُ وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِDoa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi berbagai musibah: doa dapat menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya musibah, serta mengangkat atau meringankannya ketika musibah itu telah terjadi. Karena itu, doa adalah senjata seorang mukmin.Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ِالدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” Keadaan seorang mukmin saat berpuasa sangat layak untuk dikabulkan doanya, karena ia berada dalam kondisi dekat dengan Rabb-nya, akibat jiwanya yang tunduk, kelelahan, dan kelemahan dirinya di hadapan Allah. 3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui SyafaatPuasa juga mengandung penetapan adanya syafaat pada hari Kiamat. Puasa termasuk di antara amalan yang diberi kemampuan untuk memberi syafaat. Allah mengkhususkannya dengan syafaat karena keagungan kedudukannya dan besarnya keutamaannya. Dengan izin Allah, puasa menjadi pemberi syafaat bagi seorang mukmin pada hari Kiamat. Dalam hadits disebutkan:ِ«إِنَّ الصِّيَامَ وَالْقُرْآنَ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad)Syafaat sendiri maknanya adalah thalabul khair lil ghairi, memohon kebaikan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Syafaat bisa jadi dari amalan kita, bisa jadi pula karena sayangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya,ِأتَدرونَ ما خَيَّرَني ربِّيَ اللَّيلةَ ؟ قُلنا : اللَّهُ ورسولُهُ أعلمُ ، قالَ : فإنَّهُ خَيَّرَني بينَ أن يدخلَ نصفُ أُمَّتي الجنَّةَ ، وبينَ الشَّفاعةِ ، فاختَرتُ الشَّفاعةَ ، قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ ادعُ اللَّهَ أن يجعلَنا مِن أهْلِها ، قالَ : هيَ لِكُلِّ مُسلمٍ“Apakah kalian tahu apa yang Rabbku tawarkan kepadaku malam ini?”Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memberiku pilihan antara masuknya setengah dari umatku ke dalam surga, atau syafaat. Maka aku memilih syafaat.”Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkannya.”Beliau bersabda, “Syafaat itu diperuntukkan bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 4317; hadits sahih menurut Syaikh Al-Albani) 4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘alaPuasa juga mengandung penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah Ta‘ala, yaitu bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya, dan sifat ini termasuk sifat dzatiyyah yang tidak terpisah dari-Nya. Diturunkannya Al-Qur’an dari Allah pada bulan puasa menjadi dalil bagi sifat ini, karena penurunan hanya terjadi dari tempat yang tinggi.Di antara bukti kemuliaan puasa di sisi Allah adalah bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini dari atas tujuh lapis langit, untuk menjelaskan keutamaan dan kedudukannya. Allah Ta‘ala berfirman:ِ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185) 5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan AllahPuasa juga mengandung penetapan sifat al-‘afwu (Maha Pemaaf) bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Allah mensyariatkan puasa agar sifat ini tampak pada hamba-hamba-Nya yang berpuasa, bahwa Dia memaafkan orang yang berbuat dosa dan melapangkan kesalahan orang yang khilaf.Oleh karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan maaf kepada Allah pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan dengan doa:ِ«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:ِالْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan ridha kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.ِفَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Demikian Khutbah pertama ini, semoga Allah mudahkan kita berjumpa dengan Ramadhan.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Silakan download buku gratis: RAMADHAN, MADRASAH IMAN —— Khutbah Jumat @ Masjid Pogung Raya, 4 Syakban 1447 H, 23 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat khutbah jumat ramadhan menyambut ramadhan pelajaran iman dari ramadhan ramadhan

Mengapa Nabi Mengucapkan “Ghufroonaka” Setelah Buang Hajat? Ini Rahasianya!

Nabi lalu mengucapkan: “Ghufroonaka.” Artinya, “Aku memohon ampunan-Mu, ya Allah.” Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Hadis ini diriwayatkan oleh lima imam hadis dan disahihkan oleh Al-Albani. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Zikir ini sangat sesuai dengan kondisi tersebut, dan hal itu karena dua alasan. Alasan pertama, ketika seseorang menunaikan hajatnya, ia menahan diri dari berzikir kepada Allah. Karena berhenti berzikir kepada Allah, ia merasa telah lalai, maka ketika keluar, ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Inilah keadaan orang-orang bertakwa dan berakal, yang mencintai zikir kepada Allah, dan banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun banyak di antara kita pada masa ini—na’uudzu billaah— sedikit sekali berzikir kepada Allah. Sepanjang waktu, seakan-akan mereka selalu berada di tempat buang hajat, mengingat segala sesuatu kecuali Allah. Ini merupakan salah satu kelemahan dalam diri kita. Saya sudah sampaikan berkali-kali dan berulang-ulang, bahwa zikir kepada Allah adalah kenikmatan seorang Mukmin di dunia dan di surga. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, Beliau selalu berzikir kepada Allah. Namun, ketika beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau tidak berzikir, lalu ketika keluar, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Beliau merasa lalai, sehingga beliau berkata, “Aku memohon ampun kepadamu ya Allah.” Inilah alasan pertama. Adapun alasan yang kedua, ketika seseorang selesai menunaikan hajatnya, ia merasa lega setelah sebelumnya menahan rasa tidak nyaman. Lalu ia menyadari bahwa seandainya ia menebusnya dengan dunia dan seluruh isinya, ia tetap tidak akan mampu mengeluarkan kotoran tersebut, kecuali dengan nikmat Allah atas dirinya. Para dokter bisa saja berkumpul di sisi seorang pasien, yang mengalami gangguan tidak bisa buang hajat, tapi mereka tidak mampu mengatasinya, sebagaimana pada orang yang mengalami tertahannya air kencing, para dokter tidak akan mampu mengeluarkan air kencingnya itu, kecuali jika mereka melakukan operasi terhadapnya. Namun Allah melimpahkan nikmat ini kepada hamba-Nya. Ketika air kencing telah terkumpul (di kandung kemih), ia akan merasa sakit dan terganggu, sehingga ia masuk ke tempat buang hajat. Lalu Allah melimpahkan nikmat kepadanya dengan mengeluarkan hal yang mengganggu itu, sehingga ia merasa lega. Saat itu ia teringat bahwa dirinya telah lalai dalam mensyukuri nikmat Allah, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Memohon ampun atas kelalaiannya dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya. Seandainya manusia merenungkan tubuhnya, dan apa yang terjadi pada tubuhnya, niscaya ia akan mengetahui betapa besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepadanya. Maka ketika ia selesai buang hajat, ia teringat dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” ====== وَقَالَ غُفْرَانَكَ أَيْ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ وَقَدْ جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فَالنَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ وَهَذَا الذِّكْرُ مُنَاسِبٌ لِلْمَقَامِ وَذَلِكَ لِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَيُحِسُّ بِالتَّقْصِيرِ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ هَذَا عِنْدَ الْأَتْقِيَاءِ عِنْدَ الْأَذْكِيَاءِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ ذِكْرَ اللَّهِ وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا أَمَّا كَثِيرٌ مِنَّا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ قَلَّ أَنْ يَذْكُرُوا اللَّهَ طِوَالَ وَقْتِهِمْ كَأَنَّهُمْ فِي الْخَلَاءِ يَذْكُرُونَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اللَّهَ وَهَذَا مِنَ الضَّعْفِ فِينَا وَسَبَقَ ذَكَرْتُ مِرَارًا وَتِكْرَارًا أَنَّ ذِكْرَ اللَّهِ نَعِيْمُ الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَالْجَنَّةِ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ دَائِمًا فَإِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ يُحِسُّ بِالتَّقْصِير فَيَقُولُ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ فَهَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُفَارْتَاحَ مِنْ تَعَبِ الْحَاجَةِ وَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَوْ بَذَلَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يُخْرِجَ حَاجَتَهُ إِلَّا بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ الْأَطِبَّاءُ قَدْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ الْمَرِيضِ يَكُونُ عِنْدَهُ إِمْسَاكٌ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُخْرِجُوا هَذَا الْأَمْرَ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ حَصَرُ الْبَوْلِ مَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُفْرِغُوا بَوْلَهُ إِلَّا لَوْ أَجْرَوْا لَهُ عَمَلِيَّةً لَكِنَّ اللَّهَ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ إِذَا اجْتَمَعَ الْبَوْلُ يُحِسُّ الْإِنْسَانُ بِالْأَلَمِ وَالْأَذَى فَيَدْخُلُ مَكَانَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَيُنْعِمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِأَنْ يَخْرُجَ هَذَا الْأَذَى فَيُحِسُّ بِالرَّاحَةِ فَيَتَذَكَّرُ أَنَّهُ مُقَصِّرٌ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللَّهِ فَيَقُولُ غُفْرَانَكَ يَسْتَغْفِرُ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي شُكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نِعَمِهِ وَلَوْ تَدَبَّرَ الْإِنْسَانُ فِي جَسَدِهِ وَمَا يَكُونُ فِي جَسَدِهِ لَأَدْرَكَ عَظِيمَ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَهُوَ إِذَا قَضَى الْحَاجَةَ تَذَكَّرَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَقَالَ غُفْرَانَكَ

Mengapa Nabi Mengucapkan “Ghufroonaka” Setelah Buang Hajat? Ini Rahasianya!

Nabi lalu mengucapkan: “Ghufroonaka.” Artinya, “Aku memohon ampunan-Mu, ya Allah.” Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Hadis ini diriwayatkan oleh lima imam hadis dan disahihkan oleh Al-Albani. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Zikir ini sangat sesuai dengan kondisi tersebut, dan hal itu karena dua alasan. Alasan pertama, ketika seseorang menunaikan hajatnya, ia menahan diri dari berzikir kepada Allah. Karena berhenti berzikir kepada Allah, ia merasa telah lalai, maka ketika keluar, ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Inilah keadaan orang-orang bertakwa dan berakal, yang mencintai zikir kepada Allah, dan banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun banyak di antara kita pada masa ini—na’uudzu billaah— sedikit sekali berzikir kepada Allah. Sepanjang waktu, seakan-akan mereka selalu berada di tempat buang hajat, mengingat segala sesuatu kecuali Allah. Ini merupakan salah satu kelemahan dalam diri kita. Saya sudah sampaikan berkali-kali dan berulang-ulang, bahwa zikir kepada Allah adalah kenikmatan seorang Mukmin di dunia dan di surga. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, Beliau selalu berzikir kepada Allah. Namun, ketika beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau tidak berzikir, lalu ketika keluar, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Beliau merasa lalai, sehingga beliau berkata, “Aku memohon ampun kepadamu ya Allah.” Inilah alasan pertama. Adapun alasan yang kedua, ketika seseorang selesai menunaikan hajatnya, ia merasa lega setelah sebelumnya menahan rasa tidak nyaman. Lalu ia menyadari bahwa seandainya ia menebusnya dengan dunia dan seluruh isinya, ia tetap tidak akan mampu mengeluarkan kotoran tersebut, kecuali dengan nikmat Allah atas dirinya. Para dokter bisa saja berkumpul di sisi seorang pasien, yang mengalami gangguan tidak bisa buang hajat, tapi mereka tidak mampu mengatasinya, sebagaimana pada orang yang mengalami tertahannya air kencing, para dokter tidak akan mampu mengeluarkan air kencingnya itu, kecuali jika mereka melakukan operasi terhadapnya. Namun Allah melimpahkan nikmat ini kepada hamba-Nya. Ketika air kencing telah terkumpul (di kandung kemih), ia akan merasa sakit dan terganggu, sehingga ia masuk ke tempat buang hajat. Lalu Allah melimpahkan nikmat kepadanya dengan mengeluarkan hal yang mengganggu itu, sehingga ia merasa lega. Saat itu ia teringat bahwa dirinya telah lalai dalam mensyukuri nikmat Allah, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Memohon ampun atas kelalaiannya dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya. Seandainya manusia merenungkan tubuhnya, dan apa yang terjadi pada tubuhnya, niscaya ia akan mengetahui betapa besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepadanya. Maka ketika ia selesai buang hajat, ia teringat dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” ====== وَقَالَ غُفْرَانَكَ أَيْ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ وَقَدْ جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فَالنَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ وَهَذَا الذِّكْرُ مُنَاسِبٌ لِلْمَقَامِ وَذَلِكَ لِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَيُحِسُّ بِالتَّقْصِيرِ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ هَذَا عِنْدَ الْأَتْقِيَاءِ عِنْدَ الْأَذْكِيَاءِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ ذِكْرَ اللَّهِ وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا أَمَّا كَثِيرٌ مِنَّا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ قَلَّ أَنْ يَذْكُرُوا اللَّهَ طِوَالَ وَقْتِهِمْ كَأَنَّهُمْ فِي الْخَلَاءِ يَذْكُرُونَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اللَّهَ وَهَذَا مِنَ الضَّعْفِ فِينَا وَسَبَقَ ذَكَرْتُ مِرَارًا وَتِكْرَارًا أَنَّ ذِكْرَ اللَّهِ نَعِيْمُ الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَالْجَنَّةِ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ دَائِمًا فَإِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ يُحِسُّ بِالتَّقْصِير فَيَقُولُ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ فَهَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُفَارْتَاحَ مِنْ تَعَبِ الْحَاجَةِ وَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَوْ بَذَلَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يُخْرِجَ حَاجَتَهُ إِلَّا بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ الْأَطِبَّاءُ قَدْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ الْمَرِيضِ يَكُونُ عِنْدَهُ إِمْسَاكٌ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُخْرِجُوا هَذَا الْأَمْرَ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ حَصَرُ الْبَوْلِ مَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُفْرِغُوا بَوْلَهُ إِلَّا لَوْ أَجْرَوْا لَهُ عَمَلِيَّةً لَكِنَّ اللَّهَ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ إِذَا اجْتَمَعَ الْبَوْلُ يُحِسُّ الْإِنْسَانُ بِالْأَلَمِ وَالْأَذَى فَيَدْخُلُ مَكَانَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَيُنْعِمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِأَنْ يَخْرُجَ هَذَا الْأَذَى فَيُحِسُّ بِالرَّاحَةِ فَيَتَذَكَّرُ أَنَّهُ مُقَصِّرٌ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللَّهِ فَيَقُولُ غُفْرَانَكَ يَسْتَغْفِرُ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي شُكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نِعَمِهِ وَلَوْ تَدَبَّرَ الْإِنْسَانُ فِي جَسَدِهِ وَمَا يَكُونُ فِي جَسَدِهِ لَأَدْرَكَ عَظِيمَ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَهُوَ إِذَا قَضَى الْحَاجَةَ تَذَكَّرَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَقَالَ غُفْرَانَكَ
Nabi lalu mengucapkan: “Ghufroonaka.” Artinya, “Aku memohon ampunan-Mu, ya Allah.” Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Hadis ini diriwayatkan oleh lima imam hadis dan disahihkan oleh Al-Albani. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Zikir ini sangat sesuai dengan kondisi tersebut, dan hal itu karena dua alasan. Alasan pertama, ketika seseorang menunaikan hajatnya, ia menahan diri dari berzikir kepada Allah. Karena berhenti berzikir kepada Allah, ia merasa telah lalai, maka ketika keluar, ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Inilah keadaan orang-orang bertakwa dan berakal, yang mencintai zikir kepada Allah, dan banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun banyak di antara kita pada masa ini—na’uudzu billaah— sedikit sekali berzikir kepada Allah. Sepanjang waktu, seakan-akan mereka selalu berada di tempat buang hajat, mengingat segala sesuatu kecuali Allah. Ini merupakan salah satu kelemahan dalam diri kita. Saya sudah sampaikan berkali-kali dan berulang-ulang, bahwa zikir kepada Allah adalah kenikmatan seorang Mukmin di dunia dan di surga. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, Beliau selalu berzikir kepada Allah. Namun, ketika beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau tidak berzikir, lalu ketika keluar, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Beliau merasa lalai, sehingga beliau berkata, “Aku memohon ampun kepadamu ya Allah.” Inilah alasan pertama. Adapun alasan yang kedua, ketika seseorang selesai menunaikan hajatnya, ia merasa lega setelah sebelumnya menahan rasa tidak nyaman. Lalu ia menyadari bahwa seandainya ia menebusnya dengan dunia dan seluruh isinya, ia tetap tidak akan mampu mengeluarkan kotoran tersebut, kecuali dengan nikmat Allah atas dirinya. Para dokter bisa saja berkumpul di sisi seorang pasien, yang mengalami gangguan tidak bisa buang hajat, tapi mereka tidak mampu mengatasinya, sebagaimana pada orang yang mengalami tertahannya air kencing, para dokter tidak akan mampu mengeluarkan air kencingnya itu, kecuali jika mereka melakukan operasi terhadapnya. Namun Allah melimpahkan nikmat ini kepada hamba-Nya. Ketika air kencing telah terkumpul (di kandung kemih), ia akan merasa sakit dan terganggu, sehingga ia masuk ke tempat buang hajat. Lalu Allah melimpahkan nikmat kepadanya dengan mengeluarkan hal yang mengganggu itu, sehingga ia merasa lega. Saat itu ia teringat bahwa dirinya telah lalai dalam mensyukuri nikmat Allah, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Memohon ampun atas kelalaiannya dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya. Seandainya manusia merenungkan tubuhnya, dan apa yang terjadi pada tubuhnya, niscaya ia akan mengetahui betapa besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepadanya. Maka ketika ia selesai buang hajat, ia teringat dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” ====== وَقَالَ غُفْرَانَكَ أَيْ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ وَقَدْ جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فَالنَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ وَهَذَا الذِّكْرُ مُنَاسِبٌ لِلْمَقَامِ وَذَلِكَ لِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَيُحِسُّ بِالتَّقْصِيرِ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ هَذَا عِنْدَ الْأَتْقِيَاءِ عِنْدَ الْأَذْكِيَاءِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ ذِكْرَ اللَّهِ وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا أَمَّا كَثِيرٌ مِنَّا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ قَلَّ أَنْ يَذْكُرُوا اللَّهَ طِوَالَ وَقْتِهِمْ كَأَنَّهُمْ فِي الْخَلَاءِ يَذْكُرُونَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اللَّهَ وَهَذَا مِنَ الضَّعْفِ فِينَا وَسَبَقَ ذَكَرْتُ مِرَارًا وَتِكْرَارًا أَنَّ ذِكْرَ اللَّهِ نَعِيْمُ الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَالْجَنَّةِ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ دَائِمًا فَإِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ يُحِسُّ بِالتَّقْصِير فَيَقُولُ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ فَهَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُفَارْتَاحَ مِنْ تَعَبِ الْحَاجَةِ وَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَوْ بَذَلَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يُخْرِجَ حَاجَتَهُ إِلَّا بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ الْأَطِبَّاءُ قَدْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ الْمَرِيضِ يَكُونُ عِنْدَهُ إِمْسَاكٌ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُخْرِجُوا هَذَا الْأَمْرَ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ حَصَرُ الْبَوْلِ مَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُفْرِغُوا بَوْلَهُ إِلَّا لَوْ أَجْرَوْا لَهُ عَمَلِيَّةً لَكِنَّ اللَّهَ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ إِذَا اجْتَمَعَ الْبَوْلُ يُحِسُّ الْإِنْسَانُ بِالْأَلَمِ وَالْأَذَى فَيَدْخُلُ مَكَانَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَيُنْعِمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِأَنْ يَخْرُجَ هَذَا الْأَذَى فَيُحِسُّ بِالرَّاحَةِ فَيَتَذَكَّرُ أَنَّهُ مُقَصِّرٌ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللَّهِ فَيَقُولُ غُفْرَانَكَ يَسْتَغْفِرُ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي شُكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نِعَمِهِ وَلَوْ تَدَبَّرَ الْإِنْسَانُ فِي جَسَدِهِ وَمَا يَكُونُ فِي جَسَدِهِ لَأَدْرَكَ عَظِيمَ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَهُوَ إِذَا قَضَى الْحَاجَةَ تَذَكَّرَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَقَالَ غُفْرَانَكَ


Nabi lalu mengucapkan: “Ghufroonaka.” Artinya, “Aku memohon ampunan-Mu, ya Allah.” Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Hadis ini diriwayatkan oleh lima imam hadis dan disahihkan oleh Al-Albani. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Zikir ini sangat sesuai dengan kondisi tersebut, dan hal itu karena dua alasan. Alasan pertama, ketika seseorang menunaikan hajatnya, ia menahan diri dari berzikir kepada Allah. Karena berhenti berzikir kepada Allah, ia merasa telah lalai, maka ketika keluar, ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Inilah keadaan orang-orang bertakwa dan berakal, yang mencintai zikir kepada Allah, dan banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun banyak di antara kita pada masa ini—na’uudzu billaah— sedikit sekali berzikir kepada Allah. Sepanjang waktu, seakan-akan mereka selalu berada di tempat buang hajat, mengingat segala sesuatu kecuali Allah. Ini merupakan salah satu kelemahan dalam diri kita. Saya sudah sampaikan berkali-kali dan berulang-ulang, bahwa zikir kepada Allah adalah kenikmatan seorang Mukmin di dunia dan di surga. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, Beliau selalu berzikir kepada Allah. Namun, ketika beliau masuk ke tempat buang hajat, beliau tidak berzikir, lalu ketika keluar, beliau mengucapkan: “Ghufroonaka.” Beliau merasa lalai, sehingga beliau berkata, “Aku memohon ampun kepadamu ya Allah.” Inilah alasan pertama. Adapun alasan yang kedua, ketika seseorang selesai menunaikan hajatnya, ia merasa lega setelah sebelumnya menahan rasa tidak nyaman. Lalu ia menyadari bahwa seandainya ia menebusnya dengan dunia dan seluruh isinya, ia tetap tidak akan mampu mengeluarkan kotoran tersebut, kecuali dengan nikmat Allah atas dirinya. Para dokter bisa saja berkumpul di sisi seorang pasien, yang mengalami gangguan tidak bisa buang hajat, tapi mereka tidak mampu mengatasinya, sebagaimana pada orang yang mengalami tertahannya air kencing, para dokter tidak akan mampu mengeluarkan air kencingnya itu, kecuali jika mereka melakukan operasi terhadapnya. Namun Allah melimpahkan nikmat ini kepada hamba-Nya. Ketika air kencing telah terkumpul (di kandung kemih), ia akan merasa sakit dan terganggu, sehingga ia masuk ke tempat buang hajat. Lalu Allah melimpahkan nikmat kepadanya dengan mengeluarkan hal yang mengganggu itu, sehingga ia merasa lega. Saat itu ia teringat bahwa dirinya telah lalai dalam mensyukuri nikmat Allah, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” Memohon ampun atas kelalaiannya dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya. Seandainya manusia merenungkan tubuhnya, dan apa yang terjadi pada tubuhnya, niscaya ia akan mengetahui betapa besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepadanya. Maka ketika ia selesai buang hajat, ia teringat dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, sehingga ia mengucapkan: “Ghufroonaka.” ====== وَقَالَ غُفْرَانَكَ أَيْ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ وَقَدْ جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ الأَلْبَانِيُّ فَالنَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ وَهَذَا الذِّكْرُ مُنَاسِبٌ لِلْمَقَامِ وَذَلِكَ لِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ عِنْدَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ يُمْسِكُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَيُحِسُّ بِالتَّقْصِيرِ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ هَذَا عِنْدَ الْأَتْقِيَاءِ عِنْدَ الْأَذْكِيَاءِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ ذِكْرَ اللَّهِ وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَثِيرًا أَمَّا كَثِيرٌ مِنَّا وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ قَلَّ أَنْ يَذْكُرُوا اللَّهَ طِوَالَ وَقْتِهِمْ كَأَنَّهُمْ فِي الْخَلَاءِ يَذْكُرُونَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اللَّهَ وَهَذَا مِنَ الضَّعْفِ فِينَا وَسَبَقَ ذَكَرْتُ مِرَارًا وَتِكْرَارًا أَنَّ ذِكْرَ اللَّهِ نَعِيْمُ الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا وَالْجَنَّةِ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ دَائِمًا فَإِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فَإِذَا خَرَجَ قَالَ غُفْرَانَكَ يُحِسُّ بِالتَّقْصِير فَيَقُولُ أَسْتَغْفِرُكَ يَا اللَّهُ فَهَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُفَارْتَاحَ مِنْ تَعَبِ الْحَاجَةِ وَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَوْ بَذَلَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يُخْرِجَ حَاجَتَهُ إِلَّا بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ الْأَطِبَّاءُ قَدْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ الْمَرِيضِ يَكُونُ عِنْدَهُ إِمْسَاكٌ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُخْرِجُوا هَذَا الْأَمْرَ يُصِيبُ الْإِنْسَانَ حَصَرُ الْبَوْلِ مَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُفْرِغُوا بَوْلَهُ إِلَّا لَوْ أَجْرَوْا لَهُ عَمَلِيَّةً لَكِنَّ اللَّهَ يُنْعِمُ عَلَى الْعَبْدِ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ إِذَا اجْتَمَعَ الْبَوْلُ يُحِسُّ الْإِنْسَانُ بِالْأَلَمِ وَالْأَذَى فَيَدْخُلُ مَكَانَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَيُنْعِمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِأَنْ يَخْرُجَ هَذَا الْأَذَى فَيُحِسُّ بِالرَّاحَةِ فَيَتَذَكَّرُ أَنَّهُ مُقَصِّرٌ فِي شُكْرِ نِعَمِ اللَّهِ فَيَقُولُ غُفْرَانَكَ يَسْتَغْفِرُ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي شُكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نِعَمِهِ وَلَوْ تَدَبَّرَ الْإِنْسَانُ فِي جَسَدِهِ وَمَا يَكُونُ فِي جَسَدِهِ لَأَدْرَكَ عَظِيمَ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ فَهُوَ إِذَا قَضَى الْحَاجَةَ تَذَكَّرَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَقَالَ غُفْرَانَكَ

Syarat Boleh Qashar Shalat bagi Musafir

Shalat qashar adalah salah satu keringanan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang sedang safar. Namun, tidak setiap perjalanan otomatis membolehkan seseorang meringkas shalat, karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tulisan ini membahas secara ringkas dan sistematis lima syarat bolehnya qashar shalat berdasarkan penjelasan ulama Syafiiyyah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شُرُوطٍ:
أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ،
وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ،
وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ،
وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ،
وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ.Seorang musafir dibolehkan mengqashar (meringkas) shalat yang berjumlah empat rakaat dengan lima syarat:
(1) perjalanannya bukan untuk melakukan maksiat,
(2) jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh tanpa memperhitungkan perjalanan pulang,
(3) ia melaksanakan shalat yang asalnya memang shalat empat rakaat,
(4) ia berniat qashar bersamaan dengan niat takbiratul ihram, dan
(5) ia tidak bermakmum kepada orang yang menetap (bukan musafir). Penjelasan dari Fathul Qarib:
Dan dibolehkan bagi seorang musafir, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan, untuk mengqashar shalat empat rakaat saja, tidak selainnya, yaitu bukan shalat dua rakaat dan bukan pula shalat tiga rakaat.
Kebolehan mengqashar shalat empat rakaat tersebut berlaku dengan lima syarat: Syarat pertama: perjalanannya, yaitu perjalanan orang tersebut, bukan perjalanan untuk maksiat. Ini mencakup perjalanan yang wajib seperti bepergian untuk melunasi utang, perjalanan yang dianjurkan seperti menyambung silaturahmi, dan perjalanan yang mubah seperti perjalanan dagang.
Adapun perjalanan maksiat, seperti bepergian untuk merampok atau membegal di jalan, maka tidak diberikan keringanan berupa qashar maupun jamak.Syarat kedua: jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh secara pasti menurut pendapat yang paling kuat, dan tidak dihitung jarak perjalanan pulangnya.
Satu farsakh sama dengan tiga mil. Dengan demikian, totalnya adalah empat puluh delapan mil. Satu mil sama dengan empat ribu langkah, dan satu langkah sama dengan tiga kaki.
Yang dimaksud dengan mil di sini adalah mil Hasyimi.Syarat ketiga: orang yang mengqashar shalat tersebut sedang menunaikan shalat empat rakaat.
Adapun shalat yang tertinggal ketika berada di tempat tinggal (bukan safar), maka tidak diqadha dengan qashar.
Sedangkan shalat yang tertinggal ketika safar, maka diqadha dengan qashar ketika safar, bukan ketika sudah menetap.Syarat keempat: musafir tersebut berniat qashar untuk shalatnya bersamaan dengan niat takbiratul ihram.Syarat kelima: ia tidak bermakmum, pada bagian mana pun dari shalatnya, kepada orang yang mukim, yaitu orang yang melaksanakan shalat secara sempurna, sehingga ketentuan ini juga mencakup musafir yang berniat menyempurnakan shalat. _____ Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 3 Syakban 1447 H, 22 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar keringanan saat safar matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan safar qashar shalat Safar shalat ketika safar shalat qashar shalat safar

Syarat Boleh Qashar Shalat bagi Musafir

Shalat qashar adalah salah satu keringanan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang sedang safar. Namun, tidak setiap perjalanan otomatis membolehkan seseorang meringkas shalat, karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tulisan ini membahas secara ringkas dan sistematis lima syarat bolehnya qashar shalat berdasarkan penjelasan ulama Syafiiyyah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شُرُوطٍ:
أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ،
وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ،
وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ،
وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ،
وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ.Seorang musafir dibolehkan mengqashar (meringkas) shalat yang berjumlah empat rakaat dengan lima syarat:
(1) perjalanannya bukan untuk melakukan maksiat,
(2) jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh tanpa memperhitungkan perjalanan pulang,
(3) ia melaksanakan shalat yang asalnya memang shalat empat rakaat,
(4) ia berniat qashar bersamaan dengan niat takbiratul ihram, dan
(5) ia tidak bermakmum kepada orang yang menetap (bukan musafir). Penjelasan dari Fathul Qarib:
Dan dibolehkan bagi seorang musafir, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan, untuk mengqashar shalat empat rakaat saja, tidak selainnya, yaitu bukan shalat dua rakaat dan bukan pula shalat tiga rakaat.
Kebolehan mengqashar shalat empat rakaat tersebut berlaku dengan lima syarat: Syarat pertama: perjalanannya, yaitu perjalanan orang tersebut, bukan perjalanan untuk maksiat. Ini mencakup perjalanan yang wajib seperti bepergian untuk melunasi utang, perjalanan yang dianjurkan seperti menyambung silaturahmi, dan perjalanan yang mubah seperti perjalanan dagang.
Adapun perjalanan maksiat, seperti bepergian untuk merampok atau membegal di jalan, maka tidak diberikan keringanan berupa qashar maupun jamak.Syarat kedua: jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh secara pasti menurut pendapat yang paling kuat, dan tidak dihitung jarak perjalanan pulangnya.
Satu farsakh sama dengan tiga mil. Dengan demikian, totalnya adalah empat puluh delapan mil. Satu mil sama dengan empat ribu langkah, dan satu langkah sama dengan tiga kaki.
Yang dimaksud dengan mil di sini adalah mil Hasyimi.Syarat ketiga: orang yang mengqashar shalat tersebut sedang menunaikan shalat empat rakaat.
Adapun shalat yang tertinggal ketika berada di tempat tinggal (bukan safar), maka tidak diqadha dengan qashar.
Sedangkan shalat yang tertinggal ketika safar, maka diqadha dengan qashar ketika safar, bukan ketika sudah menetap.Syarat keempat: musafir tersebut berniat qashar untuk shalatnya bersamaan dengan niat takbiratul ihram.Syarat kelima: ia tidak bermakmum, pada bagian mana pun dari shalatnya, kepada orang yang mukim, yaitu orang yang melaksanakan shalat secara sempurna, sehingga ketentuan ini juga mencakup musafir yang berniat menyempurnakan shalat. _____ Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 3 Syakban 1447 H, 22 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar keringanan saat safar matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan safar qashar shalat Safar shalat ketika safar shalat qashar shalat safar
Shalat qashar adalah salah satu keringanan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang sedang safar. Namun, tidak setiap perjalanan otomatis membolehkan seseorang meringkas shalat, karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tulisan ini membahas secara ringkas dan sistematis lima syarat bolehnya qashar shalat berdasarkan penjelasan ulama Syafiiyyah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شُرُوطٍ:
أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ،
وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ،
وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ،
وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ،
وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ.Seorang musafir dibolehkan mengqashar (meringkas) shalat yang berjumlah empat rakaat dengan lima syarat:
(1) perjalanannya bukan untuk melakukan maksiat,
(2) jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh tanpa memperhitungkan perjalanan pulang,
(3) ia melaksanakan shalat yang asalnya memang shalat empat rakaat,
(4) ia berniat qashar bersamaan dengan niat takbiratul ihram, dan
(5) ia tidak bermakmum kepada orang yang menetap (bukan musafir). Penjelasan dari Fathul Qarib:
Dan dibolehkan bagi seorang musafir, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan, untuk mengqashar shalat empat rakaat saja, tidak selainnya, yaitu bukan shalat dua rakaat dan bukan pula shalat tiga rakaat.
Kebolehan mengqashar shalat empat rakaat tersebut berlaku dengan lima syarat: Syarat pertama: perjalanannya, yaitu perjalanan orang tersebut, bukan perjalanan untuk maksiat. Ini mencakup perjalanan yang wajib seperti bepergian untuk melunasi utang, perjalanan yang dianjurkan seperti menyambung silaturahmi, dan perjalanan yang mubah seperti perjalanan dagang.
Adapun perjalanan maksiat, seperti bepergian untuk merampok atau membegal di jalan, maka tidak diberikan keringanan berupa qashar maupun jamak.Syarat kedua: jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh secara pasti menurut pendapat yang paling kuat, dan tidak dihitung jarak perjalanan pulangnya.
Satu farsakh sama dengan tiga mil. Dengan demikian, totalnya adalah empat puluh delapan mil. Satu mil sama dengan empat ribu langkah, dan satu langkah sama dengan tiga kaki.
Yang dimaksud dengan mil di sini adalah mil Hasyimi.Syarat ketiga: orang yang mengqashar shalat tersebut sedang menunaikan shalat empat rakaat.
Adapun shalat yang tertinggal ketika berada di tempat tinggal (bukan safar), maka tidak diqadha dengan qashar.
Sedangkan shalat yang tertinggal ketika safar, maka diqadha dengan qashar ketika safar, bukan ketika sudah menetap.Syarat keempat: musafir tersebut berniat qashar untuk shalatnya bersamaan dengan niat takbiratul ihram.Syarat kelima: ia tidak bermakmum, pada bagian mana pun dari shalatnya, kepada orang yang mukim, yaitu orang yang melaksanakan shalat secara sempurna, sehingga ketentuan ini juga mencakup musafir yang berniat menyempurnakan shalat. _____ Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 3 Syakban 1447 H, 22 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar keringanan saat safar matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan safar qashar shalat Safar shalat ketika safar shalat qashar shalat safar


Shalat qashar adalah salah satu keringanan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang sedang safar. Namun, tidak setiap perjalanan otomatis membolehkan seseorang meringkas shalat, karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tulisan ini membahas secara ringkas dan sistematis lima syarat bolehnya qashar shalat berdasarkan penjelasan ulama Syafiiyyah. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شُرُوطٍ:
أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ،
وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ،
وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ،
وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ،
وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ.Seorang musafir dibolehkan mengqashar (meringkas) shalat yang berjumlah empat rakaat dengan lima syarat:
(1) perjalanannya bukan untuk melakukan maksiat,
(2) jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh tanpa memperhitungkan perjalanan pulang,
(3) ia melaksanakan shalat yang asalnya memang shalat empat rakaat,
(4) ia berniat qashar bersamaan dengan niat takbiratul ihram, dan
(5) ia tidak bermakmum kepada orang yang menetap (bukan musafir). Penjelasan dari Fathul Qarib:
Dan dibolehkan bagi seorang musafir, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan, untuk mengqashar shalat empat rakaat saja, tidak selainnya, yaitu bukan shalat dua rakaat dan bukan pula shalat tiga rakaat.
Kebolehan mengqashar shalat empat rakaat tersebut berlaku dengan lima syarat: Syarat pertama: perjalanannya, yaitu perjalanan orang tersebut, bukan perjalanan untuk maksiat. Ini mencakup perjalanan yang wajib seperti bepergian untuk melunasi utang, perjalanan yang dianjurkan seperti menyambung silaturahmi, dan perjalanan yang mubah seperti perjalanan dagang.
Adapun perjalanan maksiat, seperti bepergian untuk merampok atau membegal di jalan, maka tidak diberikan keringanan berupa qashar maupun jamak.Syarat kedua: jarak perjalanannya mencapai enam belas farsakh secara pasti menurut pendapat yang paling kuat, dan tidak dihitung jarak perjalanan pulangnya.
Satu farsakh sama dengan tiga mil. Dengan demikian, totalnya adalah empat puluh delapan mil. Satu mil sama dengan empat ribu langkah, dan satu langkah sama dengan tiga kaki.
Yang dimaksud dengan mil di sini adalah mil Hasyimi.Syarat ketiga: orang yang mengqashar shalat tersebut sedang menunaikan shalat empat rakaat.
Adapun shalat yang tertinggal ketika berada di tempat tinggal (bukan safar), maka tidak diqadha dengan qashar.
Sedangkan shalat yang tertinggal ketika safar, maka diqadha dengan qashar ketika safar, bukan ketika sudah menetap.Syarat keempat: musafir tersebut berniat qashar untuk shalatnya bersamaan dengan niat takbiratul ihram.Syarat kelima: ia tidak bermakmum, pada bagian mana pun dari shalatnya, kepada orang yang mukim, yaitu orang yang melaksanakan shalat secara sempurna, sehingga ketentuan ini juga mencakup musafir yang berniat menyempurnakan shalat. _____ Disusun saat perjalanan Pondok DS Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 3 Syakban 1447 H, 22 Januari 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih safar keringanan saat safar matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan safar qashar shalat Safar shalat ketika safar shalat qashar shalat safar

Keutamaan Berkumpul di Masjid untuk Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail

Keutamaan Berkumpul di Masjid untuk Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail
Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail


Masjid bukan hanya tempat shalat, namun juga pusat turunnya rahmat dan ketenangan bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar bagi kaum yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah. Hadits ini menunjukkan kemuliaan majelis ilmu dan tingginya kedudukan orang-orang yang menghidupkan masjid dengan tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)١٨٤- بَابُ اسْتِحْبَابِ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الْقِرَاءَةِ Bab 184. Anjuran untuk Berkumpul dalam Kegiatan Membaca (Al-Qur’an) Hadits #1023ِوعَنْ‭ ‬أَبي‭ ‬هُرَيْرَةَ‭ ‬رَضيَ‭ ‬اللَّه‭ ‬عَنْهُ‭ ‬قَالَ‭: ‬قَالَ‭ ‬رَسُول‭ ‬اللَّهِ‭ ‬صَلّى‭ ‬اللهُ‭ ‬عَلَيْهِ‭ ‬وسَلَّم‭: “‬ومَا‭ ‬اجْتَمَعَ‭ ‬قَوْمٌ‭ ‬فِي‭ ‬بَيْتٍ‭ ‬مِنْ‭ ‬بُيوتِ‭ ‬اللَّهِ‭ ‬يَتْلُونَ‭ ‬كِتَابَ‭ ‬اللَّهِ،‭ ‬ويتَدَارسُونَه‭ ‬بيْنَهُم،‭ ‬إِلاَّ‭ ‬نَزَلتْ‭ ‬علَيهم‭ ‬السَّكِينَة،‭ ‬وغَشِيَتْهُمْ‭ ‬الرَّحْمَة،‭ ‬وَحَفَّتْهُم‭ ‬الملائِكَةُ،‭ ‬وذَكَرهُمْ‭ ‬اللَّه‭ ‬فيِمنْ‭ ‬عِنده‭ “‬رواه‭ ‬مسلم‭.‬Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)  Faedah haditsMembahas tentang anjuran menuntut ilmu dan berkumpul untuk mempelajarinya dan mengkajinya.Ilmu yang paling mulia untuk diingat dan dipelajari adalah Kitab Allah Ta‘ālā.Di antara sarana menjaga ilmu adalah dengan mengkajinya dan saling mengingatkannya. Semua ini mengantarkan pada pemahaman bersama terhadap fikih yang tepat, khususnya ketika membahas beberapa pendapat dalam suatu masalah.Majelis ilmu memiliki kedudukan khusus di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena di dalamnya turun ketenangan, rahmat menaungi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan semua itu disertai dengan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi mencari majelis zikir, yaitu majelis ilmu.Ini merupakan dalil tentang ketinggian Allah di atas makhluk-Nya. Referensi:Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadhis Shalihin. Cetakan pertama tahun 1430 H. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:244-245. Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran belajar al quran riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail

Bagaimana Rasulullah Minum?

Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Bagaimana Rasulullah Minum?

Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.


Daftar Isi ToggleRasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Tidak minum sekali tegukanMinuman yang disukai RasulullahPenutupMinum merupakan suatu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan bagaimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau yang merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada artikel ini, akan kita bahas bagaimana Rasulullah minum.Rasulullah minum sambil duduk atau berdiri?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadis yang menyebutkan bahwa beliau melarang untuk minum sambil berdiri. Salah satu hadis tersebut adalah,أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, bagaimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, atau lebih jelek.’” (HR. Muslim)Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sambil duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya karena beliau tidak mungkin melarang hal yang beliau lakukan sendiri karena beliau merupakan teladan yang terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau yang terdepan untuk menjauhinya.Akan tetapi, selain larangan untuk minum sambil duduk, ternyata ada juga hadis yang menunjukkan Rasulullah minum sambil berdiri. Salah satunya adalah hadis dari Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah minum air zam-zam sambil berdiri,سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga hadis lain yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sambil berdiri sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) yang tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)Lalu mana yang benar, apakah Rasululllah minum sambil duduk atau minum sambil berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sambil berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sambil berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sambil duduk dan itu hal yang terbiasa beliau lakukan. Hadis yang melarang minum sambil duduk adalah hadis sahih, hadis yang memerintahkan orang yang minum sambil berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan hadis yang menyebutkan beliau minum sambil berdiri juga sahih.Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ulama menyatakan hadis tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, akan tetapi sebagai arahan dan juga menunjukkan mana yang lebih utama.Ada juga yang berpendapat bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri karena ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lalu mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Kondisi tersebut karena beliau perlu berdiri.”Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa yang paling utama adalah kita minum sambil duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sambil berdiri kita minum sambil berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak minum sekali tegukanKebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah habis dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa hal tersebut (أَرْوَى), yaitu lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), yang artinya lebih memuaskan dahaga orang yang sangat kehausan.Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?Minuman yang disukai RasulullahSebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki minuman yang disukai. Apa minuman yang Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ“Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)Rasulullah menyukai minuman yang memiliki dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman yang manis seperti air yang beliau campur dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membuat nabidz, yaitu air perasan kismis atau kurma yang beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari karena bisa menjadi minuman yang memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, esok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau masih menuangkan dan meminumnya; tapi jika masih juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)Rasulullah juga suka air yang dingin yang tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu bagaimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air yang diinapkan dalam sebuah wadah,إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ”Apakah kamu mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit?”Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman yang Rasulullah sukai adalah yang manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, memiliki manfaat bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.PenutupItulah bahasan secara ringkas tentang bagaimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membuat kita lebih bersemangat lagi untuk meneladani beliau yang merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata cara minum dan juga minuman yang kita sukai karena meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam*** Penulis: Firdian IkhwanysahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMakna kata “Al-Masih”Makna kata “Ad-Dajjal”Sifat-sifat DajjalFitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.Makna kata “Al-Masih”Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام  adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.Makna kata “Ad-Dajjal”Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda KiamatSifat-sifat DajjalDajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جِفَالُ الشَّعَرِ“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat lain disebutkan,ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Kenapa Nabi Melarang Keras Ucapan Ini, Bahkan Pada Hewan? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ

Kenapa Nabi Melarang Keras Ucapan Ini, Bahkan Pada Hewan? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ
Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ


Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, para ulama menjelaskan bahwa laknat diserupakan dengan pembunuhan dari sisi keharamannya, meskipun pembunuhan pada hakikatnya lebih besar dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, hadis ini menunjukkan bahwa ucapan laknat termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, dalam hadis riwayat Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak pula memberi syafaat pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim) Orang-orang yang gemar melaknat akan terhalang dari memberi syafaat dan kesaksian pada Hari Kiamat. Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dalam salah satu perjalanan beliau. Saat itu, ada seorang wanita yang menunggangi untanya. Karena merasa jengkel terhadap unta tersebut, wanita itu pun melaknatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ambillah barang-barang yang ada di atasnya, lalu biarkan ia pergi, karena unta itu telah dilaknat. Janganlah unta yang dilaknat itu menyertai perjalanan kita.” Ini menunjukkan bahwa laknat termasuk dosa besar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya menjauhi ucapan laknat. Sebuah kata yang diucapkan seseorang bisa menjadikannya tercatat sebagai pelaku dosa besar. Apa urgensi mengucapkan laknat itu? Maka hendaknya seseorang menjauhkan diri dari melaknat. Hendaklah lisannya terjaga, mengganti ucapan laknat dengan perkataan yang baik, seperti mendoakan hidayah dan kebaikan, serta yang semisalnya. Karena laknat termasuk dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk ke dalam neraka. Ketika beliau bersabda kepada kaum wanita:“Bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” Ini menunjukkan bahwa banyak melaknat termasuk sebab masuk neraka. Maka siapa saja yang terjerumus dalam perbuatan ini, hendaknya ia bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi ucapan laknat dalam segala bentuk dan ragamnya, serta menggantinya dengan ucapan yang baik. ===== جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنِ الثَّابِتِ بْنِ ضَحَّاكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ لَكِنْ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ اللَّعْنَةَ كَالْقَتْلِ فِي أَصْلِ التَّحْرِيمِ وَإِلَّا فَالْقَتْلُ أَعْظَمُ إِثْمًا وَذَنْبًا وَلَكِنْ هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَلِهَذَا جَاءَ فِي حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ يُحْرَمُونَ اللَّعَّانُونَ يُحْرَمُونَ مِنَ الشَّفَاعَةِ وَالشَّهَادَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي إِحْدَى أَسْفَارِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ عَلَى نَاقَةٍ لَهَا تَسِيْرُ فَضَجِرَتْ مِنْهَا فَلَعَنَتْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ لَا تُصَاحِبُنَا نَاقَةٌ مَلْعُونَةٌ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّعْنَةَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَجْتَنِبَ اللَّعْنَ كَلِمَةٌ يَقُولُهَا الْإِنْسَانُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ بِسَبَبِهَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ مَا الدَّاعِي لَهَا؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنِ اللَّعْنِ يَكُونُ لِسَانُهُ عَفِيفًا يَسْتَبْدِلُ اللَّعْنَ بِكَلَامٍ طَيِّبٍ بِالدُّعَاءِ بِالْهِدَايَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَكِنَّ اللَّعْنَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِأَنَّ كَثْرَةَ اللَّعْنِ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ لَمَّا قَالَ لِلنِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قِيلَ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ اللَّعْنِ أَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ النَّارِ فَعَلَى مَنْ كَانَ وَاقِعًا فِي ذَلِكَ أَنْ يَتُوبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ اللَّعْنِ بِكَافَّةِ أَشْكَالِهِ وَصُوَرِهِ وَأَنْ يَسْتَبْدِلَ اللَّعْنَ بِالطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ

Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak yang Terlupa

Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak yang Terlupa

Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Daftar Isi ToggleAllah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMembedakan antara evaluasi dan menghakimiMemberi teladan untuk perbaikanDalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasilDalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain,لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang MuslimMengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hatiMenghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)Sikap ini sangat penting di dunia modern:Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.Membedakan antara evaluasi dan menghakimiPerlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)Memberi teladan untuk perbaikanDalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Zikir Saat Petir: Amalan Salaf yang Jarang Diketahui – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ

Zikir Saat Petir: Amalan Salaf yang Jarang Diketahui – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ
Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ


Wahai Syaikh kami, sebelum kita memaparkan pertanyaan dari para penelepon, di sini ada sebuah pertanyaan dari saudari Salma. Ia bertanya, “Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika mendengar suara petir dan melihat kilat?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling utama. Amma ba’du. Kilat dan petir adalah dua tanda besar dari tanda-tanda kekuasaan Allah Jalla wa ‘Ala di alam semesta, yang menampakkan kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Apabila kilat menyambar sesuatu, ia dapat membakarnya. Ia juga mampu menerangi area yang sangat luas. Demikian juga petir yang ada di permukaan awan, dengan suara dahsyat yang menggelegar hingga mengguncang bumi. Semua itu mengarahkan seorang hamba untuk merenungi kekuasaan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung atas dirinya. Dengannya, seorang hamba teringat sebagian bentuk azab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu, berupa gempa dahsyat yang menimpa sebagian dari mereka, dan teriakan keras yang membinasakan sebagian yang lain. Diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf bahwa ketika mendengar petir, mereka mengucapkan: SUBHAANALLADZII YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIHI (Maha Suci Dzat yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat bertasbih karena takut kepada-Nya). (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).Namun, bacaan ini tidak diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi. Namun diriwayatkan dari sejumlah Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Wahai Syaikh kami, sebagian orang terkadang merasa takut dan terkejut ketika mendengar suara petir. Apakah hal ini bermasalah? Sikap berhati-hati dengan menjauh dari lokasi yang rawan sambaran petir dan kilat, agar tidak tersambar olehnya, merupakan hal yang dianjurkan. Demikian juga menghindari suara kencang agar tidak membahayakan pendengarannya. Ini tidak mengandung masalah apa pun bagi seorang insan. Adapun jika sebagian orang merasa kaget dan takut karena suara keras yang datang secara tiba-tiba, maka itu merupakan tabiat manusiawi dan tidak dikenai hukum tertentu. Karena hal tersebut kembali kepada kondisi jiwa masing-masing, dan manusia tidak selalu mampu menolaknya. ===== شَيْخَنَا قَبْلَ اسْتِعْرَاضِ أَسْئِلَةِ الْمُتَّصِلِيْنَ وَالْمُتَّصِلَاتِ هُنَا سُؤَالٌ مِنَ الْأُخْتِ سَلْمَى تَقُولُ مَا الْمَشْرُوعُ لِلْمُسْلِمِ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ وَرُؤْيَةِ الْبَرْقِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَبَعْدُ فَالْبَرْقُ وَالرَّعْدُ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا فِي الْكَوْنِ تُظْهِرُ قُدْرَةَ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ إِذَا وَصَلَ إِلَى شَيْءٍ أَحْرَقَ يُضِيءُ الْمَسَافَةَ الْكَبِيرَةَ وَهَكَذَا الرَّعْدُ لَدَيْهِ يَكُونُ فِي مُقَدِّمَةِ السَّحَابِ بِمَا فِيهِ مِنْ صَوْتٍ عَظِيمٍ يُجَلْجِلُ الْأَرْضَ يُرْشِدُ الْعَبْدَ إِلَى قُدْرَةِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ عَلَيْهِ وَيَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوبَاتِ الَّتِي نَزَلَتْ فِي الْأُمَمِ السَّابِقَةِ مِنَ الرَّجْفَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِبَعْضِهِمْ وَالصَّيْحَةِ الَّتِي جَاءَتْ لِآخَرِيْنَ وَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ يُقَالُ سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا وَرَدَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ شَيْخَنَا الْبَعْضُ رُبَّمَا يَخَافُ وَيَفْزَعُ مِنْ صَوْتِ الرَّعْدِ يَقُولُ هَلْ هَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ؟ احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ بِابْتِعَادِهِ عَنْ مَوَاطِنِ الرَّعْدِ وَالْبَرْقِ لِئَلَّا يُصَابُ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَحْسَنَةِ وَكَذَلِك يَبْتَعِدُ عَنِ الصَّوْتِ الْعَالِي لِئَلَّا يُؤَثِّرُ عَلَى سَمْعِهِ هَذَا لَا حَرَجَ عَلَى الْإِنْسَانِ فِيهِ وَيَقُولُ بَعْضَ النَّاسِ يَرْتَاعُ وَيَخَافُ مِنَ الصَّوْتِ الْعَظِيمِ المُفَاجِئِ فَهَذَا طَبِيعَةٌ بَشَرِيَّةٌ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهَا بِحُكْمٍ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ إِلَى النُّفُوسِ وَتَعْجِزُ النُّفُوسُ عَنْ رَدِّهِ

Jangan Sok Suci! – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا

Jangan Sok Suci! – Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا


“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” (QS. An-Nisa: 49) Sudah kita bahas bahwa kata (رَأَى) atau (نَظَرَ) apabila diiringi dengan kata (إِلَى) maka yang dimaksud adalah melihat secara langsung dengan mata kepala. Namun, bisa juga dimaknai sebagai pengetahuan. Artinya: “Tidakkah engkau mengetahui orang-orang yang menganggap diri mereka suci?” Lalu, apakah makna menyucikan diri itu? Yaitu menganggap diri bersih, suci, dan tanpa cela. Ambillah apa saja bentuk pujian yang digunakan oleh orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, yang menganggap dirinya telah suci. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman:“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui keadaan kalian ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm: 32) Seakan-akan orang yang menganggap dirinya suci itu sedang memberitahu Allah tentang amal-amalnya. Padahal Rabb kita ‘Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menciptakan kalian dari tanah, dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Kalian adalah ciptaan-Nya. Dan Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14). “Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) Sehingga manusia tidak perlu menganggap dirinya suci. Apabila ada orang yang dipuji orang lain di hadapannya, maka hal itu layak diingkari. Lalu bagaimana jika seseorang justru memuji dirinya sendiri? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain, lalu beliau bersabda: “Celaka engkau! Engkau telah memotong leher sahabatmu!” Apabila salah seorang dari kalian memang harus memuji, hendaklah dia mengucapkan: “Aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang paling mengetahui keadaannya. Aku tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.” ===== أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم مَرَّ بِنَا أَنَّ الْفِعْلَ رَأَى أَوْ نَظَرَ إِذَا وَرَدَ بِـإِلَى تُرَادُ بِهِ مَاذَا؟ رُؤْيَةُ الْعَيْنِ أَوْ نَظَرُ الْعَيْنِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهَذَا الْعِلْمِ يَعْنِي أَلَمْ تَعْلَمْ بهَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ وَتَزْكِيَةُ النَّفْسِ الْحُكْمُ لَهَا بِمَاذَا؟ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّقَاءِ وَالصَّفَاءِ وَخُذْ مَا شِئْتَ مِنْ مَا يَمْدَحُ بِهِ هَذَا الْغِرُّ وَالْمِسْكِينُ نَفْسَهُ زَاعِمًا تَزْكِيَتَهَا وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ كَأَنَّ الْمُزَكِّيَ لِنَفْسِهِ يُخْبِرُ اللَّهَ عَنْ أَعْمَالِهِ وَرَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ خَلَقَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَأَنْتُمْ خَلْقُهُ وَهُوَ تَعَالَى أَعْلَمُ بِخَلْقِهِأَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُو اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ فَلَا حَاجَةَ أَنْ يُزَكِّيَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ لَوْ مُدِحَ فِي وَجْهِهِ لَأُنْكِرَ عَلَيْهِ ذَلِكَ فَكَيْفَ إِذَا هُوَ أَيْش يَا إِخْوَانُ مَدَحَ نَفْسَهُ وَالنَّبِيُّ سَمِعَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ أَوْ يَمْدَحُ رَجُلًا قَالَ وَيْلَكَ أَوْ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ لاَ بُدَّ مَادِحًا فَلْيَقُلْ أَحْسِبُهُ وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 2): Cara Mukmin Berargumen Teologi Tentang Penciptaan Kepada Kafir

Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 2): Cara Mukmin Berargumen Teologi Tentang Penciptaan Kepada Kafir

Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleCara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirMuslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananMendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimLuasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunah;Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut;Berdebat dalam konteks beradu argumen.Ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental, seperti aspek ketuhanan atau teologi.Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surah Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.Cara mukmin berargumen teologi tentang penciptaan kepada orang kafirقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahfi: 37)Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun yang kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 38)Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepada-Nya.وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39)Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepada-Nya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.Dalam ayat ini, dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Muslim harus pede berdakwah dalam tongkrongan pertemananPelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan, “Kengkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan salat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surah Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66)Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.Mendoakan keburukan bagi mereka yang terlampau zalimSetelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi: 40)أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahfi: 41)Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi rahimahullah juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya, menurut Al-Qurthubi rahimahullah, adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni juga balasan di dunia. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ, Zat yang disembahnya, adalah satu-satunya pemberi rezeki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firman-Nya selanjutnya,وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai, kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahfi: 42)Maha benar Allah ﷻ atas segala firman-Nya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjang umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah, pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3 ***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id

Tafwidh dalam Nama dan Sifat Allah (Bag 1): Pendahuluan dan Sumber Permasalahan

Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.

Tafwidh dalam Nama dan Sifat Allah (Bag 1): Pendahuluan dan Sumber Permasalahan

Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.
Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.


Daftar Isi ToggleManhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahIlhad dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahAhlus sunnah meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah sebagaimana Allah menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut. Nama-nama-Nya yang indah ini disebut dan dikenal dengan istilah ‘asmaul husna’. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ“Dia-lah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai asmaul husna.” (QS. al-Hasyr: 24)Setelah meyakini bahwa Allah mempunyai nama-nama yang indah (asmaul husna), ahlus sunnah juga meyakini bahwa nama-nama itu memiliki makna yang serupa dengannya. Allah Ta`ala juga berfirman,وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا“(Hanya) milik Allah-lah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu” (QS. al-A`raf: 180)Ayat di atas menunjukkan bahwa asmaul husna milik Allah itu bukan sebatas nama saja tanpa makna. Setelah menegaskan bahwa nama-nama yang baik tersebut adalah milik-Nya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya. Hal ini menegaskan bahwa penamaan Allah bukanlah sekadar sebutan kosong, melainkan isyarat bahwa kita diperintahkan untuk bermohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang penuh makna. Maka dari itulah, Allah mensifati nama-nama-Nya dengan “al-husna” yang berarti baik, juga berarti nama-nama-Nya memiliki makna (sifat) yang sesuai.Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas dalam kitab tafsirnya,هذا بيان لعظيم جلاله وسعة أوصافه، بأن له الأسماء الحسنى، أي: له كل اسم حسن، وضابطه: أنه كل اسم دال على صفة كمال عظيمة، وبذلك كانت حسنى، فإنها لو دلت على غير صفة، بل كانت علما محضا لم تكن حسنى، وكذلك لو دلت على صفة ليست بصفة كمال، بل إما صفة نقص أو صفة منقسمة إلى المدح والقدح، لم تكن حسنى، فكل اسم من أسمائه دال على جميع الصفة التي اشتق منها، مستغرق لجميع معناها“Ini merupakan penjelasan atas keagungan Allah dan keluasan sifat-sifat-Nya. Dia memiliki asmaul husna (nama-nama yang indah), yaitu: setiap nama yang ia miliki itu indah dan baik (mengandung kesempurnaan). Tolak ukurnya adalah: ‘setiap nama menunjukkan kepada kesempurnaan sifat, maka dengan hal tersebut dapat dikatakan baik (husna)’. Karena jika nama itu tidak menunjukkan sifat atau bahkan hal tersebut merupakan nama tanpa makna, hal itu tidak disebut baik. Begitu juga, jika nama itu menunjukkan sifat yang tidak sempurna, baik karena kurangnya sifat tersebut atau sifat tersebut mengandung kebaikan dan kecacatan di waktu yang sama, hal ini pun tidak disebut baik (husna). Maka setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan sifat-sifat yang semakna dengannya.” [1]Manhaj ahlus sunnah dalam menetapkan nama dan sifat AllahSeyogyanya bagi ahlus sunnah senantiasa meyakini bahwa setiap nama Allah berkonsekuensi adanya sifat yang semakna dengannya, tanpa perlu mempertanyakan bagaimananya. Syekh az-Zuhairi dalam kitabnya menyebutkan,أن أهل السنة والجماعة أثبتوا لله تعالى ما أثبته لنفسه في كتابه، وما أثبته له رسوله عليه الصلاة والسلام في صحيح سنته، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تمثيل ولا تكييف“(Dalam bab asma dan sifat), ahlus sunnah wal jamaah menetapkan (nama dan sifat) untuk Allah apa yang Ia tetapkan untuk diri-Nya di Kitab-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan untuk-Nya dalam sunahnya yang sahih, tanpa tahrif (mengubah lafal dan makna) dan ta’thil (meniadakan makna); serta tanpa tamtsil (menyerupakan) dan takyif (mem-bagaimana-kan).” [2]Hal ini disebabkan tidak akan ada satu makhluk pun yang menyentuh sifat kesempurnaan Allah. Dia Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidaklah menyerupai-Nya suatu apapun. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)Ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak boleh adanya pengubahan makna serta penyerupaan makna. Penggalan pertama لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Tidaklah menyerupainya suatu apapun” menunjukkan tidak ada satupun yang menyerupainya di alam semesta ini. Maka, batal-lah konsep tamtsil dan takyif karena keduanya berkonsekuensi pada permisalan sesuatu dengan sifat Allah. Adapun penggalan selanjutnya, وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menunjukkan penetapan nama dan sifat Allah. Setelah menafikan bahwa seluruh makhluk tidak ada yang menyamai-Nya, Allah menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Hal ini adalah isyarat dari-Nya bahwa Dia-ah Yang Maha Mempunyai nama dan sifat terpuji yang sempurna maknanya dan tidak ada yang dapat menyamainya. Sehingga kewajiban ahlus sunnah adalah mengimaninya. [3]Baca juga: Penyimpangan Terhadap Asmaul HusnaIlhad dalam nama dan sifat AllahMenetapkan makna sifat pada nama Allah juga berarti tidak mengubah makna sifat untuk nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون“Biarkan-lah orang-orang yang melakukan ilhad (penyimpangan) dengan nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (QS. al-A`raf: 180)Ayat ini menjelaskan keharaman ilhad atau penyimpangan dengan apa yang Allah tetapkan untuk-Nya. Ilhad adalah menyimpangkan suatu yang seharusnya (hak) kepada yang tidak seharusnya (batil). [4] Kata ilhad juga biasanya diterjemahkan sebagai ateisme karena ateisme juga merupakan bentuk penyimpangan suatu yang hak. Namun, pada bab nama dan sifat Allah, ilhad berarti (sebagaimana yang dijelaskan Ibnu al-Qayyim rahimahullah),الإلحاد في أسمائه هو العدول بها و بحقائقها ومعانيها عن الحق الثابت لها“Ilhad (penyimpangan) pada nama-nama Allah adalah memalingkannya dari hakikat-hakikat dan makna-maknanya yang hak dan tetap untuknya.” [5]Di antara bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah adalah mendefinisikan maknanya dengan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat). Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak menyebutkan dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah at-Tadmuriyyah,التحريفُ، والتعطيلُ، والتكييفُ، والتمثيلُ؛ كلُّها إلحادٌ“Tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), dan takyif (mem-bagaimana-kan sifat) seluruhnya adalah ilhad (bentuk penyimpangan) pada nama dan sifat Allah).” [6]Seluruh perbuatan ini diharamkan berdasarkan firman Allah dalam surah al-A‘rāf ayat 180, disertai ancaman bagi orang-orang yang melakukannya.Konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahSetelah diketahui bahwa ilhad dalam nama dan sifat Allah bukan hanya berbentuk penolakan secara terang-terangan, tetapi juga bisa berupa penyimpangan makna dan metode dalam memahaminya, maka muncullah turunan-turunan pembahasan dari bentuk penyimpangan tersebut. Di antara turunan bahasan dalam memahami makna nama dan sifat Allah adalah tafwidh (meniadakan atau mengaku tidak mengetahui makna sifat). Tafwīḍh dalam pengertian yang keliru tidak hanya menyerahkan kaifiyyah, melainkan beralasan dengan dua alasan utama, yaitu:الأول: اعتقاد أن ظواهر نصوص الصفات السمعية يقتضي التشبيه، حيث لا يعقل لها معنى معلوم إلا ما هو معهود في الأذهان من صفات المخلوقين“Pertama, keyakinan bahwa makna lahiriah (yang tampak) dari nash-nash sifat yang bersifat sam‘iyyah adalah meniscayakan penyerupaan (dengan makhluk). Karena tidak muncul darinya makna yang dapat dipahami kecuali serupa dengan sifat-sifat makhluk.”الثاني: أن المعاني المرادة من هذه النصوص مجهولة للخلق، لا سبيل للعلم بها، بل هي مما استأثر الله بعلمه، ولا يمكن تعيين المراد بها لعدم ورود النص التوقيفي بذلك. وهنا يفترق مذهب التفويض مع مذهب التأويل الذي يجوز الاجتهاد في تعيين معان مجازية للصفات السمعية“Kedua, bahwa makna yang dimaksudkan oleh nash-nash tersebut tidak diketahui oleh makhluk dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya, bahkan ia termasuk perkara yang Allah khususkan pengetahuannya bagi diri-Nya. Karena tidak adanya nash yang bersifat tauqīfī (penetapan langsung dari wahyu) yang menjelaskan makna tersebut, maka tidak mungkin menentukan maksudnya secara pasti. Pada titik inilah mazhab tafwīḍh berbeda dengan mazhab ta’wīl, karena mazhab ta’wīl membolehkan ijtihad dalam menetapkan makna-makna majazi bagi sifat-sifat sam‘iyyah.” [7]Itulah sebabnya, mengapa para ulama Ahlus Sunnah menyebut mereka (orang-orang yang melakukan tafwidh) dengan sebutan “Ahlu at-Tajhil” (golongan kebodohan) karena mereka mengklaim tidak tahu makna dari apa yang sudah sangat jelas Allah sifati diri-Nya. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan,أصحاب التجهيل: الذين قالوا: نصوص الصفات ألفاظ لا تعقل معانيها، ولا ندري ما أراد الله ورسوله منها. ولكن نقرأها ألفاظاً لا معاني لها، ونعلم أن لها تأويلاً لا يعلمه إلا الله“Ashab at-Tajhil (orang-orang yang berbuat kebodohan) adalah kelompok yang berpendapat bahwa nash-nash sifat hanyalah lafal-lafal yang tidak dapat dipahami maknanya, dan kita tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya darinya. Oleh karena itu, nash-nash tersebut hanya dibaca sebagai lafal semata tanpa makna yang dapat dipahami, sementara diyakini bahwa ia memiliki takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.” [8]Baca juga: Mengenal Nama dan Sifat AllahAsal mula konsep tafwidh dalam nama dan sifat AllahKonsep tafwidh sendiri tidaklah muncul dari pemikiran para pendahulu Islam seperti sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in. Pemikiran ini barulah muncul di abad ke-4, sebagaimana yang disebutkan Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam al-Minhah al-Ilahiyyah,إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع“Dahulu, tidak ada pembahasan tentang tafwidh makna (dalam nama dan sifat Allah) pada tiga generasi pertama. Pembahasan ini baru muncul pada abad keempat.” [9]Konsep tafwīḍh dalam pembahasan nama dan sifat Allah ini baru lahir setelah masuknya pendekatan filsafat dan ilmu kalam dalam memahami agama. Pengaruh dari kedua hal ini mendorong sebagian kalangan menimbang persoalan akidah dengan ukuran akal. Ketika makna sifat-sifat Allah dianggap tidak sesuai dengan kerangka filsafat ini, sebagian memilih menafikan maknanya karena khawatir terjadi penyerupaan dengan makhluk. Syekh Yusuf bin Muhammad Ghufais rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, طريقة التفويض طريقة ملفقة استعملها قوم من الأشاعرة للتوفيق بين طريقتهم الكلامية وطريقة السلف“Konsep tafwidh (dalam memahami nama dan sifat Allah) adalah sebuah konsep yang dihadirkan oleh golongan Asya’irah untuk mempertemukan antara metode kalam mereka dan metode salaf.” [10]Para mufawwidhun (orang-orang yang melakukan tafwidh) terpengaruh akal mereka yang terbatas dalam memahami makna nama dan sifat Allah. Bagi mereka, makna yang hadir dari akal adalah patokan utama dalam memberikan gambaran terhadap nama dan sifat. Padahal, metode salaf (para pendahulu) dalam hal ini sangatlah simpel, mudah, dan logis, karena mereka hanya menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa berandai adanya penyerupaan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikat serta kaifiyatnya, sebab tidak mungkin ada satupun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana yang sangat masyhur dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah,الكيف غير معقول، والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة“Bagaimana (cara atau hakikat) istiwa tidak dapat dijangkau oleh akal, namun makna istiwa tidaklah mungkin tidak diketahui. Mengimani adanya istiwa itu wajib, sedangkan bertanya tentang bagaimananya adalah kebid’ahan.” [11]Sehingga para salaf memiliki metode yang lebih aman, benar, selamat, jelas, serta tidak membingungkan dalam menetapkan makna dari nama dan sifat Allah.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, 1: 309.[2] Syekh Abū al-Asybāl Ḥasan az-Zuhairī, Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah, 5: 5.[3] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.[4] Syekhah Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 335.[5] Imam Ibn al-Qayyim, Badā’i‘ al-Fawā’id, 1: 169.[6] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 99.[7] Syekh Alawi bin ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, dkk., Mausu’ah Aqdiyyah, 2: 468.[8] Imam Ibn al-Qayyim, aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah, 2: 422.[9] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minḥah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1:  385.[10] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.[11] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.
Prev     Next