Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal

Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal
Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal


Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.فَقَالَ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَأَمَّا بَعْدُ،Jamaah Jumat rahimakumullah,Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik. Jamaah Jumat rahimakumullah,Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.Perencanaan membuat kita bergerak.Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.Namun, overthinking terhadap masa depan adalah ketika pikiran terus tinggal di hari esok, sementara hati kehilangan ketenangan hari ini. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.Takwa berarti amanah dalam penelitian.Takwa berarti tidak memalsukan data.Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal kedua adalah tawakal.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Bekal ketiga adalah imani takdir. Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.Beliau berkata:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًAsal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita. Jamaah Jumat rahimakumullah,Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah. Jamaah Jumat rahimakumullah,Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.Pertama, perbaiki shalat.Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.Kedua, bangun kompetensi.Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.Ketiga, jaga lingkungan.Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.Keempat, perbanyak doa.Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِAllahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.” Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  —- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari BantulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskecemasan khawatir khutbah jumat masa depan motivasi Islam nasihat Jumat overthinking QS Ath-Thalaq rezeki rumaysho takwa tawakal

Inilah Puncak Kelezatan Iman yang Semoga Allah Berikan Pada Kita – Syaikh Shalih As -Sindi

Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Inilah Puncak Kelezatan Iman yang Semoga Allah Berikan Pada Kita – Syaikh Shalih As -Sindi

Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ


Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Tujuh Kebiasaan Orang-Orang Gagal

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 562 times, 1 visit(s) today Post Views: 121

Tujuh Kebiasaan Orang-Orang Gagal

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 562 times, 1 visit(s) today Post Views: 121
Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 562 times, 1 visit(s) today Post Views: 121


Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Tanpa saya sembunyikan darimu bahwa judul ini disadur dari judul buku karya Stephen Covey yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif). Sebagaimana orang-orang sukses punya kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh, demikian pula orang-orang gagal juga punya kebiasaan-kebiasaan yang membuat runtuh. Banyak sekali kebiasaan yang seperti ini, tapi saya memilih yang paling penting dan paling banyak menjangkiti orang. Kebiasaan Pertama: Menunda-nunda Ini merupakan salah satu kebiasaan paling menonjol dari orang-orang gagal yang berpengaruh dalam hidup mereka. Kebiasaan ini juga berperan besar dalam kemunduran kontribusi mereka dan banyaknya kegagalan mereka. Mereka suka menunda pekerjaan sebisa mungkin, jargon mereka adalah “Tunda pekerjaan hari ini ke hari esok!” Mereka selalu berusaha menunda pekerjaan yang penting atau tidak penting hingga tempo yang tidak ditentukan. Bahkan ketika mereka mengerjakannya pun, mereka baru menyelesaikannya di detik-detik akhir atau setelah waktu berakhir. Kebiasaan Kedua: Mengeluh Mereka tidak mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi lingkungan mereka. Mereka selalu mengambil jalan keluh kesah. Segala hal yang terasa menyakitkan, segera mereka ungkapkan dengan keluhan. Mereka mengeluhkan situasi-situasi buruk, tidak ada bantuan dari orang lain, kurangnya kesempatan yang tersedia, atau kesulitan hidup. Kalaulah saja keluhan itu dapat mendorong mereka untuk bekerja dan memperbaiki kondisi mereka, tapi mereka justru menjadikannya sebagai uzur atas kemalasan mereka dan sebab kelambatan mereka dalam mengejar rombongan orang-orang sukses dan merealisasikan kesuksesan. Kebiasaan Ketiga: Lari dari Tanggung Jawab Mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab atas perbuatan dan kehidupan mereka. Selalu melempar tanggung jawab kepada orang lain. Mereka selalu mencari kambing hitam yang bisa mengganti mereka dalam memikul tanggung jawab. Kambing hitam ini berbeda-beda dari waktu ke waktu, terkadang kambing hitam ini berwujud penjajahan, terkadang para pelaku konspirasi dari luar, terkadang kedengkian orang lain, dan terkadang tidak adanya kondisi yang mendukung. Dengan demikian, mereka selalu hidup dengan berperan sebagai korban. Kebiasaan Keempat: Ketidakjelasan Tujuan Ini adalah kebiasaan yang sangat penting dalam menentukan tipe hidup mereka. Mereka selalu membicarakan tujuan-tujuan yang samar, atau tujuan-tujuan yang orang lain yang harus mewujudkannya. Mereka membentuk tujuan-tujuan di alam khayalan, tidak punya batas atau petunjuk yang jelas di alam realitas. Tujuan-tujuan ini masih abu-abu, ciri-cirinya belum jelas dan dimensi-dimensinya belum ditentukan secara pasti. Mereka berceloteh: “Kita ingin memperbaiki umat kita, membangkitkan masyarakat kita, dan memajukan negara kita!” Namun mereka tidak mengetahui dari mana harus memulai? Bagaimana mengawali? Dan aspek apa yang akan mereka bereskan? Kebiasaan Kelima: Malas Ini merupakan kebiasaan buruk yang membuat pelakunya suka membuang-buang waktu yang mahal dan menyia-nyiakan kesempatan berharga. Kebiasaan ini akan menggiringnya kepada penyesalan dan kerugian. Pelakunya hanya suka berangan-angan tanpa bekerja, menetapkan banyak rencana kerja tanpa mengusahakannya. Mereka lebih suka duduk-duduk daripada bangkit berdiri, lebih suka rebahan daripada duduk-duduk. Saat bekerja, mereka merindukan waktu ketika mereka bisa terbebas dari pekerjaan, selalu cenderung kepada kenyamanan dan waktu kosong. Jiwa mereka selalu terasa sempit saat bekerja, padahal waktu luang bukan selalu menjadi obat penawar yang mujarab. Kebiasaan Keenam: Menyia-nyiakan waktu Bagi mereka, waktu adalah musuh utama. Mereka menghambur-hamburkan waktu tanpa peduli, dan memperlakukannya dengan cara yang paling buruk, tanpa punya perencanaan, pengaturan, atau penertiban. Mereka sangat kreatif dalam mencari cara membuang-buang waktu. Jadwal harian mereka penuh dengan obrolan telepon panjang, perdebatan kosong yang membosankan, diskusi yang tidak membuahkan apa pun, angan-angan di siang bolong, menonton acara televisi yang tidak berkualitas, dan mengikuti berita-berita dengan penuh ketelitian. Kebiasaan Ketujuh: Menyia-nyiakan Kesempatan Kesempatan merupakan sesuatu yang berharga yang kadang hanya datang satu kali tanpa pernah terulang kembali, sehingga pemanfaatan kesempatan merupakan sisi pembeda penting antara orang-orang gagal dan orang-orang sukses. Oleh sebab itu, bagi orang-orang sukses, mereka harus segera mengambilnya. Sedangkan orang-orang gagal akan memperlakukan kesempatan yang terbuka sebagai hal yang mungkin datang berulang kali, sehingga tidak mengapa untuk dibiarkan pergi begitu saja dan disia-siakan, dengan harapan kesempatan itu datang lagi dan lagi. Ketika datang kepada salah satu dari mereka kesempatan kecil untuk suatu perkara, engkau akan mendapatinya penuh keraguan dalam mengambilnya, seakan-akan ia disuruh untuk memindahkan gunung. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/78272/العادات-السبع-للمخفقين/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 562 times, 1 visit(s) today Post Views: 121

Bolehkah Wanita Muslimah Menikahi Pria Kristen?

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 760 times, 1 visit(s) today Post Views: 140

Bolehkah Wanita Muslimah Menikahi Pria Kristen?

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 760 times, 1 visit(s) today Post Views: 140
Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 760 times, 1 visit(s) today Post Views: 140


Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada seorang gadis yang hidup di Amerika. Berkenalan dengan pemuda Kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen dan ingin menikah dengan gadis tersebut. Namun keluarga si gadis menolak sehingga gadis itu ingin kabur bersama lelaki itu dan menikah secara resmi. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya adalah wanita berusia 25 tahun yang hidup di Amerika. Saya berkenalan dengan lelaki kristen yang bukan keturunan Arab, ia terafiliasi ke salah satu sekte agama Kristen yang punya keyakinan-keyakinan yang sangat dekat dengan agama Islam, yaitu mengimani keesaan Tuhan, tidak minum minuman keras, dan tidak menjalin hubungan-hubungan yang diharamkan. Ia terlebih dulu mengungkapkan kekaguman dan perasaannya kepadaku, dan ingin meminangku. Terus terang saja, saya juga sangat mencintainya. Namun, masalahnya adalah keluargaku cukup kuat berpegang pada agama, sehingga mereka menolak pemuda itu karena bukan keturunan Arab dan saya wanita yang berhijab serta berpegang pada agama. Saya sudah memintanya untuk masuk Islam, tapi ia menolak dengan berkata bahwa ia tidak punya alasan untuk mengubah keyakinannya dan sangat mencintai agamanya, tapi di sisi lain dia juga sangat mencintaiku dan saya pun mencintainya. Saya sudah hampir setuju untuk menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Namun, saya merasa sedang berada di antara dua api, pertama, api cintaku kepada pemuda ini dan perasaanku bahwa dia adalah lelaki terbaik untukku dan untuk membangun rumah tangga. Perlu diketahui bahwa ia sangat menghormatiku dan tidak menolak jika kelak anak-anakku nanti beragama Islam sepertiku. Kedua, api keluargaku yang masih terkekang oleh adat-adat dan budaya-budaya Arab. Saya mohon agar kalian memberi solusinya, dan saya sudah hampir kabur dari keluargaku serta setuju menikah secara resmi sesuai hukum sipil negara. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Saya benar-benar mengingatkan kepadamu, wahai saudariku yang mulia untuk tidak melanjutkan pernikahan dengan pria Kristen itu. Jangan jual agamamu dengan kenikmatan dunia yang sedikit ini. Jangan mengira bahwa pernikahanmu dengannya hanya sekedar zina, perbuatan keji yang besar yang dilarang oleh Allah, dan akad nikah itu tidak sah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmak (konsensus para ulama), dan akal sehat semata, tapi lebih dari itu, pernikahanmu dengan pria kristen itu bisa menjadi kemurtadan dari Islam, karena itu merupakan bentuk sikap menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala haramkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ “Janganlah kalian menikahkan (wanita-wanita mukmin) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, seorang hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada seorang musyrik, meskipun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221). Imam para ahli tafsir, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan: “Sungguh Allah telah mengharamkan wanita-wanita beriman untuk menikah dengan orang musyrik, siapa pun itu dan seperti apa pun bentuk kemusyrikannya, maka janganlah kalian – wahai orang-orang beriman – menikahkan mereka dengan wanita-wanita beriman, karena itu adalah hal yang haram bagi kalian. Kalian menikahkan wanita-wanita beriman itu dengan seorang budak beriman yang membenarkan Allah, Rasulullah, dan risalah yang beliau bawa dari Allah itu lebih baik bagi kalian daripada menikahkan mereka dengan lelaki merdeka tapi musyrik, meskipun nasabnya mulia, asal usulnya terpandang, serta kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.” Sedangkan Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Yakni janganlah kalian menikahkan wanita muslimah dengan lelaki musyrik. Umat ini telah sepakat bahwa orang musyrik tidak boleh menggauli wanita beriman dengan cara apa pun, karena itu termasuk bentuk pelecehan yang merendahkan martabat Islam.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ “Maka apabila kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar wanita-wanita yang beriman, janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Pengulangan firman Allah: “Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi mereka” merupakan penegasan dan penguatan terhadap keharaman tersebut, sekaligus memutuskan hubungan pernikahan antara wanita beriman dengan laki-laki musyrik. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memisahkan (memutus hubungan pernikahan) antara seluruh wanita yang telah masuk Islam dengan suami mereka yang belum masuk Islam. Di antara mereka adalah putri beliau sendiri, Zainab dengan suaminya, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi. Ketika ia menjadi tawanan pada perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskannya dengan syarat mengirim Zainab kepada beliau. Abu Al-Ash pun memenuhi syarat itu. Kemudian ia masuk Islam, dan mengembalikan putri beliau kepadanya (sebagai istri). Imam Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Apabila seorang wanita dari orang-orang kafir yang memerangi Islam pergi berhijrah (dan masuk Islam), maka ia tidak boleh dilamar hingga haid dan selesai haidnya. Apabila telah suci, ia halal untuk dinikahi. Apabila suaminya juga berhijrah sebelum wanita itu menikah, maka ia dikembalikan kepada suaminya tersebut.” Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa dan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dari Ibnu Syihab, ia berkata: “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kita kecuali bahwa wanita yang berhijrah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan suaminya kafir dan tinggal di negeri kafir, maka hijrahnya itu otomatis memisahkannya (memutus pernikahannya) dengan suaminya, kecuali jika suaminya juga berhijrah sebelum masa iddahnya selesai.” Sudah terdapat ijma (konsensus) umat ini bahwa pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah itu batal, dan pada dasarnya tidak sah akadnya, karena menyelisihi dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Ijma ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir, Abu Umar ibn Abdul Barr, Ibnu Qudamah, Asy-Syaukani, dan para ulama lainnya. Adapun hukum bahwa pernikahanmu dengan lelaki kristen itu menjadi kemurtadan dari Islam, maka itu berdasarkan ijma para ulama atas kekafiran orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekafiran orang yang tidak meyakini keharaman sesuatu yang haram. Sedangkan menikah dengan lelaki kristen secara otomatis mengharuskan adanya keyakinan bahwa pernikahan tersebut halal serta tidak meyakini pernikahan itu diharamkan. Kedua hal itu adalah murni bentuk kekafiran.  Lain halnya dengan perbuatan zina dengan lelaki kristen tanpa ikatan pernikahan, di dalamnya hanya ada satu perbuatan terlarang. Sedangkan dalam pernikahan dengan lelaki kristen, maka ada dua perbuatan terlarang, yaitu zina sekaligus meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini bentuk kekafiran yang jelas. Ini juga yang menjadi hikmah di balik perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membunuh orang yang menikah dengan wanita yang telah dinikahi ayahnya dan menyita seperlima hartanya, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Barra, ia berkata: “Aku pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya: ‘Ke mana engkau akan pergi?’ Ia menjawab: ‘Rasulullah mengutusku menuju seorang lelaki yang menikahi bekas istri ayahnya. Beliau memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi – dan beliau menghasankannya –, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no. 2351). Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu al-Fatawa jilid 20 hlm. 90-92 menyebutkan: “Sudah menjadi hal yang ditetapkan dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa para penganut Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengafirkan seorang pun dari ahlul qiblah (orang yang shalatnya masih menghadap kiblat) karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkan seorang pun dari cakupan Islam akibat suatu perbuatan yang dilarang, seperti zina, mencuri, dan meminum minuman keras, selagi perbuatan itu tidak mengandung unsur meninggalkan keimanan. Adapun jika amalan itu mengandung penolakan terhadap sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan untuk diimani, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati, maka perbuatan itu menjadikan pelakunya kafir. Menjadi kafir juga orang yang tidak meyakini wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah diketahui secara jelas dan mutawatir dalam agama, atau tidak meyakini haramnya hal-hal yang keharamannya sudah diketahui secara jelas dan mutawatir.” Kemudian Ibnu Taimiyah menyebutkan hadits Al-Barra yang telah disebutkan sebelumnya lalu berkata: “Penyitaan seperlima harta menunjukkan bahwa orang tersebut adalah kafir, bukan sekadar fasik. Kekafirannya disebabkan karena ia tidak mengharamkan apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan.” Oleh sebab itu, janganlah engkau melangkah ke arah itu. Jangan jual akhiratmu dengan cinta yang ujungnya hanya berakhir kekal di neraka Jahanam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita semua darinya. Janganlah menipu diri sendiri karena pemuda itu berasal dari sekte Kristen yang keyakinan-keyakinannya dekat sekali dengan Islam, ia orang yang mengesakan Tuhan, dan lain sebagainya. Sebab, semua orang yang tidak beriman kepada risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak masuk Islam, maka ia termasuk orang kafir dunia akhirat. Sejak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lalu ada orang yang tidak beriman kepada beliau, maka ia termasuk penghuni neraka, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ؛ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim). Hadits ini dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan firman-Nya – sebagaimana yang dikatakan Said bin Jubair tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan barang siapa mengingkarinya dari golongan-golongan manusia, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya.” (QS. Hud: 17). Said bin Jubair mengatakan: “Yang dimaksud dengan golongan-golongan manusia adalah seluruh agama.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menerima agama dari seorang manusia kecuali Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat ia akan termasuk orang-orang yang merugi.  Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar mengilhamkan kepadamu kesadaran dan melindungimu dari keburukan hawa nafsumu. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/96062/هل-تتزوج-المسلمة-من-النصراني؟/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 760 times, 1 visit(s) today Post Views: 140

Apa Obat-Obat Terbesar untuk Hati yang Sakit – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Apa Obat-Obat Terbesar untuk Hati yang Sakit – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ


Ini pertanyaan yang agung. Pembahasannya memerlukan waktu yang panjang, yaitu: bagaimana aku bisa menjadi pemilik hati yang selamat (Qalbun Salim)? Perkara ini, tidak diragukan lagi, memerlukan perjuangan (mujahadah) yang besar. Tidak ada yang lebih berat untuk diobati oleh manusia daripada hatinya, karena hati itu sangat sering berbolak-balik. Karena hati juga sangat mudah terpengaruh, sementara faktor-faktor yang memengaruhi manusia di sekitarnya sangatlah banyak. Maka perkara ini memerlukan mujahadah (perjuangan). Bahkan, terkadang manusia memerlukan waktu yang panjang untuk mengobati hatinya yang sakit. Dan kita semua demikian, kecuali orang yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla. Di antara sarana terbesar untuk mengobati hatimu adalah: berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menelaah ilmu yang bermanfaat, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Tidak ada cara untuk mengobati dirimu yang sebanding dengan ini: perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah pula membaca Al-Qur’an. Jadikan untuk dirimu wirid harian dari Al-Qur’an. Janganlah lalai dari Kitabullah, karena ia mampu melembutkan hati yang beku seperti batu, melembutkan hati yang keras seperti batu cadas. Maka bersungguh-sungguhlah membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Bersungguh-sungguhlah pula mempelajari ilmu yang bermanfaat. Di antara ilmu yang paling agung adalah tauhid. Jadikan hatimu terikat dengan ilmu ini. Banyaklah membaca tentang tauhid: ayat-ayatnya, hadis-hadisnya, dan penjelasan para ulama dalam menetapkannya. Sebab, hal itu akan membantumu meraih hati yang selamat (Qalbun Salim), insya Allah. Fokuslah kepada para ulama, yang mereka termasuk dokter-dokter hati, yaitu para ulama yang mengobati penyakit-penyakit hati. Maka para ulama, menelaah ucapan-ucapan mereka mengandung obat bagimu, insya Allah. Di antara ulama yang paling utama dalam hal ini adalah Ibnul Qayyim rahimahullah, dan siapa saja yang menempuh jalan ini, seperti Ibnu Rajab, Ibnu Sa’di, dan ulama semisal mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga memiliki beberapa risalah yang bermanfaat dalam pembahasan perkara hati. Beliau memiliki kitab Amradhul Qulub, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah, Qa’idah fil Mahabbah, dan beberapa risalah lainnya. Begitu pula kitab Al-Istiqamah. Kitab-kitab semacam ini, jika engkau memiliki hubungan dengannya, sering membacanya, dan sering menelaahnya, saya kira hal ini akan bermanfaat, insya Allah. Akan tetapi, sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah. Sarana terbesar untuk mengobati dirimu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Maka bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Renungkan pula Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab-kitab hadis, terutama yang berkaitan dengan hadis-hadis pelembut hati dan adab, tidaklah disusun hanya untuk orang awam saja, sebagaimana disangka oleh sebagian penuntut ilmu. Kitab-kitab itu bukan hanya untuk orang awam, dan bukan hanya untuk dibacakan kepada masyarakat umum setelah Salat Ashar. Justru orang yang paling layak memperhatikan kitab-kitab seperti ini adalah para penuntut ilmu. Hendaknya mereka membaca kitab-kitab tersebut. Dalam Riyadhush Shalihin, apa isi Riyadhush Shalihin? Tiada di dalamnya selain sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulisnya telah menyusunnya dalam bab-bab yang rapi untukmu, dan sangat memperhatikan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, kecuali sedikit saja. Adapun secara umum, isi kitab Riyadhush Shalihin adalah hadis-hadis sahih. Maka kitab semacam ini seharusnya memiliki hubungan denganmu. Bacalah dan renungkanlah isinya. Saya teringat guru kami, Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah memberinya taufik. Saya pernah mendengar beliau berkata dalam sebuah majelis, Di awal masa aku mulai istiqamah,” saat itu beliau masih pemuda belia, beliau berkata, “Dahulu aku membaca kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar.” Beliau berkata, “Aku belum fokus membaca kitab-kitab Ibnul Qayyim atau yang lainnya. Aku hanya membaca dua kitab ini. Aku membacanya sambil menangis.” Beliau berkata, “Aku membaca seraya menangis.” Itu terjadi di awal masa meniti jalan ilmu, saat masih pemuda belia. Beliau berkata, “Aku membaca dua kitab ini dan menangis karena tersentuh oleh hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka jadikanlah dirimu memiliki hubungan dengan kitab-kitab semacam ini, terutama pada bab-bab tentang rasa takut kepada Allah (khauf), harapan kepada-Nya (raja’), dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini adalah sebab-sebab yang akan membantumu, dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk memperbaiki hatimu. Juga dengan memperbanyak ketaatan, karena iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Kenalilah celah-celah yang dilalui setan untuk masuk kepadamu, lalu berusahalah menutupnya. Itu adalah pintu-pintu yang menjerumuskan menuju Jahanam. Kita berlindung kepada Allah darinya. Jadikan hidupmu sebagai perjuangan dan upaya untuk menutup pintu-pintu itu, mendaki tingkatan-tingkatan iman, dan berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Perhatikanlah di mana posisimu dalam tingkatan-tingkatan agama. Jika engkau baru berada pada tingkatan Islam, mintalah kepada Allah untuk naik tingkatan agar menjadi golongan ahli iman. Kemudian bersungguh-sungguhlah lebih kuat lagi. Semoga Allah memberimu taufik untuk naik menuju tingkatan ihsan. Ini perkara-perkara besar yang seharusnya diperhatikan oleh manusia. Inilah hakikat hidupmu. Inilah tujuan hidupmu. Engkau tidaklah diciptakan sekadar untuk makan, minum, meraih ijazah, belajar, bekerja, menikah, atau perkara-perkara semacam itu. Hidup bagimu adalah ajang perjuangan (mujahadah). Engkau terus mendaki tingkatan-tingkatan kebaikan, keimanan, dan tauhid hingga detik terakhir dalam hidupmu. Saat itulah engkau akan menjumpai apa yang telah engkau amalkan. Engkau akan mendapati amalmu di hadapanmu, di negeri akhirat sana. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki hati-hati kita. “Wahai Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman, pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). ===== هَذَا سُؤَالٌ عَظِيمٌ، وَالْكَلَامُ فِيهِ يَحْتَاجُ إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ وَهُوَ: كَيْفَ أَكُونُ صَاحِبَ قَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْأَمْرُ لَا شَكَّ يَحْتَاجُ إِلَى قَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَمَا عَالَجَ الْإِنْسَانُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ قَلْبِهِ لِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّقَلُّبِ وَلِأَنَّهُ كَثِيرُ التَّأَثُّرِ، وَلِأَنَّ الْمُؤَثِّرَاتِ فِيمَا حَوْلَ الْإِنْسَانِ كَثِيرَةٌ جِدًّا فَالْمَقَامُ يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ وَرُبَّمَا يَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى وَقْتٍ طَوِيلٍ يُعَالِجُ الْإِنْسَانُ هَذَا الْقَلْبَ الْمَرِيضَ وَكُلُّنَا ذَلِكَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا تُعَالِجُ بِهِ قَلْبَكَ ذِكْرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمُطَالَعَةُ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالِاجْتِهَادُ فِي تَحْصِيلِهِ فَمَا عَالَجْتَ نَفْسَكَ بِمِثْلِ هَذَا: أَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اجْعَلْ لِنَفْسِكَ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ لَا تُهْمِلْ كِتَابَ اللهِ، فَإِنَّهُ يُرَقِّقُ قَلْبًا جَامِدًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ، يُرَقِّقُ قَلْبًا قَاسِيًا مِثْلَ الْجَلْمَدِ فَاجْتَهِدْ فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِيهِ، وَاجْتَهِدْ فِي تَعَلُّمِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ: التَّوْحِيدُ اجْعَلْ قَلْبَكَ مُعَلَّقًا بِهَذَا الْعِلْمِ وَاقْرَأْ فِيهِ كَثِيرًا فِي آيَاتِهِ، فِي أَحَادِيثِهِ، فِي كَلَامِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَقْرِيرِهِ فَإِنَّ هَذَا يُكْسِبُكَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَرَكِّزْ عَلَى الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ هُمْ مِنْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ الَّذِينَ يُعَالِجُونَ عِلَلَ الْقُلُوبِ فَهَؤُلَاءِ النَّظَرُ فِي كَلَامِهِمْ فِيهِ دَوَاءٌ لَكَ إِنْ شَاءَ اللهُ وَعَلَى رَأْسِ أُولَئِكَ: ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَذَا الطَّرِيقِ كَابْنِ رَجَبٍ، وَابْنِ سَعْدِيٍّ، وَأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ نَافِعَةٍ فِي مَسْأَلَةِ الْقُلُوبِ عِنْدَهُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ، وَعِنْدَهُ التُّحْفَةُ الْعِرَاقِيَّةُ، وَعِنْدَهُ قَاعِدَةٌ فِي الْمَحَبَّةِ، وَعِنْدَهُ عِدَّةُ رَسَائِلَ، كِتَابُ الِاسْتِقَامَةِ أَيْضًا مِثْلُ هَذِهِ الْكُتُبِ لَوْ كَانَ لَكَ بِهَا صِلَةٌ وَقِرَاءَاتٌ وَجَوْلَاتٌ، أَظُنُّ أَنَّ هَذَا سَيَنْفَعُ إِنْ شَاءَ اللهُ لَكِنْ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ أَعْظَمُ مَا تُعَالِجُ بِهِ نَفْسَكَ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاحْرِصْ عَلَيْهِ وَتَأَمَّلْ أَيْضًا فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ الْكُتُبُ الْمُصَنَّفَةُ فِي الْحَدِيثِ، لَا سِيَّمَا الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَحَادِيثِ الرَّقَائِقِ وَالْآدَابِ، هَذِهِ لَيْسَتْ مُصَنَّفَةً لِلْعَوَامِّ فَحَسْبُ كَمَا يَظُنُّ ذَلِكَ مَنْ يَظُنُّهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ هَذِهِ لَيْسَتْ لِلْعَوَامِّ، وَلَيْسَتْ لِلْقِرَاءَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ لِلْعَامَّةِ فَقَطْ بَلْ أَوْلَى النَّاسِ الَّذِينَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنُوا بِهَذِهِ الْكُتُبِ طَلَبَةُ الْعِلْمِ، أَنْ يَقْرَؤُوا فِيهَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ، مَاذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ؟ لَيْسَ فِيهِ إِلَّا كَلَامُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَوَّبَهُ لَكَ تَبْوِيبًا، وَاعْتَنَى بِصَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نَزْرًا يَسِيرًا وَإِلَّا عَامَّةُ مَا فِيهِ فَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ فَمِثْلُ هَذَا الْكِتَابِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لَكَ بِهِ صِلَةٌ، اقْرَأْ فِيهِ وَتَأَمَّلْ وَأَذْكُرُ أَنَّ شَيْخَنَا الشَّيْخَ رَبِيعَ بْنَ هَادِي وَفَّقَهُ اللهُ يَقُولُ، سَمِعْتُهُ مَرَّةً فِي مَجْلِسٍ يَقُولُ أَوَّلُ مَا اسْتَقَمْتُ، وَكَانَ شَابًّا صَغِيرًا، يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَفِي الْأَذْكَارِ يَقُولُ: مَا اعْتَنَيْتُ بِقِرَاءَةِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَوْ غَيْرِهِ، إِنَّمَا كُنْتُ أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي يَقُولُ: كُنْتُ أَقْرَأُ وَأَبْكِي أَوَّلَ مَا تَنَسَّبَ، وَهُوَ شَابٌّ صَغِيرٌ يَقُولُ: أَقْرَأُ فِي هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ وَأَبْكِي تَأَثُّرًا بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلْ لَكَ صِلَةً بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ فِي أَبْوَابِ الْخَوْفِ وَأَبْوَابِ الرَّجَاءِ وَتَعْظِيمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَهَذِهِ أَسْبَابٌ تُعِينُكَ بِتَوْفِيقِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى صَلَاحِ قَلْبِكَ وَالْإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ اعْرَفِ الثُّغْرَاتِ الَّتِي يَدْخُلُ الشَّيْطَانُ إِلَيْكَ مِنْ خِلَالِهَا، وَاسْعَ فِي إِغْلَاقِهَا هَذِهِ أَبْوَابٌ تُؤَدِّي إِلَى جَهَنَّمَ نَعُوذُ بِاللهِ مِنْهَا فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ جِهَادًا وَسَعْيًا فِي إِغْلَاقِ هَذِهِ الْأَبْوَابِ، وَالتَّرَقِّي فِي مَدَارِجِ الْإِيمَانِ وَالانْتِقَالِ مِنْ حَسَنٍ إِلَى أَحْسَنَ انْظُرْ أَيْنَ أَنْتَ فِي مَرَاتِبِ الدِّينِ إِذَا كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَاسْأَلْ أَنْ تَرْتَقِيَ لِتَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ ثُمَّ اجْتَهِدْ أَكْثَرَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَكَ لِتَرْتَقِيَ إِلَى مَرْتَبَةِ الْإِحْسَانِ هَذِهِ أُمُورٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا الْإِنْسَانُ، هَذِهِ حَقِيقَةُ حَيَاتِكَ، هَذِهِ هِيَ الْغَايَةُ مِنْ حَيَاتِكَ مَا خُلِقْتَ لَا لِطَعَامٍ، وَلَا لِشَرَابٍ، وَلَا لِشَهَادَةٍ، وَلَا لِدِرَاسَةٍ، وَلَا لِوَظِيفَةٍ، وَلَا لِزَوَاجٍ، وَلَا لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْحَيَاةُ بِالنِّسْبَةِ لَكَ مُجَاهَدَةٌ تَتَرَقَّى فِي مَدَارِجِ الْخَيْرِ وَالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ إِلَى اللَّحْظَةِ الْأَخِيرَةِ فِي حَيَاتِكَ وَعِنْدَهَا سَتُلَاقِي مَا عَمِلْتَ سَوْفَ تَجِدُ مَا عَمِلْتَ أَمَامَكَ هُنَاكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ قُلُوبَنَا رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim membutuhkan pegangan yang jelas agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, betapa pentingnya mengetahui jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut, yang dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berusaha mengikuti ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Al-Jama’ah adalah mereka yang bersatu di atas kebenaran dan tidak terpecah belah dan saling berselisih.Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di akhir sepuluh wasiat-Nya yang terdapat pada surah Al-An’am,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Yang dimaksud “jalan lurus” adalah jalan yang setiap hari seorang muslim minta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditunjukkan dan diteguhkan di atasnya. Bahkan, permohonan itu ia ulangi berkali-kali dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)Pada kedua ayat tersebut, terdapat perintah untuk menempuh dan berpegang teguh pada jalan yang lurus serta meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang. Jalan yang lurus itu adalah jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla jelaskan para pengikutnya dalam firman-Nya,وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Jalan tersebut juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya akan munculnya banyak perselisihan setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu, beliau memerintahkan agar kaum muslimin tetap teguh di atas kebenaran ketika perselisihan terjadi di antara kaum muslimin.Kebenaran yang dimaksud adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalan hidup dan petunjuk yang beliau amalkan, kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin, serta oleh generasi setelah mereka yang meneladani dan mengikuti jejak mereka dengan baik.Sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Oleh karena itu, mereka dinamakan Ahlus Sunnah, karena mereka berjalan di atas sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga disebut al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), karena berpegang pada jalan yang menjadi sebab keselamatannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“‘Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka kecuali satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)Mereka dinamakan golongan yang selamat, karena mereka selamat dari ancaman tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (QS. At-Taubah: 100)Mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak cukup hanya dengan klaim atau pengakuan semata. Hal itu harus diwujudkan dengan mengikuti mereka dengan benar, sempurna, dan konsisten, setelah mengetahui apa yang mereka amalkan dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali setelah mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi pegangan generasi terdahulu dalam masalah akidah dan amal, sehingga seseorang dapat mengikuti mereka dengan baik. Adapun orang yang tidak mengetahui apa yang mereka amalkan, maka ia tidak dapat mengikuti mereka dengan baik, meskipun ia bersemangat dalam mengikuti mereka.Oleh karena itu, mempelajari metode atau manhaj generasi salaf merupakan suatu keharusan agar seseorang dapat mengikuti jejak mereka dengan benar dan sempurna. Mengikuti mereka harus dilakukan tanpa sikap berlebihan (ghuluw), tanpa sikap meremehkan (tafrith), dan tanpa sikap lalai. Sebab manhaj para sahabat adalah jalan yang lurus dan pertengahan (wasathiyyah), yang tidak mengandung sikap meremehkan (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).Tidak meremehkan, yaitu tidak menyimpang dari jalan yang lurus, tetapi mengklaim berada di atas kebenaran. Tidak berlebihan, yaitu tidak bersikap ekstrem dan melampaui batas, tetapi menempuh jalan yang adil dan pertengahan. Hal ini sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam beragama, serta berbeda pula dengan sikap orang-orang yang bermudah-mudahan dan mengabaikan ajaran agama.Inilah jalan yang ditempuh oleh para Muhajirin dan Anshar. Seseorang belum dikatakan mengikuti mereka dengan baik kecuali apabila ia benar-benar memahami jalan mereka dengan baik, terhindar dari sikap ekstrem dalam beragama, serta terhindar dari sikap meremehkan dan bermudah-mudahan terhadapnya. Dengan demikian, ia benar-benar telah berjalan di atas manhaj mereka dan mengikuti jalan mereka dengan baik.Dan inilah manhaj yang lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan manhaj yang dipegang kaum sufi maupun pelaku bid’ah lainya, dan berbagai kelompok menyimpang yang menjadikan ideologi dan pemikiran para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai landasan utama dalam beragama. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang kesesatan mereka,فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Mereka memecah-belah urusan agama mereka menjadi berbagai golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)Ayat ini mengingatkan agar seorang muslim menjadikan Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap pemikiran kelompok maupun tokoh tertentu.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim membutuhkan pegangan yang jelas agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, betapa pentingnya mengetahui jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut, yang dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berusaha mengikuti ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Al-Jama’ah adalah mereka yang bersatu di atas kebenaran dan tidak terpecah belah dan saling berselisih.Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di akhir sepuluh wasiat-Nya yang terdapat pada surah Al-An’am,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Yang dimaksud “jalan lurus” adalah jalan yang setiap hari seorang muslim minta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditunjukkan dan diteguhkan di atasnya. Bahkan, permohonan itu ia ulangi berkali-kali dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)Pada kedua ayat tersebut, terdapat perintah untuk menempuh dan berpegang teguh pada jalan yang lurus serta meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang. Jalan yang lurus itu adalah jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla jelaskan para pengikutnya dalam firman-Nya,وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Jalan tersebut juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya akan munculnya banyak perselisihan setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu, beliau memerintahkan agar kaum muslimin tetap teguh di atas kebenaran ketika perselisihan terjadi di antara kaum muslimin.Kebenaran yang dimaksud adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalan hidup dan petunjuk yang beliau amalkan, kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin, serta oleh generasi setelah mereka yang meneladani dan mengikuti jejak mereka dengan baik.Sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Oleh karena itu, mereka dinamakan Ahlus Sunnah, karena mereka berjalan di atas sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga disebut al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), karena berpegang pada jalan yang menjadi sebab keselamatannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“‘Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka kecuali satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)Mereka dinamakan golongan yang selamat, karena mereka selamat dari ancaman tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (QS. At-Taubah: 100)Mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak cukup hanya dengan klaim atau pengakuan semata. Hal itu harus diwujudkan dengan mengikuti mereka dengan benar, sempurna, dan konsisten, setelah mengetahui apa yang mereka amalkan dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali setelah mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi pegangan generasi terdahulu dalam masalah akidah dan amal, sehingga seseorang dapat mengikuti mereka dengan baik. Adapun orang yang tidak mengetahui apa yang mereka amalkan, maka ia tidak dapat mengikuti mereka dengan baik, meskipun ia bersemangat dalam mengikuti mereka.Oleh karena itu, mempelajari metode atau manhaj generasi salaf merupakan suatu keharusan agar seseorang dapat mengikuti jejak mereka dengan benar dan sempurna. Mengikuti mereka harus dilakukan tanpa sikap berlebihan (ghuluw), tanpa sikap meremehkan (tafrith), dan tanpa sikap lalai. Sebab manhaj para sahabat adalah jalan yang lurus dan pertengahan (wasathiyyah), yang tidak mengandung sikap meremehkan (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).Tidak meremehkan, yaitu tidak menyimpang dari jalan yang lurus, tetapi mengklaim berada di atas kebenaran. Tidak berlebihan, yaitu tidak bersikap ekstrem dan melampaui batas, tetapi menempuh jalan yang adil dan pertengahan. Hal ini sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam beragama, serta berbeda pula dengan sikap orang-orang yang bermudah-mudahan dan mengabaikan ajaran agama.Inilah jalan yang ditempuh oleh para Muhajirin dan Anshar. Seseorang belum dikatakan mengikuti mereka dengan baik kecuali apabila ia benar-benar memahami jalan mereka dengan baik, terhindar dari sikap ekstrem dalam beragama, serta terhindar dari sikap meremehkan dan bermudah-mudahan terhadapnya. Dengan demikian, ia benar-benar telah berjalan di atas manhaj mereka dan mengikuti jalan mereka dengan baik.Dan inilah manhaj yang lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan manhaj yang dipegang kaum sufi maupun pelaku bid’ah lainya, dan berbagai kelompok menyimpang yang menjadikan ideologi dan pemikiran para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai landasan utama dalam beragama. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang kesesatan mereka,فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Mereka memecah-belah urusan agama mereka menjadi berbagai golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)Ayat ini mengingatkan agar seorang muslim menjadikan Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap pemikiran kelompok maupun tokoh tertentu.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.
Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim membutuhkan pegangan yang jelas agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, betapa pentingnya mengetahui jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut, yang dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berusaha mengikuti ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Al-Jama’ah adalah mereka yang bersatu di atas kebenaran dan tidak terpecah belah dan saling berselisih.Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di akhir sepuluh wasiat-Nya yang terdapat pada surah Al-An’am,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Yang dimaksud “jalan lurus” adalah jalan yang setiap hari seorang muslim minta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditunjukkan dan diteguhkan di atasnya. Bahkan, permohonan itu ia ulangi berkali-kali dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)Pada kedua ayat tersebut, terdapat perintah untuk menempuh dan berpegang teguh pada jalan yang lurus serta meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang. Jalan yang lurus itu adalah jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla jelaskan para pengikutnya dalam firman-Nya,وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Jalan tersebut juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya akan munculnya banyak perselisihan setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu, beliau memerintahkan agar kaum muslimin tetap teguh di atas kebenaran ketika perselisihan terjadi di antara kaum muslimin.Kebenaran yang dimaksud adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalan hidup dan petunjuk yang beliau amalkan, kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin, serta oleh generasi setelah mereka yang meneladani dan mengikuti jejak mereka dengan baik.Sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Oleh karena itu, mereka dinamakan Ahlus Sunnah, karena mereka berjalan di atas sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga disebut al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), karena berpegang pada jalan yang menjadi sebab keselamatannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“‘Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka kecuali satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)Mereka dinamakan golongan yang selamat, karena mereka selamat dari ancaman tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (QS. At-Taubah: 100)Mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak cukup hanya dengan klaim atau pengakuan semata. Hal itu harus diwujudkan dengan mengikuti mereka dengan benar, sempurna, dan konsisten, setelah mengetahui apa yang mereka amalkan dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali setelah mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi pegangan generasi terdahulu dalam masalah akidah dan amal, sehingga seseorang dapat mengikuti mereka dengan baik. Adapun orang yang tidak mengetahui apa yang mereka amalkan, maka ia tidak dapat mengikuti mereka dengan baik, meskipun ia bersemangat dalam mengikuti mereka.Oleh karena itu, mempelajari metode atau manhaj generasi salaf merupakan suatu keharusan agar seseorang dapat mengikuti jejak mereka dengan benar dan sempurna. Mengikuti mereka harus dilakukan tanpa sikap berlebihan (ghuluw), tanpa sikap meremehkan (tafrith), dan tanpa sikap lalai. Sebab manhaj para sahabat adalah jalan yang lurus dan pertengahan (wasathiyyah), yang tidak mengandung sikap meremehkan (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).Tidak meremehkan, yaitu tidak menyimpang dari jalan yang lurus, tetapi mengklaim berada di atas kebenaran. Tidak berlebihan, yaitu tidak bersikap ekstrem dan melampaui batas, tetapi menempuh jalan yang adil dan pertengahan. Hal ini sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam beragama, serta berbeda pula dengan sikap orang-orang yang bermudah-mudahan dan mengabaikan ajaran agama.Inilah jalan yang ditempuh oleh para Muhajirin dan Anshar. Seseorang belum dikatakan mengikuti mereka dengan baik kecuali apabila ia benar-benar memahami jalan mereka dengan baik, terhindar dari sikap ekstrem dalam beragama, serta terhindar dari sikap meremehkan dan bermudah-mudahan terhadapnya. Dengan demikian, ia benar-benar telah berjalan di atas manhaj mereka dan mengikuti jalan mereka dengan baik.Dan inilah manhaj yang lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan manhaj yang dipegang kaum sufi maupun pelaku bid’ah lainya, dan berbagai kelompok menyimpang yang menjadikan ideologi dan pemikiran para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai landasan utama dalam beragama. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang kesesatan mereka,فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Mereka memecah-belah urusan agama mereka menjadi berbagai golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)Ayat ini mengingatkan agar seorang muslim menjadikan Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap pemikiran kelompok maupun tokoh tertentu.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.


Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim membutuhkan pegangan yang jelas agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, betapa pentingnya mengetahui jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut, yang dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berusaha mengikuti ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Al-Jama’ah adalah mereka yang bersatu di atas kebenaran dan tidak terpecah belah dan saling berselisih.Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di akhir sepuluh wasiat-Nya yang terdapat pada surah Al-An’am,وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)Yang dimaksud “jalan lurus” adalah jalan yang setiap hari seorang muslim minta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditunjukkan dan diteguhkan di atasnya. Bahkan, permohonan itu ia ulangi berkali-kali dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)Pada kedua ayat tersebut, terdapat perintah untuk menempuh dan berpegang teguh pada jalan yang lurus serta meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang. Jalan yang lurus itu adalah jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla jelaskan para pengikutnya dalam firman-Nya,وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)Jalan tersebut juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya akan munculnya banyak perselisihan setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu, beliau memerintahkan agar kaum muslimin tetap teguh di atas kebenaran ketika perselisihan terjadi di antara kaum muslimin.Kebenaran yang dimaksud adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalan hidup dan petunjuk yang beliau amalkan, kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin, serta oleh generasi setelah mereka yang meneladani dan mengikuti jejak mereka dengan baik.Sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)Oleh karena itu, mereka dinamakan Ahlus Sunnah, karena mereka berjalan di atas sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga disebut al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), karena berpegang pada jalan yang menjadi sebab keselamatannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي“‘Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka kecuali satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)Mereka dinamakan golongan yang selamat, karena mereka selamat dari ancaman tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (QS. At-Taubah: 100)Mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak cukup hanya dengan klaim atau pengakuan semata. Hal itu harus diwujudkan dengan mengikuti mereka dengan benar, sempurna, dan konsisten, setelah mengetahui apa yang mereka amalkan dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali setelah mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi pegangan generasi terdahulu dalam masalah akidah dan amal, sehingga seseorang dapat mengikuti mereka dengan baik. Adapun orang yang tidak mengetahui apa yang mereka amalkan, maka ia tidak dapat mengikuti mereka dengan baik, meskipun ia bersemangat dalam mengikuti mereka.Oleh karena itu, mempelajari metode atau manhaj generasi salaf merupakan suatu keharusan agar seseorang dapat mengikuti jejak mereka dengan benar dan sempurna. Mengikuti mereka harus dilakukan tanpa sikap berlebihan (ghuluw), tanpa sikap meremehkan (tafrith), dan tanpa sikap lalai. Sebab manhaj para sahabat adalah jalan yang lurus dan pertengahan (wasathiyyah), yang tidak mengandung sikap meremehkan (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).Tidak meremehkan, yaitu tidak menyimpang dari jalan yang lurus, tetapi mengklaim berada di atas kebenaran. Tidak berlebihan, yaitu tidak bersikap ekstrem dan melampaui batas, tetapi menempuh jalan yang adil dan pertengahan. Hal ini sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam beragama, serta berbeda pula dengan sikap orang-orang yang bermudah-mudahan dan mengabaikan ajaran agama.Inilah jalan yang ditempuh oleh para Muhajirin dan Anshar. Seseorang belum dikatakan mengikuti mereka dengan baik kecuali apabila ia benar-benar memahami jalan mereka dengan baik, terhindar dari sikap ekstrem dalam beragama, serta terhindar dari sikap meremehkan dan bermudah-mudahan terhadapnya. Dengan demikian, ia benar-benar telah berjalan di atas manhaj mereka dan mengikuti jalan mereka dengan baik.Dan inilah manhaj yang lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan manhaj yang dipegang kaum sufi maupun pelaku bid’ah lainya, dan berbagai kelompok menyimpang yang menjadikan ideologi dan pemikiran para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai landasan utama dalam beragama. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang kesesatan mereka,فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Mereka memecah-belah urusan agama mereka menjadi berbagai golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)Ayat ini mengingatkan agar seorang muslim menjadikan Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap pemikiran kelompok maupun tokoh tertentu.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.

Mengapa Allah Menguji Orang yang Ingin Masuk Surga? – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142) Maksudnya, apakah kalian mengira akan masuk surga tanpa ada ujian dan cobaan? Dan tanpa ada sesuatu yang menjadi sebab dan harga untuk masuk surga? Wahai saudara-saudaraku? Sebab. Surga tidak bisa dibayar dengan harga apa pun. Sebanyak apa pun manusia beramal, mereka tidak akan mampu membayar harga surga. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” (HR. Muslim). Namun, tidak diragukan lagi, ada sebab-sebab besar untuk masuk surga, yang dikejar oleh orang-orang yang berlomba dan bersaing untuk meraih surga. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.’” (QS. Al-A‘raf: 43) Huruf Ba (بِمَا) pada ayat ini bermakna sebab. Jadi, ada sebab-sebab untuk masuk surga. Maka, apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar? (Lihat QS. Ali ‘Imran: 142) Maka ujian ini harus ada, agar terlihat siapa yang berjihad dan siapa yang memilih mundur (enggan berjuang). Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jihad termasuk sebab terbesar?Ya, jihad termasuk sebab terbesar untuk masuk surga. Begitu juga dengan kesabaran. Kesabaran di sini mencakup tiga jenis sabar. Jadi, dalam ayat ini terdapat isyarat kepada dua sebab terbesar untuk masuk surga, yaitu jihad dan kesabaran. ===== أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ يَعْنِي: أَحَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ دُونَ أَنْ يَكُونَ ابْتِلَاءٌ وَامْتِحَانٌ وَدُونَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ سَبَبٌ وَلَا ثَمَنٌ ها يَا إِخْوَانُ؟ سَبَبٌ لَا ثَمَنَ لِلْجَنَّةِ مَهْمَا عَمِلَ الْعَامِلُونَ فَلَنْ يُؤَدُّوا لَهَا ثَمَنًا بِدَلِيلِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ لَكِنْ لَا رَيْبَ أَنَّ هُنَاكَ أَسْبَابًا عَظِيمَةً يَتَسَابَقُ فِيهَا الْمُتَسَابِقُونَ وَيَتَنَافَسُ الْمُتَنَافِسُونَ لِلْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ فَالْبَاءُ هُنَا أَيْش؟ السَّبَبِيَّةُ إِذًا هُنَاكَ أَسْبَابٌ لِلْجَنَّةِ فَهَلْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ فَلَا بُدَّ مِنْ هَذَا الِامْتِحَانِ الَّذِي يَتَبَيَّنُ فِيهِ الْمُجَاهِدُ مِنَ الْمُتَخَاذِلِ كَمَا حَصَلَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ وَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْجِهَادَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ؟ نَعَمْ؟ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَكَذَلِكَ الصَّبْرُ وَالصَّبْرُ هُنَا بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ فَفِي الْآيَةِ إِشَارَةٌ إِلَى سَبَبَيْنِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَهُمَا الْجِهَادُ وَالصَّبْرُ

Mengapa Allah Menguji Orang yang Ingin Masuk Surga? – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142) Maksudnya, apakah kalian mengira akan masuk surga tanpa ada ujian dan cobaan? Dan tanpa ada sesuatu yang menjadi sebab dan harga untuk masuk surga? Wahai saudara-saudaraku? Sebab. Surga tidak bisa dibayar dengan harga apa pun. Sebanyak apa pun manusia beramal, mereka tidak akan mampu membayar harga surga. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” (HR. Muslim). Namun, tidak diragukan lagi, ada sebab-sebab besar untuk masuk surga, yang dikejar oleh orang-orang yang berlomba dan bersaing untuk meraih surga. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.’” (QS. Al-A‘raf: 43) Huruf Ba (بِمَا) pada ayat ini bermakna sebab. Jadi, ada sebab-sebab untuk masuk surga. Maka, apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar? (Lihat QS. Ali ‘Imran: 142) Maka ujian ini harus ada, agar terlihat siapa yang berjihad dan siapa yang memilih mundur (enggan berjuang). Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jihad termasuk sebab terbesar?Ya, jihad termasuk sebab terbesar untuk masuk surga. Begitu juga dengan kesabaran. Kesabaran di sini mencakup tiga jenis sabar. Jadi, dalam ayat ini terdapat isyarat kepada dua sebab terbesar untuk masuk surga, yaitu jihad dan kesabaran. ===== أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ يَعْنِي: أَحَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ دُونَ أَنْ يَكُونَ ابْتِلَاءٌ وَامْتِحَانٌ وَدُونَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ سَبَبٌ وَلَا ثَمَنٌ ها يَا إِخْوَانُ؟ سَبَبٌ لَا ثَمَنَ لِلْجَنَّةِ مَهْمَا عَمِلَ الْعَامِلُونَ فَلَنْ يُؤَدُّوا لَهَا ثَمَنًا بِدَلِيلِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ لَكِنْ لَا رَيْبَ أَنَّ هُنَاكَ أَسْبَابًا عَظِيمَةً يَتَسَابَقُ فِيهَا الْمُتَسَابِقُونَ وَيَتَنَافَسُ الْمُتَنَافِسُونَ لِلْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ فَالْبَاءُ هُنَا أَيْش؟ السَّبَبِيَّةُ إِذًا هُنَاكَ أَسْبَابٌ لِلْجَنَّةِ فَهَلْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ فَلَا بُدَّ مِنْ هَذَا الِامْتِحَانِ الَّذِي يَتَبَيَّنُ فِيهِ الْمُجَاهِدُ مِنَ الْمُتَخَاذِلِ كَمَا حَصَلَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ وَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْجِهَادَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ؟ نَعَمْ؟ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَكَذَلِكَ الصَّبْرُ وَالصَّبْرُ هُنَا بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ فَفِي الْآيَةِ إِشَارَةٌ إِلَى سَبَبَيْنِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَهُمَا الْجِهَادُ وَالصَّبْرُ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142) Maksudnya, apakah kalian mengira akan masuk surga tanpa ada ujian dan cobaan? Dan tanpa ada sesuatu yang menjadi sebab dan harga untuk masuk surga? Wahai saudara-saudaraku? Sebab. Surga tidak bisa dibayar dengan harga apa pun. Sebanyak apa pun manusia beramal, mereka tidak akan mampu membayar harga surga. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” (HR. Muslim). Namun, tidak diragukan lagi, ada sebab-sebab besar untuk masuk surga, yang dikejar oleh orang-orang yang berlomba dan bersaing untuk meraih surga. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.’” (QS. Al-A‘raf: 43) Huruf Ba (بِمَا) pada ayat ini bermakna sebab. Jadi, ada sebab-sebab untuk masuk surga. Maka, apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar? (Lihat QS. Ali ‘Imran: 142) Maka ujian ini harus ada, agar terlihat siapa yang berjihad dan siapa yang memilih mundur (enggan berjuang). Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jihad termasuk sebab terbesar?Ya, jihad termasuk sebab terbesar untuk masuk surga. Begitu juga dengan kesabaran. Kesabaran di sini mencakup tiga jenis sabar. Jadi, dalam ayat ini terdapat isyarat kepada dua sebab terbesar untuk masuk surga, yaitu jihad dan kesabaran. ===== أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ يَعْنِي: أَحَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ دُونَ أَنْ يَكُونَ ابْتِلَاءٌ وَامْتِحَانٌ وَدُونَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ سَبَبٌ وَلَا ثَمَنٌ ها يَا إِخْوَانُ؟ سَبَبٌ لَا ثَمَنَ لِلْجَنَّةِ مَهْمَا عَمِلَ الْعَامِلُونَ فَلَنْ يُؤَدُّوا لَهَا ثَمَنًا بِدَلِيلِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ لَكِنْ لَا رَيْبَ أَنَّ هُنَاكَ أَسْبَابًا عَظِيمَةً يَتَسَابَقُ فِيهَا الْمُتَسَابِقُونَ وَيَتَنَافَسُ الْمُتَنَافِسُونَ لِلْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ فَالْبَاءُ هُنَا أَيْش؟ السَّبَبِيَّةُ إِذًا هُنَاكَ أَسْبَابٌ لِلْجَنَّةِ فَهَلْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ فَلَا بُدَّ مِنْ هَذَا الِامْتِحَانِ الَّذِي يَتَبَيَّنُ فِيهِ الْمُجَاهِدُ مِنَ الْمُتَخَاذِلِ كَمَا حَصَلَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ وَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْجِهَادَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ؟ نَعَمْ؟ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَكَذَلِكَ الصَّبْرُ وَالصَّبْرُ هُنَا بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ فَفِي الْآيَةِ إِشَارَةٌ إِلَى سَبَبَيْنِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَهُمَا الْجِهَادُ وَالصَّبْرُ


“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142) Maksudnya, apakah kalian mengira akan masuk surga tanpa ada ujian dan cobaan? Dan tanpa ada sesuatu yang menjadi sebab dan harga untuk masuk surga? Wahai saudara-saudaraku? Sebab. Surga tidak bisa dibayar dengan harga apa pun. Sebanyak apa pun manusia beramal, mereka tidak akan mampu membayar harga surga. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” (HR. Muslim). Namun, tidak diragukan lagi, ada sebab-sebab besar untuk masuk surga, yang dikejar oleh orang-orang yang berlomba dan bersaing untuk meraih surga. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.’” (QS. Al-A‘raf: 43) Huruf Ba (بِمَا) pada ayat ini bermakna sebab. Jadi, ada sebab-sebab untuk masuk surga. Maka, apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang bersabar? (Lihat QS. Ali ‘Imran: 142) Maka ujian ini harus ada, agar terlihat siapa yang berjihad dan siapa yang memilih mundur (enggan berjuang). Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jihad termasuk sebab terbesar?Ya, jihad termasuk sebab terbesar untuk masuk surga. Begitu juga dengan kesabaran. Kesabaran di sini mencakup tiga jenis sabar. Jadi, dalam ayat ini terdapat isyarat kepada dua sebab terbesar untuk masuk surga, yaitu jihad dan kesabaran. ===== أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ يَعْنِي: أَحَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ دُونَ أَنْ يَكُونَ ابْتِلَاءٌ وَامْتِحَانٌ وَدُونَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ سَبَبٌ وَلَا ثَمَنٌ ها يَا إِخْوَانُ؟ سَبَبٌ لَا ثَمَنَ لِلْجَنَّةِ مَهْمَا عَمِلَ الْعَامِلُونَ فَلَنْ يُؤَدُّوا لَهَا ثَمَنًا بِدَلِيلِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ لَكِنْ لَا رَيْبَ أَنَّ هُنَاكَ أَسْبَابًا عَظِيمَةً يَتَسَابَقُ فِيهَا الْمُتَسَابِقُونَ وَيَتَنَافَسُ الْمُتَنَافِسُونَ لِلْجَنَّةِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ فَالْبَاءُ هُنَا أَيْش؟ السَّبَبِيَّةُ إِذًا هُنَاكَ أَسْبَابٌ لِلْجَنَّةِ فَهَلْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ فَلَا بُدَّ مِنْ هَذَا الِامْتِحَانِ الَّذِي يَتَبَيَّنُ فِيهِ الْمُجَاهِدُ مِنَ الْمُتَخَاذِلِ كَمَا حَصَلَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ وَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْجِهَادَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ؟ نَعَمْ؟ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَكَذَلِكَ الصَّبْرُ وَالصَّبْرُ هُنَا بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ فَفِي الْآيَةِ إِشَارَةٌ إِلَى سَبَبَيْنِ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَهُمَا الْجِهَادُ وَالصَّبْرُ

Fatwa Ulama: Keutamaan Amal Perbuatan Berbeda-Beda, Tergantung Pada Orang dan Keadaannya

Daftar Isi TogglePertanyaan:Jawaban:Pertanyaan:Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah) secara gratis? Mohon urutkan amalan-amalan tersebut berdasarkan besarnya pahalaJawaban:Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du:Pada mulanya, kami mengucapkan selamat kepadamu atas perhatianmu terhadap tema seperti ini. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufik kepadamu dalam setiap kebaikan.Para ulama memang berbeda pendapat tentang amalan yang paling utama setelah ibadah-ibadah wajib. Sebagian berpendapat bahwa yang paling utama adalah menuntut dan menyebarkan ilmu, sebagian lainnya berpendapat jihad, dan ada pula yang berpendapat salat (sunah).Adapun Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi individu dan situasi yang dihadapi. Sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Minhajus Sunnah, bahwa keutamaan suatu amalan tidak bersifat mutlak sama bagi setiap orang, tetapi dapat berbeda sesuai kebutuhan dan maslahat yang lebih besar,“Dan tiga perkara ini —salat, ilmu, dan jihad— adalah amalan yang paling utama berdasarkan kesepakatan umat.Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah jihad.’Asy-Syafi’i berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah salat.’Sedangkan Abu Hanifah dan Malik bin Anas berpendapat, ‘(Yang paling utama adalah) ilmu.’Dan pendapat yang lebih tepat adalah bahwa masing-masing dari tiga amalan ini saling membutuhkan yang lainnya. Terkadang yang satu lebih utama pada suatu kondisi, dan yang lainnya lebih utama pada kondisi yang lain. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah beliau melakukan semua amalan tersebut—ini, ini, dan ini—masing-masing pada tempatnya sesuai dengan kebutuhan dan maslahat.” [Selesai]Beliau rahimahullah berkata dalam Majmu‘ al-Fatawa,“Adapun pertanyaan yang engkau ajukan tentang amalan paling utama setelah kewajiban, maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan masing-masing orang dan apa yang sesuai dengan kondisi waktunya. Oleh karena itu, tidak mungkin diberikan jawaban yang rinci dan mencakup untuk setiap orang.Akan tetapi, di antara hal yang hampir menjadi kesepakatan para ulama yang mengenal Allah dan perintah-Nya adalah bahwa senantiasa berzikir kepada Allah merupakan amalan terbaik yang dapat menyibukkan seorang hamba secara umum.” [Selesai]Berdasarkan hal tersebut, maka perbandingan keutamaan antara amalan-amalan yang engkau sebutkan serta pengurutannya tidak memiliki jawaban yang tetap. Akan tetapi, keutamaannya bergantung pada waktu dan kondisi pelakunya.Terkadang mengajarkan Al-Qur’an atau menyebarkan ilmu lebih utama dalam kondisi tertentu, dan terkadang pula menangani (mengobati) orang sakit lebih utama dalam kondisi lainnya. Demikian pula seluruh bentuk ibadah sunah lainnya—keutamaannya bisa berbeda-beda sesuai dengan keadaan.Dan setiap kali seorang muslim mampu menggabungkan beberapa niat dalam satu amalan, maka itu akan semakin besar pahalanya. Disebutkan dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah,“Ibadah-ibadah itu berkaitan dengan niat, baik dalam hal sahnya maupun dalam pelipatgandaan pahalanya.Adapun dari sisi asal (keabsahan), maka seseorang harus berniat dalam amalnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Jika ia berniat riya’, maka amal tersebut berubah menjadi maksiat.Adapun dalam hal pelipatgandaan pahala, maka hal itu terjadi dengan banyaknya niat-niat yang baik. Satu amalan bisa diniatkan untuk berbagai kebaikan, sehingga seseorang mendapatkan pahala dari setiap niat tersebut. Karena setiap niat adalah kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat sebagaimana disebutkan dalam hadis.Inilah cara memperbanyak niat. Maka qiyaskanlah hal ini pada seluruh ibadah dan bahkan perkara mubah. Tidak ada satu ibadah pun kecuali dapat mengandung banyak niat. Niat-niat tersebut hadir dalam hati seorang mukmin sesuai dengan kesungguhannya dalam mencari kebaikan, semangatnya, dan perenungannya.Dengan cara inilah amal-amal menjadi suci dan pahala dilipatgandakan.” (Selesai, dengan sedikit penyesuaian)Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan yang Paling Dicintai Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/304849/

Fatwa Ulama: Keutamaan Amal Perbuatan Berbeda-Beda, Tergantung Pada Orang dan Keadaannya

Daftar Isi TogglePertanyaan:Jawaban:Pertanyaan:Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah) secara gratis? Mohon urutkan amalan-amalan tersebut berdasarkan besarnya pahalaJawaban:Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du:Pada mulanya, kami mengucapkan selamat kepadamu atas perhatianmu terhadap tema seperti ini. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufik kepadamu dalam setiap kebaikan.Para ulama memang berbeda pendapat tentang amalan yang paling utama setelah ibadah-ibadah wajib. Sebagian berpendapat bahwa yang paling utama adalah menuntut dan menyebarkan ilmu, sebagian lainnya berpendapat jihad, dan ada pula yang berpendapat salat (sunah).Adapun Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi individu dan situasi yang dihadapi. Sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Minhajus Sunnah, bahwa keutamaan suatu amalan tidak bersifat mutlak sama bagi setiap orang, tetapi dapat berbeda sesuai kebutuhan dan maslahat yang lebih besar,“Dan tiga perkara ini —salat, ilmu, dan jihad— adalah amalan yang paling utama berdasarkan kesepakatan umat.Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah jihad.’Asy-Syafi’i berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah salat.’Sedangkan Abu Hanifah dan Malik bin Anas berpendapat, ‘(Yang paling utama adalah) ilmu.’Dan pendapat yang lebih tepat adalah bahwa masing-masing dari tiga amalan ini saling membutuhkan yang lainnya. Terkadang yang satu lebih utama pada suatu kondisi, dan yang lainnya lebih utama pada kondisi yang lain. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah beliau melakukan semua amalan tersebut—ini, ini, dan ini—masing-masing pada tempatnya sesuai dengan kebutuhan dan maslahat.” [Selesai]Beliau rahimahullah berkata dalam Majmu‘ al-Fatawa,“Adapun pertanyaan yang engkau ajukan tentang amalan paling utama setelah kewajiban, maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan masing-masing orang dan apa yang sesuai dengan kondisi waktunya. Oleh karena itu, tidak mungkin diberikan jawaban yang rinci dan mencakup untuk setiap orang.Akan tetapi, di antara hal yang hampir menjadi kesepakatan para ulama yang mengenal Allah dan perintah-Nya adalah bahwa senantiasa berzikir kepada Allah merupakan amalan terbaik yang dapat menyibukkan seorang hamba secara umum.” [Selesai]Berdasarkan hal tersebut, maka perbandingan keutamaan antara amalan-amalan yang engkau sebutkan serta pengurutannya tidak memiliki jawaban yang tetap. Akan tetapi, keutamaannya bergantung pada waktu dan kondisi pelakunya.Terkadang mengajarkan Al-Qur’an atau menyebarkan ilmu lebih utama dalam kondisi tertentu, dan terkadang pula menangani (mengobati) orang sakit lebih utama dalam kondisi lainnya. Demikian pula seluruh bentuk ibadah sunah lainnya—keutamaannya bisa berbeda-beda sesuai dengan keadaan.Dan setiap kali seorang muslim mampu menggabungkan beberapa niat dalam satu amalan, maka itu akan semakin besar pahalanya. Disebutkan dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah,“Ibadah-ibadah itu berkaitan dengan niat, baik dalam hal sahnya maupun dalam pelipatgandaan pahalanya.Adapun dari sisi asal (keabsahan), maka seseorang harus berniat dalam amalnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Jika ia berniat riya’, maka amal tersebut berubah menjadi maksiat.Adapun dalam hal pelipatgandaan pahala, maka hal itu terjadi dengan banyaknya niat-niat yang baik. Satu amalan bisa diniatkan untuk berbagai kebaikan, sehingga seseorang mendapatkan pahala dari setiap niat tersebut. Karena setiap niat adalah kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat sebagaimana disebutkan dalam hadis.Inilah cara memperbanyak niat. Maka qiyaskanlah hal ini pada seluruh ibadah dan bahkan perkara mubah. Tidak ada satu ibadah pun kecuali dapat mengandung banyak niat. Niat-niat tersebut hadir dalam hati seorang mukmin sesuai dengan kesungguhannya dalam mencari kebaikan, semangatnya, dan perenungannya.Dengan cara inilah amal-amal menjadi suci dan pahala dilipatgandakan.” (Selesai, dengan sedikit penyesuaian)Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan yang Paling Dicintai Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/304849/
Daftar Isi TogglePertanyaan:Jawaban:Pertanyaan:Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah) secara gratis? Mohon urutkan amalan-amalan tersebut berdasarkan besarnya pahalaJawaban:Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du:Pada mulanya, kami mengucapkan selamat kepadamu atas perhatianmu terhadap tema seperti ini. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufik kepadamu dalam setiap kebaikan.Para ulama memang berbeda pendapat tentang amalan yang paling utama setelah ibadah-ibadah wajib. Sebagian berpendapat bahwa yang paling utama adalah menuntut dan menyebarkan ilmu, sebagian lainnya berpendapat jihad, dan ada pula yang berpendapat salat (sunah).Adapun Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi individu dan situasi yang dihadapi. Sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Minhajus Sunnah, bahwa keutamaan suatu amalan tidak bersifat mutlak sama bagi setiap orang, tetapi dapat berbeda sesuai kebutuhan dan maslahat yang lebih besar,“Dan tiga perkara ini —salat, ilmu, dan jihad— adalah amalan yang paling utama berdasarkan kesepakatan umat.Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah jihad.’Asy-Syafi’i berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah salat.’Sedangkan Abu Hanifah dan Malik bin Anas berpendapat, ‘(Yang paling utama adalah) ilmu.’Dan pendapat yang lebih tepat adalah bahwa masing-masing dari tiga amalan ini saling membutuhkan yang lainnya. Terkadang yang satu lebih utama pada suatu kondisi, dan yang lainnya lebih utama pada kondisi yang lain. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah beliau melakukan semua amalan tersebut—ini, ini, dan ini—masing-masing pada tempatnya sesuai dengan kebutuhan dan maslahat.” [Selesai]Beliau rahimahullah berkata dalam Majmu‘ al-Fatawa,“Adapun pertanyaan yang engkau ajukan tentang amalan paling utama setelah kewajiban, maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan masing-masing orang dan apa yang sesuai dengan kondisi waktunya. Oleh karena itu, tidak mungkin diberikan jawaban yang rinci dan mencakup untuk setiap orang.Akan tetapi, di antara hal yang hampir menjadi kesepakatan para ulama yang mengenal Allah dan perintah-Nya adalah bahwa senantiasa berzikir kepada Allah merupakan amalan terbaik yang dapat menyibukkan seorang hamba secara umum.” [Selesai]Berdasarkan hal tersebut, maka perbandingan keutamaan antara amalan-amalan yang engkau sebutkan serta pengurutannya tidak memiliki jawaban yang tetap. Akan tetapi, keutamaannya bergantung pada waktu dan kondisi pelakunya.Terkadang mengajarkan Al-Qur’an atau menyebarkan ilmu lebih utama dalam kondisi tertentu, dan terkadang pula menangani (mengobati) orang sakit lebih utama dalam kondisi lainnya. Demikian pula seluruh bentuk ibadah sunah lainnya—keutamaannya bisa berbeda-beda sesuai dengan keadaan.Dan setiap kali seorang muslim mampu menggabungkan beberapa niat dalam satu amalan, maka itu akan semakin besar pahalanya. Disebutkan dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah,“Ibadah-ibadah itu berkaitan dengan niat, baik dalam hal sahnya maupun dalam pelipatgandaan pahalanya.Adapun dari sisi asal (keabsahan), maka seseorang harus berniat dalam amalnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Jika ia berniat riya’, maka amal tersebut berubah menjadi maksiat.Adapun dalam hal pelipatgandaan pahala, maka hal itu terjadi dengan banyaknya niat-niat yang baik. Satu amalan bisa diniatkan untuk berbagai kebaikan, sehingga seseorang mendapatkan pahala dari setiap niat tersebut. Karena setiap niat adalah kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat sebagaimana disebutkan dalam hadis.Inilah cara memperbanyak niat. Maka qiyaskanlah hal ini pada seluruh ibadah dan bahkan perkara mubah. Tidak ada satu ibadah pun kecuali dapat mengandung banyak niat. Niat-niat tersebut hadir dalam hati seorang mukmin sesuai dengan kesungguhannya dalam mencari kebaikan, semangatnya, dan perenungannya.Dengan cara inilah amal-amal menjadi suci dan pahala dilipatgandakan.” (Selesai, dengan sedikit penyesuaian)Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan yang Paling Dicintai Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/304849/


Daftar Isi TogglePertanyaan:Jawaban:Pertanyaan:Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah) secara gratis? Mohon urutkan amalan-amalan tersebut berdasarkan besarnya pahalaJawaban:Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du:Pada mulanya, kami mengucapkan selamat kepadamu atas perhatianmu terhadap tema seperti ini. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufik kepadamu dalam setiap kebaikan.Para ulama memang berbeda pendapat tentang amalan yang paling utama setelah ibadah-ibadah wajib. Sebagian berpendapat bahwa yang paling utama adalah menuntut dan menyebarkan ilmu, sebagian lainnya berpendapat jihad, dan ada pula yang berpendapat salat (sunah).Adapun Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi individu dan situasi yang dihadapi. Sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Minhajus Sunnah, bahwa keutamaan suatu amalan tidak bersifat mutlak sama bagi setiap orang, tetapi dapat berbeda sesuai kebutuhan dan maslahat yang lebih besar,“Dan tiga perkara ini —salat, ilmu, dan jihad— adalah amalan yang paling utama berdasarkan kesepakatan umat.Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah jihad.’Asy-Syafi’i berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah salat.’Sedangkan Abu Hanifah dan Malik bin Anas berpendapat, ‘(Yang paling utama adalah) ilmu.’Dan pendapat yang lebih tepat adalah bahwa masing-masing dari tiga amalan ini saling membutuhkan yang lainnya. Terkadang yang satu lebih utama pada suatu kondisi, dan yang lainnya lebih utama pada kondisi yang lain. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah beliau melakukan semua amalan tersebut—ini, ini, dan ini—masing-masing pada tempatnya sesuai dengan kebutuhan dan maslahat.” [Selesai]Beliau rahimahullah berkata dalam Majmu‘ al-Fatawa,“Adapun pertanyaan yang engkau ajukan tentang amalan paling utama setelah kewajiban, maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan masing-masing orang dan apa yang sesuai dengan kondisi waktunya. Oleh karena itu, tidak mungkin diberikan jawaban yang rinci dan mencakup untuk setiap orang.Akan tetapi, di antara hal yang hampir menjadi kesepakatan para ulama yang mengenal Allah dan perintah-Nya adalah bahwa senantiasa berzikir kepada Allah merupakan amalan terbaik yang dapat menyibukkan seorang hamba secara umum.” [Selesai]Berdasarkan hal tersebut, maka perbandingan keutamaan antara amalan-amalan yang engkau sebutkan serta pengurutannya tidak memiliki jawaban yang tetap. Akan tetapi, keutamaannya bergantung pada waktu dan kondisi pelakunya.Terkadang mengajarkan Al-Qur’an atau menyebarkan ilmu lebih utama dalam kondisi tertentu, dan terkadang pula menangani (mengobati) orang sakit lebih utama dalam kondisi lainnya. Demikian pula seluruh bentuk ibadah sunah lainnya—keutamaannya bisa berbeda-beda sesuai dengan keadaan.Dan setiap kali seorang muslim mampu menggabungkan beberapa niat dalam satu amalan, maka itu akan semakin besar pahalanya. Disebutkan dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah,“Ibadah-ibadah itu berkaitan dengan niat, baik dalam hal sahnya maupun dalam pelipatgandaan pahalanya.Adapun dari sisi asal (keabsahan), maka seseorang harus berniat dalam amalnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Jika ia berniat riya’, maka amal tersebut berubah menjadi maksiat.Adapun dalam hal pelipatgandaan pahala, maka hal itu terjadi dengan banyaknya niat-niat yang baik. Satu amalan bisa diniatkan untuk berbagai kebaikan, sehingga seseorang mendapatkan pahala dari setiap niat tersebut. Karena setiap niat adalah kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat sebagaimana disebutkan dalam hadis.Inilah cara memperbanyak niat. Maka qiyaskanlah hal ini pada seluruh ibadah dan bahkan perkara mubah. Tidak ada satu ibadah pun kecuali dapat mengandung banyak niat. Niat-niat tersebut hadir dalam hati seorang mukmin sesuai dengan kesungguhannya dalam mencari kebaikan, semangatnya, dan perenungannya.Dengan cara inilah amal-amal menjadi suci dan pahala dilipatgandakan.” (Selesai, dengan sedikit penyesuaian)Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan yang Paling Dicintai Allah***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslimah.or.id Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/304849/

Jangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya

Kadang seseorang berniat baik, tetapi cara menyampaikannya kurang beradab. Kadang seseorang ingin memberi usulan, tetapi tanpa sadar mendahului keputusan syariat. Kisah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam peristiwa Bani Tamim mengajarkan bahwa orang beriman harus mendahulukan wahyu, menjaga adab, dan menahan ego di hadapan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani Tamim 2. Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang Dicela 3. Jangan Mendahului Wahyu dengan Pendapat 4. Pelajaran untuk Individu 5. Pelajaran untuk Keluarga 6. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan Guru 7. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah Nabi 8. Jangan Jadikan Agama Mengikuti Selera 9. Kesimpulan 10. Nasihat Terakhir Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)Maksud ayat ini adalah janganlah seorang mukmin mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, perbuatan, keputusan, dan sikap. Seorang hamba tidak boleh menetapkan sesuatu dalam agama sebelum mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia juga tidak boleh menjadikan pendapat, perasaan, tradisi, atau semangat pribadinya lebih didahulukan daripada wahyu.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya, Allah mendengar ucapan kita dan mengetahui perbuatan kita. Maka, adab kepada syariat bukan hanya tampak dalam tindakan lahir, tetapi juga dalam cara bicara, niat, dan sikap hati. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani TamimMaksud kisah Al-Aqra’ bin Habis dalam sebab turunnya ayat ini adalah kisah kedatangan rombongan Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar yang diangkat menjadi pemimpin mereka adalah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad. Adapun Umar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Al-Aqra’ bin Habis. Keduanya lalu berdiskusi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga suara mereka meninggi.Disebutkan dalam riwayat,قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمِّرِ الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدٍ، وَقَالَ عُمَرُ: بَلْ أَمِّرِ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ، فَتَمَارَيَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ.“Datanglah satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkata, ‘Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.’ Umar berkata, ‘Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat tentang hal itu: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,’ sampai selesai ayat.”Riwayat ini menunjukkan bahwa dua sahabat mulia pun diberi arahan oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang kurang tepat dalam adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bukan sedang membangkang, bukan pula ingin menyelisihi wahyu. Namun, syariat mengajarkan bahwa niat baik tetap harus dibingkai dengan adab.Bab: Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.”Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepada mereka:Bahwasanya datang satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Abu Bakar berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.”Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin.”Abu Bakar berkata, “Tidaklah engkau menginginkan kecuali menyelisihiku.”Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.”Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi.Maka turunlah ayat tentang peristiwa itu:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,”hingga selesai ayat tersebut. (HR. Bukhari, no. 4566)Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang DicelaPerlu dipahami, kisah ini bukan celaan kepada Al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya muncul karena beliau menjadi salah satu orang yang diusulkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi pemimpin rombongan Bani Tamim.Jadi, inti kisah ini bukan pada kesalahan Al-Aqra’ bin Habis. Inti pelajarannya adalah adab Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sama-sama memiliki maksud baik, tetapi Allah mengajarkan kepada kaum beriman agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, keputusan, dan sikap. Jangan Mendahului Wahyu dengan PendapatAyat ini menjadi kaidah besar dalam kehidupan seorang muslim. Pendapat boleh disampaikan, musyawarah boleh dilakukan, dan ijtihad boleh ditempuh oleh ahlinya. Namun, semua itu tidak boleh mendahului wahyu.Jika telah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seorang mukmin tidak patut berkata, “Menurut saya lebih baik begini.” Ia harus tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Karena iman bukan hanya mengakui kebenaran, tetapi juga menerima, tunduk, dan tidak keberatan terhadap ketetapan syariat. Pelajaran untuk IndividuPertama, jangan terburu-buru berbicara sebelum ilmu jelas. Seorang mukmin belajar menahan lisan sebelum memastikan mana yang benar.Kedua, niat baik tetap perlu adab. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama ingin kebaikan, tetapi tetap diberi arahan ketika adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang sempurna.Ketiga, orang mulia pun bisa keliru. Kesalahan tidak menjatuhkan kemuliaan seseorang jika ia menerima teguran syariat.Keempat, perbedaan pendapat jangan berubah menjadi ego pribadi. Awalnya hanya usulan, tetapi bisa terasa seperti saling menyelisihi jika hati tidak dijaga.Kelima, yang utama bukan menang pendapat, tetapi tunduk pada wahyu. Mukmin tidak mencari kemenangan debat, tetapi mencari ridha Allah. Pelajaran untuk KeluargaPertama, suami-istri jangan mudah meninggikan suara saat berbeda pendapat. Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena nada bicara yang tidak dijaga.Kedua, musyawarah keluarga harus dibingkai dengan takwa. Keputusan rumah tangga bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “mana yang paling diridhai Allah”.Ketiga, jangan mendahului hukum Allah demi perasaan keluarga. Cinta kepada pasangan, anak, atau orang tua tidak boleh membuat kita menabrak syariat.Keempat, saat berbeda pendapat, jaga prasangka. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Engkau hanya ingin menyelisihiku.” Ini menjadi pelajaran agar kita tidak cepat membaca niat buruk orang dekat.Kelima, keluarga yang baik bukan keluarga tanpa beda pendapat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang cepat kembali kepada adab, ilmu, dan ketakwaan. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan GuruPertama, jaga adab bicara di hadapan ulama. Jika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja para sahabat diajarkan adab, maka kepada pewaris ilmu Nabi pun kita harus menjaga sikap.Kedua, jangan mendahului guru dalam majelis ilmu. Jangan memotong pembicaraan, jangan tergesa membantah, dan jangan merasa paling tahu.Ketiga, bertanya boleh, mengusulkan boleh, tetapi dengan tawadhu. Adab tidak mematikan nalar, tetapi mengarahkan nalar agar tetap sopan.Keempat, jangan menjadikan majelis ilmu sebagai arena debat. Ilmu dicari untuk tunduk kepada Allah, bukan untuk mengalahkan orang lain.Kelima, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah NabiPertama, sunnah harus didahulukan atas selera, kebiasaan, dan pendapat pribadi. Jangan berkata, “Menurut saya lebih cocok begini,” jika sudah jelas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, tidak boleh membuat keputusan agama sebelum tahu dalilnya. Inilah makna tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.Ketiga, menghidupkan sunnah perlu ketundukan, bukan sekadar semangat. Semangat tanpa ilmu bisa membuat seseorang melampaui batas.Keempat, adab adalah bagian dari sunnah. Mengikuti Nabi bukan hanya dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam cara bicara, bersikap, dan berbeda pendapat.Kelima, orang yang cinta sunnah harus paling mudah menerima koreksi. Karena ukuran kebenaran bukan dirinya, tetapi wahyu. Jangan Jadikan Agama Mengikuti SeleraDi zaman ini, banyak orang mudah berkomentar tentang agama sebelum belajar. Ada yang mendahulukan perasaan, ada yang mendahulukan adat, ada pula yang mendahulukan opini tokoh, kelompok, atau pengalaman pribadi. Padahal, sikap seorang mukmin adalah bertanya dahulu, mencari dalil dahulu, lalu tunduk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Agama bukan mengikuti selera manusia. Agama adalah wahyu yang menuntun manusia. Jika selera kita bertentangan dengan syariat, maka selera itulah yang harus dikoreksi, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan kita. KesimpulanKisah ini mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh mendahului wahyu dengan pendapat, ego, perasaan, tradisi, atau semangat pribadi. Dalam hidup pribadi, keluarga, majelis ilmu, dan dakwah sunnah, kunci selamat adalah ilmu, adab, takwa, dan tunduk kepada Allah serta Rasul-Nya.Orang yang benar-benar beriman akan berhenti ketika dalil telah jelas. Ia tidak menjadikan pendapatnya lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia sadar bahwa keselamatan ada pada mengikuti wahyu, bukan pada memenangkan ego. Nasihat TerakhirHari ini banyak konflik muncul karena manusia ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar tuntunan Allah. Banyak keluarga retak karena suara meninggi, prasangka membesar, dan syariat tidak lagi dijadikan hakim. Banyak majelis ilmu menjadi panas karena debat, bukan karena keikhlasan mencari kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab, tunduk kepada wahyu, dan mudah menerima nasihat.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wahab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” —- Selesai ditulis di perjalanan menuju Sekar Kedhaton dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 24 Muharram 1448 H, 8 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Bakar dan Umar adab berbeda pendapat adab kepada Nabi adab kepada ulama Al-Aqra bin Habis Al-Hujurat jangan mendahului Allah dan Rasul kisah Bani Tamim mengikuti sunnah rumaysho

Jangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya

Kadang seseorang berniat baik, tetapi cara menyampaikannya kurang beradab. Kadang seseorang ingin memberi usulan, tetapi tanpa sadar mendahului keputusan syariat. Kisah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam peristiwa Bani Tamim mengajarkan bahwa orang beriman harus mendahulukan wahyu, menjaga adab, dan menahan ego di hadapan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani Tamim 2. Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang Dicela 3. Jangan Mendahului Wahyu dengan Pendapat 4. Pelajaran untuk Individu 5. Pelajaran untuk Keluarga 6. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan Guru 7. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah Nabi 8. Jangan Jadikan Agama Mengikuti Selera 9. Kesimpulan 10. Nasihat Terakhir Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)Maksud ayat ini adalah janganlah seorang mukmin mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, perbuatan, keputusan, dan sikap. Seorang hamba tidak boleh menetapkan sesuatu dalam agama sebelum mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia juga tidak boleh menjadikan pendapat, perasaan, tradisi, atau semangat pribadinya lebih didahulukan daripada wahyu.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya, Allah mendengar ucapan kita dan mengetahui perbuatan kita. Maka, adab kepada syariat bukan hanya tampak dalam tindakan lahir, tetapi juga dalam cara bicara, niat, dan sikap hati. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani TamimMaksud kisah Al-Aqra’ bin Habis dalam sebab turunnya ayat ini adalah kisah kedatangan rombongan Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar yang diangkat menjadi pemimpin mereka adalah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad. Adapun Umar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Al-Aqra’ bin Habis. Keduanya lalu berdiskusi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga suara mereka meninggi.Disebutkan dalam riwayat,قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمِّرِ الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدٍ، وَقَالَ عُمَرُ: بَلْ أَمِّرِ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ، فَتَمَارَيَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ.“Datanglah satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkata, ‘Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.’ Umar berkata, ‘Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat tentang hal itu: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,’ sampai selesai ayat.”Riwayat ini menunjukkan bahwa dua sahabat mulia pun diberi arahan oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang kurang tepat dalam adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bukan sedang membangkang, bukan pula ingin menyelisihi wahyu. Namun, syariat mengajarkan bahwa niat baik tetap harus dibingkai dengan adab.Bab: Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.”Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepada mereka:Bahwasanya datang satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Abu Bakar berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.”Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin.”Abu Bakar berkata, “Tidaklah engkau menginginkan kecuali menyelisihiku.”Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.”Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi.Maka turunlah ayat tentang peristiwa itu:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,”hingga selesai ayat tersebut. (HR. Bukhari, no. 4566)Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang DicelaPerlu dipahami, kisah ini bukan celaan kepada Al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya muncul karena beliau menjadi salah satu orang yang diusulkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi pemimpin rombongan Bani Tamim.Jadi, inti kisah ini bukan pada kesalahan Al-Aqra’ bin Habis. Inti pelajarannya adalah adab Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sama-sama memiliki maksud baik, tetapi Allah mengajarkan kepada kaum beriman agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, keputusan, dan sikap. Jangan Mendahului Wahyu dengan PendapatAyat ini menjadi kaidah besar dalam kehidupan seorang muslim. Pendapat boleh disampaikan, musyawarah boleh dilakukan, dan ijtihad boleh ditempuh oleh ahlinya. Namun, semua itu tidak boleh mendahului wahyu.Jika telah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seorang mukmin tidak patut berkata, “Menurut saya lebih baik begini.” Ia harus tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Karena iman bukan hanya mengakui kebenaran, tetapi juga menerima, tunduk, dan tidak keberatan terhadap ketetapan syariat. Pelajaran untuk IndividuPertama, jangan terburu-buru berbicara sebelum ilmu jelas. Seorang mukmin belajar menahan lisan sebelum memastikan mana yang benar.Kedua, niat baik tetap perlu adab. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama ingin kebaikan, tetapi tetap diberi arahan ketika adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang sempurna.Ketiga, orang mulia pun bisa keliru. Kesalahan tidak menjatuhkan kemuliaan seseorang jika ia menerima teguran syariat.Keempat, perbedaan pendapat jangan berubah menjadi ego pribadi. Awalnya hanya usulan, tetapi bisa terasa seperti saling menyelisihi jika hati tidak dijaga.Kelima, yang utama bukan menang pendapat, tetapi tunduk pada wahyu. Mukmin tidak mencari kemenangan debat, tetapi mencari ridha Allah. Pelajaran untuk KeluargaPertama, suami-istri jangan mudah meninggikan suara saat berbeda pendapat. Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena nada bicara yang tidak dijaga.Kedua, musyawarah keluarga harus dibingkai dengan takwa. Keputusan rumah tangga bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “mana yang paling diridhai Allah”.Ketiga, jangan mendahului hukum Allah demi perasaan keluarga. Cinta kepada pasangan, anak, atau orang tua tidak boleh membuat kita menabrak syariat.Keempat, saat berbeda pendapat, jaga prasangka. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Engkau hanya ingin menyelisihiku.” Ini menjadi pelajaran agar kita tidak cepat membaca niat buruk orang dekat.Kelima, keluarga yang baik bukan keluarga tanpa beda pendapat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang cepat kembali kepada adab, ilmu, dan ketakwaan. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan GuruPertama, jaga adab bicara di hadapan ulama. Jika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja para sahabat diajarkan adab, maka kepada pewaris ilmu Nabi pun kita harus menjaga sikap.Kedua, jangan mendahului guru dalam majelis ilmu. Jangan memotong pembicaraan, jangan tergesa membantah, dan jangan merasa paling tahu.Ketiga, bertanya boleh, mengusulkan boleh, tetapi dengan tawadhu. Adab tidak mematikan nalar, tetapi mengarahkan nalar agar tetap sopan.Keempat, jangan menjadikan majelis ilmu sebagai arena debat. Ilmu dicari untuk tunduk kepada Allah, bukan untuk mengalahkan orang lain.Kelima, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah NabiPertama, sunnah harus didahulukan atas selera, kebiasaan, dan pendapat pribadi. Jangan berkata, “Menurut saya lebih cocok begini,” jika sudah jelas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, tidak boleh membuat keputusan agama sebelum tahu dalilnya. Inilah makna tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.Ketiga, menghidupkan sunnah perlu ketundukan, bukan sekadar semangat. Semangat tanpa ilmu bisa membuat seseorang melampaui batas.Keempat, adab adalah bagian dari sunnah. Mengikuti Nabi bukan hanya dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam cara bicara, bersikap, dan berbeda pendapat.Kelima, orang yang cinta sunnah harus paling mudah menerima koreksi. Karena ukuran kebenaran bukan dirinya, tetapi wahyu. Jangan Jadikan Agama Mengikuti SeleraDi zaman ini, banyak orang mudah berkomentar tentang agama sebelum belajar. Ada yang mendahulukan perasaan, ada yang mendahulukan adat, ada pula yang mendahulukan opini tokoh, kelompok, atau pengalaman pribadi. Padahal, sikap seorang mukmin adalah bertanya dahulu, mencari dalil dahulu, lalu tunduk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Agama bukan mengikuti selera manusia. Agama adalah wahyu yang menuntun manusia. Jika selera kita bertentangan dengan syariat, maka selera itulah yang harus dikoreksi, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan kita. KesimpulanKisah ini mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh mendahului wahyu dengan pendapat, ego, perasaan, tradisi, atau semangat pribadi. Dalam hidup pribadi, keluarga, majelis ilmu, dan dakwah sunnah, kunci selamat adalah ilmu, adab, takwa, dan tunduk kepada Allah serta Rasul-Nya.Orang yang benar-benar beriman akan berhenti ketika dalil telah jelas. Ia tidak menjadikan pendapatnya lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia sadar bahwa keselamatan ada pada mengikuti wahyu, bukan pada memenangkan ego. Nasihat TerakhirHari ini banyak konflik muncul karena manusia ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar tuntunan Allah. Banyak keluarga retak karena suara meninggi, prasangka membesar, dan syariat tidak lagi dijadikan hakim. Banyak majelis ilmu menjadi panas karena debat, bukan karena keikhlasan mencari kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab, tunduk kepada wahyu, dan mudah menerima nasihat.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wahab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” —- Selesai ditulis di perjalanan menuju Sekar Kedhaton dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 24 Muharram 1448 H, 8 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Bakar dan Umar adab berbeda pendapat adab kepada Nabi adab kepada ulama Al-Aqra bin Habis Al-Hujurat jangan mendahului Allah dan Rasul kisah Bani Tamim mengikuti sunnah rumaysho
Kadang seseorang berniat baik, tetapi cara menyampaikannya kurang beradab. Kadang seseorang ingin memberi usulan, tetapi tanpa sadar mendahului keputusan syariat. Kisah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam peristiwa Bani Tamim mengajarkan bahwa orang beriman harus mendahulukan wahyu, menjaga adab, dan menahan ego di hadapan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani Tamim 2. Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang Dicela 3. Jangan Mendahului Wahyu dengan Pendapat 4. Pelajaran untuk Individu 5. Pelajaran untuk Keluarga 6. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan Guru 7. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah Nabi 8. Jangan Jadikan Agama Mengikuti Selera 9. Kesimpulan 10. Nasihat Terakhir Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)Maksud ayat ini adalah janganlah seorang mukmin mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, perbuatan, keputusan, dan sikap. Seorang hamba tidak boleh menetapkan sesuatu dalam agama sebelum mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia juga tidak boleh menjadikan pendapat, perasaan, tradisi, atau semangat pribadinya lebih didahulukan daripada wahyu.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya, Allah mendengar ucapan kita dan mengetahui perbuatan kita. Maka, adab kepada syariat bukan hanya tampak dalam tindakan lahir, tetapi juga dalam cara bicara, niat, dan sikap hati. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani TamimMaksud kisah Al-Aqra’ bin Habis dalam sebab turunnya ayat ini adalah kisah kedatangan rombongan Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar yang diangkat menjadi pemimpin mereka adalah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad. Adapun Umar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Al-Aqra’ bin Habis. Keduanya lalu berdiskusi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga suara mereka meninggi.Disebutkan dalam riwayat,قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمِّرِ الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدٍ، وَقَالَ عُمَرُ: بَلْ أَمِّرِ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ، فَتَمَارَيَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ.“Datanglah satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkata, ‘Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.’ Umar berkata, ‘Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat tentang hal itu: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,’ sampai selesai ayat.”Riwayat ini menunjukkan bahwa dua sahabat mulia pun diberi arahan oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang kurang tepat dalam adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bukan sedang membangkang, bukan pula ingin menyelisihi wahyu. Namun, syariat mengajarkan bahwa niat baik tetap harus dibingkai dengan adab.Bab: Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.”Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepada mereka:Bahwasanya datang satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Abu Bakar berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.”Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin.”Abu Bakar berkata, “Tidaklah engkau menginginkan kecuali menyelisihiku.”Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.”Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi.Maka turunlah ayat tentang peristiwa itu:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,”hingga selesai ayat tersebut. (HR. Bukhari, no. 4566)Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang DicelaPerlu dipahami, kisah ini bukan celaan kepada Al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya muncul karena beliau menjadi salah satu orang yang diusulkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi pemimpin rombongan Bani Tamim.Jadi, inti kisah ini bukan pada kesalahan Al-Aqra’ bin Habis. Inti pelajarannya adalah adab Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sama-sama memiliki maksud baik, tetapi Allah mengajarkan kepada kaum beriman agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, keputusan, dan sikap. Jangan Mendahului Wahyu dengan PendapatAyat ini menjadi kaidah besar dalam kehidupan seorang muslim. Pendapat boleh disampaikan, musyawarah boleh dilakukan, dan ijtihad boleh ditempuh oleh ahlinya. Namun, semua itu tidak boleh mendahului wahyu.Jika telah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seorang mukmin tidak patut berkata, “Menurut saya lebih baik begini.” Ia harus tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Karena iman bukan hanya mengakui kebenaran, tetapi juga menerima, tunduk, dan tidak keberatan terhadap ketetapan syariat. Pelajaran untuk IndividuPertama, jangan terburu-buru berbicara sebelum ilmu jelas. Seorang mukmin belajar menahan lisan sebelum memastikan mana yang benar.Kedua, niat baik tetap perlu adab. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama ingin kebaikan, tetapi tetap diberi arahan ketika adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang sempurna.Ketiga, orang mulia pun bisa keliru. Kesalahan tidak menjatuhkan kemuliaan seseorang jika ia menerima teguran syariat.Keempat, perbedaan pendapat jangan berubah menjadi ego pribadi. Awalnya hanya usulan, tetapi bisa terasa seperti saling menyelisihi jika hati tidak dijaga.Kelima, yang utama bukan menang pendapat, tetapi tunduk pada wahyu. Mukmin tidak mencari kemenangan debat, tetapi mencari ridha Allah. Pelajaran untuk KeluargaPertama, suami-istri jangan mudah meninggikan suara saat berbeda pendapat. Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena nada bicara yang tidak dijaga.Kedua, musyawarah keluarga harus dibingkai dengan takwa. Keputusan rumah tangga bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “mana yang paling diridhai Allah”.Ketiga, jangan mendahului hukum Allah demi perasaan keluarga. Cinta kepada pasangan, anak, atau orang tua tidak boleh membuat kita menabrak syariat.Keempat, saat berbeda pendapat, jaga prasangka. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Engkau hanya ingin menyelisihiku.” Ini menjadi pelajaran agar kita tidak cepat membaca niat buruk orang dekat.Kelima, keluarga yang baik bukan keluarga tanpa beda pendapat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang cepat kembali kepada adab, ilmu, dan ketakwaan. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan GuruPertama, jaga adab bicara di hadapan ulama. Jika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja para sahabat diajarkan adab, maka kepada pewaris ilmu Nabi pun kita harus menjaga sikap.Kedua, jangan mendahului guru dalam majelis ilmu. Jangan memotong pembicaraan, jangan tergesa membantah, dan jangan merasa paling tahu.Ketiga, bertanya boleh, mengusulkan boleh, tetapi dengan tawadhu. Adab tidak mematikan nalar, tetapi mengarahkan nalar agar tetap sopan.Keempat, jangan menjadikan majelis ilmu sebagai arena debat. Ilmu dicari untuk tunduk kepada Allah, bukan untuk mengalahkan orang lain.Kelima, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah NabiPertama, sunnah harus didahulukan atas selera, kebiasaan, dan pendapat pribadi. Jangan berkata, “Menurut saya lebih cocok begini,” jika sudah jelas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, tidak boleh membuat keputusan agama sebelum tahu dalilnya. Inilah makna tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.Ketiga, menghidupkan sunnah perlu ketundukan, bukan sekadar semangat. Semangat tanpa ilmu bisa membuat seseorang melampaui batas.Keempat, adab adalah bagian dari sunnah. Mengikuti Nabi bukan hanya dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam cara bicara, bersikap, dan berbeda pendapat.Kelima, orang yang cinta sunnah harus paling mudah menerima koreksi. Karena ukuran kebenaran bukan dirinya, tetapi wahyu. Jangan Jadikan Agama Mengikuti SeleraDi zaman ini, banyak orang mudah berkomentar tentang agama sebelum belajar. Ada yang mendahulukan perasaan, ada yang mendahulukan adat, ada pula yang mendahulukan opini tokoh, kelompok, atau pengalaman pribadi. Padahal, sikap seorang mukmin adalah bertanya dahulu, mencari dalil dahulu, lalu tunduk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Agama bukan mengikuti selera manusia. Agama adalah wahyu yang menuntun manusia. Jika selera kita bertentangan dengan syariat, maka selera itulah yang harus dikoreksi, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan kita. KesimpulanKisah ini mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh mendahului wahyu dengan pendapat, ego, perasaan, tradisi, atau semangat pribadi. Dalam hidup pribadi, keluarga, majelis ilmu, dan dakwah sunnah, kunci selamat adalah ilmu, adab, takwa, dan tunduk kepada Allah serta Rasul-Nya.Orang yang benar-benar beriman akan berhenti ketika dalil telah jelas. Ia tidak menjadikan pendapatnya lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia sadar bahwa keselamatan ada pada mengikuti wahyu, bukan pada memenangkan ego. Nasihat TerakhirHari ini banyak konflik muncul karena manusia ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar tuntunan Allah. Banyak keluarga retak karena suara meninggi, prasangka membesar, dan syariat tidak lagi dijadikan hakim. Banyak majelis ilmu menjadi panas karena debat, bukan karena keikhlasan mencari kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab, tunduk kepada wahyu, dan mudah menerima nasihat.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wahab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” —- Selesai ditulis di perjalanan menuju Sekar Kedhaton dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 24 Muharram 1448 H, 8 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Bakar dan Umar adab berbeda pendapat adab kepada Nabi adab kepada ulama Al-Aqra bin Habis Al-Hujurat jangan mendahului Allah dan Rasul kisah Bani Tamim mengikuti sunnah rumaysho


Kadang seseorang berniat baik, tetapi cara menyampaikannya kurang beradab. Kadang seseorang ingin memberi usulan, tetapi tanpa sadar mendahului keputusan syariat. Kisah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam peristiwa Bani Tamim mengajarkan bahwa orang beriman harus mendahulukan wahyu, menjaga adab, dan menahan ego di hadapan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani Tamim 2. Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang Dicela 3. Jangan Mendahului Wahyu dengan Pendapat 4. Pelajaran untuk Individu 5. Pelajaran untuk Keluarga 6. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan Guru 7. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah Nabi 8. Jangan Jadikan Agama Mengikuti Selera 9. Kesimpulan 10. Nasihat Terakhir Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)Maksud ayat ini adalah janganlah seorang mukmin mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, perbuatan, keputusan, dan sikap. Seorang hamba tidak boleh menetapkan sesuatu dalam agama sebelum mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia juga tidak boleh menjadikan pendapat, perasaan, tradisi, atau semangat pribadinya lebih didahulukan daripada wahyu.Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya, Allah mendengar ucapan kita dan mengetahui perbuatan kita. Maka, adab kepada syariat bukan hanya tampak dalam tindakan lahir, tetapi juga dalam cara bicara, niat, dan sikap hati. Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani TamimMaksud kisah Al-Aqra’ bin Habis dalam sebab turunnya ayat ini adalah kisah kedatangan rombongan Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar yang diangkat menjadi pemimpin mereka adalah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad. Adapun Umar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Al-Aqra’ bin Habis. Keduanya lalu berdiskusi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga suara mereka meninggi.Disebutkan dalam riwayat,قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمِّرِ الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدٍ، وَقَالَ عُمَرُ: بَلْ أَمِّرِ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ، فَتَمَارَيَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ.“Datanglah satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkata, ‘Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.’ Umar berkata, ‘Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat tentang hal itu: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,’ sampai selesai ayat.”Riwayat ini menunjukkan bahwa dua sahabat mulia pun diberi arahan oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang kurang tepat dalam adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bukan sedang membangkang, bukan pula ingin menyelisihi wahyu. Namun, syariat mengajarkan bahwa niat baik tetap harus dibingkai dengan adab.Bab: Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.”Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepada mereka:Bahwasanya datang satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Abu Bakar berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.”Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin.”Abu Bakar berkata, “Tidaklah engkau menginginkan kecuali menyelisihiku.”Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.”Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi.Maka turunlah ayat tentang peristiwa itu:“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,”hingga selesai ayat tersebut. (HR. Bukhari, no. 4566)Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang DicelaPerlu dipahami, kisah ini bukan celaan kepada Al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya muncul karena beliau menjadi salah satu orang yang diusulkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi pemimpin rombongan Bani Tamim.Jadi, inti kisah ini bukan pada kesalahan Al-Aqra’ bin Habis. Inti pelajarannya adalah adab Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sama-sama memiliki maksud baik, tetapi Allah mengajarkan kepada kaum beriman agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, keputusan, dan sikap. Jangan Mendahului Wahyu dengan PendapatAyat ini menjadi kaidah besar dalam kehidupan seorang muslim. Pendapat boleh disampaikan, musyawarah boleh dilakukan, dan ijtihad boleh ditempuh oleh ahlinya. Namun, semua itu tidak boleh mendahului wahyu.Jika telah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seorang mukmin tidak patut berkata, “Menurut saya lebih baik begini.” Ia harus tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Karena iman bukan hanya mengakui kebenaran, tetapi juga menerima, tunduk, dan tidak keberatan terhadap ketetapan syariat. Pelajaran untuk IndividuPertama, jangan terburu-buru berbicara sebelum ilmu jelas. Seorang mukmin belajar menahan lisan sebelum memastikan mana yang benar.Kedua, niat baik tetap perlu adab. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama ingin kebaikan, tetapi tetap diberi arahan ketika adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang sempurna.Ketiga, orang mulia pun bisa keliru. Kesalahan tidak menjatuhkan kemuliaan seseorang jika ia menerima teguran syariat.Keempat, perbedaan pendapat jangan berubah menjadi ego pribadi. Awalnya hanya usulan, tetapi bisa terasa seperti saling menyelisihi jika hati tidak dijaga.Kelima, yang utama bukan menang pendapat, tetapi tunduk pada wahyu. Mukmin tidak mencari kemenangan debat, tetapi mencari ridha Allah. Pelajaran untuk KeluargaPertama, suami-istri jangan mudah meninggikan suara saat berbeda pendapat. Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena nada bicara yang tidak dijaga.Kedua, musyawarah keluarga harus dibingkai dengan takwa. Keputusan rumah tangga bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “mana yang paling diridhai Allah”.Ketiga, jangan mendahului hukum Allah demi perasaan keluarga. Cinta kepada pasangan, anak, atau orang tua tidak boleh membuat kita menabrak syariat.Keempat, saat berbeda pendapat, jaga prasangka. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Engkau hanya ingin menyelisihiku.” Ini menjadi pelajaran agar kita tidak cepat membaca niat buruk orang dekat.Kelima, keluarga yang baik bukan keluarga tanpa beda pendapat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang cepat kembali kepada adab, ilmu, dan ketakwaan. Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan GuruPertama, jaga adab bicara di hadapan ulama. Jika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja para sahabat diajarkan adab, maka kepada pewaris ilmu Nabi pun kita harus menjaga sikap.Kedua, jangan mendahului guru dalam majelis ilmu. Jangan memotong pembicaraan, jangan tergesa membantah, dan jangan merasa paling tahu.Ketiga, bertanya boleh, mengusulkan boleh, tetapi dengan tawadhu. Adab tidak mematikan nalar, tetapi mengarahkan nalar agar tetap sopan.Keempat, jangan menjadikan majelis ilmu sebagai arena debat. Ilmu dicari untuk tunduk kepada Allah, bukan untuk mengalahkan orang lain.Kelima, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Pelajaran dalam Menjalani Sunnah NabiPertama, sunnah harus didahulukan atas selera, kebiasaan, dan pendapat pribadi. Jangan berkata, “Menurut saya lebih cocok begini,” jika sudah jelas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, tidak boleh membuat keputusan agama sebelum tahu dalilnya. Inilah makna tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.Ketiga, menghidupkan sunnah perlu ketundukan, bukan sekadar semangat. Semangat tanpa ilmu bisa membuat seseorang melampaui batas.Keempat, adab adalah bagian dari sunnah. Mengikuti Nabi bukan hanya dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam cara bicara, bersikap, dan berbeda pendapat.Kelima, orang yang cinta sunnah harus paling mudah menerima koreksi. Karena ukuran kebenaran bukan dirinya, tetapi wahyu. Jangan Jadikan Agama Mengikuti SeleraDi zaman ini, banyak orang mudah berkomentar tentang agama sebelum belajar. Ada yang mendahulukan perasaan, ada yang mendahulukan adat, ada pula yang mendahulukan opini tokoh, kelompok, atau pengalaman pribadi. Padahal, sikap seorang mukmin adalah bertanya dahulu, mencari dalil dahulu, lalu tunduk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.Agama bukan mengikuti selera manusia. Agama adalah wahyu yang menuntun manusia. Jika selera kita bertentangan dengan syariat, maka selera itulah yang harus dikoreksi, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan kita. KesimpulanKisah ini mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh mendahului wahyu dengan pendapat, ego, perasaan, tradisi, atau semangat pribadi. Dalam hidup pribadi, keluarga, majelis ilmu, dan dakwah sunnah, kunci selamat adalah ilmu, adab, takwa, dan tunduk kepada Allah serta Rasul-Nya.Orang yang benar-benar beriman akan berhenti ketika dalil telah jelas. Ia tidak menjadikan pendapatnya lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia sadar bahwa keselamatan ada pada mengikuti wahyu, bukan pada memenangkan ego. Nasihat TerakhirHari ini banyak konflik muncul karena manusia ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar tuntunan Allah. Banyak keluarga retak karena suara meninggi, prasangka membesar, dan syariat tidak lagi dijadikan hakim. Banyak majelis ilmu menjadi panas karena debat, bukan karena keikhlasan mencari kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab, tunduk kepada wahyu, dan mudah menerima nasihat.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wahab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” —- Selesai ditulis di perjalanan menuju Sekar Kedhaton dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 24 Muharram 1448 H, 8 Juli 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbu Bakar dan Umar adab berbeda pendapat adab kepada Nabi adab kepada ulama Al-Aqra bin Habis Al-Hujurat jangan mendahului Allah dan Rasul kisah Bani Tamim mengikuti sunnah rumaysho

Baca Zikir Ini di Pagi dan Petang 100 Kali, Besar Sekali Pahalanya – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa mengucapkan pada pagi dan petang: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali,maka pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang datang membawa amalan yang lebih utama daripada amalan yang ia bawa, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa zikir tersebut termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Yaitu kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Jika kamu konsisten mengamalkannya, perhatikanlah apa balasan dari amalan ini. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang membawa amalan yang lebih utama darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” Ini menunjukkan besarnya keutamaan zikir ini. Berapa banyak waktu dan upaya yang diperlukan untuk kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI sebanyak 100 kali? Maka, zikir ini termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Wahai saudaraku, jagalah zikir ini. Konsistenlah agar kamu mengucapkannya pada pagi hari: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Juga pada sore hari, kamu ucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali, setiap hari. ===== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِئَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَجِئْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الذِّكْرَ أَنَّهُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَنْ تَقُولَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَإِذَا حَافَظْتَ عَلَى ذَلِكَ فَانْظُرْ مَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَا؟ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: لَمْ يَجِئْ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِنْهُ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْفَضْلِ الْعَظِيمِ لِهَذَا الذِّكْرِ كَمْ يَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ عِنْدَمَا تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَهَذَا الذِّكْرُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ فَيَا أَخِي احْرِصْ عَلَيْهِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَقُولَ حِينَ تُصْبِحُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ وَكَذَلِكَ حِينَ تُمْسِي تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ كُلَّ يَوْمٍ

Baca Zikir Ini di Pagi dan Petang 100 Kali, Besar Sekali Pahalanya – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa mengucapkan pada pagi dan petang: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali,maka pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang datang membawa amalan yang lebih utama daripada amalan yang ia bawa, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa zikir tersebut termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Yaitu kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Jika kamu konsisten mengamalkannya, perhatikanlah apa balasan dari amalan ini. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang membawa amalan yang lebih utama darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” Ini menunjukkan besarnya keutamaan zikir ini. Berapa banyak waktu dan upaya yang diperlukan untuk kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI sebanyak 100 kali? Maka, zikir ini termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Wahai saudaraku, jagalah zikir ini. Konsistenlah agar kamu mengucapkannya pada pagi hari: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Juga pada sore hari, kamu ucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali, setiap hari. ===== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِئَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَجِئْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الذِّكْرَ أَنَّهُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَنْ تَقُولَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَإِذَا حَافَظْتَ عَلَى ذَلِكَ فَانْظُرْ مَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَا؟ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: لَمْ يَجِئْ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِنْهُ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْفَضْلِ الْعَظِيمِ لِهَذَا الذِّكْرِ كَمْ يَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ عِنْدَمَا تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَهَذَا الذِّكْرُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ فَيَا أَخِي احْرِصْ عَلَيْهِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَقُولَ حِينَ تُصْبِحُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ وَكَذَلِكَ حِينَ تُمْسِي تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ كُلَّ يَوْمٍ
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa mengucapkan pada pagi dan petang: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali,maka pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang datang membawa amalan yang lebih utama daripada amalan yang ia bawa, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa zikir tersebut termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Yaitu kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Jika kamu konsisten mengamalkannya, perhatikanlah apa balasan dari amalan ini. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang membawa amalan yang lebih utama darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” Ini menunjukkan besarnya keutamaan zikir ini. Berapa banyak waktu dan upaya yang diperlukan untuk kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI sebanyak 100 kali? Maka, zikir ini termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Wahai saudaraku, jagalah zikir ini. Konsistenlah agar kamu mengucapkannya pada pagi hari: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Juga pada sore hari, kamu ucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali, setiap hari. ===== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِئَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَجِئْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الذِّكْرَ أَنَّهُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَنْ تَقُولَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَإِذَا حَافَظْتَ عَلَى ذَلِكَ فَانْظُرْ مَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَا؟ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: لَمْ يَجِئْ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِنْهُ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْفَضْلِ الْعَظِيمِ لِهَذَا الذِّكْرِ كَمْ يَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ عِنْدَمَا تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَهَذَا الذِّكْرُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ فَيَا أَخِي احْرِصْ عَلَيْهِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَقُولَ حِينَ تُصْبِحُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ وَكَذَلِكَ حِينَ تُمْسِي تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ كُلَّ يَوْمٍ


Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa mengucapkan pada pagi dan petang: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali,maka pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang datang membawa amalan yang lebih utama daripada amalan yang ia bawa, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa zikir tersebut termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Yaitu kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Jika kamu konsisten mengamalkannya, perhatikanlah apa balasan dari amalan ini. Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang datang membawa amalan yang lebih utama darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan, atau lebih banyak darinya.” Ini menunjukkan besarnya keutamaan zikir ini. Berapa banyak waktu dan upaya yang diperlukan untuk kamu mengucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI sebanyak 100 kali? Maka, zikir ini termasuk Zikir Pagi dan Zikir Petang. Wahai saudaraku, jagalah zikir ini. Konsistenlah agar kamu mengucapkannya pada pagi hari: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali. Juga pada sore hari, kamu ucapkan: SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI, sebanyak 100 kali, setiap hari. ===== جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِئَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَجِئْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا الذِّكْرَ أَنَّهُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَنْ تَقُولَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَإِذَا حَافَظْتَ عَلَى ذَلِكَ فَانْظُرْ مَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَا؟ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: لَمْ يَجِئْ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِنْهُ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْفَضْلِ الْعَظِيمِ لِهَذَا الذِّكْرِ كَمْ يَأْخُذُ مِنَ الْوَقْتِ وَمِنَ الْجُهْدِ؟ عِنْدَمَا تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ فَهَذَا الذِّكْرُ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ فَيَا أَخِي احْرِصْ عَلَيْهِ احْرِصْ عَلَى أَنْ تَقُولَ حِينَ تُصْبِحُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ وَكَذَلِكَ حِينَ تُمْسِي تَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، تُكَرِّرُهَا مِئَةَ مَرَّةٍ كُلَّ يَوْمٍ

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk:Satu jenis dan satu ‘illat seperti: emas dengan emas;Beda jenis namun satu ‘illat seperti: emas dengan perakPada dua kondisi di atas, hukumnya adalah harus ada taqabudh (serah terima) ketika akad terjadi. Tidak boleh ada penundaan dalam penyerahan salah satu barang. Jika terdapat penundaan dalam penyerahan salah satu barang, maka dikhawatirkan terjatuh kepada riba nasi’ah.Namun, terdapat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:Ketentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Mayoritas fuqaha bersepakat bahwasanya waktu yang disyaratkan untuk dikatakan “serah terima” adalah tatkala ada di majelis akad. Mereka juga bersepakat bahwa waktu serah terima tetap berjalan sampai majelis akad selesai; majelis akad dianggap selesai ketika berpisahnya raga kedua belah pihak yang melakukan transaksi.Tatkala kedua belah pihak berpindah ke tempat yang lain misalnya, maka tetap dianggap masih dalam satu majelis akad, selama keduanya masih tetap bersama dan tidak berpisah. Hanya saja, dalam hal ini Imam Malik rahimahullah melarang hal tersebut dan menganggapnya telah berpisah majelis.Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Para ulama telah bersepakat bahwa serah terima secara langsung merupakan syarat dalam akad sharf (pertukaran mata uang), yaitu menjual harga (uang) dengan harga lainnya.Al-Imam Ibnu Al-Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوْا أَنَّ المُتَصَارِفَيْنِ إِذَا تَفَارَقَا قَبْلَ أَنْ يَتَقَابَضَا: أَنَّ الصَّرْفَ فَاسِدٌ“Para ulama bersepakat bahwa jika kedua belah pihak yang bertransaksi berpisah sebelum melakukan serah terima, maka sharf (pertukaran)nya batal.” [2]Adapun mengenai harta-harta ribawi lainnya, para ulama berbeda pendapat mengenai syarat serah terima sebelum berpisah dari majelis akad. Setidaknya terdapat dua pendapat:Pendapat pertama: Disyaratkan untuk serah terima sebelum berpisah dari majelis, baik dalam transaksi sharf (pertukaran mata uang) atau harta ribawi lainnya. Jika kedua belah pihak berpisah sebelum adanya serah terima, maka akadnya tidak sah. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.Hal itu karena larangan nasi’ah (penangguhan) telah ditetapkan baik dalam sharf ataupun dalam penjualan barang-barang ribawi dengan sejenisnya. Sebagaimana telah disebutkan hadis-hadis tentang masalah ini. Di antaranya adalah hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antaranya juga hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Jelas pada hadis-hadis di atas, tidak ada perbedaan antara pertukaran mata uang atau pertukaran barang-barang ribawi. Artinya, syarat serah terima atau pertukaran antara kedua barang secara kontan tetap berlaku.Pendapat kedua: Tidak disyaratkan serah terima sebelum berpisah dari majelis kecuali pada sharf (pertukaran mata uang) saja. Artinya, jika terjadi transaksi pada barang-barang ribawi, maka tetap sah walaupun tidak dilakukan serah terima secara langsung. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah.Al-Imam Al-Kasani rahimahullah (salah seorang ulama Hanafiyah) berkata,وَأَمَّا التَّقَابُضُ فِي بَيْعِ الْمَطْعُومِ بِالْمَطْعُومِ بِجِنْسِهِ أَوْ بِغَيْرِ جِنْسِهِ بِأَنْ بَاعَ قَفِيزَ حِنْطَةٍ بِقَفِيزِ حِنْطَةٍ أَوْ بِقَفِيزَيْ شَعِيرٍ وَعَيَّنَا الْبَدَلَيْنِ بِالْإِشَارَةِ إلَيْهِمَا، فَهَلْ هُوَ شَرْطٌ؟ اُخْتُلِفَ فِيهِ قَالَ أَصْحَابُنَا: لَيْسَ بِشَرْطٍ“Adapun mengenai serah terima (taqabudh) dalam jual beli makanan dengan makanan yang sejenis atau berbeda jenis -seperti menjual satu kafiz (satuan takaran) gandum dengan satu kafiz gandum atau dengan kafiz sya’ir (jelai), dan keduanya telah menentukan barang penggantinya dengan cara menunjuknya, apakah hal itu (taqabudh) menjadi syarat? Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat. Sahabat-sahabat kami (ulama Hanafiyah) berpendapat: itu bukan syarat.” [3]Menurut ulama Hanafiyah, jual beli di atas cukup disyaratkan adanya ta’yin (penentuan) barang tanpa perlu adanya serah terima di satu majelis atau diserahkan secara kontan.Para ulama yang memilih pendapat ini berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ​“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.“ (QS. An-Nisa: 29)Juga firman Allah Ta’ala, وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا​“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Al-Imam Al-Kasani rahimahullah kembali menuturkan,نَهَى عَنْ الْأَكْلِ بِدُونِ التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ، وَاسْتَثْنَى التِّجَارَةَ عَنْ تَرَاضٍ فَيَدُلُّ عَلَى إبَاحَةِ الْأَكْلِ فِي التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ مِنْ غَيْرِ شَرْطِ الْقَبْضِ، وَذَلِكَ دَلِيلُ ثُبُوتِ الْمِلْكِ بِدُونِ التَّقَابُضِ؛ لِأَنَّ أَكْلَ مَالِ الْغَيْرِ لَيْسَ بِمُبَاحٍ.“Ayat-ayat tersebut melarang memakan harta tanpa perdagangan yang didasari keridaan, dan mengecualikan perdagangan yang didasari keridaan. Hal ini menunjukkan dibolehkannya memakan harta dalam perdagangan yang saling rida tanpa syarat serah terima, dan itu adalah bukti tetapnya kepemilikan tanpa serah terima, karena memakan harta orang lain tidaklah halal.” [4]Kemudian secara garis besar, menurut pendapat ini, lafaz hadis (يداً بيد) yang berarti ‘tangan dengan tangan’ tidak diartikan secara dzahir-nya. Menurut pendapat ini, ‘tangan dengan tangan’ maksudnya bukanlah serah terima, namun maksudnya adalah alat untuk menunjuk (menentukan barang), karena isyarat dengan tangan adalah sebab penentuan barang.Dalam hal ini, pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Yaitu, tetap disyaratkan taqabudh (serah terima) ketika akad. Karena makna ‘tangan’ pada hadis di atas, maknanya adalah makna haqiqi (sebenarnya), benar-benar menggunakan tangan untuk melakukan serah terima barang.Hal tersebut berlaku pada jenis harta atau barang ribawi jika dijual dengan yang sejenis, atau yang sama dalam ‘illat-nya. Maka syarat tetap berlaku dan berjalan pada jenis transaksi seperti ini.Jika terdapat aib atau cacat pada barang yang ditukar, maka terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: aib atau cacat diketahui sebelum kedua belah pihak berpisah dari majelis akad.Maka boleh hukumnya untuk menukar atau mengganti barang yang sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.Keadaan kedua: aib atau cacat diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Jumhur fuqaha berpendapat tidak boleh untuk menukar atau mengganti barang tersebut. Karena kedua belah pihak sudah berpisah dari majelis akad. Namun, terdapat pendapat dari sebagian ulama Hanabilah, bolehnya hal tersebut. Kaidah yang mereka gunakan adalah,“Hal yang boleh terjadi sebelum berpisah dari majelis akad, maka boleh pula setelah berpisah dari majelis akad.” Sehingga menurut pendapat ini, boleh hukumnya menukar kembali barang yang terdapat aib atau cacat yang diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 14***Depok, 4 Muharam 1447/ 19 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 224-226), dengan beberapa perubahan dan tambahan.[2] Al-Ijma’ no. 488, hal. 97.[3] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).[4] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.Al-Kasani, Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud. Bada’i’ ash-Shana’i’ fi Tartib ash-Sharai’. Cetakan pertama, 1327-1328 H. Mesir.An-Naisaburi, Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Abu ‘Abd al-A’la Khalid bin Muhammad bin ‘Utsman. Kairo, Mesir: Dar al-Atsar li an-Nasyr wa at-Tawzi’, 2004/1425 H.

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk:Satu jenis dan satu ‘illat seperti: emas dengan emas;Beda jenis namun satu ‘illat seperti: emas dengan perakPada dua kondisi di atas, hukumnya adalah harus ada taqabudh (serah terima) ketika akad terjadi. Tidak boleh ada penundaan dalam penyerahan salah satu barang. Jika terdapat penundaan dalam penyerahan salah satu barang, maka dikhawatirkan terjatuh kepada riba nasi’ah.Namun, terdapat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:Ketentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Mayoritas fuqaha bersepakat bahwasanya waktu yang disyaratkan untuk dikatakan “serah terima” adalah tatkala ada di majelis akad. Mereka juga bersepakat bahwa waktu serah terima tetap berjalan sampai majelis akad selesai; majelis akad dianggap selesai ketika berpisahnya raga kedua belah pihak yang melakukan transaksi.Tatkala kedua belah pihak berpindah ke tempat yang lain misalnya, maka tetap dianggap masih dalam satu majelis akad, selama keduanya masih tetap bersama dan tidak berpisah. Hanya saja, dalam hal ini Imam Malik rahimahullah melarang hal tersebut dan menganggapnya telah berpisah majelis.Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Para ulama telah bersepakat bahwa serah terima secara langsung merupakan syarat dalam akad sharf (pertukaran mata uang), yaitu menjual harga (uang) dengan harga lainnya.Al-Imam Ibnu Al-Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوْا أَنَّ المُتَصَارِفَيْنِ إِذَا تَفَارَقَا قَبْلَ أَنْ يَتَقَابَضَا: أَنَّ الصَّرْفَ فَاسِدٌ“Para ulama bersepakat bahwa jika kedua belah pihak yang bertransaksi berpisah sebelum melakukan serah terima, maka sharf (pertukaran)nya batal.” [2]Adapun mengenai harta-harta ribawi lainnya, para ulama berbeda pendapat mengenai syarat serah terima sebelum berpisah dari majelis akad. Setidaknya terdapat dua pendapat:Pendapat pertama: Disyaratkan untuk serah terima sebelum berpisah dari majelis, baik dalam transaksi sharf (pertukaran mata uang) atau harta ribawi lainnya. Jika kedua belah pihak berpisah sebelum adanya serah terima, maka akadnya tidak sah. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.Hal itu karena larangan nasi’ah (penangguhan) telah ditetapkan baik dalam sharf ataupun dalam penjualan barang-barang ribawi dengan sejenisnya. Sebagaimana telah disebutkan hadis-hadis tentang masalah ini. Di antaranya adalah hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antaranya juga hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Jelas pada hadis-hadis di atas, tidak ada perbedaan antara pertukaran mata uang atau pertukaran barang-barang ribawi. Artinya, syarat serah terima atau pertukaran antara kedua barang secara kontan tetap berlaku.Pendapat kedua: Tidak disyaratkan serah terima sebelum berpisah dari majelis kecuali pada sharf (pertukaran mata uang) saja. Artinya, jika terjadi transaksi pada barang-barang ribawi, maka tetap sah walaupun tidak dilakukan serah terima secara langsung. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah.Al-Imam Al-Kasani rahimahullah (salah seorang ulama Hanafiyah) berkata,وَأَمَّا التَّقَابُضُ فِي بَيْعِ الْمَطْعُومِ بِالْمَطْعُومِ بِجِنْسِهِ أَوْ بِغَيْرِ جِنْسِهِ بِأَنْ بَاعَ قَفِيزَ حِنْطَةٍ بِقَفِيزِ حِنْطَةٍ أَوْ بِقَفِيزَيْ شَعِيرٍ وَعَيَّنَا الْبَدَلَيْنِ بِالْإِشَارَةِ إلَيْهِمَا، فَهَلْ هُوَ شَرْطٌ؟ اُخْتُلِفَ فِيهِ قَالَ أَصْحَابُنَا: لَيْسَ بِشَرْطٍ“Adapun mengenai serah terima (taqabudh) dalam jual beli makanan dengan makanan yang sejenis atau berbeda jenis -seperti menjual satu kafiz (satuan takaran) gandum dengan satu kafiz gandum atau dengan kafiz sya’ir (jelai), dan keduanya telah menentukan barang penggantinya dengan cara menunjuknya, apakah hal itu (taqabudh) menjadi syarat? Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat. Sahabat-sahabat kami (ulama Hanafiyah) berpendapat: itu bukan syarat.” [3]Menurut ulama Hanafiyah, jual beli di atas cukup disyaratkan adanya ta’yin (penentuan) barang tanpa perlu adanya serah terima di satu majelis atau diserahkan secara kontan.Para ulama yang memilih pendapat ini berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ​“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.“ (QS. An-Nisa: 29)Juga firman Allah Ta’ala, وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا​“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Al-Imam Al-Kasani rahimahullah kembali menuturkan,نَهَى عَنْ الْأَكْلِ بِدُونِ التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ، وَاسْتَثْنَى التِّجَارَةَ عَنْ تَرَاضٍ فَيَدُلُّ عَلَى إبَاحَةِ الْأَكْلِ فِي التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ مِنْ غَيْرِ شَرْطِ الْقَبْضِ، وَذَلِكَ دَلِيلُ ثُبُوتِ الْمِلْكِ بِدُونِ التَّقَابُضِ؛ لِأَنَّ أَكْلَ مَالِ الْغَيْرِ لَيْسَ بِمُبَاحٍ.“Ayat-ayat tersebut melarang memakan harta tanpa perdagangan yang didasari keridaan, dan mengecualikan perdagangan yang didasari keridaan. Hal ini menunjukkan dibolehkannya memakan harta dalam perdagangan yang saling rida tanpa syarat serah terima, dan itu adalah bukti tetapnya kepemilikan tanpa serah terima, karena memakan harta orang lain tidaklah halal.” [4]Kemudian secara garis besar, menurut pendapat ini, lafaz hadis (يداً بيد) yang berarti ‘tangan dengan tangan’ tidak diartikan secara dzahir-nya. Menurut pendapat ini, ‘tangan dengan tangan’ maksudnya bukanlah serah terima, namun maksudnya adalah alat untuk menunjuk (menentukan barang), karena isyarat dengan tangan adalah sebab penentuan barang.Dalam hal ini, pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Yaitu, tetap disyaratkan taqabudh (serah terima) ketika akad. Karena makna ‘tangan’ pada hadis di atas, maknanya adalah makna haqiqi (sebenarnya), benar-benar menggunakan tangan untuk melakukan serah terima barang.Hal tersebut berlaku pada jenis harta atau barang ribawi jika dijual dengan yang sejenis, atau yang sama dalam ‘illat-nya. Maka syarat tetap berlaku dan berjalan pada jenis transaksi seperti ini.Jika terdapat aib atau cacat pada barang yang ditukar, maka terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: aib atau cacat diketahui sebelum kedua belah pihak berpisah dari majelis akad.Maka boleh hukumnya untuk menukar atau mengganti barang yang sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.Keadaan kedua: aib atau cacat diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Jumhur fuqaha berpendapat tidak boleh untuk menukar atau mengganti barang tersebut. Karena kedua belah pihak sudah berpisah dari majelis akad. Namun, terdapat pendapat dari sebagian ulama Hanabilah, bolehnya hal tersebut. Kaidah yang mereka gunakan adalah,“Hal yang boleh terjadi sebelum berpisah dari majelis akad, maka boleh pula setelah berpisah dari majelis akad.” Sehingga menurut pendapat ini, boleh hukumnya menukar kembali barang yang terdapat aib atau cacat yang diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 14***Depok, 4 Muharam 1447/ 19 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 224-226), dengan beberapa perubahan dan tambahan.[2] Al-Ijma’ no. 488, hal. 97.[3] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).[4] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.Al-Kasani, Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud. Bada’i’ ash-Shana’i’ fi Tartib ash-Sharai’. Cetakan pertama, 1327-1328 H. Mesir.An-Naisaburi, Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Abu ‘Abd al-A’la Khalid bin Muhammad bin ‘Utsman. Kairo, Mesir: Dar al-Atsar li an-Nasyr wa at-Tawzi’, 2004/1425 H.
Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk:Satu jenis dan satu ‘illat seperti: emas dengan emas;Beda jenis namun satu ‘illat seperti: emas dengan perakPada dua kondisi di atas, hukumnya adalah harus ada taqabudh (serah terima) ketika akad terjadi. Tidak boleh ada penundaan dalam penyerahan salah satu barang. Jika terdapat penundaan dalam penyerahan salah satu barang, maka dikhawatirkan terjatuh kepada riba nasi’ah.Namun, terdapat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:Ketentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Mayoritas fuqaha bersepakat bahwasanya waktu yang disyaratkan untuk dikatakan “serah terima” adalah tatkala ada di majelis akad. Mereka juga bersepakat bahwa waktu serah terima tetap berjalan sampai majelis akad selesai; majelis akad dianggap selesai ketika berpisahnya raga kedua belah pihak yang melakukan transaksi.Tatkala kedua belah pihak berpindah ke tempat yang lain misalnya, maka tetap dianggap masih dalam satu majelis akad, selama keduanya masih tetap bersama dan tidak berpisah. Hanya saja, dalam hal ini Imam Malik rahimahullah melarang hal tersebut dan menganggapnya telah berpisah majelis.Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Para ulama telah bersepakat bahwa serah terima secara langsung merupakan syarat dalam akad sharf (pertukaran mata uang), yaitu menjual harga (uang) dengan harga lainnya.Al-Imam Ibnu Al-Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوْا أَنَّ المُتَصَارِفَيْنِ إِذَا تَفَارَقَا قَبْلَ أَنْ يَتَقَابَضَا: أَنَّ الصَّرْفَ فَاسِدٌ“Para ulama bersepakat bahwa jika kedua belah pihak yang bertransaksi berpisah sebelum melakukan serah terima, maka sharf (pertukaran)nya batal.” [2]Adapun mengenai harta-harta ribawi lainnya, para ulama berbeda pendapat mengenai syarat serah terima sebelum berpisah dari majelis akad. Setidaknya terdapat dua pendapat:Pendapat pertama: Disyaratkan untuk serah terima sebelum berpisah dari majelis, baik dalam transaksi sharf (pertukaran mata uang) atau harta ribawi lainnya. Jika kedua belah pihak berpisah sebelum adanya serah terima, maka akadnya tidak sah. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.Hal itu karena larangan nasi’ah (penangguhan) telah ditetapkan baik dalam sharf ataupun dalam penjualan barang-barang ribawi dengan sejenisnya. Sebagaimana telah disebutkan hadis-hadis tentang masalah ini. Di antaranya adalah hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antaranya juga hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Jelas pada hadis-hadis di atas, tidak ada perbedaan antara pertukaran mata uang atau pertukaran barang-barang ribawi. Artinya, syarat serah terima atau pertukaran antara kedua barang secara kontan tetap berlaku.Pendapat kedua: Tidak disyaratkan serah terima sebelum berpisah dari majelis kecuali pada sharf (pertukaran mata uang) saja. Artinya, jika terjadi transaksi pada barang-barang ribawi, maka tetap sah walaupun tidak dilakukan serah terima secara langsung. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah.Al-Imam Al-Kasani rahimahullah (salah seorang ulama Hanafiyah) berkata,وَأَمَّا التَّقَابُضُ فِي بَيْعِ الْمَطْعُومِ بِالْمَطْعُومِ بِجِنْسِهِ أَوْ بِغَيْرِ جِنْسِهِ بِأَنْ بَاعَ قَفِيزَ حِنْطَةٍ بِقَفِيزِ حِنْطَةٍ أَوْ بِقَفِيزَيْ شَعِيرٍ وَعَيَّنَا الْبَدَلَيْنِ بِالْإِشَارَةِ إلَيْهِمَا، فَهَلْ هُوَ شَرْطٌ؟ اُخْتُلِفَ فِيهِ قَالَ أَصْحَابُنَا: لَيْسَ بِشَرْطٍ“Adapun mengenai serah terima (taqabudh) dalam jual beli makanan dengan makanan yang sejenis atau berbeda jenis -seperti menjual satu kafiz (satuan takaran) gandum dengan satu kafiz gandum atau dengan kafiz sya’ir (jelai), dan keduanya telah menentukan barang penggantinya dengan cara menunjuknya, apakah hal itu (taqabudh) menjadi syarat? Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat. Sahabat-sahabat kami (ulama Hanafiyah) berpendapat: itu bukan syarat.” [3]Menurut ulama Hanafiyah, jual beli di atas cukup disyaratkan adanya ta’yin (penentuan) barang tanpa perlu adanya serah terima di satu majelis atau diserahkan secara kontan.Para ulama yang memilih pendapat ini berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ​“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.“ (QS. An-Nisa: 29)Juga firman Allah Ta’ala, وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا​“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Al-Imam Al-Kasani rahimahullah kembali menuturkan,نَهَى عَنْ الْأَكْلِ بِدُونِ التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ، وَاسْتَثْنَى التِّجَارَةَ عَنْ تَرَاضٍ فَيَدُلُّ عَلَى إبَاحَةِ الْأَكْلِ فِي التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ مِنْ غَيْرِ شَرْطِ الْقَبْضِ، وَذَلِكَ دَلِيلُ ثُبُوتِ الْمِلْكِ بِدُونِ التَّقَابُضِ؛ لِأَنَّ أَكْلَ مَالِ الْغَيْرِ لَيْسَ بِمُبَاحٍ.“Ayat-ayat tersebut melarang memakan harta tanpa perdagangan yang didasari keridaan, dan mengecualikan perdagangan yang didasari keridaan. Hal ini menunjukkan dibolehkannya memakan harta dalam perdagangan yang saling rida tanpa syarat serah terima, dan itu adalah bukti tetapnya kepemilikan tanpa serah terima, karena memakan harta orang lain tidaklah halal.” [4]Kemudian secara garis besar, menurut pendapat ini, lafaz hadis (يداً بيد) yang berarti ‘tangan dengan tangan’ tidak diartikan secara dzahir-nya. Menurut pendapat ini, ‘tangan dengan tangan’ maksudnya bukanlah serah terima, namun maksudnya adalah alat untuk menunjuk (menentukan barang), karena isyarat dengan tangan adalah sebab penentuan barang.Dalam hal ini, pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Yaitu, tetap disyaratkan taqabudh (serah terima) ketika akad. Karena makna ‘tangan’ pada hadis di atas, maknanya adalah makna haqiqi (sebenarnya), benar-benar menggunakan tangan untuk melakukan serah terima barang.Hal tersebut berlaku pada jenis harta atau barang ribawi jika dijual dengan yang sejenis, atau yang sama dalam ‘illat-nya. Maka syarat tetap berlaku dan berjalan pada jenis transaksi seperti ini.Jika terdapat aib atau cacat pada barang yang ditukar, maka terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: aib atau cacat diketahui sebelum kedua belah pihak berpisah dari majelis akad.Maka boleh hukumnya untuk menukar atau mengganti barang yang sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.Keadaan kedua: aib atau cacat diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Jumhur fuqaha berpendapat tidak boleh untuk menukar atau mengganti barang tersebut. Karena kedua belah pihak sudah berpisah dari majelis akad. Namun, terdapat pendapat dari sebagian ulama Hanabilah, bolehnya hal tersebut. Kaidah yang mereka gunakan adalah,“Hal yang boleh terjadi sebelum berpisah dari majelis akad, maka boleh pula setelah berpisah dari majelis akad.” Sehingga menurut pendapat ini, boleh hukumnya menukar kembali barang yang terdapat aib atau cacat yang diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 14***Depok, 4 Muharam 1447/ 19 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 224-226), dengan beberapa perubahan dan tambahan.[2] Al-Ijma’ no. 488, hal. 97.[3] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).[4] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.Al-Kasani, Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud. Bada’i’ ash-Shana’i’ fi Tartib ash-Sharai’. Cetakan pertama, 1327-1328 H. Mesir.An-Naisaburi, Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Abu ‘Abd al-A’la Khalid bin Muhammad bin ‘Utsman. Kairo, Mesir: Dar al-Atsar li an-Nasyr wa at-Tawzi’, 2004/1425 H.


Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk:Satu jenis dan satu ‘illat seperti: emas dengan emas;Beda jenis namun satu ‘illat seperti: emas dengan perakPada dua kondisi di atas, hukumnya adalah harus ada taqabudh (serah terima) ketika akad terjadi. Tidak boleh ada penundaan dalam penyerahan salah satu barang. Jika terdapat penundaan dalam penyerahan salah satu barang, maka dikhawatirkan terjatuh kepada riba nasi’ah.Namun, terdapat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:Ketentuan-ketentuan taqabudh (serah terima) [1]Mayoritas fuqaha bersepakat bahwasanya waktu yang disyaratkan untuk dikatakan “serah terima” adalah tatkala ada di majelis akad. Mereka juga bersepakat bahwa waktu serah terima tetap berjalan sampai majelis akad selesai; majelis akad dianggap selesai ketika berpisahnya raga kedua belah pihak yang melakukan transaksi.Tatkala kedua belah pihak berpindah ke tempat yang lain misalnya, maka tetap dianggap masih dalam satu majelis akad, selama keduanya masih tetap bersama dan tidak berpisah. Hanya saja, dalam hal ini Imam Malik rahimahullah melarang hal tersebut dan menganggapnya telah berpisah majelis.Bentuk penerapan taqabudh (serah terima)Para ulama telah bersepakat bahwa serah terima secara langsung merupakan syarat dalam akad sharf (pertukaran mata uang), yaitu menjual harga (uang) dengan harga lainnya.Al-Imam Ibnu Al-Mundzir rahimahullah berkata,وَأَجْمَعُوْا أَنَّ المُتَصَارِفَيْنِ إِذَا تَفَارَقَا قَبْلَ أَنْ يَتَقَابَضَا: أَنَّ الصَّرْفَ فَاسِدٌ“Para ulama bersepakat bahwa jika kedua belah pihak yang bertransaksi berpisah sebelum melakukan serah terima, maka sharf (pertukaran)nya batal.” [2]Adapun mengenai harta-harta ribawi lainnya, para ulama berbeda pendapat mengenai syarat serah terima sebelum berpisah dari majelis akad. Setidaknya terdapat dua pendapat:Pendapat pertama: Disyaratkan untuk serah terima sebelum berpisah dari majelis, baik dalam transaksi sharf (pertukaran mata uang) atau harta ribawi lainnya. Jika kedua belah pihak berpisah sebelum adanya serah terima, maka akadnya tidak sah. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.Hal itu karena larangan nasi’ah (penangguhan) telah ditetapkan baik dalam sharf ataupun dalam penjualan barang-barang ribawi dengan sejenisnya. Sebagaimana telah disebutkan hadis-hadis tentang masalah ini. Di antaranya adalah hadis ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ“Emas dengan emas adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Gandum dengan gandum adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya. Sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum) adalah riba, kecuali jika (diserahkan) secara langsung dan sama jumlahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antaranya juga hadis ‘Ubadah bin Shamith,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar secara kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau menukarnya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)Jelas pada hadis-hadis di atas, tidak ada perbedaan antara pertukaran mata uang atau pertukaran barang-barang ribawi. Artinya, syarat serah terima atau pertukaran antara kedua barang secara kontan tetap berlaku.Pendapat kedua: Tidak disyaratkan serah terima sebelum berpisah dari majelis kecuali pada sharf (pertukaran mata uang) saja. Artinya, jika terjadi transaksi pada barang-barang ribawi, maka tetap sah walaupun tidak dilakukan serah terima secara langsung. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah.Al-Imam Al-Kasani rahimahullah (salah seorang ulama Hanafiyah) berkata,وَأَمَّا التَّقَابُضُ فِي بَيْعِ الْمَطْعُومِ بِالْمَطْعُومِ بِجِنْسِهِ أَوْ بِغَيْرِ جِنْسِهِ بِأَنْ بَاعَ قَفِيزَ حِنْطَةٍ بِقَفِيزِ حِنْطَةٍ أَوْ بِقَفِيزَيْ شَعِيرٍ وَعَيَّنَا الْبَدَلَيْنِ بِالْإِشَارَةِ إلَيْهِمَا، فَهَلْ هُوَ شَرْطٌ؟ اُخْتُلِفَ فِيهِ قَالَ أَصْحَابُنَا: لَيْسَ بِشَرْطٍ“Adapun mengenai serah terima (taqabudh) dalam jual beli makanan dengan makanan yang sejenis atau berbeda jenis -seperti menjual satu kafiz (satuan takaran) gandum dengan satu kafiz gandum atau dengan kafiz sya’ir (jelai), dan keduanya telah menentukan barang penggantinya dengan cara menunjuknya, apakah hal itu (taqabudh) menjadi syarat? Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat. Sahabat-sahabat kami (ulama Hanafiyah) berpendapat: itu bukan syarat.” [3]Menurut ulama Hanafiyah, jual beli di atas cukup disyaratkan adanya ta’yin (penentuan) barang tanpa perlu adanya serah terima di satu majelis atau diserahkan secara kontan.Para ulama yang memilih pendapat ini berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ​“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.“ (QS. An-Nisa: 29)Juga firman Allah Ta’ala, وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا​“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)Al-Imam Al-Kasani rahimahullah kembali menuturkan,نَهَى عَنْ الْأَكْلِ بِدُونِ التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ، وَاسْتَثْنَى التِّجَارَةَ عَنْ تَرَاضٍ فَيَدُلُّ عَلَى إبَاحَةِ الْأَكْلِ فِي التِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ مِنْ غَيْرِ شَرْطِ الْقَبْضِ، وَذَلِكَ دَلِيلُ ثُبُوتِ الْمِلْكِ بِدُونِ التَّقَابُضِ؛ لِأَنَّ أَكْلَ مَالِ الْغَيْرِ لَيْسَ بِمُبَاحٍ.“Ayat-ayat tersebut melarang memakan harta tanpa perdagangan yang didasari keridaan, dan mengecualikan perdagangan yang didasari keridaan. Hal ini menunjukkan dibolehkannya memakan harta dalam perdagangan yang saling rida tanpa syarat serah terima, dan itu adalah bukti tetapnya kepemilikan tanpa serah terima, karena memakan harta orang lain tidaklah halal.” [4]Kemudian secara garis besar, menurut pendapat ini, lafaz hadis (يداً بيد) yang berarti ‘tangan dengan tangan’ tidak diartikan secara dzahir-nya. Menurut pendapat ini, ‘tangan dengan tangan’ maksudnya bukanlah serah terima, namun maksudnya adalah alat untuk menunjuk (menentukan barang), karena isyarat dengan tangan adalah sebab penentuan barang.Dalam hal ini, pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Yaitu, tetap disyaratkan taqabudh (serah terima) ketika akad. Karena makna ‘tangan’ pada hadis di atas, maknanya adalah makna haqiqi (sebenarnya), benar-benar menggunakan tangan untuk melakukan serah terima barang.Hal tersebut berlaku pada jenis harta atau barang ribawi jika dijual dengan yang sejenis, atau yang sama dalam ‘illat-nya. Maka syarat tetap berlaku dan berjalan pada jenis transaksi seperti ini.Jika terdapat aib atau cacat pada barang yang ditukar, maka terdapat dua keadaan:Keadaan pertama: aib atau cacat diketahui sebelum kedua belah pihak berpisah dari majelis akad.Maka boleh hukumnya untuk menukar atau mengganti barang yang sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.Keadaan kedua: aib atau cacat diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Jumhur fuqaha berpendapat tidak boleh untuk menukar atau mengganti barang tersebut. Karena kedua belah pihak sudah berpisah dari majelis akad. Namun, terdapat pendapat dari sebagian ulama Hanabilah, bolehnya hal tersebut. Kaidah yang mereka gunakan adalah,“Hal yang boleh terjadi sebelum berpisah dari majelis akad, maka boleh pula setelah berpisah dari majelis akad.” Sehingga menurut pendapat ini, boleh hukumnya menukar kembali barang yang terdapat aib atau cacat yang diketahui setelah kedua belah pihak berpisah.Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 14***Depok, 4 Muharam 1447/ 19 Juni 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 224-226), dengan beberapa perubahan dan tambahan.[2] Al-Ijma’ no. 488, hal. 97.[3] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).[4] Badaa’iu As-Shanai’ (5: 219).Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.Al-Kasani, Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud. Bada’i’ ash-Shana’i’ fi Tartib ash-Sharai’. Cetakan pertama, 1327-1328 H. Mesir.An-Naisaburi, Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir. Al-Ijma’. Di-tahqiq oleh Abu ‘Abd al-A’la Khalid bin Muhammad bin ‘Utsman. Kairo, Mesir: Dar al-Atsar li an-Nasyr wa at-Tawzi’, 2004/1425 H.

Istri Shalihah dalam Islam

Oleh: Dr. Syarif Fauzi Sultan Pada dasarnya, pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kebahagiaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21). Perhatikanlah ayat tersebut, ketenteraman, kasih, dan sayang, bukankah ini adalah unsur-unsur kebahagiaan? Cukup bagimu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjelaskan kepada kita bahwa pernikahan merupakan nikmat besar yang pantas untuk disyukuri. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: فَيَلْقَى الْعَبْدُ رَبَّهُ، فَيَقُولُ اللهُ: أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟ فَيَقُولُ: بَلَى يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيُقَالُ: إِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي “Lalu hamba itu menemui Tuhannya, maka Allah berfirman: ‘Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menjinakkan kuda dan unta bagimu, serta membiarkanmu memimpin dan menikmati hasil?’ Ia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengira bahwa engkau akan menemui-Ku?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.’” (HR. Muslim). Namun kebahagiaan pernikahan ini bersyarat, yaitu apabila istrinya shalihah. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalamm bersabda: ثَلَاثٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ “Tiga hal yang termasuk kebahagiaan anak Adam: wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang baik (nyaman), dan kendaraan yang baik.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani). Sebab wanita yang punya keshalehan ini akan menjadi penyokongnya dalam perkara yang paling agung bagi seorang muslim, yaitu perkara agamanya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي “Barang siapa yang dianugerahi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam (menjaga) separuh sisanya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani, dan sanadnya shahih).  Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda: الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya). Yakni dunia adalah kenikmatan yang sementara, dan kenikmatan terbaik yang ada di dalamnya adalah istri yang shalihah, karena ia akan membahagiakan suaminya di dunia dan membantunya dalam urusan akhiratnya, sehingga ia menjadi kenikmatan yang terbaik dan paling kekal! Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ bahwa Ibnu Yasar berkata: “Tidaklah aku merasakan ghibtah (menginginkan kenikmatan yang serupa) kepadanya kecuali dalam tiga perkara, istri yang shalihah, tetangga yang shaleh, dan tempat tinggal yang luas.”  Al-Ashma’i berkata: “Aku tidak pernah merasakan ghibtah terhadap seorang laki-laki atas sesuatu yang meninggikan derajat dirinya —setelah keimanan kepada Allah Ta’ala— seperti atas istri yang baik, dan tidaklah ia merendahkan derajat dirinya —setelah kekafiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala— seperti dengan istri yang buruk perangainya.” Benarlah orang yang bersyair: سَعَادَةُ الْمَرْءِ فِي خَمْسٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ: صَلَاحِ جِيرَانِهِ وَالْبِرِّ فِي وَلَدِهِ Kebahagiaan seseorang terletak pada lima hal jika semuanya terkumpul, Kebaikan tetangganya, bakti anaknya. وَزَوْجَةٍ حَسُنَتْ أَخْلَاقُهَا وَكَذَا خِلٌّ وَفِيٌّ وَرِزْقُ الْمَرْءِ فِي بَلَدِهِ. Istri yang mulia akhlaknya, serta, Sahabat yang setia dan rezeki yang didapat di negerinya sendiri. Cara mendapatkan istri yang shalihah Pertama: Doa Ini merupakan sarana yang sangat berguna di setiap kondisi bagi orang-orang yang hendak menikah, juga yang telah menikah. Mereka yang hendak menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada mereka istri yang shalihah yang menyokongnya dalam urusan agama dan dunia mereka. Sedangkan mereka yang telah menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keshalehan istri-istri mereka. Doa itu bermanfaat untuk memperbaiki hal yang telah terjadi dan yang belum. Adapun manfaatnya untuk hal yang telah terjadi, maka seperti doa Nabi Zakaria kepada Tuhannya: وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ  “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pewaris yang paling baik.’ Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung (setelah sebelumnya mandul).” (QS. Al-Anbiya: 89-90).  Berkat doa beliau ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepadanya anak bernama Yahya dan memperbaiki istrinya, dengan menjadikannya dapat mengandung padahal sebelumnya mandul, ia menjadi baik jiwa dan raganya. Sedangkan manfaat doa untuk hal yang belum terjadi, maka seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang para hamba-Nya yang shaleh: وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah istri yang shalihah, dan kebaikan di akhirat adalah surga.” (Kitab Tafsir Al-Baghawi). Secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60). Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ. “Doa adalah ibadah.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab As-Sunan. Dishahihkan oleh Al-Albani). Kedua: Mencari wanita yang baik agamanya Seorang muslim tidak berhenti dengan hanya berdoa saja, tapi juga harus berikhtiar mencari pasangan yang punya keagamaan yang baik, karena wanita seperti ini yang akan membahagiakan suaminya, membuat Tuhannya ridha, dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Yang saya maksud dengan wanita yang punya keagamaan yang baik adalah berkomitmen terhadap perintah Tuhannya, menaati Rasulnya, dan mempelajari Islamnya. Ia wanita yang teguh dengan Islam lahir dan batin, saat sendiri atau terang-terangan. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kedudukan (nasabnya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama, jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Makna dan faedah dari hadis ini: Dalam hadis ini, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan kondisi orang-orang yang hendak melangkah ke pernikahan, dan usaha mereka mencari jodoh berbeda-beda, ada yang mencari berdasarkan harta, ada yang berdasarkan kecantikan, ada yang berdasarkan kedudukan, serta ada yang berdasarkan agamanya. Ada juga yang berdasarkan dua atau tiga dari sifat-sifat tersebut, ada yang mengutamakan suatu sifat dan ada yang mengutamakan sifat lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan faktor agama paling akhir, karena pada umumnya orang-orang menjadikannya pilihan terakhir. Sebabnya adalah pendeknya pandangan mereka dan melihat hal yang sementara saja. Ini seperti firman Allah: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba: 13). Setelah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan realitas pahit ini, beliau mewasiatkan hal yang baik dengan bersabda: “Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama.”  Ketika ada banyak orang yang mengabaikan faktor ini dan berkata: “Saya sendiri yang akan menjadikan istriku shalihah dan memerintahkannya memakai hijab” maka kemudian Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa orang yang mengabaikan faktor ini akan jatuh, sedangkan orang yang mengamalkannya akan naik, beliau bersabda: “jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” Yakni kedua tanganmu akan menempel tanah karena tekanan kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan. Wanita yang baik dalam beragama adalah wanita cantik yang hakiki, karena ia cantik jiwanya. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الْجَمَالَ جَمَالُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ Bukanlah kecantikan itu terletak pada pakaian yang menghiasi kita, Sesungguhnya kecantikan yang sejati adalah keindahan ilmu dan adab. Ketiga: Melakukan istikharah Apabila ia menemukan wanita yang baik agamanya, maka hendaklah ia beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah untuk dipilihkan yang terbaik baginya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan apa yang dirahasiakan hati. Ucapkanlah doa seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَقَدِّرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَقَدِّرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ، [وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ]. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha pilihan itu —dan ia hendaknya menyebutkan hajatnya—.” Doa ini dibaca setelah melaksanakan shalat dua rakaat. Keempat: Mengajari istri perkara-perkara agama Hendaklah suami mengajari istrinya tentang hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak suami yang harus ia tunaikan, serta hak keluarga dan masyarakatnya. Mengajarkan kepadanya akhlak-akhlak yang mulia, seperti melindungi hati dari penyakit-penyakit iri dan dengki, melindungi lisan dari gibah, adu domba, celaan, dan dusta. Sang suami mengawasi istrinya dalam perkara-perkara tersebut sebisa mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maknanya adalah ajarilah mereka (keluargamu) adab dan ilmu.” Sedangkan Mujahid Rahimahullah berkata: “Yakni bertakwalah kepada Allah dan perintahkanlah keluarga kalian untuk bertakwa kepada-Nya.” Adh-Dhahhak berkata: “Wajib bagi setiap muslim untuk mengajari keluarganya apa yang Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang.” Demikianlah, dengan berdoa, mencari wanita yang baik agamanya, beristikharah, dan mengajarkan perkara-perkara agama, niscaya istri akan menjadi shalihah, dan terciptalah rasa cinta, sayang, kedamaian, dan kebahagiaan. Nasihat: Fokuslah kepada perbaikan istrimu terlebih dulu, niscaya akan baik bagimu urusan dunia dan selamat urusan agamamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/107873/الزوجة-الصالحة-في-الإسلام/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 137

Istri Shalihah dalam Islam

Oleh: Dr. Syarif Fauzi Sultan Pada dasarnya, pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kebahagiaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21). Perhatikanlah ayat tersebut, ketenteraman, kasih, dan sayang, bukankah ini adalah unsur-unsur kebahagiaan? Cukup bagimu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjelaskan kepada kita bahwa pernikahan merupakan nikmat besar yang pantas untuk disyukuri. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: فَيَلْقَى الْعَبْدُ رَبَّهُ، فَيَقُولُ اللهُ: أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟ فَيَقُولُ: بَلَى يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيُقَالُ: إِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي “Lalu hamba itu menemui Tuhannya, maka Allah berfirman: ‘Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menjinakkan kuda dan unta bagimu, serta membiarkanmu memimpin dan menikmati hasil?’ Ia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengira bahwa engkau akan menemui-Ku?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.’” (HR. Muslim). Namun kebahagiaan pernikahan ini bersyarat, yaitu apabila istrinya shalihah. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalamm bersabda: ثَلَاثٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ “Tiga hal yang termasuk kebahagiaan anak Adam: wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang baik (nyaman), dan kendaraan yang baik.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani). Sebab wanita yang punya keshalehan ini akan menjadi penyokongnya dalam perkara yang paling agung bagi seorang muslim, yaitu perkara agamanya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي “Barang siapa yang dianugerahi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam (menjaga) separuh sisanya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani, dan sanadnya shahih).  Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda: الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya). Yakni dunia adalah kenikmatan yang sementara, dan kenikmatan terbaik yang ada di dalamnya adalah istri yang shalihah, karena ia akan membahagiakan suaminya di dunia dan membantunya dalam urusan akhiratnya, sehingga ia menjadi kenikmatan yang terbaik dan paling kekal! Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ bahwa Ibnu Yasar berkata: “Tidaklah aku merasakan ghibtah (menginginkan kenikmatan yang serupa) kepadanya kecuali dalam tiga perkara, istri yang shalihah, tetangga yang shaleh, dan tempat tinggal yang luas.”  Al-Ashma’i berkata: “Aku tidak pernah merasakan ghibtah terhadap seorang laki-laki atas sesuatu yang meninggikan derajat dirinya —setelah keimanan kepada Allah Ta’ala— seperti atas istri yang baik, dan tidaklah ia merendahkan derajat dirinya —setelah kekafiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala— seperti dengan istri yang buruk perangainya.” Benarlah orang yang bersyair: سَعَادَةُ الْمَرْءِ فِي خَمْسٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ: صَلَاحِ جِيرَانِهِ وَالْبِرِّ فِي وَلَدِهِ Kebahagiaan seseorang terletak pada lima hal jika semuanya terkumpul, Kebaikan tetangganya, bakti anaknya. وَزَوْجَةٍ حَسُنَتْ أَخْلَاقُهَا وَكَذَا خِلٌّ وَفِيٌّ وَرِزْقُ الْمَرْءِ فِي بَلَدِهِ. Istri yang mulia akhlaknya, serta, Sahabat yang setia dan rezeki yang didapat di negerinya sendiri. Cara mendapatkan istri yang shalihah Pertama: Doa Ini merupakan sarana yang sangat berguna di setiap kondisi bagi orang-orang yang hendak menikah, juga yang telah menikah. Mereka yang hendak menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada mereka istri yang shalihah yang menyokongnya dalam urusan agama dan dunia mereka. Sedangkan mereka yang telah menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keshalehan istri-istri mereka. Doa itu bermanfaat untuk memperbaiki hal yang telah terjadi dan yang belum. Adapun manfaatnya untuk hal yang telah terjadi, maka seperti doa Nabi Zakaria kepada Tuhannya: وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ  “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pewaris yang paling baik.’ Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung (setelah sebelumnya mandul).” (QS. Al-Anbiya: 89-90).  Berkat doa beliau ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepadanya anak bernama Yahya dan memperbaiki istrinya, dengan menjadikannya dapat mengandung padahal sebelumnya mandul, ia menjadi baik jiwa dan raganya. Sedangkan manfaat doa untuk hal yang belum terjadi, maka seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang para hamba-Nya yang shaleh: وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah istri yang shalihah, dan kebaikan di akhirat adalah surga.” (Kitab Tafsir Al-Baghawi). Secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60). Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ. “Doa adalah ibadah.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab As-Sunan. Dishahihkan oleh Al-Albani). Kedua: Mencari wanita yang baik agamanya Seorang muslim tidak berhenti dengan hanya berdoa saja, tapi juga harus berikhtiar mencari pasangan yang punya keagamaan yang baik, karena wanita seperti ini yang akan membahagiakan suaminya, membuat Tuhannya ridha, dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Yang saya maksud dengan wanita yang punya keagamaan yang baik adalah berkomitmen terhadap perintah Tuhannya, menaati Rasulnya, dan mempelajari Islamnya. Ia wanita yang teguh dengan Islam lahir dan batin, saat sendiri atau terang-terangan. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kedudukan (nasabnya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama, jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Makna dan faedah dari hadis ini: Dalam hadis ini, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan kondisi orang-orang yang hendak melangkah ke pernikahan, dan usaha mereka mencari jodoh berbeda-beda, ada yang mencari berdasarkan harta, ada yang berdasarkan kecantikan, ada yang berdasarkan kedudukan, serta ada yang berdasarkan agamanya. Ada juga yang berdasarkan dua atau tiga dari sifat-sifat tersebut, ada yang mengutamakan suatu sifat dan ada yang mengutamakan sifat lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan faktor agama paling akhir, karena pada umumnya orang-orang menjadikannya pilihan terakhir. Sebabnya adalah pendeknya pandangan mereka dan melihat hal yang sementara saja. Ini seperti firman Allah: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba: 13). Setelah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan realitas pahit ini, beliau mewasiatkan hal yang baik dengan bersabda: “Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama.”  Ketika ada banyak orang yang mengabaikan faktor ini dan berkata: “Saya sendiri yang akan menjadikan istriku shalihah dan memerintahkannya memakai hijab” maka kemudian Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa orang yang mengabaikan faktor ini akan jatuh, sedangkan orang yang mengamalkannya akan naik, beliau bersabda: “jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” Yakni kedua tanganmu akan menempel tanah karena tekanan kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan. Wanita yang baik dalam beragama adalah wanita cantik yang hakiki, karena ia cantik jiwanya. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الْجَمَالَ جَمَالُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ Bukanlah kecantikan itu terletak pada pakaian yang menghiasi kita, Sesungguhnya kecantikan yang sejati adalah keindahan ilmu dan adab. Ketiga: Melakukan istikharah Apabila ia menemukan wanita yang baik agamanya, maka hendaklah ia beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah untuk dipilihkan yang terbaik baginya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan apa yang dirahasiakan hati. Ucapkanlah doa seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَقَدِّرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَقَدِّرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ، [وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ]. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha pilihan itu —dan ia hendaknya menyebutkan hajatnya—.” Doa ini dibaca setelah melaksanakan shalat dua rakaat. Keempat: Mengajari istri perkara-perkara agama Hendaklah suami mengajari istrinya tentang hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak suami yang harus ia tunaikan, serta hak keluarga dan masyarakatnya. Mengajarkan kepadanya akhlak-akhlak yang mulia, seperti melindungi hati dari penyakit-penyakit iri dan dengki, melindungi lisan dari gibah, adu domba, celaan, dan dusta. Sang suami mengawasi istrinya dalam perkara-perkara tersebut sebisa mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maknanya adalah ajarilah mereka (keluargamu) adab dan ilmu.” Sedangkan Mujahid Rahimahullah berkata: “Yakni bertakwalah kepada Allah dan perintahkanlah keluarga kalian untuk bertakwa kepada-Nya.” Adh-Dhahhak berkata: “Wajib bagi setiap muslim untuk mengajari keluarganya apa yang Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang.” Demikianlah, dengan berdoa, mencari wanita yang baik agamanya, beristikharah, dan mengajarkan perkara-perkara agama, niscaya istri akan menjadi shalihah, dan terciptalah rasa cinta, sayang, kedamaian, dan kebahagiaan. Nasihat: Fokuslah kepada perbaikan istrimu terlebih dulu, niscaya akan baik bagimu urusan dunia dan selamat urusan agamamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/107873/الزوجة-الصالحة-في-الإسلام/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 137
Oleh: Dr. Syarif Fauzi Sultan Pada dasarnya, pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kebahagiaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21). Perhatikanlah ayat tersebut, ketenteraman, kasih, dan sayang, bukankah ini adalah unsur-unsur kebahagiaan? Cukup bagimu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjelaskan kepada kita bahwa pernikahan merupakan nikmat besar yang pantas untuk disyukuri. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: فَيَلْقَى الْعَبْدُ رَبَّهُ، فَيَقُولُ اللهُ: أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟ فَيَقُولُ: بَلَى يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيُقَالُ: إِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي “Lalu hamba itu menemui Tuhannya, maka Allah berfirman: ‘Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menjinakkan kuda dan unta bagimu, serta membiarkanmu memimpin dan menikmati hasil?’ Ia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengira bahwa engkau akan menemui-Ku?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.’” (HR. Muslim). Namun kebahagiaan pernikahan ini bersyarat, yaitu apabila istrinya shalihah. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalamm bersabda: ثَلَاثٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ “Tiga hal yang termasuk kebahagiaan anak Adam: wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang baik (nyaman), dan kendaraan yang baik.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani). Sebab wanita yang punya keshalehan ini akan menjadi penyokongnya dalam perkara yang paling agung bagi seorang muslim, yaitu perkara agamanya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي “Barang siapa yang dianugerahi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam (menjaga) separuh sisanya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani, dan sanadnya shahih).  Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda: الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya). Yakni dunia adalah kenikmatan yang sementara, dan kenikmatan terbaik yang ada di dalamnya adalah istri yang shalihah, karena ia akan membahagiakan suaminya di dunia dan membantunya dalam urusan akhiratnya, sehingga ia menjadi kenikmatan yang terbaik dan paling kekal! Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ bahwa Ibnu Yasar berkata: “Tidaklah aku merasakan ghibtah (menginginkan kenikmatan yang serupa) kepadanya kecuali dalam tiga perkara, istri yang shalihah, tetangga yang shaleh, dan tempat tinggal yang luas.”  Al-Ashma’i berkata: “Aku tidak pernah merasakan ghibtah terhadap seorang laki-laki atas sesuatu yang meninggikan derajat dirinya —setelah keimanan kepada Allah Ta’ala— seperti atas istri yang baik, dan tidaklah ia merendahkan derajat dirinya —setelah kekafiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala— seperti dengan istri yang buruk perangainya.” Benarlah orang yang bersyair: سَعَادَةُ الْمَرْءِ فِي خَمْسٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ: صَلَاحِ جِيرَانِهِ وَالْبِرِّ فِي وَلَدِهِ Kebahagiaan seseorang terletak pada lima hal jika semuanya terkumpul, Kebaikan tetangganya, bakti anaknya. وَزَوْجَةٍ حَسُنَتْ أَخْلَاقُهَا وَكَذَا خِلٌّ وَفِيٌّ وَرِزْقُ الْمَرْءِ فِي بَلَدِهِ. Istri yang mulia akhlaknya, serta, Sahabat yang setia dan rezeki yang didapat di negerinya sendiri. Cara mendapatkan istri yang shalihah Pertama: Doa Ini merupakan sarana yang sangat berguna di setiap kondisi bagi orang-orang yang hendak menikah, juga yang telah menikah. Mereka yang hendak menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada mereka istri yang shalihah yang menyokongnya dalam urusan agama dan dunia mereka. Sedangkan mereka yang telah menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keshalehan istri-istri mereka. Doa itu bermanfaat untuk memperbaiki hal yang telah terjadi dan yang belum. Adapun manfaatnya untuk hal yang telah terjadi, maka seperti doa Nabi Zakaria kepada Tuhannya: وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ  “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pewaris yang paling baik.’ Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung (setelah sebelumnya mandul).” (QS. Al-Anbiya: 89-90).  Berkat doa beliau ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepadanya anak bernama Yahya dan memperbaiki istrinya, dengan menjadikannya dapat mengandung padahal sebelumnya mandul, ia menjadi baik jiwa dan raganya. Sedangkan manfaat doa untuk hal yang belum terjadi, maka seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang para hamba-Nya yang shaleh: وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah istri yang shalihah, dan kebaikan di akhirat adalah surga.” (Kitab Tafsir Al-Baghawi). Secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60). Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ. “Doa adalah ibadah.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab As-Sunan. Dishahihkan oleh Al-Albani). Kedua: Mencari wanita yang baik agamanya Seorang muslim tidak berhenti dengan hanya berdoa saja, tapi juga harus berikhtiar mencari pasangan yang punya keagamaan yang baik, karena wanita seperti ini yang akan membahagiakan suaminya, membuat Tuhannya ridha, dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Yang saya maksud dengan wanita yang punya keagamaan yang baik adalah berkomitmen terhadap perintah Tuhannya, menaati Rasulnya, dan mempelajari Islamnya. Ia wanita yang teguh dengan Islam lahir dan batin, saat sendiri atau terang-terangan. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kedudukan (nasabnya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama, jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Makna dan faedah dari hadis ini: Dalam hadis ini, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan kondisi orang-orang yang hendak melangkah ke pernikahan, dan usaha mereka mencari jodoh berbeda-beda, ada yang mencari berdasarkan harta, ada yang berdasarkan kecantikan, ada yang berdasarkan kedudukan, serta ada yang berdasarkan agamanya. Ada juga yang berdasarkan dua atau tiga dari sifat-sifat tersebut, ada yang mengutamakan suatu sifat dan ada yang mengutamakan sifat lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan faktor agama paling akhir, karena pada umumnya orang-orang menjadikannya pilihan terakhir. Sebabnya adalah pendeknya pandangan mereka dan melihat hal yang sementara saja. Ini seperti firman Allah: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba: 13). Setelah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan realitas pahit ini, beliau mewasiatkan hal yang baik dengan bersabda: “Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama.”  Ketika ada banyak orang yang mengabaikan faktor ini dan berkata: “Saya sendiri yang akan menjadikan istriku shalihah dan memerintahkannya memakai hijab” maka kemudian Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa orang yang mengabaikan faktor ini akan jatuh, sedangkan orang yang mengamalkannya akan naik, beliau bersabda: “jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” Yakni kedua tanganmu akan menempel tanah karena tekanan kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan. Wanita yang baik dalam beragama adalah wanita cantik yang hakiki, karena ia cantik jiwanya. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الْجَمَالَ جَمَالُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ Bukanlah kecantikan itu terletak pada pakaian yang menghiasi kita, Sesungguhnya kecantikan yang sejati adalah keindahan ilmu dan adab. Ketiga: Melakukan istikharah Apabila ia menemukan wanita yang baik agamanya, maka hendaklah ia beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah untuk dipilihkan yang terbaik baginya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan apa yang dirahasiakan hati. Ucapkanlah doa seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَقَدِّرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَقَدِّرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ، [وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ]. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha pilihan itu —dan ia hendaknya menyebutkan hajatnya—.” Doa ini dibaca setelah melaksanakan shalat dua rakaat. Keempat: Mengajari istri perkara-perkara agama Hendaklah suami mengajari istrinya tentang hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak suami yang harus ia tunaikan, serta hak keluarga dan masyarakatnya. Mengajarkan kepadanya akhlak-akhlak yang mulia, seperti melindungi hati dari penyakit-penyakit iri dan dengki, melindungi lisan dari gibah, adu domba, celaan, dan dusta. Sang suami mengawasi istrinya dalam perkara-perkara tersebut sebisa mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maknanya adalah ajarilah mereka (keluargamu) adab dan ilmu.” Sedangkan Mujahid Rahimahullah berkata: “Yakni bertakwalah kepada Allah dan perintahkanlah keluarga kalian untuk bertakwa kepada-Nya.” Adh-Dhahhak berkata: “Wajib bagi setiap muslim untuk mengajari keluarganya apa yang Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang.” Demikianlah, dengan berdoa, mencari wanita yang baik agamanya, beristikharah, dan mengajarkan perkara-perkara agama, niscaya istri akan menjadi shalihah, dan terciptalah rasa cinta, sayang, kedamaian, dan kebahagiaan. Nasihat: Fokuslah kepada perbaikan istrimu terlebih dulu, niscaya akan baik bagimu urusan dunia dan selamat urusan agamamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/107873/الزوجة-الصالحة-في-الإسلام/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 137


Oleh: Dr. Syarif Fauzi Sultan Pada dasarnya, pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kebahagiaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21). Perhatikanlah ayat tersebut, ketenteraman, kasih, dan sayang, bukankah ini adalah unsur-unsur kebahagiaan? Cukup bagimu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjelaskan kepada kita bahwa pernikahan merupakan nikmat besar yang pantas untuk disyukuri. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: فَيَلْقَى الْعَبْدُ رَبَّهُ، فَيَقُولُ اللهُ: أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟ فَيَقُولُ: بَلَى يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيُقَالُ: إِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي “Lalu hamba itu menemui Tuhannya, maka Allah berfirman: ‘Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menjinakkan kuda dan unta bagimu, serta membiarkanmu memimpin dan menikmati hasil?’ Ia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengira bahwa engkau akan menemui-Ku?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.’” (HR. Muslim). Namun kebahagiaan pernikahan ini bersyarat, yaitu apabila istrinya shalihah. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalamm bersabda: ثَلَاثٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ “Tiga hal yang termasuk kebahagiaan anak Adam: wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang baik (nyaman), dan kendaraan yang baik.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani). Sebab wanita yang punya keshalehan ini akan menjadi penyokongnya dalam perkara yang paling agung bagi seorang muslim, yaitu perkara agamanya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي “Barang siapa yang dianugerahi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam (menjaga) separuh sisanya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani, dan sanadnya shahih).  Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda: الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya). Yakni dunia adalah kenikmatan yang sementara, dan kenikmatan terbaik yang ada di dalamnya adalah istri yang shalihah, karena ia akan membahagiakan suaminya di dunia dan membantunya dalam urusan akhiratnya, sehingga ia menjadi kenikmatan yang terbaik dan paling kekal! Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ bahwa Ibnu Yasar berkata: “Tidaklah aku merasakan ghibtah (menginginkan kenikmatan yang serupa) kepadanya kecuali dalam tiga perkara, istri yang shalihah, tetangga yang shaleh, dan tempat tinggal yang luas.”  Al-Ashma’i berkata: “Aku tidak pernah merasakan ghibtah terhadap seorang laki-laki atas sesuatu yang meninggikan derajat dirinya —setelah keimanan kepada Allah Ta’ala— seperti atas istri yang baik, dan tidaklah ia merendahkan derajat dirinya —setelah kekafiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala— seperti dengan istri yang buruk perangainya.” Benarlah orang yang bersyair: سَعَادَةُ الْمَرْءِ فِي خَمْسٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ: صَلَاحِ جِيرَانِهِ وَالْبِرِّ فِي وَلَدِهِ Kebahagiaan seseorang terletak pada lima hal jika semuanya terkumpul, Kebaikan tetangganya, bakti anaknya. وَزَوْجَةٍ حَسُنَتْ أَخْلَاقُهَا وَكَذَا خِلٌّ وَفِيٌّ وَرِزْقُ الْمَرْءِ فِي بَلَدِهِ. Istri yang mulia akhlaknya, serta, Sahabat yang setia dan rezeki yang didapat di negerinya sendiri. Cara mendapatkan istri yang shalihah Pertama: Doa Ini merupakan sarana yang sangat berguna di setiap kondisi bagi orang-orang yang hendak menikah, juga yang telah menikah. Mereka yang hendak menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada mereka istri yang shalihah yang menyokongnya dalam urusan agama dan dunia mereka. Sedangkan mereka yang telah menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keshalehan istri-istri mereka. Doa itu bermanfaat untuk memperbaiki hal yang telah terjadi dan yang belum. Adapun manfaatnya untuk hal yang telah terjadi, maka seperti doa Nabi Zakaria kepada Tuhannya: وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ  “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pewaris yang paling baik.’ Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung (setelah sebelumnya mandul).” (QS. Al-Anbiya: 89-90).  Berkat doa beliau ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepadanya anak bernama Yahya dan memperbaiki istrinya, dengan menjadikannya dapat mengandung padahal sebelumnya mandul, ia menjadi baik jiwa dan raganya. Sedangkan manfaat doa untuk hal yang belum terjadi, maka seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang para hamba-Nya yang shaleh: وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah istri yang shalihah, dan kebaikan di akhirat adalah surga.” (Kitab Tafsir Al-Baghawi). Secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60). Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ. “Doa adalah ibadah.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab As-Sunan. Dishahihkan oleh Al-Albani). Kedua: Mencari wanita yang baik agamanya Seorang muslim tidak berhenti dengan hanya berdoa saja, tapi juga harus berikhtiar mencari pasangan yang punya keagamaan yang baik, karena wanita seperti ini yang akan membahagiakan suaminya, membuat Tuhannya ridha, dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Yang saya maksud dengan wanita yang punya keagamaan yang baik adalah berkomitmen terhadap perintah Tuhannya, menaati Rasulnya, dan mempelajari Islamnya. Ia wanita yang teguh dengan Islam lahir dan batin, saat sendiri atau terang-terangan. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kedudukan (nasabnya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama, jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Makna dan faedah dari hadis ini: Dalam hadis ini, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan kondisi orang-orang yang hendak melangkah ke pernikahan, dan usaha mereka mencari jodoh berbeda-beda, ada yang mencari berdasarkan harta, ada yang berdasarkan kecantikan, ada yang berdasarkan kedudukan, serta ada yang berdasarkan agamanya. Ada juga yang berdasarkan dua atau tiga dari sifat-sifat tersebut, ada yang mengutamakan suatu sifat dan ada yang mengutamakan sifat lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan faktor agama paling akhir, karena pada umumnya orang-orang menjadikannya pilihan terakhir. Sebabnya adalah pendeknya pandangan mereka dan melihat hal yang sementara saja. Ini seperti firman Allah: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba: 13). Setelah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan realitas pahit ini, beliau mewasiatkan hal yang baik dengan bersabda: “Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama.”  Ketika ada banyak orang yang mengabaikan faktor ini dan berkata: “Saya sendiri yang akan menjadikan istriku shalihah dan memerintahkannya memakai hijab” maka kemudian Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa orang yang mengabaikan faktor ini akan jatuh, sedangkan orang yang mengamalkannya akan naik, beliau bersabda: “jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” Yakni kedua tanganmu akan menempel tanah karena tekanan kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan. Wanita yang baik dalam beragama adalah wanita cantik yang hakiki, karena ia cantik jiwanya. Dalam syair disebutkan: لَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الْجَمَالَ جَمَالُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ Bukanlah kecantikan itu terletak pada pakaian yang menghiasi kita, Sesungguhnya kecantikan yang sejati adalah keindahan ilmu dan adab. Ketiga: Melakukan istikharah Apabila ia menemukan wanita yang baik agamanya, maka hendaklah ia beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah untuk dipilihkan yang terbaik baginya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan apa yang dirahasiakan hati. Ucapkanlah doa seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَقَدِّرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَقَدِّرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ، [وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ]. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha pilihan itu —dan ia hendaknya menyebutkan hajatnya—.” Doa ini dibaca setelah melaksanakan shalat dua rakaat. Keempat: Mengajari istri perkara-perkara agama Hendaklah suami mengajari istrinya tentang hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak suami yang harus ia tunaikan, serta hak keluarga dan masyarakatnya. Mengajarkan kepadanya akhlak-akhlak yang mulia, seperti melindungi hati dari penyakit-penyakit iri dan dengki, melindungi lisan dari gibah, adu domba, celaan, dan dusta. Sang suami mengawasi istrinya dalam perkara-perkara tersebut sebisa mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maknanya adalah ajarilah mereka (keluargamu) adab dan ilmu.” Sedangkan Mujahid Rahimahullah berkata: “Yakni bertakwalah kepada Allah dan perintahkanlah keluarga kalian untuk bertakwa kepada-Nya.” Adh-Dhahhak berkata: “Wajib bagi setiap muslim untuk mengajari keluarganya apa yang Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang.” Demikianlah, dengan berdoa, mencari wanita yang baik agamanya, beristikharah, dan mengajarkan perkara-perkara agama, niscaya istri akan menjadi shalihah, dan terciptalah rasa cinta, sayang, kedamaian, dan kebahagiaan. Nasihat: Fokuslah kepada perbaikan istrimu terlebih dulu, niscaya akan baik bagimu urusan dunia dan selamat urusan agamamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/107873/الزوجة-الصالحة-في-الإسلام/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 137

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi TogglePertama, luruskan niatKedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahKetiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangTidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikutBaca juga: Larangan Berlebihan dalam MemujiPertama, luruskan niatPujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada AllahMisalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)Allah Ta’ala juga mengingatkan,وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorangKita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Kalau Mau Hidayah, Lawan Nafsumu! Hidayah Tidak Datang Tanpa Perjuangan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Sebagian orang, ketika dinasihati dalam suatu perkara, berkata, “Doakan saya agar mendapat hidayah.” Atau ia berkata, “Semoga Allah memberi saya hidayah,” dan ucapan semisalnya. Hidayah tidak datang kepada seseorang begitu saja. Namun, hidayah adalah buah dari kesungguhan melawan diri sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Maka siapa yang menginginkan hidayah, hendaklah ia bersungguh-sungguh melawan dirinya. Ia bersungguh-sungguh memaksa dirinya untuk taat, dan bersungguh-sungguh menahan dirinya dari melakukan maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadanya. Allah Ta’ala Maha Adil, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Jika kamu ingin hidayah datang kepadamu dan ingin benar-benar mendapat petunjuk, maka lawanlah dirimu. Renungkanlah ayat yang agung ini. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Perhatikan bagaimana Allah menjadikan hidayah sebagai buah dari kesungguhan. Bersungguh-sungguhlah melakukan ketaatan! Bersungguh-sungguhlah menjaga salat berjamaah di masjid! Seorang wanita pun bersungguh-sungguh menjaga salat pada waktunya. Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan seluruh kewajiban! Bersungguh-sungguhlah mengerjakan amalan-amalan sunah, setelah amalan-amalan wajib. Bersungguh-sungguhlah menahan diri dari maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadamu. Adapun seseorang yang berdalih bahwa andai Allah Ta’ala memberinya hidayah, tentu dia akan mendapat hidayah, maka ini bukan alasan yang benar. Allah Ta’ala telah menyebutkan ini dalam firman-Nya: “Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…’” (QS. Az-Zumar: 56). Hingga firman-Nya, “Atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Az-Zumar: 57) “Tidaklah demikian. Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu…” (QS. Az-Zumar: 59). Jadi, ketika seseorang berkata, “Seandainya Allah memberiku hidayah,” atau, “Doakan saja saya agar mendapat hidayah,” itu bukanlah alasan. Itu hanya sikap menghindar. Jika kamu menginginkan hidayah, tempuhlah jalan mujahadah. Lawanlah dirimu. Paksa dirimu untuk taat! Tahan dirimu dari maksiat, niscaya hidayah akan datang kepadamu. ===== بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَمَا يُنْصَحُ فِي أَمْرٍ يَقُولُ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ أَوْ: اللَّهُ يَهْدِينِي، وَنَحْوِ ذَلِكَ الْهِدَايَةُ لَا تَأْتِي لِلْإِنْسَانِ فَجْأَةً وَإِنَّمَا الْهِدَايَةُ ثَمَرَةُ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَمَنْ أَرَادَ الْهِدَايَةَ فَلْيُجَاهِدْ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَيُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيهِ الْهِدَايَةُ اللَّهُ تَعَالَى عَدْلٌ وَحَكِيمٌ عَلِيمٌ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْتِيَكَ الْهِدَايَةُ وَأَنْ تَهْتَدِي فَجَاهِدْ نَفْسَكَ وَتَأَمَّلْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ جَعَلَ الْهِدَايَةَ ثَمَرَةً لِلْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى أَدَاءِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَرْأَةُ تُجَاهِدُ نَفْسَهَا عَلَى أَنْ تَأْتِيَ بِالصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ جَمِيعِ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْإِتْيَانِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْكَفِّ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَحْتَجُّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَوْ هَدَاهُ لَاهْتَدَى هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا فِي قَوْلِهِ أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ: أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي أَوْ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ، هَذَا تَهَرُّبٌ إِذَا أَرَدْتَ الْهِدَايَةَ فَالْزَمْ طَرِيقَ الْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ، جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الطَّاعَةِ وَجَاهِدْ نَفْسَكَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ

Kalau Mau Hidayah, Lawan Nafsumu! Hidayah Tidak Datang Tanpa Perjuangan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Sebagian orang, ketika dinasihati dalam suatu perkara, berkata, “Doakan saya agar mendapat hidayah.” Atau ia berkata, “Semoga Allah memberi saya hidayah,” dan ucapan semisalnya. Hidayah tidak datang kepada seseorang begitu saja. Namun, hidayah adalah buah dari kesungguhan melawan diri sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Maka siapa yang menginginkan hidayah, hendaklah ia bersungguh-sungguh melawan dirinya. Ia bersungguh-sungguh memaksa dirinya untuk taat, dan bersungguh-sungguh menahan dirinya dari melakukan maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadanya. Allah Ta’ala Maha Adil, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Jika kamu ingin hidayah datang kepadamu dan ingin benar-benar mendapat petunjuk, maka lawanlah dirimu. Renungkanlah ayat yang agung ini. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Perhatikan bagaimana Allah menjadikan hidayah sebagai buah dari kesungguhan. Bersungguh-sungguhlah melakukan ketaatan! Bersungguh-sungguhlah menjaga salat berjamaah di masjid! Seorang wanita pun bersungguh-sungguh menjaga salat pada waktunya. Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan seluruh kewajiban! Bersungguh-sungguhlah mengerjakan amalan-amalan sunah, setelah amalan-amalan wajib. Bersungguh-sungguhlah menahan diri dari maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadamu. Adapun seseorang yang berdalih bahwa andai Allah Ta’ala memberinya hidayah, tentu dia akan mendapat hidayah, maka ini bukan alasan yang benar. Allah Ta’ala telah menyebutkan ini dalam firman-Nya: “Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…’” (QS. Az-Zumar: 56). Hingga firman-Nya, “Atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Az-Zumar: 57) “Tidaklah demikian. Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu…” (QS. Az-Zumar: 59). Jadi, ketika seseorang berkata, “Seandainya Allah memberiku hidayah,” atau, “Doakan saja saya agar mendapat hidayah,” itu bukanlah alasan. Itu hanya sikap menghindar. Jika kamu menginginkan hidayah, tempuhlah jalan mujahadah. Lawanlah dirimu. Paksa dirimu untuk taat! Tahan dirimu dari maksiat, niscaya hidayah akan datang kepadamu. ===== بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَمَا يُنْصَحُ فِي أَمْرٍ يَقُولُ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ أَوْ: اللَّهُ يَهْدِينِي، وَنَحْوِ ذَلِكَ الْهِدَايَةُ لَا تَأْتِي لِلْإِنْسَانِ فَجْأَةً وَإِنَّمَا الْهِدَايَةُ ثَمَرَةُ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَمَنْ أَرَادَ الْهِدَايَةَ فَلْيُجَاهِدْ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَيُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيهِ الْهِدَايَةُ اللَّهُ تَعَالَى عَدْلٌ وَحَكِيمٌ عَلِيمٌ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْتِيَكَ الْهِدَايَةُ وَأَنْ تَهْتَدِي فَجَاهِدْ نَفْسَكَ وَتَأَمَّلْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ جَعَلَ الْهِدَايَةَ ثَمَرَةً لِلْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى أَدَاءِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَرْأَةُ تُجَاهِدُ نَفْسَهَا عَلَى أَنْ تَأْتِيَ بِالصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ جَمِيعِ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْإِتْيَانِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْكَفِّ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَحْتَجُّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَوْ هَدَاهُ لَاهْتَدَى هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا فِي قَوْلِهِ أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ: أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي أَوْ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ، هَذَا تَهَرُّبٌ إِذَا أَرَدْتَ الْهِدَايَةَ فَالْزَمْ طَرِيقَ الْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ، جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الطَّاعَةِ وَجَاهِدْ نَفْسَكَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ
Sebagian orang, ketika dinasihati dalam suatu perkara, berkata, “Doakan saya agar mendapat hidayah.” Atau ia berkata, “Semoga Allah memberi saya hidayah,” dan ucapan semisalnya. Hidayah tidak datang kepada seseorang begitu saja. Namun, hidayah adalah buah dari kesungguhan melawan diri sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Maka siapa yang menginginkan hidayah, hendaklah ia bersungguh-sungguh melawan dirinya. Ia bersungguh-sungguh memaksa dirinya untuk taat, dan bersungguh-sungguh menahan dirinya dari melakukan maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadanya. Allah Ta’ala Maha Adil, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Jika kamu ingin hidayah datang kepadamu dan ingin benar-benar mendapat petunjuk, maka lawanlah dirimu. Renungkanlah ayat yang agung ini. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Perhatikan bagaimana Allah menjadikan hidayah sebagai buah dari kesungguhan. Bersungguh-sungguhlah melakukan ketaatan! Bersungguh-sungguhlah menjaga salat berjamaah di masjid! Seorang wanita pun bersungguh-sungguh menjaga salat pada waktunya. Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan seluruh kewajiban! Bersungguh-sungguhlah mengerjakan amalan-amalan sunah, setelah amalan-amalan wajib. Bersungguh-sungguhlah menahan diri dari maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadamu. Adapun seseorang yang berdalih bahwa andai Allah Ta’ala memberinya hidayah, tentu dia akan mendapat hidayah, maka ini bukan alasan yang benar. Allah Ta’ala telah menyebutkan ini dalam firman-Nya: “Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…’” (QS. Az-Zumar: 56). Hingga firman-Nya, “Atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Az-Zumar: 57) “Tidaklah demikian. Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu…” (QS. Az-Zumar: 59). Jadi, ketika seseorang berkata, “Seandainya Allah memberiku hidayah,” atau, “Doakan saja saya agar mendapat hidayah,” itu bukanlah alasan. Itu hanya sikap menghindar. Jika kamu menginginkan hidayah, tempuhlah jalan mujahadah. Lawanlah dirimu. Paksa dirimu untuk taat! Tahan dirimu dari maksiat, niscaya hidayah akan datang kepadamu. ===== بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَمَا يُنْصَحُ فِي أَمْرٍ يَقُولُ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ أَوْ: اللَّهُ يَهْدِينِي، وَنَحْوِ ذَلِكَ الْهِدَايَةُ لَا تَأْتِي لِلْإِنْسَانِ فَجْأَةً وَإِنَّمَا الْهِدَايَةُ ثَمَرَةُ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَمَنْ أَرَادَ الْهِدَايَةَ فَلْيُجَاهِدْ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَيُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيهِ الْهِدَايَةُ اللَّهُ تَعَالَى عَدْلٌ وَحَكِيمٌ عَلِيمٌ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْتِيَكَ الْهِدَايَةُ وَأَنْ تَهْتَدِي فَجَاهِدْ نَفْسَكَ وَتَأَمَّلْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ جَعَلَ الْهِدَايَةَ ثَمَرَةً لِلْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى أَدَاءِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَرْأَةُ تُجَاهِدُ نَفْسَهَا عَلَى أَنْ تَأْتِيَ بِالصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ جَمِيعِ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْإِتْيَانِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْكَفِّ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَحْتَجُّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَوْ هَدَاهُ لَاهْتَدَى هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا فِي قَوْلِهِ أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ: أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي أَوْ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ، هَذَا تَهَرُّبٌ إِذَا أَرَدْتَ الْهِدَايَةَ فَالْزَمْ طَرِيقَ الْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ، جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الطَّاعَةِ وَجَاهِدْ نَفْسَكَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ


Sebagian orang, ketika dinasihati dalam suatu perkara, berkata, “Doakan saya agar mendapat hidayah.” Atau ia berkata, “Semoga Allah memberi saya hidayah,” dan ucapan semisalnya. Hidayah tidak datang kepada seseorang begitu saja. Namun, hidayah adalah buah dari kesungguhan melawan diri sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Maka siapa yang menginginkan hidayah, hendaklah ia bersungguh-sungguh melawan dirinya. Ia bersungguh-sungguh memaksa dirinya untuk taat, dan bersungguh-sungguh menahan dirinya dari melakukan maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadanya. Allah Ta’ala Maha Adil, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Jika kamu ingin hidayah datang kepadamu dan ingin benar-benar mendapat petunjuk, maka lawanlah dirimu. Renungkanlah ayat yang agung ini. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Perhatikan bagaimana Allah menjadikan hidayah sebagai buah dari kesungguhan. Bersungguh-sungguhlah melakukan ketaatan! Bersungguh-sungguhlah menjaga salat berjamaah di masjid! Seorang wanita pun bersungguh-sungguh menjaga salat pada waktunya. Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan seluruh kewajiban! Bersungguh-sungguhlah mengerjakan amalan-amalan sunah, setelah amalan-amalan wajib. Bersungguh-sungguhlah menahan diri dari maksiat. Niscaya hidayah akan datang kepadamu. Adapun seseorang yang berdalih bahwa andai Allah Ta’ala memberinya hidayah, tentu dia akan mendapat hidayah, maka ini bukan alasan yang benar. Allah Ta’ala telah menyebutkan ini dalam firman-Nya: “Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…’” (QS. Az-Zumar: 56). Hingga firman-Nya, “Atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Az-Zumar: 57) “Tidaklah demikian. Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu…” (QS. Az-Zumar: 59). Jadi, ketika seseorang berkata, “Seandainya Allah memberiku hidayah,” atau, “Doakan saja saya agar mendapat hidayah,” itu bukanlah alasan. Itu hanya sikap menghindar. Jika kamu menginginkan hidayah, tempuhlah jalan mujahadah. Lawanlah dirimu. Paksa dirimu untuk taat! Tahan dirimu dari maksiat, niscaya hidayah akan datang kepadamu. ===== بَعْضُ النَّاسِ عِنْدَمَا يُنْصَحُ فِي أَمْرٍ يَقُولُ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ أَوْ: اللَّهُ يَهْدِينِي، وَنَحْوِ ذَلِكَ الْهِدَايَةُ لَا تَأْتِي لِلْإِنْسَانِ فَجْأَةً وَإِنَّمَا الْهِدَايَةُ ثَمَرَةُ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ كَمَا قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَمَنْ أَرَادَ الْهِدَايَةَ فَلْيُجَاهِدْ نَفْسَهُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَيُجَاهِدُ نَفْسَهُ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيهِ الْهِدَايَةُ اللَّهُ تَعَالَى عَدْلٌ وَحَكِيمٌ عَلِيمٌ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْتِيَكَ الْهِدَايَةُ وَأَنْ تَهْتَدِي فَجَاهِدْ نَفْسَكَ وَتَأَمَّلْ هَذِهِ الْآيَةَ الْعَظِيمَةَ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ جَعَلَ الْهِدَايَةَ ثَمَرَةً لِلْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى أَدَاءِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَالْمَرْأَةُ تُجَاهِدُ نَفْسَهَا عَلَى أَنْ تَأْتِيَ بِالصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى فِعْلِ جَمِيعِ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْإِتْيَانِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الْكَفِّ عَنِ الْمَعَاصِي تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَحْتَجُّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَوْ هَدَاهُ لَاهْتَدَى هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا فِي قَوْلِهِ أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ: أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي أَوْ: ادْعُ اللَّهَ لِي بِالْهِدَايَةِ هَذِهِ لَيْسَتْ بِحُجَّةٍ، هَذَا تَهَرُّبٌ إِذَا أَرَدْتَ الْهِدَايَةَ فَالْزَمْ طَرِيقَ الْمُجَاهَدَةِ جَاهِدْ نَفْسَكَ، جَاهِدْ نَفْسَكَ عَلَى الطَّاعَةِ وَجَاهِدْ نَفْسَكَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، تَأْتِيكَ الْهِدَايَةُ
Prev     Next