4 Sifat yang Membuatmu Tetap Kaya Meski Dunia Luput Darimu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’ no. 873, dinilai sahih oleh Al-Albani) “Empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” Apa pun dari dunia yang terluput darimu, itu tidak akan merugikanmu, asalkan engkau memiliki empat sifat ini: Pertama, jujur dalam berbicara. Kedua, menjaga amanah. Ketiga, berakhlak mulia. Keempat, menjaga makanan dari yang haram. Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisanmu, agar engkau selalu jujur dalam ucapanmu, jika engkau menjaga amanah dan menunaikannya, jika engkau menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia, jika engkau berusaha menjaga yang halal dalam makananmu, maka engkaulah orang kaya yang sebenarnya. Engkau kaya, sebanyak apa pun yang luput darimu dari dunia ini, baik harta maupun kedudukan di mata manusia, maka hal itu tidak akan membuatmu rugi sama sekali. ===== يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَفَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا فَلَا عَلَيْكَ إِذَا كُنْتَ مُتَّصِفًا بِهَذِهِ الْأَرْبَعِ صِدْقُ الْحَدِيثِ وَحِفْظُ الْأَمَانَةِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَعِفَّةُ مَطْعَمٍ إِذَا كُنْتَ تَحْرِصُ عَلَى صِدْقِ لِسَانِكَ أَنْ تَكُونَ صَادِقًا فِي كَلَامِكَ إِذَا كُنْتَ حَافِظًا لِلْأَمَانَةِ مُؤَدِّيًا لَهَا إِذَا كُنْتَ مُتَجَمِّلًا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ إِذَا كُنْتَ حَرِيصًا عَلَى الْحَلَالِ فِي مَطْعَمِكَ فَأَنْتَ الْغَنِيُّ حَقًّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَمَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ جَاهٍ عِنْدَ النَّاسِ فَإِنَّ هَذَا لَا يَضُرُّكَ أَبَدًا

4 Sifat yang Membuatmu Tetap Kaya Meski Dunia Luput Darimu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’ no. 873, dinilai sahih oleh Al-Albani) “Empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” Apa pun dari dunia yang terluput darimu, itu tidak akan merugikanmu, asalkan engkau memiliki empat sifat ini: Pertama, jujur dalam berbicara. Kedua, menjaga amanah. Ketiga, berakhlak mulia. Keempat, menjaga makanan dari yang haram. Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisanmu, agar engkau selalu jujur dalam ucapanmu, jika engkau menjaga amanah dan menunaikannya, jika engkau menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia, jika engkau berusaha menjaga yang halal dalam makananmu, maka engkaulah orang kaya yang sebenarnya. Engkau kaya, sebanyak apa pun yang luput darimu dari dunia ini, baik harta maupun kedudukan di mata manusia, maka hal itu tidak akan membuatmu rugi sama sekali. ===== يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَفَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا فَلَا عَلَيْكَ إِذَا كُنْتَ مُتَّصِفًا بِهَذِهِ الْأَرْبَعِ صِدْقُ الْحَدِيثِ وَحِفْظُ الْأَمَانَةِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَعِفَّةُ مَطْعَمٍ إِذَا كُنْتَ تَحْرِصُ عَلَى صِدْقِ لِسَانِكَ أَنْ تَكُونَ صَادِقًا فِي كَلَامِكَ إِذَا كُنْتَ حَافِظًا لِلْأَمَانَةِ مُؤَدِّيًا لَهَا إِذَا كُنْتَ مُتَجَمِّلًا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ إِذَا كُنْتَ حَرِيصًا عَلَى الْحَلَالِ فِي مَطْعَمِكَ فَأَنْتَ الْغَنِيُّ حَقًّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَمَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ جَاهٍ عِنْدَ النَّاسِ فَإِنَّ هَذَا لَا يَضُرُّكَ أَبَدًا
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’ no. 873, dinilai sahih oleh Al-Albani) “Empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” Apa pun dari dunia yang terluput darimu, itu tidak akan merugikanmu, asalkan engkau memiliki empat sifat ini: Pertama, jujur dalam berbicara. Kedua, menjaga amanah. Ketiga, berakhlak mulia. Keempat, menjaga makanan dari yang haram. Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisanmu, agar engkau selalu jujur dalam ucapanmu, jika engkau menjaga amanah dan menunaikannya, jika engkau menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia, jika engkau berusaha menjaga yang halal dalam makananmu, maka engkaulah orang kaya yang sebenarnya. Engkau kaya, sebanyak apa pun yang luput darimu dari dunia ini, baik harta maupun kedudukan di mata manusia, maka hal itu tidak akan membuatmu rugi sama sekali. ===== يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَفَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا فَلَا عَلَيْكَ إِذَا كُنْتَ مُتَّصِفًا بِهَذِهِ الْأَرْبَعِ صِدْقُ الْحَدِيثِ وَحِفْظُ الْأَمَانَةِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَعِفَّةُ مَطْعَمٍ إِذَا كُنْتَ تَحْرِصُ عَلَى صِدْقِ لِسَانِكَ أَنْ تَكُونَ صَادِقًا فِي كَلَامِكَ إِذَا كُنْتَ حَافِظًا لِلْأَمَانَةِ مُؤَدِّيًا لَهَا إِذَا كُنْتَ مُتَجَمِّلًا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ إِذَا كُنْتَ حَرِيصًا عَلَى الْحَلَالِ فِي مَطْعَمِكَ فَأَنْتَ الْغَنِيُّ حَقًّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَمَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ جَاهٍ عِنْدَ النَّاسِ فَإِنَّ هَذَا لَا يَضُرُّكَ أَبَدًا


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’ no. 873, dinilai sahih oleh Al-Albani) “Empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka apa pun dari dunia yang luput darimu, tidaklah perlu engkau risaukan…” Apa pun dari dunia yang terluput darimu, itu tidak akan merugikanmu, asalkan engkau memiliki empat sifat ini: Pertama, jujur dalam berbicara. Kedua, menjaga amanah. Ketiga, berakhlak mulia. Keempat, menjaga makanan dari yang haram. Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisanmu, agar engkau selalu jujur dalam ucapanmu, jika engkau menjaga amanah dan menunaikannya, jika engkau menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia, jika engkau berusaha menjaga yang halal dalam makananmu, maka engkaulah orang kaya yang sebenarnya. Engkau kaya, sebanyak apa pun yang luput darimu dari dunia ini, baik harta maupun kedudukan di mata manusia, maka hal itu tidak akan membuatmu rugi sama sekali. ===== يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَفَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا فَلَا عَلَيْكَ إِذَا كُنْتَ مُتَّصِفًا بِهَذِهِ الْأَرْبَعِ صِدْقُ الْحَدِيثِ وَحِفْظُ الْأَمَانَةِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَعِفَّةُ مَطْعَمٍ إِذَا كُنْتَ تَحْرِصُ عَلَى صِدْقِ لِسَانِكَ أَنْ تَكُونَ صَادِقًا فِي كَلَامِكَ إِذَا كُنْتَ حَافِظًا لِلْأَمَانَةِ مُؤَدِّيًا لَهَا إِذَا كُنْتَ مُتَجَمِّلًا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ إِذَا كُنْتَ حَرِيصًا عَلَى الْحَلَالِ فِي مَطْعَمِكَ فَأَنْتَ الْغَنِيُّ حَقًّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَمَهْمَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ جَاهٍ عِنْدَ النَّاسِ فَإِنَّ هَذَا لَا يَضُرُّكَ أَبَدًا

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab
Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab


Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.  Daftar Isi tutup 1. Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan 2. Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama 3. Hadits 1/1033 3.1. Faedah Hadits 4. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat 5. Hadits 2/1034 5.1. Faedah Hadits 6. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara 7. Hadits 3/1035 7.1. Kosakata Hadits 7.2. Faedah Hadits 8. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat 9. Hadits 4/1036 9.1. Faedah Hadits 10. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi 11. Hadits 5/1037 12. Hadits 6/1038 13. Hadits 7/1039 14. Hadits 8/1040 14.1. Faedah Hadits 15. Hadits 9/1041 15.1. Faedah Hadits  Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan AzanKalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf PertamaHadits 1/1033عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليهDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)Keterangan lafaz:الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.Kosakata hadits:النِّدَاء: azan.العَتَمَة: shalat Isya. Faedah HaditsKeutamaan azan dan shaf pertama.Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya. Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari KiamatHadits 2/1034عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387) Faedah HaditsKeutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi. Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan SuaraHadits 3/1035 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88) Kosakata HaditsMadā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin. Faedah HaditsAzan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan. Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam ShalatHadits 4/1036ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim) Faedah HaditsShalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah. Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat NabiHadits 5/1037 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim) Hadits 6/1038 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih) Hadits 7/1039 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari) Hadits 8/1040وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًاASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim) Faedah Hadits1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِLAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits 9/1041عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan.”) Faedah HaditsHendaknya memanfaatkan waktu-waktu yang utama untuk berdoa.Hadits ini juga menjelaskan adab dalam berdoa, yaitu seorang hamba hendaknya memulai doanya dengan memuji Allah, kemudian berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ. Cara seperti ini lebih besar harapannya untuk dikabulkan. Perhatikanlah, syariat menganjurkan orang yang mendengar azan agar menjawab lafaz azan. Ini merupakan salah satu bentuk pujian kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Setelah itu ia berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada Allah agar memberikan wasilah kepada beliau. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya setelah azan menjadi lebih dekat kepada pengabulan. Catatan PentingKarena azan merupakan salah satu zikir kepada Allah Ta’ala yang diajarkan dalam sunnah Nabi ﷺ, para ulama dari seluruh mazhab fikih memberikan perhatian besar terhadap ketepatan lafaz-lafaznya. Mereka sepakat bahwa azan berakhir ketika muazin mengucapkan kalimat terakhir:لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُAdapun amalan yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, seperti berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohon wasilah untuk beliau, semuanya termasuk sunnah yang dilakukan setelah azan, bukan bagian dari lafaz azan itu sendiri.Karena itu, tidak boleh mengeraskan bacaan shalawat dan doa wasilah sehingga masyarakat mengira keduanya merupakan bagian dari azan. Petunjuk Nabi ﷺ yang dipraktikkan pada masa beliau adalah: setelah muazin selesai mengumandangkan azan, muazin dan orang-orang yang mendengarnya berselawat kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan wasilah bagi beliau secara lirih (pelan).Siapa saja yang melakukan selain tuntunan tersebut berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dan keluar dari pendapat para imam mazhab. Oleh karena itu, hendaknya para muazin berhati-hati agar tidak menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ, serta berusaha teguh berpegang pada sunnah, karena di dalam sunnahlah terdapat seluruh kebaikan dan keberkahan. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. Ini adalah materi kajian rutin di Masjid Pogung Dalangan Yogyakarta pada setiap Malam Jumat bakda Maghrib – Isyak, bisa saksikan di Youtube Rumaysho TV. —– Kamis, 16 Juli 2027@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsazan doa setelah azan jawab azan keutamaan azan muazin pahala shalat riyadhus sholihin riyadhus sholihin fadhail shalat berjamaah sunnah azan syafaat nabi waktu mustajab

Laporan Produksi Yufid – Juni 2026

Laporan Produksi Yufid – Juni 2026 Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali terlewati dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini kami berbagi kepada Anda, para donatur dan sahabat Yufid semuanya tentang jejak kebaikan yang lahir dari dukungan Anda sepanjang bulan Juni 2026.  Inilah yang lahir sepanjang bulan Juni 2026. Tiga Angka Bulan Ini Juni 2026MaknanyaKonten baru182 video, 104 konten Instagram, 17 artikel, 2197 audio kajianSetiap harinya dalam sebulan menyajikan 6 video baru  — semuanya GRATIS untuk umatTayangan±15,8 juta tayangan lintas platform (6,4 jt YouTube + 9,3 jt Instagram)Setiap menit di bulan Juni, rata-rata ada 368 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak333.156 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 38 tahun — hanya dalam waktu satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Animasi Penuh Amanah Di balik setiap gerak animasi dalam Belajar Nama Hari Senin Sampai Ahad Bersama Ubay, salah satu video yang publish bulan ini, tersimpan ikhtiar yang dikerjakan dengan penuh ketelitian. Setiap gambar, cerita, dan gerakan disusun agar mampu menghadirkan senyum sekaligus ilmu bagi anak-anak, tanpa meninggalkan rambu-rambu syariat: faceless, tanpa musik, dan tetap berpegang teguh pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebuah ikhtiar agar belajar terasa menyenangkan, namun tetap membawa keberkahan. Di tengah derasnya tayangan anak yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam, Yufid Kids berusaha tetap menyalakan cahaya melalui kartun dan motion graphics yang sesuai syariat. Semoga setiap video yang lahir menjadi teman belajar bagi buah hati kaum muslimin sekaligus menjadi amal jariyah bagi para donatur, pemirsa, dan semua yang telah membersamai dakwah Yufid. Dari dukungan Anda, lahirlah karya-karya sederhana yang insyaAllah terus menebarkan manfaat. Ringkasan produksi per kanal Kanal / programJuni 2026Mei 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru103101111— Nasehat Ulama161616— Motion Graphic & Shorts3266— siaran langsung (live)107126115Yufid EDU (YouTube) — video baru462722Yufid Kids (YouTube) — video baru10*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten525848Instagram Yufid Network — konten525848Artikel (4 situs web)**172012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)68.46258.77854.120Audio kajian baru (Kajian.net)2197551383Perekaman artikel menjadi audio6927** KonsultasiSyariah.com 10 artikel; KhotbahJumat.com 5 artikel; KisahMuslim.com 0 artikel; PengusahaMuslim.com 2. Pertumbuhan pengikut Juni 2026: +24.595 di seluruh platform (YouTube +7.666, Instagram +16.929). Total pengikut Yufid kini 6,90 juta di seluruh platform — 5,19 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta pengikut Instagram.  Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini – dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: KisahMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Juni 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com dan KhotbahJumat.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke situs KisahMuslim.com untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim masih memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Do’a Di balik setiap konten yang terbit dan setiap ilmu yang tersebar, ada dukungan, doa, dan kontribusi dari para donatur, pendoa, serta Sahabat Yufid yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu dakwah ini. Karena itu, laporan ini bukan sekadar angka dan statistik, melainkan jejak kebaikan yang insya Allah terus mengalir pahalanya.  Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.984 video di lima kanal YouTube dengan total 971,4 juta tayangan, 10.224 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 185 times, 1 visit(s) today Post Views: 123

Laporan Produksi Yufid – Juni 2026

Laporan Produksi Yufid – Juni 2026 Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali terlewati dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini kami berbagi kepada Anda, para donatur dan sahabat Yufid semuanya tentang jejak kebaikan yang lahir dari dukungan Anda sepanjang bulan Juni 2026.  Inilah yang lahir sepanjang bulan Juni 2026. Tiga Angka Bulan Ini Juni 2026MaknanyaKonten baru182 video, 104 konten Instagram, 17 artikel, 2197 audio kajianSetiap harinya dalam sebulan menyajikan 6 video baru  — semuanya GRATIS untuk umatTayangan±15,8 juta tayangan lintas platform (6,4 jt YouTube + 9,3 jt Instagram)Setiap menit di bulan Juni, rata-rata ada 368 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak333.156 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 38 tahun — hanya dalam waktu satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Animasi Penuh Amanah Di balik setiap gerak animasi dalam Belajar Nama Hari Senin Sampai Ahad Bersama Ubay, salah satu video yang publish bulan ini, tersimpan ikhtiar yang dikerjakan dengan penuh ketelitian. Setiap gambar, cerita, dan gerakan disusun agar mampu menghadirkan senyum sekaligus ilmu bagi anak-anak, tanpa meninggalkan rambu-rambu syariat: faceless, tanpa musik, dan tetap berpegang teguh pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebuah ikhtiar agar belajar terasa menyenangkan, namun tetap membawa keberkahan. Di tengah derasnya tayangan anak yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam, Yufid Kids berusaha tetap menyalakan cahaya melalui kartun dan motion graphics yang sesuai syariat. Semoga setiap video yang lahir menjadi teman belajar bagi buah hati kaum muslimin sekaligus menjadi amal jariyah bagi para donatur, pemirsa, dan semua yang telah membersamai dakwah Yufid. Dari dukungan Anda, lahirlah karya-karya sederhana yang insyaAllah terus menebarkan manfaat. Ringkasan produksi per kanal Kanal / programJuni 2026Mei 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru103101111— Nasehat Ulama161616— Motion Graphic & Shorts3266— siaran langsung (live)107126115Yufid EDU (YouTube) — video baru462722Yufid Kids (YouTube) — video baru10*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten525848Instagram Yufid Network — konten525848Artikel (4 situs web)**172012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)68.46258.77854.120Audio kajian baru (Kajian.net)2197551383Perekaman artikel menjadi audio6927** KonsultasiSyariah.com 10 artikel; KhotbahJumat.com 5 artikel; KisahMuslim.com 0 artikel; PengusahaMuslim.com 2. Pertumbuhan pengikut Juni 2026: +24.595 di seluruh platform (YouTube +7.666, Instagram +16.929). Total pengikut Yufid kini 6,90 juta di seluruh platform — 5,19 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta pengikut Instagram.  Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini – dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: KisahMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Juni 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com dan KhotbahJumat.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke situs KisahMuslim.com untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim masih memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Do’a Di balik setiap konten yang terbit dan setiap ilmu yang tersebar, ada dukungan, doa, dan kontribusi dari para donatur, pendoa, serta Sahabat Yufid yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu dakwah ini. Karena itu, laporan ini bukan sekadar angka dan statistik, melainkan jejak kebaikan yang insya Allah terus mengalir pahalanya.  Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.984 video di lima kanal YouTube dengan total 971,4 juta tayangan, 10.224 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 185 times, 1 visit(s) today Post Views: 123
Laporan Produksi Yufid – Juni 2026 Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali terlewati dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini kami berbagi kepada Anda, para donatur dan sahabat Yufid semuanya tentang jejak kebaikan yang lahir dari dukungan Anda sepanjang bulan Juni 2026.  Inilah yang lahir sepanjang bulan Juni 2026. Tiga Angka Bulan Ini Juni 2026MaknanyaKonten baru182 video, 104 konten Instagram, 17 artikel, 2197 audio kajianSetiap harinya dalam sebulan menyajikan 6 video baru  — semuanya GRATIS untuk umatTayangan±15,8 juta tayangan lintas platform (6,4 jt YouTube + 9,3 jt Instagram)Setiap menit di bulan Juni, rata-rata ada 368 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak333.156 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 38 tahun — hanya dalam waktu satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Animasi Penuh Amanah Di balik setiap gerak animasi dalam Belajar Nama Hari Senin Sampai Ahad Bersama Ubay, salah satu video yang publish bulan ini, tersimpan ikhtiar yang dikerjakan dengan penuh ketelitian. Setiap gambar, cerita, dan gerakan disusun agar mampu menghadirkan senyum sekaligus ilmu bagi anak-anak, tanpa meninggalkan rambu-rambu syariat: faceless, tanpa musik, dan tetap berpegang teguh pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebuah ikhtiar agar belajar terasa menyenangkan, namun tetap membawa keberkahan. Di tengah derasnya tayangan anak yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam, Yufid Kids berusaha tetap menyalakan cahaya melalui kartun dan motion graphics yang sesuai syariat. Semoga setiap video yang lahir menjadi teman belajar bagi buah hati kaum muslimin sekaligus menjadi amal jariyah bagi para donatur, pemirsa, dan semua yang telah membersamai dakwah Yufid. Dari dukungan Anda, lahirlah karya-karya sederhana yang insyaAllah terus menebarkan manfaat. Ringkasan produksi per kanal Kanal / programJuni 2026Mei 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru103101111— Nasehat Ulama161616— Motion Graphic & Shorts3266— siaran langsung (live)107126115Yufid EDU (YouTube) — video baru462722Yufid Kids (YouTube) — video baru10*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten525848Instagram Yufid Network — konten525848Artikel (4 situs web)**172012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)68.46258.77854.120Audio kajian baru (Kajian.net)2197551383Perekaman artikel menjadi audio6927** KonsultasiSyariah.com 10 artikel; KhotbahJumat.com 5 artikel; KisahMuslim.com 0 artikel; PengusahaMuslim.com 2. Pertumbuhan pengikut Juni 2026: +24.595 di seluruh platform (YouTube +7.666, Instagram +16.929). Total pengikut Yufid kini 6,90 juta di seluruh platform — 5,19 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta pengikut Instagram.  Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini – dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: KisahMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Juni 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com dan KhotbahJumat.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke situs KisahMuslim.com untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim masih memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Do’a Di balik setiap konten yang terbit dan setiap ilmu yang tersebar, ada dukungan, doa, dan kontribusi dari para donatur, pendoa, serta Sahabat Yufid yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu dakwah ini. Karena itu, laporan ini bukan sekadar angka dan statistik, melainkan jejak kebaikan yang insya Allah terus mengalir pahalanya.  Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.984 video di lima kanal YouTube dengan total 971,4 juta tayangan, 10.224 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 185 times, 1 visit(s) today Post Views: 123


Laporan Produksi Yufid – Juni 2026 Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali terlewati dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini kami berbagi kepada Anda, para donatur dan sahabat Yufid semuanya tentang jejak kebaikan yang lahir dari dukungan Anda sepanjang bulan Juni 2026.  Inilah yang lahir sepanjang bulan Juni 2026. Tiga Angka Bulan Ini Juni 2026MaknanyaKonten baru182 video, 104 konten Instagram, 17 artikel, 2197 audio kajianSetiap harinya dalam sebulan menyajikan 6 video baru  — semuanya GRATIS untuk umatTayangan±15,8 juta tayangan lintas platform (6,4 jt YouTube + 9,3 jt Instagram)Setiap menit di bulan Juni, rata-rata ada 368 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak333.156 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 38 tahun — hanya dalam waktu satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Animasi Penuh Amanah Di balik setiap gerak animasi dalam Belajar Nama Hari Senin Sampai Ahad Bersama Ubay, salah satu video yang publish bulan ini, tersimpan ikhtiar yang dikerjakan dengan penuh ketelitian. Setiap gambar, cerita, dan gerakan disusun agar mampu menghadirkan senyum sekaligus ilmu bagi anak-anak, tanpa meninggalkan rambu-rambu syariat: faceless, tanpa musik, dan tetap berpegang teguh pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebuah ikhtiar agar belajar terasa menyenangkan, namun tetap membawa keberkahan. Di tengah derasnya tayangan anak yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam, Yufid Kids berusaha tetap menyalakan cahaya melalui kartun dan motion graphics yang sesuai syariat. Semoga setiap video yang lahir menjadi teman belajar bagi buah hati kaum muslimin sekaligus menjadi amal jariyah bagi para donatur, pemirsa, dan semua yang telah membersamai dakwah Yufid. Dari dukungan Anda, lahirlah karya-karya sederhana yang insyaAllah terus menebarkan manfaat. Ringkasan produksi per kanal Kanal / programJuni 2026Mei 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru103101111— Nasehat Ulama161616— Motion Graphic & Shorts3266— siaran langsung (live)107126115Yufid EDU (YouTube) — video baru462722Yufid Kids (YouTube) — video baru10*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten525848Instagram Yufid Network — konten525848Artikel (4 situs web)**172012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)68.46258.77854.120Audio kajian baru (Kajian.net)2197551383Perekaman artikel menjadi audio6927** KonsultasiSyariah.com 10 artikel; KhotbahJumat.com 5 artikel; KisahMuslim.com 0 artikel; PengusahaMuslim.com 2. Pertumbuhan pengikut Juni 2026: +24.595 di seluruh platform (YouTube +7.666, Instagram +16.929). Total pengikut Yufid kini 6,90 juta di seluruh platform — 5,19 juta subscribers YouTube dan 1,71 juta pengikut Instagram.  Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini – dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: KisahMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Juni 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com dan KhotbahJumat.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke situs KisahMuslim.com untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim masih memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Do’a Di balik setiap konten yang terbit dan setiap ilmu yang tersebar, ada dukungan, doa, dan kontribusi dari para donatur, pendoa, serta Sahabat Yufid yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu dakwah ini. Karena itu, laporan ini bukan sekadar angka dan statistik, melainkan jejak kebaikan yang insya Allah terus mengalir pahalanya.  Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.984 video di lima kanal YouTube dengan total 971,4 juta tayangan, 10.224 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 185 times, 1 visit(s) today Post Views: 123

Keteguhan Para Sahabat Pada Masa Awal Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKeberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaSalat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺPada artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa kisah keteguhan para sahabat pada awal masa dakwah sirriyyah. Pada bagian kedua ini, kita akan melanjutkan kisah Abu Dzar al-Ghifari dan Khalid bin Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, dua sahabat yang menunjukkan keberanian dan keteguhan setelah menerima Islam. Selain itu, kita juga akan melihat perkembangan syariat salat serta sikap masyarakat Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ yang mulai tersebar.Keberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaAbu Dzar al-Ghifari (أبو ذر الغفاري) juga termasuk ke dalam jajaran as-sabiqunal awwalun. Ia berasal dari kalangan Arab badui. Ia juga orang yang fasih berbahasa Arab dan manis tutur katanya.Ketika berita tentang diutusnya Rasulullah ﷺ sampai kepadanya, Abu Dzar mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari informasi tentang beliau. Ia memintanya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali untuk menyampaikan kabar kepadanya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Dzar, ia menceritakan apa yang ditemuinya. Saudaranya mengatakan bahwa orang tersebut memerintahkan akhlak-akhlak mulia dan menyampaikan perkataan yang bukan syair.Mendengar perkataan saudaranya tersebut, Abu Dzar belum puas. Akhirnya, Abu Dzar sendiri yang akan menelusuri dan mencari Nabi tersebut. Ia menyiapkan bekal untuk pergi ke Makkah. Setelah tiba di Makkah, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan mencari beliau ﷺ. Namun masalahnya, Abu Dzar belum mengenal Rasulullah ﷺ. Ia juga tidak suka menanyakan tentang beliau lantaran mengetahui kebencian Quraisy terhadap siapa pun yang berhubungan dengan Rasulullah ﷺ.Malam pun tiba. Ali bin Abi Thalib melihat Abu Dzar. Ia mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun mengajak Abu Dzar ke rumahnya dan menjamunya. Tidak ada seorang pun dari keduanya yang bertanya kepada yang lain tentang apa pun hingga berlalu tiga hari. Setelah berlalu tiga hari, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Tidakkah kamu mau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu datang ke sini?”Abu Dzar menjawab, “Kalau kamu berjanji dan berikrar akan membimbingku, aku akan melakukannya.”Ali pun berjanji, sehingga Abu Dzar pun menceritakan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan Abu Dzar, Ali berkata, “Sesungguhnya itu adalah kebenaran. Beliau adalah Rasulullah.”Kemudian Ali meminta Abu Dzar untuk mengikutinya besok pagi. Jika Ali melihat sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan Abu Dzar, maka Ali akan berisyarat berdiri seolah-olah sedang buang air kecil. Jika Ali terus berjalan, maka Abu Dzar diminta untuk terus mengikutinya sampai ia ikut masuk ke tempat di mana Ali masuk.Abu Dzar pun melakukannya. Ia terus mengikuti Ali sampai Ali masuk menemui Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar mendengarkan sabda beliau dan langsung masuk Islam di tempat itu. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya dan berdakwah kepada mereka sampai datang perintah beliau kepadanya.Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan menyatakan keislamanku dengan lantang di tengah-tengah mereka.”Abu Dzar kemudian keluar dan mendatangi Masjidil Haram, lalu berseru dengan suara paling lantang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”Mendengar perkataan Abu Dzar tersebut, orang-orang bangkit dan memukulinya hingga Abu Dzar terjatuh. Al-’Abbas datang, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas Abu Dzar untuk melindunginya. Al-’Abbas berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian tahu bahwa ia berasal dari Ghifar? Dan bahwa jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati daerah mereka?” Maka Al-’Abbas menyelamatkan Abu Dzar dari mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Baca juga: Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaDi antara as-sabiqunal awwalun adalah Khalid bin Sa’id bin Al-’Ash bin Umayyah (خالد بن سعيد بن العاص بن أمية). Ayahnya adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati.Diriwayatkan bahwa Khalid pernah bermimpi dirinya akan jatuh ke jurang yang dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ datang menyelamatkannya dari jurang tersebut. Setelah terbangun dari tidurnya, Khalid mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kepada apa engkau menyeru, wahai Muhammad?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku menyerumu untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; agar engkau meninggalkan penyembahan kepada batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, dan tidak memberi manfaat; agar engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu; agar engkau tidak membunuh anakmu karena takut miskin; agar engkau tidak mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi; agar engkau tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar; agar engkau tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik hingga ia mencapai usia matang; agar engkau menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil; agar engkau berlaku adil dalam ucapanmu, meskipun engkau harus memberi keputusan terhadap kerabat dekatmu; dan agar engkau memenuhi janji kepada orang yang telah engkau ikat perjanjian dengannya.”Khalid bin Sa’id pun masuk Islam. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Khalid bin Sa’id telah masuk Islam, ayahnya marah kepadanya dan menyakitinya. Bahkan ayahnya juga menahan makanan darinya. Khalid kemudian meninggalkan rumah ayahnya, mendatangi Rasulullah ﷺ, dan senantiasa bersama beliau di sekitar Makkah.Salat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSelain bertambahnya orang-orang yang masuk Islam, masa dakwah sirriyyah juga menjadi masa awal pembinaan ibadah dan keimanan kaum muslimin. Salat termasuk ibadah yang telah disyariatkan pada masa dakwah sirriyyah. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat terkait jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa itu, kaum muslimin diwajibkan salat pada pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun kewajiban salat lima waktu dengan tata cara yang dikenal sekarang baru ditetapkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.Diriwayatkan pula bahwa Jibril mengajarkan tata cara wudu kepada Rasulullah ﷺ pada masa awal kenabian.Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa apabila waktu salat telah tiba, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pergi ke celah-celah bukit lalu menyembunyikan salat mereka dari kaumnya.Sikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺMeskipun dakwah Rasulullah ﷺ masih bersifat rahasia dan perorangan, tampaknya beritanya telah sampai kepada kaum musyrikin Quraisy. Hanya saja, mereka belum terlalu mempedulikannya.Muhammad al-Ghazali menjelaskan, “Barangkali mereka mengira Muhammad hanyalah salah satu dari orang-orang yang memiliki kecenderungan beragama, yang berbicara tentang ketuhanan dan hak-hak-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Umayyah bin Abi Shalt (أمية بن أبي الصلت), Quss bin Sa’idah (قس بن ساعدة), dan ‘Amr bin Nufail (عمرو بن نفيل). Hanya saja, Quraisy mulai merasa khawatir terhadap tersebarnya berita tentang beliau dan meluasnya pengaruh beliau. Maka mereka pun mulai mengamati dari waktu ke waktu bagaimana akhir nasib beliau dan dakwahnya.”Demikianlah sebagian gambaran dakwah Islam pada masa sirriyyah. Abu Dzar menunjukkan keberanian dalam menyatakan keimanan di hadapan Quraisy, sedangkan Khalid bin Sa’id memilih mempertahankan Islam meskipun harus menghadapi penentangan ayahnya. Pada masa yang sama, Rasulullah ﷺ membina kaum muslimin dengan ibadah dan wahyu, sementara kaum Quraisy mulai mengamati perkembangan dakwah yang semula mereka anggap remeh. Benih-benih keimanan yang tumbuh secara tersembunyi itu kelak berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat diabaikan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr Al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid Al-Mursalīn, karya Muhammad Al-Khudhari.Ar-Rahīq Al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri.

Keteguhan Para Sahabat Pada Masa Awal Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKeberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaSalat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺPada artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa kisah keteguhan para sahabat pada awal masa dakwah sirriyyah. Pada bagian kedua ini, kita akan melanjutkan kisah Abu Dzar al-Ghifari dan Khalid bin Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, dua sahabat yang menunjukkan keberanian dan keteguhan setelah menerima Islam. Selain itu, kita juga akan melihat perkembangan syariat salat serta sikap masyarakat Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ yang mulai tersebar.Keberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaAbu Dzar al-Ghifari (أبو ذر الغفاري) juga termasuk ke dalam jajaran as-sabiqunal awwalun. Ia berasal dari kalangan Arab badui. Ia juga orang yang fasih berbahasa Arab dan manis tutur katanya.Ketika berita tentang diutusnya Rasulullah ﷺ sampai kepadanya, Abu Dzar mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari informasi tentang beliau. Ia memintanya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali untuk menyampaikan kabar kepadanya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Dzar, ia menceritakan apa yang ditemuinya. Saudaranya mengatakan bahwa orang tersebut memerintahkan akhlak-akhlak mulia dan menyampaikan perkataan yang bukan syair.Mendengar perkataan saudaranya tersebut, Abu Dzar belum puas. Akhirnya, Abu Dzar sendiri yang akan menelusuri dan mencari Nabi tersebut. Ia menyiapkan bekal untuk pergi ke Makkah. Setelah tiba di Makkah, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan mencari beliau ﷺ. Namun masalahnya, Abu Dzar belum mengenal Rasulullah ﷺ. Ia juga tidak suka menanyakan tentang beliau lantaran mengetahui kebencian Quraisy terhadap siapa pun yang berhubungan dengan Rasulullah ﷺ.Malam pun tiba. Ali bin Abi Thalib melihat Abu Dzar. Ia mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun mengajak Abu Dzar ke rumahnya dan menjamunya. Tidak ada seorang pun dari keduanya yang bertanya kepada yang lain tentang apa pun hingga berlalu tiga hari. Setelah berlalu tiga hari, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Tidakkah kamu mau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu datang ke sini?”Abu Dzar menjawab, “Kalau kamu berjanji dan berikrar akan membimbingku, aku akan melakukannya.”Ali pun berjanji, sehingga Abu Dzar pun menceritakan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan Abu Dzar, Ali berkata, “Sesungguhnya itu adalah kebenaran. Beliau adalah Rasulullah.”Kemudian Ali meminta Abu Dzar untuk mengikutinya besok pagi. Jika Ali melihat sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan Abu Dzar, maka Ali akan berisyarat berdiri seolah-olah sedang buang air kecil. Jika Ali terus berjalan, maka Abu Dzar diminta untuk terus mengikutinya sampai ia ikut masuk ke tempat di mana Ali masuk.Abu Dzar pun melakukannya. Ia terus mengikuti Ali sampai Ali masuk menemui Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar mendengarkan sabda beliau dan langsung masuk Islam di tempat itu. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya dan berdakwah kepada mereka sampai datang perintah beliau kepadanya.Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan menyatakan keislamanku dengan lantang di tengah-tengah mereka.”Abu Dzar kemudian keluar dan mendatangi Masjidil Haram, lalu berseru dengan suara paling lantang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”Mendengar perkataan Abu Dzar tersebut, orang-orang bangkit dan memukulinya hingga Abu Dzar terjatuh. Al-’Abbas datang, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas Abu Dzar untuk melindunginya. Al-’Abbas berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian tahu bahwa ia berasal dari Ghifar? Dan bahwa jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati daerah mereka?” Maka Al-’Abbas menyelamatkan Abu Dzar dari mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Baca juga: Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaDi antara as-sabiqunal awwalun adalah Khalid bin Sa’id bin Al-’Ash bin Umayyah (خالد بن سعيد بن العاص بن أمية). Ayahnya adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati.Diriwayatkan bahwa Khalid pernah bermimpi dirinya akan jatuh ke jurang yang dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ datang menyelamatkannya dari jurang tersebut. Setelah terbangun dari tidurnya, Khalid mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kepada apa engkau menyeru, wahai Muhammad?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku menyerumu untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; agar engkau meninggalkan penyembahan kepada batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, dan tidak memberi manfaat; agar engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu; agar engkau tidak membunuh anakmu karena takut miskin; agar engkau tidak mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi; agar engkau tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar; agar engkau tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik hingga ia mencapai usia matang; agar engkau menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil; agar engkau berlaku adil dalam ucapanmu, meskipun engkau harus memberi keputusan terhadap kerabat dekatmu; dan agar engkau memenuhi janji kepada orang yang telah engkau ikat perjanjian dengannya.”Khalid bin Sa’id pun masuk Islam. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Khalid bin Sa’id telah masuk Islam, ayahnya marah kepadanya dan menyakitinya. Bahkan ayahnya juga menahan makanan darinya. Khalid kemudian meninggalkan rumah ayahnya, mendatangi Rasulullah ﷺ, dan senantiasa bersama beliau di sekitar Makkah.Salat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSelain bertambahnya orang-orang yang masuk Islam, masa dakwah sirriyyah juga menjadi masa awal pembinaan ibadah dan keimanan kaum muslimin. Salat termasuk ibadah yang telah disyariatkan pada masa dakwah sirriyyah. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat terkait jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa itu, kaum muslimin diwajibkan salat pada pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun kewajiban salat lima waktu dengan tata cara yang dikenal sekarang baru ditetapkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.Diriwayatkan pula bahwa Jibril mengajarkan tata cara wudu kepada Rasulullah ﷺ pada masa awal kenabian.Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa apabila waktu salat telah tiba, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pergi ke celah-celah bukit lalu menyembunyikan salat mereka dari kaumnya.Sikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺMeskipun dakwah Rasulullah ﷺ masih bersifat rahasia dan perorangan, tampaknya beritanya telah sampai kepada kaum musyrikin Quraisy. Hanya saja, mereka belum terlalu mempedulikannya.Muhammad al-Ghazali menjelaskan, “Barangkali mereka mengira Muhammad hanyalah salah satu dari orang-orang yang memiliki kecenderungan beragama, yang berbicara tentang ketuhanan dan hak-hak-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Umayyah bin Abi Shalt (أمية بن أبي الصلت), Quss bin Sa’idah (قس بن ساعدة), dan ‘Amr bin Nufail (عمرو بن نفيل). Hanya saja, Quraisy mulai merasa khawatir terhadap tersebarnya berita tentang beliau dan meluasnya pengaruh beliau. Maka mereka pun mulai mengamati dari waktu ke waktu bagaimana akhir nasib beliau dan dakwahnya.”Demikianlah sebagian gambaran dakwah Islam pada masa sirriyyah. Abu Dzar menunjukkan keberanian dalam menyatakan keimanan di hadapan Quraisy, sedangkan Khalid bin Sa’id memilih mempertahankan Islam meskipun harus menghadapi penentangan ayahnya. Pada masa yang sama, Rasulullah ﷺ membina kaum muslimin dengan ibadah dan wahyu, sementara kaum Quraisy mulai mengamati perkembangan dakwah yang semula mereka anggap remeh. Benih-benih keimanan yang tumbuh secara tersembunyi itu kelak berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat diabaikan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr Al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid Al-Mursalīn, karya Muhammad Al-Khudhari.Ar-Rahīq Al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri.
Daftar Isi ToggleKeberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaSalat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺPada artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa kisah keteguhan para sahabat pada awal masa dakwah sirriyyah. Pada bagian kedua ini, kita akan melanjutkan kisah Abu Dzar al-Ghifari dan Khalid bin Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, dua sahabat yang menunjukkan keberanian dan keteguhan setelah menerima Islam. Selain itu, kita juga akan melihat perkembangan syariat salat serta sikap masyarakat Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ yang mulai tersebar.Keberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaAbu Dzar al-Ghifari (أبو ذر الغفاري) juga termasuk ke dalam jajaran as-sabiqunal awwalun. Ia berasal dari kalangan Arab badui. Ia juga orang yang fasih berbahasa Arab dan manis tutur katanya.Ketika berita tentang diutusnya Rasulullah ﷺ sampai kepadanya, Abu Dzar mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari informasi tentang beliau. Ia memintanya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali untuk menyampaikan kabar kepadanya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Dzar, ia menceritakan apa yang ditemuinya. Saudaranya mengatakan bahwa orang tersebut memerintahkan akhlak-akhlak mulia dan menyampaikan perkataan yang bukan syair.Mendengar perkataan saudaranya tersebut, Abu Dzar belum puas. Akhirnya, Abu Dzar sendiri yang akan menelusuri dan mencari Nabi tersebut. Ia menyiapkan bekal untuk pergi ke Makkah. Setelah tiba di Makkah, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan mencari beliau ﷺ. Namun masalahnya, Abu Dzar belum mengenal Rasulullah ﷺ. Ia juga tidak suka menanyakan tentang beliau lantaran mengetahui kebencian Quraisy terhadap siapa pun yang berhubungan dengan Rasulullah ﷺ.Malam pun tiba. Ali bin Abi Thalib melihat Abu Dzar. Ia mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun mengajak Abu Dzar ke rumahnya dan menjamunya. Tidak ada seorang pun dari keduanya yang bertanya kepada yang lain tentang apa pun hingga berlalu tiga hari. Setelah berlalu tiga hari, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Tidakkah kamu mau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu datang ke sini?”Abu Dzar menjawab, “Kalau kamu berjanji dan berikrar akan membimbingku, aku akan melakukannya.”Ali pun berjanji, sehingga Abu Dzar pun menceritakan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan Abu Dzar, Ali berkata, “Sesungguhnya itu adalah kebenaran. Beliau adalah Rasulullah.”Kemudian Ali meminta Abu Dzar untuk mengikutinya besok pagi. Jika Ali melihat sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan Abu Dzar, maka Ali akan berisyarat berdiri seolah-olah sedang buang air kecil. Jika Ali terus berjalan, maka Abu Dzar diminta untuk terus mengikutinya sampai ia ikut masuk ke tempat di mana Ali masuk.Abu Dzar pun melakukannya. Ia terus mengikuti Ali sampai Ali masuk menemui Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar mendengarkan sabda beliau dan langsung masuk Islam di tempat itu. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya dan berdakwah kepada mereka sampai datang perintah beliau kepadanya.Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan menyatakan keislamanku dengan lantang di tengah-tengah mereka.”Abu Dzar kemudian keluar dan mendatangi Masjidil Haram, lalu berseru dengan suara paling lantang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”Mendengar perkataan Abu Dzar tersebut, orang-orang bangkit dan memukulinya hingga Abu Dzar terjatuh. Al-’Abbas datang, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas Abu Dzar untuk melindunginya. Al-’Abbas berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian tahu bahwa ia berasal dari Ghifar? Dan bahwa jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati daerah mereka?” Maka Al-’Abbas menyelamatkan Abu Dzar dari mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Baca juga: Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaDi antara as-sabiqunal awwalun adalah Khalid bin Sa’id bin Al-’Ash bin Umayyah (خالد بن سعيد بن العاص بن أمية). Ayahnya adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati.Diriwayatkan bahwa Khalid pernah bermimpi dirinya akan jatuh ke jurang yang dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ datang menyelamatkannya dari jurang tersebut. Setelah terbangun dari tidurnya, Khalid mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kepada apa engkau menyeru, wahai Muhammad?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku menyerumu untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; agar engkau meninggalkan penyembahan kepada batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, dan tidak memberi manfaat; agar engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu; agar engkau tidak membunuh anakmu karena takut miskin; agar engkau tidak mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi; agar engkau tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar; agar engkau tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik hingga ia mencapai usia matang; agar engkau menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil; agar engkau berlaku adil dalam ucapanmu, meskipun engkau harus memberi keputusan terhadap kerabat dekatmu; dan agar engkau memenuhi janji kepada orang yang telah engkau ikat perjanjian dengannya.”Khalid bin Sa’id pun masuk Islam. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Khalid bin Sa’id telah masuk Islam, ayahnya marah kepadanya dan menyakitinya. Bahkan ayahnya juga menahan makanan darinya. Khalid kemudian meninggalkan rumah ayahnya, mendatangi Rasulullah ﷺ, dan senantiasa bersama beliau di sekitar Makkah.Salat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSelain bertambahnya orang-orang yang masuk Islam, masa dakwah sirriyyah juga menjadi masa awal pembinaan ibadah dan keimanan kaum muslimin. Salat termasuk ibadah yang telah disyariatkan pada masa dakwah sirriyyah. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat terkait jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa itu, kaum muslimin diwajibkan salat pada pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun kewajiban salat lima waktu dengan tata cara yang dikenal sekarang baru ditetapkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.Diriwayatkan pula bahwa Jibril mengajarkan tata cara wudu kepada Rasulullah ﷺ pada masa awal kenabian.Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa apabila waktu salat telah tiba, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pergi ke celah-celah bukit lalu menyembunyikan salat mereka dari kaumnya.Sikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺMeskipun dakwah Rasulullah ﷺ masih bersifat rahasia dan perorangan, tampaknya beritanya telah sampai kepada kaum musyrikin Quraisy. Hanya saja, mereka belum terlalu mempedulikannya.Muhammad al-Ghazali menjelaskan, “Barangkali mereka mengira Muhammad hanyalah salah satu dari orang-orang yang memiliki kecenderungan beragama, yang berbicara tentang ketuhanan dan hak-hak-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Umayyah bin Abi Shalt (أمية بن أبي الصلت), Quss bin Sa’idah (قس بن ساعدة), dan ‘Amr bin Nufail (عمرو بن نفيل). Hanya saja, Quraisy mulai merasa khawatir terhadap tersebarnya berita tentang beliau dan meluasnya pengaruh beliau. Maka mereka pun mulai mengamati dari waktu ke waktu bagaimana akhir nasib beliau dan dakwahnya.”Demikianlah sebagian gambaran dakwah Islam pada masa sirriyyah. Abu Dzar menunjukkan keberanian dalam menyatakan keimanan di hadapan Quraisy, sedangkan Khalid bin Sa’id memilih mempertahankan Islam meskipun harus menghadapi penentangan ayahnya. Pada masa yang sama, Rasulullah ﷺ membina kaum muslimin dengan ibadah dan wahyu, sementara kaum Quraisy mulai mengamati perkembangan dakwah yang semula mereka anggap remeh. Benih-benih keimanan yang tumbuh secara tersembunyi itu kelak berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat diabaikan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr Al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid Al-Mursalīn, karya Muhammad Al-Khudhari.Ar-Rahīq Al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri.


Daftar Isi ToggleKeberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaSalat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺPada artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa kisah keteguhan para sahabat pada awal masa dakwah sirriyyah. Pada bagian kedua ini, kita akan melanjutkan kisah Abu Dzar al-Ghifari dan Khalid bin Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, dua sahabat yang menunjukkan keberanian dan keteguhan setelah menerima Islam. Selain itu, kita juga akan melihat perkembangan syariat salat serta sikap masyarakat Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ yang mulai tersebar.Keberanian Abu Dzar menyatakan keislamannyaAbu Dzar al-Ghifari (أبو ذر الغفاري) juga termasuk ke dalam jajaran as-sabiqunal awwalun. Ia berasal dari kalangan Arab badui. Ia juga orang yang fasih berbahasa Arab dan manis tutur katanya.Ketika berita tentang diutusnya Rasulullah ﷺ sampai kepadanya, Abu Dzar mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari informasi tentang beliau. Ia memintanya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali untuk menyampaikan kabar kepadanya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Dzar, ia menceritakan apa yang ditemuinya. Saudaranya mengatakan bahwa orang tersebut memerintahkan akhlak-akhlak mulia dan menyampaikan perkataan yang bukan syair.Mendengar perkataan saudaranya tersebut, Abu Dzar belum puas. Akhirnya, Abu Dzar sendiri yang akan menelusuri dan mencari Nabi tersebut. Ia menyiapkan bekal untuk pergi ke Makkah. Setelah tiba di Makkah, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan mencari beliau ﷺ. Namun masalahnya, Abu Dzar belum mengenal Rasulullah ﷺ. Ia juga tidak suka menanyakan tentang beliau lantaran mengetahui kebencian Quraisy terhadap siapa pun yang berhubungan dengan Rasulullah ﷺ.Malam pun tiba. Ali bin Abi Thalib melihat Abu Dzar. Ia mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun mengajak Abu Dzar ke rumahnya dan menjamunya. Tidak ada seorang pun dari keduanya yang bertanya kepada yang lain tentang apa pun hingga berlalu tiga hari. Setelah berlalu tiga hari, Ali berkata kepada Abu Dzar, “Tidakkah kamu mau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu datang ke sini?”Abu Dzar menjawab, “Kalau kamu berjanji dan berikrar akan membimbingku, aku akan melakukannya.”Ali pun berjanji, sehingga Abu Dzar pun menceritakan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan Abu Dzar, Ali berkata, “Sesungguhnya itu adalah kebenaran. Beliau adalah Rasulullah.”Kemudian Ali meminta Abu Dzar untuk mengikutinya besok pagi. Jika Ali melihat sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan Abu Dzar, maka Ali akan berisyarat berdiri seolah-olah sedang buang air kecil. Jika Ali terus berjalan, maka Abu Dzar diminta untuk terus mengikutinya sampai ia ikut masuk ke tempat di mana Ali masuk.Abu Dzar pun melakukannya. Ia terus mengikuti Ali sampai Ali masuk menemui Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar mendengarkan sabda beliau dan langsung masuk Islam di tempat itu. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya dan berdakwah kepada mereka sampai datang perintah beliau kepadanya.Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan menyatakan keislamanku dengan lantang di tengah-tengah mereka.”Abu Dzar kemudian keluar dan mendatangi Masjidil Haram, lalu berseru dengan suara paling lantang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”Mendengar perkataan Abu Dzar tersebut, orang-orang bangkit dan memukulinya hingga Abu Dzar terjatuh. Al-’Abbas datang, lalu menelungkupkan tubuhnya di atas Abu Dzar untuk melindunginya. Al-’Abbas berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian tahu bahwa ia berasal dari Ghifar? Dan bahwa jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati daerah mereka?” Maka Al-’Abbas menyelamatkan Abu Dzar dari mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Baca juga: Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi WasallamKeteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnyaDi antara as-sabiqunal awwalun adalah Khalid bin Sa’id bin Al-’Ash bin Umayyah (خالد بن سعيد بن العاص بن أمية). Ayahnya adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati.Diriwayatkan bahwa Khalid pernah bermimpi dirinya akan jatuh ke jurang yang dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ datang menyelamatkannya dari jurang tersebut. Setelah terbangun dari tidurnya, Khalid mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kepada apa engkau menyeru, wahai Muhammad?”Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku menyerumu untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; agar engkau meninggalkan penyembahan kepada batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, dan tidak memberi manfaat; agar engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu; agar engkau tidak membunuh anakmu karena takut miskin; agar engkau tidak mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi; agar engkau tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar; agar engkau tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik hingga ia mencapai usia matang; agar engkau menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil; agar engkau berlaku adil dalam ucapanmu, meskipun engkau harus memberi keputusan terhadap kerabat dekatmu; dan agar engkau memenuhi janji kepada orang yang telah engkau ikat perjanjian dengannya.”Khalid bin Sa’id pun masuk Islam. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Khalid bin Sa’id telah masuk Islam, ayahnya marah kepadanya dan menyakitinya. Bahkan ayahnya juga menahan makanan darinya. Khalid kemudian meninggalkan rumah ayahnya, mendatangi Rasulullah ﷺ, dan senantiasa bersama beliau di sekitar Makkah.Salat dan wudu pada masa dakwah sirriyyahSelain bertambahnya orang-orang yang masuk Islam, masa dakwah sirriyyah juga menjadi masa awal pembinaan ibadah dan keimanan kaum muslimin. Salat termasuk ibadah yang telah disyariatkan pada masa dakwah sirriyyah. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat terkait jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sebagian ulama berpendapat bahwa pada masa itu, kaum muslimin diwajibkan salat pada pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun kewajiban salat lima waktu dengan tata cara yang dikenal sekarang baru ditetapkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.Diriwayatkan pula bahwa Jibril mengajarkan tata cara wudu kepada Rasulullah ﷺ pada masa awal kenabian.Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa apabila waktu salat telah tiba, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pergi ke celah-celah bukit lalu menyembunyikan salat mereka dari kaumnya.Sikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺMeskipun dakwah Rasulullah ﷺ masih bersifat rahasia dan perorangan, tampaknya beritanya telah sampai kepada kaum musyrikin Quraisy. Hanya saja, mereka belum terlalu mempedulikannya.Muhammad al-Ghazali menjelaskan, “Barangkali mereka mengira Muhammad hanyalah salah satu dari orang-orang yang memiliki kecenderungan beragama, yang berbicara tentang ketuhanan dan hak-hak-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Umayyah bin Abi Shalt (أمية بن أبي الصلت), Quss bin Sa’idah (قس بن ساعدة), dan ‘Amr bin Nufail (عمرو بن نفيل). Hanya saja, Quraisy mulai merasa khawatir terhadap tersebarnya berita tentang beliau dan meluasnya pengaruh beliau. Maka mereka pun mulai mengamati dari waktu ke waktu bagaimana akhir nasib beliau dan dakwahnya.”Demikianlah sebagian gambaran dakwah Islam pada masa sirriyyah. Abu Dzar menunjukkan keberanian dalam menyatakan keimanan di hadapan Quraisy, sedangkan Khalid bin Sa’id memilih mempertahankan Islam meskipun harus menghadapi penentangan ayahnya. Pada masa yang sama, Rasulullah ﷺ membina kaum muslimin dengan ibadah dan wahyu, sementara kaum Quraisy mulai mengamati perkembangan dakwah yang semula mereka anggap remeh. Benih-benih keimanan yang tumbuh secara tersembunyi itu kelak berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat diabaikan. Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Nūr Al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid Al-Mursalīn, karya Muhammad Al-Khudhari.Ar-Rahīq Al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri.

5 Sifat Qalbun Salim Hati yang Selamat Saat Menghadap Allah – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Sebagian orang saling bertanya, “Apa tujuanmu dalam kehidupan ini?” Maksudnya, apa perkara besar atau tujuan akhir yang engkau kejar dalam kehidupan ini? Orang-orang yang hati dan akalnya lemah, cita-cita mereka hanya terbatas pada kehidupan dunia yang hina ini. Dunia yang di sisi Allah tidak sebanding dengan satu sayap nyamuk. Wahai saudara-saudara, berapa harga sayap nyamuk? Kalau saya punya satu sayap nyamuk, berapa kalian mau membelinya, wahai saudara-saudara? Berapa yang akan kalian bayar? Itulah nilai kehidupan dunia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang cita-citanya hanya terbatas pada kehidupan ini berkata, “Cita-cita dan tujuanku dalam hidup adalah menjadi ini dan itu, meraih gelar tinggi ini dan itu, dan mengumpulkan harta sekian dan sekian.” Itulah tujuannya dalam hidup. Adapun orang-orang yang memiliki hati yang selamat lagi jernih, serta akal yang besar, cita-cita mereka dalam hidup adalah sesuatu yang lain. Mereka ingin sampai kepada apa yang dicapai oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, yaitu menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat (Qalbun Salim). Inilah tujuan yang paling luhur. Inilah hakikat besar yang seharusnya setiap kita hidup untuk mewujudkannya. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Beliau adalah teladan kita ‘alaihis shalatu was salam. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan beliau teladan bagi umat ini. “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus.’” (QS. An-Nahl: 123) Beliau adalah panutan dan teladan bagi kita ‘alaihis shalatu was salam. Beliau menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Saudara beliau, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Begitu pula saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi dan rasul. Setelah mereka, para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga selawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah atas beliau. Kemudian para syuhada dan orang-orang saleh setelah mereka. Mereka semua menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Jadikanlah pertanyaan ini sebagai judul besar hidupmu. Inilah tujuan yang seharusnya engkau jadikan tujuan nomor satu sejak hari ini. Maksud ucapan saya bukan agar manusia berpaling dari kehidupan dunia ini. Sama sekali tidak. Akan tetapi, tempatkanlah dunia pada tempatnya. Letakkan dunia di nomor dua, di belakang. Namun, yang nomor satu adalah perkara yang paling banyak menyibukkan akal dan hatimu. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Hati yang selamat adalah hati yang menghimpun lima sifat. Perhatikan baik-baik lima sifat ini. Jadikan ilmu ini Dan ini adalah wasiat yang saya sampaikan untuk diri saya terlebih dahulu, lalu untukmu, wahai saudaraku tercinta. Pastikan ilmu ini sampai ke hatimu, hingga menjadi ilmu yang diikuti oleh amal. Sesungguhnya hati yang selamat adalah hati yang menghimpun 5 sifat: Sifat pertama adalah hati yang aslama, yakni berserah diri kepada Allah. Sifat kedua adalah hati yang sallama, yakni tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah. Sifat ketiga adalah hati yang istaslama, yakni pasrah menerima ketetapan Allah. Sifat keempat adalah hati yang salima, yakni bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati. Sifat kelima adalah hati yang saalama, yakni berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah. Inilah lima sifat. Hati yang selamat adalah hati yang aslama, sallama, istaslama, salima, dan saalama. Aslama: Ia berserah diri kepada Allah. Sallama: Ia tunduk sepenuhnya untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istaslama: Ia pasrah terhadap qada dan takdir Allah. Salima: Ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah ‘Azza wa Jalla dan dari mengingat-Nya. Saalama: Ia berwala kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah. Lima sifat inilah sifat-sifat hati yang selamat. Siapa yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung. ===== بَعْضُ النَّاسِ يَسْأَلُ بَعْضَهُمْ: مَا هُوَ هَدَفُكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ يَعْنِي مَا هُوَ الشَّيْءُ الْعَظِيمُ، الْغَايَةُ الَّتِي تَسْعَى لَهَا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ أَصْحَابُ الْقُلُوبِ وَالْعُقُولِ الضَّعِيفَةِ هِمَّتُهُمْ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الدَّنِيئَةِ الَّتِي لَا تُسَاوِي عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ كَمْ يَا إِخْوَتَاهُ يُبَاعُ جَنَاحُ الْبَعُوضَةِ؟ إِذَا كَانَ عِنْدِي جَنَاحُ بَعُوضَةٍ بِكَمْ تَشْتَرُونَهُ يَا إِخْوَتَاهُ؟ كَمْ تَدْفَعُونَ فِيهِ؟ هَذَا هُوَ قَدْرُ الْحَيَاةِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا الَّذِي هِمَّتُهُ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ يَقُولُ هِمَّتِي وَهَدَفِي فِي الْحَيَاةِ أَنْ أُصْبِحَ كَذَا وَكَذَا، وَأَنْ أَحْمِلَ الشَّهَادَةَ الْعُلْيَا كَذَا وَكَذَا وَأَنْ أُحَصِّلَ مِنَ الْمَالِ كَذَا وَكَذَا هَذَا هُوَ هَدَفُهُ فِي الْحَيَاةِ لَكِنْ أَهْلُ الْقُلُوبِ السَّلِيمَةِ الصَّافِيَةِ وَالْعُقُولِ الْكَبِيرَةِ هِمَّتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ شَيْءٌ آخَرُ يُرِيدُونَ أَنْ يَصِلُوا إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَيَجِيئُونَ رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ، هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الْأَسْمَى هَذِهِ هِيَ الْحَقِيقَةُ الْكُبْرَى الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَعِيشَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا لِأَجْلِ تَحْقِيقِهَا كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَهُوَ قُدْوَتُنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ قُدْوَةً لِهَذِهِ الْأُمَّةِ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا قُدْوَةٌ لَنَا وَأُسْوَةٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَأَخُوهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَإِخْوَانُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَمِنْ بَعْدِهِمْ أَصْحَابُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَزْكَى الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيمِ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ مِنْ بَعْدِهِمْ جَاؤُوا رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ ضَعْ هَذِهِ عُنْوَانَ حَيَاتِكَ هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الَّذِي يَنْبَغِي مِنْ يَوْمِكَ هَذَا أَنْ تَجْعَلَهُ الْهَدَفَ رَقْمَ وَاحِدٍ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِكَلَامِي أَنْ يُعْرِضَ الْإِنْسَانُ عَنْ هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، كَلَّا، وَلَكِنْ ضَعْهَا فِي مَوْضِعِهَا ضَعْهَا فِي رَقْمِ اثْنَيْنِ فِي الْخَلْفِ لَكِنْ رَقْمُ وَاحِدٍ هُوَ الشَّيْءُ الَّذِي تُشْغِلُ عَقْلَكَ وَقَلْبَكَ فِيهِ أَكْثَرَ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الَّذِي جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ انْتَبِهْ لَهَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعِلْمَ وَهَذِهِ وَصِيَّةٌ أُوصِي بِهَا نَفْسِي أَوَّلًا، وَأُوصِيكَ بِهَا أَخِي الْحَبِيبَ هَذَا الْعِلْمَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى قَلْبِكَ، إِلَى أَنْ يَكُونَ عِلْمًا يَتْبَعُهُ عَمَلٌ أَنَّ الْقَلْبَ السَّلِيمَ هُوَ مَا جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ الْوَصْفُ الْأَوَّلُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ الْوَصْفُ الثَّانِي هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلَّمَ الْوَصْفُ الثَّالِثُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي اسْتَسْلَمَ الْوَصْفُ الرَّابِعُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلِمَ الْوَصْفُ الْخَامِسُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَالَمَ هَذِهِ خَمْسَةُ أَوْصَافٍ، الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ، وَسَلَّمَ، وَاسْتَسْلَمَ، وَسَلِمَ، وَسَالَمَ أَسْلَمَ لِلهِ وَسَلَّمَ لِاتِّبَاعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَسْلَمَ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَسَلِمَ مِنْ كُلِّ مَا يَقْطَعُهُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذِكْرِهِ وَسَالَمَ أَوْلِيَاءَ اللهِ، وَعَادَى أَعْدَاءَ اللهِ هَذِهِ الْأَوْصَافُ الْخَمْسَةُ هِيَ أَوْصَافُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ مَنْ جَاءَ رَبَّهُ بِهَذَا الْقَلْبِ الْمَوْصُوفِ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ فَلْيُبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ

5 Sifat Qalbun Salim Hati yang Selamat Saat Menghadap Allah – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Sebagian orang saling bertanya, “Apa tujuanmu dalam kehidupan ini?” Maksudnya, apa perkara besar atau tujuan akhir yang engkau kejar dalam kehidupan ini? Orang-orang yang hati dan akalnya lemah, cita-cita mereka hanya terbatas pada kehidupan dunia yang hina ini. Dunia yang di sisi Allah tidak sebanding dengan satu sayap nyamuk. Wahai saudara-saudara, berapa harga sayap nyamuk? Kalau saya punya satu sayap nyamuk, berapa kalian mau membelinya, wahai saudara-saudara? Berapa yang akan kalian bayar? Itulah nilai kehidupan dunia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang cita-citanya hanya terbatas pada kehidupan ini berkata, “Cita-cita dan tujuanku dalam hidup adalah menjadi ini dan itu, meraih gelar tinggi ini dan itu, dan mengumpulkan harta sekian dan sekian.” Itulah tujuannya dalam hidup. Adapun orang-orang yang memiliki hati yang selamat lagi jernih, serta akal yang besar, cita-cita mereka dalam hidup adalah sesuatu yang lain. Mereka ingin sampai kepada apa yang dicapai oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, yaitu menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat (Qalbun Salim). Inilah tujuan yang paling luhur. Inilah hakikat besar yang seharusnya setiap kita hidup untuk mewujudkannya. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Beliau adalah teladan kita ‘alaihis shalatu was salam. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan beliau teladan bagi umat ini. “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus.’” (QS. An-Nahl: 123) Beliau adalah panutan dan teladan bagi kita ‘alaihis shalatu was salam. Beliau menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Saudara beliau, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Begitu pula saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi dan rasul. Setelah mereka, para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga selawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah atas beliau. Kemudian para syuhada dan orang-orang saleh setelah mereka. Mereka semua menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Jadikanlah pertanyaan ini sebagai judul besar hidupmu. Inilah tujuan yang seharusnya engkau jadikan tujuan nomor satu sejak hari ini. Maksud ucapan saya bukan agar manusia berpaling dari kehidupan dunia ini. Sama sekali tidak. Akan tetapi, tempatkanlah dunia pada tempatnya. Letakkan dunia di nomor dua, di belakang. Namun, yang nomor satu adalah perkara yang paling banyak menyibukkan akal dan hatimu. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Hati yang selamat adalah hati yang menghimpun lima sifat. Perhatikan baik-baik lima sifat ini. Jadikan ilmu ini Dan ini adalah wasiat yang saya sampaikan untuk diri saya terlebih dahulu, lalu untukmu, wahai saudaraku tercinta. Pastikan ilmu ini sampai ke hatimu, hingga menjadi ilmu yang diikuti oleh amal. Sesungguhnya hati yang selamat adalah hati yang menghimpun 5 sifat: Sifat pertama adalah hati yang aslama, yakni berserah diri kepada Allah. Sifat kedua adalah hati yang sallama, yakni tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah. Sifat ketiga adalah hati yang istaslama, yakni pasrah menerima ketetapan Allah. Sifat keempat adalah hati yang salima, yakni bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati. Sifat kelima adalah hati yang saalama, yakni berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah. Inilah lima sifat. Hati yang selamat adalah hati yang aslama, sallama, istaslama, salima, dan saalama. Aslama: Ia berserah diri kepada Allah. Sallama: Ia tunduk sepenuhnya untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istaslama: Ia pasrah terhadap qada dan takdir Allah. Salima: Ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah ‘Azza wa Jalla dan dari mengingat-Nya. Saalama: Ia berwala kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah. Lima sifat inilah sifat-sifat hati yang selamat. Siapa yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung. ===== بَعْضُ النَّاسِ يَسْأَلُ بَعْضَهُمْ: مَا هُوَ هَدَفُكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ يَعْنِي مَا هُوَ الشَّيْءُ الْعَظِيمُ، الْغَايَةُ الَّتِي تَسْعَى لَهَا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ أَصْحَابُ الْقُلُوبِ وَالْعُقُولِ الضَّعِيفَةِ هِمَّتُهُمْ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الدَّنِيئَةِ الَّتِي لَا تُسَاوِي عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ كَمْ يَا إِخْوَتَاهُ يُبَاعُ جَنَاحُ الْبَعُوضَةِ؟ إِذَا كَانَ عِنْدِي جَنَاحُ بَعُوضَةٍ بِكَمْ تَشْتَرُونَهُ يَا إِخْوَتَاهُ؟ كَمْ تَدْفَعُونَ فِيهِ؟ هَذَا هُوَ قَدْرُ الْحَيَاةِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا الَّذِي هِمَّتُهُ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ يَقُولُ هِمَّتِي وَهَدَفِي فِي الْحَيَاةِ أَنْ أُصْبِحَ كَذَا وَكَذَا، وَأَنْ أَحْمِلَ الشَّهَادَةَ الْعُلْيَا كَذَا وَكَذَا وَأَنْ أُحَصِّلَ مِنَ الْمَالِ كَذَا وَكَذَا هَذَا هُوَ هَدَفُهُ فِي الْحَيَاةِ لَكِنْ أَهْلُ الْقُلُوبِ السَّلِيمَةِ الصَّافِيَةِ وَالْعُقُولِ الْكَبِيرَةِ هِمَّتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ شَيْءٌ آخَرُ يُرِيدُونَ أَنْ يَصِلُوا إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَيَجِيئُونَ رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ، هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الْأَسْمَى هَذِهِ هِيَ الْحَقِيقَةُ الْكُبْرَى الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَعِيشَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا لِأَجْلِ تَحْقِيقِهَا كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَهُوَ قُدْوَتُنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ قُدْوَةً لِهَذِهِ الْأُمَّةِ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا قُدْوَةٌ لَنَا وَأُسْوَةٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَأَخُوهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَإِخْوَانُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَمِنْ بَعْدِهِمْ أَصْحَابُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَزْكَى الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيمِ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ مِنْ بَعْدِهِمْ جَاؤُوا رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ ضَعْ هَذِهِ عُنْوَانَ حَيَاتِكَ هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الَّذِي يَنْبَغِي مِنْ يَوْمِكَ هَذَا أَنْ تَجْعَلَهُ الْهَدَفَ رَقْمَ وَاحِدٍ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِكَلَامِي أَنْ يُعْرِضَ الْإِنْسَانُ عَنْ هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، كَلَّا، وَلَكِنْ ضَعْهَا فِي مَوْضِعِهَا ضَعْهَا فِي رَقْمِ اثْنَيْنِ فِي الْخَلْفِ لَكِنْ رَقْمُ وَاحِدٍ هُوَ الشَّيْءُ الَّذِي تُشْغِلُ عَقْلَكَ وَقَلْبَكَ فِيهِ أَكْثَرَ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الَّذِي جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ انْتَبِهْ لَهَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعِلْمَ وَهَذِهِ وَصِيَّةٌ أُوصِي بِهَا نَفْسِي أَوَّلًا، وَأُوصِيكَ بِهَا أَخِي الْحَبِيبَ هَذَا الْعِلْمَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى قَلْبِكَ، إِلَى أَنْ يَكُونَ عِلْمًا يَتْبَعُهُ عَمَلٌ أَنَّ الْقَلْبَ السَّلِيمَ هُوَ مَا جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ الْوَصْفُ الْأَوَّلُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ الْوَصْفُ الثَّانِي هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلَّمَ الْوَصْفُ الثَّالِثُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي اسْتَسْلَمَ الْوَصْفُ الرَّابِعُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلِمَ الْوَصْفُ الْخَامِسُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَالَمَ هَذِهِ خَمْسَةُ أَوْصَافٍ، الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ، وَسَلَّمَ، وَاسْتَسْلَمَ، وَسَلِمَ، وَسَالَمَ أَسْلَمَ لِلهِ وَسَلَّمَ لِاتِّبَاعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَسْلَمَ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَسَلِمَ مِنْ كُلِّ مَا يَقْطَعُهُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذِكْرِهِ وَسَالَمَ أَوْلِيَاءَ اللهِ، وَعَادَى أَعْدَاءَ اللهِ هَذِهِ الْأَوْصَافُ الْخَمْسَةُ هِيَ أَوْصَافُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ مَنْ جَاءَ رَبَّهُ بِهَذَا الْقَلْبِ الْمَوْصُوفِ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ فَلْيُبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ
Sebagian orang saling bertanya, “Apa tujuanmu dalam kehidupan ini?” Maksudnya, apa perkara besar atau tujuan akhir yang engkau kejar dalam kehidupan ini? Orang-orang yang hati dan akalnya lemah, cita-cita mereka hanya terbatas pada kehidupan dunia yang hina ini. Dunia yang di sisi Allah tidak sebanding dengan satu sayap nyamuk. Wahai saudara-saudara, berapa harga sayap nyamuk? Kalau saya punya satu sayap nyamuk, berapa kalian mau membelinya, wahai saudara-saudara? Berapa yang akan kalian bayar? Itulah nilai kehidupan dunia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang cita-citanya hanya terbatas pada kehidupan ini berkata, “Cita-cita dan tujuanku dalam hidup adalah menjadi ini dan itu, meraih gelar tinggi ini dan itu, dan mengumpulkan harta sekian dan sekian.” Itulah tujuannya dalam hidup. Adapun orang-orang yang memiliki hati yang selamat lagi jernih, serta akal yang besar, cita-cita mereka dalam hidup adalah sesuatu yang lain. Mereka ingin sampai kepada apa yang dicapai oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, yaitu menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat (Qalbun Salim). Inilah tujuan yang paling luhur. Inilah hakikat besar yang seharusnya setiap kita hidup untuk mewujudkannya. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Beliau adalah teladan kita ‘alaihis shalatu was salam. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan beliau teladan bagi umat ini. “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus.’” (QS. An-Nahl: 123) Beliau adalah panutan dan teladan bagi kita ‘alaihis shalatu was salam. Beliau menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Saudara beliau, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Begitu pula saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi dan rasul. Setelah mereka, para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga selawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah atas beliau. Kemudian para syuhada dan orang-orang saleh setelah mereka. Mereka semua menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Jadikanlah pertanyaan ini sebagai judul besar hidupmu. Inilah tujuan yang seharusnya engkau jadikan tujuan nomor satu sejak hari ini. Maksud ucapan saya bukan agar manusia berpaling dari kehidupan dunia ini. Sama sekali tidak. Akan tetapi, tempatkanlah dunia pada tempatnya. Letakkan dunia di nomor dua, di belakang. Namun, yang nomor satu adalah perkara yang paling banyak menyibukkan akal dan hatimu. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Hati yang selamat adalah hati yang menghimpun lima sifat. Perhatikan baik-baik lima sifat ini. Jadikan ilmu ini Dan ini adalah wasiat yang saya sampaikan untuk diri saya terlebih dahulu, lalu untukmu, wahai saudaraku tercinta. Pastikan ilmu ini sampai ke hatimu, hingga menjadi ilmu yang diikuti oleh amal. Sesungguhnya hati yang selamat adalah hati yang menghimpun 5 sifat: Sifat pertama adalah hati yang aslama, yakni berserah diri kepada Allah. Sifat kedua adalah hati yang sallama, yakni tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah. Sifat ketiga adalah hati yang istaslama, yakni pasrah menerima ketetapan Allah. Sifat keempat adalah hati yang salima, yakni bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati. Sifat kelima adalah hati yang saalama, yakni berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah. Inilah lima sifat. Hati yang selamat adalah hati yang aslama, sallama, istaslama, salima, dan saalama. Aslama: Ia berserah diri kepada Allah. Sallama: Ia tunduk sepenuhnya untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istaslama: Ia pasrah terhadap qada dan takdir Allah. Salima: Ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah ‘Azza wa Jalla dan dari mengingat-Nya. Saalama: Ia berwala kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah. Lima sifat inilah sifat-sifat hati yang selamat. Siapa yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung. ===== بَعْضُ النَّاسِ يَسْأَلُ بَعْضَهُمْ: مَا هُوَ هَدَفُكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ يَعْنِي مَا هُوَ الشَّيْءُ الْعَظِيمُ، الْغَايَةُ الَّتِي تَسْعَى لَهَا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ أَصْحَابُ الْقُلُوبِ وَالْعُقُولِ الضَّعِيفَةِ هِمَّتُهُمْ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الدَّنِيئَةِ الَّتِي لَا تُسَاوِي عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ كَمْ يَا إِخْوَتَاهُ يُبَاعُ جَنَاحُ الْبَعُوضَةِ؟ إِذَا كَانَ عِنْدِي جَنَاحُ بَعُوضَةٍ بِكَمْ تَشْتَرُونَهُ يَا إِخْوَتَاهُ؟ كَمْ تَدْفَعُونَ فِيهِ؟ هَذَا هُوَ قَدْرُ الْحَيَاةِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا الَّذِي هِمَّتُهُ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ يَقُولُ هِمَّتِي وَهَدَفِي فِي الْحَيَاةِ أَنْ أُصْبِحَ كَذَا وَكَذَا، وَأَنْ أَحْمِلَ الشَّهَادَةَ الْعُلْيَا كَذَا وَكَذَا وَأَنْ أُحَصِّلَ مِنَ الْمَالِ كَذَا وَكَذَا هَذَا هُوَ هَدَفُهُ فِي الْحَيَاةِ لَكِنْ أَهْلُ الْقُلُوبِ السَّلِيمَةِ الصَّافِيَةِ وَالْعُقُولِ الْكَبِيرَةِ هِمَّتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ شَيْءٌ آخَرُ يُرِيدُونَ أَنْ يَصِلُوا إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَيَجِيئُونَ رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ، هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الْأَسْمَى هَذِهِ هِيَ الْحَقِيقَةُ الْكُبْرَى الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَعِيشَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا لِأَجْلِ تَحْقِيقِهَا كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَهُوَ قُدْوَتُنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ قُدْوَةً لِهَذِهِ الْأُمَّةِ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا قُدْوَةٌ لَنَا وَأُسْوَةٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَأَخُوهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَإِخْوَانُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَمِنْ بَعْدِهِمْ أَصْحَابُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَزْكَى الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيمِ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ مِنْ بَعْدِهِمْ جَاؤُوا رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ ضَعْ هَذِهِ عُنْوَانَ حَيَاتِكَ هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الَّذِي يَنْبَغِي مِنْ يَوْمِكَ هَذَا أَنْ تَجْعَلَهُ الْهَدَفَ رَقْمَ وَاحِدٍ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِكَلَامِي أَنْ يُعْرِضَ الْإِنْسَانُ عَنْ هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، كَلَّا، وَلَكِنْ ضَعْهَا فِي مَوْضِعِهَا ضَعْهَا فِي رَقْمِ اثْنَيْنِ فِي الْخَلْفِ لَكِنْ رَقْمُ وَاحِدٍ هُوَ الشَّيْءُ الَّذِي تُشْغِلُ عَقْلَكَ وَقَلْبَكَ فِيهِ أَكْثَرَ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الَّذِي جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ انْتَبِهْ لَهَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعِلْمَ وَهَذِهِ وَصِيَّةٌ أُوصِي بِهَا نَفْسِي أَوَّلًا، وَأُوصِيكَ بِهَا أَخِي الْحَبِيبَ هَذَا الْعِلْمَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى قَلْبِكَ، إِلَى أَنْ يَكُونَ عِلْمًا يَتْبَعُهُ عَمَلٌ أَنَّ الْقَلْبَ السَّلِيمَ هُوَ مَا جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ الْوَصْفُ الْأَوَّلُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ الْوَصْفُ الثَّانِي هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلَّمَ الْوَصْفُ الثَّالِثُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي اسْتَسْلَمَ الْوَصْفُ الرَّابِعُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلِمَ الْوَصْفُ الْخَامِسُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَالَمَ هَذِهِ خَمْسَةُ أَوْصَافٍ، الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ، وَسَلَّمَ، وَاسْتَسْلَمَ، وَسَلِمَ، وَسَالَمَ أَسْلَمَ لِلهِ وَسَلَّمَ لِاتِّبَاعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَسْلَمَ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَسَلِمَ مِنْ كُلِّ مَا يَقْطَعُهُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذِكْرِهِ وَسَالَمَ أَوْلِيَاءَ اللهِ، وَعَادَى أَعْدَاءَ اللهِ هَذِهِ الْأَوْصَافُ الْخَمْسَةُ هِيَ أَوْصَافُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ مَنْ جَاءَ رَبَّهُ بِهَذَا الْقَلْبِ الْمَوْصُوفِ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ فَلْيُبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ


Sebagian orang saling bertanya, “Apa tujuanmu dalam kehidupan ini?” Maksudnya, apa perkara besar atau tujuan akhir yang engkau kejar dalam kehidupan ini? Orang-orang yang hati dan akalnya lemah, cita-cita mereka hanya terbatas pada kehidupan dunia yang hina ini. Dunia yang di sisi Allah tidak sebanding dengan satu sayap nyamuk. Wahai saudara-saudara, berapa harga sayap nyamuk? Kalau saya punya satu sayap nyamuk, berapa kalian mau membelinya, wahai saudara-saudara? Berapa yang akan kalian bayar? Itulah nilai kehidupan dunia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang cita-citanya hanya terbatas pada kehidupan ini berkata, “Cita-cita dan tujuanku dalam hidup adalah menjadi ini dan itu, meraih gelar tinggi ini dan itu, dan mengumpulkan harta sekian dan sekian.” Itulah tujuannya dalam hidup. Adapun orang-orang yang memiliki hati yang selamat lagi jernih, serta akal yang besar, cita-cita mereka dalam hidup adalah sesuatu yang lain. Mereka ingin sampai kepada apa yang dicapai oleh Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam, yaitu menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat (Qalbun Salim). Inilah tujuan yang paling luhur. Inilah hakikat besar yang seharusnya setiap kita hidup untuk mewujudkannya. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Beliau adalah teladan kita ‘alaihis shalatu was salam. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan beliau teladan bagi umat ini. “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus.’” (QS. An-Nahl: 123) Beliau adalah panutan dan teladan bagi kita ‘alaihis shalatu was salam. Beliau menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Saudara beliau, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Begitu pula saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi dan rasul. Setelah mereka, para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga selawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah atas beliau. Kemudian para syuhada dan orang-orang saleh setelah mereka. Mereka semua menghadap Rabb mereka dengan hati yang selamat. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Jadikanlah pertanyaan ini sebagai judul besar hidupmu. Inilah tujuan yang seharusnya engkau jadikan tujuan nomor satu sejak hari ini. Maksud ucapan saya bukan agar manusia berpaling dari kehidupan dunia ini. Sama sekali tidak. Akan tetapi, tempatkanlah dunia pada tempatnya. Letakkan dunia di nomor dua, di belakang. Namun, yang nomor satu adalah perkara yang paling banyak menyibukkan akal dan hatimu. Bagaimana aku menghadap Rabbku dengan hati yang selamat? Hati yang selamat adalah hati yang menghimpun lima sifat. Perhatikan baik-baik lima sifat ini. Jadikan ilmu ini Dan ini adalah wasiat yang saya sampaikan untuk diri saya terlebih dahulu, lalu untukmu, wahai saudaraku tercinta. Pastikan ilmu ini sampai ke hatimu, hingga menjadi ilmu yang diikuti oleh amal. Sesungguhnya hati yang selamat adalah hati yang menghimpun 5 sifat: Sifat pertama adalah hati yang aslama, yakni berserah diri kepada Allah. Sifat kedua adalah hati yang sallama, yakni tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah. Sifat ketiga adalah hati yang istaslama, yakni pasrah menerima ketetapan Allah. Sifat keempat adalah hati yang salima, yakni bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati. Sifat kelima adalah hati yang saalama, yakni berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah. Inilah lima sifat. Hati yang selamat adalah hati yang aslama, sallama, istaslama, salima, dan saalama. Aslama: Ia berserah diri kepada Allah. Sallama: Ia tunduk sepenuhnya untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istaslama: Ia pasrah terhadap qada dan takdir Allah. Salima: Ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah ‘Azza wa Jalla dan dari mengingat-Nya. Saalama: Ia berwala kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah. Lima sifat inilah sifat-sifat hati yang selamat. Siapa yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung. ===== بَعْضُ النَّاسِ يَسْأَلُ بَعْضَهُمْ: مَا هُوَ هَدَفُكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ يَعْنِي مَا هُوَ الشَّيْءُ الْعَظِيمُ، الْغَايَةُ الَّتِي تَسْعَى لَهَا فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ أَصْحَابُ الْقُلُوبِ وَالْعُقُولِ الضَّعِيفَةِ هِمَّتُهُمْ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا الدَّنِيئَةِ الَّتِي لَا تُسَاوِي عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ كَمْ يَا إِخْوَتَاهُ يُبَاعُ جَنَاحُ الْبَعُوضَةِ؟ إِذَا كَانَ عِنْدِي جَنَاحُ بَعُوضَةٍ بِكَمْ تَشْتَرُونَهُ يَا إِخْوَتَاهُ؟ كَمْ تَدْفَعُونَ فِيهِ؟ هَذَا هُوَ قَدْرُ الْحَيَاةِ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَا الَّذِي هِمَّتُهُ قَاصِرَةٌ عَلَى هَذِهِ الْحَيَاةِ يَقُولُ هِمَّتِي وَهَدَفِي فِي الْحَيَاةِ أَنْ أُصْبِحَ كَذَا وَكَذَا، وَأَنْ أَحْمِلَ الشَّهَادَةَ الْعُلْيَا كَذَا وَكَذَا وَأَنْ أُحَصِّلَ مِنَ الْمَالِ كَذَا وَكَذَا هَذَا هُوَ هَدَفُهُ فِي الْحَيَاةِ لَكِنْ أَهْلُ الْقُلُوبِ السَّلِيمَةِ الصَّافِيَةِ وَالْعُقُولِ الْكَبِيرَةِ هِمَّتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ شَيْءٌ آخَرُ يُرِيدُونَ أَنْ يَصِلُوا إِلَى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَيَجِيئُونَ رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ، هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الْأَسْمَى هَذِهِ هِيَ الْحَقِيقَةُ الْكُبْرَى الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَعِيشَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا لِأَجْلِ تَحْقِيقِهَا كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَهُوَ قُدْوَتُنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ قُدْوَةً لِهَذِهِ الْأُمَّةِ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا قُدْوَةٌ لَنَا وَأُسْوَةٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَأَخُوهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ وَإِخْوَانُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَمِنْ بَعْدِهِمْ أَصْحَابُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَزْكَى الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيمِ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ مِنْ بَعْدِهِمْ جَاؤُوا رَبَّهُمْ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ ضَعْ هَذِهِ عُنْوَانَ حَيَاتِكَ هَذَا هُوَ الْهَدَفُ الَّذِي يَنْبَغِي مِنْ يَوْمِكَ هَذَا أَنْ تَجْعَلَهُ الْهَدَفَ رَقْمَ وَاحِدٍ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِكَلَامِي أَنْ يُعْرِضَ الْإِنْسَانُ عَنْ هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، كَلَّا، وَلَكِنْ ضَعْهَا فِي مَوْضِعِهَا ضَعْهَا فِي رَقْمِ اثْنَيْنِ فِي الْخَلْفِ لَكِنْ رَقْمُ وَاحِدٍ هُوَ الشَّيْءُ الَّذِي تُشْغِلُ عَقْلَكَ وَقَلْبَكَ فِيهِ أَكْثَرَ كَيْفَ أَجِيءُ رَبِّي بِقَلْبٍ سَلِيمٍ؟ الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الَّذِي جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ انْتَبِهْ لَهَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعِلْمَ وَهَذِهِ وَصِيَّةٌ أُوصِي بِهَا نَفْسِي أَوَّلًا، وَأُوصِيكَ بِهَا أَخِي الْحَبِيبَ هَذَا الْعِلْمَ احْرِصْ عَلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى قَلْبِكَ، إِلَى أَنْ يَكُونَ عِلْمًا يَتْبَعُهُ عَمَلٌ أَنَّ الْقَلْبَ السَّلِيمَ هُوَ مَا جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ الْوَصْفُ الْأَوَّلُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ الْوَصْفُ الثَّانِي هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلَّمَ الْوَصْفُ الثَّالِثُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي اسْتَسْلَمَ الْوَصْفُ الرَّابِعُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَلِمَ الْوَصْفُ الْخَامِسُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي سَالَمَ هَذِهِ خَمْسَةُ أَوْصَافٍ، الْقَلْبُ السَّلِيمُ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي أَسْلَمَ، وَسَلَّمَ، وَاسْتَسْلَمَ، وَسَلِمَ، وَسَالَمَ أَسْلَمَ لِلهِ وَسَلَّمَ لِاتِّبَاعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَسْلَمَ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ وَسَلِمَ مِنْ كُلِّ مَا يَقْطَعُهُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذِكْرِهِ وَسَالَمَ أَوْلِيَاءَ اللهِ، وَعَادَى أَعْدَاءَ اللهِ هَذِهِ الْأَوْصَافُ الْخَمْسَةُ هِيَ أَوْصَافُ الْقَلْبِ السَّلِيمِ مَنْ جَاءَ رَبَّهُ بِهَذَا الْقَلْبِ الْمَوْصُوفِ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ فَلْيُبْشِرْ بِالْخَيْرِ الْعَظِيمِ

Sepuluh Langkah untuk Mengubah Kebiasaan

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 661 times, 2 visit(s) today Post Views: 131

Sepuluh Langkah untuk Mengubah Kebiasaan

Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 661 times, 2 visit(s) today Post Views: 131
Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 661 times, 2 visit(s) today Post Views: 131


Oleh: Ahmad Nashib Ali Husain Apakah engkau mengetahui bahwa salah satu hal yang paling banyak mempengaruhi pekerjaan, hubungan, prestasi, dan tujuan kita adalah kebiasaan-kebiasaan kita yang telah kita bawa sejak kecil? Sehingga apabila engkau menginginkan keberhasilan di dalam hidupmu dalam semua aspek, maka engkau harus berlepas diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghalangimu dari kesuksesan dan keberhasilan. Berikut ini adalah sepuluh langkah yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantumu dalam merealisasikan tujuan tersebut: Langkah Pertama: Kenali Kebiasaanmu Engkau harus menentukan kebiasaan terpentingmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupanmu, baik itu kebiasaan dalam bekerja, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, dengan keluarga, atau dengan diri sendiri. Segala hal yang selalu kamu ulang-ulangi lalu kamu sesali karena telah melakukannya, atau ada orang yang merasa terganggu setelah engkau melakukannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan kebiasaan yang harus kamu tinggalkan. Langkah Kedua: Fokus pada Satu Kebiasaan Terlebih Dulu Saya pernah membaca di majalah An-Nafs Al-Muthmainnah bahwa siapa yang mengejar dua kelinci, maka ia tidak akan dapat menangkap satu pun darinya! Maka siapa yang ingin berlepas diri dari seluruh kebiasaannya sekaligus, pasti ia akan gagal melakukannya. Oleh sebab itu, caranya adalah dengan fokus pada satu kebiasaan dulu dan menjadikannya sebagai permulaan, apabila berhasil, engkau bisa melanjutkannya ke kebiasaan lainnya. Langkah Ketiga: Jangan Menyerah di Awal Apabila engkau telah bertekad untuk mengubah kebiasaan, maka pada mulanya berusahalah untuk melawan hawa nafsumu. Jangan katakan: “Hari ini libur dulu sehari!” Sebagai contoh, engkau telah bertekad untuk tidak lagi tidur setelah shalat Subuh, lalu pada hari ketiga jangan ucapkan: “Hanya hari ini saja aku akan tidur!” Tapi berusahalah sekuat tenaga untuk tetap bangun —meskipun engkau sedang sangat letih— agar kebiasaan barumu tertanam kokoh. Langkah Keempat: Mulailah dengan Kadar yang Sangat Sedikit Yang terpenting bukanlah kadarnya, tapi konsistensinya. Mulailah dengan perubahan kecil yang mampu kamu lakukan dengan konsisten. Sebagai contoh, pada dasarnya engkau tidak dapat menikmati kebiasaan membaca, maka carilah dulu buku yang ringan, bacalah buku itu sepuluh menit saja setiap hari, tidak ada lagi tawar menawar pada durasi sepuluh menit ini. Langkah Kelima: Sampaikan Keputusanmu untuk Merubah Kebiasaan Ini kepada Orang Lain Sampaikan di hadapan orang yang engkau cintai —seperti sahabat atau teman karibmu— tentang keputusanmu untuk merubah kebiasaan ini, karena pengumuman ini akan membuatmu punya keharusan untuk konsisten, menjadikanmu merasa segan jika harus berhenti di tengah jalan. Sebagai contoh, katakanlah kepada mereka: “Aku sudah bertekad untuk membiasakan olahraga setiap hari selama dua puluh menit.” Langkah Keenam: Jangan Menyerah Semua orang berusaha, tapi mayoritas orang terjatuh dan gagal saat berusaha dan terus mengeluh. Namun, hanya orang sukses yang ketika terjatuh akan kembali berdiri, apabila gagal akan kembali bangkit. Ia mengetahui bahwa nikmatnya kesuksesan lebih besar daripada nikmatnya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Ia tidak menyerah, tapi justru terus berusaha hingga sampai ke tujuannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berusaha keras bahwa mereka akan mendapatkan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Langkah Ketujuh: Kenalilah Kemampuanmu Jangan membebani dirimu di atas kemampuannya. Ini merupakan prinsip syariat yang mendasar. Apabila engkau ingin mengubah kebiasaanmu, maka perlakukanlah dirimu dengan lembut, jangan membebaninya dengan kadar yang tidak mampu ia pikul. Apabila engkau ingin ditaati, maka berilah perintah yang mampu dilakukan. Jangan mengira bahwa perubahan dapat terwujud dengan membebani dirimu di atas kemampuannya, karena siapa yang belum terbiasa memperhatikan etika dalam berbicara, ia tidak akan mampu mengubah kebiasaan itu dalam sehari semalam. Sebab, kebiasaan buruk telah tertanam bertahun-tahun, sehingga kebiasaan yang baru juga membutuhkan waktu bertahun-tahun seperti itu sampai ia tertanam dan mudah dilakukan seperti makan dan minum.  Langkah Kedelapan: Semangati Dirimu Sering-seringlah baca tentang kebiasaan orang-orang sukses, sebab-sebab kesuksesan, metode-metode keberhasilan, kondisi orang-orang sabar dan sejarah hidup mereka yang harum semerbak. Semua itu dapat membantumu untuk memantik kembali semangatmu dan menguatkan tekadmu agar konsisten dalam mengubah kebiasaan-kebiasaanmu. Langkah Kesembilan: Beri Dirimu Penghargaan Buatlah tahapan-tahapan dalam proses menuju kebiasaan yang baru. Pada setiap tahapan ada hadiahnya tertentu. Misalnya membaca satu jam setiap hari selama satu minggu penuh ada hadiahnya membeli minuman, membaca satu jam setiap hari selama dua minggu penuh ada hadiahnya membeli makanan di tempat makan tertentu, dan begitu seterusnya. Tentukanlah pada setiap kadar keberhasilan ada hadiahnya yang sesuai. Ini merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Langkah Kesepuluh: Berdoa Ini merupakan langkah terpenting yang diperlukan, mintalah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allahlah Yang Maha Menolong, Dia Maha Kuasa atas segalanya dan Dia telah berjanji untuk mengabulkan doa. Oleh sebab itu, sungguh-sungguhlah berdoa dan amalkanlah adab-adab dalam berdoa serta hindarilah hal-hal yang dapat menjadi penghalang dikabulkannya doa, seperti memakan makanan haram. Ini merupakan langkah yang sangat penting, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolongmu, maka tidak akan ada gunanya seluruh langkah yang telah disebutkan sebelumnya, karena itu semua hanya sekedar sebab, tidak akan berguna bagimu kecuali dengan izin Sang Pembuat Sebab, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah yang dikatakan penyair: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى فَأَوَّلُ مَا يَقْضِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ Apabila seorang pemuda tidak memperoleh pertolongan dari Allah, maka hal pertama yang justru menghancurkannya adalah kesungguhan usahanya sendiri. Sumber: https://www.alukah.net/social/0/39727/عشر-خطوات-لتغيير-العادات/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 661 times, 2 visit(s) today Post Views: 131

Allah Mengganti yang Hilang

Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.

Allah Mengganti yang Hilang

Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.
Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.


Daftar Isi ToggleJanji Allah dalam Al-Qur’anApakah kehilangan bisa tergantikan?Luka yang mengantarkan kepada AllahAllah tidak pernah mengambil tanpa memberiHarapanKehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan sosok yang dicintai—ayah, ibu, saudara, pasangan, atau bahkan anak. Luka itu nyata, sunyi itu terasa, dan rindu itu tidak pernah benar-benar pergi.Mungkin seringkali kita mendengar berbagai kalimat nasihat untuk menenangkan hati yang dilanda duka, “Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.” Namun, jujur saja, kalimat ini terasa ringan di lisan yang menasihati, tetapi berat di hati orang yang sedang merasakan kehilangan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa bahwa nasihat seperti ini hanya mudah diucapkan oleh mereka yang belum pernah kehilangan.Saudaraku, tulisan ini adalah refleksi dari seseorang yang juga telah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ayah dan adik kandung. Luka itu nyata. Namun, di balik luka itu, ada janji Allah yang perlahan-lahan mulai terasa kebenarannya.Janji Allah dalam Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّمَن فِىٓ أَيْدِيكُم مِّنَ ٱلْأَسْرَىٰٓ إِن يَعْلَمِ ٱللَّهُ فِى قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu: jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)Ayat ini turun dalam konteks tawanan perang. Mereka (para tawanan) telah kehilangan harta, kebebasan, bahkan keluarga. Namun, Allah memberikan prinsip yang sangat agung dalam ayat ini, yaitu “Jika ada kebaikan dalam hati, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari apa yang hilang.”Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebaikan” dalam ayat ini adalah iman dan niat yang tulus dalam hati. Jika hal tersebut ada pada diri seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pengganti yang lebih baik dari apa yang telah diambil darinya, serta mengampuni dosa-dosanya. Pengganti tersebut bisa berupa kebaikan di dunia, maupun balasan di akhirat. [1]Baca juga: Mengokohkan Iman dengan Mengingat Janji-Janji AllahApakah kehilangan bisa tergantikan?Secara manusiawi, kita merasa bahwa ada kehilangan yang tidak tergantikan. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tergantikan? Bagaimana mungkin sosok adik yang penuh kenangan bisa diganti? Jawabannya: tentu tidak tergantikan secara bentuk, tetapi diganti dalam makna.Tentu, Allah Ta’ala tidak selalu mengganti dengan hal yang sama. Namun, Allah Ta’ala mengganti dengan sesuatu yang lebih menguatkan hati, lebih mendekatkan kepada-Nya, dan lebih bernilai dalam kehidupan kita.Ibn al-Qayyim rahihamullah mengatakan bahwa siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Ini merupakan kaidah agung dalam kehidupan seorang mukmin, bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar. [2]Saudaraku, kehilangan itu kadang, kalau kita coba merenungi, bisa menjadi anugerah dari Allah Ta’ala dalam bentuk dan makna yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Seperti kedewasaan yang tidak pernah kita miliki sebelumnya. Karena dengan kehilangan orang yang kita cintai, kita belajar bagaimana menerima dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala sehingga iman kita pun bertambah.Pun, dari sisi kedekatan dengan Allah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Bagaimana seseorang mengadu kepada Allah Ta’ala atas perihnya rindu kepada orang yang ia cintai. Akhirnya, ia pun rutin untuk selalu beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah, karena ia tahu bahwa setiap doa yang ia panjatkan, khususnya kepada orang tua yang telah tiada, pahalanya akan sampai.Begitu pula dapat berupa hati yang lebih lembut dan penuh empati. Saat melihat orang yang sedang ditimpa cobaan yang sama (kehilangan), maka timbul rasa empati yang tinggi. Sehingga ia pun dengan mudah membantu saudaranya yang sedang dilanda duka, baik dari sisi materi maupun immateri.Luka yang mengantarkan kepada AllahKehilangan seringkali menjadi titik balik kehidupan seseorang. Saat semua sandaran dunia hilang, ayah atau ibu pergi selamanya, tak ada lagi tempat untuk mencurahkan kasih sayang, barulah kita benar-benar bersandar kepada Allah Ta’ala. Andai di balik kembali, misalnya, sebelum musibah terjadi, bisa saja kita cenderung tak peduli dengan kewajiban kita sebagai hamba.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan. Inilah ciri khas dan keutamaan seorang mukmin, apabila ia benar-benar menyadari dan mengilmuinya.Ketika kita tengah menghadapi musibah kehilangan, maka ingatlah bahwa kesabaran bukan berarti tidak menangis. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis saat kehilangan putranya, Ibrahim. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim, pastilah bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 62)Ini adalah bentuk kesedihan yang benar—sedih, tetapi tetap dalam iman. Sebab dengan ilmu yang benar, maka kita dapat menempatkan sisi fitrah kemanusiaan kita dengan benar pula sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melanggar batasan yang telah Allah tetapkan.Allah tidak pernah mengambil tanpa memberiSalah satu keyakinan terindah dalam Islam adalah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengambil sesuatu kecuali Dia akan memberi yang lebih baik. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik].” (HR. Sahih Muslim no. 918)Saudaraku, perhatikanlah! Ini adalah janji mulia Allah Ta’ala untuk kita hamba-hamba-Nya. Namun, pengganti itu tidak selalu cepat, tidak selalu terlihat, dan tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Tetapi pastikan, ganti itu pasti ada.HarapanBagi siapa pun yang sedang kehilangan, ketahuilah bahwa luka ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.Dan bagi yang mungkin masih sulit menerima nasihat seperti ini, itu wajar. Karena kehilangan tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata, tetapi dengan waktu, doa, dan kedekatan kepada Allah. Namun percayalah, suatu hari nanti kita akan memahami bahwa apa yang telah Allah ambil, bukan untuk menyakiti kita. Akan tetapi, itu untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Mungkin bukan di dunia… tetapi pasti di akhirat.Memang, kehilangan seseorang yang kita cintai adalah luka yang sangat menyakitkan. Namun dalam Islam, luka itu tidak sia-sia. Setiap air mata, setiap rasa rindu, setiap kesabaran, semuanya bernilai di sisi Allah Ta’ala, asalkan kita benar-benar memahami konsepnya. Paham dan yakin akan takdir atau ketetapan Allah Ta’ala. Kemudian berikhtiar semaksimal mungkin untuk bersabar dalam menghadapinya.Jika hari ini kita merasa kehilangan, maka ingatlah janji-Nya, Allah akan mengganti. Dan ketika saat itu tiba, kita akan sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengambil sesuatu dari hidup kita.Wallahu a’lam.Baca juga: Bersabar atas Musibah Kehilangan Anak***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999. Jilid 4, hal. 40–41 (tafsir QS. Al-Anfal: 70).[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003. Jilid 2, hal. 273.

Dua Tuduhan Keji Pelaku Bid’ah kepada Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

Dua Tuduhan Keji Pelaku Bid’ah kepada Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا
Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا


Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu. Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50) Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50) Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini? Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna) Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.” Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu. Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah. ===== عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

Saya Lelah dengan Beban-Beban Hidup

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 719 times, 1 visit(s) today Post Views: 138

Saya Lelah dengan Beban-Beban Hidup

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 719 times, 1 visit(s) today Post Views: 138
Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 719 times, 1 visit(s) today Post Views: 138


Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan. Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku. Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini. Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang. Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku. Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku! Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ. “Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami). Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan:  إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ “Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.”  Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran. Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140). Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29).  Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan. Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu. “Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat. Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya. Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ “Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhari). Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ “Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.” Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.”  Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.” Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 719 times, 1 visit(s) today Post Views: 138

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.
Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.


Daftar Isi ToggleJika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanAsal makna tobat dan istigfarPerbedaan tobat dan istigfarDalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.Allah ﷻ berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang bermakna sama ataukah ada perbedaannya?Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan hal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula bersama kata tobat.فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَJika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaanKata tobat dan istigfar disebutkan bersamaan sebagaimana dalam ayat,وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing memiliki arti sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas sebab perbuatan keburukan yang dilakukannya.”Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon ampunan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan anggota badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Hal ini sebagaimana kaidah,‌إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; atau fusuq dan ‘ishyan.Baca juga: Cara Tobat NasuhaAsal makna tobat dan istigfarMenurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk atau kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:العودة (pulang)الإنابة (kembali)الندم (menyesal)Semuanya kembali kepada makna rujuk atau kembali.Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang.Sedangkan makna istigfar ialah,طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها“Upaya untuk mencari ampunan, yakni perlindungan dari keburukan dosa serta berharap agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)Perbedaan tobat dan istigfarTerdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).2) Tobat bermakna usaha meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar bermakna memohon ampunan dan penutupan dosa.3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berhenti dari perbuatannya.4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu akan menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana doa lainnya, bisa diterima maupun ditolak.5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan bahkan dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.7) Tobat berlaku sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat atau sebelum matahari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik masih hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan anggota badan.9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan kewajiban maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh sebab tersebut, ataupun hanya sekadar bentuk mengingat saja dan bernilai pahala.Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin bersemangat dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam amalan kita, sangat pantas bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191Madarijus Salikin: https://www.islamweb.netSyarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net
Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net


Daftar Isi ToggleAkidah beliauJabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaPerjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaKegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramMengajar tafsir di Masjid NabawiMengajar di Darul Ulum (Madinah)Mengajar di RiyadhMengajar di Universitas Islam MadinahSafari dakwah ke AfrikaMengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Anggota Hai’ah Kibaril UlamaAnggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiKezuhudan dan sikap wara’-nyaKarya-karyaWafatAkidah beliauSalah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari tulisan-tulisannya, adalah seringnya beliau menegaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh pembahasan akidah, terutama yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.Beliau menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang jelas, berdasarkan kaidah yang kuat, serta didukung banyak dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadis maupun dalil akal. Bahkan, orang yang mendengar atau membaca penjelasannya bisa mengira bahwa beliau hanya mendalami bidang akidah saja, karena begitu kuat dan luas pembahasannya.Walaupun beliau menjelaskan masalah akidah dengan sangat rinci dan panjang, beliau tidak pernah bosan untuk mengulanginya dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam pelajaran-pelajaran yang sampai kepada kita, beliau menjelaskan tiga landasan utama dalam memahami sifat-sifat Allah di delapan tempat yang berbeda.Demikian juga ketika membahas tentang hukum dan berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, atau ketika menjelaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Beliau juga membantah paham Qadariyah di tujuh tempat, menyebutkan dialog perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Begitu pula beliau mengulang kisah dialog antara seorang Arab Badui dan Amr bin Ubaid tentang masalah takdir, dan berbagai pembahasan akidah lainnya yang sering beliau ulang dalam pelajaran-pelajarannya.Penjelasan tentang masalah akidah ini tidak hanya terdapat dalam pelajaran tafsir yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, tetapi juga banyak tersebar dalam kitab-kitab beliau, terutama dalam kitab Adhwa’ul Bayan.Kemampuan Syekh (rahimahullah) tidak hanya terbatas pada penguasaan akidah Ahlus Sunnah saja. Beliau juga sangat memahami berbagai mazhab ahli ilmu kalam (teologi) serta mengetahui letak kesalahan dan kelemahannya. Hal ini tampak jelas dalam pelajaran-pelajarannya maupun dalam kitab-kitab yang beliau tulis.Ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yaitu firman Allah,إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”Setelah menjelaskan akidah yang benar dalam masalah sifat-sifat Allah dan menerangkan kesalahan mazhab ahli kalam, beliau berkata,ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بعضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعدَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخرى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلِّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النبيِّ الكريمِ“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan mazhab para salaf berdasarkan cahaya Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam ilmu kalam dan logika, serta berbagai cara yang digunakan oleh masing-masing kelompok untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, karena hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap ilmu kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh berbagai kelompok, bantahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari ilmu kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, bagaimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada keyakinan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti cahaya Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinyaSyekh (rahimahullah) mengajar dan memberikan fatwa. Beliau juga dikenal sebagai seorang hakim (qadhi).Dalam menangani perkara, beliau memiliki cara yang tertib. Beliau terlebih dahulu meminta kedua pihak yang berselisih untuk menulis bahwa mereka sepakat menjadikan beliau sebagai hakim dan bersedia menerima keputusan yang beliau tetapkan. Setelah itu, penggugat diminta menuliskan tuntutannya, lalu jawaban dari pihak tergugat ditulis di bawahnya. Kemudian beliau menuliskan keputusan hukumnya bersama dengan isi gugatan dan jawabannya. Setelah itu, kedua pihak dipersilakan membawa keputusan tersebut kepada ulama atau hakim lain yang mereka kehendaki untuk disahkan dan dilaksanakan.Beliau menangani hampir semua jenis perkara, kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud (hukuman pidana tertentu dalam syariat). Untuk kasus pembunuhan ada peradilan khusus. Saat itu, hakim dari pihak pemerintahan Prancis (karena Mauritania berada di bawah penjajahan Prancis) yang memutuskan hukuman qishash setelah proses pengadilan dan pemeriksaan selesai. Setelah putusan keluar, keputusan tersebut harus diserahkan kepada dua orang ulama negeri untuk disahkan. Dua ulama ini disebut Lajnatu Ad-Dam, dan Syekh (rahimahullah) adalah salah satu dari dua anggota Lajnah tersebut.Sebelum beliau keluar dari negerinya, kedudukannya sudah sangat tinggi. Nama beliau sudah terkenal luas, dan beliau memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat, baik orang khusus maupun umum, yang dekat maupun yang jauh. Beliau menjadi salah satu tokoh besar negeri itu dan dipercaya oleh semua kalangan.Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunyaSyekh (rahimahullah) berangkat dari negerinya pada tanggal 7 Jumadil akhir tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur darat. Awalnya, beliau berniat kembali ke negerinya setelah selesai berhaji.Perjalanan itu penuh dengan manfaat dan diskusi ilmiah yang berharga. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu dan luasnya wawasan beliau. Siapa saja yang membaca catatan perjalanan beliau yang berjudul “Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram” (Perjalanan ke Baitullah) akan mengetahui hal tersebut.Setelah menyelesaikan manasik haji, beliau pergi ke Madinah. Kemudian beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di sana. Beliau pernah berkata,لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللِّهِ- صلى الله عليه وسلم-“Tidak ada amalan yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Tinggalnya beliau di Madinah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan ilmunya. Di negerinya dahulu, pendidikan lebih terfokus pada fikih mazhab Imam Malik saja, ditambah ilmu bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu hadis tidak dipelajari sedalam cabang ilmu lainnya, karena masyarakat umumnya berpegang pada mazhab Maliki.Ketika beliau mulai mengajar di Masjid Nabawi dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, beliau bertemu dengan orang-orang dari empat mazhab fikih, yang berdiskusi dan menuntut dalil dalam setiap masalah. Di Masjid Nabawi, pembelajaran tidak terbatas pada satu mazhab saja.Oleh karena itu, siapa pun yang mengajar di lingkungan seperti itu harus memahami seluruh mazhab yang diakui, mengetahui pendapat para ulama dalam setiap masalah, serta memiliki penguasaan yang kuat terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah. Maka Syekh (rahimahullah) pun bersungguh-sungguh memperluas ilmunya dalam bidang tersebut. Kemampuannya yang kuat dalam ilmu-ilmu alat (seperti bahasa Arab dan ushul fikih) sangat membantunya dalam memperluas wawasan ini.Pengaruh perluasan ilmu ini tampak jelas dalam kitab beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama ketika membahas masalah-masalah fikih.Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah HaramSetelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) melakukan banyak kegiatan ilmiah dan dakwah, di antaranya:Mengajar tafsir di Masjid NabawiBeliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menafsirkan seluruh Al-Qur’an. Setelah selesai, beliau memulai kembali dari awal untuk kedua kalinya. Namun sebelum menyelesaikannya, beliau wafat. Pada putaran kedua itu, beliau belum melewati Surah At-Taubah.Mengajar di Darul Ulum (Madinah)Sejak tahun 1369 H, beliau mengajar tafsir di Darul Ulum di Madinah, hingga tahun 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.Mengajar di RiyadhPada tahun 1371 H, ketika dibuka lembaga pendidikan seperti ma’had dan perguruan tinggi di Riyadh, beliau dipilih menjadi pengajar di sana. Beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kemudian kembali ke Madinah.Selain itu, di Riyadh beliau juga:Mengajar kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had, diadakan antara waktu maghrib dan isya.Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim untuk para penuntut ilmu tingkat lanjut.Mengajar murid-murid khusus di rumahnya setelah asar, bahkan mendiktekan penjelasan kitab Maraqi as-Su‘ud kepada salah seorang muridnya.Mengajar di Universitas Islam MadinahPada tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, beliau pindah untuk mengajar di sana. Beliau juga menjadi anggota dewan universitas. Di sana, beliau mengajar tafsir, ushul fikih, serta adab penelitian dan debat ilmiah, hingga wafat.Safari dakwah ke AfrikaPada tahun 1385 H, beliau memimpin rombongan dari Universitas Islam untuk berdakwah ke sepuluh negara di Afrika, dimulai dari Sudan dan berakhir di Mauritania. Perjalanan ini berlangsung lebih dari dua bulan dan dipenuhi ceramah, pelajaran, diskusi ilmiah, dan pertemuan bermanfaat. Ceramah-ceramah tersebut direkam, ditulis ulang, dan diterbitkan dengan judul “Ar-Rihlah ila Afriqiya” (Perjalanan ke Afrika).Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)Sejak dibuka tahun 1386 H, beliau juga mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan di Riyadh sebagai dosen tamu, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.Anggota Hai’ah Kibaril UlamaPada 8 Rajab 1391 H, dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan beliau termasuk salah satu anggotanya.Anggota pendiri Rabithah ‘Alam IslamiBeliau juga termasuk anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami.Kezuhudan dan sikap wara’-nyaSyekh (rahimahullah) dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sangat menjaga diri (wara’). Ilmu yang beliau miliki benar-benar mendorongnya untuk takut kepada Allah dan menjauhi sikap berlebihan terhadap dunia. Kehidupan beliau membuat orang teringat kepada para ulama salaf terdahulu dalam kesederhanaan dan ketakwaan.Beliau pernah berkata,الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْتَةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ“Yang membuat kami tenang adalah bahwa seandainya dunia itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”Beliau juga memperingatkan anaknya agar tidak sibuk mengumpulkan harta dan terlalu berambisi terhadapnya dengan alasan ingin bersedekah atau membangun sekolah dan tempat ibadah. Beliau mengatakan bahwa dunia itu seperti air laut yang asin (semakin diminum semakin membuat haus). Allah tidak mewajibkan seorang hamba mengumpulkan harta hanya untuk disedekahkan, apalagi kenyataannya sering kali orang yang sudah mengumpulkan harta justru tidak memberikannya kepada orang lain.Beliau juga berkata,وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناسِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ“Sebenarnya aku mampu menjadi orang yang paling kaya, tetapi aku meninggalkan dunia, karena aku tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, ia tidak akan selamat darinya kecuali orang yang Allah lindungi.”Karya-karyaSyekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya ilmiah yang ditulis dalam tiga masa: di Mauritania, saat perjalanan haji, dan setelah menetap di Saudi Arabia.Di masa mudanya beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menulis syarah dalam manthiq dan catatan perjalanan haji.Adapun setelah tinggal di Saudi, lahirlah karya-karya terpentingnya, seperti Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab tentang ushul fikih, adab debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis berbagai fatwa dan risalah, serta menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.Karya-karya ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya dalam tafsir, akidah, ushul fikih, dan berbagai cabang ilmu Islam.WafatSyekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu. Kemudian, beliau dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan diringkas oleh penulis dari: https://www.alukah.net

Hukum Menikah Tanpa Wali Nikah

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 390 times, 4 visit(s) today Post Views: 136

Hukum Menikah Tanpa Wali Nikah

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 390 times, 4 visit(s) today Post Views: 136
Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 390 times, 4 visit(s) today Post Views: 136


Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i Ringkasan Pertanyaan: Ada pemuda yang menikah dengan perempuan yang lebih tua umurnya tanpa sepengetahuan keluarga dan wali perempuan itu. Lalu pemuda itu bertanya kepada temannya tentang keabsahan pernikahan ini. Pertanyaan Lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya punya teman yang menikah dengan perempuan janda yang sudah agak berumur, karena ia butuh untuk menikah sedangkan kondisi finansialnya lemah. Pernikahan ini dilangsungkan di hadapan penghulu dan disaksikan para saksi. Akad nikah ini juga terdaftar secara resmi di pengadilan. Hanya saja, tidak ada seorangpun dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan yang mengetahui pernikahan ini. Masalahnya sekarang adalah laki-laki ini sekarang sedang melamar seorang gadis, dan tidak ada yang mengetahui kalau dia sudah menikah. Proses lamaran sudah selesai dilangsungkan. Perlu diketahui juga, seandainya ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, mungkin akan timbul banyak masalah yang besar sekali. Lalu bagaimana solusinya? Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi Anda. Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa temanmu telah melakukan kesalahan besar terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta hak dirinya dan keluarganya, karena ia telah melakukan pernikahan rahasia yang hukumnya tidak sah secara syariat, meskipun ia telah mencatat pernikahan itu secara resmi di pengadilan. Hal ini karena pernikahan itu tidak memenuhi syarat terpenting dari pernikahan syar’i yang sah, yaitu adanya wali mempelai perempuan. Meskipun wanita itu sudah berumur atau janda, ia tetap tidak punya wewenang untuk melakukan akad nikah sendiri, karena itu adalah wewenang para walinya. Apabila ia menyelisihi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala syariatkan ini dan menikah tanpa wali, maka nikahnya batal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:  لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ “Tidak ada pernikahan (yang sah) kecuali dengan adanya wali.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dan Shahih Ibnu Hibban dan dishahihkan Adz-Dzahabi).  Wali seorang perempuan adalah ayahnya, kakeknya, dan seluruh leluhurnya laki-laki dari jalur ayah. Kemudian anak laki-lakinya dan seluruh keturunannya dari jalur anak laki-lakinya. Kemudian saudara laki-laki kandungnya dan saudara laki-laki seayah, dan anak-anak laki-laki mereka. Kemudian paman dari jalur ayah. Kemudian keluarganya yang laki-laki yang paling dekat dengannya menurut kedekatan dalam pembagian warisan. Anda menyebutkan – semoga Allah memberimu keselamatan – bahwa dua keluarga dari masing-masing pihak mempelai tidak mengetahui pernikahan itu. Ini menjadikan pernikahan itu pernikahan siri, meskipun dengan disaksikan oleh para saksi. Perhatikanlah apa yang dikatakan Imam Ibnu Al-Qayyim dalam bukunya Ighatsah al-Lahfan: “Dan Syariat Islam mensyaratkan dalam pernikahan beberapa syarat tambahan selain sekedar akad, sehingga dengan syarat-syarat ini, syariat Islam memutus kemiripan pernikahan dengan beberapa bentuk perzinaan, seperti syarat mengumumkan pernikahan – baik itu dengan persaksian, tidak merahasiakan, atau dengan persaksian dan pengumuman sekaligus – dan pensyaratan adanya wali. Syariat Islam melarang wanita untuk melakukan sendiri akad nikahnya, dan menganjurkan agar pernikahan diumumkan, sampai-sampai disunnahkan adanya rebana, pengumuman, dan walimah. Syariat Islam juga mewajibkan adanya mahar.” Beberapa hal yang kami jelaskan kepadamu ini sebenarnya diketahui oleh temanmu – Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya petunjuk – dan hubungannya dengan wanita tersebut tidak lebih sekedar tipu daya yang diharamkan, sehingga ketika ada kesempatan untuk menikah yang benar, ia segera menyambutnya. Apabila ini telah jelas, maka wajib bagi temanmu untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dan memutus hubungan apa pun dengan wanita itu. Namun, jika ia ingin melanjutkan pernikahan dengannya, maka hendaklah ia melakukan akad baru yang sesuai syariat dengan perantara walinya. Sedangkan masalah dia ingin memberitahu keluarganya atau keluarga wanita yang baru dilamarnya, maka tidak diragukan bahwa itu adalah bentuk mengumbar kemaksiatan yang sangat dilarang, sehingga wajib baginya untuk menutup aibnya sendiri, alih-alih menyingkap rahasia yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tutupi. Ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan wanita yang ia nikahi itu, dan hendaklah ia banyak bertaubat dan menyesali apa yang telah diperbuat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Barang siapa diuji dengan melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor (dosa) ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup dari Allah. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Imam al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya”). Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menutupi aib-aib kita di dunia dan akhirat. Sumber: https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129237/الزواج-بدون-ولي/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 390 times, 4 visit(s) today Post Views: 136

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahPertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaKedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususPenjagaan yang umumPenjagaan yang khususKonsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanKetiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak pernah lalai menjaga makhluk-Nya. Langit dan bumi berdiri kokoh karena Dia yang menjaganya. Amalan manusia tidak ada yang hilang karena Dia yang mencatatnya. Para wali-Nya selamat dari tipu daya musuh karena Dia yang memelihara mereka. Semua itu kembali kepada satu sifat yang sangat agung, yaitu sifat al-hifzh, yang terkandung dalam dua nama Allah: Al-Hafiizh dan Al-Haafizh.Seorang mukmin yang mengenal dua nama ini akan merasakan dua hal sekaligus: rasa aman dan rasa waspada. Aman, karena ia tahu bahwa Allah menjaga dirinya, agamanya, dan segala urusannya. Waspada, karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah lalai dari mencatat amalannya, yang kecil maupun yang besar. Dalam tulisan ini, kita akan melihat dalil-dalil penetapan dua nama ini, maknanya secara bahasa dan dalam konteks sebagai nama Allah, serta konsekuensi beriman kepadanya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Nama Allah Al-Hafiizh disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali. Di antaranya firman Allah Ta’ala,إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Sesungguhnya Rabbku Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 57)Dan firman-Nya,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ“Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 21)Dan firman-Nya,وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ“Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain-Nya, Allah-lah yang memelihara mereka, dan engkau bukanlah wakil atas mereka.” (QS. Asy-Syuuraa: 6) [1]Adapun nama Allah Al-Haafizh disebutkan satu kali dalam firman-Nya,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [2]Dan disebutkan dengan bentuk jamak di dua tempat. Firman-Nya,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Dan firman-Nya,وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ“Dan Kami-lah yang menjaga mereka.” (QS. Al-Anbiyaa’: 82) [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini, perlu dipahami terlebih dahulu makna katanya secara bahasa, lalu perbedaan antara dua bentuk nama ini, kemudian maknanya ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Al-Hafiizh dan Al-Haafizh keduanya kembali kepada satu akar kata, yaitu حَفِظَ – يَحْفَظُ – حِفْظًا. Ibn Faaris menjelaskan akar kata ini,الحاء والفاء والظاء أصل واحد يدل على مراعاة الشيء، يقال: حفظت الشيء حفظًا … والحفاظ: المحافظة أي المواظبة على الأمور“Huruf haa’, faa’, dan zhaa’ merupakan satu asal makna yang menunjukkan makna memelihara dan mengawasi sesuatu. Dikatakan: hafizhtush-syai’a hifzhan (aku menjaga sesuatu). Dan al-hifaazh bermakna al-muhaafazhah, yaitu menjaga dan memelihara urusan secara terus-menerus.” [4]Al-Jauhari juga menjelaskan,حفظت الشيء حفظًا، أي: حرسته، وحفظته أيضًا بمعنى: استظهرته … والمحافظة: المراقبة … والحفيظ: المحافظ … والتحفظ: التيقظ وقلة الغفلة“Hafizhtush-syai’a hifzhan bermakna aku menjaganya. Juga bermakna aku menghafalnya. Al-Muhaafazhah bermakna pengawasan. Al-Hafiizh bermakna yang senantiasa menjaga. At-Tahaffuzh bermakna kewaspadaan dan sedikitnya kelalaian.” [5]Makna lain dari al-hifzh yang juga disebutkan para ulama adalah: lawan dari lupa (an-nisyaan). Maka, yang menjaga sesuatu berarti tidak melupakannya, tidak mengabaikannya, dan tidak membiarkannya lepas dari perhatiannya. [6]Perbedaan antara “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”Secara asal makna, dua nama ini kembali kepada satu pokok, yaitu penjagaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Al-Hafiizh dan Al-Haafizh sama-sama menunjukkan bahwa Allah menjaga makhluk-Nya, menjaga amal hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari penjagaan-Nya.Al-Khaththabi menjelaskan,الحفيظ هو الحافظ، فعيل بمعنى فاعل؛ كالقدير والعليم“Al-Hafiizh adalah Al-Haafizh. Wazan fa’iil di sini bermakna faa’il, sebagaimana Al-Qadiir dan Al-‘Aliim.” [7]Jadi, keduanya tidak saling bertentangan dan tidak pula menunjukkan dua sifat yang berbeda. Keduanya bertemu pada satu pokok: Allah adalah Dzat Yang Menjaga.Akan tetapi, dari sisi bentuk lafaz, para ulama umumnya menjelaskan bahwa wazan fa’iil (seperti Al-Hafiizh) lebih kuat dalam menunjukkan keluasan, kesempurnaan, dan tetapnya suatu sifat pada pemiliknya. Ia menunjukkan bahwa sifat itu bukan sesuatu yang sesekali ada dan sesekali tidak, melainkan tetap dan melekat. Adapun wazan faa’il (seperti Al-Haafizh) menunjukkan adanya sifat itu pada pelakunya.Kalau diringkas, Al-Haafizh menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menjaga. Adapun, Al-Hafiizh menunjukkan bahwa penjagaan-Nya sempurna, luas, dan tidak pernah putus.Ini juga sejalan dengan konteks ayat-ayatnya. Nama Al-Hafiizh disebut pada ayat-ayat yang menunjukkan keluasan penjagaan Allah atas segala sesuatu, seperti:إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌdan,وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌAdapun Al-Haafizh disebut dalam konteks فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا. Keduanya menunjukkan kesempurnaan penjagaan Allah, namun bentuk fa’iil menekankan keluasan dan kekokohan sifat itu. [8]Maka, ketika dua nama ini dibahas bersama, bukan untuk memisahkan dua makna yang bertentangan, tetapi justru untuk menunjukkan bahwa seluruh bentuk penjagaan yang sempurna hanyalah milik Allah. Dia adalah Al-Haafizh, Yang Menjaga, dan Dia adalah Al-Hafiizh, Yang sempurna penjagaan-Nya, luas pemeliharaan-Nya, dan tidak pernah lalai dari segala yang Dia jaga.Makna “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” ketika menjadi sifat AllahDua nama ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan al-hifzh (penjagaan). Syekh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa sifat ini mencakup dua perkara besar. [9]Pertama: Penjagaan dengan ilmu-NyaAllah menjaga dengan ilmu-Nya seluruh yang diketahui. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya. Dia menjaga amalan hamba-Nya, menghitung perkataan mereka, mengetahui niat mereka, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Lawan dari sifat ini adalah lupa, dan Allah telah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا“Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64)Dan firman-Nya,قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى“Dia berkata: ilmunya ada di sisi Rabbku, dalam sebuah kitab. Rabbku tidak sesat dan tidak lupa.” (QS. Thaahaa: 52)Allah juga berfirman,أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ“Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujaadilah: 6)Makna ini mencakup bahwa Allah menghitung seluruh amalan hamba, yang besar dan yang kecil. Dia menulis semuanya di Lauh Mahfuzh. Dan Dia mewakilkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Allah berfirman,وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ“Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan tercatat dalam catatan-catatan. Dan segala yang kecil maupun yang besar tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Dan firman-Nya,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Dan sesungguhnya ada para penjaga atas kalian, yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12) [10]Kedua: Penjagaan terhadap makhluk-NyaAllah menjaga seluruh makhluk-Nya dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya, agar ia tetap ada selama masa yang Allah tentukan. Tidak runtuh, tidak rusak, tidak saling bertabrakan, dan tidak ada yang memberatkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا“Dan tidaklah memberatkan-Nya memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al-Baqarah: 255)Allah juga menjaga langit agar tidak jatuh ke bumi,وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Hajj: 65)Dan firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap.” (QS. Faathir: 41)Dan termasuk di dalamnya, Allah menjaga Kitab-Nya dari segala bentuk perubahan dan pemalsuan,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kami-lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada huruf yang berubah dan tidak ada ayat yang terdistorsi, meskipun zaman terus berganti. Semua itu karena penjagaan Allah yang sempurna. [11]Baca juga: Jagalah Allah, Ia Akan MenjagamuPenjagaan Allah terhadap hamba-Nya: Penjagaan umum dan khususSyekh Abdurrazzaq al-Badr juga menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap hamba-Nya terbagi menjadi dua macam. [12]Penjagaan yang umumPenjagaan ini mencakup seluruh makhluk, baik yang taat maupun yang durhaka, bahkan mencakup hewan dan selainnya. Allah memudahkan bagi mereka makanan, minuman, udara, dan menunjukkan mereka kepada apa yang menjadi kemaslahatannya. Ini termasuk dalam hidayah umum yang Allah sebutkan,الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى“(Allah) yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 50)Allah juga menolak dari mereka berbagai bahaya dan kerusakan, serta mewakilkan para malaikat untuk menjaga mereka,لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ“Baginya ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, dari depan dan belakangnya, yang menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)Penjagaan yang khususPenjagaan ini diperuntukkan bagi para wali Allah. Selain penjagaan umum, Allah juga menjaga iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang merusak, dan syahwat yang membinasakan. Allah melindungi mereka dari musuh-musuh mereka, baik dari kalangan jin maupun manusia, menolong mereka, dan menolak tipu daya musuh dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)Seberapa besar keimanan seorang hamba, sebesar itulah pembelaan Allah untuknya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam wasiatnya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa,احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih) [13]Maknanya sangat jelas, siapa yang menjaga perintah-perintah Allah dengan mengamalkannya, menjaga larangan-Nya dengan menjauhinya, dan menjaga batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, maka Allah akan menjaganya dalam diri, agama, harta, anak, dan dalam seluruh karunia yang Allah berikan kepadanya.Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh” bagi seorang hambaPertama, menjaga perintah Allah agar dijaga oleh AllahKonsekuensi terbesar dari iman kepada dua nama ini adalah seorang hamba berusaha menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya dan batasan-batasan-Nya,وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 112)Termasuk di dalamnya menjaga tauhid dari hal-hal yang merusaknya. Karena tauhid adalah perkara paling agung yang harus dijaga dan dipelihara oleh seorang hamba. Juga menjaga salat, sebagaimana firman-Nya,حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ‘Peliharalah salat-salat dan salat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)Dan menjaga pendengaran, penglihatan, dan hati dari hal-hal yang diharamkan,إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36) [14]Kedua, berdoa kepada Allah agar dijaga dari segala keburukanDi antara buah iman kepada nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh adalah seorang hamba senantiasa berdoa memohon penjagaan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini setiap pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa,لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika sore dan ketika pagi, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan amankanlah ketakutan-ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari ditenggelamkan dari bawahku.’” (HR. Ahmad, dan sanadnya shahih) [15]Ketiga, meyakini bahwa tidak ada penjaga bagi hamba kecuali AllahDi atas semua itu, seorang hamba meyakini bahwa tidak ada yang mampu menjaganya dalam urusan agama dan dunianya kecuali Allah Ta’ala. Maka, ia menggantungkan rasa amannya kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada kekuatannya sendiri, dan bukan kepada sebab-sebab duniawi semata. Allah Ta’ala berfirman,فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yuusuf: 64) [16]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa dijaga, dipelihara, dan dilindungi dari segala keburukan, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga perintah-perintah-Nya sehingga Dia menjaga kita. Aamiin.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghaniy”***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191; Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64; Alawi bin Abdul Qadir as-Saqqaf, Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah, hal. 133.[2] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[3] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 1: 87.[5] Al-Jauhari, dinukil dalam: Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64.[6] Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[7] Nauwal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 3: 64-66.[8] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191.[9] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[10] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 191-192.[11] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 192.[12] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193. Lihat juga: Hashah binti Abdul Aziz ash-Shaghir, Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih, 1: 75.[13] HR. Ahmad (1: 293) dan at-Tirmidzi no. 2516. At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih.[14] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 193-194.[15] HR. Ahmad (2: 25), sanadnya sahih. Dikutip oleh: Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194.[16] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 194. Referensi utamaAl-Badr, Abdurrazzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.Al-‘Ied, Nauwal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. 1441 H.Ash-Shaghir, Hashah binti Abdul Aziz. Ifraad Ahaadits Asmaa’ Allah wa Shifaatih. Risalah Doktorah. Makkah: 1417 H.As-Saqqaf, Alawi bin Abdul Qadir. Shifaat Allah ‘Azza wa Jalla al-Waaridah fil Kitaab was Sunnah. Cet. ke-3. Dar al-Hijrah, 1426 H.Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah.

Inilah Puncak Kelezatan Iman yang Semoga Allah Berikan Pada Kita – Syaikh Shalih As -Sindi

Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Inilah Puncak Kelezatan Iman yang Semoga Allah Berikan Pada Kita – Syaikh Shalih As -Sindi

Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ


Karena itu, perkara terbesar yang bergejolak di dalam hati orang-orang beriman yang jujur dalam kehidupan dunia mereka adalah rasa rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih lezat daripada kerinduan seorang hamba kepada Ar-Rahman. Demikian pula melihat wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala, itulah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia.” (Al-Qashidah An-Nuniyyah) Di dunia, nikmat terbesar dan kelezatan paling sempurna adalah engkau mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan-Nya. Sebagaimana nikmat terbesar di akhirat adalah engkau melihat-Nya, mendengar firman-Nya, dan mendapatkan keridaan-Nya. Itulah kelezatan terbesar di akhirat, sebagaimana nikmat terbesar di dunia adalah engkau dianugerahi kerinduan kepada Allah. Siapa yang mendapatkan karunia ini, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang besar. Karena itu, di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadis ‘Ammar radhiyallahu ‘anhu, riwayat An-Nasa’i dan selainnya: “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i) Jadi, rindu bertemu Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara yang agung. Sangat layak bagimu untuk terus-menerus memohon hal itu kepada Rabbmu Jalla wa ‘Ala. Orang-orang beriman yang jujur merindukan pertemuan dengan Rabb mereka. Orang-orang beriman yang jujur berharap bertemu Rabb mereka. “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.” (QS. Al-Ankabut: 5). Alangkah agungnya pengaruh ayat ini pada jiwa-jiwa yang beriman. Seakan-akan di dalamnya ada penenang bagi mereka, sementara hati mereka telah terbang karena rindu kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Jika kalian mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka bersabarlah dan tetaplah teguh. Sebab, ketetapan waktu dari Allah itu dekat. Pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla yang kalian dambakan itu dekat. Tidak ada jarak antara kalian dan pertemuan itu, selain berlalunya detik-detik kehidupan ini. Kemudian kalian akan beruntung dengan bertemu Zat yang paling dicintai, Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang beriman yang jujur mencintai pertemuan dengan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, dalam jiwa orang-orang beriman ada keinginan yang sangat kuat untuk melihat Allah Jalla wa ‘Ala. Inilah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika beliau mendengar firman Allah, jiwanya sangat ingin melihat-Nya, lalu berkata, “Wahai Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf: 143) Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu bersama Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah dan Abu Sa’id. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?” (HR. Bukhari dan Muslim). Seakan-akan aku melihat mereka sedang mencari jawaban yang dapat menenangkan kerinduan yang bergolak di dalam hati mereka. Karena sesungguhnya kerinduan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kerinduan yang sangat besar. Rindu adalah hajat hati untuk bertemu dengan yang dicintai, dan perjalanan hati untuk mencarinya. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula rindunya untuk bertemu Allah dan melihat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kerinduan ini lahir dari dua perkara. Pertama, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin engkau mengenal Allah, semakin kuat kerinduan kepada-Nya. Kedua, kokohnya rasa cinta kepada Allah di dalam hatimu. Semakin besar cintamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin besar pula kerinduanmu kepada-Nya. Karena itu, diriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Aku mencintai kematian karena rindu kepada Rabbku.” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Az-Zuhd). Subhanallah. Keadaan mereka menakjubkan. Mereka merasa kematian begitu lambat datang, dan merasa kehidupan ini terlalu panjang. Sebab, kehidupan dunia inilah penghalang antara mereka dan sampainya mereka kepada kelezatan terbesar serta tujuan agung yang mereka damba-dambakan. Bahwasanya tidak ada kesempatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di negeri akhirat. Karena itulah kerinduan mereka kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala begitu besar. Ibnul Jauzi menukil dalam kitab Shifatush Shafwah, dari sebagian ahli ibadah, bahwasanya ia menangis selama 60 tahun karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab juga menukil dari Abu ‘Inabah Al-Khaulani bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian lebih mencintai pertemuan dengan Allah daripada madu.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab; Al-Jihad Ibnul Mubarak, no. 128) Demikianlah jiwa-jiwa yang beriman, mereka rindu bertemu Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam upayanya menempuh jalan yang mengantarkan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Adapun orang yang keadaannya berbeda dari itu, maka sungguh ia berada di lembah yang lain. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, dan merasa tenteram dengannya…” (QS. Yunus: 7). Inilah keadaan orang yang berpaling dari Allah, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan berpaling dari mencintai-Nya. Ia kembali dengan membawa kerugian. Adapun orang-orang yang berharap bertemu Allah, mereka memperoleh keberuntungan yang besar. Nikmat yang agung pun telah menanti mereka. Maka, buah dari kerinduan ini adalah mereka akan meraih apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka rindukan. Yaitu Allah Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia-Nya dan mengizinkan orang-orang beriman, yang mencintai-Nya lagi jujur ini, untuk melihat-Nya. Bagaimanapun, wahai muslim, pembahasan ini sangat layak untuk engkau renungkan. Sebab, pembahasan ini bisa menjadi timbangan untuk menilai sehat atau sakitnya hatimu. Semakin sehat hatimu, semakin besar kerinduanmu kepada Rabbmu. Sebaliknya pun demikian. Maka berbahagialah orang yang berusaha, bersungguh-sungguh, mengawasi dirinya, dan menghisab dirinya hingga ia sampai pada perkara agung ini. Jadikan salah satu tujuan besarmu dalam hidup ini adalah mencapai kedudukan yang agung ini, yaitu engkau rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi orang yang berharap bertemu dengan-Nya, dan mencintai pertemuan dengan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== وَلِذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ أَعْظَمُ شَيْءٍ يَهِيجُ فِي قُلُوبِهِم فِي دُنْيَاهُمْ هُوَ الشَّوْقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا أَحْسَنَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَاللهِ مَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَذُّ مِنِ اشْتِيَاقِ الْعَبْدِ لِلرَّحْمَنِ وَكَذَاكَ رُؤْيَةُ وَجْهِهِ سُبْحَانَهُ هِيَ أَكْمَلُ اللَّذَّاتِ لِلْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا أَعْظَمُ نَعِيمٍ وَأَكْمَلُ لَذَّةٍ هِيَ أَنْ تَعْرِفَ اللهَ وَتُحِبَّهُ وَتَشْتَاقَ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الْآخِرَةِ هِيَ أَنْ تَرَاهُ وَتَسْمَعَ كَلَامَهُ، وَأَنْ يَحِلَّ عَلَيْكَ رِضْوَانُهُ فَهَذِهِ أَعْظَمُ اللَّذَّاتِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ أَعْظَمَ نِعْمَةٍ فِي الدُّنْيَا هِيَ أَنْ تُرْزَقَ الشَّوْقَ إِلَى اللهِ مَنْ فَازَ بِهَذَا فَازَ بِحَظٍّ عَظِيمٍ، وَلِذَا كَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا فِي حَدِيثِ عَمَّارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَغَيْرِهِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ إِذًا الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ عَظِيمٌ، يَسْتَحِقُّ أَنْ تُلِحَّ عَلَى رَبِّكَ جَلَّ وَعَلَا فِي طَلَبِهِ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَشْتَاقُونَ إِلَى لِقَاءِ رَبِّهِمْ، وَالْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يَرْجُونَ لِقَاءَ رَبِّهِمْ مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ مَا أَعْظَمَ وَقْعَ هَذِهِ الْآيَةِ عَلَى النُّفُوسِ الْمُؤْمِنَةِ كَأَنَّ فِيهَا تَسْكِينًا لَهُمْ، وَقَدْ طَارَتْ قُلُوبُهُمْ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِنْ كُنْتُمْ تَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَاصْبِرُوا وَاثْبُتُوا، فَإِنَّ أَجَلَ اللهِ قَرِيبٌ لِقَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي تَطْمَحُونَ إِلَيْهِ قَرِيبٌ لَيْسَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ إِلَّا أَنْ تَنْقَضِيَ لَحَظَاتُ هَذِهِ الْحَيَاةِ ثُمَّ تَفُوزُونَ بِلِقَاءِ الْمَحْبُوبِ الْأَعْظَمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ يُحِبُّونَ لِقَاءَ اللهِ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَلِذَلِكَ كَانَ هُنَاكَ رَغْبَةٌ جَامِحَةٌ فِي نُفُوسِ أَهْلِ الْإِيمَانِ لِرُؤْيَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَمِعَ كَلَامَ اللهِ، فَتَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى رُؤْيَتِهِ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ كَأَنِّي بِهِمْ يَبْحَثُونَ عَنْ جَوَابٍ يُسَكِّنُ هَذَا الشَّوْقَ الَّذِي يَعْتَلِجُ فِي قُلُوبِهِمْ فَإِنَّ شَوْقَهُمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى شَوْقٌ عَظِيمٌ الشَّوْقُ احْتِيَاجُ الْقَلْبِ إِلَى لِقَاءِ الْمَحْبُوبِ وَسَفَرُهُ فِي طَلَبِهِ وَكُلَّمَا كَانَ الْإِنْسَانُ أَعْظَمَ إِيمَانًا كُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ شَوْقًا إِلَى لِقَاءِ اللهِ وَرُؤْيَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا الشَّوْقُ يَنْتُجُ عَنْ أَمْرَيْنِ: عَنْ مَعْرِفَةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ كُلَّمَا كُنْتَ بِاللهِ أَعْرَفَ كُنْتَ أَشَدَّ اشْتِيَاقًا إِلَيْه وَالْأَمْرُ الثَّانِي: تَمَكُّنُ مَحَبَّتِهِ فِي قَلْبِكَ كُـلَّمَا كُنْتَ أَعْظَمَ مَحَبَّةً لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُـلَّمَا كَانَ شَوْقُكَ إِلَيْهِ أَعْظَمَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أُحِبُّ الْمَوْتَ اشْتِيَاقًا إِلَى رَبِّي سُبْحَانَ اللهِ! شَأْنُهُمْ عَجِيبٌ، يَسْتَبْطِئُونَ الْمَوْتَ وَيَسْتَطِيلُونَ الْحَيَاةَ لِأَنَّهَا هِيَ الْحَائِلُ، هِيَ الْمَانِعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى اللَّذَّةِ الْعُظْمَى وَالْغَايَةِ الْكُبْرَى الَّتِي يَطْمَحُونَ إِلَيْهَا إِنَّهُ لَا رُؤْيَةَ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ وَلِذَلِكَ هُمْ أَعْظَمُ شَوْقًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَقَلَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي صِفَةِ الصَّفْوَةِ عَنْ بَعْضِ الْعَابِدِينَ أَنَّهُ بَكَى سِتِّينَ سَنَةً شَوْقًا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَنَقَلَ ابْنُ رَجَبٍ عَنْ أَبِي عَنْبَسَةَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِقَاءُ اللهِ أَحَبُّ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّهْدِ هَكَذَا النُّفُوسُ الْمُؤْمِنَةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى لِقَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مُجْتَهِدَةٌ فِي السَّعْيِ إِلَى مَا يُوْصِلُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَمَّا مَنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ فِي وَادٍ آخَرَ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا هَذِهِ حَالُ مَنْ كَانَ مُعْرِضًا عَنِ اللهِ، مُعْرِضًا عَنْ طَاعَتِهِ، مُعْرِضًا عَنْ مَحَبَّتِهِ، يَبُوءُ بِالْخُسْرَانِ لَكِنَّ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَ اللهِ فَازُوا فَوْزًا عَظِيمًا، وَيَنْتَظِرُهُم نِعْمَةٌ كُبْرَى فَثَمْرَةُ هَذَا الشَّوْقِ أَنْ يَنَالُوا مَا تَمَنَّوْا وَمَا اشْتَاقُوا إِلَيْهِ وَهُوَ أَنْ يَمُنَّ اللهُ الْعَظِيمُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيَأْذَنَ أَنْ يَرَاهُ هَؤُلَاءِ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِبُّونَ الصَّادِقُونَ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، هَذَا الْمَوْضُوعُ حَرِيٌّ بِكَ يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْ تَتَأَمَّلَهُ فَإِنَّ هَذَا الْمَوْضُوعَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِيزَانًا تَزِنُ بِهِ صَلَاحَ قَلْبِكَ مِنْ مَرَضِ قَلْبِكَ فَكُلَّمَا كَانَ قَلْبُكَ أَصَحَّ كَانَ الشَّوْقُ إِلَى رَبِّكَ أَعْظَمَ، وَالْعَكْسُ بِالْعَكْسِ فَهَنِيئًا لِمَنْ سَعَى وَاجْتَهَدَ وَرَاقَبَ نَفْسَهُ وَحَاسَبَهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ الْعَظِيمِ اجْعَلْ مِنْ أَهْدَافِكَ الْكُبْرَى فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَصِلَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْعَظِيمَةِ وَهِيَ أَنْ تَشْتَاقَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَتَكُونَ مِمَّنْ يَرْجُو لِقَاءَهُ، وَمَنْ يُحِبُّ لِقَاءَهُ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ
Prev     Next