Obat untuk Orang yang Malas Salat – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sebagian saudara-saudara kitaberat dan sulit untuk mengerjakan salat. Baik itu sepenuhnya, yakni salat sepenuhnya terasa berat baginya,baik itu ia seorang penuntut ilmu, bukan penuntut ilmu, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun terasa berat baginya beberapa wajibnya atau sunah muakad-nya saja.Di antara hukum wajib dalam salat—berdasarkan pendapat banyak ulama—adalah salat secara berjamaah. Sebagian orang merasa berat melakukan salat berjamaah, tapi ia tetap salat.Kami katakan bahwa hal pertama yang harus dipegang teguh—setelah perhatiannya terhadap salat—adalah melatih dirinya untuk mendirikan salat melalui dua cara: [PERTAMA]Cara pertama, rutin melakukan suatu ibadah dengan sunah-sunahnya.Barang siapa yang rutin melakukan hal wajib sekaligus sunah-sunahnya, maka ketika ia dalam keadaan malas akan tetap menjalankan hal wajib tersebut, dan hanya meninggalkan yang sunah.Ini cukup jelas. Inilah makna perkataan Imam Ahmad bahwa orang yang meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk. Karena pada saat ia dalam keadaan lemah dan malasnya, bisa jadi akan meninggalkan yang wajib. [KEDUA]Cara kedua, memberi perhatian besar pada salat-salat yang paling ditekankan.Salat fardu lima waktu yang paling ditekankan adalah Salat Asar,lalu Salat Subuh, kemudian Salat Isya. Orang yang menjaga tiga salat ini,akan mampu menjaga salat-salat lainnya. Bahkan, para ulama menyatakan bahwa orang yang menjaga Salat Asarakan mampu menjaga salat-salat lainnya. Sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “Jagalah semua salat dan Salat Wustha …” (QS. Al-Baqarah: 238)Makna Salat Wustha adalah Salat Asar. Menjaga Salat Asar sangat ditekankan, lebih ditekankan daripada salat lainnya.Bahkan, sebagian Nabi tidak disibukkan kecuali dari Salat Asar.Nabi Sulaiman pernah tersibukkan darinya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tersibukkan dari Salat Asar pada saat perang Khandaq,dan beliau mengerjakannya setelah waktunya habis. Oleh sebab itu, jika kamu melihat orang yang merasa berat melakukan salat,maka katakan padanya:“Biasakan dirimu untuk menjaga Salat Asar!” Salat Asar merupakan salat pertengahan.Barang siapa yang menjaga Salat Asar dan salat-salat lainnya “Jagalah semua salat dan Salat Wustha, …”maka ia akan mampu menjaga salat lainnya setelah itu. ==== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلٌ وَشَاقٌّ إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَدِيثِ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوْبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَع مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلٌ سُوءٌ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُوْرِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِه الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلُ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Obat untuk Orang yang Malas Salat – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sebagian saudara-saudara kitaberat dan sulit untuk mengerjakan salat. Baik itu sepenuhnya, yakni salat sepenuhnya terasa berat baginya,baik itu ia seorang penuntut ilmu, bukan penuntut ilmu, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun terasa berat baginya beberapa wajibnya atau sunah muakad-nya saja.Di antara hukum wajib dalam salat—berdasarkan pendapat banyak ulama—adalah salat secara berjamaah. Sebagian orang merasa berat melakukan salat berjamaah, tapi ia tetap salat.Kami katakan bahwa hal pertama yang harus dipegang teguh—setelah perhatiannya terhadap salat—adalah melatih dirinya untuk mendirikan salat melalui dua cara: [PERTAMA]Cara pertama, rutin melakukan suatu ibadah dengan sunah-sunahnya.Barang siapa yang rutin melakukan hal wajib sekaligus sunah-sunahnya, maka ketika ia dalam keadaan malas akan tetap menjalankan hal wajib tersebut, dan hanya meninggalkan yang sunah.Ini cukup jelas. Inilah makna perkataan Imam Ahmad bahwa orang yang meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk. Karena pada saat ia dalam keadaan lemah dan malasnya, bisa jadi akan meninggalkan yang wajib. [KEDUA]Cara kedua, memberi perhatian besar pada salat-salat yang paling ditekankan.Salat fardu lima waktu yang paling ditekankan adalah Salat Asar,lalu Salat Subuh, kemudian Salat Isya. Orang yang menjaga tiga salat ini,akan mampu menjaga salat-salat lainnya. Bahkan, para ulama menyatakan bahwa orang yang menjaga Salat Asarakan mampu menjaga salat-salat lainnya. Sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “Jagalah semua salat dan Salat Wustha …” (QS. Al-Baqarah: 238)Makna Salat Wustha adalah Salat Asar. Menjaga Salat Asar sangat ditekankan, lebih ditekankan daripada salat lainnya.Bahkan, sebagian Nabi tidak disibukkan kecuali dari Salat Asar.Nabi Sulaiman pernah tersibukkan darinya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tersibukkan dari Salat Asar pada saat perang Khandaq,dan beliau mengerjakannya setelah waktunya habis. Oleh sebab itu, jika kamu melihat orang yang merasa berat melakukan salat,maka katakan padanya:“Biasakan dirimu untuk menjaga Salat Asar!” Salat Asar merupakan salat pertengahan.Barang siapa yang menjaga Salat Asar dan salat-salat lainnya “Jagalah semua salat dan Salat Wustha, …”maka ia akan mampu menjaga salat lainnya setelah itu. ==== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلٌ وَشَاقٌّ إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَدِيثِ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوْبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَع مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلٌ سُوءٌ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُوْرِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِه الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلُ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Sebagian saudara-saudara kitaberat dan sulit untuk mengerjakan salat. Baik itu sepenuhnya, yakni salat sepenuhnya terasa berat baginya,baik itu ia seorang penuntut ilmu, bukan penuntut ilmu, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun terasa berat baginya beberapa wajibnya atau sunah muakad-nya saja.Di antara hukum wajib dalam salat—berdasarkan pendapat banyak ulama—adalah salat secara berjamaah. Sebagian orang merasa berat melakukan salat berjamaah, tapi ia tetap salat.Kami katakan bahwa hal pertama yang harus dipegang teguh—setelah perhatiannya terhadap salat—adalah melatih dirinya untuk mendirikan salat melalui dua cara: [PERTAMA]Cara pertama, rutin melakukan suatu ibadah dengan sunah-sunahnya.Barang siapa yang rutin melakukan hal wajib sekaligus sunah-sunahnya, maka ketika ia dalam keadaan malas akan tetap menjalankan hal wajib tersebut, dan hanya meninggalkan yang sunah.Ini cukup jelas. Inilah makna perkataan Imam Ahmad bahwa orang yang meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk. Karena pada saat ia dalam keadaan lemah dan malasnya, bisa jadi akan meninggalkan yang wajib. [KEDUA]Cara kedua, memberi perhatian besar pada salat-salat yang paling ditekankan.Salat fardu lima waktu yang paling ditekankan adalah Salat Asar,lalu Salat Subuh, kemudian Salat Isya. Orang yang menjaga tiga salat ini,akan mampu menjaga salat-salat lainnya. Bahkan, para ulama menyatakan bahwa orang yang menjaga Salat Asarakan mampu menjaga salat-salat lainnya. Sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “Jagalah semua salat dan Salat Wustha …” (QS. Al-Baqarah: 238)Makna Salat Wustha adalah Salat Asar. Menjaga Salat Asar sangat ditekankan, lebih ditekankan daripada salat lainnya.Bahkan, sebagian Nabi tidak disibukkan kecuali dari Salat Asar.Nabi Sulaiman pernah tersibukkan darinya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tersibukkan dari Salat Asar pada saat perang Khandaq,dan beliau mengerjakannya setelah waktunya habis. Oleh sebab itu, jika kamu melihat orang yang merasa berat melakukan salat,maka katakan padanya:“Biasakan dirimu untuk menjaga Salat Asar!” Salat Asar merupakan salat pertengahan.Barang siapa yang menjaga Salat Asar dan salat-salat lainnya “Jagalah semua salat dan Salat Wustha, …”maka ia akan mampu menjaga salat lainnya setelah itu. ==== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلٌ وَشَاقٌّ إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَدِيثِ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوْبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَع مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلٌ سُوءٌ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُوْرِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِه الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلُ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Sebagian saudara-saudara kitaberat dan sulit untuk mengerjakan salat. Baik itu sepenuhnya, yakni salat sepenuhnya terasa berat baginya,baik itu ia seorang penuntut ilmu, bukan penuntut ilmu, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun terasa berat baginya beberapa wajibnya atau sunah muakad-nya saja.Di antara hukum wajib dalam salat—berdasarkan pendapat banyak ulama—adalah salat secara berjamaah. Sebagian orang merasa berat melakukan salat berjamaah, tapi ia tetap salat.Kami katakan bahwa hal pertama yang harus dipegang teguh—setelah perhatiannya terhadap salat—adalah melatih dirinya untuk mendirikan salat melalui dua cara: [PERTAMA]Cara pertama, rutin melakukan suatu ibadah dengan sunah-sunahnya.Barang siapa yang rutin melakukan hal wajib sekaligus sunah-sunahnya, maka ketika ia dalam keadaan malas akan tetap menjalankan hal wajib tersebut, dan hanya meninggalkan yang sunah.Ini cukup jelas. Inilah makna perkataan Imam Ahmad bahwa orang yang meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk. Karena pada saat ia dalam keadaan lemah dan malasnya, bisa jadi akan meninggalkan yang wajib. [KEDUA]Cara kedua, memberi perhatian besar pada salat-salat yang paling ditekankan.Salat fardu lima waktu yang paling ditekankan adalah Salat Asar,lalu Salat Subuh, kemudian Salat Isya. Orang yang menjaga tiga salat ini,akan mampu menjaga salat-salat lainnya. Bahkan, para ulama menyatakan bahwa orang yang menjaga Salat Asarakan mampu menjaga salat-salat lainnya. Sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “Jagalah semua salat dan Salat Wustha …” (QS. Al-Baqarah: 238)Makna Salat Wustha adalah Salat Asar. Menjaga Salat Asar sangat ditekankan, lebih ditekankan daripada salat lainnya.Bahkan, sebagian Nabi tidak disibukkan kecuali dari Salat Asar.Nabi Sulaiman pernah tersibukkan darinya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tersibukkan dari Salat Asar pada saat perang Khandaq,dan beliau mengerjakannya setelah waktunya habis. Oleh sebab itu, jika kamu melihat orang yang merasa berat melakukan salat,maka katakan padanya:“Biasakan dirimu untuk menjaga Salat Asar!” Salat Asar merupakan salat pertengahan.Barang siapa yang menjaga Salat Asar dan salat-salat lainnya “Jagalah semua salat dan Salat Wustha, …”maka ia akan mampu menjaga salat lainnya setelah itu. ==== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلٌ وَشَاقٌّ إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَدِيثِ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوْبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَع مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلٌ سُوءٌ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُوْرِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِه الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلُ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bulughul Maram – Shalat: Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat

Adakah shalat qabliyah Ashar? Bagaimanakah cara mengerjakannya?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 10/359 2. Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits 10/359 Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat عَنْ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَحِمَ اللهُ امْرَءاًصَلَّى أرْبَعاً قَبْلَ الْعَصْرِ»، رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَهُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut Tirmidzi dan sahih menurut Ibnu Khuzaimah). [HR. Ahmad, 10:188; Abu Daud, no. 1271; Tirmidzi, no. 430; dan Ibnu Khuzaimah, no. 1193. Tirmidzi mengatakan bahwa sanad hadits ini gharib hasan. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:278-279].   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat empat rakaat sebelum Ashar. Hendaklah menjaga shalat sunnah qabliyah Ashar agar mendapatkan doa rahmat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini berisi doa atau pengabaran. Kalau diartikan doa, maka maknanya juga adalah pengabaran, yaitu kabar gembira bagi orang yang melakukan shalat qabliyah Ashar empat rakaat. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar ini tidak masuk rawatib muakkad karena tidak diriwayatkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya. Oleh karenanya, Aisyah dan Ibnu ‘Umar tidak menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar dilakukan dengan dua rakaat salam, dua rakaat salam.   Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Cara Shalat Sunnah Qabliyah Ashar Shalat Qabliyah Ashar Dua atau Empat Rakaat? Rawatib Ashar dari Bahasan Riyadhus Sholihin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:278-281. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:588-589.     —   Diselesaikan pada Senin pagi, 19 Rabiul Akhir 1444 H, 14 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat ashar shalat qabliyah ashar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'

Bulughul Maram – Shalat: Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat

Adakah shalat qabliyah Ashar? Bagaimanakah cara mengerjakannya?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 10/359 2. Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits 10/359 Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat عَنْ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَحِمَ اللهُ امْرَءاًصَلَّى أرْبَعاً قَبْلَ الْعَصْرِ»، رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَهُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut Tirmidzi dan sahih menurut Ibnu Khuzaimah). [HR. Ahmad, 10:188; Abu Daud, no. 1271; Tirmidzi, no. 430; dan Ibnu Khuzaimah, no. 1193. Tirmidzi mengatakan bahwa sanad hadits ini gharib hasan. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:278-279].   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat empat rakaat sebelum Ashar. Hendaklah menjaga shalat sunnah qabliyah Ashar agar mendapatkan doa rahmat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini berisi doa atau pengabaran. Kalau diartikan doa, maka maknanya juga adalah pengabaran, yaitu kabar gembira bagi orang yang melakukan shalat qabliyah Ashar empat rakaat. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar ini tidak masuk rawatib muakkad karena tidak diriwayatkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya. Oleh karenanya, Aisyah dan Ibnu ‘Umar tidak menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar dilakukan dengan dua rakaat salam, dua rakaat salam.   Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Cara Shalat Sunnah Qabliyah Ashar Shalat Qabliyah Ashar Dua atau Empat Rakaat? Rawatib Ashar dari Bahasan Riyadhus Sholihin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:278-281. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:588-589.     —   Diselesaikan pada Senin pagi, 19 Rabiul Akhir 1444 H, 14 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat ashar shalat qabliyah ashar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'
Adakah shalat qabliyah Ashar? Bagaimanakah cara mengerjakannya?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 10/359 2. Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits 10/359 Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat عَنْ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَحِمَ اللهُ امْرَءاًصَلَّى أرْبَعاً قَبْلَ الْعَصْرِ»، رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَهُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut Tirmidzi dan sahih menurut Ibnu Khuzaimah). [HR. Ahmad, 10:188; Abu Daud, no. 1271; Tirmidzi, no. 430; dan Ibnu Khuzaimah, no. 1193. Tirmidzi mengatakan bahwa sanad hadits ini gharib hasan. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:278-279].   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat empat rakaat sebelum Ashar. Hendaklah menjaga shalat sunnah qabliyah Ashar agar mendapatkan doa rahmat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini berisi doa atau pengabaran. Kalau diartikan doa, maka maknanya juga adalah pengabaran, yaitu kabar gembira bagi orang yang melakukan shalat qabliyah Ashar empat rakaat. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar ini tidak masuk rawatib muakkad karena tidak diriwayatkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya. Oleh karenanya, Aisyah dan Ibnu ‘Umar tidak menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar dilakukan dengan dua rakaat salam, dua rakaat salam.   Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Cara Shalat Sunnah Qabliyah Ashar Shalat Qabliyah Ashar Dua atau Empat Rakaat? Rawatib Ashar dari Bahasan Riyadhus Sholihin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:278-281. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:588-589.     —   Diselesaikan pada Senin pagi, 19 Rabiul Akhir 1444 H, 14 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat ashar shalat qabliyah ashar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'


Adakah shalat qabliyah Ashar? Bagaimanakah cara mengerjakannya?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Hadits 10/359 2. Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits 10/359 Keutamaan Shalat Qabliyah Ashar Empat Rakaat Dapat Doa Rahmat عَنْ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَحِمَ اللهُ امْرَءاًصَلَّى أرْبَعاً قَبْلَ الْعَصْرِ»، رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَهُ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi. Hadits ini hasan menurut Tirmidzi dan sahih menurut Ibnu Khuzaimah). [HR. Ahmad, 10:188; Abu Daud, no. 1271; Tirmidzi, no. 430; dan Ibnu Khuzaimah, no. 1193. Tirmidzi mengatakan bahwa sanad hadits ini gharib hasan. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:278-279].   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat empat rakaat sebelum Ashar. Hendaklah menjaga shalat sunnah qabliyah Ashar agar mendapatkan doa rahmat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini berisi doa atau pengabaran. Kalau diartikan doa, maka maknanya juga adalah pengabaran, yaitu kabar gembira bagi orang yang melakukan shalat qabliyah Ashar empat rakaat. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar ini tidak masuk rawatib muakkad karena tidak diriwayatkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya. Oleh karenanya, Aisyah dan Ibnu ‘Umar tidak menyebutkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut. Shalat empat rakaat qabliyah Ashar dilakukan dengan dua rakaat salam, dua rakaat salam.   Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Cara Shalat Sunnah Qabliyah Ashar Shalat Qabliyah Ashar Dua atau Empat Rakaat? Rawatib Ashar dari Bahasan Riyadhus Sholihin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:278-281. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:588-589.     —   Diselesaikan pada Senin pagi, 19 Rabiul Akhir 1444 H, 14 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat ashar shalat qabliyah ashar shalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib shalat tathawwu'

Ibadah Hanya untuk Allah Semata

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala, hendaknya kita mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan semua bentuk ibadah kepada selain Allah. Karena tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini adalah agar kita mentauhidkan-Nya. Allah ta’ala berfirman, :وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat: 56-58) Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ayat ini: “Maknanya: Dan Aku tidak menciptakan ahlus sa’adah (makhluk yang mendapatkan kebahagiaan) dari kalangan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mentauhidkan Aku.” (Tafsir al-Qurthubi, 17/55) Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga menjelaskan ayat di atas: “Anda telah memahami bahwa Allah ta’ala tidak menciptakan Anda dengan sia-sia. Dan Allah tidak menciptakan Anda agar Anda bisa makan dan minum saja. Atau agar Anda bisa bersenang-senang dan berleha-leha di dunia. Bukan, bukan itu tujuan Allah menciptakan Anda. Allah ta’ala menciptakan Anda untuk beribadah kepada-Nya semata. Dan Allah ciptakan benda-benda di alam semesta ini (makanan, minuman, udara, dll.) dalam rangka untuk membantu Anda agar bisa beribadah kepada Allah. Karena Anda tidak akan mampu hidup di dunia tanpa adanya benda-benda tersebut. Dan Anda tidak akan bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan adanya benda-benda tersebut. Allah ciptakan mereka untuk Anda, agar Anda beribadah kepada Allah semata. Bukan agar Anda bisa bersenang-senang, berleha-leha, berbuat maksiat, berbuat dosa, makan, minum sesuai keinginan Anda. Yang demikian ini keadaannya binatang! Adapun manusia, Allah ciptakan mereka untuk suatu tujuan yang agung dan hikmah yang agung, yaitu agar Anda beribadah kepada Allah semata.” (Silsilah Syarhil Rasail, hal 335) Kita diperintahkan untuk menyembah Allah semata Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menyerahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah semata, dan Allah ta’ala melarang kita mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kamu untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata.” (QS. al-Isra: 23) Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ “Dan tidaklah kita diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah semata dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.” (QS. al-Bayyinah: 5) Mentauhidkan Allah juga adalah hak Allah yang wajib kita tunaikan. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا “Wahai Mu’adz! Tahukah Engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba? Dan apa hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah? Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah mereka beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun”. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasûlullah! Apakah kabar gembira ini sebaiknya aku sampaikan kepada orang-orang?” Nabi menjawab, “Jangan sampaikan! Aku khawatir mereka akan mengandalkan hal ini saja (sehingga tidak beramal).” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30) Para pembaca yang budiman, renungkanlah! Karena Allah ta’ala lah yang menciptakan kita, maka sungguh aneh dan durhaka jika kita menyembah selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian semata. Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian. Agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21) Oleh karena itu Allah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam untuk menegakkan tauhid dan mendakwahkannya. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’.” (QS. an-Nahl: 36) Dari Nabi dan Rasul yang pertama hingga yang terakhir, inti dakwah mereka adalah mengajak manusia untuk mempersembahkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah meringkaskan dengan indah tentang urgensi tauhid bagi manusia. Beliau mengatakan, “Semua kitab samawi dan semua Rasul, semuanya mendakwahkan tauhid dan melarang dari lawannya yaitu kesyirikan. Terlebih lagi, Rasulullah Muhammad shallallahu’alahi wa sallam. Dan al-Qur’an yang mulia ini, telah memerintahkan kita untuk bertauhid, mewajibkannya, menegaskan dengan sangat tegas, serta menjelaskannya dengan sangat jelas. Al-Qur’an juga telah mengabarkan bahwa tidak ada keselamatan, tidak ada kesuksesan, dan tidak ada kebahagiaan kecuali dengan tauhid. Semua jenis dalil, baik dalil logika, dalil naqli, dalil ufuqi wan nafsi, semua merupakan bukti nyata yang memerintahkan dan mewajibkan kita untuk bertauhid. Dan tauhid adalah hak Allah yang harus ditunaikan para hamba. Tauhid adalah perkara yang paling agung dalam agama. Tauhid adalah landasan yang paling mendasar dalam agama, serta pokok dari semua amalan.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 14) Larangan berbuat syirik Ketika kita diperintahkan untuk mempersembahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, maka kita juga dilarang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Perbuatan mempersembahkan ibadah kepada selain Allah disebut dengan kesyirikan, pelakunya disebut musyrik.  Larangan berbuat syirik banyak sekali dalam al-Qur’an dan hadits. Di antaranya, Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah semata dan janganlah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisa: 36) Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS. al-Hajj: 26) Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun (di dalamnya) di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin: 18) Dan Allah ta’ala tidak pernah ridha dengan kesyirikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: قال الله تعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku tidak butuh terhadap orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka lakukan. Barang siapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain, akan Ku tinggalkan ia bersama kesyirikannya‘.” (HR. Muslim no.2985) Ketahuilah wahai para pembaca rahimakumullah, bahwa perbuatan syirik adalah dosa yang paling besar. Allah ta’ala berfirman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Luqman: 13) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ قالوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، وَما هُنَّ؟ قالَ: الشِّرْكُ باللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلَاتِ “Jauhilah 7 dosa yang membinasakan! Para sahabat bertanya: Apa saja wahai Rasulullah? Nabi menjawab: perbuatan syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur dari perang, dan menuduh wanita baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari no. 6857, Muslim no. 89) Orang yang melakukan kesyirikan tidak akan diampuni oleh Allah jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa: 48) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di menjelaskan surat an-Nisa ayat 48 di atas: “Ayat yang mulia ini bicara tentang orang yang belum bertaubat. Adapun orang yang sudah bertaubat dari kesyirikan, maka Allah ampuni dosa syiriknya dan dosa lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya): Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53), yaitu bagi orang yang bertaubat dan berinabah.” (Taisir Karimirrahman) Orang yang melakukan kesyirikan juga akan hangus semua pahala amalannya. Allah ta’ala berfirman: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65) Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan: “Maksudnya, jika engkau berbuat syirik terhadap Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah.” (Tafsir ath-Thabari, 21/322) Ayat ini menarik karena yang diajak bicara oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah menjelaskan: “Ini merupakan bentuk pengasumsian dan perumpamaan. Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam itu telah dijamin maksum oleh Allah. Tidak mungkin beliau berbuat kesyirikan terhadap Allah. Dan ayat ini juga datang untuk menegakkan penguatan iman dan tauhid. Abu Mas’ud berkata: ‘Ayat ini dipaparkan dalam gaya bahasa asumsi untuk mengancam dan membuat takut para Rasul terhadap perbuatan kekufuran. Serta membawa pembaca untuk menyadari betapa fatalnya dan buruknya kesyirikan itu’.” (Shafwatut Tafasir, 3/80) Jika Rasulullah dan para Nabi saja diancam dari perbuatan syirik, maka kita lebih lagi terancam dan hendaknya lebih takut darinya. Jika amalan Rasulullah dan para Nabi terdahulu yang tidak terbayangkan besarnya, dalam mendakwahkan Islam, dalam bersabar menghadapi perlawanan dari orang-orang musyrik, dalam menghadapi cobaan-cobaan dari Allah, tetap akan terhapus semua amalan itu jika mereka berbuat syirik. Apalagi kita? Yang sedikit amalannya, bahkan banyak berbuat dosa!?! Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di meringkaskan bahaya syirik dengan penjelasan yang bagus. Beliau katakan, “Ketika kesyirikan adalah perkara yang bertolak-belakang dengan tauhid. Ia juga perkara yang mewajibkan orang untuk masuk neraka dan kekal di dalamnya. Ia juga perkara yang mencegah orang untuk masuk surga, jika syiriknya adalah syirik akbar. Dan kebahagiaan tidak akan pernah didapat kecuali dengan membebaskan diri dari syirik. Maka, sudah semestinya seorang hamba takut kepada kesyirikan setakut-takutnya. Dan berusaha untuk lari dari kesyirikan sejauh-jauhnya serta meninggalkan semua sarana dan sebab kesyirikan. Dan hendaknya meminta kepada Allah berupa keselamatan dari kesyirikan, sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 27) Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar dapat mentauhidkan-Nya dengan benar dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan. Wallahul muwaffiq. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir, Doa Tahnik Bayi, Allah Itu Ada Dimana, Mewarnai Rambut Dalam Islam, Download Ebook Islami Terbaru, Dzikir Dan Doa Setelah Sholat Tahajud Visited 205 times, 1 visit(s) today Post Views: 461 QRIS donasi Yufid

Ibadah Hanya untuk Allah Semata

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala, hendaknya kita mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan semua bentuk ibadah kepada selain Allah. Karena tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini adalah agar kita mentauhidkan-Nya. Allah ta’ala berfirman, :وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat: 56-58) Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ayat ini: “Maknanya: Dan Aku tidak menciptakan ahlus sa’adah (makhluk yang mendapatkan kebahagiaan) dari kalangan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mentauhidkan Aku.” (Tafsir al-Qurthubi, 17/55) Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga menjelaskan ayat di atas: “Anda telah memahami bahwa Allah ta’ala tidak menciptakan Anda dengan sia-sia. Dan Allah tidak menciptakan Anda agar Anda bisa makan dan minum saja. Atau agar Anda bisa bersenang-senang dan berleha-leha di dunia. Bukan, bukan itu tujuan Allah menciptakan Anda. Allah ta’ala menciptakan Anda untuk beribadah kepada-Nya semata. Dan Allah ciptakan benda-benda di alam semesta ini (makanan, minuman, udara, dll.) dalam rangka untuk membantu Anda agar bisa beribadah kepada Allah. Karena Anda tidak akan mampu hidup di dunia tanpa adanya benda-benda tersebut. Dan Anda tidak akan bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan adanya benda-benda tersebut. Allah ciptakan mereka untuk Anda, agar Anda beribadah kepada Allah semata. Bukan agar Anda bisa bersenang-senang, berleha-leha, berbuat maksiat, berbuat dosa, makan, minum sesuai keinginan Anda. Yang demikian ini keadaannya binatang! Adapun manusia, Allah ciptakan mereka untuk suatu tujuan yang agung dan hikmah yang agung, yaitu agar Anda beribadah kepada Allah semata.” (Silsilah Syarhil Rasail, hal 335) Kita diperintahkan untuk menyembah Allah semata Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menyerahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah semata, dan Allah ta’ala melarang kita mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kamu untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata.” (QS. al-Isra: 23) Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ “Dan tidaklah kita diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah semata dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.” (QS. al-Bayyinah: 5) Mentauhidkan Allah juga adalah hak Allah yang wajib kita tunaikan. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا “Wahai Mu’adz! Tahukah Engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba? Dan apa hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah? Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah mereka beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun”. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasûlullah! Apakah kabar gembira ini sebaiknya aku sampaikan kepada orang-orang?” Nabi menjawab, “Jangan sampaikan! Aku khawatir mereka akan mengandalkan hal ini saja (sehingga tidak beramal).” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30) Para pembaca yang budiman, renungkanlah! Karena Allah ta’ala lah yang menciptakan kita, maka sungguh aneh dan durhaka jika kita menyembah selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian semata. Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian. Agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21) Oleh karena itu Allah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam untuk menegakkan tauhid dan mendakwahkannya. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’.” (QS. an-Nahl: 36) Dari Nabi dan Rasul yang pertama hingga yang terakhir, inti dakwah mereka adalah mengajak manusia untuk mempersembahkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah meringkaskan dengan indah tentang urgensi tauhid bagi manusia. Beliau mengatakan, “Semua kitab samawi dan semua Rasul, semuanya mendakwahkan tauhid dan melarang dari lawannya yaitu kesyirikan. Terlebih lagi, Rasulullah Muhammad shallallahu’alahi wa sallam. Dan al-Qur’an yang mulia ini, telah memerintahkan kita untuk bertauhid, mewajibkannya, menegaskan dengan sangat tegas, serta menjelaskannya dengan sangat jelas. Al-Qur’an juga telah mengabarkan bahwa tidak ada keselamatan, tidak ada kesuksesan, dan tidak ada kebahagiaan kecuali dengan tauhid. Semua jenis dalil, baik dalil logika, dalil naqli, dalil ufuqi wan nafsi, semua merupakan bukti nyata yang memerintahkan dan mewajibkan kita untuk bertauhid. Dan tauhid adalah hak Allah yang harus ditunaikan para hamba. Tauhid adalah perkara yang paling agung dalam agama. Tauhid adalah landasan yang paling mendasar dalam agama, serta pokok dari semua amalan.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 14) Larangan berbuat syirik Ketika kita diperintahkan untuk mempersembahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, maka kita juga dilarang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Perbuatan mempersembahkan ibadah kepada selain Allah disebut dengan kesyirikan, pelakunya disebut musyrik.  Larangan berbuat syirik banyak sekali dalam al-Qur’an dan hadits. Di antaranya, Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah semata dan janganlah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisa: 36) Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS. al-Hajj: 26) Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun (di dalamnya) di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin: 18) Dan Allah ta’ala tidak pernah ridha dengan kesyirikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: قال الله تعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku tidak butuh terhadap orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka lakukan. Barang siapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain, akan Ku tinggalkan ia bersama kesyirikannya‘.” (HR. Muslim no.2985) Ketahuilah wahai para pembaca rahimakumullah, bahwa perbuatan syirik adalah dosa yang paling besar. Allah ta’ala berfirman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Luqman: 13) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ قالوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، وَما هُنَّ؟ قالَ: الشِّرْكُ باللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلَاتِ “Jauhilah 7 dosa yang membinasakan! Para sahabat bertanya: Apa saja wahai Rasulullah? Nabi menjawab: perbuatan syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur dari perang, dan menuduh wanita baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari no. 6857, Muslim no. 89) Orang yang melakukan kesyirikan tidak akan diampuni oleh Allah jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa: 48) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di menjelaskan surat an-Nisa ayat 48 di atas: “Ayat yang mulia ini bicara tentang orang yang belum bertaubat. Adapun orang yang sudah bertaubat dari kesyirikan, maka Allah ampuni dosa syiriknya dan dosa lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya): Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53), yaitu bagi orang yang bertaubat dan berinabah.” (Taisir Karimirrahman) Orang yang melakukan kesyirikan juga akan hangus semua pahala amalannya. Allah ta’ala berfirman: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65) Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan: “Maksudnya, jika engkau berbuat syirik terhadap Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah.” (Tafsir ath-Thabari, 21/322) Ayat ini menarik karena yang diajak bicara oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah menjelaskan: “Ini merupakan bentuk pengasumsian dan perumpamaan. Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam itu telah dijamin maksum oleh Allah. Tidak mungkin beliau berbuat kesyirikan terhadap Allah. Dan ayat ini juga datang untuk menegakkan penguatan iman dan tauhid. Abu Mas’ud berkata: ‘Ayat ini dipaparkan dalam gaya bahasa asumsi untuk mengancam dan membuat takut para Rasul terhadap perbuatan kekufuran. Serta membawa pembaca untuk menyadari betapa fatalnya dan buruknya kesyirikan itu’.” (Shafwatut Tafasir, 3/80) Jika Rasulullah dan para Nabi saja diancam dari perbuatan syirik, maka kita lebih lagi terancam dan hendaknya lebih takut darinya. Jika amalan Rasulullah dan para Nabi terdahulu yang tidak terbayangkan besarnya, dalam mendakwahkan Islam, dalam bersabar menghadapi perlawanan dari orang-orang musyrik, dalam menghadapi cobaan-cobaan dari Allah, tetap akan terhapus semua amalan itu jika mereka berbuat syirik. Apalagi kita? Yang sedikit amalannya, bahkan banyak berbuat dosa!?! Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di meringkaskan bahaya syirik dengan penjelasan yang bagus. Beliau katakan, “Ketika kesyirikan adalah perkara yang bertolak-belakang dengan tauhid. Ia juga perkara yang mewajibkan orang untuk masuk neraka dan kekal di dalamnya. Ia juga perkara yang mencegah orang untuk masuk surga, jika syiriknya adalah syirik akbar. Dan kebahagiaan tidak akan pernah didapat kecuali dengan membebaskan diri dari syirik. Maka, sudah semestinya seorang hamba takut kepada kesyirikan setakut-takutnya. Dan berusaha untuk lari dari kesyirikan sejauh-jauhnya serta meninggalkan semua sarana dan sebab kesyirikan. Dan hendaknya meminta kepada Allah berupa keselamatan dari kesyirikan, sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 27) Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar dapat mentauhidkan-Nya dengan benar dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan. Wallahul muwaffiq. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir, Doa Tahnik Bayi, Allah Itu Ada Dimana, Mewarnai Rambut Dalam Islam, Download Ebook Islami Terbaru, Dzikir Dan Doa Setelah Sholat Tahajud Visited 205 times, 1 visit(s) today Post Views: 461 QRIS donasi Yufid
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala, hendaknya kita mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan semua bentuk ibadah kepada selain Allah. Karena tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini adalah agar kita mentauhidkan-Nya. Allah ta’ala berfirman, :وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat: 56-58) Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ayat ini: “Maknanya: Dan Aku tidak menciptakan ahlus sa’adah (makhluk yang mendapatkan kebahagiaan) dari kalangan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mentauhidkan Aku.” (Tafsir al-Qurthubi, 17/55) Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga menjelaskan ayat di atas: “Anda telah memahami bahwa Allah ta’ala tidak menciptakan Anda dengan sia-sia. Dan Allah tidak menciptakan Anda agar Anda bisa makan dan minum saja. Atau agar Anda bisa bersenang-senang dan berleha-leha di dunia. Bukan, bukan itu tujuan Allah menciptakan Anda. Allah ta’ala menciptakan Anda untuk beribadah kepada-Nya semata. Dan Allah ciptakan benda-benda di alam semesta ini (makanan, minuman, udara, dll.) dalam rangka untuk membantu Anda agar bisa beribadah kepada Allah. Karena Anda tidak akan mampu hidup di dunia tanpa adanya benda-benda tersebut. Dan Anda tidak akan bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan adanya benda-benda tersebut. Allah ciptakan mereka untuk Anda, agar Anda beribadah kepada Allah semata. Bukan agar Anda bisa bersenang-senang, berleha-leha, berbuat maksiat, berbuat dosa, makan, minum sesuai keinginan Anda. Yang demikian ini keadaannya binatang! Adapun manusia, Allah ciptakan mereka untuk suatu tujuan yang agung dan hikmah yang agung, yaitu agar Anda beribadah kepada Allah semata.” (Silsilah Syarhil Rasail, hal 335) Kita diperintahkan untuk menyembah Allah semata Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menyerahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah semata, dan Allah ta’ala melarang kita mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kamu untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata.” (QS. al-Isra: 23) Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ “Dan tidaklah kita diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah semata dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.” (QS. al-Bayyinah: 5) Mentauhidkan Allah juga adalah hak Allah yang wajib kita tunaikan. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا “Wahai Mu’adz! Tahukah Engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba? Dan apa hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah? Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah mereka beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun”. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasûlullah! Apakah kabar gembira ini sebaiknya aku sampaikan kepada orang-orang?” Nabi menjawab, “Jangan sampaikan! Aku khawatir mereka akan mengandalkan hal ini saja (sehingga tidak beramal).” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30) Para pembaca yang budiman, renungkanlah! Karena Allah ta’ala lah yang menciptakan kita, maka sungguh aneh dan durhaka jika kita menyembah selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian semata. Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian. Agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21) Oleh karena itu Allah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam untuk menegakkan tauhid dan mendakwahkannya. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’.” (QS. an-Nahl: 36) Dari Nabi dan Rasul yang pertama hingga yang terakhir, inti dakwah mereka adalah mengajak manusia untuk mempersembahkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah meringkaskan dengan indah tentang urgensi tauhid bagi manusia. Beliau mengatakan, “Semua kitab samawi dan semua Rasul, semuanya mendakwahkan tauhid dan melarang dari lawannya yaitu kesyirikan. Terlebih lagi, Rasulullah Muhammad shallallahu’alahi wa sallam. Dan al-Qur’an yang mulia ini, telah memerintahkan kita untuk bertauhid, mewajibkannya, menegaskan dengan sangat tegas, serta menjelaskannya dengan sangat jelas. Al-Qur’an juga telah mengabarkan bahwa tidak ada keselamatan, tidak ada kesuksesan, dan tidak ada kebahagiaan kecuali dengan tauhid. Semua jenis dalil, baik dalil logika, dalil naqli, dalil ufuqi wan nafsi, semua merupakan bukti nyata yang memerintahkan dan mewajibkan kita untuk bertauhid. Dan tauhid adalah hak Allah yang harus ditunaikan para hamba. Tauhid adalah perkara yang paling agung dalam agama. Tauhid adalah landasan yang paling mendasar dalam agama, serta pokok dari semua amalan.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 14) Larangan berbuat syirik Ketika kita diperintahkan untuk mempersembahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, maka kita juga dilarang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Perbuatan mempersembahkan ibadah kepada selain Allah disebut dengan kesyirikan, pelakunya disebut musyrik.  Larangan berbuat syirik banyak sekali dalam al-Qur’an dan hadits. Di antaranya, Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah semata dan janganlah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisa: 36) Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS. al-Hajj: 26) Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun (di dalamnya) di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin: 18) Dan Allah ta’ala tidak pernah ridha dengan kesyirikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: قال الله تعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku tidak butuh terhadap orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka lakukan. Barang siapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain, akan Ku tinggalkan ia bersama kesyirikannya‘.” (HR. Muslim no.2985) Ketahuilah wahai para pembaca rahimakumullah, bahwa perbuatan syirik adalah dosa yang paling besar. Allah ta’ala berfirman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Luqman: 13) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ قالوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، وَما هُنَّ؟ قالَ: الشِّرْكُ باللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلَاتِ “Jauhilah 7 dosa yang membinasakan! Para sahabat bertanya: Apa saja wahai Rasulullah? Nabi menjawab: perbuatan syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur dari perang, dan menuduh wanita baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari no. 6857, Muslim no. 89) Orang yang melakukan kesyirikan tidak akan diampuni oleh Allah jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa: 48) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di menjelaskan surat an-Nisa ayat 48 di atas: “Ayat yang mulia ini bicara tentang orang yang belum bertaubat. Adapun orang yang sudah bertaubat dari kesyirikan, maka Allah ampuni dosa syiriknya dan dosa lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya): Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53), yaitu bagi orang yang bertaubat dan berinabah.” (Taisir Karimirrahman) Orang yang melakukan kesyirikan juga akan hangus semua pahala amalannya. Allah ta’ala berfirman: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65) Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan: “Maksudnya, jika engkau berbuat syirik terhadap Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah.” (Tafsir ath-Thabari, 21/322) Ayat ini menarik karena yang diajak bicara oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah menjelaskan: “Ini merupakan bentuk pengasumsian dan perumpamaan. Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam itu telah dijamin maksum oleh Allah. Tidak mungkin beliau berbuat kesyirikan terhadap Allah. Dan ayat ini juga datang untuk menegakkan penguatan iman dan tauhid. Abu Mas’ud berkata: ‘Ayat ini dipaparkan dalam gaya bahasa asumsi untuk mengancam dan membuat takut para Rasul terhadap perbuatan kekufuran. Serta membawa pembaca untuk menyadari betapa fatalnya dan buruknya kesyirikan itu’.” (Shafwatut Tafasir, 3/80) Jika Rasulullah dan para Nabi saja diancam dari perbuatan syirik, maka kita lebih lagi terancam dan hendaknya lebih takut darinya. Jika amalan Rasulullah dan para Nabi terdahulu yang tidak terbayangkan besarnya, dalam mendakwahkan Islam, dalam bersabar menghadapi perlawanan dari orang-orang musyrik, dalam menghadapi cobaan-cobaan dari Allah, tetap akan terhapus semua amalan itu jika mereka berbuat syirik. Apalagi kita? Yang sedikit amalannya, bahkan banyak berbuat dosa!?! Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di meringkaskan bahaya syirik dengan penjelasan yang bagus. Beliau katakan, “Ketika kesyirikan adalah perkara yang bertolak-belakang dengan tauhid. Ia juga perkara yang mewajibkan orang untuk masuk neraka dan kekal di dalamnya. Ia juga perkara yang mencegah orang untuk masuk surga, jika syiriknya adalah syirik akbar. Dan kebahagiaan tidak akan pernah didapat kecuali dengan membebaskan diri dari syirik. Maka, sudah semestinya seorang hamba takut kepada kesyirikan setakut-takutnya. Dan berusaha untuk lari dari kesyirikan sejauh-jauhnya serta meninggalkan semua sarana dan sebab kesyirikan. Dan hendaknya meminta kepada Allah berupa keselamatan dari kesyirikan, sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 27) Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar dapat mentauhidkan-Nya dengan benar dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan. Wallahul muwaffiq. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir, Doa Tahnik Bayi, Allah Itu Ada Dimana, Mewarnai Rambut Dalam Islam, Download Ebook Islami Terbaru, Dzikir Dan Doa Setelah Sholat Tahajud Visited 205 times, 1 visit(s) today Post Views: 461 QRIS donasi Yufid


Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala, hendaknya kita mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan semua bentuk ibadah kepada selain Allah. Karena tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini adalah agar kita mentauhidkan-Nya. Allah ta’ala berfirman, :وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat: 56-58) Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna ayat ini: “Maknanya: Dan Aku tidak menciptakan ahlus sa’adah (makhluk yang mendapatkan kebahagiaan) dari kalangan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mentauhidkan Aku.” (Tafsir al-Qurthubi, 17/55) Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga menjelaskan ayat di atas: “Anda telah memahami bahwa Allah ta’ala tidak menciptakan Anda dengan sia-sia. Dan Allah tidak menciptakan Anda agar Anda bisa makan dan minum saja. Atau agar Anda bisa bersenang-senang dan berleha-leha di dunia. Bukan, bukan itu tujuan Allah menciptakan Anda. Allah ta’ala menciptakan Anda untuk beribadah kepada-Nya semata. Dan Allah ciptakan benda-benda di alam semesta ini (makanan, minuman, udara, dll.) dalam rangka untuk membantu Anda agar bisa beribadah kepada Allah. Karena Anda tidak akan mampu hidup di dunia tanpa adanya benda-benda tersebut. Dan Anda tidak akan bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan adanya benda-benda tersebut. Allah ciptakan mereka untuk Anda, agar Anda beribadah kepada Allah semata. Bukan agar Anda bisa bersenang-senang, berleha-leha, berbuat maksiat, berbuat dosa, makan, minum sesuai keinginan Anda. Yang demikian ini keadaannya binatang! Adapun manusia, Allah ciptakan mereka untuk suatu tujuan yang agung dan hikmah yang agung, yaitu agar Anda beribadah kepada Allah semata.” (Silsilah Syarhil Rasail, hal 335) Kita diperintahkan untuk menyembah Allah semata Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menyerahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah semata, dan Allah ta’ala melarang kita mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kamu untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata.” (QS. al-Isra: 23) Allah ta’ala juga berfirman: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ “Dan tidaklah kita diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah semata dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.” (QS. al-Bayyinah: 5) Mentauhidkan Allah juga adalah hak Allah yang wajib kita tunaikan. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ؛ قَالَ : حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا “Wahai Mu’adz! Tahukah Engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba? Dan apa hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah? Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah mereka beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang akan ditunaikan oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun”. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasûlullah! Apakah kabar gembira ini sebaiknya aku sampaikan kepada orang-orang?” Nabi menjawab, “Jangan sampaikan! Aku khawatir mereka akan mengandalkan hal ini saja (sehingga tidak beramal).” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30) Para pembaca yang budiman, renungkanlah! Karena Allah ta’ala lah yang menciptakan kita, maka sungguh aneh dan durhaka jika kita menyembah selain-Nya. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian semata. Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian. Agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21) Oleh karena itu Allah mengutus para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam untuk menegakkan tauhid dan mendakwahkannya. Allah ta’ala berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. al-Anbiya: 25) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’.” (QS. an-Nahl: 36) Dari Nabi dan Rasul yang pertama hingga yang terakhir, inti dakwah mereka adalah mengajak manusia untuk mempersembahkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah meringkaskan dengan indah tentang urgensi tauhid bagi manusia. Beliau mengatakan, “Semua kitab samawi dan semua Rasul, semuanya mendakwahkan tauhid dan melarang dari lawannya yaitu kesyirikan. Terlebih lagi, Rasulullah Muhammad shallallahu’alahi wa sallam. Dan al-Qur’an yang mulia ini, telah memerintahkan kita untuk bertauhid, mewajibkannya, menegaskan dengan sangat tegas, serta menjelaskannya dengan sangat jelas. Al-Qur’an juga telah mengabarkan bahwa tidak ada keselamatan, tidak ada kesuksesan, dan tidak ada kebahagiaan kecuali dengan tauhid. Semua jenis dalil, baik dalil logika, dalil naqli, dalil ufuqi wan nafsi, semua merupakan bukti nyata yang memerintahkan dan mewajibkan kita untuk bertauhid. Dan tauhid adalah hak Allah yang harus ditunaikan para hamba. Tauhid adalah perkara yang paling agung dalam agama. Tauhid adalah landasan yang paling mendasar dalam agama, serta pokok dari semua amalan.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 14) Larangan berbuat syirik Ketika kita diperintahkan untuk mempersembahkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, maka kita juga dilarang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Perbuatan mempersembahkan ibadah kepada selain Allah disebut dengan kesyirikan, pelakunya disebut musyrik.  Larangan berbuat syirik banyak sekali dalam al-Qur’an dan hadits. Di antaranya, Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah semata dan janganlah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisa: 36) Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS. al-Hajj: 26) Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun (di dalamnya) di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin: 18) Dan Allah ta’ala tidak pernah ridha dengan kesyirikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: قال الله تعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku tidak butuh terhadap orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka lakukan. Barang siapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain, akan Ku tinggalkan ia bersama kesyirikannya‘.” (HR. Muslim no.2985) Ketahuilah wahai para pembaca rahimakumullah, bahwa perbuatan syirik adalah dosa yang paling besar. Allah ta’ala berfirman: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Luqman: 13) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ قالوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، وَما هُنَّ؟ قالَ: الشِّرْكُ باللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَومَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلَاتِ “Jauhilah 7 dosa yang membinasakan! Para sahabat bertanya: Apa saja wahai Rasulullah? Nabi menjawab: perbuatan syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur dari perang, dan menuduh wanita baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari no. 6857, Muslim no. 89) Orang yang melakukan kesyirikan tidak akan diampuni oleh Allah jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa: 48) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di menjelaskan surat an-Nisa ayat 48 di atas: “Ayat yang mulia ini bicara tentang orang yang belum bertaubat. Adapun orang yang sudah bertaubat dari kesyirikan, maka Allah ampuni dosa syiriknya dan dosa lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya): Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53), yaitu bagi orang yang bertaubat dan berinabah.” (Taisir Karimirrahman) Orang yang melakukan kesyirikan juga akan hangus semua pahala amalannya. Allah ta’ala berfirman: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88) Allah ta’ala juga berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65) Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan: “Maksudnya, jika engkau berbuat syirik terhadap Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah.” (Tafsir ath-Thabari, 21/322) Ayat ini menarik karena yang diajak bicara oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah menjelaskan: “Ini merupakan bentuk pengasumsian dan perumpamaan. Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam itu telah dijamin maksum oleh Allah. Tidak mungkin beliau berbuat kesyirikan terhadap Allah. Dan ayat ini juga datang untuk menegakkan penguatan iman dan tauhid. Abu Mas’ud berkata: ‘Ayat ini dipaparkan dalam gaya bahasa asumsi untuk mengancam dan membuat takut para Rasul terhadap perbuatan kekufuran. Serta membawa pembaca untuk menyadari betapa fatalnya dan buruknya kesyirikan itu’.” (Shafwatut Tafasir, 3/80) Jika Rasulullah dan para Nabi saja diancam dari perbuatan syirik, maka kita lebih lagi terancam dan hendaknya lebih takut darinya. Jika amalan Rasulullah dan para Nabi terdahulu yang tidak terbayangkan besarnya, dalam mendakwahkan Islam, dalam bersabar menghadapi perlawanan dari orang-orang musyrik, dalam menghadapi cobaan-cobaan dari Allah, tetap akan terhapus semua amalan itu jika mereka berbuat syirik. Apalagi kita? Yang sedikit amalannya, bahkan banyak berbuat dosa!?! Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di meringkaskan bahaya syirik dengan penjelasan yang bagus. Beliau katakan, “Ketika kesyirikan adalah perkara yang bertolak-belakang dengan tauhid. Ia juga perkara yang mewajibkan orang untuk masuk neraka dan kekal di dalamnya. Ia juga perkara yang mencegah orang untuk masuk surga, jika syiriknya adalah syirik akbar. Dan kebahagiaan tidak akan pernah didapat kecuali dengan membebaskan diri dari syirik. Maka, sudah semestinya seorang hamba takut kepada kesyirikan setakut-takutnya. Dan berusaha untuk lari dari kesyirikan sejauh-jauhnya serta meninggalkan semua sarana dan sebab kesyirikan. Dan hendaknya meminta kepada Allah berupa keselamatan dari kesyirikan, sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang shalih.” (Al-Qaulus Sadid fi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 27) Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar dapat mentauhidkan-Nya dengan benar dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan. Wallahul muwaffiq. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Imam Mahdi Sudah Lahir, Doa Tahnik Bayi, Allah Itu Ada Dimana, Mewarnai Rambut Dalam Islam, Download Ebook Islami Terbaru, Dzikir Dan Doa Setelah Sholat Tahajud Visited 205 times, 1 visit(s) today Post Views: 461 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kesalahan dalam Bersalawat kepada Nabi – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.Ya Allah, limpahkan selawat, salam, dan keberkahan untuk penghulu kami,Nabi kami, dan imam kami, Muhammad,beserta keluarga dan sahabat beliau seluruhnya. Adapun berikutnya, ada catatan pentingterkait tata cara berselawat untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Catatannya adalah ketika disebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamketika membaca hadis, dalam kalimat pada kesempatan tertentu,atau saat menyampaikan suatu dalil,hendaknya menyebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu berselawat untuknya dengan jelas dan gamblangtanpa melewatkan atau menabrakkansebagian kata-kata saat kita mengucapkan:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.” Jadi, kita ucapkan dengan jelas, gamblang, dan nyata:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.”Bukan dengan cara yang hampir tidak bisa dibedakan kata demi katanyaatau tidak sesuai dengan tuntunan,atau tidak layak dengan kedudukan Nabi kitaṢallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Aku memohon kepada Allah ʿAzza wa Jallaagar memberi aku dan kalian taufikkepada setiap hidayah dan kesalehan,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَإِمَامِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَتَنْبِيهٌ مُهِمٌّ بِشَأْنِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّنْبِيهُ وَهُوَ أَنَّهُ إِذَا ذُكِرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قِرَاءَةِ حَدِيثٍ أَوْ فِي سِيَاقِ مُنَاسَبَةٍ أَوْ عِنْدَ الْاِسْتِشْهَادِ بِدَليلٍ أَنْ يُذْكَرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ بِوُضُوحٍ وَجَلَاءٍ دُونَ حَذْفٍ وَدَمْجٍ لِبَعْضِ الْكَلِمَاتِ فِي قَوْلِنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَنْطِقُهَا وَاضِحَةً جَلِيَّةً بَيِّنَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَكُونُ بِطَرِيقَةٍ لَا تَكَادُ تُمَيَّزُ أَوْ لَا تَلِيقُ بِهَدْيٍ لَا تَلِيقُ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنِي وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ هُدًى وَصَلَاحٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ dan semoga Allah limpahkan selawat, salam, dan keberkahanuntuk penghulu para Nabi dan Rasul. ==== KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kesalahan dalam Bersalawat kepada Nabi – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.Ya Allah, limpahkan selawat, salam, dan keberkahan untuk penghulu kami,Nabi kami, dan imam kami, Muhammad,beserta keluarga dan sahabat beliau seluruhnya. Adapun berikutnya, ada catatan pentingterkait tata cara berselawat untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Catatannya adalah ketika disebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamketika membaca hadis, dalam kalimat pada kesempatan tertentu,atau saat menyampaikan suatu dalil,hendaknya menyebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu berselawat untuknya dengan jelas dan gamblangtanpa melewatkan atau menabrakkansebagian kata-kata saat kita mengucapkan:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.” Jadi, kita ucapkan dengan jelas, gamblang, dan nyata:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.”Bukan dengan cara yang hampir tidak bisa dibedakan kata demi katanyaatau tidak sesuai dengan tuntunan,atau tidak layak dengan kedudukan Nabi kitaṢallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Aku memohon kepada Allah ʿAzza wa Jallaagar memberi aku dan kalian taufikkepada setiap hidayah dan kesalehan,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَإِمَامِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَتَنْبِيهٌ مُهِمٌّ بِشَأْنِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّنْبِيهُ وَهُوَ أَنَّهُ إِذَا ذُكِرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قِرَاءَةِ حَدِيثٍ أَوْ فِي سِيَاقِ مُنَاسَبَةٍ أَوْ عِنْدَ الْاِسْتِشْهَادِ بِدَليلٍ أَنْ يُذْكَرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ بِوُضُوحٍ وَجَلَاءٍ دُونَ حَذْفٍ وَدَمْجٍ لِبَعْضِ الْكَلِمَاتِ فِي قَوْلِنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَنْطِقُهَا وَاضِحَةً جَلِيَّةً بَيِّنَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَكُونُ بِطَرِيقَةٍ لَا تَكَادُ تُمَيَّزُ أَوْ لَا تَلِيقُ بِهَدْيٍ لَا تَلِيقُ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنِي وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ هُدًى وَصَلَاحٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ dan semoga Allah limpahkan selawat, salam, dan keberkahanuntuk penghulu para Nabi dan Rasul. ==== KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.Ya Allah, limpahkan selawat, salam, dan keberkahan untuk penghulu kami,Nabi kami, dan imam kami, Muhammad,beserta keluarga dan sahabat beliau seluruhnya. Adapun berikutnya, ada catatan pentingterkait tata cara berselawat untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Catatannya adalah ketika disebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamketika membaca hadis, dalam kalimat pada kesempatan tertentu,atau saat menyampaikan suatu dalil,hendaknya menyebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu berselawat untuknya dengan jelas dan gamblangtanpa melewatkan atau menabrakkansebagian kata-kata saat kita mengucapkan:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.” Jadi, kita ucapkan dengan jelas, gamblang, dan nyata:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.”Bukan dengan cara yang hampir tidak bisa dibedakan kata demi katanyaatau tidak sesuai dengan tuntunan,atau tidak layak dengan kedudukan Nabi kitaṢallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Aku memohon kepada Allah ʿAzza wa Jallaagar memberi aku dan kalian taufikkepada setiap hidayah dan kesalehan,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَإِمَامِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَتَنْبِيهٌ مُهِمٌّ بِشَأْنِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّنْبِيهُ وَهُوَ أَنَّهُ إِذَا ذُكِرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قِرَاءَةِ حَدِيثٍ أَوْ فِي سِيَاقِ مُنَاسَبَةٍ أَوْ عِنْدَ الْاِسْتِشْهَادِ بِدَليلٍ أَنْ يُذْكَرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ بِوُضُوحٍ وَجَلَاءٍ دُونَ حَذْفٍ وَدَمْجٍ لِبَعْضِ الْكَلِمَاتِ فِي قَوْلِنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَنْطِقُهَا وَاضِحَةً جَلِيَّةً بَيِّنَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَكُونُ بِطَرِيقَةٍ لَا تَكَادُ تُمَيَّزُ أَوْ لَا تَلِيقُ بِهَدْيٍ لَا تَلِيقُ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنِي وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ هُدًى وَصَلَاحٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ dan semoga Allah limpahkan selawat, salam, dan keberkahanuntuk penghulu para Nabi dan Rasul. ==== KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.Ya Allah, limpahkan selawat, salam, dan keberkahan untuk penghulu kami,Nabi kami, dan imam kami, Muhammad,beserta keluarga dan sahabat beliau seluruhnya. Adapun berikutnya, ada catatan pentingterkait tata cara berselawat untuk Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Catatannya adalah ketika disebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamketika membaca hadis, dalam kalimat pada kesempatan tertentu,atau saat menyampaikan suatu dalil,hendaknya menyebut nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, lalu berselawat untuknya dengan jelas dan gamblangtanpa melewatkan atau menabrakkansebagian kata-kata saat kita mengucapkan:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.” Jadi, kita ucapkan dengan jelas, gamblang, dan nyata:“Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.”Bukan dengan cara yang hampir tidak bisa dibedakan kata demi katanyaatau tidak sesuai dengan tuntunan,atau tidak layak dengan kedudukan Nabi kitaṢallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Aku memohon kepada Allah ʿAzza wa Jallaagar memberi aku dan kalian taufikkepada setiap hidayah dan kesalehan,dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَإِمَامِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَتَنْبِيهٌ مُهِمٌّ بِشَأْنِ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّنْبِيهُ وَهُوَ أَنَّهُ إِذَا ذُكِرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قِرَاءَةِ حَدِيثٍ أَوْ فِي سِيَاقِ مُنَاسَبَةٍ أَوْ عِنْدَ الْاِسْتِشْهَادِ بِدَليلٍ أَنْ يُذْكَرَ اسْمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ بِوُضُوحٍ وَجَلَاءٍ دُونَ حَذْفٍ وَدَمْجٍ لِبَعْضِ الْكَلِمَاتِ فِي قَوْلِنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَنْطِقُهَا وَاضِحَةً جَلِيَّةً بَيِّنَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَكُونُ بِطَرِيقَةٍ لَا تَكَادُ تُمَيَّزُ أَوْ لَا تَلِيقُ بِهَدْيٍ لَا تَلِيقُ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنِي وَإِيَّاكُمْ لِكُلِّ هُدًى وَصَلَاحٍ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ dan semoga Allah limpahkan selawat, salam, dan keberkahanuntuk penghulu para Nabi dan Rasul. ==== KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Meraih Keutamaan Saf Pertama

Saudaraku, apakah yang menyebabkanmu lalai dari mendapatkan saf pertama dalam salat berjemaah?Kita mungkin sudah mendengar banyak hal terkait dengan keutamaan salat berjemaah. Kita pun insya Allah terus berupaya untuk melaksanakan salat wajib kita secara berjemaah di masjid dengan semampu kita. Akan tetapi, apakah kita pernah mendengar betapa keutamaan saf pertama itu sangatlah besar?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ يعْلمُ النَّاسُ مَا في النِّداءِ والصَّفِّ الأَولِ. ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يسْتَهِموا علَيهِ لاسْتهموا علَيْهِ، ولوْ يعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِير لاسْتبَقوا إَليْهِ، ولَوْ يعْلَمُون مَا فِي العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأتوهمُا ولَوْ حبوًا متفقٌ عليه“Jikalau manusia mengetahui apa yang ada di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan hal itu kecuali dengan berundi atasnya, maka niscaya mereka akan berundi. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid, maka niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Isya dan salat Subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dalam keadaan merangkak.” [1]Syekh Abdurrahman bin Fahd Al-Wad’an Ad-Dusiriy menjelaskan 3 (tiga) faedah utama dari hadis ini, antara lain:Baca Juga: Hukum Shaf Shalat Pria yang Sejajar dengan Shaf Wanita Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdal 2. Kedua: Menyegerakan diri menuju masjid 3. Ketiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan Subuh Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdalDianjurkan bagi seorang muslim untuk berupaya agar senantiasa mendapatkan saf pertama di setiap salat berjemaah. Dan tidak dianjurkan bagi orang yang datang di awal waktu ke masjid, namun dengan sengaja terlambat untuk mengejar saf pertama kecuali dengan uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تقدموا فأتموا بي، وليأتم بكم من بعدكم، ولا يزال قومٌ يتأخرون حتى يؤخرهم الله“Kalian majulah, dan berimamlah denganku, dan hendaklah orang sesudah kalian berimam kepada kalian. Jika suatu kaum membiasakan diri melambat-lambatkan salatnya, maka Allah juga melambatkan (dalam memasukkannya ke surga, atau melambatkan diri untuk mengentaskannya dari neraka).” (HR. Muslim) [2]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,من جاء أول الناس وصف في غير الأول، فقد خالف الشريعة“Barangsiapa yang lebih dahulu datang dari orang lain (dalam rangka salat berjemaah di masjid -pen.) kemudian berdiri bukan di saf pertama, maka ia telah menyelisihi syariat.” [3]Orang yang meninggalkan saf pertama telah mengharamkan dirinya dari kebaikan yang melimpah.Al-Mutanabbi berkata,ولم أرَ في عيوبِ الناسِ شيئًا ♦♦♦ كنقص القادرين على التمامِ“Aku tidak pernah melihat kekurangan atau aib pada manusia,  kecuali orang  yang mampu untuk berbuat lebih besar, namun dia tidak melakukannya dan menyerah pada keadaan.”[4]Kedua: Menyegerakan diri menuju masjidMaksud dari “التَّهْجِير”, yaitu menyegerakan diri untuk berangkat menuju masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk bersegera menuju masjid karena terdapat keutamaan agung yang terkandung di dalamnya, seperti: mendapatkan saf pertama, melaksanakan salat di awal waktu, mengerjakan salat-salat sunah, membaca Al-Qur’an, memperoleh istigfar malaikat, serta melaksanakan salat (sunah) sembari menunggu waktu salat (wajib), dan sebagainya.Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan di sekitarnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, serta memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman seraya berkata, ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu. Ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah mereka dari azab neraka”. (QS. Ghafir: 7)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ أحدَكم إذا دخلَ المسجدَ كانَ في صلاةٍ ما كانتِ الصَّلاةُ تحبِسُهُ والملائِكةُ يصلُّونَ على أحدِكُم ما دامَ في مجلسِهِ الَّذي صلَّى فيهِ يقولونَ اللَّهُمَّ اغفِر لَهُ اللَّهُمَّ ارحَمهُ اللَّهُمَّ تب عليهِ ما لم يُحدِثْ فيهِ ما لم يؤذِ فيهِ“Sungguh, jika salah seorang dari kalian masuk masjid, ia akan tetap dalam hitungan salat selama salatlah yang menahannya. Dan para malaikat tetap mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia berada di dalam majelisnya (tempat ia salat). Mereka berdoa, ‘Ya Allah ampunilah ia, ya Allah rahmatilah ia, ya Allah terimalah tobatnya.’ Hal ini akan tetap berlangsung selama ia belum berhadats dan tidak menyakiti.” [5]Baca Juga: Hukum Menyentuh Mushaf Tanpa BerwudhuKetiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan SubuhPerhatian terhadap dua waktu salat tersebut merupakan tanda keimanan yang hakiki dan terhindar dari sifat munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا“Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [6]Allah Ta’ala telah menyiapkan bagi hamba-Nya yang menjaganya (keistiqomahan salat berjemaah Isya dan Subuh-pen.) keutamaan yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kalimat “ولو يعلمون ما فيهما” (Andai mereka (umatku) mengetahui apa yang ada pada keduanya (salat Isya dan Subuh)), yaitu: pahala. Sedangkan kalimat لأتوهما ولو حبوًا (niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak) merupakan dalil atas keutamaan agung yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang senantiasa menjaga dua waktu salat tersebut secara berjemaah.Dengan kata lain, kalimat tersebut juga mengandung makna: Laksanakan dua salat ini secara berjemaah di masjid, meskipun dengan keadaan sakit lumpuh tidak dapat berjalan. Hal ini tidak lain adalah sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan dua salat tersebut di hadapan Allah Ta’ala. Namun demikian, masih saja banyak manusia yang enggan melaksanakan salat Subuh secara berjemaah padahal keutamaannya sangat besar. Pastikan dirimu bukan bagian dari mereka.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menjaga keistikamahan dalam memperoleh saf pertama dalam setiap salat berjemaah di masjid, serta memperoleh keutamaan dan keagungannya. Allahumma aamiinWallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Mari Berlomba Meraih Shaf PertamaFatwa Terbaru Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad Tentang Shalat Shaf Renggang***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari artikel di tautan ini. Catatan kaki:[1] (HR. Bukhari dalam “Adzan” bab “Al-Istihmam fil Adzaan” 1/222 (590), Muslim dalam kitab “As-Shalah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf wa Iqamatuha wa Fadhlul Al-Awwalu minha 1/325 (437)[2] (HR. Muslim dalam Kitab “Ash-Salah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf 1/325 (438)[3] Majmu Fatawa, Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah[4] ‘An Faidhi Al-Qadhir 3/488. Marqaatu Al-Mafaatih 9/287[5] (HR. Ibnu Majah No 658) disahihkan oleh Al-Albani)[6] (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Jamaah wa Al-Imamah bab Fadhlu Al-‘Isya fi Al-Jamaah 1/234 (626), dan Muslim dalam “Kitabu Al-Masjid” Bab Fadhlu Shalati Al-Jamaah 11/451 (651), dan ini lafadznya (Muslim).🔍 Fiqih Qurban, Shaf Pertama, Hadis Suami Istri, Hukum Shalat Jamaah, Wajjahtu WajhiyaTags: fikhfikih shalatkeutamaan shaf pertamakeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshaf pertamashalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Meraih Keutamaan Saf Pertama

Saudaraku, apakah yang menyebabkanmu lalai dari mendapatkan saf pertama dalam salat berjemaah?Kita mungkin sudah mendengar banyak hal terkait dengan keutamaan salat berjemaah. Kita pun insya Allah terus berupaya untuk melaksanakan salat wajib kita secara berjemaah di masjid dengan semampu kita. Akan tetapi, apakah kita pernah mendengar betapa keutamaan saf pertama itu sangatlah besar?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ يعْلمُ النَّاسُ مَا في النِّداءِ والصَّفِّ الأَولِ. ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يسْتَهِموا علَيهِ لاسْتهموا علَيْهِ، ولوْ يعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِير لاسْتبَقوا إَليْهِ، ولَوْ يعْلَمُون مَا فِي العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأتوهمُا ولَوْ حبوًا متفقٌ عليه“Jikalau manusia mengetahui apa yang ada di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan hal itu kecuali dengan berundi atasnya, maka niscaya mereka akan berundi. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid, maka niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Isya dan salat Subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dalam keadaan merangkak.” [1]Syekh Abdurrahman bin Fahd Al-Wad’an Ad-Dusiriy menjelaskan 3 (tiga) faedah utama dari hadis ini, antara lain:Baca Juga: Hukum Shaf Shalat Pria yang Sejajar dengan Shaf Wanita Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdal 2. Kedua: Menyegerakan diri menuju masjid 3. Ketiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan Subuh Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdalDianjurkan bagi seorang muslim untuk berupaya agar senantiasa mendapatkan saf pertama di setiap salat berjemaah. Dan tidak dianjurkan bagi orang yang datang di awal waktu ke masjid, namun dengan sengaja terlambat untuk mengejar saf pertama kecuali dengan uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تقدموا فأتموا بي، وليأتم بكم من بعدكم، ولا يزال قومٌ يتأخرون حتى يؤخرهم الله“Kalian majulah, dan berimamlah denganku, dan hendaklah orang sesudah kalian berimam kepada kalian. Jika suatu kaum membiasakan diri melambat-lambatkan salatnya, maka Allah juga melambatkan (dalam memasukkannya ke surga, atau melambatkan diri untuk mengentaskannya dari neraka).” (HR. Muslim) [2]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,من جاء أول الناس وصف في غير الأول، فقد خالف الشريعة“Barangsiapa yang lebih dahulu datang dari orang lain (dalam rangka salat berjemaah di masjid -pen.) kemudian berdiri bukan di saf pertama, maka ia telah menyelisihi syariat.” [3]Orang yang meninggalkan saf pertama telah mengharamkan dirinya dari kebaikan yang melimpah.Al-Mutanabbi berkata,ولم أرَ في عيوبِ الناسِ شيئًا ♦♦♦ كنقص القادرين على التمامِ“Aku tidak pernah melihat kekurangan atau aib pada manusia,  kecuali orang  yang mampu untuk berbuat lebih besar, namun dia tidak melakukannya dan menyerah pada keadaan.”[4]Kedua: Menyegerakan diri menuju masjidMaksud dari “التَّهْجِير”, yaitu menyegerakan diri untuk berangkat menuju masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk bersegera menuju masjid karena terdapat keutamaan agung yang terkandung di dalamnya, seperti: mendapatkan saf pertama, melaksanakan salat di awal waktu, mengerjakan salat-salat sunah, membaca Al-Qur’an, memperoleh istigfar malaikat, serta melaksanakan salat (sunah) sembari menunggu waktu salat (wajib), dan sebagainya.Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan di sekitarnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, serta memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman seraya berkata, ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu. Ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah mereka dari azab neraka”. (QS. Ghafir: 7)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ أحدَكم إذا دخلَ المسجدَ كانَ في صلاةٍ ما كانتِ الصَّلاةُ تحبِسُهُ والملائِكةُ يصلُّونَ على أحدِكُم ما دامَ في مجلسِهِ الَّذي صلَّى فيهِ يقولونَ اللَّهُمَّ اغفِر لَهُ اللَّهُمَّ ارحَمهُ اللَّهُمَّ تب عليهِ ما لم يُحدِثْ فيهِ ما لم يؤذِ فيهِ“Sungguh, jika salah seorang dari kalian masuk masjid, ia akan tetap dalam hitungan salat selama salatlah yang menahannya. Dan para malaikat tetap mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia berada di dalam majelisnya (tempat ia salat). Mereka berdoa, ‘Ya Allah ampunilah ia, ya Allah rahmatilah ia, ya Allah terimalah tobatnya.’ Hal ini akan tetap berlangsung selama ia belum berhadats dan tidak menyakiti.” [5]Baca Juga: Hukum Menyentuh Mushaf Tanpa BerwudhuKetiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan SubuhPerhatian terhadap dua waktu salat tersebut merupakan tanda keimanan yang hakiki dan terhindar dari sifat munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا“Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [6]Allah Ta’ala telah menyiapkan bagi hamba-Nya yang menjaganya (keistiqomahan salat berjemaah Isya dan Subuh-pen.) keutamaan yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kalimat “ولو يعلمون ما فيهما” (Andai mereka (umatku) mengetahui apa yang ada pada keduanya (salat Isya dan Subuh)), yaitu: pahala. Sedangkan kalimat لأتوهما ولو حبوًا (niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak) merupakan dalil atas keutamaan agung yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang senantiasa menjaga dua waktu salat tersebut secara berjemaah.Dengan kata lain, kalimat tersebut juga mengandung makna: Laksanakan dua salat ini secara berjemaah di masjid, meskipun dengan keadaan sakit lumpuh tidak dapat berjalan. Hal ini tidak lain adalah sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan dua salat tersebut di hadapan Allah Ta’ala. Namun demikian, masih saja banyak manusia yang enggan melaksanakan salat Subuh secara berjemaah padahal keutamaannya sangat besar. Pastikan dirimu bukan bagian dari mereka.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menjaga keistikamahan dalam memperoleh saf pertama dalam setiap salat berjemaah di masjid, serta memperoleh keutamaan dan keagungannya. Allahumma aamiinWallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Mari Berlomba Meraih Shaf PertamaFatwa Terbaru Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad Tentang Shalat Shaf Renggang***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari artikel di tautan ini. Catatan kaki:[1] (HR. Bukhari dalam “Adzan” bab “Al-Istihmam fil Adzaan” 1/222 (590), Muslim dalam kitab “As-Shalah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf wa Iqamatuha wa Fadhlul Al-Awwalu minha 1/325 (437)[2] (HR. Muslim dalam Kitab “Ash-Salah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf 1/325 (438)[3] Majmu Fatawa, Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah[4] ‘An Faidhi Al-Qadhir 3/488. Marqaatu Al-Mafaatih 9/287[5] (HR. Ibnu Majah No 658) disahihkan oleh Al-Albani)[6] (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Jamaah wa Al-Imamah bab Fadhlu Al-‘Isya fi Al-Jamaah 1/234 (626), dan Muslim dalam “Kitabu Al-Masjid” Bab Fadhlu Shalati Al-Jamaah 11/451 (651), dan ini lafadznya (Muslim).🔍 Fiqih Qurban, Shaf Pertama, Hadis Suami Istri, Hukum Shalat Jamaah, Wajjahtu WajhiyaTags: fikhfikih shalatkeutamaan shaf pertamakeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshaf pertamashalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat
Saudaraku, apakah yang menyebabkanmu lalai dari mendapatkan saf pertama dalam salat berjemaah?Kita mungkin sudah mendengar banyak hal terkait dengan keutamaan salat berjemaah. Kita pun insya Allah terus berupaya untuk melaksanakan salat wajib kita secara berjemaah di masjid dengan semampu kita. Akan tetapi, apakah kita pernah mendengar betapa keutamaan saf pertama itu sangatlah besar?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ يعْلمُ النَّاسُ مَا في النِّداءِ والصَّفِّ الأَولِ. ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يسْتَهِموا علَيهِ لاسْتهموا علَيْهِ، ولوْ يعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِير لاسْتبَقوا إَليْهِ، ولَوْ يعْلَمُون مَا فِي العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأتوهمُا ولَوْ حبوًا متفقٌ عليه“Jikalau manusia mengetahui apa yang ada di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan hal itu kecuali dengan berundi atasnya, maka niscaya mereka akan berundi. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid, maka niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Isya dan salat Subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dalam keadaan merangkak.” [1]Syekh Abdurrahman bin Fahd Al-Wad’an Ad-Dusiriy menjelaskan 3 (tiga) faedah utama dari hadis ini, antara lain:Baca Juga: Hukum Shaf Shalat Pria yang Sejajar dengan Shaf Wanita Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdal 2. Kedua: Menyegerakan diri menuju masjid 3. Ketiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan Subuh Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdalDianjurkan bagi seorang muslim untuk berupaya agar senantiasa mendapatkan saf pertama di setiap salat berjemaah. Dan tidak dianjurkan bagi orang yang datang di awal waktu ke masjid, namun dengan sengaja terlambat untuk mengejar saf pertama kecuali dengan uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تقدموا فأتموا بي، وليأتم بكم من بعدكم، ولا يزال قومٌ يتأخرون حتى يؤخرهم الله“Kalian majulah, dan berimamlah denganku, dan hendaklah orang sesudah kalian berimam kepada kalian. Jika suatu kaum membiasakan diri melambat-lambatkan salatnya, maka Allah juga melambatkan (dalam memasukkannya ke surga, atau melambatkan diri untuk mengentaskannya dari neraka).” (HR. Muslim) [2]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,من جاء أول الناس وصف في غير الأول، فقد خالف الشريعة“Barangsiapa yang lebih dahulu datang dari orang lain (dalam rangka salat berjemaah di masjid -pen.) kemudian berdiri bukan di saf pertama, maka ia telah menyelisihi syariat.” [3]Orang yang meninggalkan saf pertama telah mengharamkan dirinya dari kebaikan yang melimpah.Al-Mutanabbi berkata,ولم أرَ في عيوبِ الناسِ شيئًا ♦♦♦ كنقص القادرين على التمامِ“Aku tidak pernah melihat kekurangan atau aib pada manusia,  kecuali orang  yang mampu untuk berbuat lebih besar, namun dia tidak melakukannya dan menyerah pada keadaan.”[4]Kedua: Menyegerakan diri menuju masjidMaksud dari “التَّهْجِير”, yaitu menyegerakan diri untuk berangkat menuju masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk bersegera menuju masjid karena terdapat keutamaan agung yang terkandung di dalamnya, seperti: mendapatkan saf pertama, melaksanakan salat di awal waktu, mengerjakan salat-salat sunah, membaca Al-Qur’an, memperoleh istigfar malaikat, serta melaksanakan salat (sunah) sembari menunggu waktu salat (wajib), dan sebagainya.Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan di sekitarnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, serta memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman seraya berkata, ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu. Ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah mereka dari azab neraka”. (QS. Ghafir: 7)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ أحدَكم إذا دخلَ المسجدَ كانَ في صلاةٍ ما كانتِ الصَّلاةُ تحبِسُهُ والملائِكةُ يصلُّونَ على أحدِكُم ما دامَ في مجلسِهِ الَّذي صلَّى فيهِ يقولونَ اللَّهُمَّ اغفِر لَهُ اللَّهُمَّ ارحَمهُ اللَّهُمَّ تب عليهِ ما لم يُحدِثْ فيهِ ما لم يؤذِ فيهِ“Sungguh, jika salah seorang dari kalian masuk masjid, ia akan tetap dalam hitungan salat selama salatlah yang menahannya. Dan para malaikat tetap mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia berada di dalam majelisnya (tempat ia salat). Mereka berdoa, ‘Ya Allah ampunilah ia, ya Allah rahmatilah ia, ya Allah terimalah tobatnya.’ Hal ini akan tetap berlangsung selama ia belum berhadats dan tidak menyakiti.” [5]Baca Juga: Hukum Menyentuh Mushaf Tanpa BerwudhuKetiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan SubuhPerhatian terhadap dua waktu salat tersebut merupakan tanda keimanan yang hakiki dan terhindar dari sifat munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا“Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [6]Allah Ta’ala telah menyiapkan bagi hamba-Nya yang menjaganya (keistiqomahan salat berjemaah Isya dan Subuh-pen.) keutamaan yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kalimat “ولو يعلمون ما فيهما” (Andai mereka (umatku) mengetahui apa yang ada pada keduanya (salat Isya dan Subuh)), yaitu: pahala. Sedangkan kalimat لأتوهما ولو حبوًا (niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak) merupakan dalil atas keutamaan agung yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang senantiasa menjaga dua waktu salat tersebut secara berjemaah.Dengan kata lain, kalimat tersebut juga mengandung makna: Laksanakan dua salat ini secara berjemaah di masjid, meskipun dengan keadaan sakit lumpuh tidak dapat berjalan. Hal ini tidak lain adalah sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan dua salat tersebut di hadapan Allah Ta’ala. Namun demikian, masih saja banyak manusia yang enggan melaksanakan salat Subuh secara berjemaah padahal keutamaannya sangat besar. Pastikan dirimu bukan bagian dari mereka.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menjaga keistikamahan dalam memperoleh saf pertama dalam setiap salat berjemaah di masjid, serta memperoleh keutamaan dan keagungannya. Allahumma aamiinWallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Mari Berlomba Meraih Shaf PertamaFatwa Terbaru Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad Tentang Shalat Shaf Renggang***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari artikel di tautan ini. Catatan kaki:[1] (HR. Bukhari dalam “Adzan” bab “Al-Istihmam fil Adzaan” 1/222 (590), Muslim dalam kitab “As-Shalah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf wa Iqamatuha wa Fadhlul Al-Awwalu minha 1/325 (437)[2] (HR. Muslim dalam Kitab “Ash-Salah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf 1/325 (438)[3] Majmu Fatawa, Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah[4] ‘An Faidhi Al-Qadhir 3/488. Marqaatu Al-Mafaatih 9/287[5] (HR. Ibnu Majah No 658) disahihkan oleh Al-Albani)[6] (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Jamaah wa Al-Imamah bab Fadhlu Al-‘Isya fi Al-Jamaah 1/234 (626), dan Muslim dalam “Kitabu Al-Masjid” Bab Fadhlu Shalati Al-Jamaah 11/451 (651), dan ini lafadznya (Muslim).🔍 Fiqih Qurban, Shaf Pertama, Hadis Suami Istri, Hukum Shalat Jamaah, Wajjahtu WajhiyaTags: fikhfikih shalatkeutamaan shaf pertamakeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshaf pertamashalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat


Saudaraku, apakah yang menyebabkanmu lalai dari mendapatkan saf pertama dalam salat berjemaah?Kita mungkin sudah mendengar banyak hal terkait dengan keutamaan salat berjemaah. Kita pun insya Allah terus berupaya untuk melaksanakan salat wajib kita secara berjemaah di masjid dengan semampu kita. Akan tetapi, apakah kita pernah mendengar betapa keutamaan saf pertama itu sangatlah besar?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ يعْلمُ النَّاسُ مَا في النِّداءِ والصَّفِّ الأَولِ. ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يسْتَهِموا علَيهِ لاسْتهموا علَيْهِ، ولوْ يعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِير لاسْتبَقوا إَليْهِ، ولَوْ يعْلَمُون مَا فِي العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأتوهمُا ولَوْ حبوًا متفقٌ عليه“Jikalau manusia mengetahui apa yang ada di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan hal itu kecuali dengan berundi atasnya, maka niscaya mereka akan berundi. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid, maka niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam salat Isya dan salat Subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dalam keadaan merangkak.” [1]Syekh Abdurrahman bin Fahd Al-Wad’an Ad-Dusiriy menjelaskan 3 (tiga) faedah utama dari hadis ini, antara lain:Baca Juga: Hukum Shaf Shalat Pria yang Sejajar dengan Shaf Wanita Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdal 2. Kedua: Menyegerakan diri menuju masjid 3. Ketiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan Subuh Pertama: Saf pertama adalah yang paling afdalDianjurkan bagi seorang muslim untuk berupaya agar senantiasa mendapatkan saf pertama di setiap salat berjemaah. Dan tidak dianjurkan bagi orang yang datang di awal waktu ke masjid, namun dengan sengaja terlambat untuk mengejar saf pertama kecuali dengan uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تقدموا فأتموا بي، وليأتم بكم من بعدكم، ولا يزال قومٌ يتأخرون حتى يؤخرهم الله“Kalian majulah, dan berimamlah denganku, dan hendaklah orang sesudah kalian berimam kepada kalian. Jika suatu kaum membiasakan diri melambat-lambatkan salatnya, maka Allah juga melambatkan (dalam memasukkannya ke surga, atau melambatkan diri untuk mengentaskannya dari neraka).” (HR. Muslim) [2]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,من جاء أول الناس وصف في غير الأول، فقد خالف الشريعة“Barangsiapa yang lebih dahulu datang dari orang lain (dalam rangka salat berjemaah di masjid -pen.) kemudian berdiri bukan di saf pertama, maka ia telah menyelisihi syariat.” [3]Orang yang meninggalkan saf pertama telah mengharamkan dirinya dari kebaikan yang melimpah.Al-Mutanabbi berkata,ولم أرَ في عيوبِ الناسِ شيئًا ♦♦♦ كنقص القادرين على التمامِ“Aku tidak pernah melihat kekurangan atau aib pada manusia,  kecuali orang  yang mampu untuk berbuat lebih besar, namun dia tidak melakukannya dan menyerah pada keadaan.”[4]Kedua: Menyegerakan diri menuju masjidMaksud dari “التَّهْجِير”, yaitu menyegerakan diri untuk berangkat menuju masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk bersegera menuju masjid karena terdapat keutamaan agung yang terkandung di dalamnya, seperti: mendapatkan saf pertama, melaksanakan salat di awal waktu, mengerjakan salat-salat sunah, membaca Al-Qur’an, memperoleh istigfar malaikat, serta melaksanakan salat (sunah) sembari menunggu waktu salat (wajib), dan sebagainya.Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan di sekitarnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, serta memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman seraya berkata, ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu. Ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah mereka dari azab neraka”. (QS. Ghafir: 7)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ أحدَكم إذا دخلَ المسجدَ كانَ في صلاةٍ ما كانتِ الصَّلاةُ تحبِسُهُ والملائِكةُ يصلُّونَ على أحدِكُم ما دامَ في مجلسِهِ الَّذي صلَّى فيهِ يقولونَ اللَّهُمَّ اغفِر لَهُ اللَّهُمَّ ارحَمهُ اللَّهُمَّ تب عليهِ ما لم يُحدِثْ فيهِ ما لم يؤذِ فيهِ“Sungguh, jika salah seorang dari kalian masuk masjid, ia akan tetap dalam hitungan salat selama salatlah yang menahannya. Dan para malaikat tetap mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia berada di dalam majelisnya (tempat ia salat). Mereka berdoa, ‘Ya Allah ampunilah ia, ya Allah rahmatilah ia, ya Allah terimalah tobatnya.’ Hal ini akan tetap berlangsung selama ia belum berhadats dan tidak menyakiti.” [5]Baca Juga: Hukum Menyentuh Mushaf Tanpa BerwudhuKetiga: Kewajiban untuk melaksanakan salat-salat (lima waktu) secara berjemaah, khususnya salat Isya dan SubuhPerhatian terhadap dua waktu salat tersebut merupakan tanda keimanan yang hakiki dan terhindar dari sifat munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا“Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” [6]Allah Ta’ala telah menyiapkan bagi hamba-Nya yang menjaganya (keistiqomahan salat berjemaah Isya dan Subuh-pen.) keutamaan yang besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kalimat “ولو يعلمون ما فيهما” (Andai mereka (umatku) mengetahui apa yang ada pada keduanya (salat Isya dan Subuh)), yaitu: pahala. Sedangkan kalimat لأتوهما ولو حبوًا (niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak) merupakan dalil atas keutamaan agung yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang senantiasa menjaga dua waktu salat tersebut secara berjemaah.Dengan kata lain, kalimat tersebut juga mengandung makna: Laksanakan dua salat ini secara berjemaah di masjid, meskipun dengan keadaan sakit lumpuh tidak dapat berjalan. Hal ini tidak lain adalah sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan dua salat tersebut di hadapan Allah Ta’ala. Namun demikian, masih saja banyak manusia yang enggan melaksanakan salat Subuh secara berjemaah padahal keutamaannya sangat besar. Pastikan dirimu bukan bagian dari mereka.Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa menjaga keistikamahan dalam memperoleh saf pertama dalam setiap salat berjemaah di masjid, serta memperoleh keutamaan dan keagungannya. Allahumma aamiinWallahu a’lam bishshawabBaca Juga:Mari Berlomba Meraih Shaf PertamaFatwa Terbaru Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad Tentang Shalat Shaf Renggang***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari artikel di tautan ini. Catatan kaki:[1] (HR. Bukhari dalam “Adzan” bab “Al-Istihmam fil Adzaan” 1/222 (590), Muslim dalam kitab “As-Shalah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf wa Iqamatuha wa Fadhlul Al-Awwalu minha 1/325 (437)[2] (HR. Muslim dalam Kitab “Ash-Salah”, Bab Taswiyatu Ash-Shufuf 1/325 (438)[3] Majmu Fatawa, Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah[4] ‘An Faidhi Al-Qadhir 3/488. Marqaatu Al-Mafaatih 9/287[5] (HR. Ibnu Majah No 658) disahihkan oleh Al-Albani)[6] (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Jamaah wa Al-Imamah bab Fadhlu Al-‘Isya fi Al-Jamaah 1/234 (626), dan Muslim dalam “Kitabu Al-Masjid” Bab Fadhlu Shalati Al-Jamaah 11/451 (651), dan ini lafadznya (Muslim).🔍 Fiqih Qurban, Shaf Pertama, Hadis Suami Istri, Hukum Shalat Jamaah, Wajjahtu WajhiyaTags: fikhfikih shalatkeutamaan shaf pertamakeutamaan shalatnasihatnasihat islampanduan shalatshaf pertamashalat berjamaahshalat sunnahshalat wajibtata cara shalattuntunan shalat

Kisah Unik tentang Kesucian Air Mani – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ada seorang lelaki yang berjalan melewati dua ulama yang memperdebatkan kesucian air mani.Ulama yang satu berpandangan air mani suci, sedangkan ulama yang lain berpandangan mani itu najis. Lelaki itu kemudian bertanya, “Apa yang Anda sekalian lakukan?”Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci,akan tetapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.”Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Aqil dan lainnya. Kesucian air mani adalah hal yang diperdebatkan oleh para ulama fikih.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa air mani itu suci, dan ini pendapat mazhab asy-Syafi’i dan Hambali. Pendapat kedua berpandangan bahwa air mani najis, dan ini pendapat dari mazhab Hanafi dan Maliki. Ulama yang berpendapat bahwa ia najis, mengiaskannya dengan air kencing.Mengiaskan air mani dengan air kencing merupakan kias dengan sesuatu yang berbeda.Adapun yang berpendapat bahwa air mani suci, berdalil dengan dalil-dalil dari as-Sunnah. Di antaranya hadis riwayat Aisyah.Aisyah berkata, “Dulu aku mengerik mani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah keringdan mencucinya (dengan air) jika masih basah.” Diketahui bahwa mengerik tidak dapat menghilangkan bekas air mani seandainya ia najis.Sehingga ini menunjukkan bahwa air mani itu suci. Apakah dengan mengerik air kencing (yang kering) dapat menghilangkan najisnya?Tidak dapat menghilangkan najisnya. Andai air mani itu najis, pasti Aisyah tidak akan cukup dengan mengeriknya dalam membersihkannya.Selain itu, air mani juga merupakan asal dari manusia. Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah,dan menciptakan keturunannya dari saripati air yang hina, yakni dari mani tersebut. Keturunan Nabi Adam terdapat para Nabi dan Rasul,orang-orang siddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.Sehingga jauh sekali jika asal-usul mereka dari benda najis. Oleh sebab itu, dalam kisah dua orang ulamayang saling berselisih tentang kesucian air mani,lalu ada seseorang yang melewati mereka. Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci, tapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.” Meskipun ini hanya sekedar anekdot, tapi ia memberi buktilebih kuatnya pendapat yang mengatakan kesucian air mani.Ini merupakan pendapat yang lebih kuat menurut para pemerhati dari kalangan ulama.Demikian. ==== مَرَّ رَجُلٌ بِعَالِمَيْنِ يَتَنَاظَرَانِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَأَحَدُهُمَا يَرَى طَهَارَتَهُ وَالْآخَرُ يَرَى نَجَاسَتَهُ فَقَالَ الرَّجُلُ مَا شَأْنُكُمَا؟ قَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا نَعَمْ هَذِهِ الْقِصَّةُ ذَكَرَهَا ابْنُ عَقِيلٍ وَغَيْرُهُ وَطَهَارَةُ الْمَنِيِّ مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّهُ طَاهِرٌ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ نَجِسٌ وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَمَنْ قَالَ بِنَجَاسَتِهِ قَاسَهُ عَلَى الْبَوْلِ وَقِيَاسُهُ عَلَى الْبَوْلِ قِيَاسُهُ مَعَ الْفَارِقِ وَأَمَّا الْقَائِلُوْنَ بِطَهَارَتِهِ اسْتَدَلُّوا بِأَدِلَّةٍ مِنَ السُّنَّةِ وَمِنْ ذَلِكَ حَدِيثُ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَفْرُكُ مَنِيَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إِذَا كَانَ رَطْبًا وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْفَرْكَ لَا يُزِيلُ أَثَرَهُ لَوْ كَانَ نَجِسًا فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى طَهَارَتِهِ فَرْكُ الْبَوْلِ هَلْ يُزِيْلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ؟ لَا يُزِيلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ لَوْ كَانَ الْمَنِيُّ نَجِسًا لَمَا اكْتَفَتْ عَائِشَةُ فِي إِزَالَتِهِ بِالْفَرْكِ وَأَيْضًا الْمَنِيُّ هُوَ أَصْلُ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ وَخَلَقَ بَنِي آدَمَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ هَذَا الْمَنِيِّ وَبَنُو آدَمَ فِيهِمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ وَالصِّدِّيْقُونَ وَالشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ فَيَبْعُدُ جِدًّا أَنْ يَكُونَ أَصْلُهُمْ نَجِسًا وَلِهَذَا فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ قِصَّةِ هَذَيْنِ الْعَالِمَيْنِ الَّذَيْنِ يَتَنَاظَرَيْنِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ مَرَّ بِهِمْ أَحَدُ النَّاسِ وَقَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا وَهَذِه وَإِنْ كَانَتْ طُرْفَةً إِلَّا أَنَّهَا يَعْنِي تُعْطِي دَلَالَةً عَلَى رُجْحَانِ الْقَوْلِ بِطَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْمُرَجَّحُ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kisah Unik tentang Kesucian Air Mani – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ada seorang lelaki yang berjalan melewati dua ulama yang memperdebatkan kesucian air mani.Ulama yang satu berpandangan air mani suci, sedangkan ulama yang lain berpandangan mani itu najis. Lelaki itu kemudian bertanya, “Apa yang Anda sekalian lakukan?”Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci,akan tetapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.”Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Aqil dan lainnya. Kesucian air mani adalah hal yang diperdebatkan oleh para ulama fikih.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa air mani itu suci, dan ini pendapat mazhab asy-Syafi’i dan Hambali. Pendapat kedua berpandangan bahwa air mani najis, dan ini pendapat dari mazhab Hanafi dan Maliki. Ulama yang berpendapat bahwa ia najis, mengiaskannya dengan air kencing.Mengiaskan air mani dengan air kencing merupakan kias dengan sesuatu yang berbeda.Adapun yang berpendapat bahwa air mani suci, berdalil dengan dalil-dalil dari as-Sunnah. Di antaranya hadis riwayat Aisyah.Aisyah berkata, “Dulu aku mengerik mani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah keringdan mencucinya (dengan air) jika masih basah.” Diketahui bahwa mengerik tidak dapat menghilangkan bekas air mani seandainya ia najis.Sehingga ini menunjukkan bahwa air mani itu suci. Apakah dengan mengerik air kencing (yang kering) dapat menghilangkan najisnya?Tidak dapat menghilangkan najisnya. Andai air mani itu najis, pasti Aisyah tidak akan cukup dengan mengeriknya dalam membersihkannya.Selain itu, air mani juga merupakan asal dari manusia. Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah,dan menciptakan keturunannya dari saripati air yang hina, yakni dari mani tersebut. Keturunan Nabi Adam terdapat para Nabi dan Rasul,orang-orang siddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.Sehingga jauh sekali jika asal-usul mereka dari benda najis. Oleh sebab itu, dalam kisah dua orang ulamayang saling berselisih tentang kesucian air mani,lalu ada seseorang yang melewati mereka. Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci, tapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.” Meskipun ini hanya sekedar anekdot, tapi ia memberi buktilebih kuatnya pendapat yang mengatakan kesucian air mani.Ini merupakan pendapat yang lebih kuat menurut para pemerhati dari kalangan ulama.Demikian. ==== مَرَّ رَجُلٌ بِعَالِمَيْنِ يَتَنَاظَرَانِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَأَحَدُهُمَا يَرَى طَهَارَتَهُ وَالْآخَرُ يَرَى نَجَاسَتَهُ فَقَالَ الرَّجُلُ مَا شَأْنُكُمَا؟ قَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا نَعَمْ هَذِهِ الْقِصَّةُ ذَكَرَهَا ابْنُ عَقِيلٍ وَغَيْرُهُ وَطَهَارَةُ الْمَنِيِّ مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّهُ طَاهِرٌ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ نَجِسٌ وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَمَنْ قَالَ بِنَجَاسَتِهِ قَاسَهُ عَلَى الْبَوْلِ وَقِيَاسُهُ عَلَى الْبَوْلِ قِيَاسُهُ مَعَ الْفَارِقِ وَأَمَّا الْقَائِلُوْنَ بِطَهَارَتِهِ اسْتَدَلُّوا بِأَدِلَّةٍ مِنَ السُّنَّةِ وَمِنْ ذَلِكَ حَدِيثُ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَفْرُكُ مَنِيَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إِذَا كَانَ رَطْبًا وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْفَرْكَ لَا يُزِيلُ أَثَرَهُ لَوْ كَانَ نَجِسًا فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى طَهَارَتِهِ فَرْكُ الْبَوْلِ هَلْ يُزِيْلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ؟ لَا يُزِيلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ لَوْ كَانَ الْمَنِيُّ نَجِسًا لَمَا اكْتَفَتْ عَائِشَةُ فِي إِزَالَتِهِ بِالْفَرْكِ وَأَيْضًا الْمَنِيُّ هُوَ أَصْلُ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ وَخَلَقَ بَنِي آدَمَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ هَذَا الْمَنِيِّ وَبَنُو آدَمَ فِيهِمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ وَالصِّدِّيْقُونَ وَالشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ فَيَبْعُدُ جِدًّا أَنْ يَكُونَ أَصْلُهُمْ نَجِسًا وَلِهَذَا فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ قِصَّةِ هَذَيْنِ الْعَالِمَيْنِ الَّذَيْنِ يَتَنَاظَرَيْنِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ مَرَّ بِهِمْ أَحَدُ النَّاسِ وَقَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا وَهَذِه وَإِنْ كَانَتْ طُرْفَةً إِلَّا أَنَّهَا يَعْنِي تُعْطِي دَلَالَةً عَلَى رُجْحَانِ الْقَوْلِ بِطَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْمُرَجَّحُ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ada seorang lelaki yang berjalan melewati dua ulama yang memperdebatkan kesucian air mani.Ulama yang satu berpandangan air mani suci, sedangkan ulama yang lain berpandangan mani itu najis. Lelaki itu kemudian bertanya, “Apa yang Anda sekalian lakukan?”Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci,akan tetapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.”Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Aqil dan lainnya. Kesucian air mani adalah hal yang diperdebatkan oleh para ulama fikih.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa air mani itu suci, dan ini pendapat mazhab asy-Syafi’i dan Hambali. Pendapat kedua berpandangan bahwa air mani najis, dan ini pendapat dari mazhab Hanafi dan Maliki. Ulama yang berpendapat bahwa ia najis, mengiaskannya dengan air kencing.Mengiaskan air mani dengan air kencing merupakan kias dengan sesuatu yang berbeda.Adapun yang berpendapat bahwa air mani suci, berdalil dengan dalil-dalil dari as-Sunnah. Di antaranya hadis riwayat Aisyah.Aisyah berkata, “Dulu aku mengerik mani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah keringdan mencucinya (dengan air) jika masih basah.” Diketahui bahwa mengerik tidak dapat menghilangkan bekas air mani seandainya ia najis.Sehingga ini menunjukkan bahwa air mani itu suci. Apakah dengan mengerik air kencing (yang kering) dapat menghilangkan najisnya?Tidak dapat menghilangkan najisnya. Andai air mani itu najis, pasti Aisyah tidak akan cukup dengan mengeriknya dalam membersihkannya.Selain itu, air mani juga merupakan asal dari manusia. Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah,dan menciptakan keturunannya dari saripati air yang hina, yakni dari mani tersebut. Keturunan Nabi Adam terdapat para Nabi dan Rasul,orang-orang siddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.Sehingga jauh sekali jika asal-usul mereka dari benda najis. Oleh sebab itu, dalam kisah dua orang ulamayang saling berselisih tentang kesucian air mani,lalu ada seseorang yang melewati mereka. Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci, tapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.” Meskipun ini hanya sekedar anekdot, tapi ia memberi buktilebih kuatnya pendapat yang mengatakan kesucian air mani.Ini merupakan pendapat yang lebih kuat menurut para pemerhati dari kalangan ulama.Demikian. ==== مَرَّ رَجُلٌ بِعَالِمَيْنِ يَتَنَاظَرَانِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَأَحَدُهُمَا يَرَى طَهَارَتَهُ وَالْآخَرُ يَرَى نَجَاسَتَهُ فَقَالَ الرَّجُلُ مَا شَأْنُكُمَا؟ قَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا نَعَمْ هَذِهِ الْقِصَّةُ ذَكَرَهَا ابْنُ عَقِيلٍ وَغَيْرُهُ وَطَهَارَةُ الْمَنِيِّ مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّهُ طَاهِرٌ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ نَجِسٌ وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَمَنْ قَالَ بِنَجَاسَتِهِ قَاسَهُ عَلَى الْبَوْلِ وَقِيَاسُهُ عَلَى الْبَوْلِ قِيَاسُهُ مَعَ الْفَارِقِ وَأَمَّا الْقَائِلُوْنَ بِطَهَارَتِهِ اسْتَدَلُّوا بِأَدِلَّةٍ مِنَ السُّنَّةِ وَمِنْ ذَلِكَ حَدِيثُ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَفْرُكُ مَنِيَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إِذَا كَانَ رَطْبًا وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْفَرْكَ لَا يُزِيلُ أَثَرَهُ لَوْ كَانَ نَجِسًا فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى طَهَارَتِهِ فَرْكُ الْبَوْلِ هَلْ يُزِيْلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ؟ لَا يُزِيلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ لَوْ كَانَ الْمَنِيُّ نَجِسًا لَمَا اكْتَفَتْ عَائِشَةُ فِي إِزَالَتِهِ بِالْفَرْكِ وَأَيْضًا الْمَنِيُّ هُوَ أَصْلُ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ وَخَلَقَ بَنِي آدَمَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ هَذَا الْمَنِيِّ وَبَنُو آدَمَ فِيهِمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ وَالصِّدِّيْقُونَ وَالشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ فَيَبْعُدُ جِدًّا أَنْ يَكُونَ أَصْلُهُمْ نَجِسًا وَلِهَذَا فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ قِصَّةِ هَذَيْنِ الْعَالِمَيْنِ الَّذَيْنِ يَتَنَاظَرَيْنِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ مَرَّ بِهِمْ أَحَدُ النَّاسِ وَقَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا وَهَذِه وَإِنْ كَانَتْ طُرْفَةً إِلَّا أَنَّهَا يَعْنِي تُعْطِي دَلَالَةً عَلَى رُجْحَانِ الْقَوْلِ بِطَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْمُرَجَّحُ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ada seorang lelaki yang berjalan melewati dua ulama yang memperdebatkan kesucian air mani.Ulama yang satu berpandangan air mani suci, sedangkan ulama yang lain berpandangan mani itu najis. Lelaki itu kemudian bertanya, “Apa yang Anda sekalian lakukan?”Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci,akan tetapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.”Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Aqil dan lainnya. Kesucian air mani adalah hal yang diperdebatkan oleh para ulama fikih.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa air mani itu suci, dan ini pendapat mazhab asy-Syafi’i dan Hambali. Pendapat kedua berpandangan bahwa air mani najis, dan ini pendapat dari mazhab Hanafi dan Maliki. Ulama yang berpendapat bahwa ia najis, mengiaskannya dengan air kencing.Mengiaskan air mani dengan air kencing merupakan kias dengan sesuatu yang berbeda.Adapun yang berpendapat bahwa air mani suci, berdalil dengan dalil-dalil dari as-Sunnah. Di antaranya hadis riwayat Aisyah.Aisyah berkata, “Dulu aku mengerik mani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah keringdan mencucinya (dengan air) jika masih basah.” Diketahui bahwa mengerik tidak dapat menghilangkan bekas air mani seandainya ia najis.Sehingga ini menunjukkan bahwa air mani itu suci. Apakah dengan mengerik air kencing (yang kering) dapat menghilangkan najisnya?Tidak dapat menghilangkan najisnya. Andai air mani itu najis, pasti Aisyah tidak akan cukup dengan mengeriknya dalam membersihkannya.Selain itu, air mani juga merupakan asal dari manusia. Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah,dan menciptakan keturunannya dari saripati air yang hina, yakni dari mani tersebut. Keturunan Nabi Adam terdapat para Nabi dan Rasul,orang-orang siddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.Sehingga jauh sekali jika asal-usul mereka dari benda najis. Oleh sebab itu, dalam kisah dua orang ulamayang saling berselisih tentang kesucian air mani,lalu ada seseorang yang melewati mereka. Ulama yang berpandangan kesucian air mani berkata, “Aku berusaha meyakinkan bahwa asal-usulnya suci, tapi ia enggan, dan ingin menjadikan asal-usulnya najis.” Meskipun ini hanya sekedar anekdot, tapi ia memberi buktilebih kuatnya pendapat yang mengatakan kesucian air mani.Ini merupakan pendapat yang lebih kuat menurut para pemerhati dari kalangan ulama.Demikian. ==== مَرَّ رَجُلٌ بِعَالِمَيْنِ يَتَنَاظَرَانِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَأَحَدُهُمَا يَرَى طَهَارَتَهُ وَالْآخَرُ يَرَى نَجَاسَتَهُ فَقَالَ الرَّجُلُ مَا شَأْنُكُمَا؟ قَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا نَعَمْ هَذِهِ الْقِصَّةُ ذَكَرَهَا ابْنُ عَقِيلٍ وَغَيْرُهُ وَطَهَارَةُ الْمَنِيِّ مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّهُ طَاهِرٌ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ نَجِسٌ وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَمَنْ قَالَ بِنَجَاسَتِهِ قَاسَهُ عَلَى الْبَوْلِ وَقِيَاسُهُ عَلَى الْبَوْلِ قِيَاسُهُ مَعَ الْفَارِقِ وَأَمَّا الْقَائِلُوْنَ بِطَهَارَتِهِ اسْتَدَلُّوا بِأَدِلَّةٍ مِنَ السُّنَّةِ وَمِنْ ذَلِكَ حَدِيثُ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَفْرُكُ مَنِيَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إِذَا كَانَ رَطْبًا وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْفَرْكَ لَا يُزِيلُ أَثَرَهُ لَوْ كَانَ نَجِسًا فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى طَهَارَتِهِ فَرْكُ الْبَوْلِ هَلْ يُزِيْلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ؟ لَا يُزِيلُ نَجَاسَةَ الْبَوْلِ لَوْ كَانَ الْمَنِيُّ نَجِسًا لَمَا اكْتَفَتْ عَائِشَةُ فِي إِزَالَتِهِ بِالْفَرْكِ وَأَيْضًا الْمَنِيُّ هُوَ أَصْلُ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ وَخَلَقَ بَنِي آدَمَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ هَذَا الْمَنِيِّ وَبَنُو آدَمَ فِيهِمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالرُّسُلُ وَالصِّدِّيْقُونَ وَالشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ فَيَبْعُدُ جِدًّا أَنْ يَكُونَ أَصْلُهُمْ نَجِسًا وَلِهَذَا فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ قِصَّةِ هَذَيْنِ الْعَالِمَيْنِ الَّذَيْنِ يَتَنَاظَرَيْنِ فِي طَهَارَةِ الْمَنِيِّ مَرَّ بِهِمْ أَحَدُ النَّاسِ وَقَالَ مَنْ يَرَى طَهَارَةَ الْمَنِيِّ أُحَاوِلُ أَنْ أَجْعَلَ أَصْلَهُ طَاهِرًا وَيَأْبَى إِلَّا أَنْ يَجْعَلَ أَصْلَهُ نَجِسًا وَهَذِه وَإِنْ كَانَتْ طُرْفَةً إِلَّا أَنَّهَا يَعْنِي تُعْطِي دَلَالَةً عَلَى رُجْحَانِ الْقَوْلِ بِطَهَارَةِ الْمَنِيِّ وَهَذَا هُوَ الْقَوْلُ الْمُرَجَّحُ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Larangan Bunuh Diri

Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid

Larangan Bunuh Diri

Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid
Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid


Seringkali kita melihat suatu fenomena ketika seseorang yang memiliki suatu masalah atau problematika kehidupan yang berat, menjadikan bunuh diri sebagai sebuah solusi. Dia mengira bahwa bunuh diri adalah solusi atas permasalahan yang dia hadapi. Padahal, bunuh diri termasuk salah satu dosa besar yang paling besar. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30)Baca Juga: Mati Bunuh Diri, Apakah Perlu Disalati?Larangan dari Allah Ta’ala “janganlah kamu membunuh dirimu” ditafsirkan oleh para ulama dengan dua penjelasan. Penjelasan pertama, seorang muslim dilarang membunuh dirinya sendiri (larangan bunuh diri). Penjelasan kedua, seorang muslim dilarang membunuh sesama muslim yang lain. Membunuh muslim yang lain termasuk dalam istilah “bunuh diri” karena pada asalnya, semua muslim adalah bersaudara dan bagaikan satu jasad. Jika seorang muslim membunuh muslim yang lain, hal itu mengakibatkan dirinya berhak untuk mendapatkan hukuman bunuh dari penguasa. Sehingga seorang muslim yang membunuh muslim yang lain, pada hakikatnya dia telah melakukan usaha untuk membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dalam menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa kata  التَّهْلُكَةِ (kebinasaan) dapat ditafsikan dengan dua makna. Pertama, ”kebinasaan” tersebut dimaknai sebagai perbuatan-perbuatan maksiat. Kedua, ”kebinasaan” diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dapat membinasakan diri sendiri dengan memberikan bahaya dan menyusahkan diri sendiri.Bunuh diri merupakan perbuatan membunuh dan menghilangkan jiwa seorang manusia dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya, badan dan jiwanya itu bukan murni milik dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena manusia itu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan manusia hanya mempunyai hak untuk menggunakan badan dan jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Manusia tidak boleh menggunakan dan mengeksploitasi jasadnya dengan seenaknya sendiri tanpa ada batasan. Termasuk di dalamnya adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68)Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan JihadDari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.'” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا“Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ”Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri. Dan melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)Dan termasuk dalam perbuatan bunuh diri adalah perbuatan sebagian orang yang  memakai pakaian atau rompi yang berisi bom  yang diikatkan di perutnya, kemudian diledakkannya di tempat yang banyak terdapat orang kafir. Dengan demikian, dirinya merupakan orang yang pertama kali meninggal karena bom tersebut. Perbuatan semacam ini dinilai termasuk bunuh diri. Sehingga pelaku bom bunuh diri di neraka akan disiksa dengan bom yang digunakannya untuk bunuh diri  ketika dirinya masih di dunia.Baca Juga:Bunuh Diri Bukan Mengakhiri KehidupanUlama Ahlussunnah Membolehkan Bom Bunuh Diri?***Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Sholawat Nariyah Bid Ah, Pengertian Dari Iman, Stdi Imam Syafi I Jember, Pildacil KartunTags: adzab bunuh diriAqidahaqidah islambunuh diridosa besardosa bunuh dirifatwaFatwa Ulamalarangan bunuh dirinasihatnasihat islampelaku bunuh diriTauhid

Teks Khotbah Jumat: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah

Teks Khotbah Jumat: Keutamaan Ibadah di Zaman Fitnah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Jemaah yang berbahagia, tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita semua, kecuali dengan tujuan agar kita beribadah dan taat hanya kepada-Nya satu-satunya serta tidak menyekutukan-Nya. Ibadah yang dilaksanakan dengan hati dan anggota tubuh kita. Ibadah yang senantiasa membersamai diri kita saat menetap maupun sedang bepergian, di darat maupun di lautan, saat dalam kondisi aman tentram maupun saat dalam kondisi perang yang mencekam.Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan ibadah di zaman yang penuh fitnah, zaman yang penuh peperangan dan permusuhan, dan zaman yang penuh rumor serta kabar palsu adalah termasuk dari seutama-utamanya ibadah dan besarnya pahalanya. Hal ini karena di zaman-zaman tersebut, manusia pasti lalai dari ibadah dan lebih tersibukkan dengan apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka, melupakan zikir, meninggalkan membaca Al-Qur’an atau bahkan meninggalkan salat berjemaah.Setan berbisik kepada mereka dalam salat mereka, lalu mereka pun menyambutnya layaknya burung gagak yang mematuk untuk mendapatkan darah. Waktu mereka habis disibukkan dengan isu-isu serta desas-desus yang membombardir setiap waktu, baik itu dari dalam diri mereka sendiri ataupun dari luar. Oleh karenanya, bagi mereka yang selalu konsisten beribadah dan istikamah di atas agama Islam, Allah Ta’ala berikan mereka pahala yang besar dan dekatnya posisi mereka dengan Allah Ta’ala.Baca Juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman FitnahJemaah yang dirahmati Allah Ta’ala.Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)Haraj sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis ini adalah,“Waktu fitnah (kekacauan) dan semrawutnya perkara manusia.”Begitu pula saat peperangan, ketakutan, kepanikan, dan kondisi di mana ekonomi sedang kacau, kehidupan sosial carut marut, kebingungan mencari kebenaran dan fatwa, sungguh dalam kondisi ini manusia sedang diuji.Siapa saja yang menghadirkan hatinya untuk Allah Ta’ala pada kondisi semacam ini, perhatian terhadap salatnya, menjaga zikir dan bacaan Al-Qur’annya, semaksimal mungkin menjaga akhlak yang baik dan menyambung silaturahmi, maka seakan-akan ia sedang berhijrah, pergi menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kita semua tahu, betapa agungnya kedudukan hijrah menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa besarnya pahala yang mereka dapatkan, betapa besarnya pahala yang didapatkan kaum muhajirin yang meninggalkan kota Makkah untuk bertemu Nabi. Derajat mereka tak akan bisa digapai oleh orang-orang setelah mereka, Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)Dan firman Allah Ta’ala,وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)Wahai kaum muslimin, tetaplah di jalan Allah, pegang erat-erat agama Islam ini di zaman fitnah dan masa sulit ini. Jadilah orang yang bijak atas setiap apa yang kita dengar, bijak atas apa yang kita lihat dan kita saksikan. Berdoalah terus kepada Allah Ta’ala, mintalah selalu hidayah kepada-Nya, karena tanpa hidayah Allah Ta’ala, hidup di zaman fitnah ini begitu berat dan sulit. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan,يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Baca Juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman FitnahKhotbah kedua.اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Jangan sampai, kesibukan kita dan hiruk pikuk kehidupan di zaman fitnah dan akhir zaman ini mengalihkan pikiran kita. Jangan sampai, hubungan kita dengan Allah Ta’ala terputus. Jangan sampai, karena sibuknya kita bekerja, membuat kita tidak khusyuk dalam salat, sering meninggalkan zikir setelah salat, dan melupakan doa kepada Allah Ta’ala.Bersabarlah wahai saudaraku, saling menguatkan dan saling mengingatkan antar saudara. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ مِنْ وَرَائِكُم زَمَانُ صَبرٍ ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيه أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُم“Sesungguhnya di masa mendatang, ada zaman kesabaran (zaman di mana tidak ada jalan selamat kecuali dengan kesabaran, zaman di mana fitnah tersebar luas, dan zaman di mana kaum muslimin lemah). Bagi mereka yang (bersabar) memegang kuat agamanya, (akan mendapatkan) pahala (layaknya) lima puluh syuhada dari kalangan kalian (para sahabat).” (Lihat Shahih Al-Jami’, hal. 2234 karya Syekh Al-Albani)Hadis ini menjelaskan betapa besarnya fitnah yang terjadi di zaman ini, sehingga mereka yang berpegang teguh, istikamah di atas agamanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijanjikan dengan pahala yang besar.Jemaah yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, jangan sampai diri kita frustrasi, putus asa, dan merasa kalah saat melihat fenomena kehidupan yang ada, melihat bagaimana orang yang batil, orang-orang yang melakukan keburukan seakan-akan mereka adalah pemenang dan menjadi orang yang sukses. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Bersabarlah dan kuatkanlah hati kita masing-masing. Berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ingatlah, bahwa kaum mukminin akan senantiasa diuji. Maka bersabarlah menghadapi ujian ini. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ“Ya Allah, Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”Amiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Wanita Pun Terfitnah oleh LelakiDampak Fitnah ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Bab Puasa Ramadhan, Surat Tentang Puasa, Hadits Tentang Berhijrah, Foto Ulama SalafTags: ahli ibadahamalamal ibadahfitnah syahwatfitnah syubhatjudul khutbah jumatkeutamaan ibadahkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamteks khutbah jumattema khutbah jumatzaman fitnah

Dua Sebab Mengapa Sujud Sahwi ketika Lupa dalam Salat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Dua Sebab Mengapa Sujud Sahwi ketika Lupa dalam Salat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ditentukan sujud untuk menambal kealpaan (dalam salat),bukan dengan ucapan atau gerakan salat lainnya,mengapa? Kenapa jika seseorang lupa dalam salatnya, tidak disyariatkan mengucapkan“Lā ilāha illallāh” atau rukuk atau membaca al-Fatihah?Mengapa? Ya.Apa?Untuk menghinakan setan.Menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baiklah, kalau rukuk?Karena sujud adalah rukun salat yang paling ditekankan.Silakan, Ahmad.Kenapa? Ada dua alasan:[PERTAMA]Sujud bisa menjauhkan setanyang menguasai manusia dalam salatnyadan membuatnya lupa. Disebutkan dalam Sahih Muslim bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallammenyebutkan bahwa ketika anak Adam (manusia) sujud,maka setan menangis dan pergi menjauh seraya berkata, “Yā Wailah (Celaka aku!)” Dalam riwayat lain, “Yā Wailī (Celaka aku!),anak Adam diperintahkan untuk sujudlalu bersujud maka baginya surga,sedangkan aku diperintahkan untuk sujudtetapi tidak patuh maka bagiku neraka.” Dalam Sahih Muslim,ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkantentang kealpaan seseorang dalam salatnya,beliau bersabda, “… jika ternyata salatnya benar empat rakaat,maka dua sujud tersebut menjadi penghinaan bagi setan.”Yakni dua sujud sahwi. Jadi, sujudnya orang yang salat akan menghinakan setandan menjauhkannya dari dirinya. [KEDUA]Sujud adalah bentuk kembalikepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dan kedekatan dengan-Nya, sehingga menguatkan hatinya untuk hadir saat salatdan tidak alpa di dalamnya,berdasarkan sabda beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannyaadalah tatkala ia sedang sujud.” (Muttafaq ‘Alaihi)Dengan dua alasan tersebut, orang yang salat diperintahkan ketika lupa dalam salatnyaagar sujud untuk menambalnya,dan tidak diperintahkan untuk menambalnya dengan sesuatu yang lain,baik berupa bacaan atau gerakan yang sudah dikenal dalam salat. ==== وَاخْتِيرَ السُّجُودُ لِجَبْرِ السَّهْوِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ أَقْوَالِ الصَّلَاةِ وَأَفْعَالِهَا لِمَاذَا؟ لِأَيشْ مَا إِذَا سَهَا الْإِنْسَانُ فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَوْ يَرْكَعَ أَوْ يَقْرَأَ الْفَاتِحَةَ؟ لِمَاذَا ؟ نَعَمْ أَيشْ؟ إِغْرَامًا لِلشَّيطَانِ يُعَبِّرُ عَنِ الْخُضُوعِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ طَيِّبٌ وَالرُّكُوعُ؟ لِأَنَّ السُّجُودَ آكِدُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ نَعَمْ أَحْمَدُ أَيشْ؟ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّ السُّجُودَ يَقَعُ بِهِ تَبْعِيدُ الشَّيْطَانِ الَّذِي يَتَسَلَّطُ عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ فَيَجْعَلُهُ يَسْهُو وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَجَدَ ابْنُ آدَمَ بَكَى وَاعْتَزَلَ وَقَالَ يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلِيْ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَمَّا ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْوَ الْإِنْسَانِ فِي صَلَاتِهِ قَالَ: وَإِنْ كَانَ صَلَّى لِإِتْمَامِ أَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ يَعْنِي سَجْدَتَا السَّهْوِ فَفِي سُجُودِ الْمُصَلِّي يُذِلُّ الشَّيْطَانَ وَيُبْعِدُهُ عَنْهُ وَالْآخَرُ فِي السُّجُودِ رُجُوعٌ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقُرْبٌ مِنْهُ يَقْوَى بِهِ الْقَلْبُ عَلَى الْحُضُورِ فِي الصَّلَاةِ وَعَدَمِ السَّهْوِ فِيهَا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبُ مَا يَكونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ فَلِلْأَمْرَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ أُمِرَ الْمُصَلِّي إِذَا سَهَا فِي صَلَاتِهِ أَنْ يَسْجُدَ لِجَبْرِهَا وَلَمْ يُأْمَرْ بِشَيْءٍ سِوَاهُ يَقَعُ بِهِ الْجَبْرُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الْمَعْرُوفَةِ فِي الصَّلَاةِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Khutbah Jumat: Tujuh Pertanyaan Nabi Musa Kepada Allah yang Patut Direnungkan

Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat

Khutbah Jumat: Tujuh Pertanyaan Nabi Musa Kepada Allah yang Patut Direnungkan

Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat
Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat


Ada tujuh perkara yang ditanyakan Nabi Musa kepada Allah yang patut direnungkan dalam Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua   Khutbah Pertama   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Ada hadits riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, سأل موسى ربه عن ست خصال كان يظن انها له خالصة والسابعة لم يكن موسى يحبها قال يا رب أي عبادك اتقى قال الذي يذكر ولا ينسى قال فأي عبادك اهدى قال الذي تتبع الهدى قال فأي عبادك احكم قال الذي يحكم للناس ما يحكم لنفسه قال أي عبادك اعلم قال عالم لا يشبع من العلم يجمع علم الناس الى علمه قال فأي عبادك اعز قال الذي اذا قدر عفا قال فأي عبادك اغني قال الذي يرضى بما اوتى قال فاي عبادك افقر قال صاحب منقوص “Musa bertanya kepada Rabbnya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa. Musa bertanya, “Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?” Allah menjawab, “Yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?” Allah menjawab, “Yang mengikuti petunjuk.” Musa bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling adil?” Allah menjawab, “Yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.” Musa kembali bertanya, “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.” Musa bertanya, “Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?” Allah menjawab, “Yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.” Musa bertanya, “Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?” Allah menjawab, “Orang yang rida atas apa yang diberikan kepadanya.” Musa bertanya lagi, “Siapakah hamba yang paling fakir?” Allah menjawab, “Orang yang merasa serba kekurangan.” Baca juga: Lebih dari 100 Keutamaan Ilmu   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 16 Rabiul Akhir 1444 H, 11 November 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat nabi musa nasihat

Siapa yang Layak Menjadi Imam Shalat Jama’ah?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid

Siapa yang Layak Menjadi Imam Shalat Jama’ah?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414648477&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Izin bertanya ustadz. Di masjid kampung, saya ditunjuk menjadi imam shalat jama’ah. Padahal bacaan Al Qur’an saya menurut saya tidak terlalu bagus. Bagaimana menyikapi hal ini dan bagaimana orang yang layak menjadi imam shalat jama’ah? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kami menasehatkan kepada seluruh masyarakat, terutama para pengurus masjid, hendaknya memilih imam tetap shalat jama’ah dari orang-orang yang ‘alim (paham agama) dan paling baik bacaan Al Qur’annya. Kriteria pemilihan imam telah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sabdakan: يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua sama dalam masalah bacaan Qur’an, maka hendaknya yang paling paham terhadap Sunnah Nabi. Jika kepahaman mereka tentang Sunnah Nabi sama, maka yang paling pertama hijrah (mengenal sunnah). Jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. Dalam riwayat Al Asyaj (bin Qais) disebutkan: “yang paling tua usianya” untuk menggantikan: “yang paling dahulu masuk Islam” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Dari hadits ini, urutan yang harus diperhatikan dalam memilih imam adalah: 1. Yang paling mahir dalam membaca Al Qur’an, jika semua sama, maka 2. Yang paling paham terhadap sunnah Nabi, jika semua sama, maka 3. Yang lebih dahulu hijrah, jika semua sama, maka 4. Yang lebih dahulu masuk Islam, jika semua sama, maka 5. Yang lebih tua usianya Ini kriteria-kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid. Namun andaikan orang yang lebih paham agama atau lebih baik bacaan Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam ratib (tetap) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673, dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Imam masjid yang ratib (tetap) jika ia memang mahir mengimami shalat, maka tidak boleh melangkahinya untuk memajukan orang lain menjadi imam. Walaupun orang lain ini lebih utama darinya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 115). Jangan sembarangan menjadi imam! Orang yang singgah di suatu masjid atau orang yang statusnya bukan imam tetap, hendaknya tidak bermudah-mudah maju menjadi imam shalat jama’ah di suatu masjid atau di suatu shalat jama’ah. Dari sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: وَلا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ , وَلا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلا بِإِذْنِهِ “Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya” (HR. Muslim no. 673). Hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat untuk maju padahal ada yang lebih berhak yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih baik bacaan Qur’annya atau merasa lebih paham agama. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ “Maknanya, sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami, bahwa pemilik rumah, atau pemilik majelis, atau imam (tetap) masjid, lebih berhak untuk menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih ‘alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak untuk menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain untuk maju” (Syarah Shahih Muslim, 5/147). Namun dibolehkan orang pendatang untuk menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau oleh pemilik tempat. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه ) “Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud; [kecuali diizinkan olehnya]” (Nailul Authar, 3/170). Atau dibolehkan juga pendatang menjadi imam ketika imam tetap atau pemilik tempat ada udzur sehingga tidak bisa mengimami. Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan: وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته “Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (imam tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya” (Akhsharil Mukhtasharat, 120). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillah, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  🔍 Apa Itu Syiah, Taklik Talak, Niat Mandi Nifas Dan Wiladah, Hukum Berjoget Dalam Islam, Video Hot Memuaskan Suami, Nonton Film Omar Ibn Khattab Sub Indo Visited 559 times, 1 visit(s) today Post Views: 441 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bahaya Persaksian Palsu

Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah

Bahaya Persaksian Palsu

Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah
Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah


Allah Ta’ala berfirman,ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ”Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya. Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggandengkan perintah untuk menjauhi syirik dengan perintah menjauhi persaksian palsu (dusta). Hal ini menunjukkan besarnya dosa dan keharaman perkataan dan persaksian dusta (persaksian palsu).Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً”Dan orang-orang yang tidak menghadiri majelis dusta, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Baca Juga: Hukum Bersumpah dengan Agama selain IslamAyat ini menjadi dalil tentang haramnya orang yang menghadiri suatu majelis pertemuan yang berisi kedustaan dan kepalsuan. Jika menghadiri majelis yang berisi kedustaan saja dilarang, terlebih lagi (lebih ditekankan lagi haramnya) menjadi orang yang ikut-ikutan berkata dusta pada majelis atau pertemuan tersebut.Adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa saksi palsu menggabungkan beberapa dosa besar.Pertama, seorang saksi palsu sama saja dengan berbuat kedustaan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ”Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mukmin: 28)Kedua, seorang saksi palsu berarti menzalimi orang lain dengan persaksiannya tersebut. Sehingga dengan persaksian palsunya tersebut, dia bisa mengambil harta, kehormatan, atau nyawa orang yang dizalimi.Ketiga, seorang saksi palsu menzalimi orang yang dia untungkan dengan persaksiannya yang dusta. Seorang saksi palsu telah memberikan harta yang haram kepada orang yang diuntungkan karena persaksian palsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهَا“Sungguh kalian seringkali mengadukan sengketa kepadaku, barangkali ada di antara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain. Maka, barangsiapa yang kuputuskan menang dengan mencederai hak saudaranya berdasarkan kepandaian argumentasinya, berarti telah kuambil sundutan api neraka baginya, maka janganlah dia mengambilnya.” (HR. Bukhari no. 2680 dan Muslim no. 1713)Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganSelain sebagai seorang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang qadhi (hakim) yang memutus perkara bagi pihak-pihak yang berselisih dan bersengketa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keputusan berdasarkan laporan dan persaksian dari masing-masing pihak yang saling bersengketa tersebut. Laporan pihak yang paling mendekati kebenaran itulah yang dijadikan dasar untuk memenangkan suatu perkara atau memenangkan satu pihak atas pihak yang lain. Oleh karena itu, status beliau sebagai seorang qadhi adalah sebagai manusia biasa yang masih mungkin keliru dalam mengambil atau menetapkan suatu keputusan.Keempat, seorang saksi palsu membolehkan apa yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Allah Ta’ala lindungi, yaitu berupa harta, darah, dan kehormatan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”Setiap muslim haram mengganggu muslim yang lain dalam harta, darah, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar?” (pertanyaan ini diulang tiga kali) Mereka (para sahabat) menjawab, ”Mau wahai Rasulullah.”  Rasulullahshallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ”Ketahuilah, ucapan dan persaksian palsu. Ketahuilah pula, ucapan dan persaksian palsu.”  Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar, ”Seandainya saja beliau diam.” (HR. Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87)Syekh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mengatakan terdapat tiga bentuk persaksian palsu:Pertama, seseorang yang memberi persaksian dengan satu hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mengatakan kejadian sebenarnya seperti yang telah diketahuinya tersebut.Kedua, seseorang yang berani bersaksi dengan sesuatu yang dia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.Ketiga, seseorang yang bersaksi dengan sesuatu yang dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, tetapi dia menyampaikan tidak sesuai dengan realita dengan mengurangi berbagai faktor sehingga kesalahan dari orang yang dia ditunjuk sebagai saksinya, menjadi terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.Hukum semua bentuk persaksian palsu adalah haram. Seseorang harus bersaksi dengan sesuatu yang dia ketahui dengan bentuk seperti yang diketahuinya. Wallahu a’lam.Baca Juga:Jangan Banyak BersumpahHukum Bersumpah atas Nama Ka’bah***@Rumah Kasongan, 11 Rabiul akhir 1444/ 6 November 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabair, karya Adz-Dzahabi rahimahullah.🔍 Pengertian Iman, Gambar Shalat Jumat, Hukum Mengaji Dengan Pengeras Suara, Perjalanan Manusia Setelah Meninggal, Kitab AdabTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikihfikih sumpahmuamalahnasihatnasihat islampersaksian palsusaksi palsusumpah

Menyebar Hadis Tapi Dosa – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Menyebar Hadis Tapi Dosa – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Imam Bukhari—semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Sahih-nya: Makki bin Ibrahim memberitahu kami,dia berkata: Yazid bin Abi ʿUbaid memberitahu kamidari salamah, dia berkata:Saya mendengar Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa berkata atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan,maka silahkan mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Hadis yang agung initermasuk Tsulātsiyyāt Imam Bukhari.Maksud Tsulātsiyyāt sendiri adalahketika antara perawi hadis dengan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamada tiga perawi. Jadi, Makki adalah guru Imam Bukhari,perawi kedua adalah seorang Tabiin,Yazid bin Abi ʿUbaid,(dan ketiga) adalah seorang sahabat, Salamah, semoga Allah meridainya. Hadis yang agung initermasuk hadis mutawatiryang menunjukkan bahaya berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Berdusta atas nama Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamjuga merupakan dusta atas nama Allah. “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kebohongan terhadap Allah.” (QS. As-Saff: 7) “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kebohongan terhadap Allahtidak akan beruntung.” (QS. Yunus: 69) Karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subẖānahu wa Ta’ālā,“Dia tidaklah berkata menurut keinginannya.” (QS. An-Najm: 3) “Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 4) Jadi, semua yang dikatakan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallamdan disabdakan oleh beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa Sallam adalah syariat untuk umat ini,baik itu masalah akidah, hukum,anjuran-anjuran, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menarasikan sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamdan dalam meriwayatkan kabar-kabar dari beliau. Jangan sampaikan hadis kecuali yang valid dan sahihdan setelah merujuk kepada para ulama.Waspadalah dan waspadalahdari penyebaran sesuatu tanpa memastikan kebenarannya. Sebagaimana dikatakan, “Sebarkan dan bagi Anda pahalanya,tapi jika Anda tidak memastikan kebenarannya,ada hukuman dan dosa bagi Anda karenanya.” Para sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sajaberhati-hati dalam meriwayatkan hadis dari beliau ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām.Jika salah seorang dari mereka tidak meriwayatkan dengan redaksi yang sama dengan sabda beliau maka ia akan berkata, “… atau ungkapan semisalnya, … atau sebagaimana yang beliau sabdakan.”Ini semua bentuk kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatuyang tidak pernah diucapkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. ==== بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِي صَحِيحِهِ حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنْ ثُلَاثِيَّاتِ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالْمَقْصُودُ مِنَ الثُّلَاثِيَّاتِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِي وَالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ فَمَكِّيٌّ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ وَالرَّاوِي الثَّانِي هُوَ التَّابِعِيُّ يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ وَالصَّحَابِيُّ سَلَمَةُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ الْعَظِيمُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُتَوَاتِرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى خُطُورَةِ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْكَذِبُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذِبٌ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَا قَالَ بِهِ وَحَدَّثَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ تَشْرِيعٌ لِلْأُمَّةِ مِنْ عَقِيدَةٍ وَأَحْكَامٍ وَمُسْتَحَبَّاتٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ لِذَا يَجِبُ الْاِحْتِرَازُ فِي الرِّوَايَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي تَنَاقُلِ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَلَا يُنْقَلُ إِلَّا مَا صَحَّ وَثَبَثَ وَبَعْدَ الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَحَذَارِي ثُمَّ حَذَارِي مِنْ نَشْرِ شَيْءٍ دُونَ تَثَبُّتٍ كَمَا يُقَالُ: انْشُرْ تُؤْجَرْ وَأَنْتَ إِنْ لَمْ تَتَثَبَّتْ فِي ذَلِكَ تُؤْزَرْ وَتَنَالُ إِثْمًا بِذَلِكَ وَإِذَا كَانَ صَحَابَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَاطُونَ فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِذَا لَمْ يَرْوِ أَحَدُهُمُ الْحَدِيثَ بِلَفْظِهِ يَقُولُ: أَوْ نَحوَ ذَلِكَ أَوْ كَمَا قَالَ كُلُّ هَذَا مِنَ الْاِحْتِرَازِ فِي إِثْبَاتِ شَيْءٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا لَمْ يَقُلْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Zikir Petang

Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam

Zikir Petang

Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam
Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam


Daftar Isi sembunyikan 1. Kapan zikir petang dikerjakan? 2. Bacaan-bacaan dzikir petang Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan lebih dari 100 faedah berzikir atau mengingat Allah ‘Azza Wajalla dalam kitab beliau Al-Waabil Al-Shayyib (hlm. 41). Di antara faedah-faedah tersebut adalah:Pertama: Menghalau gangguan setan.Kedua: Allah azza wajalla akan mencintai orang-orang yang gemar berzikir.Ketiga: Menghilangkan kegalauan di dalam hati.Keempat: Menumbuhkan kebahagiaan dan kelapangan.Kelima: Menguatkan raga dan jiwa seorang mukmin.Keenam: Mencerahkan wajah dan hati.Ketujuh: Seorang yang gemar berzikir akan nampak berwibawa, nyaman, dan tentram. Dll.Allah ‘Azza Wajalla juga menyebutkan kriteria hamba yang berakal adalah mereka yang senantiasa memanfaatkan waktu untuk berzikir atau mengingat Allah. Dalam keadaan duduk maupun berdiri. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)Hal ini juga mencakup zikir yang diperintahkan untuk dikerjakan di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan petang hari. Sebagaimana dalam firman-Nya,وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)Kapan zikir petang dikerjakan?Di luar anjuran bahwa hendaknya seorang hamba sesegera mungkin mengerjakan kebaikan, maka zikir pagi dan petang memiliki batasan waktu tertentu yang hendaknya dipatuhi.Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu zikir pagi dan petang. Ibnul Qayyim rahimahullahu memiliki pandangan (lihat Al-Waabil Al-Shayyib, hlm. 200) bahwa waktu pagi dan petang yang dimaksud dalam ayat,فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)adalah setelah subuh hingga terbit matahari dan setelah asar hingga terbenam matahari.Sementara Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki pandangan berbeda dengan mengatakan,وأذكار المساء من حين أن تصفر الشمس (منتصف العصر) إلى منتصف الليل أو قريباً منه“Dan dzikir petang dikerjakan sejak semburat sinar matahari mulai menguning (pertengahan asar) hingga pertengahan malam atau sebelumnya.” (Fataawa Nuur ‘Alad Darb no. 350)Perbedaan ini teramat luas, akan tetapi semua ulama berpendapat sama akan dianjurkannya menyegerakan zikir pagi dan petang.Bacaan-bacaan dzikir petangBacaan-bacaan yang dianjurkan dibaca ketika dzikir petang adalah sebagai berikut:Pertama: TaawuzKedua: Ayat Kursi (satu kali)اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُAllahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)Ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (3 kali)Al-Ikhlasقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)Al-Falaqقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1-5)An-Nasقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Nas: 1-6)Keempat: Membaca (1 kali)أمسينا وأمسى الملك لله. وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ (3). وَأعوذ بِكَ من شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَومِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مَنْ عَذَابٍ فِي النَّار وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِAmsaina wa amsal mulku lillahi wal hamdu lillah laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’inq qadir, Rabbi as’aluka khaira maa fi hazihil lailah wakhaira maa ba’daha wa a’udzubika min syarri maa fii hazihil lailah wa syarri ba’daha. Rabbi  a’udzubika minal kasali wasuu’ ul kibari, Rabbi a’dzubika min ‘azabi fin naari wa ‘azabi fil qabri.“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada di malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.” (HR. Muslim 4/2088)Kelima: Membaca (1 kali)اللهم بك أمسينا، وبك أصبحنا وبك نحيا، وبك نموت وإليك المصيرAllahumma bika amsainana wabika ashbahna wabika nahyaa, wabika namuutu wa ilaikal mashiir“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).” (HR. At Tirmidzi 3/142)Keenam: Membaca (1 kali)اللَّهُمَ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ أَنْتَAllahumma anta Rabbi laa ilaaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka,wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bizanbi faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 7/150, An-Nasai 9752, dan At-Tirmidzi 3391)Ketujuh: Membaca (4 kali)اللهم إني أمسيت أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَة عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكAllahumma inni amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wamalaa’ikataka, wajami’i khalqika, annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka warusuuluka“Ya Allah, sesungguhnya di waktu sore ini aku mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul Arsy-Mu, malaikat lain dan seluruh makhluk-Mu. Bahwa Engkau adalah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkau Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Mu. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (HR. Abu Dawud 4/317)Kedelapan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسألُكَ الْعَفْوَ وَالَعَافِيَةَ: فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ، وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بِينَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَن أُغْتَالَ مِن تَحْتِيAllahumma inni as’alukal ‘afwa wal-‘aafiyata fid dun yaw al-aakhirah, allahumma as’alukal ‘afwa wa ‘aafiyata fii diini wa dunyaaya wa ahlii wa maali, allahummastur ‘auraati wa aamin rau’aati, allahummahfadzniy min baini yadayya, wamin khalfii, wa ‘an yamiini, wa ‘an syimaali, wamin fauqi, wa a’udzu bi ’adzamatika an ughtaala min tahti.“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” (HR. Abu Dawud secara Mauquf 4/321)Kesembilan: Membaca (1 kali)اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالْشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّموَاتِ والأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاّ إِلَهَ إِلَاّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً، أَوْ أَجُرَّهُ إِلى مُسْلِمAllahumma ‘aalimal ghaibi wasy syahadah faatiras samaawaati wal ardh, Rabba kulli syai’in wamaliikahu, asyhadu an laa ilaaha illa anta, a’udzubika min syarri nafsii, wamin syarrisy syaithani wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘ala nafsii suu’an aw ajurruhu ila muslim“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 3/142)Kesepuluh: Membaca (3 kali)بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ الْعَلِيمُBismillahillazi laa yadhurru ma’as mihi syai’un fil ardhi wala fis samaa’ wahuwas sami’ul ‘aliim“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (HR. Abu Dawud 4/323 dan At-Tirmidzi 5/425)Kesebelas: Membaca (3 kali)رَضَيتُ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلَامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – نَبِياًRadhitu billahi rabban, wabil islami diinan, wabi muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam nabiyyan“Aku rida Allah sebagai Rabbku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (HR Ahmad 4/337).Kedua belas: Membaca (1 kali)يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَينYaa hayyu ya qayyum, birahmatika astaghits, wa ashlih lii sya’nii kullahu, wala takilni ilaa nafsi tharfata ‘ainin abadan“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri, meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (HR. Hakim 1/545 dan dinilai Mauquf oleh Adz-Dzahabi)Ketiga belas: Membaca (100 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِSubhaanallahu wabihamdihi“Mahasuci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (HR. Muslim 4/2071)Keempat belas: Membaca (10 atau 1 kali)لَا إِلَهَ إِلَاّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرLaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai inq qadiir“Tiada ilah yang berhak disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/319 dan Ahmad 4/60)Kelima belas: Membaca (3 kali)أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَA’udzu bikalimaatillahi taammaatim min syarri maa khalaqa“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala macam keburukan yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad 2/290)Keenam belas: Membaca (10 kali)اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍAllahumma shalli wa sallim ala nabiyyina muhammadin“Semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad.” (HR. Thabrani dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib 1/273)Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita untuk merutinkan zikir-zikir di atas. Barakallahu fiikum.Baca juga: Doa Setelah Adzan—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Doa Anak Angkat, Dalil Sunnah, Urutan Mengkafani Jenazah, Dajjal Vs IblisTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamdo'adoa dan dzikirDzikirdzikir pagidzikir petangdzujurkeutamaan dzikirkeutamaan dzikir petangnasihatnasihat islam
Prev     Next