Salah Paham tentang Tauhid

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tauhid yang diajarkan oleh para rasul sesungguhnya mengandung penetapan uluhiyah/peribadahan semata-mata kepada Allah. Hal itu terwujud dengan mempersaksikan bahwa tiada yang berhak disembah, kecuali Allah. Tidak boleh dipuja, kecuali Dia. Tidak boleh dijadikan tempat menggantungkan hati (tawakal), kecuali Dia. Tidak boleh menegakkan loyalitas, kecuali karena-Nya. Tidaklah boleh bermusuhan, kecuali karena-Nya. Dan tidak boleh beramal, kecuali apabila tegak di atas ajaran agama-Nya. Dan tauhid ini juga mengandung kewajiban untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat (kesempurnaan) yang ditetapkan-Nya bagi diri-Nya sendiri.”Beliau rahimahullah melanjutkan, “Dan bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar mencakup tauhid rububiyah saja, yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam, sebagaimana sangkaan sebagian orang dari kalangan ahli kalam/filsafat dan penganut ajaran tasawuf. Mereka mengira apabila telah berhasil menetapkan tauhid rububiyah itu dengan membawakan dalil atau bukti yang kuat maka mereka telah berhasil menetapkan puncak hakikat ketauhidan.” (lihat Fathul Majid, hal. 15 dan 16)Oleh sebab itu, jangan heran apabila terdengar komentar dari sebagian orang, “Tauhid sudah diyakini orang” dan semacamnya. Hal itu terjadi karena mereka mengira tauhid itu cukup dengan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta. Padahal, sebenarnya bukan sekedar ketauhidan semacam itu yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka.Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang yang meyakini bahwa Allah adalah Rabb dan pencipta segala sesuatu secara otomatis layak menyandang gelar sebagai hamba (penyembah) Allah.” Kenapa demikian? Beliau menjelaskan buktinya, “Karena sesungguhnya kaum musyrikin Arab telah mengakui bahwa Allah semata sebagai pencipta segala sesuatu. Meskipun demikian, mereka tetap dianggap sebagai orang-orang musyrik.” (lihat Fathul Majid, hal. 16)Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Dan tauhid jenis ini (yaitu tauhid rububiyah) telah diakui oleh orang-orang musyrik penyembah berhala. Meskipun kebanyakan dari mereka juga menentang adanya hari kebangkitan dan dikumpulkannya manusia (kelak di hari kiamat). Dan pengakuan ini belumlah memasukkan mereka ke dalam agama Islam karena kesyirikan mereka (dalam beribadah kepada-Nya) dengan menyembah arca dan berhala (di samping menyembah Allah) dan juga karena mereka tidak mau beriman terhadap Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 18-19. cet Darul ‘Aqidah)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka?”Maka, beliau menjawab, “Apabila dilihat dari sisi kesyirikan orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka, maka sesungguhnya letak kesyirikan mereka bukanlah dalam hal rububiyah. Karena Al-Qur’an Al-Karim menunjukkan bukti bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal ibadah saja. Adapun dalam hal rububiyah, maka mereka itu beriman bahwa Allah adalah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) satu-satunya. Mereka juga meyakini bahwa Allahlah yang bisa mengabulkan doa orang-orang yang dalam keadaan terjepit. Mereka juga beriman bahwa Allah yang sanggup menyingkapkan berbagai keburukan dan bahaya, dan mereka juga mengakui hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan Allah tentang mereka, yaitu pengakuan mereka terhadap keesaan rububiyah Allah ‘Azza Wajalla. Akan tetapi, mereka itu orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam peribadahan, yaitu mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah. Dan ini merupakan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 18)—Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Anda sudah menyelesaikan 3 dari 10 bab 30% Kembali ke Bab 2 Daftar Isi Lanjut ke Bab 4 🔍 Hukum Dropship, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Hadits Tentang Azab Allah, Doa Menutup Aib DiriTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid

Salah Paham tentang Tauhid

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tauhid yang diajarkan oleh para rasul sesungguhnya mengandung penetapan uluhiyah/peribadahan semata-mata kepada Allah. Hal itu terwujud dengan mempersaksikan bahwa tiada yang berhak disembah, kecuali Allah. Tidak boleh dipuja, kecuali Dia. Tidak boleh dijadikan tempat menggantungkan hati (tawakal), kecuali Dia. Tidak boleh menegakkan loyalitas, kecuali karena-Nya. Tidaklah boleh bermusuhan, kecuali karena-Nya. Dan tidak boleh beramal, kecuali apabila tegak di atas ajaran agama-Nya. Dan tauhid ini juga mengandung kewajiban untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat (kesempurnaan) yang ditetapkan-Nya bagi diri-Nya sendiri.”Beliau rahimahullah melanjutkan, “Dan bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar mencakup tauhid rububiyah saja, yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam, sebagaimana sangkaan sebagian orang dari kalangan ahli kalam/filsafat dan penganut ajaran tasawuf. Mereka mengira apabila telah berhasil menetapkan tauhid rububiyah itu dengan membawakan dalil atau bukti yang kuat maka mereka telah berhasil menetapkan puncak hakikat ketauhidan.” (lihat Fathul Majid, hal. 15 dan 16)Oleh sebab itu, jangan heran apabila terdengar komentar dari sebagian orang, “Tauhid sudah diyakini orang” dan semacamnya. Hal itu terjadi karena mereka mengira tauhid itu cukup dengan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta. Padahal, sebenarnya bukan sekedar ketauhidan semacam itu yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka.Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang yang meyakini bahwa Allah adalah Rabb dan pencipta segala sesuatu secara otomatis layak menyandang gelar sebagai hamba (penyembah) Allah.” Kenapa demikian? Beliau menjelaskan buktinya, “Karena sesungguhnya kaum musyrikin Arab telah mengakui bahwa Allah semata sebagai pencipta segala sesuatu. Meskipun demikian, mereka tetap dianggap sebagai orang-orang musyrik.” (lihat Fathul Majid, hal. 16)Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Dan tauhid jenis ini (yaitu tauhid rububiyah) telah diakui oleh orang-orang musyrik penyembah berhala. Meskipun kebanyakan dari mereka juga menentang adanya hari kebangkitan dan dikumpulkannya manusia (kelak di hari kiamat). Dan pengakuan ini belumlah memasukkan mereka ke dalam agama Islam karena kesyirikan mereka (dalam beribadah kepada-Nya) dengan menyembah arca dan berhala (di samping menyembah Allah) dan juga karena mereka tidak mau beriman terhadap Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 18-19. cet Darul ‘Aqidah)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka?”Maka, beliau menjawab, “Apabila dilihat dari sisi kesyirikan orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka, maka sesungguhnya letak kesyirikan mereka bukanlah dalam hal rububiyah. Karena Al-Qur’an Al-Karim menunjukkan bukti bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal ibadah saja. Adapun dalam hal rububiyah, maka mereka itu beriman bahwa Allah adalah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) satu-satunya. Mereka juga meyakini bahwa Allahlah yang bisa mengabulkan doa orang-orang yang dalam keadaan terjepit. Mereka juga beriman bahwa Allah yang sanggup menyingkapkan berbagai keburukan dan bahaya, dan mereka juga mengakui hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan Allah tentang mereka, yaitu pengakuan mereka terhadap keesaan rububiyah Allah ‘Azza Wajalla. Akan tetapi, mereka itu orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam peribadahan, yaitu mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah. Dan ini merupakan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 18)—Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Anda sudah menyelesaikan 3 dari 10 bab 30% Kembali ke Bab 2 Daftar Isi Lanjut ke Bab 4 🔍 Hukum Dropship, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Hadits Tentang Azab Allah, Doa Menutup Aib DiriTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tauhid yang diajarkan oleh para rasul sesungguhnya mengandung penetapan uluhiyah/peribadahan semata-mata kepada Allah. Hal itu terwujud dengan mempersaksikan bahwa tiada yang berhak disembah, kecuali Allah. Tidak boleh dipuja, kecuali Dia. Tidak boleh dijadikan tempat menggantungkan hati (tawakal), kecuali Dia. Tidak boleh menegakkan loyalitas, kecuali karena-Nya. Tidaklah boleh bermusuhan, kecuali karena-Nya. Dan tidak boleh beramal, kecuali apabila tegak di atas ajaran agama-Nya. Dan tauhid ini juga mengandung kewajiban untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat (kesempurnaan) yang ditetapkan-Nya bagi diri-Nya sendiri.”Beliau rahimahullah melanjutkan, “Dan bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar mencakup tauhid rububiyah saja, yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam, sebagaimana sangkaan sebagian orang dari kalangan ahli kalam/filsafat dan penganut ajaran tasawuf. Mereka mengira apabila telah berhasil menetapkan tauhid rububiyah itu dengan membawakan dalil atau bukti yang kuat maka mereka telah berhasil menetapkan puncak hakikat ketauhidan.” (lihat Fathul Majid, hal. 15 dan 16)Oleh sebab itu, jangan heran apabila terdengar komentar dari sebagian orang, “Tauhid sudah diyakini orang” dan semacamnya. Hal itu terjadi karena mereka mengira tauhid itu cukup dengan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta. Padahal, sebenarnya bukan sekedar ketauhidan semacam itu yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka.Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang yang meyakini bahwa Allah adalah Rabb dan pencipta segala sesuatu secara otomatis layak menyandang gelar sebagai hamba (penyembah) Allah.” Kenapa demikian? Beliau menjelaskan buktinya, “Karena sesungguhnya kaum musyrikin Arab telah mengakui bahwa Allah semata sebagai pencipta segala sesuatu. Meskipun demikian, mereka tetap dianggap sebagai orang-orang musyrik.” (lihat Fathul Majid, hal. 16)Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Dan tauhid jenis ini (yaitu tauhid rububiyah) telah diakui oleh orang-orang musyrik penyembah berhala. Meskipun kebanyakan dari mereka juga menentang adanya hari kebangkitan dan dikumpulkannya manusia (kelak di hari kiamat). Dan pengakuan ini belumlah memasukkan mereka ke dalam agama Islam karena kesyirikan mereka (dalam beribadah kepada-Nya) dengan menyembah arca dan berhala (di samping menyembah Allah) dan juga karena mereka tidak mau beriman terhadap Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 18-19. cet Darul ‘Aqidah)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka?”Maka, beliau menjawab, “Apabila dilihat dari sisi kesyirikan orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka, maka sesungguhnya letak kesyirikan mereka bukanlah dalam hal rububiyah. Karena Al-Qur’an Al-Karim menunjukkan bukti bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal ibadah saja. Adapun dalam hal rububiyah, maka mereka itu beriman bahwa Allah adalah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) satu-satunya. Mereka juga meyakini bahwa Allahlah yang bisa mengabulkan doa orang-orang yang dalam keadaan terjepit. Mereka juga beriman bahwa Allah yang sanggup menyingkapkan berbagai keburukan dan bahaya, dan mereka juga mengakui hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan Allah tentang mereka, yaitu pengakuan mereka terhadap keesaan rububiyah Allah ‘Azza Wajalla. Akan tetapi, mereka itu orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam peribadahan, yaitu mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah. Dan ini merupakan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 18)—Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Anda sudah menyelesaikan 3 dari 10 bab 30% Kembali ke Bab 2 Daftar Isi Lanjut ke Bab 4 🔍 Hukum Dropship, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Hadits Tentang Azab Allah, Doa Menutup Aib DiriTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid


Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tauhid yang diajarkan oleh para rasul sesungguhnya mengandung penetapan uluhiyah/peribadahan semata-mata kepada Allah. Hal itu terwujud dengan mempersaksikan bahwa tiada yang berhak disembah, kecuali Allah. Tidak boleh dipuja, kecuali Dia. Tidak boleh dijadikan tempat menggantungkan hati (tawakal), kecuali Dia. Tidak boleh menegakkan loyalitas, kecuali karena-Nya. Tidaklah boleh bermusuhan, kecuali karena-Nya. Dan tidak boleh beramal, kecuali apabila tegak di atas ajaran agama-Nya. Dan tauhid ini juga mengandung kewajiban untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat (kesempurnaan) yang ditetapkan-Nya bagi diri-Nya sendiri.”Beliau rahimahullah melanjutkan, “Dan bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar mencakup tauhid rububiyah saja, yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam, sebagaimana sangkaan sebagian orang dari kalangan ahli kalam/filsafat dan penganut ajaran tasawuf. Mereka mengira apabila telah berhasil menetapkan tauhid rububiyah itu dengan membawakan dalil atau bukti yang kuat maka mereka telah berhasil menetapkan puncak hakikat ketauhidan.” (lihat Fathul Majid, hal. 15 dan 16)Oleh sebab itu, jangan heran apabila terdengar komentar dari sebagian orang, “Tauhid sudah diyakini orang” dan semacamnya. Hal itu terjadi karena mereka mengira tauhid itu cukup dengan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta. Padahal, sebenarnya bukan sekedar ketauhidan semacam itu yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka.Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang yang meyakini bahwa Allah adalah Rabb dan pencipta segala sesuatu secara otomatis layak menyandang gelar sebagai hamba (penyembah) Allah.” Kenapa demikian? Beliau menjelaskan buktinya, “Karena sesungguhnya kaum musyrikin Arab telah mengakui bahwa Allah semata sebagai pencipta segala sesuatu. Meskipun demikian, mereka tetap dianggap sebagai orang-orang musyrik.” (lihat Fathul Majid, hal. 16)Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Dan tauhid jenis ini (yaitu tauhid rububiyah) telah diakui oleh orang-orang musyrik penyembah berhala. Meskipun kebanyakan dari mereka juga menentang adanya hari kebangkitan dan dikumpulkannya manusia (kelak di hari kiamat). Dan pengakuan ini belumlah memasukkan mereka ke dalam agama Islam karena kesyirikan mereka (dalam beribadah kepada-Nya) dengan menyembah arca dan berhala (di samping menyembah Allah) dan juga karena mereka tidak mau beriman terhadap Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 18-19. cet Darul ‘Aqidah)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka?”Maka, beliau menjawab, “Apabila dilihat dari sisi kesyirikan orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus di tengah mereka, maka sesungguhnya letak kesyirikan mereka bukanlah dalam hal rububiyah. Karena Al-Qur’an Al-Karim menunjukkan bukti bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal ibadah saja. Adapun dalam hal rububiyah, maka mereka itu beriman bahwa Allah adalah Rabb (Pencipta dan Pemelihara) satu-satunya. Mereka juga meyakini bahwa Allahlah yang bisa mengabulkan doa orang-orang yang dalam keadaan terjepit. Mereka juga beriman bahwa Allah yang sanggup menyingkapkan berbagai keburukan dan bahaya, dan mereka juga mengakui hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan Allah tentang mereka, yaitu pengakuan mereka terhadap keesaan rububiyah Allah ‘Azza Wajalla. Akan tetapi, mereka itu orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam peribadahan, yaitu mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah. Dan ini merupakan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 18)—Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Anda sudah menyelesaikan 3 dari 10 bab 30% Kembali ke Bab 2 Daftar Isi Lanjut ke Bab 4 🔍 Hukum Dropship, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Adab Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Tua, Hadits Tentang Azab Allah, Doa Menutup Aib DiriTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid

Beberapa Kondisi Wanita Bercadar Boleh Memperlihatkan Wajah

Pertanyaan: Apakah benar bahwa wanita yang bercadar boleh membuka cadarnya pada beberapa keadaan tertentu? Mohon penjelasannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Sebelumnya kami ingin menekankan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam, dan diajarkan oleh para ulama semua madzhab. Bukan budaya Arab dan bukan ajaran radikal. Ulama madzhab yang 4 memerintahkan wanita untuk menutup wajah, walaupun mereka berbeda pendapat antara sunnah dan wajib. Di antara dalilnya firman Allah ta’ala: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Adanya khilafiyah tersebut karena para ulama berbeda pendapat mengenai apakah wajah termasuk aurat atau bukan. Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat tidak wajibnya menutup wajah dan telapak tangan, namun hukumnya sunnah (dianjurkan). Dan ini pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Sedangkan ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat wajibnya menutup wajah dan telapak tangan. Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta‘. Jika penjelasan di atas dipahami, maka bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang tidak mewajibkan untuk menutup wajah, boleh bagi mereka membuka wajahnya dan telapak tangannya. Namun lebih utama menutupnya. Sedangkan bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang mewajibkan menutup wajah dan telapak tangan, maka wajib mereka untuk istiqomah menutup wajah dan telapak tangan dan tidak membukanya di hadapan lelaki non-mahram. Dan memang ada beberapa keadaan di mana mereka boleh membuka wajahnya, di antaranya: 1. Di depan keluarga yang termasuk mahram Jika ada di depan keluarga yang masih termasuk mahram, seperti: ayah, ibu, mertua, saudara kandung, anak, kakek, nenek, dan semisalnya, tidak mengapa seorang wanita Muslimah memperlihatkan wajah. Asy-Syarwani berkata, جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ: وَعَوْرَةُ بِالنِّسْبَةِ لِنَظْرِ الْأَجَانِبِ إِلَيْهَا “Aurat wanita terhadap pandangan lelaki ajnabi (non-mahram), yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad.” (Hasyiah asy-Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112). Al-Juwaini mengatakan: الْأَجْنَبِيَّةُ فَلَا يَحِلُّ لِلْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى غَيْرِ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ أَمَّا “Adapun wanita ajnabiyah tidak halal bagi lelaki ajnabi untuk melihatnya kecuali wajah dan telapak tangan.” (Nihayatul Mathlab, 12/31). Berarti di depan orang yang bukan ajnabi, boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan. 2. Saat ada lelaki yang melakukan nadzor untuk meng-khitbah-nya (meminangnya) Islam mensyariatkan nadzor, yaitu lelaki yang ingin menikahi seorang wanita dipersilahkan melihat dari wanita tersebut hal-hal yang bisa membuatnya bersemangat untuk menikahinya. Di antara dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فأتَاهُ رَجُلٌ فأخْبَرَهُ أنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ له رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أَنَظَرْتَ إلَيْهَا؟ قالَ: لَا، قالَ: فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إلَيْهَا، فإنَّ في أَعْيُنِ الأنْصَارِ شيئًا “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?”. Ia berkata: “Belum!”. Nabi bersabda: “Kalau begitu pergilah dan lihatlah wanita Anshar tersebut, karena pada mata mereka terdapat sesuatu” (HR. Muslim no.1424). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  لا نَعْلَمُ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ خِلَافًا فِي إبَاحَةِ النَّظَرِ إلَى الْمَرْأَةِ لِمَنْ أَرَادَ نِكَاحَهَا “Tidak kami ketahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya melihat wajah wanita bagi orang yang ingin meminangnya” (Al Mughni, 15/69). Syaikh Khalid Al Musyaiqih menjelaskan bahwa bolehnya nadzor ini ada syarat-syaratnya: 1. Lelaki tersebut memiliki sangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima. Jika lelaki tersebut sudah tahu bahwa kalau ia melamar wanita-wanita yang ingin dia nikahi itu pasti lamarannya ditolak, maka tidak boleh nadzor. Dan kalau begitu apa faidahnya nadzor dalam hal ini? 2. Tidak boleh dilakukan dengan berdua-duaan (khalwat). Kalau dalam nadzor ini dilakukan dengan khulwah maka tidak diperbolehkan. 3. Aman dari letupan syahwat. Jika dengan nadzor itu timbul gejolak syahwat, maka wajib untuk segera menjauh dan tidak melanjutkan nadzor. 4. Dilakukan sekadar kebutuhan saja. Maksudnya jika sudah melihat si wanita lalu timbul perasaan dalam hatinya (sudah merasa senang, pent.), maka tidak perlu dilanjutkan lagi nadzor-nya 5. Hanya melihat 5 hal: Seorang lelaki yang ingin melamar seorang wanita jika ia ingin melihat si wanita tersebut, dibolehkan melihat 5 hal: wajah, leher, kepala, al qadam (kaki dari mulai mata kaki hingga ke bawah), al yadd (tangan dari pergelangan tangan hingga jari). 6. Hendaknya si wanita tampil seperti biasanya, karena ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Tidak boleh ia memakai perhiasan dan hal-hal yang diharamkan, karena bagi si lelaki tadi ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Namun bukan berarti si wanita tampil kusut berantakan. (Fatwa Thariqul Islam, no.35987). 3. Ketika melakukan jual beli Wanita juga dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya ketika melakukan jual beli jika memang diperlukan. Agar tidak menimbulkan kesalahan sehingga terjadi kerugian dan hilang harta seorang Muslim. Karena harta seorang Muslim itu terjaga. Dari Jabir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ “Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian“ (HR. Bukhari no.1739, Muslim no.1679). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:  وإن عامل امرأة في بيع أو أجارة فله النظر إلى وجهها ليَعْلَمَها بعينها فيرجع عليها بالدّرَك ( وهو ضمان الثمن عند استحقاق البيع ) ، وقد روي عن أحمد كراهة ذلك في حق الشابة دون العجوز ، وكرهه لمن يخاف الفتنة ، أو يستغني عن المعاملة فأما مع الحاجة وعدم الشهوة فلا بأس “Jika seorang laki-laki berjual beli dengan wanita, atau sewa menyewa dengannya, maka ia boleh melihat wajah wanita itu untuk mengetahuinya. Sehingga ia bisa mengembalikan ad-darak (uang yang tertanggung dalam jual beli). Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau melarang untuk melihat pembeli wanita jika wanita tersebut masih muda, namun dibolehkan terhadap wanita lanjut usia. Dan beliau juga melarang melihat wanita yang dikhawatirkan bisa menimbulkan godaan atau jika jual beli dapat tercapai dengan baik tanpa melihat wajah wanita. Adapun jika memang dibutuhkan, dan tidak menimbulkan syahwat, maka tidak mengapa” (Al-Mughni, 7/459). 4. Dalam rangka pengobatan Pada asalnya, wanita Muslimah hendaknya berobat kepada dokter Muslimah juga. Sehingga ia bisa membuka wajahnya dan bagian tubuhnya yang terkena penyakit atau butuh dibuka untuk pemeriksaan kesehatan.  Namun jika tidak didapati dokter Muslimah, wanita bercadar dibolehkan membuka wajahnya atau bagian tubuh lainnya yang terkena penyakit untuk diobati oleh dokter laki-laki. Jika memang ada kebutuhan mendesak untuk diobati dan wajib disertai mahramnya atau suaminya.  Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  يباح للطبيب النظر إلى ما تدعوا إليه الحاجة من بدنها من العورة وغيرها ، فإنه موضع حاجة  وعن عثمان أنه أتي بغلام قد سرق فقال : انظروا إلى مؤتزره ( أي موضع شعر العانة الدالّ على البلوغ من عدمه). فلم يجدوه أنبت الشعر ، فلم يقطعه “Dibolehkan bagi seorang tabib (atau dokter) untuk melihat bagian aurat wanita yang dibutuhkan untuk diperiksa. Karena ini termasuk hajat (ada kebutuhan). Diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa pernah dibawa ke hadapannya seorang bocah yang mencuri. Beliau berkata: “Periksalah di dalam sarungnya!”. Maksudnya, periksalah apakah ia sudah tumbuh bulu kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia sudah baligh atau belum. Ternyata mereka tidak mendapat adanya bulu kemaluan, sehingga beliau pun tidak memotong tangannya” (Al-Mughni, 7/459). Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya membuat judul bab: باب هل يداوي الرجل المرأة ، والمرأة الرجل “Bab bolehkah lelaki mengobati wanita dan bolehkah wanita mengobati lelaki?”. Kemudian beliau membawakan hadits dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu’anha (seorang sahabiyah), beliau berkata : كُنَّا نَغْزُو مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: نَسْقِي القَوْمَ ونَخْدُمُهُمْ، ونَرُدُّ القَتْلَى والجَرْحَى إلى المَدِينَةِ “Kami (para wanita) pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami memberi minum dan membantu kebutuhan para pasukan, serta membawa pasukan yang tewas dan terluka ke Madinah” (HR. Al Bukhari no.5679). Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan: “Hukum bolehnya laki-laki mengobati kaum wanita diambil berdasarkan qiyas (terhadap hadits di atas). Imam Al-Bukhari tidak menegaskan hukum tersebut karena masih ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab. Atau bisa jadi masing-masing wanita ketika itu hanya mengobati suaminya atau mahramnya saja. Adapun hukum masalah ini, kaum wanita boleh mengobati kaum pria dalam kondisi darurat, dan kebolehannya sebatas kedaruratannya terkait dengan masalah melihat aurat, memegang pasien atau semisalnya” (Fathul Bari, 10/136). 5. Untuk keperluan peradilan di pengadilan Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya ketika memberikan persaksian atau menjadi terdakwa atau menjadi penggugat di pengadilan. Agar tidak ada hak yang terlalaikan dan tidak ada orang yang terzalimi dalam pemutusan perkara. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: وللشاهد النظر إلى وجه المشهود عليها لتكون الشهادة واقعة على عينها ، قال أحمد : لا يشهد على امرأة إلا أن يكون قد عرفها بعينها “Saksi boleh melihat wajah terdakwa agar persaksiannya tepat sasaran. Imam Ahmad berkata: Tidak boleh memberikan persaksian yang memberatkan seorang wanita kecuali saksi benar-benar mengenalinya” (Al-Mughni, 7/459). 6. Di hadapan anak laki-laki kecil yang belum baligh dan belum punya hasrat kepada wanita Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya di hadapan anak laki-laki yang belum baligh, karena mereka belum terkena beban syari’at.  Dan kebolehan hal ini disyaratkan anak tersebut belum punya hasrat kepada wanita. Sebagaimana dalam ayat hijab, yang dikecualikan oleh Allah untuk boleh melihat aurat wanita adalah: أو الطّفل الذين لم يظهروا على عورات النساء “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita” (QS. An Nur: 31). Ibnu Qudamah mengatakan: “Anak laki-laki yang belum punya hasrat kepada wanita boleh melihat tubuh wanita pada bagian atas pusar dan di bawah lutut, menurut satu riwayat dari Imam Ahmad. Karena Allah ta’ala berfirman: ليس عليكم ولا عليهم جناح بعدهن طوافون عليكم بعضكم من بعض “Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain)” (QS. An Nur: 58). Dan firman Allah ta’ala: وإذا بلغ الأطفال منكم الحلُم فليستأذنوا كما استئذن الذين من قبلهم “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (QS. An Nur: 59). Ayat-ayat di atas membedakan antara anak yang sudah baligh dan yang belum baligh. Imam Ahmad mengatakan:  حجم أبو طيبة أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وهو غلام “Abu Thaybah pernah membekam istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu ia masih seorang anak kecil”  (Al-Mughni, 7/458). 7. Di hadapan laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya kepada laki-laki yang sudah tua renta dan tidak lagi memiliki nafsu syahwat.  Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan: “Wanita boleh menampakkan sebagian aurat terhadap laki-laki yang sudah tidak punya syahwat lagi. Baik karena sudah lanjut usia, atau lemah syahwat, atau karena sakit parah yang kecil kemungkinan sembuhnya, atau lelaki yang mengebiri kemaluannya, atau lelaki banci yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita. Batasan aurat yang boleh diperlihatkan kepada mereka sama seperti batasan aurat kepada para mahram. Ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى الْأِرْبَةِ “atau terhadap pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)” (QS. An Nur: 31). Maksudnya yaitu laki-laki yang tidak punya hasrat lagi terhadap wanita. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini: “Maksudnya laki-laki yang para wanita tidak merasa segan kepadanya”. Dinukil juga dari beliau: “Maksudnya, lelaki banci yang impoten”. Mujahid dan Qatadah menafsirkan: “Yaitu laki-laki yang tidak punya keinginan syahwat kepada kaum wanita”. (Al-Mughni, 7/463). 8. Jika sudah menopause Wanita lanjut usia yang sudah menopause boleh menampakkan wajahnya di depan laki-laki ajnabi. Namun menutup wajah dan memakai hijab yang sempurna lebih utama baginya. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Wanita yang demikian boleh membuka wajahnya. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). 9. Di depan sesama wanita Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah mengatakan: “Telah tersebar anggapan di masyarakat bahwa aurat wanita di depan wanita lain atau di depan lelaki yang menjadi mahramnya adalah antara pusar sampai lutut. Ini adalah sebuah kesalahan. Yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam surat An Nuur: ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن “Dan seorang mukminah tidak boleh memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka…” (QS. An Nuur: 31). dan seterusnya Allah ta’ala menyebutkan orang-orang yang termasuk mahram. Oleh karena itu yang diperbolehkan adalah memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan. Sedangkan bagian tubuh yang bukan tempat perhiasan tidak diperbolehkan memperlihatkannya kepada orang lain kecuali suaminya. Hal ini berdasarkan keumuman hadits المرأة عورة “Wanita adalah aurat” (HR. Muslim no.338). Misalnya rambut, ia adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya (kepada wanita dan mahramnya). Begitu juga leher dan dada bagian atas adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya. Demikian juga telapak tangan, dan betis serta betis yang biasa diberi khul-khul (gelang kaki), maka boleh ditampakkan. Sedangkan menampakkan paha, dada, punggung atau semisalnya di depan wanita lain atau lelaki mahram, adalah perkara yang diharamkan. Demikian juga tidak diperbolehkan memakai pakaian yang masih menampakkan aurat, semisal celana panjang yang ketat atau pakaian yang tipis, di depan lelaki mahram. Sebaiknya wanita muslimah di depan lelaki mahram menggunakan pakaian sebagaimana yang digunakan ketika beraktifitas di dalam rumahnya, semisal gaun wanita yang panjangnya melebihi lutut, atau memakai celana panjang dengan gamis di atasnya, sehingga mengesankan lututnya bersambung, atau pakaian semacam itu. Jika seorang muslimah hendak menyusui anaknya, maka hendaknya ia menutup dadanya dengan kain penutup dan jangan menampakkannya di depan ayahnya atau saudara lelakinya. Inilah rasa malu yang wajib dimiliki oleh setiap wanita dan dijaga baik-baik. (Fatawa Syaikh Mayshur Hasan Salman, fatwa no.71, Asy Syamilah). 10. Ketika berihram untuk haji ataupun umrah Wanita yang sedang dalam kondisi ihram untuk haji atau umrah boleh membuka wajahnya, bahkan mereka dilarang menggunakan niqab dan kaus tangan. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ولَا تَنْتَقِبِ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ، ولَا تَلْبَسِ القُفَّازَيْنِ “Wanita yang berihram tidak boleh memakai niqab dan tidak boleh memakai kaus tangan” (HR. Al Bukhari no.1838) Namun para wanita tetap diperintahkan untuk menutup wajah mereka jika ada laki-laki non mahram, dengan menggunakan cara-cara lain. Seperti menggunakan ujung jilbab mereka, atau dengan sapu tangan atau cara yang lainnya. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: كان الرُّكبانُ يَمُرُّونَ بنا ونحن مع رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحرِماتٌ، فإذا حاذَوْنا سَدَلتْ إحدانا جِلْبابَها مِن رأسِها على وَجهِها، فإذا جَاوَزونا كَشَفْناه “Dahulu orang-orang melewati kami ketika kami berihram untuk haji bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika ada lelaki yang melewati kami, kami gantungkan kain jilbab dari atas kepala kami sampai menutupi wajah. Jika mereka sudah berlalu, kami singkap wajah kami” (HR. Abu Daud no.1833, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Kitabus Sunnah [7/ 240]). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Seorang wanita wajib menutup wajahnya (ketika ada lelaki) dengan selain burqa (niqab). Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu’anha … (kemudian beliau membawakan hadits di atas). Dan tidak mengapa jika kain yang digantungkan tersebut menyentuh wajahnya. Karena yang terlarang adalah memakai burqa dan niqab saja. Tidak dilarang menutup wajah dengan selain keduanya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, hal. 228). 11. Dalam kondisi darurat Dalam kondisi darurat di mana seorang wanita kesulitan untuk menutup wajahnya, ketika itu ada kelonggaran untuk membuka wajahnya. Allah ta’ala berfirman, وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan” (QS. Al An’am: 119). Sehingga para ulama menetapkan kaidah: الضرورة تبيح المحظورات “Kondisi darurat membolehkan yang terlarang”. Seperti membuka wajah untuk pembuatan kartu identitas atau paspor, pembuatan iqamah (izin tinggal), pembuatan kartu pelajar, demikian juga membuka wajah untuk pemeriksaan keamanan dari pemerintah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: لكن كشف الوجه للضرورة، في المسائل التي ذكرتها السائلة، عند الحاجة إلى أخذ صورة للوجه، وعند إبراز الصورة للتطبيق، إذا دعت الضرورة إلى ذلك؛ فلا حرج في ذلك؛ لأجل الضرورة “Membuka wajah bagi wanita karena alasan darurat, seperti pada pertanyaan yang Anda sebutkan (yaitu pemeriksaan keamanan, membuat paspor, membuat KTP) ketika memang dibutuhkan untuk membuka wajah sehingga bisa dicocokan identitasnya, jika memang kondisinya darurat untuk melakukan hal itu maka tidak mengapa. Karena kondisi darurat” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no.14486). Demikian juga ketika terjadi musibah atau bencana alam, sehingga seorang wanita berupaya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dengan segera dan wajahnya dalam keadaan terbuka. Atau ketika ia dalam kondisi sakit dan membutuhkan nafas lebih banyak, sehingga wajahnya dibuka. Atau ketika ada ancaman keras dari pemerintah bagi yang menutup wajah. Semua ini kondisi darurat yang membolehkan membuka wajah. Tentunya sampai hilang kondisi daruratnya, bukan untuk terus-menerus. Wallahu a’lam. Inilah beberapa kondisi yang membolehkan wanita yang mewajibkan menutup wajah untuk membuka wajahnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Titip Salam, Cara Berdoa Ketika Sedang Haid, Doa Sebelum Salam Sunnah, Mohon Maaf Sebelum Puasa, Rasul Dan Nabi, Hadits Tentang Perjodohan Visited 630 times, 3 visit(s) today Post Views: 512 QRIS donasi Yufid

Beberapa Kondisi Wanita Bercadar Boleh Memperlihatkan Wajah

Pertanyaan: Apakah benar bahwa wanita yang bercadar boleh membuka cadarnya pada beberapa keadaan tertentu? Mohon penjelasannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Sebelumnya kami ingin menekankan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam, dan diajarkan oleh para ulama semua madzhab. Bukan budaya Arab dan bukan ajaran radikal. Ulama madzhab yang 4 memerintahkan wanita untuk menutup wajah, walaupun mereka berbeda pendapat antara sunnah dan wajib. Di antara dalilnya firman Allah ta’ala: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Adanya khilafiyah tersebut karena para ulama berbeda pendapat mengenai apakah wajah termasuk aurat atau bukan. Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat tidak wajibnya menutup wajah dan telapak tangan, namun hukumnya sunnah (dianjurkan). Dan ini pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Sedangkan ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat wajibnya menutup wajah dan telapak tangan. Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta‘. Jika penjelasan di atas dipahami, maka bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang tidak mewajibkan untuk menutup wajah, boleh bagi mereka membuka wajahnya dan telapak tangannya. Namun lebih utama menutupnya. Sedangkan bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang mewajibkan menutup wajah dan telapak tangan, maka wajib mereka untuk istiqomah menutup wajah dan telapak tangan dan tidak membukanya di hadapan lelaki non-mahram. Dan memang ada beberapa keadaan di mana mereka boleh membuka wajahnya, di antaranya: 1. Di depan keluarga yang termasuk mahram Jika ada di depan keluarga yang masih termasuk mahram, seperti: ayah, ibu, mertua, saudara kandung, anak, kakek, nenek, dan semisalnya, tidak mengapa seorang wanita Muslimah memperlihatkan wajah. Asy-Syarwani berkata, جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ: وَعَوْرَةُ بِالنِّسْبَةِ لِنَظْرِ الْأَجَانِبِ إِلَيْهَا “Aurat wanita terhadap pandangan lelaki ajnabi (non-mahram), yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad.” (Hasyiah asy-Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112). Al-Juwaini mengatakan: الْأَجْنَبِيَّةُ فَلَا يَحِلُّ لِلْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى غَيْرِ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ أَمَّا “Adapun wanita ajnabiyah tidak halal bagi lelaki ajnabi untuk melihatnya kecuali wajah dan telapak tangan.” (Nihayatul Mathlab, 12/31). Berarti di depan orang yang bukan ajnabi, boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan. 2. Saat ada lelaki yang melakukan nadzor untuk meng-khitbah-nya (meminangnya) Islam mensyariatkan nadzor, yaitu lelaki yang ingin menikahi seorang wanita dipersilahkan melihat dari wanita tersebut hal-hal yang bisa membuatnya bersemangat untuk menikahinya. Di antara dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فأتَاهُ رَجُلٌ فأخْبَرَهُ أنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ له رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أَنَظَرْتَ إلَيْهَا؟ قالَ: لَا، قالَ: فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إلَيْهَا، فإنَّ في أَعْيُنِ الأنْصَارِ شيئًا “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?”. Ia berkata: “Belum!”. Nabi bersabda: “Kalau begitu pergilah dan lihatlah wanita Anshar tersebut, karena pada mata mereka terdapat sesuatu” (HR. Muslim no.1424). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  لا نَعْلَمُ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ خِلَافًا فِي إبَاحَةِ النَّظَرِ إلَى الْمَرْأَةِ لِمَنْ أَرَادَ نِكَاحَهَا “Tidak kami ketahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya melihat wajah wanita bagi orang yang ingin meminangnya” (Al Mughni, 15/69). Syaikh Khalid Al Musyaiqih menjelaskan bahwa bolehnya nadzor ini ada syarat-syaratnya: 1. Lelaki tersebut memiliki sangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima. Jika lelaki tersebut sudah tahu bahwa kalau ia melamar wanita-wanita yang ingin dia nikahi itu pasti lamarannya ditolak, maka tidak boleh nadzor. Dan kalau begitu apa faidahnya nadzor dalam hal ini? 2. Tidak boleh dilakukan dengan berdua-duaan (khalwat). Kalau dalam nadzor ini dilakukan dengan khulwah maka tidak diperbolehkan. 3. Aman dari letupan syahwat. Jika dengan nadzor itu timbul gejolak syahwat, maka wajib untuk segera menjauh dan tidak melanjutkan nadzor. 4. Dilakukan sekadar kebutuhan saja. Maksudnya jika sudah melihat si wanita lalu timbul perasaan dalam hatinya (sudah merasa senang, pent.), maka tidak perlu dilanjutkan lagi nadzor-nya 5. Hanya melihat 5 hal: Seorang lelaki yang ingin melamar seorang wanita jika ia ingin melihat si wanita tersebut, dibolehkan melihat 5 hal: wajah, leher, kepala, al qadam (kaki dari mulai mata kaki hingga ke bawah), al yadd (tangan dari pergelangan tangan hingga jari). 6. Hendaknya si wanita tampil seperti biasanya, karena ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Tidak boleh ia memakai perhiasan dan hal-hal yang diharamkan, karena bagi si lelaki tadi ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Namun bukan berarti si wanita tampil kusut berantakan. (Fatwa Thariqul Islam, no.35987). 3. Ketika melakukan jual beli Wanita juga dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya ketika melakukan jual beli jika memang diperlukan. Agar tidak menimbulkan kesalahan sehingga terjadi kerugian dan hilang harta seorang Muslim. Karena harta seorang Muslim itu terjaga. Dari Jabir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ “Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian“ (HR. Bukhari no.1739, Muslim no.1679). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:  وإن عامل امرأة في بيع أو أجارة فله النظر إلى وجهها ليَعْلَمَها بعينها فيرجع عليها بالدّرَك ( وهو ضمان الثمن عند استحقاق البيع ) ، وقد روي عن أحمد كراهة ذلك في حق الشابة دون العجوز ، وكرهه لمن يخاف الفتنة ، أو يستغني عن المعاملة فأما مع الحاجة وعدم الشهوة فلا بأس “Jika seorang laki-laki berjual beli dengan wanita, atau sewa menyewa dengannya, maka ia boleh melihat wajah wanita itu untuk mengetahuinya. Sehingga ia bisa mengembalikan ad-darak (uang yang tertanggung dalam jual beli). Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau melarang untuk melihat pembeli wanita jika wanita tersebut masih muda, namun dibolehkan terhadap wanita lanjut usia. Dan beliau juga melarang melihat wanita yang dikhawatirkan bisa menimbulkan godaan atau jika jual beli dapat tercapai dengan baik tanpa melihat wajah wanita. Adapun jika memang dibutuhkan, dan tidak menimbulkan syahwat, maka tidak mengapa” (Al-Mughni, 7/459). 4. Dalam rangka pengobatan Pada asalnya, wanita Muslimah hendaknya berobat kepada dokter Muslimah juga. Sehingga ia bisa membuka wajahnya dan bagian tubuhnya yang terkena penyakit atau butuh dibuka untuk pemeriksaan kesehatan.  Namun jika tidak didapati dokter Muslimah, wanita bercadar dibolehkan membuka wajahnya atau bagian tubuh lainnya yang terkena penyakit untuk diobati oleh dokter laki-laki. Jika memang ada kebutuhan mendesak untuk diobati dan wajib disertai mahramnya atau suaminya.  Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  يباح للطبيب النظر إلى ما تدعوا إليه الحاجة من بدنها من العورة وغيرها ، فإنه موضع حاجة  وعن عثمان أنه أتي بغلام قد سرق فقال : انظروا إلى مؤتزره ( أي موضع شعر العانة الدالّ على البلوغ من عدمه). فلم يجدوه أنبت الشعر ، فلم يقطعه “Dibolehkan bagi seorang tabib (atau dokter) untuk melihat bagian aurat wanita yang dibutuhkan untuk diperiksa. Karena ini termasuk hajat (ada kebutuhan). Diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa pernah dibawa ke hadapannya seorang bocah yang mencuri. Beliau berkata: “Periksalah di dalam sarungnya!”. Maksudnya, periksalah apakah ia sudah tumbuh bulu kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia sudah baligh atau belum. Ternyata mereka tidak mendapat adanya bulu kemaluan, sehingga beliau pun tidak memotong tangannya” (Al-Mughni, 7/459). Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya membuat judul bab: باب هل يداوي الرجل المرأة ، والمرأة الرجل “Bab bolehkah lelaki mengobati wanita dan bolehkah wanita mengobati lelaki?”. Kemudian beliau membawakan hadits dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu’anha (seorang sahabiyah), beliau berkata : كُنَّا نَغْزُو مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: نَسْقِي القَوْمَ ونَخْدُمُهُمْ، ونَرُدُّ القَتْلَى والجَرْحَى إلى المَدِينَةِ “Kami (para wanita) pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami memberi minum dan membantu kebutuhan para pasukan, serta membawa pasukan yang tewas dan terluka ke Madinah” (HR. Al Bukhari no.5679). Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan: “Hukum bolehnya laki-laki mengobati kaum wanita diambil berdasarkan qiyas (terhadap hadits di atas). Imam Al-Bukhari tidak menegaskan hukum tersebut karena masih ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab. Atau bisa jadi masing-masing wanita ketika itu hanya mengobati suaminya atau mahramnya saja. Adapun hukum masalah ini, kaum wanita boleh mengobati kaum pria dalam kondisi darurat, dan kebolehannya sebatas kedaruratannya terkait dengan masalah melihat aurat, memegang pasien atau semisalnya” (Fathul Bari, 10/136). 5. Untuk keperluan peradilan di pengadilan Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya ketika memberikan persaksian atau menjadi terdakwa atau menjadi penggugat di pengadilan. Agar tidak ada hak yang terlalaikan dan tidak ada orang yang terzalimi dalam pemutusan perkara. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: وللشاهد النظر إلى وجه المشهود عليها لتكون الشهادة واقعة على عينها ، قال أحمد : لا يشهد على امرأة إلا أن يكون قد عرفها بعينها “Saksi boleh melihat wajah terdakwa agar persaksiannya tepat sasaran. Imam Ahmad berkata: Tidak boleh memberikan persaksian yang memberatkan seorang wanita kecuali saksi benar-benar mengenalinya” (Al-Mughni, 7/459). 6. Di hadapan anak laki-laki kecil yang belum baligh dan belum punya hasrat kepada wanita Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya di hadapan anak laki-laki yang belum baligh, karena mereka belum terkena beban syari’at.  Dan kebolehan hal ini disyaratkan anak tersebut belum punya hasrat kepada wanita. Sebagaimana dalam ayat hijab, yang dikecualikan oleh Allah untuk boleh melihat aurat wanita adalah: أو الطّفل الذين لم يظهروا على عورات النساء “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita” (QS. An Nur: 31). Ibnu Qudamah mengatakan: “Anak laki-laki yang belum punya hasrat kepada wanita boleh melihat tubuh wanita pada bagian atas pusar dan di bawah lutut, menurut satu riwayat dari Imam Ahmad. Karena Allah ta’ala berfirman: ليس عليكم ولا عليهم جناح بعدهن طوافون عليكم بعضكم من بعض “Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain)” (QS. An Nur: 58). Dan firman Allah ta’ala: وإذا بلغ الأطفال منكم الحلُم فليستأذنوا كما استئذن الذين من قبلهم “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (QS. An Nur: 59). Ayat-ayat di atas membedakan antara anak yang sudah baligh dan yang belum baligh. Imam Ahmad mengatakan:  حجم أبو طيبة أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وهو غلام “Abu Thaybah pernah membekam istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu ia masih seorang anak kecil”  (Al-Mughni, 7/458). 7. Di hadapan laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya kepada laki-laki yang sudah tua renta dan tidak lagi memiliki nafsu syahwat.  Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan: “Wanita boleh menampakkan sebagian aurat terhadap laki-laki yang sudah tidak punya syahwat lagi. Baik karena sudah lanjut usia, atau lemah syahwat, atau karena sakit parah yang kecil kemungkinan sembuhnya, atau lelaki yang mengebiri kemaluannya, atau lelaki banci yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita. Batasan aurat yang boleh diperlihatkan kepada mereka sama seperti batasan aurat kepada para mahram. Ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى الْأِرْبَةِ “atau terhadap pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)” (QS. An Nur: 31). Maksudnya yaitu laki-laki yang tidak punya hasrat lagi terhadap wanita. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini: “Maksudnya laki-laki yang para wanita tidak merasa segan kepadanya”. Dinukil juga dari beliau: “Maksudnya, lelaki banci yang impoten”. Mujahid dan Qatadah menafsirkan: “Yaitu laki-laki yang tidak punya keinginan syahwat kepada kaum wanita”. (Al-Mughni, 7/463). 8. Jika sudah menopause Wanita lanjut usia yang sudah menopause boleh menampakkan wajahnya di depan laki-laki ajnabi. Namun menutup wajah dan memakai hijab yang sempurna lebih utama baginya. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Wanita yang demikian boleh membuka wajahnya. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). 9. Di depan sesama wanita Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah mengatakan: “Telah tersebar anggapan di masyarakat bahwa aurat wanita di depan wanita lain atau di depan lelaki yang menjadi mahramnya adalah antara pusar sampai lutut. Ini adalah sebuah kesalahan. Yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam surat An Nuur: ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن “Dan seorang mukminah tidak boleh memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka…” (QS. An Nuur: 31). dan seterusnya Allah ta’ala menyebutkan orang-orang yang termasuk mahram. Oleh karena itu yang diperbolehkan adalah memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan. Sedangkan bagian tubuh yang bukan tempat perhiasan tidak diperbolehkan memperlihatkannya kepada orang lain kecuali suaminya. Hal ini berdasarkan keumuman hadits المرأة عورة “Wanita adalah aurat” (HR. Muslim no.338). Misalnya rambut, ia adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya (kepada wanita dan mahramnya). Begitu juga leher dan dada bagian atas adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya. Demikian juga telapak tangan, dan betis serta betis yang biasa diberi khul-khul (gelang kaki), maka boleh ditampakkan. Sedangkan menampakkan paha, dada, punggung atau semisalnya di depan wanita lain atau lelaki mahram, adalah perkara yang diharamkan. Demikian juga tidak diperbolehkan memakai pakaian yang masih menampakkan aurat, semisal celana panjang yang ketat atau pakaian yang tipis, di depan lelaki mahram. Sebaiknya wanita muslimah di depan lelaki mahram menggunakan pakaian sebagaimana yang digunakan ketika beraktifitas di dalam rumahnya, semisal gaun wanita yang panjangnya melebihi lutut, atau memakai celana panjang dengan gamis di atasnya, sehingga mengesankan lututnya bersambung, atau pakaian semacam itu. Jika seorang muslimah hendak menyusui anaknya, maka hendaknya ia menutup dadanya dengan kain penutup dan jangan menampakkannya di depan ayahnya atau saudara lelakinya. Inilah rasa malu yang wajib dimiliki oleh setiap wanita dan dijaga baik-baik. (Fatawa Syaikh Mayshur Hasan Salman, fatwa no.71, Asy Syamilah). 10. Ketika berihram untuk haji ataupun umrah Wanita yang sedang dalam kondisi ihram untuk haji atau umrah boleh membuka wajahnya, bahkan mereka dilarang menggunakan niqab dan kaus tangan. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ولَا تَنْتَقِبِ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ، ولَا تَلْبَسِ القُفَّازَيْنِ “Wanita yang berihram tidak boleh memakai niqab dan tidak boleh memakai kaus tangan” (HR. Al Bukhari no.1838) Namun para wanita tetap diperintahkan untuk menutup wajah mereka jika ada laki-laki non mahram, dengan menggunakan cara-cara lain. Seperti menggunakan ujung jilbab mereka, atau dengan sapu tangan atau cara yang lainnya. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: كان الرُّكبانُ يَمُرُّونَ بنا ونحن مع رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحرِماتٌ، فإذا حاذَوْنا سَدَلتْ إحدانا جِلْبابَها مِن رأسِها على وَجهِها، فإذا جَاوَزونا كَشَفْناه “Dahulu orang-orang melewati kami ketika kami berihram untuk haji bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika ada lelaki yang melewati kami, kami gantungkan kain jilbab dari atas kepala kami sampai menutupi wajah. Jika mereka sudah berlalu, kami singkap wajah kami” (HR. Abu Daud no.1833, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Kitabus Sunnah [7/ 240]). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Seorang wanita wajib menutup wajahnya (ketika ada lelaki) dengan selain burqa (niqab). Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu’anha … (kemudian beliau membawakan hadits di atas). Dan tidak mengapa jika kain yang digantungkan tersebut menyentuh wajahnya. Karena yang terlarang adalah memakai burqa dan niqab saja. Tidak dilarang menutup wajah dengan selain keduanya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, hal. 228). 11. Dalam kondisi darurat Dalam kondisi darurat di mana seorang wanita kesulitan untuk menutup wajahnya, ketika itu ada kelonggaran untuk membuka wajahnya. Allah ta’ala berfirman, وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan” (QS. Al An’am: 119). Sehingga para ulama menetapkan kaidah: الضرورة تبيح المحظورات “Kondisi darurat membolehkan yang terlarang”. Seperti membuka wajah untuk pembuatan kartu identitas atau paspor, pembuatan iqamah (izin tinggal), pembuatan kartu pelajar, demikian juga membuka wajah untuk pemeriksaan keamanan dari pemerintah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: لكن كشف الوجه للضرورة، في المسائل التي ذكرتها السائلة، عند الحاجة إلى أخذ صورة للوجه، وعند إبراز الصورة للتطبيق، إذا دعت الضرورة إلى ذلك؛ فلا حرج في ذلك؛ لأجل الضرورة “Membuka wajah bagi wanita karena alasan darurat, seperti pada pertanyaan yang Anda sebutkan (yaitu pemeriksaan keamanan, membuat paspor, membuat KTP) ketika memang dibutuhkan untuk membuka wajah sehingga bisa dicocokan identitasnya, jika memang kondisinya darurat untuk melakukan hal itu maka tidak mengapa. Karena kondisi darurat” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no.14486). Demikian juga ketika terjadi musibah atau bencana alam, sehingga seorang wanita berupaya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dengan segera dan wajahnya dalam keadaan terbuka. Atau ketika ia dalam kondisi sakit dan membutuhkan nafas lebih banyak, sehingga wajahnya dibuka. Atau ketika ada ancaman keras dari pemerintah bagi yang menutup wajah. Semua ini kondisi darurat yang membolehkan membuka wajah. Tentunya sampai hilang kondisi daruratnya, bukan untuk terus-menerus. Wallahu a’lam. Inilah beberapa kondisi yang membolehkan wanita yang mewajibkan menutup wajah untuk membuka wajahnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Titip Salam, Cara Berdoa Ketika Sedang Haid, Doa Sebelum Salam Sunnah, Mohon Maaf Sebelum Puasa, Rasul Dan Nabi, Hadits Tentang Perjodohan Visited 630 times, 3 visit(s) today Post Views: 512 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah benar bahwa wanita yang bercadar boleh membuka cadarnya pada beberapa keadaan tertentu? Mohon penjelasannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Sebelumnya kami ingin menekankan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam, dan diajarkan oleh para ulama semua madzhab. Bukan budaya Arab dan bukan ajaran radikal. Ulama madzhab yang 4 memerintahkan wanita untuk menutup wajah, walaupun mereka berbeda pendapat antara sunnah dan wajib. Di antara dalilnya firman Allah ta’ala: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Adanya khilafiyah tersebut karena para ulama berbeda pendapat mengenai apakah wajah termasuk aurat atau bukan. Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat tidak wajibnya menutup wajah dan telapak tangan, namun hukumnya sunnah (dianjurkan). Dan ini pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Sedangkan ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat wajibnya menutup wajah dan telapak tangan. Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta‘. Jika penjelasan di atas dipahami, maka bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang tidak mewajibkan untuk menutup wajah, boleh bagi mereka membuka wajahnya dan telapak tangannya. Namun lebih utama menutupnya. Sedangkan bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang mewajibkan menutup wajah dan telapak tangan, maka wajib mereka untuk istiqomah menutup wajah dan telapak tangan dan tidak membukanya di hadapan lelaki non-mahram. Dan memang ada beberapa keadaan di mana mereka boleh membuka wajahnya, di antaranya: 1. Di depan keluarga yang termasuk mahram Jika ada di depan keluarga yang masih termasuk mahram, seperti: ayah, ibu, mertua, saudara kandung, anak, kakek, nenek, dan semisalnya, tidak mengapa seorang wanita Muslimah memperlihatkan wajah. Asy-Syarwani berkata, جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ: وَعَوْرَةُ بِالنِّسْبَةِ لِنَظْرِ الْأَجَانِبِ إِلَيْهَا “Aurat wanita terhadap pandangan lelaki ajnabi (non-mahram), yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad.” (Hasyiah asy-Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112). Al-Juwaini mengatakan: الْأَجْنَبِيَّةُ فَلَا يَحِلُّ لِلْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى غَيْرِ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ أَمَّا “Adapun wanita ajnabiyah tidak halal bagi lelaki ajnabi untuk melihatnya kecuali wajah dan telapak tangan.” (Nihayatul Mathlab, 12/31). Berarti di depan orang yang bukan ajnabi, boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan. 2. Saat ada lelaki yang melakukan nadzor untuk meng-khitbah-nya (meminangnya) Islam mensyariatkan nadzor, yaitu lelaki yang ingin menikahi seorang wanita dipersilahkan melihat dari wanita tersebut hal-hal yang bisa membuatnya bersemangat untuk menikahinya. Di antara dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فأتَاهُ رَجُلٌ فأخْبَرَهُ أنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ له رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أَنَظَرْتَ إلَيْهَا؟ قالَ: لَا، قالَ: فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إلَيْهَا، فإنَّ في أَعْيُنِ الأنْصَارِ شيئًا “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?”. Ia berkata: “Belum!”. Nabi bersabda: “Kalau begitu pergilah dan lihatlah wanita Anshar tersebut, karena pada mata mereka terdapat sesuatu” (HR. Muslim no.1424). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  لا نَعْلَمُ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ خِلَافًا فِي إبَاحَةِ النَّظَرِ إلَى الْمَرْأَةِ لِمَنْ أَرَادَ نِكَاحَهَا “Tidak kami ketahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya melihat wajah wanita bagi orang yang ingin meminangnya” (Al Mughni, 15/69). Syaikh Khalid Al Musyaiqih menjelaskan bahwa bolehnya nadzor ini ada syarat-syaratnya: 1. Lelaki tersebut memiliki sangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima. Jika lelaki tersebut sudah tahu bahwa kalau ia melamar wanita-wanita yang ingin dia nikahi itu pasti lamarannya ditolak, maka tidak boleh nadzor. Dan kalau begitu apa faidahnya nadzor dalam hal ini? 2. Tidak boleh dilakukan dengan berdua-duaan (khalwat). Kalau dalam nadzor ini dilakukan dengan khulwah maka tidak diperbolehkan. 3. Aman dari letupan syahwat. Jika dengan nadzor itu timbul gejolak syahwat, maka wajib untuk segera menjauh dan tidak melanjutkan nadzor. 4. Dilakukan sekadar kebutuhan saja. Maksudnya jika sudah melihat si wanita lalu timbul perasaan dalam hatinya (sudah merasa senang, pent.), maka tidak perlu dilanjutkan lagi nadzor-nya 5. Hanya melihat 5 hal: Seorang lelaki yang ingin melamar seorang wanita jika ia ingin melihat si wanita tersebut, dibolehkan melihat 5 hal: wajah, leher, kepala, al qadam (kaki dari mulai mata kaki hingga ke bawah), al yadd (tangan dari pergelangan tangan hingga jari). 6. Hendaknya si wanita tampil seperti biasanya, karena ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Tidak boleh ia memakai perhiasan dan hal-hal yang diharamkan, karena bagi si lelaki tadi ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Namun bukan berarti si wanita tampil kusut berantakan. (Fatwa Thariqul Islam, no.35987). 3. Ketika melakukan jual beli Wanita juga dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya ketika melakukan jual beli jika memang diperlukan. Agar tidak menimbulkan kesalahan sehingga terjadi kerugian dan hilang harta seorang Muslim. Karena harta seorang Muslim itu terjaga. Dari Jabir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ “Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian“ (HR. Bukhari no.1739, Muslim no.1679). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:  وإن عامل امرأة في بيع أو أجارة فله النظر إلى وجهها ليَعْلَمَها بعينها فيرجع عليها بالدّرَك ( وهو ضمان الثمن عند استحقاق البيع ) ، وقد روي عن أحمد كراهة ذلك في حق الشابة دون العجوز ، وكرهه لمن يخاف الفتنة ، أو يستغني عن المعاملة فأما مع الحاجة وعدم الشهوة فلا بأس “Jika seorang laki-laki berjual beli dengan wanita, atau sewa menyewa dengannya, maka ia boleh melihat wajah wanita itu untuk mengetahuinya. Sehingga ia bisa mengembalikan ad-darak (uang yang tertanggung dalam jual beli). Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau melarang untuk melihat pembeli wanita jika wanita tersebut masih muda, namun dibolehkan terhadap wanita lanjut usia. Dan beliau juga melarang melihat wanita yang dikhawatirkan bisa menimbulkan godaan atau jika jual beli dapat tercapai dengan baik tanpa melihat wajah wanita. Adapun jika memang dibutuhkan, dan tidak menimbulkan syahwat, maka tidak mengapa” (Al-Mughni, 7/459). 4. Dalam rangka pengobatan Pada asalnya, wanita Muslimah hendaknya berobat kepada dokter Muslimah juga. Sehingga ia bisa membuka wajahnya dan bagian tubuhnya yang terkena penyakit atau butuh dibuka untuk pemeriksaan kesehatan.  Namun jika tidak didapati dokter Muslimah, wanita bercadar dibolehkan membuka wajahnya atau bagian tubuh lainnya yang terkena penyakit untuk diobati oleh dokter laki-laki. Jika memang ada kebutuhan mendesak untuk diobati dan wajib disertai mahramnya atau suaminya.  Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  يباح للطبيب النظر إلى ما تدعوا إليه الحاجة من بدنها من العورة وغيرها ، فإنه موضع حاجة  وعن عثمان أنه أتي بغلام قد سرق فقال : انظروا إلى مؤتزره ( أي موضع شعر العانة الدالّ على البلوغ من عدمه). فلم يجدوه أنبت الشعر ، فلم يقطعه “Dibolehkan bagi seorang tabib (atau dokter) untuk melihat bagian aurat wanita yang dibutuhkan untuk diperiksa. Karena ini termasuk hajat (ada kebutuhan). Diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa pernah dibawa ke hadapannya seorang bocah yang mencuri. Beliau berkata: “Periksalah di dalam sarungnya!”. Maksudnya, periksalah apakah ia sudah tumbuh bulu kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia sudah baligh atau belum. Ternyata mereka tidak mendapat adanya bulu kemaluan, sehingga beliau pun tidak memotong tangannya” (Al-Mughni, 7/459). Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya membuat judul bab: باب هل يداوي الرجل المرأة ، والمرأة الرجل “Bab bolehkah lelaki mengobati wanita dan bolehkah wanita mengobati lelaki?”. Kemudian beliau membawakan hadits dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu’anha (seorang sahabiyah), beliau berkata : كُنَّا نَغْزُو مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: نَسْقِي القَوْمَ ونَخْدُمُهُمْ، ونَرُدُّ القَتْلَى والجَرْحَى إلى المَدِينَةِ “Kami (para wanita) pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami memberi minum dan membantu kebutuhan para pasukan, serta membawa pasukan yang tewas dan terluka ke Madinah” (HR. Al Bukhari no.5679). Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan: “Hukum bolehnya laki-laki mengobati kaum wanita diambil berdasarkan qiyas (terhadap hadits di atas). Imam Al-Bukhari tidak menegaskan hukum tersebut karena masih ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab. Atau bisa jadi masing-masing wanita ketika itu hanya mengobati suaminya atau mahramnya saja. Adapun hukum masalah ini, kaum wanita boleh mengobati kaum pria dalam kondisi darurat, dan kebolehannya sebatas kedaruratannya terkait dengan masalah melihat aurat, memegang pasien atau semisalnya” (Fathul Bari, 10/136). 5. Untuk keperluan peradilan di pengadilan Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya ketika memberikan persaksian atau menjadi terdakwa atau menjadi penggugat di pengadilan. Agar tidak ada hak yang terlalaikan dan tidak ada orang yang terzalimi dalam pemutusan perkara. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: وللشاهد النظر إلى وجه المشهود عليها لتكون الشهادة واقعة على عينها ، قال أحمد : لا يشهد على امرأة إلا أن يكون قد عرفها بعينها “Saksi boleh melihat wajah terdakwa agar persaksiannya tepat sasaran. Imam Ahmad berkata: Tidak boleh memberikan persaksian yang memberatkan seorang wanita kecuali saksi benar-benar mengenalinya” (Al-Mughni, 7/459). 6. Di hadapan anak laki-laki kecil yang belum baligh dan belum punya hasrat kepada wanita Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya di hadapan anak laki-laki yang belum baligh, karena mereka belum terkena beban syari’at.  Dan kebolehan hal ini disyaratkan anak tersebut belum punya hasrat kepada wanita. Sebagaimana dalam ayat hijab, yang dikecualikan oleh Allah untuk boleh melihat aurat wanita adalah: أو الطّفل الذين لم يظهروا على عورات النساء “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita” (QS. An Nur: 31). Ibnu Qudamah mengatakan: “Anak laki-laki yang belum punya hasrat kepada wanita boleh melihat tubuh wanita pada bagian atas pusar dan di bawah lutut, menurut satu riwayat dari Imam Ahmad. Karena Allah ta’ala berfirman: ليس عليكم ولا عليهم جناح بعدهن طوافون عليكم بعضكم من بعض “Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain)” (QS. An Nur: 58). Dan firman Allah ta’ala: وإذا بلغ الأطفال منكم الحلُم فليستأذنوا كما استئذن الذين من قبلهم “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (QS. An Nur: 59). Ayat-ayat di atas membedakan antara anak yang sudah baligh dan yang belum baligh. Imam Ahmad mengatakan:  حجم أبو طيبة أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وهو غلام “Abu Thaybah pernah membekam istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu ia masih seorang anak kecil”  (Al-Mughni, 7/458). 7. Di hadapan laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya kepada laki-laki yang sudah tua renta dan tidak lagi memiliki nafsu syahwat.  Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan: “Wanita boleh menampakkan sebagian aurat terhadap laki-laki yang sudah tidak punya syahwat lagi. Baik karena sudah lanjut usia, atau lemah syahwat, atau karena sakit parah yang kecil kemungkinan sembuhnya, atau lelaki yang mengebiri kemaluannya, atau lelaki banci yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita. Batasan aurat yang boleh diperlihatkan kepada mereka sama seperti batasan aurat kepada para mahram. Ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى الْأِرْبَةِ “atau terhadap pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)” (QS. An Nur: 31). Maksudnya yaitu laki-laki yang tidak punya hasrat lagi terhadap wanita. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini: “Maksudnya laki-laki yang para wanita tidak merasa segan kepadanya”. Dinukil juga dari beliau: “Maksudnya, lelaki banci yang impoten”. Mujahid dan Qatadah menafsirkan: “Yaitu laki-laki yang tidak punya keinginan syahwat kepada kaum wanita”. (Al-Mughni, 7/463). 8. Jika sudah menopause Wanita lanjut usia yang sudah menopause boleh menampakkan wajahnya di depan laki-laki ajnabi. Namun menutup wajah dan memakai hijab yang sempurna lebih utama baginya. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Wanita yang demikian boleh membuka wajahnya. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). 9. Di depan sesama wanita Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah mengatakan: “Telah tersebar anggapan di masyarakat bahwa aurat wanita di depan wanita lain atau di depan lelaki yang menjadi mahramnya adalah antara pusar sampai lutut. Ini adalah sebuah kesalahan. Yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam surat An Nuur: ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن “Dan seorang mukminah tidak boleh memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka…” (QS. An Nuur: 31). dan seterusnya Allah ta’ala menyebutkan orang-orang yang termasuk mahram. Oleh karena itu yang diperbolehkan adalah memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan. Sedangkan bagian tubuh yang bukan tempat perhiasan tidak diperbolehkan memperlihatkannya kepada orang lain kecuali suaminya. Hal ini berdasarkan keumuman hadits المرأة عورة “Wanita adalah aurat” (HR. Muslim no.338). Misalnya rambut, ia adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya (kepada wanita dan mahramnya). Begitu juga leher dan dada bagian atas adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya. Demikian juga telapak tangan, dan betis serta betis yang biasa diberi khul-khul (gelang kaki), maka boleh ditampakkan. Sedangkan menampakkan paha, dada, punggung atau semisalnya di depan wanita lain atau lelaki mahram, adalah perkara yang diharamkan. Demikian juga tidak diperbolehkan memakai pakaian yang masih menampakkan aurat, semisal celana panjang yang ketat atau pakaian yang tipis, di depan lelaki mahram. Sebaiknya wanita muslimah di depan lelaki mahram menggunakan pakaian sebagaimana yang digunakan ketika beraktifitas di dalam rumahnya, semisal gaun wanita yang panjangnya melebihi lutut, atau memakai celana panjang dengan gamis di atasnya, sehingga mengesankan lututnya bersambung, atau pakaian semacam itu. Jika seorang muslimah hendak menyusui anaknya, maka hendaknya ia menutup dadanya dengan kain penutup dan jangan menampakkannya di depan ayahnya atau saudara lelakinya. Inilah rasa malu yang wajib dimiliki oleh setiap wanita dan dijaga baik-baik. (Fatawa Syaikh Mayshur Hasan Salman, fatwa no.71, Asy Syamilah). 10. Ketika berihram untuk haji ataupun umrah Wanita yang sedang dalam kondisi ihram untuk haji atau umrah boleh membuka wajahnya, bahkan mereka dilarang menggunakan niqab dan kaus tangan. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ولَا تَنْتَقِبِ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ، ولَا تَلْبَسِ القُفَّازَيْنِ “Wanita yang berihram tidak boleh memakai niqab dan tidak boleh memakai kaus tangan” (HR. Al Bukhari no.1838) Namun para wanita tetap diperintahkan untuk menutup wajah mereka jika ada laki-laki non mahram, dengan menggunakan cara-cara lain. Seperti menggunakan ujung jilbab mereka, atau dengan sapu tangan atau cara yang lainnya. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: كان الرُّكبانُ يَمُرُّونَ بنا ونحن مع رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحرِماتٌ، فإذا حاذَوْنا سَدَلتْ إحدانا جِلْبابَها مِن رأسِها على وَجهِها، فإذا جَاوَزونا كَشَفْناه “Dahulu orang-orang melewati kami ketika kami berihram untuk haji bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika ada lelaki yang melewati kami, kami gantungkan kain jilbab dari atas kepala kami sampai menutupi wajah. Jika mereka sudah berlalu, kami singkap wajah kami” (HR. Abu Daud no.1833, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Kitabus Sunnah [7/ 240]). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Seorang wanita wajib menutup wajahnya (ketika ada lelaki) dengan selain burqa (niqab). Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu’anha … (kemudian beliau membawakan hadits di atas). Dan tidak mengapa jika kain yang digantungkan tersebut menyentuh wajahnya. Karena yang terlarang adalah memakai burqa dan niqab saja. Tidak dilarang menutup wajah dengan selain keduanya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, hal. 228). 11. Dalam kondisi darurat Dalam kondisi darurat di mana seorang wanita kesulitan untuk menutup wajahnya, ketika itu ada kelonggaran untuk membuka wajahnya. Allah ta’ala berfirman, وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan” (QS. Al An’am: 119). Sehingga para ulama menetapkan kaidah: الضرورة تبيح المحظورات “Kondisi darurat membolehkan yang terlarang”. Seperti membuka wajah untuk pembuatan kartu identitas atau paspor, pembuatan iqamah (izin tinggal), pembuatan kartu pelajar, demikian juga membuka wajah untuk pemeriksaan keamanan dari pemerintah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: لكن كشف الوجه للضرورة، في المسائل التي ذكرتها السائلة، عند الحاجة إلى أخذ صورة للوجه، وعند إبراز الصورة للتطبيق، إذا دعت الضرورة إلى ذلك؛ فلا حرج في ذلك؛ لأجل الضرورة “Membuka wajah bagi wanita karena alasan darurat, seperti pada pertanyaan yang Anda sebutkan (yaitu pemeriksaan keamanan, membuat paspor, membuat KTP) ketika memang dibutuhkan untuk membuka wajah sehingga bisa dicocokan identitasnya, jika memang kondisinya darurat untuk melakukan hal itu maka tidak mengapa. Karena kondisi darurat” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no.14486). Demikian juga ketika terjadi musibah atau bencana alam, sehingga seorang wanita berupaya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dengan segera dan wajahnya dalam keadaan terbuka. Atau ketika ia dalam kondisi sakit dan membutuhkan nafas lebih banyak, sehingga wajahnya dibuka. Atau ketika ada ancaman keras dari pemerintah bagi yang menutup wajah. Semua ini kondisi darurat yang membolehkan membuka wajah. Tentunya sampai hilang kondisi daruratnya, bukan untuk terus-menerus. Wallahu a’lam. Inilah beberapa kondisi yang membolehkan wanita yang mewajibkan menutup wajah untuk membuka wajahnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Titip Salam, Cara Berdoa Ketika Sedang Haid, Doa Sebelum Salam Sunnah, Mohon Maaf Sebelum Puasa, Rasul Dan Nabi, Hadits Tentang Perjodohan Visited 630 times, 3 visit(s) today Post Views: 512 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Apakah benar bahwa wanita yang bercadar boleh membuka cadarnya pada beberapa keadaan tertentu? Mohon penjelasannya ustadz. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Sebelumnya kami ingin menekankan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam, dan diajarkan oleh para ulama semua madzhab. Bukan budaya Arab dan bukan ajaran radikal. Ulama madzhab yang 4 memerintahkan wanita untuk menutup wajah, walaupun mereka berbeda pendapat antara sunnah dan wajib. Di antara dalilnya firman Allah ta’ala: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Adanya khilafiyah tersebut karena para ulama berbeda pendapat mengenai apakah wajah termasuk aurat atau bukan. Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat tidak wajibnya menutup wajah dan telapak tangan, namun hukumnya sunnah (dianjurkan). Dan ini pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Sedangkan ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat wajibnya menutup wajah dan telapak tangan. Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta‘. Jika penjelasan di atas dipahami, maka bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang tidak mewajibkan untuk menutup wajah, boleh bagi mereka membuka wajahnya dan telapak tangannya. Namun lebih utama menutupnya. Sedangkan bagi wanita Muslimah yang berpegang pada pendapat ulama yang mewajibkan menutup wajah dan telapak tangan, maka wajib mereka untuk istiqomah menutup wajah dan telapak tangan dan tidak membukanya di hadapan lelaki non-mahram. Dan memang ada beberapa keadaan di mana mereka boleh membuka wajahnya, di antaranya: 1. Di depan keluarga yang termasuk mahram Jika ada di depan keluarga yang masih termasuk mahram, seperti: ayah, ibu, mertua, saudara kandung, anak, kakek, nenek, dan semisalnya, tidak mengapa seorang wanita Muslimah memperlihatkan wajah. Asy-Syarwani berkata, جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ: وَعَوْرَةُ بِالنِّسْبَةِ لِنَظْرِ الْأَجَانِبِ إِلَيْهَا “Aurat wanita terhadap pandangan lelaki ajnabi (non-mahram), yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad.” (Hasyiah asy-Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112). Al-Juwaini mengatakan: الْأَجْنَبِيَّةُ فَلَا يَحِلُّ لِلْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى غَيْرِ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ أَمَّا “Adapun wanita ajnabiyah tidak halal bagi lelaki ajnabi untuk melihatnya kecuali wajah dan telapak tangan.” (Nihayatul Mathlab, 12/31). Berarti di depan orang yang bukan ajnabi, boleh memperlihatkan wajah dan telapak tangan. 2. Saat ada lelaki yang melakukan nadzor untuk meng-khitbah-nya (meminangnya) Islam mensyariatkan nadzor, yaitu lelaki yang ingin menikahi seorang wanita dipersilahkan melihat dari wanita tersebut hal-hal yang bisa membuatnya bersemangat untuk menikahinya. Di antara dalilnya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فأتَاهُ رَجُلٌ فأخْبَرَهُ أنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ له رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أَنَظَرْتَ إلَيْهَا؟ قالَ: لَا، قالَ: فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إلَيْهَا، فإنَّ في أَعْيُنِ الأنْصَارِ شيئًا “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?”. Ia berkata: “Belum!”. Nabi bersabda: “Kalau begitu pergilah dan lihatlah wanita Anshar tersebut, karena pada mata mereka terdapat sesuatu” (HR. Muslim no.1424). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  لا نَعْلَمُ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ خِلَافًا فِي إبَاحَةِ النَّظَرِ إلَى الْمَرْأَةِ لِمَنْ أَرَادَ نِكَاحَهَا “Tidak kami ketahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya melihat wajah wanita bagi orang yang ingin meminangnya” (Al Mughni, 15/69). Syaikh Khalid Al Musyaiqih menjelaskan bahwa bolehnya nadzor ini ada syarat-syaratnya: 1. Lelaki tersebut memiliki sangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima. Jika lelaki tersebut sudah tahu bahwa kalau ia melamar wanita-wanita yang ingin dia nikahi itu pasti lamarannya ditolak, maka tidak boleh nadzor. Dan kalau begitu apa faidahnya nadzor dalam hal ini? 2. Tidak boleh dilakukan dengan berdua-duaan (khalwat). Kalau dalam nadzor ini dilakukan dengan khulwah maka tidak diperbolehkan. 3. Aman dari letupan syahwat. Jika dengan nadzor itu timbul gejolak syahwat, maka wajib untuk segera menjauh dan tidak melanjutkan nadzor. 4. Dilakukan sekadar kebutuhan saja. Maksudnya jika sudah melihat si wanita lalu timbul perasaan dalam hatinya (sudah merasa senang, pent.), maka tidak perlu dilanjutkan lagi nadzor-nya 5. Hanya melihat 5 hal: Seorang lelaki yang ingin melamar seorang wanita jika ia ingin melihat si wanita tersebut, dibolehkan melihat 5 hal: wajah, leher, kepala, al qadam (kaki dari mulai mata kaki hingga ke bawah), al yadd (tangan dari pergelangan tangan hingga jari). 6. Hendaknya si wanita tampil seperti biasanya, karena ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Tidak boleh ia memakai perhiasan dan hal-hal yang diharamkan, karena bagi si lelaki tadi ia adalah ajnabiyah (bukan mahram). Namun bukan berarti si wanita tampil kusut berantakan. (Fatwa Thariqul Islam, no.35987). 3. Ketika melakukan jual beli Wanita juga dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya ketika melakukan jual beli jika memang diperlukan. Agar tidak menimbulkan kesalahan sehingga terjadi kerugian dan hilang harta seorang Muslim. Karena harta seorang Muslim itu terjaga. Dari Jabir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:  إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ “Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian“ (HR. Bukhari no.1739, Muslim no.1679). Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:  وإن عامل امرأة في بيع أو أجارة فله النظر إلى وجهها ليَعْلَمَها بعينها فيرجع عليها بالدّرَك ( وهو ضمان الثمن عند استحقاق البيع ) ، وقد روي عن أحمد كراهة ذلك في حق الشابة دون العجوز ، وكرهه لمن يخاف الفتنة ، أو يستغني عن المعاملة فأما مع الحاجة وعدم الشهوة فلا بأس “Jika seorang laki-laki berjual beli dengan wanita, atau sewa menyewa dengannya, maka ia boleh melihat wajah wanita itu untuk mengetahuinya. Sehingga ia bisa mengembalikan ad-darak (uang yang tertanggung dalam jual beli). Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau melarang untuk melihat pembeli wanita jika wanita tersebut masih muda, namun dibolehkan terhadap wanita lanjut usia. Dan beliau juga melarang melihat wanita yang dikhawatirkan bisa menimbulkan godaan atau jika jual beli dapat tercapai dengan baik tanpa melihat wajah wanita. Adapun jika memang dibutuhkan, dan tidak menimbulkan syahwat, maka tidak mengapa” (Al-Mughni, 7/459). 4. Dalam rangka pengobatan Pada asalnya, wanita Muslimah hendaknya berobat kepada dokter Muslimah juga. Sehingga ia bisa membuka wajahnya dan bagian tubuhnya yang terkena penyakit atau butuh dibuka untuk pemeriksaan kesehatan.  Namun jika tidak didapati dokter Muslimah, wanita bercadar dibolehkan membuka wajahnya atau bagian tubuh lainnya yang terkena penyakit untuk diobati oleh dokter laki-laki. Jika memang ada kebutuhan mendesak untuk diobati dan wajib disertai mahramnya atau suaminya.  Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:  يباح للطبيب النظر إلى ما تدعوا إليه الحاجة من بدنها من العورة وغيرها ، فإنه موضع حاجة  وعن عثمان أنه أتي بغلام قد سرق فقال : انظروا إلى مؤتزره ( أي موضع شعر العانة الدالّ على البلوغ من عدمه). فلم يجدوه أنبت الشعر ، فلم يقطعه “Dibolehkan bagi seorang tabib (atau dokter) untuk melihat bagian aurat wanita yang dibutuhkan untuk diperiksa. Karena ini termasuk hajat (ada kebutuhan). Diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa pernah dibawa ke hadapannya seorang bocah yang mencuri. Beliau berkata: “Periksalah di dalam sarungnya!”. Maksudnya, periksalah apakah ia sudah tumbuh bulu kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia sudah baligh atau belum. Ternyata mereka tidak mendapat adanya bulu kemaluan, sehingga beliau pun tidak memotong tangannya” (Al-Mughni, 7/459). Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya membuat judul bab: باب هل يداوي الرجل المرأة ، والمرأة الرجل “Bab bolehkah lelaki mengobati wanita dan bolehkah wanita mengobati lelaki?”. Kemudian beliau membawakan hadits dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu’anha (seorang sahabiyah), beliau berkata : كُنَّا نَغْزُو مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: نَسْقِي القَوْمَ ونَخْدُمُهُمْ، ونَرُدُّ القَتْلَى والجَرْحَى إلى المَدِينَةِ “Kami (para wanita) pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami memberi minum dan membantu kebutuhan para pasukan, serta membawa pasukan yang tewas dan terluka ke Madinah” (HR. Al Bukhari no.5679). Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan: “Hukum bolehnya laki-laki mengobati kaum wanita diambil berdasarkan qiyas (terhadap hadits di atas). Imam Al-Bukhari tidak menegaskan hukum tersebut karena masih ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab. Atau bisa jadi masing-masing wanita ketika itu hanya mengobati suaminya atau mahramnya saja. Adapun hukum masalah ini, kaum wanita boleh mengobati kaum pria dalam kondisi darurat, dan kebolehannya sebatas kedaruratannya terkait dengan masalah melihat aurat, memegang pasien atau semisalnya” (Fathul Bari, 10/136). 5. Untuk keperluan peradilan di pengadilan Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya ketika memberikan persaksian atau menjadi terdakwa atau menjadi penggugat di pengadilan. Agar tidak ada hak yang terlalaikan dan tidak ada orang yang terzalimi dalam pemutusan perkara. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: وللشاهد النظر إلى وجه المشهود عليها لتكون الشهادة واقعة على عينها ، قال أحمد : لا يشهد على امرأة إلا أن يكون قد عرفها بعينها “Saksi boleh melihat wajah terdakwa agar persaksiannya tepat sasaran. Imam Ahmad berkata: Tidak boleh memberikan persaksian yang memberatkan seorang wanita kecuali saksi benar-benar mengenalinya” (Al-Mughni, 7/459). 6. Di hadapan anak laki-laki kecil yang belum baligh dan belum punya hasrat kepada wanita Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya di hadapan anak laki-laki yang belum baligh, karena mereka belum terkena beban syari’at.  Dan kebolehan hal ini disyaratkan anak tersebut belum punya hasrat kepada wanita. Sebagaimana dalam ayat hijab, yang dikecualikan oleh Allah untuk boleh melihat aurat wanita adalah: أو الطّفل الذين لم يظهروا على عورات النساء “… atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita” (QS. An Nur: 31). Ibnu Qudamah mengatakan: “Anak laki-laki yang belum punya hasrat kepada wanita boleh melihat tubuh wanita pada bagian atas pusar dan di bawah lutut, menurut satu riwayat dari Imam Ahmad. Karena Allah ta’ala berfirman: ليس عليكم ولا عليهم جناح بعدهن طوافون عليكم بعضكم من بعض “Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain)” (QS. An Nur: 58). Dan firman Allah ta’ala: وإذا بلغ الأطفال منكم الحلُم فليستأذنوا كما استئذن الذين من قبلهم “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (QS. An Nur: 59). Ayat-ayat di atas membedakan antara anak yang sudah baligh dan yang belum baligh. Imam Ahmad mengatakan:  حجم أبو طيبة أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وهو غلام “Abu Thaybah pernah membekam istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu ia masih seorang anak kecil”  (Al-Mughni, 7/458). 7. Di hadapan laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya kepada laki-laki yang sudah tua renta dan tidak lagi memiliki nafsu syahwat.  Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan: “Wanita boleh menampakkan sebagian aurat terhadap laki-laki yang sudah tidak punya syahwat lagi. Baik karena sudah lanjut usia, atau lemah syahwat, atau karena sakit parah yang kecil kemungkinan sembuhnya, atau lelaki yang mengebiri kemaluannya, atau lelaki banci yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita. Batasan aurat yang boleh diperlihatkan kepada mereka sama seperti batasan aurat kepada para mahram. Ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى الْأِرْبَةِ “atau terhadap pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)” (QS. An Nur: 31). Maksudnya yaitu laki-laki yang tidak punya hasrat lagi terhadap wanita. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini: “Maksudnya laki-laki yang para wanita tidak merasa segan kepadanya”. Dinukil juga dari beliau: “Maksudnya, lelaki banci yang impoten”. Mujahid dan Qatadah menafsirkan: “Yaitu laki-laki yang tidak punya keinginan syahwat kepada kaum wanita”. (Al-Mughni, 7/463). 8. Jika sudah menopause Wanita lanjut usia yang sudah menopause boleh menampakkan wajahnya di depan laki-laki ajnabi. Namun menutup wajah dan memakai hijab yang sempurna lebih utama baginya. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Wanita yang demikian boleh membuka wajahnya. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). 9. Di depan sesama wanita Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah mengatakan: “Telah tersebar anggapan di masyarakat bahwa aurat wanita di depan wanita lain atau di depan lelaki yang menjadi mahramnya adalah antara pusar sampai lutut. Ini adalah sebuah kesalahan. Yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam surat An Nuur: ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن “Dan seorang mukminah tidak boleh memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka…” (QS. An Nuur: 31). dan seterusnya Allah ta’ala menyebutkan orang-orang yang termasuk mahram. Oleh karena itu yang diperbolehkan adalah memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan. Sedangkan bagian tubuh yang bukan tempat perhiasan tidak diperbolehkan memperlihatkannya kepada orang lain kecuali suaminya. Hal ini berdasarkan keumuman hadits المرأة عورة “Wanita adalah aurat” (HR. Muslim no.338). Misalnya rambut, ia adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya (kepada wanita dan mahramnya). Begitu juga leher dan dada bagian atas adalah tempat perhiasan, maka boleh ditampakkannya. Demikian juga telapak tangan, dan betis serta betis yang biasa diberi khul-khul (gelang kaki), maka boleh ditampakkan. Sedangkan menampakkan paha, dada, punggung atau semisalnya di depan wanita lain atau lelaki mahram, adalah perkara yang diharamkan. Demikian juga tidak diperbolehkan memakai pakaian yang masih menampakkan aurat, semisal celana panjang yang ketat atau pakaian yang tipis, di depan lelaki mahram. Sebaiknya wanita muslimah di depan lelaki mahram menggunakan pakaian sebagaimana yang digunakan ketika beraktifitas di dalam rumahnya, semisal gaun wanita yang panjangnya melebihi lutut, atau memakai celana panjang dengan gamis di atasnya, sehingga mengesankan lututnya bersambung, atau pakaian semacam itu. Jika seorang muslimah hendak menyusui anaknya, maka hendaknya ia menutup dadanya dengan kain penutup dan jangan menampakkannya di depan ayahnya atau saudara lelakinya. Inilah rasa malu yang wajib dimiliki oleh setiap wanita dan dijaga baik-baik. (Fatawa Syaikh Mayshur Hasan Salman, fatwa no.71, Asy Syamilah). 10. Ketika berihram untuk haji ataupun umrah Wanita yang sedang dalam kondisi ihram untuk haji atau umrah boleh membuka wajahnya, bahkan mereka dilarang menggunakan niqab dan kaus tangan. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ولَا تَنْتَقِبِ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ، ولَا تَلْبَسِ القُفَّازَيْنِ “Wanita yang berihram tidak boleh memakai niqab dan tidak boleh memakai kaus tangan” (HR. Al Bukhari no.1838) Namun para wanita tetap diperintahkan untuk menutup wajah mereka jika ada laki-laki non mahram, dengan menggunakan cara-cara lain. Seperti menggunakan ujung jilbab mereka, atau dengan sapu tangan atau cara yang lainnya. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan: كان الرُّكبانُ يَمُرُّونَ بنا ونحن مع رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُحرِماتٌ، فإذا حاذَوْنا سَدَلتْ إحدانا جِلْبابَها مِن رأسِها على وَجهِها، فإذا جَاوَزونا كَشَفْناه “Dahulu orang-orang melewati kami ketika kami berihram untuk haji bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika ada lelaki yang melewati kami, kami gantungkan kain jilbab dari atas kepala kami sampai menutupi wajah. Jika mereka sudah berlalu, kami singkap wajah kami” (HR. Abu Daud no.1833, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Kitabus Sunnah [7/ 240]). Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “Seorang wanita wajib menutup wajahnya (ketika ada lelaki) dengan selain burqa (niqab). Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu’anha … (kemudian beliau membawakan hadits di atas). Dan tidak mengapa jika kain yang digantungkan tersebut menyentuh wajahnya. Karena yang terlarang adalah memakai burqa dan niqab saja. Tidak dilarang menutup wajah dengan selain keduanya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, hal. 228). 11. Dalam kondisi darurat Dalam kondisi darurat di mana seorang wanita kesulitan untuk menutup wajahnya, ketika itu ada kelonggaran untuk membuka wajahnya. Allah ta’ala berfirman, وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan” (QS. Al An’am: 119). Sehingga para ulama menetapkan kaidah: الضرورة تبيح المحظورات “Kondisi darurat membolehkan yang terlarang”. Seperti membuka wajah untuk pembuatan kartu identitas atau paspor, pembuatan iqamah (izin tinggal), pembuatan kartu pelajar, demikian juga membuka wajah untuk pemeriksaan keamanan dari pemerintah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: لكن كشف الوجه للضرورة، في المسائل التي ذكرتها السائلة، عند الحاجة إلى أخذ صورة للوجه، وعند إبراز الصورة للتطبيق، إذا دعت الضرورة إلى ذلك؛ فلا حرج في ذلك؛ لأجل الضرورة “Membuka wajah bagi wanita karena alasan darurat, seperti pada pertanyaan yang Anda sebutkan (yaitu pemeriksaan keamanan, membuat paspor, membuat KTP) ketika memang dibutuhkan untuk membuka wajah sehingga bisa dicocokan identitasnya, jika memang kondisinya darurat untuk melakukan hal itu maka tidak mengapa. Karena kondisi darurat” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no.14486). Demikian juga ketika terjadi musibah atau bencana alam, sehingga seorang wanita berupaya untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dengan segera dan wajahnya dalam keadaan terbuka. Atau ketika ia dalam kondisi sakit dan membutuhkan nafas lebih banyak, sehingga wajahnya dibuka. Atau ketika ada ancaman keras dari pemerintah bagi yang menutup wajah. Semua ini kondisi darurat yang membolehkan membuka wajah. Tentunya sampai hilang kondisi daruratnya, bukan untuk terus-menerus. Wallahu a’lam. Inilah beberapa kondisi yang membolehkan wanita yang mewajibkan menutup wajah untuk membuka wajahnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Titip Salam, Cara Berdoa Ketika Sedang Haid, Doa Sebelum Salam Sunnah, Mohon Maaf Sebelum Puasa, Rasul Dan Nabi, Hadits Tentang Perjodohan Visited 630 times, 3 visit(s) today Post Views: 512 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Memperbanyak Mengingat Kematian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan lain-lain) Daftar Isi sembunyikan 1. Faedah hadis 2. Kematian adalah penghancur kenikmatan Faedah hadisDalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat dan merenungkan akhir kehidupan kita di dunia ini, yaitu kematian. Artinya, janganlah kita lalai dan melupakan kematian, atau bahkan merasa (tanpa sadar) bahwa kita akan hidup seterusnya di dunia ini.Jika seseorang senantiasa mengingat kematian, dia akan mempersiapkan diri dengan baik dan juga segera bertobat kepada Allah Ta’ala atas segala dosa dan kesalahannya. Selain itu, dia juga akan bersegera melakukan berbagai macam amal saleh. Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat kematian dan bahkan melupakannya, dia akan meninggalkan amal saleh sama sekali, atau hanya sedikit beramal saleh, atau malas beramal, atau melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala. Oleh karena itu, memperbanyak mengingat kematian itu memiliki manfaat yang besar bagi seorang hamba, yaitu:Pertama, kematian adalah nasihat. Bahkan, kematian adalah sebuah nasihat yang paling agung.Kedua, dia akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia akan mempersiapkan diri dalam setiap waktu dan kesempatan, karena dia tidak mengetahui kapan kematian itu datang menjemputnya.Baca Juga: Ketika Kematian DisembelihKematian adalah penghancur kenikmatanKematian adalah penghancur kenikmatan. Betapa banyak orang yang mendapatkan kelapangan dalam nikmat duniawi, entah berupa harta dan kedudukan, namun dia dalam kondisi lalai dengan kematian, kemudian kematian itu pun datang menjemputnya, sehingga terputus dan hancurlah semua kenikmatan duniawi yang dia dapatkan tersebut.Dengan mengingat kematian, seseorang akan merasa qana’ah dengan terbatasnya rezeki yang dia dapatkan, dia juga tidak tamak dengan nikmat duniawi. Seseorang hidup di dunia ini bagaikan orang yang berada dalam safar (perjalanan), dia cukupkan untuk hidupnya apa yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Apapun yang lebih dari itu, maka dia tidak akan menikmatinya, bukan untuknya. Dia tidak akan membawa apapun ketika selesai dari kehidupan di dunia ini, kecuali hanya sebatas membawa kain kafan saja.Dengan mengingat kematian, dia akan merasa cukup dengan sedikitnya harta yang dia peroleh, dan dia akan menjauhi berlebihan dalam masalah harta ketika hal itu bisa melalaikannya. Meskipun jiwa kita pada dasarnya mencintai harta, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8)Allah Ta’ala juga berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)Oleh karena itu, kematian adalah nasihat paling agung bagi seorang hamba. Karena dia bisa menyadari bahwa semua harta dan nikmat duniawi lainnya itu akan dihisab di sisi Allah Ta’ala.Baca Juga:Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Beriman terhadap Datangnya Kematian***@Rumah Kasongan, 21 Rabiul akhir 1444/ 16 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Tashiilul Ilmaam bi Fiqhi Al-Ahaadits min Buluughil Maraam (3: 11-12).🔍 Dukhan, Buku Tauhid Untuk Pemula, Al Quran Tentang Hijab, Kultum Singkat Tentang Guru, Sejarah Wali AllahTags: adabakhiratalam kuburAqidahibadahkematianmengingat kematianmengingat matinasihatnasihat islamTauhid

Memperbanyak Mengingat Kematian

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan lain-lain) Daftar Isi sembunyikan 1. Faedah hadis 2. Kematian adalah penghancur kenikmatan Faedah hadisDalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat dan merenungkan akhir kehidupan kita di dunia ini, yaitu kematian. Artinya, janganlah kita lalai dan melupakan kematian, atau bahkan merasa (tanpa sadar) bahwa kita akan hidup seterusnya di dunia ini.Jika seseorang senantiasa mengingat kematian, dia akan mempersiapkan diri dengan baik dan juga segera bertobat kepada Allah Ta’ala atas segala dosa dan kesalahannya. Selain itu, dia juga akan bersegera melakukan berbagai macam amal saleh. Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat kematian dan bahkan melupakannya, dia akan meninggalkan amal saleh sama sekali, atau hanya sedikit beramal saleh, atau malas beramal, atau melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala. Oleh karena itu, memperbanyak mengingat kematian itu memiliki manfaat yang besar bagi seorang hamba, yaitu:Pertama, kematian adalah nasihat. Bahkan, kematian adalah sebuah nasihat yang paling agung.Kedua, dia akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia akan mempersiapkan diri dalam setiap waktu dan kesempatan, karena dia tidak mengetahui kapan kematian itu datang menjemputnya.Baca Juga: Ketika Kematian DisembelihKematian adalah penghancur kenikmatanKematian adalah penghancur kenikmatan. Betapa banyak orang yang mendapatkan kelapangan dalam nikmat duniawi, entah berupa harta dan kedudukan, namun dia dalam kondisi lalai dengan kematian, kemudian kematian itu pun datang menjemputnya, sehingga terputus dan hancurlah semua kenikmatan duniawi yang dia dapatkan tersebut.Dengan mengingat kematian, seseorang akan merasa qana’ah dengan terbatasnya rezeki yang dia dapatkan, dia juga tidak tamak dengan nikmat duniawi. Seseorang hidup di dunia ini bagaikan orang yang berada dalam safar (perjalanan), dia cukupkan untuk hidupnya apa yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Apapun yang lebih dari itu, maka dia tidak akan menikmatinya, bukan untuknya. Dia tidak akan membawa apapun ketika selesai dari kehidupan di dunia ini, kecuali hanya sebatas membawa kain kafan saja.Dengan mengingat kematian, dia akan merasa cukup dengan sedikitnya harta yang dia peroleh, dan dia akan menjauhi berlebihan dalam masalah harta ketika hal itu bisa melalaikannya. Meskipun jiwa kita pada dasarnya mencintai harta, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8)Allah Ta’ala juga berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)Oleh karena itu, kematian adalah nasihat paling agung bagi seorang hamba. Karena dia bisa menyadari bahwa semua harta dan nikmat duniawi lainnya itu akan dihisab di sisi Allah Ta’ala.Baca Juga:Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Beriman terhadap Datangnya Kematian***@Rumah Kasongan, 21 Rabiul akhir 1444/ 16 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Tashiilul Ilmaam bi Fiqhi Al-Ahaadits min Buluughil Maraam (3: 11-12).🔍 Dukhan, Buku Tauhid Untuk Pemula, Al Quran Tentang Hijab, Kultum Singkat Tentang Guru, Sejarah Wali AllahTags: adabakhiratalam kuburAqidahibadahkematianmengingat kematianmengingat matinasihatnasihat islamTauhid
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan lain-lain) Daftar Isi sembunyikan 1. Faedah hadis 2. Kematian adalah penghancur kenikmatan Faedah hadisDalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat dan merenungkan akhir kehidupan kita di dunia ini, yaitu kematian. Artinya, janganlah kita lalai dan melupakan kematian, atau bahkan merasa (tanpa sadar) bahwa kita akan hidup seterusnya di dunia ini.Jika seseorang senantiasa mengingat kematian, dia akan mempersiapkan diri dengan baik dan juga segera bertobat kepada Allah Ta’ala atas segala dosa dan kesalahannya. Selain itu, dia juga akan bersegera melakukan berbagai macam amal saleh. Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat kematian dan bahkan melupakannya, dia akan meninggalkan amal saleh sama sekali, atau hanya sedikit beramal saleh, atau malas beramal, atau melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala. Oleh karena itu, memperbanyak mengingat kematian itu memiliki manfaat yang besar bagi seorang hamba, yaitu:Pertama, kematian adalah nasihat. Bahkan, kematian adalah sebuah nasihat yang paling agung.Kedua, dia akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia akan mempersiapkan diri dalam setiap waktu dan kesempatan, karena dia tidak mengetahui kapan kematian itu datang menjemputnya.Baca Juga: Ketika Kematian DisembelihKematian adalah penghancur kenikmatanKematian adalah penghancur kenikmatan. Betapa banyak orang yang mendapatkan kelapangan dalam nikmat duniawi, entah berupa harta dan kedudukan, namun dia dalam kondisi lalai dengan kematian, kemudian kematian itu pun datang menjemputnya, sehingga terputus dan hancurlah semua kenikmatan duniawi yang dia dapatkan tersebut.Dengan mengingat kematian, seseorang akan merasa qana’ah dengan terbatasnya rezeki yang dia dapatkan, dia juga tidak tamak dengan nikmat duniawi. Seseorang hidup di dunia ini bagaikan orang yang berada dalam safar (perjalanan), dia cukupkan untuk hidupnya apa yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Apapun yang lebih dari itu, maka dia tidak akan menikmatinya, bukan untuknya. Dia tidak akan membawa apapun ketika selesai dari kehidupan di dunia ini, kecuali hanya sebatas membawa kain kafan saja.Dengan mengingat kematian, dia akan merasa cukup dengan sedikitnya harta yang dia peroleh, dan dia akan menjauhi berlebihan dalam masalah harta ketika hal itu bisa melalaikannya. Meskipun jiwa kita pada dasarnya mencintai harta, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8)Allah Ta’ala juga berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)Oleh karena itu, kematian adalah nasihat paling agung bagi seorang hamba. Karena dia bisa menyadari bahwa semua harta dan nikmat duniawi lainnya itu akan dihisab di sisi Allah Ta’ala.Baca Juga:Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Beriman terhadap Datangnya Kematian***@Rumah Kasongan, 21 Rabiul akhir 1444/ 16 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Tashiilul Ilmaam bi Fiqhi Al-Ahaadits min Buluughil Maraam (3: 11-12).🔍 Dukhan, Buku Tauhid Untuk Pemula, Al Quran Tentang Hijab, Kultum Singkat Tentang Guru, Sejarah Wali AllahTags: adabakhiratalam kuburAqidahibadahkematianmengingat kematianmengingat matinasihatnasihat islamTauhid


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan lain-lain) Daftar Isi sembunyikan 1. Faedah hadis 2. Kematian adalah penghancur kenikmatan Faedah hadisDalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat dan merenungkan akhir kehidupan kita di dunia ini, yaitu kematian. Artinya, janganlah kita lalai dan melupakan kematian, atau bahkan merasa (tanpa sadar) bahwa kita akan hidup seterusnya di dunia ini.Jika seseorang senantiasa mengingat kematian, dia akan mempersiapkan diri dengan baik dan juga segera bertobat kepada Allah Ta’ala atas segala dosa dan kesalahannya. Selain itu, dia juga akan bersegera melakukan berbagai macam amal saleh. Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat kematian dan bahkan melupakannya, dia akan meninggalkan amal saleh sama sekali, atau hanya sedikit beramal saleh, atau malas beramal, atau melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala. Oleh karena itu, memperbanyak mengingat kematian itu memiliki manfaat yang besar bagi seorang hamba, yaitu:Pertama, kematian adalah nasihat. Bahkan, kematian adalah sebuah nasihat yang paling agung.Kedua, dia akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia akan mempersiapkan diri dalam setiap waktu dan kesempatan, karena dia tidak mengetahui kapan kematian itu datang menjemputnya.Baca Juga: Ketika Kematian DisembelihKematian adalah penghancur kenikmatanKematian adalah penghancur kenikmatan. Betapa banyak orang yang mendapatkan kelapangan dalam nikmat duniawi, entah berupa harta dan kedudukan, namun dia dalam kondisi lalai dengan kematian, kemudian kematian itu pun datang menjemputnya, sehingga terputus dan hancurlah semua kenikmatan duniawi yang dia dapatkan tersebut.Dengan mengingat kematian, seseorang akan merasa qana’ah dengan terbatasnya rezeki yang dia dapatkan, dia juga tidak tamak dengan nikmat duniawi. Seseorang hidup di dunia ini bagaikan orang yang berada dalam safar (perjalanan), dia cukupkan untuk hidupnya apa yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Apapun yang lebih dari itu, maka dia tidak akan menikmatinya, bukan untuknya. Dia tidak akan membawa apapun ketika selesai dari kehidupan di dunia ini, kecuali hanya sebatas membawa kain kafan saja.Dengan mengingat kematian, dia akan merasa cukup dengan sedikitnya harta yang dia peroleh, dan dia akan menjauhi berlebihan dalam masalah harta ketika hal itu bisa melalaikannya. Meskipun jiwa kita pada dasarnya mencintai harta, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8)Allah Ta’ala juga berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)Oleh karena itu, kematian adalah nasihat paling agung bagi seorang hamba. Karena dia bisa menyadari bahwa semua harta dan nikmat duniawi lainnya itu akan dihisab di sisi Allah Ta’ala.Baca Juga:Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Beriman terhadap Datangnya Kematian***@Rumah Kasongan, 21 Rabiul akhir 1444/ 16 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Tashiilul Ilmaam bi Fiqhi Al-Ahaadits min Buluughil Maraam (3: 11-12).🔍 Dukhan, Buku Tauhid Untuk Pemula, Al Quran Tentang Hijab, Kultum Singkat Tentang Guru, Sejarah Wali AllahTags: adabakhiratalam kuburAqidahibadahkematianmengingat kematianmengingat matinasihatnasihat islamTauhid

Fatwa Ulama: Makna Syahadat “Muhammad Rasulullah”

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatusy syekh, inilah makna syahadaat laa ilaaha illallah (yang telah dijelaskan di pertanyaan sebelumnya, pent.). Lalu, apa makna syahadat “anna Muhammad rasulullah” (sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah)?Jawaban:Adapun makna syahadat “anna Muhammadan rasulullah” adalah mengikrarkan dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi adalah rasul (utusan) Allah ‘Azza Wajalla kepada seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’ “ (QS. Al-A’raf: 158)Allah Ta’ala juga berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)Konsekuensi dari syahadat ini adalah membenarkan apa-apa yang dikabarkan (diberitakan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkannya, meninggalkan perkara-perkara yang Rasulullah cegah dan larang, dan tidak beribadah kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan ibadah yang beliau syariatkan.Konsekuensi lain dari syahadat ini juga adalah tidak meyakini bahwa Rasulullah memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam, (juga tidak meyakini bahwa) Rasulullah memiliki hak untuk diibadahi (hak uluhiyah), bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, tidak boleh didustakan perkataannya, beliau juga tidak memiliki kekuasaan untuk (mendatangkan) manfaat dan (mencegah/menolak) bahaya, baik untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang kita diperintahkan untuk mengikuti perintahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَداً قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَداً“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku, sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.’ ” (QS. Al-Jin: 21-22)Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raf: 188)Inilah makna syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah. Dengan memahami hal ini, kita mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berhak untuk diibadahi, demikian pula makhluk selain beliau. Dan sesungguhnya ibadah tidaklah boleh ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata dan sesungguhnya kita memberikan hak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan hak yang telah Allah berikan kepadanya, yaitu sebagai hamba Allah dan utusan-Nya.Baca Juga:Memahami Dua Kalimat Syahadat7 Syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat***@Rumah Kasongan, 23 Rabiul akhir 1444/ 18 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 30-31, pertanyaan no. 13.🔍 Dukhan, Tata Cara Shalat Dalam Keadaan Sakit, Hadits Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Patung Boneka, Shalat Wajib Dan SunnahTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamakalimat syahadatkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsyahadatTauhid

Fatwa Ulama: Makna Syahadat “Muhammad Rasulullah”

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatusy syekh, inilah makna syahadaat laa ilaaha illallah (yang telah dijelaskan di pertanyaan sebelumnya, pent.). Lalu, apa makna syahadat “anna Muhammad rasulullah” (sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah)?Jawaban:Adapun makna syahadat “anna Muhammadan rasulullah” adalah mengikrarkan dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi adalah rasul (utusan) Allah ‘Azza Wajalla kepada seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’ “ (QS. Al-A’raf: 158)Allah Ta’ala juga berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)Konsekuensi dari syahadat ini adalah membenarkan apa-apa yang dikabarkan (diberitakan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkannya, meninggalkan perkara-perkara yang Rasulullah cegah dan larang, dan tidak beribadah kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan ibadah yang beliau syariatkan.Konsekuensi lain dari syahadat ini juga adalah tidak meyakini bahwa Rasulullah memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam, (juga tidak meyakini bahwa) Rasulullah memiliki hak untuk diibadahi (hak uluhiyah), bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, tidak boleh didustakan perkataannya, beliau juga tidak memiliki kekuasaan untuk (mendatangkan) manfaat dan (mencegah/menolak) bahaya, baik untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang kita diperintahkan untuk mengikuti perintahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَداً قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَداً“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku, sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.’ ” (QS. Al-Jin: 21-22)Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raf: 188)Inilah makna syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah. Dengan memahami hal ini, kita mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berhak untuk diibadahi, demikian pula makhluk selain beliau. Dan sesungguhnya ibadah tidaklah boleh ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata dan sesungguhnya kita memberikan hak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan hak yang telah Allah berikan kepadanya, yaitu sebagai hamba Allah dan utusan-Nya.Baca Juga:Memahami Dua Kalimat Syahadat7 Syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat***@Rumah Kasongan, 23 Rabiul akhir 1444/ 18 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 30-31, pertanyaan no. 13.🔍 Dukhan, Tata Cara Shalat Dalam Keadaan Sakit, Hadits Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Patung Boneka, Shalat Wajib Dan SunnahTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamakalimat syahadatkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsyahadatTauhid
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatusy syekh, inilah makna syahadaat laa ilaaha illallah (yang telah dijelaskan di pertanyaan sebelumnya, pent.). Lalu, apa makna syahadat “anna Muhammad rasulullah” (sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah)?Jawaban:Adapun makna syahadat “anna Muhammadan rasulullah” adalah mengikrarkan dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi adalah rasul (utusan) Allah ‘Azza Wajalla kepada seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’ “ (QS. Al-A’raf: 158)Allah Ta’ala juga berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)Konsekuensi dari syahadat ini adalah membenarkan apa-apa yang dikabarkan (diberitakan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkannya, meninggalkan perkara-perkara yang Rasulullah cegah dan larang, dan tidak beribadah kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan ibadah yang beliau syariatkan.Konsekuensi lain dari syahadat ini juga adalah tidak meyakini bahwa Rasulullah memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam, (juga tidak meyakini bahwa) Rasulullah memiliki hak untuk diibadahi (hak uluhiyah), bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, tidak boleh didustakan perkataannya, beliau juga tidak memiliki kekuasaan untuk (mendatangkan) manfaat dan (mencegah/menolak) bahaya, baik untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang kita diperintahkan untuk mengikuti perintahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَداً قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَداً“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku, sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.’ ” (QS. Al-Jin: 21-22)Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raf: 188)Inilah makna syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah. Dengan memahami hal ini, kita mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berhak untuk diibadahi, demikian pula makhluk selain beliau. Dan sesungguhnya ibadah tidaklah boleh ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata dan sesungguhnya kita memberikan hak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan hak yang telah Allah berikan kepadanya, yaitu sebagai hamba Allah dan utusan-Nya.Baca Juga:Memahami Dua Kalimat Syahadat7 Syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat***@Rumah Kasongan, 23 Rabiul akhir 1444/ 18 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 30-31, pertanyaan no. 13.🔍 Dukhan, Tata Cara Shalat Dalam Keadaan Sakit, Hadits Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Patung Boneka, Shalat Wajib Dan SunnahTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamakalimat syahadatkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsyahadatTauhid


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatusy syekh, inilah makna syahadaat laa ilaaha illallah (yang telah dijelaskan di pertanyaan sebelumnya, pent.). Lalu, apa makna syahadat “anna Muhammad rasulullah” (sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah)?Jawaban:Adapun makna syahadat “anna Muhammadan rasulullah” adalah mengikrarkan dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi adalah rasul (utusan) Allah ‘Azza Wajalla kepada seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’ “ (QS. Al-A’raf: 158)Allah Ta’ala juga berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)Konsekuensi dari syahadat ini adalah membenarkan apa-apa yang dikabarkan (diberitakan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkannya, meninggalkan perkara-perkara yang Rasulullah cegah dan larang, dan tidak beribadah kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan ibadah yang beliau syariatkan.Konsekuensi lain dari syahadat ini juga adalah tidak meyakini bahwa Rasulullah memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam, (juga tidak meyakini bahwa) Rasulullah memiliki hak untuk diibadahi (hak uluhiyah), bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, tidak boleh didustakan perkataannya, beliau juga tidak memiliki kekuasaan untuk (mendatangkan) manfaat dan (mencegah/menolak) bahaya, baik untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba yang kita diperintahkan untuk mengikuti perintahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَداً قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَداً“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku, sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.’ ” (QS. Al-Jin: 21-22)Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raf: 188)Inilah makna syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah. Dengan memahami hal ini, kita mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berhak untuk diibadahi, demikian pula makhluk selain beliau. Dan sesungguhnya ibadah tidaklah boleh ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata dan sesungguhnya kita memberikan hak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan hak yang telah Allah berikan kepadanya, yaitu sebagai hamba Allah dan utusan-Nya.Baca Juga:Memahami Dua Kalimat Syahadat7 Syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat***@Rumah Kasongan, 23 Rabiul akhir 1444/ 18 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 30-31, pertanyaan no. 13.🔍 Dukhan, Tata Cara Shalat Dalam Keadaan Sakit, Hadits Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Patung Boneka, Shalat Wajib Dan SunnahTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamakalimat syahadatkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamsyahadatTauhid

Doa Minta Keteguhan dalam Segala Urusan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ أحمد، 28/ 338، برقم 17114، و28/ 356، برقم 17133، والترمذي، كتاب الدعوات، باب منه، برقم 3407، والنسائي، كتاب السهو، نوع آخر من الدعاء، برقم 1304، ومصنف ابن أبي شيبة، 10/ 271، برقم 29971، والطبراني في المعجم الكبير بلفظه، برقم 7135، وبرقم 7157، و7175، ورقم 7176، و7177، و7178، و7179، و7180، وأخرجه ابن حبان في صحيحه، 3/ 215، برقم 935، و5/ 310، برقم 1974، وحسنه شعيب الأرنؤوط في صحيح ابن حبان، 5/ 312، وحسنه بطرقه محققو المسند، 28/ 338، وذكره الألباني سلسلة الأحاديث الصحيحة في المجلد السابع، برقم 3228، وفي صحيح موارد الظمآن، برقم 2416، 2418، وقال صحيح لغيره ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA WA HUSNA ‘IBAADATIKA WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN WA LISAANAN SHOODIQON WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan keteguhan hati di atas kebenaran. Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang dan ampunan-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur. Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib.” (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir) Ini adalah doa yang agung, berkah, dan sangat penting, yang berisi permintaan-permintaan terbesar dalam agama, dunia, dan akhirat. Doa ini mengandung Jawami al-Kalim (susunan kalimat yang pendek, tetapi padat maknanya) yang tidak akan dapat dikupas secara mendalam pada tulisan singkat ini dikarenakan ia begitu agung. [Al-Allamah al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hanbali telah mensyarah doa ini dalam kitab khusus beliau, lihat Majmu ar-Rasail] Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Syaddad bin Aus dan para sahabat agar memperbanyak membaca doa ini. Nabi mengatakan dengan kalimat terindah dan sarat dengan makna yang terbaik: يا شداد بن أوس، إذا رأيت الناس قد اكتنزوا الذهب والفضة, فاكنز هؤلاء الكلمات “Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat orang-orang mengumpulkan emas dan perak, maka cukuplah engkau membaca doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. At-Thabarani di al-Mu’jam al-Kabir) Pada lafaz hadis yang lain: … إذا اكتنز الناس الدنانير والدراهم, فاكتنزوا الكلمات “… apabila orang-orang mengumpulkan dinar dan dirham, maka cukuplah kalian membaca kalimat doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. Ibnu Hibban) Di antara bukti yang menunjukkan pentingnya doa yang tayibah ini: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini dalam salat. Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban, Thabarani, dan lafaz hadis ini terdapat pada riwayat an-Nasai:  عن شداد رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم [كان يقول في صلاته]: اللهم إني أسألك الثبات “Dari Syaddad radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salat, beliau membaca: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ ALLAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA … “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan …” Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membaca doa ini dalam ibadah terbaik, yaitu dalam salat. [Telah disebutkan berulang kali bahwa fi’il mudhari yang terletak setelah kana (كان) menunjukkan perbuatan yang rutin dan terus menerus dikerjakan] Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فأكثروا “… maka kalian baca sebanyak-banyaknya! …” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar membacanya sebanyak-banyaknya, karena manfaatnya langgeng dan tidak terputus, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala: الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا “Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia, tetapi amal kebaikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46) Doa yang berkah ini mengandung beberapa tujuan dan permohonan penting dalam berbagai urusan agama, dunia, dan akhirat: Memohon kepada Allah agar teguh di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan.Memohon taufik agar beramal saleh secara sempurna.Memohon agar senantiasa bersyukur, siang dan malam, atas segala nikmat.Memohon perbaikan terhadap amalan hati dan badan.Memohon agar senantiasa sukses dalam setiap kebaikan dan keadaan.Memohon keselamatan dari setiap keburukan, pada setiap keadaan dan waktu.Memohon ampunan atas segala dosa di masa lalu, sekarang, dan di masa mendatang. *** PENJELASAN ISTILAH Al-Kanzu (الكنز): makna asal al-Kanzu adalah harta benda yang terpendam di dalam tanah. Apabila telah ditunaikan kewajiban zakatnya, maka statusnya bukan lagi harta terpendam, walaupun masih dalam keadaan terpendam. Jadi, al-Kanzu adalah perbendaharaan (harta) yang sangat berharga dan tersimpan. Istilah al-Kanzu juga ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: لا حول ولا قوة إلا باللهِ كنز من كنوز الجنة “Kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari) Maksudnya, kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah harta simpanan milik orang yang mengucapkannya. Ia diibaratkan dengan harta simpanan, sebagaimana orang itu menyimpan hartanya. Al-‘Azimah (العزيمة): al-‘Azmu (العزم) (tekad) atau al-‘Azimah (العزيمة) (niat dan kemauan kuat) adalah keteguhan hati (عقد القلب) untuk menyelesaikan suatu urusan. Seperti 3 ungkapan berikut: عزمتُ الأمر “Aku bertekad menyelesaikan urusan itu.” و عزمت عليه “Aku bertekad mengerjakannya.” واعتزمت “Aku berniat melakukannya.” (al-Mufradat) Ar-Rusydu (الرشد): Kebenaran. Antonim dari kata al-Ghoi (الغي) yang artinya kesesatan.  Jadi, ar-Rusydu artinya: kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Al-Qalbu as-Salim (القلب السليم): Hati yang selamat, yaitu hati yang bersih dari kesyirikan, kekafiran, kemunafikan, dosa, dan seluruh sifat tercela. *** PENJELASAN DOA Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ ALLAAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan, Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar diberi keteguhan di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan. Lafaz doa ini umum, yaitu dalam semua urusan: dunia, agama, dan akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Keteguhan ini dapat terwujud dikarenakan adanya taufik (pertolongan) dari Allah, dengan berusaha istiqamah dan menempuh jalan yang benar. Yang terpenting dari semuanya itu adalah keteguhan dalam: (1) agama, (2) ketaatan, (3) dan istiqamah di atas petunjuk Allah. Keadaan seorang hamba paling membutuhkan istiqamah adalah ketika ia menghadapi godaan setan saat sakratulmaut, saat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, dan saat melewati sirat. Allah menghimpun semua urusan ini dalam firman-Nya: يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27) *** وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI dan keteguhan hati di atas kebenaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar, yaitu kesungguhan hati dalam setiap urusan, dalam rangka mencapai dan menyempurnakan setiap kebaikan dalam setiap urusannya, baik dunia maupun akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Ar-Rusydu—sebagaimana dijelaskan di atas—artinya kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. Oleh karena itu, keteguhan hati dalam kebenaran adalah titik awal dari kebaikan, karena seseorang terkadang tahu kebenaran, namun tidak memiliki keteguhan hati untuk menempuhnya. Namun, apabila ia bertekad bulat untuk menempuhnya, maka ia akan sukses.  Al-Azimah adalah niat yang kuat, yang berkesinambungan dengan perbuatan, yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan. Seorang hamba tiada kuasa menyelesaikannya, kecuali dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dalam kebenaran. Untuk itulah, Nabi mengajari seorang sahabat untuk berdoa: قُلْ اللَّهُمَّ قِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ وَاعْزِمْ لِيْ عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِيْ “Katakan: Ya Allah, jagalah aku dari keburukan diriku sendiri, dan berikanlah aku keteguhan hati untuk menentukan yang terbaik pada urusanku.” (HR. Ahmad) Maka dari itu, seorang hamba perlu (1) meminta tolong kepada Allah, (2) dan bertawakal kepada-Nya untuk memperoleh (a) keteguhan hati (b) dan mengamalkan konsekuensinya setelah keteguhan hati itu diperoleh. Allah berfirman, فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “… Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad (meneguhkan hati), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159) Ar-Rusydu (kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran) adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah, وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ “… Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah beliau: من يطع الله ورسوله فقد رشد ومن يعصي الله ورسوله فقد غوى “Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kebenaran. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kesesatan.” (HR. Muslim) Ar-Rusydu (kebenaran) antonim dari al-Ghoi (kesesatan). Allah berfirman, قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَي “… sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan …” (QS. al-Baqarah: 256) Seseorang yang tidak mendapat petunjuk (mengikuti jalan yang benar), maka ia bisa jadi adalah seorang yang lalai atau tersesat. Al-‘Azmu (keteguhan hati) terbagi dua: Pertama:  Keteguhan hati berupa kesediaan untuk memasuki jalan kebenaran. Ini adalah tahap awal. Kedua: Keteguhan hati untuk senantiasa taat setelah memasuki jalan kebenaran, dan senantiasa bergerak dari keadaan yang sempurna menuju keadaan yang lebih sempurna. Inilah titik akhirnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan lima pemuka para rasul dengan nama Ulil ‘Azmi, yang merupakan rasul-rasul terbaik. Dengan keteguhan hati yang pertama, memungkinkan seseorang memasuki semua pintu kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Dengannya pula, memungkinkan orang kafir keluar dari kekafiran menuju Islam dan pelaku maksiat menjauhi kemaksiatan menuju ketaatan. Apabila niatnya itu benar-benar jujur, dia bertekad bulat, dan berupaya keras sekeras-kerasnya mengalahkan hawa nafsunya dan setan yang menggodanya, kemudian dia mengerjakan amalan-amalan ketaatan yang diperintahkan, maka dia pasti menang. Pertolongan Allah untuk seorang hamba sesuai dengan kadar kuat dan lemahnya keteguhan hatinya. Barang siapa yang bertekad menginginkan kebaikan, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya. Barang siapa yang tulus keteguhan hatinya, setan putus asa menggodanya. Namun, tatkala dia ragu-ragu, maka setan semakin tamak menggodanya, membuatnya menunda-nunda dan berangan-angan. Sebagian salaf saleh ditanya, “Kapankah dunia pergi menjauh dari hati?”  Ia menjawab, “Apabila keteguhan hati telah tiba, maka dunia pergi menjauh dari hati, lalu hati berjalan di kerajaan langit. Namun, apabila keteguhan hati tak kunjung tiba, maka hati akan tergoncang dan kembali ke dunia.” (Majmu Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu, مُوجِبَاتِ  (huruf jimnya berharakat kasrah)  adalah bentuk jamak dari:  مُوجِبَةٌ artinya segala hal yang mendatangkan kasih sayang (rahmat) Allah untuk orang yang mengucapkannya, berupa qurbah, yaitu segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, arti kalimat doa ini: Kami memohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu dan memasukkan kami ke dalam surga yang merupakan rahmat-Mu teragung, baik itu berupa perbuatan, perkataan, dan sifat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Sebagaimana firman Allah, وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran: 107) *** وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA dan segala hal yang mendatangkan ampunan-Mu. العزائم adalah bentuk jamak dari: عزيمة yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan, sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Maksudnya, saya memohon kepada-Mu agar memberikan karunia kepada kami, baik itu berupa amalan, perkataan, dan perbuatan yang dapat mendatangkan dan merealisasikan ampunan-Mu.  Doa ini merupakan bagian dari Jawami al-Kalim nabawi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama-tama, beliau memohon kepada Allah segala hal yang mendatangkan rahmat-Nya. Barang siapa yang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan rahmat Allah maka sungguh dengan sebab itu dia termasuk ke dalam rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, juga termasuk ke dalam golongan dan jajaran orang-orang yang berhak mendapatkannya. Kemudian, beliau memohon kepada Allah keteguhan hati dalam berbuat baik agar mendapatkan ampunan-Nya, karena barang siapa yang diampuni dosa-dosanya, lalu dikaruniakan rahmat kepadanya, sungguh dia beruntung mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan berhak mendapat penjagaan Allah dalam hidup dan matinya, sebab dia telah dibersihkan dari kekeruhan dosa-dosanya. (Tuhfah adz-Dzakirin) Dua permohonan ini (meminta rahmat dan ampunan Allah), terdapat dalam banyak doa dalam al-Quran dan Hadis, karena pada ampunan Allah ada pembebasan dari seluruh dosa dan efeknya, yaitu pembersihan dan pemurnian dari bekas noda-noda dan keburukannya, di dunia dan akhirat. Sedangkan rahmat (kasih sayang) adalah perhiasan, yang dengannya terwujudlah kenikmatan dan kesenangan, dan dengan sebabnya pula tercapailah kebahagiaan yang abadi di surga yang penuh dengan kenikmatan (jannatun-na’im). *** وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan, Yaitu aku mohon petunjuk kepada-Mu agar mensyukuri segala nikmat dari-Mu yang tidak terhitung, karena mensyukuri nikmat dapat mendatangkan tambahan nikmat, menjaganya, dan melanggengkan nikmat tersebut pada seorang hamba yang bersyukur. Sebagaimana firman Allah, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7) Bersyukur dapat dilakukan: dengan hati, lisan, dan anggota badan. Bersyukur dengan hati dengan cara selalu mengingat nikmat dan tidak melupakannya. Bersyukur dengan lisan dengan cara menyanjung dan memuji Allah atas nikmat-nikmat yang Allah berikan, menyebutnya, menghitungnya, dan membicarakannya. Bersyukur dengan anggota badan dengan cara meminta pertolongan Allah agar dapat menggunakan nikmat yang diberikan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam bermaksiat kepada-Nya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ WA HUSNA ‘IBAADATIKA dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Yaitu dengan menyempurnakan dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya. Hal itu dapat terwujud dengan dua rukun: Pertama: Ikhlas karena Allah dalam beramal. Kedua: Mengikuti al-Quran yang penuh hikmah dan Hadis Nabi pilihan yang baik hati dan penyayang shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebaikan terbesar dalam ibadah adalah mencapai kedudukan al-ihsan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الإحسان أن تعبد اللَّه كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك “Al-Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari) Hadis di atas menunjukkan dua tingkatan al-Ihsan: Pertama: Beribadah kepada Allah dengan meyakini bahwa Allah melihatnya, dekat dengannya, dan memperhatikannya. Dengan demikian, dia mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, bersungguh-sungguh menyempurnakan dan memperbaiki ibadahnya. Kedua: Beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah dengan hatinya, seolah-olah Allah hadir di hadapannya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Dengan demikian, seorang yang berdoa semestinya menghadirkan makna-makna ini ketika ia berdoa kepada Allah. *** وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN Aku juga mohon kepada-Mu hati yang bersih, Yaitu hati yang bersih dari dosa-dosa dan aib-aib, yang tidak ada sesuatu pun padanya yang dibenci oleh Allah. Termasuk hati yang selamat adalah: (1) Hati yang selamat dari syirik, baik yang nyata maupun yang samar. (2) Selamat dari hawa nafsu, bid’ah, kefasikan, dan maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, seperti riya, ujub, dendam, curang, benci, dengki, dll. Pada hari kiamat, tidak ada yang bermanfaat selain hati yang selamat. Allah berfirman,  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88 – 89) Apabila hati telah selamat, maka tidak ada padanya, kecuali Allah. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَلِسَانًا صَادِقًا WA LISAANAN SHOODIQON dan lisan yang jujur. Yaitu lisan yang terjaga dari dusta dan ingkar janji. Nabi memohon lisan yang jujur kepada Allah karena itu salah satu karunia terbesar. Ia adalah jalan pertama menuju derajat ash-Shiddiq yang merupakan derajat paling tinggi setelah kenabian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  عليكم بالصدق, فإن الصدق يهدي إلى البر، وإن البر يهدي إلى الجنة, وما يزال الرَّجُل يصدق, ويتحرى الصدق, حتى يكتب عند اللهِ صديقاً “Kalian harus jujur, karena jujur itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun menuju surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan memilih jalan kejujuran, sehingga ia dicatat sebagai seorang yang jujur di sisi Allah …” (HR. Bukhari) *** وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, Ini adalah permohonan kebaikan yang mencakup seluruh kebaikan yang diketahui dan tidak diketahui oleh seorang hamba. Semua kebaikan tercakup di dalamnya. Oleh sebab itu, Nabi menyandarkannya kepada Allah yang Mahatinggi lagi Maha Mengetahui, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; alam nyata dan gaib. Permohonan yang umum setelah yang khusus untuk meminta kebaikan ini masuk dalam kaidah “penyebutan umum setelah yang khusus”. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, Istiazah ini meliputi permohonan perlindungan kepada Allah dari seluruh kejelekan, baik yang kecil maupun besar, baik yang nyata maupun yang samar, yang mana istiazah ini dikaitkan dengan seluruh kejelekan yang diketahui oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini adalah kalimat istiazah yang sangat halus dan penuh dengan adab dan pengagungan kepada Allah tatkala berdoa kepada-Nya. *** وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Nabi menutup doa ini dengan istighfar yang merupakan maksud dan pokok dari doa ini, karena ia merupakan penutup amal saleh, sebagaimana dalam banyak ibadah. Istighfar ini mencakup permohonan ampun terhadap seluruh dosa yang dilakukan oleh seorang hamba pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, karena di antara dosa ada yang sama sekali tidak disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakar, … يا أبا بكر لَلشرك فيكم، أخفى من دبيب النمل “Wahai Abu Bakar, sungguh kesyirikan di tengah-tengah kalian lebih samar dibandingkan rayapan semut …” (diriwayatkan imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod) Sebagian dosa ada yang dilupakan seorang hamba dan tidak ia ingat tatkala beristighfar. Oleh karena itu, ia membutuhkan istighfar yang umum atas semua dosa-dosanya, baik yang ia ketahui maupun yang tidak. Sungguh Allah mengetahui dan menghitung semua dosa-dosanya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan sebaik-baik penutup, yaitu dengan menyebut sifat-sifat Allah yang agung: إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib. Dengan menyebut nama Allah yang merupakan al-asma’ al-mudhofah: ‘al-laam (Maha Mengetahui) digabung dengan kata al-ghuyuub (semua perkara yang gaib), yang menunjukkan sangat luasnya ilmu-Nya, karena kata علَّام (‘al-laam) dalam bahasa Arab merupakan sighah mubalaghah yang menunjukkan arti sangat banyak dan luasnya cakupan ilmu Allah.  Ini merupakan bentuk tawasul yang agung. Dalam keadaan yang mulia ini, padanya terdapat adab dan pengagungan yang sangat tinggi terhadap Allah yang Mahamulia; yaitu Nabi menegaskan doanya dengan menggunakan kata إنَّ (inna = sesungguhnya), setelahnya ada kata ganti أنت (anta = Engkau), yang dalam bahasa Arab menunjukkan makna: at-Ta’kid (penegasan), al-Hasyr (pembatasan), dan al-Qosr (pengkhususan), dalam pengkhususan Allah dengan ilmu yang sangat luas, dan termasuk di dalamnya adalah orang yang berdoa meminta berbagai permohonan yang tinggi ini, baik dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Anda—semoga Allah menjagamu—dapat melihat keagungan kalimat-kalimat dalam doa ini; dari tujuan, permohonan, dan kandungannya yang sangat penting. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memperbanyak membaca doa ini, karena ia adalah kekayaan sejati yang akan terus berkembang dengan bertambahnya kebaikan di dunia dan tabungan pahala di akhirat. *** Artikel diterjemahkan dengan penyesuaian dari: https://kalemtayeb.com/safahat/item/3185 Penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen) Sumber: https://banghen.com/doa-minta-keteguhan-dalam-segala-urusan/ Murajaah: Ustadz Bayu PratomoUstadz Daris MushthofaUstadz Agus Waluyo 🔍 Bacaan Imam Sebelum Shalat, Mendoakan Anak Yang Baru Lahir, Pasik Adalah, Doa Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Gambar Tangkorak, Dp Ayat Alquran Visited 4,205 times, 28 visit(s) today Post Views: 705 QRIS donasi Yufid

Doa Minta Keteguhan dalam Segala Urusan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ أحمد، 28/ 338، برقم 17114، و28/ 356، برقم 17133، والترمذي، كتاب الدعوات، باب منه، برقم 3407، والنسائي، كتاب السهو، نوع آخر من الدعاء، برقم 1304، ومصنف ابن أبي شيبة، 10/ 271، برقم 29971، والطبراني في المعجم الكبير بلفظه، برقم 7135، وبرقم 7157، و7175، ورقم 7176، و7177، و7178، و7179، و7180، وأخرجه ابن حبان في صحيحه، 3/ 215، برقم 935، و5/ 310، برقم 1974، وحسنه شعيب الأرنؤوط في صحيح ابن حبان، 5/ 312، وحسنه بطرقه محققو المسند، 28/ 338، وذكره الألباني سلسلة الأحاديث الصحيحة في المجلد السابع، برقم 3228، وفي صحيح موارد الظمآن، برقم 2416، 2418، وقال صحيح لغيره ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA WA HUSNA ‘IBAADATIKA WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN WA LISAANAN SHOODIQON WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan keteguhan hati di atas kebenaran. Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang dan ampunan-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur. Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib.” (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir) Ini adalah doa yang agung, berkah, dan sangat penting, yang berisi permintaan-permintaan terbesar dalam agama, dunia, dan akhirat. Doa ini mengandung Jawami al-Kalim (susunan kalimat yang pendek, tetapi padat maknanya) yang tidak akan dapat dikupas secara mendalam pada tulisan singkat ini dikarenakan ia begitu agung. [Al-Allamah al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hanbali telah mensyarah doa ini dalam kitab khusus beliau, lihat Majmu ar-Rasail] Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Syaddad bin Aus dan para sahabat agar memperbanyak membaca doa ini. Nabi mengatakan dengan kalimat terindah dan sarat dengan makna yang terbaik: يا شداد بن أوس، إذا رأيت الناس قد اكتنزوا الذهب والفضة, فاكنز هؤلاء الكلمات “Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat orang-orang mengumpulkan emas dan perak, maka cukuplah engkau membaca doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. At-Thabarani di al-Mu’jam al-Kabir) Pada lafaz hadis yang lain: … إذا اكتنز الناس الدنانير والدراهم, فاكتنزوا الكلمات “… apabila orang-orang mengumpulkan dinar dan dirham, maka cukuplah kalian membaca kalimat doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. Ibnu Hibban) Di antara bukti yang menunjukkan pentingnya doa yang tayibah ini: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini dalam salat. Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban, Thabarani, dan lafaz hadis ini terdapat pada riwayat an-Nasai:  عن شداد رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم [كان يقول في صلاته]: اللهم إني أسألك الثبات “Dari Syaddad radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salat, beliau membaca: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ ALLAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA … “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan …” Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membaca doa ini dalam ibadah terbaik, yaitu dalam salat. [Telah disebutkan berulang kali bahwa fi’il mudhari yang terletak setelah kana (كان) menunjukkan perbuatan yang rutin dan terus menerus dikerjakan] Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فأكثروا “… maka kalian baca sebanyak-banyaknya! …” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar membacanya sebanyak-banyaknya, karena manfaatnya langgeng dan tidak terputus, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala: الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا “Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia, tetapi amal kebaikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46) Doa yang berkah ini mengandung beberapa tujuan dan permohonan penting dalam berbagai urusan agama, dunia, dan akhirat: Memohon kepada Allah agar teguh di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan.Memohon taufik agar beramal saleh secara sempurna.Memohon agar senantiasa bersyukur, siang dan malam, atas segala nikmat.Memohon perbaikan terhadap amalan hati dan badan.Memohon agar senantiasa sukses dalam setiap kebaikan dan keadaan.Memohon keselamatan dari setiap keburukan, pada setiap keadaan dan waktu.Memohon ampunan atas segala dosa di masa lalu, sekarang, dan di masa mendatang. *** PENJELASAN ISTILAH Al-Kanzu (الكنز): makna asal al-Kanzu adalah harta benda yang terpendam di dalam tanah. Apabila telah ditunaikan kewajiban zakatnya, maka statusnya bukan lagi harta terpendam, walaupun masih dalam keadaan terpendam. Jadi, al-Kanzu adalah perbendaharaan (harta) yang sangat berharga dan tersimpan. Istilah al-Kanzu juga ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: لا حول ولا قوة إلا باللهِ كنز من كنوز الجنة “Kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari) Maksudnya, kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah harta simpanan milik orang yang mengucapkannya. Ia diibaratkan dengan harta simpanan, sebagaimana orang itu menyimpan hartanya. Al-‘Azimah (العزيمة): al-‘Azmu (العزم) (tekad) atau al-‘Azimah (العزيمة) (niat dan kemauan kuat) adalah keteguhan hati (عقد القلب) untuk menyelesaikan suatu urusan. Seperti 3 ungkapan berikut: عزمتُ الأمر “Aku bertekad menyelesaikan urusan itu.” و عزمت عليه “Aku bertekad mengerjakannya.” واعتزمت “Aku berniat melakukannya.” (al-Mufradat) Ar-Rusydu (الرشد): Kebenaran. Antonim dari kata al-Ghoi (الغي) yang artinya kesesatan.  Jadi, ar-Rusydu artinya: kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Al-Qalbu as-Salim (القلب السليم): Hati yang selamat, yaitu hati yang bersih dari kesyirikan, kekafiran, kemunafikan, dosa, dan seluruh sifat tercela. *** PENJELASAN DOA Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ ALLAAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan, Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar diberi keteguhan di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan. Lafaz doa ini umum, yaitu dalam semua urusan: dunia, agama, dan akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Keteguhan ini dapat terwujud dikarenakan adanya taufik (pertolongan) dari Allah, dengan berusaha istiqamah dan menempuh jalan yang benar. Yang terpenting dari semuanya itu adalah keteguhan dalam: (1) agama, (2) ketaatan, (3) dan istiqamah di atas petunjuk Allah. Keadaan seorang hamba paling membutuhkan istiqamah adalah ketika ia menghadapi godaan setan saat sakratulmaut, saat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, dan saat melewati sirat. Allah menghimpun semua urusan ini dalam firman-Nya: يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27) *** وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI dan keteguhan hati di atas kebenaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar, yaitu kesungguhan hati dalam setiap urusan, dalam rangka mencapai dan menyempurnakan setiap kebaikan dalam setiap urusannya, baik dunia maupun akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Ar-Rusydu—sebagaimana dijelaskan di atas—artinya kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. Oleh karena itu, keteguhan hati dalam kebenaran adalah titik awal dari kebaikan, karena seseorang terkadang tahu kebenaran, namun tidak memiliki keteguhan hati untuk menempuhnya. Namun, apabila ia bertekad bulat untuk menempuhnya, maka ia akan sukses.  Al-Azimah adalah niat yang kuat, yang berkesinambungan dengan perbuatan, yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan. Seorang hamba tiada kuasa menyelesaikannya, kecuali dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dalam kebenaran. Untuk itulah, Nabi mengajari seorang sahabat untuk berdoa: قُلْ اللَّهُمَّ قِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ وَاعْزِمْ لِيْ عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِيْ “Katakan: Ya Allah, jagalah aku dari keburukan diriku sendiri, dan berikanlah aku keteguhan hati untuk menentukan yang terbaik pada urusanku.” (HR. Ahmad) Maka dari itu, seorang hamba perlu (1) meminta tolong kepada Allah, (2) dan bertawakal kepada-Nya untuk memperoleh (a) keteguhan hati (b) dan mengamalkan konsekuensinya setelah keteguhan hati itu diperoleh. Allah berfirman, فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “… Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad (meneguhkan hati), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159) Ar-Rusydu (kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran) adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah, وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ “… Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah beliau: من يطع الله ورسوله فقد رشد ومن يعصي الله ورسوله فقد غوى “Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kebenaran. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kesesatan.” (HR. Muslim) Ar-Rusydu (kebenaran) antonim dari al-Ghoi (kesesatan). Allah berfirman, قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَي “… sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan …” (QS. al-Baqarah: 256) Seseorang yang tidak mendapat petunjuk (mengikuti jalan yang benar), maka ia bisa jadi adalah seorang yang lalai atau tersesat. Al-‘Azmu (keteguhan hati) terbagi dua: Pertama:  Keteguhan hati berupa kesediaan untuk memasuki jalan kebenaran. Ini adalah tahap awal. Kedua: Keteguhan hati untuk senantiasa taat setelah memasuki jalan kebenaran, dan senantiasa bergerak dari keadaan yang sempurna menuju keadaan yang lebih sempurna. Inilah titik akhirnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan lima pemuka para rasul dengan nama Ulil ‘Azmi, yang merupakan rasul-rasul terbaik. Dengan keteguhan hati yang pertama, memungkinkan seseorang memasuki semua pintu kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Dengannya pula, memungkinkan orang kafir keluar dari kekafiran menuju Islam dan pelaku maksiat menjauhi kemaksiatan menuju ketaatan. Apabila niatnya itu benar-benar jujur, dia bertekad bulat, dan berupaya keras sekeras-kerasnya mengalahkan hawa nafsunya dan setan yang menggodanya, kemudian dia mengerjakan amalan-amalan ketaatan yang diperintahkan, maka dia pasti menang. Pertolongan Allah untuk seorang hamba sesuai dengan kadar kuat dan lemahnya keteguhan hatinya. Barang siapa yang bertekad menginginkan kebaikan, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya. Barang siapa yang tulus keteguhan hatinya, setan putus asa menggodanya. Namun, tatkala dia ragu-ragu, maka setan semakin tamak menggodanya, membuatnya menunda-nunda dan berangan-angan. Sebagian salaf saleh ditanya, “Kapankah dunia pergi menjauh dari hati?”  Ia menjawab, “Apabila keteguhan hati telah tiba, maka dunia pergi menjauh dari hati, lalu hati berjalan di kerajaan langit. Namun, apabila keteguhan hati tak kunjung tiba, maka hati akan tergoncang dan kembali ke dunia.” (Majmu Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu, مُوجِبَاتِ  (huruf jimnya berharakat kasrah)  adalah bentuk jamak dari:  مُوجِبَةٌ artinya segala hal yang mendatangkan kasih sayang (rahmat) Allah untuk orang yang mengucapkannya, berupa qurbah, yaitu segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, arti kalimat doa ini: Kami memohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu dan memasukkan kami ke dalam surga yang merupakan rahmat-Mu teragung, baik itu berupa perbuatan, perkataan, dan sifat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Sebagaimana firman Allah, وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran: 107) *** وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA dan segala hal yang mendatangkan ampunan-Mu. العزائم adalah bentuk jamak dari: عزيمة yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan, sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Maksudnya, saya memohon kepada-Mu agar memberikan karunia kepada kami, baik itu berupa amalan, perkataan, dan perbuatan yang dapat mendatangkan dan merealisasikan ampunan-Mu.  Doa ini merupakan bagian dari Jawami al-Kalim nabawi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama-tama, beliau memohon kepada Allah segala hal yang mendatangkan rahmat-Nya. Barang siapa yang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan rahmat Allah maka sungguh dengan sebab itu dia termasuk ke dalam rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, juga termasuk ke dalam golongan dan jajaran orang-orang yang berhak mendapatkannya. Kemudian, beliau memohon kepada Allah keteguhan hati dalam berbuat baik agar mendapatkan ampunan-Nya, karena barang siapa yang diampuni dosa-dosanya, lalu dikaruniakan rahmat kepadanya, sungguh dia beruntung mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan berhak mendapat penjagaan Allah dalam hidup dan matinya, sebab dia telah dibersihkan dari kekeruhan dosa-dosanya. (Tuhfah adz-Dzakirin) Dua permohonan ini (meminta rahmat dan ampunan Allah), terdapat dalam banyak doa dalam al-Quran dan Hadis, karena pada ampunan Allah ada pembebasan dari seluruh dosa dan efeknya, yaitu pembersihan dan pemurnian dari bekas noda-noda dan keburukannya, di dunia dan akhirat. Sedangkan rahmat (kasih sayang) adalah perhiasan, yang dengannya terwujudlah kenikmatan dan kesenangan, dan dengan sebabnya pula tercapailah kebahagiaan yang abadi di surga yang penuh dengan kenikmatan (jannatun-na’im). *** وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan, Yaitu aku mohon petunjuk kepada-Mu agar mensyukuri segala nikmat dari-Mu yang tidak terhitung, karena mensyukuri nikmat dapat mendatangkan tambahan nikmat, menjaganya, dan melanggengkan nikmat tersebut pada seorang hamba yang bersyukur. Sebagaimana firman Allah, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7) Bersyukur dapat dilakukan: dengan hati, lisan, dan anggota badan. Bersyukur dengan hati dengan cara selalu mengingat nikmat dan tidak melupakannya. Bersyukur dengan lisan dengan cara menyanjung dan memuji Allah atas nikmat-nikmat yang Allah berikan, menyebutnya, menghitungnya, dan membicarakannya. Bersyukur dengan anggota badan dengan cara meminta pertolongan Allah agar dapat menggunakan nikmat yang diberikan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam bermaksiat kepada-Nya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ WA HUSNA ‘IBAADATIKA dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Yaitu dengan menyempurnakan dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya. Hal itu dapat terwujud dengan dua rukun: Pertama: Ikhlas karena Allah dalam beramal. Kedua: Mengikuti al-Quran yang penuh hikmah dan Hadis Nabi pilihan yang baik hati dan penyayang shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebaikan terbesar dalam ibadah adalah mencapai kedudukan al-ihsan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الإحسان أن تعبد اللَّه كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك “Al-Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari) Hadis di atas menunjukkan dua tingkatan al-Ihsan: Pertama: Beribadah kepada Allah dengan meyakini bahwa Allah melihatnya, dekat dengannya, dan memperhatikannya. Dengan demikian, dia mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, bersungguh-sungguh menyempurnakan dan memperbaiki ibadahnya. Kedua: Beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah dengan hatinya, seolah-olah Allah hadir di hadapannya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Dengan demikian, seorang yang berdoa semestinya menghadirkan makna-makna ini ketika ia berdoa kepada Allah. *** وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN Aku juga mohon kepada-Mu hati yang bersih, Yaitu hati yang bersih dari dosa-dosa dan aib-aib, yang tidak ada sesuatu pun padanya yang dibenci oleh Allah. Termasuk hati yang selamat adalah: (1) Hati yang selamat dari syirik, baik yang nyata maupun yang samar. (2) Selamat dari hawa nafsu, bid’ah, kefasikan, dan maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, seperti riya, ujub, dendam, curang, benci, dengki, dll. Pada hari kiamat, tidak ada yang bermanfaat selain hati yang selamat. Allah berfirman,  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88 – 89) Apabila hati telah selamat, maka tidak ada padanya, kecuali Allah. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَلِسَانًا صَادِقًا WA LISAANAN SHOODIQON dan lisan yang jujur. Yaitu lisan yang terjaga dari dusta dan ingkar janji. Nabi memohon lisan yang jujur kepada Allah karena itu salah satu karunia terbesar. Ia adalah jalan pertama menuju derajat ash-Shiddiq yang merupakan derajat paling tinggi setelah kenabian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  عليكم بالصدق, فإن الصدق يهدي إلى البر، وإن البر يهدي إلى الجنة, وما يزال الرَّجُل يصدق, ويتحرى الصدق, حتى يكتب عند اللهِ صديقاً “Kalian harus jujur, karena jujur itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun menuju surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan memilih jalan kejujuran, sehingga ia dicatat sebagai seorang yang jujur di sisi Allah …” (HR. Bukhari) *** وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, Ini adalah permohonan kebaikan yang mencakup seluruh kebaikan yang diketahui dan tidak diketahui oleh seorang hamba. Semua kebaikan tercakup di dalamnya. Oleh sebab itu, Nabi menyandarkannya kepada Allah yang Mahatinggi lagi Maha Mengetahui, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; alam nyata dan gaib. Permohonan yang umum setelah yang khusus untuk meminta kebaikan ini masuk dalam kaidah “penyebutan umum setelah yang khusus”. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, Istiazah ini meliputi permohonan perlindungan kepada Allah dari seluruh kejelekan, baik yang kecil maupun besar, baik yang nyata maupun yang samar, yang mana istiazah ini dikaitkan dengan seluruh kejelekan yang diketahui oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini adalah kalimat istiazah yang sangat halus dan penuh dengan adab dan pengagungan kepada Allah tatkala berdoa kepada-Nya. *** وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Nabi menutup doa ini dengan istighfar yang merupakan maksud dan pokok dari doa ini, karena ia merupakan penutup amal saleh, sebagaimana dalam banyak ibadah. Istighfar ini mencakup permohonan ampun terhadap seluruh dosa yang dilakukan oleh seorang hamba pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, karena di antara dosa ada yang sama sekali tidak disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakar, … يا أبا بكر لَلشرك فيكم، أخفى من دبيب النمل “Wahai Abu Bakar, sungguh kesyirikan di tengah-tengah kalian lebih samar dibandingkan rayapan semut …” (diriwayatkan imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod) Sebagian dosa ada yang dilupakan seorang hamba dan tidak ia ingat tatkala beristighfar. Oleh karena itu, ia membutuhkan istighfar yang umum atas semua dosa-dosanya, baik yang ia ketahui maupun yang tidak. Sungguh Allah mengetahui dan menghitung semua dosa-dosanya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan sebaik-baik penutup, yaitu dengan menyebut sifat-sifat Allah yang agung: إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib. Dengan menyebut nama Allah yang merupakan al-asma’ al-mudhofah: ‘al-laam (Maha Mengetahui) digabung dengan kata al-ghuyuub (semua perkara yang gaib), yang menunjukkan sangat luasnya ilmu-Nya, karena kata علَّام (‘al-laam) dalam bahasa Arab merupakan sighah mubalaghah yang menunjukkan arti sangat banyak dan luasnya cakupan ilmu Allah.  Ini merupakan bentuk tawasul yang agung. Dalam keadaan yang mulia ini, padanya terdapat adab dan pengagungan yang sangat tinggi terhadap Allah yang Mahamulia; yaitu Nabi menegaskan doanya dengan menggunakan kata إنَّ (inna = sesungguhnya), setelahnya ada kata ganti أنت (anta = Engkau), yang dalam bahasa Arab menunjukkan makna: at-Ta’kid (penegasan), al-Hasyr (pembatasan), dan al-Qosr (pengkhususan), dalam pengkhususan Allah dengan ilmu yang sangat luas, dan termasuk di dalamnya adalah orang yang berdoa meminta berbagai permohonan yang tinggi ini, baik dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Anda—semoga Allah menjagamu—dapat melihat keagungan kalimat-kalimat dalam doa ini; dari tujuan, permohonan, dan kandungannya yang sangat penting. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memperbanyak membaca doa ini, karena ia adalah kekayaan sejati yang akan terus berkembang dengan bertambahnya kebaikan di dunia dan tabungan pahala di akhirat. *** Artikel diterjemahkan dengan penyesuaian dari: https://kalemtayeb.com/safahat/item/3185 Penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen) Sumber: https://banghen.com/doa-minta-keteguhan-dalam-segala-urusan/ Murajaah: Ustadz Bayu PratomoUstadz Daris MushthofaUstadz Agus Waluyo 🔍 Bacaan Imam Sebelum Shalat, Mendoakan Anak Yang Baru Lahir, Pasik Adalah, Doa Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Gambar Tangkorak, Dp Ayat Alquran Visited 4,205 times, 28 visit(s) today Post Views: 705 QRIS donasi Yufid
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ أحمد، 28/ 338، برقم 17114، و28/ 356، برقم 17133، والترمذي، كتاب الدعوات، باب منه، برقم 3407، والنسائي، كتاب السهو، نوع آخر من الدعاء، برقم 1304، ومصنف ابن أبي شيبة، 10/ 271، برقم 29971، والطبراني في المعجم الكبير بلفظه، برقم 7135، وبرقم 7157، و7175، ورقم 7176، و7177، و7178، و7179، و7180، وأخرجه ابن حبان في صحيحه، 3/ 215، برقم 935، و5/ 310، برقم 1974، وحسنه شعيب الأرنؤوط في صحيح ابن حبان، 5/ 312، وحسنه بطرقه محققو المسند، 28/ 338، وذكره الألباني سلسلة الأحاديث الصحيحة في المجلد السابع، برقم 3228، وفي صحيح موارد الظمآن، برقم 2416، 2418، وقال صحيح لغيره ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA WA HUSNA ‘IBAADATIKA WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN WA LISAANAN SHOODIQON WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan keteguhan hati di atas kebenaran. Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang dan ampunan-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur. Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib.” (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir) Ini adalah doa yang agung, berkah, dan sangat penting, yang berisi permintaan-permintaan terbesar dalam agama, dunia, dan akhirat. Doa ini mengandung Jawami al-Kalim (susunan kalimat yang pendek, tetapi padat maknanya) yang tidak akan dapat dikupas secara mendalam pada tulisan singkat ini dikarenakan ia begitu agung. [Al-Allamah al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hanbali telah mensyarah doa ini dalam kitab khusus beliau, lihat Majmu ar-Rasail] Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Syaddad bin Aus dan para sahabat agar memperbanyak membaca doa ini. Nabi mengatakan dengan kalimat terindah dan sarat dengan makna yang terbaik: يا شداد بن أوس، إذا رأيت الناس قد اكتنزوا الذهب والفضة, فاكنز هؤلاء الكلمات “Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat orang-orang mengumpulkan emas dan perak, maka cukuplah engkau membaca doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. At-Thabarani di al-Mu’jam al-Kabir) Pada lafaz hadis yang lain: … إذا اكتنز الناس الدنانير والدراهم, فاكتنزوا الكلمات “… apabila orang-orang mengumpulkan dinar dan dirham, maka cukuplah kalian membaca kalimat doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. Ibnu Hibban) Di antara bukti yang menunjukkan pentingnya doa yang tayibah ini: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini dalam salat. Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban, Thabarani, dan lafaz hadis ini terdapat pada riwayat an-Nasai:  عن شداد رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم [كان يقول في صلاته]: اللهم إني أسألك الثبات “Dari Syaddad radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salat, beliau membaca: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ ALLAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA … “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan …” Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membaca doa ini dalam ibadah terbaik, yaitu dalam salat. [Telah disebutkan berulang kali bahwa fi’il mudhari yang terletak setelah kana (كان) menunjukkan perbuatan yang rutin dan terus menerus dikerjakan] Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فأكثروا “… maka kalian baca sebanyak-banyaknya! …” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar membacanya sebanyak-banyaknya, karena manfaatnya langgeng dan tidak terputus, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala: الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا “Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia, tetapi amal kebaikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46) Doa yang berkah ini mengandung beberapa tujuan dan permohonan penting dalam berbagai urusan agama, dunia, dan akhirat: Memohon kepada Allah agar teguh di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan.Memohon taufik agar beramal saleh secara sempurna.Memohon agar senantiasa bersyukur, siang dan malam, atas segala nikmat.Memohon perbaikan terhadap amalan hati dan badan.Memohon agar senantiasa sukses dalam setiap kebaikan dan keadaan.Memohon keselamatan dari setiap keburukan, pada setiap keadaan dan waktu.Memohon ampunan atas segala dosa di masa lalu, sekarang, dan di masa mendatang. *** PENJELASAN ISTILAH Al-Kanzu (الكنز): makna asal al-Kanzu adalah harta benda yang terpendam di dalam tanah. Apabila telah ditunaikan kewajiban zakatnya, maka statusnya bukan lagi harta terpendam, walaupun masih dalam keadaan terpendam. Jadi, al-Kanzu adalah perbendaharaan (harta) yang sangat berharga dan tersimpan. Istilah al-Kanzu juga ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: لا حول ولا قوة إلا باللهِ كنز من كنوز الجنة “Kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari) Maksudnya, kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah harta simpanan milik orang yang mengucapkannya. Ia diibaratkan dengan harta simpanan, sebagaimana orang itu menyimpan hartanya. Al-‘Azimah (العزيمة): al-‘Azmu (العزم) (tekad) atau al-‘Azimah (العزيمة) (niat dan kemauan kuat) adalah keteguhan hati (عقد القلب) untuk menyelesaikan suatu urusan. Seperti 3 ungkapan berikut: عزمتُ الأمر “Aku bertekad menyelesaikan urusan itu.” و عزمت عليه “Aku bertekad mengerjakannya.” واعتزمت “Aku berniat melakukannya.” (al-Mufradat) Ar-Rusydu (الرشد): Kebenaran. Antonim dari kata al-Ghoi (الغي) yang artinya kesesatan.  Jadi, ar-Rusydu artinya: kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Al-Qalbu as-Salim (القلب السليم): Hati yang selamat, yaitu hati yang bersih dari kesyirikan, kekafiran, kemunafikan, dosa, dan seluruh sifat tercela. *** PENJELASAN DOA Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ ALLAAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan, Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar diberi keteguhan di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan. Lafaz doa ini umum, yaitu dalam semua urusan: dunia, agama, dan akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Keteguhan ini dapat terwujud dikarenakan adanya taufik (pertolongan) dari Allah, dengan berusaha istiqamah dan menempuh jalan yang benar. Yang terpenting dari semuanya itu adalah keteguhan dalam: (1) agama, (2) ketaatan, (3) dan istiqamah di atas petunjuk Allah. Keadaan seorang hamba paling membutuhkan istiqamah adalah ketika ia menghadapi godaan setan saat sakratulmaut, saat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, dan saat melewati sirat. Allah menghimpun semua urusan ini dalam firman-Nya: يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27) *** وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI dan keteguhan hati di atas kebenaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar, yaitu kesungguhan hati dalam setiap urusan, dalam rangka mencapai dan menyempurnakan setiap kebaikan dalam setiap urusannya, baik dunia maupun akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Ar-Rusydu—sebagaimana dijelaskan di atas—artinya kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. Oleh karena itu, keteguhan hati dalam kebenaran adalah titik awal dari kebaikan, karena seseorang terkadang tahu kebenaran, namun tidak memiliki keteguhan hati untuk menempuhnya. Namun, apabila ia bertekad bulat untuk menempuhnya, maka ia akan sukses.  Al-Azimah adalah niat yang kuat, yang berkesinambungan dengan perbuatan, yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan. Seorang hamba tiada kuasa menyelesaikannya, kecuali dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dalam kebenaran. Untuk itulah, Nabi mengajari seorang sahabat untuk berdoa: قُلْ اللَّهُمَّ قِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ وَاعْزِمْ لِيْ عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِيْ “Katakan: Ya Allah, jagalah aku dari keburukan diriku sendiri, dan berikanlah aku keteguhan hati untuk menentukan yang terbaik pada urusanku.” (HR. Ahmad) Maka dari itu, seorang hamba perlu (1) meminta tolong kepada Allah, (2) dan bertawakal kepada-Nya untuk memperoleh (a) keteguhan hati (b) dan mengamalkan konsekuensinya setelah keteguhan hati itu diperoleh. Allah berfirman, فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “… Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad (meneguhkan hati), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159) Ar-Rusydu (kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran) adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah, وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ “… Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah beliau: من يطع الله ورسوله فقد رشد ومن يعصي الله ورسوله فقد غوى “Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kebenaran. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kesesatan.” (HR. Muslim) Ar-Rusydu (kebenaran) antonim dari al-Ghoi (kesesatan). Allah berfirman, قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَي “… sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan …” (QS. al-Baqarah: 256) Seseorang yang tidak mendapat petunjuk (mengikuti jalan yang benar), maka ia bisa jadi adalah seorang yang lalai atau tersesat. Al-‘Azmu (keteguhan hati) terbagi dua: Pertama:  Keteguhan hati berupa kesediaan untuk memasuki jalan kebenaran. Ini adalah tahap awal. Kedua: Keteguhan hati untuk senantiasa taat setelah memasuki jalan kebenaran, dan senantiasa bergerak dari keadaan yang sempurna menuju keadaan yang lebih sempurna. Inilah titik akhirnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan lima pemuka para rasul dengan nama Ulil ‘Azmi, yang merupakan rasul-rasul terbaik. Dengan keteguhan hati yang pertama, memungkinkan seseorang memasuki semua pintu kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Dengannya pula, memungkinkan orang kafir keluar dari kekafiran menuju Islam dan pelaku maksiat menjauhi kemaksiatan menuju ketaatan. Apabila niatnya itu benar-benar jujur, dia bertekad bulat, dan berupaya keras sekeras-kerasnya mengalahkan hawa nafsunya dan setan yang menggodanya, kemudian dia mengerjakan amalan-amalan ketaatan yang diperintahkan, maka dia pasti menang. Pertolongan Allah untuk seorang hamba sesuai dengan kadar kuat dan lemahnya keteguhan hatinya. Barang siapa yang bertekad menginginkan kebaikan, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya. Barang siapa yang tulus keteguhan hatinya, setan putus asa menggodanya. Namun, tatkala dia ragu-ragu, maka setan semakin tamak menggodanya, membuatnya menunda-nunda dan berangan-angan. Sebagian salaf saleh ditanya, “Kapankah dunia pergi menjauh dari hati?”  Ia menjawab, “Apabila keteguhan hati telah tiba, maka dunia pergi menjauh dari hati, lalu hati berjalan di kerajaan langit. Namun, apabila keteguhan hati tak kunjung tiba, maka hati akan tergoncang dan kembali ke dunia.” (Majmu Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu, مُوجِبَاتِ  (huruf jimnya berharakat kasrah)  adalah bentuk jamak dari:  مُوجِبَةٌ artinya segala hal yang mendatangkan kasih sayang (rahmat) Allah untuk orang yang mengucapkannya, berupa qurbah, yaitu segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, arti kalimat doa ini: Kami memohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu dan memasukkan kami ke dalam surga yang merupakan rahmat-Mu teragung, baik itu berupa perbuatan, perkataan, dan sifat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Sebagaimana firman Allah, وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran: 107) *** وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA dan segala hal yang mendatangkan ampunan-Mu. العزائم adalah bentuk jamak dari: عزيمة yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan, sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Maksudnya, saya memohon kepada-Mu agar memberikan karunia kepada kami, baik itu berupa amalan, perkataan, dan perbuatan yang dapat mendatangkan dan merealisasikan ampunan-Mu.  Doa ini merupakan bagian dari Jawami al-Kalim nabawi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama-tama, beliau memohon kepada Allah segala hal yang mendatangkan rahmat-Nya. Barang siapa yang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan rahmat Allah maka sungguh dengan sebab itu dia termasuk ke dalam rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, juga termasuk ke dalam golongan dan jajaran orang-orang yang berhak mendapatkannya. Kemudian, beliau memohon kepada Allah keteguhan hati dalam berbuat baik agar mendapatkan ampunan-Nya, karena barang siapa yang diampuni dosa-dosanya, lalu dikaruniakan rahmat kepadanya, sungguh dia beruntung mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan berhak mendapat penjagaan Allah dalam hidup dan matinya, sebab dia telah dibersihkan dari kekeruhan dosa-dosanya. (Tuhfah adz-Dzakirin) Dua permohonan ini (meminta rahmat dan ampunan Allah), terdapat dalam banyak doa dalam al-Quran dan Hadis, karena pada ampunan Allah ada pembebasan dari seluruh dosa dan efeknya, yaitu pembersihan dan pemurnian dari bekas noda-noda dan keburukannya, di dunia dan akhirat. Sedangkan rahmat (kasih sayang) adalah perhiasan, yang dengannya terwujudlah kenikmatan dan kesenangan, dan dengan sebabnya pula tercapailah kebahagiaan yang abadi di surga yang penuh dengan kenikmatan (jannatun-na’im). *** وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan, Yaitu aku mohon petunjuk kepada-Mu agar mensyukuri segala nikmat dari-Mu yang tidak terhitung, karena mensyukuri nikmat dapat mendatangkan tambahan nikmat, menjaganya, dan melanggengkan nikmat tersebut pada seorang hamba yang bersyukur. Sebagaimana firman Allah, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7) Bersyukur dapat dilakukan: dengan hati, lisan, dan anggota badan. Bersyukur dengan hati dengan cara selalu mengingat nikmat dan tidak melupakannya. Bersyukur dengan lisan dengan cara menyanjung dan memuji Allah atas nikmat-nikmat yang Allah berikan, menyebutnya, menghitungnya, dan membicarakannya. Bersyukur dengan anggota badan dengan cara meminta pertolongan Allah agar dapat menggunakan nikmat yang diberikan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam bermaksiat kepada-Nya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ WA HUSNA ‘IBAADATIKA dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Yaitu dengan menyempurnakan dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya. Hal itu dapat terwujud dengan dua rukun: Pertama: Ikhlas karena Allah dalam beramal. Kedua: Mengikuti al-Quran yang penuh hikmah dan Hadis Nabi pilihan yang baik hati dan penyayang shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebaikan terbesar dalam ibadah adalah mencapai kedudukan al-ihsan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الإحسان أن تعبد اللَّه كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك “Al-Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari) Hadis di atas menunjukkan dua tingkatan al-Ihsan: Pertama: Beribadah kepada Allah dengan meyakini bahwa Allah melihatnya, dekat dengannya, dan memperhatikannya. Dengan demikian, dia mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, bersungguh-sungguh menyempurnakan dan memperbaiki ibadahnya. Kedua: Beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah dengan hatinya, seolah-olah Allah hadir di hadapannya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Dengan demikian, seorang yang berdoa semestinya menghadirkan makna-makna ini ketika ia berdoa kepada Allah. *** وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN Aku juga mohon kepada-Mu hati yang bersih, Yaitu hati yang bersih dari dosa-dosa dan aib-aib, yang tidak ada sesuatu pun padanya yang dibenci oleh Allah. Termasuk hati yang selamat adalah: (1) Hati yang selamat dari syirik, baik yang nyata maupun yang samar. (2) Selamat dari hawa nafsu, bid’ah, kefasikan, dan maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, seperti riya, ujub, dendam, curang, benci, dengki, dll. Pada hari kiamat, tidak ada yang bermanfaat selain hati yang selamat. Allah berfirman,  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88 – 89) Apabila hati telah selamat, maka tidak ada padanya, kecuali Allah. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَلِسَانًا صَادِقًا WA LISAANAN SHOODIQON dan lisan yang jujur. Yaitu lisan yang terjaga dari dusta dan ingkar janji. Nabi memohon lisan yang jujur kepada Allah karena itu salah satu karunia terbesar. Ia adalah jalan pertama menuju derajat ash-Shiddiq yang merupakan derajat paling tinggi setelah kenabian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  عليكم بالصدق, فإن الصدق يهدي إلى البر، وإن البر يهدي إلى الجنة, وما يزال الرَّجُل يصدق, ويتحرى الصدق, حتى يكتب عند اللهِ صديقاً “Kalian harus jujur, karena jujur itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun menuju surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan memilih jalan kejujuran, sehingga ia dicatat sebagai seorang yang jujur di sisi Allah …” (HR. Bukhari) *** وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, Ini adalah permohonan kebaikan yang mencakup seluruh kebaikan yang diketahui dan tidak diketahui oleh seorang hamba. Semua kebaikan tercakup di dalamnya. Oleh sebab itu, Nabi menyandarkannya kepada Allah yang Mahatinggi lagi Maha Mengetahui, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; alam nyata dan gaib. Permohonan yang umum setelah yang khusus untuk meminta kebaikan ini masuk dalam kaidah “penyebutan umum setelah yang khusus”. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, Istiazah ini meliputi permohonan perlindungan kepada Allah dari seluruh kejelekan, baik yang kecil maupun besar, baik yang nyata maupun yang samar, yang mana istiazah ini dikaitkan dengan seluruh kejelekan yang diketahui oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini adalah kalimat istiazah yang sangat halus dan penuh dengan adab dan pengagungan kepada Allah tatkala berdoa kepada-Nya. *** وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Nabi menutup doa ini dengan istighfar yang merupakan maksud dan pokok dari doa ini, karena ia merupakan penutup amal saleh, sebagaimana dalam banyak ibadah. Istighfar ini mencakup permohonan ampun terhadap seluruh dosa yang dilakukan oleh seorang hamba pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, karena di antara dosa ada yang sama sekali tidak disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakar, … يا أبا بكر لَلشرك فيكم، أخفى من دبيب النمل “Wahai Abu Bakar, sungguh kesyirikan di tengah-tengah kalian lebih samar dibandingkan rayapan semut …” (diriwayatkan imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod) Sebagian dosa ada yang dilupakan seorang hamba dan tidak ia ingat tatkala beristighfar. Oleh karena itu, ia membutuhkan istighfar yang umum atas semua dosa-dosanya, baik yang ia ketahui maupun yang tidak. Sungguh Allah mengetahui dan menghitung semua dosa-dosanya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan sebaik-baik penutup, yaitu dengan menyebut sifat-sifat Allah yang agung: إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib. Dengan menyebut nama Allah yang merupakan al-asma’ al-mudhofah: ‘al-laam (Maha Mengetahui) digabung dengan kata al-ghuyuub (semua perkara yang gaib), yang menunjukkan sangat luasnya ilmu-Nya, karena kata علَّام (‘al-laam) dalam bahasa Arab merupakan sighah mubalaghah yang menunjukkan arti sangat banyak dan luasnya cakupan ilmu Allah.  Ini merupakan bentuk tawasul yang agung. Dalam keadaan yang mulia ini, padanya terdapat adab dan pengagungan yang sangat tinggi terhadap Allah yang Mahamulia; yaitu Nabi menegaskan doanya dengan menggunakan kata إنَّ (inna = sesungguhnya), setelahnya ada kata ganti أنت (anta = Engkau), yang dalam bahasa Arab menunjukkan makna: at-Ta’kid (penegasan), al-Hasyr (pembatasan), dan al-Qosr (pengkhususan), dalam pengkhususan Allah dengan ilmu yang sangat luas, dan termasuk di dalamnya adalah orang yang berdoa meminta berbagai permohonan yang tinggi ini, baik dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Anda—semoga Allah menjagamu—dapat melihat keagungan kalimat-kalimat dalam doa ini; dari tujuan, permohonan, dan kandungannya yang sangat penting. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memperbanyak membaca doa ini, karena ia adalah kekayaan sejati yang akan terus berkembang dengan bertambahnya kebaikan di dunia dan tabungan pahala di akhirat. *** Artikel diterjemahkan dengan penyesuaian dari: https://kalemtayeb.com/safahat/item/3185 Penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen) Sumber: https://banghen.com/doa-minta-keteguhan-dalam-segala-urusan/ Murajaah: Ustadz Bayu PratomoUstadz Daris MushthofaUstadz Agus Waluyo 🔍 Bacaan Imam Sebelum Shalat, Mendoakan Anak Yang Baru Lahir, Pasik Adalah, Doa Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Gambar Tangkorak, Dp Ayat Alquran Visited 4,205 times, 28 visit(s) today Post Views: 705 QRIS donasi Yufid


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ أحمد، 28/ 338، برقم 17114، و28/ 356، برقم 17133، والترمذي، كتاب الدعوات، باب منه، برقم 3407، والنسائي، كتاب السهو، نوع آخر من الدعاء، برقم 1304، ومصنف ابن أبي شيبة، 10/ 271، برقم 29971، والطبراني في المعجم الكبير بلفظه، برقم 7135، وبرقم 7157، و7175، ورقم 7176، و7177، و7178، و7179، و7180، وأخرجه ابن حبان في صحيحه، 3/ 215، برقم 935، و5/ 310، برقم 1974، وحسنه شعيب الأرنؤوط في صحيح ابن حبان، 5/ 312، وحسنه بطرقه محققو المسند، 28/ 338، وذكره الألباني سلسلة الأحاديث الصحيحة في المجلد السابع، برقم 3228، وفي صحيح موارد الظمآن، برقم 2416، 2418، وقال صحيح لغيره ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA WA HUSNA ‘IBAADATIKA WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN WA LISAANAN SHOODIQON WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan keteguhan hati di atas kebenaran. Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang dan ampunan-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur. Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib.” (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir) <iframe title="Doa Minta Kemudahan dan Keteguhan dalam Semua Urusan, Mohon Ampunan, Bersyukur kepada Allah, dll" width="616" height="347" src="https://www.youtube.com/embed/qNs8NFMWsSk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe> Ini adalah doa yang agung, berkah, dan sangat penting, yang berisi permintaan-permintaan terbesar dalam agama, dunia, dan akhirat. Doa ini mengandung Jawami al-Kalim (susunan kalimat yang pendek, tetapi padat maknanya) yang tidak akan dapat dikupas secara mendalam pada tulisan singkat ini dikarenakan ia begitu agung. [Al-Allamah al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hanbali telah mensyarah doa ini dalam kitab khusus beliau, lihat Majmu ar-Rasail] Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Syaddad bin Aus dan para sahabat agar memperbanyak membaca doa ini. Nabi mengatakan dengan kalimat terindah dan sarat dengan makna yang terbaik: يا شداد بن أوس، إذا رأيت الناس قد اكتنزوا الذهب والفضة, فاكنز هؤلاء الكلمات “Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat orang-orang mengumpulkan emas dan perak, maka cukuplah engkau membaca doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. At-Thabarani di al-Mu’jam al-Kabir) Pada lafaz hadis yang lain: … إذا اكتنز الناس الدنانير والدراهم, فاكتنزوا الكلمات “… apabila orang-orang mengumpulkan dinar dan dirham, maka cukuplah kalian membaca kalimat doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. Ibnu Hibban) Di antara bukti yang menunjukkan pentingnya doa yang tayibah ini: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini dalam salat. Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban, Thabarani, dan lafaz hadis ini terdapat pada riwayat an-Nasai:  عن شداد رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم [كان يقول في صلاته]: اللهم إني أسألك الثبات “Dari Syaddad radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salat, beliau membaca: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ ALLAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA … “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan …” Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membaca doa ini dalam ibadah terbaik, yaitu dalam salat. [Telah disebutkan berulang kali bahwa fi’il mudhari yang terletak setelah kana (كان) menunjukkan perbuatan yang rutin dan terus menerus dikerjakan] Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فأكثروا “… maka kalian baca sebanyak-banyaknya! …” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar membacanya sebanyak-banyaknya, karena manfaatnya langgeng dan tidak terputus, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala: الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا “Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia, tetapi amal kebaikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46) Doa yang berkah ini mengandung beberapa tujuan dan permohonan penting dalam berbagai urusan agama, dunia, dan akhirat: Memohon kepada Allah agar teguh di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan.Memohon taufik agar beramal saleh secara sempurna.Memohon agar senantiasa bersyukur, siang dan malam, atas segala nikmat.Memohon perbaikan terhadap amalan hati dan badan.Memohon agar senantiasa sukses dalam setiap kebaikan dan keadaan.Memohon keselamatan dari setiap keburukan, pada setiap keadaan dan waktu.Memohon ampunan atas segala dosa di masa lalu, sekarang, dan di masa mendatang. *** PENJELASAN ISTILAH Al-Kanzu (الكنز): makna asal al-Kanzu adalah harta benda yang terpendam di dalam tanah. Apabila telah ditunaikan kewajiban zakatnya, maka statusnya bukan lagi harta terpendam, walaupun masih dalam keadaan terpendam. Jadi, al-Kanzu adalah perbendaharaan (harta) yang sangat berharga dan tersimpan. Istilah al-Kanzu juga ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: لا حول ولا قوة إلا باللهِ كنز من كنوز الجنة “Kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari) Maksudnya, kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah harta simpanan milik orang yang mengucapkannya. Ia diibaratkan dengan harta simpanan, sebagaimana orang itu menyimpan hartanya. Al-‘Azimah (العزيمة): al-‘Azmu (العزم) (tekad) atau al-‘Azimah (العزيمة) (niat dan kemauan kuat) adalah keteguhan hati (عقد القلب) untuk menyelesaikan suatu urusan. Seperti 3 ungkapan berikut: عزمتُ الأمر “Aku bertekad menyelesaikan urusan itu.” و عزمت عليه “Aku bertekad mengerjakannya.” واعتزمت “Aku berniat melakukannya.” (al-Mufradat) Ar-Rusydu (الرشد): Kebenaran. Antonim dari kata al-Ghoi (الغي) yang artinya kesesatan.  Jadi, ar-Rusydu artinya: kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Al-Qalbu as-Salim (القلب السليم): Hati yang selamat, yaitu hati yang bersih dari kesyirikan, kekafiran, kemunafikan, dosa, dan seluruh sifat tercela. *** PENJELASAN DOA Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ ALLAAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan, Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar diberi keteguhan di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan. Lafaz doa ini umum, yaitu dalam semua urusan: dunia, agama, dan akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Keteguhan ini dapat terwujud dikarenakan adanya taufik (pertolongan) dari Allah, dengan berusaha istiqamah dan menempuh jalan yang benar. Yang terpenting dari semuanya itu adalah keteguhan dalam: (1) agama, (2) ketaatan, (3) dan istiqamah di atas petunjuk Allah. Keadaan seorang hamba paling membutuhkan istiqamah adalah ketika ia menghadapi godaan setan saat sakratulmaut, saat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, dan saat melewati sirat. Allah menghimpun semua urusan ini dalam firman-Nya: يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27) *** وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI dan keteguhan hati di atas kebenaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar, yaitu kesungguhan hati dalam setiap urusan, dalam rangka mencapai dan menyempurnakan setiap kebaikan dalam setiap urusannya, baik dunia maupun akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Ar-Rusydu—sebagaimana dijelaskan di atas—artinya kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. Oleh karena itu, keteguhan hati dalam kebenaran adalah titik awal dari kebaikan, karena seseorang terkadang tahu kebenaran, namun tidak memiliki keteguhan hati untuk menempuhnya. Namun, apabila ia bertekad bulat untuk menempuhnya, maka ia akan sukses.  Al-Azimah adalah niat yang kuat, yang berkesinambungan dengan perbuatan, yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan. Seorang hamba tiada kuasa menyelesaikannya, kecuali dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dalam kebenaran. Untuk itulah, Nabi mengajari seorang sahabat untuk berdoa: قُلْ اللَّهُمَّ قِنِيْ شَرَّ نَفْسِيْ وَاعْزِمْ لِيْ عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِيْ “Katakan: Ya Allah, jagalah aku dari keburukan diriku sendiri, dan berikanlah aku keteguhan hati untuk menentukan yang terbaik pada urusanku.” (HR. Ahmad) Maka dari itu, seorang hamba perlu (1) meminta tolong kepada Allah, (2) dan bertawakal kepada-Nya untuk memperoleh (a) keteguhan hati (b) dan mengamalkan konsekuensinya setelah keteguhan hati itu diperoleh. Allah berfirman, فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “… Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad (meneguhkan hati), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159) Ar-Rusydu (kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran) adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah, وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ “… Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat: 7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah beliau: من يطع الله ورسوله فقد رشد ومن يعصي الله ورسوله فقد غوى “Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kebenaran. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kesesatan.” (HR. Muslim) Ar-Rusydu (kebenaran) antonim dari al-Ghoi (kesesatan). Allah berfirman, قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَي “… sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan …” (QS. al-Baqarah: 256) Seseorang yang tidak mendapat petunjuk (mengikuti jalan yang benar), maka ia bisa jadi adalah seorang yang lalai atau tersesat. Al-‘Azmu (keteguhan hati) terbagi dua: Pertama:  Keteguhan hati berupa kesediaan untuk memasuki jalan kebenaran. Ini adalah tahap awal. Kedua: Keteguhan hati untuk senantiasa taat setelah memasuki jalan kebenaran, dan senantiasa bergerak dari keadaan yang sempurna menuju keadaan yang lebih sempurna. Inilah titik akhirnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan lima pemuka para rasul dengan nama Ulil ‘Azmi, yang merupakan rasul-rasul terbaik. Dengan keteguhan hati yang pertama, memungkinkan seseorang memasuki semua pintu kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Dengannya pula, memungkinkan orang kafir keluar dari kekafiran menuju Islam dan pelaku maksiat menjauhi kemaksiatan menuju ketaatan. Apabila niatnya itu benar-benar jujur, dia bertekad bulat, dan berupaya keras sekeras-kerasnya mengalahkan hawa nafsunya dan setan yang menggodanya, kemudian dia mengerjakan amalan-amalan ketaatan yang diperintahkan, maka dia pasti menang. Pertolongan Allah untuk seorang hamba sesuai dengan kadar kuat dan lemahnya keteguhan hatinya. Barang siapa yang bertekad menginginkan kebaikan, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya. Barang siapa yang tulus keteguhan hatinya, setan putus asa menggodanya. Namun, tatkala dia ragu-ragu, maka setan semakin tamak menggodanya, membuatnya menunda-nunda dan berangan-angan. Sebagian salaf saleh ditanya, “Kapankah dunia pergi menjauh dari hati?”  Ia menjawab, “Apabila keteguhan hati telah tiba, maka dunia pergi menjauh dari hati, lalu hati berjalan di kerajaan langit. Namun, apabila keteguhan hati tak kunjung tiba, maka hati akan tergoncang dan kembali ke dunia.” (Majmu Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu, مُوجِبَاتِ  (huruf jimnya berharakat kasrah)  adalah bentuk jamak dari:  مُوجِبَةٌ artinya segala hal yang mendatangkan kasih sayang (rahmat) Allah untuk orang yang mengucapkannya, berupa qurbah, yaitu segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, arti kalimat doa ini: Kami memohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu dan memasukkan kami ke dalam surga yang merupakan rahmat-Mu teragung, baik itu berupa perbuatan, perkataan, dan sifat. (Tuhfatu adz-Dzakirin) Sebagaimana firman Allah, وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran: 107) *** وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA dan segala hal yang mendatangkan ampunan-Mu. العزائم adalah bentuk jamak dari: عزيمة yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan, sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Maksudnya, saya memohon kepada-Mu agar memberikan karunia kepada kami, baik itu berupa amalan, perkataan, dan perbuatan yang dapat mendatangkan dan merealisasikan ampunan-Mu.  Doa ini merupakan bagian dari Jawami al-Kalim nabawi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama-tama, beliau memohon kepada Allah segala hal yang mendatangkan rahmat-Nya. Barang siapa yang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan rahmat Allah maka sungguh dengan sebab itu dia termasuk ke dalam rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, juga termasuk ke dalam golongan dan jajaran orang-orang yang berhak mendapatkannya. Kemudian, beliau memohon kepada Allah keteguhan hati dalam berbuat baik agar mendapatkan ampunan-Nya, karena barang siapa yang diampuni dosa-dosanya, lalu dikaruniakan rahmat kepadanya, sungguh dia beruntung mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan berhak mendapat penjagaan Allah dalam hidup dan matinya, sebab dia telah dibersihkan dari kekeruhan dosa-dosanya. (Tuhfah adz-Dzakirin) Dua permohonan ini (meminta rahmat dan ampunan Allah), terdapat dalam banyak doa dalam al-Quran dan Hadis, karena pada ampunan Allah ada pembebasan dari seluruh dosa dan efeknya, yaitu pembersihan dan pemurnian dari bekas noda-noda dan keburukannya, di dunia dan akhirat. Sedangkan rahmat (kasih sayang) adalah perhiasan, yang dengannya terwujudlah kenikmatan dan kesenangan, dan dengan sebabnya pula tercapailah kebahagiaan yang abadi di surga yang penuh dengan kenikmatan (jannatun-na’im). *** وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan, Yaitu aku mohon petunjuk kepada-Mu agar mensyukuri segala nikmat dari-Mu yang tidak terhitung, karena mensyukuri nikmat dapat mendatangkan tambahan nikmat, menjaganya, dan melanggengkan nikmat tersebut pada seorang hamba yang bersyukur. Sebagaimana firman Allah, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7) Bersyukur dapat dilakukan: dengan hati, lisan, dan anggota badan. Bersyukur dengan hati dengan cara selalu mengingat nikmat dan tidak melupakannya. Bersyukur dengan lisan dengan cara menyanjung dan memuji Allah atas nikmat-nikmat yang Allah berikan, menyebutnya, menghitungnya, dan membicarakannya. Bersyukur dengan anggota badan dengan cara meminta pertolongan Allah agar dapat menggunakan nikmat yang diberikan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam bermaksiat kepada-Nya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ WA HUSNA ‘IBAADATIKA dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Yaitu dengan menyempurnakan dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya. Hal itu dapat terwujud dengan dua rukun: Pertama: Ikhlas karena Allah dalam beramal. Kedua: Mengikuti al-Quran yang penuh hikmah dan Hadis Nabi pilihan yang baik hati dan penyayang shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebaikan terbesar dalam ibadah adalah mencapai kedudukan al-ihsan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الإحسان أن تعبد اللَّه كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك “Al-Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari) Hadis di atas menunjukkan dua tingkatan al-Ihsan: Pertama: Beribadah kepada Allah dengan meyakini bahwa Allah melihatnya, dekat dengannya, dan memperhatikannya. Dengan demikian, dia mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, bersungguh-sungguh menyempurnakan dan memperbaiki ibadahnya. Kedua: Beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah dengan hatinya, seolah-olah Allah hadir di hadapannya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Dengan demikian, seorang yang berdoa semestinya menghadirkan makna-makna ini ketika ia berdoa kepada Allah. *** وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN Aku juga mohon kepada-Mu hati yang bersih, Yaitu hati yang bersih dari dosa-dosa dan aib-aib, yang tidak ada sesuatu pun padanya yang dibenci oleh Allah. Termasuk hati yang selamat adalah: (1) Hati yang selamat dari syirik, baik yang nyata maupun yang samar. (2) Selamat dari hawa nafsu, bid’ah, kefasikan, dan maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, seperti riya, ujub, dendam, curang, benci, dengki, dll. Pada hari kiamat, tidak ada yang bermanfaat selain hati yang selamat. Allah berfirman,  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88 – 89) Apabila hati telah selamat, maka tidak ada padanya, kecuali Allah. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَلِسَانًا صَادِقًا WA LISAANAN SHOODIQON dan lisan yang jujur. Yaitu lisan yang terjaga dari dusta dan ingkar janji. Nabi memohon lisan yang jujur kepada Allah karena itu salah satu karunia terbesar. Ia adalah jalan pertama menuju derajat ash-Shiddiq yang merupakan derajat paling tinggi setelah kenabian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  عليكم بالصدق, فإن الصدق يهدي إلى البر، وإن البر يهدي إلى الجنة, وما يزال الرَّجُل يصدق, ويتحرى الصدق, حتى يكتب عند اللهِ صديقاً “Kalian harus jujur, karena jujur itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun menuju surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan memilih jalan kejujuran, sehingga ia dicatat sebagai seorang yang jujur di sisi Allah …” (HR. Bukhari) *** وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, Ini adalah permohonan kebaikan yang mencakup seluruh kebaikan yang diketahui dan tidak diketahui oleh seorang hamba. Semua kebaikan tercakup di dalamnya. Oleh sebab itu, Nabi menyandarkannya kepada Allah yang Mahatinggi lagi Maha Mengetahui, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; alam nyata dan gaib. Permohonan yang umum setelah yang khusus untuk meminta kebaikan ini masuk dalam kaidah “penyebutan umum setelah yang khusus”. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) *** وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, Istiazah ini meliputi permohonan perlindungan kepada Allah dari seluruh kejelekan, baik yang kecil maupun besar, baik yang nyata maupun yang samar, yang mana istiazah ini dikaitkan dengan seluruh kejelekan yang diketahui oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini adalah kalimat istiazah yang sangat halus dan penuh dengan adab dan pengagungan kepada Allah tatkala berdoa kepada-Nya. *** وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Nabi menutup doa ini dengan istighfar yang merupakan maksud dan pokok dari doa ini, karena ia merupakan penutup amal saleh, sebagaimana dalam banyak ibadah. Istighfar ini mencakup permohonan ampun terhadap seluruh dosa yang dilakukan oleh seorang hamba pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, karena di antara dosa ada yang sama sekali tidak disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakar, … يا أبا بكر لَلشرك فيكم، أخفى من دبيب النمل “Wahai Abu Bakar, sungguh kesyirikan di tengah-tengah kalian lebih samar dibandingkan rayapan semut …” (diriwayatkan imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod) Sebagian dosa ada yang dilupakan seorang hamba dan tidak ia ingat tatkala beristighfar. Oleh karena itu, ia membutuhkan istighfar yang umum atas semua dosa-dosanya, baik yang ia ketahui maupun yang tidak. Sungguh Allah mengetahui dan menghitung semua dosa-dosanya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab) Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan sebaik-baik penutup, yaitu dengan menyebut sifat-sifat Allah yang agung: إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib. Dengan menyebut nama Allah yang merupakan al-asma’ al-mudhofah: ‘al-laam (Maha Mengetahui) digabung dengan kata al-ghuyuub (semua perkara yang gaib), yang menunjukkan sangat luasnya ilmu-Nya, karena kata علَّام (‘al-laam) dalam bahasa Arab merupakan sighah mubalaghah yang menunjukkan arti sangat banyak dan luasnya cakupan ilmu Allah.  Ini merupakan bentuk tawasul yang agung. Dalam keadaan yang mulia ini, padanya terdapat adab dan pengagungan yang sangat tinggi terhadap Allah yang Mahamulia; yaitu Nabi menegaskan doanya dengan menggunakan kata إنَّ (inna = sesungguhnya), setelahnya ada kata ganti أنت (anta = Engkau), yang dalam bahasa Arab menunjukkan makna: at-Ta’kid (penegasan), al-Hasyr (pembatasan), dan al-Qosr (pengkhususan), dalam pengkhususan Allah dengan ilmu yang sangat luas, dan termasuk di dalamnya adalah orang yang berdoa meminta berbagai permohonan yang tinggi ini, baik dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Anda—semoga Allah menjagamu—dapat melihat keagungan kalimat-kalimat dalam doa ini; dari tujuan, permohonan, dan kandungannya yang sangat penting. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memperbanyak membaca doa ini, karena ia adalah kekayaan sejati yang akan terus berkembang dengan bertambahnya kebaikan di dunia dan tabungan pahala di akhirat. *** Artikel diterjemahkan dengan penyesuaian dari: https://kalemtayeb.com/safahat/item/3185 Penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen) Sumber: https://banghen.com/doa-minta-keteguhan-dalam-segala-urusan/ Murajaah: Ustadz Bayu PratomoUstadz Daris MushthofaUstadz Agus Waluyo 🔍 Bacaan Imam Sebelum Shalat, Mendoakan Anak Yang Baru Lahir, Pasik Adalah, Doa Tasyahud Akhir Sesuai Sunnah, Gambar Tangkorak, Dp Ayat Alquran Visited 4,205 times, 28 visit(s) today Post Views: 705 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya

Melaksanakan perintah Allah Ta’ala merupakan bagian dari bukti kebaikan iman seorang hamba. Begitu pula dalam hal meninggalkan larangan Allah Ta’ala. Belajar dan menuntut ilmu syar’i untuk mengetahui tata cara melaksanakan perintah Allah sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah kini mudah kita lakukan. Begitu pula tentang hal-hal yang menjadi larangan Allah, sungguh kita dengan mudah dapat mengetahuinya.Para dai dan ulama ahlusunah yang berpegang teguh pada jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan misi dakwah lillah kini pun dengan mudahnya dapat kita temui, baik secara langsung maupun melalui jaringan teknologi. Dengannya, kita mudah memperoleh ilmu syar’i, mengetahui perbedaan hak (kebenaran) dan batil, serta menjadi pribadi muslim yang berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang kokoh, insyaAllah.Namun, dalam perjalanan kehidupan ini, tentunya kita dihadapkan dengan berbagai ujian keimanan yang selalu membisikkan keburukan dalam hati kita, baik dari sisi jin maupun manusia.Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ¤ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ¤  إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ ¤  مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ¤  ٱلَّذِی یُوَسۡوِسُ فِی صُدُورِ ٱلنَّاسِ ¤ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)Baca Juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya Daftar Isi sembunyikan 1. Iman dan takwa dalam praktik amalan hamba 2. Dua anugerah agung 3. Upaya mendapatkannya Iman dan takwa dalam praktik amalan hambaKadangkala, kita hanya fokus dengan mengerjakan perintah Allah, kemudian merasa sudah istikamah dalam melaksanakannya. Sementara kita lupa bahwa ada aspek lain yang juga kita diperintahkan untuk istikamah, yaitu meninggalkan segala larangan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Itulah dua definisi takwa yang sering terabaikan.عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakanlah kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman.’, lalu istikamahlah!’” (HR. Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi no. 2410; Ibnu Majah no. 3972)Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang keistikamahan yang didahului dengan ikrar keimanan. Iman merupakan amalan hati di mana pembuktiannya tidak terlihat karena yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Kaitannya dengan definisi takwa di atas adalah bahwa pembeda antara ketaatan dan kemaksiatan adalah keimanan.Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Jami’ Al-Masail berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang.”Dengan kata lain, keistikamahan itu sangat tergantung pada kualitas iman yang kadang bertambah dan berkurang. Maka, apabila kita menginginkan keistikamahan dalam ketaatan, hendaklah kita perhatikan kondisi keimanan kita, lalu memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan karunia iman yang kokoh.Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuDua anugerah agungSaudaraku, kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan iman yang kokoh dan keistikamahan takwa adalah anugerah yang agung dari Allah Ta’ala, syukurilah hal tersebut. Karena betapa banyak orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa mengetahui kesalahan yang sedang ia lakukan. Parahnya, ia menikmati kemaksiatan tersebut tanpa menyadari bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan ujian kepadanya hingga bertumpuklah dosanya. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan istilah bagi orang tersebut dengan sebutan “istidraj”.  Wal-‘iyadzu billahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Saudaraku, tidak ada yang menginginkan menjadi hamba yang terkena ujian istidraj. Tetapi kenyataannya, banyak manusia yang terjerumus dalam ujian tersebut dan sulit untuk bangkit dari jurang kemaksiatan. Wal-‘iyadzu billah.Oleh karenanya, iman dan takwa merupakan dua anugerah agung yang sangat berarti bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Pikirkanlah dua hal ini setiap saat, dan lakukanlah hal-hal untuk memperoleh iman yang kokoh dan keistikamahan takwa, serta jagalah dua anugerah agung ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam ajarkan dalam sunahnya.Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaUpaya mendapatkannyaMaka dari itu, sekali lagi. Mohonlah anugerah keimanan yang kokoh dan keistikamahan takwa kepada Allah Ta’ala. Selain itu, dengan ikhlas dan mutaba’ah, lakukanlah sebab-sebab mendapatkan dua hal tersebut. Jadilah hamba Allah yang dicintai oleh-Nya.Ber-taqarrub dengan Allah Ta’ala dengan melakukan amalan-amalan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari upaya mendapatkan dua anugerah agung tersebut.Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Saudaraku, Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Maka yakinlah serumit apapun kehidupan yang engkau jalani saat ini di mana hal itu menjadi alasanmu untuk mempertahankan jarakmu dengan Rabbmu, sungguh jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah Ta’ala itu terbuka lebar.Praktikkanlah pesan hadis di atas sebagai ikhtiarmu untuk mendapatkan dua anugerah agung (iman yang kokoh dan keistikamahan takwa) itu. Berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala bahwa engkau akan mendapatkan kemudahan dalam meniti jalan menuju surga-Nya.Wallahu a’lamBaca Juga:Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanBagaimana Kita Menumbuhkan Ketakwaan Dihati?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Al Afuww, Ibadah Menurut Istilah, Lulu Wal Marjan, Hati Yang LembutTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambertakwaimankeutamaan imankeutamaan takwaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamtakwaTauhid

Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya

Melaksanakan perintah Allah Ta’ala merupakan bagian dari bukti kebaikan iman seorang hamba. Begitu pula dalam hal meninggalkan larangan Allah Ta’ala. Belajar dan menuntut ilmu syar’i untuk mengetahui tata cara melaksanakan perintah Allah sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah kini mudah kita lakukan. Begitu pula tentang hal-hal yang menjadi larangan Allah, sungguh kita dengan mudah dapat mengetahuinya.Para dai dan ulama ahlusunah yang berpegang teguh pada jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan misi dakwah lillah kini pun dengan mudahnya dapat kita temui, baik secara langsung maupun melalui jaringan teknologi. Dengannya, kita mudah memperoleh ilmu syar’i, mengetahui perbedaan hak (kebenaran) dan batil, serta menjadi pribadi muslim yang berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang kokoh, insyaAllah.Namun, dalam perjalanan kehidupan ini, tentunya kita dihadapkan dengan berbagai ujian keimanan yang selalu membisikkan keburukan dalam hati kita, baik dari sisi jin maupun manusia.Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ¤ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ¤  إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ ¤  مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ¤  ٱلَّذِی یُوَسۡوِسُ فِی صُدُورِ ٱلنَّاسِ ¤ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)Baca Juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya Daftar Isi sembunyikan 1. Iman dan takwa dalam praktik amalan hamba 2. Dua anugerah agung 3. Upaya mendapatkannya Iman dan takwa dalam praktik amalan hambaKadangkala, kita hanya fokus dengan mengerjakan perintah Allah, kemudian merasa sudah istikamah dalam melaksanakannya. Sementara kita lupa bahwa ada aspek lain yang juga kita diperintahkan untuk istikamah, yaitu meninggalkan segala larangan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Itulah dua definisi takwa yang sering terabaikan.عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakanlah kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman.’, lalu istikamahlah!’” (HR. Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi no. 2410; Ibnu Majah no. 3972)Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang keistikamahan yang didahului dengan ikrar keimanan. Iman merupakan amalan hati di mana pembuktiannya tidak terlihat karena yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Kaitannya dengan definisi takwa di atas adalah bahwa pembeda antara ketaatan dan kemaksiatan adalah keimanan.Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Jami’ Al-Masail berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang.”Dengan kata lain, keistikamahan itu sangat tergantung pada kualitas iman yang kadang bertambah dan berkurang. Maka, apabila kita menginginkan keistikamahan dalam ketaatan, hendaklah kita perhatikan kondisi keimanan kita, lalu memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan karunia iman yang kokoh.Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuDua anugerah agungSaudaraku, kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan iman yang kokoh dan keistikamahan takwa adalah anugerah yang agung dari Allah Ta’ala, syukurilah hal tersebut. Karena betapa banyak orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa mengetahui kesalahan yang sedang ia lakukan. Parahnya, ia menikmati kemaksiatan tersebut tanpa menyadari bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan ujian kepadanya hingga bertumpuklah dosanya. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan istilah bagi orang tersebut dengan sebutan “istidraj”.  Wal-‘iyadzu billahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Saudaraku, tidak ada yang menginginkan menjadi hamba yang terkena ujian istidraj. Tetapi kenyataannya, banyak manusia yang terjerumus dalam ujian tersebut dan sulit untuk bangkit dari jurang kemaksiatan. Wal-‘iyadzu billah.Oleh karenanya, iman dan takwa merupakan dua anugerah agung yang sangat berarti bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Pikirkanlah dua hal ini setiap saat, dan lakukanlah hal-hal untuk memperoleh iman yang kokoh dan keistikamahan takwa, serta jagalah dua anugerah agung ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam ajarkan dalam sunahnya.Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaUpaya mendapatkannyaMaka dari itu, sekali lagi. Mohonlah anugerah keimanan yang kokoh dan keistikamahan takwa kepada Allah Ta’ala. Selain itu, dengan ikhlas dan mutaba’ah, lakukanlah sebab-sebab mendapatkan dua hal tersebut. Jadilah hamba Allah yang dicintai oleh-Nya.Ber-taqarrub dengan Allah Ta’ala dengan melakukan amalan-amalan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari upaya mendapatkan dua anugerah agung tersebut.Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Saudaraku, Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Maka yakinlah serumit apapun kehidupan yang engkau jalani saat ini di mana hal itu menjadi alasanmu untuk mempertahankan jarakmu dengan Rabbmu, sungguh jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah Ta’ala itu terbuka lebar.Praktikkanlah pesan hadis di atas sebagai ikhtiarmu untuk mendapatkan dua anugerah agung (iman yang kokoh dan keistikamahan takwa) itu. Berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala bahwa engkau akan mendapatkan kemudahan dalam meniti jalan menuju surga-Nya.Wallahu a’lamBaca Juga:Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanBagaimana Kita Menumbuhkan Ketakwaan Dihati?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Al Afuww, Ibadah Menurut Istilah, Lulu Wal Marjan, Hati Yang LembutTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambertakwaimankeutamaan imankeutamaan takwaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamtakwaTauhid
Melaksanakan perintah Allah Ta’ala merupakan bagian dari bukti kebaikan iman seorang hamba. Begitu pula dalam hal meninggalkan larangan Allah Ta’ala. Belajar dan menuntut ilmu syar’i untuk mengetahui tata cara melaksanakan perintah Allah sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah kini mudah kita lakukan. Begitu pula tentang hal-hal yang menjadi larangan Allah, sungguh kita dengan mudah dapat mengetahuinya.Para dai dan ulama ahlusunah yang berpegang teguh pada jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan misi dakwah lillah kini pun dengan mudahnya dapat kita temui, baik secara langsung maupun melalui jaringan teknologi. Dengannya, kita mudah memperoleh ilmu syar’i, mengetahui perbedaan hak (kebenaran) dan batil, serta menjadi pribadi muslim yang berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang kokoh, insyaAllah.Namun, dalam perjalanan kehidupan ini, tentunya kita dihadapkan dengan berbagai ujian keimanan yang selalu membisikkan keburukan dalam hati kita, baik dari sisi jin maupun manusia.Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ¤ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ¤  إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ ¤  مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ¤  ٱلَّذِی یُوَسۡوِسُ فِی صُدُورِ ٱلنَّاسِ ¤ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)Baca Juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya Daftar Isi sembunyikan 1. Iman dan takwa dalam praktik amalan hamba 2. Dua anugerah agung 3. Upaya mendapatkannya Iman dan takwa dalam praktik amalan hambaKadangkala, kita hanya fokus dengan mengerjakan perintah Allah, kemudian merasa sudah istikamah dalam melaksanakannya. Sementara kita lupa bahwa ada aspek lain yang juga kita diperintahkan untuk istikamah, yaitu meninggalkan segala larangan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Itulah dua definisi takwa yang sering terabaikan.عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakanlah kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman.’, lalu istikamahlah!’” (HR. Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi no. 2410; Ibnu Majah no. 3972)Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang keistikamahan yang didahului dengan ikrar keimanan. Iman merupakan amalan hati di mana pembuktiannya tidak terlihat karena yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Kaitannya dengan definisi takwa di atas adalah bahwa pembeda antara ketaatan dan kemaksiatan adalah keimanan.Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Jami’ Al-Masail berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang.”Dengan kata lain, keistikamahan itu sangat tergantung pada kualitas iman yang kadang bertambah dan berkurang. Maka, apabila kita menginginkan keistikamahan dalam ketaatan, hendaklah kita perhatikan kondisi keimanan kita, lalu memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan karunia iman yang kokoh.Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuDua anugerah agungSaudaraku, kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan iman yang kokoh dan keistikamahan takwa adalah anugerah yang agung dari Allah Ta’ala, syukurilah hal tersebut. Karena betapa banyak orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa mengetahui kesalahan yang sedang ia lakukan. Parahnya, ia menikmati kemaksiatan tersebut tanpa menyadari bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan ujian kepadanya hingga bertumpuklah dosanya. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan istilah bagi orang tersebut dengan sebutan “istidraj”.  Wal-‘iyadzu billahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Saudaraku, tidak ada yang menginginkan menjadi hamba yang terkena ujian istidraj. Tetapi kenyataannya, banyak manusia yang terjerumus dalam ujian tersebut dan sulit untuk bangkit dari jurang kemaksiatan. Wal-‘iyadzu billah.Oleh karenanya, iman dan takwa merupakan dua anugerah agung yang sangat berarti bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Pikirkanlah dua hal ini setiap saat, dan lakukanlah hal-hal untuk memperoleh iman yang kokoh dan keistikamahan takwa, serta jagalah dua anugerah agung ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam ajarkan dalam sunahnya.Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaUpaya mendapatkannyaMaka dari itu, sekali lagi. Mohonlah anugerah keimanan yang kokoh dan keistikamahan takwa kepada Allah Ta’ala. Selain itu, dengan ikhlas dan mutaba’ah, lakukanlah sebab-sebab mendapatkan dua hal tersebut. Jadilah hamba Allah yang dicintai oleh-Nya.Ber-taqarrub dengan Allah Ta’ala dengan melakukan amalan-amalan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari upaya mendapatkan dua anugerah agung tersebut.Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Saudaraku, Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Maka yakinlah serumit apapun kehidupan yang engkau jalani saat ini di mana hal itu menjadi alasanmu untuk mempertahankan jarakmu dengan Rabbmu, sungguh jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah Ta’ala itu terbuka lebar.Praktikkanlah pesan hadis di atas sebagai ikhtiarmu untuk mendapatkan dua anugerah agung (iman yang kokoh dan keistikamahan takwa) itu. Berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala bahwa engkau akan mendapatkan kemudahan dalam meniti jalan menuju surga-Nya.Wallahu a’lamBaca Juga:Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanBagaimana Kita Menumbuhkan Ketakwaan Dihati?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Al Afuww, Ibadah Menurut Istilah, Lulu Wal Marjan, Hati Yang LembutTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambertakwaimankeutamaan imankeutamaan takwaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamtakwaTauhid


Melaksanakan perintah Allah Ta’ala merupakan bagian dari bukti kebaikan iman seorang hamba. Begitu pula dalam hal meninggalkan larangan Allah Ta’ala. Belajar dan menuntut ilmu syar’i untuk mengetahui tata cara melaksanakan perintah Allah sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah kini mudah kita lakukan. Begitu pula tentang hal-hal yang menjadi larangan Allah, sungguh kita dengan mudah dapat mengetahuinya.Para dai dan ulama ahlusunah yang berpegang teguh pada jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan misi dakwah lillah kini pun dengan mudahnya dapat kita temui, baik secara langsung maupun melalui jaringan teknologi. Dengannya, kita mudah memperoleh ilmu syar’i, mengetahui perbedaan hak (kebenaran) dan batil, serta menjadi pribadi muslim yang berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang kokoh, insyaAllah.Namun, dalam perjalanan kehidupan ini, tentunya kita dihadapkan dengan berbagai ujian keimanan yang selalu membisikkan keburukan dalam hati kita, baik dari sisi jin maupun manusia.Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ¤ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ¤  إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ ¤  مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ¤  ٱلَّذِی یُوَسۡوِسُ فِی صُدُورِ ٱلنَّاسِ ¤ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)Baca Juga: Iman dan Takwa: Dua Anugerah Agung dan Upaya Mendapatkannya Daftar Isi sembunyikan 1. Iman dan takwa dalam praktik amalan hamba 2. Dua anugerah agung 3. Upaya mendapatkannya Iman dan takwa dalam praktik amalan hambaKadangkala, kita hanya fokus dengan mengerjakan perintah Allah, kemudian merasa sudah istikamah dalam melaksanakannya. Sementara kita lupa bahwa ada aspek lain yang juga kita diperintahkan untuk istikamah, yaitu meninggalkan segala larangan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Itulah dua definisi takwa yang sering terabaikan.عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakanlah kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman.’, lalu istikamahlah!’” (HR. Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi no. 2410; Ibnu Majah no. 3972)Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang keistikamahan yang didahului dengan ikrar keimanan. Iman merupakan amalan hati di mana pembuktiannya tidak terlihat karena yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Kaitannya dengan definisi takwa di atas adalah bahwa pembeda antara ketaatan dan kemaksiatan adalah keimanan.Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Jami’ Al-Masail berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang.”Dengan kata lain, keistikamahan itu sangat tergantung pada kualitas iman yang kadang bertambah dan berkurang. Maka, apabila kita menginginkan keistikamahan dalam ketaatan, hendaklah kita perhatikan kondisi keimanan kita, lalu memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan karunia iman yang kokoh.Allah Ta’ala berfirman,هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuDua anugerah agungSaudaraku, kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan iman yang kokoh dan keistikamahan takwa adalah anugerah yang agung dari Allah Ta’ala, syukurilah hal tersebut. Karena betapa banyak orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa mengetahui kesalahan yang sedang ia lakukan. Parahnya, ia menikmati kemaksiatan tersebut tanpa menyadari bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan ujian kepadanya hingga bertumpuklah dosanya. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan istilah bagi orang tersebut dengan sebutan “istidraj”.  Wal-‘iyadzu billahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)Saudaraku, tidak ada yang menginginkan menjadi hamba yang terkena ujian istidraj. Tetapi kenyataannya, banyak manusia yang terjerumus dalam ujian tersebut dan sulit untuk bangkit dari jurang kemaksiatan. Wal-‘iyadzu billah.Oleh karenanya, iman dan takwa merupakan dua anugerah agung yang sangat berarti bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Pikirkanlah dua hal ini setiap saat, dan lakukanlah hal-hal untuk memperoleh iman yang kokoh dan keistikamahan takwa, serta jagalah dua anugerah agung ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam ajarkan dalam sunahnya.Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaUpaya mendapatkannyaMaka dari itu, sekali lagi. Mohonlah anugerah keimanan yang kokoh dan keistikamahan takwa kepada Allah Ta’ala. Selain itu, dengan ikhlas dan mutaba’ah, lakukanlah sebab-sebab mendapatkan dua hal tersebut. Jadilah hamba Allah yang dicintai oleh-Nya.Ber-taqarrub dengan Allah Ta’ala dengan melakukan amalan-amalan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari upaya mendapatkan dua anugerah agung tersebut.Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)Saudaraku, Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Maka yakinlah serumit apapun kehidupan yang engkau jalani saat ini di mana hal itu menjadi alasanmu untuk mempertahankan jarakmu dengan Rabbmu, sungguh jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah Ta’ala itu terbuka lebar.Praktikkanlah pesan hadis di atas sebagai ikhtiarmu untuk mendapatkan dua anugerah agung (iman yang kokoh dan keistikamahan takwa) itu. Berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala bahwa engkau akan mendapatkan kemudahan dalam meniti jalan menuju surga-Nya.Wallahu a’lamBaca Juga:Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanBagaimana Kita Menumbuhkan Ketakwaan Dihati?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Al Afuww, Ibadah Menurut Istilah, Lulu Wal Marjan, Hati Yang LembutTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambertakwaimankeutamaan imankeutamaan takwaManhajmanhaj salafnasihatnasihat islamtakwaTauhid

Fatwa Ulama: Manfaat Zakat untuk Masyarakat dan Perekonomian Islam

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menyebutkan definisi zakat atau pengertian zakat secara bahasa (lughawi) dan secara istilah syariat, dan hubungan antara keduanya. Kemudian, engkau juga telah membahas manfaat zakat yang kembali ke individu (person) tertentu. Akan tetapi, setelah kita mengetahui manfaat zakat bagi individu, lalu apakah manfaat zakat yang kembali ke masyarakat dan juga ke perekonomian Islam?Jawaban:Manfaat (dampak atau pengaruh) zakat untuk masyarakat dan perekonomian Islam itu juga sangatlah jelas. Dengan zakat, terbantulah orang-orang miskin dan juga terpenuhilah kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang hal itu dapat kita ketahui dengan jelas dari pendistribusian zakat tersebut. Allah Ta’ala berfirman tentang golongan penerima zakat,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk (yang berjihad) di jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Dari delapan golongan penerima zakat tersebut, ada yang menerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya dan ada yang menerima zakat karena adanya kebutuhan kaum muslimin kepada mereka. Orang-orang fakir, miskin, orang yang berutang untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya sendiri, mereka mengambil zakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, demikian pula ibnus sabil (orang yang sedang dalam perjalanan) dan orang yang memerdekakakn budak. Demikian pula, ada yang menerima zakat karena kebutuhan kaum muslimin kepada mereka, misalnya orang yang berutang untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa, pengurus (amil) zakat, dan mujahid di jalan Allah.Baca Juga: Mewakilkan Pembagian Zakat Fitri kepada Lembaga SosialJika kita mengetahui bahwa dengan terdistribusikannya zakat kepada golongan penerima ini dapat memenuhi kebutuhan individu penerima zakat dan juga terpenuhinya kebutuhan kaum muslimin, kita bisa mengetahui bagaimanakah manfaat (pengaruh) zakat ini untuk masyarakat kaum muslimin secara umum.Adapun kaitannya dengan perekonomian Islam, akan tercapai distribusi kekayaan (harta) antara orang kaya dengan orang miskin, yaitu dari sisi, akan diambil harta dari orang kaya sejumlah kadar tertentu, untuk diberikan (didistribusikan) kepada orang miskin. Maka terdapat distribusi harta, sehingga tidak terjadi inflasi di satu sisi dan juga tidak terjadi kesengsaraan dan kemiskinan di sisi yang lain.Di dalam zakat juga terdapat (manfaat berupa) perbaikan untuk masyarakat, yaitu persatuan hati kaum muslimin. Jika orang-orang miskin melihat bahwa orang kaya membantu kondisi mereka dengan hartanya dan menyedekahkan kepada mereka dengan zakat tersebut, orang-orang kaya juga tidak melihat keberadaan orang-orang miskin itu sebagai ujian (fitnah) bagi mereka karena hal itu merupakan sebuah ketetapan yang diwajibkan kepada orang-orang kaya dari sisi Allah Ta’ala, maka tanpa diragukan lagi, orang-orang miskin akan mencintai orang-orang kaya dan berharap adanya pahala bagi mereka yang telah menunaikan perintah Allah Ta’ala berupa zakat dan sedekah tersebut. Berbeda halnya jika orang-orang kaya itu pelit, bakhil, dan suka menghambur-hamburkan harta, maka hal itu bisa menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian di hati orang miskin. Hal ini telah Allah Ta’ala isyaratkan di bagian akhir (penutup) dari ayat di atas tentang golongan penerima zakat, yaitu firman Allah Ta’ala,فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“… sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Baca Juga:Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdSerial Fikih Zakat (Bag. 13): Pengaruh Utang terhadap Kewajiban Zakat***@Rumah Kasongan, 18 Rabiul akhir 1444/ 13 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 205-206, pertanyaan no. 112.🔍 Artikel Islam, Hitung Waris Excel, Sunan At Tirmidzi, Suami Bijaksana, Pertanyaan Tentang Jual Beli OnlineTags: fikih zakatkeutamaan zakatkewajiban zakatmembayar zakatpanduan zakatperekonomian islamtuntunan zakatukuran zakatzakat

Fatwa Ulama: Manfaat Zakat untuk Masyarakat dan Perekonomian Islam

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menyebutkan definisi zakat atau pengertian zakat secara bahasa (lughawi) dan secara istilah syariat, dan hubungan antara keduanya. Kemudian, engkau juga telah membahas manfaat zakat yang kembali ke individu (person) tertentu. Akan tetapi, setelah kita mengetahui manfaat zakat bagi individu, lalu apakah manfaat zakat yang kembali ke masyarakat dan juga ke perekonomian Islam?Jawaban:Manfaat (dampak atau pengaruh) zakat untuk masyarakat dan perekonomian Islam itu juga sangatlah jelas. Dengan zakat, terbantulah orang-orang miskin dan juga terpenuhilah kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang hal itu dapat kita ketahui dengan jelas dari pendistribusian zakat tersebut. Allah Ta’ala berfirman tentang golongan penerima zakat,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk (yang berjihad) di jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Dari delapan golongan penerima zakat tersebut, ada yang menerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya dan ada yang menerima zakat karena adanya kebutuhan kaum muslimin kepada mereka. Orang-orang fakir, miskin, orang yang berutang untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya sendiri, mereka mengambil zakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, demikian pula ibnus sabil (orang yang sedang dalam perjalanan) dan orang yang memerdekakakn budak. Demikian pula, ada yang menerima zakat karena kebutuhan kaum muslimin kepada mereka, misalnya orang yang berutang untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa, pengurus (amil) zakat, dan mujahid di jalan Allah.Baca Juga: Mewakilkan Pembagian Zakat Fitri kepada Lembaga SosialJika kita mengetahui bahwa dengan terdistribusikannya zakat kepada golongan penerima ini dapat memenuhi kebutuhan individu penerima zakat dan juga terpenuhinya kebutuhan kaum muslimin, kita bisa mengetahui bagaimanakah manfaat (pengaruh) zakat ini untuk masyarakat kaum muslimin secara umum.Adapun kaitannya dengan perekonomian Islam, akan tercapai distribusi kekayaan (harta) antara orang kaya dengan orang miskin, yaitu dari sisi, akan diambil harta dari orang kaya sejumlah kadar tertentu, untuk diberikan (didistribusikan) kepada orang miskin. Maka terdapat distribusi harta, sehingga tidak terjadi inflasi di satu sisi dan juga tidak terjadi kesengsaraan dan kemiskinan di sisi yang lain.Di dalam zakat juga terdapat (manfaat berupa) perbaikan untuk masyarakat, yaitu persatuan hati kaum muslimin. Jika orang-orang miskin melihat bahwa orang kaya membantu kondisi mereka dengan hartanya dan menyedekahkan kepada mereka dengan zakat tersebut, orang-orang kaya juga tidak melihat keberadaan orang-orang miskin itu sebagai ujian (fitnah) bagi mereka karena hal itu merupakan sebuah ketetapan yang diwajibkan kepada orang-orang kaya dari sisi Allah Ta’ala, maka tanpa diragukan lagi, orang-orang miskin akan mencintai orang-orang kaya dan berharap adanya pahala bagi mereka yang telah menunaikan perintah Allah Ta’ala berupa zakat dan sedekah tersebut. Berbeda halnya jika orang-orang kaya itu pelit, bakhil, dan suka menghambur-hamburkan harta, maka hal itu bisa menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian di hati orang miskin. Hal ini telah Allah Ta’ala isyaratkan di bagian akhir (penutup) dari ayat di atas tentang golongan penerima zakat, yaitu firman Allah Ta’ala,فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“… sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Baca Juga:Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdSerial Fikih Zakat (Bag. 13): Pengaruh Utang terhadap Kewajiban Zakat***@Rumah Kasongan, 18 Rabiul akhir 1444/ 13 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 205-206, pertanyaan no. 112.🔍 Artikel Islam, Hitung Waris Excel, Sunan At Tirmidzi, Suami Bijaksana, Pertanyaan Tentang Jual Beli OnlineTags: fikih zakatkeutamaan zakatkewajiban zakatmembayar zakatpanduan zakatperekonomian islamtuntunan zakatukuran zakatzakat
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menyebutkan definisi zakat atau pengertian zakat secara bahasa (lughawi) dan secara istilah syariat, dan hubungan antara keduanya. Kemudian, engkau juga telah membahas manfaat zakat yang kembali ke individu (person) tertentu. Akan tetapi, setelah kita mengetahui manfaat zakat bagi individu, lalu apakah manfaat zakat yang kembali ke masyarakat dan juga ke perekonomian Islam?Jawaban:Manfaat (dampak atau pengaruh) zakat untuk masyarakat dan perekonomian Islam itu juga sangatlah jelas. Dengan zakat, terbantulah orang-orang miskin dan juga terpenuhilah kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang hal itu dapat kita ketahui dengan jelas dari pendistribusian zakat tersebut. Allah Ta’ala berfirman tentang golongan penerima zakat,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk (yang berjihad) di jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Dari delapan golongan penerima zakat tersebut, ada yang menerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya dan ada yang menerima zakat karena adanya kebutuhan kaum muslimin kepada mereka. Orang-orang fakir, miskin, orang yang berutang untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya sendiri, mereka mengambil zakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, demikian pula ibnus sabil (orang yang sedang dalam perjalanan) dan orang yang memerdekakakn budak. Demikian pula, ada yang menerima zakat karena kebutuhan kaum muslimin kepada mereka, misalnya orang yang berutang untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa, pengurus (amil) zakat, dan mujahid di jalan Allah.Baca Juga: Mewakilkan Pembagian Zakat Fitri kepada Lembaga SosialJika kita mengetahui bahwa dengan terdistribusikannya zakat kepada golongan penerima ini dapat memenuhi kebutuhan individu penerima zakat dan juga terpenuhinya kebutuhan kaum muslimin, kita bisa mengetahui bagaimanakah manfaat (pengaruh) zakat ini untuk masyarakat kaum muslimin secara umum.Adapun kaitannya dengan perekonomian Islam, akan tercapai distribusi kekayaan (harta) antara orang kaya dengan orang miskin, yaitu dari sisi, akan diambil harta dari orang kaya sejumlah kadar tertentu, untuk diberikan (didistribusikan) kepada orang miskin. Maka terdapat distribusi harta, sehingga tidak terjadi inflasi di satu sisi dan juga tidak terjadi kesengsaraan dan kemiskinan di sisi yang lain.Di dalam zakat juga terdapat (manfaat berupa) perbaikan untuk masyarakat, yaitu persatuan hati kaum muslimin. Jika orang-orang miskin melihat bahwa orang kaya membantu kondisi mereka dengan hartanya dan menyedekahkan kepada mereka dengan zakat tersebut, orang-orang kaya juga tidak melihat keberadaan orang-orang miskin itu sebagai ujian (fitnah) bagi mereka karena hal itu merupakan sebuah ketetapan yang diwajibkan kepada orang-orang kaya dari sisi Allah Ta’ala, maka tanpa diragukan lagi, orang-orang miskin akan mencintai orang-orang kaya dan berharap adanya pahala bagi mereka yang telah menunaikan perintah Allah Ta’ala berupa zakat dan sedekah tersebut. Berbeda halnya jika orang-orang kaya itu pelit, bakhil, dan suka menghambur-hamburkan harta, maka hal itu bisa menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian di hati orang miskin. Hal ini telah Allah Ta’ala isyaratkan di bagian akhir (penutup) dari ayat di atas tentang golongan penerima zakat, yaitu firman Allah Ta’ala,فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“… sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Baca Juga:Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdSerial Fikih Zakat (Bag. 13): Pengaruh Utang terhadap Kewajiban Zakat***@Rumah Kasongan, 18 Rabiul akhir 1444/ 13 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 205-206, pertanyaan no. 112.🔍 Artikel Islam, Hitung Waris Excel, Sunan At Tirmidzi, Suami Bijaksana, Pertanyaan Tentang Jual Beli OnlineTags: fikih zakatkeutamaan zakatkewajiban zakatmembayar zakatpanduan zakatperekonomian islamtuntunan zakatukuran zakatzakat


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syaikh, engkau telah menyebutkan definisi zakat atau pengertian zakat secara bahasa (lughawi) dan secara istilah syariat, dan hubungan antara keduanya. Kemudian, engkau juga telah membahas manfaat zakat yang kembali ke individu (person) tertentu. Akan tetapi, setelah kita mengetahui manfaat zakat bagi individu, lalu apakah manfaat zakat yang kembali ke masyarakat dan juga ke perekonomian Islam?Jawaban:Manfaat (dampak atau pengaruh) zakat untuk masyarakat dan perekonomian Islam itu juga sangatlah jelas. Dengan zakat, terbantulah orang-orang miskin dan juga terpenuhilah kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang hal itu dapat kita ketahui dengan jelas dari pendistribusian zakat tersebut. Allah Ta’ala berfirman tentang golongan penerima zakat,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk (yang berjihad) di jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Dari delapan golongan penerima zakat tersebut, ada yang menerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya dan ada yang menerima zakat karena adanya kebutuhan kaum muslimin kepada mereka. Orang-orang fakir, miskin, orang yang berutang untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya sendiri, mereka mengambil zakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, demikian pula ibnus sabil (orang yang sedang dalam perjalanan) dan orang yang memerdekakakn budak. Demikian pula, ada yang menerima zakat karena kebutuhan kaum muslimin kepada mereka, misalnya orang yang berutang untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa, pengurus (amil) zakat, dan mujahid di jalan Allah.Baca Juga: Mewakilkan Pembagian Zakat Fitri kepada Lembaga SosialJika kita mengetahui bahwa dengan terdistribusikannya zakat kepada golongan penerima ini dapat memenuhi kebutuhan individu penerima zakat dan juga terpenuhinya kebutuhan kaum muslimin, kita bisa mengetahui bagaimanakah manfaat (pengaruh) zakat ini untuk masyarakat kaum muslimin secara umum.Adapun kaitannya dengan perekonomian Islam, akan tercapai distribusi kekayaan (harta) antara orang kaya dengan orang miskin, yaitu dari sisi, akan diambil harta dari orang kaya sejumlah kadar tertentu, untuk diberikan (didistribusikan) kepada orang miskin. Maka terdapat distribusi harta, sehingga tidak terjadi inflasi di satu sisi dan juga tidak terjadi kesengsaraan dan kemiskinan di sisi yang lain.Di dalam zakat juga terdapat (manfaat berupa) perbaikan untuk masyarakat, yaitu persatuan hati kaum muslimin. Jika orang-orang miskin melihat bahwa orang kaya membantu kondisi mereka dengan hartanya dan menyedekahkan kepada mereka dengan zakat tersebut, orang-orang kaya juga tidak melihat keberadaan orang-orang miskin itu sebagai ujian (fitnah) bagi mereka karena hal itu merupakan sebuah ketetapan yang diwajibkan kepada orang-orang kaya dari sisi Allah Ta’ala, maka tanpa diragukan lagi, orang-orang miskin akan mencintai orang-orang kaya dan berharap adanya pahala bagi mereka yang telah menunaikan perintah Allah Ta’ala berupa zakat dan sedekah tersebut. Berbeda halnya jika orang-orang kaya itu pelit, bakhil, dan suka menghambur-hamburkan harta, maka hal itu bisa menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian di hati orang miskin. Hal ini telah Allah Ta’ala isyaratkan di bagian akhir (penutup) dari ayat di atas tentang golongan penerima zakat, yaitu firman Allah Ta’ala,فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“… sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)Baca Juga:Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdSerial Fikih Zakat (Bag. 13): Pengaruh Utang terhadap Kewajiban Zakat***@Rumah Kasongan, 18 Rabiul akhir 1444/ 13 November 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diterjemahkan dari kitab Fiqhul ‘Ibadaat, hal. 205-206, pertanyaan no. 112.🔍 Artikel Islam, Hitung Waris Excel, Sunan At Tirmidzi, Suami Bijaksana, Pertanyaan Tentang Jual Beli OnlineTags: fikih zakatkeutamaan zakatkewajiban zakatmembayar zakatpanduan zakatperekonomian islamtuntunan zakatukuran zakatzakat

Hukum Menyebarkan Gambar Wanita Nonmuslim yang Tidak Berjilbab

Pertanyaan: Ustadz mohon izin bertanya. Kalau pekerjaan kita sebagai videografer membuat konten video yang melibatkan wanita nonmuslim yang pasti tidak berhijab, dan mempostingnya di social media apakah kita mendapatkan dosa jariyah, karena memperlihatkan aurat perempuan yaitu rambut. Jazaakallahu khayran atas jawabannya ustadz. (Dhea) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyebarkan gambar wanita yang tidak berjilbab atau terbuka auratnya, hukumnya tidak diperbolehkan. Walaupun wanita tersebut nonmuslim. Jika itu dilakukan, akan menjadi dosa jariyah bagi yang menyebarkannya selama gambar tersebut terus dilihat orang para laki-laki. Bukan berarti karena wanita yang ada pada gambar tersebut nonmuslim, dan biasanya wanita nonmuslim tidak berjilbab, lalu halal untuk menyebarkannya. Ini bisa dijelaskan dalam beberapa poin: Pertama, karena hal itu memotivasi para wanita untuk tidak berjilbab dan membuka aurat. Padahal Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِااللهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121) Kedua, wanita itu merupakan godaan terbesar bagi laki-laki baik wanitanya muslimah atau pun bukan. Perhatikan semua ayat dan hadits yang bicara tentang godaan wanita, tidak membedakan wanita mukminah atau pun wanita kafirah. Namun menggunakan istilah yang mutlak, yaitu wanita. Allah ta’ala berfirman: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14) Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) dari wanita.” (HR. al-Bukhari no.5096, Muslim no.2740) Dari Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusnya, Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita”. (HR. Muslim no. 2742) Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: المرأةُ عورةٌ ، فإذا خرَجَتْ اسْتَشْرَفَها الشيطانُ “Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1173, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Maka tidak boleh menyebarkan gambar wanita terutama yang terbuka auratnya, walaupun wanita tersebut nonmuslim. Karena mereka juga adalah cobaan bagi para lelaki. Ketiga, pendapat jumhur ulama, orang-orang nonmuslim pun terkena beban syariat, termasuk terkena beban untuk menggunakan jilbab. Hanya saja tidak diterima amalan mereka sampai mereka beriman.  Ini pendapat madzhab Malikiyah, dan juga pendapat Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, jumhur Hanafiyah, Abu Hatim ar-Razi, dan para ulama yang lain. Di antara dalilnya, Allah ta’ala berfirman: مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka (orang-orang kafir) menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin”. (QS. al-Mudatsir: 42-44) Dalam ayat ini, disebutkan bahwa orang kafir diazab karena mereka tidak shalat. Menunjukkan bahwasanya mereka juga terkena kewajiban shalat. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين “Pendapat madzhab (Syafi’i) dan pendapat yang shahih yang dikuatkan oleh para ulama peneliti dan mayoritas ulama adalah bahwa orang kafir terkena beban berupa rincian-rincian syariat, sehingga haram bagi mereka memakai sutra sebagaimana diharamkan bagi kaum Muslimin.” (Syarah Shahih Muslim, 14/39) Oleh karena itu, wanita nonmuslim yang tidak berjilbab atau tidak menutup aurat mereka telah melakukan dosa dan kekeliruan. Sehingga tidak boleh menyetujuinya dan tidak boleh menyebarkan gambarnya. Keempat, perbuatan menyebarkan gambar wanita yang terbuka auratnya termasuk membantu setan untuk menggoda sesama muslim. Walaupun yang disebarkan adalah gambar orang lain bukan gambar diri sendiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ علَى أخِيكُمْ “Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menggoda saudara kalian.” (HR. Bukhari no.6781) Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya: “Apa hukum mengirimkan sebagian video yang ada faidah-faidah ilmunya, namun ada musik dan ada gambar wanitanya?”. Beliau menjawab: “Ini semua tidak baik, tidak boleh melakukannya. Dan kebaikan yang tidak mengandung itu semua, ada walhamdulillah” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JGgDSPgXNec) Dan tidak boleh menyebarkan foto wanita di internet walaupun berhijab sekalipun. Syaikh Sa’ad Asy Syatsri ditanya: “Apa hukum wanita berhijab meng-upload foto mereka di media sosial?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh wanita menampakkan keindahan mereka. Ini merupakan ijma ulama. Allah ta’ala berfirman: وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ “Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka … ” (QS. an-Nur: 31) Ayat ini menunjukkan bahwa wanita dilarang menampakkan keindahan mereka. Dan para ulama ijma bahwa wanita tidak boleh mempercantik wajahnya di depan para lelaki nonmahram, demikian juga tidak boleh melakukan demikian ketika ia pergi keluar rumah jika ada lelaki yang akan melihatnya, ini merupakan ijma ulama.” (https://www.youtube.com/watch?v=uOiLCjTxh44) Kelima, pemikiran bahwa “wanita nonmuslim memang tidak wajib menutup aurat, maka halal untuk menyebarkan gambarnya”, ini akan menghasilkan konsekuensi batil. Konsekuensinya, gambar wanita nonmuslim yang telanjang dan porno boleh untuk disebarkan, jika memang wanita nonmuslim dianggap tidak wajib menutup aurat dan boleh disebarkan gambarnya. Tentu ini konsekuensi yang batil dan merupakan pemikiran yang jauh dari akal sehat.  Dan anggapan bahwa mereka tidak wajib menutup aurat adalah anggapan yang keliru sebagaimana telah dijelaskan pada poin ketiga.  Kesimpulannya, tidak boleh menyebarkan gambar wanita nonmuslim baik dalam keadaan tertutup aurat apalagi terbuka aurat. Dan ini akan menjadi dosa jariyah selama gambar tersebut menjadi fitnah (godaan) bagi para lelaki yang melihatnya. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, من سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسنةً ، فله أجرُها ، وأجرُ مَن عمل بها بعدَه . من غير أن ينقص من أجورِهم شيءٌ . ومن سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سيئةً ، كان عليه وزرُها ووزرُ مَن عمل بها من بعده . من غير أن يَنقصَ من أوزارهم شيءٌ “Barang siapa mencontohkan suatu kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan suatu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 1017) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Yang Tidak Berhak Menerima Zakat, Hukum Istri Pergi Tanpa Izin Suami, Rum Halal Atau Haram, Kultum Ramadhan Singkat Dan Lucu, Cara Menghadapi Calon Mertua Yang Tidak Merestui, Asbahan Iran Visited 1,565 times, 1 visit(s) today Post Views: 631 QRIS donasi Yufid

Hukum Menyebarkan Gambar Wanita Nonmuslim yang Tidak Berjilbab

Pertanyaan: Ustadz mohon izin bertanya. Kalau pekerjaan kita sebagai videografer membuat konten video yang melibatkan wanita nonmuslim yang pasti tidak berhijab, dan mempostingnya di social media apakah kita mendapatkan dosa jariyah, karena memperlihatkan aurat perempuan yaitu rambut. Jazaakallahu khayran atas jawabannya ustadz. (Dhea) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyebarkan gambar wanita yang tidak berjilbab atau terbuka auratnya, hukumnya tidak diperbolehkan. Walaupun wanita tersebut nonmuslim. Jika itu dilakukan, akan menjadi dosa jariyah bagi yang menyebarkannya selama gambar tersebut terus dilihat orang para laki-laki. Bukan berarti karena wanita yang ada pada gambar tersebut nonmuslim, dan biasanya wanita nonmuslim tidak berjilbab, lalu halal untuk menyebarkannya. Ini bisa dijelaskan dalam beberapa poin: Pertama, karena hal itu memotivasi para wanita untuk tidak berjilbab dan membuka aurat. Padahal Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِااللهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121) Kedua, wanita itu merupakan godaan terbesar bagi laki-laki baik wanitanya muslimah atau pun bukan. Perhatikan semua ayat dan hadits yang bicara tentang godaan wanita, tidak membedakan wanita mukminah atau pun wanita kafirah. Namun menggunakan istilah yang mutlak, yaitu wanita. Allah ta’ala berfirman: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14) Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) dari wanita.” (HR. al-Bukhari no.5096, Muslim no.2740) Dari Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusnya, Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita”. (HR. Muslim no. 2742) Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: المرأةُ عورةٌ ، فإذا خرَجَتْ اسْتَشْرَفَها الشيطانُ “Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1173, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Maka tidak boleh menyebarkan gambar wanita terutama yang terbuka auratnya, walaupun wanita tersebut nonmuslim. Karena mereka juga adalah cobaan bagi para lelaki. Ketiga, pendapat jumhur ulama, orang-orang nonmuslim pun terkena beban syariat, termasuk terkena beban untuk menggunakan jilbab. Hanya saja tidak diterima amalan mereka sampai mereka beriman.  Ini pendapat madzhab Malikiyah, dan juga pendapat Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, jumhur Hanafiyah, Abu Hatim ar-Razi, dan para ulama yang lain. Di antara dalilnya, Allah ta’ala berfirman: مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka (orang-orang kafir) menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin”. (QS. al-Mudatsir: 42-44) Dalam ayat ini, disebutkan bahwa orang kafir diazab karena mereka tidak shalat. Menunjukkan bahwasanya mereka juga terkena kewajiban shalat. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين “Pendapat madzhab (Syafi’i) dan pendapat yang shahih yang dikuatkan oleh para ulama peneliti dan mayoritas ulama adalah bahwa orang kafir terkena beban berupa rincian-rincian syariat, sehingga haram bagi mereka memakai sutra sebagaimana diharamkan bagi kaum Muslimin.” (Syarah Shahih Muslim, 14/39) Oleh karena itu, wanita nonmuslim yang tidak berjilbab atau tidak menutup aurat mereka telah melakukan dosa dan kekeliruan. Sehingga tidak boleh menyetujuinya dan tidak boleh menyebarkan gambarnya. Keempat, perbuatan menyebarkan gambar wanita yang terbuka auratnya termasuk membantu setan untuk menggoda sesama muslim. Walaupun yang disebarkan adalah gambar orang lain bukan gambar diri sendiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ علَى أخِيكُمْ “Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menggoda saudara kalian.” (HR. Bukhari no.6781) Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya: “Apa hukum mengirimkan sebagian video yang ada faidah-faidah ilmunya, namun ada musik dan ada gambar wanitanya?”. Beliau menjawab: “Ini semua tidak baik, tidak boleh melakukannya. Dan kebaikan yang tidak mengandung itu semua, ada walhamdulillah” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JGgDSPgXNec) Dan tidak boleh menyebarkan foto wanita di internet walaupun berhijab sekalipun. Syaikh Sa’ad Asy Syatsri ditanya: “Apa hukum wanita berhijab meng-upload foto mereka di media sosial?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh wanita menampakkan keindahan mereka. Ini merupakan ijma ulama. Allah ta’ala berfirman: وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ “Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka … ” (QS. an-Nur: 31) Ayat ini menunjukkan bahwa wanita dilarang menampakkan keindahan mereka. Dan para ulama ijma bahwa wanita tidak boleh mempercantik wajahnya di depan para lelaki nonmahram, demikian juga tidak boleh melakukan demikian ketika ia pergi keluar rumah jika ada lelaki yang akan melihatnya, ini merupakan ijma ulama.” (https://www.youtube.com/watch?v=uOiLCjTxh44) Kelima, pemikiran bahwa “wanita nonmuslim memang tidak wajib menutup aurat, maka halal untuk menyebarkan gambarnya”, ini akan menghasilkan konsekuensi batil. Konsekuensinya, gambar wanita nonmuslim yang telanjang dan porno boleh untuk disebarkan, jika memang wanita nonmuslim dianggap tidak wajib menutup aurat dan boleh disebarkan gambarnya. Tentu ini konsekuensi yang batil dan merupakan pemikiran yang jauh dari akal sehat.  Dan anggapan bahwa mereka tidak wajib menutup aurat adalah anggapan yang keliru sebagaimana telah dijelaskan pada poin ketiga.  Kesimpulannya, tidak boleh menyebarkan gambar wanita nonmuslim baik dalam keadaan tertutup aurat apalagi terbuka aurat. Dan ini akan menjadi dosa jariyah selama gambar tersebut menjadi fitnah (godaan) bagi para lelaki yang melihatnya. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, من سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسنةً ، فله أجرُها ، وأجرُ مَن عمل بها بعدَه . من غير أن ينقص من أجورِهم شيءٌ . ومن سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سيئةً ، كان عليه وزرُها ووزرُ مَن عمل بها من بعده . من غير أن يَنقصَ من أوزارهم شيءٌ “Barang siapa mencontohkan suatu kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan suatu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 1017) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Yang Tidak Berhak Menerima Zakat, Hukum Istri Pergi Tanpa Izin Suami, Rum Halal Atau Haram, Kultum Ramadhan Singkat Dan Lucu, Cara Menghadapi Calon Mertua Yang Tidak Merestui, Asbahan Iran Visited 1,565 times, 1 visit(s) today Post Views: 631 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Ustadz mohon izin bertanya. Kalau pekerjaan kita sebagai videografer membuat konten video yang melibatkan wanita nonmuslim yang pasti tidak berhijab, dan mempostingnya di social media apakah kita mendapatkan dosa jariyah, karena memperlihatkan aurat perempuan yaitu rambut. Jazaakallahu khayran atas jawabannya ustadz. (Dhea) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyebarkan gambar wanita yang tidak berjilbab atau terbuka auratnya, hukumnya tidak diperbolehkan. Walaupun wanita tersebut nonmuslim. Jika itu dilakukan, akan menjadi dosa jariyah bagi yang menyebarkannya selama gambar tersebut terus dilihat orang para laki-laki. Bukan berarti karena wanita yang ada pada gambar tersebut nonmuslim, dan biasanya wanita nonmuslim tidak berjilbab, lalu halal untuk menyebarkannya. Ini bisa dijelaskan dalam beberapa poin: Pertama, karena hal itu memotivasi para wanita untuk tidak berjilbab dan membuka aurat. Padahal Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِااللهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121) Kedua, wanita itu merupakan godaan terbesar bagi laki-laki baik wanitanya muslimah atau pun bukan. Perhatikan semua ayat dan hadits yang bicara tentang godaan wanita, tidak membedakan wanita mukminah atau pun wanita kafirah. Namun menggunakan istilah yang mutlak, yaitu wanita. Allah ta’ala berfirman: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14) Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) dari wanita.” (HR. al-Bukhari no.5096, Muslim no.2740) Dari Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusnya, Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita”. (HR. Muslim no. 2742) Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: المرأةُ عورةٌ ، فإذا خرَجَتْ اسْتَشْرَفَها الشيطانُ “Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1173, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Maka tidak boleh menyebarkan gambar wanita terutama yang terbuka auratnya, walaupun wanita tersebut nonmuslim. Karena mereka juga adalah cobaan bagi para lelaki. Ketiga, pendapat jumhur ulama, orang-orang nonmuslim pun terkena beban syariat, termasuk terkena beban untuk menggunakan jilbab. Hanya saja tidak diterima amalan mereka sampai mereka beriman.  Ini pendapat madzhab Malikiyah, dan juga pendapat Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, jumhur Hanafiyah, Abu Hatim ar-Razi, dan para ulama yang lain. Di antara dalilnya, Allah ta’ala berfirman: مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka (orang-orang kafir) menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin”. (QS. al-Mudatsir: 42-44) Dalam ayat ini, disebutkan bahwa orang kafir diazab karena mereka tidak shalat. Menunjukkan bahwasanya mereka juga terkena kewajiban shalat. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين “Pendapat madzhab (Syafi’i) dan pendapat yang shahih yang dikuatkan oleh para ulama peneliti dan mayoritas ulama adalah bahwa orang kafir terkena beban berupa rincian-rincian syariat, sehingga haram bagi mereka memakai sutra sebagaimana diharamkan bagi kaum Muslimin.” (Syarah Shahih Muslim, 14/39) Oleh karena itu, wanita nonmuslim yang tidak berjilbab atau tidak menutup aurat mereka telah melakukan dosa dan kekeliruan. Sehingga tidak boleh menyetujuinya dan tidak boleh menyebarkan gambarnya. Keempat, perbuatan menyebarkan gambar wanita yang terbuka auratnya termasuk membantu setan untuk menggoda sesama muslim. Walaupun yang disebarkan adalah gambar orang lain bukan gambar diri sendiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ علَى أخِيكُمْ “Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menggoda saudara kalian.” (HR. Bukhari no.6781) Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya: “Apa hukum mengirimkan sebagian video yang ada faidah-faidah ilmunya, namun ada musik dan ada gambar wanitanya?”. Beliau menjawab: “Ini semua tidak baik, tidak boleh melakukannya. Dan kebaikan yang tidak mengandung itu semua, ada walhamdulillah” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JGgDSPgXNec) Dan tidak boleh menyebarkan foto wanita di internet walaupun berhijab sekalipun. Syaikh Sa’ad Asy Syatsri ditanya: “Apa hukum wanita berhijab meng-upload foto mereka di media sosial?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh wanita menampakkan keindahan mereka. Ini merupakan ijma ulama. Allah ta’ala berfirman: وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ “Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka … ” (QS. an-Nur: 31) Ayat ini menunjukkan bahwa wanita dilarang menampakkan keindahan mereka. Dan para ulama ijma bahwa wanita tidak boleh mempercantik wajahnya di depan para lelaki nonmahram, demikian juga tidak boleh melakukan demikian ketika ia pergi keluar rumah jika ada lelaki yang akan melihatnya, ini merupakan ijma ulama.” (https://www.youtube.com/watch?v=uOiLCjTxh44) Kelima, pemikiran bahwa “wanita nonmuslim memang tidak wajib menutup aurat, maka halal untuk menyebarkan gambarnya”, ini akan menghasilkan konsekuensi batil. Konsekuensinya, gambar wanita nonmuslim yang telanjang dan porno boleh untuk disebarkan, jika memang wanita nonmuslim dianggap tidak wajib menutup aurat dan boleh disebarkan gambarnya. Tentu ini konsekuensi yang batil dan merupakan pemikiran yang jauh dari akal sehat.  Dan anggapan bahwa mereka tidak wajib menutup aurat adalah anggapan yang keliru sebagaimana telah dijelaskan pada poin ketiga.  Kesimpulannya, tidak boleh menyebarkan gambar wanita nonmuslim baik dalam keadaan tertutup aurat apalagi terbuka aurat. Dan ini akan menjadi dosa jariyah selama gambar tersebut menjadi fitnah (godaan) bagi para lelaki yang melihatnya. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, من سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسنةً ، فله أجرُها ، وأجرُ مَن عمل بها بعدَه . من غير أن ينقص من أجورِهم شيءٌ . ومن سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سيئةً ، كان عليه وزرُها ووزرُ مَن عمل بها من بعده . من غير أن يَنقصَ من أوزارهم شيءٌ “Barang siapa mencontohkan suatu kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan suatu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 1017) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Yang Tidak Berhak Menerima Zakat, Hukum Istri Pergi Tanpa Izin Suami, Rum Halal Atau Haram, Kultum Ramadhan Singkat Dan Lucu, Cara Menghadapi Calon Mertua Yang Tidak Merestui, Asbahan Iran Visited 1,565 times, 1 visit(s) today Post Views: 631 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414647289&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Ustadz mohon izin bertanya. Kalau pekerjaan kita sebagai videografer membuat konten video yang melibatkan wanita nonmuslim yang pasti tidak berhijab, dan mempostingnya di social media apakah kita mendapatkan dosa jariyah, karena memperlihatkan aurat perempuan yaitu rambut. Jazaakallahu khayran atas jawabannya ustadz. (Dhea) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyebarkan gambar wanita yang tidak berjilbab atau terbuka auratnya, hukumnya tidak diperbolehkan. Walaupun wanita tersebut nonmuslim. Jika itu dilakukan, akan menjadi dosa jariyah bagi yang menyebarkannya selama gambar tersebut terus dilihat orang para laki-laki. Bukan berarti karena wanita yang ada pada gambar tersebut nonmuslim, dan biasanya wanita nonmuslim tidak berjilbab, lalu halal untuk menyebarkannya. Ini bisa dijelaskan dalam beberapa poin: Pertama, karena hal itu memotivasi para wanita untuk tidak berjilbab dan membuka aurat. Padahal Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِااللهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121) Kedua, wanita itu merupakan godaan terbesar bagi laki-laki baik wanitanya muslimah atau pun bukan. Perhatikan semua ayat dan hadits yang bicara tentang godaan wanita, tidak membedakan wanita mukminah atau pun wanita kafirah. Namun menggunakan istilah yang mutlak, yaitu wanita. Allah ta’ala berfirman: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14) Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ “Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) dari wanita.” (HR. al-Bukhari no.5096, Muslim no.2740) Dari Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusnya, Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita”. (HR. Muslim no. 2742) Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: المرأةُ عورةٌ ، فإذا خرَجَتْ اسْتَشْرَفَها الشيطانُ “Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1173, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi) Maka tidak boleh menyebarkan gambar wanita terutama yang terbuka auratnya, walaupun wanita tersebut nonmuslim. Karena mereka juga adalah cobaan bagi para lelaki. Ketiga, pendapat jumhur ulama, orang-orang nonmuslim pun terkena beban syariat, termasuk terkena beban untuk menggunakan jilbab. Hanya saja tidak diterima amalan mereka sampai mereka beriman.  Ini pendapat madzhab Malikiyah, dan juga pendapat Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, jumhur Hanafiyah, Abu Hatim ar-Razi, dan para ulama yang lain. Di antara dalilnya, Allah ta’ala berfirman: مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka (orang-orang kafir) menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin”. (QS. al-Mudatsir: 42-44) Dalam ayat ini, disebutkan bahwa orang kafir diazab karena mereka tidak shalat. Menunjukkan bahwasanya mereka juga terkena kewajiban shalat. An-Nawawi rahimahullah mengatakan: والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون : أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع ، فيحرم عليهم الحرير ، كما يحرم على المسلمين “Pendapat madzhab (Syafi’i) dan pendapat yang shahih yang dikuatkan oleh para ulama peneliti dan mayoritas ulama adalah bahwa orang kafir terkena beban berupa rincian-rincian syariat, sehingga haram bagi mereka memakai sutra sebagaimana diharamkan bagi kaum Muslimin.” (Syarah Shahih Muslim, 14/39) Oleh karena itu, wanita nonmuslim yang tidak berjilbab atau tidak menutup aurat mereka telah melakukan dosa dan kekeliruan. Sehingga tidak boleh menyetujuinya dan tidak boleh menyebarkan gambarnya. Keempat, perbuatan menyebarkan gambar wanita yang terbuka auratnya termasuk membantu setan untuk menggoda sesama muslim. Walaupun yang disebarkan adalah gambar orang lain bukan gambar diri sendiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ علَى أخِيكُمْ “Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menggoda saudara kalian.” (HR. Bukhari no.6781) Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya: “Apa hukum mengirimkan sebagian video yang ada faidah-faidah ilmunya, namun ada musik dan ada gambar wanitanya?”. Beliau menjawab: “Ini semua tidak baik, tidak boleh melakukannya. Dan kebaikan yang tidak mengandung itu semua, ada walhamdulillah” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JGgDSPgXNec) Dan tidak boleh menyebarkan foto wanita di internet walaupun berhijab sekalipun. Syaikh Sa’ad Asy Syatsri ditanya: “Apa hukum wanita berhijab meng-upload foto mereka di media sosial?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh wanita menampakkan keindahan mereka. Ini merupakan ijma ulama. Allah ta’ala berfirman: وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ “Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka … ” (QS. an-Nur: 31) Ayat ini menunjukkan bahwa wanita dilarang menampakkan keindahan mereka. Dan para ulama ijma bahwa wanita tidak boleh mempercantik wajahnya di depan para lelaki nonmahram, demikian juga tidak boleh melakukan demikian ketika ia pergi keluar rumah jika ada lelaki yang akan melihatnya, ini merupakan ijma ulama.” (https://www.youtube.com/watch?v=uOiLCjTxh44) Kelima, pemikiran bahwa “wanita nonmuslim memang tidak wajib menutup aurat, maka halal untuk menyebarkan gambarnya”, ini akan menghasilkan konsekuensi batil. Konsekuensinya, gambar wanita nonmuslim yang telanjang dan porno boleh untuk disebarkan, jika memang wanita nonmuslim dianggap tidak wajib menutup aurat dan boleh disebarkan gambarnya. Tentu ini konsekuensi yang batil dan merupakan pemikiran yang jauh dari akal sehat.  Dan anggapan bahwa mereka tidak wajib menutup aurat adalah anggapan yang keliru sebagaimana telah dijelaskan pada poin ketiga.  Kesimpulannya, tidak boleh menyebarkan gambar wanita nonmuslim baik dalam keadaan tertutup aurat apalagi terbuka aurat. Dan ini akan menjadi dosa jariyah selama gambar tersebut menjadi fitnah (godaan) bagi para lelaki yang melihatnya. Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, من سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً حسنةً ، فله أجرُها ، وأجرُ مَن عمل بها بعدَه . من غير أن ينقص من أجورِهم شيءٌ . ومن سنَّ في الإسلامِ سُنَّةً سيئةً ، كان عليه وزرُها ووزرُ مَن عمل بها من بعده . من غير أن يَنقصَ من أوزارهم شيءٌ “Barang siapa mencontohkan suatu kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan suatu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 1017) Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Orang Yang Tidak Berhak Menerima Zakat, Hukum Istri Pergi Tanpa Izin Suami, Rum Halal Atau Haram, Kultum Ramadhan Singkat Dan Lucu, Cara Menghadapi Calon Mertua Yang Tidak Merestui, Asbahan Iran Visited 1,565 times, 1 visit(s) today Post Views: 631 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sumber Keretakan Rumah Tangga

Keretakan rumah tangga timbul dari berbagai macam masalah. Permasalahan kecil saja dapat memicu perceraian, apalagi permasalahan besar. Namun, besar kecilnya permasalahan tersebut tergantung pada sudut pandang seorang suami ataupun istri dalam menyikapi permasalahan yang ada.Di tengah-tengah permasalahan antara dua pasangan tersebut, kadangkala kita tidak menyadari bahwa setan sedang memainkan perannya untuk membisikkan kepada setiap pasangan anak Adam tentang segala hal buruk untuk dipikirkan dan membawanya pada emosi level tinggi pada keduanya. Sehingga kata talak pun terucap, dan menanglah setan dengan prestasi tertingginya.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut), kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka, yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, ‘Aku telah melakukan begini dan begitu.’ Iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun.’ Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka, Iblis pun mendekatinya dan berkata, ‘Sungguh hebat (setan) seperti engkau.’ (HR. Muslim no. 2813)Hadis di atas menggambarkan kepada kita bahwa prestasi tertinggi setan adalah mampu membuat sepasang suami-istri bercerai. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang dapat menjembatani setan menguasai hawa nafsu kita yang dapat memicu perceraian dalam rumah tangga. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, kita memperoleh petunjuk untuk dapat segera mendeteksi bahwa kita sedang berada dalam kondisi-kondisi di mana setan dapat menunggangi kita sehingga segala potensi buruk dapat dihindari.Berikut 3 (tiga) kondisi di mana setan dapat menunggangi untuk memicu keretakan rumah tangga:Baca Juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga Daftar Isi sembunyikan 1. Saat amarah menguasai 2. Ketika kemaksiatan tak mampu terbendung 3. Sumber nafkah yang tidak halal Saat amarah menguasaiPerceraian tentunya dapat bersumber dari persoalan sederhana yang disikapi dengan kemarahan yang terus-menerus dipelihara. Padahal, amarah merupakan pintu masuknya setan untuk membuat permasalahan menjadi lebih rumit hingga puncaknya. Oleh karenanya, kita dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala manakala dirundung amarah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan, ‘A’udzubillah (aku berlindung pada Allah)’, maka akan redamlah marahnya.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1376. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyadari bahwa ketika amarah datang, setan dapat menungganginya. Maka, segeralah mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Selain itu, pastikan bahwa tidak ada perkara yang kita putuskan ketika amarah sedang menguasai diri, apalagi perkara tersebut adalah sesuatu yang besar seperti ucapan talak/ cerai.Menuruti amarah kadangkala oleh sebagian kita dianggap sebagai wujud wibawa seorang lelaki, menunjukkan ketegasan dan kekuatan. Begitu pula di sisi perempuan (istri), merespon amarah dengan amarah pun kadangkala dianggap sebagai wujud eksistensi diri agar tak mudah diremehkan oleh sang suami. Padahal, semua itu adalah proses di mana setan sedang menunggangi diri, untuk mendapatkan prestasi tertinggi yaitu menjadi penyebab bercerainya suami-istri.Ketika kemaksiatan tak mampu terbendungSungguh Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita anugerah berupa akal dan iman untuk dapat membedakan antara hak dengan kebatilan. Hanya saja, kadangkala sebagian kita begitu mudahnya menyerah dengan godaan setan hingga menurutinya untuk melakukan kemaksiatan. Padahal, kita ketahui bahwa maksiat merupakan sumber malapetaka baik untuk urusan dunia maupun akhirat.Terhadap hubungan kemaksiatan dengan persoalan pasangan suami-istri, Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Sungguh, (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku.” (Ad-Da-u wad-Dawaa’, hal. 68)Oleh karenanya, kita sendiri pun dapat membuktikan manakala seorang suami mendapati tingkah laku dari sang istri yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, instrospeksilah diri dan tanyakan pada diri sendiri, “Kemaksiatan apakah yang telah diperbuat sepanjang hari?” Apakah itu maksiat yang bersumber dari mata, telinga, mulut, tangan, kaki, atau anggota tubuh lainnya.Sebagaimana dalam kaidah disebutkan,الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan perbuatan.”Maka, balasan kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang suami di luar rumahnya adalah perilaku istri yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya di dalam rumah. Wal-‘iyadzu billah.Ketika seorang suami tidak menyadari bahwa perilaku sang istri tersebut merupakan dampak dari kemaksiatan yang ia lakukan, maka ia merasa beban kesalahan sepenuhnya ada pada sang istri. Pertengkaran pun tak terbendung, setan menunggangi, dan pada akhirnya berujung pada keretakan rumah tangga.Oleh karenanya, bertekadlah untuk tidak melakukan dosa [1]. Meskipun kita menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah, terkadang kekhilafan dan kesilapan bisa saja terjadi. Namun, dengan memantapkan niat setiap hari (khususnya di setiap waktu pagi) untuk tidak bermaksiat, kemudian memohon pertolongan Allah Ta’ala agar diberi kekuatan dalam menjalani hari-hari tanpa maksiat, mudah-mudahan dapat menjaga diri kita dari kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah.Maka dengannya pula, kehangatan dan keromantisan dalam rumah tangga dapat terbentuk dengan sendirinya karena tiada kemaksiatan yang dilakukan baik dari sisi suami maupun istri, tak ada pula ruang bagi setan untuk menunggangi, insyaAllah.Baca Juga: Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga Sumber nafkah yang tidak halalDi masa sulit seperti ini, peluang untuk memperoleh rezeki dari sumber yang haram memang sangat terbuka lebar. Mulai dari pinjaman dan investasi ribawi, lowongan kerja untuk bisnis barang dan jasa yang haram, dan berbagai tawaran yang menggiurkan, yang hanya dengan keimanan yang kokoh seorang muslim dapat membendungnya.Kita seakan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu: ambil yang haram asal tidak lapar atau tinggalkan yang haram tetapi akan kelaparan. Wal-‘iyadzubillah. Padahal, seorang mukmin semestinya memahami hakikat tawakal kepada Allah Ta’ala. Allah Ar-Razzaq tidak akan membiarkan hamba-Nya kelaparan karena mempertahankan keimanan.وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً”Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)Maka, pastikan bahwa nafkah yang engkau bawa pulang ke rumah adalah bersumber dari yang halal. Karena harta haram dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Padahal, kita diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menasihati Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu perihal menjaga harta dari sumber yang halal,يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2/513)Sebuah rumah tangga bisa saja tampak dari luar bahagia karena diliputi dengan kemewahan harta, tahta, dan keturunan yang banyak. Akan tetapi, apabila sumber nafkah dari keluarga tersebut adalah haram, maka apalah artinya semua kekayaan dan kemegahan tersebut jika pada akhirnya ketika bertemu dengan Rabbnya, mereka dalam keadaan hina dina. Dan inilah keretakan yang sesungguhnya dalam rumah tangga. Wal-‘iyadzu billahSaudaraku, adalah penting bagi kita menyadari bahwa amarah, kemaksiatan, dan harta haram adalah bagian dari jalan setan menjalankan misi perceraian pasangan anak Adam. Oleh karenanya, guna menjaga rumah tangga tetap dalam keharmonisan dan kebahagiaan yang mendapatkan rida Allah Ta’ala, hendaklah kita memperhatikan tiga poin berikut:Pertama, jangan pernah mengambil keputusan dalam kondisi diliputi amarah;Kedua, sebelum menyalahkan pasangan, hendaklah introspeksi diri yang mungkin pernah tersentuh maksiat; danKetiga, pastikan nafkah untuk keluarga bersumber dari yang halal.Wallahu Ta’ala a’lamBaca Juga:Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lainTak Perlu Sedih dengan Status Ibu Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Artikel yang membahas tentang hal ini dapat diakses disini: https://muslim.or.id/71739-bertekad-untuk-tidak-melakukan-dosa.html🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholawat Nariyah Bid Ah, Menyucikan Hati, Pengertian Mahsyar, Arti KholifahTags: adabAkhlakAqidahfikih rumah tanggafikihrumah tanggaistrikeretakan rumah tanggakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggasuamiujian rumah tangga

Sumber Keretakan Rumah Tangga

Keretakan rumah tangga timbul dari berbagai macam masalah. Permasalahan kecil saja dapat memicu perceraian, apalagi permasalahan besar. Namun, besar kecilnya permasalahan tersebut tergantung pada sudut pandang seorang suami ataupun istri dalam menyikapi permasalahan yang ada.Di tengah-tengah permasalahan antara dua pasangan tersebut, kadangkala kita tidak menyadari bahwa setan sedang memainkan perannya untuk membisikkan kepada setiap pasangan anak Adam tentang segala hal buruk untuk dipikirkan dan membawanya pada emosi level tinggi pada keduanya. Sehingga kata talak pun terucap, dan menanglah setan dengan prestasi tertingginya.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut), kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka, yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, ‘Aku telah melakukan begini dan begitu.’ Iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun.’ Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka, Iblis pun mendekatinya dan berkata, ‘Sungguh hebat (setan) seperti engkau.’ (HR. Muslim no. 2813)Hadis di atas menggambarkan kepada kita bahwa prestasi tertinggi setan adalah mampu membuat sepasang suami-istri bercerai. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang dapat menjembatani setan menguasai hawa nafsu kita yang dapat memicu perceraian dalam rumah tangga. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, kita memperoleh petunjuk untuk dapat segera mendeteksi bahwa kita sedang berada dalam kondisi-kondisi di mana setan dapat menunggangi kita sehingga segala potensi buruk dapat dihindari.Berikut 3 (tiga) kondisi di mana setan dapat menunggangi untuk memicu keretakan rumah tangga:Baca Juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga Daftar Isi sembunyikan 1. Saat amarah menguasai 2. Ketika kemaksiatan tak mampu terbendung 3. Sumber nafkah yang tidak halal Saat amarah menguasaiPerceraian tentunya dapat bersumber dari persoalan sederhana yang disikapi dengan kemarahan yang terus-menerus dipelihara. Padahal, amarah merupakan pintu masuknya setan untuk membuat permasalahan menjadi lebih rumit hingga puncaknya. Oleh karenanya, kita dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala manakala dirundung amarah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan, ‘A’udzubillah (aku berlindung pada Allah)’, maka akan redamlah marahnya.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1376. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyadari bahwa ketika amarah datang, setan dapat menungganginya. Maka, segeralah mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Selain itu, pastikan bahwa tidak ada perkara yang kita putuskan ketika amarah sedang menguasai diri, apalagi perkara tersebut adalah sesuatu yang besar seperti ucapan talak/ cerai.Menuruti amarah kadangkala oleh sebagian kita dianggap sebagai wujud wibawa seorang lelaki, menunjukkan ketegasan dan kekuatan. Begitu pula di sisi perempuan (istri), merespon amarah dengan amarah pun kadangkala dianggap sebagai wujud eksistensi diri agar tak mudah diremehkan oleh sang suami. Padahal, semua itu adalah proses di mana setan sedang menunggangi diri, untuk mendapatkan prestasi tertinggi yaitu menjadi penyebab bercerainya suami-istri.Ketika kemaksiatan tak mampu terbendungSungguh Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita anugerah berupa akal dan iman untuk dapat membedakan antara hak dengan kebatilan. Hanya saja, kadangkala sebagian kita begitu mudahnya menyerah dengan godaan setan hingga menurutinya untuk melakukan kemaksiatan. Padahal, kita ketahui bahwa maksiat merupakan sumber malapetaka baik untuk urusan dunia maupun akhirat.Terhadap hubungan kemaksiatan dengan persoalan pasangan suami-istri, Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Sungguh, (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku.” (Ad-Da-u wad-Dawaa’, hal. 68)Oleh karenanya, kita sendiri pun dapat membuktikan manakala seorang suami mendapati tingkah laku dari sang istri yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, instrospeksilah diri dan tanyakan pada diri sendiri, “Kemaksiatan apakah yang telah diperbuat sepanjang hari?” Apakah itu maksiat yang bersumber dari mata, telinga, mulut, tangan, kaki, atau anggota tubuh lainnya.Sebagaimana dalam kaidah disebutkan,الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan perbuatan.”Maka, balasan kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang suami di luar rumahnya adalah perilaku istri yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya di dalam rumah. Wal-‘iyadzu billah.Ketika seorang suami tidak menyadari bahwa perilaku sang istri tersebut merupakan dampak dari kemaksiatan yang ia lakukan, maka ia merasa beban kesalahan sepenuhnya ada pada sang istri. Pertengkaran pun tak terbendung, setan menunggangi, dan pada akhirnya berujung pada keretakan rumah tangga.Oleh karenanya, bertekadlah untuk tidak melakukan dosa [1]. Meskipun kita menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah, terkadang kekhilafan dan kesilapan bisa saja terjadi. Namun, dengan memantapkan niat setiap hari (khususnya di setiap waktu pagi) untuk tidak bermaksiat, kemudian memohon pertolongan Allah Ta’ala agar diberi kekuatan dalam menjalani hari-hari tanpa maksiat, mudah-mudahan dapat menjaga diri kita dari kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah.Maka dengannya pula, kehangatan dan keromantisan dalam rumah tangga dapat terbentuk dengan sendirinya karena tiada kemaksiatan yang dilakukan baik dari sisi suami maupun istri, tak ada pula ruang bagi setan untuk menunggangi, insyaAllah.Baca Juga: Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga Sumber nafkah yang tidak halalDi masa sulit seperti ini, peluang untuk memperoleh rezeki dari sumber yang haram memang sangat terbuka lebar. Mulai dari pinjaman dan investasi ribawi, lowongan kerja untuk bisnis barang dan jasa yang haram, dan berbagai tawaran yang menggiurkan, yang hanya dengan keimanan yang kokoh seorang muslim dapat membendungnya.Kita seakan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu: ambil yang haram asal tidak lapar atau tinggalkan yang haram tetapi akan kelaparan. Wal-‘iyadzubillah. Padahal, seorang mukmin semestinya memahami hakikat tawakal kepada Allah Ta’ala. Allah Ar-Razzaq tidak akan membiarkan hamba-Nya kelaparan karena mempertahankan keimanan.وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً”Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)Maka, pastikan bahwa nafkah yang engkau bawa pulang ke rumah adalah bersumber dari yang halal. Karena harta haram dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Padahal, kita diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menasihati Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu perihal menjaga harta dari sumber yang halal,يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2/513)Sebuah rumah tangga bisa saja tampak dari luar bahagia karena diliputi dengan kemewahan harta, tahta, dan keturunan yang banyak. Akan tetapi, apabila sumber nafkah dari keluarga tersebut adalah haram, maka apalah artinya semua kekayaan dan kemegahan tersebut jika pada akhirnya ketika bertemu dengan Rabbnya, mereka dalam keadaan hina dina. Dan inilah keretakan yang sesungguhnya dalam rumah tangga. Wal-‘iyadzu billahSaudaraku, adalah penting bagi kita menyadari bahwa amarah, kemaksiatan, dan harta haram adalah bagian dari jalan setan menjalankan misi perceraian pasangan anak Adam. Oleh karenanya, guna menjaga rumah tangga tetap dalam keharmonisan dan kebahagiaan yang mendapatkan rida Allah Ta’ala, hendaklah kita memperhatikan tiga poin berikut:Pertama, jangan pernah mengambil keputusan dalam kondisi diliputi amarah;Kedua, sebelum menyalahkan pasangan, hendaklah introspeksi diri yang mungkin pernah tersentuh maksiat; danKetiga, pastikan nafkah untuk keluarga bersumber dari yang halal.Wallahu Ta’ala a’lamBaca Juga:Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lainTak Perlu Sedih dengan Status Ibu Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Artikel yang membahas tentang hal ini dapat diakses disini: https://muslim.or.id/71739-bertekad-untuk-tidak-melakukan-dosa.html🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholawat Nariyah Bid Ah, Menyucikan Hati, Pengertian Mahsyar, Arti KholifahTags: adabAkhlakAqidahfikih rumah tanggafikihrumah tanggaistrikeretakan rumah tanggakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggasuamiujian rumah tangga
Keretakan rumah tangga timbul dari berbagai macam masalah. Permasalahan kecil saja dapat memicu perceraian, apalagi permasalahan besar. Namun, besar kecilnya permasalahan tersebut tergantung pada sudut pandang seorang suami ataupun istri dalam menyikapi permasalahan yang ada.Di tengah-tengah permasalahan antara dua pasangan tersebut, kadangkala kita tidak menyadari bahwa setan sedang memainkan perannya untuk membisikkan kepada setiap pasangan anak Adam tentang segala hal buruk untuk dipikirkan dan membawanya pada emosi level tinggi pada keduanya. Sehingga kata talak pun terucap, dan menanglah setan dengan prestasi tertingginya.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut), kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka, yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, ‘Aku telah melakukan begini dan begitu.’ Iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun.’ Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka, Iblis pun mendekatinya dan berkata, ‘Sungguh hebat (setan) seperti engkau.’ (HR. Muslim no. 2813)Hadis di atas menggambarkan kepada kita bahwa prestasi tertinggi setan adalah mampu membuat sepasang suami-istri bercerai. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang dapat menjembatani setan menguasai hawa nafsu kita yang dapat memicu perceraian dalam rumah tangga. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, kita memperoleh petunjuk untuk dapat segera mendeteksi bahwa kita sedang berada dalam kondisi-kondisi di mana setan dapat menunggangi kita sehingga segala potensi buruk dapat dihindari.Berikut 3 (tiga) kondisi di mana setan dapat menunggangi untuk memicu keretakan rumah tangga:Baca Juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga Daftar Isi sembunyikan 1. Saat amarah menguasai 2. Ketika kemaksiatan tak mampu terbendung 3. Sumber nafkah yang tidak halal Saat amarah menguasaiPerceraian tentunya dapat bersumber dari persoalan sederhana yang disikapi dengan kemarahan yang terus-menerus dipelihara. Padahal, amarah merupakan pintu masuknya setan untuk membuat permasalahan menjadi lebih rumit hingga puncaknya. Oleh karenanya, kita dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala manakala dirundung amarah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan, ‘A’udzubillah (aku berlindung pada Allah)’, maka akan redamlah marahnya.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1376. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyadari bahwa ketika amarah datang, setan dapat menungganginya. Maka, segeralah mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Selain itu, pastikan bahwa tidak ada perkara yang kita putuskan ketika amarah sedang menguasai diri, apalagi perkara tersebut adalah sesuatu yang besar seperti ucapan talak/ cerai.Menuruti amarah kadangkala oleh sebagian kita dianggap sebagai wujud wibawa seorang lelaki, menunjukkan ketegasan dan kekuatan. Begitu pula di sisi perempuan (istri), merespon amarah dengan amarah pun kadangkala dianggap sebagai wujud eksistensi diri agar tak mudah diremehkan oleh sang suami. Padahal, semua itu adalah proses di mana setan sedang menunggangi diri, untuk mendapatkan prestasi tertinggi yaitu menjadi penyebab bercerainya suami-istri.Ketika kemaksiatan tak mampu terbendungSungguh Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita anugerah berupa akal dan iman untuk dapat membedakan antara hak dengan kebatilan. Hanya saja, kadangkala sebagian kita begitu mudahnya menyerah dengan godaan setan hingga menurutinya untuk melakukan kemaksiatan. Padahal, kita ketahui bahwa maksiat merupakan sumber malapetaka baik untuk urusan dunia maupun akhirat.Terhadap hubungan kemaksiatan dengan persoalan pasangan suami-istri, Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Sungguh, (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku.” (Ad-Da-u wad-Dawaa’, hal. 68)Oleh karenanya, kita sendiri pun dapat membuktikan manakala seorang suami mendapati tingkah laku dari sang istri yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, instrospeksilah diri dan tanyakan pada diri sendiri, “Kemaksiatan apakah yang telah diperbuat sepanjang hari?” Apakah itu maksiat yang bersumber dari mata, telinga, mulut, tangan, kaki, atau anggota tubuh lainnya.Sebagaimana dalam kaidah disebutkan,الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan perbuatan.”Maka, balasan kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang suami di luar rumahnya adalah perilaku istri yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya di dalam rumah. Wal-‘iyadzu billah.Ketika seorang suami tidak menyadari bahwa perilaku sang istri tersebut merupakan dampak dari kemaksiatan yang ia lakukan, maka ia merasa beban kesalahan sepenuhnya ada pada sang istri. Pertengkaran pun tak terbendung, setan menunggangi, dan pada akhirnya berujung pada keretakan rumah tangga.Oleh karenanya, bertekadlah untuk tidak melakukan dosa [1]. Meskipun kita menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah, terkadang kekhilafan dan kesilapan bisa saja terjadi. Namun, dengan memantapkan niat setiap hari (khususnya di setiap waktu pagi) untuk tidak bermaksiat, kemudian memohon pertolongan Allah Ta’ala agar diberi kekuatan dalam menjalani hari-hari tanpa maksiat, mudah-mudahan dapat menjaga diri kita dari kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah.Maka dengannya pula, kehangatan dan keromantisan dalam rumah tangga dapat terbentuk dengan sendirinya karena tiada kemaksiatan yang dilakukan baik dari sisi suami maupun istri, tak ada pula ruang bagi setan untuk menunggangi, insyaAllah.Baca Juga: Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga Sumber nafkah yang tidak halalDi masa sulit seperti ini, peluang untuk memperoleh rezeki dari sumber yang haram memang sangat terbuka lebar. Mulai dari pinjaman dan investasi ribawi, lowongan kerja untuk bisnis barang dan jasa yang haram, dan berbagai tawaran yang menggiurkan, yang hanya dengan keimanan yang kokoh seorang muslim dapat membendungnya.Kita seakan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu: ambil yang haram asal tidak lapar atau tinggalkan yang haram tetapi akan kelaparan. Wal-‘iyadzubillah. Padahal, seorang mukmin semestinya memahami hakikat tawakal kepada Allah Ta’ala. Allah Ar-Razzaq tidak akan membiarkan hamba-Nya kelaparan karena mempertahankan keimanan.وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً”Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)Maka, pastikan bahwa nafkah yang engkau bawa pulang ke rumah adalah bersumber dari yang halal. Karena harta haram dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Padahal, kita diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menasihati Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu perihal menjaga harta dari sumber yang halal,يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2/513)Sebuah rumah tangga bisa saja tampak dari luar bahagia karena diliputi dengan kemewahan harta, tahta, dan keturunan yang banyak. Akan tetapi, apabila sumber nafkah dari keluarga tersebut adalah haram, maka apalah artinya semua kekayaan dan kemegahan tersebut jika pada akhirnya ketika bertemu dengan Rabbnya, mereka dalam keadaan hina dina. Dan inilah keretakan yang sesungguhnya dalam rumah tangga. Wal-‘iyadzu billahSaudaraku, adalah penting bagi kita menyadari bahwa amarah, kemaksiatan, dan harta haram adalah bagian dari jalan setan menjalankan misi perceraian pasangan anak Adam. Oleh karenanya, guna menjaga rumah tangga tetap dalam keharmonisan dan kebahagiaan yang mendapatkan rida Allah Ta’ala, hendaklah kita memperhatikan tiga poin berikut:Pertama, jangan pernah mengambil keputusan dalam kondisi diliputi amarah;Kedua, sebelum menyalahkan pasangan, hendaklah introspeksi diri yang mungkin pernah tersentuh maksiat; danKetiga, pastikan nafkah untuk keluarga bersumber dari yang halal.Wallahu Ta’ala a’lamBaca Juga:Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lainTak Perlu Sedih dengan Status Ibu Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Artikel yang membahas tentang hal ini dapat diakses disini: https://muslim.or.id/71739-bertekad-untuk-tidak-melakukan-dosa.html🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholawat Nariyah Bid Ah, Menyucikan Hati, Pengertian Mahsyar, Arti KholifahTags: adabAkhlakAqidahfikih rumah tanggafikihrumah tanggaistrikeretakan rumah tanggakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggasuamiujian rumah tangga


Keretakan rumah tangga timbul dari berbagai macam masalah. Permasalahan kecil saja dapat memicu perceraian, apalagi permasalahan besar. Namun, besar kecilnya permasalahan tersebut tergantung pada sudut pandang seorang suami ataupun istri dalam menyikapi permasalahan yang ada.Di tengah-tengah permasalahan antara dua pasangan tersebut, kadangkala kita tidak menyadari bahwa setan sedang memainkan perannya untuk membisikkan kepada setiap pasangan anak Adam tentang segala hal buruk untuk dipikirkan dan membawanya pada emosi level tinggi pada keduanya. Sehingga kata talak pun terucap, dan menanglah setan dengan prestasi tertingginya.Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut), kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka, yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, ‘Aku telah melakukan begini dan begitu.’ Iblis berkata, ‘Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun.’ Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka, Iblis pun mendekatinya dan berkata, ‘Sungguh hebat (setan) seperti engkau.’ (HR. Muslim no. 2813)Hadis di atas menggambarkan kepada kita bahwa prestasi tertinggi setan adalah mampu membuat sepasang suami-istri bercerai. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang dapat menjembatani setan menguasai hawa nafsu kita yang dapat memicu perceraian dalam rumah tangga. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, kita memperoleh petunjuk untuk dapat segera mendeteksi bahwa kita sedang berada dalam kondisi-kondisi di mana setan dapat menunggangi kita sehingga segala potensi buruk dapat dihindari.Berikut 3 (tiga) kondisi di mana setan dapat menunggangi untuk memicu keretakan rumah tangga:Baca Juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga Daftar Isi sembunyikan 1. Saat amarah menguasai 2. Ketika kemaksiatan tak mampu terbendung 3. Sumber nafkah yang tidak halal Saat amarah menguasaiPerceraian tentunya dapat bersumber dari persoalan sederhana yang disikapi dengan kemarahan yang terus-menerus dipelihara. Padahal, amarah merupakan pintu masuknya setan untuk membuat permasalahan menjadi lebih rumit hingga puncaknya. Oleh karenanya, kita dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala manakala dirundung amarah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan, ‘A’udzubillah (aku berlindung pada Allah)’, maka akan redamlah marahnya.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1376. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyadari bahwa ketika amarah datang, setan dapat menungganginya. Maka, segeralah mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Selain itu, pastikan bahwa tidak ada perkara yang kita putuskan ketika amarah sedang menguasai diri, apalagi perkara tersebut adalah sesuatu yang besar seperti ucapan talak/ cerai.Menuruti amarah kadangkala oleh sebagian kita dianggap sebagai wujud wibawa seorang lelaki, menunjukkan ketegasan dan kekuatan. Begitu pula di sisi perempuan (istri), merespon amarah dengan amarah pun kadangkala dianggap sebagai wujud eksistensi diri agar tak mudah diremehkan oleh sang suami. Padahal, semua itu adalah proses di mana setan sedang menunggangi diri, untuk mendapatkan prestasi tertinggi yaitu menjadi penyebab bercerainya suami-istri.Ketika kemaksiatan tak mampu terbendungSungguh Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita anugerah berupa akal dan iman untuk dapat membedakan antara hak dengan kebatilan. Hanya saja, kadangkala sebagian kita begitu mudahnya menyerah dengan godaan setan hingga menurutinya untuk melakukan kemaksiatan. Padahal, kita ketahui bahwa maksiat merupakan sumber malapetaka baik untuk urusan dunia maupun akhirat.Terhadap hubungan kemaksiatan dengan persoalan pasangan suami-istri, Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Sungguh, (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku.” (Ad-Da-u wad-Dawaa’, hal. 68)Oleh karenanya, kita sendiri pun dapat membuktikan manakala seorang suami mendapati tingkah laku dari sang istri yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, instrospeksilah diri dan tanyakan pada diri sendiri, “Kemaksiatan apakah yang telah diperbuat sepanjang hari?” Apakah itu maksiat yang bersumber dari mata, telinga, mulut, tangan, kaki, atau anggota tubuh lainnya.Sebagaimana dalam kaidah disebutkan,الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ“Balasan sesuai dengan perbuatan.”Maka, balasan kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang suami di luar rumahnya adalah perilaku istri yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya di dalam rumah. Wal-‘iyadzu billah.Ketika seorang suami tidak menyadari bahwa perilaku sang istri tersebut merupakan dampak dari kemaksiatan yang ia lakukan, maka ia merasa beban kesalahan sepenuhnya ada pada sang istri. Pertengkaran pun tak terbendung, setan menunggangi, dan pada akhirnya berujung pada keretakan rumah tangga.Oleh karenanya, bertekadlah untuk tidak melakukan dosa [1]. Meskipun kita menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah, terkadang kekhilafan dan kesilapan bisa saja terjadi. Namun, dengan memantapkan niat setiap hari (khususnya di setiap waktu pagi) untuk tidak bermaksiat, kemudian memohon pertolongan Allah Ta’ala agar diberi kekuatan dalam menjalani hari-hari tanpa maksiat, mudah-mudahan dapat menjaga diri kita dari kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah.Maka dengannya pula, kehangatan dan keromantisan dalam rumah tangga dapat terbentuk dengan sendirinya karena tiada kemaksiatan yang dilakukan baik dari sisi suami maupun istri, tak ada pula ruang bagi setan untuk menunggangi, insyaAllah.Baca Juga: Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga Sumber nafkah yang tidak halalDi masa sulit seperti ini, peluang untuk memperoleh rezeki dari sumber yang haram memang sangat terbuka lebar. Mulai dari pinjaman dan investasi ribawi, lowongan kerja untuk bisnis barang dan jasa yang haram, dan berbagai tawaran yang menggiurkan, yang hanya dengan keimanan yang kokoh seorang muslim dapat membendungnya.Kita seakan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu: ambil yang haram asal tidak lapar atau tinggalkan yang haram tetapi akan kelaparan. Wal-‘iyadzubillah. Padahal, seorang mukmin semestinya memahami hakikat tawakal kepada Allah Ta’ala. Allah Ar-Razzaq tidak akan membiarkan hamba-Nya kelaparan karena mempertahankan keimanan.وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً”Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)Maka, pastikan bahwa nafkah yang engkau bawa pulang ke rumah adalah bersumber dari yang halal. Karena harta haram dapat mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Padahal, kita diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menasihati Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu perihal menjaga harta dari sumber yang halal,يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2/513)Sebuah rumah tangga bisa saja tampak dari luar bahagia karena diliputi dengan kemewahan harta, tahta, dan keturunan yang banyak. Akan tetapi, apabila sumber nafkah dari keluarga tersebut adalah haram, maka apalah artinya semua kekayaan dan kemegahan tersebut jika pada akhirnya ketika bertemu dengan Rabbnya, mereka dalam keadaan hina dina. Dan inilah keretakan yang sesungguhnya dalam rumah tangga. Wal-‘iyadzu billahSaudaraku, adalah penting bagi kita menyadari bahwa amarah, kemaksiatan, dan harta haram adalah bagian dari jalan setan menjalankan misi perceraian pasangan anak Adam. Oleh karenanya, guna menjaga rumah tangga tetap dalam keharmonisan dan kebahagiaan yang mendapatkan rida Allah Ta’ala, hendaklah kita memperhatikan tiga poin berikut:Pertama, jangan pernah mengambil keputusan dalam kondisi diliputi amarah;Kedua, sebelum menyalahkan pasangan, hendaklah introspeksi diri yang mungkin pernah tersentuh maksiat; danKetiga, pastikan nafkah untuk keluarga bersumber dari yang halal.Wallahu Ta’ala a’lamBaca Juga:Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lainTak Perlu Sedih dengan Status Ibu Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Artikel yang membahas tentang hal ini dapat diakses disini: https://muslim.or.id/71739-bertekad-untuk-tidak-melakukan-dosa.html🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Sholawat Nariyah Bid Ah, Menyucikan Hati, Pengertian Mahsyar, Arti KholifahTags: adabAkhlakAqidahfikih rumah tanggafikihrumah tanggaistrikeretakan rumah tanggakewajiban istrikewajiban suaminasihatnasihat islampernikahanrumah tanggasuamiujian rumah tangga

Doa Sebelum Tidur

Di antara nikmat yang Allah ‘Azza Wajalla turunkan untuk seorang hamba adalah tidur. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23)Dalam ayat yang lain, Allah ‘Azza Wajalla juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,من رحمته بكم ولطفه أن جعل الليل لكم بمنزلة اللباس الذي يغشاكم، حتى تستقروا فيه وتهدؤوا بالنوم وتسبت حركاتكم“Di antara rahmat Allah adalah Dia menjadikan malam sebagaimana pakaian yang kalian kenakan yang bisa menutupi diri kalian. Sehingga kalian dengan hikmat bisa merehatkan diri dengan tidur.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 584)Oleh karenanya, tidak selayaknya seorang muslim menjadikan tidur sebagai sekedar rutinitas belaka. Ia bisa mengisinya dengan banyak ketaatan sebelum tidur sebagai bukti bahwa seluruh lini hidupnya adalah menghamba kepada Allah ‘Azza Wajalla.Baca Juga: Doa Setelah Azan Daftar Isi sembunyikan 1. Bacaan-bacaan doa sebelum tidur 1.1. Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali) 1.2. Membaca ayat Kursi (1 kali) 1.3. Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali) 1.4. Membaca surah Al-Kafirun (1 kali) 1.5. Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali) 1.6. Membaca doa (1 kali) 1.7. Membaca doa (1 kali) 1.8. Membaca doa (1 kali) 1.9. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali) 1.10. Membaca doa (1 kali) 1.11. Membaca doa (1 kali) 1.12. Membaca doa (1 kali) 1.13. Membaca doa (1 kali) 1.14. Membaca doa (1 kali) 1.15. Membaca doa (1 kali) 2. Apakah harus semua dibaca? Bacaan-bacaan doa sebelum tidurDi antara yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika seorang muslim beranjak tidur adalah (kami sarikan dari tulisan di islamqa.info):Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ : جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا ، فَقَرَأَ فِيهِمَا : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak tidur di malam hari, beliau menangkupkan kedua telapak tangannya dan meniupnya sembari membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kemudian mengusapkan ke bagian tubuh yang dapat dijangkaunya mulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)Baca Juga: Doa Ketika Turun HujanMembaca ayat Kursi (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِي آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ : لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ – فَقَالَ : إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian ada seorang penyusup yang ingin mencuri makanan. Aku pun menangkapnya dan mengatakan, ‘Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.’ (Kemudian perawi menceritakan hadis yang cukup panjang). Penyusup tadi mengatakan, ‘Jika engkau hendak berbaring, maka bacalah ayat Kursi, dengan demikian engkau akan senantiasa dijaga Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.’ (Mendengar hal tersebut) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, ‘Ia telah jujur kepadamu, meski sebenarnya ia adalah seorang pendusta, itu tadi setan.’” (HR. Bukhari no. 2311)Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam hari, maka hal tersebut mencukupinya.” (HR. Bukhari no. 2311)Yakni, Allah akan menjaga orang yang mengamalkannya di malam itu.Membaca surah Al-Kafirun (1 kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,اقْرأ : ( قُلْ يا أيُّها الكافِرُونَ ) ثُمَّ نَمْ على خاتِمَتِها ، فإنَّها بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ“Bacalah surah Al-Kafirun, kemudian tidurlah, maka hal tersebut akan menjadi sebab terjaga dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud no. 5055 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 61)Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لا يَنَامُ حَتَّى يَقرَأَ بَنِي إِسرَائِيلَ وَالزُّمَر“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama tidaklah beranjak tidur, kecuali setelah membaca Al-Isra dan Az-Zumar.” (HR. At-Tirnidzi no. 3402 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 65)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا أرَادَ أنْ يَنَامَ قالَ: باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian membaca,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَاBismikallahumma amuutu wa ahyaa(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ . فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِه“Jika kalian hendak tidur, maka berwudulah sebagaimana wudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke arah kanan dan berdoa dengan,اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَAllahumma aslamtu wajhii ilaik. Wa fawwadhtu amrii ilaik. Wa alja’tu dzahrii ilaik. Raghbatan wa rahbatan ilaik. La malja’a walaa manjaa minka illa ilaik. Allahumma aamantu bi kitaabika alladzii anzalta, wa bi nabiyyika alladzii arsalta(Ya Allah, aku berserah diri kepadamu, kupasrahkan semua urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan diriku kepada-Mu, dengan harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelematkan diri dari siksa-Mu, melainkan dengan berjalan menuju-Mu. Ya Allah, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.)Jika kalian meninggal di malam itu, maka sungguh kalian meninggal dalam keadaan lurus. Dan jadikanlah doa ini sebagai akhir ucapanmu di hari itu.” (HR. Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)Baca Juga: Doa Untuk Orang yang SakitMembaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga mengajarkan sebuah doa yang hendaknya dibaca menjelang tidur,بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَBismika Rabbi wadha’tu janbi. Wa bika arfa’uh. In amsakta nafsii farhamha wa in arsaltaha fahfadzha bimaa tahfadzu bihi ibaadakas shaalihin“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu aku bangun darinya. Jika Engkau menahan ruhku, berilah rahmat kepadanya. Dan jika Engkau melepasnya, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh).” (HR. Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714)Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali)Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala Fathimah radhiyallahu ‘anha datang kepada Nabi meminta seorang pelayan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjawab,أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ ، تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ“Maukah kuberitahukan hal yang lebih baik dari permintaanmu itu? Bacalah tasbih sebelum tidur sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali.” (HR. Bukhari no. 5362 dan Muslim no. 2727)Membaca doa (1 kali)Hafshah radhiyallahu ‘anha menceritakan,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْقُدَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ : ( اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ) ثَلاَثَ مِرَارٍ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika menjelang tidur beliau meletakkan tangan kanan di bawah wajah beliau sembari mengucapkan,اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ Allahumma qinii adzaabaka yauma tab’atsu ibaadak(Ya Allah, jagalah aku dari siksa-Mu di hari di mana kelak Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.)” (HR. Abu Dawud no. 5045 dan disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari, 11: 119)Membaca doa (1 kali)Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak berbaring di tempat tidur beliau membaca,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَAlhamdulillahi alladzii athamana wa saqaana wa kafaanaa wa aawaanaa fakam mimman laa kaafiya lahu walaa mu’wiya“Segala pujian hanya untuk Allah, Zat yang memberikan makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan dan perlindungan kepada kami, betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan.” (HR. Muslim no. 2715)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya menyarankan kepada seorang laki-laki ketika hendak tidur agar membaca, اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَAllahumma khalaqta nafsii wa anta tawaffahaa, laka mamaatuha wa mahyaaha, in ahyaitaha fahfadhza wa in amattahaa faghfir lahaa, allahumma inni as’aluka al-aafiyah(Ya Allah, Engkaulah Zat yang menciptakan diriku dan yang mematikannya. Matiku dan hidupku hanya untuk-Mu. Jika Engkau menghidupkan diriku, maka jagalah. Dan jika Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu) (HR. Muslim no. 2712)Membaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebelum beranjak tidur juga kadangkala membaca doa,اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ ، وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِAllahumma rabbas samaawaati wa rabbal ardhi wa rabbal arsyil adziim. Rabbanaa wa rabba kulli syai’in. Faaliqal habbi wan nawaa. Wa munzilat taurati wal injiili wal furqaani. Audzu bika min syarri kulli syaiin anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma antal awwalu falaisa qablaka syaiun. Wa antal aakhiru falaisa ba’daka syaiun. Wa antadz dzaahiru falaisa fauqaka syaiun. Wa antal baathinu falaisa duunaka syaiun. Iqdhi ‘annaddaina wa aghinaa minal faqr(Ya Allah, Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu. Yang membelah biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari semua kejahatan. Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu. Dan Engkaulah Yang Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi), maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat), maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. (Ya Tuhanku), lunasilah utang kami dan cukupilah kami dari kemiskinan.) (HR. Muslim no. 2713)Membaca doa (1 kali)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengajarkan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ تَكْشِفُ الْمَغْرَمَ وَالْمَأْثَمَ ، اللَّهُمَّ لَا يُهْزَمُ جُنْدُكَ ، وَلَا يُخْلَفُ وَعْدُكَ ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَAllahumma inni audzu bi wajhikal kariimi wa kalimatika at taamati in syarri maa anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma anta taksyifu al maghrama wal ma’tsama. Allahumma laa yuhzamu junduk. Walaa yukhlafu wa’duk. Walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. Subhaanaka wabihamdik(Ya Allah, aku berlindung dengan wajah-Mu yang mulia, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dari keburukan apa saja yang Engkau menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha menyingkap utang dan dosa. Ya Allah, yang tentara-Mu tidak terkalahkan, dan janji-Mu tidak diingkari, dan tidak bermanfaat disisi-Mu kekayaan karena kekayaan itu berasal dari-Mu. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5052 dan disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 111 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkar 2: 384.Membaca doa (1 kali)Doa lain yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjelang tidur adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Azhar al Anmaary radhiyallahu ‘anhu,بِسْمِ اللَّهِ وَضَعْتُ جَنْبِي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِي ، وَفُكَّ رِهَانِي ، وَاجْعَلْنِي فِي النَّدِيِّ الْأَعْلَىBismillahi wadha’tu janbii. Allahumma ighfir lii dzanbii. Wa akhsi’ syaithaani. Wa fukka rihaani. Waj’alnii fin nadiyy al a’laa(Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran malaikat.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5054 dan dihasankan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 125 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkaar 3: 60.Apakah harus semua dibaca?Tidak harus. Akan tetapi, sesekali waktu kita beralih dari satu doa ke doa yang lain agar kita mengamalkan semua hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan,أن العبادات إذا وردت على وجوه متنوعة فإنها تفعل على هذه الوجوه، على هذه مرة، وعلى هذه مرة“Ketika suatu ibadah disebutkan dengan beberapa versi, maka masing-masing dari semua versi di kerjakan secara bergantian.” (Shifatu Shalaatin Nabi, hal. 5)Beliau rahimahullahu melanjutkan tentang faidah mengamalkan semua versi yang disebutkan adalah:Pertama, mengamalkan semua sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Kedua, menjaga sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Ketiga, agar tidak menjadi sekedar rutinitas semata.Wallahu a’lamBaca Juga:Doa dan Zikir Penutup MajelisAmalan Tersembunyi dalam Doa Bangun Tidur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bacaan Ruqyah Syar'i, Situs Islam Terbaik, Waktu Solat 5 Waktu, Keajaiban Dunia Kapal Nabi NuhTags: adabadab Islamadab sebelum tidurAkhlakdo'adoa sebelum tidurDzikirdzikir sebelum tidurfikihfikih doakeutamaan doanasihatnasihat islam

Doa Sebelum Tidur

Di antara nikmat yang Allah ‘Azza Wajalla turunkan untuk seorang hamba adalah tidur. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23)Dalam ayat yang lain, Allah ‘Azza Wajalla juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,من رحمته بكم ولطفه أن جعل الليل لكم بمنزلة اللباس الذي يغشاكم، حتى تستقروا فيه وتهدؤوا بالنوم وتسبت حركاتكم“Di antara rahmat Allah adalah Dia menjadikan malam sebagaimana pakaian yang kalian kenakan yang bisa menutupi diri kalian. Sehingga kalian dengan hikmat bisa merehatkan diri dengan tidur.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 584)Oleh karenanya, tidak selayaknya seorang muslim menjadikan tidur sebagai sekedar rutinitas belaka. Ia bisa mengisinya dengan banyak ketaatan sebelum tidur sebagai bukti bahwa seluruh lini hidupnya adalah menghamba kepada Allah ‘Azza Wajalla.Baca Juga: Doa Setelah Azan Daftar Isi sembunyikan 1. Bacaan-bacaan doa sebelum tidur 1.1. Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali) 1.2. Membaca ayat Kursi (1 kali) 1.3. Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali) 1.4. Membaca surah Al-Kafirun (1 kali) 1.5. Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali) 1.6. Membaca doa (1 kali) 1.7. Membaca doa (1 kali) 1.8. Membaca doa (1 kali) 1.9. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali) 1.10. Membaca doa (1 kali) 1.11. Membaca doa (1 kali) 1.12. Membaca doa (1 kali) 1.13. Membaca doa (1 kali) 1.14. Membaca doa (1 kali) 1.15. Membaca doa (1 kali) 2. Apakah harus semua dibaca? Bacaan-bacaan doa sebelum tidurDi antara yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika seorang muslim beranjak tidur adalah (kami sarikan dari tulisan di islamqa.info):Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ : جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا ، فَقَرَأَ فِيهِمَا : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak tidur di malam hari, beliau menangkupkan kedua telapak tangannya dan meniupnya sembari membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kemudian mengusapkan ke bagian tubuh yang dapat dijangkaunya mulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)Baca Juga: Doa Ketika Turun HujanMembaca ayat Kursi (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِي آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ : لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ – فَقَالَ : إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian ada seorang penyusup yang ingin mencuri makanan. Aku pun menangkapnya dan mengatakan, ‘Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.’ (Kemudian perawi menceritakan hadis yang cukup panjang). Penyusup tadi mengatakan, ‘Jika engkau hendak berbaring, maka bacalah ayat Kursi, dengan demikian engkau akan senantiasa dijaga Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.’ (Mendengar hal tersebut) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, ‘Ia telah jujur kepadamu, meski sebenarnya ia adalah seorang pendusta, itu tadi setan.’” (HR. Bukhari no. 2311)Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam hari, maka hal tersebut mencukupinya.” (HR. Bukhari no. 2311)Yakni, Allah akan menjaga orang yang mengamalkannya di malam itu.Membaca surah Al-Kafirun (1 kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,اقْرأ : ( قُلْ يا أيُّها الكافِرُونَ ) ثُمَّ نَمْ على خاتِمَتِها ، فإنَّها بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ“Bacalah surah Al-Kafirun, kemudian tidurlah, maka hal tersebut akan menjadi sebab terjaga dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud no. 5055 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 61)Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لا يَنَامُ حَتَّى يَقرَأَ بَنِي إِسرَائِيلَ وَالزُّمَر“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama tidaklah beranjak tidur, kecuali setelah membaca Al-Isra dan Az-Zumar.” (HR. At-Tirnidzi no. 3402 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 65)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا أرَادَ أنْ يَنَامَ قالَ: باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian membaca,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَاBismikallahumma amuutu wa ahyaa(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ . فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِه“Jika kalian hendak tidur, maka berwudulah sebagaimana wudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke arah kanan dan berdoa dengan,اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَAllahumma aslamtu wajhii ilaik. Wa fawwadhtu amrii ilaik. Wa alja’tu dzahrii ilaik. Raghbatan wa rahbatan ilaik. La malja’a walaa manjaa minka illa ilaik. Allahumma aamantu bi kitaabika alladzii anzalta, wa bi nabiyyika alladzii arsalta(Ya Allah, aku berserah diri kepadamu, kupasrahkan semua urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan diriku kepada-Mu, dengan harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelematkan diri dari siksa-Mu, melainkan dengan berjalan menuju-Mu. Ya Allah, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.)Jika kalian meninggal di malam itu, maka sungguh kalian meninggal dalam keadaan lurus. Dan jadikanlah doa ini sebagai akhir ucapanmu di hari itu.” (HR. Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)Baca Juga: Doa Untuk Orang yang SakitMembaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga mengajarkan sebuah doa yang hendaknya dibaca menjelang tidur,بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَBismika Rabbi wadha’tu janbi. Wa bika arfa’uh. In amsakta nafsii farhamha wa in arsaltaha fahfadzha bimaa tahfadzu bihi ibaadakas shaalihin“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu aku bangun darinya. Jika Engkau menahan ruhku, berilah rahmat kepadanya. Dan jika Engkau melepasnya, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh).” (HR. Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714)Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali)Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala Fathimah radhiyallahu ‘anha datang kepada Nabi meminta seorang pelayan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjawab,أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ ، تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ“Maukah kuberitahukan hal yang lebih baik dari permintaanmu itu? Bacalah tasbih sebelum tidur sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali.” (HR. Bukhari no. 5362 dan Muslim no. 2727)Membaca doa (1 kali)Hafshah radhiyallahu ‘anha menceritakan,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْقُدَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ : ( اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ) ثَلاَثَ مِرَارٍ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika menjelang tidur beliau meletakkan tangan kanan di bawah wajah beliau sembari mengucapkan,اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ Allahumma qinii adzaabaka yauma tab’atsu ibaadak(Ya Allah, jagalah aku dari siksa-Mu di hari di mana kelak Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.)” (HR. Abu Dawud no. 5045 dan disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari, 11: 119)Membaca doa (1 kali)Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak berbaring di tempat tidur beliau membaca,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَAlhamdulillahi alladzii athamana wa saqaana wa kafaanaa wa aawaanaa fakam mimman laa kaafiya lahu walaa mu’wiya“Segala pujian hanya untuk Allah, Zat yang memberikan makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan dan perlindungan kepada kami, betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan.” (HR. Muslim no. 2715)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya menyarankan kepada seorang laki-laki ketika hendak tidur agar membaca, اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَAllahumma khalaqta nafsii wa anta tawaffahaa, laka mamaatuha wa mahyaaha, in ahyaitaha fahfadhza wa in amattahaa faghfir lahaa, allahumma inni as’aluka al-aafiyah(Ya Allah, Engkaulah Zat yang menciptakan diriku dan yang mematikannya. Matiku dan hidupku hanya untuk-Mu. Jika Engkau menghidupkan diriku, maka jagalah. Dan jika Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu) (HR. Muslim no. 2712)Membaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebelum beranjak tidur juga kadangkala membaca doa,اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ ، وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِAllahumma rabbas samaawaati wa rabbal ardhi wa rabbal arsyil adziim. Rabbanaa wa rabba kulli syai’in. Faaliqal habbi wan nawaa. Wa munzilat taurati wal injiili wal furqaani. Audzu bika min syarri kulli syaiin anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma antal awwalu falaisa qablaka syaiun. Wa antal aakhiru falaisa ba’daka syaiun. Wa antadz dzaahiru falaisa fauqaka syaiun. Wa antal baathinu falaisa duunaka syaiun. Iqdhi ‘annaddaina wa aghinaa minal faqr(Ya Allah, Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu. Yang membelah biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari semua kejahatan. Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu. Dan Engkaulah Yang Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi), maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat), maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. (Ya Tuhanku), lunasilah utang kami dan cukupilah kami dari kemiskinan.) (HR. Muslim no. 2713)Membaca doa (1 kali)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengajarkan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ تَكْشِفُ الْمَغْرَمَ وَالْمَأْثَمَ ، اللَّهُمَّ لَا يُهْزَمُ جُنْدُكَ ، وَلَا يُخْلَفُ وَعْدُكَ ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَAllahumma inni audzu bi wajhikal kariimi wa kalimatika at taamati in syarri maa anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma anta taksyifu al maghrama wal ma’tsama. Allahumma laa yuhzamu junduk. Walaa yukhlafu wa’duk. Walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. Subhaanaka wabihamdik(Ya Allah, aku berlindung dengan wajah-Mu yang mulia, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dari keburukan apa saja yang Engkau menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha menyingkap utang dan dosa. Ya Allah, yang tentara-Mu tidak terkalahkan, dan janji-Mu tidak diingkari, dan tidak bermanfaat disisi-Mu kekayaan karena kekayaan itu berasal dari-Mu. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5052 dan disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 111 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkar 2: 384.Membaca doa (1 kali)Doa lain yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjelang tidur adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Azhar al Anmaary radhiyallahu ‘anhu,بِسْمِ اللَّهِ وَضَعْتُ جَنْبِي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِي ، وَفُكَّ رِهَانِي ، وَاجْعَلْنِي فِي النَّدِيِّ الْأَعْلَىBismillahi wadha’tu janbii. Allahumma ighfir lii dzanbii. Wa akhsi’ syaithaani. Wa fukka rihaani. Waj’alnii fin nadiyy al a’laa(Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran malaikat.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5054 dan dihasankan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 125 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkaar 3: 60.Apakah harus semua dibaca?Tidak harus. Akan tetapi, sesekali waktu kita beralih dari satu doa ke doa yang lain agar kita mengamalkan semua hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan,أن العبادات إذا وردت على وجوه متنوعة فإنها تفعل على هذه الوجوه، على هذه مرة، وعلى هذه مرة“Ketika suatu ibadah disebutkan dengan beberapa versi, maka masing-masing dari semua versi di kerjakan secara bergantian.” (Shifatu Shalaatin Nabi, hal. 5)Beliau rahimahullahu melanjutkan tentang faidah mengamalkan semua versi yang disebutkan adalah:Pertama, mengamalkan semua sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Kedua, menjaga sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Ketiga, agar tidak menjadi sekedar rutinitas semata.Wallahu a’lamBaca Juga:Doa dan Zikir Penutup MajelisAmalan Tersembunyi dalam Doa Bangun Tidur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bacaan Ruqyah Syar'i, Situs Islam Terbaik, Waktu Solat 5 Waktu, Keajaiban Dunia Kapal Nabi NuhTags: adabadab Islamadab sebelum tidurAkhlakdo'adoa sebelum tidurDzikirdzikir sebelum tidurfikihfikih doakeutamaan doanasihatnasihat islam
Di antara nikmat yang Allah ‘Azza Wajalla turunkan untuk seorang hamba adalah tidur. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23)Dalam ayat yang lain, Allah ‘Azza Wajalla juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,من رحمته بكم ولطفه أن جعل الليل لكم بمنزلة اللباس الذي يغشاكم، حتى تستقروا فيه وتهدؤوا بالنوم وتسبت حركاتكم“Di antara rahmat Allah adalah Dia menjadikan malam sebagaimana pakaian yang kalian kenakan yang bisa menutupi diri kalian. Sehingga kalian dengan hikmat bisa merehatkan diri dengan tidur.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 584)Oleh karenanya, tidak selayaknya seorang muslim menjadikan tidur sebagai sekedar rutinitas belaka. Ia bisa mengisinya dengan banyak ketaatan sebelum tidur sebagai bukti bahwa seluruh lini hidupnya adalah menghamba kepada Allah ‘Azza Wajalla.Baca Juga: Doa Setelah Azan Daftar Isi sembunyikan 1. Bacaan-bacaan doa sebelum tidur 1.1. Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali) 1.2. Membaca ayat Kursi (1 kali) 1.3. Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali) 1.4. Membaca surah Al-Kafirun (1 kali) 1.5. Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali) 1.6. Membaca doa (1 kali) 1.7. Membaca doa (1 kali) 1.8. Membaca doa (1 kali) 1.9. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali) 1.10. Membaca doa (1 kali) 1.11. Membaca doa (1 kali) 1.12. Membaca doa (1 kali) 1.13. Membaca doa (1 kali) 1.14. Membaca doa (1 kali) 1.15. Membaca doa (1 kali) 2. Apakah harus semua dibaca? Bacaan-bacaan doa sebelum tidurDi antara yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika seorang muslim beranjak tidur adalah (kami sarikan dari tulisan di islamqa.info):Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ : جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا ، فَقَرَأَ فِيهِمَا : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak tidur di malam hari, beliau menangkupkan kedua telapak tangannya dan meniupnya sembari membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kemudian mengusapkan ke bagian tubuh yang dapat dijangkaunya mulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)Baca Juga: Doa Ketika Turun HujanMembaca ayat Kursi (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِي آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ : لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ – فَقَالَ : إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian ada seorang penyusup yang ingin mencuri makanan. Aku pun menangkapnya dan mengatakan, ‘Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.’ (Kemudian perawi menceritakan hadis yang cukup panjang). Penyusup tadi mengatakan, ‘Jika engkau hendak berbaring, maka bacalah ayat Kursi, dengan demikian engkau akan senantiasa dijaga Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.’ (Mendengar hal tersebut) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, ‘Ia telah jujur kepadamu, meski sebenarnya ia adalah seorang pendusta, itu tadi setan.’” (HR. Bukhari no. 2311)Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam hari, maka hal tersebut mencukupinya.” (HR. Bukhari no. 2311)Yakni, Allah akan menjaga orang yang mengamalkannya di malam itu.Membaca surah Al-Kafirun (1 kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,اقْرأ : ( قُلْ يا أيُّها الكافِرُونَ ) ثُمَّ نَمْ على خاتِمَتِها ، فإنَّها بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ“Bacalah surah Al-Kafirun, kemudian tidurlah, maka hal tersebut akan menjadi sebab terjaga dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud no. 5055 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 61)Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لا يَنَامُ حَتَّى يَقرَأَ بَنِي إِسرَائِيلَ وَالزُّمَر“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama tidaklah beranjak tidur, kecuali setelah membaca Al-Isra dan Az-Zumar.” (HR. At-Tirnidzi no. 3402 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 65)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا أرَادَ أنْ يَنَامَ قالَ: باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian membaca,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَاBismikallahumma amuutu wa ahyaa(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ . فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِه“Jika kalian hendak tidur, maka berwudulah sebagaimana wudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke arah kanan dan berdoa dengan,اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَAllahumma aslamtu wajhii ilaik. Wa fawwadhtu amrii ilaik. Wa alja’tu dzahrii ilaik. Raghbatan wa rahbatan ilaik. La malja’a walaa manjaa minka illa ilaik. Allahumma aamantu bi kitaabika alladzii anzalta, wa bi nabiyyika alladzii arsalta(Ya Allah, aku berserah diri kepadamu, kupasrahkan semua urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan diriku kepada-Mu, dengan harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelematkan diri dari siksa-Mu, melainkan dengan berjalan menuju-Mu. Ya Allah, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.)Jika kalian meninggal di malam itu, maka sungguh kalian meninggal dalam keadaan lurus. Dan jadikanlah doa ini sebagai akhir ucapanmu di hari itu.” (HR. Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)Baca Juga: Doa Untuk Orang yang SakitMembaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga mengajarkan sebuah doa yang hendaknya dibaca menjelang tidur,بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَBismika Rabbi wadha’tu janbi. Wa bika arfa’uh. In amsakta nafsii farhamha wa in arsaltaha fahfadzha bimaa tahfadzu bihi ibaadakas shaalihin“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu aku bangun darinya. Jika Engkau menahan ruhku, berilah rahmat kepadanya. Dan jika Engkau melepasnya, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh).” (HR. Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714)Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali)Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala Fathimah radhiyallahu ‘anha datang kepada Nabi meminta seorang pelayan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjawab,أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ ، تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ“Maukah kuberitahukan hal yang lebih baik dari permintaanmu itu? Bacalah tasbih sebelum tidur sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali.” (HR. Bukhari no. 5362 dan Muslim no. 2727)Membaca doa (1 kali)Hafshah radhiyallahu ‘anha menceritakan,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْقُدَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ : ( اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ) ثَلاَثَ مِرَارٍ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika menjelang tidur beliau meletakkan tangan kanan di bawah wajah beliau sembari mengucapkan,اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ Allahumma qinii adzaabaka yauma tab’atsu ibaadak(Ya Allah, jagalah aku dari siksa-Mu di hari di mana kelak Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.)” (HR. Abu Dawud no. 5045 dan disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari, 11: 119)Membaca doa (1 kali)Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak berbaring di tempat tidur beliau membaca,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَAlhamdulillahi alladzii athamana wa saqaana wa kafaanaa wa aawaanaa fakam mimman laa kaafiya lahu walaa mu’wiya“Segala pujian hanya untuk Allah, Zat yang memberikan makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan dan perlindungan kepada kami, betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan.” (HR. Muslim no. 2715)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya menyarankan kepada seorang laki-laki ketika hendak tidur agar membaca, اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَAllahumma khalaqta nafsii wa anta tawaffahaa, laka mamaatuha wa mahyaaha, in ahyaitaha fahfadhza wa in amattahaa faghfir lahaa, allahumma inni as’aluka al-aafiyah(Ya Allah, Engkaulah Zat yang menciptakan diriku dan yang mematikannya. Matiku dan hidupku hanya untuk-Mu. Jika Engkau menghidupkan diriku, maka jagalah. Dan jika Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu) (HR. Muslim no. 2712)Membaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebelum beranjak tidur juga kadangkala membaca doa,اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ ، وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِAllahumma rabbas samaawaati wa rabbal ardhi wa rabbal arsyil adziim. Rabbanaa wa rabba kulli syai’in. Faaliqal habbi wan nawaa. Wa munzilat taurati wal injiili wal furqaani. Audzu bika min syarri kulli syaiin anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma antal awwalu falaisa qablaka syaiun. Wa antal aakhiru falaisa ba’daka syaiun. Wa antadz dzaahiru falaisa fauqaka syaiun. Wa antal baathinu falaisa duunaka syaiun. Iqdhi ‘annaddaina wa aghinaa minal faqr(Ya Allah, Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu. Yang membelah biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari semua kejahatan. Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu. Dan Engkaulah Yang Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi), maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat), maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. (Ya Tuhanku), lunasilah utang kami dan cukupilah kami dari kemiskinan.) (HR. Muslim no. 2713)Membaca doa (1 kali)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengajarkan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ تَكْشِفُ الْمَغْرَمَ وَالْمَأْثَمَ ، اللَّهُمَّ لَا يُهْزَمُ جُنْدُكَ ، وَلَا يُخْلَفُ وَعْدُكَ ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَAllahumma inni audzu bi wajhikal kariimi wa kalimatika at taamati in syarri maa anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma anta taksyifu al maghrama wal ma’tsama. Allahumma laa yuhzamu junduk. Walaa yukhlafu wa’duk. Walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. Subhaanaka wabihamdik(Ya Allah, aku berlindung dengan wajah-Mu yang mulia, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dari keburukan apa saja yang Engkau menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha menyingkap utang dan dosa. Ya Allah, yang tentara-Mu tidak terkalahkan, dan janji-Mu tidak diingkari, dan tidak bermanfaat disisi-Mu kekayaan karena kekayaan itu berasal dari-Mu. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5052 dan disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 111 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkar 2: 384.Membaca doa (1 kali)Doa lain yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjelang tidur adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Azhar al Anmaary radhiyallahu ‘anhu,بِسْمِ اللَّهِ وَضَعْتُ جَنْبِي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِي ، وَفُكَّ رِهَانِي ، وَاجْعَلْنِي فِي النَّدِيِّ الْأَعْلَىBismillahi wadha’tu janbii. Allahumma ighfir lii dzanbii. Wa akhsi’ syaithaani. Wa fukka rihaani. Waj’alnii fin nadiyy al a’laa(Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran malaikat.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5054 dan dihasankan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 125 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkaar 3: 60.Apakah harus semua dibaca?Tidak harus. Akan tetapi, sesekali waktu kita beralih dari satu doa ke doa yang lain agar kita mengamalkan semua hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan,أن العبادات إذا وردت على وجوه متنوعة فإنها تفعل على هذه الوجوه، على هذه مرة، وعلى هذه مرة“Ketika suatu ibadah disebutkan dengan beberapa versi, maka masing-masing dari semua versi di kerjakan secara bergantian.” (Shifatu Shalaatin Nabi, hal. 5)Beliau rahimahullahu melanjutkan tentang faidah mengamalkan semua versi yang disebutkan adalah:Pertama, mengamalkan semua sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Kedua, menjaga sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Ketiga, agar tidak menjadi sekedar rutinitas semata.Wallahu a’lamBaca Juga:Doa dan Zikir Penutup MajelisAmalan Tersembunyi dalam Doa Bangun Tidur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bacaan Ruqyah Syar'i, Situs Islam Terbaik, Waktu Solat 5 Waktu, Keajaiban Dunia Kapal Nabi NuhTags: adabadab Islamadab sebelum tidurAkhlakdo'adoa sebelum tidurDzikirdzikir sebelum tidurfikihfikih doakeutamaan doanasihatnasihat islam


Di antara nikmat yang Allah ‘Azza Wajalla turunkan untuk seorang hamba adalah tidur. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23)Dalam ayat yang lain, Allah ‘Azza Wajalla juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,من رحمته بكم ولطفه أن جعل الليل لكم بمنزلة اللباس الذي يغشاكم، حتى تستقروا فيه وتهدؤوا بالنوم وتسبت حركاتكم“Di antara rahmat Allah adalah Dia menjadikan malam sebagaimana pakaian yang kalian kenakan yang bisa menutupi diri kalian. Sehingga kalian dengan hikmat bisa merehatkan diri dengan tidur.” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 584)Oleh karenanya, tidak selayaknya seorang muslim menjadikan tidur sebagai sekedar rutinitas belaka. Ia bisa mengisinya dengan banyak ketaatan sebelum tidur sebagai bukti bahwa seluruh lini hidupnya adalah menghamba kepada Allah ‘Azza Wajalla.Baca Juga: Doa Setelah Azan Daftar Isi sembunyikan 1. Bacaan-bacaan doa sebelum tidur 1.1. Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali) 1.2. Membaca ayat Kursi (1 kali) 1.3. Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali) 1.4. Membaca surah Al-Kafirun (1 kali) 1.5. Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali) 1.6. Membaca doa (1 kali) 1.7. Membaca doa (1 kali) 1.8. Membaca doa (1 kali) 1.9. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali) 1.10. Membaca doa (1 kali) 1.11. Membaca doa (1 kali) 1.12. Membaca doa (1 kali) 1.13. Membaca doa (1 kali) 1.14. Membaca doa (1 kali) 1.15. Membaca doa (1 kali) 2. Apakah harus semua dibaca? Bacaan-bacaan doa sebelum tidurDi antara yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika seorang muslim beranjak tidur adalah (kami sarikan dari tulisan di islamqa.info):Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ : جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا ، فَقَرَأَ فِيهِمَا : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ، وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak tidur di malam hari, beliau menangkupkan kedua telapak tangannya dan meniupnya sembari membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kemudian mengusapkan ke bagian tubuh yang dapat dijangkaunya mulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)Baca Juga: Doa Ketika Turun HujanMembaca ayat Kursi (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِي آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ : لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ – فَقَالَ : إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian ada seorang penyusup yang ingin mencuri makanan. Aku pun menangkapnya dan mengatakan, ‘Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama.’ (Kemudian perawi menceritakan hadis yang cukup panjang). Penyusup tadi mengatakan, ‘Jika engkau hendak berbaring, maka bacalah ayat Kursi, dengan demikian engkau akan senantiasa dijaga Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.’ (Mendengar hal tersebut) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, ‘Ia telah jujur kepadamu, meski sebenarnya ia adalah seorang pendusta, itu tadi setan.’” (HR. Bukhari no. 2311)Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah (1 Kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam hari, maka hal tersebut mencukupinya.” (HR. Bukhari no. 2311)Yakni, Allah akan menjaga orang yang mengamalkannya di malam itu.Membaca surah Al-Kafirun (1 kali)Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,اقْرأ : ( قُلْ يا أيُّها الكافِرُونَ ) ثُمَّ نَمْ على خاتِمَتِها ، فإنَّها بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ“Bacalah surah Al-Kafirun, kemudian tidurlah, maka hal tersebut akan menjadi sebab terjaga dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud no. 5055 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 61)Membaca surah Al-Isra dan Az-Zumar (1 kali)‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لا يَنَامُ حَتَّى يَقرَأَ بَنِي إِسرَائِيلَ وَالزُّمَر“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama tidaklah beranjak tidur, kecuali setelah membaca Al-Isra dan Az-Zumar.” (HR. At-Tirnidzi no. 3402 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Nataaij Al-Afkaar, 3: 65)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,كانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذَا أرَادَ أنْ يَنَامَ قالَ: باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian membaca,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَاBismikallahumma amuutu wa ahyaa(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ . فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِه“Jika kalian hendak tidur, maka berwudulah sebagaimana wudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke arah kanan dan berdoa dengan,اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ : وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَAllahumma aslamtu wajhii ilaik. Wa fawwadhtu amrii ilaik. Wa alja’tu dzahrii ilaik. Raghbatan wa rahbatan ilaik. La malja’a walaa manjaa minka illa ilaik. Allahumma aamantu bi kitaabika alladzii anzalta, wa bi nabiyyika alladzii arsalta(Ya Allah, aku berserah diri kepadamu, kupasrahkan semua urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan diriku kepada-Mu, dengan harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelematkan diri dari siksa-Mu, melainkan dengan berjalan menuju-Mu. Ya Allah, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.)Jika kalian meninggal di malam itu, maka sungguh kalian meninggal dalam keadaan lurus. Dan jadikanlah doa ini sebagai akhir ucapanmu di hari itu.” (HR. Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)Baca Juga: Doa Untuk Orang yang SakitMembaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga mengajarkan sebuah doa yang hendaknya dibaca menjelang tidur,بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَBismika Rabbi wadha’tu janbi. Wa bika arfa’uh. In amsakta nafsii farhamha wa in arsaltaha fahfadzha bimaa tahfadzu bihi ibaadakas shaalihin“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku. Dan dengan nama-Mu aku bangun darinya. Jika Engkau menahan ruhku, berilah rahmat kepadanya. Dan jika Engkau melepasnya, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh).” (HR. Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714)Membaca tasbih, tahmid, dan takbir (masing-masing 3 kali)Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala Fathimah radhiyallahu ‘anha datang kepada Nabi meminta seorang pelayan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjawab,أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ ، تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ“Maukah kuberitahukan hal yang lebih baik dari permintaanmu itu? Bacalah tasbih sebelum tidur sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali.” (HR. Bukhari no. 5362 dan Muslim no. 2727)Membaca doa (1 kali)Hafshah radhiyallahu ‘anha menceritakan,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْقُدَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ : ( اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ) ثَلاَثَ مِرَارٍ“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika menjelang tidur beliau meletakkan tangan kanan di bawah wajah beliau sembari mengucapkan,اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ Allahumma qinii adzaabaka yauma tab’atsu ibaadak(Ya Allah, jagalah aku dari siksa-Mu di hari di mana kelak Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.)” (HR. Abu Dawud no. 5045 dan disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari, 11: 119)Membaca doa (1 kali)Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hendak berbaring di tempat tidur beliau membaca,الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَAlhamdulillahi alladzii athamana wa saqaana wa kafaanaa wa aawaanaa fakam mimman laa kaafiya lahu walaa mu’wiya“Segala pujian hanya untuk Allah, Zat yang memberikan makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan dan perlindungan kepada kami, betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan.” (HR. Muslim no. 2715)Membaca doa (1 kali)Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya menyarankan kepada seorang laki-laki ketika hendak tidur agar membaca, اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَAllahumma khalaqta nafsii wa anta tawaffahaa, laka mamaatuha wa mahyaaha, in ahyaitaha fahfadhza wa in amattahaa faghfir lahaa, allahumma inni as’aluka al-aafiyah(Ya Allah, Engkaulah Zat yang menciptakan diriku dan yang mematikannya. Matiku dan hidupku hanya untuk-Mu. Jika Engkau menghidupkan diriku, maka jagalah. Dan jika Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu) (HR. Muslim no. 2712)Membaca doa (1 kali)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sebelum beranjak tidur juga kadangkala membaca doa,اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ ، وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِAllahumma rabbas samaawaati wa rabbal ardhi wa rabbal arsyil adziim. Rabbanaa wa rabba kulli syai’in. Faaliqal habbi wan nawaa. Wa munzilat taurati wal injiili wal furqaani. Audzu bika min syarri kulli syaiin anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma antal awwalu falaisa qablaka syaiun. Wa antal aakhiru falaisa ba’daka syaiun. Wa antadz dzaahiru falaisa fauqaka syaiun. Wa antal baathinu falaisa duunaka syaiun. Iqdhi ‘annaddaina wa aghinaa minal faqr(Ya Allah, Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘arsy yang agung. Rabb kami dan Rabbnya segala sesuatu. Yang membelah biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari semua kejahatan. Engkaulah Yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang sebelum-Mu. Dan Engkaulah Yang Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Dan Engkaulah Yang Zhahir (Maha Tinggi), maka tidak ada sesuatu pun yang ada di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Bathin (Maha Dekat), maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. (Ya Tuhanku), lunasilah utang kami dan cukupilah kami dari kemiskinan.) (HR. Muslim no. 2713)Membaca doa (1 kali)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengajarkan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama ketika beranjak tidur,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ تَكْشِفُ الْمَغْرَمَ وَالْمَأْثَمَ ، اللَّهُمَّ لَا يُهْزَمُ جُنْدُكَ ، وَلَا يُخْلَفُ وَعْدُكَ ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَAllahumma inni audzu bi wajhikal kariimi wa kalimatika at taamati in syarri maa anta aakhidun binaashiyatih. Allahumma anta taksyifu al maghrama wal ma’tsama. Allahumma laa yuhzamu junduk. Walaa yukhlafu wa’duk. Walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. Subhaanaka wabihamdik(Ya Allah, aku berlindung dengan wajah-Mu yang mulia, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dari keburukan apa saja yang Engkau menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha menyingkap utang dan dosa. Ya Allah, yang tentara-Mu tidak terkalahkan, dan janji-Mu tidak diingkari, dan tidak bermanfaat disisi-Mu kekayaan karena kekayaan itu berasal dari-Mu. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5052 dan disahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 111 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkar 2: 384.Membaca doa (1 kali)Doa lain yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menjelang tidur adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Azhar al Anmaary radhiyallahu ‘anhu,بِسْمِ اللَّهِ وَضَعْتُ جَنْبِي ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي ، وَأَخْسِئْ شَيْطَانِي ، وَفُكَّ رِهَانِي ، وَاجْعَلْنِي فِي النَّدِيِّ الْأَعْلَىBismillahi wadha’tu janbii. Allahumma ighfir lii dzanbii. Wa akhsi’ syaithaani. Wa fukka rihaani. Waj’alnii fin nadiyy al a’laa(Ya Allah, aku rebahkan diriku. Ampunilah semua dosaku, cacatkanlah setanku, lepaskanlah gadaiku, dan jadikanlah aku berada pada jajaran malaikat.)Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 5054 dan dihasankan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 125 dan Ibnu Hajar dalam Nataaij Al-Afkaar 3: 60.Apakah harus semua dibaca?Tidak harus. Akan tetapi, sesekali waktu kita beralih dari satu doa ke doa yang lain agar kita mengamalkan semua hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan,أن العبادات إذا وردت على وجوه متنوعة فإنها تفعل على هذه الوجوه، على هذه مرة، وعلى هذه مرة“Ketika suatu ibadah disebutkan dengan beberapa versi, maka masing-masing dari semua versi di kerjakan secara bergantian.” (Shifatu Shalaatin Nabi, hal. 5)Beliau rahimahullahu melanjutkan tentang faidah mengamalkan semua versi yang disebutkan adalah:Pertama, mengamalkan semua sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Kedua, menjaga sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama.Ketiga, agar tidak menjadi sekedar rutinitas semata.Wallahu a’lamBaca Juga:Doa dan Zikir Penutup MajelisAmalan Tersembunyi dalam Doa Bangun Tidur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Bacaan Ruqyah Syar'i, Situs Islam Terbaik, Waktu Solat 5 Waktu, Keajaiban Dunia Kapal Nabi NuhTags: adabadab Islamadab sebelum tidurAkhlakdo'adoa sebelum tidurDzikirdzikir sebelum tidurfikihfikih doakeutamaan doanasihatnasihat islam

Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh

Cara setan menggoda seorang hamba sangatlah beragam. Beda jenis dan beda bidang, beda pula cara menggoda dan menghasutnya. Hamba yang berprofesi sebagai pedagang, maka dihasut untuk memakan harta riba. Kaum hawa digoda agar mengenakan perhiasan yang diharamkan. Begitu pula dengan hamba yang saleh, maka setan akan menggoda mereka melalui pintu riya’.Imam At-Tayyibi rahimahullah mengatakan tentang riya’,”Ia merupakan tipuan hawa nafsu dan intrik kejahatan yang paling berbahaya, ujian bagi para ulama, ahli ibadah dan mereka yang antusias bersemangat meniti jalan akhirat.”Sungguh riya’ merupakan jebakan paling tersembunyi, namun sangat membahayakan seorang hamba. Disebutkan di dalam kitab Taysiir Al-Aziiz Al-Hamid (hal. 354),الرِّيَاءُ أَخْوَفُ عَلَى الصَّالِحِين مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّال“Riya’ lebih menakutkan bagi orang-orang saleh daripada fitnah dajjal.”Bahkan, Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir bila riya’ ini akan menimpa para sahabatnya. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟، قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ“Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al-Masih Ad-Dajjal?” (Abu Said) berkata, “Para sahabat berkata, ‘Tentu saja.'” Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan salat, kemudian dia memperbagus salatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 3408. Dihasankan oleh Syekh Albani)Orang saleh, jika melakukan sebuah ibadah karena riya’, di akhirat nanti ia akan diadili sebelum orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.Baca Juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam BeramalBerikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur`an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim no. 1905)Renungkanlah hadis di atas wahai saudaraku.Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili di akhirat nanti adalah Mujahid (orang-orang yang gugur syahid di medan perang), penuntut ilmu dan orang yang rajin bersedekah. Jika niat mereka telah rusak, mereka semuanya akan diseret di atas mukanya ke dalam api neraka, padahal amalan yang mereka lakukan termasuk amalan-amalan yang paling agung di sisi Allah Ta’ala. Naudzubillahi min dzalik.Yang bukan termasuk dari riya’Bukan termasuk dari riya’ apabila seorang mukmin melakukan amal saleh, kemudian Allah Ta’ala jadikan kaum mukminin lainnya memujinya dengan pujian yang baik sedang ia sama sekali tidak menduganya, lalu timbullah kebahagiaan di hatinya karena keutamaan Allah Ta’ala yang ia dapatkan ini.Hal semacam ini tidak akan membahayakannya dan bukan termasuk dari riya’. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal seseorang yang melakukan sebuah amal kebaikan lalu manusia mulai memujinya karena amalannya tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,تِلكَ عَاجِلُ بُشْرَى المُؤْمِنِ“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang Mukmin.” (HR. Muslim no. 2642)Adapun jika seseorang yang sedari awal memperbagus amalnya agar dipuji manusia, maka inilah yang disebut riya’.Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanHukuman orang riya’Hilang sudah impian-impian orang yang beribadah karena riya’, sia-sia usaha yang telah ia lakukan, bahkan oleh Allah Ta’ala ia diperlakukan dengan kebalikan yang ia inginkan. Mereka akan diberi dua hukuman: hukuman di dunia dan hukuman di akhirat.Hukumannya di dunia, Allah Ta’ala akan membuka dan menyingkap kedok serta rahasianya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ به، ومَن يُرائِي يُرائِي اللَّهُ بهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan, maka Allah akan memperdengarkan tentangnya. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (riya’), maka Allah akan memperlihatkan tentang dia.” (HR. Muslim no. 2987)Al-Khotthobi rahimahullah berkata,“Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka, maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut. Yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya.” (Fathul Baari, 11: 344-345)Sampai pun itu rahasia-rahasia dan hal-hal yang disembunyikan orang yang riya’ di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala akan menyingkapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari no. 5219 dan Muslim no. 2130)Adapun di akhirat nanti, maka hukumannya adalah neraka jahanam. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ، اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)Hal ini senada dengan yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hadis yang telah lalu, di mana beliau mengatakan,“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah … ”Lalu beliau menyebutkan,“Orang yang meninggal karena peperangan, orang yang mempelajari dan membaca Al-Qur’an dan orang yang rajin bersedekah.”Mereka adalah orang-orang yang beramal namun tujuannya bukanlah Allah Ta’ala, maka dikatakan kepada mereka,“Engkau beramal agar dikatakan ini dan ini.”Kemudian mereka diseret ke neraka dalam keadaan wajahnya tertelungkup.Sungguh, orang-orang yang mengerjakan amal saleh karena ingin riya’ dan dipuji, di dunia ini oleh Allah Ta’ala akan disingkap kedok dan rahasianya dan di akhirat nanti terancam dengan azab yang pedih.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari syirik tersembunyi ini dan senantiasa memberikan keistikamahan di dalam menjaga niat kita dalam beribadah, yaitu niat yang ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala.Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashBuah Manis Keikhlasan ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzahullah.🔍 Dukhan, Shaf Pertama, Haramnya Riba, Kajian Ustadz Syafiq Basalamah Di IstiqlalTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambahaya riyacara ikhlasdosa riyaikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamriyasombongujian

Riya’: Ujian bagi Orang-Orang Saleh

Cara setan menggoda seorang hamba sangatlah beragam. Beda jenis dan beda bidang, beda pula cara menggoda dan menghasutnya. Hamba yang berprofesi sebagai pedagang, maka dihasut untuk memakan harta riba. Kaum hawa digoda agar mengenakan perhiasan yang diharamkan. Begitu pula dengan hamba yang saleh, maka setan akan menggoda mereka melalui pintu riya’.Imam At-Tayyibi rahimahullah mengatakan tentang riya’,”Ia merupakan tipuan hawa nafsu dan intrik kejahatan yang paling berbahaya, ujian bagi para ulama, ahli ibadah dan mereka yang antusias bersemangat meniti jalan akhirat.”Sungguh riya’ merupakan jebakan paling tersembunyi, namun sangat membahayakan seorang hamba. Disebutkan di dalam kitab Taysiir Al-Aziiz Al-Hamid (hal. 354),الرِّيَاءُ أَخْوَفُ عَلَى الصَّالِحِين مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّال“Riya’ lebih menakutkan bagi orang-orang saleh daripada fitnah dajjal.”Bahkan, Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir bila riya’ ini akan menimpa para sahabatnya. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟، قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ“Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al-Masih Ad-Dajjal?” (Abu Said) berkata, “Para sahabat berkata, ‘Tentu saja.'” Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan salat, kemudian dia memperbagus salatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 3408. Dihasankan oleh Syekh Albani)Orang saleh, jika melakukan sebuah ibadah karena riya’, di akhirat nanti ia akan diadili sebelum orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.Baca Juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam BeramalBerikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur`an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim no. 1905)Renungkanlah hadis di atas wahai saudaraku.Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili di akhirat nanti adalah Mujahid (orang-orang yang gugur syahid di medan perang), penuntut ilmu dan orang yang rajin bersedekah. Jika niat mereka telah rusak, mereka semuanya akan diseret di atas mukanya ke dalam api neraka, padahal amalan yang mereka lakukan termasuk amalan-amalan yang paling agung di sisi Allah Ta’ala. Naudzubillahi min dzalik.Yang bukan termasuk dari riya’Bukan termasuk dari riya’ apabila seorang mukmin melakukan amal saleh, kemudian Allah Ta’ala jadikan kaum mukminin lainnya memujinya dengan pujian yang baik sedang ia sama sekali tidak menduganya, lalu timbullah kebahagiaan di hatinya karena keutamaan Allah Ta’ala yang ia dapatkan ini.Hal semacam ini tidak akan membahayakannya dan bukan termasuk dari riya’. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal seseorang yang melakukan sebuah amal kebaikan lalu manusia mulai memujinya karena amalannya tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,تِلكَ عَاجِلُ بُشْرَى المُؤْمِنِ“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang Mukmin.” (HR. Muslim no. 2642)Adapun jika seseorang yang sedari awal memperbagus amalnya agar dipuji manusia, maka inilah yang disebut riya’.Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanHukuman orang riya’Hilang sudah impian-impian orang yang beribadah karena riya’, sia-sia usaha yang telah ia lakukan, bahkan oleh Allah Ta’ala ia diperlakukan dengan kebalikan yang ia inginkan. Mereka akan diberi dua hukuman: hukuman di dunia dan hukuman di akhirat.Hukumannya di dunia, Allah Ta’ala akan membuka dan menyingkap kedok serta rahasianya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ به، ومَن يُرائِي يُرائِي اللَّهُ بهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan, maka Allah akan memperdengarkan tentangnya. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (riya’), maka Allah akan memperlihatkan tentang dia.” (HR. Muslim no. 2987)Al-Khotthobi rahimahullah berkata,“Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka, maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut. Yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya.” (Fathul Baari, 11: 344-345)Sampai pun itu rahasia-rahasia dan hal-hal yang disembunyikan orang yang riya’ di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala akan menyingkapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari no. 5219 dan Muslim no. 2130)Adapun di akhirat nanti, maka hukumannya adalah neraka jahanam. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ، اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)Hal ini senada dengan yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hadis yang telah lalu, di mana beliau mengatakan,“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah … ”Lalu beliau menyebutkan,“Orang yang meninggal karena peperangan, orang yang mempelajari dan membaca Al-Qur’an dan orang yang rajin bersedekah.”Mereka adalah orang-orang yang beramal namun tujuannya bukanlah Allah Ta’ala, maka dikatakan kepada mereka,“Engkau beramal agar dikatakan ini dan ini.”Kemudian mereka diseret ke neraka dalam keadaan wajahnya tertelungkup.Sungguh, orang-orang yang mengerjakan amal saleh karena ingin riya’ dan dipuji, di dunia ini oleh Allah Ta’ala akan disingkap kedok dan rahasianya dan di akhirat nanti terancam dengan azab yang pedih.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari syirik tersembunyi ini dan senantiasa memberikan keistikamahan di dalam menjaga niat kita dalam beribadah, yaitu niat yang ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala.Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashBuah Manis Keikhlasan ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzahullah.🔍 Dukhan, Shaf Pertama, Haramnya Riba, Kajian Ustadz Syafiq Basalamah Di IstiqlalTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambahaya riyacara ikhlasdosa riyaikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamriyasombongujian
Cara setan menggoda seorang hamba sangatlah beragam. Beda jenis dan beda bidang, beda pula cara menggoda dan menghasutnya. Hamba yang berprofesi sebagai pedagang, maka dihasut untuk memakan harta riba. Kaum hawa digoda agar mengenakan perhiasan yang diharamkan. Begitu pula dengan hamba yang saleh, maka setan akan menggoda mereka melalui pintu riya’.Imam At-Tayyibi rahimahullah mengatakan tentang riya’,”Ia merupakan tipuan hawa nafsu dan intrik kejahatan yang paling berbahaya, ujian bagi para ulama, ahli ibadah dan mereka yang antusias bersemangat meniti jalan akhirat.”Sungguh riya’ merupakan jebakan paling tersembunyi, namun sangat membahayakan seorang hamba. Disebutkan di dalam kitab Taysiir Al-Aziiz Al-Hamid (hal. 354),الرِّيَاءُ أَخْوَفُ عَلَى الصَّالِحِين مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّال“Riya’ lebih menakutkan bagi orang-orang saleh daripada fitnah dajjal.”Bahkan, Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir bila riya’ ini akan menimpa para sahabatnya. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟، قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ“Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al-Masih Ad-Dajjal?” (Abu Said) berkata, “Para sahabat berkata, ‘Tentu saja.'” Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan salat, kemudian dia memperbagus salatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 3408. Dihasankan oleh Syekh Albani)Orang saleh, jika melakukan sebuah ibadah karena riya’, di akhirat nanti ia akan diadili sebelum orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.Baca Juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam BeramalBerikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur`an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim no. 1905)Renungkanlah hadis di atas wahai saudaraku.Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili di akhirat nanti adalah Mujahid (orang-orang yang gugur syahid di medan perang), penuntut ilmu dan orang yang rajin bersedekah. Jika niat mereka telah rusak, mereka semuanya akan diseret di atas mukanya ke dalam api neraka, padahal amalan yang mereka lakukan termasuk amalan-amalan yang paling agung di sisi Allah Ta’ala. Naudzubillahi min dzalik.Yang bukan termasuk dari riya’Bukan termasuk dari riya’ apabila seorang mukmin melakukan amal saleh, kemudian Allah Ta’ala jadikan kaum mukminin lainnya memujinya dengan pujian yang baik sedang ia sama sekali tidak menduganya, lalu timbullah kebahagiaan di hatinya karena keutamaan Allah Ta’ala yang ia dapatkan ini.Hal semacam ini tidak akan membahayakannya dan bukan termasuk dari riya’. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal seseorang yang melakukan sebuah amal kebaikan lalu manusia mulai memujinya karena amalannya tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,تِلكَ عَاجِلُ بُشْرَى المُؤْمِنِ“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang Mukmin.” (HR. Muslim no. 2642)Adapun jika seseorang yang sedari awal memperbagus amalnya agar dipuji manusia, maka inilah yang disebut riya’.Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanHukuman orang riya’Hilang sudah impian-impian orang yang beribadah karena riya’, sia-sia usaha yang telah ia lakukan, bahkan oleh Allah Ta’ala ia diperlakukan dengan kebalikan yang ia inginkan. Mereka akan diberi dua hukuman: hukuman di dunia dan hukuman di akhirat.Hukumannya di dunia, Allah Ta’ala akan membuka dan menyingkap kedok serta rahasianya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ به، ومَن يُرائِي يُرائِي اللَّهُ بهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan, maka Allah akan memperdengarkan tentangnya. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (riya’), maka Allah akan memperlihatkan tentang dia.” (HR. Muslim no. 2987)Al-Khotthobi rahimahullah berkata,“Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka, maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut. Yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya.” (Fathul Baari, 11: 344-345)Sampai pun itu rahasia-rahasia dan hal-hal yang disembunyikan orang yang riya’ di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala akan menyingkapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari no. 5219 dan Muslim no. 2130)Adapun di akhirat nanti, maka hukumannya adalah neraka jahanam. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ، اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)Hal ini senada dengan yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hadis yang telah lalu, di mana beliau mengatakan,“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah … ”Lalu beliau menyebutkan,“Orang yang meninggal karena peperangan, orang yang mempelajari dan membaca Al-Qur’an dan orang yang rajin bersedekah.”Mereka adalah orang-orang yang beramal namun tujuannya bukanlah Allah Ta’ala, maka dikatakan kepada mereka,“Engkau beramal agar dikatakan ini dan ini.”Kemudian mereka diseret ke neraka dalam keadaan wajahnya tertelungkup.Sungguh, orang-orang yang mengerjakan amal saleh karena ingin riya’ dan dipuji, di dunia ini oleh Allah Ta’ala akan disingkap kedok dan rahasianya dan di akhirat nanti terancam dengan azab yang pedih.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari syirik tersembunyi ini dan senantiasa memberikan keistikamahan di dalam menjaga niat kita dalam beribadah, yaitu niat yang ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala.Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashBuah Manis Keikhlasan ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzahullah.🔍 Dukhan, Shaf Pertama, Haramnya Riba, Kajian Ustadz Syafiq Basalamah Di IstiqlalTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambahaya riyacara ikhlasdosa riyaikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamriyasombongujian


Cara setan menggoda seorang hamba sangatlah beragam. Beda jenis dan beda bidang, beda pula cara menggoda dan menghasutnya. Hamba yang berprofesi sebagai pedagang, maka dihasut untuk memakan harta riba. Kaum hawa digoda agar mengenakan perhiasan yang diharamkan. Begitu pula dengan hamba yang saleh, maka setan akan menggoda mereka melalui pintu riya’.Imam At-Tayyibi rahimahullah mengatakan tentang riya’,”Ia merupakan tipuan hawa nafsu dan intrik kejahatan yang paling berbahaya, ujian bagi para ulama, ahli ibadah dan mereka yang antusias bersemangat meniti jalan akhirat.”Sungguh riya’ merupakan jebakan paling tersembunyi, namun sangat membahayakan seorang hamba. Disebutkan di dalam kitab Taysiir Al-Aziiz Al-Hamid (hal. 354),الرِّيَاءُ أَخْوَفُ عَلَى الصَّالِحِين مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّال“Riya’ lebih menakutkan bagi orang-orang saleh daripada fitnah dajjal.”Bahkan, Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir bila riya’ ini akan menimpa para sahabatnya. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟، قَالَ: قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ“Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al-Masih Ad-Dajjal?” (Abu Said) berkata, “Para sahabat berkata, ‘Tentu saja.'” Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan salat, kemudian dia memperbagus salatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 3408. Dihasankan oleh Syekh Albani)Orang saleh, jika melakukan sebuah ibadah karena riya’, di akhirat nanti ia akan diadili sebelum orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.Baca Juga: 8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam BeramalBerikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur`an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim no. 1905)Renungkanlah hadis di atas wahai saudaraku.Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili di akhirat nanti adalah Mujahid (orang-orang yang gugur syahid di medan perang), penuntut ilmu dan orang yang rajin bersedekah. Jika niat mereka telah rusak, mereka semuanya akan diseret di atas mukanya ke dalam api neraka, padahal amalan yang mereka lakukan termasuk amalan-amalan yang paling agung di sisi Allah Ta’ala. Naudzubillahi min dzalik.Yang bukan termasuk dari riya’Bukan termasuk dari riya’ apabila seorang mukmin melakukan amal saleh, kemudian Allah Ta’ala jadikan kaum mukminin lainnya memujinya dengan pujian yang baik sedang ia sama sekali tidak menduganya, lalu timbullah kebahagiaan di hatinya karena keutamaan Allah Ta’ala yang ia dapatkan ini.Hal semacam ini tidak akan membahayakannya dan bukan termasuk dari riya’. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal seseorang yang melakukan sebuah amal kebaikan lalu manusia mulai memujinya karena amalannya tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,تِلكَ عَاجِلُ بُشْرَى المُؤْمِنِ“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang Mukmin.” (HR. Muslim no. 2642)Adapun jika seseorang yang sedari awal memperbagus amalnya agar dipuji manusia, maka inilah yang disebut riya’.Baca Juga: Kekuatan Ikhlas dan Potret Ulama Salaf dalam KeikhlasanHukuman orang riya’Hilang sudah impian-impian orang yang beribadah karena riya’, sia-sia usaha yang telah ia lakukan, bahkan oleh Allah Ta’ala ia diperlakukan dengan kebalikan yang ia inginkan. Mereka akan diberi dua hukuman: hukuman di dunia dan hukuman di akhirat.Hukumannya di dunia, Allah Ta’ala akan membuka dan menyingkap kedok serta rahasianya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَن يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ به، ومَن يُرائِي يُرائِي اللَّهُ بهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan, maka Allah akan memperdengarkan tentangnya. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (riya’), maka Allah akan memperlihatkan tentang dia.” (HR. Muslim no. 2987)Al-Khotthobi rahimahullah berkata,“Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka, maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut. Yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya.” (Fathul Baari, 11: 344-345)Sampai pun itu rahasia-rahasia dan hal-hal yang disembunyikan orang yang riya’ di dalam hatinya, maka Allah Ta’ala akan menyingkapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ كَلابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ“Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.” (HR. Bukhari no. 5219 dan Muslim no. 2130)Adapun di akhirat nanti, maka hukumannya adalah neraka jahanam. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ، اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)Hal ini senada dengan yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hadis yang telah lalu, di mana beliau mengatakan,“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah … ”Lalu beliau menyebutkan,“Orang yang meninggal karena peperangan, orang yang mempelajari dan membaca Al-Qur’an dan orang yang rajin bersedekah.”Mereka adalah orang-orang yang beramal namun tujuannya bukanlah Allah Ta’ala, maka dikatakan kepada mereka,“Engkau beramal agar dikatakan ini dan ini.”Kemudian mereka diseret ke neraka dalam keadaan wajahnya tertelungkup.Sungguh, orang-orang yang mengerjakan amal saleh karena ingin riya’ dan dipuji, di dunia ini oleh Allah Ta’ala akan disingkap kedok dan rahasianya dan di akhirat nanti terancam dengan azab yang pedih.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari syirik tersembunyi ini dan senantiasa memberikan keistikamahan di dalam menjaga niat kita dalam beribadah, yaitu niat yang ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala.Wallahu A’lam Bisshowaab.Baca Juga:Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashBuah Manis Keikhlasan ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari kitab Khutuwaat Ila As-Sa’adah karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim hafidzahullah.🔍 Dukhan, Shaf Pertama, Haramnya Riba, Kajian Ustadz Syafiq Basalamah Di IstiqlalTags: adabAkhlakAqidahaqidah islambahaya riyacara ikhlasdosa riyaikhlaskiat ikhlasnasihatnasihat islamriyasombongujian

Wanita yang Sudah Tua Bolehkah Melepas Jilbab?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum, ustadz apakah benar bahwa wanita yang sudah tua renta boleh membuka jilbab di hadapan laki-laki? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Pada asalnya, wanita wajib menutup seluruh auratnya dan menggunakan jilbab yang syar’i di depan laki-laki yang bukan mahram. Allah ta’ala berfirman: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121). Tujuan adanya syariat hijab dan menutup aurat adalah untuk menjaga kehormatan wanita, melindungi wanita dan menjaga kesucian hati para laki-laki dan juga wanita. Sebagaimana dalam surat Al Ahzab ayat 59 di atas, Allah ta’ala katakan (yang artinya), “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53). Dan perintah untuk berjilbab serta menutup aurat berlaku umum, baik untuk wanita yang masih muda maupun wanita yang sudah tua. Kelonggaran penggunaan jilbab bagi wanita yang sudah tua Namun memang benar bahwa ada kelonggaran dalam penggunaan jilbab, bagi wanita yang sudah menopause. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: قال سعيد بن جبير ومقاتل بن حيان والضحاك وقتادة : هن اللواتي انقطع عنهن الحيض ويئسن من الولد ” اللاتي لا يرجون نكاحا ” أي لم يبق لهن تشوف إلى التزوج “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Ringkasnya, al qawa’id adalah wanita yang sudah menopause. Namun para ulama khilaf tentang maksud ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya”. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah wanita yang sudah menopause dibolehkan untuk membuka khimar-nya (jilbab dalam) sehingga terlihat rambut dan kepalanya. Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (29/297) disebutkan: أحدهما: تضع خمارها، وذلك في بيتها، ومن وراء سترها من ثوب أو جدار، قال القرطبي: قال قوم: الكبيرة التي أيست من النكاح لو بدا شعرها فلا بأس، فعلى هذا يجوز لها وضع الخمار “Pendapat yang pertama, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan khimar-nya. Dan ini hanya berlaku di rumahnya, dan rumahnya tertutupi tabir berupa kain atau tembok. Al Qurthubi mengatakan: Sebagian ulama berkata bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak ada keinginan untuk berjimak lagi jika terlihat rambutnya maka tidak mengapa. Menurut pendapat ini, maka tidak mengapa mereka melepaskan khimar mereka”. Namun pendapat jumhur ulama, dan inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan jilbab luar mereka dan tetap memakai khimar (jilbab dalam), serta boleh membuka wajah mereka (jika mereka mengikuti pendapat ulama yang mewajibkan wanita menutup wajah). Al Jashash rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود ومجاهد : والقواعد اللاتي لا يرجون نكاحا هن اللاتي لا يردنه . وثيابهن : جلابيبهن “Ibnu Mas’ud dan Mujahid mengatakan: al qawa’id (wanita menopause) yang sudah tidak berhasrat dan tidak ingin lagi untuk jimak. Dan yang dimaksud dengan tsiyab (pakaian) dalam ayat ini adalah jilbab mereka” (Ahkamul Qur’an, 3/485). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيره “Tafsiran Ibnu Mas’ud terhadap ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya” maksudnya adalah jilbabnya atau rida’-nya. Demikian juga tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa, Ibrahim an-Nakhai, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan lainnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Dan jilbab adalah pakaian lapisan luar yang dipakai di atas khimar dan dijulurkan dari atas ke bawah serta biasanya juga digunakan untuk menutupi wajah. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: وهن اللاتي يكن فوق الثياب من ملحفة وخمار ورداء ونحوه، أي: يغطين بها، وجوههن وصدورهن “Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa milhafah, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka” (Taisir Karimirrahman, hal. 671). Beliau juga mengatakan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). Karena wanita yang sudah tua boleh menampakkan wajahnya, konsekuensinya para lelaki boleh melihat wajah mereka. Ibnu Muflih rahimahullah mengatakan: جواز النظر من المرأة التي لا تشتهى، إلى ما يظهر غالبا “Dibolehkan bagi laki-laki untuk melihat wanita tua yang sudah tidak punya hasrat lagi, apa-apa yang biasa terlihat darinya secara umum” (Al Furu, 30/294). Walaupun ada kelonggaran untuk melepas jilbab luar dan boleh menampakkan wajah, namun jika wanita yang sudah tua tetap berjilbab lengkap dan menutup wajah, itu lebih utama. Karena Allah ta’ala, dalam surat An Nur ayat 60 di atas, berfirman (yang artinya), “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka”. Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan: ”وإنما خص القواعد بذلك دون غيرهن لانصراف النفوس عنهن , ولأن يستعففن بالتستر الكامل خير من فعل المباح لهن من وضع الثياب“ انتهى . “Dikhususkan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepas jilbab luar, yang ini tidak berlaku untuk wanita yang lain, karena biasanya laki-laki sudah tidak berhasrat lagi kepada mereka. Namun jika mereka menjaga kehormatan mereka dengan menutup aurat secara sempurna, itu lebih baik bagi mereka daripada sekedar melakukan perkara mubah yaitu melepas jilbab luar” (Ahkamul Qur’an, 3/419). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Al qawa’id adalah wanita yang sudah tidak lagi punya hasrat untuk berjimak dan sudah tidak lagi ada keinginan untuk berhias dengan perhiasan. Tidak mengapa bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Namun jika mereka berhijab sempurna maka itu lebih utama dan lebih hati-hati. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya) “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka” (QS. An Nisa: 60). Dan karena sebagian dari wanita yang sudah tua tetap bisa menimbulkan godaan ketika melihatnya, karena kecantikannya, walaupun mereka tidak berhias dengan perhiasan. Adapun menampakkan wajah dan melepas jilbab luar jika disertai dengan tabarruj (berhias) maka ini tidak diperbolehkan. Dan di antara bentuk tabarruj adalah memperindah wajah dengan celak atau kosmetik semisalnya” (Fatawa Mar’ah Muslimah, 1/424). Kesimpulannya, wanita yang sudah tua dan sudah menopause mereka boleh melepaskan jilbab luar namun tetap menggunakan khimar (kerudung kecil) dan mereka boleh menampakkan wajah mereka. Dengan syarat tidak menimbulkan godaan dan tidak ber-tabarruj. Dan mereka jika tetap menggunakan jilbab luar yang lebar dan menutup wajah mereka, itu lebih utama dan lebih terhormat.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Makna Idul Fitri, Hadits Tentang Berpikir, Insya Allah, Doa Saat Terdesak Hutang, Jual Baju Lebaran, Air Mani Keluar Visited 313 times, 1 visit(s) today Post Views: 460 QRIS donasi Yufid

Wanita yang Sudah Tua Bolehkah Melepas Jilbab?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum, ustadz apakah benar bahwa wanita yang sudah tua renta boleh membuka jilbab di hadapan laki-laki? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Pada asalnya, wanita wajib menutup seluruh auratnya dan menggunakan jilbab yang syar’i di depan laki-laki yang bukan mahram. Allah ta’ala berfirman: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121). Tujuan adanya syariat hijab dan menutup aurat adalah untuk menjaga kehormatan wanita, melindungi wanita dan menjaga kesucian hati para laki-laki dan juga wanita. Sebagaimana dalam surat Al Ahzab ayat 59 di atas, Allah ta’ala katakan (yang artinya), “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53). Dan perintah untuk berjilbab serta menutup aurat berlaku umum, baik untuk wanita yang masih muda maupun wanita yang sudah tua. Kelonggaran penggunaan jilbab bagi wanita yang sudah tua Namun memang benar bahwa ada kelonggaran dalam penggunaan jilbab, bagi wanita yang sudah menopause. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: قال سعيد بن جبير ومقاتل بن حيان والضحاك وقتادة : هن اللواتي انقطع عنهن الحيض ويئسن من الولد ” اللاتي لا يرجون نكاحا ” أي لم يبق لهن تشوف إلى التزوج “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Ringkasnya, al qawa’id adalah wanita yang sudah menopause. Namun para ulama khilaf tentang maksud ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya”. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah wanita yang sudah menopause dibolehkan untuk membuka khimar-nya (jilbab dalam) sehingga terlihat rambut dan kepalanya. Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (29/297) disebutkan: أحدهما: تضع خمارها، وذلك في بيتها، ومن وراء سترها من ثوب أو جدار، قال القرطبي: قال قوم: الكبيرة التي أيست من النكاح لو بدا شعرها فلا بأس، فعلى هذا يجوز لها وضع الخمار “Pendapat yang pertama, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan khimar-nya. Dan ini hanya berlaku di rumahnya, dan rumahnya tertutupi tabir berupa kain atau tembok. Al Qurthubi mengatakan: Sebagian ulama berkata bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak ada keinginan untuk berjimak lagi jika terlihat rambutnya maka tidak mengapa. Menurut pendapat ini, maka tidak mengapa mereka melepaskan khimar mereka”. Namun pendapat jumhur ulama, dan inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan jilbab luar mereka dan tetap memakai khimar (jilbab dalam), serta boleh membuka wajah mereka (jika mereka mengikuti pendapat ulama yang mewajibkan wanita menutup wajah). Al Jashash rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود ومجاهد : والقواعد اللاتي لا يرجون نكاحا هن اللاتي لا يردنه . وثيابهن : جلابيبهن “Ibnu Mas’ud dan Mujahid mengatakan: al qawa’id (wanita menopause) yang sudah tidak berhasrat dan tidak ingin lagi untuk jimak. Dan yang dimaksud dengan tsiyab (pakaian) dalam ayat ini adalah jilbab mereka” (Ahkamul Qur’an, 3/485). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيره “Tafsiran Ibnu Mas’ud terhadap ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya” maksudnya adalah jilbabnya atau rida’-nya. Demikian juga tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa, Ibrahim an-Nakhai, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan lainnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Dan jilbab adalah pakaian lapisan luar yang dipakai di atas khimar dan dijulurkan dari atas ke bawah serta biasanya juga digunakan untuk menutupi wajah. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: وهن اللاتي يكن فوق الثياب من ملحفة وخمار ورداء ونحوه، أي: يغطين بها، وجوههن وصدورهن “Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa milhafah, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka” (Taisir Karimirrahman, hal. 671). Beliau juga mengatakan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). Karena wanita yang sudah tua boleh menampakkan wajahnya, konsekuensinya para lelaki boleh melihat wajah mereka. Ibnu Muflih rahimahullah mengatakan: جواز النظر من المرأة التي لا تشتهى، إلى ما يظهر غالبا “Dibolehkan bagi laki-laki untuk melihat wanita tua yang sudah tidak punya hasrat lagi, apa-apa yang biasa terlihat darinya secara umum” (Al Furu, 30/294). Walaupun ada kelonggaran untuk melepas jilbab luar dan boleh menampakkan wajah, namun jika wanita yang sudah tua tetap berjilbab lengkap dan menutup wajah, itu lebih utama. Karena Allah ta’ala, dalam surat An Nur ayat 60 di atas, berfirman (yang artinya), “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka”. Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan: ”وإنما خص القواعد بذلك دون غيرهن لانصراف النفوس عنهن , ولأن يستعففن بالتستر الكامل خير من فعل المباح لهن من وضع الثياب“ انتهى . “Dikhususkan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepas jilbab luar, yang ini tidak berlaku untuk wanita yang lain, karena biasanya laki-laki sudah tidak berhasrat lagi kepada mereka. Namun jika mereka menjaga kehormatan mereka dengan menutup aurat secara sempurna, itu lebih baik bagi mereka daripada sekedar melakukan perkara mubah yaitu melepas jilbab luar” (Ahkamul Qur’an, 3/419). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Al qawa’id adalah wanita yang sudah tidak lagi punya hasrat untuk berjimak dan sudah tidak lagi ada keinginan untuk berhias dengan perhiasan. Tidak mengapa bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Namun jika mereka berhijab sempurna maka itu lebih utama dan lebih hati-hati. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya) “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka” (QS. An Nisa: 60). Dan karena sebagian dari wanita yang sudah tua tetap bisa menimbulkan godaan ketika melihatnya, karena kecantikannya, walaupun mereka tidak berhias dengan perhiasan. Adapun menampakkan wajah dan melepas jilbab luar jika disertai dengan tabarruj (berhias) maka ini tidak diperbolehkan. Dan di antara bentuk tabarruj adalah memperindah wajah dengan celak atau kosmetik semisalnya” (Fatawa Mar’ah Muslimah, 1/424). Kesimpulannya, wanita yang sudah tua dan sudah menopause mereka boleh melepaskan jilbab luar namun tetap menggunakan khimar (kerudung kecil) dan mereka boleh menampakkan wajah mereka. Dengan syarat tidak menimbulkan godaan dan tidak ber-tabarruj. Dan mereka jika tetap menggunakan jilbab luar yang lebar dan menutup wajah mereka, itu lebih utama dan lebih terhormat.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Makna Idul Fitri, Hadits Tentang Berpikir, Insya Allah, Doa Saat Terdesak Hutang, Jual Baju Lebaran, Air Mani Keluar Visited 313 times, 1 visit(s) today Post Views: 460 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu’alaikum, ustadz apakah benar bahwa wanita yang sudah tua renta boleh membuka jilbab di hadapan laki-laki? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Pada asalnya, wanita wajib menutup seluruh auratnya dan menggunakan jilbab yang syar’i di depan laki-laki yang bukan mahram. Allah ta’ala berfirman: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121). Tujuan adanya syariat hijab dan menutup aurat adalah untuk menjaga kehormatan wanita, melindungi wanita dan menjaga kesucian hati para laki-laki dan juga wanita. Sebagaimana dalam surat Al Ahzab ayat 59 di atas, Allah ta’ala katakan (yang artinya), “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53). Dan perintah untuk berjilbab serta menutup aurat berlaku umum, baik untuk wanita yang masih muda maupun wanita yang sudah tua. Kelonggaran penggunaan jilbab bagi wanita yang sudah tua Namun memang benar bahwa ada kelonggaran dalam penggunaan jilbab, bagi wanita yang sudah menopause. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: قال سعيد بن جبير ومقاتل بن حيان والضحاك وقتادة : هن اللواتي انقطع عنهن الحيض ويئسن من الولد ” اللاتي لا يرجون نكاحا ” أي لم يبق لهن تشوف إلى التزوج “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Ringkasnya, al qawa’id adalah wanita yang sudah menopause. Namun para ulama khilaf tentang maksud ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya”. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah wanita yang sudah menopause dibolehkan untuk membuka khimar-nya (jilbab dalam) sehingga terlihat rambut dan kepalanya. Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (29/297) disebutkan: أحدهما: تضع خمارها، وذلك في بيتها، ومن وراء سترها من ثوب أو جدار، قال القرطبي: قال قوم: الكبيرة التي أيست من النكاح لو بدا شعرها فلا بأس، فعلى هذا يجوز لها وضع الخمار “Pendapat yang pertama, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan khimar-nya. Dan ini hanya berlaku di rumahnya, dan rumahnya tertutupi tabir berupa kain atau tembok. Al Qurthubi mengatakan: Sebagian ulama berkata bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak ada keinginan untuk berjimak lagi jika terlihat rambutnya maka tidak mengapa. Menurut pendapat ini, maka tidak mengapa mereka melepaskan khimar mereka”. Namun pendapat jumhur ulama, dan inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan jilbab luar mereka dan tetap memakai khimar (jilbab dalam), serta boleh membuka wajah mereka (jika mereka mengikuti pendapat ulama yang mewajibkan wanita menutup wajah). Al Jashash rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود ومجاهد : والقواعد اللاتي لا يرجون نكاحا هن اللاتي لا يردنه . وثيابهن : جلابيبهن “Ibnu Mas’ud dan Mujahid mengatakan: al qawa’id (wanita menopause) yang sudah tidak berhasrat dan tidak ingin lagi untuk jimak. Dan yang dimaksud dengan tsiyab (pakaian) dalam ayat ini adalah jilbab mereka” (Ahkamul Qur’an, 3/485). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيره “Tafsiran Ibnu Mas’ud terhadap ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya” maksudnya adalah jilbabnya atau rida’-nya. Demikian juga tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa, Ibrahim an-Nakhai, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan lainnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Dan jilbab adalah pakaian lapisan luar yang dipakai di atas khimar dan dijulurkan dari atas ke bawah serta biasanya juga digunakan untuk menutupi wajah. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: وهن اللاتي يكن فوق الثياب من ملحفة وخمار ورداء ونحوه، أي: يغطين بها، وجوههن وصدورهن “Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa milhafah, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka” (Taisir Karimirrahman, hal. 671). Beliau juga mengatakan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). Karena wanita yang sudah tua boleh menampakkan wajahnya, konsekuensinya para lelaki boleh melihat wajah mereka. Ibnu Muflih rahimahullah mengatakan: جواز النظر من المرأة التي لا تشتهى، إلى ما يظهر غالبا “Dibolehkan bagi laki-laki untuk melihat wanita tua yang sudah tidak punya hasrat lagi, apa-apa yang biasa terlihat darinya secara umum” (Al Furu, 30/294). Walaupun ada kelonggaran untuk melepas jilbab luar dan boleh menampakkan wajah, namun jika wanita yang sudah tua tetap berjilbab lengkap dan menutup wajah, itu lebih utama. Karena Allah ta’ala, dalam surat An Nur ayat 60 di atas, berfirman (yang artinya), “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka”. Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan: ”وإنما خص القواعد بذلك دون غيرهن لانصراف النفوس عنهن , ولأن يستعففن بالتستر الكامل خير من فعل المباح لهن من وضع الثياب“ انتهى . “Dikhususkan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepas jilbab luar, yang ini tidak berlaku untuk wanita yang lain, karena biasanya laki-laki sudah tidak berhasrat lagi kepada mereka. Namun jika mereka menjaga kehormatan mereka dengan menutup aurat secara sempurna, itu lebih baik bagi mereka daripada sekedar melakukan perkara mubah yaitu melepas jilbab luar” (Ahkamul Qur’an, 3/419). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Al qawa’id adalah wanita yang sudah tidak lagi punya hasrat untuk berjimak dan sudah tidak lagi ada keinginan untuk berhias dengan perhiasan. Tidak mengapa bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Namun jika mereka berhijab sempurna maka itu lebih utama dan lebih hati-hati. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya) “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka” (QS. An Nisa: 60). Dan karena sebagian dari wanita yang sudah tua tetap bisa menimbulkan godaan ketika melihatnya, karena kecantikannya, walaupun mereka tidak berhias dengan perhiasan. Adapun menampakkan wajah dan melepas jilbab luar jika disertai dengan tabarruj (berhias) maka ini tidak diperbolehkan. Dan di antara bentuk tabarruj adalah memperindah wajah dengan celak atau kosmetik semisalnya” (Fatawa Mar’ah Muslimah, 1/424). Kesimpulannya, wanita yang sudah tua dan sudah menopause mereka boleh melepaskan jilbab luar namun tetap menggunakan khimar (kerudung kecil) dan mereka boleh menampakkan wajah mereka. Dengan syarat tidak menimbulkan godaan dan tidak ber-tabarruj. Dan mereka jika tetap menggunakan jilbab luar yang lebar dan menutup wajah mereka, itu lebih utama dan lebih terhormat.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Makna Idul Fitri, Hadits Tentang Berpikir, Insya Allah, Doa Saat Terdesak Hutang, Jual Baju Lebaran, Air Mani Keluar Visited 313 times, 1 visit(s) today Post Views: 460 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414648861&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu’alaikum, ustadz apakah benar bahwa wanita yang sudah tua renta boleh membuka jilbab di hadapan laki-laki? Mohon penjelasannya.  Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Pada asalnya, wanita wajib menutup seluruh auratnya dan menggunakan jilbab yang syar’i di depan laki-laki yang bukan mahram. Allah ta’ala berfirman: يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59). Allah ta’ala berfirman: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33) Tabarruj adalah menampakkan aurat dan keindahan diri wanita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu’anha : أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقِي، وَلَا تَزْنِي، وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ، وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ، وَلَا تَنُوحِي، وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita jahiliyah terdahulu.” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121). Tujuan adanya syariat hijab dan menutup aurat adalah untuk menjaga kehormatan wanita, melindungi wanita dan menjaga kesucian hati para laki-laki dan juga wanita. Sebagaimana dalam surat Al Ahzab ayat 59 di atas, Allah ta’ala katakan (yang artinya), “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. Allah ta’ala juga berfirman: وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53). Dan perintah untuk berjilbab serta menutup aurat berlaku umum, baik untuk wanita yang masih muda maupun wanita yang sudah tua. Kelonggaran penggunaan jilbab bagi wanita yang sudah tua Namun memang benar bahwa ada kelonggaran dalam penggunaan jilbab, bagi wanita yang sudah menopause. Allah ta’ala berfirman: وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 60). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan siapa wanita yang disebut al qawa’id dalam ayat ini. Beliau mengatakan: قال سعيد بن جبير ومقاتل بن حيان والضحاك وقتادة : هن اللواتي انقطع عنهن الحيض ويئسن من الولد ” اللاتي لا يرجون نكاحا ” أي لم يبق لهن تشوف إلى التزوج “Sa’id bin Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Adh Dhahhak, dan Qatadah menjelaskan makna al qawa’id adalah para wanita yang sudah tidak haid lagi dan kecil kemungkinannya untuk punya anak, serta mereka sudah tidak lagi menginginkan jimak. Yaitu para wanita yang sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk menikah” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Ringkasnya, al qawa’id adalah wanita yang sudah menopause. Namun para ulama khilaf tentang maksud ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya”. Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah wanita yang sudah menopause dibolehkan untuk membuka khimar-nya (jilbab dalam) sehingga terlihat rambut dan kepalanya. Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (29/297) disebutkan: أحدهما: تضع خمارها، وذلك في بيتها، ومن وراء سترها من ثوب أو جدار، قال القرطبي: قال قوم: الكبيرة التي أيست من النكاح لو بدا شعرها فلا بأس، فعلى هذا يجوز لها وضع الخمار “Pendapat yang pertama, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan khimar-nya. Dan ini hanya berlaku di rumahnya, dan rumahnya tertutupi tabir berupa kain atau tembok. Al Qurthubi mengatakan: Sebagian ulama berkata bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak ada keinginan untuk berjimak lagi jika terlihat rambutnya maka tidak mengapa. Menurut pendapat ini, maka tidak mengapa mereka melepaskan khimar mereka”. Namun pendapat jumhur ulama, dan inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini, maksudnya adalah mereka boleh melepaskan jilbab luar mereka dan tetap memakai khimar (jilbab dalam), serta boleh membuka wajah mereka (jika mereka mengikuti pendapat ulama yang mewajibkan wanita menutup wajah). Al Jashash rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود ومجاهد : والقواعد اللاتي لا يرجون نكاحا هن اللاتي لا يردنه . وثيابهن : جلابيبهن “Ibnu Mas’ud dan Mujahid mengatakan: al qawa’id (wanita menopause) yang sudah tidak berhasrat dan tidak ingin lagi untuk jimak. Dan yang dimaksud dengan tsiyab (pakaian) dalam ayat ini adalah jilbab mereka” (Ahkamul Qur’an, 3/485). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيره “Tafsiran Ibnu Mas’ud terhadap ayat “tidak ada dosa baginya menanggalkan pakaiannya” maksudnya adalah jilbabnya atau rida’-nya. Demikian juga tafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa, Ibrahim an-Nakhai, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan lainnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/272). Dan jilbab adalah pakaian lapisan luar yang dipakai di atas khimar dan dijulurkan dari atas ke bawah serta biasanya juga digunakan untuk menutupi wajah. As Sa’di rahimahullah menjelaskan: وهن اللاتي يكن فوق الثياب من ملحفة وخمار ورداء ونحوه، أي: يغطين بها، وجوههن وصدورهن “Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa milhafah, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka” (Taisir Karimirrahman, hal. 671). Beliau juga mengatakan: فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ، ولما كان نفي الحرج عنهن في وضع الثياب  “Wanita yang sudah tua dibolehkan bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka. Karena mereka sudah aman dari perkara yang terlarang untuk mereka dan untuk orang lain. Dan juga dalam rangka menghilangkan kesulitan bagi mereka untuk menggunakan pakaian (yang lengkap)” (Taisir Karimirrahman, hal. 574). Karena wanita yang sudah tua boleh menampakkan wajahnya, konsekuensinya para lelaki boleh melihat wajah mereka. Ibnu Muflih rahimahullah mengatakan: جواز النظر من المرأة التي لا تشتهى، إلى ما يظهر غالبا “Dibolehkan bagi laki-laki untuk melihat wanita tua yang sudah tidak punya hasrat lagi, apa-apa yang biasa terlihat darinya secara umum” (Al Furu, 30/294). Walaupun ada kelonggaran untuk melepas jilbab luar dan boleh menampakkan wajah, namun jika wanita yang sudah tua tetap berjilbab lengkap dan menutup wajah, itu lebih utama. Karena Allah ta’ala, dalam surat An Nur ayat 60 di atas, berfirman (yang artinya), “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka”. Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan: ”وإنما خص القواعد بذلك دون غيرهن لانصراف النفوس عنهن , ولأن يستعففن بالتستر الكامل خير من فعل المباح لهن من وضع الثياب“ انتهى . “Dikhususkan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepas jilbab luar, yang ini tidak berlaku untuk wanita yang lain, karena biasanya laki-laki sudah tidak berhasrat lagi kepada mereka. Namun jika mereka menjaga kehormatan mereka dengan menutup aurat secara sempurna, itu lebih baik bagi mereka daripada sekedar melakukan perkara mubah yaitu melepas jilbab luar” (Ahkamul Qur’an, 3/419). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, “Al qawa’id adalah wanita yang sudah tidak lagi punya hasrat untuk berjimak dan sudah tidak lagi ada keinginan untuk berhias dengan perhiasan. Tidak mengapa bagi mereka untuk menampakkan wajah mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Namun jika mereka berhijab sempurna maka itu lebih utama dan lebih hati-hati. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya) “tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka” (QS. An Nisa: 60). Dan karena sebagian dari wanita yang sudah tua tetap bisa menimbulkan godaan ketika melihatnya, karena kecantikannya, walaupun mereka tidak berhias dengan perhiasan. Adapun menampakkan wajah dan melepas jilbab luar jika disertai dengan tabarruj (berhias) maka ini tidak diperbolehkan. Dan di antara bentuk tabarruj adalah memperindah wajah dengan celak atau kosmetik semisalnya” (Fatawa Mar’ah Muslimah, 1/424). Kesimpulannya, wanita yang sudah tua dan sudah menopause mereka boleh melepaskan jilbab luar namun tetap menggunakan khimar (kerudung kecil) dan mereka boleh menampakkan wajah mereka. Dengan syarat tidak menimbulkan godaan dan tidak ber-tabarruj. Dan mereka jika tetap menggunakan jilbab luar yang lebar dan menutup wajah mereka, itu lebih utama dan lebih terhormat.  Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Makna Idul Fitri, Hadits Tentang Berpikir, Insya Allah, Doa Saat Terdesak Hutang, Jual Baju Lebaran, Air Mani Keluar Visited 313 times, 1 visit(s) today Post Views: 460 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengapa Imam Ahmad Sering Mendoakan Imam Syafi’i? – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Imam Ahmad—semoga Allah merahmatinya—berkata,“Kami diperintahkan untuk rendah hati kepada orang yang mengajari kami.” Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,“Aku bertanya kepada ayahku, bagaimana sosok imam Syafi’i itu?Aku mendengar Anda sering mendoakan kebaikan untuknya.” Beliau menjawab, “Wahai anakku, Syafi’i itu bagaikan matahari bagi duniadan seperti kesehatan bagi manusia, maka lihatlah,apakah dua hal ini ada gantinya atau bisa ditukar?” Abu Hatim ar-Razi berkata,“Ibnul Madīnī adalah seorang tokoh di tengah manusiadi bidang ilmu hadis dan kritik hadis, hingga imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah menyebutkan namanya,tetapi menyebut nama kun-yah-nya untuk menghormatinya.”Ibrahim dan asy-Syaʿbi apabila bertemu,Ibrahim tidak akan berkata apa pun karena usianya. Ats-Tsauri berkata kepada Ibnu ʿUyainah,“Kenapa kamu tidak berbicara?”Dia menjawab, “Tidak, selama Anda masih hidup.” ==== وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ أُمِرْنَا أَنْ نَتَوَاضَعَ لِمَنْ نَتَعَلَّمُ مِنْهُ وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ رَجُلٍ كَانَ الشَّافِعِيُّ؟ فَإِنِّي سَمِعْتُكَ تُكْثِرُ الدُّعَاءَ لَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالْشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ فَانْظُرْ هَلْ لِهَذَيْنِ مِنْ خَلَفٍ أَوْ عَنْهُمَا مِنْ عِوَضٍ؟ وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ كَانَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ عَلَمًا فِي النَّاسِ فِي مَعْرِفَةِ الْحَدِيثِ وَالْعِلَلِ وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ لَا يُسَمِّيهِ إِنَّمَا يُكَنِّيهِ تَبْجِيلًا لَهُ وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ وَالشَّعْبِيُّ إِذَا اجْتَمَعَا لَمْ يَتَكَلَّمْ إِبْرَاهِيمُ بِشَيْءٍ لِسِنِِّهِ وَقَالَ الثَّوْرِيُّ لِابْنِ عُيَيْنَةَ مَا لَكَ لَا تَحَدَّثُ؟ فَقَالَ: أَمَّا وَأَنْتَ حَيٌّ فَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Mengapa Imam Ahmad Sering Mendoakan Imam Syafi’i? – Syaikh Ashim al-Qaryuti #NasehatUlama

Imam Ahmad—semoga Allah merahmatinya—berkata,“Kami diperintahkan untuk rendah hati kepada orang yang mengajari kami.” Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,“Aku bertanya kepada ayahku, bagaimana sosok imam Syafi’i itu?Aku mendengar Anda sering mendoakan kebaikan untuknya.” Beliau menjawab, “Wahai anakku, Syafi’i itu bagaikan matahari bagi duniadan seperti kesehatan bagi manusia, maka lihatlah,apakah dua hal ini ada gantinya atau bisa ditukar?” Abu Hatim ar-Razi berkata,“Ibnul Madīnī adalah seorang tokoh di tengah manusiadi bidang ilmu hadis dan kritik hadis, hingga imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah menyebutkan namanya,tetapi menyebut nama kun-yah-nya untuk menghormatinya.”Ibrahim dan asy-Syaʿbi apabila bertemu,Ibrahim tidak akan berkata apa pun karena usianya. Ats-Tsauri berkata kepada Ibnu ʿUyainah,“Kenapa kamu tidak berbicara?”Dia menjawab, “Tidak, selama Anda masih hidup.” ==== وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ أُمِرْنَا أَنْ نَتَوَاضَعَ لِمَنْ نَتَعَلَّمُ مِنْهُ وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ رَجُلٍ كَانَ الشَّافِعِيُّ؟ فَإِنِّي سَمِعْتُكَ تُكْثِرُ الدُّعَاءَ لَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالْشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ فَانْظُرْ هَلْ لِهَذَيْنِ مِنْ خَلَفٍ أَوْ عَنْهُمَا مِنْ عِوَضٍ؟ وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ كَانَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ عَلَمًا فِي النَّاسِ فِي مَعْرِفَةِ الْحَدِيثِ وَالْعِلَلِ وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ لَا يُسَمِّيهِ إِنَّمَا يُكَنِّيهِ تَبْجِيلًا لَهُ وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ وَالشَّعْبِيُّ إِذَا اجْتَمَعَا لَمْ يَتَكَلَّمْ إِبْرَاهِيمُ بِشَيْءٍ لِسِنِِّهِ وَقَالَ الثَّوْرِيُّ لِابْنِ عُيَيْنَةَ مَا لَكَ لَا تَحَدَّثُ؟ فَقَالَ: أَمَّا وَأَنْتَ حَيٌّ فَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Imam Ahmad—semoga Allah merahmatinya—berkata,“Kami diperintahkan untuk rendah hati kepada orang yang mengajari kami.” Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,“Aku bertanya kepada ayahku, bagaimana sosok imam Syafi’i itu?Aku mendengar Anda sering mendoakan kebaikan untuknya.” Beliau menjawab, “Wahai anakku, Syafi’i itu bagaikan matahari bagi duniadan seperti kesehatan bagi manusia, maka lihatlah,apakah dua hal ini ada gantinya atau bisa ditukar?” Abu Hatim ar-Razi berkata,“Ibnul Madīnī adalah seorang tokoh di tengah manusiadi bidang ilmu hadis dan kritik hadis, hingga imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah menyebutkan namanya,tetapi menyebut nama kun-yah-nya untuk menghormatinya.”Ibrahim dan asy-Syaʿbi apabila bertemu,Ibrahim tidak akan berkata apa pun karena usianya. Ats-Tsauri berkata kepada Ibnu ʿUyainah,“Kenapa kamu tidak berbicara?”Dia menjawab, “Tidak, selama Anda masih hidup.” ==== وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ أُمِرْنَا أَنْ نَتَوَاضَعَ لِمَنْ نَتَعَلَّمُ مِنْهُ وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ رَجُلٍ كَانَ الشَّافِعِيُّ؟ فَإِنِّي سَمِعْتُكَ تُكْثِرُ الدُّعَاءَ لَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالْشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ فَانْظُرْ هَلْ لِهَذَيْنِ مِنْ خَلَفٍ أَوْ عَنْهُمَا مِنْ عِوَضٍ؟ وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ كَانَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ عَلَمًا فِي النَّاسِ فِي مَعْرِفَةِ الْحَدِيثِ وَالْعِلَلِ وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ لَا يُسَمِّيهِ إِنَّمَا يُكَنِّيهِ تَبْجِيلًا لَهُ وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ وَالشَّعْبِيُّ إِذَا اجْتَمَعَا لَمْ يَتَكَلَّمْ إِبْرَاهِيمُ بِشَيْءٍ لِسِنِِّهِ وَقَالَ الثَّوْرِيُّ لِابْنِ عُيَيْنَةَ مَا لَكَ لَا تَحَدَّثُ؟ فَقَالَ: أَمَّا وَأَنْتَ حَيٌّ فَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Imam Ahmad—semoga Allah merahmatinya—berkata,“Kami diperintahkan untuk rendah hati kepada orang yang mengajari kami.” Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,“Aku bertanya kepada ayahku, bagaimana sosok imam Syafi’i itu?Aku mendengar Anda sering mendoakan kebaikan untuknya.” Beliau menjawab, “Wahai anakku, Syafi’i itu bagaikan matahari bagi duniadan seperti kesehatan bagi manusia, maka lihatlah,apakah dua hal ini ada gantinya atau bisa ditukar?” Abu Hatim ar-Razi berkata,“Ibnul Madīnī adalah seorang tokoh di tengah manusiadi bidang ilmu hadis dan kritik hadis, hingga imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah menyebutkan namanya,tetapi menyebut nama kun-yah-nya untuk menghormatinya.”Ibrahim dan asy-Syaʿbi apabila bertemu,Ibrahim tidak akan berkata apa pun karena usianya. Ats-Tsauri berkata kepada Ibnu ʿUyainah,“Kenapa kamu tidak berbicara?”Dia menjawab, “Tidak, selama Anda masih hidup.” ==== وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ أُمِرْنَا أَنْ نَتَوَاضَعَ لِمَنْ نَتَعَلَّمُ مِنْهُ وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ رَجُلٍ كَانَ الشَّافِعِيُّ؟ فَإِنِّي سَمِعْتُكَ تُكْثِرُ الدُّعَاءَ لَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالْشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ فَانْظُرْ هَلْ لِهَذَيْنِ مِنْ خَلَفٍ أَوْ عَنْهُمَا مِنْ عِوَضٍ؟ وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ كَانَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ عَلَمًا فِي النَّاسِ فِي مَعْرِفَةِ الْحَدِيثِ وَالْعِلَلِ وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ لَا يُسَمِّيهِ إِنَّمَا يُكَنِّيهِ تَبْجِيلًا لَهُ وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ وَالشَّعْبِيُّ إِذَا اجْتَمَعَا لَمْ يَتَكَلَّمْ إِبْرَاهِيمُ بِشَيْءٍ لِسِنِِّهِ وَقَالَ الثَّوْرِيُّ لِابْنِ عُيَيْنَةَ مَا لَكَ لَا تَحَدَّثُ؟ فَقَالَ: أَمَّا وَأَنْتَ حَيٌّ فَلَا KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Angka Keramat

Segala sesuatu terjadi di alam semesta karena kehendak Allah ‘Azza Wajalla. Tidak ada satu pun yang dapat memberikan manfaat atau menimbulkan bahaya, kecuali karena Allah Ta’ala telah menghendakinya terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)Ketika menjelaskan ayat di atas,فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ“Maka, Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan,وفي هذه الآية وما أشبهها أن الأسباب مهما بلغت في قوة التأثير، فإنها تابعة للقضاء والقدر ليست مستقلة في التأثير“Di dalam ayat ini atau yang semisal dengannya menjelaskan bahwa sebab-sebab yang Allah tetapkan seberapa pun berpengaruh akan tetap mengikuti ketetapan Allah ‘Azza Wajalla dan tidak berdiri sendiri. ” (Tafsir As-Sa’di, hal. 61)Allah ‘Azza Wajalla menciptakan beberapa jenis sebab,Pertama, sebab kauniy, seperti makan sebagai sebab memperoleh rasa kenyang dan penghalau lapar, minum sebagai pelepas dahaga, dan lain-lain.Kedua, sebab syar’iy, seperti maksiat menjadi sebab seorang celaka, ketaatan merupakan sebab seseorang mendapatkan kebaikan, dan lain-lain.Baca Juga: Bulan Suro, Benarkah Bulan Keramat?Menjadikan angka sebagai patokan keberhasilan dan kesialanKetika seseorang menisbatkan sesuatu kepada hal yang dinilainya sebagai sebab, padahal tidak memiliki keterkaitan sebab-akibat, maka boleh jadi ia terjatuh ke dalam kesalahan. Seperti terlarangnya thiyarah dalam Islam, yaitu ketika seseorang mengaitkan sesuatu yang tidak berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan.Termasuk ketika seseorang mengaitkan kesialan dengan sebagian angka. Dan sungguh disayangkan, inilah yang banyak kita saksikan di beberapa tempat. Lift yang meniadakan tombol 4, angka 13 yang dianggap lambang kesialan, dan yang semisal dengannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا عَدْوَى وَلا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah. Dan yang membuatku kagum adalah al fa’lu.” (Rasulullah ditanya), apa itu al fa’lu? (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab), yaitu kalimat-kalimat yang baik.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)Dalam sabda yang lain, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan,الطِيَرة شرك“Thiyarah termasuk di antara kesyirikan.” (HR. Ahmad no. 4194, Abu Dawud no. 3910, At Tirmidzi no. 1614, dan Ibnu Majah no. 3538)Keyakinan dengan angka-angka semisal ini tidak akan berakibat baik bagi pelakunya. Bahkan Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menyebutkan dampak buruknya,وإذا ألقى المسلم باله لهذه الأمور فلا يخلو من حالين : الأولى أن يستجيب لها فيقدم أو يحجم ، فيكون حينئذ قد علَّق أفعاله بما لا حقيقة له .الثانية أن لا يستجيب ، بأن يقدم ولا يبالي لكن يبقى في نفسه شيء من الهم أو الغم وهذا وإن كان أهون من الأول إلا أنه يجب عليه ألا يستجيب لداعي هذه الأمور مطلقا وأن يكون معتمدا على الله عز وجل“Ketika pikiran seorang muslim merespon perkara yang seperti ini, maka tidak terlepas dari dua kondisi:Pertama, ia membenarkan sehingga boleh jadi (dengan sebab itu) ia melakukan sesuatu atau mengurungkannya. Sungguh ia telah mengaitkan sesuatu dengan hal yang sebenarnya tidak ada.Kedua, ia tidak membenarkan, akan tetapi masih tersisa kegundahan ketika mengerjakan yang sebaliknya. Sekalipun kondisi ini lebih ringan dibanding yang pertama, akan tetapi tetap wajib bagi seorang muslim menghindarinya dan pasrah hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla semata.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 113)Dengan demikian, keyakinan bahwa angka keramat tertentu, baik yang diyakini memberi keberuntungan atau memberi kesialan bukanlah akidah Islam. Dan hendaknya seorang muslim berlindung kepada Allah dari lahirnya keyakinan seperti ini di dalam hatinya.Baca Juga:Pohon Angker Atau KeramatMacam-Macam Ziarah Kubur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Hadits Tentang Rukun Iman Beserta Artinya, Kasiat Surat Alfatihah, Hadits Tentang Taat, Cara Membuang Jimat Menurut IslamTags: angka keramatAqidahaqidah islambelajar tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidkhurofatnasihatnasihat islamramalanSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhid

Angka Keramat

Segala sesuatu terjadi di alam semesta karena kehendak Allah ‘Azza Wajalla. Tidak ada satu pun yang dapat memberikan manfaat atau menimbulkan bahaya, kecuali karena Allah Ta’ala telah menghendakinya terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)Ketika menjelaskan ayat di atas,فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ“Maka, Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan,وفي هذه الآية وما أشبهها أن الأسباب مهما بلغت في قوة التأثير، فإنها تابعة للقضاء والقدر ليست مستقلة في التأثير“Di dalam ayat ini atau yang semisal dengannya menjelaskan bahwa sebab-sebab yang Allah tetapkan seberapa pun berpengaruh akan tetap mengikuti ketetapan Allah ‘Azza Wajalla dan tidak berdiri sendiri. ” (Tafsir As-Sa’di, hal. 61)Allah ‘Azza Wajalla menciptakan beberapa jenis sebab,Pertama, sebab kauniy, seperti makan sebagai sebab memperoleh rasa kenyang dan penghalau lapar, minum sebagai pelepas dahaga, dan lain-lain.Kedua, sebab syar’iy, seperti maksiat menjadi sebab seorang celaka, ketaatan merupakan sebab seseorang mendapatkan kebaikan, dan lain-lain.Baca Juga: Bulan Suro, Benarkah Bulan Keramat?Menjadikan angka sebagai patokan keberhasilan dan kesialanKetika seseorang menisbatkan sesuatu kepada hal yang dinilainya sebagai sebab, padahal tidak memiliki keterkaitan sebab-akibat, maka boleh jadi ia terjatuh ke dalam kesalahan. Seperti terlarangnya thiyarah dalam Islam, yaitu ketika seseorang mengaitkan sesuatu yang tidak berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan.Termasuk ketika seseorang mengaitkan kesialan dengan sebagian angka. Dan sungguh disayangkan, inilah yang banyak kita saksikan di beberapa tempat. Lift yang meniadakan tombol 4, angka 13 yang dianggap lambang kesialan, dan yang semisal dengannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا عَدْوَى وَلا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah. Dan yang membuatku kagum adalah al fa’lu.” (Rasulullah ditanya), apa itu al fa’lu? (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab), yaitu kalimat-kalimat yang baik.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)Dalam sabda yang lain, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan,الطِيَرة شرك“Thiyarah termasuk di antara kesyirikan.” (HR. Ahmad no. 4194, Abu Dawud no. 3910, At Tirmidzi no. 1614, dan Ibnu Majah no. 3538)Keyakinan dengan angka-angka semisal ini tidak akan berakibat baik bagi pelakunya. Bahkan Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menyebutkan dampak buruknya,وإذا ألقى المسلم باله لهذه الأمور فلا يخلو من حالين : الأولى أن يستجيب لها فيقدم أو يحجم ، فيكون حينئذ قد علَّق أفعاله بما لا حقيقة له .الثانية أن لا يستجيب ، بأن يقدم ولا يبالي لكن يبقى في نفسه شيء من الهم أو الغم وهذا وإن كان أهون من الأول إلا أنه يجب عليه ألا يستجيب لداعي هذه الأمور مطلقا وأن يكون معتمدا على الله عز وجل“Ketika pikiran seorang muslim merespon perkara yang seperti ini, maka tidak terlepas dari dua kondisi:Pertama, ia membenarkan sehingga boleh jadi (dengan sebab itu) ia melakukan sesuatu atau mengurungkannya. Sungguh ia telah mengaitkan sesuatu dengan hal yang sebenarnya tidak ada.Kedua, ia tidak membenarkan, akan tetapi masih tersisa kegundahan ketika mengerjakan yang sebaliknya. Sekalipun kondisi ini lebih ringan dibanding yang pertama, akan tetapi tetap wajib bagi seorang muslim menghindarinya dan pasrah hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla semata.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 113)Dengan demikian, keyakinan bahwa angka keramat tertentu, baik yang diyakini memberi keberuntungan atau memberi kesialan bukanlah akidah Islam. Dan hendaknya seorang muslim berlindung kepada Allah dari lahirnya keyakinan seperti ini di dalam hatinya.Baca Juga:Pohon Angker Atau KeramatMacam-Macam Ziarah Kubur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Hadits Tentang Rukun Iman Beserta Artinya, Kasiat Surat Alfatihah, Hadits Tentang Taat, Cara Membuang Jimat Menurut IslamTags: angka keramatAqidahaqidah islambelajar tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidkhurofatnasihatnasihat islamramalanSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhid
Segala sesuatu terjadi di alam semesta karena kehendak Allah ‘Azza Wajalla. Tidak ada satu pun yang dapat memberikan manfaat atau menimbulkan bahaya, kecuali karena Allah Ta’ala telah menghendakinya terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)Ketika menjelaskan ayat di atas,فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ“Maka, Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan,وفي هذه الآية وما أشبهها أن الأسباب مهما بلغت في قوة التأثير، فإنها تابعة للقضاء والقدر ليست مستقلة في التأثير“Di dalam ayat ini atau yang semisal dengannya menjelaskan bahwa sebab-sebab yang Allah tetapkan seberapa pun berpengaruh akan tetap mengikuti ketetapan Allah ‘Azza Wajalla dan tidak berdiri sendiri. ” (Tafsir As-Sa’di, hal. 61)Allah ‘Azza Wajalla menciptakan beberapa jenis sebab,Pertama, sebab kauniy, seperti makan sebagai sebab memperoleh rasa kenyang dan penghalau lapar, minum sebagai pelepas dahaga, dan lain-lain.Kedua, sebab syar’iy, seperti maksiat menjadi sebab seorang celaka, ketaatan merupakan sebab seseorang mendapatkan kebaikan, dan lain-lain.Baca Juga: Bulan Suro, Benarkah Bulan Keramat?Menjadikan angka sebagai patokan keberhasilan dan kesialanKetika seseorang menisbatkan sesuatu kepada hal yang dinilainya sebagai sebab, padahal tidak memiliki keterkaitan sebab-akibat, maka boleh jadi ia terjatuh ke dalam kesalahan. Seperti terlarangnya thiyarah dalam Islam, yaitu ketika seseorang mengaitkan sesuatu yang tidak berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan.Termasuk ketika seseorang mengaitkan kesialan dengan sebagian angka. Dan sungguh disayangkan, inilah yang banyak kita saksikan di beberapa tempat. Lift yang meniadakan tombol 4, angka 13 yang dianggap lambang kesialan, dan yang semisal dengannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا عَدْوَى وَلا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah. Dan yang membuatku kagum adalah al fa’lu.” (Rasulullah ditanya), apa itu al fa’lu? (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab), yaitu kalimat-kalimat yang baik.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)Dalam sabda yang lain, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan,الطِيَرة شرك“Thiyarah termasuk di antara kesyirikan.” (HR. Ahmad no. 4194, Abu Dawud no. 3910, At Tirmidzi no. 1614, dan Ibnu Majah no. 3538)Keyakinan dengan angka-angka semisal ini tidak akan berakibat baik bagi pelakunya. Bahkan Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menyebutkan dampak buruknya,وإذا ألقى المسلم باله لهذه الأمور فلا يخلو من حالين : الأولى أن يستجيب لها فيقدم أو يحجم ، فيكون حينئذ قد علَّق أفعاله بما لا حقيقة له .الثانية أن لا يستجيب ، بأن يقدم ولا يبالي لكن يبقى في نفسه شيء من الهم أو الغم وهذا وإن كان أهون من الأول إلا أنه يجب عليه ألا يستجيب لداعي هذه الأمور مطلقا وأن يكون معتمدا على الله عز وجل“Ketika pikiran seorang muslim merespon perkara yang seperti ini, maka tidak terlepas dari dua kondisi:Pertama, ia membenarkan sehingga boleh jadi (dengan sebab itu) ia melakukan sesuatu atau mengurungkannya. Sungguh ia telah mengaitkan sesuatu dengan hal yang sebenarnya tidak ada.Kedua, ia tidak membenarkan, akan tetapi masih tersisa kegundahan ketika mengerjakan yang sebaliknya. Sekalipun kondisi ini lebih ringan dibanding yang pertama, akan tetapi tetap wajib bagi seorang muslim menghindarinya dan pasrah hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla semata.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 113)Dengan demikian, keyakinan bahwa angka keramat tertentu, baik yang diyakini memberi keberuntungan atau memberi kesialan bukanlah akidah Islam. Dan hendaknya seorang muslim berlindung kepada Allah dari lahirnya keyakinan seperti ini di dalam hatinya.Baca Juga:Pohon Angker Atau KeramatMacam-Macam Ziarah Kubur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Hadits Tentang Rukun Iman Beserta Artinya, Kasiat Surat Alfatihah, Hadits Tentang Taat, Cara Membuang Jimat Menurut IslamTags: angka keramatAqidahaqidah islambelajar tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidkhurofatnasihatnasihat islamramalanSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhid


Segala sesuatu terjadi di alam semesta karena kehendak Allah ‘Azza Wajalla. Tidak ada satu pun yang dapat memberikan manfaat atau menimbulkan bahaya, kecuali karena Allah Ta’ala telah menghendakinya terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)Ketika menjelaskan ayat di atas,فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ“Maka, Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan,وفي هذه الآية وما أشبهها أن الأسباب مهما بلغت في قوة التأثير، فإنها تابعة للقضاء والقدر ليست مستقلة في التأثير“Di dalam ayat ini atau yang semisal dengannya menjelaskan bahwa sebab-sebab yang Allah tetapkan seberapa pun berpengaruh akan tetap mengikuti ketetapan Allah ‘Azza Wajalla dan tidak berdiri sendiri. ” (Tafsir As-Sa’di, hal. 61)Allah ‘Azza Wajalla menciptakan beberapa jenis sebab,Pertama, sebab kauniy, seperti makan sebagai sebab memperoleh rasa kenyang dan penghalau lapar, minum sebagai pelepas dahaga, dan lain-lain.Kedua, sebab syar’iy, seperti maksiat menjadi sebab seorang celaka, ketaatan merupakan sebab seseorang mendapatkan kebaikan, dan lain-lain.Baca Juga: Bulan Suro, Benarkah Bulan Keramat?Menjadikan angka sebagai patokan keberhasilan dan kesialanKetika seseorang menisbatkan sesuatu kepada hal yang dinilainya sebagai sebab, padahal tidak memiliki keterkaitan sebab-akibat, maka boleh jadi ia terjatuh ke dalam kesalahan. Seperti terlarangnya thiyarah dalam Islam, yaitu ketika seseorang mengaitkan sesuatu yang tidak berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan.Termasuk ketika seseorang mengaitkan kesialan dengan sebagian angka. Dan sungguh disayangkan, inilah yang banyak kita saksikan di beberapa tempat. Lift yang meniadakan tombol 4, angka 13 yang dianggap lambang kesialan, dan yang semisal dengannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا عَدْوَى وَلا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah. Dan yang membuatku kagum adalah al fa’lu.” (Rasulullah ditanya), apa itu al fa’lu? (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab), yaitu kalimat-kalimat yang baik.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)Dalam sabda yang lain, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan,الطِيَرة شرك“Thiyarah termasuk di antara kesyirikan.” (HR. Ahmad no. 4194, Abu Dawud no. 3910, At Tirmidzi no. 1614, dan Ibnu Majah no. 3538)Keyakinan dengan angka-angka semisal ini tidak akan berakibat baik bagi pelakunya. Bahkan Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menyebutkan dampak buruknya,وإذا ألقى المسلم باله لهذه الأمور فلا يخلو من حالين : الأولى أن يستجيب لها فيقدم أو يحجم ، فيكون حينئذ قد علَّق أفعاله بما لا حقيقة له .الثانية أن لا يستجيب ، بأن يقدم ولا يبالي لكن يبقى في نفسه شيء من الهم أو الغم وهذا وإن كان أهون من الأول إلا أنه يجب عليه ألا يستجيب لداعي هذه الأمور مطلقا وأن يكون معتمدا على الله عز وجل“Ketika pikiran seorang muslim merespon perkara yang seperti ini, maka tidak terlepas dari dua kondisi:Pertama, ia membenarkan sehingga boleh jadi (dengan sebab itu) ia melakukan sesuatu atau mengurungkannya. Sungguh ia telah mengaitkan sesuatu dengan hal yang sebenarnya tidak ada.Kedua, ia tidak membenarkan, akan tetapi masih tersisa kegundahan ketika mengerjakan yang sebaliknya. Sekalipun kondisi ini lebih ringan dibanding yang pertama, akan tetapi tetap wajib bagi seorang muslim menghindarinya dan pasrah hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla semata.” (Majmu’ Al-Fataawa, 1: 113)Dengan demikian, keyakinan bahwa angka keramat tertentu, baik yang diyakini memberi keberuntungan atau memberi kesialan bukanlah akidah Islam. Dan hendaknya seorang muslim berlindung kepada Allah dari lahirnya keyakinan seperti ini di dalam hatinya.Baca Juga:Pohon Angker Atau KeramatMacam-Macam Ziarah Kubur***Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Hadits Tentang Rukun Iman Beserta Artinya, Kasiat Surat Alfatihah, Hadits Tentang Taat, Cara Membuang Jimat Menurut IslamTags: angka keramatAqidahaqidah islambelajar tauhiddosa syirikkeutamaan tauhidkhurofatnasihatnasihat islamramalanSyiriksyirik besarsyirik kecilTauhid
Prev     Next