Fatwa Ulama: Apakah Perkara yang Mengharuskan Mandi Wajib Juga Dinilai sebagai Pembatal Wudu?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga dinilai sebagai pembatal wudu?Jawaban:Yang masyhur menurut para ulama fikih kami (mazhab Hambali) rahimahullah adalah (kaidah) bahwa semua perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga mewajibkan wudu, kecuali kematian (kematian menyebabkan jenazah wajib dimandikan). Berdasarkan hal ini, siapa saja yang mandi wajib karena adanya perkara yang mengharuskannya, harus meniatkan juga untuk wudu. Maka, bisa mandi wajib disertai dengan wudu atau cukup baginya mandi wajib dengan dua niat (niat mandi wajib dan niat wudu, namun tidak berwudu, pent.).Adapun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa niat mandi wajib dari hadas besar itu sudah mencukupi dari niat berwudu. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah … “ (QS. Al-Maidah: 6)sampai akhir ayat.(Dalam ayat tersebut), Allah Ta’ala tidak menyebutkan kewajiban dalam kondisi junub, kecuali tathahhur saja (yaitu mandi wajib, pent.), dan tidak menyebutkan (kewajiban) wudu.Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berkata kepada seorang laki-laki (yang sedang dalam kondisi junub, pent.) ketika memberikannya air,اذْهَبْ فَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ“Pergi dan mandilah.”Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak menyebutkan kewajiban wudu kepadanya. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 344) dalam sebuah hadis yang panjang dari sahabat Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu.Pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah inilah yang lebih dekat kepada kebenaran. Yaitu, siapa saja yang memiliki hadas besar, dan jika berniat (mandi wajib untuk menghilangkan) hadas besar, maka hal itu sudah mencukupi (dari niat untuk menghilangkan) hadas kecil.Berdasarkan hal ini, maka hal-hal yang mengharuskan mandi wajib itu berbeda dari pembatal wudu.BACA JUGA;Setelah Mandi Junub, Apakah Perlu Berwudu Lagi?Hukum Tidur dalam Keadaan Junub***@Rumah Kasongan, 24 Jumadil Ula 1444/ 18 Desember 2022 Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 128-129, pertanyaan no. 77.🔍 Ibadah Mahdhah Dan Ghairu Mahdhah, Istiwa Adalah, Bacaan Dzikir Lengkap, Bertaubat, Nahi MunkarTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih mandi junubmandi junubnasihatnasihat islampanduan mandi junubpenyebab mandi junubsebab mandi junubtata cara mandi junubtuntunan mandi junub

Fatwa Ulama: Apakah Perkara yang Mengharuskan Mandi Wajib Juga Dinilai sebagai Pembatal Wudu?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga dinilai sebagai pembatal wudu?Jawaban:Yang masyhur menurut para ulama fikih kami (mazhab Hambali) rahimahullah adalah (kaidah) bahwa semua perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga mewajibkan wudu, kecuali kematian (kematian menyebabkan jenazah wajib dimandikan). Berdasarkan hal ini, siapa saja yang mandi wajib karena adanya perkara yang mengharuskannya, harus meniatkan juga untuk wudu. Maka, bisa mandi wajib disertai dengan wudu atau cukup baginya mandi wajib dengan dua niat (niat mandi wajib dan niat wudu, namun tidak berwudu, pent.).Adapun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa niat mandi wajib dari hadas besar itu sudah mencukupi dari niat berwudu. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah … “ (QS. Al-Maidah: 6)sampai akhir ayat.(Dalam ayat tersebut), Allah Ta’ala tidak menyebutkan kewajiban dalam kondisi junub, kecuali tathahhur saja (yaitu mandi wajib, pent.), dan tidak menyebutkan (kewajiban) wudu.Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berkata kepada seorang laki-laki (yang sedang dalam kondisi junub, pent.) ketika memberikannya air,اذْهَبْ فَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ“Pergi dan mandilah.”Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak menyebutkan kewajiban wudu kepadanya. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 344) dalam sebuah hadis yang panjang dari sahabat Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu.Pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah inilah yang lebih dekat kepada kebenaran. Yaitu, siapa saja yang memiliki hadas besar, dan jika berniat (mandi wajib untuk menghilangkan) hadas besar, maka hal itu sudah mencukupi (dari niat untuk menghilangkan) hadas kecil.Berdasarkan hal ini, maka hal-hal yang mengharuskan mandi wajib itu berbeda dari pembatal wudu.BACA JUGA;Setelah Mandi Junub, Apakah Perlu Berwudu Lagi?Hukum Tidur dalam Keadaan Junub***@Rumah Kasongan, 24 Jumadil Ula 1444/ 18 Desember 2022 Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 128-129, pertanyaan no. 77.🔍 Ibadah Mahdhah Dan Ghairu Mahdhah, Istiwa Adalah, Bacaan Dzikir Lengkap, Bertaubat, Nahi MunkarTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih mandi junubmandi junubnasihatnasihat islampanduan mandi junubpenyebab mandi junubsebab mandi junubtata cara mandi junubtuntunan mandi junub
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga dinilai sebagai pembatal wudu?Jawaban:Yang masyhur menurut para ulama fikih kami (mazhab Hambali) rahimahullah adalah (kaidah) bahwa semua perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga mewajibkan wudu, kecuali kematian (kematian menyebabkan jenazah wajib dimandikan). Berdasarkan hal ini, siapa saja yang mandi wajib karena adanya perkara yang mengharuskannya, harus meniatkan juga untuk wudu. Maka, bisa mandi wajib disertai dengan wudu atau cukup baginya mandi wajib dengan dua niat (niat mandi wajib dan niat wudu, namun tidak berwudu, pent.).Adapun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa niat mandi wajib dari hadas besar itu sudah mencukupi dari niat berwudu. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah … “ (QS. Al-Maidah: 6)sampai akhir ayat.(Dalam ayat tersebut), Allah Ta’ala tidak menyebutkan kewajiban dalam kondisi junub, kecuali tathahhur saja (yaitu mandi wajib, pent.), dan tidak menyebutkan (kewajiban) wudu.Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berkata kepada seorang laki-laki (yang sedang dalam kondisi junub, pent.) ketika memberikannya air,اذْهَبْ فَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ“Pergi dan mandilah.”Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak menyebutkan kewajiban wudu kepadanya. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 344) dalam sebuah hadis yang panjang dari sahabat Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu.Pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah inilah yang lebih dekat kepada kebenaran. Yaitu, siapa saja yang memiliki hadas besar, dan jika berniat (mandi wajib untuk menghilangkan) hadas besar, maka hal itu sudah mencukupi (dari niat untuk menghilangkan) hadas kecil.Berdasarkan hal ini, maka hal-hal yang mengharuskan mandi wajib itu berbeda dari pembatal wudu.BACA JUGA;Setelah Mandi Junub, Apakah Perlu Berwudu Lagi?Hukum Tidur dalam Keadaan Junub***@Rumah Kasongan, 24 Jumadil Ula 1444/ 18 Desember 2022 Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 128-129, pertanyaan no. 77.🔍 Ibadah Mahdhah Dan Ghairu Mahdhah, Istiwa Adalah, Bacaan Dzikir Lengkap, Bertaubat, Nahi MunkarTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih mandi junubmandi junubnasihatnasihat islampanduan mandi junubpenyebab mandi junubsebab mandi junubtata cara mandi junubtuntunan mandi junub


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah Pertanyaan:Fadhilatus syekh, apakah perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga dinilai sebagai pembatal wudu?Jawaban:Yang masyhur menurut para ulama fikih kami (mazhab Hambali) rahimahullah adalah (kaidah) bahwa semua perkara yang mengharuskan mandi wajib itu juga mewajibkan wudu, kecuali kematian (kematian menyebabkan jenazah wajib dimandikan). Berdasarkan hal ini, siapa saja yang mandi wajib karena adanya perkara yang mengharuskannya, harus meniatkan juga untuk wudu. Maka, bisa mandi wajib disertai dengan wudu atau cukup baginya mandi wajib dengan dua niat (niat mandi wajib dan niat wudu, namun tidak berwudu, pent.).Adapun Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa niat mandi wajib dari hadas besar itu sudah mencukupi dari niat berwudu. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah … “ (QS. Al-Maidah: 6)sampai akhir ayat.(Dalam ayat tersebut), Allah Ta’ala tidak menyebutkan kewajiban dalam kondisi junub, kecuali tathahhur saja (yaitu mandi wajib, pent.), dan tidak menyebutkan (kewajiban) wudu.Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berkata kepada seorang laki-laki (yang sedang dalam kondisi junub, pent.) ketika memberikannya air,اذْهَبْ فَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ“Pergi dan mandilah.”Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak menyebutkan kewajiban wudu kepadanya. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 344) dalam sebuah hadis yang panjang dari sahabat Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu.Pendapat Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah inilah yang lebih dekat kepada kebenaran. Yaitu, siapa saja yang memiliki hadas besar, dan jika berniat (mandi wajib untuk menghilangkan) hadas besar, maka hal itu sudah mencukupi (dari niat untuk menghilangkan) hadas kecil.Berdasarkan hal ini, maka hal-hal yang mengharuskan mandi wajib itu berbeda dari pembatal wudu.BACA JUGA;Setelah Mandi Junub, Apakah Perlu Berwudu Lagi?Hukum Tidur dalam Keadaan Junub***@Rumah Kasongan, 24 Jumadil Ula 1444/ 18 Desember 2022 Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fiqhul Ibadaat, hal. 128-129, pertanyaan no. 77.🔍 Ibadah Mahdhah Dan Ghairu Mahdhah, Istiwa Adalah, Bacaan Dzikir Lengkap, Bertaubat, Nahi MunkarTags: fatwaFatwa Ulamafikihfikih mandi junubmandi junubnasihatnasihat islampanduan mandi junubpenyebab mandi junubsebab mandi junubtata cara mandi junubtuntunan mandi junub

Tiga Alasan Sebaiknya Duduk Ketika Berzikir Setelah Salat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Hendaknya orang yang salat membaca zikir (setelah salat) ini sambil duduk.Ibnu Nasrullah berkata, “Jika dia membacanya setelah berdiri atau sambil berjalan pergi,nampaknya dia sesuai dengan sunah juga,karena tidak ada larangan melakukannya.” Selesai ucapan beliau.Inilah jawaban terpilih. Orang yang salat boleh membaca zikir-zikir inisambil duduk seusai salam, tapi jika dia membacanya sambil berdiriatau saat berjalan pergi, maka dia tetap dianggap melakukansunah ini sesuai ketentuannya. Yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk.Mengapa? Mengapa yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk?Ya?Baik. Ya?Apa?Ya.Lebih menghadirkan hati. Alasannya karena tiga hal:[PERTAMA]Sesuai dengan riwayat dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallamdalam hadisnya bahwa beliau membacanya sambil duduk di tempat salatnya. [KEDUA]Ada keutaman berdiam diri di tempat salat,sebagaimana disebutkan dalam kitab Sahih bahwa para malaikatberselawat kepadanya selama dia masih di tempat salatnya. [KETIGA]Hal itu membuat hati lebih fokusdan lebih menguatkan kekhusyukannya.Itu lebih menguatkan kekhusyukannya,sehingga seseorang berzikir sambil menghadirkan hatinya, karena zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan.Zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan. ==== يَأْتِي الْمُصَلِّي بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا قَالَ ابْنُ نَصْرِ اللهِ وَلَوْ قَالَهُ بَعْدَ قِيَامِهِ وَفِي ذَهَابِهِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُصِيبُ السُّنَّةَ أَيْضًا إِذْ لَا تَحْجِيرَ فِي ذَلِكَ انْتَهَى كَلَامُهُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ فَلِلْمُصَلِّي أَنْ يَأْتِيَ بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا بَعْدَ سَلَامِهِ فَإِنْ جَاءَ بِهَا حَالَ قِيَامِهِ أَوْ وَهُوَ ذَاهِبٌ فَإِنَّهُ يَكُونُ آتِيًا بِهَذِهِ السُّنَّةِ فِي مَوْضِعِهَا وَالْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا لِمَاذَا؟ لِمَاذَا الْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا؟ نَعَمْ طَيِّبٌ؟ أَيْوَهُ أَيشْ؟ نَعَمْ أَحْضَرُ لِلْقَلْبِ وَذَلِكَ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ أَحَدُهَا مُوَافَقَةُ الْمَنْقُولِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهَا قَاعِدًا فِي مُصَلَّاهُ وَثَانِيهَا مَا فِيهِ مِنْ فَضِيلَةِ الْبَقَاءِ فِي مَوْضِعِ الصَّلَاةِ لِمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَيهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ وَثَالِثُهَا أَنَّهُ أَجْمَعُ لِلْقَلْبِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ فَيَكُونُ الذَّاكِرُ ذَاكِرًا مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tiga Alasan Sebaiknya Duduk Ketika Berzikir Setelah Salat – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Hendaknya orang yang salat membaca zikir (setelah salat) ini sambil duduk.Ibnu Nasrullah berkata, “Jika dia membacanya setelah berdiri atau sambil berjalan pergi,nampaknya dia sesuai dengan sunah juga,karena tidak ada larangan melakukannya.” Selesai ucapan beliau.Inilah jawaban terpilih. Orang yang salat boleh membaca zikir-zikir inisambil duduk seusai salam, tapi jika dia membacanya sambil berdiriatau saat berjalan pergi, maka dia tetap dianggap melakukansunah ini sesuai ketentuannya. Yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk.Mengapa? Mengapa yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk?Ya?Baik. Ya?Apa?Ya.Lebih menghadirkan hati. Alasannya karena tiga hal:[PERTAMA]Sesuai dengan riwayat dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallamdalam hadisnya bahwa beliau membacanya sambil duduk di tempat salatnya. [KEDUA]Ada keutaman berdiam diri di tempat salat,sebagaimana disebutkan dalam kitab Sahih bahwa para malaikatberselawat kepadanya selama dia masih di tempat salatnya. [KETIGA]Hal itu membuat hati lebih fokusdan lebih menguatkan kekhusyukannya.Itu lebih menguatkan kekhusyukannya,sehingga seseorang berzikir sambil menghadirkan hatinya, karena zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan.Zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan. ==== يَأْتِي الْمُصَلِّي بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا قَالَ ابْنُ نَصْرِ اللهِ وَلَوْ قَالَهُ بَعْدَ قِيَامِهِ وَفِي ذَهَابِهِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُصِيبُ السُّنَّةَ أَيْضًا إِذْ لَا تَحْجِيرَ فِي ذَلِكَ انْتَهَى كَلَامُهُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ فَلِلْمُصَلِّي أَنْ يَأْتِيَ بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا بَعْدَ سَلَامِهِ فَإِنْ جَاءَ بِهَا حَالَ قِيَامِهِ أَوْ وَهُوَ ذَاهِبٌ فَإِنَّهُ يَكُونُ آتِيًا بِهَذِهِ السُّنَّةِ فِي مَوْضِعِهَا وَالْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا لِمَاذَا؟ لِمَاذَا الْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا؟ نَعَمْ طَيِّبٌ؟ أَيْوَهُ أَيشْ؟ نَعَمْ أَحْضَرُ لِلْقَلْبِ وَذَلِكَ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ أَحَدُهَا مُوَافَقَةُ الْمَنْقُولِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهَا قَاعِدًا فِي مُصَلَّاهُ وَثَانِيهَا مَا فِيهِ مِنْ فَضِيلَةِ الْبَقَاءِ فِي مَوْضِعِ الصَّلَاةِ لِمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَيهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ وَثَالِثُهَا أَنَّهُ أَجْمَعُ لِلْقَلْبِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ فَيَكُونُ الذَّاكِرُ ذَاكِرًا مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Hendaknya orang yang salat membaca zikir (setelah salat) ini sambil duduk.Ibnu Nasrullah berkata, “Jika dia membacanya setelah berdiri atau sambil berjalan pergi,nampaknya dia sesuai dengan sunah juga,karena tidak ada larangan melakukannya.” Selesai ucapan beliau.Inilah jawaban terpilih. Orang yang salat boleh membaca zikir-zikir inisambil duduk seusai salam, tapi jika dia membacanya sambil berdiriatau saat berjalan pergi, maka dia tetap dianggap melakukansunah ini sesuai ketentuannya. Yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk.Mengapa? Mengapa yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk?Ya?Baik. Ya?Apa?Ya.Lebih menghadirkan hati. Alasannya karena tiga hal:[PERTAMA]Sesuai dengan riwayat dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallamdalam hadisnya bahwa beliau membacanya sambil duduk di tempat salatnya. [KEDUA]Ada keutaman berdiam diri di tempat salat,sebagaimana disebutkan dalam kitab Sahih bahwa para malaikatberselawat kepadanya selama dia masih di tempat salatnya. [KETIGA]Hal itu membuat hati lebih fokusdan lebih menguatkan kekhusyukannya.Itu lebih menguatkan kekhusyukannya,sehingga seseorang berzikir sambil menghadirkan hatinya, karena zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan.Zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan. ==== يَأْتِي الْمُصَلِّي بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا قَالَ ابْنُ نَصْرِ اللهِ وَلَوْ قَالَهُ بَعْدَ قِيَامِهِ وَفِي ذَهَابِهِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُصِيبُ السُّنَّةَ أَيْضًا إِذْ لَا تَحْجِيرَ فِي ذَلِكَ انْتَهَى كَلَامُهُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ فَلِلْمُصَلِّي أَنْ يَأْتِيَ بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا بَعْدَ سَلَامِهِ فَإِنْ جَاءَ بِهَا حَالَ قِيَامِهِ أَوْ وَهُوَ ذَاهِبٌ فَإِنَّهُ يَكُونُ آتِيًا بِهَذِهِ السُّنَّةِ فِي مَوْضِعِهَا وَالْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا لِمَاذَا؟ لِمَاذَا الْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا؟ نَعَمْ طَيِّبٌ؟ أَيْوَهُ أَيشْ؟ نَعَمْ أَحْضَرُ لِلْقَلْبِ وَذَلِكَ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ أَحَدُهَا مُوَافَقَةُ الْمَنْقُولِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهَا قَاعِدًا فِي مُصَلَّاهُ وَثَانِيهَا مَا فِيهِ مِنْ فَضِيلَةِ الْبَقَاءِ فِي مَوْضِعِ الصَّلَاةِ لِمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَيهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ وَثَالِثُهَا أَنَّهُ أَجْمَعُ لِلْقَلْبِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ فَيَكُونُ الذَّاكِرُ ذَاكِرًا مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Hendaknya orang yang salat membaca zikir (setelah salat) ini sambil duduk.Ibnu Nasrullah berkata, “Jika dia membacanya setelah berdiri atau sambil berjalan pergi,nampaknya dia sesuai dengan sunah juga,karena tidak ada larangan melakukannya.” Selesai ucapan beliau.Inilah jawaban terpilih. Orang yang salat boleh membaca zikir-zikir inisambil duduk seusai salam, tapi jika dia membacanya sambil berdiriatau saat berjalan pergi, maka dia tetap dianggap melakukansunah ini sesuai ketentuannya. Yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk.Mengapa? Mengapa yang paling sempurna adalah membacanya sambil duduk?Ya?Baik. Ya?Apa?Ya.Lebih menghadirkan hati. Alasannya karena tiga hal:[PERTAMA]Sesuai dengan riwayat dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallamdalam hadisnya bahwa beliau membacanya sambil duduk di tempat salatnya. [KEDUA]Ada keutaman berdiam diri di tempat salat,sebagaimana disebutkan dalam kitab Sahih bahwa para malaikatberselawat kepadanya selama dia masih di tempat salatnya. [KETIGA]Hal itu membuat hati lebih fokusdan lebih menguatkan kekhusyukannya.Itu lebih menguatkan kekhusyukannya,sehingga seseorang berzikir sambil menghadirkan hatinya, karena zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan.Zikir yang paling sempurna adalah yang menggabungkan antara hati dan lisan. ==== يَأْتِي الْمُصَلِّي بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا قَالَ ابْنُ نَصْرِ اللهِ وَلَوْ قَالَهُ بَعْدَ قِيَامِهِ وَفِي ذَهَابِهِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُصِيبُ السُّنَّةَ أَيْضًا إِذْ لَا تَحْجِيرَ فِي ذَلِكَ انْتَهَى كَلَامُهُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ فَلِلْمُصَلِّي أَنْ يَأْتِيَ بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ قَاعِدًا بَعْدَ سَلَامِهِ فَإِنْ جَاءَ بِهَا حَالَ قِيَامِهِ أَوْ وَهُوَ ذَاهِبٌ فَإِنَّهُ يَكُونُ آتِيًا بِهَذِهِ السُّنَّةِ فِي مَوْضِعِهَا وَالْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا لِمَاذَا؟ لِمَاذَا الْأَكْمَلُ إِتْيَانُهُ بِهَا قَاعِدًا؟ نَعَمْ طَيِّبٌ؟ أَيْوَهُ أَيشْ؟ نَعَمْ أَحْضَرُ لِلْقَلْبِ وَذَلِكَ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ أَحَدُهَا مُوَافَقَةُ الْمَنْقُولِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهَا قَاعِدًا فِي مُصَلَّاهُ وَثَانِيهَا مَا فِيهِ مِنْ فَضِيلَةِ الْبَقَاءِ فِي مَوْضِعِ الصَّلَاةِ لِمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَيهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ وَثَالِثُهَا أَنَّهُ أَجْمَعُ لِلْقَلْبِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ وَأَقْوَى عَلَى حُضُورِهِ فَيَكُونُ الذَّاكِرُ ذَاكِرًا مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ وَأَكْمَلُ الذِّكْرِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Wanita dan Panahan

Pertanyaan: Bolehkah wanita mengikuti olahraga panahan dan mengikuti latihannya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa hadits yang bicara tentang wanita dan panahan. Di antaranya hadits berikut ini, عَنْ عَطَاءٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ قَالَ رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَمَنْزِلُهُ فِي الْحِلِّ وَمَسْجِدُهُ فِي الْحَرَمِ قَالَ فَبَيْنَا أَنَا عِنْدَهُ رَأَى أُمَّ سَعِيدٍ ابْنَةَ أَبِي جَهْلٍ مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا وَهِيَ تَمْشِي مِشْيَةَ الرَّجُلِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ هَذِهِ قَالَ الْهُذَلِيُّ فَقُلْتُ هَذِهِ أُمُّ سَعِيدٍ بِنْتُ أَبِي جَهْلٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ وَلَا مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنْ الرِّجَالِ Dari Atha’ dari seorang dari suku Hudzail, aku melihat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash rumahnya di tanah halal sedangkan masjid yang menjadi langganan beliau shalat ada di tanah Haram. Saat aku bersama beliau, beliau melihat Ummu Saad putri Abu Jahl menenteng busur panah dan berjalan seperti gaya jalan laki-laki. Beliau bertanya, “Siapakah gerangan wanita ini?”. Seorang dari suku Hudzail mengatakan, “Ini adalah Ummu Saad binti Abu Jahl”. Beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah bagian dari umatku laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no.6875, sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad). Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,  أَنَّ امْرَأَةً، مَرَّتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ Ada seorang wanita yang lewat di depan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sambil menenteng busur panah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lantas bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 4/212). Hadits kedua ini, dikatakan oleh al-Haitsami: “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari gurunya yaitu Ali bin Sa’id ar-Razi, ia perawi yang lemah. Adapun perawi yang lainnya tsiqah” (Majma’ az-Zawaid, 8/103). Sedangkan Ali bin Sa’id ar-Razi, pendapat para ulama tentang beliau: * Adz-Dzahabi: “Ia adalah hafizh, telah melakukan berbagai perjalanan yang jauh”. * Ibnul Qasim al-Andalusi: “Ia tsiqah, alim dalam ilmu hadits”. * Ad-Daruquthni: “Haditsnya bukan apa-apa, ia banyak bersendirian dalam periwayatannya, ia tidak tsiqah”. * Ibnu Hajar: “Nampaknya ulama yang mencela beliau dikarenakan beliau masuk kepada urusan sulthan (pemerintahan)”. Dari informasi di atas, kita dapati bahwa Ali bin Sa’id ar-Razi adalah perawi yang tsiqah. Namun ia mendapatkan celaan bukan dari sisi dhabt-nya, melainkan dari sisi masuknya beliau pada urusan pemerintahan. Kesimpulannya, hadits riwayat ath-Thabrani di atas shahih, karena semua perawinya tsiqah. Terlebih jika dikuatkan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash sebelumnya. Makna Hadits Hadits ini adalah peringatan bagi para wanita untuk tidak menyerupai laki-laki dalam bentuk apapun, terkhusus dalam berolahraga. Lebih khusus lagi dalam berolahraga panahan. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, beliau berkata: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885). Bukan berarti olahraga panahan itu haram bagi wanita, namun jangan sampai dalam berolahraga panahan ia menyerupai laki-laki. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menjelaskan: والذي يظهر : أن التشبه بالرجال في هذا الحديث : إنما جاء من جهة تقلّد القوس، كما يتقلده الرجال، أو من المشي مِشيةَ الرجال، كما جاء في لفظ الحديث. وأما مجرد تدرب المرأة على الرمي بالقوس، دون أن تمشي مشية الرجال، أو تلبسه وتتقلده كالرجال، فلا حرج فيه؛ لأن الأصل الإباحة “Makna yang nampak dari hadits ini adalah bahwa penyerupaan terhadap laki-laki yang disebutkan dalam hadits adalah dari sisi cara menenteng busur panah. Wanita yang disebutkan dalam hadits menenteng busur panah seperti laki-laki. Atau dari sisi gaya berjalannya, seperti gaya berjalan laki-laki. Sebagaimana ditegaskan dalam lafadz hadits. Adapun jika wanita sekedar berolahraga panahan tanpa bergaya jalan seperti laki-laki dan tanpa berpakaian seperti laki-laki, dan tanpa menenteng busur seperti laki-laki, maka tidak mengapa. Karena hukum asalnya mubah” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.364067). Olahraga panahan memang dianjurkan untuk dipelajari. Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu: سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول  وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat (yang artinya) “Dan persiapkanlah bagi mereka al-quwwah (kekuatan) yang kalian mampu” (QS. al-Anfal: 60) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah bahwa al-quwwah itu adalah memanah (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim no. 1917). Namun anjuran latihan memanah ini ditujukan kepada para laki-laki. Karena alasan dianjurkannya latihan memanah adalah dalam rangka persiapan jihad fi sabilillah. Sedangkan wanita tidak diperintahkan untuk berjihad. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,  يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibni Majah II/968, no. 2901, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 2345). Maka olahraga panahan bagi wanita tidak sampai level disunnahkan, namun sekedar mubah (boleh) saja. Dan olahraga panahan yang mubah ini berubah menjadi haram jika membuat wanita menyerupai laki-laki atau jika dilakukan sambil bercampur baur dengan laki-laki. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah memberikan nasehat: الرياضة تختلف فهي كلمة مجملة فالرياضة بين البنات بأشياء لا تخالف الشرع المطهر، بمشي كثير في محل خاص بهن، لا يخالطهن فيه الرجال، ولا يطلع عليهن الرجال، أو بسباحة عندهن في بيتهن أو في مدرستهن خاصة لا يراها الرجال ولا يتصل بها الرجال، لا يضر ذلك. أما رياضة يحصل بها الاختلاط بين الرجال والنساء، أو يراها الرجال أو تسبب شراً على المسلمين فلا تجوز “Olahraga itu banyak macamnya, dan itu merupakan kalimat yang umum. Maka olahraga untuk anak-anak wanita dengan berbagai macam jenisnya, ini (asalnya) tidak melanggar syariat yang suci ini. Misalnya para wanita jalan kaki bersama-sama di tempat yang khusus bagi wanita, tidak bercampur-baur dengan lelaki, dan tidak ada lelaki yang melihat mereka, atau olahraga renang bagi wanita di rumah mereka atau sekolah renang khusus bagi wanita, yang tidak terlihat oleh lelaki dan tidak ada lelaki. Ini tidak mengapa. Adapun olahraga yang terdapat ikhtilat (campur-baur) antara lelaki dan wanita, atau lelaki bisa melihat mereka, atau menyebabkan keburukan bagi kaum Muslimin maka tidak boleh” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi). Maka wanita boleh saja mengikuti latihan panahan selama tidak membuat mereka menyerupai laki-laki dan dilakukan di tempat yang khusus bagi wanita serta di sana tidak ada kaum lelaki yang melihat mereka.  Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menjelang Ramadhan, Adab Menagih Hutang, Ayah Minum Susu Ibu, Cara Sholat Istiharah, Niat Mandi Wajib Setelah Nifas, Ceramah Agama Lucu 2010 Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid

Wanita dan Panahan

Pertanyaan: Bolehkah wanita mengikuti olahraga panahan dan mengikuti latihannya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa hadits yang bicara tentang wanita dan panahan. Di antaranya hadits berikut ini, عَنْ عَطَاءٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ قَالَ رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَمَنْزِلُهُ فِي الْحِلِّ وَمَسْجِدُهُ فِي الْحَرَمِ قَالَ فَبَيْنَا أَنَا عِنْدَهُ رَأَى أُمَّ سَعِيدٍ ابْنَةَ أَبِي جَهْلٍ مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا وَهِيَ تَمْشِي مِشْيَةَ الرَّجُلِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ هَذِهِ قَالَ الْهُذَلِيُّ فَقُلْتُ هَذِهِ أُمُّ سَعِيدٍ بِنْتُ أَبِي جَهْلٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ وَلَا مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنْ الرِّجَالِ Dari Atha’ dari seorang dari suku Hudzail, aku melihat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash rumahnya di tanah halal sedangkan masjid yang menjadi langganan beliau shalat ada di tanah Haram. Saat aku bersama beliau, beliau melihat Ummu Saad putri Abu Jahl menenteng busur panah dan berjalan seperti gaya jalan laki-laki. Beliau bertanya, “Siapakah gerangan wanita ini?”. Seorang dari suku Hudzail mengatakan, “Ini adalah Ummu Saad binti Abu Jahl”. Beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah bagian dari umatku laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no.6875, sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad). Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,  أَنَّ امْرَأَةً، مَرَّتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ Ada seorang wanita yang lewat di depan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sambil menenteng busur panah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lantas bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 4/212). Hadits kedua ini, dikatakan oleh al-Haitsami: “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari gurunya yaitu Ali bin Sa’id ar-Razi, ia perawi yang lemah. Adapun perawi yang lainnya tsiqah” (Majma’ az-Zawaid, 8/103). Sedangkan Ali bin Sa’id ar-Razi, pendapat para ulama tentang beliau: * Adz-Dzahabi: “Ia adalah hafizh, telah melakukan berbagai perjalanan yang jauh”. * Ibnul Qasim al-Andalusi: “Ia tsiqah, alim dalam ilmu hadits”. * Ad-Daruquthni: “Haditsnya bukan apa-apa, ia banyak bersendirian dalam periwayatannya, ia tidak tsiqah”. * Ibnu Hajar: “Nampaknya ulama yang mencela beliau dikarenakan beliau masuk kepada urusan sulthan (pemerintahan)”. Dari informasi di atas, kita dapati bahwa Ali bin Sa’id ar-Razi adalah perawi yang tsiqah. Namun ia mendapatkan celaan bukan dari sisi dhabt-nya, melainkan dari sisi masuknya beliau pada urusan pemerintahan. Kesimpulannya, hadits riwayat ath-Thabrani di atas shahih, karena semua perawinya tsiqah. Terlebih jika dikuatkan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash sebelumnya. Makna Hadits Hadits ini adalah peringatan bagi para wanita untuk tidak menyerupai laki-laki dalam bentuk apapun, terkhusus dalam berolahraga. Lebih khusus lagi dalam berolahraga panahan. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, beliau berkata: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885). Bukan berarti olahraga panahan itu haram bagi wanita, namun jangan sampai dalam berolahraga panahan ia menyerupai laki-laki. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menjelaskan: والذي يظهر : أن التشبه بالرجال في هذا الحديث : إنما جاء من جهة تقلّد القوس، كما يتقلده الرجال، أو من المشي مِشيةَ الرجال، كما جاء في لفظ الحديث. وأما مجرد تدرب المرأة على الرمي بالقوس، دون أن تمشي مشية الرجال، أو تلبسه وتتقلده كالرجال، فلا حرج فيه؛ لأن الأصل الإباحة “Makna yang nampak dari hadits ini adalah bahwa penyerupaan terhadap laki-laki yang disebutkan dalam hadits adalah dari sisi cara menenteng busur panah. Wanita yang disebutkan dalam hadits menenteng busur panah seperti laki-laki. Atau dari sisi gaya berjalannya, seperti gaya berjalan laki-laki. Sebagaimana ditegaskan dalam lafadz hadits. Adapun jika wanita sekedar berolahraga panahan tanpa bergaya jalan seperti laki-laki dan tanpa berpakaian seperti laki-laki, dan tanpa menenteng busur seperti laki-laki, maka tidak mengapa. Karena hukum asalnya mubah” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.364067). Olahraga panahan memang dianjurkan untuk dipelajari. Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu: سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول  وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat (yang artinya) “Dan persiapkanlah bagi mereka al-quwwah (kekuatan) yang kalian mampu” (QS. al-Anfal: 60) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah bahwa al-quwwah itu adalah memanah (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim no. 1917). Namun anjuran latihan memanah ini ditujukan kepada para laki-laki. Karena alasan dianjurkannya latihan memanah adalah dalam rangka persiapan jihad fi sabilillah. Sedangkan wanita tidak diperintahkan untuk berjihad. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,  يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibni Majah II/968, no. 2901, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 2345). Maka olahraga panahan bagi wanita tidak sampai level disunnahkan, namun sekedar mubah (boleh) saja. Dan olahraga panahan yang mubah ini berubah menjadi haram jika membuat wanita menyerupai laki-laki atau jika dilakukan sambil bercampur baur dengan laki-laki. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah memberikan nasehat: الرياضة تختلف فهي كلمة مجملة فالرياضة بين البنات بأشياء لا تخالف الشرع المطهر، بمشي كثير في محل خاص بهن، لا يخالطهن فيه الرجال، ولا يطلع عليهن الرجال، أو بسباحة عندهن في بيتهن أو في مدرستهن خاصة لا يراها الرجال ولا يتصل بها الرجال، لا يضر ذلك. أما رياضة يحصل بها الاختلاط بين الرجال والنساء، أو يراها الرجال أو تسبب شراً على المسلمين فلا تجوز “Olahraga itu banyak macamnya, dan itu merupakan kalimat yang umum. Maka olahraga untuk anak-anak wanita dengan berbagai macam jenisnya, ini (asalnya) tidak melanggar syariat yang suci ini. Misalnya para wanita jalan kaki bersama-sama di tempat yang khusus bagi wanita, tidak bercampur-baur dengan lelaki, dan tidak ada lelaki yang melihat mereka, atau olahraga renang bagi wanita di rumah mereka atau sekolah renang khusus bagi wanita, yang tidak terlihat oleh lelaki dan tidak ada lelaki. Ini tidak mengapa. Adapun olahraga yang terdapat ikhtilat (campur-baur) antara lelaki dan wanita, atau lelaki bisa melihat mereka, atau menyebabkan keburukan bagi kaum Muslimin maka tidak boleh” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi). Maka wanita boleh saja mengikuti latihan panahan selama tidak membuat mereka menyerupai laki-laki dan dilakukan di tempat yang khusus bagi wanita serta di sana tidak ada kaum lelaki yang melihat mereka.  Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menjelang Ramadhan, Adab Menagih Hutang, Ayah Minum Susu Ibu, Cara Sholat Istiharah, Niat Mandi Wajib Setelah Nifas, Ceramah Agama Lucu 2010 Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Bolehkah wanita mengikuti olahraga panahan dan mengikuti latihannya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa hadits yang bicara tentang wanita dan panahan. Di antaranya hadits berikut ini, عَنْ عَطَاءٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ قَالَ رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَمَنْزِلُهُ فِي الْحِلِّ وَمَسْجِدُهُ فِي الْحَرَمِ قَالَ فَبَيْنَا أَنَا عِنْدَهُ رَأَى أُمَّ سَعِيدٍ ابْنَةَ أَبِي جَهْلٍ مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا وَهِيَ تَمْشِي مِشْيَةَ الرَّجُلِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ هَذِهِ قَالَ الْهُذَلِيُّ فَقُلْتُ هَذِهِ أُمُّ سَعِيدٍ بِنْتُ أَبِي جَهْلٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ وَلَا مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنْ الرِّجَالِ Dari Atha’ dari seorang dari suku Hudzail, aku melihat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash rumahnya di tanah halal sedangkan masjid yang menjadi langganan beliau shalat ada di tanah Haram. Saat aku bersama beliau, beliau melihat Ummu Saad putri Abu Jahl menenteng busur panah dan berjalan seperti gaya jalan laki-laki. Beliau bertanya, “Siapakah gerangan wanita ini?”. Seorang dari suku Hudzail mengatakan, “Ini adalah Ummu Saad binti Abu Jahl”. Beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah bagian dari umatku laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no.6875, sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad). Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,  أَنَّ امْرَأَةً، مَرَّتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ Ada seorang wanita yang lewat di depan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sambil menenteng busur panah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lantas bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 4/212). Hadits kedua ini, dikatakan oleh al-Haitsami: “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari gurunya yaitu Ali bin Sa’id ar-Razi, ia perawi yang lemah. Adapun perawi yang lainnya tsiqah” (Majma’ az-Zawaid, 8/103). Sedangkan Ali bin Sa’id ar-Razi, pendapat para ulama tentang beliau: * Adz-Dzahabi: “Ia adalah hafizh, telah melakukan berbagai perjalanan yang jauh”. * Ibnul Qasim al-Andalusi: “Ia tsiqah, alim dalam ilmu hadits”. * Ad-Daruquthni: “Haditsnya bukan apa-apa, ia banyak bersendirian dalam periwayatannya, ia tidak tsiqah”. * Ibnu Hajar: “Nampaknya ulama yang mencela beliau dikarenakan beliau masuk kepada urusan sulthan (pemerintahan)”. Dari informasi di atas, kita dapati bahwa Ali bin Sa’id ar-Razi adalah perawi yang tsiqah. Namun ia mendapatkan celaan bukan dari sisi dhabt-nya, melainkan dari sisi masuknya beliau pada urusan pemerintahan. Kesimpulannya, hadits riwayat ath-Thabrani di atas shahih, karena semua perawinya tsiqah. Terlebih jika dikuatkan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash sebelumnya. Makna Hadits Hadits ini adalah peringatan bagi para wanita untuk tidak menyerupai laki-laki dalam bentuk apapun, terkhusus dalam berolahraga. Lebih khusus lagi dalam berolahraga panahan. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, beliau berkata: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885). Bukan berarti olahraga panahan itu haram bagi wanita, namun jangan sampai dalam berolahraga panahan ia menyerupai laki-laki. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menjelaskan: والذي يظهر : أن التشبه بالرجال في هذا الحديث : إنما جاء من جهة تقلّد القوس، كما يتقلده الرجال، أو من المشي مِشيةَ الرجال، كما جاء في لفظ الحديث. وأما مجرد تدرب المرأة على الرمي بالقوس، دون أن تمشي مشية الرجال، أو تلبسه وتتقلده كالرجال، فلا حرج فيه؛ لأن الأصل الإباحة “Makna yang nampak dari hadits ini adalah bahwa penyerupaan terhadap laki-laki yang disebutkan dalam hadits adalah dari sisi cara menenteng busur panah. Wanita yang disebutkan dalam hadits menenteng busur panah seperti laki-laki. Atau dari sisi gaya berjalannya, seperti gaya berjalan laki-laki. Sebagaimana ditegaskan dalam lafadz hadits. Adapun jika wanita sekedar berolahraga panahan tanpa bergaya jalan seperti laki-laki dan tanpa berpakaian seperti laki-laki, dan tanpa menenteng busur seperti laki-laki, maka tidak mengapa. Karena hukum asalnya mubah” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.364067). Olahraga panahan memang dianjurkan untuk dipelajari. Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu: سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول  وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat (yang artinya) “Dan persiapkanlah bagi mereka al-quwwah (kekuatan) yang kalian mampu” (QS. al-Anfal: 60) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah bahwa al-quwwah itu adalah memanah (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim no. 1917). Namun anjuran latihan memanah ini ditujukan kepada para laki-laki. Karena alasan dianjurkannya latihan memanah adalah dalam rangka persiapan jihad fi sabilillah. Sedangkan wanita tidak diperintahkan untuk berjihad. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,  يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibni Majah II/968, no. 2901, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 2345). Maka olahraga panahan bagi wanita tidak sampai level disunnahkan, namun sekedar mubah (boleh) saja. Dan olahraga panahan yang mubah ini berubah menjadi haram jika membuat wanita menyerupai laki-laki atau jika dilakukan sambil bercampur baur dengan laki-laki. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah memberikan nasehat: الرياضة تختلف فهي كلمة مجملة فالرياضة بين البنات بأشياء لا تخالف الشرع المطهر، بمشي كثير في محل خاص بهن، لا يخالطهن فيه الرجال، ولا يطلع عليهن الرجال، أو بسباحة عندهن في بيتهن أو في مدرستهن خاصة لا يراها الرجال ولا يتصل بها الرجال، لا يضر ذلك. أما رياضة يحصل بها الاختلاط بين الرجال والنساء، أو يراها الرجال أو تسبب شراً على المسلمين فلا تجوز “Olahraga itu banyak macamnya, dan itu merupakan kalimat yang umum. Maka olahraga untuk anak-anak wanita dengan berbagai macam jenisnya, ini (asalnya) tidak melanggar syariat yang suci ini. Misalnya para wanita jalan kaki bersama-sama di tempat yang khusus bagi wanita, tidak bercampur-baur dengan lelaki, dan tidak ada lelaki yang melihat mereka, atau olahraga renang bagi wanita di rumah mereka atau sekolah renang khusus bagi wanita, yang tidak terlihat oleh lelaki dan tidak ada lelaki. Ini tidak mengapa. Adapun olahraga yang terdapat ikhtilat (campur-baur) antara lelaki dan wanita, atau lelaki bisa melihat mereka, atau menyebabkan keburukan bagi kaum Muslimin maka tidak boleh” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi). Maka wanita boleh saja mengikuti latihan panahan selama tidak membuat mereka menyerupai laki-laki dan dilakukan di tempat yang khusus bagi wanita serta di sana tidak ada kaum lelaki yang melihat mereka.  Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menjelang Ramadhan, Adab Menagih Hutang, Ayah Minum Susu Ibu, Cara Sholat Istiharah, Niat Mandi Wajib Setelah Nifas, Ceramah Agama Lucu 2010 Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1414648681&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Bolehkah wanita mengikuti olahraga panahan dan mengikuti latihannya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa hadits yang bicara tentang wanita dan panahan. Di antaranya hadits berikut ini, عَنْ عَطَاءٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ قَالَ رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَمَنْزِلُهُ فِي الْحِلِّ وَمَسْجِدُهُ فِي الْحَرَمِ قَالَ فَبَيْنَا أَنَا عِنْدَهُ رَأَى أُمَّ سَعِيدٍ ابْنَةَ أَبِي جَهْلٍ مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا وَهِيَ تَمْشِي مِشْيَةَ الرَّجُلِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ هَذِهِ قَالَ الْهُذَلِيُّ فَقُلْتُ هَذِهِ أُمُّ سَعِيدٍ بِنْتُ أَبِي جَهْلٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ وَلَا مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنْ الرِّجَالِ Dari Atha’ dari seorang dari suku Hudzail, aku melihat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash rumahnya di tanah halal sedangkan masjid yang menjadi langganan beliau shalat ada di tanah Haram. Saat aku bersama beliau, beliau melihat Ummu Saad putri Abu Jahl menenteng busur panah dan berjalan seperti gaya jalan laki-laki. Beliau bertanya, “Siapakah gerangan wanita ini?”. Seorang dari suku Hudzail mengatakan, “Ini adalah Ummu Saad binti Abu Jahl”. Beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah bagian dari umatku laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no.6875, sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad). Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,  أَنَّ امْرَأَةً، مَرَّتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مُتَقَلِّدَةً قَوْسًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ Ada seorang wanita yang lewat di depan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sambil menenteng busur panah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lantas bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 4/212). Hadits kedua ini, dikatakan oleh al-Haitsami: “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari gurunya yaitu Ali bin Sa’id ar-Razi, ia perawi yang lemah. Adapun perawi yang lainnya tsiqah” (Majma’ az-Zawaid, 8/103). Sedangkan Ali bin Sa’id ar-Razi, pendapat para ulama tentang beliau: * Adz-Dzahabi: “Ia adalah hafizh, telah melakukan berbagai perjalanan yang jauh”. * Ibnul Qasim al-Andalusi: “Ia tsiqah, alim dalam ilmu hadits”. * Ad-Daruquthni: “Haditsnya bukan apa-apa, ia banyak bersendirian dalam periwayatannya, ia tidak tsiqah”. * Ibnu Hajar: “Nampaknya ulama yang mencela beliau dikarenakan beliau masuk kepada urusan sulthan (pemerintahan)”. Dari informasi di atas, kita dapati bahwa Ali bin Sa’id ar-Razi adalah perawi yang tsiqah. Namun ia mendapatkan celaan bukan dari sisi dhabt-nya, melainkan dari sisi masuknya beliau pada urusan pemerintahan. Kesimpulannya, hadits riwayat ath-Thabrani di atas shahih, karena semua perawinya tsiqah. Terlebih jika dikuatkan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash sebelumnya. Makna Hadits Hadits ini adalah peringatan bagi para wanita untuk tidak menyerupai laki-laki dalam bentuk apapun, terkhusus dalam berolahraga. Lebih khusus lagi dalam berolahraga panahan. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, beliau berkata: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885). Bukan berarti olahraga panahan itu haram bagi wanita, namun jangan sampai dalam berolahraga panahan ia menyerupai laki-laki. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menjelaskan: والذي يظهر : أن التشبه بالرجال في هذا الحديث : إنما جاء من جهة تقلّد القوس، كما يتقلده الرجال، أو من المشي مِشيةَ الرجال، كما جاء في لفظ الحديث. وأما مجرد تدرب المرأة على الرمي بالقوس، دون أن تمشي مشية الرجال، أو تلبسه وتتقلده كالرجال، فلا حرج فيه؛ لأن الأصل الإباحة “Makna yang nampak dari hadits ini adalah bahwa penyerupaan terhadap laki-laki yang disebutkan dalam hadits adalah dari sisi cara menenteng busur panah. Wanita yang disebutkan dalam hadits menenteng busur panah seperti laki-laki. Atau dari sisi gaya berjalannya, seperti gaya berjalan laki-laki. Sebagaimana ditegaskan dalam lafadz hadits. Adapun jika wanita sekedar berolahraga panahan tanpa bergaya jalan seperti laki-laki dan tanpa berpakaian seperti laki-laki, dan tanpa menenteng busur seperti laki-laki, maka tidak mengapa. Karena hukum asalnya mubah” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.364067). Olahraga panahan memang dianjurkan untuk dipelajari. Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu: سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول  وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat (yang artinya) “Dan persiapkanlah bagi mereka al-quwwah (kekuatan) yang kalian mampu” (QS. al-Anfal: 60) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah bahwa al-quwwah itu adalah memanah (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim no. 1917). Namun anjuran latihan memanah ini ditujukan kepada para laki-laki. Karena alasan dianjurkannya latihan memanah adalah dalam rangka persiapan jihad fi sabilillah. Sedangkan wanita tidak diperintahkan untuk berjihad. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,  يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ “Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibni Majah II/968, no. 2901, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 2345). Maka olahraga panahan bagi wanita tidak sampai level disunnahkan, namun sekedar mubah (boleh) saja. Dan olahraga panahan yang mubah ini berubah menjadi haram jika membuat wanita menyerupai laki-laki atau jika dilakukan sambil bercampur baur dengan laki-laki. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah memberikan nasehat: الرياضة تختلف فهي كلمة مجملة فالرياضة بين البنات بأشياء لا تخالف الشرع المطهر، بمشي كثير في محل خاص بهن، لا يخالطهن فيه الرجال، ولا يطلع عليهن الرجال، أو بسباحة عندهن في بيتهن أو في مدرستهن خاصة لا يراها الرجال ولا يتصل بها الرجال، لا يضر ذلك. أما رياضة يحصل بها الاختلاط بين الرجال والنساء، أو يراها الرجال أو تسبب شراً على المسلمين فلا تجوز “Olahraga itu banyak macamnya, dan itu merupakan kalimat yang umum. Maka olahraga untuk anak-anak wanita dengan berbagai macam jenisnya, ini (asalnya) tidak melanggar syariat yang suci ini. Misalnya para wanita jalan kaki bersama-sama di tempat yang khusus bagi wanita, tidak bercampur-baur dengan lelaki, dan tidak ada lelaki yang melihat mereka, atau olahraga renang bagi wanita di rumah mereka atau sekolah renang khusus bagi wanita, yang tidak terlihat oleh lelaki dan tidak ada lelaki. Ini tidak mengapa. Adapun olahraga yang terdapat ikhtilat (campur-baur) antara lelaki dan wanita, atau lelaki bisa melihat mereka, atau menyebabkan keburukan bagi kaum Muslimin maka tidak boleh” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi). Maka wanita boleh saja mengikuti latihan panahan selama tidak membuat mereka menyerupai laki-laki dan dilakukan di tempat yang khusus bagi wanita serta di sana tidak ada kaum lelaki yang melihat mereka.  Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Menjelang Ramadhan, Adab Menagih Hutang, Ayah Minum Susu Ibu, Cara Sholat Istiharah, Niat Mandi Wajib Setelah Nifas, Ceramah Agama Lucu 2010 Visited 176 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sudah Benarkah Tawakal Kita?

Tawakal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan, Allah kaitkan dengan ibadah sebagaimana di dalam firman-Nya,فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)Allah Ta’ala jadikan tawakal ini sebagai sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Ia berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Para rasul adalah orang terdepan dan pemimpin manusia dalam hal tawakal kepada Allah Ta’ala. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata,رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Nabi Syuaib ‘alaihissalam juga pernah berkata,وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ“Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” (QS. Hud: 88)Tawakal adalah kunci utama terwujudnya keinginan, harapan, dan impian. Karena Allah Ta’ala berjanji akan mencukupi mereka yang bertawakal kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)BACA JUGA; Tawakal dalam Setiap Keadaan Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat tawakal yang benar 2. Buah manis bertawakal dengan benar Hakikat tawakal yang benarLalu, bagaimanakah tawakal yang benar itu?Hakikat tawakal yang benar adalah dengan menjalankan sebab-sebab yang ada dengan tetap menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak, maka akan Allah wujudkan dan kabulkan. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka hal tersebut tidak akan terwujud dan tidak akan dikabulkan.Mukmin yang benar, tidak akan memasrahkan urusannya secara total hanya kepada sebab saja (bekerja keras dan meyakini bahwa kesuksesannya hanya bisa diraih dengan kerja kerasnya sendiri) tanpa campur tangan Allah Ta’ala.Mukmin yang benar juga tidak hanya berpangku kepada takdir Allah Ta’ala dan meremehkan usaha serta kerja keras. Mukmin yang benar memiliki sikap pertengahan dan bijaksana. Ia akan berusaha menjalani sebab-sebab yang ada, bekerja keras, lalu memasrahkan semua hasilnya kepada Allah Ta’ala.Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan menjalani langkah-langkah (sebab) yang ada. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal menjalankan sebab dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Keseimbangan dan sikap pertengahan beliau ini terlihat jelas dalam perjalanan hijrah beliau ke Madinah.Lihatlah bagaimana sempurnanya rencana beliau? Bagaimana hati-hatinya beliau hingga keluar untuk menemui Abu Bakar di waktu yang tidak biasa agar manusia tidak melihatnya?Bahkan, beliau menyewa orang yang ahli dan berpengalaman di dalam mengetahui peta jalan dan padang pasir untuk membantunya keluar dari kota Makkah, meskipun orang tersebut adalah seorang musyrik. Beliau rencanakan segala sesuatunya dengan cermat dan cerdik.Semua itu beliau lakukan dengan kondisi yakin bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dan membantunya!Bahkan, beliau juga pernah bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَىٰ اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana seekor burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164 dan Ahmad no. 205)Burung yang notabene tidak memiliki akal saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kisahkan pergi di pagi hari dan pulang di sore hari untuk mendapatkan makanan. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang berakal?! Tentu saja berusaha dan mengambil sebab seharusnya sudah mengakar kuat pada diri kita.Salah dan keliru bila ada yang mengira bahwa makna tawakal adalah berserah diri total kepada Allah Ta’ala, tanpa perlu berusaha dan mencari sebab untuk mencapai tujuan. Ingin sukses dan memiliki harta, namun yang ia lakukan hanya berdoa kepada Allah tanpa bekerja. Sungguh ini adalah anggapan yang keliru.BACA JUGA; Salah Paham tentang Memahami TawakalBuah manis bertawakal dengan benar Tawakal yang benar akan menentramkan jiwa dan menstabilkan keadaan. Dengan rasa tawakal ini pula seorang mukmin bisa berlepas diri dari bergantung dan mengandalkan orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَمَا رَجَا أَحَدٌ مَخْلًوْقًا أَوْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ إِلَّا خَابَ ظَنُّهُ فِيْهِ“Tidaklah seseorang itu berharap kepada makhluk atau menggantungkan dirinya kepadanya, kecuali ia akan kecewa kepadanya.” (Al-Fatawa, 10: 257)Siapa yang memasrahkan seluruh urusannya kepada Allah Ta’ala, maka sungguh ia akan mendapatkan seluruh keinginannya.Lihatlah bagaimana Nabi Zakaria ‘alaihissalam, meskipun ia telah mencapai usia yang sangat tua dan istrinya tervonis mandul, namun Allah berikan kepada mereka anak yang sangat mulia, anak yang kelak akan menjadi salah satu Nabi utusan Allah Ta’ala.Lihat juga bagaimana ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail di lembah tandus yang tidak ada air maupun tumbuhan apapun. Lalu, Allah takdirkan anaknya ini menjadi seorang nabi yang mulia, nabi yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya.Sungguh semua itu, tidak lain karena besarnya tawakal mereka kepada Allah Ta’ala. Tingkat keimanan yang susah dijangkau oleh kita semua di masa sekarang. Imam Fudhail rahimahullah pernah mengatakan,لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الخَلْقِ لَا تُرِيْد مِنْهُمْ شَيْئًا لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلُّ مَا تُرِيْدُ“Jika engkau berhenti berharap dari makhluk dan tidak menginginkan apapun dari mereka, maka Tuhanmu akan memberikanmu apapun yang engkau inginkan.”Maka, gantungkanlah keinginanmu hanya kepada Allah Ta’ala, berharaplah kepada-Nya, serahkan seluruh urusanmu kepada-Nya, berhentilah terlalu mengharapkan sesuatu dari makhluk dan jangan bergantung kepada mereka.Ketahuilah wahai saudaraku, jika pengharapan dan tawakal kita kepada Allah Ta’ala menguat, dan doa-doa yang kita panjatkan itu penuh dengan ketulusan dan keseriusan; maka sungguh harapan kita tak akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Wallahu a’lam bisshawab. BACA JUGA; Tsalatsatul Ushul (17) : Tawakal ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab “Khutuwaath Ilaa As-Sa’adah.” (Langkah-Langkah Menuju Kebahagiaan) karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim Hafidhohullah dengan beberapa tambahan dan perubahan.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Menengok Orang Sakit, 73 Aliran Dalam Islam, Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid, Cara Menutup Aurat Yang BenarTags: Aqidahaqidah islamcara bertawakalcara tawakalhikmah tawakalkeutamaan tauhidkeutamaan tawakalkonsep tawakalnasiharnasihat islampengertian tawakalTauhidTawakal

Sudah Benarkah Tawakal Kita?

Tawakal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan, Allah kaitkan dengan ibadah sebagaimana di dalam firman-Nya,فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)Allah Ta’ala jadikan tawakal ini sebagai sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Ia berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Para rasul adalah orang terdepan dan pemimpin manusia dalam hal tawakal kepada Allah Ta’ala. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata,رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Nabi Syuaib ‘alaihissalam juga pernah berkata,وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ“Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” (QS. Hud: 88)Tawakal adalah kunci utama terwujudnya keinginan, harapan, dan impian. Karena Allah Ta’ala berjanji akan mencukupi mereka yang bertawakal kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)BACA JUGA; Tawakal dalam Setiap Keadaan Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat tawakal yang benar 2. Buah manis bertawakal dengan benar Hakikat tawakal yang benarLalu, bagaimanakah tawakal yang benar itu?Hakikat tawakal yang benar adalah dengan menjalankan sebab-sebab yang ada dengan tetap menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak, maka akan Allah wujudkan dan kabulkan. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka hal tersebut tidak akan terwujud dan tidak akan dikabulkan.Mukmin yang benar, tidak akan memasrahkan urusannya secara total hanya kepada sebab saja (bekerja keras dan meyakini bahwa kesuksesannya hanya bisa diraih dengan kerja kerasnya sendiri) tanpa campur tangan Allah Ta’ala.Mukmin yang benar juga tidak hanya berpangku kepada takdir Allah Ta’ala dan meremehkan usaha serta kerja keras. Mukmin yang benar memiliki sikap pertengahan dan bijaksana. Ia akan berusaha menjalani sebab-sebab yang ada, bekerja keras, lalu memasrahkan semua hasilnya kepada Allah Ta’ala.Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan menjalani langkah-langkah (sebab) yang ada. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal menjalankan sebab dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Keseimbangan dan sikap pertengahan beliau ini terlihat jelas dalam perjalanan hijrah beliau ke Madinah.Lihatlah bagaimana sempurnanya rencana beliau? Bagaimana hati-hatinya beliau hingga keluar untuk menemui Abu Bakar di waktu yang tidak biasa agar manusia tidak melihatnya?Bahkan, beliau menyewa orang yang ahli dan berpengalaman di dalam mengetahui peta jalan dan padang pasir untuk membantunya keluar dari kota Makkah, meskipun orang tersebut adalah seorang musyrik. Beliau rencanakan segala sesuatunya dengan cermat dan cerdik.Semua itu beliau lakukan dengan kondisi yakin bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dan membantunya!Bahkan, beliau juga pernah bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَىٰ اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana seekor burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164 dan Ahmad no. 205)Burung yang notabene tidak memiliki akal saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kisahkan pergi di pagi hari dan pulang di sore hari untuk mendapatkan makanan. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang berakal?! Tentu saja berusaha dan mengambil sebab seharusnya sudah mengakar kuat pada diri kita.Salah dan keliru bila ada yang mengira bahwa makna tawakal adalah berserah diri total kepada Allah Ta’ala, tanpa perlu berusaha dan mencari sebab untuk mencapai tujuan. Ingin sukses dan memiliki harta, namun yang ia lakukan hanya berdoa kepada Allah tanpa bekerja. Sungguh ini adalah anggapan yang keliru.BACA JUGA; Salah Paham tentang Memahami TawakalBuah manis bertawakal dengan benar Tawakal yang benar akan menentramkan jiwa dan menstabilkan keadaan. Dengan rasa tawakal ini pula seorang mukmin bisa berlepas diri dari bergantung dan mengandalkan orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَمَا رَجَا أَحَدٌ مَخْلًوْقًا أَوْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ إِلَّا خَابَ ظَنُّهُ فِيْهِ“Tidaklah seseorang itu berharap kepada makhluk atau menggantungkan dirinya kepadanya, kecuali ia akan kecewa kepadanya.” (Al-Fatawa, 10: 257)Siapa yang memasrahkan seluruh urusannya kepada Allah Ta’ala, maka sungguh ia akan mendapatkan seluruh keinginannya.Lihatlah bagaimana Nabi Zakaria ‘alaihissalam, meskipun ia telah mencapai usia yang sangat tua dan istrinya tervonis mandul, namun Allah berikan kepada mereka anak yang sangat mulia, anak yang kelak akan menjadi salah satu Nabi utusan Allah Ta’ala.Lihat juga bagaimana ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail di lembah tandus yang tidak ada air maupun tumbuhan apapun. Lalu, Allah takdirkan anaknya ini menjadi seorang nabi yang mulia, nabi yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya.Sungguh semua itu, tidak lain karena besarnya tawakal mereka kepada Allah Ta’ala. Tingkat keimanan yang susah dijangkau oleh kita semua di masa sekarang. Imam Fudhail rahimahullah pernah mengatakan,لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الخَلْقِ لَا تُرِيْد مِنْهُمْ شَيْئًا لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلُّ مَا تُرِيْدُ“Jika engkau berhenti berharap dari makhluk dan tidak menginginkan apapun dari mereka, maka Tuhanmu akan memberikanmu apapun yang engkau inginkan.”Maka, gantungkanlah keinginanmu hanya kepada Allah Ta’ala, berharaplah kepada-Nya, serahkan seluruh urusanmu kepada-Nya, berhentilah terlalu mengharapkan sesuatu dari makhluk dan jangan bergantung kepada mereka.Ketahuilah wahai saudaraku, jika pengharapan dan tawakal kita kepada Allah Ta’ala menguat, dan doa-doa yang kita panjatkan itu penuh dengan ketulusan dan keseriusan; maka sungguh harapan kita tak akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Wallahu a’lam bisshawab. BACA JUGA; Tsalatsatul Ushul (17) : Tawakal ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab “Khutuwaath Ilaa As-Sa’adah.” (Langkah-Langkah Menuju Kebahagiaan) karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim Hafidhohullah dengan beberapa tambahan dan perubahan.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Menengok Orang Sakit, 73 Aliran Dalam Islam, Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid, Cara Menutup Aurat Yang BenarTags: Aqidahaqidah islamcara bertawakalcara tawakalhikmah tawakalkeutamaan tauhidkeutamaan tawakalkonsep tawakalnasiharnasihat islampengertian tawakalTauhidTawakal
Tawakal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan, Allah kaitkan dengan ibadah sebagaimana di dalam firman-Nya,فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)Allah Ta’ala jadikan tawakal ini sebagai sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Ia berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Para rasul adalah orang terdepan dan pemimpin manusia dalam hal tawakal kepada Allah Ta’ala. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata,رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Nabi Syuaib ‘alaihissalam juga pernah berkata,وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ“Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” (QS. Hud: 88)Tawakal adalah kunci utama terwujudnya keinginan, harapan, dan impian. Karena Allah Ta’ala berjanji akan mencukupi mereka yang bertawakal kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)BACA JUGA; Tawakal dalam Setiap Keadaan Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat tawakal yang benar 2. Buah manis bertawakal dengan benar Hakikat tawakal yang benarLalu, bagaimanakah tawakal yang benar itu?Hakikat tawakal yang benar adalah dengan menjalankan sebab-sebab yang ada dengan tetap menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak, maka akan Allah wujudkan dan kabulkan. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka hal tersebut tidak akan terwujud dan tidak akan dikabulkan.Mukmin yang benar, tidak akan memasrahkan urusannya secara total hanya kepada sebab saja (bekerja keras dan meyakini bahwa kesuksesannya hanya bisa diraih dengan kerja kerasnya sendiri) tanpa campur tangan Allah Ta’ala.Mukmin yang benar juga tidak hanya berpangku kepada takdir Allah Ta’ala dan meremehkan usaha serta kerja keras. Mukmin yang benar memiliki sikap pertengahan dan bijaksana. Ia akan berusaha menjalani sebab-sebab yang ada, bekerja keras, lalu memasrahkan semua hasilnya kepada Allah Ta’ala.Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan menjalani langkah-langkah (sebab) yang ada. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal menjalankan sebab dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Keseimbangan dan sikap pertengahan beliau ini terlihat jelas dalam perjalanan hijrah beliau ke Madinah.Lihatlah bagaimana sempurnanya rencana beliau? Bagaimana hati-hatinya beliau hingga keluar untuk menemui Abu Bakar di waktu yang tidak biasa agar manusia tidak melihatnya?Bahkan, beliau menyewa orang yang ahli dan berpengalaman di dalam mengetahui peta jalan dan padang pasir untuk membantunya keluar dari kota Makkah, meskipun orang tersebut adalah seorang musyrik. Beliau rencanakan segala sesuatunya dengan cermat dan cerdik.Semua itu beliau lakukan dengan kondisi yakin bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dan membantunya!Bahkan, beliau juga pernah bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَىٰ اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana seekor burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164 dan Ahmad no. 205)Burung yang notabene tidak memiliki akal saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kisahkan pergi di pagi hari dan pulang di sore hari untuk mendapatkan makanan. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang berakal?! Tentu saja berusaha dan mengambil sebab seharusnya sudah mengakar kuat pada diri kita.Salah dan keliru bila ada yang mengira bahwa makna tawakal adalah berserah diri total kepada Allah Ta’ala, tanpa perlu berusaha dan mencari sebab untuk mencapai tujuan. Ingin sukses dan memiliki harta, namun yang ia lakukan hanya berdoa kepada Allah tanpa bekerja. Sungguh ini adalah anggapan yang keliru.BACA JUGA; Salah Paham tentang Memahami TawakalBuah manis bertawakal dengan benar Tawakal yang benar akan menentramkan jiwa dan menstabilkan keadaan. Dengan rasa tawakal ini pula seorang mukmin bisa berlepas diri dari bergantung dan mengandalkan orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَمَا رَجَا أَحَدٌ مَخْلًوْقًا أَوْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ إِلَّا خَابَ ظَنُّهُ فِيْهِ“Tidaklah seseorang itu berharap kepada makhluk atau menggantungkan dirinya kepadanya, kecuali ia akan kecewa kepadanya.” (Al-Fatawa, 10: 257)Siapa yang memasrahkan seluruh urusannya kepada Allah Ta’ala, maka sungguh ia akan mendapatkan seluruh keinginannya.Lihatlah bagaimana Nabi Zakaria ‘alaihissalam, meskipun ia telah mencapai usia yang sangat tua dan istrinya tervonis mandul, namun Allah berikan kepada mereka anak yang sangat mulia, anak yang kelak akan menjadi salah satu Nabi utusan Allah Ta’ala.Lihat juga bagaimana ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail di lembah tandus yang tidak ada air maupun tumbuhan apapun. Lalu, Allah takdirkan anaknya ini menjadi seorang nabi yang mulia, nabi yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya.Sungguh semua itu, tidak lain karena besarnya tawakal mereka kepada Allah Ta’ala. Tingkat keimanan yang susah dijangkau oleh kita semua di masa sekarang. Imam Fudhail rahimahullah pernah mengatakan,لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الخَلْقِ لَا تُرِيْد مِنْهُمْ شَيْئًا لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلُّ مَا تُرِيْدُ“Jika engkau berhenti berharap dari makhluk dan tidak menginginkan apapun dari mereka, maka Tuhanmu akan memberikanmu apapun yang engkau inginkan.”Maka, gantungkanlah keinginanmu hanya kepada Allah Ta’ala, berharaplah kepada-Nya, serahkan seluruh urusanmu kepada-Nya, berhentilah terlalu mengharapkan sesuatu dari makhluk dan jangan bergantung kepada mereka.Ketahuilah wahai saudaraku, jika pengharapan dan tawakal kita kepada Allah Ta’ala menguat, dan doa-doa yang kita panjatkan itu penuh dengan ketulusan dan keseriusan; maka sungguh harapan kita tak akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Wallahu a’lam bisshawab. BACA JUGA; Tsalatsatul Ushul (17) : Tawakal ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab “Khutuwaath Ilaa As-Sa’adah.” (Langkah-Langkah Menuju Kebahagiaan) karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim Hafidhohullah dengan beberapa tambahan dan perubahan.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Menengok Orang Sakit, 73 Aliran Dalam Islam, Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid, Cara Menutup Aurat Yang BenarTags: Aqidahaqidah islamcara bertawakalcara tawakalhikmah tawakalkeutamaan tauhidkeutamaan tawakalkonsep tawakalnasiharnasihat islampengertian tawakalTauhidTawakal


Tawakal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan, Allah kaitkan dengan ibadah sebagaimana di dalam firman-Nya,فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)Allah Ta’ala jadikan tawakal ini sebagai sebab untuk mendapatkan kecintaan-Nya. Ia berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Para rasul adalah orang terdepan dan pemimpin manusia dalam hal tawakal kepada Allah Ta’ala. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata,رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)Nabi Syuaib ‘alaihissalam juga pernah berkata,وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ“Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” (QS. Hud: 88)Tawakal adalah kunci utama terwujudnya keinginan, harapan, dan impian. Karena Allah Ta’ala berjanji akan mencukupi mereka yang bertawakal kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)BACA JUGA; Tawakal dalam Setiap Keadaan Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat tawakal yang benar 2. Buah manis bertawakal dengan benar Hakikat tawakal yang benarLalu, bagaimanakah tawakal yang benar itu?Hakikat tawakal yang benar adalah dengan menjalankan sebab-sebab yang ada dengan tetap menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak, maka akan Allah wujudkan dan kabulkan. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka hal tersebut tidak akan terwujud dan tidak akan dikabulkan.Mukmin yang benar, tidak akan memasrahkan urusannya secara total hanya kepada sebab saja (bekerja keras dan meyakini bahwa kesuksesannya hanya bisa diraih dengan kerja kerasnya sendiri) tanpa campur tangan Allah Ta’ala.Mukmin yang benar juga tidak hanya berpangku kepada takdir Allah Ta’ala dan meremehkan usaha serta kerja keras. Mukmin yang benar memiliki sikap pertengahan dan bijaksana. Ia akan berusaha menjalani sebab-sebab yang ada, bekerja keras, lalu memasrahkan semua hasilnya kepada Allah Ta’ala.Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan menjalani langkah-langkah (sebab) yang ada. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal menjalankan sebab dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Keseimbangan dan sikap pertengahan beliau ini terlihat jelas dalam perjalanan hijrah beliau ke Madinah.Lihatlah bagaimana sempurnanya rencana beliau? Bagaimana hati-hatinya beliau hingga keluar untuk menemui Abu Bakar di waktu yang tidak biasa agar manusia tidak melihatnya?Bahkan, beliau menyewa orang yang ahli dan berpengalaman di dalam mengetahui peta jalan dan padang pasir untuk membantunya keluar dari kota Makkah, meskipun orang tersebut adalah seorang musyrik. Beliau rencanakan segala sesuatunya dengan cermat dan cerdik.Semua itu beliau lakukan dengan kondisi yakin bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dan membantunya!Bahkan, beliau juga pernah bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَىٰ اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana seekor burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164 dan Ahmad no. 205)Burung yang notabene tidak memiliki akal saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kisahkan pergi di pagi hari dan pulang di sore hari untuk mendapatkan makanan. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang berakal?! Tentu saja berusaha dan mengambil sebab seharusnya sudah mengakar kuat pada diri kita.Salah dan keliru bila ada yang mengira bahwa makna tawakal adalah berserah diri total kepada Allah Ta’ala, tanpa perlu berusaha dan mencari sebab untuk mencapai tujuan. Ingin sukses dan memiliki harta, namun yang ia lakukan hanya berdoa kepada Allah tanpa bekerja. Sungguh ini adalah anggapan yang keliru.BACA JUGA; Salah Paham tentang Memahami TawakalBuah manis bertawakal dengan benar Tawakal yang benar akan menentramkan jiwa dan menstabilkan keadaan. Dengan rasa tawakal ini pula seorang mukmin bisa berlepas diri dari bergantung dan mengandalkan orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,وَمَا رَجَا أَحَدٌ مَخْلًوْقًا أَوْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ إِلَّا خَابَ ظَنُّهُ فِيْهِ“Tidaklah seseorang itu berharap kepada makhluk atau menggantungkan dirinya kepadanya, kecuali ia akan kecewa kepadanya.” (Al-Fatawa, 10: 257)Siapa yang memasrahkan seluruh urusannya kepada Allah Ta’ala, maka sungguh ia akan mendapatkan seluruh keinginannya.Lihatlah bagaimana Nabi Zakaria ‘alaihissalam, meskipun ia telah mencapai usia yang sangat tua dan istrinya tervonis mandul, namun Allah berikan kepada mereka anak yang sangat mulia, anak yang kelak akan menjadi salah satu Nabi utusan Allah Ta’ala.Lihat juga bagaimana ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail di lembah tandus yang tidak ada air maupun tumbuhan apapun. Lalu, Allah takdirkan anaknya ini menjadi seorang nabi yang mulia, nabi yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya.Sungguh semua itu, tidak lain karena besarnya tawakal mereka kepada Allah Ta’ala. Tingkat keimanan yang susah dijangkau oleh kita semua di masa sekarang. Imam Fudhail rahimahullah pernah mengatakan,لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الخَلْقِ لَا تُرِيْد مِنْهُمْ شَيْئًا لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلُّ مَا تُرِيْدُ“Jika engkau berhenti berharap dari makhluk dan tidak menginginkan apapun dari mereka, maka Tuhanmu akan memberikanmu apapun yang engkau inginkan.”Maka, gantungkanlah keinginanmu hanya kepada Allah Ta’ala, berharaplah kepada-Nya, serahkan seluruh urusanmu kepada-Nya, berhentilah terlalu mengharapkan sesuatu dari makhluk dan jangan bergantung kepada mereka.Ketahuilah wahai saudaraku, jika pengharapan dan tawakal kita kepada Allah Ta’ala menguat, dan doa-doa yang kita panjatkan itu penuh dengan ketulusan dan keseriusan; maka sungguh harapan kita tak akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62)Wallahu a’lam bisshawab. BACA JUGA; Tsalatsatul Ushul (17) : Tawakal ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab “Khutuwaath Ilaa As-Sa’adah.” (Langkah-Langkah Menuju Kebahagiaan) karya Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim Hafidhohullah dengan beberapa tambahan dan perubahan.🔍 Hadits Tentang Bid'ah, Menengok Orang Sakit, 73 Aliran Dalam Islam, Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid, Cara Menutup Aurat Yang BenarTags: Aqidahaqidah islamcara bertawakalcara tawakalhikmah tawakalkeutamaan tauhidkeutamaan tawakalkonsep tawakalnasiharnasihat islampengertian tawakalTauhidTawakal

Cepat Lakukan Ini Setelah Bermaksiat – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Jika seorang Muslim terjatuh ke dalam kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjukuntuk berwudhu dan salat dua rakaat,lalu beristighfar dan bertaubat. Barang siapa yang melakukan itu, maka Allah akan mengampuninya.Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang berbuat dosa,lalu ia berdiri dan berwudhu, lalu ia salat dua rakaat,kemudian ia beristighfar kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Jadikanlah ini sebagai prinsip dalam hidupmu!Setiap kali kamu terjerumus ke dalam kemaksiatan, berdiri dan berwudhulah!Lalu salatlah dua rakaat dan mintalah ampun kepada Allah. Niscaya dosamu akan diampuni.Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang banyak bertaubat. Kata “Tawwabin” termasuk kata dalam bentuk mubalaghah, yakni banyak bertaubat.Setiap kali ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, ia segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala mencintai orang yang banyak bertaubat dan banyak memohon ampun. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja terhitung dalam satu majelis mengucapkan “Robbighfirlii wa tub ‘alay-ya innaka antat tawwaabul ghofuur” sebanyak seratus kali atau bahkan lebih. Padahal beliau telah diampuni atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, lalu bagaimana pula dengan selain beliau?Maka kita lebih butuh kepada taubat dan istighfar. Jadi, seorang Muslim hendaklah berusaha keras untuk menjauhi maksiat.Apabila ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. ==== فَإِذَا وَقَعَ الْمُسْلِمُ فِي مَعْصِيَةٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُبَادِرَ لِلتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَقَدْ أَرْشَدَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْوُضُوءِ وَصَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ الِاسْتِغْفَارِ مَعَ التَّوْبَةِ وَأَنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا جَاءَ عِنْدَ أَحْمَدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ هَذَا اجْعَلْهُ مَبْدَأً فِي حَيَاتِكَ كُلَّمَا وَقَعْتَ فِي مَعْصِيَةٍ قُمْ وَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَاسْتَغْفِرِ اللهَ يُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ وَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ كَلِمَةُ التَّوَّابِيْنَ عَلَى يَعْنِي مِنْ صِيَغِ الْمُبَالَغَةِ كَثِيرِيْ التَّوْبَةِ كُلَّمَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ مَنْ يُكْثِرُ مِنَ التَّوْبَةِ وَيُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَإِذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَدُّ لَهُ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ مِئَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةَ مَرَّةٍ وَهُوَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَكَيْفَ بِغَيْرِهِ؟ فَنَحْنُ أَحْوَجُ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ فَهَذَا إِذًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَجَنُّبِ الْمَعَاصِي وَإِذَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cepat Lakukan Ini Setelah Bermaksiat – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Jika seorang Muslim terjatuh ke dalam kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjukuntuk berwudhu dan salat dua rakaat,lalu beristighfar dan bertaubat. Barang siapa yang melakukan itu, maka Allah akan mengampuninya.Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang berbuat dosa,lalu ia berdiri dan berwudhu, lalu ia salat dua rakaat,kemudian ia beristighfar kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Jadikanlah ini sebagai prinsip dalam hidupmu!Setiap kali kamu terjerumus ke dalam kemaksiatan, berdiri dan berwudhulah!Lalu salatlah dua rakaat dan mintalah ampun kepada Allah. Niscaya dosamu akan diampuni.Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang banyak bertaubat. Kata “Tawwabin” termasuk kata dalam bentuk mubalaghah, yakni banyak bertaubat.Setiap kali ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, ia segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala mencintai orang yang banyak bertaubat dan banyak memohon ampun. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja terhitung dalam satu majelis mengucapkan “Robbighfirlii wa tub ‘alay-ya innaka antat tawwaabul ghofuur” sebanyak seratus kali atau bahkan lebih. Padahal beliau telah diampuni atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, lalu bagaimana pula dengan selain beliau?Maka kita lebih butuh kepada taubat dan istighfar. Jadi, seorang Muslim hendaklah berusaha keras untuk menjauhi maksiat.Apabila ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. ==== فَإِذَا وَقَعَ الْمُسْلِمُ فِي مَعْصِيَةٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُبَادِرَ لِلتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَقَدْ أَرْشَدَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْوُضُوءِ وَصَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ الِاسْتِغْفَارِ مَعَ التَّوْبَةِ وَأَنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا جَاءَ عِنْدَ أَحْمَدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ هَذَا اجْعَلْهُ مَبْدَأً فِي حَيَاتِكَ كُلَّمَا وَقَعْتَ فِي مَعْصِيَةٍ قُمْ وَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَاسْتَغْفِرِ اللهَ يُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ وَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ كَلِمَةُ التَّوَّابِيْنَ عَلَى يَعْنِي مِنْ صِيَغِ الْمُبَالَغَةِ كَثِيرِيْ التَّوْبَةِ كُلَّمَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ مَنْ يُكْثِرُ مِنَ التَّوْبَةِ وَيُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَإِذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَدُّ لَهُ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ مِئَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةَ مَرَّةٍ وَهُوَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَكَيْفَ بِغَيْرِهِ؟ فَنَحْنُ أَحْوَجُ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ فَهَذَا إِذًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَجَنُّبِ الْمَعَاصِي وَإِذَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika seorang Muslim terjatuh ke dalam kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjukuntuk berwudhu dan salat dua rakaat,lalu beristighfar dan bertaubat. Barang siapa yang melakukan itu, maka Allah akan mengampuninya.Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang berbuat dosa,lalu ia berdiri dan berwudhu, lalu ia salat dua rakaat,kemudian ia beristighfar kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Jadikanlah ini sebagai prinsip dalam hidupmu!Setiap kali kamu terjerumus ke dalam kemaksiatan, berdiri dan berwudhulah!Lalu salatlah dua rakaat dan mintalah ampun kepada Allah. Niscaya dosamu akan diampuni.Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang banyak bertaubat. Kata “Tawwabin” termasuk kata dalam bentuk mubalaghah, yakni banyak bertaubat.Setiap kali ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, ia segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala mencintai orang yang banyak bertaubat dan banyak memohon ampun. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja terhitung dalam satu majelis mengucapkan “Robbighfirlii wa tub ‘alay-ya innaka antat tawwaabul ghofuur” sebanyak seratus kali atau bahkan lebih. Padahal beliau telah diampuni atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, lalu bagaimana pula dengan selain beliau?Maka kita lebih butuh kepada taubat dan istighfar. Jadi, seorang Muslim hendaklah berusaha keras untuk menjauhi maksiat.Apabila ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. ==== فَإِذَا وَقَعَ الْمُسْلِمُ فِي مَعْصِيَةٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُبَادِرَ لِلتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَقَدْ أَرْشَدَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْوُضُوءِ وَصَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ الِاسْتِغْفَارِ مَعَ التَّوْبَةِ وَأَنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا جَاءَ عِنْدَ أَحْمَدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ هَذَا اجْعَلْهُ مَبْدَأً فِي حَيَاتِكَ كُلَّمَا وَقَعْتَ فِي مَعْصِيَةٍ قُمْ وَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَاسْتَغْفِرِ اللهَ يُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ وَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ كَلِمَةُ التَّوَّابِيْنَ عَلَى يَعْنِي مِنْ صِيَغِ الْمُبَالَغَةِ كَثِيرِيْ التَّوْبَةِ كُلَّمَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ مَنْ يُكْثِرُ مِنَ التَّوْبَةِ وَيُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَإِذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَدُّ لَهُ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ مِئَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةَ مَرَّةٍ وَهُوَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَكَيْفَ بِغَيْرِهِ؟ فَنَحْنُ أَحْوَجُ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ فَهَذَا إِذًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَجَنُّبِ الْمَعَاصِي وَإِذَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika seorang Muslim terjatuh ke dalam kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjukuntuk berwudhu dan salat dua rakaat,lalu beristighfar dan bertaubat. Barang siapa yang melakukan itu, maka Allah akan mengampuninya.Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang berbuat dosa,lalu ia berdiri dan berwudhu, lalu ia salat dua rakaat,kemudian ia beristighfar kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Jadikanlah ini sebagai prinsip dalam hidupmu!Setiap kali kamu terjerumus ke dalam kemaksiatan, berdiri dan berwudhulah!Lalu salatlah dua rakaat dan mintalah ampun kepada Allah. Niscaya dosamu akan diampuni.Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang banyak bertaubat. Kata “Tawwabin” termasuk kata dalam bentuk mubalaghah, yakni banyak bertaubat.Setiap kali ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, ia segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala mencintai orang yang banyak bertaubat dan banyak memohon ampun. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja terhitung dalam satu majelis mengucapkan “Robbighfirlii wa tub ‘alay-ya innaka antat tawwaabul ghofuur” sebanyak seratus kali atau bahkan lebih. Padahal beliau telah diampuni atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, lalu bagaimana pula dengan selain beliau?Maka kita lebih butuh kepada taubat dan istighfar. Jadi, seorang Muslim hendaklah berusaha keras untuk menjauhi maksiat.Apabila ia terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka hendaklah ia segera bertaubat dan beristighfar. ==== فَإِذَا وَقَعَ الْمُسْلِمُ فِي مَعْصِيَةٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُبَادِرَ لِلتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَقَدْ أَرْشَدَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْوُضُوءِ وَصَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ الِاسْتِغْفَارِ مَعَ التَّوْبَةِ وَأَنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا جَاءَ عِنْدَ أَحْمَدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ هَذَا اجْعَلْهُ مَبْدَأً فِي حَيَاتِكَ كُلَّمَا وَقَعْتَ فِي مَعْصِيَةٍ قُمْ وَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَاسْتَغْفِرِ اللهَ يُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ وَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ كَلِمَةُ التَّوَّابِيْنَ عَلَى يَعْنِي مِنْ صِيَغِ الْمُبَالَغَةِ كَثِيرِيْ التَّوْبَةِ كُلَّمَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَاللهُ تَعَالَى يُحِبُّ مَنْ يُكْثِرُ مِنَ التَّوْبَةِ وَيُكْثِرُ مِنَ الِاسْتِغْفَارِ وَإِذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَدُّ لَهُ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ مِئَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةَ مَرَّةٍ وَهُوَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَكَيْفَ بِغَيْرِهِ؟ فَنَحْنُ أَحْوَجُ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ فَهَذَا إِذًا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَجَنُّبِ الْمَعَاصِي وَإِذَا وَقَعَ فِي مَعْصِيَةٍ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى التَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Keutamaan dan Kandungan Surah Al-Kafirun

Surat Al-Kafirun adalah surah makkiyah dan masuk ke dalam kelompok surah al-mufasshal. Terdiri dari 6 ayat yang seluruh ayatnya berisi kewajiban seorang muslim untuk berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Surat Al-Kafirun memiliki beberapa nama, di antaranya surah Al-Kafirun, surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Muqasyqisyah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Jauhari rahimahullahu ketika menukil perkataan Al-Ashma’i rahimahullahu,وكان يقال لِ “قُلْ يا أيُّها الكافرونَ” و “قلْ هو الله أحدٌ”: المُقَشْقِشَتانِ، أي أنَّهما تُبْرِئانِ من النفاق“Surah Al-Kafirun dan surah Al-Ikhlas memiliki sebutan Al-Muqasyqisyatain, yakni bahwasanya keduanya membebaskan diri dari kemunafikan.” (As-Shihah Taaj Al-Lughah, 3: 1016) Daftar Isi sembunyikan 1. Sebab turunnya surat Al-Kafirun 2. Keutamaan surat Al-Kafirun 3. Kandungan makna surat Al-Kafirun 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 dan 3 3.3. Ayat 4 dan 5 3.4. Ayat 6 Sebab turunnya surat Al-KafirunSurat Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas ‘penawaran’ orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar beliau berkenan bergantian beribadah dengan cara mereka dan cara Islam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أن قريشا وعدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يعطوه مالا فيكون أغنى رجل بمكة ، ويزّوجوه ما أراد من النساء ، ويطئوا عقبه ، فقالوا له : هذا لك عندنا يا محمد ، وكفّ عن شتم آلهتنا ، فلا تذكرها بسوء ، فإن لم تفعل فإنا نعرض عليك خصلة واحدة ، فهي لك ولنا فيها صلاح . قال : ما هي ؟ قالوا : تعبد آلهتنا سنة : اللات والعزي ، ونعبد إلهك سنة ، قال : حتى أنْظُرَ ما يأْتي مِنْ عِنْدِ رَبّي . فجاء الوحي من اللوح المحفوظ : (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) السورة، وأنزل الله : (قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ) … إلى قوله : (فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ)“Orang-orang Quraisy menjanjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama harta yang melimpah sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah, menjanjikan akan menjodohkan beliau dengan siapapun yang beliau pilih, agar beliau berhenti berdakwah. Mereka mengatakan, “Ini akan menjadi milikmu, wahai Muhammad. Akan tetapi, tahan lisanmu dari mencela tuhan-tuhan kami atau mengatakan yang tidak baik tentang mereka. Jika masih tidak mau, kami ada penawaran, mungkin ini penawaran terbaik untuk kami dan untukmu.”(Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama) pun menjawab, “Apa itu?” (Mereka menukas), “Bagaimana jika selama setahun engkau menyembah tuhan kami (Al-Laat dan Al-Uzza) dan di tahun berikutnya kami menyembah tuhanmu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun menjawab, “Lihat saja sampai aku mendengar langsung dari Rabbku.” Maka, turunlah surat Al-Kafirun dan ayat 64-66 surah Az-Zumar.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir 10: 3471, At-Thabari dalam Jaami’ Al-Bayaan 24: 703, dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Shaghir no. 751)Hanya saja riwayat ini dilemahkan dengan sebab bersendirinya Abdullah bin Isa Al-Khazzaz dalam meriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind. Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan bahwa beliau (Abdullah bin Isa) lemah (Taqriib at-Tahdziib, hal. 317).Begitu pun riwayat-riwayat lain yang juga dinilai lemah, namun saling menguatkan satu sama lain dan tidak terdapat makna yang salah. Sehingga sebagian ulama seperti Syekh Al-Albani rahimahullahu menguatkannya.Keutamaan surat Al-KafirunDi antara keutamaan surat Al-Kafirun yang disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama adalah:Pertama: Mengandung makna berlepas diri dari kesyirikan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,إِذَا أَوَيْتَ إِلَى مَضْجَعِكَ، فَاقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ إِلَى خاَتِمَتِهَا؛ فَإنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشَّركِ“Jika engkau hendak tidur, bacalah surah Al-Kafirun hingga selesai. Karena surat tersebut mengandung bentuk berlepas dirinya seorang hamba dari segala macam bentuk kesyirikan.”Kedua: Mengikui sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan membacanya di beberapa salat. Seperti dua rakaat sebelum salat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama membaca di dalam dua rakaat sebelum salat Subuh dengan surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 726)Atau ketika salat sunah Tawaf, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه وسلم قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الطَّوَافِ بِسُورَتَيِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama salat sunah Tawaf dengan membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 1218)Dan lain-lain.Kandungan makna surat Al-KafirunAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir.”Di ayat ini Allah ‘Azza Wajalla menyeru kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar menegaskan prinsip seorang muslim kepada orang-orang kafir yang datang kepada beliau membawa penawaran untuk beribadah kepada selain-Nya.Allah berfirman dengan (قل) dalam rangka menghilangkan rasa berat hati di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama untuk menyampaikan hal tersebut, karena hal itu langsung dari Allah ‘Azza Wajalla.Dan secara tidak langsung juga memberikan pengajaran bahwa permasalahan akidah dan keyakinan adalah berasal dari Allah ‘Azza Wajalla dan bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Seperti dalam beberapa firman Allah berikut ini,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa Allahlah tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah, kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ ” (QS. Ali Imran: 64)Ayat 2 dan 3Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ  وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan seorang muslim harus benar-benar berlepas dari segala macam bentuk peribadahan. Baik di masa sekarang maupun akan datang. Allah ‘Azza Wajalla berfirman mengisahkan bagaimana Yakub ‘alaihissalam berpesan kepada anak-anaknya menunjukkan urgensi untuk tegas dalam urusan tauhid,أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 133)Ayat kedua dan ketiga hampir mirip, hanya saja ayat kedua menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun kemungkinan kami (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan kaum muslimin) akan turut serta dalam peribadahan kepada selain Allah. Ayat ketiga menegaskan bahwa tatkala mereka (orang-orang musyrik) beribadah kepada sesuatu selain bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama beribadah, maka perbuatan mereka bukan termasuk ibadah.Ayat 4 dan 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ  وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengibadahi sesembahan orang-orang kafir. Begitu pun sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah mengibadahi Allah Ta’ala. Dengan demikian, ayat 2 hingga ayat 5 dengan jelas menyebutkan sanggahan kepada orang-orang kafir bahwa baik di waktu lampau, waktu sekarang, atau yang akan datang, peribadahan kaum muslimin dan orang-orang kafir tidak akan pernah dalam satu tujuan.Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kekufuran dan tauhid berada di agama yang berbeda. Dengan demikian, melalui ayat ini, sempurnalah pelepasdirian Islam dan kaum muslimin dari segala macam bentuk peribadahan dan sesembahan selain apa yang telah syariat Islam tetapkan. Demikian pula, tidak selayaknya seorang muslim memiliki keyakinan bahwa agama-agama di dunia ini sama atau bahkan benar semua. Akan tetapi, wajib baginya untuk meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Baca juga: Keutamaan dan Kandungan Surat Ad-Dhuha—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Siapakah Mahram Kita, Ilmu Tauhid Dalam Islam, Waktu Solat Ashar, Mengasuh Anak YatimTags: alquranfaidah surat al kafirunkandungan surat al kafirunkeutamaan surat al kafirunnasihatnasihat islamsurat al kafiruntagsir surat al kafirun

Keutamaan dan Kandungan Surah Al-Kafirun

Surat Al-Kafirun adalah surah makkiyah dan masuk ke dalam kelompok surah al-mufasshal. Terdiri dari 6 ayat yang seluruh ayatnya berisi kewajiban seorang muslim untuk berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Surat Al-Kafirun memiliki beberapa nama, di antaranya surah Al-Kafirun, surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Muqasyqisyah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Jauhari rahimahullahu ketika menukil perkataan Al-Ashma’i rahimahullahu,وكان يقال لِ “قُلْ يا أيُّها الكافرونَ” و “قلْ هو الله أحدٌ”: المُقَشْقِشَتانِ، أي أنَّهما تُبْرِئانِ من النفاق“Surah Al-Kafirun dan surah Al-Ikhlas memiliki sebutan Al-Muqasyqisyatain, yakni bahwasanya keduanya membebaskan diri dari kemunafikan.” (As-Shihah Taaj Al-Lughah, 3: 1016) Daftar Isi sembunyikan 1. Sebab turunnya surat Al-Kafirun 2. Keutamaan surat Al-Kafirun 3. Kandungan makna surat Al-Kafirun 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 dan 3 3.3. Ayat 4 dan 5 3.4. Ayat 6 Sebab turunnya surat Al-KafirunSurat Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas ‘penawaran’ orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar beliau berkenan bergantian beribadah dengan cara mereka dan cara Islam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أن قريشا وعدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يعطوه مالا فيكون أغنى رجل بمكة ، ويزّوجوه ما أراد من النساء ، ويطئوا عقبه ، فقالوا له : هذا لك عندنا يا محمد ، وكفّ عن شتم آلهتنا ، فلا تذكرها بسوء ، فإن لم تفعل فإنا نعرض عليك خصلة واحدة ، فهي لك ولنا فيها صلاح . قال : ما هي ؟ قالوا : تعبد آلهتنا سنة : اللات والعزي ، ونعبد إلهك سنة ، قال : حتى أنْظُرَ ما يأْتي مِنْ عِنْدِ رَبّي . فجاء الوحي من اللوح المحفوظ : (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) السورة، وأنزل الله : (قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ) … إلى قوله : (فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ)“Orang-orang Quraisy menjanjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama harta yang melimpah sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah, menjanjikan akan menjodohkan beliau dengan siapapun yang beliau pilih, agar beliau berhenti berdakwah. Mereka mengatakan, “Ini akan menjadi milikmu, wahai Muhammad. Akan tetapi, tahan lisanmu dari mencela tuhan-tuhan kami atau mengatakan yang tidak baik tentang mereka. Jika masih tidak mau, kami ada penawaran, mungkin ini penawaran terbaik untuk kami dan untukmu.”(Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama) pun menjawab, “Apa itu?” (Mereka menukas), “Bagaimana jika selama setahun engkau menyembah tuhan kami (Al-Laat dan Al-Uzza) dan di tahun berikutnya kami menyembah tuhanmu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun menjawab, “Lihat saja sampai aku mendengar langsung dari Rabbku.” Maka, turunlah surat Al-Kafirun dan ayat 64-66 surah Az-Zumar.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir 10: 3471, At-Thabari dalam Jaami’ Al-Bayaan 24: 703, dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Shaghir no. 751)Hanya saja riwayat ini dilemahkan dengan sebab bersendirinya Abdullah bin Isa Al-Khazzaz dalam meriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind. Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan bahwa beliau (Abdullah bin Isa) lemah (Taqriib at-Tahdziib, hal. 317).Begitu pun riwayat-riwayat lain yang juga dinilai lemah, namun saling menguatkan satu sama lain dan tidak terdapat makna yang salah. Sehingga sebagian ulama seperti Syekh Al-Albani rahimahullahu menguatkannya.Keutamaan surat Al-KafirunDi antara keutamaan surat Al-Kafirun yang disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama adalah:Pertama: Mengandung makna berlepas diri dari kesyirikan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,إِذَا أَوَيْتَ إِلَى مَضْجَعِكَ، فَاقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ إِلَى خاَتِمَتِهَا؛ فَإنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشَّركِ“Jika engkau hendak tidur, bacalah surah Al-Kafirun hingga selesai. Karena surat tersebut mengandung bentuk berlepas dirinya seorang hamba dari segala macam bentuk kesyirikan.”Kedua: Mengikui sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan membacanya di beberapa salat. Seperti dua rakaat sebelum salat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama membaca di dalam dua rakaat sebelum salat Subuh dengan surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 726)Atau ketika salat sunah Tawaf, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه وسلم قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الطَّوَافِ بِسُورَتَيِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama salat sunah Tawaf dengan membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 1218)Dan lain-lain.Kandungan makna surat Al-KafirunAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir.”Di ayat ini Allah ‘Azza Wajalla menyeru kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar menegaskan prinsip seorang muslim kepada orang-orang kafir yang datang kepada beliau membawa penawaran untuk beribadah kepada selain-Nya.Allah berfirman dengan (قل) dalam rangka menghilangkan rasa berat hati di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama untuk menyampaikan hal tersebut, karena hal itu langsung dari Allah ‘Azza Wajalla.Dan secara tidak langsung juga memberikan pengajaran bahwa permasalahan akidah dan keyakinan adalah berasal dari Allah ‘Azza Wajalla dan bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Seperti dalam beberapa firman Allah berikut ini,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa Allahlah tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah, kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ ” (QS. Ali Imran: 64)Ayat 2 dan 3Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ  وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan seorang muslim harus benar-benar berlepas dari segala macam bentuk peribadahan. Baik di masa sekarang maupun akan datang. Allah ‘Azza Wajalla berfirman mengisahkan bagaimana Yakub ‘alaihissalam berpesan kepada anak-anaknya menunjukkan urgensi untuk tegas dalam urusan tauhid,أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 133)Ayat kedua dan ketiga hampir mirip, hanya saja ayat kedua menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun kemungkinan kami (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan kaum muslimin) akan turut serta dalam peribadahan kepada selain Allah. Ayat ketiga menegaskan bahwa tatkala mereka (orang-orang musyrik) beribadah kepada sesuatu selain bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama beribadah, maka perbuatan mereka bukan termasuk ibadah.Ayat 4 dan 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ  وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengibadahi sesembahan orang-orang kafir. Begitu pun sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah mengibadahi Allah Ta’ala. Dengan demikian, ayat 2 hingga ayat 5 dengan jelas menyebutkan sanggahan kepada orang-orang kafir bahwa baik di waktu lampau, waktu sekarang, atau yang akan datang, peribadahan kaum muslimin dan orang-orang kafir tidak akan pernah dalam satu tujuan.Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kekufuran dan tauhid berada di agama yang berbeda. Dengan demikian, melalui ayat ini, sempurnalah pelepasdirian Islam dan kaum muslimin dari segala macam bentuk peribadahan dan sesembahan selain apa yang telah syariat Islam tetapkan. Demikian pula, tidak selayaknya seorang muslim memiliki keyakinan bahwa agama-agama di dunia ini sama atau bahkan benar semua. Akan tetapi, wajib baginya untuk meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Baca juga: Keutamaan dan Kandungan Surat Ad-Dhuha—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Siapakah Mahram Kita, Ilmu Tauhid Dalam Islam, Waktu Solat Ashar, Mengasuh Anak YatimTags: alquranfaidah surat al kafirunkandungan surat al kafirunkeutamaan surat al kafirunnasihatnasihat islamsurat al kafiruntagsir surat al kafirun
Surat Al-Kafirun adalah surah makkiyah dan masuk ke dalam kelompok surah al-mufasshal. Terdiri dari 6 ayat yang seluruh ayatnya berisi kewajiban seorang muslim untuk berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Surat Al-Kafirun memiliki beberapa nama, di antaranya surah Al-Kafirun, surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Muqasyqisyah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Jauhari rahimahullahu ketika menukil perkataan Al-Ashma’i rahimahullahu,وكان يقال لِ “قُلْ يا أيُّها الكافرونَ” و “قلْ هو الله أحدٌ”: المُقَشْقِشَتانِ، أي أنَّهما تُبْرِئانِ من النفاق“Surah Al-Kafirun dan surah Al-Ikhlas memiliki sebutan Al-Muqasyqisyatain, yakni bahwasanya keduanya membebaskan diri dari kemunafikan.” (As-Shihah Taaj Al-Lughah, 3: 1016) Daftar Isi sembunyikan 1. Sebab turunnya surat Al-Kafirun 2. Keutamaan surat Al-Kafirun 3. Kandungan makna surat Al-Kafirun 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 dan 3 3.3. Ayat 4 dan 5 3.4. Ayat 6 Sebab turunnya surat Al-KafirunSurat Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas ‘penawaran’ orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar beliau berkenan bergantian beribadah dengan cara mereka dan cara Islam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أن قريشا وعدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يعطوه مالا فيكون أغنى رجل بمكة ، ويزّوجوه ما أراد من النساء ، ويطئوا عقبه ، فقالوا له : هذا لك عندنا يا محمد ، وكفّ عن شتم آلهتنا ، فلا تذكرها بسوء ، فإن لم تفعل فإنا نعرض عليك خصلة واحدة ، فهي لك ولنا فيها صلاح . قال : ما هي ؟ قالوا : تعبد آلهتنا سنة : اللات والعزي ، ونعبد إلهك سنة ، قال : حتى أنْظُرَ ما يأْتي مِنْ عِنْدِ رَبّي . فجاء الوحي من اللوح المحفوظ : (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) السورة، وأنزل الله : (قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ) … إلى قوله : (فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ)“Orang-orang Quraisy menjanjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama harta yang melimpah sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah, menjanjikan akan menjodohkan beliau dengan siapapun yang beliau pilih, agar beliau berhenti berdakwah. Mereka mengatakan, “Ini akan menjadi milikmu, wahai Muhammad. Akan tetapi, tahan lisanmu dari mencela tuhan-tuhan kami atau mengatakan yang tidak baik tentang mereka. Jika masih tidak mau, kami ada penawaran, mungkin ini penawaran terbaik untuk kami dan untukmu.”(Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama) pun menjawab, “Apa itu?” (Mereka menukas), “Bagaimana jika selama setahun engkau menyembah tuhan kami (Al-Laat dan Al-Uzza) dan di tahun berikutnya kami menyembah tuhanmu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun menjawab, “Lihat saja sampai aku mendengar langsung dari Rabbku.” Maka, turunlah surat Al-Kafirun dan ayat 64-66 surah Az-Zumar.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir 10: 3471, At-Thabari dalam Jaami’ Al-Bayaan 24: 703, dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Shaghir no. 751)Hanya saja riwayat ini dilemahkan dengan sebab bersendirinya Abdullah bin Isa Al-Khazzaz dalam meriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind. Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan bahwa beliau (Abdullah bin Isa) lemah (Taqriib at-Tahdziib, hal. 317).Begitu pun riwayat-riwayat lain yang juga dinilai lemah, namun saling menguatkan satu sama lain dan tidak terdapat makna yang salah. Sehingga sebagian ulama seperti Syekh Al-Albani rahimahullahu menguatkannya.Keutamaan surat Al-KafirunDi antara keutamaan surat Al-Kafirun yang disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama adalah:Pertama: Mengandung makna berlepas diri dari kesyirikan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,إِذَا أَوَيْتَ إِلَى مَضْجَعِكَ، فَاقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ إِلَى خاَتِمَتِهَا؛ فَإنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشَّركِ“Jika engkau hendak tidur, bacalah surah Al-Kafirun hingga selesai. Karena surat tersebut mengandung bentuk berlepas dirinya seorang hamba dari segala macam bentuk kesyirikan.”Kedua: Mengikui sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan membacanya di beberapa salat. Seperti dua rakaat sebelum salat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama membaca di dalam dua rakaat sebelum salat Subuh dengan surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 726)Atau ketika salat sunah Tawaf, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه وسلم قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الطَّوَافِ بِسُورَتَيِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama salat sunah Tawaf dengan membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 1218)Dan lain-lain.Kandungan makna surat Al-KafirunAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir.”Di ayat ini Allah ‘Azza Wajalla menyeru kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar menegaskan prinsip seorang muslim kepada orang-orang kafir yang datang kepada beliau membawa penawaran untuk beribadah kepada selain-Nya.Allah berfirman dengan (قل) dalam rangka menghilangkan rasa berat hati di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama untuk menyampaikan hal tersebut, karena hal itu langsung dari Allah ‘Azza Wajalla.Dan secara tidak langsung juga memberikan pengajaran bahwa permasalahan akidah dan keyakinan adalah berasal dari Allah ‘Azza Wajalla dan bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Seperti dalam beberapa firman Allah berikut ini,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa Allahlah tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah, kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ ” (QS. Ali Imran: 64)Ayat 2 dan 3Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ  وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan seorang muslim harus benar-benar berlepas dari segala macam bentuk peribadahan. Baik di masa sekarang maupun akan datang. Allah ‘Azza Wajalla berfirman mengisahkan bagaimana Yakub ‘alaihissalam berpesan kepada anak-anaknya menunjukkan urgensi untuk tegas dalam urusan tauhid,أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 133)Ayat kedua dan ketiga hampir mirip, hanya saja ayat kedua menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun kemungkinan kami (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan kaum muslimin) akan turut serta dalam peribadahan kepada selain Allah. Ayat ketiga menegaskan bahwa tatkala mereka (orang-orang musyrik) beribadah kepada sesuatu selain bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama beribadah, maka perbuatan mereka bukan termasuk ibadah.Ayat 4 dan 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ  وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengibadahi sesembahan orang-orang kafir. Begitu pun sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah mengibadahi Allah Ta’ala. Dengan demikian, ayat 2 hingga ayat 5 dengan jelas menyebutkan sanggahan kepada orang-orang kafir bahwa baik di waktu lampau, waktu sekarang, atau yang akan datang, peribadahan kaum muslimin dan orang-orang kafir tidak akan pernah dalam satu tujuan.Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kekufuran dan tauhid berada di agama yang berbeda. Dengan demikian, melalui ayat ini, sempurnalah pelepasdirian Islam dan kaum muslimin dari segala macam bentuk peribadahan dan sesembahan selain apa yang telah syariat Islam tetapkan. Demikian pula, tidak selayaknya seorang muslim memiliki keyakinan bahwa agama-agama di dunia ini sama atau bahkan benar semua. Akan tetapi, wajib baginya untuk meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Baca juga: Keutamaan dan Kandungan Surat Ad-Dhuha—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Siapakah Mahram Kita, Ilmu Tauhid Dalam Islam, Waktu Solat Ashar, Mengasuh Anak YatimTags: alquranfaidah surat al kafirunkandungan surat al kafirunkeutamaan surat al kafirunnasihatnasihat islamsurat al kafiruntagsir surat al kafirun


Surat Al-Kafirun adalah surah makkiyah dan masuk ke dalam kelompok surah al-mufasshal. Terdiri dari 6 ayat yang seluruh ayatnya berisi kewajiban seorang muslim untuk berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Surat Al-Kafirun memiliki beberapa nama, di antaranya surah Al-Kafirun, surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Muqasyqisyah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Jauhari rahimahullahu ketika menukil perkataan Al-Ashma’i rahimahullahu,وكان يقال لِ “قُلْ يا أيُّها الكافرونَ” و “قلْ هو الله أحدٌ”: المُقَشْقِشَتانِ، أي أنَّهما تُبْرِئانِ من النفاق“Surah Al-Kafirun dan surah Al-Ikhlas memiliki sebutan Al-Muqasyqisyatain, yakni bahwasanya keduanya membebaskan diri dari kemunafikan.” (As-Shihah Taaj Al-Lughah, 3: 1016) Daftar Isi sembunyikan 1. Sebab turunnya surat Al-Kafirun 2. Keutamaan surat Al-Kafirun 3. Kandungan makna surat Al-Kafirun 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 dan 3 3.3. Ayat 4 dan 5 3.4. Ayat 6 Sebab turunnya surat Al-KafirunSurat Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas ‘penawaran’ orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar beliau berkenan bergantian beribadah dengan cara mereka dan cara Islam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,أن قريشا وعدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يعطوه مالا فيكون أغنى رجل بمكة ، ويزّوجوه ما أراد من النساء ، ويطئوا عقبه ، فقالوا له : هذا لك عندنا يا محمد ، وكفّ عن شتم آلهتنا ، فلا تذكرها بسوء ، فإن لم تفعل فإنا نعرض عليك خصلة واحدة ، فهي لك ولنا فيها صلاح . قال : ما هي ؟ قالوا : تعبد آلهتنا سنة : اللات والعزي ، ونعبد إلهك سنة ، قال : حتى أنْظُرَ ما يأْتي مِنْ عِنْدِ رَبّي . فجاء الوحي من اللوح المحفوظ : (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) السورة، وأنزل الله : (قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ) … إلى قوله : (فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ)“Orang-orang Quraisy menjanjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama harta yang melimpah sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah, menjanjikan akan menjodohkan beliau dengan siapapun yang beliau pilih, agar beliau berhenti berdakwah. Mereka mengatakan, “Ini akan menjadi milikmu, wahai Muhammad. Akan tetapi, tahan lisanmu dari mencela tuhan-tuhan kami atau mengatakan yang tidak baik tentang mereka. Jika masih tidak mau, kami ada penawaran, mungkin ini penawaran terbaik untuk kami dan untukmu.”(Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama) pun menjawab, “Apa itu?” (Mereka menukas), “Bagaimana jika selama setahun engkau menyembah tuhan kami (Al-Laat dan Al-Uzza) dan di tahun berikutnya kami menyembah tuhanmu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun menjawab, “Lihat saja sampai aku mendengar langsung dari Rabbku.” Maka, turunlah surat Al-Kafirun dan ayat 64-66 surah Az-Zumar.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir 10: 3471, At-Thabari dalam Jaami’ Al-Bayaan 24: 703, dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Shaghir no. 751)Hanya saja riwayat ini dilemahkan dengan sebab bersendirinya Abdullah bin Isa Al-Khazzaz dalam meriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind. Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan bahwa beliau (Abdullah bin Isa) lemah (Taqriib at-Tahdziib, hal. 317).Begitu pun riwayat-riwayat lain yang juga dinilai lemah, namun saling menguatkan satu sama lain dan tidak terdapat makna yang salah. Sehingga sebagian ulama seperti Syekh Al-Albani rahimahullahu menguatkannya.Keutamaan surat Al-KafirunDi antara keutamaan surat Al-Kafirun yang disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama adalah:Pertama: Mengandung makna berlepas diri dari kesyirikan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,إِذَا أَوَيْتَ إِلَى مَضْجَعِكَ، فَاقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ إِلَى خاَتِمَتِهَا؛ فَإنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشَّركِ“Jika engkau hendak tidur, bacalah surah Al-Kafirun hingga selesai. Karena surat tersebut mengandung bentuk berlepas dirinya seorang hamba dari segala macam bentuk kesyirikan.”Kedua: Mengikui sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan membacanya di beberapa salat. Seperti dua rakaat sebelum salat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama membaca di dalam dua rakaat sebelum salat Subuh dengan surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 726)Atau ketika salat sunah Tawaf, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه وسلم قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الطَّوَافِ بِسُورَتَيِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama salat sunah Tawaf dengan membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 1218)Dan lain-lain.Kandungan makna surat Al-KafirunAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir.”Di ayat ini Allah ‘Azza Wajalla menyeru kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar menegaskan prinsip seorang muslim kepada orang-orang kafir yang datang kepada beliau membawa penawaran untuk beribadah kepada selain-Nya.Allah berfirman dengan (قل) dalam rangka menghilangkan rasa berat hati di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama untuk menyampaikan hal tersebut, karena hal itu langsung dari Allah ‘Azza Wajalla.Dan secara tidak langsung juga memberikan pengajaran bahwa permasalahan akidah dan keyakinan adalah berasal dari Allah ‘Azza Wajalla dan bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Seperti dalam beberapa firman Allah berikut ini,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa Allahlah tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah, kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ ” (QS. Ali Imran: 64)Ayat 2 dan 3Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ  وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan seorang muslim harus benar-benar berlepas dari segala macam bentuk peribadahan. Baik di masa sekarang maupun akan datang. Allah ‘Azza Wajalla berfirman mengisahkan bagaimana Yakub ‘alaihissalam berpesan kepada anak-anaknya menunjukkan urgensi untuk tegas dalam urusan tauhid,أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 133)Ayat kedua dan ketiga hampir mirip, hanya saja ayat kedua menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun kemungkinan kami (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan kaum muslimin) akan turut serta dalam peribadahan kepada selain Allah. Ayat ketiga menegaskan bahwa tatkala mereka (orang-orang musyrik) beribadah kepada sesuatu selain bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama beribadah, maka perbuatan mereka bukan termasuk ibadah.Ayat 4 dan 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ  وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengibadahi sesembahan orang-orang kafir. Begitu pun sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah mengibadahi Allah Ta’ala. Dengan demikian, ayat 2 hingga ayat 5 dengan jelas menyebutkan sanggahan kepada orang-orang kafir bahwa baik di waktu lampau, waktu sekarang, atau yang akan datang, peribadahan kaum muslimin dan orang-orang kafir tidak akan pernah dalam satu tujuan.Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kekufuran dan tauhid berada di agama yang berbeda. Dengan demikian, melalui ayat ini, sempurnalah pelepasdirian Islam dan kaum muslimin dari segala macam bentuk peribadahan dan sesembahan selain apa yang telah syariat Islam tetapkan. Demikian pula, tidak selayaknya seorang muslim memiliki keyakinan bahwa agama-agama di dunia ini sama atau bahkan benar semua. Akan tetapi, wajib baginya untuk meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.Baca juga: Keutamaan dan Kandungan Surat Ad-Dhuha—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Siapakah Mahram Kita, Ilmu Tauhid Dalam Islam, Waktu Solat Ashar, Mengasuh Anak YatimTags: alquranfaidah surat al kafirunkandungan surat al kafirunkeutamaan surat al kafirunnasihatnasihat islamsurat al kafiruntagsir surat al kafirun

Surah Ad-Duha: Keutamaan dan Kandungannya

Surat Ad-Dhuha terdiri dari 11 ayat, merupakan surah Makkiyah dan awal dari qishar al-mufashshal. Secara umum membahas tentang nikmat yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berupa nikmat zahir. Sementara surah setelahnya, yaitu surah Al-Insyirah membahas tentang nikmat batin yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan surat Ad-Dhuha 2. Sebab turunnya surat Ad-Dhuha 3. Kandungan surat Ad-Dhuha 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 3.3. Ayat 3 3.4. Ayat 4 3.5. Ayat 5 3.6. Ayat 6 3.7. Ayat 7 3.8. Ayat 8 3.9. Ayat 9 3.10. Ayat 10 3.11. Ayat 11 Keutamaan surat Ad-DhuhaTidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan keutamaan membaca surat Ad-Dhuha. Sehingga tidak dibenarkan seseorang membacanya disertai tujuan dan keyakinan memperoleh keutamaan tertentu (selain keutamaan umum membaca Al-Qur’an) tanpa disertai dalil khusus tentangnya.Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullahu menjelaskan,ومن البدع : التخصيص بلا دليل ، بقراءة آية ، أو سورة في زمان أو مكان أو لحاجة من الحاجات ، وهكذا قصد التخصيص بلا دليل .ومنها :– قراءة الفاتحة بنية قضاء الحوائج وتفريج الكربات .– قراءة سورة يس أربعين مرة بنية قضاء الحاجات ” انتهى باختصار .“Di antara bentuk kebid’ahan adalah mengkhususkan sebuah ibadah tanpa disertai dalil, seperti dengan membaca ayat atau surah tertentu di waktu atau tempat tertentu dengan tujuan tertentu. Dan yang semisalnya, ketika seorang mengkhususkannya tanpa diiringi dalil.Contohnya:Membaca surah Al-Fatihah dengan keyakinan bahwa hal tersebut bisa mengabulkan permohonannya dan menghilangkan kesulitan.Membaca surah Yasin sebanyak 40 kali dengan keyakinan agar kebutuhannya terpenuhi.”Sekadar membacanya dengan berharap pahala dan keutamaan membaca Al-Qur’an, tanpa diiringi keyakinan akan ada hal yang ‘spesial’ dibanding surah atau ayat lain, maka tidak mengapa. Wallahu a’lam.Sebab turunnya surat Ad-DhuhaJundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,اشْتَكَى النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً – أوْ لَيْلَتَيْنِ – فأتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقالَتْ: يا مُحَمَّدُ ما أُرَى شيطَانَكَ إلَّا قدْ تَرَكَكَ، فأنْزَلَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: {وَالضُّحَى واللَّيْلِ إذَا سَجَى ما ودَّعَكَ رَبُّكَ وما قَلَى}“Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sakit selama sehari atau dua hari. Seorang wanita datang ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama sembari berkata,‘Wahai Muhammad! Tidaklah aku saksikan bahwa setanmu itu meninggalkanmu.’Kemudian Allah ‘Azza Wajalla menurunkan surat Ad-Dhuha.” (HR. Bukhari no. 4950)Kedatangan malaikat Jibril merupakan kebahagiaan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama karena kembali mendengar wahyu setelah beberapa saat terhenti, mendapat ilmu yang baru, dan sebagainya.Kedatangan Ummu Jamil dalam rangka memunculkan keraguan di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Akan tetapi, Allah ‘Azza Wajalla segera menegakkan kembali hati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallama.Kandungan surat Ad-DhuhaAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَالضُّحَىٰ“Demi waktu matahari sepenggalahan naik.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,أقسم تعالى بالنهار إذا انتشر ضياؤه بالضحى.“Allah bersumpah dengan waktu siang ketika cahayanya mulai terang dengan datangnya waktu duha.” (Tafsir As-Sa’diy)Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian waktu duha yang dimaksud. Sebagian berpendapat bahwa duha adalah 15 menit setelah terbit matahari hingga beberapa menit sebelum waktu zuhur. Namun, memutlakkan istilah duha pada siang hari secara keseluruhan juga tidak salah. Dengan beberapa argumen,PertamaAllah ‘Azza Wajalla berfirman,أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-A’raf: 98)Di ayat ini, Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan duha sebagai waktu siang (tidak terbatas awal pagi saja).KeduaDi ayat berikutnya, Allah ‘Azza Wajalla bersumpah dengan ‘waktu malam’.Allah menyebut waktu siang sebagai permulaan sumpah-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa siang adalah waktu di mana kebaikan bermula. Contohnya, salat pertama yang disunahkan dikerjakan setelah waktu terlarang (terbitnya matahari) adalah salat di waktu duha.Ayat 2Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”Tersebutnya waktu malam sebagai sumpah Allah ‘Azza Wajalla juga mengajarkan bahwa malam adalah salah satu makhluk Allah yang dengannya Allah jadikan waktu istirahat bagi manusia, waktu beribadah bagi orang-orang yang bertakwa, dan lain-lain.Sebagian salaf mengatakan bahwa Allah bersumpah dengan waktu malam juga dalam rangka memuji orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk beribadah kepada-Nya.Ayat 3مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”Ayat ini menjadi bantahan untuk mereka yang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan berusaha memunculkan keraguan di dalam hati beliau.Allah menegaskan, bahwa sekali-kali Dia tidak akan pernah meninggalkan utusan-Nya. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,ما تركك منذ اعتنى بك، ولا أهملك منذ رباك ورعاك، بل لم يزل يربيك أحسن تربية، ويعليك درجة بعد درجة.“Allah tidak akan pernah meninggalkanmu wahai Muhammad sejak Dia memeliharamu dan tidak pernah mengabaikanmu sedikit pun, bahkan Dia tetap akan mendidikmu dan mengangkat derajatmu.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 4وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ“Dan sesungguhnya kondisimu yang terakhir akan selalu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”Allah mengabarkan nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad berupa akan tetap menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallama berada di sebaik-baik keadaan atau kondisi. Baik yang sekarang, terlebih kondisinya di waktu kemudian.Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فلم يزل صلى الله عليه وسلم يصعد في درج المعالي ويمكن له الله دينه، وينصره على أعدائه، ويسدد له أحواله، حتى مات، وقد وصل إلى حال لا يصل إليها الأولون والآخرون، من الفضائل والنعم، وقرة العين، وسرور القلب“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama akan terus naik ke derajat yang tinggi. Allah akan kukuhkan agamanya, akan selalu menolong Nabi Muhammad dari musuh-musuh Islam, menguatkan langkah-langkah beliau, sampai berjumpa dengan Allah ‘Azza Wajalla. Sesungguhnya Rasulullah sampai ke derajat yang tidak pernah digapai oleh orang-orang terdahulu maupun akan datang, berupa keutamaan, nikmat, penyejuk pandangan, dan kebahagiaan hati.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”Allah tidak menyebutkan obyek pemberian di dalam ayat ini, di antara hikmahnya adalah bahwa apapun yang membuat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama puas dengannya.Dan di antara keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah agar umatnya menjadi ahli surga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berkata kepada para sahabatnya,والَّذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، إنِّي لَأَرْجُو أنْ تَكُونُوا نِصْفَ أهْلِ الجَنَّةِ“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap bahwa kalian menjadi separuh ahli surga.” (HR. Bukhari no. 6528)Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا أم لك، ولا أب، بل قد مات أبوه وأمه وهو لا يدبر نفسه، فآواه الله، وكفله جده عبد المطلب، ثم لما مات جده كفله الله عمه أبا طالب، حتى أيده بنصره وبالمؤمنين“Nabi dalam keadaan tidak tumbuh di bawah asuhan seorang ibu, tidak pula memiliki ayah. Nabi tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Akan tetapi, Allahlah yang menjaganya, melimpahkannya ke kakeknya, kemudian pamannya, lalu menyokongnya dengan pertolongan-Nya dan orang-orang beriman yang mendukung beliau.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 7Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan,ووجدك على غير الذي أنت عليه اليوم.“Yakni Allah mengatakan bahwa Nabi dulu tidak berada dalam kondisinya sekarang yang penuh karunia.” (Tafsir Ath-Thabari)Lebih jelasnya, As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا تدري ما الكتاب ولا الإيمان، فعلمك ما لم تكن تعلم، ووفقك لأحسن الأعمال والأخلاق“Nabi dalam keadaan tidak mengerti tentang Al-Qur’an, iman, kemudian Allah mengajarkan kepadamu (Wahai Nabi) apa-apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui dan menunjukimu kepada sebaik-baik perbuatan dan akhlak.”Ayat 8Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama dulunya bukan orang yang memiliki kelebihan dunia. Namun, Allah cukupkan beliau dengan berbagai karunia setelahnya. Kelebihan tersebut bisa membantu beliau dalam mendakwahkan agama. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa keberadaan orang-orang kaya yang membantu dakwah merupakan hal yang baik.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ، فَسَمِعَهُ جارٌ له، فقالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ مالًا فَهو يُهْلِكُهُ في الحَقِّ، فقالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ.“Tidak diperbolehkan iri, kecuali kepada dua golongan, yaitu (pertama) orang yang Allah ajarkan Al-Qur’an dan dia membacanya baik malam atau siang hari. Sampai-sampai orang di sekitarnya mengatakan, andai saja aku mendapatkan apa yang si fulan dapat. Niscaya aku dapat beramal sebagaimana fulan. (Kedua) seseorang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk kebaikan. Sampai-sampai ada yang berkata, duhai kiranya aku memiliki harta sebagaimana si fulan, niscaya aku dapat melakukan hal yang sama yang ia kerjakan dengan hartanya.” (HR. Bukhari no. 5026)Ayat 9Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”Dengan sebab nikmat yang Allah limpahkan dan sebutkan sebelumnya, tidaklah pantas jika nikmat tadi diiringi dengan perbuatan yang buruk seperti menghardik anak yatim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengabarkan kebaikan untuk mereka yang merawat anak yatim,أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً“Aku dan yang merawat anak yatim, kelak di surga seperti ini (beliau menunjukkan jari tengah dan telunjuk beliau dan merenggangkannya sedikit sekali).” (HR. Bukhari no. 4998)Ayat 10Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”Di antara kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang selama beliau mampu. Bukan hanya kepada muslim, bahkan kepada orang kafir sekalipun.Ayat 11Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”Hal ini mencakup nikmat dunia maupun agama. Tentu saja mengabarkan nikmat ini jika memang dipandang terdapat maslahat di dalamnya. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فإن التحدث بنعمة الله، داع لشكرها، وموجب لتحبيب القلوب إلى من أنعم بها، فإن القلوب مجبولة على محبة المحسن.“Mengabarkan nikmat Allah akan mengundang rasa syukur, menjadikan hati semakin cinta kepada Zat yang memberi nikmat, karena pada dasarnya hati akan condong kepada setiap pelaku kebaikan.” (Tafsir As-Sa’diy)Semoga Allah Ta’ala membantu kita untuk belajar dan mengamalkan kandungan surat Ad-Dhuha ini. AamiinBaca juga: Tafsir Ayat Kursi—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Bumi Bulat Menurut Islam, Doa Diri Sendiri, Dzolim, Ilmu Kalam AdalahTags: alqurankeutamaan surat ad duhanasihatnasihat islamsurat ad duhaTafsirtafsir alqurantafsir surat ad duha

Surah Ad-Duha: Keutamaan dan Kandungannya

Surat Ad-Dhuha terdiri dari 11 ayat, merupakan surah Makkiyah dan awal dari qishar al-mufashshal. Secara umum membahas tentang nikmat yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berupa nikmat zahir. Sementara surah setelahnya, yaitu surah Al-Insyirah membahas tentang nikmat batin yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan surat Ad-Dhuha 2. Sebab turunnya surat Ad-Dhuha 3. Kandungan surat Ad-Dhuha 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 3.3. Ayat 3 3.4. Ayat 4 3.5. Ayat 5 3.6. Ayat 6 3.7. Ayat 7 3.8. Ayat 8 3.9. Ayat 9 3.10. Ayat 10 3.11. Ayat 11 Keutamaan surat Ad-DhuhaTidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan keutamaan membaca surat Ad-Dhuha. Sehingga tidak dibenarkan seseorang membacanya disertai tujuan dan keyakinan memperoleh keutamaan tertentu (selain keutamaan umum membaca Al-Qur’an) tanpa disertai dalil khusus tentangnya.Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullahu menjelaskan,ومن البدع : التخصيص بلا دليل ، بقراءة آية ، أو سورة في زمان أو مكان أو لحاجة من الحاجات ، وهكذا قصد التخصيص بلا دليل .ومنها :– قراءة الفاتحة بنية قضاء الحوائج وتفريج الكربات .– قراءة سورة يس أربعين مرة بنية قضاء الحاجات ” انتهى باختصار .“Di antara bentuk kebid’ahan adalah mengkhususkan sebuah ibadah tanpa disertai dalil, seperti dengan membaca ayat atau surah tertentu di waktu atau tempat tertentu dengan tujuan tertentu. Dan yang semisalnya, ketika seorang mengkhususkannya tanpa diiringi dalil.Contohnya:Membaca surah Al-Fatihah dengan keyakinan bahwa hal tersebut bisa mengabulkan permohonannya dan menghilangkan kesulitan.Membaca surah Yasin sebanyak 40 kali dengan keyakinan agar kebutuhannya terpenuhi.”Sekadar membacanya dengan berharap pahala dan keutamaan membaca Al-Qur’an, tanpa diiringi keyakinan akan ada hal yang ‘spesial’ dibanding surah atau ayat lain, maka tidak mengapa. Wallahu a’lam.Sebab turunnya surat Ad-DhuhaJundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,اشْتَكَى النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً – أوْ لَيْلَتَيْنِ – فأتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقالَتْ: يا مُحَمَّدُ ما أُرَى شيطَانَكَ إلَّا قدْ تَرَكَكَ، فأنْزَلَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: {وَالضُّحَى واللَّيْلِ إذَا سَجَى ما ودَّعَكَ رَبُّكَ وما قَلَى}“Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sakit selama sehari atau dua hari. Seorang wanita datang ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama sembari berkata,‘Wahai Muhammad! Tidaklah aku saksikan bahwa setanmu itu meninggalkanmu.’Kemudian Allah ‘Azza Wajalla menurunkan surat Ad-Dhuha.” (HR. Bukhari no. 4950)Kedatangan malaikat Jibril merupakan kebahagiaan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama karena kembali mendengar wahyu setelah beberapa saat terhenti, mendapat ilmu yang baru, dan sebagainya.Kedatangan Ummu Jamil dalam rangka memunculkan keraguan di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Akan tetapi, Allah ‘Azza Wajalla segera menegakkan kembali hati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallama.Kandungan surat Ad-DhuhaAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَالضُّحَىٰ“Demi waktu matahari sepenggalahan naik.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,أقسم تعالى بالنهار إذا انتشر ضياؤه بالضحى.“Allah bersumpah dengan waktu siang ketika cahayanya mulai terang dengan datangnya waktu duha.” (Tafsir As-Sa’diy)Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian waktu duha yang dimaksud. Sebagian berpendapat bahwa duha adalah 15 menit setelah terbit matahari hingga beberapa menit sebelum waktu zuhur. Namun, memutlakkan istilah duha pada siang hari secara keseluruhan juga tidak salah. Dengan beberapa argumen,PertamaAllah ‘Azza Wajalla berfirman,أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-A’raf: 98)Di ayat ini, Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan duha sebagai waktu siang (tidak terbatas awal pagi saja).KeduaDi ayat berikutnya, Allah ‘Azza Wajalla bersumpah dengan ‘waktu malam’.Allah menyebut waktu siang sebagai permulaan sumpah-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa siang adalah waktu di mana kebaikan bermula. Contohnya, salat pertama yang disunahkan dikerjakan setelah waktu terlarang (terbitnya matahari) adalah salat di waktu duha.Ayat 2Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”Tersebutnya waktu malam sebagai sumpah Allah ‘Azza Wajalla juga mengajarkan bahwa malam adalah salah satu makhluk Allah yang dengannya Allah jadikan waktu istirahat bagi manusia, waktu beribadah bagi orang-orang yang bertakwa, dan lain-lain.Sebagian salaf mengatakan bahwa Allah bersumpah dengan waktu malam juga dalam rangka memuji orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk beribadah kepada-Nya.Ayat 3مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”Ayat ini menjadi bantahan untuk mereka yang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan berusaha memunculkan keraguan di dalam hati beliau.Allah menegaskan, bahwa sekali-kali Dia tidak akan pernah meninggalkan utusan-Nya. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,ما تركك منذ اعتنى بك، ولا أهملك منذ رباك ورعاك، بل لم يزل يربيك أحسن تربية، ويعليك درجة بعد درجة.“Allah tidak akan pernah meninggalkanmu wahai Muhammad sejak Dia memeliharamu dan tidak pernah mengabaikanmu sedikit pun, bahkan Dia tetap akan mendidikmu dan mengangkat derajatmu.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 4وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ“Dan sesungguhnya kondisimu yang terakhir akan selalu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”Allah mengabarkan nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad berupa akan tetap menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallama berada di sebaik-baik keadaan atau kondisi. Baik yang sekarang, terlebih kondisinya di waktu kemudian.Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فلم يزل صلى الله عليه وسلم يصعد في درج المعالي ويمكن له الله دينه، وينصره على أعدائه، ويسدد له أحواله، حتى مات، وقد وصل إلى حال لا يصل إليها الأولون والآخرون، من الفضائل والنعم، وقرة العين، وسرور القلب“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama akan terus naik ke derajat yang tinggi. Allah akan kukuhkan agamanya, akan selalu menolong Nabi Muhammad dari musuh-musuh Islam, menguatkan langkah-langkah beliau, sampai berjumpa dengan Allah ‘Azza Wajalla. Sesungguhnya Rasulullah sampai ke derajat yang tidak pernah digapai oleh orang-orang terdahulu maupun akan datang, berupa keutamaan, nikmat, penyejuk pandangan, dan kebahagiaan hati.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”Allah tidak menyebutkan obyek pemberian di dalam ayat ini, di antara hikmahnya adalah bahwa apapun yang membuat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama puas dengannya.Dan di antara keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah agar umatnya menjadi ahli surga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berkata kepada para sahabatnya,والَّذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، إنِّي لَأَرْجُو أنْ تَكُونُوا نِصْفَ أهْلِ الجَنَّةِ“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap bahwa kalian menjadi separuh ahli surga.” (HR. Bukhari no. 6528)Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا أم لك، ولا أب، بل قد مات أبوه وأمه وهو لا يدبر نفسه، فآواه الله، وكفله جده عبد المطلب، ثم لما مات جده كفله الله عمه أبا طالب، حتى أيده بنصره وبالمؤمنين“Nabi dalam keadaan tidak tumbuh di bawah asuhan seorang ibu, tidak pula memiliki ayah. Nabi tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Akan tetapi, Allahlah yang menjaganya, melimpahkannya ke kakeknya, kemudian pamannya, lalu menyokongnya dengan pertolongan-Nya dan orang-orang beriman yang mendukung beliau.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 7Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan,ووجدك على غير الذي أنت عليه اليوم.“Yakni Allah mengatakan bahwa Nabi dulu tidak berada dalam kondisinya sekarang yang penuh karunia.” (Tafsir Ath-Thabari)Lebih jelasnya, As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا تدري ما الكتاب ولا الإيمان، فعلمك ما لم تكن تعلم، ووفقك لأحسن الأعمال والأخلاق“Nabi dalam keadaan tidak mengerti tentang Al-Qur’an, iman, kemudian Allah mengajarkan kepadamu (Wahai Nabi) apa-apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui dan menunjukimu kepada sebaik-baik perbuatan dan akhlak.”Ayat 8Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama dulunya bukan orang yang memiliki kelebihan dunia. Namun, Allah cukupkan beliau dengan berbagai karunia setelahnya. Kelebihan tersebut bisa membantu beliau dalam mendakwahkan agama. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa keberadaan orang-orang kaya yang membantu dakwah merupakan hal yang baik.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ، فَسَمِعَهُ جارٌ له، فقالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ مالًا فَهو يُهْلِكُهُ في الحَقِّ، فقالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ.“Tidak diperbolehkan iri, kecuali kepada dua golongan, yaitu (pertama) orang yang Allah ajarkan Al-Qur’an dan dia membacanya baik malam atau siang hari. Sampai-sampai orang di sekitarnya mengatakan, andai saja aku mendapatkan apa yang si fulan dapat. Niscaya aku dapat beramal sebagaimana fulan. (Kedua) seseorang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk kebaikan. Sampai-sampai ada yang berkata, duhai kiranya aku memiliki harta sebagaimana si fulan, niscaya aku dapat melakukan hal yang sama yang ia kerjakan dengan hartanya.” (HR. Bukhari no. 5026)Ayat 9Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”Dengan sebab nikmat yang Allah limpahkan dan sebutkan sebelumnya, tidaklah pantas jika nikmat tadi diiringi dengan perbuatan yang buruk seperti menghardik anak yatim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengabarkan kebaikan untuk mereka yang merawat anak yatim,أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً“Aku dan yang merawat anak yatim, kelak di surga seperti ini (beliau menunjukkan jari tengah dan telunjuk beliau dan merenggangkannya sedikit sekali).” (HR. Bukhari no. 4998)Ayat 10Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”Di antara kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang selama beliau mampu. Bukan hanya kepada muslim, bahkan kepada orang kafir sekalipun.Ayat 11Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”Hal ini mencakup nikmat dunia maupun agama. Tentu saja mengabarkan nikmat ini jika memang dipandang terdapat maslahat di dalamnya. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فإن التحدث بنعمة الله، داع لشكرها، وموجب لتحبيب القلوب إلى من أنعم بها، فإن القلوب مجبولة على محبة المحسن.“Mengabarkan nikmat Allah akan mengundang rasa syukur, menjadikan hati semakin cinta kepada Zat yang memberi nikmat, karena pada dasarnya hati akan condong kepada setiap pelaku kebaikan.” (Tafsir As-Sa’diy)Semoga Allah Ta’ala membantu kita untuk belajar dan mengamalkan kandungan surat Ad-Dhuha ini. AamiinBaca juga: Tafsir Ayat Kursi—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Bumi Bulat Menurut Islam, Doa Diri Sendiri, Dzolim, Ilmu Kalam AdalahTags: alqurankeutamaan surat ad duhanasihatnasihat islamsurat ad duhaTafsirtafsir alqurantafsir surat ad duha
Surat Ad-Dhuha terdiri dari 11 ayat, merupakan surah Makkiyah dan awal dari qishar al-mufashshal. Secara umum membahas tentang nikmat yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berupa nikmat zahir. Sementara surah setelahnya, yaitu surah Al-Insyirah membahas tentang nikmat batin yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan surat Ad-Dhuha 2. Sebab turunnya surat Ad-Dhuha 3. Kandungan surat Ad-Dhuha 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 3.3. Ayat 3 3.4. Ayat 4 3.5. Ayat 5 3.6. Ayat 6 3.7. Ayat 7 3.8. Ayat 8 3.9. Ayat 9 3.10. Ayat 10 3.11. Ayat 11 Keutamaan surat Ad-DhuhaTidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan keutamaan membaca surat Ad-Dhuha. Sehingga tidak dibenarkan seseorang membacanya disertai tujuan dan keyakinan memperoleh keutamaan tertentu (selain keutamaan umum membaca Al-Qur’an) tanpa disertai dalil khusus tentangnya.Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullahu menjelaskan,ومن البدع : التخصيص بلا دليل ، بقراءة آية ، أو سورة في زمان أو مكان أو لحاجة من الحاجات ، وهكذا قصد التخصيص بلا دليل .ومنها :– قراءة الفاتحة بنية قضاء الحوائج وتفريج الكربات .– قراءة سورة يس أربعين مرة بنية قضاء الحاجات ” انتهى باختصار .“Di antara bentuk kebid’ahan adalah mengkhususkan sebuah ibadah tanpa disertai dalil, seperti dengan membaca ayat atau surah tertentu di waktu atau tempat tertentu dengan tujuan tertentu. Dan yang semisalnya, ketika seorang mengkhususkannya tanpa diiringi dalil.Contohnya:Membaca surah Al-Fatihah dengan keyakinan bahwa hal tersebut bisa mengabulkan permohonannya dan menghilangkan kesulitan.Membaca surah Yasin sebanyak 40 kali dengan keyakinan agar kebutuhannya terpenuhi.”Sekadar membacanya dengan berharap pahala dan keutamaan membaca Al-Qur’an, tanpa diiringi keyakinan akan ada hal yang ‘spesial’ dibanding surah atau ayat lain, maka tidak mengapa. Wallahu a’lam.Sebab turunnya surat Ad-DhuhaJundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,اشْتَكَى النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً – أوْ لَيْلَتَيْنِ – فأتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقالَتْ: يا مُحَمَّدُ ما أُرَى شيطَانَكَ إلَّا قدْ تَرَكَكَ، فأنْزَلَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: {وَالضُّحَى واللَّيْلِ إذَا سَجَى ما ودَّعَكَ رَبُّكَ وما قَلَى}“Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sakit selama sehari atau dua hari. Seorang wanita datang ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama sembari berkata,‘Wahai Muhammad! Tidaklah aku saksikan bahwa setanmu itu meninggalkanmu.’Kemudian Allah ‘Azza Wajalla menurunkan surat Ad-Dhuha.” (HR. Bukhari no. 4950)Kedatangan malaikat Jibril merupakan kebahagiaan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama karena kembali mendengar wahyu setelah beberapa saat terhenti, mendapat ilmu yang baru, dan sebagainya.Kedatangan Ummu Jamil dalam rangka memunculkan keraguan di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Akan tetapi, Allah ‘Azza Wajalla segera menegakkan kembali hati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallama.Kandungan surat Ad-DhuhaAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَالضُّحَىٰ“Demi waktu matahari sepenggalahan naik.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,أقسم تعالى بالنهار إذا انتشر ضياؤه بالضحى.“Allah bersumpah dengan waktu siang ketika cahayanya mulai terang dengan datangnya waktu duha.” (Tafsir As-Sa’diy)Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian waktu duha yang dimaksud. Sebagian berpendapat bahwa duha adalah 15 menit setelah terbit matahari hingga beberapa menit sebelum waktu zuhur. Namun, memutlakkan istilah duha pada siang hari secara keseluruhan juga tidak salah. Dengan beberapa argumen,PertamaAllah ‘Azza Wajalla berfirman,أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-A’raf: 98)Di ayat ini, Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan duha sebagai waktu siang (tidak terbatas awal pagi saja).KeduaDi ayat berikutnya, Allah ‘Azza Wajalla bersumpah dengan ‘waktu malam’.Allah menyebut waktu siang sebagai permulaan sumpah-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa siang adalah waktu di mana kebaikan bermula. Contohnya, salat pertama yang disunahkan dikerjakan setelah waktu terlarang (terbitnya matahari) adalah salat di waktu duha.Ayat 2Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”Tersebutnya waktu malam sebagai sumpah Allah ‘Azza Wajalla juga mengajarkan bahwa malam adalah salah satu makhluk Allah yang dengannya Allah jadikan waktu istirahat bagi manusia, waktu beribadah bagi orang-orang yang bertakwa, dan lain-lain.Sebagian salaf mengatakan bahwa Allah bersumpah dengan waktu malam juga dalam rangka memuji orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk beribadah kepada-Nya.Ayat 3مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”Ayat ini menjadi bantahan untuk mereka yang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan berusaha memunculkan keraguan di dalam hati beliau.Allah menegaskan, bahwa sekali-kali Dia tidak akan pernah meninggalkan utusan-Nya. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,ما تركك منذ اعتنى بك، ولا أهملك منذ رباك ورعاك، بل لم يزل يربيك أحسن تربية، ويعليك درجة بعد درجة.“Allah tidak akan pernah meninggalkanmu wahai Muhammad sejak Dia memeliharamu dan tidak pernah mengabaikanmu sedikit pun, bahkan Dia tetap akan mendidikmu dan mengangkat derajatmu.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 4وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ“Dan sesungguhnya kondisimu yang terakhir akan selalu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”Allah mengabarkan nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad berupa akan tetap menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallama berada di sebaik-baik keadaan atau kondisi. Baik yang sekarang, terlebih kondisinya di waktu kemudian.Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فلم يزل صلى الله عليه وسلم يصعد في درج المعالي ويمكن له الله دينه، وينصره على أعدائه، ويسدد له أحواله، حتى مات، وقد وصل إلى حال لا يصل إليها الأولون والآخرون، من الفضائل والنعم، وقرة العين، وسرور القلب“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama akan terus naik ke derajat yang tinggi. Allah akan kukuhkan agamanya, akan selalu menolong Nabi Muhammad dari musuh-musuh Islam, menguatkan langkah-langkah beliau, sampai berjumpa dengan Allah ‘Azza Wajalla. Sesungguhnya Rasulullah sampai ke derajat yang tidak pernah digapai oleh orang-orang terdahulu maupun akan datang, berupa keutamaan, nikmat, penyejuk pandangan, dan kebahagiaan hati.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”Allah tidak menyebutkan obyek pemberian di dalam ayat ini, di antara hikmahnya adalah bahwa apapun yang membuat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama puas dengannya.Dan di antara keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah agar umatnya menjadi ahli surga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berkata kepada para sahabatnya,والَّذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، إنِّي لَأَرْجُو أنْ تَكُونُوا نِصْفَ أهْلِ الجَنَّةِ“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap bahwa kalian menjadi separuh ahli surga.” (HR. Bukhari no. 6528)Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا أم لك، ولا أب، بل قد مات أبوه وأمه وهو لا يدبر نفسه، فآواه الله، وكفله جده عبد المطلب، ثم لما مات جده كفله الله عمه أبا طالب، حتى أيده بنصره وبالمؤمنين“Nabi dalam keadaan tidak tumbuh di bawah asuhan seorang ibu, tidak pula memiliki ayah. Nabi tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Akan tetapi, Allahlah yang menjaganya, melimpahkannya ke kakeknya, kemudian pamannya, lalu menyokongnya dengan pertolongan-Nya dan orang-orang beriman yang mendukung beliau.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 7Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan,ووجدك على غير الذي أنت عليه اليوم.“Yakni Allah mengatakan bahwa Nabi dulu tidak berada dalam kondisinya sekarang yang penuh karunia.” (Tafsir Ath-Thabari)Lebih jelasnya, As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا تدري ما الكتاب ولا الإيمان، فعلمك ما لم تكن تعلم، ووفقك لأحسن الأعمال والأخلاق“Nabi dalam keadaan tidak mengerti tentang Al-Qur’an, iman, kemudian Allah mengajarkan kepadamu (Wahai Nabi) apa-apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui dan menunjukimu kepada sebaik-baik perbuatan dan akhlak.”Ayat 8Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama dulunya bukan orang yang memiliki kelebihan dunia. Namun, Allah cukupkan beliau dengan berbagai karunia setelahnya. Kelebihan tersebut bisa membantu beliau dalam mendakwahkan agama. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa keberadaan orang-orang kaya yang membantu dakwah merupakan hal yang baik.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ، فَسَمِعَهُ جارٌ له، فقالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ مالًا فَهو يُهْلِكُهُ في الحَقِّ، فقالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ.“Tidak diperbolehkan iri, kecuali kepada dua golongan, yaitu (pertama) orang yang Allah ajarkan Al-Qur’an dan dia membacanya baik malam atau siang hari. Sampai-sampai orang di sekitarnya mengatakan, andai saja aku mendapatkan apa yang si fulan dapat. Niscaya aku dapat beramal sebagaimana fulan. (Kedua) seseorang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk kebaikan. Sampai-sampai ada yang berkata, duhai kiranya aku memiliki harta sebagaimana si fulan, niscaya aku dapat melakukan hal yang sama yang ia kerjakan dengan hartanya.” (HR. Bukhari no. 5026)Ayat 9Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”Dengan sebab nikmat yang Allah limpahkan dan sebutkan sebelumnya, tidaklah pantas jika nikmat tadi diiringi dengan perbuatan yang buruk seperti menghardik anak yatim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengabarkan kebaikan untuk mereka yang merawat anak yatim,أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً“Aku dan yang merawat anak yatim, kelak di surga seperti ini (beliau menunjukkan jari tengah dan telunjuk beliau dan merenggangkannya sedikit sekali).” (HR. Bukhari no. 4998)Ayat 10Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”Di antara kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang selama beliau mampu. Bukan hanya kepada muslim, bahkan kepada orang kafir sekalipun.Ayat 11Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”Hal ini mencakup nikmat dunia maupun agama. Tentu saja mengabarkan nikmat ini jika memang dipandang terdapat maslahat di dalamnya. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فإن التحدث بنعمة الله، داع لشكرها، وموجب لتحبيب القلوب إلى من أنعم بها، فإن القلوب مجبولة على محبة المحسن.“Mengabarkan nikmat Allah akan mengundang rasa syukur, menjadikan hati semakin cinta kepada Zat yang memberi nikmat, karena pada dasarnya hati akan condong kepada setiap pelaku kebaikan.” (Tafsir As-Sa’diy)Semoga Allah Ta’ala membantu kita untuk belajar dan mengamalkan kandungan surat Ad-Dhuha ini. AamiinBaca juga: Tafsir Ayat Kursi—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Bumi Bulat Menurut Islam, Doa Diri Sendiri, Dzolim, Ilmu Kalam AdalahTags: alqurankeutamaan surat ad duhanasihatnasihat islamsurat ad duhaTafsirtafsir alqurantafsir surat ad duha


Surat Ad-Dhuha terdiri dari 11 ayat, merupakan surah Makkiyah dan awal dari qishar al-mufashshal. Secara umum membahas tentang nikmat yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berupa nikmat zahir. Sementara surah setelahnya, yaitu surah Al-Insyirah membahas tentang nikmat batin yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan surat Ad-Dhuha 2. Sebab turunnya surat Ad-Dhuha 3. Kandungan surat Ad-Dhuha 3.1. Ayat 1 3.2. Ayat 2 3.3. Ayat 3 3.4. Ayat 4 3.5. Ayat 5 3.6. Ayat 6 3.7. Ayat 7 3.8. Ayat 8 3.9. Ayat 9 3.10. Ayat 10 3.11. Ayat 11 Keutamaan surat Ad-DhuhaTidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan keutamaan membaca surat Ad-Dhuha. Sehingga tidak dibenarkan seseorang membacanya disertai tujuan dan keyakinan memperoleh keutamaan tertentu (selain keutamaan umum membaca Al-Qur’an) tanpa disertai dalil khusus tentangnya.Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullahu menjelaskan,ومن البدع : التخصيص بلا دليل ، بقراءة آية ، أو سورة في زمان أو مكان أو لحاجة من الحاجات ، وهكذا قصد التخصيص بلا دليل .ومنها :– قراءة الفاتحة بنية قضاء الحوائج وتفريج الكربات .– قراءة سورة يس أربعين مرة بنية قضاء الحاجات ” انتهى باختصار .“Di antara bentuk kebid’ahan adalah mengkhususkan sebuah ibadah tanpa disertai dalil, seperti dengan membaca ayat atau surah tertentu di waktu atau tempat tertentu dengan tujuan tertentu. Dan yang semisalnya, ketika seorang mengkhususkannya tanpa diiringi dalil.Contohnya:Membaca surah Al-Fatihah dengan keyakinan bahwa hal tersebut bisa mengabulkan permohonannya dan menghilangkan kesulitan.Membaca surah Yasin sebanyak 40 kali dengan keyakinan agar kebutuhannya terpenuhi.”Sekadar membacanya dengan berharap pahala dan keutamaan membaca Al-Qur’an, tanpa diiringi keyakinan akan ada hal yang ‘spesial’ dibanding surah atau ayat lain, maka tidak mengapa. Wallahu a’lam.Sebab turunnya surat Ad-DhuhaJundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,اشْتَكَى النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً – أوْ لَيْلَتَيْنِ – فأتَتْهُ امْرَأَةٌ، فَقالَتْ: يا مُحَمَّدُ ما أُرَى شيطَانَكَ إلَّا قدْ تَرَكَكَ، فأنْزَلَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: {وَالضُّحَى واللَّيْلِ إذَا سَجَى ما ودَّعَكَ رَبُّكَ وما قَلَى}“Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama sakit selama sehari atau dua hari. Seorang wanita datang ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama sembari berkata,‘Wahai Muhammad! Tidaklah aku saksikan bahwa setanmu itu meninggalkanmu.’Kemudian Allah ‘Azza Wajalla menurunkan surat Ad-Dhuha.” (HR. Bukhari no. 4950)Kedatangan malaikat Jibril merupakan kebahagiaan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama karena kembali mendengar wahyu setelah beberapa saat terhenti, mendapat ilmu yang baru, dan sebagainya.Kedatangan Ummu Jamil dalam rangka memunculkan keraguan di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama. Akan tetapi, Allah ‘Azza Wajalla segera menegakkan kembali hati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallama.Kandungan surat Ad-DhuhaAyat 1Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَالضُّحَىٰ“Demi waktu matahari sepenggalahan naik.”Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,أقسم تعالى بالنهار إذا انتشر ضياؤه بالضحى.“Allah bersumpah dengan waktu siang ketika cahayanya mulai terang dengan datangnya waktu duha.” (Tafsir As-Sa’diy)Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian waktu duha yang dimaksud. Sebagian berpendapat bahwa duha adalah 15 menit setelah terbit matahari hingga beberapa menit sebelum waktu zuhur. Namun, memutlakkan istilah duha pada siang hari secara keseluruhan juga tidak salah. Dengan beberapa argumen,PertamaAllah ‘Azza Wajalla berfirman,أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-A’raf: 98)Di ayat ini, Allah ‘Azza Wajalla menyebutkan duha sebagai waktu siang (tidak terbatas awal pagi saja).KeduaDi ayat berikutnya, Allah ‘Azza Wajalla bersumpah dengan ‘waktu malam’.Allah menyebut waktu siang sebagai permulaan sumpah-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa siang adalah waktu di mana kebaikan bermula. Contohnya, salat pertama yang disunahkan dikerjakan setelah waktu terlarang (terbitnya matahari) adalah salat di waktu duha.Ayat 2Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ“Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”Tersebutnya waktu malam sebagai sumpah Allah ‘Azza Wajalla juga mengajarkan bahwa malam adalah salah satu makhluk Allah yang dengannya Allah jadikan waktu istirahat bagi manusia, waktu beribadah bagi orang-orang yang bertakwa, dan lain-lain.Sebagian salaf mengatakan bahwa Allah bersumpah dengan waktu malam juga dalam rangka memuji orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk beribadah kepada-Nya.Ayat 3مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”Ayat ini menjadi bantahan untuk mereka yang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan berusaha memunculkan keraguan di dalam hati beliau.Allah menegaskan, bahwa sekali-kali Dia tidak akan pernah meninggalkan utusan-Nya. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,ما تركك منذ اعتنى بك، ولا أهملك منذ رباك ورعاك، بل لم يزل يربيك أحسن تربية، ويعليك درجة بعد درجة.“Allah tidak akan pernah meninggalkanmu wahai Muhammad sejak Dia memeliharamu dan tidak pernah mengabaikanmu sedikit pun, bahkan Dia tetap akan mendidikmu dan mengangkat derajatmu.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 4وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ“Dan sesungguhnya kondisimu yang terakhir akan selalu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”Allah mengabarkan nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad berupa akan tetap menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wasallama berada di sebaik-baik keadaan atau kondisi. Baik yang sekarang, terlebih kondisinya di waktu kemudian.Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فلم يزل صلى الله عليه وسلم يصعد في درج المعالي ويمكن له الله دينه، وينصره على أعدائه، ويسدد له أحواله، حتى مات، وقد وصل إلى حال لا يصل إليها الأولون والآخرون، من الفضائل والنعم، وقرة العين، وسرور القلب“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama akan terus naik ke derajat yang tinggi. Allah akan kukuhkan agamanya, akan selalu menolong Nabi Muhammad dari musuh-musuh Islam, menguatkan langkah-langkah beliau, sampai berjumpa dengan Allah ‘Azza Wajalla. Sesungguhnya Rasulullah sampai ke derajat yang tidak pernah digapai oleh orang-orang terdahulu maupun akan datang, berupa keutamaan, nikmat, penyejuk pandangan, dan kebahagiaan hati.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 5Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”Allah tidak menyebutkan obyek pemberian di dalam ayat ini, di antara hikmahnya adalah bahwa apapun yang membuat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama puas dengannya.Dan di antara keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah agar umatnya menjadi ahli surga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama berkata kepada para sahabatnya,والَّذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، إنِّي لَأَرْجُو أنْ تَكُونُوا نِصْفَ أهْلِ الجَنَّةِ“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap bahwa kalian menjadi separuh ahli surga.” (HR. Bukhari no. 6528)Ayat 6Allah ‘Azza Wajalla berfirman,أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا أم لك، ولا أب، بل قد مات أبوه وأمه وهو لا يدبر نفسه، فآواه الله، وكفله جده عبد المطلب، ثم لما مات جده كفله الله عمه أبا طالب، حتى أيده بنصره وبالمؤمنين“Nabi dalam keadaan tidak tumbuh di bawah asuhan seorang ibu, tidak pula memiliki ayah. Nabi tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Akan tetapi, Allahlah yang menjaganya, melimpahkannya ke kakeknya, kemudian pamannya, lalu menyokongnya dengan pertolongan-Nya dan orang-orang beriman yang mendukung beliau.” (Tafsir As-Sa’diy)Ayat 7Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”Ath-Thabari rahimahullahu mengatakan,ووجدك على غير الذي أنت عليه اليوم.“Yakni Allah mengatakan bahwa Nabi dulu tidak berada dalam kondisinya sekarang yang penuh karunia.” (Tafsir Ath-Thabari)Lebih jelasnya, As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan,وجدك لا تدري ما الكتاب ولا الإيمان، فعلمك ما لم تكن تعلم، ووفقك لأحسن الأعمال والأخلاق“Nabi dalam keadaan tidak mengerti tentang Al-Qur’an, iman, kemudian Allah mengajarkan kepadamu (Wahai Nabi) apa-apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui dan menunjukimu kepada sebaik-baik perbuatan dan akhlak.”Ayat 8Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama dulunya bukan orang yang memiliki kelebihan dunia. Namun, Allah cukupkan beliau dengan berbagai karunia setelahnya. Kelebihan tersebut bisa membantu beliau dalam mendakwahkan agama. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa keberadaan orang-orang kaya yang membantu dakwah merupakan hal yang baik.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ، فَسَمِعَهُ جارٌ له، فقالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ مالًا فَهو يُهْلِكُهُ في الحَقِّ، فقالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَلُ.“Tidak diperbolehkan iri, kecuali kepada dua golongan, yaitu (pertama) orang yang Allah ajarkan Al-Qur’an dan dia membacanya baik malam atau siang hari. Sampai-sampai orang di sekitarnya mengatakan, andai saja aku mendapatkan apa yang si fulan dapat. Niscaya aku dapat beramal sebagaimana fulan. (Kedua) seseorang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk kebaikan. Sampai-sampai ada yang berkata, duhai kiranya aku memiliki harta sebagaimana si fulan, niscaya aku dapat melakukan hal yang sama yang ia kerjakan dengan hartanya.” (HR. Bukhari no. 5026)Ayat 9Allah ‘Azza Wajalla berfirman,فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”Dengan sebab nikmat yang Allah limpahkan dan sebutkan sebelumnya, tidaklah pantas jika nikmat tadi diiringi dengan perbuatan yang buruk seperti menghardik anak yatim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengabarkan kebaikan untuk mereka yang merawat anak yatim,أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً“Aku dan yang merawat anak yatim, kelak di surga seperti ini (beliau menunjukkan jari tengah dan telunjuk beliau dan merenggangkannya sedikit sekali).” (HR. Bukhari no. 4998)Ayat 10Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”Di antara kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama adalah beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang selama beliau mampu. Bukan hanya kepada muslim, bahkan kepada orang kafir sekalipun.Ayat 11Allah ‘Azza Wajalla berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”Hal ini mencakup nikmat dunia maupun agama. Tentu saja mengabarkan nikmat ini jika memang dipandang terdapat maslahat di dalamnya. Syekh As-Sa’diy rahimahullahu mengatakan,فإن التحدث بنعمة الله، داع لشكرها، وموجب لتحبيب القلوب إلى من أنعم بها، فإن القلوب مجبولة على محبة المحسن.“Mengabarkan nikmat Allah akan mengundang rasa syukur, menjadikan hati semakin cinta kepada Zat yang memberi nikmat, karena pada dasarnya hati akan condong kepada setiap pelaku kebaikan.” (Tafsir As-Sa’diy)Semoga Allah Ta’ala membantu kita untuk belajar dan mengamalkan kandungan surat Ad-Dhuha ini. AamiinBaca juga: Tafsir Ayat Kursi—Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dukhan, Bumi Bulat Menurut Islam, Doa Diri Sendiri, Dzolim, Ilmu Kalam AdalahTags: alqurankeutamaan surat ad duhanasihatnasihat islamsurat ad duhaTafsirtafsir alqurantafsir surat ad duha

Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 2)

BACA PEMBAHASAN SEBELUMNYA Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)  Daftar Isi sembunyikan 1. Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semata 2. Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya dunia 3. Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kita 4. Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal 5. Kesimpulan Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semataAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Bayyinah ayat 5,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya duniaAllah berfirman dalam surah Hud ayat 15 dan 16,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 16)اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 16)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 18)BACA JUGA: Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1) Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kitaوَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagi kita, tentunya termasuk dalam hal ini adalah berupaya untuk mendapatkan rezeki halal.احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)BACA JUGA: Jangan Khawatirkan Rezekimu Maksiat adalah penghalang rezeki yang halalRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه“Dan sesungguhnya seseorang benar-benar dihalangi mendapatkan rezeki karena dosa yang dilakukan olehnya.” (HR. Ibnu Majah, hasan)KesimpulanBerdasarkan gabungan dalil-dalil di atas dapat disimpulkan:Pertama: Tobat, ibadah, dzikrullah, doa, istigfar, dan dakwah adalah sebab didapatkannya rezeki dan terhindar dari musibah dan azab.Oleh karena itu, keberadaan para da’i, ahli ibadah, dan orang-orang saleh dalam sebuah masyarakat, hakikatnya mereka ikut andil dalam berusaha terhindarnya dari musibah dan azab. Maka, hal ini menuntut kita untuk mencontoh teladan mereka dan memberi perhatian, bantuan, dan dukungan kepada mereka, menjaga dan memuliakan mereka serta berterimakasih kepada mereka.Bukan justru menelantarkan mereka, memandang sebelah mata, apalagi menghalang-halangi dakwah mereka dan menzalimi mereka.Kedua: Ikhlaslah dalam beribadah dan beribadahlah sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan niatkan dalam beribadah, kecuali untuk mendapatkan rida dan pahala Allah semata. Namun, tetap iringilah dengan bekerja yang halal, niscaya dunia akan mengikuti anda.Ketiga: Jangan sampai meninggalkan ibadah atau malas beribadah, malas dzikrullah serta malas berdakwah, dengan alasan sibuk cari rezeki atau sibuk bersenang-senang menikmati dunia.Karena beralasan sibuk mencari rezeki sehingga sampai meninggalkan atau malas beribadah, dzikrullah, serta berdakwah itu justru bisa berdampak buruk pada perolehan rezeki atau berdampak pada perolehan keberkahan kalau pun mendapatkan rezeki.Setiap muslim dan muslimah bisa ikut andil dalam berdakwah, baik dengan ilmu syar’i, harta, kedudukan, teladan amal salehnya, atau pun segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.Keempat: Tidak benar seseorang hanya beribadah, berzikir, dan berdoa saja, tanpa mau bekerja mencari rezeki yang halal.Kelima: Beribadah kepada Allah dengan niat murni mencari dunia atau niat dunianya lebih besar daripada niat mencari rida dan pahala Allah atau sama kadar niat keduanya, maka pada semua kondisi ini pelakunya tidak mendapatkan pahala, sedangkan dunia yang ia niatkan hanya akan didapatkan jika Allah takdirkan untuknya. Adapun kadar dunia yang akan didapatkannya, tidak akan melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya.Jadi, seandainya seseorang meniatkan ibadahnya hanya untuk dunia semata, (misal: salat hanya agar sehat badannya, berpuasa Ramadan hanya untuk menurunkan berat badan, sedekah hanya untuk sembuh sakitnya), maka jika Allah tidak takdirkan dunia untuknya, ia tidak akan mendapatkan tujuan dunia yang diharapkannya. Dan seandainya Allah takdirkan dunia untuknya pun, maka ia tidak akan mendapatkan dunia melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya. Padahal ia sudah terjatuh dalam kesyirikan karena beribadah untuk dunia semata dan sudah terluput darinya pahala dan rida Allah.Keenam: Beribadah kepada Allah, apabila niat penggerak awalnya adalah mencari rida dan pahala Allah (lillah), dan niat lillah itu lebih besar daripada niat mencari dunia, maka ini tidak mengapa dan tidak berdosa, namun tidak afdal. Hanya saja, pelakunya tetap dikatakan ikhlas karena dalil menunjukkan bolehnya hal itu, sedangkan hukum itu berdasarkan yang paling terbanyak (mayoritas). Ketujuh: Yang afdal (paling utama) adalah beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya. Dalam kondisi ini, pelakunya akan mendapatkan dua keistimewaan sekaligus: 1) mendapatkan rida dan pahala-Nya; dan 2) sekaligus juga mendapatkan dunia, meski pelakunya tidak meniatkan mencari dunia, karena ini jaminan bagi setiap orang yang bertakwa, terlepas meniatkan cari dunia atau tidak. Allah berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Dari ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya, disimpulkan bahwa secara umum seluruh ibadah dan amal saleh itu sebab untuk didapatkannya rezeki dan keberkahan padanya. Oleh karena itu, barangsiapa  yang beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya, tidak ada niat dunia sedikit pun, maka ia mendapatkan kebaikan diniyyah ukhrawiyyah (rida dan pahala-Nya) dan kebaikan dunyawiyyah.Jadi, betapa ruginya seseorang yang meniatkan dunia dalam beribadah, meskipun niat dunianya itu minoritas. Karena jika seorang hamba, ibadahnya hanya lillah, tanpa diniatkan mencari dunia sedikit pun, pasti dunia akan didapatkan jika memang sudah menjadi takdir untuknya, ditambah lagi ia mendapatkan keuntungan rida Allah dan pahala yang sempurna, tidak terkurangi dengan niat dunia.Kedelapan: Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal dan diberkahi dan dapat menyebabkan terkena musibah. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]BACA JUGA:Banyak Anak, Banyak Rezeki?Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Kajian Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Dosa Riba Menurut Alquran Dan Sunnah, Gambar Cinta Abadi, Bacaan Dzikir PendekTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'ailmu tauhidkemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid

Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 2)

BACA PEMBAHASAN SEBELUMNYA Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)  Daftar Isi sembunyikan 1. Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semata 2. Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya dunia 3. Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kita 4. Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal 5. Kesimpulan Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semataAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Bayyinah ayat 5,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya duniaAllah berfirman dalam surah Hud ayat 15 dan 16,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 16)اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 16)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 18)BACA JUGA: Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1) Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kitaوَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagi kita, tentunya termasuk dalam hal ini adalah berupaya untuk mendapatkan rezeki halal.احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)BACA JUGA: Jangan Khawatirkan Rezekimu Maksiat adalah penghalang rezeki yang halalRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه“Dan sesungguhnya seseorang benar-benar dihalangi mendapatkan rezeki karena dosa yang dilakukan olehnya.” (HR. Ibnu Majah, hasan)KesimpulanBerdasarkan gabungan dalil-dalil di atas dapat disimpulkan:Pertama: Tobat, ibadah, dzikrullah, doa, istigfar, dan dakwah adalah sebab didapatkannya rezeki dan terhindar dari musibah dan azab.Oleh karena itu, keberadaan para da’i, ahli ibadah, dan orang-orang saleh dalam sebuah masyarakat, hakikatnya mereka ikut andil dalam berusaha terhindarnya dari musibah dan azab. Maka, hal ini menuntut kita untuk mencontoh teladan mereka dan memberi perhatian, bantuan, dan dukungan kepada mereka, menjaga dan memuliakan mereka serta berterimakasih kepada mereka.Bukan justru menelantarkan mereka, memandang sebelah mata, apalagi menghalang-halangi dakwah mereka dan menzalimi mereka.Kedua: Ikhlaslah dalam beribadah dan beribadahlah sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan niatkan dalam beribadah, kecuali untuk mendapatkan rida dan pahala Allah semata. Namun, tetap iringilah dengan bekerja yang halal, niscaya dunia akan mengikuti anda.Ketiga: Jangan sampai meninggalkan ibadah atau malas beribadah, malas dzikrullah serta malas berdakwah, dengan alasan sibuk cari rezeki atau sibuk bersenang-senang menikmati dunia.Karena beralasan sibuk mencari rezeki sehingga sampai meninggalkan atau malas beribadah, dzikrullah, serta berdakwah itu justru bisa berdampak buruk pada perolehan rezeki atau berdampak pada perolehan keberkahan kalau pun mendapatkan rezeki.Setiap muslim dan muslimah bisa ikut andil dalam berdakwah, baik dengan ilmu syar’i, harta, kedudukan, teladan amal salehnya, atau pun segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.Keempat: Tidak benar seseorang hanya beribadah, berzikir, dan berdoa saja, tanpa mau bekerja mencari rezeki yang halal.Kelima: Beribadah kepada Allah dengan niat murni mencari dunia atau niat dunianya lebih besar daripada niat mencari rida dan pahala Allah atau sama kadar niat keduanya, maka pada semua kondisi ini pelakunya tidak mendapatkan pahala, sedangkan dunia yang ia niatkan hanya akan didapatkan jika Allah takdirkan untuknya. Adapun kadar dunia yang akan didapatkannya, tidak akan melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya.Jadi, seandainya seseorang meniatkan ibadahnya hanya untuk dunia semata, (misal: salat hanya agar sehat badannya, berpuasa Ramadan hanya untuk menurunkan berat badan, sedekah hanya untuk sembuh sakitnya), maka jika Allah tidak takdirkan dunia untuknya, ia tidak akan mendapatkan tujuan dunia yang diharapkannya. Dan seandainya Allah takdirkan dunia untuknya pun, maka ia tidak akan mendapatkan dunia melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya. Padahal ia sudah terjatuh dalam kesyirikan karena beribadah untuk dunia semata dan sudah terluput darinya pahala dan rida Allah.Keenam: Beribadah kepada Allah, apabila niat penggerak awalnya adalah mencari rida dan pahala Allah (lillah), dan niat lillah itu lebih besar daripada niat mencari dunia, maka ini tidak mengapa dan tidak berdosa, namun tidak afdal. Hanya saja, pelakunya tetap dikatakan ikhlas karena dalil menunjukkan bolehnya hal itu, sedangkan hukum itu berdasarkan yang paling terbanyak (mayoritas). Ketujuh: Yang afdal (paling utama) adalah beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya. Dalam kondisi ini, pelakunya akan mendapatkan dua keistimewaan sekaligus: 1) mendapatkan rida dan pahala-Nya; dan 2) sekaligus juga mendapatkan dunia, meski pelakunya tidak meniatkan mencari dunia, karena ini jaminan bagi setiap orang yang bertakwa, terlepas meniatkan cari dunia atau tidak. Allah berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Dari ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya, disimpulkan bahwa secara umum seluruh ibadah dan amal saleh itu sebab untuk didapatkannya rezeki dan keberkahan padanya. Oleh karena itu, barangsiapa  yang beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya, tidak ada niat dunia sedikit pun, maka ia mendapatkan kebaikan diniyyah ukhrawiyyah (rida dan pahala-Nya) dan kebaikan dunyawiyyah.Jadi, betapa ruginya seseorang yang meniatkan dunia dalam beribadah, meskipun niat dunianya itu minoritas. Karena jika seorang hamba, ibadahnya hanya lillah, tanpa diniatkan mencari dunia sedikit pun, pasti dunia akan didapatkan jika memang sudah menjadi takdir untuknya, ditambah lagi ia mendapatkan keuntungan rida Allah dan pahala yang sempurna, tidak terkurangi dengan niat dunia.Kedelapan: Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal dan diberkahi dan dapat menyebabkan terkena musibah. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]BACA JUGA:Banyak Anak, Banyak Rezeki?Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Kajian Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Dosa Riba Menurut Alquran Dan Sunnah, Gambar Cinta Abadi, Bacaan Dzikir PendekTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'ailmu tauhidkemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid
BACA PEMBAHASAN SEBELUMNYA Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)  Daftar Isi sembunyikan 1. Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semata 2. Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya dunia 3. Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kita 4. Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal 5. Kesimpulan Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semataAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Bayyinah ayat 5,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya duniaAllah berfirman dalam surah Hud ayat 15 dan 16,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 16)اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 16)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 18)BACA JUGA: Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1) Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kitaوَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagi kita, tentunya termasuk dalam hal ini adalah berupaya untuk mendapatkan rezeki halal.احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)BACA JUGA: Jangan Khawatirkan Rezekimu Maksiat adalah penghalang rezeki yang halalRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه“Dan sesungguhnya seseorang benar-benar dihalangi mendapatkan rezeki karena dosa yang dilakukan olehnya.” (HR. Ibnu Majah, hasan)KesimpulanBerdasarkan gabungan dalil-dalil di atas dapat disimpulkan:Pertama: Tobat, ibadah, dzikrullah, doa, istigfar, dan dakwah adalah sebab didapatkannya rezeki dan terhindar dari musibah dan azab.Oleh karena itu, keberadaan para da’i, ahli ibadah, dan orang-orang saleh dalam sebuah masyarakat, hakikatnya mereka ikut andil dalam berusaha terhindarnya dari musibah dan azab. Maka, hal ini menuntut kita untuk mencontoh teladan mereka dan memberi perhatian, bantuan, dan dukungan kepada mereka, menjaga dan memuliakan mereka serta berterimakasih kepada mereka.Bukan justru menelantarkan mereka, memandang sebelah mata, apalagi menghalang-halangi dakwah mereka dan menzalimi mereka.Kedua: Ikhlaslah dalam beribadah dan beribadahlah sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan niatkan dalam beribadah, kecuali untuk mendapatkan rida dan pahala Allah semata. Namun, tetap iringilah dengan bekerja yang halal, niscaya dunia akan mengikuti anda.Ketiga: Jangan sampai meninggalkan ibadah atau malas beribadah, malas dzikrullah serta malas berdakwah, dengan alasan sibuk cari rezeki atau sibuk bersenang-senang menikmati dunia.Karena beralasan sibuk mencari rezeki sehingga sampai meninggalkan atau malas beribadah, dzikrullah, serta berdakwah itu justru bisa berdampak buruk pada perolehan rezeki atau berdampak pada perolehan keberkahan kalau pun mendapatkan rezeki.Setiap muslim dan muslimah bisa ikut andil dalam berdakwah, baik dengan ilmu syar’i, harta, kedudukan, teladan amal salehnya, atau pun segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.Keempat: Tidak benar seseorang hanya beribadah, berzikir, dan berdoa saja, tanpa mau bekerja mencari rezeki yang halal.Kelima: Beribadah kepada Allah dengan niat murni mencari dunia atau niat dunianya lebih besar daripada niat mencari rida dan pahala Allah atau sama kadar niat keduanya, maka pada semua kondisi ini pelakunya tidak mendapatkan pahala, sedangkan dunia yang ia niatkan hanya akan didapatkan jika Allah takdirkan untuknya. Adapun kadar dunia yang akan didapatkannya, tidak akan melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya.Jadi, seandainya seseorang meniatkan ibadahnya hanya untuk dunia semata, (misal: salat hanya agar sehat badannya, berpuasa Ramadan hanya untuk menurunkan berat badan, sedekah hanya untuk sembuh sakitnya), maka jika Allah tidak takdirkan dunia untuknya, ia tidak akan mendapatkan tujuan dunia yang diharapkannya. Dan seandainya Allah takdirkan dunia untuknya pun, maka ia tidak akan mendapatkan dunia melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya. Padahal ia sudah terjatuh dalam kesyirikan karena beribadah untuk dunia semata dan sudah terluput darinya pahala dan rida Allah.Keenam: Beribadah kepada Allah, apabila niat penggerak awalnya adalah mencari rida dan pahala Allah (lillah), dan niat lillah itu lebih besar daripada niat mencari dunia, maka ini tidak mengapa dan tidak berdosa, namun tidak afdal. Hanya saja, pelakunya tetap dikatakan ikhlas karena dalil menunjukkan bolehnya hal itu, sedangkan hukum itu berdasarkan yang paling terbanyak (mayoritas). Ketujuh: Yang afdal (paling utama) adalah beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya. Dalam kondisi ini, pelakunya akan mendapatkan dua keistimewaan sekaligus: 1) mendapatkan rida dan pahala-Nya; dan 2) sekaligus juga mendapatkan dunia, meski pelakunya tidak meniatkan mencari dunia, karena ini jaminan bagi setiap orang yang bertakwa, terlepas meniatkan cari dunia atau tidak. Allah berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Dari ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya, disimpulkan bahwa secara umum seluruh ibadah dan amal saleh itu sebab untuk didapatkannya rezeki dan keberkahan padanya. Oleh karena itu, barangsiapa  yang beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya, tidak ada niat dunia sedikit pun, maka ia mendapatkan kebaikan diniyyah ukhrawiyyah (rida dan pahala-Nya) dan kebaikan dunyawiyyah.Jadi, betapa ruginya seseorang yang meniatkan dunia dalam beribadah, meskipun niat dunianya itu minoritas. Karena jika seorang hamba, ibadahnya hanya lillah, tanpa diniatkan mencari dunia sedikit pun, pasti dunia akan didapatkan jika memang sudah menjadi takdir untuknya, ditambah lagi ia mendapatkan keuntungan rida Allah dan pahala yang sempurna, tidak terkurangi dengan niat dunia.Kedelapan: Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal dan diberkahi dan dapat menyebabkan terkena musibah. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]BACA JUGA:Banyak Anak, Banyak Rezeki?Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Kajian Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Dosa Riba Menurut Alquran Dan Sunnah, Gambar Cinta Abadi, Bacaan Dzikir PendekTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'ailmu tauhidkemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid


BACA PEMBAHASAN SEBELUMNYA Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)  Daftar Isi sembunyikan 1. Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semata 2. Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya dunia 3. Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kita 4. Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal 5. Kesimpulan Namun ingat, kita tetap diperintahkan ikhlas beribadah untuk Allah semataAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Bayyinah ayat 5,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Larangan beribadah kepada Allah dengan niat hanya duniaAllah berfirman dalam surah Hud ayat 15 dan 16,مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 16)اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 16)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 18)BACA JUGA: Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (1) Allah ingatkan kita agar tidak melupakan perkara yang bermanfaat untuk kehidupan dunia kitaوَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagi kita, tentunya termasuk dalam hal ini adalah berupaya untuk mendapatkan rezeki halal.احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)BACA JUGA: Jangan Khawatirkan Rezekimu Maksiat adalah penghalang rezeki yang halalRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه“Dan sesungguhnya seseorang benar-benar dihalangi mendapatkan rezeki karena dosa yang dilakukan olehnya.” (HR. Ibnu Majah, hasan)KesimpulanBerdasarkan gabungan dalil-dalil di atas dapat disimpulkan:Pertama: Tobat, ibadah, dzikrullah, doa, istigfar, dan dakwah adalah sebab didapatkannya rezeki dan terhindar dari musibah dan azab.Oleh karena itu, keberadaan para da’i, ahli ibadah, dan orang-orang saleh dalam sebuah masyarakat, hakikatnya mereka ikut andil dalam berusaha terhindarnya dari musibah dan azab. Maka, hal ini menuntut kita untuk mencontoh teladan mereka dan memberi perhatian, bantuan, dan dukungan kepada mereka, menjaga dan memuliakan mereka serta berterimakasih kepada mereka.Bukan justru menelantarkan mereka, memandang sebelah mata, apalagi menghalang-halangi dakwah mereka dan menzalimi mereka.Kedua: Ikhlaslah dalam beribadah dan beribadahlah sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan niatkan dalam beribadah, kecuali untuk mendapatkan rida dan pahala Allah semata. Namun, tetap iringilah dengan bekerja yang halal, niscaya dunia akan mengikuti anda.Ketiga: Jangan sampai meninggalkan ibadah atau malas beribadah, malas dzikrullah serta malas berdakwah, dengan alasan sibuk cari rezeki atau sibuk bersenang-senang menikmati dunia.Karena beralasan sibuk mencari rezeki sehingga sampai meninggalkan atau malas beribadah, dzikrullah, serta berdakwah itu justru bisa berdampak buruk pada perolehan rezeki atau berdampak pada perolehan keberkahan kalau pun mendapatkan rezeki.Setiap muslim dan muslimah bisa ikut andil dalam berdakwah, baik dengan ilmu syar’i, harta, kedudukan, teladan amal salehnya, atau pun segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.Keempat: Tidak benar seseorang hanya beribadah, berzikir, dan berdoa saja, tanpa mau bekerja mencari rezeki yang halal.Kelima: Beribadah kepada Allah dengan niat murni mencari dunia atau niat dunianya lebih besar daripada niat mencari rida dan pahala Allah atau sama kadar niat keduanya, maka pada semua kondisi ini pelakunya tidak mendapatkan pahala, sedangkan dunia yang ia niatkan hanya akan didapatkan jika Allah takdirkan untuknya. Adapun kadar dunia yang akan didapatkannya, tidak akan melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya.Jadi, seandainya seseorang meniatkan ibadahnya hanya untuk dunia semata, (misal: salat hanya agar sehat badannya, berpuasa Ramadan hanya untuk menurunkan berat badan, sedekah hanya untuk sembuh sakitnya), maka jika Allah tidak takdirkan dunia untuknya, ia tidak akan mendapatkan tujuan dunia yang diharapkannya. Dan seandainya Allah takdirkan dunia untuknya pun, maka ia tidak akan mendapatkan dunia melebihi apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuknya. Padahal ia sudah terjatuh dalam kesyirikan karena beribadah untuk dunia semata dan sudah terluput darinya pahala dan rida Allah.Keenam: Beribadah kepada Allah, apabila niat penggerak awalnya adalah mencari rida dan pahala Allah (lillah), dan niat lillah itu lebih besar daripada niat mencari dunia, maka ini tidak mengapa dan tidak berdosa, namun tidak afdal. Hanya saja, pelakunya tetap dikatakan ikhlas karena dalil menunjukkan bolehnya hal itu, sedangkan hukum itu berdasarkan yang paling terbanyak (mayoritas). Ketujuh: Yang afdal (paling utama) adalah beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya. Dalam kondisi ini, pelakunya akan mendapatkan dua keistimewaan sekaligus: 1) mendapatkan rida dan pahala-Nya; dan 2) sekaligus juga mendapatkan dunia, meski pelakunya tidak meniatkan mencari dunia, karena ini jaminan bagi setiap orang yang bertakwa, terlepas meniatkan cari dunia atau tidak. Allah berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)Dari ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya, disimpulkan bahwa secara umum seluruh ibadah dan amal saleh itu sebab untuk didapatkannya rezeki dan keberkahan padanya. Oleh karena itu, barangsiapa  yang beribadah kepada Allah dengan niat hanya mencari rida Allah dan pahala-Nya, tidak ada niat dunia sedikit pun, maka ia mendapatkan kebaikan diniyyah ukhrawiyyah (rida dan pahala-Nya) dan kebaikan dunyawiyyah.Jadi, betapa ruginya seseorang yang meniatkan dunia dalam beribadah, meskipun niat dunianya itu minoritas. Karena jika seorang hamba, ibadahnya hanya lillah, tanpa diniatkan mencari dunia sedikit pun, pasti dunia akan didapatkan jika memang sudah menjadi takdir untuknya, ditambah lagi ia mendapatkan keuntungan rida Allah dan pahala yang sempurna, tidak terkurangi dengan niat dunia.Kedelapan: Maksiat adalah penghalang rezeki yang halal dan diberkahi dan dapat menyebabkan terkena musibah. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]BACA JUGA:Banyak Anak, Banyak Rezeki?Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Kajian Islam, Macam-macam Manhaj Dalam Islam, Dosa Riba Menurut Alquran Dan Sunnah, Gambar Cinta Abadi, Bacaan Dzikir PendekTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'ailmu tauhidkemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid

Fatwa Ulama: Hukum Melewatkan Salat Subuh karena Tidur

Fatwa Syekh Ibnu Baz rahimahullah Pertanyaan: Terkadang saya melewatkan salat Subuh karena tidur, apakah ini dosa bagi saya?Jawaban:Perkara ini ada rinciannya. Jikalau tidur tersebut menguasaimu (bukan disengaja) dan anda tidak memiliki pilihan, maka tidur seperti ini tidak terhitung sebagai kelalaian dari dirimu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّه لا تَفريطَ في النَّومِ، إنَّما التَّفريطُ في اليَقَظةِ“Sesungguhnya bukan termasuk lalai karena tertidur, lalai itu adalah ketika terjaga.” (HR. Abu Dawud no. 437)Adapun jika engkau mampu bangun untuk salat Subuh dengan menyetel alarm atau meminta seseorang dari keluargamu untuk membangunkan, lalu kemudian engkau bermudahan-mudahan, maka engkau berdosa karena hal ini.Engkau harus sadar dan merasa awas. Bersegeralah tidur di awal waktu dan janganlah begadang sehingga engkau mampu bangun untuk melaksanakan salat Subuh.Jika engkau bermudah-mudahan dalam hal begadang, tidak mau menyetel alarm, atau tidak mau berusaha mencari orang yang bisa membangunkanmu, maka engkau seperti orang yang sengaja (meninggalkan salat Subuh). Bagimu dosa yang besar, dan bisa jadi engkau dihukumi kafir (keluar dari agama Islam) karena apa yang anda lakukan tersebut.Karena orang yang meninggalkan salat dengan sengaja sampai keluar dari waktunya, oleh sekumpulan ulama dihukumi keluar dari Islam berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,العَهدُ الَّذي بينَنا وبينَهمُ الصَّلاةُ فمن ترَكَها فقد كفرَ“Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah salat. Maka siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079, dan Ahmad no. 22987)Dan dari sahabat Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,إنَّ بيْنَ الرَّجُلِ وبيْنَ الشِّرْكِ والْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاةِ“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82).Penggunaan kata (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ bukan berarti perempuan tidak tercakup di dalamnya, karena hukum syariat berlaku untuk semuanya (laki-laki dan perempuan). Terkadang kata ganti yang digunakan adalah (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ dan hukumnya umum. Terkadang pula, kata ganti yang digunakan adalah (المرأة) ‘perempuan’, tetapi hukumnya umum menyeluruh untuk semuanya, karena semua orang itu mukallaf (terbebani kewajiban syariat).Telah berkata juga, Abdullah bis Syaqiiq Al-Uqaily rahimahullah, beliau adalah tabiin yang yang mulia,كَانَ أَصْحَابُ محمَّدٍ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لا يرونَ شيئًا من الأعمالِ تركُه كفرٌ ، غيرَ الصَّلاةِ“Dahulu para sahabat (Nabi) Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang adanya amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali salat.” (HR. Tirmidzi no. 2622)Sungguh salat memiliki kedudukan yang sangat agung. Sengaja meninggalkannya sampai keluar dari waktunya dihukumi kafir menurut jumlah yang besar dari kalangan ahli ilmu karena hadis-hadis yang telah kita sebutkan dan yang semakna dengannya.Adapun jika engkau tidak sengaja tertidur sebagaimana yang tadi kita sebutkan di awal, maka tidak ada dosa bagimu. Hanya saja engkau harus mengantisipasi, baik itu menyetel alarm, meminta tolong orang lain untuk membangunkan, dan tidur di awal waktu hingga kemudian bisa bangun (di pagi hari). Semua ini wajib dilakukan olehmu dan yang lainnya.Sungguh banyak sekali di antara manusia yang begadang dan tidur larut malam, kemudian ia tidak bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Sungguh ini merupakan kemungkaran dan dosa yang sangat besar.Sudah menjadi kewajiban bagi laki-laki dan perempuan untuk tidak begadang yang pada akhirnya mengakibatkan mereka meninggalkan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan melarang percakapan dan obrolan selepas salat Isya dan membenci tidur sebelum salat Isya. Nabi melarang kita dari berbincang-bincang dan mengobrol setelah salat Isya karena itu akan mengakibatkan kita meninggalkan salat Subuh.Tidak layak dan tidak patut begadang kecuali demi kemaslahatan syariat Islam, seperti begadang bersama tamu atau dengan istri untuk membahas kebutuhan masyarakat, kemudian tidur. Atau (begadang) demi kepentingan kaum muslimin seperti satpam dan penjaga yang menjaga kaum muslimin dan melindungi lingkungannya, ataupun yang semisalnya (yang harus begadang) demi memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin.Menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf untuk menjaga dan bersikap antisipatif dalam perkara salatnya. Hendaknya ia segera tidur di awal waktu hingga bisa bangun untuk mendirikan salat Subuh, menggunakan jam weker/alarm, dan meminta bantuan orang lain untuk membangunkannya. Sehingga ia bisa salat pada waktunya bersama kaum muslimin yang lain, ataupun seorang perempuan bisa melaksanakannya di rumahnya sendiri pada waktunya.Seperti inilah hukum salat wajib yang lainnya. Wajib hukumnya dilaksanakan pada waktunya. Tidak boleh bermudah-mudahan dan meremehkan hingga waktu salatnya menjadi sempit dan keluar dari waktunya.Wallahu a’lam bisshawabDiterjemahkan dari web resmi Syekh Binbaz rahimahullahu Ta’ala: binbaz.org.saBACA JUGA:Teks Khotbah Jumat: Kabar Gembira bagi Mereka yang Menjaga Salat SubuhSetelah Salat Tahiyatul Masjid Apakah Perlu Shalat Qabliyah Subuh?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Mahram, Siapakah Mahram Kita, Pakaian Yang Sesuai Dengan Syariat Islam, Bacaan Komat Sebelum Sholat, Penyimpangan AqidahTags: Fatwa Ulamagikih shalatkeutamaan shalat subuhmeninggalkan shalat subuhnasihatnasihat islampahala shalat subuhpanduan shalatshalat subuhshalat subuh berjamaahsubuh

Fatwa Ulama: Hukum Melewatkan Salat Subuh karena Tidur

Fatwa Syekh Ibnu Baz rahimahullah Pertanyaan: Terkadang saya melewatkan salat Subuh karena tidur, apakah ini dosa bagi saya?Jawaban:Perkara ini ada rinciannya. Jikalau tidur tersebut menguasaimu (bukan disengaja) dan anda tidak memiliki pilihan, maka tidur seperti ini tidak terhitung sebagai kelalaian dari dirimu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّه لا تَفريطَ في النَّومِ، إنَّما التَّفريطُ في اليَقَظةِ“Sesungguhnya bukan termasuk lalai karena tertidur, lalai itu adalah ketika terjaga.” (HR. Abu Dawud no. 437)Adapun jika engkau mampu bangun untuk salat Subuh dengan menyetel alarm atau meminta seseorang dari keluargamu untuk membangunkan, lalu kemudian engkau bermudahan-mudahan, maka engkau berdosa karena hal ini.Engkau harus sadar dan merasa awas. Bersegeralah tidur di awal waktu dan janganlah begadang sehingga engkau mampu bangun untuk melaksanakan salat Subuh.Jika engkau bermudah-mudahan dalam hal begadang, tidak mau menyetel alarm, atau tidak mau berusaha mencari orang yang bisa membangunkanmu, maka engkau seperti orang yang sengaja (meninggalkan salat Subuh). Bagimu dosa yang besar, dan bisa jadi engkau dihukumi kafir (keluar dari agama Islam) karena apa yang anda lakukan tersebut.Karena orang yang meninggalkan salat dengan sengaja sampai keluar dari waktunya, oleh sekumpulan ulama dihukumi keluar dari Islam berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,العَهدُ الَّذي بينَنا وبينَهمُ الصَّلاةُ فمن ترَكَها فقد كفرَ“Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah salat. Maka siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079, dan Ahmad no. 22987)Dan dari sahabat Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,إنَّ بيْنَ الرَّجُلِ وبيْنَ الشِّرْكِ والْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاةِ“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82).Penggunaan kata (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ bukan berarti perempuan tidak tercakup di dalamnya, karena hukum syariat berlaku untuk semuanya (laki-laki dan perempuan). Terkadang kata ganti yang digunakan adalah (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ dan hukumnya umum. Terkadang pula, kata ganti yang digunakan adalah (المرأة) ‘perempuan’, tetapi hukumnya umum menyeluruh untuk semuanya, karena semua orang itu mukallaf (terbebani kewajiban syariat).Telah berkata juga, Abdullah bis Syaqiiq Al-Uqaily rahimahullah, beliau adalah tabiin yang yang mulia,كَانَ أَصْحَابُ محمَّدٍ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لا يرونَ شيئًا من الأعمالِ تركُه كفرٌ ، غيرَ الصَّلاةِ“Dahulu para sahabat (Nabi) Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang adanya amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali salat.” (HR. Tirmidzi no. 2622)Sungguh salat memiliki kedudukan yang sangat agung. Sengaja meninggalkannya sampai keluar dari waktunya dihukumi kafir menurut jumlah yang besar dari kalangan ahli ilmu karena hadis-hadis yang telah kita sebutkan dan yang semakna dengannya.Adapun jika engkau tidak sengaja tertidur sebagaimana yang tadi kita sebutkan di awal, maka tidak ada dosa bagimu. Hanya saja engkau harus mengantisipasi, baik itu menyetel alarm, meminta tolong orang lain untuk membangunkan, dan tidur di awal waktu hingga kemudian bisa bangun (di pagi hari). Semua ini wajib dilakukan olehmu dan yang lainnya.Sungguh banyak sekali di antara manusia yang begadang dan tidur larut malam, kemudian ia tidak bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Sungguh ini merupakan kemungkaran dan dosa yang sangat besar.Sudah menjadi kewajiban bagi laki-laki dan perempuan untuk tidak begadang yang pada akhirnya mengakibatkan mereka meninggalkan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan melarang percakapan dan obrolan selepas salat Isya dan membenci tidur sebelum salat Isya. Nabi melarang kita dari berbincang-bincang dan mengobrol setelah salat Isya karena itu akan mengakibatkan kita meninggalkan salat Subuh.Tidak layak dan tidak patut begadang kecuali demi kemaslahatan syariat Islam, seperti begadang bersama tamu atau dengan istri untuk membahas kebutuhan masyarakat, kemudian tidur. Atau (begadang) demi kepentingan kaum muslimin seperti satpam dan penjaga yang menjaga kaum muslimin dan melindungi lingkungannya, ataupun yang semisalnya (yang harus begadang) demi memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin.Menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf untuk menjaga dan bersikap antisipatif dalam perkara salatnya. Hendaknya ia segera tidur di awal waktu hingga bisa bangun untuk mendirikan salat Subuh, menggunakan jam weker/alarm, dan meminta bantuan orang lain untuk membangunkannya. Sehingga ia bisa salat pada waktunya bersama kaum muslimin yang lain, ataupun seorang perempuan bisa melaksanakannya di rumahnya sendiri pada waktunya.Seperti inilah hukum salat wajib yang lainnya. Wajib hukumnya dilaksanakan pada waktunya. Tidak boleh bermudah-mudahan dan meremehkan hingga waktu salatnya menjadi sempit dan keluar dari waktunya.Wallahu a’lam bisshawabDiterjemahkan dari web resmi Syekh Binbaz rahimahullahu Ta’ala: binbaz.org.saBACA JUGA:Teks Khotbah Jumat: Kabar Gembira bagi Mereka yang Menjaga Salat SubuhSetelah Salat Tahiyatul Masjid Apakah Perlu Shalat Qabliyah Subuh?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Mahram, Siapakah Mahram Kita, Pakaian Yang Sesuai Dengan Syariat Islam, Bacaan Komat Sebelum Sholat, Penyimpangan AqidahTags: Fatwa Ulamagikih shalatkeutamaan shalat subuhmeninggalkan shalat subuhnasihatnasihat islampahala shalat subuhpanduan shalatshalat subuhshalat subuh berjamaahsubuh
Fatwa Syekh Ibnu Baz rahimahullah Pertanyaan: Terkadang saya melewatkan salat Subuh karena tidur, apakah ini dosa bagi saya?Jawaban:Perkara ini ada rinciannya. Jikalau tidur tersebut menguasaimu (bukan disengaja) dan anda tidak memiliki pilihan, maka tidur seperti ini tidak terhitung sebagai kelalaian dari dirimu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّه لا تَفريطَ في النَّومِ، إنَّما التَّفريطُ في اليَقَظةِ“Sesungguhnya bukan termasuk lalai karena tertidur, lalai itu adalah ketika terjaga.” (HR. Abu Dawud no. 437)Adapun jika engkau mampu bangun untuk salat Subuh dengan menyetel alarm atau meminta seseorang dari keluargamu untuk membangunkan, lalu kemudian engkau bermudahan-mudahan, maka engkau berdosa karena hal ini.Engkau harus sadar dan merasa awas. Bersegeralah tidur di awal waktu dan janganlah begadang sehingga engkau mampu bangun untuk melaksanakan salat Subuh.Jika engkau bermudah-mudahan dalam hal begadang, tidak mau menyetel alarm, atau tidak mau berusaha mencari orang yang bisa membangunkanmu, maka engkau seperti orang yang sengaja (meninggalkan salat Subuh). Bagimu dosa yang besar, dan bisa jadi engkau dihukumi kafir (keluar dari agama Islam) karena apa yang anda lakukan tersebut.Karena orang yang meninggalkan salat dengan sengaja sampai keluar dari waktunya, oleh sekumpulan ulama dihukumi keluar dari Islam berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,العَهدُ الَّذي بينَنا وبينَهمُ الصَّلاةُ فمن ترَكَها فقد كفرَ“Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah salat. Maka siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079, dan Ahmad no. 22987)Dan dari sahabat Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,إنَّ بيْنَ الرَّجُلِ وبيْنَ الشِّرْكِ والْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاةِ“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82).Penggunaan kata (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ bukan berarti perempuan tidak tercakup di dalamnya, karena hukum syariat berlaku untuk semuanya (laki-laki dan perempuan). Terkadang kata ganti yang digunakan adalah (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ dan hukumnya umum. Terkadang pula, kata ganti yang digunakan adalah (المرأة) ‘perempuan’, tetapi hukumnya umum menyeluruh untuk semuanya, karena semua orang itu mukallaf (terbebani kewajiban syariat).Telah berkata juga, Abdullah bis Syaqiiq Al-Uqaily rahimahullah, beliau adalah tabiin yang yang mulia,كَانَ أَصْحَابُ محمَّدٍ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لا يرونَ شيئًا من الأعمالِ تركُه كفرٌ ، غيرَ الصَّلاةِ“Dahulu para sahabat (Nabi) Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang adanya amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali salat.” (HR. Tirmidzi no. 2622)Sungguh salat memiliki kedudukan yang sangat agung. Sengaja meninggalkannya sampai keluar dari waktunya dihukumi kafir menurut jumlah yang besar dari kalangan ahli ilmu karena hadis-hadis yang telah kita sebutkan dan yang semakna dengannya.Adapun jika engkau tidak sengaja tertidur sebagaimana yang tadi kita sebutkan di awal, maka tidak ada dosa bagimu. Hanya saja engkau harus mengantisipasi, baik itu menyetel alarm, meminta tolong orang lain untuk membangunkan, dan tidur di awal waktu hingga kemudian bisa bangun (di pagi hari). Semua ini wajib dilakukan olehmu dan yang lainnya.Sungguh banyak sekali di antara manusia yang begadang dan tidur larut malam, kemudian ia tidak bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Sungguh ini merupakan kemungkaran dan dosa yang sangat besar.Sudah menjadi kewajiban bagi laki-laki dan perempuan untuk tidak begadang yang pada akhirnya mengakibatkan mereka meninggalkan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan melarang percakapan dan obrolan selepas salat Isya dan membenci tidur sebelum salat Isya. Nabi melarang kita dari berbincang-bincang dan mengobrol setelah salat Isya karena itu akan mengakibatkan kita meninggalkan salat Subuh.Tidak layak dan tidak patut begadang kecuali demi kemaslahatan syariat Islam, seperti begadang bersama tamu atau dengan istri untuk membahas kebutuhan masyarakat, kemudian tidur. Atau (begadang) demi kepentingan kaum muslimin seperti satpam dan penjaga yang menjaga kaum muslimin dan melindungi lingkungannya, ataupun yang semisalnya (yang harus begadang) demi memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin.Menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf untuk menjaga dan bersikap antisipatif dalam perkara salatnya. Hendaknya ia segera tidur di awal waktu hingga bisa bangun untuk mendirikan salat Subuh, menggunakan jam weker/alarm, dan meminta bantuan orang lain untuk membangunkannya. Sehingga ia bisa salat pada waktunya bersama kaum muslimin yang lain, ataupun seorang perempuan bisa melaksanakannya di rumahnya sendiri pada waktunya.Seperti inilah hukum salat wajib yang lainnya. Wajib hukumnya dilaksanakan pada waktunya. Tidak boleh bermudah-mudahan dan meremehkan hingga waktu salatnya menjadi sempit dan keluar dari waktunya.Wallahu a’lam bisshawabDiterjemahkan dari web resmi Syekh Binbaz rahimahullahu Ta’ala: binbaz.org.saBACA JUGA:Teks Khotbah Jumat: Kabar Gembira bagi Mereka yang Menjaga Salat SubuhSetelah Salat Tahiyatul Masjid Apakah Perlu Shalat Qabliyah Subuh?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Mahram, Siapakah Mahram Kita, Pakaian Yang Sesuai Dengan Syariat Islam, Bacaan Komat Sebelum Sholat, Penyimpangan AqidahTags: Fatwa Ulamagikih shalatkeutamaan shalat subuhmeninggalkan shalat subuhnasihatnasihat islampahala shalat subuhpanduan shalatshalat subuhshalat subuh berjamaahsubuh


Fatwa Syekh Ibnu Baz rahimahullah Pertanyaan: Terkadang saya melewatkan salat Subuh karena tidur, apakah ini dosa bagi saya?Jawaban:Perkara ini ada rinciannya. Jikalau tidur tersebut menguasaimu (bukan disengaja) dan anda tidak memiliki pilihan, maka tidur seperti ini tidak terhitung sebagai kelalaian dari dirimu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إنَّه لا تَفريطَ في النَّومِ، إنَّما التَّفريطُ في اليَقَظةِ“Sesungguhnya bukan termasuk lalai karena tertidur, lalai itu adalah ketika terjaga.” (HR. Abu Dawud no. 437)Adapun jika engkau mampu bangun untuk salat Subuh dengan menyetel alarm atau meminta seseorang dari keluargamu untuk membangunkan, lalu kemudian engkau bermudahan-mudahan, maka engkau berdosa karena hal ini.Engkau harus sadar dan merasa awas. Bersegeralah tidur di awal waktu dan janganlah begadang sehingga engkau mampu bangun untuk melaksanakan salat Subuh.Jika engkau bermudah-mudahan dalam hal begadang, tidak mau menyetel alarm, atau tidak mau berusaha mencari orang yang bisa membangunkanmu, maka engkau seperti orang yang sengaja (meninggalkan salat Subuh). Bagimu dosa yang besar, dan bisa jadi engkau dihukumi kafir (keluar dari agama Islam) karena apa yang anda lakukan tersebut.Karena orang yang meninggalkan salat dengan sengaja sampai keluar dari waktunya, oleh sekumpulan ulama dihukumi keluar dari Islam berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,العَهدُ الَّذي بينَنا وبينَهمُ الصَّلاةُ فمن ترَكَها فقد كفرَ“Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah salat. Maka siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079, dan Ahmad no. 22987)Dan dari sahabat Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,إنَّ بيْنَ الرَّجُلِ وبيْنَ الشِّرْكِ والْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاةِ“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim no. 82).Penggunaan kata (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ bukan berarti perempuan tidak tercakup di dalamnya, karena hukum syariat berlaku untuk semuanya (laki-laki dan perempuan). Terkadang kata ganti yang digunakan adalah (الرَّجُلِ) ‘laki-laki’ dan hukumnya umum. Terkadang pula, kata ganti yang digunakan adalah (المرأة) ‘perempuan’, tetapi hukumnya umum menyeluruh untuk semuanya, karena semua orang itu mukallaf (terbebani kewajiban syariat).Telah berkata juga, Abdullah bis Syaqiiq Al-Uqaily rahimahullah, beliau adalah tabiin yang yang mulia,كَانَ أَصْحَابُ محمَّدٍ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ لا يرونَ شيئًا من الأعمالِ تركُه كفرٌ ، غيرَ الصَّلاةِ“Dahulu para sahabat (Nabi) Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang adanya amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali salat.” (HR. Tirmidzi no. 2622)Sungguh salat memiliki kedudukan yang sangat agung. Sengaja meninggalkannya sampai keluar dari waktunya dihukumi kafir menurut jumlah yang besar dari kalangan ahli ilmu karena hadis-hadis yang telah kita sebutkan dan yang semakna dengannya.Adapun jika engkau tidak sengaja tertidur sebagaimana yang tadi kita sebutkan di awal, maka tidak ada dosa bagimu. Hanya saja engkau harus mengantisipasi, baik itu menyetel alarm, meminta tolong orang lain untuk membangunkan, dan tidur di awal waktu hingga kemudian bisa bangun (di pagi hari). Semua ini wajib dilakukan olehmu dan yang lainnya.Sungguh banyak sekali di antara manusia yang begadang dan tidur larut malam, kemudian ia tidak bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Sungguh ini merupakan kemungkaran dan dosa yang sangat besar.Sudah menjadi kewajiban bagi laki-laki dan perempuan untuk tidak begadang yang pada akhirnya mengakibatkan mereka meninggalkan salat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan melarang percakapan dan obrolan selepas salat Isya dan membenci tidur sebelum salat Isya. Nabi melarang kita dari berbincang-bincang dan mengobrol setelah salat Isya karena itu akan mengakibatkan kita meninggalkan salat Subuh.Tidak layak dan tidak patut begadang kecuali demi kemaslahatan syariat Islam, seperti begadang bersama tamu atau dengan istri untuk membahas kebutuhan masyarakat, kemudian tidur. Atau (begadang) demi kepentingan kaum muslimin seperti satpam dan penjaga yang menjaga kaum muslimin dan melindungi lingkungannya, ataupun yang semisalnya (yang harus begadang) demi memperhatikan kemaslahatan kaum muslimin.Menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf untuk menjaga dan bersikap antisipatif dalam perkara salatnya. Hendaknya ia segera tidur di awal waktu hingga bisa bangun untuk mendirikan salat Subuh, menggunakan jam weker/alarm, dan meminta bantuan orang lain untuk membangunkannya. Sehingga ia bisa salat pada waktunya bersama kaum muslimin yang lain, ataupun seorang perempuan bisa melaksanakannya di rumahnya sendiri pada waktunya.Seperti inilah hukum salat wajib yang lainnya. Wajib hukumnya dilaksanakan pada waktunya. Tidak boleh bermudah-mudahan dan meremehkan hingga waktu salatnya menjadi sempit dan keluar dari waktunya.Wallahu a’lam bisshawabDiterjemahkan dari web resmi Syekh Binbaz rahimahullahu Ta’ala: binbaz.org.saBACA JUGA:Teks Khotbah Jumat: Kabar Gembira bagi Mereka yang Menjaga Salat SubuhSetelah Salat Tahiyatul Masjid Apakah Perlu Shalat Qabliyah Subuh?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Mahram, Siapakah Mahram Kita, Pakaian Yang Sesuai Dengan Syariat Islam, Bacaan Komat Sebelum Sholat, Penyimpangan AqidahTags: Fatwa Ulamagikih shalatkeutamaan shalat subuhmeninggalkan shalat subuhnasihatnasihat islampahala shalat subuhpanduan shalatshalat subuhshalat subuh berjamaahsubuh

Salah Satu Rahasia Kejayaan Umat Islam Zaman Dahulu – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Wahai Saudara-Saudara, wakaf merupakan salah satu rahasiakemajuan kaum Muslimin di masa lalu.Dulu negara Islam hanya fokus membiayai penjagaan keamanan dalam negeridan keamanan luar negeri, serta peradilan antar masyarakat saja. Adapun hal-hal lainnya bertumpu sepenuhnya pada harta wakaf.Pendidikan bertumpu pada wakaf, kesehatan bertumpu pada wakaf, pembangunan jalan juga bertumpu pada wakaf. Seluruh layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat bertumpu pada harta wakaf.Negara hanya membiayai keamanan dalam dan luar negeri, serta peradilan. Hal ini berpengaruh pada majunya peradaban Islam,karena kaum Muslimin memberi perhatian besar kepada wakafdan berlomba-lomba untuk melakukannya. Wakaf adalah jalan paling baik untuk membelanjakan harta.Dalilnya adalah ketika Umar radhiyallahu ‘anhu meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtentang harta paling berharga yang pernah ia dapatkan dalam hidupnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankannya untuk mewakafkannya.Para ulama berkata, “Orang yang dimintai saran adalah orang yang mendapat amanah. Andai saja ada hal yang lebih utama daripada wakaf,niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya kepada Umar.”Makna “wakaf” secara bahasa adalah “menahan”. Unsur kata “wakaf” berkutat di sekitar makna “menahan”.Sedangkan secara istilah, wakaf adalah menahan harta dasar dan menyumbangkan manfaatnya. “Menahan” yakni menahannya dari diubah bentuk dengan dijual, dihadiahkan, dan lainnya. Sedangkan “harta dasar” yakni harta yang dapat dimanfaatkan dan tetap bertahan wujudnya,seperti benda tidak bergerak, dan lainnya. Adapun makna “menyumbang” yakni melepaskan (memberikan) manfaatnya.Yakni produk yang dihasilkan dari harta dasar tersebut.Wakaf yang paling agung adalah wakaf masjid-masjid. Semua masjid termasuk harta wakaf.Masjid mana pun termasuk harta wakaf. Perbedaan paling jelas antara masjid dan mushallaadalah tanah masjid adalah tanah wakaf, sedangkan tanah mushalla adalah tanah milik pribadi. Dulu para sahabat punya perhatian besar kepada wakaf,seperti yang kita sebutkan tentang wakafnya Umar bin Khattab.Dikatakan bahwa itu adalah wakaf pertama dalam Islam. Mayoritas sahabat juga mempunyai harta yang diwakafkan.Oleh sebab itu, Jabir berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mampu kecuali ia pasti berwakaf.” Demikian juga dengan generasi setelahnya, dari kalangan para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in. ==== الْوَقْفُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَعْنِي هُوَ مِنْ أَسْرَارِ نَهْضَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الْعُصُورِ الْمَاضِيَةِ وَالدَّوْلَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ قَدِيمًا كَانَتْ تُعْنَى بِحِفْظِ الْأَمْنِ الدَّاخِلِيِّ وَالْخَارِجِيِّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَقَطْ وَأَمَّا بَقِيَّةُ الْأُمُورِ فَتَعْتَمِدَ اعْتِمَادًا كُلِّيًّا عَلَى الْأَوْقَافِ التَّعْلِيمُ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى الْأَوْقَافِ الصِّحَّةُ عَلَى الْأَوْقَافِ بِنَاءُ الطُّرُقِ عَلَى الْأَوْقَافِ جَمِيْعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمُجْتَمَعُ مِنَ الْخِدْمَاتِ عَلَى الْأَوْقَافِ الدَّوْلَةُ فَقَطْ حَفِظَ الْأَمْنَ الدَّاخِلِيَّ وَالْخَارِجِيَّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَأَدَّى هَذَا إِلَى ازْدِهَارِ الْحَضَارَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ لِأَنَّ الْأَوْقَافَ الْمُسْلِمُونَ يَعْتَنُوْنَ بِهَا عِنَايَةً كَبِيرَةً وَيَتَنَافَسُوْنَ عَلَيْهَا وَالْوَقْفُ هُوَ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الْأَمْوَالُ وَالدَّلِيْلُ ذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا اسْتَشَارَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنْفَسِ مَالٍ أَصَابَهُ فِي حَيَاتِهِ أَشَارَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَقْفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ لَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ وَالْوَقْفُ مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ الْحَبْسُ مَادَّةُ الْوَقْفِ تَدُوْرُ حَوْلَ مَعْنَى الْحَبْسِ وَاصْطِلَاحًا تَحْبِيسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ تَحْبِيسٌ يَعْنِي الْإِمْسَاكُ عَنِ التَّصَرُّفَاتِ مِنَ الْبَيْعِ وَالْهِبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْأَصْلُ هُوَ مَا يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كَالْعَقَارَاتِ وَنَحْوِهَا أَمَّا مَعْنَى تَسْبِيْلٍ يَعْنِي إِطْلَاقٌ إِطْلَاقُ الْمَنْفَعَةِ يَعْنِي الْغَلَّةُ الْغَلَّةُ الْخَارِجَةُ عَنْ ذَلِكَ الْأَصْلِ وَأَعْظَمُ الْأَوْقَافِ الْمَسَاجِدُ كُلُّ الْمَسَاجِدِ تُعْتَبَرُ أَوْقَافًا أَيُّ مَسْجِدٍ يُعْتَبَرُ وَقْفٌ وَأَبْرَزُ الْفُرُوْقِ أَبْرَزُ الْفُرُوقِ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُصَلَّى أَنَّ أَرْضَ الْمَسْجِدِ مَوْقُوفَةٌ وَأَرْضَ الْمُصَلَّى مَمْلُوكَةٌ كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَهُم عِنَايَةٌ كَبِيرَةٌ بِالْأَوْقَافِ وَكَمَا ذَكَرْنَا عَنْ وَقْفِ عُمَرَ قِيلَ إِنَّهُ أَوَّلُ وَقْفَةٍ فِي الْإِسْلَامِ وَأَيْضًا يَعْنِي مُعْظَمُ الصَّحَابَةِ كَانُوا كَانَتْ لَهُمْ أَوْقَافٌ وَلِذَلِكَ يَقُولُ جَابِرٌ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو مَقْدِرَةٍ إِلَّا وَقَّفَ وَهَكَذَا مَنْ كَانَ بَعْدَهُ مِنَ التَّابِعِينَ وَالتَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ بِإِحْسَانٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Salah Satu Rahasia Kejayaan Umat Islam Zaman Dahulu – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Wahai Saudara-Saudara, wakaf merupakan salah satu rahasiakemajuan kaum Muslimin di masa lalu.Dulu negara Islam hanya fokus membiayai penjagaan keamanan dalam negeridan keamanan luar negeri, serta peradilan antar masyarakat saja. Adapun hal-hal lainnya bertumpu sepenuhnya pada harta wakaf.Pendidikan bertumpu pada wakaf, kesehatan bertumpu pada wakaf, pembangunan jalan juga bertumpu pada wakaf. Seluruh layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat bertumpu pada harta wakaf.Negara hanya membiayai keamanan dalam dan luar negeri, serta peradilan. Hal ini berpengaruh pada majunya peradaban Islam,karena kaum Muslimin memberi perhatian besar kepada wakafdan berlomba-lomba untuk melakukannya. Wakaf adalah jalan paling baik untuk membelanjakan harta.Dalilnya adalah ketika Umar radhiyallahu ‘anhu meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtentang harta paling berharga yang pernah ia dapatkan dalam hidupnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankannya untuk mewakafkannya.Para ulama berkata, “Orang yang dimintai saran adalah orang yang mendapat amanah. Andai saja ada hal yang lebih utama daripada wakaf,niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya kepada Umar.”Makna “wakaf” secara bahasa adalah “menahan”. Unsur kata “wakaf” berkutat di sekitar makna “menahan”.Sedangkan secara istilah, wakaf adalah menahan harta dasar dan menyumbangkan manfaatnya. “Menahan” yakni menahannya dari diubah bentuk dengan dijual, dihadiahkan, dan lainnya. Sedangkan “harta dasar” yakni harta yang dapat dimanfaatkan dan tetap bertahan wujudnya,seperti benda tidak bergerak, dan lainnya. Adapun makna “menyumbang” yakni melepaskan (memberikan) manfaatnya.Yakni produk yang dihasilkan dari harta dasar tersebut.Wakaf yang paling agung adalah wakaf masjid-masjid. Semua masjid termasuk harta wakaf.Masjid mana pun termasuk harta wakaf. Perbedaan paling jelas antara masjid dan mushallaadalah tanah masjid adalah tanah wakaf, sedangkan tanah mushalla adalah tanah milik pribadi. Dulu para sahabat punya perhatian besar kepada wakaf,seperti yang kita sebutkan tentang wakafnya Umar bin Khattab.Dikatakan bahwa itu adalah wakaf pertama dalam Islam. Mayoritas sahabat juga mempunyai harta yang diwakafkan.Oleh sebab itu, Jabir berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mampu kecuali ia pasti berwakaf.” Demikian juga dengan generasi setelahnya, dari kalangan para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in. ==== الْوَقْفُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَعْنِي هُوَ مِنْ أَسْرَارِ نَهْضَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الْعُصُورِ الْمَاضِيَةِ وَالدَّوْلَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ قَدِيمًا كَانَتْ تُعْنَى بِحِفْظِ الْأَمْنِ الدَّاخِلِيِّ وَالْخَارِجِيِّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَقَطْ وَأَمَّا بَقِيَّةُ الْأُمُورِ فَتَعْتَمِدَ اعْتِمَادًا كُلِّيًّا عَلَى الْأَوْقَافِ التَّعْلِيمُ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى الْأَوْقَافِ الصِّحَّةُ عَلَى الْأَوْقَافِ بِنَاءُ الطُّرُقِ عَلَى الْأَوْقَافِ جَمِيْعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمُجْتَمَعُ مِنَ الْخِدْمَاتِ عَلَى الْأَوْقَافِ الدَّوْلَةُ فَقَطْ حَفِظَ الْأَمْنَ الدَّاخِلِيَّ وَالْخَارِجِيَّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَأَدَّى هَذَا إِلَى ازْدِهَارِ الْحَضَارَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ لِأَنَّ الْأَوْقَافَ الْمُسْلِمُونَ يَعْتَنُوْنَ بِهَا عِنَايَةً كَبِيرَةً وَيَتَنَافَسُوْنَ عَلَيْهَا وَالْوَقْفُ هُوَ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الْأَمْوَالُ وَالدَّلِيْلُ ذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا اسْتَشَارَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنْفَسِ مَالٍ أَصَابَهُ فِي حَيَاتِهِ أَشَارَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَقْفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ لَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ وَالْوَقْفُ مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ الْحَبْسُ مَادَّةُ الْوَقْفِ تَدُوْرُ حَوْلَ مَعْنَى الْحَبْسِ وَاصْطِلَاحًا تَحْبِيسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ تَحْبِيسٌ يَعْنِي الْإِمْسَاكُ عَنِ التَّصَرُّفَاتِ مِنَ الْبَيْعِ وَالْهِبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْأَصْلُ هُوَ مَا يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كَالْعَقَارَاتِ وَنَحْوِهَا أَمَّا مَعْنَى تَسْبِيْلٍ يَعْنِي إِطْلَاقٌ إِطْلَاقُ الْمَنْفَعَةِ يَعْنِي الْغَلَّةُ الْغَلَّةُ الْخَارِجَةُ عَنْ ذَلِكَ الْأَصْلِ وَأَعْظَمُ الْأَوْقَافِ الْمَسَاجِدُ كُلُّ الْمَسَاجِدِ تُعْتَبَرُ أَوْقَافًا أَيُّ مَسْجِدٍ يُعْتَبَرُ وَقْفٌ وَأَبْرَزُ الْفُرُوْقِ أَبْرَزُ الْفُرُوقِ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُصَلَّى أَنَّ أَرْضَ الْمَسْجِدِ مَوْقُوفَةٌ وَأَرْضَ الْمُصَلَّى مَمْلُوكَةٌ كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَهُم عِنَايَةٌ كَبِيرَةٌ بِالْأَوْقَافِ وَكَمَا ذَكَرْنَا عَنْ وَقْفِ عُمَرَ قِيلَ إِنَّهُ أَوَّلُ وَقْفَةٍ فِي الْإِسْلَامِ وَأَيْضًا يَعْنِي مُعْظَمُ الصَّحَابَةِ كَانُوا كَانَتْ لَهُمْ أَوْقَافٌ وَلِذَلِكَ يَقُولُ جَابِرٌ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو مَقْدِرَةٍ إِلَّا وَقَّفَ وَهَكَذَا مَنْ كَانَ بَعْدَهُ مِنَ التَّابِعِينَ وَالتَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ بِإِحْسَانٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Wahai Saudara-Saudara, wakaf merupakan salah satu rahasiakemajuan kaum Muslimin di masa lalu.Dulu negara Islam hanya fokus membiayai penjagaan keamanan dalam negeridan keamanan luar negeri, serta peradilan antar masyarakat saja. Adapun hal-hal lainnya bertumpu sepenuhnya pada harta wakaf.Pendidikan bertumpu pada wakaf, kesehatan bertumpu pada wakaf, pembangunan jalan juga bertumpu pada wakaf. Seluruh layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat bertumpu pada harta wakaf.Negara hanya membiayai keamanan dalam dan luar negeri, serta peradilan. Hal ini berpengaruh pada majunya peradaban Islam,karena kaum Muslimin memberi perhatian besar kepada wakafdan berlomba-lomba untuk melakukannya. Wakaf adalah jalan paling baik untuk membelanjakan harta.Dalilnya adalah ketika Umar radhiyallahu ‘anhu meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtentang harta paling berharga yang pernah ia dapatkan dalam hidupnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankannya untuk mewakafkannya.Para ulama berkata, “Orang yang dimintai saran adalah orang yang mendapat amanah. Andai saja ada hal yang lebih utama daripada wakaf,niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya kepada Umar.”Makna “wakaf” secara bahasa adalah “menahan”. Unsur kata “wakaf” berkutat di sekitar makna “menahan”.Sedangkan secara istilah, wakaf adalah menahan harta dasar dan menyumbangkan manfaatnya. “Menahan” yakni menahannya dari diubah bentuk dengan dijual, dihadiahkan, dan lainnya. Sedangkan “harta dasar” yakni harta yang dapat dimanfaatkan dan tetap bertahan wujudnya,seperti benda tidak bergerak, dan lainnya. Adapun makna “menyumbang” yakni melepaskan (memberikan) manfaatnya.Yakni produk yang dihasilkan dari harta dasar tersebut.Wakaf yang paling agung adalah wakaf masjid-masjid. Semua masjid termasuk harta wakaf.Masjid mana pun termasuk harta wakaf. Perbedaan paling jelas antara masjid dan mushallaadalah tanah masjid adalah tanah wakaf, sedangkan tanah mushalla adalah tanah milik pribadi. Dulu para sahabat punya perhatian besar kepada wakaf,seperti yang kita sebutkan tentang wakafnya Umar bin Khattab.Dikatakan bahwa itu adalah wakaf pertama dalam Islam. Mayoritas sahabat juga mempunyai harta yang diwakafkan.Oleh sebab itu, Jabir berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mampu kecuali ia pasti berwakaf.” Demikian juga dengan generasi setelahnya, dari kalangan para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in. ==== الْوَقْفُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَعْنِي هُوَ مِنْ أَسْرَارِ نَهْضَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الْعُصُورِ الْمَاضِيَةِ وَالدَّوْلَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ قَدِيمًا كَانَتْ تُعْنَى بِحِفْظِ الْأَمْنِ الدَّاخِلِيِّ وَالْخَارِجِيِّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَقَطْ وَأَمَّا بَقِيَّةُ الْأُمُورِ فَتَعْتَمِدَ اعْتِمَادًا كُلِّيًّا عَلَى الْأَوْقَافِ التَّعْلِيمُ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى الْأَوْقَافِ الصِّحَّةُ عَلَى الْأَوْقَافِ بِنَاءُ الطُّرُقِ عَلَى الْأَوْقَافِ جَمِيْعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمُجْتَمَعُ مِنَ الْخِدْمَاتِ عَلَى الْأَوْقَافِ الدَّوْلَةُ فَقَطْ حَفِظَ الْأَمْنَ الدَّاخِلِيَّ وَالْخَارِجِيَّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَأَدَّى هَذَا إِلَى ازْدِهَارِ الْحَضَارَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ لِأَنَّ الْأَوْقَافَ الْمُسْلِمُونَ يَعْتَنُوْنَ بِهَا عِنَايَةً كَبِيرَةً وَيَتَنَافَسُوْنَ عَلَيْهَا وَالْوَقْفُ هُوَ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الْأَمْوَالُ وَالدَّلِيْلُ ذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا اسْتَشَارَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنْفَسِ مَالٍ أَصَابَهُ فِي حَيَاتِهِ أَشَارَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَقْفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ لَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ وَالْوَقْفُ مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ الْحَبْسُ مَادَّةُ الْوَقْفِ تَدُوْرُ حَوْلَ مَعْنَى الْحَبْسِ وَاصْطِلَاحًا تَحْبِيسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ تَحْبِيسٌ يَعْنِي الْإِمْسَاكُ عَنِ التَّصَرُّفَاتِ مِنَ الْبَيْعِ وَالْهِبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْأَصْلُ هُوَ مَا يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كَالْعَقَارَاتِ وَنَحْوِهَا أَمَّا مَعْنَى تَسْبِيْلٍ يَعْنِي إِطْلَاقٌ إِطْلَاقُ الْمَنْفَعَةِ يَعْنِي الْغَلَّةُ الْغَلَّةُ الْخَارِجَةُ عَنْ ذَلِكَ الْأَصْلِ وَأَعْظَمُ الْأَوْقَافِ الْمَسَاجِدُ كُلُّ الْمَسَاجِدِ تُعْتَبَرُ أَوْقَافًا أَيُّ مَسْجِدٍ يُعْتَبَرُ وَقْفٌ وَأَبْرَزُ الْفُرُوْقِ أَبْرَزُ الْفُرُوقِ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُصَلَّى أَنَّ أَرْضَ الْمَسْجِدِ مَوْقُوفَةٌ وَأَرْضَ الْمُصَلَّى مَمْلُوكَةٌ كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَهُم عِنَايَةٌ كَبِيرَةٌ بِالْأَوْقَافِ وَكَمَا ذَكَرْنَا عَنْ وَقْفِ عُمَرَ قِيلَ إِنَّهُ أَوَّلُ وَقْفَةٍ فِي الْإِسْلَامِ وَأَيْضًا يَعْنِي مُعْظَمُ الصَّحَابَةِ كَانُوا كَانَتْ لَهُمْ أَوْقَافٌ وَلِذَلِكَ يَقُولُ جَابِرٌ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو مَقْدِرَةٍ إِلَّا وَقَّفَ وَهَكَذَا مَنْ كَانَ بَعْدَهُ مِنَ التَّابِعِينَ وَالتَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ بِإِحْسَانٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Wahai Saudara-Saudara, wakaf merupakan salah satu rahasiakemajuan kaum Muslimin di masa lalu.Dulu negara Islam hanya fokus membiayai penjagaan keamanan dalam negeridan keamanan luar negeri, serta peradilan antar masyarakat saja. Adapun hal-hal lainnya bertumpu sepenuhnya pada harta wakaf.Pendidikan bertumpu pada wakaf, kesehatan bertumpu pada wakaf, pembangunan jalan juga bertumpu pada wakaf. Seluruh layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat bertumpu pada harta wakaf.Negara hanya membiayai keamanan dalam dan luar negeri, serta peradilan. Hal ini berpengaruh pada majunya peradaban Islam,karena kaum Muslimin memberi perhatian besar kepada wakafdan berlomba-lomba untuk melakukannya. Wakaf adalah jalan paling baik untuk membelanjakan harta.Dalilnya adalah ketika Umar radhiyallahu ‘anhu meminta saran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtentang harta paling berharga yang pernah ia dapatkan dalam hidupnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankannya untuk mewakafkannya.Para ulama berkata, “Orang yang dimintai saran adalah orang yang mendapat amanah. Andai saja ada hal yang lebih utama daripada wakaf,niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyarankannya kepada Umar.”Makna “wakaf” secara bahasa adalah “menahan”. Unsur kata “wakaf” berkutat di sekitar makna “menahan”.Sedangkan secara istilah, wakaf adalah menahan harta dasar dan menyumbangkan manfaatnya. “Menahan” yakni menahannya dari diubah bentuk dengan dijual, dihadiahkan, dan lainnya. Sedangkan “harta dasar” yakni harta yang dapat dimanfaatkan dan tetap bertahan wujudnya,seperti benda tidak bergerak, dan lainnya. Adapun makna “menyumbang” yakni melepaskan (memberikan) manfaatnya.Yakni produk yang dihasilkan dari harta dasar tersebut.Wakaf yang paling agung adalah wakaf masjid-masjid. Semua masjid termasuk harta wakaf.Masjid mana pun termasuk harta wakaf. Perbedaan paling jelas antara masjid dan mushallaadalah tanah masjid adalah tanah wakaf, sedangkan tanah mushalla adalah tanah milik pribadi. Dulu para sahabat punya perhatian besar kepada wakaf,seperti yang kita sebutkan tentang wakafnya Umar bin Khattab.Dikatakan bahwa itu adalah wakaf pertama dalam Islam. Mayoritas sahabat juga mempunyai harta yang diwakafkan.Oleh sebab itu, Jabir berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mampu kecuali ia pasti berwakaf.” Demikian juga dengan generasi setelahnya, dari kalangan para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in. ==== الْوَقْفُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَعْنِي هُوَ مِنْ أَسْرَارِ نَهْضَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الْعُصُورِ الْمَاضِيَةِ وَالدَّوْلَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ قَدِيمًا كَانَتْ تُعْنَى بِحِفْظِ الْأَمْنِ الدَّاخِلِيِّ وَالْخَارِجِيِّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَقَطْ وَأَمَّا بَقِيَّةُ الْأُمُورِ فَتَعْتَمِدَ اعْتِمَادًا كُلِّيًّا عَلَى الْأَوْقَافِ التَّعْلِيمُ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَى الْأَوْقَافِ الصِّحَّةُ عَلَى الْأَوْقَافِ بِنَاءُ الطُّرُقِ عَلَى الْأَوْقَافِ جَمِيْعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمُجْتَمَعُ مِنَ الْخِدْمَاتِ عَلَى الْأَوْقَافِ الدَّوْلَةُ فَقَطْ حَفِظَ الْأَمْنَ الدَّاخِلِيَّ وَالْخَارِجِيَّ وَالتَّقَاضِيْ بَيْنَ النَّاسِ فَأَدَّى هَذَا إِلَى ازْدِهَارِ الْحَضَارَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ لِأَنَّ الْأَوْقَافَ الْمُسْلِمُونَ يَعْتَنُوْنَ بِهَا عِنَايَةً كَبِيرَةً وَيَتَنَافَسُوْنَ عَلَيْهَا وَالْوَقْفُ هُوَ أَفْضَلُ مَا تُبْذَلُ فِيهِ الْأَمْوَالُ وَالدَّلِيْلُ ذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا اسْتَشَارَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنْفَسِ مَالٍ أَصَابَهُ فِي حَيَاتِهِ أَشَارَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَقْفِ قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ لَوْ كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْوَقْفِ لَأَشَارَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُمَرَ وَالْوَقْفُ مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ الْحَبْسُ مَادَّةُ الْوَقْفِ تَدُوْرُ حَوْلَ مَعْنَى الْحَبْسِ وَاصْطِلَاحًا تَحْبِيسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيلُ الْمَنْفَعَةِ تَحْبِيسٌ يَعْنِي الْإِمْسَاكُ عَنِ التَّصَرُّفَاتِ مِنَ الْبَيْعِ وَالْهِبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْأَصْلُ هُوَ مَا يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كَالْعَقَارَاتِ وَنَحْوِهَا أَمَّا مَعْنَى تَسْبِيْلٍ يَعْنِي إِطْلَاقٌ إِطْلَاقُ الْمَنْفَعَةِ يَعْنِي الْغَلَّةُ الْغَلَّةُ الْخَارِجَةُ عَنْ ذَلِكَ الْأَصْلِ وَأَعْظَمُ الْأَوْقَافِ الْمَسَاجِدُ كُلُّ الْمَسَاجِدِ تُعْتَبَرُ أَوْقَافًا أَيُّ مَسْجِدٍ يُعْتَبَرُ وَقْفٌ وَأَبْرَزُ الْفُرُوْقِ أَبْرَزُ الْفُرُوقِ بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَالْمُصَلَّى أَنَّ أَرْضَ الْمَسْجِدِ مَوْقُوفَةٌ وَأَرْضَ الْمُصَلَّى مَمْلُوكَةٌ كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَهُم عِنَايَةٌ كَبِيرَةٌ بِالْأَوْقَافِ وَكَمَا ذَكَرْنَا عَنْ وَقْفِ عُمَرَ قِيلَ إِنَّهُ أَوَّلُ وَقْفَةٍ فِي الْإِسْلَامِ وَأَيْضًا يَعْنِي مُعْظَمُ الصَّحَابَةِ كَانُوا كَانَتْ لَهُمْ أَوْقَافٌ وَلِذَلِكَ يَقُولُ جَابِرٌ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو مَقْدِرَةٍ إِلَّا وَقَّفَ وَهَكَذَا مَنْ كَانَ بَعْدَهُ مِنَ التَّابِعِينَ وَالتَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ بِإِحْسَانٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibah 2. Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di dunia 3. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezeki 4. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’ala Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibahAllah Ta’ala dalam surah Al-Anfal ayat 33 berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تعرَّفْ إلى اللهِ في الرخاءِ يعرفُك في الشدَّةِ“Ingatlah Allah saat lapang (dengan taat kepada-Nya), niscaya Allah akan mengetahuimu saat susah (sehingga menolongmu).” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,‏من سره أن يستجيب اللهُ له عند الشَّدائدِ والكُرَبِ ، فلْيُكثِرِ الدعاء في الرخاءِ“Barangsiapa yang suka Allah kabulkan doanya saat susah dan menderita, maka hendaklah dia perbanyak doa saat lapang.” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Allah Ta’ala berfirman, فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143-144)Tafsir Al-Baghawi rahimahullah Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,“Makna tasbih, yaitu ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Anbiya’: 87)Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut dengan mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) termasuk orang-orang yang mengingat Allah sebelum itu, dan beliau dahulu termasuk orang yang banyak berzikir.”Tafsir Ibnu Katsir rahimahullahIbnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Adh-Dhahhak, ‘Atha’ bin As-Saib, As-Suddi, Al-Hasan, dan Qatadah rahimahumullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut, yaitu “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang menunaikan salat.”Tafsiran ini sesuai dengan yang disebutkan oleh Al-Alusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Ruhul Ma’ani, tentang kaidah yang diutarakan oleh pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,كُلُّ ما في القُرْآنِ مِنَ التَّسْبِيحِ فَهو بِمَعْنى الصَّلاةِ“Setiap tasbih dalam Al-Qur’an, maka bermakna salat.”Tafsir Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi rahimahullahPakar tafsir di kalangan tabiin, Mujahid rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih”, yaitu: “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang rajin beribadah kepada Allah” sebelum terjadinya musibah tersebut.Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Adh-Dhahhak bin Qais, berkata,“Ingatlah Allah (ber-dzikrullah-lah) saat lapang, niscaya Allah akan mengetahui kalian saat susah (sehingga menolong kalian). Karena sesungguhnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dahulu adalah hamba yang saleh dan rajin dzikrullah (mengingat Allah), lalu tatkala (terkena musibah) berada di dalam perut ikan besar, Allah berfirman,فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffaat: 143-144)Adapun Fir’aun dahulu adalah seorang yang melampui batas lagi melupakan dzikrullah (tidak ingat Allah), lalu tatkala ia (terkena musibah) tenggelam (di laut), ia berkata,اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).”Namun, justru dikatakan kepadanya,اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 90-91)”Benarlah apa yang dinyatakan Adh-Dhahhak bin Qais rahimahullah, bahwa kesalehan dan dzikrullah adalah sebab dihilangkannya malapetaka, sedangkan sikap melampui batas dan melupakan Allah Ta’ala adalah sebab malapetaka.Tafsir Ibnul Jauzi rahimahullah Pakar tafsir di kalangan tabiin, Qatadah rahimahullah, berkata, “Tentulah perut ikan besar menjadi kuburan baginya sampai hari Kiamat, akan tetapi beliau dahulu banyak menunaikan salat saat lapang, lalu Allah Ta’ala selamatkan beliau dengan sebab banyak salat tersebut.BACA JUGA: Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)Tafsir Al-Mawardi rahimahullah“Pendapat keempat dari pendapat-pendapat ahli tafsir:‘Termasuk orang-orang yang bertobat’, dan ini pendapatnya Quthrub.Ada pula ahli tafsir yang mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) tobat di waktu lapang, lalu Allah selamatkan beliau di waktu bencana.”Benarlah tafsir ulama tersebut, karena dosa itu penyebab musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 30,وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan (dosa) kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30)Tafsir Aisarut Tafasir, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah“Tafsirnya yaitu (sampai) hari kiamat, perut ikan besar akan menjadi kuburan bagi beliau.Maksudnya, kalaulah Nabi Yunus ‘alaihis salam bukan termasuk orang-orang yang bertasbih, yaitu termasuk orang-orang yang banyak menunaikan salat, zikir, doa, dan tasbih sebelum terkena musibah, tentulah Allah tidak mengilhamkan apa yang ia ucapkan, ‘Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhoolimiin.’ ”Saat menyimpulkan faedah dari ayat yang agung ini, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah mengatakan,“(Dalam ayat ini) terdapat keutamaan salat, zikir, doa, dan tasbih, serta betapa besar manfaat semua itu (untuk menyingkirkan bencana) ketika terjadi bencana.”Tafsir Al-Muyassar, Majma’ Al-Malik Fahd Arab Saud“Kalaulah bukan karena banyaknya ibadah dan amal saleh yang Nabi Yunus ‘alaihis salam telah lakukan sebelum ditelan ikan besar tersebut, dan juga tasbihnya saat berada di dalam perut ikan itu dengan mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ‘Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Anbiya’: 87)BACA JUGA: Istigfar dan Tobat Kunci Pembuka RezekiNiscaya Nabi Yunus ‘alaihis salam tetap dalam perut ikan itu dan perut ikan tersebut akan menjadi kuburnya sampai hari kiamat.”Ringkasan dari tafsir surah Ash-Shaffaat ayat 143-144Penyebab Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam dari musibah ditelan ikan besar adalah karena beliau bertobat kepada Allah, bertasbih menyucikan Allah yang mengandung doa istigfar, banyak salat, banyak zikir, dan banyak ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Intinya, kalaulah bukan karena banyaknya ibadah, amal saleh, dan tasbih yang Nabi Yunus ‘alaihis salam lakukan, tentunya Allah tidak menghilangkan musibah yang beliau alami.BACA JUGA:  Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di duniaAllah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa siksaan Allah Ta’ala tidak hanya akan menimpa orang-orang yang zalim secara khusus, namun juga selain mereka tatkala muncul kezaliman di tengah masyarakat, namun tidak ada yang mengingkarinya. Dan solusi semua itu adalah dengan bangkitnya para da’i menegakkan amar makruf nahi mungkar, berdakwah mengajak manusia kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman juga dalam surah Hud ayat 117,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hud ayat 117)Jelaslah dalam ayat ini, Allah Ta’ala tidak akan membinasakan suatu negeri jika masih ada orang yang berdakwah memperbaiki masyarakat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezekiAllah Ta’ala berfirman dalam surah Thaha ayat 132,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah“Maksudnya, jika kamu mendirikan salat, maka akan datang kepadamu rezeki dari arah yang tidak kamu sangka sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3Tafsir “Li Yaddabbaruu Aayaatihi”, Syekh Prof. Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil, Professor Universitas Qosim, Saudi ArabiaPertama: Di antara pintu-pintu rezeki adalah tadabbur ‘amaliyyah (mengamalkan) ayat,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”Sebagian salaf saleh dahulu, jika musibah kesusahan menimpa keluarga mereka, mereka memerintahkan kepada keluarganya, “Dirikanlah salat, dengan ini Allah perintahkan kalian!”, dan beliau membacakan ayat di atas.Kedua: Menyibukkan diri dengan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib akan mengundang rezeki, bukan justru memalingkan dari mendapatkan rezeki. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’alaمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ࣖ“Barangsiapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 134) فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“Maka, Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 148)Dalam surah Ath-Thalaq ayat 2-3, Allah juga berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)[Bersambung]BACA JUGA:Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin? ***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawasul, Perintah Berbakti Kepada Orang Tua, Bacaan Dzikir Sehabis Sholat, Kitab Hadits Muslim, Was Was Najis Dimana ManaTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'akemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid

Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibah 2. Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di dunia 3. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezeki 4. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’ala Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibahAllah Ta’ala dalam surah Al-Anfal ayat 33 berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تعرَّفْ إلى اللهِ في الرخاءِ يعرفُك في الشدَّةِ“Ingatlah Allah saat lapang (dengan taat kepada-Nya), niscaya Allah akan mengetahuimu saat susah (sehingga menolongmu).” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,‏من سره أن يستجيب اللهُ له عند الشَّدائدِ والكُرَبِ ، فلْيُكثِرِ الدعاء في الرخاءِ“Barangsiapa yang suka Allah kabulkan doanya saat susah dan menderita, maka hendaklah dia perbanyak doa saat lapang.” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Allah Ta’ala berfirman, فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143-144)Tafsir Al-Baghawi rahimahullah Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,“Makna tasbih, yaitu ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Anbiya’: 87)Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut dengan mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) termasuk orang-orang yang mengingat Allah sebelum itu, dan beliau dahulu termasuk orang yang banyak berzikir.”Tafsir Ibnu Katsir rahimahullahIbnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Adh-Dhahhak, ‘Atha’ bin As-Saib, As-Suddi, Al-Hasan, dan Qatadah rahimahumullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut, yaitu “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang menunaikan salat.”Tafsiran ini sesuai dengan yang disebutkan oleh Al-Alusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Ruhul Ma’ani, tentang kaidah yang diutarakan oleh pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,كُلُّ ما في القُرْآنِ مِنَ التَّسْبِيحِ فَهو بِمَعْنى الصَّلاةِ“Setiap tasbih dalam Al-Qur’an, maka bermakna salat.”Tafsir Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi rahimahullahPakar tafsir di kalangan tabiin, Mujahid rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih”, yaitu: “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang rajin beribadah kepada Allah” sebelum terjadinya musibah tersebut.Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Adh-Dhahhak bin Qais, berkata,“Ingatlah Allah (ber-dzikrullah-lah) saat lapang, niscaya Allah akan mengetahui kalian saat susah (sehingga menolong kalian). Karena sesungguhnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dahulu adalah hamba yang saleh dan rajin dzikrullah (mengingat Allah), lalu tatkala (terkena musibah) berada di dalam perut ikan besar, Allah berfirman,فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffaat: 143-144)Adapun Fir’aun dahulu adalah seorang yang melampui batas lagi melupakan dzikrullah (tidak ingat Allah), lalu tatkala ia (terkena musibah) tenggelam (di laut), ia berkata,اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).”Namun, justru dikatakan kepadanya,اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 90-91)”Benarlah apa yang dinyatakan Adh-Dhahhak bin Qais rahimahullah, bahwa kesalehan dan dzikrullah adalah sebab dihilangkannya malapetaka, sedangkan sikap melampui batas dan melupakan Allah Ta’ala adalah sebab malapetaka.Tafsir Ibnul Jauzi rahimahullah Pakar tafsir di kalangan tabiin, Qatadah rahimahullah, berkata, “Tentulah perut ikan besar menjadi kuburan baginya sampai hari Kiamat, akan tetapi beliau dahulu banyak menunaikan salat saat lapang, lalu Allah Ta’ala selamatkan beliau dengan sebab banyak salat tersebut.BACA JUGA: Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)Tafsir Al-Mawardi rahimahullah“Pendapat keempat dari pendapat-pendapat ahli tafsir:‘Termasuk orang-orang yang bertobat’, dan ini pendapatnya Quthrub.Ada pula ahli tafsir yang mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) tobat di waktu lapang, lalu Allah selamatkan beliau di waktu bencana.”Benarlah tafsir ulama tersebut, karena dosa itu penyebab musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 30,وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan (dosa) kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30)Tafsir Aisarut Tafasir, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah“Tafsirnya yaitu (sampai) hari kiamat, perut ikan besar akan menjadi kuburan bagi beliau.Maksudnya, kalaulah Nabi Yunus ‘alaihis salam bukan termasuk orang-orang yang bertasbih, yaitu termasuk orang-orang yang banyak menunaikan salat, zikir, doa, dan tasbih sebelum terkena musibah, tentulah Allah tidak mengilhamkan apa yang ia ucapkan, ‘Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhoolimiin.’ ”Saat menyimpulkan faedah dari ayat yang agung ini, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah mengatakan,“(Dalam ayat ini) terdapat keutamaan salat, zikir, doa, dan tasbih, serta betapa besar manfaat semua itu (untuk menyingkirkan bencana) ketika terjadi bencana.”Tafsir Al-Muyassar, Majma’ Al-Malik Fahd Arab Saud“Kalaulah bukan karena banyaknya ibadah dan amal saleh yang Nabi Yunus ‘alaihis salam telah lakukan sebelum ditelan ikan besar tersebut, dan juga tasbihnya saat berada di dalam perut ikan itu dengan mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ‘Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Anbiya’: 87)BACA JUGA: Istigfar dan Tobat Kunci Pembuka RezekiNiscaya Nabi Yunus ‘alaihis salam tetap dalam perut ikan itu dan perut ikan tersebut akan menjadi kuburnya sampai hari kiamat.”Ringkasan dari tafsir surah Ash-Shaffaat ayat 143-144Penyebab Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam dari musibah ditelan ikan besar adalah karena beliau bertobat kepada Allah, bertasbih menyucikan Allah yang mengandung doa istigfar, banyak salat, banyak zikir, dan banyak ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Intinya, kalaulah bukan karena banyaknya ibadah, amal saleh, dan tasbih yang Nabi Yunus ‘alaihis salam lakukan, tentunya Allah tidak menghilangkan musibah yang beliau alami.BACA JUGA:  Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di duniaAllah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa siksaan Allah Ta’ala tidak hanya akan menimpa orang-orang yang zalim secara khusus, namun juga selain mereka tatkala muncul kezaliman di tengah masyarakat, namun tidak ada yang mengingkarinya. Dan solusi semua itu adalah dengan bangkitnya para da’i menegakkan amar makruf nahi mungkar, berdakwah mengajak manusia kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman juga dalam surah Hud ayat 117,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hud ayat 117)Jelaslah dalam ayat ini, Allah Ta’ala tidak akan membinasakan suatu negeri jika masih ada orang yang berdakwah memperbaiki masyarakat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezekiAllah Ta’ala berfirman dalam surah Thaha ayat 132,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah“Maksudnya, jika kamu mendirikan salat, maka akan datang kepadamu rezeki dari arah yang tidak kamu sangka sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3Tafsir “Li Yaddabbaruu Aayaatihi”, Syekh Prof. Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil, Professor Universitas Qosim, Saudi ArabiaPertama: Di antara pintu-pintu rezeki adalah tadabbur ‘amaliyyah (mengamalkan) ayat,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”Sebagian salaf saleh dahulu, jika musibah kesusahan menimpa keluarga mereka, mereka memerintahkan kepada keluarganya, “Dirikanlah salat, dengan ini Allah perintahkan kalian!”, dan beliau membacakan ayat di atas.Kedua: Menyibukkan diri dengan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib akan mengundang rezeki, bukan justru memalingkan dari mendapatkan rezeki. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’alaمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ࣖ“Barangsiapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 134) فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“Maka, Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 148)Dalam surah Ath-Thalaq ayat 2-3, Allah juga berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)[Bersambung]BACA JUGA:Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin? ***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawasul, Perintah Berbakti Kepada Orang Tua, Bacaan Dzikir Sehabis Sholat, Kitab Hadits Muslim, Was Was Najis Dimana ManaTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'akemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibah 2. Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di dunia 3. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezeki 4. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’ala Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibahAllah Ta’ala dalam surah Al-Anfal ayat 33 berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تعرَّفْ إلى اللهِ في الرخاءِ يعرفُك في الشدَّةِ“Ingatlah Allah saat lapang (dengan taat kepada-Nya), niscaya Allah akan mengetahuimu saat susah (sehingga menolongmu).” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,‏من سره أن يستجيب اللهُ له عند الشَّدائدِ والكُرَبِ ، فلْيُكثِرِ الدعاء في الرخاءِ“Barangsiapa yang suka Allah kabulkan doanya saat susah dan menderita, maka hendaklah dia perbanyak doa saat lapang.” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Allah Ta’ala berfirman, فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143-144)Tafsir Al-Baghawi rahimahullah Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,“Makna tasbih, yaitu ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Anbiya’: 87)Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut dengan mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) termasuk orang-orang yang mengingat Allah sebelum itu, dan beliau dahulu termasuk orang yang banyak berzikir.”Tafsir Ibnu Katsir rahimahullahIbnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Adh-Dhahhak, ‘Atha’ bin As-Saib, As-Suddi, Al-Hasan, dan Qatadah rahimahumullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut, yaitu “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang menunaikan salat.”Tafsiran ini sesuai dengan yang disebutkan oleh Al-Alusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Ruhul Ma’ani, tentang kaidah yang diutarakan oleh pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,كُلُّ ما في القُرْآنِ مِنَ التَّسْبِيحِ فَهو بِمَعْنى الصَّلاةِ“Setiap tasbih dalam Al-Qur’an, maka bermakna salat.”Tafsir Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi rahimahullahPakar tafsir di kalangan tabiin, Mujahid rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih”, yaitu: “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang rajin beribadah kepada Allah” sebelum terjadinya musibah tersebut.Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Adh-Dhahhak bin Qais, berkata,“Ingatlah Allah (ber-dzikrullah-lah) saat lapang, niscaya Allah akan mengetahui kalian saat susah (sehingga menolong kalian). Karena sesungguhnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dahulu adalah hamba yang saleh dan rajin dzikrullah (mengingat Allah), lalu tatkala (terkena musibah) berada di dalam perut ikan besar, Allah berfirman,فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffaat: 143-144)Adapun Fir’aun dahulu adalah seorang yang melampui batas lagi melupakan dzikrullah (tidak ingat Allah), lalu tatkala ia (terkena musibah) tenggelam (di laut), ia berkata,اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).”Namun, justru dikatakan kepadanya,اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 90-91)”Benarlah apa yang dinyatakan Adh-Dhahhak bin Qais rahimahullah, bahwa kesalehan dan dzikrullah adalah sebab dihilangkannya malapetaka, sedangkan sikap melampui batas dan melupakan Allah Ta’ala adalah sebab malapetaka.Tafsir Ibnul Jauzi rahimahullah Pakar tafsir di kalangan tabiin, Qatadah rahimahullah, berkata, “Tentulah perut ikan besar menjadi kuburan baginya sampai hari Kiamat, akan tetapi beliau dahulu banyak menunaikan salat saat lapang, lalu Allah Ta’ala selamatkan beliau dengan sebab banyak salat tersebut.BACA JUGA: Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)Tafsir Al-Mawardi rahimahullah“Pendapat keempat dari pendapat-pendapat ahli tafsir:‘Termasuk orang-orang yang bertobat’, dan ini pendapatnya Quthrub.Ada pula ahli tafsir yang mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) tobat di waktu lapang, lalu Allah selamatkan beliau di waktu bencana.”Benarlah tafsir ulama tersebut, karena dosa itu penyebab musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 30,وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan (dosa) kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30)Tafsir Aisarut Tafasir, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah“Tafsirnya yaitu (sampai) hari kiamat, perut ikan besar akan menjadi kuburan bagi beliau.Maksudnya, kalaulah Nabi Yunus ‘alaihis salam bukan termasuk orang-orang yang bertasbih, yaitu termasuk orang-orang yang banyak menunaikan salat, zikir, doa, dan tasbih sebelum terkena musibah, tentulah Allah tidak mengilhamkan apa yang ia ucapkan, ‘Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhoolimiin.’ ”Saat menyimpulkan faedah dari ayat yang agung ini, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah mengatakan,“(Dalam ayat ini) terdapat keutamaan salat, zikir, doa, dan tasbih, serta betapa besar manfaat semua itu (untuk menyingkirkan bencana) ketika terjadi bencana.”Tafsir Al-Muyassar, Majma’ Al-Malik Fahd Arab Saud“Kalaulah bukan karena banyaknya ibadah dan amal saleh yang Nabi Yunus ‘alaihis salam telah lakukan sebelum ditelan ikan besar tersebut, dan juga tasbihnya saat berada di dalam perut ikan itu dengan mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ‘Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Anbiya’: 87)BACA JUGA: Istigfar dan Tobat Kunci Pembuka RezekiNiscaya Nabi Yunus ‘alaihis salam tetap dalam perut ikan itu dan perut ikan tersebut akan menjadi kuburnya sampai hari kiamat.”Ringkasan dari tafsir surah Ash-Shaffaat ayat 143-144Penyebab Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam dari musibah ditelan ikan besar adalah karena beliau bertobat kepada Allah, bertasbih menyucikan Allah yang mengandung doa istigfar, banyak salat, banyak zikir, dan banyak ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Intinya, kalaulah bukan karena banyaknya ibadah, amal saleh, dan tasbih yang Nabi Yunus ‘alaihis salam lakukan, tentunya Allah tidak menghilangkan musibah yang beliau alami.BACA JUGA:  Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di duniaAllah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa siksaan Allah Ta’ala tidak hanya akan menimpa orang-orang yang zalim secara khusus, namun juga selain mereka tatkala muncul kezaliman di tengah masyarakat, namun tidak ada yang mengingkarinya. Dan solusi semua itu adalah dengan bangkitnya para da’i menegakkan amar makruf nahi mungkar, berdakwah mengajak manusia kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman juga dalam surah Hud ayat 117,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hud ayat 117)Jelaslah dalam ayat ini, Allah Ta’ala tidak akan membinasakan suatu negeri jika masih ada orang yang berdakwah memperbaiki masyarakat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezekiAllah Ta’ala berfirman dalam surah Thaha ayat 132,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah“Maksudnya, jika kamu mendirikan salat, maka akan datang kepadamu rezeki dari arah yang tidak kamu sangka sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3Tafsir “Li Yaddabbaruu Aayaatihi”, Syekh Prof. Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil, Professor Universitas Qosim, Saudi ArabiaPertama: Di antara pintu-pintu rezeki adalah tadabbur ‘amaliyyah (mengamalkan) ayat,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”Sebagian salaf saleh dahulu, jika musibah kesusahan menimpa keluarga mereka, mereka memerintahkan kepada keluarganya, “Dirikanlah salat, dengan ini Allah perintahkan kalian!”, dan beliau membacakan ayat di atas.Kedua: Menyibukkan diri dengan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib akan mengundang rezeki, bukan justru memalingkan dari mendapatkan rezeki. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’alaمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ࣖ“Barangsiapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 134) فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“Maka, Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 148)Dalam surah Ath-Thalaq ayat 2-3, Allah juga berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)[Bersambung]BACA JUGA:Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin? ***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawasul, Perintah Berbakti Kepada Orang Tua, Bacaan Dzikir Sehabis Sholat, Kitab Hadits Muslim, Was Was Najis Dimana ManaTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'akemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibah 2. Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di dunia 3. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezeki 4. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’ala Tobat, beribadah, zikir, doa, dan istigfar kepada Allah adalah sebab tersingkirnya musibahAllah Ta’ala dalam surah Al-Anfal ayat 33 berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَنْتَ فِيْهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تعرَّفْ إلى اللهِ في الرخاءِ يعرفُك في الشدَّةِ“Ingatlah Allah saat lapang (dengan taat kepada-Nya), niscaya Allah akan mengetahuimu saat susah (sehingga menolongmu).” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,‏من سره أن يستجيب اللهُ له عند الشَّدائدِ والكُرَبِ ، فلْيُكثِرِ الدعاء في الرخاءِ“Barangsiapa yang suka Allah kabulkan doanya saat susah dan menderita, maka hendaklah dia perbanyak doa saat lapang.” (HR. At-Tirmdzi, sahih)Allah Ta’ala berfirman, فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143-144)Tafsir Al-Baghawi rahimahullah Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,“Makna tasbih, yaitu ucapan:لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Anbiya’: 87)Al-Baghawi rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut dengan mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) termasuk orang-orang yang mengingat Allah sebelum itu, dan beliau dahulu termasuk orang yang banyak berzikir.”Tafsir Ibnu Katsir rahimahullahIbnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Adh-Dhahhak, ‘Atha’ bin As-Saib, As-Suddi, Al-Hasan, dan Qatadah rahimahumullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih” dalam ayat tersebut, yaitu “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang menunaikan salat.”Tafsiran ini sesuai dengan yang disebutkan oleh Al-Alusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Ruhul Ma’ani, tentang kaidah yang diutarakan oleh pakar tafsir di kalangan sahabat, Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,كُلُّ ما في القُرْآنِ مِنَ التَّسْبِيحِ فَهو بِمَعْنى الصَّلاةِ“Setiap tasbih dalam Al-Qur’an, maka bermakna salat.”Tafsir Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi rahimahullahPakar tafsir di kalangan tabiin, Mujahid rahimahullah menafsirkan makna “termasuk orang-orang yang banyak bertasbih”, yaitu: “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) orang-orang yang rajin beribadah kepada Allah” sebelum terjadinya musibah tersebut.Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Adh-Dhahhak bin Qais, berkata,“Ingatlah Allah (ber-dzikrullah-lah) saat lapang, niscaya Allah akan mengetahui kalian saat susah (sehingga menolong kalian). Karena sesungguhnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dahulu adalah hamba yang saleh dan rajin dzikrullah (mengingat Allah), lalu tatkala (terkena musibah) berada di dalam perut ikan besar, Allah berfirman,فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ“Maka, seandainya dia (Nabi Yunus ‘alaihis salam) tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih (mensucikan Allah),”لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ“niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffaat: 143-144)Adapun Fir’aun dahulu adalah seorang yang melampui batas lagi melupakan dzikrullah (tidak ingat Allah), lalu tatkala ia (terkena musibah) tenggelam (di laut), ia berkata,اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).”Namun, justru dikatakan kepadanya,اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 90-91)”Benarlah apa yang dinyatakan Adh-Dhahhak bin Qais rahimahullah, bahwa kesalehan dan dzikrullah adalah sebab dihilangkannya malapetaka, sedangkan sikap melampui batas dan melupakan Allah Ta’ala adalah sebab malapetaka.Tafsir Ibnul Jauzi rahimahullah Pakar tafsir di kalangan tabiin, Qatadah rahimahullah, berkata, “Tentulah perut ikan besar menjadi kuburan baginya sampai hari Kiamat, akan tetapi beliau dahulu banyak menunaikan salat saat lapang, lalu Allah Ta’ala selamatkan beliau dengan sebab banyak salat tersebut.BACA JUGA: Sebab-Sebab Terbukanya Rezeki dan Terhindar dari Musibah (Bag. 1)Tafsir Al-Mawardi rahimahullah“Pendapat keempat dari pendapat-pendapat ahli tafsir:‘Termasuk orang-orang yang bertobat’, dan ini pendapatnya Quthrub.Ada pula ahli tafsir yang mengatakan, “(Nabi Yunus ‘alaihis salam) tobat di waktu lapang, lalu Allah selamatkan beliau di waktu bencana.”Benarlah tafsir ulama tersebut, karena dosa itu penyebab musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 30,وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan (dosa) kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30)Tafsir Aisarut Tafasir, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah“Tafsirnya yaitu (sampai) hari kiamat, perut ikan besar akan menjadi kuburan bagi beliau.Maksudnya, kalaulah Nabi Yunus ‘alaihis salam bukan termasuk orang-orang yang bertasbih, yaitu termasuk orang-orang yang banyak menunaikan salat, zikir, doa, dan tasbih sebelum terkena musibah, tentulah Allah tidak mengilhamkan apa yang ia ucapkan, ‘Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhoolimiin.’ ”Saat menyimpulkan faedah dari ayat yang agung ini, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi rahimahullah mengatakan,“(Dalam ayat ini) terdapat keutamaan salat, zikir, doa, dan tasbih, serta betapa besar manfaat semua itu (untuk menyingkirkan bencana) ketika terjadi bencana.”Tafsir Al-Muyassar, Majma’ Al-Malik Fahd Arab Saud“Kalaulah bukan karena banyaknya ibadah dan amal saleh yang Nabi Yunus ‘alaihis salam telah lakukan sebelum ditelan ikan besar tersebut, dan juga tasbihnya saat berada di dalam perut ikan itu dengan mengucapkan,لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ‘Tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Anbiya’: 87)BACA JUGA: Istigfar dan Tobat Kunci Pembuka RezekiNiscaya Nabi Yunus ‘alaihis salam tetap dalam perut ikan itu dan perut ikan tersebut akan menjadi kuburnya sampai hari kiamat.”Ringkasan dari tafsir surah Ash-Shaffaat ayat 143-144Penyebab Allah Ta’ala selamatkan Nabi Yunus ‘alaihis salam dari musibah ditelan ikan besar adalah karena beliau bertobat kepada Allah, bertasbih menyucikan Allah yang mengandung doa istigfar, banyak salat, banyak zikir, dan banyak ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Intinya, kalaulah bukan karena banyaknya ibadah, amal saleh, dan tasbih yang Nabi Yunus ‘alaihis salam lakukan, tentunya Allah tidak menghilangkan musibah yang beliau alami.BACA JUGA:  Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah adalah sebab terhindarkan dari musibah, azab, serta kebinasaan di duniaAllah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa siksaan Allah Ta’ala tidak hanya akan menimpa orang-orang yang zalim secara khusus, namun juga selain mereka tatkala muncul kezaliman di tengah masyarakat, namun tidak ada yang mengingkarinya. Dan solusi semua itu adalah dengan bangkitnya para da’i menegakkan amar makruf nahi mungkar, berdakwah mengajak manusia kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman juga dalam surah Hud ayat 117,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hud ayat 117)Jelaslah dalam ayat ini, Allah Ta’ala tidak akan membinasakan suatu negeri jika masih ada orang yang berdakwah memperbaiki masyarakat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Mendirikan salat dan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib itu adalah sebab mendapatkan rezekiAllah Ta’ala berfirman dalam surah Thaha ayat 132,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah“Maksudnya, jika kamu mendirikan salat, maka akan datang kepadamu rezeki dari arah yang tidak kamu sangka sebagaimana firman Allah, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3Tafsir “Li Yaddabbaruu Aayaatihi”, Syekh Prof. Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil, Professor Universitas Qosim, Saudi ArabiaPertama: Di antara pintu-pintu rezeki adalah tadabbur ‘amaliyyah (mengamalkan) ayat,وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”Sebagian salaf saleh dahulu, jika musibah kesusahan menimpa keluarga mereka, mereka memerintahkan kepada keluarganya, “Dirikanlah salat, dengan ini Allah perintahkan kalian!”, dan beliau membacakan ayat di atas.Kedua: Menyibukkan diri dengan berdakwah dengan jenis dakwah yang wajib akan mengundang rezeki, bukan justru memalingkan dari mendapatkan rezeki. Firman Allah Ta’ala yang di dalamnya terdapat iming-iming dunia dalam peribadahan kepada Allah Ta’alaمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ࣖ“Barangsiapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 134) فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ“Maka, Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 148)Dalam surah Ath-Thalaq ayat 2-3, Allah juga berfirman, وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ“Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)[Bersambung]BACA JUGA:Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?Mengapa Mencari Rezeki Yang Haram Padahal Rezeki Telah Dijamin? ***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawasul, Perintah Berbakti Kepada Orang Tua, Bacaan Dzikir Sehabis Sholat, Kitab Hadits Muslim, Was Was Najis Dimana ManaTags: amal pembuka pintu rezekiAqidahaqidah islamdo'akemiskinankunci pintu rezekimencari rezekimiskinnasihatnasihat islampintu rezekirezekirezeki berkahrezeki halalTauhid

Keimanan kepada Malaikat (Bag. 1)

Iman kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap orang Islam. Barangsiapa yang tidak memenuhi kadar minimal iman kepada malaikat atau bahkan mendustakannya, maka ia telah terjerumus pada kufur akbar, keluar dari Islam.Definisi dan hakikat malaikatMalaikatun (ملائكة) adalah bentuk jamak dari malakun مَلَكٌ. Asli kata مَلَكٌ dari kata isim maf’ul مَأْلَكٌ ma’lakun, kemudian dihapuslah hamzah karena banyak digunakan dalam bahasa Arab sehingga jadi مَلَكٌ yang artinya “yang diutus”. مَلَكٌ berasal dari akar kata kerja (fiil) أَلَكَ – يَأْلُكُ – أَلُوْكَةً yang artinya “mengutus utusan yang khusus”. Maka, arti malaikat dalam bahasa adalah para utusan Allah yang diutus dengan tugas yang khusus dan agung. Adapun definisi secara istilah syariat, malaikat dapat didefinisikan sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullah,الملاَئِكةُ : عالمٌ غَيْبيٌّ، مخلوقونَ، عَابِدون للهِ تعالى، وليس لهم من خَصائصِ الرُّبُوبية والأُلوهِيَّة، خَلَقَهم الله تعالى منْ نُوْرٍ، ومَنَحَهم الإنْقيادَ التّامّ لِأمره، والقوّةُ على تنْفيذِه.“Malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Mereka adalah makhluk yang senantiasa beribadah kepada Allah. Namun, malaikat tidak memiliki satu pun sifat-sifat khusus sebagai Tuhan maupun sebagai zat yang berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan memberi kemampuan istimewa berupa ketundukan yang sempurna terhadap perintah Allah dan kekuatan untuk melaksanakannya.” (Nubdzah Fi Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal. 31)Al-Hafiz Al-Hakami rahimahullah juga mendefinisikan tentang malaikat sebagai berikut,والحَقُّ أنّ الملائِكةَ -عليهم السلام- ذَواتٌ قَائمِة بِأنفسها، قادرَةٌ على التشكّل بالقدرَةِ الإلهية، كما ثبتَ في الأحاديثِ الصحيحةِ عن النبيِ صلى الله عليه وسلم.“Yang benar (definisi malaikat), malaikat ‘alaihimussalam adalah zat-zat yang memiliki jiwa, yang memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk dengan izin dari Allah Ta’ala sebagaimana yang dikabarkan dari berbagai hadis yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Lawami’u Al-Anwar, 2: 411)BACA JUFA: Malaikat, Makhluk yang Tidak Memiliki Anak KeturunanKedudukan keimanan kepada malaikatIman kepada malaikat ini merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Keimanan kepada malaikat merupakan kewajiban yang ditegaskan dan ditetapkan dalam berbagai dalil, baik dari Al-Qur’an, hadis, dan ijma‘ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah: 177) Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain,ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰۤىِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَیۡكَ ٱلۡمَصِیرُ“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.’ ” (QS. Al-Baqarah: 285)Begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,الإيمانُ أنْ تُؤْمِنَ باللهِ ومَلائكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليومِ الآخِرِ، والقَدَرِ خيرِه وشَرِّه“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan beriman terhadap takdir, yang baik maupun buruk.” (HR. Muslim)BACA JUFA: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?Kadar minimal beriman kepada malaikatBeriman kepada malaikat tidak hanya pada satu derajat saja, melainkan ada dua derajat, yaitu: 1) derajat yang bersifat mujmal (umum) yang merupakan kewajiban yang harus diimani bagi seluruh mukallaf (balig dan berakal); dan 2) ada pula yang lebih tinggi, yaitu derajat yang bersifat tafshili (terperinci).Derajat yang pertama adalah derajat yang bersifat mujmal, yaitu yang wajib ada paling minimal pada keyakinan setiap dari hamba yang mukallaf terhadap malaikat. Derajat ini mengandung hal yang wajib diketahui dan diyakini yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman bahwasanya ada di antara mereka diutus oleh Allah untuk turun membawa wahyu dari Allah kepada para nabi. (Syarah Tsalastatul Ushul Li Al-Ushaimi, hal. 55)Hal yang sama juga disampaikan oleh Syekh Shalih Alu Syaikh saat menjelaskan rukun iman yang kedua. Beliau berkata,“Barangsiapa yang meyakini bahwa malaikat ini adalah makhluk Allah yang benar adanya dan ia mengimaninya, serta ia meyakini juga ada di antara mereka yang menjadi utusan menurunkan wahyu kepada para rasul, kemudian dengan perantara mereka risalah-risalah Allah tersampaikan, maka ia telah melaksanakan rukun iman yang kedua ini. Adapun yang lebih tinggi dari pada kadar tersebut, maka itu adalah derajat iman tafshili (terperinci) yang artinya manusia akan berbeda-beda tingkatan keimanannya sesuai dengan pengetahuannya.” (Syarah Tsalastatul Ushul, hal. 158)Sementara itu, dari kalangan ulama terdahulu, sebagaimana yang disampaikan oleh As-Suyuthi dalam Kitab Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah menukil dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman beliau menyebutkan bahwasanya iman kepada malaikat mencakup tiga perkara, yaitu:Pertama: Beriman terhadap adanya malaikat.Kedua: Beriman bahwasanya mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan hamba-Nya.Ketiga: Beriman bahwasanya ada di antara malaikat yang menjadi utusan (rasul) yang Allah Ta’ala utus kepada siapa saja manusia yang dikehendaki-Nya, dan boleh jadi Allah mengutus di antara mereka menjadi rasul kepada malaikat yang lain. Selain keimanan tersebut, diikutkan juga keimanan bahwasanya di antara mereka ada malaikat yang memikul ‘Arsy, malaikat yang berbaris-baris, malaikat penjaga surga, malaikat penjaga neraka, malaikat pencatat amal, dan malaikat yang menurunkan hujan. Semua malaikat tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an, bahkan lebih dari itu. (Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah, hal. 9-10)Ada pula di antara para ulama lainnya yang mengatakan iman secara mujmal hanya mencakup pada keimanan bahwa malaikat itu benar adanya dan merupakan makhluk ciptaan Allah Ta’ala.Barangsiapa tidak tahu sama sekali bahwa di alam semesta ini ada malaikat, maka keimanannya tidak sah, selama ketidaktahuannya memang tidak diberi uzur sama sekali oleh syariat semisal (uzur yang ditoleransi) ia baru saja masuk Islam, atau ia jauh dari lingkungan kaum muslimin dan para ulama. Adapun orang yang memang tidak beriman atau mengingkari keimanan kepada malaikat, maka sangat jelaslah status kekufurannya dan ia bukan seorang muslim.Adapun derajat yang kedua, yaitu derajat iman kepada malaikat yang bersifat tafshili, maka ia mencakup iman secara mujmal dan ada beberapa tambahan, yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat itu ada dan merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman terhadap nama-nama malaikat yang kita ketahui dan datang berbagai dalil yang menetapkannya.Ketiga: Beriman terhadap sifat-sifat malaikat yang kita ketahui dari berbagai dalil yang menetapkannya.Keempat: Beriman terhadap tugas-tugas dari para malaikat yang kita ketahui berdasarkan berbagai dalil yang menjelaskannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Li Ibni Utsaimin – Tafsir Surah Al-Baqarah, 2: 284, Syarah Tsalastatul Ushul Li Abdullah Al-Fauzan, hal. 143-145)Keimanan derajat tafshili ini berdasarkan apa-apa yang telah dipelajari atau diketahui oleh seorang muslim. Apabila telah datang kabar dari Al-Qur’an maupun hadis yang menjelaskan hal-hal terkait malaikat, mulai dari nama, tugas-tugas, dan sifat-sifat mereka, maka wajib untuk diimani tanpa keraguan. Maka, pengetahuan seseorang terkait iman kepada malaikat secara tafshili ini dapat bertingkat-tingkat tergantung sejauh mana ia mengetahui dan mempelajarinya. Adapun bagi orang yang tidak mengetahuinya, maka ia tetap sah imannya selama keimanan yang bersifat mujmal terhadap malaikat terpenuhi. Maka dari itu, para ulama menjelaskan belajar tentang keimanan kepada malaikat pada derajat tafshili (terperinci) ini hukumnya wajib kifayah bukan wajib ‘ain yang harus dipelajari oleh setiap muslim yang sudah balig dan berakal. Namun, kembali lagi barangsiapa yang mendapat pengetahuan dan informasi yang sahih (benar) terkait kabar tentang malaikat dari nama-nama malaikat, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka, maka wajib diimani. Barangsiapa yang tidak mengimani atau mendustakannya, maka akan terjatuh kepada kekufuran akbar yang mengeluarkannya dari Islam.[Bersambung]BACA JUFA:Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahMungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Suyuthi, Abdurrahman. 1988. Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaik. Beriut: Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah.As-Safarini, Muhammad bin Ahmad. 2016. Lawami Al-Anwar Wa Sawathi’u Al-Asrar. Riyadh: Dar At-Tauhid Li An-Nasyr.Al-’Utsaimin, Muhammad bin Salih. 1437 H. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-’Ustaimin, Muhamamd bin Shalih. Nubzah Fi Al-’Aqidati Al-Islamiyyah. Unaizah: Muassasah Asy-Syaikh bin Salih Al-’Utsaimin Al-Khairiyah.Al-Fauzan, Abdullah bin Salih. 1436 H. Husulu Al-Ma’mul Fi Syarhi Tsalatsati Al-Ushul. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Alu Syaikh, Salih bin Abdul Aziz. 1433 H. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul. Riyadh: Maktabatu Daru Al-Hijaz.Al-’Ushaimi, Salih bin Abdullah. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul Wa Adillatuha.🔍 Hukum Memakai Cadar, Mentadaburi, Jihad Dalam Pandangan Islam, Kurma Maryam, Ayat Alquran Tentang HidupTags: alam malaikatAqidahaqidah islamimaniman kepada malaikatjumlah malaikatkeutamaan malaikatmalaikatManhajmanhaj salafnama malaikatrukun imanTauhidtentang malaikattugas malaikat

Keimanan kepada Malaikat (Bag. 1)

Iman kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap orang Islam. Barangsiapa yang tidak memenuhi kadar minimal iman kepada malaikat atau bahkan mendustakannya, maka ia telah terjerumus pada kufur akbar, keluar dari Islam.Definisi dan hakikat malaikatMalaikatun (ملائكة) adalah bentuk jamak dari malakun مَلَكٌ. Asli kata مَلَكٌ dari kata isim maf’ul مَأْلَكٌ ma’lakun, kemudian dihapuslah hamzah karena banyak digunakan dalam bahasa Arab sehingga jadi مَلَكٌ yang artinya “yang diutus”. مَلَكٌ berasal dari akar kata kerja (fiil) أَلَكَ – يَأْلُكُ – أَلُوْكَةً yang artinya “mengutus utusan yang khusus”. Maka, arti malaikat dalam bahasa adalah para utusan Allah yang diutus dengan tugas yang khusus dan agung. Adapun definisi secara istilah syariat, malaikat dapat didefinisikan sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullah,الملاَئِكةُ : عالمٌ غَيْبيٌّ، مخلوقونَ، عَابِدون للهِ تعالى، وليس لهم من خَصائصِ الرُّبُوبية والأُلوهِيَّة، خَلَقَهم الله تعالى منْ نُوْرٍ، ومَنَحَهم الإنْقيادَ التّامّ لِأمره، والقوّةُ على تنْفيذِه.“Malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Mereka adalah makhluk yang senantiasa beribadah kepada Allah. Namun, malaikat tidak memiliki satu pun sifat-sifat khusus sebagai Tuhan maupun sebagai zat yang berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan memberi kemampuan istimewa berupa ketundukan yang sempurna terhadap perintah Allah dan kekuatan untuk melaksanakannya.” (Nubdzah Fi Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal. 31)Al-Hafiz Al-Hakami rahimahullah juga mendefinisikan tentang malaikat sebagai berikut,والحَقُّ أنّ الملائِكةَ -عليهم السلام- ذَواتٌ قَائمِة بِأنفسها، قادرَةٌ على التشكّل بالقدرَةِ الإلهية، كما ثبتَ في الأحاديثِ الصحيحةِ عن النبيِ صلى الله عليه وسلم.“Yang benar (definisi malaikat), malaikat ‘alaihimussalam adalah zat-zat yang memiliki jiwa, yang memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk dengan izin dari Allah Ta’ala sebagaimana yang dikabarkan dari berbagai hadis yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Lawami’u Al-Anwar, 2: 411)BACA JUFA: Malaikat, Makhluk yang Tidak Memiliki Anak KeturunanKedudukan keimanan kepada malaikatIman kepada malaikat ini merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Keimanan kepada malaikat merupakan kewajiban yang ditegaskan dan ditetapkan dalam berbagai dalil, baik dari Al-Qur’an, hadis, dan ijma‘ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah: 177) Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain,ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰۤىِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَیۡكَ ٱلۡمَصِیرُ“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.’ ” (QS. Al-Baqarah: 285)Begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,الإيمانُ أنْ تُؤْمِنَ باللهِ ومَلائكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليومِ الآخِرِ، والقَدَرِ خيرِه وشَرِّه“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan beriman terhadap takdir, yang baik maupun buruk.” (HR. Muslim)BACA JUFA: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?Kadar minimal beriman kepada malaikatBeriman kepada malaikat tidak hanya pada satu derajat saja, melainkan ada dua derajat, yaitu: 1) derajat yang bersifat mujmal (umum) yang merupakan kewajiban yang harus diimani bagi seluruh mukallaf (balig dan berakal); dan 2) ada pula yang lebih tinggi, yaitu derajat yang bersifat tafshili (terperinci).Derajat yang pertama adalah derajat yang bersifat mujmal, yaitu yang wajib ada paling minimal pada keyakinan setiap dari hamba yang mukallaf terhadap malaikat. Derajat ini mengandung hal yang wajib diketahui dan diyakini yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman bahwasanya ada di antara mereka diutus oleh Allah untuk turun membawa wahyu dari Allah kepada para nabi. (Syarah Tsalastatul Ushul Li Al-Ushaimi, hal. 55)Hal yang sama juga disampaikan oleh Syekh Shalih Alu Syaikh saat menjelaskan rukun iman yang kedua. Beliau berkata,“Barangsiapa yang meyakini bahwa malaikat ini adalah makhluk Allah yang benar adanya dan ia mengimaninya, serta ia meyakini juga ada di antara mereka yang menjadi utusan menurunkan wahyu kepada para rasul, kemudian dengan perantara mereka risalah-risalah Allah tersampaikan, maka ia telah melaksanakan rukun iman yang kedua ini. Adapun yang lebih tinggi dari pada kadar tersebut, maka itu adalah derajat iman tafshili (terperinci) yang artinya manusia akan berbeda-beda tingkatan keimanannya sesuai dengan pengetahuannya.” (Syarah Tsalastatul Ushul, hal. 158)Sementara itu, dari kalangan ulama terdahulu, sebagaimana yang disampaikan oleh As-Suyuthi dalam Kitab Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah menukil dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman beliau menyebutkan bahwasanya iman kepada malaikat mencakup tiga perkara, yaitu:Pertama: Beriman terhadap adanya malaikat.Kedua: Beriman bahwasanya mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan hamba-Nya.Ketiga: Beriman bahwasanya ada di antara malaikat yang menjadi utusan (rasul) yang Allah Ta’ala utus kepada siapa saja manusia yang dikehendaki-Nya, dan boleh jadi Allah mengutus di antara mereka menjadi rasul kepada malaikat yang lain. Selain keimanan tersebut, diikutkan juga keimanan bahwasanya di antara mereka ada malaikat yang memikul ‘Arsy, malaikat yang berbaris-baris, malaikat penjaga surga, malaikat penjaga neraka, malaikat pencatat amal, dan malaikat yang menurunkan hujan. Semua malaikat tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an, bahkan lebih dari itu. (Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah, hal. 9-10)Ada pula di antara para ulama lainnya yang mengatakan iman secara mujmal hanya mencakup pada keimanan bahwa malaikat itu benar adanya dan merupakan makhluk ciptaan Allah Ta’ala.Barangsiapa tidak tahu sama sekali bahwa di alam semesta ini ada malaikat, maka keimanannya tidak sah, selama ketidaktahuannya memang tidak diberi uzur sama sekali oleh syariat semisal (uzur yang ditoleransi) ia baru saja masuk Islam, atau ia jauh dari lingkungan kaum muslimin dan para ulama. Adapun orang yang memang tidak beriman atau mengingkari keimanan kepada malaikat, maka sangat jelaslah status kekufurannya dan ia bukan seorang muslim.Adapun derajat yang kedua, yaitu derajat iman kepada malaikat yang bersifat tafshili, maka ia mencakup iman secara mujmal dan ada beberapa tambahan, yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat itu ada dan merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman terhadap nama-nama malaikat yang kita ketahui dan datang berbagai dalil yang menetapkannya.Ketiga: Beriman terhadap sifat-sifat malaikat yang kita ketahui dari berbagai dalil yang menetapkannya.Keempat: Beriman terhadap tugas-tugas dari para malaikat yang kita ketahui berdasarkan berbagai dalil yang menjelaskannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Li Ibni Utsaimin – Tafsir Surah Al-Baqarah, 2: 284, Syarah Tsalastatul Ushul Li Abdullah Al-Fauzan, hal. 143-145)Keimanan derajat tafshili ini berdasarkan apa-apa yang telah dipelajari atau diketahui oleh seorang muslim. Apabila telah datang kabar dari Al-Qur’an maupun hadis yang menjelaskan hal-hal terkait malaikat, mulai dari nama, tugas-tugas, dan sifat-sifat mereka, maka wajib untuk diimani tanpa keraguan. Maka, pengetahuan seseorang terkait iman kepada malaikat secara tafshili ini dapat bertingkat-tingkat tergantung sejauh mana ia mengetahui dan mempelajarinya. Adapun bagi orang yang tidak mengetahuinya, maka ia tetap sah imannya selama keimanan yang bersifat mujmal terhadap malaikat terpenuhi. Maka dari itu, para ulama menjelaskan belajar tentang keimanan kepada malaikat pada derajat tafshili (terperinci) ini hukumnya wajib kifayah bukan wajib ‘ain yang harus dipelajari oleh setiap muslim yang sudah balig dan berakal. Namun, kembali lagi barangsiapa yang mendapat pengetahuan dan informasi yang sahih (benar) terkait kabar tentang malaikat dari nama-nama malaikat, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka, maka wajib diimani. Barangsiapa yang tidak mengimani atau mendustakannya, maka akan terjatuh kepada kekufuran akbar yang mengeluarkannya dari Islam.[Bersambung]BACA JUFA:Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahMungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Suyuthi, Abdurrahman. 1988. Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaik. Beriut: Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah.As-Safarini, Muhammad bin Ahmad. 2016. Lawami Al-Anwar Wa Sawathi’u Al-Asrar. Riyadh: Dar At-Tauhid Li An-Nasyr.Al-’Utsaimin, Muhammad bin Salih. 1437 H. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-’Ustaimin, Muhamamd bin Shalih. Nubzah Fi Al-’Aqidati Al-Islamiyyah. Unaizah: Muassasah Asy-Syaikh bin Salih Al-’Utsaimin Al-Khairiyah.Al-Fauzan, Abdullah bin Salih. 1436 H. Husulu Al-Ma’mul Fi Syarhi Tsalatsati Al-Ushul. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Alu Syaikh, Salih bin Abdul Aziz. 1433 H. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul. Riyadh: Maktabatu Daru Al-Hijaz.Al-’Ushaimi, Salih bin Abdullah. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul Wa Adillatuha.🔍 Hukum Memakai Cadar, Mentadaburi, Jihad Dalam Pandangan Islam, Kurma Maryam, Ayat Alquran Tentang HidupTags: alam malaikatAqidahaqidah islamimaniman kepada malaikatjumlah malaikatkeutamaan malaikatmalaikatManhajmanhaj salafnama malaikatrukun imanTauhidtentang malaikattugas malaikat
Iman kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap orang Islam. Barangsiapa yang tidak memenuhi kadar minimal iman kepada malaikat atau bahkan mendustakannya, maka ia telah terjerumus pada kufur akbar, keluar dari Islam.Definisi dan hakikat malaikatMalaikatun (ملائكة) adalah bentuk jamak dari malakun مَلَكٌ. Asli kata مَلَكٌ dari kata isim maf’ul مَأْلَكٌ ma’lakun, kemudian dihapuslah hamzah karena banyak digunakan dalam bahasa Arab sehingga jadi مَلَكٌ yang artinya “yang diutus”. مَلَكٌ berasal dari akar kata kerja (fiil) أَلَكَ – يَأْلُكُ – أَلُوْكَةً yang artinya “mengutus utusan yang khusus”. Maka, arti malaikat dalam bahasa adalah para utusan Allah yang diutus dengan tugas yang khusus dan agung. Adapun definisi secara istilah syariat, malaikat dapat didefinisikan sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullah,الملاَئِكةُ : عالمٌ غَيْبيٌّ، مخلوقونَ، عَابِدون للهِ تعالى، وليس لهم من خَصائصِ الرُّبُوبية والأُلوهِيَّة، خَلَقَهم الله تعالى منْ نُوْرٍ، ومَنَحَهم الإنْقيادَ التّامّ لِأمره، والقوّةُ على تنْفيذِه.“Malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Mereka adalah makhluk yang senantiasa beribadah kepada Allah. Namun, malaikat tidak memiliki satu pun sifat-sifat khusus sebagai Tuhan maupun sebagai zat yang berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan memberi kemampuan istimewa berupa ketundukan yang sempurna terhadap perintah Allah dan kekuatan untuk melaksanakannya.” (Nubdzah Fi Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal. 31)Al-Hafiz Al-Hakami rahimahullah juga mendefinisikan tentang malaikat sebagai berikut,والحَقُّ أنّ الملائِكةَ -عليهم السلام- ذَواتٌ قَائمِة بِأنفسها، قادرَةٌ على التشكّل بالقدرَةِ الإلهية، كما ثبتَ في الأحاديثِ الصحيحةِ عن النبيِ صلى الله عليه وسلم.“Yang benar (definisi malaikat), malaikat ‘alaihimussalam adalah zat-zat yang memiliki jiwa, yang memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk dengan izin dari Allah Ta’ala sebagaimana yang dikabarkan dari berbagai hadis yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Lawami’u Al-Anwar, 2: 411)BACA JUFA: Malaikat, Makhluk yang Tidak Memiliki Anak KeturunanKedudukan keimanan kepada malaikatIman kepada malaikat ini merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Keimanan kepada malaikat merupakan kewajiban yang ditegaskan dan ditetapkan dalam berbagai dalil, baik dari Al-Qur’an, hadis, dan ijma‘ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah: 177) Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain,ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰۤىِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَیۡكَ ٱلۡمَصِیرُ“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.’ ” (QS. Al-Baqarah: 285)Begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,الإيمانُ أنْ تُؤْمِنَ باللهِ ومَلائكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليومِ الآخِرِ، والقَدَرِ خيرِه وشَرِّه“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan beriman terhadap takdir, yang baik maupun buruk.” (HR. Muslim)BACA JUFA: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?Kadar minimal beriman kepada malaikatBeriman kepada malaikat tidak hanya pada satu derajat saja, melainkan ada dua derajat, yaitu: 1) derajat yang bersifat mujmal (umum) yang merupakan kewajiban yang harus diimani bagi seluruh mukallaf (balig dan berakal); dan 2) ada pula yang lebih tinggi, yaitu derajat yang bersifat tafshili (terperinci).Derajat yang pertama adalah derajat yang bersifat mujmal, yaitu yang wajib ada paling minimal pada keyakinan setiap dari hamba yang mukallaf terhadap malaikat. Derajat ini mengandung hal yang wajib diketahui dan diyakini yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman bahwasanya ada di antara mereka diutus oleh Allah untuk turun membawa wahyu dari Allah kepada para nabi. (Syarah Tsalastatul Ushul Li Al-Ushaimi, hal. 55)Hal yang sama juga disampaikan oleh Syekh Shalih Alu Syaikh saat menjelaskan rukun iman yang kedua. Beliau berkata,“Barangsiapa yang meyakini bahwa malaikat ini adalah makhluk Allah yang benar adanya dan ia mengimaninya, serta ia meyakini juga ada di antara mereka yang menjadi utusan menurunkan wahyu kepada para rasul, kemudian dengan perantara mereka risalah-risalah Allah tersampaikan, maka ia telah melaksanakan rukun iman yang kedua ini. Adapun yang lebih tinggi dari pada kadar tersebut, maka itu adalah derajat iman tafshili (terperinci) yang artinya manusia akan berbeda-beda tingkatan keimanannya sesuai dengan pengetahuannya.” (Syarah Tsalastatul Ushul, hal. 158)Sementara itu, dari kalangan ulama terdahulu, sebagaimana yang disampaikan oleh As-Suyuthi dalam Kitab Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah menukil dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman beliau menyebutkan bahwasanya iman kepada malaikat mencakup tiga perkara, yaitu:Pertama: Beriman terhadap adanya malaikat.Kedua: Beriman bahwasanya mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan hamba-Nya.Ketiga: Beriman bahwasanya ada di antara malaikat yang menjadi utusan (rasul) yang Allah Ta’ala utus kepada siapa saja manusia yang dikehendaki-Nya, dan boleh jadi Allah mengutus di antara mereka menjadi rasul kepada malaikat yang lain. Selain keimanan tersebut, diikutkan juga keimanan bahwasanya di antara mereka ada malaikat yang memikul ‘Arsy, malaikat yang berbaris-baris, malaikat penjaga surga, malaikat penjaga neraka, malaikat pencatat amal, dan malaikat yang menurunkan hujan. Semua malaikat tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an, bahkan lebih dari itu. (Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah, hal. 9-10)Ada pula di antara para ulama lainnya yang mengatakan iman secara mujmal hanya mencakup pada keimanan bahwa malaikat itu benar adanya dan merupakan makhluk ciptaan Allah Ta’ala.Barangsiapa tidak tahu sama sekali bahwa di alam semesta ini ada malaikat, maka keimanannya tidak sah, selama ketidaktahuannya memang tidak diberi uzur sama sekali oleh syariat semisal (uzur yang ditoleransi) ia baru saja masuk Islam, atau ia jauh dari lingkungan kaum muslimin dan para ulama. Adapun orang yang memang tidak beriman atau mengingkari keimanan kepada malaikat, maka sangat jelaslah status kekufurannya dan ia bukan seorang muslim.Adapun derajat yang kedua, yaitu derajat iman kepada malaikat yang bersifat tafshili, maka ia mencakup iman secara mujmal dan ada beberapa tambahan, yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat itu ada dan merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman terhadap nama-nama malaikat yang kita ketahui dan datang berbagai dalil yang menetapkannya.Ketiga: Beriman terhadap sifat-sifat malaikat yang kita ketahui dari berbagai dalil yang menetapkannya.Keempat: Beriman terhadap tugas-tugas dari para malaikat yang kita ketahui berdasarkan berbagai dalil yang menjelaskannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Li Ibni Utsaimin – Tafsir Surah Al-Baqarah, 2: 284, Syarah Tsalastatul Ushul Li Abdullah Al-Fauzan, hal. 143-145)Keimanan derajat tafshili ini berdasarkan apa-apa yang telah dipelajari atau diketahui oleh seorang muslim. Apabila telah datang kabar dari Al-Qur’an maupun hadis yang menjelaskan hal-hal terkait malaikat, mulai dari nama, tugas-tugas, dan sifat-sifat mereka, maka wajib untuk diimani tanpa keraguan. Maka, pengetahuan seseorang terkait iman kepada malaikat secara tafshili ini dapat bertingkat-tingkat tergantung sejauh mana ia mengetahui dan mempelajarinya. Adapun bagi orang yang tidak mengetahuinya, maka ia tetap sah imannya selama keimanan yang bersifat mujmal terhadap malaikat terpenuhi. Maka dari itu, para ulama menjelaskan belajar tentang keimanan kepada malaikat pada derajat tafshili (terperinci) ini hukumnya wajib kifayah bukan wajib ‘ain yang harus dipelajari oleh setiap muslim yang sudah balig dan berakal. Namun, kembali lagi barangsiapa yang mendapat pengetahuan dan informasi yang sahih (benar) terkait kabar tentang malaikat dari nama-nama malaikat, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka, maka wajib diimani. Barangsiapa yang tidak mengimani atau mendustakannya, maka akan terjatuh kepada kekufuran akbar yang mengeluarkannya dari Islam.[Bersambung]BACA JUFA:Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahMungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Suyuthi, Abdurrahman. 1988. Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaik. Beriut: Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah.As-Safarini, Muhammad bin Ahmad. 2016. Lawami Al-Anwar Wa Sawathi’u Al-Asrar. Riyadh: Dar At-Tauhid Li An-Nasyr.Al-’Utsaimin, Muhammad bin Salih. 1437 H. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-’Ustaimin, Muhamamd bin Shalih. Nubzah Fi Al-’Aqidati Al-Islamiyyah. Unaizah: Muassasah Asy-Syaikh bin Salih Al-’Utsaimin Al-Khairiyah.Al-Fauzan, Abdullah bin Salih. 1436 H. Husulu Al-Ma’mul Fi Syarhi Tsalatsati Al-Ushul. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Alu Syaikh, Salih bin Abdul Aziz. 1433 H. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul. Riyadh: Maktabatu Daru Al-Hijaz.Al-’Ushaimi, Salih bin Abdullah. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul Wa Adillatuha.🔍 Hukum Memakai Cadar, Mentadaburi, Jihad Dalam Pandangan Islam, Kurma Maryam, Ayat Alquran Tentang HidupTags: alam malaikatAqidahaqidah islamimaniman kepada malaikatjumlah malaikatkeutamaan malaikatmalaikatManhajmanhaj salafnama malaikatrukun imanTauhidtentang malaikattugas malaikat


Iman kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap orang Islam. Barangsiapa yang tidak memenuhi kadar minimal iman kepada malaikat atau bahkan mendustakannya, maka ia telah terjerumus pada kufur akbar, keluar dari Islam.Definisi dan hakikat malaikatMalaikatun (ملائكة) adalah bentuk jamak dari malakun مَلَكٌ. Asli kata مَلَكٌ dari kata isim maf’ul مَأْلَكٌ ma’lakun, kemudian dihapuslah hamzah karena banyak digunakan dalam bahasa Arab sehingga jadi مَلَكٌ yang artinya “yang diutus”. مَلَكٌ berasal dari akar kata kerja (fiil) أَلَكَ – يَأْلُكُ – أَلُوْكَةً yang artinya “mengutus utusan yang khusus”. Maka, arti malaikat dalam bahasa adalah para utusan Allah yang diutus dengan tugas yang khusus dan agung. Adapun definisi secara istilah syariat, malaikat dapat didefinisikan sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullah,الملاَئِكةُ : عالمٌ غَيْبيٌّ، مخلوقونَ، عَابِدون للهِ تعالى، وليس لهم من خَصائصِ الرُّبُوبية والأُلوهِيَّة، خَلَقَهم الله تعالى منْ نُوْرٍ، ومَنَحَهم الإنْقيادَ التّامّ لِأمره، والقوّةُ على تنْفيذِه.“Malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Mereka adalah makhluk yang senantiasa beribadah kepada Allah. Namun, malaikat tidak memiliki satu pun sifat-sifat khusus sebagai Tuhan maupun sebagai zat yang berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan memberi kemampuan istimewa berupa ketundukan yang sempurna terhadap perintah Allah dan kekuatan untuk melaksanakannya.” (Nubdzah Fi Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal. 31)Al-Hafiz Al-Hakami rahimahullah juga mendefinisikan tentang malaikat sebagai berikut,والحَقُّ أنّ الملائِكةَ -عليهم السلام- ذَواتٌ قَائمِة بِأنفسها، قادرَةٌ على التشكّل بالقدرَةِ الإلهية، كما ثبتَ في الأحاديثِ الصحيحةِ عن النبيِ صلى الله عليه وسلم.“Yang benar (definisi malaikat), malaikat ‘alaihimussalam adalah zat-zat yang memiliki jiwa, yang memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk dengan izin dari Allah Ta’ala sebagaimana yang dikabarkan dari berbagai hadis yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Lawami’u Al-Anwar, 2: 411)BACA JUFA: Malaikat, Makhluk yang Tidak Memiliki Anak KeturunanKedudukan keimanan kepada malaikatIman kepada malaikat ini merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Keimanan kepada malaikat merupakan kewajiban yang ditegaskan dan ditetapkan dalam berbagai dalil, baik dari Al-Qur’an, hadis, dan ijma‘ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah: 177) Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain,ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰۤىِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَیۡكَ ٱلۡمَصِیرُ“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.’ ” (QS. Al-Baqarah: 285)Begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,الإيمانُ أنْ تُؤْمِنَ باللهِ ومَلائكَتِه، وكُتُبِه، ورُسُلِه، واليومِ الآخِرِ، والقَدَرِ خيرِه وشَرِّه“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan beriman terhadap takdir, yang baik maupun buruk.” (HR. Muslim)BACA JUFA: Apakah Iblis termasuk Golongan Malaikat ataukah Jin?Kadar minimal beriman kepada malaikatBeriman kepada malaikat tidak hanya pada satu derajat saja, melainkan ada dua derajat, yaitu: 1) derajat yang bersifat mujmal (umum) yang merupakan kewajiban yang harus diimani bagi seluruh mukallaf (balig dan berakal); dan 2) ada pula yang lebih tinggi, yaitu derajat yang bersifat tafshili (terperinci).Derajat yang pertama adalah derajat yang bersifat mujmal, yaitu yang wajib ada paling minimal pada keyakinan setiap dari hamba yang mukallaf terhadap malaikat. Derajat ini mengandung hal yang wajib diketahui dan diyakini yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman bahwasanya ada di antara mereka diutus oleh Allah untuk turun membawa wahyu dari Allah kepada para nabi. (Syarah Tsalastatul Ushul Li Al-Ushaimi, hal. 55)Hal yang sama juga disampaikan oleh Syekh Shalih Alu Syaikh saat menjelaskan rukun iman yang kedua. Beliau berkata,“Barangsiapa yang meyakini bahwa malaikat ini adalah makhluk Allah yang benar adanya dan ia mengimaninya, serta ia meyakini juga ada di antara mereka yang menjadi utusan menurunkan wahyu kepada para rasul, kemudian dengan perantara mereka risalah-risalah Allah tersampaikan, maka ia telah melaksanakan rukun iman yang kedua ini. Adapun yang lebih tinggi dari pada kadar tersebut, maka itu adalah derajat iman tafshili (terperinci) yang artinya manusia akan berbeda-beda tingkatan keimanannya sesuai dengan pengetahuannya.” (Syarah Tsalastatul Ushul, hal. 158)Sementara itu, dari kalangan ulama terdahulu, sebagaimana yang disampaikan oleh As-Suyuthi dalam Kitab Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah menukil dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman beliau menyebutkan bahwasanya iman kepada malaikat mencakup tiga perkara, yaitu:Pertama: Beriman terhadap adanya malaikat.Kedua: Beriman bahwasanya mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan hamba-Nya.Ketiga: Beriman bahwasanya ada di antara malaikat yang menjadi utusan (rasul) yang Allah Ta’ala utus kepada siapa saja manusia yang dikehendaki-Nya, dan boleh jadi Allah mengutus di antara mereka menjadi rasul kepada malaikat yang lain. Selain keimanan tersebut, diikutkan juga keimanan bahwasanya di antara mereka ada malaikat yang memikul ‘Arsy, malaikat yang berbaris-baris, malaikat penjaga surga, malaikat penjaga neraka, malaikat pencatat amal, dan malaikat yang menurunkan hujan. Semua malaikat tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an, bahkan lebih dari itu. (Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaikah, hal. 9-10)Ada pula di antara para ulama lainnya yang mengatakan iman secara mujmal hanya mencakup pada keimanan bahwa malaikat itu benar adanya dan merupakan makhluk ciptaan Allah Ta’ala.Barangsiapa tidak tahu sama sekali bahwa di alam semesta ini ada malaikat, maka keimanannya tidak sah, selama ketidaktahuannya memang tidak diberi uzur sama sekali oleh syariat semisal (uzur yang ditoleransi) ia baru saja masuk Islam, atau ia jauh dari lingkungan kaum muslimin dan para ulama. Adapun orang yang memang tidak beriman atau mengingkari keimanan kepada malaikat, maka sangat jelaslah status kekufurannya dan ia bukan seorang muslim.Adapun derajat yang kedua, yaitu derajat iman kepada malaikat yang bersifat tafshili, maka ia mencakup iman secara mujmal dan ada beberapa tambahan, yaitu:Pertama: Beriman bahwa malaikat itu ada dan merupakan makhluk ciptaan Allah.Kedua: Beriman terhadap nama-nama malaikat yang kita ketahui dan datang berbagai dalil yang menetapkannya.Ketiga: Beriman terhadap sifat-sifat malaikat yang kita ketahui dari berbagai dalil yang menetapkannya.Keempat: Beriman terhadap tugas-tugas dari para malaikat yang kita ketahui berdasarkan berbagai dalil yang menjelaskannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Li Ibni Utsaimin – Tafsir Surah Al-Baqarah, 2: 284, Syarah Tsalastatul Ushul Li Abdullah Al-Fauzan, hal. 143-145)Keimanan derajat tafshili ini berdasarkan apa-apa yang telah dipelajari atau diketahui oleh seorang muslim. Apabila telah datang kabar dari Al-Qur’an maupun hadis yang menjelaskan hal-hal terkait malaikat, mulai dari nama, tugas-tugas, dan sifat-sifat mereka, maka wajib untuk diimani tanpa keraguan. Maka, pengetahuan seseorang terkait iman kepada malaikat secara tafshili ini dapat bertingkat-tingkat tergantung sejauh mana ia mengetahui dan mempelajarinya. Adapun bagi orang yang tidak mengetahuinya, maka ia tetap sah imannya selama keimanan yang bersifat mujmal terhadap malaikat terpenuhi. Maka dari itu, para ulama menjelaskan belajar tentang keimanan kepada malaikat pada derajat tafshili (terperinci) ini hukumnya wajib kifayah bukan wajib ‘ain yang harus dipelajari oleh setiap muslim yang sudah balig dan berakal. Namun, kembali lagi barangsiapa yang mendapat pengetahuan dan informasi yang sahih (benar) terkait kabar tentang malaikat dari nama-nama malaikat, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka, maka wajib diimani. Barangsiapa yang tidak mengimani atau mendustakannya, maka akan terjatuh kepada kekufuran akbar yang mengeluarkannya dari Islam.[Bersambung]BACA JUFA:Rincian Nama-Nama Malaikat dari Dalil Al-Qur’an dan As-SunnahMungkinkah Manusia Melihat Malaikat dalam Wujudnya yang Asli?***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:As-Suyuthi, Abdurrahman. 1988. Al-Habaik Fi Akhbari Al-Malaik. Beriut: Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah.As-Safarini, Muhammad bin Ahmad. 2016. Lawami Al-Anwar Wa Sawathi’u Al-Asrar. Riyadh: Dar At-Tauhid Li An-Nasyr.Al-’Utsaimin, Muhammad bin Salih. 1437 H. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-’Ustaimin, Muhamamd bin Shalih. Nubzah Fi Al-’Aqidati Al-Islamiyyah. Unaizah: Muassasah Asy-Syaikh bin Salih Al-’Utsaimin Al-Khairiyah.Al-Fauzan, Abdullah bin Salih. 1436 H. Husulu Al-Ma’mul Fi Syarhi Tsalatsati Al-Ushul. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Alu Syaikh, Salih bin Abdul Aziz. 1433 H. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul. Riyadh: Maktabatu Daru Al-Hijaz.Al-’Ushaimi, Salih bin Abdullah. Syarhu Tsalatsati Al-Ushul Wa Adillatuha.🔍 Hukum Memakai Cadar, Mentadaburi, Jihad Dalam Pandangan Islam, Kurma Maryam, Ayat Alquran Tentang HidupTags: alam malaikatAqidahaqidah islamimaniman kepada malaikatjumlah malaikatkeutamaan malaikatmalaikatManhajmanhaj salafnama malaikatrukun imanTauhidtentang malaikattugas malaikat

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 196 – Dzikir dan Doa Saat Terjaga di Tengah Malam

Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah sangat lengkapnya panduan hidup yang diberikan. Bukan hanya doa sebelum dan sesudah tidur yang diajarkannya, namun juga doa saat terbangun di tengah malam. Sebuah momen yang sering kita alami. Entah karena kebelet ingin ke kamar mandi, atau karena kegerahan atau kedinginan, atau sekedar karena terbangun saja. Kebanyakan orang akan segera melanjutkan kembali tidurnya, apalagi bila malam masih panjang. Padahal ternyata di momen ini, ada dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca, dan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Yaitu:Redaksi Dzikir:لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Lâ ilâha illallôhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in Qodîr. Alhamdulillâh, wa subhânallôh, wa lâ ilâha illallôh, wallôhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh”.Dalil LandasanDari Ubâdah bin Shômit radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,“Barang siapa terjaga di malam hari, lalu ia membaca, “Tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia pula yang mampu melakukan segala sesuatu. Segala pujian untuk Allah. Maha suci Allah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”. Lalu setelah itu ia mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku” atau ia berdoa; niscaya doanya akan dikabulkan. Kemudian jika ia melanjutkannya dengan berwudhu dan shalat; niscaya shalatnya akan diterima”. HR. Bukhari (no. 1154).Renungan KandunganDzikir ini diawali dengan tahlil atau kalimat tauhid. Untuk menunjukkan betapa pentingnya prinsip tauhid dalam kehidupan. Sehingga harus selalu dinomorsatukan untuk dipelajari dan diamalkan. Kalimat tauhid ini mengajarkan pada kita agar mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah ta’ala saja. Murni untuk-Nya. Tidak boleh menyelewengkan ibadah untuk selain Allah, sekalipun hanya sedikit.Mengapa harus demikian? Sebab hanya Allah saja Penguasa mutlak alam semesta. Hanya Dia yang berhak dipuji secara sempurna, karena seluruh karunia itu berasal dari-Nya. Serta hanya Dia pula yang mampu untuk mewujudkan segala sesuatu. Sehingga wajar bila hanya Dia pula yang berhak untuk disembah.Selanjutnya kita membaca tahmid; sebagai wujud syukur kita kepada Allah atas segala karunia-Nya, yang salah satunya kita masih bisa terjaga dari tidur dan mampu mengingat-Nya. Lalu bertasbih; yaitu mengikrarkan kemahasucian Allah dari segala hal yang tidak pantas bagi-Nya. Kemudian kita bertahlil lagi; untuk menegaskan bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah semata. Selanjutnya kita mengucapkan takbir; sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Yang Maha Besar.Terakhir ditutup dengan hauqalah; guna mengingatkan bahwa keberhasilan kita untuk membaca dzikir ini, semata-mata karena bantuan dari Allah ta’ala. Sekaligus kita memohon pertolongan dari-Nya agar mampu untuk melanjutkan dzikir ini dengan doa, wudhu dan shalat tahajud. Sehingga berhasil meraih keutamaan yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas.Mempraktekkan dzikir ini adalah salah satu upaya kita guna membiasakan lisan dan hati untuk menyebut nama Allah dan mengingat-Nya. Sekalipun dalam momen yang jarang sekali orang mengingat-Nya. Yaitu saat terjaga di tengah malam.Jika kita belum mampu untuk melanjutkan dzikir tadi dengan tahajud, maka minimal bacalah dzikir tersebut. Semoga lama kelamaan kita mampu untuk melanjutkannya dengan tahajud. Amien.Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (III/80-83).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1444 / 19 Desember 2022

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 196 – Dzikir dan Doa Saat Terjaga di Tengah Malam

Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah sangat lengkapnya panduan hidup yang diberikan. Bukan hanya doa sebelum dan sesudah tidur yang diajarkannya, namun juga doa saat terbangun di tengah malam. Sebuah momen yang sering kita alami. Entah karena kebelet ingin ke kamar mandi, atau karena kegerahan atau kedinginan, atau sekedar karena terbangun saja. Kebanyakan orang akan segera melanjutkan kembali tidurnya, apalagi bila malam masih panjang. Padahal ternyata di momen ini, ada dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca, dan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Yaitu:Redaksi Dzikir:لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Lâ ilâha illallôhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in Qodîr. Alhamdulillâh, wa subhânallôh, wa lâ ilâha illallôh, wallôhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh”.Dalil LandasanDari Ubâdah bin Shômit radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,“Barang siapa terjaga di malam hari, lalu ia membaca, “Tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia pula yang mampu melakukan segala sesuatu. Segala pujian untuk Allah. Maha suci Allah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”. Lalu setelah itu ia mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku” atau ia berdoa; niscaya doanya akan dikabulkan. Kemudian jika ia melanjutkannya dengan berwudhu dan shalat; niscaya shalatnya akan diterima”. HR. Bukhari (no. 1154).Renungan KandunganDzikir ini diawali dengan tahlil atau kalimat tauhid. Untuk menunjukkan betapa pentingnya prinsip tauhid dalam kehidupan. Sehingga harus selalu dinomorsatukan untuk dipelajari dan diamalkan. Kalimat tauhid ini mengajarkan pada kita agar mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah ta’ala saja. Murni untuk-Nya. Tidak boleh menyelewengkan ibadah untuk selain Allah, sekalipun hanya sedikit.Mengapa harus demikian? Sebab hanya Allah saja Penguasa mutlak alam semesta. Hanya Dia yang berhak dipuji secara sempurna, karena seluruh karunia itu berasal dari-Nya. Serta hanya Dia pula yang mampu untuk mewujudkan segala sesuatu. Sehingga wajar bila hanya Dia pula yang berhak untuk disembah.Selanjutnya kita membaca tahmid; sebagai wujud syukur kita kepada Allah atas segala karunia-Nya, yang salah satunya kita masih bisa terjaga dari tidur dan mampu mengingat-Nya. Lalu bertasbih; yaitu mengikrarkan kemahasucian Allah dari segala hal yang tidak pantas bagi-Nya. Kemudian kita bertahlil lagi; untuk menegaskan bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah semata. Selanjutnya kita mengucapkan takbir; sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Yang Maha Besar.Terakhir ditutup dengan hauqalah; guna mengingatkan bahwa keberhasilan kita untuk membaca dzikir ini, semata-mata karena bantuan dari Allah ta’ala. Sekaligus kita memohon pertolongan dari-Nya agar mampu untuk melanjutkan dzikir ini dengan doa, wudhu dan shalat tahajud. Sehingga berhasil meraih keutamaan yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas.Mempraktekkan dzikir ini adalah salah satu upaya kita guna membiasakan lisan dan hati untuk menyebut nama Allah dan mengingat-Nya. Sekalipun dalam momen yang jarang sekali orang mengingat-Nya. Yaitu saat terjaga di tengah malam.Jika kita belum mampu untuk melanjutkan dzikir tadi dengan tahajud, maka minimal bacalah dzikir tersebut. Semoga lama kelamaan kita mampu untuk melanjutkannya dengan tahajud. Amien.Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (III/80-83).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1444 / 19 Desember 2022
Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah sangat lengkapnya panduan hidup yang diberikan. Bukan hanya doa sebelum dan sesudah tidur yang diajarkannya, namun juga doa saat terbangun di tengah malam. Sebuah momen yang sering kita alami. Entah karena kebelet ingin ke kamar mandi, atau karena kegerahan atau kedinginan, atau sekedar karena terbangun saja. Kebanyakan orang akan segera melanjutkan kembali tidurnya, apalagi bila malam masih panjang. Padahal ternyata di momen ini, ada dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca, dan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Yaitu:Redaksi Dzikir:لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Lâ ilâha illallôhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in Qodîr. Alhamdulillâh, wa subhânallôh, wa lâ ilâha illallôh, wallôhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh”.Dalil LandasanDari Ubâdah bin Shômit radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,“Barang siapa terjaga di malam hari, lalu ia membaca, “Tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia pula yang mampu melakukan segala sesuatu. Segala pujian untuk Allah. Maha suci Allah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”. Lalu setelah itu ia mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku” atau ia berdoa; niscaya doanya akan dikabulkan. Kemudian jika ia melanjutkannya dengan berwudhu dan shalat; niscaya shalatnya akan diterima”. HR. Bukhari (no. 1154).Renungan KandunganDzikir ini diawali dengan tahlil atau kalimat tauhid. Untuk menunjukkan betapa pentingnya prinsip tauhid dalam kehidupan. Sehingga harus selalu dinomorsatukan untuk dipelajari dan diamalkan. Kalimat tauhid ini mengajarkan pada kita agar mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah ta’ala saja. Murni untuk-Nya. Tidak boleh menyelewengkan ibadah untuk selain Allah, sekalipun hanya sedikit.Mengapa harus demikian? Sebab hanya Allah saja Penguasa mutlak alam semesta. Hanya Dia yang berhak dipuji secara sempurna, karena seluruh karunia itu berasal dari-Nya. Serta hanya Dia pula yang mampu untuk mewujudkan segala sesuatu. Sehingga wajar bila hanya Dia pula yang berhak untuk disembah.Selanjutnya kita membaca tahmid; sebagai wujud syukur kita kepada Allah atas segala karunia-Nya, yang salah satunya kita masih bisa terjaga dari tidur dan mampu mengingat-Nya. Lalu bertasbih; yaitu mengikrarkan kemahasucian Allah dari segala hal yang tidak pantas bagi-Nya. Kemudian kita bertahlil lagi; untuk menegaskan bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah semata. Selanjutnya kita mengucapkan takbir; sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Yang Maha Besar.Terakhir ditutup dengan hauqalah; guna mengingatkan bahwa keberhasilan kita untuk membaca dzikir ini, semata-mata karena bantuan dari Allah ta’ala. Sekaligus kita memohon pertolongan dari-Nya agar mampu untuk melanjutkan dzikir ini dengan doa, wudhu dan shalat tahajud. Sehingga berhasil meraih keutamaan yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas.Mempraktekkan dzikir ini adalah salah satu upaya kita guna membiasakan lisan dan hati untuk menyebut nama Allah dan mengingat-Nya. Sekalipun dalam momen yang jarang sekali orang mengingat-Nya. Yaitu saat terjaga di tengah malam.Jika kita belum mampu untuk melanjutkan dzikir tadi dengan tahajud, maka minimal bacalah dzikir tersebut. Semoga lama kelamaan kita mampu untuk melanjutkannya dengan tahajud. Amien.Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (III/80-83).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1444 / 19 Desember 2022


Salah satu bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah sangat lengkapnya panduan hidup yang diberikan. Bukan hanya doa sebelum dan sesudah tidur yang diajarkannya, namun juga doa saat terbangun di tengah malam. Sebuah momen yang sering kita alami. Entah karena kebelet ingin ke kamar mandi, atau karena kegerahan atau kedinginan, atau sekedar karena terbangun saja. Kebanyakan orang akan segera melanjutkan kembali tidurnya, apalagi bila malam masih panjang. Padahal ternyata di momen ini, ada dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca, dan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Yaitu:Redaksi Dzikir:لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ“Lâ ilâha illallôhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in Qodîr. Alhamdulillâh, wa subhânallôh, wa lâ ilâha illallôh, wallôhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh”.Dalil LandasanDari Ubâdah bin Shômit radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,“Barang siapa terjaga di malam hari, lalu ia membaca, “Tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia pula yang mampu melakukan segala sesuatu. Segala pujian untuk Allah. Maha suci Allah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”. Lalu setelah itu ia mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku” atau ia berdoa; niscaya doanya akan dikabulkan. Kemudian jika ia melanjutkannya dengan berwudhu dan shalat; niscaya shalatnya akan diterima”. HR. Bukhari (no. 1154).Renungan KandunganDzikir ini diawali dengan tahlil atau kalimat tauhid. Untuk menunjukkan betapa pentingnya prinsip tauhid dalam kehidupan. Sehingga harus selalu dinomorsatukan untuk dipelajari dan diamalkan. Kalimat tauhid ini mengajarkan pada kita agar mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah ta’ala saja. Murni untuk-Nya. Tidak boleh menyelewengkan ibadah untuk selain Allah, sekalipun hanya sedikit.Mengapa harus demikian? Sebab hanya Allah saja Penguasa mutlak alam semesta. Hanya Dia yang berhak dipuji secara sempurna, karena seluruh karunia itu berasal dari-Nya. Serta hanya Dia pula yang mampu untuk mewujudkan segala sesuatu. Sehingga wajar bila hanya Dia pula yang berhak untuk disembah.Selanjutnya kita membaca tahmid; sebagai wujud syukur kita kepada Allah atas segala karunia-Nya, yang salah satunya kita masih bisa terjaga dari tidur dan mampu mengingat-Nya. Lalu bertasbih; yaitu mengikrarkan kemahasucian Allah dari segala hal yang tidak pantas bagi-Nya. Kemudian kita bertahlil lagi; untuk menegaskan bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah semata. Selanjutnya kita mengucapkan takbir; sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Yang Maha Besar.Terakhir ditutup dengan hauqalah; guna mengingatkan bahwa keberhasilan kita untuk membaca dzikir ini, semata-mata karena bantuan dari Allah ta’ala. Sekaligus kita memohon pertolongan dari-Nya agar mampu untuk melanjutkan dzikir ini dengan doa, wudhu dan shalat tahajud. Sehingga berhasil meraih keutamaan yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas.Mempraktekkan dzikir ini adalah salah satu upaya kita guna membiasakan lisan dan hati untuk menyebut nama Allah dan mengingat-Nya. Sekalipun dalam momen yang jarang sekali orang mengingat-Nya. Yaitu saat terjaga di tengah malam.Jika kita belum mampu untuk melanjutkan dzikir tadi dengan tahajud, maka minimal bacalah dzikir tersebut. Semoga lama kelamaan kita mampu untuk melanjutkannya dengan tahajud. Amien.Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (III/80-83).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1444 / 19 Desember 2022
Prev     Next