Ayo Berkarya dan Berjuang Bersama Yufid

Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ayo Berkarya dan Berjuang Bersama Yufid

Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Apa Perbedaan Antara Hadits, Khabar, dan Atsar?

Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid

Apa Perbedaan Antara Hadits, Khabar, dan Atsar?

Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1348834861&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Basmalah Termasuk al-Fatihah atau Bukan?

Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 QRIS donasi Yufid

Basmalah Termasuk al-Fatihah atau Bukan?

Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340606653&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Khotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khutbah Jumat: Ajaklah Keluarga untuk Menjaga Shalat, Menutup Aurat, dan Memakai Jilbab

Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat

Khutbah Jumat: Ajaklah Keluarga untuk Menjaga Shalat, Menutup Aurat, dan Memakai Jilbab

Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat
Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat


Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Proses penyembelihan 1.1. Ketegaran saat dieksekusi 1.2. Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 2. Hikmah-hikmah perintah penyembelihan 3. Pelajaran penting 3.1. Intinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! 3.2. Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan 4. Buah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besar Proses penyembelihanAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shaffaat: 103)Ketegaran saat dieksekusiJangankan remaja, seseorang yang sudah dewasa sekalipun, banyak yang ketika memiliki rencana lalu datanglah waktu pelaksanaannya, tiba-tiba dia berpikir untuk membatalkannya, karena terbayang beratnya tantangannya.Namun, sosok remaja tegar Ismail, dengan istikamah berserah diri kepada Allah semata dan siap dibaringkan untuk disembelih. Tanpa sedikit pun terbesit untuk mengurungkan niatnya, padahal saat itu harus berhadapan dengan tajamnya pisau dan merasa sebentar lagi akan berpisah dengan ayahandanya. Allahu Akbar!Allah Ta’ala berfirman,وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ“Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim!'”قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffaat: 104-106) Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salamDalam kondisi yang mencekam, hanya tinggal digerakkan saja pisau di leher sang putra, lalu darah segar akan memancar, tiba-tiba Allah memanggil beliau. Allah menyerukan bahwa beliau telah benar-benar patuh totalitas kepada-Nya semata dengan membenarkan dan melaksanakan tuntutan wahyu berupa mimpi, dan mendahulukan rida-Nya daripada hawa nafsunya. Maka, Allah kabarkan ganjaran pahala baginya yang telah menyempurnakan peribadahan kepada-Nya, sehingga layak disebut sebagai “muhsin”.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad? Hikmah-hikmah perintah penyembelihanAyat yang agung ini menunjukkan hikmah perintah penyembelihan adalah sebagai ujian keimanan dari Allah Ta’ala. Wallahi, ini benar-benar ujian yang membuktikan kesempurnaan tauhid, keikhlasan, iman, peribadahan Nabi Ibrahim dan putranya ‘alahimas salam kepada Allah, serta untuk mengangkat derajat keduanya.Ujian yang super berat karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sudah menunggu kelahiran Ismail selama 86 tahun. Ketika lahir, beliau dididik dengan pendidikan terbaik sehingga menjadi anak yang benar-benar saleh. Lalu, tiba-tiba diperintahkan untuk menyembelihnya. Lebih berat lagi terasa ujian tersebut bahwa yang diperintahkan menyembelih adalah beliau sendiri. Allahu Akbar!Bandingkan dengan ujian harta berupa syari’at berkurban di hari Iduladha. Tentunya jauh lebih ringan. Itu pun mungkin banyak yang mampu, namun tidak berkurban.Pelajaran pentingIntinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! Seberat apapun ujian keluarga yang kita hadapi, berhusnuzanlah kepada Allah. Siapa tahu meski berat ujian kita, namun Allah tolong kita sehingga kita lulus ujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة فلم يبلغها بعمل ؛ ابتلاه الله في جسده أو ماله أو في ولده ، ثم صبر على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله عز وجل“Sesungguhnya seorang hamba ketika ditentukan untuknya (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah, padahal amalan(nya) tidak bisa mencapainya, maka Allah mengujinya pada badannya, hartanya, atau anaknya. Kemudian ia mampu bersabar menghadapinya sehingga hal itu menyampaikannya kepada (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah ‘Azza wa Jalla yang telah ditentukan untuknya.” (Shahih Targhib, Shahih lighairihi) Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalanAllah berfirman,وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ“Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.”وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffaat: 107-113)Baca Juga: Derajat Hadits Nabi Mencium Istrinya Lalu Tidak Wudhu LagiBuah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besarBalasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan. Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam mendapat balasan berupa:Pertama: Peristiwa ujian beliau berdua ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, bahkan dibaca ayat-ayatnya sampai mendekati hari kiamat.Kedua: Peristiwa tersebut menjadi salah satu hikmah disyari’atkannya ibadah kurban di hari raya Iduladha. Sehingga kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengenang dan meneladani pengorbanan beliau berdua. Ini karena Allah berkahi amal saleh beliau berdua yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai perintah Allah, dengan keberkahan yang sangat besar dan pengaruh baik sampai hari Kiamat. Amal saleh beliau berdua itu umurnya panjang dan pengaruhnya meluas.Ketiga: Allah ganti ketaatan dan ketundukan beliau berdua kepada Allah semata dengan segera, saat itu juga dengan seekor sembelihan yang besar.Keempat: Pada ayat yang ke-111, Allah tambahkan ganjaran amal saleh beliau berdua dengan anugerah putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berikutnya, yaitu Nabi Ishak ‘alaihis salam. Bukan hanya itu saja, Allah berkahi keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam sehingga di antara mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah berkahi keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam. Sehingga di antara mereka ada Nabi Yakub dan Nabi Yusuf ‘alaihimas salam. Bahkan, dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam-lah kebanyakan para nabi terlahir ‘alahimus salam.Bukan hanya itu, Allah berkahi dari keturunan dua putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu Nabi Ishaq ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam. Terlahir dari keturunan beliau tiga umat besar, yaitu: bangsa Arab dari keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam, Bani Israil, serta bangsa Rum dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam.Semua itu buah manis dari kesabaran, ketabahan, ketegaran, ketaatan, ketundukan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam di dunia. Bagaimana lagi ganjaran di akhirat? Padahal, akhirat itu lebih baik dan lebih kekal daripada dunia. Allah Ta’ala berfirman,وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la : 17)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Alasan Khadijah Tidak Dipoligami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Lebih Mulia daripada Wali***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Khowarij, Isi Kandungan Surat Al Mulk, Siapa Saya Menurut Islam, Surah Tentang Hari KiamatTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid

Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Proses penyembelihan 1.1. Ketegaran saat dieksekusi 1.2. Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 2. Hikmah-hikmah perintah penyembelihan 3. Pelajaran penting 3.1. Intinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! 3.2. Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan 4. Buah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besar Proses penyembelihanAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shaffaat: 103)Ketegaran saat dieksekusiJangankan remaja, seseorang yang sudah dewasa sekalipun, banyak yang ketika memiliki rencana lalu datanglah waktu pelaksanaannya, tiba-tiba dia berpikir untuk membatalkannya, karena terbayang beratnya tantangannya.Namun, sosok remaja tegar Ismail, dengan istikamah berserah diri kepada Allah semata dan siap dibaringkan untuk disembelih. Tanpa sedikit pun terbesit untuk mengurungkan niatnya, padahal saat itu harus berhadapan dengan tajamnya pisau dan merasa sebentar lagi akan berpisah dengan ayahandanya. Allahu Akbar!Allah Ta’ala berfirman,وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ“Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim!'”قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffaat: 104-106) Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salamDalam kondisi yang mencekam, hanya tinggal digerakkan saja pisau di leher sang putra, lalu darah segar akan memancar, tiba-tiba Allah memanggil beliau. Allah menyerukan bahwa beliau telah benar-benar patuh totalitas kepada-Nya semata dengan membenarkan dan melaksanakan tuntutan wahyu berupa mimpi, dan mendahulukan rida-Nya daripada hawa nafsunya. Maka, Allah kabarkan ganjaran pahala baginya yang telah menyempurnakan peribadahan kepada-Nya, sehingga layak disebut sebagai “muhsin”.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad? Hikmah-hikmah perintah penyembelihanAyat yang agung ini menunjukkan hikmah perintah penyembelihan adalah sebagai ujian keimanan dari Allah Ta’ala. Wallahi, ini benar-benar ujian yang membuktikan kesempurnaan tauhid, keikhlasan, iman, peribadahan Nabi Ibrahim dan putranya ‘alahimas salam kepada Allah, serta untuk mengangkat derajat keduanya.Ujian yang super berat karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sudah menunggu kelahiran Ismail selama 86 tahun. Ketika lahir, beliau dididik dengan pendidikan terbaik sehingga menjadi anak yang benar-benar saleh. Lalu, tiba-tiba diperintahkan untuk menyembelihnya. Lebih berat lagi terasa ujian tersebut bahwa yang diperintahkan menyembelih adalah beliau sendiri. Allahu Akbar!Bandingkan dengan ujian harta berupa syari’at berkurban di hari Iduladha. Tentunya jauh lebih ringan. Itu pun mungkin banyak yang mampu, namun tidak berkurban.Pelajaran pentingIntinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! Seberat apapun ujian keluarga yang kita hadapi, berhusnuzanlah kepada Allah. Siapa tahu meski berat ujian kita, namun Allah tolong kita sehingga kita lulus ujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة فلم يبلغها بعمل ؛ ابتلاه الله في جسده أو ماله أو في ولده ، ثم صبر على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله عز وجل“Sesungguhnya seorang hamba ketika ditentukan untuknya (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah, padahal amalan(nya) tidak bisa mencapainya, maka Allah mengujinya pada badannya, hartanya, atau anaknya. Kemudian ia mampu bersabar menghadapinya sehingga hal itu menyampaikannya kepada (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah ‘Azza wa Jalla yang telah ditentukan untuknya.” (Shahih Targhib, Shahih lighairihi) Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalanAllah berfirman,وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ“Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.”وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffaat: 107-113)Baca Juga: Derajat Hadits Nabi Mencium Istrinya Lalu Tidak Wudhu LagiBuah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besarBalasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan. Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam mendapat balasan berupa:Pertama: Peristiwa ujian beliau berdua ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, bahkan dibaca ayat-ayatnya sampai mendekati hari kiamat.Kedua: Peristiwa tersebut menjadi salah satu hikmah disyari’atkannya ibadah kurban di hari raya Iduladha. Sehingga kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengenang dan meneladani pengorbanan beliau berdua. Ini karena Allah berkahi amal saleh beliau berdua yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai perintah Allah, dengan keberkahan yang sangat besar dan pengaruh baik sampai hari Kiamat. Amal saleh beliau berdua itu umurnya panjang dan pengaruhnya meluas.Ketiga: Allah ganti ketaatan dan ketundukan beliau berdua kepada Allah semata dengan segera, saat itu juga dengan seekor sembelihan yang besar.Keempat: Pada ayat yang ke-111, Allah tambahkan ganjaran amal saleh beliau berdua dengan anugerah putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berikutnya, yaitu Nabi Ishak ‘alaihis salam. Bukan hanya itu saja, Allah berkahi keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam sehingga di antara mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah berkahi keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam. Sehingga di antara mereka ada Nabi Yakub dan Nabi Yusuf ‘alaihimas salam. Bahkan, dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam-lah kebanyakan para nabi terlahir ‘alahimus salam.Bukan hanya itu, Allah berkahi dari keturunan dua putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu Nabi Ishaq ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam. Terlahir dari keturunan beliau tiga umat besar, yaitu: bangsa Arab dari keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam, Bani Israil, serta bangsa Rum dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam.Semua itu buah manis dari kesabaran, ketabahan, ketegaran, ketaatan, ketundukan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam di dunia. Bagaimana lagi ganjaran di akhirat? Padahal, akhirat itu lebih baik dan lebih kekal daripada dunia. Allah Ta’ala berfirman,وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la : 17)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Alasan Khadijah Tidak Dipoligami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Lebih Mulia daripada Wali***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Khowarij, Isi Kandungan Surat Al Mulk, Siapa Saya Menurut Islam, Surah Tentang Hari KiamatTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Proses penyembelihan 1.1. Ketegaran saat dieksekusi 1.2. Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 2. Hikmah-hikmah perintah penyembelihan 3. Pelajaran penting 3.1. Intinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! 3.2. Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan 4. Buah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besar Proses penyembelihanAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shaffaat: 103)Ketegaran saat dieksekusiJangankan remaja, seseorang yang sudah dewasa sekalipun, banyak yang ketika memiliki rencana lalu datanglah waktu pelaksanaannya, tiba-tiba dia berpikir untuk membatalkannya, karena terbayang beratnya tantangannya.Namun, sosok remaja tegar Ismail, dengan istikamah berserah diri kepada Allah semata dan siap dibaringkan untuk disembelih. Tanpa sedikit pun terbesit untuk mengurungkan niatnya, padahal saat itu harus berhadapan dengan tajamnya pisau dan merasa sebentar lagi akan berpisah dengan ayahandanya. Allahu Akbar!Allah Ta’ala berfirman,وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ“Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim!'”قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffaat: 104-106) Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salamDalam kondisi yang mencekam, hanya tinggal digerakkan saja pisau di leher sang putra, lalu darah segar akan memancar, tiba-tiba Allah memanggil beliau. Allah menyerukan bahwa beliau telah benar-benar patuh totalitas kepada-Nya semata dengan membenarkan dan melaksanakan tuntutan wahyu berupa mimpi, dan mendahulukan rida-Nya daripada hawa nafsunya. Maka, Allah kabarkan ganjaran pahala baginya yang telah menyempurnakan peribadahan kepada-Nya, sehingga layak disebut sebagai “muhsin”.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad? Hikmah-hikmah perintah penyembelihanAyat yang agung ini menunjukkan hikmah perintah penyembelihan adalah sebagai ujian keimanan dari Allah Ta’ala. Wallahi, ini benar-benar ujian yang membuktikan kesempurnaan tauhid, keikhlasan, iman, peribadahan Nabi Ibrahim dan putranya ‘alahimas salam kepada Allah, serta untuk mengangkat derajat keduanya.Ujian yang super berat karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sudah menunggu kelahiran Ismail selama 86 tahun. Ketika lahir, beliau dididik dengan pendidikan terbaik sehingga menjadi anak yang benar-benar saleh. Lalu, tiba-tiba diperintahkan untuk menyembelihnya. Lebih berat lagi terasa ujian tersebut bahwa yang diperintahkan menyembelih adalah beliau sendiri. Allahu Akbar!Bandingkan dengan ujian harta berupa syari’at berkurban di hari Iduladha. Tentunya jauh lebih ringan. Itu pun mungkin banyak yang mampu, namun tidak berkurban.Pelajaran pentingIntinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! Seberat apapun ujian keluarga yang kita hadapi, berhusnuzanlah kepada Allah. Siapa tahu meski berat ujian kita, namun Allah tolong kita sehingga kita lulus ujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة فلم يبلغها بعمل ؛ ابتلاه الله في جسده أو ماله أو في ولده ، ثم صبر على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله عز وجل“Sesungguhnya seorang hamba ketika ditentukan untuknya (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah, padahal amalan(nya) tidak bisa mencapainya, maka Allah mengujinya pada badannya, hartanya, atau anaknya. Kemudian ia mampu bersabar menghadapinya sehingga hal itu menyampaikannya kepada (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah ‘Azza wa Jalla yang telah ditentukan untuknya.” (Shahih Targhib, Shahih lighairihi) Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalanAllah berfirman,وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ“Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.”وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffaat: 107-113)Baca Juga: Derajat Hadits Nabi Mencium Istrinya Lalu Tidak Wudhu LagiBuah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besarBalasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan. Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam mendapat balasan berupa:Pertama: Peristiwa ujian beliau berdua ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, bahkan dibaca ayat-ayatnya sampai mendekati hari kiamat.Kedua: Peristiwa tersebut menjadi salah satu hikmah disyari’atkannya ibadah kurban di hari raya Iduladha. Sehingga kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengenang dan meneladani pengorbanan beliau berdua. Ini karena Allah berkahi amal saleh beliau berdua yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai perintah Allah, dengan keberkahan yang sangat besar dan pengaruh baik sampai hari Kiamat. Amal saleh beliau berdua itu umurnya panjang dan pengaruhnya meluas.Ketiga: Allah ganti ketaatan dan ketundukan beliau berdua kepada Allah semata dengan segera, saat itu juga dengan seekor sembelihan yang besar.Keempat: Pada ayat yang ke-111, Allah tambahkan ganjaran amal saleh beliau berdua dengan anugerah putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berikutnya, yaitu Nabi Ishak ‘alaihis salam. Bukan hanya itu saja, Allah berkahi keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam sehingga di antara mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah berkahi keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam. Sehingga di antara mereka ada Nabi Yakub dan Nabi Yusuf ‘alaihimas salam. Bahkan, dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam-lah kebanyakan para nabi terlahir ‘alahimus salam.Bukan hanya itu, Allah berkahi dari keturunan dua putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu Nabi Ishaq ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam. Terlahir dari keturunan beliau tiga umat besar, yaitu: bangsa Arab dari keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam, Bani Israil, serta bangsa Rum dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam.Semua itu buah manis dari kesabaran, ketabahan, ketegaran, ketaatan, ketundukan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam di dunia. Bagaimana lagi ganjaran di akhirat? Padahal, akhirat itu lebih baik dan lebih kekal daripada dunia. Allah Ta’ala berfirman,وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la : 17)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Alasan Khadijah Tidak Dipoligami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Lebih Mulia daripada Wali***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Khowarij, Isi Kandungan Surat Al Mulk, Siapa Saya Menurut Islam, Surah Tentang Hari KiamatTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Proses penyembelihan 1.1. Ketegaran saat dieksekusi 1.2. Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 2. Hikmah-hikmah perintah penyembelihan 3. Pelajaran penting 3.1. Intinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! 3.2. Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan 4. Buah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besar Proses penyembelihanAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shaffaat: 103)Ketegaran saat dieksekusiJangankan remaja, seseorang yang sudah dewasa sekalipun, banyak yang ketika memiliki rencana lalu datanglah waktu pelaksanaannya, tiba-tiba dia berpikir untuk membatalkannya, karena terbayang beratnya tantangannya.Namun, sosok remaja tegar Ismail, dengan istikamah berserah diri kepada Allah semata dan siap dibaringkan untuk disembelih. Tanpa sedikit pun terbesit untuk mengurungkan niatnya, padahal saat itu harus berhadapan dengan tajamnya pisau dan merasa sebentar lagi akan berpisah dengan ayahandanya. Allahu Akbar!Allah Ta’ala berfirman,وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ“Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim!'”قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffaat: 104-106) Pujian kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salamDalam kondisi yang mencekam, hanya tinggal digerakkan saja pisau di leher sang putra, lalu darah segar akan memancar, tiba-tiba Allah memanggil beliau. Allah menyerukan bahwa beliau telah benar-benar patuh totalitas kepada-Nya semata dengan membenarkan dan melaksanakan tuntutan wahyu berupa mimpi, dan mendahulukan rida-Nya daripada hawa nafsunya. Maka, Allah kabarkan ganjaran pahala baginya yang telah menyempurnakan peribadahan kepada-Nya, sehingga layak disebut sebagai “muhsin”.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad? Hikmah-hikmah perintah penyembelihanAyat yang agung ini menunjukkan hikmah perintah penyembelihan adalah sebagai ujian keimanan dari Allah Ta’ala. Wallahi, ini benar-benar ujian yang membuktikan kesempurnaan tauhid, keikhlasan, iman, peribadahan Nabi Ibrahim dan putranya ‘alahimas salam kepada Allah, serta untuk mengangkat derajat keduanya.Ujian yang super berat karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sudah menunggu kelahiran Ismail selama 86 tahun. Ketika lahir, beliau dididik dengan pendidikan terbaik sehingga menjadi anak yang benar-benar saleh. Lalu, tiba-tiba diperintahkan untuk menyembelihnya. Lebih berat lagi terasa ujian tersebut bahwa yang diperintahkan menyembelih adalah beliau sendiri. Allahu Akbar!Bandingkan dengan ujian harta berupa syari’at berkurban di hari Iduladha. Tentunya jauh lebih ringan. Itu pun mungkin banyak yang mampu, namun tidak berkurban.Pelajaran pentingIntinya bukan pada jenis ujian keluarga, namun pada kelulusannya! Seberat apapun ujian keluarga yang kita hadapi, berhusnuzanlah kepada Allah. Siapa tahu meski berat ujian kita, namun Allah tolong kita sehingga kita lulus ujian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة فلم يبلغها بعمل ؛ ابتلاه الله في جسده أو ماله أو في ولده ، ثم صبر على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله عز وجل“Sesungguhnya seorang hamba ketika ditentukan untuknya (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah, padahal amalan(nya) tidak bisa mencapainya, maka Allah mengujinya pada badannya, hartanya, atau anaknya. Kemudian ia mampu bersabar menghadapinya sehingga hal itu menyampaikannya kepada (anugerah) kedudukan (tinggi) dari Allah ‘Azza wa Jalla yang telah ditentukan untuknya.” (Shahih Targhib, Shahih lighairihi) Balasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalanAllah berfirman,وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ“Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.”وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffaat: 107-113)Baca Juga: Derajat Hadits Nabi Mencium Istrinya Lalu Tidak Wudhu LagiBuah keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam melewati ujian keimanan besarBalasan sejenis amalan dan balasan lebih besar dari amalan. Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salam mendapat balasan berupa:Pertama: Peristiwa ujian beliau berdua ini disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, bahkan dibaca ayat-ayatnya sampai mendekati hari kiamat.Kedua: Peristiwa tersebut menjadi salah satu hikmah disyari’atkannya ibadah kurban di hari raya Iduladha. Sehingga kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengenang dan meneladani pengorbanan beliau berdua. Ini karena Allah berkahi amal saleh beliau berdua yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai perintah Allah, dengan keberkahan yang sangat besar dan pengaruh baik sampai hari Kiamat. Amal saleh beliau berdua itu umurnya panjang dan pengaruhnya meluas.Ketiga: Allah ganti ketaatan dan ketundukan beliau berdua kepada Allah semata dengan segera, saat itu juga dengan seekor sembelihan yang besar.Keempat: Pada ayat yang ke-111, Allah tambahkan ganjaran amal saleh beliau berdua dengan anugerah putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berikutnya, yaitu Nabi Ishak ‘alaihis salam. Bukan hanya itu saja, Allah berkahi keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam sehingga di antara mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah berkahi keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam. Sehingga di antara mereka ada Nabi Yakub dan Nabi Yusuf ‘alaihimas salam. Bahkan, dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam-lah kebanyakan para nabi terlahir ‘alahimus salam.Bukan hanya itu, Allah berkahi dari keturunan dua putra Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu Nabi Ishaq ‘alaihis salam dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam. Terlahir dari keturunan beliau tiga umat besar, yaitu: bangsa Arab dari keturunan Nabi Isma’il ‘alaihis salam, Bani Israil, serta bangsa Rum dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihis salam.Semua itu buah manis dari kesabaran, ketabahan, ketegaran, ketaatan, ketundukan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Nabi Isma’il ‘alaihis salam di dunia. Bagaimana lagi ganjaran di akhirat? Padahal, akhirat itu lebih baik dan lebih kekal daripada dunia. Allah Ta’ala berfirman,وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la : 17)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Alasan Khadijah Tidak Dipoligami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Lebih Mulia daripada Wali***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Khowarij, Isi Kandungan Surat Al Mulk, Siapa Saya Menurut Islam, Surah Tentang Hari KiamatTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bulan Muharam antara Keutamaan dan Kesesatan

Muharam adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah, salah satu dari bulan suci yang empat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang bersumber dari sunah beliau yang mulia. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan bulan Muharam 2. Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannya 3. Kesesatan dan kebid’ahan di bulan Muharram Keutamaan bulan MuharamIa termasuk salah satu bulan yang Allah Ta’ala agungkan dan Allah Ta’ala sebutkan di dalam kitab sucinya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Allah muliakan bulan ini di antara bulan-bulan lainnya, hingga dinamai dengan nama yang dinisbatkan langsung kepadanya “Bulan Allah Al-Muharram”, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap bulan ini dan sebagai tanda bahwa Allah Ta’ala sendirilah yang mengagungkan dan mengharamkan bulan Muharram ini. Sehingga tidak pantas dan tidak boleh seorang pun dari makhluk-Nya yang menghalalkannya dan melanggarnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan perkara ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar di antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Baca Juga: Hukum Puasa 11 MuharramSebagian ulama menguatkan bahwa Muharam adalah bulan haram/suci paling mulia. Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Latha’if Al-Ma’arif mengatakan, “Para ulama berbeda pendapat tentang bulan haram apa yang paling mulia? Al-Hasan dan yang lainnya mengatakan, “Yang paling mulia adalah Muharam”; dan ini juga dikuatkan oleh beberapa ulama’ masa kini.”Yang menguatkan hal tersebut adalah hadis yang dirawayatkan oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah dan yang selainnya dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سألتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ اللَّيلِ خيرٌ، وأيُّ الأشهُرِ أفضَلُ؟ فقال: خيرُ اللَّيلِ جَوفُه، وأفضَلُ الأشهُرِ شَهرُ اللهِ الذي تَدْعونَه المُحَرَّمَ“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Malam apakah yang paling baik dan bulan apakah yang paling  utama?’ Beliau bersabda, ‘Sebaik–baik malam adalah pertengahannya, dan seutama–utamanya bulan adalah bulan Allah yang kalian sebut dengan nama Al-Muharram.’” (HR. An-Nasai no. 4216 dalam As-Sunan Al-Kubra)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Penyebutan Muharam di dalam hadis sebagai “bulan paling mulia” maksudnya adalah bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadan.”Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannyaPertama: Haramnya berperang atau memulai peperangan di bulan ini serta besarnya dosa maksiat di dalamnya.Para ulama berselisih pendapat apakah hukum larangan berperang ini sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi ataukah masih berlaku hingga saat ini? Menurut pendapat yang rajih, yaitu pendapatnya mayoritas ulama bahwa hukumnya sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi.Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Imam Al-Aluusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya Ruuhul M’aani mengatakan,والجمهور على أن حرمة المقاتلة فيهن منسوخة ، وأن الظلم مؤول بارتكاب المعاصي ، وتخصيصها بالنهي عن ارتكاب ذلك فيها ، مع أن الارتكاب منهي عنه مطلقا لتعظيمها ، ولله سبحانه أن يميز بعض الأوقات على بعض ، فارتكاب المعصية فيهن أعظم وزرا كارتكابها في الحرم وحال الإحرام“Jumhur ulama berpendapat bahwa pelarangan perang di bulan-bulan haram hukumnya telah dihapus. Bahwa ‘adz-dzulmu’ (kezaliman) di dalam ayat dimaknai dengan berbuat kemaksiatan (bukan peperangan). Adapun pengkhususan larangan berbuat maksiat di dalam bulan-bulan tersebut meskipun bermaksiat itu terlarang secara mutlak, adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan bulan-bulan haram ini. Dan Allah Ta’ala berhak untuk membedakan satu waktu dengan waktu yang lain. Maka, bermaksiat di bulan-bulan haram dosanya lebih besar, layaknya bermaksiat di tanah suci dalam kondisi sedang ihram.”Kedua: Anjuran memperbanyak puasa di dalamnya.Memperbanyak puasa di bulan Muharam termasuk puasa sunah yang paling utama berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَفْضَلُ الصِّيامِ، بَعْدَ رَمَضانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَالفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).Namun, harus kita ketahui, terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berpuasa selama sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Maka, hadis di atas dapat dipahami bahwa hendaknya memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharam, namun bukan berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut.Keutamaan berpuasa ini lebih ditekankan lagi pada tanggal 10 bulan Muharam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang berpuasa di hari tersebut, lalu beliau menjawab,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Disunahkan untuk berpuasa pada tanggal sembilan juga, berdasarkan hadis,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Sungguh jika aku masih hidup pada tahun depan, maka sungguh aku akan benar-benar berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736)Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa tujuan berpuasa di hari kesembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi,خالِفوا اليَهودَ وصوموا التَّاسِعَ والعاشِرَ“Selisihilah orang Yahudi, berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh (di bulan Muharram).” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 108).Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Kesesatan dan kebid’ahan di bulan MuharramSelain banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh bulan Muharam ini, sayangnya masih banyak sekali kesesatan dan kebid’ahan yang dilakukan sebagian kaum muslimin pada bulan ini. Baik itu bergembira ria, memakai celak, mengenakan baju baru, bakti sosial, ataupun menjadikan hari kesepuluh, hari Asyura sebagai hari kesedihan atas wafatnya Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh kesemuanya itu jelas merupakan kebid’ahan yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Padahal nabi dengan jelas menyebutkan,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Kesesatan pada hari Asyura sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Sholeh Fauzan hafidzhahullah secara umum terbagi menjadi 2.Yang pertama adalah kelompok yang menyerupai orang-orang Yahudi; dimana mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari perayaan dan hari bergembira. Mereka menyemir rambut, memakai celak, membagikan angpau untuk keluarga, memasak makanan di luar kebiasaan, dan yang semisalnya dari perbuatan orang-orang bodoh, yang menyikapi kebid’ahan dengan kebid’ahan lainnya.Yang kedua adalah kelompok yang menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan ratapan karena terbunuhnya Alhusein bin Ali radhiyallahu anhuma. Di mana pada hari tersebut mereka menampakkan kebiasaan-kebiasaan orang jahiliyah baik itu menampar pipi, merobek kerah baju, melantunkan bait-bait kesedihan, serta menceritakan kisah-kisah yang penuh dengan kebohongan. Tentu tujuan dari semua itu adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan di antara umat. Inilah perbuatan orang-orang tersesat, yang menganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah perbuatan baik. Mereka adalah orang-orang yang lebih buruk dari khawarij yang mudah menumpahkan darah dan merekalah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadisnya,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإسْلَامِ كما يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum ‘Ad diperangi.” (HR. Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064)Allah Ta’ala telah memberikan hidayah kepada ahlussunnah. Mereka hanya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berpuasa di dalamnya dengan tetap menjaga diri agar tidak menyerupai kaum Yahudi serta menjaga diri dari kebid’ahan yang berasal dari bisikan setan.Para ahli ilmu telah menjelaskan, bahwa tidak ada amal ibadah khusus yang disyariatkan pada hari asyura, kecuali berpuasa. Tidak ada syariat untuk menghidupkan dan mengisi malamnya, atau memakai celak, dan memakai wewangian di dalamnya, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu tidak ada sumbernya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Wallahu A’lam Bisshawaab.Baca Juga:11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramAmalan di Bulan Muharram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari karya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.🔍 Dukhan, Aliran Salafiyah, Pembagian Zakat Mal, Tindakan Rasulullah Dalam Menangkal Syirik, Soal Jawab Agama IslamTags: amalan di bulan muharramAqidahbulan muharrambulan muliakeutamaan bulan muharramkeutamaan muharramMuharramnasihatnasihat islamsunnah di bulan muharramTauhid

Bulan Muharam antara Keutamaan dan Kesesatan

Muharam adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah, salah satu dari bulan suci yang empat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang bersumber dari sunah beliau yang mulia. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan bulan Muharam 2. Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannya 3. Kesesatan dan kebid’ahan di bulan Muharram Keutamaan bulan MuharamIa termasuk salah satu bulan yang Allah Ta’ala agungkan dan Allah Ta’ala sebutkan di dalam kitab sucinya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Allah muliakan bulan ini di antara bulan-bulan lainnya, hingga dinamai dengan nama yang dinisbatkan langsung kepadanya “Bulan Allah Al-Muharram”, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap bulan ini dan sebagai tanda bahwa Allah Ta’ala sendirilah yang mengagungkan dan mengharamkan bulan Muharram ini. Sehingga tidak pantas dan tidak boleh seorang pun dari makhluk-Nya yang menghalalkannya dan melanggarnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan perkara ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar di antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Baca Juga: Hukum Puasa 11 MuharramSebagian ulama menguatkan bahwa Muharam adalah bulan haram/suci paling mulia. Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Latha’if Al-Ma’arif mengatakan, “Para ulama berbeda pendapat tentang bulan haram apa yang paling mulia? Al-Hasan dan yang lainnya mengatakan, “Yang paling mulia adalah Muharam”; dan ini juga dikuatkan oleh beberapa ulama’ masa kini.”Yang menguatkan hal tersebut adalah hadis yang dirawayatkan oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah dan yang selainnya dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سألتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ اللَّيلِ خيرٌ، وأيُّ الأشهُرِ أفضَلُ؟ فقال: خيرُ اللَّيلِ جَوفُه، وأفضَلُ الأشهُرِ شَهرُ اللهِ الذي تَدْعونَه المُحَرَّمَ“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Malam apakah yang paling baik dan bulan apakah yang paling  utama?’ Beliau bersabda, ‘Sebaik–baik malam adalah pertengahannya, dan seutama–utamanya bulan adalah bulan Allah yang kalian sebut dengan nama Al-Muharram.’” (HR. An-Nasai no. 4216 dalam As-Sunan Al-Kubra)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Penyebutan Muharam di dalam hadis sebagai “bulan paling mulia” maksudnya adalah bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadan.”Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannyaPertama: Haramnya berperang atau memulai peperangan di bulan ini serta besarnya dosa maksiat di dalamnya.Para ulama berselisih pendapat apakah hukum larangan berperang ini sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi ataukah masih berlaku hingga saat ini? Menurut pendapat yang rajih, yaitu pendapatnya mayoritas ulama bahwa hukumnya sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi.Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Imam Al-Aluusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya Ruuhul M’aani mengatakan,والجمهور على أن حرمة المقاتلة فيهن منسوخة ، وأن الظلم مؤول بارتكاب المعاصي ، وتخصيصها بالنهي عن ارتكاب ذلك فيها ، مع أن الارتكاب منهي عنه مطلقا لتعظيمها ، ولله سبحانه أن يميز بعض الأوقات على بعض ، فارتكاب المعصية فيهن أعظم وزرا كارتكابها في الحرم وحال الإحرام“Jumhur ulama berpendapat bahwa pelarangan perang di bulan-bulan haram hukumnya telah dihapus. Bahwa ‘adz-dzulmu’ (kezaliman) di dalam ayat dimaknai dengan berbuat kemaksiatan (bukan peperangan). Adapun pengkhususan larangan berbuat maksiat di dalam bulan-bulan tersebut meskipun bermaksiat itu terlarang secara mutlak, adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan bulan-bulan haram ini. Dan Allah Ta’ala berhak untuk membedakan satu waktu dengan waktu yang lain. Maka, bermaksiat di bulan-bulan haram dosanya lebih besar, layaknya bermaksiat di tanah suci dalam kondisi sedang ihram.”Kedua: Anjuran memperbanyak puasa di dalamnya.Memperbanyak puasa di bulan Muharam termasuk puasa sunah yang paling utama berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَفْضَلُ الصِّيامِ، بَعْدَ رَمَضانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَالفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).Namun, harus kita ketahui, terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berpuasa selama sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Maka, hadis di atas dapat dipahami bahwa hendaknya memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharam, namun bukan berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut.Keutamaan berpuasa ini lebih ditekankan lagi pada tanggal 10 bulan Muharam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang berpuasa di hari tersebut, lalu beliau menjawab,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Disunahkan untuk berpuasa pada tanggal sembilan juga, berdasarkan hadis,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Sungguh jika aku masih hidup pada tahun depan, maka sungguh aku akan benar-benar berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736)Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa tujuan berpuasa di hari kesembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi,خالِفوا اليَهودَ وصوموا التَّاسِعَ والعاشِرَ“Selisihilah orang Yahudi, berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh (di bulan Muharram).” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 108).Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Kesesatan dan kebid’ahan di bulan MuharramSelain banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh bulan Muharam ini, sayangnya masih banyak sekali kesesatan dan kebid’ahan yang dilakukan sebagian kaum muslimin pada bulan ini. Baik itu bergembira ria, memakai celak, mengenakan baju baru, bakti sosial, ataupun menjadikan hari kesepuluh, hari Asyura sebagai hari kesedihan atas wafatnya Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh kesemuanya itu jelas merupakan kebid’ahan yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Padahal nabi dengan jelas menyebutkan,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Kesesatan pada hari Asyura sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Sholeh Fauzan hafidzhahullah secara umum terbagi menjadi 2.Yang pertama adalah kelompok yang menyerupai orang-orang Yahudi; dimana mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari perayaan dan hari bergembira. Mereka menyemir rambut, memakai celak, membagikan angpau untuk keluarga, memasak makanan di luar kebiasaan, dan yang semisalnya dari perbuatan orang-orang bodoh, yang menyikapi kebid’ahan dengan kebid’ahan lainnya.Yang kedua adalah kelompok yang menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan ratapan karena terbunuhnya Alhusein bin Ali radhiyallahu anhuma. Di mana pada hari tersebut mereka menampakkan kebiasaan-kebiasaan orang jahiliyah baik itu menampar pipi, merobek kerah baju, melantunkan bait-bait kesedihan, serta menceritakan kisah-kisah yang penuh dengan kebohongan. Tentu tujuan dari semua itu adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan di antara umat. Inilah perbuatan orang-orang tersesat, yang menganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah perbuatan baik. Mereka adalah orang-orang yang lebih buruk dari khawarij yang mudah menumpahkan darah dan merekalah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadisnya,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإسْلَامِ كما يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum ‘Ad diperangi.” (HR. Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064)Allah Ta’ala telah memberikan hidayah kepada ahlussunnah. Mereka hanya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berpuasa di dalamnya dengan tetap menjaga diri agar tidak menyerupai kaum Yahudi serta menjaga diri dari kebid’ahan yang berasal dari bisikan setan.Para ahli ilmu telah menjelaskan, bahwa tidak ada amal ibadah khusus yang disyariatkan pada hari asyura, kecuali berpuasa. Tidak ada syariat untuk menghidupkan dan mengisi malamnya, atau memakai celak, dan memakai wewangian di dalamnya, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu tidak ada sumbernya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Wallahu A’lam Bisshawaab.Baca Juga:11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramAmalan di Bulan Muharram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari karya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.🔍 Dukhan, Aliran Salafiyah, Pembagian Zakat Mal, Tindakan Rasulullah Dalam Menangkal Syirik, Soal Jawab Agama IslamTags: amalan di bulan muharramAqidahbulan muharrambulan muliakeutamaan bulan muharramkeutamaan muharramMuharramnasihatnasihat islamsunnah di bulan muharramTauhid
Muharam adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah, salah satu dari bulan suci yang empat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang bersumber dari sunah beliau yang mulia. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan bulan Muharam 2. Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannya 3. Kesesatan dan kebid’ahan di bulan Muharram Keutamaan bulan MuharamIa termasuk salah satu bulan yang Allah Ta’ala agungkan dan Allah Ta’ala sebutkan di dalam kitab sucinya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Allah muliakan bulan ini di antara bulan-bulan lainnya, hingga dinamai dengan nama yang dinisbatkan langsung kepadanya “Bulan Allah Al-Muharram”, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap bulan ini dan sebagai tanda bahwa Allah Ta’ala sendirilah yang mengagungkan dan mengharamkan bulan Muharram ini. Sehingga tidak pantas dan tidak boleh seorang pun dari makhluk-Nya yang menghalalkannya dan melanggarnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan perkara ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar di antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Baca Juga: Hukum Puasa 11 MuharramSebagian ulama menguatkan bahwa Muharam adalah bulan haram/suci paling mulia. Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Latha’if Al-Ma’arif mengatakan, “Para ulama berbeda pendapat tentang bulan haram apa yang paling mulia? Al-Hasan dan yang lainnya mengatakan, “Yang paling mulia adalah Muharam”; dan ini juga dikuatkan oleh beberapa ulama’ masa kini.”Yang menguatkan hal tersebut adalah hadis yang dirawayatkan oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah dan yang selainnya dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سألتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ اللَّيلِ خيرٌ، وأيُّ الأشهُرِ أفضَلُ؟ فقال: خيرُ اللَّيلِ جَوفُه، وأفضَلُ الأشهُرِ شَهرُ اللهِ الذي تَدْعونَه المُحَرَّمَ“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Malam apakah yang paling baik dan bulan apakah yang paling  utama?’ Beliau bersabda, ‘Sebaik–baik malam adalah pertengahannya, dan seutama–utamanya bulan adalah bulan Allah yang kalian sebut dengan nama Al-Muharram.’” (HR. An-Nasai no. 4216 dalam As-Sunan Al-Kubra)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Penyebutan Muharam di dalam hadis sebagai “bulan paling mulia” maksudnya adalah bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadan.”Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannyaPertama: Haramnya berperang atau memulai peperangan di bulan ini serta besarnya dosa maksiat di dalamnya.Para ulama berselisih pendapat apakah hukum larangan berperang ini sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi ataukah masih berlaku hingga saat ini? Menurut pendapat yang rajih, yaitu pendapatnya mayoritas ulama bahwa hukumnya sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi.Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Imam Al-Aluusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya Ruuhul M’aani mengatakan,والجمهور على أن حرمة المقاتلة فيهن منسوخة ، وأن الظلم مؤول بارتكاب المعاصي ، وتخصيصها بالنهي عن ارتكاب ذلك فيها ، مع أن الارتكاب منهي عنه مطلقا لتعظيمها ، ولله سبحانه أن يميز بعض الأوقات على بعض ، فارتكاب المعصية فيهن أعظم وزرا كارتكابها في الحرم وحال الإحرام“Jumhur ulama berpendapat bahwa pelarangan perang di bulan-bulan haram hukumnya telah dihapus. Bahwa ‘adz-dzulmu’ (kezaliman) di dalam ayat dimaknai dengan berbuat kemaksiatan (bukan peperangan). Adapun pengkhususan larangan berbuat maksiat di dalam bulan-bulan tersebut meskipun bermaksiat itu terlarang secara mutlak, adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan bulan-bulan haram ini. Dan Allah Ta’ala berhak untuk membedakan satu waktu dengan waktu yang lain. Maka, bermaksiat di bulan-bulan haram dosanya lebih besar, layaknya bermaksiat di tanah suci dalam kondisi sedang ihram.”Kedua: Anjuran memperbanyak puasa di dalamnya.Memperbanyak puasa di bulan Muharam termasuk puasa sunah yang paling utama berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَفْضَلُ الصِّيامِ، بَعْدَ رَمَضانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَالفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).Namun, harus kita ketahui, terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berpuasa selama sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Maka, hadis di atas dapat dipahami bahwa hendaknya memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharam, namun bukan berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut.Keutamaan berpuasa ini lebih ditekankan lagi pada tanggal 10 bulan Muharam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang berpuasa di hari tersebut, lalu beliau menjawab,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Disunahkan untuk berpuasa pada tanggal sembilan juga, berdasarkan hadis,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Sungguh jika aku masih hidup pada tahun depan, maka sungguh aku akan benar-benar berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736)Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa tujuan berpuasa di hari kesembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi,خالِفوا اليَهودَ وصوموا التَّاسِعَ والعاشِرَ“Selisihilah orang Yahudi, berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh (di bulan Muharram).” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 108).Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Kesesatan dan kebid’ahan di bulan MuharramSelain banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh bulan Muharam ini, sayangnya masih banyak sekali kesesatan dan kebid’ahan yang dilakukan sebagian kaum muslimin pada bulan ini. Baik itu bergembira ria, memakai celak, mengenakan baju baru, bakti sosial, ataupun menjadikan hari kesepuluh, hari Asyura sebagai hari kesedihan atas wafatnya Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh kesemuanya itu jelas merupakan kebid’ahan yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Padahal nabi dengan jelas menyebutkan,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Kesesatan pada hari Asyura sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Sholeh Fauzan hafidzhahullah secara umum terbagi menjadi 2.Yang pertama adalah kelompok yang menyerupai orang-orang Yahudi; dimana mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari perayaan dan hari bergembira. Mereka menyemir rambut, memakai celak, membagikan angpau untuk keluarga, memasak makanan di luar kebiasaan, dan yang semisalnya dari perbuatan orang-orang bodoh, yang menyikapi kebid’ahan dengan kebid’ahan lainnya.Yang kedua adalah kelompok yang menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan ratapan karena terbunuhnya Alhusein bin Ali radhiyallahu anhuma. Di mana pada hari tersebut mereka menampakkan kebiasaan-kebiasaan orang jahiliyah baik itu menampar pipi, merobek kerah baju, melantunkan bait-bait kesedihan, serta menceritakan kisah-kisah yang penuh dengan kebohongan. Tentu tujuan dari semua itu adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan di antara umat. Inilah perbuatan orang-orang tersesat, yang menganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah perbuatan baik. Mereka adalah orang-orang yang lebih buruk dari khawarij yang mudah menumpahkan darah dan merekalah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadisnya,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإسْلَامِ كما يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum ‘Ad diperangi.” (HR. Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064)Allah Ta’ala telah memberikan hidayah kepada ahlussunnah. Mereka hanya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berpuasa di dalamnya dengan tetap menjaga diri agar tidak menyerupai kaum Yahudi serta menjaga diri dari kebid’ahan yang berasal dari bisikan setan.Para ahli ilmu telah menjelaskan, bahwa tidak ada amal ibadah khusus yang disyariatkan pada hari asyura, kecuali berpuasa. Tidak ada syariat untuk menghidupkan dan mengisi malamnya, atau memakai celak, dan memakai wewangian di dalamnya, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu tidak ada sumbernya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Wallahu A’lam Bisshawaab.Baca Juga:11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramAmalan di Bulan Muharram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari karya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.🔍 Dukhan, Aliran Salafiyah, Pembagian Zakat Mal, Tindakan Rasulullah Dalam Menangkal Syirik, Soal Jawab Agama IslamTags: amalan di bulan muharramAqidahbulan muharrambulan muliakeutamaan bulan muharramkeutamaan muharramMuharramnasihatnasihat islamsunnah di bulan muharramTauhid


Muharam adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah, salah satu dari bulan suci yang empat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun yang bersumber dari sunah beliau yang mulia. Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan bulan Muharam 2. Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannya 3. Kesesatan dan kebid’ahan di bulan Muharram Keutamaan bulan MuharamIa termasuk salah satu bulan yang Allah Ta’ala agungkan dan Allah Ta’ala sebutkan di dalam kitab sucinya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهور عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)Allah muliakan bulan ini di antara bulan-bulan lainnya, hingga dinamai dengan nama yang dinisbatkan langsung kepadanya “Bulan Allah Al-Muharram”, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap bulan ini dan sebagai tanda bahwa Allah Ta’ala sendirilah yang mengagungkan dan mengharamkan bulan Muharram ini. Sehingga tidak pantas dan tidak boleh seorang pun dari makhluk-Nya yang menghalalkannya dan melanggarnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan perkara ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الذي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, kemudian bulan Rajab suku Mudhar di antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Baca Juga: Hukum Puasa 11 MuharramSebagian ulama menguatkan bahwa Muharam adalah bulan haram/suci paling mulia. Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Latha’if Al-Ma’arif mengatakan, “Para ulama berbeda pendapat tentang bulan haram apa yang paling mulia? Al-Hasan dan yang lainnya mengatakan, “Yang paling mulia adalah Muharam”; dan ini juga dikuatkan oleh beberapa ulama’ masa kini.”Yang menguatkan hal tersebut adalah hadis yang dirawayatkan oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah dan yang selainnya dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,سألتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أيُّ اللَّيلِ خيرٌ، وأيُّ الأشهُرِ أفضَلُ؟ فقال: خيرُ اللَّيلِ جَوفُه، وأفضَلُ الأشهُرِ شَهرُ اللهِ الذي تَدْعونَه المُحَرَّمَ“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Malam apakah yang paling baik dan bulan apakah yang paling  utama?’ Beliau bersabda, ‘Sebaik–baik malam adalah pertengahannya, dan seutama–utamanya bulan adalah bulan Allah yang kalian sebut dengan nama Al-Muharram.’” (HR. An-Nasai no. 4216 dalam As-Sunan Al-Kubra)Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Penyebutan Muharam di dalam hadis sebagai “bulan paling mulia” maksudnya adalah bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadan.”Beberapa hukum yang menunjukkan kemuliannyaPertama: Haramnya berperang atau memulai peperangan di bulan ini serta besarnya dosa maksiat di dalamnya.Para ulama berselisih pendapat apakah hukum larangan berperang ini sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi ataukah masih berlaku hingga saat ini? Menurut pendapat yang rajih, yaitu pendapatnya mayoritas ulama bahwa hukumnya sudah terhapus dan sudah tidak berlaku lagi.Baca Juga: Hadis-Hadis Lemah Dan Palsu Tentang Keutamaan Hari ke-10 Muharram Imam Al-Aluusi rahimahullah dalam kitab tafsirnya Ruuhul M’aani mengatakan,والجمهور على أن حرمة المقاتلة فيهن منسوخة ، وأن الظلم مؤول بارتكاب المعاصي ، وتخصيصها بالنهي عن ارتكاب ذلك فيها ، مع أن الارتكاب منهي عنه مطلقا لتعظيمها ، ولله سبحانه أن يميز بعض الأوقات على بعض ، فارتكاب المعصية فيهن أعظم وزرا كارتكابها في الحرم وحال الإحرام“Jumhur ulama berpendapat bahwa pelarangan perang di bulan-bulan haram hukumnya telah dihapus. Bahwa ‘adz-dzulmu’ (kezaliman) di dalam ayat dimaknai dengan berbuat kemaksiatan (bukan peperangan). Adapun pengkhususan larangan berbuat maksiat di dalam bulan-bulan tersebut meskipun bermaksiat itu terlarang secara mutlak, adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan bulan-bulan haram ini. Dan Allah Ta’ala berhak untuk membedakan satu waktu dengan waktu yang lain. Maka, bermaksiat di bulan-bulan haram dosanya lebih besar, layaknya bermaksiat di tanah suci dalam kondisi sedang ihram.”Kedua: Anjuran memperbanyak puasa di dalamnya.Memperbanyak puasa di bulan Muharam termasuk puasa sunah yang paling utama berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,أَفْضَلُ الصِّيامِ، بَعْدَ رَمَضانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَالفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharam. Sedangkan salat yang paling utama setelah (salat) fardu adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).Namun, harus kita ketahui, terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berpuasa selama sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Maka, hadis di atas dapat dipahami bahwa hendaknya memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharam, namun bukan berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut.Keutamaan berpuasa ini lebih ditekankan lagi pada tanggal 10 bulan Muharam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang berpuasa di hari tersebut, lalu beliau menjawab,وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ“Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)Disunahkan untuk berpuasa pada tanggal sembilan juga, berdasarkan hadis,لَئِنْ بَقِيتُ أو لئِنْ عِشْتُ إلى قابلٍ لأصومَنَّ التاسِعَ“Sungguh jika aku masih hidup pada tahun depan, maka sungguh aku akan benar-benar berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim no. 1134 dan Ibnu Majah no. 1736)Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa tujuan berpuasa di hari kesembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi,خالِفوا اليَهودَ وصوموا التَّاسِعَ والعاشِرَ“Selisihilah orang Yahudi, berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh (di bulan Muharram).” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 108).Baca Juga: Mengapa Dinamakan Bulan Muharram?Kesesatan dan kebid’ahan di bulan MuharramSelain banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh bulan Muharam ini, sayangnya masih banyak sekali kesesatan dan kebid’ahan yang dilakukan sebagian kaum muslimin pada bulan ini. Baik itu bergembira ria, memakai celak, mengenakan baju baru, bakti sosial, ataupun menjadikan hari kesepuluh, hari Asyura sebagai hari kesedihan atas wafatnya Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh kesemuanya itu jelas merupakan kebid’ahan yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Padahal nabi dengan jelas menyebutkan,مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Kesesatan pada hari Asyura sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Sholeh Fauzan hafidzhahullah secara umum terbagi menjadi 2.Yang pertama adalah kelompok yang menyerupai orang-orang Yahudi; dimana mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari perayaan dan hari bergembira. Mereka menyemir rambut, memakai celak, membagikan angpau untuk keluarga, memasak makanan di luar kebiasaan, dan yang semisalnya dari perbuatan orang-orang bodoh, yang menyikapi kebid’ahan dengan kebid’ahan lainnya.Yang kedua adalah kelompok yang menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan ratapan karena terbunuhnya Alhusein bin Ali radhiyallahu anhuma. Di mana pada hari tersebut mereka menampakkan kebiasaan-kebiasaan orang jahiliyah baik itu menampar pipi, merobek kerah baju, melantunkan bait-bait kesedihan, serta menceritakan kisah-kisah yang penuh dengan kebohongan. Tentu tujuan dari semua itu adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan di antara umat. Inilah perbuatan orang-orang tersesat, yang menganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah perbuatan baik. Mereka adalah orang-orang yang lebih buruk dari khawarij yang mudah menumpahkan darah dan merekalah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadisnya,يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإسْلَامِ كما يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ“Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum ‘Ad diperangi.” (HR. Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064)Allah Ta’ala telah memberikan hidayah kepada ahlussunnah. Mereka hanya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berpuasa di dalamnya dengan tetap menjaga diri agar tidak menyerupai kaum Yahudi serta menjaga diri dari kebid’ahan yang berasal dari bisikan setan.Para ahli ilmu telah menjelaskan, bahwa tidak ada amal ibadah khusus yang disyariatkan pada hari asyura, kecuali berpuasa. Tidak ada syariat untuk menghidupkan dan mengisi malamnya, atau memakai celak, dan memakai wewangian di dalamnya, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu tidak ada sumbernya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Wallahu A’lam Bisshawaab.Baca Juga:11 Amalan Bid’ah di Bulan MuharramAmalan di Bulan Muharram***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dari karya tulis Syekh Doktor Nahhar Al-Utaiby hafidhahullah berjudul “Ahkaamu Syahrillahi Al-Muharrami”, yang diterbitkan di website dorar.net dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.🔍 Dukhan, Aliran Salafiyah, Pembagian Zakat Mal, Tindakan Rasulullah Dalam Menangkal Syirik, Soal Jawab Agama IslamTags: amalan di bulan muharramAqidahbulan muharrambulan muliakeutamaan bulan muharramkeutamaan muharramMuharramnasihatnasihat islamsunnah di bulan muharramTauhid

Keutamaan Menebarkan Salam

Ucapan salam disebut juga dengan istilah tahiyyatul Islam. Bagi seorang Muslim, sungguh ucapan ini jauh lebih baik dari sapaan-sapaan gaul ataupun greets ala barat. Karena ucapan salam yang sederhana ini memiliki banyak sekali keutamaan yang sering kali tidak diketahui atau tidak disadari oleh kita. Di antara keutamaan-keutamaan tersebut adalah: 1. Menumbuhkan rasa cinta Saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga Anda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ “Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54) Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Hadis ini menunjukkan keutamaan menebarkan salam. Dan menunjukkan betapa agung perkaranya. Dan bahwasanya menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim.” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590) Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saling mengucapkan salam akan menumbuhkan rasa cinta. Bukan cinta biasa, namun cinta karena iman, cinta karena memiliki akidah yang sama.  2. Sebab masuk ke surga Dan yang luar biasa lagi, ternyata dengan kebiasaan menebarkan salam, bisa menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ “Sembahlah ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no.981, dishahihkan al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 2/115) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Perkataan [engkau akan masuk surga dengan selamat] menunjukkan orang yang melakukan amalan-amalan di atas akan masuk surga tanpa hukuman dan tanpa azab. Karena orang yang diazab maka ia tidak dikatakan selamat. Maka tiga amalan dalam hadis ini adalah di antara sebab yang memasukan orang ke surga dengan selamat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 5/202) 3. Salah satu amalan terbaik dalam Islam Mengucapkan salam adalah salah satu amalan yang terbaik dalam Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ الإسْلَامِ خَيْرٌ؟ قالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وتَقْرَأُ السَّلَامَ علَى مَن عَرَفْتَ ومَن لَمْ تَعْرِفْ “Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling terbaik? Rasulullah menjawab: engkau memberi sedekah berupa makanan dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. al-Bukhari no. 12, 28, Muslim no. 39) Hadis ini juga mengajarkan adab kepada kita bahwa hendaknya kita bersemangat juga mengucapkan salam kepada orang yang belum dikenal. Tidak hanya bersemangat mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenal saja. 4. Diganjar pahala 10 kali lipat Orang yang mengucapkan salam ia akan mendapatkan pahala, karena ucapan salam adalah ibadah yang diperintahkan oleh syariat. Namun tidak cukup sampai di situ, orang yang mengucapkan salam akan dilipat-gandakan pahalanya minimalnya 10 kali lipat. Sebagaimana dalam hadis dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, at-Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Hadis ini menunjukkan bahwa ucapan salam yang semakin sempurna, akan semakin besar pula pahalanya. Dan ucapan salam yang paling sempurna adalah: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. 5. Memberikan keberkahan Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala  فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan: “[salam yang ditetapkan dari sisi Allah] maksudnya Allah ta’ala yang mensyariatkannya bagi kalian dan Allah jadikan sebagai salam penghormatan di antara kalian. [Yang diberkahi] Karena di dalamnya tercakup doa agar selamat dari berbagai kekurangan dan doa untuk meminta rahmat, keberkahan, pertumbuhan, dan pertambahan kebaikan. [Lagi merupakan kebaikan] Karena ia merupakan kalimat thayyibah yang dicintai oleh Allah. Yang memberikan rasa senang di dalam hati orang yang hidup dan menimbulkan rasa cinta dan sayang.” (Taisir Karimirrahman, hal. 576) 6. Mendatangkan keselamatan dari Allah Ucapan salam sejatinya adalah doa meminta keselamatan dari Allah kepada saudara kita. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590). Sehingga ucapan salam yang kita sampaikan kepada orang lain bermakna doa agar mereka mendapatkan keselamatan dari segala bahaya, kebebasan dari aib, keamanan dan surga dari Allah ta’ala. 7. Mendapatkan semua keutamaan doa Ucapan salam adalah doa. Maka orang yang mengucapkannya mendapatkan semua keutamaan doa, di antaranya: Doa adalah ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ  “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Termasuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir. Allah ta’ala berfirman: وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 35) Sehingga orang-orang yang menebarkan salam juga mendapatkan keutamaan-keutamaan dari dzikir kepada Allah yang sangat banyak sekali keutamaannya. Diampuni dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi: يا ابنَ آدَمَ، إنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفرتُ لك على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا ابنَ آدَمَ، “Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. at-Tirmidzi no.3540, ia berkata: “Hadis hasan shahih”). Jauh dari kesombongan. Karena orang-orang yang enggan berdoa, Allah sebutkan sebagai orang yang sombong. Allah ta’ala berfirman: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang sangat banyak sekali. Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat untuk terus menebarkan salam kepada sesama Muslim.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Keadaan Alam Kubur Saat Bulan Ramadhan, Doa Rumah Baru, Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Hukum Hutang Di Bank Menurut Islam, Film Umar Bin Khatab, Doa Mensyukuri Nikmat Allah Visited 617 times, 7 visit(s) today Post Views: 548 QRIS donasi Yufid

Keutamaan Menebarkan Salam

Ucapan salam disebut juga dengan istilah tahiyyatul Islam. Bagi seorang Muslim, sungguh ucapan ini jauh lebih baik dari sapaan-sapaan gaul ataupun greets ala barat. Karena ucapan salam yang sederhana ini memiliki banyak sekali keutamaan yang sering kali tidak diketahui atau tidak disadari oleh kita. Di antara keutamaan-keutamaan tersebut adalah: 1. Menumbuhkan rasa cinta Saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga Anda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ “Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54) Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Hadis ini menunjukkan keutamaan menebarkan salam. Dan menunjukkan betapa agung perkaranya. Dan bahwasanya menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim.” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590) Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saling mengucapkan salam akan menumbuhkan rasa cinta. Bukan cinta biasa, namun cinta karena iman, cinta karena memiliki akidah yang sama.  2. Sebab masuk ke surga Dan yang luar biasa lagi, ternyata dengan kebiasaan menebarkan salam, bisa menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ “Sembahlah ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no.981, dishahihkan al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 2/115) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Perkataan [engkau akan masuk surga dengan selamat] menunjukkan orang yang melakukan amalan-amalan di atas akan masuk surga tanpa hukuman dan tanpa azab. Karena orang yang diazab maka ia tidak dikatakan selamat. Maka tiga amalan dalam hadis ini adalah di antara sebab yang memasukan orang ke surga dengan selamat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 5/202) 3. Salah satu amalan terbaik dalam Islam Mengucapkan salam adalah salah satu amalan yang terbaik dalam Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ الإسْلَامِ خَيْرٌ؟ قالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وتَقْرَأُ السَّلَامَ علَى مَن عَرَفْتَ ومَن لَمْ تَعْرِفْ “Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling terbaik? Rasulullah menjawab: engkau memberi sedekah berupa makanan dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. al-Bukhari no. 12, 28, Muslim no. 39) Hadis ini juga mengajarkan adab kepada kita bahwa hendaknya kita bersemangat juga mengucapkan salam kepada orang yang belum dikenal. Tidak hanya bersemangat mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenal saja. 4. Diganjar pahala 10 kali lipat Orang yang mengucapkan salam ia akan mendapatkan pahala, karena ucapan salam adalah ibadah yang diperintahkan oleh syariat. Namun tidak cukup sampai di situ, orang yang mengucapkan salam akan dilipat-gandakan pahalanya minimalnya 10 kali lipat. Sebagaimana dalam hadis dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, at-Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Hadis ini menunjukkan bahwa ucapan salam yang semakin sempurna, akan semakin besar pula pahalanya. Dan ucapan salam yang paling sempurna adalah: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. 5. Memberikan keberkahan Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala  فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan: “[salam yang ditetapkan dari sisi Allah] maksudnya Allah ta’ala yang mensyariatkannya bagi kalian dan Allah jadikan sebagai salam penghormatan di antara kalian. [Yang diberkahi] Karena di dalamnya tercakup doa agar selamat dari berbagai kekurangan dan doa untuk meminta rahmat, keberkahan, pertumbuhan, dan pertambahan kebaikan. [Lagi merupakan kebaikan] Karena ia merupakan kalimat thayyibah yang dicintai oleh Allah. Yang memberikan rasa senang di dalam hati orang yang hidup dan menimbulkan rasa cinta dan sayang.” (Taisir Karimirrahman, hal. 576) 6. Mendatangkan keselamatan dari Allah Ucapan salam sejatinya adalah doa meminta keselamatan dari Allah kepada saudara kita. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590). Sehingga ucapan salam yang kita sampaikan kepada orang lain bermakna doa agar mereka mendapatkan keselamatan dari segala bahaya, kebebasan dari aib, keamanan dan surga dari Allah ta’ala. 7. Mendapatkan semua keutamaan doa Ucapan salam adalah doa. Maka orang yang mengucapkannya mendapatkan semua keutamaan doa, di antaranya: Doa adalah ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ  “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Termasuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir. Allah ta’ala berfirman: وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 35) Sehingga orang-orang yang menebarkan salam juga mendapatkan keutamaan-keutamaan dari dzikir kepada Allah yang sangat banyak sekali keutamaannya. Diampuni dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi: يا ابنَ آدَمَ، إنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفرتُ لك على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا ابنَ آدَمَ، “Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. at-Tirmidzi no.3540, ia berkata: “Hadis hasan shahih”). Jauh dari kesombongan. Karena orang-orang yang enggan berdoa, Allah sebutkan sebagai orang yang sombong. Allah ta’ala berfirman: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang sangat banyak sekali. Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat untuk terus menebarkan salam kepada sesama Muslim.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Keadaan Alam Kubur Saat Bulan Ramadhan, Doa Rumah Baru, Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Hukum Hutang Di Bank Menurut Islam, Film Umar Bin Khatab, Doa Mensyukuri Nikmat Allah Visited 617 times, 7 visit(s) today Post Views: 548 QRIS donasi Yufid
Ucapan salam disebut juga dengan istilah tahiyyatul Islam. Bagi seorang Muslim, sungguh ucapan ini jauh lebih baik dari sapaan-sapaan gaul ataupun greets ala barat. Karena ucapan salam yang sederhana ini memiliki banyak sekali keutamaan yang sering kali tidak diketahui atau tidak disadari oleh kita. Di antara keutamaan-keutamaan tersebut adalah: 1. Menumbuhkan rasa cinta Saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga Anda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ “Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54) Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Hadis ini menunjukkan keutamaan menebarkan salam. Dan menunjukkan betapa agung perkaranya. Dan bahwasanya menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim.” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590) Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saling mengucapkan salam akan menumbuhkan rasa cinta. Bukan cinta biasa, namun cinta karena iman, cinta karena memiliki akidah yang sama.  2. Sebab masuk ke surga Dan yang luar biasa lagi, ternyata dengan kebiasaan menebarkan salam, bisa menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ “Sembahlah ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no.981, dishahihkan al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 2/115) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Perkataan [engkau akan masuk surga dengan selamat] menunjukkan orang yang melakukan amalan-amalan di atas akan masuk surga tanpa hukuman dan tanpa azab. Karena orang yang diazab maka ia tidak dikatakan selamat. Maka tiga amalan dalam hadis ini adalah di antara sebab yang memasukan orang ke surga dengan selamat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 5/202) 3. Salah satu amalan terbaik dalam Islam Mengucapkan salam adalah salah satu amalan yang terbaik dalam Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ الإسْلَامِ خَيْرٌ؟ قالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وتَقْرَأُ السَّلَامَ علَى مَن عَرَفْتَ ومَن لَمْ تَعْرِفْ “Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling terbaik? Rasulullah menjawab: engkau memberi sedekah berupa makanan dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. al-Bukhari no. 12, 28, Muslim no. 39) Hadis ini juga mengajarkan adab kepada kita bahwa hendaknya kita bersemangat juga mengucapkan salam kepada orang yang belum dikenal. Tidak hanya bersemangat mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenal saja. 4. Diganjar pahala 10 kali lipat Orang yang mengucapkan salam ia akan mendapatkan pahala, karena ucapan salam adalah ibadah yang diperintahkan oleh syariat. Namun tidak cukup sampai di situ, orang yang mengucapkan salam akan dilipat-gandakan pahalanya minimalnya 10 kali lipat. Sebagaimana dalam hadis dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, at-Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Hadis ini menunjukkan bahwa ucapan salam yang semakin sempurna, akan semakin besar pula pahalanya. Dan ucapan salam yang paling sempurna adalah: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. 5. Memberikan keberkahan Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala  فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan: “[salam yang ditetapkan dari sisi Allah] maksudnya Allah ta’ala yang mensyariatkannya bagi kalian dan Allah jadikan sebagai salam penghormatan di antara kalian. [Yang diberkahi] Karena di dalamnya tercakup doa agar selamat dari berbagai kekurangan dan doa untuk meminta rahmat, keberkahan, pertumbuhan, dan pertambahan kebaikan. [Lagi merupakan kebaikan] Karena ia merupakan kalimat thayyibah yang dicintai oleh Allah. Yang memberikan rasa senang di dalam hati orang yang hidup dan menimbulkan rasa cinta dan sayang.” (Taisir Karimirrahman, hal. 576) 6. Mendatangkan keselamatan dari Allah Ucapan salam sejatinya adalah doa meminta keselamatan dari Allah kepada saudara kita. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590). Sehingga ucapan salam yang kita sampaikan kepada orang lain bermakna doa agar mereka mendapatkan keselamatan dari segala bahaya, kebebasan dari aib, keamanan dan surga dari Allah ta’ala. 7. Mendapatkan semua keutamaan doa Ucapan salam adalah doa. Maka orang yang mengucapkannya mendapatkan semua keutamaan doa, di antaranya: Doa adalah ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ  “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Termasuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir. Allah ta’ala berfirman: وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 35) Sehingga orang-orang yang menebarkan salam juga mendapatkan keutamaan-keutamaan dari dzikir kepada Allah yang sangat banyak sekali keutamaannya. Diampuni dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi: يا ابنَ آدَمَ، إنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفرتُ لك على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا ابنَ آدَمَ، “Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. at-Tirmidzi no.3540, ia berkata: “Hadis hasan shahih”). Jauh dari kesombongan. Karena orang-orang yang enggan berdoa, Allah sebutkan sebagai orang yang sombong. Allah ta’ala berfirman: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang sangat banyak sekali. Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat untuk terus menebarkan salam kepada sesama Muslim.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Keadaan Alam Kubur Saat Bulan Ramadhan, Doa Rumah Baru, Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Hukum Hutang Di Bank Menurut Islam, Film Umar Bin Khatab, Doa Mensyukuri Nikmat Allah Visited 617 times, 7 visit(s) today Post Views: 548 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1353212818&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Ucapan salam disebut juga dengan istilah tahiyyatul Islam. Bagi seorang Muslim, sungguh ucapan ini jauh lebih baik dari sapaan-sapaan gaul ataupun greets ala barat. Karena ucapan salam yang sederhana ini memiliki banyak sekali keutamaan yang sering kali tidak diketahui atau tidak disadari oleh kita. Di antara keutamaan-keutamaan tersebut adalah: 1. Menumbuhkan rasa cinta Saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga Anda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ “Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54) Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Hadis ini menunjukkan keutamaan menebarkan salam. Dan menunjukkan betapa agung perkaranya. Dan bahwasanya menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim.” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590) Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saling mengucapkan salam akan menumbuhkan rasa cinta. Bukan cinta biasa, namun cinta karena iman, cinta karena memiliki akidah yang sama.  2. Sebab masuk ke surga Dan yang luar biasa lagi, ternyata dengan kebiasaan menebarkan salam, bisa menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  اعبُدوا الرحمنَ ، و أطعِمُوا الطعامَ ، وأَفشوا السَّلامَ ، تَدخُلوا الجنَّةَ بسَلامٍ “Sembahlah ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no.981, dishahihkan al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 2/115) Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Perkataan [engkau akan masuk surga dengan selamat] menunjukkan orang yang melakukan amalan-amalan di atas akan masuk surga tanpa hukuman dan tanpa azab. Karena orang yang diazab maka ia tidak dikatakan selamat. Maka tiga amalan dalam hadis ini adalah di antara sebab yang memasukan orang ke surga dengan selamat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 5/202) 3. Salah satu amalan terbaik dalam Islam Mengucapkan salam adalah salah satu amalan yang terbaik dalam Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ الإسْلَامِ خَيْرٌ؟ قالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وتَقْرَأُ السَّلَامَ علَى مَن عَرَفْتَ ومَن لَمْ تَعْرِفْ “Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, amalan Islam apa yang paling terbaik? Rasulullah menjawab: engkau memberi sedekah berupa makanan dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. al-Bukhari no. 12, 28, Muslim no. 39) Hadis ini juga mengajarkan adab kepada kita bahwa hendaknya kita bersemangat juga mengucapkan salam kepada orang yang belum dikenal. Tidak hanya bersemangat mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenal saja. 4. Diganjar pahala 10 kali lipat Orang yang mengucapkan salam ia akan mendapatkan pahala, karena ucapan salam adalah ibadah yang diperintahkan oleh syariat. Namun tidak cukup sampai di situ, orang yang mengucapkan salam akan dilipat-gandakan pahalanya minimalnya 10 kali lipat. Sebagaimana dalam hadis dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, at-Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Hadis ini menunjukkan bahwa ucapan salam yang semakin sempurna, akan semakin besar pula pahalanya. Dan ucapan salam yang paling sempurna adalah: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. 5. Memberikan keberkahan Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala  فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi merupakan kebaikan.” (QS. an-Nur: 61) Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan: “[salam yang ditetapkan dari sisi Allah] maksudnya Allah ta’ala yang mensyariatkannya bagi kalian dan Allah jadikan sebagai salam penghormatan di antara kalian. [Yang diberkahi] Karena di dalamnya tercakup doa agar selamat dari berbagai kekurangan dan doa untuk meminta rahmat, keberkahan, pertumbuhan, dan pertambahan kebaikan. [Lagi merupakan kebaikan] Karena ia merupakan kalimat thayyibah yang dicintai oleh Allah. Yang memberikan rasa senang di dalam hati orang yang hidup dan menimbulkan rasa cinta dan sayang.” (Taisir Karimirrahman, hal. 576) 6. Mendatangkan keselamatan dari Allah Ucapan salam sejatinya adalah doa meminta keselamatan dari Allah kepada saudara kita. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan, “Menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan ia merupakan doa antara sesama Muslim” (Syarah Sunan Abu Daud, 3/590). Sehingga ucapan salam yang kita sampaikan kepada orang lain bermakna doa agar mereka mendapatkan keselamatan dari segala bahaya, kebebasan dari aib, keamanan dan surga dari Allah ta’ala. 7. Mendapatkan semua keutamaan doa Ucapan salam adalah doa. Maka orang yang mengucapkannya mendapatkan semua keutamaan doa, di antaranya: Doa adalah ibadah. Allah ta’ala berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ  “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Termasuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir. Allah ta’ala berfirman: وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 35) Sehingga orang-orang yang menebarkan salam juga mendapatkan keutamaan-keutamaan dari dzikir kepada Allah yang sangat banyak sekali keutamaannya. Diampuni dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadis qudsi: يا ابنَ آدَمَ، إنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفرتُ لك على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا ابنَ آدَمَ، “Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. at-Tirmidzi no.3540, ia berkata: “Hadis hasan shahih”). Jauh dari kesombongan. Karena orang-orang yang enggan berdoa, Allah sebutkan sebagai orang yang sombong. Allah ta’ala berfirman: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang sangat banyak sekali. Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat untuk terus menebarkan salam kepada sesama Muslim.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Keadaan Alam Kubur Saat Bulan Ramadhan, Doa Rumah Baru, Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Hukum Hutang Di Bank Menurut Islam, Film Umar Bin Khatab, Doa Mensyukuri Nikmat Allah Visited 617 times, 7 visit(s) today Post Views: 548 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Penulis—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Kesembilan, orang yang meyakini bahwa sebagian orang tidak wajib mengikuti Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bisa keluar dari syariat beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam —sebagaimana Khiḍir bisa keluar dari syariat Musa ʿalaihis salām— maka dia kafir.” Pertama, tentang Khiḍir, bahwa Musa tidak diutus kepadanya, karena Musa adalah rasul yang diutus kepada Bani Israil. Musa adalah rasul untuk Bani Israil, karena ketika itu seorang Nabi diutus hanya khusus kepada kaumnya saja. Inilah kenapa, ketika pertama kali Musa bertemu Khiḍir, dia berkata, “Apakah engkau Khiḍir?” Khiḍir menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku Musa.” Dia berkata, “Musa, Nabinya Bani Israil?” Sehingga Khiḍir bukan pengikut Musa, ini poin pertama. Kemudian, bahwa Khiḍir—menurut pendapat yang tepat—adalah nabi, sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Karena Khiḍir berkata: “Apa yang aku perbuat bukan menurut kemauanku sendiri.” (Al-Kahfi: 82) melainkan berdasarkan wahyu dari Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Inilah hukum asalnya. Jadi, Khiḍir adalah seorang nabi sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Musa adalah nabi bagi Bani Israil, dan Khiḍir adalah nabi bagi kaum di mana dia berada. Jadi, maksud saya bahwa orang yang mengatakan bahwa dia boleh untuk tidak mengikuti Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan dalih Khiḍir yang tidak mengikuti Musa, maka ini adalah kias dua hal yang berbeda, karena Musa tidak diutus untuk semua umat manusia sebagaimana Muhammad diutus untuk semua umat manusia. Khiḍir juga tidak pernah menyelisihi Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, karena dia sendiri adalah seorang nabi, sama seperti Musa yang juga seorang nabi. Benar bahwa Musa lebih utama, karena dia termasuk Ulul ‘Azmi—semoga salawat dan salam-Nya terlimpah atas Musa— tapi yang ini adalah nabi dan yang itu juga nabi. Bahkan seandainya Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām masih hidup, Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Musa tidak punya pilihan kecuali wajib mengikutiku.” (HR. Ahmad) Begitupun Khiḍir, seandainya dia masih hidup, dia tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setiap orang yang mengaku boleh untuk tidak mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia kafir. Demikian. ===== قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى التَّاسِعُ مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ يَسَعَهُ الْخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ الْخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَهُوَ كَافِرٌ الْأَوَّلُ الْخَضِرُ… لَمْ يُبْعَثْ يَعْنِي مُوسَى إِلَيْهِ مُوسَى كَانَ… مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ أَوَّلُ مَا الْتَقَى مُوسَى بِالْخَضِرِ قَالَ: أَنْتَ الْخَضِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: وَأَنْتَ مَنْ؟ قَالَ: مُوسَى قَالَ: مُوسَى نَبِيُّ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ فَالْخَضِرُ لَيْسَ تَابِعًا لِمُوسَى هَذَا أَوَّلًا ثُمَّ إِنَّ الْخَضِرَ عَلَى الصَّحِيحِ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ لِأَنَّ الْخَضِرَ قَالَ: وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي وَإِنَّمَا بِوَحْيٍ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا هُوَ الْأَصْلُ فَالْخَضِرُ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ وَمُوسَى نَبِيٌّ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْخَضِرُ نَبِيٌّ لِلنَّاسِ الَّذِينَ كَانَ عِنْدَهُمْ فَالْقَصْدُ إِذَنْ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَقُولُ يَسَعُهُ أَنْ لَا يَتَّبِعَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ أَلَّا يَتَّبِعَ مُوسَى وَهَذَا قِيَاسٌ مَعَ الْفَارِقِ لِأَنَّ مُوسَى لَمْ يُرْسَلْ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً كَمَا أَنَّ مُحَمَّدًا أُرْسِلَ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَالْخَضِرُ لَمْ يُفَارِقْ مُوسَى عَلَيهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِنَّمَا هُوَ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ نَعَمْ مُوسَى أَفْضَلُ مُوسَى مِنْ أُوْلِي الْعَزْمِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيِهِ لَكِنْ هَذَا نَبِيٌّ وَهَذَا نَبِيٌّ بَلْ إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ لَوْ كَانَ حَيًّا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَا وَسِعَهُ إِلَا اتِّبَاعِي وَالْخَضِرُ لَوْ كَانَ حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُلُّ مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ يَسَعُهُ أَلَّا يَتَّبِعَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ كَافِرٌ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Penulis—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Kesembilan, orang yang meyakini bahwa sebagian orang tidak wajib mengikuti Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bisa keluar dari syariat beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam —sebagaimana Khiḍir bisa keluar dari syariat Musa ʿalaihis salām— maka dia kafir.” Pertama, tentang Khiḍir, bahwa Musa tidak diutus kepadanya, karena Musa adalah rasul yang diutus kepada Bani Israil. Musa adalah rasul untuk Bani Israil, karena ketika itu seorang Nabi diutus hanya khusus kepada kaumnya saja. Inilah kenapa, ketika pertama kali Musa bertemu Khiḍir, dia berkata, “Apakah engkau Khiḍir?” Khiḍir menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku Musa.” Dia berkata, “Musa, Nabinya Bani Israil?” Sehingga Khiḍir bukan pengikut Musa, ini poin pertama. Kemudian, bahwa Khiḍir—menurut pendapat yang tepat—adalah nabi, sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Karena Khiḍir berkata: “Apa yang aku perbuat bukan menurut kemauanku sendiri.” (Al-Kahfi: 82) melainkan berdasarkan wahyu dari Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Inilah hukum asalnya. Jadi, Khiḍir adalah seorang nabi sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Musa adalah nabi bagi Bani Israil, dan Khiḍir adalah nabi bagi kaum di mana dia berada. Jadi, maksud saya bahwa orang yang mengatakan bahwa dia boleh untuk tidak mengikuti Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan dalih Khiḍir yang tidak mengikuti Musa, maka ini adalah kias dua hal yang berbeda, karena Musa tidak diutus untuk semua umat manusia sebagaimana Muhammad diutus untuk semua umat manusia. Khiḍir juga tidak pernah menyelisihi Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, karena dia sendiri adalah seorang nabi, sama seperti Musa yang juga seorang nabi. Benar bahwa Musa lebih utama, karena dia termasuk Ulul ‘Azmi—semoga salawat dan salam-Nya terlimpah atas Musa— tapi yang ini adalah nabi dan yang itu juga nabi. Bahkan seandainya Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām masih hidup, Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Musa tidak punya pilihan kecuali wajib mengikutiku.” (HR. Ahmad) Begitupun Khiḍir, seandainya dia masih hidup, dia tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setiap orang yang mengaku boleh untuk tidak mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia kafir. Demikian. ===== قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى التَّاسِعُ مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ يَسَعَهُ الْخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ الْخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَهُوَ كَافِرٌ الْأَوَّلُ الْخَضِرُ… لَمْ يُبْعَثْ يَعْنِي مُوسَى إِلَيْهِ مُوسَى كَانَ… مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ أَوَّلُ مَا الْتَقَى مُوسَى بِالْخَضِرِ قَالَ: أَنْتَ الْخَضِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: وَأَنْتَ مَنْ؟ قَالَ: مُوسَى قَالَ: مُوسَى نَبِيُّ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ فَالْخَضِرُ لَيْسَ تَابِعًا لِمُوسَى هَذَا أَوَّلًا ثُمَّ إِنَّ الْخَضِرَ عَلَى الصَّحِيحِ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ لِأَنَّ الْخَضِرَ قَالَ: وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي وَإِنَّمَا بِوَحْيٍ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا هُوَ الْأَصْلُ فَالْخَضِرُ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ وَمُوسَى نَبِيٌّ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْخَضِرُ نَبِيٌّ لِلنَّاسِ الَّذِينَ كَانَ عِنْدَهُمْ فَالْقَصْدُ إِذَنْ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَقُولُ يَسَعُهُ أَنْ لَا يَتَّبِعَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ أَلَّا يَتَّبِعَ مُوسَى وَهَذَا قِيَاسٌ مَعَ الْفَارِقِ لِأَنَّ مُوسَى لَمْ يُرْسَلْ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً كَمَا أَنَّ مُحَمَّدًا أُرْسِلَ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَالْخَضِرُ لَمْ يُفَارِقْ مُوسَى عَلَيهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِنَّمَا هُوَ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ نَعَمْ مُوسَى أَفْضَلُ مُوسَى مِنْ أُوْلِي الْعَزْمِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيِهِ لَكِنْ هَذَا نَبِيٌّ وَهَذَا نَبِيٌّ بَلْ إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ لَوْ كَانَ حَيًّا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَا وَسِعَهُ إِلَا اتِّبَاعِي وَالْخَضِرُ لَوْ كَانَ حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُلُّ مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ يَسَعُهُ أَلَّا يَتَّبِعَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ كَافِرٌ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Penulis—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Kesembilan, orang yang meyakini bahwa sebagian orang tidak wajib mengikuti Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bisa keluar dari syariat beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam —sebagaimana Khiḍir bisa keluar dari syariat Musa ʿalaihis salām— maka dia kafir.” Pertama, tentang Khiḍir, bahwa Musa tidak diutus kepadanya, karena Musa adalah rasul yang diutus kepada Bani Israil. Musa adalah rasul untuk Bani Israil, karena ketika itu seorang Nabi diutus hanya khusus kepada kaumnya saja. Inilah kenapa, ketika pertama kali Musa bertemu Khiḍir, dia berkata, “Apakah engkau Khiḍir?” Khiḍir menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku Musa.” Dia berkata, “Musa, Nabinya Bani Israil?” Sehingga Khiḍir bukan pengikut Musa, ini poin pertama. Kemudian, bahwa Khiḍir—menurut pendapat yang tepat—adalah nabi, sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Karena Khiḍir berkata: “Apa yang aku perbuat bukan menurut kemauanku sendiri.” (Al-Kahfi: 82) melainkan berdasarkan wahyu dari Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Inilah hukum asalnya. Jadi, Khiḍir adalah seorang nabi sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Musa adalah nabi bagi Bani Israil, dan Khiḍir adalah nabi bagi kaum di mana dia berada. Jadi, maksud saya bahwa orang yang mengatakan bahwa dia boleh untuk tidak mengikuti Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan dalih Khiḍir yang tidak mengikuti Musa, maka ini adalah kias dua hal yang berbeda, karena Musa tidak diutus untuk semua umat manusia sebagaimana Muhammad diutus untuk semua umat manusia. Khiḍir juga tidak pernah menyelisihi Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, karena dia sendiri adalah seorang nabi, sama seperti Musa yang juga seorang nabi. Benar bahwa Musa lebih utama, karena dia termasuk Ulul ‘Azmi—semoga salawat dan salam-Nya terlimpah atas Musa— tapi yang ini adalah nabi dan yang itu juga nabi. Bahkan seandainya Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām masih hidup, Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Musa tidak punya pilihan kecuali wajib mengikutiku.” (HR. Ahmad) Begitupun Khiḍir, seandainya dia masih hidup, dia tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setiap orang yang mengaku boleh untuk tidak mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia kafir. Demikian. ===== قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى التَّاسِعُ مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ يَسَعَهُ الْخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ الْخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَهُوَ كَافِرٌ الْأَوَّلُ الْخَضِرُ… لَمْ يُبْعَثْ يَعْنِي مُوسَى إِلَيْهِ مُوسَى كَانَ… مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ أَوَّلُ مَا الْتَقَى مُوسَى بِالْخَضِرِ قَالَ: أَنْتَ الْخَضِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: وَأَنْتَ مَنْ؟ قَالَ: مُوسَى قَالَ: مُوسَى نَبِيُّ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ فَالْخَضِرُ لَيْسَ تَابِعًا لِمُوسَى هَذَا أَوَّلًا ثُمَّ إِنَّ الْخَضِرَ عَلَى الصَّحِيحِ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ لِأَنَّ الْخَضِرَ قَالَ: وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي وَإِنَّمَا بِوَحْيٍ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا هُوَ الْأَصْلُ فَالْخَضِرُ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ وَمُوسَى نَبِيٌّ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْخَضِرُ نَبِيٌّ لِلنَّاسِ الَّذِينَ كَانَ عِنْدَهُمْ فَالْقَصْدُ إِذَنْ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَقُولُ يَسَعُهُ أَنْ لَا يَتَّبِعَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ أَلَّا يَتَّبِعَ مُوسَى وَهَذَا قِيَاسٌ مَعَ الْفَارِقِ لِأَنَّ مُوسَى لَمْ يُرْسَلْ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً كَمَا أَنَّ مُحَمَّدًا أُرْسِلَ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَالْخَضِرُ لَمْ يُفَارِقْ مُوسَى عَلَيهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِنَّمَا هُوَ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ نَعَمْ مُوسَى أَفْضَلُ مُوسَى مِنْ أُوْلِي الْعَزْمِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيِهِ لَكِنْ هَذَا نَبِيٌّ وَهَذَا نَبِيٌّ بَلْ إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ لَوْ كَانَ حَيًّا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَا وَسِعَهُ إِلَا اتِّبَاعِي وَالْخَضِرُ لَوْ كَانَ حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُلُّ مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ يَسَعُهُ أَلَّا يَتَّبِعَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ كَافِرٌ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Mengapa Nabi Khidir Tidak Ikut Nabi Musa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Penulis—semoga Allah merahmatinya—berkata: “Kesembilan, orang yang meyakini bahwa sebagian orang tidak wajib mengikuti Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bisa keluar dari syariat beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam —sebagaimana Khiḍir bisa keluar dari syariat Musa ʿalaihis salām— maka dia kafir.” Pertama, tentang Khiḍir, bahwa Musa tidak diutus kepadanya, karena Musa adalah rasul yang diutus kepada Bani Israil. Musa adalah rasul untuk Bani Israil, karena ketika itu seorang Nabi diutus hanya khusus kepada kaumnya saja. Inilah kenapa, ketika pertama kali Musa bertemu Khiḍir, dia berkata, “Apakah engkau Khiḍir?” Khiḍir menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku Musa.” Dia berkata, “Musa, Nabinya Bani Israil?” Sehingga Khiḍir bukan pengikut Musa, ini poin pertama. Kemudian, bahwa Khiḍir—menurut pendapat yang tepat—adalah nabi, sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Karena Khiḍir berkata: “Apa yang aku perbuat bukan menurut kemauanku sendiri.” (Al-Kahfi: 82) melainkan berdasarkan wahyu dari Allah Tabāraka wa Ta’ālā. Inilah hukum asalnya. Jadi, Khiḍir adalah seorang nabi sebagaimana Musa adalah seorang nabi. Musa adalah nabi bagi Bani Israil, dan Khiḍir adalah nabi bagi kaum di mana dia berada. Jadi, maksud saya bahwa orang yang mengatakan bahwa dia boleh untuk tidak mengikuti Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan dalih Khiḍir yang tidak mengikuti Musa, maka ini adalah kias dua hal yang berbeda, karena Musa tidak diutus untuk semua umat manusia sebagaimana Muhammad diutus untuk semua umat manusia. Khiḍir juga tidak pernah menyelisihi Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām, karena dia sendiri adalah seorang nabi, sama seperti Musa yang juga seorang nabi. Benar bahwa Musa lebih utama, karena dia termasuk Ulul ‘Azmi—semoga salawat dan salam-Nya terlimpah atas Musa— tapi yang ini adalah nabi dan yang itu juga nabi. Bahkan seandainya Musa ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām masih hidup, Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Musa tidak punya pilihan kecuali wajib mengikutiku.” (HR. Ahmad) Begitupun Khiḍir, seandainya dia masih hidup, dia tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jadi, setiap orang yang mengaku boleh untuk tidak mengikuti Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia kafir. Demikian. ===== قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى التَّاسِعُ مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ يَسَعَهُ الْخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ الْخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَهُوَ كَافِرٌ الْأَوَّلُ الْخَضِرُ… لَمْ يُبْعَثْ يَعْنِي مُوسَى إِلَيْهِ مُوسَى كَانَ… مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُوسَى رَسُولُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَلِذَلِكَ أَوَّلُ مَا الْتَقَى مُوسَى بِالْخَضِرِ قَالَ: أَنْتَ الْخَضِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: وَأَنْتَ مَنْ؟ قَالَ: مُوسَى قَالَ: مُوسَى نَبِيُّ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ فَالْخَضِرُ لَيْسَ تَابِعًا لِمُوسَى هَذَا أَوَّلًا ثُمَّ إِنَّ الْخَضِرَ عَلَى الصَّحِيحِ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ لِأَنَّ الْخَضِرَ قَالَ: وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي وَإِنَّمَا بِوَحْيٍ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا هُوَ الْأَصْلُ فَالْخَضِرُ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ وَمُوسَى نَبِيٌّ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْخَضِرُ نَبِيٌّ لِلنَّاسِ الَّذِينَ كَانَ عِنْدَهُمْ فَالْقَصْدُ إِذَنْ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَقُولُ يَسَعُهُ أَنْ لَا يَتَّبِعَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا وَسِعَ الْخَضِرُ أَلَّا يَتَّبِعَ مُوسَى وَهَذَا قِيَاسٌ مَعَ الْفَارِقِ لِأَنَّ مُوسَى لَمْ يُرْسَلْ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً كَمَا أَنَّ مُحَمَّدًا أُرْسِلَ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَالْخَضِرُ لَمْ يُفَارِقْ مُوسَى عَلَيهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَإِنَّمَا هُوَ نَبِيٌّ كَمَا أَنَّ مُوسَى نَبِيٌّ نَعَمْ مُوسَى أَفْضَلُ مُوسَى مِنْ أُوْلِي الْعَزْمِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيِهِ لَكِنْ هَذَا نَبِيٌّ وَهَذَا نَبِيٌّ بَلْ إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ لَوْ كَانَ حَيًّا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَا وَسِعَهُ إِلَا اتِّبَاعِي وَالْخَضِرُ لَوْ كَانَ حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُلُّ مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ يَسَعُهُ أَلَّا يَتَّبِعَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ كَافِرٌ نَعَمْ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar 2. Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 3. Berdoa 4. Anugerah putra 4.1. Pertama: Perintah berhijrah ke Mekah 4.2. Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpi 5. Pelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranya 6. Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salam Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengikuti agamanya, dalam ajaran syari’at Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.’” (Qs. An-Nahl: 123)Mengapa demikian? Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merupakan imamul hunafa’ (ahli tauhid). Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu). Jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7. Beliau termasuk khalilullah (salah satu dari dua rasul yang paling dicintai oleh Allah) berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 125 dan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim). Dan terkumpul pula pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dan ijma’. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah yang sebelumnya. Sehingga pantas Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya.Nah, insyaAllah di sini kita akan meneladani kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putra hasil didikan beliau, Nabi Isma’il ‘alaihis salam.Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)BerdoaSenjata seorang mukmin adalah doa. Dengan berdoa, seorang mukmin menjadi kuat dan diberi kekuatan oleh Allah Ta’ala. Sebaliknya, dengan merasa tidak butuh berdoa dan meninggalkan doa, seorang mukmin itu menjadi lemah.Bagaimana tidak lemah, bukankah Allah sumber segala kekuatan? Sedangkan orang yang tidak mau berdoa, berarti seolah-olah tidak butuh kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أعجزُ الناسِ من عجز عن الدعاءِ“Manusia paling lemah adalah orang yang lemah dari berdoa kepada Allah.” (HR. At-Thabarani, sahih)Di dalam surah Ash-Shaffaat ayat 100, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lama tidak memiliki putra. Namun beliau tidak berputus asa. Beliau terus berdoa, dengan doa yang tidak hanya berisi permohonan kepada Allah berupa anak keturunan saja, namun beliau juga memohon keturunan yang saleh, yang bisa membantunya agar berbahagia di dunia dan di akhirat.رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffaat: 100) Anugerah putraSetelah kurang lebih 86 tahun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak memiliki putra. Allah Ta’ala mengabarkan,فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shaffat: 101)Sulit dilukiskan bagaimana gembiranya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah beliau tua, menunggu 86 tahun penantian yang panjang, akhirnya memiliki putra. Sehingga wajar jika beliau sangat mencintai putranya. Namun, karena Allah telah memilih beliau sebagai hamba yang paling dicintai dan Allah angkat sebagai imam ahli tauhid, maka Allah menjaga tauhid beliau agar tetap murni dan jangan sampai terkotori dengan kecintaan kepada putranya. Karena sesungguhnya, pokok dasar dari tauhid itu adalah cinta kepada Allah Ta’ala.Oleh karena itulah, Allah menarbiyah beliau dengan tarbiyah tauhid, yaitu:Pertama: Perintah berhijrah ke MekahAllah perintahkan beliau untuk berhijrah bersama istri dan sang bayi Isma’il dari Palestina ke Mekah. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan. Beliau diperintahkan untuk menaruh keduanya di lembah yang tidak berpenghuni, tidak berair, dan tidak bertanaman. Namun, justru dengan cara itulah tauhid Nabi Ibrahim menjadi sempurna. Karena hal itu tidak bisa terwujud, kecuali dengan tawakal yang sempurna kepada Allah semata! Dan kisah ini terdapat dalam surah Ibrahim ayat 37.Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpiAllah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim ‘alahis salam melalui mimpi, dan mimpi para nabi itu adalah wahyu. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup beraktifitas bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffaat: 102)Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiPelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranyaTatkala kecintaan yang besar kepada Isma’il telah masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam, maka Allah pun memerintahkan beliau untuk menyembelih Isma’il. Sehingga keluarlah dari hatinya rasa cinta kepada selain Allah tersebut. Karena jika tidak, cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah.Semua itu karena Allah tidak rida hati hamba yang dicintai-Nya tersebut berpaling kepada selain-Nya. Karena Allah mencintai tauhid dan tidak rida terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap itu menjadi kontinyu dan terus ditujukan untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya.Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salamUlama berselisih pendapat tentang umur beliau saat peristiwa dimintai pendapat tentang mimpi bapaknya. Ada yang mengatakan 13 tahun dan ada pula yang berpendapat 7 tahun. Wallahu a’lam, pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran adalah 13 tahun.Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut:Pertama: Dalam seusia remaja SMP itu, ia sudah mengetahui bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu Allah yang tentunya hal itu adalah sebuah kebenaran dan mengandung perintah-Nya. Oleh karena itu, ia mengatakan,يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.” Hal ini mengisyaratkan bahwa bapaknya telah berhasil mendidik putranya dengan pendidikan keimanan dan pengetahuan diniyah (agama) yang bagus.Kedua: Bukan hanya itu, namun Allah mudahkan ayahnya dalam mendidik mental putranya, sehingga menjadi sosok remaja yang tahan banting dalam bentuk bersabar melaksanakan perintah yang sangat berat. Jangankan remaja, orangtua pun pada umumnya tidak sanggup memikulnya. Bukan hanya itu, anak saleh Isma’il juga terdidik rela berkorban, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun.Dengan tegarnya remaja saleh Isma’il merespon ayahandanya,قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”Jika kita ingin mendapatkan generasi yang tahan banting, maka janganlah hanya memikirkan sisi fisik pendidikan anak, namun juga perhatian yang besar dan proposional terhadap tarbiyah imaniyah ruh spiritual. Karena berapa banyak anak yang disekolahkan di lembaga pendidikan (sekolah, pondok, atau universitas) berfasilitas mewah, semewah hotel yang kokoh menjulang tinggi. Namun sayangnya, banyak mental spiritual output (luaran) lulusannya tidak sekokoh bangunan sekolahnya, bahkan iman, ilmu, dan amalnya masih rapuh.Ini bisa jadi menandakan perhatian pengembangan fisik dan profit (bisnis pendidikan), serta hal-hal yang sifatnya aksesoris lebih besar dibandingkan dengan perhatian terhadap mutu pendidikan, baik dari sisi ilmiyah, amaliyah, maupun imaniyah.Ketiga: Cara Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam membangun komunikasi dengan putra remajanya adalah dengan memposisikan putranya sebagai teman akrab dan menggunakan cara dialogis untuk mengkondisikan agar ia siap menerima perintah Allah yang sangat berat, bukan hanya di luar kemampuan rata-rata remaja seusianya, bahkan di luar kemampuan rata-rata manusia!Jika kita ingin melahirkan generasi yang cerdas dan pemberani, maka pupuklah suasana dialogis dan musyawarah serta dudukkan mereka sebagai teman. Ketika usia remaja, psikologis mereka akan menerima perlakuan tersebut sebagai bentuk pengakuan jati diri dan kedewasaan serta pemuliaan yang menggali kecerdasan dan keberaniannya. Di usia tersebut, mereka sangat berkeinginan menampakkan potensi dirinya. Sehingga jika banyak dipaksa, maka dikhawatirkan akan memberontak.Baca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Misteri Segitiga Bermuda Dalam Al Quran, Hadist Tentang Narkoba, Cross Hijabers Adalah, Pengertian DabbahTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid

Meneladani Kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar 2. Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 3. Berdoa 4. Anugerah putra 4.1. Pertama: Perintah berhijrah ke Mekah 4.2. Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpi 5. Pelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranya 6. Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salam Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengikuti agamanya, dalam ajaran syari’at Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.’” (Qs. An-Nahl: 123)Mengapa demikian? Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merupakan imamul hunafa’ (ahli tauhid). Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu). Jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7. Beliau termasuk khalilullah (salah satu dari dua rasul yang paling dicintai oleh Allah) berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 125 dan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim). Dan terkumpul pula pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dan ijma’. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah yang sebelumnya. Sehingga pantas Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya.Nah, insyaAllah di sini kita akan meneladani kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putra hasil didikan beliau, Nabi Isma’il ‘alaihis salam.Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)BerdoaSenjata seorang mukmin adalah doa. Dengan berdoa, seorang mukmin menjadi kuat dan diberi kekuatan oleh Allah Ta’ala. Sebaliknya, dengan merasa tidak butuh berdoa dan meninggalkan doa, seorang mukmin itu menjadi lemah.Bagaimana tidak lemah, bukankah Allah sumber segala kekuatan? Sedangkan orang yang tidak mau berdoa, berarti seolah-olah tidak butuh kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أعجزُ الناسِ من عجز عن الدعاءِ“Manusia paling lemah adalah orang yang lemah dari berdoa kepada Allah.” (HR. At-Thabarani, sahih)Di dalam surah Ash-Shaffaat ayat 100, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lama tidak memiliki putra. Namun beliau tidak berputus asa. Beliau terus berdoa, dengan doa yang tidak hanya berisi permohonan kepada Allah berupa anak keturunan saja, namun beliau juga memohon keturunan yang saleh, yang bisa membantunya agar berbahagia di dunia dan di akhirat.رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffaat: 100) Anugerah putraSetelah kurang lebih 86 tahun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak memiliki putra. Allah Ta’ala mengabarkan,فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shaffat: 101)Sulit dilukiskan bagaimana gembiranya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah beliau tua, menunggu 86 tahun penantian yang panjang, akhirnya memiliki putra. Sehingga wajar jika beliau sangat mencintai putranya. Namun, karena Allah telah memilih beliau sebagai hamba yang paling dicintai dan Allah angkat sebagai imam ahli tauhid, maka Allah menjaga tauhid beliau agar tetap murni dan jangan sampai terkotori dengan kecintaan kepada putranya. Karena sesungguhnya, pokok dasar dari tauhid itu adalah cinta kepada Allah Ta’ala.Oleh karena itulah, Allah menarbiyah beliau dengan tarbiyah tauhid, yaitu:Pertama: Perintah berhijrah ke MekahAllah perintahkan beliau untuk berhijrah bersama istri dan sang bayi Isma’il dari Palestina ke Mekah. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan. Beliau diperintahkan untuk menaruh keduanya di lembah yang tidak berpenghuni, tidak berair, dan tidak bertanaman. Namun, justru dengan cara itulah tauhid Nabi Ibrahim menjadi sempurna. Karena hal itu tidak bisa terwujud, kecuali dengan tawakal yang sempurna kepada Allah semata! Dan kisah ini terdapat dalam surah Ibrahim ayat 37.Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpiAllah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim ‘alahis salam melalui mimpi, dan mimpi para nabi itu adalah wahyu. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup beraktifitas bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffaat: 102)Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiPelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranyaTatkala kecintaan yang besar kepada Isma’il telah masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam, maka Allah pun memerintahkan beliau untuk menyembelih Isma’il. Sehingga keluarlah dari hatinya rasa cinta kepada selain Allah tersebut. Karena jika tidak, cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah.Semua itu karena Allah tidak rida hati hamba yang dicintai-Nya tersebut berpaling kepada selain-Nya. Karena Allah mencintai tauhid dan tidak rida terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap itu menjadi kontinyu dan terus ditujukan untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya.Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salamUlama berselisih pendapat tentang umur beliau saat peristiwa dimintai pendapat tentang mimpi bapaknya. Ada yang mengatakan 13 tahun dan ada pula yang berpendapat 7 tahun. Wallahu a’lam, pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran adalah 13 tahun.Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut:Pertama: Dalam seusia remaja SMP itu, ia sudah mengetahui bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu Allah yang tentunya hal itu adalah sebuah kebenaran dan mengandung perintah-Nya. Oleh karena itu, ia mengatakan,يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.” Hal ini mengisyaratkan bahwa bapaknya telah berhasil mendidik putranya dengan pendidikan keimanan dan pengetahuan diniyah (agama) yang bagus.Kedua: Bukan hanya itu, namun Allah mudahkan ayahnya dalam mendidik mental putranya, sehingga menjadi sosok remaja yang tahan banting dalam bentuk bersabar melaksanakan perintah yang sangat berat. Jangankan remaja, orangtua pun pada umumnya tidak sanggup memikulnya. Bukan hanya itu, anak saleh Isma’il juga terdidik rela berkorban, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun.Dengan tegarnya remaja saleh Isma’il merespon ayahandanya,قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”Jika kita ingin mendapatkan generasi yang tahan banting, maka janganlah hanya memikirkan sisi fisik pendidikan anak, namun juga perhatian yang besar dan proposional terhadap tarbiyah imaniyah ruh spiritual. Karena berapa banyak anak yang disekolahkan di lembaga pendidikan (sekolah, pondok, atau universitas) berfasilitas mewah, semewah hotel yang kokoh menjulang tinggi. Namun sayangnya, banyak mental spiritual output (luaran) lulusannya tidak sekokoh bangunan sekolahnya, bahkan iman, ilmu, dan amalnya masih rapuh.Ini bisa jadi menandakan perhatian pengembangan fisik dan profit (bisnis pendidikan), serta hal-hal yang sifatnya aksesoris lebih besar dibandingkan dengan perhatian terhadap mutu pendidikan, baik dari sisi ilmiyah, amaliyah, maupun imaniyah.Ketiga: Cara Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam membangun komunikasi dengan putra remajanya adalah dengan memposisikan putranya sebagai teman akrab dan menggunakan cara dialogis untuk mengkondisikan agar ia siap menerima perintah Allah yang sangat berat, bukan hanya di luar kemampuan rata-rata remaja seusianya, bahkan di luar kemampuan rata-rata manusia!Jika kita ingin melahirkan generasi yang cerdas dan pemberani, maka pupuklah suasana dialogis dan musyawarah serta dudukkan mereka sebagai teman. Ketika usia remaja, psikologis mereka akan menerima perlakuan tersebut sebagai bentuk pengakuan jati diri dan kedewasaan serta pemuliaan yang menggali kecerdasan dan keberaniannya. Di usia tersebut, mereka sangat berkeinginan menampakkan potensi dirinya. Sehingga jika banyak dipaksa, maka dikhawatirkan akan memberontak.Baca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Misteri Segitiga Bermuda Dalam Al Quran, Hadist Tentang Narkoba, Cross Hijabers Adalah, Pengertian DabbahTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar 2. Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 3. Berdoa 4. Anugerah putra 4.1. Pertama: Perintah berhijrah ke Mekah 4.2. Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpi 5. Pelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranya 6. Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salam Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengikuti agamanya, dalam ajaran syari’at Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.’” (Qs. An-Nahl: 123)Mengapa demikian? Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merupakan imamul hunafa’ (ahli tauhid). Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu). Jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7. Beliau termasuk khalilullah (salah satu dari dua rasul yang paling dicintai oleh Allah) berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 125 dan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim). Dan terkumpul pula pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dan ijma’. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah yang sebelumnya. Sehingga pantas Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya.Nah, insyaAllah di sini kita akan meneladani kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putra hasil didikan beliau, Nabi Isma’il ‘alaihis salam.Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)BerdoaSenjata seorang mukmin adalah doa. Dengan berdoa, seorang mukmin menjadi kuat dan diberi kekuatan oleh Allah Ta’ala. Sebaliknya, dengan merasa tidak butuh berdoa dan meninggalkan doa, seorang mukmin itu menjadi lemah.Bagaimana tidak lemah, bukankah Allah sumber segala kekuatan? Sedangkan orang yang tidak mau berdoa, berarti seolah-olah tidak butuh kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أعجزُ الناسِ من عجز عن الدعاءِ“Manusia paling lemah adalah orang yang lemah dari berdoa kepada Allah.” (HR. At-Thabarani, sahih)Di dalam surah Ash-Shaffaat ayat 100, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lama tidak memiliki putra. Namun beliau tidak berputus asa. Beliau terus berdoa, dengan doa yang tidak hanya berisi permohonan kepada Allah berupa anak keturunan saja, namun beliau juga memohon keturunan yang saleh, yang bisa membantunya agar berbahagia di dunia dan di akhirat.رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffaat: 100) Anugerah putraSetelah kurang lebih 86 tahun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak memiliki putra. Allah Ta’ala mengabarkan,فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shaffat: 101)Sulit dilukiskan bagaimana gembiranya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah beliau tua, menunggu 86 tahun penantian yang panjang, akhirnya memiliki putra. Sehingga wajar jika beliau sangat mencintai putranya. Namun, karena Allah telah memilih beliau sebagai hamba yang paling dicintai dan Allah angkat sebagai imam ahli tauhid, maka Allah menjaga tauhid beliau agar tetap murni dan jangan sampai terkotori dengan kecintaan kepada putranya. Karena sesungguhnya, pokok dasar dari tauhid itu adalah cinta kepada Allah Ta’ala.Oleh karena itulah, Allah menarbiyah beliau dengan tarbiyah tauhid, yaitu:Pertama: Perintah berhijrah ke MekahAllah perintahkan beliau untuk berhijrah bersama istri dan sang bayi Isma’il dari Palestina ke Mekah. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan. Beliau diperintahkan untuk menaruh keduanya di lembah yang tidak berpenghuni, tidak berair, dan tidak bertanaman. Namun, justru dengan cara itulah tauhid Nabi Ibrahim menjadi sempurna. Karena hal itu tidak bisa terwujud, kecuali dengan tawakal yang sempurna kepada Allah semata! Dan kisah ini terdapat dalam surah Ibrahim ayat 37.Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpiAllah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim ‘alahis salam melalui mimpi, dan mimpi para nabi itu adalah wahyu. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup beraktifitas bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffaat: 102)Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiPelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranyaTatkala kecintaan yang besar kepada Isma’il telah masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam, maka Allah pun memerintahkan beliau untuk menyembelih Isma’il. Sehingga keluarlah dari hatinya rasa cinta kepada selain Allah tersebut. Karena jika tidak, cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah.Semua itu karena Allah tidak rida hati hamba yang dicintai-Nya tersebut berpaling kepada selain-Nya. Karena Allah mencintai tauhid dan tidak rida terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap itu menjadi kontinyu dan terus ditujukan untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya.Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salamUlama berselisih pendapat tentang umur beliau saat peristiwa dimintai pendapat tentang mimpi bapaknya. Ada yang mengatakan 13 tahun dan ada pula yang berpendapat 7 tahun. Wallahu a’lam, pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran adalah 13 tahun.Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut:Pertama: Dalam seusia remaja SMP itu, ia sudah mengetahui bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu Allah yang tentunya hal itu adalah sebuah kebenaran dan mengandung perintah-Nya. Oleh karena itu, ia mengatakan,يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.” Hal ini mengisyaratkan bahwa bapaknya telah berhasil mendidik putranya dengan pendidikan keimanan dan pengetahuan diniyah (agama) yang bagus.Kedua: Bukan hanya itu, namun Allah mudahkan ayahnya dalam mendidik mental putranya, sehingga menjadi sosok remaja yang tahan banting dalam bentuk bersabar melaksanakan perintah yang sangat berat. Jangankan remaja, orangtua pun pada umumnya tidak sanggup memikulnya. Bukan hanya itu, anak saleh Isma’il juga terdidik rela berkorban, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun.Dengan tegarnya remaja saleh Isma’il merespon ayahandanya,قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”Jika kita ingin mendapatkan generasi yang tahan banting, maka janganlah hanya memikirkan sisi fisik pendidikan anak, namun juga perhatian yang besar dan proposional terhadap tarbiyah imaniyah ruh spiritual. Karena berapa banyak anak yang disekolahkan di lembaga pendidikan (sekolah, pondok, atau universitas) berfasilitas mewah, semewah hotel yang kokoh menjulang tinggi. Namun sayangnya, banyak mental spiritual output (luaran) lulusannya tidak sekokoh bangunan sekolahnya, bahkan iman, ilmu, dan amalnya masih rapuh.Ini bisa jadi menandakan perhatian pengembangan fisik dan profit (bisnis pendidikan), serta hal-hal yang sifatnya aksesoris lebih besar dibandingkan dengan perhatian terhadap mutu pendidikan, baik dari sisi ilmiyah, amaliyah, maupun imaniyah.Ketiga: Cara Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam membangun komunikasi dengan putra remajanya adalah dengan memposisikan putranya sebagai teman akrab dan menggunakan cara dialogis untuk mengkondisikan agar ia siap menerima perintah Allah yang sangat berat, bukan hanya di luar kemampuan rata-rata remaja seusianya, bahkan di luar kemampuan rata-rata manusia!Jika kita ingin melahirkan generasi yang cerdas dan pemberani, maka pupuklah suasana dialogis dan musyawarah serta dudukkan mereka sebagai teman. Ketika usia remaja, psikologis mereka akan menerima perlakuan tersebut sebagai bentuk pengakuan jati diri dan kedewasaan serta pemuliaan yang menggali kecerdasan dan keberaniannya. Di usia tersebut, mereka sangat berkeinginan menampakkan potensi dirinya. Sehingga jika banyak dipaksa, maka dikhawatirkan akan memberontak.Baca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Misteri Segitiga Bermuda Dalam Al Quran, Hadist Tentang Narkoba, Cross Hijabers Adalah, Pengertian DabbahTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar 2. Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 3. Berdoa 4. Anugerah putra 4.1. Pertama: Perintah berhijrah ke Mekah 4.2. Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpi 5. Pelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranya 6. Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salam Kisah di dalam Alquran Al-Karim mengandung pelajaran besar Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salamSosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, atau tepatnya Rasulullah Ibrahim ‘alaihis salam, adalah sosok yang Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mengikuti agamanya, dalam ajaran syari’at Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang tidak dihapus dalam agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.’” (Qs. An-Nahl: 123)Mengapa demikian? Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merupakan imamul hunafa’ (ahli tauhid). Beliau termasuk ulul ‘azmi minar rusul (para rasul pemilik kekuatan dan ketegaran yang sangat kokoh ‘alaihimush shalatu was salamu). Jumlah mereka hanya 5 rasul berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 7. Beliau termasuk khalilullah (salah satu dari dua rasul yang paling dicintai oleh Allah) berdasarkan surah An-Nisaa’ ayat 125 dan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim). Dan terkumpul pula pada diri beliau sifat-sifat kesempurnaan manusia berdasarkan surah An-Nahl ayat 120.Tentunya, derajat beliau tetap di bawah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dan ijma’. Namun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih dahulu menjadi utusan Allah yang terkumpul padanya seluruh sifat-sifat sempurna dan dalam rangka menjaga ajaran Allah yang sebelumnya. Sehingga pantas Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti agamanya.Nah, insyaAllah di sini kita akan meneladani kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putra hasil didikan beliau, Nabi Isma’il ‘alaihis salam.Baca Juga: Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)BerdoaSenjata seorang mukmin adalah doa. Dengan berdoa, seorang mukmin menjadi kuat dan diberi kekuatan oleh Allah Ta’ala. Sebaliknya, dengan merasa tidak butuh berdoa dan meninggalkan doa, seorang mukmin itu menjadi lemah.Bagaimana tidak lemah, bukankah Allah sumber segala kekuatan? Sedangkan orang yang tidak mau berdoa, berarti seolah-olah tidak butuh kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أعجزُ الناسِ من عجز عن الدعاءِ“Manusia paling lemah adalah orang yang lemah dari berdoa kepada Allah.” (HR. At-Thabarani, sahih)Di dalam surah Ash-Shaffaat ayat 100, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lama tidak memiliki putra. Namun beliau tidak berputus asa. Beliau terus berdoa, dengan doa yang tidak hanya berisi permohonan kepada Allah berupa anak keturunan saja, namun beliau juga memohon keturunan yang saleh, yang bisa membantunya agar berbahagia di dunia dan di akhirat.رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffaat: 100) Anugerah putraSetelah kurang lebih 86 tahun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak memiliki putra. Allah Ta’ala mengabarkan,فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shaffat: 101)Sulit dilukiskan bagaimana gembiranya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah beliau tua, menunggu 86 tahun penantian yang panjang, akhirnya memiliki putra. Sehingga wajar jika beliau sangat mencintai putranya. Namun, karena Allah telah memilih beliau sebagai hamba yang paling dicintai dan Allah angkat sebagai imam ahli tauhid, maka Allah menjaga tauhid beliau agar tetap murni dan jangan sampai terkotori dengan kecintaan kepada putranya. Karena sesungguhnya, pokok dasar dari tauhid itu adalah cinta kepada Allah Ta’ala.Oleh karena itulah, Allah menarbiyah beliau dengan tarbiyah tauhid, yaitu:Pertama: Perintah berhijrah ke MekahAllah perintahkan beliau untuk berhijrah bersama istri dan sang bayi Isma’il dari Palestina ke Mekah. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan. Beliau diperintahkan untuk menaruh keduanya di lembah yang tidak berpenghuni, tidak berair, dan tidak bertanaman. Namun, justru dengan cara itulah tauhid Nabi Ibrahim menjadi sempurna. Karena hal itu tidak bisa terwujud, kecuali dengan tawakal yang sempurna kepada Allah semata! Dan kisah ini terdapat dalam surah Ibrahim ayat 37.Kedua: Perintah menyembelih putranya melalui mimpiAllah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim ‘alahis salam melalui mimpi, dan mimpi para nabi itu adalah wahyu. Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup beraktifitas bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffaat: 102)Baca Juga: Kisah-Kisah Peringatan Tuk Penghina NabiPelajaran tauhid yang besar dalam perintah menyembelih putranyaTatkala kecintaan yang besar kepada Isma’il telah masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam, maka Allah pun memerintahkan beliau untuk menyembelih Isma’il. Sehingga keluarlah dari hatinya rasa cinta kepada selain Allah tersebut. Karena jika tidak, cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah.Semua itu karena Allah tidak rida hati hamba yang dicintai-Nya tersebut berpaling kepada selain-Nya. Karena Allah mencintai tauhid dan tidak rida terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap itu menjadi kontinyu dan terus ditujukan untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya.Pelajaran besar dari ketaatan sosok remaja yang saleh, Isma’il ‘alahis salamUlama berselisih pendapat tentang umur beliau saat peristiwa dimintai pendapat tentang mimpi bapaknya. Ada yang mengatakan 13 tahun dan ada pula yang berpendapat 7 tahun. Wallahu a’lam, pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran adalah 13 tahun.Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa tersebut:Pertama: Dalam seusia remaja SMP itu, ia sudah mengetahui bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu Allah yang tentunya hal itu adalah sebuah kebenaran dan mengandung perintah-Nya. Oleh karena itu, ia mengatakan,يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.” Hal ini mengisyaratkan bahwa bapaknya telah berhasil mendidik putranya dengan pendidikan keimanan dan pengetahuan diniyah (agama) yang bagus.Kedua: Bukan hanya itu, namun Allah mudahkan ayahnya dalam mendidik mental putranya, sehingga menjadi sosok remaja yang tahan banting dalam bentuk bersabar melaksanakan perintah yang sangat berat. Jangankan remaja, orangtua pun pada umumnya tidak sanggup memikulnya. Bukan hanya itu, anak saleh Isma’il juga terdidik rela berkorban, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun.Dengan tegarnya remaja saleh Isma’il merespon ayahandanya,قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”Jika kita ingin mendapatkan generasi yang tahan banting, maka janganlah hanya memikirkan sisi fisik pendidikan anak, namun juga perhatian yang besar dan proposional terhadap tarbiyah imaniyah ruh spiritual. Karena berapa banyak anak yang disekolahkan di lembaga pendidikan (sekolah, pondok, atau universitas) berfasilitas mewah, semewah hotel yang kokoh menjulang tinggi. Namun sayangnya, banyak mental spiritual output (luaran) lulusannya tidak sekokoh bangunan sekolahnya, bahkan iman, ilmu, dan amalnya masih rapuh.Ini bisa jadi menandakan perhatian pengembangan fisik dan profit (bisnis pendidikan), serta hal-hal yang sifatnya aksesoris lebih besar dibandingkan dengan perhatian terhadap mutu pendidikan, baik dari sisi ilmiyah, amaliyah, maupun imaniyah.Ketiga: Cara Khalilullah Ibrahim ‘alahis salam membangun komunikasi dengan putra remajanya adalah dengan memposisikan putranya sebagai teman akrab dan menggunakan cara dialogis untuk mengkondisikan agar ia siap menerima perintah Allah yang sangat berat, bukan hanya di luar kemampuan rata-rata remaja seusianya, bahkan di luar kemampuan rata-rata manusia!Jika kita ingin melahirkan generasi yang cerdas dan pemberani, maka pupuklah suasana dialogis dan musyawarah serta dudukkan mereka sebagai teman. Ketika usia remaja, psikologis mereka akan menerima perlakuan tersebut sebagai bentuk pengakuan jati diri dan kedewasaan serta pemuliaan yang menggali kecerdasan dan keberaniannya. Di usia tersebut, mereka sangat berkeinginan menampakkan potensi dirinya. Sehingga jika banyak dipaksa, maka dikhawatirkan akan memberontak.Baca Juga:Salah Kaprah Kisah Pelacur yang Masuk SurgaKisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Misteri Segitiga Bermuda Dalam Al Quran, Hadist Tentang Narkoba, Cross Hijabers Adalah, Pengertian DabbahTags: adabAkhlakAqidahkisah nabikisah nabi Ibrahimkisah nabi ismailkisah teladannasihatnasihat islamsirah nabiTauhid

Induk Semua Kitab Hadis – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis-hadis ini yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis ini riwayatnya berporos pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra. Hal ini karena sebagian besar hadis yang dibutuhkan dalam pembahasan-pembahasan agama kembali kepada kitab-kitab ini. Bahkan Abul Faraj Ibnu Rajab—semoga Allah merahmatinya—mengatakan dalam risalahnya yang membantah orang yang keluar dari lingkup Empat Mazhab, bahwa hadis-hadis yang dibutuhkan dalam bab-bab ilmu agama tidak akan keluar dari Kutubus Sittah (Enam Kitab). Sungguh perkataannya—semoga Allah merahmatinya—benar, karena hanya sedikit hadis yang tidak ada dalam Kutubus Sittah. Sekalipun itu ada,| namun asalnya ada di dalamnya (Kutubus Sittah). Jadi, hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab Ahmad, ad-Daruquthni, atau Baihaqi adalah tambahan dan pelengkap, di mana asalnya, yang merupakan dasar-dasar masalah agama, terdapat dalam Kutubus Sittah. Masalah ini serupa dengan masalah yang menyebutkan bahwa qiraah yang diterima tidak akan keluar dari Sepuluh Qiraah atau bahwa hukum-hukum yang terkait dengan amalan perbuatan tidak akan keluar dari Empat Mazhab. Ini adalah kaidah ilmu yang sudah dikenal. Oleh sebab itu, seseorang harus memberikan perhatian pada Kutubus Sittah sebelum yang lainnya, dan tidak menyibukkan diri dengan kitab hadis lain, kecuali sebagai sumber sekunder. Adapun sebaik-baik kitab hadis yang dipelajari setelah Kutubus Sittah adalah Musnad Imam Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra, karena sungguh tiga kitab ini berisi hadis-hadis yang menjelaskan permasalahan yang asasnya sudah disebutkan dalam Kutubus Sittah, maka jika kitab ini menyebut suatu asas tersendiri, maka besar kemungkinan status hadisnya adalah lemah. Ini adalah kaidah umum yang mungkin akan ada beberapa pengecualian yang keluar dari kaidah ini, akan tetapi masalah yang aneh dan jarang tidak akan merusak kaidah, sebagaimana hal itu telah dikenal di tengah ulama Ushul Fikih dan fukaha. ===== ثُمَّ ذَكَرَ أَسَانِيْدَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ مَرْوِيَّةً مِنَ الْكُتُبِ الْمُسَمَّاةِ وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ تَدُورُ رِوَايَتُهَا عَلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَصَحِيحِ مُسْلِمٍ وَسُنَنِ أَبِي دَاوُودَ وَسُنَنِ التِّرْمِذِيِّ وَسُنَنِ النَّسَائِيِّ وَسُنَنِ ابْنِ مَاجَه وَمُسْنَدِ أَحْمَدَ وَسُنَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى لِأَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ تَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الْكُتُبِ بَلْ ذَكَرَ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي رِسَالَتِهِ فِي رَدِّ عَلَى مَنْ خَرَجَ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَصَدَقَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَإِنَّهُ قَلَّ أَنْ يَخْرُجَ شَيْءٌ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِنْ وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ أَصْلَهُ يَكُونُ فِيهَا وَيَكُونُ الْحَدِيثُ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ أَحْمَدَ أَوِ الدَّارَقُطْنِيِّ أَوِ الْبَيْهَقِيِّ زَائِدًا زِيَادَةً يَكُونُ أَصْلُهَا الَّذِي بُنِيَتْ عَلَيْهِ فِي الدِّينِ مَوْجُودًا فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَهَذَا نَظِيرُ مَا يُذْكَرُ مِنْ أَنَّ قِرَاءَاتٍ مَقْبُولَةً لَا تَخْرُجُ عَنِ الْعَشَرَةِ أَوْ أَنَّ الْأَحْكَامَ الَّتِي جَرَى بِهَا الْعَمَلُ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ فَهَذَا مِنْ قَوَاعِدِ الْعِلْمِ الْمُطَّرِدَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ الْإِنْسَانُ بِالْكُتُبِ السِّتَّةِ دُونَ غَيْرِهَا وَلَا يَكُونُ اشْتِغَالُهُ بِغَيْرِهَا إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّبَعِ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يَشْتَغِلُ بِهِ بَعْدَ الْكُتُبِ السِّتَّةِ مُسْنَدُ إِمَامِ أَحْمَدَ وَسُنَنُ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنُ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى فَإِنَّ هَذِهِ الْكُتُبَ الثَّلَاثَةَ تَشْتَمِلُ عَلَى أَحَادِيثَ مِنَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي تُبَيِّنُ مَا يُذْكَرُ أُصُولُهُ فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِذَا اسْتَقَلَّتْ بِأَصْلٍ مُنْفَرِدٍ فَالْغَالِبُ عَلَيْهِ الضَّعْفُ هَذِهِ الْقَاعِدَةُ الْغَالِبَةُ وَرُبَّمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ يَخْرُجُ عَنِ الْقَاعِدَةِ وَالشَّاذُّ وَالنَّادِرُ لَا يُخِلُّ بِالْقَاعِدَةِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ الْأُصُوْلِيِّيْنَ وَالْفُقَهَاءِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Induk Semua Kitab Hadis – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis-hadis ini yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis ini riwayatnya berporos pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra. Hal ini karena sebagian besar hadis yang dibutuhkan dalam pembahasan-pembahasan agama kembali kepada kitab-kitab ini. Bahkan Abul Faraj Ibnu Rajab—semoga Allah merahmatinya—mengatakan dalam risalahnya yang membantah orang yang keluar dari lingkup Empat Mazhab, bahwa hadis-hadis yang dibutuhkan dalam bab-bab ilmu agama tidak akan keluar dari Kutubus Sittah (Enam Kitab). Sungguh perkataannya—semoga Allah merahmatinya—benar, karena hanya sedikit hadis yang tidak ada dalam Kutubus Sittah. Sekalipun itu ada,| namun asalnya ada di dalamnya (Kutubus Sittah). Jadi, hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab Ahmad, ad-Daruquthni, atau Baihaqi adalah tambahan dan pelengkap, di mana asalnya, yang merupakan dasar-dasar masalah agama, terdapat dalam Kutubus Sittah. Masalah ini serupa dengan masalah yang menyebutkan bahwa qiraah yang diterima tidak akan keluar dari Sepuluh Qiraah atau bahwa hukum-hukum yang terkait dengan amalan perbuatan tidak akan keluar dari Empat Mazhab. Ini adalah kaidah ilmu yang sudah dikenal. Oleh sebab itu, seseorang harus memberikan perhatian pada Kutubus Sittah sebelum yang lainnya, dan tidak menyibukkan diri dengan kitab hadis lain, kecuali sebagai sumber sekunder. Adapun sebaik-baik kitab hadis yang dipelajari setelah Kutubus Sittah adalah Musnad Imam Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra, karena sungguh tiga kitab ini berisi hadis-hadis yang menjelaskan permasalahan yang asasnya sudah disebutkan dalam Kutubus Sittah, maka jika kitab ini menyebut suatu asas tersendiri, maka besar kemungkinan status hadisnya adalah lemah. Ini adalah kaidah umum yang mungkin akan ada beberapa pengecualian yang keluar dari kaidah ini, akan tetapi masalah yang aneh dan jarang tidak akan merusak kaidah, sebagaimana hal itu telah dikenal di tengah ulama Ushul Fikih dan fukaha. ===== ثُمَّ ذَكَرَ أَسَانِيْدَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ مَرْوِيَّةً مِنَ الْكُتُبِ الْمُسَمَّاةِ وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ تَدُورُ رِوَايَتُهَا عَلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَصَحِيحِ مُسْلِمٍ وَسُنَنِ أَبِي دَاوُودَ وَسُنَنِ التِّرْمِذِيِّ وَسُنَنِ النَّسَائِيِّ وَسُنَنِ ابْنِ مَاجَه وَمُسْنَدِ أَحْمَدَ وَسُنَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى لِأَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ تَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الْكُتُبِ بَلْ ذَكَرَ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي رِسَالَتِهِ فِي رَدِّ عَلَى مَنْ خَرَجَ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَصَدَقَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَإِنَّهُ قَلَّ أَنْ يَخْرُجَ شَيْءٌ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِنْ وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ أَصْلَهُ يَكُونُ فِيهَا وَيَكُونُ الْحَدِيثُ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ أَحْمَدَ أَوِ الدَّارَقُطْنِيِّ أَوِ الْبَيْهَقِيِّ زَائِدًا زِيَادَةً يَكُونُ أَصْلُهَا الَّذِي بُنِيَتْ عَلَيْهِ فِي الدِّينِ مَوْجُودًا فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَهَذَا نَظِيرُ مَا يُذْكَرُ مِنْ أَنَّ قِرَاءَاتٍ مَقْبُولَةً لَا تَخْرُجُ عَنِ الْعَشَرَةِ أَوْ أَنَّ الْأَحْكَامَ الَّتِي جَرَى بِهَا الْعَمَلُ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ فَهَذَا مِنْ قَوَاعِدِ الْعِلْمِ الْمُطَّرِدَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ الْإِنْسَانُ بِالْكُتُبِ السِّتَّةِ دُونَ غَيْرِهَا وَلَا يَكُونُ اشْتِغَالُهُ بِغَيْرِهَا إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّبَعِ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يَشْتَغِلُ بِهِ بَعْدَ الْكُتُبِ السِّتَّةِ مُسْنَدُ إِمَامِ أَحْمَدَ وَسُنَنُ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنُ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى فَإِنَّ هَذِهِ الْكُتُبَ الثَّلَاثَةَ تَشْتَمِلُ عَلَى أَحَادِيثَ مِنَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي تُبَيِّنُ مَا يُذْكَرُ أُصُولُهُ فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِذَا اسْتَقَلَّتْ بِأَصْلٍ مُنْفَرِدٍ فَالْغَالِبُ عَلَيْهِ الضَّعْفُ هَذِهِ الْقَاعِدَةُ الْغَالِبَةُ وَرُبَّمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ يَخْرُجُ عَنِ الْقَاعِدَةِ وَالشَّاذُّ وَالنَّادِرُ لَا يُخِلُّ بِالْقَاعِدَةِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ الْأُصُوْلِيِّيْنَ وَالْفُقَهَاءِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis-hadis ini yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis ini riwayatnya berporos pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra. Hal ini karena sebagian besar hadis yang dibutuhkan dalam pembahasan-pembahasan agama kembali kepada kitab-kitab ini. Bahkan Abul Faraj Ibnu Rajab—semoga Allah merahmatinya—mengatakan dalam risalahnya yang membantah orang yang keluar dari lingkup Empat Mazhab, bahwa hadis-hadis yang dibutuhkan dalam bab-bab ilmu agama tidak akan keluar dari Kutubus Sittah (Enam Kitab). Sungguh perkataannya—semoga Allah merahmatinya—benar, karena hanya sedikit hadis yang tidak ada dalam Kutubus Sittah. Sekalipun itu ada,| namun asalnya ada di dalamnya (Kutubus Sittah). Jadi, hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab Ahmad, ad-Daruquthni, atau Baihaqi adalah tambahan dan pelengkap, di mana asalnya, yang merupakan dasar-dasar masalah agama, terdapat dalam Kutubus Sittah. Masalah ini serupa dengan masalah yang menyebutkan bahwa qiraah yang diterima tidak akan keluar dari Sepuluh Qiraah atau bahwa hukum-hukum yang terkait dengan amalan perbuatan tidak akan keluar dari Empat Mazhab. Ini adalah kaidah ilmu yang sudah dikenal. Oleh sebab itu, seseorang harus memberikan perhatian pada Kutubus Sittah sebelum yang lainnya, dan tidak menyibukkan diri dengan kitab hadis lain, kecuali sebagai sumber sekunder. Adapun sebaik-baik kitab hadis yang dipelajari setelah Kutubus Sittah adalah Musnad Imam Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra, karena sungguh tiga kitab ini berisi hadis-hadis yang menjelaskan permasalahan yang asasnya sudah disebutkan dalam Kutubus Sittah, maka jika kitab ini menyebut suatu asas tersendiri, maka besar kemungkinan status hadisnya adalah lemah. Ini adalah kaidah umum yang mungkin akan ada beberapa pengecualian yang keluar dari kaidah ini, akan tetapi masalah yang aneh dan jarang tidak akan merusak kaidah, sebagaimana hal itu telah dikenal di tengah ulama Ushul Fikih dan fukaha. ===== ثُمَّ ذَكَرَ أَسَانِيْدَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ مَرْوِيَّةً مِنَ الْكُتُبِ الْمُسَمَّاةِ وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ تَدُورُ رِوَايَتُهَا عَلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَصَحِيحِ مُسْلِمٍ وَسُنَنِ أَبِي دَاوُودَ وَسُنَنِ التِّرْمِذِيِّ وَسُنَنِ النَّسَائِيِّ وَسُنَنِ ابْنِ مَاجَه وَمُسْنَدِ أَحْمَدَ وَسُنَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى لِأَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ تَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الْكُتُبِ بَلْ ذَكَرَ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي رِسَالَتِهِ فِي رَدِّ عَلَى مَنْ خَرَجَ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَصَدَقَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَإِنَّهُ قَلَّ أَنْ يَخْرُجَ شَيْءٌ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِنْ وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ أَصْلَهُ يَكُونُ فِيهَا وَيَكُونُ الْحَدِيثُ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ أَحْمَدَ أَوِ الدَّارَقُطْنِيِّ أَوِ الْبَيْهَقِيِّ زَائِدًا زِيَادَةً يَكُونُ أَصْلُهَا الَّذِي بُنِيَتْ عَلَيْهِ فِي الدِّينِ مَوْجُودًا فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَهَذَا نَظِيرُ مَا يُذْكَرُ مِنْ أَنَّ قِرَاءَاتٍ مَقْبُولَةً لَا تَخْرُجُ عَنِ الْعَشَرَةِ أَوْ أَنَّ الْأَحْكَامَ الَّتِي جَرَى بِهَا الْعَمَلُ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ فَهَذَا مِنْ قَوَاعِدِ الْعِلْمِ الْمُطَّرِدَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ الْإِنْسَانُ بِالْكُتُبِ السِّتَّةِ دُونَ غَيْرِهَا وَلَا يَكُونُ اشْتِغَالُهُ بِغَيْرِهَا إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّبَعِ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يَشْتَغِلُ بِهِ بَعْدَ الْكُتُبِ السِّتَّةِ مُسْنَدُ إِمَامِ أَحْمَدَ وَسُنَنُ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنُ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى فَإِنَّ هَذِهِ الْكُتُبَ الثَّلَاثَةَ تَشْتَمِلُ عَلَى أَحَادِيثَ مِنَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي تُبَيِّنُ مَا يُذْكَرُ أُصُولُهُ فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِذَا اسْتَقَلَّتْ بِأَصْلٍ مُنْفَرِدٍ فَالْغَالِبُ عَلَيْهِ الضَّعْفُ هَذِهِ الْقَاعِدَةُ الْغَالِبَةُ وَرُبَّمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ يَخْرُجُ عَنِ الْقَاعِدَةِ وَالشَّاذُّ وَالنَّادِرُ لَا يُخِلُّ بِالْقَاعِدَةِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ الْأُصُوْلِيِّيْنَ وَالْفُقَهَاءِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis-hadis ini yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis ini riwayatnya berporos pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra. Hal ini karena sebagian besar hadis yang dibutuhkan dalam pembahasan-pembahasan agama kembali kepada kitab-kitab ini. Bahkan Abul Faraj Ibnu Rajab—semoga Allah merahmatinya—mengatakan dalam risalahnya yang membantah orang yang keluar dari lingkup Empat Mazhab, bahwa hadis-hadis yang dibutuhkan dalam bab-bab ilmu agama tidak akan keluar dari Kutubus Sittah (Enam Kitab). Sungguh perkataannya—semoga Allah merahmatinya—benar, karena hanya sedikit hadis yang tidak ada dalam Kutubus Sittah. Sekalipun itu ada,| namun asalnya ada di dalamnya (Kutubus Sittah). Jadi, hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab Ahmad, ad-Daruquthni, atau Baihaqi adalah tambahan dan pelengkap, di mana asalnya, yang merupakan dasar-dasar masalah agama, terdapat dalam Kutubus Sittah. Masalah ini serupa dengan masalah yang menyebutkan bahwa qiraah yang diterima tidak akan keluar dari Sepuluh Qiraah atau bahwa hukum-hukum yang terkait dengan amalan perbuatan tidak akan keluar dari Empat Mazhab. Ini adalah kaidah ilmu yang sudah dikenal. Oleh sebab itu, seseorang harus memberikan perhatian pada Kutubus Sittah sebelum yang lainnya, dan tidak menyibukkan diri dengan kitab hadis lain, kecuali sebagai sumber sekunder. Adapun sebaik-baik kitab hadis yang dipelajari setelah Kutubus Sittah adalah Musnad Imam Ahmad, Sunan ad-Daruquthni, dan Sunan Baihaqi al-Kubra, karena sungguh tiga kitab ini berisi hadis-hadis yang menjelaskan permasalahan yang asasnya sudah disebutkan dalam Kutubus Sittah, maka jika kitab ini menyebut suatu asas tersendiri, maka besar kemungkinan status hadisnya adalah lemah. Ini adalah kaidah umum yang mungkin akan ada beberapa pengecualian yang keluar dari kaidah ini, akan tetapi masalah yang aneh dan jarang tidak akan merusak kaidah, sebagaimana hal itu telah dikenal di tengah ulama Ushul Fikih dan fukaha. ===== ثُمَّ ذَكَرَ أَسَانِيْدَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ مَرْوِيَّةً مِنَ الْكُتُبِ الْمُسَمَّاةِ وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ تَدُورُ رِوَايَتُهَا عَلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَصَحِيحِ مُسْلِمٍ وَسُنَنِ أَبِي دَاوُودَ وَسُنَنِ التِّرْمِذِيِّ وَسُنَنِ النَّسَائِيِّ وَسُنَنِ ابْنِ مَاجَه وَمُسْنَدِ أَحْمَدَ وَسُنَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى لِأَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ تَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الْكُتُبِ بَلْ ذَكَرَ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي رِسَالَتِهِ فِي رَدِّ عَلَى مَنْ خَرَجَ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَصَدَقَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فَإِنَّهُ قَلَّ أَنْ يَخْرُجَ شَيْءٌ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِنْ وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ أَصْلَهُ يَكُونُ فِيهَا وَيَكُونُ الْحَدِيثُ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ أَحْمَدَ أَوِ الدَّارَقُطْنِيِّ أَوِ الْبَيْهَقِيِّ زَائِدًا زِيَادَةً يَكُونُ أَصْلُهَا الَّذِي بُنِيَتْ عَلَيْهِ فِي الدِّينِ مَوْجُودًا فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَهَذَا نَظِيرُ مَا يُذْكَرُ مِنْ أَنَّ قِرَاءَاتٍ مَقْبُولَةً لَا تَخْرُجُ عَنِ الْعَشَرَةِ أَوْ أَنَّ الْأَحْكَامَ الَّتِي جَرَى بِهَا الْعَمَلُ لَا تَخْرُجُ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ فَهَذَا مِنْ قَوَاعِدِ الْعِلْمِ الْمُطَّرِدَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ الْإِنْسَانُ بِالْكُتُبِ السِّتَّةِ دُونَ غَيْرِهَا وَلَا يَكُونُ اشْتِغَالُهُ بِغَيْرِهَا إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّبَعِ وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يَشْتَغِلُ بِهِ بَعْدَ الْكُتُبِ السِّتَّةِ مُسْنَدُ إِمَامِ أَحْمَدَ وَسُنَنُ الدَّارَقُطْنِيِّ وَسُنَنُ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى فَإِنَّ هَذِهِ الْكُتُبَ الثَّلَاثَةَ تَشْتَمِلُ عَلَى أَحَادِيثَ مِنَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي تُبَيِّنُ مَا يُذْكَرُ أُصُولُهُ فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ وَإِذَا اسْتَقَلَّتْ بِأَصْلٍ مُنْفَرِدٍ فَالْغَالِبُ عَلَيْهِ الضَّعْفُ هَذِهِ الْقَاعِدَةُ الْغَالِبَةُ وَرُبَّمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ يَخْرُجُ عَنِ الْقَاعِدَةِ وَالشَّاذُّ وَالنَّادِرُ لَا يُخِلُّ بِالْقَاعِدَةِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ الْأُصُوْلِيِّيْنَ وَالْفُقَهَاءِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next