“Beragama Itu yang Biasa-Biasa Saja”

Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama

“Beragama Itu yang Biasa-Biasa Saja”

Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama
Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama


Daftar Isi Toggle Kemungkinan maksud “beragama secara biasa”Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam iniPertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariatKedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasaSebab kemunculan ucapan semacam iniKesimpulan Salah satu ucapan yang sering terdengar ketika sedang membahas topik agama adalah “beragama itu biasa saja”, “beragama yang normal saja”, “beragama sesuai tabiat manusia”, dan lain sebagainya. Seringkali, ucapan seperti ini terlontar untuk menjustifikasi atau menganggap benar suatu perbuatan, atau mencela suatu perilaku dan menjelaskan letak kekeliruannya. Untuk itu, mari kita bedah ucapan ini dan kita tinjau ulang konsep beragama secara biasa ini. Apa maksud dari konsep beragama secara biasa? Meski ucapan seperti ini sering terdengar, tetapi hampir tidak pernah bisa kita dapati ada yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga, atas dasar apa sesuatu itu disebut sebagai perilaku beragama biasa? Atau suatu perilaku keluar dari standar beragama biasa? Terlebih, jika ucapan tersebut menjadi suatu patokan atau kaidah menilai suatu perbuatan. Sehingga, ucapan itu bukan sekadar kata-kata atau istilah, tetapi berubah menjadi standar yang digunakan masyarakat untuk menghakimi suatu hal. Orang-orang pun dapat menolak, menerima, menyukai, dan memperbolehkan sesuatu berdasarkan sifat “biasa”, “normal”, dan “sesuai tabiat manusia”. Maka, sebelum kita menjadikan ucapan semacam itu sebagai sebuah dalil pembenaran, mari berpikir sejenak, “Dasar apa yang dipakai untuk menilai sesuatu itu biasa, normal, sesuai tabiat manusia?” Sayangnya, pertanyaan demikian tidak pernah terlintas di benak “mereka” yang biasa menggunakannya. Padahal, ucapan semacam itu sering digunakan untuk menganggap benar suatu opini atau perilaku dan menolak perintah agama. Hal seperti ini merupakan suatu bentuk ketidakilmiahan dalam bersikap. Alih-alih menelusuri ucapan-ucapan semacam itu, lalu ia analisis dan kembalikan kepada kaidah dan usul syariat, malah ucapan itulah yang menjadi kaidah untuk menghakimi kaidah dan usul syariat. Kemungkinan maksud “beragama secara biasa” Jika dikatakan pola beragama tertentu adalah biasa atau normal, bisa jadi maknanya beragama yang pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menambah-nambah hukum syariat. Normal, biasa, dan sesuai fitrah manusia. Maknanya, ia sesuai dengan dalil-dalil syariat, tidak terpengaruh faktor-faktor baru yang melenceng dari agama. Sehingga, maksud pengucap adalah membedakan antara beragama yang terpengaruh dengan faktor tertentu dan beragama yang sesungguhnya, yaitu yang sesuai syariat dan bebas dari pengaruh eksternal. Yang demikian, berarti maksud pengucap adalah kembali ke beragama yang sesuai syariat. Berdasarkan maksud tersebut, maka beragama secara biasa dan normal hakikatnya adalah beragama mengikuti syariat dan tidak menyelisihi hukum syariat. Jika maksudnya demikian, maka itu adalah maksud yang sangat bagus. Sebab, berisi penekanan terhadap kaidah manhaj yang sangat penting, yaitu kembali kepada dalil-dalil di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Hanya saja, ada suatu keganjilan dalam penamaan istilah beragama secara biasa, normal, dan sesuai tabiat manusia. Sebab, penamaan tersebut memiliki ambiguitas dan kerancuan makna. Sehingga, hal yang perlu diperhatikan betul di sini adalah penekanan bahwasanya wajib bagi yang menggunakan istilah seperti ini agar menjadikan kritik yang ia tujukan kepada suatu pemikiran atau suatu pendapat yang dibangun di atas status pemikiran atau pendapat itu, apakah menyelisihi syariat atau tidak; dan juga ia harus memiliki niat yang tulus untuk mengajak manusia kembali ke syariat agama Islam. Syarat agar seseorang bisa menggunakan kalimat semacam ini Agar seseorang tepat dalam menggunakan istilah semacam ini, maka harus memperhatikan dua hal ini: Pertama: Orang yang mengucapkan harus benar-benar memastikan ajakannya adalah benar-benar bagian dari syariat Sehingga, ia tidak memberikan ilusi seolah ia mengajak kepada syariat, padahal bukan dari syariat. Sehingga, ia memasukkan unsur-unsur adat, budaya, atau konstruksi sosial ke dalam agama, dengan sangkaan hal-hal tersebut bagian dari agama. Namun, hal ini bukan berarti adat atau kebiasaan disingkirkan secara mutlak. Akan tetapi, tidak dibenarkan seseorang mengangkatnya ke level hukum syariat, lalu ia ajak orang lain melakukan adat itu, karena menganggapnya bagian dari hukum syariat Islam. Kedua: Orang yang mengucapkan tidak mengajak kepada hal yang menyelisihi syariat dengan klaim beragama secara biasa Jika ajakan beragama secara biasa menyelisihi syariat atau menolak sesuatu yang diperintahkan syariat, maka tidak boleh mengklaim beragama secara biasa dengan maksud beragama mengikuti syariat. Karena, hakikatnya ia mengajak orang lain melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat. Contoh: Beberapa orang menolak atau menganggap enteng kewajiban mengenakan hijab, menjaga salat lima waktu di masjid, dan menjaga amalan-amalan sunah dengan klaim hal-hal itu terlalu fanatik dan berlebihan. Sebab, bagi dia “beragama itu yang biasa-biasa saja.” Jika seperti itu, maka klaim beragama yang biasa hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dengan memahami dua hal di atas, kita akan memahami celah kekeliruan dari ucapan-ucapan semacam itu. Sebab, bagi pengucapnya, memenuhi hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram adalah tanda-tanda beragama yang fanatik, berlebihan, atau ekstrim. Kemudian, apabila kita dakwahi si empunya ucapan, dia mengelak, “Jadi orang jangan baper, santai aja ngomongin urusan begini.” Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Sebab kemunculan ucapan semacam ini Pola pikir semacam ini muncul ketika beragama secara biasa ala mereka didasari hal-hal yang biasa mereka lakukan atau perilaku-perilaku yang tersebar di masyarakat. Maka, apabila seseorang terbiasa bertransaksi ribawi, menganggap enteng menutup aurat, terlalu “toleran” dalam masalah menundukkan pandangan, bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, mendengarkan musik, maka standar normal bagi dia tidaklah patut dinormalisasi. Kita harus tetap menganggap hal-hal tersebut sebagai hal yang serius. Sebab, hukum Allah tidak mengalami pembaruan. Tidak pula menghalalkan yang haram hanya karena alasan sudah menjadi budaya yang tersebar. Demikianlah, Allah Ta’ala sudah memperingatkan, وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An‘ām: 116) Sehingga, menganggap suatu pola beragama tertentu sebagai berlebihan karena menyelisihi kebiasaan masyarakat adalah anggapan yang keliru. Sebab, Allah sendirilah yang telah memberi tahu bahwa mayoritas manusia di muka bumi tidak berada di atas kebenaran. Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata ketika menjelaskan standar kebenaran, mana yang harusnya menjadi patokan, كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ ﷺ “Setiap orang ucapannya dapat diterima atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah).” [1] Di dalam Ensiklopedia Akidah (Al-Mawsū‘ah Al-‘Aqā’idiyyah) dorar.net, juga dijelaskan bahwa salah satu kaidah dalam mengetahui kebenaran adalah الحقُّ ما وافق الدَّليلَ من غيرِ التفاتٍ إلى كثرةِ المُقبِلينَ، أو قِلَّة المعرِضينَ؛ فالحَقُّ لا يوزَن بالرِّجالِ، وإنَّما يوزَن الرِّجالُ بالحَقِّ، ومجرَّدُ نُفورِ النَّافِرينَ، أو محبَّةُ الموافِقينَ لا يدُلُّ على صِحَّةِ قَولٍ أو فسادِه. “Kebenaran dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan dalil, bukan banyaknya orang yang menerima atau sedikitnya orang yang menolak. Sebab, kebenaran tidak ditimbang berdasarkan opini seseorang. Akan tetapi, opini seseorang yang perlu ditimbang dengan kebenaran. Ketiadaan orang yang menerima kebenaran atau cintanya orang-orang “munafik” terhadap suatu hal, tidak membuat suatu ucapan menjadi benar atau salah.” [2] Kesimpulan Jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita sebagai pijakan dalam menilai suatu perbuatan. Sehingga, sesuatu yang memang bagian dari ajaran Islam disebut fanatik atau berlebihan. Apalagi, jika ucapan tersebut terlontar ketika melihat teman atau saudaranya mulai berhijrah memperbaiki dirinya dengan menjalankan syariat Islam dan mempelajari agama dengan serius. Kepada orang-orang demikian, kami katakan sebagaimana yang Allah firmankan, أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ أَمْ لَكُمْ كِتَـٰبٌۭ فِيهِ تَدْرُسُونَ إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ “Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang (menjalankan syariat) Islam itu seperti orang-orang berdosa? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian membuat keputusan? Atau apakah kalian mempunyai kitab yang kalian baca? Sehingga kalian bisa memiliki apa pun yang kalian pilih?” (QS. Al-Qalam: 35-38) Sehingga, sikap yang tepat manakala melihat seseorang yang rajin beribadah dan menuntut ilmu adalah: Pertama: Berusaha menjadi sepertinya Kedua: Apabila tidak mampu, maka berdoa agar menjadi sepertinya Ketiga: Apabila masih tidak mampu, maka paling tidak jangan nyinyir atau merendahkannya dengan berucap, “Beragama yang biasa-biasa saja to.” Sebab, kalau sudah berani mengucapkan perkataan seperti itu, maka bisa dipastikan, si empunya ucapan tidak mempunyai penghormatan terhadap ajaran Islam atau kurang ilmu, tetapi tidak berusaha mencerdaskan diri, sehingga menjadi angkuh dengan sedikit ilmu yang ia miliki. Maka, jadilah orang yang rendah hati seperti yang dikatakan Imam Syafi‘i rahimahullah, أحب الصالحين ولست منهم لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه “Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku bukan bagian dari mereka. Semoga dengan membersamai mereka, aku mendapat syafaat.” [3] Baca juga: Kesombongan Menghalangi Hidayah *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Diintisarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul pada Bab 30 dengan judul Al-Tadayyun Al-Ṭabī‘i dengan beberapa tambahan.   Catatan kaki: [1] As-Sakhāwi. 1985. Al-Maqāṣid Al-Hasanah fī Bayāni Kaṣīrin min Al-Ahādīṣ Al-Musytahirah ’alā Al-Alsinah. Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabi. Hlm. 513 [2] https://dorar.net/aqeeda/149/المبحث-الخامس-من-قواعد-الرد-على-المخالفين-الحق-لا-يعرف-بالرجال،-فإذا-عرف-الحق-عرف-أهله [3] https://www.aldiwan.net/poem24674.html Tags: cara beragama

Menyambut Ramadan, Bulan Penuh Kebaikan

Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan

Menyambut Ramadan, Bulan Penuh Kebaikan

Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan
Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan


Daftar Isi Toggle Satu dua hari menjelang RamadanMenentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilalApabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnyaTidak boleh puasa pada hari yang diragukanBerpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam dikunci, dan setan-setan dirantai.” (Muttafaq ‘alaih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu, setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis dinyatakan jayyid oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat.) Satu dua hari menjelang Ramadan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu, maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih) Hadis ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunah (misal, senin-kamis atau puasa Daud) kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya utang puasa Ramadan atau punya nazar puasa. (lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, hal. 166) Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini secara lahiriah mengandung makna pengharaman. Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah Ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadan atau puasa nazar, maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya, akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu, dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh. (lihat Taudhih Al-Ahkam, 3:442, cet. Maktabah Al-Aidi) Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunah muthlaq (puasa sunah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut. (lihat Fath Al-Bari, 4: 151, cet. Dar Al-Hadits) Menentukan masuknya bulan Ramadan dengan melihat hilal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian, maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih) Al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqaha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ‘maka kira-kirakanlah’ dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadis yang lain. Mereka mengatakan, ‘Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu, niscaya akan menyulitkan bagi mereka. Sebab, tidak ada yang mengetahuinya, kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syariat itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang di antara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim, 4: 415) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan, ‘Maksud sabda beliau ‘kira-kirakanlah’ artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka, sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadis adalah dengan melihat kepada hadis pula.” (lihat Fath Al-Bari, 4: 142) Baca juga: Menyoal Metode Hisab Apabila hilal tidak tampak karena tertutup awan atau semacamnya Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya (hilal Ramadan) dan berharirayalah ketika sudah melihatnya (hilal Syawal). Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih) Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadis-hadis ini, jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhu, ‘Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar Al-‘Aqidah) Tidak boleh puasa pada hari yang diragukan Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu, tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent), maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”) Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabiin sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Al-Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan….” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 172) Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya. Oleh sebab itu, hadis ini dihukumi marfu’ (sebagaimana sabda nabi).” (lihat Fath Al-Bari, 4: 141) Berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan Iduladha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syekh Al-Albani) Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadis ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan At-Tirmidzi, hal. 174) Dari Al-‘Aizar, dia menceritakan, “Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka, dia berkata, ‘Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa, kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no.9585) Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin Asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan, Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata, “Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ Maka, beliau berkata kepada pembantunya, ‘Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?'” Dia berkata, “Pada saat itu, yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, ‘Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.’ Asma’ berkata, ‘Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan, lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.’” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf) Semoga bermanfaat. Baca juga: Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyambut ramadan

Teks Khotbah Jumat: 5 Bukti Kecintaan kepada Nabi Muhammad

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul

Teks Khotbah Jumat: 5 Bukti Kecintaan kepada Nabi Muhammad

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul
Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul


Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaKhotbah kedua Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala. Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang paling dicintainya, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6) Hanya saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya. Yang pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Mencintai Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31) Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau. Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Mereka yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100) Di antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah yang telah beliau ajarkan. Ketiga, Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda, أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408) Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759) Hanya saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13) Di dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699) Oleh karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah bernilai apa-apa. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang Khotbah kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun harus dengan pengorbanan harta dan keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ “Di antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832) Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an. Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50) Mereka membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda, إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676) Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan dan kerinduan. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: cinta nabicinta rasul

Teks Khotbah Jumat: Ramadan Sudah Dekat, Apakah Anda Sudah Siap Menyambutnya?

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan

Teks Khotbah Jumat: Ramadan Sudah Dekat, Apakah Anda Sudah Siap Menyambutnya?

Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan
Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan


Daftar Isi Toggle Khotbah pertamaDua golongan yang saling bertolak belakangBulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara?Inilah kiat menyambut bulan Ramadan!Kiat sebelum masuk RamadanKiat ketika berada di bulan RamadanKiat setelah bulan RamadanKhotbah kedua Khotbah pertama إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ محمَّد وعلى آله وصحبه أجمعين عباد الله اتقوا الله تعالى ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} Mari kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, karena Allah Ta’ala berfirman, يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah anda kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan beragama Islam.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Ramadan Syahrul Mubarok. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Tamu agung itu akan tiba, sudahkan kita siap menyambutnya? Akankah bulan Ramadan yang akan datang ini menjadi Ramadan terakhir kita? Bukankah banyak saudara-saudara kita seiman yang sekarang telah tiada dan tidak bisa lagi menjumpai bulan suci Ramadan, padahal mereka tahun kemarin masih merasakan indahnya bulan Ramadan? Dua golongan yang saling bertolak belakang Dalam hadis, ada dua golongan yang kontradiktif. Di antara dua golongan tersebut, termasuk ke dalam golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu? Golongan pertama, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan mengimani wajibnya puasa di bulan tersebut dan mengharap pahalanya, niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.” Sedangkan golongan kedua, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang salat, namun hanya mendapatkan begadang saja.” (HR. Imam Ahmad, sahih) Termasuk golongan manakah kita pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya? Dan akan termasuk golongan manakah kita pada Ramadan yang akan datang ini? Bulan Ramadan adalah bulan perlombaan kebaikan, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi pemenangnya dan bermental juara? Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Bulan Ramadan, selain merupakan bulan ampunan, bulan kesabaran, juga merupakan bulan perlombaan kebaikan. Karena dalam Al-Qur’an, hakikatnya Allah menamai aktifitas mengamalkan kebaikan itu dengan “perlombaan”. Sedangkan pada bulan Ramadan, terdapat berbagai macam amal kebaikan yang bisa kita lakukan, seperti puasa Ramadan, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, memberi makan buka puasa, beribadah saat lailatulqadar, dan lain-lain. InsyaAllah, kita semua akan berlomba mencari ampunan Allah dan surga-Nya pada bulan suci Ramadan, karena Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 21, سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Layaknya seseorang mengikuti sebuah perlombaan, maka butuh persiapan dan kiat-kiat untuk menjadi juara di bulan Ramadan. Bukankah seseorang jika ingin menjadi juara, maka dia jauh-jauh hari mempersiapkan dengan berlatih berkali-kali? Inilah kiat menyambut bulan Ramadan! Secara garis besar, kiat untuk memenangkan perlombaan kebaikan di bulan Ramadan ada tiga macam: Pertama: Kiat sebelum masuk Ramadan, Kedua: Kiat ketika di bulan Ramadan, dan Ketiga: Kiat pasca bulan Ramadan. Kiat sebelum masuk Ramadan Pertama: Memasang tekad kuat dengan keikhlasan hati untuk bisa melakukan seluruh perintah Allah dan menghindari perkara yang dilarang oleh-Nya. Dan tidaklah kita berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadan, kecuali demi mencari rida Allah dan pahala Allah. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat pertama diterimanya sebuah amal ibadah seseorang, yaitu ikhlas. Kedua: Mempersiapkan diri dengan mempelajari fikih Ramadan, bagaimana dulu tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain. Ini dilakukan agar terpenuhi syarat kedua diterimanya sebuah amal ibadah seseorang (yaitu, mutaba’atur rasul shallallahu ‘alaihis wasallam). Ketiga: Bertobat dari segala dosa, karena dosa itu menghalangi seseorang dari mendapatkan taufik Allah. Terutama bertobat dari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan mengugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. Keempat: Mempersiapkan diri kita dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah semata dengan semakin rajin salatnya (wajib maupun sunah), rajin membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal ini agar saat tiba Ramadan, kita sudah siap beribadah kepada Allah semata dengan terbaik. Kiat ketika berada di bulan Ramadan Pertama: Melaksanakan seluruh ibadah pada bulan Ramadan dengan ikhlas dan mutaba’ah agar diterima amal ibadah yang dilakukan dan terus memonitor keduanya selama melakukan peribadatan tersebut. Kedua: Menghindari hal-hal yang merusak ibadah kita di bulan Ramadan, seperti: menghindari riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan prestasi amal saleh, pembatal-pembatal puasa, dan menghindari seluruh maksiat dan dosa, terutama kesyirikan. Ketiga: Memprioritaskan amalan wajib, seperti: bertauhid, menghindari syirik, salat lima waktu, bertekad kuat berpuasa Ramadan sebulan penuh, zakat mal bagi yang wajib melaksanakannya, dan lain-lain. Keempat: Bersabar memenuhi syarat-syarat, adab-adab, sunah-sunah, wajib-wajib, dan rukun-rukun dari amal ibadah yang sedang kita lakukan. Kiat setelah bulan Ramadan Pertama: Bersyukur kepada Allah dan memuji Allah. Kedua: Memperbanyak istigfar kepada Allah atas dosa yang kita lakukan di bulan Ramadan. Ketiga: Bersabar menahan diri dari segala hal yang dapat merusak amal ibadah yang berhasil kita lakukan selama Ramadan, seperti riya’, sum’ah, ujub, menyombongkan amalan, dan mengungkit-ungkit kebaikan, serta menghindari syirik besar, karena syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menggugurkan seluruh amal ibadah pelakunya. أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Baca juga: Tidak Bersemangat Menyambut Ramadan Khotbah kedua الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، إقرارا به وتوحيدا ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما مزيدا ، أما بعد : أيها المؤمنون عباد الله : اتقوا الله تعالى ؛ فإن تقوى الله جل وعلا خير الزاد ، فقد قال الله تبارك وتعالى: {وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ} Allah Ta’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Hikmah berpuasa dalam ayat ini adalah agar kita bertakwa. Oleh karena itu, berpuasa yang sempurna itu bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Bahkan, puasa yang sempurna itu bukan hanya menghindarkan diri dari segala pembatal-pembatal puasa saja. Tidak! Berpuasa yang sempurna itu bukan sekedar puasanya perut saja, namun puasa yang sempurna itu adalah berpuasanya hati dan seluruh anggota tubuh dari segala hal yang tidak dicintai Allah. Berpuasa yang sempurna itu selain menahan diri dari seluruh pembatal-pembatal puasa, juga menahan diri dari syirik dan seluruh kemaksiatan, bahkan menahan diri dari perkara yang makruh. Dengan puasa sempurna inilah, diraih ketakwaan yang sempurna! Marilah kita merendahkan diri kita, berdoa kepada Allah semata. ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ  و الصلاة و السلام على رسول الله، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ   رَبَّنَا هَب لنا مِن أزواجنا وذُرياتنا قُرَّةَ أعيُنٍ واجعلنا للمُتقينَ إمَامًا اللهم إنا نسألك الجنة، وما قرب إليها من قول أو عمل، ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل. اللهم إنا نسألك حبّك، وحب من يحبّك، وحب كل عملٍ يقربني إلى حبّك اللَّهُمَ حَبَّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد و آخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين Baca juga: Cara Salafus Shalih Menyambut Ramadan *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Tags: ramadan

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7)

Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7)

Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid
Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid


Daftar Isi Toggle Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirikFaidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara yang baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.” Syirik yang pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membuat gambar atau patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi yang sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5) Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah, كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ “Adalah manusia itu dahulu umat yang satu…” (QS. Al-Baqarah: 213). Beliau menafsirkan, yaitu di atas agama yang satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118) Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas syariat kebenaran, lalu mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah) Penafsiran serupa, yang menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ulama salaf yang lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209) Demikian pula, penafsiran yang disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dahulu umat manusia sejak zaman Nabi Adam merupakan umat yang satu, yaitu berada di atas tauhid dan di atas agama yang sama, yaitu Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87) Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa sebab kekafiran anak Adam dan faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka (yaitu tauhid) adalah karena bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik yang pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112) Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan yang dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang dicetuskan oleh sebagian ahli ilmu atau ahli agama dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa yang ingin memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235) Demikianlah, akar kesyirikan yang tumbuh berkembang di masa lalu, bahkan juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan yang ada di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, apabila ada orang saleh atau hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membuat bangunan masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membuat gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata atau tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yaitu tauhid. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, yang benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman pula, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam bentuk peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membuat patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7) Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian yang diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, yang benar, hanyalah satu sesembahan Yang Maha Esa. Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً “Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158) Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ “Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, kecuali untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28) Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar yang digerogoti oleh orang-orang yang menyerukan adanya dialog antara agama di masa kini. Karena mereka, umat-umat yang lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah yang beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62) Islam mengajak manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh aneh apabila manusia menolak ajakan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan! Faidah 18. Pengikut ajaran Nabi Ibrahim Allah berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah/ajaran Ibrahim yang hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123) Di dalam ayat yang agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu ajaran tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah agama Islam yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah. Allah berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah menyebut ajaran Nabi Ibrahim sebagai ajaran yang hanif. Para ulama juga menyebut ajaran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah hakikat dari millah/ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul yang lain. Yang demikian itu karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang hanif, yaitu yang ikhlas beribadah kepada Allah. Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه “Orang yang hanif adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah hakikat orang yang hanif. Yang menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia berpaling dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan) Allah berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Bukanlah Ibrahim itu orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67) Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas ajaran dan agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir zaman ini, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya yang setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi atau Nasrani bahwa mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim adalah dusta belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67). Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah. Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6) Lanjut ke bagian 8: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6)

Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6)

Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid
Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid


Daftar Isi Toggle Faedah 15. Seruan pertamaFaedah 16. Mengenal dasar IslamApa yang dimaksud tauhid?Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu?Apa yang dimaksud rububiyah?Apa yang dimaksud uluhiyah?Apa yang dimaksud asma’ wa shifat?Jadi, tauhid ada tiga macam?Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama?Bagaimana dengan tauhid rububiyah?Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia?Apa yang dimaksud dengan thaghut?Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik?Apa pengertian syirik?Apa yang dimaksud dengan ibadah?Apa syarat diterimanya ibadah?Mengapa ibadah harus ikhlas?Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan?Apa yang dimaksud dengan iman? Faedah 15. Seruan pertama Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa tauhid adalah seruan pertama para rasul, fase pertama yang harus ditempuh dan maqam/kedudukan awal yang harus dijalani oleh setiap penempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.” (Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah, hal. 77) Allah berfirman, وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar, selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Allah berfirman, وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65) Ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa dalam ajaran semua nabi telah ditetapkan bahwa syirik menghapuskan semua amalan. Sebagaimana dalam ayat lain dalam surah Al-An’am, Allah menyatakan bahwa seandainya mereka (para nabi dan orang saleh terdahulu) berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang telah mereka kerjakan. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 729) Dakwah kepada akidah Islam merupakan pembuka dakwah para rasul semuanya. Mereka tidaklah mengawali dakwah dengan sesuatu apapun sebelum hal itu. Setiap rasul mengatakan kepada kaumnya pada awal-awal dakwahnya, ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan, selain Dia.” (QS. Hud : 50) Inilah yang diserukan oleh Nuh, Hud, Salih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus salam. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19) Kebahagiaan di dunia sangat tergantung dengan ilmu tentang akidah. Kebutuhan hamba kepadanya di atas seluruh kebutuhan. Keterdesakan dirinya terhadapnya di atas semua perkara mendesak. Maka, tidak ada kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan, kecuali dengan hamba itu mengenal Rabbnya dalam hal uluhiyah, rububiyah, dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana seorang manusia membutuhkan makanan dan minuman, maka dia pun membutuhkan ilmu akidah ini. Bahkan, kebutuhan dirinya untuk mengenal Rabbnya jauh lebih besar. (Lihat Ithaf Dzawil ‘Uqul Rasyidah, hal. 7) Hal ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seorang muslim mengenal akidah Islam dari sumber-sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Inilah pondasi kehidupan dan asas kebahagiaan hamba. Baca juga: Dampak Lenyapnya Tauhid Faedah 16. Mengenal dasar Islam Apa yang dimaksud tauhid? Jawab: Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-kekhususan-Nya. Apa yang dimaksud kekhususan-kekhususan Allah itu? Jawab: Kekhususan Allah bisa dibagi menjadi tiga bagian pokok; yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Apa yang dimaksud rububiyah? Jawab: Rububiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, pengaturan, dan penguasaan alam semesta. Allah adalah Rabbul ‘alamin, artinya pencipta, pengatur, dan penguasa alam semesta. Apa yang dimaksud uluhiyah? Jawab: Uluhiyah adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat ketuhanan atau peribadatan. Allah adalah iIlahin nas, artinya tuhan/sesembahan manusia. Oleh sebab itu, ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata. Apa yang dimaksud asma’ wa shifat? Jawab: Asma’ wa shifat artinya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah memiliki nama-nama yang Mahaindah dan sifat-sifat yang Mahamulia. Nama-nama Allah itu biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Jadi, tauhid ada tiga macam? Jawab: Benar, tauhid terbagi tiga; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Di antara ketiga hal itu, yang paling utama adalah tauhid uluhiyah. Mengapa tauhid uluhiyah yang paling utama? Jawab: Karena tauhid uluhiyah inilah yang terkandung dalam kalimat laa ilaha illallah. Tauhid uluhiyah ini pula yang menjadi tujuan diciptakannya jin dan manusia. Tauhid uluhiyah pula yang menjadi misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok kitab-kitab suci. Bagaimana dengan tauhid rububiyah? Jawab: Tauhid rububiyah adalah suatu perkara yang secara fitrah telah diakui oleh manusia dan dibenarkan oleh akal sehat mereka. Oleh sebab itu, hampir tidak didapati seorang pun manusia yang mengingkari tauhid ini, kecuali karena sombong. Selain itu, tauhid rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam Islam. Apakah tauhid uluhiyah ditentang oleh manusia? Jawab: Secara fitrah, sesungguhnya akal sehat dan nurani manusia menuntut untuk menghamba kepada Allah saja. Akan tetapi, setan menjerumuskan mereka ke dalam berbagai penyimpangan, dan yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah. Oleh sebab itu, para rasul mendapatkan penentangan dari kaumnya. Karena para rasul itu mengajak mereka kepada tauhid uluhiyah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Apa yang dimaksud dengan thaghut? Jawab: Thaghut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah, adalah segala sesembahan selain Allah. Di antara bentuk sesembahan itu (sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar radhiyallahu’anhu) adalah setan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk thaghut adalah dukun-dukun. Mengapa manusia tidak boleh berbuat syirik? Jawab: Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Syirik menyebabkan pelakunya (bila meninggal dan tidak bertobat) kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS.  Al-Ma’idah: 72) Apa pengertian syirik? Jawab: Syirik adalah mempersekutukan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya syirik dalam hal ibadah, yaitu dengan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah; jin dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa’: 36) Apa yang dimaksud dengan ibadah? Jawab: Ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya. Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah harus dimurnikan untuk Allah. Apa syarat diterimanya ibadah? Jawab: Ibadah akan diterima di sisi Allah, apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan. Selain itu, ibadah itu juga tidak terbatalkan oleh adanya pembatal pahala atau penghapus amalan. Mengapa ibadah harus ikhlas? Jawab: Allah Ta’ala berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas memurnikan agama (amal) untuk-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5) Ibadah yang tidak ikhlas akan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا “Dan kami hadapkan segala apa yang mereka amalkan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Mengapa ibadah harus sesuai tuntunan? Jawab: Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim). Amalan yang tidak sesuai tuntunan tertolak. Apa yang dimaksud dengan iman? Jawab: Iman adalah pembenaran di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang/cacat karena kemaksiatan. Iman inilah yang menjadi syarat untuk bisa masuk surga. Kembali ke bagian 5: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5) Lanjut ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7) *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Perhiasan Paling Indah bagi Wanita Muslimah – Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad #NasehatUlama

Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ

Perhiasan Paling Indah bagi Wanita Muslimah – Syaikh Abdurrazzaq Al Abbad #NasehatUlama

Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ
Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ


Allah Berfirman (yang artinya), “Salah seorang dari keduanya mendatanginya Musa) sambil berjalan dengan malu-malu, lalu berkata, ‘Sesungguhnya ayahku …'” (QS. Al-Qasas: 25) Di sini konteksnya mencakup malu dalam perkataan dan perbuatan. Dia datang berjalan dengan malu-malu. Demikian juga, dengan malu-malu berkata. Jadi, dia malu dalam ucapan dan perbuatannya. Pada cara berjalannya ada rasa malu, dan pada cara bicaranya juga ada rasa malu, karena terkadang ucapan bisa menghilangkan rasa malu, sebagaimana tindakan terkadang juga bisa menghilangkan rasa malu. Adapun ini, dia datang dengan rasa malu dalam tindakan, cara berjalannya, serta dalam perkataan, ucapan, dan obrolannya dengan Musa. Malu adalah perhiasan seorang wanita. Inilah perhiasan dan keelokan seorang wanita. Seorang wanita, jika dicabut darinya rasa malu, hilanglah keelokan dirinya. Keelokan dirinya ada pada rasa malunya. Semakin besar rasa malunya, maka itu akan semakin mendorongnya menuju kebaikan yang agung dan keutamaan yang mulia, serta menghalanginya dari keburukan dan kehinaan besar. Wanita akan selalu dalam kebaikan selama dia masih bersifat dan berhias dengan rasa malunya. ==== قَالَ: “فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ. “إِنَّ أَبِي وَهَذَا يَتَنَاوَلُ…”” هَذَا السِّيَاقُ يَتَنَاوَلُ الْحَيَاءَ قَوْلًا وَفِعْلًا فَجَاۤءَتْ تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ أَيْضًا عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ قَالَتْ فَكَانَ الْحَيَاءُ فِي قَوْلِهَا وَفِعْلِهَا فِي مِشْيَتِهَا فِيهَا حَيَاءٌ وَقَولِهَا أَيْضًا فِيهِ حَيَاءٌ لِأَنَّ أَحْيَانًا الْقَوْلُ يَكُونُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَأَحْيَانًا يَكُونُ الْفِعْلُ مُنَافِيًا لِلْحَيَاءِ وَهَذِهِ فَجَاۤءَتْ عَلَى حَيَاءٍ فِي فِعْلِهَا مَشْيِهَا وَأَيْضًا قَوْلِهَا وَكَلَامِهَاوَمُخَاطَبَتِهَا لَهُ وَالْحَيَاءُ هُوَ زِيْنَةُ الْمَرْأَةِ وَجَمَالُهَا الْمَرْأَةُ إِذَا نُزِعَتْ أَوْ نُزِعَ مِنْهَا الْحَيَاءُ ذَهَبَ الْجَمَالُ جَمَالُهَا فِي حَيَاءِهَا وَحَيَاءُهَا كُلَّمَا قَوِيَ فِيهَا دَفَعَهَا إِلَى خَيْرَاتٍ عَظِيمَةٍ وَفَضَائِلَ كَرِيمَةٍ وَحَالَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الشُّرُورِ وَالرَّذَائِلِ الْعَظِيمَةِ وَلَا تَزَالُ الْمَرْأَةُ بِخَيْرٍ مَا دَامَتْ مُتَّصِفَةً بِالْحَيَاءِ مُتَحَلِّيَةً بِهِ

Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu

Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu

Nikmat Dekat dengan Ahli Ilmu

Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu
Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu


Daftar Isi Toggle Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjukAhli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnyaAhli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Menuntut ilmu merupakan kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami agama Islam ini, memahami tentang hakikat iman yang sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan anugerah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman, أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ “Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (itu sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22) Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman, يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ “…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan ahli ilmu akan menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara ahli ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hal yang masih samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat yang sering kita lupakan. Dekat dengan ahli ilmu dapat menghidupkan roh, dengan ilmu dan cahaya petunjuk Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan ahli ilmu, akan membuatnya dekat kepada ilmu. Ia akan mendapatkan jasadnya terisi dengan roh yang penuh akan ilmu dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an yang merupakan pokok dari ilmu sebagai roh dan cahaya petunjuk, وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52) Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas, وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ “Demikianlah yang dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan dunia dan agama dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah) Oleh karena itu, dekat dengan ahli ilmu merupakan sumber dari roh dan cahaya petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan ahli ilmu dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), bahkan mengatakan, وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ “Siapa yang terluput dari ilmu di masa mudanya. Maka, takbirkan ia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59) Seseorang yang jauh dari ilmu dan ahli ilmu, sejatinya mereka adalah mayat yang berjalan. Karena tidak ada roh berupa ilmu pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Ahli ilmu tidak akan mencelakakan orang-orang di sekitarnya Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan manfaat dengan adanya ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ahli ilmu, إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ “Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi benar-benar akan memohonkan ampun kepada ahli ilmu, sampai ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682) Sebab dari istigfar ini adalah karena seorang yang berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara yang halal dan yang haram, dan juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, bahkan sampai tata cara menyembelih dengan cara terbaik. Dengan ini, ahli ilmu berhak untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175] Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati ahli ilmu, ‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689) Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari ahli ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan yang kita dapatkan dari mereka. Bahkan, sulit rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan ahli ilmu. Baca juga: Antara Ilmu yang Diamalkan dan yang Tidak Diamalkan Ahli ilmu merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam Hal ini sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, maka ia telah memperoleh perbendaharaan yang berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif) Karena ahli ilmu pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membuat kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, yang tentunya warisan ini lebih berharga daripada warisan yang ada di dunia ini. Dekat dengan ahli ilmu memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama Allah Ta’ala berfirman, فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ “Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7) Ini di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal agama yang tidak diketahui. Sehingga sirnalah kebodohan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Tidakkah mereka ingin bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, karena sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336) Inilah di antara nikmat dekat dengan ahli ilmu. Sehingga ini yang harus disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan yang menarik yang dikatakan oleh Syu’bah, كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ “Tatkala aku mendengar satu hadis dari seseorang (ahli ilmu), aku siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas) Terakhir, tentunya dekat dengan ahli ilmu adalah untuk diambil ilmunya dan diambil manfaat serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan ahli ilmu adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, bahkan berbangga dengan menunjukkan kepada manusia bahwa ia dekat dengan ahli ilmu. Cukuplah membuat kita bangga dengan faedah dan ilmu yang bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa doa untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbangga dengan hal tersebut justru membuat kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga yang menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah murid ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun ilmu yang terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah. Masih banyak lagi nikmat dengan ahli ilmu, selain dari hal yang disebutkan di atas. Semoga hal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka yang belum mendekat kepada ahli ilmu, dan menjadi pengingat untuk bersyukur bagi mereka yang dekat dengan ahli ilmu. Wabillahit Taufiq. Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia  *** Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024 Penulis: Zia Abdurrofi Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat yang salah dalam berfatwa. Tatkala ia ditanya oleh sahabat yang lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan ia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah kabar tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi bersabda sebagaimana hadis di atas. Tags: ahli ilmu

Setelah Istikharah Lalu Menunggu Pertanda?

Pertanyaan :  Saya bermaksud untuk menikahi seorang akhwat. Kami sudah saling bertemu orang tua dan sudah saling cocok dan menurut saya akhwat tersebut adalah akhwat yang shalihah. Dan saya pun sudah shalat istikharah untuk meminta petunjuk Allah dalam pernikahan ini. Namun suatu hari, ketika saya dan orang tua akan berangkat lamaran ke rumah sang akhwat, qadarullah saya mengalami kecelakaan di jalan. Apakah ini adalah jawaban istikharah saya sehingga saya harus meninggalkan akhwat tersebut? Jawaban: Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama Tidak benar anggapan bahwa setelah melakukan shalat istikharah kemudian menunggu pertanda-pertanda seperti mimpi atau pertanda yang lainnya. Ini keyakinan yang tidak ada asalnya dalam syariat.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya, “Saya mendengar bahwa orang yang melakukan shalat istikharah untuk suatu tujuan tertentu, kemudian ia akan mengalami mimpi jika memang pilihannya sudah tepat. Apakah ini benar?”. Beliau menjawab: لا أعرف لهذا صحة من جهة الرؤيا “Saya tidak mengetahui landasan yang shahih mengenai keyakinan ini” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Kedua Islam mengajarkan kita untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan ilmu, bukan prasangka dan pertanda-pertanda. Allah ta’ala berfirman: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra: 36). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال “Allah ta’ala melarang untuk bicara agama tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/9). Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بِئسَ مَطيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَموا “Seburuk-buruk landasan tindakan seseorang adalah sekedar ucapan: katanya… “ (HR. Abu Daud no.4972, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no.866). Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan: فشبه النبي صلى الله عليه وسلم ما يقدمه الرجل أمام كلامه ليتوصل به إلى حاجته من قولهم: زعموا، بالمطية التي يتوصل بها الرجل إلى مقصده الذي يؤمه فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالتثبت فيما يحكيه والاحتياط فيما يرويه “Maka orang yang mendasari perbuatannya dalam rangka menggapai apa yang ia inginkan dengan sekedar “katanya begini… katanya begitu...” dianalogikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan hewan tunggangan yang ia tunggangi untuk menuju ke tempat tujuan. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk cek dan ricek setiap kabar yang dinukil dan berhati-hati dalam menyampaikan kabar” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, 3/413). Maka hadis ini mengajarkan kita untuk tidak mendasari tindakan kita pada perkara yang tidak jelas kebenarannya, hanya sekedar katanya atau sekedar prasangka, tanpa didasari ilmu dan data. Oleh karena itu untuk memutuskan calon pasangan yang ingin dinikahi, hendaknya tidak dengan prasangka atau pertanda-pertanda.  Ketiga Cara yang benar dalam mengamalkan shalat istikharah adalah membarenginya dengan istisyarah (konsultasi). Yang dimaksud dengan istisyarah yaitu bertanya serta meminta bimbingan kepada orang-orang yang dianggap berilmu, bijaksana, dan kompeten tentang perkara yang sedang dihadapi. Tentunya setelah mengumpulkan data dan fakta yang valid tentang perkara tersebut.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan: ثم بعد ذلك يستشير من يرى من أهل الخير من أقربائه، وأصدقائه، يستشيرهم، فإذا انشرح صدره لأحد الأمرين يمضي، فإن استمر معه التردد أعاد الاستخارة ثانيًا، وثالثًا، وهكذا حتى يطمئن قلبه، وينشرح صدره لأحد الأمرين من الفعل، أو الترك “Kemudian setelah istikharah, hendaknya ia istisyarah kepada orang-orang baik dari kalangan kerabatnya, atau teman-temannya, atau sahabat-sahabatnya. Berkonsultasi dengan mereka. Jika setelah itu didapatkan pilihan yang membuat dada lapang, hendaknya ia ambil pilihan tersebut. Namun jika ia masih bingung dan ragu, maka ia ulangi istikharah yang kedua kali, atau yang ketiga kali, dan seterusnya hingga tenang hatinya. Dan lapang dadanya untuk memilih di antara dua pilihan, yaitu melanjutkan atau tidak melanjutkan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Semisal untuk perkara memilih calon pasangan hidup. Maka seseorang hendaknya melaksanakan istikharah, kemudian setelah itu ia kumpulkan data tentang calon yang akan ia nikahi. Bagaimana agamanya, dari mana asalnya, bagaimana keluarganya, bagaimana sifatnya, apa saja kekurangannya, dan lainnya. Setelah itu, ia berkonsultasi dengan orang tua, karib kerabat, teman-teman dekat, para ahli ilmu, dan semisalnya. Jika hasil dari semua itu adalah bahwa si calon adalah orang yang cocok dan layak diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Jika ternyata si calon tidak layak untuk diperjuangkan, atau sulit diperjuangkan, maka carilah calon yang lain.  Demikianlah caranya, bukan dengan menunggu mimpi atau pertanda-pertanda.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Silaturahim, Dajjal Sudah Muncul 2015, Bolehkah Puasa Dalam Keadaan Junub, Video Ngaloco, Doa Sujud Akhir, Waktu Solat Ied Visited 279 times, 2 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid

Setelah Istikharah Lalu Menunggu Pertanda?

Pertanyaan :  Saya bermaksud untuk menikahi seorang akhwat. Kami sudah saling bertemu orang tua dan sudah saling cocok dan menurut saya akhwat tersebut adalah akhwat yang shalihah. Dan saya pun sudah shalat istikharah untuk meminta petunjuk Allah dalam pernikahan ini. Namun suatu hari, ketika saya dan orang tua akan berangkat lamaran ke rumah sang akhwat, qadarullah saya mengalami kecelakaan di jalan. Apakah ini adalah jawaban istikharah saya sehingga saya harus meninggalkan akhwat tersebut? Jawaban: Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama Tidak benar anggapan bahwa setelah melakukan shalat istikharah kemudian menunggu pertanda-pertanda seperti mimpi atau pertanda yang lainnya. Ini keyakinan yang tidak ada asalnya dalam syariat.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya, “Saya mendengar bahwa orang yang melakukan shalat istikharah untuk suatu tujuan tertentu, kemudian ia akan mengalami mimpi jika memang pilihannya sudah tepat. Apakah ini benar?”. Beliau menjawab: لا أعرف لهذا صحة من جهة الرؤيا “Saya tidak mengetahui landasan yang shahih mengenai keyakinan ini” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Kedua Islam mengajarkan kita untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan ilmu, bukan prasangka dan pertanda-pertanda. Allah ta’ala berfirman: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra: 36). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال “Allah ta’ala melarang untuk bicara agama tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/9). Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بِئسَ مَطيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَموا “Seburuk-buruk landasan tindakan seseorang adalah sekedar ucapan: katanya… “ (HR. Abu Daud no.4972, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no.866). Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan: فشبه النبي صلى الله عليه وسلم ما يقدمه الرجل أمام كلامه ليتوصل به إلى حاجته من قولهم: زعموا، بالمطية التي يتوصل بها الرجل إلى مقصده الذي يؤمه فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالتثبت فيما يحكيه والاحتياط فيما يرويه “Maka orang yang mendasari perbuatannya dalam rangka menggapai apa yang ia inginkan dengan sekedar “katanya begini… katanya begitu...” dianalogikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan hewan tunggangan yang ia tunggangi untuk menuju ke tempat tujuan. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk cek dan ricek setiap kabar yang dinukil dan berhati-hati dalam menyampaikan kabar” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, 3/413). Maka hadis ini mengajarkan kita untuk tidak mendasari tindakan kita pada perkara yang tidak jelas kebenarannya, hanya sekedar katanya atau sekedar prasangka, tanpa didasari ilmu dan data. Oleh karena itu untuk memutuskan calon pasangan yang ingin dinikahi, hendaknya tidak dengan prasangka atau pertanda-pertanda.  Ketiga Cara yang benar dalam mengamalkan shalat istikharah adalah membarenginya dengan istisyarah (konsultasi). Yang dimaksud dengan istisyarah yaitu bertanya serta meminta bimbingan kepada orang-orang yang dianggap berilmu, bijaksana, dan kompeten tentang perkara yang sedang dihadapi. Tentunya setelah mengumpulkan data dan fakta yang valid tentang perkara tersebut.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan: ثم بعد ذلك يستشير من يرى من أهل الخير من أقربائه، وأصدقائه، يستشيرهم، فإذا انشرح صدره لأحد الأمرين يمضي، فإن استمر معه التردد أعاد الاستخارة ثانيًا، وثالثًا، وهكذا حتى يطمئن قلبه، وينشرح صدره لأحد الأمرين من الفعل، أو الترك “Kemudian setelah istikharah, hendaknya ia istisyarah kepada orang-orang baik dari kalangan kerabatnya, atau teman-temannya, atau sahabat-sahabatnya. Berkonsultasi dengan mereka. Jika setelah itu didapatkan pilihan yang membuat dada lapang, hendaknya ia ambil pilihan tersebut. Namun jika ia masih bingung dan ragu, maka ia ulangi istikharah yang kedua kali, atau yang ketiga kali, dan seterusnya hingga tenang hatinya. Dan lapang dadanya untuk memilih di antara dua pilihan, yaitu melanjutkan atau tidak melanjutkan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Semisal untuk perkara memilih calon pasangan hidup. Maka seseorang hendaknya melaksanakan istikharah, kemudian setelah itu ia kumpulkan data tentang calon yang akan ia nikahi. Bagaimana agamanya, dari mana asalnya, bagaimana keluarganya, bagaimana sifatnya, apa saja kekurangannya, dan lainnya. Setelah itu, ia berkonsultasi dengan orang tua, karib kerabat, teman-teman dekat, para ahli ilmu, dan semisalnya. Jika hasil dari semua itu adalah bahwa si calon adalah orang yang cocok dan layak diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Jika ternyata si calon tidak layak untuk diperjuangkan, atau sulit diperjuangkan, maka carilah calon yang lain.  Demikianlah caranya, bukan dengan menunggu mimpi atau pertanda-pertanda.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Silaturahim, Dajjal Sudah Muncul 2015, Bolehkah Puasa Dalam Keadaan Junub, Video Ngaloco, Doa Sujud Akhir, Waktu Solat Ied Visited 279 times, 2 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan :  Saya bermaksud untuk menikahi seorang akhwat. Kami sudah saling bertemu orang tua dan sudah saling cocok dan menurut saya akhwat tersebut adalah akhwat yang shalihah. Dan saya pun sudah shalat istikharah untuk meminta petunjuk Allah dalam pernikahan ini. Namun suatu hari, ketika saya dan orang tua akan berangkat lamaran ke rumah sang akhwat, qadarullah saya mengalami kecelakaan di jalan. Apakah ini adalah jawaban istikharah saya sehingga saya harus meninggalkan akhwat tersebut? Jawaban: Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama Tidak benar anggapan bahwa setelah melakukan shalat istikharah kemudian menunggu pertanda-pertanda seperti mimpi atau pertanda yang lainnya. Ini keyakinan yang tidak ada asalnya dalam syariat.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya, “Saya mendengar bahwa orang yang melakukan shalat istikharah untuk suatu tujuan tertentu, kemudian ia akan mengalami mimpi jika memang pilihannya sudah tepat. Apakah ini benar?”. Beliau menjawab: لا أعرف لهذا صحة من جهة الرؤيا “Saya tidak mengetahui landasan yang shahih mengenai keyakinan ini” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Kedua Islam mengajarkan kita untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan ilmu, bukan prasangka dan pertanda-pertanda. Allah ta’ala berfirman: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra: 36). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال “Allah ta’ala melarang untuk bicara agama tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/9). Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بِئسَ مَطيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَموا “Seburuk-buruk landasan tindakan seseorang adalah sekedar ucapan: katanya… “ (HR. Abu Daud no.4972, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no.866). Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan: فشبه النبي صلى الله عليه وسلم ما يقدمه الرجل أمام كلامه ليتوصل به إلى حاجته من قولهم: زعموا، بالمطية التي يتوصل بها الرجل إلى مقصده الذي يؤمه فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالتثبت فيما يحكيه والاحتياط فيما يرويه “Maka orang yang mendasari perbuatannya dalam rangka menggapai apa yang ia inginkan dengan sekedar “katanya begini… katanya begitu...” dianalogikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan hewan tunggangan yang ia tunggangi untuk menuju ke tempat tujuan. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk cek dan ricek setiap kabar yang dinukil dan berhati-hati dalam menyampaikan kabar” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, 3/413). Maka hadis ini mengajarkan kita untuk tidak mendasari tindakan kita pada perkara yang tidak jelas kebenarannya, hanya sekedar katanya atau sekedar prasangka, tanpa didasari ilmu dan data. Oleh karena itu untuk memutuskan calon pasangan yang ingin dinikahi, hendaknya tidak dengan prasangka atau pertanda-pertanda.  Ketiga Cara yang benar dalam mengamalkan shalat istikharah adalah membarenginya dengan istisyarah (konsultasi). Yang dimaksud dengan istisyarah yaitu bertanya serta meminta bimbingan kepada orang-orang yang dianggap berilmu, bijaksana, dan kompeten tentang perkara yang sedang dihadapi. Tentunya setelah mengumpulkan data dan fakta yang valid tentang perkara tersebut.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan: ثم بعد ذلك يستشير من يرى من أهل الخير من أقربائه، وأصدقائه، يستشيرهم، فإذا انشرح صدره لأحد الأمرين يمضي، فإن استمر معه التردد أعاد الاستخارة ثانيًا، وثالثًا، وهكذا حتى يطمئن قلبه، وينشرح صدره لأحد الأمرين من الفعل، أو الترك “Kemudian setelah istikharah, hendaknya ia istisyarah kepada orang-orang baik dari kalangan kerabatnya, atau teman-temannya, atau sahabat-sahabatnya. Berkonsultasi dengan mereka. Jika setelah itu didapatkan pilihan yang membuat dada lapang, hendaknya ia ambil pilihan tersebut. Namun jika ia masih bingung dan ragu, maka ia ulangi istikharah yang kedua kali, atau yang ketiga kali, dan seterusnya hingga tenang hatinya. Dan lapang dadanya untuk memilih di antara dua pilihan, yaitu melanjutkan atau tidak melanjutkan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Semisal untuk perkara memilih calon pasangan hidup. Maka seseorang hendaknya melaksanakan istikharah, kemudian setelah itu ia kumpulkan data tentang calon yang akan ia nikahi. Bagaimana agamanya, dari mana asalnya, bagaimana keluarganya, bagaimana sifatnya, apa saja kekurangannya, dan lainnya. Setelah itu, ia berkonsultasi dengan orang tua, karib kerabat, teman-teman dekat, para ahli ilmu, dan semisalnya. Jika hasil dari semua itu adalah bahwa si calon adalah orang yang cocok dan layak diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Jika ternyata si calon tidak layak untuk diperjuangkan, atau sulit diperjuangkan, maka carilah calon yang lain.  Demikianlah caranya, bukan dengan menunggu mimpi atau pertanda-pertanda.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Silaturahim, Dajjal Sudah Muncul 2015, Bolehkah Puasa Dalam Keadaan Junub, Video Ngaloco, Doa Sujud Akhir, Waktu Solat Ied Visited 279 times, 2 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan :  Saya bermaksud untuk menikahi seorang akhwat. Kami sudah saling bertemu orang tua dan sudah saling cocok dan menurut saya akhwat tersebut adalah akhwat yang shalihah. Dan saya pun sudah shalat istikharah untuk meminta petunjuk Allah dalam pernikahan ini. Namun suatu hari, ketika saya dan orang tua akan berangkat lamaran ke rumah sang akhwat, qadarullah saya mengalami kecelakaan di jalan. Apakah ini adalah jawaban istikharah saya sehingga saya harus meninggalkan akhwat tersebut? Jawaban: Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du. Pertama Tidak benar anggapan bahwa setelah melakukan shalat istikharah kemudian menunggu pertanda-pertanda seperti mimpi atau pertanda yang lainnya. Ini keyakinan yang tidak ada asalnya dalam syariat.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya, “Saya mendengar bahwa orang yang melakukan shalat istikharah untuk suatu tujuan tertentu, kemudian ia akan mengalami mimpi jika memang pilihannya sudah tepat. Apakah ini benar?”. Beliau menjawab: لا أعرف لهذا صحة من جهة الرؤيا “Saya tidak mengetahui landasan yang shahih mengenai keyakinan ini” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Kedua Islam mengajarkan kita untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan ilmu, bukan prasangka dan pertanda-pertanda. Allah ta’ala berfirman: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra: 36). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال “Allah ta’ala melarang untuk bicara agama tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/9). Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: بِئسَ مَطيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَموا “Seburuk-buruk landasan tindakan seseorang adalah sekedar ucapan: katanya… “ (HR. Abu Daud no.4972, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no.866). Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan: فشبه النبي صلى الله عليه وسلم ما يقدمه الرجل أمام كلامه ليتوصل به إلى حاجته من قولهم: زعموا، بالمطية التي يتوصل بها الرجل إلى مقصده الذي يؤمه فأمر النبي صلى الله عليه وسلم بالتثبت فيما يحكيه والاحتياط فيما يرويه “Maka orang yang mendasari perbuatannya dalam rangka menggapai apa yang ia inginkan dengan sekedar “katanya begini… katanya begitu...” dianalogikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan hewan tunggangan yang ia tunggangi untuk menuju ke tempat tujuan. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk cek dan ricek setiap kabar yang dinukil dan berhati-hati dalam menyampaikan kabar” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, 3/413). Maka hadis ini mengajarkan kita untuk tidak mendasari tindakan kita pada perkara yang tidak jelas kebenarannya, hanya sekedar katanya atau sekedar prasangka, tanpa didasari ilmu dan data. Oleh karena itu untuk memutuskan calon pasangan yang ingin dinikahi, hendaknya tidak dengan prasangka atau pertanda-pertanda.  Ketiga Cara yang benar dalam mengamalkan shalat istikharah adalah membarenginya dengan istisyarah (konsultasi). Yang dimaksud dengan istisyarah yaitu bertanya serta meminta bimbingan kepada orang-orang yang dianggap berilmu, bijaksana, dan kompeten tentang perkara yang sedang dihadapi. Tentunya setelah mengumpulkan data dan fakta yang valid tentang perkara tersebut.  Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan: ثم بعد ذلك يستشير من يرى من أهل الخير من أقربائه، وأصدقائه، يستشيرهم، فإذا انشرح صدره لأحد الأمرين يمضي، فإن استمر معه التردد أعاد الاستخارة ثانيًا، وثالثًا، وهكذا حتى يطمئن قلبه، وينشرح صدره لأحد الأمرين من الفعل، أو الترك “Kemudian setelah istikharah, hendaknya ia istisyarah kepada orang-orang baik dari kalangan kerabatnya, atau teman-temannya, atau sahabat-sahabatnya. Berkonsultasi dengan mereka. Jika setelah itu didapatkan pilihan yang membuat dada lapang, hendaknya ia ambil pilihan tersebut. Namun jika ia masih bingung dan ragu, maka ia ulangi istikharah yang kedua kali, atau yang ketiga kali, dan seterusnya hingga tenang hatinya. Dan lapang dadanya untuk memilih di antara dua pilihan, yaitu melanjutkan atau tidak melanjutkan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 816 pertanyaan ke-2). Semisal untuk perkara memilih calon pasangan hidup. Maka seseorang hendaknya melaksanakan istikharah, kemudian setelah itu ia kumpulkan data tentang calon yang akan ia nikahi. Bagaimana agamanya, dari mana asalnya, bagaimana keluarganya, bagaimana sifatnya, apa saja kekurangannya, dan lainnya. Setelah itu, ia berkonsultasi dengan orang tua, karib kerabat, teman-teman dekat, para ahli ilmu, dan semisalnya. Jika hasil dari semua itu adalah bahwa si calon adalah orang yang cocok dan layak diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Jika ternyata si calon tidak layak untuk diperjuangkan, atau sulit diperjuangkan, maka carilah calon yang lain.  Demikianlah caranya, bukan dengan menunggu mimpi atau pertanda-pertanda.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Silaturahim, Dajjal Sudah Muncul 2015, Bolehkah Puasa Dalam Keadaan Junub, Video Ngaloco, Doa Sujud Akhir, Waktu Solat Ied Visited 279 times, 2 visit(s) today Post Views: 448 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 4)

Sikap keempat: Memperbanyak istigfar kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang mungkin pernah dizalimi atau disakiti Sikap keempat yang hendaknya dilakukan ketika seseorang berada dalam puncak kesulitan adalah memperbanyak istigfar kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa musibah itu disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Perhatikanlah ayat di atas, yang menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Apabila Allah menghukum dan menimpakan musibah atas setiap dosa dan kesalahan kita, niscaya kita akan binasa. Akan tetapi, Allah memaafkan sebagian besar dari dosa dan kesalahan tersebut. Oleh karena itu, apabila kita tertimpa suatu musibah yang berat atau berada dalam problematika hidup yang pelik, mohon ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada Allah. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12) Ketika mendapatkan musibah, segeralah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Allah pun menurunkan karunia berupa hujan dari langit, juga harta dan anak keturunan. Senada dengan ayat di atas, terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istigfar yang luar biasa. أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang sedang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinan yang dia alami. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena belum dikaruniai anak. Al-Hasan pun menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Setelah itu, Al-Hasan Al-Bashri pun membacakan surah Nuh di atas. (Fathul Bari, 11: 98) Juga terdapat riwayat dari sahabat Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu berkaitan dengan ayat di surah Nuh di atas. Dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu ketika, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta diturunkannya hujan, namun beliau hanya beristigfar hingga beliau kembali. Lalu ada yang mengatakan kepadanya, ”Kami tidak melihatmu meminta hujan?” Umar pun mengatakan, “Aku sebenarnya sudah meminta diturunkannya hujan dari langit”. Umar pun membaca ayat, اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا, يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” Umar kemudian mengatakan, وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.” (HR. Al-Baihaqi 3: 352) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dari dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula, datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah musibah tersebut bisa hilang, melainkan dengan tobat.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Dari uraian di atas, maka hendaknya ketika suatu musibah dan kesulitan sedang menimpa diri kita, segeralah meminta ampun dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Kita pun memperbaiki diri dengan berusaha bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya, Allah berjanji akan memberikan solusi (jalan keluar) kepada hamba yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Seorang hamba hendaknya merenung dan introspeksi diri, jika belum ada solusi dari masalah yang sedang dia hadapi, jangan-jangan dia belum bertakwa kepada Allah? Dengan cara inilah dia akan terus memperbaiki diri. Perkara penting lainnya adalah hendaknya seorang hamba juga meminta maaf atas kezaliman yang mungkin pernah dia lakukan kepada orang lain. Bisa jadi, musibah yang dia alami saat ini adalah karena dia pernah menzalimi orang lain, lalu orang tersebut berdoa kepada Allah agar kita ditimpakan kesusahan. Oleh karena itu, seringan atau sesepele apapun masalah atau kezaliman yang pernah kita lakukan kepada orang lain, baik sahabat/ kolega/ saudara dekat ataupun jauh, mintalah maaf kepadanya. Inilah empat hal yang bisa penulis sarikan tentang apa yang hendaknya seorang mukmin lakukan apabila kita sedang tertimpa suatu kesulitan yang berat. Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan-urusan kita dan mengampuni dosa dan kesalahan kita. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 4)

Sikap keempat: Memperbanyak istigfar kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang mungkin pernah dizalimi atau disakiti Sikap keempat yang hendaknya dilakukan ketika seseorang berada dalam puncak kesulitan adalah memperbanyak istigfar kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa musibah itu disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Perhatikanlah ayat di atas, yang menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Apabila Allah menghukum dan menimpakan musibah atas setiap dosa dan kesalahan kita, niscaya kita akan binasa. Akan tetapi, Allah memaafkan sebagian besar dari dosa dan kesalahan tersebut. Oleh karena itu, apabila kita tertimpa suatu musibah yang berat atau berada dalam problematika hidup yang pelik, mohon ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada Allah. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12) Ketika mendapatkan musibah, segeralah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Allah pun menurunkan karunia berupa hujan dari langit, juga harta dan anak keturunan. Senada dengan ayat di atas, terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istigfar yang luar biasa. أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang sedang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinan yang dia alami. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena belum dikaruniai anak. Al-Hasan pun menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Setelah itu, Al-Hasan Al-Bashri pun membacakan surah Nuh di atas. (Fathul Bari, 11: 98) Juga terdapat riwayat dari sahabat Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu berkaitan dengan ayat di surah Nuh di atas. Dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu ketika, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta diturunkannya hujan, namun beliau hanya beristigfar hingga beliau kembali. Lalu ada yang mengatakan kepadanya, ”Kami tidak melihatmu meminta hujan?” Umar pun mengatakan, “Aku sebenarnya sudah meminta diturunkannya hujan dari langit”. Umar pun membaca ayat, اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا, يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” Umar kemudian mengatakan, وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.” (HR. Al-Baihaqi 3: 352) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dari dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula, datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah musibah tersebut bisa hilang, melainkan dengan tobat.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Dari uraian di atas, maka hendaknya ketika suatu musibah dan kesulitan sedang menimpa diri kita, segeralah meminta ampun dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Kita pun memperbaiki diri dengan berusaha bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya, Allah berjanji akan memberikan solusi (jalan keluar) kepada hamba yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Seorang hamba hendaknya merenung dan introspeksi diri, jika belum ada solusi dari masalah yang sedang dia hadapi, jangan-jangan dia belum bertakwa kepada Allah? Dengan cara inilah dia akan terus memperbaiki diri. Perkara penting lainnya adalah hendaknya seorang hamba juga meminta maaf atas kezaliman yang mungkin pernah dia lakukan kepada orang lain. Bisa jadi, musibah yang dia alami saat ini adalah karena dia pernah menzalimi orang lain, lalu orang tersebut berdoa kepada Allah agar kita ditimpakan kesusahan. Oleh karena itu, seringan atau sesepele apapun masalah atau kezaliman yang pernah kita lakukan kepada orang lain, baik sahabat/ kolega/ saudara dekat ataupun jauh, mintalah maaf kepadanya. Inilah empat hal yang bisa penulis sarikan tentang apa yang hendaknya seorang mukmin lakukan apabila kita sedang tertimpa suatu kesulitan yang berat. Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan-urusan kita dan mengampuni dosa dan kesalahan kita. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup
Sikap keempat: Memperbanyak istigfar kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang mungkin pernah dizalimi atau disakiti Sikap keempat yang hendaknya dilakukan ketika seseorang berada dalam puncak kesulitan adalah memperbanyak istigfar kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa musibah itu disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Perhatikanlah ayat di atas, yang menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Apabila Allah menghukum dan menimpakan musibah atas setiap dosa dan kesalahan kita, niscaya kita akan binasa. Akan tetapi, Allah memaafkan sebagian besar dari dosa dan kesalahan tersebut. Oleh karena itu, apabila kita tertimpa suatu musibah yang berat atau berada dalam problematika hidup yang pelik, mohon ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada Allah. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12) Ketika mendapatkan musibah, segeralah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Allah pun menurunkan karunia berupa hujan dari langit, juga harta dan anak keturunan. Senada dengan ayat di atas, terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istigfar yang luar biasa. أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang sedang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinan yang dia alami. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena belum dikaruniai anak. Al-Hasan pun menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Setelah itu, Al-Hasan Al-Bashri pun membacakan surah Nuh di atas. (Fathul Bari, 11: 98) Juga terdapat riwayat dari sahabat Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu berkaitan dengan ayat di surah Nuh di atas. Dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu ketika, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta diturunkannya hujan, namun beliau hanya beristigfar hingga beliau kembali. Lalu ada yang mengatakan kepadanya, ”Kami tidak melihatmu meminta hujan?” Umar pun mengatakan, “Aku sebenarnya sudah meminta diturunkannya hujan dari langit”. Umar pun membaca ayat, اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا, يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” Umar kemudian mengatakan, وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.” (HR. Al-Baihaqi 3: 352) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dari dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula, datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah musibah tersebut bisa hilang, melainkan dengan tobat.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Dari uraian di atas, maka hendaknya ketika suatu musibah dan kesulitan sedang menimpa diri kita, segeralah meminta ampun dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Kita pun memperbaiki diri dengan berusaha bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya, Allah berjanji akan memberikan solusi (jalan keluar) kepada hamba yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Seorang hamba hendaknya merenung dan introspeksi diri, jika belum ada solusi dari masalah yang sedang dia hadapi, jangan-jangan dia belum bertakwa kepada Allah? Dengan cara inilah dia akan terus memperbaiki diri. Perkara penting lainnya adalah hendaknya seorang hamba juga meminta maaf atas kezaliman yang mungkin pernah dia lakukan kepada orang lain. Bisa jadi, musibah yang dia alami saat ini adalah karena dia pernah menzalimi orang lain, lalu orang tersebut berdoa kepada Allah agar kita ditimpakan kesusahan. Oleh karena itu, seringan atau sesepele apapun masalah atau kezaliman yang pernah kita lakukan kepada orang lain, baik sahabat/ kolega/ saudara dekat ataupun jauh, mintalah maaf kepadanya. Inilah empat hal yang bisa penulis sarikan tentang apa yang hendaknya seorang mukmin lakukan apabila kita sedang tertimpa suatu kesulitan yang berat. Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan-urusan kita dan mengampuni dosa dan kesalahan kita. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup


Sikap keempat: Memperbanyak istigfar kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang mungkin pernah dizalimi atau disakiti Sikap keempat yang hendaknya dilakukan ketika seseorang berada dalam puncak kesulitan adalah memperbanyak istigfar kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa musibah itu disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Perhatikanlah ayat di atas, yang menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Apabila Allah menghukum dan menimpakan musibah atas setiap dosa dan kesalahan kita, niscaya kita akan binasa. Akan tetapi, Allah memaafkan sebagian besar dari dosa dan kesalahan tersebut. Oleh karena itu, apabila kita tertimpa suatu musibah yang berat atau berada dalam problematika hidup yang pelik, mohon ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada Allah. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12) Ketika mendapatkan musibah, segeralah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Allah pun menurunkan karunia berupa hujan dari langit, juga harta dan anak keturunan. Senada dengan ayat di atas, terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istigfar yang luar biasa. أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang sedang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Ada orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinan yang dia alami. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena belum dikaruniai anak. Al-Hasan pun menasehatkan, “Beristigfarlah kepada Allah.” Setelah itu, Al-Hasan Al-Bashri pun membacakan surah Nuh di atas. (Fathul Bari, 11: 98) Juga terdapat riwayat dari sahabat Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu berkaitan dengan ayat di surah Nuh di atas. Dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu ketika, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta diturunkannya hujan, namun beliau hanya beristigfar hingga beliau kembali. Lalu ada yang mengatakan kepadanya, ”Kami tidak melihatmu meminta hujan?” Umar pun mengatakan, “Aku sebenarnya sudah meminta diturunkannya hujan dari langit”. Umar pun membaca ayat, اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا, يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” Umar kemudian mengatakan, وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا “Wahai kaumku, mintalah ampun kepada Rabb kalian. Kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan pada kalian hujan lebat dari langit.” (HR. Al-Baihaqi 3: 352) Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dari dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula, datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah musibah tersebut bisa hilang, melainkan dengan tobat.” (Al-Jawabul Kaafi, hal. 87) Dari uraian di atas, maka hendaknya ketika suatu musibah dan kesulitan sedang menimpa diri kita, segeralah meminta ampun dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Kita pun memperbaiki diri dengan berusaha bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya, Allah berjanji akan memberikan solusi (jalan keluar) kepada hamba yang bertakwa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Allah Ta’ala berfirman, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4) Seorang hamba hendaknya merenung dan introspeksi diri, jika belum ada solusi dari masalah yang sedang dia hadapi, jangan-jangan dia belum bertakwa kepada Allah? Dengan cara inilah dia akan terus memperbaiki diri. Perkara penting lainnya adalah hendaknya seorang hamba juga meminta maaf atas kezaliman yang mungkin pernah dia lakukan kepada orang lain. Bisa jadi, musibah yang dia alami saat ini adalah karena dia pernah menzalimi orang lain, lalu orang tersebut berdoa kepada Allah agar kita ditimpakan kesusahan. Oleh karena itu, seringan atau sesepele apapun masalah atau kezaliman yang pernah kita lakukan kepada orang lain, baik sahabat/ kolega/ saudara dekat ataupun jauh, mintalah maaf kepadanya. Inilah empat hal yang bisa penulis sarikan tentang apa yang hendaknya seorang mukmin lakukan apabila kita sedang tertimpa suatu kesulitan yang berat. Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan-urusan kita dan mengampuni dosa dan kesalahan kita. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 3) *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: kesulitan hidup

Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 4)

Daftar Isi Toggle Wasiat keempat: BerdakwahKita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kitaAjaklah orang lain dengan kasih sayangDakwahi orang terdekatKesimpulan Wasiat keempat: Berdakwah Wasiat keempat adalah apabila engkau sudah meminta kepada Allah dengan tulus agar istikamah dalam agama ini, lalu serius mempelajari agama ini, terutama yang berkaitan dengan pokok-pokok agama, kemudian setelah itu semangat dalam beramal, maka hiasi hal-hal tersebut dengan mahkota nasihat keempat. Yaitu, menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajak kepada Allah adalah salah satu sebab keistikamahan pengajaknya. Berbahagialah bagi orang yang senang dan semangat menjadi sebab keselamatan orang lain. Karena balasan amal sesuai dengan jenis amalan. Amalan ini akan menjadi salah satu sebab Allah ‘Azza Wajalla memberikan keselamatan kepadanya. Maka, minta tolonglah kepada Allah Ta’ala dan tunaikan hak Allah yang wajib kau tunaikan. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, hak Allah yang wajib kita tunaikan sangat besar. Salah satunya adalah kita mengajak orang lain kepada-Nya, menjelaskan agama Allah ‘Azza Wajalla kepada manusia. Ini adalah salah satu amalan yang dicintai Allah. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًۭا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا… “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan …” (QS. Fussilat: 33) Pertanyaan dalam ayat tersebut adalah pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban. Maknanya adalah tidak ada seorang pun yang ucapannya lebih baik dari orang yang mendapat hidayah lalu berusaha agar orang lain mendapat hidayah juga. Yang demikian adalah seorang dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mengajak orang lain kepada Allah adalah murni pilihan dari Allah. Jangan sangka bahwa itu karena kekuatan, karakter, keuletan, dan kefasihan dirimu. Bukan, melainkan pilihan dari Allah. Allah ‘Azza Wajalla, Dialah yang memilihmu berada di level ini, yaitu menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menerangi manusia dengan kebenaran dan menunjukkan jalan hidayah. Ini murni taufik (dari Allah), saudaraku sekalian. Jika engkau diberi taufik bisa menjalankan hal itu, maka ucapkan syukur alhamdulillah. Ini adalah jalannya para Nabi ‘alaihimush shalatu wassalam. Ini adalah jalan Nabi Muhammad ﷺ, قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah.’” (QS. Yusuf: 108) Oleh karena itu, kalau engkau ingin menjadi pengikut sejati Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ, maka inilah jalannya. Siapa yang siap? Bersungguh-sungguhlah menjelaskan agama Allah, jelaskan kebenaran, perintahkan kebaikan, dan cegah kemungkaran. Berilah nasihat kepada hamba-hamba Allah ‘Azza Wajalla. Sebab, bentuk ibadah kepada Allah yang terbaik adalah menasihati hamba-hamba Allah. Nabi ﷺ meringkas definisi agama dalam satu kata, beliau bersabda, الدين النصيحة “Agama adalah nasihat.” [1] Ini adalah dalil yang menunjukkan pentingnya masalah ini, wahai saudara-saudaraku sekalian. Salah satu sebab istikamah dalam agama ini adalah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan serius dalam melakukan hal itu. Ketahuilah (semoga Allah menjagamu) bahwa apabila engkau diberi kemudahan dalam pintu dakwah, mengajak kepada Allah Jalla Wa‘ala, maka ketahuilah di luar sana banyak tipu daya setan yang akan menghampirimu. Salah satu yang paling dahsyat adalah sangkaan bahwa saat ia sedang mengajak, menasihati, mengarahkan keluarga, tetangga, atau orang lain secara umum, dengan sangkaan “dunia dakwah yang membutuhkannya”. Semua hal perlu kehadirannya. Tidak, wahai hamba Allah. Bukan begitu. Agama Allah ‘Azza Wa Jalla tetap ditolong denganmu atau tanpamu. Agama ini adalah agama Allah. Kita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita Oleh sebab itu, ajaklah orang lain kepada Allah dan tanamkan dalam hati bahwa engkau butuh berdakwah, bukan dakwah yang membutuhkanmu. Adalah engkau yang butuh karunia Allah. Adalah engkau yang butuh menuntaskan kewajibanmu. Adalah engkau yang perlu menunaikan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah kepadamu, yaitu mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, waspadalah dari sangkaan-sangkaan keliru semacam ini. Demikian itu merupakan waham setan yang terlintas di benak seseorang, sehingga ia menduga bahwa orang-orang membutuhkannya dan dunia dakwah membutuhkannya. Bukan demikian, wahai saudaraku. Engkaulah yang membutuhkan dakwah. Jika engkau mengira manusia dan dunia dakwah membutuhkanmu, lebih baik duduk saja di rumah. Agama tidak membutuhkanmu. Duduklah. Akan tetapi, berdakwahlah apabila engkau yakin bahwa kemampuan berdakwah merupakan murni karunia Allah kepadamu dan engkaulah yang butuh untuk mengajak manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ajaklah orang lain dengan kasih sayang Wahai saudaraku sekalian, salah satu karakteristik ahli sunah adalah penuh kasih sayang. Hati mereka dipenuhi rahmat kepada para hamba Allah Jalla Wa‘ala. Ada sebuah kaidah cemerlang yang dirumuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah, أهل السنة أعلم بالحق وأرحم بالخلق “Ahli sunah adalah golongan yang paling mengenal kebenaran dan paling berkasih sayang kepada yang lain.” Hal selaras juga telah dijelaskan Rasul kita ﷺ ketika mengutus sekumpulan orang yang mengajak kepada tauhid. Beliau mengutus Mu’adz dan Abu Musa radhiyallahu ‘anhuma. Mereka adalah dai yang mengajak kepada tauhid di daerah Yaman. Apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada mereka berdua? يَسِّروا ولا تُعَسِّروا “Berilah kemudahan, jangan persulit.” Ini adalah bentuk kasih sayang. Ringankanlah dakwah. بَشِّروا ولا تُنَفِّروا “Berilah kabar gembira, jangan buat mereka lari.” [2] Jangan persulit urusan mereka. Dekatkan manusia kepada kebenaran. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana terdapat pada Sahih Bukhari, ketika mendatangi Nabi ﷺ mengadu bahwa kabilah Daus menolak kebenaran, maka bersabdalah Nabi yang sayang terhadap umat ini ﷺ, اللهم اهدِ دَوْسًا وأتِ بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus, dan bawalah mereka (ke Madinah).” [3] Sehingga, ahli sunah adalah golongan yang berkasih sayang kepada setiap orang, baik kawan maupun lawan, bahkan kepada yang belum beriman. Mengapa? Sebab ia tahu bagaimana nasibnya jika seorang yang belum beriman meninggal di atas kekufurannya. Sehingga, ia berbelas kasih kepadanya, mengajaknya, menunjukkannya, dan berusaha menyelamatkannya dari azab Allah ‘Azza Wajalla. Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Dakwahi orang terdekat Ini adalah karakteristik ahli sunah wal jamaah dan hamba-hamba Allah yang ikhlas. Bahwa hati mereka adalah hati yang berkasih sayang. Oleh sebab itulah, mereka bersungguh-sungguh. Dan orang yang paling utama mendapat kasih sayangmu, wahai hamba Allah, adalah orang-orang terdekatmu, keluargamu. Saudaraku sekalian, sebagian orang semangat berdakwah, tetapi tidak memberikan petunjuk bagi orang-orang di sekitarnya. Pandangannya selalu ke arah orang-orang yang jauh, padahal ada masalah besar yang terjadi di orang-orang terdekatnya, sementara ia tidak tau dan lalai. Orang yang paling berhak mendapat kebaikanmu adalah orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu. Mereka adalah kedua orang tuamu, anak-anakmu, istrimu, sanak saudaramu, dan tetanggamu. Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan di Shahih Muslim mengabarkan bahwa penduduk surga itu ada tiga golongan. Perhatikan ucapan yang penting dari Rasulullah ﷺ ini, beliau bersabda, وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ “Penduduk surga ada tiga: 1) pemerintah yang adil, suka bersedekah, dan diberi taufik; 2) seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim; 3) dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” [4] Demi Allah, orang akan takjub dengan ucapan yang luar biasa ini. Apakah engkau menginginkan surga? Berikut ini terdapat tiga sifat. Nabi ﷺ menyebutkan sifat pertama, yaitu: ذو سُلْطانٍ مُقْسِطٌ مُصَدَّقٌ مُوَفَّقٌ “pemerintah yang adil, suka bersedekah dan diberi taufik.” Kedua, beliau bersabda, وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ “seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim.” Kasih sayang dan kelembutan hati tersebut tidak hanya berupa membantu dalam bentuk harta atau makanan, walaupun hal itu adalah hal yang sangat mulia. Akan tetapi, ada bentuk kasih sayang yang lebih besar, yaitu berkasih sayang agar dia tidak tersentuh azab Allah ‘Azza Wajalla. Berusaha menyelamatkannya dari murka Allah Jalla Wa’ala. Yang terakhir, beliau bersabda, وَعَفِيْفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُوْ عِيَالٍ “Dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” Tiga jenis golongan ini disabdakan oleh Nabi ﷺ bahwa mereka penduduk surga. Kesimpulan Sehingga, inilah empat hal yang aku wasiatkan padamu (semoga Allah menjagamu): Pertama: Berdoa kepada Allah dengan tulus agar meneguhkanmu dalam agama ini. Kedua: Bersungguh-sungguh dalam belajar. Ketiga: Bersungguh-sungguh dalam beramal. Keempat: Bersungguh-sungguh dalam berdakwah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bergembiralah dengan hal-hal tersebut. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahamulia. Pembendaharaan-Nya melimpah. Dia yang dapat memberikan orang selain dirimu menjadi berilmu, baik, bertakwa, dan saleh, maka Dia juga mampu memberimu. Maka, berharaplah pada Rabbmu agar memberikan kebaikan dan berprasangkalah pada Rabbmu hal-hal yang baik. Nabi ﷺ mengabarkan dari Rabbnya Jalla Wa‘ala sebagaimana dalam Shahih Muslim, bahwasanya Allah berfirman, أنا عند ظنِّ عَبدي بي  فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku sesuai dengan yang diinginkan.” [5] Kita berprasangka kepada Allah akan banyak hal-hal baik. Kita berprasangka kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkan kita di atas agama ini hingga kita menjumpai-Nya dan agar kita berpisah dari dunia ini dalam keadaan bertauhid dengan ikhlas dan mengikuti Nabi kita Muhammad ﷺ dengan tulus. Kita berprasangka kepada Allah Jalla Wa‘ala bahwasanya Dia adalah Tuhan yang patut kita bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampun. Dia adalah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka, kita berprasangka bahwa Allah Ta’ala akan memberi rahmat-Nya pada kita saat kita menemui-Nya di kampung akhirat kelak. Semoga Allah Jalla Wa‘ala menyayangi kita dengan rahmat-Nya dan menganugerahkan kita keteguhan dalam agama ini hingga bertemu dengan-Nya. Semoga Allah Ta’ala memenuhi hati kita dengan rasa cinta kepada-Nya, memenuhi lisan kita dengan berzikir kepada-Nya, dan memberikan kita taufik untuk menaati-Nya. Semoga Allah menggunakan kita dalam perkara yang Dia ridai dan menjadikan kita termasuk tentara yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar doa. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan segenap sahabatnya. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Muslim no. 55. [2] HR. Bukhari no. 3038 dan Muslim no. 1733. [3] HR. Bukhari no. 2937. [4] HR. Muslim no. 2865. [5] HR. Ahmad no. 16016, Ad-Darimi no. 2731, dan Ibnu Hibban no. 633. Tags: penuntut ilmuwasiat

Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 4)

Daftar Isi Toggle Wasiat keempat: BerdakwahKita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kitaAjaklah orang lain dengan kasih sayangDakwahi orang terdekatKesimpulan Wasiat keempat: Berdakwah Wasiat keempat adalah apabila engkau sudah meminta kepada Allah dengan tulus agar istikamah dalam agama ini, lalu serius mempelajari agama ini, terutama yang berkaitan dengan pokok-pokok agama, kemudian setelah itu semangat dalam beramal, maka hiasi hal-hal tersebut dengan mahkota nasihat keempat. Yaitu, menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajak kepada Allah adalah salah satu sebab keistikamahan pengajaknya. Berbahagialah bagi orang yang senang dan semangat menjadi sebab keselamatan orang lain. Karena balasan amal sesuai dengan jenis amalan. Amalan ini akan menjadi salah satu sebab Allah ‘Azza Wajalla memberikan keselamatan kepadanya. Maka, minta tolonglah kepada Allah Ta’ala dan tunaikan hak Allah yang wajib kau tunaikan. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, hak Allah yang wajib kita tunaikan sangat besar. Salah satunya adalah kita mengajak orang lain kepada-Nya, menjelaskan agama Allah ‘Azza Wajalla kepada manusia. Ini adalah salah satu amalan yang dicintai Allah. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًۭا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا… “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan …” (QS. Fussilat: 33) Pertanyaan dalam ayat tersebut adalah pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban. Maknanya adalah tidak ada seorang pun yang ucapannya lebih baik dari orang yang mendapat hidayah lalu berusaha agar orang lain mendapat hidayah juga. Yang demikian adalah seorang dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mengajak orang lain kepada Allah adalah murni pilihan dari Allah. Jangan sangka bahwa itu karena kekuatan, karakter, keuletan, dan kefasihan dirimu. Bukan, melainkan pilihan dari Allah. Allah ‘Azza Wajalla, Dialah yang memilihmu berada di level ini, yaitu menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menerangi manusia dengan kebenaran dan menunjukkan jalan hidayah. Ini murni taufik (dari Allah), saudaraku sekalian. Jika engkau diberi taufik bisa menjalankan hal itu, maka ucapkan syukur alhamdulillah. Ini adalah jalannya para Nabi ‘alaihimush shalatu wassalam. Ini adalah jalan Nabi Muhammad ﷺ, قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah.’” (QS. Yusuf: 108) Oleh karena itu, kalau engkau ingin menjadi pengikut sejati Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ, maka inilah jalannya. Siapa yang siap? Bersungguh-sungguhlah menjelaskan agama Allah, jelaskan kebenaran, perintahkan kebaikan, dan cegah kemungkaran. Berilah nasihat kepada hamba-hamba Allah ‘Azza Wajalla. Sebab, bentuk ibadah kepada Allah yang terbaik adalah menasihati hamba-hamba Allah. Nabi ﷺ meringkas definisi agama dalam satu kata, beliau bersabda, الدين النصيحة “Agama adalah nasihat.” [1] Ini adalah dalil yang menunjukkan pentingnya masalah ini, wahai saudara-saudaraku sekalian. Salah satu sebab istikamah dalam agama ini adalah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan serius dalam melakukan hal itu. Ketahuilah (semoga Allah menjagamu) bahwa apabila engkau diberi kemudahan dalam pintu dakwah, mengajak kepada Allah Jalla Wa‘ala, maka ketahuilah di luar sana banyak tipu daya setan yang akan menghampirimu. Salah satu yang paling dahsyat adalah sangkaan bahwa saat ia sedang mengajak, menasihati, mengarahkan keluarga, tetangga, atau orang lain secara umum, dengan sangkaan “dunia dakwah yang membutuhkannya”. Semua hal perlu kehadirannya. Tidak, wahai hamba Allah. Bukan begitu. Agama Allah ‘Azza Wa Jalla tetap ditolong denganmu atau tanpamu. Agama ini adalah agama Allah. Kita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita Oleh sebab itu, ajaklah orang lain kepada Allah dan tanamkan dalam hati bahwa engkau butuh berdakwah, bukan dakwah yang membutuhkanmu. Adalah engkau yang butuh karunia Allah. Adalah engkau yang butuh menuntaskan kewajibanmu. Adalah engkau yang perlu menunaikan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah kepadamu, yaitu mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, waspadalah dari sangkaan-sangkaan keliru semacam ini. Demikian itu merupakan waham setan yang terlintas di benak seseorang, sehingga ia menduga bahwa orang-orang membutuhkannya dan dunia dakwah membutuhkannya. Bukan demikian, wahai saudaraku. Engkaulah yang membutuhkan dakwah. Jika engkau mengira manusia dan dunia dakwah membutuhkanmu, lebih baik duduk saja di rumah. Agama tidak membutuhkanmu. Duduklah. Akan tetapi, berdakwahlah apabila engkau yakin bahwa kemampuan berdakwah merupakan murni karunia Allah kepadamu dan engkaulah yang butuh untuk mengajak manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ajaklah orang lain dengan kasih sayang Wahai saudaraku sekalian, salah satu karakteristik ahli sunah adalah penuh kasih sayang. Hati mereka dipenuhi rahmat kepada para hamba Allah Jalla Wa‘ala. Ada sebuah kaidah cemerlang yang dirumuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah, أهل السنة أعلم بالحق وأرحم بالخلق “Ahli sunah adalah golongan yang paling mengenal kebenaran dan paling berkasih sayang kepada yang lain.” Hal selaras juga telah dijelaskan Rasul kita ﷺ ketika mengutus sekumpulan orang yang mengajak kepada tauhid. Beliau mengutus Mu’adz dan Abu Musa radhiyallahu ‘anhuma. Mereka adalah dai yang mengajak kepada tauhid di daerah Yaman. Apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada mereka berdua? يَسِّروا ولا تُعَسِّروا “Berilah kemudahan, jangan persulit.” Ini adalah bentuk kasih sayang. Ringankanlah dakwah. بَشِّروا ولا تُنَفِّروا “Berilah kabar gembira, jangan buat mereka lari.” [2] Jangan persulit urusan mereka. Dekatkan manusia kepada kebenaran. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana terdapat pada Sahih Bukhari, ketika mendatangi Nabi ﷺ mengadu bahwa kabilah Daus menolak kebenaran, maka bersabdalah Nabi yang sayang terhadap umat ini ﷺ, اللهم اهدِ دَوْسًا وأتِ بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus, dan bawalah mereka (ke Madinah).” [3] Sehingga, ahli sunah adalah golongan yang berkasih sayang kepada setiap orang, baik kawan maupun lawan, bahkan kepada yang belum beriman. Mengapa? Sebab ia tahu bagaimana nasibnya jika seorang yang belum beriman meninggal di atas kekufurannya. Sehingga, ia berbelas kasih kepadanya, mengajaknya, menunjukkannya, dan berusaha menyelamatkannya dari azab Allah ‘Azza Wajalla. Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Dakwahi orang terdekat Ini adalah karakteristik ahli sunah wal jamaah dan hamba-hamba Allah yang ikhlas. Bahwa hati mereka adalah hati yang berkasih sayang. Oleh sebab itulah, mereka bersungguh-sungguh. Dan orang yang paling utama mendapat kasih sayangmu, wahai hamba Allah, adalah orang-orang terdekatmu, keluargamu. Saudaraku sekalian, sebagian orang semangat berdakwah, tetapi tidak memberikan petunjuk bagi orang-orang di sekitarnya. Pandangannya selalu ke arah orang-orang yang jauh, padahal ada masalah besar yang terjadi di orang-orang terdekatnya, sementara ia tidak tau dan lalai. Orang yang paling berhak mendapat kebaikanmu adalah orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu. Mereka adalah kedua orang tuamu, anak-anakmu, istrimu, sanak saudaramu, dan tetanggamu. Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan di Shahih Muslim mengabarkan bahwa penduduk surga itu ada tiga golongan. Perhatikan ucapan yang penting dari Rasulullah ﷺ ini, beliau bersabda, وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ “Penduduk surga ada tiga: 1) pemerintah yang adil, suka bersedekah, dan diberi taufik; 2) seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim; 3) dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” [4] Demi Allah, orang akan takjub dengan ucapan yang luar biasa ini. Apakah engkau menginginkan surga? Berikut ini terdapat tiga sifat. Nabi ﷺ menyebutkan sifat pertama, yaitu: ذو سُلْطانٍ مُقْسِطٌ مُصَدَّقٌ مُوَفَّقٌ “pemerintah yang adil, suka bersedekah dan diberi taufik.” Kedua, beliau bersabda, وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ “seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim.” Kasih sayang dan kelembutan hati tersebut tidak hanya berupa membantu dalam bentuk harta atau makanan, walaupun hal itu adalah hal yang sangat mulia. Akan tetapi, ada bentuk kasih sayang yang lebih besar, yaitu berkasih sayang agar dia tidak tersentuh azab Allah ‘Azza Wajalla. Berusaha menyelamatkannya dari murka Allah Jalla Wa’ala. Yang terakhir, beliau bersabda, وَعَفِيْفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُوْ عِيَالٍ “Dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” Tiga jenis golongan ini disabdakan oleh Nabi ﷺ bahwa mereka penduduk surga. Kesimpulan Sehingga, inilah empat hal yang aku wasiatkan padamu (semoga Allah menjagamu): Pertama: Berdoa kepada Allah dengan tulus agar meneguhkanmu dalam agama ini. Kedua: Bersungguh-sungguh dalam belajar. Ketiga: Bersungguh-sungguh dalam beramal. Keempat: Bersungguh-sungguh dalam berdakwah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bergembiralah dengan hal-hal tersebut. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahamulia. Pembendaharaan-Nya melimpah. Dia yang dapat memberikan orang selain dirimu menjadi berilmu, baik, bertakwa, dan saleh, maka Dia juga mampu memberimu. Maka, berharaplah pada Rabbmu agar memberikan kebaikan dan berprasangkalah pada Rabbmu hal-hal yang baik. Nabi ﷺ mengabarkan dari Rabbnya Jalla Wa‘ala sebagaimana dalam Shahih Muslim, bahwasanya Allah berfirman, أنا عند ظنِّ عَبدي بي  فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku sesuai dengan yang diinginkan.” [5] Kita berprasangka kepada Allah akan banyak hal-hal baik. Kita berprasangka kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkan kita di atas agama ini hingga kita menjumpai-Nya dan agar kita berpisah dari dunia ini dalam keadaan bertauhid dengan ikhlas dan mengikuti Nabi kita Muhammad ﷺ dengan tulus. Kita berprasangka kepada Allah Jalla Wa‘ala bahwasanya Dia adalah Tuhan yang patut kita bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampun. Dia adalah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka, kita berprasangka bahwa Allah Ta’ala akan memberi rahmat-Nya pada kita saat kita menemui-Nya di kampung akhirat kelak. Semoga Allah Jalla Wa‘ala menyayangi kita dengan rahmat-Nya dan menganugerahkan kita keteguhan dalam agama ini hingga bertemu dengan-Nya. Semoga Allah Ta’ala memenuhi hati kita dengan rasa cinta kepada-Nya, memenuhi lisan kita dengan berzikir kepada-Nya, dan memberikan kita taufik untuk menaati-Nya. Semoga Allah menggunakan kita dalam perkara yang Dia ridai dan menjadikan kita termasuk tentara yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar doa. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan segenap sahabatnya. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Muslim no. 55. [2] HR. Bukhari no. 3038 dan Muslim no. 1733. [3] HR. Bukhari no. 2937. [4] HR. Muslim no. 2865. [5] HR. Ahmad no. 16016, Ad-Darimi no. 2731, dan Ibnu Hibban no. 633. Tags: penuntut ilmuwasiat
Daftar Isi Toggle Wasiat keempat: BerdakwahKita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kitaAjaklah orang lain dengan kasih sayangDakwahi orang terdekatKesimpulan Wasiat keempat: Berdakwah Wasiat keempat adalah apabila engkau sudah meminta kepada Allah dengan tulus agar istikamah dalam agama ini, lalu serius mempelajari agama ini, terutama yang berkaitan dengan pokok-pokok agama, kemudian setelah itu semangat dalam beramal, maka hiasi hal-hal tersebut dengan mahkota nasihat keempat. Yaitu, menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajak kepada Allah adalah salah satu sebab keistikamahan pengajaknya. Berbahagialah bagi orang yang senang dan semangat menjadi sebab keselamatan orang lain. Karena balasan amal sesuai dengan jenis amalan. Amalan ini akan menjadi salah satu sebab Allah ‘Azza Wajalla memberikan keselamatan kepadanya. Maka, minta tolonglah kepada Allah Ta’ala dan tunaikan hak Allah yang wajib kau tunaikan. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, hak Allah yang wajib kita tunaikan sangat besar. Salah satunya adalah kita mengajak orang lain kepada-Nya, menjelaskan agama Allah ‘Azza Wajalla kepada manusia. Ini adalah salah satu amalan yang dicintai Allah. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًۭا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا… “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan …” (QS. Fussilat: 33) Pertanyaan dalam ayat tersebut adalah pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban. Maknanya adalah tidak ada seorang pun yang ucapannya lebih baik dari orang yang mendapat hidayah lalu berusaha agar orang lain mendapat hidayah juga. Yang demikian adalah seorang dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mengajak orang lain kepada Allah adalah murni pilihan dari Allah. Jangan sangka bahwa itu karena kekuatan, karakter, keuletan, dan kefasihan dirimu. Bukan, melainkan pilihan dari Allah. Allah ‘Azza Wajalla, Dialah yang memilihmu berada di level ini, yaitu menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menerangi manusia dengan kebenaran dan menunjukkan jalan hidayah. Ini murni taufik (dari Allah), saudaraku sekalian. Jika engkau diberi taufik bisa menjalankan hal itu, maka ucapkan syukur alhamdulillah. Ini adalah jalannya para Nabi ‘alaihimush shalatu wassalam. Ini adalah jalan Nabi Muhammad ﷺ, قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah.’” (QS. Yusuf: 108) Oleh karena itu, kalau engkau ingin menjadi pengikut sejati Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ, maka inilah jalannya. Siapa yang siap? Bersungguh-sungguhlah menjelaskan agama Allah, jelaskan kebenaran, perintahkan kebaikan, dan cegah kemungkaran. Berilah nasihat kepada hamba-hamba Allah ‘Azza Wajalla. Sebab, bentuk ibadah kepada Allah yang terbaik adalah menasihati hamba-hamba Allah. Nabi ﷺ meringkas definisi agama dalam satu kata, beliau bersabda, الدين النصيحة “Agama adalah nasihat.” [1] Ini adalah dalil yang menunjukkan pentingnya masalah ini, wahai saudara-saudaraku sekalian. Salah satu sebab istikamah dalam agama ini adalah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan serius dalam melakukan hal itu. Ketahuilah (semoga Allah menjagamu) bahwa apabila engkau diberi kemudahan dalam pintu dakwah, mengajak kepada Allah Jalla Wa‘ala, maka ketahuilah di luar sana banyak tipu daya setan yang akan menghampirimu. Salah satu yang paling dahsyat adalah sangkaan bahwa saat ia sedang mengajak, menasihati, mengarahkan keluarga, tetangga, atau orang lain secara umum, dengan sangkaan “dunia dakwah yang membutuhkannya”. Semua hal perlu kehadirannya. Tidak, wahai hamba Allah. Bukan begitu. Agama Allah ‘Azza Wa Jalla tetap ditolong denganmu atau tanpamu. Agama ini adalah agama Allah. Kita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita Oleh sebab itu, ajaklah orang lain kepada Allah dan tanamkan dalam hati bahwa engkau butuh berdakwah, bukan dakwah yang membutuhkanmu. Adalah engkau yang butuh karunia Allah. Adalah engkau yang butuh menuntaskan kewajibanmu. Adalah engkau yang perlu menunaikan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah kepadamu, yaitu mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, waspadalah dari sangkaan-sangkaan keliru semacam ini. Demikian itu merupakan waham setan yang terlintas di benak seseorang, sehingga ia menduga bahwa orang-orang membutuhkannya dan dunia dakwah membutuhkannya. Bukan demikian, wahai saudaraku. Engkaulah yang membutuhkan dakwah. Jika engkau mengira manusia dan dunia dakwah membutuhkanmu, lebih baik duduk saja di rumah. Agama tidak membutuhkanmu. Duduklah. Akan tetapi, berdakwahlah apabila engkau yakin bahwa kemampuan berdakwah merupakan murni karunia Allah kepadamu dan engkaulah yang butuh untuk mengajak manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ajaklah orang lain dengan kasih sayang Wahai saudaraku sekalian, salah satu karakteristik ahli sunah adalah penuh kasih sayang. Hati mereka dipenuhi rahmat kepada para hamba Allah Jalla Wa‘ala. Ada sebuah kaidah cemerlang yang dirumuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah, أهل السنة أعلم بالحق وأرحم بالخلق “Ahli sunah adalah golongan yang paling mengenal kebenaran dan paling berkasih sayang kepada yang lain.” Hal selaras juga telah dijelaskan Rasul kita ﷺ ketika mengutus sekumpulan orang yang mengajak kepada tauhid. Beliau mengutus Mu’adz dan Abu Musa radhiyallahu ‘anhuma. Mereka adalah dai yang mengajak kepada tauhid di daerah Yaman. Apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada mereka berdua? يَسِّروا ولا تُعَسِّروا “Berilah kemudahan, jangan persulit.” Ini adalah bentuk kasih sayang. Ringankanlah dakwah. بَشِّروا ولا تُنَفِّروا “Berilah kabar gembira, jangan buat mereka lari.” [2] Jangan persulit urusan mereka. Dekatkan manusia kepada kebenaran. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana terdapat pada Sahih Bukhari, ketika mendatangi Nabi ﷺ mengadu bahwa kabilah Daus menolak kebenaran, maka bersabdalah Nabi yang sayang terhadap umat ini ﷺ, اللهم اهدِ دَوْسًا وأتِ بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus, dan bawalah mereka (ke Madinah).” [3] Sehingga, ahli sunah adalah golongan yang berkasih sayang kepada setiap orang, baik kawan maupun lawan, bahkan kepada yang belum beriman. Mengapa? Sebab ia tahu bagaimana nasibnya jika seorang yang belum beriman meninggal di atas kekufurannya. Sehingga, ia berbelas kasih kepadanya, mengajaknya, menunjukkannya, dan berusaha menyelamatkannya dari azab Allah ‘Azza Wajalla. Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Dakwahi orang terdekat Ini adalah karakteristik ahli sunah wal jamaah dan hamba-hamba Allah yang ikhlas. Bahwa hati mereka adalah hati yang berkasih sayang. Oleh sebab itulah, mereka bersungguh-sungguh. Dan orang yang paling utama mendapat kasih sayangmu, wahai hamba Allah, adalah orang-orang terdekatmu, keluargamu. Saudaraku sekalian, sebagian orang semangat berdakwah, tetapi tidak memberikan petunjuk bagi orang-orang di sekitarnya. Pandangannya selalu ke arah orang-orang yang jauh, padahal ada masalah besar yang terjadi di orang-orang terdekatnya, sementara ia tidak tau dan lalai. Orang yang paling berhak mendapat kebaikanmu adalah orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu. Mereka adalah kedua orang tuamu, anak-anakmu, istrimu, sanak saudaramu, dan tetanggamu. Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan di Shahih Muslim mengabarkan bahwa penduduk surga itu ada tiga golongan. Perhatikan ucapan yang penting dari Rasulullah ﷺ ini, beliau bersabda, وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ “Penduduk surga ada tiga: 1) pemerintah yang adil, suka bersedekah, dan diberi taufik; 2) seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim; 3) dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” [4] Demi Allah, orang akan takjub dengan ucapan yang luar biasa ini. Apakah engkau menginginkan surga? Berikut ini terdapat tiga sifat. Nabi ﷺ menyebutkan sifat pertama, yaitu: ذو سُلْطانٍ مُقْسِطٌ مُصَدَّقٌ مُوَفَّقٌ “pemerintah yang adil, suka bersedekah dan diberi taufik.” Kedua, beliau bersabda, وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ “seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim.” Kasih sayang dan kelembutan hati tersebut tidak hanya berupa membantu dalam bentuk harta atau makanan, walaupun hal itu adalah hal yang sangat mulia. Akan tetapi, ada bentuk kasih sayang yang lebih besar, yaitu berkasih sayang agar dia tidak tersentuh azab Allah ‘Azza Wajalla. Berusaha menyelamatkannya dari murka Allah Jalla Wa’ala. Yang terakhir, beliau bersabda, وَعَفِيْفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُوْ عِيَالٍ “Dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” Tiga jenis golongan ini disabdakan oleh Nabi ﷺ bahwa mereka penduduk surga. Kesimpulan Sehingga, inilah empat hal yang aku wasiatkan padamu (semoga Allah menjagamu): Pertama: Berdoa kepada Allah dengan tulus agar meneguhkanmu dalam agama ini. Kedua: Bersungguh-sungguh dalam belajar. Ketiga: Bersungguh-sungguh dalam beramal. Keempat: Bersungguh-sungguh dalam berdakwah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bergembiralah dengan hal-hal tersebut. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahamulia. Pembendaharaan-Nya melimpah. Dia yang dapat memberikan orang selain dirimu menjadi berilmu, baik, bertakwa, dan saleh, maka Dia juga mampu memberimu. Maka, berharaplah pada Rabbmu agar memberikan kebaikan dan berprasangkalah pada Rabbmu hal-hal yang baik. Nabi ﷺ mengabarkan dari Rabbnya Jalla Wa‘ala sebagaimana dalam Shahih Muslim, bahwasanya Allah berfirman, أنا عند ظنِّ عَبدي بي  فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku sesuai dengan yang diinginkan.” [5] Kita berprasangka kepada Allah akan banyak hal-hal baik. Kita berprasangka kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkan kita di atas agama ini hingga kita menjumpai-Nya dan agar kita berpisah dari dunia ini dalam keadaan bertauhid dengan ikhlas dan mengikuti Nabi kita Muhammad ﷺ dengan tulus. Kita berprasangka kepada Allah Jalla Wa‘ala bahwasanya Dia adalah Tuhan yang patut kita bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampun. Dia adalah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka, kita berprasangka bahwa Allah Ta’ala akan memberi rahmat-Nya pada kita saat kita menemui-Nya di kampung akhirat kelak. Semoga Allah Jalla Wa‘ala menyayangi kita dengan rahmat-Nya dan menganugerahkan kita keteguhan dalam agama ini hingga bertemu dengan-Nya. Semoga Allah Ta’ala memenuhi hati kita dengan rasa cinta kepada-Nya, memenuhi lisan kita dengan berzikir kepada-Nya, dan memberikan kita taufik untuk menaati-Nya. Semoga Allah menggunakan kita dalam perkara yang Dia ridai dan menjadikan kita termasuk tentara yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar doa. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan segenap sahabatnya. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Muslim no. 55. [2] HR. Bukhari no. 3038 dan Muslim no. 1733. [3] HR. Bukhari no. 2937. [4] HR. Muslim no. 2865. [5] HR. Ahmad no. 16016, Ad-Darimi no. 2731, dan Ibnu Hibban no. 633. Tags: penuntut ilmuwasiat


Daftar Isi Toggle Wasiat keempat: BerdakwahKita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kitaAjaklah orang lain dengan kasih sayangDakwahi orang terdekatKesimpulan Wasiat keempat: Berdakwah Wasiat keempat adalah apabila engkau sudah meminta kepada Allah dengan tulus agar istikamah dalam agama ini, lalu serius mempelajari agama ini, terutama yang berkaitan dengan pokok-pokok agama, kemudian setelah itu semangat dalam beramal, maka hiasi hal-hal tersebut dengan mahkota nasihat keempat. Yaitu, menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajak kepada Allah adalah salah satu sebab keistikamahan pengajaknya. Berbahagialah bagi orang yang senang dan semangat menjadi sebab keselamatan orang lain. Karena balasan amal sesuai dengan jenis amalan. Amalan ini akan menjadi salah satu sebab Allah ‘Azza Wajalla memberikan keselamatan kepadanya. Maka, minta tolonglah kepada Allah Ta’ala dan tunaikan hak Allah yang wajib kau tunaikan. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, hak Allah yang wajib kita tunaikan sangat besar. Salah satunya adalah kita mengajak orang lain kepada-Nya, menjelaskan agama Allah ‘Azza Wajalla kepada manusia. Ini adalah salah satu amalan yang dicintai Allah. وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًۭا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا… “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan …” (QS. Fussilat: 33) Pertanyaan dalam ayat tersebut adalah pertanyaan retoris yang tak butuh jawaban. Maknanya adalah tidak ada seorang pun yang ucapannya lebih baik dari orang yang mendapat hidayah lalu berusaha agar orang lain mendapat hidayah juga. Yang demikian adalah seorang dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demi Allah, wahai saudaraku sekalian, mengajak orang lain kepada Allah adalah murni pilihan dari Allah. Jangan sangka bahwa itu karena kekuatan, karakter, keuletan, dan kefasihan dirimu. Bukan, melainkan pilihan dari Allah. Allah ‘Azza Wajalla, Dialah yang memilihmu berada di level ini, yaitu menjadi dai yang mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menerangi manusia dengan kebenaran dan menunjukkan jalan hidayah. Ini murni taufik (dari Allah), saudaraku sekalian. Jika engkau diberi taufik bisa menjalankan hal itu, maka ucapkan syukur alhamdulillah. Ini adalah jalannya para Nabi ‘alaihimush shalatu wassalam. Ini adalah jalan Nabi Muhammad ﷺ, قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah.’” (QS. Yusuf: 108) Oleh karena itu, kalau engkau ingin menjadi pengikut sejati Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ, maka inilah jalannya. Siapa yang siap? Bersungguh-sungguhlah menjelaskan agama Allah, jelaskan kebenaran, perintahkan kebaikan, dan cegah kemungkaran. Berilah nasihat kepada hamba-hamba Allah ‘Azza Wajalla. Sebab, bentuk ibadah kepada Allah yang terbaik adalah menasihati hamba-hamba Allah. Nabi ﷺ meringkas definisi agama dalam satu kata, beliau bersabda, الدين النصيحة “Agama adalah nasihat.” [1] Ini adalah dalil yang menunjukkan pentingnya masalah ini, wahai saudara-saudaraku sekalian. Salah satu sebab istikamah dalam agama ini adalah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan serius dalam melakukan hal itu. Ketahuilah (semoga Allah menjagamu) bahwa apabila engkau diberi kemudahan dalam pintu dakwah, mengajak kepada Allah Jalla Wa‘ala, maka ketahuilah di luar sana banyak tipu daya setan yang akan menghampirimu. Salah satu yang paling dahsyat adalah sangkaan bahwa saat ia sedang mengajak, menasihati, mengarahkan keluarga, tetangga, atau orang lain secara umum, dengan sangkaan “dunia dakwah yang membutuhkannya”. Semua hal perlu kehadirannya. Tidak, wahai hamba Allah. Bukan begitu. Agama Allah ‘Azza Wa Jalla tetap ditolong denganmu atau tanpamu. Agama ini adalah agama Allah. Kita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita Oleh sebab itu, ajaklah orang lain kepada Allah dan tanamkan dalam hati bahwa engkau butuh berdakwah, bukan dakwah yang membutuhkanmu. Adalah engkau yang butuh karunia Allah. Adalah engkau yang butuh menuntaskan kewajibanmu. Adalah engkau yang perlu menunaikan kewajiban yang telah diwajibkan oleh Allah kepadamu, yaitu mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, waspadalah dari sangkaan-sangkaan keliru semacam ini. Demikian itu merupakan waham setan yang terlintas di benak seseorang, sehingga ia menduga bahwa orang-orang membutuhkannya dan dunia dakwah membutuhkannya. Bukan demikian, wahai saudaraku. Engkaulah yang membutuhkan dakwah. Jika engkau mengira manusia dan dunia dakwah membutuhkanmu, lebih baik duduk saja di rumah. Agama tidak membutuhkanmu. Duduklah. Akan tetapi, berdakwahlah apabila engkau yakin bahwa kemampuan berdakwah merupakan murni karunia Allah kepadamu dan engkaulah yang butuh untuk mengajak manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ajaklah orang lain dengan kasih sayang Wahai saudaraku sekalian, salah satu karakteristik ahli sunah adalah penuh kasih sayang. Hati mereka dipenuhi rahmat kepada para hamba Allah Jalla Wa‘ala. Ada sebuah kaidah cemerlang yang dirumuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah, أهل السنة أعلم بالحق وأرحم بالخلق “Ahli sunah adalah golongan yang paling mengenal kebenaran dan paling berkasih sayang kepada yang lain.” Hal selaras juga telah dijelaskan Rasul kita ﷺ ketika mengutus sekumpulan orang yang mengajak kepada tauhid. Beliau mengutus Mu’adz dan Abu Musa radhiyallahu ‘anhuma. Mereka adalah dai yang mengajak kepada tauhid di daerah Yaman. Apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada mereka berdua? يَسِّروا ولا تُعَسِّروا “Berilah kemudahan, jangan persulit.” Ini adalah bentuk kasih sayang. Ringankanlah dakwah. بَشِّروا ولا تُنَفِّروا “Berilah kabar gembira, jangan buat mereka lari.” [2] Jangan persulit urusan mereka. Dekatkan manusia kepada kebenaran. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana terdapat pada Sahih Bukhari, ketika mendatangi Nabi ﷺ mengadu bahwa kabilah Daus menolak kebenaran, maka bersabdalah Nabi yang sayang terhadap umat ini ﷺ, اللهم اهدِ دَوْسًا وأتِ بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus, dan bawalah mereka (ke Madinah).” [3] Sehingga, ahli sunah adalah golongan yang berkasih sayang kepada setiap orang, baik kawan maupun lawan, bahkan kepada yang belum beriman. Mengapa? Sebab ia tahu bagaimana nasibnya jika seorang yang belum beriman meninggal di atas kekufurannya. Sehingga, ia berbelas kasih kepadanya, mengajaknya, menunjukkannya, dan berusaha menyelamatkannya dari azab Allah ‘Azza Wajalla. Baca juga: Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong Dakwahi orang terdekat Ini adalah karakteristik ahli sunah wal jamaah dan hamba-hamba Allah yang ikhlas. Bahwa hati mereka adalah hati yang berkasih sayang. Oleh sebab itulah, mereka bersungguh-sungguh. Dan orang yang paling utama mendapat kasih sayangmu, wahai hamba Allah, adalah orang-orang terdekatmu, keluargamu. Saudaraku sekalian, sebagian orang semangat berdakwah, tetapi tidak memberikan petunjuk bagi orang-orang di sekitarnya. Pandangannya selalu ke arah orang-orang yang jauh, padahal ada masalah besar yang terjadi di orang-orang terdekatnya, sementara ia tidak tau dan lalai. Orang yang paling berhak mendapat kebaikanmu adalah orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu. Mereka adalah kedua orang tuamu, anak-anakmu, istrimu, sanak saudaramu, dan tetanggamu. Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan di Shahih Muslim mengabarkan bahwa penduduk surga itu ada tiga golongan. Perhatikan ucapan yang penting dari Rasulullah ﷺ ini, beliau bersabda, وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ “Penduduk surga ada tiga: 1) pemerintah yang adil, suka bersedekah, dan diberi taufik; 2) seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim; 3) dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” [4] Demi Allah, orang akan takjub dengan ucapan yang luar biasa ini. Apakah engkau menginginkan surga? Berikut ini terdapat tiga sifat. Nabi ﷺ menyebutkan sifat pertama, yaitu: ذو سُلْطانٍ مُقْسِطٌ مُصَدَّقٌ مُوَفَّقٌ “pemerintah yang adil, suka bersedekah dan diberi taufik.” Kedua, beliau bersabda, وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ “seseorang yang berkasih sayang dan berhati lembut kepada setiap sanak saudara dan muslim.” Kasih sayang dan kelembutan hati tersebut tidak hanya berupa membantu dalam bentuk harta atau makanan, walaupun hal itu adalah hal yang sangat mulia. Akan tetapi, ada bentuk kasih sayang yang lebih besar, yaitu berkasih sayang agar dia tidak tersentuh azab Allah ‘Azza Wajalla. Berusaha menyelamatkannya dari murka Allah Jalla Wa’ala. Yang terakhir, beliau bersabda, وَعَفِيْفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُوْ عِيَالٍ “Dan orang yang bersih, menjaga diri dari dosa, serta memiliki keluarga.” Tiga jenis golongan ini disabdakan oleh Nabi ﷺ bahwa mereka penduduk surga. Kesimpulan Sehingga, inilah empat hal yang aku wasiatkan padamu (semoga Allah menjagamu): Pertama: Berdoa kepada Allah dengan tulus agar meneguhkanmu dalam agama ini. Kedua: Bersungguh-sungguh dalam belajar. Ketiga: Bersungguh-sungguh dalam beramal. Keempat: Bersungguh-sungguh dalam berdakwah mengajak kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bergembiralah dengan hal-hal tersebut. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahamulia. Pembendaharaan-Nya melimpah. Dia yang dapat memberikan orang selain dirimu menjadi berilmu, baik, bertakwa, dan saleh, maka Dia juga mampu memberimu. Maka, berharaplah pada Rabbmu agar memberikan kebaikan dan berprasangkalah pada Rabbmu hal-hal yang baik. Nabi ﷺ mengabarkan dari Rabbnya Jalla Wa‘ala sebagaimana dalam Shahih Muslim, bahwasanya Allah berfirman, أنا عند ظنِّ عَبدي بي  فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku sesuai dengan yang diinginkan.” [5] Kita berprasangka kepada Allah akan banyak hal-hal baik. Kita berprasangka kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkan kita di atas agama ini hingga kita menjumpai-Nya dan agar kita berpisah dari dunia ini dalam keadaan bertauhid dengan ikhlas dan mengikuti Nabi kita Muhammad ﷺ dengan tulus. Kita berprasangka kepada Allah Jalla Wa‘ala bahwasanya Dia adalah Tuhan yang patut kita bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampun. Dia adalah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka, kita berprasangka bahwa Allah Ta’ala akan memberi rahmat-Nya pada kita saat kita menemui-Nya di kampung akhirat kelak. Semoga Allah Jalla Wa‘ala menyayangi kita dengan rahmat-Nya dan menganugerahkan kita keteguhan dalam agama ini hingga bertemu dengan-Nya. Semoga Allah Ta’ala memenuhi hati kita dengan rasa cinta kepada-Nya, memenuhi lisan kita dengan berzikir kepada-Nya, dan memberikan kita taufik untuk menaati-Nya. Semoga Allah menggunakan kita dalam perkara yang Dia ridai dan menjadikan kita termasuk tentara yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar doa. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan segenap sahabatnya. [Selesai] Kembali ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] HR. Muslim no. 55. [2] HR. Bukhari no. 3038 dan Muslim no. 1733. [3] HR. Bukhari no. 2937. [4] HR. Muslim no. 2865. [5] HR. Ahmad no. 16016, Ad-Darimi no. 2731, dan Ibnu Hibban no. 633. Tags: penuntut ilmuwasiat

Saat Usia Mencapai 40 Tahun, Apa yang Perlu Dilakukan?

Betapa banyak dari kita yang terperdaya oleh dunia dan jauh dari mengingat kematian. Kita sibuk dengan berbagai aktivitas keduniawian, detik demi detik terlena dengan gemerlap dan kesibukan dunia. Kita mengerjakan ibadah wajib sekenanya, apalagi ibadah yang sunah, akan mudah untuk ditinggalkan, toh hanya sekedar ibadah sunah. Secara tidak sadar kita pun merasa bahwa kematian itu masih jauh dari hidup kita? Bagaimana tidak, kita merasa fisik kita masih baik, akal pikiran masih belum menua, dan belum ada tanda-tanda keriput di badan. Sadar atau tidak, kita asosiasikan kematian itu dengan usia lanjut, atau ketika kita terbaring di ICU, atau ketika sudah berjalan memakai tongkat. Adapun sekarang, maka belum saatnya mati. Kita diajarkan bahwa hidup ini butuh “jeda”, jeda untuk introspeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat di kehidupan ini. Jeda untuk menghisab amal perbuatan kita, menghitung-hitung dosa dan kesalahan kita, lalu berusaha untuk memperbaiki kualitas diri dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Kita menjauh sejenak dari gemerlap kehidupan dunia, untuk menyendiri, menghadap Allah Ta’ala, memohon ampunan, dan bertobat kepada-Nya. Dan di antara “jeda” itu adalah di saat usia kita telah mencapai 40 tahun. Namun, perlu diketahui bahwa “40 tahun” yang dimaksud dalam artikel ini adalah berdasarkan perhitungan Hijriyah, bukan Masehi. Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia pun berdoa, رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Imam Malik rahimahullah berkata, أَدْرَكْتُ أَهْلَ العِلْمِ بِبَلَدِنَا وَهُمْ يَطْلُبُوْنَ الدُّنْيَا ، وَيُخَالِطُوْنَ النَّاسَ ، حَتَّى يَأْتِيَ لِأَحَدِهِمْ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً ، فَإِذَا أَتَتْ عَلَيْهِمْ اِعْتَزَلُوْا النَّاسَ “Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan pergaulan dengan sesama manusia. (Namun) ketika mereka sampai di usia 40 tahun, mereka pun menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14: 218) Baca juga: Perbanyaklah Mengingat Kematian Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata, “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan salat, bertasbih, dan beristigfar. Lalu mereka mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal (saleh) di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin, 4: 410) Oleh karena itu, apabila usia kita telah mencapai 40 tahun, hendaknya kita mulai sibuk dengan ibadah dan amal saleh. Karena usia 40 tahun adalah di antara tanda peringatan, bahwa kita tidak akan lama lagi hidup di dunia. Bukankah kita telah mengetahui, Nabi shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya sedikit yang umurnya lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah no. 4236, Syekh Al-Albani mengatakan: hasan shahih) Jadi, usia 40 tahun itu ibarat pertengahan dan persimpangan jalan, yang ujungnya adalah surga atau neraka. Masa itu adalah masa untuk berbenah memperbaiki diri, bukan sebaliknya, justru semakin berambisi mengejar dunia, semakin sibuk hura-hura dan foya-foya, lalai dalam beribadah, dan tenggelam dalam hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat kebaikan bagi kehidupan akhiratnya. Usia 40 tahun ini juga ibarat ujian untuk memperbaiki diri. Apabila lulus, maka insya Allah hari-hari berikutnya akan dimudahkan untuk beramal saleh. Apabila tidak lulus, maka semakin tua akan semakin menjadi (dalam maksiat), kecuali yang Allah Ta’ala berikan taufik dan hidayah. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang telah mencapai usia 40 tahun dan amal kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka hendaknya ia bersiap-siap ke neraka.” (Bahrud Dumuu’, hal. 57) Apabila belum juga bertobat dan terus menumpuk dosa, bisa jadi dampak dari dosa tersebut akan segera dia rasakan, cepat atau lambat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, لا تغتر إذا لم تر أثر ذنبك في حينه .فقد تجد أثره بعد أربعين سنة “Janganlah tertipu ketika engkau tidak melihat efek dosa pada saat engkau melakukannya. Terkadang efek dosa tersebut engkau rasakan setelah 40 tahun.” (Ad-Daa’ wad Dawa’, hal. 130) Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan memberikan kita taufik untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Baca juga: Peringatan dari Rambut Uban *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: 40 tahun

Saat Usia Mencapai 40 Tahun, Apa yang Perlu Dilakukan?

Betapa banyak dari kita yang terperdaya oleh dunia dan jauh dari mengingat kematian. Kita sibuk dengan berbagai aktivitas keduniawian, detik demi detik terlena dengan gemerlap dan kesibukan dunia. Kita mengerjakan ibadah wajib sekenanya, apalagi ibadah yang sunah, akan mudah untuk ditinggalkan, toh hanya sekedar ibadah sunah. Secara tidak sadar kita pun merasa bahwa kematian itu masih jauh dari hidup kita? Bagaimana tidak, kita merasa fisik kita masih baik, akal pikiran masih belum menua, dan belum ada tanda-tanda keriput di badan. Sadar atau tidak, kita asosiasikan kematian itu dengan usia lanjut, atau ketika kita terbaring di ICU, atau ketika sudah berjalan memakai tongkat. Adapun sekarang, maka belum saatnya mati. Kita diajarkan bahwa hidup ini butuh “jeda”, jeda untuk introspeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat di kehidupan ini. Jeda untuk menghisab amal perbuatan kita, menghitung-hitung dosa dan kesalahan kita, lalu berusaha untuk memperbaiki kualitas diri dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Kita menjauh sejenak dari gemerlap kehidupan dunia, untuk menyendiri, menghadap Allah Ta’ala, memohon ampunan, dan bertobat kepada-Nya. Dan di antara “jeda” itu adalah di saat usia kita telah mencapai 40 tahun. Namun, perlu diketahui bahwa “40 tahun” yang dimaksud dalam artikel ini adalah berdasarkan perhitungan Hijriyah, bukan Masehi. Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia pun berdoa, رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Imam Malik rahimahullah berkata, أَدْرَكْتُ أَهْلَ العِلْمِ بِبَلَدِنَا وَهُمْ يَطْلُبُوْنَ الدُّنْيَا ، وَيُخَالِطُوْنَ النَّاسَ ، حَتَّى يَأْتِيَ لِأَحَدِهِمْ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً ، فَإِذَا أَتَتْ عَلَيْهِمْ اِعْتَزَلُوْا النَّاسَ “Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan pergaulan dengan sesama manusia. (Namun) ketika mereka sampai di usia 40 tahun, mereka pun menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14: 218) Baca juga: Perbanyaklah Mengingat Kematian Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata, “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan salat, bertasbih, dan beristigfar. Lalu mereka mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal (saleh) di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin, 4: 410) Oleh karena itu, apabila usia kita telah mencapai 40 tahun, hendaknya kita mulai sibuk dengan ibadah dan amal saleh. Karena usia 40 tahun adalah di antara tanda peringatan, bahwa kita tidak akan lama lagi hidup di dunia. Bukankah kita telah mengetahui, Nabi shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya sedikit yang umurnya lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah no. 4236, Syekh Al-Albani mengatakan: hasan shahih) Jadi, usia 40 tahun itu ibarat pertengahan dan persimpangan jalan, yang ujungnya adalah surga atau neraka. Masa itu adalah masa untuk berbenah memperbaiki diri, bukan sebaliknya, justru semakin berambisi mengejar dunia, semakin sibuk hura-hura dan foya-foya, lalai dalam beribadah, dan tenggelam dalam hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat kebaikan bagi kehidupan akhiratnya. Usia 40 tahun ini juga ibarat ujian untuk memperbaiki diri. Apabila lulus, maka insya Allah hari-hari berikutnya akan dimudahkan untuk beramal saleh. Apabila tidak lulus, maka semakin tua akan semakin menjadi (dalam maksiat), kecuali yang Allah Ta’ala berikan taufik dan hidayah. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang telah mencapai usia 40 tahun dan amal kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka hendaknya ia bersiap-siap ke neraka.” (Bahrud Dumuu’, hal. 57) Apabila belum juga bertobat dan terus menumpuk dosa, bisa jadi dampak dari dosa tersebut akan segera dia rasakan, cepat atau lambat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, لا تغتر إذا لم تر أثر ذنبك في حينه .فقد تجد أثره بعد أربعين سنة “Janganlah tertipu ketika engkau tidak melihat efek dosa pada saat engkau melakukannya. Terkadang efek dosa tersebut engkau rasakan setelah 40 tahun.” (Ad-Daa’ wad Dawa’, hal. 130) Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan memberikan kita taufik untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Baca juga: Peringatan dari Rambut Uban *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: 40 tahun
Betapa banyak dari kita yang terperdaya oleh dunia dan jauh dari mengingat kematian. Kita sibuk dengan berbagai aktivitas keduniawian, detik demi detik terlena dengan gemerlap dan kesibukan dunia. Kita mengerjakan ibadah wajib sekenanya, apalagi ibadah yang sunah, akan mudah untuk ditinggalkan, toh hanya sekedar ibadah sunah. Secara tidak sadar kita pun merasa bahwa kematian itu masih jauh dari hidup kita? Bagaimana tidak, kita merasa fisik kita masih baik, akal pikiran masih belum menua, dan belum ada tanda-tanda keriput di badan. Sadar atau tidak, kita asosiasikan kematian itu dengan usia lanjut, atau ketika kita terbaring di ICU, atau ketika sudah berjalan memakai tongkat. Adapun sekarang, maka belum saatnya mati. Kita diajarkan bahwa hidup ini butuh “jeda”, jeda untuk introspeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat di kehidupan ini. Jeda untuk menghisab amal perbuatan kita, menghitung-hitung dosa dan kesalahan kita, lalu berusaha untuk memperbaiki kualitas diri dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Kita menjauh sejenak dari gemerlap kehidupan dunia, untuk menyendiri, menghadap Allah Ta’ala, memohon ampunan, dan bertobat kepada-Nya. Dan di antara “jeda” itu adalah di saat usia kita telah mencapai 40 tahun. Namun, perlu diketahui bahwa “40 tahun” yang dimaksud dalam artikel ini adalah berdasarkan perhitungan Hijriyah, bukan Masehi. Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia pun berdoa, رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Imam Malik rahimahullah berkata, أَدْرَكْتُ أَهْلَ العِلْمِ بِبَلَدِنَا وَهُمْ يَطْلُبُوْنَ الدُّنْيَا ، وَيُخَالِطُوْنَ النَّاسَ ، حَتَّى يَأْتِيَ لِأَحَدِهِمْ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً ، فَإِذَا أَتَتْ عَلَيْهِمْ اِعْتَزَلُوْا النَّاسَ “Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan pergaulan dengan sesama manusia. (Namun) ketika mereka sampai di usia 40 tahun, mereka pun menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14: 218) Baca juga: Perbanyaklah Mengingat Kematian Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata, “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan salat, bertasbih, dan beristigfar. Lalu mereka mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal (saleh) di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin, 4: 410) Oleh karena itu, apabila usia kita telah mencapai 40 tahun, hendaknya kita mulai sibuk dengan ibadah dan amal saleh. Karena usia 40 tahun adalah di antara tanda peringatan, bahwa kita tidak akan lama lagi hidup di dunia. Bukankah kita telah mengetahui, Nabi shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya sedikit yang umurnya lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah no. 4236, Syekh Al-Albani mengatakan: hasan shahih) Jadi, usia 40 tahun itu ibarat pertengahan dan persimpangan jalan, yang ujungnya adalah surga atau neraka. Masa itu adalah masa untuk berbenah memperbaiki diri, bukan sebaliknya, justru semakin berambisi mengejar dunia, semakin sibuk hura-hura dan foya-foya, lalai dalam beribadah, dan tenggelam dalam hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat kebaikan bagi kehidupan akhiratnya. Usia 40 tahun ini juga ibarat ujian untuk memperbaiki diri. Apabila lulus, maka insya Allah hari-hari berikutnya akan dimudahkan untuk beramal saleh. Apabila tidak lulus, maka semakin tua akan semakin menjadi (dalam maksiat), kecuali yang Allah Ta’ala berikan taufik dan hidayah. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang telah mencapai usia 40 tahun dan amal kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka hendaknya ia bersiap-siap ke neraka.” (Bahrud Dumuu’, hal. 57) Apabila belum juga bertobat dan terus menumpuk dosa, bisa jadi dampak dari dosa tersebut akan segera dia rasakan, cepat atau lambat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, لا تغتر إذا لم تر أثر ذنبك في حينه .فقد تجد أثره بعد أربعين سنة “Janganlah tertipu ketika engkau tidak melihat efek dosa pada saat engkau melakukannya. Terkadang efek dosa tersebut engkau rasakan setelah 40 tahun.” (Ad-Daa’ wad Dawa’, hal. 130) Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan memberikan kita taufik untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Baca juga: Peringatan dari Rambut Uban *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: 40 tahun


Betapa banyak dari kita yang terperdaya oleh dunia dan jauh dari mengingat kematian. Kita sibuk dengan berbagai aktivitas keduniawian, detik demi detik terlena dengan gemerlap dan kesibukan dunia. Kita mengerjakan ibadah wajib sekenanya, apalagi ibadah yang sunah, akan mudah untuk ditinggalkan, toh hanya sekedar ibadah sunah. Secara tidak sadar kita pun merasa bahwa kematian itu masih jauh dari hidup kita? Bagaimana tidak, kita merasa fisik kita masih baik, akal pikiran masih belum menua, dan belum ada tanda-tanda keriput di badan. Sadar atau tidak, kita asosiasikan kematian itu dengan usia lanjut, atau ketika kita terbaring di ICU, atau ketika sudah berjalan memakai tongkat. Adapun sekarang, maka belum saatnya mati. Kita diajarkan bahwa hidup ini butuh “jeda”, jeda untuk introspeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat di kehidupan ini. Jeda untuk menghisab amal perbuatan kita, menghitung-hitung dosa dan kesalahan kita, lalu berusaha untuk memperbaiki kualitas diri dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Kita menjauh sejenak dari gemerlap kehidupan dunia, untuk menyendiri, menghadap Allah Ta’ala, memohon ampunan, dan bertobat kepada-Nya. Dan di antara “jeda” itu adalah di saat usia kita telah mencapai 40 tahun. Namun, perlu diketahui bahwa “40 tahun” yang dimaksud dalam artikel ini adalah berdasarkan perhitungan Hijriyah, bukan Masehi. Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia pun berdoa, رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Imam Malik rahimahullah berkata, أَدْرَكْتُ أَهْلَ العِلْمِ بِبَلَدِنَا وَهُمْ يَطْلُبُوْنَ الدُّنْيَا ، وَيُخَالِطُوْنَ النَّاسَ ، حَتَّى يَأْتِيَ لِأَحَدِهِمْ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً ، فَإِذَا أَتَتْ عَلَيْهِمْ اِعْتَزَلُوْا النَّاسَ “Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan pergaulan dengan sesama manusia. (Namun) ketika mereka sampai di usia 40 tahun, mereka pun menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14: 218) Baca juga: Perbanyaklah Mengingat Kematian Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata, “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan salat, bertasbih, dan beristigfar. Lalu mereka mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal (saleh) di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin, 4: 410) Oleh karena itu, apabila usia kita telah mencapai 40 tahun, hendaknya kita mulai sibuk dengan ibadah dan amal saleh. Karena usia 40 tahun adalah di antara tanda peringatan, bahwa kita tidak akan lama lagi hidup di dunia. Bukankah kita telah mengetahui, Nabi shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya sedikit yang umurnya lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah no. 4236, Syekh Al-Albani mengatakan: hasan shahih) Jadi, usia 40 tahun itu ibarat pertengahan dan persimpangan jalan, yang ujungnya adalah surga atau neraka. Masa itu adalah masa untuk berbenah memperbaiki diri, bukan sebaliknya, justru semakin berambisi mengejar dunia, semakin sibuk hura-hura dan foya-foya, lalai dalam beribadah, dan tenggelam dalam hal-hal lainnya yang tidak bermanfaat kebaikan bagi kehidupan akhiratnya. Usia 40 tahun ini juga ibarat ujian untuk memperbaiki diri. Apabila lulus, maka insya Allah hari-hari berikutnya akan dimudahkan untuk beramal saleh. Apabila tidak lulus, maka semakin tua akan semakin menjadi (dalam maksiat), kecuali yang Allah Ta’ala berikan taufik dan hidayah. Sampai-sampai Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang telah mencapai usia 40 tahun dan amal kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka hendaknya ia bersiap-siap ke neraka.” (Bahrud Dumuu’, hal. 57) Apabila belum juga bertobat dan terus menumpuk dosa, bisa jadi dampak dari dosa tersebut akan segera dia rasakan, cepat atau lambat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, لا تغتر إذا لم تر أثر ذنبك في حينه .فقد تجد أثره بعد أربعين سنة “Janganlah tertipu ketika engkau tidak melihat efek dosa pada saat engkau melakukannya. Terkadang efek dosa tersebut engkau rasakan setelah 40 tahun.” (Ad-Daa’ wad Dawa’, hal. 130) Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan memberikan kita taufik untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Baca juga: Peringatan dari Rambut Uban *** @Kantor Pogung, 11 Sya’ban 1445/ 21 Februari 2024 Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Tags: 40 tahun

Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3)

Daftar Isi Toggle Cara menjaga diri dari godaan duniaNasihat pertama: Berdoa dengan tulusNasihat kedua: Belajar agama dengan seriusIlmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan AllahNasihat ketiga: Beramal Cara menjaga diri dari godaan dunia Perkara ini sangat serius dan gawat. Wahai saudaraku dalam Islam dan Sunnah, saya harap kalian pegang ucapan ini dengan serius. Camkan topik ini dengan sungguh-sungguh. Godaan dan ujian begitu banyak. Engkau harus menjaga diri, waspada, melek, dan berusaha menyelamatkan dirimu. Semoga setelah usaha demikian, engkau menjadi selamat. Intinya, jika engkau ingin keselamatan (semoga Allah menjagamu di zaman yang gelap gulita dan bergelimang dengan berbagai godaan ini), berikut adalah beberapa nasihat: Nasihat pertama: Berdoa dengan tulus Berdoa dengan sepenuh hati dan ketulusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkanmu di atas agama ini dan meneguhkan hatimu di atas agama ini. Berdoalah kepada Allah dengan ketulusan. Berdoalah kepada Allah dengan hati yang hadir, sembari mengucap, يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ يَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Wahai Zat yang menggerakkan hati, gerakkan hatiku untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.” Mintalah kepada Zat Yang hati para hamba berada di tangan-Nya, agar meneguhkanmu di atas agama ini dan tidak menyesatkanmu setelah Allah beri petunjuk. Ucapkan dengan sepenuh hati, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8) Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu bersama orang-orang yang berbakti. Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu dalam keadaan muslim. Nabi Yusuf ‘alaihis salam, seorang nabi dan rasul yang mulia, dahulu berdoa dengan doa ini, yaitu agar Rabbnya mewafatkannya dalam keadaan muslim. تَوَفَّنِى مُسْلِمًۭا “Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim.” (QS. Yusuf: 101) Demikianlah, sepatutnya bagi setiap pengikut para nabi dan rasul ‘alaihimus salam agar meminta kepada Allah dengan tulus, bisa meninggal dalam agama Islam dan selamat dari berbagai godaan dan ujian. Sebab, tidak ada jaminan bagi seseorang walaupun ia lahir dalam keadaan muslim, atau dari kedua orang tua yang muslim, atau dia seorang penuntut ilmu, atau dia istikamah di atas ketaatan, atau dia seorang syekh yang terkenal. Demi Allah, Pencipta dan Pemilik langit, ini semua bukan jaminan. Sebab, hati seorang hamba berada di antara dua jemari dari jari-jemari Allah yang Maha Pengasih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya. Betapa banyak orang yang ditokohkan ternyata pada akhir hayatnya su’ul khatimah (kematian yang buruk). Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan jiwa dan raga. Sehingga, hal pertama yang perlu engkau hadirkan dengan usaha, ilmu, dan kesungguhan, serta perlu engkau serahkan urusannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah meminta-Nya dengan tulus agar meneguhkanmu di atas agama ini. Nasihat kedua: Belajar agama dengan serius Kemudian, nasihat kedua setelah itu, wahai saudaraku sekalian, adalah hendaknya engkau bersungguh-sungguh mempelajari agamamu. Ulama adalah manusia paling teguh dalam agama ini. Ulama adalah manusia paling teguh jika angin ujian dan godaan dunia berhembus. Mengapa? Sebab dengan taufik Allah ‘Azza Wajalla, mereka berpegang dengan sebuah tali yang kuat, yaitu ilmu. Ilmu adalah cahaya yang menerangi insan. Ilmu adalah penjaga. Ilmu adalah pelindung. Jika engkau memiliki ilmu terhadap agama Allah ‘Azza Wajalla, jika engkau memiliki ilmu terhadap kitabullah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, jika engkau memiliki ilmu terhadap apa yang Allah firmankan dan apa yang Rasul sabdakan ﷺ, maka berbahagialah dengan kebaikan. Sebab, itu merupakan tanda mendapat hidayah, dan salah satu sebab mendapat hidayah, serta keteguhan di atas agama. Hal terbesar yang wajib diseriusi untuk dipelajari adalah mempelajari akidah yang benar. Mempelajari cara mentauhidkan Allah ‘Azza Wajalla. Jadikan hal ini hal terbesar dalam hidupmu. Belakangan ini ada yang bilang, “Hidup itu harus memiliki strategi.” Jadikan 5/6 tujuan strategis hidupmu dalam hal-hal a, b, c, dan berkutat seputar dunia saja dan dia senantiasa membicarakan tentang masa depan. Masa depan sejati nanti di sana, bukan di sini. Bukan berarti seseorang sampai melepaskan hidupnya. Bukan. Akan tetapi, maksudnya adalah jangan jadikan kehidupan ini letaknya di hati, tetapi di tangan. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah menyebutkan suatu contoh bagus terkait kondisi seorang mukmin di dunia. Beliau berkata, الدنيا للمؤمن كالخلاء لا بد منها ولا يأنس الإنسان بها “Dunia bagi seorang mukmin seperti toilet. Keberadaannya dibutuhkan, tetapi tidak untuk bernyaman-nyaman ditinggali seseorang.” Merupakan suatu hal yang penting untuk masuk ke kamar mandi, tetapi itu bukanlah tempat untuk kenyamanan, kebahagiaan, dan istirahat. Hanya sekadar untuk menunaikan hajatmu secepat mungkin. Kemudian apa? Kemudian keluar. Beginilah seharusnya apabila seseorang yang telah mendapat hidayah dan bashīrah (penglihatan). Ia menjadikan dunia ini di tangannya, tidak menjadikannya di hatinya. Baca juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah Ilmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan Allah Sehingga, siapa yang serius mempelajari tauhid dan mempelajari akidah, maka keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan terpatri di hatinya dan ia akan menganggapnya sebagai suatu hal yang penting. Ia akan mengagungkan Allah ‘Azza Wajalla dengan pengagungan yang pantas ditujukan kepada-Nya. Hal itu merupakan salah satu wasilah, sementara hidayah ada di tangan Allah. Akan tetapi, demi Allah, saudaraku sekalian, mempelajari tauhid dan akidah adalah salah satu tanda mendapat hidayah dan sebab teguh di atas agama. Sebab, apa isi dari ilmu akidah? Akidah adalah mengenal Allah ‘Azza Wa Jalla. Mengenali Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta kemuliaan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya. Mengetahui hak-hak Allah atas hamba-Nya. Oleh sebab itu, engkau dapat mengagungkan Allah dengan pengagungan yang layak ditujukan kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, hal-hal kecil lain yang tak bernilai tidak akan terpatri di hatimu. Camkan kaidah berikut, bahwasanya mempelajari akidah adalah salah satu sebab dapat merealisasikan keimanan dan tauhid. Sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi Zat yang paling dicintai hatimu. Semakin bertambah cintamu kepada Allah, semakin sedikit cintamu pada yang lain. Semakin bertambah rasa takutmu kepada Allah, semakin sedikit rasa takutmu pada yang lain. Semakin besar rasa harapmu kepada Allah ‘Azza Wajalla, semakin sedikit engkau berharap pada yang lain. Saudaraku sekalian, hal itu adalah suatu keniscayaan dan kepastian. Sebab, hati tempatnya satu, seperti satu bejana, tetapi isi minumannya bermacam-macam. Kalau bejana tersebut penuh dengan sesuatu, maka tidak ada lagi tempat untuk yang lain. Jika hati penuh dengan rasa cinta kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada cinta lain, selain cinta kepada-Nya? Jika hati penuh dengan pengagungan kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada pengagungan kepada selain-Nya? Oleh karena itu, nomor satukan Allah, saudaraku sekalian. Mari kita bersama-sama serius mempelajari akidah yang benar, terutama di zaman ini yang banyak tersebar dai pengajak keburukan dan kesesatan. Mereka menyebarkan kesyirikan dan pemahaman menolak sifat-sifat Allah ‘Azza Wajalla. Mereka menyebarkan akidah yang keliru dalam masalah iman dan takdir, serta berbagai masalah-masalah pokok dan pondasi keimanan lainnya. Banyak dari mereka yang memalingkan orang-orang dari kebenaran yang terang benderang, yaitu akidah para pendahulu umat ini yang saleh. Sehingga, saudaraku sekalian, kita perlu mempelajari akidah yang benar, sebagaimana yang diimani oleh para pendahulu umat ini yang saleh rahimahumullah. Sebab, hal ini adalah salah satu sebab istikamah. Nasihat ketiga: Beramal Nasihat ketiga adalah melanjutkan ilmu tersebut dengan amalan. Karena ilmu ditujukan untuk beramal. Adapun ilmu tanpa amal akan berbuah malapetaka bagi pelakunya. Ada dua hal yang tercela: Pertama: Beramal tanpa ilmu Kedua: Berilmu tanpa amal Orang yang diberi hidayah adalah orang yang berilmu lalu beramal. Bersungguh-sungguhlah untuk menerapkan apa yang telah engkau ketahui. Jangan sampai engkau semangat dan serius menghapal, membaca, mendatangi majelis, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya, tetapi setelah itu tidak bersungguh-sungguh mengajak jiwamu menuju kebenaran, membenahinya dengan benar, memalingkannya ke arah kebenaran, dan mendidiknya dengan benar. Siapa yang semangat dalam menuntut ilmu, tetapi malas, lemah, dan kendur dalam beramal, maka itu adalah tanda ada suatu keburukan yang tersembunyi di hatinya. Semoga Allah melindungi kita. Betapa sedikit orang yang diberi taufik selamat dari hal itu. Tetapi, apabila ia serius menuntut ilmu kemudian melanjutkannya dengan beramal, maka ia pantas mendapat taufik. Semangatlah menerapkan dan mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, ini adalah salah satu sebab keistikamahan. Kembali ke bagian 2: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 2) Lanjut ke bagian 4: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 4) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat

Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3)

Daftar Isi Toggle Cara menjaga diri dari godaan duniaNasihat pertama: Berdoa dengan tulusNasihat kedua: Belajar agama dengan seriusIlmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan AllahNasihat ketiga: Beramal Cara menjaga diri dari godaan dunia Perkara ini sangat serius dan gawat. Wahai saudaraku dalam Islam dan Sunnah, saya harap kalian pegang ucapan ini dengan serius. Camkan topik ini dengan sungguh-sungguh. Godaan dan ujian begitu banyak. Engkau harus menjaga diri, waspada, melek, dan berusaha menyelamatkan dirimu. Semoga setelah usaha demikian, engkau menjadi selamat. Intinya, jika engkau ingin keselamatan (semoga Allah menjagamu di zaman yang gelap gulita dan bergelimang dengan berbagai godaan ini), berikut adalah beberapa nasihat: Nasihat pertama: Berdoa dengan tulus Berdoa dengan sepenuh hati dan ketulusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkanmu di atas agama ini dan meneguhkan hatimu di atas agama ini. Berdoalah kepada Allah dengan ketulusan. Berdoalah kepada Allah dengan hati yang hadir, sembari mengucap, يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ يَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Wahai Zat yang menggerakkan hati, gerakkan hatiku untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.” Mintalah kepada Zat Yang hati para hamba berada di tangan-Nya, agar meneguhkanmu di atas agama ini dan tidak menyesatkanmu setelah Allah beri petunjuk. Ucapkan dengan sepenuh hati, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8) Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu bersama orang-orang yang berbakti. Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu dalam keadaan muslim. Nabi Yusuf ‘alaihis salam, seorang nabi dan rasul yang mulia, dahulu berdoa dengan doa ini, yaitu agar Rabbnya mewafatkannya dalam keadaan muslim. تَوَفَّنِى مُسْلِمًۭا “Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim.” (QS. Yusuf: 101) Demikianlah, sepatutnya bagi setiap pengikut para nabi dan rasul ‘alaihimus salam agar meminta kepada Allah dengan tulus, bisa meninggal dalam agama Islam dan selamat dari berbagai godaan dan ujian. Sebab, tidak ada jaminan bagi seseorang walaupun ia lahir dalam keadaan muslim, atau dari kedua orang tua yang muslim, atau dia seorang penuntut ilmu, atau dia istikamah di atas ketaatan, atau dia seorang syekh yang terkenal. Demi Allah, Pencipta dan Pemilik langit, ini semua bukan jaminan. Sebab, hati seorang hamba berada di antara dua jemari dari jari-jemari Allah yang Maha Pengasih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya. Betapa banyak orang yang ditokohkan ternyata pada akhir hayatnya su’ul khatimah (kematian yang buruk). Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan jiwa dan raga. Sehingga, hal pertama yang perlu engkau hadirkan dengan usaha, ilmu, dan kesungguhan, serta perlu engkau serahkan urusannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah meminta-Nya dengan tulus agar meneguhkanmu di atas agama ini. Nasihat kedua: Belajar agama dengan serius Kemudian, nasihat kedua setelah itu, wahai saudaraku sekalian, adalah hendaknya engkau bersungguh-sungguh mempelajari agamamu. Ulama adalah manusia paling teguh dalam agama ini. Ulama adalah manusia paling teguh jika angin ujian dan godaan dunia berhembus. Mengapa? Sebab dengan taufik Allah ‘Azza Wajalla, mereka berpegang dengan sebuah tali yang kuat, yaitu ilmu. Ilmu adalah cahaya yang menerangi insan. Ilmu adalah penjaga. Ilmu adalah pelindung. Jika engkau memiliki ilmu terhadap agama Allah ‘Azza Wajalla, jika engkau memiliki ilmu terhadap kitabullah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, jika engkau memiliki ilmu terhadap apa yang Allah firmankan dan apa yang Rasul sabdakan ﷺ, maka berbahagialah dengan kebaikan. Sebab, itu merupakan tanda mendapat hidayah, dan salah satu sebab mendapat hidayah, serta keteguhan di atas agama. Hal terbesar yang wajib diseriusi untuk dipelajari adalah mempelajari akidah yang benar. Mempelajari cara mentauhidkan Allah ‘Azza Wajalla. Jadikan hal ini hal terbesar dalam hidupmu. Belakangan ini ada yang bilang, “Hidup itu harus memiliki strategi.” Jadikan 5/6 tujuan strategis hidupmu dalam hal-hal a, b, c, dan berkutat seputar dunia saja dan dia senantiasa membicarakan tentang masa depan. Masa depan sejati nanti di sana, bukan di sini. Bukan berarti seseorang sampai melepaskan hidupnya. Bukan. Akan tetapi, maksudnya adalah jangan jadikan kehidupan ini letaknya di hati, tetapi di tangan. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah menyebutkan suatu contoh bagus terkait kondisi seorang mukmin di dunia. Beliau berkata, الدنيا للمؤمن كالخلاء لا بد منها ولا يأنس الإنسان بها “Dunia bagi seorang mukmin seperti toilet. Keberadaannya dibutuhkan, tetapi tidak untuk bernyaman-nyaman ditinggali seseorang.” Merupakan suatu hal yang penting untuk masuk ke kamar mandi, tetapi itu bukanlah tempat untuk kenyamanan, kebahagiaan, dan istirahat. Hanya sekadar untuk menunaikan hajatmu secepat mungkin. Kemudian apa? Kemudian keluar. Beginilah seharusnya apabila seseorang yang telah mendapat hidayah dan bashīrah (penglihatan). Ia menjadikan dunia ini di tangannya, tidak menjadikannya di hatinya. Baca juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah Ilmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan Allah Sehingga, siapa yang serius mempelajari tauhid dan mempelajari akidah, maka keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan terpatri di hatinya dan ia akan menganggapnya sebagai suatu hal yang penting. Ia akan mengagungkan Allah ‘Azza Wajalla dengan pengagungan yang pantas ditujukan kepada-Nya. Hal itu merupakan salah satu wasilah, sementara hidayah ada di tangan Allah. Akan tetapi, demi Allah, saudaraku sekalian, mempelajari tauhid dan akidah adalah salah satu tanda mendapat hidayah dan sebab teguh di atas agama. Sebab, apa isi dari ilmu akidah? Akidah adalah mengenal Allah ‘Azza Wa Jalla. Mengenali Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta kemuliaan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya. Mengetahui hak-hak Allah atas hamba-Nya. Oleh sebab itu, engkau dapat mengagungkan Allah dengan pengagungan yang layak ditujukan kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, hal-hal kecil lain yang tak bernilai tidak akan terpatri di hatimu. Camkan kaidah berikut, bahwasanya mempelajari akidah adalah salah satu sebab dapat merealisasikan keimanan dan tauhid. Sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi Zat yang paling dicintai hatimu. Semakin bertambah cintamu kepada Allah, semakin sedikit cintamu pada yang lain. Semakin bertambah rasa takutmu kepada Allah, semakin sedikit rasa takutmu pada yang lain. Semakin besar rasa harapmu kepada Allah ‘Azza Wajalla, semakin sedikit engkau berharap pada yang lain. Saudaraku sekalian, hal itu adalah suatu keniscayaan dan kepastian. Sebab, hati tempatnya satu, seperti satu bejana, tetapi isi minumannya bermacam-macam. Kalau bejana tersebut penuh dengan sesuatu, maka tidak ada lagi tempat untuk yang lain. Jika hati penuh dengan rasa cinta kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada cinta lain, selain cinta kepada-Nya? Jika hati penuh dengan pengagungan kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada pengagungan kepada selain-Nya? Oleh karena itu, nomor satukan Allah, saudaraku sekalian. Mari kita bersama-sama serius mempelajari akidah yang benar, terutama di zaman ini yang banyak tersebar dai pengajak keburukan dan kesesatan. Mereka menyebarkan kesyirikan dan pemahaman menolak sifat-sifat Allah ‘Azza Wajalla. Mereka menyebarkan akidah yang keliru dalam masalah iman dan takdir, serta berbagai masalah-masalah pokok dan pondasi keimanan lainnya. Banyak dari mereka yang memalingkan orang-orang dari kebenaran yang terang benderang, yaitu akidah para pendahulu umat ini yang saleh. Sehingga, saudaraku sekalian, kita perlu mempelajari akidah yang benar, sebagaimana yang diimani oleh para pendahulu umat ini yang saleh rahimahumullah. Sebab, hal ini adalah salah satu sebab istikamah. Nasihat ketiga: Beramal Nasihat ketiga adalah melanjutkan ilmu tersebut dengan amalan. Karena ilmu ditujukan untuk beramal. Adapun ilmu tanpa amal akan berbuah malapetaka bagi pelakunya. Ada dua hal yang tercela: Pertama: Beramal tanpa ilmu Kedua: Berilmu tanpa amal Orang yang diberi hidayah adalah orang yang berilmu lalu beramal. Bersungguh-sungguhlah untuk menerapkan apa yang telah engkau ketahui. Jangan sampai engkau semangat dan serius menghapal, membaca, mendatangi majelis, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya, tetapi setelah itu tidak bersungguh-sungguh mengajak jiwamu menuju kebenaran, membenahinya dengan benar, memalingkannya ke arah kebenaran, dan mendidiknya dengan benar. Siapa yang semangat dalam menuntut ilmu, tetapi malas, lemah, dan kendur dalam beramal, maka itu adalah tanda ada suatu keburukan yang tersembunyi di hatinya. Semoga Allah melindungi kita. Betapa sedikit orang yang diberi taufik selamat dari hal itu. Tetapi, apabila ia serius menuntut ilmu kemudian melanjutkannya dengan beramal, maka ia pantas mendapat taufik. Semangatlah menerapkan dan mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, ini adalah salah satu sebab keistikamahan. Kembali ke bagian 2: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 2) Lanjut ke bagian 4: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 4) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat
Daftar Isi Toggle Cara menjaga diri dari godaan duniaNasihat pertama: Berdoa dengan tulusNasihat kedua: Belajar agama dengan seriusIlmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan AllahNasihat ketiga: Beramal Cara menjaga diri dari godaan dunia Perkara ini sangat serius dan gawat. Wahai saudaraku dalam Islam dan Sunnah, saya harap kalian pegang ucapan ini dengan serius. Camkan topik ini dengan sungguh-sungguh. Godaan dan ujian begitu banyak. Engkau harus menjaga diri, waspada, melek, dan berusaha menyelamatkan dirimu. Semoga setelah usaha demikian, engkau menjadi selamat. Intinya, jika engkau ingin keselamatan (semoga Allah menjagamu di zaman yang gelap gulita dan bergelimang dengan berbagai godaan ini), berikut adalah beberapa nasihat: Nasihat pertama: Berdoa dengan tulus Berdoa dengan sepenuh hati dan ketulusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkanmu di atas agama ini dan meneguhkan hatimu di atas agama ini. Berdoalah kepada Allah dengan ketulusan. Berdoalah kepada Allah dengan hati yang hadir, sembari mengucap, يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ يَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Wahai Zat yang menggerakkan hati, gerakkan hatiku untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.” Mintalah kepada Zat Yang hati para hamba berada di tangan-Nya, agar meneguhkanmu di atas agama ini dan tidak menyesatkanmu setelah Allah beri petunjuk. Ucapkan dengan sepenuh hati, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8) Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu bersama orang-orang yang berbakti. Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu dalam keadaan muslim. Nabi Yusuf ‘alaihis salam, seorang nabi dan rasul yang mulia, dahulu berdoa dengan doa ini, yaitu agar Rabbnya mewafatkannya dalam keadaan muslim. تَوَفَّنِى مُسْلِمًۭا “Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim.” (QS. Yusuf: 101) Demikianlah, sepatutnya bagi setiap pengikut para nabi dan rasul ‘alaihimus salam agar meminta kepada Allah dengan tulus, bisa meninggal dalam agama Islam dan selamat dari berbagai godaan dan ujian. Sebab, tidak ada jaminan bagi seseorang walaupun ia lahir dalam keadaan muslim, atau dari kedua orang tua yang muslim, atau dia seorang penuntut ilmu, atau dia istikamah di atas ketaatan, atau dia seorang syekh yang terkenal. Demi Allah, Pencipta dan Pemilik langit, ini semua bukan jaminan. Sebab, hati seorang hamba berada di antara dua jemari dari jari-jemari Allah yang Maha Pengasih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya. Betapa banyak orang yang ditokohkan ternyata pada akhir hayatnya su’ul khatimah (kematian yang buruk). Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan jiwa dan raga. Sehingga, hal pertama yang perlu engkau hadirkan dengan usaha, ilmu, dan kesungguhan, serta perlu engkau serahkan urusannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah meminta-Nya dengan tulus agar meneguhkanmu di atas agama ini. Nasihat kedua: Belajar agama dengan serius Kemudian, nasihat kedua setelah itu, wahai saudaraku sekalian, adalah hendaknya engkau bersungguh-sungguh mempelajari agamamu. Ulama adalah manusia paling teguh dalam agama ini. Ulama adalah manusia paling teguh jika angin ujian dan godaan dunia berhembus. Mengapa? Sebab dengan taufik Allah ‘Azza Wajalla, mereka berpegang dengan sebuah tali yang kuat, yaitu ilmu. Ilmu adalah cahaya yang menerangi insan. Ilmu adalah penjaga. Ilmu adalah pelindung. Jika engkau memiliki ilmu terhadap agama Allah ‘Azza Wajalla, jika engkau memiliki ilmu terhadap kitabullah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, jika engkau memiliki ilmu terhadap apa yang Allah firmankan dan apa yang Rasul sabdakan ﷺ, maka berbahagialah dengan kebaikan. Sebab, itu merupakan tanda mendapat hidayah, dan salah satu sebab mendapat hidayah, serta keteguhan di atas agama. Hal terbesar yang wajib diseriusi untuk dipelajari adalah mempelajari akidah yang benar. Mempelajari cara mentauhidkan Allah ‘Azza Wajalla. Jadikan hal ini hal terbesar dalam hidupmu. Belakangan ini ada yang bilang, “Hidup itu harus memiliki strategi.” Jadikan 5/6 tujuan strategis hidupmu dalam hal-hal a, b, c, dan berkutat seputar dunia saja dan dia senantiasa membicarakan tentang masa depan. Masa depan sejati nanti di sana, bukan di sini. Bukan berarti seseorang sampai melepaskan hidupnya. Bukan. Akan tetapi, maksudnya adalah jangan jadikan kehidupan ini letaknya di hati, tetapi di tangan. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah menyebutkan suatu contoh bagus terkait kondisi seorang mukmin di dunia. Beliau berkata, الدنيا للمؤمن كالخلاء لا بد منها ولا يأنس الإنسان بها “Dunia bagi seorang mukmin seperti toilet. Keberadaannya dibutuhkan, tetapi tidak untuk bernyaman-nyaman ditinggali seseorang.” Merupakan suatu hal yang penting untuk masuk ke kamar mandi, tetapi itu bukanlah tempat untuk kenyamanan, kebahagiaan, dan istirahat. Hanya sekadar untuk menunaikan hajatmu secepat mungkin. Kemudian apa? Kemudian keluar. Beginilah seharusnya apabila seseorang yang telah mendapat hidayah dan bashīrah (penglihatan). Ia menjadikan dunia ini di tangannya, tidak menjadikannya di hatinya. Baca juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah Ilmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan Allah Sehingga, siapa yang serius mempelajari tauhid dan mempelajari akidah, maka keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan terpatri di hatinya dan ia akan menganggapnya sebagai suatu hal yang penting. Ia akan mengagungkan Allah ‘Azza Wajalla dengan pengagungan yang pantas ditujukan kepada-Nya. Hal itu merupakan salah satu wasilah, sementara hidayah ada di tangan Allah. Akan tetapi, demi Allah, saudaraku sekalian, mempelajari tauhid dan akidah adalah salah satu tanda mendapat hidayah dan sebab teguh di atas agama. Sebab, apa isi dari ilmu akidah? Akidah adalah mengenal Allah ‘Azza Wa Jalla. Mengenali Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta kemuliaan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya. Mengetahui hak-hak Allah atas hamba-Nya. Oleh sebab itu, engkau dapat mengagungkan Allah dengan pengagungan yang layak ditujukan kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, hal-hal kecil lain yang tak bernilai tidak akan terpatri di hatimu. Camkan kaidah berikut, bahwasanya mempelajari akidah adalah salah satu sebab dapat merealisasikan keimanan dan tauhid. Sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi Zat yang paling dicintai hatimu. Semakin bertambah cintamu kepada Allah, semakin sedikit cintamu pada yang lain. Semakin bertambah rasa takutmu kepada Allah, semakin sedikit rasa takutmu pada yang lain. Semakin besar rasa harapmu kepada Allah ‘Azza Wajalla, semakin sedikit engkau berharap pada yang lain. Saudaraku sekalian, hal itu adalah suatu keniscayaan dan kepastian. Sebab, hati tempatnya satu, seperti satu bejana, tetapi isi minumannya bermacam-macam. Kalau bejana tersebut penuh dengan sesuatu, maka tidak ada lagi tempat untuk yang lain. Jika hati penuh dengan rasa cinta kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada cinta lain, selain cinta kepada-Nya? Jika hati penuh dengan pengagungan kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada pengagungan kepada selain-Nya? Oleh karena itu, nomor satukan Allah, saudaraku sekalian. Mari kita bersama-sama serius mempelajari akidah yang benar, terutama di zaman ini yang banyak tersebar dai pengajak keburukan dan kesesatan. Mereka menyebarkan kesyirikan dan pemahaman menolak sifat-sifat Allah ‘Azza Wajalla. Mereka menyebarkan akidah yang keliru dalam masalah iman dan takdir, serta berbagai masalah-masalah pokok dan pondasi keimanan lainnya. Banyak dari mereka yang memalingkan orang-orang dari kebenaran yang terang benderang, yaitu akidah para pendahulu umat ini yang saleh. Sehingga, saudaraku sekalian, kita perlu mempelajari akidah yang benar, sebagaimana yang diimani oleh para pendahulu umat ini yang saleh rahimahumullah. Sebab, hal ini adalah salah satu sebab istikamah. Nasihat ketiga: Beramal Nasihat ketiga adalah melanjutkan ilmu tersebut dengan amalan. Karena ilmu ditujukan untuk beramal. Adapun ilmu tanpa amal akan berbuah malapetaka bagi pelakunya. Ada dua hal yang tercela: Pertama: Beramal tanpa ilmu Kedua: Berilmu tanpa amal Orang yang diberi hidayah adalah orang yang berilmu lalu beramal. Bersungguh-sungguhlah untuk menerapkan apa yang telah engkau ketahui. Jangan sampai engkau semangat dan serius menghapal, membaca, mendatangi majelis, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya, tetapi setelah itu tidak bersungguh-sungguh mengajak jiwamu menuju kebenaran, membenahinya dengan benar, memalingkannya ke arah kebenaran, dan mendidiknya dengan benar. Siapa yang semangat dalam menuntut ilmu, tetapi malas, lemah, dan kendur dalam beramal, maka itu adalah tanda ada suatu keburukan yang tersembunyi di hatinya. Semoga Allah melindungi kita. Betapa sedikit orang yang diberi taufik selamat dari hal itu. Tetapi, apabila ia serius menuntut ilmu kemudian melanjutkannya dengan beramal, maka ia pantas mendapat taufik. Semangatlah menerapkan dan mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, ini adalah salah satu sebab keistikamahan. Kembali ke bagian 2: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 2) Lanjut ke bagian 4: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 4) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat


Daftar Isi Toggle Cara menjaga diri dari godaan duniaNasihat pertama: Berdoa dengan tulusNasihat kedua: Belajar agama dengan seriusIlmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan AllahNasihat ketiga: Beramal Cara menjaga diri dari godaan dunia Perkara ini sangat serius dan gawat. Wahai saudaraku dalam Islam dan Sunnah, saya harap kalian pegang ucapan ini dengan serius. Camkan topik ini dengan sungguh-sungguh. Godaan dan ujian begitu banyak. Engkau harus menjaga diri, waspada, melek, dan berusaha menyelamatkan dirimu. Semoga setelah usaha demikian, engkau menjadi selamat. Intinya, jika engkau ingin keselamatan (semoga Allah menjagamu di zaman yang gelap gulita dan bergelimang dengan berbagai godaan ini), berikut adalah beberapa nasihat: Nasihat pertama: Berdoa dengan tulus Berdoa dengan sepenuh hati dan ketulusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar meneguhkanmu di atas agama ini dan meneguhkan hatimu di atas agama ini. Berdoalah kepada Allah dengan ketulusan. Berdoalah kepada Allah dengan hati yang hadir, sembari mengucap, يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ يَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. Wahai Zat yang menggerakkan hati, gerakkan hatiku untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.” Mintalah kepada Zat Yang hati para hamba berada di tangan-Nya, agar meneguhkanmu di atas agama ini dan tidak menyesatkanmu setelah Allah beri petunjuk. Ucapkan dengan sepenuh hati, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8) Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu bersama orang-orang yang berbakti. Mintalah kepada Rabbmu agar mewafatkanmu dalam keadaan muslim. Nabi Yusuf ‘alaihis salam, seorang nabi dan rasul yang mulia, dahulu berdoa dengan doa ini, yaitu agar Rabbnya mewafatkannya dalam keadaan muslim. تَوَفَّنِى مُسْلِمًۭا “Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim.” (QS. Yusuf: 101) Demikianlah, sepatutnya bagi setiap pengikut para nabi dan rasul ‘alaihimus salam agar meminta kepada Allah dengan tulus, bisa meninggal dalam agama Islam dan selamat dari berbagai godaan dan ujian. Sebab, tidak ada jaminan bagi seseorang walaupun ia lahir dalam keadaan muslim, atau dari kedua orang tua yang muslim, atau dia seorang penuntut ilmu, atau dia istikamah di atas ketaatan, atau dia seorang syekh yang terkenal. Demi Allah, Pencipta dan Pemilik langit, ini semua bukan jaminan. Sebab, hati seorang hamba berada di antara dua jemari dari jari-jemari Allah yang Maha Pengasih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya. Betapa banyak orang yang ditokohkan ternyata pada akhir hayatnya su’ul khatimah (kematian yang buruk). Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan jiwa dan raga. Sehingga, hal pertama yang perlu engkau hadirkan dengan usaha, ilmu, dan kesungguhan, serta perlu engkau serahkan urusannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah meminta-Nya dengan tulus agar meneguhkanmu di atas agama ini. Nasihat kedua: Belajar agama dengan serius Kemudian, nasihat kedua setelah itu, wahai saudaraku sekalian, adalah hendaknya engkau bersungguh-sungguh mempelajari agamamu. Ulama adalah manusia paling teguh dalam agama ini. Ulama adalah manusia paling teguh jika angin ujian dan godaan dunia berhembus. Mengapa? Sebab dengan taufik Allah ‘Azza Wajalla, mereka berpegang dengan sebuah tali yang kuat, yaitu ilmu. Ilmu adalah cahaya yang menerangi insan. Ilmu adalah penjaga. Ilmu adalah pelindung. Jika engkau memiliki ilmu terhadap agama Allah ‘Azza Wajalla, jika engkau memiliki ilmu terhadap kitabullah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, jika engkau memiliki ilmu terhadap apa yang Allah firmankan dan apa yang Rasul sabdakan ﷺ, maka berbahagialah dengan kebaikan. Sebab, itu merupakan tanda mendapat hidayah, dan salah satu sebab mendapat hidayah, serta keteguhan di atas agama. Hal terbesar yang wajib diseriusi untuk dipelajari adalah mempelajari akidah yang benar. Mempelajari cara mentauhidkan Allah ‘Azza Wajalla. Jadikan hal ini hal terbesar dalam hidupmu. Belakangan ini ada yang bilang, “Hidup itu harus memiliki strategi.” Jadikan 5/6 tujuan strategis hidupmu dalam hal-hal a, b, c, dan berkutat seputar dunia saja dan dia senantiasa membicarakan tentang masa depan. Masa depan sejati nanti di sana, bukan di sini. Bukan berarti seseorang sampai melepaskan hidupnya. Bukan. Akan tetapi, maksudnya adalah jangan jadikan kehidupan ini letaknya di hati, tetapi di tangan. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah menyebutkan suatu contoh bagus terkait kondisi seorang mukmin di dunia. Beliau berkata, الدنيا للمؤمن كالخلاء لا بد منها ولا يأنس الإنسان بها “Dunia bagi seorang mukmin seperti toilet. Keberadaannya dibutuhkan, tetapi tidak untuk bernyaman-nyaman ditinggali seseorang.” Merupakan suatu hal yang penting untuk masuk ke kamar mandi, tetapi itu bukanlah tempat untuk kenyamanan, kebahagiaan, dan istirahat. Hanya sekadar untuk menunaikan hajatmu secepat mungkin. Kemudian apa? Kemudian keluar. Beginilah seharusnya apabila seseorang yang telah mendapat hidayah dan bashīrah (penglihatan). Ia menjadikan dunia ini di tangannya, tidak menjadikannya di hatinya. Baca juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah Ilmu akidah dan tauhid: Kunci mengenal dan mengagungkan Allah Sehingga, siapa yang serius mempelajari tauhid dan mempelajari akidah, maka keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan terpatri di hatinya dan ia akan menganggapnya sebagai suatu hal yang penting. Ia akan mengagungkan Allah ‘Azza Wajalla dengan pengagungan yang pantas ditujukan kepada-Nya. Hal itu merupakan salah satu wasilah, sementara hidayah ada di tangan Allah. Akan tetapi, demi Allah, saudaraku sekalian, mempelajari tauhid dan akidah adalah salah satu tanda mendapat hidayah dan sebab teguh di atas agama. Sebab, apa isi dari ilmu akidah? Akidah adalah mengenal Allah ‘Azza Wa Jalla. Mengenali Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta kemuliaan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya. Mengetahui hak-hak Allah atas hamba-Nya. Oleh sebab itu, engkau dapat mengagungkan Allah dengan pengagungan yang layak ditujukan kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, hal-hal kecil lain yang tak bernilai tidak akan terpatri di hatimu. Camkan kaidah berikut, bahwasanya mempelajari akidah adalah salah satu sebab dapat merealisasikan keimanan dan tauhid. Sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi Zat yang paling dicintai hatimu. Semakin bertambah cintamu kepada Allah, semakin sedikit cintamu pada yang lain. Semakin bertambah rasa takutmu kepada Allah, semakin sedikit rasa takutmu pada yang lain. Semakin besar rasa harapmu kepada Allah ‘Azza Wajalla, semakin sedikit engkau berharap pada yang lain. Saudaraku sekalian, hal itu adalah suatu keniscayaan dan kepastian. Sebab, hati tempatnya satu, seperti satu bejana, tetapi isi minumannya bermacam-macam. Kalau bejana tersebut penuh dengan sesuatu, maka tidak ada lagi tempat untuk yang lain. Jika hati penuh dengan rasa cinta kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada cinta lain, selain cinta kepada-Nya? Jika hati penuh dengan pengagungan kepada Allah ‘Azza Wajalla, bagaimana bisa ada pengagungan kepada selain-Nya? Oleh karena itu, nomor satukan Allah, saudaraku sekalian. Mari kita bersama-sama serius mempelajari akidah yang benar, terutama di zaman ini yang banyak tersebar dai pengajak keburukan dan kesesatan. Mereka menyebarkan kesyirikan dan pemahaman menolak sifat-sifat Allah ‘Azza Wajalla. Mereka menyebarkan akidah yang keliru dalam masalah iman dan takdir, serta berbagai masalah-masalah pokok dan pondasi keimanan lainnya. Banyak dari mereka yang memalingkan orang-orang dari kebenaran yang terang benderang, yaitu akidah para pendahulu umat ini yang saleh. Sehingga, saudaraku sekalian, kita perlu mempelajari akidah yang benar, sebagaimana yang diimani oleh para pendahulu umat ini yang saleh rahimahumullah. Sebab, hal ini adalah salah satu sebab istikamah. Nasihat ketiga: Beramal Nasihat ketiga adalah melanjutkan ilmu tersebut dengan amalan. Karena ilmu ditujukan untuk beramal. Adapun ilmu tanpa amal akan berbuah malapetaka bagi pelakunya. Ada dua hal yang tercela: Pertama: Beramal tanpa ilmu Kedua: Berilmu tanpa amal Orang yang diberi hidayah adalah orang yang berilmu lalu beramal. Bersungguh-sungguhlah untuk menerapkan apa yang telah engkau ketahui. Jangan sampai engkau semangat dan serius menghapal, membaca, mendatangi majelis, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya, tetapi setelah itu tidak bersungguh-sungguh mengajak jiwamu menuju kebenaran, membenahinya dengan benar, memalingkannya ke arah kebenaran, dan mendidiknya dengan benar. Siapa yang semangat dalam menuntut ilmu, tetapi malas, lemah, dan kendur dalam beramal, maka itu adalah tanda ada suatu keburukan yang tersembunyi di hatinya. Semoga Allah melindungi kita. Betapa sedikit orang yang diberi taufik selamat dari hal itu. Tetapi, apabila ia serius menuntut ilmu kemudian melanjutkannya dengan beramal, maka ia pantas mendapat taufik. Semangatlah menerapkan dan mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, ini adalah salah satu sebab keistikamahan. Kembali ke bagian 2: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 2) Lanjut ke bagian 4: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 4) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat

Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh duniaBersihkan hati sebelum bertemu AllahNgerinya godaan dunia saat ini Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh dunia Demi Allah, Rabb kita sangat mulia. “Siapa yang mendatangi-Nya dengan berjalan, maka Dia akan mendatanginya dengan berlari kecil.” Demikianlah, Nabi ﷺ, yang jujur dan ucapannya yang dipercaya, bersabda. Rabb kita Mahamulia. Rabb kita Maha Menerima syukur hamba-Nya. Siapa yang jujur kepada Allah ‘Azza Wajalla, Allah akan buat ia melek dan tahu hal-hal yang banyak orang tidak ketahui. Dengan itu, ia menapaki kehidupan ini dengan petunjuk, cahaya, dan hidayah sampai hembusan nafas terakhir yang Allah takdirkan baginya keluar. Kemudian setelah itu, ia berpindah menuju kehidupan sejati. وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ “Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) Yaitu, kehidupan sejati. Adapun hidup yang kita jalani sekarang, hanya perantara, bukan tempat menetap bagi kita. Hidup ini hanya perantara tempat kita menghabiskan waktu yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu, pasti kita tinggalkan, bisa malam ini, besok, atau lusa, wallahu a’lam. Tetapi, pertemuan dengan Allah adalah dekat. Demi Rabb langit, pertemuan dengan Allah pasti akan datang waktunya. Bersihkan hati sebelum bertemu Allah Oleh karena itu, saudaraku sekalian, orang yang bahagia adalah orang yang melek terhadap realita ini, lalu melakukan amal saleh dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh. Tidak tertipu dengan berbagai distraksi dan kesibukan yang membuatnya lalai dari taat kepada Allah. Ia tapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Dengan sebab itu, ia termasuk orang-orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ “(Yaitu,) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara:  88-89) Demikianlah, orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla, ia menapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Apa makna hati yang bersih? Ia adalah hati yang berserah diri dan pasrah kepada Allah, serta bersih dari segala hal yang menghalangi hubungannya dengan Allah. Inilah hati yang bersih, saudaraku sekalian. Lain halnya dengan hati yang mati atau hati yang sakit. Ia adalah hati yang sangat jauh dari kata selamat. Oleh karena itu, tidak ada keselamatan baginya sampai hatinya Allah Ta’ala penuhi dengan kasih sayang-Nya. Lalu, Allah jadikan ia dapat melihat realita atau Allah anugerahkan ia dapat bertobat kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling, enggan menaati Allah ‘Azza Wajalla sama sekali dan tidak beribadah kepada Allah di dalam kehidupan ini. Maka, akibatnya adalah ia berpisah dari dunia ini dalam keadaan tidak diberi petunjuk dan sepenuhnya tersesat. Demi Allah, yang seperti ini tidak ada harapan kasih sayang Allah kepadanya. Namun, bagi orang yang tidak sempurna dalam menaati Allah, akan tetapi ia masih menjalankan pokok-pokok ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merealisasikan rukun iman, maka ia berada di antara ampunan dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Baca juga: Nasihat bagi Penuntut Ilmu Ngerinya godaan dunia saat ini Intinya, saudaraku sekalian, bahwasanya zaman ini adalah zaman yang banyak sekali muncul berbagai cobaan dan godaan. Dan bisa kita saksikan kebenaran sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, بَادِرُوا بالأعمال فِتَنًا كَقِطَعِ الليل المُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرجلُ مؤمنا ويُمْسِي كافرا، ويُمْسِي مؤمنا ويُصْبِحُ كافرا “Bersegeralah untuk beramal (saleh) sebelum datang berbagai godaan dan ujian seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di mana pada pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Dan pada sore hari ia beriman, namun di pagi hari ia kafir.” (HR. Muslim no. 118) Saudaraku sekalian, berapa jam antara pagi dan sore? Dua belas? Tujuh jam? Delapan jam? Sepuluh jam? Cukup untuk seseorang murtad berbalik ke arah belakang, wal’iyadzu billah. Beberapa jam cukup untuk membuat seseorang murtad dari agama Islam. Semoga Allah memberikan kita perlindungan dari perubahan dari keimanan menjadi kekufuran. Benar-benar suatu musibah yang amat besar. Hal demikian hanya dipahami oleh orang yang ahli dalam mengetahui kondisi manusia. Sekumpulan halaman dan baris tulisan yang dibaca di media sosial atau beberapa video bisa jadi cukup untuk mengubah seseorang menjadi murtad. Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan secara lahir dan batin. Ini benar-benar terjadi, saudaraku sekalian, seseorang semestinya takut terhadap hal semacam ini. Sebab keburukan apabila sudah merajalela, semakin patut untuk ditakuti. Hal yang mendukung kebenaran ini adalah ucapan Khalilullah Ibrahim yang mana beliau adalah, كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ “Seorang imam (yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah…” (QS. An-Nahl: 120) Serta, kita diperintahkan untuk mengikuti ajaran beliau, قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Katakanlah, ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.’ Maka, ikutilah agama Ibrahim yang lurus…” (QS. Ali ‘Imran: 95) ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus…’” (QS. An-Nahl: 123) Nabi ﷺ tidak pernah sama sekali memerintahkan untuk mengikuti ajaran salah seorang rasul, kecuali Ibrahim ‘alahis salam, imamnya ahli tauhid dan bapaknya para nabi ‘alahimush shalatu wassalam, manusia terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Meski demikian, bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kondisi beliau? Allah menjelaskan bahwasanya beliau berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan sebuah doa yang luar biasa. Beliau berdoa,  وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ “… dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Inna lillahi wainna ilahi raji’un. Beliau khawatir terhadap diri sendiri dan anak-anaknya, sehingga berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan doa yang tulus ini agar ia dan anak-anaknya dijauhkan dari beribadah kepada berhala. Apa sebabnya? Lihat alasannya, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ “Ya Rabbku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.” (QS. Ibrahim: 36) Oleh karena itu, semakin suatu keburukan tersebar, semakin patut untuk dikhawatirkan. Musibah-musibah semacam ini, demi Allah, adalah musibah yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang dulunya bersungguh-sungguh dan berada di jalan yang lurus kemudian keluar dari agama Islam disebabkan banyaknya godaan dan cobaan -semoga Allah melindungi kita-. Banyak godaan dan ujian mendatangi seseorang, sementara ia sedang berselimut di tempat tidurnya. Sekarang tidak lagi seperti zaman dahulu. Engkau sendiri yang harus mencari godaan dan cobaan itu. Sekarang, godaan dan cobaan itulah yang mendatangi tempatmu. Tidak perlu pergi mencarinya. Ia akan datang ke tempatnya saat ia sedang berselimut di kamarnya lalu godaan mendatanginya. Godaan itu menjadikan kemaksiatan kepada Allah ‘Azza Wajalla terlihat indah, bahkan bisa jadi menjadikan kekufuran kepada Allah Ta’ala terlihat indah. Kembali ke bagian 1: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat

Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 2)

Daftar Isi Toggle Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh duniaBersihkan hati sebelum bertemu AllahNgerinya godaan dunia saat ini Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh dunia Demi Allah, Rabb kita sangat mulia. “Siapa yang mendatangi-Nya dengan berjalan, maka Dia akan mendatanginya dengan berlari kecil.” Demikianlah, Nabi ﷺ, yang jujur dan ucapannya yang dipercaya, bersabda. Rabb kita Mahamulia. Rabb kita Maha Menerima syukur hamba-Nya. Siapa yang jujur kepada Allah ‘Azza Wajalla, Allah akan buat ia melek dan tahu hal-hal yang banyak orang tidak ketahui. Dengan itu, ia menapaki kehidupan ini dengan petunjuk, cahaya, dan hidayah sampai hembusan nafas terakhir yang Allah takdirkan baginya keluar. Kemudian setelah itu, ia berpindah menuju kehidupan sejati. وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ “Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) Yaitu, kehidupan sejati. Adapun hidup yang kita jalani sekarang, hanya perantara, bukan tempat menetap bagi kita. Hidup ini hanya perantara tempat kita menghabiskan waktu yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu, pasti kita tinggalkan, bisa malam ini, besok, atau lusa, wallahu a’lam. Tetapi, pertemuan dengan Allah adalah dekat. Demi Rabb langit, pertemuan dengan Allah pasti akan datang waktunya. Bersihkan hati sebelum bertemu Allah Oleh karena itu, saudaraku sekalian, orang yang bahagia adalah orang yang melek terhadap realita ini, lalu melakukan amal saleh dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh. Tidak tertipu dengan berbagai distraksi dan kesibukan yang membuatnya lalai dari taat kepada Allah. Ia tapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Dengan sebab itu, ia termasuk orang-orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ “(Yaitu,) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara:  88-89) Demikianlah, orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla, ia menapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Apa makna hati yang bersih? Ia adalah hati yang berserah diri dan pasrah kepada Allah, serta bersih dari segala hal yang menghalangi hubungannya dengan Allah. Inilah hati yang bersih, saudaraku sekalian. Lain halnya dengan hati yang mati atau hati yang sakit. Ia adalah hati yang sangat jauh dari kata selamat. Oleh karena itu, tidak ada keselamatan baginya sampai hatinya Allah Ta’ala penuhi dengan kasih sayang-Nya. Lalu, Allah jadikan ia dapat melihat realita atau Allah anugerahkan ia dapat bertobat kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling, enggan menaati Allah ‘Azza Wajalla sama sekali dan tidak beribadah kepada Allah di dalam kehidupan ini. Maka, akibatnya adalah ia berpisah dari dunia ini dalam keadaan tidak diberi petunjuk dan sepenuhnya tersesat. Demi Allah, yang seperti ini tidak ada harapan kasih sayang Allah kepadanya. Namun, bagi orang yang tidak sempurna dalam menaati Allah, akan tetapi ia masih menjalankan pokok-pokok ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merealisasikan rukun iman, maka ia berada di antara ampunan dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Baca juga: Nasihat bagi Penuntut Ilmu Ngerinya godaan dunia saat ini Intinya, saudaraku sekalian, bahwasanya zaman ini adalah zaman yang banyak sekali muncul berbagai cobaan dan godaan. Dan bisa kita saksikan kebenaran sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, بَادِرُوا بالأعمال فِتَنًا كَقِطَعِ الليل المُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرجلُ مؤمنا ويُمْسِي كافرا، ويُمْسِي مؤمنا ويُصْبِحُ كافرا “Bersegeralah untuk beramal (saleh) sebelum datang berbagai godaan dan ujian seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di mana pada pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Dan pada sore hari ia beriman, namun di pagi hari ia kafir.” (HR. Muslim no. 118) Saudaraku sekalian, berapa jam antara pagi dan sore? Dua belas? Tujuh jam? Delapan jam? Sepuluh jam? Cukup untuk seseorang murtad berbalik ke arah belakang, wal’iyadzu billah. Beberapa jam cukup untuk membuat seseorang murtad dari agama Islam. Semoga Allah memberikan kita perlindungan dari perubahan dari keimanan menjadi kekufuran. Benar-benar suatu musibah yang amat besar. Hal demikian hanya dipahami oleh orang yang ahli dalam mengetahui kondisi manusia. Sekumpulan halaman dan baris tulisan yang dibaca di media sosial atau beberapa video bisa jadi cukup untuk mengubah seseorang menjadi murtad. Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan secara lahir dan batin. Ini benar-benar terjadi, saudaraku sekalian, seseorang semestinya takut terhadap hal semacam ini. Sebab keburukan apabila sudah merajalela, semakin patut untuk ditakuti. Hal yang mendukung kebenaran ini adalah ucapan Khalilullah Ibrahim yang mana beliau adalah, كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ “Seorang imam (yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah…” (QS. An-Nahl: 120) Serta, kita diperintahkan untuk mengikuti ajaran beliau, قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Katakanlah, ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.’ Maka, ikutilah agama Ibrahim yang lurus…” (QS. Ali ‘Imran: 95) ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus…’” (QS. An-Nahl: 123) Nabi ﷺ tidak pernah sama sekali memerintahkan untuk mengikuti ajaran salah seorang rasul, kecuali Ibrahim ‘alahis salam, imamnya ahli tauhid dan bapaknya para nabi ‘alahimush shalatu wassalam, manusia terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Meski demikian, bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kondisi beliau? Allah menjelaskan bahwasanya beliau berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan sebuah doa yang luar biasa. Beliau berdoa,  وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ “… dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Inna lillahi wainna ilahi raji’un. Beliau khawatir terhadap diri sendiri dan anak-anaknya, sehingga berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan doa yang tulus ini agar ia dan anak-anaknya dijauhkan dari beribadah kepada berhala. Apa sebabnya? Lihat alasannya, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ “Ya Rabbku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.” (QS. Ibrahim: 36) Oleh karena itu, semakin suatu keburukan tersebar, semakin patut untuk dikhawatirkan. Musibah-musibah semacam ini, demi Allah, adalah musibah yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang dulunya bersungguh-sungguh dan berada di jalan yang lurus kemudian keluar dari agama Islam disebabkan banyaknya godaan dan cobaan -semoga Allah melindungi kita-. Banyak godaan dan ujian mendatangi seseorang, sementara ia sedang berselimut di tempat tidurnya. Sekarang tidak lagi seperti zaman dahulu. Engkau sendiri yang harus mencari godaan dan cobaan itu. Sekarang, godaan dan cobaan itulah yang mendatangi tempatmu. Tidak perlu pergi mencarinya. Ia akan datang ke tempatnya saat ia sedang berselimut di kamarnya lalu godaan mendatanginya. Godaan itu menjadikan kemaksiatan kepada Allah ‘Azza Wajalla terlihat indah, bahkan bisa jadi menjadikan kekufuran kepada Allah Ta’ala terlihat indah. Kembali ke bagian 1: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat
Daftar Isi Toggle Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh duniaBersihkan hati sebelum bertemu AllahNgerinya godaan dunia saat ini Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh dunia Demi Allah, Rabb kita sangat mulia. “Siapa yang mendatangi-Nya dengan berjalan, maka Dia akan mendatanginya dengan berlari kecil.” Demikianlah, Nabi ﷺ, yang jujur dan ucapannya yang dipercaya, bersabda. Rabb kita Mahamulia. Rabb kita Maha Menerima syukur hamba-Nya. Siapa yang jujur kepada Allah ‘Azza Wajalla, Allah akan buat ia melek dan tahu hal-hal yang banyak orang tidak ketahui. Dengan itu, ia menapaki kehidupan ini dengan petunjuk, cahaya, dan hidayah sampai hembusan nafas terakhir yang Allah takdirkan baginya keluar. Kemudian setelah itu, ia berpindah menuju kehidupan sejati. وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ “Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) Yaitu, kehidupan sejati. Adapun hidup yang kita jalani sekarang, hanya perantara, bukan tempat menetap bagi kita. Hidup ini hanya perantara tempat kita menghabiskan waktu yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu, pasti kita tinggalkan, bisa malam ini, besok, atau lusa, wallahu a’lam. Tetapi, pertemuan dengan Allah adalah dekat. Demi Rabb langit, pertemuan dengan Allah pasti akan datang waktunya. Bersihkan hati sebelum bertemu Allah Oleh karena itu, saudaraku sekalian, orang yang bahagia adalah orang yang melek terhadap realita ini, lalu melakukan amal saleh dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh. Tidak tertipu dengan berbagai distraksi dan kesibukan yang membuatnya lalai dari taat kepada Allah. Ia tapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Dengan sebab itu, ia termasuk orang-orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ “(Yaitu,) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara:  88-89) Demikianlah, orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla, ia menapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Apa makna hati yang bersih? Ia adalah hati yang berserah diri dan pasrah kepada Allah, serta bersih dari segala hal yang menghalangi hubungannya dengan Allah. Inilah hati yang bersih, saudaraku sekalian. Lain halnya dengan hati yang mati atau hati yang sakit. Ia adalah hati yang sangat jauh dari kata selamat. Oleh karena itu, tidak ada keselamatan baginya sampai hatinya Allah Ta’ala penuhi dengan kasih sayang-Nya. Lalu, Allah jadikan ia dapat melihat realita atau Allah anugerahkan ia dapat bertobat kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling, enggan menaati Allah ‘Azza Wajalla sama sekali dan tidak beribadah kepada Allah di dalam kehidupan ini. Maka, akibatnya adalah ia berpisah dari dunia ini dalam keadaan tidak diberi petunjuk dan sepenuhnya tersesat. Demi Allah, yang seperti ini tidak ada harapan kasih sayang Allah kepadanya. Namun, bagi orang yang tidak sempurna dalam menaati Allah, akan tetapi ia masih menjalankan pokok-pokok ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merealisasikan rukun iman, maka ia berada di antara ampunan dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Baca juga: Nasihat bagi Penuntut Ilmu Ngerinya godaan dunia saat ini Intinya, saudaraku sekalian, bahwasanya zaman ini adalah zaman yang banyak sekali muncul berbagai cobaan dan godaan. Dan bisa kita saksikan kebenaran sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, بَادِرُوا بالأعمال فِتَنًا كَقِطَعِ الليل المُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرجلُ مؤمنا ويُمْسِي كافرا، ويُمْسِي مؤمنا ويُصْبِحُ كافرا “Bersegeralah untuk beramal (saleh) sebelum datang berbagai godaan dan ujian seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di mana pada pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Dan pada sore hari ia beriman, namun di pagi hari ia kafir.” (HR. Muslim no. 118) Saudaraku sekalian, berapa jam antara pagi dan sore? Dua belas? Tujuh jam? Delapan jam? Sepuluh jam? Cukup untuk seseorang murtad berbalik ke arah belakang, wal’iyadzu billah. Beberapa jam cukup untuk membuat seseorang murtad dari agama Islam. Semoga Allah memberikan kita perlindungan dari perubahan dari keimanan menjadi kekufuran. Benar-benar suatu musibah yang amat besar. Hal demikian hanya dipahami oleh orang yang ahli dalam mengetahui kondisi manusia. Sekumpulan halaman dan baris tulisan yang dibaca di media sosial atau beberapa video bisa jadi cukup untuk mengubah seseorang menjadi murtad. Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan secara lahir dan batin. Ini benar-benar terjadi, saudaraku sekalian, seseorang semestinya takut terhadap hal semacam ini. Sebab keburukan apabila sudah merajalela, semakin patut untuk ditakuti. Hal yang mendukung kebenaran ini adalah ucapan Khalilullah Ibrahim yang mana beliau adalah, كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ “Seorang imam (yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah…” (QS. An-Nahl: 120) Serta, kita diperintahkan untuk mengikuti ajaran beliau, قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Katakanlah, ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.’ Maka, ikutilah agama Ibrahim yang lurus…” (QS. Ali ‘Imran: 95) ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus…’” (QS. An-Nahl: 123) Nabi ﷺ tidak pernah sama sekali memerintahkan untuk mengikuti ajaran salah seorang rasul, kecuali Ibrahim ‘alahis salam, imamnya ahli tauhid dan bapaknya para nabi ‘alahimush shalatu wassalam, manusia terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Meski demikian, bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kondisi beliau? Allah menjelaskan bahwasanya beliau berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan sebuah doa yang luar biasa. Beliau berdoa,  وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ “… dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Inna lillahi wainna ilahi raji’un. Beliau khawatir terhadap diri sendiri dan anak-anaknya, sehingga berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan doa yang tulus ini agar ia dan anak-anaknya dijauhkan dari beribadah kepada berhala. Apa sebabnya? Lihat alasannya, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ “Ya Rabbku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.” (QS. Ibrahim: 36) Oleh karena itu, semakin suatu keburukan tersebar, semakin patut untuk dikhawatirkan. Musibah-musibah semacam ini, demi Allah, adalah musibah yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang dulunya bersungguh-sungguh dan berada di jalan yang lurus kemudian keluar dari agama Islam disebabkan banyaknya godaan dan cobaan -semoga Allah melindungi kita-. Banyak godaan dan ujian mendatangi seseorang, sementara ia sedang berselimut di tempat tidurnya. Sekarang tidak lagi seperti zaman dahulu. Engkau sendiri yang harus mencari godaan dan cobaan itu. Sekarang, godaan dan cobaan itulah yang mendatangi tempatmu. Tidak perlu pergi mencarinya. Ia akan datang ke tempatnya saat ia sedang berselimut di kamarnya lalu godaan mendatanginya. Godaan itu menjadikan kemaksiatan kepada Allah ‘Azza Wajalla terlihat indah, bahkan bisa jadi menjadikan kekufuran kepada Allah Ta’ala terlihat indah. Kembali ke bagian 1: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat


Daftar Isi Toggle Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh duniaBersihkan hati sebelum bertemu AllahNgerinya godaan dunia saat ini Kehidupan hakiki ada di sana, jangan tertipu oleh dunia Demi Allah, Rabb kita sangat mulia. “Siapa yang mendatangi-Nya dengan berjalan, maka Dia akan mendatanginya dengan berlari kecil.” Demikianlah, Nabi ﷺ, yang jujur dan ucapannya yang dipercaya, bersabda. Rabb kita Mahamulia. Rabb kita Maha Menerima syukur hamba-Nya. Siapa yang jujur kepada Allah ‘Azza Wajalla, Allah akan buat ia melek dan tahu hal-hal yang banyak orang tidak ketahui. Dengan itu, ia menapaki kehidupan ini dengan petunjuk, cahaya, dan hidayah sampai hembusan nafas terakhir yang Allah takdirkan baginya keluar. Kemudian setelah itu, ia berpindah menuju kehidupan sejati. وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ “Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-‘Ankabut: 64) Yaitu, kehidupan sejati. Adapun hidup yang kita jalani sekarang, hanya perantara, bukan tempat menetap bagi kita. Hidup ini hanya perantara tempat kita menghabiskan waktu yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu, pasti kita tinggalkan, bisa malam ini, besok, atau lusa, wallahu a’lam. Tetapi, pertemuan dengan Allah adalah dekat. Demi Rabb langit, pertemuan dengan Allah pasti akan datang waktunya. Bersihkan hati sebelum bertemu Allah Oleh karena itu, saudaraku sekalian, orang yang bahagia adalah orang yang melek terhadap realita ini, lalu melakukan amal saleh dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh. Tidak tertipu dengan berbagai distraksi dan kesibukan yang membuatnya lalai dari taat kepada Allah. Ia tapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Dengan sebab itu, ia termasuk orang-orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ “(Yaitu,) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara:  88-89) Demikianlah, orang yang selamat di sisi Allah ‘Azza Wajalla, ia menapaki kehidupan ini dengan hati yang bersih. Apa makna hati yang bersih? Ia adalah hati yang berserah diri dan pasrah kepada Allah, serta bersih dari segala hal yang menghalangi hubungannya dengan Allah. Inilah hati yang bersih, saudaraku sekalian. Lain halnya dengan hati yang mati atau hati yang sakit. Ia adalah hati yang sangat jauh dari kata selamat. Oleh karena itu, tidak ada keselamatan baginya sampai hatinya Allah Ta’ala penuhi dengan kasih sayang-Nya. Lalu, Allah jadikan ia dapat melihat realita atau Allah anugerahkan ia dapat bertobat kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling, enggan menaati Allah ‘Azza Wajalla sama sekali dan tidak beribadah kepada Allah di dalam kehidupan ini. Maka, akibatnya adalah ia berpisah dari dunia ini dalam keadaan tidak diberi petunjuk dan sepenuhnya tersesat. Demi Allah, yang seperti ini tidak ada harapan kasih sayang Allah kepadanya. Namun, bagi orang yang tidak sempurna dalam menaati Allah, akan tetapi ia masih menjalankan pokok-pokok ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merealisasikan rukun iman, maka ia berada di antara ampunan dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Baca juga: Nasihat bagi Penuntut Ilmu Ngerinya godaan dunia saat ini Intinya, saudaraku sekalian, bahwasanya zaman ini adalah zaman yang banyak sekali muncul berbagai cobaan dan godaan. Dan bisa kita saksikan kebenaran sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, بَادِرُوا بالأعمال فِتَنًا كَقِطَعِ الليل المُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرجلُ مؤمنا ويُمْسِي كافرا، ويُمْسِي مؤمنا ويُصْبِحُ كافرا “Bersegeralah untuk beramal (saleh) sebelum datang berbagai godaan dan ujian seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di mana pada pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari ia menjadi kafir. Dan pada sore hari ia beriman, namun di pagi hari ia kafir.” (HR. Muslim no. 118) Saudaraku sekalian, berapa jam antara pagi dan sore? Dua belas? Tujuh jam? Delapan jam? Sepuluh jam? Cukup untuk seseorang murtad berbalik ke arah belakang, wal’iyadzu billah. Beberapa jam cukup untuk membuat seseorang murtad dari agama Islam. Semoga Allah memberikan kita perlindungan dari perubahan dari keimanan menjadi kekufuran. Benar-benar suatu musibah yang amat besar. Hal demikian hanya dipahami oleh orang yang ahli dalam mengetahui kondisi manusia. Sekumpulan halaman dan baris tulisan yang dibaca di media sosial atau beberapa video bisa jadi cukup untuk mengubah seseorang menjadi murtad. Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan kesehatan secara lahir dan batin. Ini benar-benar terjadi, saudaraku sekalian, seseorang semestinya takut terhadap hal semacam ini. Sebab keburukan apabila sudah merajalela, semakin patut untuk ditakuti. Hal yang mendukung kebenaran ini adalah ucapan Khalilullah Ibrahim yang mana beliau adalah, كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ “Seorang imam (yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah…” (QS. An-Nahl: 120) Serta, kita diperintahkan untuk mengikuti ajaran beliau, قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Katakanlah, ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.’ Maka, ikutilah agama Ibrahim yang lurus…” (QS. Ali ‘Imran: 95) ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus…’” (QS. An-Nahl: 123) Nabi ﷺ tidak pernah sama sekali memerintahkan untuk mengikuti ajaran salah seorang rasul, kecuali Ibrahim ‘alahis salam, imamnya ahli tauhid dan bapaknya para nabi ‘alahimush shalatu wassalam, manusia terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Meski demikian, bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan kondisi beliau? Allah menjelaskan bahwasanya beliau berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan sebuah doa yang luar biasa. Beliau berdoa,  وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ “… dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35) Inna lillahi wainna ilahi raji’un. Beliau khawatir terhadap diri sendiri dan anak-anaknya, sehingga berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla dengan doa yang tulus ini agar ia dan anak-anaknya dijauhkan dari beribadah kepada berhala. Apa sebabnya? Lihat alasannya, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ “Ya Rabbku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia.” (QS. Ibrahim: 36) Oleh karena itu, semakin suatu keburukan tersebar, semakin patut untuk dikhawatirkan. Musibah-musibah semacam ini, demi Allah, adalah musibah yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang dulunya bersungguh-sungguh dan berada di jalan yang lurus kemudian keluar dari agama Islam disebabkan banyaknya godaan dan cobaan -semoga Allah melindungi kita-. Banyak godaan dan ujian mendatangi seseorang, sementara ia sedang berselimut di tempat tidurnya. Sekarang tidak lagi seperti zaman dahulu. Engkau sendiri yang harus mencari godaan dan cobaan itu. Sekarang, godaan dan cobaan itulah yang mendatangi tempatmu. Tidak perlu pergi mencarinya. Ia akan datang ke tempatnya saat ia sedang berselimut di kamarnya lalu godaan mendatanginya. Godaan itu menjadikan kemaksiatan kepada Allah ‘Azza Wajalla terlihat indah, bahkan bisa jadi menjadikan kekufuran kepada Allah Ta’ala terlihat indah. Kembali ke bagian 1: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 1) Lanjut ke bagian 3: Seuntai Wasiat untuk Penuntut Ilmu (Bag. 3) *** Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho Artikel: Muslim.or.id Tags: penuntut ilmuwasiat
Prev     Next