Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa

Bismillah.Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam membangun kemajuan suatu negara. Kita menyadari bahwa mahasiswa dan kaum muda secara umum adalah golongan masyarakat yang menjadi harapan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu mereka.Karena begitu besar kedudukan dan peranan anak muda inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan golongan pemuda yang taat kepada Allah dalam jajaran manusia istimewa yang mendapatkan keutamaan dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis mengenai 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. Dan salah satunya adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam Al-Qur’an Allah juga mengisahkan sosok perjuangan anak muda yang disebut sebagai ashabulkahfi. Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah. Orang-orang yang bertekad kuat dan berakidah tauhid sehingga tidak mau sedikit pun menujukan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا“Maka mereka pun berkata, ‘Rabb kami adalah Rabb yang menguasai langit dan bumi, kami tidak akan menyeru/beribadah kepada ilah/sesembahan apa pun selain-Nya.”’ (QS. Al-Kahfi: 14)Sementara tauhid merupakan sebab utama datangnya keamanan dan hidayah dari Allah. Karena kezaliman berupa syirik menjadi penghambat datangnya keberkahan dan penghalang taufik. Allah berfirman,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezalimam (syirik), mereka itulah orang yang diberi keamanan, dan mereka itulah golongan orang yang akan selalu diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Untuk itulah dibutuhkan dakwah tauhid bagi mahasiswa guna membimbing mereka dalam membangun keyakinan dan ibadah kepada Rabbnya. Karena kelak di akhirat mereka juga akan ditanya tentang masa mudanya, untuk apa mereka manfaatkan. Tauhid menjadi materi pokok dalam kurikulum pelajaran kaum muslimin sejak permulaan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah hingga akhir hayatnya. Inilah kunci perbaikan umat yang senantiasa diserukan oleh para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa.Allah berfirman,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taght.’” (QS. An-Nahl: 36)Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus SantriBangsa yang besar adalah mereka yang membesarkan Rabbnya. Mereka yang menyadari bahwa kemerdekaan dan kenikmatan yang mereka rasakan semuanya datang dari Allah, bukan semata-mata hasil jerih payah dan kerja keras atau perjuangan mereka. Kemerdekaan itu diperoleh murni dengan berkat rahmat Allah Rabb penguasa langit dan bumi atas penduduk negeri ini. Kalau bukan dengan pertolongan dari Allah, maka kita tidak akan mampu mengusir para penjajah!Bangsa yang besar bukanlah semata-mata dengan kekuatan militer atau ekonomi dan kemajuan materi. Betapa banyak negeri yang hancur akibat rusaknya moral dan runtuhnya akhlak para penduduknya. Lihatlah umat-umat terdahulu yang Allah binasakan dan turunkan untuk mereka azab dari langit. Mereka adalah kaum-kaum yang durjana dan durhaka kepada Rabbnya. Walaupun secara kekuatan pasukan, persenjataan, dan materi mereka tergolong negara adidaya.Inilah kekuatan mental dan semangat iman yang perlu selalu ditanamkan pada diri mahasiswa muslim dan generasi muda harapan bangsa. Karena negeri ini tegak di atas pondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Negeri yang mencita-citakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana bisa umat Islam mendambakan keadilan untuk masyarakat, sementara mereka justru menyuburkan syirik dan penghambaan kepada selain Allah yang itu merupakan bentuk kezaliman yang paling besar?!Inilah nasihat ayah teladan bernama Luqman kepada anaknya. Allah berfirman,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan sedang memberikan nasihat untuknya, ‘Wahai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik benar-benar sebuah kezaliman yang sangat besar.’” (QS. Luqman : 13)Kemerdekaan ini jelas merupakan nikmat dari Allah yang wajib untuk kita syukuri. Dan syukur merupakan bagian dari ajaran tauhid yang sangat mulia. Sebagaimana bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para pahlawan dan pendahulunya, maka tidaklah disebut bangsa yang besar apabila tidak bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan nikmat untuk mereka.Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridaan Allah. Dengan demikian, syukur itu mencakup segala bentuk amal ketaatan. (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 220)Apabila diperjelas lagi, hakikat syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana firman Allah,اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا“Lakukanlah amal wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’ : 13)(lihat Al-Lubab fi At-Tafsir oleh Syekh Sulaiman Al-Lahim, hal. 217)Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah yang bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman,وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Sesungguhnya yang beribadah kepada-Nya adalah yang bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada-Nya berarti dia bukan termasuk golongan orang yang beribadah kepada-Nya.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 222)Suatu ketika, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melewati seorang pemuda yang sedang melirik (menggoda) seorang wanita dengan kedipan matanya, maka beliau pun berkata kepadanya, “Wahai anak muda, bukan seperti ini caranya membalas nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 246)Apabila kaum mahasiswa dan generasi muda telah dibina untuk bersyukur kepada Allah, taat kepada aturan dan perintah-Nya, maka itu menjadi pertanda kemajuan dan kemuliaan sebuah negara. Adapun apabila anak muda diajari untuk berfoya-foya dan melalaikan kaidah agama, maka itu menjadi pertanda kemunduran dan hancurnya sebuah bangsa. Wallahul musta’aan.Baca juga: Tugas dan Peran Pemuda Muslim terhadap Diri, Agama, dan Masyarakat***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: dakwahkarakter bangsamahasiswa

Peran Dakwah Mahasiswa terhadap Pembentukan Karakter Bangsa

Bismillah.Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam membangun kemajuan suatu negara. Kita menyadari bahwa mahasiswa dan kaum muda secara umum adalah golongan masyarakat yang menjadi harapan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu mereka.Karena begitu besar kedudukan dan peranan anak muda inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan golongan pemuda yang taat kepada Allah dalam jajaran manusia istimewa yang mendapatkan keutamaan dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis mengenai 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. Dan salah satunya adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam Al-Qur’an Allah juga mengisahkan sosok perjuangan anak muda yang disebut sebagai ashabulkahfi. Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah. Orang-orang yang bertekad kuat dan berakidah tauhid sehingga tidak mau sedikit pun menujukan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا“Maka mereka pun berkata, ‘Rabb kami adalah Rabb yang menguasai langit dan bumi, kami tidak akan menyeru/beribadah kepada ilah/sesembahan apa pun selain-Nya.”’ (QS. Al-Kahfi: 14)Sementara tauhid merupakan sebab utama datangnya keamanan dan hidayah dari Allah. Karena kezaliman berupa syirik menjadi penghambat datangnya keberkahan dan penghalang taufik. Allah berfirman,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezalimam (syirik), mereka itulah orang yang diberi keamanan, dan mereka itulah golongan orang yang akan selalu diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Untuk itulah dibutuhkan dakwah tauhid bagi mahasiswa guna membimbing mereka dalam membangun keyakinan dan ibadah kepada Rabbnya. Karena kelak di akhirat mereka juga akan ditanya tentang masa mudanya, untuk apa mereka manfaatkan. Tauhid menjadi materi pokok dalam kurikulum pelajaran kaum muslimin sejak permulaan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah hingga akhir hayatnya. Inilah kunci perbaikan umat yang senantiasa diserukan oleh para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa.Allah berfirman,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taght.’” (QS. An-Nahl: 36)Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus SantriBangsa yang besar adalah mereka yang membesarkan Rabbnya. Mereka yang menyadari bahwa kemerdekaan dan kenikmatan yang mereka rasakan semuanya datang dari Allah, bukan semata-mata hasil jerih payah dan kerja keras atau perjuangan mereka. Kemerdekaan itu diperoleh murni dengan berkat rahmat Allah Rabb penguasa langit dan bumi atas penduduk negeri ini. Kalau bukan dengan pertolongan dari Allah, maka kita tidak akan mampu mengusir para penjajah!Bangsa yang besar bukanlah semata-mata dengan kekuatan militer atau ekonomi dan kemajuan materi. Betapa banyak negeri yang hancur akibat rusaknya moral dan runtuhnya akhlak para penduduknya. Lihatlah umat-umat terdahulu yang Allah binasakan dan turunkan untuk mereka azab dari langit. Mereka adalah kaum-kaum yang durjana dan durhaka kepada Rabbnya. Walaupun secara kekuatan pasukan, persenjataan, dan materi mereka tergolong negara adidaya.Inilah kekuatan mental dan semangat iman yang perlu selalu ditanamkan pada diri mahasiswa muslim dan generasi muda harapan bangsa. Karena negeri ini tegak di atas pondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Negeri yang mencita-citakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana bisa umat Islam mendambakan keadilan untuk masyarakat, sementara mereka justru menyuburkan syirik dan penghambaan kepada selain Allah yang itu merupakan bentuk kezaliman yang paling besar?!Inilah nasihat ayah teladan bernama Luqman kepada anaknya. Allah berfirman,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan sedang memberikan nasihat untuknya, ‘Wahai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik benar-benar sebuah kezaliman yang sangat besar.’” (QS. Luqman : 13)Kemerdekaan ini jelas merupakan nikmat dari Allah yang wajib untuk kita syukuri. Dan syukur merupakan bagian dari ajaran tauhid yang sangat mulia. Sebagaimana bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para pahlawan dan pendahulunya, maka tidaklah disebut bangsa yang besar apabila tidak bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan nikmat untuk mereka.Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridaan Allah. Dengan demikian, syukur itu mencakup segala bentuk amal ketaatan. (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 220)Apabila diperjelas lagi, hakikat syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana firman Allah,اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا“Lakukanlah amal wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’ : 13)(lihat Al-Lubab fi At-Tafsir oleh Syekh Sulaiman Al-Lahim, hal. 217)Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah yang bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman,وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Sesungguhnya yang beribadah kepada-Nya adalah yang bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada-Nya berarti dia bukan termasuk golongan orang yang beribadah kepada-Nya.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 222)Suatu ketika, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melewati seorang pemuda yang sedang melirik (menggoda) seorang wanita dengan kedipan matanya, maka beliau pun berkata kepadanya, “Wahai anak muda, bukan seperti ini caranya membalas nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 246)Apabila kaum mahasiswa dan generasi muda telah dibina untuk bersyukur kepada Allah, taat kepada aturan dan perintah-Nya, maka itu menjadi pertanda kemajuan dan kemuliaan sebuah negara. Adapun apabila anak muda diajari untuk berfoya-foya dan melalaikan kaidah agama, maka itu menjadi pertanda kemunduran dan hancurnya sebuah bangsa. Wallahul musta’aan.Baca juga: Tugas dan Peran Pemuda Muslim terhadap Diri, Agama, dan Masyarakat***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: dakwahkarakter bangsamahasiswa
Bismillah.Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam membangun kemajuan suatu negara. Kita menyadari bahwa mahasiswa dan kaum muda secara umum adalah golongan masyarakat yang menjadi harapan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu mereka.Karena begitu besar kedudukan dan peranan anak muda inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan golongan pemuda yang taat kepada Allah dalam jajaran manusia istimewa yang mendapatkan keutamaan dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis mengenai 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. Dan salah satunya adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam Al-Qur’an Allah juga mengisahkan sosok perjuangan anak muda yang disebut sebagai ashabulkahfi. Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah. Orang-orang yang bertekad kuat dan berakidah tauhid sehingga tidak mau sedikit pun menujukan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا“Maka mereka pun berkata, ‘Rabb kami adalah Rabb yang menguasai langit dan bumi, kami tidak akan menyeru/beribadah kepada ilah/sesembahan apa pun selain-Nya.”’ (QS. Al-Kahfi: 14)Sementara tauhid merupakan sebab utama datangnya keamanan dan hidayah dari Allah. Karena kezaliman berupa syirik menjadi penghambat datangnya keberkahan dan penghalang taufik. Allah berfirman,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezalimam (syirik), mereka itulah orang yang diberi keamanan, dan mereka itulah golongan orang yang akan selalu diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Untuk itulah dibutuhkan dakwah tauhid bagi mahasiswa guna membimbing mereka dalam membangun keyakinan dan ibadah kepada Rabbnya. Karena kelak di akhirat mereka juga akan ditanya tentang masa mudanya, untuk apa mereka manfaatkan. Tauhid menjadi materi pokok dalam kurikulum pelajaran kaum muslimin sejak permulaan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah hingga akhir hayatnya. Inilah kunci perbaikan umat yang senantiasa diserukan oleh para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa.Allah berfirman,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taght.’” (QS. An-Nahl: 36)Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus SantriBangsa yang besar adalah mereka yang membesarkan Rabbnya. Mereka yang menyadari bahwa kemerdekaan dan kenikmatan yang mereka rasakan semuanya datang dari Allah, bukan semata-mata hasil jerih payah dan kerja keras atau perjuangan mereka. Kemerdekaan itu diperoleh murni dengan berkat rahmat Allah Rabb penguasa langit dan bumi atas penduduk negeri ini. Kalau bukan dengan pertolongan dari Allah, maka kita tidak akan mampu mengusir para penjajah!Bangsa yang besar bukanlah semata-mata dengan kekuatan militer atau ekonomi dan kemajuan materi. Betapa banyak negeri yang hancur akibat rusaknya moral dan runtuhnya akhlak para penduduknya. Lihatlah umat-umat terdahulu yang Allah binasakan dan turunkan untuk mereka azab dari langit. Mereka adalah kaum-kaum yang durjana dan durhaka kepada Rabbnya. Walaupun secara kekuatan pasukan, persenjataan, dan materi mereka tergolong negara adidaya.Inilah kekuatan mental dan semangat iman yang perlu selalu ditanamkan pada diri mahasiswa muslim dan generasi muda harapan bangsa. Karena negeri ini tegak di atas pondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Negeri yang mencita-citakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana bisa umat Islam mendambakan keadilan untuk masyarakat, sementara mereka justru menyuburkan syirik dan penghambaan kepada selain Allah yang itu merupakan bentuk kezaliman yang paling besar?!Inilah nasihat ayah teladan bernama Luqman kepada anaknya. Allah berfirman,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan sedang memberikan nasihat untuknya, ‘Wahai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik benar-benar sebuah kezaliman yang sangat besar.’” (QS. Luqman : 13)Kemerdekaan ini jelas merupakan nikmat dari Allah yang wajib untuk kita syukuri. Dan syukur merupakan bagian dari ajaran tauhid yang sangat mulia. Sebagaimana bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para pahlawan dan pendahulunya, maka tidaklah disebut bangsa yang besar apabila tidak bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan nikmat untuk mereka.Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridaan Allah. Dengan demikian, syukur itu mencakup segala bentuk amal ketaatan. (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 220)Apabila diperjelas lagi, hakikat syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana firman Allah,اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا“Lakukanlah amal wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’ : 13)(lihat Al-Lubab fi At-Tafsir oleh Syekh Sulaiman Al-Lahim, hal. 217)Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah yang bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman,وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Sesungguhnya yang beribadah kepada-Nya adalah yang bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada-Nya berarti dia bukan termasuk golongan orang yang beribadah kepada-Nya.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 222)Suatu ketika, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melewati seorang pemuda yang sedang melirik (menggoda) seorang wanita dengan kedipan matanya, maka beliau pun berkata kepadanya, “Wahai anak muda, bukan seperti ini caranya membalas nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 246)Apabila kaum mahasiswa dan generasi muda telah dibina untuk bersyukur kepada Allah, taat kepada aturan dan perintah-Nya, maka itu menjadi pertanda kemajuan dan kemuliaan sebuah negara. Adapun apabila anak muda diajari untuk berfoya-foya dan melalaikan kaidah agama, maka itu menjadi pertanda kemunduran dan hancurnya sebuah bangsa. Wallahul musta’aan.Baca juga: Tugas dan Peran Pemuda Muslim terhadap Diri, Agama, dan Masyarakat***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: dakwahkarakter bangsamahasiswa


Bismillah.Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam membangun kemajuan suatu negara. Kita menyadari bahwa mahasiswa dan kaum muda secara umum adalah golongan masyarakat yang menjadi harapan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu mereka.Karena begitu besar kedudukan dan peranan anak muda inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan golongan pemuda yang taat kepada Allah dalam jajaran manusia istimewa yang mendapatkan keutamaan dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis mengenai 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. Dan salah satunya adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam Al-Qur’an Allah juga mengisahkan sosok perjuangan anak muda yang disebut sebagai ashabulkahfi. Mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah. Orang-orang yang bertekad kuat dan berakidah tauhid sehingga tidak mau sedikit pun menujukan ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman,فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا“Maka mereka pun berkata, ‘Rabb kami adalah Rabb yang menguasai langit dan bumi, kami tidak akan menyeru/beribadah kepada ilah/sesembahan apa pun selain-Nya.”’ (QS. Al-Kahfi: 14)Sementara tauhid merupakan sebab utama datangnya keamanan dan hidayah dari Allah. Karena kezaliman berupa syirik menjadi penghambat datangnya keberkahan dan penghalang taufik. Allah berfirman,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezalimam (syirik), mereka itulah orang yang diberi keamanan, dan mereka itulah golongan orang yang akan selalu diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)Untuk itulah dibutuhkan dakwah tauhid bagi mahasiswa guna membimbing mereka dalam membangun keyakinan dan ibadah kepada Rabbnya. Karena kelak di akhirat mereka juga akan ditanya tentang masa mudanya, untuk apa mereka manfaatkan. Tauhid menjadi materi pokok dalam kurikulum pelajaran kaum muslimin sejak permulaan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah hingga akhir hayatnya. Inilah kunci perbaikan umat yang senantiasa diserukan oleh para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa.Allah berfirman,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taght.’” (QS. An-Nahl: 36)Baca juga: Menjadi Mahasantri, Mahasiswa Plus SantriBangsa yang besar adalah mereka yang membesarkan Rabbnya. Mereka yang menyadari bahwa kemerdekaan dan kenikmatan yang mereka rasakan semuanya datang dari Allah, bukan semata-mata hasil jerih payah dan kerja keras atau perjuangan mereka. Kemerdekaan itu diperoleh murni dengan berkat rahmat Allah Rabb penguasa langit dan bumi atas penduduk negeri ini. Kalau bukan dengan pertolongan dari Allah, maka kita tidak akan mampu mengusir para penjajah!Bangsa yang besar bukanlah semata-mata dengan kekuatan militer atau ekonomi dan kemajuan materi. Betapa banyak negeri yang hancur akibat rusaknya moral dan runtuhnya akhlak para penduduknya. Lihatlah umat-umat terdahulu yang Allah binasakan dan turunkan untuk mereka azab dari langit. Mereka adalah kaum-kaum yang durjana dan durhaka kepada Rabbnya. Walaupun secara kekuatan pasukan, persenjataan, dan materi mereka tergolong negara adidaya.Inilah kekuatan mental dan semangat iman yang perlu selalu ditanamkan pada diri mahasiswa muslim dan generasi muda harapan bangsa. Karena negeri ini tegak di atas pondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Negeri yang mencita-citakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana bisa umat Islam mendambakan keadilan untuk masyarakat, sementara mereka justru menyuburkan syirik dan penghambaan kepada selain Allah yang itu merupakan bentuk kezaliman yang paling besar?!Inilah nasihat ayah teladan bernama Luqman kepada anaknya. Allah berfirman,وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan sedang memberikan nasihat untuknya, ‘Wahai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik benar-benar sebuah kezaliman yang sangat besar.’” (QS. Luqman : 13)Kemerdekaan ini jelas merupakan nikmat dari Allah yang wajib untuk kita syukuri. Dan syukur merupakan bagian dari ajaran tauhid yang sangat mulia. Sebagaimana bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para pahlawan dan pendahulunya, maka tidaklah disebut bangsa yang besar apabila tidak bersyukur kepada Allah yang telah mencurahkan nikmat untuk mereka.Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridaan Allah. Dengan demikian, syukur itu mencakup segala bentuk amal ketaatan. (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 220)Apabila diperjelas lagi, hakikat syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana firman Allah,اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا“Lakukanlah amal wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’ : 13)(lihat Al-Lubab fi At-Tafsir oleh Syekh Sulaiman Al-Lahim, hal. 217)Orang yang benar-benar beribadah kepada Allah adalah yang bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman,وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ“Dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Sesungguhnya yang beribadah kepada-Nya adalah yang bersyukur kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada-Nya berarti dia bukan termasuk golongan orang yang beribadah kepada-Nya.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 222)Suatu ketika, Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah melewati seorang pemuda yang sedang melirik (menggoda) seorang wanita dengan kedipan matanya, maka beliau pun berkata kepadanya, “Wahai anak muda, bukan seperti ini caranya membalas nikmat yang Allah berikan kepadamu.” (lihat ‘Uddatu Ash-Shabirin, hal. 246)Apabila kaum mahasiswa dan generasi muda telah dibina untuk bersyukur kepada Allah, taat kepada aturan dan perintah-Nya, maka itu menjadi pertanda kemajuan dan kemuliaan sebuah negara. Adapun apabila anak muda diajari untuk berfoya-foya dan melalaikan kaidah agama, maka itu menjadi pertanda kemunduran dan hancurnya sebuah bangsa. Wallahul musta’aan.Baca juga: Tugas dan Peran Pemuda Muslim terhadap Diri, Agama, dan Masyarakat***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.idTags: dakwahkarakter bangsamahasiswa

Tak Sekedar Tawakal

Daftar Isi ToggleTawakal butuh aksiNabi pun mengambil sebabBurung juga menempuh usahaTempuh cara yang halalTawakal itu berbeda dengan isti’anahTawakal merupakan salah satu ibadah hati yang diperintahkan Allah Ta’ala. Tawakal mencakup kumpulan (himpunan) dari keimanan dan seluruh urusan hamba itu berkaitan dengan tawakal. Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)Dalam firman-Nya yang lain,وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)Bahkan, para pelaku maksiat dan kemungkaran terkadang juga bertawakal kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti halnya ketika seseorang melakukan syirik kecil dengan menggunakan tamimah (jimat) yang mana ia bertawakal kepada Allah Ta’ala, tetapi berkeyakinan memakai jimat tersebut sebagai sebab atau perantaranya. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan agar jangan bertawakal dan menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai penolong sebagaimana firman-Nya,أَلَّا تَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِى وَكِيلً“Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku” (QS. Al-Isra’: 2)Tawakal butuh aksiTawakal bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Inti dari tawakal adalah penyandaran hati kepada Allah Ta’ala bersamaan dengan melakukan sebab (ikhtiar atau usaha) dan rida kepada keputusan yang Allah Ta’ala tetapkan. Jika usaha yang dilakukan gagal, maka hal tersebut tidak mempengaruhi tawakalnya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ خُذُوا۟ حِذْرَكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An-Nisa: 71)Allah Ta’ala juga berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dalam firman-Nya yang lain,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمَا ٱدْخُلُوا۟ عَلَيْهِمُ ٱلْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَٰلِبُونَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.'” (QS. Al-Maidah: 23)Dari beberapa ayat di atas dapat kita pahami bahwa ketika bertawakal, maka Allah Ta’ala juga perintahkan kita untuk berusaha. Tawakal tanpa usaha termasuk kemalasan, sedang usaha saja tanpa tawakal termasuk kesombongan.Nabi pun mengambil sebabNabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia yang paling bertawakal dan beliau pun menempuh usaha dalam melakukan tawakal sebagaimana hadis berikut.عن الزُّبير بن العَوَّام رضي الله عنه قال: كان على النبي صلى الله عليه وسلم دِرْعان يوم أحد، فنهض إلى الصَّخرة فلم يستطع، فأَقعد طلحة تحته، فصعد النبي -صلى الله عليه وسلم عليه- حتى استوى على الصخرةDari Zubair bin ‘Awwam raḍhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai dua (lapis) baju besi ketika perang Uhud, lalu beliau bangkit hendak naik ke atas batu besar, namun tidak bisa. Lantas beliau memerintahkan Ṭalhah duduk di bawahnya dan beliau naik di atasnya hingga berdiri tegak di atas batu besar tersebut.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي“Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Lihat Shahih Al-Jami’ no. 2831)Baca juga: Sudah Benarkah Tawakal Kita?Burung juga menempuh usahaDalam suatu hadis, Umar bin Khattab raḍhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan bagaimana tawakalnya seekor burung dengan menempuh usaha.لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian betul-betul bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad. Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 310)Hadis di atas menunjukkan bahwa burung yang telah Allah Ta’ala jamin rezekinya tidak berdiam diri di sangkar, tetapi ia keluar di pagi hari yang dingin dalam kondisi lapar untuk mencari rezeki yang telah Allah tetapkan dan ia pun pulang kembali ke dalam sangkarnya dalam kondisi kenyang.Tempuh cara yang halalBagi seorang muslim, tatkala melakukan tawakal dengan mengambil sebab (usaha) itu haruslah sesuai dengan syariat. Jika melanggar syariat, maka ia telah bertolak belakang dengan makna tawakal. Sebagaimana menyogok untuk mendapatkan pekerjaan atau menyontek saat ujian. Hal demikian tidak teranggap sebagai tawakal.Tawakal itu berbeda dengan isti’anahIsti’anah adalah khusus terkait dengan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, seperti salat, umrah, dan semisalnya. Adapun tawakal, maka lebih luas cakupannya, yakni meminta pertolongan Allah dalam berbagai aspek termasuk di dalamnya isti’anah.Allah Ta’ala berfirman,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ayat di atas menunjukkan bahwa isti’anah hanya terkhusus pada hal ibadah. Dan isti’anah merupakan bagian dari ibadah. Sehingga ketika melakukan suatu ibadah, kita memerlukan pertolongan dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam),اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, sahih)Baca juga: Tawakal dalam Setiap Keadaan***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: ikhtiarTawakalusaha

Tak Sekedar Tawakal

Daftar Isi ToggleTawakal butuh aksiNabi pun mengambil sebabBurung juga menempuh usahaTempuh cara yang halalTawakal itu berbeda dengan isti’anahTawakal merupakan salah satu ibadah hati yang diperintahkan Allah Ta’ala. Tawakal mencakup kumpulan (himpunan) dari keimanan dan seluruh urusan hamba itu berkaitan dengan tawakal. Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)Dalam firman-Nya yang lain,وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)Bahkan, para pelaku maksiat dan kemungkaran terkadang juga bertawakal kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti halnya ketika seseorang melakukan syirik kecil dengan menggunakan tamimah (jimat) yang mana ia bertawakal kepada Allah Ta’ala, tetapi berkeyakinan memakai jimat tersebut sebagai sebab atau perantaranya. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan agar jangan bertawakal dan menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai penolong sebagaimana firman-Nya,أَلَّا تَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِى وَكِيلً“Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku” (QS. Al-Isra’: 2)Tawakal butuh aksiTawakal bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Inti dari tawakal adalah penyandaran hati kepada Allah Ta’ala bersamaan dengan melakukan sebab (ikhtiar atau usaha) dan rida kepada keputusan yang Allah Ta’ala tetapkan. Jika usaha yang dilakukan gagal, maka hal tersebut tidak mempengaruhi tawakalnya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ خُذُوا۟ حِذْرَكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An-Nisa: 71)Allah Ta’ala juga berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dalam firman-Nya yang lain,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمَا ٱدْخُلُوا۟ عَلَيْهِمُ ٱلْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَٰلِبُونَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.'” (QS. Al-Maidah: 23)Dari beberapa ayat di atas dapat kita pahami bahwa ketika bertawakal, maka Allah Ta’ala juga perintahkan kita untuk berusaha. Tawakal tanpa usaha termasuk kemalasan, sedang usaha saja tanpa tawakal termasuk kesombongan.Nabi pun mengambil sebabNabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia yang paling bertawakal dan beliau pun menempuh usaha dalam melakukan tawakal sebagaimana hadis berikut.عن الزُّبير بن العَوَّام رضي الله عنه قال: كان على النبي صلى الله عليه وسلم دِرْعان يوم أحد، فنهض إلى الصَّخرة فلم يستطع، فأَقعد طلحة تحته، فصعد النبي -صلى الله عليه وسلم عليه- حتى استوى على الصخرةDari Zubair bin ‘Awwam raḍhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai dua (lapis) baju besi ketika perang Uhud, lalu beliau bangkit hendak naik ke atas batu besar, namun tidak bisa. Lantas beliau memerintahkan Ṭalhah duduk di bawahnya dan beliau naik di atasnya hingga berdiri tegak di atas batu besar tersebut.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي“Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Lihat Shahih Al-Jami’ no. 2831)Baca juga: Sudah Benarkah Tawakal Kita?Burung juga menempuh usahaDalam suatu hadis, Umar bin Khattab raḍhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan bagaimana tawakalnya seekor burung dengan menempuh usaha.لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian betul-betul bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad. Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 310)Hadis di atas menunjukkan bahwa burung yang telah Allah Ta’ala jamin rezekinya tidak berdiam diri di sangkar, tetapi ia keluar di pagi hari yang dingin dalam kondisi lapar untuk mencari rezeki yang telah Allah tetapkan dan ia pun pulang kembali ke dalam sangkarnya dalam kondisi kenyang.Tempuh cara yang halalBagi seorang muslim, tatkala melakukan tawakal dengan mengambil sebab (usaha) itu haruslah sesuai dengan syariat. Jika melanggar syariat, maka ia telah bertolak belakang dengan makna tawakal. Sebagaimana menyogok untuk mendapatkan pekerjaan atau menyontek saat ujian. Hal demikian tidak teranggap sebagai tawakal.Tawakal itu berbeda dengan isti’anahIsti’anah adalah khusus terkait dengan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, seperti salat, umrah, dan semisalnya. Adapun tawakal, maka lebih luas cakupannya, yakni meminta pertolongan Allah dalam berbagai aspek termasuk di dalamnya isti’anah.Allah Ta’ala berfirman,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ayat di atas menunjukkan bahwa isti’anah hanya terkhusus pada hal ibadah. Dan isti’anah merupakan bagian dari ibadah. Sehingga ketika melakukan suatu ibadah, kita memerlukan pertolongan dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam),اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, sahih)Baca juga: Tawakal dalam Setiap Keadaan***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: ikhtiarTawakalusaha
Daftar Isi ToggleTawakal butuh aksiNabi pun mengambil sebabBurung juga menempuh usahaTempuh cara yang halalTawakal itu berbeda dengan isti’anahTawakal merupakan salah satu ibadah hati yang diperintahkan Allah Ta’ala. Tawakal mencakup kumpulan (himpunan) dari keimanan dan seluruh urusan hamba itu berkaitan dengan tawakal. Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)Dalam firman-Nya yang lain,وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)Bahkan, para pelaku maksiat dan kemungkaran terkadang juga bertawakal kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti halnya ketika seseorang melakukan syirik kecil dengan menggunakan tamimah (jimat) yang mana ia bertawakal kepada Allah Ta’ala, tetapi berkeyakinan memakai jimat tersebut sebagai sebab atau perantaranya. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan agar jangan bertawakal dan menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai penolong sebagaimana firman-Nya,أَلَّا تَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِى وَكِيلً“Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku” (QS. Al-Isra’: 2)Tawakal butuh aksiTawakal bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Inti dari tawakal adalah penyandaran hati kepada Allah Ta’ala bersamaan dengan melakukan sebab (ikhtiar atau usaha) dan rida kepada keputusan yang Allah Ta’ala tetapkan. Jika usaha yang dilakukan gagal, maka hal tersebut tidak mempengaruhi tawakalnya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ خُذُوا۟ حِذْرَكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An-Nisa: 71)Allah Ta’ala juga berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dalam firman-Nya yang lain,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمَا ٱدْخُلُوا۟ عَلَيْهِمُ ٱلْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَٰلِبُونَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.'” (QS. Al-Maidah: 23)Dari beberapa ayat di atas dapat kita pahami bahwa ketika bertawakal, maka Allah Ta’ala juga perintahkan kita untuk berusaha. Tawakal tanpa usaha termasuk kemalasan, sedang usaha saja tanpa tawakal termasuk kesombongan.Nabi pun mengambil sebabNabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia yang paling bertawakal dan beliau pun menempuh usaha dalam melakukan tawakal sebagaimana hadis berikut.عن الزُّبير بن العَوَّام رضي الله عنه قال: كان على النبي صلى الله عليه وسلم دِرْعان يوم أحد، فنهض إلى الصَّخرة فلم يستطع، فأَقعد طلحة تحته، فصعد النبي -صلى الله عليه وسلم عليه- حتى استوى على الصخرةDari Zubair bin ‘Awwam raḍhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai dua (lapis) baju besi ketika perang Uhud, lalu beliau bangkit hendak naik ke atas batu besar, namun tidak bisa. Lantas beliau memerintahkan Ṭalhah duduk di bawahnya dan beliau naik di atasnya hingga berdiri tegak di atas batu besar tersebut.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي“Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Lihat Shahih Al-Jami’ no. 2831)Baca juga: Sudah Benarkah Tawakal Kita?Burung juga menempuh usahaDalam suatu hadis, Umar bin Khattab raḍhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan bagaimana tawakalnya seekor burung dengan menempuh usaha.لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian betul-betul bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad. Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 310)Hadis di atas menunjukkan bahwa burung yang telah Allah Ta’ala jamin rezekinya tidak berdiam diri di sangkar, tetapi ia keluar di pagi hari yang dingin dalam kondisi lapar untuk mencari rezeki yang telah Allah tetapkan dan ia pun pulang kembali ke dalam sangkarnya dalam kondisi kenyang.Tempuh cara yang halalBagi seorang muslim, tatkala melakukan tawakal dengan mengambil sebab (usaha) itu haruslah sesuai dengan syariat. Jika melanggar syariat, maka ia telah bertolak belakang dengan makna tawakal. Sebagaimana menyogok untuk mendapatkan pekerjaan atau menyontek saat ujian. Hal demikian tidak teranggap sebagai tawakal.Tawakal itu berbeda dengan isti’anahIsti’anah adalah khusus terkait dengan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, seperti salat, umrah, dan semisalnya. Adapun tawakal, maka lebih luas cakupannya, yakni meminta pertolongan Allah dalam berbagai aspek termasuk di dalamnya isti’anah.Allah Ta’ala berfirman,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ayat di atas menunjukkan bahwa isti’anah hanya terkhusus pada hal ibadah. Dan isti’anah merupakan bagian dari ibadah. Sehingga ketika melakukan suatu ibadah, kita memerlukan pertolongan dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam),اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, sahih)Baca juga: Tawakal dalam Setiap Keadaan***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: ikhtiarTawakalusaha


Daftar Isi ToggleTawakal butuh aksiNabi pun mengambil sebabBurung juga menempuh usahaTempuh cara yang halalTawakal itu berbeda dengan isti’anahTawakal merupakan salah satu ibadah hati yang diperintahkan Allah Ta’ala. Tawakal mencakup kumpulan (himpunan) dari keimanan dan seluruh urusan hamba itu berkaitan dengan tawakal. Allah Ta’ala berfirman,وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)Dalam firman-Nya yang lain,وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)Bahkan, para pelaku maksiat dan kemungkaran terkadang juga bertawakal kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti halnya ketika seseorang melakukan syirik kecil dengan menggunakan tamimah (jimat) yang mana ia bertawakal kepada Allah Ta’ala, tetapi berkeyakinan memakai jimat tersebut sebagai sebab atau perantaranya. Padahal Allah Ta’ala telah memperingatkan agar jangan bertawakal dan menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai penolong sebagaimana firman-Nya,أَلَّا تَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِى وَكِيلً“Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku” (QS. Al-Isra’: 2)Tawakal butuh aksiTawakal bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Inti dari tawakal adalah penyandaran hati kepada Allah Ta’ala bersamaan dengan melakukan sebab (ikhtiar atau usaha) dan rida kepada keputusan yang Allah Ta’ala tetapkan. Jika usaha yang dilakukan gagal, maka hal tersebut tidak mempengaruhi tawakalnya kepada Allah.Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ خُذُوا۟ حِذْرَكُمْ“Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An-Nisa: 71)Allah Ta’ala juga berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dalam firman-Nya yang lain,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمَا ٱدْخُلُوا۟ عَلَيْهِمُ ٱلْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَٰلِبُونَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Maka bila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.'” (QS. Al-Maidah: 23)Dari beberapa ayat di atas dapat kita pahami bahwa ketika bertawakal, maka Allah Ta’ala juga perintahkan kita untuk berusaha. Tawakal tanpa usaha termasuk kemalasan, sedang usaha saja tanpa tawakal termasuk kesombongan.Nabi pun mengambil sebabNabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia yang paling bertawakal dan beliau pun menempuh usaha dalam melakukan tawakal sebagaimana hadis berikut.عن الزُّبير بن العَوَّام رضي الله عنه قال: كان على النبي صلى الله عليه وسلم دِرْعان يوم أحد، فنهض إلى الصَّخرة فلم يستطع، فأَقعد طلحة تحته، فصعد النبي -صلى الله عليه وسلم عليه- حتى استوى على الصخرةDari Zubair bin ‘Awwam raḍhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai dua (lapis) baju besi ketika perang Uhud, lalu beliau bangkit hendak naik ke atas batu besar, namun tidak bisa. Lantas beliau memerintahkan Ṭalhah duduk di bawahnya dan beliau naik di atasnya hingga berdiri tegak di atas batu besar tersebut.” (HR. Tirmidzi, hasan)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي“Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Lihat Shahih Al-Jami’ no. 2831)Baca juga: Sudah Benarkah Tawakal Kita?Burung juga menempuh usahaDalam suatu hadis, Umar bin Khattab raḍhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencontohkan bagaimana tawakalnya seekor burung dengan menempuh usaha.لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian betul-betul bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad. Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 310)Hadis di atas menunjukkan bahwa burung yang telah Allah Ta’ala jamin rezekinya tidak berdiam diri di sangkar, tetapi ia keluar di pagi hari yang dingin dalam kondisi lapar untuk mencari rezeki yang telah Allah tetapkan dan ia pun pulang kembali ke dalam sangkarnya dalam kondisi kenyang.Tempuh cara yang halalBagi seorang muslim, tatkala melakukan tawakal dengan mengambil sebab (usaha) itu haruslah sesuai dengan syariat. Jika melanggar syariat, maka ia telah bertolak belakang dengan makna tawakal. Sebagaimana menyogok untuk mendapatkan pekerjaan atau menyontek saat ujian. Hal demikian tidak teranggap sebagai tawakal.Tawakal itu berbeda dengan isti’anahIsti’anah adalah khusus terkait dengan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, seperti salat, umrah, dan semisalnya. Adapun tawakal, maka lebih luas cakupannya, yakni meminta pertolongan Allah dalam berbagai aspek termasuk di dalamnya isti’anah.Allah Ta’ala berfirman,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya Engkaulah yang kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ayat di atas menunjukkan bahwa isti’anah hanya terkhusus pada hal ibadah. Dan isti’anah merupakan bagian dari ibadah. Sehingga ketika melakukan suatu ibadah, kita memerlukan pertolongan dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam),اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَAllahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, sahih)Baca juga: Tawakal dalam Setiap Keadaan***Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.Artikel: Muslim.or.idTags: ikhtiarTawakalusaha

Mengapa Disebutkan Anjing dalam Kisah Ashabul Kahfi?

السؤال ما الفائدة من ذكر الكلب في قصة أهل الكهف ؟ Pertanyaan: Apa faedah disebutkannya anjing dalam kisah Ashabul Kahfi? الجواب الحمد لله. قال الشيخ الشنقيطي – رحمة الله تعالى عليه – : واعلم أن ذكره جل وعلا في كتابه هذا الكلب ، وكونه باسطا ذراعيه بوصيد كهفهم في معرض التنويه بشأنهم ، يدل على أن صحبة الأخيار عظيمة الفائدة ، قال ابن كثير – رحمه الله – في تفسير هذه الآية الكريمة : ” وشملت كلبهم بركتهم فأصابه ما أصابهم من النوم على تلك الحال ، وهذا فائدة صحبة الأخيار فإنه صار لهذا الكلب ذكر وخبر وشأن . ا.هـ . ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . Jawab: Alhamdulillah. Syekh asy-Syinqithi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Ketahuilah bahwa ketika Allah Jalla wa ʿAlā Menyebutkan anjing tersebut dalam kitab-Nya, di mana dia membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua yang mereka tempati, konteksnya adalah untuk menonjolkan kemuliaan mereka, di mana hal ini menunjukkan bahwa berteman dengan orang-orang baik akan mendatangkan faedah agung.  Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa si anjing ini mendapatkan keberkahan dari mereka serta juga mendapatkan yang mereka dapatkan, yaitu ikut tertidur dalam keadaan demikian. Inilah faedah berteman dengan orang-orang baik, sehingga anjing ini disebut, dikabarkan, dan mendapatkan kedudukan. Selesai kutipan. ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . ويفهم من ذلك أن صحبة الأشرار فيها ضرر عظيم ، كما بيَّنه الله تعالى في سورة الصافات في قوله : ( قال قائل منهم إني كان لي قرين ) الصافات/51 – إلى قوله – : ( تالله إن كدت لتردين . ولولا نعمة ربي لكنت من المحضرين ) الصافات/56- 57 . Hal ini juga ditunjukkan dengan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika ada orang yang mengatakan, “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya,” maka beliau menjawab, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari hadis Anas —Semoga Allah Meridainya—).  Dengan demikian juga bisa dipahami bahwa berteman dengan orang-orang buruk juga akan membawa bahaya besar, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā dalam surat ash-Shaffat, “Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman, …” sampai dengan firman-Nya, “Dia berkata, ‘Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).’” (QS. As-Saffat: 56-57) Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/13686/ما-الفاىدة-من-ذكر-الكلب-في-قصة-اهل-الكهف PDF Artikel 🔍 Kesesatan Ldii, Uang Haram Sebaiknya Diapakan, Bertanya Tanya, Jama Dan Qosor, Tamu Dalam Islam, Bacaan Sholat Dhuhur Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 346 QRIS donasi Yufid

Mengapa Disebutkan Anjing dalam Kisah Ashabul Kahfi?

السؤال ما الفائدة من ذكر الكلب في قصة أهل الكهف ؟ Pertanyaan: Apa faedah disebutkannya anjing dalam kisah Ashabul Kahfi? الجواب الحمد لله. قال الشيخ الشنقيطي – رحمة الله تعالى عليه – : واعلم أن ذكره جل وعلا في كتابه هذا الكلب ، وكونه باسطا ذراعيه بوصيد كهفهم في معرض التنويه بشأنهم ، يدل على أن صحبة الأخيار عظيمة الفائدة ، قال ابن كثير – رحمه الله – في تفسير هذه الآية الكريمة : ” وشملت كلبهم بركتهم فأصابه ما أصابهم من النوم على تلك الحال ، وهذا فائدة صحبة الأخيار فإنه صار لهذا الكلب ذكر وخبر وشأن . ا.هـ . ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . Jawab: Alhamdulillah. Syekh asy-Syinqithi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Ketahuilah bahwa ketika Allah Jalla wa ʿAlā Menyebutkan anjing tersebut dalam kitab-Nya, di mana dia membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua yang mereka tempati, konteksnya adalah untuk menonjolkan kemuliaan mereka, di mana hal ini menunjukkan bahwa berteman dengan orang-orang baik akan mendatangkan faedah agung.  Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa si anjing ini mendapatkan keberkahan dari mereka serta juga mendapatkan yang mereka dapatkan, yaitu ikut tertidur dalam keadaan demikian. Inilah faedah berteman dengan orang-orang baik, sehingga anjing ini disebut, dikabarkan, dan mendapatkan kedudukan. Selesai kutipan. ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . ويفهم من ذلك أن صحبة الأشرار فيها ضرر عظيم ، كما بيَّنه الله تعالى في سورة الصافات في قوله : ( قال قائل منهم إني كان لي قرين ) الصافات/51 – إلى قوله – : ( تالله إن كدت لتردين . ولولا نعمة ربي لكنت من المحضرين ) الصافات/56- 57 . Hal ini juga ditunjukkan dengan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika ada orang yang mengatakan, “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya,” maka beliau menjawab, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari hadis Anas —Semoga Allah Meridainya—).  Dengan demikian juga bisa dipahami bahwa berteman dengan orang-orang buruk juga akan membawa bahaya besar, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā dalam surat ash-Shaffat, “Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman, …” sampai dengan firman-Nya, “Dia berkata, ‘Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).’” (QS. As-Saffat: 56-57) Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/13686/ما-الفاىدة-من-ذكر-الكلب-في-قصة-اهل-الكهف PDF Artikel 🔍 Kesesatan Ldii, Uang Haram Sebaiknya Diapakan, Bertanya Tanya, Jama Dan Qosor, Tamu Dalam Islam, Bacaan Sholat Dhuhur Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 346 QRIS donasi Yufid
السؤال ما الفائدة من ذكر الكلب في قصة أهل الكهف ؟ Pertanyaan: Apa faedah disebutkannya anjing dalam kisah Ashabul Kahfi? الجواب الحمد لله. قال الشيخ الشنقيطي – رحمة الله تعالى عليه – : واعلم أن ذكره جل وعلا في كتابه هذا الكلب ، وكونه باسطا ذراعيه بوصيد كهفهم في معرض التنويه بشأنهم ، يدل على أن صحبة الأخيار عظيمة الفائدة ، قال ابن كثير – رحمه الله – في تفسير هذه الآية الكريمة : ” وشملت كلبهم بركتهم فأصابه ما أصابهم من النوم على تلك الحال ، وهذا فائدة صحبة الأخيار فإنه صار لهذا الكلب ذكر وخبر وشأن . ا.هـ . ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . Jawab: Alhamdulillah. Syekh asy-Syinqithi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Ketahuilah bahwa ketika Allah Jalla wa ʿAlā Menyebutkan anjing tersebut dalam kitab-Nya, di mana dia membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua yang mereka tempati, konteksnya adalah untuk menonjolkan kemuliaan mereka, di mana hal ini menunjukkan bahwa berteman dengan orang-orang baik akan mendatangkan faedah agung.  Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa si anjing ini mendapatkan keberkahan dari mereka serta juga mendapatkan yang mereka dapatkan, yaitu ikut tertidur dalam keadaan demikian. Inilah faedah berteman dengan orang-orang baik, sehingga anjing ini disebut, dikabarkan, dan mendapatkan kedudukan. Selesai kutipan. ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . ويفهم من ذلك أن صحبة الأشرار فيها ضرر عظيم ، كما بيَّنه الله تعالى في سورة الصافات في قوله : ( قال قائل منهم إني كان لي قرين ) الصافات/51 – إلى قوله – : ( تالله إن كدت لتردين . ولولا نعمة ربي لكنت من المحضرين ) الصافات/56- 57 . Hal ini juga ditunjukkan dengan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika ada orang yang mengatakan, “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya,” maka beliau menjawab, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari hadis Anas —Semoga Allah Meridainya—).  Dengan demikian juga bisa dipahami bahwa berteman dengan orang-orang buruk juga akan membawa bahaya besar, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā dalam surat ash-Shaffat, “Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman, …” sampai dengan firman-Nya, “Dia berkata, ‘Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).’” (QS. As-Saffat: 56-57) Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/13686/ما-الفاىدة-من-ذكر-الكلب-في-قصة-اهل-الكهف PDF Artikel 🔍 Kesesatan Ldii, Uang Haram Sebaiknya Diapakan, Bertanya Tanya, Jama Dan Qosor, Tamu Dalam Islam, Bacaan Sholat Dhuhur Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 346 QRIS donasi Yufid


السؤال ما الفائدة من ذكر الكلب في قصة أهل الكهف ؟ Pertanyaan: Apa faedah disebutkannya anjing dalam kisah Ashabul Kahfi? الجواب الحمد لله. قال الشيخ الشنقيطي – رحمة الله تعالى عليه – : واعلم أن ذكره جل وعلا في كتابه هذا الكلب ، وكونه باسطا ذراعيه بوصيد كهفهم في معرض التنويه بشأنهم ، يدل على أن صحبة الأخيار عظيمة الفائدة ، قال ابن كثير – رحمه الله – في تفسير هذه الآية الكريمة : ” وشملت كلبهم بركتهم فأصابه ما أصابهم من النوم على تلك الحال ، وهذا فائدة صحبة الأخيار فإنه صار لهذا الكلب ذكر وخبر وشأن . ا.هـ . ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . Jawab: Alhamdulillah. Syekh asy-Syinqithi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Ketahuilah bahwa ketika Allah Jalla wa ʿAlā Menyebutkan anjing tersebut dalam kitab-Nya, di mana dia membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua yang mereka tempati, konteksnya adalah untuk menonjolkan kemuliaan mereka, di mana hal ini menunjukkan bahwa berteman dengan orang-orang baik akan mendatangkan faedah agung.  Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa si anjing ini mendapatkan keberkahan dari mereka serta juga mendapatkan yang mereka dapatkan, yaitu ikut tertidur dalam keadaan demikian. Inilah faedah berteman dengan orang-orang baik, sehingga anjing ini disebut, dikabarkan, dan mendapatkan kedudukan. Selesai kutipan. ويدل على هذا المعنى قوله صلى الله عليه وآله وسلم لمن قال إني أحب الله ورسوله : ” أنت مع من أحببت ” متفق عليه من حديث أنس . ويفهم من ذلك أن صحبة الأشرار فيها ضرر عظيم ، كما بيَّنه الله تعالى في سورة الصافات في قوله : ( قال قائل منهم إني كان لي قرين ) الصافات/51 – إلى قوله – : ( تالله إن كدت لتردين . ولولا نعمة ربي لكنت من المحضرين ) الصافات/56- 57 . Hal ini juga ditunjukkan dengan sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika ada orang yang mengatakan, “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya,” maka beliau menjawab, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari hadis Anas —Semoga Allah Meridainya—).  Dengan demikian juga bisa dipahami bahwa berteman dengan orang-orang buruk juga akan membawa bahaya besar, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā dalam surat ash-Shaffat, “Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman, …” sampai dengan firman-Nya, “Dia berkata, ‘Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).’” (QS. As-Saffat: 56-57) Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/13686/ما-الفاىدة-من-ذكر-الكلب-في-قصة-اهل-الكهف PDF Artikel 🔍 Kesesatan Ldii, Uang Haram Sebaiknya Diapakan, Bertanya Tanya, Jama Dan Qosor, Tamu Dalam Islam, Bacaan Sholat Dhuhur Visited 113 times, 1 visit(s) today Post Views: 346 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Apakah Anda Kehilangan Arah Hidup? – Syaikh Shalih Sindi #NasehatUlama

Beliau berkata bahwa Allah Menciptakan dan Memberi kita rezekidan tidak membiarkan kita begitu saja.Yakni dibiarkan tanpa diberi perintah dan larangan. Allah Jalla wa ʿAlā Memiliki sifat hikmah.Dalil yang menetapkan sifat hikmah bagi-Nya amat banyak,lebih dari sepuluh ribu dalil,sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim —Semoga Allah Merahmatinya. Di antara wujud hikmah-Nya Tabāraka wa Taʿālā,bahwa Dia tidak Menciptakan, Menakdirkan, Melakukan, atau Mensyariatkankecuali untuk suatu hikmah (maksud) yang agung. Segala yang Allah Takdirkan, Ciptakan, dan Syariatkan,di balik itu pasti Dia Memiliki hikmah yang agungyang secara Irādah Syarʿiyyah dicintai dan diinginkan oleh-Nya. Allah Jalla wa ʿAlā Menciptakan alam semestayang sangat besar dan sempurna detailnyauntuk suatu tujuan yang agung. Apakah disangka bahwa Allah Menciptakan alam semesta ini tanpa tujuan apa pun?Ini adalah sesuatu yang harus disucikan dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā “Apakah kalian mengira bahwa Kami Menciptakan kalian tanpa tujuandan (menyangka) bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115) Ini bukanlah akidah orang yang beriman.Ini adalah akidah orang kafiryang menganggap tidak ada tujuan di balik keberadaan makhluk,kecuali sekadar terlahir dari rahim lalu ditelan bumi,dan tidak ada apa-apa setelah itu. “Itu anggapan orang-orang kafir,maka celakalah orang-orang yang kafir karena masuk neraka.” (QS. Sad: 27) Adapun orang-orang yang beriman, mereka seperti apa yang Allah Jalla wa ʿAlā Kabarkan (yang artinya),“Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia;Maha Suci Engkau.'” (QS. Ali ‘Imran: 191) Jadi, Dia Jalla wa ʿAlā Memiliki hikmah yang agungdalam Menciptakan semesta ini. Adalah karunia dari Allah bagi seorang muslimketika dia bisa menjalani hidup inisementara urusan-urusannya sudah terbuka dengan jelas. Berbeda dengan selain muslim,karena dia hidup dalam kehidupan initanpa memiliki maksud dan tujuan. Inilah yang membuat kehidupan menjadi kesengsaraan baginya.Demi Tuhan, saudara-saudara, aku sudah bertanya kepada banyak orang kafir,baik laki-laki maupun perempuan, “Mengapa Anda ada dalam hidup ini?”“Apa tujuannya?”Untuk apa? Untuk apa Anda ada?Banyak dari mereka berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.” Bayangkan! Anda hidup dalam kehidupan ini tanpa Anda mengetahuikenapa Anda datang, ke mana akan pergi,dan mengapa Anda ada. Ini adalah pertanyaan eksistensialyang jawabannya akan mendatangkan keyakinan dan ketenangan. Itulah kenapa kebingungan mereka amat mematikan,sehingga mereka lari darinya dengan berbagai cara. Mereka lari darinya dengan perbuatan keji dan mabuk-mabukan.Mereka tidak ingin hidupdengan pertanyaan yang tidak mereka tahu jawabannya. Padahal jika Anda bertanya pada salah seorang bocah muslim,ia akan menjawabnya dengan sigap.Betul atau tidak, saudara-saudara?Dia tahu, karena semuanya sudah jelas. Tapi mereka, Anda dapati dia seorang doktor, profesor, dan punya berbagai gelar,tapi tidak tau sama sekali mengapa dan untuk apa dia ada. Terkadang kebingungan tersebut terus meningkathingga membuatnya melakukan bunuh diri,kebingungan yang mematikan. Semoga Allah Melindungi kita. ==== قَالَ أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلًا هَمَلًا يَعْنِي بِلَا أَمْرٍ وَلَا نَهْيٍ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مُتَّصِفٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْأَدِلَّةُ عَلَى ثُبُوتِ حِكْمَتِهِ كَثِيرَةٌ جِدًّا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ آلَافِ دَليلٍ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْ حِكْمَتِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا يَخْلُقُ وَلَا يُقَدِّرُ وَلَا يَفْعَلُ وَلَا يَشْرَعُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ كُلُّ شَيْءٍ قَدَّرَهُ اللهُ أَوْ خَلَقَهُ أَوْ شَرَعَهُ فَلَهُ فِيهِ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ يُحِبُّهَا وَيُرِيدُهَا إِرَادَةً شَرْعِيَّةً فَهَذَا الْكَوْنُ خَلَقَهُ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مَعَ عَظَمَتِهِ وَإِتْقَانِهِ لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ أَيُظَنُّ أَنَّ اللهَ أَوْجَدَ هَذَا الْكَوْنَ بِلَا شَيْءٍ هَذَا مِمَّا يَجِبُ تَنْزِيهُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ هَذَا لَيْسَ اعْتِقَادَ أَهْلِ الْإِيمَانِ هَذَا اعْتِقَادُ الْكُفَّارِ الَّذِينَ لَا يَرَوْنَ حِكْمَةً فِي هَذَا الْوُجُودِ اللَّهُمَّ إِلَّا أَنَّ الْأَرْحَامَ تَدْفَعُ وَأَنَّ أَرْضًا تَبْلَعُ وَلَا شَيْءَ وَرَاءَ ذَلِكَ ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِ أَمَّا أَهْلُ الْإِيمَانِ فَكَمَا أَخْبَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحٰنَكَ إِذَنْ لَهُ جَلَّ وَعَلَا لَهُ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فِي إِيجَادِ هَذَا الْكَوْنِ وَفَضْلُ اللهِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنَّهُ يَمْشِي فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالْأُمُورُ عِنْدَهُ مُنْكَشِفَةٌ وَاضِحَةٌ بِخِلَافِ غَيْرِهِ فَإِنَّهُ يَعِيشُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بِلَا هَدَفٍ وَلَا غَايَةٍ وَهَذَا مَا يَجْعَلُ الْحَيَاةَ تَعِيسَةً عِنْدَهُ وَاللهِ يَا إِخْوَتَاهُ سَأَلْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنَ الْكُفَّارِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ لِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ مَا الْهَدَفُ؟ لِأَيشْ لِأَيشْ أَنْتَ مَوْجُودٌ؟ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ: مَا أَدْرِي لَا أَدْرِي تَخَيَّلْ أَنْ تَعِيشَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي لِمَاذَا جِئْتَ وَإِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ وَلِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ هَذِهِ أَسْئِلَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ الْجَوَابُ عَنْهَا يُكْسِبُ الطُّمَأْنِينَةَ وَالسَّكِينَةَ لِذَلِكَ الْحَيْرَةُ عِنْدَهُمْ قَاتِلَةٌ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِأَيِّ وَسِيلَةٍ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِفَوَاحِشَ بِسُكْرٍ لَا يُرِيدُ أَنْ يَعِيشَ هَذَا السُّؤَالُ الَّذِي لَا يَعْرِفُ جَوَابَهُ مَعَ أَنَّهُ تَسْأَلُهُ الطِّفْلَ… طِفْلًا مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ يُجِيبُكَ مُنْطَلِقًا صَحَّ وَلَا لَا يَا إِخْوَتَاهُ؟ يَعْرِفُهُ الْأُمُورُ وَاضِحَةٌ لَكِنَّهُمْ تَجِدُهُ دُكْتورُ بُروفِيسُورُ وَعِنْدَهُ شَهَادَاتٌ لِأَيشْ مَا يَدْرِي لِأَيشْ مَوْجُودٌ أَصْلًا فَوَلَرُبَّمَا زَادَتِ الْحَيْرَةُ حَتَّى أَدَّتْ بِهِ إِلَى أَنَّهُ يَنْتَحِرُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ الْحَيْرَةُ قَاتِلَةٌ

Apakah Anda Kehilangan Arah Hidup? – Syaikh Shalih Sindi #NasehatUlama

Beliau berkata bahwa Allah Menciptakan dan Memberi kita rezekidan tidak membiarkan kita begitu saja.Yakni dibiarkan tanpa diberi perintah dan larangan. Allah Jalla wa ʿAlā Memiliki sifat hikmah.Dalil yang menetapkan sifat hikmah bagi-Nya amat banyak,lebih dari sepuluh ribu dalil,sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim —Semoga Allah Merahmatinya. Di antara wujud hikmah-Nya Tabāraka wa Taʿālā,bahwa Dia tidak Menciptakan, Menakdirkan, Melakukan, atau Mensyariatkankecuali untuk suatu hikmah (maksud) yang agung. Segala yang Allah Takdirkan, Ciptakan, dan Syariatkan,di balik itu pasti Dia Memiliki hikmah yang agungyang secara Irādah Syarʿiyyah dicintai dan diinginkan oleh-Nya. Allah Jalla wa ʿAlā Menciptakan alam semestayang sangat besar dan sempurna detailnyauntuk suatu tujuan yang agung. Apakah disangka bahwa Allah Menciptakan alam semesta ini tanpa tujuan apa pun?Ini adalah sesuatu yang harus disucikan dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā “Apakah kalian mengira bahwa Kami Menciptakan kalian tanpa tujuandan (menyangka) bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115) Ini bukanlah akidah orang yang beriman.Ini adalah akidah orang kafiryang menganggap tidak ada tujuan di balik keberadaan makhluk,kecuali sekadar terlahir dari rahim lalu ditelan bumi,dan tidak ada apa-apa setelah itu. “Itu anggapan orang-orang kafir,maka celakalah orang-orang yang kafir karena masuk neraka.” (QS. Sad: 27) Adapun orang-orang yang beriman, mereka seperti apa yang Allah Jalla wa ʿAlā Kabarkan (yang artinya),“Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia;Maha Suci Engkau.'” (QS. Ali ‘Imran: 191) Jadi, Dia Jalla wa ʿAlā Memiliki hikmah yang agungdalam Menciptakan semesta ini. Adalah karunia dari Allah bagi seorang muslimketika dia bisa menjalani hidup inisementara urusan-urusannya sudah terbuka dengan jelas. Berbeda dengan selain muslim,karena dia hidup dalam kehidupan initanpa memiliki maksud dan tujuan. Inilah yang membuat kehidupan menjadi kesengsaraan baginya.Demi Tuhan, saudara-saudara, aku sudah bertanya kepada banyak orang kafir,baik laki-laki maupun perempuan, “Mengapa Anda ada dalam hidup ini?”“Apa tujuannya?”Untuk apa? Untuk apa Anda ada?Banyak dari mereka berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.” Bayangkan! Anda hidup dalam kehidupan ini tanpa Anda mengetahuikenapa Anda datang, ke mana akan pergi,dan mengapa Anda ada. Ini adalah pertanyaan eksistensialyang jawabannya akan mendatangkan keyakinan dan ketenangan. Itulah kenapa kebingungan mereka amat mematikan,sehingga mereka lari darinya dengan berbagai cara. Mereka lari darinya dengan perbuatan keji dan mabuk-mabukan.Mereka tidak ingin hidupdengan pertanyaan yang tidak mereka tahu jawabannya. Padahal jika Anda bertanya pada salah seorang bocah muslim,ia akan menjawabnya dengan sigap.Betul atau tidak, saudara-saudara?Dia tahu, karena semuanya sudah jelas. Tapi mereka, Anda dapati dia seorang doktor, profesor, dan punya berbagai gelar,tapi tidak tau sama sekali mengapa dan untuk apa dia ada. Terkadang kebingungan tersebut terus meningkathingga membuatnya melakukan bunuh diri,kebingungan yang mematikan. Semoga Allah Melindungi kita. ==== قَالَ أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلًا هَمَلًا يَعْنِي بِلَا أَمْرٍ وَلَا نَهْيٍ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مُتَّصِفٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْأَدِلَّةُ عَلَى ثُبُوتِ حِكْمَتِهِ كَثِيرَةٌ جِدًّا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ آلَافِ دَليلٍ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْ حِكْمَتِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا يَخْلُقُ وَلَا يُقَدِّرُ وَلَا يَفْعَلُ وَلَا يَشْرَعُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ كُلُّ شَيْءٍ قَدَّرَهُ اللهُ أَوْ خَلَقَهُ أَوْ شَرَعَهُ فَلَهُ فِيهِ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ يُحِبُّهَا وَيُرِيدُهَا إِرَادَةً شَرْعِيَّةً فَهَذَا الْكَوْنُ خَلَقَهُ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مَعَ عَظَمَتِهِ وَإِتْقَانِهِ لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ أَيُظَنُّ أَنَّ اللهَ أَوْجَدَ هَذَا الْكَوْنَ بِلَا شَيْءٍ هَذَا مِمَّا يَجِبُ تَنْزِيهُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ هَذَا لَيْسَ اعْتِقَادَ أَهْلِ الْإِيمَانِ هَذَا اعْتِقَادُ الْكُفَّارِ الَّذِينَ لَا يَرَوْنَ حِكْمَةً فِي هَذَا الْوُجُودِ اللَّهُمَّ إِلَّا أَنَّ الْأَرْحَامَ تَدْفَعُ وَأَنَّ أَرْضًا تَبْلَعُ وَلَا شَيْءَ وَرَاءَ ذَلِكَ ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِ أَمَّا أَهْلُ الْإِيمَانِ فَكَمَا أَخْبَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحٰنَكَ إِذَنْ لَهُ جَلَّ وَعَلَا لَهُ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فِي إِيجَادِ هَذَا الْكَوْنِ وَفَضْلُ اللهِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنَّهُ يَمْشِي فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالْأُمُورُ عِنْدَهُ مُنْكَشِفَةٌ وَاضِحَةٌ بِخِلَافِ غَيْرِهِ فَإِنَّهُ يَعِيشُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بِلَا هَدَفٍ وَلَا غَايَةٍ وَهَذَا مَا يَجْعَلُ الْحَيَاةَ تَعِيسَةً عِنْدَهُ وَاللهِ يَا إِخْوَتَاهُ سَأَلْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنَ الْكُفَّارِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ لِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ مَا الْهَدَفُ؟ لِأَيشْ لِأَيشْ أَنْتَ مَوْجُودٌ؟ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ: مَا أَدْرِي لَا أَدْرِي تَخَيَّلْ أَنْ تَعِيشَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي لِمَاذَا جِئْتَ وَإِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ وَلِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ هَذِهِ أَسْئِلَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ الْجَوَابُ عَنْهَا يُكْسِبُ الطُّمَأْنِينَةَ وَالسَّكِينَةَ لِذَلِكَ الْحَيْرَةُ عِنْدَهُمْ قَاتِلَةٌ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِأَيِّ وَسِيلَةٍ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِفَوَاحِشَ بِسُكْرٍ لَا يُرِيدُ أَنْ يَعِيشَ هَذَا السُّؤَالُ الَّذِي لَا يَعْرِفُ جَوَابَهُ مَعَ أَنَّهُ تَسْأَلُهُ الطِّفْلَ… طِفْلًا مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ يُجِيبُكَ مُنْطَلِقًا صَحَّ وَلَا لَا يَا إِخْوَتَاهُ؟ يَعْرِفُهُ الْأُمُورُ وَاضِحَةٌ لَكِنَّهُمْ تَجِدُهُ دُكْتورُ بُروفِيسُورُ وَعِنْدَهُ شَهَادَاتٌ لِأَيشْ مَا يَدْرِي لِأَيشْ مَوْجُودٌ أَصْلًا فَوَلَرُبَّمَا زَادَتِ الْحَيْرَةُ حَتَّى أَدَّتْ بِهِ إِلَى أَنَّهُ يَنْتَحِرُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ الْحَيْرَةُ قَاتِلَةٌ
Beliau berkata bahwa Allah Menciptakan dan Memberi kita rezekidan tidak membiarkan kita begitu saja.Yakni dibiarkan tanpa diberi perintah dan larangan. Allah Jalla wa ʿAlā Memiliki sifat hikmah.Dalil yang menetapkan sifat hikmah bagi-Nya amat banyak,lebih dari sepuluh ribu dalil,sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim —Semoga Allah Merahmatinya. Di antara wujud hikmah-Nya Tabāraka wa Taʿālā,bahwa Dia tidak Menciptakan, Menakdirkan, Melakukan, atau Mensyariatkankecuali untuk suatu hikmah (maksud) yang agung. Segala yang Allah Takdirkan, Ciptakan, dan Syariatkan,di balik itu pasti Dia Memiliki hikmah yang agungyang secara Irādah Syarʿiyyah dicintai dan diinginkan oleh-Nya. Allah Jalla wa ʿAlā Menciptakan alam semestayang sangat besar dan sempurna detailnyauntuk suatu tujuan yang agung. Apakah disangka bahwa Allah Menciptakan alam semesta ini tanpa tujuan apa pun?Ini adalah sesuatu yang harus disucikan dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā “Apakah kalian mengira bahwa Kami Menciptakan kalian tanpa tujuandan (menyangka) bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115) Ini bukanlah akidah orang yang beriman.Ini adalah akidah orang kafiryang menganggap tidak ada tujuan di balik keberadaan makhluk,kecuali sekadar terlahir dari rahim lalu ditelan bumi,dan tidak ada apa-apa setelah itu. “Itu anggapan orang-orang kafir,maka celakalah orang-orang yang kafir karena masuk neraka.” (QS. Sad: 27) Adapun orang-orang yang beriman, mereka seperti apa yang Allah Jalla wa ʿAlā Kabarkan (yang artinya),“Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia;Maha Suci Engkau.'” (QS. Ali ‘Imran: 191) Jadi, Dia Jalla wa ʿAlā Memiliki hikmah yang agungdalam Menciptakan semesta ini. Adalah karunia dari Allah bagi seorang muslimketika dia bisa menjalani hidup inisementara urusan-urusannya sudah terbuka dengan jelas. Berbeda dengan selain muslim,karena dia hidup dalam kehidupan initanpa memiliki maksud dan tujuan. Inilah yang membuat kehidupan menjadi kesengsaraan baginya.Demi Tuhan, saudara-saudara, aku sudah bertanya kepada banyak orang kafir,baik laki-laki maupun perempuan, “Mengapa Anda ada dalam hidup ini?”“Apa tujuannya?”Untuk apa? Untuk apa Anda ada?Banyak dari mereka berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.” Bayangkan! Anda hidup dalam kehidupan ini tanpa Anda mengetahuikenapa Anda datang, ke mana akan pergi,dan mengapa Anda ada. Ini adalah pertanyaan eksistensialyang jawabannya akan mendatangkan keyakinan dan ketenangan. Itulah kenapa kebingungan mereka amat mematikan,sehingga mereka lari darinya dengan berbagai cara. Mereka lari darinya dengan perbuatan keji dan mabuk-mabukan.Mereka tidak ingin hidupdengan pertanyaan yang tidak mereka tahu jawabannya. Padahal jika Anda bertanya pada salah seorang bocah muslim,ia akan menjawabnya dengan sigap.Betul atau tidak, saudara-saudara?Dia tahu, karena semuanya sudah jelas. Tapi mereka, Anda dapati dia seorang doktor, profesor, dan punya berbagai gelar,tapi tidak tau sama sekali mengapa dan untuk apa dia ada. Terkadang kebingungan tersebut terus meningkathingga membuatnya melakukan bunuh diri,kebingungan yang mematikan. Semoga Allah Melindungi kita. ==== قَالَ أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلًا هَمَلًا يَعْنِي بِلَا أَمْرٍ وَلَا نَهْيٍ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مُتَّصِفٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْأَدِلَّةُ عَلَى ثُبُوتِ حِكْمَتِهِ كَثِيرَةٌ جِدًّا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ آلَافِ دَليلٍ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْ حِكْمَتِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا يَخْلُقُ وَلَا يُقَدِّرُ وَلَا يَفْعَلُ وَلَا يَشْرَعُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ كُلُّ شَيْءٍ قَدَّرَهُ اللهُ أَوْ خَلَقَهُ أَوْ شَرَعَهُ فَلَهُ فِيهِ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ يُحِبُّهَا وَيُرِيدُهَا إِرَادَةً شَرْعِيَّةً فَهَذَا الْكَوْنُ خَلَقَهُ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مَعَ عَظَمَتِهِ وَإِتْقَانِهِ لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ أَيُظَنُّ أَنَّ اللهَ أَوْجَدَ هَذَا الْكَوْنَ بِلَا شَيْءٍ هَذَا مِمَّا يَجِبُ تَنْزِيهُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ هَذَا لَيْسَ اعْتِقَادَ أَهْلِ الْإِيمَانِ هَذَا اعْتِقَادُ الْكُفَّارِ الَّذِينَ لَا يَرَوْنَ حِكْمَةً فِي هَذَا الْوُجُودِ اللَّهُمَّ إِلَّا أَنَّ الْأَرْحَامَ تَدْفَعُ وَأَنَّ أَرْضًا تَبْلَعُ وَلَا شَيْءَ وَرَاءَ ذَلِكَ ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِ أَمَّا أَهْلُ الْإِيمَانِ فَكَمَا أَخْبَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحٰنَكَ إِذَنْ لَهُ جَلَّ وَعَلَا لَهُ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فِي إِيجَادِ هَذَا الْكَوْنِ وَفَضْلُ اللهِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنَّهُ يَمْشِي فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالْأُمُورُ عِنْدَهُ مُنْكَشِفَةٌ وَاضِحَةٌ بِخِلَافِ غَيْرِهِ فَإِنَّهُ يَعِيشُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بِلَا هَدَفٍ وَلَا غَايَةٍ وَهَذَا مَا يَجْعَلُ الْحَيَاةَ تَعِيسَةً عِنْدَهُ وَاللهِ يَا إِخْوَتَاهُ سَأَلْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنَ الْكُفَّارِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ لِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ مَا الْهَدَفُ؟ لِأَيشْ لِأَيشْ أَنْتَ مَوْجُودٌ؟ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ: مَا أَدْرِي لَا أَدْرِي تَخَيَّلْ أَنْ تَعِيشَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي لِمَاذَا جِئْتَ وَإِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ وَلِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ هَذِهِ أَسْئِلَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ الْجَوَابُ عَنْهَا يُكْسِبُ الطُّمَأْنِينَةَ وَالسَّكِينَةَ لِذَلِكَ الْحَيْرَةُ عِنْدَهُمْ قَاتِلَةٌ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِأَيِّ وَسِيلَةٍ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِفَوَاحِشَ بِسُكْرٍ لَا يُرِيدُ أَنْ يَعِيشَ هَذَا السُّؤَالُ الَّذِي لَا يَعْرِفُ جَوَابَهُ مَعَ أَنَّهُ تَسْأَلُهُ الطِّفْلَ… طِفْلًا مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ يُجِيبُكَ مُنْطَلِقًا صَحَّ وَلَا لَا يَا إِخْوَتَاهُ؟ يَعْرِفُهُ الْأُمُورُ وَاضِحَةٌ لَكِنَّهُمْ تَجِدُهُ دُكْتورُ بُروفِيسُورُ وَعِنْدَهُ شَهَادَاتٌ لِأَيشْ مَا يَدْرِي لِأَيشْ مَوْجُودٌ أَصْلًا فَوَلَرُبَّمَا زَادَتِ الْحَيْرَةُ حَتَّى أَدَّتْ بِهِ إِلَى أَنَّهُ يَنْتَحِرُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ الْحَيْرَةُ قَاتِلَةٌ


Beliau berkata bahwa Allah Menciptakan dan Memberi kita rezekidan tidak membiarkan kita begitu saja.Yakni dibiarkan tanpa diberi perintah dan larangan. Allah Jalla wa ʿAlā Memiliki sifat hikmah.Dalil yang menetapkan sifat hikmah bagi-Nya amat banyak,lebih dari sepuluh ribu dalil,sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim —Semoga Allah Merahmatinya. Di antara wujud hikmah-Nya Tabāraka wa Taʿālā,bahwa Dia tidak Menciptakan, Menakdirkan, Melakukan, atau Mensyariatkankecuali untuk suatu hikmah (maksud) yang agung. Segala yang Allah Takdirkan, Ciptakan, dan Syariatkan,di balik itu pasti Dia Memiliki hikmah yang agungyang secara Irādah Syarʿiyyah dicintai dan diinginkan oleh-Nya. Allah Jalla wa ʿAlā Menciptakan alam semestayang sangat besar dan sempurna detailnyauntuk suatu tujuan yang agung. Apakah disangka bahwa Allah Menciptakan alam semesta ini tanpa tujuan apa pun?Ini adalah sesuatu yang harus disucikan dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā “Apakah kalian mengira bahwa Kami Menciptakan kalian tanpa tujuandan (menyangka) bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115) Ini bukanlah akidah orang yang beriman.Ini adalah akidah orang kafiryang menganggap tidak ada tujuan di balik keberadaan makhluk,kecuali sekadar terlahir dari rahim lalu ditelan bumi,dan tidak ada apa-apa setelah itu. “Itu anggapan orang-orang kafir,maka celakalah orang-orang yang kafir karena masuk neraka.” (QS. Sad: 27) Adapun orang-orang yang beriman, mereka seperti apa yang Allah Jalla wa ʿAlā Kabarkan (yang artinya),“Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia;Maha Suci Engkau.'” (QS. Ali ‘Imran: 191) Jadi, Dia Jalla wa ʿAlā Memiliki hikmah yang agungdalam Menciptakan semesta ini. Adalah karunia dari Allah bagi seorang muslimketika dia bisa menjalani hidup inisementara urusan-urusannya sudah terbuka dengan jelas. Berbeda dengan selain muslim,karena dia hidup dalam kehidupan initanpa memiliki maksud dan tujuan. Inilah yang membuat kehidupan menjadi kesengsaraan baginya.Demi Tuhan, saudara-saudara, aku sudah bertanya kepada banyak orang kafir,baik laki-laki maupun perempuan, “Mengapa Anda ada dalam hidup ini?”“Apa tujuannya?”Untuk apa? Untuk apa Anda ada?Banyak dari mereka berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.” Bayangkan! Anda hidup dalam kehidupan ini tanpa Anda mengetahuikenapa Anda datang, ke mana akan pergi,dan mengapa Anda ada. Ini adalah pertanyaan eksistensialyang jawabannya akan mendatangkan keyakinan dan ketenangan. Itulah kenapa kebingungan mereka amat mematikan,sehingga mereka lari darinya dengan berbagai cara. Mereka lari darinya dengan perbuatan keji dan mabuk-mabukan.Mereka tidak ingin hidupdengan pertanyaan yang tidak mereka tahu jawabannya. Padahal jika Anda bertanya pada salah seorang bocah muslim,ia akan menjawabnya dengan sigap.Betul atau tidak, saudara-saudara?Dia tahu, karena semuanya sudah jelas. Tapi mereka, Anda dapati dia seorang doktor, profesor, dan punya berbagai gelar,tapi tidak tau sama sekali mengapa dan untuk apa dia ada. Terkadang kebingungan tersebut terus meningkathingga membuatnya melakukan bunuh diri,kebingungan yang mematikan. Semoga Allah Melindungi kita. ==== قَالَ أَنَّ اللهَ خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا وَلَمْ يَتْرُكْنَا هَمَلًا هَمَلًا يَعْنِي بِلَا أَمْرٍ وَلَا نَهْيٍ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مُتَّصِفٌ بِالْحِكْمَةِ وَالْأَدِلَّةُ عَلَى ثُبُوتِ حِكْمَتِهِ كَثِيرَةٌ جِدًّا تَزِيدُ عَلَى عَشَرَةِ آلَافِ دَليلٍ كَمَا يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْ حِكْمَتِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ لَا يَخْلُقُ وَلَا يُقَدِّرُ وَلَا يَفْعَلُ وَلَا يَشْرَعُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ كُلُّ شَيْءٍ قَدَّرَهُ اللهُ أَوْ خَلَقَهُ أَوْ شَرَعَهُ فَلَهُ فِيهِ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ يُحِبُّهَا وَيُرِيدُهَا إِرَادَةً شَرْعِيَّةً فَهَذَا الْكَوْنُ خَلَقَهُ اللهُ جَلَّ وَعَلَا مَعَ عَظَمَتِهِ وَإِتْقَانِهِ لِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ أَيُظَنُّ أَنَّ اللهَ أَوْجَدَ هَذَا الْكَوْنَ بِلَا شَيْءٍ هَذَا مِمَّا يَجِبُ تَنْزِيهُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ هَذَا لَيْسَ اعْتِقَادَ أَهْلِ الْإِيمَانِ هَذَا اعْتِقَادُ الْكُفَّارِ الَّذِينَ لَا يَرَوْنَ حِكْمَةً فِي هَذَا الْوُجُودِ اللَّهُمَّ إِلَّا أَنَّ الْأَرْحَامَ تَدْفَعُ وَأَنَّ أَرْضًا تَبْلَعُ وَلَا شَيْءَ وَرَاءَ ذَلِكَ ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِ أَمَّا أَهْلُ الْإِيمَانِ فَكَمَا أَخْبَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحٰنَكَ إِذَنْ لَهُ جَلَّ وَعَلَا لَهُ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فِي إِيجَادِ هَذَا الْكَوْنِ وَفَضْلُ اللهِ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنَّهُ يَمْشِي فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالْأُمُورُ عِنْدَهُ مُنْكَشِفَةٌ وَاضِحَةٌ بِخِلَافِ غَيْرِهِ فَإِنَّهُ يَعِيشُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ بِلَا هَدَفٍ وَلَا غَايَةٍ وَهَذَا مَا يَجْعَلُ الْحَيَاةَ تَعِيسَةً عِنْدَهُ وَاللهِ يَا إِخْوَتَاهُ سَأَلْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنَ الْكُفَّارِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ لِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ؟ مَا الْهَدَفُ؟ لِأَيشْ لِأَيشْ أَنْتَ مَوْجُودٌ؟ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ: مَا أَدْرِي لَا أَدْرِي تَخَيَّلْ أَنْ تَعِيشَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي لِمَاذَا جِئْتَ وَإِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ وَلِمَاذَا أَنْتَ مَوْجُودٌ هَذِهِ أَسْئِلَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ الْجَوَابُ عَنْهَا يُكْسِبُ الطُّمَأْنِينَةَ وَالسَّكِينَةَ لِذَلِكَ الْحَيْرَةُ عِنْدَهُمْ قَاتِلَةٌ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِأَيِّ وَسِيلَةٍ يَهْرُبُونَ عَنْهَا بِفَوَاحِشَ بِسُكْرٍ لَا يُرِيدُ أَنْ يَعِيشَ هَذَا السُّؤَالُ الَّذِي لَا يَعْرِفُ جَوَابَهُ مَعَ أَنَّهُ تَسْأَلُهُ الطِّفْلَ… طِفْلًا مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ يُجِيبُكَ مُنْطَلِقًا صَحَّ وَلَا لَا يَا إِخْوَتَاهُ؟ يَعْرِفُهُ الْأُمُورُ وَاضِحَةٌ لَكِنَّهُمْ تَجِدُهُ دُكْتورُ بُروفِيسُورُ وَعِنْدَهُ شَهَادَاتٌ لِأَيشْ مَا يَدْرِي لِأَيشْ مَوْجُودٌ أَصْلًا فَوَلَرُبَّمَا زَادَتِ الْحَيْرَةُ حَتَّى أَدَّتْ بِهِ إِلَى أَنَّهُ يَنْتَحِرُ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ الْحَيْرَةُ قَاتِلَةٌ

Mencintai Para Sahabat Nabi

Bismillah.Di antara pelajaran berharga yang hendaknya selalu diingat oleh generasi muda adalah kepahlawanan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membela dakwah Islam. Kita mengenal sosok yang sedemikian dermawan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhuma. Mereka telah menunjukkan bukti yang luar biasa dalam membela dan mendukung perjuangan dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita juga mengenal sosok Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhu yang menunjukkan kekuatan iman dan tawakal kepada Allah ketika harus berhadapan dengan tekanan dan siksaan demi mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kisah perjuangan dan pengorbanan para sahabat begitu banyak menghiasi sejarah dan memberikan gambaran kepada kita betapa iman dan tauhid itu telah mendarah daging di dalam diri mereka. Suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjaga syariat-Nya untuk kemudian diteruskan dengan gamblang kepada generasi-generasi sesudahnya.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang beriman itu (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah sebuah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.” (QS. Al-Fath: 18)Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam), yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah generasi di masaku (para sahabat Nabi), kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu)Dari sini kita mengetahui bahwa mencintai para sahabat Nabi dan memuliakan mereka merupakan perkara yang sangat mendasar di dalam agama Islam. Allah telah memuji mereka dan meridai mereka dan menjadikan keridaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hati para sahabat itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,آيَةُ الإيمَانِ حُبُّ الأنْصَارِ، وآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأنْصَارِ“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu)Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat 321 H) berkata,وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ“Dan kami (ahlusunah waljamaah) mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang dari mereka.” (Lihat Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no. 93)Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah (wafat 264 H) berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ“Apabila kamu melihat ada seseorang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindik (sesat dan menyimpang).” (Lihat Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah hal. 49 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi)Baca juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf ShalatWajib mengikuti jalan para sahabatImam Abu Amr Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) mengatakan, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para ulama terdahulu, meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat tokoh-tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang indah.” Yang dimaksud mengikuti jejak pendahulu di sini adalah dengan mengikuti jalan para sahabat dan para pengikut setia mereka. Karena jalan mereka itu dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah (Lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 44)Di dalam surah Al-Fatihah kita berdoa kepada Allah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”Siapakah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus itu?Allah Ta’ala berfirman,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ“Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”Siapakah yang dimaksud ‘orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah’ itu? Mereka itu adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat,مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ“Yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa’: 69) (Lihat transkrip Manhaj Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih oleh Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 7-8)Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka. Mereka itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan anda setiap rakaat selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada jalan mereka itu.” (Lihat Tafsir Ayat minal Qur’anil Karim, hal. 17)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka, mereka itulah teladan bagi umat ini. Dan manhaj mereka itu adalah jalan yang mereka tempuh dalam hal akidah, dalam hal muamalah, dalam hal akhlak, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah karena kedekatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Mereka mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, mereka itu adalah sebaik-baik kurun, dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih, hal. 2-3)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menasihatkan, “Dan tidak mungkin mengikuti mereka dengan baik, kecuali dengan cara mempelajari mazhab mereka, manhaj mereka, dan jalan yang mereka tempuh. Adapun semata-mata menyandarkan diri kepada salaf atau salafiyah tanpa disertai pemahaman tentang hakikat dan manhajnya, maka hal ini tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, bisa jadi justru menimbulkan mudarat. Oleh sebab itu, harus mengenal hakikat manhaj salafush shalih.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaih, hal. 3)Demikian sedikit kumpulan tulisan dan faedah yang Allah berikan kemudahan bagi kami untuk menyusunnya. Semoga Allah Ta’ala berikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebenaran dan istikamah di atasnya hingga ajal menjemput. Wallahul musta’aan.Baca juga: Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama***Yogyakarta, 13 Muharram 1445 HPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Referensi:Aqidah Ath-Thahawiyah: Matan dan Terjemah. Link website: https://www.terjemahmatan.com/2015/11/aqidah-ath-thahawiyah-matan-dan-terjemah.htmlKitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah. Link Website: https://shamela.ws/book/13055/129#p1Manhaj As-Salaf Ash-Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaihi. Link Website: http://calameo.download/000131910a9739eef4018Tags: mencintainabisahabat

Mencintai Para Sahabat Nabi

Bismillah.Di antara pelajaran berharga yang hendaknya selalu diingat oleh generasi muda adalah kepahlawanan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membela dakwah Islam. Kita mengenal sosok yang sedemikian dermawan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhuma. Mereka telah menunjukkan bukti yang luar biasa dalam membela dan mendukung perjuangan dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita juga mengenal sosok Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhu yang menunjukkan kekuatan iman dan tawakal kepada Allah ketika harus berhadapan dengan tekanan dan siksaan demi mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kisah perjuangan dan pengorbanan para sahabat begitu banyak menghiasi sejarah dan memberikan gambaran kepada kita betapa iman dan tauhid itu telah mendarah daging di dalam diri mereka. Suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjaga syariat-Nya untuk kemudian diteruskan dengan gamblang kepada generasi-generasi sesudahnya.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang beriman itu (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah sebuah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.” (QS. Al-Fath: 18)Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam), yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah generasi di masaku (para sahabat Nabi), kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu)Dari sini kita mengetahui bahwa mencintai para sahabat Nabi dan memuliakan mereka merupakan perkara yang sangat mendasar di dalam agama Islam. Allah telah memuji mereka dan meridai mereka dan menjadikan keridaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hati para sahabat itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,آيَةُ الإيمَانِ حُبُّ الأنْصَارِ، وآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأنْصَارِ“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu)Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat 321 H) berkata,وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ“Dan kami (ahlusunah waljamaah) mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang dari mereka.” (Lihat Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no. 93)Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah (wafat 264 H) berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ“Apabila kamu melihat ada seseorang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindik (sesat dan menyimpang).” (Lihat Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah hal. 49 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi)Baca juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf ShalatWajib mengikuti jalan para sahabatImam Abu Amr Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) mengatakan, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para ulama terdahulu, meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat tokoh-tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang indah.” Yang dimaksud mengikuti jejak pendahulu di sini adalah dengan mengikuti jalan para sahabat dan para pengikut setia mereka. Karena jalan mereka itu dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah (Lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 44)Di dalam surah Al-Fatihah kita berdoa kepada Allah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”Siapakah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus itu?Allah Ta’ala berfirman,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ“Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”Siapakah yang dimaksud ‘orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah’ itu? Mereka itu adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat,مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ“Yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa’: 69) (Lihat transkrip Manhaj Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih oleh Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 7-8)Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka. Mereka itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan anda setiap rakaat selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada jalan mereka itu.” (Lihat Tafsir Ayat minal Qur’anil Karim, hal. 17)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka, mereka itulah teladan bagi umat ini. Dan manhaj mereka itu adalah jalan yang mereka tempuh dalam hal akidah, dalam hal muamalah, dalam hal akhlak, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah karena kedekatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Mereka mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, mereka itu adalah sebaik-baik kurun, dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih, hal. 2-3)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menasihatkan, “Dan tidak mungkin mengikuti mereka dengan baik, kecuali dengan cara mempelajari mazhab mereka, manhaj mereka, dan jalan yang mereka tempuh. Adapun semata-mata menyandarkan diri kepada salaf atau salafiyah tanpa disertai pemahaman tentang hakikat dan manhajnya, maka hal ini tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, bisa jadi justru menimbulkan mudarat. Oleh sebab itu, harus mengenal hakikat manhaj salafush shalih.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaih, hal. 3)Demikian sedikit kumpulan tulisan dan faedah yang Allah berikan kemudahan bagi kami untuk menyusunnya. Semoga Allah Ta’ala berikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebenaran dan istikamah di atasnya hingga ajal menjemput. Wallahul musta’aan.Baca juga: Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama***Yogyakarta, 13 Muharram 1445 HPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Referensi:Aqidah Ath-Thahawiyah: Matan dan Terjemah. Link website: https://www.terjemahmatan.com/2015/11/aqidah-ath-thahawiyah-matan-dan-terjemah.htmlKitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah. Link Website: https://shamela.ws/book/13055/129#p1Manhaj As-Salaf Ash-Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaihi. Link Website: http://calameo.download/000131910a9739eef4018Tags: mencintainabisahabat
Bismillah.Di antara pelajaran berharga yang hendaknya selalu diingat oleh generasi muda adalah kepahlawanan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membela dakwah Islam. Kita mengenal sosok yang sedemikian dermawan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhuma. Mereka telah menunjukkan bukti yang luar biasa dalam membela dan mendukung perjuangan dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita juga mengenal sosok Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhu yang menunjukkan kekuatan iman dan tawakal kepada Allah ketika harus berhadapan dengan tekanan dan siksaan demi mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kisah perjuangan dan pengorbanan para sahabat begitu banyak menghiasi sejarah dan memberikan gambaran kepada kita betapa iman dan tauhid itu telah mendarah daging di dalam diri mereka. Suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjaga syariat-Nya untuk kemudian diteruskan dengan gamblang kepada generasi-generasi sesudahnya.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang beriman itu (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah sebuah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.” (QS. Al-Fath: 18)Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam), yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah generasi di masaku (para sahabat Nabi), kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu)Dari sini kita mengetahui bahwa mencintai para sahabat Nabi dan memuliakan mereka merupakan perkara yang sangat mendasar di dalam agama Islam. Allah telah memuji mereka dan meridai mereka dan menjadikan keridaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hati para sahabat itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,آيَةُ الإيمَانِ حُبُّ الأنْصَارِ، وآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأنْصَارِ“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu)Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat 321 H) berkata,وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ“Dan kami (ahlusunah waljamaah) mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang dari mereka.” (Lihat Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no. 93)Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah (wafat 264 H) berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ“Apabila kamu melihat ada seseorang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindik (sesat dan menyimpang).” (Lihat Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah hal. 49 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi)Baca juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf ShalatWajib mengikuti jalan para sahabatImam Abu Amr Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) mengatakan, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para ulama terdahulu, meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat tokoh-tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang indah.” Yang dimaksud mengikuti jejak pendahulu di sini adalah dengan mengikuti jalan para sahabat dan para pengikut setia mereka. Karena jalan mereka itu dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah (Lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 44)Di dalam surah Al-Fatihah kita berdoa kepada Allah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”Siapakah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus itu?Allah Ta’ala berfirman,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ“Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”Siapakah yang dimaksud ‘orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah’ itu? Mereka itu adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat,مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ“Yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa’: 69) (Lihat transkrip Manhaj Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih oleh Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 7-8)Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka. Mereka itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan anda setiap rakaat selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada jalan mereka itu.” (Lihat Tafsir Ayat minal Qur’anil Karim, hal. 17)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka, mereka itulah teladan bagi umat ini. Dan manhaj mereka itu adalah jalan yang mereka tempuh dalam hal akidah, dalam hal muamalah, dalam hal akhlak, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah karena kedekatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Mereka mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, mereka itu adalah sebaik-baik kurun, dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih, hal. 2-3)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menasihatkan, “Dan tidak mungkin mengikuti mereka dengan baik, kecuali dengan cara mempelajari mazhab mereka, manhaj mereka, dan jalan yang mereka tempuh. Adapun semata-mata menyandarkan diri kepada salaf atau salafiyah tanpa disertai pemahaman tentang hakikat dan manhajnya, maka hal ini tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, bisa jadi justru menimbulkan mudarat. Oleh sebab itu, harus mengenal hakikat manhaj salafush shalih.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaih, hal. 3)Demikian sedikit kumpulan tulisan dan faedah yang Allah berikan kemudahan bagi kami untuk menyusunnya. Semoga Allah Ta’ala berikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebenaran dan istikamah di atasnya hingga ajal menjemput. Wallahul musta’aan.Baca juga: Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama***Yogyakarta, 13 Muharram 1445 HPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Referensi:Aqidah Ath-Thahawiyah: Matan dan Terjemah. Link website: https://www.terjemahmatan.com/2015/11/aqidah-ath-thahawiyah-matan-dan-terjemah.htmlKitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah. Link Website: https://shamela.ws/book/13055/129#p1Manhaj As-Salaf Ash-Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaihi. Link Website: http://calameo.download/000131910a9739eef4018Tags: mencintainabisahabat


Bismillah.Di antara pelajaran berharga yang hendaknya selalu diingat oleh generasi muda adalah kepahlawanan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membela dakwah Islam. Kita mengenal sosok yang sedemikian dermawan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhuma. Mereka telah menunjukkan bukti yang luar biasa dalam membela dan mendukung perjuangan dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita juga mengenal sosok Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhu yang menunjukkan kekuatan iman dan tawakal kepada Allah ketika harus berhadapan dengan tekanan dan siksaan demi mempertahankan akidah dan keyakinannya sebagai pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Kisah perjuangan dan pengorbanan para sahabat begitu banyak menghiasi sejarah dan memberikan gambaran kepada kita betapa iman dan tauhid itu telah mendarah daging di dalam diri mereka. Suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjaga syariat-Nya untuk kemudian diteruskan dengan gamblang kepada generasi-generasi sesudahnya.Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang beriman itu (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah sebuah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.” (QS. Al-Fath: 18)Allah Ta’ala berfirman,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam), yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah generasi di masaku (para sahabat Nabi), kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu)Dari sini kita mengetahui bahwa mencintai para sahabat Nabi dan memuliakan mereka merupakan perkara yang sangat mendasar di dalam agama Islam. Allah telah memuji mereka dan meridai mereka dan menjadikan keridaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di dalam hati para sahabat itu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,آيَةُ الإيمَانِ حُبُّ الأنْصَارِ، وآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأنْصَارِ“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu)Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat 321 H) berkata,وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ“Dan kami (ahlusunah waljamaah) mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang dari mereka.” (Lihat Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no. 93)Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah (wafat 264 H) berkata,إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ“Apabila kamu melihat ada seseorang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindik (sesat dan menyimpang).” (Lihat Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah hal. 49 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi)Baca juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf ShalatWajib mengikuti jalan para sahabatImam Abu Amr Al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) mengatakan, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para ulama terdahulu, meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat tokoh-tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang indah.” Yang dimaksud mengikuti jejak pendahulu di sini adalah dengan mengikuti jalan para sahabat dan para pengikut setia mereka. Karena jalan mereka itu dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah (Lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 44)Di dalam surah Al-Fatihah kita berdoa kepada Allah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”Siapakah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus itu?Allah Ta’ala berfirman,صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ“Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”Siapakah yang dimaksud ‘orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah’ itu? Mereka itu adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat,مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ“Yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa’: 69) (Lihat transkrip Manhaj Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih oleh Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 7-8)Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka. Mereka itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan anda setiap rakaat selalu berdoa kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada jalan mereka itu.” (Lihat Tafsir Ayat minal Qur’anil Karim, hal. 17)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka, mereka itulah teladan bagi umat ini. Dan manhaj mereka itu adalah jalan yang mereka tempuh dalam hal akidah, dalam hal muamalah, dalam hal akhlak, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah karena kedekatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Mereka mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, mereka itu adalah sebaik-baik kurun, dan manhaj mereka adalah manhaj yang terbaik.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ilaih, hal. 2-3)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menasihatkan, “Dan tidak mungkin mengikuti mereka dengan baik, kecuali dengan cara mempelajari mazhab mereka, manhaj mereka, dan jalan yang mereka tempuh. Adapun semata-mata menyandarkan diri kepada salaf atau salafiyah tanpa disertai pemahaman tentang hakikat dan manhajnya, maka hal ini tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, bisa jadi justru menimbulkan mudarat. Oleh sebab itu, harus mengenal hakikat manhaj salafush shalih.” (Lihat Manhajus Salafish Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaih, hal. 3)Demikian sedikit kumpulan tulisan dan faedah yang Allah berikan kemudahan bagi kami untuk menyusunnya. Semoga Allah Ta’ala berikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebenaran dan istikamah di atasnya hingga ajal menjemput. Wallahul musta’aan.Baca juga: Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama***Yogyakarta, 13 Muharram 1445 HPenulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id Referensi:Aqidah Ath-Thahawiyah: Matan dan Terjemah. Link website: https://www.terjemahmatan.com/2015/11/aqidah-ath-thahawiyah-matan-dan-terjemah.htmlKitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah. Link Website: https://shamela.ws/book/13055/129#p1Manhaj As-Salaf Ash-Shalih wa Hajatul Ummah ‘ilaihi. Link Website: http://calameo.download/000131910a9739eef4018Tags: mencintainabisahabat

Memperkokoh Pondasi Rumah Tangga

Daftar Isi ToggleKetaatan dalam perjanjian yang agungKetaatan dalam menyempurnakan separuh agamaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehPondasi rumah tangga yang kokohTulisan ini akan membahas tentang pentingnya memperkokoh niat ketaatan lillah sebagai pondasi kuat dalam membangun dan menjalani kehidupan rumah tangga. Karena, pondasi yang rapuh dapat memicu pertikaian antara suami dengan istri yang dapat berujung pada perceraian dan penyesalan. Melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat, banyak orang berumah tangga karena murni cinta. Sebagian lain menjadikan alasan mencari kebahagiaan, bahkan ada yang termotivasi karena hanya takut celaan manusia dengan status single.Memang, tidak ada yang salah dengan alasan-alasan duniawi tersebut. Namun, jika motivasi menikah itu tidak dibarengi dengan niat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta menjadikannya sebagai alasan utama membangun mahligai rumah tangga, maka sungguh pondasi rumah tangga itu menjadi rapuh. Karena jika pondasinya adalah alasan duniawi tersebut, lantas apa perbedaan antara orang muslim dan kafir dalam pernikahan? Oleh karenanya, pondasi yang kokoh dalam membangun dan menjalani mahligai rumah tangga adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala yang menjadi tujuan utama.Ketaatan dalam perjanjian yang agungAllah Ta’ala berfirman,وَكَیۡفَ تَأۡخُذُونَهُۥ وَقَدۡ أَفۡضَىٰ بَعۡضُكُمۡ إِلَىٰ بَعۡضࣲ وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّیثَـٰقًا غَلِیظࣰا“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang agung (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS. An-Nisa’: 21)Dalam Tafsir As-Sa’di tentang ayat ini, khususnya berhubungan dengan kalimat مِّيثَٰقًا غَلِيظًا (perjanjian yang agung), dijelaskan bahwa Allah Ta’ala juga telah mengambil perjanjian yang kuat dari para suami dengan adanya akad dan (perintah untuk) memenuhi hak-hak istrinya. Oleh karenanya, ada unsur ketaatan kepada perintah Allah dalam setiap perjanjian akad nikah yang dipikul oleh seorang suami dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan tanggung jawab taat kepada suami (selama dalam koridor syariat) berada pada pundak istri yang pada akhirnya berarti juga berarti tunduk dan patuh kepada perintah Allah Ta’ala.Ketaatan dalam menyempurnakan separuh agamaDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا تَزَوَّجَ العبدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فيما بَقِيَ“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka, bertakwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Baihaqi dalam kitabnya Syu’bul Iman no. 5486. Al-Albani menyatakan bahwa derajat hadis ini adalah hasan li ghairihi dalam kitab Silsilah As-Shahihah)Menyebut pernikahan sebagai “separuh agama” adalah sebagai bentuk penekanan untuk mendorong segera menikah.Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Yang dominan dalam merusak agama adalah kelamin (kemaluan) dan perut. Dengan menikah, sudah cukup untuk menjaga dari salah satunya (yaitu kemaluan, pent.). Karena dalam pernikahan terdapat penjagaan dari setan, pemutus keinginan, menahan hawa nafsu (syahwat), menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan.” [1]Baca juga: Sumber Keretakan Rumah TanggaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehRasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا مات ابنُ آدَمَ انقَطَع عمَلُه إلَّا مِن ثَلاثٍ: صَدَقةٍ جاريةٍ، أو عِلمٍ يُنتَفَع به، أو وَلَدٍ صالِحٍ يدعو له. رواه مسلمٌ“Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Terhadap peran anak saleh yang mendoakannya, Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah anak yang saleh yang mendoakan orang tuanya. Doa anak saleh tersebut akan memberikan manfaat baginya. [2]Oleh karenanya, apabila tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan, maka pastikan bahwa niat kita setelah mendapatkan keturunan adalah mendidik dan mangasuh anak tersebut sehingga menjadi hamba Allah yang saleh agar kelak dapat mendoakan kita tatkala meninggalkan dunia ini. Bentuklah rumah tangga yang penuh dengan ketaatan, jadilah contoh dan teladan bagi anak-anak kita sebagai hamba Allah yang istikamah dalam iman dan takwa.Pondasi rumah tangga yang kokohKetaatan kepada Allah Ta’ala adalah pondasi yang semestinya menjadi mutlak dalam membangun dan membina rumah tangga. Karena bagaimanapun sulitnya problematika kehidupan yang dijalani bersama, tidak akan menggoyahkan keutuhan rumah tangga selama setiap individu, baik suami maupun istri, benar-benar memahami bahwa tujuan menikah adalah dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala.Namun jangan lupa, komitmen ketaatan tersebut tentu saja harus terikat kuat dengan sebab-sebab yang dapat menguatkan keistikamahan kita. Sebab-sebab itu tiada lain adalah dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai suri teladan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Mirqat Al-Mafatih Syarh Mishkat Al-Masabih karya Abu Al-Hasan Nur Al-Din Al-Malla, hal. 2049.[2] Dikutip dari tautan berikut ini.Tags: Keluargapondasi rumah tanggarumah tangga

Memperkokoh Pondasi Rumah Tangga

Daftar Isi ToggleKetaatan dalam perjanjian yang agungKetaatan dalam menyempurnakan separuh agamaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehPondasi rumah tangga yang kokohTulisan ini akan membahas tentang pentingnya memperkokoh niat ketaatan lillah sebagai pondasi kuat dalam membangun dan menjalani kehidupan rumah tangga. Karena, pondasi yang rapuh dapat memicu pertikaian antara suami dengan istri yang dapat berujung pada perceraian dan penyesalan. Melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat, banyak orang berumah tangga karena murni cinta. Sebagian lain menjadikan alasan mencari kebahagiaan, bahkan ada yang termotivasi karena hanya takut celaan manusia dengan status single.Memang, tidak ada yang salah dengan alasan-alasan duniawi tersebut. Namun, jika motivasi menikah itu tidak dibarengi dengan niat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta menjadikannya sebagai alasan utama membangun mahligai rumah tangga, maka sungguh pondasi rumah tangga itu menjadi rapuh. Karena jika pondasinya adalah alasan duniawi tersebut, lantas apa perbedaan antara orang muslim dan kafir dalam pernikahan? Oleh karenanya, pondasi yang kokoh dalam membangun dan menjalani mahligai rumah tangga adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala yang menjadi tujuan utama.Ketaatan dalam perjanjian yang agungAllah Ta’ala berfirman,وَكَیۡفَ تَأۡخُذُونَهُۥ وَقَدۡ أَفۡضَىٰ بَعۡضُكُمۡ إِلَىٰ بَعۡضࣲ وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّیثَـٰقًا غَلِیظࣰا“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang agung (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS. An-Nisa’: 21)Dalam Tafsir As-Sa’di tentang ayat ini, khususnya berhubungan dengan kalimat مِّيثَٰقًا غَلِيظًا (perjanjian yang agung), dijelaskan bahwa Allah Ta’ala juga telah mengambil perjanjian yang kuat dari para suami dengan adanya akad dan (perintah untuk) memenuhi hak-hak istrinya. Oleh karenanya, ada unsur ketaatan kepada perintah Allah dalam setiap perjanjian akad nikah yang dipikul oleh seorang suami dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan tanggung jawab taat kepada suami (selama dalam koridor syariat) berada pada pundak istri yang pada akhirnya berarti juga berarti tunduk dan patuh kepada perintah Allah Ta’ala.Ketaatan dalam menyempurnakan separuh agamaDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا تَزَوَّجَ العبدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فيما بَقِيَ“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka, bertakwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Baihaqi dalam kitabnya Syu’bul Iman no. 5486. Al-Albani menyatakan bahwa derajat hadis ini adalah hasan li ghairihi dalam kitab Silsilah As-Shahihah)Menyebut pernikahan sebagai “separuh agama” adalah sebagai bentuk penekanan untuk mendorong segera menikah.Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Yang dominan dalam merusak agama adalah kelamin (kemaluan) dan perut. Dengan menikah, sudah cukup untuk menjaga dari salah satunya (yaitu kemaluan, pent.). Karena dalam pernikahan terdapat penjagaan dari setan, pemutus keinginan, menahan hawa nafsu (syahwat), menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan.” [1]Baca juga: Sumber Keretakan Rumah TanggaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehRasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا مات ابنُ آدَمَ انقَطَع عمَلُه إلَّا مِن ثَلاثٍ: صَدَقةٍ جاريةٍ، أو عِلمٍ يُنتَفَع به، أو وَلَدٍ صالِحٍ يدعو له. رواه مسلمٌ“Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Terhadap peran anak saleh yang mendoakannya, Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah anak yang saleh yang mendoakan orang tuanya. Doa anak saleh tersebut akan memberikan manfaat baginya. [2]Oleh karenanya, apabila tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan, maka pastikan bahwa niat kita setelah mendapatkan keturunan adalah mendidik dan mangasuh anak tersebut sehingga menjadi hamba Allah yang saleh agar kelak dapat mendoakan kita tatkala meninggalkan dunia ini. Bentuklah rumah tangga yang penuh dengan ketaatan, jadilah contoh dan teladan bagi anak-anak kita sebagai hamba Allah yang istikamah dalam iman dan takwa.Pondasi rumah tangga yang kokohKetaatan kepada Allah Ta’ala adalah pondasi yang semestinya menjadi mutlak dalam membangun dan membina rumah tangga. Karena bagaimanapun sulitnya problematika kehidupan yang dijalani bersama, tidak akan menggoyahkan keutuhan rumah tangga selama setiap individu, baik suami maupun istri, benar-benar memahami bahwa tujuan menikah adalah dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala.Namun jangan lupa, komitmen ketaatan tersebut tentu saja harus terikat kuat dengan sebab-sebab yang dapat menguatkan keistikamahan kita. Sebab-sebab itu tiada lain adalah dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai suri teladan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Mirqat Al-Mafatih Syarh Mishkat Al-Masabih karya Abu Al-Hasan Nur Al-Din Al-Malla, hal. 2049.[2] Dikutip dari tautan berikut ini.Tags: Keluargapondasi rumah tanggarumah tangga
Daftar Isi ToggleKetaatan dalam perjanjian yang agungKetaatan dalam menyempurnakan separuh agamaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehPondasi rumah tangga yang kokohTulisan ini akan membahas tentang pentingnya memperkokoh niat ketaatan lillah sebagai pondasi kuat dalam membangun dan menjalani kehidupan rumah tangga. Karena, pondasi yang rapuh dapat memicu pertikaian antara suami dengan istri yang dapat berujung pada perceraian dan penyesalan. Melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat, banyak orang berumah tangga karena murni cinta. Sebagian lain menjadikan alasan mencari kebahagiaan, bahkan ada yang termotivasi karena hanya takut celaan manusia dengan status single.Memang, tidak ada yang salah dengan alasan-alasan duniawi tersebut. Namun, jika motivasi menikah itu tidak dibarengi dengan niat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta menjadikannya sebagai alasan utama membangun mahligai rumah tangga, maka sungguh pondasi rumah tangga itu menjadi rapuh. Karena jika pondasinya adalah alasan duniawi tersebut, lantas apa perbedaan antara orang muslim dan kafir dalam pernikahan? Oleh karenanya, pondasi yang kokoh dalam membangun dan menjalani mahligai rumah tangga adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala yang menjadi tujuan utama.Ketaatan dalam perjanjian yang agungAllah Ta’ala berfirman,وَكَیۡفَ تَأۡخُذُونَهُۥ وَقَدۡ أَفۡضَىٰ بَعۡضُكُمۡ إِلَىٰ بَعۡضࣲ وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّیثَـٰقًا غَلِیظࣰا“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang agung (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS. An-Nisa’: 21)Dalam Tafsir As-Sa’di tentang ayat ini, khususnya berhubungan dengan kalimat مِّيثَٰقًا غَلِيظًا (perjanjian yang agung), dijelaskan bahwa Allah Ta’ala juga telah mengambil perjanjian yang kuat dari para suami dengan adanya akad dan (perintah untuk) memenuhi hak-hak istrinya. Oleh karenanya, ada unsur ketaatan kepada perintah Allah dalam setiap perjanjian akad nikah yang dipikul oleh seorang suami dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan tanggung jawab taat kepada suami (selama dalam koridor syariat) berada pada pundak istri yang pada akhirnya berarti juga berarti tunduk dan patuh kepada perintah Allah Ta’ala.Ketaatan dalam menyempurnakan separuh agamaDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا تَزَوَّجَ العبدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فيما بَقِيَ“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka, bertakwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Baihaqi dalam kitabnya Syu’bul Iman no. 5486. Al-Albani menyatakan bahwa derajat hadis ini adalah hasan li ghairihi dalam kitab Silsilah As-Shahihah)Menyebut pernikahan sebagai “separuh agama” adalah sebagai bentuk penekanan untuk mendorong segera menikah.Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Yang dominan dalam merusak agama adalah kelamin (kemaluan) dan perut. Dengan menikah, sudah cukup untuk menjaga dari salah satunya (yaitu kemaluan, pent.). Karena dalam pernikahan terdapat penjagaan dari setan, pemutus keinginan, menahan hawa nafsu (syahwat), menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan.” [1]Baca juga: Sumber Keretakan Rumah TanggaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehRasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا مات ابنُ آدَمَ انقَطَع عمَلُه إلَّا مِن ثَلاثٍ: صَدَقةٍ جاريةٍ، أو عِلمٍ يُنتَفَع به، أو وَلَدٍ صالِحٍ يدعو له. رواه مسلمٌ“Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Terhadap peran anak saleh yang mendoakannya, Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah anak yang saleh yang mendoakan orang tuanya. Doa anak saleh tersebut akan memberikan manfaat baginya. [2]Oleh karenanya, apabila tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan, maka pastikan bahwa niat kita setelah mendapatkan keturunan adalah mendidik dan mangasuh anak tersebut sehingga menjadi hamba Allah yang saleh agar kelak dapat mendoakan kita tatkala meninggalkan dunia ini. Bentuklah rumah tangga yang penuh dengan ketaatan, jadilah contoh dan teladan bagi anak-anak kita sebagai hamba Allah yang istikamah dalam iman dan takwa.Pondasi rumah tangga yang kokohKetaatan kepada Allah Ta’ala adalah pondasi yang semestinya menjadi mutlak dalam membangun dan membina rumah tangga. Karena bagaimanapun sulitnya problematika kehidupan yang dijalani bersama, tidak akan menggoyahkan keutuhan rumah tangga selama setiap individu, baik suami maupun istri, benar-benar memahami bahwa tujuan menikah adalah dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala.Namun jangan lupa, komitmen ketaatan tersebut tentu saja harus terikat kuat dengan sebab-sebab yang dapat menguatkan keistikamahan kita. Sebab-sebab itu tiada lain adalah dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai suri teladan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Mirqat Al-Mafatih Syarh Mishkat Al-Masabih karya Abu Al-Hasan Nur Al-Din Al-Malla, hal. 2049.[2] Dikutip dari tautan berikut ini.Tags: Keluargapondasi rumah tanggarumah tangga


Daftar Isi ToggleKetaatan dalam perjanjian yang agungKetaatan dalam menyempurnakan separuh agamaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehPondasi rumah tangga yang kokohTulisan ini akan membahas tentang pentingnya memperkokoh niat ketaatan lillah sebagai pondasi kuat dalam membangun dan menjalani kehidupan rumah tangga. Karena, pondasi yang rapuh dapat memicu pertikaian antara suami dengan istri yang dapat berujung pada perceraian dan penyesalan. Melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat, banyak orang berumah tangga karena murni cinta. Sebagian lain menjadikan alasan mencari kebahagiaan, bahkan ada yang termotivasi karena hanya takut celaan manusia dengan status single.Memang, tidak ada yang salah dengan alasan-alasan duniawi tersebut. Namun, jika motivasi menikah itu tidak dibarengi dengan niat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta menjadikannya sebagai alasan utama membangun mahligai rumah tangga, maka sungguh pondasi rumah tangga itu menjadi rapuh. Karena jika pondasinya adalah alasan duniawi tersebut, lantas apa perbedaan antara orang muslim dan kafir dalam pernikahan? Oleh karenanya, pondasi yang kokoh dalam membangun dan menjalani mahligai rumah tangga adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala yang menjadi tujuan utama.Ketaatan dalam perjanjian yang agungAllah Ta’ala berfirman,وَكَیۡفَ تَأۡخُذُونَهُۥ وَقَدۡ أَفۡضَىٰ بَعۡضُكُمۡ إِلَىٰ بَعۡضࣲ وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّیثَـٰقًا غَلِیظࣰا“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang agung (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS. An-Nisa’: 21)Dalam Tafsir As-Sa’di tentang ayat ini, khususnya berhubungan dengan kalimat مِّيثَٰقًا غَلِيظًا (perjanjian yang agung), dijelaskan bahwa Allah Ta’ala juga telah mengambil perjanjian yang kuat dari para suami dengan adanya akad dan (perintah untuk) memenuhi hak-hak istrinya. Oleh karenanya, ada unsur ketaatan kepada perintah Allah dalam setiap perjanjian akad nikah yang dipikul oleh seorang suami dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan tanggung jawab taat kepada suami (selama dalam koridor syariat) berada pada pundak istri yang pada akhirnya berarti juga berarti tunduk dan patuh kepada perintah Allah Ta’ala.Ketaatan dalam menyempurnakan separuh agamaDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا تَزَوَّجَ العبدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فيما بَقِيَ“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka, bertakwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Baihaqi dalam kitabnya Syu’bul Iman no. 5486. Al-Albani menyatakan bahwa derajat hadis ini adalah hasan li ghairihi dalam kitab Silsilah As-Shahihah)Menyebut pernikahan sebagai “separuh agama” adalah sebagai bentuk penekanan untuk mendorong segera menikah.Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Yang dominan dalam merusak agama adalah kelamin (kemaluan) dan perut. Dengan menikah, sudah cukup untuk menjaga dari salah satunya (yaitu kemaluan, pent.). Karena dalam pernikahan terdapat penjagaan dari setan, pemutus keinginan, menahan hawa nafsu (syahwat), menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan.” [1]Baca juga: Sumber Keretakan Rumah TanggaKetaatan dalam membentuk keturunan yang salehRasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,إذا مات ابنُ آدَمَ انقَطَع عمَلُه إلَّا مِن ثَلاثٍ: صَدَقةٍ جاريةٍ، أو عِلمٍ يُنتَفَع به، أو وَلَدٍ صالِحٍ يدعو له. رواه مسلمٌ“Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Terhadap peran anak saleh yang mendoakannya, Syekh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah anak yang saleh yang mendoakan orang tuanya. Doa anak saleh tersebut akan memberikan manfaat baginya. [2]Oleh karenanya, apabila tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan, maka pastikan bahwa niat kita setelah mendapatkan keturunan adalah mendidik dan mangasuh anak tersebut sehingga menjadi hamba Allah yang saleh agar kelak dapat mendoakan kita tatkala meninggalkan dunia ini. Bentuklah rumah tangga yang penuh dengan ketaatan, jadilah contoh dan teladan bagi anak-anak kita sebagai hamba Allah yang istikamah dalam iman dan takwa.Pondasi rumah tangga yang kokohKetaatan kepada Allah Ta’ala adalah pondasi yang semestinya menjadi mutlak dalam membangun dan membina rumah tangga. Karena bagaimanapun sulitnya problematika kehidupan yang dijalani bersama, tidak akan menggoyahkan keutuhan rumah tangga selama setiap individu, baik suami maupun istri, benar-benar memahami bahwa tujuan menikah adalah dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala.Namun jangan lupa, komitmen ketaatan tersebut tentu saja harus terikat kuat dengan sebab-sebab yang dapat menguatkan keistikamahan kita. Sebab-sebab itu tiada lain adalah dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai suri teladan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Sumbu Pendek dalam Rumah Tangga***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Mirqat Al-Mafatih Syarh Mishkat Al-Masabih karya Abu Al-Hasan Nur Al-Din Al-Malla, hal. 2049.[2] Dikutip dari tautan berikut ini.Tags: Keluargapondasi rumah tanggarumah tangga

Mengapa Kisah-Kisah dalam Al-Quran Diulang-Ulang? Apa Hikmahnya?

السؤال ما الحكمة من تكرار القصص في القرآن؟ Pertanyaan: Apa hikmah di balik diulang-ulangnya kisah-kisah dalam al-Quran? الجواب الحمد لله. تكرار العبارة والقصة في القرآن الكريم، ولكن في سياقات مختلفة وألفاظ مترادفة : هو من سمات القصص القرآني الظاهرة، حيث يتكرر ذكر القصة الواحدة في كثير من السور، وفي كل مرة يتنوع السياق، ويتعدد الأسلوب، وترد القصة بعبارات جديدة، تفتح آفاقا للمعاني والفوائد، وأنماطا متنوعة من أساليب البلاغة والبيان، ولذلك عد العلماء والمفسرون هذا التنوع في اللفظ والعبارة من مظاهر الفصاحة والبيان، ونصوا على أن من مقاصد القصص القرآني تفريق الحدث الواحد في سياقات مختلفة، بل وألفوا في هذا الفن مؤلفات خاصة، منها كتاب “المقتنص في فوائد تكرار القصص” لبدر الدين ابن جماعة، كما ذكر ذلك السيوطي في “الإتقان” (2/184). Jawab: Alhamdulillah. Pengulangan suatu pernyataan dan kisah dalam al-Quran yang mulia tapi dalam konteks yang berbeda dan narasi yang mirip adalah salah satu ciri yang sangat jelas dari kisah-kisah al-Quran, di mana penyebutan cerita yang sama diulang-ulang dalam banyak surah, yang mana masing-masingnya memiliki beragam konteks dan gaya bahasa yang beragam, kemudian dinarasikan dengan redaksi kalimat yang baru yang membuka keluasan makna dan faedah dan mengandung beraneka ragam kajian stilistika dalam ilmu Balāghah dan Bayān.  Oleh karena itu, para ulama dan ahli tafsir menganggap variasi diksi dan narasi ini sebagai salah satu manifestasi kefasihan dan penjelasan. Mereka menegaskan bahwa salah satu ciri kisah-kisah dalam al-Quran adalah memecah-mecah satu kejadian yang sama dalam konteks yang berbeda, bahkan mereka menulis kitab-kitab khusus dalam bidang ini, termasuk di antaranya adalah al-Muqtanaṣ fī Fawāʾid Takrār al-Qaṣaṣ karya Badrudin Ibnu Jama’ah, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Itqān (2/184). يقول “الزركشي” رحمه الله: “إبراز الكلام الواحد في فنون كثيرة، وأساليب مختلفة: لا يخفى ما فيه من الفصاحة” انتهى من “البرهان في علوم القرآن” (3/26). وإذا رحنا نعدد الفوائد التي يضفيها هذا الأسلوب على مجمل ما في القرآن الكريم، لعددنا شيئًا كثيرًا، ولكنا نذكر ههنا بعض هذه الفوائد: 1- زيادة بعض التفاصيل التي لم تذكرها الآيات من قبل، والمثال الوارد في السؤال واحد من صور هذه الفوائد، فقد زادت الآيات في سورة الحجر قيدا في وصف الأصل الذي خلق منه آدم عليه السلام، وهو كونه من صلصال من حمأٍ مسنون، في حين لم تذكر ذلك آيات سورة الأعراف المتعلقة بالقصة. Az-Zarkasyi berkata bahwa mengungkapkan pernyataan yang sama dengan beragam stilistika dan gaya bahasa yang berbeda jelas menunjukkan kefasihan. (Al-Burhān fī ʿUlūm al-Qurʾān, 3/26) Jika kita menghitung faedah dari stilistika ini dalam al-Quran secara keseluruhan, tentu kita akan mendapatkan banyak sekali faedah, tetapi di sini kita hanya akan sebutkan beberapa faedahnya: Memberi tambahan rincian cerita yang tidak disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Contoh yang disebutkan dalam pertanyaan adalah salah satu bentuk dari faedah ini, di mana ayat-ayat dalam surah al-Hijr memberi tambahan rincian sifat yang lebih spesifik tentang asal-usul diciptakannya Adam ʿAlaihis Salām, yaitu dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr: 26). Sementara hal itu tidak disebutkan pada ayat-ayat dalam surah al-A’raf yang berkaitan dengan kisah yang sama. 2- تأكيد التحدي الذي جاء به القرآن لمشركي العرب أن يأتوا بشيء من مثله، فقد كشف هذا التنوع في العبارة عن عجزهم عن الإتيان بمثله بأي نظم جاء، وبأي عبارة عبَّروا. 3- إذهاب السآمة والملل عن القصة، وذلك أن العرض الجديد يشد الأسماع، ويلفت الأنظار، ويبقي صلة المتعة والفائدة بين القارئ والنص المقدس، وهذا من المقاصد العظيمة أيضًا، “فيجد البليغ ميلًا إلى سماعها، لما جُبلت عليه النفوس من حب التنقل في الأشياء المتجددة، التي لكل منها حصة من الالتذاذ”. Menegaskan lagi tantangan yang diusung dalam al-Quran terhadap orang-orang musyrik Arab untuk membuat sesuatu seperti al-Quran. Semua variasi narasi ini semakin menyingkap ketidakmampuan mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, apa pun cara yang mereka pakai dan bagaimanapun mereka menarasikannya. Mencegah munculnya kebosanan dan kejemuan terhadap kisah tersebut. Demikian itu karena memaparkan sesuatu yang baru itu akan menarik pendengaran dan perhatian, dan menjaga hubungan baik antara pembaca dengan teks kitab suci beserta faedah yang dikandungnya. Ini juga menjadi salah satu tujuan yang agung dari pengulangan ini, sehingga seorang bisa mendapatkan kecondongan hati untuk mendengarnya, karena secara naluriah, jiwa seseorang memang suka berpindah kepada hal-hal yang baru, yang masing masing-masing memiliki kadar kenikmatan sendiri-sendiri. 4- “ظهور الأمر العجيب في إخراج صور متباينة في النظم بمعنى واحد، وقد كان المشركون في عصر النبي صلى الله عليه وسلم يعجبون من اتساع الأمر في تكرير هذه القصص والأنباء مع تغاير النظم، وبيان وجوه التأليف، فعرفهم الله سبحانه أن الأمر بما يتعجبون منه مردود إلى قدرة من لا يلحقه نهاية، ولا يقع على كلامه عدد”. Memunculkan sesuatu yang mengagumkan dengan dinarasikannya berbagai retorika yang berbeda gaya bahasanya tetapi serupa maknanya. Orang-orang musyrik di zaman Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terkagum-kagum dengan kayanya pengulangan cerita-cerita dan berita-berita ini dengan gaya bahasa yang berbeda dan tata narasi yang berlainan. Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menunjukkan kepada mereka bahwa sesuatu yang membuat mereka terkagum-kagum itu bersumber dari Zat Yang kemampuan tak terbatas dan kalam-Nya tidak berbilang. 5- التناسق بين الموضوع والمناسبة التي وردت القصة لأجلها، فأحيانا تقتضي هذه المناسبة إبراز معنى في الحوار الدائر، لم يكن من الضروري إبرازه في مناسبة أخرى وردت فيها القصة، وهذه الفائدة باب واسع من أبواب اكتشاف بحور بلاغة القرآن وإعجازه، وأمثلتها التفصيلية موجودة في بطون كتب التفسير. Dalam keterkaitan antara tema dan situasi dalam cerita yang sedang dinarasikan, situasi tersebut terkadang menonjolkan suatu percakapan yang sedang berlangsung, yang tidak perlu ditonjolkan dalam situasi yang lain dari kisah tersebut. Faedah-faedah ini adalah salah satu pintu yang luas untuk menyingkap luasnya lautan ilmu Balāghah dan mukjizat yang terkandung dalam al-Quran. Hal-hal seperti ini yang lebih terperinci sudah tersebut dalam kitab-kitab tafsir. Faedah-faedah seperti ini dan yang semisalnya bisa dibaca dalam kitab al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (3/26-29). يقول الدكتور “فضل حسن عباس” رحمه الله: “المنهج القصصي في القرآن الكريم هو المنهج البديع المعجز، حيث ذكرت القصة في سور كثيرة، وإن خصت بعض السور بذكر حدث واحد، ثم توزعت هذه المشاهد والأحداث على السور التي ذكرت فيها القصة، قلت أم كثرت، بحيث تجد في كل سورة ما لا تجده في غيرها، وبحيث يذكر في كل سورة ما يتلاءم مع موضوعها وسياقها، وبحيث تذكر القصة في السورة في الموضع الذي اختيرت له والذي اختير لها” انتهى من “القصص القرآني” (81). والله أعلم Dr. Fadl Hassan Abbas —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan bahwa metode narasi kisah dalam al-Quran adalah metode yang indah nan ajaib, di mana satu kisah dinarasikan dalam banyak surah. Meskipun di sebagian surah hanya menyebutkan satu potongan kejadian tertentu, tetapi kemudian berbagai rentetan peristiwa dan kejadian terpencar-pencar dalam banyak surah yang menyebutkan kisah itu, baik dalam porsi yang sedikit maupun banyak. Anda akan dapati di setiap surah ada sesuatu yang tidak Anda temukan dalam surah lainnya, yang mana masing-masing surah menyebutkan sesuatu yang memiliki kesesuaian dalam tema dan konteksnya, di mana setiap kisah dalam satu surah dinarasikan dengan tema dan konteksnya yang saling bersesuaian. Selesai kutipan dari al-Qaṣaṣ al-Qurʾānī (81). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/448903/تكرار-القصة-في-القران-بالفاظ-مختلفة PDF Artikel 🔍 Sighat Taklik, Gambaran Surga Firdaus, Hukum Wanita Sholat Jumat, Download Doa Dan Dzikir, Rumaysho Tv, Bacaan Talqin Mayit Visited 93 times, 1 visit(s) today Post Views: 381 QRIS donasi Yufid

Mengapa Kisah-Kisah dalam Al-Quran Diulang-Ulang? Apa Hikmahnya?

السؤال ما الحكمة من تكرار القصص في القرآن؟ Pertanyaan: Apa hikmah di balik diulang-ulangnya kisah-kisah dalam al-Quran? الجواب الحمد لله. تكرار العبارة والقصة في القرآن الكريم، ولكن في سياقات مختلفة وألفاظ مترادفة : هو من سمات القصص القرآني الظاهرة، حيث يتكرر ذكر القصة الواحدة في كثير من السور، وفي كل مرة يتنوع السياق، ويتعدد الأسلوب، وترد القصة بعبارات جديدة، تفتح آفاقا للمعاني والفوائد، وأنماطا متنوعة من أساليب البلاغة والبيان، ولذلك عد العلماء والمفسرون هذا التنوع في اللفظ والعبارة من مظاهر الفصاحة والبيان، ونصوا على أن من مقاصد القصص القرآني تفريق الحدث الواحد في سياقات مختلفة، بل وألفوا في هذا الفن مؤلفات خاصة، منها كتاب “المقتنص في فوائد تكرار القصص” لبدر الدين ابن جماعة، كما ذكر ذلك السيوطي في “الإتقان” (2/184). Jawab: Alhamdulillah. Pengulangan suatu pernyataan dan kisah dalam al-Quran yang mulia tapi dalam konteks yang berbeda dan narasi yang mirip adalah salah satu ciri yang sangat jelas dari kisah-kisah al-Quran, di mana penyebutan cerita yang sama diulang-ulang dalam banyak surah, yang mana masing-masingnya memiliki beragam konteks dan gaya bahasa yang beragam, kemudian dinarasikan dengan redaksi kalimat yang baru yang membuka keluasan makna dan faedah dan mengandung beraneka ragam kajian stilistika dalam ilmu Balāghah dan Bayān.  Oleh karena itu, para ulama dan ahli tafsir menganggap variasi diksi dan narasi ini sebagai salah satu manifestasi kefasihan dan penjelasan. Mereka menegaskan bahwa salah satu ciri kisah-kisah dalam al-Quran adalah memecah-mecah satu kejadian yang sama dalam konteks yang berbeda, bahkan mereka menulis kitab-kitab khusus dalam bidang ini, termasuk di antaranya adalah al-Muqtanaṣ fī Fawāʾid Takrār al-Qaṣaṣ karya Badrudin Ibnu Jama’ah, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Itqān (2/184). يقول “الزركشي” رحمه الله: “إبراز الكلام الواحد في فنون كثيرة، وأساليب مختلفة: لا يخفى ما فيه من الفصاحة” انتهى من “البرهان في علوم القرآن” (3/26). وإذا رحنا نعدد الفوائد التي يضفيها هذا الأسلوب على مجمل ما في القرآن الكريم، لعددنا شيئًا كثيرًا، ولكنا نذكر ههنا بعض هذه الفوائد: 1- زيادة بعض التفاصيل التي لم تذكرها الآيات من قبل، والمثال الوارد في السؤال واحد من صور هذه الفوائد، فقد زادت الآيات في سورة الحجر قيدا في وصف الأصل الذي خلق منه آدم عليه السلام، وهو كونه من صلصال من حمأٍ مسنون، في حين لم تذكر ذلك آيات سورة الأعراف المتعلقة بالقصة. Az-Zarkasyi berkata bahwa mengungkapkan pernyataan yang sama dengan beragam stilistika dan gaya bahasa yang berbeda jelas menunjukkan kefasihan. (Al-Burhān fī ʿUlūm al-Qurʾān, 3/26) Jika kita menghitung faedah dari stilistika ini dalam al-Quran secara keseluruhan, tentu kita akan mendapatkan banyak sekali faedah, tetapi di sini kita hanya akan sebutkan beberapa faedahnya: Memberi tambahan rincian cerita yang tidak disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Contoh yang disebutkan dalam pertanyaan adalah salah satu bentuk dari faedah ini, di mana ayat-ayat dalam surah al-Hijr memberi tambahan rincian sifat yang lebih spesifik tentang asal-usul diciptakannya Adam ʿAlaihis Salām, yaitu dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr: 26). Sementara hal itu tidak disebutkan pada ayat-ayat dalam surah al-A’raf yang berkaitan dengan kisah yang sama. 2- تأكيد التحدي الذي جاء به القرآن لمشركي العرب أن يأتوا بشيء من مثله، فقد كشف هذا التنوع في العبارة عن عجزهم عن الإتيان بمثله بأي نظم جاء، وبأي عبارة عبَّروا. 3- إذهاب السآمة والملل عن القصة، وذلك أن العرض الجديد يشد الأسماع، ويلفت الأنظار، ويبقي صلة المتعة والفائدة بين القارئ والنص المقدس، وهذا من المقاصد العظيمة أيضًا، “فيجد البليغ ميلًا إلى سماعها، لما جُبلت عليه النفوس من حب التنقل في الأشياء المتجددة، التي لكل منها حصة من الالتذاذ”. Menegaskan lagi tantangan yang diusung dalam al-Quran terhadap orang-orang musyrik Arab untuk membuat sesuatu seperti al-Quran. Semua variasi narasi ini semakin menyingkap ketidakmampuan mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, apa pun cara yang mereka pakai dan bagaimanapun mereka menarasikannya. Mencegah munculnya kebosanan dan kejemuan terhadap kisah tersebut. Demikian itu karena memaparkan sesuatu yang baru itu akan menarik pendengaran dan perhatian, dan menjaga hubungan baik antara pembaca dengan teks kitab suci beserta faedah yang dikandungnya. Ini juga menjadi salah satu tujuan yang agung dari pengulangan ini, sehingga seorang bisa mendapatkan kecondongan hati untuk mendengarnya, karena secara naluriah, jiwa seseorang memang suka berpindah kepada hal-hal yang baru, yang masing masing-masing memiliki kadar kenikmatan sendiri-sendiri. 4- “ظهور الأمر العجيب في إخراج صور متباينة في النظم بمعنى واحد، وقد كان المشركون في عصر النبي صلى الله عليه وسلم يعجبون من اتساع الأمر في تكرير هذه القصص والأنباء مع تغاير النظم، وبيان وجوه التأليف، فعرفهم الله سبحانه أن الأمر بما يتعجبون منه مردود إلى قدرة من لا يلحقه نهاية، ولا يقع على كلامه عدد”. Memunculkan sesuatu yang mengagumkan dengan dinarasikannya berbagai retorika yang berbeda gaya bahasanya tetapi serupa maknanya. Orang-orang musyrik di zaman Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terkagum-kagum dengan kayanya pengulangan cerita-cerita dan berita-berita ini dengan gaya bahasa yang berbeda dan tata narasi yang berlainan. Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menunjukkan kepada mereka bahwa sesuatu yang membuat mereka terkagum-kagum itu bersumber dari Zat Yang kemampuan tak terbatas dan kalam-Nya tidak berbilang. 5- التناسق بين الموضوع والمناسبة التي وردت القصة لأجلها، فأحيانا تقتضي هذه المناسبة إبراز معنى في الحوار الدائر، لم يكن من الضروري إبرازه في مناسبة أخرى وردت فيها القصة، وهذه الفائدة باب واسع من أبواب اكتشاف بحور بلاغة القرآن وإعجازه، وأمثلتها التفصيلية موجودة في بطون كتب التفسير. Dalam keterkaitan antara tema dan situasi dalam cerita yang sedang dinarasikan, situasi tersebut terkadang menonjolkan suatu percakapan yang sedang berlangsung, yang tidak perlu ditonjolkan dalam situasi yang lain dari kisah tersebut. Faedah-faedah ini adalah salah satu pintu yang luas untuk menyingkap luasnya lautan ilmu Balāghah dan mukjizat yang terkandung dalam al-Quran. Hal-hal seperti ini yang lebih terperinci sudah tersebut dalam kitab-kitab tafsir. Faedah-faedah seperti ini dan yang semisalnya bisa dibaca dalam kitab al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (3/26-29). يقول الدكتور “فضل حسن عباس” رحمه الله: “المنهج القصصي في القرآن الكريم هو المنهج البديع المعجز، حيث ذكرت القصة في سور كثيرة، وإن خصت بعض السور بذكر حدث واحد، ثم توزعت هذه المشاهد والأحداث على السور التي ذكرت فيها القصة، قلت أم كثرت، بحيث تجد في كل سورة ما لا تجده في غيرها، وبحيث يذكر في كل سورة ما يتلاءم مع موضوعها وسياقها، وبحيث تذكر القصة في السورة في الموضع الذي اختيرت له والذي اختير لها” انتهى من “القصص القرآني” (81). والله أعلم Dr. Fadl Hassan Abbas —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan bahwa metode narasi kisah dalam al-Quran adalah metode yang indah nan ajaib, di mana satu kisah dinarasikan dalam banyak surah. Meskipun di sebagian surah hanya menyebutkan satu potongan kejadian tertentu, tetapi kemudian berbagai rentetan peristiwa dan kejadian terpencar-pencar dalam banyak surah yang menyebutkan kisah itu, baik dalam porsi yang sedikit maupun banyak. Anda akan dapati di setiap surah ada sesuatu yang tidak Anda temukan dalam surah lainnya, yang mana masing-masing surah menyebutkan sesuatu yang memiliki kesesuaian dalam tema dan konteksnya, di mana setiap kisah dalam satu surah dinarasikan dengan tema dan konteksnya yang saling bersesuaian. Selesai kutipan dari al-Qaṣaṣ al-Qurʾānī (81). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/448903/تكرار-القصة-في-القران-بالفاظ-مختلفة PDF Artikel 🔍 Sighat Taklik, Gambaran Surga Firdaus, Hukum Wanita Sholat Jumat, Download Doa Dan Dzikir, Rumaysho Tv, Bacaan Talqin Mayit Visited 93 times, 1 visit(s) today Post Views: 381 QRIS donasi Yufid
السؤال ما الحكمة من تكرار القصص في القرآن؟ Pertanyaan: Apa hikmah di balik diulang-ulangnya kisah-kisah dalam al-Quran? الجواب الحمد لله. تكرار العبارة والقصة في القرآن الكريم، ولكن في سياقات مختلفة وألفاظ مترادفة : هو من سمات القصص القرآني الظاهرة، حيث يتكرر ذكر القصة الواحدة في كثير من السور، وفي كل مرة يتنوع السياق، ويتعدد الأسلوب، وترد القصة بعبارات جديدة، تفتح آفاقا للمعاني والفوائد، وأنماطا متنوعة من أساليب البلاغة والبيان، ولذلك عد العلماء والمفسرون هذا التنوع في اللفظ والعبارة من مظاهر الفصاحة والبيان، ونصوا على أن من مقاصد القصص القرآني تفريق الحدث الواحد في سياقات مختلفة، بل وألفوا في هذا الفن مؤلفات خاصة، منها كتاب “المقتنص في فوائد تكرار القصص” لبدر الدين ابن جماعة، كما ذكر ذلك السيوطي في “الإتقان” (2/184). Jawab: Alhamdulillah. Pengulangan suatu pernyataan dan kisah dalam al-Quran yang mulia tapi dalam konteks yang berbeda dan narasi yang mirip adalah salah satu ciri yang sangat jelas dari kisah-kisah al-Quran, di mana penyebutan cerita yang sama diulang-ulang dalam banyak surah, yang mana masing-masingnya memiliki beragam konteks dan gaya bahasa yang beragam, kemudian dinarasikan dengan redaksi kalimat yang baru yang membuka keluasan makna dan faedah dan mengandung beraneka ragam kajian stilistika dalam ilmu Balāghah dan Bayān.  Oleh karena itu, para ulama dan ahli tafsir menganggap variasi diksi dan narasi ini sebagai salah satu manifestasi kefasihan dan penjelasan. Mereka menegaskan bahwa salah satu ciri kisah-kisah dalam al-Quran adalah memecah-mecah satu kejadian yang sama dalam konteks yang berbeda, bahkan mereka menulis kitab-kitab khusus dalam bidang ini, termasuk di antaranya adalah al-Muqtanaṣ fī Fawāʾid Takrār al-Qaṣaṣ karya Badrudin Ibnu Jama’ah, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Itqān (2/184). يقول “الزركشي” رحمه الله: “إبراز الكلام الواحد في فنون كثيرة، وأساليب مختلفة: لا يخفى ما فيه من الفصاحة” انتهى من “البرهان في علوم القرآن” (3/26). وإذا رحنا نعدد الفوائد التي يضفيها هذا الأسلوب على مجمل ما في القرآن الكريم، لعددنا شيئًا كثيرًا، ولكنا نذكر ههنا بعض هذه الفوائد: 1- زيادة بعض التفاصيل التي لم تذكرها الآيات من قبل، والمثال الوارد في السؤال واحد من صور هذه الفوائد، فقد زادت الآيات في سورة الحجر قيدا في وصف الأصل الذي خلق منه آدم عليه السلام، وهو كونه من صلصال من حمأٍ مسنون، في حين لم تذكر ذلك آيات سورة الأعراف المتعلقة بالقصة. Az-Zarkasyi berkata bahwa mengungkapkan pernyataan yang sama dengan beragam stilistika dan gaya bahasa yang berbeda jelas menunjukkan kefasihan. (Al-Burhān fī ʿUlūm al-Qurʾān, 3/26) Jika kita menghitung faedah dari stilistika ini dalam al-Quran secara keseluruhan, tentu kita akan mendapatkan banyak sekali faedah, tetapi di sini kita hanya akan sebutkan beberapa faedahnya: Memberi tambahan rincian cerita yang tidak disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Contoh yang disebutkan dalam pertanyaan adalah salah satu bentuk dari faedah ini, di mana ayat-ayat dalam surah al-Hijr memberi tambahan rincian sifat yang lebih spesifik tentang asal-usul diciptakannya Adam ʿAlaihis Salām, yaitu dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr: 26). Sementara hal itu tidak disebutkan pada ayat-ayat dalam surah al-A’raf yang berkaitan dengan kisah yang sama. 2- تأكيد التحدي الذي جاء به القرآن لمشركي العرب أن يأتوا بشيء من مثله، فقد كشف هذا التنوع في العبارة عن عجزهم عن الإتيان بمثله بأي نظم جاء، وبأي عبارة عبَّروا. 3- إذهاب السآمة والملل عن القصة، وذلك أن العرض الجديد يشد الأسماع، ويلفت الأنظار، ويبقي صلة المتعة والفائدة بين القارئ والنص المقدس، وهذا من المقاصد العظيمة أيضًا، “فيجد البليغ ميلًا إلى سماعها، لما جُبلت عليه النفوس من حب التنقل في الأشياء المتجددة، التي لكل منها حصة من الالتذاذ”. Menegaskan lagi tantangan yang diusung dalam al-Quran terhadap orang-orang musyrik Arab untuk membuat sesuatu seperti al-Quran. Semua variasi narasi ini semakin menyingkap ketidakmampuan mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, apa pun cara yang mereka pakai dan bagaimanapun mereka menarasikannya. Mencegah munculnya kebosanan dan kejemuan terhadap kisah tersebut. Demikian itu karena memaparkan sesuatu yang baru itu akan menarik pendengaran dan perhatian, dan menjaga hubungan baik antara pembaca dengan teks kitab suci beserta faedah yang dikandungnya. Ini juga menjadi salah satu tujuan yang agung dari pengulangan ini, sehingga seorang bisa mendapatkan kecondongan hati untuk mendengarnya, karena secara naluriah, jiwa seseorang memang suka berpindah kepada hal-hal yang baru, yang masing masing-masing memiliki kadar kenikmatan sendiri-sendiri. 4- “ظهور الأمر العجيب في إخراج صور متباينة في النظم بمعنى واحد، وقد كان المشركون في عصر النبي صلى الله عليه وسلم يعجبون من اتساع الأمر في تكرير هذه القصص والأنباء مع تغاير النظم، وبيان وجوه التأليف، فعرفهم الله سبحانه أن الأمر بما يتعجبون منه مردود إلى قدرة من لا يلحقه نهاية، ولا يقع على كلامه عدد”. Memunculkan sesuatu yang mengagumkan dengan dinarasikannya berbagai retorika yang berbeda gaya bahasanya tetapi serupa maknanya. Orang-orang musyrik di zaman Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terkagum-kagum dengan kayanya pengulangan cerita-cerita dan berita-berita ini dengan gaya bahasa yang berbeda dan tata narasi yang berlainan. Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menunjukkan kepada mereka bahwa sesuatu yang membuat mereka terkagum-kagum itu bersumber dari Zat Yang kemampuan tak terbatas dan kalam-Nya tidak berbilang. 5- التناسق بين الموضوع والمناسبة التي وردت القصة لأجلها، فأحيانا تقتضي هذه المناسبة إبراز معنى في الحوار الدائر، لم يكن من الضروري إبرازه في مناسبة أخرى وردت فيها القصة، وهذه الفائدة باب واسع من أبواب اكتشاف بحور بلاغة القرآن وإعجازه، وأمثلتها التفصيلية موجودة في بطون كتب التفسير. Dalam keterkaitan antara tema dan situasi dalam cerita yang sedang dinarasikan, situasi tersebut terkadang menonjolkan suatu percakapan yang sedang berlangsung, yang tidak perlu ditonjolkan dalam situasi yang lain dari kisah tersebut. Faedah-faedah ini adalah salah satu pintu yang luas untuk menyingkap luasnya lautan ilmu Balāghah dan mukjizat yang terkandung dalam al-Quran. Hal-hal seperti ini yang lebih terperinci sudah tersebut dalam kitab-kitab tafsir. Faedah-faedah seperti ini dan yang semisalnya bisa dibaca dalam kitab al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (3/26-29). يقول الدكتور “فضل حسن عباس” رحمه الله: “المنهج القصصي في القرآن الكريم هو المنهج البديع المعجز، حيث ذكرت القصة في سور كثيرة، وإن خصت بعض السور بذكر حدث واحد، ثم توزعت هذه المشاهد والأحداث على السور التي ذكرت فيها القصة، قلت أم كثرت، بحيث تجد في كل سورة ما لا تجده في غيرها، وبحيث يذكر في كل سورة ما يتلاءم مع موضوعها وسياقها، وبحيث تذكر القصة في السورة في الموضع الذي اختيرت له والذي اختير لها” انتهى من “القصص القرآني” (81). والله أعلم Dr. Fadl Hassan Abbas —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan bahwa metode narasi kisah dalam al-Quran adalah metode yang indah nan ajaib, di mana satu kisah dinarasikan dalam banyak surah. Meskipun di sebagian surah hanya menyebutkan satu potongan kejadian tertentu, tetapi kemudian berbagai rentetan peristiwa dan kejadian terpencar-pencar dalam banyak surah yang menyebutkan kisah itu, baik dalam porsi yang sedikit maupun banyak. Anda akan dapati di setiap surah ada sesuatu yang tidak Anda temukan dalam surah lainnya, yang mana masing-masing surah menyebutkan sesuatu yang memiliki kesesuaian dalam tema dan konteksnya, di mana setiap kisah dalam satu surah dinarasikan dengan tema dan konteksnya yang saling bersesuaian. Selesai kutipan dari al-Qaṣaṣ al-Qurʾānī (81). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/448903/تكرار-القصة-في-القران-بالفاظ-مختلفة PDF Artikel 🔍 Sighat Taklik, Gambaran Surga Firdaus, Hukum Wanita Sholat Jumat, Download Doa Dan Dzikir, Rumaysho Tv, Bacaan Talqin Mayit Visited 93 times, 1 visit(s) today Post Views: 381 QRIS donasi Yufid


السؤال ما الحكمة من تكرار القصص في القرآن؟ Pertanyaan: Apa hikmah di balik diulang-ulangnya kisah-kisah dalam al-Quran? الجواب الحمد لله. تكرار العبارة والقصة في القرآن الكريم، ولكن في سياقات مختلفة وألفاظ مترادفة : هو من سمات القصص القرآني الظاهرة، حيث يتكرر ذكر القصة الواحدة في كثير من السور، وفي كل مرة يتنوع السياق، ويتعدد الأسلوب، وترد القصة بعبارات جديدة، تفتح آفاقا للمعاني والفوائد، وأنماطا متنوعة من أساليب البلاغة والبيان، ولذلك عد العلماء والمفسرون هذا التنوع في اللفظ والعبارة من مظاهر الفصاحة والبيان، ونصوا على أن من مقاصد القصص القرآني تفريق الحدث الواحد في سياقات مختلفة، بل وألفوا في هذا الفن مؤلفات خاصة، منها كتاب “المقتنص في فوائد تكرار القصص” لبدر الدين ابن جماعة، كما ذكر ذلك السيوطي في “الإتقان” (2/184). Jawab: Alhamdulillah. Pengulangan suatu pernyataan dan kisah dalam al-Quran yang mulia tapi dalam konteks yang berbeda dan narasi yang mirip adalah salah satu ciri yang sangat jelas dari kisah-kisah al-Quran, di mana penyebutan cerita yang sama diulang-ulang dalam banyak surah, yang mana masing-masingnya memiliki beragam konteks dan gaya bahasa yang beragam, kemudian dinarasikan dengan redaksi kalimat yang baru yang membuka keluasan makna dan faedah dan mengandung beraneka ragam kajian stilistika dalam ilmu Balāghah dan Bayān.  Oleh karena itu, para ulama dan ahli tafsir menganggap variasi diksi dan narasi ini sebagai salah satu manifestasi kefasihan dan penjelasan. Mereka menegaskan bahwa salah satu ciri kisah-kisah dalam al-Quran adalah memecah-mecah satu kejadian yang sama dalam konteks yang berbeda, bahkan mereka menulis kitab-kitab khusus dalam bidang ini, termasuk di antaranya adalah al-Muqtanaṣ fī Fawāʾid Takrār al-Qaṣaṣ karya Badrudin Ibnu Jama’ah, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Itqān (2/184). يقول “الزركشي” رحمه الله: “إبراز الكلام الواحد في فنون كثيرة، وأساليب مختلفة: لا يخفى ما فيه من الفصاحة” انتهى من “البرهان في علوم القرآن” (3/26). وإذا رحنا نعدد الفوائد التي يضفيها هذا الأسلوب على مجمل ما في القرآن الكريم، لعددنا شيئًا كثيرًا، ولكنا نذكر ههنا بعض هذه الفوائد: 1- زيادة بعض التفاصيل التي لم تذكرها الآيات من قبل، والمثال الوارد في السؤال واحد من صور هذه الفوائد، فقد زادت الآيات في سورة الحجر قيدا في وصف الأصل الذي خلق منه آدم عليه السلام، وهو كونه من صلصال من حمأٍ مسنون، في حين لم تذكر ذلك آيات سورة الأعراف المتعلقة بالقصة. Az-Zarkasyi berkata bahwa mengungkapkan pernyataan yang sama dengan beragam stilistika dan gaya bahasa yang berbeda jelas menunjukkan kefasihan. (Al-Burhān fī ʿUlūm al-Qurʾān, 3/26) Jika kita menghitung faedah dari stilistika ini dalam al-Quran secara keseluruhan, tentu kita akan mendapatkan banyak sekali faedah, tetapi di sini kita hanya akan sebutkan beberapa faedahnya: Memberi tambahan rincian cerita yang tidak disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Contoh yang disebutkan dalam pertanyaan adalah salah satu bentuk dari faedah ini, di mana ayat-ayat dalam surah al-Hijr memberi tambahan rincian sifat yang lebih spesifik tentang asal-usul diciptakannya Adam ʿAlaihis Salām, yaitu dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr: 26). Sementara hal itu tidak disebutkan pada ayat-ayat dalam surah al-A’raf yang berkaitan dengan kisah yang sama. 2- تأكيد التحدي الذي جاء به القرآن لمشركي العرب أن يأتوا بشيء من مثله، فقد كشف هذا التنوع في العبارة عن عجزهم عن الإتيان بمثله بأي نظم جاء، وبأي عبارة عبَّروا. 3- إذهاب السآمة والملل عن القصة، وذلك أن العرض الجديد يشد الأسماع، ويلفت الأنظار، ويبقي صلة المتعة والفائدة بين القارئ والنص المقدس، وهذا من المقاصد العظيمة أيضًا، “فيجد البليغ ميلًا إلى سماعها، لما جُبلت عليه النفوس من حب التنقل في الأشياء المتجددة، التي لكل منها حصة من الالتذاذ”. Menegaskan lagi tantangan yang diusung dalam al-Quran terhadap orang-orang musyrik Arab untuk membuat sesuatu seperti al-Quran. Semua variasi narasi ini semakin menyingkap ketidakmampuan mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, apa pun cara yang mereka pakai dan bagaimanapun mereka menarasikannya. Mencegah munculnya kebosanan dan kejemuan terhadap kisah tersebut. Demikian itu karena memaparkan sesuatu yang baru itu akan menarik pendengaran dan perhatian, dan menjaga hubungan baik antara pembaca dengan teks kitab suci beserta faedah yang dikandungnya. Ini juga menjadi salah satu tujuan yang agung dari pengulangan ini, sehingga seorang bisa mendapatkan kecondongan hati untuk mendengarnya, karena secara naluriah, jiwa seseorang memang suka berpindah kepada hal-hal yang baru, yang masing masing-masing memiliki kadar kenikmatan sendiri-sendiri. 4- “ظهور الأمر العجيب في إخراج صور متباينة في النظم بمعنى واحد، وقد كان المشركون في عصر النبي صلى الله عليه وسلم يعجبون من اتساع الأمر في تكرير هذه القصص والأنباء مع تغاير النظم، وبيان وجوه التأليف، فعرفهم الله سبحانه أن الأمر بما يتعجبون منه مردود إلى قدرة من لا يلحقه نهاية، ولا يقع على كلامه عدد”. Memunculkan sesuatu yang mengagumkan dengan dinarasikannya berbagai retorika yang berbeda gaya bahasanya tetapi serupa maknanya. Orang-orang musyrik di zaman Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terkagum-kagum dengan kayanya pengulangan cerita-cerita dan berita-berita ini dengan gaya bahasa yang berbeda dan tata narasi yang berlainan. Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menunjukkan kepada mereka bahwa sesuatu yang membuat mereka terkagum-kagum itu bersumber dari Zat Yang kemampuan tak terbatas dan kalam-Nya tidak berbilang. 5- التناسق بين الموضوع والمناسبة التي وردت القصة لأجلها، فأحيانا تقتضي هذه المناسبة إبراز معنى في الحوار الدائر، لم يكن من الضروري إبرازه في مناسبة أخرى وردت فيها القصة، وهذه الفائدة باب واسع من أبواب اكتشاف بحور بلاغة القرآن وإعجازه، وأمثلتها التفصيلية موجودة في بطون كتب التفسير. Dalam keterkaitan antara tema dan situasi dalam cerita yang sedang dinarasikan, situasi tersebut terkadang menonjolkan suatu percakapan yang sedang berlangsung, yang tidak perlu ditonjolkan dalam situasi yang lain dari kisah tersebut. Faedah-faedah ini adalah salah satu pintu yang luas untuk menyingkap luasnya lautan ilmu Balāghah dan mukjizat yang terkandung dalam al-Quran. Hal-hal seperti ini yang lebih terperinci sudah tersebut dalam kitab-kitab tafsir. Faedah-faedah seperti ini dan yang semisalnya bisa dibaca dalam kitab al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (3/26-29). يقول الدكتور “فضل حسن عباس” رحمه الله: “المنهج القصصي في القرآن الكريم هو المنهج البديع المعجز، حيث ذكرت القصة في سور كثيرة، وإن خصت بعض السور بذكر حدث واحد، ثم توزعت هذه المشاهد والأحداث على السور التي ذكرت فيها القصة، قلت أم كثرت، بحيث تجد في كل سورة ما لا تجده في غيرها، وبحيث يذكر في كل سورة ما يتلاءم مع موضوعها وسياقها، وبحيث تذكر القصة في السورة في الموضع الذي اختيرت له والذي اختير لها” انتهى من “القصص القرآني” (81). والله أعلم Dr. Fadl Hassan Abbas —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan bahwa metode narasi kisah dalam al-Quran adalah metode yang indah nan ajaib, di mana satu kisah dinarasikan dalam banyak surah. Meskipun di sebagian surah hanya menyebutkan satu potongan kejadian tertentu, tetapi kemudian berbagai rentetan peristiwa dan kejadian terpencar-pencar dalam banyak surah yang menyebutkan kisah itu, baik dalam porsi yang sedikit maupun banyak. Anda akan dapati di setiap surah ada sesuatu yang tidak Anda temukan dalam surah lainnya, yang mana masing-masing surah menyebutkan sesuatu yang memiliki kesesuaian dalam tema dan konteksnya, di mana setiap kisah dalam satu surah dinarasikan dengan tema dan konteksnya yang saling bersesuaian. Selesai kutipan dari al-Qaṣaṣ al-Qurʾānī (81). Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/448903/تكرار-القصة-في-القران-بالفاظ-مختلفة PDF Artikel 🔍 Sighat Taklik, Gambaran Surga Firdaus, Hukum Wanita Sholat Jumat, Download Doa Dan Dzikir, Rumaysho Tv, Bacaan Talqin Mayit Visited 93 times, 1 visit(s) today Post Views: 381 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

4 Amalan Ringan Tapi Berat di Timbangan – Syaikh Shalih Sindi #NasehatUlama

Ada beberapa amal salehyang sebaiknya diamalkan dengan semangat oleh orang cerdas,yaitu amalan-amalan yang berat dalam timbangan kebaikan,yang tersebar dalam nas-nas Kitab dan Sunah. Orang yang cermat, cerdas, dan antusiassemestinya menelaah dan menerapkannya.Misalnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari [PERTAMA]“Ada dua kalimat,yang ringan di lisan,berat di timbangan,dan dicintai oleh Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI(yang artinya:) ‘Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIMMaha Suci Allah Yang Maha Agung.’” [KEDUA]Tersebut juga dalam Musnad Imam Ahmadbahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Amboi! Amboi! Lima amalan,betapa beratnya di timbangan amal, yaitu zikir: (1) SUBHAANALLAAH (2) WALHAMDULILLAAH,(3) WALAA ILAAHA ILLALLAAH (4) WALLAAHU AKBAR,(5) serta meninggalnya anak salehlalu diharapkan pahalanya oleh orang tuanya. [KETIGA]Juga sabda beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hambadaripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Yang lebih besar lagi daripada semua ituadalah kalimat tauhid (LAA ILAAHA ILLALLAAH).Inilah yang paling berat dalam timbangan amal, jika diucapkan atas dasar iman yang jujurdan keikhlasan sempurnaserta rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Sungguh, itu akan menjadi sesuatu yang berat,yang tidak diketahui seberapa beratnya kecuali oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Hadis tentang seseorang yang dihamparkan kepadanyasembilan puluh sembilan catatan amaladalah dalil yang menguatkan hal ini. ==== هُنَاكَ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ الْفَطِنُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَيْهَا وَهِيَ أَعْمَالٌ يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْحَسَنَاتِ وَهِيَ مَنْثُورَةٌ فِي نُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاللَّبِيبُ وَالذَّكِيُّ الْحَرِيصُ يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يَتَتَبَّعَهَا وَأَنْ يُطَبِّقَهَا كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ مَثَلًا كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ أَيْضًا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ أَيْضًا يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَأَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَذَاكَ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ فَهِيَ أَعْظَمُ مَا يَكُونُ ثِقَلًا فِي الْمِيزَانِ إِذَا صَدَرَتْ عَنْ إِيمَانٍ صَادِقٍ وَإِخْلَاصٍ تَامٍّ وَمَحَبَّةٍ وَخَوفٍ وَرَجَاءٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهَا ثِقَلٌ لَا يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَحَدِيثُ الرَّجُلِ الَّذِي يُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا دَلِيلٌ شَاهِدٌ عَلَى ذَلِكَ

4 Amalan Ringan Tapi Berat di Timbangan – Syaikh Shalih Sindi #NasehatUlama

Ada beberapa amal salehyang sebaiknya diamalkan dengan semangat oleh orang cerdas,yaitu amalan-amalan yang berat dalam timbangan kebaikan,yang tersebar dalam nas-nas Kitab dan Sunah. Orang yang cermat, cerdas, dan antusiassemestinya menelaah dan menerapkannya.Misalnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari [PERTAMA]“Ada dua kalimat,yang ringan di lisan,berat di timbangan,dan dicintai oleh Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI(yang artinya:) ‘Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIMMaha Suci Allah Yang Maha Agung.’” [KEDUA]Tersebut juga dalam Musnad Imam Ahmadbahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Amboi! Amboi! Lima amalan,betapa beratnya di timbangan amal, yaitu zikir: (1) SUBHAANALLAAH (2) WALHAMDULILLAAH,(3) WALAA ILAAHA ILLALLAAH (4) WALLAAHU AKBAR,(5) serta meninggalnya anak salehlalu diharapkan pahalanya oleh orang tuanya. [KETIGA]Juga sabda beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hambadaripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Yang lebih besar lagi daripada semua ituadalah kalimat tauhid (LAA ILAAHA ILLALLAAH).Inilah yang paling berat dalam timbangan amal, jika diucapkan atas dasar iman yang jujurdan keikhlasan sempurnaserta rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Sungguh, itu akan menjadi sesuatu yang berat,yang tidak diketahui seberapa beratnya kecuali oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Hadis tentang seseorang yang dihamparkan kepadanyasembilan puluh sembilan catatan amaladalah dalil yang menguatkan hal ini. ==== هُنَاكَ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ الْفَطِنُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَيْهَا وَهِيَ أَعْمَالٌ يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْحَسَنَاتِ وَهِيَ مَنْثُورَةٌ فِي نُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاللَّبِيبُ وَالذَّكِيُّ الْحَرِيصُ يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يَتَتَبَّعَهَا وَأَنْ يُطَبِّقَهَا كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ مَثَلًا كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ أَيْضًا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ أَيْضًا يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَأَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَذَاكَ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ فَهِيَ أَعْظَمُ مَا يَكُونُ ثِقَلًا فِي الْمِيزَانِ إِذَا صَدَرَتْ عَنْ إِيمَانٍ صَادِقٍ وَإِخْلَاصٍ تَامٍّ وَمَحَبَّةٍ وَخَوفٍ وَرَجَاءٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهَا ثِقَلٌ لَا يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَحَدِيثُ الرَّجُلِ الَّذِي يُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا دَلِيلٌ شَاهِدٌ عَلَى ذَلِكَ
Ada beberapa amal salehyang sebaiknya diamalkan dengan semangat oleh orang cerdas,yaitu amalan-amalan yang berat dalam timbangan kebaikan,yang tersebar dalam nas-nas Kitab dan Sunah. Orang yang cermat, cerdas, dan antusiassemestinya menelaah dan menerapkannya.Misalnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari [PERTAMA]“Ada dua kalimat,yang ringan di lisan,berat di timbangan,dan dicintai oleh Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI(yang artinya:) ‘Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIMMaha Suci Allah Yang Maha Agung.’” [KEDUA]Tersebut juga dalam Musnad Imam Ahmadbahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Amboi! Amboi! Lima amalan,betapa beratnya di timbangan amal, yaitu zikir: (1) SUBHAANALLAAH (2) WALHAMDULILLAAH,(3) WALAA ILAAHA ILLALLAAH (4) WALLAAHU AKBAR,(5) serta meninggalnya anak salehlalu diharapkan pahalanya oleh orang tuanya. [KETIGA]Juga sabda beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hambadaripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Yang lebih besar lagi daripada semua ituadalah kalimat tauhid (LAA ILAAHA ILLALLAAH).Inilah yang paling berat dalam timbangan amal, jika diucapkan atas dasar iman yang jujurdan keikhlasan sempurnaserta rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Sungguh, itu akan menjadi sesuatu yang berat,yang tidak diketahui seberapa beratnya kecuali oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Hadis tentang seseorang yang dihamparkan kepadanyasembilan puluh sembilan catatan amaladalah dalil yang menguatkan hal ini. ==== هُنَاكَ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ الْفَطِنُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَيْهَا وَهِيَ أَعْمَالٌ يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْحَسَنَاتِ وَهِيَ مَنْثُورَةٌ فِي نُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاللَّبِيبُ وَالذَّكِيُّ الْحَرِيصُ يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يَتَتَبَّعَهَا وَأَنْ يُطَبِّقَهَا كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ مَثَلًا كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ أَيْضًا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ أَيْضًا يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَأَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَذَاكَ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ فَهِيَ أَعْظَمُ مَا يَكُونُ ثِقَلًا فِي الْمِيزَانِ إِذَا صَدَرَتْ عَنْ إِيمَانٍ صَادِقٍ وَإِخْلَاصٍ تَامٍّ وَمَحَبَّةٍ وَخَوفٍ وَرَجَاءٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهَا ثِقَلٌ لَا يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَحَدِيثُ الرَّجُلِ الَّذِي يُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا دَلِيلٌ شَاهِدٌ عَلَى ذَلِكَ


Ada beberapa amal salehyang sebaiknya diamalkan dengan semangat oleh orang cerdas,yaitu amalan-amalan yang berat dalam timbangan kebaikan,yang tersebar dalam nas-nas Kitab dan Sunah. Orang yang cermat, cerdas, dan antusiassemestinya menelaah dan menerapkannya.Misalnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari [PERTAMA]“Ada dua kalimat,yang ringan di lisan,berat di timbangan,dan dicintai oleh Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI(yang artinya:) ‘Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIMMaha Suci Allah Yang Maha Agung.’” [KEDUA]Tersebut juga dalam Musnad Imam Ahmadbahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,“Amboi! Amboi! Lima amalan,betapa beratnya di timbangan amal, yaitu zikir: (1) SUBHAANALLAAH (2) WALHAMDULILLAAH,(3) WALAA ILAAHA ILLALLAAH (4) WALLAAHU AKBAR,(5) serta meninggalnya anak salehlalu diharapkan pahalanya oleh orang tuanya. [KETIGA]Juga sabda beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hambadaripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud) [KEEMPAT]Yang lebih besar lagi daripada semua ituadalah kalimat tauhid (LAA ILAAHA ILLALLAAH).Inilah yang paling berat dalam timbangan amal, jika diucapkan atas dasar iman yang jujurdan keikhlasan sempurnaserta rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Sungguh, itu akan menjadi sesuatu yang berat,yang tidak diketahui seberapa beratnya kecuali oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Hadis tentang seseorang yang dihamparkan kepadanyasembilan puluh sembilan catatan amaladalah dalil yang menguatkan hal ini. ==== هُنَاكَ أَعْمَالٌ صَالِحَةٌ الْفَطِنُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَيْهَا وَهِيَ أَعْمَالٌ يَثْقُلُ بِهَا مِيزَانُ الْحَسَنَاتِ وَهِيَ مَنْثُورَةٌ فِي نُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاللَّبِيبُ وَالذَّكِيُّ الْحَرِيصُ يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يَتَتَبَّعَهَا وَأَنْ يُطَبِّقَهَا كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ مَثَلًا كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ أَيْضًا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ بَخٍ لَخَمْسٌ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يَمُوتُ فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدُهُ أَيْضًا يَقُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَأَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَذَاكَ كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ فَهِيَ أَعْظَمُ مَا يَكُونُ ثِقَلًا فِي الْمِيزَانِ إِذَا صَدَرَتْ عَنْ إِيمَانٍ صَادِقٍ وَإِخْلَاصٍ تَامٍّ وَمَحَبَّةٍ وَخَوفٍ وَرَجَاءٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهَا ثِقَلٌ لَا يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَحَدِيثُ الرَّجُلِ الَّذِي يُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا دَلِيلٌ شَاهِدٌ عَلَى ذَلِكَ

Fatwa Ulama: Hukum Membaca Cerita Fiksi

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Seseorang hobi membaca buku-buku yang mengandung cerita dan novel, sebagian besar berupa khayalan. Terkadang memiliki makna atau tujuan yang baik, terutama yang mencakup adegan kejahatan dan kisah polisi. Apa hukum membacanya untuk menambah pengetahuan atau mengisi waktu luang dan kesenangan? Terima kasih dan semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin. Selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh saudara sepanjang masa (pengikutnya).Amma ba’du.Beberapa ulama telah membedakan antara dua jenis cerita fiksi ditinjau dari membacanya dan sejenisnya.Jenis pertama: Membaca cerita fiksi yang bertujuan untuk kebaikan, dengan pandangan perbaikan dalam segala bidang untuk mengatasi masalah-masalah agama, moral, dan sosial. Tujuannya adalah menyiarkan, menanamkan, dan menyebarkan kebaikan, serta memperingatkan dan melarang dari kejahatan, kefasikan, dan kerusakan. Membaca cerita jenis ini tidak mengandung adanya kerusakan atau larangan syariat, seperti kezaliman, permusuhan, mengajak kepada kesyirikan, kekafiran, pengingkaran (terhadap akidah yang benar, pent.), pemborosan, hilangnya rasa malu, serta penyimpangan akidah, pemikiran, dan akhlak, serta hal-hal yang merendahkan nilai-nilai agama atau moral.Oleh karena itu, tidak terlarang membaca cerita yang tidak mengandung hal-hal ini dengan pertimbangan yang disebutkan dalam pertanyaan ini. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ [وَلَا حَرَجَ]، فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمُ الأَعَاجِيبُ: إِنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ خَرَجُوا يَمْشُونَ فِي الْأَرْضِ وَيَذْكُرُونَ، حَتَّى مَرُّوا عَلَى مَقْبَرَةٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: «تَعَالَوْا نَدْعُ اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ، نَسْأَلْهُ عَنِ الْمَوْتِ»، فَدَعَوْا، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ رَجُلٌ خِلَاسِيٌّ: بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَقَالَ: «يَا قَوْمُ، مَا أَرَدْتُمْ إِلَيَّ، لَقَدْ رَكِبْتُمْ مِنِّي أَمْرًا عَظِيمًا»، قَالُوا: «دَعَوْنَا اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ نَسْأَلْهُ عَنْ طَعْمِ الْمَوْتِ كَيْفَ هُوَ؟» فَقَالَ: «لَقَدْ وَجَدْتُ طَعْمَ الْمَوْتِ ـ قَالَ الرَّبِيعُ: أَوْ حَرَّ الْمَوْتِ ـ مِائَةَ عَامٍ، فَدَعَوْتُمُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سَكَنَ عَنِّي، فَادْعُوا اللَّهَ أَنْ يُعِيدَنِي كَمَا كُنْتُ»، فَدَعَوُا اللَّهَ فَأَعَادَهُ“Ceritakanlah (riwayat) dari Bani Israil (tidak mengapa), karena terdapat mukjizat-mukjizat pada mereka. Sejumlah orang dari Bani Israil pergi berjalan di muka bumi sambil berzikir. Kemudian mereka melewati sebuah kuburan. Lalu sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Mari kita berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini, agar kita dapat bertanya kepadanya tentang kematian.’ Mereka berdoa, lalu keluarlah seorang pria yang mempunyai tanda-tanda sujud di antara kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai kaum, apa yang kalian ingin tanyakan kepadaku? Sungguh, kalian telah menempatkan diri dalam suatu urusan yang besar.’ Mereka berkata, ‘Kami berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini agar kami bisa bertanya kepadanya bagaimana rasanya mati.’ Dia berkata, ‘Aku telah merasakan rasa kematian (Al-Rabi’ berkata, ‘atau panasnya kematian’) selama seratus tahun. Dan kalian berdoa kepada Allah yang Mahaperkasa, sementara Dia telah memberiku istirahat. Maka, berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikanku seperti semula.’ Mereka berdoa kepada Allah, lalu Dia mengembalikannya.” [1]Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami duduk-duduk dan menulis apa yang kami dengar dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang dan berkata, ‘Apa yang kalian tulis ini?’ Kami menjawab, ‘Kami menulis apa yang kami dengar dari Engkau.’ Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?!’ Kami, menjawab, ‘Tidak ada.” Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?! Murnikan Al-Qur’an dan murnikan!'”Dia (Abu Hurairah) berkata, “Lalu, kami kumpulkan apa yang telah kami tulis pada satu tempat, kemudian kami bakar dengan api. Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami membicarakan (hadis) darimu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah hadis dariku, tidak ada masalah. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, hendaklah dia menempati tempatnya di neraka.’ Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami boleh berbicara (cerita) dari Bani Israil?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah (cerita) dari Bani Israil, tidak ada masalah. Karena kalian tidak akan berbicara (cerita) dari mereka, kecuali akan ada hal yang lebih menakjubkan dari mereka.'” [2]Hadis ini menunjukkan bahwa keistimewaan dan keajaiban boleh didengar dan diceritakan secara mutlak. Baik itu berasal dari imajinasi atau bukan, yaitu ada yang semisal di alam nyata. Tidak ada penyebaran kebatilan atau kefasikan. Baik itu disampaikan oleh manusia, binatang[3], melalui kata-kata, atau permisalan. Selama informasi tersebut diketahui oleh pembaca. Dalam membacanya, pembaca bermaksud untuk mencapai tujuan yang boleh atau tujuan yang baik dari penggunaan perumpamaan untuk pengajaran, nasihat untuk perilaku dan pendidikan, menanamkan kebajikan, serta menampakkan akhlak, seperti kesabaran, kehormatan, dan keberanian.Mereka berdalil atas kebolehan hal itu dengan firman Allah Ta’ala,وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ٱلۡمِحۡرَابَ“Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?” (QS. Sad: 21)Di dalamnya terdapat penjelasan tentang cara berdebat, bertengkar, dan mengadili yang dilakukan oleh dua malaikat kepada Daud, bahwa dia tidak boleh memutuskan hingga mendengar kedua pihak yang bersengketa bersama-sama. Hal ini dikarenakan malaikat tidak memiliki kepemilikan atas domba-domba tersebut, tidak ada permusuhan atau pertikaian antara mereka. Mereka hanya menyebutkan hal itu kepada Daud sebagai contoh dan peringatan tentang keputusan dalam kasus ini. As-Sa’di rahimahullah berkata, ‘Daud mengira ketika ia memutuskan di antara mereka bahwa kami mengujinya, yakni kami mengujinya dan mengajarkannya menggunakan permisalan ini agar dapat diambil pelajaran.'”[4]Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Takhayul?Dalam hal ini, terdapat fatwa dari Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Beberapa penulis menyusun cerita-cerita dengan makna dan gaya yang menarik yang dapat berdampak pada jiwa para pembaca. Akan tetapi, cerita-cerita tersebut merupakan khayalan. Bagaimanakah hukumnya?”Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak ada masalah, jika cerita-cerita tersebut dapat menyelesaikan masalah-masalah agama, moral, atau sosial. Karena menggunakan perumpamaan dengan cerita-cerita yang dibuat bukan berdasarkan kenyataan, tidak masalah. Bahkan, beberapa ulama telah menyebutkan hal itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang bukanlah kisah nyata. Namun, Allah menggunakan contoh tersebut sebagai perumpamaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ أَيۡنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأۡتِ بِخَيۡرٍ هَلۡ يَسۡتَوِي هُوَ وَمَن يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ“Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban penanggungnya, ke mana saja dia disuruh (oleh penanggungnya itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Apakah sama orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat adil dan dia berada di jalan yang lurus?” (QS. An-Nahl: 76)Saya tidak melihat ada masalah dalam hal ini karena tujuannya adalah sebagai peringatan. Akan tetapi, jika seseorang memiliki pengetahuan dari Al-Qur’an dan hadis, kemudian menyajikan ayat-ayat yang mengatasi masalah dan menjelaskannya serta menunjukkan contoh-contoh yang relevan, itu adalah hal yang baik. Demikian pula, jika seseorang menyebutkan hadis-hadis dan menjelaskannya serta memberikan contoh-contoh yang relevan, itu tentu lebih baik tanpa ada keraguan.[5]Jenis kedua: Membaca cerita fiksi dan non-fiksi yang tidak mencapai tujuan syar’i ini, bahkan bertentangan dengannya, membawa konsekuensi kerusakan dan keburukan yang tidak diragukan lagi, membuka peluang bagi imajinasi dan ide-ide buruk dalam hal kejahatan, memicu dorongan-dorongan dan membangkitkan nafsu, atau memberi ruang bagi makna-makna syirik dan pengaruh-pengaruh yang menentang agama. Atau cerita-cerita fiksi ini mendorong kedustaan, fitnah, dan kebohongan, atau mengandung sindiran atau ejekan terhadap agama Allah yang hanif, hukum-hukum-Nya, sunah-sunah-Nya, dan adab-adab-Nya. Atau meremehkan seseorang, mencelanya, atau berbicara buruk tentangnya, dan sejenisnya yang pada umumnya merugikan dan tidak memberi manfaat pada agama maupun dunia. Maka, saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal pengharaman dan pelarangannya.Pertama-tama, menurut pendapat saya, penting untuk berhati-hati dan menghindari cerita-cerita fiksi yang disampaikan yang tidak memiliki dasar yang jelas atau tidak ada kenyataannya dalam kehidupan. Karena (meskipun untuk tujuan yang baik), tidak dapat terbebas dari kerusakan, keraguan, dan kebohongan. Ataupun mengandung pemikiran yang menyimpang, ajakan kepada kejahatan, melanggar nash-nash wahyu, atau membawa pembaca kepada keyakinan yang sesat, atau membuka pintu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat bagi pembaca, serta tidak ada manfaat untuk dunia dan akhiratnya.Terutama jika tulisan-tulisan tersebut berasal dari penulis-penulis Barat atau terpengaruh oleh budaya Barat. Sebagian besarnya (jika tidak bisa saya katakan semuanya) terdapat keburukan dan mafsadah ini. Meskipun mereka mengatasnamakan seni dan sastra, maka sebutan (nama) itu tidaklah merubah hakikat.Meskipun mereka memasukkan ke dalam ilmu sastra yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dan universitas, maka sesungguhnya hal itu tidak dapat mengubah hakikat syar’i-nya. Kita harus ingat bahwa Allah Ta’ala telah melarang segala keburukan lisan, seperti berbohong, memberikan kesaksian palsu, dan menuduh orang dengan tuduhan batil yang tidak diketahui kebenarannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ“Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra: 36)Bahkan, Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat jujur melalui firman-Nya,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Allah Ta’ala berfirman,فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ , طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ‌ۚ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ“Kecelakaanlah bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 20 – 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan nilai kebenaran dan keharaman kebohongan. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا؛ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Seseorang terus-menerus jujur dan berusaha untuk menjadi orang yang jujur, hingga dia dicatat di hadapan Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah kebohongan, karena kebohongan akan membimbing menuju kefasikan, dan kefasikan akan membimbing menuju neraka. Seseorang terus-menerus berdusta dan berusaha untuk menjadi orang yang berdusta, hingga dia dicatat oleh Allah sebagai pendusta”.[6]Dan dari Mu’awiyah bin Haidah, semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi orang yang berbicara dengan berdusta agar dia dapat membuat orang-orang tertawa, celakalah baginya, celakalah baginya.”[7]Dalam konteks ini, para salaf memperingatkan tentang para pembawa cerita karena mereka pada umumnya tidak berusaha untuk berbicara dengan kejujuran dan tidak berdasarkan dalil yang sahih (bukti yang valid). Mereka hanya mengandalkan cerita-cerita dan nukilan-nukilan yang tidak sahih serta berita-berita tanpa dasar.Tujuan mereka adalah untuk mengingatkan orang-orang dan mendorong mereka menuju kebaikan serta menakut-nakuti mereka dari kejahatan. Mereka menggunakan kisah-kisah sebagai alat pengajaran. Namun, mereka menempuh jalan yang salah dengan berbohong dan menjerumuskan orang-orang dalam kebohongan.Dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika dia memasuki Basrah, ia mengusir para pembawa cerita dan pengkhotbah dari masjid. Ketika mereka mendekati majelis Hasan Al-Basri, mereka tinggalkan karena mereka mendengar pengajaran yang benar dan berdasarkan ilmu.Imam Ahmad rahimahullah, berkata, “Orang-orang sangat membutuhkan seorang pencerita yang jujur.”[8]Dan Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Pada zaman dahulu, para pembicara adalah ulama yang faqih (paham agama). ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Ubaid bin ‘Umair. Umar bin Abdul Aziz menghadiri majelis seorang pencerita. Kemudian perbuatan salah ini terlihat oleh orang-orang bodoh. Orang-orang istimewa menjauhi hadir di majelis mereka. Sedangkan orang awam dan para wanita tertarik dengan mereka. Mereka tidak disibukkan mencari ilmu, tetapi lebih tertarik pada cerita. Alangkah mengherankan sebuah kebodohan. Bid’ah pun bermacam-macam dalam bidang ini.”[9]Ketahuilah bahwa hal itu dapat diganti dengan membaca kisah-kisah Al-Qur’an yang bermanfaat dari kisah-kisah para nabi, orang-orang saleh, dan orang lainnya, serta apa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berupa hadis sahih, serta menjauhi hadis dusta, lemah, atau palsu. Karena hal itu memiliki dampak besar dalam mempertajam semangat dan memperkuat tekad. Dengan mengambil pelajaran dan nasihat dari ulama rabbani, atau siapa yang memiliki ilmu sesuat batas pengetahuan yang dimiliki dan tidak melampauinya, bukan diambil dari ahli sastra pemikir yang tidak memiliki ilmu syar’i.Ini adalah tentang novel fiksi secara umum. Sedangkan untuk novel-novel detektif, maka hukumnya tetap terlarang. Karena adanya mafsadah kebohongan, ditambah dengan kerusakan lain seperti menyembunyikan fakta, dan menampilkan penjahat sebagai pahlawan, mengajarkan orang-orang cara melakukan kejahatan dan jalan-jalan kejahatan, serta mempercantik kebatilan dan keharaman dengan citra kecerdasan, yang sebenarnya adalah tipu muslihat, penipuan, kecurangan, pemalsuan, dan sejenisnya dari jenis-jenis kebatilan dan kerusakan.Ini hanya dalam membaca novel. Sedangkan novel yang diilustrasikan (digambarkan) atau dipentaskan, maka kerusakannya lebih besar. Terutama jika ada peran untuk nabi-nabi dan sahabat, atau peran pelaku maksiat, peran imam-imam dan orang-orang saleh, atau peran wanita bahkan jika mereka berpakaian dengan jilbab syar’i, atau penggambaran adegan-adegan kefasikan, menyembah berhala, dan mengucapkan lafaz kekafiran tanpa menggunakan cerita, dengan dalih bahwa aktor tersebut memerankan peran Abu Jahal dan hal-hal berbahaya lainnya.Dan pengetahuan itu hanyalah milik Allah Yang Mahatinggi, dan doa terakhir kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah Ta’ala memberikan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang mengikutinya hingga hari pembalasan. Semoga keselamatan tetap tercurah kepadanya.Baca juga: Da’i Tukang Dongeng***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1330Catatan kaki:[1] HR. Wakilah bin Al-Jarrah dalam “Az-Zuhd” (56), Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Adab” (206) dan “Musannaf” (26486), Ahmad dalam “Az-Zuhd” (88), Abdul bin Humaid dalam “Musnad” (1156), Ibnu Abi Ad-Dunya dalam “Man Aasha Ba’da Al-Maut” (58), Tammaam Ar-Razi dalam “Fawaiduhu” (229), Abu Sa’id An-Naqqaash dalam “Funoon Al-‘Aja’ib” (17, 18), dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam “Al-Jami ‘li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’” (1349), dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Beberapa di antaranya mengutip kisah seorang pria yang dihidupkan Allah setelah kematiannya. Abdullah bin Abi Dawud dalam “Al-Ba’s” (5) hanya memuat kisah tersebut, dan hadis ini dianggap sahih oleh Al-Albani dalam “As-Silsilah As-Sahihah” (2926).[2] “HR. Ahmad dalam ‘Musnad‘ (11092) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Para penyelidik edisi risalah (17/157) mengatakan: ‘Hadis ini sahih, dan sanadnya lemah karena kelemahan Abdul Rahman bin Zaid, yaitu Ibnu Aslam Al-‘Adawi, sedangkan sisa perawinya adalah tsiqah (tepercaya) perawi dalam hadis sahih.’ Al-Haitsami berkata: ‘Hadis ini terdapat dalam sahih secara ringkas dan juga di luar konteks ini.’ [Lihat: ‘Ghayatul Maqsad fi Zawaid Al-Musnad‘ (215) dan ‘Majma’ Al-Zawa’id‘ (672)]. Dan konteksnya dalam sahih dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash di hadis Bukhari dengan lafaz, ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak apa-apa, dan barangsiapa yang berdusta kepadaku secara sengaja, maka ia harus menyiapkan tempat duduknya di Neraka’ dalam ‘Ahadits Al-Anbiya‘ dalam bab yang disebutkan tentang Bani Israil.”[3] Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Maidani dalam “Majma Al-Amthal” (1/25).”[4] Lihat Kitab Tafsir As-Sa’di (711).[5] Fatawa Noor ‘Ala Ad-Darb” oleh Ibnu Utsaimin (24/2).[6] Muttafaqun ‘alaihi. Riwayat ini disebutkan oleh Bukhari dalam “Al-Adab“, dalam bab tentang firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (Surah At-Taubah, ayat 119) dan larangan terhadap berdusta (6094). Muslim juga meriwayatkannya dalam “Al-Birr wa As-Silah wa Al-Adab” (2606, 2607) dari hadis Ibnu Mas’ud (semoga Allah meridainya).[7] “HR. Abu Dawud dalam “Al-Adab” bab tentang Tasydiid Fil Kadzib (4990), dan At-Tirmidzi dalam “Az-Zuhd” bab tentang Fii Man Takallama Liyudhhiku bihi An-Naas (2315), dari hadis Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairi, radhiiallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami” (7136).”[8] Lihat Kitab “Talbis Iblis” karya Ibn Al-Jauzi (111).[9] IbidTags: cerita fiksiFatwa Ulamakhayalan

Fatwa Ulama: Hukum Membaca Cerita Fiksi

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Seseorang hobi membaca buku-buku yang mengandung cerita dan novel, sebagian besar berupa khayalan. Terkadang memiliki makna atau tujuan yang baik, terutama yang mencakup adegan kejahatan dan kisah polisi. Apa hukum membacanya untuk menambah pengetahuan atau mengisi waktu luang dan kesenangan? Terima kasih dan semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin. Selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh saudara sepanjang masa (pengikutnya).Amma ba’du.Beberapa ulama telah membedakan antara dua jenis cerita fiksi ditinjau dari membacanya dan sejenisnya.Jenis pertama: Membaca cerita fiksi yang bertujuan untuk kebaikan, dengan pandangan perbaikan dalam segala bidang untuk mengatasi masalah-masalah agama, moral, dan sosial. Tujuannya adalah menyiarkan, menanamkan, dan menyebarkan kebaikan, serta memperingatkan dan melarang dari kejahatan, kefasikan, dan kerusakan. Membaca cerita jenis ini tidak mengandung adanya kerusakan atau larangan syariat, seperti kezaliman, permusuhan, mengajak kepada kesyirikan, kekafiran, pengingkaran (terhadap akidah yang benar, pent.), pemborosan, hilangnya rasa malu, serta penyimpangan akidah, pemikiran, dan akhlak, serta hal-hal yang merendahkan nilai-nilai agama atau moral.Oleh karena itu, tidak terlarang membaca cerita yang tidak mengandung hal-hal ini dengan pertimbangan yang disebutkan dalam pertanyaan ini. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ [وَلَا حَرَجَ]، فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمُ الأَعَاجِيبُ: إِنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ خَرَجُوا يَمْشُونَ فِي الْأَرْضِ وَيَذْكُرُونَ، حَتَّى مَرُّوا عَلَى مَقْبَرَةٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: «تَعَالَوْا نَدْعُ اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ، نَسْأَلْهُ عَنِ الْمَوْتِ»، فَدَعَوْا، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ رَجُلٌ خِلَاسِيٌّ: بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَقَالَ: «يَا قَوْمُ، مَا أَرَدْتُمْ إِلَيَّ، لَقَدْ رَكِبْتُمْ مِنِّي أَمْرًا عَظِيمًا»، قَالُوا: «دَعَوْنَا اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ نَسْأَلْهُ عَنْ طَعْمِ الْمَوْتِ كَيْفَ هُوَ؟» فَقَالَ: «لَقَدْ وَجَدْتُ طَعْمَ الْمَوْتِ ـ قَالَ الرَّبِيعُ: أَوْ حَرَّ الْمَوْتِ ـ مِائَةَ عَامٍ، فَدَعَوْتُمُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سَكَنَ عَنِّي، فَادْعُوا اللَّهَ أَنْ يُعِيدَنِي كَمَا كُنْتُ»، فَدَعَوُا اللَّهَ فَأَعَادَهُ“Ceritakanlah (riwayat) dari Bani Israil (tidak mengapa), karena terdapat mukjizat-mukjizat pada mereka. Sejumlah orang dari Bani Israil pergi berjalan di muka bumi sambil berzikir. Kemudian mereka melewati sebuah kuburan. Lalu sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Mari kita berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini, agar kita dapat bertanya kepadanya tentang kematian.’ Mereka berdoa, lalu keluarlah seorang pria yang mempunyai tanda-tanda sujud di antara kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai kaum, apa yang kalian ingin tanyakan kepadaku? Sungguh, kalian telah menempatkan diri dalam suatu urusan yang besar.’ Mereka berkata, ‘Kami berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini agar kami bisa bertanya kepadanya bagaimana rasanya mati.’ Dia berkata, ‘Aku telah merasakan rasa kematian (Al-Rabi’ berkata, ‘atau panasnya kematian’) selama seratus tahun. Dan kalian berdoa kepada Allah yang Mahaperkasa, sementara Dia telah memberiku istirahat. Maka, berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikanku seperti semula.’ Mereka berdoa kepada Allah, lalu Dia mengembalikannya.” [1]Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami duduk-duduk dan menulis apa yang kami dengar dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang dan berkata, ‘Apa yang kalian tulis ini?’ Kami menjawab, ‘Kami menulis apa yang kami dengar dari Engkau.’ Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?!’ Kami, menjawab, ‘Tidak ada.” Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?! Murnikan Al-Qur’an dan murnikan!'”Dia (Abu Hurairah) berkata, “Lalu, kami kumpulkan apa yang telah kami tulis pada satu tempat, kemudian kami bakar dengan api. Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami membicarakan (hadis) darimu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah hadis dariku, tidak ada masalah. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, hendaklah dia menempati tempatnya di neraka.’ Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami boleh berbicara (cerita) dari Bani Israil?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah (cerita) dari Bani Israil, tidak ada masalah. Karena kalian tidak akan berbicara (cerita) dari mereka, kecuali akan ada hal yang lebih menakjubkan dari mereka.'” [2]Hadis ini menunjukkan bahwa keistimewaan dan keajaiban boleh didengar dan diceritakan secara mutlak. Baik itu berasal dari imajinasi atau bukan, yaitu ada yang semisal di alam nyata. Tidak ada penyebaran kebatilan atau kefasikan. Baik itu disampaikan oleh manusia, binatang[3], melalui kata-kata, atau permisalan. Selama informasi tersebut diketahui oleh pembaca. Dalam membacanya, pembaca bermaksud untuk mencapai tujuan yang boleh atau tujuan yang baik dari penggunaan perumpamaan untuk pengajaran, nasihat untuk perilaku dan pendidikan, menanamkan kebajikan, serta menampakkan akhlak, seperti kesabaran, kehormatan, dan keberanian.Mereka berdalil atas kebolehan hal itu dengan firman Allah Ta’ala,وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ٱلۡمِحۡرَابَ“Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?” (QS. Sad: 21)Di dalamnya terdapat penjelasan tentang cara berdebat, bertengkar, dan mengadili yang dilakukan oleh dua malaikat kepada Daud, bahwa dia tidak boleh memutuskan hingga mendengar kedua pihak yang bersengketa bersama-sama. Hal ini dikarenakan malaikat tidak memiliki kepemilikan atas domba-domba tersebut, tidak ada permusuhan atau pertikaian antara mereka. Mereka hanya menyebutkan hal itu kepada Daud sebagai contoh dan peringatan tentang keputusan dalam kasus ini. As-Sa’di rahimahullah berkata, ‘Daud mengira ketika ia memutuskan di antara mereka bahwa kami mengujinya, yakni kami mengujinya dan mengajarkannya menggunakan permisalan ini agar dapat diambil pelajaran.'”[4]Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Takhayul?Dalam hal ini, terdapat fatwa dari Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Beberapa penulis menyusun cerita-cerita dengan makna dan gaya yang menarik yang dapat berdampak pada jiwa para pembaca. Akan tetapi, cerita-cerita tersebut merupakan khayalan. Bagaimanakah hukumnya?”Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak ada masalah, jika cerita-cerita tersebut dapat menyelesaikan masalah-masalah agama, moral, atau sosial. Karena menggunakan perumpamaan dengan cerita-cerita yang dibuat bukan berdasarkan kenyataan, tidak masalah. Bahkan, beberapa ulama telah menyebutkan hal itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang bukanlah kisah nyata. Namun, Allah menggunakan contoh tersebut sebagai perumpamaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ أَيۡنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأۡتِ بِخَيۡرٍ هَلۡ يَسۡتَوِي هُوَ وَمَن يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ“Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban penanggungnya, ke mana saja dia disuruh (oleh penanggungnya itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Apakah sama orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat adil dan dia berada di jalan yang lurus?” (QS. An-Nahl: 76)Saya tidak melihat ada masalah dalam hal ini karena tujuannya adalah sebagai peringatan. Akan tetapi, jika seseorang memiliki pengetahuan dari Al-Qur’an dan hadis, kemudian menyajikan ayat-ayat yang mengatasi masalah dan menjelaskannya serta menunjukkan contoh-contoh yang relevan, itu adalah hal yang baik. Demikian pula, jika seseorang menyebutkan hadis-hadis dan menjelaskannya serta memberikan contoh-contoh yang relevan, itu tentu lebih baik tanpa ada keraguan.[5]Jenis kedua: Membaca cerita fiksi dan non-fiksi yang tidak mencapai tujuan syar’i ini, bahkan bertentangan dengannya, membawa konsekuensi kerusakan dan keburukan yang tidak diragukan lagi, membuka peluang bagi imajinasi dan ide-ide buruk dalam hal kejahatan, memicu dorongan-dorongan dan membangkitkan nafsu, atau memberi ruang bagi makna-makna syirik dan pengaruh-pengaruh yang menentang agama. Atau cerita-cerita fiksi ini mendorong kedustaan, fitnah, dan kebohongan, atau mengandung sindiran atau ejekan terhadap agama Allah yang hanif, hukum-hukum-Nya, sunah-sunah-Nya, dan adab-adab-Nya. Atau meremehkan seseorang, mencelanya, atau berbicara buruk tentangnya, dan sejenisnya yang pada umumnya merugikan dan tidak memberi manfaat pada agama maupun dunia. Maka, saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal pengharaman dan pelarangannya.Pertama-tama, menurut pendapat saya, penting untuk berhati-hati dan menghindari cerita-cerita fiksi yang disampaikan yang tidak memiliki dasar yang jelas atau tidak ada kenyataannya dalam kehidupan. Karena (meskipun untuk tujuan yang baik), tidak dapat terbebas dari kerusakan, keraguan, dan kebohongan. Ataupun mengandung pemikiran yang menyimpang, ajakan kepada kejahatan, melanggar nash-nash wahyu, atau membawa pembaca kepada keyakinan yang sesat, atau membuka pintu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat bagi pembaca, serta tidak ada manfaat untuk dunia dan akhiratnya.Terutama jika tulisan-tulisan tersebut berasal dari penulis-penulis Barat atau terpengaruh oleh budaya Barat. Sebagian besarnya (jika tidak bisa saya katakan semuanya) terdapat keburukan dan mafsadah ini. Meskipun mereka mengatasnamakan seni dan sastra, maka sebutan (nama) itu tidaklah merubah hakikat.Meskipun mereka memasukkan ke dalam ilmu sastra yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dan universitas, maka sesungguhnya hal itu tidak dapat mengubah hakikat syar’i-nya. Kita harus ingat bahwa Allah Ta’ala telah melarang segala keburukan lisan, seperti berbohong, memberikan kesaksian palsu, dan menuduh orang dengan tuduhan batil yang tidak diketahui kebenarannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ“Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra: 36)Bahkan, Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat jujur melalui firman-Nya,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Allah Ta’ala berfirman,فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ , طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ‌ۚ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ“Kecelakaanlah bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 20 – 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan nilai kebenaran dan keharaman kebohongan. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا؛ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Seseorang terus-menerus jujur dan berusaha untuk menjadi orang yang jujur, hingga dia dicatat di hadapan Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah kebohongan, karena kebohongan akan membimbing menuju kefasikan, dan kefasikan akan membimbing menuju neraka. Seseorang terus-menerus berdusta dan berusaha untuk menjadi orang yang berdusta, hingga dia dicatat oleh Allah sebagai pendusta”.[6]Dan dari Mu’awiyah bin Haidah, semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi orang yang berbicara dengan berdusta agar dia dapat membuat orang-orang tertawa, celakalah baginya, celakalah baginya.”[7]Dalam konteks ini, para salaf memperingatkan tentang para pembawa cerita karena mereka pada umumnya tidak berusaha untuk berbicara dengan kejujuran dan tidak berdasarkan dalil yang sahih (bukti yang valid). Mereka hanya mengandalkan cerita-cerita dan nukilan-nukilan yang tidak sahih serta berita-berita tanpa dasar.Tujuan mereka adalah untuk mengingatkan orang-orang dan mendorong mereka menuju kebaikan serta menakut-nakuti mereka dari kejahatan. Mereka menggunakan kisah-kisah sebagai alat pengajaran. Namun, mereka menempuh jalan yang salah dengan berbohong dan menjerumuskan orang-orang dalam kebohongan.Dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika dia memasuki Basrah, ia mengusir para pembawa cerita dan pengkhotbah dari masjid. Ketika mereka mendekati majelis Hasan Al-Basri, mereka tinggalkan karena mereka mendengar pengajaran yang benar dan berdasarkan ilmu.Imam Ahmad rahimahullah, berkata, “Orang-orang sangat membutuhkan seorang pencerita yang jujur.”[8]Dan Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Pada zaman dahulu, para pembicara adalah ulama yang faqih (paham agama). ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Ubaid bin ‘Umair. Umar bin Abdul Aziz menghadiri majelis seorang pencerita. Kemudian perbuatan salah ini terlihat oleh orang-orang bodoh. Orang-orang istimewa menjauhi hadir di majelis mereka. Sedangkan orang awam dan para wanita tertarik dengan mereka. Mereka tidak disibukkan mencari ilmu, tetapi lebih tertarik pada cerita. Alangkah mengherankan sebuah kebodohan. Bid’ah pun bermacam-macam dalam bidang ini.”[9]Ketahuilah bahwa hal itu dapat diganti dengan membaca kisah-kisah Al-Qur’an yang bermanfaat dari kisah-kisah para nabi, orang-orang saleh, dan orang lainnya, serta apa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berupa hadis sahih, serta menjauhi hadis dusta, lemah, atau palsu. Karena hal itu memiliki dampak besar dalam mempertajam semangat dan memperkuat tekad. Dengan mengambil pelajaran dan nasihat dari ulama rabbani, atau siapa yang memiliki ilmu sesuat batas pengetahuan yang dimiliki dan tidak melampauinya, bukan diambil dari ahli sastra pemikir yang tidak memiliki ilmu syar’i.Ini adalah tentang novel fiksi secara umum. Sedangkan untuk novel-novel detektif, maka hukumnya tetap terlarang. Karena adanya mafsadah kebohongan, ditambah dengan kerusakan lain seperti menyembunyikan fakta, dan menampilkan penjahat sebagai pahlawan, mengajarkan orang-orang cara melakukan kejahatan dan jalan-jalan kejahatan, serta mempercantik kebatilan dan keharaman dengan citra kecerdasan, yang sebenarnya adalah tipu muslihat, penipuan, kecurangan, pemalsuan, dan sejenisnya dari jenis-jenis kebatilan dan kerusakan.Ini hanya dalam membaca novel. Sedangkan novel yang diilustrasikan (digambarkan) atau dipentaskan, maka kerusakannya lebih besar. Terutama jika ada peran untuk nabi-nabi dan sahabat, atau peran pelaku maksiat, peran imam-imam dan orang-orang saleh, atau peran wanita bahkan jika mereka berpakaian dengan jilbab syar’i, atau penggambaran adegan-adegan kefasikan, menyembah berhala, dan mengucapkan lafaz kekafiran tanpa menggunakan cerita, dengan dalih bahwa aktor tersebut memerankan peran Abu Jahal dan hal-hal berbahaya lainnya.Dan pengetahuan itu hanyalah milik Allah Yang Mahatinggi, dan doa terakhir kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah Ta’ala memberikan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang mengikutinya hingga hari pembalasan. Semoga keselamatan tetap tercurah kepadanya.Baca juga: Da’i Tukang Dongeng***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1330Catatan kaki:[1] HR. Wakilah bin Al-Jarrah dalam “Az-Zuhd” (56), Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Adab” (206) dan “Musannaf” (26486), Ahmad dalam “Az-Zuhd” (88), Abdul bin Humaid dalam “Musnad” (1156), Ibnu Abi Ad-Dunya dalam “Man Aasha Ba’da Al-Maut” (58), Tammaam Ar-Razi dalam “Fawaiduhu” (229), Abu Sa’id An-Naqqaash dalam “Funoon Al-‘Aja’ib” (17, 18), dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam “Al-Jami ‘li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’” (1349), dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Beberapa di antaranya mengutip kisah seorang pria yang dihidupkan Allah setelah kematiannya. Abdullah bin Abi Dawud dalam “Al-Ba’s” (5) hanya memuat kisah tersebut, dan hadis ini dianggap sahih oleh Al-Albani dalam “As-Silsilah As-Sahihah” (2926).[2] “HR. Ahmad dalam ‘Musnad‘ (11092) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Para penyelidik edisi risalah (17/157) mengatakan: ‘Hadis ini sahih, dan sanadnya lemah karena kelemahan Abdul Rahman bin Zaid, yaitu Ibnu Aslam Al-‘Adawi, sedangkan sisa perawinya adalah tsiqah (tepercaya) perawi dalam hadis sahih.’ Al-Haitsami berkata: ‘Hadis ini terdapat dalam sahih secara ringkas dan juga di luar konteks ini.’ [Lihat: ‘Ghayatul Maqsad fi Zawaid Al-Musnad‘ (215) dan ‘Majma’ Al-Zawa’id‘ (672)]. Dan konteksnya dalam sahih dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash di hadis Bukhari dengan lafaz, ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak apa-apa, dan barangsiapa yang berdusta kepadaku secara sengaja, maka ia harus menyiapkan tempat duduknya di Neraka’ dalam ‘Ahadits Al-Anbiya‘ dalam bab yang disebutkan tentang Bani Israil.”[3] Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Maidani dalam “Majma Al-Amthal” (1/25).”[4] Lihat Kitab Tafsir As-Sa’di (711).[5] Fatawa Noor ‘Ala Ad-Darb” oleh Ibnu Utsaimin (24/2).[6] Muttafaqun ‘alaihi. Riwayat ini disebutkan oleh Bukhari dalam “Al-Adab“, dalam bab tentang firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (Surah At-Taubah, ayat 119) dan larangan terhadap berdusta (6094). Muslim juga meriwayatkannya dalam “Al-Birr wa As-Silah wa Al-Adab” (2606, 2607) dari hadis Ibnu Mas’ud (semoga Allah meridainya).[7] “HR. Abu Dawud dalam “Al-Adab” bab tentang Tasydiid Fil Kadzib (4990), dan At-Tirmidzi dalam “Az-Zuhd” bab tentang Fii Man Takallama Liyudhhiku bihi An-Naas (2315), dari hadis Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairi, radhiiallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami” (7136).”[8] Lihat Kitab “Talbis Iblis” karya Ibn Al-Jauzi (111).[9] IbidTags: cerita fiksiFatwa Ulamakhayalan
Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Seseorang hobi membaca buku-buku yang mengandung cerita dan novel, sebagian besar berupa khayalan. Terkadang memiliki makna atau tujuan yang baik, terutama yang mencakup adegan kejahatan dan kisah polisi. Apa hukum membacanya untuk menambah pengetahuan atau mengisi waktu luang dan kesenangan? Terima kasih dan semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin. Selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh saudara sepanjang masa (pengikutnya).Amma ba’du.Beberapa ulama telah membedakan antara dua jenis cerita fiksi ditinjau dari membacanya dan sejenisnya.Jenis pertama: Membaca cerita fiksi yang bertujuan untuk kebaikan, dengan pandangan perbaikan dalam segala bidang untuk mengatasi masalah-masalah agama, moral, dan sosial. Tujuannya adalah menyiarkan, menanamkan, dan menyebarkan kebaikan, serta memperingatkan dan melarang dari kejahatan, kefasikan, dan kerusakan. Membaca cerita jenis ini tidak mengandung adanya kerusakan atau larangan syariat, seperti kezaliman, permusuhan, mengajak kepada kesyirikan, kekafiran, pengingkaran (terhadap akidah yang benar, pent.), pemborosan, hilangnya rasa malu, serta penyimpangan akidah, pemikiran, dan akhlak, serta hal-hal yang merendahkan nilai-nilai agama atau moral.Oleh karena itu, tidak terlarang membaca cerita yang tidak mengandung hal-hal ini dengan pertimbangan yang disebutkan dalam pertanyaan ini. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ [وَلَا حَرَجَ]، فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمُ الأَعَاجِيبُ: إِنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ خَرَجُوا يَمْشُونَ فِي الْأَرْضِ وَيَذْكُرُونَ، حَتَّى مَرُّوا عَلَى مَقْبَرَةٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: «تَعَالَوْا نَدْعُ اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ، نَسْأَلْهُ عَنِ الْمَوْتِ»، فَدَعَوْا، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ رَجُلٌ خِلَاسِيٌّ: بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَقَالَ: «يَا قَوْمُ، مَا أَرَدْتُمْ إِلَيَّ، لَقَدْ رَكِبْتُمْ مِنِّي أَمْرًا عَظِيمًا»، قَالُوا: «دَعَوْنَا اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ نَسْأَلْهُ عَنْ طَعْمِ الْمَوْتِ كَيْفَ هُوَ؟» فَقَالَ: «لَقَدْ وَجَدْتُ طَعْمَ الْمَوْتِ ـ قَالَ الرَّبِيعُ: أَوْ حَرَّ الْمَوْتِ ـ مِائَةَ عَامٍ، فَدَعَوْتُمُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سَكَنَ عَنِّي، فَادْعُوا اللَّهَ أَنْ يُعِيدَنِي كَمَا كُنْتُ»، فَدَعَوُا اللَّهَ فَأَعَادَهُ“Ceritakanlah (riwayat) dari Bani Israil (tidak mengapa), karena terdapat mukjizat-mukjizat pada mereka. Sejumlah orang dari Bani Israil pergi berjalan di muka bumi sambil berzikir. Kemudian mereka melewati sebuah kuburan. Lalu sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Mari kita berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini, agar kita dapat bertanya kepadanya tentang kematian.’ Mereka berdoa, lalu keluarlah seorang pria yang mempunyai tanda-tanda sujud di antara kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai kaum, apa yang kalian ingin tanyakan kepadaku? Sungguh, kalian telah menempatkan diri dalam suatu urusan yang besar.’ Mereka berkata, ‘Kami berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini agar kami bisa bertanya kepadanya bagaimana rasanya mati.’ Dia berkata, ‘Aku telah merasakan rasa kematian (Al-Rabi’ berkata, ‘atau panasnya kematian’) selama seratus tahun. Dan kalian berdoa kepada Allah yang Mahaperkasa, sementara Dia telah memberiku istirahat. Maka, berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikanku seperti semula.’ Mereka berdoa kepada Allah, lalu Dia mengembalikannya.” [1]Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami duduk-duduk dan menulis apa yang kami dengar dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang dan berkata, ‘Apa yang kalian tulis ini?’ Kami menjawab, ‘Kami menulis apa yang kami dengar dari Engkau.’ Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?!’ Kami, menjawab, ‘Tidak ada.” Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?! Murnikan Al-Qur’an dan murnikan!'”Dia (Abu Hurairah) berkata, “Lalu, kami kumpulkan apa yang telah kami tulis pada satu tempat, kemudian kami bakar dengan api. Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami membicarakan (hadis) darimu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah hadis dariku, tidak ada masalah. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, hendaklah dia menempati tempatnya di neraka.’ Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami boleh berbicara (cerita) dari Bani Israil?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah (cerita) dari Bani Israil, tidak ada masalah. Karena kalian tidak akan berbicara (cerita) dari mereka, kecuali akan ada hal yang lebih menakjubkan dari mereka.'” [2]Hadis ini menunjukkan bahwa keistimewaan dan keajaiban boleh didengar dan diceritakan secara mutlak. Baik itu berasal dari imajinasi atau bukan, yaitu ada yang semisal di alam nyata. Tidak ada penyebaran kebatilan atau kefasikan. Baik itu disampaikan oleh manusia, binatang[3], melalui kata-kata, atau permisalan. Selama informasi tersebut diketahui oleh pembaca. Dalam membacanya, pembaca bermaksud untuk mencapai tujuan yang boleh atau tujuan yang baik dari penggunaan perumpamaan untuk pengajaran, nasihat untuk perilaku dan pendidikan, menanamkan kebajikan, serta menampakkan akhlak, seperti kesabaran, kehormatan, dan keberanian.Mereka berdalil atas kebolehan hal itu dengan firman Allah Ta’ala,وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ٱلۡمِحۡرَابَ“Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?” (QS. Sad: 21)Di dalamnya terdapat penjelasan tentang cara berdebat, bertengkar, dan mengadili yang dilakukan oleh dua malaikat kepada Daud, bahwa dia tidak boleh memutuskan hingga mendengar kedua pihak yang bersengketa bersama-sama. Hal ini dikarenakan malaikat tidak memiliki kepemilikan atas domba-domba tersebut, tidak ada permusuhan atau pertikaian antara mereka. Mereka hanya menyebutkan hal itu kepada Daud sebagai contoh dan peringatan tentang keputusan dalam kasus ini. As-Sa’di rahimahullah berkata, ‘Daud mengira ketika ia memutuskan di antara mereka bahwa kami mengujinya, yakni kami mengujinya dan mengajarkannya menggunakan permisalan ini agar dapat diambil pelajaran.'”[4]Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Takhayul?Dalam hal ini, terdapat fatwa dari Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Beberapa penulis menyusun cerita-cerita dengan makna dan gaya yang menarik yang dapat berdampak pada jiwa para pembaca. Akan tetapi, cerita-cerita tersebut merupakan khayalan. Bagaimanakah hukumnya?”Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak ada masalah, jika cerita-cerita tersebut dapat menyelesaikan masalah-masalah agama, moral, atau sosial. Karena menggunakan perumpamaan dengan cerita-cerita yang dibuat bukan berdasarkan kenyataan, tidak masalah. Bahkan, beberapa ulama telah menyebutkan hal itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang bukanlah kisah nyata. Namun, Allah menggunakan contoh tersebut sebagai perumpamaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ أَيۡنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأۡتِ بِخَيۡرٍ هَلۡ يَسۡتَوِي هُوَ وَمَن يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ“Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban penanggungnya, ke mana saja dia disuruh (oleh penanggungnya itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Apakah sama orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat adil dan dia berada di jalan yang lurus?” (QS. An-Nahl: 76)Saya tidak melihat ada masalah dalam hal ini karena tujuannya adalah sebagai peringatan. Akan tetapi, jika seseorang memiliki pengetahuan dari Al-Qur’an dan hadis, kemudian menyajikan ayat-ayat yang mengatasi masalah dan menjelaskannya serta menunjukkan contoh-contoh yang relevan, itu adalah hal yang baik. Demikian pula, jika seseorang menyebutkan hadis-hadis dan menjelaskannya serta memberikan contoh-contoh yang relevan, itu tentu lebih baik tanpa ada keraguan.[5]Jenis kedua: Membaca cerita fiksi dan non-fiksi yang tidak mencapai tujuan syar’i ini, bahkan bertentangan dengannya, membawa konsekuensi kerusakan dan keburukan yang tidak diragukan lagi, membuka peluang bagi imajinasi dan ide-ide buruk dalam hal kejahatan, memicu dorongan-dorongan dan membangkitkan nafsu, atau memberi ruang bagi makna-makna syirik dan pengaruh-pengaruh yang menentang agama. Atau cerita-cerita fiksi ini mendorong kedustaan, fitnah, dan kebohongan, atau mengandung sindiran atau ejekan terhadap agama Allah yang hanif, hukum-hukum-Nya, sunah-sunah-Nya, dan adab-adab-Nya. Atau meremehkan seseorang, mencelanya, atau berbicara buruk tentangnya, dan sejenisnya yang pada umumnya merugikan dan tidak memberi manfaat pada agama maupun dunia. Maka, saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal pengharaman dan pelarangannya.Pertama-tama, menurut pendapat saya, penting untuk berhati-hati dan menghindari cerita-cerita fiksi yang disampaikan yang tidak memiliki dasar yang jelas atau tidak ada kenyataannya dalam kehidupan. Karena (meskipun untuk tujuan yang baik), tidak dapat terbebas dari kerusakan, keraguan, dan kebohongan. Ataupun mengandung pemikiran yang menyimpang, ajakan kepada kejahatan, melanggar nash-nash wahyu, atau membawa pembaca kepada keyakinan yang sesat, atau membuka pintu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat bagi pembaca, serta tidak ada manfaat untuk dunia dan akhiratnya.Terutama jika tulisan-tulisan tersebut berasal dari penulis-penulis Barat atau terpengaruh oleh budaya Barat. Sebagian besarnya (jika tidak bisa saya katakan semuanya) terdapat keburukan dan mafsadah ini. Meskipun mereka mengatasnamakan seni dan sastra, maka sebutan (nama) itu tidaklah merubah hakikat.Meskipun mereka memasukkan ke dalam ilmu sastra yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dan universitas, maka sesungguhnya hal itu tidak dapat mengubah hakikat syar’i-nya. Kita harus ingat bahwa Allah Ta’ala telah melarang segala keburukan lisan, seperti berbohong, memberikan kesaksian palsu, dan menuduh orang dengan tuduhan batil yang tidak diketahui kebenarannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ“Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra: 36)Bahkan, Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat jujur melalui firman-Nya,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Allah Ta’ala berfirman,فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ , طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ‌ۚ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ“Kecelakaanlah bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 20 – 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan nilai kebenaran dan keharaman kebohongan. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا؛ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Seseorang terus-menerus jujur dan berusaha untuk menjadi orang yang jujur, hingga dia dicatat di hadapan Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah kebohongan, karena kebohongan akan membimbing menuju kefasikan, dan kefasikan akan membimbing menuju neraka. Seseorang terus-menerus berdusta dan berusaha untuk menjadi orang yang berdusta, hingga dia dicatat oleh Allah sebagai pendusta”.[6]Dan dari Mu’awiyah bin Haidah, semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi orang yang berbicara dengan berdusta agar dia dapat membuat orang-orang tertawa, celakalah baginya, celakalah baginya.”[7]Dalam konteks ini, para salaf memperingatkan tentang para pembawa cerita karena mereka pada umumnya tidak berusaha untuk berbicara dengan kejujuran dan tidak berdasarkan dalil yang sahih (bukti yang valid). Mereka hanya mengandalkan cerita-cerita dan nukilan-nukilan yang tidak sahih serta berita-berita tanpa dasar.Tujuan mereka adalah untuk mengingatkan orang-orang dan mendorong mereka menuju kebaikan serta menakut-nakuti mereka dari kejahatan. Mereka menggunakan kisah-kisah sebagai alat pengajaran. Namun, mereka menempuh jalan yang salah dengan berbohong dan menjerumuskan orang-orang dalam kebohongan.Dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika dia memasuki Basrah, ia mengusir para pembawa cerita dan pengkhotbah dari masjid. Ketika mereka mendekati majelis Hasan Al-Basri, mereka tinggalkan karena mereka mendengar pengajaran yang benar dan berdasarkan ilmu.Imam Ahmad rahimahullah, berkata, “Orang-orang sangat membutuhkan seorang pencerita yang jujur.”[8]Dan Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Pada zaman dahulu, para pembicara adalah ulama yang faqih (paham agama). ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Ubaid bin ‘Umair. Umar bin Abdul Aziz menghadiri majelis seorang pencerita. Kemudian perbuatan salah ini terlihat oleh orang-orang bodoh. Orang-orang istimewa menjauhi hadir di majelis mereka. Sedangkan orang awam dan para wanita tertarik dengan mereka. Mereka tidak disibukkan mencari ilmu, tetapi lebih tertarik pada cerita. Alangkah mengherankan sebuah kebodohan. Bid’ah pun bermacam-macam dalam bidang ini.”[9]Ketahuilah bahwa hal itu dapat diganti dengan membaca kisah-kisah Al-Qur’an yang bermanfaat dari kisah-kisah para nabi, orang-orang saleh, dan orang lainnya, serta apa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berupa hadis sahih, serta menjauhi hadis dusta, lemah, atau palsu. Karena hal itu memiliki dampak besar dalam mempertajam semangat dan memperkuat tekad. Dengan mengambil pelajaran dan nasihat dari ulama rabbani, atau siapa yang memiliki ilmu sesuat batas pengetahuan yang dimiliki dan tidak melampauinya, bukan diambil dari ahli sastra pemikir yang tidak memiliki ilmu syar’i.Ini adalah tentang novel fiksi secara umum. Sedangkan untuk novel-novel detektif, maka hukumnya tetap terlarang. Karena adanya mafsadah kebohongan, ditambah dengan kerusakan lain seperti menyembunyikan fakta, dan menampilkan penjahat sebagai pahlawan, mengajarkan orang-orang cara melakukan kejahatan dan jalan-jalan kejahatan, serta mempercantik kebatilan dan keharaman dengan citra kecerdasan, yang sebenarnya adalah tipu muslihat, penipuan, kecurangan, pemalsuan, dan sejenisnya dari jenis-jenis kebatilan dan kerusakan.Ini hanya dalam membaca novel. Sedangkan novel yang diilustrasikan (digambarkan) atau dipentaskan, maka kerusakannya lebih besar. Terutama jika ada peran untuk nabi-nabi dan sahabat, atau peran pelaku maksiat, peran imam-imam dan orang-orang saleh, atau peran wanita bahkan jika mereka berpakaian dengan jilbab syar’i, atau penggambaran adegan-adegan kefasikan, menyembah berhala, dan mengucapkan lafaz kekafiran tanpa menggunakan cerita, dengan dalih bahwa aktor tersebut memerankan peran Abu Jahal dan hal-hal berbahaya lainnya.Dan pengetahuan itu hanyalah milik Allah Yang Mahatinggi, dan doa terakhir kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah Ta’ala memberikan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang mengikutinya hingga hari pembalasan. Semoga keselamatan tetap tercurah kepadanya.Baca juga: Da’i Tukang Dongeng***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1330Catatan kaki:[1] HR. Wakilah bin Al-Jarrah dalam “Az-Zuhd” (56), Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Adab” (206) dan “Musannaf” (26486), Ahmad dalam “Az-Zuhd” (88), Abdul bin Humaid dalam “Musnad” (1156), Ibnu Abi Ad-Dunya dalam “Man Aasha Ba’da Al-Maut” (58), Tammaam Ar-Razi dalam “Fawaiduhu” (229), Abu Sa’id An-Naqqaash dalam “Funoon Al-‘Aja’ib” (17, 18), dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam “Al-Jami ‘li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’” (1349), dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Beberapa di antaranya mengutip kisah seorang pria yang dihidupkan Allah setelah kematiannya. Abdullah bin Abi Dawud dalam “Al-Ba’s” (5) hanya memuat kisah tersebut, dan hadis ini dianggap sahih oleh Al-Albani dalam “As-Silsilah As-Sahihah” (2926).[2] “HR. Ahmad dalam ‘Musnad‘ (11092) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Para penyelidik edisi risalah (17/157) mengatakan: ‘Hadis ini sahih, dan sanadnya lemah karena kelemahan Abdul Rahman bin Zaid, yaitu Ibnu Aslam Al-‘Adawi, sedangkan sisa perawinya adalah tsiqah (tepercaya) perawi dalam hadis sahih.’ Al-Haitsami berkata: ‘Hadis ini terdapat dalam sahih secara ringkas dan juga di luar konteks ini.’ [Lihat: ‘Ghayatul Maqsad fi Zawaid Al-Musnad‘ (215) dan ‘Majma’ Al-Zawa’id‘ (672)]. Dan konteksnya dalam sahih dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash di hadis Bukhari dengan lafaz, ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak apa-apa, dan barangsiapa yang berdusta kepadaku secara sengaja, maka ia harus menyiapkan tempat duduknya di Neraka’ dalam ‘Ahadits Al-Anbiya‘ dalam bab yang disebutkan tentang Bani Israil.”[3] Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Maidani dalam “Majma Al-Amthal” (1/25).”[4] Lihat Kitab Tafsir As-Sa’di (711).[5] Fatawa Noor ‘Ala Ad-Darb” oleh Ibnu Utsaimin (24/2).[6] Muttafaqun ‘alaihi. Riwayat ini disebutkan oleh Bukhari dalam “Al-Adab“, dalam bab tentang firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (Surah At-Taubah, ayat 119) dan larangan terhadap berdusta (6094). Muslim juga meriwayatkannya dalam “Al-Birr wa As-Silah wa Al-Adab” (2606, 2607) dari hadis Ibnu Mas’ud (semoga Allah meridainya).[7] “HR. Abu Dawud dalam “Al-Adab” bab tentang Tasydiid Fil Kadzib (4990), dan At-Tirmidzi dalam “Az-Zuhd” bab tentang Fii Man Takallama Liyudhhiku bihi An-Naas (2315), dari hadis Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairi, radhiiallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami” (7136).”[8] Lihat Kitab “Talbis Iblis” karya Ibn Al-Jauzi (111).[9] IbidTags: cerita fiksiFatwa Ulamakhayalan


Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Seseorang hobi membaca buku-buku yang mengandung cerita dan novel, sebagian besar berupa khayalan. Terkadang memiliki makna atau tujuan yang baik, terutama yang mencakup adegan kejahatan dan kisah polisi. Apa hukum membacanya untuk menambah pengetahuan atau mengisi waktu luang dan kesenangan? Terima kasih dan semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada Anda.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin. Selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam, serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh saudara sepanjang masa (pengikutnya).Amma ba’du.Beberapa ulama telah membedakan antara dua jenis cerita fiksi ditinjau dari membacanya dan sejenisnya.Jenis pertama: Membaca cerita fiksi yang bertujuan untuk kebaikan, dengan pandangan perbaikan dalam segala bidang untuk mengatasi masalah-masalah agama, moral, dan sosial. Tujuannya adalah menyiarkan, menanamkan, dan menyebarkan kebaikan, serta memperingatkan dan melarang dari kejahatan, kefasikan, dan kerusakan. Membaca cerita jenis ini tidak mengandung adanya kerusakan atau larangan syariat, seperti kezaliman, permusuhan, mengajak kepada kesyirikan, kekafiran, pengingkaran (terhadap akidah yang benar, pent.), pemborosan, hilangnya rasa malu, serta penyimpangan akidah, pemikiran, dan akhlak, serta hal-hal yang merendahkan nilai-nilai agama atau moral.Oleh karena itu, tidak terlarang membaca cerita yang tidak mengandung hal-hal ini dengan pertimbangan yang disebutkan dalam pertanyaan ini. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ [وَلَا حَرَجَ]، فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمُ الأَعَاجِيبُ: إِنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ خَرَجُوا يَمْشُونَ فِي الْأَرْضِ وَيَذْكُرُونَ، حَتَّى مَرُّوا عَلَى مَقْبَرَةٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: «تَعَالَوْا نَدْعُ اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ، نَسْأَلْهُ عَنِ الْمَوْتِ»، فَدَعَوْا، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ رَجُلٌ خِلَاسِيٌّ: بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَقَالَ: «يَا قَوْمُ، مَا أَرَدْتُمْ إِلَيَّ، لَقَدْ رَكِبْتُمْ مِنِّي أَمْرًا عَظِيمًا»، قَالُوا: «دَعَوْنَا اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ لَنَا رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْقُبُورِ نَسْأَلْهُ عَنْ طَعْمِ الْمَوْتِ كَيْفَ هُوَ؟» فَقَالَ: «لَقَدْ وَجَدْتُ طَعْمَ الْمَوْتِ ـ قَالَ الرَّبِيعُ: أَوْ حَرَّ الْمَوْتِ ـ مِائَةَ عَامٍ، فَدَعَوْتُمُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ سَكَنَ عَنِّي، فَادْعُوا اللَّهَ أَنْ يُعِيدَنِي كَمَا كُنْتُ»، فَدَعَوُا اللَّهَ فَأَعَادَهُ“Ceritakanlah (riwayat) dari Bani Israil (tidak mengapa), karena terdapat mukjizat-mukjizat pada mereka. Sejumlah orang dari Bani Israil pergi berjalan di muka bumi sambil berzikir. Kemudian mereka melewati sebuah kuburan. Lalu sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Mari kita berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini, agar kita dapat bertanya kepadanya tentang kematian.’ Mereka berdoa, lalu keluarlah seorang pria yang mempunyai tanda-tanda sujud di antara kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai kaum, apa yang kalian ingin tanyakan kepadaku? Sungguh, kalian telah menempatkan diri dalam suatu urusan yang besar.’ Mereka berkata, ‘Kami berdoa kepada Allah agar Dia mengeluarkan bagi kita seorang pria dari penghuni kubur ini agar kami bisa bertanya kepadanya bagaimana rasanya mati.’ Dia berkata, ‘Aku telah merasakan rasa kematian (Al-Rabi’ berkata, ‘atau panasnya kematian’) selama seratus tahun. Dan kalian berdoa kepada Allah yang Mahaperkasa, sementara Dia telah memberiku istirahat. Maka, berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikanku seperti semula.’ Mereka berdoa kepada Allah, lalu Dia mengembalikannya.” [1]Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami duduk-duduk dan menulis apa yang kami dengar dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang dan berkata, ‘Apa yang kalian tulis ini?’ Kami menjawab, ‘Kami menulis apa yang kami dengar dari Engkau.’ Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?!’ Kami, menjawab, ‘Tidak ada.” Beliau bersabda, ‘Apakah ada kitab (suci), selain Al-Qur’an?! Murnikan Al-Qur’an dan murnikan!'”Dia (Abu Hurairah) berkata, “Lalu, kami kumpulkan apa yang telah kami tulis pada satu tempat, kemudian kami bakar dengan api. Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami membicarakan (hadis) darimu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah hadis dariku, tidak ada masalah. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, hendaklah dia menempati tempatnya di neraka.’ Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami boleh berbicara (cerita) dari Bani Israil?’ Beliau menjawab, ‘Ya, berbicaralah (cerita) dari Bani Israil, tidak ada masalah. Karena kalian tidak akan berbicara (cerita) dari mereka, kecuali akan ada hal yang lebih menakjubkan dari mereka.'” [2]Hadis ini menunjukkan bahwa keistimewaan dan keajaiban boleh didengar dan diceritakan secara mutlak. Baik itu berasal dari imajinasi atau bukan, yaitu ada yang semisal di alam nyata. Tidak ada penyebaran kebatilan atau kefasikan. Baik itu disampaikan oleh manusia, binatang[3], melalui kata-kata, atau permisalan. Selama informasi tersebut diketahui oleh pembaca. Dalam membacanya, pembaca bermaksud untuk mencapai tujuan yang boleh atau tujuan yang baik dari penggunaan perumpamaan untuk pengajaran, nasihat untuk perilaku dan pendidikan, menanamkan kebajikan, serta menampakkan akhlak, seperti kesabaran, kehormatan, dan keberanian.Mereka berdalil atas kebolehan hal itu dengan firman Allah Ta’ala,وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ٱلۡمِحۡرَابَ“Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?” (QS. Sad: 21)Di dalamnya terdapat penjelasan tentang cara berdebat, bertengkar, dan mengadili yang dilakukan oleh dua malaikat kepada Daud, bahwa dia tidak boleh memutuskan hingga mendengar kedua pihak yang bersengketa bersama-sama. Hal ini dikarenakan malaikat tidak memiliki kepemilikan atas domba-domba tersebut, tidak ada permusuhan atau pertikaian antara mereka. Mereka hanya menyebutkan hal itu kepada Daud sebagai contoh dan peringatan tentang keputusan dalam kasus ini. As-Sa’di rahimahullah berkata, ‘Daud mengira ketika ia memutuskan di antara mereka bahwa kami mengujinya, yakni kami mengujinya dan mengajarkannya menggunakan permisalan ini agar dapat diambil pelajaran.'”[4]Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Takhayul?Dalam hal ini, terdapat fatwa dari Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Beberapa penulis menyusun cerita-cerita dengan makna dan gaya yang menarik yang dapat berdampak pada jiwa para pembaca. Akan tetapi, cerita-cerita tersebut merupakan khayalan. Bagaimanakah hukumnya?”Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak ada masalah, jika cerita-cerita tersebut dapat menyelesaikan masalah-masalah agama, moral, atau sosial. Karena menggunakan perumpamaan dengan cerita-cerita yang dibuat bukan berdasarkan kenyataan, tidak masalah. Bahkan, beberapa ulama telah menyebutkan hal itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang bukanlah kisah nyata. Namun, Allah menggunakan contoh tersebut sebagai perumpamaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ أَيۡنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأۡتِ بِخَيۡرٍ هَلۡ يَسۡتَوِي هُوَ وَمَن يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ“Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban penanggungnya, ke mana saja dia disuruh (oleh penanggungnya itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Apakah sama orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat adil dan dia berada di jalan yang lurus?” (QS. An-Nahl: 76)Saya tidak melihat ada masalah dalam hal ini karena tujuannya adalah sebagai peringatan. Akan tetapi, jika seseorang memiliki pengetahuan dari Al-Qur’an dan hadis, kemudian menyajikan ayat-ayat yang mengatasi masalah dan menjelaskannya serta menunjukkan contoh-contoh yang relevan, itu adalah hal yang baik. Demikian pula, jika seseorang menyebutkan hadis-hadis dan menjelaskannya serta memberikan contoh-contoh yang relevan, itu tentu lebih baik tanpa ada keraguan.[5]Jenis kedua: Membaca cerita fiksi dan non-fiksi yang tidak mencapai tujuan syar’i ini, bahkan bertentangan dengannya, membawa konsekuensi kerusakan dan keburukan yang tidak diragukan lagi, membuka peluang bagi imajinasi dan ide-ide buruk dalam hal kejahatan, memicu dorongan-dorongan dan membangkitkan nafsu, atau memberi ruang bagi makna-makna syirik dan pengaruh-pengaruh yang menentang agama. Atau cerita-cerita fiksi ini mendorong kedustaan, fitnah, dan kebohongan, atau mengandung sindiran atau ejekan terhadap agama Allah yang hanif, hukum-hukum-Nya, sunah-sunah-Nya, dan adab-adab-Nya. Atau meremehkan seseorang, mencelanya, atau berbicara buruk tentangnya, dan sejenisnya yang pada umumnya merugikan dan tidak memberi manfaat pada agama maupun dunia. Maka, saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal pengharaman dan pelarangannya.Pertama-tama, menurut pendapat saya, penting untuk berhati-hati dan menghindari cerita-cerita fiksi yang disampaikan yang tidak memiliki dasar yang jelas atau tidak ada kenyataannya dalam kehidupan. Karena (meskipun untuk tujuan yang baik), tidak dapat terbebas dari kerusakan, keraguan, dan kebohongan. Ataupun mengandung pemikiran yang menyimpang, ajakan kepada kejahatan, melanggar nash-nash wahyu, atau membawa pembaca kepada keyakinan yang sesat, atau membuka pintu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat bagi pembaca, serta tidak ada manfaat untuk dunia dan akhiratnya.Terutama jika tulisan-tulisan tersebut berasal dari penulis-penulis Barat atau terpengaruh oleh budaya Barat. Sebagian besarnya (jika tidak bisa saya katakan semuanya) terdapat keburukan dan mafsadah ini. Meskipun mereka mengatasnamakan seni dan sastra, maka sebutan (nama) itu tidaklah merubah hakikat.Meskipun mereka memasukkan ke dalam ilmu sastra yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dan universitas, maka sesungguhnya hal itu tidak dapat mengubah hakikat syar’i-nya. Kita harus ingat bahwa Allah Ta’ala telah melarang segala keburukan lisan, seperti berbohong, memberikan kesaksian palsu, dan menuduh orang dengan tuduhan batil yang tidak diketahui kebenarannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ“Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra: 36)Bahkan, Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat jujur melalui firman-Nya,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)Allah Ta’ala berfirman,فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ , طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ‌ۚ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ“Kecelakaanlah bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 20 – 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan nilai kebenaran dan keharaman kebohongan. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا؛ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Seseorang terus-menerus jujur dan berusaha untuk menjadi orang yang jujur, hingga dia dicatat di hadapan Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah kebohongan, karena kebohongan akan membimbing menuju kefasikan, dan kefasikan akan membimbing menuju neraka. Seseorang terus-menerus berdusta dan berusaha untuk menjadi orang yang berdusta, hingga dia dicatat oleh Allah sebagai pendusta”.[6]Dan dari Mu’awiyah bin Haidah, semoga Allah meridainya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi orang yang berbicara dengan berdusta agar dia dapat membuat orang-orang tertawa, celakalah baginya, celakalah baginya.”[7]Dalam konteks ini, para salaf memperingatkan tentang para pembawa cerita karena mereka pada umumnya tidak berusaha untuk berbicara dengan kejujuran dan tidak berdasarkan dalil yang sahih (bukti yang valid). Mereka hanya mengandalkan cerita-cerita dan nukilan-nukilan yang tidak sahih serta berita-berita tanpa dasar.Tujuan mereka adalah untuk mengingatkan orang-orang dan mendorong mereka menuju kebaikan serta menakut-nakuti mereka dari kejahatan. Mereka menggunakan kisah-kisah sebagai alat pengajaran. Namun, mereka menempuh jalan yang salah dengan berbohong dan menjerumuskan orang-orang dalam kebohongan.Dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika dia memasuki Basrah, ia mengusir para pembawa cerita dan pengkhotbah dari masjid. Ketika mereka mendekati majelis Hasan Al-Basri, mereka tinggalkan karena mereka mendengar pengajaran yang benar dan berdasarkan ilmu.Imam Ahmad rahimahullah, berkata, “Orang-orang sangat membutuhkan seorang pencerita yang jujur.”[8]Dan Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Pada zaman dahulu, para pembicara adalah ulama yang faqih (paham agama). ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Ubaid bin ‘Umair. Umar bin Abdul Aziz menghadiri majelis seorang pencerita. Kemudian perbuatan salah ini terlihat oleh orang-orang bodoh. Orang-orang istimewa menjauhi hadir di majelis mereka. Sedangkan orang awam dan para wanita tertarik dengan mereka. Mereka tidak disibukkan mencari ilmu, tetapi lebih tertarik pada cerita. Alangkah mengherankan sebuah kebodohan. Bid’ah pun bermacam-macam dalam bidang ini.”[9]Ketahuilah bahwa hal itu dapat diganti dengan membaca kisah-kisah Al-Qur’an yang bermanfaat dari kisah-kisah para nabi, orang-orang saleh, dan orang lainnya, serta apa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berupa hadis sahih, serta menjauhi hadis dusta, lemah, atau palsu. Karena hal itu memiliki dampak besar dalam mempertajam semangat dan memperkuat tekad. Dengan mengambil pelajaran dan nasihat dari ulama rabbani, atau siapa yang memiliki ilmu sesuat batas pengetahuan yang dimiliki dan tidak melampauinya, bukan diambil dari ahli sastra pemikir yang tidak memiliki ilmu syar’i.Ini adalah tentang novel fiksi secara umum. Sedangkan untuk novel-novel detektif, maka hukumnya tetap terlarang. Karena adanya mafsadah kebohongan, ditambah dengan kerusakan lain seperti menyembunyikan fakta, dan menampilkan penjahat sebagai pahlawan, mengajarkan orang-orang cara melakukan kejahatan dan jalan-jalan kejahatan, serta mempercantik kebatilan dan keharaman dengan citra kecerdasan, yang sebenarnya adalah tipu muslihat, penipuan, kecurangan, pemalsuan, dan sejenisnya dari jenis-jenis kebatilan dan kerusakan.Ini hanya dalam membaca novel. Sedangkan novel yang diilustrasikan (digambarkan) atau dipentaskan, maka kerusakannya lebih besar. Terutama jika ada peran untuk nabi-nabi dan sahabat, atau peran pelaku maksiat, peran imam-imam dan orang-orang saleh, atau peran wanita bahkan jika mereka berpakaian dengan jilbab syar’i, atau penggambaran adegan-adegan kefasikan, menyembah berhala, dan mengucapkan lafaz kekafiran tanpa menggunakan cerita, dengan dalih bahwa aktor tersebut memerankan peran Abu Jahal dan hal-hal berbahaya lainnya.Dan pengetahuan itu hanyalah milik Allah Yang Mahatinggi, dan doa terakhir kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah Ta’ala memberikan selawat kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang mengikutinya hingga hari pembalasan. Semoga keselamatan tetap tercurah kepadanya.Baca juga: Da’i Tukang Dongeng***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1330Catatan kaki:[1] HR. Wakilah bin Al-Jarrah dalam “Az-Zuhd” (56), Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Adab” (206) dan “Musannaf” (26486), Ahmad dalam “Az-Zuhd” (88), Abdul bin Humaid dalam “Musnad” (1156), Ibnu Abi Ad-Dunya dalam “Man Aasha Ba’da Al-Maut” (58), Tammaam Ar-Razi dalam “Fawaiduhu” (229), Abu Sa’id An-Naqqaash dalam “Funoon Al-‘Aja’ib” (17, 18), dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam “Al-Jami ‘li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’” (1349), dari hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Beberapa di antaranya mengutip kisah seorang pria yang dihidupkan Allah setelah kematiannya. Abdullah bin Abi Dawud dalam “Al-Ba’s” (5) hanya memuat kisah tersebut, dan hadis ini dianggap sahih oleh Al-Albani dalam “As-Silsilah As-Sahihah” (2926).[2] “HR. Ahmad dalam ‘Musnad‘ (11092) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Para penyelidik edisi risalah (17/157) mengatakan: ‘Hadis ini sahih, dan sanadnya lemah karena kelemahan Abdul Rahman bin Zaid, yaitu Ibnu Aslam Al-‘Adawi, sedangkan sisa perawinya adalah tsiqah (tepercaya) perawi dalam hadis sahih.’ Al-Haitsami berkata: ‘Hadis ini terdapat dalam sahih secara ringkas dan juga di luar konteks ini.’ [Lihat: ‘Ghayatul Maqsad fi Zawaid Al-Musnad‘ (215) dan ‘Majma’ Al-Zawa’id‘ (672)]. Dan konteksnya dalam sahih dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash di hadis Bukhari dengan lafaz, ‘Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak apa-apa, dan barangsiapa yang berdusta kepadaku secara sengaja, maka ia harus menyiapkan tempat duduknya di Neraka’ dalam ‘Ahadits Al-Anbiya‘ dalam bab yang disebutkan tentang Bani Israil.”[3] Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Maidani dalam “Majma Al-Amthal” (1/25).”[4] Lihat Kitab Tafsir As-Sa’di (711).[5] Fatawa Noor ‘Ala Ad-Darb” oleh Ibnu Utsaimin (24/2).[6] Muttafaqun ‘alaihi. Riwayat ini disebutkan oleh Bukhari dalam “Al-Adab“, dalam bab tentang firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (Surah At-Taubah, ayat 119) dan larangan terhadap berdusta (6094). Muslim juga meriwayatkannya dalam “Al-Birr wa As-Silah wa Al-Adab” (2606, 2607) dari hadis Ibnu Mas’ud (semoga Allah meridainya).[7] “HR. Abu Dawud dalam “Al-Adab” bab tentang Tasydiid Fil Kadzib (4990), dan At-Tirmidzi dalam “Az-Zuhd” bab tentang Fii Man Takallama Liyudhhiku bihi An-Naas (2315), dari hadis Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairi, radhiiallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami” (7136).”[8] Lihat Kitab “Talbis Iblis” karya Ibn Al-Jauzi (111).[9] IbidTags: cerita fiksiFatwa Ulamakhayalan

Hakikat Iman Menurut Manhaj Ahli Sunah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleAliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Bantahan syubhatnya Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Bantahan syubhatKesimpulanBismillah. Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Aliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Mereka berlebihan dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar di bawah kekafiran. Hukum di dunia menurut mereka adalah keluar dari keimanan. Artinya, menurut mereka, pelaku dosa besar itu tidak dinamakan mukmin. Menurut al-khawarij, hukumnya kafir. Sedangkan menurut muktazilah, hukumnya tidak mukmin dan juga tidak kafir (al-manzilah bainalmanzilataini = suatu kedudukan di antara dua kedudukan). Adapun di akhirat, menurut keduanya hukumnya kekal di neraka.Bantahan syubhatnyaQS. Al-Baqarah: 178Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian (melaksanakan) qishas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula).”Dalam ayat ini, hakikatnya adalah Allah menempatkan pembunuh sebagai saudara seiman. Padahal pembunuhan adalah dosa besar, namun tidak menyebabkan hilangnya ukhuwwah imaniyyah.QS. Al-Hujuraat: 9-10وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ“Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.”Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang saling berperang dari kalangan kaum beriman itu sebagai “mukminin”. Padahal memerangi kaum mukminin tanpa alasan yang hak adalah dosa besar, namun tetap tidak menyebabkan hilangnya iman.QS. An-Nisa`: 92وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَـًٔا ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَـًٔا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا“Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga si terbunuh) membebaskan pembayaran.”Ayat ini berisikan tentang kafarat (denda tebusan) memerdekakan budak mukmin. Berdasarkan ayat di atas, jika ada seseorang yang terkena bayar kafarat membunuh, lalu dia memerdekakan budak yang mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka sah kafaratnya menurut kesepakatan ulama, karena masuk dalam cakupan makna ayat ini. Artinya, berdasarkan ayat ini seorang budak mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka kefasikannya (dosa besarnya) tidak menyebabkan keluar dari keimanan.Baca juga: Iman Itu Bertambah dan Berkurang Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Mereka teledor dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar. Mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar itu sempurna keimanannya, sama seperti orang yang sempurna ketaatannya. Karena menurut mereka, keimanan itu tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak berkurang dengan maksiat jika dosanya tidak sampai kekafiran.Bantahan syubhatQS. Al-Anfal: 2اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Di dalam ayat ini terdapat pembatasan iman yang sempurna. Ada pada orang yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam ayat tersebut, berarti pelaku dosa besar, sedangkan (fasik) tidaklah termasuk mukminin yang sempurna imannya. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang muttafaqun ‘alaih,Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ“Tidak akan berzina seorang pezina, sedang dia dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Demikian juga, peminum khamar, tidak akan minum khamar dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Seorang pencuri, tidak akan mencuri dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Tidak pula merampas suatu barang yang memiliki kemuliaan yang manusia mengangkat pandangan mereka padanya ketika dia merampasnya dalam keadaan beriman (dengan sempurna).”Hadis ini mengabarkan tentang orang yang sedang berzina, mabuk, mencuri, dan merampas barang yang berharga. Ditiadakan keimanan yang sempurna pada diri mereka. Berarti, keimanan antara orang yang sempurna imannya dengan pelaku dosa besar itu tidaklah sama. Pelaku dosa besar itu orang yang kurang sempurna imannya serta menunjukkan pula iman itu bisa berkurang dengan dosa besar.KesimpulanKeyakinan yang benar, yaitu keyakinan ahli sunah waljamaah yang berada di tengah-tengah antara melampui batasan syariat (ifrath) dan mengurangi batasan syariat (tafrith). Ahli sunah waljamaah meyakini bahwa pelaku dosa besar di dunia itu berkurang keimanannya dan fasik, namun masih muslim dan tidak kafir. Sedangkan di akhirat, tergantung kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, maka Dia mengampuninya. Jika tidak, Dia akan mengazabnya di neraka, namun tidak kekal di neraka. Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 1: Hakikat Iman Menurut Manhaj Ahli Sunah (Bag. 1)***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: aliran sesatimanSyubhat

Hakikat Iman Menurut Manhaj Ahli Sunah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleAliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Bantahan syubhatnya Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Bantahan syubhatKesimpulanBismillah. Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Aliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Mereka berlebihan dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar di bawah kekafiran. Hukum di dunia menurut mereka adalah keluar dari keimanan. Artinya, menurut mereka, pelaku dosa besar itu tidak dinamakan mukmin. Menurut al-khawarij, hukumnya kafir. Sedangkan menurut muktazilah, hukumnya tidak mukmin dan juga tidak kafir (al-manzilah bainalmanzilataini = suatu kedudukan di antara dua kedudukan). Adapun di akhirat, menurut keduanya hukumnya kekal di neraka.Bantahan syubhatnyaQS. Al-Baqarah: 178Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian (melaksanakan) qishas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula).”Dalam ayat ini, hakikatnya adalah Allah menempatkan pembunuh sebagai saudara seiman. Padahal pembunuhan adalah dosa besar, namun tidak menyebabkan hilangnya ukhuwwah imaniyyah.QS. Al-Hujuraat: 9-10وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ“Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.”Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang saling berperang dari kalangan kaum beriman itu sebagai “mukminin”. Padahal memerangi kaum mukminin tanpa alasan yang hak adalah dosa besar, namun tetap tidak menyebabkan hilangnya iman.QS. An-Nisa`: 92وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَـًٔا ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَـًٔا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا“Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga si terbunuh) membebaskan pembayaran.”Ayat ini berisikan tentang kafarat (denda tebusan) memerdekakan budak mukmin. Berdasarkan ayat di atas, jika ada seseorang yang terkena bayar kafarat membunuh, lalu dia memerdekakan budak yang mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka sah kafaratnya menurut kesepakatan ulama, karena masuk dalam cakupan makna ayat ini. Artinya, berdasarkan ayat ini seorang budak mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka kefasikannya (dosa besarnya) tidak menyebabkan keluar dari keimanan.Baca juga: Iman Itu Bertambah dan Berkurang Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Mereka teledor dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar. Mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar itu sempurna keimanannya, sama seperti orang yang sempurna ketaatannya. Karena menurut mereka, keimanan itu tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak berkurang dengan maksiat jika dosanya tidak sampai kekafiran.Bantahan syubhatQS. Al-Anfal: 2اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Di dalam ayat ini terdapat pembatasan iman yang sempurna. Ada pada orang yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam ayat tersebut, berarti pelaku dosa besar, sedangkan (fasik) tidaklah termasuk mukminin yang sempurna imannya. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang muttafaqun ‘alaih,Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ“Tidak akan berzina seorang pezina, sedang dia dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Demikian juga, peminum khamar, tidak akan minum khamar dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Seorang pencuri, tidak akan mencuri dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Tidak pula merampas suatu barang yang memiliki kemuliaan yang manusia mengangkat pandangan mereka padanya ketika dia merampasnya dalam keadaan beriman (dengan sempurna).”Hadis ini mengabarkan tentang orang yang sedang berzina, mabuk, mencuri, dan merampas barang yang berharga. Ditiadakan keimanan yang sempurna pada diri mereka. Berarti, keimanan antara orang yang sempurna imannya dengan pelaku dosa besar itu tidaklah sama. Pelaku dosa besar itu orang yang kurang sempurna imannya serta menunjukkan pula iman itu bisa berkurang dengan dosa besar.KesimpulanKeyakinan yang benar, yaitu keyakinan ahli sunah waljamaah yang berada di tengah-tengah antara melampui batasan syariat (ifrath) dan mengurangi batasan syariat (tafrith). Ahli sunah waljamaah meyakini bahwa pelaku dosa besar di dunia itu berkurang keimanannya dan fasik, namun masih muslim dan tidak kafir. Sedangkan di akhirat, tergantung kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, maka Dia mengampuninya. Jika tidak, Dia akan mengazabnya di neraka, namun tidak kekal di neraka. Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 1: Hakikat Iman Menurut Manhaj Ahli Sunah (Bag. 1)***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: aliran sesatimanSyubhat
Daftar Isi ToggleAliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Bantahan syubhatnya Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Bantahan syubhatKesimpulanBismillah. Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Aliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Mereka berlebihan dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar di bawah kekafiran. Hukum di dunia menurut mereka adalah keluar dari keimanan. Artinya, menurut mereka, pelaku dosa besar itu tidak dinamakan mukmin. Menurut al-khawarij, hukumnya kafir. Sedangkan menurut muktazilah, hukumnya tidak mukmin dan juga tidak kafir (al-manzilah bainalmanzilataini = suatu kedudukan di antara dua kedudukan). Adapun di akhirat, menurut keduanya hukumnya kekal di neraka.Bantahan syubhatnyaQS. Al-Baqarah: 178Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian (melaksanakan) qishas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula).”Dalam ayat ini, hakikatnya adalah Allah menempatkan pembunuh sebagai saudara seiman. Padahal pembunuhan adalah dosa besar, namun tidak menyebabkan hilangnya ukhuwwah imaniyyah.QS. Al-Hujuraat: 9-10وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ“Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.”Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang saling berperang dari kalangan kaum beriman itu sebagai “mukminin”. Padahal memerangi kaum mukminin tanpa alasan yang hak adalah dosa besar, namun tetap tidak menyebabkan hilangnya iman.QS. An-Nisa`: 92وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَـًٔا ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَـًٔا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا“Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga si terbunuh) membebaskan pembayaran.”Ayat ini berisikan tentang kafarat (denda tebusan) memerdekakan budak mukmin. Berdasarkan ayat di atas, jika ada seseorang yang terkena bayar kafarat membunuh, lalu dia memerdekakan budak yang mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka sah kafaratnya menurut kesepakatan ulama, karena masuk dalam cakupan makna ayat ini. Artinya, berdasarkan ayat ini seorang budak mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka kefasikannya (dosa besarnya) tidak menyebabkan keluar dari keimanan.Baca juga: Iman Itu Bertambah dan Berkurang Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Mereka teledor dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar. Mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar itu sempurna keimanannya, sama seperti orang yang sempurna ketaatannya. Karena menurut mereka, keimanan itu tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak berkurang dengan maksiat jika dosanya tidak sampai kekafiran.Bantahan syubhatQS. Al-Anfal: 2اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Di dalam ayat ini terdapat pembatasan iman yang sempurna. Ada pada orang yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam ayat tersebut, berarti pelaku dosa besar, sedangkan (fasik) tidaklah termasuk mukminin yang sempurna imannya. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang muttafaqun ‘alaih,Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ“Tidak akan berzina seorang pezina, sedang dia dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Demikian juga, peminum khamar, tidak akan minum khamar dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Seorang pencuri, tidak akan mencuri dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Tidak pula merampas suatu barang yang memiliki kemuliaan yang manusia mengangkat pandangan mereka padanya ketika dia merampasnya dalam keadaan beriman (dengan sempurna).”Hadis ini mengabarkan tentang orang yang sedang berzina, mabuk, mencuri, dan merampas barang yang berharga. Ditiadakan keimanan yang sempurna pada diri mereka. Berarti, keimanan antara orang yang sempurna imannya dengan pelaku dosa besar itu tidaklah sama. Pelaku dosa besar itu orang yang kurang sempurna imannya serta menunjukkan pula iman itu bisa berkurang dengan dosa besar.KesimpulanKeyakinan yang benar, yaitu keyakinan ahli sunah waljamaah yang berada di tengah-tengah antara melampui batasan syariat (ifrath) dan mengurangi batasan syariat (tafrith). Ahli sunah waljamaah meyakini bahwa pelaku dosa besar di dunia itu berkurang keimanannya dan fasik, namun masih muslim dan tidak kafir. Sedangkan di akhirat, tergantung kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, maka Dia mengampuninya. Jika tidak, Dia akan mengazabnya di neraka, namun tidak kekal di neraka. Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 1: Hakikat Iman Menurut Manhaj Ahli Sunah (Bag. 1)***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: aliran sesatimanSyubhat


Daftar Isi ToggleAliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Bantahan syubhatnya Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Bantahan syubhatKesimpulanBismillah. Walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Aliran yang sesat dalam masalah iman dan bantahannyaKhawarij dan muktazilah (ahlul-ifrath = kelompok yang melampui batasan syariat)Mereka berlebihan dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar di bawah kekafiran. Hukum di dunia menurut mereka adalah keluar dari keimanan. Artinya, menurut mereka, pelaku dosa besar itu tidak dinamakan mukmin. Menurut al-khawarij, hukumnya kafir. Sedangkan menurut muktazilah, hukumnya tidak mukmin dan juga tidak kafir (al-manzilah bainalmanzilataini = suatu kedudukan di antara dua kedudukan). Adapun di akhirat, menurut keduanya hukumnya kekal di neraka.Bantahan syubhatnyaQS. Al-Baqarah: 178Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian (melaksanakan) qishas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula).”Dalam ayat ini, hakikatnya adalah Allah menempatkan pembunuh sebagai saudara seiman. Padahal pembunuhan adalah dosa besar, namun tidak menyebabkan hilangnya ukhuwwah imaniyyah.QS. Al-Hujuraat: 9-10وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ“Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.”Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang saling berperang dari kalangan kaum beriman itu sebagai “mukminin”. Padahal memerangi kaum mukminin tanpa alasan yang hak adalah dosa besar, namun tetap tidak menyebabkan hilangnya iman.QS. An-Nisa`: 92وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَـًٔا ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَـًٔا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا“Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga si terbunuh) membebaskan pembayaran.”Ayat ini berisikan tentang kafarat (denda tebusan) memerdekakan budak mukmin. Berdasarkan ayat di atas, jika ada seseorang yang terkena bayar kafarat membunuh, lalu dia memerdekakan budak yang mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka sah kafaratnya menurut kesepakatan ulama, karena masuk dalam cakupan makna ayat ini. Artinya, berdasarkan ayat ini seorang budak mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), maka kefasikannya (dosa besarnya) tidak menyebabkan keluar dari keimanan.Baca juga: Iman Itu Bertambah dan Berkurang Murji’ah (ahlut-tafrith = kelompok yang mengurangi batasan syariat)Mereka teledor dalam menyatakan hukum atas pelaku dosa besar. Mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar itu sempurna keimanannya, sama seperti orang yang sempurna ketaatannya. Karena menurut mereka, keimanan itu tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak berkurang dengan maksiat jika dosanya tidak sampai kekafiran.Bantahan syubhatQS. Al-Anfal: 2اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”Di dalam ayat ini terdapat pembatasan iman yang sempurna. Ada pada orang yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam ayat tersebut, berarti pelaku dosa besar, sedangkan (fasik) tidaklah termasuk mukminin yang sempurna imannya. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang muttafaqun ‘alaih,Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ“Tidak akan berzina seorang pezina, sedang dia dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Demikian juga, peminum khamar, tidak akan minum khamar dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Seorang pencuri, tidak akan mencuri dalam keadaan beriman (dengan sempurna). Tidak pula merampas suatu barang yang memiliki kemuliaan yang manusia mengangkat pandangan mereka padanya ketika dia merampasnya dalam keadaan beriman (dengan sempurna).”Hadis ini mengabarkan tentang orang yang sedang berzina, mabuk, mencuri, dan merampas barang yang berharga. Ditiadakan keimanan yang sempurna pada diri mereka. Berarti, keimanan antara orang yang sempurna imannya dengan pelaku dosa besar itu tidaklah sama. Pelaku dosa besar itu orang yang kurang sempurna imannya serta menunjukkan pula iman itu bisa berkurang dengan dosa besar.KesimpulanKeyakinan yang benar, yaitu keyakinan ahli sunah waljamaah yang berada di tengah-tengah antara melampui batasan syariat (ifrath) dan mengurangi batasan syariat (tafrith). Ahli sunah waljamaah meyakini bahwa pelaku dosa besar di dunia itu berkurang keimanannya dan fasik, namun masih muslim dan tidak kafir. Sedangkan di akhirat, tergantung kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, maka Dia mengampuninya. Jika tidak, Dia akan mengazabnya di neraka, namun tidak kekal di neraka. Wallahu Ta’ala a’lam.[Selesai]Kembali ke bagian 1: Hakikat Iman Menurut Manhaj Ahli Sunah (Bag. 1)***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.idTags: aliran sesatimanSyubhat

Komitmen Islam dalam Pelestarian Lingkungan

Daftar Isi TogglePandangan Islam tentang lingkunganPengelolaan sumber daya alamBerbuat baik terhadap hewanMenjaga kebersihan dan melakukan daur ulangKesadaran dan edukasi lingkunganIslam adalah agama yang diikuti oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Islam memiliki landasan ajaran yang kaya tentang menjaga lingkungan. Keyakinan utama dalam agama Islam adalah keimanan kepada Allah Ta’ala sebagai pencipta alam semesta. Dalam pandangan Islam, alam semesta ini adalah tanda kebesaran Allah. Dan sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban moral dan etis untuk menjaga dan melindungi lingkungan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ“Sesungguhnya, di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Komitmen Islam terhadap pelestarian lingkungan terbukti dalam berbagai aspek. Dalam ajaran Islam, pelestarian lingkungan dianggap sebagai kewajiban bagi umat muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعٌ يَجْرِي لِلعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَ هُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لََهُ بَعْدَ مَوْتِهِ .“Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Al-Majruhaini 2: 181)[1]Pandangan Islam tentang lingkunganDalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, terdapat banyak ayat yang menekankan pentingnya menjaga alam semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya. Allah menciptakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sempurna, dan umat Muslim diperintahkan untuk bertindak sebagai khalifah (pengganti) di bumi ini. Hal ini berarti kita bertanggung jawab untuk merawat, memelihara, dan melindungi ciptaan Allah yang indah ini.Lingkungan alam merupakan karunia Allah yang harus dijaga, dilestarikan, dan dihormati. Pandangan Islam terhadap lingkungan sangatlah positif, mengingatkan umat muslim untuk bertindak sebagai khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan segala isinya. Allah Ta’ala berfirman,كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ“Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 60)Pengelolaan sumber daya alamKita diajarkan untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Air, tanah, hutan, dan segala bentuk kehidupan di dalamnya merupakan anugerah Allah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab. Umat muslim diajarkan untuk tidak berlebihan dalam penggunaan sumber daya alam, menghindari pemborosan, dan melakukan praktik-praktik yang dapat merusak lingkungan.Pengelolaan sumber daya alam dalam Islam didasarkan pada prinsip-prinsip yang tercantum dalam ajaran agama Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan semua makhluk di dalamnya. Oleh karena itu, Islam mengatur bagaimana sumber daya alam harus dikelola dengan bijaksana dan berkelanjutan. Karena Allah Ta’ala menciptakan bumi ini dengan segala isinya adalah untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)Baca juga: Ajaran yang Lebih Sempurna daripada StoikismeBerbuat baik terhadap hewanSebagai seorang muslim, kita semestinya juga memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadap hewan. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam memperlakukan hewan dengan baik. Hewan-hewan memiliki hak-haknya sendiri dalam pandangan Islam. Dan kekejaman terhadap hewan dikecam. Umat muslim dianjurkan untuk memelihara hewan dengan baik, memberikan mereka makanan yang cukup, dan tidak menyiksa mereka.Berbuat baik terhadap hewan sangat ditekankan dan dianggap sebagai tindakan yang sangat mulia. Agama Islam mengajarkan perlakuan yang baik dan kasih sayang terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan-hewan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”  (HR. Muslim no. 1955, Bab “Perintah untuk Berbuat Baik ketika Menyembelih dan Membunuh dan Perintah untuk Menajamkan Pisau”)Menjaga kebersihan dan melakukan daur ulangSelain itu, kita pun seharusnya tergerak untuk senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan alam. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri, rumah, dan lingkungan sekitar. Umat muslim diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengelola limbah dengan baik, dan mendaur ulang bahan-bahan yang bisa didaur ulang. Semua ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah polusi.Menjaga kebersihan dan daur ulang adalah prinsip-prinsip penting yang mendorong umat muslim untuk menjadi pelindung lingkungan. Agama Islam mengajarkan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala dan manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kesadaran dan edukasi lingkunganAgar komitmen menjaga lingkungan dapat tumbuh dan berkembang, penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi di kalangan umat muslim. Pemahaman akan ajaran Islam yang berkaitan dengan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas. Melalui pengajaran dan penekanan pada pentingnya menjaga lingkungan kepada generasi muslim yang lebih muda, diharapkan kesadaran tersebut akan timbul. Merekalah yang akan bertindak sebagai agen perubahan untuk masa depan yang lebih baik.Dalam rangka menjaga lingkungan, kita selaku umat Islam dapat mengambil langkah-langkah praktis seperti mengurangi konsumsi energi, membuang sampah dengan benar, menghemat air, menggunakan energi terbarukan, dan mendukung kegiatan konservasi alam. Selain itu, institusi keagamaan seperti masjid dan lembaga pendidikan Islam juga dapat memainkan peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya lingkungan dan tindakan nyata yang dapat diambil untuk menjaganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan edukasi dan kesadaran kepada para sahabat juga menekankan bagaimana ganjaran pahala yang akan diperoleh jika kita ikut serta dalam melakukan upaya pelestarian lingkungan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ“Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.” (HR. Bukhâri no. 6012)Islam merupakan agama yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan. Kita adalah umat Islam yang memiliki tanggung jawab moral dan etis untuk menjaga keindahan dan keseimbangan alam semesta yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Melalui tindakan nyata seperti pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, perlindungan terhadap hewan, praktik kebersihan, dan pendidikan yang baik, kita wajib menghormati dan melindungi ciptaan Allah dan menjadi pelopor dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan visi yang sejalan dengan ajaran Islam dan mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi mendatang. Allahumma amin.Baca juga: Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disahihkan oleh Al-Albâni dalam Shahîh Al-Jâmi’ (no. 3602) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuTags: ajaran islamkewajiban seorang muslimmenjaga lingkungan

Komitmen Islam dalam Pelestarian Lingkungan

Daftar Isi TogglePandangan Islam tentang lingkunganPengelolaan sumber daya alamBerbuat baik terhadap hewanMenjaga kebersihan dan melakukan daur ulangKesadaran dan edukasi lingkunganIslam adalah agama yang diikuti oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Islam memiliki landasan ajaran yang kaya tentang menjaga lingkungan. Keyakinan utama dalam agama Islam adalah keimanan kepada Allah Ta’ala sebagai pencipta alam semesta. Dalam pandangan Islam, alam semesta ini adalah tanda kebesaran Allah. Dan sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban moral dan etis untuk menjaga dan melindungi lingkungan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ“Sesungguhnya, di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Komitmen Islam terhadap pelestarian lingkungan terbukti dalam berbagai aspek. Dalam ajaran Islam, pelestarian lingkungan dianggap sebagai kewajiban bagi umat muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعٌ يَجْرِي لِلعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَ هُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لََهُ بَعْدَ مَوْتِهِ .“Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Al-Majruhaini 2: 181)[1]Pandangan Islam tentang lingkunganDalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, terdapat banyak ayat yang menekankan pentingnya menjaga alam semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya. Allah menciptakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sempurna, dan umat Muslim diperintahkan untuk bertindak sebagai khalifah (pengganti) di bumi ini. Hal ini berarti kita bertanggung jawab untuk merawat, memelihara, dan melindungi ciptaan Allah yang indah ini.Lingkungan alam merupakan karunia Allah yang harus dijaga, dilestarikan, dan dihormati. Pandangan Islam terhadap lingkungan sangatlah positif, mengingatkan umat muslim untuk bertindak sebagai khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan segala isinya. Allah Ta’ala berfirman,كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ“Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 60)Pengelolaan sumber daya alamKita diajarkan untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Air, tanah, hutan, dan segala bentuk kehidupan di dalamnya merupakan anugerah Allah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab. Umat muslim diajarkan untuk tidak berlebihan dalam penggunaan sumber daya alam, menghindari pemborosan, dan melakukan praktik-praktik yang dapat merusak lingkungan.Pengelolaan sumber daya alam dalam Islam didasarkan pada prinsip-prinsip yang tercantum dalam ajaran agama Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan semua makhluk di dalamnya. Oleh karena itu, Islam mengatur bagaimana sumber daya alam harus dikelola dengan bijaksana dan berkelanjutan. Karena Allah Ta’ala menciptakan bumi ini dengan segala isinya adalah untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)Baca juga: Ajaran yang Lebih Sempurna daripada StoikismeBerbuat baik terhadap hewanSebagai seorang muslim, kita semestinya juga memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadap hewan. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam memperlakukan hewan dengan baik. Hewan-hewan memiliki hak-haknya sendiri dalam pandangan Islam. Dan kekejaman terhadap hewan dikecam. Umat muslim dianjurkan untuk memelihara hewan dengan baik, memberikan mereka makanan yang cukup, dan tidak menyiksa mereka.Berbuat baik terhadap hewan sangat ditekankan dan dianggap sebagai tindakan yang sangat mulia. Agama Islam mengajarkan perlakuan yang baik dan kasih sayang terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan-hewan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”  (HR. Muslim no. 1955, Bab “Perintah untuk Berbuat Baik ketika Menyembelih dan Membunuh dan Perintah untuk Menajamkan Pisau”)Menjaga kebersihan dan melakukan daur ulangSelain itu, kita pun seharusnya tergerak untuk senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan alam. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri, rumah, dan lingkungan sekitar. Umat muslim diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengelola limbah dengan baik, dan mendaur ulang bahan-bahan yang bisa didaur ulang. Semua ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah polusi.Menjaga kebersihan dan daur ulang adalah prinsip-prinsip penting yang mendorong umat muslim untuk menjadi pelindung lingkungan. Agama Islam mengajarkan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala dan manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kesadaran dan edukasi lingkunganAgar komitmen menjaga lingkungan dapat tumbuh dan berkembang, penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi di kalangan umat muslim. Pemahaman akan ajaran Islam yang berkaitan dengan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas. Melalui pengajaran dan penekanan pada pentingnya menjaga lingkungan kepada generasi muslim yang lebih muda, diharapkan kesadaran tersebut akan timbul. Merekalah yang akan bertindak sebagai agen perubahan untuk masa depan yang lebih baik.Dalam rangka menjaga lingkungan, kita selaku umat Islam dapat mengambil langkah-langkah praktis seperti mengurangi konsumsi energi, membuang sampah dengan benar, menghemat air, menggunakan energi terbarukan, dan mendukung kegiatan konservasi alam. Selain itu, institusi keagamaan seperti masjid dan lembaga pendidikan Islam juga dapat memainkan peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya lingkungan dan tindakan nyata yang dapat diambil untuk menjaganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan edukasi dan kesadaran kepada para sahabat juga menekankan bagaimana ganjaran pahala yang akan diperoleh jika kita ikut serta dalam melakukan upaya pelestarian lingkungan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ“Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.” (HR. Bukhâri no. 6012)Islam merupakan agama yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan. Kita adalah umat Islam yang memiliki tanggung jawab moral dan etis untuk menjaga keindahan dan keseimbangan alam semesta yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Melalui tindakan nyata seperti pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, perlindungan terhadap hewan, praktik kebersihan, dan pendidikan yang baik, kita wajib menghormati dan melindungi ciptaan Allah dan menjadi pelopor dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan visi yang sejalan dengan ajaran Islam dan mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi mendatang. Allahumma amin.Baca juga: Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disahihkan oleh Al-Albâni dalam Shahîh Al-Jâmi’ (no. 3602) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuTags: ajaran islamkewajiban seorang muslimmenjaga lingkungan
Daftar Isi TogglePandangan Islam tentang lingkunganPengelolaan sumber daya alamBerbuat baik terhadap hewanMenjaga kebersihan dan melakukan daur ulangKesadaran dan edukasi lingkunganIslam adalah agama yang diikuti oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Islam memiliki landasan ajaran yang kaya tentang menjaga lingkungan. Keyakinan utama dalam agama Islam adalah keimanan kepada Allah Ta’ala sebagai pencipta alam semesta. Dalam pandangan Islam, alam semesta ini adalah tanda kebesaran Allah. Dan sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban moral dan etis untuk menjaga dan melindungi lingkungan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ“Sesungguhnya, di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Komitmen Islam terhadap pelestarian lingkungan terbukti dalam berbagai aspek. Dalam ajaran Islam, pelestarian lingkungan dianggap sebagai kewajiban bagi umat muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعٌ يَجْرِي لِلعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَ هُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لََهُ بَعْدَ مَوْتِهِ .“Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Al-Majruhaini 2: 181)[1]Pandangan Islam tentang lingkunganDalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, terdapat banyak ayat yang menekankan pentingnya menjaga alam semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya. Allah menciptakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sempurna, dan umat Muslim diperintahkan untuk bertindak sebagai khalifah (pengganti) di bumi ini. Hal ini berarti kita bertanggung jawab untuk merawat, memelihara, dan melindungi ciptaan Allah yang indah ini.Lingkungan alam merupakan karunia Allah yang harus dijaga, dilestarikan, dan dihormati. Pandangan Islam terhadap lingkungan sangatlah positif, mengingatkan umat muslim untuk bertindak sebagai khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan segala isinya. Allah Ta’ala berfirman,كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ“Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 60)Pengelolaan sumber daya alamKita diajarkan untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Air, tanah, hutan, dan segala bentuk kehidupan di dalamnya merupakan anugerah Allah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab. Umat muslim diajarkan untuk tidak berlebihan dalam penggunaan sumber daya alam, menghindari pemborosan, dan melakukan praktik-praktik yang dapat merusak lingkungan.Pengelolaan sumber daya alam dalam Islam didasarkan pada prinsip-prinsip yang tercantum dalam ajaran agama Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan semua makhluk di dalamnya. Oleh karena itu, Islam mengatur bagaimana sumber daya alam harus dikelola dengan bijaksana dan berkelanjutan. Karena Allah Ta’ala menciptakan bumi ini dengan segala isinya adalah untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)Baca juga: Ajaran yang Lebih Sempurna daripada StoikismeBerbuat baik terhadap hewanSebagai seorang muslim, kita semestinya juga memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadap hewan. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam memperlakukan hewan dengan baik. Hewan-hewan memiliki hak-haknya sendiri dalam pandangan Islam. Dan kekejaman terhadap hewan dikecam. Umat muslim dianjurkan untuk memelihara hewan dengan baik, memberikan mereka makanan yang cukup, dan tidak menyiksa mereka.Berbuat baik terhadap hewan sangat ditekankan dan dianggap sebagai tindakan yang sangat mulia. Agama Islam mengajarkan perlakuan yang baik dan kasih sayang terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan-hewan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”  (HR. Muslim no. 1955, Bab “Perintah untuk Berbuat Baik ketika Menyembelih dan Membunuh dan Perintah untuk Menajamkan Pisau”)Menjaga kebersihan dan melakukan daur ulangSelain itu, kita pun seharusnya tergerak untuk senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan alam. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri, rumah, dan lingkungan sekitar. Umat muslim diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengelola limbah dengan baik, dan mendaur ulang bahan-bahan yang bisa didaur ulang. Semua ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah polusi.Menjaga kebersihan dan daur ulang adalah prinsip-prinsip penting yang mendorong umat muslim untuk menjadi pelindung lingkungan. Agama Islam mengajarkan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala dan manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kesadaran dan edukasi lingkunganAgar komitmen menjaga lingkungan dapat tumbuh dan berkembang, penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi di kalangan umat muslim. Pemahaman akan ajaran Islam yang berkaitan dengan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas. Melalui pengajaran dan penekanan pada pentingnya menjaga lingkungan kepada generasi muslim yang lebih muda, diharapkan kesadaran tersebut akan timbul. Merekalah yang akan bertindak sebagai agen perubahan untuk masa depan yang lebih baik.Dalam rangka menjaga lingkungan, kita selaku umat Islam dapat mengambil langkah-langkah praktis seperti mengurangi konsumsi energi, membuang sampah dengan benar, menghemat air, menggunakan energi terbarukan, dan mendukung kegiatan konservasi alam. Selain itu, institusi keagamaan seperti masjid dan lembaga pendidikan Islam juga dapat memainkan peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya lingkungan dan tindakan nyata yang dapat diambil untuk menjaganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan edukasi dan kesadaran kepada para sahabat juga menekankan bagaimana ganjaran pahala yang akan diperoleh jika kita ikut serta dalam melakukan upaya pelestarian lingkungan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ“Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.” (HR. Bukhâri no. 6012)Islam merupakan agama yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan. Kita adalah umat Islam yang memiliki tanggung jawab moral dan etis untuk menjaga keindahan dan keseimbangan alam semesta yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Melalui tindakan nyata seperti pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, perlindungan terhadap hewan, praktik kebersihan, dan pendidikan yang baik, kita wajib menghormati dan melindungi ciptaan Allah dan menjadi pelopor dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan visi yang sejalan dengan ajaran Islam dan mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi mendatang. Allahumma amin.Baca juga: Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disahihkan oleh Al-Albâni dalam Shahîh Al-Jâmi’ (no. 3602) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuTags: ajaran islamkewajiban seorang muslimmenjaga lingkungan


Daftar Isi TogglePandangan Islam tentang lingkunganPengelolaan sumber daya alamBerbuat baik terhadap hewanMenjaga kebersihan dan melakukan daur ulangKesadaran dan edukasi lingkunganIslam adalah agama yang diikuti oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Islam memiliki landasan ajaran yang kaya tentang menjaga lingkungan. Keyakinan utama dalam agama Islam adalah keimanan kepada Allah Ta’ala sebagai pencipta alam semesta. Dalam pandangan Islam, alam semesta ini adalah tanda kebesaran Allah. Dan sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban moral dan etis untuk menjaga dan melindungi lingkungan.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ“Sesungguhnya, di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Komitmen Islam terhadap pelestarian lingkungan terbukti dalam berbagai aspek. Dalam ajaran Islam, pelestarian lingkungan dianggap sebagai kewajiban bagi umat muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعٌ يَجْرِي لِلعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَ هُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لََهُ بَعْدَ مَوْتِهِ .“Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Al-Majruhaini 2: 181)[1]Pandangan Islam tentang lingkunganDalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, terdapat banyak ayat yang menekankan pentingnya menjaga alam semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya. Allah menciptakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sempurna, dan umat Muslim diperintahkan untuk bertindak sebagai khalifah (pengganti) di bumi ini. Hal ini berarti kita bertanggung jawab untuk merawat, memelihara, dan melindungi ciptaan Allah yang indah ini.Lingkungan alam merupakan karunia Allah yang harus dijaga, dilestarikan, dan dihormati. Pandangan Islam terhadap lingkungan sangatlah positif, mengingatkan umat muslim untuk bertindak sebagai khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan segala isinya. Allah Ta’ala berfirman,كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ“Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 60)Pengelolaan sumber daya alamKita diajarkan untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Air, tanah, hutan, dan segala bentuk kehidupan di dalamnya merupakan anugerah Allah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab. Umat muslim diajarkan untuk tidak berlebihan dalam penggunaan sumber daya alam, menghindari pemborosan, dan melakukan praktik-praktik yang dapat merusak lingkungan.Pengelolaan sumber daya alam dalam Islam didasarkan pada prinsip-prinsip yang tercantum dalam ajaran agama Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi khalifah atau pemimpin yang bertanggung jawab atas bumi dan semua makhluk di dalamnya. Oleh karena itu, Islam mengatur bagaimana sumber daya alam harus dikelola dengan bijaksana dan berkelanjutan. Karena Allah Ta’ala menciptakan bumi ini dengan segala isinya adalah untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)Baca juga: Ajaran yang Lebih Sempurna daripada StoikismeBerbuat baik terhadap hewanSebagai seorang muslim, kita semestinya juga memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadap hewan. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam memperlakukan hewan dengan baik. Hewan-hewan memiliki hak-haknya sendiri dalam pandangan Islam. Dan kekejaman terhadap hewan dikecam. Umat muslim dianjurkan untuk memelihara hewan dengan baik, memberikan mereka makanan yang cukup, dan tidak menyiksa mereka.Berbuat baik terhadap hewan sangat ditekankan dan dianggap sebagai tindakan yang sangat mulia. Agama Islam mengajarkan perlakuan yang baik dan kasih sayang terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan-hewan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”  (HR. Muslim no. 1955, Bab “Perintah untuk Berbuat Baik ketika Menyembelih dan Membunuh dan Perintah untuk Menajamkan Pisau”)Menjaga kebersihan dan melakukan daur ulangSelain itu, kita pun seharusnya tergerak untuk senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan alam. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri, rumah, dan lingkungan sekitar. Umat muslim diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengelola limbah dengan baik, dan mendaur ulang bahan-bahan yang bisa didaur ulang. Semua ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah polusi.Menjaga kebersihan dan daur ulang adalah prinsip-prinsip penting yang mendorong umat muslim untuk menjadi pelindung lingkungan. Agama Islam mengajarkan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala dan manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56)Kesadaran dan edukasi lingkunganAgar komitmen menjaga lingkungan dapat tumbuh dan berkembang, penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi di kalangan umat muslim. Pemahaman akan ajaran Islam yang berkaitan dengan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas. Melalui pengajaran dan penekanan pada pentingnya menjaga lingkungan kepada generasi muslim yang lebih muda, diharapkan kesadaran tersebut akan timbul. Merekalah yang akan bertindak sebagai agen perubahan untuk masa depan yang lebih baik.Dalam rangka menjaga lingkungan, kita selaku umat Islam dapat mengambil langkah-langkah praktis seperti mengurangi konsumsi energi, membuang sampah dengan benar, menghemat air, menggunakan energi terbarukan, dan mendukung kegiatan konservasi alam. Selain itu, institusi keagamaan seperti masjid dan lembaga pendidikan Islam juga dapat memainkan peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya lingkungan dan tindakan nyata yang dapat diambil untuk menjaganya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan edukasi dan kesadaran kepada para sahabat juga menekankan bagaimana ganjaran pahala yang akan diperoleh jika kita ikut serta dalam melakukan upaya pelestarian lingkungan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ“Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.” (HR. Bukhâri no. 6012)Islam merupakan agama yang memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan. Kita adalah umat Islam yang memiliki tanggung jawab moral dan etis untuk menjaga keindahan dan keseimbangan alam semesta yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Melalui tindakan nyata seperti pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, perlindungan terhadap hewan, praktik kebersihan, dan pendidikan yang baik, kita wajib menghormati dan melindungi ciptaan Allah dan menjadi pelopor dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan visi yang sejalan dengan ajaran Islam dan mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi mendatang. Allahumma amin.Baca juga: Sudahkah Persaudaraan dan Persahabatanmu Sesuai Ajaran Islam?***Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Disahihkan oleh Al-Albâni dalam Shahîh Al-Jâmi’ (no. 3602) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuTags: ajaran islamkewajiban seorang muslimmenjaga lingkungan

Apa Buku Zikir Pagi Petang yang Paling Sahih? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Kami perhatikan perbedaan antara zikir-zikir pagi dan petang yang ada dalam satu aplikasi dan aplikasi lainnya,maka dari itu, kami ingin tahu zikir-zikir yang paling sahih. Zikir-zikir pagi dan petang yang paling sahihadalah yang disebutkan oleh syaikh kami, Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam kitabnya, “Tuhfatul Akhyar”. Ini adalah kitab yang kecil ukurannya tapi besar manfaatnya.Buku berjudul “Tuhfatul Akhyar” karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Syaikh telah menetapkan syarat pada dirinya dalam pendahuluan bukunyauntuk tidak menyebutkan zikir kecuali yang telah pasti diriwayatkan dengan sanad yang sahih atau hasan. ==== نُلَاحِظُ اخْتِلَافَ أَذْكَارِ الْمَسَاءِ وَالصَّبَاحِ مِنْ تَطْبِيْقٍ لِآخَرَ فَنَوَدُّ مَعْرِفَةَ يَعْنِي أَصَحِّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَصَحُّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَذْكَارُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ هُوَ مَا ذَكَرَهُ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ تُحْفَةِ الْأَخْيَارِ وَهُوَ كِتَابٌ صَغِيرٌ فِي حَجْمِهِ عَظِيمٌ فِي فَائِدَتِهِ تُحْفَةُ الْأَخْيَارِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ بَازٍ قَدْ شَرَّطَ الشَّيْخُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مُقَدِّمَةِ الْكِتَابِ أَلَّا يَذْكُرَ إِلَّا مَا ثَبَتَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَوْ بِسَنَدٍ حَسَنٍ

Apa Buku Zikir Pagi Petang yang Paling Sahih? – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Kami perhatikan perbedaan antara zikir-zikir pagi dan petang yang ada dalam satu aplikasi dan aplikasi lainnya,maka dari itu, kami ingin tahu zikir-zikir yang paling sahih. Zikir-zikir pagi dan petang yang paling sahihadalah yang disebutkan oleh syaikh kami, Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam kitabnya, “Tuhfatul Akhyar”. Ini adalah kitab yang kecil ukurannya tapi besar manfaatnya.Buku berjudul “Tuhfatul Akhyar” karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Syaikh telah menetapkan syarat pada dirinya dalam pendahuluan bukunyauntuk tidak menyebutkan zikir kecuali yang telah pasti diriwayatkan dengan sanad yang sahih atau hasan. ==== نُلَاحِظُ اخْتِلَافَ أَذْكَارِ الْمَسَاءِ وَالصَّبَاحِ مِنْ تَطْبِيْقٍ لِآخَرَ فَنَوَدُّ مَعْرِفَةَ يَعْنِي أَصَحِّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَصَحُّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَذْكَارُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ هُوَ مَا ذَكَرَهُ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ تُحْفَةِ الْأَخْيَارِ وَهُوَ كِتَابٌ صَغِيرٌ فِي حَجْمِهِ عَظِيمٌ فِي فَائِدَتِهِ تُحْفَةُ الْأَخْيَارِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ بَازٍ قَدْ شَرَّطَ الشَّيْخُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مُقَدِّمَةِ الْكِتَابِ أَلَّا يَذْكُرَ إِلَّا مَا ثَبَتَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَوْ بِسَنَدٍ حَسَنٍ
Kami perhatikan perbedaan antara zikir-zikir pagi dan petang yang ada dalam satu aplikasi dan aplikasi lainnya,maka dari itu, kami ingin tahu zikir-zikir yang paling sahih. Zikir-zikir pagi dan petang yang paling sahihadalah yang disebutkan oleh syaikh kami, Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam kitabnya, “Tuhfatul Akhyar”. Ini adalah kitab yang kecil ukurannya tapi besar manfaatnya.Buku berjudul “Tuhfatul Akhyar” karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Syaikh telah menetapkan syarat pada dirinya dalam pendahuluan bukunyauntuk tidak menyebutkan zikir kecuali yang telah pasti diriwayatkan dengan sanad yang sahih atau hasan. ==== نُلَاحِظُ اخْتِلَافَ أَذْكَارِ الْمَسَاءِ وَالصَّبَاحِ مِنْ تَطْبِيْقٍ لِآخَرَ فَنَوَدُّ مَعْرِفَةَ يَعْنِي أَصَحِّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَصَحُّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَذْكَارُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ هُوَ مَا ذَكَرَهُ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ تُحْفَةِ الْأَخْيَارِ وَهُوَ كِتَابٌ صَغِيرٌ فِي حَجْمِهِ عَظِيمٌ فِي فَائِدَتِهِ تُحْفَةُ الْأَخْيَارِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ بَازٍ قَدْ شَرَّطَ الشَّيْخُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مُقَدِّمَةِ الْكِتَابِ أَلَّا يَذْكُرَ إِلَّا مَا ثَبَتَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَوْ بِسَنَدٍ حَسَنٍ


Kami perhatikan perbedaan antara zikir-zikir pagi dan petang yang ada dalam satu aplikasi dan aplikasi lainnya,maka dari itu, kami ingin tahu zikir-zikir yang paling sahih. Zikir-zikir pagi dan petang yang paling sahihadalah yang disebutkan oleh syaikh kami, Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam kitabnya, “Tuhfatul Akhyar”. Ini adalah kitab yang kecil ukurannya tapi besar manfaatnya.Buku berjudul “Tuhfatul Akhyar” karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Syaikh telah menetapkan syarat pada dirinya dalam pendahuluan bukunyauntuk tidak menyebutkan zikir kecuali yang telah pasti diriwayatkan dengan sanad yang sahih atau hasan. ==== نُلَاحِظُ اخْتِلَافَ أَذْكَارِ الْمَسَاءِ وَالصَّبَاحِ مِنْ تَطْبِيْقٍ لِآخَرَ فَنَوَدُّ مَعْرِفَةَ يَعْنِي أَصَحِّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَصَحُّ مَا فِي الْأَذْكَارِ أَذْكَارُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ هُوَ مَا ذَكَرَهُ شَيْخُنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ فِي كِتَابِهِ تُحْفَةِ الْأَخْيَارِ وَهُوَ كِتَابٌ صَغِيرٌ فِي حَجْمِهِ عَظِيمٌ فِي فَائِدَتِهِ تُحْفَةُ الْأَخْيَارِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ بَازٍ قَدْ شَرَّطَ الشَّيْخُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مُقَدِّمَةِ الْكِتَابِ أَلَّا يَذْكُرَ إِلَّا مَا ثَبَتَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَوْ بِسَنَدٍ حَسَنٍ

Benarkah Nabi Sulaiman Memiliki Kuda-Kuda Bersayap?

Pertanyaan: Ada sebuah hadis dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Nabi Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap, yakni hadis berikut:  “Suatu hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apa ini, wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau bertanya, ‘Yang di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’  Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman bin Daud mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.” Apakah maksud Ibunda kita, Aisyah, benar-benar Nabi kita Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?  Karena aku percaya bahwa kuda bersayap adalah makhluk fantasi belaka, tapi muncul keraguan dalam diriku tentang apakah hewan ini benar ada atau tidak karena hadis ini.  Mohon penjelasannya. الجواب الحمد لله. لم يرد في الكتاب أو السنة ما يدل على أنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. وإنما هي أقوال لبعض أهل العلم يذكرها أئمة التفسير، في تفسير قول الله تعالى: (وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ ، إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) ص/30 – 31. قال الطبري رحمه الله تعالى: ” حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد: ” ( الصَّافِنَاتُ ) الخيل، وكانت لها أجنحة ” وأما الجياد، فإنها السِّراع، واحدها: جواد…. وذُكر أنها كانت عشرين فرسا ذوات أجنحة. Jawaban: Alhamdulillah. Tidak ada dalam al-Quran atau Sunah yang menunjukkan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Yang ada hanya perkataan beberapa ulama yang disebutkan oleh para imam ahli tafsir dalam penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Dan Kami Karuniakan kepada Dawud (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba dan dia sungguh sangat taat (kepada Allah). (Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 30-31)  At-Tabari — Semoga Allah Merahmatinya — berkata; Yunus mengatakan kepadaku; dia berkata; Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami; dia berkata bahwa Ibnu Zaid berkata, “Ṣāfināt adalah kuda. Kuda ini memiliki sayap. Adapun Jiyād adalah yang kencang larinya. Bentuk mufradnya adalah Jawād.” Disebutkan bahwa kuda-kuda tersebut berjumlah dua puluh yang semuanya bersayap. حدثنا محمد بن بشار، قال: حدثنا مؤمل، قال: حدثنا سفيان، عن أبيه، عن إبراهيم التيمي، في قوله: ( إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. ” انتهى من “تفسير الطبري” (20/ 82-83). وقال ابن كثير رحمه الله تعالى: ” وقال ابن جرير: حدثنا محمد بن بشار، حدثنا مؤمل، حدثنا سفيان، عن أبيه سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي في قوله: (إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. كذا رواه ابن جرير. Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Selesai kutipan dari Tafsir at-Tabari, 20/82-83) Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa Ibnu Jarir mengatakan; Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya, Said bin Masruq, dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Dia mengatakan bahwa maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Demikian Ibnu Jarir meriwayatkan. وقال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زرعة، حدثنا إبراهيم بن موسى، حدثنا ابن أبي زائدة، أخبرني إسرائيل، عن سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي، قال: كانت الخيل التي شغلت سليمان، عليه الصلاة والسلام عشرين ألف فرس، فعقرها وهذا أشبه. والله أعلم. – وروى – أبو داود: عن عائشة رضي الله عنها قالت: ” قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟) قَالَتْ: بَنَاتِي، وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ؟) قَالَتْ: فَرَسٌ، قَالَ: (وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟) قَالَتْ: جَنَاحَانِ، قَالَ: (فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟) قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ ” انتهى من”تفسير ابن كثير” (7 / 64 — 65). Ibnu Abi Hatim berkata; Abu Zur’ah mengabarkan kepada kami; Ibrahim bin Musa mengabarkan kepada kami; Ibnu Abu Zaidah mengabarkan kepada kami; Israil mengabarkan kepadaku dari Said bin Masruq dari Ibrahim at-Taimi yang mengatakan bahwa kuda-kuda yang membuat Sulaiman ʿAlaihis Salām sibuk berjumlah dua puluh ribu kuda, lantas beliau menyembelihnya. Ini yang lebih tepat. Allah Yang lebih Mengetahui.  Abu Daud meriwayatkan bahwa Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Suatu hari, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, sementara di kamar Aisyah ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan Aisyah, lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya,  ‘Apa ini wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua sayap.  Lantas beliau pun bertanya kepada Aisyah, ‘Yang aku lihat di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’ Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau.” (HR. Abu Dawud no. 4934, dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥiẖ Abī Dāwūd).  Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir, 7/64-65) وقول عائشة رضي الله عنها: ” أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟”. يدل على أنها لم تسمع عن هذه الخيل من النبي صلى الله عليه وسلم، وأيضا بدليل تعجبه صلى الله عليه وسلم من ذلك حيث قال: ( فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟). فالظاهر أن هذا من الأخبار التي سمعها أهل المدينة من أهل الكتاب من اليهود. ولعل النبي صلى الله عليه وسلم سكت عن موافقتها وعن الإنكار عليها؛ بسبب عدم ورود وحي في ذلك، وما يخبر به أهل الكتاب من أخبار الأنبياء السابقين – التي لم يأت فيها وحي للنبي صلى الله عليه وسلم – فإنهم لا يصدَّقون ولا يكذَّبون فيها. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?” Hal ini menunjukkan bahwa dia —Semoga Allah Meridainya— tidak mendengar tentang kuda-kuda ini dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terheran-heran dengan mengatakan, “Kuda punya dua sayap?” Tampaknya ini berasal dari cerita yang dia dengar dari orang-orang Ahli Kitab Yahudi di kota Madinah.  Barangkali Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam tidak mengiyakan atau mengingkarinya karena tidak adanya wahyu tentang ini.  Adapun cerita-cerita yang dikatakan orang-orang Ahli Kitab tentang kabar-kabar para nabi terdahulu, yang tidak diwahyukan kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka tidak boleh dibenarkan maupun diingkari. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ” كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: ( آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا ) الآيَةَ) رواه البخاري (4485). وعن ابْنُ أَبِي نَمْلَةَ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ، وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ، فَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُ، وَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُ) رواه أبوداود (3644)، وصححه الألباني في “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (6/712). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa dahulu orang-orang Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada orang-orang Islam dengan bahasa Arab.  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kalian mempercayai Ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka, katakan saja: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, ….’ (QS. Al-Baqarah: 136)” (HR. Bukhari, no. 4485) Diriwayatkan dari Ibnu Abi Namlah al-Anshari dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jika ada Ahli Kitab yang menceritakan kepada kalian, janganlah kalian benarkan mereka dan jangan pula mendustakan mereka. Katakan saja, ‘Kami beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,’ sehingga jika memang itu benar, maka kalian tidak mendustakannya dan jika memang itu batil, maka kalian tidak membenarkannya.” (HR. Abu Daud no. 3644, dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Āẖādīts aṣ-Ṣaẖīẖah (6/712). قال ابن رسلان رحمه الله تعالى: ” ( قالت: أما سمعت أن ) أي: أنه كان ( لسليمان ) بن داود عليهما السلام ( خيلا لها أجنحة؟ ) تطير بها، فأما في الدنيا فلا أدري… (قالت: فضحك) رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- (حتى رأيت نواجذه) النواجذ من الأسنان الضواحك، وهي التي تبدو عند الضحك… وسبب تبسّمه، واللَّه أعلم، ملاطفة عائشة دون أن يقال: إن إقراره دليل وقوعه. لا سيما مع استبشاره بالضحك، إلا أن يبين ذلك. أو يقال: سكت عليه لأنه لم يوحَ إليه بإثبات ولا نفي ” انتهى من “شرح سنن أبي داود” (19/ 13—15). تنبيه: قوله “تبسمه”: ثبت في الكتاب “تسميته”: وهو تحريف، والصواب ما أثبتناه. فالحاصل؛ أنه لم يرد نص ثابت من الوحي بأنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. والله أعلم. Ibnu Ruslan —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan: Aisyah mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa …” maksudnya bahwa dahulu Sulaiman bin Dawud ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap yang bisa terbang? Adapun di dunia ini, aku juga tidak tahu. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Beliau pun tertawa …” yakni Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam “… hingga aku melihat geraham beliau.” An-Nawājidz termasuk gigi Ḏawāẖik, yakni gigi yang kelihatan ketika tertawa. Adapun alasan beliau tertawa—Allah Yang lebih Mengetahui—adalah menjaga keakraban dengan Aisyah. Tidak bisa dikatakan bahwa diamnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah dalil kebenarannya, apalagi disertai dengan tawa, kecuali jika beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memang menjelaskannya. Bisa juga dikatakan bahwa diamnya beliau perihal itu karena belum diwahyukan kepada beliau tentang benar dan tidaknya hal itu. Selesai kutipan dari kitab Syarah Sunan Abi Dawud (19/13-15).  Perhatian: perkataan penulis “tabassumuhu” tertulis dalam kitab “tasmiyatuhu”, ini keliru, yang benar adalah apa yang telah kami tuliskan.  Kesimpulannya, tidak ada dalil sahih dari wahyu Allah yang menyatakan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/426563/هل-كانت-خيل-سليمان-عليه-السلام-لها-اجنحة PDF Artikel 🔍 Harta Gono Gini, Hadist Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Mencukur Alis Menurut Islam, Tafsir Mimpi Melihat Ka Bah, Cara Mengusir Banaspati, Rumah Tanya Visited 474 times, 3 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid

Benarkah Nabi Sulaiman Memiliki Kuda-Kuda Bersayap?

Pertanyaan: Ada sebuah hadis dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Nabi Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap, yakni hadis berikut:  “Suatu hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apa ini, wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau bertanya, ‘Yang di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’  Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman bin Daud mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.” Apakah maksud Ibunda kita, Aisyah, benar-benar Nabi kita Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?  Karena aku percaya bahwa kuda bersayap adalah makhluk fantasi belaka, tapi muncul keraguan dalam diriku tentang apakah hewan ini benar ada atau tidak karena hadis ini.  Mohon penjelasannya. الجواب الحمد لله. لم يرد في الكتاب أو السنة ما يدل على أنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. وإنما هي أقوال لبعض أهل العلم يذكرها أئمة التفسير، في تفسير قول الله تعالى: (وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ ، إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) ص/30 – 31. قال الطبري رحمه الله تعالى: ” حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد: ” ( الصَّافِنَاتُ ) الخيل، وكانت لها أجنحة ” وأما الجياد، فإنها السِّراع، واحدها: جواد…. وذُكر أنها كانت عشرين فرسا ذوات أجنحة. Jawaban: Alhamdulillah. Tidak ada dalam al-Quran atau Sunah yang menunjukkan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Yang ada hanya perkataan beberapa ulama yang disebutkan oleh para imam ahli tafsir dalam penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Dan Kami Karuniakan kepada Dawud (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba dan dia sungguh sangat taat (kepada Allah). (Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 30-31)  At-Tabari — Semoga Allah Merahmatinya — berkata; Yunus mengatakan kepadaku; dia berkata; Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami; dia berkata bahwa Ibnu Zaid berkata, “Ṣāfināt adalah kuda. Kuda ini memiliki sayap. Adapun Jiyād adalah yang kencang larinya. Bentuk mufradnya adalah Jawād.” Disebutkan bahwa kuda-kuda tersebut berjumlah dua puluh yang semuanya bersayap. حدثنا محمد بن بشار، قال: حدثنا مؤمل، قال: حدثنا سفيان، عن أبيه، عن إبراهيم التيمي، في قوله: ( إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. ” انتهى من “تفسير الطبري” (20/ 82-83). وقال ابن كثير رحمه الله تعالى: ” وقال ابن جرير: حدثنا محمد بن بشار، حدثنا مؤمل، حدثنا سفيان، عن أبيه سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي في قوله: (إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. كذا رواه ابن جرير. Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Selesai kutipan dari Tafsir at-Tabari, 20/82-83) Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa Ibnu Jarir mengatakan; Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya, Said bin Masruq, dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Dia mengatakan bahwa maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Demikian Ibnu Jarir meriwayatkan. وقال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زرعة، حدثنا إبراهيم بن موسى، حدثنا ابن أبي زائدة، أخبرني إسرائيل، عن سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي، قال: كانت الخيل التي شغلت سليمان، عليه الصلاة والسلام عشرين ألف فرس، فعقرها وهذا أشبه. والله أعلم. – وروى – أبو داود: عن عائشة رضي الله عنها قالت: ” قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟) قَالَتْ: بَنَاتِي، وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ؟) قَالَتْ: فَرَسٌ، قَالَ: (وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟) قَالَتْ: جَنَاحَانِ، قَالَ: (فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟) قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ ” انتهى من”تفسير ابن كثير” (7 / 64 — 65). Ibnu Abi Hatim berkata; Abu Zur’ah mengabarkan kepada kami; Ibrahim bin Musa mengabarkan kepada kami; Ibnu Abu Zaidah mengabarkan kepada kami; Israil mengabarkan kepadaku dari Said bin Masruq dari Ibrahim at-Taimi yang mengatakan bahwa kuda-kuda yang membuat Sulaiman ʿAlaihis Salām sibuk berjumlah dua puluh ribu kuda, lantas beliau menyembelihnya. Ini yang lebih tepat. Allah Yang lebih Mengetahui.  Abu Daud meriwayatkan bahwa Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Suatu hari, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, sementara di kamar Aisyah ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan Aisyah, lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya,  ‘Apa ini wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua sayap.  Lantas beliau pun bertanya kepada Aisyah, ‘Yang aku lihat di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’ Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau.” (HR. Abu Dawud no. 4934, dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥiẖ Abī Dāwūd).  Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir, 7/64-65) وقول عائشة رضي الله عنها: ” أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟”. يدل على أنها لم تسمع عن هذه الخيل من النبي صلى الله عليه وسلم، وأيضا بدليل تعجبه صلى الله عليه وسلم من ذلك حيث قال: ( فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟). فالظاهر أن هذا من الأخبار التي سمعها أهل المدينة من أهل الكتاب من اليهود. ولعل النبي صلى الله عليه وسلم سكت عن موافقتها وعن الإنكار عليها؛ بسبب عدم ورود وحي في ذلك، وما يخبر به أهل الكتاب من أخبار الأنبياء السابقين – التي لم يأت فيها وحي للنبي صلى الله عليه وسلم – فإنهم لا يصدَّقون ولا يكذَّبون فيها. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?” Hal ini menunjukkan bahwa dia —Semoga Allah Meridainya— tidak mendengar tentang kuda-kuda ini dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terheran-heran dengan mengatakan, “Kuda punya dua sayap?” Tampaknya ini berasal dari cerita yang dia dengar dari orang-orang Ahli Kitab Yahudi di kota Madinah.  Barangkali Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam tidak mengiyakan atau mengingkarinya karena tidak adanya wahyu tentang ini.  Adapun cerita-cerita yang dikatakan orang-orang Ahli Kitab tentang kabar-kabar para nabi terdahulu, yang tidak diwahyukan kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka tidak boleh dibenarkan maupun diingkari. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ” كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: ( آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا ) الآيَةَ) رواه البخاري (4485). وعن ابْنُ أَبِي نَمْلَةَ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ، وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ، فَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُ، وَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُ) رواه أبوداود (3644)، وصححه الألباني في “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (6/712). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa dahulu orang-orang Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada orang-orang Islam dengan bahasa Arab.  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kalian mempercayai Ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka, katakan saja: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, ….’ (QS. Al-Baqarah: 136)” (HR. Bukhari, no. 4485) Diriwayatkan dari Ibnu Abi Namlah al-Anshari dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jika ada Ahli Kitab yang menceritakan kepada kalian, janganlah kalian benarkan mereka dan jangan pula mendustakan mereka. Katakan saja, ‘Kami beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,’ sehingga jika memang itu benar, maka kalian tidak mendustakannya dan jika memang itu batil, maka kalian tidak membenarkannya.” (HR. Abu Daud no. 3644, dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Āẖādīts aṣ-Ṣaẖīẖah (6/712). قال ابن رسلان رحمه الله تعالى: ” ( قالت: أما سمعت أن ) أي: أنه كان ( لسليمان ) بن داود عليهما السلام ( خيلا لها أجنحة؟ ) تطير بها، فأما في الدنيا فلا أدري… (قالت: فضحك) رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- (حتى رأيت نواجذه) النواجذ من الأسنان الضواحك، وهي التي تبدو عند الضحك… وسبب تبسّمه، واللَّه أعلم، ملاطفة عائشة دون أن يقال: إن إقراره دليل وقوعه. لا سيما مع استبشاره بالضحك، إلا أن يبين ذلك. أو يقال: سكت عليه لأنه لم يوحَ إليه بإثبات ولا نفي ” انتهى من “شرح سنن أبي داود” (19/ 13—15). تنبيه: قوله “تبسمه”: ثبت في الكتاب “تسميته”: وهو تحريف، والصواب ما أثبتناه. فالحاصل؛ أنه لم يرد نص ثابت من الوحي بأنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. والله أعلم. Ibnu Ruslan —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan: Aisyah mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa …” maksudnya bahwa dahulu Sulaiman bin Dawud ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap yang bisa terbang? Adapun di dunia ini, aku juga tidak tahu. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Beliau pun tertawa …” yakni Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam “… hingga aku melihat geraham beliau.” An-Nawājidz termasuk gigi Ḏawāẖik, yakni gigi yang kelihatan ketika tertawa. Adapun alasan beliau tertawa—Allah Yang lebih Mengetahui—adalah menjaga keakraban dengan Aisyah. Tidak bisa dikatakan bahwa diamnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah dalil kebenarannya, apalagi disertai dengan tawa, kecuali jika beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memang menjelaskannya. Bisa juga dikatakan bahwa diamnya beliau perihal itu karena belum diwahyukan kepada beliau tentang benar dan tidaknya hal itu. Selesai kutipan dari kitab Syarah Sunan Abi Dawud (19/13-15).  Perhatian: perkataan penulis “tabassumuhu” tertulis dalam kitab “tasmiyatuhu”, ini keliru, yang benar adalah apa yang telah kami tuliskan.  Kesimpulannya, tidak ada dalil sahih dari wahyu Allah yang menyatakan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/426563/هل-كانت-خيل-سليمان-عليه-السلام-لها-اجنحة PDF Artikel 🔍 Harta Gono Gini, Hadist Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Mencukur Alis Menurut Islam, Tafsir Mimpi Melihat Ka Bah, Cara Mengusir Banaspati, Rumah Tanya Visited 474 times, 3 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Ada sebuah hadis dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Nabi Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap, yakni hadis berikut:  “Suatu hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apa ini, wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau bertanya, ‘Yang di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’  Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman bin Daud mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.” Apakah maksud Ibunda kita, Aisyah, benar-benar Nabi kita Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?  Karena aku percaya bahwa kuda bersayap adalah makhluk fantasi belaka, tapi muncul keraguan dalam diriku tentang apakah hewan ini benar ada atau tidak karena hadis ini.  Mohon penjelasannya. الجواب الحمد لله. لم يرد في الكتاب أو السنة ما يدل على أنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. وإنما هي أقوال لبعض أهل العلم يذكرها أئمة التفسير، في تفسير قول الله تعالى: (وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ ، إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) ص/30 – 31. قال الطبري رحمه الله تعالى: ” حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد: ” ( الصَّافِنَاتُ ) الخيل، وكانت لها أجنحة ” وأما الجياد، فإنها السِّراع، واحدها: جواد…. وذُكر أنها كانت عشرين فرسا ذوات أجنحة. Jawaban: Alhamdulillah. Tidak ada dalam al-Quran atau Sunah yang menunjukkan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Yang ada hanya perkataan beberapa ulama yang disebutkan oleh para imam ahli tafsir dalam penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Dan Kami Karuniakan kepada Dawud (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba dan dia sungguh sangat taat (kepada Allah). (Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 30-31)  At-Tabari — Semoga Allah Merahmatinya — berkata; Yunus mengatakan kepadaku; dia berkata; Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami; dia berkata bahwa Ibnu Zaid berkata, “Ṣāfināt adalah kuda. Kuda ini memiliki sayap. Adapun Jiyād adalah yang kencang larinya. Bentuk mufradnya adalah Jawād.” Disebutkan bahwa kuda-kuda tersebut berjumlah dua puluh yang semuanya bersayap. حدثنا محمد بن بشار، قال: حدثنا مؤمل، قال: حدثنا سفيان، عن أبيه، عن إبراهيم التيمي، في قوله: ( إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. ” انتهى من “تفسير الطبري” (20/ 82-83). وقال ابن كثير رحمه الله تعالى: ” وقال ابن جرير: حدثنا محمد بن بشار، حدثنا مؤمل، حدثنا سفيان، عن أبيه سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي في قوله: (إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. كذا رواه ابن جرير. Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Selesai kutipan dari Tafsir at-Tabari, 20/82-83) Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa Ibnu Jarir mengatakan; Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya, Said bin Masruq, dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Dia mengatakan bahwa maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Demikian Ibnu Jarir meriwayatkan. وقال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زرعة، حدثنا إبراهيم بن موسى، حدثنا ابن أبي زائدة، أخبرني إسرائيل، عن سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي، قال: كانت الخيل التي شغلت سليمان، عليه الصلاة والسلام عشرين ألف فرس، فعقرها وهذا أشبه. والله أعلم. – وروى – أبو داود: عن عائشة رضي الله عنها قالت: ” قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟) قَالَتْ: بَنَاتِي، وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ؟) قَالَتْ: فَرَسٌ، قَالَ: (وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟) قَالَتْ: جَنَاحَانِ، قَالَ: (فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟) قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ ” انتهى من”تفسير ابن كثير” (7 / 64 — 65). Ibnu Abi Hatim berkata; Abu Zur’ah mengabarkan kepada kami; Ibrahim bin Musa mengabarkan kepada kami; Ibnu Abu Zaidah mengabarkan kepada kami; Israil mengabarkan kepadaku dari Said bin Masruq dari Ibrahim at-Taimi yang mengatakan bahwa kuda-kuda yang membuat Sulaiman ʿAlaihis Salām sibuk berjumlah dua puluh ribu kuda, lantas beliau menyembelihnya. Ini yang lebih tepat. Allah Yang lebih Mengetahui.  Abu Daud meriwayatkan bahwa Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Suatu hari, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, sementara di kamar Aisyah ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan Aisyah, lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya,  ‘Apa ini wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua sayap.  Lantas beliau pun bertanya kepada Aisyah, ‘Yang aku lihat di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’ Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau.” (HR. Abu Dawud no. 4934, dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥiẖ Abī Dāwūd).  Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir, 7/64-65) وقول عائشة رضي الله عنها: ” أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟”. يدل على أنها لم تسمع عن هذه الخيل من النبي صلى الله عليه وسلم، وأيضا بدليل تعجبه صلى الله عليه وسلم من ذلك حيث قال: ( فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟). فالظاهر أن هذا من الأخبار التي سمعها أهل المدينة من أهل الكتاب من اليهود. ولعل النبي صلى الله عليه وسلم سكت عن موافقتها وعن الإنكار عليها؛ بسبب عدم ورود وحي في ذلك، وما يخبر به أهل الكتاب من أخبار الأنبياء السابقين – التي لم يأت فيها وحي للنبي صلى الله عليه وسلم – فإنهم لا يصدَّقون ولا يكذَّبون فيها. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?” Hal ini menunjukkan bahwa dia —Semoga Allah Meridainya— tidak mendengar tentang kuda-kuda ini dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terheran-heran dengan mengatakan, “Kuda punya dua sayap?” Tampaknya ini berasal dari cerita yang dia dengar dari orang-orang Ahli Kitab Yahudi di kota Madinah.  Barangkali Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam tidak mengiyakan atau mengingkarinya karena tidak adanya wahyu tentang ini.  Adapun cerita-cerita yang dikatakan orang-orang Ahli Kitab tentang kabar-kabar para nabi terdahulu, yang tidak diwahyukan kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka tidak boleh dibenarkan maupun diingkari. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ” كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: ( آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا ) الآيَةَ) رواه البخاري (4485). وعن ابْنُ أَبِي نَمْلَةَ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ، وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ، فَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُ، وَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُ) رواه أبوداود (3644)، وصححه الألباني في “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (6/712). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa dahulu orang-orang Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada orang-orang Islam dengan bahasa Arab.  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kalian mempercayai Ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka, katakan saja: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, ….’ (QS. Al-Baqarah: 136)” (HR. Bukhari, no. 4485) Diriwayatkan dari Ibnu Abi Namlah al-Anshari dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jika ada Ahli Kitab yang menceritakan kepada kalian, janganlah kalian benarkan mereka dan jangan pula mendustakan mereka. Katakan saja, ‘Kami beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,’ sehingga jika memang itu benar, maka kalian tidak mendustakannya dan jika memang itu batil, maka kalian tidak membenarkannya.” (HR. Abu Daud no. 3644, dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Āẖādīts aṣ-Ṣaẖīẖah (6/712). قال ابن رسلان رحمه الله تعالى: ” ( قالت: أما سمعت أن ) أي: أنه كان ( لسليمان ) بن داود عليهما السلام ( خيلا لها أجنحة؟ ) تطير بها، فأما في الدنيا فلا أدري… (قالت: فضحك) رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- (حتى رأيت نواجذه) النواجذ من الأسنان الضواحك، وهي التي تبدو عند الضحك… وسبب تبسّمه، واللَّه أعلم، ملاطفة عائشة دون أن يقال: إن إقراره دليل وقوعه. لا سيما مع استبشاره بالضحك، إلا أن يبين ذلك. أو يقال: سكت عليه لأنه لم يوحَ إليه بإثبات ولا نفي ” انتهى من “شرح سنن أبي داود” (19/ 13—15). تنبيه: قوله “تبسمه”: ثبت في الكتاب “تسميته”: وهو تحريف، والصواب ما أثبتناه. فالحاصل؛ أنه لم يرد نص ثابت من الوحي بأنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. والله أعلم. Ibnu Ruslan —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan: Aisyah mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa …” maksudnya bahwa dahulu Sulaiman bin Dawud ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap yang bisa terbang? Adapun di dunia ini, aku juga tidak tahu. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Beliau pun tertawa …” yakni Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam “… hingga aku melihat geraham beliau.” An-Nawājidz termasuk gigi Ḏawāẖik, yakni gigi yang kelihatan ketika tertawa. Adapun alasan beliau tertawa—Allah Yang lebih Mengetahui—adalah menjaga keakraban dengan Aisyah. Tidak bisa dikatakan bahwa diamnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah dalil kebenarannya, apalagi disertai dengan tawa, kecuali jika beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memang menjelaskannya. Bisa juga dikatakan bahwa diamnya beliau perihal itu karena belum diwahyukan kepada beliau tentang benar dan tidaknya hal itu. Selesai kutipan dari kitab Syarah Sunan Abi Dawud (19/13-15).  Perhatian: perkataan penulis “tabassumuhu” tertulis dalam kitab “tasmiyatuhu”, ini keliru, yang benar adalah apa yang telah kami tuliskan.  Kesimpulannya, tidak ada dalil sahih dari wahyu Allah yang menyatakan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/426563/هل-كانت-خيل-سليمان-عليه-السلام-لها-اجنحة PDF Artikel 🔍 Harta Gono Gini, Hadist Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Mencukur Alis Menurut Islam, Tafsir Mimpi Melihat Ka Bah, Cara Mengusir Banaspati, Rumah Tanya Visited 474 times, 3 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Ada sebuah hadis dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Nabi Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap, yakni hadis berikut:  “Suatu hari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apa ini, wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau bertanya, ‘Yang di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’  Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman bin Daud mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.” Apakah maksud Ibunda kita, Aisyah, benar-benar Nabi kita Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?  Karena aku percaya bahwa kuda bersayap adalah makhluk fantasi belaka, tapi muncul keraguan dalam diriku tentang apakah hewan ini benar ada atau tidak karena hadis ini.  Mohon penjelasannya. الجواب الحمد لله. لم يرد في الكتاب أو السنة ما يدل على أنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. وإنما هي أقوال لبعض أهل العلم يذكرها أئمة التفسير، في تفسير قول الله تعالى: (وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ ، إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) ص/30 – 31. قال الطبري رحمه الله تعالى: ” حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد: ” ( الصَّافِنَاتُ ) الخيل، وكانت لها أجنحة ” وأما الجياد، فإنها السِّراع، واحدها: جواد…. وذُكر أنها كانت عشرين فرسا ذوات أجنحة. Jawaban: Alhamdulillah. Tidak ada dalam al-Quran atau Sunah yang menunjukkan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Yang ada hanya perkataan beberapa ulama yang disebutkan oleh para imam ahli tafsir dalam penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “Dan Kami Karuniakan kepada Dawud (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba dan dia sungguh sangat taat (kepada Allah). (Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 30-31)  At-Tabari — Semoga Allah Merahmatinya — berkata; Yunus mengatakan kepadaku; dia berkata; Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami; dia berkata bahwa Ibnu Zaid berkata, “Ṣāfināt adalah kuda. Kuda ini memiliki sayap. Adapun Jiyād adalah yang kencang larinya. Bentuk mufradnya adalah Jawād.” Disebutkan bahwa kuda-kuda tersebut berjumlah dua puluh yang semuanya bersayap. حدثنا محمد بن بشار، قال: حدثنا مؤمل، قال: حدثنا سفيان، عن أبيه، عن إبراهيم التيمي، في قوله: ( إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. ” انتهى من “تفسير الطبري” (20/ 82-83). وقال ابن كثير رحمه الله تعالى: ” وقال ابن جرير: حدثنا محمد بن بشار، حدثنا مؤمل، حدثنا سفيان، عن أبيه سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي في قوله: (إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ) قال: كانت عشرين فرسا ذات أجنحة. كذا رواه ابن جرير. Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Selesai kutipan dari Tafsir at-Tabari, 20/82-83) Ibnu Katsir —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa Ibnu Jarir mengatakan; Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muammal mengabarkan kepada kami, dia berkata; Sufyan mengabarkan kepada kami dari ayahnya, Said bin Masruq, dari Ibrahim at-Taimi tentang penafsiran firman Allah Subẖānahu wa Taʿālā (yang artinya), “(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang cepat larinya.” (QS. Sad: 31)  Dia mengatakan bahwa maksudnya adalah dua puluh kuda-kuda yang bersayap. Demikian Ibnu Jarir meriwayatkan. وقال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زرعة، حدثنا إبراهيم بن موسى، حدثنا ابن أبي زائدة، أخبرني إسرائيل، عن سعيد بن مسروق، عن إبراهيم التيمي، قال: كانت الخيل التي شغلت سليمان، عليه الصلاة والسلام عشرين ألف فرس، فعقرها وهذا أشبه. والله أعلم. – وروى – أبو داود: عن عائشة رضي الله عنها قالت: ” قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟) قَالَتْ: بَنَاتِي، وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: (مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ؟) قَالَتْ: فَرَسٌ، قَالَ: (وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟) قَالَتْ: جَنَاحَانِ، قَالَ: (فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟) قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ ” انتهى من”تفسير ابن كثير” (7 / 64 — 65). Ibnu Abi Hatim berkata; Abu Zur’ah mengabarkan kepada kami; Ibrahim bin Musa mengabarkan kepada kami; Ibnu Abu Zaidah mengabarkan kepada kami; Israil mengabarkan kepadaku dari Said bin Masruq dari Ibrahim at-Taimi yang mengatakan bahwa kuda-kuda yang membuat Sulaiman ʿAlaihis Salām sibuk berjumlah dua puluh ribu kuda, lantas beliau menyembelihnya. Ini yang lebih tepat. Allah Yang lebih Mengetahui.  Abu Daud meriwayatkan bahwa Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Suatu hari, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, sementara di kamar Aisyah ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan Aisyah, lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya,  ‘Apa ini wahai Aisyah?’  Dia pun menjawab, ‘Boneka-boneka milikku.’  Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua sayap.  Lantas beliau pun bertanya kepada Aisyah, ‘Yang aku lihat di tengah-tengah itu apa?’  Aisyah menjawab, ‘Boneka kuda.’  Beliau bertanya lagi, ‘Apa itu yang ada pada bagian atasnya?’  Aisyah menjawab, ‘Kedua sayapnya.’  Beliau menimpali, ‘Kuda punya dua sayap?’ Aisyah menjawab, ’Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?’  Beliau pun tertawa hingga aku melihat gigi beliau.” (HR. Abu Dawud no. 4934, dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥiẖ Abī Dāwūd).  Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir, 7/64-65) وقول عائشة رضي الله عنها: ” أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟”. يدل على أنها لم تسمع عن هذه الخيل من النبي صلى الله عليه وسلم، وأيضا بدليل تعجبه صلى الله عليه وسلم من ذلك حيث قال: ( فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟). فالظاهر أن هذا من الأخبار التي سمعها أهل المدينة من أهل الكتاب من اليهود. ولعل النبي صلى الله عليه وسلم سكت عن موافقتها وعن الإنكار عليها؛ بسبب عدم ورود وحي في ذلك، وما يخبر به أهل الكتاب من أخبار الأنبياء السابقين – التي لم يأت فيها وحي للنبي صلى الله عليه وسلم – فإنهم لا يصدَّقون ولا يكذَّبون فيها. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?” Hal ini menunjukkan bahwa dia —Semoga Allah Meridainya— tidak mendengar tentang kuda-kuda ini dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terheran-heran dengan mengatakan, “Kuda punya dua sayap?” Tampaknya ini berasal dari cerita yang dia dengar dari orang-orang Ahli Kitab Yahudi di kota Madinah.  Barangkali Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam diam tidak mengiyakan atau mengingkarinya karena tidak adanya wahyu tentang ini.  Adapun cerita-cerita yang dikatakan orang-orang Ahli Kitab tentang kabar-kabar para nabi terdahulu, yang tidak diwahyukan kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka tidak boleh dibenarkan maupun diingkari. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ” كَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالعِبْرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: ( آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا ) الآيَةَ) رواه البخاري (4485). وعن ابْنُ أَبِي نَمْلَةَ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ، وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ، فَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُ، وَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُ) رواه أبوداود (3644)، وصححه الألباني في “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (6/712). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa dahulu orang-orang Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada orang-orang Islam dengan bahasa Arab.  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kalian mempercayai Ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka, katakan saja: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, ….’ (QS. Al-Baqarah: 136)” (HR. Bukhari, no. 4485) Diriwayatkan dari Ibnu Abi Namlah al-Anshari dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jika ada Ahli Kitab yang menceritakan kepada kalian, janganlah kalian benarkan mereka dan jangan pula mendustakan mereka. Katakan saja, ‘Kami beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,’ sehingga jika memang itu benar, maka kalian tidak mendustakannya dan jika memang itu batil, maka kalian tidak membenarkannya.” (HR. Abu Daud no. 3644, dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Āẖādīts aṣ-Ṣaẖīẖah (6/712). قال ابن رسلان رحمه الله تعالى: ” ( قالت: أما سمعت أن ) أي: أنه كان ( لسليمان ) بن داود عليهما السلام ( خيلا لها أجنحة؟ ) تطير بها، فأما في الدنيا فلا أدري… (قالت: فضحك) رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- (حتى رأيت نواجذه) النواجذ من الأسنان الضواحك، وهي التي تبدو عند الضحك… وسبب تبسّمه، واللَّه أعلم، ملاطفة عائشة دون أن يقال: إن إقراره دليل وقوعه. لا سيما مع استبشاره بالضحك، إلا أن يبين ذلك. أو يقال: سكت عليه لأنه لم يوحَ إليه بإثبات ولا نفي ” انتهى من “شرح سنن أبي داود” (19/ 13—15). تنبيه: قوله “تبسمه”: ثبت في الكتاب “تسميته”: وهو تحريف، والصواب ما أثبتناه. فالحاصل؛ أنه لم يرد نص ثابت من الوحي بأنه كانت لسليمان عليه السلام خيل ذات أجنحة. والله أعلم. Ibnu Ruslan —Semoga Allah Merahmatinya— mengatakan: Aisyah mengatakan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa …” maksudnya bahwa dahulu Sulaiman bin Dawud ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap yang bisa terbang? Adapun di dunia ini, aku juga tidak tahu. Aisyah —Semoga Allah Meridainya— berkata, “Beliau pun tertawa …” yakni Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam “… hingga aku melihat geraham beliau.” An-Nawājidz termasuk gigi Ḏawāẖik, yakni gigi yang kelihatan ketika tertawa. Adapun alasan beliau tertawa—Allah Yang lebih Mengetahui—adalah menjaga keakraban dengan Aisyah. Tidak bisa dikatakan bahwa diamnya beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah dalil kebenarannya, apalagi disertai dengan tawa, kecuali jika beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memang menjelaskannya. Bisa juga dikatakan bahwa diamnya beliau perihal itu karena belum diwahyukan kepada beliau tentang benar dan tidaknya hal itu. Selesai kutipan dari kitab Syarah Sunan Abi Dawud (19/13-15).  Perhatian: perkataan penulis “tabassumuhu” tertulis dalam kitab “tasmiyatuhu”, ini keliru, yang benar adalah apa yang telah kami tuliskan.  Kesimpulannya, tidak ada dalil sahih dari wahyu Allah yang menyatakan bahwa Sulaiman ʿAlaihis Salām memiliki kuda bersayap. Allah Yang lebih Mengetahui. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/426563/هل-كانت-خيل-سليمان-عليه-السلام-لها-اجنحة PDF Artikel 🔍 Harta Gono Gini, Hadist Malam Nisfu Sya Ban, Hukum Mencukur Alis Menurut Islam, Tafsir Mimpi Melihat Ka Bah, Cara Mengusir Banaspati, Rumah Tanya Visited 474 times, 3 visit(s) today Post Views: 503 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ternyata Teori Big Bang Bertentangan dengan Al Quran, Ini Bantahannya! – Syaikh Shalih Sindi

Apakah teori Big Bang (tentang terciptanya alam semesta) menyelisihi syariat?Ya, menyelisihi syariat,karena bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskantentang penciptaan-Nya atas langit dan bumi. “Katakanlah, ‘Pantaskah kalian ingkar kepada Zat Yang Menciptakan bumidalam dua masa dan kalian membuat pula sekutu-sekutu bagi-Nya?Itulah Tuhan seluruh alam.’” (QS. Fussilat: 9)dan seterusnya tentang apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskandalam ayat-ayat tersebut. Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumidalam berapa hari? Dalam enam hari. Sementara mereka mengatakanbahwa dulu ada sebuah bola kecilyang ada di ruang hampa tanpa waktu dan tempat, lebih dari dua belas milyar tahun yang lalulalu bola itu meledak di suatu masa tertentuyang menjadi awal permulaan alam semesta ini. Pendapat ini tidak berdasarkan ilmudan tanpa dalil pendukung kecuali prasangka mereka saja. Dalam hal ini kita berbicara tentang sesuatu yang gaib,maka kita menyerahkannya kepada Zat Yang Mengetahuinya Subẖānahu wa Taʿālā. Dialah Tabāraka wa Taʿālā Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Dia Menciptakannya dengan detail yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya Tabāraka wa Taʿālā. Teori Bing Bang ini bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskan tentang ini. ==== هَلْ نَظَرِيَّةُ انْفِجَارٍ عَظِيمٍ تُخَالِفُ الشَّرْعَ؟ نَعَمْ تُخَالِفُ الشَّرْعَ مُعَارِضَةً لِمَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي خَلْقِهِ لِلسَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ أَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الأَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ أَنْدَادًا ذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ إِلَى آخِرِ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَاتِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي كَمْ يَوْمٍ ؟ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَهَؤُلَاءِ يَقُولُونَ إِنَّهُ كَانَتْ هُنَاكَ كُرَيَّةٌ صَغِيرَةٌ كَانَتْ تَصْبَحُ فِي الْهَبَاءِ فِي لَا زَمَانَ وَلَا مَكَانَ قَبْلَ أَكْثَرَ مِنِ اثْنَتَي عَشْرَةَ مِلْيَارِ سَنَة ثُمَّ إِنَّهَا فِي لَحْظَةٍ مُعَيَّنَةٍ انْفَجَرَتْ فَكَانَتْ بِدَايَةُ هَذَا الْكَونِ وَهَذَا قَوْلٌ لَا أَثَارَةَ عَلَيْهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا دَلِيلَ يَسْنُدُهُ إِلَّا تَخَرُّصٌ مِنْهُمْ نَحْنُ فِي هَذَا الْأَمْرِ نَتَكَلَّمُ عَنْ أَمْرٍ غَيْبِيٍّ نُسَلِّمُ فِيهِ إِلَى الْعَلِيمِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ مِنْ عَدَمٍ وَخَلَقَهَا بِتَفْصِيلٍ بَيَّنَهُ فِي كِتَابِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَهَذِهِ النَّظَرِيَّةُ تُخَالِفُ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذَا الْأَمْرِ

Ternyata Teori Big Bang Bertentangan dengan Al Quran, Ini Bantahannya! – Syaikh Shalih Sindi

Apakah teori Big Bang (tentang terciptanya alam semesta) menyelisihi syariat?Ya, menyelisihi syariat,karena bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskantentang penciptaan-Nya atas langit dan bumi. “Katakanlah, ‘Pantaskah kalian ingkar kepada Zat Yang Menciptakan bumidalam dua masa dan kalian membuat pula sekutu-sekutu bagi-Nya?Itulah Tuhan seluruh alam.’” (QS. Fussilat: 9)dan seterusnya tentang apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskandalam ayat-ayat tersebut. Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumidalam berapa hari? Dalam enam hari. Sementara mereka mengatakanbahwa dulu ada sebuah bola kecilyang ada di ruang hampa tanpa waktu dan tempat, lebih dari dua belas milyar tahun yang lalulalu bola itu meledak di suatu masa tertentuyang menjadi awal permulaan alam semesta ini. Pendapat ini tidak berdasarkan ilmudan tanpa dalil pendukung kecuali prasangka mereka saja. Dalam hal ini kita berbicara tentang sesuatu yang gaib,maka kita menyerahkannya kepada Zat Yang Mengetahuinya Subẖānahu wa Taʿālā. Dialah Tabāraka wa Taʿālā Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Dia Menciptakannya dengan detail yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya Tabāraka wa Taʿālā. Teori Bing Bang ini bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskan tentang ini. ==== هَلْ نَظَرِيَّةُ انْفِجَارٍ عَظِيمٍ تُخَالِفُ الشَّرْعَ؟ نَعَمْ تُخَالِفُ الشَّرْعَ مُعَارِضَةً لِمَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي خَلْقِهِ لِلسَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ أَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الأَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ أَنْدَادًا ذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ إِلَى آخِرِ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَاتِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي كَمْ يَوْمٍ ؟ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَهَؤُلَاءِ يَقُولُونَ إِنَّهُ كَانَتْ هُنَاكَ كُرَيَّةٌ صَغِيرَةٌ كَانَتْ تَصْبَحُ فِي الْهَبَاءِ فِي لَا زَمَانَ وَلَا مَكَانَ قَبْلَ أَكْثَرَ مِنِ اثْنَتَي عَشْرَةَ مِلْيَارِ سَنَة ثُمَّ إِنَّهَا فِي لَحْظَةٍ مُعَيَّنَةٍ انْفَجَرَتْ فَكَانَتْ بِدَايَةُ هَذَا الْكَونِ وَهَذَا قَوْلٌ لَا أَثَارَةَ عَلَيْهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا دَلِيلَ يَسْنُدُهُ إِلَّا تَخَرُّصٌ مِنْهُمْ نَحْنُ فِي هَذَا الْأَمْرِ نَتَكَلَّمُ عَنْ أَمْرٍ غَيْبِيٍّ نُسَلِّمُ فِيهِ إِلَى الْعَلِيمِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ مِنْ عَدَمٍ وَخَلَقَهَا بِتَفْصِيلٍ بَيَّنَهُ فِي كِتَابِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَهَذِهِ النَّظَرِيَّةُ تُخَالِفُ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذَا الْأَمْرِ
Apakah teori Big Bang (tentang terciptanya alam semesta) menyelisihi syariat?Ya, menyelisihi syariat,karena bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskantentang penciptaan-Nya atas langit dan bumi. “Katakanlah, ‘Pantaskah kalian ingkar kepada Zat Yang Menciptakan bumidalam dua masa dan kalian membuat pula sekutu-sekutu bagi-Nya?Itulah Tuhan seluruh alam.’” (QS. Fussilat: 9)dan seterusnya tentang apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskandalam ayat-ayat tersebut. Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumidalam berapa hari? Dalam enam hari. Sementara mereka mengatakanbahwa dulu ada sebuah bola kecilyang ada di ruang hampa tanpa waktu dan tempat, lebih dari dua belas milyar tahun yang lalulalu bola itu meledak di suatu masa tertentuyang menjadi awal permulaan alam semesta ini. Pendapat ini tidak berdasarkan ilmudan tanpa dalil pendukung kecuali prasangka mereka saja. Dalam hal ini kita berbicara tentang sesuatu yang gaib,maka kita menyerahkannya kepada Zat Yang Mengetahuinya Subẖānahu wa Taʿālā. Dialah Tabāraka wa Taʿālā Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Dia Menciptakannya dengan detail yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya Tabāraka wa Taʿālā. Teori Bing Bang ini bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskan tentang ini. ==== هَلْ نَظَرِيَّةُ انْفِجَارٍ عَظِيمٍ تُخَالِفُ الشَّرْعَ؟ نَعَمْ تُخَالِفُ الشَّرْعَ مُعَارِضَةً لِمَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي خَلْقِهِ لِلسَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ أَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الأَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ أَنْدَادًا ذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ إِلَى آخِرِ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَاتِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي كَمْ يَوْمٍ ؟ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَهَؤُلَاءِ يَقُولُونَ إِنَّهُ كَانَتْ هُنَاكَ كُرَيَّةٌ صَغِيرَةٌ كَانَتْ تَصْبَحُ فِي الْهَبَاءِ فِي لَا زَمَانَ وَلَا مَكَانَ قَبْلَ أَكْثَرَ مِنِ اثْنَتَي عَشْرَةَ مِلْيَارِ سَنَة ثُمَّ إِنَّهَا فِي لَحْظَةٍ مُعَيَّنَةٍ انْفَجَرَتْ فَكَانَتْ بِدَايَةُ هَذَا الْكَونِ وَهَذَا قَوْلٌ لَا أَثَارَةَ عَلَيْهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا دَلِيلَ يَسْنُدُهُ إِلَّا تَخَرُّصٌ مِنْهُمْ نَحْنُ فِي هَذَا الْأَمْرِ نَتَكَلَّمُ عَنْ أَمْرٍ غَيْبِيٍّ نُسَلِّمُ فِيهِ إِلَى الْعَلِيمِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ مِنْ عَدَمٍ وَخَلَقَهَا بِتَفْصِيلٍ بَيَّنَهُ فِي كِتَابِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَهَذِهِ النَّظَرِيَّةُ تُخَالِفُ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذَا الْأَمْرِ


Apakah teori Big Bang (tentang terciptanya alam semesta) menyelisihi syariat?Ya, menyelisihi syariat,karena bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskantentang penciptaan-Nya atas langit dan bumi. “Katakanlah, ‘Pantaskah kalian ingkar kepada Zat Yang Menciptakan bumidalam dua masa dan kalian membuat pula sekutu-sekutu bagi-Nya?Itulah Tuhan seluruh alam.’” (QS. Fussilat: 9)dan seterusnya tentang apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskandalam ayat-ayat tersebut. Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumidalam berapa hari? Dalam enam hari. Sementara mereka mengatakanbahwa dulu ada sebuah bola kecilyang ada di ruang hampa tanpa waktu dan tempat, lebih dari dua belas milyar tahun yang lalulalu bola itu meledak di suatu masa tertentuyang menjadi awal permulaan alam semesta ini. Pendapat ini tidak berdasarkan ilmudan tanpa dalil pendukung kecuali prasangka mereka saja. Dalam hal ini kita berbicara tentang sesuatu yang gaib,maka kita menyerahkannya kepada Zat Yang Mengetahuinya Subẖānahu wa Taʿālā. Dialah Tabāraka wa Taʿālā Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.Allah ʿAzza wa Jalla Menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Dia Menciptakannya dengan detail yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya Tabāraka wa Taʿālā. Teori Bing Bang ini bertentangan dengan apa yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Jelaskan tentang ini. ==== هَلْ نَظَرِيَّةُ انْفِجَارٍ عَظِيمٍ تُخَالِفُ الشَّرْعَ؟ نَعَمْ تُخَالِفُ الشَّرْعَ مُعَارِضَةً لِمَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي خَلْقِهِ لِلسَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ أَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الأَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ أَنْدَادًا ذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ إِلَى آخِرِ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَاتِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي كَمْ يَوْمٍ ؟ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَهَؤُلَاءِ يَقُولُونَ إِنَّهُ كَانَتْ هُنَاكَ كُرَيَّةٌ صَغِيرَةٌ كَانَتْ تَصْبَحُ فِي الْهَبَاءِ فِي لَا زَمَانَ وَلَا مَكَانَ قَبْلَ أَكْثَرَ مِنِ اثْنَتَي عَشْرَةَ مِلْيَارِ سَنَة ثُمَّ إِنَّهَا فِي لَحْظَةٍ مُعَيَّنَةٍ انْفَجَرَتْ فَكَانَتْ بِدَايَةُ هَذَا الْكَونِ وَهَذَا قَوْلٌ لَا أَثَارَةَ عَلَيْهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا دَلِيلَ يَسْنُدُهُ إِلَّا تَخَرُّصٌ مِنْهُمْ نَحْنُ فِي هَذَا الْأَمْرِ نَتَكَلَّمُ عَنْ أَمْرٍ غَيْبِيٍّ نُسَلِّمُ فِيهِ إِلَى الْعَلِيمِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضَ مِنْ عَدَمٍ وَخَلَقَهَا بِتَفْصِيلٍ بَيَّنَهُ فِي كِتَابِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَهَذِهِ النَّظَرِيَّةُ تُخَالِفُ مَا بَيَّنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي هَذَا الْأَمْرِ
Prev     Next