Laporan Donasi Pembangunan Masjid Desa Girisekar

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Desa Girisekar terletak di pelosok barat Gunung Kidul-DIY, dekat dengan pantai selatan. Di desa ini terdapat beberapa dusun yang dari segi ekonomi dan agama masih jauh tertinggal dari desa-desa lainnya. Di zaman dahulu tersebar tradisi-tradisi syirik dan budaya yang jauh dari ajaran Islam. Berkat karunia Allah, dakwah di desa ini dan sekitarnya semakin berkembang. Ritual keagamaan yang tidak diajarkan dalam Islam semakin lama semakin ditinggalkan. Bahkan oleh sebagian pemuka agama berkat hidayah Allah pun berangsur-angsur meninggalkan tradisi yang jauh dari Islam. Masyarakat pun semakin sadar dan mulai beralih ke masjid dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu semua berkat karunia dan taufik dari Allah. Keadaan masjid saat ini semakin sesak dengan para jama’ah yang sudah mulai sadar akan hakikat hidup sebenarnya yaitu untuk beribadah pada Allah. Karena semakin sesaknya masjid, masjid dan musholla yang ada butuh untuk diperluas dan yang lainnya butuh untuk diperbaiki karena kondisi fisiknya yang sudah tidak layak. Beberapa masjid pun perlu direhab tempat wudhu dan kamar mandinya. Dan sangat perlu ada sarana pelengkap untuk masjid seperti Al Qur’an terjemahan dan buku-buku pembelajaran TPA. Di rumaysho.com semula kami anggarkan pembangunan untuk 2 masjid (Musholla Al Ikhlas Kunci dan Masjid Al Muttaqin Pucang) di desa Girisekar dan sekitarnya. Namun karena masjid yang lainnya di desa kami dan sekitarnya pun amat butuh pada donasi, kami putuskan untuk membagi donasi ini untuk 9masjid (sebelumnya 7 masjid, kami menambah dua masjid di desa tetangga kami yang baru mengajukan proposalnya tanggal 25/5/2011 dan 30/6/2011) guna merehab masjid, memperluasnya, mengadakan sarana tempat wudhu, kamar mandi dan menyediakan berbagai sarana pelengkap. Masjid-masjid yang akan direhab adalah sebagai berikut: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid ini adalah masjid terbesar di Desa Girisekar dan menjadi pusat shalat Jum’at. Masjid ini berdampingan langsung dengan rumah kami. Yang akan diperbaiki dari masjid ini adalah tempat wudhu yang mesti diperluas dan kamar mandi yang dibuat lebih layak. Masjid Adz Dzikro Nduren. Masjid ini adalah masjid terbesar kedua di desa kami dan menjadi pusat shalat Jum’at kedua bagi jama’ah yang berada di sebelah selatan Desa Girisekar. Yang perlu dibangun dari masjid ini adalah tempat wudhu dan kamar mandi. Dan sebagian donasi sudah disalurkan ke masjid ini guna mengadakan sarana sound system yang sudah rusak sebelumnya. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid ini dalam tahap rehab ulang. Masjid ini termasuk masjid besar sekaligus digunakan untuk shalat Jum’at di desa tetangga, berdampingan dengan desa kami. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid ini adalah masjid kecil di desa kami yang memuat jamaah satu RT. Masjid ini –alhamdulillah– dari donasi ini telah selesai merehab jalan, penyediaan tempat wudhu yang layak, pemasangan kipas angin, dan mengecat ulang. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Masjid ini berada di dusun sebelah, namun masih satu desa. Masyarakat di sekitar masjid ini masih butuh dakwah dan termasuk dusun yang masih tertinggal dari segi ekonomi maupun agama. Yang perlu direhab dari masjid ini adalah atap dan plafon. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla ini adalah musholla kecil yang berada di desa kami di tengah masyarakat yang dikenal miskin dan berekonomi rendah. Musholla ini perlu diperluas karena saat ini sulit memuat jama’ah sekitar dua RT. Musholla Nur Hasanah Magir. Musholla ini sudah mengalami rehab dan sumber dananya adalah donasi rumaysho.com yang kami publish setahun yang lalu. Namun musholla ini masih butuh perbaikan tempat wudhu yang belum dirampungkan sejak rehab sebelumnya. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid ini terletak di desa tetangga kami. Masjid ini baru saja dibangun, butuh dana finishing untuk pemasangan keramik, pemasangan kaca dan penyediaan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami akhir-akhir ini (25/5/2011). Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. Masjid ini terletak di daerah yang sebagian penduduknya beragama Budha. Pergolakan dan dakwah Budha masuk di desa tersebut di tahun 80-an. Saat-saat ini banyak yang kembali memeluk Islam. Namun sarana masjid banyak yang sudah tidak layak, membutuhkan sarana sound system, listrik, bak penampungan air, dan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami pada tanggal 30/06/2011. Moga dengan pembangunan masjid dan musholla di desa ini semakin memudahkan tersebarnya dakwah Islam di daerah pedalaman Gunung Kidul yang di mana dakwah agama lain sudah ikut merambah (seperti dari umat Kristiani dan umat Budha). Sebagai sarana pelengkap dakwah di desa Girisekar, insya Allah akan didirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Darush Sholihin. Info selengkapnya akan ditampilkan pada postingan tersendiri. Tetapi dengan donasi pembangunan masjid ini, kami sudah menggunakan dana yang ada untuk pembelian tanah, perlengkapan santri dan sarana penunjang. Bagi yang ingin berpartisipasi, silakan mentransfer dananya ke rekening berikut: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881 Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165 Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155 Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur (jika ingin disebut), besar dana, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan donasi. Contoh: Hamba Allah#Rp.2.000.000#BCA#19 April 2011#pembangunan masjid. Donasi ini berlaku mulai 19 April 2011 dan diperpanjang sampai dengan batas tak tentu. Allah Ta’ala berfirman, مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui .” (QS. Al Baqarah: 261) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Masjid dan Pesantren Darush Sholihin 20/4/2011 Hamba Allah (0878830 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08190594 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08119780 ***) Rp.750.000 (via BCA) 20/4/2011 Ummu Fathia (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (0815897 ***) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Achsan Hamzah (08138074 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 20/4/2011 Hamba Allah (08132809 ***) Rp.200.000 (via BCA) Total Donasi per 20/4/2011 = Rp.3.150.000 21/4/2011 Ummu Davin (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08175111 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08981441 ***) Rp.300.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (081317424 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Tasmini (alm) (085213033 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (0878816 ***) Rp.75.000 (via BCA) 21/4/2011 Ummu Anditya (via BBM) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Hamba Allah (08115797 ***) Rp.500.737 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08581405 ***) Rp.25.000 (via BCA) 21/4/2011 Tinni Hendartini (08159270 ***) Rp.700.000 (via BCA) 21/4/2011 Abdullah (08524534 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (087861221 ***) Rp.25.000 (via BCA) Total Donasi per 21/4/2011 = Rp.8.475.737 22/4/2011 Rizkon Robbi (081588722 ***) Rp.200.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (0856233 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Sundari S Jakarta (0817989 ***) Rp.250.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (081380060 ***) Rp.100.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (03170635 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Linda Assegaf (08128507 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 22/4/2011 = Rp.12.625.737 23/4/2011 Hamba Allah (08161933 ***) Rp.200.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (0817758 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ikhwan Bandung (081511233 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (081515324 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (0811157 ***) Rp.2.o00.000 (via BCA) 23/4/2011 Haryogo Pamungkas (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Rini Ummu Afif (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ria Fityani (via BBM) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081805039 ***) Rp.20.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah – Jamaah Bali (08175599 ***) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081939690 ***) Rp.50.000 (via BCA) Total Donasi per 23/4/2011 = Rp.19.195.737 24/4/2011 Slamet Mbali-GK Rp.10.000 (langsung) 24/4/2011 Yayuk Y Ummu Ananda (08128371 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Yuri Zagloel (08118795 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Ranti-Thomas-Arnaldo (08182012 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah di Jakarta (08136636 ***) Rp.75.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (0813987014 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (081254244 ***) Rp.300.000 (via BCA) 24/4/2011 Nevi Harlina (0818074911 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/4/2011 Hamba Allah (08161995 ***) Rp.100.000 (via BCA) 24/4/2011 Abdullah (08153785 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) Total Donasi per 24/4/2011 = Rp.24.030.737 25/4/2011 Taslim Bogor (08134711 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/4/2011 = Rp.25.030.737 26/4/2011 Sukisno (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Nurhidayati (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (08111875 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Masjid Al Ikhlas (0813***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (085748842 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (081383768 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Aris (08564022 ***) Rp.300.000 (via BCA) 26/4/2011 Didit Samarinda (081347191 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Endi Rahmani (081904034 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Pipin (081328380 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Rina Ariyanti (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Ipan Pranasakti (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Abdullah (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (085216593 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (08161858 ***) Rp.250.000 (via BCA) 26/4/2011 Bu Salamah (Pogung Kidul) Rp.500.000 (langsung) 26/4/2011 Alm. Munah (083890808 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Isna (083890808 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Zainab Talaohu (via BBM) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 26/4/2011 = Rp.37.930.737 27/4/2011 Ratih (08159575 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Dwiyanto (081901389 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Boris Tanesia (08159185 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Arian (081931331 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (08551002 ***) Rp. 1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (0819851 ***) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 27/4/2011 = Rp.41.280.737 28/4/2011 Hamba Allah (0856716 ***) Rp.100.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Belanda (+31634384 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Balikpapan (081350574 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 28/4/2011 Nuraini (085239677 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 28/4/2011 = Rp.42.630.737 29/4/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (085267948 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (087888686 ***) Rp.5.000.000 (via BCA) 29/4/2011 Itis Ternate (081356043 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 29/4/2011 = Rp.48.930.737 30/4/2011 Gondo Ngampel Rp.50.000 (langsung) 30/4/2011 Rizkon Robbi (08158872 ***) Rp.200.000 (via BCA) 30/4/2011 Aji Klaten (08121569 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 30/4/2011 Hamba Allah (08159003 ***) Rp.3.500.000 (via BCA) 30/4/2011 Bu Barkah Rp.300.000 (langsung) 30/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 30/4/2011 Hamba Allah (085727357 ***) Rp.700.000 (via BCA) Total Donasi per 30/4/2011 = Rp.54.850.737 1/5/2011 Hamba Allah (08111102 ***) Rp.200.000 (via BCA) 1/5/2011 Novi Cahyanti dan Keluarga (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 1/5/2011 = Rp.56.350.737 2/5/2011 Pecinta Sunnah (085780116 ***) Rp.100.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (0811104 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 2/5/2011 Zulkarnain (081278647 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (089637508 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (08568015 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 2/5/2011 = Rp.57.950.737 3/5/2011 Mati (0816185 ***) Rp.500.000 (via BCA) 3/5/2011 Rizki Mula (085292921***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Septi Ambarwati (081328063 ***) Rp.200.000 (via BCA) 3/5/2011 Januardo (085217719 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 3/5/2011 = Rp.59.350.737 4/5/2011 Haryono (08161376 ***) Rp.500.000 (via BCA) 4/5/2011 Hamba Allah (02194976 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 4/5/2011 Adang Bintaro (08562000***) Rp.2.000.000 (via BCA) Total Donasi per 4/5/2011 = Rp.63.850.737 5/5/2011 Hamba Allah Rp.30.000 (langsung) 5/5/2011 Abu Yusuf (081347118 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 5/5/2011 = Rp.64.380.737 6/5/2011 Hamba Allah (085720345 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 6/5/2011 = Rp.64.580.737 7/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.100.000 (via BCA) 7/5/2011 Mulyadi Ade (085883135 ***) Rp.150.000 (via BCA) 7/5/2011 Hamba Allah (081905054 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 7/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 7/5/2011 = Rp.65.530.737 8/5/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 8/5/2011 Hamba Allah (08158112 ***) Rp.1.725.000 (via BCA) Total Donasi per 8/5/2011 = Rp.69.255.737 9/5/2011 Abu Affan (08122876 ***) Rp.99.999 (via BCA) Total Donasi per 9/5/2011 = Rp.69.355.736 10/5/2011 Hamba Allah (082111480 ***) Rp.300.000 (via BCA) 10/5/2011 Gesit Aprianto (085643599 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 10/5/2011 Pudio+keluarga (08156732 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 10/5/2011 = Rp.69.805.736 11/5/2011 Hartati (085277506 ***) Rp.855.444 (via BCA) 11/5/2011 Joko Nurul (081578523 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 11/5/2011 = Rp.70.811.180 12/5/2011 Hamba Allah (085668138 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 12/5/2011 = Rp.70.911.180 15/5/2011 Hamba Allah (081350574 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 15/5/2011 = Rp.71.111.180 16/5/2011 Chorista Ika H (081311350 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hendri Saputra (08568663 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083897855 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Dermawan (085888916 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083171341 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081321048 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081539862 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08115408 ***) Rp.25.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (0818468 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08155059 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08562062 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (087738158 ***) Rp.200.000 (via BCA) 17/5/2011 Abu Nisa (0811766 ***) Rp.500.000 (via BCA) 17/5/2011 Hamba Allah (082125621 ***) Rp.100.000 (via BSM) 17/5/2011 Hamba Allah (081355182 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 17/5/2011 Nani Cendana (via BBM) Rp.700.000 (via BCA) 18/5/2011 Rio Hendrawan (095266440 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 18/5/2011 Inun Kurniati (081703403 ***) Rp. 100.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (085643077 ***) Rp. 400.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (02193032 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 17/5/2011 Salsabila (085227378 ***) Rp.300.000 (via BSM) 18/5/2011 Hamba Allah (089636935 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Hamba Allah (+97455183 ***) Rp.700.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081269636 ***) Rp.100.000 (via BCA) 19/5/2011 Ati Zubir (081510391 ***) Rp.500.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 20/5/2011 Mukhlis El Afkar (via BBM) Rp. 35.123 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah (081555261 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/5/2011 Nelly Tsabita (08970879 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 21/5/2011 Hamba Allah (081328694 ***) Rp.250.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (087887262 ***) Rp.60.078 (via BCA) 21/5/2011 Abdullah (081361118 ***) Rp.100.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (085925128 ***) Rp.200.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (08123010 ***) Rp.50.000 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah Singapura Rp.12.000.000 (via BSM) 22/5/2011 Hamba Allah (085279529 ***) Rp.50.000 (via BCA) 22/5/2011 Hamba Allah (081316350 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/5/2011 Hamba Allah (082125225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Kel. Taufik (081519066 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (08562373 ***) Rp.500.000 (via BCA) 23/5/2o11 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 23/5/2011 Amatullah (+6582250 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (+85293437 ***) Rp.190.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (087883041 ***) Rp.32.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (085641222 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (0811732 ***) Rp.200.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (08156088 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/5/2011 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 25/5/2011 Hamba Allah (08995188 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 25/5/2011 Hamba Allah (0819700 ***) Rp.250.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (08128979 ***) Rp.100.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (081933933 ***) Rp.1.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/5/2011 = Rp.96.997.381 182. 26/5/2011 Abu Rizki (085656000 ***) Rp. 100.123 (via BNI Syariah) 183. 26/5/2011 Hamba Allah (083811174 ***) Rp. 25.000 (via BNI Syariah) 184. 26/5/2011 Rizki Kamo () Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 185. 26/5/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp. 50.000 (via BSM) 186. 26/5/2011 Kel Hafni Ramawi (08161310 *** ) Rp. 150.000 (via BNI Syariah) 187. 27/5/2011 Hamba Allah (08115500***) Rp.250.000 (via BSM) 188. 27/5/2011 Soffi (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 189. 27/5/2011 Lutfi Jamili (08111907 ***) Rp. 200.000 (via BCA) 190. 27/5/2011 Yulia Tripuspawati (085658767 ***) Rp.100.000 (via BSM) 191. 27/5/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 192. 28/5/2011 HA (087832888 ***) Rp.555.555 (via BNI Syariah) 193. 27/5/2011 Hamba Allah (08568384 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 194. 27/5/2011 Ridzvan (+6738843 ***) Rp.1.390.000 (via BNI Syariah) 195. 28/5/2011 Hamba Allah (08121573 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 196. 29/5/2011 Hamba Allah (08812285 ***) Rp.50.000 (via BCA) 197. 29/5/2011 Kristanto Hadi (085731284 ***) Rp.500.000 (via BCA) 198. 30/5/2011 3 Ikhwan Jakarta (08568015 ***) Rp.350.000 (via BCA) 199. 30/5/2011 Hamba Allah (0811963 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 200. 30/5/2011 Izpal (087882317 ***) Rp.500.000 (via BSM) 201. 30/5/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.25.000 (via BNI Syariah) 202. 31/5/2011 Hamba Allah (081977753 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 203. 31/5/2011 Hamba Allah (083862900 ***) Rp.100.000 (via BCA) 204. 31/5/2011 Soesi Mrini (081932932 ***) Rp.200.000 (via BSM) 205. 31/5/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 206. 31/5/2011 Hamba Allah (085217733 ***) Rp.100.000 (via BSM) 207. 1/6/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 208. 1/6/2011 Hamba Allah (+97455824 ***) Rp.300.000 (via BCA) 209. 31/5/2011 Hamba Allah (0811878 ***) Rp.100.000 (via BCA) 210. 2/6/2011 Hamba Allah (081578009 ***) Rp.500.000 (via BSM) 211. 2/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 212. 2/6/2011 Hamba Allah (08170088 ***) Rp.25.000 (via BCA) 213. 2/6/2011 Hamba Allah (085692364 ***) Rp.50.000 (via BCA) 214. 2/6/2011 Mahda Jumena (02292059 ***) Rp.100.000 (via BCA) 215. 3/6/2011 Abuhana (02171107 ***) Rp.100.000 ? 216. 3/6/2011 Alm. Beti Retnosari & Kel (087838253 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 217. 3/6/2011 Age Poncoshandy Asmorojati (085725783 ***) Rp.150.000 (via BSM) 218. 3/6/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.300.000 (via BCA) 219. 3/6/2011 Hamba Allah (081328793 ***) Rp.100.000 (via BNI) 220. 3/6/2011 Abu Hafshoh (085730801 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 221. 4/6/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 222. 4/6/2011 Rainy (08111991 ***) Rp.200.000 (via BCA) 223. 5/6/2011 Hamba Allah (085240663 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 224. 6/6/2011 Hamba Allah (08158088 ***) Rp.50.000 (via BSM) 225. 6/6/2011 Nur (08567952 ***) Rp.100.000 (via BCA) 226. 7/6/2011 Hamba Allah (081347118 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 227. 7/6/2011 Hamba Allah (0818973 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 228. 8/6/2011 Hamba Alloh Sprtnh Satu (?) Rp.100.000 (via BSM) 229. 8/6/2011 Hamba Allah Sprmn Satu (?) Rp.50.000 (via BSM) 230. 8/6/2011 Hamba Allah Sprtnh Sprmn Kabepe (?) Rp.30.000.000 (via BSM) 231. 8/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 232. 10/6/2011 Abdulloh (081227688 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 233. 10/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 234. 10/6/2011 Hamba Allah (085342740 ***) Rp.15.000 (via BNI Syariah) 235. 10/6/2011 Hamba Allah (08158813 ***) Rp.250.000 (via BCA) 236. 12/6/2011 Hamba Allah (08179393 ***) Rp.50.000 (via BCA) 237. 13/6/2011 Hamba Allah (0816776 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) … untuk toilet 238. 13/6/2011 Hamba Allah (085643031 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 239. 12/6/2011 Hamba Allah (082114199 ***) Rp.50.000 (via BCA) 240. 14/6/2011 Hamba Allah (02156112 ***) Rp.100.000 (via BCA) 241. 14/6/2011 Umi (081383838 ***) Rp.100.000 (via BCA) 242. 15/6/2011 Hamba Allah (081363236 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 243. 16/6/2011 Abdurrahman (0816100 ***) Rp250.000 (via BSM) 244. 17/6/2011 Hamba Allah (082110225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 245. 18/6/2011 Hamba Allah (082135190 ***) Rp.350.000 (via BSM) 246. 22/6/2011 Hamba Allah (08566310 ***) Rp.100.000 (via BSM) 247. 24/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 248. 22/6/2011 Hamba Fatawa (087737735 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 249. 25/6/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp.50.000 (via BSM) 250. 27/6/2011 Hamba Allah (081510809 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 251. 26/6/2011 Rajab (081806106 ***) Rp.200.000 (via BCA) 252. 27/6/2011 Hamba Allah (085334016 ***) Rp.50.000 (via BSM) 253. 30/6/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 254. 1/7/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 255. 1/7/2011 Hamba Alloh (082727718 ***) Rp.250.000 (via BCA) 256. 1/7/2011 Hamba Allah (08119701 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 257. 6/7/2011 Hamba Alloh (081347118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 258. 6/7/2011 Hamba Allah (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 259. 8/7/2011 Ummu Azzahra (081361118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 260. 7/7/2011 Dian (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 261. 3/7/2011 HA (081344676 ***) Rp.500.000 (via BSM) 262. 10/7/2011 Zainab Talaohu (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 263. 14/07/2011 Abdurrahman (081286131 ***) Rp.500.000 (via BCA) 264. 16/07/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 265. 18/07/2011 Rully (085624008 ***) Rp.400.000 (via BCA) 266. 19/07/2011 Hamba Allah (08561056 ***) Rp.250.000 (via BCA) 267. 21/07/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 268. 26/07/2011 Hamba Allah (085634444 ***) Rp.165.500 (via BSM) 269. 29/07/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 270. 02/08/2011 Abu Fatih (082125650 ***) Rp.50.000 (via BCA) 271. 02/08/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.75.000 (via BCA) 272. 02/08/2011 Hamba Allah (08121972 ***) Rp.300.000 (via BCA) 273. 03/08/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 274. 04/08/2011 Syamsul (085885268 ***) Rp.500.000 (via BCA) 275. Juli 2011 Hamba Allah (085647040 ***) Rp.100.000 (via BCA) 276. 04/08/2011 Ummu ‘Abdillah (+60165438 ***) Rp.275.000 (via BCA) 277. 05/08/2011 Hamba Allah (081332322 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 278. 06/08/2011 Hamba Allah (085224031 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 279. 07/08/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) Total pemasukan donasi per 09/08/2011 : Rp.152.048.559,-   Laporan Pengeluaran Donasi 24/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.10.010.000 25/04/2011 Transport untuk Pengambilan Kusen Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.214.500 25/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp1.500.000 26/04/2011 Pembelian 1 Al Qur’an Terjemahan = Rp.100.000 27/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.2.500.000 29/04/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.6.600.000 30/04/2011 Penyerahan dana I untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 01/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.400.000 02/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.250.000 02/05/2011 Pembelian 20 Al Qur’an Terjemahan = Rp. 1.500.000 03/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.300.000 03/05/2011 Pembelian Horn Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.400.000 03/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.10.000.000 03/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.500.000 06/05/2011 Penyerahan dana II untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.250.000 07/05/2011 Penyerahan dana III untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 08/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.2.000.000 08/05/2011 Pembelian Buku PelajaranTPA untuk 6 masjid = Rp.92.500 13/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.400.000 15/05/2011 Penyerahan dana VI untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 20/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.3.500.000 21/05/2011 Penyerahan dana VII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.3.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana untuk Musholla Nur Hasanah = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.2.500.000 25/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.2.500.000 25/05/2011 Transport pembelian keramik ke Jogja-Imogiri = Rp.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana VIII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.100.000 26/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.3.000.000 30/06/2011 Penyerahan dana IX untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.724.500 30/06/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.000.000 01/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.900.000 01/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.100.000 01/07/2011 Penyerahan dana X untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 03/07/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.2.900.000 06/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.800.000 08/07/2011 Pembelian sarana TPA Masjid Al Hadi Nduren dan Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp. Rp.87.500 09/07/2011 Penyerahan dana V untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.500.000 12/07/2011 Penyerahan dana XI guna pembelian semen untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.215.000 13/07/2011 Penyerahan dana XII guna pembelian keramik teras (tempat pembelajaran TPA dan pesantren Darush Sholihin) untuk Masjid Jami’ Al Adha = Rp.500.000 13/07/2011 Perlengkapan santri sema’an Al Qur’an = Rp.100.000 17/07/2011 Biaya tukang untuk pembangunan Masjid Mbali = Rp.1.400.000 17/07/2011 Hadiah untuk Lomba TPA = Rp.70.000 17/07/2011 Perlengkapan TPA, Iqro’ dan Al Qur’an Terjemahan = Rp. 460.000 18/07/2011 Perlengkapan TPA untuk masjid Al Hadi dan masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.87.500 20/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.1.000.000 21/07/2011 Pembelian semen dan pasir untuk tangga Masjid Jami’ Al Adha = Rp.400.000 23/07/2011 Hadiah untuk lomba TPA Pundung = Rp.50.000 24/07/2011 Konsumsi TPA Bersama di Masjid Mbali = Rp.30.000 24/07/2011 Snack TPA Pundung = Rp.10.000 25/07/2011 Uang muka pembelian tanah pesantren Darush Sholihin dari total 7 juta rupiah = Rp.1.000.000 25/07/2011 Pembelian CD dan Buku TPA = Rp.230.000 25/07/2011 Pembelian printer, infus dan printer head cleaner guna perlengkapan pesantren Darush Sholihin = Rp.710.000 25/07/2011 Pembelian projector BenQ untuk keperluan pesantren Darush Sholihin + kabel VGA 10 m = Rp.3.325.000 25/07/2011 Kertas A4 70 gr untuk keperluan pesantren Darush Sholihin = Rp.33.000 25/07/2011 Pembelian air untuk Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.150.000 26/07/2011 Pembelian VCD Mualaf Hindu dan VCD Kisah Anak-anak 2 Keping untuk keperluan dakwah warga = Rp.47.000 27/07/2011 Pembelian 25 binder dan 25 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.378.350 28/07/2011 Pembelian VCD Kedudukan Akal, VCD Thoharoh, VCD Musibah Dunia = Rp.71.600 28/07/2011 Pembelian 20 binder dan 20 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.271.500 30/07/2011 Hadiah lomba TPA (buku, juz ‘amma, pulpen, pensil, snack, permen) = Rp.206.500 30/07/2011 Pembelian lampu untuk masjid Pundung = Rp.90.000 30/07/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.200.000 31/07/2011 Pembelian snack untuk lomba TPA Pundung = Rp.15.000 01/08/2011 Pembelian 10 Al Qur’an terjemahan mereka Al Hidayah = Rp.750.000 01/08/2011 Pembelian 10 binder dan 10 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.128.500 01/08/2011 Mukafaah pengajar TPA Kunci dan Pundung untuk bulan Juli = Rp.200.000 Total pengeluaran donasi per 09 /08/2011 = Rp.98.857.950 Sisa donasi = Rp.53.190.609,-   Catatan: Dana yang belum dikeluarkan masih disimpan untuk pembangunan Musholla Al Ikhlas yang baru direhab/ diperluas setelah Ramadhan 1432 H. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk pembangunan Pondok Pesantren Darush Sholihin di samping Masjid Jami Al Adha Dusun Warak Desa Girisekar Semoga Allah membalas amalan para donatur sekalian dengan pahala melimpah dan moga rizkinya tambah barokah.   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal     Info www.rumaysho.com, update 10/08/2011 Tagsrenovasi masjid

Laporan Donasi Pembangunan Masjid Desa Girisekar

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Desa Girisekar terletak di pelosok barat Gunung Kidul-DIY, dekat dengan pantai selatan. Di desa ini terdapat beberapa dusun yang dari segi ekonomi dan agama masih jauh tertinggal dari desa-desa lainnya. Di zaman dahulu tersebar tradisi-tradisi syirik dan budaya yang jauh dari ajaran Islam. Berkat karunia Allah, dakwah di desa ini dan sekitarnya semakin berkembang. Ritual keagamaan yang tidak diajarkan dalam Islam semakin lama semakin ditinggalkan. Bahkan oleh sebagian pemuka agama berkat hidayah Allah pun berangsur-angsur meninggalkan tradisi yang jauh dari Islam. Masyarakat pun semakin sadar dan mulai beralih ke masjid dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu semua berkat karunia dan taufik dari Allah. Keadaan masjid saat ini semakin sesak dengan para jama’ah yang sudah mulai sadar akan hakikat hidup sebenarnya yaitu untuk beribadah pada Allah. Karena semakin sesaknya masjid, masjid dan musholla yang ada butuh untuk diperluas dan yang lainnya butuh untuk diperbaiki karena kondisi fisiknya yang sudah tidak layak. Beberapa masjid pun perlu direhab tempat wudhu dan kamar mandinya. Dan sangat perlu ada sarana pelengkap untuk masjid seperti Al Qur’an terjemahan dan buku-buku pembelajaran TPA. Di rumaysho.com semula kami anggarkan pembangunan untuk 2 masjid (Musholla Al Ikhlas Kunci dan Masjid Al Muttaqin Pucang) di desa Girisekar dan sekitarnya. Namun karena masjid yang lainnya di desa kami dan sekitarnya pun amat butuh pada donasi, kami putuskan untuk membagi donasi ini untuk 9masjid (sebelumnya 7 masjid, kami menambah dua masjid di desa tetangga kami yang baru mengajukan proposalnya tanggal 25/5/2011 dan 30/6/2011) guna merehab masjid, memperluasnya, mengadakan sarana tempat wudhu, kamar mandi dan menyediakan berbagai sarana pelengkap. Masjid-masjid yang akan direhab adalah sebagai berikut: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid ini adalah masjid terbesar di Desa Girisekar dan menjadi pusat shalat Jum’at. Masjid ini berdampingan langsung dengan rumah kami. Yang akan diperbaiki dari masjid ini adalah tempat wudhu yang mesti diperluas dan kamar mandi yang dibuat lebih layak. Masjid Adz Dzikro Nduren. Masjid ini adalah masjid terbesar kedua di desa kami dan menjadi pusat shalat Jum’at kedua bagi jama’ah yang berada di sebelah selatan Desa Girisekar. Yang perlu dibangun dari masjid ini adalah tempat wudhu dan kamar mandi. Dan sebagian donasi sudah disalurkan ke masjid ini guna mengadakan sarana sound system yang sudah rusak sebelumnya. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid ini dalam tahap rehab ulang. Masjid ini termasuk masjid besar sekaligus digunakan untuk shalat Jum’at di desa tetangga, berdampingan dengan desa kami. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid ini adalah masjid kecil di desa kami yang memuat jamaah satu RT. Masjid ini –alhamdulillah– dari donasi ini telah selesai merehab jalan, penyediaan tempat wudhu yang layak, pemasangan kipas angin, dan mengecat ulang. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Masjid ini berada di dusun sebelah, namun masih satu desa. Masyarakat di sekitar masjid ini masih butuh dakwah dan termasuk dusun yang masih tertinggal dari segi ekonomi maupun agama. Yang perlu direhab dari masjid ini adalah atap dan plafon. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla ini adalah musholla kecil yang berada di desa kami di tengah masyarakat yang dikenal miskin dan berekonomi rendah. Musholla ini perlu diperluas karena saat ini sulit memuat jama’ah sekitar dua RT. Musholla Nur Hasanah Magir. Musholla ini sudah mengalami rehab dan sumber dananya adalah donasi rumaysho.com yang kami publish setahun yang lalu. Namun musholla ini masih butuh perbaikan tempat wudhu yang belum dirampungkan sejak rehab sebelumnya. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid ini terletak di desa tetangga kami. Masjid ini baru saja dibangun, butuh dana finishing untuk pemasangan keramik, pemasangan kaca dan penyediaan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami akhir-akhir ini (25/5/2011). Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. Masjid ini terletak di daerah yang sebagian penduduknya beragama Budha. Pergolakan dan dakwah Budha masuk di desa tersebut di tahun 80-an. Saat-saat ini banyak yang kembali memeluk Islam. Namun sarana masjid banyak yang sudah tidak layak, membutuhkan sarana sound system, listrik, bak penampungan air, dan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami pada tanggal 30/06/2011. Moga dengan pembangunan masjid dan musholla di desa ini semakin memudahkan tersebarnya dakwah Islam di daerah pedalaman Gunung Kidul yang di mana dakwah agama lain sudah ikut merambah (seperti dari umat Kristiani dan umat Budha). Sebagai sarana pelengkap dakwah di desa Girisekar, insya Allah akan didirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Darush Sholihin. Info selengkapnya akan ditampilkan pada postingan tersendiri. Tetapi dengan donasi pembangunan masjid ini, kami sudah menggunakan dana yang ada untuk pembelian tanah, perlengkapan santri dan sarana penunjang. Bagi yang ingin berpartisipasi, silakan mentransfer dananya ke rekening berikut: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881 Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165 Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155 Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur (jika ingin disebut), besar dana, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan donasi. Contoh: Hamba Allah#Rp.2.000.000#BCA#19 April 2011#pembangunan masjid. Donasi ini berlaku mulai 19 April 2011 dan diperpanjang sampai dengan batas tak tentu. Allah Ta’ala berfirman, مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui .” (QS. Al Baqarah: 261) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Masjid dan Pesantren Darush Sholihin 20/4/2011 Hamba Allah (0878830 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08190594 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08119780 ***) Rp.750.000 (via BCA) 20/4/2011 Ummu Fathia (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (0815897 ***) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Achsan Hamzah (08138074 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 20/4/2011 Hamba Allah (08132809 ***) Rp.200.000 (via BCA) Total Donasi per 20/4/2011 = Rp.3.150.000 21/4/2011 Ummu Davin (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08175111 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08981441 ***) Rp.300.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (081317424 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Tasmini (alm) (085213033 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (0878816 ***) Rp.75.000 (via BCA) 21/4/2011 Ummu Anditya (via BBM) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Hamba Allah (08115797 ***) Rp.500.737 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08581405 ***) Rp.25.000 (via BCA) 21/4/2011 Tinni Hendartini (08159270 ***) Rp.700.000 (via BCA) 21/4/2011 Abdullah (08524534 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (087861221 ***) Rp.25.000 (via BCA) Total Donasi per 21/4/2011 = Rp.8.475.737 22/4/2011 Rizkon Robbi (081588722 ***) Rp.200.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (0856233 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Sundari S Jakarta (0817989 ***) Rp.250.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (081380060 ***) Rp.100.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (03170635 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Linda Assegaf (08128507 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 22/4/2011 = Rp.12.625.737 23/4/2011 Hamba Allah (08161933 ***) Rp.200.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (0817758 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ikhwan Bandung (081511233 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (081515324 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (0811157 ***) Rp.2.o00.000 (via BCA) 23/4/2011 Haryogo Pamungkas (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Rini Ummu Afif (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ria Fityani (via BBM) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081805039 ***) Rp.20.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah – Jamaah Bali (08175599 ***) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081939690 ***) Rp.50.000 (via BCA) Total Donasi per 23/4/2011 = Rp.19.195.737 24/4/2011 Slamet Mbali-GK Rp.10.000 (langsung) 24/4/2011 Yayuk Y Ummu Ananda (08128371 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Yuri Zagloel (08118795 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Ranti-Thomas-Arnaldo (08182012 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah di Jakarta (08136636 ***) Rp.75.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (0813987014 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (081254244 ***) Rp.300.000 (via BCA) 24/4/2011 Nevi Harlina (0818074911 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/4/2011 Hamba Allah (08161995 ***) Rp.100.000 (via BCA) 24/4/2011 Abdullah (08153785 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) Total Donasi per 24/4/2011 = Rp.24.030.737 25/4/2011 Taslim Bogor (08134711 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/4/2011 = Rp.25.030.737 26/4/2011 Sukisno (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Nurhidayati (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (08111875 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Masjid Al Ikhlas (0813***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (085748842 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (081383768 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Aris (08564022 ***) Rp.300.000 (via BCA) 26/4/2011 Didit Samarinda (081347191 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Endi Rahmani (081904034 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Pipin (081328380 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Rina Ariyanti (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Ipan Pranasakti (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Abdullah (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (085216593 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (08161858 ***) Rp.250.000 (via BCA) 26/4/2011 Bu Salamah (Pogung Kidul) Rp.500.000 (langsung) 26/4/2011 Alm. Munah (083890808 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Isna (083890808 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Zainab Talaohu (via BBM) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 26/4/2011 = Rp.37.930.737 27/4/2011 Ratih (08159575 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Dwiyanto (081901389 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Boris Tanesia (08159185 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Arian (081931331 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (08551002 ***) Rp. 1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (0819851 ***) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 27/4/2011 = Rp.41.280.737 28/4/2011 Hamba Allah (0856716 ***) Rp.100.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Belanda (+31634384 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Balikpapan (081350574 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 28/4/2011 Nuraini (085239677 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 28/4/2011 = Rp.42.630.737 29/4/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (085267948 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (087888686 ***) Rp.5.000.000 (via BCA) 29/4/2011 Itis Ternate (081356043 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 29/4/2011 = Rp.48.930.737 30/4/2011 Gondo Ngampel Rp.50.000 (langsung) 30/4/2011 Rizkon Robbi (08158872 ***) Rp.200.000 (via BCA) 30/4/2011 Aji Klaten (08121569 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 30/4/2011 Hamba Allah (08159003 ***) Rp.3.500.000 (via BCA) 30/4/2011 Bu Barkah Rp.300.000 (langsung) 30/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 30/4/2011 Hamba Allah (085727357 ***) Rp.700.000 (via BCA) Total Donasi per 30/4/2011 = Rp.54.850.737 1/5/2011 Hamba Allah (08111102 ***) Rp.200.000 (via BCA) 1/5/2011 Novi Cahyanti dan Keluarga (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 1/5/2011 = Rp.56.350.737 2/5/2011 Pecinta Sunnah (085780116 ***) Rp.100.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (0811104 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 2/5/2011 Zulkarnain (081278647 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (089637508 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (08568015 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 2/5/2011 = Rp.57.950.737 3/5/2011 Mati (0816185 ***) Rp.500.000 (via BCA) 3/5/2011 Rizki Mula (085292921***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Septi Ambarwati (081328063 ***) Rp.200.000 (via BCA) 3/5/2011 Januardo (085217719 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 3/5/2011 = Rp.59.350.737 4/5/2011 Haryono (08161376 ***) Rp.500.000 (via BCA) 4/5/2011 Hamba Allah (02194976 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 4/5/2011 Adang Bintaro (08562000***) Rp.2.000.000 (via BCA) Total Donasi per 4/5/2011 = Rp.63.850.737 5/5/2011 Hamba Allah Rp.30.000 (langsung) 5/5/2011 Abu Yusuf (081347118 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 5/5/2011 = Rp.64.380.737 6/5/2011 Hamba Allah (085720345 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 6/5/2011 = Rp.64.580.737 7/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.100.000 (via BCA) 7/5/2011 Mulyadi Ade (085883135 ***) Rp.150.000 (via BCA) 7/5/2011 Hamba Allah (081905054 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 7/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 7/5/2011 = Rp.65.530.737 8/5/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 8/5/2011 Hamba Allah (08158112 ***) Rp.1.725.000 (via BCA) Total Donasi per 8/5/2011 = Rp.69.255.737 9/5/2011 Abu Affan (08122876 ***) Rp.99.999 (via BCA) Total Donasi per 9/5/2011 = Rp.69.355.736 10/5/2011 Hamba Allah (082111480 ***) Rp.300.000 (via BCA) 10/5/2011 Gesit Aprianto (085643599 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 10/5/2011 Pudio+keluarga (08156732 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 10/5/2011 = Rp.69.805.736 11/5/2011 Hartati (085277506 ***) Rp.855.444 (via BCA) 11/5/2011 Joko Nurul (081578523 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 11/5/2011 = Rp.70.811.180 12/5/2011 Hamba Allah (085668138 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 12/5/2011 = Rp.70.911.180 15/5/2011 Hamba Allah (081350574 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 15/5/2011 = Rp.71.111.180 16/5/2011 Chorista Ika H (081311350 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hendri Saputra (08568663 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083897855 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Dermawan (085888916 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083171341 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081321048 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081539862 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08115408 ***) Rp.25.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (0818468 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08155059 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08562062 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (087738158 ***) Rp.200.000 (via BCA) 17/5/2011 Abu Nisa (0811766 ***) Rp.500.000 (via BCA) 17/5/2011 Hamba Allah (082125621 ***) Rp.100.000 (via BSM) 17/5/2011 Hamba Allah (081355182 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 17/5/2011 Nani Cendana (via BBM) Rp.700.000 (via BCA) 18/5/2011 Rio Hendrawan (095266440 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 18/5/2011 Inun Kurniati (081703403 ***) Rp. 100.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (085643077 ***) Rp. 400.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (02193032 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 17/5/2011 Salsabila (085227378 ***) Rp.300.000 (via BSM) 18/5/2011 Hamba Allah (089636935 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Hamba Allah (+97455183 ***) Rp.700.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081269636 ***) Rp.100.000 (via BCA) 19/5/2011 Ati Zubir (081510391 ***) Rp.500.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 20/5/2011 Mukhlis El Afkar (via BBM) Rp. 35.123 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah (081555261 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/5/2011 Nelly Tsabita (08970879 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 21/5/2011 Hamba Allah (081328694 ***) Rp.250.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (087887262 ***) Rp.60.078 (via BCA) 21/5/2011 Abdullah (081361118 ***) Rp.100.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (085925128 ***) Rp.200.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (08123010 ***) Rp.50.000 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah Singapura Rp.12.000.000 (via BSM) 22/5/2011 Hamba Allah (085279529 ***) Rp.50.000 (via BCA) 22/5/2011 Hamba Allah (081316350 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/5/2011 Hamba Allah (082125225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Kel. Taufik (081519066 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (08562373 ***) Rp.500.000 (via BCA) 23/5/2o11 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 23/5/2011 Amatullah (+6582250 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (+85293437 ***) Rp.190.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (087883041 ***) Rp.32.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (085641222 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (0811732 ***) Rp.200.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (08156088 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/5/2011 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 25/5/2011 Hamba Allah (08995188 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 25/5/2011 Hamba Allah (0819700 ***) Rp.250.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (08128979 ***) Rp.100.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (081933933 ***) Rp.1.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/5/2011 = Rp.96.997.381 182. 26/5/2011 Abu Rizki (085656000 ***) Rp. 100.123 (via BNI Syariah) 183. 26/5/2011 Hamba Allah (083811174 ***) Rp. 25.000 (via BNI Syariah) 184. 26/5/2011 Rizki Kamo () Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 185. 26/5/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp. 50.000 (via BSM) 186. 26/5/2011 Kel Hafni Ramawi (08161310 *** ) Rp. 150.000 (via BNI Syariah) 187. 27/5/2011 Hamba Allah (08115500***) Rp.250.000 (via BSM) 188. 27/5/2011 Soffi (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 189. 27/5/2011 Lutfi Jamili (08111907 ***) Rp. 200.000 (via BCA) 190. 27/5/2011 Yulia Tripuspawati (085658767 ***) Rp.100.000 (via BSM) 191. 27/5/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 192. 28/5/2011 HA (087832888 ***) Rp.555.555 (via BNI Syariah) 193. 27/5/2011 Hamba Allah (08568384 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 194. 27/5/2011 Ridzvan (+6738843 ***) Rp.1.390.000 (via BNI Syariah) 195. 28/5/2011 Hamba Allah (08121573 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 196. 29/5/2011 Hamba Allah (08812285 ***) Rp.50.000 (via BCA) 197. 29/5/2011 Kristanto Hadi (085731284 ***) Rp.500.000 (via BCA) 198. 30/5/2011 3 Ikhwan Jakarta (08568015 ***) Rp.350.000 (via BCA) 199. 30/5/2011 Hamba Allah (0811963 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 200. 30/5/2011 Izpal (087882317 ***) Rp.500.000 (via BSM) 201. 30/5/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.25.000 (via BNI Syariah) 202. 31/5/2011 Hamba Allah (081977753 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 203. 31/5/2011 Hamba Allah (083862900 ***) Rp.100.000 (via BCA) 204. 31/5/2011 Soesi Mrini (081932932 ***) Rp.200.000 (via BSM) 205. 31/5/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 206. 31/5/2011 Hamba Allah (085217733 ***) Rp.100.000 (via BSM) 207. 1/6/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 208. 1/6/2011 Hamba Allah (+97455824 ***) Rp.300.000 (via BCA) 209. 31/5/2011 Hamba Allah (0811878 ***) Rp.100.000 (via BCA) 210. 2/6/2011 Hamba Allah (081578009 ***) Rp.500.000 (via BSM) 211. 2/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 212. 2/6/2011 Hamba Allah (08170088 ***) Rp.25.000 (via BCA) 213. 2/6/2011 Hamba Allah (085692364 ***) Rp.50.000 (via BCA) 214. 2/6/2011 Mahda Jumena (02292059 ***) Rp.100.000 (via BCA) 215. 3/6/2011 Abuhana (02171107 ***) Rp.100.000 ? 216. 3/6/2011 Alm. Beti Retnosari & Kel (087838253 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 217. 3/6/2011 Age Poncoshandy Asmorojati (085725783 ***) Rp.150.000 (via BSM) 218. 3/6/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.300.000 (via BCA) 219. 3/6/2011 Hamba Allah (081328793 ***) Rp.100.000 (via BNI) 220. 3/6/2011 Abu Hafshoh (085730801 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 221. 4/6/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 222. 4/6/2011 Rainy (08111991 ***) Rp.200.000 (via BCA) 223. 5/6/2011 Hamba Allah (085240663 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 224. 6/6/2011 Hamba Allah (08158088 ***) Rp.50.000 (via BSM) 225. 6/6/2011 Nur (08567952 ***) Rp.100.000 (via BCA) 226. 7/6/2011 Hamba Allah (081347118 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 227. 7/6/2011 Hamba Allah (0818973 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 228. 8/6/2011 Hamba Alloh Sprtnh Satu (?) Rp.100.000 (via BSM) 229. 8/6/2011 Hamba Allah Sprmn Satu (?) Rp.50.000 (via BSM) 230. 8/6/2011 Hamba Allah Sprtnh Sprmn Kabepe (?) Rp.30.000.000 (via BSM) 231. 8/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 232. 10/6/2011 Abdulloh (081227688 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 233. 10/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 234. 10/6/2011 Hamba Allah (085342740 ***) Rp.15.000 (via BNI Syariah) 235. 10/6/2011 Hamba Allah (08158813 ***) Rp.250.000 (via BCA) 236. 12/6/2011 Hamba Allah (08179393 ***) Rp.50.000 (via BCA) 237. 13/6/2011 Hamba Allah (0816776 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) … untuk toilet 238. 13/6/2011 Hamba Allah (085643031 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 239. 12/6/2011 Hamba Allah (082114199 ***) Rp.50.000 (via BCA) 240. 14/6/2011 Hamba Allah (02156112 ***) Rp.100.000 (via BCA) 241. 14/6/2011 Umi (081383838 ***) Rp.100.000 (via BCA) 242. 15/6/2011 Hamba Allah (081363236 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 243. 16/6/2011 Abdurrahman (0816100 ***) Rp250.000 (via BSM) 244. 17/6/2011 Hamba Allah (082110225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 245. 18/6/2011 Hamba Allah (082135190 ***) Rp.350.000 (via BSM) 246. 22/6/2011 Hamba Allah (08566310 ***) Rp.100.000 (via BSM) 247. 24/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 248. 22/6/2011 Hamba Fatawa (087737735 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 249. 25/6/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp.50.000 (via BSM) 250. 27/6/2011 Hamba Allah (081510809 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 251. 26/6/2011 Rajab (081806106 ***) Rp.200.000 (via BCA) 252. 27/6/2011 Hamba Allah (085334016 ***) Rp.50.000 (via BSM) 253. 30/6/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 254. 1/7/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 255. 1/7/2011 Hamba Alloh (082727718 ***) Rp.250.000 (via BCA) 256. 1/7/2011 Hamba Allah (08119701 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 257. 6/7/2011 Hamba Alloh (081347118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 258. 6/7/2011 Hamba Allah (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 259. 8/7/2011 Ummu Azzahra (081361118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 260. 7/7/2011 Dian (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 261. 3/7/2011 HA (081344676 ***) Rp.500.000 (via BSM) 262. 10/7/2011 Zainab Talaohu (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 263. 14/07/2011 Abdurrahman (081286131 ***) Rp.500.000 (via BCA) 264. 16/07/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 265. 18/07/2011 Rully (085624008 ***) Rp.400.000 (via BCA) 266. 19/07/2011 Hamba Allah (08561056 ***) Rp.250.000 (via BCA) 267. 21/07/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 268. 26/07/2011 Hamba Allah (085634444 ***) Rp.165.500 (via BSM) 269. 29/07/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 270. 02/08/2011 Abu Fatih (082125650 ***) Rp.50.000 (via BCA) 271. 02/08/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.75.000 (via BCA) 272. 02/08/2011 Hamba Allah (08121972 ***) Rp.300.000 (via BCA) 273. 03/08/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 274. 04/08/2011 Syamsul (085885268 ***) Rp.500.000 (via BCA) 275. Juli 2011 Hamba Allah (085647040 ***) Rp.100.000 (via BCA) 276. 04/08/2011 Ummu ‘Abdillah (+60165438 ***) Rp.275.000 (via BCA) 277. 05/08/2011 Hamba Allah (081332322 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 278. 06/08/2011 Hamba Allah (085224031 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 279. 07/08/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) Total pemasukan donasi per 09/08/2011 : Rp.152.048.559,-   Laporan Pengeluaran Donasi 24/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.10.010.000 25/04/2011 Transport untuk Pengambilan Kusen Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.214.500 25/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp1.500.000 26/04/2011 Pembelian 1 Al Qur’an Terjemahan = Rp.100.000 27/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.2.500.000 29/04/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.6.600.000 30/04/2011 Penyerahan dana I untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 01/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.400.000 02/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.250.000 02/05/2011 Pembelian 20 Al Qur’an Terjemahan = Rp. 1.500.000 03/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.300.000 03/05/2011 Pembelian Horn Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.400.000 03/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.10.000.000 03/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.500.000 06/05/2011 Penyerahan dana II untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.250.000 07/05/2011 Penyerahan dana III untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 08/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.2.000.000 08/05/2011 Pembelian Buku PelajaranTPA untuk 6 masjid = Rp.92.500 13/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.400.000 15/05/2011 Penyerahan dana VI untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 20/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.3.500.000 21/05/2011 Penyerahan dana VII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.3.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana untuk Musholla Nur Hasanah = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.2.500.000 25/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.2.500.000 25/05/2011 Transport pembelian keramik ke Jogja-Imogiri = Rp.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana VIII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.100.000 26/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.3.000.000 30/06/2011 Penyerahan dana IX untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.724.500 30/06/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.000.000 01/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.900.000 01/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.100.000 01/07/2011 Penyerahan dana X untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 03/07/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.2.900.000 06/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.800.000 08/07/2011 Pembelian sarana TPA Masjid Al Hadi Nduren dan Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp. Rp.87.500 09/07/2011 Penyerahan dana V untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.500.000 12/07/2011 Penyerahan dana XI guna pembelian semen untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.215.000 13/07/2011 Penyerahan dana XII guna pembelian keramik teras (tempat pembelajaran TPA dan pesantren Darush Sholihin) untuk Masjid Jami’ Al Adha = Rp.500.000 13/07/2011 Perlengkapan santri sema’an Al Qur’an = Rp.100.000 17/07/2011 Biaya tukang untuk pembangunan Masjid Mbali = Rp.1.400.000 17/07/2011 Hadiah untuk Lomba TPA = Rp.70.000 17/07/2011 Perlengkapan TPA, Iqro’ dan Al Qur’an Terjemahan = Rp. 460.000 18/07/2011 Perlengkapan TPA untuk masjid Al Hadi dan masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.87.500 20/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.1.000.000 21/07/2011 Pembelian semen dan pasir untuk tangga Masjid Jami’ Al Adha = Rp.400.000 23/07/2011 Hadiah untuk lomba TPA Pundung = Rp.50.000 24/07/2011 Konsumsi TPA Bersama di Masjid Mbali = Rp.30.000 24/07/2011 Snack TPA Pundung = Rp.10.000 25/07/2011 Uang muka pembelian tanah pesantren Darush Sholihin dari total 7 juta rupiah = Rp.1.000.000 25/07/2011 Pembelian CD dan Buku TPA = Rp.230.000 25/07/2011 Pembelian printer, infus dan printer head cleaner guna perlengkapan pesantren Darush Sholihin = Rp.710.000 25/07/2011 Pembelian projector BenQ untuk keperluan pesantren Darush Sholihin + kabel VGA 10 m = Rp.3.325.000 25/07/2011 Kertas A4 70 gr untuk keperluan pesantren Darush Sholihin = Rp.33.000 25/07/2011 Pembelian air untuk Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.150.000 26/07/2011 Pembelian VCD Mualaf Hindu dan VCD Kisah Anak-anak 2 Keping untuk keperluan dakwah warga = Rp.47.000 27/07/2011 Pembelian 25 binder dan 25 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.378.350 28/07/2011 Pembelian VCD Kedudukan Akal, VCD Thoharoh, VCD Musibah Dunia = Rp.71.600 28/07/2011 Pembelian 20 binder dan 20 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.271.500 30/07/2011 Hadiah lomba TPA (buku, juz ‘amma, pulpen, pensil, snack, permen) = Rp.206.500 30/07/2011 Pembelian lampu untuk masjid Pundung = Rp.90.000 30/07/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.200.000 31/07/2011 Pembelian snack untuk lomba TPA Pundung = Rp.15.000 01/08/2011 Pembelian 10 Al Qur’an terjemahan mereka Al Hidayah = Rp.750.000 01/08/2011 Pembelian 10 binder dan 10 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.128.500 01/08/2011 Mukafaah pengajar TPA Kunci dan Pundung untuk bulan Juli = Rp.200.000 Total pengeluaran donasi per 09 /08/2011 = Rp.98.857.950 Sisa donasi = Rp.53.190.609,-   Catatan: Dana yang belum dikeluarkan masih disimpan untuk pembangunan Musholla Al Ikhlas yang baru direhab/ diperluas setelah Ramadhan 1432 H. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk pembangunan Pondok Pesantren Darush Sholihin di samping Masjid Jami Al Adha Dusun Warak Desa Girisekar Semoga Allah membalas amalan para donatur sekalian dengan pahala melimpah dan moga rizkinya tambah barokah.   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal     Info www.rumaysho.com, update 10/08/2011 Tagsrenovasi masjid
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Desa Girisekar terletak di pelosok barat Gunung Kidul-DIY, dekat dengan pantai selatan. Di desa ini terdapat beberapa dusun yang dari segi ekonomi dan agama masih jauh tertinggal dari desa-desa lainnya. Di zaman dahulu tersebar tradisi-tradisi syirik dan budaya yang jauh dari ajaran Islam. Berkat karunia Allah, dakwah di desa ini dan sekitarnya semakin berkembang. Ritual keagamaan yang tidak diajarkan dalam Islam semakin lama semakin ditinggalkan. Bahkan oleh sebagian pemuka agama berkat hidayah Allah pun berangsur-angsur meninggalkan tradisi yang jauh dari Islam. Masyarakat pun semakin sadar dan mulai beralih ke masjid dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu semua berkat karunia dan taufik dari Allah. Keadaan masjid saat ini semakin sesak dengan para jama’ah yang sudah mulai sadar akan hakikat hidup sebenarnya yaitu untuk beribadah pada Allah. Karena semakin sesaknya masjid, masjid dan musholla yang ada butuh untuk diperluas dan yang lainnya butuh untuk diperbaiki karena kondisi fisiknya yang sudah tidak layak. Beberapa masjid pun perlu direhab tempat wudhu dan kamar mandinya. Dan sangat perlu ada sarana pelengkap untuk masjid seperti Al Qur’an terjemahan dan buku-buku pembelajaran TPA. Di rumaysho.com semula kami anggarkan pembangunan untuk 2 masjid (Musholla Al Ikhlas Kunci dan Masjid Al Muttaqin Pucang) di desa Girisekar dan sekitarnya. Namun karena masjid yang lainnya di desa kami dan sekitarnya pun amat butuh pada donasi, kami putuskan untuk membagi donasi ini untuk 9masjid (sebelumnya 7 masjid, kami menambah dua masjid di desa tetangga kami yang baru mengajukan proposalnya tanggal 25/5/2011 dan 30/6/2011) guna merehab masjid, memperluasnya, mengadakan sarana tempat wudhu, kamar mandi dan menyediakan berbagai sarana pelengkap. Masjid-masjid yang akan direhab adalah sebagai berikut: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid ini adalah masjid terbesar di Desa Girisekar dan menjadi pusat shalat Jum’at. Masjid ini berdampingan langsung dengan rumah kami. Yang akan diperbaiki dari masjid ini adalah tempat wudhu yang mesti diperluas dan kamar mandi yang dibuat lebih layak. Masjid Adz Dzikro Nduren. Masjid ini adalah masjid terbesar kedua di desa kami dan menjadi pusat shalat Jum’at kedua bagi jama’ah yang berada di sebelah selatan Desa Girisekar. Yang perlu dibangun dari masjid ini adalah tempat wudhu dan kamar mandi. Dan sebagian donasi sudah disalurkan ke masjid ini guna mengadakan sarana sound system yang sudah rusak sebelumnya. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid ini dalam tahap rehab ulang. Masjid ini termasuk masjid besar sekaligus digunakan untuk shalat Jum’at di desa tetangga, berdampingan dengan desa kami. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid ini adalah masjid kecil di desa kami yang memuat jamaah satu RT. Masjid ini –alhamdulillah– dari donasi ini telah selesai merehab jalan, penyediaan tempat wudhu yang layak, pemasangan kipas angin, dan mengecat ulang. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Masjid ini berada di dusun sebelah, namun masih satu desa. Masyarakat di sekitar masjid ini masih butuh dakwah dan termasuk dusun yang masih tertinggal dari segi ekonomi maupun agama. Yang perlu direhab dari masjid ini adalah atap dan plafon. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla ini adalah musholla kecil yang berada di desa kami di tengah masyarakat yang dikenal miskin dan berekonomi rendah. Musholla ini perlu diperluas karena saat ini sulit memuat jama’ah sekitar dua RT. Musholla Nur Hasanah Magir. Musholla ini sudah mengalami rehab dan sumber dananya adalah donasi rumaysho.com yang kami publish setahun yang lalu. Namun musholla ini masih butuh perbaikan tempat wudhu yang belum dirampungkan sejak rehab sebelumnya. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid ini terletak di desa tetangga kami. Masjid ini baru saja dibangun, butuh dana finishing untuk pemasangan keramik, pemasangan kaca dan penyediaan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami akhir-akhir ini (25/5/2011). Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. Masjid ini terletak di daerah yang sebagian penduduknya beragama Budha. Pergolakan dan dakwah Budha masuk di desa tersebut di tahun 80-an. Saat-saat ini banyak yang kembali memeluk Islam. Namun sarana masjid banyak yang sudah tidak layak, membutuhkan sarana sound system, listrik, bak penampungan air, dan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami pada tanggal 30/06/2011. Moga dengan pembangunan masjid dan musholla di desa ini semakin memudahkan tersebarnya dakwah Islam di daerah pedalaman Gunung Kidul yang di mana dakwah agama lain sudah ikut merambah (seperti dari umat Kristiani dan umat Budha). Sebagai sarana pelengkap dakwah di desa Girisekar, insya Allah akan didirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Darush Sholihin. Info selengkapnya akan ditampilkan pada postingan tersendiri. Tetapi dengan donasi pembangunan masjid ini, kami sudah menggunakan dana yang ada untuk pembelian tanah, perlengkapan santri dan sarana penunjang. Bagi yang ingin berpartisipasi, silakan mentransfer dananya ke rekening berikut: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881 Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165 Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155 Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur (jika ingin disebut), besar dana, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan donasi. Contoh: Hamba Allah#Rp.2.000.000#BCA#19 April 2011#pembangunan masjid. Donasi ini berlaku mulai 19 April 2011 dan diperpanjang sampai dengan batas tak tentu. Allah Ta’ala berfirman, مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui .” (QS. Al Baqarah: 261) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Masjid dan Pesantren Darush Sholihin 20/4/2011 Hamba Allah (0878830 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08190594 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08119780 ***) Rp.750.000 (via BCA) 20/4/2011 Ummu Fathia (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (0815897 ***) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Achsan Hamzah (08138074 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 20/4/2011 Hamba Allah (08132809 ***) Rp.200.000 (via BCA) Total Donasi per 20/4/2011 = Rp.3.150.000 21/4/2011 Ummu Davin (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08175111 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08981441 ***) Rp.300.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (081317424 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Tasmini (alm) (085213033 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (0878816 ***) Rp.75.000 (via BCA) 21/4/2011 Ummu Anditya (via BBM) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Hamba Allah (08115797 ***) Rp.500.737 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08581405 ***) Rp.25.000 (via BCA) 21/4/2011 Tinni Hendartini (08159270 ***) Rp.700.000 (via BCA) 21/4/2011 Abdullah (08524534 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (087861221 ***) Rp.25.000 (via BCA) Total Donasi per 21/4/2011 = Rp.8.475.737 22/4/2011 Rizkon Robbi (081588722 ***) Rp.200.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (0856233 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Sundari S Jakarta (0817989 ***) Rp.250.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (081380060 ***) Rp.100.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (03170635 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Linda Assegaf (08128507 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 22/4/2011 = Rp.12.625.737 23/4/2011 Hamba Allah (08161933 ***) Rp.200.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (0817758 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ikhwan Bandung (081511233 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (081515324 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (0811157 ***) Rp.2.o00.000 (via BCA) 23/4/2011 Haryogo Pamungkas (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Rini Ummu Afif (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ria Fityani (via BBM) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081805039 ***) Rp.20.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah – Jamaah Bali (08175599 ***) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081939690 ***) Rp.50.000 (via BCA) Total Donasi per 23/4/2011 = Rp.19.195.737 24/4/2011 Slamet Mbali-GK Rp.10.000 (langsung) 24/4/2011 Yayuk Y Ummu Ananda (08128371 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Yuri Zagloel (08118795 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Ranti-Thomas-Arnaldo (08182012 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah di Jakarta (08136636 ***) Rp.75.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (0813987014 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (081254244 ***) Rp.300.000 (via BCA) 24/4/2011 Nevi Harlina (0818074911 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/4/2011 Hamba Allah (08161995 ***) Rp.100.000 (via BCA) 24/4/2011 Abdullah (08153785 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) Total Donasi per 24/4/2011 = Rp.24.030.737 25/4/2011 Taslim Bogor (08134711 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/4/2011 = Rp.25.030.737 26/4/2011 Sukisno (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Nurhidayati (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (08111875 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Masjid Al Ikhlas (0813***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (085748842 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (081383768 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Aris (08564022 ***) Rp.300.000 (via BCA) 26/4/2011 Didit Samarinda (081347191 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Endi Rahmani (081904034 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Pipin (081328380 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Rina Ariyanti (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Ipan Pranasakti (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Abdullah (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (085216593 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (08161858 ***) Rp.250.000 (via BCA) 26/4/2011 Bu Salamah (Pogung Kidul) Rp.500.000 (langsung) 26/4/2011 Alm. Munah (083890808 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Isna (083890808 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Zainab Talaohu (via BBM) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 26/4/2011 = Rp.37.930.737 27/4/2011 Ratih (08159575 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Dwiyanto (081901389 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Boris Tanesia (08159185 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Arian (081931331 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (08551002 ***) Rp. 1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (0819851 ***) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 27/4/2011 = Rp.41.280.737 28/4/2011 Hamba Allah (0856716 ***) Rp.100.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Belanda (+31634384 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Balikpapan (081350574 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 28/4/2011 Nuraini (085239677 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 28/4/2011 = Rp.42.630.737 29/4/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (085267948 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (087888686 ***) Rp.5.000.000 (via BCA) 29/4/2011 Itis Ternate (081356043 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 29/4/2011 = Rp.48.930.737 30/4/2011 Gondo Ngampel Rp.50.000 (langsung) 30/4/2011 Rizkon Robbi (08158872 ***) Rp.200.000 (via BCA) 30/4/2011 Aji Klaten (08121569 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 30/4/2011 Hamba Allah (08159003 ***) Rp.3.500.000 (via BCA) 30/4/2011 Bu Barkah Rp.300.000 (langsung) 30/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 30/4/2011 Hamba Allah (085727357 ***) Rp.700.000 (via BCA) Total Donasi per 30/4/2011 = Rp.54.850.737 1/5/2011 Hamba Allah (08111102 ***) Rp.200.000 (via BCA) 1/5/2011 Novi Cahyanti dan Keluarga (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 1/5/2011 = Rp.56.350.737 2/5/2011 Pecinta Sunnah (085780116 ***) Rp.100.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (0811104 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 2/5/2011 Zulkarnain (081278647 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (089637508 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (08568015 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 2/5/2011 = Rp.57.950.737 3/5/2011 Mati (0816185 ***) Rp.500.000 (via BCA) 3/5/2011 Rizki Mula (085292921***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Septi Ambarwati (081328063 ***) Rp.200.000 (via BCA) 3/5/2011 Januardo (085217719 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 3/5/2011 = Rp.59.350.737 4/5/2011 Haryono (08161376 ***) Rp.500.000 (via BCA) 4/5/2011 Hamba Allah (02194976 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 4/5/2011 Adang Bintaro (08562000***) Rp.2.000.000 (via BCA) Total Donasi per 4/5/2011 = Rp.63.850.737 5/5/2011 Hamba Allah Rp.30.000 (langsung) 5/5/2011 Abu Yusuf (081347118 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 5/5/2011 = Rp.64.380.737 6/5/2011 Hamba Allah (085720345 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 6/5/2011 = Rp.64.580.737 7/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.100.000 (via BCA) 7/5/2011 Mulyadi Ade (085883135 ***) Rp.150.000 (via BCA) 7/5/2011 Hamba Allah (081905054 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 7/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 7/5/2011 = Rp.65.530.737 8/5/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 8/5/2011 Hamba Allah (08158112 ***) Rp.1.725.000 (via BCA) Total Donasi per 8/5/2011 = Rp.69.255.737 9/5/2011 Abu Affan (08122876 ***) Rp.99.999 (via BCA) Total Donasi per 9/5/2011 = Rp.69.355.736 10/5/2011 Hamba Allah (082111480 ***) Rp.300.000 (via BCA) 10/5/2011 Gesit Aprianto (085643599 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 10/5/2011 Pudio+keluarga (08156732 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 10/5/2011 = Rp.69.805.736 11/5/2011 Hartati (085277506 ***) Rp.855.444 (via BCA) 11/5/2011 Joko Nurul (081578523 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 11/5/2011 = Rp.70.811.180 12/5/2011 Hamba Allah (085668138 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 12/5/2011 = Rp.70.911.180 15/5/2011 Hamba Allah (081350574 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 15/5/2011 = Rp.71.111.180 16/5/2011 Chorista Ika H (081311350 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hendri Saputra (08568663 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083897855 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Dermawan (085888916 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083171341 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081321048 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081539862 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08115408 ***) Rp.25.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (0818468 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08155059 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08562062 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (087738158 ***) Rp.200.000 (via BCA) 17/5/2011 Abu Nisa (0811766 ***) Rp.500.000 (via BCA) 17/5/2011 Hamba Allah (082125621 ***) Rp.100.000 (via BSM) 17/5/2011 Hamba Allah (081355182 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 17/5/2011 Nani Cendana (via BBM) Rp.700.000 (via BCA) 18/5/2011 Rio Hendrawan (095266440 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 18/5/2011 Inun Kurniati (081703403 ***) Rp. 100.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (085643077 ***) Rp. 400.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (02193032 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 17/5/2011 Salsabila (085227378 ***) Rp.300.000 (via BSM) 18/5/2011 Hamba Allah (089636935 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Hamba Allah (+97455183 ***) Rp.700.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081269636 ***) Rp.100.000 (via BCA) 19/5/2011 Ati Zubir (081510391 ***) Rp.500.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 20/5/2011 Mukhlis El Afkar (via BBM) Rp. 35.123 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah (081555261 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/5/2011 Nelly Tsabita (08970879 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 21/5/2011 Hamba Allah (081328694 ***) Rp.250.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (087887262 ***) Rp.60.078 (via BCA) 21/5/2011 Abdullah (081361118 ***) Rp.100.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (085925128 ***) Rp.200.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (08123010 ***) Rp.50.000 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah Singapura Rp.12.000.000 (via BSM) 22/5/2011 Hamba Allah (085279529 ***) Rp.50.000 (via BCA) 22/5/2011 Hamba Allah (081316350 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/5/2011 Hamba Allah (082125225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Kel. Taufik (081519066 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (08562373 ***) Rp.500.000 (via BCA) 23/5/2o11 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 23/5/2011 Amatullah (+6582250 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (+85293437 ***) Rp.190.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (087883041 ***) Rp.32.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (085641222 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (0811732 ***) Rp.200.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (08156088 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/5/2011 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 25/5/2011 Hamba Allah (08995188 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 25/5/2011 Hamba Allah (0819700 ***) Rp.250.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (08128979 ***) Rp.100.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (081933933 ***) Rp.1.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/5/2011 = Rp.96.997.381 182. 26/5/2011 Abu Rizki (085656000 ***) Rp. 100.123 (via BNI Syariah) 183. 26/5/2011 Hamba Allah (083811174 ***) Rp. 25.000 (via BNI Syariah) 184. 26/5/2011 Rizki Kamo () Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 185. 26/5/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp. 50.000 (via BSM) 186. 26/5/2011 Kel Hafni Ramawi (08161310 *** ) Rp. 150.000 (via BNI Syariah) 187. 27/5/2011 Hamba Allah (08115500***) Rp.250.000 (via BSM) 188. 27/5/2011 Soffi (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 189. 27/5/2011 Lutfi Jamili (08111907 ***) Rp. 200.000 (via BCA) 190. 27/5/2011 Yulia Tripuspawati (085658767 ***) Rp.100.000 (via BSM) 191. 27/5/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 192. 28/5/2011 HA (087832888 ***) Rp.555.555 (via BNI Syariah) 193. 27/5/2011 Hamba Allah (08568384 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 194. 27/5/2011 Ridzvan (+6738843 ***) Rp.1.390.000 (via BNI Syariah) 195. 28/5/2011 Hamba Allah (08121573 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 196. 29/5/2011 Hamba Allah (08812285 ***) Rp.50.000 (via BCA) 197. 29/5/2011 Kristanto Hadi (085731284 ***) Rp.500.000 (via BCA) 198. 30/5/2011 3 Ikhwan Jakarta (08568015 ***) Rp.350.000 (via BCA) 199. 30/5/2011 Hamba Allah (0811963 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 200. 30/5/2011 Izpal (087882317 ***) Rp.500.000 (via BSM) 201. 30/5/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.25.000 (via BNI Syariah) 202. 31/5/2011 Hamba Allah (081977753 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 203. 31/5/2011 Hamba Allah (083862900 ***) Rp.100.000 (via BCA) 204. 31/5/2011 Soesi Mrini (081932932 ***) Rp.200.000 (via BSM) 205. 31/5/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 206. 31/5/2011 Hamba Allah (085217733 ***) Rp.100.000 (via BSM) 207. 1/6/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 208. 1/6/2011 Hamba Allah (+97455824 ***) Rp.300.000 (via BCA) 209. 31/5/2011 Hamba Allah (0811878 ***) Rp.100.000 (via BCA) 210. 2/6/2011 Hamba Allah (081578009 ***) Rp.500.000 (via BSM) 211. 2/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 212. 2/6/2011 Hamba Allah (08170088 ***) Rp.25.000 (via BCA) 213. 2/6/2011 Hamba Allah (085692364 ***) Rp.50.000 (via BCA) 214. 2/6/2011 Mahda Jumena (02292059 ***) Rp.100.000 (via BCA) 215. 3/6/2011 Abuhana (02171107 ***) Rp.100.000 ? 216. 3/6/2011 Alm. Beti Retnosari & Kel (087838253 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 217. 3/6/2011 Age Poncoshandy Asmorojati (085725783 ***) Rp.150.000 (via BSM) 218. 3/6/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.300.000 (via BCA) 219. 3/6/2011 Hamba Allah (081328793 ***) Rp.100.000 (via BNI) 220. 3/6/2011 Abu Hafshoh (085730801 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 221. 4/6/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 222. 4/6/2011 Rainy (08111991 ***) Rp.200.000 (via BCA) 223. 5/6/2011 Hamba Allah (085240663 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 224. 6/6/2011 Hamba Allah (08158088 ***) Rp.50.000 (via BSM) 225. 6/6/2011 Nur (08567952 ***) Rp.100.000 (via BCA) 226. 7/6/2011 Hamba Allah (081347118 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 227. 7/6/2011 Hamba Allah (0818973 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 228. 8/6/2011 Hamba Alloh Sprtnh Satu (?) Rp.100.000 (via BSM) 229. 8/6/2011 Hamba Allah Sprmn Satu (?) Rp.50.000 (via BSM) 230. 8/6/2011 Hamba Allah Sprtnh Sprmn Kabepe (?) Rp.30.000.000 (via BSM) 231. 8/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 232. 10/6/2011 Abdulloh (081227688 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 233. 10/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 234. 10/6/2011 Hamba Allah (085342740 ***) Rp.15.000 (via BNI Syariah) 235. 10/6/2011 Hamba Allah (08158813 ***) Rp.250.000 (via BCA) 236. 12/6/2011 Hamba Allah (08179393 ***) Rp.50.000 (via BCA) 237. 13/6/2011 Hamba Allah (0816776 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) … untuk toilet 238. 13/6/2011 Hamba Allah (085643031 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 239. 12/6/2011 Hamba Allah (082114199 ***) Rp.50.000 (via BCA) 240. 14/6/2011 Hamba Allah (02156112 ***) Rp.100.000 (via BCA) 241. 14/6/2011 Umi (081383838 ***) Rp.100.000 (via BCA) 242. 15/6/2011 Hamba Allah (081363236 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 243. 16/6/2011 Abdurrahman (0816100 ***) Rp250.000 (via BSM) 244. 17/6/2011 Hamba Allah (082110225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 245. 18/6/2011 Hamba Allah (082135190 ***) Rp.350.000 (via BSM) 246. 22/6/2011 Hamba Allah (08566310 ***) Rp.100.000 (via BSM) 247. 24/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 248. 22/6/2011 Hamba Fatawa (087737735 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 249. 25/6/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp.50.000 (via BSM) 250. 27/6/2011 Hamba Allah (081510809 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 251. 26/6/2011 Rajab (081806106 ***) Rp.200.000 (via BCA) 252. 27/6/2011 Hamba Allah (085334016 ***) Rp.50.000 (via BSM) 253. 30/6/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 254. 1/7/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 255. 1/7/2011 Hamba Alloh (082727718 ***) Rp.250.000 (via BCA) 256. 1/7/2011 Hamba Allah (08119701 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 257. 6/7/2011 Hamba Alloh (081347118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 258. 6/7/2011 Hamba Allah (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 259. 8/7/2011 Ummu Azzahra (081361118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 260. 7/7/2011 Dian (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 261. 3/7/2011 HA (081344676 ***) Rp.500.000 (via BSM) 262. 10/7/2011 Zainab Talaohu (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 263. 14/07/2011 Abdurrahman (081286131 ***) Rp.500.000 (via BCA) 264. 16/07/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 265. 18/07/2011 Rully (085624008 ***) Rp.400.000 (via BCA) 266. 19/07/2011 Hamba Allah (08561056 ***) Rp.250.000 (via BCA) 267. 21/07/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 268. 26/07/2011 Hamba Allah (085634444 ***) Rp.165.500 (via BSM) 269. 29/07/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 270. 02/08/2011 Abu Fatih (082125650 ***) Rp.50.000 (via BCA) 271. 02/08/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.75.000 (via BCA) 272. 02/08/2011 Hamba Allah (08121972 ***) Rp.300.000 (via BCA) 273. 03/08/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 274. 04/08/2011 Syamsul (085885268 ***) Rp.500.000 (via BCA) 275. Juli 2011 Hamba Allah (085647040 ***) Rp.100.000 (via BCA) 276. 04/08/2011 Ummu ‘Abdillah (+60165438 ***) Rp.275.000 (via BCA) 277. 05/08/2011 Hamba Allah (081332322 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 278. 06/08/2011 Hamba Allah (085224031 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 279. 07/08/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) Total pemasukan donasi per 09/08/2011 : Rp.152.048.559,-   Laporan Pengeluaran Donasi 24/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.10.010.000 25/04/2011 Transport untuk Pengambilan Kusen Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.214.500 25/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp1.500.000 26/04/2011 Pembelian 1 Al Qur’an Terjemahan = Rp.100.000 27/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.2.500.000 29/04/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.6.600.000 30/04/2011 Penyerahan dana I untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 01/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.400.000 02/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.250.000 02/05/2011 Pembelian 20 Al Qur’an Terjemahan = Rp. 1.500.000 03/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.300.000 03/05/2011 Pembelian Horn Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.400.000 03/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.10.000.000 03/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.500.000 06/05/2011 Penyerahan dana II untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.250.000 07/05/2011 Penyerahan dana III untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 08/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.2.000.000 08/05/2011 Pembelian Buku PelajaranTPA untuk 6 masjid = Rp.92.500 13/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.400.000 15/05/2011 Penyerahan dana VI untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 20/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.3.500.000 21/05/2011 Penyerahan dana VII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.3.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana untuk Musholla Nur Hasanah = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.2.500.000 25/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.2.500.000 25/05/2011 Transport pembelian keramik ke Jogja-Imogiri = Rp.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana VIII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.100.000 26/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.3.000.000 30/06/2011 Penyerahan dana IX untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.724.500 30/06/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.000.000 01/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.900.000 01/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.100.000 01/07/2011 Penyerahan dana X untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 03/07/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.2.900.000 06/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.800.000 08/07/2011 Pembelian sarana TPA Masjid Al Hadi Nduren dan Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp. Rp.87.500 09/07/2011 Penyerahan dana V untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.500.000 12/07/2011 Penyerahan dana XI guna pembelian semen untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.215.000 13/07/2011 Penyerahan dana XII guna pembelian keramik teras (tempat pembelajaran TPA dan pesantren Darush Sholihin) untuk Masjid Jami’ Al Adha = Rp.500.000 13/07/2011 Perlengkapan santri sema’an Al Qur’an = Rp.100.000 17/07/2011 Biaya tukang untuk pembangunan Masjid Mbali = Rp.1.400.000 17/07/2011 Hadiah untuk Lomba TPA = Rp.70.000 17/07/2011 Perlengkapan TPA, Iqro’ dan Al Qur’an Terjemahan = Rp. 460.000 18/07/2011 Perlengkapan TPA untuk masjid Al Hadi dan masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.87.500 20/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.1.000.000 21/07/2011 Pembelian semen dan pasir untuk tangga Masjid Jami’ Al Adha = Rp.400.000 23/07/2011 Hadiah untuk lomba TPA Pundung = Rp.50.000 24/07/2011 Konsumsi TPA Bersama di Masjid Mbali = Rp.30.000 24/07/2011 Snack TPA Pundung = Rp.10.000 25/07/2011 Uang muka pembelian tanah pesantren Darush Sholihin dari total 7 juta rupiah = Rp.1.000.000 25/07/2011 Pembelian CD dan Buku TPA = Rp.230.000 25/07/2011 Pembelian printer, infus dan printer head cleaner guna perlengkapan pesantren Darush Sholihin = Rp.710.000 25/07/2011 Pembelian projector BenQ untuk keperluan pesantren Darush Sholihin + kabel VGA 10 m = Rp.3.325.000 25/07/2011 Kertas A4 70 gr untuk keperluan pesantren Darush Sholihin = Rp.33.000 25/07/2011 Pembelian air untuk Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.150.000 26/07/2011 Pembelian VCD Mualaf Hindu dan VCD Kisah Anak-anak 2 Keping untuk keperluan dakwah warga = Rp.47.000 27/07/2011 Pembelian 25 binder dan 25 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.378.350 28/07/2011 Pembelian VCD Kedudukan Akal, VCD Thoharoh, VCD Musibah Dunia = Rp.71.600 28/07/2011 Pembelian 20 binder dan 20 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.271.500 30/07/2011 Hadiah lomba TPA (buku, juz ‘amma, pulpen, pensil, snack, permen) = Rp.206.500 30/07/2011 Pembelian lampu untuk masjid Pundung = Rp.90.000 30/07/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.200.000 31/07/2011 Pembelian snack untuk lomba TPA Pundung = Rp.15.000 01/08/2011 Pembelian 10 Al Qur’an terjemahan mereka Al Hidayah = Rp.750.000 01/08/2011 Pembelian 10 binder dan 10 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.128.500 01/08/2011 Mukafaah pengajar TPA Kunci dan Pundung untuk bulan Juli = Rp.200.000 Total pengeluaran donasi per 09 /08/2011 = Rp.98.857.950 Sisa donasi = Rp.53.190.609,-   Catatan: Dana yang belum dikeluarkan masih disimpan untuk pembangunan Musholla Al Ikhlas yang baru direhab/ diperluas setelah Ramadhan 1432 H. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk pembangunan Pondok Pesantren Darush Sholihin di samping Masjid Jami Al Adha Dusun Warak Desa Girisekar Semoga Allah membalas amalan para donatur sekalian dengan pahala melimpah dan moga rizkinya tambah barokah.   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal     Info www.rumaysho.com, update 10/08/2011 Tagsrenovasi masjid


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Desa Girisekar terletak di pelosok barat Gunung Kidul-DIY, dekat dengan pantai selatan. Di desa ini terdapat beberapa dusun yang dari segi ekonomi dan agama masih jauh tertinggal dari desa-desa lainnya. Di zaman dahulu tersebar tradisi-tradisi syirik dan budaya yang jauh dari ajaran Islam. Berkat karunia Allah, dakwah di desa ini dan sekitarnya semakin berkembang. Ritual keagamaan yang tidak diajarkan dalam Islam semakin lama semakin ditinggalkan. Bahkan oleh sebagian pemuka agama berkat hidayah Allah pun berangsur-angsur meninggalkan tradisi yang jauh dari Islam. Masyarakat pun semakin sadar dan mulai beralih ke masjid dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu semua berkat karunia dan taufik dari Allah. Keadaan masjid saat ini semakin sesak dengan para jama’ah yang sudah mulai sadar akan hakikat hidup sebenarnya yaitu untuk beribadah pada Allah. Karena semakin sesaknya masjid, masjid dan musholla yang ada butuh untuk diperluas dan yang lainnya butuh untuk diperbaiki karena kondisi fisiknya yang sudah tidak layak. Beberapa masjid pun perlu direhab tempat wudhu dan kamar mandinya. Dan sangat perlu ada sarana pelengkap untuk masjid seperti Al Qur’an terjemahan dan buku-buku pembelajaran TPA. Di rumaysho.com semula kami anggarkan pembangunan untuk 2 masjid (Musholla Al Ikhlas Kunci dan Masjid Al Muttaqin Pucang) di desa Girisekar dan sekitarnya. Namun karena masjid yang lainnya di desa kami dan sekitarnya pun amat butuh pada donasi, kami putuskan untuk membagi donasi ini untuk 9masjid (sebelumnya 7 masjid, kami menambah dua masjid di desa tetangga kami yang baru mengajukan proposalnya tanggal 25/5/2011 dan 30/6/2011) guna merehab masjid, memperluasnya, mengadakan sarana tempat wudhu, kamar mandi dan menyediakan berbagai sarana pelengkap. Masjid-masjid yang akan direhab adalah sebagai berikut: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid ini adalah masjid terbesar di Desa Girisekar dan menjadi pusat shalat Jum’at. Masjid ini berdampingan langsung dengan rumah kami. Yang akan diperbaiki dari masjid ini adalah tempat wudhu yang mesti diperluas dan kamar mandi yang dibuat lebih layak. Masjid Adz Dzikro Nduren. Masjid ini adalah masjid terbesar kedua di desa kami dan menjadi pusat shalat Jum’at kedua bagi jama’ah yang berada di sebelah selatan Desa Girisekar. Yang perlu dibangun dari masjid ini adalah tempat wudhu dan kamar mandi. Dan sebagian donasi sudah disalurkan ke masjid ini guna mengadakan sarana sound system yang sudah rusak sebelumnya. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid ini dalam tahap rehab ulang. Masjid ini termasuk masjid besar sekaligus digunakan untuk shalat Jum’at di desa tetangga, berdampingan dengan desa kami. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid ini adalah masjid kecil di desa kami yang memuat jamaah satu RT. Masjid ini –alhamdulillah– dari donasi ini telah selesai merehab jalan, penyediaan tempat wudhu yang layak, pemasangan kipas angin, dan mengecat ulang. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Masjid ini berada di dusun sebelah, namun masih satu desa. Masyarakat di sekitar masjid ini masih butuh dakwah dan termasuk dusun yang masih tertinggal dari segi ekonomi maupun agama. Yang perlu direhab dari masjid ini adalah atap dan plafon. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla ini adalah musholla kecil yang berada di desa kami di tengah masyarakat yang dikenal miskin dan berekonomi rendah. Musholla ini perlu diperluas karena saat ini sulit memuat jama’ah sekitar dua RT. Musholla Nur Hasanah Magir. Musholla ini sudah mengalami rehab dan sumber dananya adalah donasi rumaysho.com yang kami publish setahun yang lalu. Namun musholla ini masih butuh perbaikan tempat wudhu yang belum dirampungkan sejak rehab sebelumnya. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid ini terletak di desa tetangga kami. Masjid ini baru saja dibangun, butuh dana finishing untuk pemasangan keramik, pemasangan kaca dan penyediaan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami akhir-akhir ini (25/5/2011). Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. Masjid ini terletak di daerah yang sebagian penduduknya beragama Budha. Pergolakan dan dakwah Budha masuk di desa tersebut di tahun 80-an. Saat-saat ini banyak yang kembali memeluk Islam. Namun sarana masjid banyak yang sudah tidak layak, membutuhkan sarana sound system, listrik, bak penampungan air, dan tempat wudhu. Masjid ini baru memasukkan proposal pada kami pada tanggal 30/06/2011. Moga dengan pembangunan masjid dan musholla di desa ini semakin memudahkan tersebarnya dakwah Islam di daerah pedalaman Gunung Kidul yang di mana dakwah agama lain sudah ikut merambah (seperti dari umat Kristiani dan umat Budha). Sebagai sarana pelengkap dakwah di desa Girisekar, insya Allah akan didirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Darush Sholihin. Info selengkapnya akan ditampilkan pada postingan tersendiri. Tetapi dengan donasi pembangunan masjid ini, kami sudah menggunakan dana yang ada untuk pembelian tanah, perlengkapan santri dan sarana penunjang. Bagi yang ingin berpartisipasi, silakan mentransfer dananya ke rekening berikut: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881 Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165 Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155 Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur (jika ingin disebut), besar dana, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan donasi. Contoh: Hamba Allah#Rp.2.000.000#BCA#19 April 2011#pembangunan masjid. Donasi ini berlaku mulai 19 April 2011 dan diperpanjang sampai dengan batas tak tentu. Allah Ta’ala berfirman, مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui .” (QS. Al Baqarah: 261) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Masjid dan Pesantren Darush Sholihin 20/4/2011 Hamba Allah (0878830 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08190594 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (08119780 ***) Rp.750.000 (via BCA) 20/4/2011 Ummu Fathia (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Hamba Allah (0815897 ***) Rp.500.000 (via BCA) 20/4/2011 Achsan Hamzah (08138074 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 20/4/2011 Hamba Allah (08132809 ***) Rp.200.000 (via BCA) Total Donasi per 20/4/2011 = Rp.3.150.000 21/4/2011 Ummu Davin (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08175111 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08981441 ***) Rp.300.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (081317424 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Tasmini (alm) (085213033 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (0878816 ***) Rp.75.000 (via BCA) 21/4/2011 Ummu Anditya (via BBM) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 21/4/2011 Hamba Allah (08115797 ***) Rp.500.737 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (08581405 ***) Rp.25.000 (via BCA) 21/4/2011 Tinni Hendartini (08159270 ***) Rp.700.000 (via BCA) 21/4/2011 Abdullah (08524534 ***) Rp.100.000 (via BCA) 21/4/2011 Hamba Allah (087861221 ***) Rp.25.000 (via BCA) Total Donasi per 21/4/2011 = Rp.8.475.737 22/4/2011 Rizkon Robbi (081588722 ***) Rp.200.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (0856233 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Sundari S Jakarta (0817989 ***) Rp.250.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (081380060 ***) Rp.100.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Hamba Allah (03170635 ***) Rp.500.000 (via BCA) 22/4/2011 Linda Assegaf (08128507 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 22/4/2011 = Rp.12.625.737 23/4/2011 Hamba Allah (08161933 ***) Rp.200.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (0817758 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ikhwan Bandung (081511233 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (081515324 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Hamba Allah (0811157 ***) Rp.2.o00.000 (via BCA) 23/4/2011 Haryogo Pamungkas (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Rini Ummu Afif (via BBM) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 23/4/2011 Ria Fityani (via BBM) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081805039 ***) Rp.20.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah – Jamaah Bali (08175599 ***) Rp.100.000 (via BCA) 23/4/2011 Hamba Allah (081939690 ***) Rp.50.000 (via BCA) Total Donasi per 23/4/2011 = Rp.19.195.737 24/4/2011 Slamet Mbali-GK Rp.10.000 (langsung) 24/4/2011 Yayuk Y Ummu Ananda (08128371 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Yuri Zagloel (08118795 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Ranti-Thomas-Arnaldo (08182012 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah di Jakarta (08136636 ***) Rp.75.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (0813987014 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/4/2011 Hamba Allah (081254244 ***) Rp.300.000 (via BCA) 24/4/2011 Nevi Harlina (0818074911 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/4/2011 Hamba Allah (08161995 ***) Rp.100.000 (via BCA) 24/4/2011 Abdullah (08153785 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) Total Donasi per 24/4/2011 = Rp.24.030.737 25/4/2011 Taslim Bogor (08134711 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/4/2011 = Rp.25.030.737 26/4/2011 Sukisno (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Nurhidayati (085643231 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (08111875 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Masjid Al Ikhlas (0813***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Hamba Allah (085748842 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (081383768 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Aris (08564022 ***) Rp.300.000 (via BCA) 26/4/2011 Didit Samarinda (081347191 ***) Rp.500.000 (via BCA) 26/4/2011 Endi Rahmani (081904034 ***) Rp.200.000 (via BCA) 26/4/2011 Pipin (081328380 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Rina Ariyanti (via BBM) Rp.3.000.000 (via BCA) 26/4/2011 Ipan Pranasakti (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Abdullah (08562573 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (085216593 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (08161858 ***) Rp.250.000 (via BCA) 26/4/2011 Bu Salamah (Pogung Kidul) Rp.500.000 (langsung) 26/4/2011 Alm. Munah (083890808 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Isna (083890808 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 26/4/2011 Zainab Talaohu (via BBM) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 26/4/2011 = Rp.37.930.737 27/4/2011 Ratih (08159575 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Dwiyanto (081901389 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Boris Tanesia (08159185 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Arian (081931331 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (08551002 ***) Rp. 1.000.000 (via BNI Syariah) 27/4/2011 Hamba Allah (0819851 ***) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 27/4/2011 = Rp.41.280.737 28/4/2011 Hamba Allah (0856716 ***) Rp.100.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Belanda (+31634384 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 28/4/2011 Hamba Allah Balikpapan (081350574 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 28/4/2011 Nuraini (085239677 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 28/4/2011 = Rp.42.630.737 29/4/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (085267948 ***) Rp.150.000 (via BCA) 29/4/2011 Hamba Allah (087888686 ***) Rp.5.000.000 (via BCA) 29/4/2011 Itis Ternate (081356043 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 29/4/2011 = Rp.48.930.737 30/4/2011 Gondo Ngampel Rp.50.000 (langsung) 30/4/2011 Rizkon Robbi (08158872 ***) Rp.200.000 (via BCA) 30/4/2011 Aji Klaten (08121569 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 30/4/2011 Hamba Allah (08159003 ***) Rp.3.500.000 (via BCA) 30/4/2011 Bu Barkah Rp.300.000 (langsung) 30/4/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 30/4/2011 Hamba Allah (085727357 ***) Rp.700.000 (via BCA) Total Donasi per 30/4/2011 = Rp.54.850.737 1/5/2011 Hamba Allah (08111102 ***) Rp.200.000 (via BCA) 1/5/2011 Novi Cahyanti dan Keluarga (via BBM) Rp.1.000.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 1/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 1/5/2011 = Rp.56.350.737 2/5/2011 Pecinta Sunnah (085780116 ***) Rp.100.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.50.000 (via BCA) 2/5/2011 Hamba Allah (0811104 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 2/5/2011 Zulkarnain (081278647 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (089637508 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 2/5/2011 Hamba Allah (08568015 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 2/5/2011 = Rp.57.950.737 3/5/2011 Mati (0816185 ***) Rp.500.000 (via BCA) 3/5/2011 Rizki Mula (085292921***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Septi Ambarwati (081328063 ***) Rp.200.000 (via BCA) 3/5/2011 Januardo (085217719 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 3/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 3/5/2011 = Rp.59.350.737 4/5/2011 Haryono (08161376 ***) Rp.500.000 (via BCA) 4/5/2011 Hamba Allah (02194976 ***) Rp.2.000.000 (via BNI Syariah) 4/5/2011 Adang Bintaro (08562000***) Rp.2.000.000 (via BCA) Total Donasi per 4/5/2011 = Rp.63.850.737 5/5/2011 Hamba Allah Rp.30.000 (langsung) 5/5/2011 Abu Yusuf (081347118 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 5/5/2011 = Rp.64.380.737 6/5/2011 Hamba Allah (085720345 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 6/5/2011 = Rp.64.580.737 7/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.100.000 (via BCA) 7/5/2011 Mulyadi Ade (085883135 ***) Rp.150.000 (via BCA) 7/5/2011 Hamba Allah (081905054 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 7/5/2011 Hamba Allah (via BBM) Rp.500.000 (via BCA) Total Donasi per 7/5/2011 = Rp.65.530.737 8/5/2011 Hamba Allah (082114937 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 8/5/2011 Hamba Allah (08158112 ***) Rp.1.725.000 (via BCA) Total Donasi per 8/5/2011 = Rp.69.255.737 9/5/2011 Abu Affan (08122876 ***) Rp.99.999 (via BCA) Total Donasi per 9/5/2011 = Rp.69.355.736 10/5/2011 Hamba Allah (082111480 ***) Rp.300.000 (via BCA) 10/5/2011 Gesit Aprianto (085643599 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 10/5/2011 Pudio+keluarga (08156732 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 10/5/2011 = Rp.69.805.736 11/5/2011 Hartati (085277506 ***) Rp.855.444 (via BCA) 11/5/2011 Joko Nurul (081578523 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 11/5/2011 = Rp.70.811.180 12/5/2011 Hamba Allah (085668138 ***) Rp.100.000 (via BCA) Total Donasi per 12/5/2011 = Rp.70.911.180 15/5/2011 Hamba Allah (081350574 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 15/5/2011 = Rp.71.111.180 16/5/2011 Chorista Ika H (081311350 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hendri Saputra (08568663 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083897855 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Dermawan (085888916 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081320309 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (083171341 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081321048 ***) Rp.100.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (081539862 ***) Rp.300.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08115408 ***) Rp.25.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (0818468 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08155059 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (08562062 ***) Rp.50.000 (via BCA) 16/5/2011 Hamba Allah (087738158 ***) Rp.200.000 (via BCA) 17/5/2011 Abu Nisa (0811766 ***) Rp.500.000 (via BCA) 17/5/2011 Hamba Allah (082125621 ***) Rp.100.000 (via BSM) 17/5/2011 Hamba Allah (081355182 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 17/5/2011 Nani Cendana (via BBM) Rp.700.000 (via BCA) 18/5/2011 Rio Hendrawan (095266440 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 18/5/2011 Inun Kurniati (081703403 ***) Rp. 100.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (085643077 ***) Rp. 400.000 (via BCA) 18/5/2011 Hamba Allah (02193032 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 17/5/2011 Salsabila (085227378 ***) Rp.300.000 (via BSM) 18/5/2011 Hamba Allah (089636935 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 15/5/2011 Hamba Allah (+97455183 ***) Rp.700.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081269636 ***) Rp.100.000 (via BCA) 19/5/2011 Ati Zubir (081510391 ***) Rp.500.000 (via BCA) 19/5/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 20/5/2011 Mukhlis El Afkar (via BBM) Rp. 35.123 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah (081555261 ***) Rp.100.000 (via BCA) 20/5/2011 Nelly Tsabita (08970879 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 21/5/2011 Hamba Allah (081328694 ***) Rp.250.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (087887262 ***) Rp.60.078 (via BCA) 21/5/2011 Abdullah (081361118 ***) Rp.100.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (085925128 ***) Rp.200.000 (via BSM) 21/5/2011 Hamba Allah (08123010 ***) Rp.50.000 (via BCA) 20/5/2011 Hamba Allah Singapura Rp.12.000.000 (via BSM) 22/5/2011 Hamba Allah (085279529 ***) Rp.50.000 (via BCA) 22/5/2011 Hamba Allah (081316350 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 23/5/2011 Hamba Allah (082125225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 23/5/2011 Kel. Taufik (081519066 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 23/5/2011 Hamba Allah (08562373 ***) Rp.500.000 (via BCA) 23/5/2o11 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 23/5/2011 Amatullah (+6582250 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (+85293437 ***) Rp.190.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (087883041 ***) Rp.32.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (085641222 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 24/5/2011 Hamba Allah (0811732 ***) Rp.200.000 (via BCA) 24/5/2011 Hamba Allah (08156088 ***) Rp.50.000 (via BCA) 24/5/2011 Nooryati Mulia (0811163 ***) Rp.500.000 (via BSM) 25/5/2011 Hamba Allah (08995188 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 25/5/2011 Hamba Allah (0819700 ***) Rp.250.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (08128979 ***) Rp.100.000 (via BCA) 25/5/2011 Hamba Allah (081933933 ***) Rp.1.500.000 (via BNI Syariah) Total Donasi per 25/5/2011 = Rp.96.997.381 182. 26/5/2011 Abu Rizki (085656000 ***) Rp. 100.123 (via BNI Syariah) 183. 26/5/2011 Hamba Allah (083811174 ***) Rp. 25.000 (via BNI Syariah) 184. 26/5/2011 Rizki Kamo () Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 185. 26/5/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp. 50.000 (via BSM) 186. 26/5/2011 Kel Hafni Ramawi (08161310 *** ) Rp. 150.000 (via BNI Syariah) 187. 27/5/2011 Hamba Allah (08115500***) Rp.250.000 (via BSM) 188. 27/5/2011 Soffi (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 189. 27/5/2011 Lutfi Jamili (08111907 ***) Rp. 200.000 (via BCA) 190. 27/5/2011 Yulia Tripuspawati (085658767 ***) Rp.100.000 (via BSM) 191. 27/5/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 192. 28/5/2011 HA (087832888 ***) Rp.555.555 (via BNI Syariah) 193. 27/5/2011 Hamba Allah (08568384 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 194. 27/5/2011 Ridzvan (+6738843 ***) Rp.1.390.000 (via BNI Syariah) 195. 28/5/2011 Hamba Allah (08121573 ***) Rp.50.000 (via BNI Syariah) 196. 29/5/2011 Hamba Allah (08812285 ***) Rp.50.000 (via BCA) 197. 29/5/2011 Kristanto Hadi (085731284 ***) Rp.500.000 (via BCA) 198. 30/5/2011 3 Ikhwan Jakarta (08568015 ***) Rp.350.000 (via BCA) 199. 30/5/2011 Hamba Allah (0811963 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 200. 30/5/2011 Izpal (087882317 ***) Rp.500.000 (via BSM) 201. 30/5/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.25.000 (via BNI Syariah) 202. 31/5/2011 Hamba Allah (081977753 ***) Rp.300.000 (via BNI Syariah) 203. 31/5/2011 Hamba Allah (083862900 ***) Rp.100.000 (via BCA) 204. 31/5/2011 Soesi Mrini (081932932 ***) Rp.200.000 (via BSM) 205. 31/5/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 206. 31/5/2011 Hamba Allah (085217733 ***) Rp.100.000 (via BSM) 207. 1/6/2011 Bundazen (081902299 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 208. 1/6/2011 Hamba Allah (+97455824 ***) Rp.300.000 (via BCA) 209. 31/5/2011 Hamba Allah (0811878 ***) Rp.100.000 (via BCA) 210. 2/6/2011 Hamba Allah (081578009 ***) Rp.500.000 (via BSM) 211. 2/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 212. 2/6/2011 Hamba Allah (08170088 ***) Rp.25.000 (via BCA) 213. 2/6/2011 Hamba Allah (085692364 ***) Rp.50.000 (via BCA) 214. 2/6/2011 Mahda Jumena (02292059 ***) Rp.100.000 (via BCA) 215. 3/6/2011 Abuhana (02171107 ***) Rp.100.000 ? 216. 3/6/2011 Alm. Beti Retnosari & Kel (087838253 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 217. 3/6/2011 Age Poncoshandy Asmorojati (085725783 ***) Rp.150.000 (via BSM) 218. 3/6/2011 Abdul Ghofar (085691435 ***) Rp.300.000 (via BCA) 219. 3/6/2011 Hamba Allah (081328793 ***) Rp.100.000 (via BNI) 220. 3/6/2011 Abu Hafshoh (085730801 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 221. 4/6/2011 Hamba Allah (085220154 ***) Rp.100.000 (via BCA) 222. 4/6/2011 Rainy (08111991 ***) Rp.200.000 (via BCA) 223. 5/6/2011 Hamba Allah (085240663 ***) Rp.2.000.000 (via BCA) 224. 6/6/2011 Hamba Allah (08158088 ***) Rp.50.000 (via BSM) 225. 6/6/2011 Nur (08567952 ***) Rp.100.000 (via BCA) 226. 7/6/2011 Hamba Allah (081347118 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 227. 7/6/2011 Hamba Allah (0818973 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) 228. 8/6/2011 Hamba Alloh Sprtnh Satu (?) Rp.100.000 (via BSM) 229. 8/6/2011 Hamba Allah Sprmn Satu (?) Rp.50.000 (via BSM) 230. 8/6/2011 Hamba Allah Sprtnh Sprmn Kabepe (?) Rp.30.000.000 (via BSM) 231. 8/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 232. 10/6/2011 Abdulloh (081227688 ***) Rp.1.000.000 (via BSM) 233. 10/6/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 234. 10/6/2011 Hamba Allah (085342740 ***) Rp.15.000 (via BNI Syariah) 235. 10/6/2011 Hamba Allah (08158813 ***) Rp.250.000 (via BCA) 236. 12/6/2011 Hamba Allah (08179393 ***) Rp.50.000 (via BCA) 237. 13/6/2011 Hamba Allah (0816776 ***) Rp.1.000.000 (via BCA) … untuk toilet 238. 13/6/2011 Hamba Allah (085643031 ***) Rp.250.000 (via BNI Syariah) 239. 12/6/2011 Hamba Allah (082114199 ***) Rp.50.000 (via BCA) 240. 14/6/2011 Hamba Allah (02156112 ***) Rp.100.000 (via BCA) 241. 14/6/2011 Umi (081383838 ***) Rp.100.000 (via BCA) 242. 15/6/2011 Hamba Allah (081363236 ***) Rp.200.000 (via BNI Syariah) 243. 16/6/2011 Abdurrahman (0816100 ***) Rp250.000 (via BSM) 244. 17/6/2011 Hamba Allah (082110225 ***) Rp.50.000 (via BCA) 245. 18/6/2011 Hamba Allah (082135190 ***) Rp.350.000 (via BSM) 246. 22/6/2011 Hamba Allah (08566310 ***) Rp.100.000 (via BSM) 247. 24/6/2011 Ibnu Subur (081586011 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 248. 22/6/2011 Hamba Fatawa (087737735 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 249. 25/6/2011 Hamba Allah (081346683 ***) Rp.50.000 (via BSM) 250. 27/6/2011 Hamba Allah (081510809 ***) Rp.1.000.000 (via BNI Syariah) 251. 26/6/2011 Rajab (081806106 ***) Rp.200.000 (via BCA) 252. 27/6/2011 Hamba Allah (085334016 ***) Rp.50.000 (via BSM) 253. 30/6/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) 254. 1/7/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.50.000 (via BCA) 255. 1/7/2011 Hamba Alloh (082727718 ***) Rp.250.000 (via BCA) 256. 1/7/2011 Hamba Allah (08119701 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 257. 6/7/2011 Hamba Alloh (081347118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 258. 6/7/2011 Hamba Allah (085643924 ***) Rp.150.000 (via BNI Syariah) 259. 8/7/2011 Ummu Azzahra (081361118 ***) Rp.500.000 (via BSM) 260. 7/7/2011 Dian (via BBM) Rp.200.000 (via BCA) 261. 3/7/2011 HA (081344676 ***) Rp.500.000 (via BSM) 262. 10/7/2011 Zainab Talaohu (081527040 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 263. 14/07/2011 Abdurrahman (081286131 ***) Rp.500.000 (via BCA) 264. 16/07/2011 Hamba Allah (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 265. 18/07/2011 Rully (085624008 ***) Rp.400.000 (via BCA) 266. 19/07/2011 Hamba Allah (08561056 ***) Rp.250.000 (via BCA) 267. 21/07/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 268. 26/07/2011 Hamba Allah (085634444 ***) Rp.165.500 (via BSM) 269. 29/07/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BCA) 270. 02/08/2011 Abu Fatih (082125650 ***) Rp.50.000 (via BCA) 271. 02/08/2011 Hamba Allah (081511334 ***) Rp.75.000 (via BCA) 272. 02/08/2011 Hamba Allah (08121972 ***) Rp.300.000 (via BCA) 273. 03/08/2011 Hamba Allah (081328497 ***) Rp.100.000 (via BSM) 274. 04/08/2011 Syamsul (085885268 ***) Rp.500.000 (via BCA) 275. Juli 2011 Hamba Allah (085647040 ***) Rp.100.000 (via BCA) 276. 04/08/2011 Ummu ‘Abdillah (+60165438 ***) Rp.275.000 (via BCA) 277. 05/08/2011 Hamba Allah (081332322 ***) Rp.500.000 (via BNI Syariah) 278. 06/08/2011 Hamba Allah (085224031 ***) Rp.100.000 (via BNI Syariah) 279. 07/08/2011 Hamba Alloh (085648901 ***) Rp.100.000 (via BSM) Total pemasukan donasi per 09/08/2011 : Rp.152.048.559,-   Laporan Pengeluaran Donasi 24/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.10.010.000 25/04/2011 Transport untuk Pengambilan Kusen Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.214.500 25/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp1.500.000 26/04/2011 Pembelian 1 Al Qur’an Terjemahan = Rp.100.000 27/04/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.2.500.000 29/04/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Muttaqin Pucang = Rp.6.600.000 30/04/2011 Penyerahan dana I untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 01/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.400.000 02/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.250.000 02/05/2011 Pembelian 20 Al Qur’an Terjemahan = Rp. 1.500.000 03/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Hadni Nduren = Rp.300.000 03/05/2011 Pembelian Horn Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.400.000 03/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.10.000.000 03/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.500.000 06/05/2011 Penyerahan dana II untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.250.000 07/05/2011 Penyerahan dana III untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.5.000.000 08/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.2.000.000 08/05/2011 Pembelian Buku PelajaranTPA untuk 6 masjid = Rp.92.500 13/05/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.400.000 15/05/2011 Penyerahan dana VI untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 20/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.3.500.000 21/05/2011 Penyerahan dana VII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.3.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana untuk Musholla Nur Hasanah = Rp.1.500.000 22/05/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Ash Shofudin Krambil = Rp.2.500.000 25/05/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.2.500.000 25/05/2011 Transport pembelian keramik ke Jogja-Imogiri = Rp.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana IV untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.300.000 25/05/2011 Penyerahan dana VIII untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.1.100.000 26/05/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.3.000.000 30/06/2011 Penyerahan dana IX untuk Masjid Jaami’ Al Adha Mbali = Rp.724.500 30/06/2011 Penyerahan dana I untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.000.000 01/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Adz Dzikro Ngampel = Rp.900.000 01/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.4.100.000 01/07/2011 Penyerahan dana X untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.1.000.000 03/07/2011 Penyerahan dana III untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.2.900.000 06/07/2011 Penyerahan dana II untuk Masjid Al Huda Wintaos = Rp.800.000 08/07/2011 Pembelian sarana TPA Masjid Al Hadi Nduren dan Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp. Rp.87.500 09/07/2011 Penyerahan dana V untuk Musholla Al Ikhlas Kunci = Rp.1.500.000 12/07/2011 Penyerahan dana XI guna pembelian semen untuk Masjid Jami’ Al Adha Mbali = Rp.215.000 13/07/2011 Penyerahan dana XII guna pembelian keramik teras (tempat pembelajaran TPA dan pesantren Darush Sholihin) untuk Masjid Jami’ Al Adha = Rp.500.000 13/07/2011 Perlengkapan santri sema’an Al Qur’an = Rp.100.000 17/07/2011 Biaya tukang untuk pembangunan Masjid Mbali = Rp.1.400.000 17/07/2011 Hadiah untuk Lomba TPA = Rp.70.000 17/07/2011 Perlengkapan TPA, Iqro’ dan Al Qur’an Terjemahan = Rp. 460.000 18/07/2011 Perlengkapan TPA untuk masjid Al Hadi dan masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.87.500 20/07/2011 Penyerahan dana IV untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.1.000.000 21/07/2011 Pembelian semen dan pasir untuk tangga Masjid Jami’ Al Adha = Rp.400.000 23/07/2011 Hadiah untuk lomba TPA Pundung = Rp.50.000 24/07/2011 Konsumsi TPA Bersama di Masjid Mbali = Rp.30.000 24/07/2011 Snack TPA Pundung = Rp.10.000 25/07/2011 Uang muka pembelian tanah pesantren Darush Sholihin dari total 7 juta rupiah = Rp.1.000.000 25/07/2011 Pembelian CD dan Buku TPA = Rp.230.000 25/07/2011 Pembelian printer, infus dan printer head cleaner guna perlengkapan pesantren Darush Sholihin = Rp.710.000 25/07/2011 Pembelian projector BenQ untuk keperluan pesantren Darush Sholihin + kabel VGA 10 m = Rp.3.325.000 25/07/2011 Kertas A4 70 gr untuk keperluan pesantren Darush Sholihin = Rp.33.000 25/07/2011 Pembelian air untuk Masjid Al Munawaroh Pundung = Rp.150.000 26/07/2011 Pembelian VCD Mualaf Hindu dan VCD Kisah Anak-anak 2 Keping untuk keperluan dakwah warga = Rp.47.000 27/07/2011 Pembelian 25 binder dan 25 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.378.350 28/07/2011 Pembelian VCD Kedudukan Akal, VCD Thoharoh, VCD Musibah Dunia = Rp.71.600 28/07/2011 Pembelian 20 binder dan 20 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.271.500 30/07/2011 Hadiah lomba TPA (buku, juz ‘amma, pulpen, pensil, snack, permen) = Rp.206.500 30/07/2011 Pembelian lampu untuk masjid Pundung = Rp.90.000 30/07/2011 Penyerahan dana V untuk Masjid Al Munawwaroh Pundung = Rp.200.000 31/07/2011 Pembelian snack untuk lomba TPA Pundung = Rp.15.000 01/08/2011 Pembelian 10 Al Qur’an terjemahan mereka Al Hidayah = Rp.750.000 01/08/2011 Pembelian 10 binder dan 10 loose leaf sebagai sarana belajar santri pesantren Darush Sholihin = Rp.128.500 01/08/2011 Mukafaah pengajar TPA Kunci dan Pundung untuk bulan Juli = Rp.200.000 Total pengeluaran donasi per 09 /08/2011 = Rp.98.857.950 Sisa donasi = Rp.53.190.609,-   Catatan: Dana yang belum dikeluarkan masih disimpan untuk pembangunan Musholla Al Ikhlas yang baru direhab/ diperluas setelah Ramadhan 1432 H. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk pembangunan Pondok Pesantren Darush Sholihin di samping Masjid Jami Al Adha Dusun Warak Desa Girisekar Semoga Allah membalas amalan para donatur sekalian dengan pahala melimpah dan moga rizkinya tambah barokah.   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal     Info www.rumaysho.com, update 10/08/2011 Tagsrenovasi masjid

Lebih Afdhol Mana Antara Puasa atau Tidak bagi Wanita Hamil?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, Wanita hamil tidak lepas dari dua hal: 1. Wanita itu kuat dan semangat untuk jalani puasa, tidak sulit baginya jalani puasa dan tidak membawa efek bagi janinnya, maka wajib bagi wanita hamil tersebut untuk berpuasa. Karena ketika itu tidak ada udzur baginya untuk tidak berpuasa. 2. Wanita tersebut tidak mampu dan berat jalani puasa atau badannya lemas jika jalani puasa dan sebab lainnya, maka dalam kondisi ini hendaklah ia tidak berpuasa. Apalagi jika membawa efek pada janinnya, kondisi ini juga wajib baginya untuk tidak berpuasa. [Fatawa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 1/487] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, Status wanita hamil dan menyusui adalah seperti orang yang sakit. Jika ia sulit jalani puasa, maka ia boleh tidak puasa, namun tetap dirinya harus mengqodho (nyaur) puasanya ketika ia mampu nantinya, statusnya seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat cukup bagi wanita hamil dan menyusui mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi hari yang tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang tepat, tetap baginya menunaikan qodho puasa seperti musafir dan orang sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185) إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ “Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh yang lima) [Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’alluq bi Arkanil Islam, hal. 171] Semarang, 8 Ramadhan 1432 H (08/08/2011) www.rumaysho.com Tagscara bayar fidyah fidyah puasa wanita hamil

Lebih Afdhol Mana Antara Puasa atau Tidak bagi Wanita Hamil?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, Wanita hamil tidak lepas dari dua hal: 1. Wanita itu kuat dan semangat untuk jalani puasa, tidak sulit baginya jalani puasa dan tidak membawa efek bagi janinnya, maka wajib bagi wanita hamil tersebut untuk berpuasa. Karena ketika itu tidak ada udzur baginya untuk tidak berpuasa. 2. Wanita tersebut tidak mampu dan berat jalani puasa atau badannya lemas jika jalani puasa dan sebab lainnya, maka dalam kondisi ini hendaklah ia tidak berpuasa. Apalagi jika membawa efek pada janinnya, kondisi ini juga wajib baginya untuk tidak berpuasa. [Fatawa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 1/487] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, Status wanita hamil dan menyusui adalah seperti orang yang sakit. Jika ia sulit jalani puasa, maka ia boleh tidak puasa, namun tetap dirinya harus mengqodho (nyaur) puasanya ketika ia mampu nantinya, statusnya seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat cukup bagi wanita hamil dan menyusui mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi hari yang tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang tepat, tetap baginya menunaikan qodho puasa seperti musafir dan orang sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185) إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ “Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh yang lima) [Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’alluq bi Arkanil Islam, hal. 171] Semarang, 8 Ramadhan 1432 H (08/08/2011) www.rumaysho.com Tagscara bayar fidyah fidyah puasa wanita hamil
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, Wanita hamil tidak lepas dari dua hal: 1. Wanita itu kuat dan semangat untuk jalani puasa, tidak sulit baginya jalani puasa dan tidak membawa efek bagi janinnya, maka wajib bagi wanita hamil tersebut untuk berpuasa. Karena ketika itu tidak ada udzur baginya untuk tidak berpuasa. 2. Wanita tersebut tidak mampu dan berat jalani puasa atau badannya lemas jika jalani puasa dan sebab lainnya, maka dalam kondisi ini hendaklah ia tidak berpuasa. Apalagi jika membawa efek pada janinnya, kondisi ini juga wajib baginya untuk tidak berpuasa. [Fatawa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 1/487] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, Status wanita hamil dan menyusui adalah seperti orang yang sakit. Jika ia sulit jalani puasa, maka ia boleh tidak puasa, namun tetap dirinya harus mengqodho (nyaur) puasanya ketika ia mampu nantinya, statusnya seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat cukup bagi wanita hamil dan menyusui mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi hari yang tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang tepat, tetap baginya menunaikan qodho puasa seperti musafir dan orang sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185) إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ “Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh yang lima) [Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’alluq bi Arkanil Islam, hal. 171] Semarang, 8 Ramadhan 1432 H (08/08/2011) www.rumaysho.com Tagscara bayar fidyah fidyah puasa wanita hamil


Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, Wanita hamil tidak lepas dari dua hal: 1. Wanita itu kuat dan semangat untuk jalani puasa, tidak sulit baginya jalani puasa dan tidak membawa efek bagi janinnya, maka wajib bagi wanita hamil tersebut untuk berpuasa. Karena ketika itu tidak ada udzur baginya untuk tidak berpuasa. 2. Wanita tersebut tidak mampu dan berat jalani puasa atau badannya lemas jika jalani puasa dan sebab lainnya, maka dalam kondisi ini hendaklah ia tidak berpuasa. Apalagi jika membawa efek pada janinnya, kondisi ini juga wajib baginya untuk tidak berpuasa. [Fatawa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 1/487] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, Status wanita hamil dan menyusui adalah seperti orang yang sakit. Jika ia sulit jalani puasa, maka ia boleh tidak puasa, namun tetap dirinya harus mengqodho (nyaur) puasanya ketika ia mampu nantinya, statusnya seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat cukup bagi wanita hamil dan menyusui mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi hari yang tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang tepat, tetap baginya menunaikan qodho puasa seperti musafir dan orang sakit. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185) إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ “Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh yang lima) [Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’alluq bi Arkanil Islam, hal. 171] Semarang, 8 Ramadhan 1432 H (08/08/2011) www.rumaysho.com Tagscara bayar fidyah fidyah puasa wanita hamil

Keutamaan Silaturahmi

Bahasan berikut akan mengangkat perihal keutamaan silaturahmi. Lalu akan ditambahkan dengan pemahaman yang selama ini keliru tentang makna ‘silaturahmi’. Karena salah kaprah, akhirnya jadi salah paham dengan hadits yang menyatakan bahwa silaturahmi akan memperpanjang umur. Lebih baik kita simak saja ulasan singkat berikut. Moga bermanfaat. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983) Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih) Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا ”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991) Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558) Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ “Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi). Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan) Memang terjadi salah kaprah mengenai istilah silaturahmi di tengah-tengah kita sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas. Yang tepat, menjalin tali silaturahmi adalah istilah khusus untuk berkunjung kepada orang tua, saudara atau kerabat. Jadi bukanlah istilah umum untuk mengunjungi orang sholeh, teman atau tetangga. Sehingga yang dimaksud silaturahmi akan memperpanjang umur adalah untuk maksud berkunjung kepada orang tua dan kerabat. Ibnu Hajar dalam Al Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.” Itulah makna yang tepat. Wallahu waliyyut taufiq.   Disusun di Panggang-Gunung Kidul, 9 Ramadhan 1432 H (09/08/2011) www.rumaysho.com

Keutamaan Silaturahmi

Bahasan berikut akan mengangkat perihal keutamaan silaturahmi. Lalu akan ditambahkan dengan pemahaman yang selama ini keliru tentang makna ‘silaturahmi’. Karena salah kaprah, akhirnya jadi salah paham dengan hadits yang menyatakan bahwa silaturahmi akan memperpanjang umur. Lebih baik kita simak saja ulasan singkat berikut. Moga bermanfaat. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983) Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih) Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا ”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991) Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558) Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ “Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi). Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan) Memang terjadi salah kaprah mengenai istilah silaturahmi di tengah-tengah kita sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas. Yang tepat, menjalin tali silaturahmi adalah istilah khusus untuk berkunjung kepada orang tua, saudara atau kerabat. Jadi bukanlah istilah umum untuk mengunjungi orang sholeh, teman atau tetangga. Sehingga yang dimaksud silaturahmi akan memperpanjang umur adalah untuk maksud berkunjung kepada orang tua dan kerabat. Ibnu Hajar dalam Al Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.” Itulah makna yang tepat. Wallahu waliyyut taufiq.   Disusun di Panggang-Gunung Kidul, 9 Ramadhan 1432 H (09/08/2011) www.rumaysho.com
Bahasan berikut akan mengangkat perihal keutamaan silaturahmi. Lalu akan ditambahkan dengan pemahaman yang selama ini keliru tentang makna ‘silaturahmi’. Karena salah kaprah, akhirnya jadi salah paham dengan hadits yang menyatakan bahwa silaturahmi akan memperpanjang umur. Lebih baik kita simak saja ulasan singkat berikut. Moga bermanfaat. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983) Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih) Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا ”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991) Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558) Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ “Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi). Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan) Memang terjadi salah kaprah mengenai istilah silaturahmi di tengah-tengah kita sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas. Yang tepat, menjalin tali silaturahmi adalah istilah khusus untuk berkunjung kepada orang tua, saudara atau kerabat. Jadi bukanlah istilah umum untuk mengunjungi orang sholeh, teman atau tetangga. Sehingga yang dimaksud silaturahmi akan memperpanjang umur adalah untuk maksud berkunjung kepada orang tua dan kerabat. Ibnu Hajar dalam Al Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.” Itulah makna yang tepat. Wallahu waliyyut taufiq.   Disusun di Panggang-Gunung Kidul, 9 Ramadhan 1432 H (09/08/2011) www.rumaysho.com


Bahasan berikut akan mengangkat perihal keutamaan silaturahmi. Lalu akan ditambahkan dengan pemahaman yang selama ini keliru tentang makna ‘silaturahmi’. Karena salah kaprah, akhirnya jadi salah paham dengan hadits yang menyatakan bahwa silaturahmi akan memperpanjang umur. Lebih baik kita simak saja ulasan singkat berikut. Moga bermanfaat. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983) Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih) Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا ”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991) Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558) Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ “Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi). Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan) Memang terjadi salah kaprah mengenai istilah silaturahmi di tengah-tengah kita sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas. Yang tepat, menjalin tali silaturahmi adalah istilah khusus untuk berkunjung kepada orang tua, saudara atau kerabat. Jadi bukanlah istilah umum untuk mengunjungi orang sholeh, teman atau tetangga. Sehingga yang dimaksud silaturahmi akan memperpanjang umur adalah untuk maksud berkunjung kepada orang tua dan kerabat. Ibnu Hajar dalam Al Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.” Itulah makna yang tepat. Wallahu waliyyut taufiq.   Disusun di Panggang-Gunung Kidul, 9 Ramadhan 1432 H (09/08/2011) www.rumaysho.com

Memberi Makan Buka Puasa di Gunung Kidul

“ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Bulan Ramadhan 1432 H sebentar lagi akan menghampiri kita. Seperti tahun sebelumnya, kesempatan Ramadhan kali ini rumaysho.com siap menyalurkan bantuan untuk buka bersama di sekitar desa Girisekar, Panggang-Gunung Kidul. Dana tersebut akan disalurkan ke 9 masjid, di mana mayoritas jama’ah yang ada adalah orang-orang miskin yang jarang menikmati makanan buka puasa yang istimewa. Bentuk sajian yang akan kami salurkan adalah berupa nasi ayam atau lele yang disajikan dalam kotak. Perkiraan harga per kotaknya @ Rp.10.000,-. Sembilan masjid yang akan jadi tempat penyaluran buka puasa bersama: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid Adz Dzikro Ngampel. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla Nur Hasanah Magir. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. (daerah miskin dan pusat penyebaran agama Budha) Donasi dapat disalurkan melalui rekening: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881. Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165. Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155. Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama pemberi makan berbuka, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan lewat www.rumaysho.com. Contoh: Ahmad#Rp.2.000.000#BNI Syariah#17 Juli 2011#buka puasa. Penerimaan donasi buka bersama ini berlaku hingga 25 Ramadhan 1432 H (20/08/2011) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi, hasan ghorib ) مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Setiap donasi yang masuk dan telah dimanfaatkan akan dilaporkan di website www.rumaysho.com insya Allah. Semoga Allah senantiasa memberkahi harta bapak/ibu sekalian dan membalas amalan Anda dengan pahala melimpah.   JADWAL BUKA PUASA BERSAMA   Hari/ Tanggal Masjid/ Musholla Jumlah Kotak Senin, 1 Agustus 2011 Jami’ Al Adha (Mbali) 100 Selasa, 2 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Kamis, 4 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Jum’at, 5 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Sabtu, 6 Agustus 2011 Masjid Warak 90   Masjid Pertelan 60 Ahad, 7 Agustus 2011 Masjid Macan Mati 100 Senin, 8 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Selasa, 9 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Rabu, 10 Agustus 2011 Masjid Nawangan 100 Kamis, 11 Agustus 2011 Masjid Sawah 100 Jum’at, 12 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Sabtu, 13 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Ahad, 14 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Senin, 15 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Selasa, 16 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Rabu, 17 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Kamis, 18 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Jumat, 19 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Sabtu, 20 Agustus 2011 Bersama santri Pesantren di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 150 Ahad, 21 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Senin, 22 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Selasa, 23 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Sabtu, 27 Agustus 2011 Bersama takmir masjid di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 130   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal   Info www.rumaysho.com , 8 Sya’ban 1432 H (10/07/2011) Tagsdonasi ramadhan

Memberi Makan Buka Puasa di Gunung Kidul

“ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Bulan Ramadhan 1432 H sebentar lagi akan menghampiri kita. Seperti tahun sebelumnya, kesempatan Ramadhan kali ini rumaysho.com siap menyalurkan bantuan untuk buka bersama di sekitar desa Girisekar, Panggang-Gunung Kidul. Dana tersebut akan disalurkan ke 9 masjid, di mana mayoritas jama’ah yang ada adalah orang-orang miskin yang jarang menikmati makanan buka puasa yang istimewa. Bentuk sajian yang akan kami salurkan adalah berupa nasi ayam atau lele yang disajikan dalam kotak. Perkiraan harga per kotaknya @ Rp.10.000,-. Sembilan masjid yang akan jadi tempat penyaluran buka puasa bersama: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid Adz Dzikro Ngampel. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla Nur Hasanah Magir. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. (daerah miskin dan pusat penyebaran agama Budha) Donasi dapat disalurkan melalui rekening: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881. Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165. Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155. Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama pemberi makan berbuka, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan lewat www.rumaysho.com. Contoh: Ahmad#Rp.2.000.000#BNI Syariah#17 Juli 2011#buka puasa. Penerimaan donasi buka bersama ini berlaku hingga 25 Ramadhan 1432 H (20/08/2011) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi, hasan ghorib ) مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Setiap donasi yang masuk dan telah dimanfaatkan akan dilaporkan di website www.rumaysho.com insya Allah. Semoga Allah senantiasa memberkahi harta bapak/ibu sekalian dan membalas amalan Anda dengan pahala melimpah.   JADWAL BUKA PUASA BERSAMA   Hari/ Tanggal Masjid/ Musholla Jumlah Kotak Senin, 1 Agustus 2011 Jami’ Al Adha (Mbali) 100 Selasa, 2 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Kamis, 4 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Jum’at, 5 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Sabtu, 6 Agustus 2011 Masjid Warak 90   Masjid Pertelan 60 Ahad, 7 Agustus 2011 Masjid Macan Mati 100 Senin, 8 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Selasa, 9 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Rabu, 10 Agustus 2011 Masjid Nawangan 100 Kamis, 11 Agustus 2011 Masjid Sawah 100 Jum’at, 12 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Sabtu, 13 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Ahad, 14 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Senin, 15 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Selasa, 16 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Rabu, 17 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Kamis, 18 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Jumat, 19 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Sabtu, 20 Agustus 2011 Bersama santri Pesantren di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 150 Ahad, 21 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Senin, 22 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Selasa, 23 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Sabtu, 27 Agustus 2011 Bersama takmir masjid di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 130   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal   Info www.rumaysho.com , 8 Sya’ban 1432 H (10/07/2011) Tagsdonasi ramadhan
“ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Bulan Ramadhan 1432 H sebentar lagi akan menghampiri kita. Seperti tahun sebelumnya, kesempatan Ramadhan kali ini rumaysho.com siap menyalurkan bantuan untuk buka bersama di sekitar desa Girisekar, Panggang-Gunung Kidul. Dana tersebut akan disalurkan ke 9 masjid, di mana mayoritas jama’ah yang ada adalah orang-orang miskin yang jarang menikmati makanan buka puasa yang istimewa. Bentuk sajian yang akan kami salurkan adalah berupa nasi ayam atau lele yang disajikan dalam kotak. Perkiraan harga per kotaknya @ Rp.10.000,-. Sembilan masjid yang akan jadi tempat penyaluran buka puasa bersama: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid Adz Dzikro Ngampel. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla Nur Hasanah Magir. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. (daerah miskin dan pusat penyebaran agama Budha) Donasi dapat disalurkan melalui rekening: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881. Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165. Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155. Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama pemberi makan berbuka, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan lewat www.rumaysho.com. Contoh: Ahmad#Rp.2.000.000#BNI Syariah#17 Juli 2011#buka puasa. Penerimaan donasi buka bersama ini berlaku hingga 25 Ramadhan 1432 H (20/08/2011) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi, hasan ghorib ) مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Setiap donasi yang masuk dan telah dimanfaatkan akan dilaporkan di website www.rumaysho.com insya Allah. Semoga Allah senantiasa memberkahi harta bapak/ibu sekalian dan membalas amalan Anda dengan pahala melimpah.   JADWAL BUKA PUASA BERSAMA   Hari/ Tanggal Masjid/ Musholla Jumlah Kotak Senin, 1 Agustus 2011 Jami’ Al Adha (Mbali) 100 Selasa, 2 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Kamis, 4 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Jum’at, 5 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Sabtu, 6 Agustus 2011 Masjid Warak 90   Masjid Pertelan 60 Ahad, 7 Agustus 2011 Masjid Macan Mati 100 Senin, 8 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Selasa, 9 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Rabu, 10 Agustus 2011 Masjid Nawangan 100 Kamis, 11 Agustus 2011 Masjid Sawah 100 Jum’at, 12 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Sabtu, 13 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Ahad, 14 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Senin, 15 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Selasa, 16 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Rabu, 17 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Kamis, 18 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Jumat, 19 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Sabtu, 20 Agustus 2011 Bersama santri Pesantren di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 150 Ahad, 21 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Senin, 22 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Selasa, 23 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Sabtu, 27 Agustus 2011 Bersama takmir masjid di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 130   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal   Info www.rumaysho.com , 8 Sya’ban 1432 H (10/07/2011) Tagsdonasi ramadhan


“ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Bulan Ramadhan 1432 H sebentar lagi akan menghampiri kita. Seperti tahun sebelumnya, kesempatan Ramadhan kali ini rumaysho.com siap menyalurkan bantuan untuk buka bersama di sekitar desa Girisekar, Panggang-Gunung Kidul. Dana tersebut akan disalurkan ke 9 masjid, di mana mayoritas jama’ah yang ada adalah orang-orang miskin yang jarang menikmati makanan buka puasa yang istimewa. Bentuk sajian yang akan kami salurkan adalah berupa nasi ayam atau lele yang disajikan dalam kotak. Perkiraan harga per kotaknya @ Rp.10.000,-. Sembilan masjid yang akan jadi tempat penyaluran buka puasa bersama: Masjid Jaami’ Al Adha Mbali. Masjid Adz Dzikro Ngampel. Masjid Al Muttaqin Pucang. Masjid Al Hadi Nduren. Masjid Ash Shofuddin Krambil. Musholla Al Ikhlas Kunci. Musholla Nur Hasanah Magir. Masjid Al Huda, Dusun Wintaos, Desa Girimulyo. Masjid Al Munawwaroh, Dusun Pundung, Desa Girikarto. (daerah miskin dan pusat penyebaran agama Budha) Donasi dapat disalurkan melalui rekening: Rekening BCA KCP Kaliurang atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 8610123881. Rekening BNI Syariah atas nama Sdr Muhammad Abduh Tuasikal: 0194475165. Rekening Bank Syariah Mandiri KCP Wonosari atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 3107011155. Rekening BRI Yogyakarta Cik Ditiro atas nama Muhammad Abduh Tuasikal: 0029-01-101480-50-9. Setelah mengirimkan donasi, silakan mengkonfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama pemberi makan berbuka, besar donasi, rekening tujuan, tanggal transfer, keperluan transfer. Konfirmasi ini harus ada untuk membedakan dengan donasi lainnya yang disalurkan lewat www.rumaysho.com. Contoh: Ahmad#Rp.2.000.000#BNI Syariah#17 Juli 2011#buka puasa. Penerimaan donasi buka bersama ini berlaku hingga 25 Ramadhan 1432 H (20/08/2011) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek” (HR. Tirmidzi, hasan ghorib ) مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “ Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga .” (HR. Tirmidzi, shahih) Setiap donasi yang masuk dan telah dimanfaatkan akan dilaporkan di website www.rumaysho.com insya Allah. Semoga Allah senantiasa memberkahi harta bapak/ibu sekalian dan membalas amalan Anda dengan pahala melimpah.   JADWAL BUKA PUASA BERSAMA   Hari/ Tanggal Masjid/ Musholla Jumlah Kotak Senin, 1 Agustus 2011 Jami’ Al Adha (Mbali) 100 Selasa, 2 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Kamis, 4 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Jum’at, 5 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Sabtu, 6 Agustus 2011 Masjid Warak 90   Masjid Pertelan 60 Ahad, 7 Agustus 2011 Masjid Macan Mati 100 Senin, 8 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Selasa, 9 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Rabu, 10 Agustus 2011 Masjid Nawangan 100 Kamis, 11 Agustus 2011 Masjid Sawah 100 Jum’at, 12 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Sabtu, 13 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Ahad, 14 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Senin, 15 Agustus 2011 Nur Hasanah (Magir) 80 Selasa, 16 Agustus 2011 Al Munawaroh (Slembi) 120 Rabu, 17 Agustus 2011 Al Ikhlas (Kunci) 80 Kamis, 18 Agustus 2011 Al Hadi (Nduren) 90 Jumat, 19 Agustus 2011 Adz Dzikro (Ngampel) 100 Sabtu, 20 Agustus 2011 Bersama santri Pesantren di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 150 Ahad, 21 Agustus 2011 Al Muttaqin (Pucang) 120 Senin, 22 Agustus 2011 Ash Shofudin (Krambil) 120 Selasa, 23 Agustus 2011 Al Huda (Wintaos) 100 Sabtu, 27 Agustus 2011 Bersama takmir masjid di Masjid Jami’ Al Adha Mbali 130   Koordinator Takmir Masjid Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta Muhammad Abduh Tuasikal   Info www.rumaysho.com , 8 Sya’ban 1432 H (10/07/2011) Tagsdonasi ramadhan

Persiapan Sebelum Safar

Berikut adalah beberapa kiat yang mesti dilakukan sebelum kita bersafar. Tulisan berikut adalah penyempurna dari tulisan rumaysho.com sebelumnya di sini. Pertama , melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. ” 1 Kedua , jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya. Ketiga , menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk siapa yang bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi, mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.2 Hal-hal ini perlu disiapkan karena kita tidaklah tahu ajal kita kapan menjemput. Boleh jadi saat safar, malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (QS. Luqman: 34) Keempat , melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits, الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ “ Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir. ”3 Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.4 Namun larangan di sinibukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab. 5 Kelima, mencari teman perjalanan yang baik. Carilah orang yang mengerti agama sebagai teman di perjalanan. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat kita diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan diri terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamb bersabda, الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “ Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat. ”6 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ “Janganlah engkau berteman melainkan dengan orang yang beriman. Hendaklah yang menikmati makananmu hanyalah orang yang bertakwa.” 7 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan teman yang baik laksana orang yang membawa minyak wangi sedangkan teman yang jelek diperumpamakan seperti pande besi. 8 Keenam, mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah, إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ “Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” 9 Ketujuh, hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik. Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis. ”10 Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi, اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”11 Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”12 Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari13. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” 14 Kedelapan, melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi15. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ “ Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah .”16 Kesembilan, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang hendak bersafar adalah, أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)” 17. Apabila salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta wasiat karena akan bepergian maka beliau mengatakan kepadanya, زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ “Zawwadakallahut taqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro lakal khoiro haitsuma kunta. ” 18 Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan, أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ “Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).” 19 Kesepuluh, ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)20. Atau bisa pula dengan do’a: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ “Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya” [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain] 21. Pembahasan lainnya tentang safar, silakan lihat di sini: 1. Tips Ketika Safar 2. Tips Sekembali dari Safar 3. Beberapa Keringanan Ketika Safar 4. Tujuh Permasalahan Seputar Safar Semoga sajian ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. 1 HR. Bukhari no. 7390. 2 Adab pertama sampai ketiga dijelaskan dalam Al Ghuror As Saafir fiima Yahtaaju ilaihil Musaafir, hal. 15-16. 3 HR. Abu Daud no. 2607, At Tirmidzi no. 1674 dan Ahmad 2/186. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 4 Lihat Fathul Bari, 6/53 dan penjelasan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 5 Lihat perkataan Ath Thobari yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari, 6/53. 6 HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 7 HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 8 HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al Asy’ari. 9 HR. Abu Daud no. 2609. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 10 HR. Bukhari no. 2950. 11 HR. Abu Daud no. 2606 dan At Tirmidzi no. 1212. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya (baca: shahih lighoirihi). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1693. 12 Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163. 13 Lihat ‘Aunul Ma’bud, 7/171. 14 HR. Abu Daud no. 2571, Al Hakim dalam Al Mustadrok 1/163, dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5/256. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 681. 15 Lihat pembahasan dalam Jaami’ Shohih Al Adzkar, hal. 153. 16 HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323 17 HR. Abu Daud no. 2600, Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu Majah no. 2826. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 14 dan 15. 18 HR. Tirmidzi no. 3444. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 19 HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 20 HR. Abu Daud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1605. 21 HR. Abu Daud no. 5094 dan Ibnu Majah no. 3884, dari Ummu Salamah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 2442. TagsSafar

Persiapan Sebelum Safar

Berikut adalah beberapa kiat yang mesti dilakukan sebelum kita bersafar. Tulisan berikut adalah penyempurna dari tulisan rumaysho.com sebelumnya di sini. Pertama , melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. ” 1 Kedua , jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya. Ketiga , menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk siapa yang bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi, mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.2 Hal-hal ini perlu disiapkan karena kita tidaklah tahu ajal kita kapan menjemput. Boleh jadi saat safar, malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (QS. Luqman: 34) Keempat , melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits, الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ “ Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir. ”3 Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.4 Namun larangan di sinibukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab. 5 Kelima, mencari teman perjalanan yang baik. Carilah orang yang mengerti agama sebagai teman di perjalanan. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat kita diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan diri terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamb bersabda, الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “ Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat. ”6 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ “Janganlah engkau berteman melainkan dengan orang yang beriman. Hendaklah yang menikmati makananmu hanyalah orang yang bertakwa.” 7 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan teman yang baik laksana orang yang membawa minyak wangi sedangkan teman yang jelek diperumpamakan seperti pande besi. 8 Keenam, mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah, إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ “Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” 9 Ketujuh, hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik. Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis. ”10 Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi, اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”11 Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”12 Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari13. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” 14 Kedelapan, melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi15. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ “ Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah .”16 Kesembilan, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang hendak bersafar adalah, أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)” 17. Apabila salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta wasiat karena akan bepergian maka beliau mengatakan kepadanya, زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ “Zawwadakallahut taqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro lakal khoiro haitsuma kunta. ” 18 Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan, أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ “Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).” 19 Kesepuluh, ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)20. Atau bisa pula dengan do’a: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ “Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya” [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain] 21. Pembahasan lainnya tentang safar, silakan lihat di sini: 1. Tips Ketika Safar 2. Tips Sekembali dari Safar 3. Beberapa Keringanan Ketika Safar 4. Tujuh Permasalahan Seputar Safar Semoga sajian ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. 1 HR. Bukhari no. 7390. 2 Adab pertama sampai ketiga dijelaskan dalam Al Ghuror As Saafir fiima Yahtaaju ilaihil Musaafir, hal. 15-16. 3 HR. Abu Daud no. 2607, At Tirmidzi no. 1674 dan Ahmad 2/186. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 4 Lihat Fathul Bari, 6/53 dan penjelasan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 5 Lihat perkataan Ath Thobari yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari, 6/53. 6 HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 7 HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 8 HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al Asy’ari. 9 HR. Abu Daud no. 2609. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 10 HR. Bukhari no. 2950. 11 HR. Abu Daud no. 2606 dan At Tirmidzi no. 1212. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya (baca: shahih lighoirihi). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1693. 12 Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163. 13 Lihat ‘Aunul Ma’bud, 7/171. 14 HR. Abu Daud no. 2571, Al Hakim dalam Al Mustadrok 1/163, dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5/256. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 681. 15 Lihat pembahasan dalam Jaami’ Shohih Al Adzkar, hal. 153. 16 HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323 17 HR. Abu Daud no. 2600, Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu Majah no. 2826. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 14 dan 15. 18 HR. Tirmidzi no. 3444. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 19 HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 20 HR. Abu Daud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1605. 21 HR. Abu Daud no. 5094 dan Ibnu Majah no. 3884, dari Ummu Salamah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 2442. TagsSafar
Berikut adalah beberapa kiat yang mesti dilakukan sebelum kita bersafar. Tulisan berikut adalah penyempurna dari tulisan rumaysho.com sebelumnya di sini. Pertama , melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. ” 1 Kedua , jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya. Ketiga , menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk siapa yang bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi, mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.2 Hal-hal ini perlu disiapkan karena kita tidaklah tahu ajal kita kapan menjemput. Boleh jadi saat safar, malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (QS. Luqman: 34) Keempat , melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits, الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ “ Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir. ”3 Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.4 Namun larangan di sinibukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab. 5 Kelima, mencari teman perjalanan yang baik. Carilah orang yang mengerti agama sebagai teman di perjalanan. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat kita diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan diri terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamb bersabda, الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “ Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat. ”6 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ “Janganlah engkau berteman melainkan dengan orang yang beriman. Hendaklah yang menikmati makananmu hanyalah orang yang bertakwa.” 7 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan teman yang baik laksana orang yang membawa minyak wangi sedangkan teman yang jelek diperumpamakan seperti pande besi. 8 Keenam, mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah, إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ “Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” 9 Ketujuh, hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik. Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis. ”10 Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi, اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”11 Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”12 Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari13. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” 14 Kedelapan, melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi15. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ “ Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah .”16 Kesembilan, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang hendak bersafar adalah, أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)” 17. Apabila salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta wasiat karena akan bepergian maka beliau mengatakan kepadanya, زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ “Zawwadakallahut taqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro lakal khoiro haitsuma kunta. ” 18 Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan, أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ “Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).” 19 Kesepuluh, ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)20. Atau bisa pula dengan do’a: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ “Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya” [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain] 21. Pembahasan lainnya tentang safar, silakan lihat di sini: 1. Tips Ketika Safar 2. Tips Sekembali dari Safar 3. Beberapa Keringanan Ketika Safar 4. Tujuh Permasalahan Seputar Safar Semoga sajian ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. 1 HR. Bukhari no. 7390. 2 Adab pertama sampai ketiga dijelaskan dalam Al Ghuror As Saafir fiima Yahtaaju ilaihil Musaafir, hal. 15-16. 3 HR. Abu Daud no. 2607, At Tirmidzi no. 1674 dan Ahmad 2/186. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 4 Lihat Fathul Bari, 6/53 dan penjelasan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 5 Lihat perkataan Ath Thobari yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari, 6/53. 6 HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 7 HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 8 HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al Asy’ari. 9 HR. Abu Daud no. 2609. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 10 HR. Bukhari no. 2950. 11 HR. Abu Daud no. 2606 dan At Tirmidzi no. 1212. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya (baca: shahih lighoirihi). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1693. 12 Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163. 13 Lihat ‘Aunul Ma’bud, 7/171. 14 HR. Abu Daud no. 2571, Al Hakim dalam Al Mustadrok 1/163, dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5/256. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 681. 15 Lihat pembahasan dalam Jaami’ Shohih Al Adzkar, hal. 153. 16 HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323 17 HR. Abu Daud no. 2600, Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu Majah no. 2826. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 14 dan 15. 18 HR. Tirmidzi no. 3444. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 19 HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 20 HR. Abu Daud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1605. 21 HR. Abu Daud no. 5094 dan Ibnu Majah no. 3884, dari Ummu Salamah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 2442. TagsSafar


Berikut adalah beberapa kiat yang mesti dilakukan sebelum kita bersafar. Tulisan berikut adalah penyempurna dari tulisan rumaysho.com sebelumnya di sini. Pertama , melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. ” 1 Kedua , jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya. Ketiga , menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk siapa yang bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi, mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.2 Hal-hal ini perlu disiapkan karena kita tidaklah tahu ajal kita kapan menjemput. Boleh jadi saat safar, malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (QS. Luqman: 34) Keempat , melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits, الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ “ Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir. ”3 Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.4 Namun larangan di sinibukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab. 5 Kelima, mencari teman perjalanan yang baik. Carilah orang yang mengerti agama sebagai teman di perjalanan. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat kita diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan diri terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamb bersabda, الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “ Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat. ”6 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ “Janganlah engkau berteman melainkan dengan orang yang beriman. Hendaklah yang menikmati makananmu hanyalah orang yang bertakwa.” 7 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan teman yang baik laksana orang yang membawa minyak wangi sedangkan teman yang jelek diperumpamakan seperti pande besi. 8 Keenam, mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah, إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ “Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” 9 Ketujuh, hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik. Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata, أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis. ”10 Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi, اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”11 Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”12 Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari13. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ “Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.” 14 Kedelapan, melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi15. Sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ “ Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah .”16 Kesembilan, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang hendak bersafar adalah, أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)” 17. Apabila salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta wasiat karena akan bepergian maka beliau mengatakan kepadanya, زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ “Zawwadakallahut taqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro lakal khoiro haitsuma kunta. ” 18 Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan, أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ “Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).” 19 Kesepuluh, ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)20. Atau bisa pula dengan do’a: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ “Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya” [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain] 21. Pembahasan lainnya tentang safar, silakan lihat di sini: 1. Tips Ketika Safar 2. Tips Sekembali dari Safar 3. Beberapa Keringanan Ketika Safar 4. Tujuh Permasalahan Seputar Safar Semoga sajian ini bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. 1 HR. Bukhari no. 7390. 2 Adab pertama sampai ketiga dijelaskan dalam Al Ghuror As Saafir fiima Yahtaaju ilaihil Musaafir, hal. 15-16. 3 HR. Abu Daud no. 2607, At Tirmidzi no. 1674 dan Ahmad 2/186. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 4 Lihat Fathul Bari, 6/53 dan penjelasan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 62. 5 Lihat perkataan Ath Thobari yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari, 6/53. 6 HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 7 HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. 8 HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Abu Musa Al Asy’ari. 9 HR. Abu Daud no. 2609. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 10 HR. Bukhari no. 2950. 11 HR. Abu Daud no. 2606 dan At Tirmidzi no. 1212. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya (baca: shahih lighoirihi). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1693. 12 Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163. 13 Lihat ‘Aunul Ma’bud, 7/171. 14 HR. Abu Daud no. 2571, Al Hakim dalam Al Mustadrok 1/163, dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5/256. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 681. 15 Lihat pembahasan dalam Jaami’ Shohih Al Adzkar, hal. 153. 16 HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323 17 HR. Abu Daud no. 2600, Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu Majah no. 2826. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 14 dan 15. 18 HR. Tirmidzi no. 3444. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. 19 HR. Ibnu Majah no. 2825. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. 20 HR. Abu Daud no. 5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1605. 21 HR. Abu Daud no. 5094 dan Ibnu Majah no. 3884, dari Ummu Salamah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 2442. TagsSafar

Safar Maksiat

Secara bahasa, safar itu berarti “وضح وانكشف ”, jelas dan tersingkap.[1] Seorang yang bepergian dinamakan musafir karena musafir itu bisa dikenal wajahnya oleh banyak orang; bepergian juga menyebabkan mengenal tempat-tempat yang belum dia ketahui, jati dirinya yang sebenarnya bisa dikenal orang dan menyebabkan dia keluar melalui tempat yang tidak berpenghuni. Dalam Mu’jam Lughotil Fuqoha, safar berarti, الخروج عن عمارة موطن الاقامة قاصدا مكانا يبعد مسافة يصح فيها قصر. “Keluar bepergian meninggalkan kampung halaman dengan maksud menuju tempat yang jarak antara kampung halamannya dengan tempat tersebut membolehkan orang yang bepergian untuk mengqashar shalat.”[2] Macam-Macam Safar   Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khomr (minuman keras). Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiba seperti ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan) seperti bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian guna melakukan hal-hal yang dibolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang makruh, yaitu bepergian semisal bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ “Andai orang mengetahui bahaya yang terdapat dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak akan ada orang yang melakukan perjalanan sendirian pada waktu malam hari.”[3] Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah atau yang boleh dan tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. -Insya Allah bersambung pada bahasan safar lainnya- Panggang-Gunung Kidul, 7 Ramadhan 1432 H (7 Agustus 2011) Makalah Dauroh di Yayasan Durus Sunnah Semarang www.rumaysho.com Baca Juga: Doa dan Bacaan Penting Saat Safar (Traveling) Bolehkah Menjamak Tiga Shalat Saat Safar? [1] Al Mu’jamul Wasith, 457. [2] Mu’jam Lughotil Fuqoha, Mawqi’ Ya’sub, 245. [3] HR. Bukhari no. 2998, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Tagsmaksiat Safar

Safar Maksiat

Secara bahasa, safar itu berarti “وضح وانكشف ”, jelas dan tersingkap.[1] Seorang yang bepergian dinamakan musafir karena musafir itu bisa dikenal wajahnya oleh banyak orang; bepergian juga menyebabkan mengenal tempat-tempat yang belum dia ketahui, jati dirinya yang sebenarnya bisa dikenal orang dan menyebabkan dia keluar melalui tempat yang tidak berpenghuni. Dalam Mu’jam Lughotil Fuqoha, safar berarti, الخروج عن عمارة موطن الاقامة قاصدا مكانا يبعد مسافة يصح فيها قصر. “Keluar bepergian meninggalkan kampung halaman dengan maksud menuju tempat yang jarak antara kampung halamannya dengan tempat tersebut membolehkan orang yang bepergian untuk mengqashar shalat.”[2] Macam-Macam Safar   Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khomr (minuman keras). Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiba seperti ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan) seperti bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian guna melakukan hal-hal yang dibolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang makruh, yaitu bepergian semisal bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ “Andai orang mengetahui bahaya yang terdapat dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak akan ada orang yang melakukan perjalanan sendirian pada waktu malam hari.”[3] Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah atau yang boleh dan tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. -Insya Allah bersambung pada bahasan safar lainnya- Panggang-Gunung Kidul, 7 Ramadhan 1432 H (7 Agustus 2011) Makalah Dauroh di Yayasan Durus Sunnah Semarang www.rumaysho.com Baca Juga: Doa dan Bacaan Penting Saat Safar (Traveling) Bolehkah Menjamak Tiga Shalat Saat Safar? [1] Al Mu’jamul Wasith, 457. [2] Mu’jam Lughotil Fuqoha, Mawqi’ Ya’sub, 245. [3] HR. Bukhari no. 2998, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Tagsmaksiat Safar
Secara bahasa, safar itu berarti “وضح وانكشف ”, jelas dan tersingkap.[1] Seorang yang bepergian dinamakan musafir karena musafir itu bisa dikenal wajahnya oleh banyak orang; bepergian juga menyebabkan mengenal tempat-tempat yang belum dia ketahui, jati dirinya yang sebenarnya bisa dikenal orang dan menyebabkan dia keluar melalui tempat yang tidak berpenghuni. Dalam Mu’jam Lughotil Fuqoha, safar berarti, الخروج عن عمارة موطن الاقامة قاصدا مكانا يبعد مسافة يصح فيها قصر. “Keluar bepergian meninggalkan kampung halaman dengan maksud menuju tempat yang jarak antara kampung halamannya dengan tempat tersebut membolehkan orang yang bepergian untuk mengqashar shalat.”[2] Macam-Macam Safar   Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khomr (minuman keras). Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiba seperti ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan) seperti bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian guna melakukan hal-hal yang dibolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang makruh, yaitu bepergian semisal bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ “Andai orang mengetahui bahaya yang terdapat dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak akan ada orang yang melakukan perjalanan sendirian pada waktu malam hari.”[3] Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah atau yang boleh dan tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. -Insya Allah bersambung pada bahasan safar lainnya- Panggang-Gunung Kidul, 7 Ramadhan 1432 H (7 Agustus 2011) Makalah Dauroh di Yayasan Durus Sunnah Semarang www.rumaysho.com Baca Juga: Doa dan Bacaan Penting Saat Safar (Traveling) Bolehkah Menjamak Tiga Shalat Saat Safar? [1] Al Mu’jamul Wasith, 457. [2] Mu’jam Lughotil Fuqoha, Mawqi’ Ya’sub, 245. [3] HR. Bukhari no. 2998, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Tagsmaksiat Safar


Secara bahasa, safar itu berarti “وضح وانكشف ”, jelas dan tersingkap.[1] Seorang yang bepergian dinamakan musafir karena musafir itu bisa dikenal wajahnya oleh banyak orang; bepergian juga menyebabkan mengenal tempat-tempat yang belum dia ketahui, jati dirinya yang sebenarnya bisa dikenal orang dan menyebabkan dia keluar melalui tempat yang tidak berpenghuni. Dalam Mu’jam Lughotil Fuqoha, safar berarti, الخروج عن عمارة موطن الاقامة قاصدا مكانا يبعد مسافة يصح فيها قصر. “Keluar bepergian meninggalkan kampung halaman dengan maksud menuju tempat yang jarak antara kampung halamannya dengan tempat tersebut membolehkan orang yang bepergian untuk mengqashar shalat.”[2] Macam-Macam Safar   Safar yang haram, yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan perkara yang diharamkan, misalnya menempuh perjalanan untuk berdagang khomr (minuman keras). Safar yang wajib, yaitu menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiba seperti ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib atau kewajiban berjihad. Safar yang sunnah, yaitu menempuh perjalanan yang dianjurkan (disunnahkan) seperti bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah dan jihad yang sunnah. Safar yang boleh, yaitu bepergian guna melakukan hal-hal yang dibolehkan dalam agama, misalnya bepergian untuk berdagang barang-barang yang halal. Safar yang makruh, yaitu bepergian semisal bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani. Bepergian seperti itu dimakruhkan kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ “Andai orang mengetahui bahaya yang terdapat dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak akan ada orang yang melakukan perjalanan sendirian pada waktu malam hari.”[3] Sebisa mungkin kita melakukan safar yang wajib, sunnah atau yang boleh dan tidak melakukan safar yang makruh, apalagi yang haram. -Insya Allah bersambung pada bahasan safar lainnya- Panggang-Gunung Kidul, 7 Ramadhan 1432 H (7 Agustus 2011) Makalah Dauroh di Yayasan Durus Sunnah Semarang www.rumaysho.com Baca Juga: Doa dan Bacaan Penting Saat Safar (Traveling) Bolehkah Menjamak Tiga Shalat Saat Safar? [1] Al Mu’jamul Wasith, 457. [2] Mu’jam Lughotil Fuqoha, Mawqi’ Ya’sub, 245. [3] HR. Bukhari no. 2998, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Tagsmaksiat Safar

Puasa Tetapi Tidak Berjilbab

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Kita telah mengetahui bersama mengenakan jilbab adalah suatu hal yang wajib. Sebagaimana kewajibannya telah disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-tengah kita, masih banyak yang belum sadar akan jilbab termasuk pada bulan Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mengenakan Jilbab 2. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat 3. Belum Mau Berjilbab Kewajiban Mengenakan Jilbab Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14). Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  17: 190-191). Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat Setelah kita tahu bahwa tidak mengenakan jilbab adalah suatu dosa atau suatu maksiat, bahkan mendapat ancaman  yang berat, maka keadaan tidak berjilbab tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang yang berpuasa. Kita tahu bersama bahwa maksiat akan mengurangi pahala orang yang berpuasa, walaupun  status puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan haus saja, pahala tidak diperoleh atau berkurang karena maksiat. Bahkan Allah sendiri tidak peduli akan lapar dan haus yang ia tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277). Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308). Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117). Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah wanita yang tidak berjilbab ketika puasa. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Pelan-pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah sebagaimana kata ulama salaf, “Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan.” Belum Mau Berjilbab Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki? Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan” Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas? Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan! Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing? Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.” Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab? Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.” Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 4 Ramadhan 1432 H (04/08/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jilbab Bukan Hanya Penutup Rambut Kepala Sampai Kapan Enggan Berjilbab? Tagsjilbab puasa

Puasa Tetapi Tidak Berjilbab

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Kita telah mengetahui bersama mengenakan jilbab adalah suatu hal yang wajib. Sebagaimana kewajibannya telah disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-tengah kita, masih banyak yang belum sadar akan jilbab termasuk pada bulan Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mengenakan Jilbab 2. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat 3. Belum Mau Berjilbab Kewajiban Mengenakan Jilbab Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14). Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  17: 190-191). Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat Setelah kita tahu bahwa tidak mengenakan jilbab adalah suatu dosa atau suatu maksiat, bahkan mendapat ancaman  yang berat, maka keadaan tidak berjilbab tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang yang berpuasa. Kita tahu bersama bahwa maksiat akan mengurangi pahala orang yang berpuasa, walaupun  status puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan haus saja, pahala tidak diperoleh atau berkurang karena maksiat. Bahkan Allah sendiri tidak peduli akan lapar dan haus yang ia tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277). Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308). Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117). Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah wanita yang tidak berjilbab ketika puasa. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Pelan-pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah sebagaimana kata ulama salaf, “Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan.” Belum Mau Berjilbab Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki? Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan” Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas? Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan! Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing? Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.” Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab? Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.” Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 4 Ramadhan 1432 H (04/08/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jilbab Bukan Hanya Penutup Rambut Kepala Sampai Kapan Enggan Berjilbab? Tagsjilbab puasa
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Kita telah mengetahui bersama mengenakan jilbab adalah suatu hal yang wajib. Sebagaimana kewajibannya telah disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-tengah kita, masih banyak yang belum sadar akan jilbab termasuk pada bulan Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mengenakan Jilbab 2. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat 3. Belum Mau Berjilbab Kewajiban Mengenakan Jilbab Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14). Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  17: 190-191). Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat Setelah kita tahu bahwa tidak mengenakan jilbab adalah suatu dosa atau suatu maksiat, bahkan mendapat ancaman  yang berat, maka keadaan tidak berjilbab tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang yang berpuasa. Kita tahu bersama bahwa maksiat akan mengurangi pahala orang yang berpuasa, walaupun  status puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan haus saja, pahala tidak diperoleh atau berkurang karena maksiat. Bahkan Allah sendiri tidak peduli akan lapar dan haus yang ia tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277). Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308). Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117). Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah wanita yang tidak berjilbab ketika puasa. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Pelan-pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah sebagaimana kata ulama salaf, “Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan.” Belum Mau Berjilbab Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki? Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan” Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas? Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan! Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing? Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.” Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab? Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.” Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 4 Ramadhan 1432 H (04/08/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jilbab Bukan Hanya Penutup Rambut Kepala Sampai Kapan Enggan Berjilbab? Tagsjilbab puasa


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Kita telah mengetahui bersama mengenakan jilbab adalah suatu hal yang wajib. Sebagaimana kewajibannya telah disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-tengah kita, masih banyak yang belum sadar akan jilbab termasuk pada bulan Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mengenakan Jilbab 2. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat 3. Belum Mau Berjilbab Kewajiban Mengenakan Jilbab Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14). Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  17: 190-191). Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik. Puasa Harus Meninggalkan Maksiat Setelah kita tahu bahwa tidak mengenakan jilbab adalah suatu dosa atau suatu maksiat, bahkan mendapat ancaman  yang berat, maka keadaan tidak berjilbab tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang yang berpuasa. Kita tahu bersama bahwa maksiat akan mengurangi pahala orang yang berpuasa, walaupun  status puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan haus saja, pahala tidak diperoleh atau berkurang karena maksiat. Bahkan Allah sendiri tidak peduli akan lapar dan haus yang ia tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277). Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6: 308). Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117). Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah wanita yang tidak berjilbab ketika puasa. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Pelan-pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah sebagaimana kata ulama salaf, “Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan.” Belum Mau Berjilbab Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki? Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan” Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas? Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan! Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing? Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.” Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab? Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.” Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 4 Ramadhan 1432 H (04/08/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jilbab Bukan Hanya Penutup Rambut Kepala Sampai Kapan Enggan Berjilbab? Tagsjilbab puasa

Sifat ‘Ibadurrahman (3), Berlindung dari Siksa Neraka

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman adalah berlindung dari siksa neraka. Itulah yang mendorong seseorang itu untuk beramal agar terlindung dari siksa neraka. Ayat yang akan kita bahas kali ini menjadi dalil kelirunya keyakinan orang sufi bahwa tidak dikatakan ikhlas dalam beramal jika seseorang mengharap surga dan takut dari siksa neraka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. ” (QS. Al Furqan: 65-66) Siksa yang Amat Pedih di Jahannam Yang dimaksudkan dengan ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) dalam ayat di atas adalah adzab yang kekal, demikian kata Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 321). Ibnul Jauzi berkata bahwa ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) ada lima pendapat dalam hal ini yang pendapat-pendapat tersebut hampir sama maknanya. Ghoroma berarti: 1. Selamanya (دائماً ). Demikian diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri.2. Siksa yang menyakitkan (موجِعاً ), diriwayatkan oleh Adh Dhohak dari Ibnu ‘Abbas.3. Siksa yang melelahkan (مُلِحّاً ). Demikian dikatakan oleh Ibnu As Saib. 4. Siksa yang membinasakan (هلاكاً ). Demikian disebutkan oleh Abu ‘Ubaidah.5. Secara bahasa berarti siksa yang amat pedih. Demikian disebutkan oleh Az Zujaj. (Zaadul Masiir, 6: 102) Jahannam Sejelek-Jelek Tempat TinggalAllah Ta’ala berfirman, إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Yang dimaksud ayat ini bahwasanya jahannam adalah sejelek-jelek tempat menetap. (Zaadul Masiir, 6: 102 dan Tafsir Al Jalalain, 365). Dapat kita katakan bahwa jahannam adalah sejelek-jelek tempat tinggal (Tafsir Ath Thobari, 17: 496-497). Berlindung dari Siksa Neraka Jahannam adalah di antara nama neraka. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa sifat orang beriman (‘ibadurrahman), mereka berlindung dari siksa neraka atau siksa jahannam. Dan ayat ini sekaligus bantahan pada keyakinan orang sufi yang nyatakan bahwa orang yang beramal karena ingin surga dan takut neraka adalah orang yang tidak ikhlas. Justru kita katakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang beramal demikian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ “Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).” (Majmu’ Al Fatawa, 10/701). Sebagai dalil penguat adalah berbagai dalil berikut ini. Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta’ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. ” (QS. Al Muthaffifin: 26). Bagaimana mungkin dikatakan tidak ikhlas, sedangkan kita sendiri diperintahkan oleh Allah untuk berlomba-lomba meraih surga?! Sifat orang beriman adalah beribadah dengan khouf (takut) dan roja’ (harap). Allah Ta’ala berfirman,   أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa’: 57) Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194) “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.   Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. ” (QS. Ali Imron: 191-194). Demikian sifat ulil albab berlindung dari siksa neraka. Di antara yang dikatakan oleh orang sufi adalah perkataan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Di antara yang mengatakan seperti ini adalah Robi’ah Al Adawiyah. Padahal Allah menceritakan mengenai Asiyah, istri Fir’aun yang beriman meminta pada Allah rumah di surga. Allah Ta’ala berfirman,   وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. ” (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi’ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun meminta surga. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim  -kholilullah/ kekasih Allah-, وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ “Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy Syu’ara: 85-87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meminta surga. Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?” أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ “Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bika minannar’ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).” (HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu adakah yang berani katakan bahwa nabinya sendiri tidak ikhlas? Tanggapan dari Ibnu Taimiyah Mengenai perkataan sebagian sufi, لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ “Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan surga-Mu dan takut pada neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban, “Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.” (Majmu’ Al Fatawa, 10/240-241)Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ». “Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 181) Kalimat Simpulan Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas. Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan. Demikian bahasan sederhana mengenai tafsiran tentang sifat ‘ibadurrahman. Sifat lainnya akan dilanjutkan pada bahasan berikutnya dengan izin Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Panggang-Gunung Kidul, 3 Ramadhan 1432 H (03/08/2011) www.rumaysho.com Tagsibadurrahman

Sifat ‘Ibadurrahman (3), Berlindung dari Siksa Neraka

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman adalah berlindung dari siksa neraka. Itulah yang mendorong seseorang itu untuk beramal agar terlindung dari siksa neraka. Ayat yang akan kita bahas kali ini menjadi dalil kelirunya keyakinan orang sufi bahwa tidak dikatakan ikhlas dalam beramal jika seseorang mengharap surga dan takut dari siksa neraka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. ” (QS. Al Furqan: 65-66) Siksa yang Amat Pedih di Jahannam Yang dimaksudkan dengan ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) dalam ayat di atas adalah adzab yang kekal, demikian kata Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 321). Ibnul Jauzi berkata bahwa ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) ada lima pendapat dalam hal ini yang pendapat-pendapat tersebut hampir sama maknanya. Ghoroma berarti: 1. Selamanya (دائماً ). Demikian diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri.2. Siksa yang menyakitkan (موجِعاً ), diriwayatkan oleh Adh Dhohak dari Ibnu ‘Abbas.3. Siksa yang melelahkan (مُلِحّاً ). Demikian dikatakan oleh Ibnu As Saib. 4. Siksa yang membinasakan (هلاكاً ). Demikian disebutkan oleh Abu ‘Ubaidah.5. Secara bahasa berarti siksa yang amat pedih. Demikian disebutkan oleh Az Zujaj. (Zaadul Masiir, 6: 102) Jahannam Sejelek-Jelek Tempat TinggalAllah Ta’ala berfirman, إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Yang dimaksud ayat ini bahwasanya jahannam adalah sejelek-jelek tempat menetap. (Zaadul Masiir, 6: 102 dan Tafsir Al Jalalain, 365). Dapat kita katakan bahwa jahannam adalah sejelek-jelek tempat tinggal (Tafsir Ath Thobari, 17: 496-497). Berlindung dari Siksa Neraka Jahannam adalah di antara nama neraka. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa sifat orang beriman (‘ibadurrahman), mereka berlindung dari siksa neraka atau siksa jahannam. Dan ayat ini sekaligus bantahan pada keyakinan orang sufi yang nyatakan bahwa orang yang beramal karena ingin surga dan takut neraka adalah orang yang tidak ikhlas. Justru kita katakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang beramal demikian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ “Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).” (Majmu’ Al Fatawa, 10/701). Sebagai dalil penguat adalah berbagai dalil berikut ini. Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta’ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. ” (QS. Al Muthaffifin: 26). Bagaimana mungkin dikatakan tidak ikhlas, sedangkan kita sendiri diperintahkan oleh Allah untuk berlomba-lomba meraih surga?! Sifat orang beriman adalah beribadah dengan khouf (takut) dan roja’ (harap). Allah Ta’ala berfirman,   أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa’: 57) Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194) “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.   Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. ” (QS. Ali Imron: 191-194). Demikian sifat ulil albab berlindung dari siksa neraka. Di antara yang dikatakan oleh orang sufi adalah perkataan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Di antara yang mengatakan seperti ini adalah Robi’ah Al Adawiyah. Padahal Allah menceritakan mengenai Asiyah, istri Fir’aun yang beriman meminta pada Allah rumah di surga. Allah Ta’ala berfirman,   وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. ” (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi’ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun meminta surga. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim  -kholilullah/ kekasih Allah-, وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ “Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy Syu’ara: 85-87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meminta surga. Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?” أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ “Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bika minannar’ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).” (HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu adakah yang berani katakan bahwa nabinya sendiri tidak ikhlas? Tanggapan dari Ibnu Taimiyah Mengenai perkataan sebagian sufi, لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ “Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan surga-Mu dan takut pada neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban, “Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.” (Majmu’ Al Fatawa, 10/240-241)Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ». “Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 181) Kalimat Simpulan Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas. Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan. Demikian bahasan sederhana mengenai tafsiran tentang sifat ‘ibadurrahman. Sifat lainnya akan dilanjutkan pada bahasan berikutnya dengan izin Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Panggang-Gunung Kidul, 3 Ramadhan 1432 H (03/08/2011) www.rumaysho.com Tagsibadurrahman
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman adalah berlindung dari siksa neraka. Itulah yang mendorong seseorang itu untuk beramal agar terlindung dari siksa neraka. Ayat yang akan kita bahas kali ini menjadi dalil kelirunya keyakinan orang sufi bahwa tidak dikatakan ikhlas dalam beramal jika seseorang mengharap surga dan takut dari siksa neraka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. ” (QS. Al Furqan: 65-66) Siksa yang Amat Pedih di Jahannam Yang dimaksudkan dengan ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) dalam ayat di atas adalah adzab yang kekal, demikian kata Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 321). Ibnul Jauzi berkata bahwa ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) ada lima pendapat dalam hal ini yang pendapat-pendapat tersebut hampir sama maknanya. Ghoroma berarti: 1. Selamanya (دائماً ). Demikian diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri.2. Siksa yang menyakitkan (موجِعاً ), diriwayatkan oleh Adh Dhohak dari Ibnu ‘Abbas.3. Siksa yang melelahkan (مُلِحّاً ). Demikian dikatakan oleh Ibnu As Saib. 4. Siksa yang membinasakan (هلاكاً ). Demikian disebutkan oleh Abu ‘Ubaidah.5. Secara bahasa berarti siksa yang amat pedih. Demikian disebutkan oleh Az Zujaj. (Zaadul Masiir, 6: 102) Jahannam Sejelek-Jelek Tempat TinggalAllah Ta’ala berfirman, إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Yang dimaksud ayat ini bahwasanya jahannam adalah sejelek-jelek tempat menetap. (Zaadul Masiir, 6: 102 dan Tafsir Al Jalalain, 365). Dapat kita katakan bahwa jahannam adalah sejelek-jelek tempat tinggal (Tafsir Ath Thobari, 17: 496-497). Berlindung dari Siksa Neraka Jahannam adalah di antara nama neraka. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa sifat orang beriman (‘ibadurrahman), mereka berlindung dari siksa neraka atau siksa jahannam. Dan ayat ini sekaligus bantahan pada keyakinan orang sufi yang nyatakan bahwa orang yang beramal karena ingin surga dan takut neraka adalah orang yang tidak ikhlas. Justru kita katakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang beramal demikian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ “Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).” (Majmu’ Al Fatawa, 10/701). Sebagai dalil penguat adalah berbagai dalil berikut ini. Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta’ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. ” (QS. Al Muthaffifin: 26). Bagaimana mungkin dikatakan tidak ikhlas, sedangkan kita sendiri diperintahkan oleh Allah untuk berlomba-lomba meraih surga?! Sifat orang beriman adalah beribadah dengan khouf (takut) dan roja’ (harap). Allah Ta’ala berfirman,   أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa’: 57) Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194) “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.   Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. ” (QS. Ali Imron: 191-194). Demikian sifat ulil albab berlindung dari siksa neraka. Di antara yang dikatakan oleh orang sufi adalah perkataan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Di antara yang mengatakan seperti ini adalah Robi’ah Al Adawiyah. Padahal Allah menceritakan mengenai Asiyah, istri Fir’aun yang beriman meminta pada Allah rumah di surga. Allah Ta’ala berfirman,   وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. ” (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi’ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun meminta surga. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim  -kholilullah/ kekasih Allah-, وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ “Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy Syu’ara: 85-87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meminta surga. Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?” أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ “Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bika minannar’ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).” (HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu adakah yang berani katakan bahwa nabinya sendiri tidak ikhlas? Tanggapan dari Ibnu Taimiyah Mengenai perkataan sebagian sufi, لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ “Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan surga-Mu dan takut pada neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban, “Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.” (Majmu’ Al Fatawa, 10/240-241)Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ». “Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 181) Kalimat Simpulan Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas. Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan. Demikian bahasan sederhana mengenai tafsiran tentang sifat ‘ibadurrahman. Sifat lainnya akan dilanjutkan pada bahasan berikutnya dengan izin Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Panggang-Gunung Kidul, 3 Ramadhan 1432 H (03/08/2011) www.rumaysho.com Tagsibadurrahman


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman adalah berlindung dari siksa neraka. Itulah yang mendorong seseorang itu untuk beramal agar terlindung dari siksa neraka. Ayat yang akan kita bahas kali ini menjadi dalil kelirunya keyakinan orang sufi bahwa tidak dikatakan ikhlas dalam beramal jika seseorang mengharap surga dan takut dari siksa neraka. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. ” (QS. Al Furqan: 65-66) Siksa yang Amat Pedih di Jahannam Yang dimaksudkan dengan ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) dalam ayat di atas adalah adzab yang kekal, demikian kata Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 321). Ibnul Jauzi berkata bahwa ‘ghoroma’ (غَرَامًا ) ada lima pendapat dalam hal ini yang pendapat-pendapat tersebut hampir sama maknanya. Ghoroma berarti: 1. Selamanya (دائماً ). Demikian diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri.2. Siksa yang menyakitkan (موجِعاً ), diriwayatkan oleh Adh Dhohak dari Ibnu ‘Abbas.3. Siksa yang melelahkan (مُلِحّاً ). Demikian dikatakan oleh Ibnu As Saib. 4. Siksa yang membinasakan (هلاكاً ). Demikian disebutkan oleh Abu ‘Ubaidah.5. Secara bahasa berarti siksa yang amat pedih. Demikian disebutkan oleh Az Zujaj. (Zaadul Masiir, 6: 102) Jahannam Sejelek-Jelek Tempat TinggalAllah Ta’ala berfirman, إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Yang dimaksud ayat ini bahwasanya jahannam adalah sejelek-jelek tempat menetap. (Zaadul Masiir, 6: 102 dan Tafsir Al Jalalain, 365). Dapat kita katakan bahwa jahannam adalah sejelek-jelek tempat tinggal (Tafsir Ath Thobari, 17: 496-497). Berlindung dari Siksa Neraka Jahannam adalah di antara nama neraka. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa sifat orang beriman (‘ibadurrahman), mereka berlindung dari siksa neraka atau siksa jahannam. Dan ayat ini sekaligus bantahan pada keyakinan orang sufi yang nyatakan bahwa orang yang beramal karena ingin surga dan takut neraka adalah orang yang tidak ikhlas. Justru kita katakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang beramal demikian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ “Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).” (Majmu’ Al Fatawa, 10/701). Sebagai dalil penguat adalah berbagai dalil berikut ini. Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta’ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. ” (QS. Al Muthaffifin: 26). Bagaimana mungkin dikatakan tidak ikhlas, sedangkan kita sendiri diperintahkan oleh Allah untuk berlomba-lomba meraih surga?! Sifat orang beriman adalah beribadah dengan khouf (takut) dan roja’ (harap). Allah Ta’ala berfirman,   أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa’: 57) Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194) “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.   Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. ” (QS. Ali Imron: 191-194). Demikian sifat ulil albab berlindung dari siksa neraka. Di antara yang dikatakan oleh orang sufi adalah perkataan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Di antara yang mengatakan seperti ini adalah Robi’ah Al Adawiyah. Padahal Allah menceritakan mengenai Asiyah, istri Fir’aun yang beriman meminta pada Allah rumah di surga. Allah Ta’ala berfirman,   وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. ” (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi’ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun meminta surga. Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim  -kholilullah/ kekasih Allah-, وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ “Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy Syu’ara: 85-87) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meminta surga. Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?” أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ “Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bika minannar’ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).” (HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu adakah yang berani katakan bahwa nabinya sendiri tidak ikhlas? Tanggapan dari Ibnu Taimiyah Mengenai perkataan sebagian sufi, لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ “Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan surga-Mu dan takut pada neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban, “Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.” (Majmu’ Al Fatawa, 10/240-241)Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ». “Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 181) Kalimat Simpulan Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas. Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan. Demikian bahasan sederhana mengenai tafsiran tentang sifat ‘ibadurrahman. Sifat lainnya akan dilanjutkan pada bahasan berikutnya dengan izin Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Panggang-Gunung Kidul, 3 Ramadhan 1432 H (03/08/2011) www.rumaysho.com Tagsibadurrahman

Teladan Semangat dalam Berderma

Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita -Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma, lebih-lebih lagi ketika di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan paling semangat serta yang lebih semangat untuk berderma.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata, “Sungguh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Padahal awalnya beliau adalah orang yang paling kubenci. Beliau terus berderma untukku sehingga beliau lah saat ini yang paling kucintai.” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Ibnu Syihab berkata bahwa pada saat perang Hunain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Shofwan 100 hewan ternak, kemudian beliau memberinya 100 dan menambah 100 lagi. Juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi Shofwan unta dan hewan ternak sepenuh lembah, lantas Shofwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada orang yang sebaik ini melainkan dia adalah seorang Nabi.” Dari Jabir, ia berkata, “Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadits riwayat Muslim diperlihatkan bagaimanakah semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berderma. Jika ada yang meminta sesuatu, pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberinya. Maka ketika itu ada seseorang yang menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya kambing yang ada di antara dua bukit. Lantas orang yang telah memperoleh kambing tadi kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena Muhammad kalau memberi sesuatu, ia sama sekali tidak khawatir akan jatuh miskin.” Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif mengatakan, “Demikianlah kedermawanan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya beliau lakukan ikhlas karena Allah dan ingin mengharapkan ridho-Nya. Beliau sedekahkan hartanya, bisa jadi kepada orang fakir, orang yang butuh, atau beliau infakkan di jalan Allah, atau beliau memberi untuk membuat hati orang lain tertarik pada Islam. Beliau mengeluarkan sedekah-sedekah tadi dan lebih mengutamakan dari diri beliau sendiri, padahal beliau sendiri butuh.. … Sampai-sampai jika kita perhatikan bagaimana keadaan dapur beliau, satu atau dua bulan kadang tidak terdapat nyala api. Suatu waktu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menahan lapar dengan mengikat batu pada perutnya.” Lihatlah bagaimana kedermawanan beliau yang luar biasa meskipun dalam keadaan hidup yang pas-pasan? Bagaimana lagi dengan kita yang diberi keluasan harta?! Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kenapa bisa sampai banyak berderma di bulan Ramadhan memiliki keutamaan? Dengan banyak berderma seperti melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa, itulah jalan menuju surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, hasan). Semua amalan yang disebutkan dalam hadits ini terdapat pada amalan puasa di bulan Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk berkata yang baik, bersedekah dengan memberi makan dan shalat malam. Para ulama memisalkan, “Shalat malam itu mengantarkan kepada separuh jalan menuju kerajaan kebahagiaan. Puasa itu mengantarkan pada depan pintunya. Sedangkan sedekah memasukkan ia pada pintu bahagia.” Hikmah lain dari bersedekah di bulan Ramadhan disebutkan oleh Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan dalam Lathoif, “Dalam puasa pastilah ada celah atau kekurangan. … Sedekah itulah yang menutupi atau menambal kekurangan yang ada.” Oleh karena itu, di akhir Ramadhan kaum muslimin diwajibkan menunaikan zakat fithri dalam rangka untuk menambal kekurangan yang ada ketika melakukan puasa sebulan penuh. Imam Asy Syafi’i juga menyebutkan faedah dari amalan banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Beliau berkata, “Sesuatu yang paling disukai pada seseorang adalah ketika ia menambah amalan untuk banyak berderma di bulan Ramadhan. Hal ini ia lakukan dalam rangka mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga karena kebutuhan orang banyak saat itu sehingga mereka mendapatkan kemaslahatan. Ada sebagian orang sibuk dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah.” (Dinukil dari Lathoif Al Ma’arif) Semoga dengan motivasi kisah di atas semakin membuat kita gemar berderma dan beramal sholeh di bulan Ramadhan. Ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta.” (HR. Muslim). Wallahu waliyyut taufiq. (*) www.rumaysho.com Baca Juga: Mengungkit-Ngungkit Pemberian Hadiah Memberi Hadiah Kepada Tetangga Tagssedekah

Teladan Semangat dalam Berderma

Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita -Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma, lebih-lebih lagi ketika di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan paling semangat serta yang lebih semangat untuk berderma.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata, “Sungguh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Padahal awalnya beliau adalah orang yang paling kubenci. Beliau terus berderma untukku sehingga beliau lah saat ini yang paling kucintai.” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Ibnu Syihab berkata bahwa pada saat perang Hunain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Shofwan 100 hewan ternak, kemudian beliau memberinya 100 dan menambah 100 lagi. Juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi Shofwan unta dan hewan ternak sepenuh lembah, lantas Shofwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada orang yang sebaik ini melainkan dia adalah seorang Nabi.” Dari Jabir, ia berkata, “Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadits riwayat Muslim diperlihatkan bagaimanakah semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berderma. Jika ada yang meminta sesuatu, pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberinya. Maka ketika itu ada seseorang yang menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya kambing yang ada di antara dua bukit. Lantas orang yang telah memperoleh kambing tadi kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena Muhammad kalau memberi sesuatu, ia sama sekali tidak khawatir akan jatuh miskin.” Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif mengatakan, “Demikianlah kedermawanan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya beliau lakukan ikhlas karena Allah dan ingin mengharapkan ridho-Nya. Beliau sedekahkan hartanya, bisa jadi kepada orang fakir, orang yang butuh, atau beliau infakkan di jalan Allah, atau beliau memberi untuk membuat hati orang lain tertarik pada Islam. Beliau mengeluarkan sedekah-sedekah tadi dan lebih mengutamakan dari diri beliau sendiri, padahal beliau sendiri butuh.. … Sampai-sampai jika kita perhatikan bagaimana keadaan dapur beliau, satu atau dua bulan kadang tidak terdapat nyala api. Suatu waktu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menahan lapar dengan mengikat batu pada perutnya.” Lihatlah bagaimana kedermawanan beliau yang luar biasa meskipun dalam keadaan hidup yang pas-pasan? Bagaimana lagi dengan kita yang diberi keluasan harta?! Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kenapa bisa sampai banyak berderma di bulan Ramadhan memiliki keutamaan? Dengan banyak berderma seperti melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa, itulah jalan menuju surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, hasan). Semua amalan yang disebutkan dalam hadits ini terdapat pada amalan puasa di bulan Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk berkata yang baik, bersedekah dengan memberi makan dan shalat malam. Para ulama memisalkan, “Shalat malam itu mengantarkan kepada separuh jalan menuju kerajaan kebahagiaan. Puasa itu mengantarkan pada depan pintunya. Sedangkan sedekah memasukkan ia pada pintu bahagia.” Hikmah lain dari bersedekah di bulan Ramadhan disebutkan oleh Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan dalam Lathoif, “Dalam puasa pastilah ada celah atau kekurangan. … Sedekah itulah yang menutupi atau menambal kekurangan yang ada.” Oleh karena itu, di akhir Ramadhan kaum muslimin diwajibkan menunaikan zakat fithri dalam rangka untuk menambal kekurangan yang ada ketika melakukan puasa sebulan penuh. Imam Asy Syafi’i juga menyebutkan faedah dari amalan banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Beliau berkata, “Sesuatu yang paling disukai pada seseorang adalah ketika ia menambah amalan untuk banyak berderma di bulan Ramadhan. Hal ini ia lakukan dalam rangka mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga karena kebutuhan orang banyak saat itu sehingga mereka mendapatkan kemaslahatan. Ada sebagian orang sibuk dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah.” (Dinukil dari Lathoif Al Ma’arif) Semoga dengan motivasi kisah di atas semakin membuat kita gemar berderma dan beramal sholeh di bulan Ramadhan. Ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta.” (HR. Muslim). Wallahu waliyyut taufiq. (*) www.rumaysho.com Baca Juga: Mengungkit-Ngungkit Pemberian Hadiah Memberi Hadiah Kepada Tetangga Tagssedekah
Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita -Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma, lebih-lebih lagi ketika di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan paling semangat serta yang lebih semangat untuk berderma.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata, “Sungguh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Padahal awalnya beliau adalah orang yang paling kubenci. Beliau terus berderma untukku sehingga beliau lah saat ini yang paling kucintai.” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Ibnu Syihab berkata bahwa pada saat perang Hunain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Shofwan 100 hewan ternak, kemudian beliau memberinya 100 dan menambah 100 lagi. Juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi Shofwan unta dan hewan ternak sepenuh lembah, lantas Shofwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada orang yang sebaik ini melainkan dia adalah seorang Nabi.” Dari Jabir, ia berkata, “Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadits riwayat Muslim diperlihatkan bagaimanakah semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berderma. Jika ada yang meminta sesuatu, pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberinya. Maka ketika itu ada seseorang yang menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya kambing yang ada di antara dua bukit. Lantas orang yang telah memperoleh kambing tadi kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena Muhammad kalau memberi sesuatu, ia sama sekali tidak khawatir akan jatuh miskin.” Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif mengatakan, “Demikianlah kedermawanan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya beliau lakukan ikhlas karena Allah dan ingin mengharapkan ridho-Nya. Beliau sedekahkan hartanya, bisa jadi kepada orang fakir, orang yang butuh, atau beliau infakkan di jalan Allah, atau beliau memberi untuk membuat hati orang lain tertarik pada Islam. Beliau mengeluarkan sedekah-sedekah tadi dan lebih mengutamakan dari diri beliau sendiri, padahal beliau sendiri butuh.. … Sampai-sampai jika kita perhatikan bagaimana keadaan dapur beliau, satu atau dua bulan kadang tidak terdapat nyala api. Suatu waktu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menahan lapar dengan mengikat batu pada perutnya.” Lihatlah bagaimana kedermawanan beliau yang luar biasa meskipun dalam keadaan hidup yang pas-pasan? Bagaimana lagi dengan kita yang diberi keluasan harta?! Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kenapa bisa sampai banyak berderma di bulan Ramadhan memiliki keutamaan? Dengan banyak berderma seperti melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa, itulah jalan menuju surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, hasan). Semua amalan yang disebutkan dalam hadits ini terdapat pada amalan puasa di bulan Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk berkata yang baik, bersedekah dengan memberi makan dan shalat malam. Para ulama memisalkan, “Shalat malam itu mengantarkan kepada separuh jalan menuju kerajaan kebahagiaan. Puasa itu mengantarkan pada depan pintunya. Sedangkan sedekah memasukkan ia pada pintu bahagia.” Hikmah lain dari bersedekah di bulan Ramadhan disebutkan oleh Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan dalam Lathoif, “Dalam puasa pastilah ada celah atau kekurangan. … Sedekah itulah yang menutupi atau menambal kekurangan yang ada.” Oleh karena itu, di akhir Ramadhan kaum muslimin diwajibkan menunaikan zakat fithri dalam rangka untuk menambal kekurangan yang ada ketika melakukan puasa sebulan penuh. Imam Asy Syafi’i juga menyebutkan faedah dari amalan banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Beliau berkata, “Sesuatu yang paling disukai pada seseorang adalah ketika ia menambah amalan untuk banyak berderma di bulan Ramadhan. Hal ini ia lakukan dalam rangka mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga karena kebutuhan orang banyak saat itu sehingga mereka mendapatkan kemaslahatan. Ada sebagian orang sibuk dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah.” (Dinukil dari Lathoif Al Ma’arif) Semoga dengan motivasi kisah di atas semakin membuat kita gemar berderma dan beramal sholeh di bulan Ramadhan. Ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta.” (HR. Muslim). Wallahu waliyyut taufiq. (*) www.rumaysho.com Baca Juga: Mengungkit-Ngungkit Pemberian Hadiah Memberi Hadiah Kepada Tetangga Tagssedekah


Teladan terbaik bagi kita adalah dari Rasul kita -Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita akan saksikan bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bagaimana semangat beliau dalam berderma, lebih-lebih lagi ketika di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan paling semangat serta yang lebih semangat untuk berderma.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata, “Sungguh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Padahal awalnya beliau adalah orang yang paling kubenci. Beliau terus berderma untukku sehingga beliau lah saat ini yang paling kucintai.” (HR. Ibnu Hibban, shahih). Ibnu Syihab berkata bahwa pada saat perang Hunain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Shofwan 100 hewan ternak, kemudian beliau memberinya 100 dan menambah 100 lagi. Juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi Shofwan unta dan hewan ternak sepenuh lembah, lantas Shofwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada orang yang sebaik ini melainkan dia adalah seorang Nabi.” Dari Jabir, ia berkata, “Tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu lalu beliau menjawab, “Tidak.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Jabir, “Seandainya datang padaku harta, melainkan aku akan memberimu seukuran dua telapak tangan penuh seperti ini (beliau menyebutkan tiga kali). Beliau berkata, “Yaitu dengan dua telapak tangan semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadits riwayat Muslim diperlihatkan bagaimanakah semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berderma. Jika ada yang meminta sesuatu, pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberinya. Maka ketika itu ada seseorang yang menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya kambing yang ada di antara dua bukit. Lantas orang yang telah memperoleh kambing tadi kembali ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah Islam. Karena Muhammad kalau memberi sesuatu, ia sama sekali tidak khawatir akan jatuh miskin.” Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif mengatakan, “Demikianlah kedermawanan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya beliau lakukan ikhlas karena Allah dan ingin mengharapkan ridho-Nya. Beliau sedekahkan hartanya, bisa jadi kepada orang fakir, orang yang butuh, atau beliau infakkan di jalan Allah, atau beliau memberi untuk membuat hati orang lain tertarik pada Islam. Beliau mengeluarkan sedekah-sedekah tadi dan lebih mengutamakan dari diri beliau sendiri, padahal beliau sendiri butuh.. … Sampai-sampai jika kita perhatikan bagaimana keadaan dapur beliau, satu atau dua bulan kadang tidak terdapat nyala api. Suatu waktu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menahan lapar dengan mengikat batu pada perutnya.” Lihatlah bagaimana kedermawanan beliau yang luar biasa meskipun dalam keadaan hidup yang pas-pasan? Bagaimana lagi dengan kita yang diberi keluasan harta?! Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Ma’ad, 2/25) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kenapa bisa sampai banyak berderma di bulan Ramadhan memiliki keutamaan? Dengan banyak berderma seperti melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa, itulah jalan menuju surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, hasan). Semua amalan yang disebutkan dalam hadits ini terdapat pada amalan puasa di bulan Ramadhan. Karena di bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk berkata yang baik, bersedekah dengan memberi makan dan shalat malam. Para ulama memisalkan, “Shalat malam itu mengantarkan kepada separuh jalan menuju kerajaan kebahagiaan. Puasa itu mengantarkan pada depan pintunya. Sedangkan sedekah memasukkan ia pada pintu bahagia.” Hikmah lain dari bersedekah di bulan Ramadhan disebutkan oleh Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan dalam Lathoif, “Dalam puasa pastilah ada celah atau kekurangan. … Sedekah itulah yang menutupi atau menambal kekurangan yang ada.” Oleh karena itu, di akhir Ramadhan kaum muslimin diwajibkan menunaikan zakat fithri dalam rangka untuk menambal kekurangan yang ada ketika melakukan puasa sebulan penuh. Imam Asy Syafi’i juga menyebutkan faedah dari amalan banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Beliau berkata, “Sesuatu yang paling disukai pada seseorang adalah ketika ia menambah amalan untuk banyak berderma di bulan Ramadhan. Hal ini ia lakukan dalam rangka mencontoh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga karena kebutuhan orang banyak saat itu sehingga mereka mendapatkan kemaslahatan. Ada sebagian orang sibuk dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah.” (Dinukil dari Lathoif Al Ma’arif) Semoga dengan motivasi kisah di atas semakin membuat kita gemar berderma dan beramal sholeh di bulan Ramadhan. Ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta.” (HR. Muslim). Wallahu waliyyut taufiq. (*) www.rumaysho.com Baca Juga: Mengungkit-Ngungkit Pemberian Hadiah Memberi Hadiah Kepada Tetangga Tagssedekah

Tuntunan Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.” Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Shalat Tarawih 2. Lebih Semangat di Akhir Ramadhan 3. Semangat Tarawih Berjama’ah 4. 11 ataukah 23 Raka’at? 5. Tuntunan Lain Shalat Tarawih 6. Menutup Shalat Malam dengan Witir 7. Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Keutamaan Shalat Tarawih Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40). Lebih Semangat di Akhir Ramadhan Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71) Semangat Tarawih Berjama’ah Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). 11 ataukah 23 Raka’at? Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol. Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272) Tuntunan Lain Shalat Tarawih Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30) Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117) Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420) Menutup Shalat Malam dengan Witir Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83]. Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062) Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani) Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268). 3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140). 4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144). Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011) Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bisa Rutin Shalat Tarawih, Sulit Rutin Berjamaah Shubuh di Masjid 5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih Tagsshalat malam shalat tahajud shalat tarawih

Tuntunan Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.” Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Shalat Tarawih 2. Lebih Semangat di Akhir Ramadhan 3. Semangat Tarawih Berjama’ah 4. 11 ataukah 23 Raka’at? 5. Tuntunan Lain Shalat Tarawih 6. Menutup Shalat Malam dengan Witir 7. Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Keutamaan Shalat Tarawih Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40). Lebih Semangat di Akhir Ramadhan Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71) Semangat Tarawih Berjama’ah Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). 11 ataukah 23 Raka’at? Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol. Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272) Tuntunan Lain Shalat Tarawih Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30) Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117) Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420) Menutup Shalat Malam dengan Witir Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83]. Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062) Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani) Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268). 3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140). 4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144). Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011) Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bisa Rutin Shalat Tarawih, Sulit Rutin Berjamaah Shubuh di Masjid 5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih Tagsshalat malam shalat tahajud shalat tarawih
Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.” Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Shalat Tarawih 2. Lebih Semangat di Akhir Ramadhan 3. Semangat Tarawih Berjama’ah 4. 11 ataukah 23 Raka’at? 5. Tuntunan Lain Shalat Tarawih 6. Menutup Shalat Malam dengan Witir 7. Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Keutamaan Shalat Tarawih Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40). Lebih Semangat di Akhir Ramadhan Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71) Semangat Tarawih Berjama’ah Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). 11 ataukah 23 Raka’at? Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol. Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272) Tuntunan Lain Shalat Tarawih Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30) Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117) Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420) Menutup Shalat Malam dengan Witir Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83]. Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062) Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani) Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268). 3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140). 4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144). Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011) Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bisa Rutin Shalat Tarawih, Sulit Rutin Berjamaah Shubuh di Masjid 5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih Tagsshalat malam shalat tahajud shalat tarawih


Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.” Daftar Isi tutup 1. Keutamaan Shalat Tarawih 2. Lebih Semangat di Akhir Ramadhan 3. Semangat Tarawih Berjama’ah 4. 11 ataukah 23 Raka’at? 5. Tuntunan Lain Shalat Tarawih 6. Menutup Shalat Malam dengan Witir 7. Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Keutamaan Shalat Tarawih Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40). Lebih Semangat di Akhir Ramadhan Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71) Semangat Tarawih Berjama’ah Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). 11 ataukah 23 Raka’at? Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab, صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى “Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol. Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272) Tuntunan Lain Shalat Tarawih Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30) Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117) Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420) Menutup Shalat Malam dengan Witir Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83]. Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062) Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani) Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268). 3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140). 4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144). Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011) Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bisa Rutin Shalat Tarawih, Sulit Rutin Berjamaah Shubuh di Masjid 5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih Tagsshalat malam shalat tahajud shalat tarawih

Puasa Karena Iman dan Ikhlas

“Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Kalimat di atas adalah kutipan dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim) Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu. Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas: 1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya’ )(ingin dilihat orang lain) atau sum’ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya’, maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian. 2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-. 3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh. 4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim). [Sumber: http://haddady.com/ra_page_views.php?id=311&page=19&main=7] Semoga amalan puasa kita bisa membuahkan pengampunan dosa yang telah lalu. Wallahu waliyyut taufiq.   Kotagede, 24 Sya’ban 1432 H (26/07/2011) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id. dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Lebih Wangi dari Minyak Kasturi Apakah Puasa Anak Kecil itu Sah? Tagskeutamaan puasa

Puasa Karena Iman dan Ikhlas

“Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Kalimat di atas adalah kutipan dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim) Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu. Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas: 1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya’ )(ingin dilihat orang lain) atau sum’ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya’, maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian. 2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-. 3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh. 4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim). [Sumber: http://haddady.com/ra_page_views.php?id=311&page=19&main=7] Semoga amalan puasa kita bisa membuahkan pengampunan dosa yang telah lalu. Wallahu waliyyut taufiq.   Kotagede, 24 Sya’ban 1432 H (26/07/2011) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id. dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Lebih Wangi dari Minyak Kasturi Apakah Puasa Anak Kecil itu Sah? Tagskeutamaan puasa
“Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Kalimat di atas adalah kutipan dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim) Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu. Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas: 1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya’ )(ingin dilihat orang lain) atau sum’ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya’, maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian. 2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-. 3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh. 4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim). [Sumber: http://haddady.com/ra_page_views.php?id=311&page=19&main=7] Semoga amalan puasa kita bisa membuahkan pengampunan dosa yang telah lalu. Wallahu waliyyut taufiq.   Kotagede, 24 Sya’ban 1432 H (26/07/2011) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id. dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Lebih Wangi dari Minyak Kasturi Apakah Puasa Anak Kecil itu Sah? Tagskeutamaan puasa


“Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Kalimat di atas adalah kutipan dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim) Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu. Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas: 1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya’ )(ingin dilihat orang lain) atau sum’ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya’, maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian. 2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-. 3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh. 4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim). [Sumber: http://haddady.com/ra_page_views.php?id=311&page=19&main=7] Semoga amalan puasa kita bisa membuahkan pengampunan dosa yang telah lalu. Wallahu waliyyut taufiq.   Kotagede, 24 Sya’ban 1432 H (26/07/2011) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id. dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Baca Juga: Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Lebih Wangi dari Minyak Kasturi Apakah Puasa Anak Kecil itu Sah? Tagskeutamaan puasa

11 Amalan Ketika Berbuka Puasa

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:   Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.   Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63) Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)   Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.   Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.   Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.   Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih) Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ » “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).   Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”   Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka. Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.   Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.   Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).   Keenam: Memberi makan berbuka.   Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)   Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.   Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ “Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan, اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)   Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan, أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ “Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)   Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ “Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)   Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)   Kesebelas: Berdoa sesudah makan.   Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan) Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51) Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011) Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsaktivitas ramadhan amalan ramadhan

11 Amalan Ketika Berbuka Puasa

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:   Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.   Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63) Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)   Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.   Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.   Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.   Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih) Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ » “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).   Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”   Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka. Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.   Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.   Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).   Keenam: Memberi makan berbuka.   Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)   Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.   Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ “Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan, اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)   Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan, أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ “Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)   Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ “Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)   Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)   Kesebelas: Berdoa sesudah makan.   Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan) Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51) Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011) Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsaktivitas ramadhan amalan ramadhan
Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:   Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.   Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63) Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)   Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.   Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.   Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.   Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih) Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ » “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).   Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”   Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka. Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.   Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.   Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).   Keenam: Memberi makan berbuka.   Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)   Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.   Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ “Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan, اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)   Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan, أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ “Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)   Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ “Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)   Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)   Kesebelas: Berdoa sesudah makan.   Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan) Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51) Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011) Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsaktivitas ramadhan amalan ramadhan


Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:   Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.   Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63) Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)   Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.   Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.   Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.   Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih) Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ » “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).   Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”   Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka. Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.   Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.   Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).   Keenam: Memberi makan berbuka.   Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)   Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.   Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ “Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan, اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)   Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan, أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ “Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)   Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ “Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)   Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)   Kesebelas: Berdoa sesudah makan.   Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan) Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51) Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya’ban 1432 H (29/07/2011) Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Artikel Rumaysho.Com Tagsaktivitas ramadhan amalan ramadhan

3 Bekal Menyambut Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.   Tinggal menunggu hitungan jam kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Tidak terlambat memang, walau hal ini baru rumaysho.com sampaikan karena mengingat beberapa waktu lalu website dalam masa rekontruksi server. Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah: Pertama: Bekal ilmu. Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an. Silakan pembaca rumaysho.com membaca artikel-artikel puasa dan amalan di bulan Ramadhan di web ini. Sudah disajikan di category puasa dan amalan secara lebih lengkap. Semoga dengan ilmu tersebut, ibadah kita menjadi lebih baik dan diterima oleh Allah. Kedua: Perbanyak taubat. Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan. Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719). Catatan penting yang mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik. Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah. Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya. Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً “Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah). اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani). Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Wallahu waliyyut taufiq. Setelah shubuh di Panggang-Gunung Kidul, 29 Sya’ban 1432 H (31/07/2011) www.rumaysho.com Tagsminta maaf

3 Bekal Menyambut Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.   Tinggal menunggu hitungan jam kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Tidak terlambat memang, walau hal ini baru rumaysho.com sampaikan karena mengingat beberapa waktu lalu website dalam masa rekontruksi server. Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah: Pertama: Bekal ilmu. Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an. Silakan pembaca rumaysho.com membaca artikel-artikel puasa dan amalan di bulan Ramadhan di web ini. Sudah disajikan di category puasa dan amalan secara lebih lengkap. Semoga dengan ilmu tersebut, ibadah kita menjadi lebih baik dan diterima oleh Allah. Kedua: Perbanyak taubat. Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan. Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719). Catatan penting yang mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik. Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah. Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya. Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً “Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah). اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani). Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Wallahu waliyyut taufiq. Setelah shubuh di Panggang-Gunung Kidul, 29 Sya’ban 1432 H (31/07/2011) www.rumaysho.com Tagsminta maaf
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.   Tinggal menunggu hitungan jam kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Tidak terlambat memang, walau hal ini baru rumaysho.com sampaikan karena mengingat beberapa waktu lalu website dalam masa rekontruksi server. Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah: Pertama: Bekal ilmu. Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an. Silakan pembaca rumaysho.com membaca artikel-artikel puasa dan amalan di bulan Ramadhan di web ini. Sudah disajikan di category puasa dan amalan secara lebih lengkap. Semoga dengan ilmu tersebut, ibadah kita menjadi lebih baik dan diterima oleh Allah. Kedua: Perbanyak taubat. Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan. Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719). Catatan penting yang mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik. Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah. Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya. Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً “Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah). اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani). Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Wallahu waliyyut taufiq. Setelah shubuh di Panggang-Gunung Kidul, 29 Sya’ban 1432 H (31/07/2011) www.rumaysho.com Tagsminta maaf


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.   Tinggal menunggu hitungan jam kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Tidak terlambat memang, walau hal ini baru rumaysho.com sampaikan karena mengingat beberapa waktu lalu website dalam masa rekontruksi server. Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah: Pertama: Bekal ilmu. Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an. Silakan pembaca rumaysho.com membaca artikel-artikel puasa dan amalan di bulan Ramadhan di web ini. Sudah disajikan di category puasa dan amalan secara lebih lengkap. Semoga dengan ilmu tersebut, ibadah kita menjadi lebih baik dan diterima oleh Allah. Kedua: Perbanyak taubat. Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan. Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى “Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719). Catatan penting yang mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik. Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah. Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya. Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً “Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah). اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani). Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.   Wallahu waliyyut taufiq. Setelah shubuh di Panggang-Gunung Kidul, 29 Sya’ban 1432 H (31/07/2011) www.rumaysho.com Tagsminta maaf

Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan

28JulAgar Kita Turut Merasakan Indahnya RamadhanJuly 28, 2011Belajar Islam, Fikih, Pilihan Redaksi Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun lalu masih berpuasa bersama kita, bertarawih dan beridul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang berbaring di peristirahatan umum ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita? Dalam dua buah hadits berikut, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan: Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Golongan kedua digambarkan beliau shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ“ “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga”. HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Al-Hakim menilainya sahih. Syaikh al-Albani berkata: hasan sahih. Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung taufiq dari Allah ta’ala dan usaha kita. Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia. Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut[1]: Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah ta’ala. Syaikhul Islam menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya”. Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah ta’ala dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah. Syaikhul Islam menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal: Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah ta’ala dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwasanya salah satu indikasi taufiq Allah ta’ala kepada insan adalah pertolongan-Nya untuknya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri. Menghadirkan rasa tawakkal kepada Allah ta’ala adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; guna menumbuhkan rasa papa, tak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufiq dari Allah ta’ala. Selanjutnya, seyogyanya kita juga memohon kepada Allah ta’ala agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah ta’ala membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufiq Allah dalam menjalani bulan Ramadhan. Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ta’ala ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah: “وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً” Artinya: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah”. QS. An-Nisa: 28. Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufiq-Nya pada kita. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dua hal inilah yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Antara lain: Firman Allah ta’ala, “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ” Artinya: “Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”. QS. Al-Bayyinah: 5. Dan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“ “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istighfar atas kekurangsempurnaannya dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah ta’ala Yang telah memberinya taufiq sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengkombinasikan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya. Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun!. Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, “Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala. Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub. Pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri karena bisa begini dan begitu, serta silau dengan amalannya; berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya. Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah, “فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ”. Artinya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka”. QS. Al-A’raf: 16-17. Kiat kedua: Bertaubat sebelum Ramadhan tiba. Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat. Di antaranya: firman Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ” Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” QS. At Tahrim: 8. Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorangpun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ” “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR. Tirmidzi dari Anas radhiyallahu’anhu dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufiq Allah ta’ala, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiyat[2]. Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara itu akan sirna dan Allah ta’ala akan menganugerahi taufiq kepadanya kembali. Hakikat taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi menjabarkan: taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya[3]. Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai: sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berkerudung di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis idul fitri. Ini merupakan suatu bentuk kejahilan. Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya. Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya. Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkatagori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ”. “Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menyampaikan petuahnya, “إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ وَدَعْ أَذَى الْجَارِ, وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ, وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاء”. “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu juga turut berpuasa dari dusta serta hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama”[4]. Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan. Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang arti taqwa, “Taqwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampuradukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai taqwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah”. Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’, ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya dibolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman; seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa”. Kiat Keempat: Memprioritaskan amalan yang wajib. Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi menyampaikan bahwa Allah ta’ala berfirman, “وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ“. “Tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjama’ah lima waktu di masjid (bagi kaum pria), sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits, “مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ؛ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ”. “Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam; akan dituliskan baginya dua ‘jaminan surat kebebasan.’ Bebas dari api neraka dan dari nifaq”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani. Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjama’ah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah. Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita dapati orang yang melaksanakan shalat tarawih dengan penuh semangat, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun yang disayangkan, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah. Terkadang bahkan tidur, melewatkan shalat wajib dengan dalih sebagai persiapan diri untuk shalat tarawih!!?. Ini jelas-jelas merupakan suatu kejahilan dan bentuk peremehan terhadap kewajiban!. Sungguh, hanya mendirikan shalat lima waktu berjamaah tanpa diiringi dengan shalat tarawih satu malam, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam, namun berdampak menyia-nyiakan shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang muslim menggabungkan kedua-duanya; memberikan perhatian khusus terhadap amalan yang wajib seperti shalat lima waktu, lalu baru melangkah menuju amalan yang sunnah seperti shalat tarawih. Kiat Kelima: Berusaha Untuk Mendapatkan Lailatul Qadar. Setiap muslim di bulan berkah ini berusaha untuk bisa meraih lailatul qadar. Dialah malam diturunkannya al-Qur’an[5], dialah malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat[6], dialah malam yang berbarakah[7], dialah malam yang yang lebih utama daripada ibadah seribu bulan (83 tahun plus 4 bulan)![8]. Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya[9]. Mendengar segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini, seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya. Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh? Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”. “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah. Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“. “Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dari Aisyah. Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29?. Pernah di suatu tahun pada zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam lailatul qadar jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ“. “Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar (malam tadi)”. HR.Bukhari dan Muslim[10]. Pernah pula di suatu tahun lailatul qadar jatuh pada malam 27. Ubai bin Ka’ab radhiyallahu’anhu berkata, “وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ”. “Demi Allah aku mengetahuinya (lailatul qadar), perkiraan saya yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh tujuh”. R. Muslim[11]. Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari lailatul qadar pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan, “فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ”. “Barang siapa yang ingin mencarinya (lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma. Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut di atas: dengan mengatakan bahwa lailatul qadar dari tahun ketahun berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan[12]. Di antara hikmah dirahasiakannya waktu lailatul qadar adalah: Agar amal ibadah kita lebih banyak. Sebab dengan dirahasiakannya kapan waktu lailatul qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir, doa dan membaca al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir ramadhan terutama malam yang ganjil. Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya[13]. Maka seharusnya kita berusaha maksimal (all out) pada sepuluh hari itu; menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar kita bisa menggapai pahala yang agung itu. Mungkin saja ada orang yang tidak berusaha mencari lailatul qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu. Selanjutnya penyesalan saja yang ada… Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan tauladan, sebagaimana direkam istri beliau; Aisyah radhiyallahu’anha, “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“. “Nabi shallallahu’alaihiwasallam jika memasuki sepuluh (terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’ (meninggalkan hubungan suami istri), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”. HR. Bukhari dan Muslim. Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini. Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Allah ta’ala memerintahkan, “وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”. Artinya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal”. QS. Al-Hijr: 99. Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ”. “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya”. Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjama’ah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca al-Qur’an, doa dan dzikir, rajin menghadiri majlis taklim dan gemar bershadaqah di bulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan. “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ“. “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab, “بِئْسَ الْقَوْم! لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ”. “Alangkah buruknya tingkah mereka; mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”. Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan. Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shabihi ajma’in.   Kedungwuluh Purbalingga, 16 Sya’ban 1430 H / 8 Agustus 2009 M Penulis: Abdullah Zaen, Lc, M.A Artikel www.tunasilmu.com Daftar Pustaka: 1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2. Asy-Syarh al-Mumti’. 3. Fath al-Bari. 4. Latha’if al-Ma’arif. 5. Majalis Syahr Ramadhan. 6. Riyadh ash-Shalihin. 7. Shahih Bukhari. 8. Shahih Muslim. 9. Sunan Tirmidzi.   [1] “Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah”, nasehat yang disampaikan oleh guru kami Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily pada malam Jum’at 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun. [2] Lihat dampak-dampak dari maksiat dalam kitab ad-Dâ’ wa ad-Dawâ’ karya Ibnul Qayyim, dan adz-Dzunûb wa Qubhu Âtsâriha ‘alâ al-Afrâd wa asy-Syu’ûb karya Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad hal: 42-48. [3] Lihat: Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38. [4] Lathâ’if al-Ma’ârif, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hal: 292. [5] QS. Al-Qadar: 1, dan QS. Ad-Dukhan: 3. [6] QS. Al-Qadar: 4. [7] QS. Ad-Dukhan: 3. [8] QS. Al-Qadar: 3. [9] HR. Bukhari dan Muslim. [10] HR. Bukhari (no: 2016) dan Muslim (no: 1167). [11] R.Muslim (no: 762). [12] Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar, dan asy-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh al-Utsaimin (6/493-495). [13] Majalis Syahr Ramadhan, karya Syaikh al-‘Utsaimin hal: 163. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan

28JulAgar Kita Turut Merasakan Indahnya RamadhanJuly 28, 2011Belajar Islam, Fikih, Pilihan Redaksi Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun lalu masih berpuasa bersama kita, bertarawih dan beridul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang berbaring di peristirahatan umum ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita? Dalam dua buah hadits berikut, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan: Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Golongan kedua digambarkan beliau shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ“ “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga”. HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Al-Hakim menilainya sahih. Syaikh al-Albani berkata: hasan sahih. Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung taufiq dari Allah ta’ala dan usaha kita. Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia. Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut[1]: Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah ta’ala. Syaikhul Islam menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya”. Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah ta’ala dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah. Syaikhul Islam menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal: Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah ta’ala dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwasanya salah satu indikasi taufiq Allah ta’ala kepada insan adalah pertolongan-Nya untuknya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri. Menghadirkan rasa tawakkal kepada Allah ta’ala adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; guna menumbuhkan rasa papa, tak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufiq dari Allah ta’ala. Selanjutnya, seyogyanya kita juga memohon kepada Allah ta’ala agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah ta’ala membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufiq Allah dalam menjalani bulan Ramadhan. Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ta’ala ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah: “وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً” Artinya: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah”. QS. An-Nisa: 28. Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufiq-Nya pada kita. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dua hal inilah yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Antara lain: Firman Allah ta’ala, “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ” Artinya: “Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”. QS. Al-Bayyinah: 5. Dan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“ “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istighfar atas kekurangsempurnaannya dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah ta’ala Yang telah memberinya taufiq sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengkombinasikan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya. Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun!. Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, “Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala. Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub. Pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri karena bisa begini dan begitu, serta silau dengan amalannya; berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya. Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah, “فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ”. Artinya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka”. QS. Al-A’raf: 16-17. Kiat kedua: Bertaubat sebelum Ramadhan tiba. Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat. Di antaranya: firman Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ” Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” QS. At Tahrim: 8. Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorangpun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ” “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR. Tirmidzi dari Anas radhiyallahu’anhu dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufiq Allah ta’ala, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiyat[2]. Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara itu akan sirna dan Allah ta’ala akan menganugerahi taufiq kepadanya kembali. Hakikat taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi menjabarkan: taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya[3]. Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai: sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berkerudung di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis idul fitri. Ini merupakan suatu bentuk kejahilan. Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya. Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya. Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkatagori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ”. “Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menyampaikan petuahnya, “إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ وَدَعْ أَذَى الْجَارِ, وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ, وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاء”. “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu juga turut berpuasa dari dusta serta hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama”[4]. Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan. Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang arti taqwa, “Taqwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampuradukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai taqwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah”. Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’, ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya dibolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman; seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa”. Kiat Keempat: Memprioritaskan amalan yang wajib. Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi menyampaikan bahwa Allah ta’ala berfirman, “وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ“. “Tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjama’ah lima waktu di masjid (bagi kaum pria), sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits, “مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ؛ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ”. “Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam; akan dituliskan baginya dua ‘jaminan surat kebebasan.’ Bebas dari api neraka dan dari nifaq”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani. Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjama’ah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah. Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita dapati orang yang melaksanakan shalat tarawih dengan penuh semangat, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun yang disayangkan, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah. Terkadang bahkan tidur, melewatkan shalat wajib dengan dalih sebagai persiapan diri untuk shalat tarawih!!?. Ini jelas-jelas merupakan suatu kejahilan dan bentuk peremehan terhadap kewajiban!. Sungguh, hanya mendirikan shalat lima waktu berjamaah tanpa diiringi dengan shalat tarawih satu malam, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam, namun berdampak menyia-nyiakan shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang muslim menggabungkan kedua-duanya; memberikan perhatian khusus terhadap amalan yang wajib seperti shalat lima waktu, lalu baru melangkah menuju amalan yang sunnah seperti shalat tarawih. Kiat Kelima: Berusaha Untuk Mendapatkan Lailatul Qadar. Setiap muslim di bulan berkah ini berusaha untuk bisa meraih lailatul qadar. Dialah malam diturunkannya al-Qur’an[5], dialah malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat[6], dialah malam yang berbarakah[7], dialah malam yang yang lebih utama daripada ibadah seribu bulan (83 tahun plus 4 bulan)![8]. Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya[9]. Mendengar segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini, seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya. Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh? Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”. “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah. Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“. “Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dari Aisyah. Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29?. Pernah di suatu tahun pada zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam lailatul qadar jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ“. “Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar (malam tadi)”. HR.Bukhari dan Muslim[10]. Pernah pula di suatu tahun lailatul qadar jatuh pada malam 27. Ubai bin Ka’ab radhiyallahu’anhu berkata, “وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ”. “Demi Allah aku mengetahuinya (lailatul qadar), perkiraan saya yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh tujuh”. R. Muslim[11]. Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari lailatul qadar pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan, “فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ”. “Barang siapa yang ingin mencarinya (lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma. Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut di atas: dengan mengatakan bahwa lailatul qadar dari tahun ketahun berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan[12]. Di antara hikmah dirahasiakannya waktu lailatul qadar adalah: Agar amal ibadah kita lebih banyak. Sebab dengan dirahasiakannya kapan waktu lailatul qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir, doa dan membaca al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir ramadhan terutama malam yang ganjil. Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya[13]. Maka seharusnya kita berusaha maksimal (all out) pada sepuluh hari itu; menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar kita bisa menggapai pahala yang agung itu. Mungkin saja ada orang yang tidak berusaha mencari lailatul qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu. Selanjutnya penyesalan saja yang ada… Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan tauladan, sebagaimana direkam istri beliau; Aisyah radhiyallahu’anha, “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“. “Nabi shallallahu’alaihiwasallam jika memasuki sepuluh (terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’ (meninggalkan hubungan suami istri), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”. HR. Bukhari dan Muslim. Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini. Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Allah ta’ala memerintahkan, “وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”. Artinya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal”. QS. Al-Hijr: 99. Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ”. “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya”. Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjama’ah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca al-Qur’an, doa dan dzikir, rajin menghadiri majlis taklim dan gemar bershadaqah di bulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan. “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ“. “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab, “بِئْسَ الْقَوْم! لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ”. “Alangkah buruknya tingkah mereka; mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”. Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan. Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shabihi ajma’in.   Kedungwuluh Purbalingga, 16 Sya’ban 1430 H / 8 Agustus 2009 M Penulis: Abdullah Zaen, Lc, M.A Artikel www.tunasilmu.com Daftar Pustaka: 1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2. Asy-Syarh al-Mumti’. 3. Fath al-Bari. 4. Latha’if al-Ma’arif. 5. Majalis Syahr Ramadhan. 6. Riyadh ash-Shalihin. 7. Shahih Bukhari. 8. Shahih Muslim. 9. Sunan Tirmidzi.   [1] “Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah”, nasehat yang disampaikan oleh guru kami Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily pada malam Jum’at 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun. [2] Lihat dampak-dampak dari maksiat dalam kitab ad-Dâ’ wa ad-Dawâ’ karya Ibnul Qayyim, dan adz-Dzunûb wa Qubhu Âtsâriha ‘alâ al-Afrâd wa asy-Syu’ûb karya Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad hal: 42-48. [3] Lihat: Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38. [4] Lathâ’if al-Ma’ârif, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hal: 292. [5] QS. Al-Qadar: 1, dan QS. Ad-Dukhan: 3. [6] QS. Al-Qadar: 4. [7] QS. Ad-Dukhan: 3. [8] QS. Al-Qadar: 3. [9] HR. Bukhari dan Muslim. [10] HR. Bukhari (no: 2016) dan Muslim (no: 1167). [11] R.Muslim (no: 762). [12] Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar, dan asy-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh al-Utsaimin (6/493-495). [13] Majalis Syahr Ramadhan, karya Syaikh al-‘Utsaimin hal: 163. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
28JulAgar Kita Turut Merasakan Indahnya RamadhanJuly 28, 2011Belajar Islam, Fikih, Pilihan Redaksi Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun lalu masih berpuasa bersama kita, bertarawih dan beridul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang berbaring di peristirahatan umum ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita? Dalam dua buah hadits berikut, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan: Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Golongan kedua digambarkan beliau shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ“ “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga”. HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Al-Hakim menilainya sahih. Syaikh al-Albani berkata: hasan sahih. Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung taufiq dari Allah ta’ala dan usaha kita. Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia. Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut[1]: Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah ta’ala. Syaikhul Islam menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya”. Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah ta’ala dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah. Syaikhul Islam menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal: Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah ta’ala dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwasanya salah satu indikasi taufiq Allah ta’ala kepada insan adalah pertolongan-Nya untuknya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri. Menghadirkan rasa tawakkal kepada Allah ta’ala adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; guna menumbuhkan rasa papa, tak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufiq dari Allah ta’ala. Selanjutnya, seyogyanya kita juga memohon kepada Allah ta’ala agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah ta’ala membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufiq Allah dalam menjalani bulan Ramadhan. Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ta’ala ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah: “وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً” Artinya: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah”. QS. An-Nisa: 28. Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufiq-Nya pada kita. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dua hal inilah yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Antara lain: Firman Allah ta’ala, “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ” Artinya: “Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”. QS. Al-Bayyinah: 5. Dan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“ “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istighfar atas kekurangsempurnaannya dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah ta’ala Yang telah memberinya taufiq sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengkombinasikan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya. Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun!. Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, “Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala. Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub. Pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri karena bisa begini dan begitu, serta silau dengan amalannya; berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya. Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah, “فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ”. Artinya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka”. QS. Al-A’raf: 16-17. Kiat kedua: Bertaubat sebelum Ramadhan tiba. Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat. Di antaranya: firman Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ” Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” QS. At Tahrim: 8. Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorangpun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ” “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR. Tirmidzi dari Anas radhiyallahu’anhu dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufiq Allah ta’ala, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiyat[2]. Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara itu akan sirna dan Allah ta’ala akan menganugerahi taufiq kepadanya kembali. Hakikat taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi menjabarkan: taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya[3]. Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai: sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berkerudung di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis idul fitri. Ini merupakan suatu bentuk kejahilan. Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya. Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya. Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkatagori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ”. “Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menyampaikan petuahnya, “إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ وَدَعْ أَذَى الْجَارِ, وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ, وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاء”. “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu juga turut berpuasa dari dusta serta hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama”[4]. Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan. Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang arti taqwa, “Taqwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampuradukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai taqwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah”. Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’, ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya dibolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman; seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa”. Kiat Keempat: Memprioritaskan amalan yang wajib. Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi menyampaikan bahwa Allah ta’ala berfirman, “وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ“. “Tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjama’ah lima waktu di masjid (bagi kaum pria), sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits, “مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ؛ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ”. “Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam; akan dituliskan baginya dua ‘jaminan surat kebebasan.’ Bebas dari api neraka dan dari nifaq”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani. Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjama’ah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah. Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita dapati orang yang melaksanakan shalat tarawih dengan penuh semangat, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun yang disayangkan, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah. Terkadang bahkan tidur, melewatkan shalat wajib dengan dalih sebagai persiapan diri untuk shalat tarawih!!?. Ini jelas-jelas merupakan suatu kejahilan dan bentuk peremehan terhadap kewajiban!. Sungguh, hanya mendirikan shalat lima waktu berjamaah tanpa diiringi dengan shalat tarawih satu malam, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam, namun berdampak menyia-nyiakan shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang muslim menggabungkan kedua-duanya; memberikan perhatian khusus terhadap amalan yang wajib seperti shalat lima waktu, lalu baru melangkah menuju amalan yang sunnah seperti shalat tarawih. Kiat Kelima: Berusaha Untuk Mendapatkan Lailatul Qadar. Setiap muslim di bulan berkah ini berusaha untuk bisa meraih lailatul qadar. Dialah malam diturunkannya al-Qur’an[5], dialah malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat[6], dialah malam yang berbarakah[7], dialah malam yang yang lebih utama daripada ibadah seribu bulan (83 tahun plus 4 bulan)![8]. Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya[9]. Mendengar segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini, seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya. Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh? Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”. “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah. Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“. “Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dari Aisyah. Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29?. Pernah di suatu tahun pada zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam lailatul qadar jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ“. “Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar (malam tadi)”. HR.Bukhari dan Muslim[10]. Pernah pula di suatu tahun lailatul qadar jatuh pada malam 27. Ubai bin Ka’ab radhiyallahu’anhu berkata, “وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ”. “Demi Allah aku mengetahuinya (lailatul qadar), perkiraan saya yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh tujuh”. R. Muslim[11]. Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari lailatul qadar pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan, “فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ”. “Barang siapa yang ingin mencarinya (lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma. Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut di atas: dengan mengatakan bahwa lailatul qadar dari tahun ketahun berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan[12]. Di antara hikmah dirahasiakannya waktu lailatul qadar adalah: Agar amal ibadah kita lebih banyak. Sebab dengan dirahasiakannya kapan waktu lailatul qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir, doa dan membaca al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir ramadhan terutama malam yang ganjil. Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya[13]. Maka seharusnya kita berusaha maksimal (all out) pada sepuluh hari itu; menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar kita bisa menggapai pahala yang agung itu. Mungkin saja ada orang yang tidak berusaha mencari lailatul qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu. Selanjutnya penyesalan saja yang ada… Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan tauladan, sebagaimana direkam istri beliau; Aisyah radhiyallahu’anha, “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“. “Nabi shallallahu’alaihiwasallam jika memasuki sepuluh (terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’ (meninggalkan hubungan suami istri), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”. HR. Bukhari dan Muslim. Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini. Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Allah ta’ala memerintahkan, “وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”. Artinya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal”. QS. Al-Hijr: 99. Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ”. “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya”. Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjama’ah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca al-Qur’an, doa dan dzikir, rajin menghadiri majlis taklim dan gemar bershadaqah di bulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan. “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ“. “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab, “بِئْسَ الْقَوْم! لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ”. “Alangkah buruknya tingkah mereka; mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”. Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan. Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shabihi ajma’in.   Kedungwuluh Purbalingga, 16 Sya’ban 1430 H / 8 Agustus 2009 M Penulis: Abdullah Zaen, Lc, M.A Artikel www.tunasilmu.com Daftar Pustaka: 1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2. Asy-Syarh al-Mumti’. 3. Fath al-Bari. 4. Latha’if al-Ma’arif. 5. Majalis Syahr Ramadhan. 6. Riyadh ash-Shalihin. 7. Shahih Bukhari. 8. Shahih Muslim. 9. Sunan Tirmidzi.   [1] “Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah”, nasehat yang disampaikan oleh guru kami Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily pada malam Jum’at 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun. [2] Lihat dampak-dampak dari maksiat dalam kitab ad-Dâ’ wa ad-Dawâ’ karya Ibnul Qayyim, dan adz-Dzunûb wa Qubhu Âtsâriha ‘alâ al-Afrâd wa asy-Syu’ûb karya Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad hal: 42-48. [3] Lihat: Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38. [4] Lathâ’if al-Ma’ârif, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hal: 292. [5] QS. Al-Qadar: 1, dan QS. Ad-Dukhan: 3. [6] QS. Al-Qadar: 4. [7] QS. Ad-Dukhan: 3. [8] QS. Al-Qadar: 3. [9] HR. Bukhari dan Muslim. [10] HR. Bukhari (no: 2016) dan Muslim (no: 1167). [11] R.Muslim (no: 762). [12] Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar, dan asy-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh al-Utsaimin (6/493-495). [13] Majalis Syahr Ramadhan, karya Syaikh al-‘Utsaimin hal: 163. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


28JulAgar Kita Turut Merasakan Indahnya RamadhanJuly 28, 2011Belajar Islam, Fikih, Pilihan Redaksi Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun lalu masih berpuasa bersama kita, bertarawih dan beridul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang berbaring di peristirahatan umum ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita? Dalam dua buah hadits berikut, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan: Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Golongan kedua digambarkan beliau shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ“ “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga”. HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Al-Hakim menilainya sahih. Syaikh al-Albani berkata: hasan sahih. Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung taufiq dari Allah ta’ala dan usaha kita. Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia. Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut[1]: Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah ta’ala. Syaikhul Islam menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya”. Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah ta’ala dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah. Syaikhul Islam menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal: Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah ta’ala dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwasanya salah satu indikasi taufiq Allah ta’ala kepada insan adalah pertolongan-Nya untuknya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri. Menghadirkan rasa tawakkal kepada Allah ta’ala adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; guna menumbuhkan rasa papa, tak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufiq dari Allah ta’ala. Selanjutnya, seyogyanya kita juga memohon kepada Allah ta’ala agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah ta’ala membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufiq Allah dalam menjalani bulan Ramadhan. Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ta’ala ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah: “وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً” Artinya: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah”. QS. An-Nisa: 28. Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufiq-Nya pada kita. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dua hal inilah yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Antara lain: Firman Allah ta’ala, “وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ” Artinya: “Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya”. QS. Al-Bayyinah: 5. Dan sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“ “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istighfar atas kekurangsempurnaannya dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah ta’ala Yang telah memberinya taufiq sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengkombinasikan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya. Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun!. Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, “Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala. Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub. Pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri karena bisa begini dan begitu, serta silau dengan amalannya; berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya. Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah, “فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ”. Artinya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka”. QS. Al-A’raf: 16-17. Kiat kedua: Bertaubat sebelum Ramadhan tiba. Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat. Di antaranya: firman Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ” Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” QS. At Tahrim: 8. Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorangpun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ” “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat“. HR. Tirmidzi dari Anas radhiyallahu’anhu dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufiq Allah ta’ala, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiyat[2]. Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara itu akan sirna dan Allah ta’ala akan menganugerahi taufiq kepadanya kembali. Hakikat taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi menjabarkan: taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat: Meninggalkan maksiat. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya[3]. Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai: sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berkerudung di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis idul fitri. Ini merupakan suatu bentuk kejahilan. Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya. Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya. Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkatagori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ”. “Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menyampaikan petuahnya, “إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَحَارِمِ وَدَعْ أَذَى الْجَارِ, وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ, وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاء”. “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu juga turut berpuasa dari dusta serta hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama”[4]. Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan. Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang arti taqwa, “Taqwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampuradukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai taqwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah”. Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’, ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya dibolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman; seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa”. Kiat Keempat: Memprioritaskan amalan yang wajib. Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi menyampaikan bahwa Allah ta’ala berfirman, “وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ“. “Tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Di antara aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjama’ah lima waktu di masjid (bagi kaum pria), sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits, “مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ؛ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ”. “Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam; akan dituliskan baginya dua ‘jaminan surat kebebasan.’ Bebas dari api neraka dan dari nifaq”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani. Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjama’ah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah. Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita dapati orang yang melaksanakan shalat tarawih dengan penuh semangat, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun yang disayangkan, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah. Terkadang bahkan tidur, melewatkan shalat wajib dengan dalih sebagai persiapan diri untuk shalat tarawih!!?. Ini jelas-jelas merupakan suatu kejahilan dan bentuk peremehan terhadap kewajiban!. Sungguh, hanya mendirikan shalat lima waktu berjamaah tanpa diiringi dengan shalat tarawih satu malam, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam, namun berdampak menyia-nyiakan shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang muslim menggabungkan kedua-duanya; memberikan perhatian khusus terhadap amalan yang wajib seperti shalat lima waktu, lalu baru melangkah menuju amalan yang sunnah seperti shalat tarawih. Kiat Kelima: Berusaha Untuk Mendapatkan Lailatul Qadar. Setiap muslim di bulan berkah ini berusaha untuk bisa meraih lailatul qadar. Dialah malam diturunkannya al-Qur’an[5], dialah malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat[6], dialah malam yang berbarakah[7], dialah malam yang yang lebih utama daripada ibadah seribu bulan (83 tahun plus 4 bulan)![8]. Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya[9]. Mendengar segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini, seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya. Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh? Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”. “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah. Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“. “Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dari Aisyah. Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29?. Pernah di suatu tahun pada zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam lailatul qadar jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ“. “Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar (malam tadi)”. HR.Bukhari dan Muslim[10]. Pernah pula di suatu tahun lailatul qadar jatuh pada malam 27. Ubai bin Ka’ab radhiyallahu’anhu berkata, “وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ”. “Demi Allah aku mengetahuinya (lailatul qadar), perkiraan saya yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh tujuh”. R. Muslim[11]. Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari lailatul qadar pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan, “فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ”. “Barang siapa yang ingin mencarinya (lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma. Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut di atas: dengan mengatakan bahwa lailatul qadar dari tahun ketahun berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan[12]. Di antara hikmah dirahasiakannya waktu lailatul qadar adalah: Agar amal ibadah kita lebih banyak. Sebab dengan dirahasiakannya kapan waktu lailatul qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir, doa dan membaca al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir ramadhan terutama malam yang ganjil. Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya[13]. Maka seharusnya kita berusaha maksimal (all out) pada sepuluh hari itu; menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar kita bisa menggapai pahala yang agung itu. Mungkin saja ada orang yang tidak berusaha mencari lailatul qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu. Selanjutnya penyesalan saja yang ada… Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan tauladan, sebagaimana direkam istri beliau; Aisyah radhiyallahu’anha, “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“. “Nabi shallallahu’alaihiwasallam jika memasuki sepuluh (terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’ (meninggalkan hubungan suami istri), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”. HR. Bukhari dan Muslim. Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beramal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini. Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Allah ta’ala memerintahkan, “وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”. Artinya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal”. QS. Al-Hijr: 99. Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan, “إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ”. “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya”. Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjama’ah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca al-Qur’an, doa dan dzikir, rajin menghadiri majlis taklim dan gemar bershadaqah di bulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan. “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ“. “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab, “بِئْسَ الْقَوْم! لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ”. “Alangkah buruknya tingkah mereka; mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”. Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan. Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shabihi ajma’in.   Kedungwuluh Purbalingga, 16 Sya’ban 1430 H / 8 Agustus 2009 M Penulis: Abdullah Zaen, Lc, M.A Artikel www.tunasilmu.com Daftar Pustaka: 1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2. Asy-Syarh al-Mumti’. 3. Fath al-Bari. 4. Latha’if al-Ma’arif. 5. Majalis Syahr Ramadhan. 6. Riyadh ash-Shalihin. 7. Shahih Bukhari. 8. Shahih Muslim. 9. Sunan Tirmidzi.   [1] “Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah”, nasehat yang disampaikan oleh guru kami Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily pada malam Jum’at 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun. [2] Lihat dampak-dampak dari maksiat dalam kitab ad-Dâ’ wa ad-Dawâ’ karya Ibnul Qayyim, dan adz-Dzunûb wa Qubhu Âtsâriha ‘alâ al-Afrâd wa asy-Syu’ûb karya Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad hal: 42-48. [3] Lihat: Riyadh ash-Shalihin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38. [4] Lathâ’if al-Ma’ârif, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hal: 292. [5] QS. Al-Qadar: 1, dan QS. Ad-Dukhan: 3. [6] QS. Al-Qadar: 4. [7] QS. Ad-Dukhan: 3. [8] QS. Al-Qadar: 3. [9] HR. Bukhari dan Muslim. [10] HR. Bukhari (no: 2016) dan Muslim (no: 1167). [11] R.Muslim (no: 762). [12] Lihat: Fath al-Bari karya Ibnu Hajar, dan asy-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh al-Utsaimin (6/493-495). [13] Majalis Syahr Ramadhan, karya Syaikh al-‘Utsaimin hal: 163. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
Prev     Next