BERSIKAP ADIL SAAT BERSELISIH

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 

BERSIKAP ADIL SAAT BERSELISIH

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 
Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 


Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz   Sumber segala kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Sumber segala keburukan adalah kebodohan dan kedzaliman. Merupakan harapan semua muslim untuk tidak berbuat dzalim dan tidak didzalimi orang lain. Diantara doa keluar rumah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,“اللَّهُم اني أعوذُ بِكَ أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ، أو أَزلَّ أو أُزَلَّ، أو أَظْلِمَ أو أُظلَمَ، أو أجهَل أو يُجْهَل عَلىَّ”yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan orang, berbuat dzalim atau didzalimi orang lain, berbuat jail atau dijaili orang lain” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan lainnya). Kedzaliman sering terjadi saat berselisih baik dalam masalah warisan, masalah rumah tangga antara suami istri, mengenai hutang piutang, saat berbisnis, saat bekerja di kantor, saat berambisi memperoleh kedudukan dan jabatan, saat belajar di sekolah dan bahkan kedzaliman bisa terjadi dan dilakukan oleh para dai dan ustadz!Sering manusia tidak berbuat adil. Ia menilai orang lain dengan cita-citanya sedangkan menilai dirinya dengan realitanya. Ia menuntut kesempurnaan dari orang lain. Adapun untuk dirinya ia banyak memaklumi. Ia berkata, “saya sedang berusaha…”, “manusia tempatnya salah dan khilaf” dan lain lain. Ya Allah Yang Maha Mengetahui karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat… Ya Allah Yang Maha Adil berilah taufikMu kepada kami agar kami dapat bersikap adil. Ya Allah Yang Maha Bijaksana berikanlah untuk kami sikap hikmah.Mendzalimi orang lain bahayanya besar dan banyak. Allah tidak memberi hidayah, tidak melindungi dan tidak menolong orang dzalim, orang yang dzalim akan mendapatkan kerugian, disegerakan hukumannya di dunia, Allah mengabulkan doa orang yang didzalimi. Kedzaliman, kegelapan di hari kiamat dan pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang pedih di akhirat. Sedangkan orang yang didzalimi akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika ia sabar dan bertakwa  kepada Allah.Manusia sering tidak obyektif dan tidak adil dalam menyikapi perselisihan  dengan saudaranya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Banyak orang ketika berselisih meyakini bahwa dirinya didzalimi, lawannya sebagai orang dzalim sepenuhnya, padahal pada umumnya tidak begitu. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi, tapi di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kedzaliman. Lawannya memang salah dan melakukan kedzaliman, tapi di sisi lain ada benarnya. Hanya saja cintamu kepada dunia yang membuat engkau buta dan tuli. Manusia pada umumnya mempunyai naluri cinta kepada dirinya sendiri, sehingga dia melihat dirinya baik dan benar. Dia benci kepada lawannya maka yang dia lihat hanya keburukannya saja. Bahkan semakin kuat cintanya kepada diri sendiri sehingga ia melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan. Allah berfirman yang artinya, “Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?…)” (Surah Faathir 8). Semakin kuat kebencian kepada lawannya sehingga ia melihat kebaikan lawannya sebagai keburukan…” (Dari buku Ighatsatul Lahafan Min Mashayidisy Syaithan juz 2 hal 193) Semoga Allah menghiasi akhlak kita dengan sikap adil.Apabila kita berselisih dengan orang lain, kita harus segera menyelesaikannya dan meminta maaf selagi kita dan dia masih hidup, selagi belum terlambat, sebelum datangnya penyesalan agar terhindar dari hukuman di dunia dan siksa di akhirat nanti. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang merasa pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya  hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut kadar kedzalimannya, dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambilkan dari keburukan orang yang didzalimi untuk ditanggungkan kepadanya.” (Bukhari)Semoga Allah melembutkan hati kita dan mengumpulkan kita semua di atas petunjuk dan kebenaran, amin. 

ENGKAU TIDAK MALU??

إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 

ENGKAU TIDAK MALU??

إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 
إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 


إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”فَكَيْف أُجِيْبُ يَا وَيْحِي وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْني؟Maka bagaimana aku menjawab?? Sungguh celaka diriku siapakah yang akan membelaku??أُُسَلِّي النَّفْسَ بِالآمَالِ مِنْ حينٍ إِلَى حِيْنِي…Kuhibur diriku dengan harapan dan angan-angan dari waktu ke waktu hingga saat ini… وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِيْنِيSementara kulupakan sesudah kematian, apa bekal yang cukup buatku…??كَأَنِّي قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِيSeakan-akan aku telah menjamin kehidupanku, dan kematian tidak akan datang menjemputku…وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟Dan tiba-tiba datang sakaratul maut yang sangat keras, lantas siapakah yang akan menjagaku..??نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْسَ مْنُهُمْ مَنْ سَيَفْدِيْنِي؟Kulihat wajah-wajah yang melayatku, siapakah diantara mereka yang akan menebusku/menolongku…??سَأُُسْأَلُ مَا الَّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِيAku akan ditanya, apakah yang telah aku amalkan di dunia yang bisa menyelamatkan aku…??فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بعدُ ماَ فَرَّطْتُ فِي دِيْنِيBagaimana jawabanku setelah kelalaianku pada agamaku…وَيَا وَيْحِي أَلَمِ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟Sungguh celaka diriku…apakah aku tidak mendengar firman Allah menyeruku…??أَلَمِ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءِ فِي قَافٍ وَيـَاسِيْنِApakah aku tidak mendengar ayat-ayat yang datang dalam surat Qoof dan surat Yaasiin??أَلَمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمَ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِApakah aku tidak mendengar tentang hari kebangkitan…hari manusia dikumpulkan…hari pembalasan..??أَلَمْ أَسْمَعْ مُنَادِيَ الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِيApakah aku tidak mendengar penyeru kematian memanggilku dan menyeruku…??فَيَا رَبَّاهُ عَبْدٌ تَائِبٌ مَنْ ذَا سَيَأَوِيْنِي ؟Wahai Robku…hambaMu bertaubat…siapakah yang akan mengasihiku…??سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ للحقِ يَهْدِيْنِيSelain Rabb yang Maha Pengampun Maha Pemberi karunia…yang menunjukan aku kepada kebanaran….أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلِ فِي مَوَازِيْنِيAku mendatangiMu…maka sayangilah aku….beratkanlah timbangan kebaikanku…وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِيDan ringankanlah dalam memberi pembalasan kepadaku, sungguh Engkaulah Yang paling aku harapkan dari yang memberi balasan kepadaku…{youtube}KrkxPM_Feao{/youtube}Ibnu Rojab Al-Hanbali meriwayatkan dengan sanadnya (dalam kitab Adz-Dzail Tobabaqoot Al-Hanaabilah) :Abu Haamid Al-Khulqooniy berkata : “Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : Bagaimana menurutmu tentang untaian qosidah?”.Beliau berkata : “Seperti apa?”Aku berkata : Seperti engkau berkata :إَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka Ahmadpun menutup pintu dan beliapun mengulang-ngulangi perkataanإَذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ..؟Jika (di akhirat) Robku berkata kepadaku : “Apa engkau tidak malu bermaksiat kepadaku?”وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِي وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِيEngkau menyembunyikan dosamu dari makhlukKu, sedangkan engkau menemuiKu dengan membawa kemaksiatan?”Maka akupun keluar dang meninggalkannya” (Adz-Dzail ‘Ala Tobaqoot Al-Hanabilah 1/299, tahqiq : DR Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin, Maktabah Al-‘Ubaikan, cetakan pertama, tahun 1425 H/2005 M) 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 6) – Hakekat Imam Mahdi versi Syi’ah

Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 6) – Hakekat Imam Mahdi versi Syi’ah

Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)
Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)


Sesungguhnya Imam Mahdi Syi’ah adalah Imam yang sangat ganas dan haus darah ahlus sunnah. Berikut ini ciri-ciri imam Mahdi versi Syi’ah sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka : Pertama : Imam Mahdi diutus sebagai pembawa kesengsaraan. Abdurrahim Al-Qoshiir berkata : Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata kepadaku : “Adapun jika telah datang al-Qooim (Al-Mahdi) maka Al-Humairoo’ (Aisyah radhiallahu ‘anhaa-pen) akan dikembalikan (dihidupkan kembali) agar dicambuk dengan hukum had oleh Al-Mahdi, sebagai bentuk balas dendam demi putri Muhammad Fathimah ‘alaihas salaam”Aku berkata : Kenapa Al-Mahdi mencambuknya dengan hukum had?”. Abu Ja’far berkata : “Karena ia telah berdusta tentang Ibu Ibrahim shallallahu ‘alaihi”. Aku berkata : “Kenapa Allah mengakhirkan hukumannya untuk Al-Qoim (al-Mahdi)?”. Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’aala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat, dan Allah mengutus al-Qooim (Al-Mahdi) sebagai kesengsaraan/penderitaan” (Bihaarul Anwaar 52/114-115)Adapun Imam Mahdi Ahlus Sunnah diutus membawa rahmat dan kasih sayang sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kedua : Imam Mahdi diutus untuk menegakkan hukum had bagi Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa, sebagaimana jelas dalam riwayat di atas. Dan ini sungguh merupakan kekonyolan kaum Syi’ah, jika memang Aisyah telah melakukan kesalahan,–         Lantas kenapa hukuman hadnya ditunda??. Jika alasannya tidak mungkin ditegakan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi diutus membawa rahmat, maka lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegakan hukum had kepada yang lainnya??. Bahkan Nabi berkata :إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (bernasab mulia) mencuri diantara mereka maka mereka biarkan, dan jika ada orang lemah yang mencuri maka mereka tegakkan hukum had kepadanya. Demi Allah jika seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri maka aku akan potong tangannya” (HR Al-Bukhari no 3475 dan Muslim no 1688)–         Jika tidak memungkinkan ditegakan hukum had untuk Aisyah di zaman Nabi, lantas kenapa Ali tatkala menjadi Khalifah tidak menegakkan hukum had tersebut??!!. Bukankah Ali adalah imam pertama menurut syiah?? Ketiga : Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya.Ni’matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan As-Shoodiq hingga pada :Al-Mufaddhol berkata, “Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (as-Shodiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (as-Shodiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”.Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka…”  (al-Anwaar an-Nu’maniyah 2/52)Al-Majlisi meriwayatkan :“Dari Muhamad bin Sinan berkata, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam berkata kepada Umar : “Wahai orang yang terpedaya, sesunguhnya aku tidak melihatmu kecuali akan terbunuh di dunia oleh seorang budaknya Umu Mu’amar, engkau telah memberi hukuman kepadanya secara dzolim dan ia akan membunuhmu dengan taufiq (*dari Allah), maka iapun akan masuk surga karena membunuhmu meskipun engkau tidak suka. Dan sesunguhnya bagimu dan bagi sahabatmu yang engkau menggantikan kedudukanya (*yaitu Abu Bakar) sebuah salib dan pencabik-cabikan, engkau berdua akan dikeluarkan dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi, maka kalian berdua akan disalib di atas batang kurma yang kering maka keluarlah daun dari batang kering tersebut, hal ini menjadikan orang-orang yang berwala kepadamu terfitnah”.Umar berkata, “Dan siapakah yang akan melakukan hal ini wahai Abul Hasan?”Ali berkata, “Sebuah kaum yang telah memisahkan antara pedang-pedang dan sarung-sarungnya, maka akan didatangkan api yang telah dinyalakan untuk Ibrahim ‘alaihis salaam, dan akan datang Jarjis, Daniel, dan seluruh Nabi dan shidiiq, lalu darang angin yang akan menerbangkan/menghancurkan kalian di lautan” (Bihaarul Anwaar 30/276-277) Keempat : Al-Mahdi (versi Syi’ah) akan membunuh bangsa Arab.Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Jauhilah Arab, karena sesungguhnya mereka memiliki khabar yang buruk. Sesungguhnya tidak seorangpun dari Arab yang keluar bersama Al-Qooim (Al-Mahdi)” (Bihaarul Anwaar 52/333)Entah kenapa Imam-Imam Syi’ah begitu benci kepada orang Arab, hingga imam Abu Abdillah Ja’far As-Shoodiq mewashiatkan untuk menjauhi orang Arab??. Apakah karena syi’ah adalah agamanya orang Persia yang hasad kepada kaum muslimin yang asal agama mereka dari Arab??!!. Sampai-sampai orang-orang Arab di akhir zaman kafir seluruhnya, karena tidak seorangpun dari mereka yang mengikuti Imam Mahdinya Syi’ah !!Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Dan sesungguhnya Al-Qooim (Al-Mahdi) berjalan di bangsa Arab dengan apa yang ada pada al-Jafr merah”. Aku berkata : “Apa itu jafr merah?”. Abu Abdillah lalu melewatkan telunjuknya ke lehernya lalu berkata : “Demikian” yaitu penyembelihan” (Bihaarul Anwaar 52/313)Dalam riwayat yang lain Abu Abdillah berkata :“Tidak ada yang tersisa antara kami dengan bangsa Arab kecuali penyembelihan” –dan ia memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya- (Bihaarul Anwaar 52/249)Betapa sadisnya Imam Mahdi Syi’ah yang akan menyembelih bangsa Arab ??!! Kelima : Al-Mahdi akan menghancurkan seluruh masjid yang mulia, termasuk masjidil haram dan masjid nabawiAbu Ja’far ‘alaihis salaam berkata :“Jika telah muncul al-Qooim (Al-Mahdi) maka ia akan berjalan menuju Kufah lalu ia menghancurkan di sana 4 mesjid, dan tidak ada satu mesjidpun di atas muka bumi yang memiliki kemuliaan kecuali ia hancurkan…” (Bihaarul Anwaar 52/339)Abu Abdillah ‘alaihis salaam berkata : “Al-Qooim (Al-Mahdi) menghancurkan al-Masjid al-Harom hingga ia mengembalikannya rata hingga dasarnya, dan menghancurkan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga dasarnya, dan ia mengembalikan ka’bah pada tempatnya dan menegakannya di atas pondasinya, dan ia memotong tangan-tangan Bani Syaibah para pencuri, lalu ia menggantungkan tangan-tangan mereka tersebut di Ka’bah” (Bihaarul Anwaar 52/333) Keenam : Mahdi nya Syi’ah akan berhukum dengan Alu DawudAl-Kulaini dalam kitabnya Ushuul Al-Kaafi membuat sebuah bab :“Bab : Para imam jika muncul perkara mereka maka mereka akan berhukum dengan hukum nabi Dawud dan keluarga Dawud…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Lalu setelah itu al-Kulaini membawakan beberapa riwayat yang menunjukkan akan hal ini. Diantaranya :Abu Abdillah berkata :“Wahai Abu ‘Ubaidah, jika muncul al-Qooim (al-Mahdi) dari keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan berhukum dengan hukum Dawud dan Sulaiman…” (Ushuul Al-Kaafi 1/462)Abu Abdillah juga berkata“Tidaklah akan sirna dunia ini hingga keluar seorang lelaki dariku, yang berhukum dengan hukum Alu Dawud, dan tidak bertanya bayyinah, ia memberikan setiap jiwa haknya” (Ushuul Al-Kaafi 1/463, dan juga disebutkan oleh Al-Majlisi di Bihaarul Anwaar 52/320) Ketujuh : Mahdi Syi’ah membangkitkan pengikutnya dari Bani IsrailAl-Majlisi menyebutkan riwayat :Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata : “Jika muncul Al-Qooim dari keluarga Muhammad maka ia akan mengeluarkan dari atas Ka’bah 27 orang, 25 lelaki dari kaum nabi Musa yang mereka telah berhukum dengan kebenaran dan keadilah, 7 orang dari yang masuk di goa (ashabul kahfi), dan Yuysya’ (bin Nuun) yang diberikan washiat oleh Musa, seorang lelaki mukmin dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Faarisi, Abu Dujaanah Al-Anshoori dan Malik Al-Asytar” (Bihaarul Anwaar 52/346)

Shalat Shubuh dan Shalat Isya Paling Berat Bagi Orang Munafik

Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh

Shalat Shubuh dan Shalat Isya Paling Berat Bagi Orang Munafik

Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh
Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh


Dua shalat yang memiliki keutamaan yang besar adalah shalat Shubuh dan Shalat Isya.Dua shalat inilah yang terasa berat bagi orang-orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Ibnu Hajar mengatakan bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Akan tetapi, shalat ‘Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur. (Fathul Bari, 2: 141). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82). Hanya Allah yang memberi hidayah untuk beramal shalih. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 05: 51 PM, menjelang Maghrib. Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (harga: Rp.12.000,-) dan Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris -edisi revisi dan cetakan kedua- (harga: Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau WA ke nomor 0852 00 17 1222 atau via PIN BB: 2AF1727A. Pesan segera! Tagsmeninggalkan shalat munafik shalat shubuh

Meninggalkan Shalat Ashar, Terhapuslah Amalnya

Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat

Meninggalkan Shalat Ashar, Terhapuslah Amalnya

Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat
Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat


Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahaya meninggalkan satu shalat saja. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya padahal mampu untuk menunaikannya. Lihat Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu shalat meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat wustho[1] yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi, siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.”  (Majmu’atul Fatawa, 22: 54). Ibnul Qayyim  berkata, “Yang nampak dari hadits, meninggalkan amalan itu ada dua macam. Pertama, meninggalkan secara total dengan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, maka ini menjadikan amalnya batal seluruhnya. Kedua, meninggalkan pada hari tertentu, maka ini menjadikan amalnya batal pada hari tersebut. Jadi karena meninggalkan secara umum, maka amalnya batal secara umum. Lalu meninggalkan shalat tertentu, maka amalnya batal pada hari tertentu.” (Ash Shalah, hal. 59). Bagaimana amalan bisa terhapus selain menentang Islam (riddah)? Iya, ditunjukkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan disebutkan dari para sahabat bahwa kejelekan dapat menghapuskan amalan kebaikan. Begitu pula kebaikan dapat menghapuskan kejelekan. Sebagaimana dalam beberapa ayat disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al Baqarah: 264). Lihatlah amalan kebaikan bisa batal dengan kejelekan. Dalam ayat lainnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2). Amalan kejelekan dengan meninggikan suara melebihi suara nabi juga bisa menghapuskan amalan. Ini menunjukkan bahwa mungkin saja amalan kebaikan terhapus dengan kejelekan. (Idem, hal. 59) Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Muharram 1435 H, 11:44 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Allah Ta’ala berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ” Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho.” (QS. Al Baqarah: 238). Shalat wustho adalah shalat ‘Ashar sebagaimana disebutkan dalam hadits, شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الْوُسْطَى صَلاَةِ الْعَصْرِ “Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustho yaitu shalat Ashar.” (HR. Muslim no. 627, 628). Tagsmeninggalkan shalat

Hukum Ari-Ari (Plasenta) Bayi untuk Obat dan Kosmetik

Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan

Hukum Ari-Ari (Plasenta) Bayi untuk Obat dan Kosmetik

Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan
Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan


Ari-ari atau plasenta merupakan bagian dari tubuh bayi. Ternyata sebagian orang ada yang menggunakan plasenta bayi untuk kosmetik, kloning bahkan ada yang menggunakannya untuk obat. Bagaimana Islam menyikapi hal ini? Hukum asalnya, diharamkan menggunakan ari-ari (plasenta) bayi (manusia) untuk kosmetik dan pengobatan. Karena ari-ari adalah bagian dari sesuatu yang dimuliakan. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al Isra’: 70). Kalau ternyata tidak ada pengganti, lantas yang ada hanyalah menggunakan plasenta bayi tersebut, maka hanya dibolehkan untuk tujuan pengobatan, tidak untuk kosmetik karena alasan darurat. Al Khotib Asy Syarbini berkata, ” للمضطر أكل آدمي ميت إذا لم يجد ميتة غيره… لأن حُرمة الحي أعظم من حرمة الميت “Orang yang dalam keadaan darurat boleh memakan bangkai manusia jika tidak didapati bangkai lainnya. … Karena manusia ketika hidupnya lebih mulia daripada ketika matinya.” (Mughnil Muhtaj, 4: 413). Terserah di sini penggunaannya sebagai obat luar seperti salep atau sebagai obat yang diminum atau dengan injeksi ketika dalam keadaan darurat. Hal ini telah ada keputusan dari Al Majm’a Al Fiqhi Al Islami di bawah Robithoh Al ‘Alam Al Islami dalam dauroh ketigabelas 5/8/1412 H (bertepatan dengan 8 Februari 1992). Begitu pula dalam keadaan darurat, dibolehkan memindahkan kornea mata dan semacamnya. Sebagaimana terdapat keputusan dalam Majlis Al Fita’ kedua tahun 1404 H bahwa  kebutaan atau hilangnya penglihatan dianggap darurat bagi manusia. Menghilangkan darurat semisal ini dengan memindahkan kornea mata dari yang telah mati lalu dipasang pada yang hidup adalah suatu hal yang darurat. Hal ini masuk dalam kaedah yang disepakati oleh para ulama, الضرورات تبيح المحظورات “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.” الضرورة تُقدَّر بقدرها “Keadaan darurat diambil sesuai yang dibutuhkan.” لا يُنكر ارتكاب أخفِّ الضررين “Tidak diingkari pengambilan mudhorot (bahaya yang lebih ringan).” Namun perlu diperhatikan di sini mengenai jual beli atau perdagangan plasenta untuk tujuan pengobatan karena yang dijual adalah bagian tubuh manusia. Menjualnya berarti pertanda melecehkannya padahal Allah Ta’ala telah memuliakannya. Sebagai gantinya adalah harus diberi secara cuma-cuma untuk maksud memuliakan manusia. Tujuan lainnya, supaya tidak terjadi perdagangan yang diharamkan. Walaupun asalnya, bangkai manusia adalah suci karena manusia saat hidup dan matinya itu suci. Syamsuddin Muhammad Al Khottib mengatakan mengenai ayat (yang artinya) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam“, bentuk pemuliaan pada manusia adalah ia tidak dihukumi najis ketika matinya baik manusia tersebut muslim atau selainnya. (Al Iqna’, 1: 170). Namun sikap yang lebih baik sebagai bentuk pemuliaan Allah pada manusia, maka tubuh mereka seperti ari-ari tidak digunakan untuk obat, kosmetik, dan kloning. Wallahu a’lam.   Referensi: Mughnil Muhtaj, Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H. Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khottib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah. http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2796#.UpJ_xcS-3lU — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 07:15 AM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskesehatan

Jin dan Setan itu Ada

Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan

Jin dan Setan itu Ada

Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan
Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan


Jin dan setan itu benar adanya. Siapa yang mengingkari keberadaan jin, berarti ia telah menyimpang dari akidah yang benar seperti golongan Mu’tazilah. Setan itu bagian dari jin. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui adanya jin. Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13). Beberapa dalil pendukung dari Al Qur’an, قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1). Begitu pula dalam ayat dalam surat yang sama, وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6). Juga dalam ayat dalam surat lainnya, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29). Dan masih banyak dalil lainnya dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu kalau itu jin. Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka. Adapun yang menyatakan bahwa jin itu satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah. Setan itu satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat, إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ “Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50). Hanya Allah yang memberi taufik pada akidah yang benar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Muharram 1435 H, 04:11 PM Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Rp.12.000,-) dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (edisi revisi, cetakan kedua) (Rp.14.000,-), silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A.  Pesan segera sebelum kehabisan! [1] Al ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti: 1- Mujma’ ‘alaih, contoh wajibnya shalat lima waktu 2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut 3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok dan landasan agama seperti rukun Islam yang lima (Penjelasan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’) Tagsaqidah iman setan

Meninggalkan Shalat Penghapus Amalan

Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat

Meninggalkan Shalat Penghapus Amalan

Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat
Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat


Adakah penghapus amalan? Kemarin telah kita bahas keutamaan shalat Shubuh dan Ashar, disebutkan mengenai shalat Ashar bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka terhapuslah amalnya. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat walau satu saja bisa merusak Islam seseorang. Diterangkan oleh Ibnul Qayyim: Penghapus amalan ada dua yaitu umum dan khusus. Penghapus amalan yang umum ada dua yaitu yang menghapuskan amalan kebaikan seluruhnya yaitu dengan murtad (melakukan pembatal keislaman atau keluar dari Islam) dan yang menghapuskan setiap kejelekan (dosa) yaitu dengan bertaubat. Penghapus amalan yang khusus yaitu antara kebaikan dan kejelekan itu menghapuskan satu dan lainnya. Ini adalah penghapus amalan yang bersifat parsial namun bersyarat. Perlu diketahui bahwa kekafiran dan iman itu bisa menghapuskan satu dan lainnya, begitu pula cabang kekafiran dan cabang keimanan bisa menghapuskan satu dan lainnya. Jika semakin besar cabang keimanan atau kekafiran tersebut, maka semakin banyak yang hilang dari cabang keimanan atau kekafiran tersebut. (Lihat Ash Shalah, hal. 60). Karena saking pentingnya shalat, meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan, seperti yang nabi sebutkan mengenai shalat Ashar, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Hati-hatilah, jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang dapat menghapus amalan kita dan perbanyaklah terus amalan yang dapat menghapuskan dosa kita. Hanya Allah yang memberi taufik. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Muharram 1435 H, 07: 00 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagsmeninggalkan shalat

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 4) – Para Imam Syi’ah Meninggal Bunuh Diri !!

Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 4) – Para Imam Syi’ah Meninggal Bunuh Diri !!

Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 
Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 


Diantara sikap mengultuskan yang berlebihan kepada para imam adalah pernyataan kaum syi’ah bahwasanya para imam mengetahui ilmu ghoib.Dalam kitab Ushuul Al-Kaafi Al-Kulaini berkataباب أن الأئمة يعلمون علم ما كان وما يكون وأنه لا يخفى عليهم شيء“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang telah lalu, ilmu yang akan datang, dan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi/samar bagi para imam” (Ushuul Al-Kaafi 1/316)Sungguh ini adalah derajat yang tinggi yang terkhususkan untuk Allah. Allah berfirman ; إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِSesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imron : 5)رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِYa Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang Kami sembunyikan dan apa yang Kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS Ibrahim : 38)قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُKatakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (QS An-Naml : 65). Bahkan yang lebih parah, Al-Kulaini berkata :باب أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم“Bab : Bahwasanya para imam mengetahui kapan mereka meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri” (Ushuul Al-Kaafi 1/313)Pernyataan bahwa para imam mengetahui ilmu ghoib, mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan mengetahui seluruh apa yang ada di langit dan di bumi…, bahkan mengetahui kapan mereka akan meninggal…bahkan mereka tidak meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri….Ini semua melazimkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk. Diantaranya :Berarti para imam telah meninggal dengan bunuh diri.Pertama : Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib yang meninggal dalam kondisi diracun, berarti ada dua kemungkinan yang ia hadapi.–         Kemungkinan pertama : Al-Hasan tidak mengetahui bahwa telah dihidangkan padanya racun, lalu iapun memakannya tanpa ia sadari. Dan ini menunjukkan bahwa beliau telah tertimpa musibah yang berat akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, bahkan beliau menutup-nutupi siapa yang telah meracuni beliau. Inilah kepahlawanan dan kesabaran yang luar biasa yang sangat terpuji.–         Kemungkinan kedua : Al-Hasan telah mengetahui bahwa yang dihidangkan kepadanya adalah racun. Dan ini adalah konsekuensi dari keyakinan orang-orang Syi’ah bahwasanya para imam mengetahui masa depan  bahkan mengetahui semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Lantas jika ia telah mengetahui bahwa yang dihidangkan baginya adalah racun kemudian ia masih nekat mengonsumsinya…, bukankah ini merupakan tindakan konyol??, bukankah ini berarti ia telah mati bunuh diri??!!. Bahkan ia sengaja dan rela mati bunuh diri, karena menurut keyakinan kaum Syi’ah, para imamlah yang memilihi kematian mereka, karena mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka. Kedua : Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhumaa, juga pada hekekatnya telah meninggal dengan bunuh diri.Karena ada dua kemungkinan pada kondisi beliau sebelum terbunuh syahid di Karbala :–         Kemungkinan pertama : Ia tidak mengetahui masa depan dan tidak mengetahui ilmu ghoib. Dan inilah yang benar, karena tindakan-tindakan yang beliau lakukan menunjukkan akan hal itu. Seperti (1) Beliau mengirim Muslim bin ‘Aqil ke Iroq untuk mengecek dan memastikan kondisi orang-orang yang hendak membaiat beliau. Kalau Al-Husain mengetahui seluruh apa yang terjadi, dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, serta  mengetahui isi hati manusia, maka tidak perlu ia mengirim utusan untuk mengecek dan memastikan kondisi. (2) Beliau tidak tahu bahwasanya penduduk Iraq akan berkhianat kepada beliau, serta tidak tahu bahwasanya beliau akan terbunuh di Karbala, maka beliau radhiallahu ‘anhu tetap berangkat menuju Karbala, sehingga akhirnya beliau meninggal syahid di sana–         Kemungkinan kedua : Beliau telah mengetahui ilmu ghoib, mengetahui bahwasanya beliau akan dikhianati oleh para pengikutnya. Beliau juga mengetahui bahwasanya Muslim bin ‘Aqil yang ia utus akan dikhianati dan akan terbunuh sebelum beliau terbunuh. Beliau juga mengetahui bahwasanya beliau akan terbunuh bahkan akan tercabik-cabik di Karbala, lantas beliau tetap berangkat ke Karbala…??? Maka ini menunjukkan bahwa beliau hendak mati bunuh diri. Bahkan menunjukkan beliau hendak membunuh anak-anak beliau dan kerabat beliau, karenanya beliau mengajak mereka seluruhnya ke Karbala !!. Bukankah ini merupakan tindakan konyol??. Apalagi kematian tersebut atas pilihan beliau (menurut keyakinan Syi’ah)?? 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 3) – Para Imam Syi’ah Bisa Jadi Pilot Pesawat dan Masinis Kereta

Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 

BANYOLAN KAUM SYI’AH (bag 3) – Para Imam Syi’ah Bisa Jadi Pilot Pesawat dan Masinis Kereta

Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 
Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 


Telah lalu penegasan Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaarul Anwaar :أقول : أما كونهم عالمين باللغات فالاخبار فيه قريبة من حد التواتر وبانضمام الاخبار العامة لايبقى فيه مجال شك ، وأما علمهم بالصناعات فعمومات الاخبار المستفيضة دالة عليه ، حيث ورد فيها أن الحجة لا يكون جاهلا في شئ يقول : لا أدري ، مع ماورد أن عندهم علم ما كان وما يكون وأن علوم جميع الانبياء وصل إليهم ، مع أن أكثر الصناعات منسوبة إلى الانبياء عليهم السلام ، وقد فسر تعليم الاسماء لادم عليه السلام بما يشمل جميع الصناعات .“Adapun kondisi para imam yang mengetahui bahasa-bahasa maka riwayat-riwayat tentang hal itu hampir mendekati mutawatir, ditambah dengan riwayat-riwayat umum yang tidak menyisakan lagi keraguan akan hal ini. Adapun ilmu mereka tentang keahlian-keahlian (keduniaan), maka keumuman riwayat yang banyak menunjukkan akan hal itu, karena telah datang dalam riwayat bahwasanya al-hujjah (imam) tidak boleh bodoh dalam sesuatu apapun yang ia berkata : “Aku tidak tahu”, disertai bahwasanya para imam mengetahui ilmu yang lalu, ilmu masa depan, dan bahwasanya ilmu seluruh para nabi telah sampai kepada para imam. Padahal mayoritas keahlian-keahlian dinisbahkan kepada para nabi ‘alaihim as-salaam, dan telah ditafsirkan pengajaran nama-nama kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahilian-keahlian” (Bihaarul Anwaar 26/193) Al-Majlisi telah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian dunia. Diantara dalil-dalil tersebut :Pertama : Para imam syi’ah jika ditanya tidak boleh mengatakan “Saya tidak tahu” !!!Kedua : Seluruh ilmu para Nabi sebelumnya terkumpulkan kepada para imam. Dan sebagaimana diketahui bahwasanya sebagian nabi memiliki keahlian-kahlian, seperti keahlian sebagai tukang kayu, keahlian dalam membuat senjata, dll. Sehingga seluruh keahlian para nabi sebelumnya telah dikuasai oleh para imam Syi’ah.Ketiga : Diantara para nabi yang dikuasai ilmunya adalah Nabi Adam ‘alaihis salaam. Padahal Allah telah berfirman tentang nabi Adam ;وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَDan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqoroh : 31)Menurut al-Majlisi “nama-nama” yang diajarkan kepada Adam ‘alaihis salaam mencakup seluruh keahlian?!!Keempat : Para imam mengetahui seluruh ilmu masa lalu dan seluruh ilmu masa depan. Hal ini melazimkan seluruh keahlian yang dimiliki oleh manusia di masa lalu juga dikuasai oleh para imam. Demikian pula seluruh ilmu keahlian yang dikuasai di masa depan juga diketahui oleh para imam Syi’ah.Hal ini melazimkan bahwa para imam mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa depan, bahkan yang belum muncul di abad dua puluh satu ini. Keahlian-keahlian yang akan muncul pada tahun 2020 pun telah diketahui oleh sang imam. Tentunya para imam sangat mudah untuk menjadi tukang bengkel atau servis jam, atau jadi petani, atau bahkan jadi pilot dan supir kereta ??!!Bahkan disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwasanya imam mahdi syi’ah (imam kedua belas yang sedang bersembunyai di Sirdab) terkadang keluar di tengah-tengah masyarakat dan masyarakat tidak mengenalnya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak mengenal Nabi Yusuf !!!.Maka mungkin saja imam Mahdi Syi’ah terkadang keluar menyamar sebagai pilot, sebagai kapten kapal, sebagai masinis kereta api, atau terkadang menjadi prajurit, atau komandan, atau bahkan jenderal !!!, namun orang-orang tidak menyadarinya !!!.Lantas jika para imam mengetahui keahlian seluruh masyarakat masa depan :–         Kenapa para imam tidak menciptakan senjata yang canggih untuk melawan para musuh??–         Kenapa imam mahdi (imam ke dua belas) harus takut keluar dari Sirdab, sementara dia bisa membuat senjata tercanggih yang sangat menghancurkan yang belum diciptakan di zaman ini ???–         Atau paling tidak kenapa para imam tidak mengajarkan teori perkebunan yang tercanggih di zaman mereka ??            Keyakinan bahwa para imam syi’ah mengetahui seluruh keahlian masyarakat di masa lalu dan dimasa mendatang, menunjukkan bahwa para imam Syi’ah lebih hebat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ahli dalam segala hal pekerjaan. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salah dalam memberikan arahan kepada seorang sahabat yang berkebun korma, sehingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih berilmu tentang perkara dunia kalian”عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقوم يلقحون فقال لو لم تفعلوا لصلح قال فخرج شيصا فمر بهم فقال ما لنخلكم قالوا قلت كذا وكذا قال أنتم أعلم بأمر دنياكمDari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”.  Maka keluarlah korma yang buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR Muslim no 2363)Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih tahu tentang perkawinan dalam perkebunan kurma apalagi keahlian tekhnologi canggih… 

Anak yang Berbakti Memberi Kepada Orang Tuanya Sebelum Orang Tuanya Meminta Kepadanya

Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua

Anak yang Berbakti Memberi Kepada Orang Tuanya Sebelum Orang Tuanya Meminta Kepadanya

Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua
Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua


Anak yang berbakti, memberi kepada orang tuanya sebelum orang tuanya meminta kepadanya…., terlebih lagi jika sang ana memiliki kelebihan harta…, hendaknya ia berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang tuanya… Karena…(1) Sebagian orang tua malu untuk meminta kepada anaknya…, sementara sang anak tidak pernah malu meminta kepada orang tua, terutama tatkala masih dibawah tanggungan orang tua. (2) Sebagian orang tua bahkan tetap berusaha memberi kepada anak-anaknya bukan meminta…, ini menunjukan bahwa jika orang tua meminta berarti ia telah berada dalam kondisi sangat membutuhkan…(3) Meskipun yang lebih utama adalah sang anak berusaha mengenal dan mencari-cari kebutuhan orang tuanya lalu memberinya sebelum orang tua meminta, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya kepada ayah dan ibunya, apa yang mereka berdua butuhkan ?(4) Sebagian orang tua tidak ingin tinggal santai dirumah anaknya, karena ia merasa masih kuat dan bisa bekerja serta merasa belum jompo. Akan tetapi sang anak jangan lupa terus untuk menawarkan agar orang tuanya bisa hidup bersamanya…tentunya dengan tawaran yang menyenangkan hati tanpa ada terkesan perendahan sedikitpun…Janganlah pernah pelit kepada orang tuamu yang pernah mengorbankan harta, waktu, bersusah payah untuk merawatmu…. Jika engkau dengan mudahnya berkorban demi anak-anakmu, itulah dahulu gambaran orang tuamu terhadapmu tatkala engkau masih dalam perawatannya.Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar

Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar

Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh
Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh


Dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Shalat ”Ashar memiliki keutamaan yang besar. Namun sayang, tidak sedikit dari yang mengaku muslim yang meninggalkan shalat Shubuh, seringnya telat bahkan tidak bangun Shubuh dan lebih senang bermanja-manja dengan kasurnya. Begitu pula shalat ”Ashar banyak terlalu sibuk dengan aktivitas dunianya, lantas melalaikan shalat ini. Para petani ada yang berangkat sebelum ‘Ashar ke sawah dengan mudahnya pula ia meninggalkan shalat tersebut karena sesampai di rumah sudah waktu Maghrib. Kapan mau sadar untuk menjaga dua shalat ini? Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635). Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah Ta’ala, وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isro’: 78) (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 250, Asy Syamilah) Dalam hadits di atas disebutkan dengan fi’il madhi (kata kerja lampau) yaitu kata dakholal jannah (masuk surga). Yang dimaksud di sini adalah makna future (akan datang) yaitu ditekankan bahwa yang menjaga dua shalat  tersebut dijamin masuk surga. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2: 53) Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657) Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594). Ya Allah, mudahkanlah kami untuk rutin menjaga dua shalat ini yaitu shalat Shubuh dan Ashar. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Muharram 1435 H, 06:0 AM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan! Tagskeutamaan shalat shalat shubuh

Shalat Lima Waktu Menggugurkan Dosa

Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat

Shalat Lima Waktu Menggugurkan Dosa

Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat
Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat


Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ  Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233). Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228). Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234) Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]   — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  [1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234. [2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501. Tagskeutamaan shalat

Orang yang Rutin Shalat 5 Waktu Ibarat Orang yang Mandi di Sungai

Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat

Orang yang Rutin Shalat 5 Waktu Ibarat Orang yang Mandi di Sungai

Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat
Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat


Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا » “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668). Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 49). Hadits  di atas menunjukkan ibarat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat mudah, yaitu beliau gambarkan bahwa dosa bisa terhapus sebagaimana air sungai membersihkan kotoran. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus bisa menjaga shalat. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Diselesaikan selepas ‘Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Muharram 1435 H, 15: 28 PM. Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom — Bagi yang berminat dengan buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, silakan pesan via sms atau Whats App (WA) ke nomor 0852 00 17 1222 atau add PIN BB: 2AF1727A. Harga per buku Rp.12.000,-. Pesan segera sebelum kehabisan!  Tagskeutamaan shalat
Prev     Next