Jangan Menghina dan Meremehkan Orang Lain

Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah. Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.” Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.” Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan. Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11) Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713). Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman, يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11) Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini. أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ » Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817). Semoga nasehat di pagi hari ini bermanfaat. Wasiat Rasul lainnya akan disampaikan pada postingan lanjutan, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadits jabir bin sulaim sombong

Jangan Menghina dan Meremehkan Orang Lain

Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah. Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.” Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.” Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan. Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11) Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713). Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman, يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11) Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini. أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ » Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817). Semoga nasehat di pagi hari ini bermanfaat. Wasiat Rasul lainnya akan disampaikan pada postingan lanjutan, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadits jabir bin sulaim sombong
Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah. Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.” Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.” Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan. Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11) Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713). Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman, يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11) Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini. أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ » Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817). Semoga nasehat di pagi hari ini bermanfaat. Wasiat Rasul lainnya akan disampaikan pada postingan lanjutan, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadits jabir bin sulaim sombong


Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah. Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.” Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.” Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat, لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan. Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11) Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713). Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman, يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11) Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini. أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ » Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817). Semoga nasehat di pagi hari ini bermanfaat. Wasiat Rasul lainnya akan disampaikan pada postingan lanjutan, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadits jabir bin sulaim sombong

Aplikasi Android Tausiyah Rumaysho.Com

Apikasi ini memuat tausiyah harian yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com). Tausiyah harian ini sebagian berasal dari Broadcast BBM Ustadz Abduh. Untuk menghemat penyimpanan data, semua konten non-tulisan yang dimuat disini diambil langsung dari server. Karenanya, dibutuhkan koneksi internet pada gadget anda untuk bisa menampilkan audio, video, dan gambar. Keunggulan dari aplikasi ini, Anda bisa mendapatkan notifikasi setiap kali ada artikel atau audio baru sebagaimana notifikasi di Facebook. Audio yang ada merupakan kelanjutan dari kajian Rumaysho.Com dahulu yang pernah diadakan di WhatsApp. Anda juga dapat mengcopy artikel-artikel di App ini untuk dibroadcast melalui socmed (facebook, twitter, dll) dan berbagai chat app seperti BBM, WhatsApp, KakaoTalk, Line, iMessage, dan SMS. Cukup tap-tahan pada artikel, dan paste di manapun anda mau. Silakan kunjungi Google Play. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi

Aplikasi Android Tausiyah Rumaysho.Com

Apikasi ini memuat tausiyah harian yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com). Tausiyah harian ini sebagian berasal dari Broadcast BBM Ustadz Abduh. Untuk menghemat penyimpanan data, semua konten non-tulisan yang dimuat disini diambil langsung dari server. Karenanya, dibutuhkan koneksi internet pada gadget anda untuk bisa menampilkan audio, video, dan gambar. Keunggulan dari aplikasi ini, Anda bisa mendapatkan notifikasi setiap kali ada artikel atau audio baru sebagaimana notifikasi di Facebook. Audio yang ada merupakan kelanjutan dari kajian Rumaysho.Com dahulu yang pernah diadakan di WhatsApp. Anda juga dapat mengcopy artikel-artikel di App ini untuk dibroadcast melalui socmed (facebook, twitter, dll) dan berbagai chat app seperti BBM, WhatsApp, KakaoTalk, Line, iMessage, dan SMS. Cukup tap-tahan pada artikel, dan paste di manapun anda mau. Silakan kunjungi Google Play. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi
Apikasi ini memuat tausiyah harian yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com). Tausiyah harian ini sebagian berasal dari Broadcast BBM Ustadz Abduh. Untuk menghemat penyimpanan data, semua konten non-tulisan yang dimuat disini diambil langsung dari server. Karenanya, dibutuhkan koneksi internet pada gadget anda untuk bisa menampilkan audio, video, dan gambar. Keunggulan dari aplikasi ini, Anda bisa mendapatkan notifikasi setiap kali ada artikel atau audio baru sebagaimana notifikasi di Facebook. Audio yang ada merupakan kelanjutan dari kajian Rumaysho.Com dahulu yang pernah diadakan di WhatsApp. Anda juga dapat mengcopy artikel-artikel di App ini untuk dibroadcast melalui socmed (facebook, twitter, dll) dan berbagai chat app seperti BBM, WhatsApp, KakaoTalk, Line, iMessage, dan SMS. Cukup tap-tahan pada artikel, dan paste di manapun anda mau. Silakan kunjungi Google Play. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi


Apikasi ini memuat tausiyah harian yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com). Tausiyah harian ini sebagian berasal dari Broadcast BBM Ustadz Abduh. Untuk menghemat penyimpanan data, semua konten non-tulisan yang dimuat disini diambil langsung dari server. Karenanya, dibutuhkan koneksi internet pada gadget anda untuk bisa menampilkan audio, video, dan gambar. Keunggulan dari aplikasi ini, Anda bisa mendapatkan notifikasi setiap kali ada artikel atau audio baru sebagaimana notifikasi di Facebook. Audio yang ada merupakan kelanjutan dari kajian Rumaysho.Com dahulu yang pernah diadakan di WhatsApp. Anda juga dapat mengcopy artikel-artikel di App ini untuk dibroadcast melalui socmed (facebook, twitter, dll) dan berbagai chat app seperti BBM, WhatsApp, KakaoTalk, Line, iMessage, dan SMS. Cukup tap-tahan pada artikel, dan paste di manapun anda mau. Silakan kunjungi Google Play. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi

Jangan Meremehkan Berbuat Baik

Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik. Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar). Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain. Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh. Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian. Catatan, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295). Baca pula artikel Rumaysho.Com: Bermuka Manis di Hadapan Orang Lain. Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik. Bahasan hadits Jabir bin Sulaim masih terus dilanjutkan pada tulisan lainnya. Moga Allah mudahkan.   Referensi: Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon Riyadh, cetakan ketiga, tahun 1427 H. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshadits jabir bin sulaim senyum

Jangan Meremehkan Berbuat Baik

Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik. Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar). Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain. Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh. Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian. Catatan, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295). Baca pula artikel Rumaysho.Com: Bermuka Manis di Hadapan Orang Lain. Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik. Bahasan hadits Jabir bin Sulaim masih terus dilanjutkan pada tulisan lainnya. Moga Allah mudahkan.   Referensi: Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon Riyadh, cetakan ketiga, tahun 1427 H. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshadits jabir bin sulaim senyum
Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik. Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar). Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain. Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh. Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian. Catatan, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295). Baca pula artikel Rumaysho.Com: Bermuka Manis di Hadapan Orang Lain. Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik. Bahasan hadits Jabir bin Sulaim masih terus dilanjutkan pada tulisan lainnya. Moga Allah mudahkan.   Referensi: Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon Riyadh, cetakan ketiga, tahun 1427 H. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshadits jabir bin sulaim senyum


Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim, وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik. Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ “Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar). Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain. Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh. Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian. Catatan, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295). Baca pula artikel Rumaysho.Com: Bermuka Manis di Hadapan Orang Lain. Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik. Bahasan hadits Jabir bin Sulaim masih terus dilanjutkan pada tulisan lainnya. Moga Allah mudahkan.   Referensi: Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon Riyadh, cetakan ketiga, tahun 1427 H. — Disusun di pagi hari ini penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 15 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshadits jabir bin sulaim senyum

Wanita Sempurna

Wanita Sempurna Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‎‎’alaihi wa sallam bersabda,‎ كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ غَيْرُ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ، وَآسِيَةَ امْرَأَةِ فِرْعَوْنَ، وَإِنَّ فَضْلَ ‏عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan A’isyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” ‎‎(HR. Bukhari 5418 dan Muslim 2431).

Wanita Sempurna

Wanita Sempurna Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‎‎’alaihi wa sallam bersabda,‎ كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ غَيْرُ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ، وَآسِيَةَ امْرَأَةِ فِرْعَوْنَ، وَإِنَّ فَضْلَ ‏عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan A’isyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” ‎‎(HR. Bukhari 5418 dan Muslim 2431).
Wanita Sempurna Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‎‎’alaihi wa sallam bersabda,‎ كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ غَيْرُ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ، وَآسِيَةَ امْرَأَةِ فِرْعَوْنَ، وَإِنَّ فَضْلَ ‏عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan A’isyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” ‎‎(HR. Bukhari 5418 dan Muslim 2431).


Wanita Sempurna Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‎‎’alaihi wa sallam bersabda,‎ كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ غَيْرُ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ، وَآسِيَةَ امْرَأَةِ فِرْعَوْنَ، وَإِنَّ فَضْلَ ‏عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan A’isyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” ‎‎(HR. Bukhari 5418 dan Muslim 2431).

Aplikasi Android Buku Panduan Ramadhan

Buku Panduan Ramadhan akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku ini disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc di mana bahasan yang diangkat dalam buku Panduan Ramadhan bukanlah hanya sekitar puasa, namun berkaitan pula dengan amalan-amalan, puasa Syawal, panduan zakat dan tips mudik penuh berkah. Alhamdulillah, program BISA bekerjasama dengan Rumaysho.Com telah membuat aplikasi dari buku tersebut yang bisa dijalankan di program Android Anda. Silakan kunjungi Google Play. Info selengkapnya mengenai buku Panduan Ramadhan dan download versi PDF-nya, silakan kunjungi: Buku Panduan Ramadhan 1435 H. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi

Aplikasi Android Buku Panduan Ramadhan

Buku Panduan Ramadhan akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku ini disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc di mana bahasan yang diangkat dalam buku Panduan Ramadhan bukanlah hanya sekitar puasa, namun berkaitan pula dengan amalan-amalan, puasa Syawal, panduan zakat dan tips mudik penuh berkah. Alhamdulillah, program BISA bekerjasama dengan Rumaysho.Com telah membuat aplikasi dari buku tersebut yang bisa dijalankan di program Android Anda. Silakan kunjungi Google Play. Info selengkapnya mengenai buku Panduan Ramadhan dan download versi PDF-nya, silakan kunjungi: Buku Panduan Ramadhan 1435 H. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi
Buku Panduan Ramadhan akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku ini disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc di mana bahasan yang diangkat dalam buku Panduan Ramadhan bukanlah hanya sekitar puasa, namun berkaitan pula dengan amalan-amalan, puasa Syawal, panduan zakat dan tips mudik penuh berkah. Alhamdulillah, program BISA bekerjasama dengan Rumaysho.Com telah membuat aplikasi dari buku tersebut yang bisa dijalankan di program Android Anda. Silakan kunjungi Google Play. Info selengkapnya mengenai buku Panduan Ramadhan dan download versi PDF-nya, silakan kunjungi: Buku Panduan Ramadhan 1435 H. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi


Buku Panduan Ramadhan akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku ini disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc di mana bahasan yang diangkat dalam buku Panduan Ramadhan bukanlah hanya sekitar puasa, namun berkaitan pula dengan amalan-amalan, puasa Syawal, panduan zakat dan tips mudik penuh berkah. Alhamdulillah, program BISA bekerjasama dengan Rumaysho.Com telah membuat aplikasi dari buku tersebut yang bisa dijalankan di program Android Anda. Silakan kunjungi Google Play. Info selengkapnya mengenai buku Panduan Ramadhan dan download versi PDF-nya, silakan kunjungi: Buku Panduan Ramadhan 1435 H. — Info Rumaysho.Com Tagsaplikasi

Kajian Bedah Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris di Yogyakarta

Bertepatan pada tanggal merah Kamis besok, 15 Mei 2014, insya Allah akan diadakan kajian bedah buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” di kota Yogyakarta dengan pembicara penulis buku itu sendiri yaitu: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id dan Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). Tempat: Masjid Kampus UMY (Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul) Kamis, 15 Mei 2014, pukul 12.30 – 15:00 WIB (berubah jadwal dari sebelumnya jam 9 pagi) Fasilitas: – Disediakan 100 buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” secara gratis – Air minum Terbuka untuk Putera dan Puteri   CP: 0812 41 800 169 Penyelenggara: Forum Studi Islam Mahasiswa (FORSIM) dan Remaja Islam Masjid Muthohharoh — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam teroris

Kajian Bedah Buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris di Yogyakarta

Bertepatan pada tanggal merah Kamis besok, 15 Mei 2014, insya Allah akan diadakan kajian bedah buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” di kota Yogyakarta dengan pembicara penulis buku itu sendiri yaitu: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id dan Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). Tempat: Masjid Kampus UMY (Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul) Kamis, 15 Mei 2014, pukul 12.30 – 15:00 WIB (berubah jadwal dari sebelumnya jam 9 pagi) Fasilitas: – Disediakan 100 buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” secara gratis – Air minum Terbuka untuk Putera dan Puteri   CP: 0812 41 800 169 Penyelenggara: Forum Studi Islam Mahasiswa (FORSIM) dan Remaja Islam Masjid Muthohharoh — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam teroris
Bertepatan pada tanggal merah Kamis besok, 15 Mei 2014, insya Allah akan diadakan kajian bedah buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” di kota Yogyakarta dengan pembicara penulis buku itu sendiri yaitu: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id dan Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). Tempat: Masjid Kampus UMY (Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul) Kamis, 15 Mei 2014, pukul 12.30 – 15:00 WIB (berubah jadwal dari sebelumnya jam 9 pagi) Fasilitas: – Disediakan 100 buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” secara gratis – Air minum Terbuka untuk Putera dan Puteri   CP: 0812 41 800 169 Penyelenggara: Forum Studi Islam Mahasiswa (FORSIM) dan Remaja Islam Masjid Muthohharoh — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam teroris


Bertepatan pada tanggal merah Kamis besok, 15 Mei 2014, insya Allah akan diadakan kajian bedah buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” di kota Yogyakarta dengan pembicara penulis buku itu sendiri yaitu: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id dan Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). Tempat: Masjid Kampus UMY (Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul) Kamis, 15 Mei 2014, pukul 12.30 – 15:00 WIB (berubah jadwal dari sebelumnya jam 9 pagi) Fasilitas: – Disediakan 100 buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” secara gratis – Air minum Terbuka untuk Putera dan Puteri   CP: 0812 41 800 169 Penyelenggara: Forum Studi Islam Mahasiswa (FORSIM) dan Remaja Islam Masjid Muthohharoh — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam teroris

Abu Bakr Berpakaian Isbal

Kenapa engkau tidak mengangkat celanamu saja dari menutupi mata kaki? Ia pun menjawab, “Abu Bakr saja masih berpakaian isbal!” Disebutkan dalam Shahih Bukhari, عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ ثَوْبِى يَسْتَرْخِى إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ .فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat.” Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku selalu memperhatikannya.” “Engkau bukan melakukannya karena sombong”, komentar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr. (HR. Bukhari no. 3655) Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di atas bahwa ia tidak menjulurkan celananya karena sombong? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah mendapat pertanyaan semacam itu, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut. Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi. Pertama, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya dengan sengaja karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot, akan tetapi beliau selalu menjaganya. Orang-orang yang isbal (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini: Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan menyucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang berat. Kedua, sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi tazkiyah (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong -pen) sudah mendapatkan tazkiyah dan syahadah (rekomendasi)?! Akan tetapi setan membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka -pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Allah-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan. (Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam, hal. 547-548). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, orang yang menjulurkan celana di bawah mata kaki bukan dengan maksud sombong masih lebih ringan dibanding yang niatannya sombong. Karena dalam hadits disebutkan, siapa saja yang celananya di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Hukumannya disebutkan hanyalah satu. Lalu hukumannya bukan pada seluruh badan, hanya pada kaki yang diancam neraka karena celana pada kakinyalah yang menyelisihi perintah Rasul. Yang tepat, menjulurkan atau menurunkan celana di bawah mata kaki dengan sombong ataukah tidak tetap dihukumi haram. Bahkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Karena dosa besar menurut para ulama adalah setiap dosa yang Allah tetapkan hukuman khusus padanya. Intinya, isbal tanpa kesombongan tetap diancam dengan neraka. Berarti ada hukuman khusus yang dikenakan. Sedangkan jika menurunkan celana tersebut dari mata kaki dengan sombong, terkena empat hukuman, yaitu di hari kiamat, Allah tidak mau berbicara, Allah tidak akan memandangnya, Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksa yang pedih. (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4: 286-287). Pembahasan di atas sudah dijelaskan dalam buku Penulis “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” terbitan Pustaka Muslim (cetakan kedua, 2014). Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Pesantren DS Warak, Girisekar, Panggang, 13 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 Whatsapp: +62 8222 604 2114 Blackberry: 2A04EA0F Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Info selengkapnya ada di: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris Tagsadab pakaian isbal

Abu Bakr Berpakaian Isbal

Kenapa engkau tidak mengangkat celanamu saja dari menutupi mata kaki? Ia pun menjawab, “Abu Bakr saja masih berpakaian isbal!” Disebutkan dalam Shahih Bukhari, عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ ثَوْبِى يَسْتَرْخِى إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ .فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat.” Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku selalu memperhatikannya.” “Engkau bukan melakukannya karena sombong”, komentar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr. (HR. Bukhari no. 3655) Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di atas bahwa ia tidak menjulurkan celananya karena sombong? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah mendapat pertanyaan semacam itu, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut. Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi. Pertama, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya dengan sengaja karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot, akan tetapi beliau selalu menjaganya. Orang-orang yang isbal (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini: Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan menyucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang berat. Kedua, sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi tazkiyah (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong -pen) sudah mendapatkan tazkiyah dan syahadah (rekomendasi)?! Akan tetapi setan membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka -pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Allah-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan. (Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam, hal. 547-548). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, orang yang menjulurkan celana di bawah mata kaki bukan dengan maksud sombong masih lebih ringan dibanding yang niatannya sombong. Karena dalam hadits disebutkan, siapa saja yang celananya di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Hukumannya disebutkan hanyalah satu. Lalu hukumannya bukan pada seluruh badan, hanya pada kaki yang diancam neraka karena celana pada kakinyalah yang menyelisihi perintah Rasul. Yang tepat, menjulurkan atau menurunkan celana di bawah mata kaki dengan sombong ataukah tidak tetap dihukumi haram. Bahkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Karena dosa besar menurut para ulama adalah setiap dosa yang Allah tetapkan hukuman khusus padanya. Intinya, isbal tanpa kesombongan tetap diancam dengan neraka. Berarti ada hukuman khusus yang dikenakan. Sedangkan jika menurunkan celana tersebut dari mata kaki dengan sombong, terkena empat hukuman, yaitu di hari kiamat, Allah tidak mau berbicara, Allah tidak akan memandangnya, Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksa yang pedih. (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4: 286-287). Pembahasan di atas sudah dijelaskan dalam buku Penulis “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” terbitan Pustaka Muslim (cetakan kedua, 2014). Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Pesantren DS Warak, Girisekar, Panggang, 13 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 Whatsapp: +62 8222 604 2114 Blackberry: 2A04EA0F Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Info selengkapnya ada di: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris Tagsadab pakaian isbal
Kenapa engkau tidak mengangkat celanamu saja dari menutupi mata kaki? Ia pun menjawab, “Abu Bakr saja masih berpakaian isbal!” Disebutkan dalam Shahih Bukhari, عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ ثَوْبِى يَسْتَرْخِى إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ .فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat.” Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku selalu memperhatikannya.” “Engkau bukan melakukannya karena sombong”, komentar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr. (HR. Bukhari no. 3655) Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di atas bahwa ia tidak menjulurkan celananya karena sombong? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah mendapat pertanyaan semacam itu, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut. Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi. Pertama, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya dengan sengaja karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot, akan tetapi beliau selalu menjaganya. Orang-orang yang isbal (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini: Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan menyucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang berat. Kedua, sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi tazkiyah (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong -pen) sudah mendapatkan tazkiyah dan syahadah (rekomendasi)?! Akan tetapi setan membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka -pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Allah-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan. (Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam, hal. 547-548). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, orang yang menjulurkan celana di bawah mata kaki bukan dengan maksud sombong masih lebih ringan dibanding yang niatannya sombong. Karena dalam hadits disebutkan, siapa saja yang celananya di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Hukumannya disebutkan hanyalah satu. Lalu hukumannya bukan pada seluruh badan, hanya pada kaki yang diancam neraka karena celana pada kakinyalah yang menyelisihi perintah Rasul. Yang tepat, menjulurkan atau menurunkan celana di bawah mata kaki dengan sombong ataukah tidak tetap dihukumi haram. Bahkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Karena dosa besar menurut para ulama adalah setiap dosa yang Allah tetapkan hukuman khusus padanya. Intinya, isbal tanpa kesombongan tetap diancam dengan neraka. Berarti ada hukuman khusus yang dikenakan. Sedangkan jika menurunkan celana tersebut dari mata kaki dengan sombong, terkena empat hukuman, yaitu di hari kiamat, Allah tidak mau berbicara, Allah tidak akan memandangnya, Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksa yang pedih. (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4: 286-287). Pembahasan di atas sudah dijelaskan dalam buku Penulis “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” terbitan Pustaka Muslim (cetakan kedua, 2014). Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Pesantren DS Warak, Girisekar, Panggang, 13 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 Whatsapp: +62 8222 604 2114 Blackberry: 2A04EA0F Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Info selengkapnya ada di: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris Tagsadab pakaian isbal


Kenapa engkau tidak mengangkat celanamu saja dari menutupi mata kaki? Ia pun menjawab, “Abu Bakr saja masih berpakaian isbal!” Disebutkan dalam Shahih Bukhari, عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ ثَوْبِى يَسْتَرْخِى إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ .فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ » Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat.” Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku selalu memperhatikannya.” “Engkau bukan melakukannya karena sombong”, komentar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr. (HR. Bukhari no. 3655) Bagaimana jika ada yang berdalil dengan perbuatan Abu Bakr di atas bahwa ia tidak menjulurkan celananya karena sombong? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah mendapat pertanyaan semacam itu, lalu beliau memberikan jawaban sebagai berikut. Adapun yang berdalil dengan hadits Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, maka kami katakan tidak ada baginya hujjah (pembela atau dalil) ditinjau dari dua sisi. Pertama, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya salah satu ujung sarungku biasa melorot kecuali jika aku menjaga dengan seksama.” Maka ini bukan berarti dia melorotkan (menjulurkan) sarungnya dengan sengaja karena kemauan dia. Namun sarungnya tersebut melorot, akan tetapi beliau selalu menjaganya. Orang-orang yang isbal (menjulurkan celana hingga di bawah mata kaki) biasa menganggap bahwa mereka tidaklah menjulurkan pakaian mereka karena maksud sombong. Kami katakan kepada orang semacam ini: Jika kalian maksudkan menjulurkan celana hingga berada di bawah mata kaki tanpa bermaksud sombong, maka bagian yang melorot tersebut akan disiksa di neraka. Namun jika kalian menjulurkan celana tersebut dengan sombong, maka kalian akan disiksa dengan azab (siksaan) yang lebih pedih daripada itu yaitu Allah tidak akan berbicara dengan kalian pada hari kiamat, tidak akan melihat kalian, tidak akan menyucikan kalian dan bagi kalian siksaan yang berat. Kedua, sesungguhnya Abu Bakr sudah diberi tazkiyah (rekomendasi atau penilaian baik) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sudah diakui bahwa Abu Bakr tidaklah melakukannya karena sombong. Lalu apakah di antara mereka yang berperilaku seperti di atas (dengan menjulurkan celana dan tidak bermaksud sombong -pen) sudah mendapatkan tazkiyah dan syahadah (rekomendasi)?! Akan tetapi setan membuka jalan untuk sebagian orang agar mengikuti ayat atau hadits yang samar (dalam pandangan mereka -pen) lalu ayat atau hadits tersebut digunakan untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Allah-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Allah kehendaki. Kita memohon kepada Allah agar mendapatkan petunjuk dan ampunan. (Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam, hal. 547-548). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, orang yang menjulurkan celana di bawah mata kaki bukan dengan maksud sombong masih lebih ringan dibanding yang niatannya sombong. Karena dalam hadits disebutkan, siapa saja yang celananya di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Hukumannya disebutkan hanyalah satu. Lalu hukumannya bukan pada seluruh badan, hanya pada kaki yang diancam neraka karena celana pada kakinyalah yang menyelisihi perintah Rasul. Yang tepat, menjulurkan atau menurunkan celana di bawah mata kaki dengan sombong ataukah tidak tetap dihukumi haram. Bahkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Karena dosa besar menurut para ulama adalah setiap dosa yang Allah tetapkan hukuman khusus padanya. Intinya, isbal tanpa kesombongan tetap diancam dengan neraka. Berarti ada hukuman khusus yang dikenakan. Sedangkan jika menurunkan celana tersebut dari mata kaki dengan sombong, terkena empat hukuman, yaitu di hari kiamat, Allah tidak mau berbicara, Allah tidak akan memandangnya, Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksa yang pedih. (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4: 286-287). Pembahasan di atas sudah dijelaskan dalam buku Penulis “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” terbitan Pustaka Muslim (cetakan kedua, 2014). Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Pesantren DS Warak, Girisekar, Panggang, 13 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi Anda yang minat dengan buku Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris, silakan pesan melalui: Costumer Service/ SMS: +62 852 00 171 222 Whatsapp: +62 8222 604 2114 Blackberry: 2A04EA0F Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Info selengkapnya ada di: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris Tagsadab pakaian isbal

Pengumuman Tentang Akun Resmi Firanda Andirja di Facebook

BismillahDikarenakan adanya orang yang membajak akun facebook kami dan menghapusnya maka kami sampaikan bahwa akun baru untuk Firanda Andirja di Facebook adalah sebagai berikut:https://www.facebook.com/firandaandirjaBagi ikhwah sekalian juga bisa mengikuti pembaruan facebook kami dengan mengklik tombol “ikuti” yang ada pada bagian sebelah kanan dari website www.firanda.com(Maaf fb Firanda Andirja tidak menerima pertemanan wanita, hanya menerima wanita sebagai pengikut)

Pengumuman Tentang Akun Resmi Firanda Andirja di Facebook

BismillahDikarenakan adanya orang yang membajak akun facebook kami dan menghapusnya maka kami sampaikan bahwa akun baru untuk Firanda Andirja di Facebook adalah sebagai berikut:https://www.facebook.com/firandaandirjaBagi ikhwah sekalian juga bisa mengikuti pembaruan facebook kami dengan mengklik tombol “ikuti” yang ada pada bagian sebelah kanan dari website www.firanda.com(Maaf fb Firanda Andirja tidak menerima pertemanan wanita, hanya menerima wanita sebagai pengikut)
BismillahDikarenakan adanya orang yang membajak akun facebook kami dan menghapusnya maka kami sampaikan bahwa akun baru untuk Firanda Andirja di Facebook adalah sebagai berikut:https://www.facebook.com/firandaandirjaBagi ikhwah sekalian juga bisa mengikuti pembaruan facebook kami dengan mengklik tombol “ikuti” yang ada pada bagian sebelah kanan dari website www.firanda.com(Maaf fb Firanda Andirja tidak menerima pertemanan wanita, hanya menerima wanita sebagai pengikut)


BismillahDikarenakan adanya orang yang membajak akun facebook kami dan menghapusnya maka kami sampaikan bahwa akun baru untuk Firanda Andirja di Facebook adalah sebagai berikut:https://www.facebook.com/firandaandirjaBagi ikhwah sekalian juga bisa mengikuti pembaruan facebook kami dengan mengklik tombol “ikuti” yang ada pada bagian sebelah kanan dari website www.firanda.com(Maaf fb Firanda Andirja tidak menerima pertemanan wanita, hanya menerima wanita sebagai pengikut)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 30

12MaySilsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 30May 12, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami ANAK DAN RUKUN ISLAM bag-5*   Setelah menjelaskan tentang zakat, maka berikutnya adalah rukun Islam kelima yaitu: 5. Berhaji ke Baitullah Berhaji adalah salah satu perintah agama Islam bagi pemeluknya yang mampu, diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Jika memang mampu dan memungkinkan, ajaklah anak-anak menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebab, pemandangan Ka’bah, Masjidil Haram, Shafa, Marwa dan semua syiar yang ada di tanah suci akan membekas dalam hati mereka. Demikian pula dengan kalimat talbiyah, doa orang yang berthawaf, shalatnya orang-orang yang bertaubat, lantunan dzikir tahlil dan yang lainnya di padang Arafah, serta permintaan orang-orang yang berhajat akan mempengaruhi jiwa anak, dengan izin Allah ta’ala. Lebih dari itu kita juga akan mendapat pahala dari haji mereka. Dikisahkan bahwa di musim haji ada seorang ibu mengangkat anaknya seraya berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أَلِهَذَا حَجٌّ؟” قَالَ: “نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ”. “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, ”Ya, dan engkau juga mendapat pahala”. HR. Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma. Ini bagi mereka yang mampu. Adapun untuk mereka yang kurang mampu, maka bisa mengenalkan anak tentang ibadah haji ini dengan berbagai sarana yang ada. Bisa menggunakan buku bergambar atau video atau yang lainnya. Tanamkan dalam jiwa anak kecintaan terhadap ibadah haji dan tanah suci Mekah. Bisa diawali dengan cara mengajarkan pada mereka saat shalat, bahwa mereka menghadap ke arah Ka’bah yang ada di Mekah. Jika ada rezeki lebih ajarkan mereka untuk menabung untuk menunaikan ibadah haji, sekalipun nominal uang yang dimilikinya kecil. Catatan penting: Haji anak kecil dianggap sah, sebagaimana disebutkan di atas. Hanya saja dia tidak dianggap telah menunaikan haji fardhu. Sehingga bila sudah baligh dan mampu, maka dia wajib menunaikan haji lagi. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari mazhab yang empat. Bahkan ada yang mengatakan sudah ijma’. Hukum tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أيُّمَا صَبِيِّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةً أُخْرَى” “Siapa saja anak kecil yang melakukan haji, kemudian dia baligh, maka wajib baginya untuk menunaikan haji lagi”. HR. Ibn Abi Syaibah dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, dan dinilai sahih oleh Ibn Hajar juga al-Albany. Jadi, umrah dan haji yang dilakukan anak yang belum baligh, dianggap ibadah sunah. Tidak dinilai sebagai haji atau umrah wajib baginya. Wallahu ta’ala a’lam. [1]   @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Rajab 1435 / 12 Mei 2014     * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 88-89) dengan banyak tambahan. [1] http://islamqa.info/id/36862 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 30

12MaySilsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 30May 12, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami ANAK DAN RUKUN ISLAM bag-5*   Setelah menjelaskan tentang zakat, maka berikutnya adalah rukun Islam kelima yaitu: 5. Berhaji ke Baitullah Berhaji adalah salah satu perintah agama Islam bagi pemeluknya yang mampu, diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Jika memang mampu dan memungkinkan, ajaklah anak-anak menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebab, pemandangan Ka’bah, Masjidil Haram, Shafa, Marwa dan semua syiar yang ada di tanah suci akan membekas dalam hati mereka. Demikian pula dengan kalimat talbiyah, doa orang yang berthawaf, shalatnya orang-orang yang bertaubat, lantunan dzikir tahlil dan yang lainnya di padang Arafah, serta permintaan orang-orang yang berhajat akan mempengaruhi jiwa anak, dengan izin Allah ta’ala. Lebih dari itu kita juga akan mendapat pahala dari haji mereka. Dikisahkan bahwa di musim haji ada seorang ibu mengangkat anaknya seraya berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أَلِهَذَا حَجٌّ؟” قَالَ: “نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ”. “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, ”Ya, dan engkau juga mendapat pahala”. HR. Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma. Ini bagi mereka yang mampu. Adapun untuk mereka yang kurang mampu, maka bisa mengenalkan anak tentang ibadah haji ini dengan berbagai sarana yang ada. Bisa menggunakan buku bergambar atau video atau yang lainnya. Tanamkan dalam jiwa anak kecintaan terhadap ibadah haji dan tanah suci Mekah. Bisa diawali dengan cara mengajarkan pada mereka saat shalat, bahwa mereka menghadap ke arah Ka’bah yang ada di Mekah. Jika ada rezeki lebih ajarkan mereka untuk menabung untuk menunaikan ibadah haji, sekalipun nominal uang yang dimilikinya kecil. Catatan penting: Haji anak kecil dianggap sah, sebagaimana disebutkan di atas. Hanya saja dia tidak dianggap telah menunaikan haji fardhu. Sehingga bila sudah baligh dan mampu, maka dia wajib menunaikan haji lagi. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari mazhab yang empat. Bahkan ada yang mengatakan sudah ijma’. Hukum tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أيُّمَا صَبِيِّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةً أُخْرَى” “Siapa saja anak kecil yang melakukan haji, kemudian dia baligh, maka wajib baginya untuk menunaikan haji lagi”. HR. Ibn Abi Syaibah dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, dan dinilai sahih oleh Ibn Hajar juga al-Albany. Jadi, umrah dan haji yang dilakukan anak yang belum baligh, dianggap ibadah sunah. Tidak dinilai sebagai haji atau umrah wajib baginya. Wallahu ta’ala a’lam. [1]   @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Rajab 1435 / 12 Mei 2014     * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 88-89) dengan banyak tambahan. [1] http://islamqa.info/id/36862 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
12MaySilsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 30May 12, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami ANAK DAN RUKUN ISLAM bag-5*   Setelah menjelaskan tentang zakat, maka berikutnya adalah rukun Islam kelima yaitu: 5. Berhaji ke Baitullah Berhaji adalah salah satu perintah agama Islam bagi pemeluknya yang mampu, diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Jika memang mampu dan memungkinkan, ajaklah anak-anak menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebab, pemandangan Ka’bah, Masjidil Haram, Shafa, Marwa dan semua syiar yang ada di tanah suci akan membekas dalam hati mereka. Demikian pula dengan kalimat talbiyah, doa orang yang berthawaf, shalatnya orang-orang yang bertaubat, lantunan dzikir tahlil dan yang lainnya di padang Arafah, serta permintaan orang-orang yang berhajat akan mempengaruhi jiwa anak, dengan izin Allah ta’ala. Lebih dari itu kita juga akan mendapat pahala dari haji mereka. Dikisahkan bahwa di musim haji ada seorang ibu mengangkat anaknya seraya berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أَلِهَذَا حَجٌّ؟” قَالَ: “نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ”. “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, ”Ya, dan engkau juga mendapat pahala”. HR. Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma. Ini bagi mereka yang mampu. Adapun untuk mereka yang kurang mampu, maka bisa mengenalkan anak tentang ibadah haji ini dengan berbagai sarana yang ada. Bisa menggunakan buku bergambar atau video atau yang lainnya. Tanamkan dalam jiwa anak kecintaan terhadap ibadah haji dan tanah suci Mekah. Bisa diawali dengan cara mengajarkan pada mereka saat shalat, bahwa mereka menghadap ke arah Ka’bah yang ada di Mekah. Jika ada rezeki lebih ajarkan mereka untuk menabung untuk menunaikan ibadah haji, sekalipun nominal uang yang dimilikinya kecil. Catatan penting: Haji anak kecil dianggap sah, sebagaimana disebutkan di atas. Hanya saja dia tidak dianggap telah menunaikan haji fardhu. Sehingga bila sudah baligh dan mampu, maka dia wajib menunaikan haji lagi. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari mazhab yang empat. Bahkan ada yang mengatakan sudah ijma’. Hukum tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أيُّمَا صَبِيِّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةً أُخْرَى” “Siapa saja anak kecil yang melakukan haji, kemudian dia baligh, maka wajib baginya untuk menunaikan haji lagi”. HR. Ibn Abi Syaibah dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, dan dinilai sahih oleh Ibn Hajar juga al-Albany. Jadi, umrah dan haji yang dilakukan anak yang belum baligh, dianggap ibadah sunah. Tidak dinilai sebagai haji atau umrah wajib baginya. Wallahu ta’ala a’lam. [1]   @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Rajab 1435 / 12 Mei 2014     * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 88-89) dengan banyak tambahan. [1] http://islamqa.info/id/36862 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


12MaySilsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 30May 12, 2014Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami ANAK DAN RUKUN ISLAM bag-5*   Setelah menjelaskan tentang zakat, maka berikutnya adalah rukun Islam kelima yaitu: 5. Berhaji ke Baitullah Berhaji adalah salah satu perintah agama Islam bagi pemeluknya yang mampu, diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Jika memang mampu dan memungkinkan, ajaklah anak-anak menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebab, pemandangan Ka’bah, Masjidil Haram, Shafa, Marwa dan semua syiar yang ada di tanah suci akan membekas dalam hati mereka. Demikian pula dengan kalimat talbiyah, doa orang yang berthawaf, shalatnya orang-orang yang bertaubat, lantunan dzikir tahlil dan yang lainnya di padang Arafah, serta permintaan orang-orang yang berhajat akan mempengaruhi jiwa anak, dengan izin Allah ta’ala. Lebih dari itu kita juga akan mendapat pahala dari haji mereka. Dikisahkan bahwa di musim haji ada seorang ibu mengangkat anaknya seraya berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أَلِهَذَا حَجٌّ؟” قَالَ: “نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ”. “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, ”Ya, dan engkau juga mendapat pahala”. HR. Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma. Ini bagi mereka yang mampu. Adapun untuk mereka yang kurang mampu, maka bisa mengenalkan anak tentang ibadah haji ini dengan berbagai sarana yang ada. Bisa menggunakan buku bergambar atau video atau yang lainnya. Tanamkan dalam jiwa anak kecintaan terhadap ibadah haji dan tanah suci Mekah. Bisa diawali dengan cara mengajarkan pada mereka saat shalat, bahwa mereka menghadap ke arah Ka’bah yang ada di Mekah. Jika ada rezeki lebih ajarkan mereka untuk menabung untuk menunaikan ibadah haji, sekalipun nominal uang yang dimilikinya kecil. Catatan penting: Haji anak kecil dianggap sah, sebagaimana disebutkan di atas. Hanya saja dia tidak dianggap telah menunaikan haji fardhu. Sehingga bila sudah baligh dan mampu, maka dia wajib menunaikan haji lagi. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari mazhab yang empat. Bahkan ada yang mengatakan sudah ijma’. Hukum tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “أيُّمَا صَبِيِّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةً أُخْرَى” “Siapa saja anak kecil yang melakukan haji, kemudian dia baligh, maka wajib baginya untuk menunaikan haji lagi”. HR. Ibn Abi Syaibah dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, dan dinilai sahih oleh Ibn Hajar juga al-Albany. Jadi, umrah dan haji yang dilakukan anak yang belum baligh, dianggap ibadah sunah. Tidak dinilai sebagai haji atau umrah wajib baginya. Wallahu ta’ala a’lam. [1]   @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Rajab 1435 / 12 Mei 2014     * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 88-89) dengan banyak tambahan. [1] http://islamqa.info/id/36862 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Keliru dalam Tawakkal

Kita pernah melihat segolongan orang yang berniat untuk berdakwah lantas ia pun meninggalkan anak dan istrinya. Karena tawakkalnya yang tinggi, ia pun hanya membekali keluarganya dengan indomie dan beberapa makanan yang ia anggap cukup ketika ia meninggalkan mereka selama seminggu. Malah yang terjadi, keluarga yang ditinggal mencari-cari uluran tangan orang lain karena kelalaian dari suaminya sendiri. Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Sekelompok orang mengklaim bahwa mereka adalah orang yang memiliki tawakkal yang tinggi. Mereka pun pergi keluar (bersafar) tanpa membawa bekal apa-apa. Padahal hal itu adalah suatu kesalahan dalam memahami tawakkal. Ada seseorang yang pernah berkata pada Imam Ahmad bin Hambal, “Aku ingin pergi ke Makkah dengan bermodalkan tawakkal saja tanpa berbekal.” Imam Ahmad lantas berkata padanya, “Kamu pergi saja tanpa membawa kafilah.” Ia pun menjawab, “Tidak, aku tetap pergi bersama mereka (kafilah).” Imam Ahmad pun menjawab, فَعَلَى جِرَابِ النَّاسِ تَوَكَّلْتَ! “Apakah engkau hanya mau menggantungkan diri (tawakkal) pada bekal orang lain?!” Kita memohon kepada Allah, moga diluruskan dari pemahaman yang keliru.” (Talbisul Iblis karya Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 153) Intinya, tawakkal bukanlah hanya sekedar pasrah. Di dalam tawakkal harus ada melakukan usaha yang benar dan masuk akal. Sahl bin ‘Abdillah At Tusturi berkata, “Siapa yang mencela tawakkal, maka ia telah cacat dalam iman. Siapa yang enggan berusaha, maka ia telah mencacati logikanya.”  (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 312) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di malam hari di Pesantren Darush Sholihin, 12 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagstawakkal

Keliru dalam Tawakkal

Kita pernah melihat segolongan orang yang berniat untuk berdakwah lantas ia pun meninggalkan anak dan istrinya. Karena tawakkalnya yang tinggi, ia pun hanya membekali keluarganya dengan indomie dan beberapa makanan yang ia anggap cukup ketika ia meninggalkan mereka selama seminggu. Malah yang terjadi, keluarga yang ditinggal mencari-cari uluran tangan orang lain karena kelalaian dari suaminya sendiri. Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Sekelompok orang mengklaim bahwa mereka adalah orang yang memiliki tawakkal yang tinggi. Mereka pun pergi keluar (bersafar) tanpa membawa bekal apa-apa. Padahal hal itu adalah suatu kesalahan dalam memahami tawakkal. Ada seseorang yang pernah berkata pada Imam Ahmad bin Hambal, “Aku ingin pergi ke Makkah dengan bermodalkan tawakkal saja tanpa berbekal.” Imam Ahmad lantas berkata padanya, “Kamu pergi saja tanpa membawa kafilah.” Ia pun menjawab, “Tidak, aku tetap pergi bersama mereka (kafilah).” Imam Ahmad pun menjawab, فَعَلَى جِرَابِ النَّاسِ تَوَكَّلْتَ! “Apakah engkau hanya mau menggantungkan diri (tawakkal) pada bekal orang lain?!” Kita memohon kepada Allah, moga diluruskan dari pemahaman yang keliru.” (Talbisul Iblis karya Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 153) Intinya, tawakkal bukanlah hanya sekedar pasrah. Di dalam tawakkal harus ada melakukan usaha yang benar dan masuk akal. Sahl bin ‘Abdillah At Tusturi berkata, “Siapa yang mencela tawakkal, maka ia telah cacat dalam iman. Siapa yang enggan berusaha, maka ia telah mencacati logikanya.”  (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 312) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di malam hari di Pesantren Darush Sholihin, 12 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagstawakkal
Kita pernah melihat segolongan orang yang berniat untuk berdakwah lantas ia pun meninggalkan anak dan istrinya. Karena tawakkalnya yang tinggi, ia pun hanya membekali keluarganya dengan indomie dan beberapa makanan yang ia anggap cukup ketika ia meninggalkan mereka selama seminggu. Malah yang terjadi, keluarga yang ditinggal mencari-cari uluran tangan orang lain karena kelalaian dari suaminya sendiri. Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Sekelompok orang mengklaim bahwa mereka adalah orang yang memiliki tawakkal yang tinggi. Mereka pun pergi keluar (bersafar) tanpa membawa bekal apa-apa. Padahal hal itu adalah suatu kesalahan dalam memahami tawakkal. Ada seseorang yang pernah berkata pada Imam Ahmad bin Hambal, “Aku ingin pergi ke Makkah dengan bermodalkan tawakkal saja tanpa berbekal.” Imam Ahmad lantas berkata padanya, “Kamu pergi saja tanpa membawa kafilah.” Ia pun menjawab, “Tidak, aku tetap pergi bersama mereka (kafilah).” Imam Ahmad pun menjawab, فَعَلَى جِرَابِ النَّاسِ تَوَكَّلْتَ! “Apakah engkau hanya mau menggantungkan diri (tawakkal) pada bekal orang lain?!” Kita memohon kepada Allah, moga diluruskan dari pemahaman yang keliru.” (Talbisul Iblis karya Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 153) Intinya, tawakkal bukanlah hanya sekedar pasrah. Di dalam tawakkal harus ada melakukan usaha yang benar dan masuk akal. Sahl bin ‘Abdillah At Tusturi berkata, “Siapa yang mencela tawakkal, maka ia telah cacat dalam iman. Siapa yang enggan berusaha, maka ia telah mencacati logikanya.”  (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 312) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di malam hari di Pesantren Darush Sholihin, 12 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagstawakkal


Kita pernah melihat segolongan orang yang berniat untuk berdakwah lantas ia pun meninggalkan anak dan istrinya. Karena tawakkalnya yang tinggi, ia pun hanya membekali keluarganya dengan indomie dan beberapa makanan yang ia anggap cukup ketika ia meninggalkan mereka selama seminggu. Malah yang terjadi, keluarga yang ditinggal mencari-cari uluran tangan orang lain karena kelalaian dari suaminya sendiri. Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Sekelompok orang mengklaim bahwa mereka adalah orang yang memiliki tawakkal yang tinggi. Mereka pun pergi keluar (bersafar) tanpa membawa bekal apa-apa. Padahal hal itu adalah suatu kesalahan dalam memahami tawakkal. Ada seseorang yang pernah berkata pada Imam Ahmad bin Hambal, “Aku ingin pergi ke Makkah dengan bermodalkan tawakkal saja tanpa berbekal.” Imam Ahmad lantas berkata padanya, “Kamu pergi saja tanpa membawa kafilah.” Ia pun menjawab, “Tidak, aku tetap pergi bersama mereka (kafilah).” Imam Ahmad pun menjawab, فَعَلَى جِرَابِ النَّاسِ تَوَكَّلْتَ! “Apakah engkau hanya mau menggantungkan diri (tawakkal) pada bekal orang lain?!” Kita memohon kepada Allah, moga diluruskan dari pemahaman yang keliru.” (Talbisul Iblis karya Ibnul Jauzi, dinukil dari Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 153) Intinya, tawakkal bukanlah hanya sekedar pasrah. Di dalam tawakkal harus ada melakukan usaha yang benar dan masuk akal. Sahl bin ‘Abdillah At Tusturi berkata, “Siapa yang mencela tawakkal, maka ia telah cacat dalam iman. Siapa yang enggan berusaha, maka ia telah mencacati logikanya.”  (Al Muntaqo An Nafis min Talbisil Iblis, hal. 312) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di malam hari di Pesantren Darush Sholihin, 12 Rajab 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagstawakkal

Buku Panduan Ramadhan 1435 H (Gratis)

Telah hadir kembali buku Panduan Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (pengasuh Rumaysho.Com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id). Buku ini akan dibagikan gratis ke tengah-tengah kaum muslimin sekitar pertengahan Juni 2014 mendatang (sebelum Ramadhan). Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut dan memberikan donasi dalam penerbitan buku ini, silakan baca info berikut. Download buku tersebut juga bisa didapatkan dalam halaman ini. Buku Panduan Ramadhan tahun ini berbeda di beberapa bagian karena penulis sengaja merubah urutan bab dan dibuat lebih sederhana, ditambah dengan tulisan Arab (berharokat). Buku ini akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku gratis ini telah tercetak sebanyak 5 kali, yaitu: Cetakan pertama pada tahun 2009, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan kedua pada tahun 2010, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan ketiga pada tahun 2011, sejumlah 10.000 eksemplar. Cetakan keempat pada tahun 2012, sejumlah 12.000 eksemplar. Cetakan kelima pada tahun 2013, sejumlah 13.000 eksemplar. Buku-buku tersebut telah didistribusikan ke masjid-masjid, mushola, sekolah, kampus, perusahaan, majlis taklim pengajian, dll. Pada cetakan keenam ini, difokuskan distribusi buku pada kaum muslimin yang belum mendapatkan buku ini pada cetakan-cetakan sebelumnya. Buku ini diharapkan dapat didistribusikan sebelum bulan Ramadhan 1435 H. Direncanakan buku ini dapat mulai dicetak pada 1 Juni 2014 sehingga diperkirakan selesai cetak pada 15 Juni 2014. Untuk memperlancar proses cetak, dimohon agar donasi yang diberikan khusus buku panduan ramadhan telah diterima sebelum 1 Juni 2014. Sebagai gambaran umum, biaya produksi dan distribusi diperkirakan sebesar Rp. 8.000,-/eksemplar. Cara Donasi Bagi donatur yang ingin memberikan bantuan dalam kegiatan penyaluran Buku Panduan Ramadhan 1435 H / 2014 M bisa ditransfer ke nomor rekening YPIA sebagai berikut: Bank BNI Syariah dengan no. Rekening 0241913801 Atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Bank Muamalat dengan no. Rekening 5350002594 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta Bank Syariah Mandiri dengan no. Rekening 7031571329 a.n. YPIA Yogyakarta Bank CIMB Niaga Syariah dengan no. Rekening 508.01.00028.00.0 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Donatur yang telah menyalurkan bantuan dimohon memberikan sms konfirmasi ke no. 0857.4722.3366 (Bidang Donasi Dakwah YPIA) dengan format konfirmasi sbb: Nama#Alamat#Tanggal donasi#jumlah donasi#tujuan donasi#Rekening Tujuan Donasi# Contoh: Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no 10, Solo#1 mei 2012#Rp.1.000.000#Buku Panduan#BSM# Cara Pemesanan Buku Bagi donatur yang ingin mendapatkan buku panduan ini dengan cara memesan ke no. 0852.280.66686 (Syarif Mustaqim). Jumlah buku maksimal yang diberikan sesuai dengan jatah yang telah ditentukan. Semoga Allah memberkahi rezeki para muhsinin sekalian yang telah membantu dalam donasi ini. — Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)   Download: Panduan Ramadhan 1435 H – Muhammad Abduh Tuasikal – revisi 12 Rajab 1435 H   Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah aplikasi buku terbaru donasi ramadhan

Buku Panduan Ramadhan 1435 H (Gratis)

Telah hadir kembali buku Panduan Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (pengasuh Rumaysho.Com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id). Buku ini akan dibagikan gratis ke tengah-tengah kaum muslimin sekitar pertengahan Juni 2014 mendatang (sebelum Ramadhan). Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut dan memberikan donasi dalam penerbitan buku ini, silakan baca info berikut. Download buku tersebut juga bisa didapatkan dalam halaman ini. Buku Panduan Ramadhan tahun ini berbeda di beberapa bagian karena penulis sengaja merubah urutan bab dan dibuat lebih sederhana, ditambah dengan tulisan Arab (berharokat). Buku ini akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku gratis ini telah tercetak sebanyak 5 kali, yaitu: Cetakan pertama pada tahun 2009, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan kedua pada tahun 2010, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan ketiga pada tahun 2011, sejumlah 10.000 eksemplar. Cetakan keempat pada tahun 2012, sejumlah 12.000 eksemplar. Cetakan kelima pada tahun 2013, sejumlah 13.000 eksemplar. Buku-buku tersebut telah didistribusikan ke masjid-masjid, mushola, sekolah, kampus, perusahaan, majlis taklim pengajian, dll. Pada cetakan keenam ini, difokuskan distribusi buku pada kaum muslimin yang belum mendapatkan buku ini pada cetakan-cetakan sebelumnya. Buku ini diharapkan dapat didistribusikan sebelum bulan Ramadhan 1435 H. Direncanakan buku ini dapat mulai dicetak pada 1 Juni 2014 sehingga diperkirakan selesai cetak pada 15 Juni 2014. Untuk memperlancar proses cetak, dimohon agar donasi yang diberikan khusus buku panduan ramadhan telah diterima sebelum 1 Juni 2014. Sebagai gambaran umum, biaya produksi dan distribusi diperkirakan sebesar Rp. 8.000,-/eksemplar. Cara Donasi Bagi donatur yang ingin memberikan bantuan dalam kegiatan penyaluran Buku Panduan Ramadhan 1435 H / 2014 M bisa ditransfer ke nomor rekening YPIA sebagai berikut: Bank BNI Syariah dengan no. Rekening 0241913801 Atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Bank Muamalat dengan no. Rekening 5350002594 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta Bank Syariah Mandiri dengan no. Rekening 7031571329 a.n. YPIA Yogyakarta Bank CIMB Niaga Syariah dengan no. Rekening 508.01.00028.00.0 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Donatur yang telah menyalurkan bantuan dimohon memberikan sms konfirmasi ke no. 0857.4722.3366 (Bidang Donasi Dakwah YPIA) dengan format konfirmasi sbb: Nama#Alamat#Tanggal donasi#jumlah donasi#tujuan donasi#Rekening Tujuan Donasi# Contoh: Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no 10, Solo#1 mei 2012#Rp.1.000.000#Buku Panduan#BSM# Cara Pemesanan Buku Bagi donatur yang ingin mendapatkan buku panduan ini dengan cara memesan ke no. 0852.280.66686 (Syarif Mustaqim). Jumlah buku maksimal yang diberikan sesuai dengan jatah yang telah ditentukan. Semoga Allah memberkahi rezeki para muhsinin sekalian yang telah membantu dalam donasi ini. — Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)   Download: Panduan Ramadhan 1435 H – Muhammad Abduh Tuasikal – revisi 12 Rajab 1435 H   Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah aplikasi buku terbaru donasi ramadhan
Telah hadir kembali buku Panduan Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (pengasuh Rumaysho.Com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id). Buku ini akan dibagikan gratis ke tengah-tengah kaum muslimin sekitar pertengahan Juni 2014 mendatang (sebelum Ramadhan). Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut dan memberikan donasi dalam penerbitan buku ini, silakan baca info berikut. Download buku tersebut juga bisa didapatkan dalam halaman ini. Buku Panduan Ramadhan tahun ini berbeda di beberapa bagian karena penulis sengaja merubah urutan bab dan dibuat lebih sederhana, ditambah dengan tulisan Arab (berharokat). Buku ini akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku gratis ini telah tercetak sebanyak 5 kali, yaitu: Cetakan pertama pada tahun 2009, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan kedua pada tahun 2010, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan ketiga pada tahun 2011, sejumlah 10.000 eksemplar. Cetakan keempat pada tahun 2012, sejumlah 12.000 eksemplar. Cetakan kelima pada tahun 2013, sejumlah 13.000 eksemplar. Buku-buku tersebut telah didistribusikan ke masjid-masjid, mushola, sekolah, kampus, perusahaan, majlis taklim pengajian, dll. Pada cetakan keenam ini, difokuskan distribusi buku pada kaum muslimin yang belum mendapatkan buku ini pada cetakan-cetakan sebelumnya. Buku ini diharapkan dapat didistribusikan sebelum bulan Ramadhan 1435 H. Direncanakan buku ini dapat mulai dicetak pada 1 Juni 2014 sehingga diperkirakan selesai cetak pada 15 Juni 2014. Untuk memperlancar proses cetak, dimohon agar donasi yang diberikan khusus buku panduan ramadhan telah diterima sebelum 1 Juni 2014. Sebagai gambaran umum, biaya produksi dan distribusi diperkirakan sebesar Rp. 8.000,-/eksemplar. Cara Donasi Bagi donatur yang ingin memberikan bantuan dalam kegiatan penyaluran Buku Panduan Ramadhan 1435 H / 2014 M bisa ditransfer ke nomor rekening YPIA sebagai berikut: Bank BNI Syariah dengan no. Rekening 0241913801 Atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Bank Muamalat dengan no. Rekening 5350002594 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta Bank Syariah Mandiri dengan no. Rekening 7031571329 a.n. YPIA Yogyakarta Bank CIMB Niaga Syariah dengan no. Rekening 508.01.00028.00.0 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Donatur yang telah menyalurkan bantuan dimohon memberikan sms konfirmasi ke no. 0857.4722.3366 (Bidang Donasi Dakwah YPIA) dengan format konfirmasi sbb: Nama#Alamat#Tanggal donasi#jumlah donasi#tujuan donasi#Rekening Tujuan Donasi# Contoh: Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no 10, Solo#1 mei 2012#Rp.1.000.000#Buku Panduan#BSM# Cara Pemesanan Buku Bagi donatur yang ingin mendapatkan buku panduan ini dengan cara memesan ke no. 0852.280.66686 (Syarif Mustaqim). Jumlah buku maksimal yang diberikan sesuai dengan jatah yang telah ditentukan. Semoga Allah memberkahi rezeki para muhsinin sekalian yang telah membantu dalam donasi ini. — Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)   Download: Panduan Ramadhan 1435 H – Muhammad Abduh Tuasikal – revisi 12 Rajab 1435 H   Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah aplikasi buku terbaru donasi ramadhan


Telah hadir kembali buku Panduan Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (pengasuh Rumaysho.Com dan Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id). Buku ini akan dibagikan gratis ke tengah-tengah kaum muslimin sekitar pertengahan Juni 2014 mendatang (sebelum Ramadhan). Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut dan memberikan donasi dalam penerbitan buku ini, silakan baca info berikut. Download buku tersebut juga bisa didapatkan dalam halaman ini. Buku Panduan Ramadhan tahun ini berbeda di beberapa bagian karena penulis sengaja merubah urutan bab dan dibuat lebih sederhana, ditambah dengan tulisan Arab (berharokat). Buku ini akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) sebanyak 15.000 eksemplar dengan rinician kurang lebih 152 halaman ukuran A5 untuk setiap eksemplarnya. Buku gratis ini telah tercetak sebanyak 5 kali, yaitu: Cetakan pertama pada tahun 2009, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan kedua pada tahun 2010, sejumlah 4.000 eksemplar. Cetakan ketiga pada tahun 2011, sejumlah 10.000 eksemplar. Cetakan keempat pada tahun 2012, sejumlah 12.000 eksemplar. Cetakan kelima pada tahun 2013, sejumlah 13.000 eksemplar. Buku-buku tersebut telah didistribusikan ke masjid-masjid, mushola, sekolah, kampus, perusahaan, majlis taklim pengajian, dll. Pada cetakan keenam ini, difokuskan distribusi buku pada kaum muslimin yang belum mendapatkan buku ini pada cetakan-cetakan sebelumnya. Buku ini diharapkan dapat didistribusikan sebelum bulan Ramadhan 1435 H. Direncanakan buku ini dapat mulai dicetak pada 1 Juni 2014 sehingga diperkirakan selesai cetak pada 15 Juni 2014. Untuk memperlancar proses cetak, dimohon agar donasi yang diberikan khusus buku panduan ramadhan telah diterima sebelum 1 Juni 2014. Sebagai gambaran umum, biaya produksi dan distribusi diperkirakan sebesar Rp. 8.000,-/eksemplar. Cara Donasi Bagi donatur yang ingin memberikan bantuan dalam kegiatan penyaluran Buku Panduan Ramadhan 1435 H / 2014 M bisa ditransfer ke nomor rekening YPIA sebagai berikut: Bank BNI Syariah dengan no. Rekening 0241913801 Atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Bank Muamalat dengan no. Rekening 5350002594 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta Bank Syariah Mandiri dengan no. Rekening 7031571329 a.n. YPIA Yogyakarta Bank CIMB Niaga Syariah dengan no. Rekening 508.01.00028.00.0 a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Donatur yang telah menyalurkan bantuan dimohon memberikan sms konfirmasi ke no. 0857.4722.3366 (Bidang Donasi Dakwah YPIA) dengan format konfirmasi sbb: Nama#Alamat#Tanggal donasi#jumlah donasi#tujuan donasi#Rekening Tujuan Donasi# Contoh: Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no 10, Solo#1 mei 2012#Rp.1.000.000#Buku Panduan#BSM# Cara Pemesanan Buku Bagi donatur yang ingin mendapatkan buku panduan ini dengan cara memesan ke no. 0852.280.66686 (Syarif Mustaqim). Jumlah buku maksimal yang diberikan sesuai dengan jatah yang telah ditentukan. Semoga Allah memberkahi rezeki para muhsinin sekalian yang telah membantu dalam donasi ini. — Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)   Download: Panduan Ramadhan 1435 H – Muhammad Abduh Tuasikal – revisi 12 Rajab 1435 H   Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah aplikasi buku terbaru donasi ramadhan

Syarat Wajib Puasa

Jika seseorang mendapatkan syarat wajib puasa, ia harus menjalani puasa. Jika sengaja meninggalkannya, maka terjerumus dalam dosa besar. Syarat wajib puasa yang biasa disebutkan oleh para ulama adalah: 1- Sehat, tidak dalam keadaan sakit. 2-Menetap, tidak dalam keadaan bersafar. Dalil kedua syarat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). 3- Suci dari haidh dan nifas. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“[1] Wanita haidh dan nifas diharamkan puasa dan punya kewajiban qadha’ ketika suci.[2] [Tulisan ini dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Muslim no. 335. [2] Lihat Manhajus Salikin, hal. 112. — 12 Rajab 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshukum puasa

Syarat Wajib Puasa

Jika seseorang mendapatkan syarat wajib puasa, ia harus menjalani puasa. Jika sengaja meninggalkannya, maka terjerumus dalam dosa besar. Syarat wajib puasa yang biasa disebutkan oleh para ulama adalah: 1- Sehat, tidak dalam keadaan sakit. 2-Menetap, tidak dalam keadaan bersafar. Dalil kedua syarat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). 3- Suci dari haidh dan nifas. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“[1] Wanita haidh dan nifas diharamkan puasa dan punya kewajiban qadha’ ketika suci.[2] [Tulisan ini dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Muslim no. 335. [2] Lihat Manhajus Salikin, hal. 112. — 12 Rajab 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshukum puasa
Jika seseorang mendapatkan syarat wajib puasa, ia harus menjalani puasa. Jika sengaja meninggalkannya, maka terjerumus dalam dosa besar. Syarat wajib puasa yang biasa disebutkan oleh para ulama adalah: 1- Sehat, tidak dalam keadaan sakit. 2-Menetap, tidak dalam keadaan bersafar. Dalil kedua syarat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). 3- Suci dari haidh dan nifas. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“[1] Wanita haidh dan nifas diharamkan puasa dan punya kewajiban qadha’ ketika suci.[2] [Tulisan ini dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Muslim no. 335. [2] Lihat Manhajus Salikin, hal. 112. — 12 Rajab 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshukum puasa


Jika seseorang mendapatkan syarat wajib puasa, ia harus menjalani puasa. Jika sengaja meninggalkannya, maka terjerumus dalam dosa besar. Syarat wajib puasa yang biasa disebutkan oleh para ulama adalah: 1- Sehat, tidak dalam keadaan sakit. 2-Menetap, tidak dalam keadaan bersafar. Dalil kedua syarat ini adalah firman Allah Ta’ala, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). 3- Suci dari haidh dan nifas. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“[1] Wanita haidh dan nifas diharamkan puasa dan punya kewajiban qadha’ ketika suci.[2] [Tulisan ini dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Muslim no. 335. [2] Lihat Manhajus Salikin, hal. 112. — 12 Rajab 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan satu paket buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berisi 6 buku dengan format: Paket 6 buku# nama pemesan# alamat# no HP# jumlah paket, lalu kirim sms ke 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F. Harga paket Rp.80.000,- untuk Pulau Jawa, sudah termasuk ongkos kirim. Salah satu buku yang terdapat dalam paket tersebut adalah buku “Kenapa Masih Enggan Shalat?”. Info selengkapnya di Ruwaifi.Com. Tagshukum puasa

Sudah Berapa Lamakah Islam-mu?

Asy-Syaikh DR Sa’ad Al-Khotslan hafizohullah berkata : Sa’ad bin Mu’aadz radhiallahu ‘anhu masuk Islam tatkala berumur 31 tahun dan meninggal tatkala berumur 37 tahun, yaitu beliau hanya menjalankan Islam hanya 6 tahun saja, akan tetapi tatkala beliau meninggal maka bergetarlah ‘Arsy Allah karena kematian beliau. Yang menjadi patokan bukanlah panjangnya umur seseorang akan tetapi bagaimanakah ia mengisi umurnya tersebut.

Sudah Berapa Lamakah Islam-mu?

Asy-Syaikh DR Sa’ad Al-Khotslan hafizohullah berkata : Sa’ad bin Mu’aadz radhiallahu ‘anhu masuk Islam tatkala berumur 31 tahun dan meninggal tatkala berumur 37 tahun, yaitu beliau hanya menjalankan Islam hanya 6 tahun saja, akan tetapi tatkala beliau meninggal maka bergetarlah ‘Arsy Allah karena kematian beliau. Yang menjadi patokan bukanlah panjangnya umur seseorang akan tetapi bagaimanakah ia mengisi umurnya tersebut.
Asy-Syaikh DR Sa’ad Al-Khotslan hafizohullah berkata : Sa’ad bin Mu’aadz radhiallahu ‘anhu masuk Islam tatkala berumur 31 tahun dan meninggal tatkala berumur 37 tahun, yaitu beliau hanya menjalankan Islam hanya 6 tahun saja, akan tetapi tatkala beliau meninggal maka bergetarlah ‘Arsy Allah karena kematian beliau. Yang menjadi patokan bukanlah panjangnya umur seseorang akan tetapi bagaimanakah ia mengisi umurnya tersebut.


Asy-Syaikh DR Sa’ad Al-Khotslan hafizohullah berkata : Sa’ad bin Mu’aadz radhiallahu ‘anhu masuk Islam tatkala berumur 31 tahun dan meninggal tatkala berumur 37 tahun, yaitu beliau hanya menjalankan Islam hanya 6 tahun saja, akan tetapi tatkala beliau meninggal maka bergetarlah ‘Arsy Allah karena kematian beliau. Yang menjadi patokan bukanlah panjangnya umur seseorang akan tetapi bagaimanakah ia mengisi umurnya tersebut.
Prev     Next