Nikmat Keamanan dan Jalan Untuk Menggapainya

18OctNikmat Keamanan dan Jalan Untuk MenggapainyaOctober 18, 2014Khutbah Jumat Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Nikmat keamanan merupakan salah satu karunia Allah ta’ala terbesar bagi umat manusia. Sebab rasa aman merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Tidak mungkin suatu umat atau sebuah bangsa hidup dengan baik, tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya. Keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati. Begitu urgennya faktor keamanan dalam kehidupan kita, sampai-sampai dalam beberapa kesempatan dia didahulukan atas faktor rizki. Mari kita cermati doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau meninggalkan keluarganya di sebuah lembah yang gersang, “رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ…”. Artinya: “Ya Rabbi, jadikanlah (tempat) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. QS. Al-Baqarah: 126. Lihatlah bagaimana permintaan akan keamanan didahulukan atas permintaan akan rizki! Sebab seorang insan bisa saja hidup dengan rizki yang serba kekurangan, jika ia merasa aman. Namun sebaliknya ia tidak bisa hidup dengan baik, apabila senantiasa merasa takut, walaupun ia memiliki kekayaan sebesar dunia sekalipun![1] Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berkat rasa aman seorang hamba bisa beribadah kepada Allah ta’ala dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Bahkan terkadang rutinitas peribadatannya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena merasa khawatir dengan intaian para musuh Allah ta’ala. Berhubung pentingnya rasa aman demi perealisasian keimanan dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dalam sebagian doanya, memohon agar dikaruniai keamanan di samping keimanan. Sebagaimana doa yang beliau panjatkan saat melihat rembulan di awal setiap bulan, “الله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله”. “Allah Maha besar! Ya Allah jadikanlah bulan ini penuh dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik kepada hal-hal yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”. HR. Ad-Darimi dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar dan al-Albani[2] Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan negara adalah tanggung jawab semua insan, sesuai dengan kapasitasnya. Kecil maupun besar, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim, umara maupun ulama serta rakyat maupun aparat. Amanah untuk menjaga keamanan negara ini harus ditanamkan para orang tua dalam jiwa anak-anak mereka sejak dini, juga oleh para guru dalam diri murid-murid mereka di sekolahan. Maka jika ada oknum-oknum yang berusaha mengacaukan situasi yang telah kondusif, dengan melakukan berbagai tindak teror berupa pengeboman serta peledakan; wajib bagi setiap warga negara untuk mencegah tindak kriminal tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Aparat keamanan menggunakan wewenang kekuasaan yang mereka miliki untuk melakukan tindakan preventif juga represif jika diperlukan. Para ulama, ustadz, da’i dan mubaligh memberikan pengarahan keagamaan kepada umat akan bahaya tindak teror tersebut dipandang dari sisi syariat. Masyarakat awam bekerja sama dengan pemerintah untuk melaporkan setiap hal yang mencurigakan. Para orang tua mengawasi anak-anak mereka, dengan siapakah mereka bergaul dan berteman? Pendek kata, semuanya bahu-membahu berusaha memadamkan kobaran api huru-hara itu! Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Andaikan para pelaku tindak teror tadi beralasan, bahwa perbuatan mereka merupakan bentuk nahi mungkar atas kemungkaran yang dilakukan sebagian oknum di pemerintahan, maka jawabannya: amar makruf nahi mungkar merupakan ibadah mulia, namun jangan lupa bahwa norma-normanya telah digariskan dengan jelas oleh agama kita. Di antara norma yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati pemerintah kaum muslimin: menyampaikan nasehat tersebut bukan di depan umum. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau, “مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ”. Artinya: “Barang siapa ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, hendaklah jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani [3]. Andaikan nasehat kepada pemerintah saja harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi dan dilarang untuk disampaikan di depan khalayak umum, bisakah dibenarkan penyampaian nasehat dengan cara melakukan peledakan di mana-mana? Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Setali tiga uang dengan istilah “amar makruf nahi munkar”; istilah “jihad”. Istilah kedua ini juga diselewengkan maknanya oleh sebagian oknum yang kurang bertanggungjawab. Atas nama jihad mereka menumpahkan darah kaum muslimin dan membunuhi non muslim tanpa pandang bulu. Padahal Allah ta’ala telah melarang tindak melampaui batas dalam segala sesuatu, termasuk dalam berjihad sekalipun. Allah berfirman, “وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ، وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ”. Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-Baqarah: 190. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tindak melampaui batas dalam berjihad, selain dalam bentuk membunuhi kaum wanita, anak kecil, para rahib dan orang tua yang tidak memiliki andil dalam memerangi kaum muslimin[4], juga termasuk tindak melampaui batas dalam berjihad: membunuhi orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin[5]. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Nikmat keamanan selain harus diusahakan dan diupayakan oleh umat manusia, juga merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa, jika mereka memenuhi syarat-syarat yang telah digariskan oleh-Nya. Di antara syarat utama yang telah digariskan Sang Pencipta: menegakkan tauhid di muka bumi dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Allah ta’ala berfirman, “وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً”. Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. QS. An-Nur: 55. Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai stabilitas keamanan negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.[6] نَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ… Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الرَّحِيْمِ الْغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَطْهَارِ، وَإِخْوَانِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَارُ. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Berkenaan dengan korelasi antara keamanan dengan penegakkan tauhid, Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat lain, “الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ”. Artinya: “Orang-orang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Dan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk”. QS. Al-An’am: 82. “Kezaliman” yang disebutkan dalam ayat di atas, telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadits sahih[7], dengan “kesyirikan”. Berdasarkan dua ayat di atas juga dalil-dalil lain yang senada, dapat disimpulkan bahwa syarat utama tercapainya keamanan di muka bumi adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allah semata, alias dengan menegakkan panji-panji tauhid. Jika syarat vital ini tidak terpenuhi, maka rasa takut, ketidaktentraman dan kegelisahanlah yang akan merebak di bumi dan memenuhi relung-relung hati para hamba. Allah ta’ala berfirman, “سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ …”. Artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik…”. QS. Ali Imran: 151. Dalam ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan dengan gamblang bahwa faktor utama penyebab rasa takut yang timbul dalam hati orang-orang kafir adalah dikarenakan mereka melakukan perbuatan syirik.[8] Maka jangan berharap keamanan akan membumi di tanah air, jika para dukun masih bebas beriklan di media massa, entah mereka yang beraliran hitam maupun mereka yang mengklaim dirinya dukun putih! Jangan bermimpi ketentraman akan dicapai, jika tindak obral jimat masih marak di mana-mana, sehingga tidak sedikit di antara kaum muslimin yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati tersebut! Bagaimana mungkin rasa takut dan kegelisahan jiwa akan hilang, seandainya masih ada oknum-oknum, atas nama agama, mengkultuskan para wali, sehingga mengangkat derajat mereka mendekati derajat Yang Maha Kuasa, dengan meminta-minta berbagai hajat; kelancaran rizki, keturunan, kenaikan pangkat dll, kepada para makhluk mulia tersebut?! Kemerdekaan mereka telah terjajah untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb semesta alam!. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu… أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1432 / 19 April 2011 [1] Lihat: Muqawwimât Hubb al-Wathan fî Dhau’i Ta’âlîm al-Islâm, karya Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, hal. 51. [2] HR. Ad-Darimi, II/1050 no. 1729, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, XII/356 no. 13330 dan Ibn Hibban, III/171 no. 888 dari Ibn Umar. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, hal. 784 no. 3451, Ahmad, III/17 no. 1397, al-Hakim, IV/385 dan adh-Dhiya’, III/22. Masing-masing jalur periwayatan di atas ‘bermasalah’. At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hasan gharîb”. Dalam Natâ’ij al-Afkâr sebagaimana dinukil Ibn ‘Allân di al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, IV/329, Ibn Hajar al-‘Asqalâni menilainya hasan. Syaikh al-Albâni dalam Zhilâl al-Jannah, I/165 no. 376 berpendapat serupa. [3] HR. Ahmad, III/403 dan Ibnu Abi ‘Ashim, II/737 no. 1130, 1131. Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâ’id berkomentar: “Para perawinya terpercaya, dan sanadnya bersambung”, sedangkan syaikh al-Albani menilai hadits ini sahih. [4] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, III/239-240 dan Tafsir Ibn Katsir, I/524. [5] Lihat: Tafsir as-Sa’di, hal. 71. [6] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, XV/326 dan Tafsir as-Sa’di, hal. 521-522. [7] HR. Bukhari (I/87 no. 32 –Fath al-Bâri) dan Muslim (I/114-115 no. 197) dari Ibnu Mas’ud. [8] Lihat: Tafsir ar-Razi, IX/34. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Nikmat Keamanan dan Jalan Untuk Menggapainya

18OctNikmat Keamanan dan Jalan Untuk MenggapainyaOctober 18, 2014Khutbah Jumat Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Nikmat keamanan merupakan salah satu karunia Allah ta’ala terbesar bagi umat manusia. Sebab rasa aman merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Tidak mungkin suatu umat atau sebuah bangsa hidup dengan baik, tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya. Keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati. Begitu urgennya faktor keamanan dalam kehidupan kita, sampai-sampai dalam beberapa kesempatan dia didahulukan atas faktor rizki. Mari kita cermati doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau meninggalkan keluarganya di sebuah lembah yang gersang, “رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ…”. Artinya: “Ya Rabbi, jadikanlah (tempat) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. QS. Al-Baqarah: 126. Lihatlah bagaimana permintaan akan keamanan didahulukan atas permintaan akan rizki! Sebab seorang insan bisa saja hidup dengan rizki yang serba kekurangan, jika ia merasa aman. Namun sebaliknya ia tidak bisa hidup dengan baik, apabila senantiasa merasa takut, walaupun ia memiliki kekayaan sebesar dunia sekalipun![1] Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berkat rasa aman seorang hamba bisa beribadah kepada Allah ta’ala dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Bahkan terkadang rutinitas peribadatannya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena merasa khawatir dengan intaian para musuh Allah ta’ala. Berhubung pentingnya rasa aman demi perealisasian keimanan dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dalam sebagian doanya, memohon agar dikaruniai keamanan di samping keimanan. Sebagaimana doa yang beliau panjatkan saat melihat rembulan di awal setiap bulan, “الله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله”. “Allah Maha besar! Ya Allah jadikanlah bulan ini penuh dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik kepada hal-hal yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”. HR. Ad-Darimi dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar dan al-Albani[2] Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan negara adalah tanggung jawab semua insan, sesuai dengan kapasitasnya. Kecil maupun besar, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim, umara maupun ulama serta rakyat maupun aparat. Amanah untuk menjaga keamanan negara ini harus ditanamkan para orang tua dalam jiwa anak-anak mereka sejak dini, juga oleh para guru dalam diri murid-murid mereka di sekolahan. Maka jika ada oknum-oknum yang berusaha mengacaukan situasi yang telah kondusif, dengan melakukan berbagai tindak teror berupa pengeboman serta peledakan; wajib bagi setiap warga negara untuk mencegah tindak kriminal tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Aparat keamanan menggunakan wewenang kekuasaan yang mereka miliki untuk melakukan tindakan preventif juga represif jika diperlukan. Para ulama, ustadz, da’i dan mubaligh memberikan pengarahan keagamaan kepada umat akan bahaya tindak teror tersebut dipandang dari sisi syariat. Masyarakat awam bekerja sama dengan pemerintah untuk melaporkan setiap hal yang mencurigakan. Para orang tua mengawasi anak-anak mereka, dengan siapakah mereka bergaul dan berteman? Pendek kata, semuanya bahu-membahu berusaha memadamkan kobaran api huru-hara itu! Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Andaikan para pelaku tindak teror tadi beralasan, bahwa perbuatan mereka merupakan bentuk nahi mungkar atas kemungkaran yang dilakukan sebagian oknum di pemerintahan, maka jawabannya: amar makruf nahi mungkar merupakan ibadah mulia, namun jangan lupa bahwa norma-normanya telah digariskan dengan jelas oleh agama kita. Di antara norma yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati pemerintah kaum muslimin: menyampaikan nasehat tersebut bukan di depan umum. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau, “مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ”. Artinya: “Barang siapa ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, hendaklah jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani [3]. Andaikan nasehat kepada pemerintah saja harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi dan dilarang untuk disampaikan di depan khalayak umum, bisakah dibenarkan penyampaian nasehat dengan cara melakukan peledakan di mana-mana? Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Setali tiga uang dengan istilah “amar makruf nahi munkar”; istilah “jihad”. Istilah kedua ini juga diselewengkan maknanya oleh sebagian oknum yang kurang bertanggungjawab. Atas nama jihad mereka menumpahkan darah kaum muslimin dan membunuhi non muslim tanpa pandang bulu. Padahal Allah ta’ala telah melarang tindak melampaui batas dalam segala sesuatu, termasuk dalam berjihad sekalipun. Allah berfirman, “وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ، وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ”. Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-Baqarah: 190. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tindak melampaui batas dalam berjihad, selain dalam bentuk membunuhi kaum wanita, anak kecil, para rahib dan orang tua yang tidak memiliki andil dalam memerangi kaum muslimin[4], juga termasuk tindak melampaui batas dalam berjihad: membunuhi orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin[5]. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Nikmat keamanan selain harus diusahakan dan diupayakan oleh umat manusia, juga merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa, jika mereka memenuhi syarat-syarat yang telah digariskan oleh-Nya. Di antara syarat utama yang telah digariskan Sang Pencipta: menegakkan tauhid di muka bumi dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Allah ta’ala berfirman, “وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً”. Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. QS. An-Nur: 55. Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai stabilitas keamanan negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.[6] نَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ… Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الرَّحِيْمِ الْغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَطْهَارِ، وَإِخْوَانِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَارُ. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Berkenaan dengan korelasi antara keamanan dengan penegakkan tauhid, Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat lain, “الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ”. Artinya: “Orang-orang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Dan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk”. QS. Al-An’am: 82. “Kezaliman” yang disebutkan dalam ayat di atas, telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadits sahih[7], dengan “kesyirikan”. Berdasarkan dua ayat di atas juga dalil-dalil lain yang senada, dapat disimpulkan bahwa syarat utama tercapainya keamanan di muka bumi adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allah semata, alias dengan menegakkan panji-panji tauhid. Jika syarat vital ini tidak terpenuhi, maka rasa takut, ketidaktentraman dan kegelisahanlah yang akan merebak di bumi dan memenuhi relung-relung hati para hamba. Allah ta’ala berfirman, “سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ …”. Artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik…”. QS. Ali Imran: 151. Dalam ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan dengan gamblang bahwa faktor utama penyebab rasa takut yang timbul dalam hati orang-orang kafir adalah dikarenakan mereka melakukan perbuatan syirik.[8] Maka jangan berharap keamanan akan membumi di tanah air, jika para dukun masih bebas beriklan di media massa, entah mereka yang beraliran hitam maupun mereka yang mengklaim dirinya dukun putih! Jangan bermimpi ketentraman akan dicapai, jika tindak obral jimat masih marak di mana-mana, sehingga tidak sedikit di antara kaum muslimin yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati tersebut! Bagaimana mungkin rasa takut dan kegelisahan jiwa akan hilang, seandainya masih ada oknum-oknum, atas nama agama, mengkultuskan para wali, sehingga mengangkat derajat mereka mendekati derajat Yang Maha Kuasa, dengan meminta-minta berbagai hajat; kelancaran rizki, keturunan, kenaikan pangkat dll, kepada para makhluk mulia tersebut?! Kemerdekaan mereka telah terjajah untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb semesta alam!. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu… أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1432 / 19 April 2011 [1] Lihat: Muqawwimât Hubb al-Wathan fî Dhau’i Ta’âlîm al-Islâm, karya Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, hal. 51. [2] HR. Ad-Darimi, II/1050 no. 1729, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, XII/356 no. 13330 dan Ibn Hibban, III/171 no. 888 dari Ibn Umar. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, hal. 784 no. 3451, Ahmad, III/17 no. 1397, al-Hakim, IV/385 dan adh-Dhiya’, III/22. Masing-masing jalur periwayatan di atas ‘bermasalah’. At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hasan gharîb”. Dalam Natâ’ij al-Afkâr sebagaimana dinukil Ibn ‘Allân di al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, IV/329, Ibn Hajar al-‘Asqalâni menilainya hasan. Syaikh al-Albâni dalam Zhilâl al-Jannah, I/165 no. 376 berpendapat serupa. [3] HR. Ahmad, III/403 dan Ibnu Abi ‘Ashim, II/737 no. 1130, 1131. Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâ’id berkomentar: “Para perawinya terpercaya, dan sanadnya bersambung”, sedangkan syaikh al-Albani menilai hadits ini sahih. [4] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, III/239-240 dan Tafsir Ibn Katsir, I/524. [5] Lihat: Tafsir as-Sa’di, hal. 71. [6] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, XV/326 dan Tafsir as-Sa’di, hal. 521-522. [7] HR. Bukhari (I/87 no. 32 –Fath al-Bâri) dan Muslim (I/114-115 no. 197) dari Ibnu Mas’ud. [8] Lihat: Tafsir ar-Razi, IX/34. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
18OctNikmat Keamanan dan Jalan Untuk MenggapainyaOctober 18, 2014Khutbah Jumat Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Nikmat keamanan merupakan salah satu karunia Allah ta’ala terbesar bagi umat manusia. Sebab rasa aman merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Tidak mungkin suatu umat atau sebuah bangsa hidup dengan baik, tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya. Keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati. Begitu urgennya faktor keamanan dalam kehidupan kita, sampai-sampai dalam beberapa kesempatan dia didahulukan atas faktor rizki. Mari kita cermati doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau meninggalkan keluarganya di sebuah lembah yang gersang, “رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ…”. Artinya: “Ya Rabbi, jadikanlah (tempat) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. QS. Al-Baqarah: 126. Lihatlah bagaimana permintaan akan keamanan didahulukan atas permintaan akan rizki! Sebab seorang insan bisa saja hidup dengan rizki yang serba kekurangan, jika ia merasa aman. Namun sebaliknya ia tidak bisa hidup dengan baik, apabila senantiasa merasa takut, walaupun ia memiliki kekayaan sebesar dunia sekalipun![1] Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berkat rasa aman seorang hamba bisa beribadah kepada Allah ta’ala dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Bahkan terkadang rutinitas peribadatannya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena merasa khawatir dengan intaian para musuh Allah ta’ala. Berhubung pentingnya rasa aman demi perealisasian keimanan dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dalam sebagian doanya, memohon agar dikaruniai keamanan di samping keimanan. Sebagaimana doa yang beliau panjatkan saat melihat rembulan di awal setiap bulan, “الله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله”. “Allah Maha besar! Ya Allah jadikanlah bulan ini penuh dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik kepada hal-hal yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”. HR. Ad-Darimi dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar dan al-Albani[2] Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan negara adalah tanggung jawab semua insan, sesuai dengan kapasitasnya. Kecil maupun besar, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim, umara maupun ulama serta rakyat maupun aparat. Amanah untuk menjaga keamanan negara ini harus ditanamkan para orang tua dalam jiwa anak-anak mereka sejak dini, juga oleh para guru dalam diri murid-murid mereka di sekolahan. Maka jika ada oknum-oknum yang berusaha mengacaukan situasi yang telah kondusif, dengan melakukan berbagai tindak teror berupa pengeboman serta peledakan; wajib bagi setiap warga negara untuk mencegah tindak kriminal tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Aparat keamanan menggunakan wewenang kekuasaan yang mereka miliki untuk melakukan tindakan preventif juga represif jika diperlukan. Para ulama, ustadz, da’i dan mubaligh memberikan pengarahan keagamaan kepada umat akan bahaya tindak teror tersebut dipandang dari sisi syariat. Masyarakat awam bekerja sama dengan pemerintah untuk melaporkan setiap hal yang mencurigakan. Para orang tua mengawasi anak-anak mereka, dengan siapakah mereka bergaul dan berteman? Pendek kata, semuanya bahu-membahu berusaha memadamkan kobaran api huru-hara itu! Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Andaikan para pelaku tindak teror tadi beralasan, bahwa perbuatan mereka merupakan bentuk nahi mungkar atas kemungkaran yang dilakukan sebagian oknum di pemerintahan, maka jawabannya: amar makruf nahi mungkar merupakan ibadah mulia, namun jangan lupa bahwa norma-normanya telah digariskan dengan jelas oleh agama kita. Di antara norma yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati pemerintah kaum muslimin: menyampaikan nasehat tersebut bukan di depan umum. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau, “مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ”. Artinya: “Barang siapa ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, hendaklah jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani [3]. Andaikan nasehat kepada pemerintah saja harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi dan dilarang untuk disampaikan di depan khalayak umum, bisakah dibenarkan penyampaian nasehat dengan cara melakukan peledakan di mana-mana? Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Setali tiga uang dengan istilah “amar makruf nahi munkar”; istilah “jihad”. Istilah kedua ini juga diselewengkan maknanya oleh sebagian oknum yang kurang bertanggungjawab. Atas nama jihad mereka menumpahkan darah kaum muslimin dan membunuhi non muslim tanpa pandang bulu. Padahal Allah ta’ala telah melarang tindak melampaui batas dalam segala sesuatu, termasuk dalam berjihad sekalipun. Allah berfirman, “وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ، وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ”. Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-Baqarah: 190. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tindak melampaui batas dalam berjihad, selain dalam bentuk membunuhi kaum wanita, anak kecil, para rahib dan orang tua yang tidak memiliki andil dalam memerangi kaum muslimin[4], juga termasuk tindak melampaui batas dalam berjihad: membunuhi orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin[5]. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Nikmat keamanan selain harus diusahakan dan diupayakan oleh umat manusia, juga merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa, jika mereka memenuhi syarat-syarat yang telah digariskan oleh-Nya. Di antara syarat utama yang telah digariskan Sang Pencipta: menegakkan tauhid di muka bumi dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Allah ta’ala berfirman, “وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً”. Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. QS. An-Nur: 55. Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai stabilitas keamanan negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.[6] نَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ… Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الرَّحِيْمِ الْغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَطْهَارِ، وَإِخْوَانِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَارُ. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Berkenaan dengan korelasi antara keamanan dengan penegakkan tauhid, Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat lain, “الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ”. Artinya: “Orang-orang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Dan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk”. QS. Al-An’am: 82. “Kezaliman” yang disebutkan dalam ayat di atas, telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadits sahih[7], dengan “kesyirikan”. Berdasarkan dua ayat di atas juga dalil-dalil lain yang senada, dapat disimpulkan bahwa syarat utama tercapainya keamanan di muka bumi adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allah semata, alias dengan menegakkan panji-panji tauhid. Jika syarat vital ini tidak terpenuhi, maka rasa takut, ketidaktentraman dan kegelisahanlah yang akan merebak di bumi dan memenuhi relung-relung hati para hamba. Allah ta’ala berfirman, “سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ …”. Artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik…”. QS. Ali Imran: 151. Dalam ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan dengan gamblang bahwa faktor utama penyebab rasa takut yang timbul dalam hati orang-orang kafir adalah dikarenakan mereka melakukan perbuatan syirik.[8] Maka jangan berharap keamanan akan membumi di tanah air, jika para dukun masih bebas beriklan di media massa, entah mereka yang beraliran hitam maupun mereka yang mengklaim dirinya dukun putih! Jangan bermimpi ketentraman akan dicapai, jika tindak obral jimat masih marak di mana-mana, sehingga tidak sedikit di antara kaum muslimin yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati tersebut! Bagaimana mungkin rasa takut dan kegelisahan jiwa akan hilang, seandainya masih ada oknum-oknum, atas nama agama, mengkultuskan para wali, sehingga mengangkat derajat mereka mendekati derajat Yang Maha Kuasa, dengan meminta-minta berbagai hajat; kelancaran rizki, keturunan, kenaikan pangkat dll, kepada para makhluk mulia tersebut?! Kemerdekaan mereka telah terjajah untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb semesta alam!. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu… أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1432 / 19 April 2011 [1] Lihat: Muqawwimât Hubb al-Wathan fî Dhau’i Ta’âlîm al-Islâm, karya Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, hal. 51. [2] HR. Ad-Darimi, II/1050 no. 1729, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, XII/356 no. 13330 dan Ibn Hibban, III/171 no. 888 dari Ibn Umar. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, hal. 784 no. 3451, Ahmad, III/17 no. 1397, al-Hakim, IV/385 dan adh-Dhiya’, III/22. Masing-masing jalur periwayatan di atas ‘bermasalah’. At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hasan gharîb”. Dalam Natâ’ij al-Afkâr sebagaimana dinukil Ibn ‘Allân di al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, IV/329, Ibn Hajar al-‘Asqalâni menilainya hasan. Syaikh al-Albâni dalam Zhilâl al-Jannah, I/165 no. 376 berpendapat serupa. [3] HR. Ahmad, III/403 dan Ibnu Abi ‘Ashim, II/737 no. 1130, 1131. Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâ’id berkomentar: “Para perawinya terpercaya, dan sanadnya bersambung”, sedangkan syaikh al-Albani menilai hadits ini sahih. [4] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, III/239-240 dan Tafsir Ibn Katsir, I/524. [5] Lihat: Tafsir as-Sa’di, hal. 71. [6] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, XV/326 dan Tafsir as-Sa’di, hal. 521-522. [7] HR. Bukhari (I/87 no. 32 –Fath al-Bâri) dan Muslim (I/114-115 no. 197) dari Ibnu Mas’ud. [8] Lihat: Tafsir ar-Razi, IX/34. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


18OctNikmat Keamanan dan Jalan Untuk MenggapainyaOctober 18, 2014Khutbah Jumat Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Nikmat keamanan merupakan salah satu karunia Allah ta’ala terbesar bagi umat manusia. Sebab rasa aman merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Tidak mungkin suatu umat atau sebuah bangsa hidup dengan baik, tanpa adanya stabilitas keamanan di dalamnya. Keamanan lingkungan akan membuahkan ketenangan jiwa, ketentraman batin, kebahagiaan serta kedamaian hati. Begitu urgennya faktor keamanan dalam kehidupan kita, sampai-sampai dalam beberapa kesempatan dia didahulukan atas faktor rizki. Mari kita cermati doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau meninggalkan keluarganya di sebuah lembah yang gersang, “رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ…”. Artinya: “Ya Rabbi, jadikanlah (tempat) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. QS. Al-Baqarah: 126. Lihatlah bagaimana permintaan akan keamanan didahulukan atas permintaan akan rizki! Sebab seorang insan bisa saja hidup dengan rizki yang serba kekurangan, jika ia merasa aman. Namun sebaliknya ia tidak bisa hidup dengan baik, apabila senantiasa merasa takut, walaupun ia memiliki kekayaan sebesar dunia sekalipun![1] Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berkat rasa aman seorang hamba bisa beribadah kepada Allah ta’ala dengan tenang dan sempurna. Lain halnya jika hidup seseorang diliputi rasa takut dan was-was, kondisi ini akan berdampak pada ketidaksempurnaan ibadah yang ia lakukan. Bahkan terkadang rutinitas peribadatannya harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena merasa khawatir dengan intaian para musuh Allah ta’ala. Berhubung pentingnya rasa aman demi perealisasian keimanan dalam kehidupan seorang mukmin, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dalam sebagian doanya, memohon agar dikaruniai keamanan di samping keimanan. Sebagaimana doa yang beliau panjatkan saat melihat rembulan di awal setiap bulan, “الله أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله”. “Allah Maha besar! Ya Allah jadikanlah bulan ini penuh dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufik kepada hal-hal yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”. HR. Ad-Darimi dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar dan al-Albani[2] Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Kewajiban untuk menjaga stabilitas keamanan negara adalah tanggung jawab semua insan, sesuai dengan kapasitasnya. Kecil maupun besar, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim, umara maupun ulama serta rakyat maupun aparat. Amanah untuk menjaga keamanan negara ini harus ditanamkan para orang tua dalam jiwa anak-anak mereka sejak dini, juga oleh para guru dalam diri murid-murid mereka di sekolahan. Maka jika ada oknum-oknum yang berusaha mengacaukan situasi yang telah kondusif, dengan melakukan berbagai tindak teror berupa pengeboman serta peledakan; wajib bagi setiap warga negara untuk mencegah tindak kriminal tersebut, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Aparat keamanan menggunakan wewenang kekuasaan yang mereka miliki untuk melakukan tindakan preventif juga represif jika diperlukan. Para ulama, ustadz, da’i dan mubaligh memberikan pengarahan keagamaan kepada umat akan bahaya tindak teror tersebut dipandang dari sisi syariat. Masyarakat awam bekerja sama dengan pemerintah untuk melaporkan setiap hal yang mencurigakan. Para orang tua mengawasi anak-anak mereka, dengan siapakah mereka bergaul dan berteman? Pendek kata, semuanya bahu-membahu berusaha memadamkan kobaran api huru-hara itu! Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah… Andaikan para pelaku tindak teror tadi beralasan, bahwa perbuatan mereka merupakan bentuk nahi mungkar atas kemungkaran yang dilakukan sebagian oknum di pemerintahan, maka jawabannya: amar makruf nahi mungkar merupakan ibadah mulia, namun jangan lupa bahwa norma-normanya telah digariskan dengan jelas oleh agama kita. Di antara norma yang diajarkan Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati pemerintah kaum muslimin: menyampaikan nasehat tersebut bukan di depan umum. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau, “مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ”. Artinya: “Barang siapa ingin menyampaikan nasehat kepada penguasa, hendaklah jangan menyampaikannya di depan umum, akan tetapi genggamlah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasehat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albani [3]. Andaikan nasehat kepada pemerintah saja harus disampaikan secara sembunyi-sembunyi dan dilarang untuk disampaikan di depan khalayak umum, bisakah dibenarkan penyampaian nasehat dengan cara melakukan peledakan di mana-mana? Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Setali tiga uang dengan istilah “amar makruf nahi munkar”; istilah “jihad”. Istilah kedua ini juga diselewengkan maknanya oleh sebagian oknum yang kurang bertanggungjawab. Atas nama jihad mereka menumpahkan darah kaum muslimin dan membunuhi non muslim tanpa pandang bulu. Padahal Allah ta’ala telah melarang tindak melampaui batas dalam segala sesuatu, termasuk dalam berjihad sekalipun. Allah berfirman, “وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ، وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ”. Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. QS. Al-Baqarah: 190. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa tindak melampaui batas dalam berjihad, selain dalam bentuk membunuhi kaum wanita, anak kecil, para rahib dan orang tua yang tidak memiliki andil dalam memerangi kaum muslimin[4], juga termasuk tindak melampaui batas dalam berjihad: membunuhi orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin[5]. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Nikmat keamanan selain harus diusahakan dan diupayakan oleh umat manusia, juga merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa, jika mereka memenuhi syarat-syarat yang telah digariskan oleh-Nya. Di antara syarat utama yang telah digariskan Sang Pencipta: menegakkan tauhid di muka bumi dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Allah ta’ala berfirman, “وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ، وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ، وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً، يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً”. Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku”. QS. An-Nur: 55. Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai stabilitas keamanan negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.[6] نَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِسُنَّةِ سّيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ… Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، الرَّحِيْمِ الْغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَطْهَارِ، وَإِخْوَانِهِ الْأَبْرَارِ، وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الَّليْلُ وَالنَّهَارُ. Sidang Jum’at waffaqakumullah… Berkenaan dengan korelasi antara keamanan dengan penegakkan tauhid, Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat lain, “الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ”. Artinya: “Orang-orang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Dan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk”. QS. Al-An’am: 82. “Kezaliman” yang disebutkan dalam ayat di atas, telah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadits sahih[7], dengan “kesyirikan”. Berdasarkan dua ayat di atas juga dalil-dalil lain yang senada, dapat disimpulkan bahwa syarat utama tercapainya keamanan di muka bumi adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allah semata, alias dengan menegakkan panji-panji tauhid. Jika syarat vital ini tidak terpenuhi, maka rasa takut, ketidaktentraman dan kegelisahanlah yang akan merebak di bumi dan memenuhi relung-relung hati para hamba. Allah ta’ala berfirman, “سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ …”. Artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka melakukan perbuatan syirik…”. QS. Ali Imran: 151. Dalam ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan dengan gamblang bahwa faktor utama penyebab rasa takut yang timbul dalam hati orang-orang kafir adalah dikarenakan mereka melakukan perbuatan syirik.[8] Maka jangan berharap keamanan akan membumi di tanah air, jika para dukun masih bebas beriklan di media massa, entah mereka yang beraliran hitam maupun mereka yang mengklaim dirinya dukun putih! Jangan bermimpi ketentraman akan dicapai, jika tindak obral jimat masih marak di mana-mana, sehingga tidak sedikit di antara kaum muslimin yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati tersebut! Bagaimana mungkin rasa takut dan kegelisahan jiwa akan hilang, seandainya masih ada oknum-oknum, atas nama agama, mengkultuskan para wali, sehingga mengangkat derajat mereka mendekati derajat Yang Maha Kuasa, dengan meminta-minta berbagai hajat; kelancaran rizki, keturunan, kenaikan pangkat dll, kepada para makhluk mulia tersebut?! Kemerdekaan mereka telah terjajah untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb semesta alam!. Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu… أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ, وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ, كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1432 / 19 April 2011 [1] Lihat: Muqawwimât Hubb al-Wathan fî Dhau’i Ta’âlîm al-Islâm, karya Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba al-Khail, hal. 51. [2] HR. Ad-Darimi, II/1050 no. 1729, ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, XII/356 no. 13330 dan Ibn Hibban, III/171 no. 888 dari Ibn Umar. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, hal. 784 no. 3451, Ahmad, III/17 no. 1397, al-Hakim, IV/385 dan adh-Dhiya’, III/22. Masing-masing jalur periwayatan di atas ‘bermasalah’. At-Tirmidzi mengomentari hadits ini, “Hasan gharîb”. Dalam Natâ’ij al-Afkâr sebagaimana dinukil Ibn ‘Allân di al-Futûhât ar-Rabbâniyyah, IV/329, Ibn Hajar al-‘Asqalâni menilainya hasan. Syaikh al-Albâni dalam Zhilâl al-Jannah, I/165 no. 376 berpendapat serupa. [3] HR. Ahmad, III/403 dan Ibnu Abi ‘Ashim, II/737 no. 1130, 1131. Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâ’id berkomentar: “Para perawinya terpercaya, dan sanadnya bersambung”, sedangkan syaikh al-Albani menilai hadits ini sahih. [4] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, III/239-240 dan Tafsir Ibn Katsir, I/524. [5] Lihat: Tafsir as-Sa’di, hal. 71. [6] Lihat: Tafsir al-Qurthubi, XV/326 dan Tafsir as-Sa’di, hal. 521-522. [7] HR. Bukhari (I/87 no. 32 –Fath al-Bâri) dan Muslim (I/114-115 no. 197) dari Ibnu Mas’ud. [8] Lihat: Tafsir ar-Razi, IX/34. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Begitu Singkatnya Umur Manusia

Khutbah Jum’at di Masjid Nabawi 23 Dzulhijjah 1435 H – 17 Oktober 2014 MOleh : Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullahKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun, Yang telah menggantikan siang dengan malam dan menggantikan malam dengan siang, dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya.Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya atas limpahan karunia dan anugerahNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya, Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya yang telah terpilih. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam serta berkah kepada hambaMu dan utusanMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya serta para sahabatnya yang mulia.Amma ba’du. Bertakwalah kalian dan ta’atlah kepadaNya, sesungguhnya ketaatan kepadaNya adalah lebih lurus dan lebih kuat. Berbekallah untuk akhirat kalian, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.Para Hamba Allah sekalian, renungkanlah tentang dunia yang singkat ini, perhiasannya yang hina, banyak perubahannya, ingatlah kadarnya…, ilmuilah rahasianya. Barangsiapa yang percaya kepada dunia maka ia telah terpedaya, barangsiapa yang bersandar kepadanya maka ia telah binasa. Singkatnya umur dunia sesingkat umur seorang manusia.Umur seseorang dimulai dari detik demi detik, lalu jam demi jam, lalu hari demi hari, lalu bulan demi bulan, lalu tahun demi tahun lalu selesailah umur manusia, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara-perkara berat setelah kematiannya?. Apakah umur orang-orang setelahmu adalah umurmu??. Umur seseorang ibarat hanya sesaat dibandingkan umur sebuah sekelompok generasi, bahkan dunia hanyalah kesenangan sementara. Allah berfirmanإِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (٣٩)Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal. (QS Ghofir : 39)Rob kita telah mengabarkan kepada kita tentang sebentarnya manusia di kuburan mereka hingga hari kebangkitan mereka untuk dihisab. Waktu yang lama (di kuburan) seperti hanya sesaat saja. Allah berfirman :وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْDan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. (QS Yunus : 45)Allah juga berfirman :وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَDan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran) (QS Ar-Ruum : 55)Karenanya wahai manusia, umurmu hanyalah sesaat saja…, maka apa kerjaanmu mengisi sesaat ini?Sungguh beruntung orang yang melakukan amalan-amalan sholeh dan menjauhi hal-hal yang haram, maka ia akan meraih keridhoan Allah di dalam kenikmatan surga. Dan celakalah orang yang mengikuti syahwatnya, meninggalkan sholat dan kewajiban-kewajiban.Wahai orang yang kesehatannya ia gunakan untuk melampaui batas dengan bermaksiat…, wahai orang yang waktu kosongnya telah merusaknya…, wahai orang yang terfitnah dengan hartanya hingga binasa…, wahai orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh…, wahai orang yang tertipu dengan masa mudanya sehingga lupa bahwa ia akan tua dan mati…, wahai orang yang berani terhadap Robnya karena merasa panjang umurnya dan tingginya angan-angan sehingga tiba-tiba disambar oleh kematian…maka kapan engkau bisa kembali ke dunia jika telah mati…??.Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabdaاُذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ“Ingatlah penghancur keledzatan…”Karena tidaklah ia mengingat kematian dalam sesuatu yang banyak kecuali akan menjadikan yang banyak tersebut menjadi sedikit, dan tidaklah disebutkan pada yang sedikit kecuali menjadikannya terasa banyak.Tidakkah sekarang saatnya engkau bertaubat dan kembali kepada Robmu?Kapan lagi engkau baru terbangun dari kelalaian ini yang menguasaimu, lalu engkau memenuhi panggilan Robmu?Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…? Dari negeri-negeri yang telah kosong (dihancurkan)…? Dulu mereka ada sekarang hanya tinggal bekasnya…, dahulu mereka jaya sekarang hanya tinggal cerita…??Sesungguhnya datang dan perginya tahun merupakan pelajaran….hari telah engkau tinggalkan di belakangmu dan hari baru yang kau jumpai di hadapanmu, hingga tiba ajalmu dan terputuslah harapan. Allah berfirmanوَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢)Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu) (QS An-Najm : 39-42)Maka beramalah untuk hari akhiratmu yang kekal yang tidak akan sirna kenikamatannya selamanya…Allah berfirman :ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤)لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)Masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS Qoof : 34-35)Jagalah diri kalian dari neraka jahanam yang tidak pernah lelah untuk membakar penghuninya…dengan menjalankan perintah Allah yang ditekankan…dengan menjauhi kemurkaanNya.فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ (١٩)يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ (٢٠)وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ (٢١)كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (٢٢)Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka), dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. (QS Al-Hajj : 19-22)Allah berfirman :وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS Al-Baqoroh : 223)Semoga Allah memberkahi kalian dalam Al-Qur’an yang agung. Khutbah Kedua :Segala puji bagi Allah Yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, Yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya dengan mencatat seluruh amal perbuatan, lalu memberi balasan di atasnya dengan balasan yang sesuai. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, serta aku bertaubat dan beristighfar kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, bagiNya al-asmaa al-husnaa (nama-nama terindah). Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang terpilih. Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang sabar dan bertakwa. Amma ba’du…Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah membuka bagi kalian pintu-pintu rahmat dengan mensyari’atkan kepada kalian perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, maka janganlah salah seorang dari kalian menutup pintu-pintu rahmat tersebut pada dirinya dengan memerangi Allah dengan melakukan dosa-dosa. Sungguh Allah telah berfirmanوَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦)Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (QS Al-A’roof : 156)Wahai hamba Allah…, gunakanlah masa sehatmu untuk berbuat baik. Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغDua kenikmatan yang banyak orang tertipu yaitu kesehatan dan waktu luang.Dan dari Ibnu Umar semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau musafir yang numpang lewat”Wahai kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah berfirman :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzaab : 56)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

Begitu Singkatnya Umur Manusia

Khutbah Jum’at di Masjid Nabawi 23 Dzulhijjah 1435 H – 17 Oktober 2014 MOleh : Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullahKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun, Yang telah menggantikan siang dengan malam dan menggantikan malam dengan siang, dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya.Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya atas limpahan karunia dan anugerahNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya, Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya yang telah terpilih. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam serta berkah kepada hambaMu dan utusanMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya serta para sahabatnya yang mulia.Amma ba’du. Bertakwalah kalian dan ta’atlah kepadaNya, sesungguhnya ketaatan kepadaNya adalah lebih lurus dan lebih kuat. Berbekallah untuk akhirat kalian, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.Para Hamba Allah sekalian, renungkanlah tentang dunia yang singkat ini, perhiasannya yang hina, banyak perubahannya, ingatlah kadarnya…, ilmuilah rahasianya. Barangsiapa yang percaya kepada dunia maka ia telah terpedaya, barangsiapa yang bersandar kepadanya maka ia telah binasa. Singkatnya umur dunia sesingkat umur seorang manusia.Umur seseorang dimulai dari detik demi detik, lalu jam demi jam, lalu hari demi hari, lalu bulan demi bulan, lalu tahun demi tahun lalu selesailah umur manusia, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara-perkara berat setelah kematiannya?. Apakah umur orang-orang setelahmu adalah umurmu??. Umur seseorang ibarat hanya sesaat dibandingkan umur sebuah sekelompok generasi, bahkan dunia hanyalah kesenangan sementara. Allah berfirmanإِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (٣٩)Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal. (QS Ghofir : 39)Rob kita telah mengabarkan kepada kita tentang sebentarnya manusia di kuburan mereka hingga hari kebangkitan mereka untuk dihisab. Waktu yang lama (di kuburan) seperti hanya sesaat saja. Allah berfirman :وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْDan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. (QS Yunus : 45)Allah juga berfirman :وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَDan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran) (QS Ar-Ruum : 55)Karenanya wahai manusia, umurmu hanyalah sesaat saja…, maka apa kerjaanmu mengisi sesaat ini?Sungguh beruntung orang yang melakukan amalan-amalan sholeh dan menjauhi hal-hal yang haram, maka ia akan meraih keridhoan Allah di dalam kenikmatan surga. Dan celakalah orang yang mengikuti syahwatnya, meninggalkan sholat dan kewajiban-kewajiban.Wahai orang yang kesehatannya ia gunakan untuk melampaui batas dengan bermaksiat…, wahai orang yang waktu kosongnya telah merusaknya…, wahai orang yang terfitnah dengan hartanya hingga binasa…, wahai orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh…, wahai orang yang tertipu dengan masa mudanya sehingga lupa bahwa ia akan tua dan mati…, wahai orang yang berani terhadap Robnya karena merasa panjang umurnya dan tingginya angan-angan sehingga tiba-tiba disambar oleh kematian…maka kapan engkau bisa kembali ke dunia jika telah mati…??.Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabdaاُذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ“Ingatlah penghancur keledzatan…”Karena tidaklah ia mengingat kematian dalam sesuatu yang banyak kecuali akan menjadikan yang banyak tersebut menjadi sedikit, dan tidaklah disebutkan pada yang sedikit kecuali menjadikannya terasa banyak.Tidakkah sekarang saatnya engkau bertaubat dan kembali kepada Robmu?Kapan lagi engkau baru terbangun dari kelalaian ini yang menguasaimu, lalu engkau memenuhi panggilan Robmu?Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…? Dari negeri-negeri yang telah kosong (dihancurkan)…? Dulu mereka ada sekarang hanya tinggal bekasnya…, dahulu mereka jaya sekarang hanya tinggal cerita…??Sesungguhnya datang dan perginya tahun merupakan pelajaran….hari telah engkau tinggalkan di belakangmu dan hari baru yang kau jumpai di hadapanmu, hingga tiba ajalmu dan terputuslah harapan. Allah berfirmanوَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢)Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu) (QS An-Najm : 39-42)Maka beramalah untuk hari akhiratmu yang kekal yang tidak akan sirna kenikamatannya selamanya…Allah berfirman :ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤)لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)Masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS Qoof : 34-35)Jagalah diri kalian dari neraka jahanam yang tidak pernah lelah untuk membakar penghuninya…dengan menjalankan perintah Allah yang ditekankan…dengan menjauhi kemurkaanNya.فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ (١٩)يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ (٢٠)وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ (٢١)كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (٢٢)Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka), dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. (QS Al-Hajj : 19-22)Allah berfirman :وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS Al-Baqoroh : 223)Semoga Allah memberkahi kalian dalam Al-Qur’an yang agung. Khutbah Kedua :Segala puji bagi Allah Yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, Yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya dengan mencatat seluruh amal perbuatan, lalu memberi balasan di atasnya dengan balasan yang sesuai. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, serta aku bertaubat dan beristighfar kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, bagiNya al-asmaa al-husnaa (nama-nama terindah). Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang terpilih. Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang sabar dan bertakwa. Amma ba’du…Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah membuka bagi kalian pintu-pintu rahmat dengan mensyari’atkan kepada kalian perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, maka janganlah salah seorang dari kalian menutup pintu-pintu rahmat tersebut pada dirinya dengan memerangi Allah dengan melakukan dosa-dosa. Sungguh Allah telah berfirmanوَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦)Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (QS Al-A’roof : 156)Wahai hamba Allah…, gunakanlah masa sehatmu untuk berbuat baik. Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغDua kenikmatan yang banyak orang tertipu yaitu kesehatan dan waktu luang.Dan dari Ibnu Umar semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau musafir yang numpang lewat”Wahai kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah berfirman :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzaab : 56)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
Khutbah Jum’at di Masjid Nabawi 23 Dzulhijjah 1435 H – 17 Oktober 2014 MOleh : Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullahKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun, Yang telah menggantikan siang dengan malam dan menggantikan malam dengan siang, dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya.Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya atas limpahan karunia dan anugerahNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya, Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya yang telah terpilih. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam serta berkah kepada hambaMu dan utusanMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya serta para sahabatnya yang mulia.Amma ba’du. Bertakwalah kalian dan ta’atlah kepadaNya, sesungguhnya ketaatan kepadaNya adalah lebih lurus dan lebih kuat. Berbekallah untuk akhirat kalian, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.Para Hamba Allah sekalian, renungkanlah tentang dunia yang singkat ini, perhiasannya yang hina, banyak perubahannya, ingatlah kadarnya…, ilmuilah rahasianya. Barangsiapa yang percaya kepada dunia maka ia telah terpedaya, barangsiapa yang bersandar kepadanya maka ia telah binasa. Singkatnya umur dunia sesingkat umur seorang manusia.Umur seseorang dimulai dari detik demi detik, lalu jam demi jam, lalu hari demi hari, lalu bulan demi bulan, lalu tahun demi tahun lalu selesailah umur manusia, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara-perkara berat setelah kematiannya?. Apakah umur orang-orang setelahmu adalah umurmu??. Umur seseorang ibarat hanya sesaat dibandingkan umur sebuah sekelompok generasi, bahkan dunia hanyalah kesenangan sementara. Allah berfirmanإِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (٣٩)Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal. (QS Ghofir : 39)Rob kita telah mengabarkan kepada kita tentang sebentarnya manusia di kuburan mereka hingga hari kebangkitan mereka untuk dihisab. Waktu yang lama (di kuburan) seperti hanya sesaat saja. Allah berfirman :وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْDan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. (QS Yunus : 45)Allah juga berfirman :وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَDan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran) (QS Ar-Ruum : 55)Karenanya wahai manusia, umurmu hanyalah sesaat saja…, maka apa kerjaanmu mengisi sesaat ini?Sungguh beruntung orang yang melakukan amalan-amalan sholeh dan menjauhi hal-hal yang haram, maka ia akan meraih keridhoan Allah di dalam kenikmatan surga. Dan celakalah orang yang mengikuti syahwatnya, meninggalkan sholat dan kewajiban-kewajiban.Wahai orang yang kesehatannya ia gunakan untuk melampaui batas dengan bermaksiat…, wahai orang yang waktu kosongnya telah merusaknya…, wahai orang yang terfitnah dengan hartanya hingga binasa…, wahai orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh…, wahai orang yang tertipu dengan masa mudanya sehingga lupa bahwa ia akan tua dan mati…, wahai orang yang berani terhadap Robnya karena merasa panjang umurnya dan tingginya angan-angan sehingga tiba-tiba disambar oleh kematian…maka kapan engkau bisa kembali ke dunia jika telah mati…??.Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabdaاُذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ“Ingatlah penghancur keledzatan…”Karena tidaklah ia mengingat kematian dalam sesuatu yang banyak kecuali akan menjadikan yang banyak tersebut menjadi sedikit, dan tidaklah disebutkan pada yang sedikit kecuali menjadikannya terasa banyak.Tidakkah sekarang saatnya engkau bertaubat dan kembali kepada Robmu?Kapan lagi engkau baru terbangun dari kelalaian ini yang menguasaimu, lalu engkau memenuhi panggilan Robmu?Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…? Dari negeri-negeri yang telah kosong (dihancurkan)…? Dulu mereka ada sekarang hanya tinggal bekasnya…, dahulu mereka jaya sekarang hanya tinggal cerita…??Sesungguhnya datang dan perginya tahun merupakan pelajaran….hari telah engkau tinggalkan di belakangmu dan hari baru yang kau jumpai di hadapanmu, hingga tiba ajalmu dan terputuslah harapan. Allah berfirmanوَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢)Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu) (QS An-Najm : 39-42)Maka beramalah untuk hari akhiratmu yang kekal yang tidak akan sirna kenikamatannya selamanya…Allah berfirman :ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤)لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)Masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS Qoof : 34-35)Jagalah diri kalian dari neraka jahanam yang tidak pernah lelah untuk membakar penghuninya…dengan menjalankan perintah Allah yang ditekankan…dengan menjauhi kemurkaanNya.فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ (١٩)يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ (٢٠)وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ (٢١)كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (٢٢)Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka), dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. (QS Al-Hajj : 19-22)Allah berfirman :وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS Al-Baqoroh : 223)Semoga Allah memberkahi kalian dalam Al-Qur’an yang agung. Khutbah Kedua :Segala puji bagi Allah Yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, Yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya dengan mencatat seluruh amal perbuatan, lalu memberi balasan di atasnya dengan balasan yang sesuai. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, serta aku bertaubat dan beristighfar kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, bagiNya al-asmaa al-husnaa (nama-nama terindah). Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang terpilih. Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang sabar dan bertakwa. Amma ba’du…Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah membuka bagi kalian pintu-pintu rahmat dengan mensyari’atkan kepada kalian perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, maka janganlah salah seorang dari kalian menutup pintu-pintu rahmat tersebut pada dirinya dengan memerangi Allah dengan melakukan dosa-dosa. Sungguh Allah telah berfirmanوَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦)Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (QS Al-A’roof : 156)Wahai hamba Allah…, gunakanlah masa sehatmu untuk berbuat baik. Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغDua kenikmatan yang banyak orang tertipu yaitu kesehatan dan waktu luang.Dan dari Ibnu Umar semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau musafir yang numpang lewat”Wahai kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah berfirman :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzaab : 56)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda


Khutbah Jum’at di Masjid Nabawi 23 Dzulhijjah 1435 H – 17 Oktober 2014 MOleh : Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullahKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun, Yang telah menggantikan siang dengan malam dan menggantikan malam dengan siang, dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya.Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya atas limpahan karunia dan anugerahNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya, Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya yang telah terpilih. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam serta berkah kepada hambaMu dan utusanMu Muhammad, dan juga kepada keluarganya serta para sahabatnya yang mulia.Amma ba’du. Bertakwalah kalian dan ta’atlah kepadaNya, sesungguhnya ketaatan kepadaNya adalah lebih lurus dan lebih kuat. Berbekallah untuk akhirat kalian, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.Para Hamba Allah sekalian, renungkanlah tentang dunia yang singkat ini, perhiasannya yang hina, banyak perubahannya, ingatlah kadarnya…, ilmuilah rahasianya. Barangsiapa yang percaya kepada dunia maka ia telah terpedaya, barangsiapa yang bersandar kepadanya maka ia telah binasa. Singkatnya umur dunia sesingkat umur seorang manusia.Umur seseorang dimulai dari detik demi detik, lalu jam demi jam, lalu hari demi hari, lalu bulan demi bulan, lalu tahun demi tahun lalu selesailah umur manusia, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi dari perkara-perkara berat setelah kematiannya?. Apakah umur orang-orang setelahmu adalah umurmu??. Umur seseorang ibarat hanya sesaat dibandingkan umur sebuah sekelompok generasi, bahkan dunia hanyalah kesenangan sementara. Allah berfirmanإِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (٣٩)Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal. (QS Ghofir : 39)Rob kita telah mengabarkan kepada kita tentang sebentarnya manusia di kuburan mereka hingga hari kebangkitan mereka untuk dihisab. Waktu yang lama (di kuburan) seperti hanya sesaat saja. Allah berfirman :وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْDan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. (QS Yunus : 45)Allah juga berfirman :وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَDan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran) (QS Ar-Ruum : 55)Karenanya wahai manusia, umurmu hanyalah sesaat saja…, maka apa kerjaanmu mengisi sesaat ini?Sungguh beruntung orang yang melakukan amalan-amalan sholeh dan menjauhi hal-hal yang haram, maka ia akan meraih keridhoan Allah di dalam kenikmatan surga. Dan celakalah orang yang mengikuti syahwatnya, meninggalkan sholat dan kewajiban-kewajiban.Wahai orang yang kesehatannya ia gunakan untuk melampaui batas dengan bermaksiat…, wahai orang yang waktu kosongnya telah merusaknya…, wahai orang yang terfitnah dengan hartanya hingga binasa…, wahai orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh…, wahai orang yang tertipu dengan masa mudanya sehingga lupa bahwa ia akan tua dan mati…, wahai orang yang berani terhadap Robnya karena merasa panjang umurnya dan tingginya angan-angan sehingga tiba-tiba disambar oleh kematian…maka kapan engkau bisa kembali ke dunia jika telah mati…??.Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabdaاُذْكُرُوا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ“Ingatlah penghancur keledzatan…”Karena tidaklah ia mengingat kematian dalam sesuatu yang banyak kecuali akan menjadikan yang banyak tersebut menjadi sedikit, dan tidaklah disebutkan pada yang sedikit kecuali menjadikannya terasa banyak.Tidakkah sekarang saatnya engkau bertaubat dan kembali kepada Robmu?Kapan lagi engkau baru terbangun dari kelalaian ini yang menguasaimu, lalu engkau memenuhi panggilan Robmu?Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…? Dari negeri-negeri yang telah kosong (dihancurkan)…? Dulu mereka ada sekarang hanya tinggal bekasnya…, dahulu mereka jaya sekarang hanya tinggal cerita…??Sesungguhnya datang dan perginya tahun merupakan pelajaran….hari telah engkau tinggalkan di belakangmu dan hari baru yang kau jumpai di hadapanmu, hingga tiba ajalmu dan terputuslah harapan. Allah berfirmanوَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢)Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu) (QS An-Najm : 39-42)Maka beramalah untuk hari akhiratmu yang kekal yang tidak akan sirna kenikamatannya selamanya…Allah berfirman :ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤)لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)Masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (QS Qoof : 34-35)Jagalah diri kalian dari neraka jahanam yang tidak pernah lelah untuk membakar penghuninya…dengan menjalankan perintah Allah yang ditekankan…dengan menjauhi kemurkaanNya.فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ (١٩)يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ (٢٠)وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ (٢١)كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (٢٢)Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka), dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. (QS Al-Hajj : 19-22)Allah berfirman :وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS Al-Baqoroh : 223)Semoga Allah memberkahi kalian dalam Al-Qur’an yang agung. Khutbah Kedua :Segala puji bagi Allah Yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, Yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya dengan mencatat seluruh amal perbuatan, lalu memberi balasan di atasnya dengan balasan yang sesuai. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, serta aku bertaubat dan beristighfar kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, bagiNya al-asmaa al-husnaa (nama-nama terindah). Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang terpilih. Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang sabar dan bertakwa. Amma ba’du…Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah membuka bagi kalian pintu-pintu rahmat dengan mensyari’atkan kepada kalian perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, maka janganlah salah seorang dari kalian menutup pintu-pintu rahmat tersebut pada dirinya dengan memerangi Allah dengan melakukan dosa-dosa. Sungguh Allah telah berfirmanوَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦)Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (QS Al-A’roof : 156)Wahai hamba Allah…, gunakanlah masa sehatmu untuk berbuat baik. Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغDua kenikmatan yang banyak orang tertipu yaitu kesehatan dan waktu luang.Dan dari Ibnu Umar semoga Allah meridhoinya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau musafir yang numpang lewat”Wahai kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Allah berfirman :إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzaab : 56)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

Hukum Tidur di Tengah Khutbah Jumat

Hukum tidur di tengah khutbah Jumat. Kita sering lihat kelakuan sebagian jamaah shalat Jumat seperti itu. Ngantuk berat memaksa mereka tidur di tengah khutbah Jumat. Bagaimana pandangan fikih mengenai fenomena ini? Yang jelas tidak boleh sengaja tidur di tengah-tengah khutbah Jumat. Yang diperintahkan ketika imam menyampaikan khutbah adalah diam. Sebagian ulama melarang untuk duduk sambil memeluk lutut saat Jumatan. Di antara alasannya karena dikhawatirkan akan tertidur, sehingga wudhunya batal lalu tidak sampai mendengar khutbah. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hukum Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khottobi yang menyatakan, نهي عنها لانها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض ويمنع من استماع الخطبة “Duduk dengan menekuk lutut itu dilarang karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah, dapat menyebabkan wudhu batal, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Adapun jika tidurnya sampai nyenyak, hendaklah wudhunya diulangi. Karena tidur yang nyenyak termasuk membatalkan wudhu. Lihat: Tidur Membatalkan Wudhu. Semoga bermanfaat bagi yang akan menjalani shalat Jumat. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 22 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Tagskhutbah jumat tidur

Hukum Tidur di Tengah Khutbah Jumat

Hukum tidur di tengah khutbah Jumat. Kita sering lihat kelakuan sebagian jamaah shalat Jumat seperti itu. Ngantuk berat memaksa mereka tidur di tengah khutbah Jumat. Bagaimana pandangan fikih mengenai fenomena ini? Yang jelas tidak boleh sengaja tidur di tengah-tengah khutbah Jumat. Yang diperintahkan ketika imam menyampaikan khutbah adalah diam. Sebagian ulama melarang untuk duduk sambil memeluk lutut saat Jumatan. Di antara alasannya karena dikhawatirkan akan tertidur, sehingga wudhunya batal lalu tidak sampai mendengar khutbah. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hukum Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khottobi yang menyatakan, نهي عنها لانها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض ويمنع من استماع الخطبة “Duduk dengan menekuk lutut itu dilarang karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah, dapat menyebabkan wudhu batal, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Adapun jika tidurnya sampai nyenyak, hendaklah wudhunya diulangi. Karena tidur yang nyenyak termasuk membatalkan wudhu. Lihat: Tidur Membatalkan Wudhu. Semoga bermanfaat bagi yang akan menjalani shalat Jumat. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 22 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Tagskhutbah jumat tidur
Hukum tidur di tengah khutbah Jumat. Kita sering lihat kelakuan sebagian jamaah shalat Jumat seperti itu. Ngantuk berat memaksa mereka tidur di tengah khutbah Jumat. Bagaimana pandangan fikih mengenai fenomena ini? Yang jelas tidak boleh sengaja tidur di tengah-tengah khutbah Jumat. Yang diperintahkan ketika imam menyampaikan khutbah adalah diam. Sebagian ulama melarang untuk duduk sambil memeluk lutut saat Jumatan. Di antara alasannya karena dikhawatirkan akan tertidur, sehingga wudhunya batal lalu tidak sampai mendengar khutbah. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hukum Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khottobi yang menyatakan, نهي عنها لانها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض ويمنع من استماع الخطبة “Duduk dengan menekuk lutut itu dilarang karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah, dapat menyebabkan wudhu batal, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Adapun jika tidurnya sampai nyenyak, hendaklah wudhunya diulangi. Karena tidur yang nyenyak termasuk membatalkan wudhu. Lihat: Tidur Membatalkan Wudhu. Semoga bermanfaat bagi yang akan menjalani shalat Jumat. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 22 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Tagskhutbah jumat tidur


Hukum tidur di tengah khutbah Jumat. Kita sering lihat kelakuan sebagian jamaah shalat Jumat seperti itu. Ngantuk berat memaksa mereka tidur di tengah khutbah Jumat. Bagaimana pandangan fikih mengenai fenomena ini? Yang jelas tidak boleh sengaja tidur di tengah-tengah khutbah Jumat. Yang diperintahkan ketika imam menyampaikan khutbah adalah diam. Sebagian ulama melarang untuk duduk sambil memeluk lutut saat Jumatan. Di antara alasannya karena dikhawatirkan akan tertidur, sehingga wudhunya batal lalu tidak sampai mendengar khutbah. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Hukum Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khottobi yang menyatakan, نهي عنها لانها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض ويمنع من استماع الخطبة “Duduk dengan menekuk lutut itu dilarang karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah, dapat menyebabkan wudhu batal, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Adapun jika tidurnya sampai nyenyak, hendaklah wudhunya diulangi. Karena tidur yang nyenyak termasuk membatalkan wudhu. Lihat: Tidur Membatalkan Wudhu. Semoga bermanfaat bagi yang akan menjalani shalat Jumat. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 22 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Tagskhutbah jumat tidur

Kajian Rumaysho.Com di Malang (18 Oktober 2014)

Bagi yang punya keluangan waktu, silakan bersua dengan pengasuh Rumaysho.Com di kota Malang dalam kajian umum bertema “10 Pelebur Dosa” pada Sabtu sore, 23 Dzulhijjah 1435 H (18 Oktober 2014). Tema: “10 Pelebur Dosa” (diambil dari buku penulis) Pemateri: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimred Muslim.Or.Id, murid Syaikh Shalih Al Fauzan) Tempat: Masjid As-Salam, Jl. Bendungan Riam Kanan, Malang, Jawa Timur. Waktu: Sabtu, 23 Dzulhijjah 1435 / 18 Oktober 2014, 15.30 – 17.00 WIB Informasi: Al-Akh Muttaqin (0341-9009373), Al-Akh Vidi (08123361278) *In syaa Allaah disediakan 200 buku saku “10 Pelebur Dosa” gratis. Diselenggarakan oleh Takmir Masjid As-Salam. (Didukung oleh Shahabat Muslim)   Kajian Rumaysho.Com di Malang   * Bagi yang tidak bisa hadir dan ingin memiliki buku 10 Pelebur Dosa buah karya Muhammad Abduh Tuasikal, silakan memesan di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Baca info buku di sini. — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam

Kajian Rumaysho.Com di Malang (18 Oktober 2014)

Bagi yang punya keluangan waktu, silakan bersua dengan pengasuh Rumaysho.Com di kota Malang dalam kajian umum bertema “10 Pelebur Dosa” pada Sabtu sore, 23 Dzulhijjah 1435 H (18 Oktober 2014). Tema: “10 Pelebur Dosa” (diambil dari buku penulis) Pemateri: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimred Muslim.Or.Id, murid Syaikh Shalih Al Fauzan) Tempat: Masjid As-Salam, Jl. Bendungan Riam Kanan, Malang, Jawa Timur. Waktu: Sabtu, 23 Dzulhijjah 1435 / 18 Oktober 2014, 15.30 – 17.00 WIB Informasi: Al-Akh Muttaqin (0341-9009373), Al-Akh Vidi (08123361278) *In syaa Allaah disediakan 200 buku saku “10 Pelebur Dosa” gratis. Diselenggarakan oleh Takmir Masjid As-Salam. (Didukung oleh Shahabat Muslim)   Kajian Rumaysho.Com di Malang   * Bagi yang tidak bisa hadir dan ingin memiliki buku 10 Pelebur Dosa buah karya Muhammad Abduh Tuasikal, silakan memesan di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Baca info buku di sini. — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam
Bagi yang punya keluangan waktu, silakan bersua dengan pengasuh Rumaysho.Com di kota Malang dalam kajian umum bertema “10 Pelebur Dosa” pada Sabtu sore, 23 Dzulhijjah 1435 H (18 Oktober 2014). Tema: “10 Pelebur Dosa” (diambil dari buku penulis) Pemateri: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimred Muslim.Or.Id, murid Syaikh Shalih Al Fauzan) Tempat: Masjid As-Salam, Jl. Bendungan Riam Kanan, Malang, Jawa Timur. Waktu: Sabtu, 23 Dzulhijjah 1435 / 18 Oktober 2014, 15.30 – 17.00 WIB Informasi: Al-Akh Muttaqin (0341-9009373), Al-Akh Vidi (08123361278) *In syaa Allaah disediakan 200 buku saku “10 Pelebur Dosa” gratis. Diselenggarakan oleh Takmir Masjid As-Salam. (Didukung oleh Shahabat Muslim)   Kajian Rumaysho.Com di Malang   * Bagi yang tidak bisa hadir dan ingin memiliki buku 10 Pelebur Dosa buah karya Muhammad Abduh Tuasikal, silakan memesan di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Baca info buku di sini. — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam


Bagi yang punya keluangan waktu, silakan bersua dengan pengasuh Rumaysho.Com di kota Malang dalam kajian umum bertema “10 Pelebur Dosa” pada Sabtu sore, 23 Dzulhijjah 1435 H (18 Oktober 2014). Tema: “10 Pelebur Dosa” (diambil dari buku penulis) Pemateri: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimred Muslim.Or.Id, murid Syaikh Shalih Al Fauzan) Tempat: Masjid As-Salam, Jl. Bendungan Riam Kanan, Malang, Jawa Timur. Waktu: Sabtu, 23 Dzulhijjah 1435 / 18 Oktober 2014, 15.30 – 17.00 WIB Informasi: Al-Akh Muttaqin (0341-9009373), Al-Akh Vidi (08123361278) *In syaa Allaah disediakan 200 buku saku “10 Pelebur Dosa” gratis. Diselenggarakan oleh Takmir Masjid As-Salam. (Didukung oleh Shahabat Muslim)   Kajian Rumaysho.Com di Malang   * Bagi yang tidak bisa hadir dan ingin memiliki buku 10 Pelebur Dosa buah karya Muhammad Abduh Tuasikal, silakan memesan di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.6.000,- (belum termasuk ongkir). Baca info buku di sini. — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam

Istri Menyuruh Memotong Jenggot

Ada seorang suami yang disuruh istrinya untuk memotong jenggotnya. Istri tidak senang dengan penampilan semacam itu. Apakah permintaan istri ini mesti dituruti? Suami Jangan Sampai Takut Istri Suami adalah pemimpin di rumahnya, maka tentu saja pemimpin tidak bisa dipaksa oleh bawahannya kecuali jika memang suami ikut Ikatan Suami Takut Istri (ISTI). Namun sekali lagi, suami adalah pemimpin yang seharusnya bisa memberikan penjelasan pada istri akan perintah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang ia jalankan, bukan mengikuti istri begitu saja. Allah menyatakan bahwa kedudukan suami lebih daripada istri, وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 228) Sebagaimana telah dikatakan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisaa’ : 34) Contohnya saja, para istri Nabi berada di bawah kekuasaan para Nabi, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).” (QS. At Tahrim : 10) Dalam hadits juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “Andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada yang lain, tentu akan kuperintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Jadi, jangan jadi suami yang takut istri. Memelihara Jenggot itu Wajib Suami pun harus bisa menjelaskan bahwa memelihara jenggot adalah bagian dari kewajiban sebagaimana ia pun bisa menjelaskan pada istrinya bahwa shalat jamaah itu wajib bagi laki-laki. Perintah dalam hadits semacam ini yang mesti dijelaskan pada istri, أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى “Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 259) Imam Nawawi menjelaskan bahwa memelihara jenggot yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits-hadits semacam itu bermakna membiarkan jenggot tersebut apa adanya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 134) Kalau Imam Nawawi menyatakan membiarkan apa adanya, berarti merapikannya atau memendekkannya saja tidak dibolehkan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, ويُحْرَمُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ “Memangkas jenggot itu diharamkan.” (Fatawa Al Kubro, 5: 302) Tidak Boleh Menuruti Makhluk untuk Bermaksiat pada Allah Kalau sudah jelas memangkas jenggot itu haram berarti menuruti istri tidak dibolehkan dalam hal itu. Dari ‘Ali, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun menjelang Ashar, 21 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjenggot

Istri Menyuruh Memotong Jenggot

Ada seorang suami yang disuruh istrinya untuk memotong jenggotnya. Istri tidak senang dengan penampilan semacam itu. Apakah permintaan istri ini mesti dituruti? Suami Jangan Sampai Takut Istri Suami adalah pemimpin di rumahnya, maka tentu saja pemimpin tidak bisa dipaksa oleh bawahannya kecuali jika memang suami ikut Ikatan Suami Takut Istri (ISTI). Namun sekali lagi, suami adalah pemimpin yang seharusnya bisa memberikan penjelasan pada istri akan perintah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang ia jalankan, bukan mengikuti istri begitu saja. Allah menyatakan bahwa kedudukan suami lebih daripada istri, وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 228) Sebagaimana telah dikatakan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisaa’ : 34) Contohnya saja, para istri Nabi berada di bawah kekuasaan para Nabi, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).” (QS. At Tahrim : 10) Dalam hadits juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “Andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada yang lain, tentu akan kuperintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Jadi, jangan jadi suami yang takut istri. Memelihara Jenggot itu Wajib Suami pun harus bisa menjelaskan bahwa memelihara jenggot adalah bagian dari kewajiban sebagaimana ia pun bisa menjelaskan pada istrinya bahwa shalat jamaah itu wajib bagi laki-laki. Perintah dalam hadits semacam ini yang mesti dijelaskan pada istri, أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى “Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 259) Imam Nawawi menjelaskan bahwa memelihara jenggot yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits-hadits semacam itu bermakna membiarkan jenggot tersebut apa adanya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 134) Kalau Imam Nawawi menyatakan membiarkan apa adanya, berarti merapikannya atau memendekkannya saja tidak dibolehkan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, ويُحْرَمُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ “Memangkas jenggot itu diharamkan.” (Fatawa Al Kubro, 5: 302) Tidak Boleh Menuruti Makhluk untuk Bermaksiat pada Allah Kalau sudah jelas memangkas jenggot itu haram berarti menuruti istri tidak dibolehkan dalam hal itu. Dari ‘Ali, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun menjelang Ashar, 21 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjenggot
Ada seorang suami yang disuruh istrinya untuk memotong jenggotnya. Istri tidak senang dengan penampilan semacam itu. Apakah permintaan istri ini mesti dituruti? Suami Jangan Sampai Takut Istri Suami adalah pemimpin di rumahnya, maka tentu saja pemimpin tidak bisa dipaksa oleh bawahannya kecuali jika memang suami ikut Ikatan Suami Takut Istri (ISTI). Namun sekali lagi, suami adalah pemimpin yang seharusnya bisa memberikan penjelasan pada istri akan perintah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang ia jalankan, bukan mengikuti istri begitu saja. Allah menyatakan bahwa kedudukan suami lebih daripada istri, وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 228) Sebagaimana telah dikatakan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisaa’ : 34) Contohnya saja, para istri Nabi berada di bawah kekuasaan para Nabi, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).” (QS. At Tahrim : 10) Dalam hadits juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “Andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada yang lain, tentu akan kuperintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Jadi, jangan jadi suami yang takut istri. Memelihara Jenggot itu Wajib Suami pun harus bisa menjelaskan bahwa memelihara jenggot adalah bagian dari kewajiban sebagaimana ia pun bisa menjelaskan pada istrinya bahwa shalat jamaah itu wajib bagi laki-laki. Perintah dalam hadits semacam ini yang mesti dijelaskan pada istri, أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى “Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 259) Imam Nawawi menjelaskan bahwa memelihara jenggot yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits-hadits semacam itu bermakna membiarkan jenggot tersebut apa adanya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 134) Kalau Imam Nawawi menyatakan membiarkan apa adanya, berarti merapikannya atau memendekkannya saja tidak dibolehkan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, ويُحْرَمُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ “Memangkas jenggot itu diharamkan.” (Fatawa Al Kubro, 5: 302) Tidak Boleh Menuruti Makhluk untuk Bermaksiat pada Allah Kalau sudah jelas memangkas jenggot itu haram berarti menuruti istri tidak dibolehkan dalam hal itu. Dari ‘Ali, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun menjelang Ashar, 21 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjenggot


Ada seorang suami yang disuruh istrinya untuk memotong jenggotnya. Istri tidak senang dengan penampilan semacam itu. Apakah permintaan istri ini mesti dituruti? Suami Jangan Sampai Takut Istri Suami adalah pemimpin di rumahnya, maka tentu saja pemimpin tidak bisa dipaksa oleh bawahannya kecuali jika memang suami ikut Ikatan Suami Takut Istri (ISTI). Namun sekali lagi, suami adalah pemimpin yang seharusnya bisa memberikan penjelasan pada istri akan perintah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang ia jalankan, bukan mengikuti istri begitu saja. Allah menyatakan bahwa kedudukan suami lebih daripada istri, وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 228) Sebagaimana telah dikatakan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita, الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisaa’ : 34) Contohnya saja, para istri Nabi berada di bawah kekuasaan para Nabi, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).” (QS. At Tahrim : 10) Dalam hadits juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “Andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada yang lain, tentu akan kuperintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Jadi, jangan jadi suami yang takut istri. Memelihara Jenggot itu Wajib Suami pun harus bisa menjelaskan bahwa memelihara jenggot adalah bagian dari kewajiban sebagaimana ia pun bisa menjelaskan pada istrinya bahwa shalat jamaah itu wajib bagi laki-laki. Perintah dalam hadits semacam ini yang mesti dijelaskan pada istri, أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى “Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 259) Imam Nawawi menjelaskan bahwa memelihara jenggot yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits-hadits semacam itu bermakna membiarkan jenggot tersebut apa adanya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 134) Kalau Imam Nawawi menyatakan membiarkan apa adanya, berarti merapikannya atau memendekkannya saja tidak dibolehkan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, ويُحْرَمُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ “Memangkas jenggot itu diharamkan.” (Fatawa Al Kubro, 5: 302) Tidak Boleh Menuruti Makhluk untuk Bermaksiat pada Allah Kalau sudah jelas memangkas jenggot itu haram berarti menuruti istri tidak dibolehkan dalam hal itu. Dari ‘Ali, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun menjelang Ashar, 21 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjenggot

Sifat Shalat Nabi (26): Di Tasyahud Akhir, Nabi Berdoa Agar Semangat dalam Ibadah

Di tasyahud akhir, di antara doa yang dipanjatkan Nabi adalah doa agar terus semangat dalam ibadah, maksudnya dijauhkan dari sifat “juben”. Sa’ad bin ‘Abi Waqqash biasa mengajarkan anaknya beberapa kalimat doa berikut. Ia mengajarkan doa tersebut sebagaimana para pengajar mengajarkan menulis. Ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa ini di dubur shalat (akhir tasyahud sebelum salam), اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ilaa ardzalil ‘umur, wa a’udzu bika min fitnatid dunyaa, wa a’udzu bika min ‘adzabil qodbri (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemah melakukan ibadah yang mulia, aku meminta perlindungan pada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan pada-Mu dari tergoda syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban), aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur).” (HR. Bukhari no. 2822). Perhatian kita pada meminta perlindungan dari juben. Apa yang dimaksud dengan sifat juben tersebut? Kenapa sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di akhir tasyahud memanjatkan doa itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6: 35) dan As Suyuthi dalam Hasyiyah Sunan An Nasai (7: 143) berkata bahwa juben adalah antonim dari kata syaja’ah yang berarti berani. Berarti juben adalah pengecut atau tidak berani. Al Muhallab sebagaimana dinukil dalam Syarh Bukhari karya Ibnu Batthol menyatakan bahwa juben adalah sifat pengecut dengan lari dari medan pertempuran. (Syarh Bukhari, 9: 45) Dalam ‘Aunul Ma’bud (4: 316, penjelasan hadits no. 1539) disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat juben karena sifat tersebut dapat membuat seseorang tidak bisa memenuhi panggilan jihad yang wajib, tidak berani mengemukakan kebenaran, tidak bisa mengingkari kemungkaran, juga akan luput dari kewajiban lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lemahnya hati sehingga menghalangi dari melakukan amalan-amalan yang mulia seperti jihad, berkata yang benar, sulit melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, juga dalam hal lainnya yang merupakan hal-hal mulia dalam Islam. (Minhatul ‘Allam, hal. 186). Intinya, sifat juben ini menghalangi dari melakukan kewajiban dan amalan yang mulia. Dalam tasyahud akhir sebelum akhir, hendaklah kita bisa mengamalkan doa ini sehingga kita bisa terus dimudahkan oleh Allah dalam ibadah. Semoga doa ini bisa dihafalkan dan dipraktekkan oleh para pembaca Rumaysho.Com. Moga bermanfaat. Ingatlah, hanya dengan taufik dan pertolongan Allah-lah kita bisa mudah dan semangat dalam ibadah. Jangan bosan untuk berdoa agar terus semangat dalam ketaatan.   Referensi: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syarh Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah. Syarh Sunan An Nasai, Catatan kaki dari As Sindiy dan As Suyuthi, Asy Syamilah. — Selesai disusun ba’da Zhuhur di Darush Sholihin, 21 Dzulhijjah 1435 H (16-10-2014) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara shalat doa

Sifat Shalat Nabi (26): Di Tasyahud Akhir, Nabi Berdoa Agar Semangat dalam Ibadah

Di tasyahud akhir, di antara doa yang dipanjatkan Nabi adalah doa agar terus semangat dalam ibadah, maksudnya dijauhkan dari sifat “juben”. Sa’ad bin ‘Abi Waqqash biasa mengajarkan anaknya beberapa kalimat doa berikut. Ia mengajarkan doa tersebut sebagaimana para pengajar mengajarkan menulis. Ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa ini di dubur shalat (akhir tasyahud sebelum salam), اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ilaa ardzalil ‘umur, wa a’udzu bika min fitnatid dunyaa, wa a’udzu bika min ‘adzabil qodbri (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemah melakukan ibadah yang mulia, aku meminta perlindungan pada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan pada-Mu dari tergoda syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban), aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur).” (HR. Bukhari no. 2822). Perhatian kita pada meminta perlindungan dari juben. Apa yang dimaksud dengan sifat juben tersebut? Kenapa sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di akhir tasyahud memanjatkan doa itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6: 35) dan As Suyuthi dalam Hasyiyah Sunan An Nasai (7: 143) berkata bahwa juben adalah antonim dari kata syaja’ah yang berarti berani. Berarti juben adalah pengecut atau tidak berani. Al Muhallab sebagaimana dinukil dalam Syarh Bukhari karya Ibnu Batthol menyatakan bahwa juben adalah sifat pengecut dengan lari dari medan pertempuran. (Syarh Bukhari, 9: 45) Dalam ‘Aunul Ma’bud (4: 316, penjelasan hadits no. 1539) disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat juben karena sifat tersebut dapat membuat seseorang tidak bisa memenuhi panggilan jihad yang wajib, tidak berani mengemukakan kebenaran, tidak bisa mengingkari kemungkaran, juga akan luput dari kewajiban lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lemahnya hati sehingga menghalangi dari melakukan amalan-amalan yang mulia seperti jihad, berkata yang benar, sulit melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, juga dalam hal lainnya yang merupakan hal-hal mulia dalam Islam. (Minhatul ‘Allam, hal. 186). Intinya, sifat juben ini menghalangi dari melakukan kewajiban dan amalan yang mulia. Dalam tasyahud akhir sebelum akhir, hendaklah kita bisa mengamalkan doa ini sehingga kita bisa terus dimudahkan oleh Allah dalam ibadah. Semoga doa ini bisa dihafalkan dan dipraktekkan oleh para pembaca Rumaysho.Com. Moga bermanfaat. Ingatlah, hanya dengan taufik dan pertolongan Allah-lah kita bisa mudah dan semangat dalam ibadah. Jangan bosan untuk berdoa agar terus semangat dalam ketaatan.   Referensi: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syarh Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah. Syarh Sunan An Nasai, Catatan kaki dari As Sindiy dan As Suyuthi, Asy Syamilah. — Selesai disusun ba’da Zhuhur di Darush Sholihin, 21 Dzulhijjah 1435 H (16-10-2014) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara shalat doa
Di tasyahud akhir, di antara doa yang dipanjatkan Nabi adalah doa agar terus semangat dalam ibadah, maksudnya dijauhkan dari sifat “juben”. Sa’ad bin ‘Abi Waqqash biasa mengajarkan anaknya beberapa kalimat doa berikut. Ia mengajarkan doa tersebut sebagaimana para pengajar mengajarkan menulis. Ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa ini di dubur shalat (akhir tasyahud sebelum salam), اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ilaa ardzalil ‘umur, wa a’udzu bika min fitnatid dunyaa, wa a’udzu bika min ‘adzabil qodbri (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemah melakukan ibadah yang mulia, aku meminta perlindungan pada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan pada-Mu dari tergoda syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban), aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur).” (HR. Bukhari no. 2822). Perhatian kita pada meminta perlindungan dari juben. Apa yang dimaksud dengan sifat juben tersebut? Kenapa sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di akhir tasyahud memanjatkan doa itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6: 35) dan As Suyuthi dalam Hasyiyah Sunan An Nasai (7: 143) berkata bahwa juben adalah antonim dari kata syaja’ah yang berarti berani. Berarti juben adalah pengecut atau tidak berani. Al Muhallab sebagaimana dinukil dalam Syarh Bukhari karya Ibnu Batthol menyatakan bahwa juben adalah sifat pengecut dengan lari dari medan pertempuran. (Syarh Bukhari, 9: 45) Dalam ‘Aunul Ma’bud (4: 316, penjelasan hadits no. 1539) disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat juben karena sifat tersebut dapat membuat seseorang tidak bisa memenuhi panggilan jihad yang wajib, tidak berani mengemukakan kebenaran, tidak bisa mengingkari kemungkaran, juga akan luput dari kewajiban lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lemahnya hati sehingga menghalangi dari melakukan amalan-amalan yang mulia seperti jihad, berkata yang benar, sulit melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, juga dalam hal lainnya yang merupakan hal-hal mulia dalam Islam. (Minhatul ‘Allam, hal. 186). Intinya, sifat juben ini menghalangi dari melakukan kewajiban dan amalan yang mulia. Dalam tasyahud akhir sebelum akhir, hendaklah kita bisa mengamalkan doa ini sehingga kita bisa terus dimudahkan oleh Allah dalam ibadah. Semoga doa ini bisa dihafalkan dan dipraktekkan oleh para pembaca Rumaysho.Com. Moga bermanfaat. Ingatlah, hanya dengan taufik dan pertolongan Allah-lah kita bisa mudah dan semangat dalam ibadah. Jangan bosan untuk berdoa agar terus semangat dalam ketaatan.   Referensi: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syarh Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah. Syarh Sunan An Nasai, Catatan kaki dari As Sindiy dan As Suyuthi, Asy Syamilah. — Selesai disusun ba’da Zhuhur di Darush Sholihin, 21 Dzulhijjah 1435 H (16-10-2014) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara shalat doa


Di tasyahud akhir, di antara doa yang dipanjatkan Nabi adalah doa agar terus semangat dalam ibadah, maksudnya dijauhkan dari sifat “juben”. Sa’ad bin ‘Abi Waqqash biasa mengajarkan anaknya beberapa kalimat doa berikut. Ia mengajarkan doa tersebut sebagaimana para pengajar mengajarkan menulis. Ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa ini di dubur shalat (akhir tasyahud sebelum salam), اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ilaa ardzalil ‘umur, wa a’udzu bika min fitnatid dunyaa, wa a’udzu bika min ‘adzabil qodbri (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemah melakukan ibadah yang mulia, aku meminta perlindungan pada-Mu dari keadaan tua yang jelek, aku meminta perlindungan pada-Mu dari tergoda syahwat dunia (sehingga lalai dari kewajiban), aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa kubur).” (HR. Bukhari no. 2822). Perhatian kita pada meminta perlindungan dari juben. Apa yang dimaksud dengan sifat juben tersebut? Kenapa sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di akhir tasyahud memanjatkan doa itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6: 35) dan As Suyuthi dalam Hasyiyah Sunan An Nasai (7: 143) berkata bahwa juben adalah antonim dari kata syaja’ah yang berarti berani. Berarti juben adalah pengecut atau tidak berani. Al Muhallab sebagaimana dinukil dalam Syarh Bukhari karya Ibnu Batthol menyatakan bahwa juben adalah sifat pengecut dengan lari dari medan pertempuran. (Syarh Bukhari, 9: 45) Dalam ‘Aunul Ma’bud (4: 316, penjelasan hadits no. 1539) disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat juben karena sifat tersebut dapat membuat seseorang tidak bisa memenuhi panggilan jihad yang wajib, tidak berani mengemukakan kebenaran, tidak bisa mengingkari kemungkaran, juga akan luput dari kewajiban lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lemahnya hati sehingga menghalangi dari melakukan amalan-amalan yang mulia seperti jihad, berkata yang benar, sulit melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, juga dalam hal lainnya yang merupakan hal-hal mulia dalam Islam. (Minhatul ‘Allam, hal. 186). Intinya, sifat juben ini menghalangi dari melakukan kewajiban dan amalan yang mulia. Dalam tasyahud akhir sebelum akhir, hendaklah kita bisa mengamalkan doa ini sehingga kita bisa terus dimudahkan oleh Allah dalam ibadah. Semoga doa ini bisa dihafalkan dan dipraktekkan oleh para pembaca Rumaysho.Com. Moga bermanfaat. Ingatlah, hanya dengan taufik dan pertolongan Allah-lah kita bisa mudah dan semangat dalam ibadah. Jangan bosan untuk berdoa agar terus semangat dalam ketaatan.   Referensi: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H. Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syarh Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah. Syarh Sunan An Nasai, Catatan kaki dari As Sindiy dan As Suyuthi, Asy Syamilah. — Selesai disusun ba’da Zhuhur di Darush Sholihin, 21 Dzulhijjah 1435 H (16-10-2014) Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara shalat doa

Walau Kau Katakan Non Muslim itu Jujur dan Amanat …

Walau kau katakan bahwa non muslim tersebut lebih baik, lebih amanat, lebih jujur, lebih bersih, lebih adil, dan menyebutkan rentetan kebaikan lainnya, namun Allah tetap mengatakan bahwa mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk. Disebutkan dalam surat Al Bayyinah, non muslim itu syarrul bariyyah (sejelek-jeleknya makhluk). Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6-8). Mengenai tempat orang kafir yaitu bagi ahli kitab dan non-muslim lainnya kelak adalah di neraka. Mereka akan kekal di dalamnya. Jika dikatakan mereka kekal di dalamnya, berarti mereka terus menerus di dalamnya dan tidak berpindah dari tempat tersebut. Mereka pun disebut sejelek-jeleknya makhluk yang Allah berlepas diri dari mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang musyrik adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah. Jika mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berarti dipastikan pada mereka kejelekan. Karena yang dimaksud kejelekan di sini adalah nampak pada mereka kejelekan yang tidak mungkin kita berhusnuzhon (berprasangka baik) pada mereka. Kecuali ada beberapa orang yang dipersaksikan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara orang musyrik seperti ‘Abdullah bin Ariqoth. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewanya untuk menunjukkan jalan ketika hijrah. Akan tetapi selain dia, yaitu mayoritas orang musyrik adalah tidak bisa kita menaruh percaya pada mereka. Karena mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 284). Jadi, masikah kita memuji-muji non muslim dengan pujian setinggi langit? Baca artikel menarik: Memilih Pemimpin Muslim ataukah Non Muslim yang Bersih? Semoga orang yang terlalu mengagungkan non muslim mau introspeksi diri atas kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di perjalanan Halim – Kemang, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjujur loyal non muslim

Walau Kau Katakan Non Muslim itu Jujur dan Amanat …

Walau kau katakan bahwa non muslim tersebut lebih baik, lebih amanat, lebih jujur, lebih bersih, lebih adil, dan menyebutkan rentetan kebaikan lainnya, namun Allah tetap mengatakan bahwa mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk. Disebutkan dalam surat Al Bayyinah, non muslim itu syarrul bariyyah (sejelek-jeleknya makhluk). Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6-8). Mengenai tempat orang kafir yaitu bagi ahli kitab dan non-muslim lainnya kelak adalah di neraka. Mereka akan kekal di dalamnya. Jika dikatakan mereka kekal di dalamnya, berarti mereka terus menerus di dalamnya dan tidak berpindah dari tempat tersebut. Mereka pun disebut sejelek-jeleknya makhluk yang Allah berlepas diri dari mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang musyrik adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah. Jika mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berarti dipastikan pada mereka kejelekan. Karena yang dimaksud kejelekan di sini adalah nampak pada mereka kejelekan yang tidak mungkin kita berhusnuzhon (berprasangka baik) pada mereka. Kecuali ada beberapa orang yang dipersaksikan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara orang musyrik seperti ‘Abdullah bin Ariqoth. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewanya untuk menunjukkan jalan ketika hijrah. Akan tetapi selain dia, yaitu mayoritas orang musyrik adalah tidak bisa kita menaruh percaya pada mereka. Karena mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 284). Jadi, masikah kita memuji-muji non muslim dengan pujian setinggi langit? Baca artikel menarik: Memilih Pemimpin Muslim ataukah Non Muslim yang Bersih? Semoga orang yang terlalu mengagungkan non muslim mau introspeksi diri atas kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di perjalanan Halim – Kemang, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjujur loyal non muslim
Walau kau katakan bahwa non muslim tersebut lebih baik, lebih amanat, lebih jujur, lebih bersih, lebih adil, dan menyebutkan rentetan kebaikan lainnya, namun Allah tetap mengatakan bahwa mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk. Disebutkan dalam surat Al Bayyinah, non muslim itu syarrul bariyyah (sejelek-jeleknya makhluk). Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6-8). Mengenai tempat orang kafir yaitu bagi ahli kitab dan non-muslim lainnya kelak adalah di neraka. Mereka akan kekal di dalamnya. Jika dikatakan mereka kekal di dalamnya, berarti mereka terus menerus di dalamnya dan tidak berpindah dari tempat tersebut. Mereka pun disebut sejelek-jeleknya makhluk yang Allah berlepas diri dari mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang musyrik adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah. Jika mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berarti dipastikan pada mereka kejelekan. Karena yang dimaksud kejelekan di sini adalah nampak pada mereka kejelekan yang tidak mungkin kita berhusnuzhon (berprasangka baik) pada mereka. Kecuali ada beberapa orang yang dipersaksikan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara orang musyrik seperti ‘Abdullah bin Ariqoth. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewanya untuk menunjukkan jalan ketika hijrah. Akan tetapi selain dia, yaitu mayoritas orang musyrik adalah tidak bisa kita menaruh percaya pada mereka. Karena mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 284). Jadi, masikah kita memuji-muji non muslim dengan pujian setinggi langit? Baca artikel menarik: Memilih Pemimpin Muslim ataukah Non Muslim yang Bersih? Semoga orang yang terlalu mengagungkan non muslim mau introspeksi diri atas kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di perjalanan Halim – Kemang, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjujur loyal non muslim


Walau kau katakan bahwa non muslim tersebut lebih baik, lebih amanat, lebih jujur, lebih bersih, lebih adil, dan menyebutkan rentetan kebaikan lainnya, namun Allah tetap mengatakan bahwa mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk. Disebutkan dalam surat Al Bayyinah, non muslim itu syarrul bariyyah (sejelek-jeleknya makhluk). Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6-8). Mengenai tempat orang kafir yaitu bagi ahli kitab dan non-muslim lainnya kelak adalah di neraka. Mereka akan kekal di dalamnya. Jika dikatakan mereka kekal di dalamnya, berarti mereka terus menerus di dalamnya dan tidak berpindah dari tempat tersebut. Mereka pun disebut sejelek-jeleknya makhluk yang Allah berlepas diri dari mereka. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang musyrik adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah. Jika mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berarti dipastikan pada mereka kejelekan. Karena yang dimaksud kejelekan di sini adalah nampak pada mereka kejelekan yang tidak mungkin kita berhusnuzhon (berprasangka baik) pada mereka. Kecuali ada beberapa orang yang dipersaksikan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara orang musyrik seperti ‘Abdullah bin Ariqoth. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewanya untuk menunjukkan jalan ketika hijrah. Akan tetapi selain dia, yaitu mayoritas orang musyrik adalah tidak bisa kita menaruh percaya pada mereka. Karena mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 284). Jadi, masikah kita memuji-muji non muslim dengan pujian setinggi langit? Baca artikel menarik: Memilih Pemimpin Muslim ataukah Non Muslim yang Bersih? Semoga orang yang terlalu mengagungkan non muslim mau introspeksi diri atas kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun di perjalanan Halim – Kemang, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsjujur loyal non muslim

2 Sebab Allah tidak Memberikan Adzab di Dunia

2 Sebab Allah tidak Akan Memberikan Adzab di Dunia Ada 2 sebab Allah tidak menurunkan adzab bagi umat manusia ketika di dunia. Sebab pertama telah tiada, sebab kedua, masih ada hingga akhir zaman. Allah berfirman, وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun. (QS. al-Anfal: 33). Ayat ini berbicara tentang tantangan orang musyrikin quraisy, diantaranya Abu Jahal yang mengharap datangnya siksa jika memang mereka terbukti bersalah. Mereka menantang dengan sombong: وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ Ingatlah, ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (QS. al-Anfal: 32) Anda bisa perhatikan, orang musyrik sejahat itu, Allah tunda hukumannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Sehingga beliau menjadi sebab, Allah tidak menurunkan adzab.  Itulah sebab pertama. Sebab kedua adalah memperbanyak istighfar. Memohon ampun kepada Allah. Karena Dia menjamin, ‘Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun’ Suudzan Pada Diri Sendiri Ketika kita mendapatkan musibah, atau kondisi yang tidak nyaman dalam hidup kita, ada beberapa kemungkinan sebabnya. Bisa jadi karena Allah menghukum kita, agar menjadi kafarah bagi dosa kita. Bisa juga karena Allah mencintai kita dengan menguji kita dalam rangka meninggikan derajat kita. Apapun itu, sikap yang lebih tepat adalah mengedepankan suudzan kepada diri sendiri. Berburuk sangka dan meyakini, adanya musibah ini disebabkan dosa yang kita lakukan. Dan itulah yang Allah ajarkan dalam al-Quran, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ Semua musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan. Dan Dia telah mengampuni banyak dosa. (QS. as-Syura: 30). Oleh karena itu, para ulama menyarankan agar kita memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah, terutama ketika sedang mendapatkan musibah dan kondisi hidup yang tidak nyaman. Imam Hasan al-Bashri perdah didatangi 3 orang dengan keluhan yang berbeda, di waktu yang berbeda. Orang pertama datang, mengeluhkan kemarau panjang dan lama tidak hujan. Beliau hanya menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang kedua, mengeluhkan istrinya yang mandul, tidak punya anak. Beliau hanya menyarankan yang sama, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang ketiga, mengeluhkan rizkinya yang sulit. Beliau kembali menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Seketika itu, ada jamaah yang keheranan, عجبنا لك يا إمام أكلما دخل عليك رجل يسألك حاجة تقول له استغفر الله!! Anda sungguh mengherankan, wahai imam. Setiap ada orang yang mengeluhkan masalahnya kepada anda, anda hanya memberi jawaban, ‘Perbanyak istighfar.’!! Jawab Imam al-Hasan, ألم تقرأ قوله تعالى: فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا* Tidakkah kamu membaca firman Allah, فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, ( ) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, ( ) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10 – 12) Sungguh beruntung, mereka yang catatan amalnya banyak istighfarnya. Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا Sunngguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar. (HR. Ibn Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani). Allahu a’lam  

2 Sebab Allah tidak Memberikan Adzab di Dunia

2 Sebab Allah tidak Akan Memberikan Adzab di Dunia Ada 2 sebab Allah tidak menurunkan adzab bagi umat manusia ketika di dunia. Sebab pertama telah tiada, sebab kedua, masih ada hingga akhir zaman. Allah berfirman, وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun. (QS. al-Anfal: 33). Ayat ini berbicara tentang tantangan orang musyrikin quraisy, diantaranya Abu Jahal yang mengharap datangnya siksa jika memang mereka terbukti bersalah. Mereka menantang dengan sombong: وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ Ingatlah, ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (QS. al-Anfal: 32) Anda bisa perhatikan, orang musyrik sejahat itu, Allah tunda hukumannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Sehingga beliau menjadi sebab, Allah tidak menurunkan adzab.  Itulah sebab pertama. Sebab kedua adalah memperbanyak istighfar. Memohon ampun kepada Allah. Karena Dia menjamin, ‘Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun’ Suudzan Pada Diri Sendiri Ketika kita mendapatkan musibah, atau kondisi yang tidak nyaman dalam hidup kita, ada beberapa kemungkinan sebabnya. Bisa jadi karena Allah menghukum kita, agar menjadi kafarah bagi dosa kita. Bisa juga karena Allah mencintai kita dengan menguji kita dalam rangka meninggikan derajat kita. Apapun itu, sikap yang lebih tepat adalah mengedepankan suudzan kepada diri sendiri. Berburuk sangka dan meyakini, adanya musibah ini disebabkan dosa yang kita lakukan. Dan itulah yang Allah ajarkan dalam al-Quran, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ Semua musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan. Dan Dia telah mengampuni banyak dosa. (QS. as-Syura: 30). Oleh karena itu, para ulama menyarankan agar kita memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah, terutama ketika sedang mendapatkan musibah dan kondisi hidup yang tidak nyaman. Imam Hasan al-Bashri perdah didatangi 3 orang dengan keluhan yang berbeda, di waktu yang berbeda. Orang pertama datang, mengeluhkan kemarau panjang dan lama tidak hujan. Beliau hanya menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang kedua, mengeluhkan istrinya yang mandul, tidak punya anak. Beliau hanya menyarankan yang sama, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang ketiga, mengeluhkan rizkinya yang sulit. Beliau kembali menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Seketika itu, ada jamaah yang keheranan, عجبنا لك يا إمام أكلما دخل عليك رجل يسألك حاجة تقول له استغفر الله!! Anda sungguh mengherankan, wahai imam. Setiap ada orang yang mengeluhkan masalahnya kepada anda, anda hanya memberi jawaban, ‘Perbanyak istighfar.’!! Jawab Imam al-Hasan, ألم تقرأ قوله تعالى: فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا* Tidakkah kamu membaca firman Allah, فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, ( ) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, ( ) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10 – 12) Sungguh beruntung, mereka yang catatan amalnya banyak istighfarnya. Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا Sunngguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar. (HR. Ibn Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani). Allahu a’lam  
2 Sebab Allah tidak Akan Memberikan Adzab di Dunia Ada 2 sebab Allah tidak menurunkan adzab bagi umat manusia ketika di dunia. Sebab pertama telah tiada, sebab kedua, masih ada hingga akhir zaman. Allah berfirman, وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun. (QS. al-Anfal: 33). Ayat ini berbicara tentang tantangan orang musyrikin quraisy, diantaranya Abu Jahal yang mengharap datangnya siksa jika memang mereka terbukti bersalah. Mereka menantang dengan sombong: وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ Ingatlah, ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (QS. al-Anfal: 32) Anda bisa perhatikan, orang musyrik sejahat itu, Allah tunda hukumannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Sehingga beliau menjadi sebab, Allah tidak menurunkan adzab.  Itulah sebab pertama. Sebab kedua adalah memperbanyak istighfar. Memohon ampun kepada Allah. Karena Dia menjamin, ‘Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun’ Suudzan Pada Diri Sendiri Ketika kita mendapatkan musibah, atau kondisi yang tidak nyaman dalam hidup kita, ada beberapa kemungkinan sebabnya. Bisa jadi karena Allah menghukum kita, agar menjadi kafarah bagi dosa kita. Bisa juga karena Allah mencintai kita dengan menguji kita dalam rangka meninggikan derajat kita. Apapun itu, sikap yang lebih tepat adalah mengedepankan suudzan kepada diri sendiri. Berburuk sangka dan meyakini, adanya musibah ini disebabkan dosa yang kita lakukan. Dan itulah yang Allah ajarkan dalam al-Quran, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ Semua musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan. Dan Dia telah mengampuni banyak dosa. (QS. as-Syura: 30). Oleh karena itu, para ulama menyarankan agar kita memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah, terutama ketika sedang mendapatkan musibah dan kondisi hidup yang tidak nyaman. Imam Hasan al-Bashri perdah didatangi 3 orang dengan keluhan yang berbeda, di waktu yang berbeda. Orang pertama datang, mengeluhkan kemarau panjang dan lama tidak hujan. Beliau hanya menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang kedua, mengeluhkan istrinya yang mandul, tidak punya anak. Beliau hanya menyarankan yang sama, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang ketiga, mengeluhkan rizkinya yang sulit. Beliau kembali menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Seketika itu, ada jamaah yang keheranan, عجبنا لك يا إمام أكلما دخل عليك رجل يسألك حاجة تقول له استغفر الله!! Anda sungguh mengherankan, wahai imam. Setiap ada orang yang mengeluhkan masalahnya kepada anda, anda hanya memberi jawaban, ‘Perbanyak istighfar.’!! Jawab Imam al-Hasan, ألم تقرأ قوله تعالى: فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا* Tidakkah kamu membaca firman Allah, فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, ( ) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, ( ) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10 – 12) Sungguh beruntung, mereka yang catatan amalnya banyak istighfarnya. Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا Sunngguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar. (HR. Ibn Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani). Allahu a’lam  


2 Sebab Allah tidak Akan Memberikan Adzab di Dunia Ada 2 sebab Allah tidak menurunkan adzab bagi umat manusia ketika di dunia. Sebab pertama telah tiada, sebab kedua, masih ada hingga akhir zaman. Allah berfirman, وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun. (QS. al-Anfal: 33). Ayat ini berbicara tentang tantangan orang musyrikin quraisy, diantaranya Abu Jahal yang mengharap datangnya siksa jika memang mereka terbukti bersalah. Mereka menantang dengan sombong: وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ Ingatlah, ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (QS. al-Anfal: 32) Anda bisa perhatikan, orang musyrik sejahat itu, Allah tunda hukumannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Sehingga beliau menjadi sebab, Allah tidak menurunkan adzab.  Itulah sebab pertama. Sebab kedua adalah memperbanyak istighfar. Memohon ampun kepada Allah. Karena Dia menjamin, ‘Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun’ Suudzan Pada Diri Sendiri Ketika kita mendapatkan musibah, atau kondisi yang tidak nyaman dalam hidup kita, ada beberapa kemungkinan sebabnya. Bisa jadi karena Allah menghukum kita, agar menjadi kafarah bagi dosa kita. Bisa juga karena Allah mencintai kita dengan menguji kita dalam rangka meninggikan derajat kita. Apapun itu, sikap yang lebih tepat adalah mengedepankan suudzan kepada diri sendiri. Berburuk sangka dan meyakini, adanya musibah ini disebabkan dosa yang kita lakukan. Dan itulah yang Allah ajarkan dalam al-Quran, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ Semua musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan. Dan Dia telah mengampuni banyak dosa. (QS. as-Syura: 30). Oleh karena itu, para ulama menyarankan agar kita memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah, terutama ketika sedang mendapatkan musibah dan kondisi hidup yang tidak nyaman. Imam Hasan al-Bashri perdah didatangi 3 orang dengan keluhan yang berbeda, di waktu yang berbeda. Orang pertama datang, mengeluhkan kemarau panjang dan lama tidak hujan. Beliau hanya menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang kedua, mengeluhkan istrinya yang mandul, tidak punya anak. Beliau hanya menyarankan yang sama, ‘Perbanyak istighfar.’ Datang orang ketiga, mengeluhkan rizkinya yang sulit. Beliau kembali menyarankan, ‘Perbanyak istighfar.’ Seketika itu, ada jamaah yang keheranan, عجبنا لك يا إمام أكلما دخل عليك رجل يسألك حاجة تقول له استغفر الله!! Anda sungguh mengherankan, wahai imam. Setiap ada orang yang mengeluhkan masalahnya kepada anda, anda hanya memberi jawaban, ‘Perbanyak istighfar.’!! Jawab Imam al-Hasan, ألم تقرأ قوله تعالى: فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا* Tidakkah kamu membaca firman Allah, فقلت استغفروا ربّكم إنّه كان غفّارا*يُرسل السّماء عليكم مدرارا*ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنّات ويجعل لكم أنهارا Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, ( ) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, ( ) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10 – 12) Sungguh beruntung, mereka yang catatan amalnya banyak istighfarnya. Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا Sunngguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar. (HR. Ibn Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani). Allahu a’lam  

Cita-cita Imam as-Syafii

Cita-cita Imam as-Syafii قال الإمام الشافعي رحمه الله : وددتُ أن الخلْق تعلموا منِّي هذا العلمِ على أن لا ينسب إليَّ حرف منه Imam as-Syafii mengatakan, “Saya ingin, semua makhluk mengambil ilmu agama ini dariku, namun sehurufpun mereka sama sekali tidak menisbahkan ilmu itu kepadaku.” (Adab al-Ulama wa al-Muta’allimin). Silahkan sebarkan, tanpa menyebut nama sumber.

Cita-cita Imam as-Syafii

Cita-cita Imam as-Syafii قال الإمام الشافعي رحمه الله : وددتُ أن الخلْق تعلموا منِّي هذا العلمِ على أن لا ينسب إليَّ حرف منه Imam as-Syafii mengatakan, “Saya ingin, semua makhluk mengambil ilmu agama ini dariku, namun sehurufpun mereka sama sekali tidak menisbahkan ilmu itu kepadaku.” (Adab al-Ulama wa al-Muta’allimin). Silahkan sebarkan, tanpa menyebut nama sumber.
Cita-cita Imam as-Syafii قال الإمام الشافعي رحمه الله : وددتُ أن الخلْق تعلموا منِّي هذا العلمِ على أن لا ينسب إليَّ حرف منه Imam as-Syafii mengatakan, “Saya ingin, semua makhluk mengambil ilmu agama ini dariku, namun sehurufpun mereka sama sekali tidak menisbahkan ilmu itu kepadaku.” (Adab al-Ulama wa al-Muta’allimin). Silahkan sebarkan, tanpa menyebut nama sumber.


Cita-cita Imam as-Syafii قال الإمام الشافعي رحمه الله : وددتُ أن الخلْق تعلموا منِّي هذا العلمِ على أن لا ينسب إليَّ حرف منه Imam as-Syafii mengatakan, “Saya ingin, semua makhluk mengambil ilmu agama ini dariku, namun sehurufpun mereka sama sekali tidak menisbahkan ilmu itu kepadaku.” (Adab al-Ulama wa al-Muta’allimin). Silahkan sebarkan, tanpa menyebut nama sumber.

Doa Imam Ahmad

Doa Imam Ahmad Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, pernah berdoa dalam sujudnya, اللهم من كان من هذه الأمة على غير الحق وهو يظن أنه على الحق فرده إلى الحق ليكون من أهل الحق Ya Allah, siapapun di kalangan umat ini yang berada di jalan kesesatan, sementara dia mengira di atas kebenaran, maka kebalikanlah dia ke jalan yang benar, agar dia menjadi pengikut kebenaran. (I’tiqad Imam Ahmad, 307).

Doa Imam Ahmad

Doa Imam Ahmad Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, pernah berdoa dalam sujudnya, اللهم من كان من هذه الأمة على غير الحق وهو يظن أنه على الحق فرده إلى الحق ليكون من أهل الحق Ya Allah, siapapun di kalangan umat ini yang berada di jalan kesesatan, sementara dia mengira di atas kebenaran, maka kebalikanlah dia ke jalan yang benar, agar dia menjadi pengikut kebenaran. (I’tiqad Imam Ahmad, 307).
Doa Imam Ahmad Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, pernah berdoa dalam sujudnya, اللهم من كان من هذه الأمة على غير الحق وهو يظن أنه على الحق فرده إلى الحق ليكون من أهل الحق Ya Allah, siapapun di kalangan umat ini yang berada di jalan kesesatan, sementara dia mengira di atas kebenaran, maka kebalikanlah dia ke jalan yang benar, agar dia menjadi pengikut kebenaran. (I’tiqad Imam Ahmad, 307).


Doa Imam Ahmad Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, pernah berdoa dalam sujudnya, اللهم من كان من هذه الأمة على غير الحق وهو يظن أنه على الحق فرده إلى الحق ليكون من أهل الحق Ya Allah, siapapun di kalangan umat ini yang berada di jalan kesesatan, sementara dia mengira di atas kebenaran, maka kebalikanlah dia ke jalan yang benar, agar dia menjadi pengikut kebenaran. (I’tiqad Imam Ahmad, 307).

Tikus itu Halal?

Apakah tikus itu halal? Tikus adalah di antara hewan yang haram untuk dimakan karena ia diperintahkan untuk dibunuh dan disebut hewan fasik. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ “Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 101) Imam Nawawi berkata, “Diharamkan hewan yang dianjurkan untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, burung gagak, hida-ah dan tikus.” (Minhajut Tholibin, 3: 340). Diperintahkan untuk membunuh tikus dan binatang fasik lainnya karena binatang tersebut sering menyakiti (mengganggu) sehingga karena inilah haram dimakan. (Lihat Mughnil Muhtaj karya Asy Syarbini, 4: 404). Sehingga jika ada yang menfatwakan tikus itu halal dimakan, itu fatwa keliru karena bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak bisa disembelih bukan berarti membuat makanan tersebut jadi halal s. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H Minhajut Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Darul Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H — Selesai disusun di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmakanan halal

Tikus itu Halal?

Apakah tikus itu halal? Tikus adalah di antara hewan yang haram untuk dimakan karena ia diperintahkan untuk dibunuh dan disebut hewan fasik. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ “Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 101) Imam Nawawi berkata, “Diharamkan hewan yang dianjurkan untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, burung gagak, hida-ah dan tikus.” (Minhajut Tholibin, 3: 340). Diperintahkan untuk membunuh tikus dan binatang fasik lainnya karena binatang tersebut sering menyakiti (mengganggu) sehingga karena inilah haram dimakan. (Lihat Mughnil Muhtaj karya Asy Syarbini, 4: 404). Sehingga jika ada yang menfatwakan tikus itu halal dimakan, itu fatwa keliru karena bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak bisa disembelih bukan berarti membuat makanan tersebut jadi halal s. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H Minhajut Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Darul Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H — Selesai disusun di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmakanan halal
Apakah tikus itu halal? Tikus adalah di antara hewan yang haram untuk dimakan karena ia diperintahkan untuk dibunuh dan disebut hewan fasik. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ “Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 101) Imam Nawawi berkata, “Diharamkan hewan yang dianjurkan untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, burung gagak, hida-ah dan tikus.” (Minhajut Tholibin, 3: 340). Diperintahkan untuk membunuh tikus dan binatang fasik lainnya karena binatang tersebut sering menyakiti (mengganggu) sehingga karena inilah haram dimakan. (Lihat Mughnil Muhtaj karya Asy Syarbini, 4: 404). Sehingga jika ada yang menfatwakan tikus itu halal dimakan, itu fatwa keliru karena bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak bisa disembelih bukan berarti membuat makanan tersebut jadi halal s. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H Minhajut Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Darul Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H — Selesai disusun di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmakanan halal


Apakah tikus itu halal? Tikus adalah di antara hewan yang haram untuk dimakan karena ia diperintahkan untuk dibunuh dan disebut hewan fasik. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ “Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 101) Imam Nawawi berkata, “Diharamkan hewan yang dianjurkan untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, burung gagak, hida-ah dan tikus.” (Minhajut Tholibin, 3: 340). Diperintahkan untuk membunuh tikus dan binatang fasik lainnya karena binatang tersebut sering menyakiti (mengganggu) sehingga karena inilah haram dimakan. (Lihat Mughnil Muhtaj karya Asy Syarbini, 4: 404). Sehingga jika ada yang menfatwakan tikus itu halal dimakan, itu fatwa keliru karena bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak bisa disembelih bukan berarti membuat makanan tersebut jadi halal s. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H Minhajut Tholibin, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Darul Basyair Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1426 H Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan keempat, tahun 1431 H — Selesai disusun di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsmakanan halal

Siapakah Orang Shalih?

Siapakah orang shalih? Apakah orang shalih harus punya ilmu sakti? Apakah orang shalih harus nampak berjidad hitam, memakai sorban dan baju putih? Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBADILLAHISH SHOLIHIIN (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2:314). At-Tirmidzi Al-Hakim berkata, مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم “Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh” (Fath Al-Bari, 2:314). Al-Fakihani berkata, يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده “Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan.” (Fath Al-Bari, 2:314). Intinya, hamba yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba yang shalih juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ  “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2:381, sahih) Hamba shalih berarti tidak durhaka pada orang tua, tidak berlaku kasar pada istri, tidak memutuskan hubungan silaturahim dengan tetangga, dan tidak berakhlak buruk dengan kaum muslimin lainnya. Moga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang shalih yang selalu memperhatikan kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfasik wali Allah

Siapakah Orang Shalih?

Siapakah orang shalih? Apakah orang shalih harus punya ilmu sakti? Apakah orang shalih harus nampak berjidad hitam, memakai sorban dan baju putih? Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBADILLAHISH SHOLIHIIN (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2:314). At-Tirmidzi Al-Hakim berkata, مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم “Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh” (Fath Al-Bari, 2:314). Al-Fakihani berkata, يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده “Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan.” (Fath Al-Bari, 2:314). Intinya, hamba yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba yang shalih juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ  “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2:381, sahih) Hamba shalih berarti tidak durhaka pada orang tua, tidak berlaku kasar pada istri, tidak memutuskan hubungan silaturahim dengan tetangga, dan tidak berakhlak buruk dengan kaum muslimin lainnya. Moga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang shalih yang selalu memperhatikan kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfasik wali Allah
Siapakah orang shalih? Apakah orang shalih harus punya ilmu sakti? Apakah orang shalih harus nampak berjidad hitam, memakai sorban dan baju putih? Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBADILLAHISH SHOLIHIIN (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2:314). At-Tirmidzi Al-Hakim berkata, مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم “Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh” (Fath Al-Bari, 2:314). Al-Fakihani berkata, يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده “Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan.” (Fath Al-Bari, 2:314). Intinya, hamba yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba yang shalih juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ  “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2:381, sahih) Hamba shalih berarti tidak durhaka pada orang tua, tidak berlaku kasar pada istri, tidak memutuskan hubungan silaturahim dengan tetangga, dan tidak berakhlak buruk dengan kaum muslimin lainnya. Moga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang shalih yang selalu memperhatikan kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfasik wali Allah


Siapakah orang shalih? Apakah orang shalih harus punya ilmu sakti? Apakah orang shalih harus nampak berjidad hitam, memakai sorban dan baju putih? Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBADILLAHISH SHOLIHIIN (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2:314). At-Tirmidzi Al-Hakim berkata, مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم “Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh” (Fath Al-Bari, 2:314). Al-Fakihani berkata, يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده “Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan.” (Fath Al-Bari, 2:314). Intinya, hamba yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba yang shalih juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ  “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2:381, sahih) Hamba shalih berarti tidak durhaka pada orang tua, tidak berlaku kasar pada istri, tidak memutuskan hubungan silaturahim dengan tetangga, dan tidak berakhlak buruk dengan kaum muslimin lainnya. Moga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang shalih yang selalu memperhatikan kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Zhuhur di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfasik wali Allah

Non Muslim itu Kafir

Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim

Non Muslim itu Kafir

Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim
Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim


Selain Islam itu kafir. Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman, لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1). Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55). Dalam ayat lainnya disebutkan pula, إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284). Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman, وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ “Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19) هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52) Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ “Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317) Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama, مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku.   Tagsloyal non muslim

Taurat dan Injil Telah Dihapus Al Quran

Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran

Taurat dan Injil Telah Dihapus Al Quran

Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran
Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran


Al Quran telah menghapus kitab-kitab sebelumnya termasuk Taurat dan Injil. Inilah yang mesti dipahami oleh setiap muslim dan menjadi akidah pokok mereka. Sehingga tidak boleh isi kitab antara Yahudi dan Nashrani dengan kaum muslimin itu sama. Al Quran Membawa Kebenaran Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman, وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48) Taurat dan Injil Telah Dihapus oleh Al Qur’an Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat, فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79) وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78) Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. “Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24) Hanyalah Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 18 Dzulhijjah 1435 H di Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Segera pesan buku Ustadz Abduh Tuasikal “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku teroris#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsadab al quran
Prev     Next